Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pada beberapa bahasan terdahulu sudah dikemukakan bahwa elemen vegetasi/ tanaman merupakan unsur yang dominan. Vegetasi dapat ditata sedemikian rupa sehingga mampu berfungsi sebagai pembentuk ruang, pengendalian suhu udara, memperbaiki kondisi tanah dan sebagainya. Vegetasi dapat menghadirkan estetika tertentu yang terkesan alamiah dari garis, bentuk, warna, dan tekstur yang ada dari tajuk, daun, batang, cabang, kulit batang, akar, bunga, buah maupun aroma yang ditimbukan dari daun, bunga maupun buahnya.1 Dalam melakukan penelitian para ahli tidak hanya menggunakan luas minimum dalam meneliti vegetasi, tetapi juga menggunakan luas tertentu yang sudah ditentukan. Dasar pemikiran yang digunakan untuk menjawab hal ini sama dengan penentuan luas minimum yaitu berdasarkan jumlah seluruh karakteristik vegetasi. Pada umumnya beberapa komunitas terdiri dari beberapa spesies yang jarang, sementara yang lainnya mengandung jumlah spesies yang sama dengan jumlah spesies pada umumnya banyak ditemukan.2

1 2

Campbell, Biologi Jilid 3 (Jakarta : Erlangga, 2004), h. 246. Ibid.

B. Tujuan Adapun tujuan pada praktikum ini yaitu mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan serta menguasai cara menentukan jumlah kuadrat minimum dari suatu vegetasi.

C. Manfaat Adapun manfaat pada praktikum ini yaitu : 1. Sebagai bahan perbandingan terhadap teori-teori yang telah ada sebelumnya. 2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan serta menguasai cara menentukan jumlah kuadrat minimum dari suatu vegetasi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Indonesia merupakan negara kepulauan dan mempunyai luas daratan kurang lebih 200 juta hektar atau kira-kira 1,5% luas daratan di bumi. Dengan luas daratan tersebut, maka Indonesia mempunyai keanekaragaman hayati yang sangat banyak. Keanekaragaman hayati tersebut diantaranya sebagai berikut: 10% jenis tumbuhan, 12% mamalia, 16% jumlah reptil dan amphibi, 17% jenis burung dan lebih dari 25% jumlah jenis ikan. Sebagian besar dari jenis flora dan fauna tersebut belum teridentifikasi dengan jelas.3 Kumpulan dari beberapa jenis organisme dinamakan komunitas. Yang dimaksud dengan struktur komunitas adalah bentuk dari komunitas dilihat dari stratafikasinya lapisan (dari atas kebawah) secara horizontal bentuk pertumbuhannya, sosialitasnya, asosiasinya antar spesifik serta kerapatan dan biomassa.(analisis kuantitatif) sedang komposisi komunitas adalah anggota spesies.4 Untuk mempelajari suatu kelompok hutan yang luas dan belum diketahui keadaan sebelumnya paling baik digunakan cara jalur transek. Cara ini paling efektif untuk mempelajari perubahan keadaan vegetasi menurut keadaan tanah, topografi dan elevasi. Jalur-jalur contoh dibuat memotong garis gasris topografi, misalnya dari tepi laut kepedalaman memotong sungai dan mendaki atau menurun lereng

3 4

Nurisma Afifatun, Ekologi Tumbuhan, http://Ekologi tumbuhan.com (27 Desember 2011). Ibid.

pegunungan. Transek adalah jalur sempit

meintang lahan yang akan dipelajari/

diselidiki. Metode Transek bertujuan untuk mengetahui hubungan perubahan vegetasi dan perubahan lingkungan serta untuk mengetahui hubungan vegeterasi yang ada disuatu lahan secara cepat.5 Keanekaragaman hayati khususnya tanaman atau tumbuhan yang berada di selatan wilayah Indonesia, biasanya menjadi salah satu sumber pokok kehidupan para petani sebagai mata pencahariannya. Upaya pemanfaatan tanaman atau tumbuhan bagi masyarakat terlebih dahulu diadakan inventarisasi dengan tujuan mengetahui potensi fungsi, peranan dan manfaat yang ada dari bagian organ dari tanaman. Beberapa tipe lahan memiliki berbagai fungsi ekologis, terutama dalam menyimpan keanekaragaman hayati. Belukar merupakan lahan yang diberakan dan mengalami suksesi dengan masuknya jenis-jenis tumbuhan secara alami mulai dari komponen pionir hingga suksesi lanjut. Keanekaragaman jenis anakan pohon di agrofores dapat mendekati keanekaragaman pohon di hutan.6 Struktur vegetasi merupakan susunan anggota komunitas vegetasi pada suatu area yang dapat dinilai dari tingkat densitas (kerapatan) individu dan diversitas (keanekaragaman) jenis. Komposisi dan struktur suatu vegetasi merupakan fungsi dari beberapa faktor seperti: flora setempat, habitat, (iklim, tanah dan lain-lain), waktu dan kesempatan. Komposisi dan struktur vegetasi tumbuhan tidak dapat dilepaskan dari pentingnya mengetahui air tanah dan ketersediaan air tanah bagi

5 6

Soerinegara, Ekologi Hutan (Bandung : IPB, 1988), h. 98. Indriyanto, Ekologi Hutan (Jakarta : Bumi Aksara. 2006), 109.

tumbuhan di sekitarnya. Ketersediaan air dalam tanah ditentukan oleh PF (kemampuan partikel tanah memegang air).7 Permukaan bumi mendapatkan energi panas dari radiasi matahari dengan intensitas penyinaran yang berbeda-beda di setiap wilayah. Daerah-daerah yang berada pada zona lintang iklim tropis, menerima penyinaran matahari setiap tahunnya relatif lebih banyak jika dibandingkan dengan wilayah-wilayah lainnya. Selain posisi lintang, faktor kondisi geografis lainnya yang mempengaruhi tingkat intensitas penyinaran matahari antara lain kemiringan sudut datang sinar matahari, ketinggian tempat, jarak suatu wilayah dari permukaan laut, kerapatan penutupan lahan dengan tumbuhan, dan kedalaman laut. Perbedaan intensitas penyinaran matahari menyebabkan variasi suhu udara di muka bumi. Kondisi suhu udara sangat berpengaruh terhadap kehidupan hewan dan tumbuhan, karena berbagai jenis spesies memiliki persyaratan suhu lingkungan hidup ideal atau optimal, serta tingkat toleransi yang berbeda-beda di antara satu dan lainnya.8 Pada wilayah-wilayah yang memiliki suhu udara tidak terlalu dingin atau panas merupakan habitat yang sangat baik atau optimal bagi sebagian besar kehidupan organisme, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Hal ini disebabkan suhu yang terlalu panas atau dingin merupakan salah satu kendala bagi makhluk hidup. Khusus dalam dunia tumbuhan, kondisi suhu udara adalah salah satu faktor pengontrol persebaran vegetasi sesuai dengan posisi lintang, ketinggian tempat, dan

7 8

Ibid. Fitriana, Pengantar Ekologi, http://pengantar ekologi.com (27 Desember 2011).

kondisi topografinya. Oleh karena itu, sistem penamaan habitat flora seringkali sama dengan kondisi iklimnya, seperti vegetasi hutan tropis, vegetasi lintang sedang, vegetasi gurun, dan vegetasi pegunungan tinggi.9 Selain suhu, faktor lain yang berpengaruh terhadap persebaran makhluk hidup di muka bumi adalah kelembapan. Kelembapan udara yaitu banyaknya uap air yang terkandung dalam massa udara. Tingkat kelembapan udara berpengaruh langsung terhadap pola persebaran tumbuhan di muka bumi. Beberapa jenis tumbuhan sangat cocok hidup di wilayah yang kering, sebaliknya terdapat jenis tumbuhan yang hanya dapat bertahan hidup di atas lahan dengan kadar air yang tinggi.10 Air merupakan salah satu kebutuhan vital bagi makhluk hidup. Tanpa sumber daya air, tidak mungkin akan terdapat bentuk-bentuk kehidupan di muka bumi. Bagi makhluk hidup yang menempati biocycle daratan, sumber air utama untuk memenuhi kebutuhan hidup berasal dari curah hujan. Melalui curah hujan, proses pendistribusian air di muka bumi akan berlangsung secara berkelanjutan. Sebagaimana telah Anda pelajari di kelas X, bahwa titik-titik air hujan yang jatuh ke bumi dapat meresap pada lapisan-lapisan tanah dan menjadi persediaan air tanah, atau bergerak sebagai air larian permukaan, kemudian mengisi badan-badan air, seperti danau atau sungai.11 Begitu pentingnya air bagi kehidupan mengakibatkan pola penyebaran dan kerapatan makhluk hidup antarwilayah pada umumnya bergantung dari tinggi9

Wies, Fitogeografi (Bandung : Sumber Djaya, 1963), h. 57. Zoeraini, Prinsip-Prinsip Ekologi (Jakarta : Bumi Aksara, 2003), h. 92. 11 Ibid.
10

rendahnya curah hujan. Wilayah-wilayah yang memiliki curah hujan tinggi pada umumnya merupakan kawasan yang dihuni oleh aneka spesies dengan jumlah dan jenis jauh lebih banyak dibandingkan dengan wilayah yang relatif lebih kering.12 Peningkatan suhu disekitar iklim mikro tanaman akan menyebabkan cepat hilangnya kandungan lengas tanah. Peranan suhu kaitannya dengan kehilangan lengas tanah melewati mekanisme transpirasi dan evaporasi,peningkatan suhu terutama suhu tanah dan iklim mikro di sekitar tajuk tanaman akan mempercepat kehilangan lengas tanah terutama pada musim kemarau. Pada musim kemarau, peningkatan suhu iklim mikro tanaman berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman terutama pada daerah yang lengas tanahnya terbatas. Pengaruh negatif suhu terhadap lengas tanah dapat diatasi melalui perlakuan pemulsaan (mengurangi evaporasi dan transpirasi).13

12 13

Soerinegara, op.cit., h. 111. Zoeraini, op.cit., h. 93.

BAB III METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan 1. Alat Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu satu seri plot (1 seri terdiri dari 3 plot berukuran 1 m x 1 m) serta alat tulis menulis. 2. Bahan Adapun bahan yang digunakan yaitu lahan atau komunitas dengan vegetasi yang heterogen serta label.

B. Cara Kerja Adapun cara kerja pada praktikum ini yaitu : 1. Menyiapkan alat yang akan digunakan serta sebuah lahan yang akan dihitung tingkat vegetasinya. 2. Menyebar secara acak satu seri plot dan mencatat jenis serta jumlah tanaman pada seri plot. 3. Kemudian menyebarkan lagi seri plot tersebut dan mencatat kembali jenis serta jumlah tanamannya. 4. Melakukan hal yang sama sampai sepuluh kali pengamatan.

5.

Kemudian menyusun seri plot tadi berdasarkan jumlah jenis tanaman dari jumlah sedikit ke jumlah yang banyak, tanpa memperhatikan seri plot mana yang lebih dulu diambil.

6.

Kemudian membuat grafiknya.

C. Waktu dan Tempat Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum ini yaitu sebagai berikut : Hari/ tanggal Pukul Tempat : Jumat/ 9 Desember 2011 : 08.00 10.00 WITA : Laboratorium Botani Lantai Dasar Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Samata-Gowa.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan Adapun hasil pengamatan pada praktikum ini yaitu : 1. Seri A Rumput keras Spesies A Spesies B Spesies C

2. Seri B Kacang babi Putrid malu Spesies A Spesies B Spesies C 3. Seri C Rumput keras Spesies A Spesies B 4. Seri D Rumput keras

Kacang babi Spesies A Ilalang 5. Seri E Sida acuta Spesies A

6. Seri F Ketapang Rumput keras Spesies A 7. Seri G Rumput keras Ilalang Kacang babi Spesies A 8. Seri H Jagung Rumput keras Ilalang Sida acuta Spesies A Spesies B

Spesies C

9. Seri I Rumput keras Spesies A Spesies B

10. Seri J Rumput keras Spesies A Spesies B

B. Grafik

Jumlah Kuadrat Minimum


8 7 6 5 4 3 2 1 0 seri A seri B seri C seri D seri E seri F seri G seri H seri I seri J Series 1

C. Pembahasan Secara genetika, individu-individu adalah anggota dari suatu populasi setempat dan secara ekologi mereka adalah anggota dari ekosistem. Bagian terbesar dari ekosistem terdiri dari kumpulan tumbuhan dan hewan yang bersama-sama membentuk suatu masyarakat tumbuhan dan hewan yang disebut dengan komunitas. Suatu komunitas terdiri dari banyak jenis dengan berbagai macam fluktuasi populasi dan interaksi satu dengan lainnya.keastuan dari organisme itu dapat merupakan perwakilan misalnya dari jenis-jenis tropis. Masing-masing organisme dalam suatu komunitas hidup di tempat tertentu di antara organism yang hidup dan yang mati serta sisa-sisanya. Beragamnya makluk hidup yang hidup pada suatu lingkungan terutama untuk jenis tumbuhan maka mengharuskan kita untuk melakukan penelitian guna mengetahui jumlah keragaman komunitas pada suatu populasi tertentu tanpa harus mengukur atau bahkan memilah jenis-jenis tanaman satu persatu. Pada pengamatan yang telah dilakukan memperlihatkan data dengan hasil jumlah vegetasi yang ditemukan adalah 14 spesies, dengan diantaranya spesies yang telah teridentifiksasi dan belum teridentifikasi. Vegetasi yang berhasil di identifikasi adalah dari rumputrumputan dan tumbuhan semak, sehingga di asumsikan 5 spesies lainnya belum diketahui berasal dari vegetasi jenis yang mana. Pada pengamatan seri pertama sampai kedelapan keragaman jenis makin meningkat, tetapi pada plot 9 dan selanjutnya tidak ada lagi penambahan keanekaragaman jenis tumbuhan. Hal ini disebabkan karena penyebaran vegetasi tanaman dalam suatu plot dipengaruhi oleh

tanaman yang paling banyak tumbuhnya dalam satu plot tersebut, karena tanaman yang mendominasi suatu plot, kemungkinan besar pada saat penyerbukan tumbuhan tersebut yang dibantu oleh serangga ataupun angin akan menyebar tidak jauh dari tanaman tersebut. Jadi makin jauh luas plot yang diamati, maka makin sedikit jenis tanaman yang sama yang ditemukan. Sehingga makin besar jumlah jenis tanaman baru yang ditemukan. Jika jumlah jenis tanaman itu sedikit dalam suatu plot, dikarenakan faktor kematian, akibat injakan, atau ulah manusia, ataupun penyebarannya yang terbatas lewat penyerbukan dan tempat tanaman itu hidup. Sedikit cuaca juga mempengaruhinya.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Adapun kesimpulan pada praktikum ini yaitu jumlah kuadrat minimum merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengetahui jumlah dan banyaknya penyabaran tanaman dalam suatu vegetasi tanpa harus mengukur atau menghitung seluruh areal vegetasi tersebut. Pada pengamatan yang telah dilakukan

memperlihatkan data dengan hasil jumlah vegetasi yang ditemukan adalah 14 spesies, dengan diantaranya spesies yang telah teridentifiksasi dan belum teridentifikasi. Vegetasi yang berhasil di identifikasi adalah dari rumput-rumputan dan tumbuhan semak, sehingga di asumsikan 5 spesies lainnya belum diketahui berasal dari vegetasi jenis yang mana. Pada pengamatan seri pertama sampai kedelapan keragaman jenis makin meningkat, tetapi pada plot 9 dan selanjutnya tidak ada lagi penambahan keanekaragaman jenis tumbuhan.

B. Saran Adapun saran pada praktikum ini yaitu sebaiknya pada praktikum selanjutnya sebelum praktikum dimulai para praktikan telah menyiapkan semua alat dan bahan yang akan digunakan sehingga praktikum dapat berjalan tepat waktu.

DAFTAR PUSTAKA

Afifatun, Nurisma. Ekologi Tumbuhan, http://Ekologi tumbuhan.com (Diakses pada tanggal 27 Desember 2011). Campbell. Biologi Jilid 3. Jakarta : Erlangga, 2004.

Fitriana. Pengantar Ekologi. http://pengantar ekologi.com (Diakses pada tanggal 27 Desember 2011). Indriyanto. Ekologi Hutan. Jakarta : Bumi Aksara. 2006.
Soerinegara. Ekologi Hutan. Bandung : IPB, 1988. Wies. Fitogeografi. Bandung : Sumber Djaya, 1963.

Zoeraini. Prinsip-Prinsip Ekologi. Jakarta : Bumi Aksara, 2003.