Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang Marilah kita melihat sebentar kembali jalan yang sudah kita lalui sampai disini. Kita bertolak dari kenyataan bahwa kita bebas. Kebebasan yang diberikan masyarakat kepada kita, kebebasan sosial, hanya merupakan ruang bagi kebebasan untuk menentukan diri kita sendiri, kebebasan eksistensial. Berhadapan dengan berbagai fihak yang mau menetapkan bagaimana kita harus mempergunakan kebebasan kita ini, kita dalam suara hati menyadari bahwa akhirnya kita sendirilah yang harus mengambil keputusan tentang apa yang harus kita lakukan. Kita sendirilah yang harus bertanggung jawab atas tindakan kita. Tidak ada orang yang dapat menghapus kenyataan ini. Dalam etika normatif kita melihat prinsip-prinsip dasar obyektif terhadapnya kita harus mempertanggung jawabkan kebebasan kita. B. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini yaitu sebagai tugas mata kuliah Etika Keperawatan.

BAB II PEMBAHASAN
A. SIKAP KEPRIBADIAN MORAL 1. Kepribadian yang kuat Kekuatan moral merupakan kekuatan kepribadian seseorang yang mantap dalam kesanggupannya untuk bertindak sesuai dengan apa yang diyakininya, sebagai yang benar. Semoga dengan pembahasan tersebut kita semua mempunyai kekuatan moral yang baik sekaligus mempunyai sikap yang realistik dan kritis. 2. Kejujuran Dasar setiap usaha untuk menjadi orang yang kuat secara moral adalah kejujuran. Tanpa kejujuran kita sebagai manusia tidak bisa maju selangkah pun karena kita belum berani menjadi diri kita sendiri. Tanpa kejujuran keutamaan-keutamaan moral lainnya juga akan kehilangan. Bersikap baik terhadap orang lain tanpa kejujuran adalah kemunafikan. Begitu juga sikap-sikap terpuji menjadi sarana kelicikan dan penipuan apabila tidak berakar dalam kejujuran yang bening. Bersikap jujur terhadap orang lain berarti dua: pertama, sikap terbuka, kedua bersikap adil atau wajar. sikap terbuka yang dimaksud yaitu kita selalu muncul sebagai diri kita sendiri, sesuai dengan keyakinan kita. Dalam setiap sikap dan tindakan kita memang hendaknya tanggap terhadap kebutuhan. Kedua terhadap orang lain orang jujur bersikap wajar atau fair, ia memperlakukan menurut stendart-standart yang diharapkannya di pergunakan orang lain terhadap dirinya. Ia menghormati hak orang lain, ia akan selalu memenuhi janji yang diberikan. Ia tidak pernah akan berindak bertentangan dengan suara hati atau keyakinannya. Kita dapat bersikap jujur terhadap orang lain, apabila kita jujur terhadap diri kita sendiri dengan kata lain, kita pertama-tama harus berhenti membohongi diri kita sendiri, kita harus berani melihat diri seadanya. Orang 2

jujur tidak perlu mengkompesasikan perasaan minder dengan menjadi otoriter dan menindas orang lain. Orang yang tidak jujur senantiasa berada dalam pelarian, ia lari dari orang lain yang ditakuti sebagai ancaman, dan ia lari dari dirinya sendiri karna tidak berani menghadapi kenyataan yang sebenarnya. Maka kejujuran membutuhkan keberanian. Apabila kita berani untuk berpisah dari kebohongan, kita akan mengalami sesuatu yang amat menggairahkan, kekuatan batin kita bertambah. Meskipun lemah, kita tahu bahwa kita kuat. Maka amatlah penting agar kita mulai menjadi jujur. 3. Kesediaan untuk bertanggung jawab Pertama, berarti kesediaan untuk melakukan apa yang harus dilakukan dengan sebaik mungkin. Bertanggung jawab berarti suatu sikap terhadap tugas yang membebani kita. Karena kita terlibat pada pelaksanaanya, perasaan-perasaan seperti malas, takut tidak mempunyai tempat untuk berpijak. Kita akan melaksanakaan dengan sebaik mungkin, meskipun di tuntut pengorbanan, kurang menguntungkan atau di tentang orang lain. Tugas bukan hanya sekedar masalah tetapi tugas dapat kita rasakan sebagai sesuatu yang mulia yang harus kita pelihara, kita selesaikan dengan baik Kedua, sikap bertanggung jawab mengatasi segala etika peraturan. Orang yang bertanggung jawab seperlunya akan melanggar peraturan kalau kelihatan tidak sesuai dengan tuntunan situasi. Misalnya saja, seorang pembantu rumah tangga berhak untuk pergi sesudah jam 18.00, tetapi tetap menjaga anak tuan rumah sampai mereka pulang meskipu lewat jam 18.00 Ketiga, dengan demikian wawasan orang yang bersedia untuk bertanggung jawab secara prinsipsial tidak terbatas. Ia tidak membatasi perhatiannya pada apa yang menjadi urusan dan kewajibanya, melainkan merasa bertanggung jawab dimana saja ia di perlukan.

Keempat, kesediaan untuk bertanggung jawab termasuk kesediaan untuk diminta, dan untuk memberikan, pertanggung jawaban atas tindakantindakanya atas pelaksanaan tugas dan kewajibannya. Kesediaan untuk bertanggung jawab demikian adalah tanda kekuatan bathin yang sudah mantap. 4. Keberanian dan Kemandirian moral Kemandirian moral berarti bahwa kita tak pernah ikut-ikutan saja dengan berbagai pandangan moral dalm lingkungan kita, melainkan selalu membentuk penilaian dan pendirian sendiri dan bertindak sesuai dengannya. Kemandirian moral adalah kekuatan batin untuk mengambil sikap moral sendiri dan untuk bertindak sesuai dengannya. Mandiri secara moral berarti bahwa kita tidak dapat di beli oleh mayoritas, bahwa kita tidak akan pernah rukun hanya demi kebersamaan kalau kerukunan itu melanggar keadilan. Sikap mandiri pada hakekatnya merupakan kemampuan untuk selalu membentuk penilaian terhadap suatu masalah moral. Kemandirian merupakan keutamaan intelektual dan koqnitif. Sebagai ketekatan dalam bertindak sikap mandiri di sebut keberanian moral. Keberanian moral menunjukkan diri dalam tekat untuk tetap mempertahankan sikap yang telah diyakini sebagai kewajiban, walaupun tidak disetujui atau secara aktif dilawan oleh lingkungan. Orang yang berani secara moral akan membuat pengalaman yang menarik. Setiap kali ia berani mempertahankan sikap yang diyakini, ia merasa lebih kuat dan berani dalam hatinya, dalam arti bahwa ia semakin dapat mengatasi perasaan takut dan malu yang sering mencekam dia. Ia merasa lebih mandiri. Ia memberikan semangat dan kekuatan berpijak bagi mereka yang lemah, yang menderita akibat kezaliman pihak-pihak yang kuat dan berkuasa.

5. Kerendahan hati Kerendahan hati tidak berarti bahwa kita merendahkan diri, melainkan bahwa kita melihat diri seadanya. Kerendahan hati adalah kekuatan bathin untuk melihat diri sesuai dengan kenyataannya. Ia tidak mengambil posisi berlebihan yang sulit dipertahankan kalau ditekan. Ia tidak takut bahwa kelemahannya ketahuan. Ia sendiri sudah mengetahuinya dan tidak meyembunyikannya. Tanpa kerendahan hati keberanian moral mudah menjadi kesombongan atau kedok untuk menyembunyikan. Orang yang rendah hati sering menujukkan daya tahan yang paling besar apabila betul-betul harus diberikan perlawanan. Orang yang rendah hati tidak merasa diri penting dan karena itu berani untuk mempertaruhkan diri apabila ia sudah meyakini sikapnya sebagai tanggung jawabnya. 6. Realistis dan Kritis Tanggung jawab moral menuntut sikap yang realistik. Apa yang menjadi kebutuhan orang dan masyarakat yang real hanya dapat di ketahui dari realitas itu sendiri. Sikap realistik mesti berbarengan dengan sikap kritis. Tanggung jawab moral menuntut agar kita terus menerus memperbaiki apa yang ada supaya lebih adil, sesuai dengan martabat manusia, dan supaya orang-orang dapat lebih bahagia. Prinsip-prinsip moral dasar ialah norma kritis yang kita letakkan pada keadaan. Sikap realistik tidak berarti kita menerima realitas begitu saja. Kita mempelajari keadaan dan serealis-realisnya supaya dapat kita sesuaikan dengan tuntunan prinsip-prinsip dasar. Sikap kritis perlu juga terhadap segala macam kekuatan, kekuasaan dan wewenang dalam masyarakat. Kita tidak tunduk begitu saja, kita tidak dapat dan tidak boleh menyerahkan tanggung jawab kita kepada mereka. Begitu pula segala macam peraturan moral tradisional perlu disaring dengan kritis. Peraturan-peraturan itu pernah bertujuan untuk menjamin keadilan dan 5

mengarahkan hidup dalam masyarakat kepada kebahagiaan. Tetapi apakah sekarang masih berfungsi demikian ataukah telah menjadi alat untuk mempertahankan keadaan yang justru tidak adil dan malahan membawa penderitaan. Tanggung jawab moral yang nyata menuntut sikap realistik dan kritis, pedomannya ialah untuk menjamin keadilan dan menciptakan suatu keadaan masyarakat yang membuka kemungkinan lebih besar bagi anggotaanggota untuk membangun hidup yang lebih bebas dari penderitaan dan lebih bahagia.

B. MEMBERI HORMAT DAN SALAM Betapapun setiap masyarakat memiliki moral sosial untuk saling menghormati satu dengan yang lain, di dalam moralitas ini terkandung imoralitas, di dalam tindakan saling menghormati ada rasa tidak hormat. Mari kita melihat bersama bahwa di dalam rasa hormat ada rasa tidak hormat. Ketika kita memberi hormat, di situ terkandung rasa tidak hormat. Kepada siapa kita memberi hormat? Biasanya kita memberi hormat kepada orang-tua, orang yang lebih tua, yang kaya, yang memiliki kedudukan atau kekuasaan, yang memiliki gelar, yang memiliki kemampuan lebih dari pada Anda sendiri, dst. Tetapi mengapa orang-orang suka memberi hormat kepada orang lain yang memiliki kedudukan, tetapi berlaku sewenang-wenang pada bawahan, pada buruh, pembantu rumah-tangga, orang kecil, dst? Siapa sesungguhnya yang kita hormati? Kalau Anda mengetahui bahwa seseorang mempunyai kedudukan di masyarakat, memiliki berbagai gelar kehormatan, bukankah Anda berlaku hormat? Kalau orang tersebut tidak lagi menyandang semua gelar itu, apakah Anda akan tetap berlaku hormat? Ketika Anda bertemu dengan seseorang dan Anda membungkukbungkuk memberi hormat, siapa sesungguhnya yang Anda hormati? Ketika 6

Anda bertemu dengannya dan mengetahui dia tidak memiliki kedudukan atau gelar apapun, dan Anda tidak memberi hormat, siapa sesungguhnya yang tidak Anda hormati? Bukankah kita seringkali menghormati orang lain bukan karena pribadinya tetapi karena gelar, kedudukan atau berbagai atribut yang disandangnya? Jadi siapakah sesungguhnya yang kita hormati, pribadinya atau gelarnya? Ataukah Anda menganggap bahwa harga diri seseorang ditentukan oleh gelar atau atribut yang disandangnya, sehingga tidak ada pribadi yang bisa dihargai kalau dipisahkan dari semua atribut yang disandangnya? Kita haus gelar, nama baik, ketenaran, kedudukan, jabatan, kekayaan, dst. Kita suka memberi hormat dan memuja orang lain yang memiliki apa yang tidak kita miliki. Siapakah sesunggunya yang kita hormati dan kita puja? Bukankah kita menghormati dan memuja keinginan kita sendiri, ambisi kita, impian kita, dst? Lalu kita sendiri juga ingin dihormati dan dipuja karena gelar atau atribut yang kita sandang? Bukankah arogansi atau kesombongan terbentuk karena kita lebih mementingkan gelar atau atribut daripada kualitas kepribadian kita yang tidak berhubungan sama sekali dengan gelar-gelar itu? Dengan menghormati gelarnya lebih daripada kepribadiaannya, bukankah dalam tindakan menghormati itu sesungguhnya ada rasa tidak hormat terhadap pribadi yang kita hormati? Dengan demikian bukankah kita juga tidak menghormati diri sendiri? Gelar atau atribut seseorang sering kali dipakai untuk mengeksploitasi orang lain dan orang lain yang gemar memuja gelar mudah dibohongi atau dieksploitasi. Relasi ekspoitatif dalam menggunakan gelar atau kedudukan bukan pada tempatnya ini bisa diputus kalau orang bebas dari rasa takut. Kita menghormati mereka yang memiliki jabatan atau kekuasaan bukan karena jabatannya tetapi karena kita hormat pada pribadinya. Kita menghormati orang yang lebih tua pertama-tama bukan karena mereka lebih tua, tapi karena pribadinya.

