LAPORAN AKHIR PENELITIAN

RISET EVALUATIF IMPLEMENTASI JAMINAN PERSALINAN

Penyusun Laporan Tety Rachmawati dkk

KEMENTERIAN KESEHATAN RI BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN PUSAT HUMANIORA, KEBIJAKAN KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Jl. Indrapura 17 Surabaya 60176 Telp. 031-3528748/ Faks. 031-3528749 JANUARI 2013 i

ii

SURAT KEPUTUSAN PENELITIAN

iii

iv

v .

vi .

vii .

viii .

Desember 2012 Tim Peneliti ix . Saran serta kritik membangun sangat kami harapkan untuk penyempurnaan dan perbaikan di masa mendatang. TOGA dan lintas sektor terhadap kebijakan Jampersal. akseptabilitas Dinas Kesehatan. ketersediaan dan akses terdapapt sarana dan prasarana serta SDM dalam mendukung Jampersal serta utilisasi Jampersal dalam pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. provider pelayanan kesehatan dan sasaran Jampersal yang diharapkan dapat memberikan wacana ke depan kebijakan Jampersal. memuat uraian analisis implementasi Jaminan Persalinan sehingga diharapkan diperoleh gambaran pelaksanaan kebijakan Jampersal di daerah. Surabaya. Akhir kata. semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pengelola program baik di Dinas Kesehatan maupun Depkes RI sehingga bermanfaat dalam rangka perencanaan dan pengambilan kebijakan selanjutnya untuk peningkatan pelayanan Jampersal dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia dalam mewujudkan target MDGs.KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan Syukur Alhamdulillah atas selesainya laporan penelitian ini. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukkan dan pertimbangan pemangku kebijakan untuk mengambil keputusan kebijakan Jampersal. masih diperlukan masukkan untuk sempurnanya hasil penelitian ini. Dari penelitian di 14 Kabupaten/Kota ditemukan variasi implementasi Jampersal dan akseptabilitas pemangku kebijakan di tingkat kabupaten/kota. Laporan ini. Kami seluruh Tim Peneliti “Riset Evaluatif Implementasi Jaminan Persalinan” menyadari bahwa hasil penelitian ini jauh dari sempurna. Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggitingginya kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyusunan laporan ini. masyarakat sebagai sasaran dan TOMA. Provider (RS dan Puskesmas).

x .

bersalin. 7) Menganalisa pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan Ibu (hamil. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru terhadap program Jaminan Persalinan. 3) Menganalisis pelayanan akseptabilitas Ibu provider(pemerintah swasta) dalam Kesehatan (hamil. 2) Menganalisis akseptabilitas kabupaten/kota terhadap program Jaminan dan Persalinan.bersalin. Lintas sektor. saat. Toga. Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan evaluasi program Jampersal dalam upaya mencapai target MDGS. LSM dan organisasi stakeholder lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan. nifas. nifas. Sedangkan tujuan khususnya adalah 1) Menganalisis kebijakan Jaminan Persalinan di daerah.RINGKASAN EKSEKUTIF RISET EVALUATIF IMPLEMENTASI JAMINAN PERSALINAN DI 14 KABUPATEN DI 7 (TUJUH) PROVINSI TAHUN 2012 Jaminan Persalinan (jampersal) merupakan Program Jaminan Persalinan untuk menekan angka kematian ibu bersalin. 6 ) Menganalisis akseptabilitas sasaran dalam pelayanan kesehatan Ibu(hamil. nifas.bersalin. Program Jampersal dipergunakan untuk menanggung seluruh biaya persalinan mulai dari sebelum. 4) Menganalisis ketersediaan (availability). SDM terhadap program Jaminan Persalinan. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan dan 8) Menganalisa akseptabilitas Toma. hingga setelah persalinan bagi ibu yang tengah hamil mulai 2011. Diharapkan dengan diluncurkannya Jampersal. xi .bersalin. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan. dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan. 5) Menganalisis utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. nifas. Tujuan umum penelitian adalah menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan. angka kematian ibu (AKI) dan juga angka kematian bayi (AKB) akan menurun sehingga bisa mencapai target MDGs pada tahun 2015. akses (accessibility) terhadap sarana dan prasarana.

Direktur / Wadir Pelayanan RS. ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) selama periode 6 bulan terakhir yaitu Oktober 2011 . ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) di masing-masing desa wilayah kerja Puskesmas. Wawancara mendalam dilakukan pada seluruh responden di Dinas Kesehatan. Sedangkan untuk sasaran dan bidan dilakukan wawancara xii . 2) Tokoh masyarakat :TOMA&TOGA. Bidan Koordinator. Cara pengambilan sampel adalah dengan mengidentifikasi Ibu hamil. 4) Responden sebagai pemegang kebijakan di tingkat kabupaten yaitu Kepala Dinas Kesehatan. Dari sampel tersebut dibuat daftar/list. verifikator independen dan bidan Kepala Ruangan. cek list dan data sekunder. Sehingga jumlah sampel adalah 140 untuk dua puskesmas di masingmasing Kabupaten/Kota. verifikator Dinas Kesehatan dan kepala bidang Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan. Besar sampel adalah 70 orang untuk masing-masing Puskesmas. Rumah Sakit dan Puskesmas dan FGD dilakukan pada bidan Puskesmas dan Toma.April 2012 di seluruh desa wilayah kerja Puskesmas. b) Fasilitas kesehatan tingkat lanjutan (Rumah Sakit) yaitu : dr. Pengumpulan data dengan wawancara dan FGD dengan menggunakan kuesioner terstruktur. pengelola Jampersal Dinas Kesehatan. Disain penelitian adalah cross sectional dengan jenis penelitian adalah gabungan penelitian kualitatif dan kuantitatif. berdasarkan perhitungan simple random sampling. pedoman wawancara. kemudian diambil 70 responden secara proportional random to size (acak dan proporsional) sesuai dengan jumlah Ibu hamil. 3) Responden sebagai pelaksana program Jampersal yaitu a) Fasilitas Kesehatan tingkat pertama/dasar (Puskesmas) yaitu Kepala Puskesmas. Obsgyn. Responden penelitian adalah 1) Pengguna program Jampersal yaitu ibu hamil. Pengelola Jampersal RS. Pengelola Jampersal dan Bidan desa.Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret – Desember 2012. dan kader Posyandu. ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) selama periode 6 bulan terakhir yaitu Oktober 2011-April 2012. Kepala desa/lurah & aparat desa.

Materi sosialisasi masih lebih kearah pertanggungjawaban administrasi. xiii . Kab. Analisis data kualitatif dan kuantitatif secara deskriptif untuk menggambarkan implementasi Jampersal. Jenis paket pelayanan Jampersal di tingkat layanan dasar cukup baik diterima bidan. Pelayanan rujukan khususnya di Daerah yang akses jauh dari pelayanan rujukan diharapkan bidan yang telah mempunyai kompetensi khusus dapat melakukan pelayanan rujukan tertentu misalnya manual plasenta. hanya perlu difokuskan pada masyarakat miskin.dengan menggunakan kuesioner tersruktur. Jampersal juga dapat menjadi sumber pendapatan daerah. Di Kabupaten/Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal walaupun belum optimal. Hasil penelitian menunjukkan Kebijakan Jaminan Persalinan di Kabupaten/Kota dapat didapatkan sebagai berikut : 1. Secara umum provider (bidan. kurang pada substansi. c. dibatasi pada jumlah anak. b. Keterbatasan /tidak adanya dana sosialisasi menyebabkan sosialisasi Jampersal kurang fokus karena diikutkan dengan kegiatan lain. penanganan perdarahan sebelum melakukan rujukan. Hal khusus yang menjadi masukkan : • • Pelayanan ANC bidan mengharapkan bisa lebih dari 4 kali. 2. SPOG) mendukung terhadap kebijakan jampersal. penyediaan sarana. Natuna tidak memanfaatkan Jampersal. 3. Penerimaan Provider terhadap kebijakan jampersal : a. Kebijakan Jampersal ditindaklanjuti dengan menerbitkan Peraturan Bupati atau Peraturan walikota. Muatan politik mempengaruhi dukungan Pemerintah daerah terhadap Jampersal antara lain dalam bentuk sosialisasi. bahkan dengan adanya Jampersal Jamkesda di beberapa daerah dialihkan menjadi Jampersal. Di beberapa kabupaten/kota belum menerbitkan kebijakan lokal. Dukungan pembiayaan belum banyak terlihat. Sosialisasi menjadi kendala untuk pelaksanaan Jampersal.

• • Lama persalinan normal di beberapa daerah lebih dari satu hari.Untuk daerah kepulauan besaran klaim tidak masalah tapi biaya transport yang menjadi kendala karena bisa jauh lebih besar dari klaim Jampersal. sehingga beberapa RS terpaksa menarik tambahan biaya untuk obat. KTP suami. ada daerah yang menerapkan pengisian inform consent untuk menggunakan KB Jangka panjang seperti IUD pada pengguna Jampersal. Di rumah sakit tarif INA-CBG’s terutama untuk RS Tipe C besarannya dianggap terlalu kecil. h. Di beberapa daerah kesulitan dalam pencairan. surat ijin mengemudi. f. Ketersediaan puskesmas di setiap kecamatan di lokasi penelitian terpenuhi ada beberapa hal perlu diperhatikan : a. e. Kepesertaan/pengguna Jampersal adalah ibu hamil. Portabilitas pelayanan dapat berjalan baik. satu desa dapat terdiri beberapa pulau. tapi juknis tahun 2012 sudah lebih sederhana. hal ini disebabkan persyaratan dianggap membebani. Pencairan dana untuk BPS pada umumnya cukup lancar. d. Mekanisme klaim awalnya menjadi kendala karena terlalu lama. Jumlah Bidan pada umumnya mencukupi kecuali xiv . ibu bersalin. 4. Kendala juga dengan terbatasnya tenaga verifikator sehingga berkas klaim menumpuk di verifikator. kartu keluarga. g. kartu mahasiswa/pelajar dan paspor. Pelayanan KB perlu lebih ditegaskan lagi. surat keterangan domisili. Di kepulauan perlu lebih banyak sarana pelayanan. habis pakai dsb. ibu nifas sampai 42 hari dan neonatal (0-28 hari) yang mempunyai salah satu persyaratan seperti KTP. hanya Kota seperti Balikpapan dimana tingkat ekonomi tinggi besaran tersebut dianggap masih terlalu rendah. Di tingkat layanan dasar besaran Klaim menurut juknis 2012 secara umum sudah cukup. Masalah terjadi untuk pencairan untuk provider di puskesmas karena melalui mekanisme keuangan daerah sehingga bervariasi setiap daerah.

prasarana dan SDM rumah sakit sangat terbatas. o Belum tersosialisasinya program Jampersal dengan baik. d. harus aktif dan telah magang pada organisasi Profesi dalam waktu tertentu. Jumlah bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan masih sangat terbatas. bahkan tidak ada SPOG tetap. 5.di kepulauan Aru jumlah bidan sangat kurang. Sasaran yang memanfaatkan Jampersal pada pelayanan persalinan pada umumnya (95. Terutama di daerah kepulauan sarana. hal ini disebabkan tidak semua bidan puskesmas/desa dapat melakukan PKS disebabkan antara lain : o Belum semua dinas kesehatan membuka kesempatan pada bidan puskesmas/BPS untuk melakukan PKS secara terbuka. dan distribusi bidan belum merata dan tidak semua bidan desa tinggal diwilayah kerjanya. b.3%) sudah di fasilitas kesehatan. Kota Kendari bidan yang ada kebanyakan masih lulusan D1. c. Puskesmas non perawatan tidak mempunyai sarana rawat inap untuk menolong persalinan. Sarana Puskesmas rawat inap dan Poned masih terbatas. misalnya di kota Ambon. o Persyaratan pengurusan ijin praktek bidan yang menyebabkan bidan tidak dapat segera mendapatkan Ijin praktek dengan adanya persyaratan dari organisasi Profesi misalnya APN. Pemanfaatan layanan Jampersal : a. di beberapa lokasi kepala Dinas membuat kebijakan untuk menyediakan satu ruangan untuk rawat inap untuk persalinan. Dari data sasaran Ibu Nifas ”Continum of care” perlu peningkatan pelayanan konseling pada sasaran agar terjadi kesinambungan dalam pemanfaatan paket pelayanan Jampersal mulai dari ANC sampai dengan KB paska nifas. b. Sisanya masih di xv . o Keterbatasan tenaga bidan karena ada batasan kompetensi. Belum semua rumah sakit pemerintah di kabupaten melakukan PKS dengan Dinas Kesehatan.

Pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan dalam upaya mendukung pelaksanaan kebijakan Jaminan Persalinan. Toga. Terdapat biaya tambahan yang dikenakan pada masyarakat yang memanfaatkan pelayanan Jampersal 7. Askes dan Jamsostek) ke pembiayaan Jampersal (95%). dan juga ketersediaan tenaga kesehatannya terbatas. Terjadi pergeseran bagi pemanfaatan pembiayaan Jaminan kesehatan lain (Jamkesmas. 6. Kabupaten Wakatobi dan Kabupaten Paser.tenaga kesehatan tapi non fasilitas kesehatan yang terjadi di kabupaten yang tergolong daerah sulit secara akses. Masyarakat yang tidak memanfaatkan Jampersal 66. Pelaksanaan Jampersal didukung oleh Toma. Dari data sasaran didapatkan : a. d. Hal ini misalnya terjadi di Kabupaten Kepulauan Aru. Peningkatan kasus Sectio caesaria juga cukup tinggi di rumah sakit pemerintah rujukan Jampersal pada tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. c. Cenderung terjadi peningkatan rujukan persalinan per vaginam dengan komplikasi dan tanpa komplikasi di rumah sakit pemerintah tempat rujukan Jampersal pada 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. 8. Selain pemberdayaan dari masyarakat langsung melalui kader kesehatan. Dari penelitian disimpulkan : xvi . LSM dan organisasi stakeholder lainnya karena dapat meningkatkan pelayanan oleh tenaga kesehatan. Lintas sektor.7% karena belum tersosialisasi Jampersal. sehingga sasaran Jampersal untuk yang belum mempunyai Jaminan kesehatan kurang sesuai. b. juga terdapat pembiayaan kesehatan melalui PNPM GSC yang merupakan program kementerian Dalam Negeri. c. Jamkesda.

brosur. d. lebih senang dengan KB suntik. c. Masyarakat masih keberatan KB dengan alat kontrasepsi jangka panjang (mis. Ada keterlibatan Toma . Perlu adanya kesinambungan ketersediaan alokasi dana Pusat dalam pelaksanaan Jampersal. Adapun saran untuk perbaikan Kebijakan Jaminan Persalinan adalah sbb: Jangka pendek 1.a. b. Pedoman Pelaksanaan harus memberi ruang untuk menampung kebijakan lokal a) Diterbitkannya turunan kebijakan Jampersal berupa Peraturan Bupati atau Peraturan Walikota. Masyarakat mengharapakan Jampersal dilanjutkan karena bermanfaat terutama masyarakat tidak mampu Rekomendasi dari penelitian ini adalah : Dengan dukungan dari Pemerintah Daerah. bahan habis pakai. obat. IUD). Toga . kader dalam sosialisasi pada masyarakat. b) Mendorong daerah untuk berkontribusi terhadap pemenuhan sarana prasarana. provider dan masyarakat. xvii . c) Ketentuan besaran jasa pelayanan dan kelancaran klaim menjadi perhatian sebagai salah satu manfaat Jampersal untuk tenaga kesehatan yaitu adanya kepastian akan menerima jasa pelayanan medis sesuai ketentuan yang berlaku. Sosialisasi pada masyarakat masih dianggap kurang. Fasilitas layanan kesehatan dan terbatasnya sarana transportasi untuk rujukan masih menjadi kendala. dan peralatan kesehatan Puskesmas dan Poskesdes agar mampu melakukan pertolongan persalinan di Puskesmas dan Poskesdes secara memadai. diperlukan sarana pendukung sosialisasi seperti leaflet.

dengan menerapkan inform consent. 4. Disamping itu perlu penganggaran khusus untuk sosialisasi. 6. Toga. kader) dalam sosialisasi lebih di tingkatkan. Peningkatan kemampuan tenaga kesehatan yang ada di wilayah tertentu khususnya di daerah terpencil dan terisolir yang kurang diminati. 5. dll. di antaranya melalui pemberian kewenangan tambahan/khusus mengingat keterbatasan tenaga sesuai kompetensi. f) Penguatan Tim Pengelola Jamkesmas/Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam peningkatan kemampuan proses verifikasi dan pembayaran klaim Jampersal. o Menyediakan rumah singgah. xviii . e) Penguatan sinergisme berbagai sumber pembiayaan dalam mendukung pelaksanaan Jampersal. Jamkesmas. Jamkesda. lintas sektor dan masyarakat (Toma. 3. Pada daerah kepulauan atau wilayah dengan geografis sulit harus dipertimbangkan beberapa pilihan : o Menyediakan dana pendamping untuk penggantian transport rujukan bila diperlukan. pelibatan lintas program. bersalin dan nifas yang belum mempunyai jaminan. bahwa sasaran jampersal adalah ibu hamil. Pengetatan mekanisme pengawasan dan sanksi agar seluruh penyedia pelayanan kesehatan (PPK) Jampersal tidak menarik biaya tambahan dari penerima manfaat Jampersal dengan melakukan “uji petik”. 2. Penguatan komitmen pelayanan KB pasca persalinan sebagai paket dan bagian tak terpisahkan dari pelayanan Jampersal dengan didorong untuk penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang. Sosialisasi menjadi kunci penting dalam keberhasilan. seperti BOK.d) Memberi penekanan pada pemerintah daerah untuk menepati ketentuan sesuai juknis.

Keberadaan bidan sebagai anggota masyarakat memiliki keterbatasan yang harus diperhatikan.o Menyediakan pelayanan ‘one stop service’. 1. 2. perbatasan. dan Pemerintah Daerah dalam percepatan pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi yang memadai. Dukungan Kementerian Pekerjaan Umum. seperti hambatan kultural dan hambatan informasi. d. khususnya di daerah tertinggal. Jangka Panjang Rekomendasi jangka panjang ini lebih diperuntukkan bagi pelayanan kesehatan ibu dan anak secara keseluruhan. dan kepulauan. Aspek Sarana dan Prasarana dan SDM a. Penguatan sistem rujukan (improvement collaborative) antara Puskesmas PONED dan RS PONEK. b. Informasi dan Edukasi) tentang Jampersal untuk mengatasi hambatan non-medis dan non-finansial. c. Penguatan Puskesmas PONED dan RS PONEK. Pemberdayaan Masyarakat sangat penting untuk mendukung pelaksanaan kebijakan Jampersal. dalam rangka memudahkan proses rujukan KIA. Peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui pemberian KIE (Konseling. sehingga diupayakan adanya pendamping di wilayah kerja bidan karena bidan mempunyai keterbatasan . baik aspek tenaga. dalam pengertian memenuhi ketersediaan sarana pelayanan kesehatan tingkat dasar sampai dengan rujukan. xix . sarana. Kementerian Perhubungan. obat dan peralatan. serta keterampilan (skill) petugas sebagai penyedia layanan emergensi obstetrik dan neonatal tingkat dasar dan komprehensif.

xx .

pengelola Jampersal dan bidan desa). Kartu mahasiswa/pelajar dan paspor. bahan habis pakai dan pembiayaan masih kurang optimal. dengan menganalisis transkrip hasil diskusi dan mendeskripsikannya dalam bentuk naratif. xxi . Paket pelayanan Jampersal pada umumnya berjalan . bidan dan dr. SIM. dukun dll).toga. sedangkan kuantitatif dianalisis secara secara diskriptif. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah Menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan. FGD dan kuesioner terstruktur serta pengambilan data sekunder (Profil kab/kota. kelancaran cairnya klaim pada provider di puskesmas dan jaringanny menjadi masalah utama dalam pelaksanaan Jampersal. melahirkan dan nifas) serta masyarakat( toma. Dukungan pemerintah daerah terhadap ketersediaan obat. Kebijakan Jaminan Persalinan dicanangkan tahun 2011 berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/ Menkes / Per /III/2011 dan diperbaharui dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 yang mulai berlaku per 1 Januari tahun 2012. cakupan program). Adapaun pengumpulan data secara kualitatif dan kuantitatif dengan wawancara mendalam. Sosialisasi yang kurang optimal menjadi kendala yang perpengaruh terhadap akseptabilitas provider. KTP suami. Besaran klaim di rumah sakit yang menggunakan tarif INA-CBGs perlu dilakukan penyesuaian dengan kondisi saat ini. Provider di tingkat layanan dasar dan rumah sakit pada umumnya mendukung kebijakan Jampersal. Disain Penelitian secara potong lintang Responden penelitian adalah Dinas kesehatan ( Kadinkes. Surat keterangan domisili.ABSTRAK Dalam rangka mempercepat pencapaian tujuan pembangunan kesehatan nasional serta Millenium Development Goal (MDG’s). Puskesmas (kepala puskesmas. Persyaratan bagi sasaran pengguna Jampersal adalah KTP. Jawa Barat. Portabilitas Jampersal dapat berjalan di layanan dasar maupaun rujukan. NTB. Sulawesi Tenggara. pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan meluncurkan kebijakan Jaminan Persalinan (Jampersal). Kalimantan Timur dan Kepulauan Riau yang masing-masing dipilih 2 (dua) kabupaten / kota. kecuali KB paska nifas perlu adanya penekanan dalam pelaksanaannya misalnya dengan memberlakukan inform consent. sasaran (ibu hamil. kader. Khusus di daerah dengan geografis sulit seperti kepulauan dimana alat transportasi dan biaya transportasi sering menjadi kendala perlu solusi tersendiri dengan menambahkan biaya pendamping untuk transpertasi. pengelola Jampersal. sasaran dan masyarakat terhadap kebijakan Jampersal. Penelitian ini merupakan penelitian terapan untuk mengetahui implementasi kebijakan program Jampersal di 7 (tujuh) propinsi di Indonesia yaitu Jawa Timur. pengelola Jamkesmas/Jampersal. rumah singgah atau one stop service untuk pelayanan dasar dan rujukan. verifikator independen. rumah sakit ( direktur/ Kabid pelayanan. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa secara umum kabupaten / kota mendukung tujuan kebijakan Jampersal mencapai tujuan 4 dan 5 MDG’s dengan mengimplementasikan kebijakan Jampersal dengan variasi sesuai dengan kondisi dan kebijakan lokal yang berlaku di daerahnya dengan diterbitkanya Peraturan Bupati/walikota. Kartu Keluarga. pengelola program KIA dan verifikator). Data kualitatif hasil FGD dan wawancara mendalam dilakukan secara content analysis. SPOG). bidan koordinator. Maluku.

Jamkesda. kebijakan Jampersal dirasakan manfaatnya dalam meningkatkan akses ke layanan kesehatan dalam masalah pembiayaan terutama pada masyarakat kurang mampu. Hal ini dikarenakan menurut provider.Sasaran pengguna Jampersal sebagian besar sudah memiliki Jaminan seperti Jamkesmas. Sehungga hanya terjadi pergeseran pembiayaan saja dari Jaminan lain ke Jampersal. Askes dan Jamsostek. Kata Kunci : Jampersal 2012 – Evaluasi implementasi-14 kabupaten/kota xxii . Saran untuk Jampersal perlu adanya kesinambungan dalam pendanaan dengan penyempurnaan dalam petunjuk teknis dan implementasi. masyarakat dan sasaran.

questionnaire structurely. and village midwives). 631/Menkes/Per/III/2011 juncto Minister Decree of Health No. and the others). It was covered based on Minister Decree of Health No. coordinator midwife. Each area were taken 2 (two) districts/cities. midwives. It was caused by conditions and policy local such as it has been released regent. independence verificator. Childbirth Insurance portability has been ran in basic services and referrals. Maluku. Husband ID. Driver’s License. Student Card and passport. Results of the study shows that In general. and also Childbirth Insurance Benefit xxiii . and mayor decrees. cadres. 2562/Menkes/Per/XII/2011 regarding Technical Guidance of Childbirth Insurance which was launched January 1. East Kalimantan and Riau archipelago. public health insurance/childbirth insurance managements. birth. Health Center (head. hospital (director/head of division for health services. 2012. post natal) including communities (TOMA. targets and communities toward Childbirth Insurance Program Policy. Implementation of Childbirth Insurance Program Policy has been assorted every study area. Requirements for Childbirth Insurance Program is ID Card. FGD. Furthermore. cildbirth Insurance management. Study design was a cross sectional whereas informants were District/City Health Office (head. It was a applied study to know how implementation of Childbirth Insurance Program Policy in 7 (seven) Provinces in Indonesia involves East Java. targets (pregnant women. and secondary data were taken Profile of Disticts/Cities. and financing. maternal and neonatal management. a domicile explanation letter. lack of socialization for Childbirth Insurance Program have became barriers that influences to provider acceptability. All data were gathered qualitatively whereas quantitative data with In-depth interview. Southeast Sulawesi. Family Card. West Java. In 2011 Ministry of Health has been released a national policy concerning Childbirth Insurance Program (known as “Jampersal”). West Nusa Tenggara. materials in medical services. Qualitative data of FGD and In-depth interviews results were conducted content analysis trough analysing discussions transcripts and desribes naratively whereas quantitative were analyzed descriptively. Moreover. This study aims to analyze implementing Childbirth Insurance Program.Abstract In order to accelerate achievement of the National Health Development and Millenium Development Goals. health program coverage. cities/districts have been supported goals of childbirth Insurance Program Policy to achieve the 4 and 5 MDGs goals. lack of Local Goverment supports concerns availability of pharmacies. TOGA. and obstetric specialists). Childbirth Insurance managements. and verificator for health office).

package. It suggested that we are need sustainability concerns financing and revised technical guidance were caused by providers. communities. except implementation of Family Planning for post natal care has been stressed in implementation for example applying inform consent special for remote areas such as islands where transportation and cost have became barriers. xxiv . shelter home. or one stop service. Disbursement of claims is late on provider at Health Center and their networks became main obstacle implementation of Childbirth Insurance Program and we also need tarrif revision for hospital that has applied INA-CBGs. health insurance. Evaluation of implementing Childbirth Insurance of 14 Districts/Cities. and targets that Childbirth Insurance Program policy has perceived benefits them that implicated to increase public access to facilities health services mainly family poors. and Social Security Programs for Workers so that It just moved financing from an insurance to Childbirth Insurance. Most of targets users for Childbirth Insurance Program have already been others Insurance such as public health insurance. local health insurance. Key words: Childbirth Insurance Program. It will needed solution strategy through adding attendant cost for basics and referrals services for transportation. provider for basic services and referral levels have supported the Childbirth Insurance Program Policy. On the other hand. In general.

Master Kesehatan Peneliti 6.Ant Sri Handayani. 1 Nama dr. Tety Rachmawati. R. MHA Pemberdayaan Masyarakat Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Perilaku dan Pelayanan Kesehatan Antropologi Sosiologi Kesehatan Masyarakat Psikologi Peneliti Peneliti 10.DAFTAR ANGGOTA TIM PENELITI SUSUNAN TIM PENELITI No. magister Sains Peran P.Vita K. SKM. Muhammad Agus Mikrajab. Apt. drg. Pratiwi.M. Selma Siahaan. S. Peneliti 12..Psi. Msi Ingan Ukur Tarigan. M. Agung Dwi Laksono. M. Setia Pranata. M.Psi Nugroho Winarto Peneliti Peneliti Peneliti Peneliti Pembantu Administrasi 17. M.Kes dr.KG Dra. Psikolog. Msi Kepakaran Dokter. Epid. drg.S. 9.. S.Wasis. S. 5. 7. SKM.Sos Wening Widjajanti. 15..Kes Pemberdayaan Masyarakat Peneliti 3. Kes. Rukmini. Master Kesehatan Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Peneliti Peneliti 8. Ir.M. Yurika F. 16. Yunita Fitrianti.. 2. M. S. Niniek L.MPH Peneliti 11. Dr. S.Psi.Sp. 14.I. SKM. Susilo Pembantu Administrasi 18 Supriyadi Pembantu Administrasi xxv . Drs.Kes Analis Kebijakan Magister sains Peneliti Peneliti 4. 13.KM Rozana Ika Agustiya.

xxvi .

. DAFTAR TABEL.................................... DAFTAR ANGGOTA PENELITI ................3 BAB II 2..........1 PENDAHULUAN .......................... 2........................................ 2................2................. BAB I 1........................................................................... DAFTAR ISI...................... xxvii i ii ix xi xxi xxv xxvii xxxiii xxxvii xxxix 1 1 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 6 6 6 ............... 2....... 2...........................................................................................................................................................2 KEBIJAKAN (JUKNIS JAMPERSAL 2012) ................................................................2............................... DEFINISI ..................................1........................................................................4 PUSAT PELAYANAN OBSTERIK NEONATAL EMERGENSI DASAR (PONED) ........3 FASILITAS KESEHATAN ...................... 2................ LATAR BELAKANG ..................... RINGKASAN EKSEKUTIF ............................................... 2.....................................................................................................................................6 BIDAN PRAKTEK MANDIRI ....................................................... ABSTRAK .........................1 JAMPERSAL ................... 2.......1................................... FOKUS BIDANG PENELITIAN ............. SURAT KEPUTUSAN PENELITIAN .1 1..........................................................................................................................2 SASARAN JAMPERSAL ......................................................................................2 PERJANJIAN KERJA SAMA ........................................................................1 TUJUAN JAMPERSAL ............................................................................. DAFTAR LAMPIRAN .............................................1.. TINJAUAN PUSTAKA ....5 RUMAH SAKIT PELAYANAN OBSTERIK NEONATAL EMERGENSI KOMPREHENSIF (PONEK) ..... 2.......................... 2................1..............2 1.......................... KATA PENGANTAR ................... PERTANYAAN PENELITIAN ...................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ..........................................................1...............................1........................................................................ DAFTAR GAMBAR ..................................................

.................................................7 4.......... 3.............................................................. 3.............4 4.................................. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN .........................2...............1 TAHAPAN PEMILIHAN LOKASI PENELITIAN ............... METODOLOGI ...............1 DEFINISI MATERNAL .....3 DATA SEKUNDER .... TUJUAN PENELITIAN ............6..................... 4.......................1 4........................................1 ANALISIS KEBIJAKAN KESEHATAN . RESPONDEN PENELITIAN .......3 PAKET MANFAAT DAN TATA LAKSANA PELAKSANAAN JAMPERSAL .............................. 2.............................3 TEORI KEBIJAKAN ..................................6 MANFAAT PENELITIAN .....................................................9....................9 VARIABEL PENELITIAN ..................................................... DESAIN/JENIS PENELITIAN ..............1 TUJUAN DAN MANFAAT............. 2......................2 4.......................................................1 TUJUAN UMUM .. 2............................................................ 3.....4............................1................ 4............................2.......................4................................. BAB III 3.................1 PENGUMPULAN DATA KUALITATIF .................... 2......2 TUJUAN KHUSUS .... 2......................... KERANGKA PIKIR ...4.............3.......................... 4..... 2..........................................4 TEORI KEBIJAKAN PUBLIK ................... CARA PENGUMPULAN DATA .........3 4............................................ 4.. xxviii 7 9 9 9 10 10 13 13 15 15 17 17 17 17 18 19 19 20 21 22 22 23 23 24 25 26 27 28 28 ......... 4........... 2..........3.................... 2..... KERANGKA TEORI ..................................................................3 PENYEBAB KEMATIAN MATERNAL ...........2 PENGUMPULAN DATA KUANTITATIF ..................................................................5 4...................6...............................................................................1.......................4 PENDANAAN JAMPERSAL ......................................2.............................................. 2...........3.....................6...8 4............2 BAB IV 4....2 TINGKAT KEMATIAN MATERNAL ...................... KERANGKA OPERASIONAL....2 ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN .... DEFINISI OPERASIONAL ..................3 KEMATIAN MATERNAL ..................

.....10 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA ..........2......2...............1............................... 5................................... 5....3 TAHAPAN PENGUMPULAN DATA DI LAPANGAN……………. BERSALIN DAN NIFAS ..........5 PEMBERI LAYANAN .. 5.1 SEKILAS TENTANG LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN ....................................... 5......................2.1.......................2 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI TINGKAT PUSAT DAN DAERAH ...2..4....1 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI PUSAT ....1..........7 PENDANAAN ............... 5...........2...... 5...........2.......2............................................................. 5...................2...........2 KARAKTERISTIK PENGGUNA JAMPERSAL .1........6 BESARAN TARIF PELAYANAN ................1....5 KOTA BANDUNG ..........................................1......................................2................2 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI KABUPATEN/KOTA LOKASI PENELITIAN .............. 5...........................2.......4 PERSYARATAN KLAIM ...................2...................2.2.... 5.................2......6 KABUPATEN BOGOR .......2 KOTA BLITAR .. 5................2.....1 SASARAN .............. 5....1 KARAKTERISTIK RESPONDEN IBU HAMIL.........................2.....1 KABUPATEN SAMPANG ........2.....2 PAKET PELAYANAN ............. 29 29 30 30 31 33 5.........2.......2 TAHAPAN PELAKSANAAN PERSIAPAN DI LAPANGAN..... 4....1...............................................................2......... 4............................................................................2......... 4. 5... BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ...........9.................... 5.... 4................12 JADWAL KEGIATAN ....................1........... 5...... 5.1..........3 KEPESERTAAN ........... xxix 33 36 39 43 43 44 44 45 45 46 47 47 49 49 50 52 53 54 55 56 57 .7 KOTA AMBON ...............3 KOTA MATARAM ......2...... 5.............................8 PROSES PENGAJUAN KLAIM ......... 5..........................4 KABUPATEN LOMBOK TENGAH ........... 5......... 5..........2......................11 PERTIMBANGAN IJIN PENELITIAN .......................2.. 5.............1..............................................9...............2.......

....3..4...... 5....3.....2 KEPESERTAAN/SASARAN ...............2......4 BESARAN TARIF PELAYANAN DAN JASA PELAYANAN 92 5........2.1 PAKET LAYANAN.....12 KABUPATEN PASSER ..... SOSIALISASI DAN KEBIJAKAN LOKAL YANG MENDUKUNG JAMPERSAL .....2......................4...............3......................4.........2....2............... 5....2......8 KABUPATEN KEPULAUAN ARU ........... 5......2 PEMBERI LAYANAN DI FASILITAS KESEHATAN DASAR....... 5......... 5........................4 BESARAN TARIF PELAYANAN ......2........................2..........4........1 DUKUNGAN MANAJEMEN.........13 KOTA BATAM ........................5 JASA PELAYANAN . 5.4 AKSEPTABILITAS PROVIDER DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN .10 KABUPATEN WAKATOBI ........4.......14 KABUPATEN NATUNA .................. 5...............2......... 5...............3 AKSEPTABILITAS KABUPATEN/KOTA TERHADAP PROGRAM JAMPERSAL .............. 5................ 5.. 74 76 80 81 85 87 89 89 90 91 5......................4.............3 PEMBERI LAYANAN DI FASILITAS KESEHATAN RUJUKAN 5........................4.........4..............2............1 SOSIALISASI JAMPERSAL DI PUSKESMAS DAN RUMAH SAKIT 71 5.....................3 SYARAT KLAIM..................................................2................2......4....... 5..5 KETERSEDIAAN (AVAILABILITY)...........................3.. 5... AKSES (ACCESIBILITY) TERHADAP SARANA DAN PRASARANA SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN ..9 KOTA KENDARI ......2............................... 58 60 60 62 63 63 65 67 67 70 5.....2 KEPESERTAAN . 5.........................2...11 KOTA BALIKPAPAN ....5. 5......... 5.2....... 5.........2............................................................3............... 95 xxx ................1 PAKET PELAYANAN .................2...2..........................4........4...........3 SYARAT PEMANFAATAN DAN MEKANISME KLAIM 5.....4..2.....

........ LSM DAN ORGANISASI LAINNYA DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN JAMINAN PERSALINAN ................. 5......................................................................................................................... 5........................... LINTAS SEKTOR...........2 KESIMPULAN DAN SARAN ..................................9...........................................................8 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN ........ 5.......5....................3 ANTARA BUDAYA...........5...1 UTILITAS DAN PELAYANAN DASAR .. 6.................................... TOGA...6 UTILITAS PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR OLEH PROVINSI YANG DISEDIAKAN OLEH PROGRAM JAMINAN PERSALINAN .... 5...7 AKSEPTABILITAS SASARAN DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMPERSAL ...............................................1 JANGKA PENDEK ....................9 AKSEPTABILITAS TOMA.............................1 SARANA DAN PRASARANA PELAYANAN DASAR DAN RUJUKAN ................ TABU DAN UPAYA PENYELAMATAN IBU DI KOTA BLITAR .......... 5........2......................................... 5........ 5............... 5............................................... 6.........2 UTILITAS DAN PELAYANAN RUJUKAN .2 AKSESIBILITAS JARAK .......................1 HARAPAN MASYARAKAT ....................1 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM UPAYA MENDUKUNG PROGRAM KIA MELALUI PNPM GSC DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH . UCAPAN TERIMA KASIH ......................................................................................................................................6......1 JANGKA PANJANG ............ DAFTAR KEPUSTAKAAN ... KESIMPULAN ...................6.............2..........1 6. xxxi 95 101 118 118 127 132 136 137 159 179 200 208 211 211 216 216 217 219 221 .............................................8....... 5................... 5...........................................................5....2 BAYANG-BAYANG JAMPERSAL DI LAMANGGAU ................ SARAN/REKOMENDASI .8.......8........ BAB VI 6......................... 5..............

xxxii .

10 Gambar 5.2 Kerangka teori penelitian Kerangka pikir penelitian Nama Halaman 19 20 28 29 35 37 Kerangka operasional penelitian Tahap Pelaksanaan Persiapan Penelitian di Lapangan Peta Wilayah Indonesia Karakteristik Responden berdasarkan Umur pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Gambar 5.2 Gambar 4.9 Gambar 5.13 Ruang rawat Inap pasien Jampersal di Rumah Sakit Jarak ke pelayanan Kesehatan pada pengguna Jampersal di kabupaten/Kota “Daratan” xxxiii 42 71 71 75 83 99-100 di 101 102 .3 Karakteristik Responden berdasarkan Pendidikan pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 39 Gambar 5.12 Gambar 5.5 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Pendidikan pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi 41 Jampersal Tahun 2012 Gambar 5.1 Gambar 5.7 Gambar 5.6 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Jumlah Anak pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Gambar 5.4 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Umur pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 40 Gambar 5.11 Diskusi Kelompok pada Bidan.4 Gambar 5.DAFTAR GAMBAR Gambar Gambar 4.1 Gambar 4. tempat cuci kamar Operasi di Ruang kandungan dan kebidanan di RSUD Ambon Gambar 5.3 Gambar 4. Bagan Sosialisasi Jampersal di Kabupaten/Kota Persepsi Bidan Puskesmas terhadap Jaminan Persalinan Mekanisme pembeyaran klaim Jampersal Pelayanan Dasar Ruang ICU.8 Gambar 5.

18 Gambar 5. Kab.24 Tenaga Pemeriksa Kehamilan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011 April 2012 Gambar 5.22 Peta Wilayah Provinsi Kepulauan Riau Posisi Kabupaten Kepulauan Aru di peta Indonesia Peta Wilayah Kabupaten Kepulauan Aru Puskesmas Benjina.27 Kematian Neonatal di Kabupaten/Kota Tahun 2010 .15 Gambar 5.Juni 2012 Gambar 5.Juni 2012 Gambar 5.23 Cakupan Persalinan Tenaga Kesehatan di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Tahun 2010 – Juni 2012 Gambar 5.28 Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam dengan Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Gambar 5. Wakatobi Cakupan Persalinan oleh tenaga kesehatan di Kabupaten/Kota “Non Kepulauan” tahun 2010-Juni 2012 Gambar 5.26 Kematian Maternal di Kabupaten/Kota Tahun 2010 . Kepulauan Aru Peta Kabupaten Kepulauan Wakatobi Kapal cepat yang melayani rute Wanci-Tomia Puskesmas Onemobaa.Gambar 5.20 Gambar 5.25 Tenaga Penolong Persalinan Pada Responden Non 125 124 120 103 106 108 109 113 116 118 119 Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Gambar 5.17 Gambar 5.19 Gambar 5. Kab.29 Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam tanpa Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 129 128 127 126 xxxiv .16 Gambar 5.14 Jarak ke pelayanan kesehatan pada pengguna Jampersal 102 di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Gambar 5.21 Gambar 5.

d Okt 2012 145 Gambar 5. Linakes Desa Langko Thn 2010-2012 PMT yang diberikan ketika posyandu di Desa Langko Peta Kabupaten Wakatobi Peta Desa Lamanggau Jalan Menuju Puskesmas Onemobaa Pintu Gerbang Dive Wakatobi Resort Gedung Puskesmas Onemobaa Tempat pemeriksaan yang berkarat Rumah tenaga kesehatan xxxv 149 152 160 161 163 163 165 165 165 .48 Gambar 5.47 Gambar 5.43 Gambar 5.37 Persentase capaian indicator keberhasilan PNPM GSC Kab.41 Poskesdes Desa Lekor yang dibangun oleh PNPM GSC Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil yang difasilitasi oleh PNPM GSC 146 148 Gambar 5.36 Pembiayaan Tambahan pada sasaran pengguna Jampersal pada Kabupaten/ Kota Daerah Penelitian 135 Gambar 5.35 Kepemilikan Jaminan lain pada sasaran pengguna Jampersal Alasan tidak menggunakan Jampersal pada sasaran Kepemilikan Jampersal Jaminan pada sasaran Non pengguna 132 134 135 Gambar 5. K4 dan Linakes Puskesmas Janapria Thn 2010-2012 143 Gambar 5.32 Kematian Neonatal di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010. Lombok Tengah 139 Gambar 5.34 Gambar 5.33 Gambar 5.30 Kematian Maternal < 24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 130 Gambar 5.44 Gambar 5. Th 2010 s.49 Gambar 5.Gambar 5.45 Gambar 5.50 Kunjungan K1.38 Kunjungan K1.39 Kunjungan K1 dan K4 serta Linakes Desa Lekor.40 Gambar 5.31 Kematian Maternal >24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 131 Gambar 5.42 Gambar 5. K4.Juni 1012 131 Gambar 5.46 Gambar 5.

kader.53 Gambar 5. TOGA.55 Gambar 5.51 Gambar 5.54 Gambar 5.52 Gambar 5.56 Rumah Mbook Medaming “rumah bersalin Bajo” Kamar untuk bersalin Kamar untuk bersalin (tampak luar) Lantai bersalin Ibu nifas Diskusi kelompok masyarakat (TOMA.Gambar 5. dll) 175 175 175 175 176 201 xxxvi .

5 Tempat Persalinan Responden Pengguna Jampersal di Lokasi penelitian Periode Oktober 2011-April 2012.4 “Continum of Care” Pelayanan Jampersal (K1.6 Jumlah Kasus Sectio Caesaria yang ditangani di Rumah sakit di Kabupaten/Kota Tahun 2010 – Juni 2012 129 123 xxxvii . K4. Kabupaten dan Kota berdasarkan kriteria cakupan LINAKES Halaman 21 Tabel 4.1 Nama Pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi. 27 31 47 95 Tabel 5.DAFTAR TABEL Tabel Tabel 4.3 Tabel 5. Tabel 5. 122 persalinan) dan PN di Kabupaten/Kota di Lokasi Penelitian Tahun 2012 Tabel 5. 121 Tabel 5.2 Definisi Operasional Gant Chart Jadual Kegiatan Penelitian Tarif Pelayanan Jaminan Persalinan Tahun 2012 Sarana dan Sumber Daya Manusia yang Memberikan Pelayanan Jampersal.2 Tabel 4.1 Tabel 5.3 “Continum of Care” pada Responden Sasaran Ibu Nifas Pengguna Jampersal per Kabupaten (N = 573).

xxxviii .

Dengan program jampersal. jumlah itu masih sangat tinggi..I. Salah satu faktor yang penting dalam intervensi adalah perlu meningkatkan akses masyarakat terhadap persalinan yang sehat dengan memberikan kemudahan pembiayaan kepada ibu hamil. Hasil studi District Health Account 1 intervensi khusus . Kebijakan Jaminan Persalinan dicanangkan tahun 2011 berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/Menkes/Per /III/2011 dan diperbaharui dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 yang mulai berlaku per 1 Januari tahun 2012.R. Untuk mencapai AKI dan AKB sesuai target MDG’s dihadapi berbagai masalah yang multi komples seperti masalah budaya. pengetahuan. 90 persen kematian ibu disebabkan karena persalinan.BAB I PENDAHULUAN 1. Program Jampersal adalah respons pemerintah melalui Kementerian Kesehatan untuk mengembangkan program/kegiatan yang bersifat quick wins dalam upaya menurunkan kematian maternal. LATAR BELAKANG Dalam rangka mempercepat pencapaian tujuan pembangunan kesehatan nasional serta Millenium Development Goal (MDG’s ). pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan meluncurkan kebijakan Jaminan Persalinan (Jampersal). lingkungan.1. diharapkan berharap bisa menekan angka kematian ibu hingga 118 per 100 ribu penduduk yang merupakan target RPJM 2014 dan 102 per 100 ribu penduduk sesuai target MDG’s tahun 2015. 2011). sumberdaya manusia dll. kecukupan fasilitas kesehatan. sehingga diperlukan (SDKI. 2007). (Kemenkes. Saat ini Kemenkes mencatat angka kematian ibu masih di atas 228 orang per 100 ribu penduduk. Menurut data Kemenkes. Hal ini dikarenakan masih banyaknya ibu yang tidak mampu membiayai persalinannya sehingga tidak dilayani oleh tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang baik. pendidian masyarakat.

ibu nifas (pasca melahirkan sampai 42 hari) dan bayi baru lahir (0-28 hari) yang belum memiliki jaminan persalinan. Peserta program Jampersal adalah ibu hamil.R. tidak tergantung status sosial ekonomi yang bersangkutan.I. Oleh karena itu. salah satu faktor penting untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap persalinan sehat adalah dengan memberikan kemudahan pembiayaan untuk ibu hamil. Program Jampersal terintegrasi dengan pelayanan KB. 2 . 2011). yaitu pemeriksaan sebanyak 4 (empat) kali sebelum persalinan. Program Jampersal adalah intervensi pembiayaan untuk menanggung seluruh biaya persalinan mulai dari masa kehamilan. dengan memanfaatkan pelayanan di seluruh jaringan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjutan (RS) di kelas III yang sudah memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kabupaten/Kota. 2011). Paket pelayanan jaminan Persalinan yang ditanggung oleh pemerintah adalah Antenatal care (ANC). saat persalinan. termasuk di dalamnya anggaran untuk program kesehatan ibu dan anak.. 2011). bagi siapa saja. 2012) menunjukkan rendahnya komitmen pemerintah daerah untuk menyediakan anggaran kesehatan dalam jumlah yang memadai. Dana yang dikeluarkan untuk program ini diperkirakan mencapai 2.di 80 kabupaten/kota (Gani. Selain itu. dan empat kali kontrol setelah persalinan sedangkan mekanisme pemberian jaminan persalinan ini diberikan seperti Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). ibu bersalin. persalinan hingga masa nifas termasuk bayi. Dengan ketentuan proses persalinan dilakukan di rumah sakit kelas III atau Puskesmas (Kemenkes.R.I. (Kemenkes R. angka kematian ibu (AKI) dan juga angka kematian bayi (AKB) akan menurun seiring dengan meningkatnya cakupan keluarga berencana sehingga bisa mencapai target MDGs pada tahun 2015 (Kemenkes. sehingga diharapkan dengan diluncurkannya Jampersal.3 triliun rupiah.I. pemeriksaan kehamilan dengan risiko tinggi dan persalinan dengan penyulit serta komplikasi dilakukan secara berjenjang di Puskesmas dan rumah sakit berdasarkan rujukan.

6 juta ibu hamil. Diharapkan program jampersal ini bisa meningkatkan kualitas kelahiran pendudukan tanpa meningkatkan jumlah penduduk. Dan tahun 2012 petunjuk teknis 2011 telah disempurnakan berdasarkan masukan sebelumnya . meningkatkan persalinan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Persalinan yang sudah dibiayai Jamkesmas mencapai 1. meningkatkan cakupan peserta KB terutama dengan metode kontrasepsi jangka panjang. meningkatkan cakupan peserta KB terutama dengan metode kontrasepsi jangka panjang. Tahun 2011. 3 . serta pemberdayaan keluarga dam masyarakat dalam bidang kesehatan.Papua dan NTT dengan masing-masing di 1-2 kabupaten. K4.7 juta ibu hamil pertahun. Walaupun tahun 2012 terdapat beberapa penelitian Jampersal . Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan evaluasi program Jampersal dalam upaya mencapai target MDGS dengan meningkatkan cakupan K1. Target MDGs dalam meningkatakan kesehatan ibu akan tercapai apabila 50% kematian ibu dapat dicegah dan hal tersebut dapat dicapai antara lain dengan meningkatkan cakupan K1. dengan prioritas dalam perkiraan ibu bersalin dalam 1 tahun adalah 4. Laksono Trisnantoro telah melakukan penelitian Jampersal di DIY .Program Jampersal itu berbeda dengan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). sedangkan Jamkesmas memberikan perlindungan kesehatan bagi warga miskin. meningkatkan persalinan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. tapi masih terbatas dalam wilayan penelitiannya sehingga diperlukan penelitian yang lebih lanjut untuk mendapat informasi yang lebih luas. serta pemberdayaan keluarga dam masyarakat dalam bidang kesehatan. dari hasil penelitian menyatakan ada permasalah serius dalam kebijakan Jampersal. memastikan memastikan bidan tinggal di desa. Program ini tidak hanya pada ibu hamil yang miskin. Jampersal ini akan dilaksanakan secara bertahap mulai 2011.

Toga.1. ketersediaan sarana dan prasarana dan sumberdaya manusia. 4 . nifas. Bagaimana penerimaan masyarakat dalam pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi terhadap Implementasi Jaminan Persalinan ? 6. Bagaimana penerimaan kelompok masyarakat (Toma. Fokus bidang penelitian Fokus bidang penelitian adalah Kebijakan di tingkat pusat dan daerah dalam pembiayaan. upaya yang dilakukan provider pelayanan kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat yang di fokuskan Dalam upaya meningkatkan cakupan pemeriksaan kehamilan. Bagaimana kebijakan daerah (Kab/Kota) implementasi Jaminan Persalinan? 2. Bagaimana penerimaan provider dalam pelayanan Kesehatan Ibu dan bayi terhadap program Jaminan Persalinan ? 3. dan pelayanan nifas dan pelayanan KB paska persalinan dalam rangka mendukung program Jampersal sehingga dapat menurunkan AKI dan AKB. pertolongan persalinan.2.3. Pertanyaan penelitian 1. Bagaimana upaya pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi oleh provider dalam Implementasi Jaminan Persalinan ? 4. Lintas sektor. LSM dan organisasi stakeholder lainnya) dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan? dan kendala dalam 1.bersalin. Bagaimna utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. akseptabilitas provider dan masyarakat. dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan 5.

pertolongan persalinan.2 Perjanjian Kerjasama (PKS) adalah dokumen perjanjian yang ditandatangani bersama antara Dinas Kesehatan selaku Tim Pengelola Kabupaten/Kota dengan penanggung jawab institusi fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta yang mengatur hak dan kewajiban para pihak dalam jaminan persalinan.2. 2.5 Rumah Sakit Pelayanan Obsterik Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) adalah Rumah Sakit yang mempunyai kemampuan dalam memberikan pelayanan obstetri (kebidanan) dan bayi baru lahir emergensi komprehensif. preventif. Manfaat yang diterima oleh penerima manfaat Jaminan Persalinan terbatas pada pelayanan kehamilan. 2. 2. 2. baik promotif.1.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. persalinan.1.3 Fasilitas Kesehatan adalah institusi pelayanan kesehatan sebagai tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan. kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah. pelayanan nifas termasuk pelayanan KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. dan Swasta. nifas. 2.1 Definisi ( Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan 2012) 2. TNI/POLRI.6 Bidan Praktik Mandiri adalah praktik bidan swasta perorangan.1.1. 2.4 Puskesmas Pelayanan Obsterik Neonatal Emergensi Dasar (PONED) adalah Puskesmas yang mempunyai kemampuan dalam memberikan pelayanan obstetri (kebidanan) dan bayi baru lahir emergensi dasar.1 Jaminan Persalinan adalah jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan. 5 .1. Kebijakan Jaminan Persalinan (Juknis Jampersal 2012) Jaminan Persalinan merupakan perluasan kepesertaan dari Jamkesmas dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja.

2) Keluarga Berencana pasca persalinan.1. dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kompeten.2. c. nifas. Meningkatnya cakupan pelayanan : 1) Bayi baru lahir. dan bayi baru lahir. pertolongan persalinan. persalinan. transparan. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. dan akuntabel. 3) Penanganan komplikasi ibu hamil. Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien. b. Tujuan Khusus a. Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan. Ibu bersalin 3.2. Ibu nifas ( sampai 42 hari pasca melahirkan) 4. Sasaran Jampersal Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah : 1. batas waktu sampai dengan 28 hari pada bayi dan sampai dengan 42 hari pada 6 . 2. 2.2. nifas. Tujuan Jampersal 1. Ibu hamil 2. efektif. Agar pemahaman menjadi lebih jelas. KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten. Tujuan Umum Meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan.2. Bayi baru lahir (sampai dengan usia 28 hari) Sasaran yang dimaksud diatas adalah kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi untuk mencegah AKI dan AKB dari suatu proses persalinan. bersalin.

ibu hamil diperiksa sebanyak 4 kali disertai konseling KB dengan frekuensi: a.ibu nifas adalah batas waktu pelayanan PNC dan tidak dimaksudkan sebagai batas waktu pemberian pelayanan yang tidak terkait langsung dengan proses persalinan dan atau pencegahan kematian ibu dan bayi karena suatu proses persalinan. reagensia dan bahan habis pakai yang diperuntukkan bagi pelayanan kehamilan. persalinan dan nifas. nifas dan bayi baru lahir menjadi tanggung jawab Pemda/Dinas Kesehatan Kab/ Kota. 1 kali pada triwulan kedua c. Pemeriksaan kehamilan (ANC) yang dibiayai oleh program ini mengacu pada buku Pedoman KIA. 2. dan KB pasca salin serta komplikasi yang mencakup seluruh sasaran ibu hamil.2.3. abortus inkompletus dan missed abortion b) Penatalaksanaan mola hidatidosa c) Penatalaksanaan hiperemesis gravidarum d) Penanganan Kehamilan Ektopik Terganggu e) Hipertensi dalam kehamilan. dimana selama hamil. pre eklamsi dan eklamsi 7 . 1 kali pada triwulan pertama b. Paket Manfaat dan Tata Laksana Pelayanan Jaminan Persalinan Manfaat yang diterima oleh penerima Jaminan Persalinan sebagaimana diuraikan dibawah ini. 2. 2 kali pada triwulan ketiga Pemeriksaan kehamilan yang jumlahnya melebihi frekuensi diatas pada tiap-tiap triwulan tidak dibiayai oleh program ini. sedangkan pada peserta Jamkesmas dijamin berbagai kelainan dan penyakit. Manfaat pelayanan jaminan persalinan meliputi: 1. Pada Jaminan Persalinan dijamin penatalaksanaan komplikasi kehamilan antara lain : a) Penatalaksanaan abortus imminen. Penyediaan obatobatan. bersalin.

masing-masing satu kali pada : 1. Pelayanan nifas (Post Natal Care) Pelayanan ibu nifas dan bayi baru lahir dilaksanakan empat kali. dan Kohort ibu. dan 8 . 3. Jenis Pelayanan Keluarga Berencana pasca salin antara lain : a) Kontrasepsi mantap (Kontap) b) IUD. terkecuali pelayanan Nifas dengan komplikasi yang dirujuk ke Rumah sakit.f) Perdarahan pada masa kehamilan g) Decompensatio cordis pada kehamilan h) Pertumbuhan janin terhambat (PJT): tinggi fundus tidak sesuai usia kehamilan i) Penyakit lain sebagai komplikasi kehamilan yang mengancam nyawa. Keluarga Berencana (KB) adalah pelayanan KB pasca persalinan dilakukan hingga 42 hari pasca persalinan. Kartu Ibu. Kunjungan kedua untuk KN2 (hari ke-3 s/d hari ke-7) 3. Lama hari inap minimal di fasilitas kesehatan : 1) Persalinan normal dirawat inap minimal 1 (satu) hari 2) Persalinan per vaginam dengan tindakan dirawat inap minimal 2 (dua) hari 3) Persalinan dengan penyulit post sectio-caesaria dirawat inap minimal 3 (tiga) hari Pencatatan pelayanan pada ibu dan bayi baru lahir tercatat pada: Registrasi ibu hamil dan Pencatatan di Buku KIA. Kunjungan keempat untuk Kf3 (hari ke-29 s/d hari ke-42) Pelayanan nifas dijamin sebanyak empat kali. maka pelayanan nifas dilakukan sesuai pedoman pelayanan Nifas dengan komplikasi tersebut. Implant. Kunjungan pertama untuk Kf1 dan KN1 (6 jam s/d hari ke-2) 2. Kunjungan ketiga untuk Kf2 dan KN3 (hari ke-8 s/d hari ke-28) 4.

