LAPORAN AKHIR PENELITIAN

RISET EVALUATIF IMPLEMENTASI JAMINAN PERSALINAN

Penyusun Laporan Tety Rachmawati dkk

KEMENTERIAN KESEHATAN RI BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN PUSAT HUMANIORA, KEBIJAKAN KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Jl. Indrapura 17 Surabaya 60176 Telp. 031-3528748/ Faks. 031-3528749 JANUARI 2013 i

ii

SURAT KEPUTUSAN PENELITIAN

iii

iv

v .

vi .

vii .

viii .

Provider (RS dan Puskesmas). akseptabilitas Dinas Kesehatan. semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pengelola program baik di Dinas Kesehatan maupun Depkes RI sehingga bermanfaat dalam rangka perencanaan dan pengambilan kebijakan selanjutnya untuk peningkatan pelayanan Jampersal dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia dalam mewujudkan target MDGs. ketersediaan dan akses terdapapt sarana dan prasarana serta SDM dalam mendukung Jampersal serta utilisasi Jampersal dalam pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. masih diperlukan masukkan untuk sempurnanya hasil penelitian ini. TOGA dan lintas sektor terhadap kebijakan Jampersal. Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggitingginya kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyusunan laporan ini. Saran serta kritik membangun sangat kami harapkan untuk penyempurnaan dan perbaikan di masa mendatang. Dari penelitian di 14 Kabupaten/Kota ditemukan variasi implementasi Jampersal dan akseptabilitas pemangku kebijakan di tingkat kabupaten/kota. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukkan dan pertimbangan pemangku kebijakan untuk mengambil keputusan kebijakan Jampersal. memuat uraian analisis implementasi Jaminan Persalinan sehingga diharapkan diperoleh gambaran pelaksanaan kebijakan Jampersal di daerah. Akhir kata. Surabaya. Laporan ini. provider pelayanan kesehatan dan sasaran Jampersal yang diharapkan dapat memberikan wacana ke depan kebijakan Jampersal. Desember 2012 Tim Peneliti ix . Kami seluruh Tim Peneliti “Riset Evaluatif Implementasi Jaminan Persalinan” menyadari bahwa hasil penelitian ini jauh dari sempurna.KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan Syukur Alhamdulillah atas selesainya laporan penelitian ini. masyarakat sebagai sasaran dan TOMA.

x .

7) Menganalisa pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan Ibu (hamil. saat. nifas. Lintas sektor.bersalin. 6 ) Menganalisis akseptabilitas sasaran dalam pelayanan kesehatan Ibu(hamil. LSM dan organisasi stakeholder lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan. Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan evaluasi program Jampersal dalam upaya mencapai target MDGS. Toga.bersalin.RINGKASAN EKSEKUTIF RISET EVALUATIF IMPLEMENTASI JAMINAN PERSALINAN DI 14 KABUPATEN DI 7 (TUJUH) PROVINSI TAHUN 2012 Jaminan Persalinan (jampersal) merupakan Program Jaminan Persalinan untuk menekan angka kematian ibu bersalin.bersalin. angka kematian ibu (AKI) dan juga angka kematian bayi (AKB) akan menurun sehingga bisa mencapai target MDGs pada tahun 2015. Sedangkan tujuan khususnya adalah 1) Menganalisis kebijakan Jaminan Persalinan di daerah. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru terhadap program Jaminan Persalinan.bersalin. dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan. 5) Menganalisis utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. hingga setelah persalinan bagi ibu yang tengah hamil mulai 2011. xi . nifas. Tujuan umum penelitian adalah menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan dan 8) Menganalisa akseptabilitas Toma. 4) Menganalisis ketersediaan (availability). Diharapkan dengan diluncurkannya Jampersal. akses (accessibility) terhadap sarana dan prasarana. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan. 2) Menganalisis akseptabilitas kabupaten/kota terhadap program Jaminan dan Persalinan. nifas. nifas. SDM terhadap program Jaminan Persalinan. 3) Menganalisis pelayanan akseptabilitas Ibu provider(pemerintah swasta) dalam Kesehatan (hamil. Program Jampersal dipergunakan untuk menanggung seluruh biaya persalinan mulai dari sebelum.

Kepala desa/lurah & aparat desa. Besar sampel adalah 70 orang untuk masing-masing Puskesmas. Sehingga jumlah sampel adalah 140 untuk dua puskesmas di masingmasing Kabupaten/Kota. Pengelola Jampersal dan Bidan desa. Rumah Sakit dan Puskesmas dan FGD dilakukan pada bidan Puskesmas dan Toma. Direktur / Wadir Pelayanan RS. ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) selama periode 6 bulan terakhir yaitu Oktober 2011-April 2012. pengelola Jampersal Dinas Kesehatan. cek list dan data sekunder. verifikator independen dan bidan Kepala Ruangan. Bidan Koordinator. dan kader Posyandu. 2) Tokoh masyarakat :TOMA&TOGA. berdasarkan perhitungan simple random sampling. 3) Responden sebagai pelaksana program Jampersal yaitu a) Fasilitas Kesehatan tingkat pertama/dasar (Puskesmas) yaitu Kepala Puskesmas. Pengelola Jampersal RS. Sedangkan untuk sasaran dan bidan dilakukan wawancara xii . Obsgyn. Disain penelitian adalah cross sectional dengan jenis penelitian adalah gabungan penelitian kualitatif dan kuantitatif.April 2012 di seluruh desa wilayah kerja Puskesmas. ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) selama periode 6 bulan terakhir yaitu Oktober 2011 . pedoman wawancara. Cara pengambilan sampel adalah dengan mengidentifikasi Ibu hamil. Pengumpulan data dengan wawancara dan FGD dengan menggunakan kuesioner terstruktur. kemudian diambil 70 responden secara proportional random to size (acak dan proporsional) sesuai dengan jumlah Ibu hamil. verifikator Dinas Kesehatan dan kepala bidang Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan. Wawancara mendalam dilakukan pada seluruh responden di Dinas Kesehatan. Dari sampel tersebut dibuat daftar/list. Responden penelitian adalah 1) Pengguna program Jampersal yaitu ibu hamil. b) Fasilitas kesehatan tingkat lanjutan (Rumah Sakit) yaitu : dr.Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret – Desember 2012. ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) di masing-masing desa wilayah kerja Puskesmas. 4) Responden sebagai pemegang kebijakan di tingkat kabupaten yaitu Kepala Dinas Kesehatan.

Kab. Pelayanan rujukan khususnya di Daerah yang akses jauh dari pelayanan rujukan diharapkan bidan yang telah mempunyai kompetensi khusus dapat melakukan pelayanan rujukan tertentu misalnya manual plasenta. Analisis data kualitatif dan kuantitatif secara deskriptif untuk menggambarkan implementasi Jampersal. kurang pada substansi. bahkan dengan adanya Jampersal Jamkesda di beberapa daerah dialihkan menjadi Jampersal. penanganan perdarahan sebelum melakukan rujukan. hanya perlu difokuskan pada masyarakat miskin. c. Di Kabupaten/Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal walaupun belum optimal. Kebijakan Jampersal ditindaklanjuti dengan menerbitkan Peraturan Bupati atau Peraturan walikota. 3. Jampersal juga dapat menjadi sumber pendapatan daerah. Natuna tidak memanfaatkan Jampersal. 2. Hasil penelitian menunjukkan Kebijakan Jaminan Persalinan di Kabupaten/Kota dapat didapatkan sebagai berikut : 1. Sosialisasi menjadi kendala untuk pelaksanaan Jampersal. Materi sosialisasi masih lebih kearah pertanggungjawaban administrasi. Penerimaan Provider terhadap kebijakan jampersal : a.dengan menggunakan kuesioner tersruktur. Muatan politik mempengaruhi dukungan Pemerintah daerah terhadap Jampersal antara lain dalam bentuk sosialisasi. xiii . dibatasi pada jumlah anak. Dukungan pembiayaan belum banyak terlihat. Hal khusus yang menjadi masukkan : • • Pelayanan ANC bidan mengharapkan bisa lebih dari 4 kali. b. Jenis paket pelayanan Jampersal di tingkat layanan dasar cukup baik diterima bidan. penyediaan sarana. Secara umum provider (bidan. SPOG) mendukung terhadap kebijakan jampersal. Keterbatasan /tidak adanya dana sosialisasi menyebabkan sosialisasi Jampersal kurang fokus karena diikutkan dengan kegiatan lain. Di beberapa kabupaten/kota belum menerbitkan kebijakan lokal.

Jumlah Bidan pada umumnya mencukupi kecuali xiv . ibu nifas sampai 42 hari dan neonatal (0-28 hari) yang mempunyai salah satu persyaratan seperti KTP. kartu keluarga. hanya Kota seperti Balikpapan dimana tingkat ekonomi tinggi besaran tersebut dianggap masih terlalu rendah. e. Pelayanan KB perlu lebih ditegaskan lagi. Di kepulauan perlu lebih banyak sarana pelayanan. satu desa dapat terdiri beberapa pulau. ibu bersalin. Di beberapa daerah kesulitan dalam pencairan. ada daerah yang menerapkan pengisian inform consent untuk menggunakan KB Jangka panjang seperti IUD pada pengguna Jampersal. tapi juknis tahun 2012 sudah lebih sederhana. Pencairan dana untuk BPS pada umumnya cukup lancar. 4. Portabilitas pelayanan dapat berjalan baik. sehingga beberapa RS terpaksa menarik tambahan biaya untuk obat.Untuk daerah kepulauan besaran klaim tidak masalah tapi biaya transport yang menjadi kendala karena bisa jauh lebih besar dari klaim Jampersal. hal ini disebabkan persyaratan dianggap membebani. h. habis pakai dsb. g. Ketersediaan puskesmas di setiap kecamatan di lokasi penelitian terpenuhi ada beberapa hal perlu diperhatikan : a. Kepesertaan/pengguna Jampersal adalah ibu hamil. Mekanisme klaim awalnya menjadi kendala karena terlalu lama. kartu mahasiswa/pelajar dan paspor. surat ijin mengemudi. Kendala juga dengan terbatasnya tenaga verifikator sehingga berkas klaim menumpuk di verifikator. Di tingkat layanan dasar besaran Klaim menurut juknis 2012 secara umum sudah cukup. f.• • Lama persalinan normal di beberapa daerah lebih dari satu hari. surat keterangan domisili. Masalah terjadi untuk pencairan untuk provider di puskesmas karena melalui mekanisme keuangan daerah sehingga bervariasi setiap daerah. d. Di rumah sakit tarif INA-CBG’s terutama untuk RS Tipe C besarannya dianggap terlalu kecil. KTP suami.

prasarana dan SDM rumah sakit sangat terbatas.3%) sudah di fasilitas kesehatan. harus aktif dan telah magang pada organisasi Profesi dalam waktu tertentu. Sarana Puskesmas rawat inap dan Poned masih terbatas. Pemanfaatan layanan Jampersal : a. o Belum tersosialisasinya program Jampersal dengan baik. Kota Kendari bidan yang ada kebanyakan masih lulusan D1.di kepulauan Aru jumlah bidan sangat kurang. o Keterbatasan tenaga bidan karena ada batasan kompetensi. d. hal ini disebabkan tidak semua bidan puskesmas/desa dapat melakukan PKS disebabkan antara lain : o Belum semua dinas kesehatan membuka kesempatan pada bidan puskesmas/BPS untuk melakukan PKS secara terbuka. o Persyaratan pengurusan ijin praktek bidan yang menyebabkan bidan tidak dapat segera mendapatkan Ijin praktek dengan adanya persyaratan dari organisasi Profesi misalnya APN. di beberapa lokasi kepala Dinas membuat kebijakan untuk menyediakan satu ruangan untuk rawat inap untuk persalinan. Belum semua rumah sakit pemerintah di kabupaten melakukan PKS dengan Dinas Kesehatan. Dari data sasaran Ibu Nifas ”Continum of care” perlu peningkatan pelayanan konseling pada sasaran agar terjadi kesinambungan dalam pemanfaatan paket pelayanan Jampersal mulai dari ANC sampai dengan KB paska nifas. misalnya di kota Ambon. 5. Sisanya masih di xv . c. b. b. Puskesmas non perawatan tidak mempunyai sarana rawat inap untuk menolong persalinan. Sasaran yang memanfaatkan Jampersal pada pelayanan persalinan pada umumnya (95. Jumlah bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan masih sangat terbatas. Terutama di daerah kepulauan sarana. dan distribusi bidan belum merata dan tidak semua bidan desa tinggal diwilayah kerjanya. bahkan tidak ada SPOG tetap.

Pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan dalam upaya mendukung pelaksanaan kebijakan Jaminan Persalinan. Lintas sektor. 6. Masyarakat yang tidak memanfaatkan Jampersal 66. Toga. Selain pemberdayaan dari masyarakat langsung melalui kader kesehatan. Dari penelitian disimpulkan : xvi . dan juga ketersediaan tenaga kesehatannya terbatas. Pelaksanaan Jampersal didukung oleh Toma. Kabupaten Wakatobi dan Kabupaten Paser. b.tenaga kesehatan tapi non fasilitas kesehatan yang terjadi di kabupaten yang tergolong daerah sulit secara akses. Hal ini misalnya terjadi di Kabupaten Kepulauan Aru. Terjadi pergeseran bagi pemanfaatan pembiayaan Jaminan kesehatan lain (Jamkesmas. 8. Cenderung terjadi peningkatan rujukan persalinan per vaginam dengan komplikasi dan tanpa komplikasi di rumah sakit pemerintah tempat rujukan Jampersal pada 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan kasus Sectio caesaria juga cukup tinggi di rumah sakit pemerintah rujukan Jampersal pada tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. Terdapat biaya tambahan yang dikenakan pada masyarakat yang memanfaatkan pelayanan Jampersal 7. Askes dan Jamsostek) ke pembiayaan Jampersal (95%). juga terdapat pembiayaan kesehatan melalui PNPM GSC yang merupakan program kementerian Dalam Negeri. sehingga sasaran Jampersal untuk yang belum mempunyai Jaminan kesehatan kurang sesuai. Dari data sasaran didapatkan : a. c. LSM dan organisasi stakeholder lainnya karena dapat meningkatkan pelayanan oleh tenaga kesehatan.7% karena belum tersosialisasi Jampersal. c. Jamkesda. d.

c) Ketentuan besaran jasa pelayanan dan kelancaran klaim menjadi perhatian sebagai salah satu manfaat Jampersal untuk tenaga kesehatan yaitu adanya kepastian akan menerima jasa pelayanan medis sesuai ketentuan yang berlaku. dan peralatan kesehatan Puskesmas dan Poskesdes agar mampu melakukan pertolongan persalinan di Puskesmas dan Poskesdes secara memadai. kader dalam sosialisasi pada masyarakat. IUD). provider dan masyarakat. Sosialisasi pada masyarakat masih dianggap kurang. bahan habis pakai. c.a. brosur. b. Toga . d. obat. b) Mendorong daerah untuk berkontribusi terhadap pemenuhan sarana prasarana. diperlukan sarana pendukung sosialisasi seperti leaflet. Adapun saran untuk perbaikan Kebijakan Jaminan Persalinan adalah sbb: Jangka pendek 1. Perlu adanya kesinambungan ketersediaan alokasi dana Pusat dalam pelaksanaan Jampersal. lebih senang dengan KB suntik. Fasilitas layanan kesehatan dan terbatasnya sarana transportasi untuk rujukan masih menjadi kendala. Masyarakat mengharapakan Jampersal dilanjutkan karena bermanfaat terutama masyarakat tidak mampu Rekomendasi dari penelitian ini adalah : Dengan dukungan dari Pemerintah Daerah. Masyarakat masih keberatan KB dengan alat kontrasepsi jangka panjang (mis. Pedoman Pelaksanaan harus memberi ruang untuk menampung kebijakan lokal a) Diterbitkannya turunan kebijakan Jampersal berupa Peraturan Bupati atau Peraturan Walikota. xvii . Ada keterlibatan Toma .

f) Penguatan Tim Pengelola Jamkesmas/Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam peningkatan kemampuan proses verifikasi dan pembayaran klaim Jampersal. Jamkesda. kader) dalam sosialisasi lebih di tingkatkan. o Menyediakan rumah singgah. xviii . 2. Peningkatan kemampuan tenaga kesehatan yang ada di wilayah tertentu khususnya di daerah terpencil dan terisolir yang kurang diminati. 5. Jamkesmas. 4. pelibatan lintas program. Sosialisasi menjadi kunci penting dalam keberhasilan. 6. dengan menerapkan inform consent. e) Penguatan sinergisme berbagai sumber pembiayaan dalam mendukung pelaksanaan Jampersal. Penguatan komitmen pelayanan KB pasca persalinan sebagai paket dan bagian tak terpisahkan dari pelayanan Jampersal dengan didorong untuk penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang. Pengetatan mekanisme pengawasan dan sanksi agar seluruh penyedia pelayanan kesehatan (PPK) Jampersal tidak menarik biaya tambahan dari penerima manfaat Jampersal dengan melakukan “uji petik”. Disamping itu perlu penganggaran khusus untuk sosialisasi. Pada daerah kepulauan atau wilayah dengan geografis sulit harus dipertimbangkan beberapa pilihan : o Menyediakan dana pendamping untuk penggantian transport rujukan bila diperlukan.d) Memberi penekanan pada pemerintah daerah untuk menepati ketentuan sesuai juknis. bersalin dan nifas yang belum mempunyai jaminan. Toga. dll. seperti BOK. di antaranya melalui pemberian kewenangan tambahan/khusus mengingat keterbatasan tenaga sesuai kompetensi. bahwa sasaran jampersal adalah ibu hamil. lintas sektor dan masyarakat (Toma. 3.

dan Pemerintah Daerah dalam percepatan pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi yang memadai. obat dan peralatan. serta keterampilan (skill) petugas sebagai penyedia layanan emergensi obstetrik dan neonatal tingkat dasar dan komprehensif. d.o Menyediakan pelayanan ‘one stop service’. 1. dan kepulauan. xix . Jangka Panjang Rekomendasi jangka panjang ini lebih diperuntukkan bagi pelayanan kesehatan ibu dan anak secara keseluruhan. perbatasan. Penguatan Puskesmas PONED dan RS PONEK. dalam rangka memudahkan proses rujukan KIA. Informasi dan Edukasi) tentang Jampersal untuk mengatasi hambatan non-medis dan non-finansial. Kementerian Perhubungan. sehingga diupayakan adanya pendamping di wilayah kerja bidan karena bidan mempunyai keterbatasan . Pemberdayaan Masyarakat sangat penting untuk mendukung pelaksanaan kebijakan Jampersal. Aspek Sarana dan Prasarana dan SDM a. Keberadaan bidan sebagai anggota masyarakat memiliki keterbatasan yang harus diperhatikan. seperti hambatan kultural dan hambatan informasi. baik aspek tenaga. dalam pengertian memenuhi ketersediaan sarana pelayanan kesehatan tingkat dasar sampai dengan rujukan. Peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui pemberian KIE (Konseling. Dukungan Kementerian Pekerjaan Umum. sarana. Penguatan sistem rujukan (improvement collaborative) antara Puskesmas PONED dan RS PONEK. khususnya di daerah tertinggal. c. 2. b.

xx .

Puskesmas (kepala puskesmas. Sosialisasi yang kurang optimal menjadi kendala yang perpengaruh terhadap akseptabilitas provider.toga. pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan meluncurkan kebijakan Jaminan Persalinan (Jampersal). Besaran klaim di rumah sakit yang menggunakan tarif INA-CBGs perlu dilakukan penyesuaian dengan kondisi saat ini. rumah singgah atau one stop service untuk pelayanan dasar dan rujukan. Dukungan pemerintah daerah terhadap ketersediaan obat. SIM. Portabilitas Jampersal dapat berjalan di layanan dasar maupaun rujukan. kelancaran cairnya klaim pada provider di puskesmas dan jaringanny menjadi masalah utama dalam pelaksanaan Jampersal. KTP suami. Jawa Barat. xxi . bidan dan dr. Provider di tingkat layanan dasar dan rumah sakit pada umumnya mendukung kebijakan Jampersal. Paket pelayanan Jampersal pada umumnya berjalan . Kalimantan Timur dan Kepulauan Riau yang masing-masing dipilih 2 (dua) kabupaten / kota. verifikator independen.ABSTRAK Dalam rangka mempercepat pencapaian tujuan pembangunan kesehatan nasional serta Millenium Development Goal (MDG’s). sasaran dan masyarakat terhadap kebijakan Jampersal. cakupan program). Maluku. Data kualitatif hasil FGD dan wawancara mendalam dilakukan secara content analysis. FGD dan kuesioner terstruktur serta pengambilan data sekunder (Profil kab/kota. pengelola Jamkesmas/Jampersal. Penelitian ini merupakan penelitian terapan untuk mengetahui implementasi kebijakan program Jampersal di 7 (tujuh) propinsi di Indonesia yaitu Jawa Timur. Disain Penelitian secara potong lintang Responden penelitian adalah Dinas kesehatan ( Kadinkes. dukun dll). NTB. Kebijakan Jaminan Persalinan dicanangkan tahun 2011 berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/ Menkes / Per /III/2011 dan diperbaharui dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 yang mulai berlaku per 1 Januari tahun 2012. Sulawesi Tenggara. Surat keterangan domisili. Khusus di daerah dengan geografis sulit seperti kepulauan dimana alat transportasi dan biaya transportasi sering menjadi kendala perlu solusi tersendiri dengan menambahkan biaya pendamping untuk transpertasi. rumah sakit ( direktur/ Kabid pelayanan. SPOG). Kartu Keluarga. sasaran (ibu hamil. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa secara umum kabupaten / kota mendukung tujuan kebijakan Jampersal mencapai tujuan 4 dan 5 MDG’s dengan mengimplementasikan kebijakan Jampersal dengan variasi sesuai dengan kondisi dan kebijakan lokal yang berlaku di daerahnya dengan diterbitkanya Peraturan Bupati/walikota. kader. Kartu mahasiswa/pelajar dan paspor. bidan koordinator. melahirkan dan nifas) serta masyarakat( toma. pengelola Jampersal dan bidan desa). Persyaratan bagi sasaran pengguna Jampersal adalah KTP. dengan menganalisis transkrip hasil diskusi dan mendeskripsikannya dalam bentuk naratif. pengelola Jampersal. kecuali KB paska nifas perlu adanya penekanan dalam pelaksanaannya misalnya dengan memberlakukan inform consent. Adapaun pengumpulan data secara kualitatif dan kuantitatif dengan wawancara mendalam. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah Menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan. pengelola program KIA dan verifikator). sedangkan kuantitatif dianalisis secara secara diskriptif. bahan habis pakai dan pembiayaan masih kurang optimal.

Sehungga hanya terjadi pergeseran pembiayaan saja dari Jaminan lain ke Jampersal. Saran untuk Jampersal perlu adanya kesinambungan dalam pendanaan dengan penyempurnaan dalam petunjuk teknis dan implementasi.Sasaran pengguna Jampersal sebagian besar sudah memiliki Jaminan seperti Jamkesmas. Jamkesda. kebijakan Jampersal dirasakan manfaatnya dalam meningkatkan akses ke layanan kesehatan dalam masalah pembiayaan terutama pada masyarakat kurang mampu. masyarakat dan sasaran. Hal ini dikarenakan menurut provider. Kata Kunci : Jampersal 2012 – Evaluasi implementasi-14 kabupaten/kota xxii . Askes dan Jamsostek.

Husband ID. and secondary data were taken Profile of Disticts/Cities. public health insurance/childbirth insurance managements. It was covered based on Minister Decree of Health No. Qualitative data of FGD and In-depth interviews results were conducted content analysis trough analysing discussions transcripts and desribes naratively whereas quantitative were analyzed descriptively. materials in medical services. Family Card. and village midwives). Student Card and passport. Health Center (head. post natal) including communities (TOMA. West Java. lack of socialization for Childbirth Insurance Program have became barriers that influences to provider acceptability. lack of Local Goverment supports concerns availability of pharmacies. East Kalimantan and Riau archipelago. It was a applied study to know how implementation of Childbirth Insurance Program Policy in 7 (seven) Provinces in Indonesia involves East Java. Maluku. Driver’s License. FGD. 2012. 2562/Menkes/Per/XII/2011 regarding Technical Guidance of Childbirth Insurance which was launched January 1. In 2011 Ministry of Health has been released a national policy concerning Childbirth Insurance Program (known as “Jampersal”). targets and communities toward Childbirth Insurance Program Policy. a domicile explanation letter. questionnaire structurely. This study aims to analyze implementing Childbirth Insurance Program.Abstract In order to accelerate achievement of the National Health Development and Millenium Development Goals. birth. Childbirth Insurance portability has been ran in basic services and referrals. maternal and neonatal management. and the others). and obstetric specialists). Childbirth Insurance managements. coordinator midwife. Requirements for Childbirth Insurance Program is ID Card. TOGA. Implementation of Childbirth Insurance Program Policy has been assorted every study area. cities/districts have been supported goals of childbirth Insurance Program Policy to achieve the 4 and 5 MDGs goals. and verificator for health office). Each area were taken 2 (two) districts/cities. targets (pregnant women. Furthermore. and financing. West Nusa Tenggara. health program coverage. All data were gathered qualitatively whereas quantitative data with In-depth interview. Results of the study shows that In general. Moreover. cildbirth Insurance management. midwives. Study design was a cross sectional whereas informants were District/City Health Office (head. and mayor decrees. independence verificator. Southeast Sulawesi. 631/Menkes/Per/III/2011 juncto Minister Decree of Health No. hospital (director/head of division for health services. It was caused by conditions and policy local such as it has been released regent. cadres. and also Childbirth Insurance Benefit xxiii .

shelter home. except implementation of Family Planning for post natal care has been stressed in implementation for example applying inform consent special for remote areas such as islands where transportation and cost have became barriers. Disbursement of claims is late on provider at Health Center and their networks became main obstacle implementation of Childbirth Insurance Program and we also need tarrif revision for hospital that has applied INA-CBGs. Key words: Childbirth Insurance Program. xxiv . Evaluation of implementing Childbirth Insurance of 14 Districts/Cities. On the other hand. It suggested that we are need sustainability concerns financing and revised technical guidance were caused by providers. provider for basic services and referral levels have supported the Childbirth Insurance Program Policy. or one stop service. local health insurance. In general. and Social Security Programs for Workers so that It just moved financing from an insurance to Childbirth Insurance. and targets that Childbirth Insurance Program policy has perceived benefits them that implicated to increase public access to facilities health services mainly family poors.package. Most of targets users for Childbirth Insurance Program have already been others Insurance such as public health insurance. communities. health insurance. It will needed solution strategy through adding attendant cost for basics and referrals services for transportation.

M. 16.Sp.KM Rozana Ika Agustiya. Msi Ingan Ukur Tarigan. Yurika F. Rukmini. Kes.KG Dra. MHA Pemberdayaan Masyarakat Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Perilaku dan Pelayanan Kesehatan Antropologi Sosiologi Kesehatan Masyarakat Psikologi Peneliti Peneliti 10.Vita K.M. Dr. Yunita Fitrianti. 14.Kes dr. Setia Pranata. M. Agung Dwi Laksono. Ir. Niniek L. S. 2. 13. M.I.Ant Sri Handayani.Kes Analis Kebijakan Magister sains Peneliti Peneliti 4. S. Epid. S. Pratiwi. M. S. SKM. magister Sains Peran P. Muhammad Agus Mikrajab. Drs. drg. Master Kesehatan Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Peneliti Peneliti 8.Psi Nugroho Winarto Peneliti Peneliti Peneliti Peneliti Pembantu Administrasi 17. Susilo Pembantu Administrasi 18 Supriyadi Pembantu Administrasi xxv . SKM.. 15. 5..DAFTAR ANGGOTA TIM PENELITI SUSUNAN TIM PENELITI No. 7. SKM.S. Tety Rachmawati.MPH Peneliti 11. R. Psikolog. Apt. M. M. 1 Nama dr..Sos Wening Widjajanti. Selma Siahaan.Kes Pemberdayaan Masyarakat Peneliti 3.Psi. Master Kesehatan Peneliti 6. Msi Kepakaran Dokter.Wasis. 9.Psi.. S. drg. Peneliti 12.

xxvi .

.............................. 2................................................................. RINGKASAN EKSEKUTIF ......1.....6 BIDAN PRAKTEK MANDIRI .................. SURAT KEPUTUSAN PENELITIAN .2 PERJANJIAN KERJA SAMA .2 SASARAN JAMPERSAL ............................................................. LATAR BELAKANG ..........1....4 PUSAT PELAYANAN OBSTERIK NEONATAL EMERGENSI DASAR (PONED) ................................................. xxvii i ii ix xi xxi xxv xxvii xxxiii xxxvii xxxix 1 1 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 6 6 6 .................................................................................................1.......................................................................................2........ 2.................................................. 2..............................................2 KEBIJAKAN (JUKNIS JAMPERSAL 2012) ..................................... PERTANYAAN PENELITIAN ... DAFTAR ANGGOTA PENELITI ..........1 TUJUAN JAMPERSAL ..........................1............................................................................ ABSTRAK ............................. DAFTAR GAMBAR ........................... DAFTAR ISI................ DEFINISI ..................................................................................................................................................................... 2.............................................5 RUMAH SAKIT PELAYANAN OBSTERIK NEONATAL EMERGENSI KOMPREHENSIF (PONEK) ................... 2...................... BAB I 1................................................................................................................................ 2................................ DAFTAR TABEL...........................1............ 2.......1 PENDAHULUAN ...................................... 2.1 1...................................................................1.......................3 FASILITAS KESEHATAN ....................................................2 1.............................................................................................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ................................ 2................ DAFTAR LAMPIRAN ................... FOKUS BIDANG PENELITIAN ........ TINJAUAN PUSTAKA ...................................1 JAMPERSAL ....................................................................2........ KATA PENGANTAR ......................................................................................................3 BAB II 2..

..............6............................... KERANGKA TEORI ......................................................3 PENYEBAB KEMATIAN MATERNAL ............... METODOLOGI ....................1..2 BAB IV 4...2 ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN .............. 4........................................................................ 2......3 PAKET MANFAAT DAN TATA LAKSANA PELAKSANAAN JAMPERSAL ..............................................3................ CARA PENGUMPULAN DATA ...............3.......................1 TUJUAN DAN MANFAAT.............1 PENGUMPULAN DATA KUALITATIF .........................................4 4................3...............1 ANALISIS KEBIJAKAN KESEHATAN .......................3 TEORI KEBIJAKAN ..2. xxviii 7 9 9 9 10 10 13 13 15 15 17 17 17 17 18 19 19 20 21 22 22 23 23 24 25 26 27 28 28 .... 3...............................2............................................................1 4..................2 PENGUMPULAN DATA KUANTITATIF .. TUJUAN PENELITIAN ... 2........1 DEFINISI MATERNAL . 2....................................................................... 2................................................6.......................................... 2..4....1 TAHAPAN PEMILIHAN LOKASI PENELITIAN ................ 3.... 2........ 4............................................. DESAIN/JENIS PENELITIAN .......8 4.................9 VARIABEL PENELITIAN ...............2 TUJUAN KHUSUS .....................4............................................2 TINGKAT KEMATIAN MATERNAL ..............1.....5 4........................... 3..................3 4...... 4.....1 TUJUAN UMUM .................. BAB III 3............................7 4......................................2................................................ 2......................................... TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN ......6...........3 KEMATIAN MATERNAL ................................................................... KERANGKA PIKIR ................................... 2................................ KERANGKA OPERASIONAL.................... RESPONDEN PENELITIAN ..........4 PENDANAAN JAMPERSAL .............4..........6 MANFAAT PENELITIAN .2 4.........................................3 DATA SEKUNDER .4 TEORI KEBIJAKAN PUBLIK ............................................................................ 4.......................................................... 2................ 4......9........................ DEFINISI OPERASIONAL ....................................

..... 5....1.............. 4....................................................................2...........1 SASARAN ..2..........................1...1.....................2 KARAKTERISTIK PENGGUNA JAMPERSAL ...............1 KABUPATEN SAMPANG .2...............2..........................................................................................1....2...9.............. 5....................6 BESARAN TARIF PELAYANAN ........ 5......1.............. BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ..................2.......1 KARAKTERISTIK RESPONDEN IBU HAMIL...........1... 5....2 TAHAPAN PELAKSANAAN PERSIAPAN DI LAPANGAN...2..... 5.....2.....5 KOTA BANDUNG ................................................................................................7 KOTA AMBON ..1..2...............................................2..2.......7 PENDANAAN .............2 KOTA BLITAR ... 5. 5.2..........1.....2............... 5.... 5.2..11 PERTIMBANGAN IJIN PENELITIAN ..........2.........9.............10 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA ..................................8 PROSES PENGAJUAN KLAIM .....................2........... 5.... 5....2........................... 5... 5.........4 KABUPATEN LOMBOK TENGAH ........ 4.........12 JADWAL KEGIATAN ........................................1.........2. BERSALIN DAN NIFAS .......2 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI TINGKAT PUSAT DAN DAERAH ................ 29 29 30 30 31 33 5....................................................2 PAKET PELAYANAN ...... 4... 5........................................................2...5 PEMBERI LAYANAN .. 4...................... 5..... 5...................3 KOTA MATARAM .1... 5........3 KEPESERTAAN ..........2.................2...........4 PERSYARATAN KLAIM ......2.2 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI KABUPATEN/KOTA LOKASI PENELITIAN .........................................1 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI PUSAT ................... 5.............2.... 5........................4......... 5...2...........................6 KABUPATEN BOGOR ........................1 SEKILAS TENTANG LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN ............. xxix 33 36 39 43 43 44 44 45 45 46 47 47 49 49 50 52 53 54 55 56 57 ...3 TAHAPAN PENGUMPULAN DATA DI LAPANGAN……………..

....3...................4....4...2 KEPESERTAAN ........................... 74 76 80 81 85 87 89 89 90 91 5.............. 5..... 5.3.13 KOTA BATAM .4...............2.................................... 5.............................2...................4......2.......5 JASA PELAYANAN .........2..........5..................12 KABUPATEN PASSER .............4 BESARAN TARIF PELAYANAN ...... 5.... 5..................................3......2..........................4.........2................... 58 60 60 62 63 63 65 67 67 70 5........................1 PAKET LAYANAN................4............3 SYARAT PEMANFAATAN DAN MEKANISME KLAIM 5..... 5................2 PEMBERI LAYANAN DI FASILITAS KESEHATAN DASAR........ 5......4 BESARAN TARIF PELAYANAN DAN JASA PELAYANAN 92 5.........2..5 KETERSEDIAAN (AVAILABILITY)...................... 5........ 5................4............8 KABUPATEN KEPULAUAN ARU .4.. AKSES (ACCESIBILITY) TERHADAP SARANA DAN PRASARANA SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN .......4......................3..........3 PEMBERI LAYANAN DI FASILITAS KESEHATAN RUJUKAN 5.2..............4..9 KOTA KENDARI .................................................. SOSIALISASI DAN KEBIJAKAN LOKAL YANG MENDUKUNG JAMPERSAL ...4.2...... 5....10 KABUPATEN WAKATOBI .....................2.11 KOTA BALIKPAPAN ..3 AKSEPTABILITAS KABUPATEN/KOTA TERHADAP PROGRAM JAMPERSAL ....2........................2.........3........14 KABUPATEN NATUNA ... 5........................3 SYARAT KLAIM...........2................. 5....................... 5............ 5.........1 SOSIALISASI JAMPERSAL DI PUSKESMAS DAN RUMAH SAKIT 71 5..4 AKSEPTABILITAS PROVIDER DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN .......2..2 KEPESERTAAN/SASARAN ........... 95 xxx .............1 PAKET PELAYANAN ...... 5.....1 DUKUNGAN MANAJEMEN.........2...2...............................2..................2.... 5.2...4.

...... 6....................1 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM UPAYA MENDUKUNG PROGRAM KIA MELALUI PNPM GSC DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH .............................................................. 5. LINTAS SEKTOR............5............................................1 JANGKA PANJANG ......2 UTILITAS DAN PELAYANAN RUJUKAN ................................... 5.......2............................ 5..9 AKSEPTABILITAS TOMA......5....................... 5.....8.......8.............................................................................9........2....... 5............................8 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN ................ TOGA.................1 6................ UCAPAN TERIMA KASIH ........................................6..................................2 BAYANG-BAYANG JAMPERSAL DI LAMANGGAU ......... BAB VI 6................................ 5...................................................3 ANTARA BUDAYA...........................2 AKSESIBILITAS JARAK ........ DAFTAR KEPUSTAKAAN .....................1 SARANA DAN PRASARANA PELAYANAN DASAR DAN RUJUKAN .......... 5............. SARAN/REKOMENDASI ..................6 UTILITAS PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR OLEH PROVINSI YANG DISEDIAKAN OLEH PROGRAM JAMINAN PERSALINAN .5... LSM DAN ORGANISASI LAINNYA DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN JAMINAN PERSALINAN ........................................ 5......................................................................................................7 AKSEPTABILITAS SASARAN DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMPERSAL ...................... TABU DAN UPAYA PENYELAMATAN IBU DI KOTA BLITAR ................2 KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 5................................... 6......6................ KESIMPULAN ..........1 UTILITAS DAN PELAYANAN DASAR .......1 JANGKA PENDEK ............1 HARAPAN MASYARAKAT ................ 5.............8.. 5............... xxxi 95 101 118 118 127 132 136 137 159 179 200 208 211 211 216 216 217 219 221 ...

xxxii .

2 Kerangka teori penelitian Kerangka pikir penelitian Nama Halaman 19 20 28 29 35 37 Kerangka operasional penelitian Tahap Pelaksanaan Persiapan Penelitian di Lapangan Peta Wilayah Indonesia Karakteristik Responden berdasarkan Umur pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Gambar 5.12 Gambar 5.4 Gambar 5.6 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Jumlah Anak pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Gambar 5.2 Gambar 4.10 Gambar 5.DAFTAR GAMBAR Gambar Gambar 4.3 Karakteristik Responden berdasarkan Pendidikan pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 39 Gambar 5.1 Gambar 5.1 Gambar 4.13 Ruang rawat Inap pasien Jampersal di Rumah Sakit Jarak ke pelayanan Kesehatan pada pengguna Jampersal di kabupaten/Kota “Daratan” xxxiii 42 71 71 75 83 99-100 di 101 102 . tempat cuci kamar Operasi di Ruang kandungan dan kebidanan di RSUD Ambon Gambar 5.8 Gambar 5.5 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Pendidikan pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi 41 Jampersal Tahun 2012 Gambar 5. Bagan Sosialisasi Jampersal di Kabupaten/Kota Persepsi Bidan Puskesmas terhadap Jaminan Persalinan Mekanisme pembeyaran klaim Jampersal Pelayanan Dasar Ruang ICU.4 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Umur pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 40 Gambar 5.9 Gambar 5.3 Gambar 4.7 Gambar 5.11 Diskusi Kelompok pada Bidan.

Kepulauan Aru Peta Kabupaten Kepulauan Wakatobi Kapal cepat yang melayani rute Wanci-Tomia Puskesmas Onemobaa. Kab.24 Tenaga Pemeriksa Kehamilan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011 April 2012 Gambar 5.17 Gambar 5.22 Peta Wilayah Provinsi Kepulauan Riau Posisi Kabupaten Kepulauan Aru di peta Indonesia Peta Wilayah Kabupaten Kepulauan Aru Puskesmas Benjina. Wakatobi Cakupan Persalinan oleh tenaga kesehatan di Kabupaten/Kota “Non Kepulauan” tahun 2010-Juni 2012 Gambar 5.Juni 2012 Gambar 5.21 Gambar 5.14 Jarak ke pelayanan kesehatan pada pengguna Jampersal 102 di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Gambar 5.Juni 2012 Gambar 5. Kab.20 Gambar 5.19 Gambar 5.18 Gambar 5.23 Cakupan Persalinan Tenaga Kesehatan di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Tahun 2010 – Juni 2012 Gambar 5.Gambar 5.15 Gambar 5.29 Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam tanpa Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 129 128 127 126 xxxiv .27 Kematian Neonatal di Kabupaten/Kota Tahun 2010 .26 Kematian Maternal di Kabupaten/Kota Tahun 2010 .28 Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam dengan Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Gambar 5.25 Tenaga Penolong Persalinan Pada Responden Non 125 124 120 103 106 108 109 113 116 118 119 Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Gambar 5.16 Gambar 5.

37 Persentase capaian indicator keberhasilan PNPM GSC Kab.35 Kepemilikan Jaminan lain pada sasaran pengguna Jampersal Alasan tidak menggunakan Jampersal pada sasaran Kepemilikan Jampersal Jaminan pada sasaran Non pengguna 132 134 135 Gambar 5.43 Gambar 5.40 Gambar 5.42 Gambar 5.45 Gambar 5. Linakes Desa Langko Thn 2010-2012 PMT yang diberikan ketika posyandu di Desa Langko Peta Kabupaten Wakatobi Peta Desa Lamanggau Jalan Menuju Puskesmas Onemobaa Pintu Gerbang Dive Wakatobi Resort Gedung Puskesmas Onemobaa Tempat pemeriksaan yang berkarat Rumah tenaga kesehatan xxxv 149 152 160 161 163 163 165 165 165 .33 Gambar 5.44 Gambar 5.30 Kematian Maternal < 24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 130 Gambar 5.38 Kunjungan K1.46 Gambar 5.50 Kunjungan K1.Gambar 5.32 Kematian Neonatal di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010.d Okt 2012 145 Gambar 5.31 Kematian Maternal >24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 131 Gambar 5. K4.47 Gambar 5.39 Kunjungan K1 dan K4 serta Linakes Desa Lekor.36 Pembiayaan Tambahan pada sasaran pengguna Jampersal pada Kabupaten/ Kota Daerah Penelitian 135 Gambar 5.41 Poskesdes Desa Lekor yang dibangun oleh PNPM GSC Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil yang difasilitasi oleh PNPM GSC 146 148 Gambar 5.48 Gambar 5.49 Gambar 5. Th 2010 s. Lombok Tengah 139 Gambar 5.Juni 1012 131 Gambar 5.34 Gambar 5. K4 dan Linakes Puskesmas Janapria Thn 2010-2012 143 Gambar 5.

54 Gambar 5.51 Gambar 5.52 Gambar 5. kader.Gambar 5.55 Gambar 5. dll) 175 175 175 175 176 201 xxxvi .53 Gambar 5. TOGA.56 Rumah Mbook Medaming “rumah bersalin Bajo” Kamar untuk bersalin Kamar untuk bersalin (tampak luar) Lantai bersalin Ibu nifas Diskusi kelompok masyarakat (TOMA.

122 persalinan) dan PN di Kabupaten/Kota di Lokasi Penelitian Tahun 2012 Tabel 5.2 Definisi Operasional Gant Chart Jadual Kegiatan Penelitian Tarif Pelayanan Jaminan Persalinan Tahun 2012 Sarana dan Sumber Daya Manusia yang Memberikan Pelayanan Jampersal. 121 Tabel 5. Kabupaten dan Kota berdasarkan kriteria cakupan LINAKES Halaman 21 Tabel 4.6 Jumlah Kasus Sectio Caesaria yang ditangani di Rumah sakit di Kabupaten/Kota Tahun 2010 – Juni 2012 129 123 xxxvii .3 Tabel 5.1 Tabel 5.DAFTAR TABEL Tabel Tabel 4.2 Tabel 4.5 Tempat Persalinan Responden Pengguna Jampersal di Lokasi penelitian Periode Oktober 2011-April 2012. Tabel 5.3 “Continum of Care” pada Responden Sasaran Ibu Nifas Pengguna Jampersal per Kabupaten (N = 573). K4. 27 31 47 95 Tabel 5.4 “Continum of Care” Pelayanan Jampersal (K1.1 Nama Pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi.

xxxviii .

pendidian masyarakat..I. LATAR BELAKANG Dalam rangka mempercepat pencapaian tujuan pembangunan kesehatan nasional serta Millenium Development Goal (MDG’s ). Untuk mencapai AKI dan AKB sesuai target MDG’s dihadapi berbagai masalah yang multi komples seperti masalah budaya. Hal ini dikarenakan masih banyaknya ibu yang tidak mampu membiayai persalinannya sehingga tidak dilayani oleh tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang baik. 90 persen kematian ibu disebabkan karena persalinan. Menurut data Kemenkes.R. lingkungan. kecukupan fasilitas kesehatan. sehingga diperlukan (SDKI.BAB I PENDAHULUAN 1. diharapkan berharap bisa menekan angka kematian ibu hingga 118 per 100 ribu penduduk yang merupakan target RPJM 2014 dan 102 per 100 ribu penduduk sesuai target MDG’s tahun 2015. Hasil studi District Health Account 1 intervensi khusus . (Kemenkes. 2007). 2011). sumberdaya manusia dll.1. pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan meluncurkan kebijakan Jaminan Persalinan (Jampersal). Program Jampersal adalah respons pemerintah melalui Kementerian Kesehatan untuk mengembangkan program/kegiatan yang bersifat quick wins dalam upaya menurunkan kematian maternal. Saat ini Kemenkes mencatat angka kematian ibu masih di atas 228 orang per 100 ribu penduduk. Kebijakan Jaminan Persalinan dicanangkan tahun 2011 berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/Menkes/Per /III/2011 dan diperbaharui dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 yang mulai berlaku per 1 Januari tahun 2012. Dengan program jampersal. jumlah itu masih sangat tinggi. pengetahuan. Salah satu faktor yang penting dalam intervensi adalah perlu meningkatkan akses masyarakat terhadap persalinan yang sehat dengan memberikan kemudahan pembiayaan kepada ibu hamil.

dengan memanfaatkan pelayanan di seluruh jaringan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjutan (RS) di kelas III yang sudah memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kabupaten/Kota. Oleh karena itu. 2012) menunjukkan rendahnya komitmen pemerintah daerah untuk menyediakan anggaran kesehatan dalam jumlah yang memadai.I. tidak tergantung status sosial ekonomi yang bersangkutan. Dengan ketentuan proses persalinan dilakukan di rumah sakit kelas III atau Puskesmas (Kemenkes.I.I. bagi siapa saja.di 80 kabupaten/kota (Gani. angka kematian ibu (AKI) dan juga angka kematian bayi (AKB) akan menurun seiring dengan meningkatnya cakupan keluarga berencana sehingga bisa mencapai target MDGs pada tahun 2015 (Kemenkes.R. dan empat kali kontrol setelah persalinan sedangkan mekanisme pemberian jaminan persalinan ini diberikan seperti Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). termasuk di dalamnya anggaran untuk program kesehatan ibu dan anak. persalinan hingga masa nifas termasuk bayi. Program Jampersal adalah intervensi pembiayaan untuk menanggung seluruh biaya persalinan mulai dari masa kehamilan. salah satu faktor penting untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap persalinan sehat adalah dengan memberikan kemudahan pembiayaan untuk ibu hamil. Paket pelayanan jaminan Persalinan yang ditanggung oleh pemerintah adalah Antenatal care (ANC). Program Jampersal terintegrasi dengan pelayanan KB. sehingga diharapkan dengan diluncurkannya Jampersal. 2011). (Kemenkes R. ibu bersalin.R. pemeriksaan kehamilan dengan risiko tinggi dan persalinan dengan penyulit serta komplikasi dilakukan secara berjenjang di Puskesmas dan rumah sakit berdasarkan rujukan. saat persalinan. Dana yang dikeluarkan untuk program ini diperkirakan mencapai 2.3 triliun rupiah. yaitu pemeriksaan sebanyak 4 (empat) kali sebelum persalinan. 2011). ibu nifas (pasca melahirkan sampai 42 hari) dan bayi baru lahir (0-28 hari) yang belum memiliki jaminan persalinan. Selain itu. 2011). 2 . Peserta program Jampersal adalah ibu hamil..

K4. sedangkan Jamkesmas memberikan perlindungan kesehatan bagi warga miskin. Persalinan yang sudah dibiayai Jamkesmas mencapai 1. Laksono Trisnantoro telah melakukan penelitian Jampersal di DIY .6 juta ibu hamil. meningkatkan persalinan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Target MDGs dalam meningkatakan kesehatan ibu akan tercapai apabila 50% kematian ibu dapat dicegah dan hal tersebut dapat dicapai antara lain dengan meningkatkan cakupan K1. Tahun 2011. dengan prioritas dalam perkiraan ibu bersalin dalam 1 tahun adalah 4. meningkatkan cakupan peserta KB terutama dengan metode kontrasepsi jangka panjang.7 juta ibu hamil pertahun. meningkatkan cakupan peserta KB terutama dengan metode kontrasepsi jangka panjang. memastikan memastikan bidan tinggal di desa. meningkatkan persalinan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan evaluasi program Jampersal dalam upaya mencapai target MDGS dengan meningkatkan cakupan K1. Jampersal ini akan dilaksanakan secara bertahap mulai 2011.Program Jampersal itu berbeda dengan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).Papua dan NTT dengan masing-masing di 1-2 kabupaten. 3 . Program ini tidak hanya pada ibu hamil yang miskin. Walaupun tahun 2012 terdapat beberapa penelitian Jampersal . dari hasil penelitian menyatakan ada permasalah serius dalam kebijakan Jampersal. Diharapkan program jampersal ini bisa meningkatkan kualitas kelahiran pendudukan tanpa meningkatkan jumlah penduduk. serta pemberdayaan keluarga dam masyarakat dalam bidang kesehatan. Dan tahun 2012 petunjuk teknis 2011 telah disempurnakan berdasarkan masukan sebelumnya . serta pemberdayaan keluarga dam masyarakat dalam bidang kesehatan. tapi masih terbatas dalam wilayan penelitiannya sehingga diperlukan penelitian yang lebih lanjut untuk mendapat informasi yang lebih luas.

LSM dan organisasi stakeholder lainnya) dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan? dan kendala dalam 1.3. Bagaimna utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. Bagaimana penerimaan provider dalam pelayanan Kesehatan Ibu dan bayi terhadap program Jaminan Persalinan ? 3.bersalin. nifas. Lintas sektor. Bagaimana penerimaan masyarakat dalam pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi terhadap Implementasi Jaminan Persalinan ? 6. Toga. pertolongan persalinan. dan pelayanan nifas dan pelayanan KB paska persalinan dalam rangka mendukung program Jampersal sehingga dapat menurunkan AKI dan AKB. dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan 5. upaya yang dilakukan provider pelayanan kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat yang di fokuskan Dalam upaya meningkatkan cakupan pemeriksaan kehamilan. Fokus bidang penelitian Fokus bidang penelitian adalah Kebijakan di tingkat pusat dan daerah dalam pembiayaan. Bagaimana kebijakan daerah (Kab/Kota) implementasi Jaminan Persalinan? 2. 4 . akseptabilitas provider dan masyarakat.1. ketersediaan sarana dan prasarana dan sumberdaya manusia. Bagaimana penerimaan kelompok masyarakat (Toma. Pertanyaan penelitian 1.2. Bagaimana upaya pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi oleh provider dalam Implementasi Jaminan Persalinan ? 4.

2.1.1 Definisi ( Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan 2012) 2.1.1. Manfaat yang diterima oleh penerima manfaat Jaminan Persalinan terbatas pada pelayanan kehamilan. 2.2 Perjanjian Kerjasama (PKS) adalah dokumen perjanjian yang ditandatangani bersama antara Dinas Kesehatan selaku Tim Pengelola Kabupaten/Kota dengan penanggung jawab institusi fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta yang mengatur hak dan kewajiban para pihak dalam jaminan persalinan.1.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. preventif.5 Rumah Sakit Pelayanan Obsterik Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) adalah Rumah Sakit yang mempunyai kemampuan dalam memberikan pelayanan obstetri (kebidanan) dan bayi baru lahir emergensi komprehensif. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. persalinan. pertolongan persalinan.3 Fasilitas Kesehatan adalah institusi pelayanan kesehatan sebagai tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan. pelayanan nifas termasuk pelayanan KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.1 Jaminan Persalinan adalah jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan. Kebijakan Jaminan Persalinan (Juknis Jampersal 2012) Jaminan Persalinan merupakan perluasan kepesertaan dari Jamkesmas dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja. 2.4 Puskesmas Pelayanan Obsterik Neonatal Emergensi Dasar (PONED) adalah Puskesmas yang mempunyai kemampuan dalam memberikan pelayanan obstetri (kebidanan) dan bayi baru lahir emergensi dasar.1. 2.2. TNI/POLRI. kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah. 2.1. nifas. baik promotif. 5 . 2.6 Bidan Praktik Mandiri adalah praktik bidan swasta perorangan. dan Swasta.

persalinan. Sasaran Jampersal Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah : 1. Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien.2. 3) Penanganan komplikasi ibu hamil. Meningkatnya cakupan pelayanan : 1) Bayi baru lahir. dan bayi baru lahir. Ibu nifas ( sampai 42 hari pasca melahirkan) 4. Tujuan Umum Meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan.2. b. nifas. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kompeten. dan akuntabel. Tujuan Khusus a. 2. Bayi baru lahir (sampai dengan usia 28 hari) Sasaran yang dimaksud diatas adalah kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi untuk mencegah AKI dan AKB dari suatu proses persalinan. Tujuan Jampersal 1. Ibu hamil 2. transparan. Ibu bersalin 3. 2) Keluarga Berencana pasca persalinan. nifas. batas waktu sampai dengan 28 hari pada bayi dan sampai dengan 42 hari pada 6 . 2. pertolongan persalinan. KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten.2.1. c.2. Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan. Agar pemahaman menjadi lebih jelas. bersalin. efektif.

Manfaat pelayanan jaminan persalinan meliputi: 1. persalinan dan nifas. reagensia dan bahan habis pakai yang diperuntukkan bagi pelayanan kehamilan. Pemeriksaan kehamilan (ANC) yang dibiayai oleh program ini mengacu pada buku Pedoman KIA. ibu hamil diperiksa sebanyak 4 kali disertai konseling KB dengan frekuensi: a. bersalin.ibu nifas adalah batas waktu pelayanan PNC dan tidak dimaksudkan sebagai batas waktu pemberian pelayanan yang tidak terkait langsung dengan proses persalinan dan atau pencegahan kematian ibu dan bayi karena suatu proses persalinan. Penyediaan obatobatan. nifas dan bayi baru lahir menjadi tanggung jawab Pemda/Dinas Kesehatan Kab/ Kota. Paket Manfaat dan Tata Laksana Pelayanan Jaminan Persalinan Manfaat yang diterima oleh penerima Jaminan Persalinan sebagaimana diuraikan dibawah ini. abortus inkompletus dan missed abortion b) Penatalaksanaan mola hidatidosa c) Penatalaksanaan hiperemesis gravidarum d) Penanganan Kehamilan Ektopik Terganggu e) Hipertensi dalam kehamilan. 2.2. 2. Pada Jaminan Persalinan dijamin penatalaksanaan komplikasi kehamilan antara lain : a) Penatalaksanaan abortus imminen. pre eklamsi dan eklamsi 7 . dan KB pasca salin serta komplikasi yang mencakup seluruh sasaran ibu hamil. 2 kali pada triwulan ketiga Pemeriksaan kehamilan yang jumlahnya melebihi frekuensi diatas pada tiap-tiap triwulan tidak dibiayai oleh program ini. 1 kali pada triwulan pertama b. 1 kali pada triwulan kedua c. dimana selama hamil.3. sedangkan pada peserta Jamkesmas dijamin berbagai kelainan dan penyakit.

dan 8 . Jenis Pelayanan Keluarga Berencana pasca salin antara lain : a) Kontrasepsi mantap (Kontap) b) IUD.f) Perdarahan pada masa kehamilan g) Decompensatio cordis pada kehamilan h) Pertumbuhan janin terhambat (PJT): tinggi fundus tidak sesuai usia kehamilan i) Penyakit lain sebagai komplikasi kehamilan yang mengancam nyawa. Lama hari inap minimal di fasilitas kesehatan : 1) Persalinan normal dirawat inap minimal 1 (satu) hari 2) Persalinan per vaginam dengan tindakan dirawat inap minimal 2 (dua) hari 3) Persalinan dengan penyulit post sectio-caesaria dirawat inap minimal 3 (tiga) hari Pencatatan pelayanan pada ibu dan bayi baru lahir tercatat pada: Registrasi ibu hamil dan Pencatatan di Buku KIA. masing-masing satu kali pada : 1. Kunjungan keempat untuk Kf3 (hari ke-29 s/d hari ke-42) Pelayanan nifas dijamin sebanyak empat kali. Pelayanan nifas (Post Natal Care) Pelayanan ibu nifas dan bayi baru lahir dilaksanakan empat kali. Kartu Ibu. Kunjungan pertama untuk Kf1 dan KN1 (6 jam s/d hari ke-2) 2. maka pelayanan nifas dilakukan sesuai pedoman pelayanan Nifas dengan komplikasi tersebut. terkecuali pelayanan Nifas dengan komplikasi yang dirujuk ke Rumah sakit. Kunjungan kedua untuk KN2 (hari ke-3 s/d hari ke-7) 3. Implant. dan Kohort ibu. 3. Kunjungan ketiga untuk Kf2 dan KN3 (hari ke-8 s/d hari ke-28) 4. Keluarga Berencana (KB) adalah pelayanan KB pasca persalinan dilakukan hingga 42 hari pasca persalinan.

3. KEMATIAN MATERNAL 2. 2002). melahirkan atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya masa kehamilan. Pendanaan Jaminan Persalinan 1.4. Hal ini disebabkan 9 . Dana belanja bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada angka 1 (satu) adalah dana yang diperuntukkan untuk pelayanan kesehatan dan rujukan pelayanan dasar peserta Jamkesmas. 2.c) Suntik. tetapi tidak secara kebetulan atau oleh penyebab tambahan lainnya.000 kelahiran hidup. 2. percepatan pencapaian MDG’s 2015 serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan termasuk persalinan oleh tenaga kesehatan difasilitas kesehatan. Tingkat Kematian Maternal Berdasarkan kesepakatan Internasional. Pendanaan Jamkesmas dan Jampersal di pelayanan dasar dan pelayanan rujukan merupakan belanja bantuan sosial (bansos) bersumber APBN yang dimaksudkan untuk mendorong pencapaian program. tingkat kematian maternal didefenisikan sebagai jumlah kematian maternal selama satu tahun dalam 100. 2. sebab denominator untuk Maternal Mortality Rate seharusnya population at risk untuk kehamilan dan persalinan yaitu jumlah wanita usia reproduksi (15-44 tahun). 2002) 2. Defenisi Kematian maternal adalah kematian wanita sewaktu hamil. Data kematian maternal di Indonesia pada saat ini belum ada yang tepat.2. Sesungguhnya kematian ini lebih tepat disebut Maternal Mortality Rasio. disebabkan oleh apapun yang berhubungan dengan kehamilan atau penanganannya.3.2. tidak tergantung dari lama dan lokasi kehamilan. (Winkjosastro (Ed).1. (Winkjosastro (Ed).3. pelayanan persalinan serta rujukan risti persalinan peserta Jamkesmas dan masyarakat sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan sebagai penerima manfaat jaminan.

2002) 2. Perdarahan yang ada hubungannya dengan kehamilan a) Plasenta previa b) Solusi plasenta c) Perdarahan pada plasenta letak rendah d) Pecahnya sinus marginalis dan vasa previa 2. menurut perkiraan kasar angka kematian maternal adalah 6-8 per 100 kelahiran hidup. Perdarahan yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan a) Pecahnya varices vagina b) Perdarahan polip serviks 10 . Perdarahan Perdarahan dapat dibedakan dalam dua kelompok yaitu perdarahan antepartum dan perdarahan postpartum. selain menerima wanita untuk persalinan yang telah mendaftarkan diri terlebih dahulu. terdapat komplikasi kehamilan dan persalinan seperti perdarahan. menerima pula penderita-penderita yang dikirim dari daerah sekitarnya karena kesukaran dalam persalinan. Penyebab Kematian Maternal Secara garis besar penyebab kematian ibu dapat dikategorikan dalam penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. A. Penyebab Langsung Terjadi pada kehamilan yang dikehendaki atau tidak. preeklampsia dan eklampsia serta infeksi. Perdarahan antepartum digolongkan sebagai berikut : 1.oleh belum adanya sistem pendaftaran wajib untuk kelahiran kematian. maka sering disebut atau digolongkan perdarahan pada trimester ketiga. (Winkjosastro (Ed). • Perdarahan Antepartum adalah perdarahan pervaginam pada kehamilan diatas 28 minggu atau lebih.4.3. dibeberapa daerah.

b) Faktor predisposisi : Anemia. Distensi rahim berlebihan : hidramnion. . perdarahan postpartum dibagi menjadi perdarahan postpartum primer dan sekunder 1. robekan vagina. Perdarahan postpartum primer: Terjadi dalam 24 jam pertama. penyebab utama adalah robekan jalan lahir dan sisa plasenta atau membran. plasenta inkreta dan perkreta. Grandemultipara. 2. retensio plasenta. 3) Trauma persalinan. . Perdarahan postpartum merupakan penyebab penting kematian maternal khususnya di negara berkembang. sisa plasenta. Jarak hamil kurang dari 2 tahun.Grandemultipara dengan implantasi plasenta dalam bentuk plasenta adhesiva.c) Perdarahan perlukan seviks d) Perdarahan karena keganasan serviks • Perdarahan Postpartum adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam setelah persalinan berlangsung.Retensio plasenta tanpa perdarahan. Perdarahan postpartum sekunder: terjadi setelah 24 jam pertama. Atonia uteri adalah tidak adanya kontraksi uterus setelah proses persalinan.Grandemultipara 11 . plasenta akreta.Mengganggu kontraksi otot rahim dan menimbulkan perdarahan.Plasenta manual dengan segera dilakukan. terbanyak dalam dua jam pertama. dan robekan jalan lahir. penyebab utama adalah atoni uteri. Faktor-faktor yang menyebabkan perdarahan postpartum adalah : . Kejadian retensio plasenta berkaitan dengan : . Penyebab dari atonia uteri adalah : a) Tindakan persalinan 2) Partus lama/persalinan terlantar. hamil kembar Retensio Plasenta adalah terlambatnya kelahiran plasenta selama setengah jam setelah persalinan bayi. .

B. indikasi sosial b) Berdasarkan Pelaksanaannya 1. lembaga pendidikan atau rumah sakit. karena sebagian besar tidak dilaporkan dan banyak dilakukan atas permintaan.. keguguran tak terhalangi.4. Keguguran spontan 2. Keguguran spontan diperkirakan sebesar 10% -15%. keguguran tidak lengkap. keguguran dengan infeksi.Persalinan yang dilakukan dengan tindakan. missed abortion. Penyebab Tidak Langsung Jangkauan daerah Indonesia yang terlalu luas. Penyusun kebijakan merupakan mereka yang menyusun kebijakan dalam organisasi seperti pemerintah pusat atau daerah. perdarahan yang masih berhubungan dengan kehamilan adalah perdarahan yang disebabkan oleh kehamilam ektopik terganggu (KET) dan juga keguguran atau abortus. status gizi. keguguran mengancam. Keguguran buatan atas indikasi medis. 2001) 2.Jarak persalinan pendek kurang dari 2 tahun. Keguguran atau abortus dapat dibagi menjadi : a) Berdasarkan Kejadiannya 1. Kebijakan Publik (Public Policy) merujuk pada kebijakan-kebijakan yang 12 . keguguran habitualis. TEORI KEBIJAKAN PUBLIK Kebijakan adalah pernyataan yang luas tentang maksud. kemiskinan. keterlambatan memberi pertolongan yang adekuat. . perusahaan multi-nasional atau local. Selain perdarahan antepartum dan postpartum. tujuan dan cara yang membentuk kerangka kegiatan. (Manuaba. anemia. Kejadian abortus sulit diketahui. Kehamilan ektopik terganggu (KET) : Kehamilan ektopik terganggu adalah kehamilan yang berimplantasi di luar endometrium normal dan sudah menimbulkan gangguan. Keguguran buatan terapeutik 2. Keguguran buatan ilegal c) Berdasarkan Gambaran Klinisnya : Keguguran lengkap.

Konteks merupakan faktor-faktor sistematis-politik. Selanjutnya. dikomunikasikan. sebagai berikut: 13 . Analisis Kebijakan Kesehatan Menurut Dunn (2009) mendefinisikan analisis kebijakan adalah suatu bentuk analisis yang menghasilkan dan menyajikan informasi sedemikian rupa sehingga dapat memberikan landasan dari para pembuat kebijakan dalam membuat keputusan. 2012). pelayanan. dikembangkan atau disusun. Dalam ilmu kesehatan masyarakat. Konten (isi) merupakan substansi dari suatu kebijakan yang memperinci bagian-bagian dalam kebijakan 3. yaitu: 1.. serangkaian tahapan dalam proses penyusunan kebijakan. 2005). Proses mengacu kepada cara bagaimana kebijakan dimulai. Andersen (1975) mendefinisikan kebijakan publik sebagai kegiatan yang mempunyai maksud/tujuan tertentu yang dilaksanakan oleh seorang/kelompok yang berperan dengan permasalahan atau suatu yang diperhatikan. dan upaya pendanaan sistem Kesehatan (Buse et al.1. ada tiga faktor penting yang mempengaruhi dimensi kebijakan Kesehatan yang lebih dikenal dengan segitiga analisis kebijakan (policy analysis triangle) yang dikemukakan oleh Buse et al (2005. sosial atau budaya. atau bahkan Negara beserta tindakan mereka yang dapat mempengaruhi kebijakan Kesehatan. dilaksanakan. 2. organisasi. baik nasional maupun internasional yang dapat mempengaruhi kebijakan Kesehatan 2. dan di evaluasi Dari ketiga faktor tersebut yang berperan penting dalam proses kebijakan Kesehatan adalah aktor (pelaku) yang merujuk kepada Individu.dibuat oleh negara atau pemerintah sedangkan kebijakan Kesehatan (health policy) mencakup tindakan yang mempengaruhi Institusi . ekonomi. Organisasi.4. dinegosiasikan.

. 14 . Pelaksanaan kebijakan. 4. Sedangkan analisis kebijakan retrospektif (analysis of policy) berhubungan dengan masa lampau dan deskriptif. menemukan siapa saja yang terlibat dalam perumusan kebijakan. bagaimana kebijakan dihasilkan. tahapan ini merupakan bagian penting dalam penyusuna kebijakan.1. yaitu: analisis kebijakan prospektif (analysis for policy) diharapkan terjadi di masa yang akan datang. sebab bila kebijakan tidak dilaksanakan. atau dirubah selama dalam pelaksanaan. reformasi sektor Kesehatan. Kerangka analisis segitiga kebijakan banyak di adopsi dalam penelitian kebijakan Kesehatan di berbagai Negara dan telah digunakan untuk menganalisis sejumlah besar isu kesehatan termasuk Kesehatan mental. Kesehatan reproduksi dan pelayanan antenatal care serta pengendalian penyakit sifilis (Gilson & Raphaely. temukan apa yang terjadi saat kebijakan dilaksanakan. Analisis yang satu ini lebih melihat kebelakang dan merenungkan kembali mengapa dan bagaimana kebijakan menemukan bentuknya sehingga agenda dan muatannya bisa mencapai tujuan tertentu (evaluasi sumatif). Ada dua jenis analisis kebijakan menurut Buse et al (2005). disetujui. dan mengapa isu-isu yang lain justru tidak pernah dibicarakan 2. TB. sesuatu yang salah mungkin terjadi dan hasil kebijakan tidak seperti yang diharapkan. Evaluasi kebijakan. menemukan bagaimana isu-isu yang ada dapat masuk kedalam agenda kebijakan. Tahapan ini merupakan saat dimana kebijakan dapat diubah atau dibatalkan serta kebijakan yang baru ditetapkan (Buse et al. dan dikomunikasikan 3. Analisis tipe ini memberikan informasi rinci tentang formulasi kebijakan (evaluasi formatif) atau mengantisipasi bagaimana kebijakan akan berjalan bila diterapkan. 2007) cit Walt et al (2008). 2005). apakah tujuan tercapai dan apakah terjadi akibat yang tidak diharapkan. Perumusan kebijakan. bagaimana pengawasannya. Identifikasi masalah/isu.

Standar dan sasaran kebijakan Setiap kebijakan publik harus mempunyai standard an suatu sasaran kebijakan yang jelas dan terukur (measurable).4. proses implementasi kebijakan diharapkan dapat memahami variasi dalam implementasi kebijakan dan dapat mengintegrasikan studi dan kasus serta mengidentifikasi masalah dalam penelitian.4.3. yaitu: agenda setting. yaitu: a. Sumber daya Meliputi SDM (human resources). Menurut Meter & Horn (1975) implementasi kebijakan meliputi tindakantindakan yang dilakukan melalui individu dalam kelompok baik publik maupun privat yang diarahkan pada pencapaian tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan. Greena et al (2011).4. Empat Faktor inter-relasi elemen pembuatan kebijakan kesehatan (Walt & Gilson. b. Dengan ketentuan tersebut tujuannya dapat terwujudkan. sumber daya material (material resources). 2) Untuk siapa kebijakan Kesehatan maternal di buat (siapa aktornya). dan sumber daya metoda (method resources). Teori Meter & Horn (1975) Dalam implementasi kebijakan menurut Meter & Horn (1975).1. 3) Apa saja isu utama yang berimplikasi pada kebijakan Kesehatan maternal (konteks) dan 4) Apa output dari kebijakan Kesehatan maternal(isi). 2. Analisis Implementasi Kebijakan Alexander (1985) mengemukakan bahwa salah satu metode untuk mengidentifikasi proses implementasi kebijakan Kesehatan dengan menggunakan teori kontigensi. Teori Kebijakan 2.3. 1994) cit. pengembangan dan implementasi kebijakan termasuk evaluasi kebijakan. ada enam variabel yang mempengaruhi antara kinerja dan implementasi kebijakan.2. yaitu: 1) Bagaimana kebijakan Kesehatan maternal di buat (proses) dengan melalui 3 tahap.2. 15 . Dalam teori ini.

2010) Menurut Weimer & Vining. sejauhmana kelompok-kelompok kepentingan memberikan dukungan bagi implementsai kebijakan. e. Kebijakan Sikap Atau disposisi implementor dibedakan menjadi 3 hal: a) tanggapan pelaksana terhadap kebijakan. Teori Weimer & Vining (1999. dan politik Mencakup SD ekonomi lingkungan yang dapat mendukung keberhasilan implementasi kebijakan. ada 3 kelompok variabel yang dapat mempengaruhi keberhasilan implementasi program kebijakan. bagaimana sifat opini public yang ada di lingkungan dan apakah elit politik mendukung implementasi kebijakan tersebut. ekonomi. karakteristik partisipan yakni mendukung dan menolak. Karakteristik agen pelaksana Untuk mencapai keberhasilan maksimal harus diidentifikasi dan diketahui karakteristik agen pelaksananya. Kondisi sosial. yaitu: 1) Logika suatu kebijakan. f. Komunikasi antar organisasi Sebagai realitas dari program kebijakan perlu hubungan yang baik antar instansi terkait yaitu dukungan komunikasi dan koordinasi.2. d.4. 16 . b) kondisi.3.c. 2. c) intensitas disposisi implementor. dan 3) Kemampuan pelaksana. 2) Sebuah kebijakan harus sesuai dengan tuntutan lingkungan.

nifas. Toga. Tujuan Khusus 1. Menganalisis akseptabilitas kabupaten/kota Jaminan Persalinan 3. nifas. nifas.bersalin.2.bersalin. akses (accessibility) terhadap sarana dan prasarana. nifas. Menganalisis akseptabilitas sasaran dalam pelayanan kesehatan dan bayi baru Ibu(hamil.1.BAB III TUJUAN DAN MANFAAT 3. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan 8. Lintas sektor. Tujuan umum Menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan 3.1. Menganalisis akseptabilitas provider (pemerintah dan swasta) dalam pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. Menganalisa akseptabilitas Toma. Menganalisis kebijakan Jaminan Persalinan di daerah 2. Menganalisa pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan Ibu (hamil. dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider terhadap program tingkat pusat dan (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan 6. 17 . dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan 4.1. Menganalisis ketersediaan (availability). Menganalisis utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. SDM terhadap program Jaminan Persalinan 5. dan KB pasca persalinan) terhadap program Jaminan Persalinan 7.1 Tujuan Penelitian 3.bersalin. LSM dan organisasi stakeholder lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan.bersalin.

2.3. Bagi penentu kebijakan Sebagai bahan evaluasi kebijakan dan implementasi program Jampersal sehingga dapat dijadikan masukkan dalam menentukan/ perbaikan kebijakan program tersebut. B. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat : A. Bagi Masyarakat Sebagai masukkan dan menerima manfaat terhadap perbaikan program Jampersal sekaligus masyarakat sebagai kontrol dalam pelaksanaan program kesehatan. 18 .

BAB IV METODOLOGI 4. yang terdiri dari variabel status kesehatan Ibu dan Anak. Kapasitas Manajerial. ketersediaan fasyankes. yang terdiri dari variabel kepemimpinan. ketersediaan sumberdaya kesehatan dan fungsi manajemen. 19 . sosialisasi dan fasilitasi peneyelenggaraan program/kegiatan. tren kesenjangan cakupan program KIA dan hasil pendataan sasaran program.1. kondisi geografis setempat dan peran keluarga. Ketepatan program dan Sasaran. 2. 3. Implementasi jampersal di bentuk 4 konstrak yaitu : 1. yang terdiri dari variabel kemiskinan. KERANGKA TEORI (Sandi Iljanto) Gambar 4. Faktor Kontekstual.1 Kerangka Teori Menurut Sandi Iljanto. 4. Akseptabilitas Kebijakan. yang terdiri dari variabel antara lain turunan kebijakan.

2) Program di kabupaten/kota dengan tersedianya sarana.Ibu hamil. dll) Cakupan Pelayanan Ibu & Bayi : 1. Variabel Output dengan melihat cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak 20 . Proses dan Output. penanganan komplikasi ibu hamil bersalin. 3.2. 4. 2.4. pelayanan rujukan terencana & emergency sesuai indikasi medis untuk ibu janin/bayinya Implementasi Program Jampersal Upaya pelayanan & rujukan Pemberdayaan Masyarakat Gambar 4. -Ibu bersalin -Ibu nifas -bayi baru lahir Kelompok Potensial Masyarakat : -TOMA/TOGA/ -Kepala Desa -Kader Lintas sektor : (BKKBN) Organisai Masyarakat Organisasi Profesi : (IBI. 3) Kelompok sasaran Jampersal yaitu Ibu hamil. Varibel proses terdiri dari : 1) implementasi program Jampersal . mengacu juknis Jampersal (Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011) . Variabel Input yang mempengaruhi penelitian ini adalah 1) kebijakan di tingkat Pusat dan Daerah. prasarana. ibu nifas dan bayi baru lahir dan 4) Kelompok Potensial Masyarakat. ibu bersalin. 7. biaya dan jenis pelayanan . SDM. 2) Upaya pelayanan dan rujukan. pemeriksaan kehamilan pertolongan persalinan pelayanan nifas pelayanan bayi baru lahir 5. dan bayi baru lahir.Jampersal Program Kab/Kota : -Sarana/Prasarana -SDM -Biaya -Jenis Pelayanan Kelompok Sasaran . pelayanan KB pasca persalinan 6. Pusat dan Daerah : . INPUT KERANGKA PIKIR PROSES OUTPUT Kebijakan: Di Tk. nifas.2 Kerangka Pikir Dalam penelitian Jampersal terdapat variabel Input. 3) Pemberdayaan Masyarakat adalah pemberdayaan masyarakat yang mendukung pelayanan KIA.

Aru KOTA Blitar Balikpapan Mataram KABUPATEN Sampang Paser Lombok Tengah Kendari Wakatobi 21 .1. Selanjutnya dari provinsi terpilih tersebut dipilih satu) kabupaten dan satu kota berdasarkan cakupan LINAKESnya. Jumlah provinsi yang dipilih untuk masing-masing kelompok sebanyak dua provinsi untuk kelompok LINAKES yang tinggi. Dari kabupaten dan kota terpilih tersebut.3. kemudian diambil dua kecamatan berdasarkan cakupan LINAKES yang tinggi dan rendah berdasarkan data/informasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota yang ada di provinsi terpilih. Selanjutnya dari ke tujuh provinsi tersebut. tahun 2007). Kabupaten dan Kota berdasarkan kriteria cakupan LINAKES No Cakupan LINAKES Tinggi PROVINSI Jawa Timur 1 Kalimantan Timur NTB 2 Sedang Jawa Barat Maluku 3 Rendah Sulawesi Tenggara Bandung Ambon Bogor Kep. sedangkan untuk kelompok LINAKES yang sedang dan rendah masing-masing dipilih dua provinsi. sedang dan rendah yaitu Provinsi Jawa (Riskesdas. Pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi. Pemilihan provinsi didasarkan pada indikator cakupan pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan (LINAKES) dan jumlah kematian ibu dan anak tinggi (absolut). Tabel 4. dipilih enam provinsi dengan cakupan LINAKES yang dibagi dalam tiga kelompok yaitu tinggi. Lokasi penelitian Provinsi dan kabupaten & kota terpilih berdasarkan kriteria cakupan LINAKES dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Penelitian dilakukan di tujuh Provinsi. sehingga jumlah provinsi terpilih semuanya ada tujuh provinsi. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN Penelitian dilakukan selama sepuluh bulan pada tahun 2012.4.

dimana antara variabel yang dipengaruhi dan variabel yang mempengaruhi diukur pada saat yang sama (’point in time’). Responden sebagai pengguna program Jampersal yaitu : a) Ibu hamil. kriteria daratan dan kepulauan. RESPONDEN PENELITIAN 1. Untuk pemilihan puskesmas dilakukan berdasarkan penyerapan anggaran Jampersal yang tinggi dan rendah di setiap kabupaten kota. Responden sebagai pelaksana program Jampersal : a) Fasilitas Kesehatan tingkat pertama/dasar (Puskesmas) yaitu kepala puskesmas. pengelolaan Jampersal (penyerapan anggaran). sedangkan RS swasta dipilih yang sudah mempunyai perjanjian kerjasama (PKS). dan kader Posyandu. daerah yang tidak menggunakan Jampersal.5. Bidan Koordinator. Pemilihan rumah sakit (RS) di setiap kabupaten kota dipilih 1 (satu ) RS Pemerintah milik kabupaten/kota. ibu bersalin (bulin) dan ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) serta ibu yang sudah melahirkan selama periode bulan Oktober 2011 sampai dengan April 2012 di puskesmas terpilih. • Jenis Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian terapan untuk mengetahui implementasi kebijakan program Jampersal di 7 (tujuh) propinsi di Indonesia. Sedangkan untuk daerah yang tidak menggunakan Jampersal dipilih Provinsi Kepulauan Riau yaitu kabupaten Natuna. tokoh masyarakat : TOMA&TOGA. Kepala desa/lurah & aparat desa. 4. kriteria administrasi kota dan kabupaten.4. 2. pengelola Jampersal di Puskesmas dan Bidan desa yg ada di lokasi penelitian. 4. DESAIN/JENIS PENELITIAN • Disain Penelitian : secara potong lintang . b) Kelompok PKK.Untuk memilih kabupaten kota berdasarkan jumlah kematian ibu dan anak tinggi (absolut). 22 .

Pengumpulan data kualitatif Pengumpulan data kualitatif dilakukan oleh peneliti sebagai instrumen dengan dibantu panduan wawancara.TOMA/TOGA. observasi partisipasi dilakukan dengan cara melibatkan peneliti langsung di masyarakat. Penanggung Jawab program KIA. Responden Masyarakat : Kepala Desa/Lurah. Sementara itu. bidan kepala ruangan. Kader Posyandu. Pelaksanaan FGD dilakukan di kabupaten/kota terpilih yang ada di masing-masing provinsi. CARA PENGUMPULAN DATA 4. LSM dll. b) Pengelola dana/ program Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota. dan wawancara mendalam (Indepth interview). Pengumpulan data kualitatif dilakukan dengan cara mengadakan diskusi terarah secara berkelompok (FGD). Observasi tersamar dilakukan untuk melihat perilaku tenaga kesehatan.6. Responden sebagai Provider di tingkat kabupaten/kota yaitu: a) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota. Observasi partisipasi dilakukan 23 .b) Fasilitas kesehatan tingkat lanjutan (Rumah sakit/Balkesmas yg mempunyai program kerjasama/PKS dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang ada di lokasi penelitian) yaitu : Direktur / Wadir Pelayanan RS. Pelaksanaan FGD dan indepth interview dilakukan dengan menggunakan panduan wawancara FGD dan indepth interview. 4. yaitu observasi tersamar dan observasi partisipasi. verifikator independen. Pengelola Jampersal RS. 3. Observasi Observasi dalam penelitian dilakukan dengan dua cara. dokter kandungan dan kebidanan. PKK.6. Responden dari Organisasi profesi : Ikatan Bidan Indonesia (IBI) 5. c) Verifikator 4.1.

Bulin dan Bufas) : Data sikap. ibu nifas dan bayi baru lahir) dan KB pasca persalinan yang berkaitan dengan pelaksanaan program Jampersal. 4. Hal ini menarik mengingat Kota Blitar dengan 3 puskemas Poned dan RSUD Mardi Waluyo dengan akses mudah.6. Adapun yang diobservasi adalah : 1) Kondisi geografi dan topografi yang ‘dianggap’ dapat menghambat dalam mengakses Jampersal. ibu melahirkan. pengetahuan dan perilaku (PSP) dari responden penelitian yang berkaitan dengan penggunaan dana Jampersal (ibu hamil.sebagai triangulasi dari indepth interview melalui pedoman wawancara dan wawancara terstruktur melalui kuesioner. Setelah pengumpulan data ditentukan 3 lokasi kabupaten / kota untuk dilakukan penelitian tematik dengan dilakukan observasi selama 2 (dua) minggu di lokasi terpilih yaitu. 24 . yang mendukung kegiatan kesehatan Ibu dan Anak. b) Lombok tengah: Di kabupaten Lombok Tengah terdapat PNPM GSC (generasi Sehat Cerdas). c) Wakatobi: di wilayah Wakatobi di pulau Tolandono kecamatan Tomia persalinan oleh tenaga kesehatan rendah.2. ditengarai masyarakat di desa Lamanggau pmasih banyak ditolong dukun walaupun sudah ada Jaminan Persalinan. Pengumpulan data kuantitatif Pengumpulan data kuantitatif ini dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang terstruktur (kuesioner) yang meliputi : 1) Kelompok Sasaran ( Bumil. a) Kota Blitar: Kota Blitar dipilih karena dianggap ada temuan menarik ketika pengumpulan data bulan Mei 2012 diwilayah puskesmas Kepanjen Kidul telah terdapat 4 (empat) kematian maternal periode Januaru – Juni 2012. 3) Interaksi sosial masyarakat terkait Jampersal. 2) Interaksi sosial sasaran Jampersal dan tenaga kesehatan.

2/2 P (1-P) N d2 (N-1) + Z2 1 . pengetahuan dan perilaku (PSP) dari bidan Puskesmas dan Bidan desa sebagai pelaksana program Jampersal. Data sekunder ini meliputi: 1. Data sekunder Data Sekunder dikumpulkan berkaitan dengan kebijakan dan pelaksanaan program Jampersal baik yang ada di tingkat kabupaten/kota maupun di fasilitas kesehatan di tingkat dasar (Puskesmas) dan di tingkat lanjutan (Rumah Sakit) .Pengambilan sampel dari data sararan adalah Bumil. Enumerator sebelum terjun dilakukan pelatihan selama 1 (satu) oleh tim peneliti tentang tujuan penelitian dan cara pengumpulan data.6. Bulin dan Bufas yang pada periode oktober 2011-April 2012 yang ada di puskesmas terpilih ( diambil dari kohort). 2) Data sikap. Kemudian diambil secara acak sebanyak 70 orang setiap puskesmas terpilih (berdasarkan rumus metode survei).3. Pengambilan sampel dari bidan puskesmas adalah seluruh bidan pada puskesmas terpilih 4. Untuk pengambilan data di setiap puskesmas ( sebanyak 70 responden yang sudah di sampling) dilakukan oleh 2 enumerator yang dipilih dengan kriteria 1) dapat menyediaan waktu sekitar 1 (satu) minggu) untuk melaksanakan survei ini.2/2 P (1-P) N Pengumpulan data ini dilakukan dengan merekrut enumerator di kabupaten / kota lokasi penelitian. n = Z2 1 . Pengumpulan data sekunder berupa profile kesehatan dilakukan dengan cara menghubungi masing-masing Dinas kesehatan/kota terpilih untuk mengirimkan data tersebut sebelum dilakukan pengumpulan data di lapangan. Profil kesehatan: Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Sedangkan pengumpulan data laporan kegiatan di Puskesmas dan rumah sakit dimulai pada saat dilakukan persiapan daerah di masing-masing propinsi terpilih. tahun 2010 dan 2011 25 . 2) pendidikan minimal D3 kesehatan dengan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan dan Poltekes setempat.

Data tentang cakupan pelayanan Jampersal di Dinas Kesehatan. SDM yang terkait dengan Jampersal. Sarana dan prasarana di pelayanan kesehatan yang terkait dengan Jampersal 3. Kebijakan Jampersal di tingkat pusat dan daerah 2. KB pasca persalinan dan penanganan komplikasi pada kehamilan.7. 3. pertolongan persalinan. 4. nifas dan bayi baru lahir. Data tentang penyerapan anggararan Jampersal di tingkat Kabupaten dan rumah sakit. Pelayanan Jampersal 6. pelayanan nifas. Laporan kegiatan Puskesmas (tahun 2010 & 2011) meliputi: pemeriksaan kehamilan. 4. Pemberdayaan Masyarakat 26 . Rumah Sakit. persalinan. VARIABEL PENELITIAN Variabel penelitian ini meliputi : 1. dan Puskesmas. 5. Data pertolongan persalinan yang terkait dengan rujukan Puskesmas dan Rumah Sakit/RS tahun 2010 & 2011. pelayanan bayi baru lahir.2. persalinan di 4. Pembiayaan Jampersal 5.

keputusan presiden. Pusat Definisi Operasional 2. perangkat desa dll. Kemandirian Masyarakat tersebut meliputi kemandirian berpikir. SDM . SK Bupati/Walikota. 9. Definisi Operasional No. 8. 3. peraturan pemerintah. prasarana. 5.2. Upaya Pelayanan dan Upaya pelayanan Jaminan persalinan yang tercantum dalam juknis Jampersal tahun Rujukan 2011 dan 2012 Pemberdayaan Upaya untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri.April 2012 sedang dalam periode nifas ( mlai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan seperti pra hamil sekitar 6-8 mgg atau sekitar 42 mgg Bayi baru lahir Bayi baru lahir dengan usia 0-7 hari disebut neonatal dini dan usia 7-28 hari disebut neonatal lanjut. Kabupaten Kota (Perda.April 2012 dalam kondisi sedang atau baru bersalin Sasaran Nifas Ibu yang pada periode oktober 2011. Balai Praktek Swasta. 4. 11. Variabel Kebijakan Tk. SK Kepala Dinas Kesehatan dll. masyarakat. memutuskan serta melakukan sesuatu yang dipandang 27 . pembiayaan dan jenis pelayanan) Sasaran Ibu Hamil Ibu yang pada periode oktober 2011. Kemandirian masyarakat merupakan suatu kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ditandai dengan kemampuan memikirkan. maupun undang-undang yang terkait dengan peaksanan jaminan persalinan Kebijakan Tk Daerah Peraturan ditingkat Provinsi. TOMA/TOGA Orang / tokoh yang disegani di masyarakat . 7. Program Kab/Kota Kegiatan ditingkat kabupaten /Kota dalam upaya menunjang program Jampersal (Pemenuhan sarana. keputusan menteri. tokoh adat.8. 6.April 2012 sedang dalam kondisi hamil Sasaran Ibu bersalin Ibu yang pada periode oktober 2011. 1.4. DEFINISI OPERASIONAL Tabel 4. Jampersal Rumah Sakit. Implementasi Program Penerapan Jaminan persalinan di tingkat kabupaten mulai dari Dinas kesehatan. 10. Tokoh masyarakat bisa tokoh Agama. Puskesmas. bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan. Kebijakan di tingkat pemerintah pusat yang terdiri dari peraturan menteri.

tepat demi mencapai pemecahan masalah yang dihadapi dengan mempergunakan daya/kemampuan yang dimiliki dalam kaitannya dengan pencarian pertolongan pada persalinan /KIA.RS.Cleaning dan inputing Data Tahap Penyelesaian 4 bln Pengolahan dan Analisis Data Laporan Akhir Gambar 4.1.9. Dinkes kab/kota dan provinsi Uji Coba kuesioner Persiapan Daerah di masing-masing lokasi penelitian Tahap pengumpulan & pengukuran + 4 bln Pengumpulan data : Kualitatif : FGD & Indepth interview) Kuantitatif : data primer & sekunder Editing.: ibu yg sdh melahirkan Faskes : Puskesmas .9. sedang. rendah) 1 Kabupaten dan 1 Kota terpilih/provinsi kriteria : Data cakupan linakes Dinkes Kab/Kota 2 kecamatan/kabupaten dan kota Pemilihan Responden di tingkat : masyarakat.3 Kerangka Operasional 28 . 4. Tahap pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi terpilih (7) kriteria : cakupan linakes Tahap persiapan +2 bln ( tinggi. KERANGKA OPERASIONAL 4.

Menyiapkan instrumen penelitian yaitu daftar pertanyaan terstruktur/kuesioner 2.2.mengkondisikan pelaksanaan pengumpulan data di lapangan Gambar 4. menganalisis hasil uji coba (validitas & reabilitas) serta memperbaiki kuesioner jika ada perubahan berdasarkan hasil analisis uji coba kuesioner.4.4 Tahapan pelaksanaan persiapan di lapangan 4. Menyiapkan panduan wawancara untuk data kualitatif (FGD & indepth interview) 3.3. Tahap Pelaksanaan Persiapan di lapangan : Pengurusan ijin Etik penelitian (Komisi Etik penelitian) Komunikasi dg Key person yg ada di : DinKes Propinsi.menentukan sampel penelitian untuk data kualitatif (FGD & indepth) & kuantitatif . Melakukan uji coba kuesioner.9.menentukan lokasi kecamatan di msg2 kabupaten/kota di provinsi terpilih . Tahap Pengumpulan Data Di Lapangan : 1.ijin penelitian di masing2 provinsi terpilih . 4.9. Mengadakan pertemuan dengan tim Dinas Kesehatan di tingkat Provinsi 29 . DinKes kabupaten/kota dan Faskes ( Puskesmas & RS) Pengiriman Form untuk kerangka sampel pada ibu yg sudah melahirkan /bulin selama periode 6 bl ke Bidan (Puskesmas) Profile Kesehatan kabupaten/kota Persiapan Daerah : .

analisis komponensial. Bidan desa) 7. 30 . dan analisis tema. Bidan Puskesmas. untuk observasi partisipasi dilakukan dengan empat tahap analisis. Menentukan responden penelitian yang terpilih di masing-masing lokasi penelitian sesuai dengan kebutuhan dan tujuan penelitian 4. Sedangkan untuk data kualitatif hasil FGD dan wawancara mendalam dilakukan secara content analysis. PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA Setelah data terkumpul. 4. Menentukan peneliti daerah yang terlibat dalam penelitian untuk masing2 lokasi Penelitian (Dinkes Kabupaten/Kota. PERTIMBANGAN IJIN PENELITIAN Surat izin penelitian diperoleh dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan sedangkan etik penelitian diperoleh dari Komisi Etik penelitian dengan mengeluarkan Ethical Clearence (EC). analisis taksonomi. dengan menganalisis transkrip hasil diskusi dan mendeskripsikannya dalam bentuk naratif. maka dilakukan pengolahan dan analisis data kuantitatif dan kualitatif.11.5. Data kuantitatif dianalisis secara secara diskriptif. Sementara itu. Mengadakan pertemuan dengan tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di masing. yaitu analisis domain.masing provinsi 6.10. Mendiskusikan pelaksanaan FGD & indepth interview untuk masing2 kelompok responden di lokasi penelitian 8.

3. Gant Chart Jadual Kegiatan Penelitian Bulan No 1 2 Uraian Kegiatan Pembuatan Proposal& Protokol Pembuatan : Kuesioner Panduan FGD&indepth interview Peetunjuk teknis di lapangan Formulir Sampling Frame Permintaan Ethical clearance Uji Coba Kuesioner 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 3 4 5 5 6 9 10 11 12 13 Persiapan daerah Pengumpulan data sekunder Pengmpulan data kuantitatif & kualitatif Analisis data Penyusunan draf t Lap Awal Penyusunan Lap Awal Desiminasi awal Penyusunan Laporan 31 .12.4. JADWAL KEGIATAN Tabel 4.

32 .

Berdasarkan hasil penelitian tersebut. 5) ketersediaan dan akses terhadap sarana dan serta sumberdaya manusia terhadap Jampersal.1. 3) akseptabilitas kabupaten terhadap program Jampersal. rumah sakit dan puskesmas. kecuali kabupaten Natuna (sebagai pembanding) karena tidak memanfaatkan dana Jampersal. dan 9) akseptabilitas Toma. Perbedaan tersebut disebabkan banyak faktor. 2) implementasi kebijakan Jampersal di tingkat pusat dan Daerah. 7) akseptabilitas sasaran dalam Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir terhadap Jampersal. Dengan kata lain. Toga. 4) akseptabilitas provider dalam pelayanan jampersal. Selain itu juga terkumpul data sekunder dari Dinas kesehatan. penelitian ini dilakukan di 14 lokasi. Data kuantitatif dari bidan sebanyak 736 orang dan sasaran sebanyak 1787 orang dari 13 kabupaten/kota yang menjadi lokasi penelitian. SEKILAS TENTANG LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN Penelitian ini dilakukan di tujuh provinsi yang terdiri dari tujuh kabupaten dan tujuh kota.BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Dari Hasil penelitian di dapatkan data hasil wawancara dan FGD (berupa transkrip). Salah satunya adalah faktor letak geografi. lintas sektor. 6) utilitas pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir yang disediakan oleh jampersal. 8) Pemberdayaan dalam meningkatkan Cakupan pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir terhadap Jampersal. terdapat perbedaan dalam implementasi Jampersal di 14 lokasi tersebut. 5. Hal ini dilaksanakan oleh karena dalam implementasi Jampersal dipengaruhi oleh faktor tersebut diatas. Secara tidak langsung faktor geografi 33 . Setelah dilakukan analisis data hasil penelitian kami susun berdasarkan tujuan penelitian dengan dimulai memaparkan karakteristik wilayah penelitian dan reponden sebagai berikut : Laporan penelitian ini akan menjawab tujuan penelitian yang dijelaskan dengan urutan sebagia berikut: 1) karakteristik. LSM dan organisasi lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jampersal.

dan tiga provinsi yang memiliki ratio bidan di atas rata-rata nasional. Sementara itu ratio Bidan di lokasi penelitian per 100. Menurut Badan PPSDMK. kadangkala tingginya ratio bidan dalam suatu daerah belum tentu menjamin kualitas pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan. NTB (45. Sulawesi Tenggara (74. Namun. Selain itu.38).67) dan Kepulauan Riau (64.09).25.94). Dalam hal ini. menyebabkan daerah ini membutuhkan transportasi air yang lebih banyak daripada daerah non-kepulauan.000 adalah sebagai berikut: terdapat empat provinsi yang memiliki ratio bidan di bawah nasional (57.14). keadaan geografi akan dibedakan menjadi dua yaitu 1) berdasarkan kabupaten dan kota. Daerah yang dikatakan kepulauan adalah daerah yang mempunyai gugusan-gugusan pulau yang menjadi wilayahnya. Selain data PPSDMK tersebut terdapat juga data dari Direktorat Bina Gizi dan KIA. Banyaknya gugusan pulau yang dimiliki oleh daerah kepulauan. yaitu Jawa Timur (33. Kementerian Kesehatan Tahun 2012.25). sedangkan ‘non-kepulauan’ tidak memiliki gugusan-gugusan tersebut. Penelitian ini dilakukan di tujuh kabupaten dan tujuh kota. yang menyatakan bahwa data cakupan untuk persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (linakes) adalah sebagai berikut: 34 . untuk ratio bidan Indonesia (Nasional) adalah 52.tersebut berpengaruh dalam implementasi Jampersal.56) dan Kalimantan Timur (52. Jawa Barat (24. Hal ini dilakukan untuk menemukan pola perbedaan atau persamaan dalam implementasi antara kabupaten dan kota. lokasi penelitian ini juga dilakukan di kepulauan dan ‘non-kepulauan’. yaitu Maluku (74. Perbedaan keadaan geografi tersebut seharusnya menjadi pertimbangan dalam pendistribusian tenaga kesehatan khususnya bidan. Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011. dan 2) berdasarkan kepulauan dan ‘non-kepulauan’.56).

- terdapat dua provinsi yang mempunyai cakupan linakes di atas rata-rata cakupan linakes nasional (86. Maluku (77.35%). Sulawesi Tenggara ( 85. yaitu Jawa Barat (81. dan Kalimantan Timur (85. Nusa Tenggara Barat (82.1 Peta Wilayah Indonesia Perbedaan karakteristik wilayah tersebut seharusnya menjadi pertimbangan dalam pendistribusian tenaga kesehatan khususnya bidan.39%). Masih banyaknya provinsi di Indonesia yang mempunyai cakupan linakes di bawah rata-rata nasional tersebutlah yang menyebabkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengadakan Jampersal.84%). Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011.02%).49%). Menurut Badan PPSDMK. apakah persalinan ‘gratis’ tersebut dapat menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan ke tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan? Gambar 5. untuk rasio 35 . yaitu Jawa Timur (95. Hal ini dilakukan untuk menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan ke tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. dan - terdapat lima provinsi yang mempunyai cakupan linakes di bawah cakupan linakes nasional.30 %). Namun.28%) dan Kepulauan Riau (97.44%).

Dari analisis data karakteristik responden sebagai berikut : 36 . Jawa Barat (24. Karakteristik meliputi umur. Dari sasaran Jampersal ada yang memanfaatkan Jampersal dan ada yang tidak memanfaatkan Jampersal. yaitu Jawa Timur (33.30 %.25. Kepulauan Riau (97. provinsi lokasi penelitian yang diatas angka Nasional adalah Jawa Timur (95. dan Nifas Selain membahas tentang karakteristik wilayah penelitian.28%). Responden diambil di wilayah 2 puskesmas terpilih di kabupaten / kota. Sulawesi Tenggara ( 85. Dari 13 kabupaten/ Kota terkumpul sejumlah 1. Sementara itu rasio Bidan di lokasi penelitian per 100. NTB (45.94).84%) sedangkan Jawa Barat (81. Pada bagian ini akan menjelaskan karakteristik kedua sasran tersebut. dibahas juga karakteristik responden ibu hamil. Nusa Tenggara Barat (82.1. Selain data PPSDMK tersebut terdapat juga data dari Direktorat Bina Gizi dan KIA.49%).35%) masih dibawah angka Nasional. diambil dari list kohort ibu masing-masing puskesmas sebanyak 70 responden yang diambil secara acak.44%) dan Kalimantan Timur (85. 5.25).1. Sedangkan 3 (Tiga) provinsi yaitu Maluku (74.56) dan Kalimantan Timur (52.bidan Indonesia (Nasional) adalah 52. sulawesi Tenggara (74. Bersalin.02%). pendidikan dan jumlah anak (paritas). Maluku (77. Pada penelitian ini dilakukan pengumpulan data pada sasaran Jampersal yaitu ibu hamil.67) dan kepulauan Riau (64. Karakteristik Responden Ibu Hamil.38).39%).000 adalah sebagai berikut : terdapat 4 (Empat) provinsi lokasi penelitian rasio bidan dibawah nasiona (57. ibu bersalin dan ibu nifas periode Oktober 2011 sampai dengan April 2012.09).14). Kementerian Kesehatan Tahun 2012.787 orang.56). yang menyatakan bahwa data cakupan untuk persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (Linakes) adalah sebagai berikut : Cakupan Linakes Indonesia (Nasional) adalah 86. ibu bersalin dan ibu Nifas yang merupakan sasaran Jampersal.

Lombok Tengah dan tertinggi di Paser (17%). Wakatobi dan Kota Batam. nampak sekitar 15%-20% responden adalah resiko tinggi yaitu ibu hamil berusia < 20 tahun dan umur >35 tahun.Gambar 5. Setiap kehamilan dan persalinan mempunyai risiko meskipun bagi perempuan yang tidak mempunyai masalah kesehatan sebelumnya. kepulauan Aru. Dan prosentase ibu hamil> 35 tahun tinggi (>10%) di Sampang.kira 40 % ibu hamil mempunyai masalah kesehatan yang berkaitan dengan masalah 37 .2 Karakteristik Responden berdasarkan umur pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N = 1. Yang menarik prosentase ibu hamil pada usia kurang dari 20 tahun cukup tinggi (>10%) terutama di Kota Blitar.787 Dari karakteristik responden sasaran yang terkumpul. kira . Kota Mataram. Kota Bandung.

2005). Kematian ibu paling banyak terjadi pada usia antara 20 sampai 30 tahun. Gambar 5. Bahkan di 38 . Resiko tersebut akan semakin meningkat pada usia di luar usia reproduksi (< 20 tahun atau >35 tahun).10% saja yang berpendidikan Perguruan Tinggi. Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menyatakan bahwa kematian maternal akan meningkat 4 kali lipat pada ibu yang hamil pada usia 35 – 39 tahun bila dibanding wanita yang hamil pada usia 20 – 24 tahun.kehamilan dan 15 % ibu hamil menderita komplikasi jangka panjang. (Rukmini dkk.3. Oleh karena itu pada usia reproduksi. Karakteristik Responden berdasarkan pendidikan pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Karakteristik pendidikan dari responden > 50% adalah berpendidikan SLTP dan hanya 8. 2004). Usia kehamilan yang paling aman untuk melahirkan adalah usia 20 – 30 tahun (Kemenkes RI. usia paling produktif untuk hamil dan melahirkan sehingga berisiko menderita penyakit baik akibat langsung dari kehamilan maupun tidak langsung. banyaknya kehamilan akan meningkatkan risiko perempuan untuk mendapatkan masalah kesehatan.

1.Sampang hampir seluruh responden berpendidikan SLTP. Hal ini menunjukan Jampersal banyak diminati oleh masyarakat.70% masyarakat yang mempunyai resiko tinggi berdasarkan usia.70 adalah cukup tinggi. disusul di Lombok tengah dan Bogor responden berpendidikan SLTP > 70%. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa dari 1787 responden sasaran ibu hamil. 5. tidak semua masyarakat Indonesia berminat untuk mendapatkan persalinan gratis tersebut.9%) dan > 35 tahun (25. mencapai 17.2%). menengah. Karakteristik Pengguna Jampersal Jampersal disediakan untuk seluruh masyarakat Indonesia. ada 17. ibu bersalin dan ibu nifas yang menggunakan Jampersal sebanyak 1254 responden (70. Kondisi ini menggambarkan bahwa sasaran Jaminan Persalinan sebagian besar adalah pendidikan rendah. atau pun atas. Namun. Target Nasional untuk cakupan resiko tinggi oleh tenaga kesehatan adalah 20%. Namun.6%). Masyarakat yang banyak menggunakan Jampersal rata-rata berusia sekitar 20-35 tahun. Dari kajian lanjut data Sensus Penduduk (SP) 2010 didapatkan bahwa usia resiko tinggi pada ibu hamil penyumbang kematian maternal cukup tinggi yaitu pada usia ibu < 20 tahun (6.2. baik dari kelas bawah. yaitu di bawah umur 20 tahun dan di atas 35 tahun. Hal ini seperti yang ditunjukan pada gambar berikut ini: 39 . Pada pengguna Jampersal risiko tinggi berdasarkan umur.

Kondisi ini menggambarkan bahwa sasaran Jaminan Persalinan sebagian besar adalah pendidikan rendah. Sementara itu. 40 . disusul di Lombok tengah dan Bogor responden berpendidikan SLTP > 70%. Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Umur pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N= 1.254 Selain berdasarkan umur.4.10% saja. yang berpendidikan sampai perguruan tinggi hanya 8. pengguna Jampersal juga dapat dilihat berdasarkan pendidikan.Gambar 5. bahkan di Sampang hampir seluruh responden berpendidikan SLTP. Berdasarkan pendidikan. lebih dari 50% pengguna Jampersal berpendidikan SLTP.

Informasi dari data SP 2010 didapatkan kematian maternal yang mempunyai anak >4 adalah 10.254 Berdasarkan Riskesdas 2010 permasalahan kesehatan pada perempuan berawal dari masih tingginya usia perkawinan pertama di bawah 20 tahun (4. ratarata pengguna Jampersal mempunyai anak kurang dari empat orang.10% pengguna Jampersal yang mempunyai anak di atas empat orang. pengguna Jampersal juga dapat dilihat berdasarkan jumlah anak yang dimiliki. 41.8% pada usia 10 – 14 tahun.5. Berdasarkan hasil penelitian. Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Pendidikan pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N= 1. Namun. 41 .9% pada usia 15 -19 tahun).Gambar 5. Salah satu yang dilakukan pemerintah adalah dengan mendorong program wajib belajar 15 tahun dengan harapan akan menunda pernikahan dini karena harus mengikuti pendidikan formal terlebih dahulu (Riskesdas. 2010). Selain faktor umur dan pendidikan.5%. seperti diketahui semakin banyak jumlah anak maka resiko dalam kehamilan juga semakin besar. masih 12. Hal ini perlu menjadi pertimbangan mengapa sasaran Jampersal tidak ada pembatasan jumlah anak .

Dengan kata lain. ibu bersalin dan ibu nifas yang menggunakan Jampersal sebanyak 1254 responden. Pertanyaan ini akan dijawab dalam tujuan penelitian tentang akseptabilitas sasaran terhadap Jampersal.6.Gambar 5. 42 . padahal pelayanan tersebut merupakan pelayanan gratis yang diberikan oleh pemerintah. masih ada sekitar 533 responden yang tidak menggunakan Jampersal. Hal ini tentu menjadi tanda tanya mengapa mereka tidak mau menggunakan Jampersal. Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Jumlah Anak pada sasaran RisetEvaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 (N=1254) Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa dari 1787 responden sasaran ibu hamil.

5. persalinan. Dalam menindaklanjuti pelaksanaan program Jampersal diterbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/ Menkes / Per /III/2011. Tahun 2012 diterbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan.1. Petunjuk teknis untuk pelaksanaan Jampersal tahun 2012 dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan anak dan mempercepat pencapaian MDG’setelah ditetapkan kebijakan bahwa setiap ibu yang melahirkan. Dalam pelaksanaannya Jampersal pada tahun 2011 banyak ditemukan kendala. Diharapkan dengan juknis yang sudah disempurnakan dari sebelumnya program jampersal dapat berjalan lebih baik dari tahun sebelumnya. Hal ini menimbulkan beberapa masalah di daerah karena tahun anggaran saat itu sudah berlangsung. Petunjuk teknis tersebut mulai berlaku per 1 Januari 2012. Kebijakan Jaminan Persalinan di Pusat Untuk mempercepat pencapaian MDG’s Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2011 melaksanakan program Jaminan Persalinan. Tujuan dari Program Jampersal adalah Meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan. Adapun tujuan khususnya adalah 43 . biaya persalinannya ditanggung oleh Pemerintah melalui Program Jaminan Persalinan.5. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. nifas. walaupun dicanangkan awal 2011 tapi pada kenyataannya baru dapat dilaksanakan April 2011.2. Sedangkan kebijakan Jaminan Persalinan di Daerah adalah implementasi Jampersal di 14 kab/ Kota lokasi penelitian.2 KEBIJAKAN JAMINAN PERSALINAN DI TINGKAT PUSAT DAN DAERAH Kebijakan Jaminan Persalinan di tingkat Pusat adalah kebijakan Jampersal berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan.

bersalin. 5. Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien. 2. efektif. dan bayi baru lahir. nifas. ibu nifas dan bayi baru lahir. ibu bersalin. Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah Ibu hamil.2.1. Deteksi dini faktor risiko. Pelayanan Nifas (PNC) bagi ibu dan bayi baru lahir sesuai standar pelayanan KIA dengan frekuensi 4 kali. transparan. Pertolongan persalinan normal. Pelayanan rujukan terencana sesuai indikasi medis untuk ibu dan janin/ bayinya.a. Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan. Jenis pelayanan Jaminan persalinan di tingkat pertama meliputi: 1. Sasaran Kelompok sasaran adalah yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi. KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten. 4. Pelayanan ANC sesuai standar pelayanan KIA dengan frekuensi 4 kali. b. dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kompeten. c) Penanganan komplikasi ibu hamil.2.2. 5. b) Keluarga Berencana pasca persalinan. c. pertolongan persalinan. Pemeriksaan kehamilan (ANC) dengan risiko tinggi (risti) 44 .1. Paket Pelayanan a. Meningkatnya cakupan pelayanan: a) bayi baru lahir. 5. komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir 3. dan akuntabel. Pertolongan persalinan dengan komplikasi dan atau penyulit pervaginam yang merupakan kompetensi Puskesmas PONED. Pelayanan KB paska persalinan serta komplikasinya.1. 7. Jenis pelayanan Persalinan di tingkat lanjutan meliputi: 1. 6. b.

2. Kepesertaan Jaminan Persalinan adalah perluasan kepesertaan dari Jamkesmas dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja. 1.1. Penatalaksanaan KB paska salin dengan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) atau kontrasepsi mantap (Kontap) sertapenanganan komplikasi. Fotokopi kartu identitas diri sasaran yang masih berlaku (KTP atau identitas lainnya). 4.3. Pertolongan persalinan dengan risti dan penyulit yang tidak mampu dilakukan di pelayanan tingkat pertama.1. b. Apabila peserta Jamkesmas atau penerima manfaat Jaminan Persalinan non Jamkesmas tidak memiliki buku KIA pada daerah tertentu. termasuk pelayanan bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. Fotokopi lembar pelayanan pada Buku KIA sesuai pelayanan yang diberikan untuk Pemeriksaan kehamilan. persalinan. Persyaratan Klaim Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Pertanggungjawaban klaim pelayanan Jaminan Persalinan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama ke Tim Pengelola Kabupaten/Kota dilengkapi: a. pelayanan nifas.2. Penerima manfaat Jaminan Persalinan mencakup seluruh sasaran yang belum memiliki jaminan kesehatan untuk persalinan. Untuk 45 . bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. Pemeriksaan paska persalinan (PNC) dengan risiko tinggi (risti). 5. Penanganan komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir dalam kaitan akibat persalinan. 5. Manfaat yang diterima oleh penerima manfaat Jaminan Persalinan terbatas padapelayanan kehamilan. 3. 5. dan bagi peserta jamkesmas dilengkapi dengan fotokopi kartu Jamkesmas. dapat digunakan kartu ibu atau keterangan pelayanan lainnya pengganti buku KIA yang ditandatangani ibu hamil/bersalin dan petugas yang menangani.4. nifas.2.

Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan Pertanggungjawaban klaim pelayanan Jaminan Persalinan di fasilitas kesehatan lanjutan dilengkapi : a) Fotokopi kartu identitas diri sasaran yang masih berlaku (KTP atau identitas lainnya). c. Tim Pengelola Kabupaten/Kota melakukan koordinasi kepada penanggung jawab program KIA daerah maupun pusat (Ditjen Gizi dan KIA). Fotokopi/tembusan surat rujukan. Klinik Bersalin.5. Dokter praktik yang berkeinginan ikut serta dalam program ini harus mempunyai perjanjian kerja sama (PKS) dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selaku Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK atas nama Pemerintah Daerah setempat yang mengeluarkan ijin praktiknya. c) Bukti pelayanan untuk Rawat Jalan dan resume medis untuk rawat inap 5.pemenuhan buku KIA di daerah. Partograf yang ditandatangani oleh tenaga kesehatan penolong persalinan untuk Pertolongan persalinan. termasuk keterangan tindakan pra rujukan yang telah dilakukan di tandatangani oleh sasaran/keluarga. dan bagi peserta jamkesmas dilengkapi dengan fotokopi kartu Jamkesmas. 2. Pada kondisi tidak ada partograf dapat digunakan keterangan lain yang menjelaskan tentang pelayanan persalinan yang diberikan. b) Fotokopi/tembusan surat rujukan dari Puskesmas.1. Fasilitas Kesehatan Swasta/Bidan Praktik Mandiri di tandatangani oleh sasaran atau keluarga sasaran. Sedangkan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjutan baik pemerintah maupun swasta harus mempunyai Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selaku Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kabupaten/Kota yang 46 . Pemberi Layanan Fasilitas kesehatan tingkat pertama swasta seperti Bidan Praktik Mandiri. d.2.

2. 3. Pendanaan Jamkesmas dan Jampersal di pelayanan dasar dan pelayanan rujukan merupakan belanja bantuan sosial (bansos) bersumber APBN yang dimaksudkan untuk mendorong pencapaian program. persalinan per vaginam termasuk pelayanan nifas dan pelayanan bayi baru lahir dengan tindakan emergensi dasar.000 500.diketahui oleh Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Provinsi.000 Pada saat menolong persalinan ternyata ada komplikasi. Pelayanan pasca keguguran.000 500.000 100. 5. Besaran Tarif pelayanan Tabel 5. Jenis pelayanan Pemeriksaan kehamilan Persalinan normal Pelayanan nifas termasuk pelayanan bayi baru lahir dan KB pasca persalinan Pelayanan tindakan pra rujukan untuk ibu hamil.1. 2. nifas dan bayi baru lahir dengan komplikasi. 5. Frekuensi 4 kali 1 kali 4 kali Tarif 20.000 Jumlah 80. 1 kali 650. Tarif pelayanan Jaminan Persalinan Tahun 2012 No 1. percepatan pencapaian MDG’s 2015 serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan termasuk persalinan oleh tenagakesehatan di fasilitas kesehatan.1. Pendanaan 1.7.000 80.6.000 Dilakukan di Puskesmas PONED Sedangkan tarif untuk pelayaan Jampersal di Rumah sakit menggunakan tarif standart INA-CBG’s. Contoh format perjanjian kerjasama sebagaimana Formulir 1 terlampir. wajib segera dirujuk 5.000 20. bersalin. 1 kali 100.000 650.000 Keterangan Standar 4x Standar 4x 4.2. 47 .1.

terintegrasi (menjadi satu kesatuan) dengan dana Jamkesmas.2. maka status dana tersebut berubah menjadi dana peserta Jamkesmas dan masyarakat penerima manfaat Jaminan Persalinan. maka status dana menjadi pendapatan fasilitas kesehatan untuk daerah yang belum menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan BLUD (PPK-BLUD). selanjutnya pemanfaatannya mengikuti ketentuan Peraturan perundang undangan. 48 . sedangkan bagi fasilitas kesehatan daerah yang sudah menerapkan PPK-BLUD. Dana belanja bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada angka 1(satu) adalah dana yang diperuntukkan untuk pelayanankesehatan dan rujukan pelayanan dasar peserta Jamkesmas. pelayanan persalinan serta rujukan risti persalinan peserta Jamkesmas dan masyarakat sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan sebagai penerima manfaat jaminan. 3. Dana Jamkesmas dan Jampersal yang disalurkan sebagaimana pada poin 1 s/d 4 di atas. Setelah hasil verifikasi klaim dibayarkan sebagai penggantian pelayanan kesehatan. Jasa pelayanan KB di pelayanan dasar di klaimkan pada Tim Pengelola Jamkesmas & BOK di Dinas Kesehatan sesuai besaran yang ditetapkan. Setelah dana tersebut disalurkan Kementerian Kesehatan ke rekening Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab program (melalui SP2D) dan rekening Rumah Sakit. pendapatan tersebut merupakan pendapatan lain-lain PAD yang sah. 7. Pembayaran pelayanan persalinan dan KB bagi peserta Jamkesmas maupun penerima manfaat Jaminan Persalinan di pelayanan dasar dan di pelayanan rujukan oleh fasilitas kesehatan dilakukan dengan mekanisme “Klaim”. 6.21/PB/2011). 5. bukan bagian dari dana transfer daerah ke Pemerintah Kabupaten/Kota sehingga penggunaan dana tersebut tidak melalui Kas Daerah (Perdirjen Perbendaharaan Nomor: PER. Dana Jampersal di pelayanan kesehatan dasar disalurkan ke rekening Dinas kesehatan kabupaten/kota. 4.

Sisa dana pada rekening Tim Pengelola Jamkesmas Kabupaten/Kota yang tidak digunakan dan/atau tidak tersalurkan sampai dengan akhir tahun anggaran harus disetorkan ke Kas Negara dan menggunakan Surat Setoran Bukan Pajak (SSBP). nifas). bersalin. Proses Pengajuan Klaim 1. 10.sedangkan jasa pelayanan KB di pelayanan lanjutan mengikuti pola pembayaran INA-CBG’s. komplikasi kebidanan dan komplikasi neonatal pasca persalinan bagi penerima manfaat Jaminan Persalinan di pelayanan kesehatan dasar dibiayai dengan dana dalam program ini.1. Pemanfaatan dana jaminan persalinan pada pelayanan lanjutan mengikuti mekanisme pengelolaan pendapatan fungsional fasilitas kesehatan dan berlaku sesuai status rumah sakit tersebut (BLU/BLU(D) atau PNBP) 5. 9. Apabila terjadi kekurangan dana pelayanan persalinan atau pelayanan persalinan yang sudah diberikan akan tetapi belum diklaimkan/belum terbayarkan pada akhir tahun anggaran. Standar biaya transportasi yang berlaku di daerah.2. mengacu pada Standar Biaya Umum (SBU) APBN. Tim verifikasi pemberi layanan Tk I melakukan verifikasi dan memberikan persetujuan membayar kepada masing-masing fasilitas kesehatan.8. maka kekurangan atas pelayanan yang belum diklaimkan/ terbayarkan tersebut akan diperhitungkan dan dibayarkan pada tahun berikutnya sepanjang ditunjang dengan buktibukti yangsah. 49 . Transport rujukan risti. 11. Proses klaim bagi fasilitas kesehatan tingkat pertama: Pemberi layanan Tk pertama mengajukan klaim setelah memberikan pelayanan kepada Dinas Kesehatan/Tim Pengelola Kabupaten/Kota dengan melengkapi bukti pelayanan yang sah dan harus di tanda tangani oleh peserta (ibu hamil. 8.

2. Proses klaim Jaminan persalinan bagi fasilitas kesehatan tingkat lanjutan: Fasilitas kesehatan tingkat rujukan melakukan pengajuan klaim program jaminan persalinan melalui mekanisme klaim Jamkesmas, yaitu dengan INA CBGs

5.2.2. Kebijakan Jaminan persalinan di Kabupaten/Kota di lokasi penelitian Kebijakan Jampersal di kabupaten/kota adalah kebijakan Jampersal yang diimplementasikan daerah yang disesuaikan dengan kondisi dan kebijakan lokal yang ada di daerah tersebut. Berdasarkan penelitian ini terdapat variasi kebijakan lokal dalam mengimplementasikan Jampersal. Hal ini sangat

tergantung pada penentu kebijakan di daerah seperti bupati dan kepala dinas kesehatan.

5.2.2.1.

Kabupaten Sampang

Dukungan Pemda Sampang terhadap program Jampersal berupa penetapan Peraturan Daerah No. 5 tahun 2011, tentang jasa Pelayanan dan kebijakan Dinas Kesehatan.
“..pada Perda no 5 tahun 2011, ada Pasal karet yang menyatakan berlaku fleksibel sesuai dengan program pemerintah, Jasa pelayanan persalinan japelnya 75% dari seberapapun besar paket pelayanan persalinan yang berlaku termasuk jampersal, tanpa merubah Perda cukup mengganti Peraturan Bupati saja. Perda ini sudah memprediksi untuk hal2 terkait seperti Jampersal sehingga terjadinya perubahan tarif tidak mempersulit karena cukup merubah Peraturan Bupati saja..” (kadinkes, Kab. Sampang).

Pelaksanaan Jampersal di kabupaten Sampang mengacu pada juknis 2012, namun terdapat kebijakan lokal terhadap tempat pertolongan persalinan. Sebagaimana juknis Jampersal 2012, tujuan dari Jampersal adalah meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. Namun pelaksanaannya di Sampang, pertolongan persalinan pada Jampersal dilakukan oleh tenaga kesehatan, tanpa memandang tempat pertolongan persalinan.
50

Pertolongan persalinan dapat dilakukan tidak hanya di fasilitas kesehatan, tapi juga di rumah penduduk. Jadi, bidan dapat mengklaim pertolongan persalinan yang dilaksanakan di rumah pasien. Menurut informan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang.
“..implementasi Jampersal di Kabupaten Sampang mengacu pada juknis jampersal tahun 2012. Jampersal di Sampang 100% adalah pertolongan persalinan di tenaga kesehatan tanpa melihat dimana tempat persalinan dapat di fasilitas kesehatan maupun bukan di fasilitas kesehatan (di rumah penduduk dll). Kabupaten Sampang menjual nakes tidak faskes..” (Dinkes, Kab. Sampang).

Untuk cakupan pelayanan, diharapkan semua ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir mendapatkan pelayanan oleh tenaga kesehatan dengan syarat tidak memiliki kartu Jamkesmas dan Jamkesda atau tidak mempunyai jaminan lain. Sedangkan pelayanan rujukan di RS untuk Jampersal semua persalinan diarahkan ke Jampersal asal masyarakat mau di kelas III. Pertolongan persalinan pada Jampersal dilakukan oleh tenaga kesehatan, tanpa memandang tempat pertolongan persalinan di fasilitas kesehatan atau di bukan fasilitas kesehatan. Pemberi layanan di puskesmas dan jaringan adalah bidan puskesmas dan bidan desa, sedangkan PKS hanya untuk bidan swasta (BPS), bidan puskesmas yang tidak mempunyai wilayah dapat PKS, sedangkan Bidan Desa karena mempunyai wilayah kerja tidak boleh melakukan PKS. Kebijakan Jampersal, Dinkes dihadapkan dua persoalan yaitu cakupan pelayanan untuk kepentingan program KIA dengan kebijakan pembiayaan. Namun disisi lain, tidak semua pelayanan oleh tenaga kesehatan dapat diklaimkan. Diharapkan, sasaran yang memiliki asuransi ataupun yang mampu dapat membayar sendiri pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan. Artinya, bahwa pencapaian cakupan pelayanan KIA di Puskesmas, belum tentu sama dengan jumlah pelayanan yang dilklaimkan. Alur Klaim Jampersal adalah klaim dari bidan diverifikasi oleh Dinas kesehatan Prosedur sesuai keuangan daerah. Dana Jampersal yang ditransfer ke Dinas Kesehatan merupakan dana masyarakat, setelah pelayanan di klaim oleh
51

pelayanan,

merupakan

dana

fasilitas

puskesmas

atau

RS

(fasilitas

pemerintah)kemudian fasilitas pemerintah menyetor ke daerah, 100% disetor ke daerah, setelah itu dana dikembalikan ke pelayanan yang terbagi dua yaitu jasa pelayanan dan jasa sarana. Pengembalian klaim untuk jasa bidan desa pada jampersal adalah 75%, sedangkan BPM klaim pelayanan sebesar 100%.

5.2.2.2.

Kota Blitar

Dalam pelaksanaan kebijakan Jampersal di kota Blitar sangat bermanfaat bagi masyarakat dan legislatif juga mendukung program tersebut, hal ini ditunjukkan dengan adanya Perwali di Kota Blitar ini. Selain Peraturan Walikota, juga terdapat Surat keputusan walikota untuk pengobatan gratis, meskipun demikian kebijakan Jampersal tetap mengacu pada kebijakan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan, sehingga dalam pelaksanaannya pun sesuai dengan petunjuk teknis. Meskipun demikian ada masyarakat mampu dan seharusnya tidak menggunakan Jampersal, tetapi dalam pelaksanaannya masih memanfaatkan Jampersal untuk melakukan persalinan. Paket pelayanan Jampersal adalah: ANC, Persalinan dan PNC dan Keluarga berencana sesuai dengan juknis. Untuk pelaksanan layanan Jampersal melibatkan bidan, Bidan praktek swasta (BPS), klinik bersalin, dokter swasta. Kepesertaan dan persyaratan pengguna Jaminan persalinan adalah masyarakat/ ibu hamil dengan melengkapi persyaratan saja seperti KTP dan KK, partograf ANC serta inform concern Alur pelaksanaan klaim sebagai berikut : Persalinan jampersal melengkapi syarat menggunakan Jaminan persalinan di bidan atau provider, bidan melengkapi persyaratan klaim kemudian ke Kepala Puskesmas, diperiksa verifikator setelah disetujui tunggu dana turun ke Dinas Kesehatan, dana turun ke puskesmas, di Setor ke bendahara Kota, disetor ke Pemerintah daerah dan akhirnya dicairkan dalam bentuk jasa pelayanan sesuai dengan juknis pusat, meskipun sampai saat ini dana masih belum bisa keluar, hal ini karena juknis Jampersal baru keluar sekitar bulan Juni, padahal dana APBD sudah direncanakan
52

awal tahun, sehingga jampersal tidak ada dalam mata anggaran (MAK) jampersal dalam APBD. Hal tersebut menyebabkan dana sampai saat ini belum diterima, padahal bidan sudah melaksanakan tuganya melakukan persalinan jampersal. Pencairan klaim untik BPS dimana anggaran tidak harus masuk ke APBD, maka dana BPS bisa segera diterima oleh bidan. Besaran jasa pelayanan ketentuannya sesuai dengan juknis pusat, yaitu 350 rb per persalinan normal (Tahun 2011) dan tahun ini naik menjadi 500 rb per persalinan normal.

5.2.2.3.

Kota Mataram

Di Kota Mataram kebijakan Jampersal dengan mengacu pada Petunjuk Teknis Jampersal tahun 2012 . Pelaksanaannya di tindaklanjuti dengan terbitnya Surat kesepakatan pembagian jasa pelayanan jampersal tertanggal 10 Mei 2012 yang di fasilitasi oleh Kepala Dinas kesehatan Mataram yang merupakan kesepakatan di internal Dinas Kesehatan Kota Mataram terutama kesepakatan dalam pembagian besaran jasa pelayanan. Kesepakatan ini dibuat atas usulan dari bawah yaitu Bidan dengan

melibatkan seluruh bidan koordinator di puskesmas, bidan desa, IBI, Kepala puskesmas, Dinas kesehatan dan di fasilitasi Kepala Dinas walaupun belum terbit SK Walikota katika penelitian berlangsung (bulan Juni 2012) sudah berani untuk dilaksanakan. Kabar terakhir Surat Keputusan Walikota sudah terbit. Di Kota Mataram juga berlaku kebijakan open call, dimana masyarakat bisa dengan mudah mendapat nomor handphone tenaga kesehatan. Di setiap puskesmas ada nomer tenaga kesehatan yang bisa dihubungi setiap saat. Dari situ masyarakat bisa menghubungi tenaga kesehatan atau puskesmas. Kebijakan Jampersal sangat membantu dalam meningkatan persalinan ke tenaga kesehatan, karena masyarakat mempunyai kendala pada biaya persalinan. Sebagai contoh di puskesmas karang pule persalinan oleh dukun menurun yang semula sebelum adanya jampersal 6% sekarang menjadi 2% persalinan oleh dukun bayi.
53

Kepesertaan tetap mengacu pada juknis Jampersal th 2012 , orang yang tidak mampu tetapi tidak punya kartu Jamkesmas. Sasaran jampersal sudah terpenuhi untuk persyaratan klaim hanya pakai kartu identitas domisili. Kepesertaan sasaran bisa diakomodir, cukup pakai KTP suami, atau kartu pengenal lainnya atau kartu domisili dari kepala lingkungan atau Kartu Keluarga/Kartu pelajar/ kartu mahasiswa. Tidak dibedakan antar pelayanan persalinan dari bidan desa maupun BPS, hanya di pelayanan ANC, K1-K4 untuk BPS tidak mengharuskan memakai jasa ANC dengan Jampersal. Di Kota Mataram pencairan klaim tidak ada potongan sesenpun (100%). Alur pencairan setelah dari Kas Daerah ke Dinkes Kota Mataram kemudian ke puskesmas sesuai klaim. Di Kota Mataram besaran tarif Persalinan berdasrkan Perda lebih kecil dari tarif Jampersal.

5.2.2.4.

Kabupaten Lombok Tengah Di Kabupaten Lombok Tengah Peraturan Bupati berupa kebijakan untuk

penurunan angka kematian ibu dan bayi yaitu “AKI No” yang berlaku sejak 2009, sebelumnya sejak tahun 2003 Provinsi NTB pembiayaan persalinan berlaku gratis dan sejak tahun 2011 Jampersal di berlakukan di NTB.
“..namun demikian penurunan AKI mengalami fluktuatif, banyak faktor yang mempengaruhi antara lain sumberdaya manusia, biaya dan faktor lainnya. Sejak tahun 2003 persalinan gratis berlangsung, justru nampak besar dampaknya pada turunnya angka kematian bayi yaitu tahun 2004 adalah 500/1000 KH dan tahun 2011 menjadi 141/ 1000 KH..” ( Kadinkes Lombok Tengah).

Dalam pelaksanaan Jampersal Lombok Tengah mengacu pada juknis Pusat, selain itu juga membuat Juknis penunjang yang menyangkut jasa yaitu rincian tarif. Sedangkan dukun juga mendapat bagian dalam jampersal dengan dibuatkan SK dukun untuk mengeluarkannya pembiayaan tersebut. BPS belum dilibatkan dalam pelayanan Jampersal, sehingga belum terjalin PKS antara Bidan Praktek Swasta (BPS) dengan Dinas kesehatan. Sementara ini Dinkes masih tersita dengan penyelesaian masalah keuangan terkait Jampersal yang cukup rumit. Selain itu ada ketakutan terjadi double claim jika BPS dilibatkan dalam

54

Kota Bandung Kebijakan Jampersal dalam rangka mencapai target MDGs untuk turunkan AKI dan AKB. 5. jika tidak mempunyai persyaratan tersebut bisa menggunakan surat keterangan domisili. Bahwa saya bersedia mendapatkan pelayanan pada fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjutan (Rumah Sakit) di kelas III yang memiliki perjanjian kerja sama (PKS) dengan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kota Bandung. dengan mengikuti petunjuk teknis yang berlaku. Sedangkan untuk bidan Puskesmas bisa melakukan PKS ketika melakukan praktek di luar jam kerja di puskesmas. Persyaratan pasien memanfaatkan Jampersal adalah mempunyai KTP dan KK. Untuk Jasa bidan memanfaatkan pembiayaan Jampersal. dan masyarakat atau jaminan pemeliharaan kesehatan lainnya. paling tidak di tiap kelurahan sudah ada 1 BPS.2. Jampersal memudahkan akses dari segi pembiayaan.Jampersal. 55 .2. Untuk pemberi pelayanan kesehatan dilakukan PKS antara bidan praktek swasta dengan Dinas kesehatan. saya benar-benar belum memiliki jaminan persalinan dari badan asuransi pemerintah. Bahwa saya bersedia menggunakan kontasepsi pasca persalinan. Implementasi Program Jampersal di tingkat puskesmas adalah dengan penandatanganan informed consent yang dibuat oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung oleh peserta Jampersal yang di dalamnya menyatakan: 1. 2. Bahwa saya akan bersedia menerima pelayanan jaminan persalinan yang mengacu pada standar pelayanan kesehatan ibu dan anak sesuai program Jampersal. 3. swasta. Bidan Praktek Swasta / mandiri sudah banyak yang lakukan PKS. 4.5. sedangkan transport bidan diambilkan dari dana BOK. Di Kota Bandung Kebijakan Jampersal untuk Pelayanan harus dilakukan oleh tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. Bahwa untuk kehamilan dan persalinan ini.

jumlah yang diperbaiki. jadi uang yang diterima oleh puskesmas dikembalikan lagi ke kas daerah. Kabupaten Bogor Dalam pelaksanaan Jampersal.2. Paket pelayanan Jampersal memberikan pelayanan berupa pemeriksaan kehamilan sebanyak empat kali. Bahwa saya bersedia mematuhi amanat persalinan yang diberikan oleh pemberi layanan Pemerintah Kota Bandung tidak membuat suatu aturan khusus terkait keuangan Jampersal. Form tersebut dibuat untuk menghindari permasalahan yan disebabkan berkas menumpuk. Jadi akan mempermudah masyarakat dalam melakukan rujukan pasien Jampersal. pemeriksaan nifas dan bayi baru lahir sebanyak empat kali dan pelayanan KB. 5. Klaim untuk BPS setiap bulan cair dan tepat waktu. sesuai dengan mekanisme keuangan daerah yang berlaku. Dalam alur tersebut dijelaskan secara rinci tentang berapa puskesmas mengklaim ke Dinas kesehatan per wilayah. maka pemerintah Kota Bandung melakukan pembagian zona rujukan.5. Ada dukungan BKKBN berupa alat kontrasepsi. yang sudah diberikan adalah obat. jumlah yang di verifikasi.6. Pemerintah menyediakan obat dan bahan medis habis pakai bagi setiap puskesmas. Bogor. Bahwa saya tidak akan menyalahgunakan jaminan persalinan ini dengan tindakan yang memungkinkan duplikasi pembiayaannya. belum diterbitkan Perda atau SK di kab. dan bahan habis pakai. pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. karena dilakukan sesuai dengan domisili pasien. Sedangkan di puskesmas dana Jampersal belum cair.2. Dinas Kesehatan membuat protap yang merupakan alur pembayaran klaim jampersal. Sehingga di Puskesmes belum ada pengembalian dana klaim. dan jumlah yang harus dibayar. Supaya tidak terjadi penumpukan pasien di rumah sakit tertentu. Dengan adanya protap adalah 56 . IBI sangat mendukung kegiatan sosialisasi Jampersal. kabupaten Bogor mengacu kepada petunjuk Teknis yang ada. karena dana masih di kas daerah sejak tahun 2011. 6.

partograf dan catatan nifas. Protap tersebut. kota Bogor. tetapi bidan PKS yang ada hanya 1. Permasalahan kepesertaan di kota Ambon adalah penduduk banyak yang tidak mempunyai KTP atau identitas lain. Paket pelayanan sudah sesuai dengan juknis. 5.2. Pengaduan masalah kesehatan dapat online. Dukungan pembiayaan Daerah adalah Jamkesda. Dinas bekerjasama dengan RS perbatasan. kendala yang ada adalah prasyarat jenjang pendidikan yang harus D-III. masih ada RS yang tidak ada MOU dengan Jamkesmas sehingga memakai Jamkesda.untuk mempercepat realisasi pembayaran klaim Jampersal. SMS langsung ke Kepala Dina. dll. catatan pelayanan ANC. Dinas kesehatan Kota Ambon mengeluarkan kebijakan terkait pengeluarkan Surat Ijin Praktek Bidan untuk mengatasi kekurangan tenaga bidan BPS yang PKS. dalam map bukti fisik ada rekapan tersebut dan verifikator mencocokan antara rekapan dan bukti fisik yang tersedia. Syarat klaim adalah fotokopi KTP. Bupati bahkan anggota dewan juga memfasilitasi. padahal rata-rata bidan di Kota Ambon. via SMS. hal ini terjadi karena adanya kendala dalam mengurus Surat Ijin Praktek. Untuk tahun ini Pemda menganggarkan 76 milyar untuk Jamkesda.7. Ada kebijakan khusus dari Kadinkes untuk bidan puskesmas diluar jam dinas bisa melakukan PKS. atau lewat Koran. Kepesertaan adalah ibu hamil. Dinas mempunyai 18 RS (termasuk RS perbatasan). Pelaksanaan mengikuti juknis. Persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis. seperti Tangerang. jenjang pendidikannya masih DI dan untuk sekolah lagi mereka merasa keberatan masalah dana untuk sekolah.2. ada kebijakan dan aturan bahwa harus dipotong untuk PAD sebesar 15 % dan biaya administrasi 10 %. Kota Ambon Dalam pelaksaaan kebijakan Jampersal Kota Ambon. dan email.Dalam mengurus Surat Ijin praktek. Untuk jasa medis. 57 . disosialisasikan kepada puskesmas dan juga bidan dan BPS. bersalin dan nifas yang memiliki KTP atau kartu domisili. didukung dengan SK Walikota dan SK Kepala Dinas. namun diantara 18 RS tersebut.

Selama Jampersal 2011 sampai awal 2012 klaim bidan puskesmas cukup lancar. momen tersebut juga digunakan untuk melakukan pelayanan di masyarakat.Pemerintah Daerah tidak mempersulit dalam prosentase besaran klaim Jampersal yaitu 20% Kasda dan 80% jasa pelayanan. Seharusnya Jampersal adalah pelayanan diberikan oleh petugas kesehatan di fasilitas kesehatan. bahkan setelah ada dana tambahan dari pusat (dana BOK). Tidak ada penerbitan kebijakan atau aturan baru terkait Jampersal. perawat juga melayani pemeriksaan kehamilan dan menolong persalinan dengan memanfaatkan Jampersal. 58 . Untuk dukungan dalam pembiayaan dari pemerintah daerah terkait Jampersal tidak ada. Padahal sebelumnya dana setelah klaim apling lambat 2 mgg sudah bisa cair. Dana setelah diklaim untuk bidan puskesmas 20% masuk kasda sedangkan 80% lagsung ke puskesmas (bidan) tanpa masuk ke Kasda terlebih dahulu. Untuk kunjungan ke dusun petugas menggunakan dana operasional puskesmas atau jika kegiatan puskesmas keliling.2. Hal ini menyebabkan dana menjadi tersedat dan belum cair. justru dana operasional dari pemerintah daerah dikurangi.2. Kabupaten Kepulauan Aru Jampersal di Kab. 5. pelayanan Jampersal adalah petugas mendatangi masyarakat untuk memberikan pelayanan. Kepulauan Aru adalah daerah kepulauan. Kepulauan Aru dalam pelaksanaannya lancar dan tidak ada masalah karena semuanya menerima kebijakan ini. tapi karena kondisi di Kab. Hal ini dilakukan melalui kesepakatan. dan dalam proses klaim dengan mengatasnamakan bidan. Di sini jarang sekali orang datang untuk periksa kesehatan dalam hal ini kehamilan di fasilitas kesehatan kalau bukan di daerah perkotaan. Pelaksanaan Jampersal sejak 2011. Di Kepulauan Aru karena keterbatasan jumlah bidan. Semuanya mengacu pada petunjuk teknis dari Kementerian Kesehatan. Tapi kemudian hal ini menjadi temuan sehingga mulai saat ini dana setelah klaim masuk kasda dahulu.8.

Kepulauan Aru belum ada praktek swasta yang mengajukan klaim Jampersal.. memerlukan biaya yang cukup tinggi untuk transportasi sehingga untuk pembiayaannya dari dana operasional puskesmas dan keluarga ibu yang bersangkutan.” (RS. di desa Ujir. Untuk mengatasi masalah tersebut dan agar masyarakat dapat memperoleh pelayanan maka digunakan keterangan domisili. tidak semua masyarakat punya KTP. Kebijakan Rumah sakit sering menerima pasien Jampersal yang tidak membawa rujukan dengan alasan kemanusiaan. Di Kab. Ini tidak tertolong karena tidak ada transportasi yang mengantar ibu tersebut ke Puskesmas atau RS yang terdapat di Dobo. hanya sembilan puskesmas yang memanfaatkan dana jampersal. Pemanfaatan dana jampersal pada tahun lalu bisa dibilang rendah. buku KIA. Sulit dan mahalnya biaya transportasi untuk merujuk seringkali menyebabkan kematian Ibu. Sekarang di tahun 2012 ini mulai ditempatkan tenaga bidan honorer. Jika ada kasus rujukan dari pulau di luar Dobo. sehingga pasien dapat diterima di rumah sakit dengan memanfaatkan Jampersal. Persyaratan yang diperlukan untuk mendapatkan pelayanan jampersal hanya KTP. “. Sisanya tidak karena memang pada waktu itu tidak ada tenaga bidannya. Syarat klaim tersebut adalah partograf. Aru). Kab. padahal yang memberikan pelayanan jampersal kan seorang bidan. Masalahnya.. Bahkan seringkali keluarga yang membiayai transport menuju ke Dobo. RS tidak pernah menolak pasien yang datang.beberapa bulan kemaren. Kep. KTP atau surat keterangan domisili dan ANC harus empat kali untuk bisa klaim pelayanan ANC. 59 . Peserta Jampersal adalah semua ibu hamil dan melahirkan. Jika terjadi penolakan maka Dinas dan Puskesmas akan memfasilitasi. kecamatan Pulau-pulau Aru ada kasus kematian ibu. terutama mereka yang berada di pedalaman.Untuk mendapatkan pelayanan Jampersal tidak ada masalah karena semua masyarakat dapat dilayani tanpa ada syarat tertentu meskipun penduduk dari luar wilayah. baik yang kaya maupun yang miskin. Karena dari 22 puskesmas yang ada.

10..000.dan potong pajak 5% -15% tergantung golongan. Tidak ada Bidan Praktek Swasta (BPS) dan rumah sakit swasta yang melakukan “PKS” dengan Dinas kesehatan. bidan desa.per hari. Persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis.35. 55. sedangkan ANC gratis. Rp. Paket pelayanan untuk Jaminan persalinan berlaku sesuai petunjuk teknis dari pusat.-. Dengan demikian . 5. uang makan Rp.000. Untuk pelaksanaan Jampersal di Kabupaten Wakatobi hanya berdasarkan petunjuk teknis yang sudah dikeluarkan oleh Kementerian 60 . Tenaga kesehatan pemberi layanan Jampersal di tingkat dasar adalah bidan di puskesmas.000. Kota Kendari Dalam pelaksanaan kebijakan Jampersal Kota kendari tidak mengeluarkan kebijakan khusus. Terdapat pembiayaan BAHTERAMAS (Bangun Kesejahteraan Masyarakat) yang didukung 3 (tiga) pilar utama. yaitu 1) pembebasan biaya operasional pendidikan.000. Tarif Jampersal di Kota kendari sesuai juknis. Jampersal melayani peserta dari wilayah diluar Kendari (portabilitas)..2. Sedangkan dana yang kembali ke puskesmas setalah dipotong BHP (bahan habis pakai) sebesar Rp. Pelayanan rujukan dilakukan “PKS” RSUD Provinsi dan RSUD Kota. dana APBN dan APBD dialokasikan untuk melaksanakan pembangunan yang berkeadilan dan pro rakyat. bersalin dan nifas yang memiliki KTP atau kartu domisili.2.9. 3) pemberian bantuan keuangan pada pemerintah desa dan kelurahan.2. Untuk persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.. Kabupaten Wakatobi Di Kabupaten Wakatobi Peraturan Bupati yang mendukung pelaksanaan Jampersal belum ada. puskesmas poned.5. Pelaksanaan mengikuti juknis dan mengacu Perwali retribusi yang sudah berlaku. 2) pembebasan biaya pengobatan dan.dan perawatan bayi Rp. 50. Kepesertaan adalah ibu hamil. Tarif Bahteramas untuk persalinan adalah 250.2.

Sedangkan untuk pengelola Jampersal tingkat Kabupaten. karena syarat untuk mendapatkan pelayanan Jampersal adalah memiliki KTP. terlebih dalam kegiatan sosialisasi program Jampersal ke stake holder yang ada di bawah koordinasi dinas kesehatan dan kepada masyarakat. Pemerintah daerah sangat intens mendukung kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak untuk tahun 2013. artinya untuk satu orang ibu klaim langsung secara keseluruhan mulai dari ANC sampai dengan PNC. di kabupaten Wakatobi sudah dilaksanakan pelayanan kesehatan gratis dengan pembiayaan Jamkesda dan Jamkesmas. Selain itu pihak pemerintah daerah membantu masyarakat dalam membuat surat keterangan domisili bagi masyarakat yang tidak atau belum memiliki KTP. yang bisa juga digunakan untuk membiayai persalinan. Rujukan memerlukan biaya yang besar karena wilayah Wakatobi adalah kepulauan. 61 . Bupati menerbitkan Surat Keputusan untuk Pengelola Jampersal. Sebelum ada program Jampersal. Untuk beberapa kasus rujukan pasien Jampersal juga sudah ditangani dengan baik. Selama ini dinas tidak tahu dengan pasti biaya rujukan itu berasal dari mana karena yang melaksanakan adalah puskesmas. Pembiayaan Jamkesda didukung oleh APBD. Selain itu bagi PNS juga sudah disediakan ASKES. Selama ini kepala dinas secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program Jampersal. Dana APBD juga dialokasikan untuk pelaksanaan sosialisasi Jampersal. Jaminan persalinan sudah dilaksanakan dengan baik. Verifikasi dilakukan disesuaikan dengan ketentuan dan standar substansinya. Dukungan pemerintah daerah dalam pelaksanaan Jampersal sangat besar. Salah satunya adalah dengan menaikkan anggaran untuk kemitraan dukun dan bidan dengan mengalokasikan dana khusus bagi dukun yang mau bekerja sama dengan bidan. karena selama ini tidak ada pos khusus yang digunakan untuk sosialisasi Jampersal.Kesehatan. Di Kabupaten Wakatobi klaim dilakukan per paket. Kepesertaan sesuai juknis.

11. Kota Balikpapan Implementasi kebijakan Jampersal di Kota Balikpapan dilaksanakan sesuai dengan petunjuk teknis. Dalam mekanisme klaim di Balikpapan sesuai dengan petunjuk teknis yaitu ketika klaim sudah cair dan akan disetor kembali ke Kasda tapi belum dilaksanakan penarikan dana kembali karena Perwali masih dalam proses sehingga sampai saat penelitian dilaksanakan besaran Jasa pelayanan untuk bidan puskesmas belum pernah dibicarakan.tapi setelah ada pembiayaan Jampersal.Misalnya untuk ANC berlaku konsep 1-1-2. buku KIA untuk kalim Antenatal care (ANC) dan ditambah partograf untuk persalinan. kecuali untuk bahan habis pakai jumlahnya terbatas Persyaratan untuk klaim jampersal adalah Kartu identitas ( KTP. Untuk rujukan ke RS transport gratis merupakan fasilitas dari pemerintah daerah.2.500. yang mana tanggal pelayanan yang bisa diklaim disesuaikan dengan standar waktunya.. Kebijakan Jampersal ternyata cukup membantu provider pemberi layanan. Belum ada Peraturan Daerah terkait Jampersal. Sebelum ada Jampersal untuk persalinan Jamkesda sebesar Rp. 62 . saat penelitian berlangsung Peraturan Walikota sedang dilakukan penyusunannya. maka pembiayaan persalinan dengan Jamkesda digantikan dengan pembiayaan Jampersal. Untuk merujuk ke RS ditambahkan surat rujukan dari puskesmas. 5. Untuk Obat-obatan fasilitas puskesmas tidak ada masalah dalam ketersediaan obatobatan. surat domisili). terutama untuk membiayai pasien yang tidak bisa membayar sama sekali atau setengah miskin. Untuk proses klain sejauh ini tidak ada masalah.000.2. Pelaksana layanan dasar adalah bidan puskesmas dan bidan praktek swasta yang juga sudah banyak melakukan PKS dengan Dinas kesehatan.

12. Namun pada tahun 2012 belum ada klaim Jampersal yang cair karena menunggu terbitnya Peraturan Daerah.sampai sekarang belum ada peraturan bupati ataupun arahan dari Dinas Kesehatan tentang Juknis Jampersal.13. Pemberi Layanan Jampersal di pelayanan dasar adalah bidan puskesmas dan bidan desa. bersalin dan ibu nifas yang mempunyai KTP atau Kartu keluarga.5. Dalam pelaksanaan Jampersal di pelayanan dasar untuk persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis. Kota Batam Kebijakan jampersal pada pelayanan persalinan baik.2.2. Besaran tarif jampersal sesuai Petunjuk teknis yang berlaku. Dengan BPS tidak ada MoU. 5.2. Kepesertaan Jampersal adalah ibu hamil. Sedangkan untuk bidan praktek swasta belum ada yang melakukan “PKS” dengan Dinas kesehatan. tahun ini sedang di proses pembuatan Peraturan daerah. Kabupaten Paser Di Kabupaten Paser sejak Jampersal berlangsung tahun 2011 sampai saat penelitian belum diterbitkan Peraturan daerah atau Peraturan Bupati . sehingga hanya sedikit yang memakai Jampersal. hanya dalam penyaringan di salahgunakan. pihak manajemen rumah sakit merasa belum pernah tersosialisasi Jampersal secara langsung. Rumah sakit belum melaksanakan Jampersal. dimana tidak ada mata anggaran untuk jasa persalinan.... sehingga dengan adanya kebijakan Jampersal tidak sejalan dengan peraturan daerah. Ada kendala dalam pelaksanaan Jampersal karena ada pengalaman terdapatnya “temuan” oleh BPK dalam pengelolaan anggaran BOK pada tahun sebelumnya yang menyebabkan Kepala Dinas ekstra hati-hati dalam menerima Jampersal. “. Hal ini menyebabkan Jampersal kurang berjalan dengan baik di Kabupaten Paser. terkadang kurang tepat sasaran. Paser). Kab. ini karena adanya perbedaan tarif. Sebelum kebijakan Jampersal dilaksanakan.” (Dinas kesehatan. karena tidak ada pembatasan keperuntukan baik orang miskin dan kaya dapat memakai 63 . di kabupaten Paser pelayanan persalinan adalah gratis.2.

Kebijakan Jampersal di Kota Batam untuk persalinan dilakukan oleh Nakes di fasilitas kesehatan dan terdapat Perwali untuk Jampersal yang diterbit sejak tahun 2011. Saat ini Pemerintah daerah mengalokasikan insentif untuk tenaga kesehatan berupa upah pelayanan Kesehatan (UPK). Pencapaian MDGs baru menggaung satu tahun sekarang. Saat ini terdapat lebih dari 90 bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan untuk program Jampersal. persyaratan untuk mendapatkan surat ijin praktek adalah harus mempunyai rekomendasi dari IBI.500. 64 . Dalam implementasi Jampersal di kota Batam awalnya tersendat karena klaim hanya Rp. Dengan demikian dana Jampersal untuk bidan di puskesmas tidak dapat dibayarkan kepada pelaksana Jampersal di puskesmas. Kebijakan untuk provider pelaksana Jampersal adalah Bidan desa/puskesmas di luar jam Dinas jika sudah mempunyai ijin praktek dapat melakukan MOU dengan Dinkes. Di Kota Batam untuk pelayanan kesehatan dasar berlaku gratis.350.ditambah empat kali pemeriksaan kehamilan. Saat ini di Batam terdapat sekitar 400 bidan tapi tidak semuanya mempunyai ijin praktek sehingga tidak dapat PKS...Untuk mengatasi masalah ini mulai tahun 2013 diterbitkan Peraturan Daerah yang mengatur tarif pelayanan dasar.Jampersal. Kebijakan Jampersal dalam pelaksanaan di lapangan dan administrasi mengikuti sistem yang sesuai petunjuk teknis. Bidan BPS yang PKS menjadi bertambah dengan cepat. Dan dana Jampersal setelah masuk ke kas negara tidak dapat ditarik kembali dikarenakan tidak adanya mata anggaran untuk penyetoran dan penarikan. surat domisili oleh RT/RW. Kepersertaan pasien jampersal tidak menjadi hambatan yaitu ibu hamil yang tidak punya jaminan dan punya identitas diri berupa KTP. SIM. mulai th 2011. Hal ini karena IBI mensyaratkan bidan PKS harus punya ijin praktek.000.yang dianggap terlalu rendah. tetapi dengan kenaikan tarif menjadi Rp. paspor.000. sehingga dengan adanya Perda tersebut pada tahun 2013 diharapkan dana Jampersal untuk bidan puskesmas dan jaringannya bisa di manfaatkan sesuai dengan aturan yang ada.

tapi tahun 2012 kemitraan hanya bisa dilakukan oleh bidan PKS saja. Kabupaten kepulauan Natuna Kabupaten Natuna adalah satu-satunya kabupaten yang dalam penelitian ini tidak memanfaatkan pembiayaan Jampersal. kemitraan dukun dilaksanakan di dua puskesmas tersebut juga dilakukan dengan ketentuan ketika ibu bersalin adalah rujukan dukun maka wajib ada bidan dalam melakukan pelayanan persalinan.2.2. Pada tahun 2011 ketika program Jampersal dicanangkan.14. klaim Jampersal sampai saat penelitian dilakukan belum dapat dicairkan karena terdapat Aturan Daerah yang tidak memungkinkan untuk pencairan dana Jampersal. Tentu saja hal ini membuat bidan menjadi tidak nyaman dan berisiko untuk menjadi temuan. Pada tahun 2011 bidan yang belum PKS dengan Dinas Kesehatan juga dapat melakukan kemitraan dengan dukun.Untuk mendapatkan rekomendasi tersebut bidan harus mengikuti pelatihan APN dan sebagai anggota IBI aktif selama 1 (satu) tahun. Seperti diketahui bidan puskesmas di Batam. Kebijakan Dinas kesehatan. 5. Sehingga terjadi pengklaim Jampersal beberapa bidan di atas namakan satu bidan yang PKS. baru bisa diklaim/dibayarkan Jampersal dengan rincian yang disepakati yaitu sebesar 100 ribu untuk jasa dukun dan 400 ribu jasa pelayanan bidan. Kebijakan ini dirasakan cukup memberatkan untuk bidan. puskesmas di pulau disediakan rumah tunggu untuk persalinana yang letaknya didekat rumah bidan. Hal ini disebabkan Di Kabupaten Natuna sejak Tahun 2007 berlaku peraturan bupati untuk pertolongan persalinan 65 . sehingga beberapa bidan di puskesmas termasuk di puskesmas pulau Galang tidak dapat melakukan PKS dengan Dinas kesehatan. Untuk puskesmas yang diwilayahnya masih ada dukun seperti puskesmas Bulang dan Galang terdapat program kemitraan. Penanganan keluhan pasien khususnya untuk Jamkesmas dan Jampersal dilakukan di Kota Batam sudah dilakukan melalui tim Jamkesmas di Dinas Kesehatan. pembiayaan pelayanan dapat di klaim dengan Jampersal.

66 . Ketika terdapat peraturan Menteri Kesehatan untuk Jaminan Persalinan Dinas Kesehatan kabupaten Natuna melakukan konsultasi dengan Kemenkes (Pusat). Kebijakan khusus RS terkait pelayanan. yaitu untuk tarif Perda berbeda dengan tarif INA CBGs. Hal ini disebabkan jika Kabupaten Natuna akan memanfaatkan Jampersal maka harus melakukan revisi Peraturan Bupati tersebut. tetapi mereka tidak bisa menggunakan haknya karena tidak ada fasilitas TNI/Polri di Natuna. Karena mereka juga abdi masyarakat. dari hasil konsultasi dikemukan bahwa jika Daerah mempunyai Pembiayaan untuk persalinan dapat tidak memanfaatkan Jampersal sehingga diputuskan Kabupaten Natuna tidak memanfaatkan Jampersal. karena mereka tidak memiliki fasilitas kesehatan di Natuna. sesuai dengan kemampuan membayar pasien. 4) MOU antara Dinas Kesehatan dan RS. Permasalahan saat ini adalah tarif untuk di rumah sakit. 3) Perbub/SK Bupati untuk insentif petugas kesehatan RS. setiap bulan dipotong 3%. potongan yang terbesar sampai 50%. SK Direktur. 2) Perbub untuk tarif di RS. Potongan bervariasi. Peraturan tentang Jamkesda meliputi 1) Peraturan daerah tentang Jamkesda. Jamkesda sudah mencover seluruh pelayanan untuk kesehatan ibu dan bayi. maka RS mengambil kebijakan untuk memotong biaya pelayanan RS. kecuali TNI/Polri yang suami/istrinya adalah petugas RS untuk biaya kesehatan gratis. 5) Jasa Pelayanan. yaitu untuk anggota TNI/Polri.yaitu Jamkesda Kabupaten Natuna. sedangkan mereka bukan peserta Askes. Sehingga masyarakat Natuna untuk pertolongan persalinan sudah dibiayai dengan Jamkesda. sehingga tahun ini diusulkan untuk dilakukan revisi peraturan Bupati. Sebenarnya Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna berkeinginan untuk memanfaatkan Jampersal. sedangkan saat ini atas instruksi propinsi Jamkesda harus menggunakan tarif INA CBGs.

Bentuk penerimaan dapat berupa dukungan manajemen. Pembiayaan di tingkat Kabupaten. 1) Bebas kematian ibu melahirkan. peralatan dan bahan habis pakai dll. 4) Bebas TB. Komitmen Kabupaten Sampang untuk mendukung kebijakan Jampersal adalah dengan adanya Peraturan Daerah No. walaupun bentuk dukungan secara khusus misalnya dalam bentuk penyediaan sarana.1. dukungan dalam sosialisasi dan adanya kebijakan lokal yang berlaku di wilyah kabupaten/kota. 5.3 AKSEPTABILITAS KABUPATEN/KOTA TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Akseptabilitas kabupaten/kota adalah penerimaan pemerintahan daerah.3. Anggaran pendukung dialokasikan dari bantuan dana dekonsentrasi propinsi yang diperuntukkan untuk pembiayaan operasional pembinaan Rumah Sakit Ponek kepada Puskesmas PONED.5. Dinas Kesehatan memiliki perjanjian/memorandum of understanding (MOU) dengan Rumah Sakit untuk pembinaan dari Rumah Sakit PONEK kepada Puskesmas PONED. 5 tahun 2011. Pemda tidak mengalokasikan secara khusus dari APBD. sosialisasi dan kebijakan lokal yang mendukung Jampersal Di Kabupaten/Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal dengan bervariasi. tentang jasa Pelayanan dan kebijakan. SDM. Dukungan Manajemen. sedangkan 2+ adalah pelayanan gratis masyarakat dan tuntas penanganan kusta. rumah sakit dan puskesmas dan jaringannya dalam pelaksanaan Jaminan persalinan.sehingga dalam sosialisasinya Jampersal melibatkan dinas lintas sektor termasuk dinas 67 . Program ini merupakan program Bupati . Di Kabupaten Sampang sosialisasi Jampersal di kecamatan dilakukan melalui program Libas 2+ (5 Bebas yaitu. 3) bebas gizi buruk. bebas bayi tidak terimunisasi lengkap. 2) bebas kematian bayi. dalam mendukung program Jampersal belum dilakukan di semua kabupaten/kota.

kesehatan, walaupun ‘bungkusnya” adalah LIBAS bukan Jampersal secara langsung. Pemerintah Daerah Kota Blitar mendukung pelaksanaan Jampersal dengan diterbitkannya Perwali yang didalamnya berisi tentang kebijakan di Kota Blitar termasuk jasa pelayanan bagi petugas kesehatan. Dalam mendukung Jampersal dengan menambah jumlah bidan dalam rangka penurunan Angka Kematian Ibu. Selain itu dukungan pemda ditunjukkan dengan sarana untuk bersalin di puskesmas PONED. Dukungan yang diberikan oleh Pemerintah Kota Kota Bandung adalah dengan membagi wilayah rujukan ke dalam zona-zona tertentu, supaya tidak terjadi penumpukan pasien di satu rumah sakit saja. Selain itu, ada peningkatan jumlah rumah sakit yang bisa menjadi pusat rujukan bagi pasien dengan komplikasi.
“..RSUD Kota Bandung merupakan rujukan untuk wilayah Bandung Timur, di wilayahnya terdapat dua puskesmas PONED yaitu Puskesmas Cibiru dan Puskesmas Padasuka. Seperti diketahui sejak sebulan yang lalu di Kota Bandung di launching Sistem Kesehatan Kota Bandung dengan melibatkan seluruh saranan kesehatan di kota Bandung dibagi Zona (jejaring Rujukan)..“ (NN, RSUD Kota Bandung).

penambahan

Di Kota Mataram dukungan Pemerintah daerah dengan menyekolahkan bidan menjadi Bidan dan Perawat menjadi D3 dengan dukungan dana APBD. Selain itu dilakukan pelatihan bidan oleh SPOG ada empat puskesmas PONED yaitu Puskesmas Ampenan, Puskesmas Cakra dan Puskesmas Tanjung Karang. Obat dan BHP disediakan untuk bidan yg melakukan pelayanan di puskesmas dan Polindes dan terdapat dana khusus untuk operasional BHP.
“..kebutuhan obat dan BHP biasanya PKM menyediakan sendiri tapi juga ada yg dari dinkes. Penyediaannya dari dana yg berasal dari operasional PKM..” (FGD Bidan, Kota Mataram).

Di Kabupaten Wakatobi dukungan pemerintah daerah dalam pelaksanaan Jampersal sangat besar. Dengan adanya Jampersal, maka pemerintah daerah sangat intens mendukung kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak untuk tahun 2013. Salah satunya adalah dengan menaikkan anggaran untuk
68

kemitraan dukun dan bidan dengan mengalokasikan dana khusus bagi dukun yang mau bekerja sama dengan bidan. Di Wakatobi komitmen daerah terhadap pembiayaan Jampersal bagus. Selama ini daerah sudah menyiapkan dana pendamping, khususnya untuk membiayai tenaga kesehatan yang harus mendampingi pasien yang di rujuk. Kami biasanya merujuk ke Bau-bau karena disana sarananya lebih lengkap. Selain jampersal dan jamkesmas, kami punya bahtera mas dari propinsi untuk masyarakat miskin dan jamkesda kab. Dana ini yang kami gunakan untuk membiayai tenaga kesehatan pendamping pasien. Bupati Wakatobi punya perhatian khusus terhadap Jampersal dan kesehatan pada umumnya. Ini diwujudkan dengan dibangunnya ruang operasi yang semoga cepat selesai. Pemerintah kabupaten juga sudah lama menganggarkan kontrak untuk SPOG sebesar 25 juta setiap bulannya, tapi sayang tidak ada yang berminat sehingga akhirnya alokasi anggaran itu dihapus. Padahal juga disediakan rumah dinas dan kendaraan dinas. Pernah diupayakan kerjasama dengan SPOG di Kendari, perkunjungan akan dibiayai sebesar 4,5 juta,tetapi tidak berjalan juga. Saat ini Wakatobi untuk tenaga spesialis untuk kebidanan dan Kandungan adalah kontrak dengan Residen yang sedang mengambil pendidikan. Selama penelitian berlangsung selama satu minggu Tenaga dokter spesialis tidak dapat ditemui karena sedang berada di luar Provinsi. Itu kondisi yang ada. Untuk

mengatasi kekurangan tenaga, kami diminta membuat usulan tenaga dokter spesialis yaitu SPOG. Ini sudah ditindaklanjuti dengan meminta pada Badan Kepegawaian daerah (BKD) mengenai usulan tenaga tersebut, tetapi belum ada kabar sampai penelitian selesai dilaksanakan. Di Kota Batam pelayanan dasar gratis. Untuk tenaga kesehatan terdapat UPK (upah pelayanan Kesehatan) yaitu insentif di luar gaji berupa upah pelayanan kesehatan (UPK) dari Pemda yang jumlahnya cukup besar. Ini merupakan bentuk komitmen dari Pemda terhadap program kesehatan termasuk Jampersal.
69

Dari penelitian ini secara umum kabupaten/kota memberikan dukungan terhadap kebijakan Jampersal dengan melihat komitmen pengambil kebijakan dan pelaksana program Jampersal adalah baik, hal ini terlihat dengan adanya keinginan untuk mensukseskan program ini. Hal ini diperkuat dengan penelitian dari Armey Yudha tahun 2012 di Kabupaten Lebak yang menyatakan hal yang sama.

5.4.

AKSEPTABILITAS PROVIDER DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN. Dalam pelaksanaan Jaminan Persalinan di kabupaten/Kota peran

pemberi layanan sangat mempengaruhi

implementasi Jaminan Persalinan.

Adapun yang dimaksud pemberi layanan (provider) adalah dokter, bidan puskesmas, bidan desa, bidan praktek swasta dan bidan rumah sakit dan Dokter Kandungan dan Kebidanan (SPOG). Akseptabilitas/penerimaan provider terhadap Jampersal mempengaruhi keberhasilan dari tujuan Jampersal. Akseptabilitas disini adalah penerimaan provider terhadap Jampersal dengan menggali

persepsi, upaya yang dilakukan dalam mendukung kelancaran pelaksanaan Jampersal. Sosialisasi sangat berpengaruh terhadap penerimaan provider terhadap kebijakan Jampersal. Untuk mengetahui penerimaan Provider terhadap kebijakan Jampersal , maka akan dibahas sosialisasi yang dilakukan terhadap provider, peneriman terhadap paket layanan, penerimaan terhadap kepesertaan/sasaran,

pemanfaatan dan persyaratan klaim, Pelayanan.

besaran tarif pelayanan dan Jasa

70

Gambar 5.7 Diskusi Kelompok pada Bidan

5.4.1. Sosialisasi Jampersal di Puskesmas dan Rumah Sakit

Gambar 5.8 Bagan Sosialisasi Jampersal di Kabupaten / Kota

Menurut Nawawi (2009) terdapat banyak cara dalam mensosialisasikan kebijakan yaitu dengan mempublikasikan seremoni penandatangan naskah kebijakan publik, berita di media masa, seminar dan sarana lainnya seperti buklet, leaflet dan lain sebagainya.
71

Dalam sosialisasi Jampersal di kabupaten / kota terdapat pola yang hampir sama yaitu dimulai dengan kepala Dinas dan Pengelola Jampersal

kabupaten/kota mendapatkan sosialisasi di Dinas kesehatan Provinsi atau mendapat sosialisasi langsung dari Kemenkes RI (Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan). Materi yang di sosialisasikan adalah Juknis Jampersal tahun 2011. “..pada tahun 2011 pernah ada tiga orang dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang datang ke Pulau Kaledupa, sekalian kami minta untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat Pulau Kaledupa tentang Program Jampersal. Sebenarnya tiga orang datang ke Pulau Kaledupa bukan untuk melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan Program Jampersal.Pernah juga pihak Kemenkes mengundang seluruh kabupaten di Indonesia untuk mengevaluasi program Jamkesmas, Jampersal dan BOK di Bali. Dalam evaluasi itu juga sekalian disosialisasikan program Jampersal..” (Kadinkes, Kab Wakatobi).
“..awalnya dapat informasi Jampersal dari pemerintah provinsi yang membahas juknis Jampersal. Sosialiasi dari pusat kita dapat dari internet, ada berita-berita terbaru kami update dari internet kemudian kita ekspos dan kadang kita kirimkan ke bidan-bidan puskesmas..” (Kabid KIA, Kota Balikpapan). “..sosialisasi dengan spot iklan di RRI, itu inovasi dari kami dan mendapat penganggaran dari Propinsi. Penyuluhan di RRI setiap sabtu dimulai tahun 2012. Tahun 2011, sosialisasi dgn pertemuan lintas sektor, kita lanjutkan ke puskesmas..” (Kabid Yankes, Kota Ambon).

Dinas Kesehatan Kabupaten mensosialisasikan dengan mengundang kepala puskesmas dan Bidan koordinator,organisasi Profesi karena sosialisasi tidak ada dana khusus maka pelaksanaan di daerah tergantung Dinas kesehatan masing-masing, biasanya terintegrasi dengan kegiatan program lainnya. Materi sosialisasi pada umumnya adalah tentang petunjuk teknis Jampersal meliputi syarat pengguna Jampersal, paket pelayanan, persyaratan klaim dan, besaran tarif. Setiap kabupaten/kota untuk frekuensi dan kualitas sosialisasi sangat bervariasi dikarenakan tidak ada petunjuk dan anggaran khusus untuk program Jampersal, sehingga pelaksanaan terintegrasi atau dilakukan bersamaan dengan kegiatan program lain. Sosialisasi dilakukan oleh pengelola Jampersal Dinas kesehatan dengan mengumpulkan bidan, kepala puskesmas, bidan koordinasi, dan bendahara puskesmas. Secara umum sosialisasi untuk provider/pelaksana pelayanan Jampersal dirasakan kurang.
72

dari hasil FGD banyak keluhan bidan tentang minimnya pengetahuan bidan terhadap program Jampersal. Namun demikian di beberapa kabupaten/kota sosialisasi dirasakan masih kurang. kecamatan. Kota Balikpapan dan Kota Batam rumah sakit yang menjadi rujukan Jampersal dan menjalin perjanjian kerjasama adalah Rumah Sakit Provinsi.” ( Kota Blitar) Dalam sosialisasi di kabupaten/kota. seharusnya ada kerja sama yang baik antara pemerintah dengan aparatur desa. kepala desa. biasanya kepala puskesmas melakukan sosialisasi melalui rapat rutin/minilokakarya di puskesmas. fatayat atau aisiyah. dukun dan Toma. Selanjutnya bidan desa melakukan sosialisasi pada masyarakat.Di puskesmas kepala puskesmas meneruskan sosialisasi. Walaupun sosialisasi terhadap pemberi layanan (provider) sudah dilakukan. Sosialisasi pada bidan desa melalui pertemuan rutin bulanan oleh bidan koordinator. kader kesehatan. 73 . Selain itu Rumah sakit mendapat sosialisasi langsung dari Pusat Pembiayaan Jaminan Kesehatan (P2JK) dengan mengundang Direktur RS atau pengelola Jamkesmas dan Jampersal. hal ini juga menjadi kendala dalam sosalisasi karena Dinas kesehatan kota tersebut merasa sosialisasi menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan Provinsi. Untuk sosialisasi lintas sektoral dilakukan pada pertemuan atau rapat koordinasi di tingkat Dinas di kabupaten. “. Di Kota Ambon. dukun. muslimat.sosialisasi sudah jalan tapi belum sampai ke akar. PKK. Materi sosialisasi tidak khusus tentang Jampersal masih secara umum tentang Jampersal. mulai dari kabupaten sampai desa. dinas kesehatan mengundang juga rumah sakit yang akan menjadi rujukan Jampersal. Sosialisasi juga dilakukan melalui organisasi masyarakat. Bidan memanfaatkan klas ibu hamil sebagai sarana sosialisasi Jampersal yang cukup efektif pada sasaran. kepolisian... namun frekuensi dan kualitas sosialisasi masih dirasakan kurang. Di beberapa kabupaten seperti Sampang sosialisasi oleh Puskesmas ditingkat kecamatan dengan mengundang camat. Kondisi ini menyebabkan komunikasi dan sosialisasi antara Dinas kesehatan Kabupaten/kota dan Rumah sakit Provinsi tersebut kurang lancar.

pemberi layanan (provider) yang memegang peranan dalam pelayanan Jaminan Persalinan adalah dokter. Pemberi Layanan di Fasilitas Kesehatan Dasar Dalam memberikan pelayanan kesehatan dasar di puskesmas. Dari komposit pertanyaan bidan di peroleh persepsi bidan terhadap Jampersal sbb: 1) dukungan pada kebijuakan Jampersal. 5. Waktu itu awal-awal juknis 2011.2. bidan praktek swasta. puskesmas PONED dan jaringannya serta BP swasta yang melayani pelayanan KIA.. Karena keterbatasan sosialisasi terdapat provider di tingkat rumah sakit yang beranggapan bahwa pelayanan Jampersala hanya dilaksanakan di tingkat layanan dasar yaitu di puskesmas dan jaringannya serta bidan praktek swasta saja. 2) dukungan Jampersal pada program KIA. 6) tugas sebagai penolong persalinan.“. bidan puskesmas. bidan desa. Khusus terhadap bidan dilakukan pengisian kuesioner dengan skala likert dengan self assement untuk mengetahui persepsi bidan terhadap Jampersal. Pada bulan November 2011 di Bali. Persepsi bidan dibentuk dari beberapa pertanyaan yang dikompositkan. 74 .” (Dinkes.4. 5) kendala implementasi Jampersal.” (RSUD. Untuk penyuluhan di RS tdk dilakukan. Jadi pada saat itu semua pengelola Jamkesmas Jampersal dari dinas dan rumah sakit seluruh Indonesia dikumpulkan. 7) Jangkauan Jampersal terhadap sasaran. “. Kab Sampang). 4) dukungan sarana.. 9) kepuasan terhadap reward (tahun 2012) yang tertuang pada gambar dibawah ini. dilakukan oleh pihak humas kerjasama dengan kasi pelayanan ke puskesmas-puskesmas terutama untuk rujukan berjenjang.. 8) Persepsi tentang merujk pasien dan. pusat melaksakan acara evaluasi pelaksanaan Jamkesmas dan Jampersal 2011 serta rencana kebijakan Jamkesmas Jampersal 2012.. Pada saat ini pihak pengelola belum memiliki Juknis 2012. Kota Mataram).untuk sosialisasi jampersal di RS. 3) Sosialisasi Jampersal. Tapi kalau pusat datang langsung ke RS tidak ada. Dalam penelitian ini dilakukan wawancara mendalam dan FGD pada provider untuk mengetahui penerimaan terhadap Jampersal.untuk sosialisasi dari pusat hanya ada pada waktu pertemuan di propinsi.

akses ke nakes karena kendala geografis dan masyarakat yang masih lebih senang bersalin dirumah.Gambar 5. Di puskesmas sosialisasi kebijakan Jampersal dan sosialisasi pada masyarakat menurut bidan masih kurang (60.4% responden bidan juga kurang memadai. Ternyata 35.6% bidan menyatakan setuju dan mendukung program Jampersal. bidan menyatakan sebaiknya Jampersal dilanjutkan karena banyak bermanfaat untuk masyarakat miskin. program ini juga dinilai mampu memberi dukungan pada masyarakat yang kurang memiliki akses secara pembiayaan ke tenaga kesehatan. yaitu upaya penurunan AKI dan AKB. budaya untuk bersalin di non nakes.6% bidan menyatakan bahwa Jampersal mendukung program KIA. Sosialisasi masih menjadi tanggung jawab dinas kesehatan.5% bidan menyatakan masih mempunyai kendala terhadap 75 . Riset Evaluatif Implementasi Jampersal 2012 Dari hasil self assessment bidan terhadap kebijakan Jampersal.6%). Dalam menjalankan tugasnya bidan menghadapi kendala. Demikian pula sarana untuk menolong persalinan di puskesmas/polindes menurut 44. Selain itu 94. 94. Persepsi bidan terhadap kendala meliputi kendala dalam meyakinkan masyarakat untuk memanfaatkan Jampersal.9 Persepsi Bidan Puskesmas terhadap Jaminan Persalinan N=736 Sumber : data self assessment bidan.

.4. dan program “Tempelkan Musik Mozart di perut Ibu.2. Kesesuaian reward Jampersal dengan tugas yang dibebankan dan kepuasan adanya kepastian pembiayaan dengan adanya Jampersal. 1 kali pada triwulan kedua. Persepsi bidan terhadap keterjangkauan (akses jarak) masyarakat terhadap Jampersal. c). yang ditambah adalah pemberian tablet DHA.paket pelayanan yang diberikan program jampersal. secara umum bidan dapat menerima. Namun demikian hasil penelitian ini dengan adanya Jampersal 81. “. hasil penelitian 5. mungkin bisa ditambah menjadi 12 T. 76 .7 % bidan menyatakan yang memanfatkan Jampersal tidak hanya sasaran yang dekat dengan puskesmas/polindes saja tetapi juga yang jauh.. malah kalau ada kasus sebulan bisa 2 kali..hal diatas 94.5% bidan menyatakan senang menolong persalinan sendiri daripada merujuk ke layanan rujukan. dimana selama hamil. Selama ini paket pelayanan yang diberikan adalah 10 T. sehingga masyarakat cenderung melakukan ANC pada tenaga kesehatan lebih dari 4 (empat) kali. ANC itu kebanyakan ndak 4 kali pak. ibu hamil diperiksa sebanyak 4 kali disertai konseling KB dengan frekuensi a).cuma gini pak. 82. “. b).1.” (Bidan Kab. sebenarnya sudah bagus. namun ya tergantung dari Kemenkes. tapi lebih senang jika memberi pelayanan pengobatan karena menolong persalinan dianggap sangat berisiko. bisa tiap bulan. untuk masalah ANC. Ini karena di beberapa daerah pemeriksaan kehamilan sebelum ada Jampersal kebijakan Daerah yang menggratiskan pembiayaan ANC di fasilitas pemerintah. Dengan demikian jika masyarakat melakukan ANC lebih dari frekuensi yang dibiayai Jampersal maka bidan tidak dapat mengklaimkan pelayanan tersebut.6% bidan menyatakan baik. didapatkan 85.3% bidan menyatakan senang dengan tugas yang menjadi tupoksinya yaitu menolong persalinan. Bogor). Namun namun paket pelayanannya mungkin bisa ditambah.” (Bidan Kab. Sampang). Paket Layanan pemeriksaan Paket pelayanan pemeriksan kehamilan (ANC) adalah kehamilan (ANC) yang dibiayai oleh program ini mengacu pada buku Pedoman KIA. 1 kali pada triwulan pertama.. namun beberapa bidan merasa kurang jika hanya empat kali saja ANC yang dibiayai oleh Jampersal. Dua kali pada triwulan ketiga .

tapi secara kualitas sesuai dengan waktu yang ditetapkan masih perlu dievaluasi lebih lanjut. maka hanya sedikit Puskesmas yang dapat melakukan karena terbatasnya Puskesmas PONED terutama di kabupaten. Untuk paket persalinan normal dalam petunjuk teknis dinyatakan dilakukan oleh nakes di fasilitas kesehatan dengan rawat inap minimal 1 (satu) hari . Untuk ANC secara kuantitas frekuensi lebih dari 4 kali pemeriksaan. sehingga biaya untuk kelebihan hari dibebankan ke pasien Jampersal. jadi syaratnya Puskesmas Perawatan saja.. boleh mengklaim. Kab.bidan melaksanakan pelayanan. tidak semua bisa diklaim. bahkan di Aru 77 . Kompetensi bidan. misalnya manual plasenta. Aru dan Sampang karena geografis sehingga masyarakat masih bersalin di rumah dengan ditolong oleh tenaga kesehatan. dalam pelayanan Jampersal hanya persalinan saja yang dapat di klaim. bahwa kegawatdaruratan kebidanan dapat dilakukan tidak hanya di Puskesmas Poned tetapi juga di Puskesmas perawatan. Demikian pula dengan pelayanan kegawatdaruratan kebidanan. Kita kembalikan ke program. untuk program itu seperti apa ? untuk puskesmas perawatan..Dalam salah satu FGD bidan di Lombok Tengah bidan bahkan tidak mengetahui bahwa paket pelayanan ANC dan PNC dapat di klaim. Sampang). Untuk persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan dibeberapa kabupaten tidak dapat dilaksanakan dengan berbagai kondisi misalnya di kabupaten Kep. Di kabupaten/kota secara umum cukup dan dapat di implementasikan.” (Dinkes. Hal ini di karenakan di Loteng sebelum Jampersal sudah ada kebijakan kabupaten gratis untuk semua pelayanan kesehatan. tapi kalau Poned terlalu jauh. menurut juknis Jampersal dilakukan di Puskesmas PONED. tapi ada beberapa kabupaten/kota misalnya seperti kota Balikpapan puskesmas menyatakan pelayanan persalinan satu hari kurang karena kebiasaan di daerah tersebut untuk persalinan lebih dari satu hari. mungkin sejauh ada pelimpahan tugas bisa melakukan ini itu mungkin bisa dibijaksana. bisa melakukan tindakan selain itu. Apabila hal tersebut diterapkan. Seperti pernyataan informan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang berikut: “. Pelaksanaannya misalnya di Kabupaten Sampang ada kebijakan Dinas Kesehatan. tetapi tidak bisa diklaimkan bukan wewenangnya. karena kebijakannnya di Puskesmas perawatan.

Kep. Lagian di puskesmas tidak ruangan yang.000. Wakatobi) Paket Pelayanan Nifas (PNC) adalah Pelayanan nifas sesuai standar yang dibiayai oleh program Jampersal pada ibu dan bayi baru lahir yang meliputi pelayanan ibu nifas. Kalau sudah mulai sakit. OH tdk boleh lebih. demikian juga di beberapa puskesmas dengan geografis cukup sulit seperti di Lombok Tengah. sehingga dilakukan “jemput bola” dan pasien Jampersal dibawa ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan persalinan. Tatalaksana asuhan PNC merupakan pelayanan Ibu dan Bayi baru lahir sesuai dengan Buku Pedoman KIA.” (Kepala Puskesmas di Kab...PNC. “.belum punya kesadaran untuk datang sendiri ke sarana kesehatan. pasien menghubungi bidan kemudian meminta supaya bidan mengangkut pasien ke sarana kesehatan dengan menggunakan motor atau mobil ambulan.keterbatasan sarana dan tenaga kesehatan di puskesmas sehingga persalinan dilakukan di rumah.000. Dari penelitian ini didapatkan bahwa di kabupaten/kota PNC dapat diimplementasikan. “. pelayanan bayi baru lahir. bahkan dengan adanya paket ini cakupan PNC meningkat.” (Kepala Puskesmas di Kota Balikpapan).untuk mengganti bahan habis pakai dan uang makan pasien. “.” (Bidan Kab. tapi jika lebih dari sehari maka pasien dikenakan biaya tambahan antara Rp. Wakatobi dimana ada komitmen untuk persalinan oleh nakes di fasilitas kesehatan.masyarakat disini lebih suka melahirkan di rumah. Pada beberapa daerah dengan geografis sulit seperti di kepulauan Aru dan Wakatobi pelayanan nifas dilakukan dengan kunjungan rumah oleh tenaga kesehatan. Jadi klo OH 78 . transport dari BOK dibayar tdk boleh lebih dari 30 hari (ini kendalanya). “. jika pasien dirawat sehari makan gratis sesuai paket Jampersal . mungkin merasa lebih enak di rumah. Aru). tapi ada beberapa masalah dalam pelaksanaannya sehingga menjadi temuan.. Pelayanan bayi baru lahir dilakukan pada saat lahir... Berbeda dengan Kab. 150.. Pelayanan nifas diintegrasikan antara pelayanan ibu nifas. bayi baru lahir dan pelayanan KB pasca salin.pada persalinan normal di puskesmas pasien dirawat antara 1 – 3 hari. Mereka harus dijemput oleh bidan desa untuk bersalin ke sarana kesehatan. temuan BPK.. dan pelayanan KB pasca salin.300. Untuk transport kunjungan rumah tersebut di Lombok tengah di biayai dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). padahal bs aja dlm sehari lebih dari 1 kunjungan/ KN 1 hari 3 kali (harus ada SPT dari kepala Puskesmas)...

Ada beberapa kabupaten/kota yang menerapkan inform consent untuk pelayanan Jampersal sampai dengan pelayanan KB. bukan termasuk KB diluar itu. terutama jika ada kasus. padahal penggantian Jampersal hanya Rp 100.” (kepala Puskesmas di Kota Bandung). 79 .lebih dari 30 hari tidak dibayar...kita hanya membatasi KB pasca persalinan. pasien lebih baik membayar sendiri. Sampang) Di Kota Kendari pelaksanaan KB paska persalinan belum dapat berjalan secara lancar karena masih adanya budaya di masyarakat yang belum mau ber KB sebelum 42 hari karena masa nifas dianggap belum perlu untuk menggunakan alat kontrasepsi. sedangkan permasalahannya penyediaan alat kontrasepsi terbatas oleh BKKBN.Jampersal di puskesmas puter setiap pasien yang menggunakan program harus menandatangai inform consent sampai menggunakan KB IUD. Beberapa bidan juga mengeluhkan adanya masalah rujukan ini.000. Walaupun ada di tetapkan pengisian informed consent untuk yang akan memanfaatkan Jampersal agar menggunaan IUD paska persalinan.. Untuk paket pelayanan KB belum semua kabupaten/kota menerapkan.. Hal ini menyebabkan lepasnya kesempatan untuk mendapatkan akseptor KB paska persalinan. bagaimana jika ternyata yang sudah terpakai ini sudah lebih dari Rp 100. Padahal klo KN harus dikunjungi.” (Dinkes.. masyarakat memilih untuk melepas Jampersal untuk dapat memanfaatkan KB suntuk dengan pembiayaan sendiri seperti diutarakan oleh kepala Puskesmas Puter. tapi secara umum di kabupaten / kota pasien lebih memilih KB suntik sebagai alat kontrasepsi. Namun beberapa pasien menolak memakai Jampersal ketika diharuskan KB dengan IUD. “.” (Bidan Kab Lombok Tengah).000. Di Kota Bandung pelayanan Jampersal untuk KB dapat dilakukan paska placenta langsung pasang IUD tapi masih ada masyarakat yang memilih KB suntik saja. “. Kab. Untuk jenis pelayanan alat kontrasepsipun masih bervariasi ada yang sudah secara tegas berani menetapkan kontrasepsi mantap (IUD) misalnya seperti di Puskesmas Puter di Kota Bandung.

. Aru). ibu hamil . mau buat anak berapa juga tetap gratis..4. ibu bersalin. Salah satu syarat sasaran yang memanfaatkan Jampersal adalah belum memiliki Jaminan persalinan. “.2. Tapi pada umumnya (sebagian provider) yang dilakukan wawancara mendalam dan FGD menerima program Jampersal dengan baik.kalau yang lalu ada yang tidak punya ktp sama sekali.” (Bidan Kota Blitar).. tapi juga dapat dimanfaatkan sasaran mampu. Terkait sasaran Jampersal sebagian besar provider memasalahkan dengan tidak adanya pembatasan pada sasaran yang tidak mampu / miskin saja. Misalnya untuk sakit jiwa dia melahirkan ya pakai surat itu saja. Pemahaman masyarakat sekarang dengan adanya jampersal masyarakat merasa enak.. terutama bagi masyarakat miskin yang bebas dari biaya persalinan.” (Bidan Kota Ambon).” (Bidan Kep. Biasanya langsung ke nakersos saja.beta maunya itu dibuat klasifikasi hanya diperuntukan anak pertama dan yang tidak masuk Askes saja. Kepesertaan / sasaran Sasaran Jampersal adalah kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi untuk mencegah AKI dan AKB dari suatu proses persalinan. Untuk yang terlantar dinas yang fasilitasi sama jamkesda. Batas waktu sampai dengan 28 hari pada bayi dan sampai dengan 42 hari pada ibu nifas adalah batas waktu pelayanan PNC dan tidak dimaksudkan sebagai batas waktu pemberian pelayanan yang tidak terkait langsung dengan proses persalinan dan atau pencegahan kematian ibu dan bayi karena suatu proses persalinan. Kota Balikpapan). Sasaran pengguna Jampersal adalah 1). “. Jika ada pasien mampu maka wajib bayar. tidak saja pada proses melahirkan tapi sampai pada biaya pelayanan ke rumah sakit jika ada yang komplikasi. ibu nifas sampai dengan paska persalinan 42 hari dan 4). nanti dia datang untuk dibuatkan surat terlantar.5. 80 .” (dinkes.. neonatal (0-28 hari)... 2).menurut saya jampersal harusnya untuk masyarakat yang tidak mampu. “. Supaya program KB berjalan dengan baik. “.program jampersal ini disambut baik. selain itu tidak adanya pembatasan jumlah anak sebagai sasaran Jampersal sebagian provider mengkhawatirkan akan menjadi berbenturan dengan program Keluarga Berencana. 3)..2.

Tapi hampir seluruh kabupaten/kota lokasi penelitian mempermudah persyaratan dengan cukup sasaran membawa surat keterangan domisili. Di kabupaten Kota persyaratan ini diimplementasikan bervariasi dengan tujuan memberi kemudahan pada sararan untuk memanfaatkan Jampersal. kartu mahasiswa. Kartu pelajar (Kab. Kita sbg bidan yang mengurusnya sampai kita mencari ke rumahnya ternyata rumanya sudah tdk ada krn banjir.. 81 . Menurut informan sebelumnya masyarakat merasa tidak berkepentingan untuk memiliki KTP. Batam).masalah Identitas ini (KTP/Kartu domisili) ini persoalan yang rumit dan menjengkelkan. “.” (Bidan Kota Ambon).4. Dibeberapa Kabupaten kepemilikan KTP untuk sasaran menjadi masalah. tp sampai melahirkan belum juga mengurus. karena masyarakat sering tidak mempunyai KTP. misalnya dengan memperbolehkan dengan hanya surat keterangan domisili. Syarat dan Mekanisme Klaim Sasaran Jampersal dapat memanfaatkan Jampersal dengan syarat dapat menunjukkan kartu identitas berupa Kartu tanda penduduk (KTP). karena ada pasien ibu hamil datang ANC dengan jampersal tetapi tidak membawa KTP atau identitas lain utk persyaratan klaim. untungnya bpk raja/lurah mengenalnya jadi bisa dibuatkan surat domisili. Kartu Keluarga (kota Ambon). Lombok Tengah).jika ada pasien seng punya KTP (tdk punya KTP).” ( Bidan Kota Ambon). 5. KTP suami (Kota Blitar). Lombok Tengah). masyarakat mulai merasa pentingnya untuk mempunyai kartu identitas..2.3. tidak punya KK maka langsung menjadi pasien umum dan harus bayar. KTP tdk ada bs dengan domisili tetapi disyahkan oleh camat.. KK juga harus disyahkan camat. paspor (Kab.. Baru ketika mengetahui bahwa untuk memanfaatkan Jampersal harus memiliki kartu identitas yaitu KTP. Surat Ijin Mengemudi (kab. “.Sebetulnya dari penjelasan diatas menunjukkan juga keterbatasan pemahaman bidan pada program Jaminan Persalinan terutama terhadap pelayanan KB yang merupakan satu paket dalam pelayanan PNC.

Sehingga dana yang sudah di klaim setelah cair ke fasilitas kesehatan/ puskesmas akan disetorkan kembali seluruhnya pada kas daerah. Besarkecilnya jasa medis yang diembalikan tergantung pada komitmen atau aturan yang berlaku di daerah tersebut. Adapun alur pembayaran klaim setelah disetor ke kas daerah digambarkan pada gambar 5. Dalam petunjuk teknis Jampersal 2012 diterangkan bahwa besaran jasa medis yang dikembalikan pada fasilitas kesehatan minimal 75%. Yang kemudian akan dikembalikan pada fasilitas kesehatan sesuai dengan besaran yang diatur dalam Perbup atau Perwali. maka status dana menjadi pendapatan fasilitas kesehatan/puskesmas yang belum menerapkan BLUD (kebetulan puskesmas yang menjadi lokasi penelitian kebanyakan adalah non BLUD). 82 . terdapat daerah yang lebih besar dari 75% tapi ada juga yang jauh lebih kecil dari ketentuan di petunjuk teknis. Setelah dana tersebut disalurkan Kementerian Kesehatan ke rekening Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab program (melalui SP2D). namun ada beberapa daerah yang masih beranggapan bahwa dana Jampersal masuk dalam rekening Pemerintah Daerah sehingga sering menimbulkan polemik di daerah. Dalam implementasi dilapangan secara umum kabupaten/kota melaksanakan alur dana seperti dalam petunjuk teknis. maka status dana tersebut berubah menjadi dana peserta Jamkesmas dan masyarakat penerima manfaat Jaminan Persalinan.10. Setelah hasil verifikasi klaim dibayarkan sebagai penggantian pelayanan kesehatan. terintegrasi (menjadi satu kesatuan) dengan dana Jamkesmas.Menurut petunjuk teknis Jampersal di kabupaten/kota dana Jampersal di pelayanan kesehatan dasar disalurkan ke Rekening Dinas kesehatan kabupaten/kota. Namun demikian pada kenyataannya tidak demikian.

10 Mekanisme Pembayaran klaim Jampersal di Pelayanan Dasar Di Kabupaten Sampang untuk proses klaim dimulai dengan verifikasi kelengkapan berkas .” (Bidan Kota Blitar)... Untuk persyaratan klaim berdasarkan nama pasien. sehingga kami tidak berani lagi mengeluarkan klaim jasa pelayanan jampersal. “. kelayakan.jasa pelayanan bidan harus melalui jalan yang cukup panjang untuk bisa dibayarkan. Kab Paser). kami mengeluarkan klaim sekitar 40% karena program jampersal tidak melalui kas daerah. berharap agar sistem klaim lebih di sederhanakan. tetapi hal tersebut menjadi temuan. partograf. jenis tindakan dan besaran tarif. Setelah itu direkap oleh pengelola Jampersal.bidan bisa menerima besaran jasa pelayanan. Teman-teman bidan secara sukarela menanggung biaya perjalanan dan penginapan saya ke wanci (ibukota wakatobi) saat mengurus klaim.Kalau tahun yang lalu 2011.Gambar 5. bukti kb dll.. Kab. jika kuitansi sudah lengkap bendahara Jampersal membuatkan STSR (surat tanda setor retribusi) akhirnya disetor ke kas Daerah sebagai PAD.. tidak ada potongan dari dinas kesehatan.” (Pengelola Jampersal. identitas. sedangkan berkas klaim yang lain dibawa kembali ke Puskesmas yaitu buku KIA. 83 .. Kami menerima dana jasa pelayanan penuh.” (Pengelola Jampersal. disimpan di Puskesmas. “. Dinas kesehatan sangat baik dalam membantu pencairan dana.. pengisian teknis. “. Aru). Kalau ada dana turun maka kami di puskesmas selalu diberi tahu bahwa dana jampersal sudah ada silahkan segera mengajukan klaim. dientry data soft ware Jampersal. setelah selesai diverifikasi.

soalnya petugasnya tidak stand by. Tapi untuk jumlah riilnya tidak tahu karena diakumulasi. Kota Bandung). 5000. Klaim untuk infus tidak diganti oleh Jampersal.” (Kepala Dinas. “.dalam mekanisme klaim di Balikpapan ketika uang sudah cair dan akan disetor ke Kasda maka dilakukan penyobekkan karrcis sebanyak jumlah uang yang di klaim. Dipotong untuk jasa lainnya tambah ppn. “. Kepala puskesmas keberatan karena tidak masuk akal 84 . Biasanya lewat tanggal 20 baru turun gitu. Untuk persalinan itu hanya terima Rp 50.000 untuk jasa... Hal ini disebabkan karena proses mekanisme keuangan daerah. Kalau mau klaim harus telpon dulu. “. kepala dinas kesehatan menetapkan verifikator di puskesmas.. Hal ini disebabkan banyaknya berkas yang harus diverifikasi tetapi jumlah tenaga verifikator terbatas dan merangkap tugas lain. Untuk menanggulangi masalah ini kepala Dinas Kab. Sampang melakukan percepatan dengan berkas yang harus diperbaiki akan dikembalikan pada puskesmas untuk perbaikan.. Mojokerto..Masalah dalam pengklaiman dibeberapa daerah ditemukan misalnya di kota Ambon. Jarak klaim sama pencairan tidak terlalu lama. Karena dengan keterbatasan tenaga verifikator di Dinkes sistem ini diharapkan klaim menjadi lebih cepat. Ada penggantian obat dan lainnya.. Pengajuan klaim dengan per bulan membuat ribet dan membuat repot. Di daerah uji coba penelitian Kab. Untuk klaim itu dikirim sebelum tanggal 10 bulan selanjutnya. Kota Bandung). Proses pengajuan klaim susah. “.. Klaim bisa satu minggu aja. tetapi berkas yang sudah ada di dinas Kesehatan tetap berjalan dan akan diganti setelah perbaikan sehingga proses tetap berjalan walaupun berkas ada perbaikan. Kab. Mojokerto) Proses pengembalian dana setelah dari kas daerah ke puskesmas juga sering sekali menjadi kendala lamanya uang cair ke provider.klaim untuk BPS tiap bulan cair dan tepat waktu.. Yang menjadi masalah adalah untuk pelayanan ANC karena biaya karcis untuk ANC menurut Perda Rp.maka setiap ada ANC dilakukan penyobekan karcis 4.” (Dinas kesehatan.” (Puskesmas.adanya tenaga verifikator di puskesmas yaitu bidan koordinator sebagai pelaksananya sehingga diharapkan dengan adanya verifikator di puskesmas akan membantu verifikator di Dinas kesehatan di Dinkes dalam melaksanakan tugasnya. Persyaratan klaim susah karena ada yang tidak punya KTP. Balikpapan antara lain adalah lamanya proses verifikasi di dinas kesehatan. Klaim BPS harusnya bisa diambil di Puskesmas.Puskesmas klaim ke DKK tapi uang tidak diterima puskesmas.

Namun sayang sekali tidak banyak bidan BPS yang dapat memanfaatkannya dikarenakan terkendala dalam pengurusan PKS dikarenakan tidak dapat memenuhi persyaratan terutama dalam pengurusan surat ijin praktek.-.-). dimana terdapat persyaratan yang ditentukan oleh profesi yang harus dipenuhi. 20...dengan frekuensi pemeriksaan 4 (empat) kali . PNC Rp.” (Puskesmas.” (Dinkes Kota Balikpapan). 5.4. Tapi sampai saat ini belum ada penjelasan pasti dari Dinkes.4. Di Kabupaten/kota lokasi penelitian besaran tarif persalinan menurut sebagian besar provider di layanan dasar sudah cukup bagus sesuai dengan perda (rata-rata antara Rp.. 20. Dari hasil penelitian didapatkan secara umum tidak ada masalah dengan besaran tarif untuk ANC..000 sampai dengan Rp.dengan frekuensi 4 (empat) kali dan tindakan pra rujukan Rp. 200.2. Besaran tarif pada bidan PKS pada umumnya diterima sesuai dengan petunjuk teknis yang berlaku. 100..000. Kota Balikpapan). Besaran Tarif Pelayanan Dalam petunjuk teknis besaran tarif Jampersal tahun 2012 untuk ANC menjadi Rp.000. Jika cair nanti besaran yang diusulkan dari Dinkes 75% untuk jaspel dan dana operasional di puskesmas (jika disetujui pemerintah kota). Untuk itu di beberapa kabupaten/kota seperti Batam dinas kesehatan untuk pelayanan Jampersal di layanan dasar mendorong BPS yang PKS diharapkan dapat memanfaatkan Jampersal. persalinan normal Rp.000.000. Untuk proses klaim dana Jampersal pada bidan BPS yang melakukan PKS dengan dinas kesehatan pada umumnya tidak ditemukan kendala dalam prosesnya.. puskesmas akan mengikuti aturan tersebut.dalam pencatatan 1 orang melakukan ANC 4 kali dalam sehari.700.000.500.sampai saat ini jasa pelayanan Jampersal untuk bidan puskesmas untuk tahun 2012 belum ada yang cair. “.. Proses cairnya juga lebih cepat dan lancar dibandingkan bidan di puskesmas dan jaringannya yang non BLUD. Lebih mudahnya proses klaim dan pencairan dana pada BPS dikarenakan tidak perlu melalui mekanisme keuangan daerah tapi langsung melalui dinas kesehatan. Walaupun di beberapa kabupaten/kota tarif Jampersal dibawah tarif yang 85 .

Sebetulnya dengan adanya Jampersal bidan merasa ada kepastian dalam pendanaan dari setiap pasien yang memanfaatkannya dan dapat melakukan subsidi silang. Bandung dll. kami menanganinya. kab. Paser).. Namun demikian menurut bidan dan ketua IBI (Ketua IBI Bandung) sebagai responden penelitian ini. Minta ditambah.” (Puskesmas.000 untuk persalinan oleh bidan.” (Bidan Kab.. Misal kalau ada kasus perdarahan maupun manual plasenta. paket pelayanan sudah cukup. tapi ternyata dibayar cuma sesuai dengan tariff di juknis. hanya saja tarifnya apa bisa ditingkatkan. Kota Batam). BHP dll. dengan tarif bidan yang tinggi.000. “..000. karena di sini semua lebih mahal dibandingkan dengan di jawa. makan minum pasien. klo boleh dinaikkan sedikit dg tarif 750 rb disesuaikan dg tarif umum. “.karena membayar dukun.. persalinan sampai PNC.keluhan bidan itu kurang sdh melayani pasien. Alasan perlu dinaikkan tarif tersebut karena menurutnya ada biaya lain yang perlu dibayarkan ketika menolong persalinan misalnya biaya dukun untuk pasien yang merupakan rujukan dukun.besaran tariff sudah cukup bagus sesuai dengan perda.. memberi makan pada pengantar pasien selama pasien dirawat melahirkan.menurut saya kalau persalinan normal. Bogor). krn BHP sendiri..berlaku pada umumnya di wilayah tersebut terutama untuk BPS misalnya seperti di Balikpapan.” (Puskesmas.sudah sesuai mulai dari ANC. maka bidan desa akan menerima 75% dari Rp 500. Hanya masalahnya tidak di semua kabupaten/kota klaim dapat cair dengan cepat dan lancar sehingga bidan harus mengeluarkan biaya yang cukup besar terlebih dahulu sebelum dana dapat dicairkan. Kalau persalinan yang mengalami kegawatdaruratan kita juga yang menangani. perda mengatur besaran persalinan oleh bidan sebesar Rp 350. dengan adanya paket jampersal untuk besaran tarif Rp 500. geografis dll ada yang mengusulkan untuk dilakukan regionalisasi pada tarif. “. tapi ternyata dibayar cuma segitu. untuk bahan habis pakai saja kami menghabiskan lebih dari 200. Untuk besaran tarif karena adanya variasi dari nilai fiskal daerah... 86 . kalo bisa sampe 700 rb.000.” (Bidan kab. Apalgi kalo di wilayah PKM galang ini wilayah kerjanya luas dan jauh2 jadi biaya tersebut juga sbg biaya transport bidan dalam menolong persalinan jika harus dipanggil ke rumah pasien. Sampang). Batam. jadi bidan hanya 400 rb. “. tidak semua pasien dapat membayar sesuai dengan tarif tersebut bahkan beberapa pasien di gratiskan karena tidak mampu membayar. maksudnya persalinan tanpa ada perdarahan.

3) sedangkan untuk BPS 100% menjadi jasa pelayanan.2.tarif jampersal lebih baik dibandingkan tarif puskesmas. tidak masalah dalam tarif Jampersal tetapi yang menjadi masalah adalah kurangnya akses transportasi dan mahalnya biaya transportasi serta terbatasnya sarana dan sumberdaya manusia yang ada..-.000.pada tahun lalu saat masih pakai tarif Pemda biaya persalinan Rp.4.1. Data penelitian ini di wilayah ini didapatkan di luar pembiayaan Jampersal terdapat juga pasien yang membayar biaya tambahan. Yang masih belum ada dalam jampersal adalah biaya untuk petugas pendamping saat melakukan rujukan.. Jasa Pelayanan Di dalam petunjuk teknis Jampersal tahun 2012 . Hal ini didukung adanya kesepakatan IBI bahwa bidan dapat menarik biaya tambahan kepada pasien dalam batasan tertentu. 87 . 350.000.. “.. 3. 2) Puskesmas BLUD setelah dana di klaim maka menjadi dana pendapatan/penerimaan fasilitas kesehatan .-.000.-.perlu ada regionalisasi tarif.. Aru dan kabupaten Wakatobi.bahkan di Kota Balikpapan untuk klas VIP tarif bidan untuk persalinan normal dapat lebih dari Rp.“. Di Kota Balikpapan dan Kabupten Paser. Wakatobi biaya transpotasi ke pelayanan kesehatan dapat jauh lebih mahal dibandingkan biaya persalinannya sendiri..5. sebab tarif persalinan tiap daerah berbedabeda. Sehingga untuk kabupaten kepulauan Aru. dimana tarif persalinan normal cukup tinggi yaitu lebih dari Rp. Kota Kendari). jasa pelayanan untuk persalinan ditetapkan untuk . Kab. Sehingga tarif Jampersal dianggap kurang memadai. Kota kendari).. 5.000.000. Jadi untuk tarif jampersal dirasa cukup. 500. sedang tarif umum tidak ada.” (Bikor.000. Berbeda untuk kabupaten kepulauan misalnya di kabupaten Kep. 1). Puskesmas non BLUD minimal adalah 75% dari tarif persalinan normal yaitu Rp. “.” (Dinas kesehatan.”(Puskesmas. Dengan demikian biaya transportasi merupakan faktor penting untuk mendapatkan pelayanan persalinan di fasilitas kesehatan. karena semua bidan di sini adalah bidan pemerintah 24 jam. Aru).

sehingga tidak dimungkinkan untuk menarik jasa pelayanan lagi. Walaupun demikian tidak semua daerah lancar dalam proses pencairannya terkendala masalah teknis misalnya di Sampang karena jumlah realita klaim Jampersal jauh lebih besar dari perencanaan Jampersal 2012.Dalam implementasi untuk BPS dan puskesmas BLUD jasa pelayanan dapat diterima dengan waktu yang relatif lebih cepat dan lancar dan dapat diterima 100%. Kota Batam karena sudah terdapat anggaran untuk jasa pelayanan untuk tenaga kesehatan. maka untuk mencairkan dana berikutnya diperlukan menunggu dana Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) sehingga bulan November baru dapat di cairkan. Blitar. yaitu dana disetor ke kas daerah kab/kota masing-masing. karena tidak melalui mekanisme keuangan daerah. tapi prosentase yang menjadi hak daerah saja yang disetorkan. Beberapa kabupaten/kota (Sampang. Batam) menerbitkan Perbup/Perwali untuk mengatur Jampersal. hanya masalahnya besaran jasa pelayanan dalam Perda jauh lebih rendah dari besaran jasa pelayanan Jampersal untuk persalinan normal. Wakatobi walaupun tidak mengeluarkan Perbup /Perwali mengikuti proses klaim juknis Jampersal 2011 yaitu penerimaan fasilitas kesehatan tidak disetorkan ke kasda keseluruhan. Ambon. Mataram. 88 . Lombok tengah. Di Kota Bandung untuk jasa pelayanan di puskesmas non BLUD mengikuti Perda yang ada tanpa membuat peraturan baru untuk Jampersal. Kota Blitar ketika Perwali terbit belum terdapat mata anggaran untuk menyetoran dan penarikkan kembali. Kabupaten Kepulauan Aru. Sedangkan untuk puskesmas non BLUD (semua puskesmas dalam penelitian ini adalah non BLUD) untuk dana Jampersal 2012 terkendala dengan mekanisme keuangan dimana setelah proses klaim dana yang telah menjadi pendapatan/penerimaan fasilitas kesehatan (Puskesmas) mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan.

4. Sampang) Provider (Bidan.” (RSUD. Tapi untuk yang sekarang sudah lebih jelas bahwa untuk semua kasus kehamilan akan ditanggung semua. Pemberi Layanan di Fasilitas Kesehatan Rujukan Dalam memberikan pelayanan di fasilitas kesehatan rujukan. SPOG) pada umumnya tidak mempermasalahkan paket pelayanan yang ditetapkan dalan juknis. Dalam penelitian ini dilakukan wawancara mendalam pada provider untuk mengetahui penerimaan terhadap Jampersal. Paket Layanan Di rumah sakit petunjuk untuk Paket layanan Jampersal pada umumnya adalah sesuai dengan petunjuk teknis yang ada.Jampersal bermanfaat terutama untuk masyarakat yang dulunya ke dukun sekarang ke nakes. provider pelaksana yang memegang peranan dalam pelayanan Jampersal adalah bidan rumah sakit dan SPOG. Provider tingkat lanjutan memberikan pelayanan untuk pasien rujukan yang tidak bisa ditangani oleh provider kesehatan tingkat pertama.. Namun kenyataannya tidak demikian.3. ditanggung oleh Jampersal.1.” (RSUD. karena banyak pasien yang tanpa rujukan langsung datang sendiri ke pemberi pelayanan tingkat lanjutan. Kecuali untuk kasus ginekologi. “. Kab.3. Sampang). Untuk paket pelayanan Jampersal semua kasus yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan.5. “.4... Disamping itu dengan kunjungan dokter obgyn ke puskesmas PONED secara bergiliran meningkatkan jumlah pasien ke RS demikian juga atas motivasi bidan dan pendampingan bidan jkia merujuk ke rumah sakit menyebabkan kunjungan ke RS juga menjadi meningkat. Kab. Provider di rumah sakit pada umumya mendukung kebijakan Jampersal dalam upaya mencapai target MDGs. tapi banyak provider yang tidak tersosialisasi dengan jenis paket pelayanan Jampersal. termasuk penyakit yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan yang dapat membahayakan jiwa ibu. Sejak ada Jampersal pasien di rumah sakit menjadi lebih banyak dari sebelumnya bisa sampai hampir dua kali lipatnya. 5.. Sering timbul masalah 89 . demikian masyarakat yang sebelumnya ada permasalahan dengan ekonomi.pada waktu awal pelaksanaan jampersal tahun 2011 untuk kiret dan KET terkadang mereka masih suka bingung ini masuk jampersal atau tidak.

nifas. Setelah persalinan biasanya pasien akan diserahkan kembali ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan pasca nifas. hal ini mengakibatkan adanya peningkatan jumlah pasien yang bersalin di rumah sakit.3. sebaiknya dilakukan pembatasan pada masyarakat tidak mampu dan benar-benar tidak mempunyai Jaminan. Sedangkan menurut juknis Jampersal menyatakan bahwa sasaran Jampersal 90 . Sedangkan pemberi pelayanan tingkat lanjutan adalah pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan spesialistik untuk pelayanan kebidanan dan bayi baru lahir kepada ibu hamil.2. di dalam Juknis disebutkan bahwa ibu hamil. Padahal. baik negeri maupun swasta). “. dan bayi baru lahir dengan resiko tinggi dan atau dengan komplikasi yang tidak dapat ditangani pada fasilitas kesehatan tingkat pertama yang dilaksanakan berdasarkan rujukan atas indikasi medis. Untuk pelayanan KB paska Nifas tidak semua RS mengetahui. 5.Belum ada ketegasan program jampersal yang mengharuskan peserta jampersal harus ikut KB.” (NN. Kebanyakan di sini pasien yang datang persalinan dengan komplikasi atau penyulit.. Bila demikian apakah target untuk menurunkan AKI bisa tercapai? Seharusnya program jampersal harus tegas di ikuti dengan program KB..4.dalam pengklaiman jika ada pasien Jampersal yang dirujuk dari pelayanan dasar karena komplikasi tetapi di rumah sakit dapat bersalin secara normal. dan banyak yang memanfaatkan program jampersal ini untuk sering hamil (pumpung gratis) tanpa memperdulikan masa depan anak dan ibunya yang apabila sering melahirkan dan banyak anak akan lebih beresiko. ibu bersalin dan ibu nifas yang ingin mendapatkan pelayanan Jampersal dilayani oleh pemberi pelayanan di tingkat pertama. bersalin. akibatnya banyak peserta yang tidak mau ikut KB . Pelayanan pasien Jampersal sama dengan pelayanan untuk pasien umum. Hal ini perlu karena pengguna Jampersal ternyata banyak dari masyarakat yang mampu dan sudah mempunyai jaminan kesehatan lain misalnya Askes. Kendala lain yang dihadapi adalah pasien kadang tidak mau bersalin di pemberi pelayanan tingkat pertama. RSUD). mereka langsung bersalin di pemberi pelayanan kesehatan tingkat lanjutan (dalam hal ini rumah sakit. Kepesertaan Untuk sasaran Jampersal di rumah sakit.

kartu domisili. 5. Sampang).3.. Sampang).hambatannya sebetulnya tidak ada. Aru).adalah ibu dan bayi yang belum mempunyai jaminan kesehatan.. Karena yang menerima di depan tidak tahu tentang teori. dimana pemberi pelayanan kesehatan baik di tingkat pertama maupun lanjutan menerima pasien yang berasal dari daerah manapun.” (Pengelola. RSUD). Sasaran dapat memanfaatkan Jampersal di fasilitas rujukan dengan membawa KTP. RSUD ).3.. Jadi dikhawatirkan ini akan menjadi tumpang tindih dengan asuransi lainnya. “. Persyaratan pengajuan klaim yang penting sudah ditanda tangani verifikator independen dan direktur. Kepesertaan Jampersal berlaku prinsip portabilitas. Klaim diajukan ke pusat melalui kurir & konfirmasi dari pusat via telpon. Syarat Klaim Pengajuan klaim di rumah sakit pada umumnya disesuaikan dengan juknis yang ada. partograf dan buku KIA ( RSUD Mataram).” (Pengelola Jampersal. banyak pengguna Jampersal telah memiliki jaminan kesehatan. “. Seharusnya partograf hanya untuk kasus persalinan letak kepala pada fase aktif pada fase laten tidak bisa mengisi partograf.. “.yang perlu di di klarifikasi adalah masalah partograf .pihak rumah sakit berharap adanya pembatasan dalam hal kepesertaan. Kab. buku nikah. Ini menjadi masalah kalau partograf menjadi syarat yang diwajibkan untuk pasien jampersal. persyaratannya KTP dan rujukan. karena pada prinsipnya jampersal adalah bagi seluruh masyarakat yang melakukan persalinan di kelas III. KK.semua ibu yang tidak memiliki kartu Jamkesmas dan Jamkesda.. Terkadang saya kasihan ke pasien karena mereka tidak mengerti karena masalah ini ditolak sehingga harus wira wiri.” (RSUD. kartu pelajar.4. keterangan RT.sungsang ini tidak masuk akal. Kab. Kep. mengapa setiap persalinan harus ada partografnya padahal untuk kasus letak lintang. namun pelayanan yang dinginkan tersebut tidak lagi ditanggung dalam paket pelayanan asuransi yang diikutinya.. SIM. tetapi tetap tidak bisa menolak. Kab. tetapi banyaknya masyarakat yang mampu tetapi masih menggunakan fasilitas jampersal.. 91 .” (SPOG. Karena terkadang ada pasien yang memiliki askes tapi untuk anak ke 4 mau ditanggung dengan jampersal.. Selain itu pasien membawa rujukan. Namun dalam kenyataannya. “. RW/ Kelurahan bahwa ybs tidak mampu (RSUD.

”(verifikator independen. pendapatan/penerimaan kesehatan (Rumah selanjutnya pengelolaan serta penggunaan danpemanfaatannya dilakukan dengan mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan. biasanya kami padukan dengan bagian verifikator independennya. Sedangkan dana yang telah menjadi pendapatan/penerimaan jasa layanan (Rumah Sakit/Balkesmas BLUD) maka pendapatan jasa layanan tersebut dapat langsung digunakan dan dimanfaatkan sesuai RBA/DPA-BLUD. Yang menjadi kendala dalam hal ini adalah feed back yang kadang-kang terlambat.. Besar jasa pelayanan pada provider (pemberi layanan) hendaknya memperhatikan maksud pemberian insentif yaitu untuk akselerasi tujuan 92 .. Sampang). Dalam juknis dinyatakan fasilitas bahwa dana yang telah Sakit non menjadi BLUD). “.” (SPOG.4.persyaratan jampersal lebih mudah daripada jamkesda. Yang diperiksa oleh verifikator adalah : KTP. kota Bandung). Tahun 2011 klaim lebih lancar dibandingkan tahun 2012. termasuk di dalamnya adalah jasa pelayanan. jadi setelah pasien masuk. 5. Biasanya berkas klaim yang dikirim itu ada dalam bentuk software tapi juga print. kemudian di data sesuai dengan syarat yang ada kemudian di input datanya kemudian diperiksa kelengkapannya jika sudah sesuai maka akan di tandatangani oleh direktur selanjutnya berkas klaim tersebut dikirim ke Pusat oleh petugas administrasi pelayanan terpadu di rumah sakit.Mekanismenya.outnya dikirim. Disini ketidak tahuan pihak rumah sakit bahwa laporan tidak perlu menunggu feedback dari P2JK. Besaran Tarif Pelayanan dan Jasa Pelayanan Tarif pelayanan Jampersal di rumah sakit berdasarkan tarif INA CBG’s..3. Dulu dalam satu tahun itu bisa 4 sampai 5 kali klaim.4. sehingga kami juga sering terlambat dalam membayarkan jasa medik. “. Selanjutnya kami tinggal menunggu feedback dari Pusat untuk bisa mengambil uang atas klaim yang sudah dikirimkan tersebut. surat rujukan dari Puskesmas atau bidan. surat jaminan pelayanan yang dibuat oleh pihak RS..klaim Jampersal dikirimkan ke P2JK menjadi satu dengan klaim Jamkesmas. Kab.

dana yang ada masuk ke daerah dan kami nanti akan mendapat japel sebesar 44% sesuai perda yang ada.. belum untuk bahan habis pakai.yang saya tahu..2 atau 1.. 93 .” (bidan RS.” (SPOG. tapi dengan jampersal kan hanya 1. Ada potongan dimana-mana karena masalah birokrasi.. Masa 1 sectio saya dibayar 150.tidak manusiawi.” (Pengelola Jampersal RS. “.” (SPOG. “. Wakatobi)..000 .tarif sedikit.083. Ini masalah personal.000. RSUD). supaya pelayanan juga bisa lebih maksimal. kalau tariff sectio dinaikkan mungkin juga dr. Bedanya sampai 1 juta per pasien. RSUD).. Disatu sisi tariff kecil dan di sisi lain mengutamakan kemanusiaan. Pengaturan mengenai jasa pelayanan/jasa medik tersebut dilakukan sesuai dengan ketentuan yang mengatur mengenai hal itu. Besaran Jasa pelayanan kesehatan (total) ditetapkan oleh Kepala Daerah atas usulan Direktur Rumah Sakit dengan setinggitingginya 44% atas biaya pelayanan kesehatan yang telah dilakukan. dan bahan habis pakai. karena kalau tidak salah tarif untuk jasa pelayanan rasanya masih kurang sesuai dengan yang standarnnya. lalu bagaimana bayar pelayanan dan perawatan. kab. Itu aka diterimakan antara 3 sampai 6 bulan sekali. apa itu manusiawi..083. ya kalau bisa dinaikkan menjadi 4 sampe 5 juta lah.. “. biasanya kalau pelayanan sectio itu kan antara 6 sampai 7 juta ya..8 juta lah. Besaran Jasa medik untuk untuk bidan.. Kota Ambon).program dan tujuan MDG’s. Karena biaya itu kan juga termasuk untuk keperluan lainnya seperti obat. apa itu masuk akal dan pikiran? Apa yang buat ini tidak berpikir. karena terlalu rendah.000 itu Cuma habis untuk obat saja. bisa-bisa partus fisiologis tidak ada lagi kalau jasa sectio di naikkan. SPOG dan semua tenaga di RS Jampersal RS mengacu pada peraturan (44%). Itu juga saya heran yg menentukan tarif di pusat koq bisa sectio itu keluar angka 2. namun kalau boleh kami memberikan saran. jadi yang diterima nakes kecil. Yang menjadi masalah adalah besaran tarif yang berlaku (INA-CBG’s) sebagian provider rumah sakit menyatakan besarannya sudah tidak sesuai dengan kondisi sekarang..pembiayaan Jampersal selama ini ya berjalan sesuai dengan aturan yang ada ya dari pemerintah sesuai dengan INA CBGs. “.” (NN.dokter obgyn tidak terlalu mempermasalahkan karena takut mengungkap. Sepaket 2. Pada implementasi di RSUD kabupaten / kota penelitian berjalan seperti aturan yang berlaku. harus ikhlas.. jadi tarifnya memang masih jauh di bawah standartnya. Kota Bandung). Obgyn sectio semua. “.

” (RS.tarif dinaikkan tapi jangan terlalu tinggi sehingga membahayakan profesi maksudnya kalau terlalu tinggi. maka para bidan.000 – 1250000. masih terjangkau masyarakat untuk pasien kelas 3.obgyn dapat 300 ribu per sectio tapi kalau kena tuntutan hukum bisa kena denda sampai 300 juta. Terdapat juga rumah sakit yang mengenakan tarif tambahan pada pasien Jampersal yang dianggap mampu dengan melakukan pendekatan terlebih dahulu terhadap pasien... Dokternya hanya dapat 750. khawatir nanti pasien bisa di sectio semua Atur incentive yang lebih baik.2 jt. Contoh: kasus angina pectoris.menurut saya standarnya untuk paket standar kelas 3 itu 5. Didaerah tarif Jamkesda bervariasi ada yang menggunakan INA-CBG’s adapula yang menggunakan tarif Kelas III. SPOG. Untuk RSUD yang menggunakan tarif Kelas III.apabila tahu bahwa standar penggantian biaya oleh Jampersal lebih rendah dari standar penggantian biaya oleh JKP.. RSUD). Kota Blitar). 94 .. dokter dan tenaga dokter spesialis Obgyn kami menjadi kurang tertarik pada Jampersal. “. pihak rumah sakit lebih senang memanfatkan dengan tarif tersebut karena dianggap lebih sesuai (tarif jauh lebih tinggi dari tarif Jampersal) sehingga sering terjadi masalah dengan pasien yang menggunakan Jampersal. premature dan tindakan lain yang lebih beresiko juga 1..” (dr. Tarif untuk pasien-pasien dengan tindakan sangat kecil dibandingkan dengan yg tanpa tindakan... Kota Kendari). “. Kota Ambon).” (RS. Itu kalau di swasta standar tarifnya itu. asthma dan diare bisa di klaim dengan tariff sampai dengan 1.000 .2 juta sama dengan tarif tindakan sectio.” (SPOG.RSUD selain melayani Jamkesmas dan Jampersal juga melayani Jaminan kesehatan daerah (Jamkesda).. “.000. “. itu sudah pas-pasan.

Sarana dan Sumberdaya manusia yang memberikan Pelayanan Jampersal Jumlah Fasilitas dan SDM No Kab/Kota 1. Wakatobi Balikpapan Paser Batam Natuna 19 26 17 15 12 8 5 10 12 10 129 437 145 85 165 100 27 118 74 65 1 1 1 2 1 *Bidan Dinkes : Bidan puskesmas dan Bidan Desa Sumber : Dinas Kesehatan dan www. 6. 3.5. 4. KETERSEDIAAN (AVAILABILITY).2. 8. 7.depkes.go. Sampang Blitar Mataram Lombok Tengah Bandung Bogor Ambon Aru Kendari Puskesmas 21 3 10 25 73 101 22 21 15 Kec 14 3 6 12 30 40 5 7 10 Bidan Kelurahan Dinkes* 299 40 78 193 347 702 109 42 123 186 21 50 124 139 426 50 119 64 BPS “PKS” 45 9 5 155 39 1 tdk ada data 90 4 92 - RS Pemerintah 1 1 1 1 3 4 1 1 1 10. 13. AKSES (ACCESSIBILITY) TERHADAP SARANA DAN PRASARANA. Dinas kesehatan melakukan MoU dengan mebuat Perjanjian kerjasama (PKS) dengan bidan praktek swasta (BPS). Tabel 5. Bidan merupakan ujung tombak dalam memberika di pelayanan kesehatan ibu dan anak di pelayanan dasar.5. 12. Disamping itu untuk Jampersal. 14.1 Sarana dan Prasarana Pelayanan Dasar dan Rujukan Dalam rangka mencapai target MDG’s untuk menurunkan AKI dan AKB perlu ditunjang sumberdaya manusia di bidang kesehatan. Di setiap desa diharapkan terdapat satu bidan desa yang dapat melayani wilayahnya. rumah sakit pemerintah dan swasta. Klinik bersalin. Di kabupaten/kota lokasi penelitian ketersediaan sarana dan prasarana seperti terlihat pada tabel dibawah ini.id 95 . sarana dan prasarana yang memadai. SDM TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN 5. 2.5. 11. 5. 9.bppsdmk.

. Kota Ambon. tetapi pada kenyataannya terutama di kab. kabupaten Bogor. Penyediaan pelayanan kesehatan tingkat pertama di puskesmas PONED di kota misalnya di kota Blitar dan Kota Bandung puskesmas PONED masih terbatas sarana dan sumber daya manusianya. bahkan Kabupaten Lombok Tengah. tetapi jumlah bidan hanya 42 orang.Di semua kabupaten/kota lokasi penelitian di tiap kecamatan sudah terdapat sedikitnya satu puskesmas. Kabupaten kepulauan Aru). Kabupaten Kepulauan Aru (keterbatasan SDM) dan Kabupaten Paser (belum ada BPS yang mendaftar).” (Pengelola Jampersal. Sisanya tidak karena memang pada waktu itu tidak ada tenaga bidannya. Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011 Maluku. Kompetensi bidanpun masih perlu untuk ditingkatkan.. Sulawesi Tenggara dan kepulauan Riau diatas rasio bidan Nasional. Kabupaten Wakatobi. Persentase puskesmas PONED yang mempunyai kurang 96 . hanya 9 puskesmas yang memanfaatkan dana jampersal. Dari wawancara dengan pengelola Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten kepulauan Aru menyatakan sbb: “. Apalagi lokasi di kabupaten penelitian. Dalam pelaksanaan Jampersal untuk pemenuhan fasilitas layanan kesehatan tidak semua kabupaten/Kota mempunyai perjanjian kerjasama antara Dinas kesehatan dan BPS seperti Kabupaten Lombok Tengah (Dinas kesehatan belum membuka kesempatan ini).pemanfaatan dana jampersal pada tahun lalu bisa dibilang rendah. Kepulauan Aru jumlah bidan kurang. Hal ini dikerenakan pendistribusiannya tidak merata. baik itu dokter maupun bidan. Kabupaten Kepulauan Aru. Jika dilihat daridata rasio bidan menurut Badan PPSDMK. Kota Bandung. bahkan satu desa terdiri dari beberapa pulau. Hanya saja yang perlu diperhatikan di kabupaten kepulauan satu kecamatan bisa terdiri dari beberapa pulau. selain itu perlu juga diperhitungkan dengan luas wilayah dan geografis di wilayah. Karena dari 22 puskesmas yang ada. padahal yang memberikan pelayanan jampersal kan seorang bidan. Kota Balikpapan dalam satu kecamatan terdapat 2-3 puskesmas. Jumlah desa di kabupaten kepulauan Aru lebih banyak daripada jumlah bidan yang ada yaitu terdapat 119 desa. Sekarang di tahun 2012 ini mulai ditempatkan tenaga bidan honorer.

dari 20% jenis alat kesehatan PONED di perkotaan 31. SPOG terutama di kabupaten. Fasilitas rujukan terutama di kabupaten juga masih menjadi kendala dimana minimnya fasilitas dan SDM kesehatan terutama keterbatasan dr. bahkan di Kota Bandung walikota menlaunching jejaring pemberi pelayanan di Pemerintah Kota dengan melibatkan RS Swasta di wilayahnya. poskesdes maupun pustu. Di rumah sakit kabupaten Lombok Tengah dan kota Ambon terdapat keterbatasan prasarana seperti tidak adanya ruang recovery untuk pasien paska operasi (Lombok tengah). Dana untuk pengadaan sarana dan prasarana di fasilitas tersebut berasal dari APBD. Kota Ambon). Kota Kendari) Di kabupaten / Kota rumah sakit pemerintah menjalin perjanjian kerjasama sebagai fasilitas rujukan Jampersal. Propinsi dan Pusat.” (Puskesmas.6% sementara di perdesaan 21. peralatan di ruang ICU (Lombok Barat. SPOG.”(Direktur RSUD Paser). Karena sarana dan prasarana di semua fasilitas kesehatan tersebut sudah dilengkapi. “.mengatakan tidak tahu dan belum pernah sekalipun di RS mendapatkan sosialisasi tentang Jampersal baik dari Dinas Kesehatan Kabupaten. Bahkan dibeberapa kabupaten/kota sudah menjalin perjanjian kerjasama dengan RS Swasta misalnya Kabupaten Lombok Tengah (RS Yatopa). 2011)...puskesmas PONED dengan satu tenaga dokter dan bidan yang sudah mendapat pelatihan PONED. Sementara Rumah sakit Pemerintah di Kabupaten Paser menyatakan belum melakukan perjanjian kerjasama untuk Jampersal karena belum tersosialisasi Jampersal. Inovasi dilakukan di Kabupaten Wakatobi dengan memberikan kebebasan supaya masyarakat melahirkan di fasilitas kesehatan selain puskesmas. Untuk sarana sebagai puskesmas PONED masih dirasakan kurang. Tenaga perawat (Lombok tengah) dan dr. 97 . bisa melahirkan di polindes. sehingga belum melayani pasien dengan Jampersal.7%. Kota Batam (RS Camatha Sahidya). “. Yang sementara ini ada dan sedang berjalan di RS untuk pelayanan masyarakat miskin atau tidak mampu adalah Jamkesmas dan Jaminan Kesehatan Paser (JKP)... (RIFASKES.

penyebab kematian ibu juga karena sarana prasarana yang tidak memadai. di beberapa kabupaten/kota menjadi Dinas Pemberdayaan Perempuan 98 . Di kabupaten/kota lokasi penelitian secara umum proses penyediaan alat kontrasepsi pada pelayanan KB di Puskesmas melalui BKKBN. Tapi listrik itu yang masalah. Kota Ambon). ventilator yang kurang dsb. Lagipula untuk sectio kan tidak perlu banyak fasilitas.” (dr SPOG. “. Lombok Tengah). Dimana mekanismenya adalah Puskesmas membuat rencana kebutuhan alat kontrasepsi kepada SKPD pengelola program KB yaitu BKKBN atau Dinas pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana. diruangan harus diawasi oleh perawat. pengawasan post operasi yang baik. Lombok Tengah). ruangan ICU. Tapi saya belum pernah ke sana jd tidak tahu apa ada sarananya. SPOG / PPDS yang sedang menempuh pendidikan.” (dr.” (dr.. Bekerjasama dengan Fakultas kedokteran untuk tenaga kontrak dr. maka Puskesmas mendistribusikan alat tersebut ke bidan desa di wilayahnya. SGOG.. Yang menjadi masalah saat ini adalah ketersediaan alat kontrasepsi di layanan dasar masih kurang.. Setelah mendapatkan alat kontrasepsi. Perencanaan kebutuhan alat kontrasepsi dilakukan pada level Puskesmas ke pengelola KB atau petugas lapangan KB (PLKB) tingkat kecamatan. peneliti tidak dapat menemui dr tersebut dikarenakan tidak berada di tempat (di luar wilyah kabupaten tersebut). SPOG/ PPDS) tidak sepenuhnya “stand by” 24 jam di rumah sakit. “. Seperti contoh ketika peneliti pengumpulan data di salah satu RS di Kepulauan selama 1 (satu) minggu. bagaimana dia mau care dengan pasien.Untuk mengatasi kekurangan tenaga beberapa daerah merekrut tenaga honorer misalnya di Lombok Tengah untuk tenaga perawat. Dengan SKPD BKKBN di kabupaten/kota saat ini tidak selalu berdiri sendiri. Dan tenaga tersebut (dr. “.. sekarang sudah lumayan dulu-dulu PLNnya kan bermasalah. SPOG. Tetapi disini kebanyakan perawat di ruangan adalah honorer yang gajinya hanya 250 ribu. Dinas Kesehatan Kabupaten hanya menerima laporan dan rekapitulasi dari Puskesmas.resinden ada di aru ada di tual d saumlaki juga ada.. Dokter setelah melakukan operasi diserahkan ke ruangan. mulai pada saat setelah tidakan.sebenarnya kematian itu dapat dikendalikan apabila tim work yang baik. Jadi perencanaan tersebut tidak dilakukan di level Kabupaten..

. Kota kendari). Kab..seperti di Kepulauan Aru tidak ada BKKBN yang melayani kebutuhan Keluarga Berencana. “.. “. kami selalu mem otivasi klien utk ikut KB sehingga hasilnya banyak yg bersedia ikut KB.” (Bidan RS. suntik. implant. Bogor). tapi menjadi Dinas Pemberdayaan Perempuan dimana salah satu bidangnya menangani KB. MOW. pil . demikian juga SDM terlatih baik sesuai SOP.ketersediaan alat.” (Puskesmas. laparatomi. obat dan sarana lain yang dibutuhkan masih kurang. 99 .Alat kontrasepsi tersedia semua IUD.. terlatih untuk pemasangan IUD danalat KB lain.

11. Ruang ICU.Gambar 5. tempat cuci kamar Operasi di Ruang Kandungan dan Kebidanan RSUD di Ambon 100 .

Ruang rawat Inap pasien Jampersal di Rumah Sakit 5.Wakatobi dan Natuna) sebagian besar jarak ke pelayanan dasar adalah <5 km. Bogor.12.5. Namun demikian perlu diperhatikan geografis pada lokasi kabupaten daerah pegunungan / bukit dimana untuk mencapai lokasi memerlukan waktu lebih lama dikarenakan harus ditempuh dengan roda dua atau bahkan jalan kaki. bahkan di beberapa daerah alat transportasi tidak tersedia setiap saat.2 Aksesibilitas jarak Aksesabilitas jarak adalah jarak yang ditempuh responden yang menggunakan Jampersal dari rumah ke pelayanan kesehatan yang di manfaatkan saat menggunakan Jaminan persalinan. Kota Bandung. 101 . Kota Batam) dan ”kepulauan” yaitu dimana letak pelayanan dasar dengan wilayahnya dapat berbeda pulau (Kota Ambon. Kota Blitar. Dari gambar dibawah nampak antara aksesabilitas di kabupaten/kota “non kepulauan“ yaitu kabupaten yang letak pelayanan dasar dengan wilayahnya terletak satu pulau (Sampang. Demikian pula kabupaten kepulauan dimana untuk mencapai fasilitas harus melalui transportasi laut sehingga menyebabkan waktu tempuh dan biaya menjadi kendala tersendiri. Lombok Tengah. Kepulauan Aru. Balikpapan. Kota Mataram. Paser. Kota Kendari.Gambar 5.

102 .14 Jarak ke pelayanan kesehatan pada pengguna Jampersal di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Untuk menggambarkan akses ke pelayanan kesehatan terutama di kabupaten kepulauan seperti Kepulauan Natuna. maka seluruh kabupaten di propinsi ini adalah sebuah kepulauan. Kabupaten Kepulauan Natuna Kabupaten Kepulauan Natuna merupakan salah satu wilayah dari Propinsi Kepulauan Riau.13 Jarak ke pelayanan Kesehatan pada pengguna Jampersal di kabupaten/Kota “non kepulauan” Gambar 5. Kepulauan Aru dan Wakatobi dijelaskan lebih lanjut dibawah ini. Sesuai namanya. sehingga dapat menggambarkan bagaimana akses masyarakat dalam upaya mendapat pelayanan.Gambar 5.

Gambar 5.15. Peta Wilayah Provinsi Kepulauan Riau

Kabupaten Natuna, kabupaten kepulauan yang memiliki banyak lanscape view yang sangat cantik ini merupakan salah satu wilayah paling Utara Republik ini yang berbatasan laut langsung dengan negara tetangga Vietnam dan Kamboja. Dengan posisinya yang demikian, maka Kementerian Kesehatan menempatkan Kabupaten Natuna sebagai salah satu Kabupaten DTPK (Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan). Gambaran kondisi ketertinggalan wilayah kabupaten kepulauan ini bisa dilihat dari ketersediaan sarana komunikasi yang ada. Untuk sambungan telepon tetap (fixed landlines), hanya tersedia di sekitar Ranai sebagai ibukota kabupaten ini saja. Untuk wilayah lain yang berupa kepulauan hanya tersedia jaringan telepon seluler bila beruntung. Di wilayah Pulau Subi dan Pulau Midai misalnya,

103

sinyal cukup sulit untuk didapatkan. Sedang di wilayah Serasan Timur tidak usah berharap akan ada sinyal yang sampai. Untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Natuna, tersedia dua jalur transportasi. Yang pertama adalah jalur udara melalui Batam ke Ranai (ibukota Kabupaten Kepulauan Riau). Saat ini ada Wings Air dan Sriwijaya Air yang melayani jalur ini dua atau tiga kali seminggu. Yang kedua adalah jalur laut. Sama dengan jalur udara, jenis transportasi ini juga tidak tersedia setiap hari. Berdasarkan pengamatan, ketersediaan tranportasi untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Natuna relatif mudah, terutama untuk mencapai ibukotanya, Ranai. Tapi, justru dari Ranai menuju ke wilayah lain dari Kabupaten Natuna perlu effort khusus yang cukup menguras tenaga, biaya dan waktu. Hal ini juga akan sangat berkaitan erat dengan aksesibilitas pelayanan kesehatan di wilayah ini. Untuk seluruh wilayah Kabupaten Natuna fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia bisa dibilang hanya ada pelayanan dasar saja. Kecuali di ibu kotanya, Ranai, yang telah ada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Natuna sebagai satu-satunya rumah sakit sebagai pusat rujukan tingkat kabupaten. Secara kuantitas, sebenarnya untuk tenaga kesehatan telah lebih dari cukup tersedia. Untuk tenaga bidan misalnya, telah ada 108 bidan di wilayah ini. Dengan jumlah desa dan kelurahan yang hanya 73 maka seharusnya semua desa telah bisa terisi tenaga bidan. Tapi kenyataannya menurut Kabid Yankes Dinas Kesehatan, ada beberapa desa yang kosong tanpa hadirnya bidan. Bagaimana tidak? Dari 108 bidan tersebut, sejumlah 70-an bidan menumpuk di Ranai. Berbicara tentang aksesibilitas fasilitas kesehatan di kepulauan, tidak akan pernah terlepas atau bahkan sangat tergantung dengan ketersediaan sarana transportasinya. Bentangan Kabupaten Natuna yang beribukota di Ranai, dengan wilayah paling Utara di Pulau Laut, serta dengan wilayah paling Selatan di

104

wilayah Pulau Subi dan Serasan, sungguh memerlukan banyak energi dan kesabaran untuk mencapainya. Paparan berikut diharapkan mampu memberi sedikit gambaran tentang beberapa jalur transportasi serta ketersediaan sarana transportasinya, berdasarkan hasil wawancara dengan Kabid Yankes Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna. A. Jalur Pulau Laut-Ranai; memerlukan waktu tempuh sekitar 8 jam perjalanan dengan kapal besi reguler dari Pelni. Tarif sekitar Rp. 100.000,-, dengan frekuensi sekitar 10-15 hari sekali. Jalur ini juga bisa ditempuh dengan kapal kayu (tongkang), yang bila beruntung kita bisa nebeng kapal barang dengan tarif sekitar Rp. 120.000,-, atau bila mau sewa sendiri dengan tarif lima sampai belasan juta, tergantung besaran kapal kayu, yang berarti juga bergantung dengan tingkat keamanannya. B. Jalur Serasan-Ranai; jalur ini dilewati oleh kapal Pelni Bukit Raya yang memerlukan waktu tempuh sekitar 8 jam perjalanan menuju Ranai. Dengan tarif sekitar Rp. 120.000,- jalur perjalanan ini juga tersedia dalam frekuensi sekitar 15 hari sekali. C. Jalur Pulau Subi-Ranai; hampir sama dengan tarif di dua jalur sebelumnya, cukup murah, hanya dalam kisaran Rp. 120.000,- saja, tapi dengan jarak tempuh yang bisa mencapai 24 jam perjalanan.

Kabupaten Kepulauan Aru Kabupaten Kepulauan Aru merupakan salah satu wilayah dari Propinsi seribu pulau, Propinsi Maluku. Meski sebenarnya julukan ini kurang pas dibandingkan faktanya. Propinsi seribu pulau. Untuk Kabupaten Kepulauan Aru saja jumlah pulaunya sudah mencapai 547 pulau, belum ditambah dengan pulaupulau kabupaten lain di wilayah yang bersebelahan dengan Pulau Papua ini.

105

Gambar 5.16 Posisi Kabupaten Kepulauan Aru di peta Indonesia

Untuk mencapai kabupaten kepulauan ini selain dengan jalur laut juga bisa dilakukan dengan pesawat. Satu-satunya pesawat maskapai yang beroperasi dan mau mendarat pada tahun 2012 ini di pulau tersebut adalah Trigana Air, setelah sebelumnya dua maskapai lainnya (Merpati dan Wings Air) menarik diri dari jalur tersebut. Jalur pesawat terbang yang harus kita dilalui untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Aru dari Kota Ambon adalah Ambon-Tual-Dobo. Kota Tual adalah kota yang sebelum memisahkan diri masih merupakan ibukota Kabupaten Maluku Tenggara. Jarak tempuh terbang Kota Ambon-Kota Tual mencapai 90 menit, dan jarak tempuh Kota Tual-Dobo mencapai 25 menit. Bila perjalanan tersebut kita tempuh melalui jalur laut dari Kota Ambon, maka kita bisa semalaman terapung di lautan. Bila kita membayangkan mencapai kabupaten kepulauan ini sulit, maka sesungguhnya mencapai wilayah kerja di kepulauan ini jauh lebih sulit lagi. Jalur laut adalah jalur transportasi satu-satunya, yang untuk mencapainya sangat tergantung dengan kondisi angin laut yang seringkali sangat tidak bersahabat.
106

Iklim dipengaruhi oleh Laut Banda, Laut Arafura dan Samudera Indonesia, juga dibayangi oleh Pulau Irian di Bagian Timur dan Benua Australia di Bagian Selatan sehingga sewaktu-waktu bisa terjadi perubahan iklim yang ekstrim. Untuk sarana komunikasi, kondisi Kepulauan Aru sudah cukup baik untuk golongan DTPK. Sudah ada jaringan Telkom dan komunikasi seluler. Telkomsel sebagai satu-satunya provider yang bernyawa di daerah ini telah hadir dengan sinyal cukup kuat, meski terbatas hanya jaringan GSM. Setidaknya saya masih bisa memberi kabar orang rumah bahwa saya masih baik-baik saja.

107

tapi lebih dikarenakan terlalu banyaknya kepulauan yang menjadi wilayah kerja Dinas Kesehatan di sana.Gambar 5.17 Peta Wilayah Kabupaten Kepulauan Aru Melihat gambar peta di atas sepertinya Aru terdiri dari satu pulau besar dan beberapa pulau kecil. Banyaknya jumlah puskesmas dibanding dengan jumlah kecamatan bukanlah dikarenakan kabupaten kepulauan ini kaya raya. 108 . Kabupaten Kepulauan Aru memiliki 7 (tujuh) kecamatan dengan jumlah puskesmas mencapai 21 buah. Yang sebenarnya adalah beberapa pulau yang terselingi selat-selat yang terlihat sempit. tetapi saat observasi didapatkan kenyataan yang cukup lebar.

Dobo.Observasi partisipatif aksesibilitas fasilitas kesehatan untuk wilayah Kabupaten Kepulauan Aru kali ini kami lakukan dari Dobo (ibukota Kabupaten Kepulauan Aru) ke Puskesmas Benjina. dengan bentangan wilayah yang cukup luas. yang entah mengapa semuanya ditugaskan berkumpul di Puskesmas Induk Benjina saja. yang berada di pesisir sebelah barat Pulau Kobroor. salah satu puskesmas dengan jangkauan ‘termudah’ di wilayah ini. Perjalanan menuju lokasi Puskesmas Benjina bisa ditempuh dengan perahu bermotor reguler dengan perjalanan sekitar 3-4 jam dari ibukota Kabupaten Kepulauan Aru. Kunjungan pertama adalah kulonuwun ke Puskesmas Benjina sekaligus untuk assessment dengan seluruh bidan yang melayani Jampersal di wilayah ini. Kab. 109 .18 Puskesmas Benjina. Puskesmas Benjina terletak di Desa Benjina. Di Puskesmas Benjina terdapat tenaga bidan sebanyak lima orang. Kecamatan Aru Tengah. Perjalanan yang cukup ‘mudah’ untuk wilayah kabupaten kepulauan yang memiliki 547 pulau ini. Dalam kecamatan yang sama sebenarnya ada 4 Puskesmas yang beroperasi untuk sekitar 24 desa yang ada di wilayah ini. sedang Puskesmas Benjina sendiri bertanggung jawab atas 11 desa. Gambar 5. Kepulauan Aru.

jadi secara otomatis lebih sering di Dobo dan Makassar daripada di Benjina. yang ada adalah 4 orang tenaga dukun bayi. Jadi bila sakit saat baru 110 . Kepala Desa Benjina menyatakan kesanggupannya untuk menyediakan tanah di wilayahnya untuk keperluan tersebut. Usulan lain yang menarik adalah usulan dari bapak pendeta yang untuk memberi perhatian dan penghargaan bagi dukun bayi. yang merupakan seorang dokter lulusan pertama yang asli daerah. terungkap bahwa di desanya tidak ada tenaga bidan sama sekali. terdapat 3 Pustu (Puskesmas Pembantu). Saat ini beliau sudah dipindahkan sebagai kepala bidang di Rumah Sakit Kabupaten di DOBO. Puskesmas Benjina sendiri dikepalai oleh seorang dokter. Jadi. Usulan yang sangat manusiawi dari masyarakat yang merasakan manfaat keberadaan dukun bayi di tengah ketidaktersediaan tenaga kesehatan. menyatakan bahwa Puskesmas menurunkan petugas untuk berkeliling di Posyandu sekali sebulan di setiap wilayah yang didominasi dengan jalur laut. Pada kesempatan diskusi tersebut para tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat juga sempat melontarkan usulan pengadaan pos-pos siaga di beberapa titik desa. banyak masyarakat di wilayah kerja Puskesmas di wilayah ini bersentuhan dengan pelayanan kesehatan sebulan sekali. Karena pelayanan kesehatan ibu dan anak yang mengandalkan satu titik di puskesmas saja menjadi salah satu faktor penyulit akses masyarakat di wilayah ini. Hanya saja yang ada tenaga perawat hanya di Pustu Selibatabata. Dusun Papakula Kecil. Menurut pengakuan rekan Puskesmas. yaitu di Namara. Dalam forum diskusi yang sama. yaitu di Maririmar yang juga tersedia tenaga perawat laki-laki. dua lainnya masih kosong. yang rumahnya saat ini berada di Makassar. Di wilayah Benjina juga ada satu Poskesdes (Pos Kesehatan Desa). Menurut pengakuan Kepala Puskesmas yang di’amin’kan oleh rekan Puskesmas lainnya. Selibatabata dan Fatujuring.Sama sekali tidak ada ‘bidan desa’ di wilayah ini? Dalam sebuah kesempatan diskusi dengan salah satu Kepala Dusun.

entah sampai kapan? Konfirmasi kami lakukan ke petugas Puskesmas tentang penjadwalan Posyandu ini. dan bahwa memang menurut mereka kondisi ini terjadi berada di luar kuasa petugas kesehatan. di dermaga seorang kakek ber-jalan terbungkuk menggunakan tongkat hendak melompat ke speedboat kami. Sungguh tak tertahan hati menangis merasai rintih dan harapnya. Setidaknya tujuh titik lokasi yang menjadi ampuan Puskesmas Benjina telah kami datangi. posisinya sudah duduk di bibir dermaga dengan kaki hendak menjangkau speedboat. Kakek yang sedang sakit itu mengira kita sedang ada jadwal Posyandu. memang mereka bersentuhan dengan petugas kesehatan sebulan sekali sesuai dengan jadwal Posyandu. bersabarlah. yaitu Desa Benjina.saja ada kunjungan Posyandu. Desa Gulili. mantri perempuan dari Purwokerto itu begitu telaten memberi penjelasan sekaligus memupuk harapan si kakek. Desa Fatujuring.. dan wilayah Trans-Maijurung.. wilayah RKIBenjina (Rumah Kayu Indonesia). Setidaknya membutuhkan Rp. Ada sebuah insiden kecil pada saat kami hendak meninggalkan Desa Gulili pada salah satu kunjungan.000. Mereka bercerita dengan tetap menaruh kepercayaan penuh pada petugas kesehatan. 600. Menurut masyarakat di lokasi-lokasi tersebut. Desa Selilau. dan meyakinkan bahwa dia akan kembali menjumpai kakek itu. maka kita harus bersabar menunggu satu bulan kemudian untuk mendapatkan pengobatan. tapi juga tergantung ketersediaan uang.. tetapi seringkali juga mundur. Dalam kesempatan ini kami juga sempat berkunjung dan berbaur dengan masyarakat di beberapa lokasi. dan berharap mendapat pengobatan dari mantri yang menyertai perjalanan kami. Desa Namara. Bersabarlah kek.sekali jalan untuk tiga sampai empat hari berkeliling Posyandu di wilayah-wilayah ampuan Puskesmas tersebut. Dan betapa Mbak Ning. 111 . kami mendapat jawaban bahwa memang jadwal Posyandu keliling itu rutin. sampai pada akhirnya terlewat pada jadwal bulan berikutnya lagi.

para Kepala Puskesmas merasa sanggup memperbaiki speedboatnya sendiri tanpa diambil alih oleh Dinas Kesehatan. Kita coba berhitung untuk ‘ketersediaan uang’ ini.Tergantung ketersediaan uang? Sungguh miris mendengar jawaban ini. Tetapi hasilnya untuk Puskesmas Benjina sampai saat ini dari dua tahun yang lalu tidak ada perbaikan sama sekali. Lalu dibandingkan dengan kucuran dana BOK yang sekitar Rp.600. Menurut keterangan Dinas Kesehatan sempat dirapatkan soal kerusakan speedboat ini dengan beberapa Puskesmas yang mengalami hal yang sama.000.800. 21. 600. maka sesungguhnya kebutuhan per bulan untuk transportasi laut hanya membutuhkan Rp.000.000. yang sekali perjalanannya membutuhkan biaya Rp. Kebutuhan biaya sesuai uraian di atas adalah untuk sewa longboat dari nelayan.-.-.-? Yang sekali lagi setelah konfirmasi dengan Dinas Kesehatan penyerapan dana BOK di Puskesmas Benjina mencapai 100%. Ke-empat pulau tersebut adalah 112 . Puskesmas Benjina sendiri sebetulnya sudah mempunyai speedboat sendiri.000. Kabupaten yang relatif baru ini merupakan pecahan dari Kabupaten Buton. 250.000. Kabupaten Kepulauan Wakatobi Kabupaten Kepulauan Wakatobi merupakan salah satu wilayah dari Propinsi Sulawesi Tenggara yang berbatasan langsung dengan Propinsi Maluku Utara di sebelah Timur. Nama Wakatobi sendiri merupakan representatif dari empat pulau besar yang menjadi basis kabupaten ini. Pada saat pengambilan keputusan. hanya saja sudah rusak sejak dua tahun yang lalu. Bukannya Kementerian Kesehatan telah meluncurkan dana BOK ke semua Puskesmas? Yang setelah re-check ke petugas Dinas Kesehatan menemukan kenyataan bahwa Puskesmas Benjina menerima dana BOK sekitar 250 juta. Itu belum termasuk dana operasional Puskesmas yang berasal dari APBD. Bila dibutuhkan 3 kali perjalanan untuk menjangkau Posyandu yang memerlukan biaya transportasi laut. dan dalam setahun hanya pada kisaran Rp.-. 1.

dan terakhir pulau terjauh (paling Selatan) adalah Pulau Kaledupa.19 Peta Kabupaten Kepulauan Wakatobi Mirip dengan wilayah kabupaten kepulauan lainnya. serta hari Sabtu via Kendari. Jalur udara yang cukup repetitif tersebut bukan karena Wakatobi sebagai destinasi bawah laut yang cukup 113 . Jalur laut bisa kita tempuh menggunakan kapal cepat dari Baubau sekitar empat jam.Pulau Wangi-wangi. jalur transportasi yang tersedia untuk mencapai wilayah ini terdiri dari dua jalur. Pulau Kaledupa. Sedang jalur udara bisa kita tempuh dari Makassar via Baubau yang tersedia hari Senin-Kamis. laut dan udara. yang untuk kedua jenis jalur tersebut dilayani oleh maskapai Wings Air. Pulau Tomia. Gambar 5.

Sebagai gambaran.-. tetapi sarananya yang masih belum tersedia. Seperti layaknya kabupaten kepulauan lainnya.” demikian keluh salah satu tokoh masyarakat. ketersediaan pelayanan kesehatan masih cukup menjadi masalah di wilayah ini. Menurut pengakuan Dinas Kesehatan sebenarnya sudah tersedia tenaga untuk pelayanan transfusi darah.mendunia ini ramai dikunjungi wisatawan luar. bahkan untuk sekedar bank darah. nanti akan dijemput ambulan. Kab. Cuman untuk yang kepulauan belum ada puskel laut. 130. yang otomatis setiap bidan harus mampu mencover dua desa. Untuk wilayah Puskesmas Tomia yang kami datangi. tokoh agama.untuk jangkauan sebenarnya sudah lebih baik.000.saya rasa pemberian layanan di sini sudah cukup bagus pak...” (Toma. kader kesehatan dan bahkan dukun bayi kami juga menemukan beberapa kondisi yang menjadi realitas yang ketersediaan sarana dan fasilitas kesehatan yang harus dibenahi... sebagai satu-satunya Rumah Sakit di wilayah ini tidak memiliki. tetapi lebih karena pemerintah kabupaten mensubsidi pihak maskapai untuk melayani jalur tersebut. tenaga bidan yang tersedia hanya 3 orang. Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Wakatobi yang berada di Wanci pun. jarak antara Pulau Tomia ke Baubau mencapai 11 jam perjalanan dengan kapal reguler bertarif Rp. tapi perlu ditingkatkan lagi. “.. “. rujukan harus ke Baubau. “.di sini. Dalam sebuah diskusi di Kecamatan Tomia yang melibatkan tokoh masyarakat. Wakatobi) Memang di Kabupaten Wakatobi belum tersedia fasilitas pelayanan transfusi darah. tetapi belum memiliki Unit Transfusi Darah.. karena di Wanci sarana kesehatannya masih kurang. Palang Merah Indonesia (PMI) sebenarnya sudah berdiri di kabupaten ini.” usul salah satu Kepala Lingkungan kepada kami. Karena bila ada kasus harus dirujuk ke Baubau. terutama untuk transfusi darah. itupun hanya beroperasi 114 . satu bidan untuk satu desa itu tidak cukup pak! Apalagi ini kita hanya diberi tiga bidan untuk enam desa. karena tinggal lapor. dengan ampuan wilayah yang mencapai 6 desa.

tempat bermukimnya saudara-saudara Suku Bajo yang membentuk koloni tersendiri di bibir pantai wilayah Lamanggau. perahu kecil yang di daerah lain biasa juga disebut sebagai jung atau ketinting . Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Jabal di Pulau Wangi-wangi menuju Pelabuhan Usuku di Pulau Tomia. Jadi ibu hamil yang mau bersalin harus bersabar dengan jadwal yang ada serta perjalanan yang lama. Dalam perjalanan yang kami arungi dengan kapal cepat bisa mencapai tiga sampai tiga setengah jam perjalanan. Carter atau sewa kapal sepertinya menjadi hal yang mustahil bagi penduduk wilayah ini. Dari Pelabuhan Waitii inilah kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Lamanggau. terutama wilayah pesisirnya didominasi oleh keberadaan Suku Bajo yang tinggal di atas laut. Waitii. Dari Pelabuhan Usuku di Pulau Tomia.per kali sewa. Meski juga sebenarnya sudah tersedia dokter obgyn di RSUD Kabupaten Wakatobi yang dikontrak selama enam bulan. Di wilayah ini. Jadi. karena harga sewanya mencapai kisaran di atas Rp.sekali sehari. kami harus bergeser ke pelabuhan lainnya. Hanya saja memang ketersediaan sarana pelayanan kesehatan di RSUD Kabupaten Wakatobi tidak selengkap di Baubau. untuk berganti tunggangan dari kapal speed menjadi pompong . Observasi partisipatif aksesibilitas fasilitas pelayanan kesehatan yang kedua kami lakukan di Pulau Lamanggau. seberang Pulau Tomia.. 10. Jarak Pulau Tomia ke Wanci di Pulau Wangi-wangi sebenarnya lebih pendek. 115 .000.000. bukan cerita baru bila ibu hamil dengan faktor penyulit yang dirujuk ke Baubau harus pass away sebelum sampai ke tempat rujukan. Perjalanan menggunakan kapal speed bermesin tempel 5 biji berkekuatan 200 PK ini menempuh perjalanan selama kurang lebih 3 jam.

Kapal cepat yang melayani rute Wanci-Tomia Agak miris bercerita tentang pelayanan kesehatan di wilayah ini.20. Bagaimana tidak? Lokasi Puskesmas berada di Onemobaa. Di wilayah Puskesmas ini bukan wilayah jarang penduduk. wilayah Barat pulau. Sedang sisanya adalah perawat. seorang Sarjana Kesehatan Masyarakat dengan basis sanitarian. Dari kelima tenaga kesehatan yang ada tersebut. Sayangnya Puskesmas yang diresmikan oleh Gubernur Sulawesi Tenggara itu memiliki lokasi yang sama sekali tidak masuk akal. 116 . jauh dari permukiman penduduk yang menempati sisi Timur pulau. mereka tinggal di pulau seberang. Untuk sarana bangunan Puskesmas. di Waitii. 4 orang tidak tinggal di tempat. Yang tinggal di Lamanggau hanya tenaga sanitarian yang PTT pusat. PTT dari pusat. ini sudah termasuk Kepala Puskesmas.Gambar 5. Satu orang lagi juga seorang sanitarian. tetapi lebih tepat wilayah yang sama sekali tidak ada penduduk. Kondisi ini diperparah dengan lokasi Puskesmas yang berada di dalam wilayah ‘Wakatobi Dive Resort ’. sebetulnya Pemerintah Daerah Kabupaten Wakatobi pada tahun 2009 sudah membangun gedung Puskesmas Induk Onemobaa yang representatif secara fisik. Sebuah perusahaan swasta yang mengelola obyek wisata di Onemobaa. Di Pulau ini jumlah tenaga kesehatan yang ada hanya 5 (lima) orang.

kami disertai oleh Kepala Puskesmas. Petugas kesehatan Puskesmas lebih memilih Puskesmas Pembantu (Pustu) Lamanggau untuk berkantor. tetapi relatif lebih mendekati permukiman penduduk. mencoba untuk berkunjung ke Puskesmas Onemobaa.Puskesmas Onemobaa ini sudah tiga tahun tidak ditempati. barulah sampai di pintu gerbang ‘Wakatobi Dive Resort ’. Karena kalaupun ditempati. serta satu staf Dinas Kesehatan. salah satu staf Puskesmas. siapa penduduk yang mau datang ke tempat ini dengan perjalanan yang cukup jauh dari permukiman. Dalam sebuah kesempatan. berada di ujung desa. 117 . Kami harus naik pompong untuk mencapai lokasi Puskesmas Onemobaa yang berada di sisi lain pulau. Setelah itu harus jalan kaki di jalan setapak sekitar 15 menit. Karena meski tempatnya juga tidak strategis.

Kab. Puskesmas Onemobaa.6. Wakatobi Memasuki wilayah resort ini harus minta ijin pada pihak manajemen. Tapi kami harus menunggu sekitar satu jam untuk menunggu ijin masuk tersebut.Gambar 5. Data diambil dari data sekunder puskesmas dan rumah sakit. maka baru kita bisa masuk dan bisa ke Puskesmas. 5. Pada kesempatan kali ini kami diijinkan masuk.21.1 Utilitas di Pelayanan Dasar Data utilitas di pelayanan dasar yang didapatkan dari Dinas Kesehatan dan sasaran Jampersal yang diambil secara random di 2 (Dua) puskesmas di 118 . Bila manajemen berkenan memberikan ijin. 5.6 UTILITAS PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR OLEH PROVIDER YANG DISEDIAKAN OLEH PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Utilitas Pelayanan Kesehatan ibu dan bayi adalah cakupan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan Ibu dan bayi dalam program Jampersal di pelayanan dasar dan di pelayanan rujukan. selain itu juga didapatkan dari data sasaran Jampersal yang memanfaatkan layanan dengan Jampersal maupun non Jampersal.

6%.. 119 . Namun demikian peningkatan tidak terlalu mencolok berkisar 1% .36. Data tersebut ditampilkan dalam gambar sbb : Gambar 5. Bogor. Untuk tahun 2012 belum dapat dibandingkan karena baru cakupan sampai bulan Juni 2012. Penolong persalinan pada sasaran non Jampersal dan tempat persalinan pada sasaran pengguna Jampersal diambil dari kuesioner sasaran. nampak di beberapa kabupaten / kota yaitu Sampang.masing-masing kabupaten / kota. Sedangkan data tenaga pemeriksaan ANC pada sasaran non pengguna Jampersal dan pengguna Jampersal. Cakupan Persalinan oleh Tenaga kesehatan di Kabupaten / Kota “non kepulauan ” Tahun 2010 – Juni 2012 Sumber data : Dinas kesehatan Kabupaten / Kota Di kabupaten / kota “non kepulauan” cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan dari tahun 2010 sampai dengan 2012. kota Mataram. Dari data Ditjen Bina Gizi dan KIA tahun 2012 didapatkan data untuk angka Nasional cakupan persalinan ditolong nakes di Indonesia tahun 2012 adalah 86.22. Kota balikpapan ada sedikit peningkatan pada tahun 2011 dibandingkan tahun 2010. Data sekunder meliputi data Persalinan oleh tenaga kesehatan dan kematian Maternal dan Kematian Neonatal di Kabupaten / Kota yang merupakan data sekunder dari Dinas kesehatan.

Cakupan Persalinan Tenaga Kesehatan di Kabupaten / Kota “Kepulauan” Tahun 2010 – Juni 2012 Sumber data : Dinas kesehatan Kabupaten / Kota Di kabupaten/kota kepulauan terdapat sedikit peningkatan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun2011. 2012) seperti terlihat di Kota Ambon dan Aru masih dibawah rata2 nasional.36 (Ditjen Gikia Kemenkes. Natuna yang mana kabupaten Natuna tidak memanfaatkan Jampersal tetapi Jamkesda. sumberdaya manusia dan kondisi geografis yang berat. prasarana. Gambar 5. Aru bahkan masih jauh dari angka rata2.23. Sasaran yang diambil adalah 120 . di kep. Pada tabel dibawah ini menjelaskan tentang “continum of care dari” sasaran Jampersal yang menggunakan Jampersal. Tidak seperti di wilayah non kepulauan. di wilayah kepulauan cakupan persalinan tidak semuanya diatas rata2 nasional 86. Pada tahun2012 sampai dengan bulan Juni terlihat peningkatan cakupan walaupun belum dapat dibandingkan karena baru cakupan 6 bulan. namun peningkatan tidak nampak terlalu signifikan kecuali di Kep. Aru menerima kebijakan Jampersal dengan baik. tapi masih ditemukan banyak kendala dari sarana. Hal ini dapat dipahami walaupun kabupaten kep.Dengan demikian untuk kabupaten / kota di non kepulauan cakupan persalinan tahun 2011 sudah diatas rata2 nasional.

2% 86. Kota Mataram dan Wakatobi Ibu nifas yang memanfaatkan K1 dengan Jampersal adalah > 90%.8% 74.8% 33. Di Sampang.3% 66.3% 100. Persalinan dan Pn memanfaatkan Jampersal Secara Total dari 13 kabupaten / Kota penelitian responden Ibu nifas yang memanfaatkan Jampersal untuk pelayanan K1 adalah 74. Persalinan atau Pn • K1 : Ibu Nifas yang K1 memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 : Ibu Nifas yangK1 dan K4 memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 + Persalinan : Ibu Nifas yang K1.9% K1 + K4 72.0% 52. Tabel 5.2% 61.1% 66.3% 39.0% 90. bahkan di Kota Kendari 100%.1% 68.ibu yang sedang masa nifas sehingga sudah melewati masa ANC.9% K1 + K4 + Persalinan + PNC 67. pelayanan K1 dan K4 adalah 61.0% 43.7% 87.4% 68.1% 66.7% 33. K4. “Continum of care”pada Responden Sasaran Ibu Nifas Pengguna Jampersal Per Kabupaten / Kota (N= 573) Kabupaten/Kota Kab Sampang Kota Blitar Kota Mataram Kab Lombok Tengah Kota Bandung Kab Bogor Kota Ambon Kab Kep Aru Kota Kendari Kab Wakatobi Kota Batam Kota Balikpapan Kab Paser 13 kab/kota K1 91. K4 .7% 77.1% 50.3% 41.8% K1 + K4 + Persalinan 71. K4.2% 59.4% 59.3% 87.6% 14.4% 76.0% 55. K4 dan Persalinannya memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 + Persalinan + Pn : Ibu Nifas yang K1.4% 59.8% 58.8% 58.0% 57. Bagaimana “continum of care” Ibu Nifas pengguna Jampersal di masing-masing kabupaten / kota terlihat di tabel dibawah ini : 121 .9% Keterangan : • Responden Ibu Nifas : Ibu Nifas yang pernah memanfaatkan Jampersal K1.0% 72.6% 64.0% 43.3% 39.7% 72.0% 94.9% 72.2% 27. pelayanan K1. K4 dan persalinan 59.9% dan pelayanan K1.9%.5% 14.0% 50.0% 87.8%.3% 39.5% 33.3% 66.9%.2% 25. persalinan dan PNC.3% 63.5% 14. Persalinan dan Pelayanan Nifas adalah 57.7% 33.2% 27.9% 33.8% 62.5% 14.3% 63.3.

7% 5. yang mendapatkan layanan K1 menurun 2% yang bersalin dan Pn dengan memanfaatkan Jampersal. Kota Ambon. Wakatobi.3% 0% 0% 0% 0% 0% 2. Aru. tapi terjadi penurunan yang cukup tajam pada K4.Tabel 5.7% 0% 0% 3.5% 4% 9.8% 0% 2% 58.2% 4.3% 6. Di Bogor juga sudah cukup baik. Ternyata dari data diatas dapat dijelaskan bahwa ibu yang ketika persalinan memanfaatkan Jampersal. Bogor. Kep. Tetapi jika dilihat “continum of care” sangat baik karena pasien melakukan K1 sampai dengan PNC dengan memanfaatkan Jampersal. Continum of care Pelayanan Jampersal (K1. persalinan) dan PN Di Kabupaten / Kota di Lokasi Penelitian Tahun 2012 Kabupaten / Kota Kab Sampang Kota Blitar Kota Mataram Kab Lombok Tengah Kota Bandung Kab Bogor Kota Ambon Kab Kep Aru Kota Kendari Kab Wakatobi Kota Batam Kota Balikpapan Kab Paser 13 kab/kota A 20% 8% 47.4% 3.1% 0% 3. Hanya saja dari data ini tidak dapat dijelaskan lebih lanjut kelengkapan dalam paket PNC.2% 2% Keterangan : A : K1 – (K1+K4+Persalinan) B : (K1+K4) –(K1+K4+Persalinan) C : (K1+K4+Persalinan).7% 0% 0% 0% 22.8% 2.(K1+K4+Persalinan+PNC) Di perkotaan seperti Bandung dan Batam ibu nifas yang telah memanfaatkan Jampersal sedikit dibanding daerah penelitian lain.K4. persalinan dan PNC.2% 50% 7. sebagian besar akan memanfaatkan layanan PNC. Kota Batam 122 . Pengguna Jampersal yang menggunakan layanan K1 dan K4 di Kota Bandung.6% 15% B 1. Berbeda dengan Kota kendari ketika K1 semua responden (100%) menggunakan Jampersal.3% 8.9% C 4.7% 0% 1.2% 0% 0% 0% 0% 16.4.

0%) 0 (0.4%) 47 (100.0%) 9 (25.0%) 119 (97. Paser Total Sumber : Data Sasaran Penelitian Jampersal 2012 Terdapat sepuluh kabupaten/kota yang sasaran Jampersal memanfaatkan pelayanan persalinan dengan Jampersal. Kab Bogor 7.0%) 26 (74. Kota Kendari 10. Dari tabel diatas terlihat bahwa 123 .0%) 24 (27.7%) 1.3%) 726 (95.0%) 0 (0.0%) 65 (100.0%) 64 (100. Kota Blitar 3. Dari data diatas terlihat bahwa dengan memanfaatkan Jampersal sasaran dilayani oleh tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan.0%) 0 (0. Tabel 5. persalinannya dilakukan di fasilitas kesehatan (100%). Kota Balikpapan 13.5%) dan Paser (25.0%) 0 (0. Kota Bandung 6.0%) 58 (100.8%). Kab Lombok Tengah 5. dimana pengguna Jampersal yang mendapat layanan K1 (100%) tapi ketika K4. Wakatobi (2.0%) 0 (0. Responden pada data dibawah ini adalah hanya sasaran Jampersal yang menggunakan Jampersal ketika melahirkan tanpa memperhatikan apakah memanfaatkan jampersal ketika ANC atau PNC setelahnya.0%) 3 (2. Kota Ambon 8.3%) 0 (0. KotaBatam 12. Tempat Persalinan Responden Pengguna Jampersal di Lokasi penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Kabupaten / Kota Tempat Persalinan Jampersal Fasilitas Kesehatan Non Fasilitas Kesehatan 75 (100.7%) 36 (4.5%) 0 (0. Kab Wakatobi 11.0%) 0 (0.6%) 0 (0.0%) 51 (100. Kab Sampang 2.0%) 11 (100. Kab Kep Aru 9.5%) 54 (100.2%.0%) 33 (100.0%) 63 (72.dan Paser 100% bersalin dengan Jampersal dan 100% memanfaatkan layanan Pn kecuali Paser yang memanfaatkan Pn turun 22. persalinan dan Pn menurun cukup drastis.0%) 0 (0. Yang perlu mendapat perhatian adalah Kota Kendari.7%) masih dilakukan di non fasilitas kesehatan.5. Ini menunjukan bahwa continum of care belum berjalan dengan baik. Ada 3 (tiga0 kabupaten yang sasaran yang persalinan menggunakan Jampersal yaitu di Kepulauan Aru (27. Kota Mataram 4.0%) 60 (100.

seluruh responden ketika bersalin dengan Jampersal maka persalinannya oleh nakes dan di fasilitas kesehatan kecuali 3 (tiga) kabupaten diatas yang merupakan daerah yang secara geografis memang sulit dan dengan keterbatasan sumberdaya. Gambar dibawah ini respondennya adalah sasaran Jampersal yang tidak menggunakan Jampersal. Menjelaskan siapa tenaga pemeriksa kehamilan pada sasaran yang tidak menggunakan Jampersal dan tabel 5. ketika persalinan ditolong oleh non tenaga kesehatan seperti tergambar dalam di bawah ini.24 menjelaskan responden yang tidak menggunakan Jampersal ketika bersalin berapa persen yang ditolong tenaga kesehatan.24. Bagaimana dengan responden yang tidak memanfaatkan Jampersal? Ketika ANC sasaran tidak menggunakan jampersal terlihat terjadi pergeseran dari tenaga kesehatan saat ANC. Gambar 5. Tenaga Pemeriksa Kehamilan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011 – April 2012 124 .

Bogor. Nampak jelas pergeseran sasaran dari nakes ketika pemeriksaan kehamilan ke non nakes ketika persalinan di kabupaten / kota Balikpapan.50% perubahan dari pasien yang ketika pemeriksaan kehamilan dilakukan oleh tenaga kesehatan dan berubah menjadi bersalin pada tenaga non kesehatan. Kota Batam.Gambar 5. Kota Kendari. Bahkan di kepulauan Aru.25 Tenaga Penolong Persalinan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Sumber : Data sasaran Penelitian Jampersal 2012 Dari data sasaran yang tidak memanfaatkan Jampersal didapatkan bahwa terdapat sasaran ibu hamil yang sudah memeriksakan kehamilannya di tenaga kesehatan. Bandung Lombok Tengah dan Kota Mataram. ketika persalinan pindah ke tenaga non kesehatan seperti nampak pada dua gambar diatas. 125 . Kepulauan Aru. Lombok tengah dan Kota Mataram antara 29% .

Kematian Maternal di Kabupaten / Kota Tahun 2010 . Infeksi .Juni 2012 Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota Kematian Maternal pada tahun 2011 dan sampai dengan Juni 2012 di kabupaten / kota nampak cenderung meningkat kecuali Kota Bandung nampak menurun. eklamsi.26. preeklampsi/eklampsi 24 %. 2012). sedangkan penyebab tidak langsung adalah trauma obstetri 5 % dan lain – lain 11 % (WHO. Dari analisa kematian maternal tahun 2011 dari data rutin penyebab kematian Maternal tertinggi perdarahan 35% dan hipertensi 22% dan Infeksi 5%.Gambar 5. (Direktorat Ibu. infeksi 11 %. 126 . 2007). Hal ini masih mengikuti pola menurut WHO 2007 bahwa penyebab kematian ibu yang paling umum di Indonesia adalah penyebab obstetri langsung yaitu perdarahan 28 %. Penyebab kematian maternal terbanyak dari data sekunder pada penelitian ini adalah perdarahan. Kemenkes.

Saat ini. tetapi tahun 2012 di kabupaten Sampang dan Kota Batam ada kecenderungan meningkat. Utilitas di Pelayanan Rujukan Jampersal menjamin pelayanan bagi ibu-ibu dengan kehamilan risiko tinggi dan persalinan dengan penyulit dan komplikasi. Penyebab kematian neonatal dari data sekunder Dinas kesehatan terbanyak adalah Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan Asfiksia. Kematian Neonatal di Kabupaten / Kota Tahun 2010 . 5.Juni 2012 Sumber : Dinas kesehatan Kota Untuk kematian Maternal pada tahun 2011 terlihat kecenderungan menurun. belum semua persalinan itu dilakukan di fasilitas kesehatan.27. Kalau dalam proses persalinan terjadi komplikasi. 127 . sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit. Persalinan di fasilitas kesehatan ini merupakan hal yang sangat penting.2. Semua layanan itu diberikan oleh tenaga-tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. tenaga kesehatan memiliki sarana untuk melakukan tindakan pra rujukan yang diperlukan agar komplikasi tidak memburuk.6.Gambar 5.

“. Paser. Hal ini kemungkinan disebabkan karena tahun tersebut sudah diberlakukan Jampersal.” (Bidan RS. Data tersebut ditampikan pada grafik sbb : Gambar 5. Loteng. Sampang. selain itu setelah tahun ke-2 Jampersal dilaksanakan dilihat tren jumlah kemtian maternal dan neonatal di rumah sakit yang meliputi : kematian maternal < 24 jam.adanya Jampersal kunjungan naik 50 % antara lain kasus KPD (ketuban pecah) dan PCR (preklamsi). Kab Bogor). Data yang didapatkan adalah persalinan per vaginam rujukan dengan komplikasi. kematian neonatal < 24 jam dan kematian neonatal > 24 jam. 128 . kematian maternal >24 jam.. dimana dalam juknis Jampersal dijelaskan bahwa untuk persalinan dengan komplikasi dilakukan di pelayanan rujukan (Puskesmas Poned dan rumah sakit).28. Bogor). Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam dengan Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Secara umum pada tahun 2011 rujukan persalinan pervaginam dengan komplikasi ke rumah sakit pemerintah di kabupaten / kota meningkat (RSUD kota Blitar. persalinan per vaginam rujukan tanpa komplikasi.Untuk utilitas di pelayanan rujukan di dapatkan data dari rumah sakit pemerintah di kabupaten / kota yang menjadi rumah sakit rujukan Jampersal dan mempunyai Perjanjian Kerjasama (PKS) dengan Dinas Kesehatan kabupaten / kota..

6. RSUD Kota Bandung 6.Bogor 7. terutama di RSUD Kota Blitar. RSUD kab. RSUD Kab Wakatobi 2010 474 63 39 709 767 - Jumlah Kasus Sectio Caesaria 2011 s/d Juni 2012 598 147 61 889 1161 8 237 53 29 624 50 129 . RSUD kab. Loteng. Kota Ambon dan Kota Kendari per Juni tahun 2012 terlihat peningkatan yang cukup tinggi ( data diatas sampai dengan bulan Juni 2012). RSUD Kota Kendari 10.Gambar 5. RSUD Kab. Sampang 2. Bahkan di RSUD Blitar.29. RSUD Lombok Tengah 5. RSUD Kota Blitar 3. Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam tanpa Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Persalinan rujukan pervaginam tanpa komplikasi di rumah sakit tahun 2011 dan tahun 2012 terlihat kecenderungan juga meningkat. Kep Aru 9. RSUD Prov Ambon 8. Tabel 5. Jumlah Kasus Sectio caesaria yang ditangani di Rumah sakit di Kabupaten / Kota Tahun 2010 – Juni 2012 Kabupaten 1. RSUD Kota Mataram 4.

. Paser 14. Sampang) Gambar 5. Walaupun pada data diatas tidak hanya menggambarkan khusus kasus SC yang di biayai dengan Jampersal.30 Kematian Maternal < 24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 Kematian Maternal yang terjadi < 24 jam di rumah sakit bervariasi di RSUD Kota Blitar. RSUD Prov Balikpapan 13. Natuna 439 412 499 41 99 61 Keterangan : .RSUD Kota Batam 12.tidak didapatkan data Sumber : RSUD Kabupaten /Kota /Provinsi yang menjadi tempat rujukan Jampersal kecuali RSUD di Natuna. RSUD Sampang. kab.”(SPOG..11. Kasus Persalinan sectio caesaria (SC) rumah sakit Pemerintah yang PKS dengan Dinas kesehatan di Kabupaten / Kota terlihat cenderung meningkat di tahun 2011 dan Juni 2012.sejak ada Jampersal pasien di rumah sakit menjadi lebih banyak dari sebelumnya bisa sampai hampir dua kali lipatnya. RSUD Kota Batam Peningkatan kematian maternal di RS dimungkinkan karena rujukan dari layanan dasar meningkat pada tahun 2011 dan 2012. 130 . RSUD Kab. Kasus SC ada yang dirujuk maupun yang tidak dirujuk dengan jenis pelayanan SC elektif atas indikasi medis dan SC emergensi. “. tapi merupakan keseluruhan kasus yang ada di rumah sakit. RSUD Kab.

Gambar 5. prasarana dan SDM di rumah sakit.31 Kematian Maternal >24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 Kematian Maternal > 24 jam di rumah sakit pada tahun 2011 juga terlihat kecenderungan meningkat di kabupaten/kota.Juni 1012 131 . Gambar 5.32 Kematian Neonatal di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010. Kondisi ini perlu dikaji lebih lanjut apakah berkaitan dengan meningkatnya kasus rujukan ke rumah sakit dan berpengaruh pada pelayanan karena keterbatasan sarana.

Demikian juga di Kota Mataram kematian Neonatal tahun 2012 meningkat . tapi di Kota Balikpapan sampai Juni 2012 meningkat cukup tinggi. Gambar 5. Dari data sasaran penelitian ini ternyata yang memanfaatkan Jampersal 95% sudah memilik jaminan 132 .7. Tapi di Kota Bandung. Di Kota Bandung dan Kota Balikpapan tahun 2011 kasus kemtian neonatal menurun. 5. ibu nifas ( sampai dengan 42 hari) dan neonatus (0 – 28 hari) yang tidak mempunyai jaminan kesehatan.33 Kepemilikan Jaminan Lain Pada Sasaran Pengguna Jampersal (N=1. bersalin.Kematian neonatal di kota dan kabupaten ada yang meningkat pada tahun2011 seperti di di Kabupaten Bogor dan kota Blitar dan sampai Juni 2012 ada kecenderungan menurun.243) Untuk mencapai target MDG’s Jampersal diluncurkan dengan sasaran adalah ibu hamil. AKSEPTABILITAS SASARAN DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN. Akseptabilitas sasaran terhadap Jampersal akan dijelaskan dimulai dengan siapa sasaran yang memanfaatkan Jampersal dan bagaimana kepuasan sasaran terhadap layanan Jampersal.

KB) dibiayai dengan Jampersal. Askes. Jamkesda. apakah sasaran tersebut bukan peserta Jamkesmas. karena kartu di simpan di Kepala Desa. harus dilakukan pemilahan dulu. Jamsostek. 133 . persalinan. sehingga membuat pasien enggan untuk memanfaatkan kartunya. namun ada juga kabupaten / kota yang masih menggunakan Jaminan Kesehatan Daerah. Hal ini terjadi karena di kabupaten / kota sejak pembiayaan Jampersal mulai dilaksanakan maka pembiayaan Jamkesmas untuk pelayanan KIA (ANC.kesehatan sebelumnya (Jamkesmas. peserta Jamkesmas seringkali ke pelayanan tidak membawa kartu. Kenyataan di lapangan. PNC. Untuk Jamkesda beberapa kabupaten / kota juga cenderung memanfaatkan pembiayaan Jampersal atau dialihkan menjadi Jampersal. Yang masih menjadi masalah adalah mengenai kepersertaan Jamkesmas. Setiap pasien berobat mengambil kartu di kepala desa dan setelah berobat dikembalikan lagi ke kepala desa. Dan hanya 5% yang tidak mempunyai jaminan (lainnya). sehingga lebih mudah untuk dimanfaatkan dibandingkan jaminan kesehatan yang lain. Karena untuk sasaran Jampersal. Selain itu kemudahan pemanfaatan Jampersal dengan persyaratan cukup KTP dan bersifat portabilitas. Disebabkan Askes hanya membiayai sampai anak ke 2 (dua). Askes juga dimanfaatkan oleh sasaran untuk persalinan anak ke 3 (tiga) dst. sehingga anak ke 3 (tiga) dst sasaran tidak dapat memanfatkan Askes.

34 Alasan Tidak Menggunakan Jampersal Pada Sasaran (N=525) Sosialisasi menjadi faktor yang penting untuk keberhasilan pelaksanaan program jampersal.Gambar 5. Dari data diatas menunjukkan bahwa sasaran yang tidak memenfaatkan Jampersal 66. 134 . Disini juga terlihat bahwa peran suami juga sangat mempengaruhi sasaran memanfaatkan atau tidak Jampersal.70% karena tidak tahu adanya Jampersal. Yang menarik ada 0. sehingga membuat keengganan dari tenaga kesehatan untuk memanfaatkan Jampersal untuk jasa pelayanannya. Hal ini dapat dipahami karena di beberapa kabupaten / Kota besaran tarif jampersal dianggap belum memadai dan penerimaan klaim terlalu lama.8% dari sasasan tidak memanfaatkan Jampersal karena dilarang oleh tenaga kesehatan dan kader kesehatan.

Untuk bayar air saja mahal mana biasanya yang bersalin 1 yang nungguin 3 -4 orang dan mandi semua.di sini kan mahal apa2 bu.35 Kepemilikan Jaminan pada sasaran Non pengguna Jampersal (N=525) Gambar 5. Dari Gambar di atas nampak bahwa di Kota Blitar. “. Kota Mataram. Jadi bayar selisih itu juga termasuk untuk biaya tersebut.. Kota Bandung. bahkan Kota Balikpapan sampai 84.36 Pembiayaan Tambahan Pada Sasaran Pengguna Jampersal pada Kabupaten/Kota Daerah Penelitian Nampak di sebagian besar kabupaten / Kota untuk persalinan terdapat pembiayaan lain pada pasien yang persalinannya menggunakan Jampersal.3%. Kota Balikpapan). 135 .Gambar 5.” (NN. Bogor dan Kota Balikpapan terdapat > 20% pasien yang dikenakan biaya tambahan diluar Jampersal..

yaitu ikut KB jangka panjang. tokoh masyarakat Kota Bandung).” (NN. Lalu untuk pelayanan persalinan apa memang harus langsung pulang? Jadi kalau bisa ada jeda hari lah untuk pelayanan. tokoh masyarakat Kota Bandung).” (NN.. hanya untuk warga miskin saja. masyarakat menanggung. Jampersal punya syarat – syarat khusus.8 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Dari proses pengumpulan data terdapat beberapa temuan yang menarik terkait Kesehatan Ibu dan Anak.” (Toma. Untuk meminimalisasi keadaan ini maka beberapa daerah sudah melakukan “uji petik” pada beberapa kasus.. “. Jadi kalau bisa gak ada tambahan-tambahan biaya lagi. “Uji petik” dapat dilakukan langsung ke masyarakat atau mengambil beberapa kasus secara acak untuk kemudian dilakukan konfirmasi melalui telpon. ternyata ada tambahan obat B.misalnya obat-obatan yang disediakan obat A. Kalo ada tindakan lebih dari itu.Jika dilihat lebih lanjut maka sebagian besar adalah perkotaan. Diambil tiga tematik yang menarik untuk dilakukan penelitian lebih lanjut yaitu : 1) Program dalam upaya mendukung Kesehatan Ibu dan Anak dengan pendanaan melalui PNPM Gerakan Sehat Cerdas (GSC) yang merupakan Program dari Kementerian Dalam Negeri di Kabupaten Lombok Tengah. Kota Blitar). “.PKK beberapa bulan lalu ada penjelasan dari PKM dan kami sudah berusaha untuk sosialisasi di warga. Jadi harapannya kalau bisa gratis semuanya. obat B yang dibayar. Jadi kalau bisa ada batasan-batasan . Lalu untuk opname juga masih ada yang bayar. Kalo operasi kalo melebihi kuota di bayar sendiri.. 136 .. sudah ada patokan dari pemerintah. Dari hasil uji petik verifikator mendapatkan bebarapa temuan terkait dengan pelaksanaan Jampersal seperti adanya penarikan pembiayaan pada pasien yang memanfaatkan Jampersal.. yaitu IUD dan implant. Salah satu warga pernah merasakan jampersal di RS tapi ada beberapa obat yang masih musti bayar. 5. Tapi tingkat penyerapan tiap individu kan beda-beda.. Berikut kutipan hasil FGD dengan tokoh masyarakat yang ada di Kota Bandung yang menyatakan bahwa ada biaya tambahan yang dibebankan kepada masyarakat: “.Jampersal tidak semua gratis.

Tujuan PNPM GSC adalah meningkatkan kesehatan ibu dan anak dan menuntaskan wajib belajar sembilan tahun.73 (peringkat ke 2 terendah Provinsi NTB) sedangkan IPKM Kabupaten Lombok Tengah 0.7 tahun artinya banyak penduduk Lombok Tengah yang tidak tamat Sekolah Dasar. pendidikan di Lombok Tengah juga masih kurang. Tema ini dipilih disebabkan adanya kejadian kematian maternal yang cukup tinggi di puskesmas di Kota Blitar yang secara akses ke pelayanan kesehatan sangat dekat dan fasilitas rujukan sangat memadai. Dari total 12 kecamatan di Lombok Tengah terdapat dua kecamatan yang tidak melaksanakan PNPM GSC yaitu 137 . latar belakang adanya PNPM GSC di Lombok Tengah dikarenakan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lombok Tengah berada di urutan terakhir di provinsi NTB. 3) Antara Budaya.2) Bayang-bayang Jampersal di Lamanggau. Rata-rata pendidikan masyarakat 5.467282 (peringkat ke 286 nasional). Ditambah lagi angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Lombok Tengah yang cukup tinggi.8. Menurut fasilitator kabupaten PNPM GSC Lombok Tengah.1 Pemberdayaan Masyarakat dalam upaya mendukung program KIA melalui PNPM GSC di Kabupaten Lombok Tengah PNPM GSC merupakan pengembangan dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-Mandiri) yang dimulai pada tahun 2007. Selain kesehatan. mengapa jumlah klaim yang diajukan oleh Puskesmas Onemobaa adalah nol rupiah. 5. Hal ini tentu menjadi pertanyaan besar. Tabu dan Upaya Penyelamatan Ibu di Kota Blitar. Berdasarkan informasi dari Pengelola Jampersal Dinas Kesehatan Kabupaten Wakatobi. yaitu Desa Lamanggau. Puskesmas Onemobaa adalah sebuah puskesmas yang dibangun sekitar tahun 2007. Puskesmas Onemobaa tidak memfaatkan Jampersal. IPM Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2010 adalah 60. Hal ini terlihat dengan dana klaim yang diajukan Puskesmas Onemobaa pada tahun 2012 adalah nol rupiah. Puskesmas ini mempunyai hanya satu desa sebagai wilayah kerjanya.