Mengapa kita menghormati orang lain? Apakah kita memberi hormat karena tuntutan moral social, karena kita juga ingin dihargai orang lain, takut tidak dihargai orang lain. Bukankah dalam rasa hormat ada rasa takut, takut mendapat sangsi social, takut tidak mendapatkan apa yang inginkan, takut tidak dihargai,takut kedudukan kita terancam? Moral masyarakat bukan hanya mendorong kita untuk menghargai orang yang masih hidup, tetapi juga orang-orang yang sudah meninggal. Ada berbagai tradisi penghormatan kepada orang lain yang sudah meninggal di kalangan masyarakat tertentu. Salah satunya adalah dengan merawat jenazah orang tua dengan cara yang terbaik sesuai kemampuan keluarga. Misalnya, peti sebisa mungkin dicarikan yang terbaik. Kalau sudah menemukan pilihan yang dirasa cocok, langsung dibayar. Tidak boleh ada tawar-menawar, karena dengan tawar menawar Anda dipandang tidak menghormati pribadi orang yang meninggal. Begitu pula untuk semua keperluan yang lain. Semua disediakan yang terbaik. Kalaupun selama hidupnya orang yang baru meninggal hidup terlunta-lunta, tidak mendapat perhatian semestinya dari anak-anak, pada saat meninggal anak-anak akan berlomba-lomba memberikan yang terbaik baginya. Bagi mereka, itu merupakan perwujudan dari rasa hormat anak-anak terhadap orang tua. Betulkah dalam kasus tersebut, anak-anak menghormati orang-tua mereka? Bukankah mereka menghormati orang-tua mereka yang meninggal karena takut. Kalau tidak memberikan apa yang terbaik, mereka akan mendapat celaka atau rejekinya tidak lancar. Kalau bisa memberikan apa yang terbaik, mereka berharap akan mendapat berkah daripadanya. Begitulah kepercayaan yang mereka miliki turun-temurun. Bagaimana mungkin ada rasa hormat yang benar kalau ada rasa takut? Kita melihat bersama-sama bahwa dalam rasa hormat ada rasa tidak hormat selama batin tidak bebas dari rasa takut. Adakah rasa hormat yang benar yang bukan lawan dari rasa tidak hormat? Rasa hormat yang sesungguhnya hanya terlahir kalau tindakan kita tidak berpusat pada diri dan karenanya tidak ada rasa takut. Pribadi 8

yang demikian adalah pribadi yang rendah hati. Betapapun orang memiliki begitu banyak gelar atau jabatan, sukses atau berprestasi dalam banyak hal, semua itu masa sekali tidak menambah apapun pada kualitas batin seseorang. Kerendahan hati tidak diukur oleh kemampuan kita menghormati atau tidak menghormati, tetapi kemampuan menegasi keduanya, menegasi semua tindakan yang bersumber pada diri, menegasi semua moralitas yang kita lihat sesungguhnya tidak bermoral.

CONTOH PERCAKAPAN
Memberi hormat dan salam Pasien Perawat Pasien Perawat Pasien Perawat Pasien Perawat Pasien Perawat Pasien Perawat : Assalamualaikum : Walaikumsalam..silahkan duduk bu : Iya,terimakasih : Mohon maaf sebelumnya, atas nama siapa ya bu ? : Saya atas nama desi : Ya, ada keluhan apa bu desi ? : Saya merasa drmam dan kepala saya agak sakit sus.. : Sudah berapa hari sakitnya bu? : Kira-kira sudah 3 hari ini sus.. : Baiklah dokter akan periksa lebih lanjut, sebelumnya ada yang ingin ditanyakan bu ?? : Tidak ada.. : Baiklah kalau tidak ada yang ingin ditanyakan, silahkan ibu menuju tempat tidur..

10

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan Dari pembahasan diatas, dapat kami simpulkan : 1. Bahwa orang yang memiliki sikap kepribadian moral yang kuat harus memiliki sifat kejujuran,bertanggung jawab, berani, mandiri, rendah hati, realistis dan kritis. 2. Rasa hormat yang sesungguhnya hanya terlahir kalau tindakan kita tidak berpusat pada diri dan karenanya tidak ada rasa takut. Pribadi yang demikian adalah pribadi yang rendah hati. Betapapun orang memiliki begitu banyak gelar atau jabatan, sukses atau berprestasi dalam banyak hal, semua itu sama sekali tidak menambah apapun pada kualitas batin seseorang. Kerendahan hati tidak diukur oleh kemampuan kita menghormati atau tidak menghormati, tetapi kemampuan menegasi keduanya, menegasi semua tindakan yang bersumber pada diri, menegasi semua moralitas yang kita lihat sesungguhnya tidak bermoral. B. Saran Demikian makalah tentang sikap kepribadian moral yang kuat dan memberi hormat serta salam. Saran yang dapat kami tuliskan disini semoga makalah agama ini dapat bermanfaat dalam pembelajaran mahasiswa.

DAFTAR PUSTAKA
11

Kafepknums.blogspot.com/2010/04/sikap kepribdian moral yang kuat www.freewebs.com /sikapsikap.htm gerejastanna.org/memahami-imoralitas

12