3. 2. pelayanan persalinan serta rujukan risti persalinan peserta Jamkesmas dan masyarakat sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan sebagai penerima manfaat jaminan.000 kelahiran hidup. tingkat kematian maternal didefenisikan sebagai jumlah kematian maternal selama satu tahun dalam 100. tetapi tidak secara kebetulan atau oleh penyebab tambahan lainnya. Hal ini disebabkan 9 .2. Defenisi Kematian maternal adalah kematian wanita sewaktu hamil. Data kematian maternal di Indonesia pada saat ini belum ada yang tepat. percepatan pencapaian MDG’s 2015 serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan termasuk persalinan oleh tenaga kesehatan difasilitas kesehatan.c) Suntik.4. (Winkjosastro (Ed). tidak tergantung dari lama dan lokasi kehamilan. sebab denominator untuk Maternal Mortality Rate seharusnya population at risk untuk kehamilan dan persalinan yaitu jumlah wanita usia reproduksi (15-44 tahun). melahirkan atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya masa kehamilan. KEMATIAN MATERNAL 2. Dana belanja bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada angka 1 (satu) adalah dana yang diperuntukkan untuk pelayanan kesehatan dan rujukan pelayanan dasar peserta Jamkesmas. 2. 2. 2002) 2. (Winkjosastro (Ed).2. Pendanaan Jamkesmas dan Jampersal di pelayanan dasar dan pelayanan rujukan merupakan belanja bantuan sosial (bansos) bersumber APBN yang dimaksudkan untuk mendorong pencapaian program. 2002). Sesungguhnya kematian ini lebih tepat disebut Maternal Mortality Rasio.3. disebabkan oleh apapun yang berhubungan dengan kehamilan atau penanganannya.3. Tingkat Kematian Maternal Berdasarkan kesepakatan Internasional. Pendanaan Jaminan Persalinan 1.1.

selain menerima wanita untuk persalinan yang telah mendaftarkan diri terlebih dahulu. menerima pula penderita-penderita yang dikirim dari daerah sekitarnya karena kesukaran dalam persalinan. terdapat komplikasi kehamilan dan persalinan seperti perdarahan. Penyebab Kematian Maternal Secara garis besar penyebab kematian ibu dapat dikategorikan dalam penyebab langsung dan penyebab tidak langsung.oleh belum adanya sistem pendaftaran wajib untuk kelahiran kematian. Perdarahan Perdarahan dapat dibedakan dalam dua kelompok yaitu perdarahan antepartum dan perdarahan postpartum. • Perdarahan Antepartum adalah perdarahan pervaginam pada kehamilan diatas 28 minggu atau lebih. Perdarahan antepartum digolongkan sebagai berikut : 1. A. Perdarahan yang ada hubungannya dengan kehamilan a) Plasenta previa b) Solusi plasenta c) Perdarahan pada plasenta letak rendah d) Pecahnya sinus marginalis dan vasa previa 2. Penyebab Langsung Terjadi pada kehamilan yang dikehendaki atau tidak. preeklampsia dan eklampsia serta infeksi. (Winkjosastro (Ed). 2002) 2.4. dibeberapa daerah. menurut perkiraan kasar angka kematian maternal adalah 6-8 per 100 kelahiran hidup. maka sering disebut atau digolongkan perdarahan pada trimester ketiga.3. Perdarahan yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan a) Pecahnya varices vagina b) Perdarahan polip serviks 10 .

3) Trauma persalinan. plasenta akreta. Perdarahan postpartum primer: Terjadi dalam 24 jam pertama. sisa plasenta. Perdarahan postpartum merupakan penyebab penting kematian maternal khususnya di negara berkembang. penyebab utama adalah atoni uteri. hamil kembar Retensio Plasenta adalah terlambatnya kelahiran plasenta selama setengah jam setelah persalinan bayi. b) Faktor predisposisi : Anemia. Distensi rahim berlebihan : hidramnion.c) Perdarahan perlukan seviks d) Perdarahan karena keganasan serviks • Perdarahan Postpartum adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam setelah persalinan berlangsung. plasenta inkreta dan perkreta.Grandemultipara dengan implantasi plasenta dalam bentuk plasenta adhesiva. penyebab utama adalah robekan jalan lahir dan sisa plasenta atau membran. . retensio plasenta. Perdarahan postpartum sekunder: terjadi setelah 24 jam pertama. Penyebab dari atonia uteri adalah : a) Tindakan persalinan 2) Partus lama/persalinan terlantar. robekan vagina.Grandemultipara 11 . perdarahan postpartum dibagi menjadi perdarahan postpartum primer dan sekunder 1. Grandemultipara. Faktor-faktor yang menyebabkan perdarahan postpartum adalah : . Jarak hamil kurang dari 2 tahun. Kejadian retensio plasenta berkaitan dengan : . dan robekan jalan lahir. terbanyak dalam dua jam pertama. .Retensio plasenta tanpa perdarahan. 2. .Mengganggu kontraksi otot rahim dan menimbulkan perdarahan.Plasenta manual dengan segera dilakukan. Atonia uteri adalah tidak adanya kontraksi uterus setelah proses persalinan.

status gizi. karena sebagian besar tidak dilaporkan dan banyak dilakukan atas permintaan. perusahaan multi-nasional atau local.4. anemia. Kehamilan ektopik terganggu (KET) : Kehamilan ektopik terganggu adalah kehamilan yang berimplantasi di luar endometrium normal dan sudah menimbulkan gangguan. keguguran dengan infeksi.. 2001) 2. lembaga pendidikan atau rumah sakit. TEORI KEBIJAKAN PUBLIK Kebijakan adalah pernyataan yang luas tentang maksud. Selain perdarahan antepartum dan postpartum. Penyusun kebijakan merupakan mereka yang menyusun kebijakan dalam organisasi seperti pemerintah pusat atau daerah. keterlambatan memberi pertolongan yang adekuat. kemiskinan. (Manuaba. Kebijakan Publik (Public Policy) merujuk pada kebijakan-kebijakan yang 12 . Keguguran buatan ilegal c) Berdasarkan Gambaran Klinisnya : Keguguran lengkap. perdarahan yang masih berhubungan dengan kehamilan adalah perdarahan yang disebabkan oleh kehamilam ektopik terganggu (KET) dan juga keguguran atau abortus. missed abortion. Penyebab Tidak Langsung Jangkauan daerah Indonesia yang terlalu luas.Persalinan yang dilakukan dengan tindakan. B. tujuan dan cara yang membentuk kerangka kegiatan. keguguran tak terhalangi. Keguguran spontan diperkirakan sebesar 10% -15%. indikasi sosial b) Berdasarkan Pelaksanaannya 1. Kejadian abortus sulit diketahui.Jarak persalinan pendek kurang dari 2 tahun. Keguguran atau abortus dapat dibagi menjadi : a) Berdasarkan Kejadiannya 1. Keguguran buatan terapeutik 2. . Keguguran spontan 2. keguguran tidak lengkap. keguguran mengancam. keguguran habitualis. Keguguran buatan atas indikasi medis.

dibuat oleh negara atau pemerintah sedangkan kebijakan Kesehatan (health policy) mencakup tindakan yang mempengaruhi Institusi . Andersen (1975) mendefinisikan kebijakan publik sebagai kegiatan yang mempunyai maksud/tujuan tertentu yang dilaksanakan oleh seorang/kelompok yang berperan dengan permasalahan atau suatu yang diperhatikan. dan upaya pendanaan sistem Kesehatan (Buse et al. Analisis Kebijakan Kesehatan Menurut Dunn (2009) mendefinisikan analisis kebijakan adalah suatu bentuk analisis yang menghasilkan dan menyajikan informasi sedemikian rupa sehingga dapat memberikan landasan dari para pembuat kebijakan dalam membuat keputusan. Organisasi. 2.1. 2005). ada tiga faktor penting yang mempengaruhi dimensi kebijakan Kesehatan yang lebih dikenal dengan segitiga analisis kebijakan (policy analysis triangle) yang dikemukakan oleh Buse et al (2005. yaitu: 1. serangkaian tahapan dalam proses penyusunan kebijakan. 2012). baik nasional maupun internasional yang dapat mempengaruhi kebijakan Kesehatan 2. dikomunikasikan. sosial atau budaya. dinegosiasikan. organisasi. dilaksanakan. atau bahkan Negara beserta tindakan mereka yang dapat mempengaruhi kebijakan Kesehatan. dan di evaluasi Dari ketiga faktor tersebut yang berperan penting dalam proses kebijakan Kesehatan adalah aktor (pelaku) yang merujuk kepada Individu. Proses mengacu kepada cara bagaimana kebijakan dimulai. sebagai berikut: 13 .. dikembangkan atau disusun. Selanjutnya. ekonomi.4. pelayanan. Dalam ilmu kesehatan masyarakat. Konteks merupakan faktor-faktor sistematis-politik. Konten (isi) merupakan substansi dari suatu kebijakan yang memperinci bagian-bagian dalam kebijakan 3.

disetujui. yaitu: analisis kebijakan prospektif (analysis for policy) diharapkan terjadi di masa yang akan datang.. Analisis tipe ini memberikan informasi rinci tentang formulasi kebijakan (evaluasi formatif) atau mengantisipasi bagaimana kebijakan akan berjalan bila diterapkan. 14 . Tahapan ini merupakan saat dimana kebijakan dapat diubah atau dibatalkan serta kebijakan yang baru ditetapkan (Buse et al. dan mengapa isu-isu yang lain justru tidak pernah dibicarakan 2.1. bagaimana kebijakan dihasilkan. Identifikasi masalah/isu. TB. Sedangkan analisis kebijakan retrospektif (analysis of policy) berhubungan dengan masa lampau dan deskriptif. atau dirubah selama dalam pelaksanaan. Evaluasi kebijakan. bagaimana pengawasannya. tahapan ini merupakan bagian penting dalam penyusuna kebijakan. temukan apa yang terjadi saat kebijakan dilaksanakan. sesuatu yang salah mungkin terjadi dan hasil kebijakan tidak seperti yang diharapkan. sebab bila kebijakan tidak dilaksanakan. Ada dua jenis analisis kebijakan menurut Buse et al (2005). 4. apakah tujuan tercapai dan apakah terjadi akibat yang tidak diharapkan. Analisis yang satu ini lebih melihat kebelakang dan merenungkan kembali mengapa dan bagaimana kebijakan menemukan bentuknya sehingga agenda dan muatannya bisa mencapai tujuan tertentu (evaluasi sumatif). 2007) cit Walt et al (2008). Perumusan kebijakan. Kerangka analisis segitiga kebijakan banyak di adopsi dalam penelitian kebijakan Kesehatan di berbagai Negara dan telah digunakan untuk menganalisis sejumlah besar isu kesehatan termasuk Kesehatan mental. dan dikomunikasikan 3. 2005). reformasi sektor Kesehatan. Pelaksanaan kebijakan. menemukan bagaimana isu-isu yang ada dapat masuk kedalam agenda kebijakan. Kesehatan reproduksi dan pelayanan antenatal care serta pengendalian penyakit sifilis (Gilson & Raphaely. menemukan siapa saja yang terlibat dalam perumusan kebijakan.

b. Sumber daya Meliputi SDM (human resources). Teori Kebijakan 2. pengembangan dan implementasi kebijakan termasuk evaluasi kebijakan. 3) Apa saja isu utama yang berimplikasi pada kebijakan Kesehatan maternal (konteks) dan 4) Apa output dari kebijakan Kesehatan maternal(isi). 2) Untuk siapa kebijakan Kesehatan maternal di buat (siapa aktornya). 2. Empat Faktor inter-relasi elemen pembuatan kebijakan kesehatan (Walt & Gilson. Dalam teori ini.4. yaitu: a. dan sumber daya metoda (method resources).3. yaitu: agenda setting. 15 . Greena et al (2011). yaitu: 1) Bagaimana kebijakan Kesehatan maternal di buat (proses) dengan melalui 3 tahap.2.3. 1994) cit. sumber daya material (material resources). Dengan ketentuan tersebut tujuannya dapat terwujudkan.4. Standar dan sasaran kebijakan Setiap kebijakan publik harus mempunyai standard an suatu sasaran kebijakan yang jelas dan terukur (measurable).4. Analisis Implementasi Kebijakan Alexander (1985) mengemukakan bahwa salah satu metode untuk mengidentifikasi proses implementasi kebijakan Kesehatan dengan menggunakan teori kontigensi. ada enam variabel yang mempengaruhi antara kinerja dan implementasi kebijakan. Teori Meter & Horn (1975) Dalam implementasi kebijakan menurut Meter & Horn (1975). Menurut Meter & Horn (1975) implementasi kebijakan meliputi tindakantindakan yang dilakukan melalui individu dalam kelompok baik publik maupun privat yang diarahkan pada pencapaian tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan.2.1. proses implementasi kebijakan diharapkan dapat memahami variasi dalam implementasi kebijakan dan dapat mengintegrasikan studi dan kasus serta mengidentifikasi masalah dalam penelitian.

Komunikasi antar organisasi Sebagai realitas dari program kebijakan perlu hubungan yang baik antar instansi terkait yaitu dukungan komunikasi dan koordinasi. Kondisi sosial. ada 3 kelompok variabel yang dapat mempengaruhi keberhasilan implementasi program kebijakan. dan 3) Kemampuan pelaksana. 2010) Menurut Weimer & Vining. c) intensitas disposisi implementor. yaitu: 1) Logika suatu kebijakan. 16 . b) kondisi. bagaimana sifat opini public yang ada di lingkungan dan apakah elit politik mendukung implementasi kebijakan tersebut. ekonomi.4. sejauhmana kelompok-kelompok kepentingan memberikan dukungan bagi implementsai kebijakan. 2. 2) Sebuah kebijakan harus sesuai dengan tuntutan lingkungan.3.c.2. e. Teori Weimer & Vining (1999. Kebijakan Sikap Atau disposisi implementor dibedakan menjadi 3 hal: a) tanggapan pelaksana terhadap kebijakan. f. dan politik Mencakup SD ekonomi lingkungan yang dapat mendukung keberhasilan implementasi kebijakan. Karakteristik agen pelaksana Untuk mencapai keberhasilan maksimal harus diidentifikasi dan diketahui karakteristik agen pelaksananya. karakteristik partisipan yakni mendukung dan menolak. d.

dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider terhadap program tingkat pusat dan (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan 6. nifas. Menganalisis utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. SDM terhadap program Jaminan Persalinan 5. nifas.BAB III TUJUAN DAN MANFAAT 3. akses (accessibility) terhadap sarana dan prasarana. Menganalisis akseptabilitas provider (pemerintah dan swasta) dalam pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. Menganalisis ketersediaan (availability).bersalin.1.bersalin. Tujuan Khusus 1.1.bersalin.1 Tujuan Penelitian 3. 17 . dan KB pasca persalinan) terhadap program Jaminan Persalinan 7. Menganalisis akseptabilitas sasaran dalam pelayanan kesehatan dan bayi baru Ibu(hamil. Toga. nifas. Lintas sektor. Menganalisis kebijakan Jaminan Persalinan di daerah 2. nifas. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan 8. Tujuan umum Menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan 3. Menganalisa pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan Ibu (hamil. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan 4.bersalin.1. Menganalisis akseptabilitas kabupaten/kota Jaminan Persalinan 3. Menganalisa akseptabilitas Toma.2. LSM dan organisasi stakeholder lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan.

Bagi Masyarakat Sebagai masukkan dan menerima manfaat terhadap perbaikan program Jampersal sekaligus masyarakat sebagai kontrol dalam pelaksanaan program kesehatan.3.2. Bagi penentu kebijakan Sebagai bahan evaluasi kebijakan dan implementasi program Jampersal sehingga dapat dijadikan masukkan dalam menentukan/ perbaikan kebijakan program tersebut. 18 . Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat : A. B.

ketersediaan sumberdaya kesehatan dan fungsi manajemen. yang terdiri dari variabel status kesehatan Ibu dan Anak. Ketepatan program dan Sasaran. yang terdiri dari variabel kepemimpinan. kondisi geografis setempat dan peran keluarga. 4. sosialisasi dan fasilitasi peneyelenggaraan program/kegiatan. 19 . 3. yang terdiri dari variabel kemiskinan. tren kesenjangan cakupan program KIA dan hasil pendataan sasaran program. KERANGKA TEORI (Sandi Iljanto) Gambar 4. Kapasitas Manajerial. 2.BAB IV METODOLOGI 4.1 Kerangka Teori Menurut Sandi Iljanto. Implementasi jampersal di bentuk 4 konstrak yaitu : 1.1. Faktor Kontekstual. yang terdiri dari variabel antara lain turunan kebijakan. Akseptabilitas Kebijakan. ketersediaan fasyankes.

2) Upaya pelayanan dan rujukan. mengacu juknis Jampersal (Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011) . biaya dan jenis pelayanan .4. 2. 2) Program di kabupaten/kota dengan tersedianya sarana. dll) Cakupan Pelayanan Ibu & Bayi : 1. INPUT KERANGKA PIKIR PROSES OUTPUT Kebijakan: Di Tk. Proses dan Output.2 Kerangka Pikir Dalam penelitian Jampersal terdapat variabel Input.Ibu hamil. 3) Kelompok sasaran Jampersal yaitu Ibu hamil. ibu bersalin. 3. pelayanan rujukan terencana & emergency sesuai indikasi medis untuk ibu janin/bayinya Implementasi Program Jampersal Upaya pelayanan & rujukan Pemberdayaan Masyarakat Gambar 4. penanganan komplikasi ibu hamil bersalin. pelayanan KB pasca persalinan 6. prasarana. Variabel Output dengan melihat cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak 20 . 3) Pemberdayaan Masyarakat adalah pemberdayaan masyarakat yang mendukung pelayanan KIA. SDM. Variabel Input yang mempengaruhi penelitian ini adalah 1) kebijakan di tingkat Pusat dan Daerah. pemeriksaan kehamilan pertolongan persalinan pelayanan nifas pelayanan bayi baru lahir 5. 4. 7. nifas. Pusat dan Daerah : .Jampersal Program Kab/Kota : -Sarana/Prasarana -SDM -Biaya -Jenis Pelayanan Kelompok Sasaran . Varibel proses terdiri dari : 1) implementasi program Jampersal . -Ibu bersalin -Ibu nifas -bayi baru lahir Kelompok Potensial Masyarakat : -TOMA/TOGA/ -Kepala Desa -Kader Lintas sektor : (BKKBN) Organisai Masyarakat Organisasi Profesi : (IBI. ibu nifas dan bayi baru lahir dan 4) Kelompok Potensial Masyarakat.2. dan bayi baru lahir.

sehingga jumlah provinsi terpilih semuanya ada tujuh provinsi. dipilih enam provinsi dengan cakupan LINAKES yang dibagi dalam tiga kelompok yaitu tinggi. kemudian diambil dua kecamatan berdasarkan cakupan LINAKES yang tinggi dan rendah berdasarkan data/informasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota yang ada di provinsi terpilih. Selanjutnya dari ke tujuh provinsi tersebut. Lokasi penelitian Provinsi dan kabupaten & kota terpilih berdasarkan kriteria cakupan LINAKES dapat dilihat pada tabel di bawah ini.Aru KOTA Blitar Balikpapan Mataram KABUPATEN Sampang Paser Lombok Tengah Kendari Wakatobi 21 . TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN Penelitian dilakukan selama sepuluh bulan pada tahun 2012.4. Jumlah provinsi yang dipilih untuk masing-masing kelompok sebanyak dua provinsi untuk kelompok LINAKES yang tinggi.1. Selanjutnya dari provinsi terpilih tersebut dipilih satu) kabupaten dan satu kota berdasarkan cakupan LINAKESnya.3. sedang dan rendah yaitu Provinsi Jawa (Riskesdas. Dari kabupaten dan kota terpilih tersebut. Kabupaten dan Kota berdasarkan kriteria cakupan LINAKES No Cakupan LINAKES Tinggi PROVINSI Jawa Timur 1 Kalimantan Timur NTB 2 Sedang Jawa Barat Maluku 3 Rendah Sulawesi Tenggara Bandung Ambon Bogor Kep. Tabel 4. sedangkan untuk kelompok LINAKES yang sedang dan rendah masing-masing dipilih dua provinsi. tahun 2007). Penelitian dilakukan di tujuh Provinsi. Pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi. Pemilihan provinsi didasarkan pada indikator cakupan pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan (LINAKES) dan jumlah kematian ibu dan anak tinggi (absolut).

2. pengelolaan Jampersal (penyerapan anggaran).Untuk memilih kabupaten kota berdasarkan jumlah kematian ibu dan anak tinggi (absolut). dan kader Posyandu. b) Kelompok PKK. RESPONDEN PENELITIAN 1. Pemilihan rumah sakit (RS) di setiap kabupaten kota dipilih 1 (satu ) RS Pemerintah milik kabupaten/kota. Untuk pemilihan puskesmas dilakukan berdasarkan penyerapan anggaran Jampersal yang tinggi dan rendah di setiap kabupaten kota.5. sedangkan RS swasta dipilih yang sudah mempunyai perjanjian kerjasama (PKS). daerah yang tidak menggunakan Jampersal. Sedangkan untuk daerah yang tidak menggunakan Jampersal dipilih Provinsi Kepulauan Riau yaitu kabupaten Natuna. tokoh masyarakat : TOMA&TOGA. 22 . kriteria daratan dan kepulauan.4. DESAIN/JENIS PENELITIAN • Disain Penelitian : secara potong lintang . Responden sebagai pengguna program Jampersal yaitu : a) Ibu hamil. dimana antara variabel yang dipengaruhi dan variabel yang mempengaruhi diukur pada saat yang sama (’point in time’). Bidan Koordinator. pengelola Jampersal di Puskesmas dan Bidan desa yg ada di lokasi penelitian. • Jenis Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian terapan untuk mengetahui implementasi kebijakan program Jampersal di 7 (tujuh) propinsi di Indonesia. kriteria administrasi kota dan kabupaten. 4. 4. Responden sebagai pelaksana program Jampersal : a) Fasilitas Kesehatan tingkat pertama/dasar (Puskesmas) yaitu kepala puskesmas. ibu bersalin (bulin) dan ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) serta ibu yang sudah melahirkan selama periode bulan Oktober 2011 sampai dengan April 2012 di puskesmas terpilih. Kepala desa/lurah & aparat desa.

Pelaksanaan FGD dilakukan di kabupaten/kota terpilih yang ada di masing-masing provinsi. dan wawancara mendalam (Indepth interview).TOMA/TOGA. Pengelola Jampersal RS. Responden dari Organisasi profesi : Ikatan Bidan Indonesia (IBI) 5. verifikator independen. CARA PENGUMPULAN DATA 4. Pengumpulan data kualitatif dilakukan dengan cara mengadakan diskusi terarah secara berkelompok (FGD). Kader Posyandu. Observasi partisipasi dilakukan 23 .1. Pengumpulan data kualitatif Pengumpulan data kualitatif dilakukan oleh peneliti sebagai instrumen dengan dibantu panduan wawancara. bidan kepala ruangan. Responden Masyarakat : Kepala Desa/Lurah. Observasi tersamar dilakukan untuk melihat perilaku tenaga kesehatan. c) Verifikator 4. 4. Observasi Observasi dalam penelitian dilakukan dengan dua cara. yaitu observasi tersamar dan observasi partisipasi. PKK. observasi partisipasi dilakukan dengan cara melibatkan peneliti langsung di masyarakat.6. dokter kandungan dan kebidanan. LSM dll. Responden sebagai Provider di tingkat kabupaten/kota yaitu: a) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota.6. Penanggung Jawab program KIA. 3. Sementara itu. b) Pengelola dana/ program Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota.b) Fasilitas kesehatan tingkat lanjutan (Rumah sakit/Balkesmas yg mempunyai program kerjasama/PKS dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang ada di lokasi penelitian) yaitu : Direktur / Wadir Pelayanan RS. Pelaksanaan FGD dan indepth interview dilakukan dengan menggunakan panduan wawancara FGD dan indepth interview.

yang mendukung kegiatan kesehatan Ibu dan Anak. Adapun yang diobservasi adalah : 1) Kondisi geografi dan topografi yang ‘dianggap’ dapat menghambat dalam mengakses Jampersal. 4. 2) Interaksi sosial sasaran Jampersal dan tenaga kesehatan. a) Kota Blitar: Kota Blitar dipilih karena dianggap ada temuan menarik ketika pengumpulan data bulan Mei 2012 diwilayah puskesmas Kepanjen Kidul telah terdapat 4 (empat) kematian maternal periode Januaru – Juni 2012.6. ditengarai masyarakat di desa Lamanggau pmasih banyak ditolong dukun walaupun sudah ada Jaminan Persalinan. 3) Interaksi sosial masyarakat terkait Jampersal. Bulin dan Bufas) : Data sikap. ibu melahirkan. Pengumpulan data kuantitatif Pengumpulan data kuantitatif ini dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang terstruktur (kuesioner) yang meliputi : 1) Kelompok Sasaran ( Bumil. c) Wakatobi: di wilayah Wakatobi di pulau Tolandono kecamatan Tomia persalinan oleh tenaga kesehatan rendah. ibu nifas dan bayi baru lahir) dan KB pasca persalinan yang berkaitan dengan pelaksanaan program Jampersal. Hal ini menarik mengingat Kota Blitar dengan 3 puskemas Poned dan RSUD Mardi Waluyo dengan akses mudah.sebagai triangulasi dari indepth interview melalui pedoman wawancara dan wawancara terstruktur melalui kuesioner. pengetahuan dan perilaku (PSP) dari responden penelitian yang berkaitan dengan penggunaan dana Jampersal (ibu hamil. 24 . Setelah pengumpulan data ditentukan 3 lokasi kabupaten / kota untuk dilakukan penelitian tematik dengan dilakukan observasi selama 2 (dua) minggu di lokasi terpilih yaitu. b) Lombok tengah: Di kabupaten Lombok Tengah terdapat PNPM GSC (generasi Sehat Cerdas).2.

Profil kesehatan: Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Data sekunder ini meliputi: 1. Data sekunder Data Sekunder dikumpulkan berkaitan dengan kebijakan dan pelaksanaan program Jampersal baik yang ada di tingkat kabupaten/kota maupun di fasilitas kesehatan di tingkat dasar (Puskesmas) dan di tingkat lanjutan (Rumah Sakit) . pengetahuan dan perilaku (PSP) dari bidan Puskesmas dan Bidan desa sebagai pelaksana program Jampersal. Kemudian diambil secara acak sebanyak 70 orang setiap puskesmas terpilih (berdasarkan rumus metode survei). Pengumpulan data sekunder berupa profile kesehatan dilakukan dengan cara menghubungi masing-masing Dinas kesehatan/kota terpilih untuk mengirimkan data tersebut sebelum dilakukan pengumpulan data di lapangan.2/2 P (1-P) N d2 (N-1) + Z2 1 . Enumerator sebelum terjun dilakukan pelatihan selama 1 (satu) oleh tim peneliti tentang tujuan penelitian dan cara pengumpulan data.2/2 P (1-P) N Pengumpulan data ini dilakukan dengan merekrut enumerator di kabupaten / kota lokasi penelitian.3. tahun 2010 dan 2011 25 .6.Pengambilan sampel dari data sararan adalah Bumil. Bulin dan Bufas yang pada periode oktober 2011-April 2012 yang ada di puskesmas terpilih ( diambil dari kohort). Pengambilan sampel dari bidan puskesmas adalah seluruh bidan pada puskesmas terpilih 4. 2) Data sikap. 2) pendidikan minimal D3 kesehatan dengan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan dan Poltekes setempat. Sedangkan pengumpulan data laporan kegiatan di Puskesmas dan rumah sakit dimulai pada saat dilakukan persiapan daerah di masing-masing propinsi terpilih. Untuk pengambilan data di setiap puskesmas ( sebanyak 70 responden yang sudah di sampling) dilakukan oleh 2 enumerator yang dipilih dengan kriteria 1) dapat menyediaan waktu sekitar 1 (satu) minggu) untuk melaksanakan survei ini. n = Z2 1 .

Pelayanan Jampersal 6. 4. Data tentang cakupan pelayanan Jampersal di Dinas Kesehatan. pelayanan nifas. dan Puskesmas. Rumah Sakit. nifas dan bayi baru lahir. pelayanan bayi baru lahir. Sarana dan prasarana di pelayanan kesehatan yang terkait dengan Jampersal 3.2. Laporan kegiatan Puskesmas (tahun 2010 & 2011) meliputi: pemeriksaan kehamilan. 3. 4. persalinan di 4. pertolongan persalinan. Pemberdayaan Masyarakat 26 . VARIABEL PENELITIAN Variabel penelitian ini meliputi : 1. Data pertolongan persalinan yang terkait dengan rujukan Puskesmas dan Rumah Sakit/RS tahun 2010 & 2011. Data tentang penyerapan anggararan Jampersal di tingkat Kabupaten dan rumah sakit. KB pasca persalinan dan penanganan komplikasi pada kehamilan. 5. Kebijakan Jampersal di tingkat pusat dan daerah 2. Pembiayaan Jampersal 5. SDM yang terkait dengan Jampersal.7. persalinan.

Jampersal Rumah Sakit. Tokoh masyarakat bisa tokoh Agama. Puskesmas. bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan.April 2012 sedang dalam periode nifas ( mlai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan seperti pra hamil sekitar 6-8 mgg atau sekitar 42 mgg Bayi baru lahir Bayi baru lahir dengan usia 0-7 hari disebut neonatal dini dan usia 7-28 hari disebut neonatal lanjut. Pusat Definisi Operasional 2. keputusan presiden. TOMA/TOGA Orang / tokoh yang disegani di masyarakat . Implementasi Program Penerapan Jaminan persalinan di tingkat kabupaten mulai dari Dinas kesehatan. 9.2. memutuskan serta melakukan sesuatu yang dipandang 27 .April 2012 dalam kondisi sedang atau baru bersalin Sasaran Nifas Ibu yang pada periode oktober 2011.4. Upaya Pelayanan dan Upaya pelayanan Jaminan persalinan yang tercantum dalam juknis Jampersal tahun Rujukan 2011 dan 2012 Pemberdayaan Upaya untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. maupun undang-undang yang terkait dengan peaksanan jaminan persalinan Kebijakan Tk Daerah Peraturan ditingkat Provinsi. Kebijakan di tingkat pemerintah pusat yang terdiri dari peraturan menteri. masyarakat. Kemandirian masyarakat merupakan suatu kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ditandai dengan kemampuan memikirkan. perangkat desa dll. Variabel Kebijakan Tk. keputusan menteri. 8. 6. 11. 1. prasarana. Definisi Operasional No. Kabupaten Kota (Perda.April 2012 sedang dalam kondisi hamil Sasaran Ibu bersalin Ibu yang pada periode oktober 2011. 3. Balai Praktek Swasta. SK Bupati/Walikota. 10. Program Kab/Kota Kegiatan ditingkat kabupaten /Kota dalam upaya menunjang program Jampersal (Pemenuhan sarana. pembiayaan dan jenis pelayanan) Sasaran Ibu Hamil Ibu yang pada periode oktober 2011. 7. SDM . tokoh adat. SK Kepala Dinas Kesehatan dll. Kemandirian Masyarakat tersebut meliputi kemandirian berpikir. DEFINISI OPERASIONAL Tabel 4. 5. 4.8. peraturan pemerintah.

4.Cleaning dan inputing Data Tahap Penyelesaian 4 bln Pengolahan dan Analisis Data Laporan Akhir Gambar 4.1.9.: ibu yg sdh melahirkan Faskes : Puskesmas . Tahap pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi terpilih (7) kriteria : cakupan linakes Tahap persiapan +2 bln ( tinggi. Dinkes kab/kota dan provinsi Uji Coba kuesioner Persiapan Daerah di masing-masing lokasi penelitian Tahap pengumpulan & pengukuran + 4 bln Pengumpulan data : Kualitatif : FGD & Indepth interview) Kuantitatif : data primer & sekunder Editing.3 Kerangka Operasional 28 . sedang.RS.tepat demi mencapai pemecahan masalah yang dihadapi dengan mempergunakan daya/kemampuan yang dimiliki dalam kaitannya dengan pencarian pertolongan pada persalinan /KIA. rendah) 1 Kabupaten dan 1 Kota terpilih/provinsi kriteria : Data cakupan linakes Dinkes Kab/Kota 2 kecamatan/kabupaten dan kota Pemilihan Responden di tingkat : masyarakat. KERANGKA OPERASIONAL 4.9.

9. Menyiapkan panduan wawancara untuk data kualitatif (FGD & indepth interview) 3.3. 4. menganalisis hasil uji coba (validitas & reabilitas) serta memperbaiki kuesioner jika ada perubahan berdasarkan hasil analisis uji coba kuesioner.menentukan lokasi kecamatan di msg2 kabupaten/kota di provinsi terpilih .2. Menyiapkan instrumen penelitian yaitu daftar pertanyaan terstruktur/kuesioner 2. Tahap Pelaksanaan Persiapan di lapangan : Pengurusan ijin Etik penelitian (Komisi Etik penelitian) Komunikasi dg Key person yg ada di : DinKes Propinsi.9.ijin penelitian di masing2 provinsi terpilih .4. Mengadakan pertemuan dengan tim Dinas Kesehatan di tingkat Provinsi 29 .mengkondisikan pelaksanaan pengumpulan data di lapangan Gambar 4. Tahap Pengumpulan Data Di Lapangan : 1.4 Tahapan pelaksanaan persiapan di lapangan 4. DinKes kabupaten/kota dan Faskes ( Puskesmas & RS) Pengiriman Form untuk kerangka sampel pada ibu yg sudah melahirkan /bulin selama periode 6 bl ke Bidan (Puskesmas) Profile Kesehatan kabupaten/kota Persiapan Daerah : . Melakukan uji coba kuesioner.menentukan sampel penelitian untuk data kualitatif (FGD & indepth) & kuantitatif .

PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA Setelah data terkumpul. yaitu analisis domain. Sementara itu. Mengadakan pertemuan dengan tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di masing.10. maka dilakukan pengolahan dan analisis data kuantitatif dan kualitatif. Menentukan responden penelitian yang terpilih di masing-masing lokasi penelitian sesuai dengan kebutuhan dan tujuan penelitian 4.5.11. Bidan desa) 7. analisis komponensial. dengan menganalisis transkrip hasil diskusi dan mendeskripsikannya dalam bentuk naratif. analisis taksonomi. 4. untuk observasi partisipasi dilakukan dengan empat tahap analisis. Data kuantitatif dianalisis secara secara diskriptif. Menentukan peneliti daerah yang terlibat dalam penelitian untuk masing2 lokasi Penelitian (Dinkes Kabupaten/Kota.masing provinsi 6. Mendiskusikan pelaksanaan FGD & indepth interview untuk masing2 kelompok responden di lokasi penelitian 8. Bidan Puskesmas. Sedangkan untuk data kualitatif hasil FGD dan wawancara mendalam dilakukan secara content analysis. PERTIMBANGAN IJIN PENELITIAN Surat izin penelitian diperoleh dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan sedangkan etik penelitian diperoleh dari Komisi Etik penelitian dengan mengeluarkan Ethical Clearence (EC). 30 . dan analisis tema.

Gant Chart Jadual Kegiatan Penelitian Bulan No 1 2 Uraian Kegiatan Pembuatan Proposal& Protokol Pembuatan : Kuesioner Panduan FGD&indepth interview Peetunjuk teknis di lapangan Formulir Sampling Frame Permintaan Ethical clearance Uji Coba Kuesioner 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 3 4 5 5 6 9 10 11 12 13 Persiapan daerah Pengumpulan data sekunder Pengmpulan data kuantitatif & kualitatif Analisis data Penyusunan draf t Lap Awal Penyusunan Lap Awal Desiminasi awal Penyusunan Laporan 31 . JADWAL KEGIATAN Tabel 4.4.3.12.

32 .

1. LSM dan organisasi lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jampersal. dan 9) akseptabilitas Toma. 7) akseptabilitas sasaran dalam Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir terhadap Jampersal. 4) akseptabilitas provider dalam pelayanan jampersal. 5) ketersediaan dan akses terhadap sarana dan serta sumberdaya manusia terhadap Jampersal. 3) akseptabilitas kabupaten terhadap program Jampersal. kecuali kabupaten Natuna (sebagai pembanding) karena tidak memanfaatkan dana Jampersal. Dengan kata lain.BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Dari Hasil penelitian di dapatkan data hasil wawancara dan FGD (berupa transkrip). terdapat perbedaan dalam implementasi Jampersal di 14 lokasi tersebut. 5. Hal ini dilaksanakan oleh karena dalam implementasi Jampersal dipengaruhi oleh faktor tersebut diatas. SEKILAS TENTANG LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN Penelitian ini dilakukan di tujuh provinsi yang terdiri dari tujuh kabupaten dan tujuh kota. 6) utilitas pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir yang disediakan oleh jampersal. Perbedaan tersebut disebabkan banyak faktor. Data kuantitatif dari bidan sebanyak 736 orang dan sasaran sebanyak 1787 orang dari 13 kabupaten/kota yang menjadi lokasi penelitian. Toga. Secara tidak langsung faktor geografi 33 . Salah satunya adalah faktor letak geografi. lintas sektor. 2) implementasi kebijakan Jampersal di tingkat pusat dan Daerah. 8) Pemberdayaan dalam meningkatkan Cakupan pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir terhadap Jampersal. Setelah dilakukan analisis data hasil penelitian kami susun berdasarkan tujuan penelitian dengan dimulai memaparkan karakteristik wilayah penelitian dan reponden sebagai berikut : Laporan penelitian ini akan menjawab tujuan penelitian yang dijelaskan dengan urutan sebagia berikut: 1) karakteristik. Berdasarkan hasil penelitian tersebut. Selain itu juga terkumpul data sekunder dari Dinas kesehatan. rumah sakit dan puskesmas. penelitian ini dilakukan di 14 lokasi.

25. Menurut Badan PPSDMK. untuk ratio bidan Indonesia (Nasional) adalah 52.09). Sementara itu ratio Bidan di lokasi penelitian per 100.000 adalah sebagai berikut: terdapat empat provinsi yang memiliki ratio bidan di bawah nasional (57. Selain itu.94). Penelitian ini dilakukan di tujuh kabupaten dan tujuh kota. yaitu Jawa Timur (33. Hal ini dilakukan untuk menemukan pola perbedaan atau persamaan dalam implementasi antara kabupaten dan kota. Kementerian Kesehatan Tahun 2012.56) dan Kalimantan Timur (52.tersebut berpengaruh dalam implementasi Jampersal. Sulawesi Tenggara (74.38).14). dan tiga provinsi yang memiliki ratio bidan di atas rata-rata nasional. yang menyatakan bahwa data cakupan untuk persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (linakes) adalah sebagai berikut: 34 . lokasi penelitian ini juga dilakukan di kepulauan dan ‘non-kepulauan’. Daerah yang dikatakan kepulauan adalah daerah yang mempunyai gugusan-gugusan pulau yang menjadi wilayahnya.25). Selain data PPSDMK tersebut terdapat juga data dari Direktorat Bina Gizi dan KIA. menyebabkan daerah ini membutuhkan transportasi air yang lebih banyak daripada daerah non-kepulauan. Jawa Barat (24.56). yaitu Maluku (74. NTB (45. Namun. Banyaknya gugusan pulau yang dimiliki oleh daerah kepulauan. kadangkala tingginya ratio bidan dalam suatu daerah belum tentu menjamin kualitas pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan.67) dan Kepulauan Riau (64. Dalam hal ini. keadaan geografi akan dibedakan menjadi dua yaitu 1) berdasarkan kabupaten dan kota. Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011. sedangkan ‘non-kepulauan’ tidak memiliki gugusan-gugusan tersebut. dan 2) berdasarkan kepulauan dan ‘non-kepulauan’. Perbedaan keadaan geografi tersebut seharusnya menjadi pertimbangan dalam pendistribusian tenaga kesehatan khususnya bidan.

Hal ini dilakukan untuk menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan ke tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. yaitu Jawa Timur (95. Masih banyaknya provinsi di Indonesia yang mempunyai cakupan linakes di bawah rata-rata nasional tersebutlah yang menyebabkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengadakan Jampersal.39%). Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011. Nusa Tenggara Barat (82. Namun. untuk rasio 35 .44%).- terdapat dua provinsi yang mempunyai cakupan linakes di atas rata-rata cakupan linakes nasional (86.49%).84%). apakah persalinan ‘gratis’ tersebut dapat menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan ke tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan? Gambar 5.1 Peta Wilayah Indonesia Perbedaan karakteristik wilayah tersebut seharusnya menjadi pertimbangan dalam pendistribusian tenaga kesehatan khususnya bidan. Sulawesi Tenggara ( 85.28%) dan Kepulauan Riau (97. yaitu Jawa Barat (81. Menurut Badan PPSDMK.30 %).35%). dan Kalimantan Timur (85. Maluku (77.02%). dan - terdapat lima provinsi yang mempunyai cakupan linakes di bawah cakupan linakes nasional.

ibu bersalin dan ibu Nifas yang merupakan sasaran Jampersal.25. Jawa Barat (24.28%). Karakteristik meliputi umur.02%). yaitu Jawa Timur (33. dan Nifas Selain membahas tentang karakteristik wilayah penelitian. pendidikan dan jumlah anak (paritas). Responden diambil di wilayah 2 puskesmas terpilih di kabupaten / kota. Maluku (77. Pada bagian ini akan menjelaskan karakteristik kedua sasran tersebut.25). provinsi lokasi penelitian yang diatas angka Nasional adalah Jawa Timur (95. dibahas juga karakteristik responden ibu hamil. Sementara itu rasio Bidan di lokasi penelitian per 100.1.44%) dan Kalimantan Timur (85.1. Kementerian Kesehatan Tahun 2012. Karakteristik Responden Ibu Hamil. Bersalin. Nusa Tenggara Barat (82. 5. Dari 13 kabupaten/ Kota terkumpul sejumlah 1. diambil dari list kohort ibu masing-masing puskesmas sebanyak 70 responden yang diambil secara acak. Selain data PPSDMK tersebut terdapat juga data dari Direktorat Bina Gizi dan KIA. Sedangkan 3 (Tiga) provinsi yaitu Maluku (74.bidan Indonesia (Nasional) adalah 52.09).39%).38). Kepulauan Riau (97.49%). Pada penelitian ini dilakukan pengumpulan data pada sasaran Jampersal yaitu ibu hamil. sulawesi Tenggara (74.84%) sedangkan Jawa Barat (81. ibu bersalin dan ibu nifas periode Oktober 2011 sampai dengan April 2012.787 orang. Dari sasaran Jampersal ada yang memanfaatkan Jampersal dan ada yang tidak memanfaatkan Jampersal. Dari analisis data karakteristik responden sebagai berikut : 36 .000 adalah sebagai berikut : terdapat 4 (Empat) provinsi lokasi penelitian rasio bidan dibawah nasiona (57.56) dan Kalimantan Timur (52. Sulawesi Tenggara ( 85.35%) masih dibawah angka Nasional.56).67) dan kepulauan Riau (64.14).94).30 %. NTB (45. yang menyatakan bahwa data cakupan untuk persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (Linakes) adalah sebagai berikut : Cakupan Linakes Indonesia (Nasional) adalah 86.

kira 40 % ibu hamil mempunyai masalah kesehatan yang berkaitan dengan masalah 37 . Setiap kehamilan dan persalinan mempunyai risiko meskipun bagi perempuan yang tidak mempunyai masalah kesehatan sebelumnya.787 Dari karakteristik responden sasaran yang terkumpul.Gambar 5. kira . Yang menarik prosentase ibu hamil pada usia kurang dari 20 tahun cukup tinggi (>10%) terutama di Kota Blitar.2 Karakteristik Responden berdasarkan umur pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N = 1. Kota Bandung. Wakatobi dan Kota Batam. Lombok Tengah dan tertinggi di Paser (17%). Kota Mataram. nampak sekitar 15%-20% responden adalah resiko tinggi yaitu ibu hamil berusia < 20 tahun dan umur >35 tahun. Dan prosentase ibu hamil> 35 tahun tinggi (>10%) di Sampang. kepulauan Aru.

Usia kehamilan yang paling aman untuk melahirkan adalah usia 20 – 30 tahun (Kemenkes RI. Karakteristik Responden berdasarkan pendidikan pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Karakteristik pendidikan dari responden > 50% adalah berpendidikan SLTP dan hanya 8. banyaknya kehamilan akan meningkatkan risiko perempuan untuk mendapatkan masalah kesehatan. Kematian ibu paling banyak terjadi pada usia antara 20 sampai 30 tahun. Resiko tersebut akan semakin meningkat pada usia di luar usia reproduksi (< 20 tahun atau >35 tahun).3.kehamilan dan 15 % ibu hamil menderita komplikasi jangka panjang. Oleh karena itu pada usia reproduksi. Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menyatakan bahwa kematian maternal akan meningkat 4 kali lipat pada ibu yang hamil pada usia 35 – 39 tahun bila dibanding wanita yang hamil pada usia 20 – 24 tahun.10% saja yang berpendidikan Perguruan Tinggi. Gambar 5. usia paling produktif untuk hamil dan melahirkan sehingga berisiko menderita penyakit baik akibat langsung dari kehamilan maupun tidak langsung. Bahkan di 38 . 2004). (Rukmini dkk. 2005).

baik dari kelas bawah.6%). Hal ini seperti yang ditunjukan pada gambar berikut ini: 39 . Kondisi ini menggambarkan bahwa sasaran Jaminan Persalinan sebagian besar adalah pendidikan rendah.2%).70% masyarakat yang mempunyai resiko tinggi berdasarkan usia. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa dari 1787 responden sasaran ibu hamil. Namun.Sampang hampir seluruh responden berpendidikan SLTP. ibu bersalin dan ibu nifas yang menggunakan Jampersal sebanyak 1254 responden (70. atau pun atas. mencapai 17. menengah. yaitu di bawah umur 20 tahun dan di atas 35 tahun.70 adalah cukup tinggi. Pada pengguna Jampersal risiko tinggi berdasarkan umur. Masyarakat yang banyak menggunakan Jampersal rata-rata berusia sekitar 20-35 tahun. 5. tidak semua masyarakat Indonesia berminat untuk mendapatkan persalinan gratis tersebut. Karakteristik Pengguna Jampersal Jampersal disediakan untuk seluruh masyarakat Indonesia.9%) dan > 35 tahun (25. Dari kajian lanjut data Sensus Penduduk (SP) 2010 didapatkan bahwa usia resiko tinggi pada ibu hamil penyumbang kematian maternal cukup tinggi yaitu pada usia ibu < 20 tahun (6.2. Target Nasional untuk cakupan resiko tinggi oleh tenaga kesehatan adalah 20%. disusul di Lombok tengah dan Bogor responden berpendidikan SLTP > 70%.1. Namun. Hal ini menunjukan Jampersal banyak diminati oleh masyarakat. ada 17.

yang berpendidikan sampai perguruan tinggi hanya 8. lebih dari 50% pengguna Jampersal berpendidikan SLTP.4. disusul di Lombok tengah dan Bogor responden berpendidikan SLTP > 70%. Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Umur pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N= 1. Berdasarkan pendidikan. Kondisi ini menggambarkan bahwa sasaran Jaminan Persalinan sebagian besar adalah pendidikan rendah. Sementara itu.254 Selain berdasarkan umur.10% saja. pengguna Jampersal juga dapat dilihat berdasarkan pendidikan.Gambar 5. 40 . bahkan di Sampang hampir seluruh responden berpendidikan SLTP.

5%. 2010). Berdasarkan hasil penelitian. seperti diketahui semakin banyak jumlah anak maka resiko dalam kehamilan juga semakin besar. Salah satu yang dilakukan pemerintah adalah dengan mendorong program wajib belajar 15 tahun dengan harapan akan menunda pernikahan dini karena harus mengikuti pendidikan formal terlebih dahulu (Riskesdas. 41. Namun. masih 12. Selain faktor umur dan pendidikan. 41 . Informasi dari data SP 2010 didapatkan kematian maternal yang mempunyai anak >4 adalah 10.Gambar 5.10% pengguna Jampersal yang mempunyai anak di atas empat orang.254 Berdasarkan Riskesdas 2010 permasalahan kesehatan pada perempuan berawal dari masih tingginya usia perkawinan pertama di bawah 20 tahun (4.8% pada usia 10 – 14 tahun. pengguna Jampersal juga dapat dilihat berdasarkan jumlah anak yang dimiliki. Hal ini perlu menjadi pertimbangan mengapa sasaran Jampersal tidak ada pembatasan jumlah anak . Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Pendidikan pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N= 1. ratarata pengguna Jampersal mempunyai anak kurang dari empat orang.5.9% pada usia 15 -19 tahun).

ibu bersalin dan ibu nifas yang menggunakan Jampersal sebanyak 1254 responden. padahal pelayanan tersebut merupakan pelayanan gratis yang diberikan oleh pemerintah. Dengan kata lain.6. 42 . Pertanyaan ini akan dijawab dalam tujuan penelitian tentang akseptabilitas sasaran terhadap Jampersal. Hal ini tentu menjadi tanda tanya mengapa mereka tidak mau menggunakan Jampersal.Gambar 5. Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Jumlah Anak pada sasaran RisetEvaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 (N=1254) Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa dari 1787 responden sasaran ibu hamil. masih ada sekitar 533 responden yang tidak menggunakan Jampersal.

Sedangkan kebijakan Jaminan Persalinan di Daerah adalah implementasi Jampersal di 14 kab/ Kota lokasi penelitian. persalinan. Petunjuk teknis untuk pelaksanaan Jampersal tahun 2012 dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan anak dan mempercepat pencapaian MDG’setelah ditetapkan kebijakan bahwa setiap ibu yang melahirkan. walaupun dicanangkan awal 2011 tapi pada kenyataannya baru dapat dilaksanakan April 2011. nifas.2. Diharapkan dengan juknis yang sudah disempurnakan dari sebelumnya program jampersal dapat berjalan lebih baik dari tahun sebelumnya. Kebijakan Jaminan Persalinan di Pusat Untuk mempercepat pencapaian MDG’s Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2011 melaksanakan program Jaminan Persalinan.2 KEBIJAKAN JAMINAN PERSALINAN DI TINGKAT PUSAT DAN DAERAH Kebijakan Jaminan Persalinan di tingkat Pusat adalah kebijakan Jampersal berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Hal ini menimbulkan beberapa masalah di daerah karena tahun anggaran saat itu sudah berlangsung. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. Tujuan dari Program Jampersal adalah Meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan. Dalam pelaksanaannya Jampersal pada tahun 2011 banyak ditemukan kendala. 5.5. Tahun 2012 diterbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Petunjuk teknis tersebut mulai berlaku per 1 Januari 2012. Dalam menindaklanjuti pelaksanaan program Jampersal diterbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/ Menkes / Per /III/2011. Adapun tujuan khususnya adalah 43 . biaya persalinannya ditanggung oleh Pemerintah melalui Program Jaminan Persalinan.1.

Paket Pelayanan a. Pelayanan ANC sesuai standar pelayanan KIA dengan frekuensi 4 kali. c) Penanganan komplikasi ibu hamil. bersalin. 4. ibu bersalin. transparan.1. Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan. Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah Ibu hamil. b. Pelayanan Nifas (PNC) bagi ibu dan bayi baru lahir sesuai standar pelayanan KIA dengan frekuensi 4 kali. Pelayanan rujukan terencana sesuai indikasi medis untuk ibu dan janin/ bayinya. KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten.1. dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kompeten. dan akuntabel.1. efektif. 7. ibu nifas dan bayi baru lahir. Deteksi dini faktor risiko. 2. Pelayanan KB paska persalinan serta komplikasinya. Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien. nifas. b. b) Keluarga Berencana pasca persalinan. Meningkatnya cakupan pelayanan: a) bayi baru lahir. Pertolongan persalinan normal. Pemeriksaan kehamilan (ANC) dengan risiko tinggi (risti) 44 . c. 5. 6. Jenis pelayanan Jaminan persalinan di tingkat pertama meliputi: 1.2. Jenis pelayanan Persalinan di tingkat lanjutan meliputi: 1.a. 5. Pertolongan persalinan dengan komplikasi dan atau penyulit pervaginam yang merupakan kompetensi Puskesmas PONED. dan bayi baru lahir. Sasaran Kelompok sasaran adalah yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi. pertolongan persalinan.2. komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir 3. 5.2.

Apabila peserta Jamkesmas atau penerima manfaat Jaminan Persalinan non Jamkesmas tidak memiliki buku KIA pada daerah tertentu. 5.2. b.2. Fotokopi kartu identitas diri sasaran yang masih berlaku (KTP atau identitas lainnya). bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. Fotokopi lembar pelayanan pada Buku KIA sesuai pelayanan yang diberikan untuk Pemeriksaan kehamilan. Penatalaksanaan KB paska salin dengan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) atau kontrasepsi mantap (Kontap) sertapenanganan komplikasi. 3. 4. pelayanan nifas.3. Untuk 45 . 5.1. persalinan. Pemeriksaan paska persalinan (PNC) dengan risiko tinggi (risti). Manfaat yang diterima oleh penerima manfaat Jaminan Persalinan terbatas padapelayanan kehamilan. termasuk pelayanan bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. Penanganan komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir dalam kaitan akibat persalinan. dapat digunakan kartu ibu atau keterangan pelayanan lainnya pengganti buku KIA yang ditandatangani ibu hamil/bersalin dan petugas yang menangani. nifas. Penerima manfaat Jaminan Persalinan mencakup seluruh sasaran yang belum memiliki jaminan kesehatan untuk persalinan. Kepesertaan Jaminan Persalinan adalah perluasan kepesertaan dari Jamkesmas dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja. Pertolongan persalinan dengan risti dan penyulit yang tidak mampu dilakukan di pelayanan tingkat pertama.4. 1.2. dan bagi peserta jamkesmas dilengkapi dengan fotokopi kartu Jamkesmas. 5. Persyaratan Klaim Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Pertanggungjawaban klaim pelayanan Jaminan Persalinan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama ke Tim Pengelola Kabupaten/Kota dilengkapi: a.1.

Dokter praktik yang berkeinginan ikut serta dalam program ini harus mempunyai perjanjian kerja sama (PKS) dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selaku Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK atas nama Pemerintah Daerah setempat yang mengeluarkan ijin praktiknya. Fotokopi/tembusan surat rujukan. termasuk keterangan tindakan pra rujukan yang telah dilakukan di tandatangani oleh sasaran/keluarga. Fasilitas Kesehatan Swasta/Bidan Praktik Mandiri di tandatangani oleh sasaran atau keluarga sasaran.pemenuhan buku KIA di daerah. c. dan bagi peserta jamkesmas dilengkapi dengan fotokopi kartu Jamkesmas. c) Bukti pelayanan untuk Rawat Jalan dan resume medis untuk rawat inap 5. 2. Partograf yang ditandatangani oleh tenaga kesehatan penolong persalinan untuk Pertolongan persalinan.1. d. Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan Pertanggungjawaban klaim pelayanan Jaminan Persalinan di fasilitas kesehatan lanjutan dilengkapi : a) Fotokopi kartu identitas diri sasaran yang masih berlaku (KTP atau identitas lainnya).5. Pemberi Layanan Fasilitas kesehatan tingkat pertama swasta seperti Bidan Praktik Mandiri. Pada kondisi tidak ada partograf dapat digunakan keterangan lain yang menjelaskan tentang pelayanan persalinan yang diberikan. b) Fotokopi/tembusan surat rujukan dari Puskesmas.2. Sedangkan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjutan baik pemerintah maupun swasta harus mempunyai Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selaku Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kabupaten/Kota yang 46 . Tim Pengelola Kabupaten/Kota melakukan koordinasi kepada penanggung jawab program KIA daerah maupun pusat (Ditjen Gizi dan KIA). Klinik Bersalin.

6.1.000 Pada saat menolong persalinan ternyata ada komplikasi. wajib segera dirujuk 5.000 Jumlah 80. 2. Jenis pelayanan Pemeriksaan kehamilan Persalinan normal Pelayanan nifas termasuk pelayanan bayi baru lahir dan KB pasca persalinan Pelayanan tindakan pra rujukan untuk ibu hamil. 47 .2.2.000 500. persalinan per vaginam termasuk pelayanan nifas dan pelayanan bayi baru lahir dengan tindakan emergensi dasar.1. 5.diketahui oleh Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Provinsi.000 80.7. 1 kali 100.1. Frekuensi 4 kali 1 kali 4 kali Tarif 20.000 Keterangan Standar 4x Standar 4x 4.000 Dilakukan di Puskesmas PONED Sedangkan tarif untuk pelayaan Jampersal di Rumah sakit menggunakan tarif standart INA-CBG’s. 5. Pendanaan Jamkesmas dan Jampersal di pelayanan dasar dan pelayanan rujukan merupakan belanja bantuan sosial (bansos) bersumber APBN yang dimaksudkan untuk mendorong pencapaian program. nifas dan bayi baru lahir dengan komplikasi. Pendanaan 1. bersalin. 1 kali 650. Besaran Tarif pelayanan Tabel 5. Tarif pelayanan Jaminan Persalinan Tahun 2012 No 1.000 20. Pelayanan pasca keguguran.000 500.000 650. 3.000 100. Contoh format perjanjian kerjasama sebagaimana Formulir 1 terlampir. percepatan pencapaian MDG’s 2015 serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan termasuk persalinan oleh tenagakesehatan di fasilitas kesehatan.

pendapatan tersebut merupakan pendapatan lain-lain PAD yang sah.21/PB/2011). terintegrasi (menjadi satu kesatuan) dengan dana Jamkesmas. 6. 7. pelayanan persalinan serta rujukan risti persalinan peserta Jamkesmas dan masyarakat sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan sebagai penerima manfaat jaminan. 48 . Dana Jampersal di pelayanan kesehatan dasar disalurkan ke rekening Dinas kesehatan kabupaten/kota. Dana belanja bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada angka 1(satu) adalah dana yang diperuntukkan untuk pelayanankesehatan dan rujukan pelayanan dasar peserta Jamkesmas. 5. Dana Jamkesmas dan Jampersal yang disalurkan sebagaimana pada poin 1 s/d 4 di atas. maka status dana menjadi pendapatan fasilitas kesehatan untuk daerah yang belum menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan BLUD (PPK-BLUD). 4. Jasa pelayanan KB di pelayanan dasar di klaimkan pada Tim Pengelola Jamkesmas & BOK di Dinas Kesehatan sesuai besaran yang ditetapkan. sedangkan bagi fasilitas kesehatan daerah yang sudah menerapkan PPK-BLUD. maka status dana tersebut berubah menjadi dana peserta Jamkesmas dan masyarakat penerima manfaat Jaminan Persalinan. bukan bagian dari dana transfer daerah ke Pemerintah Kabupaten/Kota sehingga penggunaan dana tersebut tidak melalui Kas Daerah (Perdirjen Perbendaharaan Nomor: PER. Pembayaran pelayanan persalinan dan KB bagi peserta Jamkesmas maupun penerima manfaat Jaminan Persalinan di pelayanan dasar dan di pelayanan rujukan oleh fasilitas kesehatan dilakukan dengan mekanisme “Klaim”. selanjutnya pemanfaatannya mengikuti ketentuan Peraturan perundang undangan. Setelah hasil verifikasi klaim dibayarkan sebagai penggantian pelayanan kesehatan.2. 3. Setelah dana tersebut disalurkan Kementerian Kesehatan ke rekening Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab program (melalui SP2D) dan rekening Rumah Sakit.

Standar biaya transportasi yang berlaku di daerah.2. Tim verifikasi pemberi layanan Tk I melakukan verifikasi dan memberikan persetujuan membayar kepada masing-masing fasilitas kesehatan. nifas). komplikasi kebidanan dan komplikasi neonatal pasca persalinan bagi penerima manfaat Jaminan Persalinan di pelayanan kesehatan dasar dibiayai dengan dana dalam program ini. Proses Pengajuan Klaim 1. 11. 49 . Pemanfaatan dana jaminan persalinan pada pelayanan lanjutan mengikuti mekanisme pengelolaan pendapatan fungsional fasilitas kesehatan dan berlaku sesuai status rumah sakit tersebut (BLU/BLU(D) atau PNBP) 5. mengacu pada Standar Biaya Umum (SBU) APBN. Transport rujukan risti. 9.sedangkan jasa pelayanan KB di pelayanan lanjutan mengikuti pola pembayaran INA-CBG’s. Sisa dana pada rekening Tim Pengelola Jamkesmas Kabupaten/Kota yang tidak digunakan dan/atau tidak tersalurkan sampai dengan akhir tahun anggaran harus disetorkan ke Kas Negara dan menggunakan Surat Setoran Bukan Pajak (SSBP). maka kekurangan atas pelayanan yang belum diklaimkan/ terbayarkan tersebut akan diperhitungkan dan dibayarkan pada tahun berikutnya sepanjang ditunjang dengan buktibukti yangsah. Proses klaim bagi fasilitas kesehatan tingkat pertama: Pemberi layanan Tk pertama mengajukan klaim setelah memberikan pelayanan kepada Dinas Kesehatan/Tim Pengelola Kabupaten/Kota dengan melengkapi bukti pelayanan yang sah dan harus di tanda tangani oleh peserta (ibu hamil. bersalin. 8.1. Apabila terjadi kekurangan dana pelayanan persalinan atau pelayanan persalinan yang sudah diberikan akan tetapi belum diklaimkan/belum terbayarkan pada akhir tahun anggaran.8. 10.

2. Proses klaim Jaminan persalinan bagi fasilitas kesehatan tingkat lanjutan: Fasilitas kesehatan tingkat rujukan melakukan pengajuan klaim program jaminan persalinan melalui mekanisme klaim Jamkesmas, yaitu dengan INA CBGs

5.2.2. Kebijakan Jaminan persalinan di Kabupaten/Kota di lokasi penelitian Kebijakan Jampersal di kabupaten/kota adalah kebijakan Jampersal yang diimplementasikan daerah yang disesuaikan dengan kondisi dan kebijakan lokal yang ada di daerah tersebut. Berdasarkan penelitian ini terdapat variasi kebijakan lokal dalam mengimplementasikan Jampersal. Hal ini sangat

tergantung pada penentu kebijakan di daerah seperti bupati dan kepala dinas kesehatan.

5.2.2.1.

Kabupaten Sampang

Dukungan Pemda Sampang terhadap program Jampersal berupa penetapan Peraturan Daerah No. 5 tahun 2011, tentang jasa Pelayanan dan kebijakan Dinas Kesehatan.
“..pada Perda no 5 tahun 2011, ada Pasal karet yang menyatakan berlaku fleksibel sesuai dengan program pemerintah, Jasa pelayanan persalinan japelnya 75% dari seberapapun besar paket pelayanan persalinan yang berlaku termasuk jampersal, tanpa merubah Perda cukup mengganti Peraturan Bupati saja. Perda ini sudah memprediksi untuk hal2 terkait seperti Jampersal sehingga terjadinya perubahan tarif tidak mempersulit karena cukup merubah Peraturan Bupati saja..” (kadinkes, Kab. Sampang).

Pelaksanaan Jampersal di kabupaten Sampang mengacu pada juknis 2012, namun terdapat kebijakan lokal terhadap tempat pertolongan persalinan. Sebagaimana juknis Jampersal 2012, tujuan dari Jampersal adalah meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. Namun pelaksanaannya di Sampang, pertolongan persalinan pada Jampersal dilakukan oleh tenaga kesehatan, tanpa memandang tempat pertolongan persalinan.
50

Pertolongan persalinan dapat dilakukan tidak hanya di fasilitas kesehatan, tapi juga di rumah penduduk. Jadi, bidan dapat mengklaim pertolongan persalinan yang dilaksanakan di rumah pasien. Menurut informan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang.
“..implementasi Jampersal di Kabupaten Sampang mengacu pada juknis jampersal tahun 2012. Jampersal di Sampang 100% adalah pertolongan persalinan di tenaga kesehatan tanpa melihat dimana tempat persalinan dapat di fasilitas kesehatan maupun bukan di fasilitas kesehatan (di rumah penduduk dll). Kabupaten Sampang menjual nakes tidak faskes..” (Dinkes, Kab. Sampang).

Untuk cakupan pelayanan, diharapkan semua ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir mendapatkan pelayanan oleh tenaga kesehatan dengan syarat tidak memiliki kartu Jamkesmas dan Jamkesda atau tidak mempunyai jaminan lain. Sedangkan pelayanan rujukan di RS untuk Jampersal semua persalinan diarahkan ke Jampersal asal masyarakat mau di kelas III. Pertolongan persalinan pada Jampersal dilakukan oleh tenaga kesehatan, tanpa memandang tempat pertolongan persalinan di fasilitas kesehatan atau di bukan fasilitas kesehatan. Pemberi layanan di puskesmas dan jaringan adalah bidan puskesmas dan bidan desa, sedangkan PKS hanya untuk bidan swasta (BPS), bidan puskesmas yang tidak mempunyai wilayah dapat PKS, sedangkan Bidan Desa karena mempunyai wilayah kerja tidak boleh melakukan PKS. Kebijakan Jampersal, Dinkes dihadapkan dua persoalan yaitu cakupan pelayanan untuk kepentingan program KIA dengan kebijakan pembiayaan. Namun disisi lain, tidak semua pelayanan oleh tenaga kesehatan dapat diklaimkan. Diharapkan, sasaran yang memiliki asuransi ataupun yang mampu dapat membayar sendiri pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan. Artinya, bahwa pencapaian cakupan pelayanan KIA di Puskesmas, belum tentu sama dengan jumlah pelayanan yang dilklaimkan. Alur Klaim Jampersal adalah klaim dari bidan diverifikasi oleh Dinas kesehatan Prosedur sesuai keuangan daerah. Dana Jampersal yang ditransfer ke Dinas Kesehatan merupakan dana masyarakat, setelah pelayanan di klaim oleh
51

pelayanan,

merupakan

dana

fasilitas

puskesmas

atau

RS

(fasilitas

pemerintah)kemudian fasilitas pemerintah menyetor ke daerah, 100% disetor ke daerah, setelah itu dana dikembalikan ke pelayanan yang terbagi dua yaitu jasa pelayanan dan jasa sarana. Pengembalian klaim untuk jasa bidan desa pada jampersal adalah 75%, sedangkan BPM klaim pelayanan sebesar 100%.

5.2.2.2.

Kota Blitar

Dalam pelaksanaan kebijakan Jampersal di kota Blitar sangat bermanfaat bagi masyarakat dan legislatif juga mendukung program tersebut, hal ini ditunjukkan dengan adanya Perwali di Kota Blitar ini. Selain Peraturan Walikota, juga terdapat Surat keputusan walikota untuk pengobatan gratis, meskipun demikian kebijakan Jampersal tetap mengacu pada kebijakan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan, sehingga dalam pelaksanaannya pun sesuai dengan petunjuk teknis. Meskipun demikian ada masyarakat mampu dan seharusnya tidak menggunakan Jampersal, tetapi dalam pelaksanaannya masih memanfaatkan Jampersal untuk melakukan persalinan. Paket pelayanan Jampersal adalah: ANC, Persalinan dan PNC dan Keluarga berencana sesuai dengan juknis. Untuk pelaksanan layanan Jampersal melibatkan bidan, Bidan praktek swasta (BPS), klinik bersalin, dokter swasta. Kepesertaan dan persyaratan pengguna Jaminan persalinan adalah masyarakat/ ibu hamil dengan melengkapi persyaratan saja seperti KTP dan KK, partograf ANC serta inform concern Alur pelaksanaan klaim sebagai berikut : Persalinan jampersal melengkapi syarat menggunakan Jaminan persalinan di bidan atau provider, bidan melengkapi persyaratan klaim kemudian ke Kepala Puskesmas, diperiksa verifikator setelah disetujui tunggu dana turun ke Dinas Kesehatan, dana turun ke puskesmas, di Setor ke bendahara Kota, disetor ke Pemerintah daerah dan akhirnya dicairkan dalam bentuk jasa pelayanan sesuai dengan juknis pusat, meskipun sampai saat ini dana masih belum bisa keluar, hal ini karena juknis Jampersal baru keluar sekitar bulan Juni, padahal dana APBD sudah direncanakan
52

awal tahun, sehingga jampersal tidak ada dalam mata anggaran (MAK) jampersal dalam APBD. Hal tersebut menyebabkan dana sampai saat ini belum diterima, padahal bidan sudah melaksanakan tuganya melakukan persalinan jampersal. Pencairan klaim untik BPS dimana anggaran tidak harus masuk ke APBD, maka dana BPS bisa segera diterima oleh bidan. Besaran jasa pelayanan ketentuannya sesuai dengan juknis pusat, yaitu 350 rb per persalinan normal (Tahun 2011) dan tahun ini naik menjadi 500 rb per persalinan normal.

5.2.2.3.

Kota Mataram

Di Kota Mataram kebijakan Jampersal dengan mengacu pada Petunjuk Teknis Jampersal tahun 2012 . Pelaksanaannya di tindaklanjuti dengan terbitnya Surat kesepakatan pembagian jasa pelayanan jampersal tertanggal 10 Mei 2012 yang di fasilitasi oleh Kepala Dinas kesehatan Mataram yang merupakan kesepakatan di internal Dinas Kesehatan Kota Mataram terutama kesepakatan dalam pembagian besaran jasa pelayanan. Kesepakatan ini dibuat atas usulan dari bawah yaitu Bidan dengan

melibatkan seluruh bidan koordinator di puskesmas, bidan desa, IBI, Kepala puskesmas, Dinas kesehatan dan di fasilitasi Kepala Dinas walaupun belum terbit SK Walikota katika penelitian berlangsung (bulan Juni 2012) sudah berani untuk dilaksanakan. Kabar terakhir Surat Keputusan Walikota sudah terbit. Di Kota Mataram juga berlaku kebijakan open call, dimana masyarakat bisa dengan mudah mendapat nomor handphone tenaga kesehatan. Di setiap puskesmas ada nomer tenaga kesehatan yang bisa dihubungi setiap saat. Dari situ masyarakat bisa menghubungi tenaga kesehatan atau puskesmas. Kebijakan Jampersal sangat membantu dalam meningkatan persalinan ke tenaga kesehatan, karena masyarakat mempunyai kendala pada biaya persalinan. Sebagai contoh di puskesmas karang pule persalinan oleh dukun menurun yang semula sebelum adanya jampersal 6% sekarang menjadi 2% persalinan oleh dukun bayi.
53

Kepesertaan tetap mengacu pada juknis Jampersal th 2012 , orang yang tidak mampu tetapi tidak punya kartu Jamkesmas. Sasaran jampersal sudah terpenuhi untuk persyaratan klaim hanya pakai kartu identitas domisili. Kepesertaan sasaran bisa diakomodir, cukup pakai KTP suami, atau kartu pengenal lainnya atau kartu domisili dari kepala lingkungan atau Kartu Keluarga/Kartu pelajar/ kartu mahasiswa. Tidak dibedakan antar pelayanan persalinan dari bidan desa maupun BPS, hanya di pelayanan ANC, K1-K4 untuk BPS tidak mengharuskan memakai jasa ANC dengan Jampersal. Di Kota Mataram pencairan klaim tidak ada potongan sesenpun (100%). Alur pencairan setelah dari Kas Daerah ke Dinkes Kota Mataram kemudian ke puskesmas sesuai klaim. Di Kota Mataram besaran tarif Persalinan berdasrkan Perda lebih kecil dari tarif Jampersal.

5.2.2.4.

Kabupaten Lombok Tengah Di Kabupaten Lombok Tengah Peraturan Bupati berupa kebijakan untuk

penurunan angka kematian ibu dan bayi yaitu “AKI No” yang berlaku sejak 2009, sebelumnya sejak tahun 2003 Provinsi NTB pembiayaan persalinan berlaku gratis dan sejak tahun 2011 Jampersal di berlakukan di NTB.
“..namun demikian penurunan AKI mengalami fluktuatif, banyak faktor yang mempengaruhi antara lain sumberdaya manusia, biaya dan faktor lainnya. Sejak tahun 2003 persalinan gratis berlangsung, justru nampak besar dampaknya pada turunnya angka kematian bayi yaitu tahun 2004 adalah 500/1000 KH dan tahun 2011 menjadi 141/ 1000 KH..” ( Kadinkes Lombok Tengah).

Dalam pelaksanaan Jampersal Lombok Tengah mengacu pada juknis Pusat, selain itu juga membuat Juknis penunjang yang menyangkut jasa yaitu rincian tarif. Sedangkan dukun juga mendapat bagian dalam jampersal dengan dibuatkan SK dukun untuk mengeluarkannya pembiayaan tersebut. BPS belum dilibatkan dalam pelayanan Jampersal, sehingga belum terjalin PKS antara Bidan Praktek Swasta (BPS) dengan Dinas kesehatan. Sementara ini Dinkes masih tersita dengan penyelesaian masalah keuangan terkait Jampersal yang cukup rumit. Selain itu ada ketakutan terjadi double claim jika BPS dilibatkan dalam

54

Untuk Jasa bidan memanfaatkan pembiayaan Jampersal. 2.Jampersal. Bidan Praktek Swasta / mandiri sudah banyak yang lakukan PKS. Persyaratan pasien memanfaatkan Jampersal adalah mempunyai KTP dan KK. 3. sedangkan transport bidan diambilkan dari dana BOK. Bahwa saya akan bersedia menerima pelayanan jaminan persalinan yang mengacu pada standar pelayanan kesehatan ibu dan anak sesuai program Jampersal. Bahwa untuk kehamilan dan persalinan ini. saya benar-benar belum memiliki jaminan persalinan dari badan asuransi pemerintah. Untuk pemberi pelayanan kesehatan dilakukan PKS antara bidan praktek swasta dengan Dinas kesehatan. Di Kota Bandung Kebijakan Jampersal untuk Pelayanan harus dilakukan oleh tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. dengan mengikuti petunjuk teknis yang berlaku. 5. Sedangkan untuk bidan Puskesmas bisa melakukan PKS ketika melakukan praktek di luar jam kerja di puskesmas.5. Kota Bandung Kebijakan Jampersal dalam rangka mencapai target MDGs untuk turunkan AKI dan AKB. 4.2. 55 . Implementasi Program Jampersal di tingkat puskesmas adalah dengan penandatanganan informed consent yang dibuat oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung oleh peserta Jampersal yang di dalamnya menyatakan: 1. Bahwa saya bersedia menggunakan kontasepsi pasca persalinan. swasta. dan masyarakat atau jaminan pemeliharaan kesehatan lainnya. Jampersal memudahkan akses dari segi pembiayaan. paling tidak di tiap kelurahan sudah ada 1 BPS.2. Bahwa saya bersedia mendapatkan pelayanan pada fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjutan (Rumah Sakit) di kelas III yang memiliki perjanjian kerja sama (PKS) dengan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kota Bandung. jika tidak mempunyai persyaratan tersebut bisa menggunakan surat keterangan domisili.

maka pemerintah Kota Bandung melakukan pembagian zona rujukan. Bahwa saya tidak akan menyalahgunakan jaminan persalinan ini dengan tindakan yang memungkinkan duplikasi pembiayaannya. Dalam alur tersebut dijelaskan secara rinci tentang berapa puskesmas mengklaim ke Dinas kesehatan per wilayah. karena dana masih di kas daerah sejak tahun 2011.6. Pemerintah menyediakan obat dan bahan medis habis pakai bagi setiap puskesmas. dan jumlah yang harus dibayar. sesuai dengan mekanisme keuangan daerah yang berlaku. jadi uang yang diterima oleh puskesmas dikembalikan lagi ke kas daerah. Supaya tidak terjadi penumpukan pasien di rumah sakit tertentu.5. Bogor. Sehingga di Puskesmes belum ada pengembalian dana klaim. pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. yang sudah diberikan adalah obat. dan bahan habis pakai. IBI sangat mendukung kegiatan sosialisasi Jampersal. Ada dukungan BKKBN berupa alat kontrasepsi. Dengan adanya protap adalah 56 . Paket pelayanan Jampersal memberikan pelayanan berupa pemeriksaan kehamilan sebanyak empat kali. pemeriksaan nifas dan bayi baru lahir sebanyak empat kali dan pelayanan KB. Sedangkan di puskesmas dana Jampersal belum cair. karena dilakukan sesuai dengan domisili pasien. Dinas Kesehatan membuat protap yang merupakan alur pembayaran klaim jampersal. Form tersebut dibuat untuk menghindari permasalahan yan disebabkan berkas menumpuk. Bahwa saya bersedia mematuhi amanat persalinan yang diberikan oleh pemberi layanan Pemerintah Kota Bandung tidak membuat suatu aturan khusus terkait keuangan Jampersal. jumlah yang di verifikasi. Kabupaten Bogor Dalam pelaksanaan Jampersal.2. belum diterbitkan Perda atau SK di kab.2. 5. Klaim untuk BPS setiap bulan cair dan tepat waktu. Jadi akan mempermudah masyarakat dalam melakukan rujukan pasien Jampersal. kabupaten Bogor mengacu kepada petunjuk Teknis yang ada. 6. jumlah yang diperbaiki.

Dinas mempunyai 18 RS (termasuk RS perbatasan).2. Kepesertaan adalah ibu hamil. Syarat klaim adalah fotokopi KTP. SMS langsung ke Kepala Dina. Kota Ambon Dalam pelaksaaan kebijakan Jampersal Kota Ambon. Untuk tahun ini Pemda menganggarkan 76 milyar untuk Jamkesda. Untuk jasa medis.Dalam mengurus Surat Ijin praktek. jenjang pendidikannya masih DI dan untuk sekolah lagi mereka merasa keberatan masalah dana untuk sekolah. namun diantara 18 RS tersebut. didukung dengan SK Walikota dan SK Kepala Dinas. Bupati bahkan anggota dewan juga memfasilitasi. Pengaduan masalah kesehatan dapat online. catatan pelayanan ANC. dll. tetapi bidan PKS yang ada hanya 1. Protap tersebut. 57 . Persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis.2.untuk mempercepat realisasi pembayaran klaim Jampersal. atau lewat Koran. partograf dan catatan nifas. ada kebijakan dan aturan bahwa harus dipotong untuk PAD sebesar 15 % dan biaya administrasi 10 %. Ada kebijakan khusus dari Kadinkes untuk bidan puskesmas diluar jam dinas bisa melakukan PKS. kendala yang ada adalah prasyarat jenjang pendidikan yang harus D-III. Dinas kesehatan Kota Ambon mengeluarkan kebijakan terkait pengeluarkan Surat Ijin Praktek Bidan untuk mengatasi kekurangan tenaga bidan BPS yang PKS. bersalin dan nifas yang memiliki KTP atau kartu domisili. disosialisasikan kepada puskesmas dan juga bidan dan BPS. Pelaksanaan mengikuti juknis. 5. dalam map bukti fisik ada rekapan tersebut dan verifikator mencocokan antara rekapan dan bukti fisik yang tersedia. dan email. Dinas bekerjasama dengan RS perbatasan. Permasalahan kepesertaan di kota Ambon adalah penduduk banyak yang tidak mempunyai KTP atau identitas lain. padahal rata-rata bidan di Kota Ambon. Paket pelayanan sudah sesuai dengan juknis. masih ada RS yang tidak ada MOU dengan Jamkesmas sehingga memakai Jamkesda. hal ini terjadi karena adanya kendala dalam mengurus Surat Ijin Praktek. Dukungan pembiayaan Daerah adalah Jamkesda. via SMS. seperti Tangerang. kota Bogor.7.

perawat juga melayani pemeriksaan kehamilan dan menolong persalinan dengan memanfaatkan Jampersal. Di sini jarang sekali orang datang untuk periksa kesehatan dalam hal ini kehamilan di fasilitas kesehatan kalau bukan di daerah perkotaan. justru dana operasional dari pemerintah daerah dikurangi. Untuk kunjungan ke dusun petugas menggunakan dana operasional puskesmas atau jika kegiatan puskesmas keliling. Dana setelah diklaim untuk bidan puskesmas 20% masuk kasda sedangkan 80% lagsung ke puskesmas (bidan) tanpa masuk ke Kasda terlebih dahulu. 58 . bahkan setelah ada dana tambahan dari pusat (dana BOK). Pelaksanaan Jampersal sejak 2011. Selama Jampersal 2011 sampai awal 2012 klaim bidan puskesmas cukup lancar. Tidak ada penerbitan kebijakan atau aturan baru terkait Jampersal. 5.Pemerintah Daerah tidak mempersulit dalam prosentase besaran klaim Jampersal yaitu 20% Kasda dan 80% jasa pelayanan. momen tersebut juga digunakan untuk melakukan pelayanan di masyarakat. Padahal sebelumnya dana setelah klaim apling lambat 2 mgg sudah bisa cair. Semuanya mengacu pada petunjuk teknis dari Kementerian Kesehatan. Seharusnya Jampersal adalah pelayanan diberikan oleh petugas kesehatan di fasilitas kesehatan. Di Kepulauan Aru karena keterbatasan jumlah bidan. dan dalam proses klaim dengan mengatasnamakan bidan.8. pelayanan Jampersal adalah petugas mendatangi masyarakat untuk memberikan pelayanan. Untuk dukungan dalam pembiayaan dari pemerintah daerah terkait Jampersal tidak ada. Hal ini menyebabkan dana menjadi tersedat dan belum cair. Kepulauan Aru adalah daerah kepulauan.2. Kepulauan Aru dalam pelaksanaannya lancar dan tidak ada masalah karena semuanya menerima kebijakan ini. Kabupaten Kepulauan Aru Jampersal di Kab. Tapi kemudian hal ini menjadi temuan sehingga mulai saat ini dana setelah klaim masuk kasda dahulu. tapi karena kondisi di Kab. Hal ini dilakukan melalui kesepakatan.2.

Syarat klaim tersebut adalah partograf. Ini tidak tertolong karena tidak ada transportasi yang mengantar ibu tersebut ke Puskesmas atau RS yang terdapat di Dobo. Peserta Jampersal adalah semua ibu hamil dan melahirkan. hanya sembilan puskesmas yang memanfaatkan dana jampersal.. RS tidak pernah menolak pasien yang datang. memerlukan biaya yang cukup tinggi untuk transportasi sehingga untuk pembiayaannya dari dana operasional puskesmas dan keluarga ibu yang bersangkutan.” (RS. Pemanfaatan dana jampersal pada tahun lalu bisa dibilang rendah. Kebijakan Rumah sakit sering menerima pasien Jampersal yang tidak membawa rujukan dengan alasan kemanusiaan. KTP atau surat keterangan domisili dan ANC harus empat kali untuk bisa klaim pelayanan ANC. Bahkan seringkali keluarga yang membiayai transport menuju ke Dobo. Di Kab. Kepulauan Aru belum ada praktek swasta yang mengajukan klaim Jampersal.beberapa bulan kemaren. Masalahnya. 59 . Sisanya tidak karena memang pada waktu itu tidak ada tenaga bidannya. di desa Ujir.Untuk mendapatkan pelayanan Jampersal tidak ada masalah karena semua masyarakat dapat dilayani tanpa ada syarat tertentu meskipun penduduk dari luar wilayah. Jika terjadi penolakan maka Dinas dan Puskesmas akan memfasilitasi. Sekarang di tahun 2012 ini mulai ditempatkan tenaga bidan honorer. Untuk mengatasi masalah tersebut dan agar masyarakat dapat memperoleh pelayanan maka digunakan keterangan domisili. kecamatan Pulau-pulau Aru ada kasus kematian ibu. Kep. “. Jika ada kasus rujukan dari pulau di luar Dobo. tidak semua masyarakat punya KTP. Aru). Persyaratan yang diperlukan untuk mendapatkan pelayanan jampersal hanya KTP. baik yang kaya maupun yang miskin. Karena dari 22 puskesmas yang ada.. padahal yang memberikan pelayanan jampersal kan seorang bidan. Kab. buku KIA. terutama mereka yang berada di pedalaman. Sulit dan mahalnya biaya transportasi untuk merujuk seringkali menyebabkan kematian Ibu. sehingga pasien dapat diterima di rumah sakit dengan memanfaatkan Jampersal.

Kepesertaan adalah ibu hamil.000. Jampersal melayani peserta dari wilayah diluar Kendari (portabilitas). Pelaksanaan mengikuti juknis dan mengacu Perwali retribusi yang sudah berlaku.000. yaitu 1) pembebasan biaya operasional pendidikan.2.5. 2) pembebasan biaya pengobatan dan.. Tenaga kesehatan pemberi layanan Jampersal di tingkat dasar adalah bidan di puskesmas. puskesmas poned. Sedangkan dana yang kembali ke puskesmas setalah dipotong BHP (bahan habis pakai) sebesar Rp.10.9.000.35.. Untuk pelaksanaan Jampersal di Kabupaten Wakatobi hanya berdasarkan petunjuk teknis yang sudah dikeluarkan oleh Kementerian 60 .. Rp. Persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis. Tidak ada Bidan Praktek Swasta (BPS) dan rumah sakit swasta yang melakukan “PKS” dengan Dinas kesehatan.2. sedangkan ANC gratis. Paket pelayanan untuk Jaminan persalinan berlaku sesuai petunjuk teknis dari pusat. Kabupaten Wakatobi Di Kabupaten Wakatobi Peraturan Bupati yang mendukung pelaksanaan Jampersal belum ada. 50.per hari. 5.2. Pelayanan rujukan dilakukan “PKS” RSUD Provinsi dan RSUD Kota. 55. Kota Kendari Dalam pelaksanaan kebijakan Jampersal Kota kendari tidak mengeluarkan kebijakan khusus. bidan desa.dan perawatan bayi Rp.000. bersalin dan nifas yang memiliki KTP atau kartu domisili.dan potong pajak 5% -15% tergantung golongan. uang makan Rp. Untuk persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Dengan demikian .2. dana APBN dan APBD dialokasikan untuk melaksanakan pembangunan yang berkeadilan dan pro rakyat. Tarif Jampersal di Kota kendari sesuai juknis. 3) pemberian bantuan keuangan pada pemerintah desa dan kelurahan. Tarif Bahteramas untuk persalinan adalah 250. Terdapat pembiayaan BAHTERAMAS (Bangun Kesejahteraan Masyarakat) yang didukung 3 (tiga) pilar utama.-.

Sedangkan untuk pengelola Jampersal tingkat Kabupaten. Jaminan persalinan sudah dilaksanakan dengan baik.Kesehatan. karena selama ini tidak ada pos khusus yang digunakan untuk sosialisasi Jampersal. Pemerintah daerah sangat intens mendukung kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak untuk tahun 2013. Di Kabupaten Wakatobi klaim dilakukan per paket. Selama ini kepala dinas secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program Jampersal. Bupati menerbitkan Surat Keputusan untuk Pengelola Jampersal. yang bisa juga digunakan untuk membiayai persalinan. Pembiayaan Jamkesda didukung oleh APBD. 61 . Kepesertaan sesuai juknis. Selama ini dinas tidak tahu dengan pasti biaya rujukan itu berasal dari mana karena yang melaksanakan adalah puskesmas. Untuk beberapa kasus rujukan pasien Jampersal juga sudah ditangani dengan baik. Selain itu pihak pemerintah daerah membantu masyarakat dalam membuat surat keterangan domisili bagi masyarakat yang tidak atau belum memiliki KTP. di kabupaten Wakatobi sudah dilaksanakan pelayanan kesehatan gratis dengan pembiayaan Jamkesda dan Jamkesmas. Rujukan memerlukan biaya yang besar karena wilayah Wakatobi adalah kepulauan. Verifikasi dilakukan disesuaikan dengan ketentuan dan standar substansinya. Dana APBD juga dialokasikan untuk pelaksanaan sosialisasi Jampersal. artinya untuk satu orang ibu klaim langsung secara keseluruhan mulai dari ANC sampai dengan PNC. Dukungan pemerintah daerah dalam pelaksanaan Jampersal sangat besar. Sebelum ada program Jampersal. terlebih dalam kegiatan sosialisasi program Jampersal ke stake holder yang ada di bawah koordinasi dinas kesehatan dan kepada masyarakat. karena syarat untuk mendapatkan pelayanan Jampersal adalah memiliki KTP. Salah satunya adalah dengan menaikkan anggaran untuk kemitraan dukun dan bidan dengan mengalokasikan dana khusus bagi dukun yang mau bekerja sama dengan bidan. Selain itu bagi PNS juga sudah disediakan ASKES.

500. Untuk merujuk ke RS ditambahkan surat rujukan dari puskesmas.000. Dalam mekanisme klaim di Balikpapan sesuai dengan petunjuk teknis yaitu ketika klaim sudah cair dan akan disetor kembali ke Kasda tapi belum dilaksanakan penarikan dana kembali karena Perwali masih dalam proses sehingga sampai saat penelitian dilaksanakan besaran Jasa pelayanan untuk bidan puskesmas belum pernah dibicarakan. saat penelitian berlangsung Peraturan Walikota sedang dilakukan penyusunannya.2..11. 62 . 5. buku KIA untuk kalim Antenatal care (ANC) dan ditambah partograf untuk persalinan.Misalnya untuk ANC berlaku konsep 1-1-2. Untuk proses klain sejauh ini tidak ada masalah. Kebijakan Jampersal ternyata cukup membantu provider pemberi layanan. maka pembiayaan persalinan dengan Jamkesda digantikan dengan pembiayaan Jampersal. Sebelum ada Jampersal untuk persalinan Jamkesda sebesar Rp.2.tapi setelah ada pembiayaan Jampersal. Pelaksana layanan dasar adalah bidan puskesmas dan bidan praktek swasta yang juga sudah banyak melakukan PKS dengan Dinas kesehatan. Untuk Obat-obatan fasilitas puskesmas tidak ada masalah dalam ketersediaan obatobatan. Kota Balikpapan Implementasi kebijakan Jampersal di Kota Balikpapan dilaksanakan sesuai dengan petunjuk teknis. Belum ada Peraturan Daerah terkait Jampersal. yang mana tanggal pelayanan yang bisa diklaim disesuaikan dengan standar waktunya. surat domisili). Untuk rujukan ke RS transport gratis merupakan fasilitas dari pemerintah daerah. kecuali untuk bahan habis pakai jumlahnya terbatas Persyaratan untuk klaim jampersal adalah Kartu identitas ( KTP. terutama untuk membiayai pasien yang tidak bisa membayar sama sekali atau setengah miskin.

hanya dalam penyaringan di salahgunakan. Namun pada tahun 2012 belum ada klaim Jampersal yang cair karena menunggu terbitnya Peraturan Daerah. Pemberi Layanan Jampersal di pelayanan dasar adalah bidan puskesmas dan bidan desa.sampai sekarang belum ada peraturan bupati ataupun arahan dari Dinas Kesehatan tentang Juknis Jampersal. Besaran tarif jampersal sesuai Petunjuk teknis yang berlaku. 5. Kepesertaan Jampersal adalah ibu hamil. ini karena adanya perbedaan tarif. Hal ini menyebabkan Jampersal kurang berjalan dengan baik di Kabupaten Paser.2. dimana tidak ada mata anggaran untuk jasa persalinan. tahun ini sedang di proses pembuatan Peraturan daerah. Kota Batam Kebijakan jampersal pada pelayanan persalinan baik. Kabupaten Paser Di Kabupaten Paser sejak Jampersal berlangsung tahun 2011 sampai saat penelitian belum diterbitkan Peraturan daerah atau Peraturan Bupati .2. Dengan BPS tidak ada MoU.. Kab. terkadang kurang tepat sasaran. pihak manajemen rumah sakit merasa belum pernah tersosialisasi Jampersal secara langsung. bersalin dan ibu nifas yang mempunyai KTP atau Kartu keluarga.13.. Paser). karena tidak ada pembatasan keperuntukan baik orang miskin dan kaya dapat memakai 63 . sehingga hanya sedikit yang memakai Jampersal.2.2. Ada kendala dalam pelaksanaan Jampersal karena ada pengalaman terdapatnya “temuan” oleh BPK dalam pengelolaan anggaran BOK pada tahun sebelumnya yang menyebabkan Kepala Dinas ekstra hati-hati dalam menerima Jampersal. Sebelum kebijakan Jampersal dilaksanakan. sehingga dengan adanya kebijakan Jampersal tidak sejalan dengan peraturan daerah.” (Dinas kesehatan.12.5. Dalam pelaksanaan Jampersal di pelayanan dasar untuk persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis. Rumah sakit belum melaksanakan Jampersal.. Sedangkan untuk bidan praktek swasta belum ada yang melakukan “PKS” dengan Dinas kesehatan. di kabupaten Paser pelayanan persalinan adalah gratis. “.

Kepersertaan pasien jampersal tidak menjadi hambatan yaitu ibu hamil yang tidak punya jaminan dan punya identitas diri berupa KTP. 64 .000. Saat ini di Batam terdapat sekitar 400 bidan tapi tidak semuanya mempunyai ijin praktek sehingga tidak dapat PKS. Saat ini Pemerintah daerah mengalokasikan insentif untuk tenaga kesehatan berupa upah pelayanan Kesehatan (UPK).ditambah empat kali pemeriksaan kehamilan. sehingga dengan adanya Perda tersebut pada tahun 2013 diharapkan dana Jampersal untuk bidan puskesmas dan jaringannya bisa di manfaatkan sesuai dengan aturan yang ada. Hal ini karena IBI mensyaratkan bidan PKS harus punya ijin praktek. Bidan BPS yang PKS menjadi bertambah dengan cepat. Kebijakan Jampersal dalam pelaksanaan di lapangan dan administrasi mengikuti sistem yang sesuai petunjuk teknis.500. Kebijakan Jampersal di Kota Batam untuk persalinan dilakukan oleh Nakes di fasilitas kesehatan dan terdapat Perwali untuk Jampersal yang diterbit sejak tahun 2011. tetapi dengan kenaikan tarif menjadi Rp.000. Di Kota Batam untuk pelayanan kesehatan dasar berlaku gratis. persyaratan untuk mendapatkan surat ijin praktek adalah harus mempunyai rekomendasi dari IBI. mulai th 2011. Dengan demikian dana Jampersal untuk bidan di puskesmas tidak dapat dibayarkan kepada pelaksana Jampersal di puskesmas.Jampersal. SIM.yang dianggap terlalu rendah. surat domisili oleh RT/RW.Untuk mengatasi masalah ini mulai tahun 2013 diterbitkan Peraturan Daerah yang mengatur tarif pelayanan dasar. paspor. Saat ini terdapat lebih dari 90 bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan untuk program Jampersal... Pencapaian MDGs baru menggaung satu tahun sekarang. Dalam implementasi Jampersal di kota Batam awalnya tersendat karena klaim hanya Rp. Dan dana Jampersal setelah masuk ke kas negara tidak dapat ditarik kembali dikarenakan tidak adanya mata anggaran untuk penyetoran dan penarikan.350. Kebijakan untuk provider pelaksana Jampersal adalah Bidan desa/puskesmas di luar jam Dinas jika sudah mempunyai ijin praktek dapat melakukan MOU dengan Dinkes.

puskesmas di pulau disediakan rumah tunggu untuk persalinana yang letaknya didekat rumah bidan.Untuk mendapatkan rekomendasi tersebut bidan harus mengikuti pelatihan APN dan sebagai anggota IBI aktif selama 1 (satu) tahun. klaim Jampersal sampai saat penelitian dilakukan belum dapat dicairkan karena terdapat Aturan Daerah yang tidak memungkinkan untuk pencairan dana Jampersal. Penanganan keluhan pasien khususnya untuk Jamkesmas dan Jampersal dilakukan di Kota Batam sudah dilakukan melalui tim Jamkesmas di Dinas Kesehatan.2. Sehingga terjadi pengklaim Jampersal beberapa bidan di atas namakan satu bidan yang PKS. Tentu saja hal ini membuat bidan menjadi tidak nyaman dan berisiko untuk menjadi temuan. sehingga beberapa bidan di puskesmas termasuk di puskesmas pulau Galang tidak dapat melakukan PKS dengan Dinas kesehatan.14. kemitraan dukun dilaksanakan di dua puskesmas tersebut juga dilakukan dengan ketentuan ketika ibu bersalin adalah rujukan dukun maka wajib ada bidan dalam melakukan pelayanan persalinan. tapi tahun 2012 kemitraan hanya bisa dilakukan oleh bidan PKS saja. 5. Untuk puskesmas yang diwilayahnya masih ada dukun seperti puskesmas Bulang dan Galang terdapat program kemitraan. Seperti diketahui bidan puskesmas di Batam. pembiayaan pelayanan dapat di klaim dengan Jampersal. Kebijakan Dinas kesehatan. Hal ini disebabkan Di Kabupaten Natuna sejak Tahun 2007 berlaku peraturan bupati untuk pertolongan persalinan 65 . Pada tahun 2011 bidan yang belum PKS dengan Dinas Kesehatan juga dapat melakukan kemitraan dengan dukun. Pada tahun 2011 ketika program Jampersal dicanangkan. baru bisa diklaim/dibayarkan Jampersal dengan rincian yang disepakati yaitu sebesar 100 ribu untuk jasa dukun dan 400 ribu jasa pelayanan bidan.2. Kabupaten kepulauan Natuna Kabupaten Natuna adalah satu-satunya kabupaten yang dalam penelitian ini tidak memanfaatkan pembiayaan Jampersal. Kebijakan ini dirasakan cukup memberatkan untuk bidan.

setiap bulan dipotong 3%. Sehingga masyarakat Natuna untuk pertolongan persalinan sudah dibiayai dengan Jamkesda. Permasalahan saat ini adalah tarif untuk di rumah sakit. sehingga tahun ini diusulkan untuk dilakukan revisi peraturan Bupati. 66 . karena mereka tidak memiliki fasilitas kesehatan di Natuna. potongan yang terbesar sampai 50%. sedangkan mereka bukan peserta Askes. sesuai dengan kemampuan membayar pasien. Ketika terdapat peraturan Menteri Kesehatan untuk Jaminan Persalinan Dinas Kesehatan kabupaten Natuna melakukan konsultasi dengan Kemenkes (Pusat). Peraturan tentang Jamkesda meliputi 1) Peraturan daerah tentang Jamkesda. yaitu untuk tarif Perda berbeda dengan tarif INA CBGs.yaitu Jamkesda Kabupaten Natuna. maka RS mengambil kebijakan untuk memotong biaya pelayanan RS. tetapi mereka tidak bisa menggunakan haknya karena tidak ada fasilitas TNI/Polri di Natuna. Kebijakan khusus RS terkait pelayanan. dari hasil konsultasi dikemukan bahwa jika Daerah mempunyai Pembiayaan untuk persalinan dapat tidak memanfaatkan Jampersal sehingga diputuskan Kabupaten Natuna tidak memanfaatkan Jampersal. Potongan bervariasi. 2) Perbub untuk tarif di RS. SK Direktur. sedangkan saat ini atas instruksi propinsi Jamkesda harus menggunakan tarif INA CBGs. Hal ini disebabkan jika Kabupaten Natuna akan memanfaatkan Jampersal maka harus melakukan revisi Peraturan Bupati tersebut. 4) MOU antara Dinas Kesehatan dan RS. Jamkesda sudah mencover seluruh pelayanan untuk kesehatan ibu dan bayi. kecuali TNI/Polri yang suami/istrinya adalah petugas RS untuk biaya kesehatan gratis. Karena mereka juga abdi masyarakat. 5) Jasa Pelayanan. 3) Perbub/SK Bupati untuk insentif petugas kesehatan RS. yaitu untuk anggota TNI/Polri. Sebenarnya Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna berkeinginan untuk memanfaatkan Jampersal.

walaupun bentuk dukungan secara khusus misalnya dalam bentuk penyediaan sarana. peralatan dan bahan habis pakai dll. Komitmen Kabupaten Sampang untuk mendukung kebijakan Jampersal adalah dengan adanya Peraturan Daerah No.1. Pemda tidak mengalokasikan secara khusus dari APBD. sedangkan 2+ adalah pelayanan gratis masyarakat dan tuntas penanganan kusta. tentang jasa Pelayanan dan kebijakan. dukungan dalam sosialisasi dan adanya kebijakan lokal yang berlaku di wilyah kabupaten/kota.5. Dukungan Manajemen. 3) bebas gizi buruk. sosialisasi dan kebijakan lokal yang mendukung Jampersal Di Kabupaten/Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal dengan bervariasi. Program ini merupakan program Bupati . bebas bayi tidak terimunisasi lengkap. 4) Bebas TB.3. dalam mendukung program Jampersal belum dilakukan di semua kabupaten/kota. 1) Bebas kematian ibu melahirkan. 5 tahun 2011. SDM. 5. Pembiayaan di tingkat Kabupaten. rumah sakit dan puskesmas dan jaringannya dalam pelaksanaan Jaminan persalinan.sehingga dalam sosialisasinya Jampersal melibatkan dinas lintas sektor termasuk dinas 67 . Dinas Kesehatan memiliki perjanjian/memorandum of understanding (MOU) dengan Rumah Sakit untuk pembinaan dari Rumah Sakit PONEK kepada Puskesmas PONED. Anggaran pendukung dialokasikan dari bantuan dana dekonsentrasi propinsi yang diperuntukkan untuk pembiayaan operasional pembinaan Rumah Sakit Ponek kepada Puskesmas PONED. 2) bebas kematian bayi.3 AKSEPTABILITAS KABUPATEN/KOTA TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Akseptabilitas kabupaten/kota adalah penerimaan pemerintahan daerah. Di Kabupaten Sampang sosialisasi Jampersal di kecamatan dilakukan melalui program Libas 2+ (5 Bebas yaitu. Bentuk penerimaan dapat berupa dukungan manajemen.

kesehatan, walaupun ‘bungkusnya” adalah LIBAS bukan Jampersal secara langsung. Pemerintah Daerah Kota Blitar mendukung pelaksanaan Jampersal dengan diterbitkannya Perwali yang didalamnya berisi tentang kebijakan di Kota Blitar termasuk jasa pelayanan bagi petugas kesehatan. Dalam mendukung Jampersal dengan menambah jumlah bidan dalam rangka penurunan Angka Kematian Ibu. Selain itu dukungan pemda ditunjukkan dengan sarana untuk bersalin di puskesmas PONED. Dukungan yang diberikan oleh Pemerintah Kota Kota Bandung adalah dengan membagi wilayah rujukan ke dalam zona-zona tertentu, supaya tidak terjadi penumpukan pasien di satu rumah sakit saja. Selain itu, ada peningkatan jumlah rumah sakit yang bisa menjadi pusat rujukan bagi pasien dengan komplikasi.
“..RSUD Kota Bandung merupakan rujukan untuk wilayah Bandung Timur, di wilayahnya terdapat dua puskesmas PONED yaitu Puskesmas Cibiru dan Puskesmas Padasuka. Seperti diketahui sejak sebulan yang lalu di Kota Bandung di launching Sistem Kesehatan Kota Bandung dengan melibatkan seluruh saranan kesehatan di kota Bandung dibagi Zona (jejaring Rujukan)..“ (NN, RSUD Kota Bandung).

penambahan

Di Kota Mataram dukungan Pemerintah daerah dengan menyekolahkan bidan menjadi Bidan dan Perawat menjadi D3 dengan dukungan dana APBD. Selain itu dilakukan pelatihan bidan oleh SPOG ada empat puskesmas PONED yaitu Puskesmas Ampenan, Puskesmas Cakra dan Puskesmas Tanjung Karang. Obat dan BHP disediakan untuk bidan yg melakukan pelayanan di puskesmas dan Polindes dan terdapat dana khusus untuk operasional BHP.
“..kebutuhan obat dan BHP biasanya PKM menyediakan sendiri tapi juga ada yg dari dinkes. Penyediaannya dari dana yg berasal dari operasional PKM..” (FGD Bidan, Kota Mataram).

Di Kabupaten Wakatobi dukungan pemerintah daerah dalam pelaksanaan Jampersal sangat besar. Dengan adanya Jampersal, maka pemerintah daerah sangat intens mendukung kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak untuk tahun 2013. Salah satunya adalah dengan menaikkan anggaran untuk
68

kemitraan dukun dan bidan dengan mengalokasikan dana khusus bagi dukun yang mau bekerja sama dengan bidan. Di Wakatobi komitmen daerah terhadap pembiayaan Jampersal bagus. Selama ini daerah sudah menyiapkan dana pendamping, khususnya untuk membiayai tenaga kesehatan yang harus mendampingi pasien yang di rujuk. Kami biasanya merujuk ke Bau-bau karena disana sarananya lebih lengkap. Selain jampersal dan jamkesmas, kami punya bahtera mas dari propinsi untuk masyarakat miskin dan jamkesda kab. Dana ini yang kami gunakan untuk membiayai tenaga kesehatan pendamping pasien. Bupati Wakatobi punya perhatian khusus terhadap Jampersal dan kesehatan pada umumnya. Ini diwujudkan dengan dibangunnya ruang operasi yang semoga cepat selesai. Pemerintah kabupaten juga sudah lama menganggarkan kontrak untuk SPOG sebesar 25 juta setiap bulannya, tapi sayang tidak ada yang berminat sehingga akhirnya alokasi anggaran itu dihapus. Padahal juga disediakan rumah dinas dan kendaraan dinas. Pernah diupayakan kerjasama dengan SPOG di Kendari, perkunjungan akan dibiayai sebesar 4,5 juta,tetapi tidak berjalan juga. Saat ini Wakatobi untuk tenaga spesialis untuk kebidanan dan Kandungan adalah kontrak dengan Residen yang sedang mengambil pendidikan. Selama penelitian berlangsung selama satu minggu Tenaga dokter spesialis tidak dapat ditemui karena sedang berada di luar Provinsi. Itu kondisi yang ada. Untuk

mengatasi kekurangan tenaga, kami diminta membuat usulan tenaga dokter spesialis yaitu SPOG. Ini sudah ditindaklanjuti dengan meminta pada Badan Kepegawaian daerah (BKD) mengenai usulan tenaga tersebut, tetapi belum ada kabar sampai penelitian selesai dilaksanakan. Di Kota Batam pelayanan dasar gratis. Untuk tenaga kesehatan terdapat UPK (upah pelayanan Kesehatan) yaitu insentif di luar gaji berupa upah pelayanan kesehatan (UPK) dari Pemda yang jumlahnya cukup besar. Ini merupakan bentuk komitmen dari Pemda terhadap program kesehatan termasuk Jampersal.
69

Dari penelitian ini secara umum kabupaten/kota memberikan dukungan terhadap kebijakan Jampersal dengan melihat komitmen pengambil kebijakan dan pelaksana program Jampersal adalah baik, hal ini terlihat dengan adanya keinginan untuk mensukseskan program ini. Hal ini diperkuat dengan penelitian dari Armey Yudha tahun 2012 di Kabupaten Lebak yang menyatakan hal yang sama.

5.4.

AKSEPTABILITAS PROVIDER DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN. Dalam pelaksanaan Jaminan Persalinan di kabupaten/Kota peran

pemberi layanan sangat mempengaruhi

implementasi Jaminan Persalinan.

Adapun yang dimaksud pemberi layanan (provider) adalah dokter, bidan puskesmas, bidan desa, bidan praktek swasta dan bidan rumah sakit dan Dokter Kandungan dan Kebidanan (SPOG). Akseptabilitas/penerimaan provider terhadap Jampersal mempengaruhi keberhasilan dari tujuan Jampersal. Akseptabilitas disini adalah penerimaan provider terhadap Jampersal dengan menggali

persepsi, upaya yang dilakukan dalam mendukung kelancaran pelaksanaan Jampersal. Sosialisasi sangat berpengaruh terhadap penerimaan provider terhadap kebijakan Jampersal. Untuk mengetahui penerimaan Provider terhadap kebijakan Jampersal , maka akan dibahas sosialisasi yang dilakukan terhadap provider, peneriman terhadap paket layanan, penerimaan terhadap kepesertaan/sasaran,

pemanfaatan dan persyaratan klaim, Pelayanan.

besaran tarif pelayanan dan Jasa

70

Gambar 5.7 Diskusi Kelompok pada Bidan

5.4.1. Sosialisasi Jampersal di Puskesmas dan Rumah Sakit

Gambar 5.8 Bagan Sosialisasi Jampersal di Kabupaten / Kota

Menurut Nawawi (2009) terdapat banyak cara dalam mensosialisasikan kebijakan yaitu dengan mempublikasikan seremoni penandatangan naskah kebijakan publik, berita di media masa, seminar dan sarana lainnya seperti buklet, leaflet dan lain sebagainya.
71

Dalam sosialisasi Jampersal di kabupaten / kota terdapat pola yang hampir sama yaitu dimulai dengan kepala Dinas dan Pengelola Jampersal

kabupaten/kota mendapatkan sosialisasi di Dinas kesehatan Provinsi atau mendapat sosialisasi langsung dari Kemenkes RI (Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan). Materi yang di sosialisasikan adalah Juknis Jampersal tahun 2011. “..pada tahun 2011 pernah ada tiga orang dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang datang ke Pulau Kaledupa, sekalian kami minta untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat Pulau Kaledupa tentang Program Jampersal. Sebenarnya tiga orang datang ke Pulau Kaledupa bukan untuk melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan Program Jampersal.Pernah juga pihak Kemenkes mengundang seluruh kabupaten di Indonesia untuk mengevaluasi program Jamkesmas, Jampersal dan BOK di Bali. Dalam evaluasi itu juga sekalian disosialisasikan program Jampersal..” (Kadinkes, Kab Wakatobi).
“..awalnya dapat informasi Jampersal dari pemerintah provinsi yang membahas juknis Jampersal. Sosialiasi dari pusat kita dapat dari internet, ada berita-berita terbaru kami update dari internet kemudian kita ekspos dan kadang kita kirimkan ke bidan-bidan puskesmas..” (Kabid KIA, Kota Balikpapan). “..sosialisasi dengan spot iklan di RRI, itu inovasi dari kami dan mendapat penganggaran dari Propinsi. Penyuluhan di RRI setiap sabtu dimulai tahun 2012. Tahun 2011, sosialisasi dgn pertemuan lintas sektor, kita lanjutkan ke puskesmas..” (Kabid Yankes, Kota Ambon).

Dinas Kesehatan Kabupaten mensosialisasikan dengan mengundang kepala puskesmas dan Bidan koordinator,organisasi Profesi karena sosialisasi tidak ada dana khusus maka pelaksanaan di daerah tergantung Dinas kesehatan masing-masing, biasanya terintegrasi dengan kegiatan program lainnya. Materi sosialisasi pada umumnya adalah tentang petunjuk teknis Jampersal meliputi syarat pengguna Jampersal, paket pelayanan, persyaratan klaim dan, besaran tarif. Setiap kabupaten/kota untuk frekuensi dan kualitas sosialisasi sangat bervariasi dikarenakan tidak ada petunjuk dan anggaran khusus untuk program Jampersal, sehingga pelaksanaan terintegrasi atau dilakukan bersamaan dengan kegiatan program lain. Sosialisasi dilakukan oleh pengelola Jampersal Dinas kesehatan dengan mengumpulkan bidan, kepala puskesmas, bidan koordinasi, dan bendahara puskesmas. Secara umum sosialisasi untuk provider/pelaksana pelayanan Jampersal dirasakan kurang.
72

muslimat. Sosialisasi pada bidan desa melalui pertemuan rutin bulanan oleh bidan koordinator. kecamatan. 73 .. Walaupun sosialisasi terhadap pemberi layanan (provider) sudah dilakukan. hal ini juga menjadi kendala dalam sosalisasi karena Dinas kesehatan kota tersebut merasa sosialisasi menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan Provinsi. dari hasil FGD banyak keluhan bidan tentang minimnya pengetahuan bidan terhadap program Jampersal. biasanya kepala puskesmas melakukan sosialisasi melalui rapat rutin/minilokakarya di puskesmas. Kota Balikpapan dan Kota Batam rumah sakit yang menjadi rujukan Jampersal dan menjalin perjanjian kerjasama adalah Rumah Sakit Provinsi. Di beberapa kabupaten seperti Sampang sosialisasi oleh Puskesmas ditingkat kecamatan dengan mengundang camat.” ( Kota Blitar) Dalam sosialisasi di kabupaten/kota. mulai dari kabupaten sampai desa.Di puskesmas kepala puskesmas meneruskan sosialisasi. “. dinas kesehatan mengundang juga rumah sakit yang akan menjadi rujukan Jampersal. dukun. Selanjutnya bidan desa melakukan sosialisasi pada masyarakat. Selain itu Rumah sakit mendapat sosialisasi langsung dari Pusat Pembiayaan Jaminan Kesehatan (P2JK) dengan mengundang Direktur RS atau pengelola Jamkesmas dan Jampersal.sosialisasi sudah jalan tapi belum sampai ke akar. namun frekuensi dan kualitas sosialisasi masih dirasakan kurang.. Di Kota Ambon. Kondisi ini menyebabkan komunikasi dan sosialisasi antara Dinas kesehatan Kabupaten/kota dan Rumah sakit Provinsi tersebut kurang lancar. Bidan memanfaatkan klas ibu hamil sebagai sarana sosialisasi Jampersal yang cukup efektif pada sasaran. Namun demikian di beberapa kabupaten/kota sosialisasi dirasakan masih kurang. kepala desa. kader kesehatan. dukun dan Toma. seharusnya ada kerja sama yang baik antara pemerintah dengan aparatur desa. Untuk sosialisasi lintas sektoral dilakukan pada pertemuan atau rapat koordinasi di tingkat Dinas di kabupaten. PKK. kepolisian. fatayat atau aisiyah. Materi sosialisasi tidak khusus tentang Jampersal masih secara umum tentang Jampersal. Sosialisasi juga dilakukan melalui organisasi masyarakat.

“. Pemberi Layanan di Fasilitas Kesehatan Dasar Dalam memberikan pelayanan kesehatan dasar di puskesmas. Tapi kalau pusat datang langsung ke RS tidak ada. 6) tugas sebagai penolong persalinan. 2) dukungan Jampersal pada program KIA.. 5. bidan puskesmas.“. 7) Jangkauan Jampersal terhadap sasaran.” (Dinkes. Pada bulan November 2011 di Bali. 4) dukungan sarana.. Jadi pada saat itu semua pengelola Jamkesmas Jampersal dari dinas dan rumah sakit seluruh Indonesia dikumpulkan. 74 . Karena keterbatasan sosialisasi terdapat provider di tingkat rumah sakit yang beranggapan bahwa pelayanan Jampersala hanya dilaksanakan di tingkat layanan dasar yaitu di puskesmas dan jaringannya serta bidan praktek swasta saja. Untuk penyuluhan di RS tdk dilakukan. Kota Mataram). bidan desa. dilakukan oleh pihak humas kerjasama dengan kasi pelayanan ke puskesmas-puskesmas terutama untuk rujukan berjenjang. Pada saat ini pihak pengelola belum memiliki Juknis 2012.2. Kab Sampang).untuk sosialisasi jampersal di RS. Dari komposit pertanyaan bidan di peroleh persepsi bidan terhadap Jampersal sbb: 1) dukungan pada kebijuakan Jampersal.. pemberi layanan (provider) yang memegang peranan dalam pelayanan Jaminan Persalinan adalah dokter. 8) Persepsi tentang merujk pasien dan. bidan praktek swasta. Khusus terhadap bidan dilakukan pengisian kuesioner dengan skala likert dengan self assement untuk mengetahui persepsi bidan terhadap Jampersal.untuk sosialisasi dari pusat hanya ada pada waktu pertemuan di propinsi.4. Dalam penelitian ini dilakukan wawancara mendalam dan FGD pada provider untuk mengetahui penerimaan terhadap Jampersal. 5) kendala implementasi Jampersal. Waktu itu awal-awal juknis 2011. pusat melaksakan acara evaluasi pelaksanaan Jamkesmas dan Jampersal 2011 serta rencana kebijakan Jamkesmas Jampersal 2012. puskesmas PONED dan jaringannya serta BP swasta yang melayani pelayanan KIA. 9) kepuasan terhadap reward (tahun 2012) yang tertuang pada gambar dibawah ini. 3) Sosialisasi Jampersal. Persepsi bidan dibentuk dari beberapa pertanyaan yang dikompositkan.” (RSUD..

Riset Evaluatif Implementasi Jampersal 2012 Dari hasil self assessment bidan terhadap kebijakan Jampersal. Dalam menjalankan tugasnya bidan menghadapi kendala. Sosialisasi masih menjadi tanggung jawab dinas kesehatan. Selain itu 94.4% responden bidan juga kurang memadai. bidan menyatakan sebaiknya Jampersal dilanjutkan karena banyak bermanfaat untuk masyarakat miskin. Ternyata 35.6% bidan menyatakan setuju dan mendukung program Jampersal.5% bidan menyatakan masih mempunyai kendala terhadap 75 . 94. Persepsi bidan terhadap kendala meliputi kendala dalam meyakinkan masyarakat untuk memanfaatkan Jampersal. Demikian pula sarana untuk menolong persalinan di puskesmas/polindes menurut 44.6%).Gambar 5. yaitu upaya penurunan AKI dan AKB. akses ke nakes karena kendala geografis dan masyarakat yang masih lebih senang bersalin dirumah.6% bidan menyatakan bahwa Jampersal mendukung program KIA. program ini juga dinilai mampu memberi dukungan pada masyarakat yang kurang memiliki akses secara pembiayaan ke tenaga kesehatan. Di puskesmas sosialisasi kebijakan Jampersal dan sosialisasi pada masyarakat menurut bidan masih kurang (60.9 Persepsi Bidan Puskesmas terhadap Jaminan Persalinan N=736 Sumber : data self assessment bidan. budaya untuk bersalin di non nakes.

7 % bidan menyatakan yang memanfatkan Jampersal tidak hanya sasaran yang dekat dengan puskesmas/polindes saja tetapi juga yang jauh. hasil penelitian 5. mungkin bisa ditambah menjadi 12 T. malah kalau ada kasus sebulan bisa 2 kali. untuk masalah ANC.. 1 kali pada triwulan kedua. Dengan demikian jika masyarakat melakukan ANC lebih dari frekuensi yang dibiayai Jampersal maka bidan tidak dapat mengklaimkan pelayanan tersebut. 1 kali pada triwulan pertama.2. didapatkan 85. Namun demikian hasil penelitian ini dengan adanya Jampersal 81. namun ya tergantung dari Kemenkes. Persepsi bidan terhadap keterjangkauan (akses jarak) masyarakat terhadap Jampersal. Selama ini paket pelayanan yang diberikan adalah 10 T. yang ditambah adalah pemberian tablet DHA. Dua kali pada triwulan ketiga . sehingga masyarakat cenderung melakukan ANC pada tenaga kesehatan lebih dari 4 (empat) kali.hal diatas 94.4..5% bidan menyatakan senang menolong persalinan sendiri daripada merujuk ke layanan rujukan. Sampang). “. dan program “Tempelkan Musik Mozart di perut Ibu. secara umum bidan dapat menerima. 76 . Bogor). c). dimana selama hamil. 82.cuma gini pak.. Ini karena di beberapa daerah pemeriksaan kehamilan sebelum ada Jampersal kebijakan Daerah yang menggratiskan pembiayaan ANC di fasilitas pemerintah. ibu hamil diperiksa sebanyak 4 kali disertai konseling KB dengan frekuensi a). Kesesuaian reward Jampersal dengan tugas yang dibebankan dan kepuasan adanya kepastian pembiayaan dengan adanya Jampersal.. tapi lebih senang jika memberi pelayanan pengobatan karena menolong persalinan dianggap sangat berisiko. namun beberapa bidan merasa kurang jika hanya empat kali saja ANC yang dibiayai oleh Jampersal.1. “.3% bidan menyatakan senang dengan tugas yang menjadi tupoksinya yaitu menolong persalinan.6% bidan menyatakan baik. ANC itu kebanyakan ndak 4 kali pak. sebenarnya sudah bagus.paket pelayanan yang diberikan program jampersal. Paket Layanan pemeriksaan Paket pelayanan pemeriksan kehamilan (ANC) adalah kehamilan (ANC) yang dibiayai oleh program ini mengacu pada buku Pedoman KIA. Namun namun paket pelayanannya mungkin bisa ditambah. bisa tiap bulan. b).” (Bidan Kab.” (Bidan Kab.

Untuk paket persalinan normal dalam petunjuk teknis dinyatakan dilakukan oleh nakes di fasilitas kesehatan dengan rawat inap minimal 1 (satu) hari . tidak semua bisa diklaim. Kab. Apabila hal tersebut diterapkan. dalam pelayanan Jampersal hanya persalinan saja yang dapat di klaim. tapi kalau Poned terlalu jauh. Hal ini di karenakan di Loteng sebelum Jampersal sudah ada kebijakan kabupaten gratis untuk semua pelayanan kesehatan. tapi ada beberapa kabupaten/kota misalnya seperti kota Balikpapan puskesmas menyatakan pelayanan persalinan satu hari kurang karena kebiasaan di daerah tersebut untuk persalinan lebih dari satu hari. untuk program itu seperti apa ? untuk puskesmas perawatan. tapi secara kualitas sesuai dengan waktu yang ditetapkan masih perlu dievaluasi lebih lanjut. Di kabupaten/kota secara umum cukup dan dapat di implementasikan. Untuk persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan dibeberapa kabupaten tidak dapat dilaksanakan dengan berbagai kondisi misalnya di kabupaten Kep. Sampang).. Untuk ANC secara kuantitas frekuensi lebih dari 4 kali pemeriksaan. sehingga biaya untuk kelebihan hari dibebankan ke pasien Jampersal. bahkan di Aru 77 . Aru dan Sampang karena geografis sehingga masyarakat masih bersalin di rumah dengan ditolong oleh tenaga kesehatan. maka hanya sedikit Puskesmas yang dapat melakukan karena terbatasnya Puskesmas PONED terutama di kabupaten. Kompetensi bidan. menurut juknis Jampersal dilakukan di Puskesmas PONED. Kita kembalikan ke program. misalnya manual plasenta. mungkin sejauh ada pelimpahan tugas bisa melakukan ini itu mungkin bisa dibijaksana. tetapi tidak bisa diklaimkan bukan wewenangnya. Demikian pula dengan pelayanan kegawatdaruratan kebidanan.Dalam salah satu FGD bidan di Lombok Tengah bidan bahkan tidak mengetahui bahwa paket pelayanan ANC dan PNC dapat di klaim.bidan melaksanakan pelayanan. karena kebijakannnya di Puskesmas perawatan. bisa melakukan tindakan selain itu.” (Dinkes. bahwa kegawatdaruratan kebidanan dapat dilakukan tidak hanya di Puskesmas Poned tetapi juga di Puskesmas perawatan.. Pelaksanaannya misalnya di Kabupaten Sampang ada kebijakan Dinas Kesehatan. boleh mengklaim. jadi syaratnya Puskesmas Perawatan saja. Seperti pernyataan informan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang berikut: “.

Berbeda dengan Kab. Kalau sudah mulai sakit. Untuk transport kunjungan rumah tersebut di Lombok tengah di biayai dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). pelayanan bayi baru lahir.keterbatasan sarana dan tenaga kesehatan di puskesmas sehingga persalinan dilakukan di rumah. Pelayanan bayi baru lahir dilakukan pada saat lahir. mungkin merasa lebih enak di rumah... bahkan dengan adanya paket ini cakupan PNC meningkat. transport dari BOK dibayar tdk boleh lebih dari 30 hari (ini kendalanya). “. Wakatobi dimana ada komitmen untuk persalinan oleh nakes di fasilitas kesehatan. temuan BPK.. Mereka harus dijemput oleh bidan desa untuk bersalin ke sarana kesehatan. sehingga dilakukan “jemput bola” dan pasien Jampersal dibawa ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan persalinan.. dan pelayanan KB pasca salin. Pelayanan nifas diintegrasikan antara pelayanan ibu nifas. tapi jika lebih dari sehari maka pasien dikenakan biaya tambahan antara Rp.” (Bidan Kab.untuk mengganti bahan habis pakai dan uang makan pasien.PNC. Pada beberapa daerah dengan geografis sulit seperti di kepulauan Aru dan Wakatobi pelayanan nifas dilakukan dengan kunjungan rumah oleh tenaga kesehatan.. Kep.belum punya kesadaran untuk datang sendiri ke sarana kesehatan.. 150. Dari penelitian ini didapatkan bahwa di kabupaten/kota PNC dapat diimplementasikan. Lagian di puskesmas tidak ruangan yang. jika pasien dirawat sehari makan gratis sesuai paket Jampersal . “.” (Kepala Puskesmas di Kab.pada persalinan normal di puskesmas pasien dirawat antara 1 – 3 hari. pasien menghubungi bidan kemudian meminta supaya bidan mengangkut pasien ke sarana kesehatan dengan menggunakan motor atau mobil ambulan.300. tapi ada beberapa masalah dalam pelaksanaannya sehingga menjadi temuan..000. Aru). Wakatobi) Paket Pelayanan Nifas (PNC) adalah Pelayanan nifas sesuai standar yang dibiayai oleh program Jampersal pada ibu dan bayi baru lahir yang meliputi pelayanan ibu nifas. bayi baru lahir dan pelayanan KB pasca salin.” (Kepala Puskesmas di Kota Balikpapan). “. padahal bs aja dlm sehari lebih dari 1 kunjungan/ KN 1 hari 3 kali (harus ada SPT dari kepala Puskesmas). demikian juga di beberapa puskesmas dengan geografis cukup sulit seperti di Lombok Tengah. Jadi klo OH 78 . “..masyarakat disini lebih suka melahirkan di rumah. OH tdk boleh lebih. Tatalaksana asuhan PNC merupakan pelayanan Ibu dan Bayi baru lahir sesuai dengan Buku Pedoman KIA.000..

79 . “. Namun beberapa pasien menolak memakai Jampersal ketika diharuskan KB dengan IUD.kita hanya membatasi KB pasca persalinan. “..” (Dinkes.” (kepala Puskesmas di Kota Bandung). bagaimana jika ternyata yang sudah terpakai ini sudah lebih dari Rp 100. padahal penggantian Jampersal hanya Rp 100.. tapi secara umum di kabupaten / kota pasien lebih memilih KB suntik sebagai alat kontrasepsi.” (Bidan Kab Lombok Tengah).000. pasien lebih baik membayar sendiri.000. sedangkan permasalahannya penyediaan alat kontrasepsi terbatas oleh BKKBN. Hal ini menyebabkan lepasnya kesempatan untuk mendapatkan akseptor KB paska persalinan.lebih dari 30 hari tidak dibayar. Beberapa bidan juga mengeluhkan adanya masalah rujukan ini. bukan termasuk KB diluar itu. Sampang) Di Kota Kendari pelaksanaan KB paska persalinan belum dapat berjalan secara lancar karena masih adanya budaya di masyarakat yang belum mau ber KB sebelum 42 hari karena masa nifas dianggap belum perlu untuk menggunakan alat kontrasepsi.. masyarakat memilih untuk melepas Jampersal untuk dapat memanfaatkan KB suntuk dengan pembiayaan sendiri seperti diutarakan oleh kepala Puskesmas Puter.. Padahal klo KN harus dikunjungi. Di Kota Bandung pelayanan Jampersal untuk KB dapat dilakukan paska placenta langsung pasang IUD tapi masih ada masyarakat yang memilih KB suntik saja. Untuk paket pelayanan KB belum semua kabupaten/kota menerapkan. Untuk jenis pelayanan alat kontrasepsipun masih bervariasi ada yang sudah secara tegas berani menetapkan kontrasepsi mantap (IUD) misalnya seperti di Puskesmas Puter di Kota Bandung.. Walaupun ada di tetapkan pengisian informed consent untuk yang akan memanfaatkan Jampersal agar menggunaan IUD paska persalinan. Ada beberapa kabupaten/kota yang menerapkan inform consent untuk pelayanan Jampersal sampai dengan pelayanan KB. terutama jika ada kasus.Jampersal di puskesmas puter setiap pasien yang menggunakan program harus menandatangai inform consent sampai menggunakan KB IUD. Kab.

Sasaran pengguna Jampersal adalah 1). ibu bersalin..kalau yang lalu ada yang tidak punya ktp sama sekali. ibu hamil . Tapi pada umumnya (sebagian provider) yang dilakukan wawancara mendalam dan FGD menerima program Jampersal dengan baik..2. Misalnya untuk sakit jiwa dia melahirkan ya pakai surat itu saja. tapi juga dapat dimanfaatkan sasaran mampu. “. Kepesertaan / sasaran Sasaran Jampersal adalah kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi untuk mencegah AKI dan AKB dari suatu proses persalinan. Batas waktu sampai dengan 28 hari pada bayi dan sampai dengan 42 hari pada ibu nifas adalah batas waktu pelayanan PNC dan tidak dimaksudkan sebagai batas waktu pemberian pelayanan yang tidak terkait langsung dengan proses persalinan dan atau pencegahan kematian ibu dan bayi karena suatu proses persalinan.... “. Pemahaman masyarakat sekarang dengan adanya jampersal masyarakat merasa enak. Aru). nanti dia datang untuk dibuatkan surat terlantar. ibu nifas sampai dengan paska persalinan 42 hari dan 4)..2. selain itu tidak adanya pembatasan jumlah anak sebagai sasaran Jampersal sebagian provider mengkhawatirkan akan menjadi berbenturan dengan program Keluarga Berencana. neonatal (0-28 hari).beta maunya itu dibuat klasifikasi hanya diperuntukan anak pertama dan yang tidak masuk Askes saja. Kota Balikpapan).” (Bidan Kep.program jampersal ini disambut baik.” (Bidan Kota Ambon). “. mau buat anak berapa juga tetap gratis. Salah satu syarat sasaran yang memanfaatkan Jampersal adalah belum memiliki Jaminan persalinan. terutama bagi masyarakat miskin yang bebas dari biaya persalinan. Supaya program KB berjalan dengan baik.” (dinkes.menurut saya jampersal harusnya untuk masyarakat yang tidak mampu. Terkait sasaran Jampersal sebagian besar provider memasalahkan dengan tidak adanya pembatasan pada sasaran yang tidak mampu / miskin saja. “.4.5. Biasanya langsung ke nakersos saja. tidak saja pada proses melahirkan tapi sampai pada biaya pelayanan ke rumah sakit jika ada yang komplikasi. 2).” (Bidan Kota Blitar). 80 .. Jika ada pasien mampu maka wajib bayar. 3).. Untuk yang terlantar dinas yang fasilitasi sama jamkesda.

” (Bidan Kota Ambon).4. “.. Batam). untungnya bpk raja/lurah mengenalnya jadi bisa dibuatkan surat domisili. Lombok Tengah).3. Tapi hampir seluruh kabupaten/kota lokasi penelitian mempermudah persyaratan dengan cukup sasaran membawa surat keterangan domisili. 5. paspor (Kab. kartu mahasiswa.jika ada pasien seng punya KTP (tdk punya KTP).” ( Bidan Kota Ambon). Kartu Keluarga (kota Ambon). karena ada pasien ibu hamil datang ANC dengan jampersal tetapi tidak membawa KTP atau identitas lain utk persyaratan klaim. masyarakat mulai merasa pentingnya untuk mempunyai kartu identitas. “.Sebetulnya dari penjelasan diatas menunjukkan juga keterbatasan pemahaman bidan pada program Jaminan Persalinan terutama terhadap pelayanan KB yang merupakan satu paket dalam pelayanan PNC.. KTP tdk ada bs dengan domisili tetapi disyahkan oleh camat.2. KK juga harus disyahkan camat.. Di kabupaten Kota persyaratan ini diimplementasikan bervariasi dengan tujuan memberi kemudahan pada sararan untuk memanfaatkan Jampersal. tp sampai melahirkan belum juga mengurus. Lombok Tengah). Dibeberapa Kabupaten kepemilikan KTP untuk sasaran menjadi masalah. Surat Ijin Mengemudi (kab.. karena masyarakat sering tidak mempunyai KTP. misalnya dengan memperbolehkan dengan hanya surat keterangan domisili.masalah Identitas ini (KTP/Kartu domisili) ini persoalan yang rumit dan menjengkelkan. Kita sbg bidan yang mengurusnya sampai kita mencari ke rumahnya ternyata rumanya sudah tdk ada krn banjir. Menurut informan sebelumnya masyarakat merasa tidak berkepentingan untuk memiliki KTP. Syarat dan Mekanisme Klaim Sasaran Jampersal dapat memanfaatkan Jampersal dengan syarat dapat menunjukkan kartu identitas berupa Kartu tanda penduduk (KTP). Baru ketika mengetahui bahwa untuk memanfaatkan Jampersal harus memiliki kartu identitas yaitu KTP. Kartu pelajar (Kab. KTP suami (Kota Blitar). 81 . tidak punya KK maka langsung menjadi pasien umum dan harus bayar.

Sehingga dana yang sudah di klaim setelah cair ke fasilitas kesehatan/ puskesmas akan disetorkan kembali seluruhnya pada kas daerah. maka status dana menjadi pendapatan fasilitas kesehatan/puskesmas yang belum menerapkan BLUD (kebetulan puskesmas yang menjadi lokasi penelitian kebanyakan adalah non BLUD). Dalam petunjuk teknis Jampersal 2012 diterangkan bahwa besaran jasa medis yang dikembalikan pada fasilitas kesehatan minimal 75%. maka status dana tersebut berubah menjadi dana peserta Jamkesmas dan masyarakat penerima manfaat Jaminan Persalinan. Yang kemudian akan dikembalikan pada fasilitas kesehatan sesuai dengan besaran yang diatur dalam Perbup atau Perwali. Setelah hasil verifikasi klaim dibayarkan sebagai penggantian pelayanan kesehatan. 82 . terintegrasi (menjadi satu kesatuan) dengan dana Jamkesmas. Dalam implementasi dilapangan secara umum kabupaten/kota melaksanakan alur dana seperti dalam petunjuk teknis.10. Adapun alur pembayaran klaim setelah disetor ke kas daerah digambarkan pada gambar 5. namun ada beberapa daerah yang masih beranggapan bahwa dana Jampersal masuk dalam rekening Pemerintah Daerah sehingga sering menimbulkan polemik di daerah.Menurut petunjuk teknis Jampersal di kabupaten/kota dana Jampersal di pelayanan kesehatan dasar disalurkan ke Rekening Dinas kesehatan kabupaten/kota. Setelah dana tersebut disalurkan Kementerian Kesehatan ke rekening Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab program (melalui SP2D). Besarkecilnya jasa medis yang diembalikan tergantung pada komitmen atau aturan yang berlaku di daerah tersebut. Namun demikian pada kenyataannya tidak demikian. terdapat daerah yang lebih besar dari 75% tapi ada juga yang jauh lebih kecil dari ketentuan di petunjuk teknis.

sehingga kami tidak berani lagi mengeluarkan klaim jasa pelayanan jampersal. kelayakan. Kalau ada dana turun maka kami di puskesmas selalu diberi tahu bahwa dana jampersal sudah ada silahkan segera mengajukan klaim.Kalau tahun yang lalu 2011.jasa pelayanan bidan harus melalui jalan yang cukup panjang untuk bisa dibayarkan.” (Pengelola Jampersal. dientry data soft ware Jampersal. Aru).. partograf. sedangkan berkas klaim yang lain dibawa kembali ke Puskesmas yaitu buku KIA. Kami menerima dana jasa pelayanan penuh. Kab Paser).Gambar 5. disimpan di Puskesmas. setelah selesai diverifikasi. Kab.. “.” (Pengelola Jampersal. tetapi hal tersebut menjadi temuan.. jika kuitansi sudah lengkap bendahara Jampersal membuatkan STSR (surat tanda setor retribusi) akhirnya disetor ke kas Daerah sebagai PAD. identitas.. “. Dinas kesehatan sangat baik dalam membantu pencairan dana.” (Bidan Kota Blitar). jenis tindakan dan besaran tarif. berharap agar sistem klaim lebih di sederhanakan. tidak ada potongan dari dinas kesehatan. Untuk persyaratan klaim berdasarkan nama pasien.bidan bisa menerima besaran jasa pelayanan. pengisian teknis.. bukti kb dll.10 Mekanisme Pembayaran klaim Jampersal di Pelayanan Dasar Di Kabupaten Sampang untuk proses klaim dimulai dengan verifikasi kelengkapan berkas . kami mengeluarkan klaim sekitar 40% karena program jampersal tidak melalui kas daerah.. Setelah itu direkap oleh pengelola Jampersal. Teman-teman bidan secara sukarela menanggung biaya perjalanan dan penginapan saya ke wanci (ibukota wakatobi) saat mengurus klaim. “. 83 .

“. 5000. Mojokerto.. Pengajuan klaim dengan per bulan membuat ribet dan membuat repot. Mojokerto) Proses pengembalian dana setelah dari kas daerah ke puskesmas juga sering sekali menjadi kendala lamanya uang cair ke provider. Di daerah uji coba penelitian Kab.. Klaim BPS harusnya bisa diambil di Puskesmas.dalam mekanisme klaim di Balikpapan ketika uang sudah cair dan akan disetor ke Kasda maka dilakukan penyobekkan karrcis sebanyak jumlah uang yang di klaim. Yang menjadi masalah adalah untuk pelayanan ANC karena biaya karcis untuk ANC menurut Perda Rp. Untuk persalinan itu hanya terima Rp 50. Kepala puskesmas keberatan karena tidak masuk akal 84 . Dipotong untuk jasa lainnya tambah ppn. Karena dengan keterbatasan tenaga verifikator di Dinkes sistem ini diharapkan klaim menjadi lebih cepat. Klaim bisa satu minggu aja. Kab. Hal ini disebabkan karena proses mekanisme keuangan daerah. Sampang melakukan percepatan dengan berkas yang harus diperbaiki akan dikembalikan pada puskesmas untuk perbaikan. Tapi untuk jumlah riilnya tidak tahu karena diakumulasi..Puskesmas klaim ke DKK tapi uang tidak diterima puskesmas.Masalah dalam pengklaiman dibeberapa daerah ditemukan misalnya di kota Ambon.klaim untuk BPS tiap bulan cair dan tepat waktu. Klaim untuk infus tidak diganti oleh Jampersal. Kalau mau klaim harus telpon dulu.. Persyaratan klaim susah karena ada yang tidak punya KTP. Untuk menanggulangi masalah ini kepala Dinas Kab.” (Kepala Dinas... Ada penggantian obat dan lainnya.. Biasanya lewat tanggal 20 baru turun gitu.maka setiap ada ANC dilakukan penyobekan karcis 4. “. “. Kota Bandung). kepala dinas kesehatan menetapkan verifikator di puskesmas. Proses pengajuan klaim susah. Hal ini disebabkan banyaknya berkas yang harus diverifikasi tetapi jumlah tenaga verifikator terbatas dan merangkap tugas lain.000 untuk jasa. Untuk klaim itu dikirim sebelum tanggal 10 bulan selanjutnya. “. Balikpapan antara lain adalah lamanya proses verifikasi di dinas kesehatan. soalnya petugasnya tidak stand by..” (Dinas kesehatan. Jarak klaim sama pencairan tidak terlalu lama. tetapi berkas yang sudah ada di dinas Kesehatan tetap berjalan dan akan diganti setelah perbaikan sehingga proses tetap berjalan walaupun berkas ada perbaikan. Kota Bandung).adanya tenaga verifikator di puskesmas yaitu bidan koordinator sebagai pelaksananya sehingga diharapkan dengan adanya verifikator di puskesmas akan membantu verifikator di Dinas kesehatan di Dinkes dalam melaksanakan tugasnya.” (Puskesmas.

sampai saat ini jasa pelayanan Jampersal untuk bidan puskesmas untuk tahun 2012 belum ada yang cair. 200. Di Kabupaten/kota lokasi penelitian besaran tarif persalinan menurut sebagian besar provider di layanan dasar sudah cukup bagus sesuai dengan perda (rata-rata antara Rp..2.-..dengan frekuensi pemeriksaan 4 (empat) kali . Untuk itu di beberapa kabupaten/kota seperti Batam dinas kesehatan untuk pelayanan Jampersal di layanan dasar mendorong BPS yang PKS diharapkan dapat memanfaatkan Jampersal.. puskesmas akan mengikuti aturan tersebut.” (Dinkes Kota Balikpapan). Besaran Tarif Pelayanan Dalam petunjuk teknis besaran tarif Jampersal tahun 2012 untuk ANC menjadi Rp.dalam pencatatan 1 orang melakukan ANC 4 kali dalam sehari.500. dimana terdapat persyaratan yang ditentukan oleh profesi yang harus dipenuhi. PNC Rp.000.dengan frekuensi 4 (empat) kali dan tindakan pra rujukan Rp. Dari hasil penelitian didapatkan secara umum tidak ada masalah dengan besaran tarif untuk ANC.4..” (Puskesmas. Besaran tarif pada bidan PKS pada umumnya diterima sesuai dengan petunjuk teknis yang berlaku. Jika cair nanti besaran yang diusulkan dari Dinkes 75% untuk jaspel dan dana operasional di puskesmas (jika disetujui pemerintah kota). persalinan normal Rp.000.4.000. Tapi sampai saat ini belum ada penjelasan pasti dari Dinkes.000. 5. 20. Untuk proses klaim dana Jampersal pada bidan BPS yang melakukan PKS dengan dinas kesehatan pada umumnya tidak ditemukan kendala dalam prosesnya..700.000. 20..000 sampai dengan Rp. Proses cairnya juga lebih cepat dan lancar dibandingkan bidan di puskesmas dan jaringannya yang non BLUD. Kota Balikpapan). Lebih mudahnya proses klaim dan pencairan dana pada BPS dikarenakan tidak perlu melalui mekanisme keuangan daerah tapi langsung melalui dinas kesehatan..-). Walaupun di beberapa kabupaten/kota tarif Jampersal dibawah tarif yang 85 . 100. Namun sayang sekali tidak banyak bidan BPS yang dapat memanfaatkannya dikarenakan terkendala dalam pengurusan PKS dikarenakan tidak dapat memenuhi persyaratan terutama dalam pengurusan surat ijin praktek. “.

Paser). Kalau persalinan yang mengalami kegawatdaruratan kita juga yang menangani. tapi ternyata dibayar cuma sesuai dengan tariff di juknis. Alasan perlu dinaikkan tarif tersebut karena menurutnya ada biaya lain yang perlu dibayarkan ketika menolong persalinan misalnya biaya dukun untuk pasien yang merupakan rujukan dukun..besaran tariff sudah cukup bagus sesuai dengan perda. klo boleh dinaikkan sedikit dg tarif 750 rb disesuaikan dg tarif umum.” (Bidan Kab.sudah sesuai mulai dari ANC. memberi makan pada pengantar pasien selama pasien dirawat melahirkan. “. persalinan sampai PNC. geografis dll ada yang mengusulkan untuk dilakukan regionalisasi pada tarif. BHP dll. kalo bisa sampe 700 rb. Minta ditambah. kami menanganinya. Hanya masalahnya tidak di semua kabupaten/kota klaim dapat cair dengan cepat dan lancar sehingga bidan harus mengeluarkan biaya yang cukup besar terlebih dahulu sebelum dana dapat dicairkan. kab. Bandung dll. dengan adanya paket jampersal untuk besaran tarif Rp 500. Apalgi kalo di wilayah PKM galang ini wilayah kerjanya luas dan jauh2 jadi biaya tersebut juga sbg biaya transport bidan dalam menolong persalinan jika harus dipanggil ke rumah pasien. Sebetulnya dengan adanya Jampersal bidan merasa ada kepastian dalam pendanaan dari setiap pasien yang memanfaatkannya dan dapat melakukan subsidi silang. Namun demikian menurut bidan dan ketua IBI (Ketua IBI Bandung) sebagai responden penelitian ini. Misal kalau ada kasus perdarahan maupun manual plasenta. perda mengatur besaran persalinan oleh bidan sebesar Rp 350.” (Puskesmas. “.” (Bidan kab.. hanya saja tarifnya apa bisa ditingkatkan.000. paket pelayanan sudah cukup. tidak semua pasien dapat membayar sesuai dengan tarif tersebut bahkan beberapa pasien di gratiskan karena tidak mampu membayar. jadi bidan hanya 400 rb. tapi ternyata dibayar cuma segitu. Bogor). untuk bahan habis pakai saja kami menghabiskan lebih dari 200. 86 .. karena di sini semua lebih mahal dibandingkan dengan di jawa. dengan tarif bidan yang tinggi.keluhan bidan itu kurang sdh melayani pasien.menurut saya kalau persalinan normal. Batam. Kota Batam). “.berlaku pada umumnya di wilayah tersebut terutama untuk BPS misalnya seperti di Balikpapan. “...karena membayar dukun..000.000 untuk persalinan oleh bidan.” (Puskesmas.000. maksudnya persalinan tanpa ada perdarahan. krn BHP sendiri.. makan minum pasien. maka bidan desa akan menerima 75% dari Rp 500. Untuk besaran tarif karena adanya variasi dari nilai fiskal daerah. Sampang)..

Kota kendari).” (Bikor.perlu ada regionalisasi tarif.000.2...4. tidak masalah dalam tarif Jampersal tetapi yang menjadi masalah adalah kurangnya akses transportasi dan mahalnya biaya transportasi serta terbatasnya sarana dan sumberdaya manusia yang ada. Dengan demikian biaya transportasi merupakan faktor penting untuk mendapatkan pelayanan persalinan di fasilitas kesehatan. Puskesmas non BLUD minimal adalah 75% dari tarif persalinan normal yaitu Rp. Aru).. sedang tarif umum tidak ada. 500... Aru dan kabupaten Wakatobi.pada tahun lalu saat masih pakai tarif Pemda biaya persalinan Rp. Wakatobi biaya transpotasi ke pelayanan kesehatan dapat jauh lebih mahal dibandingkan biaya persalinannya sendiri...000.-. 3. 350.5. karena semua bidan di sini adalah bidan pemerintah 24 jam. 1). jasa pelayanan untuk persalinan ditetapkan untuk . “. Jadi untuk tarif jampersal dirasa cukup. Berbeda untuk kabupaten kepulauan misalnya di kabupaten Kep. Sehingga tarif Jampersal dianggap kurang memadai.” (Dinas kesehatan.“. Hal ini didukung adanya kesepakatan IBI bahwa bidan dapat menarik biaya tambahan kepada pasien dalam batasan tertentu. 2) Puskesmas BLUD setelah dana di klaim maka menjadi dana pendapatan/penerimaan fasilitas kesehatan . Kota Kendari). dimana tarif persalinan normal cukup tinggi yaitu lebih dari Rp. Data penelitian ini di wilayah ini didapatkan di luar pembiayaan Jampersal terdapat juga pasien yang membayar biaya tambahan.000.-. 5.000.tarif jampersal lebih baik dibandingkan tarif puskesmas. “.000.000.1. Sehingga untuk kabupaten kepulauan Aru.bahkan di Kota Balikpapan untuk klas VIP tarif bidan untuk persalinan normal dapat lebih dari Rp. 87 . 3) sedangkan untuk BPS 100% menjadi jasa pelayanan. Di Kota Balikpapan dan Kabupten Paser. Jasa Pelayanan Di dalam petunjuk teknis Jampersal tahun 2012 . Kab.-. sebab tarif persalinan tiap daerah berbedabeda. Yang masih belum ada dalam jampersal adalah biaya untuk petugas pendamping saat melakukan rujukan.”(Puskesmas.

Batam) menerbitkan Perbup/Perwali untuk mengatur Jampersal. tapi prosentase yang menjadi hak daerah saja yang disetorkan. 88 . yaitu dana disetor ke kas daerah kab/kota masing-masing. maka untuk mencairkan dana berikutnya diperlukan menunggu dana Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) sehingga bulan November baru dapat di cairkan. Wakatobi walaupun tidak mengeluarkan Perbup /Perwali mengikuti proses klaim juknis Jampersal 2011 yaitu penerimaan fasilitas kesehatan tidak disetorkan ke kasda keseluruhan. Blitar. Beberapa kabupaten/kota (Sampang. Sedangkan untuk puskesmas non BLUD (semua puskesmas dalam penelitian ini adalah non BLUD) untuk dana Jampersal 2012 terkendala dengan mekanisme keuangan dimana setelah proses klaim dana yang telah menjadi pendapatan/penerimaan fasilitas kesehatan (Puskesmas) mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan. Di Kota Bandung untuk jasa pelayanan di puskesmas non BLUD mengikuti Perda yang ada tanpa membuat peraturan baru untuk Jampersal. Walaupun demikian tidak semua daerah lancar dalam proses pencairannya terkendala masalah teknis misalnya di Sampang karena jumlah realita klaim Jampersal jauh lebih besar dari perencanaan Jampersal 2012. Kota Blitar ketika Perwali terbit belum terdapat mata anggaran untuk menyetoran dan penarikkan kembali.Dalam implementasi untuk BPS dan puskesmas BLUD jasa pelayanan dapat diterima dengan waktu yang relatif lebih cepat dan lancar dan dapat diterima 100%. Kabupaten Kepulauan Aru. karena tidak melalui mekanisme keuangan daerah. Lombok tengah. Mataram. Kota Batam karena sudah terdapat anggaran untuk jasa pelayanan untuk tenaga kesehatan. Ambon. sehingga tidak dimungkinkan untuk menarik jasa pelayanan lagi. hanya masalahnya besaran jasa pelayanan dalam Perda jauh lebih rendah dari besaran jasa pelayanan Jampersal untuk persalinan normal.

” (RSUD. Kab. Pemberi Layanan di Fasilitas Kesehatan Rujukan Dalam memberikan pelayanan di fasilitas kesehatan rujukan.3. 5.Jampersal bermanfaat terutama untuk masyarakat yang dulunya ke dukun sekarang ke nakes. Provider tingkat lanjutan memberikan pelayanan untuk pasien rujukan yang tidak bisa ditangani oleh provider kesehatan tingkat pertama..4. “. Sejak ada Jampersal pasien di rumah sakit menjadi lebih banyak dari sebelumnya bisa sampai hampir dua kali lipatnya. ditanggung oleh Jampersal.pada waktu awal pelaksanaan jampersal tahun 2011 untuk kiret dan KET terkadang mereka masih suka bingung ini masuk jampersal atau tidak.5.1.3. Paket Layanan Di rumah sakit petunjuk untuk Paket layanan Jampersal pada umumnya adalah sesuai dengan petunjuk teknis yang ada. Sampang). Tapi untuk yang sekarang sudah lebih jelas bahwa untuk semua kasus kehamilan akan ditanggung semua. Namun kenyataannya tidak demikian. demikian masyarakat yang sebelumnya ada permasalahan dengan ekonomi. Provider di rumah sakit pada umumya mendukung kebijakan Jampersal dalam upaya mencapai target MDGs. Sampang) Provider (Bidan. Dalam penelitian ini dilakukan wawancara mendalam pada provider untuk mengetahui penerimaan terhadap Jampersal.” (RSUD. termasuk penyakit yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan yang dapat membahayakan jiwa ibu.. Untuk paket pelayanan Jampersal semua kasus yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan. Kab. Disamping itu dengan kunjungan dokter obgyn ke puskesmas PONED secara bergiliran meningkatkan jumlah pasien ke RS demikian juga atas motivasi bidan dan pendampingan bidan jkia merujuk ke rumah sakit menyebabkan kunjungan ke RS juga menjadi meningkat. “. tapi banyak provider yang tidak tersosialisasi dengan jenis paket pelayanan Jampersal. Sering timbul masalah 89 .4.. Kecuali untuk kasus ginekologi.. karena banyak pasien yang tanpa rujukan langsung datang sendiri ke pemberi pelayanan tingkat lanjutan. provider pelaksana yang memegang peranan dalam pelayanan Jampersal adalah bidan rumah sakit dan SPOG. SPOG) pada umumnya tidak mempermasalahkan paket pelayanan yang ditetapkan dalan juknis.

Kepesertaan Untuk sasaran Jampersal di rumah sakit.. Sedangkan menurut juknis Jampersal menyatakan bahwa sasaran Jampersal 90 . di dalam Juknis disebutkan bahwa ibu hamil. sebaiknya dilakukan pembatasan pada masyarakat tidak mampu dan benar-benar tidak mempunyai Jaminan. Untuk pelayanan KB paska Nifas tidak semua RS mengetahui.3.. dan bayi baru lahir dengan resiko tinggi dan atau dengan komplikasi yang tidak dapat ditangani pada fasilitas kesehatan tingkat pertama yang dilaksanakan berdasarkan rujukan atas indikasi medis. ibu bersalin dan ibu nifas yang ingin mendapatkan pelayanan Jampersal dilayani oleh pemberi pelayanan di tingkat pertama. nifas. Bila demikian apakah target untuk menurunkan AKI bisa tercapai? Seharusnya program jampersal harus tegas di ikuti dengan program KB. Kendala lain yang dihadapi adalah pasien kadang tidak mau bersalin di pemberi pelayanan tingkat pertama. mereka langsung bersalin di pemberi pelayanan kesehatan tingkat lanjutan (dalam hal ini rumah sakit.Belum ada ketegasan program jampersal yang mengharuskan peserta jampersal harus ikut KB. akibatnya banyak peserta yang tidak mau ikut KB . Setelah persalinan biasanya pasien akan diserahkan kembali ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan pasca nifas.” (NN.4.dalam pengklaiman jika ada pasien Jampersal yang dirujuk dari pelayanan dasar karena komplikasi tetapi di rumah sakit dapat bersalin secara normal. bersalin. Hal ini perlu karena pengguna Jampersal ternyata banyak dari masyarakat yang mampu dan sudah mempunyai jaminan kesehatan lain misalnya Askes. 5. “. dan banyak yang memanfaatkan program jampersal ini untuk sering hamil (pumpung gratis) tanpa memperdulikan masa depan anak dan ibunya yang apabila sering melahirkan dan banyak anak akan lebih beresiko. Sedangkan pemberi pelayanan tingkat lanjutan adalah pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan spesialistik untuk pelayanan kebidanan dan bayi baru lahir kepada ibu hamil. Padahal.2. RSUD). Pelayanan pasien Jampersal sama dengan pelayanan untuk pasien umum. baik negeri maupun swasta). hal ini mengakibatkan adanya peningkatan jumlah pasien yang bersalin di rumah sakit. Kebanyakan di sini pasien yang datang persalinan dengan komplikasi atau penyulit.

” (Pengelola. RSUD).4. Karena yang menerima di depan tidak tahu tentang teori. “. mengapa setiap persalinan harus ada partografnya padahal untuk kasus letak lintang. KK.hambatannya sebetulnya tidak ada. SIM.. kartu domisili. “.. Kep.sungsang ini tidak masuk akal. namun pelayanan yang dinginkan tersebut tidak lagi ditanggung dalam paket pelayanan asuransi yang diikutinya.” (Pengelola Jampersal. kartu pelajar. Kab. Karena terkadang ada pasien yang memiliki askes tapi untuk anak ke 4 mau ditanggung dengan jampersal. Selain itu pasien membawa rujukan.semua ibu yang tidak memiliki kartu Jamkesmas dan Jamkesda. “. Kab. Sasaran dapat memanfaatkan Jampersal di fasilitas rujukan dengan membawa KTP. Terkadang saya kasihan ke pasien karena mereka tidak mengerti karena masalah ini ditolak sehingga harus wira wiri. Klaim diajukan ke pusat melalui kurir & konfirmasi dari pusat via telpon. RW/ Kelurahan bahwa ybs tidak mampu (RSUD. Syarat Klaim Pengajuan klaim di rumah sakit pada umumnya disesuaikan dengan juknis yang ada.” (RSUD. keterangan RT. Namun dalam kenyataannya. persyaratannya KTP dan rujukan.. tetapi banyaknya masyarakat yang mampu tetapi masih menggunakan fasilitas jampersal. 91 . Kepesertaan Jampersal berlaku prinsip portabilitas. Ini menjadi masalah kalau partograf menjadi syarat yang diwajibkan untuk pasien jampersal.. Sampang).. Aru). buku nikah. tetapi tetap tidak bisa menolak..adalah ibu dan bayi yang belum mempunyai jaminan kesehatan.yang perlu di di klarifikasi adalah masalah partograf . RSUD ).3. Persyaratan pengajuan klaim yang penting sudah ditanda tangani verifikator independen dan direktur. Seharusnya partograf hanya untuk kasus persalinan letak kepala pada fase aktif pada fase laten tidak bisa mengisi partograf.3. 5. banyak pengguna Jampersal telah memiliki jaminan kesehatan. Jadi dikhawatirkan ini akan menjadi tumpang tindih dengan asuransi lainnya. “... Sampang).pihak rumah sakit berharap adanya pembatasan dalam hal kepesertaan. partograf dan buku KIA ( RSUD Mataram). dimana pemberi pelayanan kesehatan baik di tingkat pertama maupun lanjutan menerima pasien yang berasal dari daerah manapun. karena pada prinsipnya jampersal adalah bagi seluruh masyarakat yang melakukan persalinan di kelas III.” (SPOG. Kab.

pendapatan/penerimaan kesehatan (Rumah selanjutnya pengelolaan serta penggunaan danpemanfaatannya dilakukan dengan mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan.” (SPOG. Sampang). sehingga kami juga sering terlambat dalam membayarkan jasa medik. Besar jasa pelayanan pada provider (pemberi layanan) hendaknya memperhatikan maksud pemberian insentif yaitu untuk akselerasi tujuan 92 . Tahun 2011 klaim lebih lancar dibandingkan tahun 2012.Mekanismenya. kota Bandung).. Selanjutnya kami tinggal menunggu feedback dari Pusat untuk bisa mengambil uang atas klaim yang sudah dikirimkan tersebut. biasanya kami padukan dengan bagian verifikator independennya. Disini ketidak tahuan pihak rumah sakit bahwa laporan tidak perlu menunggu feedback dari P2JK. Biasanya berkas klaim yang dikirim itu ada dalam bentuk software tapi juga print.outnya dikirim.. jadi setelah pasien masuk.3.4.. surat jaminan pelayanan yang dibuat oleh pihak RS. Dulu dalam satu tahun itu bisa 4 sampai 5 kali klaim. surat rujukan dari Puskesmas atau bidan. “. “.4. 5. kemudian di data sesuai dengan syarat yang ada kemudian di input datanya kemudian diperiksa kelengkapannya jika sudah sesuai maka akan di tandatangani oleh direktur selanjutnya berkas klaim tersebut dikirim ke Pusat oleh petugas administrasi pelayanan terpadu di rumah sakit. Kab. Besaran Tarif Pelayanan dan Jasa Pelayanan Tarif pelayanan Jampersal di rumah sakit berdasarkan tarif INA CBG’s..klaim Jampersal dikirimkan ke P2JK menjadi satu dengan klaim Jamkesmas. Yang menjadi kendala dalam hal ini adalah feed back yang kadang-kang terlambat.persyaratan jampersal lebih mudah daripada jamkesda. termasuk di dalamnya adalah jasa pelayanan. Sedangkan dana yang telah menjadi pendapatan/penerimaan jasa layanan (Rumah Sakit/Balkesmas BLUD) maka pendapatan jasa layanan tersebut dapat langsung digunakan dan dimanfaatkan sesuai RBA/DPA-BLUD.”(verifikator independen. Dalam juknis dinyatakan fasilitas bahwa dana yang telah Sakit non menjadi BLUD). Yang diperiksa oleh verifikator adalah : KTP.

“.000 . Kota Bandung).. Besaran Jasa medik untuk untuk bidan. apa itu manusiawi. RSUD). kab. Pengaturan mengenai jasa pelayanan/jasa medik tersebut dilakukan sesuai dengan ketentuan yang mengatur mengenai hal itu. Disatu sisi tariff kecil dan di sisi lain mengutamakan kemanusiaan.” (bidan RS. harus ikhlas.pembiayaan Jampersal selama ini ya berjalan sesuai dengan aturan yang ada ya dari pemerintah sesuai dengan INA CBGs. “..yang saya tahu. Obgyn sectio semua. Pada implementasi di RSUD kabupaten / kota penelitian berjalan seperti aturan yang berlaku. biasanya kalau pelayanan sectio itu kan antara 6 sampai 7 juta ya. jadi tarifnya memang masih jauh di bawah standartnya. Yang menjadi masalah adalah besaran tarif yang berlaku (INA-CBG’s) sebagian provider rumah sakit menyatakan besarannya sudah tidak sesuai dengan kondisi sekarang. Itu aka diterimakan antara 3 sampai 6 bulan sekali. lalu bagaimana bayar pelayanan dan perawatan.” (NN.. Besaran Jasa pelayanan kesehatan (total) ditetapkan oleh Kepala Daerah atas usulan Direktur Rumah Sakit dengan setinggitingginya 44% atas biaya pelayanan kesehatan yang telah dilakukan..tidak manusiawi.. tapi dengan jampersal kan hanya 1. kalau tariff sectio dinaikkan mungkin juga dr. Ada potongan dimana-mana karena masalah birokrasi.dokter obgyn tidak terlalu mempermasalahkan karena takut mengungkap. karena kalau tidak salah tarif untuk jasa pelayanan rasanya masih kurang sesuai dengan yang standarnnya. Ini masalah personal. Karena biaya itu kan juga termasuk untuk keperluan lainnya seperti obat. RSUD).083. Itu juga saya heran yg menentukan tarif di pusat koq bisa sectio itu keluar angka 2. “. belum untuk bahan habis pakai.000 itu Cuma habis untuk obat saja.program dan tujuan MDG’s. namun kalau boleh kami memberikan saran.. karena terlalu rendah. Bedanya sampai 1 juta per pasien.” (SPOG. ya kalau bisa dinaikkan menjadi 4 sampe 5 juta lah. apa itu masuk akal dan pikiran? Apa yang buat ini tidak berpikir..083. Masa 1 sectio saya dibayar 150..2 atau 1. 93 .tarif sedikit.” (SPOG.. Sepaket 2.000.8 juta lah. “. dana yang ada masuk ke daerah dan kami nanti akan mendapat japel sebesar 44% sesuai perda yang ada. SPOG dan semua tenaga di RS Jampersal RS mengacu pada peraturan (44%). jadi yang diterima nakes kecil.. bisa-bisa partus fisiologis tidak ada lagi kalau jasa sectio di naikkan. “. Wakatobi).. supaya pelayanan juga bisa lebih maksimal..” (Pengelola Jampersal RS. Kota Ambon). dan bahan habis pakai.

menurut saya standarnya untuk paket standar kelas 3 itu 5. SPOG.. Didaerah tarif Jamkesda bervariasi ada yang menggunakan INA-CBG’s adapula yang menggunakan tarif Kelas III. “.000 – 1250000.. Tarif untuk pasien-pasien dengan tindakan sangat kecil dibandingkan dengan yg tanpa tindakan. Dokternya hanya dapat 750. masih terjangkau masyarakat untuk pasien kelas 3.” (RS.” (SPOG.000 . Kota Blitar).2 jt. premature dan tindakan lain yang lebih beresiko juga 1..000.apabila tahu bahwa standar penggantian biaya oleh Jampersal lebih rendah dari standar penggantian biaya oleh JKP. 94 . dokter dan tenaga dokter spesialis Obgyn kami menjadi kurang tertarik pada Jampersal. Kota Kendari). Contoh: kasus angina pectoris. “. “.obgyn dapat 300 ribu per sectio tapi kalau kena tuntutan hukum bisa kena denda sampai 300 juta..” (RS.... Untuk RSUD yang menggunakan tarif Kelas III. itu sudah pas-pasan..tarif dinaikkan tapi jangan terlalu tinggi sehingga membahayakan profesi maksudnya kalau terlalu tinggi.2 juta sama dengan tarif tindakan sectio. asthma dan diare bisa di klaim dengan tariff sampai dengan 1.RSUD selain melayani Jamkesmas dan Jampersal juga melayani Jaminan kesehatan daerah (Jamkesda). “. Itu kalau di swasta standar tarifnya itu. khawatir nanti pasien bisa di sectio semua Atur incentive yang lebih baik. maka para bidan. Terdapat juga rumah sakit yang mengenakan tarif tambahan pada pasien Jampersal yang dianggap mampu dengan melakukan pendekatan terlebih dahulu terhadap pasien. Kota Ambon). RSUD). pihak rumah sakit lebih senang memanfatkan dengan tarif tersebut karena dianggap lebih sesuai (tarif jauh lebih tinggi dari tarif Jampersal) sehingga sering terjadi masalah dengan pasien yang menggunakan Jampersal.” (dr.

rumah sakit pemerintah dan swasta.1 Sarana dan Prasarana Pelayanan Dasar dan Rujukan Dalam rangka mencapai target MDG’s untuk menurunkan AKI dan AKB perlu ditunjang sumberdaya manusia di bidang kesehatan. Di kabupaten/kota lokasi penelitian ketersediaan sarana dan prasarana seperti terlihat pada tabel dibawah ini. SDM TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN 5. 9. 5. Klinik bersalin. 7. AKSES (ACCESSIBILITY) TERHADAP SARANA DAN PRASARANA. 14.5. 11.go. 13. Sarana dan Sumberdaya manusia yang memberikan Pelayanan Jampersal Jumlah Fasilitas dan SDM No Kab/Kota 1.depkes. KETERSEDIAAN (AVAILABILITY).2. Tabel 5.id 95 . Disamping itu untuk Jampersal. Bidan merupakan ujung tombak dalam memberika di pelayanan kesehatan ibu dan anak di pelayanan dasar. 8. Di setiap desa diharapkan terdapat satu bidan desa yang dapat melayani wilayahnya. Sampang Blitar Mataram Lombok Tengah Bandung Bogor Ambon Aru Kendari Puskesmas 21 3 10 25 73 101 22 21 15 Kec 14 3 6 12 30 40 5 7 10 Bidan Kelurahan Dinkes* 299 40 78 193 347 702 109 42 123 186 21 50 124 139 426 50 119 64 BPS “PKS” 45 9 5 155 39 1 tdk ada data 90 4 92 - RS Pemerintah 1 1 1 1 3 4 1 1 1 10. 4. Wakatobi Balikpapan Paser Batam Natuna 19 26 17 15 12 8 5 10 12 10 129 437 145 85 165 100 27 118 74 65 1 1 1 2 1 *Bidan Dinkes : Bidan puskesmas dan Bidan Desa Sumber : Dinas Kesehatan dan www.5. sarana dan prasarana yang memadai. 6.5.bppsdmk. 3. 12. 2. Dinas kesehatan melakukan MoU dengan mebuat Perjanjian kerjasama (PKS) dengan bidan praktek swasta (BPS).

Kompetensi bidanpun masih perlu untuk ditingkatkan. Sulawesi Tenggara dan kepulauan Riau diatas rasio bidan Nasional. bahkan Kabupaten Lombok Tengah. Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011 Maluku. padahal yang memberikan pelayanan jampersal kan seorang bidan. Sekarang di tahun 2012 ini mulai ditempatkan tenaga bidan honorer. Sisanya tidak karena memang pada waktu itu tidak ada tenaga bidannya. Kota Ambon. Kota Balikpapan dalam satu kecamatan terdapat 2-3 puskesmas. Kabupaten Kepulauan Aru. Kabupaten Wakatobi.” (Pengelola Jampersal. Persentase puskesmas PONED yang mempunyai kurang 96 . Hal ini dikerenakan pendistribusiannya tidak merata. Kabupaten kepulauan Aru). selain itu perlu juga diperhitungkan dengan luas wilayah dan geografis di wilayah. Dalam pelaksanaan Jampersal untuk pemenuhan fasilitas layanan kesehatan tidak semua kabupaten/Kota mempunyai perjanjian kerjasama antara Dinas kesehatan dan BPS seperti Kabupaten Lombok Tengah (Dinas kesehatan belum membuka kesempatan ini). baik itu dokter maupun bidan.pemanfaatan dana jampersal pada tahun lalu bisa dibilang rendah. Kabupaten Kepulauan Aru (keterbatasan SDM) dan Kabupaten Paser (belum ada BPS yang mendaftar). tetapi jumlah bidan hanya 42 orang. Apalagi lokasi di kabupaten penelitian. bahkan satu desa terdiri dari beberapa pulau. Penyediaan pelayanan kesehatan tingkat pertama di puskesmas PONED di kota misalnya di kota Blitar dan Kota Bandung puskesmas PONED masih terbatas sarana dan sumber daya manusianya. tetapi pada kenyataannya terutama di kab. Jika dilihat daridata rasio bidan menurut Badan PPSDMK. kabupaten Bogor. Kota Bandung. hanya 9 puskesmas yang memanfaatkan dana jampersal. Dari wawancara dengan pengelola Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten kepulauan Aru menyatakan sbb: “. Jumlah desa di kabupaten kepulauan Aru lebih banyak daripada jumlah bidan yang ada yaitu terdapat 119 desa.Di semua kabupaten/kota lokasi penelitian di tiap kecamatan sudah terdapat sedikitnya satu puskesmas. Hanya saja yang perlu diperhatikan di kabupaten kepulauan satu kecamatan bisa terdiri dari beberapa pulau. Kepulauan Aru jumlah bidan kurang.. Karena dari 22 puskesmas yang ada..

sehingga belum melayani pasien dengan Jampersal. peralatan di ruang ICU (Lombok Barat. SPOG. bisa melahirkan di polindes. SPOG terutama di kabupaten.dari 20% jenis alat kesehatan PONED di perkotaan 31.mengatakan tidak tahu dan belum pernah sekalipun di RS mendapatkan sosialisasi tentang Jampersal baik dari Dinas Kesehatan Kabupaten.. Kota Kendari) Di kabupaten / Kota rumah sakit pemerintah menjalin perjanjian kerjasama sebagai fasilitas rujukan Jampersal.6% sementara di perdesaan 21. “.puskesmas PONED dengan satu tenaga dokter dan bidan yang sudah mendapat pelatihan PONED.. Untuk sarana sebagai puskesmas PONED masih dirasakan kurang. Di rumah sakit kabupaten Lombok Tengah dan kota Ambon terdapat keterbatasan prasarana seperti tidak adanya ruang recovery untuk pasien paska operasi (Lombok tengah). Kota Batam (RS Camatha Sahidya).”(Direktur RSUD Paser). Propinsi dan Pusat. Sementara Rumah sakit Pemerintah di Kabupaten Paser menyatakan belum melakukan perjanjian kerjasama untuk Jampersal karena belum tersosialisasi Jampersal. Yang sementara ini ada dan sedang berjalan di RS untuk pelayanan masyarakat miskin atau tidak mampu adalah Jamkesmas dan Jaminan Kesehatan Paser (JKP). bahkan di Kota Bandung walikota menlaunching jejaring pemberi pelayanan di Pemerintah Kota dengan melibatkan RS Swasta di wilayahnya. (RIFASKES.. Karena sarana dan prasarana di semua fasilitas kesehatan tersebut sudah dilengkapi.. “. poskesdes maupun pustu. Fasilitas rujukan terutama di kabupaten juga masih menjadi kendala dimana minimnya fasilitas dan SDM kesehatan terutama keterbatasan dr. Tenaga perawat (Lombok tengah) dan dr.7%. Inovasi dilakukan di Kabupaten Wakatobi dengan memberikan kebebasan supaya masyarakat melahirkan di fasilitas kesehatan selain puskesmas. 97 . Bahkan dibeberapa kabupaten/kota sudah menjalin perjanjian kerjasama dengan RS Swasta misalnya Kabupaten Lombok Tengah (RS Yatopa). Dana untuk pengadaan sarana dan prasarana di fasilitas tersebut berasal dari APBD. Kota Ambon). 2011).” (Puskesmas.

Dimana mekanismenya adalah Puskesmas membuat rencana kebutuhan alat kontrasepsi kepada SKPD pengelola program KB yaitu BKKBN atau Dinas pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana. Kota Ambon). pengawasan post operasi yang baik. Dengan SKPD BKKBN di kabupaten/kota saat ini tidak selalu berdiri sendiri. SPOG / PPDS yang sedang menempuh pendidikan. diruangan harus diawasi oleh perawat. Seperti contoh ketika peneliti pengumpulan data di salah satu RS di Kepulauan selama 1 (satu) minggu. Setelah mendapatkan alat kontrasepsi.... Lombok Tengah).” (dr SPOG. bagaimana dia mau care dengan pasien. Dokter setelah melakukan operasi diserahkan ke ruangan. Yang menjadi masalah saat ini adalah ketersediaan alat kontrasepsi di layanan dasar masih kurang.Untuk mengatasi kekurangan tenaga beberapa daerah merekrut tenaga honorer misalnya di Lombok Tengah untuk tenaga perawat. SPOG. Tapi saya belum pernah ke sana jd tidak tahu apa ada sarananya. Lagipula untuk sectio kan tidak perlu banyak fasilitas. Jadi perencanaan tersebut tidak dilakukan di level Kabupaten. “. ruangan ICU. sekarang sudah lumayan dulu-dulu PLNnya kan bermasalah. Tetapi disini kebanyakan perawat di ruangan adalah honorer yang gajinya hanya 250 ribu. Lombok Tengah). Tapi listrik itu yang masalah.” (dr. maka Puskesmas mendistribusikan alat tersebut ke bidan desa di wilayahnya.. Perencanaan kebutuhan alat kontrasepsi dilakukan pada level Puskesmas ke pengelola KB atau petugas lapangan KB (PLKB) tingkat kecamatan.resinden ada di aru ada di tual d saumlaki juga ada. SGOG.sebenarnya kematian itu dapat dikendalikan apabila tim work yang baik. Bekerjasama dengan Fakultas kedokteran untuk tenaga kontrak dr. mulai pada saat setelah tidakan. peneliti tidak dapat menemui dr tersebut dikarenakan tidak berada di tempat (di luar wilyah kabupaten tersebut). di beberapa kabupaten/kota menjadi Dinas Pemberdayaan Perempuan 98 .. Di kabupaten/kota lokasi penelitian secara umum proses penyediaan alat kontrasepsi pada pelayanan KB di Puskesmas melalui BKKBN. Dan tenaga tersebut (dr. “. ventilator yang kurang dsb.. “.” (dr.penyebab kematian ibu juga karena sarana prasarana yang tidak memadai. Dinas Kesehatan Kabupaten hanya menerima laporan dan rekapitulasi dari Puskesmas. SPOG/ PPDS) tidak sepenuhnya “stand by” 24 jam di rumah sakit.

seperti di Kepulauan Aru tidak ada BKKBN yang melayani kebutuhan Keluarga Berencana. suntik.. Kab. implant.Alat kontrasepsi tersedia semua IUD. “. kami selalu mem otivasi klien utk ikut KB sehingga hasilnya banyak yg bersedia ikut KB.ketersediaan alat.” (Bidan RS. pil . tapi menjadi Dinas Pemberdayaan Perempuan dimana salah satu bidangnya menangani KB.. 99 . Kota kendari). “.” (Puskesmas. MOW.. obat dan sarana lain yang dibutuhkan masih kurang. terlatih untuk pemasangan IUD danalat KB lain. laparatomi.. Bogor). demikian juga SDM terlatih baik sesuai SOP.

Gambar 5. Ruang ICU.11. tempat cuci kamar Operasi di Ruang Kandungan dan Kebidanan RSUD di Ambon 100 .

Dari gambar dibawah nampak antara aksesabilitas di kabupaten/kota “non kepulauan“ yaitu kabupaten yang letak pelayanan dasar dengan wilayahnya terletak satu pulau (Sampang.2 Aksesibilitas jarak Aksesabilitas jarak adalah jarak yang ditempuh responden yang menggunakan Jampersal dari rumah ke pelayanan kesehatan yang di manfaatkan saat menggunakan Jaminan persalinan.Wakatobi dan Natuna) sebagian besar jarak ke pelayanan dasar adalah <5 km. Ruang rawat Inap pasien Jampersal di Rumah Sakit 5. 101 . Kota Bandung.Gambar 5. Paser. Namun demikian perlu diperhatikan geografis pada lokasi kabupaten daerah pegunungan / bukit dimana untuk mencapai lokasi memerlukan waktu lebih lama dikarenakan harus ditempuh dengan roda dua atau bahkan jalan kaki. Kota Batam) dan ”kepulauan” yaitu dimana letak pelayanan dasar dengan wilayahnya dapat berbeda pulau (Kota Ambon. Kota Blitar.5. Kota Mataram. Kota Kendari. Balikpapan. Lombok Tengah. Bogor.12. Demikian pula kabupaten kepulauan dimana untuk mencapai fasilitas harus melalui transportasi laut sehingga menyebabkan waktu tempuh dan biaya menjadi kendala tersendiri. Kepulauan Aru. bahkan di beberapa daerah alat transportasi tidak tersedia setiap saat.

Kabupaten Kepulauan Natuna Kabupaten Kepulauan Natuna merupakan salah satu wilayah dari Propinsi Kepulauan Riau.Gambar 5. Sesuai namanya. sehingga dapat menggambarkan bagaimana akses masyarakat dalam upaya mendapat pelayanan. Kepulauan Aru dan Wakatobi dijelaskan lebih lanjut dibawah ini. maka seluruh kabupaten di propinsi ini adalah sebuah kepulauan.13 Jarak ke pelayanan Kesehatan pada pengguna Jampersal di kabupaten/Kota “non kepulauan” Gambar 5.14 Jarak ke pelayanan kesehatan pada pengguna Jampersal di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Untuk menggambarkan akses ke pelayanan kesehatan terutama di kabupaten kepulauan seperti Kepulauan Natuna. 102 .

Gambar 5.15. Peta Wilayah Provinsi Kepulauan Riau

Kabupaten Natuna, kabupaten kepulauan yang memiliki banyak lanscape view yang sangat cantik ini merupakan salah satu wilayah paling Utara Republik ini yang berbatasan laut langsung dengan negara tetangga Vietnam dan Kamboja. Dengan posisinya yang demikian, maka Kementerian Kesehatan menempatkan Kabupaten Natuna sebagai salah satu Kabupaten DTPK (Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan). Gambaran kondisi ketertinggalan wilayah kabupaten kepulauan ini bisa dilihat dari ketersediaan sarana komunikasi yang ada. Untuk sambungan telepon tetap (fixed landlines), hanya tersedia di sekitar Ranai sebagai ibukota kabupaten ini saja. Untuk wilayah lain yang berupa kepulauan hanya tersedia jaringan telepon seluler bila beruntung. Di wilayah Pulau Subi dan Pulau Midai misalnya,

103

sinyal cukup sulit untuk didapatkan. Sedang di wilayah Serasan Timur tidak usah berharap akan ada sinyal yang sampai. Untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Natuna, tersedia dua jalur transportasi. Yang pertama adalah jalur udara melalui Batam ke Ranai (ibukota Kabupaten Kepulauan Riau). Saat ini ada Wings Air dan Sriwijaya Air yang melayani jalur ini dua atau tiga kali seminggu. Yang kedua adalah jalur laut. Sama dengan jalur udara, jenis transportasi ini juga tidak tersedia setiap hari. Berdasarkan pengamatan, ketersediaan tranportasi untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Natuna relatif mudah, terutama untuk mencapai ibukotanya, Ranai. Tapi, justru dari Ranai menuju ke wilayah lain dari Kabupaten Natuna perlu effort khusus yang cukup menguras tenaga, biaya dan waktu. Hal ini juga akan sangat berkaitan erat dengan aksesibilitas pelayanan kesehatan di wilayah ini. Untuk seluruh wilayah Kabupaten Natuna fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia bisa dibilang hanya ada pelayanan dasar saja. Kecuali di ibu kotanya, Ranai, yang telah ada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Natuna sebagai satu-satunya rumah sakit sebagai pusat rujukan tingkat kabupaten. Secara kuantitas, sebenarnya untuk tenaga kesehatan telah lebih dari cukup tersedia. Untuk tenaga bidan misalnya, telah ada 108 bidan di wilayah ini. Dengan jumlah desa dan kelurahan yang hanya 73 maka seharusnya semua desa telah bisa terisi tenaga bidan. Tapi kenyataannya menurut Kabid Yankes Dinas Kesehatan, ada beberapa desa yang kosong tanpa hadirnya bidan. Bagaimana tidak? Dari 108 bidan tersebut, sejumlah 70-an bidan menumpuk di Ranai. Berbicara tentang aksesibilitas fasilitas kesehatan di kepulauan, tidak akan pernah terlepas atau bahkan sangat tergantung dengan ketersediaan sarana transportasinya. Bentangan Kabupaten Natuna yang beribukota di Ranai, dengan wilayah paling Utara di Pulau Laut, serta dengan wilayah paling Selatan di

104

wilayah Pulau Subi dan Serasan, sungguh memerlukan banyak energi dan kesabaran untuk mencapainya. Paparan berikut diharapkan mampu memberi sedikit gambaran tentang beberapa jalur transportasi serta ketersediaan sarana transportasinya, berdasarkan hasil wawancara dengan Kabid Yankes Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna. A. Jalur Pulau Laut-Ranai; memerlukan waktu tempuh sekitar 8 jam perjalanan dengan kapal besi reguler dari Pelni. Tarif sekitar Rp. 100.000,-, dengan frekuensi sekitar 10-15 hari sekali. Jalur ini juga bisa ditempuh dengan kapal kayu (tongkang), yang bila beruntung kita bisa nebeng kapal barang dengan tarif sekitar Rp. 120.000,-, atau bila mau sewa sendiri dengan tarif lima sampai belasan juta, tergantung besaran kapal kayu, yang berarti juga bergantung dengan tingkat keamanannya. B. Jalur Serasan-Ranai; jalur ini dilewati oleh kapal Pelni Bukit Raya yang memerlukan waktu tempuh sekitar 8 jam perjalanan menuju Ranai. Dengan tarif sekitar Rp. 120.000,- jalur perjalanan ini juga tersedia dalam frekuensi sekitar 15 hari sekali. C. Jalur Pulau Subi-Ranai; hampir sama dengan tarif di dua jalur sebelumnya, cukup murah, hanya dalam kisaran Rp. 120.000,- saja, tapi dengan jarak tempuh yang bisa mencapai 24 jam perjalanan.

Kabupaten Kepulauan Aru Kabupaten Kepulauan Aru merupakan salah satu wilayah dari Propinsi seribu pulau, Propinsi Maluku. Meski sebenarnya julukan ini kurang pas dibandingkan faktanya. Propinsi seribu pulau. Untuk Kabupaten Kepulauan Aru saja jumlah pulaunya sudah mencapai 547 pulau, belum ditambah dengan pulaupulau kabupaten lain di wilayah yang bersebelahan dengan Pulau Papua ini.

105

Gambar 5.16 Posisi Kabupaten Kepulauan Aru di peta Indonesia

Untuk mencapai kabupaten kepulauan ini selain dengan jalur laut juga bisa dilakukan dengan pesawat. Satu-satunya pesawat maskapai yang beroperasi dan mau mendarat pada tahun 2012 ini di pulau tersebut adalah Trigana Air, setelah sebelumnya dua maskapai lainnya (Merpati dan Wings Air) menarik diri dari jalur tersebut. Jalur pesawat terbang yang harus kita dilalui untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Aru dari Kota Ambon adalah Ambon-Tual-Dobo. Kota Tual adalah kota yang sebelum memisahkan diri masih merupakan ibukota Kabupaten Maluku Tenggara. Jarak tempuh terbang Kota Ambon-Kota Tual mencapai 90 menit, dan jarak tempuh Kota Tual-Dobo mencapai 25 menit. Bila perjalanan tersebut kita tempuh melalui jalur laut dari Kota Ambon, maka kita bisa semalaman terapung di lautan. Bila kita membayangkan mencapai kabupaten kepulauan ini sulit, maka sesungguhnya mencapai wilayah kerja di kepulauan ini jauh lebih sulit lagi. Jalur laut adalah jalur transportasi satu-satunya, yang untuk mencapainya sangat tergantung dengan kondisi angin laut yang seringkali sangat tidak bersahabat.
106

Iklim dipengaruhi oleh Laut Banda, Laut Arafura dan Samudera Indonesia, juga dibayangi oleh Pulau Irian di Bagian Timur dan Benua Australia di Bagian Selatan sehingga sewaktu-waktu bisa terjadi perubahan iklim yang ekstrim. Untuk sarana komunikasi, kondisi Kepulauan Aru sudah cukup baik untuk golongan DTPK. Sudah ada jaringan Telkom dan komunikasi seluler. Telkomsel sebagai satu-satunya provider yang bernyawa di daerah ini telah hadir dengan sinyal cukup kuat, meski terbatas hanya jaringan GSM. Setidaknya saya masih bisa memberi kabar orang rumah bahwa saya masih baik-baik saja.

107

108 . Banyaknya jumlah puskesmas dibanding dengan jumlah kecamatan bukanlah dikarenakan kabupaten kepulauan ini kaya raya.Gambar 5. tapi lebih dikarenakan terlalu banyaknya kepulauan yang menjadi wilayah kerja Dinas Kesehatan di sana. tetapi saat observasi didapatkan kenyataan yang cukup lebar.17 Peta Wilayah Kabupaten Kepulauan Aru Melihat gambar peta di atas sepertinya Aru terdiri dari satu pulau besar dan beberapa pulau kecil. Kabupaten Kepulauan Aru memiliki 7 (tujuh) kecamatan dengan jumlah puskesmas mencapai 21 buah. Yang sebenarnya adalah beberapa pulau yang terselingi selat-selat yang terlihat sempit.

Kab. Perjalanan yang cukup ‘mudah’ untuk wilayah kabupaten kepulauan yang memiliki 547 pulau ini. Perjalanan menuju lokasi Puskesmas Benjina bisa ditempuh dengan perahu bermotor reguler dengan perjalanan sekitar 3-4 jam dari ibukota Kabupaten Kepulauan Aru. yang berada di pesisir sebelah barat Pulau Kobroor. dengan bentangan wilayah yang cukup luas. yang entah mengapa semuanya ditugaskan berkumpul di Puskesmas Induk Benjina saja. Puskesmas Benjina terletak di Desa Benjina. Kecamatan Aru Tengah.Observasi partisipatif aksesibilitas fasilitas kesehatan untuk wilayah Kabupaten Kepulauan Aru kali ini kami lakukan dari Dobo (ibukota Kabupaten Kepulauan Aru) ke Puskesmas Benjina. Dobo. Di Puskesmas Benjina terdapat tenaga bidan sebanyak lima orang. Kepulauan Aru. Kunjungan pertama adalah kulonuwun ke Puskesmas Benjina sekaligus untuk assessment dengan seluruh bidan yang melayani Jampersal di wilayah ini.18 Puskesmas Benjina. Gambar 5. 109 . Dalam kecamatan yang sama sebenarnya ada 4 Puskesmas yang beroperasi untuk sekitar 24 desa yang ada di wilayah ini. salah satu puskesmas dengan jangkauan ‘termudah’ di wilayah ini. sedang Puskesmas Benjina sendiri bertanggung jawab atas 11 desa.

Selibatabata dan Fatujuring. Hanya saja yang ada tenaga perawat hanya di Pustu Selibatabata. Pada kesempatan diskusi tersebut para tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat juga sempat melontarkan usulan pengadaan pos-pos siaga di beberapa titik desa. Saat ini beliau sudah dipindahkan sebagai kepala bidang di Rumah Sakit Kabupaten di DOBO. Dusun Papakula Kecil. Dalam forum diskusi yang sama. yang merupakan seorang dokter lulusan pertama yang asli daerah.Sama sekali tidak ada ‘bidan desa’ di wilayah ini? Dalam sebuah kesempatan diskusi dengan salah satu Kepala Dusun. jadi secara otomatis lebih sering di Dobo dan Makassar daripada di Benjina. Kepala Desa Benjina menyatakan kesanggupannya untuk menyediakan tanah di wilayahnya untuk keperluan tersebut. terdapat 3 Pustu (Puskesmas Pembantu). yang ada adalah 4 orang tenaga dukun bayi. yaitu di Namara. Menurut pengakuan Kepala Puskesmas yang di’amin’kan oleh rekan Puskesmas lainnya. menyatakan bahwa Puskesmas menurunkan petugas untuk berkeliling di Posyandu sekali sebulan di setiap wilayah yang didominasi dengan jalur laut. Usulan lain yang menarik adalah usulan dari bapak pendeta yang untuk memberi perhatian dan penghargaan bagi dukun bayi. dua lainnya masih kosong. Karena pelayanan kesehatan ibu dan anak yang mengandalkan satu titik di puskesmas saja menjadi salah satu faktor penyulit akses masyarakat di wilayah ini. Puskesmas Benjina sendiri dikepalai oleh seorang dokter. yang rumahnya saat ini berada di Makassar. banyak masyarakat di wilayah kerja Puskesmas di wilayah ini bersentuhan dengan pelayanan kesehatan sebulan sekali. Usulan yang sangat manusiawi dari masyarakat yang merasakan manfaat keberadaan dukun bayi di tengah ketidaktersediaan tenaga kesehatan. Jadi bila sakit saat baru 110 . Di wilayah Benjina juga ada satu Poskesdes (Pos Kesehatan Desa). Menurut pengakuan rekan Puskesmas. terungkap bahwa di desanya tidak ada tenaga bidan sama sekali. Jadi. yaitu di Maririmar yang juga tersedia tenaga perawat laki-laki.

Desa Gulili. Dalam kesempatan ini kami juga sempat berkunjung dan berbaur dengan masyarakat di beberapa lokasi.sekali jalan untuk tiga sampai empat hari berkeliling Posyandu di wilayah-wilayah ampuan Puskesmas tersebut. Kakek yang sedang sakit itu mengira kita sedang ada jadwal Posyandu. Bersabarlah kek. tapi juga tergantung ketersediaan uang. Dan betapa Mbak Ning. bersabarlah. Setidaknya membutuhkan Rp. Desa Fatujuring.000.. dan bahwa memang menurut mereka kondisi ini terjadi berada di luar kuasa petugas kesehatan. 600. di dermaga seorang kakek ber-jalan terbungkuk menggunakan tongkat hendak melompat ke speedboat kami. Mereka bercerita dengan tetap menaruh kepercayaan penuh pada petugas kesehatan. dan meyakinkan bahwa dia akan kembali menjumpai kakek itu. kami mendapat jawaban bahwa memang jadwal Posyandu keliling itu rutin. entah sampai kapan? Konfirmasi kami lakukan ke petugas Puskesmas tentang penjadwalan Posyandu ini. wilayah RKIBenjina (Rumah Kayu Indonesia). Setidaknya tujuh titik lokasi yang menjadi ampuan Puskesmas Benjina telah kami datangi.. Ada sebuah insiden kecil pada saat kami hendak meninggalkan Desa Gulili pada salah satu kunjungan.saja ada kunjungan Posyandu. mantri perempuan dari Purwokerto itu begitu telaten memberi penjelasan sekaligus memupuk harapan si kakek. Sungguh tak tertahan hati menangis merasai rintih dan harapnya. Desa Selilau. memang mereka bersentuhan dengan petugas kesehatan sebulan sekali sesuai dengan jadwal Posyandu. Desa Namara. maka kita harus bersabar menunggu satu bulan kemudian untuk mendapatkan pengobatan. posisinya sudah duduk di bibir dermaga dengan kaki hendak menjangkau speedboat. yaitu Desa Benjina. sampai pada akhirnya terlewat pada jadwal bulan berikutnya lagi. Menurut masyarakat di lokasi-lokasi tersebut.. dan wilayah Trans-Maijurung. dan berharap mendapat pengobatan dari mantri yang menyertai perjalanan kami. 111 . tetapi seringkali juga mundur.

600. Pada saat pengambilan keputusan. 600. yang sekali perjalanannya membutuhkan biaya Rp.000.Tergantung ketersediaan uang? Sungguh miris mendengar jawaban ini. hanya saja sudah rusak sejak dua tahun yang lalu.-? Yang sekali lagi setelah konfirmasi dengan Dinas Kesehatan penyerapan dana BOK di Puskesmas Benjina mencapai 100%. Nama Wakatobi sendiri merupakan representatif dari empat pulau besar yang menjadi basis kabupaten ini. Ke-empat pulau tersebut adalah 112 . Puskesmas Benjina sendiri sebetulnya sudah mempunyai speedboat sendiri. Kabupaten Kepulauan Wakatobi Kabupaten Kepulauan Wakatobi merupakan salah satu wilayah dari Propinsi Sulawesi Tenggara yang berbatasan langsung dengan Propinsi Maluku Utara di sebelah Timur.000. 250. Bila dibutuhkan 3 kali perjalanan untuk menjangkau Posyandu yang memerlukan biaya transportasi laut. Menurut keterangan Dinas Kesehatan sempat dirapatkan soal kerusakan speedboat ini dengan beberapa Puskesmas yang mengalami hal yang sama. Lalu dibandingkan dengan kucuran dana BOK yang sekitar Rp.-. Kebutuhan biaya sesuai uraian di atas adalah untuk sewa longboat dari nelayan. Tetapi hasilnya untuk Puskesmas Benjina sampai saat ini dari dua tahun yang lalu tidak ada perbaikan sama sekali. Kita coba berhitung untuk ‘ketersediaan uang’ ini. 21. Bukannya Kementerian Kesehatan telah meluncurkan dana BOK ke semua Puskesmas? Yang setelah re-check ke petugas Dinas Kesehatan menemukan kenyataan bahwa Puskesmas Benjina menerima dana BOK sekitar 250 juta.000. dan dalam setahun hanya pada kisaran Rp. para Kepala Puskesmas merasa sanggup memperbaiki speedboatnya sendiri tanpa diambil alih oleh Dinas Kesehatan. Kabupaten yang relatif baru ini merupakan pecahan dari Kabupaten Buton.800. maka sesungguhnya kebutuhan per bulan untuk transportasi laut hanya membutuhkan Rp.-.000.000.-. 1. Itu belum termasuk dana operasional Puskesmas yang berasal dari APBD.

19 Peta Kabupaten Kepulauan Wakatobi Mirip dengan wilayah kabupaten kepulauan lainnya. Pulau Kaledupa. Pulau Tomia. jalur transportasi yang tersedia untuk mencapai wilayah ini terdiri dari dua jalur. Jalur udara yang cukup repetitif tersebut bukan karena Wakatobi sebagai destinasi bawah laut yang cukup 113 . dan terakhir pulau terjauh (paling Selatan) adalah Pulau Kaledupa. Sedang jalur udara bisa kita tempuh dari Makassar via Baubau yang tersedia hari Senin-Kamis. serta hari Sabtu via Kendari. laut dan udara. Gambar 5. yang untuk kedua jenis jalur tersebut dilayani oleh maskapai Wings Air. Jalur laut bisa kita tempuh menggunakan kapal cepat dari Baubau sekitar empat jam.Pulau Wangi-wangi.

” (Toma. “. tokoh agama. tapi perlu ditingkatkan lagi. Untuk wilayah Puskesmas Tomia yang kami datangi. Karena bila ada kasus harus dirujuk ke Baubau. “. ketersediaan pelayanan kesehatan masih cukup menjadi masalah di wilayah ini. Menurut pengakuan Dinas Kesehatan sebenarnya sudah tersedia tenaga untuk pelayanan transfusi darah. Sebagai gambaran. Cuman untuk yang kepulauan belum ada puskel laut. jarak antara Pulau Tomia ke Baubau mencapai 11 jam perjalanan dengan kapal reguler bertarif Rp. dengan ampuan wilayah yang mencapai 6 desa.di sini. sebagai satu-satunya Rumah Sakit di wilayah ini tidak memiliki. “.” demikian keluh salah satu tokoh masyarakat. Dalam sebuah diskusi di Kecamatan Tomia yang melibatkan tokoh masyarakat. bahkan untuk sekedar bank darah. Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Wakatobi yang berada di Wanci pun.mendunia ini ramai dikunjungi wisatawan luar. Wakatobi) Memang di Kabupaten Wakatobi belum tersedia fasilitas pelayanan transfusi darah.000.-.. tenaga bidan yang tersedia hanya 3 orang... karena di Wanci sarana kesehatannya masih kurang. satu bidan untuk satu desa itu tidak cukup pak! Apalagi ini kita hanya diberi tiga bidan untuk enam desa.saya rasa pemberian layanan di sini sudah cukup bagus pak. karena tinggal lapor. rujukan harus ke Baubau... itupun hanya beroperasi 114 . Palang Merah Indonesia (PMI) sebenarnya sudah berdiri di kabupaten ini. Seperti layaknya kabupaten kepulauan lainnya. Kab.untuk jangkauan sebenarnya sudah lebih baik. terutama untuk transfusi darah. 130.. tetapi belum memiliki Unit Transfusi Darah. kader kesehatan dan bahkan dukun bayi kami juga menemukan beberapa kondisi yang menjadi realitas yang ketersediaan sarana dan fasilitas kesehatan yang harus dibenahi.” usul salah satu Kepala Lingkungan kepada kami. tetapi sarananya yang masih belum tersedia. nanti akan dijemput ambulan. tetapi lebih karena pemerintah kabupaten mensubsidi pihak maskapai untuk melayani jalur tersebut. yang otomatis setiap bidan harus mampu mencover dua desa.

Observasi partisipatif aksesibilitas fasilitas pelayanan kesehatan yang kedua kami lakukan di Pulau Lamanggau. untuk berganti tunggangan dari kapal speed menjadi pompong . Dari Pelabuhan Waitii inilah kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Lamanggau.000. 115 .. Dalam perjalanan yang kami arungi dengan kapal cepat bisa mencapai tiga sampai tiga setengah jam perjalanan. Carter atau sewa kapal sepertinya menjadi hal yang mustahil bagi penduduk wilayah ini. bukan cerita baru bila ibu hamil dengan faktor penyulit yang dirujuk ke Baubau harus pass away sebelum sampai ke tempat rujukan. Jadi ibu hamil yang mau bersalin harus bersabar dengan jadwal yang ada serta perjalanan yang lama. kami harus bergeser ke pelabuhan lainnya. tempat bermukimnya saudara-saudara Suku Bajo yang membentuk koloni tersendiri di bibir pantai wilayah Lamanggau. perahu kecil yang di daerah lain biasa juga disebut sebagai jung atau ketinting . Di wilayah ini. karena harga sewanya mencapai kisaran di atas Rp. Jarak Pulau Tomia ke Wanci di Pulau Wangi-wangi sebenarnya lebih pendek. Meski juga sebenarnya sudah tersedia dokter obgyn di RSUD Kabupaten Wakatobi yang dikontrak selama enam bulan. Waitii. Hanya saja memang ketersediaan sarana pelayanan kesehatan di RSUD Kabupaten Wakatobi tidak selengkap di Baubau. seberang Pulau Tomia. terutama wilayah pesisirnya didominasi oleh keberadaan Suku Bajo yang tinggal di atas laut. Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Jabal di Pulau Wangi-wangi menuju Pelabuhan Usuku di Pulau Tomia.per kali sewa. Perjalanan menggunakan kapal speed bermesin tempel 5 biji berkekuatan 200 PK ini menempuh perjalanan selama kurang lebih 3 jam. Dari Pelabuhan Usuku di Pulau Tomia. 10.sekali sehari.000. Jadi.

Yang tinggal di Lamanggau hanya tenaga sanitarian yang PTT pusat. 116 . Sedang sisanya adalah perawat. Kondisi ini diperparah dengan lokasi Puskesmas yang berada di dalam wilayah ‘Wakatobi Dive Resort ’. Kapal cepat yang melayani rute Wanci-Tomia Agak miris bercerita tentang pelayanan kesehatan di wilayah ini. 4 orang tidak tinggal di tempat. ini sudah termasuk Kepala Puskesmas. Satu orang lagi juga seorang sanitarian. tetapi lebih tepat wilayah yang sama sekali tidak ada penduduk. jauh dari permukiman penduduk yang menempati sisi Timur pulau. Dari kelima tenaga kesehatan yang ada tersebut. di Waitii. Untuk sarana bangunan Puskesmas. sebetulnya Pemerintah Daerah Kabupaten Wakatobi pada tahun 2009 sudah membangun gedung Puskesmas Induk Onemobaa yang representatif secara fisik. Sebuah perusahaan swasta yang mengelola obyek wisata di Onemobaa. Sayangnya Puskesmas yang diresmikan oleh Gubernur Sulawesi Tenggara itu memiliki lokasi yang sama sekali tidak masuk akal. seorang Sarjana Kesehatan Masyarakat dengan basis sanitarian. Di wilayah Puskesmas ini bukan wilayah jarang penduduk. mereka tinggal di pulau seberang. PTT dari pusat. Bagaimana tidak? Lokasi Puskesmas berada di Onemobaa. Di Pulau ini jumlah tenaga kesehatan yang ada hanya 5 (lima) orang.20. wilayah Barat pulau.Gambar 5.

Karena meski tempatnya juga tidak strategis. salah satu staf Puskesmas. Karena kalaupun ditempati. Petugas kesehatan Puskesmas lebih memilih Puskesmas Pembantu (Pustu) Lamanggau untuk berkantor. serta satu staf Dinas Kesehatan. 117 . kami disertai oleh Kepala Puskesmas. barulah sampai di pintu gerbang ‘Wakatobi Dive Resort ’. mencoba untuk berkunjung ke Puskesmas Onemobaa. berada di ujung desa. tetapi relatif lebih mendekati permukiman penduduk. siapa penduduk yang mau datang ke tempat ini dengan perjalanan yang cukup jauh dari permukiman.Puskesmas Onemobaa ini sudah tiga tahun tidak ditempati. Kami harus naik pompong untuk mencapai lokasi Puskesmas Onemobaa yang berada di sisi lain pulau. Setelah itu harus jalan kaki di jalan setapak sekitar 15 menit. Dalam sebuah kesempatan.

5.21. Data diambil dari data sekunder puskesmas dan rumah sakit. Kab.6. maka baru kita bisa masuk dan bisa ke Puskesmas.1 Utilitas di Pelayanan Dasar Data utilitas di pelayanan dasar yang didapatkan dari Dinas Kesehatan dan sasaran Jampersal yang diambil secara random di 2 (Dua) puskesmas di 118 . Bila manajemen berkenan memberikan ijin.6 UTILITAS PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR OLEH PROVIDER YANG DISEDIAKAN OLEH PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Utilitas Pelayanan Kesehatan ibu dan bayi adalah cakupan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan Ibu dan bayi dalam program Jampersal di pelayanan dasar dan di pelayanan rujukan. Puskesmas Onemobaa.Gambar 5. Pada kesempatan kali ini kami diijinkan masuk. 5. Wakatobi Memasuki wilayah resort ini harus minta ijin pada pihak manajemen. Tapi kami harus menunggu sekitar satu jam untuk menunggu ijin masuk tersebut. selain itu juga didapatkan dari data sasaran Jampersal yang memanfaatkan layanan dengan Jampersal maupun non Jampersal.

masing-masing kabupaten / kota.36. Dari data Ditjen Bina Gizi dan KIA tahun 2012 didapatkan data untuk angka Nasional cakupan persalinan ditolong nakes di Indonesia tahun 2012 adalah 86. 119 . Bogor. Penolong persalinan pada sasaran non Jampersal dan tempat persalinan pada sasaran pengguna Jampersal diambil dari kuesioner sasaran. Sedangkan data tenaga pemeriksaan ANC pada sasaran non pengguna Jampersal dan pengguna Jampersal. Data tersebut ditampilkan dalam gambar sbb : Gambar 5..6%. nampak di beberapa kabupaten / kota yaitu Sampang.22. kota Mataram. Cakupan Persalinan oleh Tenaga kesehatan di Kabupaten / Kota “non kepulauan ” Tahun 2010 – Juni 2012 Sumber data : Dinas kesehatan Kabupaten / Kota Di kabupaten / kota “non kepulauan” cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan dari tahun 2010 sampai dengan 2012. Namun demikian peningkatan tidak terlalu mencolok berkisar 1% . Kota balikpapan ada sedikit peningkatan pada tahun 2011 dibandingkan tahun 2010. Data sekunder meliputi data Persalinan oleh tenaga kesehatan dan kematian Maternal dan Kematian Neonatal di Kabupaten / Kota yang merupakan data sekunder dari Dinas kesehatan. Untuk tahun 2012 belum dapat dibandingkan karena baru cakupan sampai bulan Juni 2012.

23. Sasaran yang diambil adalah 120 . Gambar 5. Aru bahkan masih jauh dari angka rata2. Hal ini dapat dipahami walaupun kabupaten kep. namun peningkatan tidak nampak terlalu signifikan kecuali di Kep. Natuna yang mana kabupaten Natuna tidak memanfaatkan Jampersal tetapi Jamkesda. Pada tahun2012 sampai dengan bulan Juni terlihat peningkatan cakupan walaupun belum dapat dibandingkan karena baru cakupan 6 bulan.Dengan demikian untuk kabupaten / kota di non kepulauan cakupan persalinan tahun 2011 sudah diatas rata2 nasional. tapi masih ditemukan banyak kendala dari sarana. di kep. di wilayah kepulauan cakupan persalinan tidak semuanya diatas rata2 nasional 86. Cakupan Persalinan Tenaga Kesehatan di Kabupaten / Kota “Kepulauan” Tahun 2010 – Juni 2012 Sumber data : Dinas kesehatan Kabupaten / Kota Di kabupaten/kota kepulauan terdapat sedikit peningkatan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun2011. sumberdaya manusia dan kondisi geografis yang berat.36 (Ditjen Gikia Kemenkes. Aru menerima kebijakan Jampersal dengan baik. prasarana. Pada tabel dibawah ini menjelaskan tentang “continum of care dari” sasaran Jampersal yang menggunakan Jampersal. Tidak seperti di wilayah non kepulauan. 2012) seperti terlihat di Kota Ambon dan Aru masih dibawah rata2 nasional.

0% 72.3% 63.3% 63.2% 59.4% 68.8% 58.2% 27. K4.4% 76.9% K1 + K4 72. bahkan di Kota Kendari 100%. Kota Mataram dan Wakatobi Ibu nifas yang memanfaatkan K1 dengan Jampersal adalah > 90%.1% 66.3% 39.8% 62. “Continum of care”pada Responden Sasaran Ibu Nifas Pengguna Jampersal Per Kabupaten / Kota (N= 573) Kabupaten/Kota Kab Sampang Kota Blitar Kota Mataram Kab Lombok Tengah Kota Bandung Kab Bogor Kota Ambon Kab Kep Aru Kota Kendari Kab Wakatobi Kota Batam Kota Balikpapan Kab Paser 13 kab/kota K1 91.9% Keterangan : • Responden Ibu Nifas : Ibu Nifas yang pernah memanfaatkan Jampersal K1.0% 57.5% 14.7% 33.7% 87.0% 43.8% 33.4% 59. Di Sampang.3% 39.3. K4.3% 87.8% 58.4% 59.7% 72. pelayanan K1 dan K4 adalah 61. Bagaimana “continum of care” Ibu Nifas pengguna Jampersal di masing-masing kabupaten / kota terlihat di tabel dibawah ini : 121 . Tabel 5.5% 14.9% dan pelayanan K1.5% 33.7% 33.0% 87.7% 77.9% 72.5% 14.2% 86. K4 dan persalinan 59.ibu yang sedang masa nifas sehingga sudah melewati masa ANC.3% 41.0% 90. K4 . Persalinan dan Pn memanfaatkan Jampersal Secara Total dari 13 kabupaten / Kota penelitian responden Ibu nifas yang memanfaatkan Jampersal untuk pelayanan K1 adalah 74. Persalinan dan Pelayanan Nifas adalah 57.0% 43.9% K1 + K4 + Persalinan + PNC 67.8% 74. pelayanan K1.6% 64.1% 50.2% 61. persalinan dan PNC.6% 14.8% K1 + K4 + Persalinan 71.3% 66.8%.2% 25.0% 55.9% 33.9%.3% 66.0% 94. K4 dan Persalinannya memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 + Persalinan + Pn : Ibu Nifas yang K1.3% 39.1% 68.0% 50.2% 27. Persalinan atau Pn • K1 : Ibu Nifas yang K1 memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 : Ibu Nifas yangK1 dan K4 memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 + Persalinan : Ibu Nifas yang K1.1% 66.3% 100.0% 52.9%.

tapi terjadi penurunan yang cukup tajam pada K4. Ternyata dari data diatas dapat dijelaskan bahwa ibu yang ketika persalinan memanfaatkan Jampersal.8% 0% 2% 58.(K1+K4+Persalinan+PNC) Di perkotaan seperti Bandung dan Batam ibu nifas yang telah memanfaatkan Jampersal sedikit dibanding daerah penelitian lain.7% 0% 1. Berbeda dengan Kota kendari ketika K1 semua responden (100%) menggunakan Jampersal.3% 0% 0% 0% 0% 0% 2. Kep. Di Bogor juga sudah cukup baik.5% 4% 9.2% 2% Keterangan : A : K1 – (K1+K4+Persalinan) B : (K1+K4) –(K1+K4+Persalinan) C : (K1+K4+Persalinan). persalinan) dan PN Di Kabupaten / Kota di Lokasi Penelitian Tahun 2012 Kabupaten / Kota Kab Sampang Kota Blitar Kota Mataram Kab Lombok Tengah Kota Bandung Kab Bogor Kota Ambon Kab Kep Aru Kota Kendari Kab Wakatobi Kota Batam Kota Balikpapan Kab Paser 13 kab/kota A 20% 8% 47. Pengguna Jampersal yang menggunakan layanan K1 dan K4 di Kota Bandung. sebagian besar akan memanfaatkan layanan PNC. persalinan dan PNC.7% 0% 0% 3.7% 0% 0% 0% 22. Hanya saja dari data ini tidak dapat dijelaskan lebih lanjut kelengkapan dalam paket PNC.8% 2.3% 8. Bogor.2% 50% 7.6% 15% B 1.3% 6. Wakatobi. Kota Ambon. Kota Batam 122 .Tabel 5. Tetapi jika dilihat “continum of care” sangat baik karena pasien melakukan K1 sampai dengan PNC dengan memanfaatkan Jampersal.4% 3.2% 4.2% 0% 0% 0% 0% 16.K4.4.9% C 4.7% 5.1% 0% 3. Aru. Continum of care Pelayanan Jampersal (K1. yang mendapatkan layanan K1 menurun 2% yang bersalin dan Pn dengan memanfaatkan Jampersal.

0%) 0 (0.0%) 64 (100. Kota Blitar 3.0%) 11 (100. Ada 3 (tiga0 kabupaten yang sasaran yang persalinan menggunakan Jampersal yaitu di Kepulauan Aru (27. Kota Balikpapan 13.0%) 65 (100. Tabel 5. Kab Bogor 7. Kab Wakatobi 11. Kota Ambon 8.8%).0%) 33 (100. Kab Sampang 2. Responden pada data dibawah ini adalah hanya sasaran Jampersal yang menggunakan Jampersal ketika melahirkan tanpa memperhatikan apakah memanfaatkan jampersal ketika ANC atau PNC setelahnya.0%) 119 (97.0%) 0 (0.0%) 51 (100.0%) 58 (100. Kab Kep Aru 9. Paser Total Sumber : Data Sasaran Penelitian Jampersal 2012 Terdapat sepuluh kabupaten/kota yang sasaran Jampersal memanfaatkan pelayanan persalinan dengan Jampersal.0%) 0 (0. Dari tabel diatas terlihat bahwa 123 . Wakatobi (2. persalinannya dilakukan di fasilitas kesehatan (100%). Kota Mataram 4.0%) 0 (0.5%) 0 (0. Kota Bandung 6. Kab Lombok Tengah 5.0%) 24 (27.7%) masih dilakukan di non fasilitas kesehatan. dimana pengguna Jampersal yang mendapat layanan K1 (100%) tapi ketika K4.0%) 3 (2.7%) 1.0%) 60 (100.5%) 54 (100.0%) 26 (74. Ini menunjukan bahwa continum of care belum berjalan dengan baik. KotaBatam 12. Tempat Persalinan Responden Pengguna Jampersal di Lokasi penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Kabupaten / Kota Tempat Persalinan Jampersal Fasilitas Kesehatan Non Fasilitas Kesehatan 75 (100.dan Paser 100% bersalin dengan Jampersal dan 100% memanfaatkan layanan Pn kecuali Paser yang memanfaatkan Pn turun 22.6%) 0 (0.0%) 0 (0.0%) 9 (25. Yang perlu mendapat perhatian adalah Kota Kendari.0%) 0 (0.3%) 0 (0. Kota Kendari 10.2%. persalinan dan Pn menurun cukup drastis.0%) 0 (0.7%) 36 (4. Dari data diatas terlihat bahwa dengan memanfaatkan Jampersal sasaran dilayani oleh tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan.5.5%) dan Paser (25.4%) 47 (100.0%) 63 (72.3%) 726 (95.

ketika persalinan ditolong oleh non tenaga kesehatan seperti tergambar dalam di bawah ini. Gambar 5.24 menjelaskan responden yang tidak menggunakan Jampersal ketika bersalin berapa persen yang ditolong tenaga kesehatan. Menjelaskan siapa tenaga pemeriksa kehamilan pada sasaran yang tidak menggunakan Jampersal dan tabel 5. Bagaimana dengan responden yang tidak memanfaatkan Jampersal? Ketika ANC sasaran tidak menggunakan jampersal terlihat terjadi pergeseran dari tenaga kesehatan saat ANC. Gambar dibawah ini respondennya adalah sasaran Jampersal yang tidak menggunakan Jampersal. Tenaga Pemeriksa Kehamilan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011 – April 2012 124 .seluruh responden ketika bersalin dengan Jampersal maka persalinannya oleh nakes dan di fasilitas kesehatan kecuali 3 (tiga) kabupaten diatas yang merupakan daerah yang secara geografis memang sulit dan dengan keterbatasan sumberdaya.24.

50% perubahan dari pasien yang ketika pemeriksaan kehamilan dilakukan oleh tenaga kesehatan dan berubah menjadi bersalin pada tenaga non kesehatan. 125 . Lombok tengah dan Kota Mataram antara 29% .25 Tenaga Penolong Persalinan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Sumber : Data sasaran Penelitian Jampersal 2012 Dari data sasaran yang tidak memanfaatkan Jampersal didapatkan bahwa terdapat sasaran ibu hamil yang sudah memeriksakan kehamilannya di tenaga kesehatan. Kota Kendari. Bahkan di kepulauan Aru.Gambar 5. Bogor. Kota Batam. Bandung Lombok Tengah dan Kota Mataram. Kepulauan Aru. Nampak jelas pergeseran sasaran dari nakes ketika pemeriksaan kehamilan ke non nakes ketika persalinan di kabupaten / kota Balikpapan. ketika persalinan pindah ke tenaga non kesehatan seperti nampak pada dua gambar diatas.

26. 126 . 2012). Penyebab kematian maternal terbanyak dari data sekunder pada penelitian ini adalah perdarahan. 2007). preeklampsi/eklampsi 24 %. Dari analisa kematian maternal tahun 2011 dari data rutin penyebab kematian Maternal tertinggi perdarahan 35% dan hipertensi 22% dan Infeksi 5%. infeksi 11 %. Kemenkes. Kematian Maternal di Kabupaten / Kota Tahun 2010 . (Direktorat Ibu. Infeksi . Hal ini masih mengikuti pola menurut WHO 2007 bahwa penyebab kematian ibu yang paling umum di Indonesia adalah penyebab obstetri langsung yaitu perdarahan 28 %.Juni 2012 Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota Kematian Maternal pada tahun 2011 dan sampai dengan Juni 2012 di kabupaten / kota nampak cenderung meningkat kecuali Kota Bandung nampak menurun. eklamsi.Gambar 5. sedangkan penyebab tidak langsung adalah trauma obstetri 5 % dan lain – lain 11 % (WHO.

Juni 2012 Sumber : Dinas kesehatan Kota Untuk kematian Maternal pada tahun 2011 terlihat kecenderungan menurun. 127 .6. Persalinan di fasilitas kesehatan ini merupakan hal yang sangat penting. sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit.27. Semua layanan itu diberikan oleh tenaga-tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Kematian Neonatal di Kabupaten / Kota Tahun 2010 .Gambar 5. tenaga kesehatan memiliki sarana untuk melakukan tindakan pra rujukan yang diperlukan agar komplikasi tidak memburuk. tetapi tahun 2012 di kabupaten Sampang dan Kota Batam ada kecenderungan meningkat.2. Penyebab kematian neonatal dari data sekunder Dinas kesehatan terbanyak adalah Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan Asfiksia. Kalau dalam proses persalinan terjadi komplikasi. belum semua persalinan itu dilakukan di fasilitas kesehatan. Utilitas di Pelayanan Rujukan Jampersal menjamin pelayanan bagi ibu-ibu dengan kehamilan risiko tinggi dan persalinan dengan penyulit dan komplikasi. Saat ini. 5.

” (Bidan RS.28. persalinan per vaginam rujukan tanpa komplikasi. Paser. Kab Bogor). kematian neonatal < 24 jam dan kematian neonatal > 24 jam. Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam dengan Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Secara umum pada tahun 2011 rujukan persalinan pervaginam dengan komplikasi ke rumah sakit pemerintah di kabupaten / kota meningkat (RSUD kota Blitar. Loteng. Bogor). Sampang. kematian maternal >24 jam. Data yang didapatkan adalah persalinan per vaginam rujukan dengan komplikasi.Untuk utilitas di pelayanan rujukan di dapatkan data dari rumah sakit pemerintah di kabupaten / kota yang menjadi rumah sakit rujukan Jampersal dan mempunyai Perjanjian Kerjasama (PKS) dengan Dinas Kesehatan kabupaten / kota.adanya Jampersal kunjungan naik 50 % antara lain kasus KPD (ketuban pecah) dan PCR (preklamsi). Data tersebut ditampikan pada grafik sbb : Gambar 5. “. dimana dalam juknis Jampersal dijelaskan bahwa untuk persalinan dengan komplikasi dilakukan di pelayanan rujukan (Puskesmas Poned dan rumah sakit). selain itu setelah tahun ke-2 Jampersal dilaksanakan dilihat tren jumlah kemtian maternal dan neonatal di rumah sakit yang meliputi : kematian maternal < 24 jam... Hal ini kemungkinan disebabkan karena tahun tersebut sudah diberlakukan Jampersal. 128 .

RSUD Kab Wakatobi 2010 474 63 39 709 767 - Jumlah Kasus Sectio Caesaria 2011 s/d Juni 2012 598 147 61 889 1161 8 237 53 29 624 50 129 . Kep Aru 9. Tabel 5.29. RSUD kab. Bahkan di RSUD Blitar. RSUD Lombok Tengah 5. RSUD kab. RSUD Kota Kendari 10. RSUD Prov Ambon 8. RSUD Kota Bandung 6.Gambar 5. Loteng. Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam tanpa Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Persalinan rujukan pervaginam tanpa komplikasi di rumah sakit tahun 2011 dan tahun 2012 terlihat kecenderungan juga meningkat. RSUD Kab.Bogor 7. Kota Ambon dan Kota Kendari per Juni tahun 2012 terlihat peningkatan yang cukup tinggi ( data diatas sampai dengan bulan Juni 2012). RSUD Kota Blitar 3. RSUD Kota Mataram 4.6. Sampang 2. Jumlah Kasus Sectio caesaria yang ditangani di Rumah sakit di Kabupaten / Kota Tahun 2010 – Juni 2012 Kabupaten 1. terutama di RSUD Kota Blitar.

130 . Sampang) Gambar 5... Walaupun pada data diatas tidak hanya menggambarkan khusus kasus SC yang di biayai dengan Jampersal. RSUD Sampang. RSUD Kab. RSUD Kab. tapi merupakan keseluruhan kasus yang ada di rumah sakit. “. Kasus SC ada yang dirujuk maupun yang tidak dirujuk dengan jenis pelayanan SC elektif atas indikasi medis dan SC emergensi. RSUD Prov Balikpapan 13. kab. Paser 14.sejak ada Jampersal pasien di rumah sakit menjadi lebih banyak dari sebelumnya bisa sampai hampir dua kali lipatnya.RSUD Kota Batam 12. RSUD Kota Batam Peningkatan kematian maternal di RS dimungkinkan karena rujukan dari layanan dasar meningkat pada tahun 2011 dan 2012.11. Kasus Persalinan sectio caesaria (SC) rumah sakit Pemerintah yang PKS dengan Dinas kesehatan di Kabupaten / Kota terlihat cenderung meningkat di tahun 2011 dan Juni 2012.tidak didapatkan data Sumber : RSUD Kabupaten /Kota /Provinsi yang menjadi tempat rujukan Jampersal kecuali RSUD di Natuna.”(SPOG.30 Kematian Maternal < 24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 Kematian Maternal yang terjadi < 24 jam di rumah sakit bervariasi di RSUD Kota Blitar. Natuna 439 412 499 41 99 61 Keterangan : .

31 Kematian Maternal >24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 Kematian Maternal > 24 jam di rumah sakit pada tahun 2011 juga terlihat kecenderungan meningkat di kabupaten/kota. Kondisi ini perlu dikaji lebih lanjut apakah berkaitan dengan meningkatnya kasus rujukan ke rumah sakit dan berpengaruh pada pelayanan karena keterbatasan sarana.32 Kematian Neonatal di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010.Juni 1012 131 . Gambar 5. prasarana dan SDM di rumah sakit.Gambar 5.

7. tapi di Kota Balikpapan sampai Juni 2012 meningkat cukup tinggi. Akseptabilitas sasaran terhadap Jampersal akan dijelaskan dimulai dengan siapa sasaran yang memanfaatkan Jampersal dan bagaimana kepuasan sasaran terhadap layanan Jampersal.Kematian neonatal di kota dan kabupaten ada yang meningkat pada tahun2011 seperti di di Kabupaten Bogor dan kota Blitar dan sampai Juni 2012 ada kecenderungan menurun.243) Untuk mencapai target MDG’s Jampersal diluncurkan dengan sasaran adalah ibu hamil. Dari data sasaran penelitian ini ternyata yang memanfaatkan Jampersal 95% sudah memilik jaminan 132 . 5. Tapi di Kota Bandung. Di Kota Bandung dan Kota Balikpapan tahun 2011 kasus kemtian neonatal menurun. AKSEPTABILITAS SASARAN DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN. Demikian juga di Kota Mataram kematian Neonatal tahun 2012 meningkat . bersalin. Gambar 5. ibu nifas ( sampai dengan 42 hari) dan neonatus (0 – 28 hari) yang tidak mempunyai jaminan kesehatan.33 Kepemilikan Jaminan Lain Pada Sasaran Pengguna Jampersal (N=1.

sehingga membuat pasien enggan untuk memanfaatkan kartunya.kesehatan sebelumnya (Jamkesmas. Askes juga dimanfaatkan oleh sasaran untuk persalinan anak ke 3 (tiga) dst. namun ada juga kabupaten / kota yang masih menggunakan Jaminan Kesehatan Daerah. sehingga lebih mudah untuk dimanfaatkan dibandingkan jaminan kesehatan yang lain. sehingga anak ke 3 (tiga) dst sasaran tidak dapat memanfatkan Askes. Yang masih menjadi masalah adalah mengenai kepersertaan Jamkesmas. 133 . Untuk Jamkesda beberapa kabupaten / kota juga cenderung memanfaatkan pembiayaan Jampersal atau dialihkan menjadi Jampersal. peserta Jamkesmas seringkali ke pelayanan tidak membawa kartu. Karena untuk sasaran Jampersal. KB) dibiayai dengan Jampersal. Disebabkan Askes hanya membiayai sampai anak ke 2 (dua). Jamkesda. harus dilakukan pemilahan dulu. Jamsostek. persalinan. Selain itu kemudahan pemanfaatan Jampersal dengan persyaratan cukup KTP dan bersifat portabilitas. Hal ini terjadi karena di kabupaten / kota sejak pembiayaan Jampersal mulai dilaksanakan maka pembiayaan Jamkesmas untuk pelayanan KIA (ANC. Setiap pasien berobat mengambil kartu di kepala desa dan setelah berobat dikembalikan lagi ke kepala desa. Dan hanya 5% yang tidak mempunyai jaminan (lainnya). Kenyataan di lapangan. Askes. apakah sasaran tersebut bukan peserta Jamkesmas. karena kartu di simpan di Kepala Desa. PNC.

70% karena tidak tahu adanya Jampersal. 134 .Gambar 5. Dari data diatas menunjukkan bahwa sasaran yang tidak memenfaatkan Jampersal 66. Yang menarik ada 0.8% dari sasasan tidak memanfaatkan Jampersal karena dilarang oleh tenaga kesehatan dan kader kesehatan. Hal ini dapat dipahami karena di beberapa kabupaten / Kota besaran tarif jampersal dianggap belum memadai dan penerimaan klaim terlalu lama. sehingga membuat keengganan dari tenaga kesehatan untuk memanfaatkan Jampersal untuk jasa pelayanannya.34 Alasan Tidak Menggunakan Jampersal Pada Sasaran (N=525) Sosialisasi menjadi faktor yang penting untuk keberhasilan pelaksanaan program jampersal. Disini juga terlihat bahwa peran suami juga sangat mempengaruhi sasaran memanfaatkan atau tidak Jampersal.

di sini kan mahal apa2 bu. Kota Mataram.3%.. Kota Bandung. Jadi bayar selisih itu juga termasuk untuk biaya tersebut.. Kota Balikpapan). bahkan Kota Balikpapan sampai 84. 135 . Untuk bayar air saja mahal mana biasanya yang bersalin 1 yang nungguin 3 -4 orang dan mandi semua.Gambar 5.” (NN.35 Kepemilikan Jaminan pada sasaran Non pengguna Jampersal (N=525) Gambar 5. Dari Gambar di atas nampak bahwa di Kota Blitar. Bogor dan Kota Balikpapan terdapat > 20% pasien yang dikenakan biaya tambahan diluar Jampersal.36 Pembiayaan Tambahan Pada Sasaran Pengguna Jampersal pada Kabupaten/Kota Daerah Penelitian Nampak di sebagian besar kabupaten / Kota untuk persalinan terdapat pembiayaan lain pada pasien yang persalinannya menggunakan Jampersal. “.

Jampersal punya syarat – syarat khusus. Lalu untuk opname juga masih ada yang bayar. “Uji petik” dapat dilakukan langsung ke masyarakat atau mengambil beberapa kasus secara acak untuk kemudian dilakukan konfirmasi melalui telpon..8 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Dari proses pengumpulan data terdapat beberapa temuan yang menarik terkait Kesehatan Ibu dan Anak.” (NN. Kalo ada tindakan lebih dari itu. yaitu IUD dan implant. Untuk meminimalisasi keadaan ini maka beberapa daerah sudah melakukan “uji petik” pada beberapa kasus. obat B yang dibayar. 136 . masyarakat menanggung.. “. Lalu untuk pelayanan persalinan apa memang harus langsung pulang? Jadi kalau bisa ada jeda hari lah untuk pelayanan.misalnya obat-obatan yang disediakan obat A.” (NN.Jampersal tidak semua gratis..Jika dilihat lebih lanjut maka sebagian besar adalah perkotaan.. tokoh masyarakat Kota Bandung). Jadi harapannya kalau bisa gratis semuanya. Diambil tiga tematik yang menarik untuk dilakukan penelitian lebih lanjut yaitu : 1) Program dalam upaya mendukung Kesehatan Ibu dan Anak dengan pendanaan melalui PNPM Gerakan Sehat Cerdas (GSC) yang merupakan Program dari Kementerian Dalam Negeri di Kabupaten Lombok Tengah.PKK beberapa bulan lalu ada penjelasan dari PKM dan kami sudah berusaha untuk sosialisasi di warga.. Tapi tingkat penyerapan tiap individu kan beda-beda.” (Toma. “. Kota Blitar).. 5. Kalo operasi kalo melebihi kuota di bayar sendiri. hanya untuk warga miskin saja. Dari hasil uji petik verifikator mendapatkan bebarapa temuan terkait dengan pelaksanaan Jampersal seperti adanya penarikan pembiayaan pada pasien yang memanfaatkan Jampersal. Jadi kalau bisa ada batasan-batasan . Berikut kutipan hasil FGD dengan tokoh masyarakat yang ada di Kota Bandung yang menyatakan bahwa ada biaya tambahan yang dibebankan kepada masyarakat: “. yaitu ikut KB jangka panjang. Jadi kalau bisa gak ada tambahan-tambahan biaya lagi. sudah ada patokan dari pemerintah. Salah satu warga pernah merasakan jampersal di RS tapi ada beberapa obat yang masih musti bayar. ternyata ada tambahan obat B. tokoh masyarakat Kota Bandung).

latar belakang adanya PNPM GSC di Lombok Tengah dikarenakan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lombok Tengah berada di urutan terakhir di provinsi NTB. Dari total 12 kecamatan di Lombok Tengah terdapat dua kecamatan yang tidak melaksanakan PNPM GSC yaitu 137 . Tujuan PNPM GSC adalah meningkatkan kesehatan ibu dan anak dan menuntaskan wajib belajar sembilan tahun. IPM Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2010 adalah 60. Tabu dan Upaya Penyelamatan Ibu di Kota Blitar. Hal ini terlihat dengan dana klaim yang diajukan Puskesmas Onemobaa pada tahun 2012 adalah nol rupiah.1 Pemberdayaan Masyarakat dalam upaya mendukung program KIA melalui PNPM GSC di Kabupaten Lombok Tengah PNPM GSC merupakan pengembangan dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-Mandiri) yang dimulai pada tahun 2007. Ditambah lagi angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Lombok Tengah yang cukup tinggi.8. Puskesmas Onemobaa tidak memfaatkan Jampersal. yaitu Desa Lamanggau. mengapa jumlah klaim yang diajukan oleh Puskesmas Onemobaa adalah nol rupiah. Puskesmas Onemobaa adalah sebuah puskesmas yang dibangun sekitar tahun 2007.73 (peringkat ke 2 terendah Provinsi NTB) sedangkan IPKM Kabupaten Lombok Tengah 0. Menurut fasilitator kabupaten PNPM GSC Lombok Tengah. Selain kesehatan. pendidikan di Lombok Tengah juga masih kurang.2) Bayang-bayang Jampersal di Lamanggau. 5. Puskesmas ini mempunyai hanya satu desa sebagai wilayah kerjanya.7 tahun artinya banyak penduduk Lombok Tengah yang tidak tamat Sekolah Dasar. Hal ini tentu menjadi pertanyaan besar. Rata-rata pendidikan masyarakat 5. 3) Antara Budaya. Berdasarkan informasi dari Pengelola Jampersal Dinas Kesehatan Kabupaten Wakatobi. Tema ini dipilih disebabkan adanya kejadian kematian maternal yang cukup tinggi di puskesmas di Kota Blitar yang secara akses ke pelayanan kesehatan sangat dekat dan fasilitas rujukan sangat memadai.467282 (peringkat ke 286 nasional).

3) Setiap persalinan harus di lakukan di tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. Adapun indikator keberhasilan PNPM GSC di bidang kesehatan ibu adalah sebagai berikut: 1) Setiap ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) ke tenaga kesehatan minimal sebanyak empat kali selama masa kehamilan. 2)Pemberian vitamin A . Empat indikator kesehatan balita diantaranya adalah : 1) Penimbangan bulanan. 4) Tingkat kehadiran siswa sekolah menengah pertama dalam mengikuti proses belajar mengajar minimum 85%.Kecamatan Praya dan Kopang. 3) Imunisasi dasar lengkap dan 4) Balita yang naik berat badannya (capaian N/D). Sedangkan Untuk bidang pendidikan terdapat empat indikator yaitu : 1) Setiap anak usia sekolah dasar terdaftar sebagai siswa sekolah dasar . sehingga setiap desa mendapat dana sebesar kurang lebih antara 200-300 juta per tahun. Dana yang dikeluarkan PNPM GSC per kecamatan sebesar 1. 2) Setiap ibu hamil meminum minimal 90 butir pil FE (penambah darah) selama masa kehamilannya. 3) Setiap anak yang lulus SD terdaftar sebagai siswa sekolah menengah pertama. 2) Tingkat kehadiran siswa sekolah dasar dalam mengikuti proses belajar mengajar minimum 85%. Untuk melihat keberhasilan Kabupaten Lombok Tengah dalam melaksanakan PNPM GSC berikut ini adalah grafik persentase keberhasilan indikator PNPM GSC Kabupaten Lombok tengah : 138 . 4) Setiap ibu yang sudah melahirkan melakukan PNC sebanyak tiga kali.8 milyar pada thn 2011.

Secara umum pencapaian delapan indikator PNPM GSC bidang Kesehatan di sepuluh Kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah cukup baik. perlu peningkatan pencapaian sebagai strategi kunci dalam upaya penurunan AKI dan AKB yang diprioritaskan pada indikator satu. disusul Indikator 2 (Pemberian pil Fe). Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam PNPM GSC berjenjang dari tingkat provinsi sampai ke tingkat desa (PTO PNPM GSC. 2008) : 139 . Persentase Capaian Indikator Keberhasilan PNPM GSC Kabupaten Lombok Tengah Sumber : PNPM GSC Kabupaten Lombok Tengah Berdasarkan grafik di atas terlihat bahwa capaian indikator bidang kesehatan ibu dan anak tertinggi pada Indikator 3 (Pertolongan persalinan oleh dokter/tenaga kesehatan yang kompeten).Gambar 5. Sedangkan Indikator terendah pada Indikator satu (pencapaian pelayanan ANC lengkap/K4). Namun demikian.37. dan Indikator 7 (pemberian tablet vit A). Hasil ini menunjukkan makin masifnya linakes dengan kompetensi kebidanan (Pn) dan strategi linakes dalam upaya PWS KIA dan Gizi serta ketanggapan linakes dalam pencegahan tiga terlambat (3T) dalam pelayanan KIA di wilayah kerja Puskesmas.

Kelompok Kerja (Pokja). Spesialis manajemen informasi sistem. bertanggungjawab atas penyelenggaraan operasional kegiatan dan keberhasilan seluruh kegiatan di kecamatan. Fasilitator Kabupaten. bertanggung jawab atas pelaksanaan program di tingkat kabupaten. pencairan dan penyaluran dana rekening kolektif serta rekening multiyears. Fasilitator Keuangan. pengendalian laporan keuangan. Tugas Puskesmas (terutama para bidan desa) adalah memberi masukan dan memfasilitasi kegiatan bidang kesehatan. 4). Camat. memfasilitasi dan membantu Tim Koordinasi Kabupaten dalam mengkoordinasikan. mengelola dana untuk kegiatan yang tidak langsung dilaksanakan sekaligus. memfasilitasi koordinasi antara masyarakat desa dengan Puskesmas dan cabang Dinas Pendidikan Nasional (Dinas Diknas) di wilayahnya. pengelola dan operasional pelaksanaan kegiatan PNPM Generasi di tingkat antar desa termasuk mengkoordinasikan pertemuan. Bupati. Spesialis PNPM GSC. Di tingkat kecamatan : 1). tetapi dilaksanakan berkali-kali secara rutin (atau yang bersifat multiyears). Kepala Puskesmas berperan sebagai Pembina pelaksanaan program di wilayah cakupan pelayanan Puskesmas itu berada. Di tingkat kabupaten : 1). dan melestarikan kegiatan-kegiatan yang didanai oleh program. bertugas dalam membangun dan membina hubungan dengan pelaku kesehatan dan pendidikan. Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PJOK). 4). Unit Pengelola Kegiatan (UPK). membina administrasi kegiatan. 2). merupakan 140 .pertemuan di kecamatan. 2). mengembangkan. membina pengembangan peran serta masyarakat.Di tingkat provinsi : 1). meningkatkan dukungan teknis pendampingan dan pengendalian BLM PNPM GSC. 3). 3). 5). 6). Fasilitator Kecamatan (FK). Puskesmas. serta mengkoordinir antar instansi terkait di kabupaten. 2). Tim Koordinasi Kabupaten. bertanggung jawab dalam memberikan bantuan teknis dalam pengembangan dan perawatan sistem informasi/komunikasi database untuk memastikan pelaporan yang akurat dan terkini.

pendamping masyarakat yang bertugas memfasilitasi masyarakat dalam melaksanakan setiap tahapan program mulai dari tahap sosialisasi, pelatihan, pemetaan sosial, perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian. FK juga berperan dalam membimbing FD/KPMD, Kader Dusun atau pelaku-pelaku program di tingkat desa dan kecamatan. Di tingkat desa :1). KPMD (Kader pemberdayaan masyarakat desa), memfasilitasi masyarakat dalam melaksanakan tahapan proses program di tingkat desa sejak persiapan, perencanaan, pelaksanaan sampai pelestarian kegiatan. 2). TPMD (Tim Pertimbangan Musyawarah Desa), memberikan pertimbangan dalam menetapkan dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan PNPM GSC. 3). PK/TPK (pelaksana kegiatan), tim yang akan melaksanakan kegiatan yang telah diputuskan musyawarah desa untuk didanai PNPM GSC terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara. 4). Kelompok ibu-ibu sasaran, kelompok yang dibentuk dengan mengumpulkan seluruh ibu yang menjadi sasaran program seperti ibu hamil dan ibu yang memiliki balita. Fungsi kelompok ini adalah sebagai forum diskusi berbagai permasalah yang dialami atau berbagi pengalaman diantara anggota-anggotanya. Salah satu kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah yang dianggap cukup berhasil melaksanakan PNPM GSC adalah Kecamatan Janapria. Pendapat ini dikemukakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Lombok Tengah karena menurutnya kerjasama antara PNPM GSC Kecamatan Janapria dengan pihak penyedia layanan kesehatan di wilayah kecamatan Janapria cukup baik dan dapat mendongkrak indikator keberhasilan program kesehatan ibu dan anak dari dinas kesehatan. Selain itu keberhasilan Kecamatan Janapria dalam PNPM GSC juga didukung oleh data capaian delapan indikator PNPM-GSC bidang Kesehatan di Kabupaten Lombok Tengah. (Tabel 1, terlampir) Berdasarkan data capaian delapan indikator di Kecamatan Janapria diperoleh informasi sebagai berikut: 1) Dari 12 desa yang ada di Kecamatan Janapria, belum ada desa yang berhasil diperiksa oleh bidan terkait ANC 4 kali (lengkap) selama masa kehamilan.
141

2) Dari 12 desa terdapat sepuluh desa di Kecamatan Janapria yang seluruh ibu hamilnya berhasil mendapatkan minimal 90 butir pil Fe selama masa kehamilan. 3) Semua desa di Kecamatan Janapria telah berhasil memperoleh persalinan yang ditangani oleh tenaga bidan atau dokter (Pn) dengan kompetensi kebidanan. 4) Dari 12 desa terdapat tujuh desa di Kecamatan Janapria yang ibu nifas dan bayinya telah berhasil memperoleh perawatan nifas oleh bidan atau dokter minimal dua kali perawatan dalam waktu 40 hari setelah proses persalinan. 5) Belum ada desa dengan bayi usia 12 bulan ke bawah yang berhasil memperoleh imunisasi dasar secara lengkap yaitu BCG, DPT, Campak, Polio, dan Hepatitis B dalam pelayanan KIA di Posyandu. 6) Semua desa dengan bayi usia 12 bulan ke bawah berat badanny a telah

berhasil di timbang dan selalu naik pada setiap bulannya (untuk bayi di bawah usia 6 bulan, berat badannya naik lebih dari 500 g per bulan dan bayi usia 6-12 bulan naik lebih dari 300 g). 7) Semua desa dengan anak usia 6 bulan sampai 59 bulan telah berhasil mendapatkan Vitamin A sebanyak 2 kali dalam Setahun. 8) Semua desa dengan anak balita (bawah lima tahun) telah berhasil ditimbang sebulan sekali secara rutin. Secara umum, implementasi capaian minimal 12 bulan GSC di Kecamatan Janapria melebihi nilai minimal indikator dengan demikian disimpulkan capaian cukup baik pada delapan indikator keberhasilan PNPM GSC. Keberhasilan PNPM GSC di Kecamatan Janapria tidak terlepas dari adanya koordinasi yang dilakukan PNPM GSC dengan layanan kesehatan yang ada di wilayah Kecamatan Janapria dimana ada dua puskesmas yang wilayah kerjanya ada di kecamatan ini yaitu Puskesmas Janapria dan Puskesmas Langko. PNPM GSC bertugas untuk melakukan kegiatan yang mendukung pelaksanaan layanan kesehatan ibu dan anak yang dilakukan oleh petugas kesehatan di Puskesmas Janapria dan Puskesmas Langko. Di bawah ini adalah grafik kunjungan K1, K4, dan linakes di
142

Puskesmas Janapria yang wilayah kerjanya meliputi enam desa yaitu Desa Janapria, Saba, Lekor, Pendem, Setuta, dan Jango.

Gambar 5.38 Kunjungan K1, K4 dan Linakes Puskesmas Janapria Thn 2010-2012 Sumber : Data PWS KIA Puskesmas Janapria 2010-2012

Berdasarkan grafik di atas terlihat bahwa kunjungan K1 pada tahun 2010 sebesar 83.3% kemudian sedikit menurun di tahun 2011 menjadi 78.3% dan kembali meningkat di tahun 2012 menjadi 88.4%. Untuk kunjungan K4 tahun angkanya cenderung terus meningkat dari tahun 2010 sebesar 77.5% kemudian menjadi 78.2% di tahun 2011 dan meningkat menjadi 82.05% di tahun 2011. Data linakes menunjukkan tahun 2010 sebesar 71.8%, menurun menjadi 65.5% pada tahun 2011 kemudian kembali meningkat menjadi 71.7% pada tahun 2012.

Pelaksanaan PNPM GSC di Desa Saba Menurut bendahara PNPM GSC Desa Saba yang juga merupakan kader posyandu Desa Saba yang juga merupakan bendahara PNPM GSC, tidak adanya pemberian uang transport bagi ibu hamil dan ibu bersalin bukan suatu masalah karena dulunya Desa Saba termasuk ke dalam desa siaga sehingga sudah ada ambulance desa yang akan mengantarkan ibu yang melahirkan. Ditambah lagi
143

dengan adanya budaya setempat yang membuat kesepakatan bersama agar penduduk yang tinggal di sekitar ibu hamil selalu siap sedia mengantarkan ibu hamil tersebut jika tiba waktu melahirkan. Kesepakatan bersama ini disebut dengan istilah “awig-awig” yaitu kesepakatan yang telah menjadi aturan bersama atau norma pada suatu masyarakat.
“..tidak jadi masalah karena desa Saba berangkat dari desa siaga maka ada ambulance desa, sudah jadi keputusan desa, awig-awignya ada siapapun yang ada di lingkungan itu ada yang mau melahirkan diwajibkan untuk membawa. Misalnya ada tetangga saya ada yang mau melahirkan, kita harus wajib mengantarkan ke tempat ibu bidan atau ke puskesmas..”

Untuk mendukung kesehatan ibu hamil sejak usia kehamilan lima bulan ibu hamil akan mendapatkan makanan tambahan. Pemberian makanan tambahan (PMT) terdiri dari dua jenis yaitu PMT penyuluhan untuk ibu hamil yang dalam kondisi sehat dan PMT pemulihan untuk ibu hamil yang tergolong kurang gizi. Bagi ibu hamil yang tergolong kurang gizi maka ibu hamil akan mendapat PMT yang porsinya lebih banyak dari ibu hamil yang dalam kondisi sehat yang terdiri dari susu 300 gram, berasnya 2 kg, telur 20 butir diberikan selama 3 bulan. Selain pemberian PMT juga dilakukan kelas ibu hamil yang dilakukan sebulan sekali. Kegiatan dalam kelas ibu hamil adalah senam bagi ibu hamil dan penyuluhan bagi ibu hamil mengenai pentingnya menjaga kesehatan selama masa kehamilan. Kelas ibu hamil ini difasilitasi oleh bidan puskesmas dengan PNPM GSC sebagai penyelenggaranya.

Pelaksanaan PNPM GSC di Desa Lekor Desa Lekor merupakan desa yang letaknya paling jauh dari pusat Kecamatan Janapria. Awalnya persalinan oleh tenaga kesehatan di desa ini sedikit, masyarakat lebih memilih untuk melahirkan di rumah dengan ditolong oleh dukun beranak yang dalam bahasa setempat disebut dengan “belian sasak”. Masyarakat Desa Lekor lebih mempercayai “belian sasak” untuk menolong
144

persalinan karena dalam menolong persalinan belian sasak menggunakan doadoa. Di bawah ini adalah data PWS KIA Desa Lekor yang diperoleh dari puskesmas Kecamatan Janapria :

Gambar 5.39 Kunjungan K1 dan K4 serta Linakes Desa Lekor, Th 2010-s.d Okt 2012 Sumber : PWS KIA Puskesmas Janapria, 2010-2012.

Berdasarkan data di atas terlihat untuk cakupan K1 mengalami peningkatan dari tahun 2010 yang semula 62.2% menjadi 68.2% pada tahun 2011 kemudian meningkat drastis menjadi 108.4% pada tahun 2012. Untuk cakupan K4 pada tahun 2010 sebesar 56.8% meningkat menjadi 71.9% pada tahun 2011 dan kembali meningkat menjadi 98.6% pada tahun 2012. Angka persalinan dengan ditolong tenaga kesehatan cakupannya sebesar 61.4% pada tahun 2010 kemudian sedikit menurun menjadi 56.57% pada tahun 2011 dan kembali meningkat menjadi 73.83% pada tahun 2012. Untuk mendorong agar masyarakat mau melahirkan di polindes dengan ditolong bidan maka PNPM GSC akan memberikan perlengkapan persalinan seperti bak mandi, kelambu bayi, paket perlengkapan bayi seperti baju bayi, popok, sabun, handuk kepada setiap ibu yang melahirkan di polindes.
145

Satu tahun ini cuma ada satu yang melahirkan non nakes. Untuk mendukung keinginan masyarakat ini maka PNPM GSC memberikan uang transport bagi “belian sasak” yang membawa ibu hamil untuk melahirkan di poskesdes sebesar Rp 80.. Poskesdes Desa Lekor yang dibangun oleh PNPM GSC Sumber : Dokumentasi Peneliti PNPM GSC di Desa Langko Kegiatan PNPM GSC telah dimulai di Desa Langko pada tahun 2011. Pada bulan Agustus tahun 2011 baru dibentuk kepengurusan tersendiri untuk PNPM GSC. awalnya kepengurusan program ini masih bergabung dengan PNPM Perdesaan.Selain itu kehadiran balian sasak tidak dapat dihilangkan begitu saja dalam menolong persalinan karena walaupun ibu mau melahirkan di poskesdes. Strategi pemberian paket bagi ibu yang melahirkan di poskesdes dan pemberian transport bagi “belian sasak” terbukti cukup berhasil mendorong ibu hamil di Desa Lekor untuk mau melahirkan di poskesdes dengan ditolong bidan.” Gambar 5.sejak tahun 2012 per Januari sudah mulai kelihatan perubahan. Seperti pernyataan bidan Desa Lekor berikut ini: “.40. Dulunya persalinan non nakes sangat banyak bisa 60-40%. Dalam PNPM GSC kepengurusannya terdiri dari pelaksana kegiatan 146 .000. ibu tetap meminta agar “belian sasak” mendampingi ibu ketika melahirkan..

Pemilihan ketua PK PNPM GSC dipilih melalui musyawarah namun jika tidak terdapat kesepakatan dilakukan voting. oh kamu hamil. Seperti diungkapkan oleh informan HB seorang bidan yang masih berstatus bidan magang di Desa Langko: “. usulan untuk merenovasi polindes paling banyak muncul di masyarakat. Alasan bidan tidak mau tinggal di polindes Desa Langko karena kondisi polindes yang sudah rusak dan tidak ada air bersih yang tersedia di polindes. Ketua PK Desa Langko yang sekarang. Kalau awal-awal cuma dikasih tahu sama dukun beranak. Pada awalnya. Tingkat kesadarannya belum ada terhadap kesehatan jadi ketika 5 atau 6 bulan baru ke periksa ke petugas kesehatan. Kemudian ada yang disebut dengan Tim Pertimbangan Musyawarah Desa (TPMD). Selain PK ada yang disebut dengan Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD) yang terdiri dari dua orang. terpilih melalui voting. ibu-ibu hamil di Desa Langko jarang yang mau memeriksakan kehamilannya atau melahirkan di bidan puskesmas. Ibu hamil lebih memilih memeriksakan diri ke polindes karena letak polindes lebih dekat namun tidak ada bidan yang tinggal di polindes Desa Langko. Melihat kondisi polindes seperti ini maka ketika musyawarah antar dusun dilakukan untuk menentukan prioritas kegiatan PNPM GSC.kalau dulu kan ada kepercayaan kalau dipegang awal takut keguguran. namanya diusulkan karena telah lama menjadi KPMD di PNPM Perdesaan. Hal ini dikarenakan ibu hamil merasa enggan jika harus ke puskesmas karena harus menunggu terlalu lama. Kepercayaannya kalau dari awal sudah dipegang bidan nanti keguguran atau 147 .. tanpa dipastikan atau di tes. Salah satu cara agar bidan mau tinggal di polindes Desa Langko maka polindes harus diperbaiki dan ada sumber air bersih. Ditambah lagi dengan adanya kepercayaan di masyarakat bahwa ibu hamil pantang untuk diperiksa awal oleh petugas kesehatan karena takut keguguran. satu orang sekretaris dan satu orang bendahara.(PK) yang terdiri dari satu orang ketua. Maksudnya pemeriksaan awal makanya lebih banyak yang periksa kehamilan ke dukun. Disamping itu sebelumnya ibu hamil jarang memeriksakan kehamilan ke posyandu karena ibu hamil lebih memilih untuk memeriksakan diri ke dukun beranak.

Sebagai dukungan untuk kesehatan ibu hamil. baru telat satu minggu saja sudah ke bidan. Kelas ibu hamil penting untuk meningkatkan kesadaran ibu hamil untuk memeriksa sampai melahirkan..” Gambar 5. sampai KB harus ke tenaga kesehatan.” Untuk mengubah pandangan masyarakat. Dalam kegiatan ini dilakukan senam ibu hamil yang disertai penyuluhan terhadap ibu hamil agar mau melahirkan di polindes atau puskesmas. Tapi sekarang sudah tidak. maka bidan Desa Langko melakukan penyuluhan setiap dilaksanakannya posyandu di setiap dusun.41 Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil yang difasilitasi oleh PNPM GSC Sumber : Dokumentasi Fasilitator Kecamatan Janapria Namun pelaksanaan kelas ibu hamil tidak rutin dilakukan karena kegiatan ini bukan merupakan prioritas usulan dari masyarakat. Seperti diutarakan oleh bidan Desa Langko berikut ini: “.. Hal ini cukup disayangkan oleh bidan Desa Langko karena menurutnya kelas ibu hamil sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran ibu hamil untuk memeriksakan kehamilan dan 148 .. PNPM GSC juga mendanai kegiatan kelas ibu hamil.kandungannya hilang. kita ajarkan senam. Karena saya belum dilatih maka yang memimpin senam bidan koordinator dari puskesmas.pada kelas ibu hamil kita undang ibu hamil yang tiga bulan lagi mau melahirkan.

7% tahun 2011 menjadi 100% pada tahun 2012.000 dari dana PNPM GSC. bantal dan matras untuk senam ibu hamil serta dana untuk honor narasumber dan transport untuk ibu hamil yang datang. Begitupula dengan angka K4 meningkat dari 95.4%. K4 persalinan oleh tenaga kesehatan Desa Langko yang diperoleh dari Puskesmas Langko : Gambar 5.42 Kunjungan K1. Berikut ini adalah tabel data K1. Linakes Desa Langko Thn 2010-2012 Sumber : Data PWS KIA Puskesmas Langko 2010-2012 Berdasarkan tabel di atas (penjelasan 2012). video player. televisi. Untuk pelatih senam atau pemberi penyuluhan biasanya juga diberikan uang sebagai narasumber. Untuk persalinan dengan ditolong tenaga kesehatan juga mengalami peningkatan berarti yaitu dari 91% pada tahun 2011 149 . Setiap ibu hamil yang datang ke kelas ibu hamil diberikan uang transport sebesar Rp 20. Seperti pada angka K1 tahun 2011 sebanyak 98. Dalam kegiatan kelas ibu hamil PNPM GSC bertugas menyediakan sarana dan prasarana seperti sound system. polindes atau posyandu dan pada tahun 2012 angkanya meningkat menjadi 105. terlihat bahwa ibu hamil di Desa Langko cukup rajin memeriksakan kehamilannya angkanya pun cenderung meningkat dari tahun 2011 ke tahun 2012.melahirkan di tenaga kesehatan.3% ibu hamil di Desa Langko memeriksakan kehamilannya ke puskesmas. K4.

. Pemberian makanan tambahan ada yang untuk ibu hamil yang status gizinya masih baik dan ada yang diperuntukkan untuk ibu hamil Kek. kepala desa. Sebagai dukungan agar ibu hamil mau memeriksakan dirinya dan melahirkan ke petugas kesehatan maka PNPM GSC pernah memberikan uang transport untuk diberikan kepada ibu hamil.menjadi 105.7% pada tahun 2012.. Dinas kesehatan memberitahukan hal ini ke kepala camat. Namun pemberian uang transport kepada ibu hamil dihentikan karena tidak disetujui oleh pihak dinas kesehatan Lombok Tengah. Peningkatan ini dapat terjadi salahsatunya karena bidan yang bertugas di Desa Langko sudah tinggal menetap di polindes Desa Langko. Untuk mengatasi hal ini PK Desa Langko berkonsultasi dengan petugas gizi dari puskesmas Langko. Usulan pemberian uang transport untuk ibu hamil ini sebenarnya datang dari masyarakat namun menurut kepala Desa Langko ibu tanpa adanya uang transport pun ibu hamil di Desa sudah cukup rajin memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan karena letak Desa Langko bukan di pelosok sehingga tidak terlalu jauh dari puskesmas atau polindes. Pada tahun 2011 Desa Langko mulai memberikan PMT untuk ibu hamil. untuk mendukung kesehatan ibu juga dilakukan pemberian makanan tambahan. hasilnya jumlah dana untuk 30 orang dibagi agar cukup untuk PMT sesuai jumlah 150 . Tapi bertolak belakang dengan programnya dinas kesehatan. Awalnya pada bulan pertama jumlah yang diberikan sesuai dengan data sasaran yang ada.usulan dari masyarakat supaya tidak ada yang terlewatkan ibu hamil yang periksa kehamilan untuk mendapatkan jampersal nanti minimal dia periksa kehamilan empat kali sehingga kita support lewat transport itu. Namun akibatnya jumlah ibu hamil yang mendapatkan PMT membeludak padahal jumlah dana yang ada hanya untuk 30 orang ibu hamil. “.” Selain merenovasi polindes. Pada bulan kedua semua ibu hamil dapat mendaftar untuk memperoleh PMT dengan syarat memiliki buku KIA. Di Desa Langko tanpa transport untuk ibu hamil rasanya sudah rajin periksa kehamilan karena desa Langko bukan termasuk daerah pelosok. Ditambah lagi dengan kesadaran masyarakat Desa Langko yang mulai meningkat karena seringnya diadakan penyuluhan kesehatan kepada ibuibu hamil.

telur. seperti terlihat pada gambar di bawah ini : 151 . tiap bulan dapat PMT ibu hamil. kalau yang 200 gram untuk empat hari. Ketika posyandu dilakukan setiap balita yang datang akan diberikan PMT berupa bubur kacang hijau.5 kg. Hal ini terpaksa dilakukan walaupun nantinya PMT yang diberikan tidak mencukupi kebutuhan ibu hamil.. kacangkacangan..” Namun pemberian makanan tambahan ini dirasakan informan SU tidak mencukupi untuk kebutuhan ibu hamil setiap bulannya. telur empat butir.. pemberian imunisasi dan pemeriksaan terhadap ibu hamil. Saya sudah mendapat PMT ibu hamil tiga kali dari hamil satu bulan. PMT yang diberikan untuk ibu hamil terdiri dari gula merah. berikut penuturannya: “. PMT ibu hamil diberikan kepada ibu hamil dengan diantar ke rumah ibu hamil oleh kader posyandu. ikan kering seperti cumi. telur rebus satu butir dan biskuit.pernah dapat susu untuk ibu hamil yang 200 gram..kalau menurut saya belum mencukupi kebutuhan. Seperti susu ini kan hanya cukup untuk empat hari kadang-kadang saya beli sendiri juga susu Prenagen yang 400 gram harganya 80 ribu. gula. minyak goreng sebanyak 1. Seperti pengalaman ibu hamil SU yang menerima PMT ibu hamil dari PNPM GSC berikut ini: “.” Desa Langko terdiri dari sepuluh dusun dimana di setiap dusun telah memiliki Posyandu dengan jumlah kader di setiap dusun sebanyak lima orang. Kalau yang 400 gram bisa untuk dua minggu.ibu yang mendaftar. ikan teri. ikan teri ¼ kg serta susu untuk ibu hamil ukuran 200 gram. Posyandu dilakukan setiap bulan terdiri dari kegiatan penimbangan bayi dan balita. Misalnya pemberian susu untuk ibu hamil hanya diberikan susu yang ukuran kecil saja yang habis diminum dalam waktu empat hari jika diminum rutin setiap hari.

. tidak seberapa.” Selanjutnya akan dibahas bagamana pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC dikaitkan dengan konsep-konsep tentang pemberdayaan masyarakat yang sebelumnya telah ada. Seperti dikemukakan oleh PK Desa Langko berikut ini: “.43 PMT yang diberikan ketika posyandu di Desa Langko Sumber : Dokumentasi Peneliti Pemberian PMT selain bertujuan untuk meningkatkan gizi setiap balita yang datang ke posyandu. Berdasarkan konsep di atas maka di dalam pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria sudah berusaha untuk menumbuhkan potensi masyarakat 152 . dan kemampuan masyarakat dalam mengenali.memang sekarang salah satu perangsangnya karena ada PMT jadi banyak yang ke posyandu walaupun yang didapat cuma bubur kacang hijau sama telur. dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri (Notoatmodjo. Adapun prinsip pemberdayaan masyarakat adalah menumbuhkembangkan potensi masyarakat. mengatasi. 2007). (http://edukasi.Gambar 5.kompasiana. pemberdayaan masyarakat ialah upaya atau proses untuk menumbuhkan kesadaran. Menurut Notoatmodjo. dan desentralisasi. mengembangkan gotong-royong masyarakat.com).. pemberian PMT juga bertujuan untuk menarik ibu-ibu agar mau membawa anaknya ke posyandu. kemauan. memelihara. menjalin kemitraan. menggali kontribusi masyarakat. melindungi.

Pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC lebih ke arah penguatan kapasitas pelaksana program yang ada di desa agar muncul partisipasi masyarakat untuk terlibat dalam program ini.dengan adanya pelatihan terhadap pihak pelaksana PNPM GSC di tingkat desa. untuk melakukan perubahan pada masyarakat desa Lekor harus dilaksanakan pelan-pelan.. Hal ini dijelaskan oleh informan MU. dia yang memantau.. oh ini potensi kita dari situ bisa dia rencanakan. Untuk perencanaan dia datang ke dusun menampung aspirasi dari situ oh ini permasalahannya. Sedangkan kegiatan yang dilaksanakan PNPM GSC beberapa masih ada yang bersifat instan seperti pada pelaksanaan PNPM GSC di Desa Lekor dimana untuk membuat ibu hamil mau melahirkan di poskesdes maka diberikan stimulus berupa pemberian paket perlengkapan bayi. 153 . Tapi kalau program ini tidak ada siapa yang diharapkan..” Cara instan ini terpaksa dilakukan karena karakter penduduk Desa Lekor yang menurut FK kecamatan Janapria sulit untuk diarahkan. itu mungkin yang terus dilakukan.” Namun pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC belum sampai ke tahap membangun kesadaran masyarakat agar menjadi mandiri dan sadar akan pentingnya menjaga kesehatan ibu dan anak. Pemberian paket untuk ibu yang melahirkan di Desa Lekor disadari oleh FK PNPM GSC Kecamatan Janapria merupakan cara yang instan dan belum mengarah ke proses penyadaran. Yang sementara kita lakukan boleh saya katakana sedikit instan hanya untuk memotivasi mereka setelah itu selesai. Seperti penjelasannya berikut ini: “. melaksanakan dan memantau pelaksanaan PNPM GSC. dia rasakan karena dia yang merencanakan. Pelatihan ini bertujuan agar masyarakat di desa dapat membuat merencanakan. Masyarakat mau melahirkan di polindes karena ada daya tarik dari paket yang diberikan bukan semata-mata karena kesadaran masyarakat yang telah tumbuh akan pentingnya melahirkan di fasilitas kesehatan dengan ditolong tenaga kesehatan. Tujuan program ini kan sebenarnya menyadarkan mereka agar menjadi kebutuhan mereka. dia yang melaksanakan. penanggung jawab PNPM GSC Keamatan Janapria berikut ini: “Kan diberikan pelatihan-pelatihan untuk SDM mereka.yang belum kita lakukan sebenarnya proses penyadaran itu karena ini sangat tidak mudah. Nah proses ini yang berusaha kami lakukan. dia yang melanjutkan.

Namun setelah di evaluasi kegiatan yang ada di PNPM GSC ternyata memiliki indikator yang sama dengan program KIA dari dinas kesehatan. Namun dalam pelaksanaannya terkadang kemitraan tidak berjalan dengan sempurna karena pada awalnya belum terjalin koordinasi dan komunikasi yang baik antara pihak kesehatan dengan PNPM GSC. Berikut pernyataannya: 154 . Setiap usulan dari masyarakat seharusnya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan pihak kesehatan dan pihak pendidikan. Pembangunan fisik sebenarnya hanya untuk mendukung keberhasilan indikator tersebut. Hal ini terlihat dari banyaknya usulan dari masyarakat yang lebih banyak ke arah pembangunan fisik seperti pembangunan atau renovasi polindes dan posyandu. Padahal PNPM GSC memiliki indikator keberhasilan program yang tidak terkait dengan pembangunan fisik.Pelaksanaan PNPM GSC yang berfokus pada keterlibatan masyarakat membuat usaha untuk membangun kemandirian kesehatan ibu dan anak di masyarakat menjadi kurang maksimal. dinas kesehatan belum dilibatkan dalam program PNPM GSC. Hanya saja. Hal senada juga diungkapkan oleh Kasie Gizi Dinas Kesehatan Lombok Tengah. untuk mensinergikan kegiatan PNPM GSC dengan dinas kesehatan maka pihak dinas kesehatan mengundang fasilitator kabupaten PNPM GSC untuk berkoordinasi dalam melaksanakan kegiatan. Oleh karena itu. pada awal tahun 2012 dinas kesehatan mulai mengkoordinasikan kegiatannya bersama dengan PNPM GSC dalam mencapai kegiatan yang fokus ke bidang kesehatan agar lebih terarah dalam mencapai keberhasilan indikator kesehatan ibu dan anak. Karena dalam PNPM GSC masyarakat juga harus dapat membangun kemitraan dengan instansi-instansi terkait. Program PNPM berjalan dengan kegiatannya sendiri demikian juga dengan program dinas kesehatan. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Lombok Tengah pada awal 2011. menurut informan pelaksanaan kegiatan di tingkat kecamatan dan desa yang kurang bagus.

Awal-awal saya kesini saya lakukan itu. 2. Partisipasi di dalam tahap perencanaan. (http://www... yaitu : 1. kenapa dananya tidak di puskesmas saja”. Berikut penjelasan FK Kecamatan Janapria: “.” Namun dengan pendekatan dan komunikasi dari pelaksana PNPM di tingkat Kecamatan Janapria terutama peran dari Fasilitator Kecamatan (FK) Janapria maka cukup terjalin koordinasi yang baik antara PNPM GSC dengan pihak penyedia layanan kesehatan dalam hal ini puskesmas Janapria dan puskesmas Langko yang wilayah kerjanya adalah desa-desa di Kecamatan Janapria. Selanjutnya ketiga tahap 155 .id). Tapi kita tetap tidak bisa meninggalkan yang punya bidang sehingga kita koordinasi. 1994:89) bentuk partisipasi masyarakat dalam pembangunan terbagi atas tiga tahap.kita sering mengundang pihak PNPM GSC karena kita butuh. bahkan ada pertanyaan dari dinas kesehatan “kok GSC ini tentang kesehatan kok PNPM yang menangani.pasca. kerjasama dengan layanan ini yang penting karena kalau kita tidak lakukan kerjasama itu kita kan hanya memfasilitasi tidak paham tentang teknis bagaimana kesehatan dan puskesmas lah yang tahu sehingga koordinasi ini penting untuk kita maksimalkan. indikator mereka kan hampir sama dengan kami jadi kami yang merasa membutuhkan mereka karena mereka yang punya dana. “. Tapi sering kita koordinasinya putus karena di atas koordinasinya sudah bagus yang di bawah eksekusinya kurang bagus.awalnya ego dari dinas itu.” Menurut Ericson (dalam Slamet.ac. Partisipasi di dalam pelaksanaan dan 3....pertama dari FK mengawal proses fasilitasi kemudian dukungan masyarakat. pada awalnya Dinas kesehatan mempertanyakan kenapa kegiatan PNPM GSC yang bergerak di bidang kesehatan dana pelaksanaannya tidak diserahkan ke dinas kesehatan. Partisipasi di dalam tahap pemanfaatan.” Pada kasus pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria pada awalnya pelaksana di tingkat kecamatan juga kurang dapat berkoordinasi dengan pihak penyedia layanan kesehatan di Kecamatan Janapria. yang pertama kali saya kunjungi teman-teman dari layanan kesehatan seperti puskesmas dan dari pendidikan karena disitulah kita cari data awal..“. Kami jawab ini kan program dari pusat dan kami laksanakan dan kita tidak jalan sendiri dan inilah bentuk pemberdayaan sebab yang melaksanakan ini kan dari masyarakat kan kita yang memfasilitasi. Menurut informan MU selaku penanggung jawab program PNPM di Kecamatan Janapria. dukungan layanan.unand.

saran dan kritik melalui pertemuan-pertemuan yang diadakan. Masyarakat berpartisipasi dengan memberikan usulan. Kemudian masyarakat juga diminta untuk memberikan usulannya mengenai kegiatan apa saja yang diprioritaskan untuk dilakukan. Sebelum program dilaksanakan setelah dicapai kesepakatan mengenai prioritas kegiatan maka pelaksana kegiatan akan diberikan pelatihan di PNPM GSC kecamatan. Dalam pelaksanaan PNPM GSC partisipasi masyarakat dalam program ini merupakan wujud dari adanya pemberdayaan di dalam masyarakat. Bentuk partisipasi masyarakat terlihat dari awal tahap perencanaan yaitu dilibatkannya masyarakat dalam memberikan usulan kegiatan melalui musyawarah antar dusun yang dilanjutkan dengan musyawarah antar desa.partisipasi masyarakat tersebut akan coba dikaitkan dengan pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria. bagaimana cara membuat proposal. bagaimana cara pelaksanaan kegiatan dan pelatihan lainnya yang bertujuan untuk membangun kesadaran pelaksana kegiatan PNPM GSC tentang pentingnya keterlibatan masyarakat dalam program ini tanpa didasari imbalan yang akan mereka dapat. Dalam musyawarah pertanggungjawaban desa masyarakat diminta untuk menilai pelaksanaan 156 . Setelah itu masyarakat juga berpartisipasi dalam musyawarah pertanggungjawaban desa program yang diadakan ketika dana PNPM GSC sudah digunakan sebanyak 40%. 80% dan 100%. 1. Dalam pelatihan diberikan materi mengenai bagaimana cara membuat rancangan anggaran (RAB). Dalam musyawarah antar dusun masyarakat diberikan kesempatan untuk memberikan usulan dalam rangka memperbaiki kondisi kesehatan ibu dan anak serta kondisi pendidikan. Partisipasi di dalam tahap perencanaan (idea planing stage). Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap penyusunan rencana dan strategi dalam penyusunan kepanitian dan anggaran pada suatu kegiatan/proyek.

” Selain penyediaan lahan untuk pembangunan polindes atau posyandu. Kemudian jika pelaksana kegiatan PNPM GSC tidak dapat mempertanggungjawabkan dana yang telah terpakai maka bisa saja ketua dan anggotanya diusulkan oleh masyarakat untuk diganti. PNPM GSC hanya memfasilitasi biaya untuk pembangunan polindes atau posyandu seperti pembelian bahan bangunan. Masyarakat akan menilai pelaksanaan PNPM GSC berhasil jika prioritas kegiatan yang diusulkan masyarakat benar-benar telah dilakukan. Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap pelaksanaan pekerjaan suatu proyek. “. uang ataupun material/barang serta ide-ide sebagai salah satu wujud partisipasinya pada pekerjaan tersebut. Sedangkan untuk tenaga membangun polindes atau posyandu ada juga yang berasal dari masyarakat setempat.misalnya kita membangun posyandu tidak mungkin program menganggarkan jadi syaratnya masyarakat harus menyiapkan lahan yang sudah dibebaskan dengan bukti pembebasan ada dan berupa hibah dari pihak desa. Partisipasi di dalam tahap pelaksanaan (implementation stage). Masyarakat disini dapat memberikan tenaga.. partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan PNPM GSC juga dapat dilihat dari adanya masyarakat yang bersedia rumahnya digunakan sebagai tempat pelaksanaan posyandu. 2.PNPM GSC. Syarat dari PNPM GSC untuk membangun polindes atau posyandu adalah harus adanya masyarakat yang mau menghibahkan tanahnya sebagai lokasi polindes atau posyandu. Jika ternyata kegiatan yang dilakukan tidak sesuai dengan usulan masyarakat atau pelaksana kegiatan PNPM GSC di desa tidak kelihatan kinerjanya maka masyarakat akan mengkritik pelaksana kegiatan PNPM GSC. Dalam PNPM GSC bentuk partisipasi ini dapat terlihat dari adanya masyarakat yang mau menghibahkan tanahnya untuk dijadikan polindes atau posyandu. material.. Ada kegiatan lain dimana masyarakat berswadaya dalam bentuk tenaga. kalau ada lahan itu baru kita setujui pembangunan posyandu. Seperti kepala dusun Langko Gunting di Desa Langko 157 .

000 per harinya.kalau saya tetap akan jadi kader walaupun nanti suatu saat tidak ada honor lagi dari PNPM GSC.” Partisipasi dalam tahap pelaksanaan juga terlihat dari adanya peran kader posyandu dalam pelaksanaan kegiatan PNPM GSC.rumah saya dijadikan tempat untuk posyandu sejak setahun terakhir ketika saya menjadi kepala dusun karena di dusun Langko Gunting ini belum ada tempat pelaksanaan posyandu yang permanen. Soalnya dari dulu sudah jadi kader walaupun tidak ada honornya. Desa Langko berikut ini : “.. Namun adanya insentif ini bukanlah motivasi utama kader di Desa Langko melaksanakan perannya sebagai seorang kader.. Insentif ini tidak berupa gaji tetapi uang transport yang diberikan sehari sebelum pelaksanaan posyandu. Dalam PNPM GSC peran kader posyandu sangat penting karena kader posyandu sebagai penyuluh terdepan yang dapat mengajak masyarakat agar mau memanfaatkan layanan kesehatan.000. berikut uraiannya: “. seorang kader dari Dusun Lengarak.. Anggota KPMD hanya dua orang jika tanpa bantuan dari kaderkader posyandu di setiap dusun. KPM akan kesulitan untuk mendata sasaran dan menemukan permasalahan kesehatan ibu dan anak yang ada pada setiap dusun. Dengan adanya uang transport ini masyarakat berharap kader posyandu lebih giat mengajak ibu yang memiliki bayi dan balita agar mau membawa anaknya ke posyandu dan memotivasi ibu hamil agar mau memeriksakan kehamilan dan melahirkan di tenaga kesehatan. pada hari pelaksanaan posyandu dan satu hari setelah pelaksanaan posyandu sebesar Rp 15. Kader posyandu juga turut membantu KPMD (Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa) dalam mendata sasaran yang ada di desa.yang bersedia rumahnya dipakai untuk pelaksanaan posyandu setiap bulannya. Seperti pernyataan informan IT.” 158 . Maka sebagai balas jasa dari apa yang telah dilakukan para kader kebanyakan muncul usulan di masyarakat untuk memberikan insentif bagi para kader dengan menggunakan dana PNPM GSC. Jadi satu orang kader total mendapatkan uang transport sebesar Rp 45..

Masyarakat berhak mengusulkan kepengurusan akan tetap dilanjutkan atau harus diganti.2 BAYANG-BAYANG JAMPERSAL DI LAMANGGAU Desa Lamanggau terletak di Kecamatan Tomia. masyarakat berhak menilai apakah kepengurusan pelaksana kegiatan di desa berjalan dengan baik atau tidak. bahkan dapat dikatakan gugusan pulau sangat kecil. Kepulauan Wakatobi merupakan gugusan pulau-pulai kecil. Provinsi Sulawesi Tenggara. kebanyakan kader adalah perempuan. Partisipasi di dalam pemanfaatan (utilitazion stage) Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap pemanfaatan suatu proyek setelah proyek tersebut selesai dikerjakan. 159 .Kader IT adalah satu-satunya kader laki-laki yang ada di Kecamatan Janapria. berjumlah 48 buah pulau dengan luas daratan 823 km2 dan luas perairan 13.96 km. yang membentang dari Utara ke Selatan di antara 5012’ – 6010’ LS (sepanjang kurang lebih 160km) dan 123020’ – 124039’ BT (sepanjang kurang lebih 120 km). Pada PNPM GSC partisipasi ini terlihat dengan terlibatnya masyarakat pada musyawarah pertanggungjawaban desa ketika dana PNPM GSC sudah terpakai dan kegiatan-kegiatan dalam PNPM GSC di desa sudah dilaksanakan.900 km2 serta panjang garis pantai 251.8. Sebelum ada PNPM GSC ia tidak pernah mendapatkan insentif per bulannya namun walaupun suatu saat tidak ada lagi insentif dari PNPM GSC ia tetap akan menjadi kader karena uang bukanlah motivasi utamanya menjadi kader. 3. Kabupaten Wakatobi. Dalam musyawarah pertanggungjawaban desa. Kader IT sudah lebih dari sepuluh tahun lamanya menjadi kader di Dusun Lengarak. 5. Kabupaten Wakatobi terletak di sebelah Timur Kabupaten Buton.

000.00 penumpang belum mencapai jumlah sepuluh orang.Gambar 5. Apabila pada pukul 09.-. dengan menggunakan speed boat dengan tarif Rp 120. yaitu pada pukul 09.15.com/2012/04/peta-wakatobi. Speed boat hanya beroperasi satu hari sekali. yaitu sebuah pulau yang berada di barat daya Pulau Tomia.44 Peta Kabupaten Wakatobi Sumber: http://visitkendari. Waktu tempuh ojek ini sekitar 20 menit dengan tarif Rp. jadwal tersebut tidak menentu tergantung pada keadaan penumpang.000 perorang. maka keberangkatan akan ditunda sampai jam 10 pagi. Setelah tiba di Dermaga Waitii. Namun.00 pagi. Pulau Wangi-wangi. yang kemudian akan dilanjutkan dengan ojek darat menuju Dermaga Waitii. 76 desa (sumber: Permendagri Nomor 66 Tahun 2011). Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Jabal di Wanci.html Kabupaten Wakatobi memiliki 8 kecamatan. Perjalanan dari Wangi-wangi ini membutuhkan waktu sekitar 2. Salah satu desa tersebut adalah Desa Lamanggau yang terletak di Pulau Tolandono. Desa Lamanggau dapat diakses hanya dengan speed boat dan pompong atau disebut bodi dalam bahasa Bajo.blogspot. 8 kelurahan. dan apabila tidak mencukupi 10 orang bisa saja keberangkatan ditunda hingga esok hari. perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan pompong 160 .5 jam untuk sampai ke Dermaga Osuku di pulau Tomia.

000 per orang. yaitu Dusun Lasoilo. Dusun Ketapang mayoritas dihuni oleh orang Buton Tomia yang seringkali disebut dengan ‘orang darat’ oleh orang Bajo. Kata ‘darat’ tersebut menunjukan kondisi Dusun Ketapang tempat mayoritas orang Buton Tomia berada. Kabupaten Wakatobi. Dusun Lasoilo yang berada di tepi laut mayoritas dihuni oleh orang Bajo. yaitu Desa Lamanggau. Secara administratif. dan Dusun Dunia Baru. Dusun Ketapang. Berbeda dengan Dusun Lasoilo. Sebagai penghubung antara satu rumah ke rumah lain. Desa Lamanggau termasuk dalam wilayah Kecamatan Tomia. Dusun ini dihuni oleh orang Bajo dan orang Buton-Tomia yang telah melakukan 161 .untuk menuju Pulau Tolandono selama kurang lebih 10 menit dengan tariff Rp 3. Gambar 5. Sementara itu. dibangun jembatan kayu sebagai alat penyeberangan dari satu rumah ke rumah lain. Desa Lamanggau terdiri dari tiga dusun.45 Peta Desa Lamanggau Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. Di pulau tersebutlah Desa Lamanggau terletak. Mayoritas rumah yang terdapat di Dusun Ketapang terbuat dari semen dan sebagian terbuat dari kayu. November 2012 Di Pulau Tolandono hanya terdapat satu desa. Rumah-rumah di dusun tersebut mayoritas didirikan di tepi laut bahkan ada yang didirikan di atas laut. dusun yang ketiga adalah Dusun Dunia Baru. terletak di daratan yang agak tinggi.

bantuan yang diberikan berupa bantuan uang kas desa dan aliran listrik pada malam hari yang dimulai sejak pukul jam 18. Resort tersebut berdiri sekitar tahun 1990-an oleh investor asing. Desa Lamanggau merupakan satu-satunya desa yang menjadi wilayah kerja Puskesmas Onemobaa. sedangkan sebagian lagi tinggal di lautan. Kondisi geografi Dusun Dunia Baru merupakan perpaduan antara Dusun Lasoilo dan Dusun Ketapang. sebagian masyarakat Dusun Dunia Baru tinggal di daratan. Dengan kata lain. masyarakat harus menyebrang pulau untuk bisa mencapai sumber mata air tawar. Biaya yang dikeluarkan untuk menyewa kendaraan tersebut sekitar Rp 20. yaitu jalur darat dan jalur laut.perkawinan. Untuk menuju ke puskesmas tersebut dapat melalui dua jalur. resort tersebut juga memberikan bantuan kepada beberapa desa yang ada di Pulau Tomia dan sekitarnya. Bantuan tersebut bermacam-macam. apalagi wisatawan asing yang berkunjung ke sana. Jalur darat hanya dapat dilalui dengan menggunakan kendaraan roda dua. Selain Desa Lamanggau. Untuk desa Lamanggau. tepatnya di sebelah selatan DWR. Namun. Puskesmas tersebut terletak kurang lebih satu kilometer dari pemukiman masyarakat Desa Lamanggau. Tidak tersedia sumber mata air tawar di Desa Lamanggau. sehingga sekilas puskesmas ini terlihat terletak dalam area DWR. Resort tersebut juga menawarkan wisata bawah laut di sekitar Pulau Tomia. sehingga banyak wisatawan.000 (pulang pergi) dengan jarak tempuh kurang lebih 10 sampai 15 menit. Pada siang hari tak ada aliran listrik sama sekali. kendaraan tersebut hanya bisa 162 . ada yang berbentuk uang tunai ada juga yang berbentuk bangunan seperti pagar desa. Tentunya kondisi ini mencakup pustu dan puskesmas yang ada di sana. karena jalan yang dilalui berupa jalan setapak yang dikelilingi oleh kebun dan semak-semak. Listrik yang mengalir di Desa Lamanggau merupakan bantuan dari Dive Wakatobi Resort yang terletak di bagian barat daya Pulau Tolandono. Begitu pula dengan kecukupan air bersih di desa ini. Puskesmas tersebut dibangun pada tahun 2007 di sebelah timur Dive Wakatobi Resort (DWR) yang dibangun sekitar tahun 1990an.00 hingga 06.00.

tibalah di Puskesmas Onemobaa.47 Jalan menuju Puskesmas Onemobaa (kiri) dan pintu gerbang milik Dive Wakatobi Resort (kanan). pengunjung dipersilahkan masuk dengan jalur yang telah ditentukan. Perjalanan tersebut ditempuh kurang lebih 10 hingga 15 menit. pengunjung puskesmas masih harus menunggu izin dari satpam untuk dapat masuk dan melanjutkan perjalanan menuju puskesmas. Akses jalan ini berupa jalan tanah berkerikil dan mempunyai banyak cabang jalan yang membuat bingung pengunjung yang belum pernah ke sana. Jalan setapak ini bukanlah jalan yang mulus beraspal bagus dan mudah untuk dilewati. Setelah menunggu beberapa menit untuk mendapat izin dari satpam. pengunjung terlbih dahulu izin ke satpam yang berjada di pintu gerbang tersebut Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. Gambar 5. Setelah sampai di gerbang resort. Perjalanan dimulai dari Dermaga Lamanggau menuju dermaga yang terletak sebelum DWR. pengunjung harus berjalan selama kurang lebih 10 menit melewati jalan setapak yang dikelilingi oleh kebun untuk menuju ke pos satpam resort. Dari dermaga. pengunjung puskesmas wajib lapor ke satpam penjaga resort. Sebelum masuk ke Puskesmas Onemobaa. Setelah tiba di pos satpam. Setelah berjalan kurang lebih 10 menit. November 2012 163 . Jalur kedua adalah melalui jalur laut dengan memggunakan pompong.mencapai pos satpam DWR.46 dan 5.

namun jika melewati jalan belakang. Pada saat ada kunjungan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten. dan loket pendaftaran. bersalin. sampah tersebut tidak terlihat. maka pengunjung akan melewati tumpukan sampah. Pada awalnya bangunan puskesmas dikelilingi oleh pagar kawat berduri sehingga pengunjung harus melewati jalan depan.Puskesmas Onemobaa terletak jauh dari pemukiman masyarakat Desa Lamanggau. Memang jika dilihat dari depan. Di dalam bangunan tersebut terdapat beberapa alat kesehatan seperti tempat periksa pasien. sebelumnya bangunan ini juga sudah dipasangi genset dan tandon air. pagar kawat berduri tersebut dirusak sebagian oleh kepala dinas karena dianggap menghambat akses masyarakat untuk ke puskesmas. Puskesmas tersebut dikelilingi oleh kebun dan semak-semak belukar. dan untuk menuju jalan depan pengunjung akan menambah waktu untuk berjalan. dua alat tersebut dipindahkan ke pustu yang terletak di Dusun Ketapang. Menurut penuturan kepala puskesmas. Hal yang paling memprihatinkan di sisi bangunan ini dijadikan tempat pembuangan sampah kering dan tanaman dari resort. Beberapa alat kesehatan tersebut mulai tampak berkarat. poli gigi. Bangunan Puskesmas Onemobaa terdiri dari beberapa ruangan yang sudah dipasang papan nama ruangan seperti ruangan KIA. Namun karena tidak dipakai. 164 . Sampai saat ini kepala puskesmas dan stafnya secara bergilir masih datang untuk mengecek bangunan atau sekedar membersihkan puskesmas dan lingkungan sekitarnya. bahkan tidak ada satu rumah pun berdiri di sekitar bangunan puskesmas. dan alat pendukung lainnya seperti meja dan kursi. gunting.

165 .48. Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. Rumah tersebut terbuat dari kayu yang memiliki dua kamar. Di salah satu rumah tersebut telah tersedia kasur lengkap dengan batalnya.Gambar 5. tempat periksa pasien yang sudah mulai berkarat (kanan).49 dan 5. Menurut masyarakat Desa Lamanggau. Dua rumah tersebut memiliki ukuran dan bentuk yang sama. Menurut kepala puskesmas. dua bangunan tersebut diperuntukan kepala puskesmas dan tenaga kesehatan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa. ruang tamu. sejak dibangun hingga saat ini rumah tersebut belum pernah digunakan sama halnya dengan Puskesmas Onemobaa. kamar mandi. sejak Puskesmas Onemobaa dibangun hingga saat ini belum ada masyarakat setempat yang menggunakan puskesmas tersebut sebagai tempat untuk mendapatkan fasilitas kesehatan. Namun. terdapat juga dua bangunan yang berbentuk rumah panggung. November 2012 Selain bangunan puskesmas. 5.50 Gedung Puskesmas Onemobaa yang mulai tertutup dengan tumbuhan yang menjulang tinggi (kiri). dan dapur. dan rumah tenaga kesehatan yang megah tapi tidak pernah dihuni (bawah).

Empat orang petugas lainnya tinggal di Pulau Tomia yang terletak di seberang Pulau Tolandono. Jumlah petugas Puskesmas Onemobaa ada lima orang. Namun. Hal ini disebabkan karena sekitar bulan September 2012. bidan yang ditugaskan untuk membantu Puskesmas Onemobaa mengajukan surat pindah kembali ke Puskesmas Osuku sesuai dengan SK penempatannya. yang terdiri dari satu kepala puskesmas dengan latar pendidikan kesehatan lingkungan. Dengan jumlah petugas yang terbatas seperti ini. satu orang petugas kesehatan lingkungan merupakan tenaga khusus yang diperbantukan dari pusat. dan petugas kesehatan yang ‘tidak ada’. Dari lima petugas puskesmas tersebut hanya dua orang yang memiliki SK penempatan di Puskemas Onemobaa. Kondisi Puskesmas Onemobaa yang jauh dari pemukiman masyarakat menyebabkan para petugas kesehatan di puskesmas tersebut bertugas dan berkantor di pustu yang terletak di Dusun Ketapang. Dengan kata lain. Lima orang petugas tersebut dibantu oleh dua orang tenaga honorer lulusan SMA. Sejak diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan SK penempatan di 166 . maka tak heran jika setiap petugas memiliki tugas ganda. Sementara itu. hanya ada satu petugas kesehatan yang menetap di Desa Lamanggau. Dia adalah seorang petugas kesehatan yang diperbantukan khusus dari pusat.bahkan sebagian besar belum pernah berkunjung ke puskesmas. Kepala puskesmas dan satu orang perawat lainnya ditugaskan dengan nota dinas dari Puskesmas Tomia untuk membantu Puskesmas Onemoba’a. dari lima petugas kesehatan tersebut. tidak ada bidan yang dapat menolong persalinan di Desa Lamanggau. misalnya kepala puskesmas yang merangkap juga sebagai petugas obat-obatan atau perawat yang merangkap menjadi petugas administrasi. dan satu orang petugas kesehatan lingkungan yang ditugaskan khusus dari pusat. dapat dilihat bahwa tidak ada bidan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa. yaitu dua orang perawat. Berdasarkan data mengenai jumlah dan latar belakang petugas puskesmas. akses yang ‘rumit’ karena harus menunggu izin dari satpam resort. Hal ini disebabkan karena letak puskesmas yang jauh dari pemukiman masyarakat. tiga orang perawat.

Hal ini disebabkan karena keadaan transportasi laut yang tersedia antara Pulau Tomia dan Pulau Tolandono hanya beroperasi sampai pukul 19. meskipun tidak tinggal di Desa Lamanggau. telah mempunyai keluarga dan sedang hamil delapan bulan. Namun menurutnya. Jadi.Puskesmas Osuku. Empat persalinan yang ditolong oleh bidan tersebut dilakukan di rumah. Kini. Dari empat orang yang ditolong tersebut. Oleh sebab itu. bukan di fasilitas kesehatan. tiga orang berasal dari etnis Bajo dan satu orang dari etnis Buton-Tomia. selama dua tahun ia bertugas di Desa Lamanggau. Alasan bidan tersebut tidak tinggal di Desa Lamanggau karena keterbatasan fasilitas yang dimiliki oleh Desa Lamanggau seperti air dan listrik yang hanya menyala pada malam hari. ada empat orang ibu yang ditolongnya untuk melakukan persalinan. Namun ada rasa sungkan yang dimiliki oleh masyarakat setempat untuk memanggil bidan apalagi jika persalinan terjadi pada malam hari. bidan tersebut ditugaskan untuk membantu Puskesmas Oneombaa.00 malam hari. 167 . sejak September 2012. ia tidak bisa mengklaim persalinan tersebut sebagai persalinan yang didanai oleh Jampersal. Menurut cerita bidan tersebut. Selain itu. bidan tersebut tetap menerima panggilan masyarakat untuk membantu persalinan. bidan tersebut yang merupakan kelahiran Osuku. bidan tersebut telah bertugas selama dua tahun di Puskesmas Onemobaa. bidan tersebut kembalu bertugas di Puskesmas Osuku sesuai dengan SK penempatannya. Hal ini berkaitan dengan kebijakan pemerintah Kabupaten Wakatobi yang mengadopsi kebijakan Kementerian Kesehatan bahwa persalinan yang didanai oleh Jampersal adalah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Selama bertugas di Puskesmas Onemobaa. bidan tersebut pernah mengabdikan dirinya di Puskesmas Onemobaa sebagai bidan PTT (Pegawai Tidak Tetap) pada tahun 2011. Kondisi tersebutlah yang memberatkannya untuk tinggal di Desa Lamanggau. Sebelum ditugaskan di Puskesmas Onemobaa. bidan tersebut belum pernah tinggal di Desa Lamanggau yang menjadi satu-satunya wilayah kerja Puskesmas Onemobaa.

Menurut penuturan Bidan Mi (nama samaran bidan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa pada saat itu). Bidan dipanggil kadangkala hanya untuk memberikan suntikan pasca-persalinan. Sementara itu. sehingga dipanggil untuk membantu persalinan. Masyarakat sebagai sasaran tenaga kesehatan mempunyai alasan sendiri mengapa mereka tidak mau memanggil bidan sebagai penolong persalinan dan mengapa mereka tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan yang telah disediakan. hanya ada tiga ibu yang memanggil Bidan Mi berdasarkan kesadaran ibu itu sendiri. agak sulit mengajak masyarakat Lamanggau untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. sehingga ada rasa sungkan untuk memanggil bidan tersebut. keengganan mereka memanggil bidan untuk menolong persalinan karena letak rumah bidan tersebut tidak berada di sekitar mereka. Hal ini terlihat pada data persalinan tahun 2012 yang menjelaskan bahwa hanya ada dua persalinan yang ditolong oleh bidan dari sepuluh persalinan yang terjadi di tahun 2012. apalagi persalinan sering terjadi pada malam hari atau dini hari. dari tahun 2011 hingga tahun 2012. Selain itu. Namun nyatanya upaya tersebut belum membuahkan hasil. Dengan kata lain. Menurut penuturan beberapa orang dari masyarakat setempat. Meskipun bidan tersebut selalu berkata bahwa dia 168 . Masyarakat setempat seringkali memanggil dukun beranak untuk menolong persalinan. hanya ada empat persalinan yang ditolong oleh bidan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. bidan tersebut berada di seberang pulau. sedangkan transportasi antar Pulau Tomia dan Pulua Tolandono hanya sampai pada pukul 19. satu persalinan lagi ditolong oleh Bidan Mi karena pada saat persalinan terjadi Bidan Mi secara tidak sengaja sedang berjalan lewat rumah ibu tersebut. misalnya sosialiasi tentang persalinan gratis sampai pada iming-iming akan diberikan hadiah bila mau melakukan persalinan di tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. Berbagai upaya telah dilakukan bidan tersebut untuk menarik minat masyarakat agar mau bersalin di tenaga kesehatan ataupun fasilitas kesehatan.00 malam hari. Baginya untuk sampai tahap masyarakat mau memanggilnya pada saat persalinan pun sudah hal yang luar biasa. Dari empat persalinan tersebut.

Selain faktor letak fasilitas kesehatan. dan 4) berkaitan dengan sosial budaya yang dimiliki oleh masyarakat setempat. namun ada rasa sungkan yang dimiliki masyarakat untuk menghubungi bidan pada malam hari apalagi terkendala dengan trasnportasi. Ada beberapa alasan yang diungkapkan oleh masyarakat mengapa mereka tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. jadi mereka harus dijaga sebaik mungkin dengan melakukan pantangan-pantangan yang ditentukan oleh adat. yang menurut mereka haus akan darah. orang yang sedang hamil dan bayi adalah rentan terhadap gangguan makhlukmakhluk halus. 2) tidak ada air dan listrik yang tersedia di fasilitas kesehatan. Mereka khawatir akan terjadi hal-hal yang buruk akan terjadi pada ibu dan bayinya jika melahirkan di pustu yang dekat dengan lokasi kuburan. Lokasi kuburan yang identik dengan tempat tinggal makhluk halus. tentunya menjadi pantangan bagi masyarakat di sini. Oleh sebab itu. mereka lebih memilih dukun beranak sebagai penolong persalinan dan rumah sebagai tempat persalinan. pustu yang dibangun di ‘sudut’ pemukiman masyarakat dan dekat dengan kuburan juga menjadi salah satu alasan lagi. Puskesmas Onemobaa yang letaknya jauh dari pemukiman masyarakat seperti yang telah dijelaskan sebelumnya menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat tidak mau melakukan persalinan di puskesmas. Selain enggan memanggil bidan sebagai penolong persalinan. keengganan masyarakat tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi sarana yang tersedia di fasilitas tersebut seperti air dan listrik tidak tersedia di fasilitas kesehatan tersebut. masyarakat setempat juga tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan.siap untuk dihubungi kapanpun. 3) tenaga kesehatan yang tidak ada. 169 . Selain itu. Sementara itu. Menurut kepercayaan masyarakat setempat. antara lain 1) letak puskesmas yang jauh dari pemukiman dan letak pustu yang dekat dengan kuburan. tenaga kesehatan pun kadangkala tidak ada di fasilitas kesehatan meskipun di siang hari.

bangunan polindes ini ditujukan sebagai tempat bersalin.Dukun beranak dipilih sebagai penolong persalinan dan rumah sebagai tempat persalinan dipengaruhi oleh faktor sosial budaya yang dimiliki oleh masyarakat setempat. Apabila melakukan persalinan di rumah. Namun pada kenyataannya hingga saat ini belum pernah sekalipun tempat itu digunakan sebagai tempat persalinan. dan polindes. Selain tersedia puskesmas. Polindes tersebut dibangun di sebelah masjid. di Desa Lamanggau terdapat polindes yang dibangun berdasarkan program Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM MPd). Ada dua posyandu yang dibentuk oleh puskesmas. ada kepercayaan dalam masyarakat Bajo khususnya. Polindes tersebut sempat akan dijadikan sebagai rumah dinas bagi bidan yang bertugas di Desa Lamanggau ini. Oleh sebab itu. tetangga yang ada di sekitar juga dapat membantu persalinan seperti menyediakan air. Bangunan ini sempat dibiarkan kosong selama beberapa tahun. di Desa Lamanggau juga terdapat posyandu. yang sebetulnya tempatnya lebih strategis daripada pustu karena letaknya tepat di tengah desa. listrik. Selain itu. Alasan yang paling umum diutarakan adalah akses air dan listrik yang memang sulit di desa ini. Hal ini tentunya terkait dengan masalah ketersediaan air. Polindes ini sudah dibangun terlebih dahulu sebelum adanya pustu ataupun puskesmas. Selain pustu. yaitu Posyandu Cemara I untuk masyarakat yang tinggal di Dusun Ketapang dan Dunia Baru dan Posyandu Cemara II untuk masyarakat di Dusun Lasoilo. Namun ternyata tidak ada satu pun bidan yang pernah bertugas di desa ini berminat untuk tinggal. dan perlengkapan lainnya. dan nilai budaya yang dimilki oleh masyarakat setempat. pustu. Pada awal pembangunannya. Dengan kata 170 . bahwa ada syarat yang harus dipenuhi sebagai tempat persalinan yang akan dijelaskan pada bagian selanjutnya. makanan. mereka enggan melakukan persalinan di puskesmas atau pustu karena syarat tersebut belum dipenuhi. hingga akhirnya kini digunakan sebagai rumah tinggal ustadz yang memang ditugaskan oleh sebuah yayasan agama untuk mengabdi dan mengajarkan ilmu agama bagi masyarakat Lamanggau ini.

yaitu Posyandu Cemara I. Kegiatan Posyandu ini dilakukan di teras salah satu rumah warga. Namun ternyata satu posyandu tersebut kurang efektif. Pada saat ini ada seorang sando dan seorang pangullieh di Desa Lamanggau.lain. maka para kader tersebut akan mendatangi rumah yang bersangkutan dan menjemput untuk datang ke posyandu. khususnya Posyandu Cemara 2. sando-lah yang paling banyak memegang peran dalam persalinan di Desa Lamanggau sejak tahun 2010. karena masyarakat Bajo sedikit sekali yang terjaring dalam pemeriksaan. Pada tanggal yang telah ditentukan para kader akan bergotong royong membersiapkan peralatan penimbangan dan petugas puskesmas akan datang untuk melakukan pemeriksaan. Mereka dengan sigap membantu petugas puskesmas untuk mengumpulkan para ibu hamil dan balita. PERSALINAN DI DESA LAMANGGAU Berdasarkan data sekunder yang terdapat di pustu. terdapat 8 orang dari 10 ibu bersalin yang ditolong oleh sando pada tahun 2012. Pada awalnya hanya ada satu posyandu yang terdapat di Desa Lamanggau. Posyandu Cemara I untuk ‘orang darat’ dan Posyandu Cemara II untuk orang Bajo. Bahkan jika jumlah kunjungan pada hari itu kurang dari biasanya. Pangullieh yang berusia sekitar 60-an tahun mempunyai penyakit diabetes. sedangkan dukun beranak dari orang Bajo disebut dengan istilah pangullieh. Sando merupakan istilah dukun beranak yang berasal dari orang Buton-Tomia. Hal ini disebabkan karena kondisi pangullieh yang sudah tua dan didukung dengan kondisi kesehatannya yang kurang baik. dikarenakan ada yang tidak datang. Para kader posyandu di desa ini sangat aktif. Namun. Pada awal tahun 171 . yaitu setiap tanggal 20 untuk Posyandu Cemara I dan tanggal 21 untuk Posyandu Cemara II. Akhirnya pihak puskesmas merekrut kader-kader dari masyarakat Bajo dan membentuk Posyandu Cemara II. Tak heran jika para petugas puskesmas merasa sangat terbantu dengan adanya para kader ini. Kegiatan posyandu-posyandu ini diadakan satu bulan sekali.

Begitu pula apabila ia menemukan ibu hamil. Sejak saat itu pula pangullieh tidak dipanggil lagi oleh masyarakat setempat untuk menolong persalinan. ia memanggil Bidan Mi yang pada saat itu masih bertugas sebagai bidan di Puskesmas Onemobaa untuk menolong persalinan. dan bayi ke petugas kesehatan. ia selalu menyarankan untuk memeriksakan kehamilan. dan bayi untuk memeriksakan diri ke petugas kesehatan. ia selalu menyarankan ibu pasca-bersalin tersebut untuk memeriksakan diri ke petugas kesehatan. baik pangullieh maupun sando. Akhirnya. ibu bersalin. dan balita. putri pangullieh. penyakit diabetesnya semakin parah yang melemahkan kondisi fisiknya. dan petugas kesehatan. pertolongan persalinan. arisan tersebut juga menjadi wadah bagi pihak puskesmas untuk memberikan pengetahuan kepada para pangullieh dan sando tentang cara pertolongan persalinan termasuk memberikan alat-alat pertolongan persalinan seperti gunting dan sarung tangan. Sama halnya dengan pangullieh. dan ibu nifas yang ia peroleh pada saat itu. Menurut pangullieh. ibu nifas.2010. Arisan tersebut diadakan sebagai wadah untuk bertukar pikiran antara para pangullieh. Begitu pula pada saat Ibu Ma melahirkan putra bungsunya pada bulan Februari 2012. Sejak saat itu. melarang ibunya untuk menolong persalinan. Sama halnya dengan pangullieh. Puskesmas Waha mewajibkan semua dukun beranak. Pada tahun 2004 dia pernah ‘magang’ di Puskesmas Waha. sando juga ikut dalam arisan dukun beranak yang diadakan oleh Puskesmas 172 . ibu nifas. Berdasarkan pengetahuan tersebutlah ia sedikit mengerti tentang ‘ilmu’ dalam dunia medis tentang pertolongan persalinan. sando. sando-lah yang dipanggil oleh masyarakat setempat untuk menolong persalinan di Desa Lamanggau. Sejak saat itu. untuk datang ke Puskesmas Waha sebulan sekali untuk mengikuti arisan dukun beranak. Selain itu. sando berperan sebagai dukun beranak di Desa Lamanggau selama kurang lebih 15 tahun. ibu nifas. Ibu Ma yang juga berperan sebagai kader kesehatan selalu menyarankan ibu hamil. Pangullieh berperan sebagai penolong persalinan di Desa Lamanggau selama kurang lebih 35 tahun. Berbeda dengan pangullieh. Ibu Ma. banyak pengetahuan tentang kehamilan. Pada saat itu. apabila ia menolong persalinan.

Dengan kata lain. Sejak masyarakat Desa Lamanggau mengetahui bahwa Bidan Mi sedang hamil. 2010:120) 173 . Namun. ada nilai budaya yang dimiliki oleh orang Bajo tetapi tidak dimiliki oleh orang darat.Waha.1 Percampuran budaya tersebut juga menyebabkan kaburnya ‘pemilik asli’ budaya tersebut. asimilasi adalah suatu proses sosial yang terjadi pada berbagai golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda. Sebagai contoh. sejak saat itu pula sando yang seringkali dipanggil oleh masyarakat Desa Lamanggau untuk menolong persalinan. maka ibu hamil tersebut ‘diungsikan’ terlebih dahulu dari tempat ibu bersalin. bahkan ibu hamil dilarang berada di rumah ibu yang sedang bersalin. Selain percampuran budaya antara dua etnis tersebut. dalam 1 Menurut Koetjaraningrat. Kepercayaan ini diyakini oleh masyarakat Desa Lamanggau baik yang berasal dari etnis Buton-Tomia maupun etnis Bajo. Percampuran budaya antara dua kelompok yang berbeda tersebut disebut dengan asimilasi oleh para antropolog. Sejak pangullieh sudah tidak menolong persalinan lagi. Terlepas dari itu. apakah berasal dari etnis Buton-Tomia atau dari etnis Bajo. sifat khas dari unsur-unsur kebudayaan masing-masing berubah menjadi unsur kebudayaan campuran (Hermanto. termasuk orang Bajo meskipun sando adalah ‘orang darat’. Setelah mereka bergaul dengan intensif. Salah satu nilai budaya yang dimiliki oleh masyarakat Desa Lamanggau adalah kepercayaan bahwa ibu hamil tidak boleh menolong persalinan. Hal ini karena adanya kepercayaan dalam masyarakat setempat bahwa keberadaan ibu hamil di sekitar ibu bersalin dapat mempersulit proses persalinan. maka mereka tidak memanggil Bidan Mi untuk menolong persalinan meskipun pada saat itu Bidan Mi masih bertugas di Puskesmas Onemobaa. begitu pula sebaliknya. masih ada juga nilai budaya yang masih dipegang teguh oleh masing-masing etnis tersebut. Peran sando sebagai penolong persalinan dalam dua etnis yang berbeda tersebutlah menyebabkan adanya percampuran budaya yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan antara orang Buton-Tomia dan orang Bajo. ‘pemilik asli’ kepercayaan tersebut belum dapat dideteksi. kepercayaan tersebut telah mempengaruhi peran bidan di Desa Lamanggau dalam pertolongan persalinan. Apabila ada ibu hamil di sekitar ibu bersalin.

maka pada saat persalinan ibu tersebut akan dibawa ke rumah yang sudah pernah digunakan untuk persalinan. Apabila ada seorang ibu hamil berada di dalam sebuah rumah yang belum pernah digunakan untuk persalinan. Menurut Ibu Ma. Rumah Mbook Medaming terletak di Dusun Lasoilo yang mayoritas dihuni oleh orang Bajo. Apabila rumah tersebut tidak didoakan terlebih dahulu oleh ‘orang tua’ tersebut. Kepercayaan tersebut menjadikan rumah Mbook Medaming sebagai ‘rumah bersalin’ masyarakat Bajo. berdinding anyaman bambu yang disebut gedeg oleh orang Jawa. Ritual tersebut dilakukan oleh ‘orang tua’ yang dianggap mempunyai ‘ilmu’ dalam mendoakan sebuah rumah agar bisa dijadikan tempat bersalin. Menurut mereka. kepercayaan tersebut menjadi salah satu faktor mengapa masyarakat Bajo enggan melakukan persalinan di pustu. maka harus dilakukan ritual terlebih dahulu. Oleh sebab itu. salah seorang kader kesehatan dan juga anak seorang pangullieh. rumah yang boleh digunakan sebagai tempat melahirkan adalah rumah yang pernah digunakan sebagai tempat melahirkan. masyarakat Bajo akan menggunakan pustu sebagai tempat persalinan apabila telah ‘dipagari’ dengan doa-doa oleh ‘orang tua’. maka rumah tersebut tidak boleh digunakan sebagai tempat bersalin. Namun. Rumah tersebut paling sering digunakan oleh masyarakat Bajo sebagai tempat persalinan karena dipercaya oleh masyarakat setempat dapat memudahkan persalinan seorang ibu. Di Dusun Lasoilo yang mayoritas dihuni oleh orang Bajo. Menurut mereka pustu tersebut belum pernah digunakan sebagai tempat persalinan dan belum ‘dipagari’ dengan doadoa oleh ‘orang tua’. Rumah tersebut adalah rumah Mbook Medaming. terdapat sebuah rumah yang dipercaya oleh orang Bajo sebagai ‘rumah bersalin’. setiap ibu yang melahirkan di rumah tersebut selalu menjalani persalinan dengan mudah. Rumah tersebut berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu.masyarakat Bajo ada kepercayaan tentang tempat melahirkan. apabila rumah yang belum pernah digunakan sebagai tempat persalinan akan digunakan sebagai tempat persalinan. Menurut kepercayaan orang Bajo. Untuk memasuki rumah tersebut harus melewati tangga 174 . dan berlantaikan bambu.

Ruangan tersebut berlantaikan bambu yang memiliki celah. Ruangan yang berlantai bambu tersebut disebut dengan jongkeng oleh masyarakat Bajo.53 dan 5. Ruangan tersebut adalah kamar Mbook Medaming yang digunakan sebagai ruang bersalin. atau merasa terganggu. 5. sehingga darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan bisa langsung jatuh ke bawah rumah dan dibawa oleh air laut.52 . November 2012 175 . Setiap ada ibu yang akan melahirkan di rumah tersebut. Mbook Medaming dan keluarga tidak pernah marah. Di sudut ruangan tersebut terdapat sebuah ruangan yang berukuran kurang lebih 2 x 2 meter. 2) kamar yang dijadikan tempat bersalin (tampak dari dalam).54 1) Rumah Mbook Medaming yang menjadi ‘rumah bersalin’ masyarakat Bajo. Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. mencegah.51. 3) kamar yang dijadikan tempat bersalin (tampak dari luar).yang memiliki kurang lebih sebanyak lima anak tangga. Ruang pertama yang ditemukan adalah ‘ruang tamu’ yang berukuran kurang lebih 4 x 4 meter. dan 4) lantai rumah yang terbuat dari bambu yang bercelah-celah. 1 2 3 4 Gambar 5. 5.

Bagi mereka di mana saja ibu bersalin boleh melahirkan tanpa ada syarat tempat tersebut harus didoakan terlebih dahulu seperti orang Bajo. dan air tersebut bisa langsung jatuh ke bawah tanah atau bawah laut.55 Ibu nifas Seorang ibu nifas sedang duduk di atas parapara. Masyarakat setempat menggunakan parapara agar darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan bisa langsung dibersihkan dengan air. sama halnya dengan masyarakat Bajo yang melahirkan di tempat yang terbuat dari bambu yang mempunyai celah.Berbeda dengan masyarakat Bajo. November 2012 Berdasarkan penjelasan pada diskripsi sebelumnya dapat dilihat bahwa banyak faktor yang mempengaruhi implementasi Jampersal di masyarakat. Jampersal yang menawarkan pelayanan persalinan gratis diharapkan mampu menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan 176 . Parapara tersebut digunakan karena mempunyai celah-celah sehingga darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan mudah dibersihkan. Tempat tersebut biasanya disebut dengan parapara oleh masyarakat ButonTomia. Namun. masyarakat Buton-Tomia tidak mempunyai kepercayaan tempat melahirkan. Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. Parapara adalah tempat melahirkan yang digunakan oleh masyarakat Buton-Tomia. Gambar 5. masyarakat Buton-Tomia juga melahirkan di atas bambu yang bercelah tersebut.

Tinta hitam tersebut menjadi buram dalam mata masyarakat Desa Lamanggau.oleh tenaga kesehatan. kenyataan yang ada tidaklah seindah teori dan catatan laporan. Namun. Bagaimana tidak. secara teori seharusnya fasilitas tersebut sudah mampu mengakomodir kebutuhan masyarakat dalam hal kesehatan. Tiga elemen tersebut saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Apabila tiga elemen tersebut tidak ‘mendukung’ dalam pelakasanaan program Jampersal. Hambatan tersebut dapat berasal dari kondisi fasilitas kesehatan. Secara kasat mata. dan budaya masyarakat setempat. ketersediaan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan hanya menjadi tinta hitam catatan laporan sumber daya tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Wakatobi. Dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak. mereka bertahan untuk sehat termasuk bersalin dengan cara mereka. Pemerintah memang telah membangun fasilitas kesehatan berupa puskesmas dan pustu di Desa Lamanggau. Bagaimana masyarakat mau dan mampu untuk menikmati jika puskesmas ini dibangun di tempat yang jauh dan sulit dijangkau aksesnya. karena mereka tidak mampu ‘menikmati’ pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang berada ‘jauh’ dari sisi mereka. ketersediaan fasilitas kesehatan di Desa Lamanggau bisa dikatakan sudah cukup. Namun. Selain itu. Oleh sebab itulah. Cara tersebutlah yang melekat dalam diri mereka dan dianut dari nenek moyang sampai sekarang. program tersebut mempunyai banyak hambatan. Pemerintah juga menyediakan tenaga kesehatan untuk ditugaskan di desa ini. Ada satu puskesmas induk dan satu puskesmas pembantu yang disediakan untuk masyarakat Desa Lamanggau. maka program Jampersal hanya menjadi bayang-bayang yang tidak bisa direalisasikan dalam nyata. Namun jika kita lihat langsung di lapangan. pada implementasinya. tenaga kesehatan. fasilitas kesehatan yang terletak jauh di mata dan jauh di kaki juga tidak bisa mereka nikmati. puskesmas induk yang sudah dibangun dengan bentuk bangunan yang bagus serta fasilitas yang lengkap ini tidak pernah sekalipun dinikmati oleh masyarakat. Masyarakat hanya dapat berobat di pustu dengan 177 .

Atau lokasi fasilitas kesehatan. yang terletak dengan kuburan yang dianggap sebagai salah satu tempat yang dilarang didekati wanita hamil dan bayi dalam budaya setempat. Belum lagi untuk masuk ke area puskesmas harus menunggu izin dari pihak keamanan resort terlebih dahulu. misalnya ada kasus persalinan di tengah malam. dalam hal ini pustu. 178 . Tenaga kesehatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat sejatinya juga mengerti dan paham akan budaya serta kearifan lokal yang ada. sebuah fasilitas umum yang ditujukan untuk masyarakat tapi aksesnya sulit dan sangat terbatas bagi masyarakat itu sendiri.misalnya bidan desa. apakah mungkin tenaga kesehatan ini akan cepat tanggap menolong sementara mereka tinggal di lain pulau dengan transportasi terbatas? Jika tenaga kesehatan . ini tinggal di desa kemudian berbaur dengan masyarakat tentunya akan lebih efektif.fasilitas seadanya. Budaya serta kearifan lokal yang sudah mendarah daging secara turun temurun akan senantiasa dipegang teguh oleh masyarakat sebagai pedoman hidup mereka. Selain akses yang lebih mudah bagi masyarakat untuk bersentuhan dengan tenaga kesehatan. Entah apa yang menjadi landasan awal dari penempatan lokasi puskesmas ini. Jadi untuk merangkul masyarakat ini tentunya harus bisa memahami dan mengikuti alur pikir mereka. Dengan kenyataan bahwa jumlah tenaga yang terbatas serta sebagian besar tidak tinggal di desa tentunya akan membatasi akses masyarakat untuk bersentuhan dengan tenaga kesehatan. kedekatan secara emosional dan psikologis pun akan terbentuk. Bagaimana bisa. Masyarakat merasa bidan ini adalah bagian dari keluarga mereka. Dalam kasus ini misalnya. Keterbatasan tenaga kesehatan juga turut mempengaruhi kualitas pelayanan yang ada. Tidak mungkin rasanya jika ada ibu yang akan melahirkan tapi harus naik pompong (perahu) atau ojek dan kemudian berjalan lagi 15 – 20 menit dengan kondisi jalan yang berliku. sementara bidan yang bertugas di sini sedang hamil. Jika keadaan darurat terjadi. budaya setempat mengatakan bahwa wanita hamil tidak boleh ada di dekat ibu yang akan melahirkan.

Namun. 5. tenaga kesehatan. Melalui intervensi Jampersal. Begitu pula dengan kebijakan yang ada di Kabupaten Wakatobi. Ternyata kata ‘gratis’ tidak mampu mengalahkan kearifan lokal yang telah dimiliki oleh masyarakat setempat. Di wilayah kerja Puskesmas Kepanjen Kidul. Bagi teman-teman di Puskesmas.Jika selama ini puskesmas dibangun berdasarkan ‘keangkuhan’ para policy maker dengan pikiran bahwa masyarakat membutuhkan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. ini dianggap sebagai bencana dan merupakan rekor kasus karena dalam dua tahun sebelumnya tidak ada kematian ibu. persalinan yang bisa diklaim adalah persalinan dengan tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. dan selalu ingin gratis. tetapi belum mampu menarik masyarakat untuk bersalin ke tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan karena disebabkan kondisi fasilitas kesehatan. sehingga adanya anggapan bahwa meskipun tenaga kesehatan tidak menetap di desa tersebut dan fasilitas kesehatan berada jauh dari pemukiman. dan kondisi sosial budaya masyarakat.8. pada kenyataannya meskipun persalinan telah dijamin oleh pemerintah. pasti akan digunakan oleh masyarakat. diharapkan berharap bisa menekan angka kematian ibu dan bayi sebagaimana target MDG’s tahun 2015.3. Mungkin masih banyak yang beranggapan bahwa masyarakatlah yang butuh dokter. Namun demikian kondisi di lapangan bisa tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Kota Blitar. Kejadian tersebut 179 . JawaTimur mulai januari sampai dengan bulan Nopember 2012. apalagi diiming-imingi dengan kata gratis. Berdasarkan juknis Jampersal tahun 2012. terjadi empat kasus kematian ibu. diharapkan tidak terjadi lagi kasus kematian ibu dan bayi. ANTARA BUDAYA. butuh bidan. TABU DAN UPAYA PENYELAMATAN IBU DI KOTA BLITAR Program jampersal. Namun nyatanya pikiran tersebut tidak mampu ‘mengajak’ masyarakat untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan oleh tenaga kesehatan. Tiga kasus terjadi di RS dan satu kasus terjadi di Puskesmas.

Px kerja di sebuah dealer sepeda motor sebagai sales counter. ritme kerja Px tidak berubah. Px bekerja dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore dan beberapa kali harus lembur. tetapi kejadian itu masih saja di temui. Walau semua sumberdaya sudah dikerahkan untuk meniadakan kasus kematian maternal perinatal. 3 Puskesmas. Jarak tempuh yang dibutuhkan dari pelosok kota menuju ke fasilitas kesehatan tidak lebih dari 15 menit dengan kendaraan bermotor.merupakan temuan menarik untuk dikaji lebih mendalam karena keberadaan fasilitas kesehatan di kota Blitar cukup memadai. Klinik Bersalin dan didukung oleh praktek dokter obgyn serta bidan praktek swasta. pihak Dinas Kesehatan dan Puskesmas sudah melakukan review maternal perinatal. pendidikan SLTA . RS Swasta. Gambaran hasil review adalah sebagai berikut : KASUS 1 adalah Ny. Gambaran Kasus Kematian Maternal Memperhatikan kondisi daerah yang merupakan daerah perkotaan dengan fasilitas kesehatan yang sangat memadai dan mudah di akses. Sejak sebelum hamil hingga 1 hari sebelum Px meninggal. Anak pertama telah berusia 5 tahun dan tinggal bersama orang tua Px d Rembang Blitar. berumur 24 tahun. Px terkenal sebagai karyawati yang cekatan dan mudah bergaul sehingga Px sangat membantu tempat dia bekerja dalam mencari customer. F. akan tetapi Px 180 . adanya kasus kematian maternal yang terjadi di wilayah kerja puskesmas Kepanjen Kidul merupakan kondisi yang sangat tidak diharapkan oleh Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab bidang kesehatan. Bahkan sore hingga malam sebelum Px meninggal Px sering menerima telpon dari atasan karena Px sedang dalam proses persetujuan penawaran harga penjualan dengan pembeli. Di tempat kerjanya. Menindaklanjuti kasus kematian tersebut. RSUD. Meskipun Px merupakan orang yang mudah bergaul. bekerja swasta Deskripsi Kasus Kehamilan Px kali ini merupakan kehamilan 1.

akhirnya Px yang mengendarai motor. Setelah itu Px menyapu halaman. Hanya saja ketika Px mengeluh pusing dan muntah-muntah. padahal waktu hamil pertama. apakah obat tersebut kembali 181 . Kondisi kehamilan Px ini dianggap suami dan keluarganya berbeda dengan kehamilan terdahulu karena hingga memasuki bulan ke-5 Px masih mengeluh mual dan pusing.30. Suami Px baru membangunkan Px ketika jam sudah menunjukkan pukul 05. Sepulang dari kerja. tidak biasanya Px bangun siang. Meskipun suami Px sudah menyembunyikan obat tersebut. Blitar dengan mengendarai motor. Px jarang sekali menceritakan masalahnya dengan orang lain. termasuk dalam hubungannya dengan suaminya. Akan tetapi Px tetap bersikukuh mencari “Poldan Mix” yang biasa dipakai oleh keluarga jika sakit kepala karena Px menganggap obat dari bidan tidak manjur. Px sempat mencuci piring dan memasak nasi. Pagi harinya. Suami mengingatkan agar tidak minum obat sembarangan dan minum obat dari bidan saja. Px tidak mau. Suami Px tidak mengetahui. Obat langsung ditelan tanpa menggunakan air. Tidak jarang Px muntah-muntah ketika mengeluh mual dan pusing. Ketika suami membangunkan. padahal saat itu suami Px sudah tidur dan tidak kuat untuk mengendarai motor. Akhirnya Px menemukan obat yang disembunyikan suaminya. Sampai di rumah suami Px langsung tidur.adalah pribadi yang tertutup. Jam 11 malam Px minta pulang ke rumah mertua kembali. Suami Px pikir Px kecapaian karena semalam sampai di rumah sudah larut. Px minta diantar suami untuk ke rumah orang tuanya dengan alasan Px kangen dengan anak pertamanya. tetapi Px tetap mencari hingga tempat obat berantakan. Kemudian Px merasa kepalanya sangat sakit dan ingin minum obat karena sudah tidak tahan. setelah maghrib. Karena ngotot minta pulang saat itu juga. akhirnya Px memuntahkannya. Karena ukuran obat yang besar. dan suami menyuruh Px ke dokter. sedangkan suaminya yang membonceng. Px diantar suaminya pergi ke rumah orang tuanya di Rembang. Px mengeluh sakit kepala. Px hanya mual-mual sampai bulan ke-3 saja.

Waktu suami masuk kamar. Kendaraan yang dimiliki hanya sepeda motor. Akan tetapi tukang becak tersebut mengatakan bahwa dirinya harus mengantar cucunya dahulu baru bisa mengantar ke puskesmas. • Tanggal 1-3-2012 pukul 08. pucat dan nafas ngorok. padahal Px dalam kondisi yang tidak sadar. rumah keluarga Px terletak di tepi jalan raya yang dilewati oleh banyak kendaraan yang berlalu lalang. Px muntah-muntah. Tidak lama pada saat Px menyapu halaman. Selain posisi rumah Px yang menghadap ke tembok tetangga. 182 . karena kondisi Px sudah tidak sadar.00 ibu datang ke UGD Puskesmas dengan kondisi tidak sadar. Px dirujuk ke RS. “Panadol” satu tablet karena mengeluh pusing sejak kemarin sore. Suami menyuruh Px untuk masuk rumah dan istirahat saja. Px tetap tidak bereaksi akhirnya suami Px menyadari bahwa Px butuh pertolongan dan harus segera dibawa ke puskesmas. suami mencari kendaraan yang bisa dipakai untuk membawa Px ke Puskesmas. Walaupun letak puskesmas dekat dengan tempat tinggal Px dan tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di puskesmas. • • Ibu langsung dirujuk ke RS dan meninggal di RS tanggal 6-3-2012 Riwayat minum obat di rumah sebelum dibawa ke puskesmas. suami menemukan Px sudah dalam keadaan “ngorok”. Di RS Px masuk ke ICU dan dipasang alat bantu nafas dan jantung. Sauami Px bingung bagaimana cara membawa Px ke puskesmas yang jaraknya sebenarnya tidak jauh. Antara rumah Px dan rumah tetangga terdapat halaman yang sangat luas. karena semalam Px pulang larut.diminum oleh Px atau dibuang. Suami mengira Px masuk angin. akan tetapi rumah Px tidak menghadap ke jalan raya. Akhirnya suami bertemu dengan becak yang diharapkan dapat mengantar ke puskesmas. Dilihat dari kondisi lingkungannya. akan tetapi keluarga Px membutuhkan waktu untuk mencari dan menanti transportasi untuk membawa Px ke Puskesmas. langsung dibawa ke UGD. Dengan mengendarai sepeda motor. Sesampai di puskesmas. Px masuk kamar kembali dan suami yang melanjutkan menyapu halaman dan ruang tamu. melainkan menghadap ke tembok rumah tetangga.

akan tetapi biasanya ibu-ibu yang datang ke psyandu meminjam buku-buku tentang kehamilan yang dibaca saat jadwal posyandu. akan tetapi karena rumah Px yang jauh. Kader juga tidak mengetahui kondisi kehamilan Px karena kader hampir tidak pernah bertemu Px selama Px hamil. Suami tidak pernah ikut masuk ke ruang dokter ketika Px kontrol sehingga suami tidak tau dengan benar kondisi Px. Untuk resiko-resiko masa kehamilan. Rumah kader wilayah Px juga lumayan jauh dari tempat tinggal Px. Px bekerja dari pagi hingga sore dan karena Px juga tidak pernah hadir jika ada acara di kampung menyebabkan kader jarang berkomunikasi dengan Px. Kader bercerita jika penduduk di wilayahnya rata-rata adalah pedagang dan buruh tani. sehingga ketika terjadi sesuatu tidak ada tetangga yang mengetahuinya.halaman yang luas dapat pula menjadi penghalang keluarga Px untuk berkomunikasi dengan tetangga. Pada kasus ini tampak bahwa kurangnya pengetahuan ibu tentang bahaya penggunaan obat secara bebas. sehingga mereka akan berangkat kerja pagi-pagi dan pulang di malam hari. Menurut kader. kader memang tidak memberi penyuluhan secara personal. Komunikasi keluarga Px dengan tetangga kurang lancar. Menurut kader. Posisi rumah Px yang jauh dari rumah kader 183 . Sebenarnya kader aktif datang berkunjung ke rumah ibu hamil untuk mengontrol kondisi ibu hamil. Bahkan kader baru mengetahui berita kematian Px setelah hari ke-3 Px meninggal. Px hanya mengatakan jika kehamilannya baik-baik saja. memang suami Px sering main bola dengan temantemannya yang tinggal di sekitar rumah kader. Kader mengaku bahwa dia dan tim aktif memberikan penyuluhan kepada ibu hamil. akan tetapi jarak rumah yang lumayan jauh menghalangi proses komunikasi kader dan Px. ibu menyusui dan ibu yang mempunyai anak balita tentang kesehatan. Ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumah kader aktif datang pada saat jadwal posyandu berlangsung. Px tidak pernah datang pada kegiatan posyandu. selama Px hamil.

Setiap pagi. pagi-pagi sekali suami Px sudah berangkat untuk berjualan (di pasar dari jam delapan pagi sampai jam tiga sore). Px mempunyai kebiasaan untuk minum jus setiap hari. N. umur 33 tahun. Px juga tinggal bersama dengan keponakannya).menyebabkan terputusnya komunikasi antara Px dengan kader. Ibu px meninggal karena darah tinggi (stroke). Anak pertama laki-laki. pendidikan SLTA dan sebagai ibu rumah tangga Deskripsi Kasus Kehamilan Px kali ini merupakan kehamilan ketiga. Ada lima anggota keluarga di rumah (selain dengan keluarga inti. ayah Px pernah stroke tetapi meninggalnya bukan karena darah tinggi. sehingga ketika Px tertimpa musibah. telah berusia tujuh tahun dan tinggal bersama orang tua Px. Sehari-harinya Px hanya di rumah beserta satu orang anaknya. • Komunikasi keluarga Px dengan tetangga kurang lancar. Px adalah seorang ibu rumah tangga sedangkan suami Px adalah pedagang yang berjualan sayur di pasar Wlingi. KASUS 2 : Ny. Anak kedua perempuan. kader tidak mengetahuinya. tinggal bersama Px. Sebelum hamil Px pernah merasa kaku- 184 . Px juga selalu tidur siang. Px hanya mengatakan jika kehamilannya baik-baik saja. sehingga ketika terjadi sesuatu tidak ada tetangga yang mengetahuinya • Posisi rumah Px yang jauh dari rumah kader menyebabkan terputusnya komunikasi antara Px dengan kader. Berdasarkan penjelasan di atas. kader tidak mengetahuinya. permasalahan yang ada pada kasus satu jika diringkas adalah: • • Kurangnya pengetahuan ibu tentang bahaya penggunaan obat secara bebas Suami tidak pernah ikut masuk ke ruang dokter ketika Px kontrol sehingga suami tidak tahu dengan benar kondisi Px. berumur empat tahun. sehingga ketika Px tertimpa musibah. Px memang mempunyai riwayat hipertensi sejak sebelum hamil.

Selama hamil Px sering bercerita pada tetangga kalau Px keluar rumah. Padahal sebelumnya Px tidak pernah merasa sakit di punggungnya. akan tetapi Px tidak mau. kemudian meminumnya dengan cara mencampur obat tersebut 1 tetes dengan air satu gelas. Pada kehamilan usia 3 bulan Px mengeluh ambeien. Suami menyuruh Px untuk ke dokter. Sakit di punggungnya sembuh. Awal hamil hingga kehamilan 2 bulan. Menurut tetangga. Keluar rumah seperlunya saja. jenis kelamin bayi perempuan. Tanpa konsultasi dokter terlebih dahulu. Perasaan itu juga yang membuat Px stress selama hamil. akan tetapi Px masih merasa sangat sakit di kepalanya. Ketika terakhir kali Px kontrol. akan tetapi suami tidak pernah ikut masuk ke ruang praktek dokter. Px sehat dan tidak mengalami keluhan apapun. Kemudian Px minta diambilkan suaminya obat sakit kepala 185 . suami selalu mengantar. beberapa hari setelah kontrol. minggu-minggu terakhir sebelum Px meninggal. padahal rata-rata penduduk di lingkungan sekitar tempat tinggal Px hanya mempunyai dua orang anak. selain itu juga mengingat Px mempunyai riwayat tekanan darah tinggi. Px merasa punggungnya sakit. Px membeli obat “Trace Minerals”. Px selalu melihat langit hitam dan bergulung-gulung seperti mau ada badai atau bencana. Setiap kali Px kontrol ke dokter.kaku di tangannya. karena Px tidak cerita. Px jarang keluar rumah saat hamil. Pada hari Rabu sore Px mengeluh sakit di ulu hati sampai punggung. Tetangga tidak menanyakan kondisi Px. Px mengatakan bahwa sakitnya adalah bawaan bayi. Ketika usia kehamilan menginjak 8 bulan. kondisi Px sudah stres. Px hanya mengatakan jika kondisi Px dan janin baik. Menurut tetangga. Px tampak bengkak pada muka dan kaki. Px pernah tensinya tinggi sekali ketika anaknya sakit.Px bercerita kepada tetangga jika dokter menyarankan Px untuk operasi saja jika melahirkan nanti. karena anak 1 dan 2 juga operasi. sejak awal kehamilan. Tetangga menceritakan bahwa kemungkinan Px malu hamil lagi karena Px hamil anak yang ketiga. tapi tidak lama kemudian sembuh. kemudian meminumnya. Hari kamis Px mengeluh kepalanya pusing dan sakit sekali.

setelah suami berangkat Px ke pasar seperti biasa dengan mengendarai sepeda motor. dokter di RS tidak ada. akhirnya suami mengambilkan obat dan meminumkan obat sakit kepala “puyer 16”. tapi ibu menolak untuk periksa • 186 20-4-2012 suami mengatakan kaki ibu mulai bengkak . Px cerita jika tensinya 170. Hari sabtu malam. • 1 minggu sebelum meninggal ibu mengeluh pusing. kemudian ibu minum puyer • 18-4-2012 ibu mengeluh nyeri dada sampai tembus punggung. keponakan Px menjaga anak Px di rumah dan menelpon suami Px.30. Px mengatakan pada suami bahwa dirinya tidak bisa tidur. Ketika perawat memasang kateter Px mengaduh kesakitan kemudian Px kembali kejang-kejang dan tidak sadar sampai Px meninggal. akan tetapi Px tetap tidak mau ke dokter dan mengatakan bahwa ke dokternya sekalian saja dua minggu lagi. Sampai di RS Px langsung masuk ke UGD. Px dipindah ke ruang perawatan. Px baru bisa tidur. Pukul 5. Suami Px awalnya melarang Px untuk minum obat “puyer 16” dan memaksa Px untuk ke dokter saja. Akhirnya karena Px bersikeras untuk tidak mau ke dokter dan suami tidak tega melihat Px sakit kepala.30. Kemudian perawat masuk dan memasang kateter. Lalu Px menyetrika baju semalaman. Px bercerita pada tetangga kalau sepulang dari pasar Px sempat mampir ke apotek untuk “tensi”. Di UGD Px diinfus. Ketika akan membuat jus. Px kejang. Menurut tetangga. Px bercerita bahwa dirinya bermimpi dibacakan surat Al Ikhlas oleh anak kecil. setelah sholat Subuh. Keponakan yang tinggal dengan Px menemukan Px yang kejang kemudian meminta tolong tetangga. Px dibawa ke RS “A” oleh tetangga.“puyer 16” di tempat obat. akan tetapi dokter sudah dihubungi (saat itu hari minggu dan tidak ada seorang pun dokter jaga di RS “A” tersebut). karena Px merasa kepalanya masih pusing. Px hanya diinfus oleh perawat karena menurut perawat. Px mengantar suami berangkat kerja sampai depan pintu pagar. Px sudah terbangun. Setelah Px dianggap stabil. Di ruang perawatan Px sudah bisa diajak bicara dan merespon tetangganya dengan benar. Jam 4.

Tetangga Px tersebut 2 bulan terakhir menjadi kader di wilayah tempat tinggalnya.. Bahkan setelah Px meninggal. karena suami Px berjualan di pasar yang letaknya jauh dari rumah.30 Px ke apotek untuk periksa tekanan darah. Setelah ada kasus kematian. Data tentang ibu hamil juga diminta dari petugas koordinasi posyandu. sehinga sudah terlambat untuk pemeriksaan awal. Dengan tetangga tersebut hubungan keluarga Px dan keluarga tetangganya sangat dekat. akan tetapi ada suatu kebiasaan bagi ibu hamil untuk menyembunyikan awal-awal kehamilannya hingga perutnya terlihat besar. Tetangga (suamiistri) mengantarkan Px ke RS dengan menggunakan mobil. Sebenarnya kader dan petugas posyandu sudah sering sekali mendata ibu-ibu yang hamil. Tetangga tersebut juga yang mengantarkan Px ke RS “A” sebelum Px meninggal. permasalahan yang ada pada kasus kedua jika diringkas adalah : • Terlambat mendeteksi tanda bahaya kehamilan karena ibu tidak tahu bahaya minum obat sembarangan • • Terlambat merujuk Terlambat mendapat pertolongan 187 .. diadakan pertemuan seluruh petugas posyandu oleh dinas kesehatan dan puskesmas. • Pukul 10. Yang menemukan pertama kali keponakannya.• 22-4-2012 jam 07. Sampai di rumah ibu mengalami kejang. RS “A” dipilih karena lokasi RS “A” dekat dengan tempat tinggal Px.? mmHg. Suami Px sampai di rumah ketika jenazah Px sudah sampai rumah. Padahal rata-rata perut yang sudah terlihat besar itu ketika memasuki kehamilan bulan ke-7. Berdasarkanpenjelasan di atas. anak bungsu Px diasuh oleh tetangga Px. kemudian meminta bantuan tetangga untuk membawa ibu ke RSU Aminah.30 ibu meninggal dunia Px hanya dekat dengan tetangga sebelah kiri rumah Px. hasilnya 170/.

maka suami tidak mengetahui secara jelas kondisi kehamilan Px. Px selalu bilang baik-baik saja sepulang dari kontrol di BPS. sehingga tidak ada lagi yang harus menanggung kutukan Keluarga Px tidak paham resiko yang dialami ibu hamil. Px selalu periksa kehamilan di BPS. akan tetapi ada kekhawatiran dikalangan keluarga karena keluarga takut Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya (takut kutukan itu harus dialami Px). sehingga meningkatkan resiko Px mengalami hipertensi. Ketika hamil Px sempat mengeluh sakit gigi yang tak tertahankan dan akhirnya Px melakukan cabut gigi di puskesmas. Keluarga sangat senang ketika Px hamil. B. Hal tersebut oleh keluarga Px lebih dianggap sebagai sebuah kutukan yang dialami oleh keluarga.KASUS 3 : Nama Ny. tapi dibiarkan saja (tidak minum obat) sudah sembuh sendiri. Neneknya meninggal dengan diagnosa eklamsi ketika melahirkan ibunya. Keluarga merasa kematian Px merupakan pemutus kutukan yang harus dialami oleh keluarga karena Px dan bayinya meninggal. Suami Px mengatakan bahwa ketika hamil kondisi Px baik-baik saja.00 ibu mengeluh sesak nafas dan periksa ke BPS Bidan menyarankan ibu langsung ke puskesmas Dari puskesmas ibu langsung dirujuk menggunakan ambulance ke RS Ibu meninggal setelah sampai di RS . akan tetapi karena suami tidak ikut masuk ke ruang praktek. Hanya saja ketika hamil Px beberapa kali sakit batuk. Deskripsi Kasus Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya. umur 31 tahun. Ibunya juga meninggal dengan diagnosa yang sama ketika melahirkan Px. • • • • • 188 Ibu periksa hamil ke BPS dan puskesmas Tanggal 4-4-2012 jam 00. Keluarga Px juga tidak paham jika Px mempunyai sejarah keluarga dengan hipertensi. pendidikan SLTA dan bekerja sebagai pedagang.

Px bekerja dari pagi hingga sore dan karena Px juga tidak pernah hadir jika ada acara di kampung menyebabkan kader jarang berkomunikasi dengan Px. ibu menyusui dan ibu yang mempunyai anak balita tentang kesehatan. Menurut kader. Bahkan kader baru mengetahui berita kematian Px setelah hari ke-3 Px meninggal. akan tetapi rumah Px tidak menghadap ke jalan raya. halaman yang luas dapat pula menjadi penghalang keluarga Px untuk berkomunikasi dengan tetangga. Untuk resiko-resiko masa kehamilan. akan tetapi karena rumah Px yang jauh. akan tetapi jarak rumah yang lumayan jauh menghalangi proses komunikasi kader dan Px. Rumah kader wilayah Px juga lumayan jauh dari tempattinggal Px. melainkan menghadap ke tembok rumah tetangga. “Mungkin Px kontrolnya langsung ke Puskesmas mbak. Px tidak pernah datang pada kegiatan posyandu. Kader juga tidak 189 . Menurut kader.• Ibu mengattakan pernah cabut gigi ketika hamil Rumah keluarga Px terletak di tepi jalan raya yang dilewati oleh banyak kendaraan yang berlalu lalang. Antara rumah Px dan rumah tetangga terdapat halaman yang sangat luas. sehingga mereka akan berangkat kerja pagi-pagi dan pulang di malam hari. Selain posisi rumah Px yang menghadap ke tembok tetangga. kader memang tidak memberi penyuluhan secara personal. Sebenarnya kader aktif datang berkunjung ke rumah ibu hamil untuk mengontrol kondisi ibu hamil. soalnya lebih dekat ke puskesmas daripada ke sini (posyandu)” Kader bercerita jika penduduk di wilayahnya rata-rata adalah pedagang dan buruh tani. akan tetapi biasanya ibu-ibu yang datang ke psyandu meminjam buku-buku tentang kehamilan yang dibaca saat jadwal posyandu. memang suami Px sering main bola dengan temantemannya yang tinggal di sekitar rumah kader. Kader mengaku bahwa dia dan tim aktif memberikan penyuluhan kepada ibu hamil. Ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumah kader aktif datang pada saat jadwal posyandu berlangsung. selama Px hamil.

Neneknya meninggal dengan diagnosa eklamsi ketika melahirkan ibunya. Hanya saja ketika hamil Px beberapa kali sakit batuk. Hal tersebut oleh keluarga Px lebih dianggap sebagai sebuah kutukan yang dialami oleh keluarga. Keluarga Px juga tidak paham jika Px mempunyai sejarah keluarga dengan hipertensi. permasalahan yang ada pada kasus 3 adalah: • Terlambat mendeteksi tanda bahaya kehamilan karena keluarga mengira ibu kesurupan • Terlambat merujuk karena kondisi cuaca hujan. Ibunya juga meninggal dengan diagnosa yang sama ketika melahirkan Px. Keluarga sangat senang ketika Px hamil.mengetahui kondisi kehamilan Px karena kader hampir tidak pernah bertemu Px selama Px hamil. akan tetapi ada kekhawatiran dikalangan keluarga karena keluarga takut Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya (takut kutukan itu harus dialami Px Suami Px mengatakan bahwa ketika hamil kondisi Px baik-baik saja. Keluarga merasa kematian Px merupakan pemutus kutukan yang harus dialami oleh keluarga karena Px dan bayinya meninggal. Berdasarkan penjelasan di atas. sehingga meningkatkan resiko Px mengalami hipertensi. Ketika hamil Px sempat mengeluh sakit gigi 190 . Diskripsi Kasus Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya. tapi dibiarkan saja (tidak minum obat) sudah sembuh sendiri. umur 31 tahun pendidikan SLTA dan bekerja sebagai pedagang. rumah berada di bantaran sungai dan tidak ada kendaraan • Terlambat mendapatkan pertolongan KASUS 4 : Nama Ny B. sehingga tidak ada lagi yang harus menanggung kutukan Keluarga Px tidak paham resiko yang dialami ibu hamil.

Px selalu periksa kehamilan di BPS. Px selalu bilang baik-baik saja sepulang dari kontrol di BPS.. maka suami tidak mengetahui secara jelas kondisi kehamilan Px. dimana ketika kandungan masih berusia muda (belum kelihatan hamil) para ibu hamil dilarang untuk menceritakan kehamilannya kepada orang lain. mereka akan malu. Tapi itu kan sudah terlambat ya mbak.gak tau mbak. Beberapa ibu hamil dan kader yang ditanyai tentang alasan mengapa tidak boleh menceritakan kehamilannya di awal kehamilan.” Sedangkan beberapa ibu hamil mengatakan bahwa mereka tidak mau menceritakan awal kehamilannya kepada orang di luar keluarga inti karena jika kehamilan itu tidak berlanjut. tempat penelitian ini berlangsung. “. Makanya mereka biasanya baru akan cerita kalau perutnya sudah kelihatan besar.. pokoknya nurut aja apa kata orang-orang tua. “.yang tak tertahankan dan akhirnya Px melakukan cabut gigi di puskesmas. beberapa menjawab “tidak tahu”. Kronologi kejadian yang dialami Px : • • • • • • Ibu periksa hamil ke BPS dan puskesmas Tanggal 4-4-2012 jam 00. Lha wong kalau perutnya sudah kelihatan besar berarti kan kira-kira sudah 4 bulan keatas. akan tetapi karena suami tidak ikut masuk ke ruang praktek.00 ibu mengeluh sesak nafas dan periksa ke BPS Bidan menyarankan ibu langsung ke puskesmas Dari puskesmas ibu langsung dirujuk menggunakan ambulance ke RS Ibu meninggal setelah sampai di RS Ibu mengatakan pernah cabut gigi ketika hamil Permasalahan yang dialami oleh Px adalah: • • Kurangnya pengetahuan ibu tentang resiko cabut gigi pada masa kehamilan Kurangnya pengetahuan keluarga tentang resiko-resiko di masa kehamilan Taboo vs Malu Di Kota Blitar.nek wis kadhung cerito trus gak sidho hamil lak isin mbak. ternyata masih ada kepercayaan yang dipegang oleh para ibu hamil..” 191 .. Takut ada apaapa kalo gak nurut.

sebab sebagian besar tetangganya hanya mempunyai dua anak. Suami hendaknya mendampingi dan memberikan ekstra perhatian kepada istrinya yang sedang hamil. Kehamilan memang merupakan masa-masa dimana seorang ibu 192 .embuh prikso nang ndi mbak. Di Kota Blitar. Kedua kelompok inilah yang dianggap para kader sebagai kelompok yang “susah dijangkau”. Hal ini menyebabkan ibu-ibu malu menceritakan kehamilannya kepada orang lain hingga perutnya tampak besar dan tetangga-tetangga tahu jika ibu tersebut hamil. Lain kasus.Selain masalah ketabuan yang berkembang diantara ibu hamil sehingga tidak mau menceritakan awal kehamilannya kepada orang di luar keluarga intinya. Suami sebagai kepala keluarga dan pengambil keputusan. program KB begitu gencar digalakkan dan sangat sukses.. Ibu-ibu yang hamil anak ke-3 atau lebih merasa malu dengan kehamilannya. masalah “malu” juga ada di antara ibu hamil yang menyebabkan dirinya tidak mau menceritakan kehamilannya. Engkuk ujug2 wis lair anake. peran suami sebagai pengambil keputusan dan mendampingi istri selama masa kehamilan sangatlah penting. Berkaitan dengan kehamilan. Ternyata dampak positif program KB juga disertai dengan dampak negatif yang timbul di masyarakat. karena anak ke-3 saja sudah merasa banyak.” Peran Suami Peran suami di keluarga dalam budaya Jawa sangat penting. Sebenarnya tetanggatetangga dan lingkungan tidak ada yang mempermasalahkan kehamilan ibu tersebut asal hamil dengan suami sah-nya. akan tetapi biasanya ibu hamil tersebut malu sendiri dengan tetangganya. sehingga sebagian besar penduduk Kota Blitar hanya mempunyai dua anak. Umumnya mereka menyembunyikan diri dan tidak bersosialisasi. Dalam situasi yang sulit dan mendesak. Entah mereka memeriksakan kehamilannya atau tidak dan dimana mereka memeriksakan kehamilannya.. suami haruslah mampu mengambil keputusan dengan tepat. ada pula ibu yang hamil dengan lelaki lain karena suaminya adalah TKI di luar negeri dan tidak pernah pulang serta TKW yang pulang dalam kondisi hamil. “.wong g tau metu seko ngomah.

membutuhkan perhatian ekstra dari pasangannya (suami) dan lingkungannya. Menemani tidak hanya menunggu di depan pintu praktek dokter. Pelabelan “gawan bayi” pada perubahan kondisi ibu hamil yang sebetulnya mengindikasikan terjadinya gangguan pada diri ibu dan kehamilannya menyebabkan berkurangnya ketanggapan pada diri suami dan lingkungan (orang tua. Tidak hanya seorang ibu yang sedang hamil yang harus mempunyai pengetahuan tentang kehamilan. suami tidak tahu kondisi istri yang sebenarnya. suami sebaiknya menemani istri yang sedang kontrol kehamilan. Pengambilan keputusan yang tepat untuk membwa istri yang sedang hamil untuk berkunjung ke pelayanan kesehatan terjadi mulai awal terdeteksinya 193 . Hal tersebut selain membantu suami untuk mengetahui kondisi istri yang sebenarnya. suami dengan istri yang sedang hamil hendaknya juga mempunyai pengetahun tentang kehamilan. Beberapa kasus menunjukkan bahwa ketidakpedulian dan ketidaktanggapan suami membawa akibat yang fatal bagi kondisi istrinya yang sedang hamil. Ibu akan berubah menjadi sangat sensitive ketika hamil. tekanan darah tinggi) atau kondisi khusus yang terjadi pada janin (misalnya. juga membantu dokter mengkomunikasikan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi jika istri memang mengalami kondisi khusus (misalnya. Kepedulian dan ketanggapan suami terhadap tanda-tanda dan gejala yang berhubungan dengan resiko kehamilan dapat meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan. atau d depan pintu poli di puskesmas atau RS. bidan. keluarga dan teman) akan gangguan yang dialami oleh ibu hamil. janin sungsang). Perubahan tersebut juga memberikan efek pada emosi ibu. berkaitan dengan kondisi istri yang sedang hamil. Seringkali ibu yang sedang hamil tidak mau menceritakan kondisi dirinya dan kehamilannya yang sesungguhnya kepada suaminya sehingga ketika terjadi sesuatu pada istrinya yang sedang hamil. akan tetapi suami ikut masuk ke ruang periksa ketika istri sedang periksa. Untuk mengantisipasi hal tersebut. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan biologis yang terjadi pada diri seorang ibu. Terutama resikoresiko yang kemungkinan terjadi.

Keterbatasan tenaga kesehatan untuk menjangkau masyarakat menyadarkan tentang pentingnya peran serta masyarakat. Kemitraan dengan kader lebih ditekankan pada upaya menggerakkan masyarakat dalam hal PHBS. pemberdayaan masyarakat dan P3K. Kader Kesehatan di wilayah Puskesmas Kepanjen Kidul semuanya perempuan. 194 . Peran Kader Dalam Pelayanan Jampersal Guna memberikan pelayanan kesehatan ibu dan bayi. Di Puskesmas. Selain tentang substansi PHBS.kehamilan istri. Pemerintah telah melaksanakan berbagai upaya terbaiknya. memang kebanyakan mereka adalah sebagai ibu rumah tangga. Selama hamil. Untuk memberikan hasil kerjasama yang optimal ada beberapa pembekalan yang diberikan kepada para kader. suami yang siaga akan suap mengantarkan istri yang akan melahirkan dengan membawanya ke unit pelayanan kesehatan. sehingga jika ada sesuatu yang tidak diinginkan dapat diketahui sejak awal kehamilan. Kalau dilihat dari profesinya. Kadarzi dan KIA para kader juga mendapat pembekalan tentang penggerakan. Namun ada juga pedagang dan pekerja lepas. pendidikan dan untuk beberapa daerah tertentu dengan faktor geografis. para suami juga harus tanggap untuk mengajak istri memeriksakannya ke pelayanan kesehatan. persalinan dan nifas ibu dan bayinya. Kesadaran tentang keterbatasan tenaga dan anggaran telah membuat Puskesmas Kepanjen Kidul senantiasa bermitra dengan masyarakat/ kader dalam menjalankan program-program pelayanannya. Di level komunitas. Masalahnya. obat-obatan dan bahan-bahan untuk memberikan pelayanan kesehatan selama kehamilan. Hingga akhirnya ketika istri akan melahirkan. pemanfaatan pelayanan ibu dan bayi yang sudah disediakan oleh Pemerintah ini senantiasa terkait dengan kemiskinan. Kadarzi dan peningkatan kesehatan ibu. ada bidan desa yang sudah dilengkapi dengan Bidan Kit. sudah ada Dokter umum dan tenaga bidan yang mampu memberikan pelayanan PONED. jika terjadi keluhan pada istri. bayi dan anak. Sejak awal terdeteksinya kehamilan istri. suami hendaknya mendorong istri untuk memeriksakan kehamilan istri sejak dini.

sampeyan bisa periksa kehamilan. Kader akan bertanya langsung kepada yang bersangkutan atau kalau saat dilakukan kunjungan. Sulit untuk dikasiktahu. yang bersangkutan tidak ada maka sudah merupakan protap untuk bertanya kepada tetangga di kanan-kirinya tentang keadaannya untuk kemudian ditindaklanjuti lagi pada kunjungan berikutnya.. Terkait dengan kegiatan Jampersal. tanggungjawab yang diemban oleh Kader adalah membantu menggerakkan para ibu hamil yang ada di wilayahnya untuk melakukan ANC dan persalinan di petugas kesehatan. khawatir terhadap penerimaan masyarakat akan menganggap kader sebagai orang “sok tahu” dan terlalu banyak omong.. mereka selalu hadir walau hanya saya hubungi via telepon. “.komitmen kader dalam melaksanakan tanggungjawabnya sangat bagus. Namun saya berusaha sebisa saya untuk memberikan penjelasan. Perasaan tidak enak hati.Ketidakterikatan dengan pekerjaan yang membuat mereka punya waktu lebih untuk melaksanakan tanggungjawabnya sebagai pekerja sosial.” Ketika ada ibu hamil maka kader akan selalu memantau kondisi ibu hamil tersebut. maka pada saat pertemuan itu juga digunakan untuk melakukan sosialisasi.. Kalau ada sesuatu yang spesial.. Kurang opo. ini no HP saya.. silahkan hubungi saya. “. Kadarzi dan KIA yang terdapat di masing-masing wilayahnya.kalau ada apa-apa.masyarakat di tempat saya banyak dari kalangan telok-lemak. Salah satu diantaranya adalah pemberian informasi tentang Jampersal kepada Kader... Kalau sewaktu-waktu mereka kita minta datang ke Puskesmas. “.” Namun demikian ada kegalauan dari Kader ketika mau memberikan penyuluhan kepada masyarakat. Sebagaimana diungkap oleh kepala Puskesmas Kepanjen Kidul. sampeyan bisa melahirkan tanpa mbayar. Tentunya juga karena mereka punya komitmen yang bagus sebagai kader. Sebagaimana dikemukakan oleh ibu Kader Ririn. 195 . Setiap kunjungan biasanya ditambahi dengan pesan. Ini lho ada pelayanan gratis. Pada pertemuan rutin kader yang dilakukan adalah menginformasikan kondisi PHBS. mereka sering datang dan pergi.” Kegiatan rutin dari Kader adalah melakukan Posyandu dan pertemuan antar kader yang dilakukan setiap bulan.

setelah ada kasus. ibu tidak langsung pergi ke petugas kesehatan...... kok banyak bicara tentang kesehatan. Resiko ini baru diketahui pada saat kasusnya sudah terlambat dapat membawa akibat fatal yaitu kematian. Kader diminta untuk lebih melakukan pemantauan kondisi para ibu hamil agar tidak terjadi lagi kasus kematian maternal. sebagaimana dituturkan oleh ibu Susi dan Ririn berikut..“.saya tidak enak hati. sopo sih kui. “.. Hal 196 . tapi saya tidak tahu apa tindak lanjut dari RT. kok kenyi banget.” Upaya Penyelamatan Vs Takdir Sebagaimana diketahui. Mereka cenderung kondisi itu dan menunggu waktu kunjungan berikutnya. Kehamilan dianggap sebagai hal yang biasa. Dengan adanya kasus tersebut. Ada permintaan dari Kelurahan dan RT agar kami para kader membantu mendeteksi.” Ini merupakan kendala yang hampir dipunyai oleh semua Kader. Ketika terjadi kasus kematian maternal. Mereka kurang menyadari pentingnya segera memeriksakan kehamilan ketika mengalami masalah kesehatan yang bisa menyebabkan tidak terdeteksinya faktor-faktor resiko tinggi yang mungkin dialami oleh mereka. kehamilan dan persalinan yang aman tidak terlepas dari faktor sosial budaya dan lingkungan di dalam masyarakat di mana mereka berada. ketika terjadi masalah kesehatan.saya diwanti-wanti oleh bu Bidan agar kematian ibu ini jangan sampai terjadi lagi. Fakta yang teramati dalam kasus kematian di daerah studi menunjukkan bahwa keempat Ibu yang meningggal berdasarkan catatan di Puskesmas sudah memeriksakan dirinya secara rutin setiap bulan ke bidan ataupun dokter. bukan orang kesehatan.. Kader juga direpotkan dengan kejadian itu.. Saya kemudian juga minta bantuan pihak RT untuk sama-sama memantau. Rasa percaya diri yang kurang karena mereka hanya ibu rumah tangga biasa. Namun demikian..” “. Memahami perilaku perawatan kehamilan adalah penting untuk mengetahui dampak kesehatan bayi dan si ibu sendiri. Paling tidak Kader akan ditanya banyak hal terkait kasus kematian itu oleh bidan dalam rangka melengkapi informasi untuk review maternal mortalitas. alamiah dan kodrati..

58 km². Tidak jarang pula nasehatnasehat yang diberikan oleh teman atau tetangga mempengaruhi keputusan yang diambil. suami yang seringkali menjadi panik melihat keadaan krisis yang terjadi. kalau dilihat dari jarak tempat tinggal ke fasilitas kesehatan terdekatnya. Namun. semua tidak ada yang lebih dari 2 km. Kepanikan dan ketidaktahuan akan gejala-gejala tertentu saat persalinan dapat menghambat tindakan yang seharusnya dilakukan dengan cepat. penyebab tiga kasus kematian ibu diduga eklamsia dan satu kasus tidak ditemukan indikasi. keterlambatan mencari pertolongan disebabkan juga oleh adanya suatu keyakinan dan sikap pasrah dari masyarakat bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan takdir yang tak dapat dihindarkan. harusnya masyarakat bisa mengakses dengan mudah fasilitas kesehatan yang ada. juga berkontribusi terhadap kasus ini. Kalau dilihat dari fasilitas kesehatan yang disediakan Pemerintah Daerah seperti tiga Puskesmas dan sebuah RSUD di Kota Blitar yang luas wilayahnya hanya 32. Pada keempat kasus kematian. Suatu kondisi yang tidak dihindari bahwa dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak melalui program-program pembangunan 197 . kefatalan ini juga karena ada faktor keterlambatan pengambilan keputusan dari keluarga dan ibu yang bersangkutan. Selain dari faktor keterlambatan dalam pengambilan keputusan. Padahal masih ada beberapa Rumah Sakit Swasta dan banyak Dokter dan Bidan praktek swasta.ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya informasi. Keperdulian keluarga dan tetangga sekitar harusnya bisa dioptimalkan untuk dilibatkan dalam upaya pemantauan dan deteksi dini resiko kehamilan yang mungkin dialami oleh seorang ibu hamil. Keterlambatan juga muncul karena kepanikan. Alat transportasinyapun mudah diperoleh setiap saat. Secara medis. Kasus kematian yang terjadi di Puskesmas Kepanjen Kidul merupakan gambaran bagaimana kultur perkotaan yang bercirikan melemahnya ikatan sosial. Karena kondisi tersebut bila tidak ditangani secara tepat dan profesional dapat berakibat fatal bagi ibu. faktor geografis dan kendala ekonomi.

maka dalam upaya perbaikannya perlu pendekatan-pendekatan yang dilakukan secara holistik dan integratif yang tidak hanya terbatas pada bidang kesehatan secara medis saja tetapi juga ekonomi. pendidikan. Pada dasarnya. peran kebudayaan terhadap kesehatan masyarakat adalah dalam membentuk. Perilaku kesehatan di masyarakat baik yang menguntungkan atau merugikan kesehatan banyak sekali dipengaruhi oleh faktor sosial budaya. baik mulai dari kandungan maupun setelah persalinan. Keberadaan petugas kesehatan dan kelengkapan fasilitas kesehatan semata tidaklah cukup untuk mengatasi masalah-masalah KIA di suatu daerah. Mengingat bahwa dari indikator-indikator yang ada menunjukkan derajat kesehatan ibu dan anak masih perlu diingkatkan. mengatur dan mempengaruhi tindakan atau kegiatan individu-individu suatu kelompok sosial untuk memenuhi berbagai kebutuhan kesehatan. Memang tidak semua perilaku masyarakat yang pada awalnya bertujuan untuk menjaga kesehatan dirinya adalah merupakan praktek yang sesuai dengan ketentuan medis dan kesehatan. Dengan alasan ini pula dalam hal penempatan petugas kesehatan dimana selain memberi pelayanan kesehatan pada masyarakat juga berfungsi sebagai agen perubah maka pengetahuan dan kemampuan berkomunikasi dari petugas kesehatan sangat diperlukan disamping kemampuan dan ketrampilan memberi pelayanan kesehatan. Apalagi kalau persepsi tentang kesehatan ataupun penyebab sakit sudah berbeda sekali dengan konsep medis. Oleh karena itu. tentunya upaya mengatasinya juga berbeda disesuaikan dengan keyakinan ataupun kepercayaan-kepercayaan yang sudah dianut secara turun-temurun sehingga lebih banyak menimbulkan dampak-dampak yang merugikan bagi kesehatan. Dalam hal melakukan upayaupaya perbaikan perlu disadari bahwa hubungan ibu dan anak sangat erat dimana kondisi kesehatan ibu akan dapat secara langsung mempengaruhi kondisi kesehatan anaknya.kesehatan perlu memperhatikan aspek-aspek sosial-budaya masyarakat. Dan untuk merubah perilaku ini sangat membutuhkan waktu dan cara yang strategis. penting sekali menempatkan konteks reproduksi dalam program KIA 198 . sosial dan budaya.

Selain itu suami dan keluarga dapat menjadi suami dan keluarga siaga bagi istri dan saudaranya yang hamil. 199 . Pemberian bekal imu pada ibu hamil. Ilmu yang tentang kehamilan dan resiko-resiko kehamilan yang dimiliki oleh ibu hamil diharapkan mampu menjadikan ibu hamil tanggap dan mengerti tentang perubahan kondisi yang dialaminya sehingga mampu mengambil keputusan yang tepat bagi dirinya. Proses pendampingan oleh tenaga kesehatan secara berkesimbungan juga dinilai efektif untuk merubah konsep “keliru” yang berkembang di masyarakat. masa kanak-kanak. terutama oleh suami. Keputusan tepat yang dilandasi ilmu sangat diperlukan dalam membantu ibu hamil dalam usaha menyelamatkan baik ibu maupun anak yang dikandungnya.sehingga diharapkan kondisi kesehatan seseorang benar-benar dapat terpelihara sesuai dengan konsep medis yang tepat sejak ia berada dalam kandungan. ibu hamil dapat mendeteksi resiko-resiko yang ada di dalam dirinya. Pengetahuan yang dimiliki oleh suami dan keluarga ibu hamil diharapkan mampu menjadi bekal apabila kelak terjadi suatu kondisi yang tidak diinginkan pada ibu hamil. Ilmu vs Upaya Penyelamatan Ilmu/pengetahuan tentang kehamilan tidak saja wajib dimiliki oleh ibu hamil saja. masa remaja hingga dewasa. melainkan wajib dimiliki oleh keluarga. Hal ini wajib dilakukan agar konsep yang akan kita sampaikan mampu dipahami dengan benar oleh ibu hamil dan keluarganya. Dengan pengetahuan tentang kehamilan dan resiko-resiko kehamilan. Pemberian tambahan ilmu / pengetahuan baik pada ibu hamil maupun suami dan keluarga diharapkan mampu menjadi salah satu upaya penyelamatan pada ibu hamil. suami dan keluarganya tidak dapat dilakukan dengan cara “pukul rata” akan tetapi dilakukan dengan “bahasa” yang sama dengan konsep dan “bahasa” yang dipahami oleh keluarga tersebut. Sedangkan ilmu yang telah dimiliki oleh suami dan keluarga diharapkan mampu membantu ibu hamil jika terjadi hal-hal genting terjadi pada ibu hamil.

kader kesehatan. suami lah pengambil keputusan jika ada persoalan-persoalan rumah tangga. aparat desa dan dukun. 5. pemahaman dan pemanfaatan serta harapan masyarakat terhadap keberadaan program Jampersal. Materi yang didiskusikan adalah tentang akseptabilitas masyarakat terhadap Jampersal mulai kegiatan sosialisasi.9 AKSEPTABILITAS TOMA. Pemberian ilmu / pengetahuan pada ibu hamil dan keluarganya diharapkan mampu menjadi salah satu alternatif penyelamatan ibu hamil.Adanya kepercayaan-kepercayaan yang “keliru” yang tumbuh di masyarakat menyebabkan masyarakat kurang “tanggap” dalam menyikapi perubahan kondisi yang dialami oleh ibu hamil. melainkan tanggung jawab ibu hamil itu sendiri. tokoh agama. karena dalam Budaya Jawa. Peran suami dalam pengambilan keputusan untuk ibu hamil sangatlah penting. LSM DAN ORGANISASI LAINNYA DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN JAMINAN PERSALINAN Salah satu tujuan yang akan dicapai dalam studi ini adalah mengetahui akseptabilitas masyarakat meningkatkan pelayanan Jampersal. Untuk memenuhi tujuan tersebut dilakukan Fokus Grup Diskusi (FGD) dengan tokoh masyarakat. suami dan keluarganya. TOGA. 200 . LINTAS SEKTOR. Kader sangat berperan dalam penyampaian informasi tentang kehamilan dan resiko-resikonya pada ibu hamil dan keluarganya. Dapat kita simpulkan bahwa upaya penyelamatan ibu hamil merupakan tanggung jawab semua pihak. bukan saja tanggung jawab kader dan petugas kesehatan.

Melalui pengeras suara yang ada di mesjid.56 Diskusi kelompok masyarakat (TOMA. Sasaran utama sosialisasi di masyarakat adalah kepada para kader kesehatan yang akan diteruskan pada ibu hamil di posyandu. selain itu juga melalui media elektronik televisi. ulama dan masyarakat.Gambar 5. TOGA. Kepala puskesmas dan bidan diakui sebagai orang yang banyak memberikan penjelasan tentang Jampersal. Para bidan juga senantiasa memberikan informasi tentang Jampersal kepada ibu hamil ketika periksa kehamilannya. Di Kota Bandung kader juga secara proaktif mendatangi sasaran jampersal. sosalisasi juga dilakukan dengan memanfaatkan kegiatan pengajian umum. Tetapi Kota Mataram sosialisasi juga dilakukan dengan memanfaatkan masjid. Sehingga yang memanfaatkan media pengajian ini bukan cuma dari kesehatan. Kegiatan pengajian umum ini memang di desain sebagai media komunikasi pemerintah. kader. memberikan informasi tentang Jampersal. dari kepolisian juga sering. dll) Sosialisasi Jampersal kepada masyarakat secara umum diberikan oleh pihak puskesmas. Pertemuan kader dan posyandu memang merupakan tempat utama bagi petugas kesehatan melakukan sosalisasi. petugas puskesmas dengan didampingi kader dan tokoh masyarakat. 201 . Sedangkan di Sampang.

atau langsung dr pintu ke pintu.Sosialisasi Jampersal yang menjadi tugas Dinas Kesehatan dengan segenap jajarannya. kalau di kelurahan yang mendengar bisa lebih banyak. terjadi di Kabupaten Wakatobi.. kalau di PKK hanya sebagian ibu-ibu yang hadir.pokja 4 bisa bantu sosialisasi.” 202 ...” (Toma.. masih kuatnya tradisi melahirkan dengan ditolong dukun dan perasaan “malu” jika melahirkan di Puskesmas membuat Dinas Kesehatan dan jajarannya perlu memperbanyak frekuensi sosialisasi. Selain itu. Menyadari kondisi geografis yang berupa kepulauan. Puskesmas sebagai lembaga pelayanan kesehatan yang langsung berhubungan dengan masyarakat mengaku bahwa sudah melakukan sosialisasi tapi tidak langsung ke masyarakat. Kita teruskan lagi di masyarakat. “. karena masyarakat disini kurang tahu mengenai jampersal jadi lebih banyak ke dukun. mereka takut ke RS takut biaya mahal.” ". “.setiap triwulan ada undangan sosialisasi dari dinkes atau pkm.. Mungkin harus ada kesepakatan soal insentif dengan puskesmas. “. Wakatobi).di kelurahan sosialisasinya. kab. Ada juga yang mengaku bahwa dia baru tahu setelah mengikuti kegiatan FGD ini.. Kita sampaikan di situ. Di pos kamling.. kadang kita undang kumpul masyarakat. Peserta FGD di Kota Kendari mengemukakan bahwa masyarakat kurang tersosialisasi dengan Jampersal. sosialisasi Jampersal dilakukan setiap triwulan dengan memberikan undangan pada Toma ke Dinas kesehatan atau puskesmas setempat. ternyata tidak diterima oleh semua masyarakat. masyarakat mengharapkan sosialisasi hendaknya dilakukan di tempat yang lebih dapat diakses oleh masyarakat misalnya di kelurahan. Menurut Toma. karena masyarakat yang mampu di Wakatobi banyak yang melahirkan di rumah dukun didampingi oleh bidan. Sehubungan dengan minimnya sosialisasi tersebut.. masyarakat menganggap perlu memperhatikan kemitraan dengan dukun.” Kondisi yang sangat berbeda dibandingkan daerah lain dalam upaya sosialisasi Jampersal.perlu dipikirkan insentif untuk dukun yang bekerja sama dengan bidan. Seharusnya sosialisasi juga dilakukan kepada ketua RT yang nantinya akan disebarluaskan pada warganya.

Dari hasil FGD diketahui bahwa mereka ada yang mendengar tentang Jampersal dan ada pula yang belum. 203 . diketahui bahwa terdapat 66. Kalau memperhatikan salah satu Posyandu di wilayah puskesmas Benjina. apakah mereka yang sudah mendapat sosialisasi kemudian berkenan menyampaikan pada yang lain? Kalau dilihat dari hasil wawancara kepada para ibu hamil dan yang baru melahirkan. Kalau ini dijadikan sebagai indikator kegiatan sosialisasi. Ini mengindikasikan bahwa petugas kesehatan sudah berusaha melakukan sosialisasi sampai ke komunitas terpencil. Bahkan Dinas Kesehatan sudah memproduksi brosur untuk dibagikan kepada masyarakat. siapa yang kurang mempunyai keperdulian sampai ditemukan data sebanyak 66. dari Dinas Kesehatan ke Puskesmas ke Kader dan diharapkan kader dapat menyampaikan kepada masyarakat. kalau dilakukan oleh kader ada ke khawatiran informasi yang diberikan kurang tepat. Di Blitar.7% ibu hamil dan bersalin yang tidak memanfaatkan Jampersal karena tidak tahu? Atau apakah ini terjadi karena metode sosialisasi kurang tepat? Mungkin masyarakat butuh jaminan kebenaran informasi yang disampaikan. disana terpampang satu poster tentang Jampersal. poster Jampersal juga terlihat di rumah kediaman kader yang difungsikan sebagai posyandu. Masalahnya. Metode yang biasa dilakukan adalah memberi informasi dengan cara berantai. Sementara masyarakat maunya mendapat jaminan kejelasan dan kebenaran informasi yang disampaikan. Masyarakat maunya informasi tentang kesehatan.7% diantara mereka yang tidak memanfaatkan Jampersal disebabkan ketidak tahuan tentang program Jampersal. Sehingga Di Kota Blitar tokoh masyarakat berpendapat bahwa kebenaran informasi akan bisa dipertanggung jawabkan jika sosialisasi dilakukan oleh tenaga kesehatan. maka secara umum dapat dikatakan bahwa sosialisasi pada masyarakat dirasakan masih kurang. Masalahnya. Kabupaten Kepulauan Aru. harusnya disampaikan oleh orang kesehatan karena dianggap lebih kompeten.

secara umum mengatakan bahwa jampersal adalah seperti cuplikan diskusi masyarakat di wilayah Puskesmas Sanan Wetan Blitar mengenai apa yang diketahui tentang program Jampersal.program jampersal ini disambut baik. ibu bersalin.” 204 .program jampersal merupakan program pemberian pelayanan secara gratis untuk persalinan bagi masyarakat. terutama bagi masyarakat miskin yang bebas dari biaya persalinan. ibu nifas dan bayinya. bukan untuk orang miskin saja tetapi untuk semua lapisan masyarakat. karena dalam program tersebut tidak ada batasan untuk melahirkan artinya anak ke berapa pun diberi jaminan untuk persalinan gratis.Pemahaman Masyarakat Tentang Jampersal. Dikemukakan bahwa penerima pelayanan adalah seluruh sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja.. tidak semua bisa berpendapat.. Begitu ditanya tentang apa pernah mendengar tentang jampersal. Jampersal yang bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi. sebagian besar peserta FGD di 14 kabupaten/kota daerah studi menyatakan pernah mendengar. perlu untuk diketahui bagaimana pemahaman masyarakat terhadap program Jampersal.” “. Adapun jenis pelayanan yang diberikan meliputi pemeriksaan kehamilan... pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir. Semua orang yang pernah mendengar. di rancang untuk menghilangkan hambatan finansial bagi ibu untuk mendapatkan pelayanan terkait dengan persalinan. pertolongan persalinan.” “...Jampersal adalah program kesehatan yang menguntungkan terutama bagi masyarakat yang tidak mampu. “. secara eksplisit tidak tercantum persyaratan tertentu agar sasaran bisa mendapat pelayanan Jampersal. Mengenai persyaratan. tidsak saja pada proses melahirkan tapi sampai pada biaya pelayanan ke rumah sakit jika ada yang komplikasi dan di rujuk ke puskesmas dan rumah sakit sekarang dibiayai jadi gratis. Dalam petunjuk pelaksanaan Jampersal tertulis bahwa kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan jampersal adalah ibu hamil. Sebagai program yang relatif baru dengan harapan keberhasilan yang besar. Tetapi ketika ditanya tentang apa yang diketahui tentang Jampersal.

jampersal adalah program gratis untuk ibu yang melahirkan sehingga program ini baik sekali untuk masyarakat. namun sosialisasi di masyarakat yang kurang. ketika diminta berkomentar tentang program Jampersal semuanya terdiam.“. Masyarakat banyak yang 205 . persalinan dan pemerikasaan setelah melahirkan dan bayi sampai 28 hari sampai pemasangan alat kontrasepsi jangka panjang... Bahwasannya jampersal adalah “program persalinan gratis”. Dari 10 peserta FGD hanya Ibu Ome dan Ibu Tini yang pernah mendengar tentang Jampersal tetapi tidak tahu Jampersal itu apa.program jampersal di masyarakat ini baik. Maluku. Di kota Bandung. seperti proses administrasi yang bisa membuat bingung bidan terutama pada masyarakat yang pendatang (bukan dari kota blitar) yang tidak punya KTP. masih ada anggapan masyarakat bahwa yang gratis itu pelayanan pemeriksaan kehamilan dan persalinan saja sehingga untuk keperluan yang lainnya tidak gratis... Pemahaman masyarakat di Blitar ini berbeda sekali dengan masyarakat di kabupaten Kepulauan Aru. yang berlokasi di kota Kabupaten Kepulauan Aru. “jampersal bukan untuk orang miskin saja tapi untuk semua lapisan masyarakat”. sasaran dan persyaratannya. Diskusi yang dilakukan di wilayah puskesmas Dobo. kader mengaku telah mensosialisasikan bahwa paket pelayanan Jampersal itu terdiri dari pemeriksaan kehamilan. Kalau di wilayah puskesmas Benjina di Kabupaten Kepulauan Aru. Belum ada seorangpun anggota masyarakat yang mampu menjelaskan secara utuh dilihat dari tujuan. “program untuk masyarakat miskin”. Lebih lanjut diakui bahwa ibu harus meminta persetujuan dari suami terlebih dahulu untuk langsung menggunakan alat kontrasepsi. “bila dirujuk ke Rumah Sakit juga gratis”. jenis pelayanan yang diberikan. berikut adalah variasi pemahaman masyarakat mengenai Jampersal. saling pandang dan tetap terdiam.” “... Jenis pelayanan yang diberikan dalam program Jampersal secara umum tidak diketahui secara mendetail oleh masyarakat. Secara garis besar.” Dari komentar masyarakat warga Sanan Wetan yang notabene merupakan daerah perkotaan dapat kita lihat bagaimana pemahaman mereka tentang Jampersal. Kebanyakan yang diketahui masih sebatas bahwa Jampersal hanya melayani pemeriksaan ibu hamil dan melahirkan gratis di layanan kesehatan / bidan.

.. dapat kita ketahui bahwa masyarakat sudah tahu kalau paket pelayanan Jampersal meliputi pemeriksaan kehamilan.. pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir.untuk Ibu Hamil sampai kunjungan ke empat (K4) 1 kali triwulan pertama 1 kali triwulan kedua 2 kali triwulan ketiga. ada banyak komentar sehubungan dengan hal tersebut.setahu saya untuk bersalin sama memberikan bantuan bagi bayi yang mengalami gangguan kesehatan tapi sebelum umurnya 1 bulan. Mungkin karena penyerapan informasi oleh masyarakat yang terbatas sehingga pemahamannya kemudian juga terbatas.” “..yang dilayani oleh program jampersal adalah persalinan.. Sebagian masyarakat lebih senang KB suntik.” Tidak ada yang tahu bahwa Jampersal hanya diperuntukkan pada mereka yang tidak mempunyai jaminan persalinan. KIA. masyarakat mengemukakan bahwa: “.” “. Ini mengindikasikan kalau sebenarnya petugas kesehatan sudah menyampaikan kepada masyarakat tentang jenis pelayanan yang bisa dinikmati oleh sasaran Jampersal. Tentang pelayanan yang diberikan..yang sedang di penjara juga bisa ikut Jampersal... bersalin dan bayi yang baru dilahirkan adalah mereka yang bisa mendapatkan pelayanan Jampersal. tetapi ada masyarakat juga tahu bahwa: “.. semua yang tahu jampersal mengemukakan bahwa yang ibu yang hamil.” “. 206 . Mengenai siapa sasaran yang berhak memanfaatkan pelayanan Jampersal..” Dari ragam pendapat masyarakat baik di Bandung maupun di Mataram.. periksa bumil dan KB.kaya miskin boleh ikut Jampersal. Di kota Mataram.. pertolongan persalinan.keberatan untuk pemasangan alat kontrasepsi jangka panjang seperti IUD.” “. tapi mereka yang mampu juga boleh menikmati fasilitas Jampersal. Walau masih banyak yang beranggapan bahwa Jampersal ini diperuntukkan bagi mereka yang tidak mampu. Dengan diketahuinya bahwa Jampersal ternyata tidak hanya untuk kelompok masyarakat tidak mampu.yang dari luar kota bisa ikut Jampersal di Kota Bandung.

” “.” Yang seringkali “ramai” didiskusikan adalah ketika bicara tentang persyaratan agar sasaran bisa mendapat pelayanan Jampersal.untuk memberikan subsidi kepada semua masyarakat. kalau negara mampu..” “. Masih adanya ibu yang tidak punya kartu identitas. seperti proses administrasi yang bisa membuat bingung bidan terutama pada masyarakat yang pendatang yang tidak punya KTP. kenapa tidak? tentunya semua boleh mendapat pelayanan gratis. Walau demikian di Kota Ambon KTP masih menjadi masalah.. Asal punya KSK atau KTP saja sudah bisa dilayani.... masalah pendatang tanpa identitas baru yang sesuai dan bagaimana bila kehamilan itu terjadi diluar nikah adalah hal-hal yang terkait dengan persyaratan pelayanan Jampersal. pada saat dibutuhkan baru bingung mencari surat.. karena banyak masyarakat yang tidak mempunyai KTP.... namun sosialisasi di masyarakat yang kurang..” Kepemilikan KTP dan/atau KK memang merupakan persyaratan pelayanan Jampersal di semua kabupaten / kota. kalau negara kurang mampu. terutama untuk keluarga miskin saja.untuk ikut jampersal. biasanya yang suka ikut itu yang menengah ke bawah.. Berikut ini beberapa komentar masyarakat.masyarakat kaya gengsi kalau ikut Jampersal.kalau ada masyarakat yang nggak mampu pakai jamkesmas dibuatkan surat keterangan untuk mendapatkan pelayanan jamkesmas dan jampersal…... untuk pengurusan memerlukan waktu.” “. Nah..” “.... Aparat desa menyatakan dapat membantu untuk kelancaran pembuatan KTP atau surat keterangan domisili setelah mendapat sosialisasi tentang Jampersal. mereka bisa memanfaatkan surat keterangan domisili. maka perlu dibatasi..“. kalau ada penduduk baru kemudian istrinya bersalin diberi keterangan domisili dari kelurahan.program jampersal ini dibuat kriteria yang lebih khusus.program jampersal di masyarakat ini baik. “...... Dengan adanya program Jampersal.. ibu-ibu yang selama ini tidak punya KTP 207 .Masyarakat tidak mempersiapkan syarat-syarat untuk Jampersal.” “. Tetapi kalau peserta Jampersal tidak punya KTP atau KK.

karena kasihan masyarakat yang tidak mampu.9. “.” ( Toma. karena bila ada kasus harus dirujuk ke Baubau. Dengan merasakan manfaatnya. sebagaimana berikut.harapan pertama adalah perbaikan fasilitas. Termasuk keluhan tentang kurangnya fasilitas... ada beberapa kasus yang dikeluhkan masyarakat. pelayanan rujukan. “. perlu ditingkatkan dengan pelayanan transfusi darah. banyak harapan masyarakat terhadap Jampersal. 5. udah di kelas tiga tapi di suruh bayar. Selama berkaitan dengan kehamilan dan persalinan. Masyarakat berharap adanya kepastian pembiayaan Jampersal sebab di beberapa Kabupaten. Kalau harus carter sekitar 10 juta ke atas.di rujuk di rumah sakit yang bersangkutan. Untuk persalinan yang tidak dapat dilakukan dibidan dapat dilakukan rujukan ke rumah sakit yang sudah ditentukan... harusnya biaya pelayanan di rumah sakit ditanggung oleh Jampersal. dan terbatasnya sarana transportasi untuk 208 . Dalam pelaksanaan. masih terdengar keluhan masyarakat tentang adanya tambahan pembiayaan pada pengguna Jampersal. Seharusnya ada surat edaran dari puskesmas atau dinas kepada RW di seluruh wilayah kerja puskesmas supaya masyarakat menggunakan Jampersal. kegiatan sosialisasi merupakan hal penting untuk menentukan keberhasilannya.. Kab. “. tidak membuat masyarakat kurang peduli dengan keberadaannya.” “. Kota Mataram)..1. Wakatobi).” (Toma. Diharapkan agar sosialisasi ke masyarakat harus lebih ditingkatkan lagi.. jangan berhenti. Kota Bandung).program Jampersal harus terus dilanjutkan.. Tomia ke Baubau ditempuh dengan kapal reguler 11 jam dengan ongkos 130 ribu.karena belum merasa berkepentingan. Harapan Masyarakat Relatif barunya pelaksanaan Jampersal. tidak ada mobil ambulace yg tersedia setiap saat jadi hrs mencari2 dulu pertolongan.kalo ada warga yg harus dirujuk ke PKM atau RS. sekarang mereka mau mengurus kepemilikan KTP. Dalam pelaksanaan suatu program.” (Toma.

Kab kep. Di RS atau puskesmas kan suka cuek kalo pasien yang mengeluh kesakitan. termasuk kekhawatiran Jampersal akan mengakibatkan ledakan penduduk. Kalau di dukun kampung. Untuk itu diharapkan bidan-bidan di Natuna mendapat pelatihan untuk dapat meningkatkan teknis dan kualitas layanan agar masyarakat tidak perlu mendapatkan layanan kesehatan di luar negeri. dilanjutkan di tahun-tahun mendatang. misal umurnya sudah banyak.masyarakat itu butuh penjelasan dan pendekatan. Jadi secara psikologis lebih percaya pada bidan kampung. khususnya bagi keluarga tidak mampu. nah sekarang tiba2 dia mau turun saya persalinan. langsung tindakan saja. Natuna). Terlepas dari keluhan masyarakat yang ada. Program Jampersal diharapkan dapat 209 . semua masyarakat di semua daerah studi berpendapat dan mempunyai harapan yang sama. Istilahnya dulu dia saya yang urus mandiin segala macam. tapi langsung ditempatkan ke masyarakat tanpa dampingan senior.. mereka lebih sabar telaten menunggu bila mengeluh kesakitan. Kep. Seperti diketahui untuk masyarakat Natuna akses untuk mendapatkan pelayanan dari Malaysia dan Singapura bahkan dapat lebih dekat dibandingkan harus ke Batam atau wilayah lain di Indonesia.belum lagi bidan kecil2. “. Padahal mungkin dari dokter sendiri ada penjelasan dan alasan. Misalnya kalu ibu hamil kalu ke RS negeri sudah menunggu lama lalu akhirnya di caesar.. Kab.” (Toma. “. Natuna). mereka baru. Selain itu masyarakat mempunyai pandangan mengapa masyarakat juga lebih senang melahirkan ditolong dukun dibanding oleh tenaga kesehatan. Nah inilah yg tidak pernah dijelaskan ke masyarakat.Khusus untuk masyarakat di Natuna.. Akhirnya masyarakat ini kan taunya kalau ke RS akan dibelah..” (Toma. Namun karena menyadari besarnya manfaat yang diperoleh dari program Jampersal. walaupun kabupaten tersebut tidak memanfaatkan Jampersal mengharapkan pelayanan kesehatan lebih baik seperti layanan kesehatan di luar negeri. Jadi gimaa mau percaya. Pelan-pelan ditolong persalinannya.

210 .

Materi sosialisasi masih 211 . Secara umum provider ( bidan. SDM. Jamkesda di beberapa daerah dialihkan menjadi Jampersal. dibatasi pada jumlah anak. Penerimaan Provider terhadap kebijakan jampersal : a. Sosialisasi menjadi kendala untuk pelaksanaan Jampersal.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. Di beberapa kabupaten / kota tidak menerbitkan Peraturan baru tetapi mengikuti Peraturan Pusat yang sudah ada / sesuai petunjuk teknis yang ada atau mengikuti Peraturan daerah yang sudah ada. KESIMPULAN 1.1. b. Belum semua daerah memberi dukungan dalam bentuk penyediaan sarana. Bahkan Jampersal juga dapat menjadi sumber pendapatan daerah. peralatan dan bahan habis pakai dll. 3. Di Kabupaten / Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal walaupun belum optimal. Program Jampersal mendukung pada pelaksanaan program KIA terutama pada bidan di puskesmas. Muatan politik mempengaruhi dukungan Pemerintah daerah terhadap Jampersal dalam bentuk sosialisasi Kebijakan Jampersal dengan kebijakan daerah berkaitan dengan mendukung penurunan AKI dan AKB misalnya LIBAS di Sampang. Kebijakan Jampersal ditindaklanjuti dengan menerbitkan Peraturan Bupati atau Peraturan walikota. hanya perlu difokuskan pada masyarakat miskin. SPOG) mendukung terhadap kebijakan jampersal . Keterbatasan / tidak adanya dana sosialisasi menyebabkan sosialisasi Jampersal kurang fokus karena diikutkan dengan kegiatan lain. “AKINO” di Nusa Tenggara Barat. Khusus Kepulauan Natuna tidak memanfaatkan pembiayaan Jampersal 2. Penerbitan Perbup dan Perwali sebagai salah satu bentuk dukungan Pemda. Dukungan pembiayaan belum banyak terlihat.

ibu bersalin. Di rumah sakit tarif INA-CBG’s terutama untuk RS Tipe C besarannya dianggap terlalu kecil.Untuk daerah kepulauan besaran kalim tidak masalah tapi biaya transport yang menjadi kendala karena bisa jauh lebih besar dari klaim Jampersal. • • Lama persalinan normal di beberapa daerah lebih dari satu hari. Mekanisme klaim awalnya menjadi kendala karena terlalu lama. e. Di tingkat layanan dasar besaran Klaim menurut juknis 2012 secara umum sudah cukup. hanya Kota seperti Balikpapan dimana tingkat ekonomi tinggi besaran tersebut dianggap masih terlalu rendah. KTP suami. Pelayanan rujukan khususnya di Daerah yang akses jauh dari pelayanan rujukan diharapkan bidan yang telah mempunyai kompetensi khusus dapat melakukan pelayanan rujukan tertentu misalnya manual plasenta.lebih kearah pertanggungjawaban administrasi. g. f. d. kartu keluarga. surat ijin mengemudi. sehingga beberapa RS terpaksa menarik tambahan biaya untuk obat. c. ada daerah yang meerapkan pengisian inform consent untuk menggunakan KB Jangka panjang seperti IUD pada pengguna Jampersal. surat keterangan domisili. perdarahan sebelum melakukan rujukan. ibu nifas sampai 42 hari dan neonatal (0-28 hari) yang mempunyai salah satu persyaratan seperti KTP. Kepesertaan / pengguna Jampersal adalah ibu hamil. Jenis paket pelayanan Jampersal di tingkat layanan dasar cukup baik diterima bidan. kartu mahasiswa/ pelajar dan paspor. hal ini disebabkan persyaratan dianggap membebani.. Portabilitas pelayanan dapat berjalan baik. Hal khusus yang menjadi masukkan : • • Pelayanan ANC bidan mengharapkan bisa lebih dari 4 kali. Masalah juga timbul pada RS yang memberlakukan tarif Jamkesda dengan tarif RS kelas III. Pelayanan KB perlu lebih ditegaskan lagi. tapi juknis tahun 2012 212 . kurang pada substansi. Keterbatasan pengetahuan Jampersal sering menyebabkan provider “setengah hati” menerima dan melaksanakannya. habis pakai dsb.

Mekanisme pencairan dana pada umumnya mengikuti Juknis 2012. h. Di beberapa daerah kesulitan dalam pencairan. harus aktif dan telah magang pada organisasi Profesi dalam waktu tertentu. tidak semua bidan desa tinggal di wilayah kerjanya. Jumlah bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan masih sangat terbatas. Kota Kendari bidan yang ada kebanyakan masih lulusan D1. • Persyaratan pengurusan ijin praktek bidan yang menyebabkan bidan tidak dapat segera mendapatkan Ijin praktek dengan adanya persyaratan dari organisasi Profesi misalnya APN. • Belum tersosialisasinya program Jampersal dengan baik. 4. di beberapa lokasi kepala Dinas membuat 213 . c. walaupun masih ada yang mengikuti Juknis 2011. satu desa dapat terdiri beberapa pulau. dan distribusi bidan belum merata. Kendala juga dengan terbatasnya tenaga verifikator sehingga berkas klaim menumpuk di verifikator. Pencairan dana untuk BPS pada umumnya cukup lancar dan dapat diterimakan 100%.sudah lebih sederhana. Masalah terjadi untuk pencairan untuk provider di puskesmas karena melalui mekanisme keunagan daerah sehingga bervariasi setiap daerah. hal ini disebabkan tidak semua bidan puskesmas / desa dapat melakukan PKS disebabkan antara lain : • Belum semua dinas kesehatan membuka kesempatan pada bidan puskesmas / BPS untuk melakukan PKS secara terbuka. Ketersediaan puskesmas di setiap kecamatan di lokasi penelitian terpenuhi ada beberapa hal perlu diperhatikan : a. Di kepulauan perlu lebih banyak sarana pelayanan. Puskesmas non perawatan tidak mempunyai sarana rawat inap untuk menolong persalinan. misalnya di kota Ambon. Jumlah Bidan pada umumnya mencukupi kecuali di kepulauan Aru jumlah bidan sangat kurang. • Keterbatasan tenaga bidan karena ada batasan kompetensi. b.

• Ibu nifas pengguna Jampersal untuk persalinan di 13 kabupaten / kota turun 1. Terutama di daerah kepulauan sarana. Continum of care dari Ibu nifas pengguna Jampersal untuk persalinan di 13 kabupaten / kota turun 15% dari yang memanfaatkan pelayanan ANC (K1).3% dilakukan di fasilitas kesehatan. pada pelayanan persalinan di 13 kabupaten/kota. prasarana dan SDM rumah sakit sangat terbatas. Cenderung terjadi peningkatan rujukan persalinan per vaginam dengan komplikasi dan tanpa komplikasi di rumah sakit pemerintah tempat rujukan Jampersal pada 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. b.9% dari yang memanfaatkan pelayanan ANC K1 dan K4. dan juga ketersediaan tenaga kesehatannya terbatas. Kabupaten Wakatobi dan Kabupaten Paser. • Ibu nifas pengguna Jampersal untuk PNC di 13 kabupaten / kota turun 2% dari yang memanfaatkan pelayanan persalinan . bahkan tidak ada SPOG tetap. • Untuk pengguna Jampersal. Peningkatan kasus Sectio caesaria juga cukup tinggi di rumah sakit pemerintah rujukan Jampersal pada tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. 95. Hal ini misalnya terjadi di Kabupaten Kepulauan Aru. d. Kecenderungan tempat persalinan non fasilitas kesehatan terjadi di kabupaten yang tergolong daerah sulit secara akses. Pemanfaatan layanan Jampersal : a. Sarana Puskesmas rawat inap dan Poned masih terbatas. Belum semua rumah sakit pemerintah di kabupaten melakukan PKS dengan Dinas Kesehatan. 5. c.kebijakan untuk menyediakan satu ruangan untuk rawat inap untuk persalinan. 214 .

Jampersal persyaratan lebih mudah untuk dipenuhi . hanya saja untuk paket pelayanan KB masyarakat masih keberatan dengan menggunakan alat kontrasepsi jangka panjang (mis. Selain pemberdayaan dari masyarakat langsung melalui kader kesehatan. Toga. Masyarakat yang tidak memanfaatkan Jampersal 66. Askes (12. masyarakat sudah mendapat sosialisasi adanya Jampersal. Di level komunitas. Pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan dalam upaya mendukung pelaksanaan kebijakan Jaminan Persalinan. Masyarakat merasa bahwa jampersal sangat bermanfaat dan berharap program ini terus berlanjut. LSM mengharapkan lebih dilibatkan dalam sosialisasi Jampersal. IUD). b.10% dan Jamsostek (11. 215 . sehingga dengan adanya Jampersal terjadi pergeseran bagi pemanfaatan Jaminan kesehatan lain ke Jampersal. Jampersal bersifat portabilitas. Untuk paket pelayanan Jampersal masyarakat sudah memanfaatkannya. Di beberapa kabupaten / Kota daerah penelitian terdapat biaya tambahan yang dikenakan pada masyarakat yang memanfaatkan pelayanan Jampersal 7. Hanya 5 % yang lain2 termasuk tida mempunyai Jaminan. Lintas sektor.7% karena belum tersosialisasi Jampersal. c. juga terdapat pembiayaan kesehatan melalui PNPM GSC yang merupakan program kementerian Dalam Negeri. dan lebih senang dengan KB suntik. Sosialisasi yang diperoleh masyarakat dinilai kurang. Masyarakat yang memanfaatkan Jampersal 95% telah memiliki Jaminan lain seperti Jamkesmas (52%) . Jamkesda (19.6%). selain itu ada daerah ketika ada Jampersal maka Jamkesda dialihkan ke Jampersal.6.30%). Toma. 8. Dari data didapatkan : a.

2. Adapun saran untuk perbaikan Kebijakan Jaminan Persalinan adalah sbb : 3. Penguatan Tim Pengelola Jamkesmas/Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam peningkatan kemampuan proses verifikasi dan pembayaran klaim Jampersal. 2. Jamkesda. 4. 5. pelibatan lintas program. obat. bahan habis pakai. dan peralatan kesehatan Puskesmas dan Poskesdes agar mampu melakukan pertolongan persalinan di Puskesmas dan Poskesdes secara memadai. 3. lintas sektor dan masyarakat (Toma. Diterbitkannya turunan kebijakan Jampersal berupa Peraturan Bupati atau Peraturan Walikota. Ketentuan besaran jasa pelayanan dan kelancaran klaim menjadi perhatian sebagai salah satu manfaat Jampersal untuk tenaga kesehatan yaitu adanya kepastian akan menerima jasa pelayanan medis sesuai ketentuan yang berlaku. kader) dalam 216 .1 Jangka pendek Pedoman Pelaksanaan harus memberi ruang untuk menampung kebijakan local: 1. seperti BOK. dll. 6. Memberi penekanan pada pemerintah daerah untuk menepati ketentuan sesuai juknis. Mendorong daerah untuk berkontribusi terhadap pemenuhan sarana prasarana. • Sosialisasi menjadi kunci penting dalam keberhasilan. provider dan masyarakat perlu adanya kesinambungan ketersediaan alokasi dana Pusat dalam pelaksanaan Jampersal. bahwa sasaran jampersal adalah ibu hamil. Toga. Penguatan sinergisme berbagai sumber pembiayaan dalam mendukung pelaksanaan Jampersal. Jamkesmas.2 SARAN/REKOMENDASI Dengan dukungan dari Pemerintah Daerah.3. bersalin dan nifas yang belum mempunyai jaminan.

Kementerian Perhubungan. dengan menerapkan inform consent. Menyediakan dana pendamping untuk penggantian transport rujukan bila diperlukan. • Aspek Sarana dan Prasarana dan SDM 1) Dukungan Kementerian Pekerjaan Umum. dan Pemerintah Daerah dalam percepatan pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi yang memadai. • Pengetatan mekanisme pengawasan dan sanksi agar seluruh penyedia pelayanan kesehatan (PPK) Jampersal tidak menarik biaya tambahan dari penerima manfaat Jampersal dengan melakukan “uji petik”. Disamping itu perlu penganggaran khusus untuk sosialisasi. 217 .2. • Pada daerah kepulauan atau wilayah dengan geografis sulit harus dipertimbangkan beberapa pilihan : a. • Penguatan komitmen pelayanan KB pasca persalinan sebagai paket dan bagian tak terpisahkan dari pelayanan Jampersal dengan didorong untuk penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang. khususnya di daerah tertinggal. • Peningkatan kemampuan tenaga kesehatan yang ada di wilayah tertentu khususnya di daerah terpencil dan terisolir yang kurang diminati.2 Jangka Panjang Rekomendasi jangka panjang ini lebih diperuntukkan bagi pelayanan kesehatan ibu dan anak secara keseluruhan. 6. dalam pengertian memenuhi ketersediaan sarana pelayanan kesehatan tingkat dasar sampai dengan rujukan. di antaranya melalui pemberian kewenangan tambahan/khusus mengingat keterbatasan tenaga sesuai kompetensi. c.sosialisasi lebih di tingkatkan. Menyediakan pelayanan ‘one stop service’. Menyediakan rumah singgah. b.

sehingga diupayakan adanya pendamping di wilayah kerja bidan karena bidan mempunyai keterbatasan .perbatasan. sarana. 4) Keberadaan bidan sebagai anggota masyarakat memiliki keterbatasan yang harus diperhatikan. dan kepulauan. 2) Penguatan Puskesmas PONED dan RS PONEK. • Melibatkan tokoh masyarakat. Peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui pemberian KIE (Konseling. dalam rangka memudahkan proses rujukan KIA. obat dan peralatan. 3) Penguatan sistem rujukan (improvement collaborative) antara Puskesmas PONED dan RS PONEK. tokoh agama. seperti hambatan kultural dan hambatan informasi. 218 . kader kesehatan dan lintas sektor dalam kesehatan dalam sosialisasi program kesehatan termasuk jampersal. baik aspek tenaga. Informasi dan Edukasi) tentang Jampersal untuk mengatasi hambatan non-medis dan non-finansial. serta keterampilan (skill) petugas sebagai penyedia layanan emergensi obstetrik dan neonatal tingkat dasar dan komprehensif. • Pemberdayaan Masyarakat sangat penting untuk mendukung pelaksanaan kebijakan Jampersal.

selaku Kepala Pusat Humaniora. Sampang.Kes. sebagai narasumber yang telah bekerjasama dan memberikan masukkan tentang Program terkait kebijakan Jampersal. Drg. Kepala Pusat Jaminan Kesehatan. 2. Usman Sumantri. Kasubdit Ibu Nifas dr. atas segala perhatian.UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karuniaNya karena telah menyelesaikan laporan penelitian dengan tepat waktu dengan judul “ Riset Evaluatif Implementasi Jaminan Persalinan ”. Laporan ini merupakan penelitian DIPA 2012. yang dilakukan di 14 Kabupaten / Kota di 7 Provinsi di Indonesia. Toga. dr. 6. M. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga kami sampaikan kepada: 1. Puskesmas. RSUD. 5. drg.. M. Seluruh responden yang terlibat pada penelitian ini baik di dinas Kesehatan. Sandi Iljanto. 4. 219 . Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat. Terima kasih pula Bapak Agus Suprapto. DR.. sebagai narasumber dan bekerjasama dalam memberikan informasi tentang Pembiayaan Jaminan Persalinan.Sc. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Kesehatan RI atas terlaksananya penelitian DIPA 2012. 3.. Teman-teman tim peneliti di penelitian ini. Toma. kami menyampaikan terima kasih banyak kepada yang terhormat Bapak Dr. Trihono. kekompakan dan kerjasamanya demi kelancaran penelitian ini. Dengan segala kerendahan hati. Seluruh Kepala Dinas Kesehatan dan Direktur Rumah Sakit Daerah di 14 Kabupaten/Kota Lokasi Penelitia atas ijin dan kerjasamanya selama penelitian berlangsung. Riskiyana. Lintas sektor terhadap segala perhatian dan informasi yang diberikan. masyarakat. sebagai Mitra dalam pelaksanaan penelitian Jaminan Persalinan. kesempatan dan dukungan yang diberikan. atas segala perhatian.

220 .7. Teman-teman pembantu administrasi yang mengurus kelancaran administrasi keuangan.

Badan Litbangkes RI. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar Tahun 2010. William. Wakatobi: Dinas Kesehatan Ahimsa. 2010. Analisis Data. 1996. Open University Press. (2006) Maternal mortality: who. Nelson: London. Mitos dan Karya Sastra. where. 828/Menkes/SK/IX/2008 tentang Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota. Badan Litbangkes RI. Jakarta Badan Pusat Statistik RI. Laporan Survey Demografi Kesehatan Indonesia Tahun 2007. Jakarta. Lombok Tengah Dalam Angka Tahun 2012.DAFTAR KEPUSTAKAAN ___________________ 2011. England. Buse K. Dunn. Graham WJ. Anonym. Public Policy Making. 1st ed. 2000. Praya. Carine Ronsmans C. Alexander. Heddy Shri. when. J. Jakarta: PT. Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat. 1985. Yogyakarta: Kepel Press. Administration & Society. 2011 Metodologi Penelitian Kualitatif. 2012. BPS Kab Lombok Tengah. and why. 221 . ER. Hasil Lokakarya Nasional “Perkembangan Pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu di Delapan Propinsi Daerah Uji Coba”. Yogyakarta. Pengantar Analisis Kebijakan Publik (second edition)(terjemahan).. 2nd ed. Rajagrafindo Persada. England. Buse K. Praya. 741/Menkes/Per/VII/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota. (2012) Making Health Policy. Dunn WN (2009) Public Policy Analysis: An Introduction. The Lancet. Badan Pusat Statistik RI. Departemen Kesehatan RI. Andersen. Departemen Dalam Negeri RI (2008) Petunjuk Teknis Operasional PNPM Generasi Sehat dan Cerdas. 2007. Dinkes Kab Lombok Tengah (2011) Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2011. Macro Internasional. Mays N. 4th Ed. 2011. Walt G. Walt G. Mays N. Badan Litbangkes. Profil Kesehatan Wakatobi. 2012. Depkes RI (2008b) Kepmenkes No. From Idea to Action: Notes for a Contingency Theory of the Policy Implementation Process. USAID.. (2005) Making Health Policy. Open University Press. 16: 403. Rencana Strategis Nasional. Gadjah Mada University Press Emzir. Strukturalisme Levi Strauss. Jakarta. 1975. Pearson. Pedoman Pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu. 2003. Making Pregnancy Safer (MPS) di Indonesia 2001-2010.. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Depkes RI (2008a) Permenkes No. IPKM: Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat.. Jogjakarta. 368(9542):1189 – 1200.

April 2011. Roger Beech2.. Michael (eds). & Campbell OMR (2008) Measuring maternal mortality: An overview of opportunities and options for developing countries.id Kementerian Kesehatan RI. Anhb LV. Martin. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. Kebijakan Jaminan Persalinan. David Hughes.. Birda P. Kemenkes RI (2011b) Laporan Nasional Riset Fasilitas Kesehatan 2011: Laporan Puskesmas. Jakarta. Volume 23.Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. R. Setia.go. A Reader. 2012. Gereina N. Niniek L Pratiwi. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Harvester Wheatsheaf Graham WJ. Soorsg W (2011) Health policy processes in maternal health: A comparison of Vietnam. Kemenkes RI (2011a) Profil Kesehatan Indonesia 2010. 2011.. The Policy Process. 1993. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku ..12 Greena A. 2011d. Nomor 2562/MENKES/PER/XII/2011 Kementerian Kesehatan RI. Barry Gibson1. Nomor 2562/MENKES/PER/XII/2010 McDermott. Janet Lewis and Ke Young dalam Hill. Menkes Beberkan Program Prioritas Kemenkes 2011. Lawrence W. American Journal of Health Behavior. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. 3 July 2002 Yoni Yulianti. Inside The Academy: Profiling Dr. Ramanif KV.Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Press Release. Percepatan Penurunan AKI dan AKB. Jakarta. What does `access to health care’ mean? Journal of Health Services Research and Policy. Vol. Zahr-CLA. Gambaran Peran Kader Posyandu dalam Upaya Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi di Kota Manado dan Palangkaraya. India and China. Stanton C. 2011b. 2011c. 2. 2007..Gordon. Jampersal Solusi Persalinan. Jose Figueroa-Munoz. Kementerian Kesehatan RI. Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Kesehatan. BMC Medicine. 1999. Jakarta.. Rineka Cipta Pranata. Administration and Society 6(4):445-8. halaman 3-6 Meter DMV & Horn CEV (1975) The Policy Implementation Process: A Conceptual Framework. Mukhopadhyayd M. Gulliford.depkes. No. Bagaimana Pendanaan Jampersal? Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. 14. New York.. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. Notoatmodjo. Ian. 2011e. 222 . Volume 7 No. Soekidjo. 6. Myfanwy Morgan. 2011a. 2002.67–173. Pearsona S. Badan Litbangkes. J. “Analisis Partisipasi Masyarakat dalam PNPM Mandiri Perkotaan di Kota Solok”. Health Policy 100. Sugeng Rahanto. Ahmed S. Martineauc T. Green. Mirzoeva T. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Meryl Hudson. Diunduh dari http://www. Qiane X.

2007.html.-Rev.unand. Pearson. Rukmini.unram.depkes. Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya. Schneider H. Weimer DL.id/index.pdf http://health. & Vining AR. Walt G. Health Policy and Planning 23:308–317.. Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI).pasca. RSUD Padang Pariaman.com/2012/10/03/pentinganya-pemberdayaanmasyarakat-di-bidang-kesehatan-498435.go. diakses pada tanggal 20 Des 2012 pukul 9.detik. http://fp. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Shiffman J. (1999) Policy Analysis: Concepts and Practice. Brugha R. 2005). RSUD Sikka.5th Ed. RSUD Larantuka dan RSUD Serang.com/read/2012/12/12/180034/2116877/1301/nikahmuda-bikin-angka kematian-ibu-susah-ditekan?881104755.kompasiana. (2010) Policy Analysis: Concepts and Practice. http://www. Statistik Daerah Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2012. Gambaran Penyebab Kematian Maternal di Rumah Sakit (Studi di RSUD Pesisir Selatan. http://buk. Weimer DL. Prentice-Hall. & Gilson L./ANALISIS-PARTISIPASI-MASYARAKAT.ac..Ratna. Wilujeng. Murray SF.15. http://edukasi.id/data/2012/04/AgFin_18-1_10-Rasyidi-_No.Jakarta.pdf 223 . Nyoman Kutha. & Vining AR. (2008) ‘Doing’ health policy analysis: methodological and conceptual reflections and challenges.id/id/wp.ac. 3rd Ed.php?option=com_content&view=article&id=296 :bidan-berperan-penting-turunkan-aki-danakb&catid=113:keperawatan&Itemid=139 diunduh pada tanggal 19 Desember 2012. KL._. tahun 2007. 2010 Metodologi Penelitian.

224 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful