Anda di halaman 1dari 4

Pendahuluan Tantangan yang berkaitan dengan lingkungan hidup dewasa ini telah menjadi perhatian yang sangat luas

di seluruh dunia. Isu – isu seperti pemanasan global, polusi udara, limbah beracun, sampah di perkotaan, menipisnya sumber daya alam, penggundulan hutan, banjir dan lain sebagainya. Isu – isu ini menjadi perhatian luas karena ancaman yang diterima oleh manusia dewasa ini telah mencapai titik yang mencemaskan. Manusia merasa terancam hidupnya. Masa depan menjadi cita – cita yang absurd. Absurd karena sumber daya alam yang ada sekarang sedang menuju ke ambang kepunahan. Bila ditelusuri secara teoritis, ancaman – ancaman tersebut lahir dari asumsi yang keliru mengenai hubungan manusia dengan alam. Manusia modern mengafirmasi diri sebagai subyek yang terpisah dari lingkungan, dan lingkungan dialami sebagai obyek yang diekspolitasi. Pembangunan yang dilakukan oleh berbagai masyarakat dan Negara dibangun di atas keyakinan bahwa alam merupakan sumberdaya yang tidak terbatas. Dan oleh karena tidak terbatas, maka alam terus dieksplotasi. Namun bersamaan dengan ekspolitasi yang sangat besar tersebut, manusia mengalami kecemasan yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia. Manusia dewasa ini cemas karena sumber daya alam yang terus menipis, cemas karena polusi yang mengancam kesehatan manusia, cemas karena makanan yang disantap tercampur dengan zat – zat kimia berbahaya, dan berbagai macam kecemasan yang sangat mengganggu eksistensi manusia itu sendiri. Antroposentrisme

karena mengandaikan kedudukan dan peran moral lingkungan hidup yang terpusat pada manusia. Manusia diagungkan sebagai yang mempunyai nilai paling tinggi dan paling penting dalam kehidupan ini. Manusia adalah satu – satunya makhluk bebas dan rasional. . Pandangan ini berisi pemikiran bahwa segala kebijakan yang diambil mengenai lingkungan hidup harus dinilai berdasarkan manusia dan kepentingannya. alat dan sarana bagi pemenuhan kebutuhan dan kepentingan manusia. Maka tidak heran kalau focus perhatian dalam pandangan ini terletak pada peningkatan kesejahteraan dan kebahagiaan manusia di dalam alam semesta. jauh melebihi semua makhluk lain. Kebijakan terhadap alam harus diarahkan untuk mengabdi pada kepentingan manusia.  Antroposentrisme sangat bersifat instrumentalistis.Antroposentrisme (antropos = manusia) adalah suatu pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta. yang mampu menguasai dan menggerakkan aktivitasnya sendiri secara sadar dan bebas. Ajaran yang telah menempatkan manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta ini telah membuat manusia arogan terhadap alam. Tinjauan kritis atas teori antroposentrisme :  Antroposentrisme didasarkan pada pandangan filsafat yang mengklaim bahwa hal yang bernuansa moral hanya berlaku bagi manusia. Alam dipandang dan diperlakukan hanya sebagai alat bagi pencapaian tujuan manusia. Jadi. Alam dilihat hanya sebagai obyek. pusat pemikirannya dalam hal ini adalah manusia. Dengan demikian alam dilihat tidak mempunyai nilai dalam dirinya sendiri. Pandangan moral lingkungan yang Antroposentrisme disebut juga sebagai human centered ethid. dengan menjadikannya sebagai obyek untuk dieksploitasi. di mana pola hubungan manusia dengan alam hanya terbatas bagi pemenuhan kebutuhan dan kepentingan manusia.

maka demi kepentingan hidupnya. bukan atas pertimbangan bahwa alam mempunyai nilai pada dirinya sendiri. misalnya. Teori ini jelas bersifat egoistis. yang tidak didasarkan pada kesadaran dan pengakuan akan . Model etika seperti itu jelas mengabaikan masalah – masalah lingkungan yang tidak langsung menyentuh kepentingan manusia. Kepedulian terhadap lingkungan hanya muncul sejauh terkait dengan kepentingan manusia. manusia memiliki kewajiban memelihara dan melestarikan alam lingkungannya. Pandangan inilah yang telah menyebabkan manusia berani melakukan tindakan ekspolitatif terhadap alam. Kekurangan dalam teori ini terletak pada pendasaran dari tindakan memberi perhatian pada alam.  Teori antroposentrisme telah dituduh sebagai salah satu penyebab bagi terjadinya krisis lingkungan hidup.  Antroposentrisme sangat bersifat teleologis karena pertimbangan yang diambil untuk peduli terhadap alam didasarkan pada akibat dari tindakan itu bagi kepentingan manusia.Kalaupun manusia bersikap peduli terhadap alam.  Walau banyak kritik dilontarkan terhadap teori antroposentrisme. dengan menguras kekayaan alam demi kepentingannya. hal itu semata – mata dilakukan demi menjamin kebutuhan dan kepentingan hidup manusia. namun sebenrnya argument yang ada di dalamnya cukup sebagai landasan kuat bagi pengembangan sikap kepedulian terhadap alam. Konservasi alam. dan itupun lebih bnyak berkaitan dengan kepentingan jangka pendek saja. Manusia membutuhkan lingkungan hidup yang baik. hanya dianggap penting sejauh hal itu mempunyai dampak menguntungkan bagi kepentingan manusia. Itulah sebabnya teori ini dianggap sebagai sebuah etika lingkungan yang dangkal dan sempit(shallow environmental ethics). karena hanya mengutamakan kepentingan manusia.

adanya nilai ontologies yang dimiliki oleh alam itu sendiri. melainkan hanya karena kepentingan manusia semata. .