2)Pemberian vitamin A .8 milyar pada thn 2011. 3) Imunisasi dasar lengkap dan 4) Balita yang naik berat badannya (capaian N/D). sehingga setiap desa mendapat dana sebesar kurang lebih antara 200-300 juta per tahun. Untuk melihat keberhasilan Kabupaten Lombok Tengah dalam melaksanakan PNPM GSC berikut ini adalah grafik persentase keberhasilan indikator PNPM GSC Kabupaten Lombok tengah : 138 .Kecamatan Praya dan Kopang. Dana yang dikeluarkan PNPM GSC per kecamatan sebesar 1. 4) Setiap ibu yang sudah melahirkan melakukan PNC sebanyak tiga kali. 2) Tingkat kehadiran siswa sekolah dasar dalam mengikuti proses belajar mengajar minimum 85%. 4) Tingkat kehadiran siswa sekolah menengah pertama dalam mengikuti proses belajar mengajar minimum 85%. Empat indikator kesehatan balita diantaranya adalah : 1) Penimbangan bulanan. 3) Setiap anak yang lulus SD terdaftar sebagai siswa sekolah menengah pertama. Adapun indikator keberhasilan PNPM GSC di bidang kesehatan ibu adalah sebagai berikut: 1) Setiap ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) ke tenaga kesehatan minimal sebanyak empat kali selama masa kehamilan. 3) Setiap persalinan harus di lakukan di tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. Sedangkan Untuk bidang pendidikan terdapat empat indikator yaitu : 1) Setiap anak usia sekolah dasar terdaftar sebagai siswa sekolah dasar . 2) Setiap ibu hamil meminum minimal 90 butir pil FE (penambah darah) selama masa kehamilannya.

disusul Indikator 2 (Pemberian pil Fe).37. dan Indikator 7 (pemberian tablet vit A). Sedangkan Indikator terendah pada Indikator satu (pencapaian pelayanan ANC lengkap/K4). Persentase Capaian Indikator Keberhasilan PNPM GSC Kabupaten Lombok Tengah Sumber : PNPM GSC Kabupaten Lombok Tengah Berdasarkan grafik di atas terlihat bahwa capaian indikator bidang kesehatan ibu dan anak tertinggi pada Indikator 3 (Pertolongan persalinan oleh dokter/tenaga kesehatan yang kompeten). 2008) : 139 . Secara umum pencapaian delapan indikator PNPM GSC bidang Kesehatan di sepuluh Kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah cukup baik. Namun demikian. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam PNPM GSC berjenjang dari tingkat provinsi sampai ke tingkat desa (PTO PNPM GSC. perlu peningkatan pencapaian sebagai strategi kunci dalam upaya penurunan AKI dan AKB yang diprioritaskan pada indikator satu. Hasil ini menunjukkan makin masifnya linakes dengan kompetensi kebidanan (Pn) dan strategi linakes dalam upaya PWS KIA dan Gizi serta ketanggapan linakes dalam pencegahan tiga terlambat (3T) dalam pelayanan KIA di wilayah kerja Puskesmas.Gambar 5.

Kepala Puskesmas berperan sebagai Pembina pelaksanaan program di wilayah cakupan pelayanan Puskesmas itu berada. 3). Fasilitator Kabupaten. tetapi dilaksanakan berkali-kali secara rutin (atau yang bersifat multiyears).pertemuan di kecamatan. 4). bertugas dalam membangun dan membina hubungan dengan pelaku kesehatan dan pendidikan.Di tingkat provinsi : 1). serta mengkoordinir antar instansi terkait di kabupaten. Bupati. membina administrasi kegiatan. bertanggung jawab atas pelaksanaan program di tingkat kabupaten. Spesialis PNPM GSC. meningkatkan dukungan teknis pendampingan dan pengendalian BLM PNPM GSC. Kelompok Kerja (Pokja). pengendalian laporan keuangan. Tim Koordinasi Kabupaten. 6). pencairan dan penyaluran dana rekening kolektif serta rekening multiyears. memfasilitasi dan membantu Tim Koordinasi Kabupaten dalam mengkoordinasikan. 2). Di tingkat kabupaten : 1). mengelola dana untuk kegiatan yang tidak langsung dilaksanakan sekaligus. membina pengembangan peran serta masyarakat. dan melestarikan kegiatan-kegiatan yang didanai oleh program. Tugas Puskesmas (terutama para bidan desa) adalah memberi masukan dan memfasilitasi kegiatan bidang kesehatan. bertanggungjawab atas penyelenggaraan operasional kegiatan dan keberhasilan seluruh kegiatan di kecamatan. 2). 4). mengembangkan. pengelola dan operasional pelaksanaan kegiatan PNPM Generasi di tingkat antar desa termasuk mengkoordinasikan pertemuan. Fasilitator Keuangan. memfasilitasi koordinasi antara masyarakat desa dengan Puskesmas dan cabang Dinas Pendidikan Nasional (Dinas Diknas) di wilayahnya. 2). Unit Pengelola Kegiatan (UPK). Spesialis manajemen informasi sistem. 5). bertanggung jawab dalam memberikan bantuan teknis dalam pengembangan dan perawatan sistem informasi/komunikasi database untuk memastikan pelaporan yang akurat dan terkini. Di tingkat kecamatan : 1). 3). Fasilitator Kecamatan (FK). merupakan 140 . Camat. Puskesmas. Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PJOK).

pendamping masyarakat yang bertugas memfasilitasi masyarakat dalam melaksanakan setiap tahapan program mulai dari tahap sosialisasi, pelatihan, pemetaan sosial, perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian. FK juga berperan dalam membimbing FD/KPMD, Kader Dusun atau pelaku-pelaku program di tingkat desa dan kecamatan. Di tingkat desa :1). KPMD (Kader pemberdayaan masyarakat desa), memfasilitasi masyarakat dalam melaksanakan tahapan proses program di tingkat desa sejak persiapan, perencanaan, pelaksanaan sampai pelestarian kegiatan. 2). TPMD (Tim Pertimbangan Musyawarah Desa), memberikan pertimbangan dalam menetapkan dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan PNPM GSC. 3). PK/TPK (pelaksana kegiatan), tim yang akan melaksanakan kegiatan yang telah diputuskan musyawarah desa untuk didanai PNPM GSC terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara. 4). Kelompok ibu-ibu sasaran, kelompok yang dibentuk dengan mengumpulkan seluruh ibu yang menjadi sasaran program seperti ibu hamil dan ibu yang memiliki balita. Fungsi kelompok ini adalah sebagai forum diskusi berbagai permasalah yang dialami atau berbagi pengalaman diantara anggota-anggotanya. Salah satu kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah yang dianggap cukup berhasil melaksanakan PNPM GSC adalah Kecamatan Janapria. Pendapat ini dikemukakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Lombok Tengah karena menurutnya kerjasama antara PNPM GSC Kecamatan Janapria dengan pihak penyedia layanan kesehatan di wilayah kecamatan Janapria cukup baik dan dapat mendongkrak indikator keberhasilan program kesehatan ibu dan anak dari dinas kesehatan. Selain itu keberhasilan Kecamatan Janapria dalam PNPM GSC juga didukung oleh data capaian delapan indikator PNPM-GSC bidang Kesehatan di Kabupaten Lombok Tengah. (Tabel 1, terlampir) Berdasarkan data capaian delapan indikator di Kecamatan Janapria diperoleh informasi sebagai berikut: 1) Dari 12 desa yang ada di Kecamatan Janapria, belum ada desa yang berhasil diperiksa oleh bidan terkait ANC 4 kali (lengkap) selama masa kehamilan.
141

2) Dari 12 desa terdapat sepuluh desa di Kecamatan Janapria yang seluruh ibu hamilnya berhasil mendapatkan minimal 90 butir pil Fe selama masa kehamilan. 3) Semua desa di Kecamatan Janapria telah berhasil memperoleh persalinan yang ditangani oleh tenaga bidan atau dokter (Pn) dengan kompetensi kebidanan. 4) Dari 12 desa terdapat tujuh desa di Kecamatan Janapria yang ibu nifas dan bayinya telah berhasil memperoleh perawatan nifas oleh bidan atau dokter minimal dua kali perawatan dalam waktu 40 hari setelah proses persalinan. 5) Belum ada desa dengan bayi usia 12 bulan ke bawah yang berhasil memperoleh imunisasi dasar secara lengkap yaitu BCG, DPT, Campak, Polio, dan Hepatitis B dalam pelayanan KIA di Posyandu. 6) Semua desa dengan bayi usia 12 bulan ke bawah berat badanny a telah

berhasil di timbang dan selalu naik pada setiap bulannya (untuk bayi di bawah usia 6 bulan, berat badannya naik lebih dari 500 g per bulan dan bayi usia 6-12 bulan naik lebih dari 300 g). 7) Semua desa dengan anak usia 6 bulan sampai 59 bulan telah berhasil mendapatkan Vitamin A sebanyak 2 kali dalam Setahun. 8) Semua desa dengan anak balita (bawah lima tahun) telah berhasil ditimbang sebulan sekali secara rutin. Secara umum, implementasi capaian minimal 12 bulan GSC di Kecamatan Janapria melebihi nilai minimal indikator dengan demikian disimpulkan capaian cukup baik pada delapan indikator keberhasilan PNPM GSC. Keberhasilan PNPM GSC di Kecamatan Janapria tidak terlepas dari adanya koordinasi yang dilakukan PNPM GSC dengan layanan kesehatan yang ada di wilayah Kecamatan Janapria dimana ada dua puskesmas yang wilayah kerjanya ada di kecamatan ini yaitu Puskesmas Janapria dan Puskesmas Langko. PNPM GSC bertugas untuk melakukan kegiatan yang mendukung pelaksanaan layanan kesehatan ibu dan anak yang dilakukan oleh petugas kesehatan di Puskesmas Janapria dan Puskesmas Langko. Di bawah ini adalah grafik kunjungan K1, K4, dan linakes di
142

Puskesmas Janapria yang wilayah kerjanya meliputi enam desa yaitu Desa Janapria, Saba, Lekor, Pendem, Setuta, dan Jango.

Gambar 5.38 Kunjungan K1, K4 dan Linakes Puskesmas Janapria Thn 2010-2012 Sumber : Data PWS KIA Puskesmas Janapria 2010-2012

Berdasarkan grafik di atas terlihat bahwa kunjungan K1 pada tahun 2010 sebesar 83.3% kemudian sedikit menurun di tahun 2011 menjadi 78.3% dan kembali meningkat di tahun 2012 menjadi 88.4%. Untuk kunjungan K4 tahun angkanya cenderung terus meningkat dari tahun 2010 sebesar 77.5% kemudian menjadi 78.2% di tahun 2011 dan meningkat menjadi 82.05% di tahun 2011. Data linakes menunjukkan tahun 2010 sebesar 71.8%, menurun menjadi 65.5% pada tahun 2011 kemudian kembali meningkat menjadi 71.7% pada tahun 2012.

Pelaksanaan PNPM GSC di Desa Saba Menurut bendahara PNPM GSC Desa Saba yang juga merupakan kader posyandu Desa Saba yang juga merupakan bendahara PNPM GSC, tidak adanya pemberian uang transport bagi ibu hamil dan ibu bersalin bukan suatu masalah karena dulunya Desa Saba termasuk ke dalam desa siaga sehingga sudah ada ambulance desa yang akan mengantarkan ibu yang melahirkan. Ditambah lagi
143

dengan adanya budaya setempat yang membuat kesepakatan bersama agar penduduk yang tinggal di sekitar ibu hamil selalu siap sedia mengantarkan ibu hamil tersebut jika tiba waktu melahirkan. Kesepakatan bersama ini disebut dengan istilah “awig-awig” yaitu kesepakatan yang telah menjadi aturan bersama atau norma pada suatu masyarakat.
“..tidak jadi masalah karena desa Saba berangkat dari desa siaga maka ada ambulance desa, sudah jadi keputusan desa, awig-awignya ada siapapun yang ada di lingkungan itu ada yang mau melahirkan diwajibkan untuk membawa. Misalnya ada tetangga saya ada yang mau melahirkan, kita harus wajib mengantarkan ke tempat ibu bidan atau ke puskesmas..”

Untuk mendukung kesehatan ibu hamil sejak usia kehamilan lima bulan ibu hamil akan mendapatkan makanan tambahan. Pemberian makanan tambahan (PMT) terdiri dari dua jenis yaitu PMT penyuluhan untuk ibu hamil yang dalam kondisi sehat dan PMT pemulihan untuk ibu hamil yang tergolong kurang gizi. Bagi ibu hamil yang tergolong kurang gizi maka ibu hamil akan mendapat PMT yang porsinya lebih banyak dari ibu hamil yang dalam kondisi sehat yang terdiri dari susu 300 gram, berasnya 2 kg, telur 20 butir diberikan selama 3 bulan. Selain pemberian PMT juga dilakukan kelas ibu hamil yang dilakukan sebulan sekali. Kegiatan dalam kelas ibu hamil adalah senam bagi ibu hamil dan penyuluhan bagi ibu hamil mengenai pentingnya menjaga kesehatan selama masa kehamilan. Kelas ibu hamil ini difasilitasi oleh bidan puskesmas dengan PNPM GSC sebagai penyelenggaranya.

Pelaksanaan PNPM GSC di Desa Lekor Desa Lekor merupakan desa yang letaknya paling jauh dari pusat Kecamatan Janapria. Awalnya persalinan oleh tenaga kesehatan di desa ini sedikit, masyarakat lebih memilih untuk melahirkan di rumah dengan ditolong oleh dukun beranak yang dalam bahasa setempat disebut dengan “belian sasak”. Masyarakat Desa Lekor lebih mempercayai “belian sasak” untuk menolong
144

persalinan karena dalam menolong persalinan belian sasak menggunakan doadoa. Di bawah ini adalah data PWS KIA Desa Lekor yang diperoleh dari puskesmas Kecamatan Janapria :

Gambar 5.39 Kunjungan K1 dan K4 serta Linakes Desa Lekor, Th 2010-s.d Okt 2012 Sumber : PWS KIA Puskesmas Janapria, 2010-2012.

Berdasarkan data di atas terlihat untuk cakupan K1 mengalami peningkatan dari tahun 2010 yang semula 62.2% menjadi 68.2% pada tahun 2011 kemudian meningkat drastis menjadi 108.4% pada tahun 2012. Untuk cakupan K4 pada tahun 2010 sebesar 56.8% meningkat menjadi 71.9% pada tahun 2011 dan kembali meningkat menjadi 98.6% pada tahun 2012. Angka persalinan dengan ditolong tenaga kesehatan cakupannya sebesar 61.4% pada tahun 2010 kemudian sedikit menurun menjadi 56.57% pada tahun 2011 dan kembali meningkat menjadi 73.83% pada tahun 2012. Untuk mendorong agar masyarakat mau melahirkan di polindes dengan ditolong bidan maka PNPM GSC akan memberikan perlengkapan persalinan seperti bak mandi, kelambu bayi, paket perlengkapan bayi seperti baju bayi, popok, sabun, handuk kepada setiap ibu yang melahirkan di polindes.
145

Dalam PNPM GSC kepengurusannya terdiri dari pelaksana kegiatan 146 .40. Pada bulan Agustus tahun 2011 baru dibentuk kepengurusan tersendiri untuk PNPM GSC.” Gambar 5..000.. Poskesdes Desa Lekor yang dibangun oleh PNPM GSC Sumber : Dokumentasi Peneliti PNPM GSC di Desa Langko Kegiatan PNPM GSC telah dimulai di Desa Langko pada tahun 2011.sejak tahun 2012 per Januari sudah mulai kelihatan perubahan. Untuk mendukung keinginan masyarakat ini maka PNPM GSC memberikan uang transport bagi “belian sasak” yang membawa ibu hamil untuk melahirkan di poskesdes sebesar Rp 80. awalnya kepengurusan program ini masih bergabung dengan PNPM Perdesaan. Satu tahun ini cuma ada satu yang melahirkan non nakes. ibu tetap meminta agar “belian sasak” mendampingi ibu ketika melahirkan. Dulunya persalinan non nakes sangat banyak bisa 60-40%. Seperti pernyataan bidan Desa Lekor berikut ini: “. Strategi pemberian paket bagi ibu yang melahirkan di poskesdes dan pemberian transport bagi “belian sasak” terbukti cukup berhasil mendorong ibu hamil di Desa Lekor untuk mau melahirkan di poskesdes dengan ditolong bidan.Selain itu kehadiran balian sasak tidak dapat dihilangkan begitu saja dalam menolong persalinan karena walaupun ibu mau melahirkan di poskesdes.

Pemilihan ketua PK PNPM GSC dipilih melalui musyawarah namun jika tidak terdapat kesepakatan dilakukan voting.(PK) yang terdiri dari satu orang ketua. terpilih melalui voting. oh kamu hamil. namanya diusulkan karena telah lama menjadi KPMD di PNPM Perdesaan. Hal ini dikarenakan ibu hamil merasa enggan jika harus ke puskesmas karena harus menunggu terlalu lama. Kalau awal-awal cuma dikasih tahu sama dukun beranak. Kemudian ada yang disebut dengan Tim Pertimbangan Musyawarah Desa (TPMD). Ketua PK Desa Langko yang sekarang. satu orang sekretaris dan satu orang bendahara. Maksudnya pemeriksaan awal makanya lebih banyak yang periksa kehamilan ke dukun. Salah satu cara agar bidan mau tinggal di polindes Desa Langko maka polindes harus diperbaiki dan ada sumber air bersih.kalau dulu kan ada kepercayaan kalau dipegang awal takut keguguran. Selain PK ada yang disebut dengan Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD) yang terdiri dari dua orang. Alasan bidan tidak mau tinggal di polindes Desa Langko karena kondisi polindes yang sudah rusak dan tidak ada air bersih yang tersedia di polindes. usulan untuk merenovasi polindes paling banyak muncul di masyarakat. Seperti diungkapkan oleh informan HB seorang bidan yang masih berstatus bidan magang di Desa Langko: “. Disamping itu sebelumnya ibu hamil jarang memeriksakan kehamilan ke posyandu karena ibu hamil lebih memilih untuk memeriksakan diri ke dukun beranak. Melihat kondisi polindes seperti ini maka ketika musyawarah antar dusun dilakukan untuk menentukan prioritas kegiatan PNPM GSC. ibu-ibu hamil di Desa Langko jarang yang mau memeriksakan kehamilannya atau melahirkan di bidan puskesmas. Ibu hamil lebih memilih memeriksakan diri ke polindes karena letak polindes lebih dekat namun tidak ada bidan yang tinggal di polindes Desa Langko. Kepercayaannya kalau dari awal sudah dipegang bidan nanti keguguran atau 147 .. Ditambah lagi dengan adanya kepercayaan di masyarakat bahwa ibu hamil pantang untuk diperiksa awal oleh petugas kesehatan karena takut keguguran. Tingkat kesadarannya belum ada terhadap kesehatan jadi ketika 5 atau 6 bulan baru ke periksa ke petugas kesehatan. tanpa dipastikan atau di tes. Pada awalnya.

Seperti diutarakan oleh bidan Desa Langko berikut ini: “.. Dalam kegiatan ini dilakukan senam ibu hamil yang disertai penyuluhan terhadap ibu hamil agar mau melahirkan di polindes atau puskesmas. Sebagai dukungan untuk kesehatan ibu hamil. Hal ini cukup disayangkan oleh bidan Desa Langko karena menurutnya kelas ibu hamil sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran ibu hamil untuk memeriksakan kehamilan dan 148 .kandungannya hilang.pada kelas ibu hamil kita undang ibu hamil yang tiga bulan lagi mau melahirkan.. baru telat satu minggu saja sudah ke bidan. sampai KB harus ke tenaga kesehatan.41 Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil yang difasilitasi oleh PNPM GSC Sumber : Dokumentasi Fasilitator Kecamatan Janapria Namun pelaksanaan kelas ibu hamil tidak rutin dilakukan karena kegiatan ini bukan merupakan prioritas usulan dari masyarakat.” Gambar 5.” Untuk mengubah pandangan masyarakat. PNPM GSC juga mendanai kegiatan kelas ibu hamil. kita ajarkan senam. Kelas ibu hamil penting untuk meningkatkan kesadaran ibu hamil untuk memeriksa sampai melahirkan. Tapi sekarang sudah tidak. maka bidan Desa Langko melakukan penyuluhan setiap dilaksanakannya posyandu di setiap dusun. Karena saya belum dilatih maka yang memimpin senam bidan koordinator dari puskesmas..

K4. Setiap ibu hamil yang datang ke kelas ibu hamil diberikan uang transport sebesar Rp 20. televisi.3% ibu hamil di Desa Langko memeriksakan kehamilannya ke puskesmas. polindes atau posyandu dan pada tahun 2012 angkanya meningkat menjadi 105. Seperti pada angka K1 tahun 2011 sebanyak 98.melahirkan di tenaga kesehatan.4%.42 Kunjungan K1. Linakes Desa Langko Thn 2010-2012 Sumber : Data PWS KIA Puskesmas Langko 2010-2012 Berdasarkan tabel di atas (penjelasan 2012). K4 persalinan oleh tenaga kesehatan Desa Langko yang diperoleh dari Puskesmas Langko : Gambar 5.000 dari dana PNPM GSC. bantal dan matras untuk senam ibu hamil serta dana untuk honor narasumber dan transport untuk ibu hamil yang datang. Untuk pelatih senam atau pemberi penyuluhan biasanya juga diberikan uang sebagai narasumber. Untuk persalinan dengan ditolong tenaga kesehatan juga mengalami peningkatan berarti yaitu dari 91% pada tahun 2011 149 .7% tahun 2011 menjadi 100% pada tahun 2012. video player. Begitupula dengan angka K4 meningkat dari 95. Berikut ini adalah tabel data K1. Dalam kegiatan kelas ibu hamil PNPM GSC bertugas menyediakan sarana dan prasarana seperti sound system. terlihat bahwa ibu hamil di Desa Langko cukup rajin memeriksakan kehamilannya angkanya pun cenderung meningkat dari tahun 2011 ke tahun 2012.

” Selain merenovasi polindes.menjadi 105. Ditambah lagi dengan kesadaran masyarakat Desa Langko yang mulai meningkat karena seringnya diadakan penyuluhan kesehatan kepada ibuibu hamil. Tapi bertolak belakang dengan programnya dinas kesehatan.. Namun akibatnya jumlah ibu hamil yang mendapatkan PMT membeludak padahal jumlah dana yang ada hanya untuk 30 orang ibu hamil. Pemberian makanan tambahan ada yang untuk ibu hamil yang status gizinya masih baik dan ada yang diperuntukkan untuk ibu hamil Kek. untuk mendukung kesehatan ibu juga dilakukan pemberian makanan tambahan. Sebagai dukungan agar ibu hamil mau memeriksakan dirinya dan melahirkan ke petugas kesehatan maka PNPM GSC pernah memberikan uang transport untuk diberikan kepada ibu hamil. hasilnya jumlah dana untuk 30 orang dibagi agar cukup untuk PMT sesuai jumlah 150 .usulan dari masyarakat supaya tidak ada yang terlewatkan ibu hamil yang periksa kehamilan untuk mendapatkan jampersal nanti minimal dia periksa kehamilan empat kali sehingga kita support lewat transport itu. Peningkatan ini dapat terjadi salahsatunya karena bidan yang bertugas di Desa Langko sudah tinggal menetap di polindes Desa Langko. “. Dinas kesehatan memberitahukan hal ini ke kepala camat.. Namun pemberian uang transport kepada ibu hamil dihentikan karena tidak disetujui oleh pihak dinas kesehatan Lombok Tengah. Pada bulan kedua semua ibu hamil dapat mendaftar untuk memperoleh PMT dengan syarat memiliki buku KIA.7% pada tahun 2012. kepala desa. Awalnya pada bulan pertama jumlah yang diberikan sesuai dengan data sasaran yang ada. Di Desa Langko tanpa transport untuk ibu hamil rasanya sudah rajin periksa kehamilan karena desa Langko bukan termasuk daerah pelosok. Usulan pemberian uang transport untuk ibu hamil ini sebenarnya datang dari masyarakat namun menurut kepala Desa Langko ibu tanpa adanya uang transport pun ibu hamil di Desa sudah cukup rajin memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan karena letak Desa Langko bukan di pelosok sehingga tidak terlalu jauh dari puskesmas atau polindes. Pada tahun 2011 Desa Langko mulai memberikan PMT untuk ibu hamil. Untuk mengatasi hal ini PK Desa Langko berkonsultasi dengan petugas gizi dari puskesmas Langko.

gula. Hal ini terpaksa dilakukan walaupun nantinya PMT yang diberikan tidak mencukupi kebutuhan ibu hamil. Seperti pengalaman ibu hamil SU yang menerima PMT ibu hamil dari PNPM GSC berikut ini: “. berikut penuturannya: “. ikan kering seperti cumi. telur empat butir.kalau menurut saya belum mencukupi kebutuhan. telur rebus satu butir dan biskuit. kacangkacangan.” Desa Langko terdiri dari sepuluh dusun dimana di setiap dusun telah memiliki Posyandu dengan jumlah kader di setiap dusun sebanyak lima orang. telur.. Saya sudah mendapat PMT ibu hamil tiga kali dari hamil satu bulan..ibu yang mendaftar. Seperti susu ini kan hanya cukup untuk empat hari kadang-kadang saya beli sendiri juga susu Prenagen yang 400 gram harganya 80 ribu. tiap bulan dapat PMT ibu hamil. kalau yang 200 gram untuk empat hari. minyak goreng sebanyak 1..5 kg.. PMT yang diberikan untuk ibu hamil terdiri dari gula merah.” Namun pemberian makanan tambahan ini dirasakan informan SU tidak mencukupi untuk kebutuhan ibu hamil setiap bulannya. pemberian imunisasi dan pemeriksaan terhadap ibu hamil.pernah dapat susu untuk ibu hamil yang 200 gram. Misalnya pemberian susu untuk ibu hamil hanya diberikan susu yang ukuran kecil saja yang habis diminum dalam waktu empat hari jika diminum rutin setiap hari. PMT ibu hamil diberikan kepada ibu hamil dengan diantar ke rumah ibu hamil oleh kader posyandu. Posyandu dilakukan setiap bulan terdiri dari kegiatan penimbangan bayi dan balita. seperti terlihat pada gambar di bawah ini : 151 . ikan teri ¼ kg serta susu untuk ibu hamil ukuran 200 gram. Kalau yang 400 gram bisa untuk dua minggu. ikan teri. Ketika posyandu dilakukan setiap balita yang datang akan diberikan PMT berupa bubur kacang hijau.

(http://edukasi..” Selanjutnya akan dibahas bagamana pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC dikaitkan dengan konsep-konsep tentang pemberdayaan masyarakat yang sebelumnya telah ada.kompasiana. pemberian PMT juga bertujuan untuk menarik ibu-ibu agar mau membawa anaknya ke posyandu. memelihara. kemauan.memang sekarang salah satu perangsangnya karena ada PMT jadi banyak yang ke posyandu walaupun yang didapat cuma bubur kacang hijau sama telur. dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri (Notoatmodjo.43 PMT yang diberikan ketika posyandu di Desa Langko Sumber : Dokumentasi Peneliti Pemberian PMT selain bertujuan untuk meningkatkan gizi setiap balita yang datang ke posyandu. menggali kontribusi masyarakat. tidak seberapa. dan kemampuan masyarakat dalam mengenali. dan desentralisasi. melindungi. 2007).com). menjalin kemitraan.Gambar 5. Seperti dikemukakan oleh PK Desa Langko berikut ini: “. pemberdayaan masyarakat ialah upaya atau proses untuk menumbuhkan kesadaran. mengembangkan gotong-royong masyarakat. Menurut Notoatmodjo. Adapun prinsip pemberdayaan masyarakat adalah menumbuhkembangkan potensi masyarakat. Berdasarkan konsep di atas maka di dalam pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria sudah berusaha untuk menumbuhkan potensi masyarakat 152 . mengatasi..

oh ini potensi kita dari situ bisa dia rencanakan. Masyarakat mau melahirkan di polindes karena ada daya tarik dari paket yang diberikan bukan semata-mata karena kesadaran masyarakat yang telah tumbuh akan pentingnya melahirkan di fasilitas kesehatan dengan ditolong tenaga kesehatan. Seperti penjelasannya berikut ini: “. penanggung jawab PNPM GSC Keamatan Janapria berikut ini: “Kan diberikan pelatihan-pelatihan untuk SDM mereka.” Cara instan ini terpaksa dilakukan karena karakter penduduk Desa Lekor yang menurut FK kecamatan Janapria sulit untuk diarahkan. Sedangkan kegiatan yang dilaksanakan PNPM GSC beberapa masih ada yang bersifat instan seperti pada pelaksanaan PNPM GSC di Desa Lekor dimana untuk membuat ibu hamil mau melahirkan di poskesdes maka diberikan stimulus berupa pemberian paket perlengkapan bayi..dengan adanya pelatihan terhadap pihak pelaksana PNPM GSC di tingkat desa. Pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC lebih ke arah penguatan kapasitas pelaksana program yang ada di desa agar muncul partisipasi masyarakat untuk terlibat dalam program ini. itu mungkin yang terus dilakukan. dia yang melanjutkan. Tujuan program ini kan sebenarnya menyadarkan mereka agar menjadi kebutuhan mereka. dia yang melaksanakan. Hal ini dijelaskan oleh informan MU. Untuk perencanaan dia datang ke dusun menampung aspirasi dari situ oh ini permasalahannya. untuk melakukan perubahan pada masyarakat desa Lekor harus dilaksanakan pelan-pelan.. melaksanakan dan memantau pelaksanaan PNPM GSC.” Namun pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC belum sampai ke tahap membangun kesadaran masyarakat agar menjadi mandiri dan sadar akan pentingnya menjaga kesehatan ibu dan anak.. dia rasakan karena dia yang merencanakan. Yang sementara kita lakukan boleh saya katakana sedikit instan hanya untuk memotivasi mereka setelah itu selesai.yang belum kita lakukan sebenarnya proses penyadaran itu karena ini sangat tidak mudah. dia yang memantau. Nah proses ini yang berusaha kami lakukan. Pelatihan ini bertujuan agar masyarakat di desa dapat membuat merencanakan. Pemberian paket untuk ibu yang melahirkan di Desa Lekor disadari oleh FK PNPM GSC Kecamatan Janapria merupakan cara yang instan dan belum mengarah ke proses penyadaran. Tapi kalau program ini tidak ada siapa yang diharapkan. 153 .

menurut informan pelaksanaan kegiatan di tingkat kecamatan dan desa yang kurang bagus. Oleh karena itu. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Lombok Tengah pada awal 2011. pada awal tahun 2012 dinas kesehatan mulai mengkoordinasikan kegiatannya bersama dengan PNPM GSC dalam mencapai kegiatan yang fokus ke bidang kesehatan agar lebih terarah dalam mencapai keberhasilan indikator kesehatan ibu dan anak. dinas kesehatan belum dilibatkan dalam program PNPM GSC. Namun setelah di evaluasi kegiatan yang ada di PNPM GSC ternyata memiliki indikator yang sama dengan program KIA dari dinas kesehatan. Berikut pernyataannya: 154 . untuk mensinergikan kegiatan PNPM GSC dengan dinas kesehatan maka pihak dinas kesehatan mengundang fasilitator kabupaten PNPM GSC untuk berkoordinasi dalam melaksanakan kegiatan. Karena dalam PNPM GSC masyarakat juga harus dapat membangun kemitraan dengan instansi-instansi terkait. Program PNPM berjalan dengan kegiatannya sendiri demikian juga dengan program dinas kesehatan. Padahal PNPM GSC memiliki indikator keberhasilan program yang tidak terkait dengan pembangunan fisik.Pelaksanaan PNPM GSC yang berfokus pada keterlibatan masyarakat membuat usaha untuk membangun kemandirian kesehatan ibu dan anak di masyarakat menjadi kurang maksimal. Hal ini terlihat dari banyaknya usulan dari masyarakat yang lebih banyak ke arah pembangunan fisik seperti pembangunan atau renovasi polindes dan posyandu. Pembangunan fisik sebenarnya hanya untuk mendukung keberhasilan indikator tersebut. Namun dalam pelaksanaannya terkadang kemitraan tidak berjalan dengan sempurna karena pada awalnya belum terjalin koordinasi dan komunikasi yang baik antara pihak kesehatan dengan PNPM GSC. Hal senada juga diungkapkan oleh Kasie Gizi Dinas Kesehatan Lombok Tengah. Setiap usulan dari masyarakat seharusnya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan pihak kesehatan dan pihak pendidikan. Hanya saja.

unand. kenapa dananya tidak di puskesmas saja”. yang pertama kali saya kunjungi teman-teman dari layanan kesehatan seperti puskesmas dan dari pendidikan karena disitulah kita cari data awal.awalnya ego dari dinas itu.“. indikator mereka kan hampir sama dengan kami jadi kami yang merasa membutuhkan mereka karena mereka yang punya dana.kita sering mengundang pihak PNPM GSC karena kita butuh. 1994:89) bentuk partisipasi masyarakat dalam pembangunan terbagi atas tiga tahap. dukungan layanan.pasca. bahkan ada pertanyaan dari dinas kesehatan “kok GSC ini tentang kesehatan kok PNPM yang menangani. Tapi sering kita koordinasinya putus karena di atas koordinasinya sudah bagus yang di bawah eksekusinya kurang bagus.. Kami jawab ini kan program dari pusat dan kami laksanakan dan kita tidak jalan sendiri dan inilah bentuk pemberdayaan sebab yang melaksanakan ini kan dari masyarakat kan kita yang memfasilitasi. (http://www. 2. Tapi kita tetap tidak bisa meninggalkan yang punya bidang sehingga kita koordinasi.. Berikut penjelasan FK Kecamatan Janapria: “. Partisipasi di dalam tahap pemanfaatan. pada awalnya Dinas kesehatan mempertanyakan kenapa kegiatan PNPM GSC yang bergerak di bidang kesehatan dana pelaksanaannya tidak diserahkan ke dinas kesehatan. Partisipasi di dalam tahap perencanaan. Selanjutnya ketiga tahap 155 . kerjasama dengan layanan ini yang penting karena kalau kita tidak lakukan kerjasama itu kita kan hanya memfasilitasi tidak paham tentang teknis bagaimana kesehatan dan puskesmas lah yang tahu sehingga koordinasi ini penting untuk kita maksimalkan. “..” Namun dengan pendekatan dan komunikasi dari pelaksana PNPM di tingkat Kecamatan Janapria terutama peran dari Fasilitator Kecamatan (FK) Janapria maka cukup terjalin koordinasi yang baik antara PNPM GSC dengan pihak penyedia layanan kesehatan dalam hal ini puskesmas Janapria dan puskesmas Langko yang wilayah kerjanya adalah desa-desa di Kecamatan Janapria.ac.pertama dari FK mengawal proses fasilitasi kemudian dukungan masyarakat..id). yaitu : 1. Menurut informan MU selaku penanggung jawab program PNPM di Kecamatan Janapria.” Pada kasus pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria pada awalnya pelaksana di tingkat kecamatan juga kurang dapat berkoordinasi dengan pihak penyedia layanan kesehatan di Kecamatan Janapria. Awal-awal saya kesini saya lakukan itu..” Menurut Ericson (dalam Slamet.. Partisipasi di dalam pelaksanaan dan 3.

saran dan kritik melalui pertemuan-pertemuan yang diadakan. 1. Setelah itu masyarakat juga berpartisipasi dalam musyawarah pertanggungjawaban desa program yang diadakan ketika dana PNPM GSC sudah digunakan sebanyak 40%. Sebelum program dilaksanakan setelah dicapai kesepakatan mengenai prioritas kegiatan maka pelaksana kegiatan akan diberikan pelatihan di PNPM GSC kecamatan. Partisipasi di dalam tahap perencanaan (idea planing stage). Bentuk partisipasi masyarakat terlihat dari awal tahap perencanaan yaitu dilibatkannya masyarakat dalam memberikan usulan kegiatan melalui musyawarah antar dusun yang dilanjutkan dengan musyawarah antar desa. 80% dan 100%. bagaimana cara pelaksanaan kegiatan dan pelatihan lainnya yang bertujuan untuk membangun kesadaran pelaksana kegiatan PNPM GSC tentang pentingnya keterlibatan masyarakat dalam program ini tanpa didasari imbalan yang akan mereka dapat. bagaimana cara membuat proposal. Dalam pelaksanaan PNPM GSC partisipasi masyarakat dalam program ini merupakan wujud dari adanya pemberdayaan di dalam masyarakat. Kemudian masyarakat juga diminta untuk memberikan usulannya mengenai kegiatan apa saja yang diprioritaskan untuk dilakukan. Dalam musyawarah pertanggungjawaban desa masyarakat diminta untuk menilai pelaksanaan 156 . Masyarakat berpartisipasi dengan memberikan usulan. Dalam pelatihan diberikan materi mengenai bagaimana cara membuat rancangan anggaran (RAB).partisipasi masyarakat tersebut akan coba dikaitkan dengan pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria. Dalam musyawarah antar dusun masyarakat diberikan kesempatan untuk memberikan usulan dalam rangka memperbaiki kondisi kesehatan ibu dan anak serta kondisi pendidikan. Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap penyusunan rencana dan strategi dalam penyusunan kepanitian dan anggaran pada suatu kegiatan/proyek.

misalnya kita membangun posyandu tidak mungkin program menganggarkan jadi syaratnya masyarakat harus menyiapkan lahan yang sudah dibebaskan dengan bukti pembebasan ada dan berupa hibah dari pihak desa. Syarat dari PNPM GSC untuk membangun polindes atau posyandu adalah harus adanya masyarakat yang mau menghibahkan tanahnya sebagai lokasi polindes atau posyandu. uang ataupun material/barang serta ide-ide sebagai salah satu wujud partisipasinya pada pekerjaan tersebut. Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap pelaksanaan pekerjaan suatu proyek. Ada kegiatan lain dimana masyarakat berswadaya dalam bentuk tenaga. partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan PNPM GSC juga dapat dilihat dari adanya masyarakat yang bersedia rumahnya digunakan sebagai tempat pelaksanaan posyandu. Dalam PNPM GSC bentuk partisipasi ini dapat terlihat dari adanya masyarakat yang mau menghibahkan tanahnya untuk dijadikan polindes atau posyandu. Seperti kepala dusun Langko Gunting di Desa Langko 157 .. material. Partisipasi di dalam tahap pelaksanaan (implementation stage). kalau ada lahan itu baru kita setujui pembangunan posyandu. “. 2..PNPM GSC. PNPM GSC hanya memfasilitasi biaya untuk pembangunan polindes atau posyandu seperti pembelian bahan bangunan.” Selain penyediaan lahan untuk pembangunan polindes atau posyandu. Jika ternyata kegiatan yang dilakukan tidak sesuai dengan usulan masyarakat atau pelaksana kegiatan PNPM GSC di desa tidak kelihatan kinerjanya maka masyarakat akan mengkritik pelaksana kegiatan PNPM GSC. Masyarakat disini dapat memberikan tenaga. Sedangkan untuk tenaga membangun polindes atau posyandu ada juga yang berasal dari masyarakat setempat. Masyarakat akan menilai pelaksanaan PNPM GSC berhasil jika prioritas kegiatan yang diusulkan masyarakat benar-benar telah dilakukan. Kemudian jika pelaksana kegiatan PNPM GSC tidak dapat mempertanggungjawabkan dana yang telah terpakai maka bisa saja ketua dan anggotanya diusulkan oleh masyarakat untuk diganti.

Maka sebagai balas jasa dari apa yang telah dilakukan para kader kebanyakan muncul usulan di masyarakat untuk memberikan insentif bagi para kader dengan menggunakan dana PNPM GSC. berikut uraiannya: “. Desa Langko berikut ini : “. Jadi satu orang kader total mendapatkan uang transport sebesar Rp 45.. pada hari pelaksanaan posyandu dan satu hari setelah pelaksanaan posyandu sebesar Rp 15. Dalam PNPM GSC peran kader posyandu sangat penting karena kader posyandu sebagai penyuluh terdepan yang dapat mengajak masyarakat agar mau memanfaatkan layanan kesehatan. Seperti pernyataan informan IT.. KPM akan kesulitan untuk mendata sasaran dan menemukan permasalahan kesehatan ibu dan anak yang ada pada setiap dusun.” Partisipasi dalam tahap pelaksanaan juga terlihat dari adanya peran kader posyandu dalam pelaksanaan kegiatan PNPM GSC.rumah saya dijadikan tempat untuk posyandu sejak setahun terakhir ketika saya menjadi kepala dusun karena di dusun Langko Gunting ini belum ada tempat pelaksanaan posyandu yang permanen. Soalnya dari dulu sudah jadi kader walaupun tidak ada honornya. Namun adanya insentif ini bukanlah motivasi utama kader di Desa Langko melaksanakan perannya sebagai seorang kader.kalau saya tetap akan jadi kader walaupun nanti suatu saat tidak ada honor lagi dari PNPM GSC. Insentif ini tidak berupa gaji tetapi uang transport yang diberikan sehari sebelum pelaksanaan posyandu.. seorang kader dari Dusun Lengarak. Kader posyandu juga turut membantu KPMD (Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa) dalam mendata sasaran yang ada di desa. Anggota KPMD hanya dua orang jika tanpa bantuan dari kaderkader posyandu di setiap dusun.” 158 .000 per harinya.000..yang bersedia rumahnya dipakai untuk pelaksanaan posyandu setiap bulannya. Dengan adanya uang transport ini masyarakat berharap kader posyandu lebih giat mengajak ibu yang memiliki bayi dan balita agar mau membawa anaknya ke posyandu dan memotivasi ibu hamil agar mau memeriksakan kehamilan dan melahirkan di tenaga kesehatan.

bahkan dapat dikatakan gugusan pulau sangat kecil. Partisipasi di dalam pemanfaatan (utilitazion stage) Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap pemanfaatan suatu proyek setelah proyek tersebut selesai dikerjakan. Kabupaten Wakatobi. Provinsi Sulawesi Tenggara. Sebelum ada PNPM GSC ia tidak pernah mendapatkan insentif per bulannya namun walaupun suatu saat tidak ada lagi insentif dari PNPM GSC ia tetap akan menjadi kader karena uang bukanlah motivasi utamanya menjadi kader. Dalam musyawarah pertanggungjawaban desa. masyarakat berhak menilai apakah kepengurusan pelaksana kegiatan di desa berjalan dengan baik atau tidak. kebanyakan kader adalah perempuan. 5. Kepulauan Wakatobi merupakan gugusan pulau-pulai kecil. Kader IT sudah lebih dari sepuluh tahun lamanya menjadi kader di Dusun Lengarak.2 BAYANG-BAYANG JAMPERSAL DI LAMANGGAU Desa Lamanggau terletak di Kecamatan Tomia. Masyarakat berhak mengusulkan kepengurusan akan tetap dilanjutkan atau harus diganti. yang membentang dari Utara ke Selatan di antara 5012’ – 6010’ LS (sepanjang kurang lebih 160km) dan 123020’ – 124039’ BT (sepanjang kurang lebih 120 km). berjumlah 48 buah pulau dengan luas daratan 823 km2 dan luas perairan 13.8.Kader IT adalah satu-satunya kader laki-laki yang ada di Kecamatan Janapria. Kabupaten Wakatobi terletak di sebelah Timur Kabupaten Buton. Pada PNPM GSC partisipasi ini terlihat dengan terlibatnya masyarakat pada musyawarah pertanggungjawaban desa ketika dana PNPM GSC sudah terpakai dan kegiatan-kegiatan dalam PNPM GSC di desa sudah dilaksanakan.96 km.900 km2 serta panjang garis pantai 251. 3. 159 .

dan apabila tidak mencukupi 10 orang bisa saja keberangkatan ditunda hingga esok hari. yaitu pada pukul 09. Pulau Wangi-wangi. Desa Lamanggau dapat diakses hanya dengan speed boat dan pompong atau disebut bodi dalam bahasa Bajo. Waktu tempuh ojek ini sekitar 20 menit dengan tarif Rp.15. maka keberangkatan akan ditunda sampai jam 10 pagi. Salah satu desa tersebut adalah Desa Lamanggau yang terletak di Pulau Tolandono.00 penumpang belum mencapai jumlah sepuluh orang.com/2012/04/peta-wakatobi.blogspot. Speed boat hanya beroperasi satu hari sekali. Perjalanan dari Wangi-wangi ini membutuhkan waktu sekitar 2. 76 desa (sumber: Permendagri Nomor 66 Tahun 2011). Setelah tiba di Dermaga Waitii. 8 kelurahan. perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan pompong 160 .html Kabupaten Wakatobi memiliki 8 kecamatan. jadwal tersebut tidak menentu tergantung pada keadaan penumpang. Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Jabal di Wanci.5 jam untuk sampai ke Dermaga Osuku di pulau Tomia.Gambar 5.000. yaitu sebuah pulau yang berada di barat daya Pulau Tomia. Apabila pada pukul 09. Namun. dengan menggunakan speed boat dengan tarif Rp 120.00 pagi. yang kemudian akan dilanjutkan dengan ojek darat menuju Dermaga Waitii.000 perorang.-.44 Peta Kabupaten Wakatobi Sumber: http://visitkendari.

Dusun ini dihuni oleh orang Bajo dan orang Buton-Tomia yang telah melakukan 161 .45 Peta Desa Lamanggau Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. Berbeda dengan Dusun Lasoilo. Desa Lamanggau terdiri dari tiga dusun. Dusun Lasoilo yang berada di tepi laut mayoritas dihuni oleh orang Bajo. dusun yang ketiga adalah Dusun Dunia Baru. yaitu Desa Lamanggau.000 per orang. terletak di daratan yang agak tinggi. Mayoritas rumah yang terdapat di Dusun Ketapang terbuat dari semen dan sebagian terbuat dari kayu. Gambar 5.untuk menuju Pulau Tolandono selama kurang lebih 10 menit dengan tariff Rp 3. Dusun Ketapang. Kata ‘darat’ tersebut menunjukan kondisi Dusun Ketapang tempat mayoritas orang Buton Tomia berada. Secara administratif. Di pulau tersebutlah Desa Lamanggau terletak. yaitu Dusun Lasoilo. Desa Lamanggau termasuk dalam wilayah Kecamatan Tomia. Rumah-rumah di dusun tersebut mayoritas didirikan di tepi laut bahkan ada yang didirikan di atas laut. Kabupaten Wakatobi. November 2012 Di Pulau Tolandono hanya terdapat satu desa. dibangun jembatan kayu sebagai alat penyeberangan dari satu rumah ke rumah lain. Dusun Ketapang mayoritas dihuni oleh orang Buton Tomia yang seringkali disebut dengan ‘orang darat’ oleh orang Bajo. dan Dusun Dunia Baru. Sementara itu. Sebagai penghubung antara satu rumah ke rumah lain.

Selain Desa Lamanggau. tepatnya di sebelah selatan DWR. sedangkan sebagian lagi tinggal di lautan. Kondisi geografi Dusun Dunia Baru merupakan perpaduan antara Dusun Lasoilo dan Dusun Ketapang. Resort tersebut berdiri sekitar tahun 1990-an oleh investor asing. Tidak tersedia sumber mata air tawar di Desa Lamanggau. Pada siang hari tak ada aliran listrik sama sekali. sehingga sekilas puskesmas ini terlihat terletak dalam area DWR. Resort tersebut juga menawarkan wisata bawah laut di sekitar Pulau Tomia.00. apalagi wisatawan asing yang berkunjung ke sana. kendaraan tersebut hanya bisa 162 . ada yang berbentuk uang tunai ada juga yang berbentuk bangunan seperti pagar desa. sehingga banyak wisatawan. bantuan yang diberikan berupa bantuan uang kas desa dan aliran listrik pada malam hari yang dimulai sejak pukul jam 18. Dengan kata lain. Puskesmas tersebut terletak kurang lebih satu kilometer dari pemukiman masyarakat Desa Lamanggau. sebagian masyarakat Dusun Dunia Baru tinggal di daratan.perkawinan. Namun. Biaya yang dikeluarkan untuk menyewa kendaraan tersebut sekitar Rp 20. Jalur darat hanya dapat dilalui dengan menggunakan kendaraan roda dua. Untuk desa Lamanggau. masyarakat harus menyebrang pulau untuk bisa mencapai sumber mata air tawar. Untuk menuju ke puskesmas tersebut dapat melalui dua jalur.00 hingga 06. Desa Lamanggau merupakan satu-satunya desa yang menjadi wilayah kerja Puskesmas Onemobaa. Puskesmas tersebut dibangun pada tahun 2007 di sebelah timur Dive Wakatobi Resort (DWR) yang dibangun sekitar tahun 1990an.000 (pulang pergi) dengan jarak tempuh kurang lebih 10 sampai 15 menit. Tentunya kondisi ini mencakup pustu dan puskesmas yang ada di sana. Begitu pula dengan kecukupan air bersih di desa ini. karena jalan yang dilalui berupa jalan setapak yang dikelilingi oleh kebun dan semak-semak. Listrik yang mengalir di Desa Lamanggau merupakan bantuan dari Dive Wakatobi Resort yang terletak di bagian barat daya Pulau Tolandono. yaitu jalur darat dan jalur laut. resort tersebut juga memberikan bantuan kepada beberapa desa yang ada di Pulau Tomia dan sekitarnya. Bantuan tersebut bermacam-macam.

mencapai pos satpam DWR. Setelah sampai di gerbang resort. Sebelum masuk ke Puskesmas Onemobaa. Setelah menunggu beberapa menit untuk mendapat izin dari satpam. Setelah berjalan kurang lebih 10 menit. Jalur kedua adalah melalui jalur laut dengan memggunakan pompong. pengunjung terlbih dahulu izin ke satpam yang berjada di pintu gerbang tersebut Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. Perjalanan tersebut ditempuh kurang lebih 10 hingga 15 menit. Akses jalan ini berupa jalan tanah berkerikil dan mempunyai banyak cabang jalan yang membuat bingung pengunjung yang belum pernah ke sana.47 Jalan menuju Puskesmas Onemobaa (kiri) dan pintu gerbang milik Dive Wakatobi Resort (kanan). pengunjung dipersilahkan masuk dengan jalur yang telah ditentukan. pengunjung puskesmas wajib lapor ke satpam penjaga resort. Gambar 5. pengunjung harus berjalan selama kurang lebih 10 menit melewati jalan setapak yang dikelilingi oleh kebun untuk menuju ke pos satpam resort. Dari dermaga. Jalan setapak ini bukanlah jalan yang mulus beraspal bagus dan mudah untuk dilewati. Perjalanan dimulai dari Dermaga Lamanggau menuju dermaga yang terletak sebelum DWR. Setelah tiba di pos satpam.46 dan 5. pengunjung puskesmas masih harus menunggu izin dari satpam untuk dapat masuk dan melanjutkan perjalanan menuju puskesmas. tibalah di Puskesmas Onemobaa. November 2012 163 .

164 . poli gigi. Bangunan Puskesmas Onemobaa terdiri dari beberapa ruangan yang sudah dipasang papan nama ruangan seperti ruangan KIA. sebelumnya bangunan ini juga sudah dipasangi genset dan tandon air. Pada saat ada kunjungan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten. Pada awalnya bangunan puskesmas dikelilingi oleh pagar kawat berduri sehingga pengunjung harus melewati jalan depan. namun jika melewati jalan belakang. dan loket pendaftaran. sampah tersebut tidak terlihat. bersalin. maka pengunjung akan melewati tumpukan sampah. Menurut penuturan kepala puskesmas. Hal yang paling memprihatinkan di sisi bangunan ini dijadikan tempat pembuangan sampah kering dan tanaman dari resort. bahkan tidak ada satu rumah pun berdiri di sekitar bangunan puskesmas. Sampai saat ini kepala puskesmas dan stafnya secara bergilir masih datang untuk mengecek bangunan atau sekedar membersihkan puskesmas dan lingkungan sekitarnya. Memang jika dilihat dari depan. gunting. dan untuk menuju jalan depan pengunjung akan menambah waktu untuk berjalan. Namun karena tidak dipakai. Di dalam bangunan tersebut terdapat beberapa alat kesehatan seperti tempat periksa pasien. pagar kawat berduri tersebut dirusak sebagian oleh kepala dinas karena dianggap menghambat akses masyarakat untuk ke puskesmas. dua alat tersebut dipindahkan ke pustu yang terletak di Dusun Ketapang. Puskesmas tersebut dikelilingi oleh kebun dan semak-semak belukar.Puskesmas Onemobaa terletak jauh dari pemukiman masyarakat Desa Lamanggau. Beberapa alat kesehatan tersebut mulai tampak berkarat. dan alat pendukung lainnya seperti meja dan kursi.

dan dapur. sejak Puskesmas Onemobaa dibangun hingga saat ini belum ada masyarakat setempat yang menggunakan puskesmas tersebut sebagai tempat untuk mendapatkan fasilitas kesehatan. sejak dibangun hingga saat ini rumah tersebut belum pernah digunakan sama halnya dengan Puskesmas Onemobaa.48. Di salah satu rumah tersebut telah tersedia kasur lengkap dengan batalnya.49 dan 5. dua bangunan tersebut diperuntukan kepala puskesmas dan tenaga kesehatan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa. 5. Rumah tersebut terbuat dari kayu yang memiliki dua kamar. November 2012 Selain bangunan puskesmas. terdapat juga dua bangunan yang berbentuk rumah panggung. Menurut kepala puskesmas.Gambar 5. dan rumah tenaga kesehatan yang megah tapi tidak pernah dihuni (bawah). Namun. 165 .50 Gedung Puskesmas Onemobaa yang mulai tertutup dengan tumbuhan yang menjulang tinggi (kiri). Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. Menurut masyarakat Desa Lamanggau. tempat periksa pasien yang sudah mulai berkarat (kanan). Dua rumah tersebut memiliki ukuran dan bentuk yang sama. kamar mandi. ruang tamu.

tiga orang perawat. Berdasarkan data mengenai jumlah dan latar belakang petugas puskesmas. Hal ini disebabkan karena sekitar bulan September 2012. yang terdiri dari satu kepala puskesmas dengan latar pendidikan kesehatan lingkungan. Hal ini disebabkan karena letak puskesmas yang jauh dari pemukiman masyarakat. misalnya kepala puskesmas yang merangkap juga sebagai petugas obat-obatan atau perawat yang merangkap menjadi petugas administrasi.bahkan sebagian besar belum pernah berkunjung ke puskesmas. Kepala puskesmas dan satu orang perawat lainnya ditugaskan dengan nota dinas dari Puskesmas Tomia untuk membantu Puskesmas Onemoba’a. dan petugas kesehatan yang ‘tidak ada’. maka tak heran jika setiap petugas memiliki tugas ganda. hanya ada satu petugas kesehatan yang menetap di Desa Lamanggau. Dia adalah seorang petugas kesehatan yang diperbantukan khusus dari pusat. Jumlah petugas Puskesmas Onemobaa ada lima orang. dari lima petugas kesehatan tersebut. dapat dilihat bahwa tidak ada bidan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa. Dengan kata lain. Empat orang petugas lainnya tinggal di Pulau Tomia yang terletak di seberang Pulau Tolandono. Sementara itu. Lima orang petugas tersebut dibantu oleh dua orang tenaga honorer lulusan SMA. Namun. Sejak diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan SK penempatan di 166 . satu orang petugas kesehatan lingkungan merupakan tenaga khusus yang diperbantukan dari pusat. Kondisi Puskesmas Onemobaa yang jauh dari pemukiman masyarakat menyebabkan para petugas kesehatan di puskesmas tersebut bertugas dan berkantor di pustu yang terletak di Dusun Ketapang. akses yang ‘rumit’ karena harus menunggu izin dari satpam resort. yaitu dua orang perawat. bidan yang ditugaskan untuk membantu Puskesmas Onemobaa mengajukan surat pindah kembali ke Puskesmas Osuku sesuai dengan SK penempatannya. dan satu orang petugas kesehatan lingkungan yang ditugaskan khusus dari pusat. Dari lima petugas puskesmas tersebut hanya dua orang yang memiliki SK penempatan di Puskemas Onemobaa. Dengan jumlah petugas yang terbatas seperti ini. tidak ada bidan yang dapat menolong persalinan di Desa Lamanggau.

bidan tersebut telah bertugas selama dua tahun di Puskesmas Onemobaa. Alasan bidan tersebut tidak tinggal di Desa Lamanggau karena keterbatasan fasilitas yang dimiliki oleh Desa Lamanggau seperti air dan listrik yang hanya menyala pada malam hari. Namun ada rasa sungkan yang dimiliki oleh masyarakat setempat untuk memanggil bidan apalagi jika persalinan terjadi pada malam hari. selama dua tahun ia bertugas di Desa Lamanggau. Kondisi tersebutlah yang memberatkannya untuk tinggal di Desa Lamanggau. Dari empat orang yang ditolong tersebut.00 malam hari. bidan tersebut belum pernah tinggal di Desa Lamanggau yang menjadi satu-satunya wilayah kerja Puskesmas Onemobaa. Sebelum ditugaskan di Puskesmas Onemobaa. Namun menurutnya. ada empat orang ibu yang ditolongnya untuk melakukan persalinan. bidan tersebut kembalu bertugas di Puskesmas Osuku sesuai dengan SK penempatannya. sejak September 2012. 167 . Kini. bidan tersebut yang merupakan kelahiran Osuku. telah mempunyai keluarga dan sedang hamil delapan bulan. bidan tersebut tetap menerima panggilan masyarakat untuk membantu persalinan. meskipun tidak tinggal di Desa Lamanggau.Puskesmas Osuku. tiga orang berasal dari etnis Bajo dan satu orang dari etnis Buton-Tomia. Menurut cerita bidan tersebut. Jadi. ia tidak bisa mengklaim persalinan tersebut sebagai persalinan yang didanai oleh Jampersal. Selama bertugas di Puskesmas Onemobaa. Selain itu. Hal ini disebabkan karena keadaan transportasi laut yang tersedia antara Pulau Tomia dan Pulau Tolandono hanya beroperasi sampai pukul 19. Hal ini berkaitan dengan kebijakan pemerintah Kabupaten Wakatobi yang mengadopsi kebijakan Kementerian Kesehatan bahwa persalinan yang didanai oleh Jampersal adalah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. bidan tersebut pernah mengabdikan dirinya di Puskesmas Onemobaa sebagai bidan PTT (Pegawai Tidak Tetap) pada tahun 2011. Empat persalinan yang ditolong oleh bidan tersebut dilakukan di rumah. Oleh sebab itu. bukan di fasilitas kesehatan. bidan tersebut ditugaskan untuk membantu Puskesmas Oneombaa.

sehingga ada rasa sungkan untuk memanggil bidan tersebut. Berbagai upaya telah dilakukan bidan tersebut untuk menarik minat masyarakat agar mau bersalin di tenaga kesehatan ataupun fasilitas kesehatan. Baginya untuk sampai tahap masyarakat mau memanggilnya pada saat persalinan pun sudah hal yang luar biasa. Dari empat persalinan tersebut. Masyarakat sebagai sasaran tenaga kesehatan mempunyai alasan sendiri mengapa mereka tidak mau memanggil bidan sebagai penolong persalinan dan mengapa mereka tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan yang telah disediakan.Menurut penuturan Bidan Mi (nama samaran bidan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa pada saat itu). keengganan mereka memanggil bidan untuk menolong persalinan karena letak rumah bidan tersebut tidak berada di sekitar mereka. dari tahun 2011 hingga tahun 2012. Masyarakat setempat seringkali memanggil dukun beranak untuk menolong persalinan. misalnya sosialiasi tentang persalinan gratis sampai pada iming-iming akan diberikan hadiah bila mau melakukan persalinan di tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. satu persalinan lagi ditolong oleh Bidan Mi karena pada saat persalinan terjadi Bidan Mi secara tidak sengaja sedang berjalan lewat rumah ibu tersebut. bidan tersebut berada di seberang pulau. hanya ada empat persalinan yang ditolong oleh bidan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun nyatanya upaya tersebut belum membuahkan hasil. apalagi persalinan sering terjadi pada malam hari atau dini hari. Bidan dipanggil kadangkala hanya untuk memberikan suntikan pasca-persalinan. Dengan kata lain. Sementara itu. agak sulit mengajak masyarakat Lamanggau untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. sedangkan transportasi antar Pulau Tomia dan Pulua Tolandono hanya sampai pada pukul 19.00 malam hari. sehingga dipanggil untuk membantu persalinan. Menurut penuturan beberapa orang dari masyarakat setempat. hanya ada tiga ibu yang memanggil Bidan Mi berdasarkan kesadaran ibu itu sendiri. Hal ini terlihat pada data persalinan tahun 2012 yang menjelaskan bahwa hanya ada dua persalinan yang ditolong oleh bidan dari sepuluh persalinan yang terjadi di tahun 2012. Selain itu. Meskipun bidan tersebut selalu berkata bahwa dia 168 .

pustu yang dibangun di ‘sudut’ pemukiman masyarakat dan dekat dengan kuburan juga menjadi salah satu alasan lagi. Mereka khawatir akan terjadi hal-hal yang buruk akan terjadi pada ibu dan bayinya jika melahirkan di pustu yang dekat dengan lokasi kuburan. 3) tenaga kesehatan yang tidak ada. yang menurut mereka haus akan darah. keengganan masyarakat tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi sarana yang tersedia di fasilitas tersebut seperti air dan listrik tidak tersedia di fasilitas kesehatan tersebut. Lokasi kuburan yang identik dengan tempat tinggal makhluk halus. mereka lebih memilih dukun beranak sebagai penolong persalinan dan rumah sebagai tempat persalinan. jadi mereka harus dijaga sebaik mungkin dengan melakukan pantangan-pantangan yang ditentukan oleh adat. namun ada rasa sungkan yang dimiliki masyarakat untuk menghubungi bidan pada malam hari apalagi terkendala dengan trasnportasi. Sementara itu. Selain itu. Selain enggan memanggil bidan sebagai penolong persalinan. 169 . tentunya menjadi pantangan bagi masyarakat di sini. masyarakat setempat juga tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. dan 4) berkaitan dengan sosial budaya yang dimiliki oleh masyarakat setempat. Selain faktor letak fasilitas kesehatan. orang yang sedang hamil dan bayi adalah rentan terhadap gangguan makhlukmakhluk halus. Ada beberapa alasan yang diungkapkan oleh masyarakat mengapa mereka tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan.siap untuk dihubungi kapanpun. Puskesmas Onemobaa yang letaknya jauh dari pemukiman masyarakat seperti yang telah dijelaskan sebelumnya menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat tidak mau melakukan persalinan di puskesmas. tenaga kesehatan pun kadangkala tidak ada di fasilitas kesehatan meskipun di siang hari. Oleh sebab itu. antara lain 1) letak puskesmas yang jauh dari pemukiman dan letak pustu yang dekat dengan kuburan. Menurut kepercayaan masyarakat setempat. 2) tidak ada air dan listrik yang tersedia di fasilitas kesehatan.

Ada dua posyandu yang dibentuk oleh puskesmas. Apabila melakukan persalinan di rumah. Oleh sebab itu. Dengan kata 170 . di Desa Lamanggau terdapat polindes yang dibangun berdasarkan program Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM MPd). dan perlengkapan lainnya. ada kepercayaan dalam masyarakat Bajo khususnya. bangunan polindes ini ditujukan sebagai tempat bersalin. dan nilai budaya yang dimilki oleh masyarakat setempat. Polindes ini sudah dibangun terlebih dahulu sebelum adanya pustu ataupun puskesmas. yang sebetulnya tempatnya lebih strategis daripada pustu karena letaknya tepat di tengah desa. hingga akhirnya kini digunakan sebagai rumah tinggal ustadz yang memang ditugaskan oleh sebuah yayasan agama untuk mengabdi dan mengajarkan ilmu agama bagi masyarakat Lamanggau ini. pustu. Selain pustu. Pada awal pembangunannya. yaitu Posyandu Cemara I untuk masyarakat yang tinggal di Dusun Ketapang dan Dunia Baru dan Posyandu Cemara II untuk masyarakat di Dusun Lasoilo. di Desa Lamanggau juga terdapat posyandu. Namun pada kenyataannya hingga saat ini belum pernah sekalipun tempat itu digunakan sebagai tempat persalinan. bahwa ada syarat yang harus dipenuhi sebagai tempat persalinan yang akan dijelaskan pada bagian selanjutnya. listrik. dan polindes. Alasan yang paling umum diutarakan adalah akses air dan listrik yang memang sulit di desa ini. tetangga yang ada di sekitar juga dapat membantu persalinan seperti menyediakan air. mereka enggan melakukan persalinan di puskesmas atau pustu karena syarat tersebut belum dipenuhi. Hal ini tentunya terkait dengan masalah ketersediaan air.Dukun beranak dipilih sebagai penolong persalinan dan rumah sebagai tempat persalinan dipengaruhi oleh faktor sosial budaya yang dimiliki oleh masyarakat setempat. Polindes tersebut dibangun di sebelah masjid. Selain tersedia puskesmas. makanan. Polindes tersebut sempat akan dijadikan sebagai rumah dinas bagi bidan yang bertugas di Desa Lamanggau ini. Bangunan ini sempat dibiarkan kosong selama beberapa tahun. Selain itu. Namun ternyata tidak ada satu pun bidan yang pernah bertugas di desa ini berminat untuk tinggal.

lain. Hal ini disebabkan karena kondisi pangullieh yang sudah tua dan didukung dengan kondisi kesehatannya yang kurang baik. Pada tanggal yang telah ditentukan para kader akan bergotong royong membersiapkan peralatan penimbangan dan petugas puskesmas akan datang untuk melakukan pemeriksaan. Akhirnya pihak puskesmas merekrut kader-kader dari masyarakat Bajo dan membentuk Posyandu Cemara II. PERSALINAN DI DESA LAMANGGAU Berdasarkan data sekunder yang terdapat di pustu. Mereka dengan sigap membantu petugas puskesmas untuk mengumpulkan para ibu hamil dan balita. yaitu Posyandu Cemara I. Pada saat ini ada seorang sando dan seorang pangullieh di Desa Lamanggau. maka para kader tersebut akan mendatangi rumah yang bersangkutan dan menjemput untuk datang ke posyandu. Pada awal tahun 171 . Pangullieh yang berusia sekitar 60-an tahun mempunyai penyakit diabetes. karena masyarakat Bajo sedikit sekali yang terjaring dalam pemeriksaan. Sando merupakan istilah dukun beranak yang berasal dari orang Buton-Tomia. Namun ternyata satu posyandu tersebut kurang efektif. khususnya Posyandu Cemara 2. Bahkan jika jumlah kunjungan pada hari itu kurang dari biasanya. Posyandu Cemara I untuk ‘orang darat’ dan Posyandu Cemara II untuk orang Bajo. sedangkan dukun beranak dari orang Bajo disebut dengan istilah pangullieh. terdapat 8 orang dari 10 ibu bersalin yang ditolong oleh sando pada tahun 2012. sando-lah yang paling banyak memegang peran dalam persalinan di Desa Lamanggau sejak tahun 2010. yaitu setiap tanggal 20 untuk Posyandu Cemara I dan tanggal 21 untuk Posyandu Cemara II. Kegiatan Posyandu ini dilakukan di teras salah satu rumah warga. Kegiatan posyandu-posyandu ini diadakan satu bulan sekali. Pada awalnya hanya ada satu posyandu yang terdapat di Desa Lamanggau. dikarenakan ada yang tidak datang. Namun. Tak heran jika para petugas puskesmas merasa sangat terbantu dengan adanya para kader ini. Para kader posyandu di desa ini sangat aktif.

Akhirnya. dan bayi untuk memeriksakan diri ke petugas kesehatan. ibu nifas. pertolongan persalinan. apabila ia menolong persalinan. dan balita. dan bayi ke petugas kesehatan. Arisan tersebut diadakan sebagai wadah untuk bertukar pikiran antara para pangullieh. Sejak saat itu. arisan tersebut juga menjadi wadah bagi pihak puskesmas untuk memberikan pengetahuan kepada para pangullieh dan sando tentang cara pertolongan persalinan termasuk memberikan alat-alat pertolongan persalinan seperti gunting dan sarung tangan. dan petugas kesehatan. Sejak saat itu. putri pangullieh. penyakit diabetesnya semakin parah yang melemahkan kondisi fisiknya. Sejak saat itu pula pangullieh tidak dipanggil lagi oleh masyarakat setempat untuk menolong persalinan. baik pangullieh maupun sando. Puskesmas Waha mewajibkan semua dukun beranak. ibu nifas. Berdasarkan pengetahuan tersebutlah ia sedikit mengerti tentang ‘ilmu’ dalam dunia medis tentang pertolongan persalinan. Ibu Ma yang juga berperan sebagai kader kesehatan selalu menyarankan ibu hamil. sando. ibu nifas. melarang ibunya untuk menolong persalinan. ia memanggil Bidan Mi yang pada saat itu masih bertugas sebagai bidan di Puskesmas Onemobaa untuk menolong persalinan. ia selalu menyarankan ibu pasca-bersalin tersebut untuk memeriksakan diri ke petugas kesehatan. ia selalu menyarankan untuk memeriksakan kehamilan. Pada tahun 2004 dia pernah ‘magang’ di Puskesmas Waha. ibu bersalin. Pada saat itu.2010. Pangullieh berperan sebagai penolong persalinan di Desa Lamanggau selama kurang lebih 35 tahun. Selain itu. Sama halnya dengan pangullieh. Begitu pula pada saat Ibu Ma melahirkan putra bungsunya pada bulan Februari 2012. untuk datang ke Puskesmas Waha sebulan sekali untuk mengikuti arisan dukun beranak. Ibu Ma. Sama halnya dengan pangullieh. Berbeda dengan pangullieh. sando berperan sebagai dukun beranak di Desa Lamanggau selama kurang lebih 15 tahun. sando juga ikut dalam arisan dukun beranak yang diadakan oleh Puskesmas 172 . Begitu pula apabila ia menemukan ibu hamil. banyak pengetahuan tentang kehamilan. dan ibu nifas yang ia peroleh pada saat itu. Menurut pangullieh. sando-lah yang dipanggil oleh masyarakat setempat untuk menolong persalinan di Desa Lamanggau.

Percampuran budaya antara dua kelompok yang berbeda tersebut disebut dengan asimilasi oleh para antropolog. Setelah mereka bergaul dengan intensif. Sejak masyarakat Desa Lamanggau mengetahui bahwa Bidan Mi sedang hamil. bahkan ibu hamil dilarang berada di rumah ibu yang sedang bersalin. maka ibu hamil tersebut ‘diungsikan’ terlebih dahulu dari tempat ibu bersalin. Selain percampuran budaya antara dua etnis tersebut. Salah satu nilai budaya yang dimiliki oleh masyarakat Desa Lamanggau adalah kepercayaan bahwa ibu hamil tidak boleh menolong persalinan. Terlepas dari itu. sifat khas dari unsur-unsur kebudayaan masing-masing berubah menjadi unsur kebudayaan campuran (Hermanto. Namun. Kepercayaan ini diyakini oleh masyarakat Desa Lamanggau baik yang berasal dari etnis Buton-Tomia maupun etnis Bajo. maka mereka tidak memanggil Bidan Mi untuk menolong persalinan meskipun pada saat itu Bidan Mi masih bertugas di Puskesmas Onemobaa. apakah berasal dari etnis Buton-Tomia atau dari etnis Bajo. ada nilai budaya yang dimiliki oleh orang Bajo tetapi tidak dimiliki oleh orang darat. termasuk orang Bajo meskipun sando adalah ‘orang darat’.Waha. Peran sando sebagai penolong persalinan dalam dua etnis yang berbeda tersebutlah menyebabkan adanya percampuran budaya yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan antara orang Buton-Tomia dan orang Bajo.1 Percampuran budaya tersebut juga menyebabkan kaburnya ‘pemilik asli’ budaya tersebut. Sejak pangullieh sudah tidak menolong persalinan lagi. sejak saat itu pula sando yang seringkali dipanggil oleh masyarakat Desa Lamanggau untuk menolong persalinan. 2010:120) 173 . Dengan kata lain. asimilasi adalah suatu proses sosial yang terjadi pada berbagai golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda. begitu pula sebaliknya. Apabila ada ibu hamil di sekitar ibu bersalin. ‘pemilik asli’ kepercayaan tersebut belum dapat dideteksi. kepercayaan tersebut telah mempengaruhi peran bidan di Desa Lamanggau dalam pertolongan persalinan. Hal ini karena adanya kepercayaan dalam masyarakat setempat bahwa keberadaan ibu hamil di sekitar ibu bersalin dapat mempersulit proses persalinan. Sebagai contoh. dalam 1 Menurut Koetjaraningrat. masih ada juga nilai budaya yang masih dipegang teguh oleh masing-masing etnis tersebut.

rumah yang boleh digunakan sebagai tempat melahirkan adalah rumah yang pernah digunakan sebagai tempat melahirkan. dan berlantaikan bambu. salah seorang kader kesehatan dan juga anak seorang pangullieh. Apabila ada seorang ibu hamil berada di dalam sebuah rumah yang belum pernah digunakan untuk persalinan. Rumah tersebut adalah rumah Mbook Medaming. Oleh sebab itu. apabila rumah yang belum pernah digunakan sebagai tempat persalinan akan digunakan sebagai tempat persalinan. kepercayaan tersebut menjadi salah satu faktor mengapa masyarakat Bajo enggan melakukan persalinan di pustu. Menurut Ibu Ma. Untuk memasuki rumah tersebut harus melewati tangga 174 . Menurut mereka pustu tersebut belum pernah digunakan sebagai tempat persalinan dan belum ‘dipagari’ dengan doadoa oleh ‘orang tua’. Apabila rumah tersebut tidak didoakan terlebih dahulu oleh ‘orang tua’ tersebut. maka rumah tersebut tidak boleh digunakan sebagai tempat bersalin. Kepercayaan tersebut menjadikan rumah Mbook Medaming sebagai ‘rumah bersalin’ masyarakat Bajo. terdapat sebuah rumah yang dipercaya oleh orang Bajo sebagai ‘rumah bersalin’. Rumah Mbook Medaming terletak di Dusun Lasoilo yang mayoritas dihuni oleh orang Bajo. maka harus dilakukan ritual terlebih dahulu. berdinding anyaman bambu yang disebut gedeg oleh orang Jawa.masyarakat Bajo ada kepercayaan tentang tempat melahirkan. Ritual tersebut dilakukan oleh ‘orang tua’ yang dianggap mempunyai ‘ilmu’ dalam mendoakan sebuah rumah agar bisa dijadikan tempat bersalin. masyarakat Bajo akan menggunakan pustu sebagai tempat persalinan apabila telah ‘dipagari’ dengan doa-doa oleh ‘orang tua’. Namun. Rumah tersebut paling sering digunakan oleh masyarakat Bajo sebagai tempat persalinan karena dipercaya oleh masyarakat setempat dapat memudahkan persalinan seorang ibu. maka pada saat persalinan ibu tersebut akan dibawa ke rumah yang sudah pernah digunakan untuk persalinan. Di Dusun Lasoilo yang mayoritas dihuni oleh orang Bajo. Rumah tersebut berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu. Menurut kepercayaan orang Bajo. setiap ibu yang melahirkan di rumah tersebut selalu menjalani persalinan dengan mudah. Menurut mereka.

Setiap ada ibu yang akan melahirkan di rumah tersebut. Di sudut ruangan tersebut terdapat sebuah ruangan yang berukuran kurang lebih 2 x 2 meter.51. 5. 5.52 . Ruang pertama yang ditemukan adalah ‘ruang tamu’ yang berukuran kurang lebih 4 x 4 meter. sehingga darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan bisa langsung jatuh ke bawah rumah dan dibawa oleh air laut. atau merasa terganggu. Mbook Medaming dan keluarga tidak pernah marah. November 2012 175 .yang memiliki kurang lebih sebanyak lima anak tangga. Ruangan tersebut adalah kamar Mbook Medaming yang digunakan sebagai ruang bersalin. Ruangan tersebut berlantaikan bambu yang memiliki celah. 2) kamar yang dijadikan tempat bersalin (tampak dari dalam). dan 4) lantai rumah yang terbuat dari bambu yang bercelah-celah.53 dan 5. mencegah. Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. Ruangan yang berlantai bambu tersebut disebut dengan jongkeng oleh masyarakat Bajo. 3) kamar yang dijadikan tempat bersalin (tampak dari luar). 1 2 3 4 Gambar 5.54 1) Rumah Mbook Medaming yang menjadi ‘rumah bersalin’ masyarakat Bajo.

dan air tersebut bisa langsung jatuh ke bawah tanah atau bawah laut. Gambar 5. masyarakat Buton-Tomia juga melahirkan di atas bambu yang bercelah tersebut. Namun. Jampersal yang menawarkan pelayanan persalinan gratis diharapkan mampu menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan 176 . Tempat tersebut biasanya disebut dengan parapara oleh masyarakat ButonTomia.Berbeda dengan masyarakat Bajo. November 2012 Berdasarkan penjelasan pada diskripsi sebelumnya dapat dilihat bahwa banyak faktor yang mempengaruhi implementasi Jampersal di masyarakat. Bagi mereka di mana saja ibu bersalin boleh melahirkan tanpa ada syarat tempat tersebut harus didoakan terlebih dahulu seperti orang Bajo.55 Ibu nifas Seorang ibu nifas sedang duduk di atas parapara. masyarakat Buton-Tomia tidak mempunyai kepercayaan tempat melahirkan. Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. Parapara adalah tempat melahirkan yang digunakan oleh masyarakat Buton-Tomia. sama halnya dengan masyarakat Bajo yang melahirkan di tempat yang terbuat dari bambu yang mempunyai celah. Parapara tersebut digunakan karena mempunyai celah-celah sehingga darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan mudah dibersihkan. Masyarakat setempat menggunakan parapara agar darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan bisa langsung dibersihkan dengan air.

Oleh sebab itulah. ketersediaan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan hanya menjadi tinta hitam catatan laporan sumber daya tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Wakatobi. Pemerintah juga menyediakan tenaga kesehatan untuk ditugaskan di desa ini. puskesmas induk yang sudah dibangun dengan bentuk bangunan yang bagus serta fasilitas yang lengkap ini tidak pernah sekalipun dinikmati oleh masyarakat. dan budaya masyarakat setempat. Bagaimana tidak. ketersediaan fasilitas kesehatan di Desa Lamanggau bisa dikatakan sudah cukup. secara teori seharusnya fasilitas tersebut sudah mampu mengakomodir kebutuhan masyarakat dalam hal kesehatan. mereka bertahan untuk sehat termasuk bersalin dengan cara mereka. maka program Jampersal hanya menjadi bayang-bayang yang tidak bisa direalisasikan dalam nyata. Namun. Namun jika kita lihat langsung di lapangan. Bagaimana masyarakat mau dan mampu untuk menikmati jika puskesmas ini dibangun di tempat yang jauh dan sulit dijangkau aksesnya.oleh tenaga kesehatan. Tinta hitam tersebut menjadi buram dalam mata masyarakat Desa Lamanggau. karena mereka tidak mampu ‘menikmati’ pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang berada ‘jauh’ dari sisi mereka. Cara tersebutlah yang melekat dalam diri mereka dan dianut dari nenek moyang sampai sekarang. tenaga kesehatan. Namun. Selain itu. Ada satu puskesmas induk dan satu puskesmas pembantu yang disediakan untuk masyarakat Desa Lamanggau. pada implementasinya. Dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak. Hambatan tersebut dapat berasal dari kondisi fasilitas kesehatan. Pemerintah memang telah membangun fasilitas kesehatan berupa puskesmas dan pustu di Desa Lamanggau. kenyataan yang ada tidaklah seindah teori dan catatan laporan. Tiga elemen tersebut saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Secara kasat mata. fasilitas kesehatan yang terletak jauh di mata dan jauh di kaki juga tidak bisa mereka nikmati. Masyarakat hanya dapat berobat di pustu dengan 177 . program tersebut mempunyai banyak hambatan. Apabila tiga elemen tersebut tidak ‘mendukung’ dalam pelakasanaan program Jampersal.

178 . Bagaimana bisa.misalnya bidan desa. Entah apa yang menjadi landasan awal dari penempatan lokasi puskesmas ini. kedekatan secara emosional dan psikologis pun akan terbentuk. sementara bidan yang bertugas di sini sedang hamil. misalnya ada kasus persalinan di tengah malam. apakah mungkin tenaga kesehatan ini akan cepat tanggap menolong sementara mereka tinggal di lain pulau dengan transportasi terbatas? Jika tenaga kesehatan . Selain akses yang lebih mudah bagi masyarakat untuk bersentuhan dengan tenaga kesehatan. Tidak mungkin rasanya jika ada ibu yang akan melahirkan tapi harus naik pompong (perahu) atau ojek dan kemudian berjalan lagi 15 – 20 menit dengan kondisi jalan yang berliku. Jadi untuk merangkul masyarakat ini tentunya harus bisa memahami dan mengikuti alur pikir mereka. yang terletak dengan kuburan yang dianggap sebagai salah satu tempat yang dilarang didekati wanita hamil dan bayi dalam budaya setempat. Budaya serta kearifan lokal yang sudah mendarah daging secara turun temurun akan senantiasa dipegang teguh oleh masyarakat sebagai pedoman hidup mereka. Tenaga kesehatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat sejatinya juga mengerti dan paham akan budaya serta kearifan lokal yang ada. Dalam kasus ini misalnya. Jika keadaan darurat terjadi. Dengan kenyataan bahwa jumlah tenaga yang terbatas serta sebagian besar tidak tinggal di desa tentunya akan membatasi akses masyarakat untuk bersentuhan dengan tenaga kesehatan. Keterbatasan tenaga kesehatan juga turut mempengaruhi kualitas pelayanan yang ada. budaya setempat mengatakan bahwa wanita hamil tidak boleh ada di dekat ibu yang akan melahirkan. ini tinggal di desa kemudian berbaur dengan masyarakat tentunya akan lebih efektif. sebuah fasilitas umum yang ditujukan untuk masyarakat tapi aksesnya sulit dan sangat terbatas bagi masyarakat itu sendiri.fasilitas seadanya. Belum lagi untuk masuk ke area puskesmas harus menunggu izin dari pihak keamanan resort terlebih dahulu. dalam hal ini pustu. Masyarakat merasa bidan ini adalah bagian dari keluarga mereka. Atau lokasi fasilitas kesehatan.

diharapkan berharap bisa menekan angka kematian ibu dan bayi sebagaimana target MDG’s tahun 2015. Di wilayah kerja Puskesmas Kepanjen Kidul. 5. terjadi empat kasus kematian ibu. Namun nyatanya pikiran tersebut tidak mampu ‘mengajak’ masyarakat untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan oleh tenaga kesehatan. JawaTimur mulai januari sampai dengan bulan Nopember 2012. Namun. TABU DAN UPAYA PENYELAMATAN IBU DI KOTA BLITAR Program jampersal. persalinan yang bisa diklaim adalah persalinan dengan tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. ANTARA BUDAYA. Kota Blitar. Mungkin masih banyak yang beranggapan bahwa masyarakatlah yang butuh dokter. diharapkan tidak terjadi lagi kasus kematian ibu dan bayi. Begitu pula dengan kebijakan yang ada di Kabupaten Wakatobi. tenaga kesehatan. sehingga adanya anggapan bahwa meskipun tenaga kesehatan tidak menetap di desa tersebut dan fasilitas kesehatan berada jauh dari pemukiman. Kejadian tersebut 179 . butuh bidan.Jika selama ini puskesmas dibangun berdasarkan ‘keangkuhan’ para policy maker dengan pikiran bahwa masyarakat membutuhkan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. Berdasarkan juknis Jampersal tahun 2012. Ternyata kata ‘gratis’ tidak mampu mengalahkan kearifan lokal yang telah dimiliki oleh masyarakat setempat. pada kenyataannya meskipun persalinan telah dijamin oleh pemerintah.3. dan selalu ingin gratis. tetapi belum mampu menarik masyarakat untuk bersalin ke tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan karena disebabkan kondisi fasilitas kesehatan. Tiga kasus terjadi di RS dan satu kasus terjadi di Puskesmas.8. ini dianggap sebagai bencana dan merupakan rekor kasus karena dalam dua tahun sebelumnya tidak ada kematian ibu. apalagi diiming-imingi dengan kata gratis. Melalui intervensi Jampersal. dan kondisi sosial budaya masyarakat. Namun demikian kondisi di lapangan bisa tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. pasti akan digunakan oleh masyarakat. Bagi teman-teman di Puskesmas.

Menindaklanjuti kasus kematian tersebut. Px bekerja dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore dan beberapa kali harus lembur.merupakan temuan menarik untuk dikaji lebih mendalam karena keberadaan fasilitas kesehatan di kota Blitar cukup memadai. F. Gambaran hasil review adalah sebagai berikut : KASUS 1 adalah Ny. Di tempat kerjanya. pihak Dinas Kesehatan dan Puskesmas sudah melakukan review maternal perinatal. adanya kasus kematian maternal yang terjadi di wilayah kerja puskesmas Kepanjen Kidul merupakan kondisi yang sangat tidak diharapkan oleh Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab bidang kesehatan. Bahkan sore hingga malam sebelum Px meninggal Px sering menerima telpon dari atasan karena Px sedang dalam proses persetujuan penawaran harga penjualan dengan pembeli. RSUD. tetapi kejadian itu masih saja di temui. Sejak sebelum hamil hingga 1 hari sebelum Px meninggal. akan tetapi Px 180 . Px terkenal sebagai karyawati yang cekatan dan mudah bergaul sehingga Px sangat membantu tempat dia bekerja dalam mencari customer. 3 Puskesmas. pendidikan SLTA . Gambaran Kasus Kematian Maternal Memperhatikan kondisi daerah yang merupakan daerah perkotaan dengan fasilitas kesehatan yang sangat memadai dan mudah di akses. Anak pertama telah berusia 5 tahun dan tinggal bersama orang tua Px d Rembang Blitar. Klinik Bersalin dan didukung oleh praktek dokter obgyn serta bidan praktek swasta. Walau semua sumberdaya sudah dikerahkan untuk meniadakan kasus kematian maternal perinatal. bekerja swasta Deskripsi Kasus Kehamilan Px kali ini merupakan kehamilan 1. RS Swasta. Meskipun Px merupakan orang yang mudah bergaul. berumur 24 tahun. Px kerja di sebuah dealer sepeda motor sebagai sales counter. Jarak tempuh yang dibutuhkan dari pelosok kota menuju ke fasilitas kesehatan tidak lebih dari 15 menit dengan kendaraan bermotor. ritme kerja Px tidak berubah.

Px tidak mau. Px diantar suaminya pergi ke rumah orang tuanya di Rembang. Sampai di rumah suami Px langsung tidur. Px minta diantar suami untuk ke rumah orang tuanya dengan alasan Px kangen dengan anak pertamanya. Tidak jarang Px muntah-muntah ketika mengeluh mual dan pusing. Px jarang sekali menceritakan masalahnya dengan orang lain. Suami Px baru membangunkan Px ketika jam sudah menunjukkan pukul 05. Karena ngotot minta pulang saat itu juga. Px mengeluh sakit kepala. padahal saat itu suami Px sudah tidur dan tidak kuat untuk mengendarai motor. Kemudian Px merasa kepalanya sangat sakit dan ingin minum obat karena sudah tidak tahan. sedangkan suaminya yang membonceng. Akan tetapi Px tetap bersikukuh mencari “Poldan Mix” yang biasa dipakai oleh keluarga jika sakit kepala karena Px menganggap obat dari bidan tidak manjur. setelah maghrib. Suami mengingatkan agar tidak minum obat sembarangan dan minum obat dari bidan saja. Sepulang dari kerja. Ketika suami membangunkan. Px hanya mual-mual sampai bulan ke-3 saja. padahal waktu hamil pertama. termasuk dalam hubungannya dengan suaminya. Hanya saja ketika Px mengeluh pusing dan muntah-muntah. akhirnya Px yang mengendarai motor. Meskipun suami Px sudah menyembunyikan obat tersebut. Suami Px tidak mengetahui. dan suami menyuruh Px ke dokter. Akhirnya Px menemukan obat yang disembunyikan suaminya. Blitar dengan mengendarai motor. Suami Px pikir Px kecapaian karena semalam sampai di rumah sudah larut. tetapi Px tetap mencari hingga tempat obat berantakan. apakah obat tersebut kembali 181 . tidak biasanya Px bangun siang.adalah pribadi yang tertutup. Setelah itu Px menyapu halaman. Kondisi kehamilan Px ini dianggap suami dan keluarganya berbeda dengan kehamilan terdahulu karena hingga memasuki bulan ke-5 Px masih mengeluh mual dan pusing. Pagi harinya. Jam 11 malam Px minta pulang ke rumah mertua kembali. Karena ukuran obat yang besar. akhirnya Px memuntahkannya. Px sempat mencuci piring dan memasak nasi. Obat langsung ditelan tanpa menggunakan air.30.

karena semalam Px pulang larut. rumah keluarga Px terletak di tepi jalan raya yang dilewati oleh banyak kendaraan yang berlalu lalang. Dengan mengendarai sepeda motor. Akan tetapi tukang becak tersebut mengatakan bahwa dirinya harus mengantar cucunya dahulu baru bisa mengantar ke puskesmas. Px tetap tidak bereaksi akhirnya suami Px menyadari bahwa Px butuh pertolongan dan harus segera dibawa ke puskesmas. Di RS Px masuk ke ICU dan dipasang alat bantu nafas dan jantung. melainkan menghadap ke tembok rumah tetangga. Waktu suami masuk kamar. langsung dibawa ke UGD. • Tanggal 1-3-2012 pukul 08. padahal Px dalam kondisi yang tidak sadar. karena kondisi Px sudah tidak sadar. Walaupun letak puskesmas dekat dengan tempat tinggal Px dan tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di puskesmas. • • Ibu langsung dirujuk ke RS dan meninggal di RS tanggal 6-3-2012 Riwayat minum obat di rumah sebelum dibawa ke puskesmas. 182 .diminum oleh Px atau dibuang. Suami menyuruh Px untuk masuk rumah dan istirahat saja. Px muntah-muntah. Sesampai di puskesmas. Akhirnya suami bertemu dengan becak yang diharapkan dapat mengantar ke puskesmas. Antara rumah Px dan rumah tetangga terdapat halaman yang sangat luas. Selain posisi rumah Px yang menghadap ke tembok tetangga. Kendaraan yang dimiliki hanya sepeda motor. Sauami Px bingung bagaimana cara membawa Px ke puskesmas yang jaraknya sebenarnya tidak jauh. suami mencari kendaraan yang bisa dipakai untuk membawa Px ke Puskesmas. akan tetapi rumah Px tidak menghadap ke jalan raya. Px dirujuk ke RS. akan tetapi keluarga Px membutuhkan waktu untuk mencari dan menanti transportasi untuk membawa Px ke Puskesmas. “Panadol” satu tablet karena mengeluh pusing sejak kemarin sore. Dilihat dari kondisi lingkungannya.00 ibu datang ke UGD Puskesmas dengan kondisi tidak sadar. Px masuk kamar kembali dan suami yang melanjutkan menyapu halaman dan ruang tamu. suami menemukan Px sudah dalam keadaan “ngorok”. Suami mengira Px masuk angin. Tidak lama pada saat Px menyapu halaman. pucat dan nafas ngorok.

Bahkan kader baru mengetahui berita kematian Px setelah hari ke-3 Px meninggal. Rumah kader wilayah Px juga lumayan jauh dari tempat tinggal Px. sehingga ketika terjadi sesuatu tidak ada tetangga yang mengetahuinya. sehingga mereka akan berangkat kerja pagi-pagi dan pulang di malam hari. Suami tidak pernah ikut masuk ke ruang dokter ketika Px kontrol sehingga suami tidak tau dengan benar kondisi Px. memang suami Px sering main bola dengan temantemannya yang tinggal di sekitar rumah kader. Posisi rumah Px yang jauh dari rumah kader 183 . akan tetapi biasanya ibu-ibu yang datang ke psyandu meminjam buku-buku tentang kehamilan yang dibaca saat jadwal posyandu. Sebenarnya kader aktif datang berkunjung ke rumah ibu hamil untuk mengontrol kondisi ibu hamil.halaman yang luas dapat pula menjadi penghalang keluarga Px untuk berkomunikasi dengan tetangga. Untuk resiko-resiko masa kehamilan. selama Px hamil. kader memang tidak memberi penyuluhan secara personal. akan tetapi jarak rumah yang lumayan jauh menghalangi proses komunikasi kader dan Px. Kader bercerita jika penduduk di wilayahnya rata-rata adalah pedagang dan buruh tani. Px bekerja dari pagi hingga sore dan karena Px juga tidak pernah hadir jika ada acara di kampung menyebabkan kader jarang berkomunikasi dengan Px. Komunikasi keluarga Px dengan tetangga kurang lancar. Kader mengaku bahwa dia dan tim aktif memberikan penyuluhan kepada ibu hamil. akan tetapi karena rumah Px yang jauh. Menurut kader. ibu menyusui dan ibu yang mempunyai anak balita tentang kesehatan. Menurut kader. Kader juga tidak mengetahui kondisi kehamilan Px karena kader hampir tidak pernah bertemu Px selama Px hamil. Px hanya mengatakan jika kehamilannya baik-baik saja. Px tidak pernah datang pada kegiatan posyandu. Pada kasus ini tampak bahwa kurangnya pengetahuan ibu tentang bahaya penggunaan obat secara bebas. Ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumah kader aktif datang pada saat jadwal posyandu berlangsung.

Ada lima anggota keluarga di rumah (selain dengan keluarga inti. sehingga ketika terjadi sesuatu tidak ada tetangga yang mengetahuinya • Posisi rumah Px yang jauh dari rumah kader menyebabkan terputusnya komunikasi antara Px dengan kader. Px hanya mengatakan jika kehamilannya baik-baik saja. Berdasarkan penjelasan di atas. telah berusia tujuh tahun dan tinggal bersama orang tua Px. berumur empat tahun. Anak pertama laki-laki. kader tidak mengetahuinya. tinggal bersama Px. Anak kedua perempuan. Px mempunyai kebiasaan untuk minum jus setiap hari. kader tidak mengetahuinya. • Komunikasi keluarga Px dengan tetangga kurang lancar. Setiap pagi. ayah Px pernah stroke tetapi meninggalnya bukan karena darah tinggi. KASUS 2 : Ny. Sebelum hamil Px pernah merasa kaku- 184 . Px adalah seorang ibu rumah tangga sedangkan suami Px adalah pedagang yang berjualan sayur di pasar Wlingi. Px juga selalu tidur siang. Px memang mempunyai riwayat hipertensi sejak sebelum hamil. Ibu px meninggal karena darah tinggi (stroke). pagi-pagi sekali suami Px sudah berangkat untuk berjualan (di pasar dari jam delapan pagi sampai jam tiga sore). permasalahan yang ada pada kasus satu jika diringkas adalah: • • Kurangnya pengetahuan ibu tentang bahaya penggunaan obat secara bebas Suami tidak pernah ikut masuk ke ruang dokter ketika Px kontrol sehingga suami tidak tahu dengan benar kondisi Px. Sehari-harinya Px hanya di rumah beserta satu orang anaknya. umur 33 tahun. Px juga tinggal bersama dengan keponakannya). sehingga ketika Px tertimpa musibah. sehingga ketika Px tertimpa musibah.menyebabkan terputusnya komunikasi antara Px dengan kader. pendidikan SLTA dan sebagai ibu rumah tangga Deskripsi Kasus Kehamilan Px kali ini merupakan kehamilan ketiga. N.

akan tetapi Px masih merasa sangat sakit di kepalanya. Tanpa konsultasi dokter terlebih dahulu. Hari kamis Px mengeluh kepalanya pusing dan sakit sekali. karena anak 1 dan 2 juga operasi. Awal hamil hingga kehamilan 2 bulan. kemudian meminumnya. Pada kehamilan usia 3 bulan Px mengeluh ambeien. suami selalu mengantar. Ketika terakhir kali Px kontrol. Keluar rumah seperlunya saja. selain itu juga mengingat Px mempunyai riwayat tekanan darah tinggi. kemudian meminumnya dengan cara mencampur obat tersebut 1 tetes dengan air satu gelas. Perasaan itu juga yang membuat Px stress selama hamil. Px pernah tensinya tinggi sekali ketika anaknya sakit. padahal rata-rata penduduk di lingkungan sekitar tempat tinggal Px hanya mempunyai dua orang anak. Px jarang keluar rumah saat hamil. Suami menyuruh Px untuk ke dokter.kaku di tangannya. Px selalu melihat langit hitam dan bergulung-gulung seperti mau ada badai atau bencana. jenis kelamin bayi perempuan. Px tampak bengkak pada muka dan kaki. Ketika usia kehamilan menginjak 8 bulan. akan tetapi Px tidak mau. Menurut tetangga. akan tetapi suami tidak pernah ikut masuk ke ruang praktek dokter. sejak awal kehamilan. Px mengatakan bahwa sakitnya adalah bawaan bayi. Px membeli obat “Trace Minerals”. Tetangga tidak menanyakan kondisi Px. Setiap kali Px kontrol ke dokter. kondisi Px sudah stres. karena Px tidak cerita. Tetangga menceritakan bahwa kemungkinan Px malu hamil lagi karena Px hamil anak yang ketiga. beberapa hari setelah kontrol. Px sehat dan tidak mengalami keluhan apapun. Px hanya mengatakan jika kondisi Px dan janin baik. tapi tidak lama kemudian sembuh.Px bercerita kepada tetangga jika dokter menyarankan Px untuk operasi saja jika melahirkan nanti. Menurut tetangga. Selama hamil Px sering bercerita pada tetangga kalau Px keluar rumah. Pada hari Rabu sore Px mengeluh sakit di ulu hati sampai punggung. Kemudian Px minta diambilkan suaminya obat sakit kepala 185 . Padahal sebelumnya Px tidak pernah merasa sakit di punggungnya. Px merasa punggungnya sakit. minggu-minggu terakhir sebelum Px meninggal. Sakit di punggungnya sembuh.

Sampai di RS Px langsung masuk ke UGD. Di UGD Px diinfus. Px bercerita bahwa dirinya bermimpi dibacakan surat Al Ikhlas oleh anak kecil. Px kejang. Lalu Px menyetrika baju semalaman. Px dipindah ke ruang perawatan. Px mengantar suami berangkat kerja sampai depan pintu pagar. Menurut tetangga. Di ruang perawatan Px sudah bisa diajak bicara dan merespon tetangganya dengan benar. Hari sabtu malam. Pukul 5. karena Px merasa kepalanya masih pusing. kemudian ibu minum puyer • 18-4-2012 ibu mengeluh nyeri dada sampai tembus punggung. akan tetapi Px tetap tidak mau ke dokter dan mengatakan bahwa ke dokternya sekalian saja dua minggu lagi. Suami Px awalnya melarang Px untuk minum obat “puyer 16” dan memaksa Px untuk ke dokter saja. Jam 4. dokter di RS tidak ada. tapi ibu menolak untuk periksa • 186 20-4-2012 suami mengatakan kaki ibu mulai bengkak .30. Ketika akan membuat jus. Px cerita jika tensinya 170. Px baru bisa tidur. setelah suami berangkat Px ke pasar seperti biasa dengan mengendarai sepeda motor. akhirnya suami mengambilkan obat dan meminumkan obat sakit kepala “puyer 16”. Px sudah terbangun. Px mengatakan pada suami bahwa dirinya tidak bisa tidur. Akhirnya karena Px bersikeras untuk tidak mau ke dokter dan suami tidak tega melihat Px sakit kepala. Px hanya diinfus oleh perawat karena menurut perawat. • 1 minggu sebelum meninggal ibu mengeluh pusing. setelah sholat Subuh. Px bercerita pada tetangga kalau sepulang dari pasar Px sempat mampir ke apotek untuk “tensi”. Px dibawa ke RS “A” oleh tetangga. Keponakan yang tinggal dengan Px menemukan Px yang kejang kemudian meminta tolong tetangga. keponakan Px menjaga anak Px di rumah dan menelpon suami Px.“puyer 16” di tempat obat. akan tetapi dokter sudah dihubungi (saat itu hari minggu dan tidak ada seorang pun dokter jaga di RS “A” tersebut). Setelah Px dianggap stabil.30. Kemudian perawat masuk dan memasang kateter. Ketika perawat memasang kateter Px mengaduh kesakitan kemudian Px kembali kejang-kejang dan tidak sadar sampai Px meninggal.

Setelah ada kasus kematian. Bahkan setelah Px meninggal.? mmHg. sehinga sudah terlambat untuk pemeriksaan awal. kemudian meminta bantuan tetangga untuk membawa ibu ke RSU Aminah. Yang menemukan pertama kali keponakannya.. akan tetapi ada suatu kebiasaan bagi ibu hamil untuk menyembunyikan awal-awal kehamilannya hingga perutnya terlihat besar. Tetangga tersebut juga yang mengantarkan Px ke RS “A” sebelum Px meninggal.30 Px ke apotek untuk periksa tekanan darah.. Dengan tetangga tersebut hubungan keluarga Px dan keluarga tetangganya sangat dekat. RS “A” dipilih karena lokasi RS “A” dekat dengan tempat tinggal Px. Padahal rata-rata perut yang sudah terlihat besar itu ketika memasuki kehamilan bulan ke-7. • Pukul 10. Sampai di rumah ibu mengalami kejang. Sebenarnya kader dan petugas posyandu sudah sering sekali mendata ibu-ibu yang hamil. Tetangga (suamiistri) mengantarkan Px ke RS dengan menggunakan mobil. permasalahan yang ada pada kasus kedua jika diringkas adalah : • Terlambat mendeteksi tanda bahaya kehamilan karena ibu tidak tahu bahaya minum obat sembarangan • • Terlambat merujuk Terlambat mendapat pertolongan 187 . Suami Px sampai di rumah ketika jenazah Px sudah sampai rumah. hasilnya 170/. Berdasarkanpenjelasan di atas. anak bungsu Px diasuh oleh tetangga Px. karena suami Px berjualan di pasar yang letaknya jauh dari rumah. Tetangga Px tersebut 2 bulan terakhir menjadi kader di wilayah tempat tinggalnya. Data tentang ibu hamil juga diminta dari petugas koordinasi posyandu.• 22-4-2012 jam 07.30 ibu meninggal dunia Px hanya dekat dengan tetangga sebelah kiri rumah Px. diadakan pertemuan seluruh petugas posyandu oleh dinas kesehatan dan puskesmas.

pendidikan SLTA dan bekerja sebagai pedagang. umur 31 tahun. Hal tersebut oleh keluarga Px lebih dianggap sebagai sebuah kutukan yang dialami oleh keluarga. Suami Px mengatakan bahwa ketika hamil kondisi Px baik-baik saja.00 ibu mengeluh sesak nafas dan periksa ke BPS Bidan menyarankan ibu langsung ke puskesmas Dari puskesmas ibu langsung dirujuk menggunakan ambulance ke RS Ibu meninggal setelah sampai di RS . Ibunya juga meninggal dengan diagnosa yang sama ketika melahirkan Px. akan tetapi karena suami tidak ikut masuk ke ruang praktek. Neneknya meninggal dengan diagnosa eklamsi ketika melahirkan ibunya.KASUS 3 : Nama Ny. Keluarga sangat senang ketika Px hamil. tapi dibiarkan saja (tidak minum obat) sudah sembuh sendiri. sehingga meningkatkan resiko Px mengalami hipertensi. Px selalu periksa kehamilan di BPS. Hanya saja ketika hamil Px beberapa kali sakit batuk. Keluarga merasa kematian Px merupakan pemutus kutukan yang harus dialami oleh keluarga karena Px dan bayinya meninggal. B. Deskripsi Kasus Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya. maka suami tidak mengetahui secara jelas kondisi kehamilan Px. Keluarga Px juga tidak paham jika Px mempunyai sejarah keluarga dengan hipertensi. Px selalu bilang baik-baik saja sepulang dari kontrol di BPS. Ketika hamil Px sempat mengeluh sakit gigi yang tak tertahankan dan akhirnya Px melakukan cabut gigi di puskesmas. • • • • • 188 Ibu periksa hamil ke BPS dan puskesmas Tanggal 4-4-2012 jam 00. akan tetapi ada kekhawatiran dikalangan keluarga karena keluarga takut Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya (takut kutukan itu harus dialami Px). sehingga tidak ada lagi yang harus menanggung kutukan Keluarga Px tidak paham resiko yang dialami ibu hamil.

Selain posisi rumah Px yang menghadap ke tembok tetangga. Antara rumah Px dan rumah tetangga terdapat halaman yang sangat luas. Untuk resiko-resiko masa kehamilan. Bahkan kader baru mengetahui berita kematian Px setelah hari ke-3 Px meninggal. Rumah kader wilayah Px juga lumayan jauh dari tempattinggal Px. “Mungkin Px kontrolnya langsung ke Puskesmas mbak. Menurut kader. halaman yang luas dapat pula menjadi penghalang keluarga Px untuk berkomunikasi dengan tetangga. Menurut kader. akan tetapi biasanya ibu-ibu yang datang ke psyandu meminjam buku-buku tentang kehamilan yang dibaca saat jadwal posyandu. kader memang tidak memberi penyuluhan secara personal.• Ibu mengattakan pernah cabut gigi ketika hamil Rumah keluarga Px terletak di tepi jalan raya yang dilewati oleh banyak kendaraan yang berlalu lalang. akan tetapi karena rumah Px yang jauh. Px tidak pernah datang pada kegiatan posyandu. melainkan menghadap ke tembok rumah tetangga. Px bekerja dari pagi hingga sore dan karena Px juga tidak pernah hadir jika ada acara di kampung menyebabkan kader jarang berkomunikasi dengan Px. Kader juga tidak 189 . memang suami Px sering main bola dengan temantemannya yang tinggal di sekitar rumah kader. akan tetapi rumah Px tidak menghadap ke jalan raya. akan tetapi jarak rumah yang lumayan jauh menghalangi proses komunikasi kader dan Px. selama Px hamil. soalnya lebih dekat ke puskesmas daripada ke sini (posyandu)” Kader bercerita jika penduduk di wilayahnya rata-rata adalah pedagang dan buruh tani. ibu menyusui dan ibu yang mempunyai anak balita tentang kesehatan. sehingga mereka akan berangkat kerja pagi-pagi dan pulang di malam hari. Sebenarnya kader aktif datang berkunjung ke rumah ibu hamil untuk mengontrol kondisi ibu hamil. Ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumah kader aktif datang pada saat jadwal posyandu berlangsung. Kader mengaku bahwa dia dan tim aktif memberikan penyuluhan kepada ibu hamil.

sehingga tidak ada lagi yang harus menanggung kutukan Keluarga Px tidak paham resiko yang dialami ibu hamil. sehingga meningkatkan resiko Px mengalami hipertensi. Keluarga merasa kematian Px merupakan pemutus kutukan yang harus dialami oleh keluarga karena Px dan bayinya meninggal. Neneknya meninggal dengan diagnosa eklamsi ketika melahirkan ibunya. Hal tersebut oleh keluarga Px lebih dianggap sebagai sebuah kutukan yang dialami oleh keluarga. Berdasarkan penjelasan di atas. Ketika hamil Px sempat mengeluh sakit gigi 190 . tapi dibiarkan saja (tidak minum obat) sudah sembuh sendiri. rumah berada di bantaran sungai dan tidak ada kendaraan • Terlambat mendapatkan pertolongan KASUS 4 : Nama Ny B. Ibunya juga meninggal dengan diagnosa yang sama ketika melahirkan Px. Keluarga sangat senang ketika Px hamil. Diskripsi Kasus Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya. permasalahan yang ada pada kasus 3 adalah: • Terlambat mendeteksi tanda bahaya kehamilan karena keluarga mengira ibu kesurupan • Terlambat merujuk karena kondisi cuaca hujan. Hanya saja ketika hamil Px beberapa kali sakit batuk. umur 31 tahun pendidikan SLTA dan bekerja sebagai pedagang. akan tetapi ada kekhawatiran dikalangan keluarga karena keluarga takut Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya (takut kutukan itu harus dialami Px Suami Px mengatakan bahwa ketika hamil kondisi Px baik-baik saja. Keluarga Px juga tidak paham jika Px mempunyai sejarah keluarga dengan hipertensi.mengetahui kondisi kehamilan Px karena kader hampir tidak pernah bertemu Px selama Px hamil.

00 ibu mengeluh sesak nafas dan periksa ke BPS Bidan menyarankan ibu langsung ke puskesmas Dari puskesmas ibu langsung dirujuk menggunakan ambulance ke RS Ibu meninggal setelah sampai di RS Ibu mengatakan pernah cabut gigi ketika hamil Permasalahan yang dialami oleh Px adalah: • • Kurangnya pengetahuan ibu tentang resiko cabut gigi pada masa kehamilan Kurangnya pengetahuan keluarga tentang resiko-resiko di masa kehamilan Taboo vs Malu Di Kota Blitar.. akan tetapi karena suami tidak ikut masuk ke ruang praktek. maka suami tidak mengetahui secara jelas kondisi kehamilan Px. Kronologi kejadian yang dialami Px : • • • • • • Ibu periksa hamil ke BPS dan puskesmas Tanggal 4-4-2012 jam 00. ternyata masih ada kepercayaan yang dipegang oleh para ibu hamil.” 191 . Tapi itu kan sudah terlambat ya mbak.” Sedangkan beberapa ibu hamil mengatakan bahwa mereka tidak mau menceritakan awal kehamilannya kepada orang di luar keluarga inti karena jika kehamilan itu tidak berlanjut. Px selalu bilang baik-baik saja sepulang dari kontrol di BPS. pokoknya nurut aja apa kata orang-orang tua. Takut ada apaapa kalo gak nurut.yang tak tertahankan dan akhirnya Px melakukan cabut gigi di puskesmas. mereka akan malu. Makanya mereka biasanya baru akan cerita kalau perutnya sudah kelihatan besar.. “. “. Beberapa ibu hamil dan kader yang ditanyai tentang alasan mengapa tidak boleh menceritakan kehamilannya di awal kehamilan. Lha wong kalau perutnya sudah kelihatan besar berarti kan kira-kira sudah 4 bulan keatas.. tempat penelitian ini berlangsung. Px selalu periksa kehamilan di BPS. beberapa menjawab “tidak tahu”. dimana ketika kandungan masih berusia muda (belum kelihatan hamil) para ibu hamil dilarang untuk menceritakan kehamilannya kepada orang lain.gak tau mbak.nek wis kadhung cerito trus gak sidho hamil lak isin mbak..

Dalam situasi yang sulit dan mendesak. Entah mereka memeriksakan kehamilannya atau tidak dan dimana mereka memeriksakan kehamilannya. Kedua kelompok inilah yang dianggap para kader sebagai kelompok yang “susah dijangkau”.Selain masalah ketabuan yang berkembang diantara ibu hamil sehingga tidak mau menceritakan awal kehamilannya kepada orang di luar keluarga intinya. masalah “malu” juga ada di antara ibu hamil yang menyebabkan dirinya tidak mau menceritakan kehamilannya. karena anak ke-3 saja sudah merasa banyak. “.wong g tau metu seko ngomah. Sebenarnya tetanggatetangga dan lingkungan tidak ada yang mempermasalahkan kehamilan ibu tersebut asal hamil dengan suami sah-nya. peran suami sebagai pengambil keputusan dan mendampingi istri selama masa kehamilan sangatlah penting.” Peran Suami Peran suami di keluarga dalam budaya Jawa sangat penting.. Engkuk ujug2 wis lair anake. program KB begitu gencar digalakkan dan sangat sukses. Lain kasus. Di Kota Blitar. Umumnya mereka menyembunyikan diri dan tidak bersosialisasi. sebab sebagian besar tetangganya hanya mempunyai dua anak. Suami sebagai kepala keluarga dan pengambil keputusan.. Ternyata dampak positif program KB juga disertai dengan dampak negatif yang timbul di masyarakat. Kehamilan memang merupakan masa-masa dimana seorang ibu 192 . Hal ini menyebabkan ibu-ibu malu menceritakan kehamilannya kepada orang lain hingga perutnya tampak besar dan tetangga-tetangga tahu jika ibu tersebut hamil. suami haruslah mampu mengambil keputusan dengan tepat. Suami hendaknya mendampingi dan memberikan ekstra perhatian kepada istrinya yang sedang hamil. Berkaitan dengan kehamilan. ada pula ibu yang hamil dengan lelaki lain karena suaminya adalah TKI di luar negeri dan tidak pernah pulang serta TKW yang pulang dalam kondisi hamil.embuh prikso nang ndi mbak. Ibu-ibu yang hamil anak ke-3 atau lebih merasa malu dengan kehamilannya. sehingga sebagian besar penduduk Kota Blitar hanya mempunyai dua anak. akan tetapi biasanya ibu hamil tersebut malu sendiri dengan tetangganya.

Beberapa kasus menunjukkan bahwa ketidakpedulian dan ketidaktanggapan suami membawa akibat yang fatal bagi kondisi istrinya yang sedang hamil. Terutama resikoresiko yang kemungkinan terjadi. Perubahan tersebut juga memberikan efek pada emosi ibu. Pelabelan “gawan bayi” pada perubahan kondisi ibu hamil yang sebetulnya mengindikasikan terjadinya gangguan pada diri ibu dan kehamilannya menyebabkan berkurangnya ketanggapan pada diri suami dan lingkungan (orang tua. keluarga dan teman) akan gangguan yang dialami oleh ibu hamil. bidan.membutuhkan perhatian ekstra dari pasangannya (suami) dan lingkungannya. suami tidak tahu kondisi istri yang sebenarnya. Seringkali ibu yang sedang hamil tidak mau menceritakan kondisi dirinya dan kehamilannya yang sesungguhnya kepada suaminya sehingga ketika terjadi sesuatu pada istrinya yang sedang hamil. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan biologis yang terjadi pada diri seorang ibu. Tidak hanya seorang ibu yang sedang hamil yang harus mempunyai pengetahuan tentang kehamilan. suami sebaiknya menemani istri yang sedang kontrol kehamilan. berkaitan dengan kondisi istri yang sedang hamil. atau d depan pintu poli di puskesmas atau RS. Pengambilan keputusan yang tepat untuk membwa istri yang sedang hamil untuk berkunjung ke pelayanan kesehatan terjadi mulai awal terdeteksinya 193 . janin sungsang). Hal tersebut selain membantu suami untuk mengetahui kondisi istri yang sebenarnya. Ibu akan berubah menjadi sangat sensitive ketika hamil. Kepedulian dan ketanggapan suami terhadap tanda-tanda dan gejala yang berhubungan dengan resiko kehamilan dapat meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan. akan tetapi suami ikut masuk ke ruang periksa ketika istri sedang periksa. juga membantu dokter mengkomunikasikan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi jika istri memang mengalami kondisi khusus (misalnya. Menemani tidak hanya menunggu di depan pintu praktek dokter. tekanan darah tinggi) atau kondisi khusus yang terjadi pada janin (misalnya. suami dengan istri yang sedang hamil hendaknya juga mempunyai pengetahun tentang kehamilan. Untuk mengantisipasi hal tersebut.

kehamilan istri. Pemerintah telah melaksanakan berbagai upaya terbaiknya. suami hendaknya mendorong istri untuk memeriksakan kehamilan istri sejak dini. Masalahnya. persalinan dan nifas ibu dan bayinya. pemberdayaan masyarakat dan P3K. Hingga akhirnya ketika istri akan melahirkan. Namun ada juga pedagang dan pekerja lepas. Kadarzi dan KIA para kader juga mendapat pembekalan tentang penggerakan. Di Puskesmas. Untuk memberikan hasil kerjasama yang optimal ada beberapa pembekalan yang diberikan kepada para kader. Kalau dilihat dari profesinya. ada bidan desa yang sudah dilengkapi dengan Bidan Kit. bayi dan anak. Sejak awal terdeteksinya kehamilan istri. Kemitraan dengan kader lebih ditekankan pada upaya menggerakkan masyarakat dalam hal PHBS. Selain tentang substansi PHBS. obat-obatan dan bahan-bahan untuk memberikan pelayanan kesehatan selama kehamilan. sehingga jika ada sesuatu yang tidak diinginkan dapat diketahui sejak awal kehamilan. para suami juga harus tanggap untuk mengajak istri memeriksakannya ke pelayanan kesehatan. sudah ada Dokter umum dan tenaga bidan yang mampu memberikan pelayanan PONED. memang kebanyakan mereka adalah sebagai ibu rumah tangga. 194 . jika terjadi keluhan pada istri. suami yang siaga akan suap mengantarkan istri yang akan melahirkan dengan membawanya ke unit pelayanan kesehatan. Peran Kader Dalam Pelayanan Jampersal Guna memberikan pelayanan kesehatan ibu dan bayi. Kader Kesehatan di wilayah Puskesmas Kepanjen Kidul semuanya perempuan. pemanfaatan pelayanan ibu dan bayi yang sudah disediakan oleh Pemerintah ini senantiasa terkait dengan kemiskinan. Keterbatasan tenaga kesehatan untuk menjangkau masyarakat menyadarkan tentang pentingnya peran serta masyarakat. Di level komunitas. Kadarzi dan peningkatan kesehatan ibu. pendidikan dan untuk beberapa daerah tertentu dengan faktor geografis. Selama hamil. Kesadaran tentang keterbatasan tenaga dan anggaran telah membuat Puskesmas Kepanjen Kidul senantiasa bermitra dengan masyarakat/ kader dalam menjalankan program-program pelayanannya.

khawatir terhadap penerimaan masyarakat akan menganggap kader sebagai orang “sok tahu” dan terlalu banyak omong.. Terkait dengan kegiatan Jampersal.kalau ada apa-apa. Kalau ada sesuatu yang spesial. mereka sering datang dan pergi. Kader akan bertanya langsung kepada yang bersangkutan atau kalau saat dilakukan kunjungan. “. Setiap kunjungan biasanya ditambahi dengan pesan. Namun saya berusaha sebisa saya untuk memberikan penjelasan. ini no HP saya. Kurang opo. Tentunya juga karena mereka punya komitmen yang bagus sebagai kader. sampeyan bisa melahirkan tanpa mbayar.. Salah satu diantaranya adalah pemberian informasi tentang Jampersal kepada Kader.masyarakat di tempat saya banyak dari kalangan telok-lemak. “.. Sulit untuk dikasiktahu. Kalau sewaktu-waktu mereka kita minta datang ke Puskesmas. Pada pertemuan rutin kader yang dilakukan adalah menginformasikan kondisi PHBS. Sebagaimana diungkap oleh kepala Puskesmas Kepanjen Kidul. silahkan hubungi saya. Perasaan tidak enak hati.” Kegiatan rutin dari Kader adalah melakukan Posyandu dan pertemuan antar kader yang dilakukan setiap bulan. yang bersangkutan tidak ada maka sudah merupakan protap untuk bertanya kepada tetangga di kanan-kirinya tentang keadaannya untuk kemudian ditindaklanjuti lagi pada kunjungan berikutnya. “. tanggungjawab yang diemban oleh Kader adalah membantu menggerakkan para ibu hamil yang ada di wilayahnya untuk melakukan ANC dan persalinan di petugas kesehatan. maka pada saat pertemuan itu juga digunakan untuk melakukan sosialisasi. Sebagaimana dikemukakan oleh ibu Kader Ririn.. sampeyan bisa periksa kehamilan.” Namun demikian ada kegalauan dari Kader ketika mau memberikan penyuluhan kepada masyarakat...Ketidakterikatan dengan pekerjaan yang membuat mereka punya waktu lebih untuk melaksanakan tanggungjawabnya sebagai pekerja sosial.komitmen kader dalam melaksanakan tanggungjawabnya sangat bagus. 195 . Kadarzi dan KIA yang terdapat di masing-masing wilayahnya..” Ketika ada ibu hamil maka kader akan selalu memantau kondisi ibu hamil tersebut. Ini lho ada pelayanan gratis. mereka selalu hadir walau hanya saya hubungi via telepon.

. Mereka cenderung kondisi itu dan menunggu waktu kunjungan berikutnya.saya diwanti-wanti oleh bu Bidan agar kematian ibu ini jangan sampai terjadi lagi..saya tidak enak hati. ibu tidak langsung pergi ke petugas kesehatan. Kehamilan dianggap sebagai hal yang biasa.... Mereka kurang menyadari pentingnya segera memeriksakan kehamilan ketika mengalami masalah kesehatan yang bisa menyebabkan tidak terdeteksinya faktor-faktor resiko tinggi yang mungkin dialami oleh mereka.“. sopo sih kui. kok banyak bicara tentang kesehatan. ketika terjadi masalah kesehatan.setelah ada kasus. Ada permintaan dari Kelurahan dan RT agar kami para kader membantu mendeteksi.” Upaya Penyelamatan Vs Takdir Sebagaimana diketahui. Hal 196 . “.. sebagaimana dituturkan oleh ibu Susi dan Ririn berikut. Paling tidak Kader akan ditanya banyak hal terkait kasus kematian itu oleh bidan dalam rangka melengkapi informasi untuk review maternal mortalitas.. Memahami perilaku perawatan kehamilan adalah penting untuk mengetahui dampak kesehatan bayi dan si ibu sendiri. Saya kemudian juga minta bantuan pihak RT untuk sama-sama memantau.. Fakta yang teramati dalam kasus kematian di daerah studi menunjukkan bahwa keempat Ibu yang meningggal berdasarkan catatan di Puskesmas sudah memeriksakan dirinya secara rutin setiap bulan ke bidan ataupun dokter. Kader juga direpotkan dengan kejadian itu..” “.. kok kenyi banget. kehamilan dan persalinan yang aman tidak terlepas dari faktor sosial budaya dan lingkungan di dalam masyarakat di mana mereka berada. Namun demikian. tapi saya tidak tahu apa tindak lanjut dari RT. Resiko ini baru diketahui pada saat kasusnya sudah terlambat dapat membawa akibat fatal yaitu kematian.” Ini merupakan kendala yang hampir dipunyai oleh semua Kader. alamiah dan kodrati. Dengan adanya kasus tersebut. Ketika terjadi kasus kematian maternal. Rasa percaya diri yang kurang karena mereka hanya ibu rumah tangga biasa.. bukan orang kesehatan. Kader diminta untuk lebih melakukan pemantauan kondisi para ibu hamil agar tidak terjadi lagi kasus kematian maternal.

Selain dari faktor keterlambatan dalam pengambilan keputusan. Kepanikan dan ketidaktahuan akan gejala-gejala tertentu saat persalinan dapat menghambat tindakan yang seharusnya dilakukan dengan cepat.58 km².ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya informasi. suami yang seringkali menjadi panik melihat keadaan krisis yang terjadi. penyebab tiga kasus kematian ibu diduga eklamsia dan satu kasus tidak ditemukan indikasi. kefatalan ini juga karena ada faktor keterlambatan pengambilan keputusan dari keluarga dan ibu yang bersangkutan. Tidak jarang pula nasehatnasehat yang diberikan oleh teman atau tetangga mempengaruhi keputusan yang diambil. Pada keempat kasus kematian. keterlambatan mencari pertolongan disebabkan juga oleh adanya suatu keyakinan dan sikap pasrah dari masyarakat bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan takdir yang tak dapat dihindarkan. semua tidak ada yang lebih dari 2 km. Keperdulian keluarga dan tetangga sekitar harusnya bisa dioptimalkan untuk dilibatkan dalam upaya pemantauan dan deteksi dini resiko kehamilan yang mungkin dialami oleh seorang ibu hamil. Keterlambatan juga muncul karena kepanikan. Padahal masih ada beberapa Rumah Sakit Swasta dan banyak Dokter dan Bidan praktek swasta. Namun. harusnya masyarakat bisa mengakses dengan mudah fasilitas kesehatan yang ada. Kalau dilihat dari fasilitas kesehatan yang disediakan Pemerintah Daerah seperti tiga Puskesmas dan sebuah RSUD di Kota Blitar yang luas wilayahnya hanya 32. Karena kondisi tersebut bila tidak ditangani secara tepat dan profesional dapat berakibat fatal bagi ibu. Kasus kematian yang terjadi di Puskesmas Kepanjen Kidul merupakan gambaran bagaimana kultur perkotaan yang bercirikan melemahnya ikatan sosial. faktor geografis dan kendala ekonomi. kalau dilihat dari jarak tempat tinggal ke fasilitas kesehatan terdekatnya. Alat transportasinyapun mudah diperoleh setiap saat. Suatu kondisi yang tidak dihindari bahwa dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak melalui program-program pembangunan 197 . Secara medis. juga berkontribusi terhadap kasus ini.

maka dalam upaya perbaikannya perlu pendekatan-pendekatan yang dilakukan secara holistik dan integratif yang tidak hanya terbatas pada bidang kesehatan secara medis saja tetapi juga ekonomi. Apalagi kalau persepsi tentang kesehatan ataupun penyebab sakit sudah berbeda sekali dengan konsep medis.kesehatan perlu memperhatikan aspek-aspek sosial-budaya masyarakat. baik mulai dari kandungan maupun setelah persalinan. Mengingat bahwa dari indikator-indikator yang ada menunjukkan derajat kesehatan ibu dan anak masih perlu diingkatkan. Oleh karena itu. Dan untuk merubah perilaku ini sangat membutuhkan waktu dan cara yang strategis. pendidikan. Keberadaan petugas kesehatan dan kelengkapan fasilitas kesehatan semata tidaklah cukup untuk mengatasi masalah-masalah KIA di suatu daerah. sosial dan budaya. mengatur dan mempengaruhi tindakan atau kegiatan individu-individu suatu kelompok sosial untuk memenuhi berbagai kebutuhan kesehatan. Pada dasarnya. Perilaku kesehatan di masyarakat baik yang menguntungkan atau merugikan kesehatan banyak sekali dipengaruhi oleh faktor sosial budaya. tentunya upaya mengatasinya juga berbeda disesuaikan dengan keyakinan ataupun kepercayaan-kepercayaan yang sudah dianut secara turun-temurun sehingga lebih banyak menimbulkan dampak-dampak yang merugikan bagi kesehatan. Dalam hal melakukan upayaupaya perbaikan perlu disadari bahwa hubungan ibu dan anak sangat erat dimana kondisi kesehatan ibu akan dapat secara langsung mempengaruhi kondisi kesehatan anaknya. Dengan alasan ini pula dalam hal penempatan petugas kesehatan dimana selain memberi pelayanan kesehatan pada masyarakat juga berfungsi sebagai agen perubah maka pengetahuan dan kemampuan berkomunikasi dari petugas kesehatan sangat diperlukan disamping kemampuan dan ketrampilan memberi pelayanan kesehatan. penting sekali menempatkan konteks reproduksi dalam program KIA 198 . peran kebudayaan terhadap kesehatan masyarakat adalah dalam membentuk. Memang tidak semua perilaku masyarakat yang pada awalnya bertujuan untuk menjaga kesehatan dirinya adalah merupakan praktek yang sesuai dengan ketentuan medis dan kesehatan.

terutama oleh suami. Hal ini wajib dilakukan agar konsep yang akan kita sampaikan mampu dipahami dengan benar oleh ibu hamil dan keluarganya. Selain itu suami dan keluarga dapat menjadi suami dan keluarga siaga bagi istri dan saudaranya yang hamil. Ilmu vs Upaya Penyelamatan Ilmu/pengetahuan tentang kehamilan tidak saja wajib dimiliki oleh ibu hamil saja. masa remaja hingga dewasa. ibu hamil dapat mendeteksi resiko-resiko yang ada di dalam dirinya. Proses pendampingan oleh tenaga kesehatan secara berkesimbungan juga dinilai efektif untuk merubah konsep “keliru” yang berkembang di masyarakat. Pengetahuan yang dimiliki oleh suami dan keluarga ibu hamil diharapkan mampu menjadi bekal apabila kelak terjadi suatu kondisi yang tidak diinginkan pada ibu hamil. Dengan pengetahuan tentang kehamilan dan resiko-resiko kehamilan. Ilmu yang tentang kehamilan dan resiko-resiko kehamilan yang dimiliki oleh ibu hamil diharapkan mampu menjadikan ibu hamil tanggap dan mengerti tentang perubahan kondisi yang dialaminya sehingga mampu mengambil keputusan yang tepat bagi dirinya. Sedangkan ilmu yang telah dimiliki oleh suami dan keluarga diharapkan mampu membantu ibu hamil jika terjadi hal-hal genting terjadi pada ibu hamil. Pemberian tambahan ilmu / pengetahuan baik pada ibu hamil maupun suami dan keluarga diharapkan mampu menjadi salah satu upaya penyelamatan pada ibu hamil. 199 . Keputusan tepat yang dilandasi ilmu sangat diperlukan dalam membantu ibu hamil dalam usaha menyelamatkan baik ibu maupun anak yang dikandungnya.sehingga diharapkan kondisi kesehatan seseorang benar-benar dapat terpelihara sesuai dengan konsep medis yang tepat sejak ia berada dalam kandungan. Pemberian bekal imu pada ibu hamil. suami dan keluarganya tidak dapat dilakukan dengan cara “pukul rata” akan tetapi dilakukan dengan “bahasa” yang sama dengan konsep dan “bahasa” yang dipahami oleh keluarga tersebut. melainkan wajib dimiliki oleh keluarga. masa kanak-kanak.

LSM DAN ORGANISASI LAINNYA DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN JAMINAN PERSALINAN Salah satu tujuan yang akan dicapai dalam studi ini adalah mengetahui akseptabilitas masyarakat meningkatkan pelayanan Jampersal. Untuk memenuhi tujuan tersebut dilakukan Fokus Grup Diskusi (FGD) dengan tokoh masyarakat. suami dan keluarganya. 200 . suami lah pengambil keputusan jika ada persoalan-persoalan rumah tangga. aparat desa dan dukun.9 AKSEPTABILITAS TOMA. 5. TOGA. melainkan tanggung jawab ibu hamil itu sendiri. Pemberian ilmu / pengetahuan pada ibu hamil dan keluarganya diharapkan mampu menjadi salah satu alternatif penyelamatan ibu hamil. karena dalam Budaya Jawa. bukan saja tanggung jawab kader dan petugas kesehatan. Materi yang didiskusikan adalah tentang akseptabilitas masyarakat terhadap Jampersal mulai kegiatan sosialisasi. Kader sangat berperan dalam penyampaian informasi tentang kehamilan dan resiko-resikonya pada ibu hamil dan keluarganya. tokoh agama. Peran suami dalam pengambilan keputusan untuk ibu hamil sangatlah penting. Dapat kita simpulkan bahwa upaya penyelamatan ibu hamil merupakan tanggung jawab semua pihak. LINTAS SEKTOR.Adanya kepercayaan-kepercayaan yang “keliru” yang tumbuh di masyarakat menyebabkan masyarakat kurang “tanggap” dalam menyikapi perubahan kondisi yang dialami oleh ibu hamil. kader kesehatan. pemahaman dan pemanfaatan serta harapan masyarakat terhadap keberadaan program Jampersal.

201 . Kepala puskesmas dan bidan diakui sebagai orang yang banyak memberikan penjelasan tentang Jampersal.56 Diskusi kelompok masyarakat (TOMA. dari kepolisian juga sering. TOGA. Sedangkan di Sampang. kader. selain itu juga melalui media elektronik televisi. petugas puskesmas dengan didampingi kader dan tokoh masyarakat.Gambar 5. sosalisasi juga dilakukan dengan memanfaatkan kegiatan pengajian umum. Sehingga yang memanfaatkan media pengajian ini bukan cuma dari kesehatan. Para bidan juga senantiasa memberikan informasi tentang Jampersal kepada ibu hamil ketika periksa kehamilannya. ulama dan masyarakat. Di Kota Bandung kader juga secara proaktif mendatangi sasaran jampersal. Pertemuan kader dan posyandu memang merupakan tempat utama bagi petugas kesehatan melakukan sosalisasi. Kegiatan pengajian umum ini memang di desain sebagai media komunikasi pemerintah. Melalui pengeras suara yang ada di mesjid. Sasaran utama sosialisasi di masyarakat adalah kepada para kader kesehatan yang akan diteruskan pada ibu hamil di posyandu. Tetapi Kota Mataram sosialisasi juga dilakukan dengan memanfaatkan masjid. dll) Sosialisasi Jampersal kepada masyarakat secara umum diberikan oleh pihak puskesmas. memberikan informasi tentang Jampersal.

atau langsung dr pintu ke pintu. “. karena masyarakat yang mampu di Wakatobi banyak yang melahirkan di rumah dukun didampingi oleh bidan.. Sehubungan dengan minimnya sosialisasi tersebut.pokja 4 bisa bantu sosialisasi. ternyata tidak diterima oleh semua masyarakat. kalau di kelurahan yang mendengar bisa lebih banyak. Kita sampaikan di situ.” (Toma.. kalau di PKK hanya sebagian ibu-ibu yang hadir. Mungkin harus ada kesepakatan soal insentif dengan puskesmas. Puskesmas sebagai lembaga pelayanan kesehatan yang langsung berhubungan dengan masyarakat mengaku bahwa sudah melakukan sosialisasi tapi tidak langsung ke masyarakat. Menyadari kondisi geografis yang berupa kepulauan.” Kondisi yang sangat berbeda dibandingkan daerah lain dalam upaya sosialisasi Jampersal. Di pos kamling.. kadang kita undang kumpul masyarakat. masyarakat menganggap perlu memperhatikan kemitraan dengan dukun.setiap triwulan ada undangan sosialisasi dari dinkes atau pkm. sosialisasi Jampersal dilakukan setiap triwulan dengan memberikan undangan pada Toma ke Dinas kesehatan atau puskesmas setempat. Menurut Toma. Kita teruskan lagi di masyarakat. masyarakat mengharapkan sosialisasi hendaknya dilakukan di tempat yang lebih dapat diakses oleh masyarakat misalnya di kelurahan.perlu dipikirkan insentif untuk dukun yang bekerja sama dengan bidan. karena masyarakat disini kurang tahu mengenai jampersal jadi lebih banyak ke dukun. “.. kab. Ada juga yang mengaku bahwa dia baru tahu setelah mengikuti kegiatan FGD ini..Sosialisasi Jampersal yang menjadi tugas Dinas Kesehatan dengan segenap jajarannya.di kelurahan sosialisasinya.. terjadi di Kabupaten Wakatobi. masih kuatnya tradisi melahirkan dengan ditolong dukun dan perasaan “malu” jika melahirkan di Puskesmas membuat Dinas Kesehatan dan jajarannya perlu memperbanyak frekuensi sosialisasi. Peserta FGD di Kota Kendari mengemukakan bahwa masyarakat kurang tersosialisasi dengan Jampersal.” 202 .” ". “. Selain itu. Wakatobi).. Seharusnya sosialisasi juga dilakukan kepada ketua RT yang nantinya akan disebarluaskan pada warganya.. mereka takut ke RS takut biaya mahal.

203 . Ini mengindikasikan bahwa petugas kesehatan sudah berusaha melakukan sosialisasi sampai ke komunitas terpencil.7% ibu hamil dan bersalin yang tidak memanfaatkan Jampersal karena tidak tahu? Atau apakah ini terjadi karena metode sosialisasi kurang tepat? Mungkin masyarakat butuh jaminan kebenaran informasi yang disampaikan. Masalahnya. Kabupaten Kepulauan Aru. kalau dilakukan oleh kader ada ke khawatiran informasi yang diberikan kurang tepat.7% diantara mereka yang tidak memanfaatkan Jampersal disebabkan ketidak tahuan tentang program Jampersal. apakah mereka yang sudah mendapat sosialisasi kemudian berkenan menyampaikan pada yang lain? Kalau dilihat dari hasil wawancara kepada para ibu hamil dan yang baru melahirkan. diketahui bahwa terdapat 66. Kalau memperhatikan salah satu Posyandu di wilayah puskesmas Benjina. disana terpampang satu poster tentang Jampersal. Bahkan Dinas Kesehatan sudah memproduksi brosur untuk dibagikan kepada masyarakat.Dari hasil FGD diketahui bahwa mereka ada yang mendengar tentang Jampersal dan ada pula yang belum. poster Jampersal juga terlihat di rumah kediaman kader yang difungsikan sebagai posyandu. Metode yang biasa dilakukan adalah memberi informasi dengan cara berantai. Masyarakat maunya informasi tentang kesehatan. harusnya disampaikan oleh orang kesehatan karena dianggap lebih kompeten. Masalahnya. Di Blitar. Sehingga Di Kota Blitar tokoh masyarakat berpendapat bahwa kebenaran informasi akan bisa dipertanggung jawabkan jika sosialisasi dilakukan oleh tenaga kesehatan. dari Dinas Kesehatan ke Puskesmas ke Kader dan diharapkan kader dapat menyampaikan kepada masyarakat. siapa yang kurang mempunyai keperdulian sampai ditemukan data sebanyak 66. maka secara umum dapat dikatakan bahwa sosialisasi pada masyarakat dirasakan masih kurang. Sementara masyarakat maunya mendapat jaminan kejelasan dan kebenaran informasi yang disampaikan. Kalau ini dijadikan sebagai indikator kegiatan sosialisasi.

” 204 . secara eksplisit tidak tercantum persyaratan tertentu agar sasaran bisa mendapat pelayanan Jampersal. Dalam petunjuk pelaksanaan Jampersal tertulis bahwa kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan jampersal adalah ibu hamil..” “. Dikemukakan bahwa penerima pelayanan adalah seluruh sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja. pertolongan persalinan.. tidak semua bisa berpendapat. di rancang untuk menghilangkan hambatan finansial bagi ibu untuk mendapatkan pelayanan terkait dengan persalinan. Mengenai persyaratan. bukan untuk orang miskin saja tetapi untuk semua lapisan masyarakat. ibu nifas dan bayinya. ibu bersalin. Tetapi ketika ditanya tentang apa yang diketahui tentang Jampersal.. Adapun jenis pelayanan yang diberikan meliputi pemeriksaan kehamilan. Begitu ditanya tentang apa pernah mendengar tentang jampersal. “.program jampersal ini disambut baik.. Jampersal yang bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi. tidsak saja pada proses melahirkan tapi sampai pada biaya pelayanan ke rumah sakit jika ada yang komplikasi dan di rujuk ke puskesmas dan rumah sakit sekarang dibiayai jadi gratis. Sebagai program yang relatif baru dengan harapan keberhasilan yang besar. sebagian besar peserta FGD di 14 kabupaten/kota daerah studi menyatakan pernah mendengar. karena dalam program tersebut tidak ada batasan untuk melahirkan artinya anak ke berapa pun diberi jaminan untuk persalinan gratis.Pemahaman Masyarakat Tentang Jampersal.” “. pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir.. Semua orang yang pernah mendengar. terutama bagi masyarakat miskin yang bebas dari biaya persalinan. secara umum mengatakan bahwa jampersal adalah seperti cuplikan diskusi masyarakat di wilayah Puskesmas Sanan Wetan Blitar mengenai apa yang diketahui tentang program Jampersal. perlu untuk diketahui bagaimana pemahaman masyarakat terhadap program Jampersal.program jampersal merupakan program pemberian pelayanan secara gratis untuk persalinan bagi masyarakat.Jampersal adalah program kesehatan yang menguntungkan terutama bagi masyarakat yang tidak mampu..

jenis pelayanan yang diberikan. yang berlokasi di kota Kabupaten Kepulauan Aru. seperti proses administrasi yang bisa membuat bingung bidan terutama pada masyarakat yang pendatang (bukan dari kota blitar) yang tidak punya KTP. persalinan dan pemerikasaan setelah melahirkan dan bayi sampai 28 hari sampai pemasangan alat kontrasepsi jangka panjang.jampersal adalah program gratis untuk ibu yang melahirkan sehingga program ini baik sekali untuk masyarakat.. “jampersal bukan untuk orang miskin saja tapi untuk semua lapisan masyarakat”... “program untuk masyarakat miskin”. Kebanyakan yang diketahui masih sebatas bahwa Jampersal hanya melayani pemeriksaan ibu hamil dan melahirkan gratis di layanan kesehatan / bidan.. Secara garis besar.” “. Pemahaman masyarakat di Blitar ini berbeda sekali dengan masyarakat di kabupaten Kepulauan Aru. saling pandang dan tetap terdiam. Lebih lanjut diakui bahwa ibu harus meminta persetujuan dari suami terlebih dahulu untuk langsung menggunakan alat kontrasepsi. ketika diminta berkomentar tentang program Jampersal semuanya terdiam.” Dari komentar masyarakat warga Sanan Wetan yang notabene merupakan daerah perkotaan dapat kita lihat bagaimana pemahaman mereka tentang Jampersal. Masyarakat banyak yang 205 . masih ada anggapan masyarakat bahwa yang gratis itu pelayanan pemeriksaan kehamilan dan persalinan saja sehingga untuk keperluan yang lainnya tidak gratis.“. “bila dirujuk ke Rumah Sakit juga gratis”. Di kota Bandung. Belum ada seorangpun anggota masyarakat yang mampu menjelaskan secara utuh dilihat dari tujuan. Jenis pelayanan yang diberikan dalam program Jampersal secara umum tidak diketahui secara mendetail oleh masyarakat. Dari 10 peserta FGD hanya Ibu Ome dan Ibu Tini yang pernah mendengar tentang Jampersal tetapi tidak tahu Jampersal itu apa.program jampersal di masyarakat ini baik. kader mengaku telah mensosialisasikan bahwa paket pelayanan Jampersal itu terdiri dari pemeriksaan kehamilan. Kalau di wilayah puskesmas Benjina di Kabupaten Kepulauan Aru. berikut adalah variasi pemahaman masyarakat mengenai Jampersal.. sasaran dan persyaratannya. Maluku. namun sosialisasi di masyarakat yang kurang. Bahwasannya jampersal adalah “program persalinan gratis”.. Diskusi yang dilakukan di wilayah puskesmas Dobo.

semua yang tahu jampersal mengemukakan bahwa yang ibu yang hamil...” “. Di kota Mataram.. Tentang pelayanan yang diberikan.” “. Mengenai siapa sasaran yang berhak memanfaatkan pelayanan Jampersal. bersalin dan bayi yang baru dilahirkan adalah mereka yang bisa mendapatkan pelayanan Jampersal.yang dari luar kota bisa ikut Jampersal di Kota Bandung.keberatan untuk pemasangan alat kontrasepsi jangka panjang seperti IUD.” “... Ini mengindikasikan kalau sebenarnya petugas kesehatan sudah menyampaikan kepada masyarakat tentang jenis pelayanan yang bisa dinikmati oleh sasaran Jampersal. Walau masih banyak yang beranggapan bahwa Jampersal ini diperuntukkan bagi mereka yang tidak mampu. pertolongan persalinan..” Dari ragam pendapat masyarakat baik di Bandung maupun di Mataram.. tetapi ada masyarakat juga tahu bahwa: “. KIA.” “.” Tidak ada yang tahu bahwa Jampersal hanya diperuntukkan pada mereka yang tidak mempunyai jaminan persalinan.yang dilayani oleh program jampersal adalah persalinan.. dapat kita ketahui bahwa masyarakat sudah tahu kalau paket pelayanan Jampersal meliputi pemeriksaan kehamilan. Sebagian masyarakat lebih senang KB suntik. pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir.kaya miskin boleh ikut Jampersal. masyarakat mengemukakan bahwa: “. ada banyak komentar sehubungan dengan hal tersebut. periksa bumil dan KB. tapi mereka yang mampu juga boleh menikmati fasilitas Jampersal... Mungkin karena penyerapan informasi oleh masyarakat yang terbatas sehingga pemahamannya kemudian juga terbatas.untuk Ibu Hamil sampai kunjungan ke empat (K4) 1 kali triwulan pertama 1 kali triwulan kedua 2 kali triwulan ketiga.setahu saya untuk bersalin sama memberikan bantuan bagi bayi yang mengalami gangguan kesehatan tapi sebelum umurnya 1 bulan.yang sedang di penjara juga bisa ikut Jampersal. Dengan diketahuinya bahwa Jampersal ternyata tidak hanya untuk kelompok masyarakat tidak mampu. 206 ...

kalau negara mampu..” Kepemilikan KTP dan/atau KK memang merupakan persyaratan pelayanan Jampersal di semua kabupaten / kota..” “. maka perlu dibatasi.....program jampersal ini dibuat kriteria yang lebih khusus... masalah pendatang tanpa identitas baru yang sesuai dan bagaimana bila kehamilan itu terjadi diluar nikah adalah hal-hal yang terkait dengan persyaratan pelayanan Jampersal. Masih adanya ibu yang tidak punya kartu identitas.. pada saat dibutuhkan baru bingung mencari surat. untuk pengurusan memerlukan waktu.masyarakat kaya gengsi kalau ikut Jampersal... Berikut ini beberapa komentar masyarakat... “.” Yang seringkali “ramai” didiskusikan adalah ketika bicara tentang persyaratan agar sasaran bisa mendapat pelayanan Jampersal. kenapa tidak? tentunya semua boleh mendapat pelayanan gratis. mereka bisa memanfaatkan surat keterangan domisili. karena banyak masyarakat yang tidak mempunyai KTP.. Asal punya KSK atau KTP saja sudah bisa dilayani. Walau demikian di Kota Ambon KTP masih menjadi masalah. kalau ada penduduk baru kemudian istrinya bersalin diberi keterangan domisili dari kelurahan. biasanya yang suka ikut itu yang menengah ke bawah.“.kalau ada masyarakat yang nggak mampu pakai jamkesmas dibuatkan surat keterangan untuk mendapatkan pelayanan jamkesmas dan jampersal….. terutama untuk keluarga miskin saja.Masyarakat tidak mempersiapkan syarat-syarat untuk Jampersal..untuk ikut jampersal.. Aparat desa menyatakan dapat membantu untuk kelancaran pembuatan KTP atau surat keterangan domisili setelah mendapat sosialisasi tentang Jampersal..program jampersal di masyarakat ini baik.” “.” “. Tetapi kalau peserta Jampersal tidak punya KTP atau KK. ibu-ibu yang selama ini tidak punya KTP 207 . seperti proses administrasi yang bisa membuat bingung bidan terutama pada masyarakat yang pendatang yang tidak punya KTP....” “..” “.. namun sosialisasi di masyarakat yang kurang. kalau negara kurang mampu. Dengan adanya program Jampersal.untuk memberikan subsidi kepada semua masyarakat. Nah..

Untuk persalinan yang tidak dapat dilakukan dibidan dapat dilakukan rujukan ke rumah sakit yang sudah ditentukan. “... jangan berhenti.program Jampersal harus terus dilanjutkan. dan terbatasnya sarana transportasi untuk 208 . Dalam pelaksanaan suatu program.” “. Kab. banyak harapan masyarakat terhadap Jampersal.9. “. tidak ada mobil ambulace yg tersedia setiap saat jadi hrs mencari2 dulu pertolongan. perlu ditingkatkan dengan pelayanan transfusi darah. Dalam pelaksanaan. sekarang mereka mau mengurus kepemilikan KTP. Tomia ke Baubau ditempuh dengan kapal reguler 11 jam dengan ongkos 130 ribu. Kota Mataram). udah di kelas tiga tapi di suruh bayar. karena bila ada kasus harus dirujuk ke Baubau. Seharusnya ada surat edaran dari puskesmas atau dinas kepada RW di seluruh wilayah kerja puskesmas supaya masyarakat menggunakan Jampersal. pelayanan rujukan. Termasuk keluhan tentang kurangnya fasilitas.karena belum merasa berkepentingan. tidak membuat masyarakat kurang peduli dengan keberadaannya. Diharapkan agar sosialisasi ke masyarakat harus lebih ditingkatkan lagi.” (Toma...kalo ada warga yg harus dirujuk ke PKM atau RS. Selama berkaitan dengan kehamilan dan persalinan. Dengan merasakan manfaatnya. karena kasihan masyarakat yang tidak mampu.. “. harusnya biaya pelayanan di rumah sakit ditanggung oleh Jampersal.” ( Toma. kegiatan sosialisasi merupakan hal penting untuk menentukan keberhasilannya.” (Toma.. masih terdengar keluhan masyarakat tentang adanya tambahan pembiayaan pada pengguna Jampersal. Kalau harus carter sekitar 10 juta ke atas.. Kota Bandung). Masyarakat berharap adanya kepastian pembiayaan Jampersal sebab di beberapa Kabupaten. Harapan Masyarakat Relatif barunya pelaksanaan Jampersal. sebagaimana berikut. 5. Wakatobi).di rujuk di rumah sakit yang bersangkutan.1..harapan pertama adalah perbaikan fasilitas. ada beberapa kasus yang dikeluhkan masyarakat.

” (Toma.. Namun karena menyadari besarnya manfaat yang diperoleh dari program Jampersal. Di RS atau puskesmas kan suka cuek kalo pasien yang mengeluh kesakitan.Khusus untuk masyarakat di Natuna. Nah inilah yg tidak pernah dijelaskan ke masyarakat. termasuk kekhawatiran Jampersal akan mengakibatkan ledakan penduduk.. Misalnya kalu ibu hamil kalu ke RS negeri sudah menunggu lama lalu akhirnya di caesar. Program Jampersal diharapkan dapat 209 . “.” (Toma.belum lagi bidan kecil2. Terlepas dari keluhan masyarakat yang ada.. nah sekarang tiba2 dia mau turun saya persalinan. misal umurnya sudah banyak. langsung tindakan saja. Natuna). mereka lebih sabar telaten menunggu bila mengeluh kesakitan. Jadi secara psikologis lebih percaya pada bidan kampung.masyarakat itu butuh penjelasan dan pendekatan. Natuna). Kep. walaupun kabupaten tersebut tidak memanfaatkan Jampersal mengharapkan pelayanan kesehatan lebih baik seperti layanan kesehatan di luar negeri. Padahal mungkin dari dokter sendiri ada penjelasan dan alasan. Jadi gimaa mau percaya. Kab. Selain itu masyarakat mempunyai pandangan mengapa masyarakat juga lebih senang melahirkan ditolong dukun dibanding oleh tenaga kesehatan. Pelan-pelan ditolong persalinannya. semua masyarakat di semua daerah studi berpendapat dan mempunyai harapan yang sama. khususnya bagi keluarga tidak mampu. Istilahnya dulu dia saya yang urus mandiin segala macam. Kalau di dukun kampung. Seperti diketahui untuk masyarakat Natuna akses untuk mendapatkan pelayanan dari Malaysia dan Singapura bahkan dapat lebih dekat dibandingkan harus ke Batam atau wilayah lain di Indonesia. mereka baru. “. tapi langsung ditempatkan ke masyarakat tanpa dampingan senior. Kab kep. Untuk itu diharapkan bidan-bidan di Natuna mendapat pelatihan untuk dapat meningkatkan teknis dan kualitas layanan agar masyarakat tidak perlu mendapatkan layanan kesehatan di luar negeri. Akhirnya masyarakat ini kan taunya kalau ke RS akan dibelah. dilanjutkan di tahun-tahun mendatang..

210 .

Keterbatasan / tidak adanya dana sosialisasi menyebabkan sosialisasi Jampersal kurang fokus karena diikutkan dengan kegiatan lain. 3.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. Muatan politik mempengaruhi dukungan Pemerintah daerah terhadap Jampersal dalam bentuk sosialisasi Kebijakan Jampersal dengan kebijakan daerah berkaitan dengan mendukung penurunan AKI dan AKB misalnya LIBAS di Sampang. Dukungan pembiayaan belum banyak terlihat. KESIMPULAN 1. SDM. Penerimaan Provider terhadap kebijakan jampersal : a. peralatan dan bahan habis pakai dll. hanya perlu difokuskan pada masyarakat miskin.1. “AKINO” di Nusa Tenggara Barat. Penerbitan Perbup dan Perwali sebagai salah satu bentuk dukungan Pemda. Khusus Kepulauan Natuna tidak memanfaatkan pembiayaan Jampersal 2. Materi sosialisasi masih 211 . dibatasi pada jumlah anak. Di beberapa kabupaten / kota tidak menerbitkan Peraturan baru tetapi mengikuti Peraturan Pusat yang sudah ada / sesuai petunjuk teknis yang ada atau mengikuti Peraturan daerah yang sudah ada. Kebijakan Jampersal ditindaklanjuti dengan menerbitkan Peraturan Bupati atau Peraturan walikota. Bahkan Jampersal juga dapat menjadi sumber pendapatan daerah. Jamkesda di beberapa daerah dialihkan menjadi Jampersal. b. Program Jampersal mendukung pada pelaksanaan program KIA terutama pada bidan di puskesmas. Di Kabupaten / Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal walaupun belum optimal. Sosialisasi menjadi kendala untuk pelaksanaan Jampersal. Belum semua daerah memberi dukungan dalam bentuk penyediaan sarana. SPOG) mendukung terhadap kebijakan jampersal . Secara umum provider ( bidan.

ibu nifas sampai 42 hari dan neonatal (0-28 hari) yang mempunyai salah satu persyaratan seperti KTP. perdarahan sebelum melakukan rujukan. d. ibu bersalin. surat ijin mengemudi. hanya Kota seperti Balikpapan dimana tingkat ekonomi tinggi besaran tersebut dianggap masih terlalu rendah. habis pakai dsb. kartu mahasiswa/ pelajar dan paspor. kurang pada substansi. • • Lama persalinan normal di beberapa daerah lebih dari satu hari. Masalah juga timbul pada RS yang memberlakukan tarif Jamkesda dengan tarif RS kelas III. e.Untuk daerah kepulauan besaran kalim tidak masalah tapi biaya transport yang menjadi kendala karena bisa jauh lebih besar dari klaim Jampersal. Pelayanan KB perlu lebih ditegaskan lagi. Pelayanan rujukan khususnya di Daerah yang akses jauh dari pelayanan rujukan diharapkan bidan yang telah mempunyai kompetensi khusus dapat melakukan pelayanan rujukan tertentu misalnya manual plasenta. Kepesertaan / pengguna Jampersal adalah ibu hamil. kartu keluarga.lebih kearah pertanggungjawaban administrasi. Mekanisme klaim awalnya menjadi kendala karena terlalu lama. Jenis paket pelayanan Jampersal di tingkat layanan dasar cukup baik diterima bidan. tapi juknis tahun 2012 212 . Keterbatasan pengetahuan Jampersal sering menyebabkan provider “setengah hati” menerima dan melaksanakannya. sehingga beberapa RS terpaksa menarik tambahan biaya untuk obat. surat keterangan domisili. c. f. ada daerah yang meerapkan pengisian inform consent untuk menggunakan KB Jangka panjang seperti IUD pada pengguna Jampersal. Di rumah sakit tarif INA-CBG’s terutama untuk RS Tipe C besarannya dianggap terlalu kecil. Portabilitas pelayanan dapat berjalan baik. g. Di tingkat layanan dasar besaran Klaim menurut juknis 2012 secara umum sudah cukup. hal ini disebabkan persyaratan dianggap membebani. KTP suami.. Hal khusus yang menjadi masukkan : • • Pelayanan ANC bidan mengharapkan bisa lebih dari 4 kali.

c. Jumlah bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan masih sangat terbatas. misalnya di kota Ambon. Kendala juga dengan terbatasnya tenaga verifikator sehingga berkas klaim menumpuk di verifikator. Kota Kendari bidan yang ada kebanyakan masih lulusan D1. b. tidak semua bidan desa tinggal di wilayah kerjanya. Masalah terjadi untuk pencairan untuk provider di puskesmas karena melalui mekanisme keunagan daerah sehingga bervariasi setiap daerah. walaupun masih ada yang mengikuti Juknis 2011. Ketersediaan puskesmas di setiap kecamatan di lokasi penelitian terpenuhi ada beberapa hal perlu diperhatikan : a. • Belum tersosialisasinya program Jampersal dengan baik. di beberapa lokasi kepala Dinas membuat 213 . • Persyaratan pengurusan ijin praktek bidan yang menyebabkan bidan tidak dapat segera mendapatkan Ijin praktek dengan adanya persyaratan dari organisasi Profesi misalnya APN. hal ini disebabkan tidak semua bidan puskesmas / desa dapat melakukan PKS disebabkan antara lain : • Belum semua dinas kesehatan membuka kesempatan pada bidan puskesmas / BPS untuk melakukan PKS secara terbuka.sudah lebih sederhana. harus aktif dan telah magang pada organisasi Profesi dalam waktu tertentu. Pencairan dana untuk BPS pada umumnya cukup lancar dan dapat diterimakan 100%. • Keterbatasan tenaga bidan karena ada batasan kompetensi. Mekanisme pencairan dana pada umumnya mengikuti Juknis 2012. Di beberapa daerah kesulitan dalam pencairan. 4. Jumlah Bidan pada umumnya mencukupi kecuali di kepulauan Aru jumlah bidan sangat kurang. dan distribusi bidan belum merata. Di kepulauan perlu lebih banyak sarana pelayanan. Puskesmas non perawatan tidak mempunyai sarana rawat inap untuk menolong persalinan. h. satu desa dapat terdiri beberapa pulau.

Hal ini misalnya terjadi di Kabupaten Kepulauan Aru. 95.3% dilakukan di fasilitas kesehatan. pada pelayanan persalinan di 13 kabupaten/kota. bahkan tidak ada SPOG tetap.kebijakan untuk menyediakan satu ruangan untuk rawat inap untuk persalinan. • Ibu nifas pengguna Jampersal untuk persalinan di 13 kabupaten / kota turun 1. Continum of care dari Ibu nifas pengguna Jampersal untuk persalinan di 13 kabupaten / kota turun 15% dari yang memanfaatkan pelayanan ANC (K1). Terutama di daerah kepulauan sarana. prasarana dan SDM rumah sakit sangat terbatas. Kecenderungan tempat persalinan non fasilitas kesehatan terjadi di kabupaten yang tergolong daerah sulit secara akses. d. dan juga ketersediaan tenaga kesehatannya terbatas. Cenderung terjadi peningkatan rujukan persalinan per vaginam dengan komplikasi dan tanpa komplikasi di rumah sakit pemerintah tempat rujukan Jampersal pada 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. • Ibu nifas pengguna Jampersal untuk PNC di 13 kabupaten / kota turun 2% dari yang memanfaatkan pelayanan persalinan . Sarana Puskesmas rawat inap dan Poned masih terbatas. b. • Untuk pengguna Jampersal. Pemanfaatan layanan Jampersal : a. Kabupaten Wakatobi dan Kabupaten Paser. Belum semua rumah sakit pemerintah di kabupaten melakukan PKS dengan Dinas Kesehatan.9% dari yang memanfaatkan pelayanan ANC K1 dan K4. 5. 214 . c. Peningkatan kasus Sectio caesaria juga cukup tinggi di rumah sakit pemerintah rujukan Jampersal pada tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya.

Jampersal persyaratan lebih mudah untuk dipenuhi . Lintas sektor.7% karena belum tersosialisasi Jampersal. Sosialisasi yang diperoleh masyarakat dinilai kurang. Masyarakat yang tidak memanfaatkan Jampersal 66. 8. Dari data didapatkan : a.6. masyarakat sudah mendapat sosialisasi adanya Jampersal. Toma. juga terdapat pembiayaan kesehatan melalui PNPM GSC yang merupakan program kementerian Dalam Negeri. selain itu ada daerah ketika ada Jampersal maka Jamkesda dialihkan ke Jampersal. Masyarakat merasa bahwa jampersal sangat bermanfaat dan berharap program ini terus berlanjut. sehingga dengan adanya Jampersal terjadi pergeseran bagi pemanfaatan Jaminan kesehatan lain ke Jampersal. c. hanya saja untuk paket pelayanan KB masyarakat masih keberatan dengan menggunakan alat kontrasepsi jangka panjang (mis. Jamkesda (19. IUD). 215 .10% dan Jamsostek (11. Masyarakat yang memanfaatkan Jampersal 95% telah memiliki Jaminan lain seperti Jamkesmas (52%) . Toga.30%). LSM mengharapkan lebih dilibatkan dalam sosialisasi Jampersal. Hanya 5 % yang lain2 termasuk tida mempunyai Jaminan. Jampersal bersifat portabilitas. Di level komunitas. Selain pemberdayaan dari masyarakat langsung melalui kader kesehatan. b. dan lebih senang dengan KB suntik. Pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan dalam upaya mendukung pelaksanaan kebijakan Jaminan Persalinan. Di beberapa kabupaten / Kota daerah penelitian terdapat biaya tambahan yang dikenakan pada masyarakat yang memanfaatkan pelayanan Jampersal 7. Askes (12.6%). Untuk paket pelayanan Jampersal masyarakat sudah memanfaatkannya.

kader) dalam 216 . provider dan masyarakat perlu adanya kesinambungan ketersediaan alokasi dana Pusat dalam pelaksanaan Jampersal. pelibatan lintas program. 6. Ketentuan besaran jasa pelayanan dan kelancaran klaim menjadi perhatian sebagai salah satu manfaat Jampersal untuk tenaga kesehatan yaitu adanya kepastian akan menerima jasa pelayanan medis sesuai ketentuan yang berlaku.2 SARAN/REKOMENDASI Dengan dukungan dari Pemerintah Daerah.2. bahan habis pakai. Memberi penekanan pada pemerintah daerah untuk menepati ketentuan sesuai juknis. seperti BOK. 2. Adapun saran untuk perbaikan Kebijakan Jaminan Persalinan adalah sbb : 3. obat. bahwa sasaran jampersal adalah ibu hamil. bersalin dan nifas yang belum mempunyai jaminan. Jamkesmas. Jamkesda. • Sosialisasi menjadi kunci penting dalam keberhasilan. lintas sektor dan masyarakat (Toma. 3. 4.1 Jangka pendek Pedoman Pelaksanaan harus memberi ruang untuk menampung kebijakan local: 1. Penguatan Tim Pengelola Jamkesmas/Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam peningkatan kemampuan proses verifikasi dan pembayaran klaim Jampersal. dan peralatan kesehatan Puskesmas dan Poskesdes agar mampu melakukan pertolongan persalinan di Puskesmas dan Poskesdes secara memadai. Penguatan sinergisme berbagai sumber pembiayaan dalam mendukung pelaksanaan Jampersal. 5.3. Diterbitkannya turunan kebijakan Jampersal berupa Peraturan Bupati atau Peraturan Walikota. Mendorong daerah untuk berkontribusi terhadap pemenuhan sarana prasarana. Toga. dll.

dengan menerapkan inform consent. b. Menyediakan dana pendamping untuk penggantian transport rujukan bila diperlukan. Disamping itu perlu penganggaran khusus untuk sosialisasi. dalam pengertian memenuhi ketersediaan sarana pelayanan kesehatan tingkat dasar sampai dengan rujukan.2. • Pengetatan mekanisme pengawasan dan sanksi agar seluruh penyedia pelayanan kesehatan (PPK) Jampersal tidak menarik biaya tambahan dari penerima manfaat Jampersal dengan melakukan “uji petik”. Menyediakan rumah singgah. khususnya di daerah tertinggal. c. • Pada daerah kepulauan atau wilayah dengan geografis sulit harus dipertimbangkan beberapa pilihan : a. Kementerian Perhubungan. • Peningkatan kemampuan tenaga kesehatan yang ada di wilayah tertentu khususnya di daerah terpencil dan terisolir yang kurang diminati. 6. di antaranya melalui pemberian kewenangan tambahan/khusus mengingat keterbatasan tenaga sesuai kompetensi. Menyediakan pelayanan ‘one stop service’. 217 . dan Pemerintah Daerah dalam percepatan pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi yang memadai.2 Jangka Panjang Rekomendasi jangka panjang ini lebih diperuntukkan bagi pelayanan kesehatan ibu dan anak secara keseluruhan. • Penguatan komitmen pelayanan KB pasca persalinan sebagai paket dan bagian tak terpisahkan dari pelayanan Jampersal dengan didorong untuk penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang.sosialisasi lebih di tingkatkan. • Aspek Sarana dan Prasarana dan SDM 1) Dukungan Kementerian Pekerjaan Umum.

tokoh agama. 2) Penguatan Puskesmas PONED dan RS PONEK. • Pemberdayaan Masyarakat sangat penting untuk mendukung pelaksanaan kebijakan Jampersal. • Melibatkan tokoh masyarakat. sehingga diupayakan adanya pendamping di wilayah kerja bidan karena bidan mempunyai keterbatasan . obat dan peralatan. sarana. 218 . Peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui pemberian KIE (Konseling. serta keterampilan (skill) petugas sebagai penyedia layanan emergensi obstetrik dan neonatal tingkat dasar dan komprehensif.perbatasan. dan kepulauan. kader kesehatan dan lintas sektor dalam kesehatan dalam sosialisasi program kesehatan termasuk jampersal. 3) Penguatan sistem rujukan (improvement collaborative) antara Puskesmas PONED dan RS PONEK. seperti hambatan kultural dan hambatan informasi. Informasi dan Edukasi) tentang Jampersal untuk mengatasi hambatan non-medis dan non-finansial. baik aspek tenaga. 4) Keberadaan bidan sebagai anggota masyarakat memiliki keterbatasan yang harus diperhatikan. dalam rangka memudahkan proses rujukan KIA.

Riskiyana. atas segala perhatian. Dengan segala kerendahan hati. M. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Kesehatan RI atas terlaksananya penelitian DIPA 2012. Seluruh responden yang terlibat pada penelitian ini baik di dinas Kesehatan. Puskesmas. drg. 4. Lintas sektor terhadap segala perhatian dan informasi yang diberikan. RSUD.. M. Drg. 2.Sc.. Toga. sebagai narasumber yang telah bekerjasama dan memberikan masukkan tentang Program terkait kebijakan Jampersal. Kasubdit Ibu Nifas dr. 219 . kekompakan dan kerjasamanya demi kelancaran penelitian ini. Toma. DR. Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat. 6. 3. Usman Sumantri. sebagai Mitra dalam pelaksanaan penelitian Jaminan Persalinan. Sandi Iljanto. yang dilakukan di 14 Kabupaten / Kota di 7 Provinsi di Indonesia. kesempatan dan dukungan yang diberikan. atas segala perhatian. Seluruh Kepala Dinas Kesehatan dan Direktur Rumah Sakit Daerah di 14 Kabupaten/Kota Lokasi Penelitia atas ijin dan kerjasamanya selama penelitian berlangsung. sebagai narasumber dan bekerjasama dalam memberikan informasi tentang Pembiayaan Jaminan Persalinan. Terima kasih pula Bapak Agus Suprapto.. kami menyampaikan terima kasih banyak kepada yang terhormat Bapak Dr.Kes. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga kami sampaikan kepada: 1. dr. masyarakat. Sampang. 5. Kepala Pusat Jaminan Kesehatan. selaku Kepala Pusat Humaniora. Trihono. Laporan ini merupakan penelitian DIPA 2012. Teman-teman tim peneliti di penelitian ini.UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karuniaNya karena telah menyelesaikan laporan penelitian dengan tepat waktu dengan judul “ Riset Evaluatif Implementasi Jaminan Persalinan ”.

220 .7. Teman-teman pembantu administrasi yang mengurus kelancaran administrasi keuangan.

Rencana Strategis Nasional. 2000. 1st ed. ER. From Idea to Action: Notes for a Contingency Theory of the Policy Implementation Process. 2011. Buse K. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada. Pengantar Analisis Kebijakan Publik (second edition)(terjemahan). 2nd ed. Gadjah Mada University Press Emzir. Mays N. 2003. 368(9542):1189 – 1200. 2012. Graham WJ. Badan Litbangkes RI. Pedoman Pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu. Yogyakarta: Kepel Press. Dunn WN (2009) Public Policy Analysis: An Introduction. Departemen Dalam Negeri RI (2008) Petunjuk Teknis Operasional PNPM Generasi Sehat dan Cerdas. 2010.. J. (2012) Making Health Policy.. Alexander. 16: 403. Nelson: London. Dunn. Jakarta. Badan Pusat Statistik RI. Walt G. Praya. Open University Press. Mitos dan Karya Sastra. Wakatobi: Dinas Kesehatan Ahimsa. Andersen. and why. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. England. USAID. 828/Menkes/SK/IX/2008 tentang Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota. Praya. Departemen Kesehatan RI.. 1985. 221 . 2007. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar Tahun 2010. 4th Ed. Yogyakarta. England. Badan Litbangkes. Anonym. BPS Kab Lombok Tengah.. 1996. Analisis Data. Depkes RI (2008a) Permenkes No. Heddy Shri. Macro Internasional. Profil Kesehatan Wakatobi. Depkes RI (2008b) Kepmenkes No. 2012. Carine Ronsmans C.DAFTAR KEPUSTAKAAN ___________________ 2011. (2005) Making Health Policy. 1975. Strukturalisme Levi Strauss. Badan Litbangkes RI. Buse K. when. Walt G. Jogjakarta. Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat. 2011 Metodologi Penelitian Kualitatif. Public Policy Making. Jakarta Badan Pusat Statistik RI. (2006) Maternal mortality: who. where. Lombok Tengah Dalam Angka Tahun 2012. Dinkes Kab Lombok Tengah (2011) Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2011. Open University Press. Laporan Survey Demografi Kesehatan Indonesia Tahun 2007. Making Pregnancy Safer (MPS) di Indonesia 2001-2010. IPKM: Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat. Hasil Lokakarya Nasional “Perkembangan Pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu di Delapan Propinsi Daerah Uji Coba”. 741/Menkes/Per/VII/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota. Jakarta. Administration & Society. Pearson. Mays N. The Lancet. William.

Martin. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. Lawrence W. Gulliford.. Nomor 2562/MENKES/PER/XII/2010 McDermott. Soekidjo. 3 July 2002 Yoni Yulianti. Notoatmodjo. Qiane X. Diunduh dari http://www. Badan Litbangkes. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Martineauc T.. 1993. Jampersal Solusi Persalinan. New York. Ian. Gereina N. Administration and Society 6(4):445-8. “Analisis Partisipasi Masyarakat dalam PNPM Mandiri Perkotaan di Kota Solok”.67–173. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. BMC Medicine. Mukhopadhyayd M. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku .Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Pearsona S. The Policy Process.. Niniek L Pratiwi. 6. 2. 2011d.Gordon. Jakarta. Jose Figueroa-Munoz. A Reader. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. American Journal of Health Behavior.. Stanton C. Ahmed S. Menkes Beberkan Program Prioritas Kemenkes 2011. Kebijakan Jaminan Persalinan. Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Kesehatan.. halaman 3-6 Meter DMV & Horn CEV (1975) The Policy Implementation Process: A Conceptual Framework. Nomor 2562/MENKES/PER/XII/2011 Kementerian Kesehatan RI.id Kementerian Kesehatan RI. & Campbell OMR (2008) Measuring maternal mortality: An overview of opportunities and options for developing countries. 2011. What does `access to health care’ mean? Journal of Health Services Research and Policy. Setia. Vol. 2011c. Kemenkes RI (2011b) Laporan Nasional Riset Fasilitas Kesehatan 2011: Laporan Puskesmas. Birda P. David Hughes. Roger Beech2. No. 2011a. Anhb LV. Health Policy 100. Michael (eds). Press Release. Sugeng Rahanto. Ramanif KV. Volume 23. 2007. Rineka Cipta Pranata. 2002.. 2011e. Soorsg W (2011) Health policy processes in maternal health: A comparison of Vietnam. Harvester Wheatsheaf Graham WJ. Mirzoeva T. Jakarta. Green. Inside The Academy: Profiling Dr. R. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. Zahr-CLA. Kementerian Kesehatan RI. Myfanwy Morgan. Bagaimana Pendanaan Jampersal? Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI.Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan.. 1999. Meryl Hudson. Kemenkes RI (2011a) Profil Kesehatan Indonesia 2010.depkes. Janet Lewis and Ke Young dalam Hill. 222 .go. 2012. 2011b. Gambaran Peran Kader Posyandu dalam Upaya Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi di Kota Manado dan Palangkaraya. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia.12 Greena A. April 2011. Percepatan Penurunan AKI dan AKB. Barry Gibson1. India and China. Jakarta. 14. Volume 7 No. J.

Rukmini.pdf http://health. KL.Ratna.id/index. (2008) ‘Doing’ health policy analysis: methodological and conceptual reflections and challenges.com/2012/10/03/pentinganya-pemberdayaanmasyarakat-di-bidang-kesehatan-498435. Weimer DL.pasca.-Rev. http://fp.detik. Gambaran Penyebab Kematian Maternal di Rumah Sakit (Studi di RSUD Pesisir Selatan.. Nyoman Kutha. RSUD Larantuka dan RSUD Serang. RSUD Sikka. Brugha R. Schneider H. 2010 Metodologi Penelitian. Murray SF. http://www.Jakarta.15.ac.php?option=com_content&view=article&id=296 :bidan-berperan-penting-turunkan-aki-danakb&catid=113:keperawatan&Itemid=139 diunduh pada tanggal 19 Desember 2012.go. & Vining AR.pdf 223 .5th Ed. Wilujeng. http://edukasi. RSUD Padang Pariaman. http://buk. 3rd Ed.com/read/2012/12/12/180034/2116877/1301/nikahmuda-bikin-angka kematian-ibu-susah-ditekan?881104755. Walt G. tahun 2007.depkes.id/data/2012/04/AgFin_18-1_10-Rasyidi-_No. Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI)./ANALISIS-PARTISIPASI-MASYARAKAT. Health Policy and Planning 23:308–317. 2007. Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya.id/id/wp. & Vining AR. 2005).unram. Weimer DL. & Gilson L. (2010) Policy Analysis: Concepts and Practice.. diakses pada tanggal 20 Des 2012 pukul 9. Pearson. Prentice-Hall. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. (1999) Policy Analysis: Concepts and Practice._.unand.ac.html. Statistik Daerah Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2012. Shiffman J.kompasiana.

224 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful