Anda di halaman 1dari 15

Keutamaan Bersedekah

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

"Saudaraku yang budiman, sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala, dan melipat gandakan rezeki." Saudaraku yang budiman, sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala, dan melipat gandakan rezeki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir, seratus biji. Allah adalah Zat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya. Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, pasti akan kembali kepada kita. Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada di genggaman kita. Demi Allah, semuanya datang dari Allah Yang Maha Kaya. Dititipkan-Nya kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bersedekah dengan sepenuh keikhlasan. Kemudian kita akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak. Rasulullah SAW memerintahkan para sahabatnya yang tengah bersiap pergi menuju medan perang Tabuk, agar mengeluarkan sedekah. Saat itu Allah menurunkan ayat tentang sedekah kepada Rasulullah SAW, Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orangorang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir, seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. AlBaqarah: 261). Wallahu alam bish

STRATEGI MENULIS BUKU


Naning Pranoto saya dengar ada yang mengeluh, menulis itu pekerjaan berat. Tetapi menulis adalah kesenangan terbesar dalam hidup saya dan itu hanya kematian yang dapat mengakhirimnya. (Ernest Hemingway) Pengantar Menulis buku yang ideal adalah bila hal itu dilakukan karena murni dorongan kata hati. Maksudnya, menulis buku bukan karena dipaksa oleh pihak-pihak tertentu di bawah

ancaman atau karena terpaksa menjalankan tugas untuk menghindari suatu sanksi (tidak mendapat gelar) dan semacamnya. Bila keterpaksaan itu terjadi, maka buku yang ditulisnya dapat dipastikan kualitasnya diragukan. Baik itu kualitas cara penulisannya maupun isinya karena tidak dilandasi spirit, visi, misi dan tanggung-jawab moral. Idealnya, buku yang baik (apa pun jenisnya fiksi maupun non fiksi) seharusnya mengandung nilai-nilai luhur, bervisi dan bermisi yang dapat dipertanggungjawabkan secara moral atau akademis sehingga bermanfaat bagi pembacanya. Manfaat itu antara lain meliputi: pengembangan wawasan, pengkayaan buah pikiran, memberi inspirasi dan motivasi hal-hal positif/untuk kemajuan, memancing opini (yang bersifat meningkatkan IQ) dan mengasah kepekaan (EI) atau paling tidak memberi hiburan yang sehat. Oleh karena itu, untuk bisa menulis buku ideal perlu berbagai pembekalan materi yang memadai(sesuai dengan tujuannya), pemikiran dan analisis yang dalam, konsentrasi khusus pada saat menulis dan tahu kemana saja arahnya buku yang ditulis tersebut disebarluaskan. Buku, selain merupakan produk ilmiah, juga produk industri. Karena itu, buku harus dirancang agar punya pasar yang baik, mulai dari bentuk fisik, bahasa dan isinya. Mulai Dengan Berbagai Pertanyaan Cikal bakal buku adalah kitab-kitab yang menjadi sumber ajaran agama, moral dan pengetahuan bagi manusia, antara lain Al-Quran, Al Kitab dan Wedha. Semuanya ditulis dengan bahasa yang sangat indah dan sarat makna, seindah dan penuh makna isi yang ada di dalamnya. Karena kita tahu, buku-buku tersebut adalah karya Yang Maha Kuasa dan MahaAgung. Dalam perkembangannya, manusia mampu menulis buku, diperkirakan sejak tahun 3000 Sebelum Masehi. Buku yang ditulisnya antara lain berisi mantera dan semacam obat atau jamu untuk keselamatan dan kesehatan, ilmu alam/ilmu bumi untuk kenyamanan dan pertahanan hidup serta serba-serbi boga termasuk aphrodisiac (perangsang nafsu birahi) untuk kesenangan dan kenikmatan. Kemudian berkembang, penulisan buku menjadi meningkat ragamnya, sesuai dengan perkembangan zaman yaitu di bidang matematika, fisika, sejarah serta sastra (sastra yang semula dilisankan kemudian ditulis). Yang jelas, semuanya itu dianggap sebagai sumber berbagai ilmu pengetahuan karena penulisnya memang bervisi dan bermisi demikian. Maka muncullah pepatah, buku gudangnya ilmu, buku jendela dunia. Berdasarkan fakta tersebut di atas, maka siapa pun yang akan menulis buku, sebaiknya bertindak arif. Yaitu, sebelum menulis buku mulailah dengan pertanyaan dan jawab lah pertanyaaan yang ada dengan jujur. Maka jawaban-jawaban tersebut akan menentukan buku yang akan kita tulis.

Bola Indonesia Laku di Piala Dunia

Oleh : IS***

"Produk bola asal Kadipaten telah memperoleh sertifikat CE Mark Standard International untuk memenuhi persyaratan standar mutu yang dituntut Piala Dunia. Sertifikat itu merupakan tiket untuk menggelindingkan produk di lapangan-lapangan sepak bola di kawasan Uni Eropa." Ajang paling bergengsi dalam kancah persepak bolaan yang diselenggarakan empat tahun sekali telah mulai bergulir. Diawali dengan pembukaan Piala Dunia 2006, 9 Juni lalu di stadiun Alianz Arena, dinamai FIFA WC Stadion Mnchen selama berlangsungnya Piala Dunia 2006. Partai perdana yang ditunggu-tunggu para pecandu bola pun telah bergulir antara Jerman dan Kosta Rika, yang berakhir dengan kemenangan tim Panser dengan skor 4-2. Adapun puncak partai final akan diselenggarakan di Berlin (9/7/06). Perhelatan akbar akan berlangsung selama satu bulan antara 9 Juni-9 Juli. Dari gegap gempita pesta akbar, ada fenomena menarik yang tak dapat dipisahkan yaitu adanya maskot resmi piala dunia 2006 yakni Goleo VI, Pille dan berbagai pernakpernik ataupun souvenir-souvenir Piala Dunia. Dari souvenir-souvenir itu, ternyata 60 persen pemesanan souvenir piala dunia tahun ini adalah produk Indonesia, berupa kaos T-Shirt, gantungan kunci, topi, bahkan sepatu dan bola, seperti diberitakan detik.com, Rabu (7/6/2006). Adapun penyuplai souvenir ternyata dihasilkan dari usaha kecil dan menengah (UKM) yang tersebar di sejumlah daerah termasuk di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta maupun Solo. Bahkan untuk souvenir gantungan kunci dan lain-lainnya ada yang berasal dari UKM-UKM yang daerahnya terkena musibah gempa bumi 27 Mei. Jika kita flash back delapan tahun ke belakang, di kancah Piala Dunia Perancis 1998, walaupun kesebelasan Indonesia tidak tampil di babak final Piala Dunia, justru bola sepak yang digunakan oleh pemain-pemain dunia sebenarnya dibuat oleh perajin pembuat bola asuhan H. Irwan Suryanto yang tersebar di Kadipaten Majalengka, Jawa Barat.

Produk bola asal Kadipaten telah memperoleh sertifikat CE Mark Standard International untuk memenuhi persyaratan standar mutu yang dituntut Piala Dunia. Sertifikat itu merupakan tiket untuk

menggelindingkan produk di lapangan-lapangan sepak bola di kawasan Uni Eropa. Sertifikat yang dikeluarkan pada 10 September 1997 itu berkat kemitraan H. Irwan Suryanto dengan Astra. Sertifikat CE Mark tersebut, setelah lolos uji dari Merchandise Testing Lab. (HK) dan Instituto Italiano Sicurezza Dei Giocattoli sebagai persyaratan untuk bisa dipakai dalam Piala Dunia 1998 di Prancis. Ternyata bola tersebut telah dapat diterima di kalangan dunia sepak bola di AS, Uni Emirat Arab, Jepang, dan Korea. Adapun obsesi Irwan justru ingin memenangkan pasar bola sepak dalam negeri, sebab pangsa bola dalam negeri justru di kuasai oleh produk-produk bola impor, seperti diberitakan dalam indomedia.com/intisari/1998/juni/bola. Dua kisah di atas mengisahkan diakuinya produk kita dalam kegiatan level internasional, selevel Piala Dunia, berarti produk-produk semacam pernak pernik maupun souvenir, sepatu bahkan bola produksi Indonesia saja dapat laku di Piala Dunia apalagi produk-produk lainnya. Jika peluang ini dapat ditembus oleh pengusaha-pengusaha kita, tentu diharapkan dapat menembus pangsa ekspor di berbagai kawasan seperti : Asia Tenggara, Asia, Eropa, Timur Tengah ataupun Amerika, hal ini tentunya tantangan yang harus dijawab oleh wirausahwan kita. IS***

PROSES KREATIF DAN MENGOLAH KATA


Oleh Naning Pranoto, MA Writing is adventure (Ernest Hemingway) Pengantar Writing is adventure menulis adalah petualangan, demikian kata Ernest Hemingway, sastrawan besar AS yang karya-karyanya ditandai dengan jiwa-jiwa dan nafas petualangan. Pendapat ini didukung oleh para pengagumnya, khususnya para sastrawan Amerika Latin (misalnya Pablo Neruda dan Gabriel Gracia Marquesz) dan sastrawati Afrika Selatan Nadine Gordimer serta Milan Kundera, sastrawan Cheko. Saya sebagai pengagum Hemingway, juga merasakan hal tersebut: writing is adventure. Yang dimaksud dengan petulangan di sini adalah bukan petulangan secara raga, melainkan paduan dari kekayaan batin dan intelektual (materi dasar/bahan tulisan),

imajinasi (kreativitas dan pengembangan) serta kosa kata (penguasaan bahasa). Paduan itu dirangkai menjadi suatu tulisan melalui suatu proses yang disebut proses kreatif. Tulisan pendek berikut ini menguraikan sekilas mengenai proses kreatif untuk menulis suatu tulisan dan cara-cara menulis agar mudah dipahami pembacanya. Proses Kreatif dan Lapar Menulis Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata kreatif diartikan: (1) memiliki daya cipta; (2) memiliki kemampuan untuk menciptakan. Jadi, proses kreatif adalah proses mencipta sesuatu dan konteks dalam tulisan ini adalah mencipta tulisan atau menulis, baik itu tulisan yang bersifat fiksi maupun non-fiksi. Mereka yang menulis fiksi disebut pengarang dan mereka yang menulis non-fiksi disebut penulis. Seorang penulis bisa menjadi pengarang, tetapi pengarang pada umumnya sedikit yang menjadi penulis. Hambatnnya, menjadi penulis diperlukan topangan referensi yang lebih luas dan mendalam, apalagi bila yang bersangkutan menulis tulisan yang bersifat akademis/ilmiah. Tetapi bukan berarti bahwa menjadi seorang pengarang itu lebih mudah dibandingkan menjadi penulis. Sebab, baik untuk menjadi pengarang maupun penulis, keduanya memerlukan modal utama yaitu memiliki dorongan yang kuat untuk menulis (the strong will to write) atau dalam jargon creative writing disebut lapar menulis (tidak sekedar haus). Dapat dibayangkan, bagaimana jika kita lapar (kelaparan) harus makan. Tentunya, jalan apa pun ditempuh, bukan? Goal-nya adalah makan, harus makan. Dalam kasus lapar menulis, jalan apa pun ditempuh, its goal is do writing. Jadi, jika kita ingin menjadi penulis atau pengarang, untuk mencapainya adalah menulis do writing, do it soon, very soon, dont be postponed. Sayangnya, banyak pihak yang ingin menjadi pengarang atau penulis tetapi hanya sebatas ingin karena tidak juga menulis. Alasannya, sulit memulai, tidak punya waktu, takut salah, malu atau tidak ada inspirasi/ide yang pas untuk ditulis. Akhirnya, proses menulis pun tertunda. Benar, untuk memulai menulis memang memerlukan proses kreatif yaitu dimulai dengan adanya ide (kekayaan batin/intelektual) sebagai bahan tulisan. Pengalaman saya, ide itu bisa diperoleh/didapat setiap saat, kapan mau menulis. Sumber utamanya adalah bacaan, pergaulan, perjalanan (traveling), kontemplasi, monolog, konflik dengan diri sendiri (internal) maupun dengan di luar diri kita (external), pembrontakan (rasa tidak puas), dorongan mengabdi (berbagi ilmu), kegembiraan, mencapai prestasi, tuntutan profesi dan sebagainya. Semuanya itu bisa dijadikan gerbang untuk mendorong memasuki proses kreatif menulis. Kuncinya adalah punya hasrat yang kuat untuk menulis yang sebelumnya telah saya sebut sebagai the strong will to write sebagai modal utama untuk mulai menulis.

Unsur Struktur Dalam Fiksi Narasi(1)


Oleh Sides Sudyarto DS

I. Menurut The Grolier International Dictionary berarti: A complex entity (Suatu entitas yang kompleks) The configuration of elements, parts, or constituent in such an entity, organization, arrangement. (Konfigurasi dari elemen-elemen, bagian-bagian, atau unsur pokok dalam suatu entitas, organisasi, aransemen ) The interrelation of parts or the principle of organization in a complex entity. (Interrelasi dari bagian-bagian atau prinsip-prinsip organisasi dalam suatu entitas yang kompleks). (Grolier Incorparated, Volume Twoo, Danbury. Connecticut, 1981) Dalam karya fiksi (novel), suatu cerita hanyalah satumodal awal, atau bahan mentah yang memerlukan sentuhan kreativitas kreator (penulis) sehingga menjadi alur yang memiliki kadar kesasteraan. (Raman Shelden) II Renne Wellek and Austen Warren, Theory of Literature menjelaskan, "Structure is concept including both content and form so far as they are organized for aesthetic purposes. The work of art is, then, considered as a whole system of signs, serving a specific aesthtics purpose. (Wellek/Warren, Penguin, Australia, 1970, h. 141) "This structure, however, is dynamic: it changess throughout the process of history while passing through the minds of its readers, critics, and fellow artists" (Idem, 155 Mengacu Louis Teeter, Scholarship and the Art of Criticism , 1938, 173 - 93 ). III Teeuw, Sastra dan Ilmu Sastra, Pustaka Jaya, Jakarta, 1984: PP. 120 - 153) 1. Aristoteles dalam bukunya Poetica, yang ditulis di sekitar tahun 340 sebelum Masehi di Athena, meletakkan dasar yang kuat untuk pandangan yang menganggtap karya sastra sebagai struktur yang otonom. 2. Menurut pandangan Aristotels, dalam tragedi, action (tindakan) itulah yang penting bukan character (watak). Efek tragedi dihasilkan oleh aksi (action) plot (alur -isi cerita)nya, dan untuk menghasilkan efek yang baik plot harus mempunyai keseluruhan (wholeness), untuk itu harus mempunyai empat syarat utama: Order, amplitude, (complexity), unity, connection (coherence). Order: berarti urutan dan aturan; urutan aksi harus teratur, harus mnujukkan konsekuensi dan konsistensi yang masuj akal; terutama ada awal, pertengahan, pertengahan dan akhir yang tidak sembarangan. Amplitude (Complexity): berarti bahwa luasnya ruang lingkup dan kekomplekan karya harus cukup untuk memungkinkan perkmbangan peristiwa yang masuk akal ataupun yang harus ada untuk menghasilkan peredaran dari nasib baik ke nasib buruk, atau sebaliknya. Unity berarti bahwa semua unsur dalam plot harus ada, tak mungkin tiada, dan tidak bisa bertukar yempat tanpa mengacaukan ataupun membinasakan keseluruhannya.

Connection (Coherence) berarti bahwa sastrawan tidak bertugas untuk menyebut hal-hal yang sungguh-sungguh terjadi, tetapi hal-hal yang mungkin atau harus terjadi dalam rangka keseluruhan plot itu. Catatan: Justru hal ini merupakan perbedaan hakiki antara sastrawan dan sejarawan: sejarawan menceritakan (apa) yang terjadi, sastrawan menceritakan peristiwa atau kejadian yang masuk akal atau harus terjadi, berdasarkan tuntutan konsistensi dan logika ceritanya.

Unsur Struktur Dalam FIKSI NARASI(2)


Oleh Sides Sudyarto DS REALISME MAGIS DALAM SASTRA AMERIKA LATIN Dengan sebutan Amerika Latin, yang dimaksudkan meliputi negara-negara di Amerika Selatan, Amerika Tengah, Mexico dan pulau-pulau yang tdak berbahasa Inggris, di Karibia. Para eksponen sastrawan Amerika Latin, antara lain: Gabriel Garcia Marquez (Colombia), Jorge Luis Borges (Argentina), Carlos Fuentes (Mexico), Julio Cortazar (Argentina), Miguel Angel Austurias (Guatemala), Jorge Amado (Brazil), Octavia Paz (Mexico), Juan Bosch (Dominica), Jose Denoso (Chile), (Clarice Lispector (Brazil) Horacio Quiroga (Uruguay), Mario Vargas Llosa (Peru), Abelardo Castillo (Argentine), Guillermo Cabrera Infante (Cuba), Manuel Puig (Argentina), G. Cabrera Infante (Uruguay), Alvaro Mutis (Colombia), Alejo Carpentier (Cuba), Joao Guimaraes Rosa (Brazil), Felisberto Hernandez (Urugay), Ruben Dario (Nicaragua/Chile), Romulo Galegos (Venezuela), Augusto Roa Bastos (Paraguay), Maria Luisa Bombal (Chile), Juan Rulfo (Mexico), Clarice Lispector (Brazil), Joaquim Maria Machado de Assis (Brazil), Leopolda Lugones (Argentina), Jorge Amado (Brazil), Isabel Allende ( Chile), Ana Lydia Vega (Puerto Rico), dll. Banyak para pengamat sepakat bahwa tahun-tahun 1920-an adalah saat-saat tegaknya sastra Amerika Latin. Pada tahun-tahun 1920-an itu juga, sedang bangkit nasionalisme yang sedang memasuki mood baru dan semakin bergelora. Tidak aneh, jika kebanyakan sastrawan Amerika Latin kebanyakan adalah pemikir dan pejuang kemerdekaan. Juga tidak aneh bila kemudian banyak juga sastrawan yang bergumul dan berjuang dengan terjun ke kancah poliik atau menulis karya sastra politik. Mario Vargas Llosa menyatakan, novel dilarang terbit di negara-negara Amerika jajahan Spanyol. Selama 300 tahun (tiga abad) novel dibeton, dibendung agar jangan sampai terbit. Tujuan penajajah, sudah trentu, jangan sampai rakyat terjajah itu tersentuh oleh novel-novel yang bisa mneyalakan api semangat kemerdekaan. The birth of the novel in Spanish Ameica coincided with the first moves towards

independence. Before 1816, whatever was read in the way of narrative fiction had largely been written in Spain, and from the earliest days of the discovery and conquest a favourite form of fiction had been the Spanish romance of chivalry. (Edwin Williamson, dalam John King, On Modern Latin American Fiction, The Noonday Press, New York, 1989). Sedikitnya ada tiga orang sastrawan besar di Amerika Latin yang sangat berpengaruh dalam pekembangan prosa, yang menulis text pada tahun 1920-an dan 1930-an. Mereka adalah Miguel Angel Asturias, Jorge Luis Borges dan Alejo Carpentier. Miguel Angel Asturias (1899 - 1974) lahir di Guatemala City, Guatemala. Sastrawan ini berseteru dengan diktator Estrada Cabrera. Ia berada di Paris selama tahun-tahun 1920an. Di sana ia mempelajari agama dan suku Maya serta membentu menterjemahkan Popol Vuh, kitab suci bangsa Maya, selesai tahun 1926. Selain menjadi jurnalis, ia juga menulis puisi dan cerita berdasarkan legenda suku Indian dan Spanyol yang pernah ia dngar sejak masa kanaknya, yang kemudian terbit dalam bentuk buku, di bawah judul Leyendas de Guatemala. Psada waktu yang sama, ia pun menulis bovel yang kemudian menjadi mahakaryanya, El senor presudente (Tuan Presiden) yang sudah pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. PROPOSAL LOMBA PENULISAN SURAT DAN ESAI II TAHUN 2006 A. B. Tema Umum Optimisme Anak Bangsa Latar Belakang Budaya membaca dan menulis merupakan budaya yang esensial dalam dunia pendidikan dan kehidupan bangsa. Sejatinya kedua hal ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Membaca merupakan salah satu media untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan menemukan gagasan-gagasan. Menulis merupakan salah satu media untuk mendes iminasikannya secara luas, sehingga pengetahuan dan gagasan yang dimiliki dapat pula memberi manfaat secara luas. Banyak tokoh ternama di muka bumi ini dikenal melalui tulisan-tulisannya, bukan melalui dalam kehidupan masyarakat oral atau verbal. Oleh karena itu bangsa terutama dalam dunia budaya menulis perlu ditanamkan sejak dini dan secara berkelanjutan

pendidikan

kita,

dan.

semua

elemen

bangsa

perlu

pula

aktif

mendukung upaya ini. Pada Juli 2005 PT. Lion Air bekerja sama dengan Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan dan Universitas Muhammadiyah Gresik telah menyelenggarakan Lomba Penulisan Surat dan Esai I bagi siswa dan mahasiswa. Patut disyukuri karena antusiasme anak bangsa mengikuti lomba ini sangat besar. Hal ini tercermin dari jumlah peserta lomba yaitu sebanyak 4.308 dengan rincian untuk kategori SD sebanyak 607, SLTP sebanyak 1.458, SLTA sebanyak 822 dan PT sebanyak 1.421. Bahkan setelah lomba ditutup dan pengumuman pemenang, masih ada naskah yang masuk ke panitia. Berdasarkan antusiasme atau apresiasi masyarakat tersebut, maka dipandang penting untuk kembali mengadakan Lomba Penulisan Surat dan Esai II Tahun 2006. Hanya peserta Lomba tahun 2006 ini diperluas/ditambah untuk kalangan guru. Hal ini karena guru merupakan titik senral yang strategis dalam pendidikan. Dengan kegiatan Lomba Penulisan Surat dan Esai II Tahun 2006 ini diharapkan dapat menjadi salah satu media yang efektif untuk menampung aspirasi dan mengkampayekan pentingya budaya menulis bagi anak bangsa. Ide-ide ataupun impian-impian anak bangsa tersebut diharapkan dapat menumbuhkan optimisme anak bangsa dalam membangun negeri yang kita cintai ini dari krisis multidimesi yang tidak kunjung selesai. Krisis multidimensi yang diawali dari krisis moneter ini pada medio 2007, sangat terasa dalam kehidupan masyarakat bangsa kita terutama tekanan ekonomi bagi kalangan masyarakat bawah. Tandatanda untuk keluar dari berbagai krisis ini pun belum tampak jelas. Bahkan beberapa tahun terakhir banyak peristiwa yang bisa membawa bangsa ini menjadi pesimis, nyaris kehilangan percaya diri dan harapan (hopeless) sebagai sebuah bangsa dalam menatap masa depan. Bencana alam yang beruntun, penyakit yang menimpa

masyarakat

luas,

kemiskinan

dan

pengangguran

yang

terus

bertambah hingga saat ini mencapai angka 50-an dan 40-an juta (BPS, 2006), angka partisipasi murni (APM) pendidikan secara umum belum sampai separuh (46,41%) atau yang belum terlayani masih ada 53,59% (Indonesia Educational Statistics in Brief 2003/2004; Balitbang Depdiknas RI, 2005), daya beli masyarakat (purchasing power) belum beranjak, indeks pembangunan manusia (IPM) kita masih pada level 110 di bawah Vietnam yang berada pada level 108 (Human Development Report, 2005), tingkat korupsi kita dua tahun terakhir masih termasuk 5 besar dunia (Transparency International, 2005), utang luar negeri terus menjadi-jadi, dan lain-lain. Masih punyakah kita semangat atau rasa optimisme dalam membawa bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat? Dengan kesadaran bahwa semua peristiwa itu adalah akibat perbuatan masyarakat manusia, maka tentu kita harus optimis bahwa kita dapat mengatasinya jika bersungguh-sungguh. Terlebih agama melarang kita berputus asa. Sesungguhnya cukup banyak contoh keberhasilan bangsa ini jika kita mau bekerja keras, bersungguh-sungguh. Anakanak bangsa ini cukup banyak yang berhasil meraih medali pada berbagai olimpiade sain. Dahulu pembantu rumah tangga tidak pernah bermimpi naik pesawat, tapi saat ini kita saksikan bagaimana Lion Air memotori tiket pesawat yang bisa terjangkau oleh masyarakat menengah bawah, dll. Untuk keluar dari krisis yang sedang terjadi, bangsa Indonesia terlebih dahulu perlu melakukan, suatu turning point, titik balik, dari pesimisme menjadi yang optimisme, optimis dari ketidakpercayaan bangsa yang menjadi percaya/yakin, dari tanpa harapan menjadi penuh harapan. Bangsa adalah mempunyai pandangan positif ke depan, sehingga biasanya mampu untuk mempertahankan asumsinya. Dalam hal ini selalu ada jalan keluar (penyelesaian) yang positif pada setiap permasalahan. Optimisme

yang dimiliki bangsa inilah yang akan selalu menjadi pemicu semangat hidup yang aktif, dinamis, keberanian dan kemandirian baik untuk maju maupun bertahan. Kondisi percaya diri bangsa yang relatif tinggi bersandar pada keyakinan bahwa keadaan lingkungan dan kemampuan diri yang masih di ambang batas kendali dan pengaruh untuk mencapai harapan yang akan diraihnya. Kita tidak boleh kehilangan harapan untuk bersikap optimis. Potensi kemampuan dan sumber daya kita sebagai bangsa masih begitu besar. Hari Pahlawan 10 November 2006, dan Hari Guru 25 November 2006 dipandang sebagai momentum yang tepat untuk menumbuhkan rasa optimisme ini. B. 1. 2. 3. Tujuan Terbangunnya awareness masyarakat dalam mengapresiasi jasa para Pahlawan dan Guru Terbangunnya motivasi siswa, mahasiswa dan guru untuk gemar membaca dan menulis. Tumbuhnya rasa percaya diri / optimisme anak bangsa dalam menatap masa depan. C. 1. 2. Jenis Lomba Penulisan Surat Penulisan Esai

D. 1. 2. 3. E. 1. 2.

Tema Masa Depan Bangsa yang Ku Impikan Menatap Hari Esok yang Lebih Ceria Indonesiaku Tahun 2020 Peserta Siswa SD Seluruh Indonesia untuk Penulisan Surat Siswa SLTP, SLTA, Mahasiswa dan Guru seluruh Indonesia untuk Penulisan Esai

F. 1.

Persyaratan Peserta adalah siswa/mahasiswa seluruh Indonesia yang masih aktif, disertakan fotokopi kartu siswa/ mahasiswa yang masih berlaku (atau surat keterangan dari sekolah)

2. 3. 4.

Bagi guru menyertakan surat keterangan dari sekolah tempat mengajar. Untuk Penulisan Esai, naskah dalam bahasa Indonesia diketik 2 spasi font 12 pada kertas A4 minimal 5 halaman. Untuk penulisan surat, naskah dalam bahasa Indonesia ditulis tangan sendiri pada kertas folio bergaris maksimal 2 halaman.

5. 6. G. 1. 2.

Naskah dikirimkan rangkap 3 (tiga), karya peserta sendiri dan belum pernah dipublikasikan. Peserta hanya boleh mengirimkan satu tema. Waktu Pelaksanaan Lomba/Penerimaan naskah dilaksanakan pada medio April s/d akhir Agustus 2006. Presentasi 5 karya terbaik di Jakarta pada tanggal 25 November 2006.

H.

Mekanisme Lomba

Lomba dibagi dalam 4 tahap penjurian yaitu:


o o o

Pada tahap I diambil 100 karya terbaik per kategori Pada tahap II diambil 50 karya terbaik per kategori Pada tahap III diambil 5 karya terbaik per kategori.

Lima karya terbaik masing-masing kategori diundang untuk dipresentasikan di Jakarta dengan ketentuan: Satu tiket kota asal yang disinggahi LION AIR Jakarta PP + Akomodasi selama di Jakarta.

Pada tahap IV diambil 3 karya terbaik hasil presentasi.

I.

Hadiah Adapun hadiah untuk masing-masing kategori adalah sebagai

berikut.

SD Terbaik I Terbaik II Terbaik III Favorit I Favorit II

SLTP

SLTA

PT

GURU

Rp 3.500.00 Rp 4.500.00 Rp 6.000.00 Rp 7.500.00 Rp 9.000.00 0 0 0 0 0 Rp 2.500.00 Rp 3.500.00 Rp 5.000.00 Rp 6.500.00 Rp 7.500.00 0 0 0 0 0 Rp 2.000.00 Rp 3.000.00 Rp 4.000.00 Rp 5.000.00 Rp 6.000.00 0 0 0 0 0 Rp 1.500.00 Rp 2.000.00 Rp 3.000.00 Rp 3.500.00 Rp 4.500.00 0 0 0 0 0 Rp 1.000.00 Rp 1.500.00 Rp 2.000.00 Rp 2.500.00 Rp 3.000.00 0 0 0 0 0

Untuk masing-masing karya terbaik ditambah Trophy dan sertifikat dari Lion Air dan Universitas Muhammadiyah Gresik + Hadiah hiburan dari sponspor pendukung. J. Pelaksana Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, bekerja Sama dengan Lion Air Jakarta. Sekretariat Lomba;

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GRESIK Jln. Sumatera 101 Kompleks GKB Gresik 61121 Tel. 031-395144 psw 49 Fax. 031-3952585 K. 1. 2. L. Sponsorship Lion Air Jakarta (Sponsor Utama) Sponsor pendukung Kepanitiaan Halaman tersendiri

TEMU PENGARANG-PEMBACA
Oleh Naning Pranoto Saya mendapat sembilan e-mail yang menanyakan, apa saja yang perlu dilakukan oleh seorang pengarang dalam acara Temu Pengarang-Pembaca? Berikut ini saya jawab berdasarkan pengalaman saya. Bagi saya, acara Temu Pengarang-Pembaca (TPP) adalah moment yang sangat menyenangkan. Karena dalam acara ini, saya bertemu dengan para pembaca karya saya dan ada juga mereka yang belum mengenal saya maupun karya-karya saya. Hal itu tidak menjadi masalah. Karena saya suka bertemu dengan siapa saja, untuk menambah kenalan. Bahkan kalau bisa, kenalan baru itu menjadi sahabat atau paling tidak teman baik. Terciptalah networking. Ini merupakan kekayaan, baik saya sebagai pribadi maupun sebagai pengarang. Networking adalah sumber insiprasi dan materi untuk mengarang dan tentu saja sebagai pembaca karya yang saya tulis (harapan saya begitu!). Biasanya, TPP merupakan inisiatif pihak toko buku, pihak penerbit mendukung dengan cara mengundang pengarang. Tetapi saya pribadi, karena ada sponsor, sering inisiatif menghubungi toko buku. Tentu saja, toko buku yang saya hubungi senang dan acara berlangsung heboh dan seru. Misalnya, saya pernah ber-TPP di Toko Buku Togamas Malang yang hadir bludak. TPP di berbagai universitas juga menyenangkan, tapi suasananya tidak seheboh di toko buku. Di universitas acaranya digelar semi formal. Sedangkan di toko buku lebih bebas dan pesertanya juga terdiri dari berbagai lapisan. TPP di toko buku, biasanya disediakan ruangan khusus. Ruangan itu bisa semacam ruang pertemuan, bisa juga bagian dari toko buku itu sendiri. Misalnya, kalau TPP di Toko Buku Gramedia Matraman Jakarta, disediakan tempat khusus seperti gaya seminar.

Tetapi ber-TPP di Toko Buku Gunung Agung Surabaya (Plaza Surabaya), gayanya lain lagi lebih akrab, karena berada di dalam toko buku. Bagi saya TPP itu di mana saja, yang penting semua senang. Acara TPP menurut saya, sebaiknya memang untuk pertemuan bersenang-senang antara pengarang dan pembaca. Bersenang-senang di sini saya artikan rileks tidak usah ada jarak. Sebab, saya pernah melihat ada seorang pengarang yang ber-TPP tetapi gayanya seperti sedang jadi pembicara dalam seminar. Menurut saya, sebaiknya diskusi bebas atau tanya-jawab apa saja yang diinginkan (apa yang pembaca ingin tahu) pembaca terhadap pengarang yang dijumpainya. Agar pertemuan terarah memang perlu pemandu (jika diperlukan), ada buku yang dibahas (biasanya karya terbaru) atau topik yang ditawarkan. Ketika saya meluncurkan novel saya yang berjudul Musim Semi Lupa Singgah Di Shizi dan kemudian diadakan TPP menyajikan bincang-bincang bertema: Cinta Cinta Multisegi. Seru sekali. Yang datang kebanyakan bapak-bapak yang merasa sedang jatuh cinta yang kedua. Saya sampai kewalahan menjawab berbagai pertanyaan yang mereka lontarkan. Semua pertanyaan menarik, menjadi kenangan manis. Halaman