Anda di halaman 1dari 38

DUH Tubuh pada Pria

BAB I PENDAHULUAN

Penyakit Menular Seksual (Sexually Transmitted Disease) adalah penyakitpenyakit yang dapat ditularkan melalui hubungan kelamin. Salah satu gejala dari STD ini adalah berupa DUH tubuh uretra. 13 Duh tubuh adalah suatu gejala dimana keluarnya cairan atau sekret dari uretra, baik cairan serosa ataupun mukosa tidak berupa darah ataupun urin. Duh bisa bersifat fisiologi ataupun patologis contoh pada uretritis gonore ataupun non spesifik (uretritis non-gonore). 1 Sangat penting dalam membedakan duh tubuh fisiologis atau patologis, dengan berbagai kriteria klinik, seperti laboratorium dan mikrobiologi karena menentukan keberhasilan pengelolaan duh tubuh.10 Penyebab DUH tubuh, seperti halnya gonore, biasanya menyerang remaja yang aktif secara seksual, dewasa muda, dan bangsa Afrika Amerika. Hal ini pula dapat disebabkan karena sulitnya menjangkau fasilitas kesehatan, lingkungan yang padat penduduk, dan faktor pasangan. Faktor resiko untuk terkena infeksi gonore baru meliputi: berganti-ganti pasangan, usia yang masih muda, status belum menikah, suku bangsa minoritas, konsumsi napza, sosio-ekonomi yang rendah, serta rendahnya tingkat pendidikan. 7

BAB II
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

DUH Tubuh pada Pria

DUH TUBUH PADA PRIA

A. DEFINISI
Seperti yang sudah dikemukakan di atas bahwa DUH tubuh pada pria adalah berupa DUH tubuh uretra, yaitu suatu gejala berupa keluarnya cairan dari uretra baik mukus ataupun serosa tidak berupa darah ataupun urin. Secara umum DUH tubuh uretra ini bisa bersifat fisiologis dan bisa bersifat patologis misalnya pada uretritis gonore dan uretritis non spesifik.1

B. ETIOLOGI
Berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi fisiologis dan patologis. Pada pria, sekret uretra merupakan gejala paling umum nampak pada penyakit menular seksual.1 Pada pria sekret normal yaitu sperma, yang dihasilkan dari testis, dan semen yang dihasilkan oleh prostat dan vesikula seminalis.1,10 DUH Patologis pada pria dapat dibagi atas Urethritis gonococcal, yaitu jika ditemukan kuman Neisseria gonorrhoeae, dan Urethritis non-gonococcal, yaitu jika tidak ditemukan kuman Neisseria gonorrhoeae.

Tabel 1. Etiologi Duh Uretra

C. DIAGNOSIS
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

DUH Tubuh pada Pria Diagnosis dari DUH tubuh dapat dilakukan dengan anamnesis dan pemeriksaan atas DUH tersebut. Anamnesis harus dilakukan dengan hati-hati, mengingat objek yang kita periksa adalah organ seksual. Biasanya pasien akan datang dengan perasaan takut, gelisah, ataupun malu. Pasien hendaknya diyakinkan bahwa anamnesis yang akan kita lakukan adalah rahasia, dan sebaiknya kita pun melakukannya dengan santai dan percaya diri, sehingga pasien akan terbuka untuk memberikan informasi kepada kita.4 Sebaiknya pada anamnesis, ditanyakan: 1. Sejak kapan muncul cairan dari alat kelamin? 2. Kira-kira seberapa sering muncul cairan dari alat kelamin? 3. Bagaimana warnanya? 4. Bagaimana konsistensinya? 5. Apakah disertai rasa panas, gatal, nyeri? 6. Apakah disertai gejala-gejala yang lain, contoh:demam? 7. Seberapa sering anda membersihkan alat kelamin anda? 8. Terangkan tentang seksualitas anda. Anda memilih pasangan pria, wanita, atau bisa pria dan wanita? 9. Apakah pasangan anda mengalami gejala yang sama? 10. Bagaimana hubungan/komunikasi antar pasangan anda? 11. Apakah anda suka berganti-ganti pasangan? 12. Apakah anda memakai pelindung (contoh: kondom) saat berhubungan seksual? 13. Apakah anda sebelumnya pernah berobat? 14. Apakah anda pernah membeli obat tanpa resep dari dokter? Jika ya, obat apakah itu?

Cara pengambilan sample DUH pada pria adalah: 1. Lakukan pembersihan meatus dengan kasa basah yang 3

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

DUH Tubuh pada Pria dilumuri dengan cairan fisiologis. 2. Duh tubuh uretra diambil dengan sengkelit dengan memasukan kedalam uretra sampai fossa navikulari. 3. Oleskan duh tersebut ke gelas objek untuk pemeriksaan gram, atau media kultur untuk pemeriksaan gonokokus. 4. Pemeriksaan swab khusus untuk Chlamidia

5. Bila duh tubuh yang didapat sedikit, dapat dilakukan manipulasi terhadap penis terlebih dahulu, dengan mengurut penis ke satu arah.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

DUH Tubuh pada Pria

Gambar 1: Diambil sesuai aslinya dari Prosedur Pelayanan Medis Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI), 2011

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

DUH Tubuh pada Pria

Gambar 2: Diambil sesuai aslinya dari Prosedur Pelayanan Medis Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI), 2011

BAB III
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

DUH Tubuh pada Pria

PENYAKIT-PENYAKIT DENGAN KELUHAN DUH TUBUH PADA PRIA

1. GONORE Definisi
Uretritis gonore akut merupakan salah satu penyakit hubuungan seksual yang disebabkan oleh kuman Neisseria gonorrhoeae yang menyerang uretra pada laki-laki, paling sering ditemukan dan mempunyai insiden yang cukup tinggi.13

Epidemiologi
Gonore terdapat dimana-mana diseluruh dunia dan merupakan penyakit kelamin yang terbanyak dewasa ini. Tidak ada imunitas bawaaan maupun setelah menderita penyakit. Juga tidak ada perbedaan mengenai kekebalan antara berbagai suku bangsa atau jenis kelamin atau umur. Diperkirakan setiap tahun tidak kurang dari 25 juta kasus baru ditemukan didunia.beberapa strain kuman gonokok yang resisten terhadap penisilin, quinolone dan antibiotic lainnya telah ditemukan beberapa tahun yang lalu dan membawa persoalan dalam pengobatan, telah tersebar dibeberapa Negara.13,16

Karakteristik kuman
Neisseria Gonorhoeae merupakan kuman kokus gram negatif, berukuran 0.6 sampai 1.5 mikrometer berbentuk diplokokus seperti biji kopi dengan sisi yang datar berhadap-hadapan. Kuman ini tidak motil dan tidakmembentuk spora. Neisseria Gonorhoeae dapat dibiakkan dalam media Thayer martin dengan suhu optimal. Kellog membedakan Neisseria Gonorhoeae berdasarkan pertumbuhan koloninya pada media agar, yaitu: 15 T1 bentuk koloninya kecil, cembung, dan lebih terang. Memiliki pili T2 bentuk koloninya kecil, lebih gelap, tepi lebih terang. Memiliki pili

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

DUH Tubuh pada Pria T3 bentuk koloninya lebih besar, datar, dan lebih gelap T4 bentuk koloni lebih besar, datar, dan lebih terang

Gambar 3: Karakteristik Kuman Sumber: http://www.microbiologyinpictures.com/images/NEGO%20picture.jpg Makin kecil N. Gonorhoeae makin tinggi virulensinya, karena sel bakteri ini memiliki pili yang memudahkan perlekatannya dengan dinding sel selaput lendir.15

Mikrobiologi
Dengan mikroskop elektron, dinding N. Gonorhoeae terlihat mempunyai komponen-komponen permukaan yang diduga berperan pada pathogenesis virulensinya. Komponen permukaan tersebut dimulai dari lapisan dalam ke luar dengan susunan sebagai berikut :14
1.

Membrane sitoplasma membrane ini menghasilkan beberapa enzim seperti

suksinat dehidrogenase, laktat dehidrogenase, NADH dehidrogenase dan ATP ase


2.

Lapisan peptidoglikan lapisan ini mengandung beberapa jenis asam amino

sepertipadakuman gram negative lainnya. Lapisan ini mengandung peniciline binding component yang merupakan sasaran antibiotic penisilin dalam proses kematian kuman. Terjadi hambatan sintesis dinding sel, sehingga kuman akan mati.
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

DUH Tubuh pada Pria 3. Membrane luar dinding sel

Terdiri dari : Lapisan polisakarida Pili Protein Lipo oligosaccharide (LOS) Ig A 1 protease

Manifestasi klinis
Penyakit menular seksual (PMS) dimaksudkan sebagai penyakit yang ditularkan secara langsung dari seseorang ke orang lain melalui kontak seksual.Namun penyakit gonore ini dapat juga ditularkan melalui ciuman atau kontak badan yang dekat. Kuman patogen tertentu yang mudah menular dapat ditularkan melalui makanan, transfusi darah, alat suntik yang digunakan untuk obat bius. Masa tunas gonore sangat singkat. Pada pria umumnya sekitar2-5 hari. Pada waktu masa tunas sulit untuk ditentukan karena pada umumnya asimptomatis. Infeksi N. Gonorhoeae merupakan fase akut yang didahului rasa panas dibagian distal urethra diikuti rasa nyeri pada penis, keluhan berkemih seperti disuria dan polakisuria. Terdapat duh tubuh yang bersifat purulen atau seropurulen, kadang-kadang juga terdapat ektropion. Pada beberapa keadaan, duh tubuh baru keluar bila dilakukan pemijatan atau pengurutan korpus penis kearah distal, tetapi pada keadaan penyakit yang lebih berat nanah tersebut menetes sendiri keluar.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

DUH Tubuh pada Pria

Diagnosis
Diagnosa ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
1. Anamnesis

pada anamnesis ditemukan gejala subjektif berupa : Gatal, panas pada distal uretra, disuria, polakisuria, keluar duh tubuh mukopurulen yang kadang disertai darah, nyeri pada waktu ereksi.14
2. Pemeriksaan fisik

pada pemeriksaan fisik ditemukan Gejala objektif :Orificium uretra eksternum eritematosa, edematosa, dan ektropion.Tampak pula duh tubuh yang seropurulen atau mukopurulen dan dapat disertai pembesaran kelenjar getah bening inguinal unilateral atau bilateral.14 3. Pemeriksaan penunjang 1. Pewarnaan Gram ( Sediaan langsung ) Gram-negatif diplokokus intrasellular terhadap PMN pada pemeriksaan eksudat . Pada sediaan langsung dengan pengecatan gram akan ditemukan gonokokus negatif gram, intraseluler dan ekstra seluler, berbentuk biji kopi. Selain itu dapat ditemukan juga lekosit PMN 5/lpb. Bahan duh tubuh pria diambil dari daerah fosa navikularis, sedangkan pada wanita diambil dari uretra, muara kelenjar bartholin, serviks, dan rectum 17. Pemeriksaan gram dari duh uretra pada pria memiliki sensitivitas tinggi (90-95%) dan spesifisitas 95-99%. Sedangkan dari endoserviks, sensitivitasnya hanya 45-65%, dengan spesifisitas 90-99%. 17

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

10

DUH Tubuh pada Pria

Gambar 4: Pewarnaan Gram Kuman Diplokok Sumber: http://textbookofbacteriology.net/themicrobialworld/pathogenesis.html 2. Kultur Isolasi pada media- selektif gonokokkus, contohnya agar darah coklat, media Martin Lewis, media Thayer Martin. Test kerentanan mikrobial penting karena adanya strain yang resistensi. Media Transport a. b. Media Stuart: hanya untuk transport saja, sehingga perlu Media Transgrow: selektif dan nutritive untuk N. gonorrhoeae ditanam kembali pada media pertumbuhan.17 dan N. meningitidis, dalam perjalanannya dapat bertahan hingga 96 jam dan merupakan gabungan dari media transport dan media pertumbuhan. Media ini merupakan modifikasi media Thayer Martin dengan menambahkan trimetoprim untuk mematikan Proteus.17

Media Pertumbuhan a. Media Thayer-martin: selektif untuk mengisolasi gonokok. 11

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

DUH Tubuh pada Pria Mengandung vankomisin untuk menekan pertumbuhan kuman positifgram, kolimestat untuk menekan pertumbuhan bakteri negatif-gram, dan nistatin untuk menekan pertumbuhan jamur.17 b. c. Modifikasi Thayer-martin: isinya ditambah dengan trimetoprim untuk menekan pertumbuhan kuman Proteus spp.17 Agar coklat McLeod: berisi agar coklat, agar serum, dan agar hidrokel. Dapat ditumbuhi kuman selain gonokokus.17

Gambar 5: Kultur pada agar coklat Mc Leod Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Neisseria_gonorrhoeae 3 a. Tes Definitif Tes Oksidasi Reagen oksidasi yang mengandung larutan tetrametil-p-fenilamin hidroklorida 1% ditambahkan pada koloni gonokok tersangka. Semua Neisseria memberikan reaksi positif dengan perubahan warna koloni yang semula bening berubah menjadi merah muda sampai merah lembayung17.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

12

DUH Tubuh pada Pria

Gambar 6: Tes Oksidasi Sumber: http://www.microbiologyinpictures.com/neisseria %20gonorrhoeae.htm b. Tes Fermentasi Tes Oksidasi Positif dilanjutkan dengan tes fermentasi memakai glukosa, maltosa, dan sukrosa. Kuman gonokok hanya meragikan glukosa . 17 4 Tes Beta laktamase Tes ini menggunakan cefinase TM disc. BBL 96192 yang mengandung cheomogenic cephalosporin. Apabila kuman mengandung enzim beta-laktamase, akan menyebabkan perubahan warna dari kuning menjadi merah. 17 5 Tes Thomson Tes Thomson ini berguna untuk mengetahui sampai dimana infeksi sudah berlangsung.Dahulu pemeriksaan ini perlu dilakukan karena pengobatan pada waktu itu ialah pengobatan setempat. 16 Gelas Gelas Arti 13

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

DUH Tubuh pada Pria I Jernih II Jernih Tidak ada infeksi Keruh Jernih Infeksi uretritis anterior Keruh Jernih Keruh Keruh Panuretritis Tidak mungkin

Tabel 1. Hasil pembacaan Tes Thomson.diambil dari kepustakaan 6. Nasution MA, Zuliham. Penatalaksanaan Gejala Duh Tubuh Uretra in Cermin dunia kedokteran 1992; 80. Available at : http://www.kalbe.co.id/files/cdk/fles37penatalaksanaanGejalaDuh TubuhUretra.pdf/37_penatalaksanaan. Accesed on juni 2011.

Pada tes diatas ada syarat yang perlu diperhatikan : Sebaiknya dilakukan setelah bangun pagi Urin dibagi dalam 2 gelas Tidak boleh menahan kencing dari gelas I ke gelas II

Syarat mutlak ialah kandung kencing harus mengandung air seni paling sedikit 80 100 ml, jika air seni kurang dari 80 ml, maka gelas II sukar dinilai karena baru menguras uretra anterior17

Pada sediaan langsung dengan pewarnaan gram didapatkan kuman diplokokus gram negatif intraselluler atau ekstraselluler. Kultur : ditemukan kuman gonokokus Tes oksidasi : perubahan warna koloni yang semula bening berubah menjadi merah muda sampai merah lembayung Tes Fermentasi : kuman gonokokus hanya meragikan glukosa 14

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

DUH Tubuh pada Pria Tes Beta Laktamase : perubahan warna koloni dari kuning menjadi merah Tes Thomson: hanya untuk mengetahui sejauhmana infeksi sudah berlangsung.

Komplikasi
Umumnya penyulit akan timbul jika uretritis tidak cepat diobati atau mendapat pengobatan yang kurang adekuat. Di samping itu, duh tubuh yang bersifat purulen atau seropurulen, kadang-kadang juga terdapat ektropion. Pada pria penyulit lokal yang terjadi dapat berupa : tysonitis, parauretritis, litritis, cowperitis, prostatitis, vesikulitis, funikulitis, epididimitis, cystitis dan proktitis .

Tysonitis kelenjar Tyson terletak di kiri-kananfrenulum penis yang

fungsinya memproduksi smegma. Pada organ ini jarang timbul peradangan kecuali bila preputium kebersihannya kurang. Bila terjadi peradangan dan menimbulkan sumbatan pada saluran kelanjarnya, maka akan terjadi abses kecil pada salah satu sisi di sebelah frenulum dengan gejala bengkak, merah, dan agak nyeri.

Parauretritis untuk menegakkan diagnosis parauretritis perlun

pengamatan cermat dengan caramenekan kelenjar yang terletak pada tepi lubang kencing (orifisium uretra eksternum) akan terlihat keluarnya nanah dari saluran kelenjar

Llitritis manifestasi klinis berupa abses kecil pada dinding uretra.

Biasanya tidak memberi keluhan. Pada tes dua gelas, pada gelas pertama terlihat lender seperti benang melayang-layang pada urine

Cowperitis kelenjar cowper ini terletakpada perineum. Abses pada

kelenjar ini menimbulkan rasa nyeri, panas, dan rasa penuh pada perineum. Serta sara nyeri waktu buang air besar diikuti frekuensi kencing yang meningkat. Abses selalu unilateral dan memecah ke perineum.

Prostatitis pada keadaan akut memberikan keluhan panas badan, 15

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

DUH Tubuh pada Pria sakit pada daerah perineum, dan rasa keluhan menjadi lebih hebat disertai rasa sakit waktu buang air besar. Abses ini dapat pecah kedalam uretra atau rectum dan menimbulkan proktitis. Nanah yang menyebar kesegala arah akan menimbulkan abses yang dapat memecah pada permukaan kulit, di perineum atau di lain tempat

Vesikulitis vesikulitis biasanya disertai posterior uretritis dan

prostatitis. Gejala klinisnya merupaka campuran dari gejala uretritis posterior dan prostatitis akut. Gejala lain yang sering menyertai berupa sering ereksi, ejakulasi, dan semen mengandung darah.

Funikulitis dan epididimitis infeksi dari uretra posterior yang

menjalar melalui funikulus spermatikus ke epididimitis dapat menyebabkan funikulitis dan epididimitis. Pada perabaan epididimis membesar, nyeri tekan, dan kulit diatasnya tampak kemerahan. Funikulus spermartikus juuga membesar dan nyeri tekan, keadaan ini bisa diikuti terjadinya hidrokel dari tunika vaginalis dan sering disangka sebagai pembesaran testis. Epididimitis ini biasanya unilateral,tetapi bila terjadinya bilateral dapat mengakibatkan kemandulan

Cystitis peradangan kandung kemih akibat infeksi pada daerah

trigonum. Gejalanya berupa nyeri berkemiih, frekuensi berkemih meningkat dan keluarnya tetesan darah pada akhir kencing (terminal hematuri)

Proktitis merupakan infeksi pada rectum yang sering ditemukan

pada penderita homoseksual. Infeksi pada rectum berhubungan dengan inokulasi langsung pada saat berhubungan badan melalui anus (anogenital sex). Gejalanya berupa rasa gatal atau terbakar pada anus, tenesmus, dan nyeri sat buang air besar. Kadang kotoran bercampur dengan darah, nanah, dan lender. Pada pemeriksaan dengan proktoskopi ditemukan adanya kemerahan pada dinding rectum, bengkak,dan permukaannya tertutup nanah atau lendir.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

16

DUH Tubuh pada Pria

PENATALAKSANAAN
Non Medikamentosa Bila memungkinkan, periksa dan obati pasangan seksual tetapnya. Anjurkan abstinensia sampai terbukti sembuh secara laboratories, dan bila tidak dapat menahan diri dianjurkan memakain kondom. Kunjungan ulang pada hari ke-3 dan ke-8. Konseling : jelaskan mengenai penyakit gonore, kemungkinan komplikasi, cara penularan,serta pentingnya pengobatan pasangannya. Konseling mengenai kemungkinan risiko tertular HIV , hepatitis B, hepatitis C, dan penyakit infeksi menular seksual lainnya.

Khusus Di banyak negara, resistensi antimikroba terhadap beberapa kuman penyebab IMS patogen terus meningkat., sehingga hal ini akan menyebabkan beberapa obat yang cukup murah tidak efektif lagi. Rekomendasi untuk menggunakan obat yang lebih efektif harus mempertimbangkan harga dan kemungkinan salah penggunaan. Obat yang digunakan untuk IMS di semua fasilitas pelayanan sekurangkurangnya harus mempunyai tingkat efektivitas 90%. Rincian pengobatan duh tubuh uretra adalah sebagai berikut : Pengobatan berdasarkan uretritis CDC gonore Pengobatan uretritis gonore di Indonesia for

(Center

Diaseases Control) Pilih salah satu dari beberapa pengobatan yang dianjurkan Sefiksim 400mg peroral, dosis tunggal Levofloksasin 250 mg peroral dosis tunggal Penisilin G prokain akua, dosis 4,8 juta unit + 1 gram probenesid peroral Amoksisilin, dosis 3 gram peroral + 1 gram probenesid peroral 17

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

DUH Tubuh pada Pria Pilihan pengobatan lain Kanamisin 2 gr im dosis tunggal Spektinomisin 2 gr im dosis tunggal Tiamfenikol 3,5 gr peroral dosis tunggal Seftriakson 0,25 gr im dosis tunggal Sefoperazon 0,5 1 gr im Kanamisin 2 gr im dosis tunggal Spektinomisin 2 gr im dosis tunggal Tiamfenikol 3,5 gr peroral dosis tunggal Ofloksasin 400 mg peroral Ciprofloksasin 250-500 mg peroral Norfloksasin 800 mg peroral

Tabel 2. Rincian pengobatan duh tubuh uretra. Diambil dari kepustakaan 13. Departemen of Health and Human Disease: Centers for Disease Control and Prevention. Gonorrhea and Related Species. [online].2007 [cited 2007 November 27]; [7 screens]. Available from URL:http//www.cdc.gov/std/pubs.htm. 1. Gonore dengan komplikasi Gonore dengan komplikasi seperti bartolinitis, epididimitis, orkitis, dan lain-lain, harus diobati dengan regimen dosis ganda (multiple doses) Cara pengobatan yang dianjurkan : Lama pengobatan per oral 5 hari, dan perinjeksi 3 hari: - cefixim 400mg per oral, dosis tunggal sekali sehari atau - Levofloksasin 250mg per oral, dosis tunggal sekali sehari Pilihan pengobatan lain: Lama pengobatan per oral 5 hari, dan per injeksi 3 hari - Kanamisin - Tiamfenikol 2 gr im dosis tunggal sekali sehari atau 3,5 gr per oral sekali sehari - Spektinomisin 2 gr im dosis tunggal sekali sehari atau Untuk meningitis dan endokarditis yang disebabkan oleh gonokokus dapat diberikan dalam dosis yang sama, namun memerlukan jangka waktu pemberian yang lebih lama, yaitu selama 4 minggu untuk endokarditis.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

18

DUH Tubuh pada Pria

PROGNOSIS
Prognosis pada penderita dengan gonore tergantung cepatnya penyakit dideteksi dan diterapi.Penderita dapat sembuh sempurna bila dilakukan pengobatan secara dini dan lengkap.Tetapi jika pengobatan terlambat diberikan,maka kemungkinan besar dapat menyebabkan komplikasi lebih lanjut.12

2. KLAMIDIASIS

Gambar 7: Clue cell Sumber : http://sexual-communication.wikispaces.com/Chlamydia Infeksi Chlamydia trachomatis merupakan penyebab terbanyak infeksi menular seksual (IMS) dan penyebab IGNS yang tersering.16 Kuman ini ditemukan di uretra dari 25% sampai 60% kasus pria dengan UGN, 4% - 35% pria dengan gonore, dan pada 0-7% pada pria dengan uretritis asimtomatis.16 Sering ditemukan infeksi Chlamydia pada wanita dewasa yang seksual aktif, dan berhubungan erat dengan usia muda pertama kali kontak seksual serta lamanya waktu aktivitas seksual.3 Pada wanita urban, ditemukan 15% infeksi endocerviks yang disebabkan oleh Chlamydia, sedangkan pada wanita hamil dengan sosio-ekonomi rendah ditemukan sebanyak lebih dari 20%.16

Etiologi dan pathogenesis Chlamydia trachomatis


Terdapat 18 serotipe C. trachomatis yang telah teridentifikasi.16 Serotipe D hingga K menyebabkan infeksi genital menular seksual dan infeksi neonatal.16 Siklus hidup dari Chlamydia trachomatis melalui beberapa tahap. : 16
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

19

DUH Tubuh pada Pria 1. Fase Dorman 2. Metabolisme BE 3. Perubahan Badan Elementer (BE) menjadi Badan Retikular (BR) 4. Pematangan Badan Retikuler dan pembentukan Badan Elementer

Gambar 8: Siklus hidup Chlamydia trachomatis Sumber: http://chlamydiae.com/twiki/bin/view/Cell_Biology/GrowthRegulation

Gambaran Klinik Infeksi pada pria


Penting untuk mengetahui adanya koitus suspektus, yang biasanya terjadi pada 1 sampai 5 minggu sebelum timbulnya gejala. Juga penting untuk mengetahui apakah telah melakukan hubungan seksual dengan istri pada waktu keluhan sedang berlangsung, mengingat hal ini dapat menimbulkan penularan secara fenomena pingpong.16

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

20

DUH Tubuh pada Pria

Gambar 9: Infeksi Klamidia Sumber:http://www.stdinfo.org/the-transmission-and-diagnosis-of-chlamydiatrachomatis/ Uretritis Infeksi uretra karena C.trachomatis lebih sering asimtomatis dan lebih ringan dibandingkan infeksi uretra gonokokal 5 Keluarnya duh tubuh uretra merupakan keluhan yang tersering dijumpai, berupa lendir yang jernih sampai keruh.5,16 Keluhan yang paling umum ialah waktu pagi hari atau morning drops, tetapi bisa juga berupa bercak di celana dalam.5,16 Nyeri kencing atau disuri merupakan salah satu keluhan yang banyak dijumpai, dan sangat bervariasi dari rasa terbakar sampai rasa tidak enak pada saluran kencing waktu mengeluarkan urin.16 Biasanya gejala klinis timbul setelah inkubasi 7 21 hari dengan disuria, polakisuri, gatal, dan duh tubuh uretra jernih sampai keruh atau bercak pada celana.5 Tetapi keluhan disuri tidak sehebat pada infeksi gonore.16 Keluhan gatal di saluran kencing mulai dari gatal yang sangat sampai ringan dan terasa hanya pada ujung kemaluan.16 Sebagai akibat terjadinya peradangan pada saluran kencing timbul perasaan ingin kencing. Bila peradangan hebat bisa bercampur darah, atau bila infeksi sampai pada pars membranasea uretra, maka pada waktu muskulus sfingter uretra berkontraksi timbul perdarahan kecil. Selain itu timbul perasaan ingin kencing pada malam hari / nokturia.16 Keluhan lain yang jarang ialah adanya perasaan demam, pembesaran dan nyeri
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

21

DUH Tubuh pada Pria kelenjar getah bening inguinal.16 Pada pemeriksaan klinis muara uretra tampak tanda peradangan berupa edema dan eritema, dapat ringan sampai berat5,16 .Namun pemeriksaan pada sebagian besar kasus tak menunjukkan abnormalitas selain duh tubuh.5 Sekret uretra bisa banyak atau sedikit sekali, atau kadang kadang hanya terlihat pada celana dalam penderita. Sekret umumnya serosa, seromukous, mucous dan kadang bercampur nanah.16 Kalau tidak ditemukan sekret, bisa dilakukan pengurutan saluran uretra yang dimulai pada daerah proksimal sampai distal sehingga nampak keluar sekret.16 Kelainan yang nampak pada UNS umumnya tidak sehebat pada uretritis gonore.16 Epididimitis Digambarkan sebagai nyeri skrotal unilateral, bengkak, sensitif, dan demam pada pria muda yang sering kali berkaitan dengan uretritis Chlamydia (NGU). Pria dengan epididimitis Chlamydia sembuh cepat dengan terapi tetrasiklin mendukung peran penyebabnya yaitu C. trachomatis.

Laboratorium
Dasar untuk menegakkan diagnosis IGNS ialah berupa apusan sekret uretra. Pada pemeriksaan sekret uretra dengan pewarnaan gram ditemukan 5 lekosit atau > dari 4 leukosit5 pada pemeriksaan mikroskopis dengan pembesaran 1000 kali.5,16 Pada pemeriksaan mikroskopik sekret serviks dengan pewarnaan Gram5,16 didapatkan > 30 lekosit per lapangan pandang dengan pembesaran 1000 kali.16 Kriteria diagnosis uretritis bila terdapat duh tubuh uretra dan terdapat 20 leukosit PMN / lebih pada dua atau lebih dari lima lapangan pandang dengan pembesaran x400 dari pemeriksaan sedimen 10-15 ml urine tampung pertama yang dikeluarkan sebelum 4 jam atau lebih.5 Tes Leukosit esterase untuk skrining pria dengan infeksi asimtomatis dengan adanya leukosit polimorfonuklear pada urine.16 Menggunakan kultur untuk menentukan infeksi Chlamydia, mendapatkan sensitifitas tes LE untuk memprediksikan uretritis Chlamydia ialah 41 85 % diantara pria asimtomatis, dengan spesifitas 75 - 95%.5
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

22

DUH Tubuh pada Pria

Kuman ini dapat ditemukan dengan cara :


1. Pembiakan Chlamydia trachomatis adalah bakteri obligat intraselular, sehingga untuk pertumbuhannya membutuhkan sel hidup.5,16 Sel hidup ini dibiakkan dalam gelas kaca yang disebut monolayer seperti Mc Coy dan BHK yang dapat dilihat hasil pertumbuhannya pada hari ketiga.16 2. Pemeriksaan Mikroskop Langsung Pada pemeriksaan ini yang dilihat adalah badan elementer (BE) dan badan retikular (BR) dengan menggunakan pewarnaan Giemsa.5,16 Pemeriksaan ini memberikan hasil sensitivitas yang rendah dibandingkan dengan kultur, dan tidak dianjurkan pada infeksi asimptomatis dan infeksi subakut.16 Angka spesifitasnya rendah. Pemeriksaan ini lebih mempunyai arti diagnosis pada infeksi mata.16 3. Metode Penentuan Antigen Pemeriksaan antigen bersifat tidak langsung yaitu dengan pemeriksaan hasil pembiakan. Pemeriksaan langsung sampai saat sudah diperoleh, dikenal dua cara pemeriksaan antigen yaitu : a. Pewarnaan imunofluoresen langsung dengan antibody monoklonal.16 b. Penentuan antigen Chlamydia dari hapusan uretra dilakukan dengan pemeriksaan ELISA.16 4. Polymerase Chain Reaction 16 5. Ligase Chain Reaction16 Pemeriksaan laboratorium yang dilaksanakan sebaiknya mencangkup hal hal berikut:5 1) Sediaan langsung dengan pengecatan gram. Spesimen yang diambil adalah sekret uretra. Pada UNG akan didapatkan leukosit > dari 4, tanpa adanya diplokokus gram negatif. 2) Sedimen urine. Urine yang diperiksa ialah urine pagi. Baik pada uretritis gonore akut maupun nongonore akan didapatkan leukosit >15/lp (400x).
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

23

DUH Tubuh pada Pria 3) Tes deteksi antigen dengan ELISA. 4) Pemeriksaan lain : biakan kuman (kultur sel), tes hibridisasi asam nukleat, PCR, LCR. 5) Nucleic Acid Amplification Test (NAAT)

Gambar 10: NAAT Sumber:http://www.terryfarrellfundca.org/2011/11/30/several-types-ofchlamydia-tests/

Diagnosis
Dengan memperhatikan anamnesis, pemeriksaan klinis5,16, dan laboratorium5,16 adanya tanda uretritis, serta ditemukan kuman penyebab yang spesifik.16 Bila tidak ada gejala klinis tetapi ada faktor resiko, perlu dicurigai adanya infeksi C.trachomatis dan sebaiknya dilakukan pemeriksaan laboratorium.5 Kriteria Resiko yang dimaksud adalah :5 1) Pasangan seksual lebih dari satu dalam satu bulan terakhir. 2) Berhubungan seksual dengan pekerja seks wanita/pria dalam 1 bulan terakhir. 3) Mengalami satu atau lebih episode penyakit menular seksual dalam 1 tahun terakhir. 4) Pekerjaan istri/ pasangan seksual beresiko tinggi.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

24

DUH Tubuh pada Pria

Pengobatan
Tetrasiklin sampai saat ini masih efektif untuk pengobatan Chlamydia dan Ureaplasma urealyticum. Dosis yang dianjurkan ialah 4 kali 500 mg sehari5 selama 1 minggu atau lebih dengan catatan pasangan seksual diterapi dalam saat bersamaan.16 Eritromisin lebih efektif terhadap Ureaplasma dibandingkan terhadap Chlamydia, dosis yang dianjurkan ialah 4 kali 500 mg selama 1 minggu atau lebih.5 Doksisiklin merupakan obat yang paling banyak dianjurkan, karena cara pemakaian yang lebih mudah dan dosis lebih kecil yaitu 2 kali 100 mg selama seminggu atau lebih.5 Azithromisin merupakan suatu terobosan baru dalam pengobatan masa sekarang, dengan dosis tunggal 1 gram sekali minum dan juga efektif untuk gonore.5 Azitromisin dengan waktu paruh 5 7 hari, memiliki penetrasi intraseluler dan jaringan yang bagus, merupakan obat pertama untuk terapi infeksi Chlamydia yang menawarkan keuntungan terapi dosis tunggal.16 Tetrasiklin, doksisiklin, dan azitromisin tidak boleh diberikan untuk wanita hamil.5 Roksitromisin merupakan generasi baru dari makrolid, dapat diberikan secara efektif dengan dosis 300 mg sehari dalam 7 10 hari, memiliki efektivitas yang sebanding dengan dosis standar doksisiklin.16 Amoksisilin dosis per oral 3 kali 750 mg selama 10 hari, dapat mengeliminasi Chlamydia dari pria dengan NGU setelah 24 - 48 hari, meskipun relatif tidak efektif melawan Chlamydia trachomatis secara in vitro.5

Pengobatan kombinasi
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

25

DUH Tubuh pada Pria Sekarang ini diperkenalkan pengobatan kombinasi, mengingat insidens infeksi campuran yang cukup banyak, obat yang digunakan ialah : 5 1) Tiamfenikol dosis 2,5 g hari pertama kemudian 3 kali 500 mg selama 5 hari. 2) Siprofloksasin 500 mg hari pertama, lalu doksisiklin 2 x 100 mg selama 7 hari. 3) Azithromisin 1 gram dosis tunggal. Tindak lanjut dalam pengobatan IGNS harus dipertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan dan pengobatan terhadap mitra seksual penderita.16 Penderita dinyatakan sembuh, bila kontrol setelah pengobatan dilakukan setiap 7 hari sampai 3 kali berturut turut tidak ditemukan adanya keluhan dan pemeriksaan laboratorium menjadi negatif.16 Pengobatan untuk IGNS dapat dilanjutkan sampai 4 minggu.16 IGNS persisten ialah suatu keadaan masih terdapat tanda uretritis setelah pengobatan selama 4 minggu.16 IGNS rekurens adalah suatu keadaan setelah 2 minggu pengobatan selesai keluhan uretritis timbul lagi, pada waktu itu penderita telah melakukan hubungan seksual.16 Infeksi Chlamydia dan ureaplasma masih merupakan penyebab IGNS, terutama karena sarana laboratorium yang sangat terbatas.16 Di samping itu pada penderita IGNS murni setelah diberikan pengobatan terlihat adanya penyembuhan.16 Untuk menegakkan diagnosis perlu satu mikroskop biasa untuk mengetahui adanya uretritis dan mencari kuman spesifik.16 Cara pendekatan sindrom sangat sulit diterapkan pada penderita asimptomatis. 16

3. MYCOPLASMA dan UREAPLASMA


Spesies Mycoplasma adalah salah satu mikroorganisme yang paling kecil,
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

26

DUH Tubuh pada Pria hidup bebas, dan mempunyai kemampuan untuk berkolonisasi di saluran pernapasan dan urogenital pada manusia. Yang disebut sebagai genital Mycoplasmal organism meliputi M. hominis dan Ureaplasma sp. Organisme-organisme ini dapat ditemukan pada saluran urogenital bagian bawah pada individu yang aktif secara seksual. 7 Telah ditemukan bahwa Ureaplasma merupakan penyebab 20-30% NGU (Non-Gonococcal Urethritis), dan M. genitalium 10-20% dari NGU. Pada anak-anak dan dewasa yang tidak aktif secara seksual, kolonisasi mikroorganisme ini relatif rendah. Bayi baru lahir dapat pula terinfeksi melalui jalan lahir dari ibu yang terinfeksi.7 Ureaplasma urealyticum merupakan 25% sebagai penyebab urethritis nonspesifik dan sering bersamaan dengan Chlamydia trachomatis. Dahulu dikenal dengan nama T-strain mycoplasma. Mycoplasma hominis juga sering bersama-sama dengan Ureaplasma urealyticum.16 Sampai sekarang, Ureaplasma urealyticum sebagai penyebab urethritis nonspesifik masih diragukan dan masih dilakukan berbagai studi lebih lanjut mengenai hal ini. Terdapat studi yang mengemukakan bahwa Ureaplasma sp. ditemukan terbanyak pada pria yang belum pernah menderita urethritis sebelumnya (infeksi pertama kali).8 Telah dilakukan pula inokulasi Ureaplasma sp. intraurethral, dan hasilnya adalah terdapat gejala berupa disuria dan frekuensi.8

Gejala Klinis
Pasien dengan infeksi mycoplasma genital dapat tidak terdiagnosa karena organisme ini dapat menyebabkan gejala yang biasanya tumpang tindih oleh gejala yang disebabkan oleh organisme yang lebih sering menjadi penyebab seperti halnya Chlamydia. Hal ini dapat pula terjadi karena banyaknya ko-infeksi organisme tersebut dengan Chlamydia. Sama halnya dengan Chlamydia, infeksi mycoplasma genital dapat menyebabkan urethritis, cervicitis, PID, endometritis, salpingitis, dan chorioamnionitis. Karena itu, infeksi oleh karena mikroorganisme ini harus dipertimbangkan apabila terdapat kasus di mana tidak ditemukan mikroorganisme lain pada penderita NGU mengingat infeksi oleh karena mikroorganisme ini menimbulkan gejala yang sama seperti NGU oleh karena mikroorganisme lainnya.7

Diagnosis
Uji laboratorium untuk genital mycoplasma sangat terbatas karena beberapa spesimen harus dikirim ke laboratorium dengan fasilitas yang lebih lengkap. Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin 27
Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

DUH Tubuh pada Pria Mikroorganisme seperti M.hominis dan Ureaplasma urealyticum dapat dibiak dalam media khusus melalui swab urethra. Dapat pula digunakan PCR untuk mendeteksi M.genitalium.7

Komplikasi
Mycoplasma dan Ureaplasma dapat menyebabkan disseminated disease, terutama pada individu dengan defisiensi antibodi (immunocompromise host). Hal ini dapat menyebabkan osteomyelitis, arthritis septik, dan infeksi saluran pernapasan. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya M.hominis pada infeksi akibat luka operasi, efusi pericard, abses subkutan, dan cairan synovial pada penderita rheumatoid arthtritis. Banyak studi yang mengemukakan bahwa spesies mycoplasma sering terjadi pada inividu yang terinfeksi HIV, walaupun ini masih menjadi pertanyaan. 7

Tatalaksana
Pengobatan untuk genital mycoplasma adalah sama seperti pengobatan untuk Chlamydia. Golongan florokuinolon dapat pula digunakan sebagai terapi alternatif untuk M.hominis dan Ureaplasma sp. apabila terdapat resistensi dengan antibiotika lain.7

4. TRIKOMONIASIS Pendahuluan
Trikomoniasis pada saluran urogenital dapat menyebabkan vaginitis dan sistitis. Walaupun sebagian besar tanpa gejala, akan tetapi dapat menimbulkan masalah kesehatan yang tidak kurang pentingnya, misalnya perasaan dispareunia, kesukaran melakukan hubungan seksual yang dapat menimbulkan ketidakserasian dalam keluarga. 2 Pada pria dapat menyebabkan uretritis dan prostatitis yang kira-kira merupakan 15% kasus uretritis nongonore.2

Definisi
Trikomoniasis merupakan penyakit infeksi protozoa yang disebabkan oleh
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

28

DUH Tubuh pada Pria Trichomonas vaginalis, biasanya ditularkan melalui hubungan seksual dan sering menyerang traktus urogenitalis bagian bawah pada wanita maupun pria, namun pada pria peranannya sebagai penyebab penyakit masih diragukan.3

Etiologi
Trichomonas vaginalis merupakan satu-satunya spesies Trichomonas yang bersifat patogen pada manusia dan dapat dijumpai pada traktus urogenital. Pertama kali dikemukakan oleh Donne pada tahun 1836 dan untuk waktu yang lama sejak ditemukannya dianggap sebagai komensal.3 Trichomonas vaginalis berbentuk ovoid dan berukuran antara 10 sampai 20 m. Pada sediaan basah spesimen dari penderita dengan gejala yang hebat, ukurannya lebih kecil bila dibandingkan dengan spesimen dari kasus asimptomatik atau dari biakan. Trichomonas vaginalis mempunyai membran undulans yang pendek, tidak mencapai setengah dari panjang badannya. Pada sediaan basah mudah terlihat oleh karena gerakan yang terhentak-hentak. Membelah secara longitudinal dan membentuk koloni trofozoit pada permukaan sel urethra, kelenjar prostat dan vesikula seminalis pada pria.3 Trichomonas vaginalis cepat mati bila mengering, terkena sinar matahari dan terpapar air selama 35-40 menit. Pada keadaan higiene yang kurang memadai dapat terjadi penularan melalui handuk atau pakaian yang terkontaminasi.3

Patogenesis
Trikomonas vaginalis mampu menimbulkan peradangan pada dinding saluran urogenital dengan cara invasi sampai mencapai jaringan epitel dan subepitel. Masa tunas rata-rata 4 hari sampai 3 minggu. Pada kasus yang lanjut terdapat bagian-bagian dengan jaringan granulasi yang jelas. Nekrosis dapat ditemukan di lapisan subepitel yang menjalar sampai di permukaan epitel. Di dalam vagina dan uretra, parasit hidup dari sisa-sisa sel, kuman-kuman, dan benda lain yang terdapat dalam sekret.2 Infeksi Ekstragenital Penyebaran karena Trichomonas vaginalis di luar saluran urogenital sangat jarang, meskipun pada penderita dengan imunocompromised. Hal tersebut oleh para peneliti memberikan suatu dugaan bahwa lokasi terjadinya infeksi parasit tidak hanya tergantung pada pertahanan hospes, tetapi juga dipengaruhi oleh sifat Trichomonas vaginalis yang cenderung mempunyai kemampuan untuk memilih lingkungan sel Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin 29
Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

DUH Tubuh pada Pria hospes yang disukai untuk melekat. Pada kasus-kasus yang berat dapat juga ditemukan Trichomonas vaginalis di paru-paru rongga pleura serta cairan serebrospinalis dan organisme penyebabnya selain Trichomonas vaginalis, lebih sering disebabkan oleh spesies lainnya yaitu Trichomonas tenac atau Pentatrikhomonas hominis.6

Gejala Klinis
Seperti pada wanita spektrum klinik trikomoniasis pada pria sangat luas mulai dari tanpa gejala sampai pada uretritis yang yang hebat dengan komplikasi prostatitis. Masa inkubasi biasanya tidak melebihi 10 hari. Gambaran klinis dapat dibagi menjadi:3 1. Pembawa kuman asimptomatik Meskipun Trichomonas vaginalis dapat ditemukan pada uretra, urin dan cairan prostat pria yang berkontak seksual dengan dengan wanita yang menderita trikomoniasis, namun hanya 10-50% penderita yang menunjukkan adanya keluhan dan gejala infeksi. 2. Simptomatik Gambaran klinis akut Gambaran klinis akut merupakan keadaan yang jarang terjadi. Harkness (1950) Fisher dan Morton (1969) mengemukakan bahwa uretritis, prostatitis dan epididimitis dapat merupakan manifestasi trikomoniasis pada pria, akan tetapi peranannya masih disangsikan apakah keadaan tersebut sebenarnya disebabkan oleh Chlamydia trachomatis atau Ureaplasma urealyticum. Gambaran klinis ringan Sebagian besar trikomoniasis simptomatik menunjukkan gejala uretritis ringan yang gambaran klinisnya sulit dibedakan dari UNG yang disebabkan oleh sebab lain. Hanya 50-60% kasus simptomatik didapatkan DUH tubuh uretra, sepertiga kasus menunjukkan DUH tubuh purulen, sepertiga lainnya masing-masing mukopurulen dan mukoid. DUH tubuh biasanya keluar secara intermitten, sedang disuria dan perasaan gatal pada uretra, masing-masing hanya dikeluhkan oleh kurang dari seperempat kasus. Uretritis oleh karena Trichomonas vaginalis pada umumnya bersifat self limited. Balanopostitis dapat pula terjadi dan lebih sering pada pria yang tidak disunat dan kurang memperhatikan higiene. Keadaan ini ditandai dengan adanya
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

30

DUH Tubuh pada Pria erosi yang nyeri pada glans dan preputium, kadang-kadang disertai DUH tubuh purulen, terutama bila disertai infeksi sekunder.

Gambar 11: infeksi UNG Sumber: http://knol.google.com/k/gonorrhea#

Komplikasi
Pada pria dapat terjadi prostatitis, yaitu infeksi atau inflamasi pada kelenjar prostat yang tampak seperti sindrom berat dengan gambaran klinis yang bervariasi, sering disebabkan melalui transmisi seksual dengan akibat terjadi inflamasi akut sel pada epitelium glandularis dan lumen dari prostat. Komplikasi lain adalah struktur uretra, epididimitis, balanitis dan mempengaruhi kesuburan, dan pada penderita yang tidak disirkumsisi dapat terjadi balanitis serta phimosis. Penyebab tersering infertilitas pada pria adalah komplikasi epididimitis bilateral dan oklusi vas deferens serta Trichomonas vaginalis dapat menghambat motilitas spermatozoa atau terjadi abnormalitas semen. Hal ini disebabkan karena dalam perjalanannya, sperma transit pada epididimis untuk perkembangan dan pematangan fungsi sperma-sperma normal, adanya inflamasi dan kerusakan epididimis dapat mempengaruhi fertilitas pada pria meskipun tanpa disertai oklusi tubulus epididimis. 6

Diagnosis
Variasi gambaran klinis trikomoniasis sangat luas, disamping itu berbagai kuman penyebab IMS dapat pula menimbulkan keluhan serta gejala yang sama, Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin 31
Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

DUH Tubuh pada Pria sehingga diagnosis hanya berdasarkan gambaran klinis tidak dapat dipercaya. Meskipun berbagai keluhan dan gejala dapat mengarahkan pada diagnosis trikomoniasis baik pada pria maupun wanita, namun hal tersebut tidak cukup untuk membuat suatu diagnosis.3 Diagnosis trikomoniasis ditegakkan setelah ditemukannya Trichomonas vaginalis pada sediaan langsung (sediaan basah) atau pada biakan DUH tubuh penderita. Diagnosis pada pria menjadi lebih sulit lagi, karena infeksi ditandai oleh jumlah kuman yang lebih sedikit bila dibandingkan wanita. Uretritis non gonore (UNG) yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis tidak dapat dibedakan secara klinis dari UNG oleh penyebab lain.3 Responn terhadap pengobatan dapat menunjang diagnosis. UNG yang gagal diobati dengan rejimen yang efektif terhadap Chlamydia trachomatis dan Ureaplasma urelyticum, namun responsif terhadap pengobatan dengan metronidazole, menunjang diagnosis trikomoniasis.3

Pemeriksaan Laboratorium
Cara Pengambilan Spesimen Pada pria, spesimen diambil dengan mengerok (scrapping) dinding uretra secara hati-hati dengan menggunakan sengkelit steril. Pengambilan spesimen sebaiknya dilakukan sebelum kencing pertama.3 Bila parasit tidak ditemukan, maka dilakukan pengambilan spesimen berupa sedimen dari 20cc pertama urin pertama pagi-pagi. Spesimen tersebut, terutama yang diambil setelah masase prostat dapat menghasilkan 15% hasil positif pada kasus-kasus yang tidak terdiagnosis dengan pemeriksaan uretra. Pada spesimen tersebut dilakukan pemeriksaan:3 1. cara: Lidi kapas dicelupkan ke dalam 1cc garam fisiologis, dikocok. Satu tetes larutan tersebut diteteskan pada gelas objek, kemudian ditutup dengan kaca penutup. Bila memakai sengkelit spesimen pada ujung sengkelit dimasukkan pada satu tetes garam fisiologis yang telah diletakkan pada kaca objek. Sebelum diamati sediaan dipanaskan sebentar dengan hati-hati, untuk meningkatkan pergerakan Trichomonas vaginalis. Pada pemeriksaan diperhatikan pula jumlah leukosit.
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

Sediaan langsung (sediaan basah) dengan larutan garam fisiologis, dengan

32

DUH Tubuh pada Pria 2. Bila pada sediaan langsung tidak ditemukan mikroorganisme penyebab, maka

dilakukan biakan pada media Feinberg atau Kupferberg. Biakan diperlukan pada pemeriksaan kasus-kasus asimptomatik. 60% spesimen yang diambil dari urethtra pria dengan trikomoniasis akan menghasilkan biakan positif.

Gambar 12 : Biakan trikomonas vaginalis http://www.spesialis.info/?waspadai-gejala-trikomoniasis,289

Trikomoniasis sering tidak terdiagnosis oleh karena banyak kasus asimptomatik, baik pada pria maupun wanita. Berbagai usaha telah dilakukan selain pemeriksaan sediaan langsung dan biakan untuk memudahkan diagnosis, antara lain:3 1. Pewarnaan Spesimen dapat diwarnai dengan pewarnaan giemsa, papanicolaou, Leishman, Gram atau acridine orange. Pemeriksaan sediaan ternyata menjadi lebuh sulit akibat proses fiksasi dan pengecatan akan menyebabkan perubahan morfologis kuman. Pert (1972) menemukan kesalahan diagnosis sebesar 50% pada sediaan Papanicolaou. Pemeriksaan ini masih kurang sensitif bila dibandingkan dengan sediaan basah, selain itu, hasil positif dari sediaan dengan pengecatan harus dikonfirmasikan lagi dengan pemeriksaan sediaan basah atau biakan, namun Wolner dan Rein mengemukakan bahwa sediaan hapus Papanicolaou pada wanita dapat mendeteksi Trichomonas vaginalis dengan sensitivitas 60-70%.

Gambar 13:Trichomonas vaginalis dalam pewarnaan Gram


Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

33

DUH Tubuh pada Pria Sumber: http://dwipoenya.wordpress.com/2011/01/15/spesiesspesies-trichomonas-dan-trikomoniasis/

2.

Tes Imunofluoresens

Tehnik ELISA, immunofluorescent antibody, latex agglutination merupakan tehnik pemeriksaan yang peka dengan sensitivitas lebih dari 90% namun tehnik tersebut masih dalam tahap penelitian. 3. Polymerase Chain Reaction (PCR) Deteksi Trichomonas vaginalis berbasis PCR masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Tes ini berdasarkan amplifikasi antigen (DNA) sel, dapat mendeteksi mikroorganisme meskipun jumlahnya sedikit. Dengan demikian infeksi asimptomatis yang hanya mempunyai sejumlah kecil organisme dan tidak dapat dikultur, dapat dideteksi dengan pemeriksaan ini. Uji dengan PCR sangat sensitif dan spesifik, lebih mudah dikerjakan dan relatif cepat. 6

Pengobatan
Pengobatan trikomoniasis harus diberikan kepada penderita yang menunjukkan gejala maupun yang tidak. Regimen yang dianjurkan untuk pengobatan adalah: 3 Metronidazol 2 gram oral dosis tunggal, atau Tinidazol 2 gram oral dosis tunggal Regimen alternatif adalah: Metronidazol 2x0,5 gram oral selama 7 hari. Penderita yang sedang mendapatkan pengobatan metronidazole harus menghentikan minum alkohol. Bila keluhan menetap penderita diharuskan datang untuk pemeriksaan ulang 7 hari setelah pengobatan. Pemeriksaan dilakukan seperti pada pemeriksaan pertama. Penderita dinyatakan sembuh bila keluhan dan gejala telah menghilang, serta parasit tidak ditemukan lagi pada sediaan langsung.3 Bila terjadi kegagalan pengobatan, maka tahapan pengobatan berikut dapat dilaksanakan: Metronidazol 2x0,5 gr gram oral dosis selama 7 hari. Dan bila masih gagsl, dapat diberikan: Metronidazol 2 gram oral dosis tunggal selama 3-7 hari. Metronidazol tablet vagina 0,5 gr, malam hari selama 3-7 hari. Bila ternyata masih gagal pula, hendaknya dilakukan biakan dan tes resistensi. Pengobatan Mitra seksual
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

34

DUH Tubuh pada Pria Mitra seksual penderita harus diobati sesuai dengan regimen penderita. Dosis yang dianjurkan untuk mitra seksual pria adalah dosis terbagi selama 7 hari. Efektifitas dosis tunggal belum banyak diteliti. Latief melaporkan 40% kegagalan pengobatan pada pria dengan dosis tunggal.3 Infeksi oleh galur resisten Dengan munculnya laporan-laporan mengenai galur Trichomonas vaginalis yang resiten terhadap metronidazole, maka dalam menghadapi kegagalan pengobatan selalu harus diperhatikan bahwa pengobatan konvensional sampai saat ini sangat jarang mengalami kegagalan. Berdasarkan hal tersebut, maka sebelum menyatakan galur penyebab tersebut resisten terhadap metronidazole, hendaknya disingkirkan dahulu faktor-faktor yang dapat menimbulkan kegagalan pengobatan, yaitu:3 1. 2. 3. 4. Konsentrasi metronidazole yang tidak mencukupi Inaktivasi metronidazole oleh bakteri Konsentrasi seng dalam serum yang rendah Reinfeksi

Konsentrasi obat yang tidak mencukupi dapat disebabkan oleh kurangnya kepatuhan penderita minum obat pada pemberian dengan dosis terbagi atau adanya malabsorbsi. Untuk menghindari kemungkinan inaktivasi metronidazole oleh bakteri, maka dapat dicoba obat lain misalnya nimorasol, tinidazole, ornidazole, seknidazole atau karnidazole.3 Pengobatan dapat diberikan secara topikal, dapat berupa:2 1. 2. 3. Bahan cairan berupa irigasi, misalnya hidrogen peroksida 1-2% dan larutan Bahan berupa supositoria, bubuk yang bersifat trikomoniasidal. Gel atau krim, yang berisi zat trikomoniasidal. Usaha mengadakan vaksinasi telah dilaksanakan dengan menggunakan vaksin Lactobacillus acidophilus, namun kegagalan vaksinasi telah dilaporkan, serta tidak ada reaktivitas silang antara Lactobacillus acidophilus dengan Trichomonas vaginalis.3 Pada waktu pengobatan perlu beberapa anjuran pada penderita:2 1. Pemeriksaan dan pengobatan terhadap pasangan seksual untuk mencegah jangan terjadi infeksi pingpong.
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

asam laktat 4%.

Vaksinasi

35

DUH Tubuh pada Pria 2. 3. Jangan melakukan hubungan seksual selama pengobatan dan sebelum Hindari pemakaian barang-barang yang mudah menimbulkan transmisi.

dinyatakan sembuh.

BAB IV KESIMPULAN

Duh tubuh adalah suatu gejala dimana keluarnya cairan atau sekret dari uretra, baik cairan serosa ataupun mukosa tidak berupa darah ataupun urin. Duh bisa bersifat fisiologi ataupun patologis contoh pada uretritis gonore ataupun non spesifik (uretritis non-gonore). Uretritis gonore akut merupakan salah satu penyakit hubuungan seksual yang disebabkan oleh kuman Neisseria gonorrhoeae yang menyerang uretra pada laki-laki, paling sering ditemukan dan mempunyai insiden yang cukup tinggi. Infeksi Chlamydia trachomatis merupakan penyebab terbanyak infeksi menular seksual (IMS) dan penyebab IGNS yang tersering. Kuman ini ditemukan di uretra dari 25% sampai 60% kasus pria dengan UGN, 4% - 35% pria dengan gonore, dan pada 0-7% pada pria dengan uretritis asimtomatis Spesies Mycoplasma adalah salah satu mikroorganisme yang paling kecil, hidup bebas, dan mempunyai kemampuan untuk berkolonisasi di saluran pernapasan dan urogenital pada manusia. Yang disebut sebagai genital Mycoplasmal organism meliputi M. hominis dan Ureaplasma sp. Organisme-organisme ini dapat ditemukan pada saluran urogenital bagian bawah pada individu yang aktif secara seksual. Ureaplasma urealyticum merupakan 25% sebagai penyebab urethritis non-spesifik dan sering bersamaan dengan Chlamydia trachomatis. Trikomoniasis merupakan penyakit infeksi protozoa yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis, biasanya ditularkan melalui hubungan seksual dan sering
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

36

DUH Tubuh pada Pria menyerang traktus urogenitalis bagian bawah pada wanita maupun pria, namun pada pria peranannya sebagai penyebab penyakit masih diragukan.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Marcelo JB, Fabio M, Valdir M. Prevalence of Neisseria Gonorrhoeae and Chlamydia

trachomatis infection in men attending STD clinics in Brazil. Dalam : Revista da Sociedade Brasileira de Medicina Tropical. Volume 43. 2011 Diunduh dari: http://ncbi.nlm.nih.govll

2. Djuanda, A. editor. Trikomoniasis. Dalam : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi
ke-5. Jakarta: FKUI. 2010:384-385.

3. Djajakusuma, TS. Trikomoniasis. Dalam: Daili, SF, dkk, editor. Infeksi Menular
Seksual. Balai Penerbit FKUI. Edisi ketiga. Jakarta. 2009 : 179-188. 4. Males Genitalia and Hernia. Dalam: Bickley, L.S Bates, Guide to Physical Examination. Philadelphia: Lippincot Williams and Wilkins. 2009:501-503.

5. Murtiastutik D. Infeksi Chlamydia Pada Pria. Dalam : Barakbah J, Lumintang H,


Martadihardjo S, Buku Ajar Infeksi Menular Seksual. Surabaya : Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. 2008 : 117 125.

6. Murtiastutik, D. Trikomoniasis vaginalis. Dalam : Buku Ajar Infeksi Menular Seksual.


Surabaya : Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. 2008 : 65-71 7. Garcia AL, Madkan VK, Tyring SK. Gonorrheae and Other Venereal Disease. Dalam: Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, et al, eds. Fitzpatricks Dermatology In General Medicine. 7th ed. New York: McGraw-Hill. 2008: 1993-2000.

8. Martin, David H. Urethritis in Males. In: Holmes KK, Sparling PF, Stamm WE, et al,
eds. Sexually Transmitted Disease. 4th ed. New York: McGraw-Hill. 2008.

9. Departemen of Health and Human Disease: Centers for Disease Control and
Prevention. Gonorrhea and Related Species. [online].2007 [cited 2007 November 27]; [7 screens]. Available from URL:http//www.cdc.gov/std/pubs.htm. 10.Hakim, Lukman. Epidemiologi Infeksi Menular Seksual. Dalam: Infeksi Menular Seksual. Edisi 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2005
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

37

DUH Tubuh pada Pria


11.Feingold DS, Mansur CP. Gonnorhea. Dalam: Fitzpatrick`s dermatology in general medicine. Freeberg IM, Eisen AZ, Wolfk, Austen KF, Goldsmith LA, Katz SI.Eds. 5th ed. America: McGraw Hill.2005.

12. Stary A.Sexually Transmitted Diseases. Dalam : Bologna JL, Jorizzo JL, Rapini, RP,
editors.Dermatology.Volume 1.London: Mosby.2003.

13. CDC. Sexually transmitted disease treatment guidelines 2002. MMWR morb mortal
wkly rep 2002 : 51.

14. Daili SF.Gonore Dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Djuanda A, Hamzah M,
Aisah S.Eds.3rdEd. Jakarta: Balai penerbit FKUI.2002.

15. Young H, Mcmillan A.Gonorrhea. Dalam : Mcmillan A, Young H, Ogilvie MM.


Scott GR, editors. Clinic Practise In Sexually Transmissible Infections.London : Saunders.2002.

16. Lumintang H. infeksi genital non spesifik. Dalam: Daili SF, Makes WIB, Zuibier Fifi,
Judanarso J, Ed. Penyakit Menular Seksual; Jakarta : Balai Penerbit FK UI. 2001.

17. Hook III EW, Haudsfield HH. Gonococcal infections in the adult. Dalam: Sexually
transmitted diasease.Holmes KK, Mardh PA, Sparling PF, et all.Eds.3rded. New York: Mcgraw-Hill.1999.

18. Sparling PF. Biology of Neisseria Gonorhoeae. Dalam : Holmes KK, Sparling PF,
Mardh PA dkk, ED. Sexually Transmitted Disease. New York : McGraw-Hill.1999

19. NN.Penyakit

Gonore

in

info

sehat.

Available

at

http://www.infosehat.com/content.php?s=sid=950. Accessed on juni 2011.

20. Nasution MA, Zuliham. Penatalaksanaan Gejala Duh Tubuh Uretra in Cermin dunia
kedokteran 1992; 80. Available at : http://www.kalbe.co.id/files/cdk/fles37penatalaksanaanGejalaDuhTubuhUretra.p df/37_penatalaksanaan. Accessed on juni 2011.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode: 2 Januari 2012 4 Februari 2012

38