Anda di halaman 1dari 4

PEMAAF

Memaafkan orang lain adalah salah satu keutamaan akhlak yang sangat ditekankan oleh AlQuran dan ajaran Ahlul Bait as. Al-Quran sangat menekankan supaya mukminin mendominasikan sikap memaafkan dan semangat berkorban untuk orang lain dalam kehidupan dan hubungan sosial mereka supaya kelak pada hari kiamat bisa memperoleh ampunan Allah Yang Maha Tinggi, ungkapnya. Barang siapa menginginkan supaya Allah mengampuni dosa-dosanya pada hari kiamat kelak, maka hendaknya ia memaafkan dosa dan kesalahan orang lain di dunia dan jangan memendam kedengkian, tegasnya melanjutkan. Di bagian lain uraiannya, Ayatullah Mazhahiri mengupas masalah syafaat dan syarat-syaratnya. Menurutnya, syafaat Ahlul Bait as pada hari kiamat memerlukan persiapan-persiapan. Yang berhak menerima syafaat adalah mereka yang telah mampu menghiasi diri mereka dengan karakteristik Ahlul Bait as di dunia ini dan semampu mungkin telah menyerupakan diri dengan mereka.

Salah satu kriteria dan keutamaan akhlak yang terjelma secara khusus dalam diri Ahlul Bait as adalah sifat memaafkan orang lain. Metode yang selalu digunakan oleh Rasulullah saw dan para maksumin as dalam menghadapi kesalahan dan bahkan hinaan orang lain adalah perlakuan yang sangat mulia. Mereka memaafkannya dan malah berbuat kebajikan kepadanya. Hal ini menyebabkannya merasa malu atas perbuatan yang telah ia lakukan. Dalam ayat Al-Quran dijelaskan bahwa balasan bagi sebuah perbuatan buruk adalah perbuatan buruk yang serupa dengannya. Lahiriah ayat ini memperbolehkan kita untuk membalas sebuah perbuatan buruk dengan perbuatan buruk yang serupa. Tapi, makna akhlaki ayat ini menegaskan, jika seseorang membalas kesalahan orang lain dengan kesalahan yang serupa, maka ia telah berbuat sebuah kesalahan juga. Pada kelanjutan uraiannya, Ayatullah Mazahiri menguraikan tiga tingkatan yang dimiliki oleh rasa memaafkan dalam pandangan Al-Quran. Pada tingkat pertama, seseorang memperhitungkan keburukan dan kesalahan yang telah dilakukan oleh orang lain. Tapi, ia rela memaafkannya demi keridaan Allah. Pada tingkat kedua, seseorang tidak pernah memperhitungkan keburukan dan kesalahan yang telah dilakukan oleh orang lain. Dalam terminologi Qurani, sifat memaafkan seperti ini disebut shafh. Tapi, pada tingkatan ketiga, bukannya seseorang tidak memperhitungkan kesalahan orang lain, tapi malah ia berbuat kebajikan kepadanya. Dalam terminologi Qurani, sifat memaafkan ini disebut ghufran.

Sikap ghufran dalam menghadapi kesalahan orang lain adalah sebuah tindakan yang sangat sulit. Akan tetapi, Al-Quran senantiasa mengajak seluruh mukminin dan para pengikut Syiah sejati, di samping memaafkan dan shafh, juga harus berbuat kebajikan kepada mereka yang telah berbuat kesalahan. Dalam pandangan Ayatullah Mazhahiri, seluruh problematika rumah tangga yang kadangkadang berkecamuk di tengah masyarakat muncul lantaran kriteria memaafkan yang sudah semakin melemah. Jika semangat memaafkan ini dominan di tengah masyarakat, niscaya seluruh problematika rumah tangga dan sosial dapat terselesaikan dengan sangat mudah, ujarnya. Sekarang ini, banyak para tawanan yang sedang mendekam di dalam rumah tahanan hanya lantaran tidak mampu membayar mahar, tidak mampu membayar diyat lantaran kriminal tak sengaja, atau karena utang melilit yang tak sanggup dibayar. Jika angka para tawanan membludak, maka kondisi masyarakat kita sangat mengkhawatirkan, ungkapnya mengkhawatirkan. Ayatullah Mazhahiri menegaskan, jika semangat memaafkan mendominasi masyarakat, alangkah banyaknya para tawanan ini yang terbebaskan. Seandainya rasa saling toleransi mendominasi masyarakat kita dan seluruh anggota masyarakat kita rela membantu fakir miskin dengan semangat kedermawanan, niscaya tak seorang pun akan jatuh ke dalam penjara hanya lantaran utang. Dengan demikian, penjara hanya akan dihuni oleh kuman-kuman masyarakat yang memang harus menerima balasan mereka di dalam penjara, tandasnya. Ayatullah Uzhman Husain Mazhahiri juga sangat mengkhawatirkan peningkatan jumlah perceraian yang hari demi hari semakin menghantui masyarakat kita. Perceraian yang sekarang ini sedang marak di tengah masyarakat muncul dari kenihilan semangat memaafkan di dalam rumah tangga. Jika suami dan istri saling memaafkan kesalahan masing-masing, atau tidak memperhitungkan kesalahan yang pernah dilakukan oleh masing-masing, dan lebih dari itu malah berbuat kebajikan terhadap sesama, niscaya mereka akan memiliki kehidupan yang tenteram dan tenang. Dalam kondisi seperti ini, permasalahan mereka tidak akan pernah sampai pada jenjang perceraian, ungkapnya menyesalkan. Di akhir uraiannya, Ayatullah Mazhahiri berpesan supaya kita memanfaatkan keutamaan malammalam Lailatul Qadr ini dengan sebaik mungkin. Pada bulan Ramadhan dan khususnya malammalam Lailatul Qadr ini, Allah akan mengampuni hamba-hamba-Nya dalam jumlah yang sangat banyak. Tapi perlu kita ingat bersama, ampunan Allah tidak akan sampai kepada para pendengki yang enggan memaafkan orang lain, pesannya. Source : http://www.shabestan.net/id/pages/?cid=5788

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah, bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak

ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. an-Nur [24]: 22) Pertama, dapat menyelesaikan perselisihan atau perseteruan. Perselisihan atau perseteruan mungkin timbul lantaran ada pihak yang melakukan perbuatan aniaya dan pihak lain merasa teraniaya. Jika pihak yang bersalah tidak mau meminta maaf, dan pihak yang merasa teraniaya juga enggan memaafkannya, maka perselisihan tersebut akan sulit diselesaikan. Tetapi dengan adanya sifat pemaaf niscaya perselisihan dan perseteruan tersebut dapat didamaikan. Kedua, dapat menghilangkan rasa benci, dengki dan dendam. Benci, dengki dan dendam mungkin timbul karena suatu perseteruan yang belum bisa diselesaikan, lalu mendorong pihak-pihak yang berseteru untuk melakukan balas dendam, mencederai dan menghancurkan pihak lawan. Jika masing-masing pihak berlapangdada serta dengan tulus mau berdamai dan saling memaafkan, Insya Allah rasa benci, dendam dan dengki tersebut akan bisa dihilangkan. Ketiga, dapat menyambung silaturrahim yang telah putus. Dua orang bersaudara atau bertetangga, bisa jadi terganggu komunikasinya sehingga bertahun-tahun tidak saling bertegur-sapa. Padahal, pemicunya mungkin sepele, katakanlah gara-gara masalah anak. Namun karena keduanya merasa berada di pihak yang benar dan tidak ada yang mau mengalah, akibatnya silaturrahim antara keduanya menjadi terputus. Keempat, dapat memperkokoh ukhuwah Islamiyah (persatuan dan kesatuan umat). Di dalam kehidupan umat Islam banyak terjadi perbedaan faham dan pendapat, baik di bidang fikih maupun bidang-bidang lainnya. Perbedaan-perbedaan tersebut kadang sampai menimbulkan konflik dan benturan yang cukup keras. Maka, bila setiap Muslim bersikap pemaaf terhadap saudaranya, berlapang dada dan saling menghormati pendapat yang berbeda tersebut, insya Allah persatuan dan kesatuan umat akan bisa diperkokoh. Kelima, pemaaf itu dapat menghilangkan rasa permusuhan dan memperbanyak teman. Islam melarang permusuhan antarsesama. Sebaliknya, Islam sangat menganjurkan membangun persahabatan sebanyak mungkin. Untuk itulah Islam menganjurkan sifat pemaaf dan ketulusan hati kepada para pemeluknya, karena sifat pemaaf yang tulus itu akan menghilangkan sifat benci dan dendam, menghilangkan rasa permusuhan dan mempersubur persahabatan. Keenam, melahirkan sifat tawadu, menghilangkan sifat sombong dan angkuh. Sifat sombong dan angkuh dapat timbul pada diri seseorang, karena ia merasa lebih dari yang lain, paling baik, paling benar dan paling mampu dalam segala hal. Sifat-sifat ini sering membuat orang enggan meminta maaf, karena ia merasa tidak pernah bersalah, sehingga ia gengsi untuk meminta maaf, bahkan meminta maaf dianggapnya identik dengan kerendahan diri. Ketujuh, dapat menghapus dosa dan memudahkan jalan ke surga. Allah tidak akan mengampuni dosa seseorang dan tidak akan memasukkannya ke surga sebelum orang tersebut terlebih dulu menyelesaikan urusannya di dunia, sangkut pautnya dengan orang lain sehingga mereka berdamai dan saling memaafkan. Kedelapan, menjadikan hati tenang-tenteram. Dosa adalah sesuatu yang membuat pelakunya gelisah, tidak tenang. Apalagi kalau dia telah menyadari betul bahwa perbuatannya itu tidak benar, maka bisa dipastikan, maka hidupnya tidak akan pernah merasa tenang, setiap hari dihantui oleh rasa bersalah atau berdosa. Jika dia telah meminta maaf, dan kesalahannya dimaafkan oleh orang lain, barulah hatinya akan tenang. Kesembilan, sifat pemaaf itu akan melahirkan pemaaf juga. Ada orang yang ingin semua kesalahannya dimaafkan oleh orang lain, sementara dia sendiri enggan memaafkan kesalahan orang lain. Tentu orang lain akan sulit menerima hal itu. Jika kesalahan kita ingin dimaafkan oleh orang lain, maka terlebih dahulu maafkanlah kesalahan-kesalahan orang lain, niscaya orang lain akan memaafkan kesalahan kita. Kesepuluh, sifat pemaaf itu merupakan bagian dari strategi dakwah yang jitu. Kaum kafir Quraisy demikian dahsyat memusuhi Nabi Muhammad dan umat Islam. Umat Islam di masa itu, selalu diganggu, disiksa bahkan dibunuh. Tetapi, ketika kaum Muslimin berhasil menguasai Makkah dan Jazirah Arab, Nabi Muhammad SAW segera memaklumkan amnesty umum, memaafkan semua kesalahan semua orang kafir

Quraisy. Tindakan Nabi itu, ternyata membuat mereka tersentuh dan terharu, sehingga kemudian mereka berbondong-bondong masuk Islam. Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang maruf, serta berpalinglah dari pada orangorang yang bodoh, QS. Al-Araf 7:199. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar, QS. Al-Fushilat 41:35 Shodaqolloohul Azhiim