LAPORAN AKHIR PENELITIAN

RISET EVALUATIF IMPLEMENTASI JAMINAN PERSALINAN

Penyusun Laporan Tety Rachmawati dkk

KEMENTERIAN KESEHATAN RI BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN PUSAT HUMANIORA, KEBIJAKAN KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Jl. Indrapura 17 Surabaya 60176 Telp. 031-3528748/ Faks. 031-3528749 JANUARI 2013 i

ii

SURAT KEPUTUSAN PENELITIAN

iii

iv

v .

vi .

vii .

viii .

Desember 2012 Tim Peneliti ix . semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pengelola program baik di Dinas Kesehatan maupun Depkes RI sehingga bermanfaat dalam rangka perencanaan dan pengambilan kebijakan selanjutnya untuk peningkatan pelayanan Jampersal dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia dalam mewujudkan target MDGs. akseptabilitas Dinas Kesehatan. Akhir kata. TOGA dan lintas sektor terhadap kebijakan Jampersal. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukkan dan pertimbangan pemangku kebijakan untuk mengambil keputusan kebijakan Jampersal. Laporan ini. Surabaya. masih diperlukan masukkan untuk sempurnanya hasil penelitian ini. Saran serta kritik membangun sangat kami harapkan untuk penyempurnaan dan perbaikan di masa mendatang. Provider (RS dan Puskesmas). Kami seluruh Tim Peneliti “Riset Evaluatif Implementasi Jaminan Persalinan” menyadari bahwa hasil penelitian ini jauh dari sempurna. Dari penelitian di 14 Kabupaten/Kota ditemukan variasi implementasi Jampersal dan akseptabilitas pemangku kebijakan di tingkat kabupaten/kota.KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan Syukur Alhamdulillah atas selesainya laporan penelitian ini. provider pelayanan kesehatan dan sasaran Jampersal yang diharapkan dapat memberikan wacana ke depan kebijakan Jampersal. ketersediaan dan akses terdapapt sarana dan prasarana serta SDM dalam mendukung Jampersal serta utilisasi Jampersal dalam pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggitingginya kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyusunan laporan ini. masyarakat sebagai sasaran dan TOMA. memuat uraian analisis implementasi Jaminan Persalinan sehingga diharapkan diperoleh gambaran pelaksanaan kebijakan Jampersal di daerah.

x .

xi . dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan. angka kematian ibu (AKI) dan juga angka kematian bayi (AKB) akan menurun sehingga bisa mencapai target MDGs pada tahun 2015. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru terhadap program Jaminan Persalinan. Lintas sektor. 4) Menganalisis ketersediaan (availability). hingga setelah persalinan bagi ibu yang tengah hamil mulai 2011. 7) Menganalisa pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan Ibu (hamil. 6 ) Menganalisis akseptabilitas sasaran dalam pelayanan kesehatan Ibu(hamil. Program Jampersal dipergunakan untuk menanggung seluruh biaya persalinan mulai dari sebelum. Toga. 5) Menganalisis utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. akses (accessibility) terhadap sarana dan prasarana. saat. nifas.bersalin. nifas. nifas. 2) Menganalisis akseptabilitas kabupaten/kota terhadap program Jaminan dan Persalinan. Diharapkan dengan diluncurkannya Jampersal. 3) Menganalisis pelayanan akseptabilitas Ibu provider(pemerintah swasta) dalam Kesehatan (hamil.bersalin.bersalin. Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan evaluasi program Jampersal dalam upaya mencapai target MDGS. SDM terhadap program Jaminan Persalinan. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan dan 8) Menganalisa akseptabilitas Toma.bersalin. dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan. nifas. LSM dan organisasi stakeholder lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan.RINGKASAN EKSEKUTIF RISET EVALUATIF IMPLEMENTASI JAMINAN PERSALINAN DI 14 KABUPATEN DI 7 (TUJUH) PROVINSI TAHUN 2012 Jaminan Persalinan (jampersal) merupakan Program Jaminan Persalinan untuk menekan angka kematian ibu bersalin. Tujuan umum penelitian adalah menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan. Sedangkan tujuan khususnya adalah 1) Menganalisis kebijakan Jaminan Persalinan di daerah.

3) Responden sebagai pelaksana program Jampersal yaitu a) Fasilitas Kesehatan tingkat pertama/dasar (Puskesmas) yaitu Kepala Puskesmas. kemudian diambil 70 responden secara proportional random to size (acak dan proporsional) sesuai dengan jumlah Ibu hamil. verifikator independen dan bidan Kepala Ruangan. Sedangkan untuk sasaran dan bidan dilakukan wawancara xii . Disain penelitian adalah cross sectional dengan jenis penelitian adalah gabungan penelitian kualitatif dan kuantitatif. Cara pengambilan sampel adalah dengan mengidentifikasi Ibu hamil. Bidan Koordinator. Pengumpulan data dengan wawancara dan FGD dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Kepala desa/lurah & aparat desa. Pengelola Jampersal dan Bidan desa. Direktur / Wadir Pelayanan RS. Pengelola Jampersal RS. verifikator Dinas Kesehatan dan kepala bidang Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan. 4) Responden sebagai pemegang kebijakan di tingkat kabupaten yaitu Kepala Dinas Kesehatan. Wawancara mendalam dilakukan pada seluruh responden di Dinas Kesehatan. pedoman wawancara. berdasarkan perhitungan simple random sampling. dan kader Posyandu. pengelola Jampersal Dinas Kesehatan. Dari sampel tersebut dibuat daftar/list. ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) di masing-masing desa wilayah kerja Puskesmas. Obsgyn. b) Fasilitas kesehatan tingkat lanjutan (Rumah Sakit) yaitu : dr. Besar sampel adalah 70 orang untuk masing-masing Puskesmas. 2) Tokoh masyarakat :TOMA&TOGA.April 2012 di seluruh desa wilayah kerja Puskesmas. cek list dan data sekunder. Rumah Sakit dan Puskesmas dan FGD dilakukan pada bidan Puskesmas dan Toma. Sehingga jumlah sampel adalah 140 untuk dua puskesmas di masingmasing Kabupaten/Kota. Responden penelitian adalah 1) Pengguna program Jampersal yaitu ibu hamil. ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) selama periode 6 bulan terakhir yaitu Oktober 2011 .Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret – Desember 2012. ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) selama periode 6 bulan terakhir yaitu Oktober 2011-April 2012.

xiii .dengan menggunakan kuesioner tersruktur. Hal khusus yang menjadi masukkan : • • Pelayanan ANC bidan mengharapkan bisa lebih dari 4 kali. Jampersal juga dapat menjadi sumber pendapatan daerah. Pelayanan rujukan khususnya di Daerah yang akses jauh dari pelayanan rujukan diharapkan bidan yang telah mempunyai kompetensi khusus dapat melakukan pelayanan rujukan tertentu misalnya manual plasenta. Kab. Jenis paket pelayanan Jampersal di tingkat layanan dasar cukup baik diterima bidan. Analisis data kualitatif dan kuantitatif secara deskriptif untuk menggambarkan implementasi Jampersal. Di beberapa kabupaten/kota belum menerbitkan kebijakan lokal. c. penyediaan sarana. Kebijakan Jampersal ditindaklanjuti dengan menerbitkan Peraturan Bupati atau Peraturan walikota. Muatan politik mempengaruhi dukungan Pemerintah daerah terhadap Jampersal antara lain dalam bentuk sosialisasi. Natuna tidak memanfaatkan Jampersal. bahkan dengan adanya Jampersal Jamkesda di beberapa daerah dialihkan menjadi Jampersal. 2. hanya perlu difokuskan pada masyarakat miskin. Di Kabupaten/Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal walaupun belum optimal. Hasil penelitian menunjukkan Kebijakan Jaminan Persalinan di Kabupaten/Kota dapat didapatkan sebagai berikut : 1. Materi sosialisasi masih lebih kearah pertanggungjawaban administrasi. kurang pada substansi. b. Secara umum provider (bidan. SPOG) mendukung terhadap kebijakan jampersal. penanganan perdarahan sebelum melakukan rujukan. Keterbatasan /tidak adanya dana sosialisasi menyebabkan sosialisasi Jampersal kurang fokus karena diikutkan dengan kegiatan lain. dibatasi pada jumlah anak. Dukungan pembiayaan belum banyak terlihat. 3. Sosialisasi menjadi kendala untuk pelaksanaan Jampersal. Penerimaan Provider terhadap kebijakan jampersal : a.

Masalah terjadi untuk pencairan untuk provider di puskesmas karena melalui mekanisme keuangan daerah sehingga bervariasi setiap daerah. kartu mahasiswa/pelajar dan paspor. Ketersediaan puskesmas di setiap kecamatan di lokasi penelitian terpenuhi ada beberapa hal perlu diperhatikan : a. sehingga beberapa RS terpaksa menarik tambahan biaya untuk obat. Di beberapa daerah kesulitan dalam pencairan. ibu nifas sampai 42 hari dan neonatal (0-28 hari) yang mempunyai salah satu persyaratan seperti KTP. tapi juknis tahun 2012 sudah lebih sederhana. kartu keluarga. surat keterangan domisili. Di tingkat layanan dasar besaran Klaim menurut juknis 2012 secara umum sudah cukup. ibu bersalin. ada daerah yang menerapkan pengisian inform consent untuk menggunakan KB Jangka panjang seperti IUD pada pengguna Jampersal. h. Mekanisme klaim awalnya menjadi kendala karena terlalu lama. Di rumah sakit tarif INA-CBG’s terutama untuk RS Tipe C besarannya dianggap terlalu kecil. Kendala juga dengan terbatasnya tenaga verifikator sehingga berkas klaim menumpuk di verifikator. 4. hanya Kota seperti Balikpapan dimana tingkat ekonomi tinggi besaran tersebut dianggap masih terlalu rendah. satu desa dapat terdiri beberapa pulau. Portabilitas pelayanan dapat berjalan baik. f.• • Lama persalinan normal di beberapa daerah lebih dari satu hari. habis pakai dsb.Untuk daerah kepulauan besaran klaim tidak masalah tapi biaya transport yang menjadi kendala karena bisa jauh lebih besar dari klaim Jampersal. Di kepulauan perlu lebih banyak sarana pelayanan. Pencairan dana untuk BPS pada umumnya cukup lancar. Pelayanan KB perlu lebih ditegaskan lagi. e. Jumlah Bidan pada umumnya mencukupi kecuali xiv . KTP suami. hal ini disebabkan persyaratan dianggap membebani. Kepesertaan/pengguna Jampersal adalah ibu hamil. d. g. surat ijin mengemudi.

Belum semua rumah sakit pemerintah di kabupaten melakukan PKS dengan Dinas Kesehatan.di kepulauan Aru jumlah bidan sangat kurang. c. di beberapa lokasi kepala Dinas membuat kebijakan untuk menyediakan satu ruangan untuk rawat inap untuk persalinan. b. dan distribusi bidan belum merata dan tidak semua bidan desa tinggal diwilayah kerjanya. hal ini disebabkan tidak semua bidan puskesmas/desa dapat melakukan PKS disebabkan antara lain : o Belum semua dinas kesehatan membuka kesempatan pada bidan puskesmas/BPS untuk melakukan PKS secara terbuka. Sarana Puskesmas rawat inap dan Poned masih terbatas. Dari data sasaran Ibu Nifas ”Continum of care” perlu peningkatan pelayanan konseling pada sasaran agar terjadi kesinambungan dalam pemanfaatan paket pelayanan Jampersal mulai dari ANC sampai dengan KB paska nifas.3%) sudah di fasilitas kesehatan. b. Sisanya masih di xv . Puskesmas non perawatan tidak mempunyai sarana rawat inap untuk menolong persalinan. prasarana dan SDM rumah sakit sangat terbatas. Terutama di daerah kepulauan sarana. Pemanfaatan layanan Jampersal : a. Jumlah bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan masih sangat terbatas. d. harus aktif dan telah magang pada organisasi Profesi dalam waktu tertentu. o Belum tersosialisasinya program Jampersal dengan baik. 5. o Persyaratan pengurusan ijin praktek bidan yang menyebabkan bidan tidak dapat segera mendapatkan Ijin praktek dengan adanya persyaratan dari organisasi Profesi misalnya APN. Kota Kendari bidan yang ada kebanyakan masih lulusan D1. misalnya di kota Ambon. bahkan tidak ada SPOG tetap. o Keterbatasan tenaga bidan karena ada batasan kompetensi. Sasaran yang memanfaatkan Jampersal pada pelayanan persalinan pada umumnya (95.

sehingga sasaran Jampersal untuk yang belum mempunyai Jaminan kesehatan kurang sesuai.7% karena belum tersosialisasi Jampersal. c. Pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan dalam upaya mendukung pelaksanaan kebijakan Jaminan Persalinan. Dari penelitian disimpulkan : xvi . Toga. Cenderung terjadi peningkatan rujukan persalinan per vaginam dengan komplikasi dan tanpa komplikasi di rumah sakit pemerintah tempat rujukan Jampersal pada 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. 6. Pelaksanaan Jampersal didukung oleh Toma. LSM dan organisasi stakeholder lainnya karena dapat meningkatkan pelayanan oleh tenaga kesehatan. Selain pemberdayaan dari masyarakat langsung melalui kader kesehatan. Askes dan Jamsostek) ke pembiayaan Jampersal (95%). Kabupaten Wakatobi dan Kabupaten Paser. dan juga ketersediaan tenaga kesehatannya terbatas. Peningkatan kasus Sectio caesaria juga cukup tinggi di rumah sakit pemerintah rujukan Jampersal pada tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. Jamkesda. d. c. 8.tenaga kesehatan tapi non fasilitas kesehatan yang terjadi di kabupaten yang tergolong daerah sulit secara akses. Lintas sektor. juga terdapat pembiayaan kesehatan melalui PNPM GSC yang merupakan program kementerian Dalam Negeri. Masyarakat yang tidak memanfaatkan Jampersal 66. Dari data sasaran didapatkan : a. Terjadi pergeseran bagi pemanfaatan pembiayaan Jaminan kesehatan lain (Jamkesmas. b. Terdapat biaya tambahan yang dikenakan pada masyarakat yang memanfaatkan pelayanan Jampersal 7. Hal ini misalnya terjadi di Kabupaten Kepulauan Aru.

provider dan masyarakat. IUD). Masyarakat mengharapakan Jampersal dilanjutkan karena bermanfaat terutama masyarakat tidak mampu Rekomendasi dari penelitian ini adalah : Dengan dukungan dari Pemerintah Daerah. lebih senang dengan KB suntik.a. dan peralatan kesehatan Puskesmas dan Poskesdes agar mampu melakukan pertolongan persalinan di Puskesmas dan Poskesdes secara memadai. b. bahan habis pakai. Ada keterlibatan Toma . Toga . kader dalam sosialisasi pada masyarakat. c. Masyarakat masih keberatan KB dengan alat kontrasepsi jangka panjang (mis. d. brosur. Adapun saran untuk perbaikan Kebijakan Jaminan Persalinan adalah sbb: Jangka pendek 1. c) Ketentuan besaran jasa pelayanan dan kelancaran klaim menjadi perhatian sebagai salah satu manfaat Jampersal untuk tenaga kesehatan yaitu adanya kepastian akan menerima jasa pelayanan medis sesuai ketentuan yang berlaku. xvii . diperlukan sarana pendukung sosialisasi seperti leaflet. Fasilitas layanan kesehatan dan terbatasnya sarana transportasi untuk rujukan masih menjadi kendala. Sosialisasi pada masyarakat masih dianggap kurang. obat. Pedoman Pelaksanaan harus memberi ruang untuk menampung kebijakan lokal a) Diterbitkannya turunan kebijakan Jampersal berupa Peraturan Bupati atau Peraturan Walikota. Perlu adanya kesinambungan ketersediaan alokasi dana Pusat dalam pelaksanaan Jampersal. b) Mendorong daerah untuk berkontribusi terhadap pemenuhan sarana prasarana.

3. xviii . lintas sektor dan masyarakat (Toma. e) Penguatan sinergisme berbagai sumber pembiayaan dalam mendukung pelaksanaan Jampersal. bersalin dan nifas yang belum mempunyai jaminan. Disamping itu perlu penganggaran khusus untuk sosialisasi. Peningkatan kemampuan tenaga kesehatan yang ada di wilayah tertentu khususnya di daerah terpencil dan terisolir yang kurang diminati.d) Memberi penekanan pada pemerintah daerah untuk menepati ketentuan sesuai juknis. o Menyediakan rumah singgah. pelibatan lintas program. bahwa sasaran jampersal adalah ibu hamil. 5. Pengetatan mekanisme pengawasan dan sanksi agar seluruh penyedia pelayanan kesehatan (PPK) Jampersal tidak menarik biaya tambahan dari penerima manfaat Jampersal dengan melakukan “uji petik”. Penguatan komitmen pelayanan KB pasca persalinan sebagai paket dan bagian tak terpisahkan dari pelayanan Jampersal dengan didorong untuk penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang. di antaranya melalui pemberian kewenangan tambahan/khusus mengingat keterbatasan tenaga sesuai kompetensi. 4. f) Penguatan Tim Pengelola Jamkesmas/Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam peningkatan kemampuan proses verifikasi dan pembayaran klaim Jampersal. dengan menerapkan inform consent. seperti BOK. Sosialisasi menjadi kunci penting dalam keberhasilan. Jamkesmas. Toga. dll. Jamkesda. 6. 2. kader) dalam sosialisasi lebih di tingkatkan. Pada daerah kepulauan atau wilayah dengan geografis sulit harus dipertimbangkan beberapa pilihan : o Menyediakan dana pendamping untuk penggantian transport rujukan bila diperlukan.

dan kepulauan. seperti hambatan kultural dan hambatan informasi. Aspek Sarana dan Prasarana dan SDM a. perbatasan. sarana. khususnya di daerah tertinggal. Kementerian Perhubungan. Informasi dan Edukasi) tentang Jampersal untuk mengatasi hambatan non-medis dan non-finansial. Keberadaan bidan sebagai anggota masyarakat memiliki keterbatasan yang harus diperhatikan.o Menyediakan pelayanan ‘one stop service’. dan Pemerintah Daerah dalam percepatan pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi yang memadai. 1. obat dan peralatan. Jangka Panjang Rekomendasi jangka panjang ini lebih diperuntukkan bagi pelayanan kesehatan ibu dan anak secara keseluruhan. baik aspek tenaga. d. xix . Penguatan sistem rujukan (improvement collaborative) antara Puskesmas PONED dan RS PONEK. b. serta keterampilan (skill) petugas sebagai penyedia layanan emergensi obstetrik dan neonatal tingkat dasar dan komprehensif. dalam pengertian memenuhi ketersediaan sarana pelayanan kesehatan tingkat dasar sampai dengan rujukan. sehingga diupayakan adanya pendamping di wilayah kerja bidan karena bidan mempunyai keterbatasan . Penguatan Puskesmas PONED dan RS PONEK. Pemberdayaan Masyarakat sangat penting untuk mendukung pelaksanaan kebijakan Jampersal. c. dalam rangka memudahkan proses rujukan KIA. Dukungan Kementerian Pekerjaan Umum. 2. Peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui pemberian KIE (Konseling.

xx .

melahirkan dan nifas) serta masyarakat( toma. Maluku. SIM. FGD dan kuesioner terstruktur serta pengambilan data sekunder (Profil kab/kota. Adapaun pengumpulan data secara kualitatif dan kuantitatif dengan wawancara mendalam. bidan dan dr. sasaran (ibu hamil. Kartu mahasiswa/pelajar dan paspor. Data kualitatif hasil FGD dan wawancara mendalam dilakukan secara content analysis. xxi . rumah sakit ( direktur/ Kabid pelayanan. kader. dengan menganalisis transkrip hasil diskusi dan mendeskripsikannya dalam bentuk naratif. Sulawesi Tenggara. Besaran klaim di rumah sakit yang menggunakan tarif INA-CBGs perlu dilakukan penyesuaian dengan kondisi saat ini. Kartu Keluarga. Portabilitas Jampersal dapat berjalan di layanan dasar maupaun rujukan. pengelola Jampersal dan bidan desa). sedangkan kuantitatif dianalisis secara secara diskriptif. NTB. pengelola program KIA dan verifikator). cakupan program). bidan koordinator. kelancaran cairnya klaim pada provider di puskesmas dan jaringanny menjadi masalah utama dalam pelaksanaan Jampersal. pengelola Jampersal. Penelitian ini merupakan penelitian terapan untuk mengetahui implementasi kebijakan program Jampersal di 7 (tujuh) propinsi di Indonesia yaitu Jawa Timur. bahan habis pakai dan pembiayaan masih kurang optimal. Kalimantan Timur dan Kepulauan Riau yang masing-masing dipilih 2 (dua) kabupaten / kota.ABSTRAK Dalam rangka mempercepat pencapaian tujuan pembangunan kesehatan nasional serta Millenium Development Goal (MDG’s). Dari hasil penelitian didapatkan bahwa secara umum kabupaten / kota mendukung tujuan kebijakan Jampersal mencapai tujuan 4 dan 5 MDG’s dengan mengimplementasikan kebijakan Jampersal dengan variasi sesuai dengan kondisi dan kebijakan lokal yang berlaku di daerahnya dengan diterbitkanya Peraturan Bupati/walikota. Persyaratan bagi sasaran pengguna Jampersal adalah KTP. pengelola Jamkesmas/Jampersal. Paket pelayanan Jampersal pada umumnya berjalan . Jawa Barat. Disain Penelitian secara potong lintang Responden penelitian adalah Dinas kesehatan ( Kadinkes. sasaran dan masyarakat terhadap kebijakan Jampersal. Provider di tingkat layanan dasar dan rumah sakit pada umumnya mendukung kebijakan Jampersal. pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan meluncurkan kebijakan Jaminan Persalinan (Jampersal). Kebijakan Jaminan Persalinan dicanangkan tahun 2011 berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/ Menkes / Per /III/2011 dan diperbaharui dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 yang mulai berlaku per 1 Januari tahun 2012. Surat keterangan domisili. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah Menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan. verifikator independen. SPOG). Dukungan pemerintah daerah terhadap ketersediaan obat. rumah singgah atau one stop service untuk pelayanan dasar dan rujukan. dukun dll). KTP suami. Khusus di daerah dengan geografis sulit seperti kepulauan dimana alat transportasi dan biaya transportasi sering menjadi kendala perlu solusi tersendiri dengan menambahkan biaya pendamping untuk transpertasi. Puskesmas (kepala puskesmas.toga. kecuali KB paska nifas perlu adanya penekanan dalam pelaksanaannya misalnya dengan memberlakukan inform consent. Sosialisasi yang kurang optimal menjadi kendala yang perpengaruh terhadap akseptabilitas provider.

Saran untuk Jampersal perlu adanya kesinambungan dalam pendanaan dengan penyempurnaan dalam petunjuk teknis dan implementasi. Askes dan Jamsostek. Kata Kunci : Jampersal 2012 – Evaluasi implementasi-14 kabupaten/kota xxii .Sasaran pengguna Jampersal sebagian besar sudah memiliki Jaminan seperti Jamkesmas. Sehungga hanya terjadi pergeseran pembiayaan saja dari Jaminan lain ke Jampersal. masyarakat dan sasaran. Jamkesda. kebijakan Jampersal dirasakan manfaatnya dalam meningkatkan akses ke layanan kesehatan dalam masalah pembiayaan terutama pada masyarakat kurang mampu. Hal ini dikarenakan menurut provider.

and the others). TOGA. and verificator for health office). Results of the study shows that In general. Childbirth Insurance managements. and obstetric specialists). public health insurance/childbirth insurance managements. and mayor decrees. FGD. Qualitative data of FGD and In-depth interviews results were conducted content analysis trough analysing discussions transcripts and desribes naratively whereas quantitative were analyzed descriptively. Moreover. Childbirth Insurance portability has been ran in basic services and referrals. lack of socialization for Childbirth Insurance Program have became barriers that influences to provider acceptability. cadres. 2012. and village midwives). Driver’s License. It was caused by conditions and policy local such as it has been released regent. a domicile explanation letter. cities/districts have been supported goals of childbirth Insurance Program Policy to achieve the 4 and 5 MDGs goals. Maluku. Implementation of Childbirth Insurance Program Policy has been assorted every study area. hospital (director/head of division for health services.Abstract In order to accelerate achievement of the National Health Development and Millenium Development Goals. and financing. Each area were taken 2 (two) districts/cities. Southeast Sulawesi. It was a applied study to know how implementation of Childbirth Insurance Program Policy in 7 (seven) Provinces in Indonesia involves East Java. Student Card and passport. East Kalimantan and Riau archipelago. Requirements for Childbirth Insurance Program is ID Card. All data were gathered qualitatively whereas quantitative data with In-depth interview. health program coverage. West Nusa Tenggara. Husband ID. targets and communities toward Childbirth Insurance Program Policy. targets (pregnant women. midwives. materials in medical services. independence verificator. and secondary data were taken Profile of Disticts/Cities. post natal) including communities (TOMA. 2562/Menkes/Per/XII/2011 regarding Technical Guidance of Childbirth Insurance which was launched January 1. coordinator midwife. Family Card. It was covered based on Minister Decree of Health No. questionnaire structurely. West Java. lack of Local Goverment supports concerns availability of pharmacies. This study aims to analyze implementing Childbirth Insurance Program. 631/Menkes/Per/III/2011 juncto Minister Decree of Health No. Study design was a cross sectional whereas informants were District/City Health Office (head. Furthermore. Health Center (head. cildbirth Insurance management. In 2011 Ministry of Health has been released a national policy concerning Childbirth Insurance Program (known as “Jampersal”). birth. and also Childbirth Insurance Benefit xxiii . maternal and neonatal management.

xxiv . or one stop service. and targets that Childbirth Insurance Program policy has perceived benefits them that implicated to increase public access to facilities health services mainly family poors. local health insurance.package. On the other hand. and Social Security Programs for Workers so that It just moved financing from an insurance to Childbirth Insurance. communities. shelter home. Evaluation of implementing Childbirth Insurance of 14 Districts/Cities. In general. health insurance. Key words: Childbirth Insurance Program. It will needed solution strategy through adding attendant cost for basics and referrals services for transportation. It suggested that we are need sustainability concerns financing and revised technical guidance were caused by providers. provider for basic services and referral levels have supported the Childbirth Insurance Program Policy. Most of targets users for Childbirth Insurance Program have already been others Insurance such as public health insurance. except implementation of Family Planning for post natal care has been stressed in implementation for example applying inform consent special for remote areas such as islands where transportation and cost have became barriers. Disbursement of claims is late on provider at Health Center and their networks became main obstacle implementation of Childbirth Insurance Program and we also need tarrif revision for hospital that has applied INA-CBGs.

. S. 9. Agung Dwi Laksono.KG Dra.. Rukmini. Msi Kepakaran Dokter.Ant Sri Handayani.Psi. 5. 16.Sos Wening Widjajanti.KM Rozana Ika Agustiya. Setia Pranata.Wasis. Susilo Pembantu Administrasi 18 Supriyadi Pembantu Administrasi xxv . M. M.Kes Analis Kebijakan Magister sains Peneliti Peneliti 4.I. magister Sains Peran P. Epid. SKM. Tety Rachmawati. Muhammad Agus Mikrajab. drg. Apt. 2. SKM.M. Psikolog. Pratiwi. Yunita Fitrianti.Psi.. Kes. 15. Drs. Msi Ingan Ukur Tarigan.M. Master Kesehatan Peneliti 6. M. 7. Yurika F.Kes dr. M. Niniek L. Master Kesehatan Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Peneliti Peneliti 8.S.Vita K. S. 13. 1 Nama dr. Ir. Dr. S. R. Selma Siahaan. S.Kes Pemberdayaan Masyarakat Peneliti 3. SKM. Peneliti 12. 14.DAFTAR ANGGOTA TIM PENELITI SUSUNAN TIM PENELITI No. drg.MPH Peneliti 11. S. MHA Pemberdayaan Masyarakat Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Perilaku dan Pelayanan Kesehatan Antropologi Sosiologi Kesehatan Masyarakat Psikologi Peneliti Peneliti 10.Sp. M.Psi Nugroho Winarto Peneliti Peneliti Peneliti Peneliti Pembantu Administrasi 17..

xxvi .

................................................................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ....................... TINJAUAN PUSTAKA ..........6 BIDAN PRAKTEK MANDIRI ........................................................ DAFTAR TABEL.............................................................................................................................5 RUMAH SAKIT PELAYANAN OBSTERIK NEONATAL EMERGENSI KOMPREHENSIF (PONEK) ................. PERTANYAAN PENELITIAN .. RINGKASAN EKSEKUTIF ................2 KEBIJAKAN (JUKNIS JAMPERSAL 2012) ...................... KATA PENGANTAR .......................................... 2.................................................................. 2............................................... 2..................................................................................2 1...................3 BAB II 2.....................................................................1 1... FOKUS BIDANG PENELITIAN ..................................................................................................................2...............2........ DEFINISI ..... 2......... 2.............................1..........1 TUJUAN JAMPERSAL .4 PUSAT PELAYANAN OBSTERIK NEONATAL EMERGENSI DASAR (PONED) ...................... 2............................................................1................2 PERJANJIAN KERJA SAMA . 2.............................................1..................................................................1.............................................................. DAFTAR ISI....................1.......... 2................................. DAFTAR LAMPIRAN ...................... xxvii i ii ix xi xxi xxv xxvii xxxiii xxxvii xxxix 1 1 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 6 6 6 .........................................1............................. BAB I 1.............................. DAFTAR GAMBAR ............................................................................ SURAT KEPUTUSAN PENELITIAN ..............................................2 SASARAN JAMPERSAL ........................... 2........... ABSTRAK ................................................................................................................................................................... LATAR BELAKANG .....................................................1 JAMPERSAL ........... DAFTAR ANGGOTA PENELITI ........................3 FASILITAS KESEHATAN .................1 PENDAHULUAN ............................................

..............4......................1..................................................................................4..........1 TUJUAN DAN MANFAAT...........2 4...............6.........2... KERANGKA TEORI ........... 2..........................................1 TUJUAN UMUM ............1 PENGUMPULAN DATA KUALITATIF ..........................................................3 TEORI KEBIJAKAN ..........7 4........................... 2............................................................................ 2............................... BAB III 3.... 3.................................. 2............ 2.............................................................. 4................4 TEORI KEBIJAKAN PUBLIK ....................6......... TUJUAN PENELITIAN .................... DESAIN/JENIS PENELITIAN ...................9 VARIABEL PENELITIAN ....... 3......................................4..........................2 BAB IV 4.......... METODOLOGI .................................1 TAHAPAN PEMILIHAN LOKASI PENELITIAN ................................... 4... KERANGKA OPERASIONAL................ 4.......1 4...........8 4......3 PENYEBAB KEMATIAN MATERNAL .......3 KEMATIAN MATERNAL .............................................................3.............................................................. 2.......................................2 PENGUMPULAN DATA KUANTITATIF ...........................................2.................2 TINGKAT KEMATIAN MATERNAL ......2.1 DEFINISI MATERNAL .. xxviii 7 9 9 9 10 10 13 13 15 15 17 17 17 17 18 19 19 20 21 22 22 23 23 24 25 26 27 28 28 ............................ RESPONDEN PENELITIAN .............................3 4.............................9.......2 ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ...............5 4..1 ANALISIS KEBIJAKAN KESEHATAN ................................3............................. 3............................................. KERANGKA PIKIR ....... 4......3.........................4 4............6 MANFAAT PENELITIAN .............. 2........................... DEFINISI OPERASIONAL .......................................... 2.....................3 PAKET MANFAAT DAN TATA LAKSANA PELAKSANAAN JAMPERSAL .......................4 PENDANAAN JAMPERSAL ......1...................... 4....2 TUJUAN KHUSUS ....... TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN .... 2..................................................... CARA PENGUMPULAN DATA ........3 DATA SEKUNDER ..................................................................6..

...............1 KARAKTERISTIK RESPONDEN IBU HAMIL....................2...6 KABUPATEN BOGOR ......................................1...........11 PERTIMBANGAN IJIN PENELITIAN ...9......1.........................2.....................10 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA ...................... 5......2...1 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI PUSAT ....... 5.............12 JADWAL KEGIATAN ................................................2........ 5.......... 5...1......... 4.... 5...2................. 5.........2............... 5.....4 KABUPATEN LOMBOK TENGAH . 5..1 SEKILAS TENTANG LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN ........................ 5......2................. 29 29 30 30 31 33 5.......................................2............2.. BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ................................... 5..........2.....................................3 KEPESERTAAN .....2........... 5...............6 BESARAN TARIF PELAYANAN .......2..........2..........2..... 5....2..............2 KARAKTERISTIK PENGGUNA JAMPERSAL .........3 KOTA MATARAM ................1............................................ 5......7 KOTA AMBON ...... 4.........................................2..............2............2 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI TINGKAT PUSAT DAN DAERAH .............................................................................................2........1...........1.................... 4.............1................1 SASARAN ..8 PROSES PENGAJUAN KLAIM .............9............2............ 5...2.................. 5.........4 PERSYARATAN KLAIM .................2...1...2 TAHAPAN PELAKSANAAN PERSIAPAN DI LAPANGAN... BERSALIN DAN NIFAS ... 5.2 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI KABUPATEN/KOTA LOKASI PENELITIAN ......5 KOTA BANDUNG ......5 PEMBERI LAYANAN .....................................1...3 TAHAPAN PENGUMPULAN DATA DI LAPANGAN……………...................7 PENDANAAN .........2...................................................2 PAKET PELAYANAN .................2..............................................2 KOTA BLITAR . 5..1. xxix 33 36 39 43 43 44 44 45 45 46 47 47 49 49 50 52 53 54 55 56 57 ...2. 4... 5.......................1 KABUPATEN SAMPANG .........4........ 5......... 5......

..................4..........4 AKSEPTABILITAS PROVIDER DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN .....2.....4.......3 PEMBERI LAYANAN DI FASILITAS KESEHATAN RUJUKAN 5..3........ 5...........3.........11 KOTA BALIKPAPAN ......................................1 DUKUNGAN MANAJEMEN.............13 KOTA BATAM ........ 5.....4......... SOSIALISASI DAN KEBIJAKAN LOKAL YANG MENDUKUNG JAMPERSAL ....2..2...............12 KABUPATEN PASSER .......2.......................................3 SYARAT KLAIM............................................ 95 xxx .................14 KABUPATEN NATUNA .........3...........4......................... 5.....................3.............2....2.......3.... 5................. 5.............2................2..... 5........2... 5.........4.......... AKSES (ACCESIBILITY) TERHADAP SARANA DAN PRASARANA SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN ................ 5.4....5... 5................... 5......1 PAKET PELAYANAN . 5.................................2......8 KABUPATEN KEPULAUAN ARU .............2...2......... 5................. 5............................2 KEPESERTAAN .......4.3 SYARAT PEMANFAATAN DAN MEKANISME KLAIM 5.....4....... 5............................. 74 76 80 81 85 87 89 89 90 91 5....2.......................4..........2............2 PEMBERI LAYANAN DI FASILITAS KESEHATAN DASAR........5 JASA PELAYANAN ......................3 AKSEPTABILITAS KABUPATEN/KOTA TERHADAP PROGRAM JAMPERSAL .....2........2.................10 KABUPATEN WAKATOBI ...........................4 BESARAN TARIF PELAYANAN DAN JASA PELAYANAN 92 5........4......4 BESARAN TARIF PELAYANAN ....................5 KETERSEDIAAN (AVAILABILITY)....9 KOTA KENDARI ...... 58 60 60 62 63 63 65 67 67 70 5...2............2..........1 PAKET LAYANAN.1 SOSIALISASI JAMPERSAL DI PUSKESMAS DAN RUMAH SAKIT 71 5. 5....4....2 KEPESERTAAN/SASARAN ...... 5.2...........4................

...............................................2 BAYANG-BAYANG JAMPERSAL DI LAMANGGAU ............ 5............2..............1 6.................8. LINTAS SEKTOR.....9 AKSEPTABILITAS TOMA.......2 KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................................................... 5..................................5.........2.... DAFTAR KEPUSTAKAAN ..................6 UTILITAS PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR OLEH PROVINSI YANG DISEDIAKAN OLEH PROGRAM JAMINAN PERSALINAN ...........6...........2 UTILITAS DAN PELAYANAN RUJUKAN ...............................1 UTILITAS DAN PELAYANAN DASAR ................ 5................. 5... 6... KESIMPULAN ..................1 JANGKA PANJANG ................... BAB VI 6.................6....................................8..... SARAN/REKOMENDASI ..........5...................1 SARANA DAN PRASARANA PELAYANAN DASAR DAN RUJUKAN ............................................... LSM DAN ORGANISASI LAINNYA DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN JAMINAN PERSALINAN .................. 5.............. 6................................. 5... UCAPAN TERIMA KASIH ........................ xxxi 95 101 118 118 127 132 136 137 159 179 200 208 211 211 216 216 217 219 221 ............1 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM UPAYA MENDUKUNG PROGRAM KIA MELALUI PNPM GSC DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH ............................. 5.................... 5............................3 ANTARA BUDAYA.............. 5................7 AKSEPTABILITAS SASARAN DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMPERSAL ..... 5. TABU DAN UPAYA PENYELAMATAN IBU DI KOTA BLITAR .................8...............................................................2 AKSESIBILITAS JARAK ............................................... 5............................................1 HARAPAN MASYARAKAT ......5........................................... TOGA........................1 JANGKA PENDEK ........................................................................8 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN ....9......

xxxii .

10 Gambar 5.DAFTAR GAMBAR Gambar Gambar 4.2 Gambar 4.12 Gambar 5.11 Diskusi Kelompok pada Bidan.2 Kerangka teori penelitian Kerangka pikir penelitian Nama Halaman 19 20 28 29 35 37 Kerangka operasional penelitian Tahap Pelaksanaan Persiapan Penelitian di Lapangan Peta Wilayah Indonesia Karakteristik Responden berdasarkan Umur pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Gambar 5.6 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Jumlah Anak pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Gambar 5.9 Gambar 5. Bagan Sosialisasi Jampersal di Kabupaten/Kota Persepsi Bidan Puskesmas terhadap Jaminan Persalinan Mekanisme pembeyaran klaim Jampersal Pelayanan Dasar Ruang ICU.7 Gambar 5.3 Gambar 4.4 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Umur pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 40 Gambar 5.8 Gambar 5. tempat cuci kamar Operasi di Ruang kandungan dan kebidanan di RSUD Ambon Gambar 5.13 Ruang rawat Inap pasien Jampersal di Rumah Sakit Jarak ke pelayanan Kesehatan pada pengguna Jampersal di kabupaten/Kota “Daratan” xxxiii 42 71 71 75 83 99-100 di 101 102 .1 Gambar 4.5 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Pendidikan pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi 41 Jampersal Tahun 2012 Gambar 5.4 Gambar 5.1 Gambar 5.3 Karakteristik Responden berdasarkan Pendidikan pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 39 Gambar 5.

Wakatobi Cakupan Persalinan oleh tenaga kesehatan di Kabupaten/Kota “Non Kepulauan” tahun 2010-Juni 2012 Gambar 5.23 Cakupan Persalinan Tenaga Kesehatan di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Tahun 2010 – Juni 2012 Gambar 5.17 Gambar 5.29 Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam tanpa Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 129 128 127 126 xxxiv .28 Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam dengan Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Gambar 5. Kepulauan Aru Peta Kabupaten Kepulauan Wakatobi Kapal cepat yang melayani rute Wanci-Tomia Puskesmas Onemobaa.16 Gambar 5.25 Tenaga Penolong Persalinan Pada Responden Non 125 124 120 103 106 108 109 113 116 118 119 Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Gambar 5.21 Gambar 5.20 Gambar 5.14 Jarak ke pelayanan kesehatan pada pengguna Jampersal 102 di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Gambar 5.15 Gambar 5.24 Tenaga Pemeriksa Kehamilan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011 April 2012 Gambar 5.Juni 2012 Gambar 5.22 Peta Wilayah Provinsi Kepulauan Riau Posisi Kabupaten Kepulauan Aru di peta Indonesia Peta Wilayah Kabupaten Kepulauan Aru Puskesmas Benjina.26 Kematian Maternal di Kabupaten/Kota Tahun 2010 .18 Gambar 5. Kab.Juni 2012 Gambar 5.19 Gambar 5.Gambar 5.27 Kematian Neonatal di Kabupaten/Kota Tahun 2010 . Kab.

40 Gambar 5.33 Gambar 5.30 Kematian Maternal < 24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 130 Gambar 5.47 Gambar 5.50 Kunjungan K1.45 Gambar 5.Juni 1012 131 Gambar 5. Lombok Tengah 139 Gambar 5. K4 dan Linakes Puskesmas Janapria Thn 2010-2012 143 Gambar 5.37 Persentase capaian indicator keberhasilan PNPM GSC Kab.44 Gambar 5.Gambar 5.39 Kunjungan K1 dan K4 serta Linakes Desa Lekor.42 Gambar 5.34 Gambar 5.48 Gambar 5.49 Gambar 5. Th 2010 s.41 Poskesdes Desa Lekor yang dibangun oleh PNPM GSC Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil yang difasilitasi oleh PNPM GSC 146 148 Gambar 5.35 Kepemilikan Jaminan lain pada sasaran pengguna Jampersal Alasan tidak menggunakan Jampersal pada sasaran Kepemilikan Jampersal Jaminan pada sasaran Non pengguna 132 134 135 Gambar 5.46 Gambar 5.36 Pembiayaan Tambahan pada sasaran pengguna Jampersal pada Kabupaten/ Kota Daerah Penelitian 135 Gambar 5.43 Gambar 5. Linakes Desa Langko Thn 2010-2012 PMT yang diberikan ketika posyandu di Desa Langko Peta Kabupaten Wakatobi Peta Desa Lamanggau Jalan Menuju Puskesmas Onemobaa Pintu Gerbang Dive Wakatobi Resort Gedung Puskesmas Onemobaa Tempat pemeriksaan yang berkarat Rumah tenaga kesehatan xxxv 149 152 160 161 163 163 165 165 165 .38 Kunjungan K1.31 Kematian Maternal >24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 131 Gambar 5.32 Kematian Neonatal di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010. K4.d Okt 2012 145 Gambar 5.

56 Rumah Mbook Medaming “rumah bersalin Bajo” Kamar untuk bersalin Kamar untuk bersalin (tampak luar) Lantai bersalin Ibu nifas Diskusi kelompok masyarakat (TOMA. dll) 175 175 175 175 176 201 xxxvi .54 Gambar 5.Gambar 5. TOGA.52 Gambar 5.55 Gambar 5.51 Gambar 5.53 Gambar 5. kader.

4 “Continum of Care” Pelayanan Jampersal (K1.6 Jumlah Kasus Sectio Caesaria yang ditangani di Rumah sakit di Kabupaten/Kota Tahun 2010 – Juni 2012 129 123 xxxvii . 121 Tabel 5.3 “Continum of Care” pada Responden Sasaran Ibu Nifas Pengguna Jampersal per Kabupaten (N = 573). 27 31 47 95 Tabel 5.5 Tempat Persalinan Responden Pengguna Jampersal di Lokasi penelitian Periode Oktober 2011-April 2012.1 Tabel 5.2 Definisi Operasional Gant Chart Jadual Kegiatan Penelitian Tarif Pelayanan Jaminan Persalinan Tahun 2012 Sarana dan Sumber Daya Manusia yang Memberikan Pelayanan Jampersal.3 Tabel 5. 122 persalinan) dan PN di Kabupaten/Kota di Lokasi Penelitian Tahun 2012 Tabel 5. Kabupaten dan Kota berdasarkan kriteria cakupan LINAKES Halaman 21 Tabel 4.1 Nama Pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi.2 Tabel 4. Tabel 5.DAFTAR TABEL Tabel Tabel 4. K4.

xxxviii .

jumlah itu masih sangat tinggi.I. 2007). (Kemenkes. pendidian masyarakat. Dengan program jampersal. Kebijakan Jaminan Persalinan dicanangkan tahun 2011 berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/Menkes/Per /III/2011 dan diperbaharui dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 yang mulai berlaku per 1 Januari tahun 2012. lingkungan. Saat ini Kemenkes mencatat angka kematian ibu masih di atas 228 orang per 100 ribu penduduk. 2011). sumberdaya manusia dll. Menurut data Kemenkes. Untuk mencapai AKI dan AKB sesuai target MDG’s dihadapi berbagai masalah yang multi komples seperti masalah budaya. sehingga diperlukan (SDKI. Hasil studi District Health Account 1 intervensi khusus . 90 persen kematian ibu disebabkan karena persalinan. kecukupan fasilitas kesehatan. pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan meluncurkan kebijakan Jaminan Persalinan (Jampersal). Program Jampersal adalah respons pemerintah melalui Kementerian Kesehatan untuk mengembangkan program/kegiatan yang bersifat quick wins dalam upaya menurunkan kematian maternal. pengetahuan.. Hal ini dikarenakan masih banyaknya ibu yang tidak mampu membiayai persalinannya sehingga tidak dilayani oleh tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang baik. Salah satu faktor yang penting dalam intervensi adalah perlu meningkatkan akses masyarakat terhadap persalinan yang sehat dengan memberikan kemudahan pembiayaan kepada ibu hamil.1. diharapkan berharap bisa menekan angka kematian ibu hingga 118 per 100 ribu penduduk yang merupakan target RPJM 2014 dan 102 per 100 ribu penduduk sesuai target MDG’s tahun 2015.R. LATAR BELAKANG Dalam rangka mempercepat pencapaian tujuan pembangunan kesehatan nasional serta Millenium Development Goal (MDG’s ).BAB I PENDAHULUAN 1.

(Kemenkes R. Paket pelayanan jaminan Persalinan yang ditanggung oleh pemerintah adalah Antenatal care (ANC). 2011). dan empat kali kontrol setelah persalinan sedangkan mekanisme pemberian jaminan persalinan ini diberikan seperti Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). ibu bersalin. Selain itu. dengan memanfaatkan pelayanan di seluruh jaringan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjutan (RS) di kelas III yang sudah memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kabupaten/Kota. Oleh karena itu. salah satu faktor penting untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap persalinan sehat adalah dengan memberikan kemudahan pembiayaan untuk ibu hamil. Dengan ketentuan proses persalinan dilakukan di rumah sakit kelas III atau Puskesmas (Kemenkes. persalinan hingga masa nifas termasuk bayi.. pemeriksaan kehamilan dengan risiko tinggi dan persalinan dengan penyulit serta komplikasi dilakukan secara berjenjang di Puskesmas dan rumah sakit berdasarkan rujukan. tidak tergantung status sosial ekonomi yang bersangkutan. 2011).I. Peserta program Jampersal adalah ibu hamil. angka kematian ibu (AKI) dan juga angka kematian bayi (AKB) akan menurun seiring dengan meningkatnya cakupan keluarga berencana sehingga bisa mencapai target MDGs pada tahun 2015 (Kemenkes. 2012) menunjukkan rendahnya komitmen pemerintah daerah untuk menyediakan anggaran kesehatan dalam jumlah yang memadai. 2011). sehingga diharapkan dengan diluncurkannya Jampersal.I.R. Program Jampersal terintegrasi dengan pelayanan KB. Dana yang dikeluarkan untuk program ini diperkirakan mencapai 2.I.di 80 kabupaten/kota (Gani. ibu nifas (pasca melahirkan sampai 42 hari) dan bayi baru lahir (0-28 hari) yang belum memiliki jaminan persalinan. yaitu pemeriksaan sebanyak 4 (empat) kali sebelum persalinan.R. 2 . termasuk di dalamnya anggaran untuk program kesehatan ibu dan anak. bagi siapa saja.3 triliun rupiah. Program Jampersal adalah intervensi pembiayaan untuk menanggung seluruh biaya persalinan mulai dari masa kehamilan. saat persalinan.

Target MDGs dalam meningkatakan kesehatan ibu akan tercapai apabila 50% kematian ibu dapat dicegah dan hal tersebut dapat dicapai antara lain dengan meningkatkan cakupan K1. dengan prioritas dalam perkiraan ibu bersalin dalam 1 tahun adalah 4. dari hasil penelitian menyatakan ada permasalah serius dalam kebijakan Jampersal. 3 . sedangkan Jamkesmas memberikan perlindungan kesehatan bagi warga miskin. tapi masih terbatas dalam wilayan penelitiannya sehingga diperlukan penelitian yang lebih lanjut untuk mendapat informasi yang lebih luas. Diharapkan program jampersal ini bisa meningkatkan kualitas kelahiran pendudukan tanpa meningkatkan jumlah penduduk. serta pemberdayaan keluarga dam masyarakat dalam bidang kesehatan. Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan evaluasi program Jampersal dalam upaya mencapai target MDGS dengan meningkatkan cakupan K1.Program Jampersal itu berbeda dengan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). serta pemberdayaan keluarga dam masyarakat dalam bidang kesehatan.Papua dan NTT dengan masing-masing di 1-2 kabupaten. Program ini tidak hanya pada ibu hamil yang miskin. meningkatkan cakupan peserta KB terutama dengan metode kontrasepsi jangka panjang. memastikan memastikan bidan tinggal di desa. meningkatkan persalinan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Jampersal ini akan dilaksanakan secara bertahap mulai 2011. Dan tahun 2012 petunjuk teknis 2011 telah disempurnakan berdasarkan masukan sebelumnya . Laksono Trisnantoro telah melakukan penelitian Jampersal di DIY . meningkatkan cakupan peserta KB terutama dengan metode kontrasepsi jangka panjang. K4. meningkatkan persalinan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Persalinan yang sudah dibiayai Jamkesmas mencapai 1.6 juta ibu hamil.7 juta ibu hamil pertahun. Walaupun tahun 2012 terdapat beberapa penelitian Jampersal . Tahun 2011.

4 . Bagaimana penerimaan masyarakat dalam pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi terhadap Implementasi Jaminan Persalinan ? 6. Bagaimana kebijakan daerah (Kab/Kota) implementasi Jaminan Persalinan? 2.2. Bagaimana penerimaan provider dalam pelayanan Kesehatan Ibu dan bayi terhadap program Jaminan Persalinan ? 3. akseptabilitas provider dan masyarakat. Bagaimna utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. dan pelayanan nifas dan pelayanan KB paska persalinan dalam rangka mendukung program Jampersal sehingga dapat menurunkan AKI dan AKB.bersalin. LSM dan organisasi stakeholder lainnya) dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan? dan kendala dalam 1. ketersediaan sarana dan prasarana dan sumberdaya manusia. pertolongan persalinan. Toga. dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan 5. Bagaimana upaya pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi oleh provider dalam Implementasi Jaminan Persalinan ? 4. Pertanyaan penelitian 1. upaya yang dilakukan provider pelayanan kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat yang di fokuskan Dalam upaya meningkatkan cakupan pemeriksaan kehamilan. nifas. Lintas sektor. Fokus bidang penelitian Fokus bidang penelitian adalah Kebijakan di tingkat pusat dan daerah dalam pembiayaan. Bagaimana penerimaan kelompok masyarakat (Toma.3.1.

1.1.3 Fasilitas Kesehatan adalah institusi pelayanan kesehatan sebagai tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan. 2. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. dan Swasta. 2.1. nifas. pertolongan persalinan. TNI/POLRI. kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah. 2. 5 . Kebijakan Jaminan Persalinan (Juknis Jampersal 2012) Jaminan Persalinan merupakan perluasan kepesertaan dari Jamkesmas dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja.1 Definisi ( Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan 2012) 2.2 Perjanjian Kerjasama (PKS) adalah dokumen perjanjian yang ditandatangani bersama antara Dinas Kesehatan selaku Tim Pengelola Kabupaten/Kota dengan penanggung jawab institusi fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta yang mengatur hak dan kewajiban para pihak dalam jaminan persalinan.2.5 Rumah Sakit Pelayanan Obsterik Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) adalah Rumah Sakit yang mempunyai kemampuan dalam memberikan pelayanan obstetri (kebidanan) dan bayi baru lahir emergensi komprehensif. 2.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. persalinan. 2.6 Bidan Praktik Mandiri adalah praktik bidan swasta perorangan. preventif. 2. Manfaat yang diterima oleh penerima manfaat Jaminan Persalinan terbatas pada pelayanan kehamilan.1 Jaminan Persalinan adalah jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan. pelayanan nifas termasuk pelayanan KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.1.1. baik promotif.4 Puskesmas Pelayanan Obsterik Neonatal Emergensi Dasar (PONED) adalah Puskesmas yang mempunyai kemampuan dalam memberikan pelayanan obstetri (kebidanan) dan bayi baru lahir emergensi dasar.1.

efektif.2. dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kompeten. Ibu nifas ( sampai 42 hari pasca melahirkan) 4. c. nifas. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. 3) Penanganan komplikasi ibu hamil. persalinan. Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien. Ibu bersalin 3.2.1. Bayi baru lahir (sampai dengan usia 28 hari) Sasaran yang dimaksud diatas adalah kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi untuk mencegah AKI dan AKB dari suatu proses persalinan. Ibu hamil 2. Sasaran Jampersal Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah : 1.2. Tujuan Khusus a. 2. batas waktu sampai dengan 28 hari pada bayi dan sampai dengan 42 hari pada 6 . Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan.2. dan akuntabel. Agar pemahaman menjadi lebih jelas. 2. Tujuan Umum Meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan. pertolongan persalinan. b. Tujuan Jampersal 1. transparan. bersalin. 2) Keluarga Berencana pasca persalinan. Meningkatnya cakupan pelayanan : 1) Bayi baru lahir. dan bayi baru lahir. KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten. nifas.

2. pre eklamsi dan eklamsi 7 . 1 kali pada triwulan kedua c. sedangkan pada peserta Jamkesmas dijamin berbagai kelainan dan penyakit. abortus inkompletus dan missed abortion b) Penatalaksanaan mola hidatidosa c) Penatalaksanaan hiperemesis gravidarum d) Penanganan Kehamilan Ektopik Terganggu e) Hipertensi dalam kehamilan. Paket Manfaat dan Tata Laksana Pelayanan Jaminan Persalinan Manfaat yang diterima oleh penerima Jaminan Persalinan sebagaimana diuraikan dibawah ini. 2. Penyediaan obatobatan. bersalin. dimana selama hamil. reagensia dan bahan habis pakai yang diperuntukkan bagi pelayanan kehamilan. Pemeriksaan kehamilan (ANC) yang dibiayai oleh program ini mengacu pada buku Pedoman KIA. Manfaat pelayanan jaminan persalinan meliputi: 1.3. 1 kali pada triwulan pertama b. nifas dan bayi baru lahir menjadi tanggung jawab Pemda/Dinas Kesehatan Kab/ Kota. Pada Jaminan Persalinan dijamin penatalaksanaan komplikasi kehamilan antara lain : a) Penatalaksanaan abortus imminen. ibu hamil diperiksa sebanyak 4 kali disertai konseling KB dengan frekuensi: a. 2 kali pada triwulan ketiga Pemeriksaan kehamilan yang jumlahnya melebihi frekuensi diatas pada tiap-tiap triwulan tidak dibiayai oleh program ini. dan KB pasca salin serta komplikasi yang mencakup seluruh sasaran ibu hamil.2. persalinan dan nifas.ibu nifas adalah batas waktu pelayanan PNC dan tidak dimaksudkan sebagai batas waktu pemberian pelayanan yang tidak terkait langsung dengan proses persalinan dan atau pencegahan kematian ibu dan bayi karena suatu proses persalinan.

maka pelayanan nifas dilakukan sesuai pedoman pelayanan Nifas dengan komplikasi tersebut. 3. Pelayanan nifas (Post Natal Care) Pelayanan ibu nifas dan bayi baru lahir dilaksanakan empat kali. dan Kohort ibu. terkecuali pelayanan Nifas dengan komplikasi yang dirujuk ke Rumah sakit. Kartu Ibu. Kunjungan keempat untuk Kf3 (hari ke-29 s/d hari ke-42) Pelayanan nifas dijamin sebanyak empat kali. dan 8 . Lama hari inap minimal di fasilitas kesehatan : 1) Persalinan normal dirawat inap minimal 1 (satu) hari 2) Persalinan per vaginam dengan tindakan dirawat inap minimal 2 (dua) hari 3) Persalinan dengan penyulit post sectio-caesaria dirawat inap minimal 3 (tiga) hari Pencatatan pelayanan pada ibu dan bayi baru lahir tercatat pada: Registrasi ibu hamil dan Pencatatan di Buku KIA.f) Perdarahan pada masa kehamilan g) Decompensatio cordis pada kehamilan h) Pertumbuhan janin terhambat (PJT): tinggi fundus tidak sesuai usia kehamilan i) Penyakit lain sebagai komplikasi kehamilan yang mengancam nyawa. Kunjungan ketiga untuk Kf2 dan KN3 (hari ke-8 s/d hari ke-28) 4. Kunjungan pertama untuk Kf1 dan KN1 (6 jam s/d hari ke-2) 2. Jenis Pelayanan Keluarga Berencana pasca salin antara lain : a) Kontrasepsi mantap (Kontap) b) IUD. Keluarga Berencana (KB) adalah pelayanan KB pasca persalinan dilakukan hingga 42 hari pasca persalinan. Implant. Kunjungan kedua untuk KN2 (hari ke-3 s/d hari ke-7) 3. masing-masing satu kali pada : 1.

Pendanaan Jaminan Persalinan 1.4. (Winkjosastro (Ed).2.000 kelahiran hidup. Dana belanja bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada angka 1 (satu) adalah dana yang diperuntukkan untuk pelayanan kesehatan dan rujukan pelayanan dasar peserta Jamkesmas. pelayanan persalinan serta rujukan risti persalinan peserta Jamkesmas dan masyarakat sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan sebagai penerima manfaat jaminan.3. percepatan pencapaian MDG’s 2015 serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan termasuk persalinan oleh tenaga kesehatan difasilitas kesehatan.3.2. 2.c) Suntik. (Winkjosastro (Ed). tidak tergantung dari lama dan lokasi kehamilan. Data kematian maternal di Indonesia pada saat ini belum ada yang tepat. 2002) 2.1. Tingkat Kematian Maternal Berdasarkan kesepakatan Internasional. 2002).3. KEMATIAN MATERNAL 2. 2. Sesungguhnya kematian ini lebih tepat disebut Maternal Mortality Rasio. tingkat kematian maternal didefenisikan sebagai jumlah kematian maternal selama satu tahun dalam 100. sebab denominator untuk Maternal Mortality Rate seharusnya population at risk untuk kehamilan dan persalinan yaitu jumlah wanita usia reproduksi (15-44 tahun). disebabkan oleh apapun yang berhubungan dengan kehamilan atau penanganannya. Defenisi Kematian maternal adalah kematian wanita sewaktu hamil. Hal ini disebabkan 9 . tetapi tidak secara kebetulan atau oleh penyebab tambahan lainnya. 2. melahirkan atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya masa kehamilan. Pendanaan Jamkesmas dan Jampersal di pelayanan dasar dan pelayanan rujukan merupakan belanja bantuan sosial (bansos) bersumber APBN yang dimaksudkan untuk mendorong pencapaian program.

Penyebab Kematian Maternal Secara garis besar penyebab kematian ibu dapat dikategorikan dalam penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. (Winkjosastro (Ed). preeklampsia dan eklampsia serta infeksi.oleh belum adanya sistem pendaftaran wajib untuk kelahiran kematian. Perdarahan Perdarahan dapat dibedakan dalam dua kelompok yaitu perdarahan antepartum dan perdarahan postpartum. dibeberapa daerah. Perdarahan antepartum digolongkan sebagai berikut : 1. terdapat komplikasi kehamilan dan persalinan seperti perdarahan.4. menurut perkiraan kasar angka kematian maternal adalah 6-8 per 100 kelahiran hidup. menerima pula penderita-penderita yang dikirim dari daerah sekitarnya karena kesukaran dalam persalinan. Perdarahan yang ada hubungannya dengan kehamilan a) Plasenta previa b) Solusi plasenta c) Perdarahan pada plasenta letak rendah d) Pecahnya sinus marginalis dan vasa previa 2. A. • Perdarahan Antepartum adalah perdarahan pervaginam pada kehamilan diatas 28 minggu atau lebih. maka sering disebut atau digolongkan perdarahan pada trimester ketiga. Penyebab Langsung Terjadi pada kehamilan yang dikehendaki atau tidak. 2002) 2. selain menerima wanita untuk persalinan yang telah mendaftarkan diri terlebih dahulu. Perdarahan yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan a) Pecahnya varices vagina b) Perdarahan polip serviks 10 .3.

penyebab utama adalah robekan jalan lahir dan sisa plasenta atau membran. Perdarahan postpartum sekunder: terjadi setelah 24 jam pertama. robekan vagina. Distensi rahim berlebihan : hidramnion. plasenta akreta. Kejadian retensio plasenta berkaitan dengan : . penyebab utama adalah atoni uteri.Grandemultipara dengan implantasi plasenta dalam bentuk plasenta adhesiva. . perdarahan postpartum dibagi menjadi perdarahan postpartum primer dan sekunder 1. Penyebab dari atonia uteri adalah : a) Tindakan persalinan 2) Partus lama/persalinan terlantar. hamil kembar Retensio Plasenta adalah terlambatnya kelahiran plasenta selama setengah jam setelah persalinan bayi. Atonia uteri adalah tidak adanya kontraksi uterus setelah proses persalinan.Plasenta manual dengan segera dilakukan. Perdarahan postpartum primer: Terjadi dalam 24 jam pertama. sisa plasenta.Retensio plasenta tanpa perdarahan. b) Faktor predisposisi : Anemia. Faktor-faktor yang menyebabkan perdarahan postpartum adalah : . Grandemultipara.c) Perdarahan perlukan seviks d) Perdarahan karena keganasan serviks • Perdarahan Postpartum adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam setelah persalinan berlangsung. 2. 3) Trauma persalinan. . plasenta inkreta dan perkreta. Perdarahan postpartum merupakan penyebab penting kematian maternal khususnya di negara berkembang. terbanyak dalam dua jam pertama.Mengganggu kontraksi otot rahim dan menimbulkan perdarahan. Jarak hamil kurang dari 2 tahun. retensio plasenta.Grandemultipara 11 . dan robekan jalan lahir. .

Penyusun kebijakan merupakan mereka yang menyusun kebijakan dalam organisasi seperti pemerintah pusat atau daerah.Jarak persalinan pendek kurang dari 2 tahun. lembaga pendidikan atau rumah sakit. kemiskinan. Selain perdarahan antepartum dan postpartum. (Manuaba. B. keterlambatan memberi pertolongan yang adekuat. indikasi sosial b) Berdasarkan Pelaksanaannya 1. Kebijakan Publik (Public Policy) merujuk pada kebijakan-kebijakan yang 12 . missed abortion. Keguguran spontan diperkirakan sebesar 10% -15%. . keguguran tak terhalangi..Persalinan yang dilakukan dengan tindakan. karena sebagian besar tidak dilaporkan dan banyak dilakukan atas permintaan. Penyebab Tidak Langsung Jangkauan daerah Indonesia yang terlalu luas. Keguguran buatan atas indikasi medis. Keguguran atau abortus dapat dibagi menjadi : a) Berdasarkan Kejadiannya 1. 2001) 2. perusahaan multi-nasional atau local. Keguguran spontan 2. Keguguran buatan terapeutik 2. keguguran mengancam.4. Keguguran buatan ilegal c) Berdasarkan Gambaran Klinisnya : Keguguran lengkap. keguguran habitualis. keguguran dengan infeksi. anemia. status gizi. TEORI KEBIJAKAN PUBLIK Kebijakan adalah pernyataan yang luas tentang maksud. Kehamilan ektopik terganggu (KET) : Kehamilan ektopik terganggu adalah kehamilan yang berimplantasi di luar endometrium normal dan sudah menimbulkan gangguan. Kejadian abortus sulit diketahui. keguguran tidak lengkap. tujuan dan cara yang membentuk kerangka kegiatan. perdarahan yang masih berhubungan dengan kehamilan adalah perdarahan yang disebabkan oleh kehamilam ektopik terganggu (KET) dan juga keguguran atau abortus.

Konteks merupakan faktor-faktor sistematis-politik. ekonomi. ada tiga faktor penting yang mempengaruhi dimensi kebijakan Kesehatan yang lebih dikenal dengan segitiga analisis kebijakan (policy analysis triangle) yang dikemukakan oleh Buse et al (2005. atau bahkan Negara beserta tindakan mereka yang dapat mempengaruhi kebijakan Kesehatan. Selanjutnya. dikembangkan atau disusun. Konten (isi) merupakan substansi dari suatu kebijakan yang memperinci bagian-bagian dalam kebijakan 3. sebagai berikut: 13 .. Analisis Kebijakan Kesehatan Menurut Dunn (2009) mendefinisikan analisis kebijakan adalah suatu bentuk analisis yang menghasilkan dan menyajikan informasi sedemikian rupa sehingga dapat memberikan landasan dari para pembuat kebijakan dalam membuat keputusan.dibuat oleh negara atau pemerintah sedangkan kebijakan Kesehatan (health policy) mencakup tindakan yang mempengaruhi Institusi . dilaksanakan. 2. organisasi. Proses mengacu kepada cara bagaimana kebijakan dimulai. dan di evaluasi Dari ketiga faktor tersebut yang berperan penting dalam proses kebijakan Kesehatan adalah aktor (pelaku) yang merujuk kepada Individu. baik nasional maupun internasional yang dapat mempengaruhi kebijakan Kesehatan 2.4. serangkaian tahapan dalam proses penyusunan kebijakan. dikomunikasikan. pelayanan. sosial atau budaya. 2012). dan upaya pendanaan sistem Kesehatan (Buse et al. 2005). dinegosiasikan. Andersen (1975) mendefinisikan kebijakan publik sebagai kegiatan yang mempunyai maksud/tujuan tertentu yang dilaksanakan oleh seorang/kelompok yang berperan dengan permasalahan atau suatu yang diperhatikan.1. Organisasi. Dalam ilmu kesehatan masyarakat. yaitu: 1.

Pelaksanaan kebijakan. Tahapan ini merupakan saat dimana kebijakan dapat diubah atau dibatalkan serta kebijakan yang baru ditetapkan (Buse et al.1. Ada dua jenis analisis kebijakan menurut Buse et al (2005). reformasi sektor Kesehatan. 2005). bagaimana pengawasannya. menemukan siapa saja yang terlibat dalam perumusan kebijakan. 2007) cit Walt et al (2008). yaitu: analisis kebijakan prospektif (analysis for policy) diharapkan terjadi di masa yang akan datang. 14 . Evaluasi kebijakan. Analisis tipe ini memberikan informasi rinci tentang formulasi kebijakan (evaluasi formatif) atau mengantisipasi bagaimana kebijakan akan berjalan bila diterapkan. bagaimana kebijakan dihasilkan. temukan apa yang terjadi saat kebijakan dilaksanakan. Perumusan kebijakan. apakah tujuan tercapai dan apakah terjadi akibat yang tidak diharapkan. Identifikasi masalah/isu. Kerangka analisis segitiga kebijakan banyak di adopsi dalam penelitian kebijakan Kesehatan di berbagai Negara dan telah digunakan untuk menganalisis sejumlah besar isu kesehatan termasuk Kesehatan mental. Sedangkan analisis kebijakan retrospektif (analysis of policy) berhubungan dengan masa lampau dan deskriptif. 4. dan mengapa isu-isu yang lain justru tidak pernah dibicarakan 2. menemukan bagaimana isu-isu yang ada dapat masuk kedalam agenda kebijakan. sesuatu yang salah mungkin terjadi dan hasil kebijakan tidak seperti yang diharapkan. disetujui. Kesehatan reproduksi dan pelayanan antenatal care serta pengendalian penyakit sifilis (Gilson & Raphaely. tahapan ini merupakan bagian penting dalam penyusuna kebijakan.. TB. sebab bila kebijakan tidak dilaksanakan. Analisis yang satu ini lebih melihat kebelakang dan merenungkan kembali mengapa dan bagaimana kebijakan menemukan bentuknya sehingga agenda dan muatannya bisa mencapai tujuan tertentu (evaluasi sumatif). atau dirubah selama dalam pelaksanaan. dan dikomunikasikan 3.

4. 2) Untuk siapa kebijakan Kesehatan maternal di buat (siapa aktornya). 15 . Standar dan sasaran kebijakan Setiap kebijakan publik harus mempunyai standard an suatu sasaran kebijakan yang jelas dan terukur (measurable). yaitu: agenda setting.4. 2. Teori Meter & Horn (1975) Dalam implementasi kebijakan menurut Meter & Horn (1975). Empat Faktor inter-relasi elemen pembuatan kebijakan kesehatan (Walt & Gilson. Teori Kebijakan 2.1. b.4. yaitu: a.3.3. ada enam variabel yang mempengaruhi antara kinerja dan implementasi kebijakan. Dalam teori ini. 1994) cit.2. sumber daya material (material resources). proses implementasi kebijakan diharapkan dapat memahami variasi dalam implementasi kebijakan dan dapat mengintegrasikan studi dan kasus serta mengidentifikasi masalah dalam penelitian. Greena et al (2011). dan sumber daya metoda (method resources). Dengan ketentuan tersebut tujuannya dapat terwujudkan. yaitu: 1) Bagaimana kebijakan Kesehatan maternal di buat (proses) dengan melalui 3 tahap. pengembangan dan implementasi kebijakan termasuk evaluasi kebijakan. Menurut Meter & Horn (1975) implementasi kebijakan meliputi tindakantindakan yang dilakukan melalui individu dalam kelompok baik publik maupun privat yang diarahkan pada pencapaian tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan. Sumber daya Meliputi SDM (human resources). 3) Apa saja isu utama yang berimplikasi pada kebijakan Kesehatan maternal (konteks) dan 4) Apa output dari kebijakan Kesehatan maternal(isi).2. Analisis Implementasi Kebijakan Alexander (1985) mengemukakan bahwa salah satu metode untuk mengidentifikasi proses implementasi kebijakan Kesehatan dengan menggunakan teori kontigensi.

2. bagaimana sifat opini public yang ada di lingkungan dan apakah elit politik mendukung implementasi kebijakan tersebut.3. ekonomi. 2. Kebijakan Sikap Atau disposisi implementor dibedakan menjadi 3 hal: a) tanggapan pelaksana terhadap kebijakan. karakteristik partisipan yakni mendukung dan menolak.4. dan politik Mencakup SD ekonomi lingkungan yang dapat mendukung keberhasilan implementasi kebijakan. 16 . 2010) Menurut Weimer & Vining. c) intensitas disposisi implementor. 2) Sebuah kebijakan harus sesuai dengan tuntutan lingkungan. sejauhmana kelompok-kelompok kepentingan memberikan dukungan bagi implementsai kebijakan. ada 3 kelompok variabel yang dapat mempengaruhi keberhasilan implementasi program kebijakan. Komunikasi antar organisasi Sebagai realitas dari program kebijakan perlu hubungan yang baik antar instansi terkait yaitu dukungan komunikasi dan koordinasi. Kondisi sosial. e. b) kondisi. yaitu: 1) Logika suatu kebijakan. dan 3) Kemampuan pelaksana. Teori Weimer & Vining (1999. d. f. Karakteristik agen pelaksana Untuk mencapai keberhasilan maksimal harus diidentifikasi dan diketahui karakteristik agen pelaksananya.c.

bersalin. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan 8.1. Toga. Menganalisis ketersediaan (availability). Tujuan Khusus 1. Tujuan umum Menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan 3. Menganalisis kebijakan Jaminan Persalinan di daerah 2. Menganalisis akseptabilitas kabupaten/kota Jaminan Persalinan 3. Lintas sektor. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan 4. Menganalisis utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. Menganalisis akseptabilitas provider (pemerintah dan swasta) dalam pelayanan Kesehatan Ibu (hamil.1.bersalin. dan KB pasca persalinan) terhadap program Jaminan Persalinan 7.BAB III TUJUAN DAN MANFAAT 3. Menganalisa pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan Ibu (hamil. 17 . nifas. nifas.2.bersalin. Menganalisa akseptabilitas Toma. nifas. dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider terhadap program tingkat pusat dan (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan 6. SDM terhadap program Jaminan Persalinan 5. akses (accessibility) terhadap sarana dan prasarana. LSM dan organisasi stakeholder lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan. nifas. Menganalisis akseptabilitas sasaran dalam pelayanan kesehatan dan bayi baru Ibu(hamil.bersalin.1 Tujuan Penelitian 3.1.

2. B. Bagi Masyarakat Sebagai masukkan dan menerima manfaat terhadap perbaikan program Jampersal sekaligus masyarakat sebagai kontrol dalam pelaksanaan program kesehatan. Bagi penentu kebijakan Sebagai bahan evaluasi kebijakan dan implementasi program Jampersal sehingga dapat dijadikan masukkan dalam menentukan/ perbaikan kebijakan program tersebut.3. 18 . Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat : A.

Implementasi jampersal di bentuk 4 konstrak yaitu : 1.1. kondisi geografis setempat dan peran keluarga. yang terdiri dari variabel kemiskinan. Faktor Kontekstual. Ketepatan program dan Sasaran. ketersediaan fasyankes. KERANGKA TEORI (Sandi Iljanto) Gambar 4. 19 . Kapasitas Manajerial. 3. yang terdiri dari variabel kepemimpinan. ketersediaan sumberdaya kesehatan dan fungsi manajemen. yang terdiri dari variabel status kesehatan Ibu dan Anak. 2. tren kesenjangan cakupan program KIA dan hasil pendataan sasaran program. sosialisasi dan fasilitasi peneyelenggaraan program/kegiatan.1 Kerangka Teori Menurut Sandi Iljanto. Akseptabilitas Kebijakan.BAB IV METODOLOGI 4. yang terdiri dari variabel antara lain turunan kebijakan. 4.

mengacu juknis Jampersal (Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011) .4. Variabel Input yang mempengaruhi penelitian ini adalah 1) kebijakan di tingkat Pusat dan Daerah. dll) Cakupan Pelayanan Ibu & Bayi : 1. ibu nifas dan bayi baru lahir dan 4) Kelompok Potensial Masyarakat. pelayanan rujukan terencana & emergency sesuai indikasi medis untuk ibu janin/bayinya Implementasi Program Jampersal Upaya pelayanan & rujukan Pemberdayaan Masyarakat Gambar 4. pelayanan KB pasca persalinan 6. INPUT KERANGKA PIKIR PROSES OUTPUT Kebijakan: Di Tk. penanganan komplikasi ibu hamil bersalin. 7. ibu bersalin. 2) Program di kabupaten/kota dengan tersedianya sarana.Ibu hamil. prasarana.2 Kerangka Pikir Dalam penelitian Jampersal terdapat variabel Input. 4. Variabel Output dengan melihat cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak 20 . 2) Upaya pelayanan dan rujukan. 3) Pemberdayaan Masyarakat adalah pemberdayaan masyarakat yang mendukung pelayanan KIA. pemeriksaan kehamilan pertolongan persalinan pelayanan nifas pelayanan bayi baru lahir 5. SDM. Proses dan Output.Jampersal Program Kab/Kota : -Sarana/Prasarana -SDM -Biaya -Jenis Pelayanan Kelompok Sasaran . Varibel proses terdiri dari : 1) implementasi program Jampersal .2. dan bayi baru lahir. 2. -Ibu bersalin -Ibu nifas -bayi baru lahir Kelompok Potensial Masyarakat : -TOMA/TOGA/ -Kepala Desa -Kader Lintas sektor : (BKKBN) Organisai Masyarakat Organisasi Profesi : (IBI. biaya dan jenis pelayanan . 3. nifas. Pusat dan Daerah : . 3) Kelompok sasaran Jampersal yaitu Ibu hamil.

Pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi.1. Penelitian dilakukan di tujuh Provinsi. Lokasi penelitian Provinsi dan kabupaten & kota terpilih berdasarkan kriteria cakupan LINAKES dapat dilihat pada tabel di bawah ini.3. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN Penelitian dilakukan selama sepuluh bulan pada tahun 2012.Aru KOTA Blitar Balikpapan Mataram KABUPATEN Sampang Paser Lombok Tengah Kendari Wakatobi 21 . dipilih enam provinsi dengan cakupan LINAKES yang dibagi dalam tiga kelompok yaitu tinggi. Dari kabupaten dan kota terpilih tersebut. sedangkan untuk kelompok LINAKES yang sedang dan rendah masing-masing dipilih dua provinsi. tahun 2007). Pemilihan provinsi didasarkan pada indikator cakupan pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan (LINAKES) dan jumlah kematian ibu dan anak tinggi (absolut). sehingga jumlah provinsi terpilih semuanya ada tujuh provinsi. Kabupaten dan Kota berdasarkan kriteria cakupan LINAKES No Cakupan LINAKES Tinggi PROVINSI Jawa Timur 1 Kalimantan Timur NTB 2 Sedang Jawa Barat Maluku 3 Rendah Sulawesi Tenggara Bandung Ambon Bogor Kep. Tabel 4.4. sedang dan rendah yaitu Provinsi Jawa (Riskesdas. Selanjutnya dari ke tujuh provinsi tersebut. Jumlah provinsi yang dipilih untuk masing-masing kelompok sebanyak dua provinsi untuk kelompok LINAKES yang tinggi. kemudian diambil dua kecamatan berdasarkan cakupan LINAKES yang tinggi dan rendah berdasarkan data/informasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota yang ada di provinsi terpilih. Selanjutnya dari provinsi terpilih tersebut dipilih satu) kabupaten dan satu kota berdasarkan cakupan LINAKESnya.

DESAIN/JENIS PENELITIAN • Disain Penelitian : secara potong lintang . tokoh masyarakat : TOMA&TOGA. b) Kelompok PKK. kriteria daratan dan kepulauan. Sedangkan untuk daerah yang tidak menggunakan Jampersal dipilih Provinsi Kepulauan Riau yaitu kabupaten Natuna. Bidan Koordinator.5. RESPONDEN PENELITIAN 1. ibu bersalin (bulin) dan ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) serta ibu yang sudah melahirkan selama periode bulan Oktober 2011 sampai dengan April 2012 di puskesmas terpilih. dimana antara variabel yang dipengaruhi dan variabel yang mempengaruhi diukur pada saat yang sama (’point in time’). pengelolaan Jampersal (penyerapan anggaran). Responden sebagai pelaksana program Jampersal : a) Fasilitas Kesehatan tingkat pertama/dasar (Puskesmas) yaitu kepala puskesmas. 22 . daerah yang tidak menggunakan Jampersal. dan kader Posyandu. • Jenis Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian terapan untuk mengetahui implementasi kebijakan program Jampersal di 7 (tujuh) propinsi di Indonesia. 4. Pemilihan rumah sakit (RS) di setiap kabupaten kota dipilih 1 (satu ) RS Pemerintah milik kabupaten/kota. 4. Responden sebagai pengguna program Jampersal yaitu : a) Ibu hamil.4. pengelola Jampersal di Puskesmas dan Bidan desa yg ada di lokasi penelitian. sedangkan RS swasta dipilih yang sudah mempunyai perjanjian kerjasama (PKS).Untuk memilih kabupaten kota berdasarkan jumlah kematian ibu dan anak tinggi (absolut). kriteria administrasi kota dan kabupaten. Untuk pemilihan puskesmas dilakukan berdasarkan penyerapan anggaran Jampersal yang tinggi dan rendah di setiap kabupaten kota. 2. Kepala desa/lurah & aparat desa.

Pengumpulan data kualitatif Pengumpulan data kualitatif dilakukan oleh peneliti sebagai instrumen dengan dibantu panduan wawancara.b) Fasilitas kesehatan tingkat lanjutan (Rumah sakit/Balkesmas yg mempunyai program kerjasama/PKS dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang ada di lokasi penelitian) yaitu : Direktur / Wadir Pelayanan RS. 3. Observasi tersamar dilakukan untuk melihat perilaku tenaga kesehatan. PKK. b) Pengelola dana/ program Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota. Observasi Observasi dalam penelitian dilakukan dengan dua cara. dan wawancara mendalam (Indepth interview). Pengelola Jampersal RS. Observasi partisipasi dilakukan 23 . yaitu observasi tersamar dan observasi partisipasi. Responden sebagai Provider di tingkat kabupaten/kota yaitu: a) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota. verifikator independen. Kader Posyandu. Responden Masyarakat : Kepala Desa/Lurah. 4. Pelaksanaan FGD dan indepth interview dilakukan dengan menggunakan panduan wawancara FGD dan indepth interview. bidan kepala ruangan. LSM dll.6. dokter kandungan dan kebidanan. c) Verifikator 4. observasi partisipasi dilakukan dengan cara melibatkan peneliti langsung di masyarakat. CARA PENGUMPULAN DATA 4.TOMA/TOGA.6. Penanggung Jawab program KIA. Pengumpulan data kualitatif dilakukan dengan cara mengadakan diskusi terarah secara berkelompok (FGD). Sementara itu. Responden dari Organisasi profesi : Ikatan Bidan Indonesia (IBI) 5. Pelaksanaan FGD dilakukan di kabupaten/kota terpilih yang ada di masing-masing provinsi.1.

4. Setelah pengumpulan data ditentukan 3 lokasi kabupaten / kota untuk dilakukan penelitian tematik dengan dilakukan observasi selama 2 (dua) minggu di lokasi terpilih yaitu. b) Lombok tengah: Di kabupaten Lombok Tengah terdapat PNPM GSC (generasi Sehat Cerdas). ditengarai masyarakat di desa Lamanggau pmasih banyak ditolong dukun walaupun sudah ada Jaminan Persalinan. ibu nifas dan bayi baru lahir) dan KB pasca persalinan yang berkaitan dengan pelaksanaan program Jampersal. Hal ini menarik mengingat Kota Blitar dengan 3 puskemas Poned dan RSUD Mardi Waluyo dengan akses mudah.2. c) Wakatobi: di wilayah Wakatobi di pulau Tolandono kecamatan Tomia persalinan oleh tenaga kesehatan rendah.sebagai triangulasi dari indepth interview melalui pedoman wawancara dan wawancara terstruktur melalui kuesioner. a) Kota Blitar: Kota Blitar dipilih karena dianggap ada temuan menarik ketika pengumpulan data bulan Mei 2012 diwilayah puskesmas Kepanjen Kidul telah terdapat 4 (empat) kematian maternal periode Januaru – Juni 2012. Adapun yang diobservasi adalah : 1) Kondisi geografi dan topografi yang ‘dianggap’ dapat menghambat dalam mengakses Jampersal. 24 . ibu melahirkan. Bulin dan Bufas) : Data sikap. 2) Interaksi sosial sasaran Jampersal dan tenaga kesehatan. yang mendukung kegiatan kesehatan Ibu dan Anak. 3) Interaksi sosial masyarakat terkait Jampersal. Pengumpulan data kuantitatif Pengumpulan data kuantitatif ini dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang terstruktur (kuesioner) yang meliputi : 1) Kelompok Sasaran ( Bumil.6. pengetahuan dan perilaku (PSP) dari responden penelitian yang berkaitan dengan penggunaan dana Jampersal (ibu hamil.

Data sekunder Data Sekunder dikumpulkan berkaitan dengan kebijakan dan pelaksanaan program Jampersal baik yang ada di tingkat kabupaten/kota maupun di fasilitas kesehatan di tingkat dasar (Puskesmas) dan di tingkat lanjutan (Rumah Sakit) . tahun 2010 dan 2011 25 . Data sekunder ini meliputi: 1. Profil kesehatan: Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Sedangkan pengumpulan data laporan kegiatan di Puskesmas dan rumah sakit dimulai pada saat dilakukan persiapan daerah di masing-masing propinsi terpilih. Pengumpulan data sekunder berupa profile kesehatan dilakukan dengan cara menghubungi masing-masing Dinas kesehatan/kota terpilih untuk mengirimkan data tersebut sebelum dilakukan pengumpulan data di lapangan. pengetahuan dan perilaku (PSP) dari bidan Puskesmas dan Bidan desa sebagai pelaksana program Jampersal.Pengambilan sampel dari data sararan adalah Bumil.6. 2) Data sikap.3. Enumerator sebelum terjun dilakukan pelatihan selama 1 (satu) oleh tim peneliti tentang tujuan penelitian dan cara pengumpulan data.2/2 P (1-P) N d2 (N-1) + Z2 1 . Untuk pengambilan data di setiap puskesmas ( sebanyak 70 responden yang sudah di sampling) dilakukan oleh 2 enumerator yang dipilih dengan kriteria 1) dapat menyediaan waktu sekitar 1 (satu) minggu) untuk melaksanakan survei ini. Kemudian diambil secara acak sebanyak 70 orang setiap puskesmas terpilih (berdasarkan rumus metode survei). 2) pendidikan minimal D3 kesehatan dengan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan dan Poltekes setempat. n = Z2 1 .2/2 P (1-P) N Pengumpulan data ini dilakukan dengan merekrut enumerator di kabupaten / kota lokasi penelitian. Bulin dan Bufas yang pada periode oktober 2011-April 2012 yang ada di puskesmas terpilih ( diambil dari kohort). Pengambilan sampel dari bidan puskesmas adalah seluruh bidan pada puskesmas terpilih 4.

5. Sarana dan prasarana di pelayanan kesehatan yang terkait dengan Jampersal 3. Data pertolongan persalinan yang terkait dengan rujukan Puskesmas dan Rumah Sakit/RS tahun 2010 & 2011. persalinan. Kebijakan Jampersal di tingkat pusat dan daerah 2. persalinan di 4. Rumah Sakit. 4. 4. KB pasca persalinan dan penanganan komplikasi pada kehamilan. dan Puskesmas. Laporan kegiatan Puskesmas (tahun 2010 & 2011) meliputi: pemeriksaan kehamilan. Pemberdayaan Masyarakat 26 .2. SDM yang terkait dengan Jampersal. nifas dan bayi baru lahir. pelayanan bayi baru lahir. pertolongan persalinan. Data tentang penyerapan anggararan Jampersal di tingkat Kabupaten dan rumah sakit. Data tentang cakupan pelayanan Jampersal di Dinas Kesehatan. 3. VARIABEL PENELITIAN Variabel penelitian ini meliputi : 1. pelayanan nifas. Pelayanan Jampersal 6. Pembiayaan Jampersal 5.7.

SK Kepala Dinas Kesehatan dll. peraturan pemerintah. keputusan presiden. 6. 7. 8.April 2012 dalam kondisi sedang atau baru bersalin Sasaran Nifas Ibu yang pada periode oktober 2011. Kabupaten Kota (Perda. prasarana. Pusat Definisi Operasional 2. Upaya Pelayanan dan Upaya pelayanan Jaminan persalinan yang tercantum dalam juknis Jampersal tahun Rujukan 2011 dan 2012 Pemberdayaan Upaya untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri.2. Balai Praktek Swasta. Puskesmas. 10. Definisi Operasional No. perangkat desa dll. Implementasi Program Penerapan Jaminan persalinan di tingkat kabupaten mulai dari Dinas kesehatan. 4. keputusan menteri. bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan. 11. 1. 3. Tokoh masyarakat bisa tokoh Agama. Variabel Kebijakan Tk. TOMA/TOGA Orang / tokoh yang disegani di masyarakat . SDM . pembiayaan dan jenis pelayanan) Sasaran Ibu Hamil Ibu yang pada periode oktober 2011. tokoh adat. DEFINISI OPERASIONAL Tabel 4. maupun undang-undang yang terkait dengan peaksanan jaminan persalinan Kebijakan Tk Daerah Peraturan ditingkat Provinsi.8. Kemandirian Masyarakat tersebut meliputi kemandirian berpikir.4. memutuskan serta melakukan sesuatu yang dipandang 27 . 9.April 2012 sedang dalam kondisi hamil Sasaran Ibu bersalin Ibu yang pada periode oktober 2011. Jampersal Rumah Sakit. SK Bupati/Walikota. 5. masyarakat. Kemandirian masyarakat merupakan suatu kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ditandai dengan kemampuan memikirkan. Kebijakan di tingkat pemerintah pusat yang terdiri dari peraturan menteri. Program Kab/Kota Kegiatan ditingkat kabupaten /Kota dalam upaya menunjang program Jampersal (Pemenuhan sarana.April 2012 sedang dalam periode nifas ( mlai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan seperti pra hamil sekitar 6-8 mgg atau sekitar 42 mgg Bayi baru lahir Bayi baru lahir dengan usia 0-7 hari disebut neonatal dini dan usia 7-28 hari disebut neonatal lanjut.

Dinkes kab/kota dan provinsi Uji Coba kuesioner Persiapan Daerah di masing-masing lokasi penelitian Tahap pengumpulan & pengukuran + 4 bln Pengumpulan data : Kualitatif : FGD & Indepth interview) Kuantitatif : data primer & sekunder Editing.1. rendah) 1 Kabupaten dan 1 Kota terpilih/provinsi kriteria : Data cakupan linakes Dinkes Kab/Kota 2 kecamatan/kabupaten dan kota Pemilihan Responden di tingkat : masyarakat.RS. 4.Cleaning dan inputing Data Tahap Penyelesaian 4 bln Pengolahan dan Analisis Data Laporan Akhir Gambar 4. sedang.9. KERANGKA OPERASIONAL 4.9.: ibu yg sdh melahirkan Faskes : Puskesmas .tepat demi mencapai pemecahan masalah yang dihadapi dengan mempergunakan daya/kemampuan yang dimiliki dalam kaitannya dengan pencarian pertolongan pada persalinan /KIA. Tahap pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi terpilih (7) kriteria : cakupan linakes Tahap persiapan +2 bln ( tinggi.3 Kerangka Operasional 28 .

Mengadakan pertemuan dengan tim Dinas Kesehatan di tingkat Provinsi 29 . Menyiapkan instrumen penelitian yaitu daftar pertanyaan terstruktur/kuesioner 2.ijin penelitian di masing2 provinsi terpilih .3. DinKes kabupaten/kota dan Faskes ( Puskesmas & RS) Pengiriman Form untuk kerangka sampel pada ibu yg sudah melahirkan /bulin selama periode 6 bl ke Bidan (Puskesmas) Profile Kesehatan kabupaten/kota Persiapan Daerah : .9.mengkondisikan pelaksanaan pengumpulan data di lapangan Gambar 4.9.menentukan sampel penelitian untuk data kualitatif (FGD & indepth) & kuantitatif .menentukan lokasi kecamatan di msg2 kabupaten/kota di provinsi terpilih .4. Tahap Pengumpulan Data Di Lapangan : 1. Tahap Pelaksanaan Persiapan di lapangan : Pengurusan ijin Etik penelitian (Komisi Etik penelitian) Komunikasi dg Key person yg ada di : DinKes Propinsi. Menyiapkan panduan wawancara untuk data kualitatif (FGD & indepth interview) 3.4 Tahapan pelaksanaan persiapan di lapangan 4.2. 4. menganalisis hasil uji coba (validitas & reabilitas) serta memperbaiki kuesioner jika ada perubahan berdasarkan hasil analisis uji coba kuesioner. Melakukan uji coba kuesioner.

masing provinsi 6. analisis taksonomi.10. maka dilakukan pengolahan dan analisis data kuantitatif dan kualitatif. PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA Setelah data terkumpul. PERTIMBANGAN IJIN PENELITIAN Surat izin penelitian diperoleh dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan sedangkan etik penelitian diperoleh dari Komisi Etik penelitian dengan mengeluarkan Ethical Clearence (EC). Sementara itu. dan analisis tema. analisis komponensial. 4.5. Mengadakan pertemuan dengan tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di masing.11. Menentukan responden penelitian yang terpilih di masing-masing lokasi penelitian sesuai dengan kebutuhan dan tujuan penelitian 4. yaitu analisis domain. Sedangkan untuk data kualitatif hasil FGD dan wawancara mendalam dilakukan secara content analysis. 30 . Data kuantitatif dianalisis secara secara diskriptif. dengan menganalisis transkrip hasil diskusi dan mendeskripsikannya dalam bentuk naratif. untuk observasi partisipasi dilakukan dengan empat tahap analisis. Bidan desa) 7. Bidan Puskesmas. Menentukan peneliti daerah yang terlibat dalam penelitian untuk masing2 lokasi Penelitian (Dinkes Kabupaten/Kota. Mendiskusikan pelaksanaan FGD & indepth interview untuk masing2 kelompok responden di lokasi penelitian 8.

4. Gant Chart Jadual Kegiatan Penelitian Bulan No 1 2 Uraian Kegiatan Pembuatan Proposal& Protokol Pembuatan : Kuesioner Panduan FGD&indepth interview Peetunjuk teknis di lapangan Formulir Sampling Frame Permintaan Ethical clearance Uji Coba Kuesioner 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 3 4 5 5 6 9 10 11 12 13 Persiapan daerah Pengumpulan data sekunder Pengmpulan data kuantitatif & kualitatif Analisis data Penyusunan draf t Lap Awal Penyusunan Lap Awal Desiminasi awal Penyusunan Laporan 31 .3. JADWAL KEGIATAN Tabel 4.12.

32 .

Dengan kata lain.1. 4) akseptabilitas provider dalam pelayanan jampersal. Salah satunya adalah faktor letak geografi. terdapat perbedaan dalam implementasi Jampersal di 14 lokasi tersebut.BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Dari Hasil penelitian di dapatkan data hasil wawancara dan FGD (berupa transkrip). 7) akseptabilitas sasaran dalam Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir terhadap Jampersal. rumah sakit dan puskesmas. dan 9) akseptabilitas Toma. LSM dan organisasi lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jampersal. 6) utilitas pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir yang disediakan oleh jampersal. 3) akseptabilitas kabupaten terhadap program Jampersal. Hal ini dilaksanakan oleh karena dalam implementasi Jampersal dipengaruhi oleh faktor tersebut diatas. 8) Pemberdayaan dalam meningkatkan Cakupan pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir terhadap Jampersal. Setelah dilakukan analisis data hasil penelitian kami susun berdasarkan tujuan penelitian dengan dimulai memaparkan karakteristik wilayah penelitian dan reponden sebagai berikut : Laporan penelitian ini akan menjawab tujuan penelitian yang dijelaskan dengan urutan sebagia berikut: 1) karakteristik. Selain itu juga terkumpul data sekunder dari Dinas kesehatan. lintas sektor. 5) ketersediaan dan akses terhadap sarana dan serta sumberdaya manusia terhadap Jampersal. 5. 2) implementasi kebijakan Jampersal di tingkat pusat dan Daerah. Secara tidak langsung faktor geografi 33 . Perbedaan tersebut disebabkan banyak faktor. penelitian ini dilakukan di 14 lokasi. kecuali kabupaten Natuna (sebagai pembanding) karena tidak memanfaatkan dana Jampersal. Data kuantitatif dari bidan sebanyak 736 orang dan sasaran sebanyak 1787 orang dari 13 kabupaten/kota yang menjadi lokasi penelitian. Toga. Berdasarkan hasil penelitian tersebut. SEKILAS TENTANG LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN Penelitian ini dilakukan di tujuh provinsi yang terdiri dari tujuh kabupaten dan tujuh kota.

yang menyatakan bahwa data cakupan untuk persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (linakes) adalah sebagai berikut: 34 . Kementerian Kesehatan Tahun 2012. Namun. Banyaknya gugusan pulau yang dimiliki oleh daerah kepulauan. untuk ratio bidan Indonesia (Nasional) adalah 52. Daerah yang dikatakan kepulauan adalah daerah yang mempunyai gugusan-gugusan pulau yang menjadi wilayahnya. yaitu Maluku (74. Selain data PPSDMK tersebut terdapat juga data dari Direktorat Bina Gizi dan KIA.25.09).14).38). yaitu Jawa Timur (33. lokasi penelitian ini juga dilakukan di kepulauan dan ‘non-kepulauan’. Perbedaan keadaan geografi tersebut seharusnya menjadi pertimbangan dalam pendistribusian tenaga kesehatan khususnya bidan. NTB (45. Hal ini dilakukan untuk menemukan pola perbedaan atau persamaan dalam implementasi antara kabupaten dan kota. sedangkan ‘non-kepulauan’ tidak memiliki gugusan-gugusan tersebut. dan 2) berdasarkan kepulauan dan ‘non-kepulauan’.56) dan Kalimantan Timur (52. Sementara itu ratio Bidan di lokasi penelitian per 100. keadaan geografi akan dibedakan menjadi dua yaitu 1) berdasarkan kabupaten dan kota.94).56).tersebut berpengaruh dalam implementasi Jampersal. Dalam hal ini. Sulawesi Tenggara (74. Menurut Badan PPSDMK. Penelitian ini dilakukan di tujuh kabupaten dan tujuh kota.000 adalah sebagai berikut: terdapat empat provinsi yang memiliki ratio bidan di bawah nasional (57. menyebabkan daerah ini membutuhkan transportasi air yang lebih banyak daripada daerah non-kepulauan. Jawa Barat (24.25). Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011. dan tiga provinsi yang memiliki ratio bidan di atas rata-rata nasional. kadangkala tingginya ratio bidan dalam suatu daerah belum tentu menjamin kualitas pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan.67) dan Kepulauan Riau (64. Selain itu.

Namun. dan Kalimantan Timur (85.35%).- terdapat dua provinsi yang mempunyai cakupan linakes di atas rata-rata cakupan linakes nasional (86. Menurut Badan PPSDMK.84%).28%) dan Kepulauan Riau (97. Masih banyaknya provinsi di Indonesia yang mempunyai cakupan linakes di bawah rata-rata nasional tersebutlah yang menyebabkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengadakan Jampersal.02%). apakah persalinan ‘gratis’ tersebut dapat menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan ke tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan? Gambar 5.44%). dan - terdapat lima provinsi yang mempunyai cakupan linakes di bawah cakupan linakes nasional. yaitu Jawa Barat (81. Maluku (77. yaitu Jawa Timur (95. Hal ini dilakukan untuk menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan ke tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. untuk rasio 35 . Nusa Tenggara Barat (82.1 Peta Wilayah Indonesia Perbedaan karakteristik wilayah tersebut seharusnya menjadi pertimbangan dalam pendistribusian tenaga kesehatan khususnya bidan.30 %).39%). Sulawesi Tenggara ( 85.49%). Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011.

56). yaitu Jawa Timur (33. Sulawesi Tenggara ( 85.67) dan kepulauan Riau (64. Dari sasaran Jampersal ada yang memanfaatkan Jampersal dan ada yang tidak memanfaatkan Jampersal. pendidikan dan jumlah anak (paritas). yang menyatakan bahwa data cakupan untuk persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (Linakes) adalah sebagai berikut : Cakupan Linakes Indonesia (Nasional) adalah 86.39%).02%). provinsi lokasi penelitian yang diatas angka Nasional adalah Jawa Timur (95. Karakteristik meliputi umur.38).44%) dan Kalimantan Timur (85.000 adalah sebagai berikut : terdapat 4 (Empat) provinsi lokasi penelitian rasio bidan dibawah nasiona (57. dibahas juga karakteristik responden ibu hamil. sulawesi Tenggara (74.56) dan Kalimantan Timur (52.1. Kementerian Kesehatan Tahun 2012. Dari 13 kabupaten/ Kota terkumpul sejumlah 1.30 %.25. Jawa Barat (24. diambil dari list kohort ibu masing-masing puskesmas sebanyak 70 responden yang diambil secara acak. Sementara itu rasio Bidan di lokasi penelitian per 100. Bersalin. Nusa Tenggara Barat (82. ibu bersalin dan ibu Nifas yang merupakan sasaran Jampersal.49%).28%). Maluku (77. Sedangkan 3 (Tiga) provinsi yaitu Maluku (74.14). dan Nifas Selain membahas tentang karakteristik wilayah penelitian.1.25). Responden diambil di wilayah 2 puskesmas terpilih di kabupaten / kota.35%) masih dibawah angka Nasional.09). Kepulauan Riau (97. Dari analisis data karakteristik responden sebagai berikut : 36 .787 orang.bidan Indonesia (Nasional) adalah 52.84%) sedangkan Jawa Barat (81. 5. Karakteristik Responden Ibu Hamil. NTB (45. ibu bersalin dan ibu nifas periode Oktober 2011 sampai dengan April 2012. Selain data PPSDMK tersebut terdapat juga data dari Direktorat Bina Gizi dan KIA. Pada penelitian ini dilakukan pengumpulan data pada sasaran Jampersal yaitu ibu hamil. Pada bagian ini akan menjelaskan karakteristik kedua sasran tersebut.94).

Gambar 5.kira 40 % ibu hamil mempunyai masalah kesehatan yang berkaitan dengan masalah 37 .787 Dari karakteristik responden sasaran yang terkumpul. kepulauan Aru. Kota Bandung. Yang menarik prosentase ibu hamil pada usia kurang dari 20 tahun cukup tinggi (>10%) terutama di Kota Blitar.2 Karakteristik Responden berdasarkan umur pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N = 1. Wakatobi dan Kota Batam. Setiap kehamilan dan persalinan mempunyai risiko meskipun bagi perempuan yang tidak mempunyai masalah kesehatan sebelumnya. Kota Mataram. kira . Dan prosentase ibu hamil> 35 tahun tinggi (>10%) di Sampang. Lombok Tengah dan tertinggi di Paser (17%). nampak sekitar 15%-20% responden adalah resiko tinggi yaitu ibu hamil berusia < 20 tahun dan umur >35 tahun.

Karakteristik Responden berdasarkan pendidikan pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Karakteristik pendidikan dari responden > 50% adalah berpendidikan SLTP dan hanya 8.3. Gambar 5. 2005). Resiko tersebut akan semakin meningkat pada usia di luar usia reproduksi (< 20 tahun atau >35 tahun). Kematian ibu paling banyak terjadi pada usia antara 20 sampai 30 tahun.kehamilan dan 15 % ibu hamil menderita komplikasi jangka panjang. Bahkan di 38 . Oleh karena itu pada usia reproduksi. Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menyatakan bahwa kematian maternal akan meningkat 4 kali lipat pada ibu yang hamil pada usia 35 – 39 tahun bila dibanding wanita yang hamil pada usia 20 – 24 tahun. usia paling produktif untuk hamil dan melahirkan sehingga berisiko menderita penyakit baik akibat langsung dari kehamilan maupun tidak langsung. (Rukmini dkk. banyaknya kehamilan akan meningkatkan risiko perempuan untuk mendapatkan masalah kesehatan.10% saja yang berpendidikan Perguruan Tinggi. 2004). Usia kehamilan yang paling aman untuk melahirkan adalah usia 20 – 30 tahun (Kemenkes RI.

baik dari kelas bawah. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa dari 1787 responden sasaran ibu hamil. 5. atau pun atas. Pada pengguna Jampersal risiko tinggi berdasarkan umur. ada 17.9%) dan > 35 tahun (25.1. Hal ini seperti yang ditunjukan pada gambar berikut ini: 39 .2.70% masyarakat yang mempunyai resiko tinggi berdasarkan usia. menengah. yaitu di bawah umur 20 tahun dan di atas 35 tahun. Karakteristik Pengguna Jampersal Jampersal disediakan untuk seluruh masyarakat Indonesia. Target Nasional untuk cakupan resiko tinggi oleh tenaga kesehatan adalah 20%.Sampang hampir seluruh responden berpendidikan SLTP. Namun. mencapai 17. Namun. disusul di Lombok tengah dan Bogor responden berpendidikan SLTP > 70%. Kondisi ini menggambarkan bahwa sasaran Jaminan Persalinan sebagian besar adalah pendidikan rendah.6%).70 adalah cukup tinggi. tidak semua masyarakat Indonesia berminat untuk mendapatkan persalinan gratis tersebut. Masyarakat yang banyak menggunakan Jampersal rata-rata berusia sekitar 20-35 tahun. Dari kajian lanjut data Sensus Penduduk (SP) 2010 didapatkan bahwa usia resiko tinggi pada ibu hamil penyumbang kematian maternal cukup tinggi yaitu pada usia ibu < 20 tahun (6.2%). Hal ini menunjukan Jampersal banyak diminati oleh masyarakat. ibu bersalin dan ibu nifas yang menggunakan Jampersal sebanyak 1254 responden (70.

lebih dari 50% pengguna Jampersal berpendidikan SLTP. disusul di Lombok tengah dan Bogor responden berpendidikan SLTP > 70%.10% saja. Kondisi ini menggambarkan bahwa sasaran Jaminan Persalinan sebagian besar adalah pendidikan rendah.254 Selain berdasarkan umur. Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Umur pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N= 1. Berdasarkan pendidikan. yang berpendidikan sampai perguruan tinggi hanya 8. Sementara itu.4. 40 . bahkan di Sampang hampir seluruh responden berpendidikan SLTP. pengguna Jampersal juga dapat dilihat berdasarkan pendidikan.Gambar 5.

masih 12. Informasi dari data SP 2010 didapatkan kematian maternal yang mempunyai anak >4 adalah 10.5%. 2010).254 Berdasarkan Riskesdas 2010 permasalahan kesehatan pada perempuan berawal dari masih tingginya usia perkawinan pertama di bawah 20 tahun (4.8% pada usia 10 – 14 tahun. Salah satu yang dilakukan pemerintah adalah dengan mendorong program wajib belajar 15 tahun dengan harapan akan menunda pernikahan dini karena harus mengikuti pendidikan formal terlebih dahulu (Riskesdas. Namun.9% pada usia 15 -19 tahun). Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Pendidikan pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N= 1. pengguna Jampersal juga dapat dilihat berdasarkan jumlah anak yang dimiliki. Berdasarkan hasil penelitian. 41 . Hal ini perlu menjadi pertimbangan mengapa sasaran Jampersal tidak ada pembatasan jumlah anak . seperti diketahui semakin banyak jumlah anak maka resiko dalam kehamilan juga semakin besar.5.10% pengguna Jampersal yang mempunyai anak di atas empat orang. Selain faktor umur dan pendidikan.Gambar 5. 41. ratarata pengguna Jampersal mempunyai anak kurang dari empat orang.

masih ada sekitar 533 responden yang tidak menggunakan Jampersal.Gambar 5. ibu bersalin dan ibu nifas yang menggunakan Jampersal sebanyak 1254 responden. Hal ini tentu menjadi tanda tanya mengapa mereka tidak mau menggunakan Jampersal. padahal pelayanan tersebut merupakan pelayanan gratis yang diberikan oleh pemerintah. 42 . Dengan kata lain. Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Jumlah Anak pada sasaran RisetEvaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 (N=1254) Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa dari 1787 responden sasaran ibu hamil. Pertanyaan ini akan dijawab dalam tujuan penelitian tentang akseptabilitas sasaran terhadap Jampersal.6.

Tujuan dari Program Jampersal adalah Meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan.2. Petunjuk teknis untuk pelaksanaan Jampersal tahun 2012 dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan anak dan mempercepat pencapaian MDG’setelah ditetapkan kebijakan bahwa setiap ibu yang melahirkan. Dalam pelaksanaannya Jampersal pada tahun 2011 banyak ditemukan kendala.2 KEBIJAKAN JAMINAN PERSALINAN DI TINGKAT PUSAT DAN DAERAH Kebijakan Jaminan Persalinan di tingkat Pusat adalah kebijakan Jampersal berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan.1. Adapun tujuan khususnya adalah 43 .5. walaupun dicanangkan awal 2011 tapi pada kenyataannya baru dapat dilaksanakan April 2011. persalinan. Diharapkan dengan juknis yang sudah disempurnakan dari sebelumnya program jampersal dapat berjalan lebih baik dari tahun sebelumnya. Tahun 2012 diterbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Hal ini menimbulkan beberapa masalah di daerah karena tahun anggaran saat itu sudah berlangsung. Kebijakan Jaminan Persalinan di Pusat Untuk mempercepat pencapaian MDG’s Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2011 melaksanakan program Jaminan Persalinan. biaya persalinannya ditanggung oleh Pemerintah melalui Program Jaminan Persalinan. Dalam menindaklanjuti pelaksanaan program Jampersal diterbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/ Menkes / Per /III/2011. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. Sedangkan kebijakan Jaminan Persalinan di Daerah adalah implementasi Jampersal di 14 kab/ Kota lokasi penelitian. 5. Petunjuk teknis tersebut mulai berlaku per 1 Januari 2012. nifas.

b. Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien. efektif.2. komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir 3. 5. Paket Pelayanan a. 5. pertolongan persalinan. 2. 6. Pelayanan Nifas (PNC) bagi ibu dan bayi baru lahir sesuai standar pelayanan KIA dengan frekuensi 4 kali. Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan. Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah Ibu hamil. c) Penanganan komplikasi ibu hamil. bersalin.1. ibu bersalin. nifas. 7. Pemeriksaan kehamilan (ANC) dengan risiko tinggi (risti) 44 . transparan.2. Pertolongan persalinan dengan komplikasi dan atau penyulit pervaginam yang merupakan kompetensi Puskesmas PONED. dan bayi baru lahir. b.1. Meningkatnya cakupan pelayanan: a) bayi baru lahir. KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten. 4. 5.1. dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kompeten.a. dan akuntabel. Pelayanan rujukan terencana sesuai indikasi medis untuk ibu dan janin/ bayinya. Pelayanan ANC sesuai standar pelayanan KIA dengan frekuensi 4 kali. ibu nifas dan bayi baru lahir. Pelayanan KB paska persalinan serta komplikasinya.2. Jenis pelayanan Persalinan di tingkat lanjutan meliputi: 1. b) Keluarga Berencana pasca persalinan. Deteksi dini faktor risiko. c. Jenis pelayanan Jaminan persalinan di tingkat pertama meliputi: 1. Sasaran Kelompok sasaran adalah yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi. Pertolongan persalinan normal.

2. Persyaratan Klaim Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Pertanggungjawaban klaim pelayanan Jaminan Persalinan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama ke Tim Pengelola Kabupaten/Kota dilengkapi: a. dan bagi peserta jamkesmas dilengkapi dengan fotokopi kartu Jamkesmas.2.1. pelayanan nifas. Penatalaksanaan KB paska salin dengan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) atau kontrasepsi mantap (Kontap) sertapenanganan komplikasi. 5.4. Fotokopi kartu identitas diri sasaran yang masih berlaku (KTP atau identitas lainnya). Kepesertaan Jaminan Persalinan adalah perluasan kepesertaan dari Jamkesmas dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja. Apabila peserta Jamkesmas atau penerima manfaat Jaminan Persalinan non Jamkesmas tidak memiliki buku KIA pada daerah tertentu. dapat digunakan kartu ibu atau keterangan pelayanan lainnya pengganti buku KIA yang ditandatangani ibu hamil/bersalin dan petugas yang menangani. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. termasuk pelayanan bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. 4. persalinan. b. 3.1. Untuk 45 .3. 5. 1. Penanganan komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir dalam kaitan akibat persalinan. Pemeriksaan paska persalinan (PNC) dengan risiko tinggi (risti). Penerima manfaat Jaminan Persalinan mencakup seluruh sasaran yang belum memiliki jaminan kesehatan untuk persalinan. 5. Fotokopi lembar pelayanan pada Buku KIA sesuai pelayanan yang diberikan untuk Pemeriksaan kehamilan.2. Pertolongan persalinan dengan risti dan penyulit yang tidak mampu dilakukan di pelayanan tingkat pertama. Manfaat yang diterima oleh penerima manfaat Jaminan Persalinan terbatas padapelayanan kehamilan. nifas.

5. Pemberi Layanan Fasilitas kesehatan tingkat pertama swasta seperti Bidan Praktik Mandiri. 2. Pada kondisi tidak ada partograf dapat digunakan keterangan lain yang menjelaskan tentang pelayanan persalinan yang diberikan. Sedangkan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjutan baik pemerintah maupun swasta harus mempunyai Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selaku Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kabupaten/Kota yang 46 .1. Fotokopi/tembusan surat rujukan. Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan Pertanggungjawaban klaim pelayanan Jaminan Persalinan di fasilitas kesehatan lanjutan dilengkapi : a) Fotokopi kartu identitas diri sasaran yang masih berlaku (KTP atau identitas lainnya). Tim Pengelola Kabupaten/Kota melakukan koordinasi kepada penanggung jawab program KIA daerah maupun pusat (Ditjen Gizi dan KIA). d.2. Partograf yang ditandatangani oleh tenaga kesehatan penolong persalinan untuk Pertolongan persalinan.pemenuhan buku KIA di daerah. c. c) Bukti pelayanan untuk Rawat Jalan dan resume medis untuk rawat inap 5. b) Fotokopi/tembusan surat rujukan dari Puskesmas. Klinik Bersalin. dan bagi peserta jamkesmas dilengkapi dengan fotokopi kartu Jamkesmas. Dokter praktik yang berkeinginan ikut serta dalam program ini harus mempunyai perjanjian kerja sama (PKS) dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selaku Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK atas nama Pemerintah Daerah setempat yang mengeluarkan ijin praktiknya. termasuk keterangan tindakan pra rujukan yang telah dilakukan di tandatangani oleh sasaran/keluarga. Fasilitas Kesehatan Swasta/Bidan Praktik Mandiri di tandatangani oleh sasaran atau keluarga sasaran.

Frekuensi 4 kali 1 kali 4 kali Tarif 20.000 20.000 500. Pelayanan pasca keguguran.1.2.000 Keterangan Standar 4x Standar 4x 4. percepatan pencapaian MDG’s 2015 serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan termasuk persalinan oleh tenagakesehatan di fasilitas kesehatan. Pendanaan Jamkesmas dan Jampersal di pelayanan dasar dan pelayanan rujukan merupakan belanja bantuan sosial (bansos) bersumber APBN yang dimaksudkan untuk mendorong pencapaian program. 47 .1.6.diketahui oleh Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Provinsi.7. Pendanaan 1. bersalin. nifas dan bayi baru lahir dengan komplikasi.2. 1 kali 100.000 650.000 500. Jenis pelayanan Pemeriksaan kehamilan Persalinan normal Pelayanan nifas termasuk pelayanan bayi baru lahir dan KB pasca persalinan Pelayanan tindakan pra rujukan untuk ibu hamil. 5. 3.000 Jumlah 80.000 Dilakukan di Puskesmas PONED Sedangkan tarif untuk pelayaan Jampersal di Rumah sakit menggunakan tarif standart INA-CBG’s. Contoh format perjanjian kerjasama sebagaimana Formulir 1 terlampir.000 100. 1 kali 650.000 Pada saat menolong persalinan ternyata ada komplikasi. Tarif pelayanan Jaminan Persalinan Tahun 2012 No 1.000 80. wajib segera dirujuk 5. persalinan per vaginam termasuk pelayanan nifas dan pelayanan bayi baru lahir dengan tindakan emergensi dasar. Besaran Tarif pelayanan Tabel 5. 2. 5.1.

pendapatan tersebut merupakan pendapatan lain-lain PAD yang sah. Pembayaran pelayanan persalinan dan KB bagi peserta Jamkesmas maupun penerima manfaat Jaminan Persalinan di pelayanan dasar dan di pelayanan rujukan oleh fasilitas kesehatan dilakukan dengan mekanisme “Klaim”. bukan bagian dari dana transfer daerah ke Pemerintah Kabupaten/Kota sehingga penggunaan dana tersebut tidak melalui Kas Daerah (Perdirjen Perbendaharaan Nomor: PER. Dana belanja bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada angka 1(satu) adalah dana yang diperuntukkan untuk pelayanankesehatan dan rujukan pelayanan dasar peserta Jamkesmas. 3. terintegrasi (menjadi satu kesatuan) dengan dana Jamkesmas.21/PB/2011).2. 48 . maka status dana tersebut berubah menjadi dana peserta Jamkesmas dan masyarakat penerima manfaat Jaminan Persalinan. Jasa pelayanan KB di pelayanan dasar di klaimkan pada Tim Pengelola Jamkesmas & BOK di Dinas Kesehatan sesuai besaran yang ditetapkan. 4. pelayanan persalinan serta rujukan risti persalinan peserta Jamkesmas dan masyarakat sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan sebagai penerima manfaat jaminan. maka status dana menjadi pendapatan fasilitas kesehatan untuk daerah yang belum menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan BLUD (PPK-BLUD). sedangkan bagi fasilitas kesehatan daerah yang sudah menerapkan PPK-BLUD. Dana Jamkesmas dan Jampersal yang disalurkan sebagaimana pada poin 1 s/d 4 di atas. Setelah dana tersebut disalurkan Kementerian Kesehatan ke rekening Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab program (melalui SP2D) dan rekening Rumah Sakit. 7. selanjutnya pemanfaatannya mengikuti ketentuan Peraturan perundang undangan. 6. Setelah hasil verifikasi klaim dibayarkan sebagai penggantian pelayanan kesehatan. Dana Jampersal di pelayanan kesehatan dasar disalurkan ke rekening Dinas kesehatan kabupaten/kota. 5.

Tim verifikasi pemberi layanan Tk I melakukan verifikasi dan memberikan persetujuan membayar kepada masing-masing fasilitas kesehatan. Sisa dana pada rekening Tim Pengelola Jamkesmas Kabupaten/Kota yang tidak digunakan dan/atau tidak tersalurkan sampai dengan akhir tahun anggaran harus disetorkan ke Kas Negara dan menggunakan Surat Setoran Bukan Pajak (SSBP).2.1. Proses klaim bagi fasilitas kesehatan tingkat pertama: Pemberi layanan Tk pertama mengajukan klaim setelah memberikan pelayanan kepada Dinas Kesehatan/Tim Pengelola Kabupaten/Kota dengan melengkapi bukti pelayanan yang sah dan harus di tanda tangani oleh peserta (ibu hamil. Pemanfaatan dana jaminan persalinan pada pelayanan lanjutan mengikuti mekanisme pengelolaan pendapatan fungsional fasilitas kesehatan dan berlaku sesuai status rumah sakit tersebut (BLU/BLU(D) atau PNBP) 5. Standar biaya transportasi yang berlaku di daerah. Transport rujukan risti. Proses Pengajuan Klaim 1. 9. 8.8. 11. 49 . mengacu pada Standar Biaya Umum (SBU) APBN. bersalin. 10. komplikasi kebidanan dan komplikasi neonatal pasca persalinan bagi penerima manfaat Jaminan Persalinan di pelayanan kesehatan dasar dibiayai dengan dana dalam program ini.sedangkan jasa pelayanan KB di pelayanan lanjutan mengikuti pola pembayaran INA-CBG’s. maka kekurangan atas pelayanan yang belum diklaimkan/ terbayarkan tersebut akan diperhitungkan dan dibayarkan pada tahun berikutnya sepanjang ditunjang dengan buktibukti yangsah. nifas). Apabila terjadi kekurangan dana pelayanan persalinan atau pelayanan persalinan yang sudah diberikan akan tetapi belum diklaimkan/belum terbayarkan pada akhir tahun anggaran.

2. Proses klaim Jaminan persalinan bagi fasilitas kesehatan tingkat lanjutan: Fasilitas kesehatan tingkat rujukan melakukan pengajuan klaim program jaminan persalinan melalui mekanisme klaim Jamkesmas, yaitu dengan INA CBGs

5.2.2. Kebijakan Jaminan persalinan di Kabupaten/Kota di lokasi penelitian Kebijakan Jampersal di kabupaten/kota adalah kebijakan Jampersal yang diimplementasikan daerah yang disesuaikan dengan kondisi dan kebijakan lokal yang ada di daerah tersebut. Berdasarkan penelitian ini terdapat variasi kebijakan lokal dalam mengimplementasikan Jampersal. Hal ini sangat

tergantung pada penentu kebijakan di daerah seperti bupati dan kepala dinas kesehatan.

5.2.2.1.

Kabupaten Sampang

Dukungan Pemda Sampang terhadap program Jampersal berupa penetapan Peraturan Daerah No. 5 tahun 2011, tentang jasa Pelayanan dan kebijakan Dinas Kesehatan.
“..pada Perda no 5 tahun 2011, ada Pasal karet yang menyatakan berlaku fleksibel sesuai dengan program pemerintah, Jasa pelayanan persalinan japelnya 75% dari seberapapun besar paket pelayanan persalinan yang berlaku termasuk jampersal, tanpa merubah Perda cukup mengganti Peraturan Bupati saja. Perda ini sudah memprediksi untuk hal2 terkait seperti Jampersal sehingga terjadinya perubahan tarif tidak mempersulit karena cukup merubah Peraturan Bupati saja..” (kadinkes, Kab. Sampang).

Pelaksanaan Jampersal di kabupaten Sampang mengacu pada juknis 2012, namun terdapat kebijakan lokal terhadap tempat pertolongan persalinan. Sebagaimana juknis Jampersal 2012, tujuan dari Jampersal adalah meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. Namun pelaksanaannya di Sampang, pertolongan persalinan pada Jampersal dilakukan oleh tenaga kesehatan, tanpa memandang tempat pertolongan persalinan.
50

Pertolongan persalinan dapat dilakukan tidak hanya di fasilitas kesehatan, tapi juga di rumah penduduk. Jadi, bidan dapat mengklaim pertolongan persalinan yang dilaksanakan di rumah pasien. Menurut informan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang.
“..implementasi Jampersal di Kabupaten Sampang mengacu pada juknis jampersal tahun 2012. Jampersal di Sampang 100% adalah pertolongan persalinan di tenaga kesehatan tanpa melihat dimana tempat persalinan dapat di fasilitas kesehatan maupun bukan di fasilitas kesehatan (di rumah penduduk dll). Kabupaten Sampang menjual nakes tidak faskes..” (Dinkes, Kab. Sampang).

Untuk cakupan pelayanan, diharapkan semua ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir mendapatkan pelayanan oleh tenaga kesehatan dengan syarat tidak memiliki kartu Jamkesmas dan Jamkesda atau tidak mempunyai jaminan lain. Sedangkan pelayanan rujukan di RS untuk Jampersal semua persalinan diarahkan ke Jampersal asal masyarakat mau di kelas III. Pertolongan persalinan pada Jampersal dilakukan oleh tenaga kesehatan, tanpa memandang tempat pertolongan persalinan di fasilitas kesehatan atau di bukan fasilitas kesehatan. Pemberi layanan di puskesmas dan jaringan adalah bidan puskesmas dan bidan desa, sedangkan PKS hanya untuk bidan swasta (BPS), bidan puskesmas yang tidak mempunyai wilayah dapat PKS, sedangkan Bidan Desa karena mempunyai wilayah kerja tidak boleh melakukan PKS. Kebijakan Jampersal, Dinkes dihadapkan dua persoalan yaitu cakupan pelayanan untuk kepentingan program KIA dengan kebijakan pembiayaan. Namun disisi lain, tidak semua pelayanan oleh tenaga kesehatan dapat diklaimkan. Diharapkan, sasaran yang memiliki asuransi ataupun yang mampu dapat membayar sendiri pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan. Artinya, bahwa pencapaian cakupan pelayanan KIA di Puskesmas, belum tentu sama dengan jumlah pelayanan yang dilklaimkan. Alur Klaim Jampersal adalah klaim dari bidan diverifikasi oleh Dinas kesehatan Prosedur sesuai keuangan daerah. Dana Jampersal yang ditransfer ke Dinas Kesehatan merupakan dana masyarakat, setelah pelayanan di klaim oleh
51

pelayanan,

merupakan

dana

fasilitas

puskesmas

atau

RS

(fasilitas

pemerintah)kemudian fasilitas pemerintah menyetor ke daerah, 100% disetor ke daerah, setelah itu dana dikembalikan ke pelayanan yang terbagi dua yaitu jasa pelayanan dan jasa sarana. Pengembalian klaim untuk jasa bidan desa pada jampersal adalah 75%, sedangkan BPM klaim pelayanan sebesar 100%.

5.2.2.2.

Kota Blitar

Dalam pelaksanaan kebijakan Jampersal di kota Blitar sangat bermanfaat bagi masyarakat dan legislatif juga mendukung program tersebut, hal ini ditunjukkan dengan adanya Perwali di Kota Blitar ini. Selain Peraturan Walikota, juga terdapat Surat keputusan walikota untuk pengobatan gratis, meskipun demikian kebijakan Jampersal tetap mengacu pada kebijakan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan, sehingga dalam pelaksanaannya pun sesuai dengan petunjuk teknis. Meskipun demikian ada masyarakat mampu dan seharusnya tidak menggunakan Jampersal, tetapi dalam pelaksanaannya masih memanfaatkan Jampersal untuk melakukan persalinan. Paket pelayanan Jampersal adalah: ANC, Persalinan dan PNC dan Keluarga berencana sesuai dengan juknis. Untuk pelaksanan layanan Jampersal melibatkan bidan, Bidan praktek swasta (BPS), klinik bersalin, dokter swasta. Kepesertaan dan persyaratan pengguna Jaminan persalinan adalah masyarakat/ ibu hamil dengan melengkapi persyaratan saja seperti KTP dan KK, partograf ANC serta inform concern Alur pelaksanaan klaim sebagai berikut : Persalinan jampersal melengkapi syarat menggunakan Jaminan persalinan di bidan atau provider, bidan melengkapi persyaratan klaim kemudian ke Kepala Puskesmas, diperiksa verifikator setelah disetujui tunggu dana turun ke Dinas Kesehatan, dana turun ke puskesmas, di Setor ke bendahara Kota, disetor ke Pemerintah daerah dan akhirnya dicairkan dalam bentuk jasa pelayanan sesuai dengan juknis pusat, meskipun sampai saat ini dana masih belum bisa keluar, hal ini karena juknis Jampersal baru keluar sekitar bulan Juni, padahal dana APBD sudah direncanakan
52

awal tahun, sehingga jampersal tidak ada dalam mata anggaran (MAK) jampersal dalam APBD. Hal tersebut menyebabkan dana sampai saat ini belum diterima, padahal bidan sudah melaksanakan tuganya melakukan persalinan jampersal. Pencairan klaim untik BPS dimana anggaran tidak harus masuk ke APBD, maka dana BPS bisa segera diterima oleh bidan. Besaran jasa pelayanan ketentuannya sesuai dengan juknis pusat, yaitu 350 rb per persalinan normal (Tahun 2011) dan tahun ini naik menjadi 500 rb per persalinan normal.

5.2.2.3.

Kota Mataram

Di Kota Mataram kebijakan Jampersal dengan mengacu pada Petunjuk Teknis Jampersal tahun 2012 . Pelaksanaannya di tindaklanjuti dengan terbitnya Surat kesepakatan pembagian jasa pelayanan jampersal tertanggal 10 Mei 2012 yang di fasilitasi oleh Kepala Dinas kesehatan Mataram yang merupakan kesepakatan di internal Dinas Kesehatan Kota Mataram terutama kesepakatan dalam pembagian besaran jasa pelayanan. Kesepakatan ini dibuat atas usulan dari bawah yaitu Bidan dengan

melibatkan seluruh bidan koordinator di puskesmas, bidan desa, IBI, Kepala puskesmas, Dinas kesehatan dan di fasilitasi Kepala Dinas walaupun belum terbit SK Walikota katika penelitian berlangsung (bulan Juni 2012) sudah berani untuk dilaksanakan. Kabar terakhir Surat Keputusan Walikota sudah terbit. Di Kota Mataram juga berlaku kebijakan open call, dimana masyarakat bisa dengan mudah mendapat nomor handphone tenaga kesehatan. Di setiap puskesmas ada nomer tenaga kesehatan yang bisa dihubungi setiap saat. Dari situ masyarakat bisa menghubungi tenaga kesehatan atau puskesmas. Kebijakan Jampersal sangat membantu dalam meningkatan persalinan ke tenaga kesehatan, karena masyarakat mempunyai kendala pada biaya persalinan. Sebagai contoh di puskesmas karang pule persalinan oleh dukun menurun yang semula sebelum adanya jampersal 6% sekarang menjadi 2% persalinan oleh dukun bayi.
53

Kepesertaan tetap mengacu pada juknis Jampersal th 2012 , orang yang tidak mampu tetapi tidak punya kartu Jamkesmas. Sasaran jampersal sudah terpenuhi untuk persyaratan klaim hanya pakai kartu identitas domisili. Kepesertaan sasaran bisa diakomodir, cukup pakai KTP suami, atau kartu pengenal lainnya atau kartu domisili dari kepala lingkungan atau Kartu Keluarga/Kartu pelajar/ kartu mahasiswa. Tidak dibedakan antar pelayanan persalinan dari bidan desa maupun BPS, hanya di pelayanan ANC, K1-K4 untuk BPS tidak mengharuskan memakai jasa ANC dengan Jampersal. Di Kota Mataram pencairan klaim tidak ada potongan sesenpun (100%). Alur pencairan setelah dari Kas Daerah ke Dinkes Kota Mataram kemudian ke puskesmas sesuai klaim. Di Kota Mataram besaran tarif Persalinan berdasrkan Perda lebih kecil dari tarif Jampersal.

5.2.2.4.

Kabupaten Lombok Tengah Di Kabupaten Lombok Tengah Peraturan Bupati berupa kebijakan untuk

penurunan angka kematian ibu dan bayi yaitu “AKI No” yang berlaku sejak 2009, sebelumnya sejak tahun 2003 Provinsi NTB pembiayaan persalinan berlaku gratis dan sejak tahun 2011 Jampersal di berlakukan di NTB.
“..namun demikian penurunan AKI mengalami fluktuatif, banyak faktor yang mempengaruhi antara lain sumberdaya manusia, biaya dan faktor lainnya. Sejak tahun 2003 persalinan gratis berlangsung, justru nampak besar dampaknya pada turunnya angka kematian bayi yaitu tahun 2004 adalah 500/1000 KH dan tahun 2011 menjadi 141/ 1000 KH..” ( Kadinkes Lombok Tengah).

Dalam pelaksanaan Jampersal Lombok Tengah mengacu pada juknis Pusat, selain itu juga membuat Juknis penunjang yang menyangkut jasa yaitu rincian tarif. Sedangkan dukun juga mendapat bagian dalam jampersal dengan dibuatkan SK dukun untuk mengeluarkannya pembiayaan tersebut. BPS belum dilibatkan dalam pelayanan Jampersal, sehingga belum terjalin PKS antara Bidan Praktek Swasta (BPS) dengan Dinas kesehatan. Sementara ini Dinkes masih tersita dengan penyelesaian masalah keuangan terkait Jampersal yang cukup rumit. Selain itu ada ketakutan terjadi double claim jika BPS dilibatkan dalam

54

paling tidak di tiap kelurahan sudah ada 1 BPS. swasta. Jampersal memudahkan akses dari segi pembiayaan. sedangkan transport bidan diambilkan dari dana BOK. Implementasi Program Jampersal di tingkat puskesmas adalah dengan penandatanganan informed consent yang dibuat oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung oleh peserta Jampersal yang di dalamnya menyatakan: 1. Bahwa saya akan bersedia menerima pelayanan jaminan persalinan yang mengacu pada standar pelayanan kesehatan ibu dan anak sesuai program Jampersal. Bahwa untuk kehamilan dan persalinan ini. 55 .2.2. saya benar-benar belum memiliki jaminan persalinan dari badan asuransi pemerintah. dan masyarakat atau jaminan pemeliharaan kesehatan lainnya. 2. Di Kota Bandung Kebijakan Jampersal untuk Pelayanan harus dilakukan oleh tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. Sedangkan untuk bidan Puskesmas bisa melakukan PKS ketika melakukan praktek di luar jam kerja di puskesmas. jika tidak mempunyai persyaratan tersebut bisa menggunakan surat keterangan domisili. Untuk Jasa bidan memanfaatkan pembiayaan Jampersal. Kota Bandung Kebijakan Jampersal dalam rangka mencapai target MDGs untuk turunkan AKI dan AKB. Bahwa saya bersedia mendapatkan pelayanan pada fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjutan (Rumah Sakit) di kelas III yang memiliki perjanjian kerja sama (PKS) dengan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kota Bandung. dengan mengikuti petunjuk teknis yang berlaku. Bidan Praktek Swasta / mandiri sudah banyak yang lakukan PKS.5. 5.Jampersal. 4. 3. Persyaratan pasien memanfaatkan Jampersal adalah mempunyai KTP dan KK. Bahwa saya bersedia menggunakan kontasepsi pasca persalinan. Untuk pemberi pelayanan kesehatan dilakukan PKS antara bidan praktek swasta dengan Dinas kesehatan.

Dinas Kesehatan membuat protap yang merupakan alur pembayaran klaim jampersal. maka pemerintah Kota Bandung melakukan pembagian zona rujukan. karena dana masih di kas daerah sejak tahun 2011.5. Klaim untuk BPS setiap bulan cair dan tepat waktu. yang sudah diberikan adalah obat.2.2. Sehingga di Puskesmes belum ada pengembalian dana klaim. Supaya tidak terjadi penumpukan pasien di rumah sakit tertentu. Form tersebut dibuat untuk menghindari permasalahan yan disebabkan berkas menumpuk. Dengan adanya protap adalah 56 . jadi uang yang diterima oleh puskesmas dikembalikan lagi ke kas daerah. jumlah yang diperbaiki. Pemerintah menyediakan obat dan bahan medis habis pakai bagi setiap puskesmas. Paket pelayanan Jampersal memberikan pelayanan berupa pemeriksaan kehamilan sebanyak empat kali. sesuai dengan mekanisme keuangan daerah yang berlaku. Bahwa saya bersedia mematuhi amanat persalinan yang diberikan oleh pemberi layanan Pemerintah Kota Bandung tidak membuat suatu aturan khusus terkait keuangan Jampersal. pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. Sedangkan di puskesmas dana Jampersal belum cair. Kabupaten Bogor Dalam pelaksanaan Jampersal. dan bahan habis pakai. belum diterbitkan Perda atau SK di kab. jumlah yang di verifikasi. Dalam alur tersebut dijelaskan secara rinci tentang berapa puskesmas mengklaim ke Dinas kesehatan per wilayah. Jadi akan mempermudah masyarakat dalam melakukan rujukan pasien Jampersal. IBI sangat mendukung kegiatan sosialisasi Jampersal. kabupaten Bogor mengacu kepada petunjuk Teknis yang ada. Ada dukungan BKKBN berupa alat kontrasepsi. Bogor.6. pemeriksaan nifas dan bayi baru lahir sebanyak empat kali dan pelayanan KB. 6. karena dilakukan sesuai dengan domisili pasien. 5. Bahwa saya tidak akan menyalahgunakan jaminan persalinan ini dengan tindakan yang memungkinkan duplikasi pembiayaannya. dan jumlah yang harus dibayar.

Syarat klaim adalah fotokopi KTP. Protap tersebut. kota Bogor. dan email. didukung dengan SK Walikota dan SK Kepala Dinas. Dinas mempunyai 18 RS (termasuk RS perbatasan). Pengaduan masalah kesehatan dapat online. Untuk jasa medis. tetapi bidan PKS yang ada hanya 1. atau lewat Koran. Ada kebijakan khusus dari Kadinkes untuk bidan puskesmas diluar jam dinas bisa melakukan PKS. Permasalahan kepesertaan di kota Ambon adalah penduduk banyak yang tidak mempunyai KTP atau identitas lain. partograf dan catatan nifas. kendala yang ada adalah prasyarat jenjang pendidikan yang harus D-III. seperti Tangerang. jenjang pendidikannya masih DI dan untuk sekolah lagi mereka merasa keberatan masalah dana untuk sekolah. dalam map bukti fisik ada rekapan tersebut dan verifikator mencocokan antara rekapan dan bukti fisik yang tersedia. Paket pelayanan sudah sesuai dengan juknis.2. SMS langsung ke Kepala Dina. Dukungan pembiayaan Daerah adalah Jamkesda. namun diantara 18 RS tersebut.Dalam mengurus Surat Ijin praktek. Persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis. 57 .7. bersalin dan nifas yang memiliki KTP atau kartu domisili. padahal rata-rata bidan di Kota Ambon. Bupati bahkan anggota dewan juga memfasilitasi. Pelaksanaan mengikuti juknis. catatan pelayanan ANC. dll.untuk mempercepat realisasi pembayaran klaim Jampersal. Untuk tahun ini Pemda menganggarkan 76 milyar untuk Jamkesda. masih ada RS yang tidak ada MOU dengan Jamkesmas sehingga memakai Jamkesda. Kepesertaan adalah ibu hamil. Dinas kesehatan Kota Ambon mengeluarkan kebijakan terkait pengeluarkan Surat Ijin Praktek Bidan untuk mengatasi kekurangan tenaga bidan BPS yang PKS. ada kebijakan dan aturan bahwa harus dipotong untuk PAD sebesar 15 % dan biaya administrasi 10 %. Dinas bekerjasama dengan RS perbatasan. via SMS. 5. disosialisasikan kepada puskesmas dan juga bidan dan BPS. hal ini terjadi karena adanya kendala dalam mengurus Surat Ijin Praktek.2. Kota Ambon Dalam pelaksaaan kebijakan Jampersal Kota Ambon.

2. Padahal sebelumnya dana setelah klaim apling lambat 2 mgg sudah bisa cair. Tidak ada penerbitan kebijakan atau aturan baru terkait Jampersal. Untuk dukungan dalam pembiayaan dari pemerintah daerah terkait Jampersal tidak ada. Kepulauan Aru adalah daerah kepulauan. Hal ini menyebabkan dana menjadi tersedat dan belum cair. Kabupaten Kepulauan Aru Jampersal di Kab. dan dalam proses klaim dengan mengatasnamakan bidan. momen tersebut juga digunakan untuk melakukan pelayanan di masyarakat. Dana setelah diklaim untuk bidan puskesmas 20% masuk kasda sedangkan 80% lagsung ke puskesmas (bidan) tanpa masuk ke Kasda terlebih dahulu. tapi karena kondisi di Kab. 5.8. Tapi kemudian hal ini menjadi temuan sehingga mulai saat ini dana setelah klaim masuk kasda dahulu. Untuk kunjungan ke dusun petugas menggunakan dana operasional puskesmas atau jika kegiatan puskesmas keliling. pelayanan Jampersal adalah petugas mendatangi masyarakat untuk memberikan pelayanan. Di sini jarang sekali orang datang untuk periksa kesehatan dalam hal ini kehamilan di fasilitas kesehatan kalau bukan di daerah perkotaan.Pemerintah Daerah tidak mempersulit dalam prosentase besaran klaim Jampersal yaitu 20% Kasda dan 80% jasa pelayanan.2. bahkan setelah ada dana tambahan dari pusat (dana BOK). Kepulauan Aru dalam pelaksanaannya lancar dan tidak ada masalah karena semuanya menerima kebijakan ini. Seharusnya Jampersal adalah pelayanan diberikan oleh petugas kesehatan di fasilitas kesehatan. Selama Jampersal 2011 sampai awal 2012 klaim bidan puskesmas cukup lancar. justru dana operasional dari pemerintah daerah dikurangi. Pelaksanaan Jampersal sejak 2011. perawat juga melayani pemeriksaan kehamilan dan menolong persalinan dengan memanfaatkan Jampersal. Di Kepulauan Aru karena keterbatasan jumlah bidan. Semuanya mengacu pada petunjuk teknis dari Kementerian Kesehatan. Hal ini dilakukan melalui kesepakatan. 58 .

memerlukan biaya yang cukup tinggi untuk transportasi sehingga untuk pembiayaannya dari dana operasional puskesmas dan keluarga ibu yang bersangkutan. Masalahnya. Di Kab. sehingga pasien dapat diterima di rumah sakit dengan memanfaatkan Jampersal. kecamatan Pulau-pulau Aru ada kasus kematian ibu. KTP atau surat keterangan domisili dan ANC harus empat kali untuk bisa klaim pelayanan ANC. Sekarang di tahun 2012 ini mulai ditempatkan tenaga bidan honorer. di desa Ujir. “. Kep. Sisanya tidak karena memang pada waktu itu tidak ada tenaga bidannya.beberapa bulan kemaren. terutama mereka yang berada di pedalaman. Kebijakan Rumah sakit sering menerima pasien Jampersal yang tidak membawa rujukan dengan alasan kemanusiaan. Pemanfaatan dana jampersal pada tahun lalu bisa dibilang rendah.. Bahkan seringkali keluarga yang membiayai transport menuju ke Dobo. Sulit dan mahalnya biaya transportasi untuk merujuk seringkali menyebabkan kematian Ibu. Jika terjadi penolakan maka Dinas dan Puskesmas akan memfasilitasi. Peserta Jampersal adalah semua ibu hamil dan melahirkan. hanya sembilan puskesmas yang memanfaatkan dana jampersal. Karena dari 22 puskesmas yang ada. Jika ada kasus rujukan dari pulau di luar Dobo. Persyaratan yang diperlukan untuk mendapatkan pelayanan jampersal hanya KTP. Ini tidak tertolong karena tidak ada transportasi yang mengantar ibu tersebut ke Puskesmas atau RS yang terdapat di Dobo. 59 . baik yang kaya maupun yang miskin.. Syarat klaim tersebut adalah partograf. Untuk mengatasi masalah tersebut dan agar masyarakat dapat memperoleh pelayanan maka digunakan keterangan domisili. tidak semua masyarakat punya KTP. buku KIA. Kab. padahal yang memberikan pelayanan jampersal kan seorang bidan.Untuk mendapatkan pelayanan Jampersal tidak ada masalah karena semua masyarakat dapat dilayani tanpa ada syarat tertentu meskipun penduduk dari luar wilayah.” (RS. Kepulauan Aru belum ada praktek swasta yang mengajukan klaim Jampersal. Aru). RS tidak pernah menolak pasien yang datang.

puskesmas poned.000.2. Tenaga kesehatan pemberi layanan Jampersal di tingkat dasar adalah bidan di puskesmas. Kepesertaan adalah ibu hamil. Paket pelayanan untuk Jaminan persalinan berlaku sesuai petunjuk teknis dari pusat.000.per hari. dana APBN dan APBD dialokasikan untuk melaksanakan pembangunan yang berkeadilan dan pro rakyat..35. Sedangkan dana yang kembali ke puskesmas setalah dipotong BHP (bahan habis pakai) sebesar Rp. bidan desa. 55. Untuk persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.2.9. Untuk pelaksanaan Jampersal di Kabupaten Wakatobi hanya berdasarkan petunjuk teknis yang sudah dikeluarkan oleh Kementerian 60 .5. uang makan Rp. Tidak ada Bidan Praktek Swasta (BPS) dan rumah sakit swasta yang melakukan “PKS” dengan Dinas kesehatan.dan potong pajak 5% -15% tergantung golongan. Tarif Bahteramas untuk persalinan adalah 250. 3) pemberian bantuan keuangan pada pemerintah desa dan kelurahan. Pelaksanaan mengikuti juknis dan mengacu Perwali retribusi yang sudah berlaku.10. Persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis. Jampersal melayani peserta dari wilayah diluar Kendari (portabilitas).dan perawatan bayi Rp. Kota Kendari Dalam pelaksanaan kebijakan Jampersal Kota kendari tidak mengeluarkan kebijakan khusus.2.000. Terdapat pembiayaan BAHTERAMAS (Bangun Kesejahteraan Masyarakat) yang didukung 3 (tiga) pilar utama. Rp.2. 5.000. 50. Tarif Jampersal di Kota kendari sesuai juknis.. 2) pembebasan biaya pengobatan dan. Pelayanan rujukan dilakukan “PKS” RSUD Provinsi dan RSUD Kota.. Kabupaten Wakatobi Di Kabupaten Wakatobi Peraturan Bupati yang mendukung pelaksanaan Jampersal belum ada. Dengan demikian . bersalin dan nifas yang memiliki KTP atau kartu domisili. yaitu 1) pembebasan biaya operasional pendidikan.-. sedangkan ANC gratis.

karena syarat untuk mendapatkan pelayanan Jampersal adalah memiliki KTP. di kabupaten Wakatobi sudah dilaksanakan pelayanan kesehatan gratis dengan pembiayaan Jamkesda dan Jamkesmas. Kepesertaan sesuai juknis. Verifikasi dilakukan disesuaikan dengan ketentuan dan standar substansinya. karena selama ini tidak ada pos khusus yang digunakan untuk sosialisasi Jampersal. Sebelum ada program Jampersal. Selama ini dinas tidak tahu dengan pasti biaya rujukan itu berasal dari mana karena yang melaksanakan adalah puskesmas. artinya untuk satu orang ibu klaim langsung secara keseluruhan mulai dari ANC sampai dengan PNC. Di Kabupaten Wakatobi klaim dilakukan per paket. Untuk beberapa kasus rujukan pasien Jampersal juga sudah ditangani dengan baik. Selain itu bagi PNS juga sudah disediakan ASKES. Sedangkan untuk pengelola Jampersal tingkat Kabupaten. Salah satunya adalah dengan menaikkan anggaran untuk kemitraan dukun dan bidan dengan mengalokasikan dana khusus bagi dukun yang mau bekerja sama dengan bidan. Bupati menerbitkan Surat Keputusan untuk Pengelola Jampersal. Jaminan persalinan sudah dilaksanakan dengan baik. 61 . Selama ini kepala dinas secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program Jampersal. Dana APBD juga dialokasikan untuk pelaksanaan sosialisasi Jampersal. Pemerintah daerah sangat intens mendukung kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak untuk tahun 2013. Selain itu pihak pemerintah daerah membantu masyarakat dalam membuat surat keterangan domisili bagi masyarakat yang tidak atau belum memiliki KTP. yang bisa juga digunakan untuk membiayai persalinan.Kesehatan. Rujukan memerlukan biaya yang besar karena wilayah Wakatobi adalah kepulauan. Dukungan pemerintah daerah dalam pelaksanaan Jampersal sangat besar. terlebih dalam kegiatan sosialisasi program Jampersal ke stake holder yang ada di bawah koordinasi dinas kesehatan dan kepada masyarakat. Pembiayaan Jamkesda didukung oleh APBD.

tapi setelah ada pembiayaan Jampersal. Pelaksana layanan dasar adalah bidan puskesmas dan bidan praktek swasta yang juga sudah banyak melakukan PKS dengan Dinas kesehatan. 62 . Sebelum ada Jampersal untuk persalinan Jamkesda sebesar Rp. kecuali untuk bahan habis pakai jumlahnya terbatas Persyaratan untuk klaim jampersal adalah Kartu identitas ( KTP. buku KIA untuk kalim Antenatal care (ANC) dan ditambah partograf untuk persalinan.. Belum ada Peraturan Daerah terkait Jampersal.2. yang mana tanggal pelayanan yang bisa diklaim disesuaikan dengan standar waktunya. maka pembiayaan persalinan dengan Jamkesda digantikan dengan pembiayaan Jampersal. saat penelitian berlangsung Peraturan Walikota sedang dilakukan penyusunannya.500.Misalnya untuk ANC berlaku konsep 1-1-2.000. 5. terutama untuk membiayai pasien yang tidak bisa membayar sama sekali atau setengah miskin. Dalam mekanisme klaim di Balikpapan sesuai dengan petunjuk teknis yaitu ketika klaim sudah cair dan akan disetor kembali ke Kasda tapi belum dilaksanakan penarikan dana kembali karena Perwali masih dalam proses sehingga sampai saat penelitian dilaksanakan besaran Jasa pelayanan untuk bidan puskesmas belum pernah dibicarakan. Untuk merujuk ke RS ditambahkan surat rujukan dari puskesmas. Untuk Obat-obatan fasilitas puskesmas tidak ada masalah dalam ketersediaan obatobatan. Kebijakan Jampersal ternyata cukup membantu provider pemberi layanan. Untuk rujukan ke RS transport gratis merupakan fasilitas dari pemerintah daerah.2.11. Kota Balikpapan Implementasi kebijakan Jampersal di Kota Balikpapan dilaksanakan sesuai dengan petunjuk teknis. surat domisili). Untuk proses klain sejauh ini tidak ada masalah.

12.2.5..” (Dinas kesehatan.2. di kabupaten Paser pelayanan persalinan adalah gratis. Besaran tarif jampersal sesuai Petunjuk teknis yang berlaku. sehingga hanya sedikit yang memakai Jampersal. bersalin dan ibu nifas yang mempunyai KTP atau Kartu keluarga. Kab. sehingga dengan adanya kebijakan Jampersal tidak sejalan dengan peraturan daerah. Pemberi Layanan Jampersal di pelayanan dasar adalah bidan puskesmas dan bidan desa.2. Dalam pelaksanaan Jampersal di pelayanan dasar untuk persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis. ini karena adanya perbedaan tarif..sampai sekarang belum ada peraturan bupati ataupun arahan dari Dinas Kesehatan tentang Juknis Jampersal. Hal ini menyebabkan Jampersal kurang berjalan dengan baik di Kabupaten Paser. pihak manajemen rumah sakit merasa belum pernah tersosialisasi Jampersal secara langsung. dimana tidak ada mata anggaran untuk jasa persalinan. Sebelum kebijakan Jampersal dilaksanakan. terkadang kurang tepat sasaran. “. Dengan BPS tidak ada MoU. Sedangkan untuk bidan praktek swasta belum ada yang melakukan “PKS” dengan Dinas kesehatan. Namun pada tahun 2012 belum ada klaim Jampersal yang cair karena menunggu terbitnya Peraturan Daerah. Kabupaten Paser Di Kabupaten Paser sejak Jampersal berlangsung tahun 2011 sampai saat penelitian belum diterbitkan Peraturan daerah atau Peraturan Bupati . Rumah sakit belum melaksanakan Jampersal. Kota Batam Kebijakan jampersal pada pelayanan persalinan baik.. Kepesertaan Jampersal adalah ibu hamil. karena tidak ada pembatasan keperuntukan baik orang miskin dan kaya dapat memakai 63 . 5. hanya dalam penyaringan di salahgunakan.13. Paser). tahun ini sedang di proses pembuatan Peraturan daerah.2. Ada kendala dalam pelaksanaan Jampersal karena ada pengalaman terdapatnya “temuan” oleh BPK dalam pengelolaan anggaran BOK pada tahun sebelumnya yang menyebabkan Kepala Dinas ekstra hati-hati dalam menerima Jampersal.

persyaratan untuk mendapatkan surat ijin praktek adalah harus mempunyai rekomendasi dari IBI. paspor. 64 .500. Pencapaian MDGs baru menggaung satu tahun sekarang. Saat ini terdapat lebih dari 90 bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan untuk program Jampersal. Dalam implementasi Jampersal di kota Batam awalnya tersendat karena klaim hanya Rp. Dan dana Jampersal setelah masuk ke kas negara tidak dapat ditarik kembali dikarenakan tidak adanya mata anggaran untuk penyetoran dan penarikan. Hal ini karena IBI mensyaratkan bidan PKS harus punya ijin praktek.. SIM. Saat ini di Batam terdapat sekitar 400 bidan tapi tidak semuanya mempunyai ijin praktek sehingga tidak dapat PKS. Dengan demikian dana Jampersal untuk bidan di puskesmas tidak dapat dibayarkan kepada pelaksana Jampersal di puskesmas.Untuk mengatasi masalah ini mulai tahun 2013 diterbitkan Peraturan Daerah yang mengatur tarif pelayanan dasar.Jampersal.. Kebijakan Jampersal di Kota Batam untuk persalinan dilakukan oleh Nakes di fasilitas kesehatan dan terdapat Perwali untuk Jampersal yang diterbit sejak tahun 2011. mulai th 2011. sehingga dengan adanya Perda tersebut pada tahun 2013 diharapkan dana Jampersal untuk bidan puskesmas dan jaringannya bisa di manfaatkan sesuai dengan aturan yang ada. Di Kota Batam untuk pelayanan kesehatan dasar berlaku gratis. tetapi dengan kenaikan tarif menjadi Rp. Saat ini Pemerintah daerah mengalokasikan insentif untuk tenaga kesehatan berupa upah pelayanan Kesehatan (UPK). Kepersertaan pasien jampersal tidak menjadi hambatan yaitu ibu hamil yang tidak punya jaminan dan punya identitas diri berupa KTP.350. Bidan BPS yang PKS menjadi bertambah dengan cepat.yang dianggap terlalu rendah. Kebijakan untuk provider pelaksana Jampersal adalah Bidan desa/puskesmas di luar jam Dinas jika sudah mempunyai ijin praktek dapat melakukan MOU dengan Dinkes. Kebijakan Jampersal dalam pelaksanaan di lapangan dan administrasi mengikuti sistem yang sesuai petunjuk teknis.ditambah empat kali pemeriksaan kehamilan. surat domisili oleh RT/RW.000.000.

14. baru bisa diklaim/dibayarkan Jampersal dengan rincian yang disepakati yaitu sebesar 100 ribu untuk jasa dukun dan 400 ribu jasa pelayanan bidan. Pada tahun 2011 bidan yang belum PKS dengan Dinas Kesehatan juga dapat melakukan kemitraan dengan dukun. Kebijakan ini dirasakan cukup memberatkan untuk bidan. Tentu saja hal ini membuat bidan menjadi tidak nyaman dan berisiko untuk menjadi temuan. kemitraan dukun dilaksanakan di dua puskesmas tersebut juga dilakukan dengan ketentuan ketika ibu bersalin adalah rujukan dukun maka wajib ada bidan dalam melakukan pelayanan persalinan. klaim Jampersal sampai saat penelitian dilakukan belum dapat dicairkan karena terdapat Aturan Daerah yang tidak memungkinkan untuk pencairan dana Jampersal. sehingga beberapa bidan di puskesmas termasuk di puskesmas pulau Galang tidak dapat melakukan PKS dengan Dinas kesehatan. tapi tahun 2012 kemitraan hanya bisa dilakukan oleh bidan PKS saja.Untuk mendapatkan rekomendasi tersebut bidan harus mengikuti pelatihan APN dan sebagai anggota IBI aktif selama 1 (satu) tahun. Hal ini disebabkan Di Kabupaten Natuna sejak Tahun 2007 berlaku peraturan bupati untuk pertolongan persalinan 65 . Sehingga terjadi pengklaim Jampersal beberapa bidan di atas namakan satu bidan yang PKS. pembiayaan pelayanan dapat di klaim dengan Jampersal. Seperti diketahui bidan puskesmas di Batam.2. 5. Penanganan keluhan pasien khususnya untuk Jamkesmas dan Jampersal dilakukan di Kota Batam sudah dilakukan melalui tim Jamkesmas di Dinas Kesehatan. Untuk puskesmas yang diwilayahnya masih ada dukun seperti puskesmas Bulang dan Galang terdapat program kemitraan.2. Pada tahun 2011 ketika program Jampersal dicanangkan. Kabupaten kepulauan Natuna Kabupaten Natuna adalah satu-satunya kabupaten yang dalam penelitian ini tidak memanfaatkan pembiayaan Jampersal. Kebijakan Dinas kesehatan. puskesmas di pulau disediakan rumah tunggu untuk persalinana yang letaknya didekat rumah bidan.

66 . tetapi mereka tidak bisa menggunakan haknya karena tidak ada fasilitas TNI/Polri di Natuna. Hal ini disebabkan jika Kabupaten Natuna akan memanfaatkan Jampersal maka harus melakukan revisi Peraturan Bupati tersebut. Ketika terdapat peraturan Menteri Kesehatan untuk Jaminan Persalinan Dinas Kesehatan kabupaten Natuna melakukan konsultasi dengan Kemenkes (Pusat). Jamkesda sudah mencover seluruh pelayanan untuk kesehatan ibu dan bayi. sesuai dengan kemampuan membayar pasien. maka RS mengambil kebijakan untuk memotong biaya pelayanan RS. 5) Jasa Pelayanan. Potongan bervariasi. Kebijakan khusus RS terkait pelayanan. Peraturan tentang Jamkesda meliputi 1) Peraturan daerah tentang Jamkesda. 4) MOU antara Dinas Kesehatan dan RS. sedangkan saat ini atas instruksi propinsi Jamkesda harus menggunakan tarif INA CBGs. setiap bulan dipotong 3%. 3) Perbub/SK Bupati untuk insentif petugas kesehatan RS. SK Direktur. 2) Perbub untuk tarif di RS. yaitu untuk anggota TNI/Polri. sedangkan mereka bukan peserta Askes.yaitu Jamkesda Kabupaten Natuna. dari hasil konsultasi dikemukan bahwa jika Daerah mempunyai Pembiayaan untuk persalinan dapat tidak memanfaatkan Jampersal sehingga diputuskan Kabupaten Natuna tidak memanfaatkan Jampersal. yaitu untuk tarif Perda berbeda dengan tarif INA CBGs. Karena mereka juga abdi masyarakat. potongan yang terbesar sampai 50%. Permasalahan saat ini adalah tarif untuk di rumah sakit. Sehingga masyarakat Natuna untuk pertolongan persalinan sudah dibiayai dengan Jamkesda. Sebenarnya Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna berkeinginan untuk memanfaatkan Jampersal. karena mereka tidak memiliki fasilitas kesehatan di Natuna. kecuali TNI/Polri yang suami/istrinya adalah petugas RS untuk biaya kesehatan gratis. sehingga tahun ini diusulkan untuk dilakukan revisi peraturan Bupati.

Anggaran pendukung dialokasikan dari bantuan dana dekonsentrasi propinsi yang diperuntukkan untuk pembiayaan operasional pembinaan Rumah Sakit Ponek kepada Puskesmas PONED. dalam mendukung program Jampersal belum dilakukan di semua kabupaten/kota. sedangkan 2+ adalah pelayanan gratis masyarakat dan tuntas penanganan kusta.3 AKSEPTABILITAS KABUPATEN/KOTA TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Akseptabilitas kabupaten/kota adalah penerimaan pemerintahan daerah. rumah sakit dan puskesmas dan jaringannya dalam pelaksanaan Jaminan persalinan. bebas bayi tidak terimunisasi lengkap. peralatan dan bahan habis pakai dll. 5 tahun 2011. Di Kabupaten Sampang sosialisasi Jampersal di kecamatan dilakukan melalui program Libas 2+ (5 Bebas yaitu. walaupun bentuk dukungan secara khusus misalnya dalam bentuk penyediaan sarana.1.sehingga dalam sosialisasinya Jampersal melibatkan dinas lintas sektor termasuk dinas 67 . Dukungan Manajemen. Dinas Kesehatan memiliki perjanjian/memorandum of understanding (MOU) dengan Rumah Sakit untuk pembinaan dari Rumah Sakit PONEK kepada Puskesmas PONED. Program ini merupakan program Bupati .5. sosialisasi dan kebijakan lokal yang mendukung Jampersal Di Kabupaten/Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal dengan bervariasi. tentang jasa Pelayanan dan kebijakan. Pemda tidak mengalokasikan secara khusus dari APBD.3. Komitmen Kabupaten Sampang untuk mendukung kebijakan Jampersal adalah dengan adanya Peraturan Daerah No. dukungan dalam sosialisasi dan adanya kebijakan lokal yang berlaku di wilyah kabupaten/kota. 2) bebas kematian bayi. Pembiayaan di tingkat Kabupaten. 3) bebas gizi buruk. 1) Bebas kematian ibu melahirkan. SDM. 4) Bebas TB. Bentuk penerimaan dapat berupa dukungan manajemen. 5.

kesehatan, walaupun ‘bungkusnya” adalah LIBAS bukan Jampersal secara langsung. Pemerintah Daerah Kota Blitar mendukung pelaksanaan Jampersal dengan diterbitkannya Perwali yang didalamnya berisi tentang kebijakan di Kota Blitar termasuk jasa pelayanan bagi petugas kesehatan. Dalam mendukung Jampersal dengan menambah jumlah bidan dalam rangka penurunan Angka Kematian Ibu. Selain itu dukungan pemda ditunjukkan dengan sarana untuk bersalin di puskesmas PONED. Dukungan yang diberikan oleh Pemerintah Kota Kota Bandung adalah dengan membagi wilayah rujukan ke dalam zona-zona tertentu, supaya tidak terjadi penumpukan pasien di satu rumah sakit saja. Selain itu, ada peningkatan jumlah rumah sakit yang bisa menjadi pusat rujukan bagi pasien dengan komplikasi.
“..RSUD Kota Bandung merupakan rujukan untuk wilayah Bandung Timur, di wilayahnya terdapat dua puskesmas PONED yaitu Puskesmas Cibiru dan Puskesmas Padasuka. Seperti diketahui sejak sebulan yang lalu di Kota Bandung di launching Sistem Kesehatan Kota Bandung dengan melibatkan seluruh saranan kesehatan di kota Bandung dibagi Zona (jejaring Rujukan)..“ (NN, RSUD Kota Bandung).

penambahan

Di Kota Mataram dukungan Pemerintah daerah dengan menyekolahkan bidan menjadi Bidan dan Perawat menjadi D3 dengan dukungan dana APBD. Selain itu dilakukan pelatihan bidan oleh SPOG ada empat puskesmas PONED yaitu Puskesmas Ampenan, Puskesmas Cakra dan Puskesmas Tanjung Karang. Obat dan BHP disediakan untuk bidan yg melakukan pelayanan di puskesmas dan Polindes dan terdapat dana khusus untuk operasional BHP.
“..kebutuhan obat dan BHP biasanya PKM menyediakan sendiri tapi juga ada yg dari dinkes. Penyediaannya dari dana yg berasal dari operasional PKM..” (FGD Bidan, Kota Mataram).

Di Kabupaten Wakatobi dukungan pemerintah daerah dalam pelaksanaan Jampersal sangat besar. Dengan adanya Jampersal, maka pemerintah daerah sangat intens mendukung kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak untuk tahun 2013. Salah satunya adalah dengan menaikkan anggaran untuk
68

kemitraan dukun dan bidan dengan mengalokasikan dana khusus bagi dukun yang mau bekerja sama dengan bidan. Di Wakatobi komitmen daerah terhadap pembiayaan Jampersal bagus. Selama ini daerah sudah menyiapkan dana pendamping, khususnya untuk membiayai tenaga kesehatan yang harus mendampingi pasien yang di rujuk. Kami biasanya merujuk ke Bau-bau karena disana sarananya lebih lengkap. Selain jampersal dan jamkesmas, kami punya bahtera mas dari propinsi untuk masyarakat miskin dan jamkesda kab. Dana ini yang kami gunakan untuk membiayai tenaga kesehatan pendamping pasien. Bupati Wakatobi punya perhatian khusus terhadap Jampersal dan kesehatan pada umumnya. Ini diwujudkan dengan dibangunnya ruang operasi yang semoga cepat selesai. Pemerintah kabupaten juga sudah lama menganggarkan kontrak untuk SPOG sebesar 25 juta setiap bulannya, tapi sayang tidak ada yang berminat sehingga akhirnya alokasi anggaran itu dihapus. Padahal juga disediakan rumah dinas dan kendaraan dinas. Pernah diupayakan kerjasama dengan SPOG di Kendari, perkunjungan akan dibiayai sebesar 4,5 juta,tetapi tidak berjalan juga. Saat ini Wakatobi untuk tenaga spesialis untuk kebidanan dan Kandungan adalah kontrak dengan Residen yang sedang mengambil pendidikan. Selama penelitian berlangsung selama satu minggu Tenaga dokter spesialis tidak dapat ditemui karena sedang berada di luar Provinsi. Itu kondisi yang ada. Untuk

mengatasi kekurangan tenaga, kami diminta membuat usulan tenaga dokter spesialis yaitu SPOG. Ini sudah ditindaklanjuti dengan meminta pada Badan Kepegawaian daerah (BKD) mengenai usulan tenaga tersebut, tetapi belum ada kabar sampai penelitian selesai dilaksanakan. Di Kota Batam pelayanan dasar gratis. Untuk tenaga kesehatan terdapat UPK (upah pelayanan Kesehatan) yaitu insentif di luar gaji berupa upah pelayanan kesehatan (UPK) dari Pemda yang jumlahnya cukup besar. Ini merupakan bentuk komitmen dari Pemda terhadap program kesehatan termasuk Jampersal.
69

Dari penelitian ini secara umum kabupaten/kota memberikan dukungan terhadap kebijakan Jampersal dengan melihat komitmen pengambil kebijakan dan pelaksana program Jampersal adalah baik, hal ini terlihat dengan adanya keinginan untuk mensukseskan program ini. Hal ini diperkuat dengan penelitian dari Armey Yudha tahun 2012 di Kabupaten Lebak yang menyatakan hal yang sama.

5.4.

AKSEPTABILITAS PROVIDER DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN. Dalam pelaksanaan Jaminan Persalinan di kabupaten/Kota peran

pemberi layanan sangat mempengaruhi

implementasi Jaminan Persalinan.

Adapun yang dimaksud pemberi layanan (provider) adalah dokter, bidan puskesmas, bidan desa, bidan praktek swasta dan bidan rumah sakit dan Dokter Kandungan dan Kebidanan (SPOG). Akseptabilitas/penerimaan provider terhadap Jampersal mempengaruhi keberhasilan dari tujuan Jampersal. Akseptabilitas disini adalah penerimaan provider terhadap Jampersal dengan menggali

persepsi, upaya yang dilakukan dalam mendukung kelancaran pelaksanaan Jampersal. Sosialisasi sangat berpengaruh terhadap penerimaan provider terhadap kebijakan Jampersal. Untuk mengetahui penerimaan Provider terhadap kebijakan Jampersal , maka akan dibahas sosialisasi yang dilakukan terhadap provider, peneriman terhadap paket layanan, penerimaan terhadap kepesertaan/sasaran,

pemanfaatan dan persyaratan klaim, Pelayanan.

besaran tarif pelayanan dan Jasa

70

Gambar 5.7 Diskusi Kelompok pada Bidan

5.4.1. Sosialisasi Jampersal di Puskesmas dan Rumah Sakit

Gambar 5.8 Bagan Sosialisasi Jampersal di Kabupaten / Kota

Menurut Nawawi (2009) terdapat banyak cara dalam mensosialisasikan kebijakan yaitu dengan mempublikasikan seremoni penandatangan naskah kebijakan publik, berita di media masa, seminar dan sarana lainnya seperti buklet, leaflet dan lain sebagainya.
71

Dalam sosialisasi Jampersal di kabupaten / kota terdapat pola yang hampir sama yaitu dimulai dengan kepala Dinas dan Pengelola Jampersal

kabupaten/kota mendapatkan sosialisasi di Dinas kesehatan Provinsi atau mendapat sosialisasi langsung dari Kemenkes RI (Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan). Materi yang di sosialisasikan adalah Juknis Jampersal tahun 2011. “..pada tahun 2011 pernah ada tiga orang dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang datang ke Pulau Kaledupa, sekalian kami minta untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat Pulau Kaledupa tentang Program Jampersal. Sebenarnya tiga orang datang ke Pulau Kaledupa bukan untuk melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan Program Jampersal.Pernah juga pihak Kemenkes mengundang seluruh kabupaten di Indonesia untuk mengevaluasi program Jamkesmas, Jampersal dan BOK di Bali. Dalam evaluasi itu juga sekalian disosialisasikan program Jampersal..” (Kadinkes, Kab Wakatobi).
“..awalnya dapat informasi Jampersal dari pemerintah provinsi yang membahas juknis Jampersal. Sosialiasi dari pusat kita dapat dari internet, ada berita-berita terbaru kami update dari internet kemudian kita ekspos dan kadang kita kirimkan ke bidan-bidan puskesmas..” (Kabid KIA, Kota Balikpapan). “..sosialisasi dengan spot iklan di RRI, itu inovasi dari kami dan mendapat penganggaran dari Propinsi. Penyuluhan di RRI setiap sabtu dimulai tahun 2012. Tahun 2011, sosialisasi dgn pertemuan lintas sektor, kita lanjutkan ke puskesmas..” (Kabid Yankes, Kota Ambon).

Dinas Kesehatan Kabupaten mensosialisasikan dengan mengundang kepala puskesmas dan Bidan koordinator,organisasi Profesi karena sosialisasi tidak ada dana khusus maka pelaksanaan di daerah tergantung Dinas kesehatan masing-masing, biasanya terintegrasi dengan kegiatan program lainnya. Materi sosialisasi pada umumnya adalah tentang petunjuk teknis Jampersal meliputi syarat pengguna Jampersal, paket pelayanan, persyaratan klaim dan, besaran tarif. Setiap kabupaten/kota untuk frekuensi dan kualitas sosialisasi sangat bervariasi dikarenakan tidak ada petunjuk dan anggaran khusus untuk program Jampersal, sehingga pelaksanaan terintegrasi atau dilakukan bersamaan dengan kegiatan program lain. Sosialisasi dilakukan oleh pengelola Jampersal Dinas kesehatan dengan mengumpulkan bidan, kepala puskesmas, bidan koordinasi, dan bendahara puskesmas. Secara umum sosialisasi untuk provider/pelaksana pelayanan Jampersal dirasakan kurang.
72

kader kesehatan. dukun. seharusnya ada kerja sama yang baik antara pemerintah dengan aparatur desa. Walaupun sosialisasi terhadap pemberi layanan (provider) sudah dilakukan. Di Kota Ambon. Materi sosialisasi tidak khusus tentang Jampersal masih secara umum tentang Jampersal. dukun dan Toma. fatayat atau aisiyah. “. kepala desa. Di beberapa kabupaten seperti Sampang sosialisasi oleh Puskesmas ditingkat kecamatan dengan mengundang camat. Sosialisasi pada bidan desa melalui pertemuan rutin bulanan oleh bidan koordinator. dinas kesehatan mengundang juga rumah sakit yang akan menjadi rujukan Jampersal.. Selain itu Rumah sakit mendapat sosialisasi langsung dari Pusat Pembiayaan Jaminan Kesehatan (P2JK) dengan mengundang Direktur RS atau pengelola Jamkesmas dan Jampersal. mulai dari kabupaten sampai desa. hal ini juga menjadi kendala dalam sosalisasi karena Dinas kesehatan kota tersebut merasa sosialisasi menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan Provinsi. Namun demikian di beberapa kabupaten/kota sosialisasi dirasakan masih kurang.Di puskesmas kepala puskesmas meneruskan sosialisasi. namun frekuensi dan kualitas sosialisasi masih dirasakan kurang.sosialisasi sudah jalan tapi belum sampai ke akar. Kota Balikpapan dan Kota Batam rumah sakit yang menjadi rujukan Jampersal dan menjalin perjanjian kerjasama adalah Rumah Sakit Provinsi. Kondisi ini menyebabkan komunikasi dan sosialisasi antara Dinas kesehatan Kabupaten/kota dan Rumah sakit Provinsi tersebut kurang lancar.. muslimat. dari hasil FGD banyak keluhan bidan tentang minimnya pengetahuan bidan terhadap program Jampersal. Untuk sosialisasi lintas sektoral dilakukan pada pertemuan atau rapat koordinasi di tingkat Dinas di kabupaten. PKK.” ( Kota Blitar) Dalam sosialisasi di kabupaten/kota. Sosialisasi juga dilakukan melalui organisasi masyarakat. kecamatan. biasanya kepala puskesmas melakukan sosialisasi melalui rapat rutin/minilokakarya di puskesmas. 73 . Selanjutnya bidan desa melakukan sosialisasi pada masyarakat. kepolisian. Bidan memanfaatkan klas ibu hamil sebagai sarana sosialisasi Jampersal yang cukup efektif pada sasaran.

. Karena keterbatasan sosialisasi terdapat provider di tingkat rumah sakit yang beranggapan bahwa pelayanan Jampersala hanya dilaksanakan di tingkat layanan dasar yaitu di puskesmas dan jaringannya serta bidan praktek swasta saja. 4) dukungan sarana. 5) kendala implementasi Jampersal. 7) Jangkauan Jampersal terhadap sasaran.. dilakukan oleh pihak humas kerjasama dengan kasi pelayanan ke puskesmas-puskesmas terutama untuk rujukan berjenjang. Khusus terhadap bidan dilakukan pengisian kuesioner dengan skala likert dengan self assement untuk mengetahui persepsi bidan terhadap Jampersal. pusat melaksakan acara evaluasi pelaksanaan Jamkesmas dan Jampersal 2011 serta rencana kebijakan Jamkesmas Jampersal 2012. Dari komposit pertanyaan bidan di peroleh persepsi bidan terhadap Jampersal sbb: 1) dukungan pada kebijuakan Jampersal. Pemberi Layanan di Fasilitas Kesehatan Dasar Dalam memberikan pelayanan kesehatan dasar di puskesmas. bidan puskesmas.. Persepsi bidan dibentuk dari beberapa pertanyaan yang dikompositkan. Jadi pada saat itu semua pengelola Jamkesmas Jampersal dari dinas dan rumah sakit seluruh Indonesia dikumpulkan. Waktu itu awal-awal juknis 2011. 2) dukungan Jampersal pada program KIA. 3) Sosialisasi Jampersal. 74 . “.2. Kab Sampang). Untuk penyuluhan di RS tdk dilakukan.” (RSUD. puskesmas PONED dan jaringannya serta BP swasta yang melayani pelayanan KIA.4. Dalam penelitian ini dilakukan wawancara mendalam dan FGD pada provider untuk mengetahui penerimaan terhadap Jampersal. 9) kepuasan terhadap reward (tahun 2012) yang tertuang pada gambar dibawah ini. 6) tugas sebagai penolong persalinan. Pada saat ini pihak pengelola belum memiliki Juknis 2012. bidan praktek swasta. bidan desa.untuk sosialisasi jampersal di RS. Kota Mataram).. Pada bulan November 2011 di Bali. pemberi layanan (provider) yang memegang peranan dalam pelayanan Jaminan Persalinan adalah dokter.” (Dinkes. Tapi kalau pusat datang langsung ke RS tidak ada.“. 8) Persepsi tentang merujk pasien dan. 5.untuk sosialisasi dari pusat hanya ada pada waktu pertemuan di propinsi.

4% responden bidan juga kurang memadai. Di puskesmas sosialisasi kebijakan Jampersal dan sosialisasi pada masyarakat menurut bidan masih kurang (60. program ini juga dinilai mampu memberi dukungan pada masyarakat yang kurang memiliki akses secara pembiayaan ke tenaga kesehatan. 94.6% bidan menyatakan setuju dan mendukung program Jampersal. Riset Evaluatif Implementasi Jampersal 2012 Dari hasil self assessment bidan terhadap kebijakan Jampersal.6%). Dalam menjalankan tugasnya bidan menghadapi kendala. budaya untuk bersalin di non nakes.Gambar 5. Persepsi bidan terhadap kendala meliputi kendala dalam meyakinkan masyarakat untuk memanfaatkan Jampersal.9 Persepsi Bidan Puskesmas terhadap Jaminan Persalinan N=736 Sumber : data self assessment bidan. Demikian pula sarana untuk menolong persalinan di puskesmas/polindes menurut 44. Selain itu 94.5% bidan menyatakan masih mempunyai kendala terhadap 75 .6% bidan menyatakan bahwa Jampersal mendukung program KIA. yaitu upaya penurunan AKI dan AKB. bidan menyatakan sebaiknya Jampersal dilanjutkan karena banyak bermanfaat untuk masyarakat miskin. Ternyata 35. Sosialisasi masih menjadi tanggung jawab dinas kesehatan. akses ke nakes karena kendala geografis dan masyarakat yang masih lebih senang bersalin dirumah.

1. Ini karena di beberapa daerah pemeriksaan kehamilan sebelum ada Jampersal kebijakan Daerah yang menggratiskan pembiayaan ANC di fasilitas pemerintah.” (Bidan Kab.2.3% bidan menyatakan senang dengan tugas yang menjadi tupoksinya yaitu menolong persalinan. Paket Layanan pemeriksaan Paket pelayanan pemeriksan kehamilan (ANC) adalah kehamilan (ANC) yang dibiayai oleh program ini mengacu pada buku Pedoman KIA.cuma gini pak. 76 . bisa tiap bulan. Persepsi bidan terhadap keterjangkauan (akses jarak) masyarakat terhadap Jampersal. Sampang).” (Bidan Kab. 1 kali pada triwulan kedua.5% bidan menyatakan senang menolong persalinan sendiri daripada merujuk ke layanan rujukan. Dengan demikian jika masyarakat melakukan ANC lebih dari frekuensi yang dibiayai Jampersal maka bidan tidak dapat mengklaimkan pelayanan tersebut. yang ditambah adalah pemberian tablet DHA. 1 kali pada triwulan pertama.. tapi lebih senang jika memberi pelayanan pengobatan karena menolong persalinan dianggap sangat berisiko. mungkin bisa ditambah menjadi 12 T. Bogor).6% bidan menyatakan baik.. didapatkan 85. b).4. dan program “Tempelkan Musik Mozart di perut Ibu. Selama ini paket pelayanan yang diberikan adalah 10 T. ANC itu kebanyakan ndak 4 kali pak.paket pelayanan yang diberikan program jampersal. 82.7 % bidan menyatakan yang memanfatkan Jampersal tidak hanya sasaran yang dekat dengan puskesmas/polindes saja tetapi juga yang jauh. ibu hamil diperiksa sebanyak 4 kali disertai konseling KB dengan frekuensi a).hal diatas 94. Namun demikian hasil penelitian ini dengan adanya Jampersal 81. malah kalau ada kasus sebulan bisa 2 kali. “. dimana selama hamil. Kesesuaian reward Jampersal dengan tugas yang dibebankan dan kepuasan adanya kepastian pembiayaan dengan adanya Jampersal. “. hasil penelitian 5.. namun beberapa bidan merasa kurang jika hanya empat kali saja ANC yang dibiayai oleh Jampersal. Namun namun paket pelayanannya mungkin bisa ditambah. secara umum bidan dapat menerima. Dua kali pada triwulan ketiga . untuk masalah ANC.. namun ya tergantung dari Kemenkes. c). sehingga masyarakat cenderung melakukan ANC pada tenaga kesehatan lebih dari 4 (empat) kali. sebenarnya sudah bagus.

Apabila hal tersebut diterapkan. Di kabupaten/kota secara umum cukup dan dapat di implementasikan. Seperti pernyataan informan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang berikut: “.Dalam salah satu FGD bidan di Lombok Tengah bidan bahkan tidak mengetahui bahwa paket pelayanan ANC dan PNC dapat di klaim. Pelaksanaannya misalnya di Kabupaten Sampang ada kebijakan Dinas Kesehatan. mungkin sejauh ada pelimpahan tugas bisa melakukan ini itu mungkin bisa dibijaksana. Sampang). bahwa kegawatdaruratan kebidanan dapat dilakukan tidak hanya di Puskesmas Poned tetapi juga di Puskesmas perawatan. Untuk ANC secara kuantitas frekuensi lebih dari 4 kali pemeriksaan.. misalnya manual plasenta. Kita kembalikan ke program. Kompetensi bidan. Untuk persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan dibeberapa kabupaten tidak dapat dilaksanakan dengan berbagai kondisi misalnya di kabupaten Kep. menurut juknis Jampersal dilakukan di Puskesmas PONED. Aru dan Sampang karena geografis sehingga masyarakat masih bersalin di rumah dengan ditolong oleh tenaga kesehatan. sehingga biaya untuk kelebihan hari dibebankan ke pasien Jampersal. tidak semua bisa diklaim. Untuk paket persalinan normal dalam petunjuk teknis dinyatakan dilakukan oleh nakes di fasilitas kesehatan dengan rawat inap minimal 1 (satu) hari . Kab. bisa melakukan tindakan selain itu. jadi syaratnya Puskesmas Perawatan saja. tapi ada beberapa kabupaten/kota misalnya seperti kota Balikpapan puskesmas menyatakan pelayanan persalinan satu hari kurang karena kebiasaan di daerah tersebut untuk persalinan lebih dari satu hari.bidan melaksanakan pelayanan. boleh mengklaim. untuk program itu seperti apa ? untuk puskesmas perawatan. Hal ini di karenakan di Loteng sebelum Jampersal sudah ada kebijakan kabupaten gratis untuk semua pelayanan kesehatan. tapi secara kualitas sesuai dengan waktu yang ditetapkan masih perlu dievaluasi lebih lanjut. maka hanya sedikit Puskesmas yang dapat melakukan karena terbatasnya Puskesmas PONED terutama di kabupaten. bahkan di Aru 77 . tapi kalau Poned terlalu jauh.. tetapi tidak bisa diklaimkan bukan wewenangnya. karena kebijakannnya di Puskesmas perawatan. dalam pelayanan Jampersal hanya persalinan saja yang dapat di klaim.” (Dinkes. Demikian pula dengan pelayanan kegawatdaruratan kebidanan.

transport dari BOK dibayar tdk boleh lebih dari 30 hari (ini kendalanya). Tatalaksana asuhan PNC merupakan pelayanan Ibu dan Bayi baru lahir sesuai dengan Buku Pedoman KIA.” (Bidan Kab.” (Kepala Puskesmas di Kota Balikpapan). “.” (Kepala Puskesmas di Kab. demikian juga di beberapa puskesmas dengan geografis cukup sulit seperti di Lombok Tengah..000. bayi baru lahir dan pelayanan KB pasca salin.000. sehingga dilakukan “jemput bola” dan pasien Jampersal dibawa ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan persalinan.. tapi jika lebih dari sehari maka pasien dikenakan biaya tambahan antara Rp.. Aru).. pelayanan bayi baru lahir.belum punya kesadaran untuk datang sendiri ke sarana kesehatan.PNC. Untuk transport kunjungan rumah tersebut di Lombok tengah di biayai dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). Pelayanan nifas diintegrasikan antara pelayanan ibu nifas.pada persalinan normal di puskesmas pasien dirawat antara 1 – 3 hari.. temuan BPK. pasien menghubungi bidan kemudian meminta supaya bidan mengangkut pasien ke sarana kesehatan dengan menggunakan motor atau mobil ambulan. padahal bs aja dlm sehari lebih dari 1 kunjungan/ KN 1 hari 3 kali (harus ada SPT dari kepala Puskesmas). Dari penelitian ini didapatkan bahwa di kabupaten/kota PNC dapat diimplementasikan. tapi ada beberapa masalah dalam pelaksanaannya sehingga menjadi temuan. mungkin merasa lebih enak di rumah.300. “.masyarakat disini lebih suka melahirkan di rumah. 150..untuk mengganti bahan habis pakai dan uang makan pasien.keterbatasan sarana dan tenaga kesehatan di puskesmas sehingga persalinan dilakukan di rumah. jika pasien dirawat sehari makan gratis sesuai paket Jampersal . dan pelayanan KB pasca salin. Mereka harus dijemput oleh bidan desa untuk bersalin ke sarana kesehatan. bahkan dengan adanya paket ini cakupan PNC meningkat. Pada beberapa daerah dengan geografis sulit seperti di kepulauan Aru dan Wakatobi pelayanan nifas dilakukan dengan kunjungan rumah oleh tenaga kesehatan. Wakatobi) Paket Pelayanan Nifas (PNC) adalah Pelayanan nifas sesuai standar yang dibiayai oleh program Jampersal pada ibu dan bayi baru lahir yang meliputi pelayanan ibu nifas... Wakatobi dimana ada komitmen untuk persalinan oleh nakes di fasilitas kesehatan. Kep. OH tdk boleh lebih. “. Berbeda dengan Kab. Kalau sudah mulai sakit.. Pelayanan bayi baru lahir dilakukan pada saat lahir. Lagian di puskesmas tidak ruangan yang. “. Jadi klo OH 78 .

Di Kota Bandung pelayanan Jampersal untuk KB dapat dilakukan paska placenta langsung pasang IUD tapi masih ada masyarakat yang memilih KB suntik saja. Sampang) Di Kota Kendari pelaksanaan KB paska persalinan belum dapat berjalan secara lancar karena masih adanya budaya di masyarakat yang belum mau ber KB sebelum 42 hari karena masa nifas dianggap belum perlu untuk menggunakan alat kontrasepsi. Untuk jenis pelayanan alat kontrasepsipun masih bervariasi ada yang sudah secara tegas berani menetapkan kontrasepsi mantap (IUD) misalnya seperti di Puskesmas Puter di Kota Bandung.” (Dinkes. bagaimana jika ternyata yang sudah terpakai ini sudah lebih dari Rp 100. Beberapa bidan juga mengeluhkan adanya masalah rujukan ini. “. tapi secara umum di kabupaten / kota pasien lebih memilih KB suntik sebagai alat kontrasepsi. Namun beberapa pasien menolak memakai Jampersal ketika diharuskan KB dengan IUD. bukan termasuk KB diluar itu.Jampersal di puskesmas puter setiap pasien yang menggunakan program harus menandatangai inform consent sampai menggunakan KB IUD. Ada beberapa kabupaten/kota yang menerapkan inform consent untuk pelayanan Jampersal sampai dengan pelayanan KB. Kab.000. Padahal klo KN harus dikunjungi. Untuk paket pelayanan KB belum semua kabupaten/kota menerapkan.” (kepala Puskesmas di Kota Bandung)..” (Bidan Kab Lombok Tengah).. Walaupun ada di tetapkan pengisian informed consent untuk yang akan memanfaatkan Jampersal agar menggunaan IUD paska persalinan. padahal penggantian Jampersal hanya Rp 100. terutama jika ada kasus. masyarakat memilih untuk melepas Jampersal untuk dapat memanfaatkan KB suntuk dengan pembiayaan sendiri seperti diutarakan oleh kepala Puskesmas Puter. pasien lebih baik membayar sendiri.000. sedangkan permasalahannya penyediaan alat kontrasepsi terbatas oleh BKKBN... 79 . Hal ini menyebabkan lepasnya kesempatan untuk mendapatkan akseptor KB paska persalinan.lebih dari 30 hari tidak dibayar.kita hanya membatasi KB pasca persalinan.. “.

neonatal (0-28 hari). Misalnya untuk sakit jiwa dia melahirkan ya pakai surat itu saja. “.program jampersal ini disambut baik. Aru)... tapi juga dapat dimanfaatkan sasaran mampu.. tidak saja pada proses melahirkan tapi sampai pada biaya pelayanan ke rumah sakit jika ada yang komplikasi. “.” (Bidan Kota Ambon). Salah satu syarat sasaran yang memanfaatkan Jampersal adalah belum memiliki Jaminan persalinan.menurut saya jampersal harusnya untuk masyarakat yang tidak mampu. Kota Balikpapan). Pemahaman masyarakat sekarang dengan adanya jampersal masyarakat merasa enak.beta maunya itu dibuat klasifikasi hanya diperuntukan anak pertama dan yang tidak masuk Askes saja. terutama bagi masyarakat miskin yang bebas dari biaya persalinan.” (dinkes. Biasanya langsung ke nakersos saja.4. Untuk yang terlantar dinas yang fasilitasi sama jamkesda. Supaya program KB berjalan dengan baik. 80 . 2).” (Bidan Kep. “.. Terkait sasaran Jampersal sebagian besar provider memasalahkan dengan tidak adanya pembatasan pada sasaran yang tidak mampu / miskin saja. nanti dia datang untuk dibuatkan surat terlantar. ibu nifas sampai dengan paska persalinan 42 hari dan 4). selain itu tidak adanya pembatasan jumlah anak sebagai sasaran Jampersal sebagian provider mengkhawatirkan akan menjadi berbenturan dengan program Keluarga Berencana. mau buat anak berapa juga tetap gratis. Jika ada pasien mampu maka wajib bayar.” (Bidan Kota Blitar). Batas waktu sampai dengan 28 hari pada bayi dan sampai dengan 42 hari pada ibu nifas adalah batas waktu pelayanan PNC dan tidak dimaksudkan sebagai batas waktu pemberian pelayanan yang tidak terkait langsung dengan proses persalinan dan atau pencegahan kematian ibu dan bayi karena suatu proses persalinan. ibu bersalin. Kepesertaan / sasaran Sasaran Jampersal adalah kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi untuk mencegah AKI dan AKB dari suatu proses persalinan. Tapi pada umumnya (sebagian provider) yang dilakukan wawancara mendalam dan FGD menerima program Jampersal dengan baik.kalau yang lalu ada yang tidak punya ktp sama sekali..5. 3).. Sasaran pengguna Jampersal adalah 1).. ibu hamil .. “.2.2.

Baru ketika mengetahui bahwa untuk memanfaatkan Jampersal harus memiliki kartu identitas yaitu KTP.. Lombok Tengah). 5.masalah Identitas ini (KTP/Kartu domisili) ini persoalan yang rumit dan menjengkelkan. Kartu Keluarga (kota Ambon). 81 . untungnya bpk raja/lurah mengenalnya jadi bisa dibuatkan surat domisili. Kartu pelajar (Kab. Menurut informan sebelumnya masyarakat merasa tidak berkepentingan untuk memiliki KTP.4. Lombok Tengah).. “. “.” ( Bidan Kota Ambon). paspor (Kab.Sebetulnya dari penjelasan diatas menunjukkan juga keterbatasan pemahaman bidan pada program Jaminan Persalinan terutama terhadap pelayanan KB yang merupakan satu paket dalam pelayanan PNC. tidak punya KK maka langsung menjadi pasien umum dan harus bayar. karena ada pasien ibu hamil datang ANC dengan jampersal tetapi tidak membawa KTP atau identitas lain utk persyaratan klaim. Tapi hampir seluruh kabupaten/kota lokasi penelitian mempermudah persyaratan dengan cukup sasaran membawa surat keterangan domisili. Dibeberapa Kabupaten kepemilikan KTP untuk sasaran menjadi masalah.2. Di kabupaten Kota persyaratan ini diimplementasikan bervariasi dengan tujuan memberi kemudahan pada sararan untuk memanfaatkan Jampersal. Surat Ijin Mengemudi (kab. tp sampai melahirkan belum juga mengurus.3. KTP tdk ada bs dengan domisili tetapi disyahkan oleh camat. Syarat dan Mekanisme Klaim Sasaran Jampersal dapat memanfaatkan Jampersal dengan syarat dapat menunjukkan kartu identitas berupa Kartu tanda penduduk (KTP).” (Bidan Kota Ambon).. KTP suami (Kota Blitar). kartu mahasiswa.jika ada pasien seng punya KTP (tdk punya KTP). masyarakat mulai merasa pentingnya untuk mempunyai kartu identitas. Batam). KK juga harus disyahkan camat. misalnya dengan memperbolehkan dengan hanya surat keterangan domisili. Kita sbg bidan yang mengurusnya sampai kita mencari ke rumahnya ternyata rumanya sudah tdk ada krn banjir.. karena masyarakat sering tidak mempunyai KTP.

10. namun ada beberapa daerah yang masih beranggapan bahwa dana Jampersal masuk dalam rekening Pemerintah Daerah sehingga sering menimbulkan polemik di daerah. Dalam petunjuk teknis Jampersal 2012 diterangkan bahwa besaran jasa medis yang dikembalikan pada fasilitas kesehatan minimal 75%. Yang kemudian akan dikembalikan pada fasilitas kesehatan sesuai dengan besaran yang diatur dalam Perbup atau Perwali.Menurut petunjuk teknis Jampersal di kabupaten/kota dana Jampersal di pelayanan kesehatan dasar disalurkan ke Rekening Dinas kesehatan kabupaten/kota. maka status dana menjadi pendapatan fasilitas kesehatan/puskesmas yang belum menerapkan BLUD (kebetulan puskesmas yang menjadi lokasi penelitian kebanyakan adalah non BLUD). Namun demikian pada kenyataannya tidak demikian. Dalam implementasi dilapangan secara umum kabupaten/kota melaksanakan alur dana seperti dalam petunjuk teknis. Adapun alur pembayaran klaim setelah disetor ke kas daerah digambarkan pada gambar 5. Setelah hasil verifikasi klaim dibayarkan sebagai penggantian pelayanan kesehatan. Setelah dana tersebut disalurkan Kementerian Kesehatan ke rekening Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab program (melalui SP2D). terdapat daerah yang lebih besar dari 75% tapi ada juga yang jauh lebih kecil dari ketentuan di petunjuk teknis. 82 . maka status dana tersebut berubah menjadi dana peserta Jamkesmas dan masyarakat penerima manfaat Jaminan Persalinan. Sehingga dana yang sudah di klaim setelah cair ke fasilitas kesehatan/ puskesmas akan disetorkan kembali seluruhnya pada kas daerah. terintegrasi (menjadi satu kesatuan) dengan dana Jamkesmas. Besarkecilnya jasa medis yang diembalikan tergantung pada komitmen atau aturan yang berlaku di daerah tersebut.

83 . Kab.. bukti kb dll. Dinas kesehatan sangat baik dalam membantu pencairan dana. “. Aru). sehingga kami tidak berani lagi mengeluarkan klaim jasa pelayanan jampersal..” (Pengelola Jampersal. partograf.bidan bisa menerima besaran jasa pelayanan.jasa pelayanan bidan harus melalui jalan yang cukup panjang untuk bisa dibayarkan. disimpan di Puskesmas.Gambar 5. Setelah itu direkap oleh pengelola Jampersal. dientry data soft ware Jampersal. “. setelah selesai diverifikasi. jika kuitansi sudah lengkap bendahara Jampersal membuatkan STSR (surat tanda setor retribusi) akhirnya disetor ke kas Daerah sebagai PAD.. Untuk persyaratan klaim berdasarkan nama pasien.. kelayakan.. tetapi hal tersebut menjadi temuan.” (Bidan Kota Blitar). pengisian teknis. sedangkan berkas klaim yang lain dibawa kembali ke Puskesmas yaitu buku KIA. identitas. Kab Paser). Kalau ada dana turun maka kami di puskesmas selalu diberi tahu bahwa dana jampersal sudah ada silahkan segera mengajukan klaim. berharap agar sistem klaim lebih di sederhanakan. Teman-teman bidan secara sukarela menanggung biaya perjalanan dan penginapan saya ke wanci (ibukota wakatobi) saat mengurus klaim. kami mengeluarkan klaim sekitar 40% karena program jampersal tidak melalui kas daerah.Kalau tahun yang lalu 2011. “.. Kami menerima dana jasa pelayanan penuh.” (Pengelola Jampersal. jenis tindakan dan besaran tarif. tidak ada potongan dari dinas kesehatan.10 Mekanisme Pembayaran klaim Jampersal di Pelayanan Dasar Di Kabupaten Sampang untuk proses klaim dimulai dengan verifikasi kelengkapan berkas .

Balikpapan antara lain adalah lamanya proses verifikasi di dinas kesehatan. Proses pengajuan klaim susah.” (Puskesmas. Klaim BPS harusnya bisa diambil di Puskesmas. Ada penggantian obat dan lainnya. Pengajuan klaim dengan per bulan membuat ribet dan membuat repot.dalam mekanisme klaim di Balikpapan ketika uang sudah cair dan akan disetor ke Kasda maka dilakukan penyobekkan karrcis sebanyak jumlah uang yang di klaim.. soalnya petugasnya tidak stand by. Hal ini disebabkan banyaknya berkas yang harus diverifikasi tetapi jumlah tenaga verifikator terbatas dan merangkap tugas lain. Kepala puskesmas keberatan karena tidak masuk akal 84 . Klaim bisa satu minggu aja. Biasanya lewat tanggal 20 baru turun gitu.000 untuk jasa. “. Persyaratan klaim susah karena ada yang tidak punya KTP. Untuk klaim itu dikirim sebelum tanggal 10 bulan selanjutnya.Puskesmas klaim ke DKK tapi uang tidak diterima puskesmas.. “..klaim untuk BPS tiap bulan cair dan tepat waktu. Untuk menanggulangi masalah ini kepala Dinas Kab. “. Di daerah uji coba penelitian Kab. “. Sampang melakukan percepatan dengan berkas yang harus diperbaiki akan dikembalikan pada puskesmas untuk perbaikan. Karena dengan keterbatasan tenaga verifikator di Dinkes sistem ini diharapkan klaim menjadi lebih cepat. kepala dinas kesehatan menetapkan verifikator di puskesmas. Mojokerto. Untuk persalinan itu hanya terima Rp 50. Hal ini disebabkan karena proses mekanisme keuangan daerah. Yang menjadi masalah adalah untuk pelayanan ANC karena biaya karcis untuk ANC menurut Perda Rp.. Kab.Masalah dalam pengklaiman dibeberapa daerah ditemukan misalnya di kota Ambon.. Kota Bandung).maka setiap ada ANC dilakukan penyobekan karcis 4..” (Dinas kesehatan. Jarak klaim sama pencairan tidak terlalu lama.. 5000.” (Kepala Dinas. Mojokerto) Proses pengembalian dana setelah dari kas daerah ke puskesmas juga sering sekali menjadi kendala lamanya uang cair ke provider.. tetapi berkas yang sudah ada di dinas Kesehatan tetap berjalan dan akan diganti setelah perbaikan sehingga proses tetap berjalan walaupun berkas ada perbaikan. Klaim untuk infus tidak diganti oleh Jampersal.adanya tenaga verifikator di puskesmas yaitu bidan koordinator sebagai pelaksananya sehingga diharapkan dengan adanya verifikator di puskesmas akan membantu verifikator di Dinas kesehatan di Dinkes dalam melaksanakan tugasnya. Dipotong untuk jasa lainnya tambah ppn. Kalau mau klaim harus telpon dulu. Tapi untuk jumlah riilnya tidak tahu karena diakumulasi. Kota Bandung).

4.. Untuk itu di beberapa kabupaten/kota seperti Batam dinas kesehatan untuk pelayanan Jampersal di layanan dasar mendorong BPS yang PKS diharapkan dapat memanfaatkan Jampersal. Untuk proses klaim dana Jampersal pada bidan BPS yang melakukan PKS dengan dinas kesehatan pada umumnya tidak ditemukan kendala dalam prosesnya.dengan frekuensi 4 (empat) kali dan tindakan pra rujukan Rp. Jika cair nanti besaran yang diusulkan dari Dinkes 75% untuk jaspel dan dana operasional di puskesmas (jika disetujui pemerintah kota). Lebih mudahnya proses klaim dan pencairan dana pada BPS dikarenakan tidak perlu melalui mekanisme keuangan daerah tapi langsung melalui dinas kesehatan.700. dimana terdapat persyaratan yang ditentukan oleh profesi yang harus dipenuhi..4.-. PNC Rp.000. “.000. 20. 200. 20.dalam pencatatan 1 orang melakukan ANC 4 kali dalam sehari. Besaran Tarif Pelayanan Dalam petunjuk teknis besaran tarif Jampersal tahun 2012 untuk ANC menjadi Rp.-)..” (Puskesmas.000.. Di Kabupaten/kota lokasi penelitian besaran tarif persalinan menurut sebagian besar provider di layanan dasar sudah cukup bagus sesuai dengan perda (rata-rata antara Rp.000 sampai dengan Rp...dengan frekuensi pemeriksaan 4 (empat) kali . Proses cairnya juga lebih cepat dan lancar dibandingkan bidan di puskesmas dan jaringannya yang non BLUD. Namun sayang sekali tidak banyak bidan BPS yang dapat memanfaatkannya dikarenakan terkendala dalam pengurusan PKS dikarenakan tidak dapat memenuhi persyaratan terutama dalam pengurusan surat ijin praktek. 5.500..000.2.” (Dinkes Kota Balikpapan).sampai saat ini jasa pelayanan Jampersal untuk bidan puskesmas untuk tahun 2012 belum ada yang cair. Kota Balikpapan). Besaran tarif pada bidan PKS pada umumnya diterima sesuai dengan petunjuk teknis yang berlaku. persalinan normal Rp. Tapi sampai saat ini belum ada penjelasan pasti dari Dinkes. 100. puskesmas akan mengikuti aturan tersebut. Walaupun di beberapa kabupaten/kota tarif Jampersal dibawah tarif yang 85 . Dari hasil penelitian didapatkan secara umum tidak ada masalah dengan besaran tarif untuk ANC.000.

000. 86 . “..sudah sesuai mulai dari ANC. kami menanganinya. maksudnya persalinan tanpa ada perdarahan.besaran tariff sudah cukup bagus sesuai dengan perda. dengan tarif bidan yang tinggi.000. tidak semua pasien dapat membayar sesuai dengan tarif tersebut bahkan beberapa pasien di gratiskan karena tidak mampu membayar.000. tapi ternyata dibayar cuma segitu. Alasan perlu dinaikkan tarif tersebut karena menurutnya ada biaya lain yang perlu dibayarkan ketika menolong persalinan misalnya biaya dukun untuk pasien yang merupakan rujukan dukun. memberi makan pada pengantar pasien selama pasien dirawat melahirkan. geografis dll ada yang mengusulkan untuk dilakukan regionalisasi pada tarif. tapi ternyata dibayar cuma sesuai dengan tariff di juknis. BHP dll. persalinan sampai PNC. Namun demikian menurut bidan dan ketua IBI (Ketua IBI Bandung) sebagai responden penelitian ini.menurut saya kalau persalinan normal.000 untuk persalinan oleh bidan. “. Untuk besaran tarif karena adanya variasi dari nilai fiskal daerah.. paket pelayanan sudah cukup. Misal kalau ada kasus perdarahan maupun manual plasenta.. Kota Batam). Sampang). Paser). karena di sini semua lebih mahal dibandingkan dengan di jawa. “. Bogor). krn BHP sendiri. kalo bisa sampe 700 rb. perda mengatur besaran persalinan oleh bidan sebesar Rp 350. maka bidan desa akan menerima 75% dari Rp 500.. Minta ditambah.karena membayar dukun.. Sebetulnya dengan adanya Jampersal bidan merasa ada kepastian dalam pendanaan dari setiap pasien yang memanfaatkannya dan dapat melakukan subsidi silang.” (Bidan kab.” (Puskesmas.” (Puskesmas. Bandung dll. Apalgi kalo di wilayah PKM galang ini wilayah kerjanya luas dan jauh2 jadi biaya tersebut juga sbg biaya transport bidan dalam menolong persalinan jika harus dipanggil ke rumah pasien.. dengan adanya paket jampersal untuk besaran tarif Rp 500. Batam. “. klo boleh dinaikkan sedikit dg tarif 750 rb disesuaikan dg tarif umum. jadi bidan hanya 400 rb.berlaku pada umumnya di wilayah tersebut terutama untuk BPS misalnya seperti di Balikpapan.keluhan bidan itu kurang sdh melayani pasien.” (Bidan Kab. untuk bahan habis pakai saja kami menghabiskan lebih dari 200. Hanya masalahnya tidak di semua kabupaten/kota klaim dapat cair dengan cepat dan lancar sehingga bidan harus mengeluarkan biaya yang cukup besar terlebih dahulu sebelum dana dapat dicairkan.. hanya saja tarifnya apa bisa ditingkatkan. Kalau persalinan yang mengalami kegawatdaruratan kita juga yang menangani.. kab. makan minum pasien.

Di Kota Balikpapan dan Kabupten Paser. 3) sedangkan untuk BPS 100% menjadi jasa pelayanan.”(Puskesmas. 5. tidak masalah dalam tarif Jampersal tetapi yang menjadi masalah adalah kurangnya akses transportasi dan mahalnya biaya transportasi serta terbatasnya sarana dan sumberdaya manusia yang ada. Yang masih belum ada dalam jampersal adalah biaya untuk petugas pendamping saat melakukan rujukan.000. Puskesmas non BLUD minimal adalah 75% dari tarif persalinan normal yaitu Rp. “.-. sebab tarif persalinan tiap daerah berbedabeda.000. Sehingga tarif Jampersal dianggap kurang memadai... Sehingga untuk kabupaten kepulauan Aru.“.000. “..2.000.4.5. dimana tarif persalinan normal cukup tinggi yaitu lebih dari Rp.. Berbeda untuk kabupaten kepulauan misalnya di kabupaten Kep.000.perlu ada regionalisasi tarif.” (Dinas kesehatan. Data penelitian ini di wilayah ini didapatkan di luar pembiayaan Jampersal terdapat juga pasien yang membayar biaya tambahan. Jadi untuk tarif jampersal dirasa cukup. 350. 87 . Wakatobi biaya transpotasi ke pelayanan kesehatan dapat jauh lebih mahal dibandingkan biaya persalinannya sendiri. jasa pelayanan untuk persalinan ditetapkan untuk . Kota Kendari)..tarif jampersal lebih baik dibandingkan tarif puskesmas.pada tahun lalu saat masih pakai tarif Pemda biaya persalinan Rp. sedang tarif umum tidak ada.bahkan di Kota Balikpapan untuk klas VIP tarif bidan untuk persalinan normal dapat lebih dari Rp.. Dengan demikian biaya transportasi merupakan faktor penting untuk mendapatkan pelayanan persalinan di fasilitas kesehatan.-. 2) Puskesmas BLUD setelah dana di klaim maka menjadi dana pendapatan/penerimaan fasilitas kesehatan . Kab.” (Bikor. 3. Kota kendari).-.. Aru dan kabupaten Wakatobi. karena semua bidan di sini adalah bidan pemerintah 24 jam. 1).1. Hal ini didukung adanya kesepakatan IBI bahwa bidan dapat menarik biaya tambahan kepada pasien dalam batasan tertentu. Aru). Jasa Pelayanan Di dalam petunjuk teknis Jampersal tahun 2012 . 500.000.

hanya masalahnya besaran jasa pelayanan dalam Perda jauh lebih rendah dari besaran jasa pelayanan Jampersal untuk persalinan normal. Ambon. sehingga tidak dimungkinkan untuk menarik jasa pelayanan lagi. Mataram. tapi prosentase yang menjadi hak daerah saja yang disetorkan. Kabupaten Kepulauan Aru. yaitu dana disetor ke kas daerah kab/kota masing-masing. Di Kota Bandung untuk jasa pelayanan di puskesmas non BLUD mengikuti Perda yang ada tanpa membuat peraturan baru untuk Jampersal. Lombok tengah. Kota Batam karena sudah terdapat anggaran untuk jasa pelayanan untuk tenaga kesehatan. Walaupun demikian tidak semua daerah lancar dalam proses pencairannya terkendala masalah teknis misalnya di Sampang karena jumlah realita klaim Jampersal jauh lebih besar dari perencanaan Jampersal 2012. Kota Blitar ketika Perwali terbit belum terdapat mata anggaran untuk menyetoran dan penarikkan kembali. karena tidak melalui mekanisme keuangan daerah. Sedangkan untuk puskesmas non BLUD (semua puskesmas dalam penelitian ini adalah non BLUD) untuk dana Jampersal 2012 terkendala dengan mekanisme keuangan dimana setelah proses klaim dana yang telah menjadi pendapatan/penerimaan fasilitas kesehatan (Puskesmas) mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan.Dalam implementasi untuk BPS dan puskesmas BLUD jasa pelayanan dapat diterima dengan waktu yang relatif lebih cepat dan lancar dan dapat diterima 100%. Wakatobi walaupun tidak mengeluarkan Perbup /Perwali mengikuti proses klaim juknis Jampersal 2011 yaitu penerimaan fasilitas kesehatan tidak disetorkan ke kasda keseluruhan. Beberapa kabupaten/kota (Sampang. 88 . maka untuk mencairkan dana berikutnya diperlukan menunggu dana Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) sehingga bulan November baru dapat di cairkan. Batam) menerbitkan Perbup/Perwali untuk mengatur Jampersal. Blitar.

tapi banyak provider yang tidak tersosialisasi dengan jenis paket pelayanan Jampersal. Paket Layanan Di rumah sakit petunjuk untuk Paket layanan Jampersal pada umumnya adalah sesuai dengan petunjuk teknis yang ada. Pemberi Layanan di Fasilitas Kesehatan Rujukan Dalam memberikan pelayanan di fasilitas kesehatan rujukan. Untuk paket pelayanan Jampersal semua kasus yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan. Sejak ada Jampersal pasien di rumah sakit menjadi lebih banyak dari sebelumnya bisa sampai hampir dua kali lipatnya. “. demikian masyarakat yang sebelumnya ada permasalahan dengan ekonomi. Dalam penelitian ini dilakukan wawancara mendalam pada provider untuk mengetahui penerimaan terhadap Jampersal.” (RSUD. termasuk penyakit yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan yang dapat membahayakan jiwa ibu.3.Jampersal bermanfaat terutama untuk masyarakat yang dulunya ke dukun sekarang ke nakes. Tapi untuk yang sekarang sudah lebih jelas bahwa untuk semua kasus kehamilan akan ditanggung semua.. karena banyak pasien yang tanpa rujukan langsung datang sendiri ke pemberi pelayanan tingkat lanjutan.1.. ditanggung oleh Jampersal. Kab. provider pelaksana yang memegang peranan dalam pelayanan Jampersal adalah bidan rumah sakit dan SPOG. SPOG) pada umumnya tidak mempermasalahkan paket pelayanan yang ditetapkan dalan juknis. Kecuali untuk kasus ginekologi. “. 5.4. Sampang) Provider (Bidan. Sering timbul masalah 89 . Namun kenyataannya tidak demikian. Provider di rumah sakit pada umumya mendukung kebijakan Jampersal dalam upaya mencapai target MDGs.5. Kab. Provider tingkat lanjutan memberikan pelayanan untuk pasien rujukan yang tidak bisa ditangani oleh provider kesehatan tingkat pertama.3.” (RSUD. Disamping itu dengan kunjungan dokter obgyn ke puskesmas PONED secara bergiliran meningkatkan jumlah pasien ke RS demikian juga atas motivasi bidan dan pendampingan bidan jkia merujuk ke rumah sakit menyebabkan kunjungan ke RS juga menjadi meningkat...4. Sampang).pada waktu awal pelaksanaan jampersal tahun 2011 untuk kiret dan KET terkadang mereka masih suka bingung ini masuk jampersal atau tidak.

” (NN. baik negeri maupun swasta). bersalin.Belum ada ketegasan program jampersal yang mengharuskan peserta jampersal harus ikut KB. dan banyak yang memanfaatkan program jampersal ini untuk sering hamil (pumpung gratis) tanpa memperdulikan masa depan anak dan ibunya yang apabila sering melahirkan dan banyak anak akan lebih beresiko. hal ini mengakibatkan adanya peningkatan jumlah pasien yang bersalin di rumah sakit.2. Untuk pelayanan KB paska Nifas tidak semua RS mengetahui. nifas.. 5. Setelah persalinan biasanya pasien akan diserahkan kembali ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan pasca nifas.4. dan bayi baru lahir dengan resiko tinggi dan atau dengan komplikasi yang tidak dapat ditangani pada fasilitas kesehatan tingkat pertama yang dilaksanakan berdasarkan rujukan atas indikasi medis. sebaiknya dilakukan pembatasan pada masyarakat tidak mampu dan benar-benar tidak mempunyai Jaminan. Padahal. Bila demikian apakah target untuk menurunkan AKI bisa tercapai? Seharusnya program jampersal harus tegas di ikuti dengan program KB. Kebanyakan di sini pasien yang datang persalinan dengan komplikasi atau penyulit. Pelayanan pasien Jampersal sama dengan pelayanan untuk pasien umum. Kepesertaan Untuk sasaran Jampersal di rumah sakit. ibu bersalin dan ibu nifas yang ingin mendapatkan pelayanan Jampersal dilayani oleh pemberi pelayanan di tingkat pertama. di dalam Juknis disebutkan bahwa ibu hamil. mereka langsung bersalin di pemberi pelayanan kesehatan tingkat lanjutan (dalam hal ini rumah sakit. Hal ini perlu karena pengguna Jampersal ternyata banyak dari masyarakat yang mampu dan sudah mempunyai jaminan kesehatan lain misalnya Askes. Kendala lain yang dihadapi adalah pasien kadang tidak mau bersalin di pemberi pelayanan tingkat pertama. “. Sedangkan pemberi pelayanan tingkat lanjutan adalah pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan spesialistik untuk pelayanan kebidanan dan bayi baru lahir kepada ibu hamil.. RSUD).dalam pengklaiman jika ada pasien Jampersal yang dirujuk dari pelayanan dasar karena komplikasi tetapi di rumah sakit dapat bersalin secara normal. Sedangkan menurut juknis Jampersal menyatakan bahwa sasaran Jampersal 90 . akibatnya banyak peserta yang tidak mau ikut KB .3.

. SIM.pihak rumah sakit berharap adanya pembatasan dalam hal kepesertaan.. kartu domisili.” (Pengelola Jampersal.. Sasaran dapat memanfaatkan Jampersal di fasilitas rujukan dengan membawa KTP.. Kab. tetapi banyaknya masyarakat yang mampu tetapi masih menggunakan fasilitas jampersal. Klaim diajukan ke pusat melalui kurir & konfirmasi dari pusat via telpon. Kep. RSUD).adalah ibu dan bayi yang belum mempunyai jaminan kesehatan. Selain itu pasien membawa rujukan. Terkadang saya kasihan ke pasien karena mereka tidak mengerti karena masalah ini ditolak sehingga harus wira wiri.” (SPOG. 5. Persyaratan pengajuan klaim yang penting sudah ditanda tangani verifikator independen dan direktur. keterangan RT. “. Aru). kartu pelajar. Ini menjadi masalah kalau partograf menjadi syarat yang diwajibkan untuk pasien jampersal. Karena yang menerima di depan tidak tahu tentang teori. mengapa setiap persalinan harus ada partografnya padahal untuk kasus letak lintang. KK. 91 . Seharusnya partograf hanya untuk kasus persalinan letak kepala pada fase aktif pada fase laten tidak bisa mengisi partograf. “. persyaratannya KTP dan rujukan.. karena pada prinsipnya jampersal adalah bagi seluruh masyarakat yang melakukan persalinan di kelas III.4. Sampang).. Karena terkadang ada pasien yang memiliki askes tapi untuk anak ke 4 mau ditanggung dengan jampersal. Jadi dikhawatirkan ini akan menjadi tumpang tindih dengan asuransi lainnya..” (RSUD. namun pelayanan yang dinginkan tersebut tidak lagi ditanggung dalam paket pelayanan asuransi yang diikutinya. Kab. RSUD ). Sampang)..” (Pengelola. “.hambatannya sebetulnya tidak ada. dimana pemberi pelayanan kesehatan baik di tingkat pertama maupun lanjutan menerima pasien yang berasal dari daerah manapun. Namun dalam kenyataannya. tetapi tetap tidak bisa menolak. buku nikah.3. “.3.semua ibu yang tidak memiliki kartu Jamkesmas dan Jamkesda.sungsang ini tidak masuk akal. RW/ Kelurahan bahwa ybs tidak mampu (RSUD. Syarat Klaim Pengajuan klaim di rumah sakit pada umumnya disesuaikan dengan juknis yang ada. Kepesertaan Jampersal berlaku prinsip portabilitas. Kab. banyak pengguna Jampersal telah memiliki jaminan kesehatan. partograf dan buku KIA ( RSUD Mataram).yang perlu di di klarifikasi adalah masalah partograf .

.Mekanismenya.. surat rujukan dari Puskesmas atau bidan.outnya dikirim. kemudian di data sesuai dengan syarat yang ada kemudian di input datanya kemudian diperiksa kelengkapannya jika sudah sesuai maka akan di tandatangani oleh direktur selanjutnya berkas klaim tersebut dikirim ke Pusat oleh petugas administrasi pelayanan terpadu di rumah sakit.. Tahun 2011 klaim lebih lancar dibandingkan tahun 2012.3. sehingga kami juga sering terlambat dalam membayarkan jasa medik. Dalam juknis dinyatakan fasilitas bahwa dana yang telah Sakit non menjadi BLUD). surat jaminan pelayanan yang dibuat oleh pihak RS. Kab.klaim Jampersal dikirimkan ke P2JK menjadi satu dengan klaim Jamkesmas. Disini ketidak tahuan pihak rumah sakit bahwa laporan tidak perlu menunggu feedback dari P2JK. pendapatan/penerimaan kesehatan (Rumah selanjutnya pengelolaan serta penggunaan danpemanfaatannya dilakukan dengan mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan. Besar jasa pelayanan pada provider (pemberi layanan) hendaknya memperhatikan maksud pemberian insentif yaitu untuk akselerasi tujuan 92 . “. jadi setelah pasien masuk. Sampang).”(verifikator independen. biasanya kami padukan dengan bagian verifikator independennya.4. Dulu dalam satu tahun itu bisa 4 sampai 5 kali klaim.. Selanjutnya kami tinggal menunggu feedback dari Pusat untuk bisa mengambil uang atas klaim yang sudah dikirimkan tersebut. “.” (SPOG. Besaran Tarif Pelayanan dan Jasa Pelayanan Tarif pelayanan Jampersal di rumah sakit berdasarkan tarif INA CBG’s. 5. termasuk di dalamnya adalah jasa pelayanan. Yang menjadi kendala dalam hal ini adalah feed back yang kadang-kang terlambat. Sedangkan dana yang telah menjadi pendapatan/penerimaan jasa layanan (Rumah Sakit/Balkesmas BLUD) maka pendapatan jasa layanan tersebut dapat langsung digunakan dan dimanfaatkan sesuai RBA/DPA-BLUD. Yang diperiksa oleh verifikator adalah : KTP.4.persyaratan jampersal lebih mudah daripada jamkesda. Biasanya berkas klaim yang dikirim itu ada dalam bentuk software tapi juga print. kota Bandung).

. SPOG dan semua tenaga di RS Jampersal RS mengacu pada peraturan (44%). Kota Bandung). kab. dana yang ada masuk ke daerah dan kami nanti akan mendapat japel sebesar 44% sesuai perda yang ada.. jadi tarifnya memang masih jauh di bawah standartnya.. “.. lalu bagaimana bayar pelayanan dan perawatan.083.2 atau 1. Ini masalah personal. namun kalau boleh kami memberikan saran. supaya pelayanan juga bisa lebih maksimal. apa itu masuk akal dan pikiran? Apa yang buat ini tidak berpikir. “.000 itu Cuma habis untuk obat saja. karena kalau tidak salah tarif untuk jasa pelayanan rasanya masih kurang sesuai dengan yang standarnnya. Karena biaya itu kan juga termasuk untuk keperluan lainnya seperti obat. bisa-bisa partus fisiologis tidak ada lagi kalau jasa sectio di naikkan.. apa itu manusiawi.tidak manusiawi.” (Pengelola Jampersal RS. Yang menjadi masalah adalah besaran tarif yang berlaku (INA-CBG’s) sebagian provider rumah sakit menyatakan besarannya sudah tidak sesuai dengan kondisi sekarang. belum untuk bahan habis pakai.” (NN..” (bidan RS. Disatu sisi tariff kecil dan di sisi lain mengutamakan kemanusiaan. “.program dan tujuan MDG’s. Pengaturan mengenai jasa pelayanan/jasa medik tersebut dilakukan sesuai dengan ketentuan yang mengatur mengenai hal itu.yang saya tahu. Masa 1 sectio saya dibayar 150. 93 . Itu aka diterimakan antara 3 sampai 6 bulan sekali. Kota Ambon).” (SPOG. “. Itu juga saya heran yg menentukan tarif di pusat koq bisa sectio itu keluar angka 2. Ada potongan dimana-mana karena masalah birokrasi.. Obgyn sectio semua.. Wakatobi). RSUD). karena terlalu rendah.. Sepaket 2.000. Besaran Jasa pelayanan kesehatan (total) ditetapkan oleh Kepala Daerah atas usulan Direktur Rumah Sakit dengan setinggitingginya 44% atas biaya pelayanan kesehatan yang telah dilakukan. Bedanya sampai 1 juta per pasien. tapi dengan jampersal kan hanya 1.. “.000 .. jadi yang diterima nakes kecil. Besaran Jasa medik untuk untuk bidan.pembiayaan Jampersal selama ini ya berjalan sesuai dengan aturan yang ada ya dari pemerintah sesuai dengan INA CBGs. harus ikhlas.. RSUD).083. biasanya kalau pelayanan sectio itu kan antara 6 sampai 7 juta ya. dan bahan habis pakai.dokter obgyn tidak terlalu mempermasalahkan karena takut mengungkap. ya kalau bisa dinaikkan menjadi 4 sampe 5 juta lah. kalau tariff sectio dinaikkan mungkin juga dr.” (SPOG.8 juta lah. Pada implementasi di RSUD kabupaten / kota penelitian berjalan seperti aturan yang berlaku.tarif sedikit.

“.000.2 juta sama dengan tarif tindakan sectio. 94 .” (RS. asthma dan diare bisa di klaim dengan tariff sampai dengan 1. Untuk RSUD yang menggunakan tarif Kelas III.” (SPOG..RSUD selain melayani Jamkesmas dan Jampersal juga melayani Jaminan kesehatan daerah (Jamkesda).. masih terjangkau masyarakat untuk pasien kelas 3.2 jt. Kota Ambon).” (dr.tarif dinaikkan tapi jangan terlalu tinggi sehingga membahayakan profesi maksudnya kalau terlalu tinggi..000 .. khawatir nanti pasien bisa di sectio semua Atur incentive yang lebih baik. dokter dan tenaga dokter spesialis Obgyn kami menjadi kurang tertarik pada Jampersal. Dokternya hanya dapat 750. Kota Kendari). Terdapat juga rumah sakit yang mengenakan tarif tambahan pada pasien Jampersal yang dianggap mampu dengan melakukan pendekatan terlebih dahulu terhadap pasien.menurut saya standarnya untuk paket standar kelas 3 itu 5.” (RS. “. premature dan tindakan lain yang lebih beresiko juga 1.. pihak rumah sakit lebih senang memanfatkan dengan tarif tersebut karena dianggap lebih sesuai (tarif jauh lebih tinggi dari tarif Jampersal) sehingga sering terjadi masalah dengan pasien yang menggunakan Jampersal. “.obgyn dapat 300 ribu per sectio tapi kalau kena tuntutan hukum bisa kena denda sampai 300 juta.000 – 1250000. Didaerah tarif Jamkesda bervariasi ada yang menggunakan INA-CBG’s adapula yang menggunakan tarif Kelas III. RSUD).apabila tahu bahwa standar penggantian biaya oleh Jampersal lebih rendah dari standar penggantian biaya oleh JKP. SPOG. Contoh: kasus angina pectoris.. “. Kota Blitar). itu sudah pas-pasan.. maka para bidan.. Itu kalau di swasta standar tarifnya itu. Tarif untuk pasien-pasien dengan tindakan sangat kecil dibandingkan dengan yg tanpa tindakan.

1 Sarana dan Prasarana Pelayanan Dasar dan Rujukan Dalam rangka mencapai target MDG’s untuk menurunkan AKI dan AKB perlu ditunjang sumberdaya manusia di bidang kesehatan. sarana dan prasarana yang memadai. Tabel 5. 7. 2. 8. SDM TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN 5. Klinik bersalin.id 95 . 5.2. Disamping itu untuk Jampersal. Dinas kesehatan melakukan MoU dengan mebuat Perjanjian kerjasama (PKS) dengan bidan praktek swasta (BPS). Bidan merupakan ujung tombak dalam memberika di pelayanan kesehatan ibu dan anak di pelayanan dasar. 9. 4.5. Sarana dan Sumberdaya manusia yang memberikan Pelayanan Jampersal Jumlah Fasilitas dan SDM No Kab/Kota 1. Wakatobi Balikpapan Paser Batam Natuna 19 26 17 15 12 8 5 10 12 10 129 437 145 85 165 100 27 118 74 65 1 1 1 2 1 *Bidan Dinkes : Bidan puskesmas dan Bidan Desa Sumber : Dinas Kesehatan dan www. 14. 3. 11.depkes. Sampang Blitar Mataram Lombok Tengah Bandung Bogor Ambon Aru Kendari Puskesmas 21 3 10 25 73 101 22 21 15 Kec 14 3 6 12 30 40 5 7 10 Bidan Kelurahan Dinkes* 299 40 78 193 347 702 109 42 123 186 21 50 124 139 426 50 119 64 BPS “PKS” 45 9 5 155 39 1 tdk ada data 90 4 92 - RS Pemerintah 1 1 1 1 3 4 1 1 1 10. KETERSEDIAAN (AVAILABILITY). Di setiap desa diharapkan terdapat satu bidan desa yang dapat melayani wilayahnya.go.5.5. 12. AKSES (ACCESSIBILITY) TERHADAP SARANA DAN PRASARANA. Di kabupaten/kota lokasi penelitian ketersediaan sarana dan prasarana seperti terlihat pada tabel dibawah ini. 13. 6.bppsdmk. rumah sakit pemerintah dan swasta.

Kabupaten kepulauan Aru). selain itu perlu juga diperhitungkan dengan luas wilayah dan geografis di wilayah. Kompetensi bidanpun masih perlu untuk ditingkatkan. Hanya saja yang perlu diperhatikan di kabupaten kepulauan satu kecamatan bisa terdiri dari beberapa pulau. Hal ini dikerenakan pendistribusiannya tidak merata. Apalagi lokasi di kabupaten penelitian. kabupaten Bogor.pemanfaatan dana jampersal pada tahun lalu bisa dibilang rendah. bahkan satu desa terdiri dari beberapa pulau. Sekarang di tahun 2012 ini mulai ditempatkan tenaga bidan honorer. Penyediaan pelayanan kesehatan tingkat pertama di puskesmas PONED di kota misalnya di kota Blitar dan Kota Bandung puskesmas PONED masih terbatas sarana dan sumber daya manusianya. Kota Ambon. Dari wawancara dengan pengelola Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten kepulauan Aru menyatakan sbb: “. Dalam pelaksanaan Jampersal untuk pemenuhan fasilitas layanan kesehatan tidak semua kabupaten/Kota mempunyai perjanjian kerjasama antara Dinas kesehatan dan BPS seperti Kabupaten Lombok Tengah (Dinas kesehatan belum membuka kesempatan ini). hanya 9 puskesmas yang memanfaatkan dana jampersal. Kabupaten Wakatobi. padahal yang memberikan pelayanan jampersal kan seorang bidan.” (Pengelola Jampersal. bahkan Kabupaten Lombok Tengah. Kabupaten Kepulauan Aru (keterbatasan SDM) dan Kabupaten Paser (belum ada BPS yang mendaftar). Kota Bandung. Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011 Maluku. baik itu dokter maupun bidan.Di semua kabupaten/kota lokasi penelitian di tiap kecamatan sudah terdapat sedikitnya satu puskesmas. tetapi pada kenyataannya terutama di kab. Karena dari 22 puskesmas yang ada. Kepulauan Aru jumlah bidan kurang. Jumlah desa di kabupaten kepulauan Aru lebih banyak daripada jumlah bidan yang ada yaitu terdapat 119 desa. Jika dilihat daridata rasio bidan menurut Badan PPSDMK. Persentase puskesmas PONED yang mempunyai kurang 96 . Kabupaten Kepulauan Aru. tetapi jumlah bidan hanya 42 orang.. Sisanya tidak karena memang pada waktu itu tidak ada tenaga bidannya. Sulawesi Tenggara dan kepulauan Riau diatas rasio bidan Nasional.. Kota Balikpapan dalam satu kecamatan terdapat 2-3 puskesmas.

Kota Batam (RS Camatha Sahidya). Bahkan dibeberapa kabupaten/kota sudah menjalin perjanjian kerjasama dengan RS Swasta misalnya Kabupaten Lombok Tengah (RS Yatopa). sehingga belum melayani pasien dengan Jampersal. Dana untuk pengadaan sarana dan prasarana di fasilitas tersebut berasal dari APBD. bisa melahirkan di polindes. Fasilitas rujukan terutama di kabupaten juga masih menjadi kendala dimana minimnya fasilitas dan SDM kesehatan terutama keterbatasan dr. Propinsi dan Pusat. Yang sementara ini ada dan sedang berjalan di RS untuk pelayanan masyarakat miskin atau tidak mampu adalah Jamkesmas dan Jaminan Kesehatan Paser (JKP).”(Direktur RSUD Paser). SPOG.mengatakan tidak tahu dan belum pernah sekalipun di RS mendapatkan sosialisasi tentang Jampersal baik dari Dinas Kesehatan Kabupaten. SPOG terutama di kabupaten. peralatan di ruang ICU (Lombok Barat. Karena sarana dan prasarana di semua fasilitas kesehatan tersebut sudah dilengkapi. Tenaga perawat (Lombok tengah) dan dr. (RIFASKES. “. Sementara Rumah sakit Pemerintah di Kabupaten Paser menyatakan belum melakukan perjanjian kerjasama untuk Jampersal karena belum tersosialisasi Jampersal. Kota Ambon). Di rumah sakit kabupaten Lombok Tengah dan kota Ambon terdapat keterbatasan prasarana seperti tidak adanya ruang recovery untuk pasien paska operasi (Lombok tengah).puskesmas PONED dengan satu tenaga dokter dan bidan yang sudah mendapat pelatihan PONED.” (Puskesmas.. Untuk sarana sebagai puskesmas PONED masih dirasakan kurang.. 97 . bahkan di Kota Bandung walikota menlaunching jejaring pemberi pelayanan di Pemerintah Kota dengan melibatkan RS Swasta di wilayahnya..7%. “.. Kota Kendari) Di kabupaten / Kota rumah sakit pemerintah menjalin perjanjian kerjasama sebagai fasilitas rujukan Jampersal. Inovasi dilakukan di Kabupaten Wakatobi dengan memberikan kebebasan supaya masyarakat melahirkan di fasilitas kesehatan selain puskesmas. poskesdes maupun pustu.6% sementara di perdesaan 21. 2011).dari 20% jenis alat kesehatan PONED di perkotaan 31.

Tapi saya belum pernah ke sana jd tidak tahu apa ada sarananya. peneliti tidak dapat menemui dr tersebut dikarenakan tidak berada di tempat (di luar wilyah kabupaten tersebut)..” (dr.resinden ada di aru ada di tual d saumlaki juga ada. sekarang sudah lumayan dulu-dulu PLNnya kan bermasalah. di beberapa kabupaten/kota menjadi Dinas Pemberdayaan Perempuan 98 . Jadi perencanaan tersebut tidak dilakukan di level Kabupaten. SPOG.” (dr. Lagipula untuk sectio kan tidak perlu banyak fasilitas.. bagaimana dia mau care dengan pasien. Seperti contoh ketika peneliti pengumpulan data di salah satu RS di Kepulauan selama 1 (satu) minggu. SGOG. Kota Ambon). Lombok Tengah). diruangan harus diawasi oleh perawat. ruangan ICU. maka Puskesmas mendistribusikan alat tersebut ke bidan desa di wilayahnya. Tetapi disini kebanyakan perawat di ruangan adalah honorer yang gajinya hanya 250 ribu. Tapi listrik itu yang masalah.Untuk mengatasi kekurangan tenaga beberapa daerah merekrut tenaga honorer misalnya di Lombok Tengah untuk tenaga perawat. Yang menjadi masalah saat ini adalah ketersediaan alat kontrasepsi di layanan dasar masih kurang. “.. Setelah mendapatkan alat kontrasepsi. pengawasan post operasi yang baik. SPOG/ PPDS) tidak sepenuhnya “stand by” 24 jam di rumah sakit.” (dr SPOG. Dinas Kesehatan Kabupaten hanya menerima laporan dan rekapitulasi dari Puskesmas. Lombok Tengah). Bekerjasama dengan Fakultas kedokteran untuk tenaga kontrak dr. Perencanaan kebutuhan alat kontrasepsi dilakukan pada level Puskesmas ke pengelola KB atau petugas lapangan KB (PLKB) tingkat kecamatan. ventilator yang kurang dsb. Dan tenaga tersebut (dr. SPOG / PPDS yang sedang menempuh pendidikan.. Dokter setelah melakukan operasi diserahkan ke ruangan. mulai pada saat setelah tidakan. Di kabupaten/kota lokasi penelitian secara umum proses penyediaan alat kontrasepsi pada pelayanan KB di Puskesmas melalui BKKBN.sebenarnya kematian itu dapat dikendalikan apabila tim work yang baik. “..penyebab kematian ibu juga karena sarana prasarana yang tidak memadai. “.. Dengan SKPD BKKBN di kabupaten/kota saat ini tidak selalu berdiri sendiri. Dimana mekanismenya adalah Puskesmas membuat rencana kebutuhan alat kontrasepsi kepada SKPD pengelola program KB yaitu BKKBN atau Dinas pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana.

“. tapi menjadi Dinas Pemberdayaan Perempuan dimana salah satu bidangnya menangani KB. terlatih untuk pemasangan IUD danalat KB lain.” (Bidan RS. 99 . implant. demikian juga SDM terlatih baik sesuai SOP. MOW. obat dan sarana lain yang dibutuhkan masih kurang. kami selalu mem otivasi klien utk ikut KB sehingga hasilnya banyak yg bersedia ikut KB. Bogor).. pil . Kota kendari). suntik. Kab.ketersediaan alat.seperti di Kepulauan Aru tidak ada BKKBN yang melayani kebutuhan Keluarga Berencana.. laparatomi..” (Puskesmas. “..Alat kontrasepsi tersedia semua IUD.

Ruang ICU.Gambar 5.11. tempat cuci kamar Operasi di Ruang Kandungan dan Kebidanan RSUD di Ambon 100 .

Kota Batam) dan ”kepulauan” yaitu dimana letak pelayanan dasar dengan wilayahnya dapat berbeda pulau (Kota Ambon. Demikian pula kabupaten kepulauan dimana untuk mencapai fasilitas harus melalui transportasi laut sehingga menyebabkan waktu tempuh dan biaya menjadi kendala tersendiri. Namun demikian perlu diperhatikan geografis pada lokasi kabupaten daerah pegunungan / bukit dimana untuk mencapai lokasi memerlukan waktu lebih lama dikarenakan harus ditempuh dengan roda dua atau bahkan jalan kaki. Kota Kendari. Lombok Tengah. Kota Mataram. bahkan di beberapa daerah alat transportasi tidak tersedia setiap saat. Kota Blitar. Dari gambar dibawah nampak antara aksesabilitas di kabupaten/kota “non kepulauan“ yaitu kabupaten yang letak pelayanan dasar dengan wilayahnya terletak satu pulau (Sampang.Wakatobi dan Natuna) sebagian besar jarak ke pelayanan dasar adalah <5 km.12. Paser.5. Kota Bandung.2 Aksesibilitas jarak Aksesabilitas jarak adalah jarak yang ditempuh responden yang menggunakan Jampersal dari rumah ke pelayanan kesehatan yang di manfaatkan saat menggunakan Jaminan persalinan. 101 .Gambar 5. Ruang rawat Inap pasien Jampersal di Rumah Sakit 5. Bogor. Balikpapan. Kepulauan Aru.

14 Jarak ke pelayanan kesehatan pada pengguna Jampersal di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Untuk menggambarkan akses ke pelayanan kesehatan terutama di kabupaten kepulauan seperti Kepulauan Natuna.Gambar 5. maka seluruh kabupaten di propinsi ini adalah sebuah kepulauan. sehingga dapat menggambarkan bagaimana akses masyarakat dalam upaya mendapat pelayanan. Kabupaten Kepulauan Natuna Kabupaten Kepulauan Natuna merupakan salah satu wilayah dari Propinsi Kepulauan Riau.13 Jarak ke pelayanan Kesehatan pada pengguna Jampersal di kabupaten/Kota “non kepulauan” Gambar 5. 102 . Kepulauan Aru dan Wakatobi dijelaskan lebih lanjut dibawah ini. Sesuai namanya.

Gambar 5.15. Peta Wilayah Provinsi Kepulauan Riau

Kabupaten Natuna, kabupaten kepulauan yang memiliki banyak lanscape view yang sangat cantik ini merupakan salah satu wilayah paling Utara Republik ini yang berbatasan laut langsung dengan negara tetangga Vietnam dan Kamboja. Dengan posisinya yang demikian, maka Kementerian Kesehatan menempatkan Kabupaten Natuna sebagai salah satu Kabupaten DTPK (Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan). Gambaran kondisi ketertinggalan wilayah kabupaten kepulauan ini bisa dilihat dari ketersediaan sarana komunikasi yang ada. Untuk sambungan telepon tetap (fixed landlines), hanya tersedia di sekitar Ranai sebagai ibukota kabupaten ini saja. Untuk wilayah lain yang berupa kepulauan hanya tersedia jaringan telepon seluler bila beruntung. Di wilayah Pulau Subi dan Pulau Midai misalnya,

103

sinyal cukup sulit untuk didapatkan. Sedang di wilayah Serasan Timur tidak usah berharap akan ada sinyal yang sampai. Untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Natuna, tersedia dua jalur transportasi. Yang pertama adalah jalur udara melalui Batam ke Ranai (ibukota Kabupaten Kepulauan Riau). Saat ini ada Wings Air dan Sriwijaya Air yang melayani jalur ini dua atau tiga kali seminggu. Yang kedua adalah jalur laut. Sama dengan jalur udara, jenis transportasi ini juga tidak tersedia setiap hari. Berdasarkan pengamatan, ketersediaan tranportasi untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Natuna relatif mudah, terutama untuk mencapai ibukotanya, Ranai. Tapi, justru dari Ranai menuju ke wilayah lain dari Kabupaten Natuna perlu effort khusus yang cukup menguras tenaga, biaya dan waktu. Hal ini juga akan sangat berkaitan erat dengan aksesibilitas pelayanan kesehatan di wilayah ini. Untuk seluruh wilayah Kabupaten Natuna fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia bisa dibilang hanya ada pelayanan dasar saja. Kecuali di ibu kotanya, Ranai, yang telah ada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Natuna sebagai satu-satunya rumah sakit sebagai pusat rujukan tingkat kabupaten. Secara kuantitas, sebenarnya untuk tenaga kesehatan telah lebih dari cukup tersedia. Untuk tenaga bidan misalnya, telah ada 108 bidan di wilayah ini. Dengan jumlah desa dan kelurahan yang hanya 73 maka seharusnya semua desa telah bisa terisi tenaga bidan. Tapi kenyataannya menurut Kabid Yankes Dinas Kesehatan, ada beberapa desa yang kosong tanpa hadirnya bidan. Bagaimana tidak? Dari 108 bidan tersebut, sejumlah 70-an bidan menumpuk di Ranai. Berbicara tentang aksesibilitas fasilitas kesehatan di kepulauan, tidak akan pernah terlepas atau bahkan sangat tergantung dengan ketersediaan sarana transportasinya. Bentangan Kabupaten Natuna yang beribukota di Ranai, dengan wilayah paling Utara di Pulau Laut, serta dengan wilayah paling Selatan di

104

wilayah Pulau Subi dan Serasan, sungguh memerlukan banyak energi dan kesabaran untuk mencapainya. Paparan berikut diharapkan mampu memberi sedikit gambaran tentang beberapa jalur transportasi serta ketersediaan sarana transportasinya, berdasarkan hasil wawancara dengan Kabid Yankes Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna. A. Jalur Pulau Laut-Ranai; memerlukan waktu tempuh sekitar 8 jam perjalanan dengan kapal besi reguler dari Pelni. Tarif sekitar Rp. 100.000,-, dengan frekuensi sekitar 10-15 hari sekali. Jalur ini juga bisa ditempuh dengan kapal kayu (tongkang), yang bila beruntung kita bisa nebeng kapal barang dengan tarif sekitar Rp. 120.000,-, atau bila mau sewa sendiri dengan tarif lima sampai belasan juta, tergantung besaran kapal kayu, yang berarti juga bergantung dengan tingkat keamanannya. B. Jalur Serasan-Ranai; jalur ini dilewati oleh kapal Pelni Bukit Raya yang memerlukan waktu tempuh sekitar 8 jam perjalanan menuju Ranai. Dengan tarif sekitar Rp. 120.000,- jalur perjalanan ini juga tersedia dalam frekuensi sekitar 15 hari sekali. C. Jalur Pulau Subi-Ranai; hampir sama dengan tarif di dua jalur sebelumnya, cukup murah, hanya dalam kisaran Rp. 120.000,- saja, tapi dengan jarak tempuh yang bisa mencapai 24 jam perjalanan.

Kabupaten Kepulauan Aru Kabupaten Kepulauan Aru merupakan salah satu wilayah dari Propinsi seribu pulau, Propinsi Maluku. Meski sebenarnya julukan ini kurang pas dibandingkan faktanya. Propinsi seribu pulau. Untuk Kabupaten Kepulauan Aru saja jumlah pulaunya sudah mencapai 547 pulau, belum ditambah dengan pulaupulau kabupaten lain di wilayah yang bersebelahan dengan Pulau Papua ini.

105

Gambar 5.16 Posisi Kabupaten Kepulauan Aru di peta Indonesia

Untuk mencapai kabupaten kepulauan ini selain dengan jalur laut juga bisa dilakukan dengan pesawat. Satu-satunya pesawat maskapai yang beroperasi dan mau mendarat pada tahun 2012 ini di pulau tersebut adalah Trigana Air, setelah sebelumnya dua maskapai lainnya (Merpati dan Wings Air) menarik diri dari jalur tersebut. Jalur pesawat terbang yang harus kita dilalui untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Aru dari Kota Ambon adalah Ambon-Tual-Dobo. Kota Tual adalah kota yang sebelum memisahkan diri masih merupakan ibukota Kabupaten Maluku Tenggara. Jarak tempuh terbang Kota Ambon-Kota Tual mencapai 90 menit, dan jarak tempuh Kota Tual-Dobo mencapai 25 menit. Bila perjalanan tersebut kita tempuh melalui jalur laut dari Kota Ambon, maka kita bisa semalaman terapung di lautan. Bila kita membayangkan mencapai kabupaten kepulauan ini sulit, maka sesungguhnya mencapai wilayah kerja di kepulauan ini jauh lebih sulit lagi. Jalur laut adalah jalur transportasi satu-satunya, yang untuk mencapainya sangat tergantung dengan kondisi angin laut yang seringkali sangat tidak bersahabat.
106

Iklim dipengaruhi oleh Laut Banda, Laut Arafura dan Samudera Indonesia, juga dibayangi oleh Pulau Irian di Bagian Timur dan Benua Australia di Bagian Selatan sehingga sewaktu-waktu bisa terjadi perubahan iklim yang ekstrim. Untuk sarana komunikasi, kondisi Kepulauan Aru sudah cukup baik untuk golongan DTPK. Sudah ada jaringan Telkom dan komunikasi seluler. Telkomsel sebagai satu-satunya provider yang bernyawa di daerah ini telah hadir dengan sinyal cukup kuat, meski terbatas hanya jaringan GSM. Setidaknya saya masih bisa memberi kabar orang rumah bahwa saya masih baik-baik saja.

107

tapi lebih dikarenakan terlalu banyaknya kepulauan yang menjadi wilayah kerja Dinas Kesehatan di sana. Kabupaten Kepulauan Aru memiliki 7 (tujuh) kecamatan dengan jumlah puskesmas mencapai 21 buah. Banyaknya jumlah puskesmas dibanding dengan jumlah kecamatan bukanlah dikarenakan kabupaten kepulauan ini kaya raya. Yang sebenarnya adalah beberapa pulau yang terselingi selat-selat yang terlihat sempit.Gambar 5. tetapi saat observasi didapatkan kenyataan yang cukup lebar. 108 .17 Peta Wilayah Kabupaten Kepulauan Aru Melihat gambar peta di atas sepertinya Aru terdiri dari satu pulau besar dan beberapa pulau kecil.

Perjalanan yang cukup ‘mudah’ untuk wilayah kabupaten kepulauan yang memiliki 547 pulau ini. Perjalanan menuju lokasi Puskesmas Benjina bisa ditempuh dengan perahu bermotor reguler dengan perjalanan sekitar 3-4 jam dari ibukota Kabupaten Kepulauan Aru. Kecamatan Aru Tengah. Kepulauan Aru. dengan bentangan wilayah yang cukup luas. Di Puskesmas Benjina terdapat tenaga bidan sebanyak lima orang. salah satu puskesmas dengan jangkauan ‘termudah’ di wilayah ini. 109 . Dalam kecamatan yang sama sebenarnya ada 4 Puskesmas yang beroperasi untuk sekitar 24 desa yang ada di wilayah ini.Observasi partisipatif aksesibilitas fasilitas kesehatan untuk wilayah Kabupaten Kepulauan Aru kali ini kami lakukan dari Dobo (ibukota Kabupaten Kepulauan Aru) ke Puskesmas Benjina. sedang Puskesmas Benjina sendiri bertanggung jawab atas 11 desa.18 Puskesmas Benjina. yang entah mengapa semuanya ditugaskan berkumpul di Puskesmas Induk Benjina saja. yang berada di pesisir sebelah barat Pulau Kobroor. Kab. Kunjungan pertama adalah kulonuwun ke Puskesmas Benjina sekaligus untuk assessment dengan seluruh bidan yang melayani Jampersal di wilayah ini. Dobo. Puskesmas Benjina terletak di Desa Benjina. Gambar 5.

Jadi. Jadi bila sakit saat baru 110 . yang ada adalah 4 orang tenaga dukun bayi. Usulan yang sangat manusiawi dari masyarakat yang merasakan manfaat keberadaan dukun bayi di tengah ketidaktersediaan tenaga kesehatan. Saat ini beliau sudah dipindahkan sebagai kepala bidang di Rumah Sakit Kabupaten di DOBO. Kepala Desa Benjina menyatakan kesanggupannya untuk menyediakan tanah di wilayahnya untuk keperluan tersebut. Dusun Papakula Kecil. Hanya saja yang ada tenaga perawat hanya di Pustu Selibatabata. yaitu di Namara. jadi secara otomatis lebih sering di Dobo dan Makassar daripada di Benjina. terdapat 3 Pustu (Puskesmas Pembantu). yang rumahnya saat ini berada di Makassar. banyak masyarakat di wilayah kerja Puskesmas di wilayah ini bersentuhan dengan pelayanan kesehatan sebulan sekali. menyatakan bahwa Puskesmas menurunkan petugas untuk berkeliling di Posyandu sekali sebulan di setiap wilayah yang didominasi dengan jalur laut. yaitu di Maririmar yang juga tersedia tenaga perawat laki-laki. Pada kesempatan diskusi tersebut para tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat juga sempat melontarkan usulan pengadaan pos-pos siaga di beberapa titik desa. Menurut pengakuan Kepala Puskesmas yang di’amin’kan oleh rekan Puskesmas lainnya. Puskesmas Benjina sendiri dikepalai oleh seorang dokter. Karena pelayanan kesehatan ibu dan anak yang mengandalkan satu titik di puskesmas saja menjadi salah satu faktor penyulit akses masyarakat di wilayah ini. Menurut pengakuan rekan Puskesmas.Sama sekali tidak ada ‘bidan desa’ di wilayah ini? Dalam sebuah kesempatan diskusi dengan salah satu Kepala Dusun. Di wilayah Benjina juga ada satu Poskesdes (Pos Kesehatan Desa). Dalam forum diskusi yang sama. terungkap bahwa di desanya tidak ada tenaga bidan sama sekali. yang merupakan seorang dokter lulusan pertama yang asli daerah. Usulan lain yang menarik adalah usulan dari bapak pendeta yang untuk memberi perhatian dan penghargaan bagi dukun bayi. dua lainnya masih kosong. Selibatabata dan Fatujuring.

Desa Namara. dan meyakinkan bahwa dia akan kembali menjumpai kakek itu. bersabarlah. kami mendapat jawaban bahwa memang jadwal Posyandu keliling itu rutin. sampai pada akhirnya terlewat pada jadwal bulan berikutnya lagi. Dan betapa Mbak Ning.. memang mereka bersentuhan dengan petugas kesehatan sebulan sekali sesuai dengan jadwal Posyandu. entah sampai kapan? Konfirmasi kami lakukan ke petugas Puskesmas tentang penjadwalan Posyandu ini. dan wilayah Trans-Maijurung. dan bahwa memang menurut mereka kondisi ini terjadi berada di luar kuasa petugas kesehatan. dan berharap mendapat pengobatan dari mantri yang menyertai perjalanan kami. posisinya sudah duduk di bibir dermaga dengan kaki hendak menjangkau speedboat. Menurut masyarakat di lokasi-lokasi tersebut. mantri perempuan dari Purwokerto itu begitu telaten memberi penjelasan sekaligus memupuk harapan si kakek. 600.. Desa Selilau. Ada sebuah insiden kecil pada saat kami hendak meninggalkan Desa Gulili pada salah satu kunjungan. tapi juga tergantung ketersediaan uang. Bersabarlah kek. wilayah RKIBenjina (Rumah Kayu Indonesia). yaitu Desa Benjina. Setidaknya tujuh titik lokasi yang menjadi ampuan Puskesmas Benjina telah kami datangi. di dermaga seorang kakek ber-jalan terbungkuk menggunakan tongkat hendak melompat ke speedboat kami. Desa Gulili. maka kita harus bersabar menunggu satu bulan kemudian untuk mendapatkan pengobatan. Mereka bercerita dengan tetap menaruh kepercayaan penuh pada petugas kesehatan. Sungguh tak tertahan hati menangis merasai rintih dan harapnya.saja ada kunjungan Posyandu.sekali jalan untuk tiga sampai empat hari berkeliling Posyandu di wilayah-wilayah ampuan Puskesmas tersebut. Desa Fatujuring. Dalam kesempatan ini kami juga sempat berkunjung dan berbaur dengan masyarakat di beberapa lokasi. Setidaknya membutuhkan Rp..000. Kakek yang sedang sakit itu mengira kita sedang ada jadwal Posyandu. tetapi seringkali juga mundur. 111 .

Kita coba berhitung untuk ‘ketersediaan uang’ ini.000.000. Bukannya Kementerian Kesehatan telah meluncurkan dana BOK ke semua Puskesmas? Yang setelah re-check ke petugas Dinas Kesehatan menemukan kenyataan bahwa Puskesmas Benjina menerima dana BOK sekitar 250 juta. hanya saja sudah rusak sejak dua tahun yang lalu. Pada saat pengambilan keputusan.Tergantung ketersediaan uang? Sungguh miris mendengar jawaban ini. Kebutuhan biaya sesuai uraian di atas adalah untuk sewa longboat dari nelayan. para Kepala Puskesmas merasa sanggup memperbaiki speedboatnya sendiri tanpa diambil alih oleh Dinas Kesehatan. Nama Wakatobi sendiri merupakan representatif dari empat pulau besar yang menjadi basis kabupaten ini. Kabupaten yang relatif baru ini merupakan pecahan dari Kabupaten Buton.000. 600. Ke-empat pulau tersebut adalah 112 . Lalu dibandingkan dengan kucuran dana BOK yang sekitar Rp. Bila dibutuhkan 3 kali perjalanan untuk menjangkau Posyandu yang memerlukan biaya transportasi laut. 21. Tetapi hasilnya untuk Puskesmas Benjina sampai saat ini dari dua tahun yang lalu tidak ada perbaikan sama sekali. dan dalam setahun hanya pada kisaran Rp. Itu belum termasuk dana operasional Puskesmas yang berasal dari APBD.-. yang sekali perjalanannya membutuhkan biaya Rp.-. 250.800. maka sesungguhnya kebutuhan per bulan untuk transportasi laut hanya membutuhkan Rp. Menurut keterangan Dinas Kesehatan sempat dirapatkan soal kerusakan speedboat ini dengan beberapa Puskesmas yang mengalami hal yang sama.-.000. 1.-? Yang sekali lagi setelah konfirmasi dengan Dinas Kesehatan penyerapan dana BOK di Puskesmas Benjina mencapai 100%. Kabupaten Kepulauan Wakatobi Kabupaten Kepulauan Wakatobi merupakan salah satu wilayah dari Propinsi Sulawesi Tenggara yang berbatasan langsung dengan Propinsi Maluku Utara di sebelah Timur.000.600. Puskesmas Benjina sendiri sebetulnya sudah mempunyai speedboat sendiri.

Jalur udara yang cukup repetitif tersebut bukan karena Wakatobi sebagai destinasi bawah laut yang cukup 113 . laut dan udara. serta hari Sabtu via Kendari. dan terakhir pulau terjauh (paling Selatan) adalah Pulau Kaledupa. Pulau Tomia. yang untuk kedua jenis jalur tersebut dilayani oleh maskapai Wings Air.Pulau Wangi-wangi.19 Peta Kabupaten Kepulauan Wakatobi Mirip dengan wilayah kabupaten kepulauan lainnya. Gambar 5. Pulau Kaledupa. Jalur laut bisa kita tempuh menggunakan kapal cepat dari Baubau sekitar empat jam. Sedang jalur udara bisa kita tempuh dari Makassar via Baubau yang tersedia hari Senin-Kamis. jalur transportasi yang tersedia untuk mencapai wilayah ini terdiri dari dua jalur.

. Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Wakatobi yang berada di Wanci pun.mendunia ini ramai dikunjungi wisatawan luar. “. dengan ampuan wilayah yang mencapai 6 desa.. Kab. Cuman untuk yang kepulauan belum ada puskel laut.untuk jangkauan sebenarnya sudah lebih baik. karena tinggal lapor..000. Dalam sebuah diskusi di Kecamatan Tomia yang melibatkan tokoh masyarakat.” demikian keluh salah satu tokoh masyarakat. tenaga bidan yang tersedia hanya 3 orang.-. tokoh agama. terutama untuk transfusi darah.. Sebagai gambaran. nanti akan dijemput ambulan. Karena bila ada kasus harus dirujuk ke Baubau. karena di Wanci sarana kesehatannya masih kurang.” (Toma. tetapi belum memiliki Unit Transfusi Darah. ketersediaan pelayanan kesehatan masih cukup menjadi masalah di wilayah ini.saya rasa pemberian layanan di sini sudah cukup bagus pak. Untuk wilayah Puskesmas Tomia yang kami datangi.di sini. Menurut pengakuan Dinas Kesehatan sebenarnya sudah tersedia tenaga untuk pelayanan transfusi darah. sebagai satu-satunya Rumah Sakit di wilayah ini tidak memiliki. satu bidan untuk satu desa itu tidak cukup pak! Apalagi ini kita hanya diberi tiga bidan untuk enam desa. “. tapi perlu ditingkatkan lagi. jarak antara Pulau Tomia ke Baubau mencapai 11 jam perjalanan dengan kapal reguler bertarif Rp. kader kesehatan dan bahkan dukun bayi kami juga menemukan beberapa kondisi yang menjadi realitas yang ketersediaan sarana dan fasilitas kesehatan yang harus dibenahi. Seperti layaknya kabupaten kepulauan lainnya. Wakatobi) Memang di Kabupaten Wakatobi belum tersedia fasilitas pelayanan transfusi darah. “. rujukan harus ke Baubau.” usul salah satu Kepala Lingkungan kepada kami. bahkan untuk sekedar bank darah. tetapi sarananya yang masih belum tersedia. itupun hanya beroperasi 114 . 130... tetapi lebih karena pemerintah kabupaten mensubsidi pihak maskapai untuk melayani jalur tersebut. Palang Merah Indonesia (PMI) sebenarnya sudah berdiri di kabupaten ini. yang otomatis setiap bidan harus mampu mencover dua desa.

per kali sewa.000. seberang Pulau Tomia. Jadi ibu hamil yang mau bersalin harus bersabar dengan jadwal yang ada serta perjalanan yang lama.sekali sehari. Meski juga sebenarnya sudah tersedia dokter obgyn di RSUD Kabupaten Wakatobi yang dikontrak selama enam bulan. Perjalanan menggunakan kapal speed bermesin tempel 5 biji berkekuatan 200 PK ini menempuh perjalanan selama kurang lebih 3 jam. 115 . Dari Pelabuhan Usuku di Pulau Tomia. Jadi. Dalam perjalanan yang kami arungi dengan kapal cepat bisa mencapai tiga sampai tiga setengah jam perjalanan.000.. Observasi partisipatif aksesibilitas fasilitas pelayanan kesehatan yang kedua kami lakukan di Pulau Lamanggau. untuk berganti tunggangan dari kapal speed menjadi pompong . Dari Pelabuhan Waitii inilah kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Lamanggau. perahu kecil yang di daerah lain biasa juga disebut sebagai jung atau ketinting . Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Jabal di Pulau Wangi-wangi menuju Pelabuhan Usuku di Pulau Tomia. 10. Hanya saja memang ketersediaan sarana pelayanan kesehatan di RSUD Kabupaten Wakatobi tidak selengkap di Baubau. bukan cerita baru bila ibu hamil dengan faktor penyulit yang dirujuk ke Baubau harus pass away sebelum sampai ke tempat rujukan. Carter atau sewa kapal sepertinya menjadi hal yang mustahil bagi penduduk wilayah ini. kami harus bergeser ke pelabuhan lainnya. karena harga sewanya mencapai kisaran di atas Rp. Di wilayah ini. Jarak Pulau Tomia ke Wanci di Pulau Wangi-wangi sebenarnya lebih pendek. terutama wilayah pesisirnya didominasi oleh keberadaan Suku Bajo yang tinggal di atas laut. tempat bermukimnya saudara-saudara Suku Bajo yang membentuk koloni tersendiri di bibir pantai wilayah Lamanggau. Waitii.

Di Pulau ini jumlah tenaga kesehatan yang ada hanya 5 (lima) orang. ini sudah termasuk Kepala Puskesmas. Yang tinggal di Lamanggau hanya tenaga sanitarian yang PTT pusat. mereka tinggal di pulau seberang. Dari kelima tenaga kesehatan yang ada tersebut. PTT dari pusat. seorang Sarjana Kesehatan Masyarakat dengan basis sanitarian. Sayangnya Puskesmas yang diresmikan oleh Gubernur Sulawesi Tenggara itu memiliki lokasi yang sama sekali tidak masuk akal. Kondisi ini diperparah dengan lokasi Puskesmas yang berada di dalam wilayah ‘Wakatobi Dive Resort ’. sebetulnya Pemerintah Daerah Kabupaten Wakatobi pada tahun 2009 sudah membangun gedung Puskesmas Induk Onemobaa yang representatif secara fisik. Sedang sisanya adalah perawat. 116 . wilayah Barat pulau. Bagaimana tidak? Lokasi Puskesmas berada di Onemobaa. Satu orang lagi juga seorang sanitarian. Sebuah perusahaan swasta yang mengelola obyek wisata di Onemobaa. 4 orang tidak tinggal di tempat. jauh dari permukiman penduduk yang menempati sisi Timur pulau. di Waitii.Gambar 5. Untuk sarana bangunan Puskesmas. tetapi lebih tepat wilayah yang sama sekali tidak ada penduduk.20. Di wilayah Puskesmas ini bukan wilayah jarang penduduk. Kapal cepat yang melayani rute Wanci-Tomia Agak miris bercerita tentang pelayanan kesehatan di wilayah ini.

kami disertai oleh Kepala Puskesmas. tetapi relatif lebih mendekati permukiman penduduk. Setelah itu harus jalan kaki di jalan setapak sekitar 15 menit. salah satu staf Puskesmas.Puskesmas Onemobaa ini sudah tiga tahun tidak ditempati. siapa penduduk yang mau datang ke tempat ini dengan perjalanan yang cukup jauh dari permukiman. Petugas kesehatan Puskesmas lebih memilih Puskesmas Pembantu (Pustu) Lamanggau untuk berkantor. barulah sampai di pintu gerbang ‘Wakatobi Dive Resort ’. Kami harus naik pompong untuk mencapai lokasi Puskesmas Onemobaa yang berada di sisi lain pulau. berada di ujung desa. 117 . serta satu staf Dinas Kesehatan. Karena kalaupun ditempati. mencoba untuk berkunjung ke Puskesmas Onemobaa. Dalam sebuah kesempatan. Karena meski tempatnya juga tidak strategis.

Tapi kami harus menunggu sekitar satu jam untuk menunggu ijin masuk tersebut. Wakatobi Memasuki wilayah resort ini harus minta ijin pada pihak manajemen. selain itu juga didapatkan dari data sasaran Jampersal yang memanfaatkan layanan dengan Jampersal maupun non Jampersal. Pada kesempatan kali ini kami diijinkan masuk.Gambar 5. Bila manajemen berkenan memberikan ijin. Puskesmas Onemobaa.21. 5. maka baru kita bisa masuk dan bisa ke Puskesmas.1 Utilitas di Pelayanan Dasar Data utilitas di pelayanan dasar yang didapatkan dari Dinas Kesehatan dan sasaran Jampersal yang diambil secara random di 2 (Dua) puskesmas di 118 . 5. Kab. Data diambil dari data sekunder puskesmas dan rumah sakit.6.6 UTILITAS PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR OLEH PROVIDER YANG DISEDIAKAN OLEH PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Utilitas Pelayanan Kesehatan ibu dan bayi adalah cakupan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan Ibu dan bayi dalam program Jampersal di pelayanan dasar dan di pelayanan rujukan.

22. Kota balikpapan ada sedikit peningkatan pada tahun 2011 dibandingkan tahun 2010.masing-masing kabupaten / kota. nampak di beberapa kabupaten / kota yaitu Sampang. Bogor. 119 .6%.36. Namun demikian peningkatan tidak terlalu mencolok berkisar 1% . kota Mataram. Cakupan Persalinan oleh Tenaga kesehatan di Kabupaten / Kota “non kepulauan ” Tahun 2010 – Juni 2012 Sumber data : Dinas kesehatan Kabupaten / Kota Di kabupaten / kota “non kepulauan” cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan dari tahun 2010 sampai dengan 2012. Data sekunder meliputi data Persalinan oleh tenaga kesehatan dan kematian Maternal dan Kematian Neonatal di Kabupaten / Kota yang merupakan data sekunder dari Dinas kesehatan. Data tersebut ditampilkan dalam gambar sbb : Gambar 5. Penolong persalinan pada sasaran non Jampersal dan tempat persalinan pada sasaran pengguna Jampersal diambil dari kuesioner sasaran.. Untuk tahun 2012 belum dapat dibandingkan karena baru cakupan sampai bulan Juni 2012. Sedangkan data tenaga pemeriksaan ANC pada sasaran non pengguna Jampersal dan pengguna Jampersal. Dari data Ditjen Bina Gizi dan KIA tahun 2012 didapatkan data untuk angka Nasional cakupan persalinan ditolong nakes di Indonesia tahun 2012 adalah 86.

2012) seperti terlihat di Kota Ambon dan Aru masih dibawah rata2 nasional. Pada tahun2012 sampai dengan bulan Juni terlihat peningkatan cakupan walaupun belum dapat dibandingkan karena baru cakupan 6 bulan. Natuna yang mana kabupaten Natuna tidak memanfaatkan Jampersal tetapi Jamkesda.23. di wilayah kepulauan cakupan persalinan tidak semuanya diatas rata2 nasional 86. Aru menerima kebijakan Jampersal dengan baik. prasarana. Gambar 5. Cakupan Persalinan Tenaga Kesehatan di Kabupaten / Kota “Kepulauan” Tahun 2010 – Juni 2012 Sumber data : Dinas kesehatan Kabupaten / Kota Di kabupaten/kota kepulauan terdapat sedikit peningkatan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun2011. sumberdaya manusia dan kondisi geografis yang berat. Aru bahkan masih jauh dari angka rata2. Hal ini dapat dipahami walaupun kabupaten kep. Pada tabel dibawah ini menjelaskan tentang “continum of care dari” sasaran Jampersal yang menggunakan Jampersal. Sasaran yang diambil adalah 120 .Dengan demikian untuk kabupaten / kota di non kepulauan cakupan persalinan tahun 2011 sudah diatas rata2 nasional.36 (Ditjen Gikia Kemenkes. tapi masih ditemukan banyak kendala dari sarana. Tidak seperti di wilayah non kepulauan. di kep. namun peningkatan tidak nampak terlalu signifikan kecuali di Kep.

9% dan pelayanan K1.7% 77.6% 14.4% 76.2% 25. K4 dan Persalinannya memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 + Persalinan + Pn : Ibu Nifas yang K1. “Continum of care”pada Responden Sasaran Ibu Nifas Pengguna Jampersal Per Kabupaten / Kota (N= 573) Kabupaten/Kota Kab Sampang Kota Blitar Kota Mataram Kab Lombok Tengah Kota Bandung Kab Bogor Kota Ambon Kab Kep Aru Kota Kendari Kab Wakatobi Kota Batam Kota Balikpapan Kab Paser 13 kab/kota K1 91. Bagaimana “continum of care” Ibu Nifas pengguna Jampersal di masing-masing kabupaten / kota terlihat di tabel dibawah ini : 121 .8% 33. K4.3.0% 57. K4 .3% 41.1% 50.8% 58.7% 33.1% 66.8% 74. bahkan di Kota Kendari 100%.0% 52.3% 39.2% 27. persalinan dan PNC.9% K1 + K4 + Persalinan + PNC 67.1% 68.3% 39.8%.1% 66.8% 58.9%.0% 90. pelayanan K1.5% 14.7% 72.3% 100. K4.4% 59.5% 14.9%.9% 72.6% 64.0% 72.0% 55.7% 87.3% 39. K4 dan persalinan 59.3% 63.0% 43.2% 59.8% K1 + K4 + Persalinan 71.ibu yang sedang masa nifas sehingga sudah melewati masa ANC. Persalinan dan Pelayanan Nifas adalah 57.9% Keterangan : • Responden Ibu Nifas : Ibu Nifas yang pernah memanfaatkan Jampersal K1.0% 43.3% 66.4% 68.3% 66.7% 33.5% 14.3% 87.2% 27.0% 87.5% 33.0% 50. Kota Mataram dan Wakatobi Ibu nifas yang memanfaatkan K1 dengan Jampersal adalah > 90%.2% 86.2% 61.0% 94. Persalinan atau Pn • K1 : Ibu Nifas yang K1 memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 : Ibu Nifas yangK1 dan K4 memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 + Persalinan : Ibu Nifas yang K1.4% 59. Tabel 5. pelayanan K1 dan K4 adalah 61.9% K1 + K4 72.3% 63. Persalinan dan Pn memanfaatkan Jampersal Secara Total dari 13 kabupaten / Kota penelitian responden Ibu nifas yang memanfaatkan Jampersal untuk pelayanan K1 adalah 74.9% 33.8% 62. Di Sampang.

7% 5.1% 0% 3. Tetapi jika dilihat “continum of care” sangat baik karena pasien melakukan K1 sampai dengan PNC dengan memanfaatkan Jampersal.4% 3.6% 15% B 1.K4. persalinan) dan PN Di Kabupaten / Kota di Lokasi Penelitian Tahun 2012 Kabupaten / Kota Kab Sampang Kota Blitar Kota Mataram Kab Lombok Tengah Kota Bandung Kab Bogor Kota Ambon Kab Kep Aru Kota Kendari Kab Wakatobi Kota Batam Kota Balikpapan Kab Paser 13 kab/kota A 20% 8% 47. tapi terjadi penurunan yang cukup tajam pada K4.3% 6.(K1+K4+Persalinan+PNC) Di perkotaan seperti Bandung dan Batam ibu nifas yang telah memanfaatkan Jampersal sedikit dibanding daerah penelitian lain. sebagian besar akan memanfaatkan layanan PNC.2% 50% 7. Aru.2% 2% Keterangan : A : K1 – (K1+K4+Persalinan) B : (K1+K4) –(K1+K4+Persalinan) C : (K1+K4+Persalinan). Wakatobi.7% 0% 0% 0% 22. Hanya saja dari data ini tidak dapat dijelaskan lebih lanjut kelengkapan dalam paket PNC.3% 8.2% 4.2% 0% 0% 0% 0% 16.7% 0% 0% 3. Bogor. yang mendapatkan layanan K1 menurun 2% yang bersalin dan Pn dengan memanfaatkan Jampersal.9% C 4. Berbeda dengan Kota kendari ketika K1 semua responden (100%) menggunakan Jampersal. Ternyata dari data diatas dapat dijelaskan bahwa ibu yang ketika persalinan memanfaatkan Jampersal. Kota Ambon. Kota Batam 122 .3% 0% 0% 0% 0% 0% 2.5% 4% 9. Kep. Di Bogor juga sudah cukup baik.Tabel 5.7% 0% 1. persalinan dan PNC.8% 0% 2% 58.8% 2.4. Pengguna Jampersal yang menggunakan layanan K1 dan K4 di Kota Bandung. Continum of care Pelayanan Jampersal (K1.

3%) 0 (0. Kab Sampang 2. dimana pengguna Jampersal yang mendapat layanan K1 (100%) tapi ketika K4.3%) 726 (95. KotaBatam 12. Tabel 5. Ada 3 (tiga0 kabupaten yang sasaran yang persalinan menggunakan Jampersal yaitu di Kepulauan Aru (27. Wakatobi (2.0%) 58 (100.2%.0%) 0 (0. Kota Kendari 10.0%) 0 (0.dan Paser 100% bersalin dengan Jampersal dan 100% memanfaatkan layanan Pn kecuali Paser yang memanfaatkan Pn turun 22.6%) 0 (0.5%) 0 (0. Kota Bandung 6. Kota Ambon 8. Kab Kep Aru 9.7%) 36 (4. Paser Total Sumber : Data Sasaran Penelitian Jampersal 2012 Terdapat sepuluh kabupaten/kota yang sasaran Jampersal memanfaatkan pelayanan persalinan dengan Jampersal.0%) 26 (74.0%) 24 (27. Kota Balikpapan 13.0%) 33 (100. Kota Blitar 3. persalinan dan Pn menurun cukup drastis.7%) masih dilakukan di non fasilitas kesehatan.0%) 65 (100.0%) 0 (0.0%) 0 (0.0%) 0 (0. Dari data diatas terlihat bahwa dengan memanfaatkan Jampersal sasaran dilayani oleh tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan.0%) 0 (0. Ini menunjukan bahwa continum of care belum berjalan dengan baik. Kab Bogor 7.5%) 54 (100.0%) 11 (100. Dari tabel diatas terlihat bahwa 123 .0%) 63 (72.0%) 3 (2. Kota Mataram 4.4%) 47 (100.0%) 64 (100. Tempat Persalinan Responden Pengguna Jampersal di Lokasi penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Kabupaten / Kota Tempat Persalinan Jampersal Fasilitas Kesehatan Non Fasilitas Kesehatan 75 (100. persalinannya dilakukan di fasilitas kesehatan (100%).0%) 0 (0.0%) 119 (97.0%) 60 (100.5%) dan Paser (25.0%) 51 (100. Responden pada data dibawah ini adalah hanya sasaran Jampersal yang menggunakan Jampersal ketika melahirkan tanpa memperhatikan apakah memanfaatkan jampersal ketika ANC atau PNC setelahnya.0%) 9 (25.7%) 1.5. Kab Lombok Tengah 5. Kab Wakatobi 11. Yang perlu mendapat perhatian adalah Kota Kendari.8%).

24 menjelaskan responden yang tidak menggunakan Jampersal ketika bersalin berapa persen yang ditolong tenaga kesehatan. Gambar dibawah ini respondennya adalah sasaran Jampersal yang tidak menggunakan Jampersal. Gambar 5. Bagaimana dengan responden yang tidak memanfaatkan Jampersal? Ketika ANC sasaran tidak menggunakan jampersal terlihat terjadi pergeseran dari tenaga kesehatan saat ANC. Tenaga Pemeriksa Kehamilan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011 – April 2012 124 .seluruh responden ketika bersalin dengan Jampersal maka persalinannya oleh nakes dan di fasilitas kesehatan kecuali 3 (tiga) kabupaten diatas yang merupakan daerah yang secara geografis memang sulit dan dengan keterbatasan sumberdaya. ketika persalinan ditolong oleh non tenaga kesehatan seperti tergambar dalam di bawah ini.24. Menjelaskan siapa tenaga pemeriksa kehamilan pada sasaran yang tidak menggunakan Jampersal dan tabel 5.

Kota Batam. Bandung Lombok Tengah dan Kota Mataram. Bahkan di kepulauan Aru. 125 . Nampak jelas pergeseran sasaran dari nakes ketika pemeriksaan kehamilan ke non nakes ketika persalinan di kabupaten / kota Balikpapan. ketika persalinan pindah ke tenaga non kesehatan seperti nampak pada dua gambar diatas. Bogor. Kota Kendari.25 Tenaga Penolong Persalinan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Sumber : Data sasaran Penelitian Jampersal 2012 Dari data sasaran yang tidak memanfaatkan Jampersal didapatkan bahwa terdapat sasaran ibu hamil yang sudah memeriksakan kehamilannya di tenaga kesehatan.50% perubahan dari pasien yang ketika pemeriksaan kehamilan dilakukan oleh tenaga kesehatan dan berubah menjadi bersalin pada tenaga non kesehatan. Kepulauan Aru.Gambar 5. Lombok tengah dan Kota Mataram antara 29% .

eklamsi. 2007). Infeksi . Hal ini masih mengikuti pola menurut WHO 2007 bahwa penyebab kematian ibu yang paling umum di Indonesia adalah penyebab obstetri langsung yaitu perdarahan 28 %. preeklampsi/eklampsi 24 %. Kematian Maternal di Kabupaten / Kota Tahun 2010 .26.Gambar 5. Penyebab kematian maternal terbanyak dari data sekunder pada penelitian ini adalah perdarahan. Kemenkes. 126 . (Direktorat Ibu. sedangkan penyebab tidak langsung adalah trauma obstetri 5 % dan lain – lain 11 % (WHO. infeksi 11 %. 2012).Juni 2012 Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota Kematian Maternal pada tahun 2011 dan sampai dengan Juni 2012 di kabupaten / kota nampak cenderung meningkat kecuali Kota Bandung nampak menurun. Dari analisa kematian maternal tahun 2011 dari data rutin penyebab kematian Maternal tertinggi perdarahan 35% dan hipertensi 22% dan Infeksi 5%.

Saat ini. Persalinan di fasilitas kesehatan ini merupakan hal yang sangat penting.27. Kalau dalam proses persalinan terjadi komplikasi. sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit. Kematian Neonatal di Kabupaten / Kota Tahun 2010 .Juni 2012 Sumber : Dinas kesehatan Kota Untuk kematian Maternal pada tahun 2011 terlihat kecenderungan menurun. 127 . Semua layanan itu diberikan oleh tenaga-tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.2.Gambar 5. Utilitas di Pelayanan Rujukan Jampersal menjamin pelayanan bagi ibu-ibu dengan kehamilan risiko tinggi dan persalinan dengan penyulit dan komplikasi. Penyebab kematian neonatal dari data sekunder Dinas kesehatan terbanyak adalah Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan Asfiksia. tenaga kesehatan memiliki sarana untuk melakukan tindakan pra rujukan yang diperlukan agar komplikasi tidak memburuk.6. belum semua persalinan itu dilakukan di fasilitas kesehatan. 5. tetapi tahun 2012 di kabupaten Sampang dan Kota Batam ada kecenderungan meningkat.

dimana dalam juknis Jampersal dijelaskan bahwa untuk persalinan dengan komplikasi dilakukan di pelayanan rujukan (Puskesmas Poned dan rumah sakit). kematian maternal >24 jam.” (Bidan RS... kematian neonatal < 24 jam dan kematian neonatal > 24 jam. Sampang. Kab Bogor). Paser.Untuk utilitas di pelayanan rujukan di dapatkan data dari rumah sakit pemerintah di kabupaten / kota yang menjadi rumah sakit rujukan Jampersal dan mempunyai Perjanjian Kerjasama (PKS) dengan Dinas Kesehatan kabupaten / kota. Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam dengan Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Secara umum pada tahun 2011 rujukan persalinan pervaginam dengan komplikasi ke rumah sakit pemerintah di kabupaten / kota meningkat (RSUD kota Blitar. 128 . Loteng. Hal ini kemungkinan disebabkan karena tahun tersebut sudah diberlakukan Jampersal. Data yang didapatkan adalah persalinan per vaginam rujukan dengan komplikasi. persalinan per vaginam rujukan tanpa komplikasi. selain itu setelah tahun ke-2 Jampersal dilaksanakan dilihat tren jumlah kemtian maternal dan neonatal di rumah sakit yang meliputi : kematian maternal < 24 jam. Bogor).28. Data tersebut ditampikan pada grafik sbb : Gambar 5.adanya Jampersal kunjungan naik 50 % antara lain kasus KPD (ketuban pecah) dan PCR (preklamsi). “.

Bahkan di RSUD Blitar.6. RSUD kab.Bogor 7. Kep Aru 9. RSUD Lombok Tengah 5.29. Kota Ambon dan Kota Kendari per Juni tahun 2012 terlihat peningkatan yang cukup tinggi ( data diatas sampai dengan bulan Juni 2012). Tabel 5. terutama di RSUD Kota Blitar. RSUD Kab Wakatobi 2010 474 63 39 709 767 - Jumlah Kasus Sectio Caesaria 2011 s/d Juni 2012 598 147 61 889 1161 8 237 53 29 624 50 129 . Loteng. RSUD Prov Ambon 8. RSUD Kab.Gambar 5. RSUD kab. Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam tanpa Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Persalinan rujukan pervaginam tanpa komplikasi di rumah sakit tahun 2011 dan tahun 2012 terlihat kecenderungan juga meningkat. RSUD Kota Mataram 4. RSUD Kota Kendari 10. RSUD Kota Bandung 6. Sampang 2. RSUD Kota Blitar 3. Jumlah Kasus Sectio caesaria yang ditangani di Rumah sakit di Kabupaten / Kota Tahun 2010 – Juni 2012 Kabupaten 1.

30 Kematian Maternal < 24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 Kematian Maternal yang terjadi < 24 jam di rumah sakit bervariasi di RSUD Kota Blitar. kab. Kasus SC ada yang dirujuk maupun yang tidak dirujuk dengan jenis pelayanan SC elektif atas indikasi medis dan SC emergensi.tidak didapatkan data Sumber : RSUD Kabupaten /Kota /Provinsi yang menjadi tempat rujukan Jampersal kecuali RSUD di Natuna.sejak ada Jampersal pasien di rumah sakit menjadi lebih banyak dari sebelumnya bisa sampai hampir dua kali lipatnya. tapi merupakan keseluruhan kasus yang ada di rumah sakit.”(SPOG. RSUD Kota Batam Peningkatan kematian maternal di RS dimungkinkan karena rujukan dari layanan dasar meningkat pada tahun 2011 dan 2012.11. RSUD Kab. Walaupun pada data diatas tidak hanya menggambarkan khusus kasus SC yang di biayai dengan Jampersal. RSUD Prov Balikpapan 13. RSUD Kab. Natuna 439 412 499 41 99 61 Keterangan : . “.. Sampang) Gambar 5. 130 .RSUD Kota Batam 12.. Kasus Persalinan sectio caesaria (SC) rumah sakit Pemerintah yang PKS dengan Dinas kesehatan di Kabupaten / Kota terlihat cenderung meningkat di tahun 2011 dan Juni 2012. RSUD Sampang. Paser 14.

Kondisi ini perlu dikaji lebih lanjut apakah berkaitan dengan meningkatnya kasus rujukan ke rumah sakit dan berpengaruh pada pelayanan karena keterbatasan sarana. prasarana dan SDM di rumah sakit.Juni 1012 131 . Gambar 5.31 Kematian Maternal >24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 Kematian Maternal > 24 jam di rumah sakit pada tahun 2011 juga terlihat kecenderungan meningkat di kabupaten/kota.Gambar 5.32 Kematian Neonatal di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010.

bersalin. 5. Demikian juga di Kota Mataram kematian Neonatal tahun 2012 meningkat . Akseptabilitas sasaran terhadap Jampersal akan dijelaskan dimulai dengan siapa sasaran yang memanfaatkan Jampersal dan bagaimana kepuasan sasaran terhadap layanan Jampersal. Tapi di Kota Bandung. ibu nifas ( sampai dengan 42 hari) dan neonatus (0 – 28 hari) yang tidak mempunyai jaminan kesehatan.33 Kepemilikan Jaminan Lain Pada Sasaran Pengguna Jampersal (N=1. Dari data sasaran penelitian ini ternyata yang memanfaatkan Jampersal 95% sudah memilik jaminan 132 .Kematian neonatal di kota dan kabupaten ada yang meningkat pada tahun2011 seperti di di Kabupaten Bogor dan kota Blitar dan sampai Juni 2012 ada kecenderungan menurun. Gambar 5.7. AKSEPTABILITAS SASARAN DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN. tapi di Kota Balikpapan sampai Juni 2012 meningkat cukup tinggi. Di Kota Bandung dan Kota Balikpapan tahun 2011 kasus kemtian neonatal menurun.243) Untuk mencapai target MDG’s Jampersal diluncurkan dengan sasaran adalah ibu hamil.

Untuk Jamkesda beberapa kabupaten / kota juga cenderung memanfaatkan pembiayaan Jampersal atau dialihkan menjadi Jampersal. Askes juga dimanfaatkan oleh sasaran untuk persalinan anak ke 3 (tiga) dst. Dan hanya 5% yang tidak mempunyai jaminan (lainnya). PNC.kesehatan sebelumnya (Jamkesmas. Setiap pasien berobat mengambil kartu di kepala desa dan setelah berobat dikembalikan lagi ke kepala desa. persalinan. sehingga anak ke 3 (tiga) dst sasaran tidak dapat memanfatkan Askes. Jamsostek. Askes. apakah sasaran tersebut bukan peserta Jamkesmas. Jamkesda. harus dilakukan pemilahan dulu. Selain itu kemudahan pemanfaatan Jampersal dengan persyaratan cukup KTP dan bersifat portabilitas. sehingga membuat pasien enggan untuk memanfaatkan kartunya. KB) dibiayai dengan Jampersal. Disebabkan Askes hanya membiayai sampai anak ke 2 (dua). peserta Jamkesmas seringkali ke pelayanan tidak membawa kartu. karena kartu di simpan di Kepala Desa. Hal ini terjadi karena di kabupaten / kota sejak pembiayaan Jampersal mulai dilaksanakan maka pembiayaan Jamkesmas untuk pelayanan KIA (ANC. sehingga lebih mudah untuk dimanfaatkan dibandingkan jaminan kesehatan yang lain. 133 . Karena untuk sasaran Jampersal. Yang masih menjadi masalah adalah mengenai kepersertaan Jamkesmas. namun ada juga kabupaten / kota yang masih menggunakan Jaminan Kesehatan Daerah. Kenyataan di lapangan.

Gambar 5.70% karena tidak tahu adanya Jampersal. 134 .34 Alasan Tidak Menggunakan Jampersal Pada Sasaran (N=525) Sosialisasi menjadi faktor yang penting untuk keberhasilan pelaksanaan program jampersal.8% dari sasasan tidak memanfaatkan Jampersal karena dilarang oleh tenaga kesehatan dan kader kesehatan. Disini juga terlihat bahwa peran suami juga sangat mempengaruhi sasaran memanfaatkan atau tidak Jampersal. Yang menarik ada 0. sehingga membuat keengganan dari tenaga kesehatan untuk memanfaatkan Jampersal untuk jasa pelayanannya. Dari data diatas menunjukkan bahwa sasaran yang tidak memenfaatkan Jampersal 66. Hal ini dapat dipahami karena di beberapa kabupaten / Kota besaran tarif jampersal dianggap belum memadai dan penerimaan klaim terlalu lama.

di sini kan mahal apa2 bu.3%. Kota Balikpapan). Jadi bayar selisih itu juga termasuk untuk biaya tersebut. 135 . “. Dari Gambar di atas nampak bahwa di Kota Blitar. bahkan Kota Balikpapan sampai 84.36 Pembiayaan Tambahan Pada Sasaran Pengguna Jampersal pada Kabupaten/Kota Daerah Penelitian Nampak di sebagian besar kabupaten / Kota untuk persalinan terdapat pembiayaan lain pada pasien yang persalinannya menggunakan Jampersal. Kota Mataram. Bogor dan Kota Balikpapan terdapat > 20% pasien yang dikenakan biaya tambahan diluar Jampersal...” (NN.Gambar 5.35 Kepemilikan Jaminan pada sasaran Non pengguna Jampersal (N=525) Gambar 5. Untuk bayar air saja mahal mana biasanya yang bersalin 1 yang nungguin 3 -4 orang dan mandi semua. Kota Bandung.

misalnya obat-obatan yang disediakan obat A. Lalu untuk opname juga masih ada yang bayar.” (NN. Dari hasil uji petik verifikator mendapatkan bebarapa temuan terkait dengan pelaksanaan Jampersal seperti adanya penarikan pembiayaan pada pasien yang memanfaatkan Jampersal. tokoh masyarakat Kota Bandung). Lalu untuk pelayanan persalinan apa memang harus langsung pulang? Jadi kalau bisa ada jeda hari lah untuk pelayanan. “. Kalo ada tindakan lebih dari itu..Jika dilihat lebih lanjut maka sebagian besar adalah perkotaan. hanya untuk warga miskin saja. Jampersal punya syarat – syarat khusus. Tapi tingkat penyerapan tiap individu kan beda-beda. Diambil tiga tematik yang menarik untuk dilakukan penelitian lebih lanjut yaitu : 1) Program dalam upaya mendukung Kesehatan Ibu dan Anak dengan pendanaan melalui PNPM Gerakan Sehat Cerdas (GSC) yang merupakan Program dari Kementerian Dalam Negeri di Kabupaten Lombok Tengah.” (NN.” (Toma.Jampersal tidak semua gratis. tokoh masyarakat Kota Bandung). Kota Blitar). Untuk meminimalisasi keadaan ini maka beberapa daerah sudah melakukan “uji petik” pada beberapa kasus. Kalo operasi kalo melebihi kuota di bayar sendiri. “. 136 . 5. yaitu ikut KB jangka panjang.. obat B yang dibayar. Jadi kalau bisa gak ada tambahan-tambahan biaya lagi. yaitu IUD dan implant..8 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Dari proses pengumpulan data terdapat beberapa temuan yang menarik terkait Kesehatan Ibu dan Anak. Salah satu warga pernah merasakan jampersal di RS tapi ada beberapa obat yang masih musti bayar. “Uji petik” dapat dilakukan langsung ke masyarakat atau mengambil beberapa kasus secara acak untuk kemudian dilakukan konfirmasi melalui telpon. masyarakat menanggung. sudah ada patokan dari pemerintah. Jadi harapannya kalau bisa gratis semuanya.PKK beberapa bulan lalu ada penjelasan dari PKM dan kami sudah berusaha untuk sosialisasi di warga. Jadi kalau bisa ada batasan-batasan . ternyata ada tambahan obat B.. Berikut kutipan hasil FGD dengan tokoh masyarakat yang ada di Kota Bandung yang menyatakan bahwa ada biaya tambahan yang dibebankan kepada masyarakat: “...

8. Tema ini dipilih disebabkan adanya kejadian kematian maternal yang cukup tinggi di puskesmas di Kota Blitar yang secara akses ke pelayanan kesehatan sangat dekat dan fasilitas rujukan sangat memadai. Berdasarkan informasi dari Pengelola Jampersal Dinas Kesehatan Kabupaten Wakatobi. yaitu Desa Lamanggau. Hal ini tentu menjadi pertanyaan besar. Tabu dan Upaya Penyelamatan Ibu di Kota Blitar. latar belakang adanya PNPM GSC di Lombok Tengah dikarenakan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lombok Tengah berada di urutan terakhir di provinsi NTB. Menurut fasilitator kabupaten PNPM GSC Lombok Tengah.1 Pemberdayaan Masyarakat dalam upaya mendukung program KIA melalui PNPM GSC di Kabupaten Lombok Tengah PNPM GSC merupakan pengembangan dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-Mandiri) yang dimulai pada tahun 2007. IPM Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2010 adalah 60.467282 (peringkat ke 286 nasional). 3) Antara Budaya.2) Bayang-bayang Jampersal di Lamanggau. pendidikan di Lombok Tengah juga masih kurang. Tujuan PNPM GSC adalah meningkatkan kesehatan ibu dan anak dan menuntaskan wajib belajar sembilan tahun. Puskesmas Onemobaa adalah sebuah puskesmas yang dibangun sekitar tahun 2007. Dari total 12 kecamatan di Lombok Tengah terdapat dua kecamatan yang tidak melaksanakan PNPM GSC yaitu 137 . Selain kesehatan.73 (peringkat ke 2 terendah Provinsi NTB) sedangkan IPKM Kabupaten Lombok Tengah 0. mengapa jumlah klaim yang diajukan oleh Puskesmas Onemobaa adalah nol rupiah.7 tahun artinya banyak penduduk Lombok Tengah yang tidak tamat Sekolah Dasar. Puskesmas ini mempunyai hanya satu desa sebagai wilayah kerjanya. Ditambah lagi angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Lombok Tengah yang cukup tinggi. Puskesmas Onemobaa tidak memfaatkan Jampersal. Rata-rata pendidikan masyarakat 5. Hal ini terlihat dengan dana klaim yang diajukan Puskesmas Onemobaa pada tahun 2012 adalah nol rupiah. 5.

Sedangkan Untuk bidang pendidikan terdapat empat indikator yaitu : 1) Setiap anak usia sekolah dasar terdaftar sebagai siswa sekolah dasar . Adapun indikator keberhasilan PNPM GSC di bidang kesehatan ibu adalah sebagai berikut: 1) Setiap ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) ke tenaga kesehatan minimal sebanyak empat kali selama masa kehamilan. 3) Setiap anak yang lulus SD terdaftar sebagai siswa sekolah menengah pertama. 2)Pemberian vitamin A . Empat indikator kesehatan balita diantaranya adalah : 1) Penimbangan bulanan. 3) Imunisasi dasar lengkap dan 4) Balita yang naik berat badannya (capaian N/D).Kecamatan Praya dan Kopang. 3) Setiap persalinan harus di lakukan di tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. Dana yang dikeluarkan PNPM GSC per kecamatan sebesar 1. 2) Tingkat kehadiran siswa sekolah dasar dalam mengikuti proses belajar mengajar minimum 85%. 4) Tingkat kehadiran siswa sekolah menengah pertama dalam mengikuti proses belajar mengajar minimum 85%. Untuk melihat keberhasilan Kabupaten Lombok Tengah dalam melaksanakan PNPM GSC berikut ini adalah grafik persentase keberhasilan indikator PNPM GSC Kabupaten Lombok tengah : 138 . 2) Setiap ibu hamil meminum minimal 90 butir pil FE (penambah darah) selama masa kehamilannya. 4) Setiap ibu yang sudah melahirkan melakukan PNC sebanyak tiga kali.8 milyar pada thn 2011. sehingga setiap desa mendapat dana sebesar kurang lebih antara 200-300 juta per tahun.

disusul Indikator 2 (Pemberian pil Fe). Namun demikian. Sedangkan Indikator terendah pada Indikator satu (pencapaian pelayanan ANC lengkap/K4). dan Indikator 7 (pemberian tablet vit A). perlu peningkatan pencapaian sebagai strategi kunci dalam upaya penurunan AKI dan AKB yang diprioritaskan pada indikator satu. Secara umum pencapaian delapan indikator PNPM GSC bidang Kesehatan di sepuluh Kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah cukup baik.Gambar 5. Persentase Capaian Indikator Keberhasilan PNPM GSC Kabupaten Lombok Tengah Sumber : PNPM GSC Kabupaten Lombok Tengah Berdasarkan grafik di atas terlihat bahwa capaian indikator bidang kesehatan ibu dan anak tertinggi pada Indikator 3 (Pertolongan persalinan oleh dokter/tenaga kesehatan yang kompeten). 2008) : 139 .37. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam PNPM GSC berjenjang dari tingkat provinsi sampai ke tingkat desa (PTO PNPM GSC. Hasil ini menunjukkan makin masifnya linakes dengan kompetensi kebidanan (Pn) dan strategi linakes dalam upaya PWS KIA dan Gizi serta ketanggapan linakes dalam pencegahan tiga terlambat (3T) dalam pelayanan KIA di wilayah kerja Puskesmas.

bertanggung jawab atas pelaksanaan program di tingkat kabupaten. memfasilitasi dan membantu Tim Koordinasi Kabupaten dalam mengkoordinasikan. pengelola dan operasional pelaksanaan kegiatan PNPM Generasi di tingkat antar desa termasuk mengkoordinasikan pertemuan. 5). Fasilitator Kabupaten. Spesialis manajemen informasi sistem. 6). pencairan dan penyaluran dana rekening kolektif serta rekening multiyears. dan melestarikan kegiatan-kegiatan yang didanai oleh program. mengelola dana untuk kegiatan yang tidak langsung dilaksanakan sekaligus. 2). 3). tetapi dilaksanakan berkali-kali secara rutin (atau yang bersifat multiyears). Camat. Puskesmas. Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PJOK). Spesialis PNPM GSC. Tim Koordinasi Kabupaten. 3). Unit Pengelola Kegiatan (UPK). 2). merupakan 140 . membina pengembangan peran serta masyarakat. pengendalian laporan keuangan. Bupati. 4). Kepala Puskesmas berperan sebagai Pembina pelaksanaan program di wilayah cakupan pelayanan Puskesmas itu berada. bertanggung jawab dalam memberikan bantuan teknis dalam pengembangan dan perawatan sistem informasi/komunikasi database untuk memastikan pelaporan yang akurat dan terkini. bertanggungjawab atas penyelenggaraan operasional kegiatan dan keberhasilan seluruh kegiatan di kecamatan. Tugas Puskesmas (terutama para bidan desa) adalah memberi masukan dan memfasilitasi kegiatan bidang kesehatan. 2). memfasilitasi koordinasi antara masyarakat desa dengan Puskesmas dan cabang Dinas Pendidikan Nasional (Dinas Diknas) di wilayahnya. meningkatkan dukungan teknis pendampingan dan pengendalian BLM PNPM GSC. Fasilitator Kecamatan (FK). mengembangkan. Di tingkat kabupaten : 1). membina administrasi kegiatan. bertugas dalam membangun dan membina hubungan dengan pelaku kesehatan dan pendidikan. 4).Di tingkat provinsi : 1).pertemuan di kecamatan. Di tingkat kecamatan : 1). Fasilitator Keuangan. Kelompok Kerja (Pokja). serta mengkoordinir antar instansi terkait di kabupaten.

pendamping masyarakat yang bertugas memfasilitasi masyarakat dalam melaksanakan setiap tahapan program mulai dari tahap sosialisasi, pelatihan, pemetaan sosial, perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian. FK juga berperan dalam membimbing FD/KPMD, Kader Dusun atau pelaku-pelaku program di tingkat desa dan kecamatan. Di tingkat desa :1). KPMD (Kader pemberdayaan masyarakat desa), memfasilitasi masyarakat dalam melaksanakan tahapan proses program di tingkat desa sejak persiapan, perencanaan, pelaksanaan sampai pelestarian kegiatan. 2). TPMD (Tim Pertimbangan Musyawarah Desa), memberikan pertimbangan dalam menetapkan dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan PNPM GSC. 3). PK/TPK (pelaksana kegiatan), tim yang akan melaksanakan kegiatan yang telah diputuskan musyawarah desa untuk didanai PNPM GSC terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara. 4). Kelompok ibu-ibu sasaran, kelompok yang dibentuk dengan mengumpulkan seluruh ibu yang menjadi sasaran program seperti ibu hamil dan ibu yang memiliki balita. Fungsi kelompok ini adalah sebagai forum diskusi berbagai permasalah yang dialami atau berbagi pengalaman diantara anggota-anggotanya. Salah satu kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah yang dianggap cukup berhasil melaksanakan PNPM GSC adalah Kecamatan Janapria. Pendapat ini dikemukakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Lombok Tengah karena menurutnya kerjasama antara PNPM GSC Kecamatan Janapria dengan pihak penyedia layanan kesehatan di wilayah kecamatan Janapria cukup baik dan dapat mendongkrak indikator keberhasilan program kesehatan ibu dan anak dari dinas kesehatan. Selain itu keberhasilan Kecamatan Janapria dalam PNPM GSC juga didukung oleh data capaian delapan indikator PNPM-GSC bidang Kesehatan di Kabupaten Lombok Tengah. (Tabel 1, terlampir) Berdasarkan data capaian delapan indikator di Kecamatan Janapria diperoleh informasi sebagai berikut: 1) Dari 12 desa yang ada di Kecamatan Janapria, belum ada desa yang berhasil diperiksa oleh bidan terkait ANC 4 kali (lengkap) selama masa kehamilan.
141

2) Dari 12 desa terdapat sepuluh desa di Kecamatan Janapria yang seluruh ibu hamilnya berhasil mendapatkan minimal 90 butir pil Fe selama masa kehamilan. 3) Semua desa di Kecamatan Janapria telah berhasil memperoleh persalinan yang ditangani oleh tenaga bidan atau dokter (Pn) dengan kompetensi kebidanan. 4) Dari 12 desa terdapat tujuh desa di Kecamatan Janapria yang ibu nifas dan bayinya telah berhasil memperoleh perawatan nifas oleh bidan atau dokter minimal dua kali perawatan dalam waktu 40 hari setelah proses persalinan. 5) Belum ada desa dengan bayi usia 12 bulan ke bawah yang berhasil memperoleh imunisasi dasar secara lengkap yaitu BCG, DPT, Campak, Polio, dan Hepatitis B dalam pelayanan KIA di Posyandu. 6) Semua desa dengan bayi usia 12 bulan ke bawah berat badanny a telah

berhasil di timbang dan selalu naik pada setiap bulannya (untuk bayi di bawah usia 6 bulan, berat badannya naik lebih dari 500 g per bulan dan bayi usia 6-12 bulan naik lebih dari 300 g). 7) Semua desa dengan anak usia 6 bulan sampai 59 bulan telah berhasil mendapatkan Vitamin A sebanyak 2 kali dalam Setahun. 8) Semua desa dengan anak balita (bawah lima tahun) telah berhasil ditimbang sebulan sekali secara rutin. Secara umum, implementasi capaian minimal 12 bulan GSC di Kecamatan Janapria melebihi nilai minimal indikator dengan demikian disimpulkan capaian cukup baik pada delapan indikator keberhasilan PNPM GSC. Keberhasilan PNPM GSC di Kecamatan Janapria tidak terlepas dari adanya koordinasi yang dilakukan PNPM GSC dengan layanan kesehatan yang ada di wilayah Kecamatan Janapria dimana ada dua puskesmas yang wilayah kerjanya ada di kecamatan ini yaitu Puskesmas Janapria dan Puskesmas Langko. PNPM GSC bertugas untuk melakukan kegiatan yang mendukung pelaksanaan layanan kesehatan ibu dan anak yang dilakukan oleh petugas kesehatan di Puskesmas Janapria dan Puskesmas Langko. Di bawah ini adalah grafik kunjungan K1, K4, dan linakes di
142

Puskesmas Janapria yang wilayah kerjanya meliputi enam desa yaitu Desa Janapria, Saba, Lekor, Pendem, Setuta, dan Jango.

Gambar 5.38 Kunjungan K1, K4 dan Linakes Puskesmas Janapria Thn 2010-2012 Sumber : Data PWS KIA Puskesmas Janapria 2010-2012

Berdasarkan grafik di atas terlihat bahwa kunjungan K1 pada tahun 2010 sebesar 83.3% kemudian sedikit menurun di tahun 2011 menjadi 78.3% dan kembali meningkat di tahun 2012 menjadi 88.4%. Untuk kunjungan K4 tahun angkanya cenderung terus meningkat dari tahun 2010 sebesar 77.5% kemudian menjadi 78.2% di tahun 2011 dan meningkat menjadi 82.05% di tahun 2011. Data linakes menunjukkan tahun 2010 sebesar 71.8%, menurun menjadi 65.5% pada tahun 2011 kemudian kembali meningkat menjadi 71.7% pada tahun 2012.

Pelaksanaan PNPM GSC di Desa Saba Menurut bendahara PNPM GSC Desa Saba yang juga merupakan kader posyandu Desa Saba yang juga merupakan bendahara PNPM GSC, tidak adanya pemberian uang transport bagi ibu hamil dan ibu bersalin bukan suatu masalah karena dulunya Desa Saba termasuk ke dalam desa siaga sehingga sudah ada ambulance desa yang akan mengantarkan ibu yang melahirkan. Ditambah lagi
143

dengan adanya budaya setempat yang membuat kesepakatan bersama agar penduduk yang tinggal di sekitar ibu hamil selalu siap sedia mengantarkan ibu hamil tersebut jika tiba waktu melahirkan. Kesepakatan bersama ini disebut dengan istilah “awig-awig” yaitu kesepakatan yang telah menjadi aturan bersama atau norma pada suatu masyarakat.
“..tidak jadi masalah karena desa Saba berangkat dari desa siaga maka ada ambulance desa, sudah jadi keputusan desa, awig-awignya ada siapapun yang ada di lingkungan itu ada yang mau melahirkan diwajibkan untuk membawa. Misalnya ada tetangga saya ada yang mau melahirkan, kita harus wajib mengantarkan ke tempat ibu bidan atau ke puskesmas..”

Untuk mendukung kesehatan ibu hamil sejak usia kehamilan lima bulan ibu hamil akan mendapatkan makanan tambahan. Pemberian makanan tambahan (PMT) terdiri dari dua jenis yaitu PMT penyuluhan untuk ibu hamil yang dalam kondisi sehat dan PMT pemulihan untuk ibu hamil yang tergolong kurang gizi. Bagi ibu hamil yang tergolong kurang gizi maka ibu hamil akan mendapat PMT yang porsinya lebih banyak dari ibu hamil yang dalam kondisi sehat yang terdiri dari susu 300 gram, berasnya 2 kg, telur 20 butir diberikan selama 3 bulan. Selain pemberian PMT juga dilakukan kelas ibu hamil yang dilakukan sebulan sekali. Kegiatan dalam kelas ibu hamil adalah senam bagi ibu hamil dan penyuluhan bagi ibu hamil mengenai pentingnya menjaga kesehatan selama masa kehamilan. Kelas ibu hamil ini difasilitasi oleh bidan puskesmas dengan PNPM GSC sebagai penyelenggaranya.

Pelaksanaan PNPM GSC di Desa Lekor Desa Lekor merupakan desa yang letaknya paling jauh dari pusat Kecamatan Janapria. Awalnya persalinan oleh tenaga kesehatan di desa ini sedikit, masyarakat lebih memilih untuk melahirkan di rumah dengan ditolong oleh dukun beranak yang dalam bahasa setempat disebut dengan “belian sasak”. Masyarakat Desa Lekor lebih mempercayai “belian sasak” untuk menolong
144

persalinan karena dalam menolong persalinan belian sasak menggunakan doadoa. Di bawah ini adalah data PWS KIA Desa Lekor yang diperoleh dari puskesmas Kecamatan Janapria :

Gambar 5.39 Kunjungan K1 dan K4 serta Linakes Desa Lekor, Th 2010-s.d Okt 2012 Sumber : PWS KIA Puskesmas Janapria, 2010-2012.

Berdasarkan data di atas terlihat untuk cakupan K1 mengalami peningkatan dari tahun 2010 yang semula 62.2% menjadi 68.2% pada tahun 2011 kemudian meningkat drastis menjadi 108.4% pada tahun 2012. Untuk cakupan K4 pada tahun 2010 sebesar 56.8% meningkat menjadi 71.9% pada tahun 2011 dan kembali meningkat menjadi 98.6% pada tahun 2012. Angka persalinan dengan ditolong tenaga kesehatan cakupannya sebesar 61.4% pada tahun 2010 kemudian sedikit menurun menjadi 56.57% pada tahun 2011 dan kembali meningkat menjadi 73.83% pada tahun 2012. Untuk mendorong agar masyarakat mau melahirkan di polindes dengan ditolong bidan maka PNPM GSC akan memberikan perlengkapan persalinan seperti bak mandi, kelambu bayi, paket perlengkapan bayi seperti baju bayi, popok, sabun, handuk kepada setiap ibu yang melahirkan di polindes.
145

ibu tetap meminta agar “belian sasak” mendampingi ibu ketika melahirkan. Dulunya persalinan non nakes sangat banyak bisa 60-40%. Satu tahun ini cuma ada satu yang melahirkan non nakes. Pada bulan Agustus tahun 2011 baru dibentuk kepengurusan tersendiri untuk PNPM GSC. awalnya kepengurusan program ini masih bergabung dengan PNPM Perdesaan.000.Selain itu kehadiran balian sasak tidak dapat dihilangkan begitu saja dalam menolong persalinan karena walaupun ibu mau melahirkan di poskesdes.40. Untuk mendukung keinginan masyarakat ini maka PNPM GSC memberikan uang transport bagi “belian sasak” yang membawa ibu hamil untuk melahirkan di poskesdes sebesar Rp 80.sejak tahun 2012 per Januari sudah mulai kelihatan perubahan. Dalam PNPM GSC kepengurusannya terdiri dari pelaksana kegiatan 146 .. Poskesdes Desa Lekor yang dibangun oleh PNPM GSC Sumber : Dokumentasi Peneliti PNPM GSC di Desa Langko Kegiatan PNPM GSC telah dimulai di Desa Langko pada tahun 2011. Strategi pemberian paket bagi ibu yang melahirkan di poskesdes dan pemberian transport bagi “belian sasak” terbukti cukup berhasil mendorong ibu hamil di Desa Lekor untuk mau melahirkan di poskesdes dengan ditolong bidan.. Seperti pernyataan bidan Desa Lekor berikut ini: “.” Gambar 5.

namanya diusulkan karena telah lama menjadi KPMD di PNPM Perdesaan. Kalau awal-awal cuma dikasih tahu sama dukun beranak. oh kamu hamil. ibu-ibu hamil di Desa Langko jarang yang mau memeriksakan kehamilannya atau melahirkan di bidan puskesmas. Kemudian ada yang disebut dengan Tim Pertimbangan Musyawarah Desa (TPMD). Melihat kondisi polindes seperti ini maka ketika musyawarah antar dusun dilakukan untuk menentukan prioritas kegiatan PNPM GSC.. tanpa dipastikan atau di tes. satu orang sekretaris dan satu orang bendahara. Maksudnya pemeriksaan awal makanya lebih banyak yang periksa kehamilan ke dukun.(PK) yang terdiri dari satu orang ketua. Salah satu cara agar bidan mau tinggal di polindes Desa Langko maka polindes harus diperbaiki dan ada sumber air bersih. Disamping itu sebelumnya ibu hamil jarang memeriksakan kehamilan ke posyandu karena ibu hamil lebih memilih untuk memeriksakan diri ke dukun beranak. Tingkat kesadarannya belum ada terhadap kesehatan jadi ketika 5 atau 6 bulan baru ke periksa ke petugas kesehatan. usulan untuk merenovasi polindes paling banyak muncul di masyarakat. Seperti diungkapkan oleh informan HB seorang bidan yang masih berstatus bidan magang di Desa Langko: “. Ibu hamil lebih memilih memeriksakan diri ke polindes karena letak polindes lebih dekat namun tidak ada bidan yang tinggal di polindes Desa Langko. Ditambah lagi dengan adanya kepercayaan di masyarakat bahwa ibu hamil pantang untuk diperiksa awal oleh petugas kesehatan karena takut keguguran.kalau dulu kan ada kepercayaan kalau dipegang awal takut keguguran. Alasan bidan tidak mau tinggal di polindes Desa Langko karena kondisi polindes yang sudah rusak dan tidak ada air bersih yang tersedia di polindes. Selain PK ada yang disebut dengan Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD) yang terdiri dari dua orang. Hal ini dikarenakan ibu hamil merasa enggan jika harus ke puskesmas karena harus menunggu terlalu lama. Pada awalnya. Ketua PK Desa Langko yang sekarang. Kepercayaannya kalau dari awal sudah dipegang bidan nanti keguguran atau 147 . Pemilihan ketua PK PNPM GSC dipilih melalui musyawarah namun jika tidak terdapat kesepakatan dilakukan voting. terpilih melalui voting.

Hal ini cukup disayangkan oleh bidan Desa Langko karena menurutnya kelas ibu hamil sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran ibu hamil untuk memeriksakan kehamilan dan 148 . kita ajarkan senam.” Gambar 5.” Untuk mengubah pandangan masyarakat.. maka bidan Desa Langko melakukan penyuluhan setiap dilaksanakannya posyandu di setiap dusun. Sebagai dukungan untuk kesehatan ibu hamil... Seperti diutarakan oleh bidan Desa Langko berikut ini: “.pada kelas ibu hamil kita undang ibu hamil yang tiga bulan lagi mau melahirkan.kandungannya hilang. Kelas ibu hamil penting untuk meningkatkan kesadaran ibu hamil untuk memeriksa sampai melahirkan. PNPM GSC juga mendanai kegiatan kelas ibu hamil. Karena saya belum dilatih maka yang memimpin senam bidan koordinator dari puskesmas.41 Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil yang difasilitasi oleh PNPM GSC Sumber : Dokumentasi Fasilitator Kecamatan Janapria Namun pelaksanaan kelas ibu hamil tidak rutin dilakukan karena kegiatan ini bukan merupakan prioritas usulan dari masyarakat. Tapi sekarang sudah tidak. sampai KB harus ke tenaga kesehatan. baru telat satu minggu saja sudah ke bidan. Dalam kegiatan ini dilakukan senam ibu hamil yang disertai penyuluhan terhadap ibu hamil agar mau melahirkan di polindes atau puskesmas.

Untuk persalinan dengan ditolong tenaga kesehatan juga mengalami peningkatan berarti yaitu dari 91% pada tahun 2011 149 . Setiap ibu hamil yang datang ke kelas ibu hamil diberikan uang transport sebesar Rp 20.7% tahun 2011 menjadi 100% pada tahun 2012. terlihat bahwa ibu hamil di Desa Langko cukup rajin memeriksakan kehamilannya angkanya pun cenderung meningkat dari tahun 2011 ke tahun 2012. Seperti pada angka K1 tahun 2011 sebanyak 98.3% ibu hamil di Desa Langko memeriksakan kehamilannya ke puskesmas.42 Kunjungan K1. Berikut ini adalah tabel data K1. K4. K4 persalinan oleh tenaga kesehatan Desa Langko yang diperoleh dari Puskesmas Langko : Gambar 5. video player. televisi. Untuk pelatih senam atau pemberi penyuluhan biasanya juga diberikan uang sebagai narasumber. bantal dan matras untuk senam ibu hamil serta dana untuk honor narasumber dan transport untuk ibu hamil yang datang. Dalam kegiatan kelas ibu hamil PNPM GSC bertugas menyediakan sarana dan prasarana seperti sound system. polindes atau posyandu dan pada tahun 2012 angkanya meningkat menjadi 105. Linakes Desa Langko Thn 2010-2012 Sumber : Data PWS KIA Puskesmas Langko 2010-2012 Berdasarkan tabel di atas (penjelasan 2012). Begitupula dengan angka K4 meningkat dari 95.4%.melahirkan di tenaga kesehatan.000 dari dana PNPM GSC.

“. Di Desa Langko tanpa transport untuk ibu hamil rasanya sudah rajin periksa kehamilan karena desa Langko bukan termasuk daerah pelosok. Ditambah lagi dengan kesadaran masyarakat Desa Langko yang mulai meningkat karena seringnya diadakan penyuluhan kesehatan kepada ibuibu hamil.. hasilnya jumlah dana untuk 30 orang dibagi agar cukup untuk PMT sesuai jumlah 150 . Pemberian makanan tambahan ada yang untuk ibu hamil yang status gizinya masih baik dan ada yang diperuntukkan untuk ibu hamil Kek.. Awalnya pada bulan pertama jumlah yang diberikan sesuai dengan data sasaran yang ada. Usulan pemberian uang transport untuk ibu hamil ini sebenarnya datang dari masyarakat namun menurut kepala Desa Langko ibu tanpa adanya uang transport pun ibu hamil di Desa sudah cukup rajin memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan karena letak Desa Langko bukan di pelosok sehingga tidak terlalu jauh dari puskesmas atau polindes.” Selain merenovasi polindes.7% pada tahun 2012. Untuk mengatasi hal ini PK Desa Langko berkonsultasi dengan petugas gizi dari puskesmas Langko. Sebagai dukungan agar ibu hamil mau memeriksakan dirinya dan melahirkan ke petugas kesehatan maka PNPM GSC pernah memberikan uang transport untuk diberikan kepada ibu hamil. Pada tahun 2011 Desa Langko mulai memberikan PMT untuk ibu hamil. Peningkatan ini dapat terjadi salahsatunya karena bidan yang bertugas di Desa Langko sudah tinggal menetap di polindes Desa Langko. Dinas kesehatan memberitahukan hal ini ke kepala camat. Pada bulan kedua semua ibu hamil dapat mendaftar untuk memperoleh PMT dengan syarat memiliki buku KIA.usulan dari masyarakat supaya tidak ada yang terlewatkan ibu hamil yang periksa kehamilan untuk mendapatkan jampersal nanti minimal dia periksa kehamilan empat kali sehingga kita support lewat transport itu. untuk mendukung kesehatan ibu juga dilakukan pemberian makanan tambahan. kepala desa. Tapi bertolak belakang dengan programnya dinas kesehatan. Namun akibatnya jumlah ibu hamil yang mendapatkan PMT membeludak padahal jumlah dana yang ada hanya untuk 30 orang ibu hamil.menjadi 105. Namun pemberian uang transport kepada ibu hamil dihentikan karena tidak disetujui oleh pihak dinas kesehatan Lombok Tengah.

Seperti pengalaman ibu hamil SU yang menerima PMT ibu hamil dari PNPM GSC berikut ini: “. kacangkacangan. telur.5 kg. ikan teri.ibu yang mendaftar. Kalau yang 400 gram bisa untuk dua minggu. telur rebus satu butir dan biskuit. gula. Misalnya pemberian susu untuk ibu hamil hanya diberikan susu yang ukuran kecil saja yang habis diminum dalam waktu empat hari jika diminum rutin setiap hari. pemberian imunisasi dan pemeriksaan terhadap ibu hamil. telur empat butir. ikan kering seperti cumi.. Seperti susu ini kan hanya cukup untuk empat hari kadang-kadang saya beli sendiri juga susu Prenagen yang 400 gram harganya 80 ribu. tiap bulan dapat PMT ibu hamil. minyak goreng sebanyak 1..” Desa Langko terdiri dari sepuluh dusun dimana di setiap dusun telah memiliki Posyandu dengan jumlah kader di setiap dusun sebanyak lima orang. Hal ini terpaksa dilakukan walaupun nantinya PMT yang diberikan tidak mencukupi kebutuhan ibu hamil. Saya sudah mendapat PMT ibu hamil tiga kali dari hamil satu bulan. PMT ibu hamil diberikan kepada ibu hamil dengan diantar ke rumah ibu hamil oleh kader posyandu. seperti terlihat pada gambar di bawah ini : 151 .. PMT yang diberikan untuk ibu hamil terdiri dari gula merah. berikut penuturannya: “. ikan teri ¼ kg serta susu untuk ibu hamil ukuran 200 gram.pernah dapat susu untuk ibu hamil yang 200 gram.kalau menurut saya belum mencukupi kebutuhan. Ketika posyandu dilakukan setiap balita yang datang akan diberikan PMT berupa bubur kacang hijau. Posyandu dilakukan setiap bulan terdiri dari kegiatan penimbangan bayi dan balita.” Namun pemberian makanan tambahan ini dirasakan informan SU tidak mencukupi untuk kebutuhan ibu hamil setiap bulannya. kalau yang 200 gram untuk empat hari..

kemauan..43 PMT yang diberikan ketika posyandu di Desa Langko Sumber : Dokumentasi Peneliti Pemberian PMT selain bertujuan untuk meningkatkan gizi setiap balita yang datang ke posyandu. dan kemampuan masyarakat dalam mengenali. melindungi. menjalin kemitraan. pemberdayaan masyarakat ialah upaya atau proses untuk menumbuhkan kesadaran. mengatasi. memelihara. Menurut Notoatmodjo. 2007). Adapun prinsip pemberdayaan masyarakat adalah menumbuhkembangkan potensi masyarakat.memang sekarang salah satu perangsangnya karena ada PMT jadi banyak yang ke posyandu walaupun yang didapat cuma bubur kacang hijau sama telur. mengembangkan gotong-royong masyarakat. tidak seberapa.com). Seperti dikemukakan oleh PK Desa Langko berikut ini: “. dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri (Notoatmodjo.” Selanjutnya akan dibahas bagamana pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC dikaitkan dengan konsep-konsep tentang pemberdayaan masyarakat yang sebelumnya telah ada.kompasiana. pemberian PMT juga bertujuan untuk menarik ibu-ibu agar mau membawa anaknya ke posyandu.Gambar 5. Berdasarkan konsep di atas maka di dalam pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria sudah berusaha untuk menumbuhkan potensi masyarakat 152 . (http://edukasi. dan desentralisasi. menggali kontribusi masyarakat..

. Seperti penjelasannya berikut ini: “.yang belum kita lakukan sebenarnya proses penyadaran itu karena ini sangat tidak mudah. dia rasakan karena dia yang merencanakan. dia yang melaksanakan. Tapi kalau program ini tidak ada siapa yang diharapkan. melaksanakan dan memantau pelaksanaan PNPM GSC. Pemberian paket untuk ibu yang melahirkan di Desa Lekor disadari oleh FK PNPM GSC Kecamatan Janapria merupakan cara yang instan dan belum mengarah ke proses penyadaran. penanggung jawab PNPM GSC Keamatan Janapria berikut ini: “Kan diberikan pelatihan-pelatihan untuk SDM mereka.dengan adanya pelatihan terhadap pihak pelaksana PNPM GSC di tingkat desa. oh ini potensi kita dari situ bisa dia rencanakan. Hal ini dijelaskan oleh informan MU. Pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC lebih ke arah penguatan kapasitas pelaksana program yang ada di desa agar muncul partisipasi masyarakat untuk terlibat dalam program ini. Yang sementara kita lakukan boleh saya katakana sedikit instan hanya untuk memotivasi mereka setelah itu selesai. Tujuan program ini kan sebenarnya menyadarkan mereka agar menjadi kebutuhan mereka. untuk melakukan perubahan pada masyarakat desa Lekor harus dilaksanakan pelan-pelan. Untuk perencanaan dia datang ke dusun menampung aspirasi dari situ oh ini permasalahannya. 153 .. dia yang memantau.” Namun pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC belum sampai ke tahap membangun kesadaran masyarakat agar menjadi mandiri dan sadar akan pentingnya menjaga kesehatan ibu dan anak. dia yang melanjutkan. Masyarakat mau melahirkan di polindes karena ada daya tarik dari paket yang diberikan bukan semata-mata karena kesadaran masyarakat yang telah tumbuh akan pentingnya melahirkan di fasilitas kesehatan dengan ditolong tenaga kesehatan. Sedangkan kegiatan yang dilaksanakan PNPM GSC beberapa masih ada yang bersifat instan seperti pada pelaksanaan PNPM GSC di Desa Lekor dimana untuk membuat ibu hamil mau melahirkan di poskesdes maka diberikan stimulus berupa pemberian paket perlengkapan bayi.” Cara instan ini terpaksa dilakukan karena karakter penduduk Desa Lekor yang menurut FK kecamatan Janapria sulit untuk diarahkan. Pelatihan ini bertujuan agar masyarakat di desa dapat membuat merencanakan. itu mungkin yang terus dilakukan. Nah proses ini yang berusaha kami lakukan..

Padahal PNPM GSC memiliki indikator keberhasilan program yang tidak terkait dengan pembangunan fisik. Namun setelah di evaluasi kegiatan yang ada di PNPM GSC ternyata memiliki indikator yang sama dengan program KIA dari dinas kesehatan. Oleh karena itu.Pelaksanaan PNPM GSC yang berfokus pada keterlibatan masyarakat membuat usaha untuk membangun kemandirian kesehatan ibu dan anak di masyarakat menjadi kurang maksimal. Namun dalam pelaksanaannya terkadang kemitraan tidak berjalan dengan sempurna karena pada awalnya belum terjalin koordinasi dan komunikasi yang baik antara pihak kesehatan dengan PNPM GSC. untuk mensinergikan kegiatan PNPM GSC dengan dinas kesehatan maka pihak dinas kesehatan mengundang fasilitator kabupaten PNPM GSC untuk berkoordinasi dalam melaksanakan kegiatan. dinas kesehatan belum dilibatkan dalam program PNPM GSC. Setiap usulan dari masyarakat seharusnya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan pihak kesehatan dan pihak pendidikan. menurut informan pelaksanaan kegiatan di tingkat kecamatan dan desa yang kurang bagus. Hal ini terlihat dari banyaknya usulan dari masyarakat yang lebih banyak ke arah pembangunan fisik seperti pembangunan atau renovasi polindes dan posyandu. Hanya saja. Program PNPM berjalan dengan kegiatannya sendiri demikian juga dengan program dinas kesehatan. pada awal tahun 2012 dinas kesehatan mulai mengkoordinasikan kegiatannya bersama dengan PNPM GSC dalam mencapai kegiatan yang fokus ke bidang kesehatan agar lebih terarah dalam mencapai keberhasilan indikator kesehatan ibu dan anak. Pembangunan fisik sebenarnya hanya untuk mendukung keberhasilan indikator tersebut. Berikut pernyataannya: 154 . Menurut Kepala Dinas Kesehatan Lombok Tengah pada awal 2011. Karena dalam PNPM GSC masyarakat juga harus dapat membangun kemitraan dengan instansi-instansi terkait. Hal senada juga diungkapkan oleh Kasie Gizi Dinas Kesehatan Lombok Tengah.

. Awal-awal saya kesini saya lakukan itu.. Selanjutnya ketiga tahap 155 .. Berikut penjelasan FK Kecamatan Janapria: “. pada awalnya Dinas kesehatan mempertanyakan kenapa kegiatan PNPM GSC yang bergerak di bidang kesehatan dana pelaksanaannya tidak diserahkan ke dinas kesehatan. Tapi kita tetap tidak bisa meninggalkan yang punya bidang sehingga kita koordinasi..” Namun dengan pendekatan dan komunikasi dari pelaksana PNPM di tingkat Kecamatan Janapria terutama peran dari Fasilitator Kecamatan (FK) Janapria maka cukup terjalin koordinasi yang baik antara PNPM GSC dengan pihak penyedia layanan kesehatan dalam hal ini puskesmas Janapria dan puskesmas Langko yang wilayah kerjanya adalah desa-desa di Kecamatan Janapria. Menurut informan MU selaku penanggung jawab program PNPM di Kecamatan Janapria. yang pertama kali saya kunjungi teman-teman dari layanan kesehatan seperti puskesmas dan dari pendidikan karena disitulah kita cari data awal.pasca.. kerjasama dengan layanan ini yang penting karena kalau kita tidak lakukan kerjasama itu kita kan hanya memfasilitasi tidak paham tentang teknis bagaimana kesehatan dan puskesmas lah yang tahu sehingga koordinasi ini penting untuk kita maksimalkan. Partisipasi di dalam tahap perencanaan. (http://www.ac. 2..awalnya ego dari dinas itu. bahkan ada pertanyaan dari dinas kesehatan “kok GSC ini tentang kesehatan kok PNPM yang menangani. 1994:89) bentuk partisipasi masyarakat dalam pembangunan terbagi atas tiga tahap. Tapi sering kita koordinasinya putus karena di atas koordinasinya sudah bagus yang di bawah eksekusinya kurang bagus.pertama dari FK mengawal proses fasilitasi kemudian dukungan masyarakat.” Pada kasus pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria pada awalnya pelaksana di tingkat kecamatan juga kurang dapat berkoordinasi dengan pihak penyedia layanan kesehatan di Kecamatan Janapria.unand. Kami jawab ini kan program dari pusat dan kami laksanakan dan kita tidak jalan sendiri dan inilah bentuk pemberdayaan sebab yang melaksanakan ini kan dari masyarakat kan kita yang memfasilitasi.kita sering mengundang pihak PNPM GSC karena kita butuh. “.id). yaitu : 1. kenapa dananya tidak di puskesmas saja”. Partisipasi di dalam pelaksanaan dan 3. Partisipasi di dalam tahap pemanfaatan.” Menurut Ericson (dalam Slamet.“. indikator mereka kan hampir sama dengan kami jadi kami yang merasa membutuhkan mereka karena mereka yang punya dana. dukungan layanan.

80% dan 100%. Setelah itu masyarakat juga berpartisipasi dalam musyawarah pertanggungjawaban desa program yang diadakan ketika dana PNPM GSC sudah digunakan sebanyak 40%. Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap penyusunan rencana dan strategi dalam penyusunan kepanitian dan anggaran pada suatu kegiatan/proyek. Dalam musyawarah pertanggungjawaban desa masyarakat diminta untuk menilai pelaksanaan 156 . Partisipasi di dalam tahap perencanaan (idea planing stage). Sebelum program dilaksanakan setelah dicapai kesepakatan mengenai prioritas kegiatan maka pelaksana kegiatan akan diberikan pelatihan di PNPM GSC kecamatan. bagaimana cara membuat proposal. saran dan kritik melalui pertemuan-pertemuan yang diadakan. 1. Bentuk partisipasi masyarakat terlihat dari awal tahap perencanaan yaitu dilibatkannya masyarakat dalam memberikan usulan kegiatan melalui musyawarah antar dusun yang dilanjutkan dengan musyawarah antar desa. Kemudian masyarakat juga diminta untuk memberikan usulannya mengenai kegiatan apa saja yang diprioritaskan untuk dilakukan. Masyarakat berpartisipasi dengan memberikan usulan. bagaimana cara pelaksanaan kegiatan dan pelatihan lainnya yang bertujuan untuk membangun kesadaran pelaksana kegiatan PNPM GSC tentang pentingnya keterlibatan masyarakat dalam program ini tanpa didasari imbalan yang akan mereka dapat. Dalam musyawarah antar dusun masyarakat diberikan kesempatan untuk memberikan usulan dalam rangka memperbaiki kondisi kesehatan ibu dan anak serta kondisi pendidikan. Dalam pelaksanaan PNPM GSC partisipasi masyarakat dalam program ini merupakan wujud dari adanya pemberdayaan di dalam masyarakat.partisipasi masyarakat tersebut akan coba dikaitkan dengan pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria. Dalam pelatihan diberikan materi mengenai bagaimana cara membuat rancangan anggaran (RAB).

Partisipasi di dalam tahap pelaksanaan (implementation stage). Jika ternyata kegiatan yang dilakukan tidak sesuai dengan usulan masyarakat atau pelaksana kegiatan PNPM GSC di desa tidak kelihatan kinerjanya maka masyarakat akan mengkritik pelaksana kegiatan PNPM GSC. Syarat dari PNPM GSC untuk membangun polindes atau posyandu adalah harus adanya masyarakat yang mau menghibahkan tanahnya sebagai lokasi polindes atau posyandu. Masyarakat disini dapat memberikan tenaga. Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap pelaksanaan pekerjaan suatu proyek. partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan PNPM GSC juga dapat dilihat dari adanya masyarakat yang bersedia rumahnya digunakan sebagai tempat pelaksanaan posyandu.” Selain penyediaan lahan untuk pembangunan polindes atau posyandu. Dalam PNPM GSC bentuk partisipasi ini dapat terlihat dari adanya masyarakat yang mau menghibahkan tanahnya untuk dijadikan polindes atau posyandu. Kemudian jika pelaksana kegiatan PNPM GSC tidak dapat mempertanggungjawabkan dana yang telah terpakai maka bisa saja ketua dan anggotanya diusulkan oleh masyarakat untuk diganti.. uang ataupun material/barang serta ide-ide sebagai salah satu wujud partisipasinya pada pekerjaan tersebut.misalnya kita membangun posyandu tidak mungkin program menganggarkan jadi syaratnya masyarakat harus menyiapkan lahan yang sudah dibebaskan dengan bukti pembebasan ada dan berupa hibah dari pihak desa. Ada kegiatan lain dimana masyarakat berswadaya dalam bentuk tenaga..PNPM GSC. material. Masyarakat akan menilai pelaksanaan PNPM GSC berhasil jika prioritas kegiatan yang diusulkan masyarakat benar-benar telah dilakukan. Seperti kepala dusun Langko Gunting di Desa Langko 157 . “. Sedangkan untuk tenaga membangun polindes atau posyandu ada juga yang berasal dari masyarakat setempat. 2. kalau ada lahan itu baru kita setujui pembangunan posyandu. PNPM GSC hanya memfasilitasi biaya untuk pembangunan polindes atau posyandu seperti pembelian bahan bangunan.

pada hari pelaksanaan posyandu dan satu hari setelah pelaksanaan posyandu sebesar Rp 15. Soalnya dari dulu sudah jadi kader walaupun tidak ada honornya. Dalam PNPM GSC peran kader posyandu sangat penting karena kader posyandu sebagai penyuluh terdepan yang dapat mengajak masyarakat agar mau memanfaatkan layanan kesehatan. Maka sebagai balas jasa dari apa yang telah dilakukan para kader kebanyakan muncul usulan di masyarakat untuk memberikan insentif bagi para kader dengan menggunakan dana PNPM GSC. KPM akan kesulitan untuk mendata sasaran dan menemukan permasalahan kesehatan ibu dan anak yang ada pada setiap dusun. Dengan adanya uang transport ini masyarakat berharap kader posyandu lebih giat mengajak ibu yang memiliki bayi dan balita agar mau membawa anaknya ke posyandu dan memotivasi ibu hamil agar mau memeriksakan kehamilan dan melahirkan di tenaga kesehatan.000.. berikut uraiannya: “. Anggota KPMD hanya dua orang jika tanpa bantuan dari kaderkader posyandu di setiap dusun.kalau saya tetap akan jadi kader walaupun nanti suatu saat tidak ada honor lagi dari PNPM GSC. Kader posyandu juga turut membantu KPMD (Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa) dalam mendata sasaran yang ada di desa..000 per harinya.rumah saya dijadikan tempat untuk posyandu sejak setahun terakhir ketika saya menjadi kepala dusun karena di dusun Langko Gunting ini belum ada tempat pelaksanaan posyandu yang permanen.” 158 . Namun adanya insentif ini bukanlah motivasi utama kader di Desa Langko melaksanakan perannya sebagai seorang kader.” Partisipasi dalam tahap pelaksanaan juga terlihat dari adanya peran kader posyandu dalam pelaksanaan kegiatan PNPM GSC.. Desa Langko berikut ini : “. Insentif ini tidak berupa gaji tetapi uang transport yang diberikan sehari sebelum pelaksanaan posyandu. Seperti pernyataan informan IT. seorang kader dari Dusun Lengarak. Jadi satu orang kader total mendapatkan uang transport sebesar Rp 45..yang bersedia rumahnya dipakai untuk pelaksanaan posyandu setiap bulannya.

2 BAYANG-BAYANG JAMPERSAL DI LAMANGGAU Desa Lamanggau terletak di Kecamatan Tomia. kebanyakan kader adalah perempuan. bahkan dapat dikatakan gugusan pulau sangat kecil.900 km2 serta panjang garis pantai 251. 3. Sebelum ada PNPM GSC ia tidak pernah mendapatkan insentif per bulannya namun walaupun suatu saat tidak ada lagi insentif dari PNPM GSC ia tetap akan menjadi kader karena uang bukanlah motivasi utamanya menjadi kader.8. Kabupaten Wakatobi. berjumlah 48 buah pulau dengan luas daratan 823 km2 dan luas perairan 13. Provinsi Sulawesi Tenggara. Partisipasi di dalam pemanfaatan (utilitazion stage) Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap pemanfaatan suatu proyek setelah proyek tersebut selesai dikerjakan. Kabupaten Wakatobi terletak di sebelah Timur Kabupaten Buton. Masyarakat berhak mengusulkan kepengurusan akan tetap dilanjutkan atau harus diganti.96 km. yang membentang dari Utara ke Selatan di antara 5012’ – 6010’ LS (sepanjang kurang lebih 160km) dan 123020’ – 124039’ BT (sepanjang kurang lebih 120 km).Kader IT adalah satu-satunya kader laki-laki yang ada di Kecamatan Janapria. Dalam musyawarah pertanggungjawaban desa. Kader IT sudah lebih dari sepuluh tahun lamanya menjadi kader di Dusun Lengarak. 5. masyarakat berhak menilai apakah kepengurusan pelaksana kegiatan di desa berjalan dengan baik atau tidak. Pada PNPM GSC partisipasi ini terlihat dengan terlibatnya masyarakat pada musyawarah pertanggungjawaban desa ketika dana PNPM GSC sudah terpakai dan kegiatan-kegiatan dalam PNPM GSC di desa sudah dilaksanakan. 159 . Kepulauan Wakatobi merupakan gugusan pulau-pulai kecil.

76 desa (sumber: Permendagri Nomor 66 Tahun 2011). perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan pompong 160 .-. Perjalanan dari Wangi-wangi ini membutuhkan waktu sekitar 2. Setelah tiba di Dermaga Waitii. maka keberangkatan akan ditunda sampai jam 10 pagi. Desa Lamanggau dapat diakses hanya dengan speed boat dan pompong atau disebut bodi dalam bahasa Bajo.00 penumpang belum mencapai jumlah sepuluh orang. Salah satu desa tersebut adalah Desa Lamanggau yang terletak di Pulau Tolandono.000 perorang. yaitu pada pukul 09. Namun. Speed boat hanya beroperasi satu hari sekali.com/2012/04/peta-wakatobi.44 Peta Kabupaten Wakatobi Sumber: http://visitkendari.Gambar 5. Pulau Wangi-wangi. yang kemudian akan dilanjutkan dengan ojek darat menuju Dermaga Waitii. yaitu sebuah pulau yang berada di barat daya Pulau Tomia.00 pagi. dengan menggunakan speed boat dengan tarif Rp 120.15.blogspot. 8 kelurahan. jadwal tersebut tidak menentu tergantung pada keadaan penumpang. Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Jabal di Wanci. Apabila pada pukul 09.html Kabupaten Wakatobi memiliki 8 kecamatan.000. Waktu tempuh ojek ini sekitar 20 menit dengan tarif Rp. dan apabila tidak mencukupi 10 orang bisa saja keberangkatan ditunda hingga esok hari.5 jam untuk sampai ke Dermaga Osuku di pulau Tomia.

November 2012 Di Pulau Tolandono hanya terdapat satu desa. Dusun Ketapang. Dusun Lasoilo yang berada di tepi laut mayoritas dihuni oleh orang Bajo. Sementara itu. Secara administratif. Berbeda dengan Dusun Lasoilo. dibangun jembatan kayu sebagai alat penyeberangan dari satu rumah ke rumah lain. Di pulau tersebutlah Desa Lamanggau terletak. terletak di daratan yang agak tinggi. Kata ‘darat’ tersebut menunjukan kondisi Dusun Ketapang tempat mayoritas orang Buton Tomia berada. Desa Lamanggau terdiri dari tiga dusun. Dusun ini dihuni oleh orang Bajo dan orang Buton-Tomia yang telah melakukan 161 .untuk menuju Pulau Tolandono selama kurang lebih 10 menit dengan tariff Rp 3. dan Dusun Dunia Baru.45 Peta Desa Lamanggau Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. Desa Lamanggau termasuk dalam wilayah Kecamatan Tomia. yaitu Dusun Lasoilo. Gambar 5. dusun yang ketiga adalah Dusun Dunia Baru.000 per orang. Rumah-rumah di dusun tersebut mayoritas didirikan di tepi laut bahkan ada yang didirikan di atas laut. Kabupaten Wakatobi. Sebagai penghubung antara satu rumah ke rumah lain. yaitu Desa Lamanggau. Dusun Ketapang mayoritas dihuni oleh orang Buton Tomia yang seringkali disebut dengan ‘orang darat’ oleh orang Bajo. Mayoritas rumah yang terdapat di Dusun Ketapang terbuat dari semen dan sebagian terbuat dari kayu.

tepatnya di sebelah selatan DWR. Listrik yang mengalir di Desa Lamanggau merupakan bantuan dari Dive Wakatobi Resort yang terletak di bagian barat daya Pulau Tolandono. Resort tersebut juga menawarkan wisata bawah laut di sekitar Pulau Tomia. karena jalan yang dilalui berupa jalan setapak yang dikelilingi oleh kebun dan semak-semak. Desa Lamanggau merupakan satu-satunya desa yang menjadi wilayah kerja Puskesmas Onemobaa. sebagian masyarakat Dusun Dunia Baru tinggal di daratan. Biaya yang dikeluarkan untuk menyewa kendaraan tersebut sekitar Rp 20. masyarakat harus menyebrang pulau untuk bisa mencapai sumber mata air tawar.00 hingga 06. Puskesmas tersebut terletak kurang lebih satu kilometer dari pemukiman masyarakat Desa Lamanggau. Puskesmas tersebut dibangun pada tahun 2007 di sebelah timur Dive Wakatobi Resort (DWR) yang dibangun sekitar tahun 1990an. Resort tersebut berdiri sekitar tahun 1990-an oleh investor asing.000 (pulang pergi) dengan jarak tempuh kurang lebih 10 sampai 15 menit. Tentunya kondisi ini mencakup pustu dan puskesmas yang ada di sana. sehingga sekilas puskesmas ini terlihat terletak dalam area DWR. Selain Desa Lamanggau.perkawinan. sehingga banyak wisatawan. Pada siang hari tak ada aliran listrik sama sekali. yaitu jalur darat dan jalur laut. Untuk desa Lamanggau. kendaraan tersebut hanya bisa 162 . sedangkan sebagian lagi tinggal di lautan. Kondisi geografi Dusun Dunia Baru merupakan perpaduan antara Dusun Lasoilo dan Dusun Ketapang. bantuan yang diberikan berupa bantuan uang kas desa dan aliran listrik pada malam hari yang dimulai sejak pukul jam 18.00. Jalur darat hanya dapat dilalui dengan menggunakan kendaraan roda dua. Namun. apalagi wisatawan asing yang berkunjung ke sana. Begitu pula dengan kecukupan air bersih di desa ini. resort tersebut juga memberikan bantuan kepada beberapa desa yang ada di Pulau Tomia dan sekitarnya. Dengan kata lain. Untuk menuju ke puskesmas tersebut dapat melalui dua jalur. Tidak tersedia sumber mata air tawar di Desa Lamanggau. Bantuan tersebut bermacam-macam. ada yang berbentuk uang tunai ada juga yang berbentuk bangunan seperti pagar desa.

Jalur kedua adalah melalui jalur laut dengan memggunakan pompong. pengunjung harus berjalan selama kurang lebih 10 menit melewati jalan setapak yang dikelilingi oleh kebun untuk menuju ke pos satpam resort. pengunjung puskesmas wajib lapor ke satpam penjaga resort. Jalan setapak ini bukanlah jalan yang mulus beraspal bagus dan mudah untuk dilewati. Gambar 5. Sebelum masuk ke Puskesmas Onemobaa. Setelah sampai di gerbang resort.mencapai pos satpam DWR. pengunjung terlbih dahulu izin ke satpam yang berjada di pintu gerbang tersebut Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. Setelah tiba di pos satpam.47 Jalan menuju Puskesmas Onemobaa (kiri) dan pintu gerbang milik Dive Wakatobi Resort (kanan).46 dan 5. Setelah berjalan kurang lebih 10 menit. November 2012 163 . Akses jalan ini berupa jalan tanah berkerikil dan mempunyai banyak cabang jalan yang membuat bingung pengunjung yang belum pernah ke sana. Perjalanan dimulai dari Dermaga Lamanggau menuju dermaga yang terletak sebelum DWR. pengunjung puskesmas masih harus menunggu izin dari satpam untuk dapat masuk dan melanjutkan perjalanan menuju puskesmas. tibalah di Puskesmas Onemobaa. Perjalanan tersebut ditempuh kurang lebih 10 hingga 15 menit. Setelah menunggu beberapa menit untuk mendapat izin dari satpam. Dari dermaga. pengunjung dipersilahkan masuk dengan jalur yang telah ditentukan.

Beberapa alat kesehatan tersebut mulai tampak berkarat. maka pengunjung akan melewati tumpukan sampah. Hal yang paling memprihatinkan di sisi bangunan ini dijadikan tempat pembuangan sampah kering dan tanaman dari resort. dua alat tersebut dipindahkan ke pustu yang terletak di Dusun Ketapang. Menurut penuturan kepala puskesmas. bahkan tidak ada satu rumah pun berdiri di sekitar bangunan puskesmas. Namun karena tidak dipakai. poli gigi. dan loket pendaftaran. Bangunan Puskesmas Onemobaa terdiri dari beberapa ruangan yang sudah dipasang papan nama ruangan seperti ruangan KIA. Memang jika dilihat dari depan. sampah tersebut tidak terlihat. Puskesmas tersebut dikelilingi oleh kebun dan semak-semak belukar. pagar kawat berduri tersebut dirusak sebagian oleh kepala dinas karena dianggap menghambat akses masyarakat untuk ke puskesmas. Di dalam bangunan tersebut terdapat beberapa alat kesehatan seperti tempat periksa pasien.Puskesmas Onemobaa terletak jauh dari pemukiman masyarakat Desa Lamanggau. dan untuk menuju jalan depan pengunjung akan menambah waktu untuk berjalan. Pada saat ada kunjungan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten. dan alat pendukung lainnya seperti meja dan kursi. sebelumnya bangunan ini juga sudah dipasangi genset dan tandon air. bersalin. Sampai saat ini kepala puskesmas dan stafnya secara bergilir masih datang untuk mengecek bangunan atau sekedar membersihkan puskesmas dan lingkungan sekitarnya. namun jika melewati jalan belakang. Pada awalnya bangunan puskesmas dikelilingi oleh pagar kawat berduri sehingga pengunjung harus melewati jalan depan. 164 . gunting.

Di salah satu rumah tersebut telah tersedia kasur lengkap dengan batalnya. terdapat juga dua bangunan yang berbentuk rumah panggung. Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. Dua rumah tersebut memiliki ukuran dan bentuk yang sama. dan rumah tenaga kesehatan yang megah tapi tidak pernah dihuni (bawah). Rumah tersebut terbuat dari kayu yang memiliki dua kamar. 165 . November 2012 Selain bangunan puskesmas.Gambar 5.48. dan dapur. kamar mandi. tempat periksa pasien yang sudah mulai berkarat (kanan). Menurut masyarakat Desa Lamanggau. sejak Puskesmas Onemobaa dibangun hingga saat ini belum ada masyarakat setempat yang menggunakan puskesmas tersebut sebagai tempat untuk mendapatkan fasilitas kesehatan.50 Gedung Puskesmas Onemobaa yang mulai tertutup dengan tumbuhan yang menjulang tinggi (kiri).49 dan 5. sejak dibangun hingga saat ini rumah tersebut belum pernah digunakan sama halnya dengan Puskesmas Onemobaa. dua bangunan tersebut diperuntukan kepala puskesmas dan tenaga kesehatan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa. Menurut kepala puskesmas. ruang tamu. Namun. 5.

Dengan kata lain. yaitu dua orang perawat. yang terdiri dari satu kepala puskesmas dengan latar pendidikan kesehatan lingkungan. tiga orang perawat. Sejak diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan SK penempatan di 166 . Kondisi Puskesmas Onemobaa yang jauh dari pemukiman masyarakat menyebabkan para petugas kesehatan di puskesmas tersebut bertugas dan berkantor di pustu yang terletak di Dusun Ketapang. Sementara itu. Namun. dari lima petugas kesehatan tersebut. satu orang petugas kesehatan lingkungan merupakan tenaga khusus yang diperbantukan dari pusat. akses yang ‘rumit’ karena harus menunggu izin dari satpam resort. hanya ada satu petugas kesehatan yang menetap di Desa Lamanggau. Hal ini disebabkan karena letak puskesmas yang jauh dari pemukiman masyarakat. tidak ada bidan yang dapat menolong persalinan di Desa Lamanggau. maka tak heran jika setiap petugas memiliki tugas ganda. dapat dilihat bahwa tidak ada bidan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa. Dari lima petugas puskesmas tersebut hanya dua orang yang memiliki SK penempatan di Puskemas Onemobaa. Dia adalah seorang petugas kesehatan yang diperbantukan khusus dari pusat. Kepala puskesmas dan satu orang perawat lainnya ditugaskan dengan nota dinas dari Puskesmas Tomia untuk membantu Puskesmas Onemoba’a. bidan yang ditugaskan untuk membantu Puskesmas Onemobaa mengajukan surat pindah kembali ke Puskesmas Osuku sesuai dengan SK penempatannya. misalnya kepala puskesmas yang merangkap juga sebagai petugas obat-obatan atau perawat yang merangkap menjadi petugas administrasi. Dengan jumlah petugas yang terbatas seperti ini.bahkan sebagian besar belum pernah berkunjung ke puskesmas. Empat orang petugas lainnya tinggal di Pulau Tomia yang terletak di seberang Pulau Tolandono. dan satu orang petugas kesehatan lingkungan yang ditugaskan khusus dari pusat. dan petugas kesehatan yang ‘tidak ada’. Berdasarkan data mengenai jumlah dan latar belakang petugas puskesmas. Hal ini disebabkan karena sekitar bulan September 2012. Lima orang petugas tersebut dibantu oleh dua orang tenaga honorer lulusan SMA. Jumlah petugas Puskesmas Onemobaa ada lima orang.

Empat persalinan yang ditolong oleh bidan tersebut dilakukan di rumah. Kini. Hal ini berkaitan dengan kebijakan pemerintah Kabupaten Wakatobi yang mengadopsi kebijakan Kementerian Kesehatan bahwa persalinan yang didanai oleh Jampersal adalah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Dari empat orang yang ditolong tersebut. Menurut cerita bidan tersebut. bidan tersebut tetap menerima panggilan masyarakat untuk membantu persalinan. Namun ada rasa sungkan yang dimiliki oleh masyarakat setempat untuk memanggil bidan apalagi jika persalinan terjadi pada malam hari. bidan tersebut kembalu bertugas di Puskesmas Osuku sesuai dengan SK penempatannya. 167 . tiga orang berasal dari etnis Bajo dan satu orang dari etnis Buton-Tomia. bidan tersebut pernah mengabdikan dirinya di Puskesmas Onemobaa sebagai bidan PTT (Pegawai Tidak Tetap) pada tahun 2011. Selain itu. Hal ini disebabkan karena keadaan transportasi laut yang tersedia antara Pulau Tomia dan Pulau Tolandono hanya beroperasi sampai pukul 19. Oleh sebab itu. telah mempunyai keluarga dan sedang hamil delapan bulan. Namun menurutnya. ia tidak bisa mengklaim persalinan tersebut sebagai persalinan yang didanai oleh Jampersal. Sebelum ditugaskan di Puskesmas Onemobaa. bidan tersebut telah bertugas selama dua tahun di Puskesmas Onemobaa. Selama bertugas di Puskesmas Onemobaa. bukan di fasilitas kesehatan. selama dua tahun ia bertugas di Desa Lamanggau. Jadi. bidan tersebut ditugaskan untuk membantu Puskesmas Oneombaa. sejak September 2012. ada empat orang ibu yang ditolongnya untuk melakukan persalinan.00 malam hari. bidan tersebut yang merupakan kelahiran Osuku. Kondisi tersebutlah yang memberatkannya untuk tinggal di Desa Lamanggau. Alasan bidan tersebut tidak tinggal di Desa Lamanggau karena keterbatasan fasilitas yang dimiliki oleh Desa Lamanggau seperti air dan listrik yang hanya menyala pada malam hari.Puskesmas Osuku. bidan tersebut belum pernah tinggal di Desa Lamanggau yang menjadi satu-satunya wilayah kerja Puskesmas Onemobaa. meskipun tidak tinggal di Desa Lamanggau.

Menurut penuturan Bidan Mi (nama samaran bidan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa pada saat itu). Meskipun bidan tersebut selalu berkata bahwa dia 168 . Selain itu. bidan tersebut berada di seberang pulau. Dengan kata lain. satu persalinan lagi ditolong oleh Bidan Mi karena pada saat persalinan terjadi Bidan Mi secara tidak sengaja sedang berjalan lewat rumah ibu tersebut. Dari empat persalinan tersebut. Menurut penuturan beberapa orang dari masyarakat setempat. Bidan dipanggil kadangkala hanya untuk memberikan suntikan pasca-persalinan. Masyarakat setempat seringkali memanggil dukun beranak untuk menolong persalinan. Hal ini terlihat pada data persalinan tahun 2012 yang menjelaskan bahwa hanya ada dua persalinan yang ditolong oleh bidan dari sepuluh persalinan yang terjadi di tahun 2012.00 malam hari. Namun nyatanya upaya tersebut belum membuahkan hasil. sehingga dipanggil untuk membantu persalinan. hanya ada empat persalinan yang ditolong oleh bidan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. hanya ada tiga ibu yang memanggil Bidan Mi berdasarkan kesadaran ibu itu sendiri. Baginya untuk sampai tahap masyarakat mau memanggilnya pada saat persalinan pun sudah hal yang luar biasa. sehingga ada rasa sungkan untuk memanggil bidan tersebut. apalagi persalinan sering terjadi pada malam hari atau dini hari. Masyarakat sebagai sasaran tenaga kesehatan mempunyai alasan sendiri mengapa mereka tidak mau memanggil bidan sebagai penolong persalinan dan mengapa mereka tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan yang telah disediakan. misalnya sosialiasi tentang persalinan gratis sampai pada iming-iming akan diberikan hadiah bila mau melakukan persalinan di tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. sedangkan transportasi antar Pulau Tomia dan Pulua Tolandono hanya sampai pada pukul 19. agak sulit mengajak masyarakat Lamanggau untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. dari tahun 2011 hingga tahun 2012. Berbagai upaya telah dilakukan bidan tersebut untuk menarik minat masyarakat agar mau bersalin di tenaga kesehatan ataupun fasilitas kesehatan. Sementara itu. keengganan mereka memanggil bidan untuk menolong persalinan karena letak rumah bidan tersebut tidak berada di sekitar mereka.

keengganan masyarakat tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi sarana yang tersedia di fasilitas tersebut seperti air dan listrik tidak tersedia di fasilitas kesehatan tersebut. Selain itu. antara lain 1) letak puskesmas yang jauh dari pemukiman dan letak pustu yang dekat dengan kuburan. Mereka khawatir akan terjadi hal-hal yang buruk akan terjadi pada ibu dan bayinya jika melahirkan di pustu yang dekat dengan lokasi kuburan. masyarakat setempat juga tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. tenaga kesehatan pun kadangkala tidak ada di fasilitas kesehatan meskipun di siang hari. 2) tidak ada air dan listrik yang tersedia di fasilitas kesehatan. jadi mereka harus dijaga sebaik mungkin dengan melakukan pantangan-pantangan yang ditentukan oleh adat. 169 . Selain enggan memanggil bidan sebagai penolong persalinan. Puskesmas Onemobaa yang letaknya jauh dari pemukiman masyarakat seperti yang telah dijelaskan sebelumnya menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat tidak mau melakukan persalinan di puskesmas. tentunya menjadi pantangan bagi masyarakat di sini.siap untuk dihubungi kapanpun. namun ada rasa sungkan yang dimiliki masyarakat untuk menghubungi bidan pada malam hari apalagi terkendala dengan trasnportasi. Menurut kepercayaan masyarakat setempat. Sementara itu. Ada beberapa alasan yang diungkapkan oleh masyarakat mengapa mereka tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. pustu yang dibangun di ‘sudut’ pemukiman masyarakat dan dekat dengan kuburan juga menjadi salah satu alasan lagi. orang yang sedang hamil dan bayi adalah rentan terhadap gangguan makhlukmakhluk halus. dan 4) berkaitan dengan sosial budaya yang dimiliki oleh masyarakat setempat. mereka lebih memilih dukun beranak sebagai penolong persalinan dan rumah sebagai tempat persalinan. Lokasi kuburan yang identik dengan tempat tinggal makhluk halus. Oleh sebab itu. 3) tenaga kesehatan yang tidak ada. Selain faktor letak fasilitas kesehatan. yang menurut mereka haus akan darah.

tetangga yang ada di sekitar juga dapat membantu persalinan seperti menyediakan air. Namun ternyata tidak ada satu pun bidan yang pernah bertugas di desa ini berminat untuk tinggal. Polindes tersebut sempat akan dijadikan sebagai rumah dinas bagi bidan yang bertugas di Desa Lamanggau ini. Alasan yang paling umum diutarakan adalah akses air dan listrik yang memang sulit di desa ini. Polindes ini sudah dibangun terlebih dahulu sebelum adanya pustu ataupun puskesmas. Hal ini tentunya terkait dengan masalah ketersediaan air. yaitu Posyandu Cemara I untuk masyarakat yang tinggal di Dusun Ketapang dan Dunia Baru dan Posyandu Cemara II untuk masyarakat di Dusun Lasoilo. makanan. Oleh sebab itu. Selain tersedia puskesmas. di Desa Lamanggau juga terdapat posyandu. mereka enggan melakukan persalinan di puskesmas atau pustu karena syarat tersebut belum dipenuhi. bahwa ada syarat yang harus dipenuhi sebagai tempat persalinan yang akan dijelaskan pada bagian selanjutnya. dan perlengkapan lainnya. Selain itu. di Desa Lamanggau terdapat polindes yang dibangun berdasarkan program Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM MPd). dan polindes. Polindes tersebut dibangun di sebelah masjid. ada kepercayaan dalam masyarakat Bajo khususnya. pustu. Dengan kata 170 . listrik. Selain pustu. Bangunan ini sempat dibiarkan kosong selama beberapa tahun. Pada awal pembangunannya. bangunan polindes ini ditujukan sebagai tempat bersalin. Ada dua posyandu yang dibentuk oleh puskesmas. dan nilai budaya yang dimilki oleh masyarakat setempat. Apabila melakukan persalinan di rumah. yang sebetulnya tempatnya lebih strategis daripada pustu karena letaknya tepat di tengah desa.Dukun beranak dipilih sebagai penolong persalinan dan rumah sebagai tempat persalinan dipengaruhi oleh faktor sosial budaya yang dimiliki oleh masyarakat setempat. hingga akhirnya kini digunakan sebagai rumah tinggal ustadz yang memang ditugaskan oleh sebuah yayasan agama untuk mengabdi dan mengajarkan ilmu agama bagi masyarakat Lamanggau ini. Namun pada kenyataannya hingga saat ini belum pernah sekalipun tempat itu digunakan sebagai tempat persalinan.

Hal ini disebabkan karena kondisi pangullieh yang sudah tua dan didukung dengan kondisi kesehatannya yang kurang baik. Tak heran jika para petugas puskesmas merasa sangat terbantu dengan adanya para kader ini. Kegiatan Posyandu ini dilakukan di teras salah satu rumah warga. khususnya Posyandu Cemara 2. Bahkan jika jumlah kunjungan pada hari itu kurang dari biasanya. Mereka dengan sigap membantu petugas puskesmas untuk mengumpulkan para ibu hamil dan balita. maka para kader tersebut akan mendatangi rumah yang bersangkutan dan menjemput untuk datang ke posyandu. yaitu setiap tanggal 20 untuk Posyandu Cemara I dan tanggal 21 untuk Posyandu Cemara II. Pada tanggal yang telah ditentukan para kader akan bergotong royong membersiapkan peralatan penimbangan dan petugas puskesmas akan datang untuk melakukan pemeriksaan. Pada saat ini ada seorang sando dan seorang pangullieh di Desa Lamanggau. Kegiatan posyandu-posyandu ini diadakan satu bulan sekali. Namun ternyata satu posyandu tersebut kurang efektif. dikarenakan ada yang tidak datang. Pada awal tahun 171 . Pada awalnya hanya ada satu posyandu yang terdapat di Desa Lamanggau. Para kader posyandu di desa ini sangat aktif. karena masyarakat Bajo sedikit sekali yang terjaring dalam pemeriksaan. Namun. sedangkan dukun beranak dari orang Bajo disebut dengan istilah pangullieh. Akhirnya pihak puskesmas merekrut kader-kader dari masyarakat Bajo dan membentuk Posyandu Cemara II. sando-lah yang paling banyak memegang peran dalam persalinan di Desa Lamanggau sejak tahun 2010. Posyandu Cemara I untuk ‘orang darat’ dan Posyandu Cemara II untuk orang Bajo. yaitu Posyandu Cemara I.lain. Sando merupakan istilah dukun beranak yang berasal dari orang Buton-Tomia. terdapat 8 orang dari 10 ibu bersalin yang ditolong oleh sando pada tahun 2012. Pangullieh yang berusia sekitar 60-an tahun mempunyai penyakit diabetes. PERSALINAN DI DESA LAMANGGAU Berdasarkan data sekunder yang terdapat di pustu.

pertolongan persalinan. Akhirnya.2010. dan ibu nifas yang ia peroleh pada saat itu. Pada saat itu. Arisan tersebut diadakan sebagai wadah untuk bertukar pikiran antara para pangullieh. dan bayi ke petugas kesehatan. Pada tahun 2004 dia pernah ‘magang’ di Puskesmas Waha. sando juga ikut dalam arisan dukun beranak yang diadakan oleh Puskesmas 172 . Ibu Ma yang juga berperan sebagai kader kesehatan selalu menyarankan ibu hamil. ibu nifas. dan balita. sando. sando berperan sebagai dukun beranak di Desa Lamanggau selama kurang lebih 15 tahun. arisan tersebut juga menjadi wadah bagi pihak puskesmas untuk memberikan pengetahuan kepada para pangullieh dan sando tentang cara pertolongan persalinan termasuk memberikan alat-alat pertolongan persalinan seperti gunting dan sarung tangan. Sejak saat itu pula pangullieh tidak dipanggil lagi oleh masyarakat setempat untuk menolong persalinan. Menurut pangullieh. Puskesmas Waha mewajibkan semua dukun beranak. banyak pengetahuan tentang kehamilan. putri pangullieh. ibu bersalin. Pangullieh berperan sebagai penolong persalinan di Desa Lamanggau selama kurang lebih 35 tahun. Begitu pula apabila ia menemukan ibu hamil. Sejak saat itu. melarang ibunya untuk menolong persalinan. baik pangullieh maupun sando. ia memanggil Bidan Mi yang pada saat itu masih bertugas sebagai bidan di Puskesmas Onemobaa untuk menolong persalinan. Berdasarkan pengetahuan tersebutlah ia sedikit mengerti tentang ‘ilmu’ dalam dunia medis tentang pertolongan persalinan. Sama halnya dengan pangullieh. ibu nifas. Ibu Ma. sando-lah yang dipanggil oleh masyarakat setempat untuk menolong persalinan di Desa Lamanggau. Begitu pula pada saat Ibu Ma melahirkan putra bungsunya pada bulan Februari 2012. Sejak saat itu. dan bayi untuk memeriksakan diri ke petugas kesehatan. Berbeda dengan pangullieh. ibu nifas. ia selalu menyarankan ibu pasca-bersalin tersebut untuk memeriksakan diri ke petugas kesehatan. apabila ia menolong persalinan. penyakit diabetesnya semakin parah yang melemahkan kondisi fisiknya. ia selalu menyarankan untuk memeriksakan kehamilan. dan petugas kesehatan. Sama halnya dengan pangullieh. Selain itu. untuk datang ke Puskesmas Waha sebulan sekali untuk mengikuti arisan dukun beranak.

Peran sando sebagai penolong persalinan dalam dua etnis yang berbeda tersebutlah menyebabkan adanya percampuran budaya yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan antara orang Buton-Tomia dan orang Bajo.1 Percampuran budaya tersebut juga menyebabkan kaburnya ‘pemilik asli’ budaya tersebut. sejak saat itu pula sando yang seringkali dipanggil oleh masyarakat Desa Lamanggau untuk menolong persalinan. Kepercayaan ini diyakini oleh masyarakat Desa Lamanggau baik yang berasal dari etnis Buton-Tomia maupun etnis Bajo. asimilasi adalah suatu proses sosial yang terjadi pada berbagai golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda. Sebagai contoh. dalam 1 Menurut Koetjaraningrat. kepercayaan tersebut telah mempengaruhi peran bidan di Desa Lamanggau dalam pertolongan persalinan. begitu pula sebaliknya. Sejak masyarakat Desa Lamanggau mengetahui bahwa Bidan Mi sedang hamil.Waha. Percampuran budaya antara dua kelompok yang berbeda tersebut disebut dengan asimilasi oleh para antropolog. Salah satu nilai budaya yang dimiliki oleh masyarakat Desa Lamanggau adalah kepercayaan bahwa ibu hamil tidak boleh menolong persalinan. ‘pemilik asli’ kepercayaan tersebut belum dapat dideteksi. Hal ini karena adanya kepercayaan dalam masyarakat setempat bahwa keberadaan ibu hamil di sekitar ibu bersalin dapat mempersulit proses persalinan. Terlepas dari itu. 2010:120) 173 . maka mereka tidak memanggil Bidan Mi untuk menolong persalinan meskipun pada saat itu Bidan Mi masih bertugas di Puskesmas Onemobaa. ada nilai budaya yang dimiliki oleh orang Bajo tetapi tidak dimiliki oleh orang darat. Selain percampuran budaya antara dua etnis tersebut. bahkan ibu hamil dilarang berada di rumah ibu yang sedang bersalin. Setelah mereka bergaul dengan intensif. termasuk orang Bajo meskipun sando adalah ‘orang darat’. maka ibu hamil tersebut ‘diungsikan’ terlebih dahulu dari tempat ibu bersalin. sifat khas dari unsur-unsur kebudayaan masing-masing berubah menjadi unsur kebudayaan campuran (Hermanto. apakah berasal dari etnis Buton-Tomia atau dari etnis Bajo. Sejak pangullieh sudah tidak menolong persalinan lagi. masih ada juga nilai budaya yang masih dipegang teguh oleh masing-masing etnis tersebut. Namun. Apabila ada ibu hamil di sekitar ibu bersalin. Dengan kata lain.

berdinding anyaman bambu yang disebut gedeg oleh orang Jawa. Menurut kepercayaan orang Bajo.masyarakat Bajo ada kepercayaan tentang tempat melahirkan. masyarakat Bajo akan menggunakan pustu sebagai tempat persalinan apabila telah ‘dipagari’ dengan doa-doa oleh ‘orang tua’. maka pada saat persalinan ibu tersebut akan dibawa ke rumah yang sudah pernah digunakan untuk persalinan. terdapat sebuah rumah yang dipercaya oleh orang Bajo sebagai ‘rumah bersalin’. maka rumah tersebut tidak boleh digunakan sebagai tempat bersalin. Rumah tersebut paling sering digunakan oleh masyarakat Bajo sebagai tempat persalinan karena dipercaya oleh masyarakat setempat dapat memudahkan persalinan seorang ibu. Oleh sebab itu. apabila rumah yang belum pernah digunakan sebagai tempat persalinan akan digunakan sebagai tempat persalinan. Rumah tersebut adalah rumah Mbook Medaming. Apabila ada seorang ibu hamil berada di dalam sebuah rumah yang belum pernah digunakan untuk persalinan. Rumah Mbook Medaming terletak di Dusun Lasoilo yang mayoritas dihuni oleh orang Bajo. Ritual tersebut dilakukan oleh ‘orang tua’ yang dianggap mempunyai ‘ilmu’ dalam mendoakan sebuah rumah agar bisa dijadikan tempat bersalin. Untuk memasuki rumah tersebut harus melewati tangga 174 . dan berlantaikan bambu. Apabila rumah tersebut tidak didoakan terlebih dahulu oleh ‘orang tua’ tersebut. maka harus dilakukan ritual terlebih dahulu. salah seorang kader kesehatan dan juga anak seorang pangullieh. Menurut mereka. setiap ibu yang melahirkan di rumah tersebut selalu menjalani persalinan dengan mudah. Di Dusun Lasoilo yang mayoritas dihuni oleh orang Bajo. Menurut Ibu Ma. Menurut mereka pustu tersebut belum pernah digunakan sebagai tempat persalinan dan belum ‘dipagari’ dengan doadoa oleh ‘orang tua’. Rumah tersebut berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu. Kepercayaan tersebut menjadikan rumah Mbook Medaming sebagai ‘rumah bersalin’ masyarakat Bajo. Namun. kepercayaan tersebut menjadi salah satu faktor mengapa masyarakat Bajo enggan melakukan persalinan di pustu. rumah yang boleh digunakan sebagai tempat melahirkan adalah rumah yang pernah digunakan sebagai tempat melahirkan.

1 2 3 4 Gambar 5.yang memiliki kurang lebih sebanyak lima anak tangga. 5. 3) kamar yang dijadikan tempat bersalin (tampak dari luar). Ruangan tersebut berlantaikan bambu yang memiliki celah. Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. dan 4) lantai rumah yang terbuat dari bambu yang bercelah-celah. Ruangan tersebut adalah kamar Mbook Medaming yang digunakan sebagai ruang bersalin.52 .54 1) Rumah Mbook Medaming yang menjadi ‘rumah bersalin’ masyarakat Bajo. mencegah. atau merasa terganggu. Ruang pertama yang ditemukan adalah ‘ruang tamu’ yang berukuran kurang lebih 4 x 4 meter. Setiap ada ibu yang akan melahirkan di rumah tersebut. 5. Mbook Medaming dan keluarga tidak pernah marah. November 2012 175 . Ruangan yang berlantai bambu tersebut disebut dengan jongkeng oleh masyarakat Bajo. 2) kamar yang dijadikan tempat bersalin (tampak dari dalam). sehingga darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan bisa langsung jatuh ke bawah rumah dan dibawa oleh air laut.53 dan 5.51. Di sudut ruangan tersebut terdapat sebuah ruangan yang berukuran kurang lebih 2 x 2 meter.

Namun. Parapara tersebut digunakan karena mempunyai celah-celah sehingga darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan mudah dibersihkan. Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. Bagi mereka di mana saja ibu bersalin boleh melahirkan tanpa ada syarat tempat tersebut harus didoakan terlebih dahulu seperti orang Bajo. Jampersal yang menawarkan pelayanan persalinan gratis diharapkan mampu menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan 176 . sama halnya dengan masyarakat Bajo yang melahirkan di tempat yang terbuat dari bambu yang mempunyai celah. Masyarakat setempat menggunakan parapara agar darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan bisa langsung dibersihkan dengan air.Berbeda dengan masyarakat Bajo.55 Ibu nifas Seorang ibu nifas sedang duduk di atas parapara. dan air tersebut bisa langsung jatuh ke bawah tanah atau bawah laut. masyarakat Buton-Tomia tidak mempunyai kepercayaan tempat melahirkan. Tempat tersebut biasanya disebut dengan parapara oleh masyarakat ButonTomia. masyarakat Buton-Tomia juga melahirkan di atas bambu yang bercelah tersebut. Gambar 5. November 2012 Berdasarkan penjelasan pada diskripsi sebelumnya dapat dilihat bahwa banyak faktor yang mempengaruhi implementasi Jampersal di masyarakat. Parapara adalah tempat melahirkan yang digunakan oleh masyarakat Buton-Tomia.

Namun. Tinta hitam tersebut menjadi buram dalam mata masyarakat Desa Lamanggau. kenyataan yang ada tidaklah seindah teori dan catatan laporan. maka program Jampersal hanya menjadi bayang-bayang yang tidak bisa direalisasikan dalam nyata. ketersediaan fasilitas kesehatan di Desa Lamanggau bisa dikatakan sudah cukup. Namun. Masyarakat hanya dapat berobat di pustu dengan 177 . Dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak. program tersebut mempunyai banyak hambatan. Bagaimana tidak. dan budaya masyarakat setempat. Oleh sebab itulah. pada implementasinya. tenaga kesehatan. karena mereka tidak mampu ‘menikmati’ pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang berada ‘jauh’ dari sisi mereka. Secara kasat mata. ketersediaan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan hanya menjadi tinta hitam catatan laporan sumber daya tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Wakatobi. secara teori seharusnya fasilitas tersebut sudah mampu mengakomodir kebutuhan masyarakat dalam hal kesehatan. puskesmas induk yang sudah dibangun dengan bentuk bangunan yang bagus serta fasilitas yang lengkap ini tidak pernah sekalipun dinikmati oleh masyarakat. Pemerintah juga menyediakan tenaga kesehatan untuk ditugaskan di desa ini. Tiga elemen tersebut saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Cara tersebutlah yang melekat dalam diri mereka dan dianut dari nenek moyang sampai sekarang. Bagaimana masyarakat mau dan mampu untuk menikmati jika puskesmas ini dibangun di tempat yang jauh dan sulit dijangkau aksesnya. Hambatan tersebut dapat berasal dari kondisi fasilitas kesehatan. mereka bertahan untuk sehat termasuk bersalin dengan cara mereka. Ada satu puskesmas induk dan satu puskesmas pembantu yang disediakan untuk masyarakat Desa Lamanggau. Pemerintah memang telah membangun fasilitas kesehatan berupa puskesmas dan pustu di Desa Lamanggau.oleh tenaga kesehatan. Namun jika kita lihat langsung di lapangan. fasilitas kesehatan yang terletak jauh di mata dan jauh di kaki juga tidak bisa mereka nikmati. Selain itu. Apabila tiga elemen tersebut tidak ‘mendukung’ dalam pelakasanaan program Jampersal.

sebuah fasilitas umum yang ditujukan untuk masyarakat tapi aksesnya sulit dan sangat terbatas bagi masyarakat itu sendiri. budaya setempat mengatakan bahwa wanita hamil tidak boleh ada di dekat ibu yang akan melahirkan. Budaya serta kearifan lokal yang sudah mendarah daging secara turun temurun akan senantiasa dipegang teguh oleh masyarakat sebagai pedoman hidup mereka. Dalam kasus ini misalnya. Tidak mungkin rasanya jika ada ibu yang akan melahirkan tapi harus naik pompong (perahu) atau ojek dan kemudian berjalan lagi 15 – 20 menit dengan kondisi jalan yang berliku. sementara bidan yang bertugas di sini sedang hamil. kedekatan secara emosional dan psikologis pun akan terbentuk. Belum lagi untuk masuk ke area puskesmas harus menunggu izin dari pihak keamanan resort terlebih dahulu. apakah mungkin tenaga kesehatan ini akan cepat tanggap menolong sementara mereka tinggal di lain pulau dengan transportasi terbatas? Jika tenaga kesehatan . Masyarakat merasa bidan ini adalah bagian dari keluarga mereka. Jadi untuk merangkul masyarakat ini tentunya harus bisa memahami dan mengikuti alur pikir mereka. Atau lokasi fasilitas kesehatan. Selain akses yang lebih mudah bagi masyarakat untuk bersentuhan dengan tenaga kesehatan. ini tinggal di desa kemudian berbaur dengan masyarakat tentunya akan lebih efektif. Entah apa yang menjadi landasan awal dari penempatan lokasi puskesmas ini. misalnya ada kasus persalinan di tengah malam. Dengan kenyataan bahwa jumlah tenaga yang terbatas serta sebagian besar tidak tinggal di desa tentunya akan membatasi akses masyarakat untuk bersentuhan dengan tenaga kesehatan. Keterbatasan tenaga kesehatan juga turut mempengaruhi kualitas pelayanan yang ada. dalam hal ini pustu. Jika keadaan darurat terjadi. 178 .fasilitas seadanya. Bagaimana bisa. Tenaga kesehatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat sejatinya juga mengerti dan paham akan budaya serta kearifan lokal yang ada. yang terletak dengan kuburan yang dianggap sebagai salah satu tempat yang dilarang didekati wanita hamil dan bayi dalam budaya setempat.misalnya bidan desa.

Melalui intervensi Jampersal.3. diharapkan tidak terjadi lagi kasus kematian ibu dan bayi.Jika selama ini puskesmas dibangun berdasarkan ‘keangkuhan’ para policy maker dengan pikiran bahwa masyarakat membutuhkan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. Mungkin masih banyak yang beranggapan bahwa masyarakatlah yang butuh dokter. Begitu pula dengan kebijakan yang ada di Kabupaten Wakatobi.8. Namun. tenaga kesehatan. diharapkan berharap bisa menekan angka kematian ibu dan bayi sebagaimana target MDG’s tahun 2015. Kejadian tersebut 179 . dan kondisi sosial budaya masyarakat. pasti akan digunakan oleh masyarakat. tetapi belum mampu menarik masyarakat untuk bersalin ke tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan karena disebabkan kondisi fasilitas kesehatan. sehingga adanya anggapan bahwa meskipun tenaga kesehatan tidak menetap di desa tersebut dan fasilitas kesehatan berada jauh dari pemukiman. ANTARA BUDAYA. Namun demikian kondisi di lapangan bisa tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. TABU DAN UPAYA PENYELAMATAN IBU DI KOTA BLITAR Program jampersal. Kota Blitar. pada kenyataannya meskipun persalinan telah dijamin oleh pemerintah. Berdasarkan juknis Jampersal tahun 2012. persalinan yang bisa diklaim adalah persalinan dengan tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Ternyata kata ‘gratis’ tidak mampu mengalahkan kearifan lokal yang telah dimiliki oleh masyarakat setempat. Namun nyatanya pikiran tersebut tidak mampu ‘mengajak’ masyarakat untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan oleh tenaga kesehatan. JawaTimur mulai januari sampai dengan bulan Nopember 2012. ini dianggap sebagai bencana dan merupakan rekor kasus karena dalam dua tahun sebelumnya tidak ada kematian ibu. apalagi diiming-imingi dengan kata gratis. 5. Bagi teman-teman di Puskesmas. terjadi empat kasus kematian ibu. dan selalu ingin gratis. Tiga kasus terjadi di RS dan satu kasus terjadi di Puskesmas. butuh bidan. Di wilayah kerja Puskesmas Kepanjen Kidul.

tetapi kejadian itu masih saja di temui. bekerja swasta Deskripsi Kasus Kehamilan Px kali ini merupakan kehamilan 1. adanya kasus kematian maternal yang terjadi di wilayah kerja puskesmas Kepanjen Kidul merupakan kondisi yang sangat tidak diharapkan oleh Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab bidang kesehatan. akan tetapi Px 180 . ritme kerja Px tidak berubah. RS Swasta. pihak Dinas Kesehatan dan Puskesmas sudah melakukan review maternal perinatal. Px kerja di sebuah dealer sepeda motor sebagai sales counter. Di tempat kerjanya. Anak pertama telah berusia 5 tahun dan tinggal bersama orang tua Px d Rembang Blitar. Bahkan sore hingga malam sebelum Px meninggal Px sering menerima telpon dari atasan karena Px sedang dalam proses persetujuan penawaran harga penjualan dengan pembeli. Menindaklanjuti kasus kematian tersebut. Jarak tempuh yang dibutuhkan dari pelosok kota menuju ke fasilitas kesehatan tidak lebih dari 15 menit dengan kendaraan bermotor. Gambaran hasil review adalah sebagai berikut : KASUS 1 adalah Ny. berumur 24 tahun. Walau semua sumberdaya sudah dikerahkan untuk meniadakan kasus kematian maternal perinatal. Klinik Bersalin dan didukung oleh praktek dokter obgyn serta bidan praktek swasta. Sejak sebelum hamil hingga 1 hari sebelum Px meninggal. Gambaran Kasus Kematian Maternal Memperhatikan kondisi daerah yang merupakan daerah perkotaan dengan fasilitas kesehatan yang sangat memadai dan mudah di akses.merupakan temuan menarik untuk dikaji lebih mendalam karena keberadaan fasilitas kesehatan di kota Blitar cukup memadai. Meskipun Px merupakan orang yang mudah bergaul. Px terkenal sebagai karyawati yang cekatan dan mudah bergaul sehingga Px sangat membantu tempat dia bekerja dalam mencari customer. pendidikan SLTA . 3 Puskesmas. F. Px bekerja dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore dan beberapa kali harus lembur. RSUD.

Px jarang sekali menceritakan masalahnya dengan orang lain. Px sempat mencuci piring dan memasak nasi. Akan tetapi Px tetap bersikukuh mencari “Poldan Mix” yang biasa dipakai oleh keluarga jika sakit kepala karena Px menganggap obat dari bidan tidak manjur. padahal waktu hamil pertama. Blitar dengan mengendarai motor. tetapi Px tetap mencari hingga tempat obat berantakan. Suami Px tidak mengetahui. setelah maghrib. Ketika suami membangunkan. Meskipun suami Px sudah menyembunyikan obat tersebut.30. akhirnya Px memuntahkannya. Karena ukuran obat yang besar. Px diantar suaminya pergi ke rumah orang tuanya di Rembang. Sepulang dari kerja. Setelah itu Px menyapu halaman. apakah obat tersebut kembali 181 . Karena ngotot minta pulang saat itu juga. Kondisi kehamilan Px ini dianggap suami dan keluarganya berbeda dengan kehamilan terdahulu karena hingga memasuki bulan ke-5 Px masih mengeluh mual dan pusing. Akhirnya Px menemukan obat yang disembunyikan suaminya. Px hanya mual-mual sampai bulan ke-3 saja. Suami mengingatkan agar tidak minum obat sembarangan dan minum obat dari bidan saja. Sampai di rumah suami Px langsung tidur. sedangkan suaminya yang membonceng. dan suami menyuruh Px ke dokter. Px minta diantar suami untuk ke rumah orang tuanya dengan alasan Px kangen dengan anak pertamanya. Pagi harinya. Tidak jarang Px muntah-muntah ketika mengeluh mual dan pusing. Kemudian Px merasa kepalanya sangat sakit dan ingin minum obat karena sudah tidak tahan. Hanya saja ketika Px mengeluh pusing dan muntah-muntah. Suami Px pikir Px kecapaian karena semalam sampai di rumah sudah larut. Jam 11 malam Px minta pulang ke rumah mertua kembali. termasuk dalam hubungannya dengan suaminya. padahal saat itu suami Px sudah tidur dan tidak kuat untuk mengendarai motor. akhirnya Px yang mengendarai motor.adalah pribadi yang tertutup. Px mengeluh sakit kepala. Obat langsung ditelan tanpa menggunakan air. Px tidak mau. tidak biasanya Px bangun siang. Suami Px baru membangunkan Px ketika jam sudah menunjukkan pukul 05.

rumah keluarga Px terletak di tepi jalan raya yang dilewati oleh banyak kendaraan yang berlalu lalang. langsung dibawa ke UGD.diminum oleh Px atau dibuang. Sauami Px bingung bagaimana cara membawa Px ke puskesmas yang jaraknya sebenarnya tidak jauh. Di RS Px masuk ke ICU dan dipasang alat bantu nafas dan jantung. suami mencari kendaraan yang bisa dipakai untuk membawa Px ke Puskesmas. Px dirujuk ke RS. karena kondisi Px sudah tidak sadar. Selain posisi rumah Px yang menghadap ke tembok tetangga. Suami menyuruh Px untuk masuk rumah dan istirahat saja. melainkan menghadap ke tembok rumah tetangga. Px tetap tidak bereaksi akhirnya suami Px menyadari bahwa Px butuh pertolongan dan harus segera dibawa ke puskesmas. Px muntah-muntah. Sesampai di puskesmas. Dilihat dari kondisi lingkungannya. Px masuk kamar kembali dan suami yang melanjutkan menyapu halaman dan ruang tamu. Waktu suami masuk kamar.00 ibu datang ke UGD Puskesmas dengan kondisi tidak sadar. • Tanggal 1-3-2012 pukul 08. Tidak lama pada saat Px menyapu halaman. Suami mengira Px masuk angin. akan tetapi keluarga Px membutuhkan waktu untuk mencari dan menanti transportasi untuk membawa Px ke Puskesmas. akan tetapi rumah Px tidak menghadap ke jalan raya. Walaupun letak puskesmas dekat dengan tempat tinggal Px dan tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di puskesmas. Akhirnya suami bertemu dengan becak yang diharapkan dapat mengantar ke puskesmas. “Panadol” satu tablet karena mengeluh pusing sejak kemarin sore. padahal Px dalam kondisi yang tidak sadar. Dengan mengendarai sepeda motor. Antara rumah Px dan rumah tetangga terdapat halaman yang sangat luas. karena semalam Px pulang larut. Kendaraan yang dimiliki hanya sepeda motor. • • Ibu langsung dirujuk ke RS dan meninggal di RS tanggal 6-3-2012 Riwayat minum obat di rumah sebelum dibawa ke puskesmas. 182 . pucat dan nafas ngorok. suami menemukan Px sudah dalam keadaan “ngorok”. Akan tetapi tukang becak tersebut mengatakan bahwa dirinya harus mengantar cucunya dahulu baru bisa mengantar ke puskesmas.

Pada kasus ini tampak bahwa kurangnya pengetahuan ibu tentang bahaya penggunaan obat secara bebas. akan tetapi biasanya ibu-ibu yang datang ke psyandu meminjam buku-buku tentang kehamilan yang dibaca saat jadwal posyandu. selama Px hamil. kader memang tidak memberi penyuluhan secara personal. Menurut kader. Px tidak pernah datang pada kegiatan posyandu. Rumah kader wilayah Px juga lumayan jauh dari tempat tinggal Px. Menurut kader. akan tetapi jarak rumah yang lumayan jauh menghalangi proses komunikasi kader dan Px. Posisi rumah Px yang jauh dari rumah kader 183 . Sebenarnya kader aktif datang berkunjung ke rumah ibu hamil untuk mengontrol kondisi ibu hamil.halaman yang luas dapat pula menjadi penghalang keluarga Px untuk berkomunikasi dengan tetangga. Kader juga tidak mengetahui kondisi kehamilan Px karena kader hampir tidak pernah bertemu Px selama Px hamil. Kader bercerita jika penduduk di wilayahnya rata-rata adalah pedagang dan buruh tani. ibu menyusui dan ibu yang mempunyai anak balita tentang kesehatan. Px hanya mengatakan jika kehamilannya baik-baik saja. Ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumah kader aktif datang pada saat jadwal posyandu berlangsung. Kader mengaku bahwa dia dan tim aktif memberikan penyuluhan kepada ibu hamil. Suami tidak pernah ikut masuk ke ruang dokter ketika Px kontrol sehingga suami tidak tau dengan benar kondisi Px. sehingga mereka akan berangkat kerja pagi-pagi dan pulang di malam hari. Untuk resiko-resiko masa kehamilan. memang suami Px sering main bola dengan temantemannya yang tinggal di sekitar rumah kader. Px bekerja dari pagi hingga sore dan karena Px juga tidak pernah hadir jika ada acara di kampung menyebabkan kader jarang berkomunikasi dengan Px. akan tetapi karena rumah Px yang jauh. Komunikasi keluarga Px dengan tetangga kurang lancar. Bahkan kader baru mengetahui berita kematian Px setelah hari ke-3 Px meninggal. sehingga ketika terjadi sesuatu tidak ada tetangga yang mengetahuinya.

tinggal bersama Px. kader tidak mengetahuinya. Anak pertama laki-laki. Px juga tinggal bersama dengan keponakannya). Ibu px meninggal karena darah tinggi (stroke). ayah Px pernah stroke tetapi meninggalnya bukan karena darah tinggi. sehingga ketika Px tertimpa musibah. KASUS 2 : Ny. pendidikan SLTA dan sebagai ibu rumah tangga Deskripsi Kasus Kehamilan Px kali ini merupakan kehamilan ketiga. pagi-pagi sekali suami Px sudah berangkat untuk berjualan (di pasar dari jam delapan pagi sampai jam tiga sore). Setiap pagi. umur 33 tahun. Px memang mempunyai riwayat hipertensi sejak sebelum hamil. sehingga ketika terjadi sesuatu tidak ada tetangga yang mengetahuinya • Posisi rumah Px yang jauh dari rumah kader menyebabkan terputusnya komunikasi antara Px dengan kader. • Komunikasi keluarga Px dengan tetangga kurang lancar.menyebabkan terputusnya komunikasi antara Px dengan kader. Px hanya mengatakan jika kehamilannya baik-baik saja. Px juga selalu tidur siang. kader tidak mengetahuinya. N. Berdasarkan penjelasan di atas. Px mempunyai kebiasaan untuk minum jus setiap hari. Ada lima anggota keluarga di rumah (selain dengan keluarga inti. Anak kedua perempuan. berumur empat tahun. Sehari-harinya Px hanya di rumah beserta satu orang anaknya. telah berusia tujuh tahun dan tinggal bersama orang tua Px. sehingga ketika Px tertimpa musibah. permasalahan yang ada pada kasus satu jika diringkas adalah: • • Kurangnya pengetahuan ibu tentang bahaya penggunaan obat secara bebas Suami tidak pernah ikut masuk ke ruang dokter ketika Px kontrol sehingga suami tidak tahu dengan benar kondisi Px. Px adalah seorang ibu rumah tangga sedangkan suami Px adalah pedagang yang berjualan sayur di pasar Wlingi. Sebelum hamil Px pernah merasa kaku- 184 .

Selama hamil Px sering bercerita pada tetangga kalau Px keluar rumah. Kemudian Px minta diambilkan suaminya obat sakit kepala 185 . Ketika terakhir kali Px kontrol. Px hanya mengatakan jika kondisi Px dan janin baik. akan tetapi Px tidak mau. Px mengatakan bahwa sakitnya adalah bawaan bayi. tapi tidak lama kemudian sembuh.Px bercerita kepada tetangga jika dokter menyarankan Px untuk operasi saja jika melahirkan nanti. Px selalu melihat langit hitam dan bergulung-gulung seperti mau ada badai atau bencana. akan tetapi Px masih merasa sangat sakit di kepalanya. Px pernah tensinya tinggi sekali ketika anaknya sakit. Tanpa konsultasi dokter terlebih dahulu. beberapa hari setelah kontrol. Padahal sebelumnya Px tidak pernah merasa sakit di punggungnya. Menurut tetangga. Setiap kali Px kontrol ke dokter. minggu-minggu terakhir sebelum Px meninggal. Hari kamis Px mengeluh kepalanya pusing dan sakit sekali. Awal hamil hingga kehamilan 2 bulan. Keluar rumah seperlunya saja. kondisi Px sudah stres. kemudian meminumnya. karena Px tidak cerita. Suami menyuruh Px untuk ke dokter. suami selalu mengantar. Pada hari Rabu sore Px mengeluh sakit di ulu hati sampai punggung. karena anak 1 dan 2 juga operasi. Tetangga menceritakan bahwa kemungkinan Px malu hamil lagi karena Px hamil anak yang ketiga. Px merasa punggungnya sakit. Sakit di punggungnya sembuh. akan tetapi suami tidak pernah ikut masuk ke ruang praktek dokter. Pada kehamilan usia 3 bulan Px mengeluh ambeien. Px jarang keluar rumah saat hamil. Px membeli obat “Trace Minerals”. Menurut tetangga. Perasaan itu juga yang membuat Px stress selama hamil. jenis kelamin bayi perempuan. Tetangga tidak menanyakan kondisi Px. Ketika usia kehamilan menginjak 8 bulan.kaku di tangannya. Px sehat dan tidak mengalami keluhan apapun. padahal rata-rata penduduk di lingkungan sekitar tempat tinggal Px hanya mempunyai dua orang anak. selain itu juga mengingat Px mempunyai riwayat tekanan darah tinggi. Px tampak bengkak pada muka dan kaki. kemudian meminumnya dengan cara mencampur obat tersebut 1 tetes dengan air satu gelas. sejak awal kehamilan.

Px mengantar suami berangkat kerja sampai depan pintu pagar. Px hanya diinfus oleh perawat karena menurut perawat. Lalu Px menyetrika baju semalaman. Px cerita jika tensinya 170. Px bercerita pada tetangga kalau sepulang dari pasar Px sempat mampir ke apotek untuk “tensi”. Px dipindah ke ruang perawatan. dokter di RS tidak ada. setelah suami berangkat Px ke pasar seperti biasa dengan mengendarai sepeda motor. Px kejang. Px dibawa ke RS “A” oleh tetangga. setelah sholat Subuh. Suami Px awalnya melarang Px untuk minum obat “puyer 16” dan memaksa Px untuk ke dokter saja. Menurut tetangga. akan tetapi Px tetap tidak mau ke dokter dan mengatakan bahwa ke dokternya sekalian saja dua minggu lagi. karena Px merasa kepalanya masih pusing. Px mengatakan pada suami bahwa dirinya tidak bisa tidur. Pukul 5. • 1 minggu sebelum meninggal ibu mengeluh pusing. Ketika akan membuat jus.“puyer 16” di tempat obat. keponakan Px menjaga anak Px di rumah dan menelpon suami Px. Di UGD Px diinfus.30. Akhirnya karena Px bersikeras untuk tidak mau ke dokter dan suami tidak tega melihat Px sakit kepala.30. Px bercerita bahwa dirinya bermimpi dibacakan surat Al Ikhlas oleh anak kecil. Ketika perawat memasang kateter Px mengaduh kesakitan kemudian Px kembali kejang-kejang dan tidak sadar sampai Px meninggal. tapi ibu menolak untuk periksa • 186 20-4-2012 suami mengatakan kaki ibu mulai bengkak . akhirnya suami mengambilkan obat dan meminumkan obat sakit kepala “puyer 16”. Px sudah terbangun. Sampai di RS Px langsung masuk ke UGD. Hari sabtu malam. kemudian ibu minum puyer • 18-4-2012 ibu mengeluh nyeri dada sampai tembus punggung. Jam 4. akan tetapi dokter sudah dihubungi (saat itu hari minggu dan tidak ada seorang pun dokter jaga di RS “A” tersebut). Px baru bisa tidur. Setelah Px dianggap stabil. Kemudian perawat masuk dan memasang kateter. Keponakan yang tinggal dengan Px menemukan Px yang kejang kemudian meminta tolong tetangga. Di ruang perawatan Px sudah bisa diajak bicara dan merespon tetangganya dengan benar.

. anak bungsu Px diasuh oleh tetangga Px. Data tentang ibu hamil juga diminta dari petugas koordinasi posyandu. Setelah ada kasus kematian.• 22-4-2012 jam 07. Tetangga tersebut juga yang mengantarkan Px ke RS “A” sebelum Px meninggal. Berdasarkanpenjelasan di atas. Tetangga (suamiistri) mengantarkan Px ke RS dengan menggunakan mobil. kemudian meminta bantuan tetangga untuk membawa ibu ke RSU Aminah. Sebenarnya kader dan petugas posyandu sudah sering sekali mendata ibu-ibu yang hamil. permasalahan yang ada pada kasus kedua jika diringkas adalah : • Terlambat mendeteksi tanda bahaya kehamilan karena ibu tidak tahu bahaya minum obat sembarangan • • Terlambat merujuk Terlambat mendapat pertolongan 187 . Dengan tetangga tersebut hubungan keluarga Px dan keluarga tetangganya sangat dekat. Padahal rata-rata perut yang sudah terlihat besar itu ketika memasuki kehamilan bulan ke-7. Bahkan setelah Px meninggal. Suami Px sampai di rumah ketika jenazah Px sudah sampai rumah. diadakan pertemuan seluruh petugas posyandu oleh dinas kesehatan dan puskesmas. hasilnya 170/.? mmHg. sehinga sudah terlambat untuk pemeriksaan awal. akan tetapi ada suatu kebiasaan bagi ibu hamil untuk menyembunyikan awal-awal kehamilannya hingga perutnya terlihat besar. Yang menemukan pertama kali keponakannya.30 Px ke apotek untuk periksa tekanan darah.30 ibu meninggal dunia Px hanya dekat dengan tetangga sebelah kiri rumah Px. • Pukul 10. RS “A” dipilih karena lokasi RS “A” dekat dengan tempat tinggal Px. Tetangga Px tersebut 2 bulan terakhir menjadi kader di wilayah tempat tinggalnya. karena suami Px berjualan di pasar yang letaknya jauh dari rumah. Sampai di rumah ibu mengalami kejang..

Deskripsi Kasus Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya. Keluarga Px juga tidak paham jika Px mempunyai sejarah keluarga dengan hipertensi.00 ibu mengeluh sesak nafas dan periksa ke BPS Bidan menyarankan ibu langsung ke puskesmas Dari puskesmas ibu langsung dirujuk menggunakan ambulance ke RS Ibu meninggal setelah sampai di RS . Ketika hamil Px sempat mengeluh sakit gigi yang tak tertahankan dan akhirnya Px melakukan cabut gigi di puskesmas. Keluarga sangat senang ketika Px hamil. maka suami tidak mengetahui secara jelas kondisi kehamilan Px. Px selalu bilang baik-baik saja sepulang dari kontrol di BPS. tapi dibiarkan saja (tidak minum obat) sudah sembuh sendiri. • • • • • 188 Ibu periksa hamil ke BPS dan puskesmas Tanggal 4-4-2012 jam 00. sehingga meningkatkan resiko Px mengalami hipertensi.KASUS 3 : Nama Ny. sehingga tidak ada lagi yang harus menanggung kutukan Keluarga Px tidak paham resiko yang dialami ibu hamil. Px selalu periksa kehamilan di BPS. umur 31 tahun. Keluarga merasa kematian Px merupakan pemutus kutukan yang harus dialami oleh keluarga karena Px dan bayinya meninggal. B. pendidikan SLTA dan bekerja sebagai pedagang. Neneknya meninggal dengan diagnosa eklamsi ketika melahirkan ibunya. Hal tersebut oleh keluarga Px lebih dianggap sebagai sebuah kutukan yang dialami oleh keluarga. akan tetapi karena suami tidak ikut masuk ke ruang praktek. Suami Px mengatakan bahwa ketika hamil kondisi Px baik-baik saja. akan tetapi ada kekhawatiran dikalangan keluarga karena keluarga takut Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya (takut kutukan itu harus dialami Px). Hanya saja ketika hamil Px beberapa kali sakit batuk. Ibunya juga meninggal dengan diagnosa yang sama ketika melahirkan Px.

Px tidak pernah datang pada kegiatan posyandu. kader memang tidak memberi penyuluhan secara personal. memang suami Px sering main bola dengan temantemannya yang tinggal di sekitar rumah kader. Ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumah kader aktif datang pada saat jadwal posyandu berlangsung. akan tetapi biasanya ibu-ibu yang datang ke psyandu meminjam buku-buku tentang kehamilan yang dibaca saat jadwal posyandu. Px bekerja dari pagi hingga sore dan karena Px juga tidak pernah hadir jika ada acara di kampung menyebabkan kader jarang berkomunikasi dengan Px. Rumah kader wilayah Px juga lumayan jauh dari tempattinggal Px. “Mungkin Px kontrolnya langsung ke Puskesmas mbak. halaman yang luas dapat pula menjadi penghalang keluarga Px untuk berkomunikasi dengan tetangga. ibu menyusui dan ibu yang mempunyai anak balita tentang kesehatan. Antara rumah Px dan rumah tetangga terdapat halaman yang sangat luas. akan tetapi jarak rumah yang lumayan jauh menghalangi proses komunikasi kader dan Px. selama Px hamil. akan tetapi karena rumah Px yang jauh. Kader juga tidak 189 . Untuk resiko-resiko masa kehamilan. Sebenarnya kader aktif datang berkunjung ke rumah ibu hamil untuk mengontrol kondisi ibu hamil. Kader mengaku bahwa dia dan tim aktif memberikan penyuluhan kepada ibu hamil. melainkan menghadap ke tembok rumah tetangga. Menurut kader.• Ibu mengattakan pernah cabut gigi ketika hamil Rumah keluarga Px terletak di tepi jalan raya yang dilewati oleh banyak kendaraan yang berlalu lalang. soalnya lebih dekat ke puskesmas daripada ke sini (posyandu)” Kader bercerita jika penduduk di wilayahnya rata-rata adalah pedagang dan buruh tani. Selain posisi rumah Px yang menghadap ke tembok tetangga. sehingga mereka akan berangkat kerja pagi-pagi dan pulang di malam hari. Bahkan kader baru mengetahui berita kematian Px setelah hari ke-3 Px meninggal. akan tetapi rumah Px tidak menghadap ke jalan raya. Menurut kader.

Keluarga Px juga tidak paham jika Px mempunyai sejarah keluarga dengan hipertensi.mengetahui kondisi kehamilan Px karena kader hampir tidak pernah bertemu Px selama Px hamil. Diskripsi Kasus Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya. Keluarga sangat senang ketika Px hamil. Hanya saja ketika hamil Px beberapa kali sakit batuk. Hal tersebut oleh keluarga Px lebih dianggap sebagai sebuah kutukan yang dialami oleh keluarga. tapi dibiarkan saja (tidak minum obat) sudah sembuh sendiri. Ketika hamil Px sempat mengeluh sakit gigi 190 . sehingga meningkatkan resiko Px mengalami hipertensi. umur 31 tahun pendidikan SLTA dan bekerja sebagai pedagang. rumah berada di bantaran sungai dan tidak ada kendaraan • Terlambat mendapatkan pertolongan KASUS 4 : Nama Ny B. Ibunya juga meninggal dengan diagnosa yang sama ketika melahirkan Px. Berdasarkan penjelasan di atas. Neneknya meninggal dengan diagnosa eklamsi ketika melahirkan ibunya. sehingga tidak ada lagi yang harus menanggung kutukan Keluarga Px tidak paham resiko yang dialami ibu hamil. akan tetapi ada kekhawatiran dikalangan keluarga karena keluarga takut Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya (takut kutukan itu harus dialami Px Suami Px mengatakan bahwa ketika hamil kondisi Px baik-baik saja. permasalahan yang ada pada kasus 3 adalah: • Terlambat mendeteksi tanda bahaya kehamilan karena keluarga mengira ibu kesurupan • Terlambat merujuk karena kondisi cuaca hujan. Keluarga merasa kematian Px merupakan pemutus kutukan yang harus dialami oleh keluarga karena Px dan bayinya meninggal.

. Lha wong kalau perutnya sudah kelihatan besar berarti kan kira-kira sudah 4 bulan keatas. Tapi itu kan sudah terlambat ya mbak.00 ibu mengeluh sesak nafas dan periksa ke BPS Bidan menyarankan ibu langsung ke puskesmas Dari puskesmas ibu langsung dirujuk menggunakan ambulance ke RS Ibu meninggal setelah sampai di RS Ibu mengatakan pernah cabut gigi ketika hamil Permasalahan yang dialami oleh Px adalah: • • Kurangnya pengetahuan ibu tentang resiko cabut gigi pada masa kehamilan Kurangnya pengetahuan keluarga tentang resiko-resiko di masa kehamilan Taboo vs Malu Di Kota Blitar. “. Px selalu periksa kehamilan di BPS. Makanya mereka biasanya baru akan cerita kalau perutnya sudah kelihatan besar. mereka akan malu. Px selalu bilang baik-baik saja sepulang dari kontrol di BPS. beberapa menjawab “tidak tahu”. Beberapa ibu hamil dan kader yang ditanyai tentang alasan mengapa tidak boleh menceritakan kehamilannya di awal kehamilan.nek wis kadhung cerito trus gak sidho hamil lak isin mbak. Kronologi kejadian yang dialami Px : • • • • • • Ibu periksa hamil ke BPS dan puskesmas Tanggal 4-4-2012 jam 00. ternyata masih ada kepercayaan yang dipegang oleh para ibu hamil.gak tau mbak.” Sedangkan beberapa ibu hamil mengatakan bahwa mereka tidak mau menceritakan awal kehamilannya kepada orang di luar keluarga inti karena jika kehamilan itu tidak berlanjut. Takut ada apaapa kalo gak nurut. akan tetapi karena suami tidak ikut masuk ke ruang praktek. dimana ketika kandungan masih berusia muda (belum kelihatan hamil) para ibu hamil dilarang untuk menceritakan kehamilannya kepada orang lain. pokoknya nurut aja apa kata orang-orang tua.. tempat penelitian ini berlangsung.. maka suami tidak mengetahui secara jelas kondisi kehamilan Px.” 191 . “.yang tak tertahankan dan akhirnya Px melakukan cabut gigi di puskesmas..

Ibu-ibu yang hamil anak ke-3 atau lebih merasa malu dengan kehamilannya. Umumnya mereka menyembunyikan diri dan tidak bersosialisasi.. “.” Peran Suami Peran suami di keluarga dalam budaya Jawa sangat penting. Engkuk ujug2 wis lair anake. akan tetapi biasanya ibu hamil tersebut malu sendiri dengan tetangganya.embuh prikso nang ndi mbak. Suami sebagai kepala keluarga dan pengambil keputusan. Lain kasus. karena anak ke-3 saja sudah merasa banyak. masalah “malu” juga ada di antara ibu hamil yang menyebabkan dirinya tidak mau menceritakan kehamilannya. peran suami sebagai pengambil keputusan dan mendampingi istri selama masa kehamilan sangatlah penting. sebab sebagian besar tetangganya hanya mempunyai dua anak. Kehamilan memang merupakan masa-masa dimana seorang ibu 192 . Berkaitan dengan kehamilan. Hal ini menyebabkan ibu-ibu malu menceritakan kehamilannya kepada orang lain hingga perutnya tampak besar dan tetangga-tetangga tahu jika ibu tersebut hamil. Entah mereka memeriksakan kehamilannya atau tidak dan dimana mereka memeriksakan kehamilannya. Kedua kelompok inilah yang dianggap para kader sebagai kelompok yang “susah dijangkau”. Sebenarnya tetanggatetangga dan lingkungan tidak ada yang mempermasalahkan kehamilan ibu tersebut asal hamil dengan suami sah-nya.wong g tau metu seko ngomah. Suami hendaknya mendampingi dan memberikan ekstra perhatian kepada istrinya yang sedang hamil. suami haruslah mampu mengambil keputusan dengan tepat. sehingga sebagian besar penduduk Kota Blitar hanya mempunyai dua anak. program KB begitu gencar digalakkan dan sangat sukses..Selain masalah ketabuan yang berkembang diantara ibu hamil sehingga tidak mau menceritakan awal kehamilannya kepada orang di luar keluarga intinya. Ternyata dampak positif program KB juga disertai dengan dampak negatif yang timbul di masyarakat. ada pula ibu yang hamil dengan lelaki lain karena suaminya adalah TKI di luar negeri dan tidak pernah pulang serta TKW yang pulang dalam kondisi hamil. Dalam situasi yang sulit dan mendesak. Di Kota Blitar.

Menemani tidak hanya menunggu di depan pintu praktek dokter. suami dengan istri yang sedang hamil hendaknya juga mempunyai pengetahun tentang kehamilan. Pengambilan keputusan yang tepat untuk membwa istri yang sedang hamil untuk berkunjung ke pelayanan kesehatan terjadi mulai awal terdeteksinya 193 . Beberapa kasus menunjukkan bahwa ketidakpedulian dan ketidaktanggapan suami membawa akibat yang fatal bagi kondisi istrinya yang sedang hamil.membutuhkan perhatian ekstra dari pasangannya (suami) dan lingkungannya. janin sungsang). atau d depan pintu poli di puskesmas atau RS. keluarga dan teman) akan gangguan yang dialami oleh ibu hamil. Hal tersebut selain membantu suami untuk mengetahui kondisi istri yang sebenarnya. Ibu akan berubah menjadi sangat sensitive ketika hamil. suami sebaiknya menemani istri yang sedang kontrol kehamilan. berkaitan dengan kondisi istri yang sedang hamil. Terutama resikoresiko yang kemungkinan terjadi. Untuk mengantisipasi hal tersebut. tekanan darah tinggi) atau kondisi khusus yang terjadi pada janin (misalnya. Seringkali ibu yang sedang hamil tidak mau menceritakan kondisi dirinya dan kehamilannya yang sesungguhnya kepada suaminya sehingga ketika terjadi sesuatu pada istrinya yang sedang hamil. juga membantu dokter mengkomunikasikan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi jika istri memang mengalami kondisi khusus (misalnya. Kepedulian dan ketanggapan suami terhadap tanda-tanda dan gejala yang berhubungan dengan resiko kehamilan dapat meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan biologis yang terjadi pada diri seorang ibu. Perubahan tersebut juga memberikan efek pada emosi ibu. Pelabelan “gawan bayi” pada perubahan kondisi ibu hamil yang sebetulnya mengindikasikan terjadinya gangguan pada diri ibu dan kehamilannya menyebabkan berkurangnya ketanggapan pada diri suami dan lingkungan (orang tua. suami tidak tahu kondisi istri yang sebenarnya. bidan. Tidak hanya seorang ibu yang sedang hamil yang harus mempunyai pengetahuan tentang kehamilan. akan tetapi suami ikut masuk ke ruang periksa ketika istri sedang periksa.

para suami juga harus tanggap untuk mengajak istri memeriksakannya ke pelayanan kesehatan. Pemerintah telah melaksanakan berbagai upaya terbaiknya. sehingga jika ada sesuatu yang tidak diinginkan dapat diketahui sejak awal kehamilan. jika terjadi keluhan pada istri. Peran Kader Dalam Pelayanan Jampersal Guna memberikan pelayanan kesehatan ibu dan bayi. ada bidan desa yang sudah dilengkapi dengan Bidan Kit. Kader Kesehatan di wilayah Puskesmas Kepanjen Kidul semuanya perempuan. Keterbatasan tenaga kesehatan untuk menjangkau masyarakat menyadarkan tentang pentingnya peran serta masyarakat. Namun ada juga pedagang dan pekerja lepas. Kalau dilihat dari profesinya. memang kebanyakan mereka adalah sebagai ibu rumah tangga. pendidikan dan untuk beberapa daerah tertentu dengan faktor geografis. Selama hamil. Kadarzi dan peningkatan kesehatan ibu. Kemitraan dengan kader lebih ditekankan pada upaya menggerakkan masyarakat dalam hal PHBS. suami hendaknya mendorong istri untuk memeriksakan kehamilan istri sejak dini.kehamilan istri. suami yang siaga akan suap mengantarkan istri yang akan melahirkan dengan membawanya ke unit pelayanan kesehatan. Hingga akhirnya ketika istri akan melahirkan. persalinan dan nifas ibu dan bayinya. bayi dan anak. sudah ada Dokter umum dan tenaga bidan yang mampu memberikan pelayanan PONED. pemanfaatan pelayanan ibu dan bayi yang sudah disediakan oleh Pemerintah ini senantiasa terkait dengan kemiskinan. obat-obatan dan bahan-bahan untuk memberikan pelayanan kesehatan selama kehamilan. Kadarzi dan KIA para kader juga mendapat pembekalan tentang penggerakan. Kesadaran tentang keterbatasan tenaga dan anggaran telah membuat Puskesmas Kepanjen Kidul senantiasa bermitra dengan masyarakat/ kader dalam menjalankan program-program pelayanannya. pemberdayaan masyarakat dan P3K. 194 . Sejak awal terdeteksinya kehamilan istri. Untuk memberikan hasil kerjasama yang optimal ada beberapa pembekalan yang diberikan kepada para kader. Masalahnya. Selain tentang substansi PHBS. Di Puskesmas. Di level komunitas.

.. Namun saya berusaha sebisa saya untuk memberikan penjelasan.” Namun demikian ada kegalauan dari Kader ketika mau memberikan penyuluhan kepada masyarakat. silahkan hubungi saya. Kurang opo. sampeyan bisa periksa kehamilan. “...Ketidakterikatan dengan pekerjaan yang membuat mereka punya waktu lebih untuk melaksanakan tanggungjawabnya sebagai pekerja sosial. Kalau sewaktu-waktu mereka kita minta datang ke Puskesmas. Sebagaimana diungkap oleh kepala Puskesmas Kepanjen Kidul. tanggungjawab yang diemban oleh Kader adalah membantu menggerakkan para ibu hamil yang ada di wilayahnya untuk melakukan ANC dan persalinan di petugas kesehatan. Tentunya juga karena mereka punya komitmen yang bagus sebagai kader. 195 . Sebagaimana dikemukakan oleh ibu Kader Ririn. Setiap kunjungan biasanya ditambahi dengan pesan.” Kegiatan rutin dari Kader adalah melakukan Posyandu dan pertemuan antar kader yang dilakukan setiap bulan.. ini no HP saya. Sulit untuk dikasiktahu. Terkait dengan kegiatan Jampersal.. mereka selalu hadir walau hanya saya hubungi via telepon. Salah satu diantaranya adalah pemberian informasi tentang Jampersal kepada Kader.masyarakat di tempat saya banyak dari kalangan telok-lemak. Kalau ada sesuatu yang spesial. Ini lho ada pelayanan gratis. mereka sering datang dan pergi. Kader akan bertanya langsung kepada yang bersangkutan atau kalau saat dilakukan kunjungan. maka pada saat pertemuan itu juga digunakan untuk melakukan sosialisasi.. yang bersangkutan tidak ada maka sudah merupakan protap untuk bertanya kepada tetangga di kanan-kirinya tentang keadaannya untuk kemudian ditindaklanjuti lagi pada kunjungan berikutnya.komitmen kader dalam melaksanakan tanggungjawabnya sangat bagus. sampeyan bisa melahirkan tanpa mbayar. Pada pertemuan rutin kader yang dilakukan adalah menginformasikan kondisi PHBS. Kadarzi dan KIA yang terdapat di masing-masing wilayahnya. “.kalau ada apa-apa. Perasaan tidak enak hati.” Ketika ada ibu hamil maka kader akan selalu memantau kondisi ibu hamil tersebut. “. khawatir terhadap penerimaan masyarakat akan menganggap kader sebagai orang “sok tahu” dan terlalu banyak omong.

alamiah dan kodrati. ibu tidak langsung pergi ke petugas kesehatan.” “. Mereka cenderung kondisi itu dan menunggu waktu kunjungan berikutnya. sopo sih kui. Mereka kurang menyadari pentingnya segera memeriksakan kehamilan ketika mengalami masalah kesehatan yang bisa menyebabkan tidak terdeteksinya faktor-faktor resiko tinggi yang mungkin dialami oleh mereka. Ketika terjadi kasus kematian maternal. sebagaimana dituturkan oleh ibu Susi dan Ririn berikut. ketika terjadi masalah kesehatan.. “.saya tidak enak hati..“. kok banyak bicara tentang kesehatan. tapi saya tidak tahu apa tindak lanjut dari RT. kehamilan dan persalinan yang aman tidak terlepas dari faktor sosial budaya dan lingkungan di dalam masyarakat di mana mereka berada...... Kader juga direpotkan dengan kejadian itu.. Resiko ini baru diketahui pada saat kasusnya sudah terlambat dapat membawa akibat fatal yaitu kematian. Memahami perilaku perawatan kehamilan adalah penting untuk mengetahui dampak kesehatan bayi dan si ibu sendiri. Fakta yang teramati dalam kasus kematian di daerah studi menunjukkan bahwa keempat Ibu yang meningggal berdasarkan catatan di Puskesmas sudah memeriksakan dirinya secara rutin setiap bulan ke bidan ataupun dokter. bukan orang kesehatan. Saya kemudian juga minta bantuan pihak RT untuk sama-sama memantau. Kader diminta untuk lebih melakukan pemantauan kondisi para ibu hamil agar tidak terjadi lagi kasus kematian maternal.saya diwanti-wanti oleh bu Bidan agar kematian ibu ini jangan sampai terjadi lagi.. Ada permintaan dari Kelurahan dan RT agar kami para kader membantu mendeteksi.” Upaya Penyelamatan Vs Takdir Sebagaimana diketahui.. Paling tidak Kader akan ditanya banyak hal terkait kasus kematian itu oleh bidan dalam rangka melengkapi informasi untuk review maternal mortalitas. Hal 196 . Dengan adanya kasus tersebut. Rasa percaya diri yang kurang karena mereka hanya ibu rumah tangga biasa.” Ini merupakan kendala yang hampir dipunyai oleh semua Kader. Namun demikian.setelah ada kasus.. kok kenyi banget. Kehamilan dianggap sebagai hal yang biasa.

penyebab tiga kasus kematian ibu diduga eklamsia dan satu kasus tidak ditemukan indikasi. semua tidak ada yang lebih dari 2 km. kalau dilihat dari jarak tempat tinggal ke fasilitas kesehatan terdekatnya. Pada keempat kasus kematian. Kalau dilihat dari fasilitas kesehatan yang disediakan Pemerintah Daerah seperti tiga Puskesmas dan sebuah RSUD di Kota Blitar yang luas wilayahnya hanya 32. Suatu kondisi yang tidak dihindari bahwa dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak melalui program-program pembangunan 197 . keterlambatan mencari pertolongan disebabkan juga oleh adanya suatu keyakinan dan sikap pasrah dari masyarakat bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan takdir yang tak dapat dihindarkan.ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya informasi. Padahal masih ada beberapa Rumah Sakit Swasta dan banyak Dokter dan Bidan praktek swasta. Selain dari faktor keterlambatan dalam pengambilan keputusan. suami yang seringkali menjadi panik melihat keadaan krisis yang terjadi. kefatalan ini juga karena ada faktor keterlambatan pengambilan keputusan dari keluarga dan ibu yang bersangkutan. Kasus kematian yang terjadi di Puskesmas Kepanjen Kidul merupakan gambaran bagaimana kultur perkotaan yang bercirikan melemahnya ikatan sosial. Secara medis. Keterlambatan juga muncul karena kepanikan. juga berkontribusi terhadap kasus ini. faktor geografis dan kendala ekonomi. Namun. Alat transportasinyapun mudah diperoleh setiap saat.58 km². Kepanikan dan ketidaktahuan akan gejala-gejala tertentu saat persalinan dapat menghambat tindakan yang seharusnya dilakukan dengan cepat. Karena kondisi tersebut bila tidak ditangani secara tepat dan profesional dapat berakibat fatal bagi ibu. harusnya masyarakat bisa mengakses dengan mudah fasilitas kesehatan yang ada. Keperdulian keluarga dan tetangga sekitar harusnya bisa dioptimalkan untuk dilibatkan dalam upaya pemantauan dan deteksi dini resiko kehamilan yang mungkin dialami oleh seorang ibu hamil. Tidak jarang pula nasehatnasehat yang diberikan oleh teman atau tetangga mempengaruhi keputusan yang diambil.

sosial dan budaya. Dalam hal melakukan upayaupaya perbaikan perlu disadari bahwa hubungan ibu dan anak sangat erat dimana kondisi kesehatan ibu akan dapat secara langsung mempengaruhi kondisi kesehatan anaknya. Apalagi kalau persepsi tentang kesehatan ataupun penyebab sakit sudah berbeda sekali dengan konsep medis. Pada dasarnya. penting sekali menempatkan konteks reproduksi dalam program KIA 198 . tentunya upaya mengatasinya juga berbeda disesuaikan dengan keyakinan ataupun kepercayaan-kepercayaan yang sudah dianut secara turun-temurun sehingga lebih banyak menimbulkan dampak-dampak yang merugikan bagi kesehatan. baik mulai dari kandungan maupun setelah persalinan. Dengan alasan ini pula dalam hal penempatan petugas kesehatan dimana selain memberi pelayanan kesehatan pada masyarakat juga berfungsi sebagai agen perubah maka pengetahuan dan kemampuan berkomunikasi dari petugas kesehatan sangat diperlukan disamping kemampuan dan ketrampilan memberi pelayanan kesehatan. Perilaku kesehatan di masyarakat baik yang menguntungkan atau merugikan kesehatan banyak sekali dipengaruhi oleh faktor sosial budaya. Dan untuk merubah perilaku ini sangat membutuhkan waktu dan cara yang strategis. Mengingat bahwa dari indikator-indikator yang ada menunjukkan derajat kesehatan ibu dan anak masih perlu diingkatkan. mengatur dan mempengaruhi tindakan atau kegiatan individu-individu suatu kelompok sosial untuk memenuhi berbagai kebutuhan kesehatan.kesehatan perlu memperhatikan aspek-aspek sosial-budaya masyarakat. Memang tidak semua perilaku masyarakat yang pada awalnya bertujuan untuk menjaga kesehatan dirinya adalah merupakan praktek yang sesuai dengan ketentuan medis dan kesehatan. peran kebudayaan terhadap kesehatan masyarakat adalah dalam membentuk. pendidikan. maka dalam upaya perbaikannya perlu pendekatan-pendekatan yang dilakukan secara holistik dan integratif yang tidak hanya terbatas pada bidang kesehatan secara medis saja tetapi juga ekonomi. Oleh karena itu. Keberadaan petugas kesehatan dan kelengkapan fasilitas kesehatan semata tidaklah cukup untuk mengatasi masalah-masalah KIA di suatu daerah.

Pengetahuan yang dimiliki oleh suami dan keluarga ibu hamil diharapkan mampu menjadi bekal apabila kelak terjadi suatu kondisi yang tidak diinginkan pada ibu hamil. Pemberian bekal imu pada ibu hamil. masa remaja hingga dewasa. Pemberian tambahan ilmu / pengetahuan baik pada ibu hamil maupun suami dan keluarga diharapkan mampu menjadi salah satu upaya penyelamatan pada ibu hamil. Selain itu suami dan keluarga dapat menjadi suami dan keluarga siaga bagi istri dan saudaranya yang hamil. Ilmu yang tentang kehamilan dan resiko-resiko kehamilan yang dimiliki oleh ibu hamil diharapkan mampu menjadikan ibu hamil tanggap dan mengerti tentang perubahan kondisi yang dialaminya sehingga mampu mengambil keputusan yang tepat bagi dirinya. Hal ini wajib dilakukan agar konsep yang akan kita sampaikan mampu dipahami dengan benar oleh ibu hamil dan keluarganya.sehingga diharapkan kondisi kesehatan seseorang benar-benar dapat terpelihara sesuai dengan konsep medis yang tepat sejak ia berada dalam kandungan. Ilmu vs Upaya Penyelamatan Ilmu/pengetahuan tentang kehamilan tidak saja wajib dimiliki oleh ibu hamil saja. ibu hamil dapat mendeteksi resiko-resiko yang ada di dalam dirinya. Keputusan tepat yang dilandasi ilmu sangat diperlukan dalam membantu ibu hamil dalam usaha menyelamatkan baik ibu maupun anak yang dikandungnya. Sedangkan ilmu yang telah dimiliki oleh suami dan keluarga diharapkan mampu membantu ibu hamil jika terjadi hal-hal genting terjadi pada ibu hamil. Proses pendampingan oleh tenaga kesehatan secara berkesimbungan juga dinilai efektif untuk merubah konsep “keliru” yang berkembang di masyarakat. masa kanak-kanak. 199 . Dengan pengetahuan tentang kehamilan dan resiko-resiko kehamilan. terutama oleh suami. melainkan wajib dimiliki oleh keluarga. suami dan keluarganya tidak dapat dilakukan dengan cara “pukul rata” akan tetapi dilakukan dengan “bahasa” yang sama dengan konsep dan “bahasa” yang dipahami oleh keluarga tersebut.

tokoh agama. Pemberian ilmu / pengetahuan pada ibu hamil dan keluarganya diharapkan mampu menjadi salah satu alternatif penyelamatan ibu hamil. TOGA.Adanya kepercayaan-kepercayaan yang “keliru” yang tumbuh di masyarakat menyebabkan masyarakat kurang “tanggap” dalam menyikapi perubahan kondisi yang dialami oleh ibu hamil. karena dalam Budaya Jawa.9 AKSEPTABILITAS TOMA. 200 . Dapat kita simpulkan bahwa upaya penyelamatan ibu hamil merupakan tanggung jawab semua pihak. pemahaman dan pemanfaatan serta harapan masyarakat terhadap keberadaan program Jampersal. LSM DAN ORGANISASI LAINNYA DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN JAMINAN PERSALINAN Salah satu tujuan yang akan dicapai dalam studi ini adalah mengetahui akseptabilitas masyarakat meningkatkan pelayanan Jampersal. suami lah pengambil keputusan jika ada persoalan-persoalan rumah tangga. kader kesehatan. Materi yang didiskusikan adalah tentang akseptabilitas masyarakat terhadap Jampersal mulai kegiatan sosialisasi. Peran suami dalam pengambilan keputusan untuk ibu hamil sangatlah penting. aparat desa dan dukun. suami dan keluarganya. bukan saja tanggung jawab kader dan petugas kesehatan. Kader sangat berperan dalam penyampaian informasi tentang kehamilan dan resiko-resikonya pada ibu hamil dan keluarganya. LINTAS SEKTOR. Untuk memenuhi tujuan tersebut dilakukan Fokus Grup Diskusi (FGD) dengan tokoh masyarakat. 5. melainkan tanggung jawab ibu hamil itu sendiri.

Pertemuan kader dan posyandu memang merupakan tempat utama bagi petugas kesehatan melakukan sosalisasi. selain itu juga melalui media elektronik televisi.56 Diskusi kelompok masyarakat (TOMA. ulama dan masyarakat. memberikan informasi tentang Jampersal.Gambar 5. Sasaran utama sosialisasi di masyarakat adalah kepada para kader kesehatan yang akan diteruskan pada ibu hamil di posyandu. TOGA. Di Kota Bandung kader juga secara proaktif mendatangi sasaran jampersal. Sedangkan di Sampang. Kegiatan pengajian umum ini memang di desain sebagai media komunikasi pemerintah. Melalui pengeras suara yang ada di mesjid. Kepala puskesmas dan bidan diakui sebagai orang yang banyak memberikan penjelasan tentang Jampersal. kader. dll) Sosialisasi Jampersal kepada masyarakat secara umum diberikan oleh pihak puskesmas. Sehingga yang memanfaatkan media pengajian ini bukan cuma dari kesehatan. sosalisasi juga dilakukan dengan memanfaatkan kegiatan pengajian umum. dari kepolisian juga sering. petugas puskesmas dengan didampingi kader dan tokoh masyarakat. Tetapi Kota Mataram sosialisasi juga dilakukan dengan memanfaatkan masjid. 201 . Para bidan juga senantiasa memberikan informasi tentang Jampersal kepada ibu hamil ketika periksa kehamilannya.

karena masyarakat disini kurang tahu mengenai jampersal jadi lebih banyak ke dukun..setiap triwulan ada undangan sosialisasi dari dinkes atau pkm. kab. Seharusnya sosialisasi juga dilakukan kepada ketua RT yang nantinya akan disebarluaskan pada warganya... Sehubungan dengan minimnya sosialisasi tersebut. Peserta FGD di Kota Kendari mengemukakan bahwa masyarakat kurang tersosialisasi dengan Jampersal. masyarakat mengharapkan sosialisasi hendaknya dilakukan di tempat yang lebih dapat diakses oleh masyarakat misalnya di kelurahan. kalau di PKK hanya sebagian ibu-ibu yang hadir. “. Menyadari kondisi geografis yang berupa kepulauan.perlu dipikirkan insentif untuk dukun yang bekerja sama dengan bidan. Menurut Toma. terjadi di Kabupaten Wakatobi. Puskesmas sebagai lembaga pelayanan kesehatan yang langsung berhubungan dengan masyarakat mengaku bahwa sudah melakukan sosialisasi tapi tidak langsung ke masyarakat.” (Toma. Kita teruskan lagi di masyarakat.. Kita sampaikan di situ.. ternyata tidak diterima oleh semua masyarakat.Sosialisasi Jampersal yang menjadi tugas Dinas Kesehatan dengan segenap jajarannya. mereka takut ke RS takut biaya mahal.. masih kuatnya tradisi melahirkan dengan ditolong dukun dan perasaan “malu” jika melahirkan di Puskesmas membuat Dinas Kesehatan dan jajarannya perlu memperbanyak frekuensi sosialisasi. karena masyarakat yang mampu di Wakatobi banyak yang melahirkan di rumah dukun didampingi oleh bidan. masyarakat menganggap perlu memperhatikan kemitraan dengan dukun. Selain itu. Di pos kamling. “.” ".” Kondisi yang sangat berbeda dibandingkan daerah lain dalam upaya sosialisasi Jampersal. Ada juga yang mengaku bahwa dia baru tahu setelah mengikuti kegiatan FGD ini. kadang kita undang kumpul masyarakat. “.di kelurahan sosialisasinya.pokja 4 bisa bantu sosialisasi.. kalau di kelurahan yang mendengar bisa lebih banyak. atau langsung dr pintu ke pintu.” 202 . sosialisasi Jampersal dilakukan setiap triwulan dengan memberikan undangan pada Toma ke Dinas kesehatan atau puskesmas setempat. Wakatobi).. Mungkin harus ada kesepakatan soal insentif dengan puskesmas.

Masalahnya. Kalau ini dijadikan sebagai indikator kegiatan sosialisasi. harusnya disampaikan oleh orang kesehatan karena dianggap lebih kompeten. Di Blitar. Kabupaten Kepulauan Aru. Bahkan Dinas Kesehatan sudah memproduksi brosur untuk dibagikan kepada masyarakat. 203 .7% ibu hamil dan bersalin yang tidak memanfaatkan Jampersal karena tidak tahu? Atau apakah ini terjadi karena metode sosialisasi kurang tepat? Mungkin masyarakat butuh jaminan kebenaran informasi yang disampaikan.7% diantara mereka yang tidak memanfaatkan Jampersal disebabkan ketidak tahuan tentang program Jampersal.Dari hasil FGD diketahui bahwa mereka ada yang mendengar tentang Jampersal dan ada pula yang belum. Sehingga Di Kota Blitar tokoh masyarakat berpendapat bahwa kebenaran informasi akan bisa dipertanggung jawabkan jika sosialisasi dilakukan oleh tenaga kesehatan. kalau dilakukan oleh kader ada ke khawatiran informasi yang diberikan kurang tepat. apakah mereka yang sudah mendapat sosialisasi kemudian berkenan menyampaikan pada yang lain? Kalau dilihat dari hasil wawancara kepada para ibu hamil dan yang baru melahirkan. diketahui bahwa terdapat 66. Sementara masyarakat maunya mendapat jaminan kejelasan dan kebenaran informasi yang disampaikan. dari Dinas Kesehatan ke Puskesmas ke Kader dan diharapkan kader dapat menyampaikan kepada masyarakat. siapa yang kurang mempunyai keperdulian sampai ditemukan data sebanyak 66. disana terpampang satu poster tentang Jampersal. maka secara umum dapat dikatakan bahwa sosialisasi pada masyarakat dirasakan masih kurang. Kalau memperhatikan salah satu Posyandu di wilayah puskesmas Benjina. Ini mengindikasikan bahwa petugas kesehatan sudah berusaha melakukan sosialisasi sampai ke komunitas terpencil. Metode yang biasa dilakukan adalah memberi informasi dengan cara berantai. Masalahnya. Masyarakat maunya informasi tentang kesehatan. poster Jampersal juga terlihat di rumah kediaman kader yang difungsikan sebagai posyandu.

” “. Begitu ditanya tentang apa pernah mendengar tentang jampersal. tidak semua bisa berpendapat. secara eksplisit tidak tercantum persyaratan tertentu agar sasaran bisa mendapat pelayanan Jampersal. sebagian besar peserta FGD di 14 kabupaten/kota daerah studi menyatakan pernah mendengar. pertolongan persalinan. bukan untuk orang miskin saja tetapi untuk semua lapisan masyarakat.. pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir. perlu untuk diketahui bagaimana pemahaman masyarakat terhadap program Jampersal..” “. Sebagai program yang relatif baru dengan harapan keberhasilan yang besar.Jampersal adalah program kesehatan yang menguntungkan terutama bagi masyarakat yang tidak mampu. tidsak saja pada proses melahirkan tapi sampai pada biaya pelayanan ke rumah sakit jika ada yang komplikasi dan di rujuk ke puskesmas dan rumah sakit sekarang dibiayai jadi gratis.. di rancang untuk menghilangkan hambatan finansial bagi ibu untuk mendapatkan pelayanan terkait dengan persalinan. Adapun jenis pelayanan yang diberikan meliputi pemeriksaan kehamilan. Dalam petunjuk pelaksanaan Jampersal tertulis bahwa kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan jampersal adalah ibu hamil. Semua orang yang pernah mendengar.Pemahaman Masyarakat Tentang Jampersal.” 204 .program jampersal merupakan program pemberian pelayanan secara gratis untuk persalinan bagi masyarakat. “. Tetapi ketika ditanya tentang apa yang diketahui tentang Jampersal. ibu nifas dan bayinya. Mengenai persyaratan... Jampersal yang bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Dikemukakan bahwa penerima pelayanan adalah seluruh sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja. karena dalam program tersebut tidak ada batasan untuk melahirkan artinya anak ke berapa pun diberi jaminan untuk persalinan gratis. secara umum mengatakan bahwa jampersal adalah seperti cuplikan diskusi masyarakat di wilayah Puskesmas Sanan Wetan Blitar mengenai apa yang diketahui tentang program Jampersal. terutama bagi masyarakat miskin yang bebas dari biaya persalinan.program jampersal ini disambut baik. ibu bersalin..

.. persalinan dan pemerikasaan setelah melahirkan dan bayi sampai 28 hari sampai pemasangan alat kontrasepsi jangka panjang. yang berlokasi di kota Kabupaten Kepulauan Aru. berikut adalah variasi pemahaman masyarakat mengenai Jampersal. “bila dirujuk ke Rumah Sakit juga gratis”. Diskusi yang dilakukan di wilayah puskesmas Dobo. Masyarakat banyak yang 205 ...“. kader mengaku telah mensosialisasikan bahwa paket pelayanan Jampersal itu terdiri dari pemeriksaan kehamilan. Maluku. “jampersal bukan untuk orang miskin saja tapi untuk semua lapisan masyarakat”. seperti proses administrasi yang bisa membuat bingung bidan terutama pada masyarakat yang pendatang (bukan dari kota blitar) yang tidak punya KTP. Jenis pelayanan yang diberikan dalam program Jampersal secara umum tidak diketahui secara mendetail oleh masyarakat. saling pandang dan tetap terdiam. “program untuk masyarakat miskin”. Bahwasannya jampersal adalah “program persalinan gratis”. Secara garis besar. ketika diminta berkomentar tentang program Jampersal semuanya terdiam.. Lebih lanjut diakui bahwa ibu harus meminta persetujuan dari suami terlebih dahulu untuk langsung menggunakan alat kontrasepsi. Dari 10 peserta FGD hanya Ibu Ome dan Ibu Tini yang pernah mendengar tentang Jampersal tetapi tidak tahu Jampersal itu apa. Kebanyakan yang diketahui masih sebatas bahwa Jampersal hanya melayani pemeriksaan ibu hamil dan melahirkan gratis di layanan kesehatan / bidan.. jenis pelayanan yang diberikan. Di kota Bandung. namun sosialisasi di masyarakat yang kurang. Belum ada seorangpun anggota masyarakat yang mampu menjelaskan secara utuh dilihat dari tujuan.program jampersal di masyarakat ini baik. Pemahaman masyarakat di Blitar ini berbeda sekali dengan masyarakat di kabupaten Kepulauan Aru.” Dari komentar masyarakat warga Sanan Wetan yang notabene merupakan daerah perkotaan dapat kita lihat bagaimana pemahaman mereka tentang Jampersal. Kalau di wilayah puskesmas Benjina di Kabupaten Kepulauan Aru.jampersal adalah program gratis untuk ibu yang melahirkan sehingga program ini baik sekali untuk masyarakat. sasaran dan persyaratannya.” “. masih ada anggapan masyarakat bahwa yang gratis itu pelayanan pemeriksaan kehamilan dan persalinan saja sehingga untuk keperluan yang lainnya tidak gratis.

206 .setahu saya untuk bersalin sama memberikan bantuan bagi bayi yang mengalami gangguan kesehatan tapi sebelum umurnya 1 bulan..” “..” “. dapat kita ketahui bahwa masyarakat sudah tahu kalau paket pelayanan Jampersal meliputi pemeriksaan kehamilan. Di kota Mataram. pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir.. KIA..untuk Ibu Hamil sampai kunjungan ke empat (K4) 1 kali triwulan pertama 1 kali triwulan kedua 2 kali triwulan ketiga.yang dari luar kota bisa ikut Jampersal di Kota Bandung. periksa bumil dan KB. masyarakat mengemukakan bahwa: “..” “. Dengan diketahuinya bahwa Jampersal ternyata tidak hanya untuk kelompok masyarakat tidak mampu..kaya miskin boleh ikut Jampersal. Walau masih banyak yang beranggapan bahwa Jampersal ini diperuntukkan bagi mereka yang tidak mampu. bersalin dan bayi yang baru dilahirkan adalah mereka yang bisa mendapatkan pelayanan Jampersal.. Mungkin karena penyerapan informasi oleh masyarakat yang terbatas sehingga pemahamannya kemudian juga terbatas.. ada banyak komentar sehubungan dengan hal tersebut. tapi mereka yang mampu juga boleh menikmati fasilitas Jampersal.” Dari ragam pendapat masyarakat baik di Bandung maupun di Mataram. Sebagian masyarakat lebih senang KB suntik... semua yang tahu jampersal mengemukakan bahwa yang ibu yang hamil. Ini mengindikasikan kalau sebenarnya petugas kesehatan sudah menyampaikan kepada masyarakat tentang jenis pelayanan yang bisa dinikmati oleh sasaran Jampersal.” Tidak ada yang tahu bahwa Jampersal hanya diperuntukkan pada mereka yang tidak mempunyai jaminan persalinan. pertolongan persalinan.” “. Tentang pelayanan yang diberikan.keberatan untuk pemasangan alat kontrasepsi jangka panjang seperti IUD..yang dilayani oleh program jampersal adalah persalinan. Mengenai siapa sasaran yang berhak memanfaatkan pelayanan Jampersal.yang sedang di penjara juga bisa ikut Jampersal.. tetapi ada masyarakat juga tahu bahwa: “.

. ibu-ibu yang selama ini tidak punya KTP 207 . Nah.. karena banyak masyarakat yang tidak mempunyai KTP.” Kepemilikan KTP dan/atau KK memang merupakan persyaratan pelayanan Jampersal di semua kabupaten / kota. seperti proses administrasi yang bisa membuat bingung bidan terutama pada masyarakat yang pendatang yang tidak punya KTP.untuk memberikan subsidi kepada semua masyarakat.... kalau negara kurang mampu.. mereka bisa memanfaatkan surat keterangan domisili. Berikut ini beberapa komentar masyarakat.. biasanya yang suka ikut itu yang menengah ke bawah.. pada saat dibutuhkan baru bingung mencari surat.” “.” “.. kenapa tidak? tentunya semua boleh mendapat pelayanan gratis.. kalau negara mampu.” “...untuk ikut jampersal. kalau ada penduduk baru kemudian istrinya bersalin diberi keterangan domisili dari kelurahan. Dengan adanya program Jampersal...” “. untuk pengurusan memerlukan waktu..Masyarakat tidak mempersiapkan syarat-syarat untuk Jampersal...” Yang seringkali “ramai” didiskusikan adalah ketika bicara tentang persyaratan agar sasaran bisa mendapat pelayanan Jampersal. Asal punya KSK atau KTP saja sudah bisa dilayani. Aparat desa menyatakan dapat membantu untuk kelancaran pembuatan KTP atau surat keterangan domisili setelah mendapat sosialisasi tentang Jampersal..program jampersal di masyarakat ini baik. Walau demikian di Kota Ambon KTP masih menjadi masalah.kalau ada masyarakat yang nggak mampu pakai jamkesmas dibuatkan surat keterangan untuk mendapatkan pelayanan jamkesmas dan jampersal….program jampersal ini dibuat kriteria yang lebih khusus.” “. Tetapi kalau peserta Jampersal tidak punya KTP atau KK.“. namun sosialisasi di masyarakat yang kurang....masyarakat kaya gengsi kalau ikut Jampersal. “. masalah pendatang tanpa identitas baru yang sesuai dan bagaimana bila kehamilan itu terjadi diluar nikah adalah hal-hal yang terkait dengan persyaratan pelayanan Jampersal. Masih adanya ibu yang tidak punya kartu identitas... terutama untuk keluarga miskin saja. maka perlu dibatasi..

“. Kota Mataram). perlu ditingkatkan dengan pelayanan transfusi darah. sebagaimana berikut.. Kalau harus carter sekitar 10 juta ke atas.karena belum merasa berkepentingan. Kab.9. “..kalo ada warga yg harus dirujuk ke PKM atau RS. Kota Bandung). tidak membuat masyarakat kurang peduli dengan keberadaannya. “. Untuk persalinan yang tidak dapat dilakukan dibidan dapat dilakukan rujukan ke rumah sakit yang sudah ditentukan. karena bila ada kasus harus dirujuk ke Baubau. Masyarakat berharap adanya kepastian pembiayaan Jampersal sebab di beberapa Kabupaten. Wakatobi). jangan berhenti.” (Toma. harusnya biaya pelayanan di rumah sakit ditanggung oleh Jampersal. Dalam pelaksanaan. masih terdengar keluhan masyarakat tentang adanya tambahan pembiayaan pada pengguna Jampersal.” (Toma. udah di kelas tiga tapi di suruh bayar.di rujuk di rumah sakit yang bersangkutan.. tidak ada mobil ambulace yg tersedia setiap saat jadi hrs mencari2 dulu pertolongan... Harapan Masyarakat Relatif barunya pelaksanaan Jampersal. Selama berkaitan dengan kehamilan dan persalinan. kegiatan sosialisasi merupakan hal penting untuk menentukan keberhasilannya. Dengan merasakan manfaatnya. sekarang mereka mau mengurus kepemilikan KTP. Diharapkan agar sosialisasi ke masyarakat harus lebih ditingkatkan lagi.harapan pertama adalah perbaikan fasilitas. Seharusnya ada surat edaran dari puskesmas atau dinas kepada RW di seluruh wilayah kerja puskesmas supaya masyarakat menggunakan Jampersal. Tomia ke Baubau ditempuh dengan kapal reguler 11 jam dengan ongkos 130 ribu. dan terbatasnya sarana transportasi untuk 208 . banyak harapan masyarakat terhadap Jampersal.” ( Toma. Termasuk keluhan tentang kurangnya fasilitas.program Jampersal harus terus dilanjutkan.” “. Dalam pelaksanaan suatu program. pelayanan rujukan. ada beberapa kasus yang dikeluhkan masyarakat. 5... karena kasihan masyarakat yang tidak mampu.1..

Akhirnya masyarakat ini kan taunya kalau ke RS akan dibelah. mereka lebih sabar telaten menunggu bila mengeluh kesakitan. Istilahnya dulu dia saya yang urus mandiin segala macam.” (Toma. Pelan-pelan ditolong persalinannya. Namun karena menyadari besarnya manfaat yang diperoleh dari program Jampersal. nah sekarang tiba2 dia mau turun saya persalinan. “.” (Toma. Kab kep. khususnya bagi keluarga tidak mampu. Di RS atau puskesmas kan suka cuek kalo pasien yang mengeluh kesakitan. Kep...belum lagi bidan kecil2. dilanjutkan di tahun-tahun mendatang.. Jadi gimaa mau percaya. misal umurnya sudah banyak. Jadi secara psikologis lebih percaya pada bidan kampung. Natuna). Kab. Untuk itu diharapkan bidan-bidan di Natuna mendapat pelatihan untuk dapat meningkatkan teknis dan kualitas layanan agar masyarakat tidak perlu mendapatkan layanan kesehatan di luar negeri. Seperti diketahui untuk masyarakat Natuna akses untuk mendapatkan pelayanan dari Malaysia dan Singapura bahkan dapat lebih dekat dibandingkan harus ke Batam atau wilayah lain di Indonesia. Misalnya kalu ibu hamil kalu ke RS negeri sudah menunggu lama lalu akhirnya di caesar. “. tapi langsung ditempatkan ke masyarakat tanpa dampingan senior. walaupun kabupaten tersebut tidak memanfaatkan Jampersal mengharapkan pelayanan kesehatan lebih baik seperti layanan kesehatan di luar negeri.Khusus untuk masyarakat di Natuna. mereka baru. Terlepas dari keluhan masyarakat yang ada. Natuna).. Selain itu masyarakat mempunyai pandangan mengapa masyarakat juga lebih senang melahirkan ditolong dukun dibanding oleh tenaga kesehatan. Nah inilah yg tidak pernah dijelaskan ke masyarakat. Kalau di dukun kampung.masyarakat itu butuh penjelasan dan pendekatan. Padahal mungkin dari dokter sendiri ada penjelasan dan alasan. termasuk kekhawatiran Jampersal akan mengakibatkan ledakan penduduk. langsung tindakan saja. semua masyarakat di semua daerah studi berpendapat dan mempunyai harapan yang sama. Program Jampersal diharapkan dapat 209 .

210 .

Secara umum provider ( bidan. Di Kabupaten / Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal walaupun belum optimal. Dukungan pembiayaan belum banyak terlihat. Belum semua daerah memberi dukungan dalam bentuk penyediaan sarana. Sosialisasi menjadi kendala untuk pelaksanaan Jampersal.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. b.1. “AKINO” di Nusa Tenggara Barat. Program Jampersal mendukung pada pelaksanaan program KIA terutama pada bidan di puskesmas. Jamkesda di beberapa daerah dialihkan menjadi Jampersal. Kebijakan Jampersal ditindaklanjuti dengan menerbitkan Peraturan Bupati atau Peraturan walikota. Materi sosialisasi masih 211 . Khusus Kepulauan Natuna tidak memanfaatkan pembiayaan Jampersal 2. SDM. 3. KESIMPULAN 1. Muatan politik mempengaruhi dukungan Pemerintah daerah terhadap Jampersal dalam bentuk sosialisasi Kebijakan Jampersal dengan kebijakan daerah berkaitan dengan mendukung penurunan AKI dan AKB misalnya LIBAS di Sampang. hanya perlu difokuskan pada masyarakat miskin. Keterbatasan / tidak adanya dana sosialisasi menyebabkan sosialisasi Jampersal kurang fokus karena diikutkan dengan kegiatan lain. Di beberapa kabupaten / kota tidak menerbitkan Peraturan baru tetapi mengikuti Peraturan Pusat yang sudah ada / sesuai petunjuk teknis yang ada atau mengikuti Peraturan daerah yang sudah ada. dibatasi pada jumlah anak. peralatan dan bahan habis pakai dll. Penerbitan Perbup dan Perwali sebagai salah satu bentuk dukungan Pemda. Penerimaan Provider terhadap kebijakan jampersal : a. Bahkan Jampersal juga dapat menjadi sumber pendapatan daerah. SPOG) mendukung terhadap kebijakan jampersal .

habis pakai dsb. Mekanisme klaim awalnya menjadi kendala karena terlalu lama.Untuk daerah kepulauan besaran kalim tidak masalah tapi biaya transport yang menjadi kendala karena bisa jauh lebih besar dari klaim Jampersal. surat keterangan domisili. c. f. Kepesertaan / pengguna Jampersal adalah ibu hamil. Jenis paket pelayanan Jampersal di tingkat layanan dasar cukup baik diterima bidan. KTP suami.lebih kearah pertanggungjawaban administrasi. ibu nifas sampai 42 hari dan neonatal (0-28 hari) yang mempunyai salah satu persyaratan seperti KTP. Portabilitas pelayanan dapat berjalan baik. Di tingkat layanan dasar besaran Klaim menurut juknis 2012 secara umum sudah cukup. Pelayanan KB perlu lebih ditegaskan lagi. kartu keluarga. kartu mahasiswa/ pelajar dan paspor. Pelayanan rujukan khususnya di Daerah yang akses jauh dari pelayanan rujukan diharapkan bidan yang telah mempunyai kompetensi khusus dapat melakukan pelayanan rujukan tertentu misalnya manual plasenta. e. Hal khusus yang menjadi masukkan : • • Pelayanan ANC bidan mengharapkan bisa lebih dari 4 kali. kurang pada substansi.. • • Lama persalinan normal di beberapa daerah lebih dari satu hari. surat ijin mengemudi. Di rumah sakit tarif INA-CBG’s terutama untuk RS Tipe C besarannya dianggap terlalu kecil. Masalah juga timbul pada RS yang memberlakukan tarif Jamkesda dengan tarif RS kelas III. hanya Kota seperti Balikpapan dimana tingkat ekonomi tinggi besaran tersebut dianggap masih terlalu rendah. ibu bersalin. Keterbatasan pengetahuan Jampersal sering menyebabkan provider “setengah hati” menerima dan melaksanakannya. d. perdarahan sebelum melakukan rujukan. g. sehingga beberapa RS terpaksa menarik tambahan biaya untuk obat. tapi juknis tahun 2012 212 . ada daerah yang meerapkan pengisian inform consent untuk menggunakan KB Jangka panjang seperti IUD pada pengguna Jampersal. hal ini disebabkan persyaratan dianggap membebani.

satu desa dapat terdiri beberapa pulau. 4.sudah lebih sederhana. c. hal ini disebabkan tidak semua bidan puskesmas / desa dapat melakukan PKS disebabkan antara lain : • Belum semua dinas kesehatan membuka kesempatan pada bidan puskesmas / BPS untuk melakukan PKS secara terbuka. di beberapa lokasi kepala Dinas membuat 213 . Jumlah Bidan pada umumnya mencukupi kecuali di kepulauan Aru jumlah bidan sangat kurang. Puskesmas non perawatan tidak mempunyai sarana rawat inap untuk menolong persalinan. Pencairan dana untuk BPS pada umumnya cukup lancar dan dapat diterimakan 100%. b. Jumlah bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan masih sangat terbatas. walaupun masih ada yang mengikuti Juknis 2011. Di kepulauan perlu lebih banyak sarana pelayanan. • Belum tersosialisasinya program Jampersal dengan baik. Ketersediaan puskesmas di setiap kecamatan di lokasi penelitian terpenuhi ada beberapa hal perlu diperhatikan : a. Kendala juga dengan terbatasnya tenaga verifikator sehingga berkas klaim menumpuk di verifikator. harus aktif dan telah magang pada organisasi Profesi dalam waktu tertentu. misalnya di kota Ambon. tidak semua bidan desa tinggal di wilayah kerjanya. dan distribusi bidan belum merata. Di beberapa daerah kesulitan dalam pencairan. h. • Keterbatasan tenaga bidan karena ada batasan kompetensi. • Persyaratan pengurusan ijin praktek bidan yang menyebabkan bidan tidak dapat segera mendapatkan Ijin praktek dengan adanya persyaratan dari organisasi Profesi misalnya APN. Kota Kendari bidan yang ada kebanyakan masih lulusan D1. Mekanisme pencairan dana pada umumnya mengikuti Juknis 2012. Masalah terjadi untuk pencairan untuk provider di puskesmas karena melalui mekanisme keunagan daerah sehingga bervariasi setiap daerah.

Terutama di daerah kepulauan sarana. Hal ini misalnya terjadi di Kabupaten Kepulauan Aru. 214 .9% dari yang memanfaatkan pelayanan ANC K1 dan K4. Peningkatan kasus Sectio caesaria juga cukup tinggi di rumah sakit pemerintah rujukan Jampersal pada tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. Continum of care dari Ibu nifas pengguna Jampersal untuk persalinan di 13 kabupaten / kota turun 15% dari yang memanfaatkan pelayanan ANC (K1). Pemanfaatan layanan Jampersal : a. • Untuk pengguna Jampersal. bahkan tidak ada SPOG tetap. Kabupaten Wakatobi dan Kabupaten Paser. pada pelayanan persalinan di 13 kabupaten/kota. Belum semua rumah sakit pemerintah di kabupaten melakukan PKS dengan Dinas Kesehatan. Cenderung terjadi peningkatan rujukan persalinan per vaginam dengan komplikasi dan tanpa komplikasi di rumah sakit pemerintah tempat rujukan Jampersal pada 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. prasarana dan SDM rumah sakit sangat terbatas. dan juga ketersediaan tenaga kesehatannya terbatas.3% dilakukan di fasilitas kesehatan.kebijakan untuk menyediakan satu ruangan untuk rawat inap untuk persalinan. Kecenderungan tempat persalinan non fasilitas kesehatan terjadi di kabupaten yang tergolong daerah sulit secara akses. c. Sarana Puskesmas rawat inap dan Poned masih terbatas. 5. d. 95. b. • Ibu nifas pengguna Jampersal untuk persalinan di 13 kabupaten / kota turun 1. • Ibu nifas pengguna Jampersal untuk PNC di 13 kabupaten / kota turun 2% dari yang memanfaatkan pelayanan persalinan .

Masyarakat yang memanfaatkan Jampersal 95% telah memiliki Jaminan lain seperti Jamkesmas (52%) . masyarakat sudah mendapat sosialisasi adanya Jampersal. LSM mengharapkan lebih dilibatkan dalam sosialisasi Jampersal.6. IUD). juga terdapat pembiayaan kesehatan melalui PNPM GSC yang merupakan program kementerian Dalam Negeri. Masyarakat merasa bahwa jampersal sangat bermanfaat dan berharap program ini terus berlanjut. Selain pemberdayaan dari masyarakat langsung melalui kader kesehatan. 8. Sosialisasi yang diperoleh masyarakat dinilai kurang. Di level komunitas. Masyarakat yang tidak memanfaatkan Jampersal 66. Toma. c. Jampersal persyaratan lebih mudah untuk dipenuhi .7% karena belum tersosialisasi Jampersal. Hanya 5 % yang lain2 termasuk tida mempunyai Jaminan.10% dan Jamsostek (11. 215 . Lintas sektor. hanya saja untuk paket pelayanan KB masyarakat masih keberatan dengan menggunakan alat kontrasepsi jangka panjang (mis. Toga.6%). selain itu ada daerah ketika ada Jampersal maka Jamkesda dialihkan ke Jampersal. Untuk paket pelayanan Jampersal masyarakat sudah memanfaatkannya. Askes (12. Pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan dalam upaya mendukung pelaksanaan kebijakan Jaminan Persalinan. Jamkesda (19. Di beberapa kabupaten / Kota daerah penelitian terdapat biaya tambahan yang dikenakan pada masyarakat yang memanfaatkan pelayanan Jampersal 7. sehingga dengan adanya Jampersal terjadi pergeseran bagi pemanfaatan Jaminan kesehatan lain ke Jampersal. Dari data didapatkan : a.30%). dan lebih senang dengan KB suntik. Jampersal bersifat portabilitas. b.

Toga. obat. 4. bersalin dan nifas yang belum mempunyai jaminan. 3. Mendorong daerah untuk berkontribusi terhadap pemenuhan sarana prasarana. 5. seperti BOK.3. dan peralatan kesehatan Puskesmas dan Poskesdes agar mampu melakukan pertolongan persalinan di Puskesmas dan Poskesdes secara memadai. dll. Penguatan sinergisme berbagai sumber pembiayaan dalam mendukung pelaksanaan Jampersal. 6.2 SARAN/REKOMENDASI Dengan dukungan dari Pemerintah Daerah. bahwa sasaran jampersal adalah ibu hamil. Jamkesda. Ketentuan besaran jasa pelayanan dan kelancaran klaim menjadi perhatian sebagai salah satu manfaat Jampersal untuk tenaga kesehatan yaitu adanya kepastian akan menerima jasa pelayanan medis sesuai ketentuan yang berlaku.1 Jangka pendek Pedoman Pelaksanaan harus memberi ruang untuk menampung kebijakan local: 1. Penguatan Tim Pengelola Jamkesmas/Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam peningkatan kemampuan proses verifikasi dan pembayaran klaim Jampersal. bahan habis pakai. 2. lintas sektor dan masyarakat (Toma. provider dan masyarakat perlu adanya kesinambungan ketersediaan alokasi dana Pusat dalam pelaksanaan Jampersal. Adapun saran untuk perbaikan Kebijakan Jaminan Persalinan adalah sbb : 3. Diterbitkannya turunan kebijakan Jampersal berupa Peraturan Bupati atau Peraturan Walikota. • Sosialisasi menjadi kunci penting dalam keberhasilan. Memberi penekanan pada pemerintah daerah untuk menepati ketentuan sesuai juknis. Jamkesmas. pelibatan lintas program. kader) dalam 216 .2.

khususnya di daerah tertinggal.2. Menyediakan pelayanan ‘one stop service’. dan Pemerintah Daerah dalam percepatan pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi yang memadai. • Aspek Sarana dan Prasarana dan SDM 1) Dukungan Kementerian Pekerjaan Umum. dengan menerapkan inform consent. Kementerian Perhubungan. • Pada daerah kepulauan atau wilayah dengan geografis sulit harus dipertimbangkan beberapa pilihan : a.2 Jangka Panjang Rekomendasi jangka panjang ini lebih diperuntukkan bagi pelayanan kesehatan ibu dan anak secara keseluruhan. b. 217 .sosialisasi lebih di tingkatkan. c. dalam pengertian memenuhi ketersediaan sarana pelayanan kesehatan tingkat dasar sampai dengan rujukan. • Penguatan komitmen pelayanan KB pasca persalinan sebagai paket dan bagian tak terpisahkan dari pelayanan Jampersal dengan didorong untuk penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang. Menyediakan rumah singgah. 6. di antaranya melalui pemberian kewenangan tambahan/khusus mengingat keterbatasan tenaga sesuai kompetensi. Disamping itu perlu penganggaran khusus untuk sosialisasi. • Peningkatan kemampuan tenaga kesehatan yang ada di wilayah tertentu khususnya di daerah terpencil dan terisolir yang kurang diminati. • Pengetatan mekanisme pengawasan dan sanksi agar seluruh penyedia pelayanan kesehatan (PPK) Jampersal tidak menarik biaya tambahan dari penerima manfaat Jampersal dengan melakukan “uji petik”. Menyediakan dana pendamping untuk penggantian transport rujukan bila diperlukan.

obat dan peralatan. 218 . sehingga diupayakan adanya pendamping di wilayah kerja bidan karena bidan mempunyai keterbatasan . 4) Keberadaan bidan sebagai anggota masyarakat memiliki keterbatasan yang harus diperhatikan. Peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui pemberian KIE (Konseling. seperti hambatan kultural dan hambatan informasi. 3) Penguatan sistem rujukan (improvement collaborative) antara Puskesmas PONED dan RS PONEK. 2) Penguatan Puskesmas PONED dan RS PONEK. baik aspek tenaga. • Melibatkan tokoh masyarakat.perbatasan. Informasi dan Edukasi) tentang Jampersal untuk mengatasi hambatan non-medis dan non-finansial. dalam rangka memudahkan proses rujukan KIA. dan kepulauan. tokoh agama. • Pemberdayaan Masyarakat sangat penting untuk mendukung pelaksanaan kebijakan Jampersal. serta keterampilan (skill) petugas sebagai penyedia layanan emergensi obstetrik dan neonatal tingkat dasar dan komprehensif. kader kesehatan dan lintas sektor dalam kesehatan dalam sosialisasi program kesehatan termasuk jampersal. sarana.

atas segala perhatian. kami menyampaikan terima kasih banyak kepada yang terhormat Bapak Dr. Teman-teman tim peneliti di penelitian ini. Sampang. sebagai Mitra dalam pelaksanaan penelitian Jaminan Persalinan.UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karuniaNya karena telah menyelesaikan laporan penelitian dengan tepat waktu dengan judul “ Riset Evaluatif Implementasi Jaminan Persalinan ”.Sc.Kes. yang dilakukan di 14 Kabupaten / Kota di 7 Provinsi di Indonesia. Drg. Laporan ini merupakan penelitian DIPA 2012. 6.. 219 . M. dr.. DR. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga kami sampaikan kepada: 1. Usman Sumantri. sebagai narasumber yang telah bekerjasama dan memberikan masukkan tentang Program terkait kebijakan Jampersal. atas segala perhatian. kekompakan dan kerjasamanya demi kelancaran penelitian ini. Puskesmas. Kasubdit Ibu Nifas dr. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Kesehatan RI atas terlaksananya penelitian DIPA 2012. Riskiyana. Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat.. M. RSUD. selaku Kepala Pusat Humaniora. 2. 4. Seluruh responden yang terlibat pada penelitian ini baik di dinas Kesehatan. Seluruh Kepala Dinas Kesehatan dan Direktur Rumah Sakit Daerah di 14 Kabupaten/Kota Lokasi Penelitia atas ijin dan kerjasamanya selama penelitian berlangsung. sebagai narasumber dan bekerjasama dalam memberikan informasi tentang Pembiayaan Jaminan Persalinan. Toma. Kepala Pusat Jaminan Kesehatan. Terima kasih pula Bapak Agus Suprapto. 5. drg. 3. Trihono. Lintas sektor terhadap segala perhatian dan informasi yang diberikan. Sandi Iljanto. kesempatan dan dukungan yang diberikan. Dengan segala kerendahan hati. masyarakat. Toga.

Teman-teman pembantu administrasi yang mengurus kelancaran administrasi keuangan. 220 .7.

Departemen Dalam Negeri RI (2008) Petunjuk Teknis Operasional PNPM Generasi Sehat dan Cerdas. Gadjah Mada University Press Emzir. Macro Internasional. 16: 403. ER. Strukturalisme Levi Strauss. Graham WJ. Walt G. (2012) Making Health Policy. Making Pregnancy Safer (MPS) di Indonesia 2001-2010. Praya. 2007. Mays N. (2006) Maternal mortality: who. Buse K. Dinkes Kab Lombok Tengah (2011) Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2011. Badan Litbangkes RI. Badan Litbangkes RI. 2011 Metodologi Penelitian Kualitatif. (2005) Making Health Policy.. 368(9542):1189 – 1200. Pearson. Rencana Strategis Nasional. where. Yogyakarta. Departemen Kesehatan RI.DAFTAR KEPUSTAKAAN ___________________ 2011. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta Badan Pusat Statistik RI. Nelson: London. USAID. Buse K. Lombok Tengah Dalam Angka Tahun 2012. BPS Kab Lombok Tengah. Open University Press. Analisis Data. Profil Kesehatan Wakatobi. J. 2012. Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat. Badan Pusat Statistik RI. Jogjakarta. Depkes RI (2008b) Kepmenkes No. Jakarta. 1985. Praya. 2011. 1975. From Idea to Action: Notes for a Contingency Theory of the Policy Implementation Process. 221 . Walt G. Hasil Lokakarya Nasional “Perkembangan Pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu di Delapan Propinsi Daerah Uji Coba”. 1st ed. 2000. Alexander. 2012. Rajagrafindo Persada. Administration & Society. Open University Press. Jakarta: PT. Yogyakarta: Kepel Press. England. England. William. 2nd ed. 741/Menkes/Per/VII/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota. Dunn.. 828/Menkes/SK/IX/2008 tentang Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota. Pedoman Pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu. Badan Litbangkes. Mitos dan Karya Sastra. Pengantar Analisis Kebijakan Publik (second edition)(terjemahan). Carine Ronsmans C. Public Policy Making. 2003. Mays N. Laporan Survey Demografi Kesehatan Indonesia Tahun 2007. The Lancet. Jakarta.. Andersen. Heddy Shri. Depkes RI (2008a) Permenkes No.. when. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar Tahun 2010. 2010. IPKM: Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat. 1996. and why. Dunn WN (2009) Public Policy Analysis: An Introduction. Anonym. Wakatobi: Dinas Kesehatan Ahimsa. 4th Ed.

. Jakarta. Percepatan Penurunan AKI dan AKB. Michael (eds).. Nomor 2562/MENKES/PER/XII/2010 McDermott. Green. Kebijakan Jaminan Persalinan. Badan Litbangkes. Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Meryl Hudson. R.depkes. Martineauc T. 2. Menkes Beberkan Program Prioritas Kemenkes 2011. 14. 6. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku . 2002. “Analisis Partisipasi Masyarakat dalam PNPM Mandiri Perkotaan di Kota Solok”. Inside The Academy: Profiling Dr. Press Release. halaman 3-6 Meter DMV & Horn CEV (1975) The Policy Implementation Process: A Conceptual Framework.. Lawrence W. 2007. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. Roger Beech2.. Anhb LV. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. Volume 23. Administration and Society 6(4):445-8. Diunduh dari http://www. 2011e.. 2011. Gulliford. Soorsg W (2011) Health policy processes in maternal health: A comparison of Vietnam. India and China. A Reader. Myfanwy Morgan. Qiane X. Jose Figueroa-Munoz. Mukhopadhyayd M..Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Kemenkes RI (2011b) Laporan Nasional Riset Fasilitas Kesehatan 2011: Laporan Puskesmas. J. 1999. 2011b. 2011d. Sugeng Rahanto. New York. Stanton C. American Journal of Health Behavior. Zahr-CLA. 2011a.67–173. Notoatmodjo. Bagaimana Pendanaan Jampersal? Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. 222 . Soekidjo. Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Kesehatan.Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Kemenkes RI (2011a) Profil Kesehatan Indonesia 2010. BMC Medicine. Gambaran Peran Kader Posyandu dalam Upaya Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi di Kota Manado dan Palangkaraya. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. No. Rineka Cipta Pranata. Jampersal Solusi Persalinan. Janet Lewis and Ke Young dalam Hill. 3 July 2002 Yoni Yulianti. 1993. Vol. Harvester Wheatsheaf Graham WJ.id Kementerian Kesehatan RI. Pearsona S.. & Campbell OMR (2008) Measuring maternal mortality: An overview of opportunities and options for developing countries. Ramanif KV. David Hughes. Gereina N. Barry Gibson1. Jakarta. Nomor 2562/MENKES/PER/XII/2011 Kementerian Kesehatan RI.12 Greena A. 2012. Martin.Gordon. The Policy Process. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Ahmed S. 2011c. April 2011. Niniek L Pratiwi. What does `access to health care’ mean? Journal of Health Services Research and Policy. Ian. Jakarta. Health Policy 100.go. Birda P. Volume 7 No. Mirzoeva T. Setia.

. Pearson. RSUD Padang Pariaman.15.. KL. Murray SF. Weimer DL. RSUD Sikka.com/read/2012/12/12/180034/2116877/1301/nikahmuda-bikin-angka kematian-ibu-susah-ditekan?881104755. Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya. http://edukasi.detik. 2007.id/index. Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI).id/id/wp. Health Policy and Planning 23:308–317.kompasiana. & Vining AR.ac. http://www. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.depkes./ANALISIS-PARTISIPASI-MASYARAKAT. (1999) Policy Analysis: Concepts and Practice. Nyoman Kutha. & Gilson L. Shiffman J. 2005).pdf 223 .pasca. Schneider H. Walt G. Prentice-Hall. Weimer DL.html.go.pdf http://health.5th Ed.unram. 2010 Metodologi Penelitian.unand. tahun 2007.Ratna.-Rev.Jakarta. http://buk.com/2012/10/03/pentinganya-pemberdayaanmasyarakat-di-bidang-kesehatan-498435. Wilujeng. http://fp.php?option=com_content&view=article&id=296 :bidan-berperan-penting-turunkan-aki-danakb&catid=113:keperawatan&Itemid=139 diunduh pada tanggal 19 Desember 2012. diakses pada tanggal 20 Des 2012 pukul 9. Rukmini. Gambaran Penyebab Kematian Maternal di Rumah Sakit (Studi di RSUD Pesisir Selatan._.id/data/2012/04/AgFin_18-1_10-Rasyidi-_No. (2010) Policy Analysis: Concepts and Practice. 3rd Ed. & Vining AR. (2008) ‘Doing’ health policy analysis: methodological and conceptual reflections and challenges. RSUD Larantuka dan RSUD Serang.ac. Statistik Daerah Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2012. Brugha R.

224 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful