LAPORAN AKHIR PENELITIAN

RISET EVALUATIF IMPLEMENTASI JAMINAN PERSALINAN

Penyusun Laporan Tety Rachmawati dkk

KEMENTERIAN KESEHATAN RI BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN PUSAT HUMANIORA, KEBIJAKAN KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Jl. Indrapura 17 Surabaya 60176 Telp. 031-3528748/ Faks. 031-3528749 JANUARI 2013 i

ii

SURAT KEPUTUSAN PENELITIAN

iii

iv

v .

vi .

vii .

viii .

ketersediaan dan akses terdapapt sarana dan prasarana serta SDM dalam mendukung Jampersal serta utilisasi Jampersal dalam pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Dari penelitian di 14 Kabupaten/Kota ditemukan variasi implementasi Jampersal dan akseptabilitas pemangku kebijakan di tingkat kabupaten/kota. Laporan ini. masih diperlukan masukkan untuk sempurnanya hasil penelitian ini. Saran serta kritik membangun sangat kami harapkan untuk penyempurnaan dan perbaikan di masa mendatang. Provider (RS dan Puskesmas). provider pelayanan kesehatan dan sasaran Jampersal yang diharapkan dapat memberikan wacana ke depan kebijakan Jampersal. Surabaya. Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggitingginya kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyusunan laporan ini. semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pengelola program baik di Dinas Kesehatan maupun Depkes RI sehingga bermanfaat dalam rangka perencanaan dan pengambilan kebijakan selanjutnya untuk peningkatan pelayanan Jampersal dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia dalam mewujudkan target MDGs. masyarakat sebagai sasaran dan TOMA. memuat uraian analisis implementasi Jaminan Persalinan sehingga diharapkan diperoleh gambaran pelaksanaan kebijakan Jampersal di daerah. Kami seluruh Tim Peneliti “Riset Evaluatif Implementasi Jaminan Persalinan” menyadari bahwa hasil penelitian ini jauh dari sempurna. akseptabilitas Dinas Kesehatan. Desember 2012 Tim Peneliti ix . Akhir kata. TOGA dan lintas sektor terhadap kebijakan Jampersal. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukkan dan pertimbangan pemangku kebijakan untuk mengambil keputusan kebijakan Jampersal.KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan Syukur Alhamdulillah atas selesainya laporan penelitian ini.

x .

6 ) Menganalisis akseptabilitas sasaran dalam pelayanan kesehatan Ibu(hamil. Sedangkan tujuan khususnya adalah 1) Menganalisis kebijakan Jaminan Persalinan di daerah. 5) Menganalisis utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan evaluasi program Jampersal dalam upaya mencapai target MDGS. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan dan 8) Menganalisa akseptabilitas Toma. xi .bersalin.bersalin. dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan. 7) Menganalisa pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan Ibu (hamil.bersalin. 4) Menganalisis ketersediaan (availability). nifas. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan. nifas. Diharapkan dengan diluncurkannya Jampersal.bersalin. angka kematian ibu (AKI) dan juga angka kematian bayi (AKB) akan menurun sehingga bisa mencapai target MDGs pada tahun 2015. SDM terhadap program Jaminan Persalinan. Toga. Tujuan umum penelitian adalah menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan. nifas. Program Jampersal dipergunakan untuk menanggung seluruh biaya persalinan mulai dari sebelum.RINGKASAN EKSEKUTIF RISET EVALUATIF IMPLEMENTASI JAMINAN PERSALINAN DI 14 KABUPATEN DI 7 (TUJUH) PROVINSI TAHUN 2012 Jaminan Persalinan (jampersal) merupakan Program Jaminan Persalinan untuk menekan angka kematian ibu bersalin. Lintas sektor. nifas. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru terhadap program Jaminan Persalinan. 2) Menganalisis akseptabilitas kabupaten/kota terhadap program Jaminan dan Persalinan. saat. akses (accessibility) terhadap sarana dan prasarana. 3) Menganalisis pelayanan akseptabilitas Ibu provider(pemerintah swasta) dalam Kesehatan (hamil. LSM dan organisasi stakeholder lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan. hingga setelah persalinan bagi ibu yang tengah hamil mulai 2011.

verifikator Dinas Kesehatan dan kepala bidang Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan. Pengelola Jampersal dan Bidan desa. Dari sampel tersebut dibuat daftar/list. ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) di masing-masing desa wilayah kerja Puskesmas. Sehingga jumlah sampel adalah 140 untuk dua puskesmas di masingmasing Kabupaten/Kota. pedoman wawancara. Besar sampel adalah 70 orang untuk masing-masing Puskesmas. Kepala desa/lurah & aparat desa. b) Fasilitas kesehatan tingkat lanjutan (Rumah Sakit) yaitu : dr. Direktur / Wadir Pelayanan RS. Bidan Koordinator. cek list dan data sekunder. 2) Tokoh masyarakat :TOMA&TOGA. Pengelola Jampersal RS. Responden penelitian adalah 1) Pengguna program Jampersal yaitu ibu hamil. Obsgyn.Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret – Desember 2012. Cara pengambilan sampel adalah dengan mengidentifikasi Ibu hamil.April 2012 di seluruh desa wilayah kerja Puskesmas. Rumah Sakit dan Puskesmas dan FGD dilakukan pada bidan Puskesmas dan Toma. Disain penelitian adalah cross sectional dengan jenis penelitian adalah gabungan penelitian kualitatif dan kuantitatif. dan kader Posyandu. verifikator independen dan bidan Kepala Ruangan. pengelola Jampersal Dinas Kesehatan. Wawancara mendalam dilakukan pada seluruh responden di Dinas Kesehatan. Sedangkan untuk sasaran dan bidan dilakukan wawancara xii . berdasarkan perhitungan simple random sampling. 3) Responden sebagai pelaksana program Jampersal yaitu a) Fasilitas Kesehatan tingkat pertama/dasar (Puskesmas) yaitu Kepala Puskesmas. ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) selama periode 6 bulan terakhir yaitu Oktober 2011-April 2012. Pengumpulan data dengan wawancara dan FGD dengan menggunakan kuesioner terstruktur. ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) selama periode 6 bulan terakhir yaitu Oktober 2011 . kemudian diambil 70 responden secara proportional random to size (acak dan proporsional) sesuai dengan jumlah Ibu hamil. 4) Responden sebagai pemegang kebijakan di tingkat kabupaten yaitu Kepala Dinas Kesehatan.

Pelayanan rujukan khususnya di Daerah yang akses jauh dari pelayanan rujukan diharapkan bidan yang telah mempunyai kompetensi khusus dapat melakukan pelayanan rujukan tertentu misalnya manual plasenta. penanganan perdarahan sebelum melakukan rujukan. Materi sosialisasi masih lebih kearah pertanggungjawaban administrasi. Hasil penelitian menunjukkan Kebijakan Jaminan Persalinan di Kabupaten/Kota dapat didapatkan sebagai berikut : 1. Jampersal juga dapat menjadi sumber pendapatan daerah. Secara umum provider (bidan. Penerimaan Provider terhadap kebijakan jampersal : a. 3. Muatan politik mempengaruhi dukungan Pemerintah daerah terhadap Jampersal antara lain dalam bentuk sosialisasi. bahkan dengan adanya Jampersal Jamkesda di beberapa daerah dialihkan menjadi Jampersal. Natuna tidak memanfaatkan Jampersal. Di beberapa kabupaten/kota belum menerbitkan kebijakan lokal. Analisis data kualitatif dan kuantitatif secara deskriptif untuk menggambarkan implementasi Jampersal. Kab. Hal khusus yang menjadi masukkan : • • Pelayanan ANC bidan mengharapkan bisa lebih dari 4 kali.dengan menggunakan kuesioner tersruktur. Dukungan pembiayaan belum banyak terlihat. Jenis paket pelayanan Jampersal di tingkat layanan dasar cukup baik diterima bidan. c. xiii . b. penyediaan sarana. Di Kabupaten/Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal walaupun belum optimal. Keterbatasan /tidak adanya dana sosialisasi menyebabkan sosialisasi Jampersal kurang fokus karena diikutkan dengan kegiatan lain. hanya perlu difokuskan pada masyarakat miskin. SPOG) mendukung terhadap kebijakan jampersal. Kebijakan Jampersal ditindaklanjuti dengan menerbitkan Peraturan Bupati atau Peraturan walikota. 2. dibatasi pada jumlah anak. Sosialisasi menjadi kendala untuk pelaksanaan Jampersal. kurang pada substansi.

habis pakai dsb. Di beberapa daerah kesulitan dalam pencairan. ada daerah yang menerapkan pengisian inform consent untuk menggunakan KB Jangka panjang seperti IUD pada pengguna Jampersal. g. kartu mahasiswa/pelajar dan paspor. surat keterangan domisili. kartu keluarga. 4. tapi juknis tahun 2012 sudah lebih sederhana. Kepesertaan/pengguna Jampersal adalah ibu hamil. Portabilitas pelayanan dapat berjalan baik.Untuk daerah kepulauan besaran klaim tidak masalah tapi biaya transport yang menjadi kendala karena bisa jauh lebih besar dari klaim Jampersal. Ketersediaan puskesmas di setiap kecamatan di lokasi penelitian terpenuhi ada beberapa hal perlu diperhatikan : a. Di kepulauan perlu lebih banyak sarana pelayanan. Masalah terjadi untuk pencairan untuk provider di puskesmas karena melalui mekanisme keuangan daerah sehingga bervariasi setiap daerah. d. sehingga beberapa RS terpaksa menarik tambahan biaya untuk obat. Di tingkat layanan dasar besaran Klaim menurut juknis 2012 secara umum sudah cukup. satu desa dapat terdiri beberapa pulau. ibu nifas sampai 42 hari dan neonatal (0-28 hari) yang mempunyai salah satu persyaratan seperti KTP. e. Jumlah Bidan pada umumnya mencukupi kecuali xiv . KTP suami.• • Lama persalinan normal di beberapa daerah lebih dari satu hari. hal ini disebabkan persyaratan dianggap membebani. f. h. Pelayanan KB perlu lebih ditegaskan lagi. hanya Kota seperti Balikpapan dimana tingkat ekonomi tinggi besaran tersebut dianggap masih terlalu rendah. surat ijin mengemudi. ibu bersalin. Pencairan dana untuk BPS pada umumnya cukup lancar. Mekanisme klaim awalnya menjadi kendala karena terlalu lama. Kendala juga dengan terbatasnya tenaga verifikator sehingga berkas klaim menumpuk di verifikator. Di rumah sakit tarif INA-CBG’s terutama untuk RS Tipe C besarannya dianggap terlalu kecil.

prasarana dan SDM rumah sakit sangat terbatas. d. Kota Kendari bidan yang ada kebanyakan masih lulusan D1. Dari data sasaran Ibu Nifas ”Continum of care” perlu peningkatan pelayanan konseling pada sasaran agar terjadi kesinambungan dalam pemanfaatan paket pelayanan Jampersal mulai dari ANC sampai dengan KB paska nifas. harus aktif dan telah magang pada organisasi Profesi dalam waktu tertentu. 5. b. misalnya di kota Ambon.3%) sudah di fasilitas kesehatan. Terutama di daerah kepulauan sarana. bahkan tidak ada SPOG tetap. di beberapa lokasi kepala Dinas membuat kebijakan untuk menyediakan satu ruangan untuk rawat inap untuk persalinan. Sasaran yang memanfaatkan Jampersal pada pelayanan persalinan pada umumnya (95. Pemanfaatan layanan Jampersal : a. b. dan distribusi bidan belum merata dan tidak semua bidan desa tinggal diwilayah kerjanya. Belum semua rumah sakit pemerintah di kabupaten melakukan PKS dengan Dinas Kesehatan. Sisanya masih di xv . c. hal ini disebabkan tidak semua bidan puskesmas/desa dapat melakukan PKS disebabkan antara lain : o Belum semua dinas kesehatan membuka kesempatan pada bidan puskesmas/BPS untuk melakukan PKS secara terbuka. Puskesmas non perawatan tidak mempunyai sarana rawat inap untuk menolong persalinan. o Keterbatasan tenaga bidan karena ada batasan kompetensi. o Belum tersosialisasinya program Jampersal dengan baik. Sarana Puskesmas rawat inap dan Poned masih terbatas.di kepulauan Aru jumlah bidan sangat kurang. o Persyaratan pengurusan ijin praktek bidan yang menyebabkan bidan tidak dapat segera mendapatkan Ijin praktek dengan adanya persyaratan dari organisasi Profesi misalnya APN. Jumlah bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan masih sangat terbatas.

Toga. Peningkatan kasus Sectio caesaria juga cukup tinggi di rumah sakit pemerintah rujukan Jampersal pada tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya.7% karena belum tersosialisasi Jampersal. Terdapat biaya tambahan yang dikenakan pada masyarakat yang memanfaatkan pelayanan Jampersal 7. Pelaksanaan Jampersal didukung oleh Toma. LSM dan organisasi stakeholder lainnya karena dapat meningkatkan pelayanan oleh tenaga kesehatan. 8. 6. Lintas sektor. sehingga sasaran Jampersal untuk yang belum mempunyai Jaminan kesehatan kurang sesuai. Cenderung terjadi peningkatan rujukan persalinan per vaginam dengan komplikasi dan tanpa komplikasi di rumah sakit pemerintah tempat rujukan Jampersal pada 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. dan juga ketersediaan tenaga kesehatannya terbatas. Terjadi pergeseran bagi pemanfaatan pembiayaan Jaminan kesehatan lain (Jamkesmas. Dari data sasaran didapatkan : a. c. b. d. Selain pemberdayaan dari masyarakat langsung melalui kader kesehatan. Masyarakat yang tidak memanfaatkan Jampersal 66. Jamkesda. Pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan dalam upaya mendukung pelaksanaan kebijakan Jaminan Persalinan. Hal ini misalnya terjadi di Kabupaten Kepulauan Aru.tenaga kesehatan tapi non fasilitas kesehatan yang terjadi di kabupaten yang tergolong daerah sulit secara akses. Askes dan Jamsostek) ke pembiayaan Jampersal (95%). Kabupaten Wakatobi dan Kabupaten Paser. Dari penelitian disimpulkan : xvi . juga terdapat pembiayaan kesehatan melalui PNPM GSC yang merupakan program kementerian Dalam Negeri. c.

d. Pedoman Pelaksanaan harus memberi ruang untuk menampung kebijakan lokal a) Diterbitkannya turunan kebijakan Jampersal berupa Peraturan Bupati atau Peraturan Walikota. obat. Fasilitas layanan kesehatan dan terbatasnya sarana transportasi untuk rujukan masih menjadi kendala. Sosialisasi pada masyarakat masih dianggap kurang. kader dalam sosialisasi pada masyarakat. bahan habis pakai. Ada keterlibatan Toma .a. Masyarakat mengharapakan Jampersal dilanjutkan karena bermanfaat terutama masyarakat tidak mampu Rekomendasi dari penelitian ini adalah : Dengan dukungan dari Pemerintah Daerah. Adapun saran untuk perbaikan Kebijakan Jaminan Persalinan adalah sbb: Jangka pendek 1. Masyarakat masih keberatan KB dengan alat kontrasepsi jangka panjang (mis. provider dan masyarakat. IUD). c) Ketentuan besaran jasa pelayanan dan kelancaran klaim menjadi perhatian sebagai salah satu manfaat Jampersal untuk tenaga kesehatan yaitu adanya kepastian akan menerima jasa pelayanan medis sesuai ketentuan yang berlaku. diperlukan sarana pendukung sosialisasi seperti leaflet. lebih senang dengan KB suntik. dan peralatan kesehatan Puskesmas dan Poskesdes agar mampu melakukan pertolongan persalinan di Puskesmas dan Poskesdes secara memadai. Toga . Perlu adanya kesinambungan ketersediaan alokasi dana Pusat dalam pelaksanaan Jampersal. b) Mendorong daerah untuk berkontribusi terhadap pemenuhan sarana prasarana. c. b. brosur. xvii .

Penguatan komitmen pelayanan KB pasca persalinan sebagai paket dan bagian tak terpisahkan dari pelayanan Jampersal dengan didorong untuk penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang. lintas sektor dan masyarakat (Toma. 2. xviii . dll. Jamkesda. pelibatan lintas program. 6. o Menyediakan rumah singgah. 5. seperti BOK. Toga. f) Penguatan Tim Pengelola Jamkesmas/Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam peningkatan kemampuan proses verifikasi dan pembayaran klaim Jampersal.d) Memberi penekanan pada pemerintah daerah untuk menepati ketentuan sesuai juknis. e) Penguatan sinergisme berbagai sumber pembiayaan dalam mendukung pelaksanaan Jampersal. bahwa sasaran jampersal adalah ibu hamil. kader) dalam sosialisasi lebih di tingkatkan. di antaranya melalui pemberian kewenangan tambahan/khusus mengingat keterbatasan tenaga sesuai kompetensi. dengan menerapkan inform consent. Disamping itu perlu penganggaran khusus untuk sosialisasi. Sosialisasi menjadi kunci penting dalam keberhasilan. 4. Peningkatan kemampuan tenaga kesehatan yang ada di wilayah tertentu khususnya di daerah terpencil dan terisolir yang kurang diminati. 3. Pengetatan mekanisme pengawasan dan sanksi agar seluruh penyedia pelayanan kesehatan (PPK) Jampersal tidak menarik biaya tambahan dari penerima manfaat Jampersal dengan melakukan “uji petik”. Jamkesmas. bersalin dan nifas yang belum mempunyai jaminan. Pada daerah kepulauan atau wilayah dengan geografis sulit harus dipertimbangkan beberapa pilihan : o Menyediakan dana pendamping untuk penggantian transport rujukan bila diperlukan.

Penguatan sistem rujukan (improvement collaborative) antara Puskesmas PONED dan RS PONEK. serta keterampilan (skill) petugas sebagai penyedia layanan emergensi obstetrik dan neonatal tingkat dasar dan komprehensif. b. perbatasan. khususnya di daerah tertinggal. dan kepulauan. sarana. 1. Dukungan Kementerian Pekerjaan Umum. baik aspek tenaga. dan Pemerintah Daerah dalam percepatan pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi yang memadai. d. xix . 2. sehingga diupayakan adanya pendamping di wilayah kerja bidan karena bidan mempunyai keterbatasan . Kementerian Perhubungan. Peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui pemberian KIE (Konseling. c. Jangka Panjang Rekomendasi jangka panjang ini lebih diperuntukkan bagi pelayanan kesehatan ibu dan anak secara keseluruhan. seperti hambatan kultural dan hambatan informasi. Aspek Sarana dan Prasarana dan SDM a. Informasi dan Edukasi) tentang Jampersal untuk mengatasi hambatan non-medis dan non-finansial. obat dan peralatan.o Menyediakan pelayanan ‘one stop service’. dalam pengertian memenuhi ketersediaan sarana pelayanan kesehatan tingkat dasar sampai dengan rujukan. Keberadaan bidan sebagai anggota masyarakat memiliki keterbatasan yang harus diperhatikan. Penguatan Puskesmas PONED dan RS PONEK. Pemberdayaan Masyarakat sangat penting untuk mendukung pelaksanaan kebijakan Jampersal. dalam rangka memudahkan proses rujukan KIA.

xx .

bahan habis pakai dan pembiayaan masih kurang optimal. dengan menganalisis transkrip hasil diskusi dan mendeskripsikannya dalam bentuk naratif. Kalimantan Timur dan Kepulauan Riau yang masing-masing dipilih 2 (dua) kabupaten / kota. Provider di tingkat layanan dasar dan rumah sakit pada umumnya mendukung kebijakan Jampersal. xxi . Puskesmas (kepala puskesmas. sedangkan kuantitatif dianalisis secara secara diskriptif. Disain Penelitian secara potong lintang Responden penelitian adalah Dinas kesehatan ( Kadinkes. pengelola Jampersal dan bidan desa). Dukungan pemerintah daerah terhadap ketersediaan obat. Sosialisasi yang kurang optimal menjadi kendala yang perpengaruh terhadap akseptabilitas provider. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa secara umum kabupaten / kota mendukung tujuan kebijakan Jampersal mencapai tujuan 4 dan 5 MDG’s dengan mengimplementasikan kebijakan Jampersal dengan variasi sesuai dengan kondisi dan kebijakan lokal yang berlaku di daerahnya dengan diterbitkanya Peraturan Bupati/walikota. Paket pelayanan Jampersal pada umumnya berjalan . sasaran (ibu hamil. rumah singgah atau one stop service untuk pelayanan dasar dan rujukan. Khusus di daerah dengan geografis sulit seperti kepulauan dimana alat transportasi dan biaya transportasi sering menjadi kendala perlu solusi tersendiri dengan menambahkan biaya pendamping untuk transpertasi. Adapaun pengumpulan data secara kualitatif dan kuantitatif dengan wawancara mendalam. pengelola Jamkesmas/Jampersal.toga. Surat keterangan domisili. Kartu Keluarga. SIM. NTB. Kebijakan Jaminan Persalinan dicanangkan tahun 2011 berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/ Menkes / Per /III/2011 dan diperbaharui dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 yang mulai berlaku per 1 Januari tahun 2012. Jawa Barat. kecuali KB paska nifas perlu adanya penekanan dalam pelaksanaannya misalnya dengan memberlakukan inform consent. rumah sakit ( direktur/ Kabid pelayanan. FGD dan kuesioner terstruktur serta pengambilan data sekunder (Profil kab/kota. pengelola program KIA dan verifikator). dukun dll). KTP suami. Persyaratan bagi sasaran pengguna Jampersal adalah KTP. Data kualitatif hasil FGD dan wawancara mendalam dilakukan secara content analysis. Kartu mahasiswa/pelajar dan paspor. kader. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah Menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan. bidan dan dr. cakupan program). pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan meluncurkan kebijakan Jaminan Persalinan (Jampersal). sasaran dan masyarakat terhadap kebijakan Jampersal. Portabilitas Jampersal dapat berjalan di layanan dasar maupaun rujukan. Maluku. pengelola Jampersal. Sulawesi Tenggara. melahirkan dan nifas) serta masyarakat( toma. kelancaran cairnya klaim pada provider di puskesmas dan jaringanny menjadi masalah utama dalam pelaksanaan Jampersal. Penelitian ini merupakan penelitian terapan untuk mengetahui implementasi kebijakan program Jampersal di 7 (tujuh) propinsi di Indonesia yaitu Jawa Timur. SPOG).ABSTRAK Dalam rangka mempercepat pencapaian tujuan pembangunan kesehatan nasional serta Millenium Development Goal (MDG’s). bidan koordinator. verifikator independen. Besaran klaim di rumah sakit yang menggunakan tarif INA-CBGs perlu dilakukan penyesuaian dengan kondisi saat ini.

Hal ini dikarenakan menurut provider. Sehungga hanya terjadi pergeseran pembiayaan saja dari Jaminan lain ke Jampersal. Kata Kunci : Jampersal 2012 – Evaluasi implementasi-14 kabupaten/kota xxii . Askes dan Jamsostek. Saran untuk Jampersal perlu adanya kesinambungan dalam pendanaan dengan penyempurnaan dalam petunjuk teknis dan implementasi. masyarakat dan sasaran. kebijakan Jampersal dirasakan manfaatnya dalam meningkatkan akses ke layanan kesehatan dalam masalah pembiayaan terutama pada masyarakat kurang mampu.Sasaran pengguna Jampersal sebagian besar sudah memiliki Jaminan seperti Jamkesmas. Jamkesda.

Abstract In order to accelerate achievement of the National Health Development and Millenium Development Goals. In 2011 Ministry of Health has been released a national policy concerning Childbirth Insurance Program (known as “Jampersal”). questionnaire structurely. 2012. cildbirth Insurance management. East Kalimantan and Riau archipelago. It was a applied study to know how implementation of Childbirth Insurance Program Policy in 7 (seven) Provinces in Indonesia involves East Java. and the others). 2562/Menkes/Per/XII/2011 regarding Technical Guidance of Childbirth Insurance which was launched January 1. FGD. and financing. public health insurance/childbirth insurance managements. and obstetric specialists). Driver’s License. health program coverage. TOGA. Requirements for Childbirth Insurance Program is ID Card. and verificator for health office). Health Center (head. Implementation of Childbirth Insurance Program Policy has been assorted every study area. lack of socialization for Childbirth Insurance Program have became barriers that influences to provider acceptability. Student Card and passport. maternal and neonatal management. and mayor decrees. It was caused by conditions and policy local such as it has been released regent. Results of the study shows that In general. This study aims to analyze implementing Childbirth Insurance Program. All data were gathered qualitatively whereas quantitative data with In-depth interview. midwives. independence verificator. birth. lack of Local Goverment supports concerns availability of pharmacies. a domicile explanation letter. Each area were taken 2 (two) districts/cities. and also Childbirth Insurance Benefit xxiii . targets and communities toward Childbirth Insurance Program Policy. and secondary data were taken Profile of Disticts/Cities. Family Card. Furthermore. and village midwives). cadres. 631/Menkes/Per/III/2011 juncto Minister Decree of Health No. materials in medical services. cities/districts have been supported goals of childbirth Insurance Program Policy to achieve the 4 and 5 MDGs goals. Qualitative data of FGD and In-depth interviews results were conducted content analysis trough analysing discussions transcripts and desribes naratively whereas quantitative were analyzed descriptively. post natal) including communities (TOMA. hospital (director/head of division for health services. West Nusa Tenggara. targets (pregnant women. Childbirth Insurance managements. It was covered based on Minister Decree of Health No. Moreover. Childbirth Insurance portability has been ran in basic services and referrals. Maluku. Southeast Sulawesi. coordinator midwife. West Java. Husband ID. Study design was a cross sectional whereas informants were District/City Health Office (head.

provider for basic services and referral levels have supported the Childbirth Insurance Program Policy. Disbursement of claims is late on provider at Health Center and their networks became main obstacle implementation of Childbirth Insurance Program and we also need tarrif revision for hospital that has applied INA-CBGs. and targets that Childbirth Insurance Program policy has perceived benefits them that implicated to increase public access to facilities health services mainly family poors. and Social Security Programs for Workers so that It just moved financing from an insurance to Childbirth Insurance. It will needed solution strategy through adding attendant cost for basics and referrals services for transportation. or one stop service. On the other hand. Most of targets users for Childbirth Insurance Program have already been others Insurance such as public health insurance. health insurance. local health insurance. except implementation of Family Planning for post natal care has been stressed in implementation for example applying inform consent special for remote areas such as islands where transportation and cost have became barriers. shelter home. Key words: Childbirth Insurance Program. It suggested that we are need sustainability concerns financing and revised technical guidance were caused by providers. xxiv . communities.package. Evaluation of implementing Childbirth Insurance of 14 Districts/Cities. In general.

Muhammad Agus Mikrajab.I. S. 1 Nama dr. 16. Tety Rachmawati.. SKM. Master Kesehatan Peneliti 6. M. M. Apt. MHA Pemberdayaan Masyarakat Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Perilaku dan Pelayanan Kesehatan Antropologi Sosiologi Kesehatan Masyarakat Psikologi Peneliti Peneliti 10. S. Pratiwi.M. R. 15. 14. S.MPH Peneliti 11.S. Master Kesehatan Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Peneliti Peneliti 8. M. Yurika F. Yunita Fitrianti. Niniek L. Epid. 13. Psikolog.Psi. Rukmini. 2. Agung Dwi Laksono.Ant Sri Handayani.. Ir.Sp. S.KM Rozana Ika Agustiya..Kes dr.Kes Pemberdayaan Masyarakat Peneliti 3.KG Dra. Msi Kepakaran Dokter.DAFTAR ANGGOTA TIM PENELITI SUSUNAN TIM PENELITI No. M.Kes Analis Kebijakan Magister sains Peneliti Peneliti 4. S. 7. Selma Siahaan. drg.. magister Sains Peran P. Kes.Psi Nugroho Winarto Peneliti Peneliti Peneliti Peneliti Pembantu Administrasi 17. Drs.Wasis. Susilo Pembantu Administrasi 18 Supriyadi Pembantu Administrasi xxv . Msi Ingan Ukur Tarigan.Vita K. 5. M. Peneliti 12.Psi. drg. SKM. Dr.Sos Wening Widjajanti.M. SKM. 9. Setia Pranata.

xxvi .

...........................................................1 1. DEFINISI .............................. DAFTAR GAMBAR ..........................................2 KEBIJAKAN (JUKNIS JAMPERSAL 2012) .........................................1..........................................................................1....... DAFTAR LAMPIRAN .............................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ........... TINJAUAN PUSTAKA ...................................2........................................... LATAR BELAKANG .....4 PUSAT PELAYANAN OBSTERIK NEONATAL EMERGENSI DASAR (PONED) ..........................................3 BAB II 2.......................................... 2..................... DAFTAR TABEL.......2 1............................ 2........................1................................................................... 2.............................................. PERTANYAAN PENELITIAN ...........................................................................................2 SASARAN JAMPERSAL .................................................................................... 2...........................1 JAMPERSAL .......................................................................................................................1.................... 2..................... 2.................................. DAFTAR ANGGOTA PENELITI .....................1 TUJUAN JAMPERSAL ..................... ABSTRAK ..2 PERJANJIAN KERJA SAMA ...................................................................1...........6 BIDAN PRAKTEK MANDIRI ........................ 2........................ FOKUS BIDANG PENELITIAN ...................5 RUMAH SAKIT PELAYANAN OBSTERIK NEONATAL EMERGENSI KOMPREHENSIF (PONEK) ............................................................................ 2...................................................................................................................................... 2......1 PENDAHULUAN .........................1...........................3 FASILITAS KESEHATAN ................. xxvii i ii ix xi xxi xxv xxvii xxxiii xxxvii xxxix 1 1 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 6 6 6 ............................................................... KATA PENGANTAR ............................................................................ SURAT KEPUTUSAN PENELITIAN ................ RINGKASAN EKSEKUTIF ........ DAFTAR ISI................................................................................2.. BAB I 1..............

............ TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN ......... 4......... 2................................................................................................................................... 2............................................1 PENGUMPULAN DATA KUALITATIF ...............................4.....................................2 ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ......3.. 4.. RESPONDEN PENELITIAN .....................1 TUJUAN UMUM .............3 4..............................4... 2..................................................................................................................... 2....3 PAKET MANFAAT DAN TATA LAKSANA PELAKSANAAN JAMPERSAL ..................2........ 2.........1............ DEFINISI OPERASIONAL ................6.........................................3.............................1 ANALISIS KEBIJAKAN KESEHATAN ....5 4.2 TINGKAT KEMATIAN MATERNAL ...................3 PENYEBAB KEMATIAN MATERNAL ....8 4.............2 BAB IV 4..............1 TAHAPAN PEMILIHAN LOKASI PENELITIAN .2 4........6...................................................1 TUJUAN DAN MANFAAT...............................2 TUJUAN KHUSUS ..................................................... TUJUAN PENELITIAN ..............................6................2... 2................... 4. BAB III 3........ METODOLOGI ...................................................1 DEFINISI MATERNAL ..........2..............................2 PENGUMPULAN DATA KUANTITATIF ...........................................4 4.................................. 4........ 2.......4 PENDANAAN JAMPERSAL ............................ KERANGKA PIKIR .9 VARIABEL PENELITIAN ............3 KEMATIAN MATERNAL .................................................7 4.............................................................................................1......3..................................................... 3............1 4......................................................................... 3...........6 MANFAAT PENELITIAN ...........3 TEORI KEBIJAKAN ........... DESAIN/JENIS PENELITIAN ...........................4 TEORI KEBIJAKAN PUBLIK ...... 3....................................9................. 2............. 2.............. KERANGKA OPERASIONAL....... 4......... CARA PENGUMPULAN DATA .................. KERANGKA TEORI ..............3 DATA SEKUNDER .........4............................ xxviii 7 9 9 9 10 10 13 13 15 15 17 17 17 17 18 19 19 20 21 22 22 23 23 24 25 26 27 28 28 ...

...2................. 5.... 5........................ 5.............2...............................2....... BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ..1 KABUPATEN SAMPANG ..................... 5......8 PROSES PENGAJUAN KLAIM ...2........................................ 5....2..........1 SASARAN ....3 KEPESERTAAN .2.2..........1.......................................2.......2.....2...............2........ 4...................................................................................................2 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI TINGKAT PUSAT DAN DAERAH .............2......... 5.............2....2......... 5...................... 5.......... 4.......................1 SEKILAS TENTANG LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN ....9...........2 KARAKTERISTIK PENGGUNA JAMPERSAL .6 KABUPATEN BOGOR ....................1.......11 PERTIMBANGAN IJIN PENELITIAN .....7 PENDANAAN ..........1......... 5..........5 PEMBERI LAYANAN .......1................4..................2 KOTA BLITAR ...........4 PERSYARATAN KLAIM . 5....6 BESARAN TARIF PELAYANAN ............................1. 5.....10 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA ............ 5....1.......................2....... 5...1...... xxix 33 36 39 43 43 44 44 45 45 46 47 47 49 49 50 52 53 54 55 56 57 ................12 JADWAL KEGIATAN .....................2.......2.2............................. 4...................................... 29 29 30 30 31 33 5........2 PAKET PELAYANAN .......... 5................ 5............ 5.....................2 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI KABUPATEN/KOTA LOKASI PENELITIAN ........3 KOTA MATARAM ...1 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI PUSAT ...............2....2............................7 KOTA AMBON ......................1......................2....................2......2.3 TAHAPAN PENGUMPULAN DATA DI LAPANGAN……………....................... 5..... 5...4 KABUPATEN LOMBOK TENGAH ...........1....................................2 TAHAPAN PELAKSANAAN PERSIAPAN DI LAPANGAN..1............... 4...2.............. BERSALIN DAN NIFAS .................9....... 5.....................5 KOTA BANDUNG ............................................... 5...........................1 KARAKTERISTIK RESPONDEN IBU HAMIL...................

.....................2.................3 PEMBERI LAYANAN DI FASILITAS KESEHATAN RUJUKAN 5.........2 PEMBERI LAYANAN DI FASILITAS KESEHATAN DASAR.................12 KABUPATEN PASSER ......3......................3. 5. 5..4....4....5 KETERSEDIAAN (AVAILABILITY)............2......8 KABUPATEN KEPULAUAN ARU ............ 5.......................................2.....4..........11 KOTA BALIKPAPAN .......... 5.......9 KOTA KENDARI ........................2................1 DUKUNGAN MANAJEMEN....2..............3..........4.....2..................3..2....... 5................................... 5........................4.....4....4.....2..3.. 58 60 60 62 63 63 65 67 67 70 5...... 5.................1 PAKET PELAYANAN .2............4 AKSEPTABILITAS PROVIDER DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN .............................1 SOSIALISASI JAMPERSAL DI PUSKESMAS DAN RUMAH SAKIT 71 5..2 KEPESERTAAN .4..........2................................2........3 SYARAT PEMANFAATAN DAN MEKANISME KLAIM 5.. 74 76 80 81 85 87 89 89 90 91 5... 5.................................4 BESARAN TARIF PELAYANAN DAN JASA PELAYANAN 92 5...13 KOTA BATAM ......2..4.....10 KABUPATEN WAKATOBI ...2..............2........ 95 xxx .....5 JASA PELAYANAN ...................3 AKSEPTABILITAS KABUPATEN/KOTA TERHADAP PROGRAM JAMPERSAL ........................ 5............ 5... AKSES (ACCESIBILITY) TERHADAP SARANA DAN PRASARANA SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN .....3 SYARAT KLAIM.................. 5... 5.....4...2.......................4 BESARAN TARIF PELAYANAN .......................2.......... 5...... 5....... 5...............................4.... SOSIALISASI DAN KEBIJAKAN LOKAL YANG MENDUKUNG JAMPERSAL .................. 5.14 KABUPATEN NATUNA ................2....................1 PAKET LAYANAN............5....2 KEPESERTAAN/SASARAN ............................2..................4.......2....

.................. LSM DAN ORGANISASI LAINNYA DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN JAMINAN PERSALINAN .. KESIMPULAN ........................ 5....................... DAFTAR KEPUSTAKAAN . BAB VI 6.......................................................1 UTILITAS DAN PELAYANAN DASAR ............................................ 5..................5...........................1 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM UPAYA MENDUKUNG PROGRAM KIA MELALUI PNPM GSC DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH .3 ANTARA BUDAYA.. SARAN/REKOMENDASI ..........1 SARANA DAN PRASARANA PELAYANAN DASAR DAN RUJUKAN ... TABU DAN UPAYA PENYELAMATAN IBU DI KOTA BLITAR ....................... 5...............................7 AKSEPTABILITAS SASARAN DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMPERSAL ...... 5............ UCAPAN TERIMA KASIH ...........................1 JANGKA PANJANG ..2 BAYANG-BAYANG JAMPERSAL DI LAMANGGAU .................... xxxi 95 101 118 118 127 132 136 137 159 179 200 208 211 211 216 216 217 219 221 .......... 5.....8........... 5..........................................................................2 AKSESIBILITAS JARAK .....6 UTILITAS PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR OLEH PROVINSI YANG DISEDIAKAN OLEH PROGRAM JAMINAN PERSALINAN .............2. LINTAS SEKTOR......8 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN ......... TOGA......8............................................................................................5... 5...............................................................5..............................................................................2 UTILITAS DAN PELAYANAN RUJUKAN .1 6............1 HARAPAN MASYARAKAT ......... 5............... 5...................... 6.................1 JANGKA PENDEK ... 5.....2 KESIMPULAN DAN SARAN ....................................... 6...................9 AKSEPTABILITAS TOMA................8................................................6....................................... 5.............................9............................................6.........................2....

xxxii .

7 Gambar 5. Bagan Sosialisasi Jampersal di Kabupaten/Kota Persepsi Bidan Puskesmas terhadap Jaminan Persalinan Mekanisme pembeyaran klaim Jampersal Pelayanan Dasar Ruang ICU.4 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Umur pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 40 Gambar 5.6 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Jumlah Anak pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Gambar 5.8 Gambar 5.3 Karakteristik Responden berdasarkan Pendidikan pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 39 Gambar 5.4 Gambar 5.3 Gambar 4.1 Gambar 5.5 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Pendidikan pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi 41 Jampersal Tahun 2012 Gambar 5.10 Gambar 5.2 Kerangka teori penelitian Kerangka pikir penelitian Nama Halaman 19 20 28 29 35 37 Kerangka operasional penelitian Tahap Pelaksanaan Persiapan Penelitian di Lapangan Peta Wilayah Indonesia Karakteristik Responden berdasarkan Umur pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Gambar 5.11 Diskusi Kelompok pada Bidan. tempat cuci kamar Operasi di Ruang kandungan dan kebidanan di RSUD Ambon Gambar 5.2 Gambar 4.1 Gambar 4.12 Gambar 5.9 Gambar 5.13 Ruang rawat Inap pasien Jampersal di Rumah Sakit Jarak ke pelayanan Kesehatan pada pengguna Jampersal di kabupaten/Kota “Daratan” xxxiii 42 71 71 75 83 99-100 di 101 102 .DAFTAR GAMBAR Gambar Gambar 4.

19 Gambar 5.Juni 2012 Gambar 5.20 Gambar 5. Kab.Gambar 5. Kab.21 Gambar 5.28 Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam dengan Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Gambar 5.16 Gambar 5.26 Kematian Maternal di Kabupaten/Kota Tahun 2010 .27 Kematian Neonatal di Kabupaten/Kota Tahun 2010 .22 Peta Wilayah Provinsi Kepulauan Riau Posisi Kabupaten Kepulauan Aru di peta Indonesia Peta Wilayah Kabupaten Kepulauan Aru Puskesmas Benjina.23 Cakupan Persalinan Tenaga Kesehatan di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Tahun 2010 – Juni 2012 Gambar 5. Kepulauan Aru Peta Kabupaten Kepulauan Wakatobi Kapal cepat yang melayani rute Wanci-Tomia Puskesmas Onemobaa.15 Gambar 5.25 Tenaga Penolong Persalinan Pada Responden Non 125 124 120 103 106 108 109 113 116 118 119 Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Gambar 5.17 Gambar 5.14 Jarak ke pelayanan kesehatan pada pengguna Jampersal 102 di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Gambar 5.18 Gambar 5.24 Tenaga Pemeriksa Kehamilan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011 April 2012 Gambar 5. Wakatobi Cakupan Persalinan oleh tenaga kesehatan di Kabupaten/Kota “Non Kepulauan” tahun 2010-Juni 2012 Gambar 5.Juni 2012 Gambar 5.29 Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam tanpa Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 129 128 127 126 xxxiv .

30 Kematian Maternal < 24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 130 Gambar 5. K4.Gambar 5.39 Kunjungan K1 dan K4 serta Linakes Desa Lekor.34 Gambar 5. K4 dan Linakes Puskesmas Janapria Thn 2010-2012 143 Gambar 5.32 Kematian Neonatal di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010.41 Poskesdes Desa Lekor yang dibangun oleh PNPM GSC Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil yang difasilitasi oleh PNPM GSC 146 148 Gambar 5.42 Gambar 5.49 Gambar 5.48 Gambar 5.37 Persentase capaian indicator keberhasilan PNPM GSC Kab.46 Gambar 5.47 Gambar 5.35 Kepemilikan Jaminan lain pada sasaran pengguna Jampersal Alasan tidak menggunakan Jampersal pada sasaran Kepemilikan Jampersal Jaminan pada sasaran Non pengguna 132 134 135 Gambar 5.40 Gambar 5.43 Gambar 5.44 Gambar 5.d Okt 2012 145 Gambar 5.Juni 1012 131 Gambar 5.38 Kunjungan K1. Lombok Tengah 139 Gambar 5.45 Gambar 5.36 Pembiayaan Tambahan pada sasaran pengguna Jampersal pada Kabupaten/ Kota Daerah Penelitian 135 Gambar 5.50 Kunjungan K1. Linakes Desa Langko Thn 2010-2012 PMT yang diberikan ketika posyandu di Desa Langko Peta Kabupaten Wakatobi Peta Desa Lamanggau Jalan Menuju Puskesmas Onemobaa Pintu Gerbang Dive Wakatobi Resort Gedung Puskesmas Onemobaa Tempat pemeriksaan yang berkarat Rumah tenaga kesehatan xxxv 149 152 160 161 163 163 165 165 165 .31 Kematian Maternal >24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 131 Gambar 5.33 Gambar 5. Th 2010 s.

54 Gambar 5. dll) 175 175 175 175 176 201 xxxvi .56 Rumah Mbook Medaming “rumah bersalin Bajo” Kamar untuk bersalin Kamar untuk bersalin (tampak luar) Lantai bersalin Ibu nifas Diskusi kelompok masyarakat (TOMA. kader.55 Gambar 5.51 Gambar 5.53 Gambar 5. TOGA.52 Gambar 5.Gambar 5.

121 Tabel 5.1 Tabel 5.2 Definisi Operasional Gant Chart Jadual Kegiatan Penelitian Tarif Pelayanan Jaminan Persalinan Tahun 2012 Sarana dan Sumber Daya Manusia yang Memberikan Pelayanan Jampersal.2 Tabel 4.1 Nama Pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi. 27 31 47 95 Tabel 5.4 “Continum of Care” Pelayanan Jampersal (K1.5 Tempat Persalinan Responden Pengguna Jampersal di Lokasi penelitian Periode Oktober 2011-April 2012.DAFTAR TABEL Tabel Tabel 4. Tabel 5. K4.3 Tabel 5. Kabupaten dan Kota berdasarkan kriteria cakupan LINAKES Halaman 21 Tabel 4. 122 persalinan) dan PN di Kabupaten/Kota di Lokasi Penelitian Tahun 2012 Tabel 5.6 Jumlah Kasus Sectio Caesaria yang ditangani di Rumah sakit di Kabupaten/Kota Tahun 2010 – Juni 2012 129 123 xxxvii .3 “Continum of Care” pada Responden Sasaran Ibu Nifas Pengguna Jampersal per Kabupaten (N = 573).

xxxviii .

lingkungan. jumlah itu masih sangat tinggi. sehingga diperlukan (SDKI. Untuk mencapai AKI dan AKB sesuai target MDG’s dihadapi berbagai masalah yang multi komples seperti masalah budaya. pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan meluncurkan kebijakan Jaminan Persalinan (Jampersal). Hasil studi District Health Account 1 intervensi khusus . Menurut data Kemenkes. Program Jampersal adalah respons pemerintah melalui Kementerian Kesehatan untuk mengembangkan program/kegiatan yang bersifat quick wins dalam upaya menurunkan kematian maternal.1. Dengan program jampersal. Salah satu faktor yang penting dalam intervensi adalah perlu meningkatkan akses masyarakat terhadap persalinan yang sehat dengan memberikan kemudahan pembiayaan kepada ibu hamil. Saat ini Kemenkes mencatat angka kematian ibu masih di atas 228 orang per 100 ribu penduduk. sumberdaya manusia dll.I.R. LATAR BELAKANG Dalam rangka mempercepat pencapaian tujuan pembangunan kesehatan nasional serta Millenium Development Goal (MDG’s ). pendidian masyarakat. pengetahuan. 2011). kecukupan fasilitas kesehatan. diharapkan berharap bisa menekan angka kematian ibu hingga 118 per 100 ribu penduduk yang merupakan target RPJM 2014 dan 102 per 100 ribu penduduk sesuai target MDG’s tahun 2015.BAB I PENDAHULUAN 1.. 2007). Hal ini dikarenakan masih banyaknya ibu yang tidak mampu membiayai persalinannya sehingga tidak dilayani oleh tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang baik. Kebijakan Jaminan Persalinan dicanangkan tahun 2011 berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/Menkes/Per /III/2011 dan diperbaharui dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 yang mulai berlaku per 1 Januari tahun 2012. (Kemenkes. 90 persen kematian ibu disebabkan karena persalinan.

sehingga diharapkan dengan diluncurkannya Jampersal.I. 2011).R. saat persalinan. Program Jampersal terintegrasi dengan pelayanan KB. 2 . yaitu pemeriksaan sebanyak 4 (empat) kali sebelum persalinan. salah satu faktor penting untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap persalinan sehat adalah dengan memberikan kemudahan pembiayaan untuk ibu hamil. (Kemenkes R. pemeriksaan kehamilan dengan risiko tinggi dan persalinan dengan penyulit serta komplikasi dilakukan secara berjenjang di Puskesmas dan rumah sakit berdasarkan rujukan. persalinan hingga masa nifas termasuk bayi. Selain itu. termasuk di dalamnya anggaran untuk program kesehatan ibu dan anak. Dana yang dikeluarkan untuk program ini diperkirakan mencapai 2.. angka kematian ibu (AKI) dan juga angka kematian bayi (AKB) akan menurun seiring dengan meningkatnya cakupan keluarga berencana sehingga bisa mencapai target MDGs pada tahun 2015 (Kemenkes. ibu bersalin.R. Paket pelayanan jaminan Persalinan yang ditanggung oleh pemerintah adalah Antenatal care (ANC). dengan memanfaatkan pelayanan di seluruh jaringan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjutan (RS) di kelas III yang sudah memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kabupaten/Kota. dan empat kali kontrol setelah persalinan sedangkan mekanisme pemberian jaminan persalinan ini diberikan seperti Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). tidak tergantung status sosial ekonomi yang bersangkutan. 2011).3 triliun rupiah.I. Oleh karena itu. bagi siapa saja.di 80 kabupaten/kota (Gani. Program Jampersal adalah intervensi pembiayaan untuk menanggung seluruh biaya persalinan mulai dari masa kehamilan. ibu nifas (pasca melahirkan sampai 42 hari) dan bayi baru lahir (0-28 hari) yang belum memiliki jaminan persalinan. 2011).I. Dengan ketentuan proses persalinan dilakukan di rumah sakit kelas III atau Puskesmas (Kemenkes. Peserta program Jampersal adalah ibu hamil. 2012) menunjukkan rendahnya komitmen pemerintah daerah untuk menyediakan anggaran kesehatan dalam jumlah yang memadai.

Jampersal ini akan dilaksanakan secara bertahap mulai 2011. serta pemberdayaan keluarga dam masyarakat dalam bidang kesehatan. dari hasil penelitian menyatakan ada permasalah serius dalam kebijakan Jampersal. Program ini tidak hanya pada ibu hamil yang miskin. memastikan memastikan bidan tinggal di desa. Laksono Trisnantoro telah melakukan penelitian Jampersal di DIY . meningkatkan persalinan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.Papua dan NTT dengan masing-masing di 1-2 kabupaten.6 juta ibu hamil. Diharapkan program jampersal ini bisa meningkatkan kualitas kelahiran pendudukan tanpa meningkatkan jumlah penduduk. tapi masih terbatas dalam wilayan penelitiannya sehingga diperlukan penelitian yang lebih lanjut untuk mendapat informasi yang lebih luas. dengan prioritas dalam perkiraan ibu bersalin dalam 1 tahun adalah 4. sedangkan Jamkesmas memberikan perlindungan kesehatan bagi warga miskin. K4. meningkatkan persalinan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. serta pemberdayaan keluarga dam masyarakat dalam bidang kesehatan.7 juta ibu hamil pertahun. Persalinan yang sudah dibiayai Jamkesmas mencapai 1. Target MDGs dalam meningkatakan kesehatan ibu akan tercapai apabila 50% kematian ibu dapat dicegah dan hal tersebut dapat dicapai antara lain dengan meningkatkan cakupan K1. Walaupun tahun 2012 terdapat beberapa penelitian Jampersal . Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan evaluasi program Jampersal dalam upaya mencapai target MDGS dengan meningkatkan cakupan K1. Tahun 2011.Program Jampersal itu berbeda dengan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). meningkatkan cakupan peserta KB terutama dengan metode kontrasepsi jangka panjang. Dan tahun 2012 petunjuk teknis 2011 telah disempurnakan berdasarkan masukan sebelumnya . 3 . meningkatkan cakupan peserta KB terutama dengan metode kontrasepsi jangka panjang.

Bagaimana penerimaan kelompok masyarakat (Toma. Bagaimana upaya pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi oleh provider dalam Implementasi Jaminan Persalinan ? 4. pertolongan persalinan. Fokus bidang penelitian Fokus bidang penelitian adalah Kebijakan di tingkat pusat dan daerah dalam pembiayaan. dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan 5.bersalin. Pertanyaan penelitian 1. Bagaimana penerimaan provider dalam pelayanan Kesehatan Ibu dan bayi terhadap program Jaminan Persalinan ? 3.1. Bagaimna utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. Lintas sektor. akseptabilitas provider dan masyarakat. dan pelayanan nifas dan pelayanan KB paska persalinan dalam rangka mendukung program Jampersal sehingga dapat menurunkan AKI dan AKB. Bagaimana kebijakan daerah (Kab/Kota) implementasi Jaminan Persalinan? 2. upaya yang dilakukan provider pelayanan kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat yang di fokuskan Dalam upaya meningkatkan cakupan pemeriksaan kehamilan.3. Toga. nifas. Bagaimana penerimaan masyarakat dalam pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi terhadap Implementasi Jaminan Persalinan ? 6. ketersediaan sarana dan prasarana dan sumberdaya manusia.2. LSM dan organisasi stakeholder lainnya) dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan? dan kendala dalam 1. 4 .

1 Jaminan Persalinan adalah jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan.3 Fasilitas Kesehatan adalah institusi pelayanan kesehatan sebagai tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan.6 Bidan Praktik Mandiri adalah praktik bidan swasta perorangan. nifas. Manfaat yang diterima oleh penerima manfaat Jaminan Persalinan terbatas pada pelayanan kehamilan. 5 .2. pelayanan nifas termasuk pelayanan KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.4 Puskesmas Pelayanan Obsterik Neonatal Emergensi Dasar (PONED) adalah Puskesmas yang mempunyai kemampuan dalam memberikan pelayanan obstetri (kebidanan) dan bayi baru lahir emergensi dasar. 2.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Kebijakan Jaminan Persalinan (Juknis Jampersal 2012) Jaminan Persalinan merupakan perluasan kepesertaan dari Jamkesmas dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja. 2.5 Rumah Sakit Pelayanan Obsterik Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) adalah Rumah Sakit yang mempunyai kemampuan dalam memberikan pelayanan obstetri (kebidanan) dan bayi baru lahir emergensi komprehensif. pertolongan persalinan. kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah.1.1. baik promotif.2 Perjanjian Kerjasama (PKS) adalah dokumen perjanjian yang ditandatangani bersama antara Dinas Kesehatan selaku Tim Pengelola Kabupaten/Kota dengan penanggung jawab institusi fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta yang mengatur hak dan kewajiban para pihak dalam jaminan persalinan.1. 2.1. preventif.1 Definisi ( Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan 2012) 2.1. TNI/POLRI. dan Swasta. persalinan. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. 2. 2.1. 2.

Sasaran Jampersal Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah : 1. batas waktu sampai dengan 28 hari pada bayi dan sampai dengan 42 hari pada 6 . dan akuntabel. efektif. c. 3) Penanganan komplikasi ibu hamil. persalinan.2. Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien. 2. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. Tujuan Khusus a. Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan. Bayi baru lahir (sampai dengan usia 28 hari) Sasaran yang dimaksud diatas adalah kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi untuk mencegah AKI dan AKB dari suatu proses persalinan.2. Ibu hamil 2. pertolongan persalinan. dan bayi baru lahir.2. transparan. 2) Keluarga Berencana pasca persalinan. bersalin. Ibu nifas ( sampai 42 hari pasca melahirkan) 4. KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten. b. nifas. Tujuan Umum Meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan. Tujuan Jampersal 1. Ibu bersalin 3. nifas.2. dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kompeten.1. 2. Meningkatnya cakupan pelayanan : 1) Bayi baru lahir. Agar pemahaman menjadi lebih jelas.

abortus inkompletus dan missed abortion b) Penatalaksanaan mola hidatidosa c) Penatalaksanaan hiperemesis gravidarum d) Penanganan Kehamilan Ektopik Terganggu e) Hipertensi dalam kehamilan.2. reagensia dan bahan habis pakai yang diperuntukkan bagi pelayanan kehamilan. Penyediaan obatobatan. sedangkan pada peserta Jamkesmas dijamin berbagai kelainan dan penyakit. pre eklamsi dan eklamsi 7 . Manfaat pelayanan jaminan persalinan meliputi: 1. nifas dan bayi baru lahir menjadi tanggung jawab Pemda/Dinas Kesehatan Kab/ Kota. dan KB pasca salin serta komplikasi yang mencakup seluruh sasaran ibu hamil. Paket Manfaat dan Tata Laksana Pelayanan Jaminan Persalinan Manfaat yang diterima oleh penerima Jaminan Persalinan sebagaimana diuraikan dibawah ini.ibu nifas adalah batas waktu pelayanan PNC dan tidak dimaksudkan sebagai batas waktu pemberian pelayanan yang tidak terkait langsung dengan proses persalinan dan atau pencegahan kematian ibu dan bayi karena suatu proses persalinan. bersalin. 1 kali pada triwulan kedua c. 1 kali pada triwulan pertama b. ibu hamil diperiksa sebanyak 4 kali disertai konseling KB dengan frekuensi: a. 2 kali pada triwulan ketiga Pemeriksaan kehamilan yang jumlahnya melebihi frekuensi diatas pada tiap-tiap triwulan tidak dibiayai oleh program ini. persalinan dan nifas. Pemeriksaan kehamilan (ANC) yang dibiayai oleh program ini mengacu pada buku Pedoman KIA. 2. 2.3. Pada Jaminan Persalinan dijamin penatalaksanaan komplikasi kehamilan antara lain : a) Penatalaksanaan abortus imminen. dimana selama hamil.

f) Perdarahan pada masa kehamilan g) Decompensatio cordis pada kehamilan h) Pertumbuhan janin terhambat (PJT): tinggi fundus tidak sesuai usia kehamilan i) Penyakit lain sebagai komplikasi kehamilan yang mengancam nyawa. Jenis Pelayanan Keluarga Berencana pasca salin antara lain : a) Kontrasepsi mantap (Kontap) b) IUD. 3. Pelayanan nifas (Post Natal Care) Pelayanan ibu nifas dan bayi baru lahir dilaksanakan empat kali. Kunjungan pertama untuk Kf1 dan KN1 (6 jam s/d hari ke-2) 2. Kartu Ibu. Kunjungan kedua untuk KN2 (hari ke-3 s/d hari ke-7) 3. dan 8 . dan Kohort ibu. masing-masing satu kali pada : 1. terkecuali pelayanan Nifas dengan komplikasi yang dirujuk ke Rumah sakit. maka pelayanan nifas dilakukan sesuai pedoman pelayanan Nifas dengan komplikasi tersebut. Kunjungan ketiga untuk Kf2 dan KN3 (hari ke-8 s/d hari ke-28) 4. Keluarga Berencana (KB) adalah pelayanan KB pasca persalinan dilakukan hingga 42 hari pasca persalinan. Implant. Kunjungan keempat untuk Kf3 (hari ke-29 s/d hari ke-42) Pelayanan nifas dijamin sebanyak empat kali. Lama hari inap minimal di fasilitas kesehatan : 1) Persalinan normal dirawat inap minimal 1 (satu) hari 2) Persalinan per vaginam dengan tindakan dirawat inap minimal 2 (dua) hari 3) Persalinan dengan penyulit post sectio-caesaria dirawat inap minimal 3 (tiga) hari Pencatatan pelayanan pada ibu dan bayi baru lahir tercatat pada: Registrasi ibu hamil dan Pencatatan di Buku KIA.

(Winkjosastro (Ed). melahirkan atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya masa kehamilan. Pendanaan Jaminan Persalinan 1. KEMATIAN MATERNAL 2.1.3. Dana belanja bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada angka 1 (satu) adalah dana yang diperuntukkan untuk pelayanan kesehatan dan rujukan pelayanan dasar peserta Jamkesmas. (Winkjosastro (Ed). Tingkat Kematian Maternal Berdasarkan kesepakatan Internasional. 2. tingkat kematian maternal didefenisikan sebagai jumlah kematian maternal selama satu tahun dalam 100. disebabkan oleh apapun yang berhubungan dengan kehamilan atau penanganannya. tidak tergantung dari lama dan lokasi kehamilan. Defenisi Kematian maternal adalah kematian wanita sewaktu hamil.2. pelayanan persalinan serta rujukan risti persalinan peserta Jamkesmas dan masyarakat sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan sebagai penerima manfaat jaminan. tetapi tidak secara kebetulan atau oleh penyebab tambahan lainnya. 2. Pendanaan Jamkesmas dan Jampersal di pelayanan dasar dan pelayanan rujukan merupakan belanja bantuan sosial (bansos) bersumber APBN yang dimaksudkan untuk mendorong pencapaian program. 2. Sesungguhnya kematian ini lebih tepat disebut Maternal Mortality Rasio.000 kelahiran hidup.4. Hal ini disebabkan 9 .3.c) Suntik.3. percepatan pencapaian MDG’s 2015 serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan termasuk persalinan oleh tenaga kesehatan difasilitas kesehatan. Data kematian maternal di Indonesia pada saat ini belum ada yang tepat.2. sebab denominator untuk Maternal Mortality Rate seharusnya population at risk untuk kehamilan dan persalinan yaitu jumlah wanita usia reproduksi (15-44 tahun). 2002) 2. 2002).

Perdarahan antepartum digolongkan sebagai berikut : 1. maka sering disebut atau digolongkan perdarahan pada trimester ketiga. terdapat komplikasi kehamilan dan persalinan seperti perdarahan. Perdarahan yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan a) Pecahnya varices vagina b) Perdarahan polip serviks 10 . preeklampsia dan eklampsia serta infeksi. 2002) 2. A. • Perdarahan Antepartum adalah perdarahan pervaginam pada kehamilan diatas 28 minggu atau lebih. selain menerima wanita untuk persalinan yang telah mendaftarkan diri terlebih dahulu. Penyebab Langsung Terjadi pada kehamilan yang dikehendaki atau tidak. (Winkjosastro (Ed). menurut perkiraan kasar angka kematian maternal adalah 6-8 per 100 kelahiran hidup. Penyebab Kematian Maternal Secara garis besar penyebab kematian ibu dapat dikategorikan dalam penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. dibeberapa daerah. Perdarahan yang ada hubungannya dengan kehamilan a) Plasenta previa b) Solusi plasenta c) Perdarahan pada plasenta letak rendah d) Pecahnya sinus marginalis dan vasa previa 2.4. Perdarahan Perdarahan dapat dibedakan dalam dua kelompok yaitu perdarahan antepartum dan perdarahan postpartum. menerima pula penderita-penderita yang dikirim dari daerah sekitarnya karena kesukaran dalam persalinan.3.oleh belum adanya sistem pendaftaran wajib untuk kelahiran kematian.

Atonia uteri adalah tidak adanya kontraksi uterus setelah proses persalinan. . . 2.c) Perdarahan perlukan seviks d) Perdarahan karena keganasan serviks • Perdarahan Postpartum adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam setelah persalinan berlangsung. b) Faktor predisposisi : Anemia. plasenta akreta.Grandemultipara dengan implantasi plasenta dalam bentuk plasenta adhesiva. Penyebab dari atonia uteri adalah : a) Tindakan persalinan 2) Partus lama/persalinan terlantar. plasenta inkreta dan perkreta.Grandemultipara 11 .Plasenta manual dengan segera dilakukan. Perdarahan postpartum sekunder: terjadi setelah 24 jam pertama. Kejadian retensio plasenta berkaitan dengan : . Faktor-faktor yang menyebabkan perdarahan postpartum adalah : . terbanyak dalam dua jam pertama. Perdarahan postpartum primer: Terjadi dalam 24 jam pertama.Mengganggu kontraksi otot rahim dan menimbulkan perdarahan. Distensi rahim berlebihan : hidramnion. . Jarak hamil kurang dari 2 tahun.Retensio plasenta tanpa perdarahan. hamil kembar Retensio Plasenta adalah terlambatnya kelahiran plasenta selama setengah jam setelah persalinan bayi. penyebab utama adalah robekan jalan lahir dan sisa plasenta atau membran. retensio plasenta. Grandemultipara. Perdarahan postpartum merupakan penyebab penting kematian maternal khususnya di negara berkembang. dan robekan jalan lahir. perdarahan postpartum dibagi menjadi perdarahan postpartum primer dan sekunder 1. penyebab utama adalah atoni uteri. sisa plasenta. 3) Trauma persalinan. robekan vagina.

indikasi sosial b) Berdasarkan Pelaksanaannya 1. Penyebab Tidak Langsung Jangkauan daerah Indonesia yang terlalu luas. perdarahan yang masih berhubungan dengan kehamilan adalah perdarahan yang disebabkan oleh kehamilam ektopik terganggu (KET) dan juga keguguran atau abortus.. Keguguran spontan diperkirakan sebesar 10% -15%. tujuan dan cara yang membentuk kerangka kegiatan. TEORI KEBIJAKAN PUBLIK Kebijakan adalah pernyataan yang luas tentang maksud. kemiskinan. Kejadian abortus sulit diketahui. 2001) 2. keguguran tak terhalangi. keguguran habitualis. keguguran dengan infeksi. Penyusun kebijakan merupakan mereka yang menyusun kebijakan dalam organisasi seperti pemerintah pusat atau daerah. (Manuaba. keguguran mengancam. Keguguran atau abortus dapat dibagi menjadi : a) Berdasarkan Kejadiannya 1.4.Persalinan yang dilakukan dengan tindakan. . B. Keguguran spontan 2. keterlambatan memberi pertolongan yang adekuat. missed abortion. Keguguran buatan terapeutik 2.Jarak persalinan pendek kurang dari 2 tahun. Kebijakan Publik (Public Policy) merujuk pada kebijakan-kebijakan yang 12 . anemia. Kehamilan ektopik terganggu (KET) : Kehamilan ektopik terganggu adalah kehamilan yang berimplantasi di luar endometrium normal dan sudah menimbulkan gangguan. keguguran tidak lengkap. Selain perdarahan antepartum dan postpartum. status gizi. karena sebagian besar tidak dilaporkan dan banyak dilakukan atas permintaan. perusahaan multi-nasional atau local. Keguguran buatan ilegal c) Berdasarkan Gambaran Klinisnya : Keguguran lengkap. lembaga pendidikan atau rumah sakit. Keguguran buatan atas indikasi medis.

1. atau bahkan Negara beserta tindakan mereka yang dapat mempengaruhi kebijakan Kesehatan. dinegosiasikan. Dalam ilmu kesehatan masyarakat. dan di evaluasi Dari ketiga faktor tersebut yang berperan penting dalam proses kebijakan Kesehatan adalah aktor (pelaku) yang merujuk kepada Individu. Konten (isi) merupakan substansi dari suatu kebijakan yang memperinci bagian-bagian dalam kebijakan 3. sosial atau budaya. baik nasional maupun internasional yang dapat mempengaruhi kebijakan Kesehatan 2.. organisasi. Analisis Kebijakan Kesehatan Menurut Dunn (2009) mendefinisikan analisis kebijakan adalah suatu bentuk analisis yang menghasilkan dan menyajikan informasi sedemikian rupa sehingga dapat memberikan landasan dari para pembuat kebijakan dalam membuat keputusan. ada tiga faktor penting yang mempengaruhi dimensi kebijakan Kesehatan yang lebih dikenal dengan segitiga analisis kebijakan (policy analysis triangle) yang dikemukakan oleh Buse et al (2005. pelayanan. 2005). dan upaya pendanaan sistem Kesehatan (Buse et al.dibuat oleh negara atau pemerintah sedangkan kebijakan Kesehatan (health policy) mencakup tindakan yang mempengaruhi Institusi . dikomunikasikan. Selanjutnya. Organisasi. Konteks merupakan faktor-faktor sistematis-politik. Andersen (1975) mendefinisikan kebijakan publik sebagai kegiatan yang mempunyai maksud/tujuan tertentu yang dilaksanakan oleh seorang/kelompok yang berperan dengan permasalahan atau suatu yang diperhatikan. serangkaian tahapan dalam proses penyusunan kebijakan. dilaksanakan. yaitu: 1. 2. sebagai berikut: 13 . dikembangkan atau disusun. 2012). Proses mengacu kepada cara bagaimana kebijakan dimulai.4. ekonomi.

menemukan bagaimana isu-isu yang ada dapat masuk kedalam agenda kebijakan. Pelaksanaan kebijakan. dan dikomunikasikan 3.1.. 2007) cit Walt et al (2008). dan mengapa isu-isu yang lain justru tidak pernah dibicarakan 2. sesuatu yang salah mungkin terjadi dan hasil kebijakan tidak seperti yang diharapkan. Ada dua jenis analisis kebijakan menurut Buse et al (2005). 2005). TB. tahapan ini merupakan bagian penting dalam penyusuna kebijakan. menemukan siapa saja yang terlibat dalam perumusan kebijakan. bagaimana pengawasannya. sebab bila kebijakan tidak dilaksanakan. Kerangka analisis segitiga kebijakan banyak di adopsi dalam penelitian kebijakan Kesehatan di berbagai Negara dan telah digunakan untuk menganalisis sejumlah besar isu kesehatan termasuk Kesehatan mental. disetujui. Evaluasi kebijakan. Identifikasi masalah/isu. Perumusan kebijakan. temukan apa yang terjadi saat kebijakan dilaksanakan. 4. Tahapan ini merupakan saat dimana kebijakan dapat diubah atau dibatalkan serta kebijakan yang baru ditetapkan (Buse et al. apakah tujuan tercapai dan apakah terjadi akibat yang tidak diharapkan. yaitu: analisis kebijakan prospektif (analysis for policy) diharapkan terjadi di masa yang akan datang. Sedangkan analisis kebijakan retrospektif (analysis of policy) berhubungan dengan masa lampau dan deskriptif. Kesehatan reproduksi dan pelayanan antenatal care serta pengendalian penyakit sifilis (Gilson & Raphaely. 14 . atau dirubah selama dalam pelaksanaan. bagaimana kebijakan dihasilkan. reformasi sektor Kesehatan. Analisis tipe ini memberikan informasi rinci tentang formulasi kebijakan (evaluasi formatif) atau mengantisipasi bagaimana kebijakan akan berjalan bila diterapkan. Analisis yang satu ini lebih melihat kebelakang dan merenungkan kembali mengapa dan bagaimana kebijakan menemukan bentuknya sehingga agenda dan muatannya bisa mencapai tujuan tertentu (evaluasi sumatif).

Standar dan sasaran kebijakan Setiap kebijakan publik harus mempunyai standard an suatu sasaran kebijakan yang jelas dan terukur (measurable). sumber daya material (material resources). Dengan ketentuan tersebut tujuannya dapat terwujudkan. dan sumber daya metoda (method resources). 15 . 3) Apa saja isu utama yang berimplikasi pada kebijakan Kesehatan maternal (konteks) dan 4) Apa output dari kebijakan Kesehatan maternal(isi). Empat Faktor inter-relasi elemen pembuatan kebijakan kesehatan (Walt & Gilson. 2) Untuk siapa kebijakan Kesehatan maternal di buat (siapa aktornya). yaitu: a.3. Dalam teori ini. ada enam variabel yang mempengaruhi antara kinerja dan implementasi kebijakan. yaitu: 1) Bagaimana kebijakan Kesehatan maternal di buat (proses) dengan melalui 3 tahap. Menurut Meter & Horn (1975) implementasi kebijakan meliputi tindakantindakan yang dilakukan melalui individu dalam kelompok baik publik maupun privat yang diarahkan pada pencapaian tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan. yaitu: agenda setting.4. 2. 1994) cit.2. Greena et al (2011). Sumber daya Meliputi SDM (human resources).1.4. b. proses implementasi kebijakan diharapkan dapat memahami variasi dalam implementasi kebijakan dan dapat mengintegrasikan studi dan kasus serta mengidentifikasi masalah dalam penelitian. Analisis Implementasi Kebijakan Alexander (1985) mengemukakan bahwa salah satu metode untuk mengidentifikasi proses implementasi kebijakan Kesehatan dengan menggunakan teori kontigensi. Teori Meter & Horn (1975) Dalam implementasi kebijakan menurut Meter & Horn (1975). Teori Kebijakan 2.4.3. pengembangan dan implementasi kebijakan termasuk evaluasi kebijakan.2.

2010) Menurut Weimer & Vining. karakteristik partisipan yakni mendukung dan menolak. d.c. bagaimana sifat opini public yang ada di lingkungan dan apakah elit politik mendukung implementasi kebijakan tersebut. dan 3) Kemampuan pelaksana. yaitu: 1) Logika suatu kebijakan.2. 2) Sebuah kebijakan harus sesuai dengan tuntutan lingkungan. 16 . Komunikasi antar organisasi Sebagai realitas dari program kebijakan perlu hubungan yang baik antar instansi terkait yaitu dukungan komunikasi dan koordinasi. dan politik Mencakup SD ekonomi lingkungan yang dapat mendukung keberhasilan implementasi kebijakan. c) intensitas disposisi implementor. e. f. sejauhmana kelompok-kelompok kepentingan memberikan dukungan bagi implementsai kebijakan. Karakteristik agen pelaksana Untuk mencapai keberhasilan maksimal harus diidentifikasi dan diketahui karakteristik agen pelaksananya. Kondisi sosial. Teori Weimer & Vining (1999. ada 3 kelompok variabel yang dapat mempengaruhi keberhasilan implementasi program kebijakan. ekonomi. Kebijakan Sikap Atau disposisi implementor dibedakan menjadi 3 hal: a) tanggapan pelaksana terhadap kebijakan. b) kondisi. 2.4.3.

dan KB pasca persalinan) terhadap program Jaminan Persalinan 7. Menganalisis akseptabilitas sasaran dalam pelayanan kesehatan dan bayi baru Ibu(hamil.bersalin.bersalin. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan 4. dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider terhadap program tingkat pusat dan (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan 6. nifas. Tujuan Khusus 1. LSM dan organisasi stakeholder lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan. Menganalisis kebijakan Jaminan Persalinan di daerah 2. Lintas sektor.1.bersalin.BAB III TUJUAN DAN MANFAAT 3. Menganalisis ketersediaan (availability). Menganalisa akseptabilitas Toma. Menganalisis akseptabilitas kabupaten/kota Jaminan Persalinan 3. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan 8. akses (accessibility) terhadap sarana dan prasarana. Menganalisa pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan Ibu (hamil. Menganalisis akseptabilitas provider (pemerintah dan swasta) dalam pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. 17 . Tujuan umum Menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan 3. Menganalisis utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. nifas.1.1. SDM terhadap program Jaminan Persalinan 5.2.1 Tujuan Penelitian 3.bersalin. nifas. Toga. nifas.

Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat : A.3. B. 18 . Bagi Masyarakat Sebagai masukkan dan menerima manfaat terhadap perbaikan program Jampersal sekaligus masyarakat sebagai kontrol dalam pelaksanaan program kesehatan. Bagi penentu kebijakan Sebagai bahan evaluasi kebijakan dan implementasi program Jampersal sehingga dapat dijadikan masukkan dalam menentukan/ perbaikan kebijakan program tersebut.2.

yang terdiri dari variabel kemiskinan. 2. 4.BAB IV METODOLOGI 4. Implementasi jampersal di bentuk 4 konstrak yaitu : 1. Akseptabilitas Kebijakan.1. yang terdiri dari variabel antara lain turunan kebijakan. KERANGKA TEORI (Sandi Iljanto) Gambar 4.1 Kerangka Teori Menurut Sandi Iljanto. sosialisasi dan fasilitasi peneyelenggaraan program/kegiatan. Kapasitas Manajerial. ketersediaan fasyankes. tren kesenjangan cakupan program KIA dan hasil pendataan sasaran program. kondisi geografis setempat dan peran keluarga. Ketepatan program dan Sasaran. 19 . Faktor Kontekstual. ketersediaan sumberdaya kesehatan dan fungsi manajemen. yang terdiri dari variabel kepemimpinan. yang terdiri dari variabel status kesehatan Ibu dan Anak. 3.

biaya dan jenis pelayanan .2 Kerangka Pikir Dalam penelitian Jampersal terdapat variabel Input. -Ibu bersalin -Ibu nifas -bayi baru lahir Kelompok Potensial Masyarakat : -TOMA/TOGA/ -Kepala Desa -Kader Lintas sektor : (BKKBN) Organisai Masyarakat Organisasi Profesi : (IBI. 2) Program di kabupaten/kota dengan tersedianya sarana.2. 7. 3. INPUT KERANGKA PIKIR PROSES OUTPUT Kebijakan: Di Tk. nifas. Proses dan Output. 4. 3) Pemberdayaan Masyarakat adalah pemberdayaan masyarakat yang mendukung pelayanan KIA. ibu nifas dan bayi baru lahir dan 4) Kelompok Potensial Masyarakat. Pusat dan Daerah : . 3) Kelompok sasaran Jampersal yaitu Ibu hamil. pemeriksaan kehamilan pertolongan persalinan pelayanan nifas pelayanan bayi baru lahir 5. dan bayi baru lahir. penanganan komplikasi ibu hamil bersalin. pelayanan rujukan terencana & emergency sesuai indikasi medis untuk ibu janin/bayinya Implementasi Program Jampersal Upaya pelayanan & rujukan Pemberdayaan Masyarakat Gambar 4.Ibu hamil. prasarana. Variabel Output dengan melihat cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak 20 . ibu bersalin. Varibel proses terdiri dari : 1) implementasi program Jampersal .Jampersal Program Kab/Kota : -Sarana/Prasarana -SDM -Biaya -Jenis Pelayanan Kelompok Sasaran . 2. pelayanan KB pasca persalinan 6. mengacu juknis Jampersal (Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011) . Variabel Input yang mempengaruhi penelitian ini adalah 1) kebijakan di tingkat Pusat dan Daerah.4. 2) Upaya pelayanan dan rujukan. SDM. dll) Cakupan Pelayanan Ibu & Bayi : 1.

sehingga jumlah provinsi terpilih semuanya ada tujuh provinsi. Pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi. tahun 2007). dipilih enam provinsi dengan cakupan LINAKES yang dibagi dalam tiga kelompok yaitu tinggi. sedang dan rendah yaitu Provinsi Jawa (Riskesdas. Tabel 4. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN Penelitian dilakukan selama sepuluh bulan pada tahun 2012. Selanjutnya dari provinsi terpilih tersebut dipilih satu) kabupaten dan satu kota berdasarkan cakupan LINAKESnya. Kabupaten dan Kota berdasarkan kriteria cakupan LINAKES No Cakupan LINAKES Tinggi PROVINSI Jawa Timur 1 Kalimantan Timur NTB 2 Sedang Jawa Barat Maluku 3 Rendah Sulawesi Tenggara Bandung Ambon Bogor Kep.1.Aru KOTA Blitar Balikpapan Mataram KABUPATEN Sampang Paser Lombok Tengah Kendari Wakatobi 21 . Selanjutnya dari ke tujuh provinsi tersebut. Dari kabupaten dan kota terpilih tersebut. kemudian diambil dua kecamatan berdasarkan cakupan LINAKES yang tinggi dan rendah berdasarkan data/informasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota yang ada di provinsi terpilih. Jumlah provinsi yang dipilih untuk masing-masing kelompok sebanyak dua provinsi untuk kelompok LINAKES yang tinggi. Pemilihan provinsi didasarkan pada indikator cakupan pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan (LINAKES) dan jumlah kematian ibu dan anak tinggi (absolut). sedangkan untuk kelompok LINAKES yang sedang dan rendah masing-masing dipilih dua provinsi. Penelitian dilakukan di tujuh Provinsi.4.3. Lokasi penelitian Provinsi dan kabupaten & kota terpilih berdasarkan kriteria cakupan LINAKES dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

4. kriteria daratan dan kepulauan. Responden sebagai pengguna program Jampersal yaitu : a) Ibu hamil. dimana antara variabel yang dipengaruhi dan variabel yang mempengaruhi diukur pada saat yang sama (’point in time’). RESPONDEN PENELITIAN 1. Untuk pemilihan puskesmas dilakukan berdasarkan penyerapan anggaran Jampersal yang tinggi dan rendah di setiap kabupaten kota. sedangkan RS swasta dipilih yang sudah mempunyai perjanjian kerjasama (PKS). DESAIN/JENIS PENELITIAN • Disain Penelitian : secara potong lintang . Pemilihan rumah sakit (RS) di setiap kabupaten kota dipilih 1 (satu ) RS Pemerintah milik kabupaten/kota.5. ibu bersalin (bulin) dan ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) serta ibu yang sudah melahirkan selama periode bulan Oktober 2011 sampai dengan April 2012 di puskesmas terpilih. tokoh masyarakat : TOMA&TOGA. Bidan Koordinator. 4. Kepala desa/lurah & aparat desa. pengelolaan Jampersal (penyerapan anggaran). • Jenis Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian terapan untuk mengetahui implementasi kebijakan program Jampersal di 7 (tujuh) propinsi di Indonesia. b) Kelompok PKK. Responden sebagai pelaksana program Jampersal : a) Fasilitas Kesehatan tingkat pertama/dasar (Puskesmas) yaitu kepala puskesmas. daerah yang tidak menggunakan Jampersal.4. dan kader Posyandu.Untuk memilih kabupaten kota berdasarkan jumlah kematian ibu dan anak tinggi (absolut). Sedangkan untuk daerah yang tidak menggunakan Jampersal dipilih Provinsi Kepulauan Riau yaitu kabupaten Natuna. kriteria administrasi kota dan kabupaten. 22 . pengelola Jampersal di Puskesmas dan Bidan desa yg ada di lokasi penelitian. 2.

Responden dari Organisasi profesi : Ikatan Bidan Indonesia (IBI) 5. b) Pengelola dana/ program Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota.6. PKK. observasi partisipasi dilakukan dengan cara melibatkan peneliti langsung di masyarakat.1.6. Pengelola Jampersal RS. Pengumpulan data kualitatif dilakukan dengan cara mengadakan diskusi terarah secara berkelompok (FGD).TOMA/TOGA. Pengumpulan data kualitatif Pengumpulan data kualitatif dilakukan oleh peneliti sebagai instrumen dengan dibantu panduan wawancara. Observasi partisipasi dilakukan 23 . bidan kepala ruangan. Observasi tersamar dilakukan untuk melihat perilaku tenaga kesehatan. 4. verifikator independen. dokter kandungan dan kebidanan. Observasi Observasi dalam penelitian dilakukan dengan dua cara. dan wawancara mendalam (Indepth interview). LSM dll. Pelaksanaan FGD dilakukan di kabupaten/kota terpilih yang ada di masing-masing provinsi.b) Fasilitas kesehatan tingkat lanjutan (Rumah sakit/Balkesmas yg mempunyai program kerjasama/PKS dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang ada di lokasi penelitian) yaitu : Direktur / Wadir Pelayanan RS. Responden Masyarakat : Kepala Desa/Lurah. Pelaksanaan FGD dan indepth interview dilakukan dengan menggunakan panduan wawancara FGD dan indepth interview. Sementara itu. Kader Posyandu. Responden sebagai Provider di tingkat kabupaten/kota yaitu: a) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota. 3. Penanggung Jawab program KIA. c) Verifikator 4. yaitu observasi tersamar dan observasi partisipasi. CARA PENGUMPULAN DATA 4.

c) Wakatobi: di wilayah Wakatobi di pulau Tolandono kecamatan Tomia persalinan oleh tenaga kesehatan rendah. ditengarai masyarakat di desa Lamanggau pmasih banyak ditolong dukun walaupun sudah ada Jaminan Persalinan. 2) Interaksi sosial sasaran Jampersal dan tenaga kesehatan. Adapun yang diobservasi adalah : 1) Kondisi geografi dan topografi yang ‘dianggap’ dapat menghambat dalam mengakses Jampersal.6. Pengumpulan data kuantitatif Pengumpulan data kuantitatif ini dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang terstruktur (kuesioner) yang meliputi : 1) Kelompok Sasaran ( Bumil. a) Kota Blitar: Kota Blitar dipilih karena dianggap ada temuan menarik ketika pengumpulan data bulan Mei 2012 diwilayah puskesmas Kepanjen Kidul telah terdapat 4 (empat) kematian maternal periode Januaru – Juni 2012. pengetahuan dan perilaku (PSP) dari responden penelitian yang berkaitan dengan penggunaan dana Jampersal (ibu hamil. ibu nifas dan bayi baru lahir) dan KB pasca persalinan yang berkaitan dengan pelaksanaan program Jampersal. Setelah pengumpulan data ditentukan 3 lokasi kabupaten / kota untuk dilakukan penelitian tematik dengan dilakukan observasi selama 2 (dua) minggu di lokasi terpilih yaitu. 24 . b) Lombok tengah: Di kabupaten Lombok Tengah terdapat PNPM GSC (generasi Sehat Cerdas).2. Bulin dan Bufas) : Data sikap. 3) Interaksi sosial masyarakat terkait Jampersal. 4. ibu melahirkan.sebagai triangulasi dari indepth interview melalui pedoman wawancara dan wawancara terstruktur melalui kuesioner. Hal ini menarik mengingat Kota Blitar dengan 3 puskemas Poned dan RSUD Mardi Waluyo dengan akses mudah. yang mendukung kegiatan kesehatan Ibu dan Anak.

Untuk pengambilan data di setiap puskesmas ( sebanyak 70 responden yang sudah di sampling) dilakukan oleh 2 enumerator yang dipilih dengan kriteria 1) dapat menyediaan waktu sekitar 1 (satu) minggu) untuk melaksanakan survei ini. 2) Data sikap. Profil kesehatan: Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pengumpulan data sekunder berupa profile kesehatan dilakukan dengan cara menghubungi masing-masing Dinas kesehatan/kota terpilih untuk mengirimkan data tersebut sebelum dilakukan pengumpulan data di lapangan. tahun 2010 dan 2011 25 . Kemudian diambil secara acak sebanyak 70 orang setiap puskesmas terpilih (berdasarkan rumus metode survei). Bulin dan Bufas yang pada periode oktober 2011-April 2012 yang ada di puskesmas terpilih ( diambil dari kohort). Data sekunder Data Sekunder dikumpulkan berkaitan dengan kebijakan dan pelaksanaan program Jampersal baik yang ada di tingkat kabupaten/kota maupun di fasilitas kesehatan di tingkat dasar (Puskesmas) dan di tingkat lanjutan (Rumah Sakit) . pengetahuan dan perilaku (PSP) dari bidan Puskesmas dan Bidan desa sebagai pelaksana program Jampersal.Pengambilan sampel dari data sararan adalah Bumil.3. n = Z2 1 .2/2 P (1-P) N d2 (N-1) + Z2 1 . Pengambilan sampel dari bidan puskesmas adalah seluruh bidan pada puskesmas terpilih 4. Data sekunder ini meliputi: 1. Sedangkan pengumpulan data laporan kegiatan di Puskesmas dan rumah sakit dimulai pada saat dilakukan persiapan daerah di masing-masing propinsi terpilih.2/2 P (1-P) N Pengumpulan data ini dilakukan dengan merekrut enumerator di kabupaten / kota lokasi penelitian. Enumerator sebelum terjun dilakukan pelatihan selama 1 (satu) oleh tim peneliti tentang tujuan penelitian dan cara pengumpulan data.6. 2) pendidikan minimal D3 kesehatan dengan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan dan Poltekes setempat.

3. Rumah Sakit. Data tentang penyerapan anggararan Jampersal di tingkat Kabupaten dan rumah sakit. Sarana dan prasarana di pelayanan kesehatan yang terkait dengan Jampersal 3. Kebijakan Jampersal di tingkat pusat dan daerah 2. 5. VARIABEL PENELITIAN Variabel penelitian ini meliputi : 1. persalinan. 4. 4. Laporan kegiatan Puskesmas (tahun 2010 & 2011) meliputi: pemeriksaan kehamilan. Data tentang cakupan pelayanan Jampersal di Dinas Kesehatan. pelayanan nifas. pelayanan bayi baru lahir. Pembiayaan Jampersal 5. Pelayanan Jampersal 6. KB pasca persalinan dan penanganan komplikasi pada kehamilan. Data pertolongan persalinan yang terkait dengan rujukan Puskesmas dan Rumah Sakit/RS tahun 2010 & 2011. persalinan di 4.7. nifas dan bayi baru lahir. dan Puskesmas. SDM yang terkait dengan Jampersal. Pemberdayaan Masyarakat 26 .2. pertolongan persalinan.

keputusan presiden. Balai Praktek Swasta. 11. Jampersal Rumah Sakit. memutuskan serta melakukan sesuatu yang dipandang 27 . masyarakat.April 2012 sedang dalam periode nifas ( mlai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan seperti pra hamil sekitar 6-8 mgg atau sekitar 42 mgg Bayi baru lahir Bayi baru lahir dengan usia 0-7 hari disebut neonatal dini dan usia 7-28 hari disebut neonatal lanjut. Kebijakan di tingkat pemerintah pusat yang terdiri dari peraturan menteri. TOMA/TOGA Orang / tokoh yang disegani di masyarakat . 5. bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan. DEFINISI OPERASIONAL Tabel 4. 10. peraturan pemerintah. 3. SK Bupati/Walikota. SDM .April 2012 sedang dalam kondisi hamil Sasaran Ibu bersalin Ibu yang pada periode oktober 2011. 8. 6. 7. maupun undang-undang yang terkait dengan peaksanan jaminan persalinan Kebijakan Tk Daerah Peraturan ditingkat Provinsi.8. Upaya Pelayanan dan Upaya pelayanan Jaminan persalinan yang tercantum dalam juknis Jampersal tahun Rujukan 2011 dan 2012 Pemberdayaan Upaya untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. 9. Program Kab/Kota Kegiatan ditingkat kabupaten /Kota dalam upaya menunjang program Jampersal (Pemenuhan sarana. SK Kepala Dinas Kesehatan dll. tokoh adat.2. Puskesmas. Kemandirian Masyarakat tersebut meliputi kemandirian berpikir. Definisi Operasional No.April 2012 dalam kondisi sedang atau baru bersalin Sasaran Nifas Ibu yang pada periode oktober 2011. 1.4. 4. Pusat Definisi Operasional 2. pembiayaan dan jenis pelayanan) Sasaran Ibu Hamil Ibu yang pada periode oktober 2011. Variabel Kebijakan Tk. Implementasi Program Penerapan Jaminan persalinan di tingkat kabupaten mulai dari Dinas kesehatan. perangkat desa dll. Tokoh masyarakat bisa tokoh Agama. Kemandirian masyarakat merupakan suatu kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ditandai dengan kemampuan memikirkan. keputusan menteri. prasarana. Kabupaten Kota (Perda.

Cleaning dan inputing Data Tahap Penyelesaian 4 bln Pengolahan dan Analisis Data Laporan Akhir Gambar 4. rendah) 1 Kabupaten dan 1 Kota terpilih/provinsi kriteria : Data cakupan linakes Dinkes Kab/Kota 2 kecamatan/kabupaten dan kota Pemilihan Responden di tingkat : masyarakat.9. Tahap pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi terpilih (7) kriteria : cakupan linakes Tahap persiapan +2 bln ( tinggi. Dinkes kab/kota dan provinsi Uji Coba kuesioner Persiapan Daerah di masing-masing lokasi penelitian Tahap pengumpulan & pengukuran + 4 bln Pengumpulan data : Kualitatif : FGD & Indepth interview) Kuantitatif : data primer & sekunder Editing. KERANGKA OPERASIONAL 4.tepat demi mencapai pemecahan masalah yang dihadapi dengan mempergunakan daya/kemampuan yang dimiliki dalam kaitannya dengan pencarian pertolongan pada persalinan /KIA.1.: ibu yg sdh melahirkan Faskes : Puskesmas .3 Kerangka Operasional 28 . sedang. 4.9.RS.

3.menentukan sampel penelitian untuk data kualitatif (FGD & indepth) & kuantitatif . Menyiapkan instrumen penelitian yaitu daftar pertanyaan terstruktur/kuesioner 2.2. menganalisis hasil uji coba (validitas & reabilitas) serta memperbaiki kuesioner jika ada perubahan berdasarkan hasil analisis uji coba kuesioner.9.4 Tahapan pelaksanaan persiapan di lapangan 4. DinKes kabupaten/kota dan Faskes ( Puskesmas & RS) Pengiriman Form untuk kerangka sampel pada ibu yg sudah melahirkan /bulin selama periode 6 bl ke Bidan (Puskesmas) Profile Kesehatan kabupaten/kota Persiapan Daerah : . Tahap Pengumpulan Data Di Lapangan : 1.menentukan lokasi kecamatan di msg2 kabupaten/kota di provinsi terpilih . Mengadakan pertemuan dengan tim Dinas Kesehatan di tingkat Provinsi 29 . Tahap Pelaksanaan Persiapan di lapangan : Pengurusan ijin Etik penelitian (Komisi Etik penelitian) Komunikasi dg Key person yg ada di : DinKes Propinsi.ijin penelitian di masing2 provinsi terpilih . 4.9.mengkondisikan pelaksanaan pengumpulan data di lapangan Gambar 4. Melakukan uji coba kuesioner.4. Menyiapkan panduan wawancara untuk data kualitatif (FGD & indepth interview) 3.

Mengadakan pertemuan dengan tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di masing. PERTIMBANGAN IJIN PENELITIAN Surat izin penelitian diperoleh dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan sedangkan etik penelitian diperoleh dari Komisi Etik penelitian dengan mengeluarkan Ethical Clearence (EC). untuk observasi partisipasi dilakukan dengan empat tahap analisis. analisis komponensial. analisis taksonomi. Sementara itu.5.masing provinsi 6. 30 . Data kuantitatif dianalisis secara secara diskriptif.10. Sedangkan untuk data kualitatif hasil FGD dan wawancara mendalam dilakukan secara content analysis. Mendiskusikan pelaksanaan FGD & indepth interview untuk masing2 kelompok responden di lokasi penelitian 8. PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA Setelah data terkumpul. Menentukan peneliti daerah yang terlibat dalam penelitian untuk masing2 lokasi Penelitian (Dinkes Kabupaten/Kota. Bidan desa) 7. 4. Menentukan responden penelitian yang terpilih di masing-masing lokasi penelitian sesuai dengan kebutuhan dan tujuan penelitian 4.11. dengan menganalisis transkrip hasil diskusi dan mendeskripsikannya dalam bentuk naratif. Bidan Puskesmas. dan analisis tema. yaitu analisis domain. maka dilakukan pengolahan dan analisis data kuantitatif dan kualitatif.

3.12. Gant Chart Jadual Kegiatan Penelitian Bulan No 1 2 Uraian Kegiatan Pembuatan Proposal& Protokol Pembuatan : Kuesioner Panduan FGD&indepth interview Peetunjuk teknis di lapangan Formulir Sampling Frame Permintaan Ethical clearance Uji Coba Kuesioner 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 3 4 5 5 6 9 10 11 12 13 Persiapan daerah Pengumpulan data sekunder Pengmpulan data kuantitatif & kualitatif Analisis data Penyusunan draf t Lap Awal Penyusunan Lap Awal Desiminasi awal Penyusunan Laporan 31 . JADWAL KEGIATAN Tabel 4.4.

32 .

3) akseptabilitas kabupaten terhadap program Jampersal. kecuali kabupaten Natuna (sebagai pembanding) karena tidak memanfaatkan dana Jampersal. 5) ketersediaan dan akses terhadap sarana dan serta sumberdaya manusia terhadap Jampersal. Hal ini dilaksanakan oleh karena dalam implementasi Jampersal dipengaruhi oleh faktor tersebut diatas. dan 9) akseptabilitas Toma. Berdasarkan hasil penelitian tersebut. Dengan kata lain. Salah satunya adalah faktor letak geografi.BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Dari Hasil penelitian di dapatkan data hasil wawancara dan FGD (berupa transkrip).1. Perbedaan tersebut disebabkan banyak faktor. terdapat perbedaan dalam implementasi Jampersal di 14 lokasi tersebut. 6) utilitas pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir yang disediakan oleh jampersal. Toga. Secara tidak langsung faktor geografi 33 . 7) akseptabilitas sasaran dalam Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir terhadap Jampersal. 5. Setelah dilakukan analisis data hasil penelitian kami susun berdasarkan tujuan penelitian dengan dimulai memaparkan karakteristik wilayah penelitian dan reponden sebagai berikut : Laporan penelitian ini akan menjawab tujuan penelitian yang dijelaskan dengan urutan sebagia berikut: 1) karakteristik. Selain itu juga terkumpul data sekunder dari Dinas kesehatan. 2) implementasi kebijakan Jampersal di tingkat pusat dan Daerah. 8) Pemberdayaan dalam meningkatkan Cakupan pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir terhadap Jampersal. lintas sektor. Data kuantitatif dari bidan sebanyak 736 orang dan sasaran sebanyak 1787 orang dari 13 kabupaten/kota yang menjadi lokasi penelitian. LSM dan organisasi lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jampersal. SEKILAS TENTANG LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN Penelitian ini dilakukan di tujuh provinsi yang terdiri dari tujuh kabupaten dan tujuh kota. penelitian ini dilakukan di 14 lokasi. 4) akseptabilitas provider dalam pelayanan jampersal. rumah sakit dan puskesmas.

38). Sementara itu ratio Bidan di lokasi penelitian per 100. Menurut Badan PPSDMK. Daerah yang dikatakan kepulauan adalah daerah yang mempunyai gugusan-gugusan pulau yang menjadi wilayahnya.25). Sulawesi Tenggara (74. Selain itu. Selain data PPSDMK tersebut terdapat juga data dari Direktorat Bina Gizi dan KIA. Perbedaan keadaan geografi tersebut seharusnya menjadi pertimbangan dalam pendistribusian tenaga kesehatan khususnya bidan. kadangkala tingginya ratio bidan dalam suatu daerah belum tentu menjamin kualitas pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan. Jawa Barat (24. yang menyatakan bahwa data cakupan untuk persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (linakes) adalah sebagai berikut: 34 . keadaan geografi akan dibedakan menjadi dua yaitu 1) berdasarkan kabupaten dan kota.25. Dalam hal ini. sedangkan ‘non-kepulauan’ tidak memiliki gugusan-gugusan tersebut.000 adalah sebagai berikut: terdapat empat provinsi yang memiliki ratio bidan di bawah nasional (57.09).94). Penelitian ini dilakukan di tujuh kabupaten dan tujuh kota. Namun.tersebut berpengaruh dalam implementasi Jampersal.14). NTB (45. untuk ratio bidan Indonesia (Nasional) adalah 52. lokasi penelitian ini juga dilakukan di kepulauan dan ‘non-kepulauan’.56) dan Kalimantan Timur (52. Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011.56). yaitu Maluku (74. Kementerian Kesehatan Tahun 2012. Banyaknya gugusan pulau yang dimiliki oleh daerah kepulauan. dan 2) berdasarkan kepulauan dan ‘non-kepulauan’. Hal ini dilakukan untuk menemukan pola perbedaan atau persamaan dalam implementasi antara kabupaten dan kota. yaitu Jawa Timur (33.67) dan Kepulauan Riau (64. dan tiga provinsi yang memiliki ratio bidan di atas rata-rata nasional. menyebabkan daerah ini membutuhkan transportasi air yang lebih banyak daripada daerah non-kepulauan.

yaitu Jawa Timur (95. apakah persalinan ‘gratis’ tersebut dapat menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan ke tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan? Gambar 5.1 Peta Wilayah Indonesia Perbedaan karakteristik wilayah tersebut seharusnya menjadi pertimbangan dalam pendistribusian tenaga kesehatan khususnya bidan.30 %). yaitu Jawa Barat (81.02%). Nusa Tenggara Barat (82. dan - terdapat lima provinsi yang mempunyai cakupan linakes di bawah cakupan linakes nasional. Menurut Badan PPSDMK.44%). Maluku (77. dan Kalimantan Timur (85. Masih banyaknya provinsi di Indonesia yang mempunyai cakupan linakes di bawah rata-rata nasional tersebutlah yang menyebabkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengadakan Jampersal.39%).- terdapat dua provinsi yang mempunyai cakupan linakes di atas rata-rata cakupan linakes nasional (86. Namun.84%).35%). Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011.49%). untuk rasio 35 . Hal ini dilakukan untuk menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan ke tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. Sulawesi Tenggara ( 85.28%) dan Kepulauan Riau (97.

Karakteristik meliputi umur. Dari sasaran Jampersal ada yang memanfaatkan Jampersal dan ada yang tidak memanfaatkan Jampersal.787 orang.1. dibahas juga karakteristik responden ibu hamil.09). Pada penelitian ini dilakukan pengumpulan data pada sasaran Jampersal yaitu ibu hamil. Karakteristik Responden Ibu Hamil. ibu bersalin dan ibu Nifas yang merupakan sasaran Jampersal. diambil dari list kohort ibu masing-masing puskesmas sebanyak 70 responden yang diambil secara acak. Pada bagian ini akan menjelaskan karakteristik kedua sasran tersebut. Sulawesi Tenggara ( 85. Dari 13 kabupaten/ Kota terkumpul sejumlah 1. NTB (45.39%).94).56) dan Kalimantan Timur (52. Responden diambil di wilayah 2 puskesmas terpilih di kabupaten / kota.bidan Indonesia (Nasional) adalah 52.84%) sedangkan Jawa Barat (81. sulawesi Tenggara (74. 5.35%) masih dibawah angka Nasional.38).25). Bersalin. Jawa Barat (24. Sementara itu rasio Bidan di lokasi penelitian per 100. dan Nifas Selain membahas tentang karakteristik wilayah penelitian.30 %.1. Selain data PPSDMK tersebut terdapat juga data dari Direktorat Bina Gizi dan KIA. provinsi lokasi penelitian yang diatas angka Nasional adalah Jawa Timur (95.28%). Kementerian Kesehatan Tahun 2012.25. Kepulauan Riau (97. Maluku (77.14).56).44%) dan Kalimantan Timur (85.49%). ibu bersalin dan ibu nifas periode Oktober 2011 sampai dengan April 2012. yang menyatakan bahwa data cakupan untuk persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (Linakes) adalah sebagai berikut : Cakupan Linakes Indonesia (Nasional) adalah 86. Sedangkan 3 (Tiga) provinsi yaitu Maluku (74. pendidikan dan jumlah anak (paritas).000 adalah sebagai berikut : terdapat 4 (Empat) provinsi lokasi penelitian rasio bidan dibawah nasiona (57.02%). Dari analisis data karakteristik responden sebagai berikut : 36 . Nusa Tenggara Barat (82.67) dan kepulauan Riau (64. yaitu Jawa Timur (33.

Gambar 5. Wakatobi dan Kota Batam. Setiap kehamilan dan persalinan mempunyai risiko meskipun bagi perempuan yang tidak mempunyai masalah kesehatan sebelumnya.kira 40 % ibu hamil mempunyai masalah kesehatan yang berkaitan dengan masalah 37 . kira . Lombok Tengah dan tertinggi di Paser (17%). kepulauan Aru. Kota Bandung.2 Karakteristik Responden berdasarkan umur pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N = 1. Yang menarik prosentase ibu hamil pada usia kurang dari 20 tahun cukup tinggi (>10%) terutama di Kota Blitar. Kota Mataram.787 Dari karakteristik responden sasaran yang terkumpul. Dan prosentase ibu hamil> 35 tahun tinggi (>10%) di Sampang. nampak sekitar 15%-20% responden adalah resiko tinggi yaitu ibu hamil berusia < 20 tahun dan umur >35 tahun.

Kematian ibu paling banyak terjadi pada usia antara 20 sampai 30 tahun. banyaknya kehamilan akan meningkatkan risiko perempuan untuk mendapatkan masalah kesehatan. Bahkan di 38 . 2004). 2005). Karakteristik Responden berdasarkan pendidikan pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Karakteristik pendidikan dari responden > 50% adalah berpendidikan SLTP dan hanya 8. Gambar 5. Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menyatakan bahwa kematian maternal akan meningkat 4 kali lipat pada ibu yang hamil pada usia 35 – 39 tahun bila dibanding wanita yang hamil pada usia 20 – 24 tahun. usia paling produktif untuk hamil dan melahirkan sehingga berisiko menderita penyakit baik akibat langsung dari kehamilan maupun tidak langsung. (Rukmini dkk.3. Usia kehamilan yang paling aman untuk melahirkan adalah usia 20 – 30 tahun (Kemenkes RI. Resiko tersebut akan semakin meningkat pada usia di luar usia reproduksi (< 20 tahun atau >35 tahun).10% saja yang berpendidikan Perguruan Tinggi.kehamilan dan 15 % ibu hamil menderita komplikasi jangka panjang. Oleh karena itu pada usia reproduksi.

9%) dan > 35 tahun (25.70% masyarakat yang mempunyai resiko tinggi berdasarkan usia. Pada pengguna Jampersal risiko tinggi berdasarkan umur. menengah. Hal ini seperti yang ditunjukan pada gambar berikut ini: 39 .Sampang hampir seluruh responden berpendidikan SLTP. atau pun atas. yaitu di bawah umur 20 tahun dan di atas 35 tahun. Kondisi ini menggambarkan bahwa sasaran Jaminan Persalinan sebagian besar adalah pendidikan rendah. Namun. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa dari 1787 responden sasaran ibu hamil. baik dari kelas bawah. ada 17. Hal ini menunjukan Jampersal banyak diminati oleh masyarakat. ibu bersalin dan ibu nifas yang menggunakan Jampersal sebanyak 1254 responden (70. Target Nasional untuk cakupan resiko tinggi oleh tenaga kesehatan adalah 20%. Karakteristik Pengguna Jampersal Jampersal disediakan untuk seluruh masyarakat Indonesia. mencapai 17. Dari kajian lanjut data Sensus Penduduk (SP) 2010 didapatkan bahwa usia resiko tinggi pada ibu hamil penyumbang kematian maternal cukup tinggi yaitu pada usia ibu < 20 tahun (6.2. Masyarakat yang banyak menggunakan Jampersal rata-rata berusia sekitar 20-35 tahun.1. 5. disusul di Lombok tengah dan Bogor responden berpendidikan SLTP > 70%.2%).6%). tidak semua masyarakat Indonesia berminat untuk mendapatkan persalinan gratis tersebut. Namun.70 adalah cukup tinggi.

Gambar 5. Berdasarkan pendidikan. Kondisi ini menggambarkan bahwa sasaran Jaminan Persalinan sebagian besar adalah pendidikan rendah. Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Umur pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N= 1. bahkan di Sampang hampir seluruh responden berpendidikan SLTP.4. 40 . Sementara itu. disusul di Lombok tengah dan Bogor responden berpendidikan SLTP > 70%. yang berpendidikan sampai perguruan tinggi hanya 8.254 Selain berdasarkan umur.10% saja. lebih dari 50% pengguna Jampersal berpendidikan SLTP. pengguna Jampersal juga dapat dilihat berdasarkan pendidikan.

8% pada usia 10 – 14 tahun. pengguna Jampersal juga dapat dilihat berdasarkan jumlah anak yang dimiliki. Namun.10% pengguna Jampersal yang mempunyai anak di atas empat orang. Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Pendidikan pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N= 1. seperti diketahui semakin banyak jumlah anak maka resiko dalam kehamilan juga semakin besar. Salah satu yang dilakukan pemerintah adalah dengan mendorong program wajib belajar 15 tahun dengan harapan akan menunda pernikahan dini karena harus mengikuti pendidikan formal terlebih dahulu (Riskesdas. 2010).5%. Selain faktor umur dan pendidikan.5. 41. ratarata pengguna Jampersal mempunyai anak kurang dari empat orang. masih 12. Berdasarkan hasil penelitian. Hal ini perlu menjadi pertimbangan mengapa sasaran Jampersal tidak ada pembatasan jumlah anak . Informasi dari data SP 2010 didapatkan kematian maternal yang mempunyai anak >4 adalah 10.Gambar 5.9% pada usia 15 -19 tahun). 41 .254 Berdasarkan Riskesdas 2010 permasalahan kesehatan pada perempuan berawal dari masih tingginya usia perkawinan pertama di bawah 20 tahun (4.

Pertanyaan ini akan dijawab dalam tujuan penelitian tentang akseptabilitas sasaran terhadap Jampersal. Hal ini tentu menjadi tanda tanya mengapa mereka tidak mau menggunakan Jampersal.Gambar 5. Dengan kata lain. Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Jumlah Anak pada sasaran RisetEvaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 (N=1254) Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa dari 1787 responden sasaran ibu hamil. ibu bersalin dan ibu nifas yang menggunakan Jampersal sebanyak 1254 responden. padahal pelayanan tersebut merupakan pelayanan gratis yang diberikan oleh pemerintah.6. 42 . masih ada sekitar 533 responden yang tidak menggunakan Jampersal.

Diharapkan dengan juknis yang sudah disempurnakan dari sebelumnya program jampersal dapat berjalan lebih baik dari tahun sebelumnya. Petunjuk teknis tersebut mulai berlaku per 1 Januari 2012.5. Kebijakan Jaminan Persalinan di Pusat Untuk mempercepat pencapaian MDG’s Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2011 melaksanakan program Jaminan Persalinan. Petunjuk teknis untuk pelaksanaan Jampersal tahun 2012 dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan anak dan mempercepat pencapaian MDG’setelah ditetapkan kebijakan bahwa setiap ibu yang melahirkan. Dalam pelaksanaannya Jampersal pada tahun 2011 banyak ditemukan kendala. 5. nifas. Dalam menindaklanjuti pelaksanaan program Jampersal diterbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/ Menkes / Per /III/2011.2 KEBIJAKAN JAMINAN PERSALINAN DI TINGKAT PUSAT DAN DAERAH Kebijakan Jaminan Persalinan di tingkat Pusat adalah kebijakan Jampersal berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Hal ini menimbulkan beberapa masalah di daerah karena tahun anggaran saat itu sudah berlangsung.1.2. Sedangkan kebijakan Jaminan Persalinan di Daerah adalah implementasi Jampersal di 14 kab/ Kota lokasi penelitian. Adapun tujuan khususnya adalah 43 . walaupun dicanangkan awal 2011 tapi pada kenyataannya baru dapat dilaksanakan April 2011. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. Tahun 2012 diterbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Tujuan dari Program Jampersal adalah Meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan. persalinan. biaya persalinannya ditanggung oleh Pemerintah melalui Program Jaminan Persalinan.

Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah Ibu hamil. b. 5.1. dan bayi baru lahir. Pertolongan persalinan normal. Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan. 7. Paket Pelayanan a. Pemeriksaan kehamilan (ANC) dengan risiko tinggi (risti) 44 . Pelayanan KB paska persalinan serta komplikasinya. ibu nifas dan bayi baru lahir. pertolongan persalinan. ibu bersalin. nifas. Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien. bersalin. Jenis pelayanan Jaminan persalinan di tingkat pertama meliputi: 1. Pelayanan Nifas (PNC) bagi ibu dan bayi baru lahir sesuai standar pelayanan KIA dengan frekuensi 4 kali.1. b. Pelayanan ANC sesuai standar pelayanan KIA dengan frekuensi 4 kali. Deteksi dini faktor risiko. komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir 3. dan akuntabel.1.2. Pertolongan persalinan dengan komplikasi dan atau penyulit pervaginam yang merupakan kompetensi Puskesmas PONED. efektif. 4.2. c) Penanganan komplikasi ibu hamil. Pelayanan rujukan terencana sesuai indikasi medis untuk ibu dan janin/ bayinya. Meningkatnya cakupan pelayanan: a) bayi baru lahir. Jenis pelayanan Persalinan di tingkat lanjutan meliputi: 1. Sasaran Kelompok sasaran adalah yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi.2. transparan. KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten. 2.a. 5. b) Keluarga Berencana pasca persalinan. c. 5. 6. dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kompeten.

2. pelayanan nifas.2. persalinan.4. Penerima manfaat Jaminan Persalinan mencakup seluruh sasaran yang belum memiliki jaminan kesehatan untuk persalinan. termasuk pelayanan bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. Penatalaksanaan KB paska salin dengan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) atau kontrasepsi mantap (Kontap) sertapenanganan komplikasi. Pemeriksaan paska persalinan (PNC) dengan risiko tinggi (risti).2. Kepesertaan Jaminan Persalinan adalah perluasan kepesertaan dari Jamkesmas dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja. 5.1. b. 4. 5. 1. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. nifas. Fotokopi kartu identitas diri sasaran yang masih berlaku (KTP atau identitas lainnya). Apabila peserta Jamkesmas atau penerima manfaat Jaminan Persalinan non Jamkesmas tidak memiliki buku KIA pada daerah tertentu. Persyaratan Klaim Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Pertanggungjawaban klaim pelayanan Jaminan Persalinan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama ke Tim Pengelola Kabupaten/Kota dilengkapi: a.3. 5. Untuk 45 . Penanganan komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir dalam kaitan akibat persalinan. dan bagi peserta jamkesmas dilengkapi dengan fotokopi kartu Jamkesmas. Pertolongan persalinan dengan risti dan penyulit yang tidak mampu dilakukan di pelayanan tingkat pertama.1. dapat digunakan kartu ibu atau keterangan pelayanan lainnya pengganti buku KIA yang ditandatangani ibu hamil/bersalin dan petugas yang menangani. Manfaat yang diterima oleh penerima manfaat Jaminan Persalinan terbatas padapelayanan kehamilan. 3. Fotokopi lembar pelayanan pada Buku KIA sesuai pelayanan yang diberikan untuk Pemeriksaan kehamilan.

5. c. 2. Klinik Bersalin. Tim Pengelola Kabupaten/Kota melakukan koordinasi kepada penanggung jawab program KIA daerah maupun pusat (Ditjen Gizi dan KIA).1. Partograf yang ditandatangani oleh tenaga kesehatan penolong persalinan untuk Pertolongan persalinan. termasuk keterangan tindakan pra rujukan yang telah dilakukan di tandatangani oleh sasaran/keluarga. Sedangkan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjutan baik pemerintah maupun swasta harus mempunyai Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selaku Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kabupaten/Kota yang 46 .pemenuhan buku KIA di daerah. Pemberi Layanan Fasilitas kesehatan tingkat pertama swasta seperti Bidan Praktik Mandiri. dan bagi peserta jamkesmas dilengkapi dengan fotokopi kartu Jamkesmas. Dokter praktik yang berkeinginan ikut serta dalam program ini harus mempunyai perjanjian kerja sama (PKS) dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selaku Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK atas nama Pemerintah Daerah setempat yang mengeluarkan ijin praktiknya. Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan Pertanggungjawaban klaim pelayanan Jaminan Persalinan di fasilitas kesehatan lanjutan dilengkapi : a) Fotokopi kartu identitas diri sasaran yang masih berlaku (KTP atau identitas lainnya). b) Fotokopi/tembusan surat rujukan dari Puskesmas. d.2. Fotokopi/tembusan surat rujukan. Fasilitas Kesehatan Swasta/Bidan Praktik Mandiri di tandatangani oleh sasaran atau keluarga sasaran. c) Bukti pelayanan untuk Rawat Jalan dan resume medis untuk rawat inap 5. Pada kondisi tidak ada partograf dapat digunakan keterangan lain yang menjelaskan tentang pelayanan persalinan yang diberikan.

1 kali 650.000 Pada saat menolong persalinan ternyata ada komplikasi.000 500. Pendanaan Jamkesmas dan Jampersal di pelayanan dasar dan pelayanan rujukan merupakan belanja bantuan sosial (bansos) bersumber APBN yang dimaksudkan untuk mendorong pencapaian program. percepatan pencapaian MDG’s 2015 serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan termasuk persalinan oleh tenagakesehatan di fasilitas kesehatan. Tarif pelayanan Jaminan Persalinan Tahun 2012 No 1. Contoh format perjanjian kerjasama sebagaimana Formulir 1 terlampir. 5.1. persalinan per vaginam termasuk pelayanan nifas dan pelayanan bayi baru lahir dengan tindakan emergensi dasar.6.000 650.000 Dilakukan di Puskesmas PONED Sedangkan tarif untuk pelayaan Jampersal di Rumah sakit menggunakan tarif standart INA-CBG’s.000 Jumlah 80. 3.000 20. 47 . bersalin. Jenis pelayanan Pemeriksaan kehamilan Persalinan normal Pelayanan nifas termasuk pelayanan bayi baru lahir dan KB pasca persalinan Pelayanan tindakan pra rujukan untuk ibu hamil. Besaran Tarif pelayanan Tabel 5.000 80.1. Frekuensi 4 kali 1 kali 4 kali Tarif 20. 2.2.000 100.000 500. nifas dan bayi baru lahir dengan komplikasi.1.2. Pelayanan pasca keguguran. 1 kali 100.000 Keterangan Standar 4x Standar 4x 4.diketahui oleh Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Provinsi. wajib segera dirujuk 5.7. 5. Pendanaan 1.

terintegrasi (menjadi satu kesatuan) dengan dana Jamkesmas. 6. 48 . Pembayaran pelayanan persalinan dan KB bagi peserta Jamkesmas maupun penerima manfaat Jaminan Persalinan di pelayanan dasar dan di pelayanan rujukan oleh fasilitas kesehatan dilakukan dengan mekanisme “Klaim”. Jasa pelayanan KB di pelayanan dasar di klaimkan pada Tim Pengelola Jamkesmas & BOK di Dinas Kesehatan sesuai besaran yang ditetapkan. bukan bagian dari dana transfer daerah ke Pemerintah Kabupaten/Kota sehingga penggunaan dana tersebut tidak melalui Kas Daerah (Perdirjen Perbendaharaan Nomor: PER. pendapatan tersebut merupakan pendapatan lain-lain PAD yang sah. sedangkan bagi fasilitas kesehatan daerah yang sudah menerapkan PPK-BLUD.2. Setelah hasil verifikasi klaim dibayarkan sebagai penggantian pelayanan kesehatan. maka status dana tersebut berubah menjadi dana peserta Jamkesmas dan masyarakat penerima manfaat Jaminan Persalinan. Dana Jamkesmas dan Jampersal yang disalurkan sebagaimana pada poin 1 s/d 4 di atas. 3. 7. Dana Jampersal di pelayanan kesehatan dasar disalurkan ke rekening Dinas kesehatan kabupaten/kota. maka status dana menjadi pendapatan fasilitas kesehatan untuk daerah yang belum menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan BLUD (PPK-BLUD). Dana belanja bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada angka 1(satu) adalah dana yang diperuntukkan untuk pelayanankesehatan dan rujukan pelayanan dasar peserta Jamkesmas. 5.21/PB/2011). 4. pelayanan persalinan serta rujukan risti persalinan peserta Jamkesmas dan masyarakat sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan sebagai penerima manfaat jaminan. Setelah dana tersebut disalurkan Kementerian Kesehatan ke rekening Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab program (melalui SP2D) dan rekening Rumah Sakit. selanjutnya pemanfaatannya mengikuti ketentuan Peraturan perundang undangan.

sedangkan jasa pelayanan KB di pelayanan lanjutan mengikuti pola pembayaran INA-CBG’s. Proses klaim bagi fasilitas kesehatan tingkat pertama: Pemberi layanan Tk pertama mengajukan klaim setelah memberikan pelayanan kepada Dinas Kesehatan/Tim Pengelola Kabupaten/Kota dengan melengkapi bukti pelayanan yang sah dan harus di tanda tangani oleh peserta (ibu hamil. Sisa dana pada rekening Tim Pengelola Jamkesmas Kabupaten/Kota yang tidak digunakan dan/atau tidak tersalurkan sampai dengan akhir tahun anggaran harus disetorkan ke Kas Negara dan menggunakan Surat Setoran Bukan Pajak (SSBP). Tim verifikasi pemberi layanan Tk I melakukan verifikasi dan memberikan persetujuan membayar kepada masing-masing fasilitas kesehatan. Pemanfaatan dana jaminan persalinan pada pelayanan lanjutan mengikuti mekanisme pengelolaan pendapatan fungsional fasilitas kesehatan dan berlaku sesuai status rumah sakit tersebut (BLU/BLU(D) atau PNBP) 5. Proses Pengajuan Klaim 1.2. maka kekurangan atas pelayanan yang belum diklaimkan/ terbayarkan tersebut akan diperhitungkan dan dibayarkan pada tahun berikutnya sepanjang ditunjang dengan buktibukti yangsah. 49 . 10. Transport rujukan risti. 11. nifas).8. bersalin.1. 8. komplikasi kebidanan dan komplikasi neonatal pasca persalinan bagi penerima manfaat Jaminan Persalinan di pelayanan kesehatan dasar dibiayai dengan dana dalam program ini. Standar biaya transportasi yang berlaku di daerah. Apabila terjadi kekurangan dana pelayanan persalinan atau pelayanan persalinan yang sudah diberikan akan tetapi belum diklaimkan/belum terbayarkan pada akhir tahun anggaran. 9. mengacu pada Standar Biaya Umum (SBU) APBN.

2. Proses klaim Jaminan persalinan bagi fasilitas kesehatan tingkat lanjutan: Fasilitas kesehatan tingkat rujukan melakukan pengajuan klaim program jaminan persalinan melalui mekanisme klaim Jamkesmas, yaitu dengan INA CBGs

5.2.2. Kebijakan Jaminan persalinan di Kabupaten/Kota di lokasi penelitian Kebijakan Jampersal di kabupaten/kota adalah kebijakan Jampersal yang diimplementasikan daerah yang disesuaikan dengan kondisi dan kebijakan lokal yang ada di daerah tersebut. Berdasarkan penelitian ini terdapat variasi kebijakan lokal dalam mengimplementasikan Jampersal. Hal ini sangat

tergantung pada penentu kebijakan di daerah seperti bupati dan kepala dinas kesehatan.

5.2.2.1.

Kabupaten Sampang

Dukungan Pemda Sampang terhadap program Jampersal berupa penetapan Peraturan Daerah No. 5 tahun 2011, tentang jasa Pelayanan dan kebijakan Dinas Kesehatan.
“..pada Perda no 5 tahun 2011, ada Pasal karet yang menyatakan berlaku fleksibel sesuai dengan program pemerintah, Jasa pelayanan persalinan japelnya 75% dari seberapapun besar paket pelayanan persalinan yang berlaku termasuk jampersal, tanpa merubah Perda cukup mengganti Peraturan Bupati saja. Perda ini sudah memprediksi untuk hal2 terkait seperti Jampersal sehingga terjadinya perubahan tarif tidak mempersulit karena cukup merubah Peraturan Bupati saja..” (kadinkes, Kab. Sampang).

Pelaksanaan Jampersal di kabupaten Sampang mengacu pada juknis 2012, namun terdapat kebijakan lokal terhadap tempat pertolongan persalinan. Sebagaimana juknis Jampersal 2012, tujuan dari Jampersal adalah meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. Namun pelaksanaannya di Sampang, pertolongan persalinan pada Jampersal dilakukan oleh tenaga kesehatan, tanpa memandang tempat pertolongan persalinan.
50

Pertolongan persalinan dapat dilakukan tidak hanya di fasilitas kesehatan, tapi juga di rumah penduduk. Jadi, bidan dapat mengklaim pertolongan persalinan yang dilaksanakan di rumah pasien. Menurut informan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang.
“..implementasi Jampersal di Kabupaten Sampang mengacu pada juknis jampersal tahun 2012. Jampersal di Sampang 100% adalah pertolongan persalinan di tenaga kesehatan tanpa melihat dimana tempat persalinan dapat di fasilitas kesehatan maupun bukan di fasilitas kesehatan (di rumah penduduk dll). Kabupaten Sampang menjual nakes tidak faskes..” (Dinkes, Kab. Sampang).

Untuk cakupan pelayanan, diharapkan semua ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir mendapatkan pelayanan oleh tenaga kesehatan dengan syarat tidak memiliki kartu Jamkesmas dan Jamkesda atau tidak mempunyai jaminan lain. Sedangkan pelayanan rujukan di RS untuk Jampersal semua persalinan diarahkan ke Jampersal asal masyarakat mau di kelas III. Pertolongan persalinan pada Jampersal dilakukan oleh tenaga kesehatan, tanpa memandang tempat pertolongan persalinan di fasilitas kesehatan atau di bukan fasilitas kesehatan. Pemberi layanan di puskesmas dan jaringan adalah bidan puskesmas dan bidan desa, sedangkan PKS hanya untuk bidan swasta (BPS), bidan puskesmas yang tidak mempunyai wilayah dapat PKS, sedangkan Bidan Desa karena mempunyai wilayah kerja tidak boleh melakukan PKS. Kebijakan Jampersal, Dinkes dihadapkan dua persoalan yaitu cakupan pelayanan untuk kepentingan program KIA dengan kebijakan pembiayaan. Namun disisi lain, tidak semua pelayanan oleh tenaga kesehatan dapat diklaimkan. Diharapkan, sasaran yang memiliki asuransi ataupun yang mampu dapat membayar sendiri pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan. Artinya, bahwa pencapaian cakupan pelayanan KIA di Puskesmas, belum tentu sama dengan jumlah pelayanan yang dilklaimkan. Alur Klaim Jampersal adalah klaim dari bidan diverifikasi oleh Dinas kesehatan Prosedur sesuai keuangan daerah. Dana Jampersal yang ditransfer ke Dinas Kesehatan merupakan dana masyarakat, setelah pelayanan di klaim oleh
51

pelayanan,

merupakan

dana

fasilitas

puskesmas

atau

RS

(fasilitas

pemerintah)kemudian fasilitas pemerintah menyetor ke daerah, 100% disetor ke daerah, setelah itu dana dikembalikan ke pelayanan yang terbagi dua yaitu jasa pelayanan dan jasa sarana. Pengembalian klaim untuk jasa bidan desa pada jampersal adalah 75%, sedangkan BPM klaim pelayanan sebesar 100%.

5.2.2.2.

Kota Blitar

Dalam pelaksanaan kebijakan Jampersal di kota Blitar sangat bermanfaat bagi masyarakat dan legislatif juga mendukung program tersebut, hal ini ditunjukkan dengan adanya Perwali di Kota Blitar ini. Selain Peraturan Walikota, juga terdapat Surat keputusan walikota untuk pengobatan gratis, meskipun demikian kebijakan Jampersal tetap mengacu pada kebijakan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan, sehingga dalam pelaksanaannya pun sesuai dengan petunjuk teknis. Meskipun demikian ada masyarakat mampu dan seharusnya tidak menggunakan Jampersal, tetapi dalam pelaksanaannya masih memanfaatkan Jampersal untuk melakukan persalinan. Paket pelayanan Jampersal adalah: ANC, Persalinan dan PNC dan Keluarga berencana sesuai dengan juknis. Untuk pelaksanan layanan Jampersal melibatkan bidan, Bidan praktek swasta (BPS), klinik bersalin, dokter swasta. Kepesertaan dan persyaratan pengguna Jaminan persalinan adalah masyarakat/ ibu hamil dengan melengkapi persyaratan saja seperti KTP dan KK, partograf ANC serta inform concern Alur pelaksanaan klaim sebagai berikut : Persalinan jampersal melengkapi syarat menggunakan Jaminan persalinan di bidan atau provider, bidan melengkapi persyaratan klaim kemudian ke Kepala Puskesmas, diperiksa verifikator setelah disetujui tunggu dana turun ke Dinas Kesehatan, dana turun ke puskesmas, di Setor ke bendahara Kota, disetor ke Pemerintah daerah dan akhirnya dicairkan dalam bentuk jasa pelayanan sesuai dengan juknis pusat, meskipun sampai saat ini dana masih belum bisa keluar, hal ini karena juknis Jampersal baru keluar sekitar bulan Juni, padahal dana APBD sudah direncanakan
52

awal tahun, sehingga jampersal tidak ada dalam mata anggaran (MAK) jampersal dalam APBD. Hal tersebut menyebabkan dana sampai saat ini belum diterima, padahal bidan sudah melaksanakan tuganya melakukan persalinan jampersal. Pencairan klaim untik BPS dimana anggaran tidak harus masuk ke APBD, maka dana BPS bisa segera diterima oleh bidan. Besaran jasa pelayanan ketentuannya sesuai dengan juknis pusat, yaitu 350 rb per persalinan normal (Tahun 2011) dan tahun ini naik menjadi 500 rb per persalinan normal.

5.2.2.3.

Kota Mataram

Di Kota Mataram kebijakan Jampersal dengan mengacu pada Petunjuk Teknis Jampersal tahun 2012 . Pelaksanaannya di tindaklanjuti dengan terbitnya Surat kesepakatan pembagian jasa pelayanan jampersal tertanggal 10 Mei 2012 yang di fasilitasi oleh Kepala Dinas kesehatan Mataram yang merupakan kesepakatan di internal Dinas Kesehatan Kota Mataram terutama kesepakatan dalam pembagian besaran jasa pelayanan. Kesepakatan ini dibuat atas usulan dari bawah yaitu Bidan dengan

melibatkan seluruh bidan koordinator di puskesmas, bidan desa, IBI, Kepala puskesmas, Dinas kesehatan dan di fasilitasi Kepala Dinas walaupun belum terbit SK Walikota katika penelitian berlangsung (bulan Juni 2012) sudah berani untuk dilaksanakan. Kabar terakhir Surat Keputusan Walikota sudah terbit. Di Kota Mataram juga berlaku kebijakan open call, dimana masyarakat bisa dengan mudah mendapat nomor handphone tenaga kesehatan. Di setiap puskesmas ada nomer tenaga kesehatan yang bisa dihubungi setiap saat. Dari situ masyarakat bisa menghubungi tenaga kesehatan atau puskesmas. Kebijakan Jampersal sangat membantu dalam meningkatan persalinan ke tenaga kesehatan, karena masyarakat mempunyai kendala pada biaya persalinan. Sebagai contoh di puskesmas karang pule persalinan oleh dukun menurun yang semula sebelum adanya jampersal 6% sekarang menjadi 2% persalinan oleh dukun bayi.
53

Kepesertaan tetap mengacu pada juknis Jampersal th 2012 , orang yang tidak mampu tetapi tidak punya kartu Jamkesmas. Sasaran jampersal sudah terpenuhi untuk persyaratan klaim hanya pakai kartu identitas domisili. Kepesertaan sasaran bisa diakomodir, cukup pakai KTP suami, atau kartu pengenal lainnya atau kartu domisili dari kepala lingkungan atau Kartu Keluarga/Kartu pelajar/ kartu mahasiswa. Tidak dibedakan antar pelayanan persalinan dari bidan desa maupun BPS, hanya di pelayanan ANC, K1-K4 untuk BPS tidak mengharuskan memakai jasa ANC dengan Jampersal. Di Kota Mataram pencairan klaim tidak ada potongan sesenpun (100%). Alur pencairan setelah dari Kas Daerah ke Dinkes Kota Mataram kemudian ke puskesmas sesuai klaim. Di Kota Mataram besaran tarif Persalinan berdasrkan Perda lebih kecil dari tarif Jampersal.

5.2.2.4.

Kabupaten Lombok Tengah Di Kabupaten Lombok Tengah Peraturan Bupati berupa kebijakan untuk

penurunan angka kematian ibu dan bayi yaitu “AKI No” yang berlaku sejak 2009, sebelumnya sejak tahun 2003 Provinsi NTB pembiayaan persalinan berlaku gratis dan sejak tahun 2011 Jampersal di berlakukan di NTB.
“..namun demikian penurunan AKI mengalami fluktuatif, banyak faktor yang mempengaruhi antara lain sumberdaya manusia, biaya dan faktor lainnya. Sejak tahun 2003 persalinan gratis berlangsung, justru nampak besar dampaknya pada turunnya angka kematian bayi yaitu tahun 2004 adalah 500/1000 KH dan tahun 2011 menjadi 141/ 1000 KH..” ( Kadinkes Lombok Tengah).

Dalam pelaksanaan Jampersal Lombok Tengah mengacu pada juknis Pusat, selain itu juga membuat Juknis penunjang yang menyangkut jasa yaitu rincian tarif. Sedangkan dukun juga mendapat bagian dalam jampersal dengan dibuatkan SK dukun untuk mengeluarkannya pembiayaan tersebut. BPS belum dilibatkan dalam pelayanan Jampersal, sehingga belum terjalin PKS antara Bidan Praktek Swasta (BPS) dengan Dinas kesehatan. Sementara ini Dinkes masih tersita dengan penyelesaian masalah keuangan terkait Jampersal yang cukup rumit. Selain itu ada ketakutan terjadi double claim jika BPS dilibatkan dalam

54

Sedangkan untuk bidan Puskesmas bisa melakukan PKS ketika melakukan praktek di luar jam kerja di puskesmas. Bahwa saya bersedia menggunakan kontasepsi pasca persalinan. Implementasi Program Jampersal di tingkat puskesmas adalah dengan penandatanganan informed consent yang dibuat oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung oleh peserta Jampersal yang di dalamnya menyatakan: 1.2. Kota Bandung Kebijakan Jampersal dalam rangka mencapai target MDGs untuk turunkan AKI dan AKB. Jampersal memudahkan akses dari segi pembiayaan. 55 . saya benar-benar belum memiliki jaminan persalinan dari badan asuransi pemerintah. paling tidak di tiap kelurahan sudah ada 1 BPS. Untuk pemberi pelayanan kesehatan dilakukan PKS antara bidan praktek swasta dengan Dinas kesehatan.5.2. dengan mengikuti petunjuk teknis yang berlaku. Bahwa saya akan bersedia menerima pelayanan jaminan persalinan yang mengacu pada standar pelayanan kesehatan ibu dan anak sesuai program Jampersal. jika tidak mempunyai persyaratan tersebut bisa menggunakan surat keterangan domisili. 5. Bahwa untuk kehamilan dan persalinan ini. swasta. dan masyarakat atau jaminan pemeliharaan kesehatan lainnya. 4.Jampersal. Persyaratan pasien memanfaatkan Jampersal adalah mempunyai KTP dan KK. Bidan Praktek Swasta / mandiri sudah banyak yang lakukan PKS. Bahwa saya bersedia mendapatkan pelayanan pada fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjutan (Rumah Sakit) di kelas III yang memiliki perjanjian kerja sama (PKS) dengan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kota Bandung. sedangkan transport bidan diambilkan dari dana BOK. 3. Untuk Jasa bidan memanfaatkan pembiayaan Jampersal. Di Kota Bandung Kebijakan Jampersal untuk Pelayanan harus dilakukan oleh tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. 2.

Ada dukungan BKKBN berupa alat kontrasepsi. Paket pelayanan Jampersal memberikan pelayanan berupa pemeriksaan kehamilan sebanyak empat kali.2.5. Sedangkan di puskesmas dana Jampersal belum cair. Bogor. dan bahan habis pakai. IBI sangat mendukung kegiatan sosialisasi Jampersal. maka pemerintah Kota Bandung melakukan pembagian zona rujukan.6. Sehingga di Puskesmes belum ada pengembalian dana klaim. karena dilakukan sesuai dengan domisili pasien.2. Pemerintah menyediakan obat dan bahan medis habis pakai bagi setiap puskesmas. pemeriksaan nifas dan bayi baru lahir sebanyak empat kali dan pelayanan KB. jadi uang yang diterima oleh puskesmas dikembalikan lagi ke kas daerah. yang sudah diberikan adalah obat. 6. Dalam alur tersebut dijelaskan secara rinci tentang berapa puskesmas mengklaim ke Dinas kesehatan per wilayah. Dinas Kesehatan membuat protap yang merupakan alur pembayaran klaim jampersal. Kabupaten Bogor Dalam pelaksanaan Jampersal. Dengan adanya protap adalah 56 . dan jumlah yang harus dibayar. Klaim untuk BPS setiap bulan cair dan tepat waktu. Bahwa saya bersedia mematuhi amanat persalinan yang diberikan oleh pemberi layanan Pemerintah Kota Bandung tidak membuat suatu aturan khusus terkait keuangan Jampersal. Supaya tidak terjadi penumpukan pasien di rumah sakit tertentu. jumlah yang di verifikasi. jumlah yang diperbaiki. Bahwa saya tidak akan menyalahgunakan jaminan persalinan ini dengan tindakan yang memungkinkan duplikasi pembiayaannya. Form tersebut dibuat untuk menghindari permasalahan yan disebabkan berkas menumpuk. pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. sesuai dengan mekanisme keuangan daerah yang berlaku. Jadi akan mempermudah masyarakat dalam melakukan rujukan pasien Jampersal. kabupaten Bogor mengacu kepada petunjuk Teknis yang ada. karena dana masih di kas daerah sejak tahun 2011. 5. belum diterbitkan Perda atau SK di kab.

Dinas bekerjasama dengan RS perbatasan. jenjang pendidikannya masih DI dan untuk sekolah lagi mereka merasa keberatan masalah dana untuk sekolah. Untuk jasa medis. Ada kebijakan khusus dari Kadinkes untuk bidan puskesmas diluar jam dinas bisa melakukan PKS.Dalam mengurus Surat Ijin praktek. catatan pelayanan ANC. Pengaduan masalah kesehatan dapat online.2. namun diantara 18 RS tersebut. Dinas kesehatan Kota Ambon mengeluarkan kebijakan terkait pengeluarkan Surat Ijin Praktek Bidan untuk mengatasi kekurangan tenaga bidan BPS yang PKS. bersalin dan nifas yang memiliki KTP atau kartu domisili. Dukungan pembiayaan Daerah adalah Jamkesda.7. kendala yang ada adalah prasyarat jenjang pendidikan yang harus D-III. Dinas mempunyai 18 RS (termasuk RS perbatasan). dan email. Kepesertaan adalah ibu hamil. atau lewat Koran. Pelaksanaan mengikuti juknis. ada kebijakan dan aturan bahwa harus dipotong untuk PAD sebesar 15 % dan biaya administrasi 10 %. partograf dan catatan nifas. padahal rata-rata bidan di Kota Ambon. 57 . seperti Tangerang. 5. via SMS.untuk mempercepat realisasi pembayaran klaim Jampersal. Bupati bahkan anggota dewan juga memfasilitasi. Paket pelayanan sudah sesuai dengan juknis. kota Bogor. Permasalahan kepesertaan di kota Ambon adalah penduduk banyak yang tidak mempunyai KTP atau identitas lain. Persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis.2. Kota Ambon Dalam pelaksaaan kebijakan Jampersal Kota Ambon. dalam map bukti fisik ada rekapan tersebut dan verifikator mencocokan antara rekapan dan bukti fisik yang tersedia. dll. Syarat klaim adalah fotokopi KTP. tetapi bidan PKS yang ada hanya 1. didukung dengan SK Walikota dan SK Kepala Dinas. Protap tersebut. SMS langsung ke Kepala Dina. disosialisasikan kepada puskesmas dan juga bidan dan BPS. masih ada RS yang tidak ada MOU dengan Jamkesmas sehingga memakai Jamkesda. Untuk tahun ini Pemda menganggarkan 76 milyar untuk Jamkesda. hal ini terjadi karena adanya kendala dalam mengurus Surat Ijin Praktek.

momen tersebut juga digunakan untuk melakukan pelayanan di masyarakat.2. Hal ini menyebabkan dana menjadi tersedat dan belum cair.Pemerintah Daerah tidak mempersulit dalam prosentase besaran klaim Jampersal yaitu 20% Kasda dan 80% jasa pelayanan. Pelaksanaan Jampersal sejak 2011. Padahal sebelumnya dana setelah klaim apling lambat 2 mgg sudah bisa cair. Selama Jampersal 2011 sampai awal 2012 klaim bidan puskesmas cukup lancar. Di Kepulauan Aru karena keterbatasan jumlah bidan. bahkan setelah ada dana tambahan dari pusat (dana BOK). tapi karena kondisi di Kab. dan dalam proses klaim dengan mengatasnamakan bidan. Di sini jarang sekali orang datang untuk periksa kesehatan dalam hal ini kehamilan di fasilitas kesehatan kalau bukan di daerah perkotaan. 5. Kabupaten Kepulauan Aru Jampersal di Kab. Kepulauan Aru dalam pelaksanaannya lancar dan tidak ada masalah karena semuanya menerima kebijakan ini. justru dana operasional dari pemerintah daerah dikurangi. Dana setelah diklaim untuk bidan puskesmas 20% masuk kasda sedangkan 80% lagsung ke puskesmas (bidan) tanpa masuk ke Kasda terlebih dahulu. Tapi kemudian hal ini menjadi temuan sehingga mulai saat ini dana setelah klaim masuk kasda dahulu. Seharusnya Jampersal adalah pelayanan diberikan oleh petugas kesehatan di fasilitas kesehatan. Hal ini dilakukan melalui kesepakatan. Untuk kunjungan ke dusun petugas menggunakan dana operasional puskesmas atau jika kegiatan puskesmas keliling. Semuanya mengacu pada petunjuk teknis dari Kementerian Kesehatan. pelayanan Jampersal adalah petugas mendatangi masyarakat untuk memberikan pelayanan. Tidak ada penerbitan kebijakan atau aturan baru terkait Jampersal. Untuk dukungan dalam pembiayaan dari pemerintah daerah terkait Jampersal tidak ada. perawat juga melayani pemeriksaan kehamilan dan menolong persalinan dengan memanfaatkan Jampersal. Kepulauan Aru adalah daerah kepulauan.2.8. 58 .

hanya sembilan puskesmas yang memanfaatkan dana jampersal. Sulit dan mahalnya biaya transportasi untuk merujuk seringkali menyebabkan kematian Ibu. Kab. kecamatan Pulau-pulau Aru ada kasus kematian ibu. Aru). Ini tidak tertolong karena tidak ada transportasi yang mengantar ibu tersebut ke Puskesmas atau RS yang terdapat di Dobo. di desa Ujir. memerlukan biaya yang cukup tinggi untuk transportasi sehingga untuk pembiayaannya dari dana operasional puskesmas dan keluarga ibu yang bersangkutan. sehingga pasien dapat diterima di rumah sakit dengan memanfaatkan Jampersal. Syarat klaim tersebut adalah partograf. Peserta Jampersal adalah semua ibu hamil dan melahirkan. Karena dari 22 puskesmas yang ada. Kepulauan Aru belum ada praktek swasta yang mengajukan klaim Jampersal. “. Pemanfaatan dana jampersal pada tahun lalu bisa dibilang rendah. Persyaratan yang diperlukan untuk mendapatkan pelayanan jampersal hanya KTP. baik yang kaya maupun yang miskin. KTP atau surat keterangan domisili dan ANC harus empat kali untuk bisa klaim pelayanan ANC. tidak semua masyarakat punya KTP.beberapa bulan kemaren. RS tidak pernah menolak pasien yang datang. Kebijakan Rumah sakit sering menerima pasien Jampersal yang tidak membawa rujukan dengan alasan kemanusiaan. Bahkan seringkali keluarga yang membiayai transport menuju ke Dobo. Kep. buku KIA. Jika ada kasus rujukan dari pulau di luar Dobo. Sekarang di tahun 2012 ini mulai ditempatkan tenaga bidan honorer.Untuk mendapatkan pelayanan Jampersal tidak ada masalah karena semua masyarakat dapat dilayani tanpa ada syarat tertentu meskipun penduduk dari luar wilayah. Untuk mengatasi masalah tersebut dan agar masyarakat dapat memperoleh pelayanan maka digunakan keterangan domisili.. padahal yang memberikan pelayanan jampersal kan seorang bidan.” (RS.. Di Kab. Jika terjadi penolakan maka Dinas dan Puskesmas akan memfasilitasi. terutama mereka yang berada di pedalaman. Sisanya tidak karena memang pada waktu itu tidak ada tenaga bidannya. 59 . Masalahnya.

bidan desa.-.dan potong pajak 5% -15% tergantung golongan. Pelaksanaan mengikuti juknis dan mengacu Perwali retribusi yang sudah berlaku. 5.per hari. 55.35. 2) pembebasan biaya pengobatan dan. uang makan Rp. Kota Kendari Dalam pelaksanaan kebijakan Jampersal Kota kendari tidak mengeluarkan kebijakan khusus. puskesmas poned. Terdapat pembiayaan BAHTERAMAS (Bangun Kesejahteraan Masyarakat) yang didukung 3 (tiga) pilar utama.10. 50..000. yaitu 1) pembebasan biaya operasional pendidikan.2. Rp. Tidak ada Bidan Praktek Swasta (BPS) dan rumah sakit swasta yang melakukan “PKS” dengan Dinas kesehatan. Kabupaten Wakatobi Di Kabupaten Wakatobi Peraturan Bupati yang mendukung pelaksanaan Jampersal belum ada.000. Dengan demikian . Kepesertaan adalah ibu hamil.000. Sedangkan dana yang kembali ke puskesmas setalah dipotong BHP (bahan habis pakai) sebesar Rp.9. Jampersal melayani peserta dari wilayah diluar Kendari (portabilitas).dan perawatan bayi Rp.. 3) pemberian bantuan keuangan pada pemerintah desa dan kelurahan. Tenaga kesehatan pemberi layanan Jampersal di tingkat dasar adalah bidan di puskesmas.000. bersalin dan nifas yang memiliki KTP atau kartu domisili. Tarif Jampersal di Kota kendari sesuai juknis. Persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis. Paket pelayanan untuk Jaminan persalinan berlaku sesuai petunjuk teknis dari pusat.2. Untuk pelaksanaan Jampersal di Kabupaten Wakatobi hanya berdasarkan petunjuk teknis yang sudah dikeluarkan oleh Kementerian 60 .. Untuk persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. dana APBN dan APBD dialokasikan untuk melaksanakan pembangunan yang berkeadilan dan pro rakyat. sedangkan ANC gratis.2. Pelayanan rujukan dilakukan “PKS” RSUD Provinsi dan RSUD Kota.2.5. Tarif Bahteramas untuk persalinan adalah 250.

karena selama ini tidak ada pos khusus yang digunakan untuk sosialisasi Jampersal. Rujukan memerlukan biaya yang besar karena wilayah Wakatobi adalah kepulauan. Selama ini kepala dinas secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program Jampersal. Selama ini dinas tidak tahu dengan pasti biaya rujukan itu berasal dari mana karena yang melaksanakan adalah puskesmas. Selain itu pihak pemerintah daerah membantu masyarakat dalam membuat surat keterangan domisili bagi masyarakat yang tidak atau belum memiliki KTP. Pembiayaan Jamkesda didukung oleh APBD. Pemerintah daerah sangat intens mendukung kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak untuk tahun 2013. terlebih dalam kegiatan sosialisasi program Jampersal ke stake holder yang ada di bawah koordinasi dinas kesehatan dan kepada masyarakat. Bupati menerbitkan Surat Keputusan untuk Pengelola Jampersal.Kesehatan. karena syarat untuk mendapatkan pelayanan Jampersal adalah memiliki KTP. 61 . Jaminan persalinan sudah dilaksanakan dengan baik. yang bisa juga digunakan untuk membiayai persalinan. Verifikasi dilakukan disesuaikan dengan ketentuan dan standar substansinya. Untuk beberapa kasus rujukan pasien Jampersal juga sudah ditangani dengan baik. Dukungan pemerintah daerah dalam pelaksanaan Jampersal sangat besar. Salah satunya adalah dengan menaikkan anggaran untuk kemitraan dukun dan bidan dengan mengalokasikan dana khusus bagi dukun yang mau bekerja sama dengan bidan. Selain itu bagi PNS juga sudah disediakan ASKES. Dana APBD juga dialokasikan untuk pelaksanaan sosialisasi Jampersal. di kabupaten Wakatobi sudah dilaksanakan pelayanan kesehatan gratis dengan pembiayaan Jamkesda dan Jamkesmas. Sedangkan untuk pengelola Jampersal tingkat Kabupaten. Di Kabupaten Wakatobi klaim dilakukan per paket. Sebelum ada program Jampersal. artinya untuk satu orang ibu klaim langsung secara keseluruhan mulai dari ANC sampai dengan PNC. Kepesertaan sesuai juknis.

62 . Dalam mekanisme klaim di Balikpapan sesuai dengan petunjuk teknis yaitu ketika klaim sudah cair dan akan disetor kembali ke Kasda tapi belum dilaksanakan penarikan dana kembali karena Perwali masih dalam proses sehingga sampai saat penelitian dilaksanakan besaran Jasa pelayanan untuk bidan puskesmas belum pernah dibicarakan. Untuk merujuk ke RS ditambahkan surat rujukan dari puskesmas. 5. Untuk rujukan ke RS transport gratis merupakan fasilitas dari pemerintah daerah. kecuali untuk bahan habis pakai jumlahnya terbatas Persyaratan untuk klaim jampersal adalah Kartu identitas ( KTP. buku KIA untuk kalim Antenatal care (ANC) dan ditambah partograf untuk persalinan.11. Untuk proses klain sejauh ini tidak ada masalah. maka pembiayaan persalinan dengan Jamkesda digantikan dengan pembiayaan Jampersal.2. Belum ada Peraturan Daerah terkait Jampersal. Sebelum ada Jampersal untuk persalinan Jamkesda sebesar Rp.2. terutama untuk membiayai pasien yang tidak bisa membayar sama sekali atau setengah miskin. surat domisili).000. Pelaksana layanan dasar adalah bidan puskesmas dan bidan praktek swasta yang juga sudah banyak melakukan PKS dengan Dinas kesehatan.500. saat penelitian berlangsung Peraturan Walikota sedang dilakukan penyusunannya. Kota Balikpapan Implementasi kebijakan Jampersal di Kota Balikpapan dilaksanakan sesuai dengan petunjuk teknis..Misalnya untuk ANC berlaku konsep 1-1-2. Untuk Obat-obatan fasilitas puskesmas tidak ada masalah dalam ketersediaan obatobatan. Kebijakan Jampersal ternyata cukup membantu provider pemberi layanan. yang mana tanggal pelayanan yang bisa diklaim disesuaikan dengan standar waktunya.tapi setelah ada pembiayaan Jampersal.

Kabupaten Paser Di Kabupaten Paser sejak Jampersal berlangsung tahun 2011 sampai saat penelitian belum diterbitkan Peraturan daerah atau Peraturan Bupati .... ini karena adanya perbedaan tarif. Hal ini menyebabkan Jampersal kurang berjalan dengan baik di Kabupaten Paser. Dengan BPS tidak ada MoU. tahun ini sedang di proses pembuatan Peraturan daerah. sehingga dengan adanya kebijakan Jampersal tidak sejalan dengan peraturan daerah. Namun pada tahun 2012 belum ada klaim Jampersal yang cair karena menunggu terbitnya Peraturan Daerah. Dalam pelaksanaan Jampersal di pelayanan dasar untuk persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis. di kabupaten Paser pelayanan persalinan adalah gratis.sampai sekarang belum ada peraturan bupati ataupun arahan dari Dinas Kesehatan tentang Juknis Jampersal.2. Kab.2. hanya dalam penyaringan di salahgunakan. “.2. Sedangkan untuk bidan praktek swasta belum ada yang melakukan “PKS” dengan Dinas kesehatan. Paser).” (Dinas kesehatan. Rumah sakit belum melaksanakan Jampersal. pihak manajemen rumah sakit merasa belum pernah tersosialisasi Jampersal secara langsung.2. Kota Batam Kebijakan jampersal pada pelayanan persalinan baik. dimana tidak ada mata anggaran untuk jasa persalinan. bersalin dan ibu nifas yang mempunyai KTP atau Kartu keluarga. Besaran tarif jampersal sesuai Petunjuk teknis yang berlaku.13.5. Ada kendala dalam pelaksanaan Jampersal karena ada pengalaman terdapatnya “temuan” oleh BPK dalam pengelolaan anggaran BOK pada tahun sebelumnya yang menyebabkan Kepala Dinas ekstra hati-hati dalam menerima Jampersal. Pemberi Layanan Jampersal di pelayanan dasar adalah bidan puskesmas dan bidan desa. karena tidak ada pembatasan keperuntukan baik orang miskin dan kaya dapat memakai 63 . sehingga hanya sedikit yang memakai Jampersal. Sebelum kebijakan Jampersal dilaksanakan. 5. terkadang kurang tepat sasaran.12. Kepesertaan Jampersal adalah ibu hamil.

Saat ini Pemerintah daerah mengalokasikan insentif untuk tenaga kesehatan berupa upah pelayanan Kesehatan (UPK). Hal ini karena IBI mensyaratkan bidan PKS harus punya ijin praktek. surat domisili oleh RT/RW. SIM.. Kebijakan Jampersal dalam pelaksanaan di lapangan dan administrasi mengikuti sistem yang sesuai petunjuk teknis. sehingga dengan adanya Perda tersebut pada tahun 2013 diharapkan dana Jampersal untuk bidan puskesmas dan jaringannya bisa di manfaatkan sesuai dengan aturan yang ada. 64 . Dalam implementasi Jampersal di kota Batam awalnya tersendat karena klaim hanya Rp. Kepersertaan pasien jampersal tidak menjadi hambatan yaitu ibu hamil yang tidak punya jaminan dan punya identitas diri berupa KTP. paspor. persyaratan untuk mendapatkan surat ijin praktek adalah harus mempunyai rekomendasi dari IBI. Kebijakan untuk provider pelaksana Jampersal adalah Bidan desa/puskesmas di luar jam Dinas jika sudah mempunyai ijin praktek dapat melakukan MOU dengan Dinkes.yang dianggap terlalu rendah.350.000. Kebijakan Jampersal di Kota Batam untuk persalinan dilakukan oleh Nakes di fasilitas kesehatan dan terdapat Perwali untuk Jampersal yang diterbit sejak tahun 2011. Di Kota Batam untuk pelayanan kesehatan dasar berlaku gratis. Saat ini di Batam terdapat sekitar 400 bidan tapi tidak semuanya mempunyai ijin praktek sehingga tidak dapat PKS.Untuk mengatasi masalah ini mulai tahun 2013 diterbitkan Peraturan Daerah yang mengatur tarif pelayanan dasar..Jampersal. Dan dana Jampersal setelah masuk ke kas negara tidak dapat ditarik kembali dikarenakan tidak adanya mata anggaran untuk penyetoran dan penarikan.000.ditambah empat kali pemeriksaan kehamilan. Pencapaian MDGs baru menggaung satu tahun sekarang. tetapi dengan kenaikan tarif menjadi Rp. Bidan BPS yang PKS menjadi bertambah dengan cepat. Dengan demikian dana Jampersal untuk bidan di puskesmas tidak dapat dibayarkan kepada pelaksana Jampersal di puskesmas. Saat ini terdapat lebih dari 90 bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan untuk program Jampersal. mulai th 2011.500.

baru bisa diklaim/dibayarkan Jampersal dengan rincian yang disepakati yaitu sebesar 100 ribu untuk jasa dukun dan 400 ribu jasa pelayanan bidan. pembiayaan pelayanan dapat di klaim dengan Jampersal. klaim Jampersal sampai saat penelitian dilakukan belum dapat dicairkan karena terdapat Aturan Daerah yang tidak memungkinkan untuk pencairan dana Jampersal. Penanganan keluhan pasien khususnya untuk Jamkesmas dan Jampersal dilakukan di Kota Batam sudah dilakukan melalui tim Jamkesmas di Dinas Kesehatan. 5. puskesmas di pulau disediakan rumah tunggu untuk persalinana yang letaknya didekat rumah bidan.2. Kebijakan Dinas kesehatan. sehingga beberapa bidan di puskesmas termasuk di puskesmas pulau Galang tidak dapat melakukan PKS dengan Dinas kesehatan. tapi tahun 2012 kemitraan hanya bisa dilakukan oleh bidan PKS saja. Tentu saja hal ini membuat bidan menjadi tidak nyaman dan berisiko untuk menjadi temuan. Pada tahun 2011 ketika program Jampersal dicanangkan.2. Kebijakan ini dirasakan cukup memberatkan untuk bidan. Sehingga terjadi pengklaim Jampersal beberapa bidan di atas namakan satu bidan yang PKS.Untuk mendapatkan rekomendasi tersebut bidan harus mengikuti pelatihan APN dan sebagai anggota IBI aktif selama 1 (satu) tahun. Kabupaten kepulauan Natuna Kabupaten Natuna adalah satu-satunya kabupaten yang dalam penelitian ini tidak memanfaatkan pembiayaan Jampersal. kemitraan dukun dilaksanakan di dua puskesmas tersebut juga dilakukan dengan ketentuan ketika ibu bersalin adalah rujukan dukun maka wajib ada bidan dalam melakukan pelayanan persalinan. Hal ini disebabkan Di Kabupaten Natuna sejak Tahun 2007 berlaku peraturan bupati untuk pertolongan persalinan 65 .14. Seperti diketahui bidan puskesmas di Batam. Untuk puskesmas yang diwilayahnya masih ada dukun seperti puskesmas Bulang dan Galang terdapat program kemitraan. Pada tahun 2011 bidan yang belum PKS dengan Dinas Kesehatan juga dapat melakukan kemitraan dengan dukun.

3) Perbub/SK Bupati untuk insentif petugas kesehatan RS. yaitu untuk anggota TNI/Polri. maka RS mengambil kebijakan untuk memotong biaya pelayanan RS. Karena mereka juga abdi masyarakat. Kebijakan khusus RS terkait pelayanan. sedangkan saat ini atas instruksi propinsi Jamkesda harus menggunakan tarif INA CBGs. Potongan bervariasi. Ketika terdapat peraturan Menteri Kesehatan untuk Jaminan Persalinan Dinas Kesehatan kabupaten Natuna melakukan konsultasi dengan Kemenkes (Pusat). 4) MOU antara Dinas Kesehatan dan RS. Sehingga masyarakat Natuna untuk pertolongan persalinan sudah dibiayai dengan Jamkesda. Sebenarnya Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna berkeinginan untuk memanfaatkan Jampersal. SK Direktur. tetapi mereka tidak bisa menggunakan haknya karena tidak ada fasilitas TNI/Polri di Natuna. kecuali TNI/Polri yang suami/istrinya adalah petugas RS untuk biaya kesehatan gratis. sedangkan mereka bukan peserta Askes. sehingga tahun ini diusulkan untuk dilakukan revisi peraturan Bupati. 2) Perbub untuk tarif di RS. Hal ini disebabkan jika Kabupaten Natuna akan memanfaatkan Jampersal maka harus melakukan revisi Peraturan Bupati tersebut. setiap bulan dipotong 3%. Jamkesda sudah mencover seluruh pelayanan untuk kesehatan ibu dan bayi. sesuai dengan kemampuan membayar pasien. karena mereka tidak memiliki fasilitas kesehatan di Natuna. 5) Jasa Pelayanan. Peraturan tentang Jamkesda meliputi 1) Peraturan daerah tentang Jamkesda. yaitu untuk tarif Perda berbeda dengan tarif INA CBGs. 66 . dari hasil konsultasi dikemukan bahwa jika Daerah mempunyai Pembiayaan untuk persalinan dapat tidak memanfaatkan Jampersal sehingga diputuskan Kabupaten Natuna tidak memanfaatkan Jampersal. potongan yang terbesar sampai 50%. Permasalahan saat ini adalah tarif untuk di rumah sakit.yaitu Jamkesda Kabupaten Natuna.

Bentuk penerimaan dapat berupa dukungan manajemen. sedangkan 2+ adalah pelayanan gratis masyarakat dan tuntas penanganan kusta. Pembiayaan di tingkat Kabupaten. Dinas Kesehatan memiliki perjanjian/memorandum of understanding (MOU) dengan Rumah Sakit untuk pembinaan dari Rumah Sakit PONEK kepada Puskesmas PONED. Dukungan Manajemen. walaupun bentuk dukungan secara khusus misalnya dalam bentuk penyediaan sarana. sosialisasi dan kebijakan lokal yang mendukung Jampersal Di Kabupaten/Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal dengan bervariasi.sehingga dalam sosialisasinya Jampersal melibatkan dinas lintas sektor termasuk dinas 67 .3 AKSEPTABILITAS KABUPATEN/KOTA TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Akseptabilitas kabupaten/kota adalah penerimaan pemerintahan daerah. 2) bebas kematian bayi. SDM. Komitmen Kabupaten Sampang untuk mendukung kebijakan Jampersal adalah dengan adanya Peraturan Daerah No. rumah sakit dan puskesmas dan jaringannya dalam pelaksanaan Jaminan persalinan.1. 5. peralatan dan bahan habis pakai dll.3. tentang jasa Pelayanan dan kebijakan. Pemda tidak mengalokasikan secara khusus dari APBD. Program ini merupakan program Bupati . 3) bebas gizi buruk. 1) Bebas kematian ibu melahirkan.5. Di Kabupaten Sampang sosialisasi Jampersal di kecamatan dilakukan melalui program Libas 2+ (5 Bebas yaitu. 5 tahun 2011. 4) Bebas TB. Anggaran pendukung dialokasikan dari bantuan dana dekonsentrasi propinsi yang diperuntukkan untuk pembiayaan operasional pembinaan Rumah Sakit Ponek kepada Puskesmas PONED. dukungan dalam sosialisasi dan adanya kebijakan lokal yang berlaku di wilyah kabupaten/kota. bebas bayi tidak terimunisasi lengkap. dalam mendukung program Jampersal belum dilakukan di semua kabupaten/kota.

kesehatan, walaupun ‘bungkusnya” adalah LIBAS bukan Jampersal secara langsung. Pemerintah Daerah Kota Blitar mendukung pelaksanaan Jampersal dengan diterbitkannya Perwali yang didalamnya berisi tentang kebijakan di Kota Blitar termasuk jasa pelayanan bagi petugas kesehatan. Dalam mendukung Jampersal dengan menambah jumlah bidan dalam rangka penurunan Angka Kematian Ibu. Selain itu dukungan pemda ditunjukkan dengan sarana untuk bersalin di puskesmas PONED. Dukungan yang diberikan oleh Pemerintah Kota Kota Bandung adalah dengan membagi wilayah rujukan ke dalam zona-zona tertentu, supaya tidak terjadi penumpukan pasien di satu rumah sakit saja. Selain itu, ada peningkatan jumlah rumah sakit yang bisa menjadi pusat rujukan bagi pasien dengan komplikasi.
“..RSUD Kota Bandung merupakan rujukan untuk wilayah Bandung Timur, di wilayahnya terdapat dua puskesmas PONED yaitu Puskesmas Cibiru dan Puskesmas Padasuka. Seperti diketahui sejak sebulan yang lalu di Kota Bandung di launching Sistem Kesehatan Kota Bandung dengan melibatkan seluruh saranan kesehatan di kota Bandung dibagi Zona (jejaring Rujukan)..“ (NN, RSUD Kota Bandung).

penambahan

Di Kota Mataram dukungan Pemerintah daerah dengan menyekolahkan bidan menjadi Bidan dan Perawat menjadi D3 dengan dukungan dana APBD. Selain itu dilakukan pelatihan bidan oleh SPOG ada empat puskesmas PONED yaitu Puskesmas Ampenan, Puskesmas Cakra dan Puskesmas Tanjung Karang. Obat dan BHP disediakan untuk bidan yg melakukan pelayanan di puskesmas dan Polindes dan terdapat dana khusus untuk operasional BHP.
“..kebutuhan obat dan BHP biasanya PKM menyediakan sendiri tapi juga ada yg dari dinkes. Penyediaannya dari dana yg berasal dari operasional PKM..” (FGD Bidan, Kota Mataram).

Di Kabupaten Wakatobi dukungan pemerintah daerah dalam pelaksanaan Jampersal sangat besar. Dengan adanya Jampersal, maka pemerintah daerah sangat intens mendukung kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak untuk tahun 2013. Salah satunya adalah dengan menaikkan anggaran untuk
68

kemitraan dukun dan bidan dengan mengalokasikan dana khusus bagi dukun yang mau bekerja sama dengan bidan. Di Wakatobi komitmen daerah terhadap pembiayaan Jampersal bagus. Selama ini daerah sudah menyiapkan dana pendamping, khususnya untuk membiayai tenaga kesehatan yang harus mendampingi pasien yang di rujuk. Kami biasanya merujuk ke Bau-bau karena disana sarananya lebih lengkap. Selain jampersal dan jamkesmas, kami punya bahtera mas dari propinsi untuk masyarakat miskin dan jamkesda kab. Dana ini yang kami gunakan untuk membiayai tenaga kesehatan pendamping pasien. Bupati Wakatobi punya perhatian khusus terhadap Jampersal dan kesehatan pada umumnya. Ini diwujudkan dengan dibangunnya ruang operasi yang semoga cepat selesai. Pemerintah kabupaten juga sudah lama menganggarkan kontrak untuk SPOG sebesar 25 juta setiap bulannya, tapi sayang tidak ada yang berminat sehingga akhirnya alokasi anggaran itu dihapus. Padahal juga disediakan rumah dinas dan kendaraan dinas. Pernah diupayakan kerjasama dengan SPOG di Kendari, perkunjungan akan dibiayai sebesar 4,5 juta,tetapi tidak berjalan juga. Saat ini Wakatobi untuk tenaga spesialis untuk kebidanan dan Kandungan adalah kontrak dengan Residen yang sedang mengambil pendidikan. Selama penelitian berlangsung selama satu minggu Tenaga dokter spesialis tidak dapat ditemui karena sedang berada di luar Provinsi. Itu kondisi yang ada. Untuk

mengatasi kekurangan tenaga, kami diminta membuat usulan tenaga dokter spesialis yaitu SPOG. Ini sudah ditindaklanjuti dengan meminta pada Badan Kepegawaian daerah (BKD) mengenai usulan tenaga tersebut, tetapi belum ada kabar sampai penelitian selesai dilaksanakan. Di Kota Batam pelayanan dasar gratis. Untuk tenaga kesehatan terdapat UPK (upah pelayanan Kesehatan) yaitu insentif di luar gaji berupa upah pelayanan kesehatan (UPK) dari Pemda yang jumlahnya cukup besar. Ini merupakan bentuk komitmen dari Pemda terhadap program kesehatan termasuk Jampersal.
69

Dari penelitian ini secara umum kabupaten/kota memberikan dukungan terhadap kebijakan Jampersal dengan melihat komitmen pengambil kebijakan dan pelaksana program Jampersal adalah baik, hal ini terlihat dengan adanya keinginan untuk mensukseskan program ini. Hal ini diperkuat dengan penelitian dari Armey Yudha tahun 2012 di Kabupaten Lebak yang menyatakan hal yang sama.

5.4.

AKSEPTABILITAS PROVIDER DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN. Dalam pelaksanaan Jaminan Persalinan di kabupaten/Kota peran

pemberi layanan sangat mempengaruhi

implementasi Jaminan Persalinan.

Adapun yang dimaksud pemberi layanan (provider) adalah dokter, bidan puskesmas, bidan desa, bidan praktek swasta dan bidan rumah sakit dan Dokter Kandungan dan Kebidanan (SPOG). Akseptabilitas/penerimaan provider terhadap Jampersal mempengaruhi keberhasilan dari tujuan Jampersal. Akseptabilitas disini adalah penerimaan provider terhadap Jampersal dengan menggali

persepsi, upaya yang dilakukan dalam mendukung kelancaran pelaksanaan Jampersal. Sosialisasi sangat berpengaruh terhadap penerimaan provider terhadap kebijakan Jampersal. Untuk mengetahui penerimaan Provider terhadap kebijakan Jampersal , maka akan dibahas sosialisasi yang dilakukan terhadap provider, peneriman terhadap paket layanan, penerimaan terhadap kepesertaan/sasaran,

pemanfaatan dan persyaratan klaim, Pelayanan.

besaran tarif pelayanan dan Jasa

70

Gambar 5.7 Diskusi Kelompok pada Bidan

5.4.1. Sosialisasi Jampersal di Puskesmas dan Rumah Sakit

Gambar 5.8 Bagan Sosialisasi Jampersal di Kabupaten / Kota

Menurut Nawawi (2009) terdapat banyak cara dalam mensosialisasikan kebijakan yaitu dengan mempublikasikan seremoni penandatangan naskah kebijakan publik, berita di media masa, seminar dan sarana lainnya seperti buklet, leaflet dan lain sebagainya.
71

Dalam sosialisasi Jampersal di kabupaten / kota terdapat pola yang hampir sama yaitu dimulai dengan kepala Dinas dan Pengelola Jampersal

kabupaten/kota mendapatkan sosialisasi di Dinas kesehatan Provinsi atau mendapat sosialisasi langsung dari Kemenkes RI (Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan). Materi yang di sosialisasikan adalah Juknis Jampersal tahun 2011. “..pada tahun 2011 pernah ada tiga orang dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang datang ke Pulau Kaledupa, sekalian kami minta untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat Pulau Kaledupa tentang Program Jampersal. Sebenarnya tiga orang datang ke Pulau Kaledupa bukan untuk melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan Program Jampersal.Pernah juga pihak Kemenkes mengundang seluruh kabupaten di Indonesia untuk mengevaluasi program Jamkesmas, Jampersal dan BOK di Bali. Dalam evaluasi itu juga sekalian disosialisasikan program Jampersal..” (Kadinkes, Kab Wakatobi).
“..awalnya dapat informasi Jampersal dari pemerintah provinsi yang membahas juknis Jampersal. Sosialiasi dari pusat kita dapat dari internet, ada berita-berita terbaru kami update dari internet kemudian kita ekspos dan kadang kita kirimkan ke bidan-bidan puskesmas..” (Kabid KIA, Kota Balikpapan). “..sosialisasi dengan spot iklan di RRI, itu inovasi dari kami dan mendapat penganggaran dari Propinsi. Penyuluhan di RRI setiap sabtu dimulai tahun 2012. Tahun 2011, sosialisasi dgn pertemuan lintas sektor, kita lanjutkan ke puskesmas..” (Kabid Yankes, Kota Ambon).

Dinas Kesehatan Kabupaten mensosialisasikan dengan mengundang kepala puskesmas dan Bidan koordinator,organisasi Profesi karena sosialisasi tidak ada dana khusus maka pelaksanaan di daerah tergantung Dinas kesehatan masing-masing, biasanya terintegrasi dengan kegiatan program lainnya. Materi sosialisasi pada umumnya adalah tentang petunjuk teknis Jampersal meliputi syarat pengguna Jampersal, paket pelayanan, persyaratan klaim dan, besaran tarif. Setiap kabupaten/kota untuk frekuensi dan kualitas sosialisasi sangat bervariasi dikarenakan tidak ada petunjuk dan anggaran khusus untuk program Jampersal, sehingga pelaksanaan terintegrasi atau dilakukan bersamaan dengan kegiatan program lain. Sosialisasi dilakukan oleh pengelola Jampersal Dinas kesehatan dengan mengumpulkan bidan, kepala puskesmas, bidan koordinasi, dan bendahara puskesmas. Secara umum sosialisasi untuk provider/pelaksana pelayanan Jampersal dirasakan kurang.
72

dukun dan Toma. kepala desa. Materi sosialisasi tidak khusus tentang Jampersal masih secara umum tentang Jampersal. PKK. dukun. Sosialisasi juga dilakukan melalui organisasi masyarakat. kecamatan. fatayat atau aisiyah. Sosialisasi pada bidan desa melalui pertemuan rutin bulanan oleh bidan koordinator.Di puskesmas kepala puskesmas meneruskan sosialisasi. Namun demikian di beberapa kabupaten/kota sosialisasi dirasakan masih kurang. kepolisian. namun frekuensi dan kualitas sosialisasi masih dirasakan kurang. muslimat. Di beberapa kabupaten seperti Sampang sosialisasi oleh Puskesmas ditingkat kecamatan dengan mengundang camat. hal ini juga menjadi kendala dalam sosalisasi karena Dinas kesehatan kota tersebut merasa sosialisasi menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan Provinsi.. Untuk sosialisasi lintas sektoral dilakukan pada pertemuan atau rapat koordinasi di tingkat Dinas di kabupaten. kader kesehatan. seharusnya ada kerja sama yang baik antara pemerintah dengan aparatur desa. Bidan memanfaatkan klas ibu hamil sebagai sarana sosialisasi Jampersal yang cukup efektif pada sasaran. Walaupun sosialisasi terhadap pemberi layanan (provider) sudah dilakukan. Selain itu Rumah sakit mendapat sosialisasi langsung dari Pusat Pembiayaan Jaminan Kesehatan (P2JK) dengan mengundang Direktur RS atau pengelola Jamkesmas dan Jampersal. dari hasil FGD banyak keluhan bidan tentang minimnya pengetahuan bidan terhadap program Jampersal. “. Di Kota Ambon. Kota Balikpapan dan Kota Batam rumah sakit yang menjadi rujukan Jampersal dan menjalin perjanjian kerjasama adalah Rumah Sakit Provinsi. Kondisi ini menyebabkan komunikasi dan sosialisasi antara Dinas kesehatan Kabupaten/kota dan Rumah sakit Provinsi tersebut kurang lancar.” ( Kota Blitar) Dalam sosialisasi di kabupaten/kota. mulai dari kabupaten sampai desa. dinas kesehatan mengundang juga rumah sakit yang akan menjadi rujukan Jampersal. 73 . biasanya kepala puskesmas melakukan sosialisasi melalui rapat rutin/minilokakarya di puskesmas.sosialisasi sudah jalan tapi belum sampai ke akar.. Selanjutnya bidan desa melakukan sosialisasi pada masyarakat.

5) kendala implementasi Jampersal. Waktu itu awal-awal juknis 2011.. bidan puskesmas. pusat melaksakan acara evaluasi pelaksanaan Jamkesmas dan Jampersal 2011 serta rencana kebijakan Jamkesmas Jampersal 2012. puskesmas PONED dan jaringannya serta BP swasta yang melayani pelayanan KIA. Dalam penelitian ini dilakukan wawancara mendalam dan FGD pada provider untuk mengetahui penerimaan terhadap Jampersal.untuk sosialisasi dari pusat hanya ada pada waktu pertemuan di propinsi.” (RSUD. 6) tugas sebagai penolong persalinan. Pada bulan November 2011 di Bali.. Untuk penyuluhan di RS tdk dilakukan.4.2.untuk sosialisasi jampersal di RS.. 4) dukungan sarana. Kab Sampang). 2) dukungan Jampersal pada program KIA. Dari komposit pertanyaan bidan di peroleh persepsi bidan terhadap Jampersal sbb: 1) dukungan pada kebijuakan Jampersal.” (Dinkes. Persepsi bidan dibentuk dari beberapa pertanyaan yang dikompositkan. 7) Jangkauan Jampersal terhadap sasaran.. 5. bidan praktek swasta. Khusus terhadap bidan dilakukan pengisian kuesioner dengan skala likert dengan self assement untuk mengetahui persepsi bidan terhadap Jampersal. Pemberi Layanan di Fasilitas Kesehatan Dasar Dalam memberikan pelayanan kesehatan dasar di puskesmas. 9) kepuasan terhadap reward (tahun 2012) yang tertuang pada gambar dibawah ini. 74 . 8) Persepsi tentang merujk pasien dan. 3) Sosialisasi Jampersal. Jadi pada saat itu semua pengelola Jamkesmas Jampersal dari dinas dan rumah sakit seluruh Indonesia dikumpulkan. dilakukan oleh pihak humas kerjasama dengan kasi pelayanan ke puskesmas-puskesmas terutama untuk rujukan berjenjang. pemberi layanan (provider) yang memegang peranan dalam pelayanan Jaminan Persalinan adalah dokter. Karena keterbatasan sosialisasi terdapat provider di tingkat rumah sakit yang beranggapan bahwa pelayanan Jampersala hanya dilaksanakan di tingkat layanan dasar yaitu di puskesmas dan jaringannya serta bidan praktek swasta saja. “. Tapi kalau pusat datang langsung ke RS tidak ada.“. Kota Mataram). bidan desa. Pada saat ini pihak pengelola belum memiliki Juknis 2012.

Gambar 5. Dalam menjalankan tugasnya bidan menghadapi kendala. budaya untuk bersalin di non nakes.6%). yaitu upaya penurunan AKI dan AKB. Riset Evaluatif Implementasi Jampersal 2012 Dari hasil self assessment bidan terhadap kebijakan Jampersal. Ternyata 35.5% bidan menyatakan masih mempunyai kendala terhadap 75 .6% bidan menyatakan bahwa Jampersal mendukung program KIA. 94. bidan menyatakan sebaiknya Jampersal dilanjutkan karena banyak bermanfaat untuk masyarakat miskin. Selain itu 94.4% responden bidan juga kurang memadai. Di puskesmas sosialisasi kebijakan Jampersal dan sosialisasi pada masyarakat menurut bidan masih kurang (60.9 Persepsi Bidan Puskesmas terhadap Jaminan Persalinan N=736 Sumber : data self assessment bidan. Demikian pula sarana untuk menolong persalinan di puskesmas/polindes menurut 44. program ini juga dinilai mampu memberi dukungan pada masyarakat yang kurang memiliki akses secara pembiayaan ke tenaga kesehatan. akses ke nakes karena kendala geografis dan masyarakat yang masih lebih senang bersalin dirumah.6% bidan menyatakan setuju dan mendukung program Jampersal. Persepsi bidan terhadap kendala meliputi kendala dalam meyakinkan masyarakat untuk memanfaatkan Jampersal. Sosialisasi masih menjadi tanggung jawab dinas kesehatan.

secara umum bidan dapat menerima. dimana selama hamil. sehingga masyarakat cenderung melakukan ANC pada tenaga kesehatan lebih dari 4 (empat) kali.7 % bidan menyatakan yang memanfatkan Jampersal tidak hanya sasaran yang dekat dengan puskesmas/polindes saja tetapi juga yang jauh. 1 kali pada triwulan kedua. Dengan demikian jika masyarakat melakukan ANC lebih dari frekuensi yang dibiayai Jampersal maka bidan tidak dapat mengklaimkan pelayanan tersebut. b). 1 kali pada triwulan pertama.hal diatas 94. Sampang). namun ya tergantung dari Kemenkes.. didapatkan 85. malah kalau ada kasus sebulan bisa 2 kali.2.. Namun namun paket pelayanannya mungkin bisa ditambah.” (Bidan Kab. Persepsi bidan terhadap keterjangkauan (akses jarak) masyarakat terhadap Jampersal.cuma gini pak.3% bidan menyatakan senang dengan tugas yang menjadi tupoksinya yaitu menolong persalinan. c). Kesesuaian reward Jampersal dengan tugas yang dibebankan dan kepuasan adanya kepastian pembiayaan dengan adanya Jampersal.4.5% bidan menyatakan senang menolong persalinan sendiri daripada merujuk ke layanan rujukan. “. hasil penelitian 5. “. tapi lebih senang jika memberi pelayanan pengobatan karena menolong persalinan dianggap sangat berisiko. Paket Layanan pemeriksaan Paket pelayanan pemeriksan kehamilan (ANC) adalah kehamilan (ANC) yang dibiayai oleh program ini mengacu pada buku Pedoman KIA. Ini karena di beberapa daerah pemeriksaan kehamilan sebelum ada Jampersal kebijakan Daerah yang menggratiskan pembiayaan ANC di fasilitas pemerintah.” (Bidan Kab.. yang ditambah adalah pemberian tablet DHA. 76 . 82. Namun demikian hasil penelitian ini dengan adanya Jampersal 81.6% bidan menyatakan baik. bisa tiap bulan.paket pelayanan yang diberikan program jampersal. sebenarnya sudah bagus.1.. mungkin bisa ditambah menjadi 12 T. dan program “Tempelkan Musik Mozart di perut Ibu. Dua kali pada triwulan ketiga . namun beberapa bidan merasa kurang jika hanya empat kali saja ANC yang dibiayai oleh Jampersal. ibu hamil diperiksa sebanyak 4 kali disertai konseling KB dengan frekuensi a). Selama ini paket pelayanan yang diberikan adalah 10 T. untuk masalah ANC. Bogor). ANC itu kebanyakan ndak 4 kali pak.

jadi syaratnya Puskesmas Perawatan saja. mungkin sejauh ada pelimpahan tugas bisa melakukan ini itu mungkin bisa dibijaksana. bisa melakukan tindakan selain itu.Dalam salah satu FGD bidan di Lombok Tengah bidan bahkan tidak mengetahui bahwa paket pelayanan ANC dan PNC dapat di klaim. Demikian pula dengan pelayanan kegawatdaruratan kebidanan. Hal ini di karenakan di Loteng sebelum Jampersal sudah ada kebijakan kabupaten gratis untuk semua pelayanan kesehatan. tidak semua bisa diklaim. Kompetensi bidan. Untuk persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan dibeberapa kabupaten tidak dapat dilaksanakan dengan berbagai kondisi misalnya di kabupaten Kep.bidan melaksanakan pelayanan. Kab. Pelaksanaannya misalnya di Kabupaten Sampang ada kebijakan Dinas Kesehatan. maka hanya sedikit Puskesmas yang dapat melakukan karena terbatasnya Puskesmas PONED terutama di kabupaten. bahkan di Aru 77 . menurut juknis Jampersal dilakukan di Puskesmas PONED. Di kabupaten/kota secara umum cukup dan dapat di implementasikan. sehingga biaya untuk kelebihan hari dibebankan ke pasien Jampersal. Untuk paket persalinan normal dalam petunjuk teknis dinyatakan dilakukan oleh nakes di fasilitas kesehatan dengan rawat inap minimal 1 (satu) hari . tapi secara kualitas sesuai dengan waktu yang ditetapkan masih perlu dievaluasi lebih lanjut. Kita kembalikan ke program. Untuk ANC secara kuantitas frekuensi lebih dari 4 kali pemeriksaan. boleh mengklaim. misalnya manual plasenta.” (Dinkes. karena kebijakannnya di Puskesmas perawatan. Sampang). Aru dan Sampang karena geografis sehingga masyarakat masih bersalin di rumah dengan ditolong oleh tenaga kesehatan. tetapi tidak bisa diklaimkan bukan wewenangnya. tapi ada beberapa kabupaten/kota misalnya seperti kota Balikpapan puskesmas menyatakan pelayanan persalinan satu hari kurang karena kebiasaan di daerah tersebut untuk persalinan lebih dari satu hari.. dalam pelayanan Jampersal hanya persalinan saja yang dapat di klaim. Apabila hal tersebut diterapkan.. tapi kalau Poned terlalu jauh. untuk program itu seperti apa ? untuk puskesmas perawatan. bahwa kegawatdaruratan kebidanan dapat dilakukan tidak hanya di Puskesmas Poned tetapi juga di Puskesmas perawatan. Seperti pernyataan informan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang berikut: “.

. bahkan dengan adanya paket ini cakupan PNC meningkat.masyarakat disini lebih suka melahirkan di rumah. Untuk transport kunjungan rumah tersebut di Lombok tengah di biayai dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK).. Dari penelitian ini didapatkan bahwa di kabupaten/kota PNC dapat diimplementasikan. OH tdk boleh lebih. 150. “. pasien menghubungi bidan kemudian meminta supaya bidan mengangkut pasien ke sarana kesehatan dengan menggunakan motor atau mobil ambulan. tapi ada beberapa masalah dalam pelaksanaannya sehingga menjadi temuan. Wakatobi dimana ada komitmen untuk persalinan oleh nakes di fasilitas kesehatan.” (Kepala Puskesmas di Kab..” (Kepala Puskesmas di Kota Balikpapan). “.. Tatalaksana asuhan PNC merupakan pelayanan Ibu dan Bayi baru lahir sesuai dengan Buku Pedoman KIA. temuan BPK. Pelayanan nifas diintegrasikan antara pelayanan ibu nifas. Pada beberapa daerah dengan geografis sulit seperti di kepulauan Aru dan Wakatobi pelayanan nifas dilakukan dengan kunjungan rumah oleh tenaga kesehatan.. Kep. Pelayanan bayi baru lahir dilakukan pada saat lahir. sehingga dilakukan “jemput bola” dan pasien Jampersal dibawa ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan persalinan. “. Aru). Lagian di puskesmas tidak ruangan yang.untuk mengganti bahan habis pakai dan uang makan pasien.000.. pelayanan bayi baru lahir. Berbeda dengan Kab. tapi jika lebih dari sehari maka pasien dikenakan biaya tambahan antara Rp. dan pelayanan KB pasca salin. bayi baru lahir dan pelayanan KB pasca salin.000. Jadi klo OH 78 .belum punya kesadaran untuk datang sendiri ke sarana kesehatan. “.keterbatasan sarana dan tenaga kesehatan di puskesmas sehingga persalinan dilakukan di rumah..300. Wakatobi) Paket Pelayanan Nifas (PNC) adalah Pelayanan nifas sesuai standar yang dibiayai oleh program Jampersal pada ibu dan bayi baru lahir yang meliputi pelayanan ibu nifas. mungkin merasa lebih enak di rumah. transport dari BOK dibayar tdk boleh lebih dari 30 hari (ini kendalanya). jika pasien dirawat sehari makan gratis sesuai paket Jampersal ..pada persalinan normal di puskesmas pasien dirawat antara 1 – 3 hari.PNC. padahal bs aja dlm sehari lebih dari 1 kunjungan/ KN 1 hari 3 kali (harus ada SPT dari kepala Puskesmas). demikian juga di beberapa puskesmas dengan geografis cukup sulit seperti di Lombok Tengah.” (Bidan Kab. Mereka harus dijemput oleh bidan desa untuk bersalin ke sarana kesehatan.. Kalau sudah mulai sakit.

Jampersal di puskesmas puter setiap pasien yang menggunakan program harus menandatangai inform consent sampai menggunakan KB IUD.. “. terutama jika ada kasus. tapi secara umum di kabupaten / kota pasien lebih memilih KB suntik sebagai alat kontrasepsi. masyarakat memilih untuk melepas Jampersal untuk dapat memanfaatkan KB suntuk dengan pembiayaan sendiri seperti diutarakan oleh kepala Puskesmas Puter. sedangkan permasalahannya penyediaan alat kontrasepsi terbatas oleh BKKBN. bukan termasuk KB diluar itu. Kab. “.” (Dinkes.. bagaimana jika ternyata yang sudah terpakai ini sudah lebih dari Rp 100. Di Kota Bandung pelayanan Jampersal untuk KB dapat dilakukan paska placenta langsung pasang IUD tapi masih ada masyarakat yang memilih KB suntik saja.. Namun beberapa pasien menolak memakai Jampersal ketika diharuskan KB dengan IUD.000.000. Walaupun ada di tetapkan pengisian informed consent untuk yang akan memanfaatkan Jampersal agar menggunaan IUD paska persalinan. pasien lebih baik membayar sendiri..lebih dari 30 hari tidak dibayar.” (Bidan Kab Lombok Tengah).. padahal penggantian Jampersal hanya Rp 100. Hal ini menyebabkan lepasnya kesempatan untuk mendapatkan akseptor KB paska persalinan.kita hanya membatasi KB pasca persalinan. Beberapa bidan juga mengeluhkan adanya masalah rujukan ini. 79 .” (kepala Puskesmas di Kota Bandung). Sampang) Di Kota Kendari pelaksanaan KB paska persalinan belum dapat berjalan secara lancar karena masih adanya budaya di masyarakat yang belum mau ber KB sebelum 42 hari karena masa nifas dianggap belum perlu untuk menggunakan alat kontrasepsi. Ada beberapa kabupaten/kota yang menerapkan inform consent untuk pelayanan Jampersal sampai dengan pelayanan KB. Untuk paket pelayanan KB belum semua kabupaten/kota menerapkan. Untuk jenis pelayanan alat kontrasepsipun masih bervariasi ada yang sudah secara tegas berani menetapkan kontrasepsi mantap (IUD) misalnya seperti di Puskesmas Puter di Kota Bandung. Padahal klo KN harus dikunjungi.

“. Salah satu syarat sasaran yang memanfaatkan Jampersal adalah belum memiliki Jaminan persalinan. Batas waktu sampai dengan 28 hari pada bayi dan sampai dengan 42 hari pada ibu nifas adalah batas waktu pelayanan PNC dan tidak dimaksudkan sebagai batas waktu pemberian pelayanan yang tidak terkait langsung dengan proses persalinan dan atau pencegahan kematian ibu dan bayi karena suatu proses persalinan. ibu hamil . “.” (dinkes.kalau yang lalu ada yang tidak punya ktp sama sekali.4. 2)..” (Bidan Kep. nanti dia datang untuk dibuatkan surat terlantar.. 3). Kota Balikpapan).menurut saya jampersal harusnya untuk masyarakat yang tidak mampu. Terkait sasaran Jampersal sebagian besar provider memasalahkan dengan tidak adanya pembatasan pada sasaran yang tidak mampu / miskin saja. “. Jika ada pasien mampu maka wajib bayar. ibu nifas sampai dengan paska persalinan 42 hari dan 4).. Aru). ibu bersalin.2. “. Biasanya langsung ke nakersos saja.” (Bidan Kota Ambon).beta maunya itu dibuat klasifikasi hanya diperuntukan anak pertama dan yang tidak masuk Askes saja.2. Tapi pada umumnya (sebagian provider) yang dilakukan wawancara mendalam dan FGD menerima program Jampersal dengan baik. Untuk yang terlantar dinas yang fasilitasi sama jamkesda. Sasaran pengguna Jampersal adalah 1).” (Bidan Kota Blitar).program jampersal ini disambut baik. 80 ..5. tapi juga dapat dimanfaatkan sasaran mampu... Misalnya untuk sakit jiwa dia melahirkan ya pakai surat itu saja.. selain itu tidak adanya pembatasan jumlah anak sebagai sasaran Jampersal sebagian provider mengkhawatirkan akan menjadi berbenturan dengan program Keluarga Berencana. terutama bagi masyarakat miskin yang bebas dari biaya persalinan. Kepesertaan / sasaran Sasaran Jampersal adalah kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi untuk mencegah AKI dan AKB dari suatu proses persalinan. mau buat anak berapa juga tetap gratis.. neonatal (0-28 hari). Supaya program KB berjalan dengan baik. Pemahaman masyarakat sekarang dengan adanya jampersal masyarakat merasa enak. tidak saja pada proses melahirkan tapi sampai pada biaya pelayanan ke rumah sakit jika ada yang komplikasi.

“.3. Tapi hampir seluruh kabupaten/kota lokasi penelitian mempermudah persyaratan dengan cukup sasaran membawa surat keterangan domisili. 81 . paspor (Kab. Kartu pelajar (Kab.Sebetulnya dari penjelasan diatas menunjukkan juga keterbatasan pemahaman bidan pada program Jaminan Persalinan terutama terhadap pelayanan KB yang merupakan satu paket dalam pelayanan PNC. “. misalnya dengan memperbolehkan dengan hanya surat keterangan domisili. Syarat dan Mekanisme Klaim Sasaran Jampersal dapat memanfaatkan Jampersal dengan syarat dapat menunjukkan kartu identitas berupa Kartu tanda penduduk (KTP).” ( Bidan Kota Ambon).. karena ada pasien ibu hamil datang ANC dengan jampersal tetapi tidak membawa KTP atau identitas lain utk persyaratan klaim. Baru ketika mengetahui bahwa untuk memanfaatkan Jampersal harus memiliki kartu identitas yaitu KTP. KTP suami (Kota Blitar).. Batam).. tp sampai melahirkan belum juga mengurus. Menurut informan sebelumnya masyarakat merasa tidak berkepentingan untuk memiliki KTP. 5. Dibeberapa Kabupaten kepemilikan KTP untuk sasaran menjadi masalah. karena masyarakat sering tidak mempunyai KTP.jika ada pasien seng punya KTP (tdk punya KTP). KTP tdk ada bs dengan domisili tetapi disyahkan oleh camat. Lombok Tengah).” (Bidan Kota Ambon). Lombok Tengah). Surat Ijin Mengemudi (kab. untungnya bpk raja/lurah mengenalnya jadi bisa dibuatkan surat domisili. Di kabupaten Kota persyaratan ini diimplementasikan bervariasi dengan tujuan memberi kemudahan pada sararan untuk memanfaatkan Jampersal.masalah Identitas ini (KTP/Kartu domisili) ini persoalan yang rumit dan menjengkelkan.4. kartu mahasiswa. KK juga harus disyahkan camat. tidak punya KK maka langsung menjadi pasien umum dan harus bayar.2. Kita sbg bidan yang mengurusnya sampai kita mencari ke rumahnya ternyata rumanya sudah tdk ada krn banjir. Kartu Keluarga (kota Ambon).. masyarakat mulai merasa pentingnya untuk mempunyai kartu identitas.

terintegrasi (menjadi satu kesatuan) dengan dana Jamkesmas. Dalam petunjuk teknis Jampersal 2012 diterangkan bahwa besaran jasa medis yang dikembalikan pada fasilitas kesehatan minimal 75%. maka status dana tersebut berubah menjadi dana peserta Jamkesmas dan masyarakat penerima manfaat Jaminan Persalinan. Adapun alur pembayaran klaim setelah disetor ke kas daerah digambarkan pada gambar 5. Besarkecilnya jasa medis yang diembalikan tergantung pada komitmen atau aturan yang berlaku di daerah tersebut.10. Setelah hasil verifikasi klaim dibayarkan sebagai penggantian pelayanan kesehatan. terdapat daerah yang lebih besar dari 75% tapi ada juga yang jauh lebih kecil dari ketentuan di petunjuk teknis. maka status dana menjadi pendapatan fasilitas kesehatan/puskesmas yang belum menerapkan BLUD (kebetulan puskesmas yang menjadi lokasi penelitian kebanyakan adalah non BLUD). Sehingga dana yang sudah di klaim setelah cair ke fasilitas kesehatan/ puskesmas akan disetorkan kembali seluruhnya pada kas daerah. Yang kemudian akan dikembalikan pada fasilitas kesehatan sesuai dengan besaran yang diatur dalam Perbup atau Perwali. namun ada beberapa daerah yang masih beranggapan bahwa dana Jampersal masuk dalam rekening Pemerintah Daerah sehingga sering menimbulkan polemik di daerah. Namun demikian pada kenyataannya tidak demikian. 82 . Dalam implementasi dilapangan secara umum kabupaten/kota melaksanakan alur dana seperti dalam petunjuk teknis. Setelah dana tersebut disalurkan Kementerian Kesehatan ke rekening Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab program (melalui SP2D).Menurut petunjuk teknis Jampersal di kabupaten/kota dana Jampersal di pelayanan kesehatan dasar disalurkan ke Rekening Dinas kesehatan kabupaten/kota.

Teman-teman bidan secara sukarela menanggung biaya perjalanan dan penginapan saya ke wanci (ibukota wakatobi) saat mengurus klaim.” (Pengelola Jampersal. “.. bukti kb dll. tetapi hal tersebut menjadi temuan. Kalau ada dana turun maka kami di puskesmas selalu diberi tahu bahwa dana jampersal sudah ada silahkan segera mengajukan klaim.Gambar 5.. partograf.Kalau tahun yang lalu 2011. Dinas kesehatan sangat baik dalam membantu pencairan dana.10 Mekanisme Pembayaran klaim Jampersal di Pelayanan Dasar Di Kabupaten Sampang untuk proses klaim dimulai dengan verifikasi kelengkapan berkas . Kab Paser).” (Pengelola Jampersal. Setelah itu direkap oleh pengelola Jampersal.. Aru). “..bidan bisa menerima besaran jasa pelayanan.. setelah selesai diverifikasi.” (Bidan Kota Blitar). tidak ada potongan dari dinas kesehatan. 83 . dientry data soft ware Jampersal. disimpan di Puskesmas. berharap agar sistem klaim lebih di sederhanakan.. jenis tindakan dan besaran tarif. Kab. sehingga kami tidak berani lagi mengeluarkan klaim jasa pelayanan jampersal. Kami menerima dana jasa pelayanan penuh. identitas. kelayakan. Untuk persyaratan klaim berdasarkan nama pasien. kami mengeluarkan klaim sekitar 40% karena program jampersal tidak melalui kas daerah. “. pengisian teknis. jika kuitansi sudah lengkap bendahara Jampersal membuatkan STSR (surat tanda setor retribusi) akhirnya disetor ke kas Daerah sebagai PAD.jasa pelayanan bidan harus melalui jalan yang cukup panjang untuk bisa dibayarkan. sedangkan berkas klaim yang lain dibawa kembali ke Puskesmas yaitu buku KIA.

Balikpapan antara lain adalah lamanya proses verifikasi di dinas kesehatan.dalam mekanisme klaim di Balikpapan ketika uang sudah cair dan akan disetor ke Kasda maka dilakukan penyobekkan karrcis sebanyak jumlah uang yang di klaim.adanya tenaga verifikator di puskesmas yaitu bidan koordinator sebagai pelaksananya sehingga diharapkan dengan adanya verifikator di puskesmas akan membantu verifikator di Dinas kesehatan di Dinkes dalam melaksanakan tugasnya. tetapi berkas yang sudah ada di dinas Kesehatan tetap berjalan dan akan diganti setelah perbaikan sehingga proses tetap berjalan walaupun berkas ada perbaikan.. Untuk persalinan itu hanya terima Rp 50. Kota Bandung). Pengajuan klaim dengan per bulan membuat ribet dan membuat repot. Kab.” (Dinas kesehatan.. Kalau mau klaim harus telpon dulu. Klaim BPS harusnya bisa diambil di Puskesmas.. Hal ini disebabkan karena proses mekanisme keuangan daerah. kepala dinas kesehatan menetapkan verifikator di puskesmas.maka setiap ada ANC dilakukan penyobekan karcis 4. Hal ini disebabkan banyaknya berkas yang harus diverifikasi tetapi jumlah tenaga verifikator terbatas dan merangkap tugas lain. Persyaratan klaim susah karena ada yang tidak punya KTP. Dipotong untuk jasa lainnya tambah ppn. Tapi untuk jumlah riilnya tidak tahu karena diakumulasi. Ada penggantian obat dan lainnya. Jarak klaim sama pencairan tidak terlalu lama. Di daerah uji coba penelitian Kab. Biasanya lewat tanggal 20 baru turun gitu.. “. 5000. Untuk klaim itu dikirim sebelum tanggal 10 bulan selanjutnya.Puskesmas klaim ke DKK tapi uang tidak diterima puskesmas.. soalnya petugasnya tidak stand by.. Karena dengan keterbatasan tenaga verifikator di Dinkes sistem ini diharapkan klaim menjadi lebih cepat. Kota Bandung). Yang menjadi masalah adalah untuk pelayanan ANC karena biaya karcis untuk ANC menurut Perda Rp. Mojokerto) Proses pengembalian dana setelah dari kas daerah ke puskesmas juga sering sekali menjadi kendala lamanya uang cair ke provider. Mojokerto. Klaim untuk infus tidak diganti oleh Jampersal.” (Kepala Dinas.” (Puskesmas. Klaim bisa satu minggu aja. “.klaim untuk BPS tiap bulan cair dan tepat waktu. Untuk menanggulangi masalah ini kepala Dinas Kab. Sampang melakukan percepatan dengan berkas yang harus diperbaiki akan dikembalikan pada puskesmas untuk perbaikan... “.Masalah dalam pengklaiman dibeberapa daerah ditemukan misalnya di kota Ambon. Proses pengajuan klaim susah.000 untuk jasa. “. Kepala puskesmas keberatan karena tidak masuk akal 84 .

dengan frekuensi pemeriksaan 4 (empat) kali . dimana terdapat persyaratan yang ditentukan oleh profesi yang harus dipenuhi. Namun sayang sekali tidak banyak bidan BPS yang dapat memanfaatkannya dikarenakan terkendala dalam pengurusan PKS dikarenakan tidak dapat memenuhi persyaratan terutama dalam pengurusan surat ijin praktek. PNC Rp. Kota Balikpapan). Jika cair nanti besaran yang diusulkan dari Dinkes 75% untuk jaspel dan dana operasional di puskesmas (jika disetujui pemerintah kota).. Untuk itu di beberapa kabupaten/kota seperti Batam dinas kesehatan untuk pelayanan Jampersal di layanan dasar mendorong BPS yang PKS diharapkan dapat memanfaatkan Jampersal. “. 5. Dari hasil penelitian didapatkan secara umum tidak ada masalah dengan besaran tarif untuk ANC. Besaran tarif pada bidan PKS pada umumnya diterima sesuai dengan petunjuk teknis yang berlaku.. Di Kabupaten/kota lokasi penelitian besaran tarif persalinan menurut sebagian besar provider di layanan dasar sudah cukup bagus sesuai dengan perda (rata-rata antara Rp.4.-.dalam pencatatan 1 orang melakukan ANC 4 kali dalam sehari.500.000. persalinan normal Rp.000. Tapi sampai saat ini belum ada penjelasan pasti dari Dinkes.sampai saat ini jasa pelayanan Jampersal untuk bidan puskesmas untuk tahun 2012 belum ada yang cair.-). 100.... 20.4.700.. Lebih mudahnya proses klaim dan pencairan dana pada BPS dikarenakan tidak perlu melalui mekanisme keuangan daerah tapi langsung melalui dinas kesehatan.000. 200.000.dengan frekuensi 4 (empat) kali dan tindakan pra rujukan Rp. Besaran Tarif Pelayanan Dalam petunjuk teknis besaran tarif Jampersal tahun 2012 untuk ANC menjadi Rp. Proses cairnya juga lebih cepat dan lancar dibandingkan bidan di puskesmas dan jaringannya yang non BLUD. Untuk proses klaim dana Jampersal pada bidan BPS yang melakukan PKS dengan dinas kesehatan pada umumnya tidak ditemukan kendala dalam prosesnya.000 sampai dengan Rp. 20.. puskesmas akan mengikuti aturan tersebut.000.” (Dinkes Kota Balikpapan).2.” (Puskesmas. Walaupun di beberapa kabupaten/kota tarif Jampersal dibawah tarif yang 85 .

kami menanganinya. geografis dll ada yang mengusulkan untuk dilakukan regionalisasi pada tarif.besaran tariff sudah cukup bagus sesuai dengan perda.000. klo boleh dinaikkan sedikit dg tarif 750 rb disesuaikan dg tarif umum. Apalgi kalo di wilayah PKM galang ini wilayah kerjanya luas dan jauh2 jadi biaya tersebut juga sbg biaya transport bidan dalam menolong persalinan jika harus dipanggil ke rumah pasien.keluhan bidan itu kurang sdh melayani pasien.” (Bidan Kab.. BHP dll. tapi ternyata dibayar cuma sesuai dengan tariff di juknis.. “. untuk bahan habis pakai saja kami menghabiskan lebih dari 200. hanya saja tarifnya apa bisa ditingkatkan. Sampang). Misal kalau ada kasus perdarahan maupun manual plasenta..000 untuk persalinan oleh bidan.sudah sesuai mulai dari ANC. Batam. krn BHP sendiri. maka bidan desa akan menerima 75% dari Rp 500. Namun demikian menurut bidan dan ketua IBI (Ketua IBI Bandung) sebagai responden penelitian ini. makan minum pasien. perda mengatur besaran persalinan oleh bidan sebesar Rp 350. persalinan sampai PNC.menurut saya kalau persalinan normal.” (Puskesmas. Sebetulnya dengan adanya Jampersal bidan merasa ada kepastian dalam pendanaan dari setiap pasien yang memanfaatkannya dan dapat melakukan subsidi silang. Kalau persalinan yang mengalami kegawatdaruratan kita juga yang menangani. Untuk besaran tarif karena adanya variasi dari nilai fiskal daerah. Paser). Minta ditambah. Bogor).. Alasan perlu dinaikkan tarif tersebut karena menurutnya ada biaya lain yang perlu dibayarkan ketika menolong persalinan misalnya biaya dukun untuk pasien yang merupakan rujukan dukun.. dengan adanya paket jampersal untuk besaran tarif Rp 500. “. memberi makan pada pengantar pasien selama pasien dirawat melahirkan. tapi ternyata dibayar cuma segitu.berlaku pada umumnya di wilayah tersebut terutama untuk BPS misalnya seperti di Balikpapan. maksudnya persalinan tanpa ada perdarahan. jadi bidan hanya 400 rb.. tidak semua pasien dapat membayar sesuai dengan tarif tersebut bahkan beberapa pasien di gratiskan karena tidak mampu membayar.karena membayar dukun.000. Hanya masalahnya tidak di semua kabupaten/kota klaim dapat cair dengan cepat dan lancar sehingga bidan harus mengeluarkan biaya yang cukup besar terlebih dahulu sebelum dana dapat dicairkan. paket pelayanan sudah cukup.. Bandung dll.000. kab. karena di sini semua lebih mahal dibandingkan dengan di jawa.” (Puskesmas. kalo bisa sampe 700 rb. Kota Batam). 86 . “.. dengan tarif bidan yang tinggi.” (Bidan kab. “.

Jadi untuk tarif jampersal dirasa cukup.perlu ada regionalisasi tarif.000. 500. Wakatobi biaya transpotasi ke pelayanan kesehatan dapat jauh lebih mahal dibandingkan biaya persalinannya sendiri. Kota Kendari).. Data penelitian ini di wilayah ini didapatkan di luar pembiayaan Jampersal terdapat juga pasien yang membayar biaya tambahan.bahkan di Kota Balikpapan untuk klas VIP tarif bidan untuk persalinan normal dapat lebih dari Rp.000. jasa pelayanan untuk persalinan ditetapkan untuk .4.-. 3) sedangkan untuk BPS 100% menjadi jasa pelayanan. 350.“. Puskesmas non BLUD minimal adalah 75% dari tarif persalinan normal yaitu Rp.” (Bikor. Dengan demikian biaya transportasi merupakan faktor penting untuk mendapatkan pelayanan persalinan di fasilitas kesehatan. sedang tarif umum tidak ada. 2) Puskesmas BLUD setelah dana di klaim maka menjadi dana pendapatan/penerimaan fasilitas kesehatan ..”(Puskesmas. Jasa Pelayanan Di dalam petunjuk teknis Jampersal tahun 2012 . Berbeda untuk kabupaten kepulauan misalnya di kabupaten Kep. sebab tarif persalinan tiap daerah berbedabeda. tidak masalah dalam tarif Jampersal tetapi yang menjadi masalah adalah kurangnya akses transportasi dan mahalnya biaya transportasi serta terbatasnya sarana dan sumberdaya manusia yang ada. Hal ini didukung adanya kesepakatan IBI bahwa bidan dapat menarik biaya tambahan kepada pasien dalam batasan tertentu. Sehingga tarif Jampersal dianggap kurang memadai.-.000.000.-. 1).2.. karena semua bidan di sini adalah bidan pemerintah 24 jam. Sehingga untuk kabupaten kepulauan Aru. Aru). 3. 5.. Kab. “. Aru dan kabupaten Wakatobi.000.. Yang masih belum ada dalam jampersal adalah biaya untuk petugas pendamping saat melakukan rujukan. Di Kota Balikpapan dan Kabupten Paser. 87 .1. “.5.. Kota kendari).pada tahun lalu saat masih pakai tarif Pemda biaya persalinan Rp. dimana tarif persalinan normal cukup tinggi yaitu lebih dari Rp.” (Dinas kesehatan.000.tarif jampersal lebih baik dibandingkan tarif puskesmas..

Blitar. 88 . Sedangkan untuk puskesmas non BLUD (semua puskesmas dalam penelitian ini adalah non BLUD) untuk dana Jampersal 2012 terkendala dengan mekanisme keuangan dimana setelah proses klaim dana yang telah menjadi pendapatan/penerimaan fasilitas kesehatan (Puskesmas) mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan. yaitu dana disetor ke kas daerah kab/kota masing-masing. karena tidak melalui mekanisme keuangan daerah. Beberapa kabupaten/kota (Sampang. Lombok tengah. Di Kota Bandung untuk jasa pelayanan di puskesmas non BLUD mengikuti Perda yang ada tanpa membuat peraturan baru untuk Jampersal. Kota Blitar ketika Perwali terbit belum terdapat mata anggaran untuk menyetoran dan penarikkan kembali. Ambon. Wakatobi walaupun tidak mengeluarkan Perbup /Perwali mengikuti proses klaim juknis Jampersal 2011 yaitu penerimaan fasilitas kesehatan tidak disetorkan ke kasda keseluruhan. Walaupun demikian tidak semua daerah lancar dalam proses pencairannya terkendala masalah teknis misalnya di Sampang karena jumlah realita klaim Jampersal jauh lebih besar dari perencanaan Jampersal 2012. sehingga tidak dimungkinkan untuk menarik jasa pelayanan lagi.Dalam implementasi untuk BPS dan puskesmas BLUD jasa pelayanan dapat diterima dengan waktu yang relatif lebih cepat dan lancar dan dapat diterima 100%. hanya masalahnya besaran jasa pelayanan dalam Perda jauh lebih rendah dari besaran jasa pelayanan Jampersal untuk persalinan normal. Kabupaten Kepulauan Aru. maka untuk mencairkan dana berikutnya diperlukan menunggu dana Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) sehingga bulan November baru dapat di cairkan. Batam) menerbitkan Perbup/Perwali untuk mengatur Jampersal. Kota Batam karena sudah terdapat anggaran untuk jasa pelayanan untuk tenaga kesehatan. tapi prosentase yang menjadi hak daerah saja yang disetorkan. Mataram.

. demikian masyarakat yang sebelumnya ada permasalahan dengan ekonomi. Sampang). provider pelaksana yang memegang peranan dalam pelayanan Jampersal adalah bidan rumah sakit dan SPOG. 5.5. Sering timbul masalah 89 .. Provider di rumah sakit pada umumya mendukung kebijakan Jampersal dalam upaya mencapai target MDGs. tapi banyak provider yang tidak tersosialisasi dengan jenis paket pelayanan Jampersal.. termasuk penyakit yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan yang dapat membahayakan jiwa ibu. Paket Layanan Di rumah sakit petunjuk untuk Paket layanan Jampersal pada umumnya adalah sesuai dengan petunjuk teknis yang ada. Pemberi Layanan di Fasilitas Kesehatan Rujukan Dalam memberikan pelayanan di fasilitas kesehatan rujukan. Tapi untuk yang sekarang sudah lebih jelas bahwa untuk semua kasus kehamilan akan ditanggung semua.1. Untuk paket pelayanan Jampersal semua kasus yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan. “.3. Namun kenyataannya tidak demikian. Sampang) Provider (Bidan.4. Kab.3. Dalam penelitian ini dilakukan wawancara mendalam pada provider untuk mengetahui penerimaan terhadap Jampersal.4. Kecuali untuk kasus ginekologi. Sejak ada Jampersal pasien di rumah sakit menjadi lebih banyak dari sebelumnya bisa sampai hampir dua kali lipatnya. karena banyak pasien yang tanpa rujukan langsung datang sendiri ke pemberi pelayanan tingkat lanjutan.pada waktu awal pelaksanaan jampersal tahun 2011 untuk kiret dan KET terkadang mereka masih suka bingung ini masuk jampersal atau tidak.. ditanggung oleh Jampersal.” (RSUD. Kab. “.” (RSUD. Disamping itu dengan kunjungan dokter obgyn ke puskesmas PONED secara bergiliran meningkatkan jumlah pasien ke RS demikian juga atas motivasi bidan dan pendampingan bidan jkia merujuk ke rumah sakit menyebabkan kunjungan ke RS juga menjadi meningkat.Jampersal bermanfaat terutama untuk masyarakat yang dulunya ke dukun sekarang ke nakes. Provider tingkat lanjutan memberikan pelayanan untuk pasien rujukan yang tidak bisa ditangani oleh provider kesehatan tingkat pertama. SPOG) pada umumnya tidak mempermasalahkan paket pelayanan yang ditetapkan dalan juknis.

sebaiknya dilakukan pembatasan pada masyarakat tidak mampu dan benar-benar tidak mempunyai Jaminan.4.” (NN.. di dalam Juknis disebutkan bahwa ibu hamil.dalam pengklaiman jika ada pasien Jampersal yang dirujuk dari pelayanan dasar karena komplikasi tetapi di rumah sakit dapat bersalin secara normal. bersalin. nifas. Sedangkan pemberi pelayanan tingkat lanjutan adalah pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan spesialistik untuk pelayanan kebidanan dan bayi baru lahir kepada ibu hamil.Belum ada ketegasan program jampersal yang mengharuskan peserta jampersal harus ikut KB. mereka langsung bersalin di pemberi pelayanan kesehatan tingkat lanjutan (dalam hal ini rumah sakit. akibatnya banyak peserta yang tidak mau ikut KB .. dan bayi baru lahir dengan resiko tinggi dan atau dengan komplikasi yang tidak dapat ditangani pada fasilitas kesehatan tingkat pertama yang dilaksanakan berdasarkan rujukan atas indikasi medis. Kendala lain yang dihadapi adalah pasien kadang tidak mau bersalin di pemberi pelayanan tingkat pertama. “. Padahal. Kepesertaan Untuk sasaran Jampersal di rumah sakit. ibu bersalin dan ibu nifas yang ingin mendapatkan pelayanan Jampersal dilayani oleh pemberi pelayanan di tingkat pertama. Untuk pelayanan KB paska Nifas tidak semua RS mengetahui. Sedangkan menurut juknis Jampersal menyatakan bahwa sasaran Jampersal 90 . hal ini mengakibatkan adanya peningkatan jumlah pasien yang bersalin di rumah sakit. 5. dan banyak yang memanfaatkan program jampersal ini untuk sering hamil (pumpung gratis) tanpa memperdulikan masa depan anak dan ibunya yang apabila sering melahirkan dan banyak anak akan lebih beresiko. RSUD). Setelah persalinan biasanya pasien akan diserahkan kembali ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan pasca nifas.3. Pelayanan pasien Jampersal sama dengan pelayanan untuk pasien umum. Kebanyakan di sini pasien yang datang persalinan dengan komplikasi atau penyulit. Hal ini perlu karena pengguna Jampersal ternyata banyak dari masyarakat yang mampu dan sudah mempunyai jaminan kesehatan lain misalnya Askes. baik negeri maupun swasta). Bila demikian apakah target untuk menurunkan AKI bisa tercapai? Seharusnya program jampersal harus tegas di ikuti dengan program KB.2.

hambatannya sebetulnya tidak ada.yang perlu di di klarifikasi adalah masalah partograf .. kartu domisili. Kep.” (Pengelola Jampersal. partograf dan buku KIA ( RSUD Mataram). RSUD ). “.semua ibu yang tidak memiliki kartu Jamkesmas dan Jamkesda. Karena yang menerima di depan tidak tahu tentang teori. “. Namun dalam kenyataannya...” (SPOG. Sasaran dapat memanfaatkan Jampersal di fasilitas rujukan dengan membawa KTP. 5. buku nikah.adalah ibu dan bayi yang belum mempunyai jaminan kesehatan. RSUD). Kab. Jadi dikhawatirkan ini akan menjadi tumpang tindih dengan asuransi lainnya. SIM. Kab. Aru). KK. kartu pelajar. Selain itu pasien membawa rujukan. 91 .” (Pengelola.. Ini menjadi masalah kalau partograf menjadi syarat yang diwajibkan untuk pasien jampersal. tetapi banyaknya masyarakat yang mampu tetapi masih menggunakan fasilitas jampersal.. tetapi tetap tidak bisa menolak.” (RSUD. namun pelayanan yang dinginkan tersebut tidak lagi ditanggung dalam paket pelayanan asuransi yang diikutinya. banyak pengguna Jampersal telah memiliki jaminan kesehatan. Persyaratan pengajuan klaim yang penting sudah ditanda tangani verifikator independen dan direktur. mengapa setiap persalinan harus ada partografnya padahal untuk kasus letak lintang.. Sampang).4.3.pihak rumah sakit berharap adanya pembatasan dalam hal kepesertaan.. karena pada prinsipnya jampersal adalah bagi seluruh masyarakat yang melakukan persalinan di kelas III. Kepesertaan Jampersal berlaku prinsip portabilitas. Kab. Terkadang saya kasihan ke pasien karena mereka tidak mengerti karena masalah ini ditolak sehingga harus wira wiri. Sampang). “. persyaratannya KTP dan rujukan. Seharusnya partograf hanya untuk kasus persalinan letak kepala pada fase aktif pada fase laten tidak bisa mengisi partograf.3. Klaim diajukan ke pusat melalui kurir & konfirmasi dari pusat via telpon. RW/ Kelurahan bahwa ybs tidak mampu (RSUD.sungsang ini tidak masuk akal. Syarat Klaim Pengajuan klaim di rumah sakit pada umumnya disesuaikan dengan juknis yang ada. “. keterangan RT. Karena terkadang ada pasien yang memiliki askes tapi untuk anak ke 4 mau ditanggung dengan jampersal.. dimana pemberi pelayanan kesehatan baik di tingkat pertama maupun lanjutan menerima pasien yang berasal dari daerah manapun.

surat jaminan pelayanan yang dibuat oleh pihak RS. pendapatan/penerimaan kesehatan (Rumah selanjutnya pengelolaan serta penggunaan danpemanfaatannya dilakukan dengan mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan. jadi setelah pasien masuk.outnya dikirim. Kab. termasuk di dalamnya adalah jasa pelayanan. Yang menjadi kendala dalam hal ini adalah feed back yang kadang-kang terlambat. Selanjutnya kami tinggal menunggu feedback dari Pusat untuk bisa mengambil uang atas klaim yang sudah dikirimkan tersebut.4.Mekanismenya.3.” (SPOG. Sedangkan dana yang telah menjadi pendapatan/penerimaan jasa layanan (Rumah Sakit/Balkesmas BLUD) maka pendapatan jasa layanan tersebut dapat langsung digunakan dan dimanfaatkan sesuai RBA/DPA-BLUD. surat rujukan dari Puskesmas atau bidan. Dalam juknis dinyatakan fasilitas bahwa dana yang telah Sakit non menjadi BLUD).. “. Besar jasa pelayanan pada provider (pemberi layanan) hendaknya memperhatikan maksud pemberian insentif yaitu untuk akselerasi tujuan 92 . Besaran Tarif Pelayanan dan Jasa Pelayanan Tarif pelayanan Jampersal di rumah sakit berdasarkan tarif INA CBG’s..klaim Jampersal dikirimkan ke P2JK menjadi satu dengan klaim Jamkesmas. Dulu dalam satu tahun itu bisa 4 sampai 5 kali klaim. “.. Disini ketidak tahuan pihak rumah sakit bahwa laporan tidak perlu menunggu feedback dari P2JK. kota Bandung). biasanya kami padukan dengan bagian verifikator independennya. Biasanya berkas klaim yang dikirim itu ada dalam bentuk software tapi juga print.4. Sampang). Yang diperiksa oleh verifikator adalah : KTP..persyaratan jampersal lebih mudah daripada jamkesda. 5. sehingga kami juga sering terlambat dalam membayarkan jasa medik. Tahun 2011 klaim lebih lancar dibandingkan tahun 2012. kemudian di data sesuai dengan syarat yang ada kemudian di input datanya kemudian diperiksa kelengkapannya jika sudah sesuai maka akan di tandatangani oleh direktur selanjutnya berkas klaim tersebut dikirim ke Pusat oleh petugas administrasi pelayanan terpadu di rumah sakit.”(verifikator independen.

. 93 .” (SPOG.2 atau 1. kalau tariff sectio dinaikkan mungkin juga dr.. “. apa itu manusiawi.000 .. “.000..083. RSUD)..yang saya tahu. Kota Ambon).. apa itu masuk akal dan pikiran? Apa yang buat ini tidak berpikir. jadi tarifnya memang masih jauh di bawah standartnya. Sepaket 2. RSUD).. Besaran Jasa pelayanan kesehatan (total) ditetapkan oleh Kepala Daerah atas usulan Direktur Rumah Sakit dengan setinggitingginya 44% atas biaya pelayanan kesehatan yang telah dilakukan.. Itu juga saya heran yg menentukan tarif di pusat koq bisa sectio itu keluar angka 2. karena kalau tidak salah tarif untuk jasa pelayanan rasanya masih kurang sesuai dengan yang standarnnya. supaya pelayanan juga bisa lebih maksimal. belum untuk bahan habis pakai. “.tidak manusiawi. Itu aka diterimakan antara 3 sampai 6 bulan sekali. Kota Bandung).dokter obgyn tidak terlalu mempermasalahkan karena takut mengungkap. Disatu sisi tariff kecil dan di sisi lain mengutamakan kemanusiaan. dana yang ada masuk ke daerah dan kami nanti akan mendapat japel sebesar 44% sesuai perda yang ada. namun kalau boleh kami memberikan saran. Pengaturan mengenai jasa pelayanan/jasa medik tersebut dilakukan sesuai dengan ketentuan yang mengatur mengenai hal itu.tarif sedikit. tapi dengan jampersal kan hanya 1.. Wakatobi). Yang menjadi masalah adalah besaran tarif yang berlaku (INA-CBG’s) sebagian provider rumah sakit menyatakan besarannya sudah tidak sesuai dengan kondisi sekarang..” (NN.083. Besaran Jasa medik untuk untuk bidan. dan bahan habis pakai. Pada implementasi di RSUD kabupaten / kota penelitian berjalan seperti aturan yang berlaku.” (bidan RS.000 itu Cuma habis untuk obat saja. Bedanya sampai 1 juta per pasien. “.program dan tujuan MDG’s. Ada potongan dimana-mana karena masalah birokrasi.. “. Ini masalah personal. Karena biaya itu kan juga termasuk untuk keperluan lainnya seperti obat. bisa-bisa partus fisiologis tidak ada lagi kalau jasa sectio di naikkan.pembiayaan Jampersal selama ini ya berjalan sesuai dengan aturan yang ada ya dari pemerintah sesuai dengan INA CBGs. karena terlalu rendah. jadi yang diterima nakes kecil.8 juta lah. Obgyn sectio semua. ya kalau bisa dinaikkan menjadi 4 sampe 5 juta lah. biasanya kalau pelayanan sectio itu kan antara 6 sampai 7 juta ya. kab.” (Pengelola Jampersal RS. lalu bagaimana bayar pelayanan dan perawatan. Masa 1 sectio saya dibayar 150.. SPOG dan semua tenaga di RS Jampersal RS mengacu pada peraturan (44%). harus ikhlas.” (SPOG.

“..2 juta sama dengan tarif tindakan sectio. masih terjangkau masyarakat untuk pasien kelas 3.apabila tahu bahwa standar penggantian biaya oleh Jampersal lebih rendah dari standar penggantian biaya oleh JKP. SPOG. 94 . khawatir nanti pasien bisa di sectio semua Atur incentive yang lebih baik. Tarif untuk pasien-pasien dengan tindakan sangat kecil dibandingkan dengan yg tanpa tindakan. premature dan tindakan lain yang lebih beresiko juga 1.000 – 1250000.2 jt.” (RS. itu sudah pas-pasan..000 . Dokternya hanya dapat 750. Untuk RSUD yang menggunakan tarif Kelas III. Kota Blitar)... “.obgyn dapat 300 ribu per sectio tapi kalau kena tuntutan hukum bisa kena denda sampai 300 juta. pihak rumah sakit lebih senang memanfatkan dengan tarif tersebut karena dianggap lebih sesuai (tarif jauh lebih tinggi dari tarif Jampersal) sehingga sering terjadi masalah dengan pasien yang menggunakan Jampersal. maka para bidan. dokter dan tenaga dokter spesialis Obgyn kami menjadi kurang tertarik pada Jampersal. “. RSUD). Terdapat juga rumah sakit yang mengenakan tarif tambahan pada pasien Jampersal yang dianggap mampu dengan melakukan pendekatan terlebih dahulu terhadap pasien.. Kota Ambon).RSUD selain melayani Jamkesmas dan Jampersal juga melayani Jaminan kesehatan daerah (Jamkesda)..menurut saya standarnya untuk paket standar kelas 3 itu 5.” (dr.tarif dinaikkan tapi jangan terlalu tinggi sehingga membahayakan profesi maksudnya kalau terlalu tinggi. asthma dan diare bisa di klaim dengan tariff sampai dengan 1. Kota Kendari). “. Contoh: kasus angina pectoris.” (SPOG.000..” (RS. Didaerah tarif Jamkesda bervariasi ada yang menggunakan INA-CBG’s adapula yang menggunakan tarif Kelas III.. Itu kalau di swasta standar tarifnya itu.

5. AKSES (ACCESSIBILITY) TERHADAP SARANA DAN PRASARANA. SDM TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN 5.id 95 . Disamping itu untuk Jampersal. 8. Bidan merupakan ujung tombak dalam memberika di pelayanan kesehatan ibu dan anak di pelayanan dasar. 7. Wakatobi Balikpapan Paser Batam Natuna 19 26 17 15 12 8 5 10 12 10 129 437 145 85 165 100 27 118 74 65 1 1 1 2 1 *Bidan Dinkes : Bidan puskesmas dan Bidan Desa Sumber : Dinas Kesehatan dan www. 12. Dinas kesehatan melakukan MoU dengan mebuat Perjanjian kerjasama (PKS) dengan bidan praktek swasta (BPS). KETERSEDIAAN (AVAILABILITY).5. Sampang Blitar Mataram Lombok Tengah Bandung Bogor Ambon Aru Kendari Puskesmas 21 3 10 25 73 101 22 21 15 Kec 14 3 6 12 30 40 5 7 10 Bidan Kelurahan Dinkes* 299 40 78 193 347 702 109 42 123 186 21 50 124 139 426 50 119 64 BPS “PKS” 45 9 5 155 39 1 tdk ada data 90 4 92 - RS Pemerintah 1 1 1 1 3 4 1 1 1 10.bppsdmk. 6.depkes. Di setiap desa diharapkan terdapat satu bidan desa yang dapat melayani wilayahnya. Di kabupaten/kota lokasi penelitian ketersediaan sarana dan prasarana seperti terlihat pada tabel dibawah ini. 13.1 Sarana dan Prasarana Pelayanan Dasar dan Rujukan Dalam rangka mencapai target MDG’s untuk menurunkan AKI dan AKB perlu ditunjang sumberdaya manusia di bidang kesehatan. sarana dan prasarana yang memadai.5.2. Sarana dan Sumberdaya manusia yang memberikan Pelayanan Jampersal Jumlah Fasilitas dan SDM No Kab/Kota 1. 9. Tabel 5. 4. 11.go. Klinik bersalin. 14. 2. rumah sakit pemerintah dan swasta.5. 3.

Kabupaten Kepulauan Aru. Jumlah desa di kabupaten kepulauan Aru lebih banyak daripada jumlah bidan yang ada yaitu terdapat 119 desa. Kota Balikpapan dalam satu kecamatan terdapat 2-3 puskesmas. Dalam pelaksanaan Jampersal untuk pemenuhan fasilitas layanan kesehatan tidak semua kabupaten/Kota mempunyai perjanjian kerjasama antara Dinas kesehatan dan BPS seperti Kabupaten Lombok Tengah (Dinas kesehatan belum membuka kesempatan ini). Hanya saja yang perlu diperhatikan di kabupaten kepulauan satu kecamatan bisa terdiri dari beberapa pulau. Kabupaten kepulauan Aru). baik itu dokter maupun bidan. Kabupaten Wakatobi. selain itu perlu juga diperhitungkan dengan luas wilayah dan geografis di wilayah. Kota Bandung.pemanfaatan dana jampersal pada tahun lalu bisa dibilang rendah. bahkan satu desa terdiri dari beberapa pulau.. kabupaten Bogor.. hanya 9 puskesmas yang memanfaatkan dana jampersal. Penyediaan pelayanan kesehatan tingkat pertama di puskesmas PONED di kota misalnya di kota Blitar dan Kota Bandung puskesmas PONED masih terbatas sarana dan sumber daya manusianya. Sekarang di tahun 2012 ini mulai ditempatkan tenaga bidan honorer. Sulawesi Tenggara dan kepulauan Riau diatas rasio bidan Nasional. Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011 Maluku. tetapi jumlah bidan hanya 42 orang. Karena dari 22 puskesmas yang ada.Di semua kabupaten/kota lokasi penelitian di tiap kecamatan sudah terdapat sedikitnya satu puskesmas. tetapi pada kenyataannya terutama di kab. Apalagi lokasi di kabupaten penelitian. padahal yang memberikan pelayanan jampersal kan seorang bidan. Sisanya tidak karena memang pada waktu itu tidak ada tenaga bidannya. Dari wawancara dengan pengelola Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten kepulauan Aru menyatakan sbb: “. Kepulauan Aru jumlah bidan kurang.” (Pengelola Jampersal. Kompetensi bidanpun masih perlu untuk ditingkatkan. Kota Ambon. Hal ini dikerenakan pendistribusiannya tidak merata. Jika dilihat daridata rasio bidan menurut Badan PPSDMK. Persentase puskesmas PONED yang mempunyai kurang 96 . bahkan Kabupaten Lombok Tengah. Kabupaten Kepulauan Aru (keterbatasan SDM) dan Kabupaten Paser (belum ada BPS yang mendaftar).

(RIFASKES. Inovasi dilakukan di Kabupaten Wakatobi dengan memberikan kebebasan supaya masyarakat melahirkan di fasilitas kesehatan selain puskesmas.mengatakan tidak tahu dan belum pernah sekalipun di RS mendapatkan sosialisasi tentang Jampersal baik dari Dinas Kesehatan Kabupaten. Bahkan dibeberapa kabupaten/kota sudah menjalin perjanjian kerjasama dengan RS Swasta misalnya Kabupaten Lombok Tengah (RS Yatopa). Untuk sarana sebagai puskesmas PONED masih dirasakan kurang.7%. bahkan di Kota Bandung walikota menlaunching jejaring pemberi pelayanan di Pemerintah Kota dengan melibatkan RS Swasta di wilayahnya.dari 20% jenis alat kesehatan PONED di perkotaan 31. Sementara Rumah sakit Pemerintah di Kabupaten Paser menyatakan belum melakukan perjanjian kerjasama untuk Jampersal karena belum tersosialisasi Jampersal.. Karena sarana dan prasarana di semua fasilitas kesehatan tersebut sudah dilengkapi. “..puskesmas PONED dengan satu tenaga dokter dan bidan yang sudah mendapat pelatihan PONED. SPOG terutama di kabupaten.. peralatan di ruang ICU (Lombok Barat. Di rumah sakit kabupaten Lombok Tengah dan kota Ambon terdapat keterbatasan prasarana seperti tidak adanya ruang recovery untuk pasien paska operasi (Lombok tengah). bisa melahirkan di polindes. SPOG. Kota Batam (RS Camatha Sahidya). poskesdes maupun pustu.” (Puskesmas. Dana untuk pengadaan sarana dan prasarana di fasilitas tersebut berasal dari APBD. Tenaga perawat (Lombok tengah) dan dr. Yang sementara ini ada dan sedang berjalan di RS untuk pelayanan masyarakat miskin atau tidak mampu adalah Jamkesmas dan Jaminan Kesehatan Paser (JKP).”(Direktur RSUD Paser).. 2011). sehingga belum melayani pasien dengan Jampersal. Kota Ambon).6% sementara di perdesaan 21. Fasilitas rujukan terutama di kabupaten juga masih menjadi kendala dimana minimnya fasilitas dan SDM kesehatan terutama keterbatasan dr. 97 . Kota Kendari) Di kabupaten / Kota rumah sakit pemerintah menjalin perjanjian kerjasama sebagai fasilitas rujukan Jampersal. Propinsi dan Pusat. “.

. bagaimana dia mau care dengan pasien. SPOG.. “.. “.” (dr. Lombok Tengah). Jadi perencanaan tersebut tidak dilakukan di level Kabupaten. SGOG.sebenarnya kematian itu dapat dikendalikan apabila tim work yang baik. Seperti contoh ketika peneliti pengumpulan data di salah satu RS di Kepulauan selama 1 (satu) minggu. Dimana mekanismenya adalah Puskesmas membuat rencana kebutuhan alat kontrasepsi kepada SKPD pengelola program KB yaitu BKKBN atau Dinas pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana. mulai pada saat setelah tidakan.” (dr SPOG.resinden ada di aru ada di tual d saumlaki juga ada. Tapi saya belum pernah ke sana jd tidak tahu apa ada sarananya. peneliti tidak dapat menemui dr tersebut dikarenakan tidak berada di tempat (di luar wilyah kabupaten tersebut). SPOG / PPDS yang sedang menempuh pendidikan. maka Puskesmas mendistribusikan alat tersebut ke bidan desa di wilayahnya. Tetapi disini kebanyakan perawat di ruangan adalah honorer yang gajinya hanya 250 ribu.. Kota Ambon). Tapi listrik itu yang masalah. Setelah mendapatkan alat kontrasepsi. “. ruangan ICU. Di kabupaten/kota lokasi penelitian secara umum proses penyediaan alat kontrasepsi pada pelayanan KB di Puskesmas melalui BKKBN. Dan tenaga tersebut (dr. ventilator yang kurang dsb. SPOG/ PPDS) tidak sepenuhnya “stand by” 24 jam di rumah sakit.” (dr. pengawasan post operasi yang baik. Lagipula untuk sectio kan tidak perlu banyak fasilitas. Dokter setelah melakukan operasi diserahkan ke ruangan. di beberapa kabupaten/kota menjadi Dinas Pemberdayaan Perempuan 98 ..Untuk mengatasi kekurangan tenaga beberapa daerah merekrut tenaga honorer misalnya di Lombok Tengah untuk tenaga perawat.penyebab kematian ibu juga karena sarana prasarana yang tidak memadai. Dengan SKPD BKKBN di kabupaten/kota saat ini tidak selalu berdiri sendiri.. Perencanaan kebutuhan alat kontrasepsi dilakukan pada level Puskesmas ke pengelola KB atau petugas lapangan KB (PLKB) tingkat kecamatan. Yang menjadi masalah saat ini adalah ketersediaan alat kontrasepsi di layanan dasar masih kurang. Dinas Kesehatan Kabupaten hanya menerima laporan dan rekapitulasi dari Puskesmas. Lombok Tengah). Bekerjasama dengan Fakultas kedokteran untuk tenaga kontrak dr. sekarang sudah lumayan dulu-dulu PLNnya kan bermasalah. diruangan harus diawasi oleh perawat.

. “. implant.. demikian juga SDM terlatih baik sesuai SOP. 99 .ketersediaan alat. terlatih untuk pemasangan IUD danalat KB lain. obat dan sarana lain yang dibutuhkan masih kurang..” (Puskesmas.Alat kontrasepsi tersedia semua IUD. pil . laparatomi.seperti di Kepulauan Aru tidak ada BKKBN yang melayani kebutuhan Keluarga Berencana. tapi menjadi Dinas Pemberdayaan Perempuan dimana salah satu bidangnya menangani KB. Kota kendari). Kab. suntik.” (Bidan RS. MOW. “. Bogor).. kami selalu mem otivasi klien utk ikut KB sehingga hasilnya banyak yg bersedia ikut KB.

tempat cuci kamar Operasi di Ruang Kandungan dan Kebidanan RSUD di Ambon 100 .11.Gambar 5. Ruang ICU.

Namun demikian perlu diperhatikan geografis pada lokasi kabupaten daerah pegunungan / bukit dimana untuk mencapai lokasi memerlukan waktu lebih lama dikarenakan harus ditempuh dengan roda dua atau bahkan jalan kaki. bahkan di beberapa daerah alat transportasi tidak tersedia setiap saat.12.2 Aksesibilitas jarak Aksesabilitas jarak adalah jarak yang ditempuh responden yang menggunakan Jampersal dari rumah ke pelayanan kesehatan yang di manfaatkan saat menggunakan Jaminan persalinan. Dari gambar dibawah nampak antara aksesabilitas di kabupaten/kota “non kepulauan“ yaitu kabupaten yang letak pelayanan dasar dengan wilayahnya terletak satu pulau (Sampang. Kota Bandung. Kota Batam) dan ”kepulauan” yaitu dimana letak pelayanan dasar dengan wilayahnya dapat berbeda pulau (Kota Ambon. Lombok Tengah. Kota Kendari. Paser. Demikian pula kabupaten kepulauan dimana untuk mencapai fasilitas harus melalui transportasi laut sehingga menyebabkan waktu tempuh dan biaya menjadi kendala tersendiri.5. Kota Blitar.Wakatobi dan Natuna) sebagian besar jarak ke pelayanan dasar adalah <5 km. Bogor. Kepulauan Aru. Kota Mataram. 101 . Ruang rawat Inap pasien Jampersal di Rumah Sakit 5. Balikpapan.Gambar 5.

Kepulauan Aru dan Wakatobi dijelaskan lebih lanjut dibawah ini.13 Jarak ke pelayanan Kesehatan pada pengguna Jampersal di kabupaten/Kota “non kepulauan” Gambar 5.Gambar 5. maka seluruh kabupaten di propinsi ini adalah sebuah kepulauan. Kabupaten Kepulauan Natuna Kabupaten Kepulauan Natuna merupakan salah satu wilayah dari Propinsi Kepulauan Riau. 102 .14 Jarak ke pelayanan kesehatan pada pengguna Jampersal di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Untuk menggambarkan akses ke pelayanan kesehatan terutama di kabupaten kepulauan seperti Kepulauan Natuna. Sesuai namanya. sehingga dapat menggambarkan bagaimana akses masyarakat dalam upaya mendapat pelayanan.

Gambar 5.15. Peta Wilayah Provinsi Kepulauan Riau

Kabupaten Natuna, kabupaten kepulauan yang memiliki banyak lanscape view yang sangat cantik ini merupakan salah satu wilayah paling Utara Republik ini yang berbatasan laut langsung dengan negara tetangga Vietnam dan Kamboja. Dengan posisinya yang demikian, maka Kementerian Kesehatan menempatkan Kabupaten Natuna sebagai salah satu Kabupaten DTPK (Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan). Gambaran kondisi ketertinggalan wilayah kabupaten kepulauan ini bisa dilihat dari ketersediaan sarana komunikasi yang ada. Untuk sambungan telepon tetap (fixed landlines), hanya tersedia di sekitar Ranai sebagai ibukota kabupaten ini saja. Untuk wilayah lain yang berupa kepulauan hanya tersedia jaringan telepon seluler bila beruntung. Di wilayah Pulau Subi dan Pulau Midai misalnya,

103

sinyal cukup sulit untuk didapatkan. Sedang di wilayah Serasan Timur tidak usah berharap akan ada sinyal yang sampai. Untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Natuna, tersedia dua jalur transportasi. Yang pertama adalah jalur udara melalui Batam ke Ranai (ibukota Kabupaten Kepulauan Riau). Saat ini ada Wings Air dan Sriwijaya Air yang melayani jalur ini dua atau tiga kali seminggu. Yang kedua adalah jalur laut. Sama dengan jalur udara, jenis transportasi ini juga tidak tersedia setiap hari. Berdasarkan pengamatan, ketersediaan tranportasi untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Natuna relatif mudah, terutama untuk mencapai ibukotanya, Ranai. Tapi, justru dari Ranai menuju ke wilayah lain dari Kabupaten Natuna perlu effort khusus yang cukup menguras tenaga, biaya dan waktu. Hal ini juga akan sangat berkaitan erat dengan aksesibilitas pelayanan kesehatan di wilayah ini. Untuk seluruh wilayah Kabupaten Natuna fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia bisa dibilang hanya ada pelayanan dasar saja. Kecuali di ibu kotanya, Ranai, yang telah ada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Natuna sebagai satu-satunya rumah sakit sebagai pusat rujukan tingkat kabupaten. Secara kuantitas, sebenarnya untuk tenaga kesehatan telah lebih dari cukup tersedia. Untuk tenaga bidan misalnya, telah ada 108 bidan di wilayah ini. Dengan jumlah desa dan kelurahan yang hanya 73 maka seharusnya semua desa telah bisa terisi tenaga bidan. Tapi kenyataannya menurut Kabid Yankes Dinas Kesehatan, ada beberapa desa yang kosong tanpa hadirnya bidan. Bagaimana tidak? Dari 108 bidan tersebut, sejumlah 70-an bidan menumpuk di Ranai. Berbicara tentang aksesibilitas fasilitas kesehatan di kepulauan, tidak akan pernah terlepas atau bahkan sangat tergantung dengan ketersediaan sarana transportasinya. Bentangan Kabupaten Natuna yang beribukota di Ranai, dengan wilayah paling Utara di Pulau Laut, serta dengan wilayah paling Selatan di

104

wilayah Pulau Subi dan Serasan, sungguh memerlukan banyak energi dan kesabaran untuk mencapainya. Paparan berikut diharapkan mampu memberi sedikit gambaran tentang beberapa jalur transportasi serta ketersediaan sarana transportasinya, berdasarkan hasil wawancara dengan Kabid Yankes Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna. A. Jalur Pulau Laut-Ranai; memerlukan waktu tempuh sekitar 8 jam perjalanan dengan kapal besi reguler dari Pelni. Tarif sekitar Rp. 100.000,-, dengan frekuensi sekitar 10-15 hari sekali. Jalur ini juga bisa ditempuh dengan kapal kayu (tongkang), yang bila beruntung kita bisa nebeng kapal barang dengan tarif sekitar Rp. 120.000,-, atau bila mau sewa sendiri dengan tarif lima sampai belasan juta, tergantung besaran kapal kayu, yang berarti juga bergantung dengan tingkat keamanannya. B. Jalur Serasan-Ranai; jalur ini dilewati oleh kapal Pelni Bukit Raya yang memerlukan waktu tempuh sekitar 8 jam perjalanan menuju Ranai. Dengan tarif sekitar Rp. 120.000,- jalur perjalanan ini juga tersedia dalam frekuensi sekitar 15 hari sekali. C. Jalur Pulau Subi-Ranai; hampir sama dengan tarif di dua jalur sebelumnya, cukup murah, hanya dalam kisaran Rp. 120.000,- saja, tapi dengan jarak tempuh yang bisa mencapai 24 jam perjalanan.

Kabupaten Kepulauan Aru Kabupaten Kepulauan Aru merupakan salah satu wilayah dari Propinsi seribu pulau, Propinsi Maluku. Meski sebenarnya julukan ini kurang pas dibandingkan faktanya. Propinsi seribu pulau. Untuk Kabupaten Kepulauan Aru saja jumlah pulaunya sudah mencapai 547 pulau, belum ditambah dengan pulaupulau kabupaten lain di wilayah yang bersebelahan dengan Pulau Papua ini.

105

Gambar 5.16 Posisi Kabupaten Kepulauan Aru di peta Indonesia

Untuk mencapai kabupaten kepulauan ini selain dengan jalur laut juga bisa dilakukan dengan pesawat. Satu-satunya pesawat maskapai yang beroperasi dan mau mendarat pada tahun 2012 ini di pulau tersebut adalah Trigana Air, setelah sebelumnya dua maskapai lainnya (Merpati dan Wings Air) menarik diri dari jalur tersebut. Jalur pesawat terbang yang harus kita dilalui untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Aru dari Kota Ambon adalah Ambon-Tual-Dobo. Kota Tual adalah kota yang sebelum memisahkan diri masih merupakan ibukota Kabupaten Maluku Tenggara. Jarak tempuh terbang Kota Ambon-Kota Tual mencapai 90 menit, dan jarak tempuh Kota Tual-Dobo mencapai 25 menit. Bila perjalanan tersebut kita tempuh melalui jalur laut dari Kota Ambon, maka kita bisa semalaman terapung di lautan. Bila kita membayangkan mencapai kabupaten kepulauan ini sulit, maka sesungguhnya mencapai wilayah kerja di kepulauan ini jauh lebih sulit lagi. Jalur laut adalah jalur transportasi satu-satunya, yang untuk mencapainya sangat tergantung dengan kondisi angin laut yang seringkali sangat tidak bersahabat.
106

Iklim dipengaruhi oleh Laut Banda, Laut Arafura dan Samudera Indonesia, juga dibayangi oleh Pulau Irian di Bagian Timur dan Benua Australia di Bagian Selatan sehingga sewaktu-waktu bisa terjadi perubahan iklim yang ekstrim. Untuk sarana komunikasi, kondisi Kepulauan Aru sudah cukup baik untuk golongan DTPK. Sudah ada jaringan Telkom dan komunikasi seluler. Telkomsel sebagai satu-satunya provider yang bernyawa di daerah ini telah hadir dengan sinyal cukup kuat, meski terbatas hanya jaringan GSM. Setidaknya saya masih bisa memberi kabar orang rumah bahwa saya masih baik-baik saja.

107

tapi lebih dikarenakan terlalu banyaknya kepulauan yang menjadi wilayah kerja Dinas Kesehatan di sana. Banyaknya jumlah puskesmas dibanding dengan jumlah kecamatan bukanlah dikarenakan kabupaten kepulauan ini kaya raya. tetapi saat observasi didapatkan kenyataan yang cukup lebar. Kabupaten Kepulauan Aru memiliki 7 (tujuh) kecamatan dengan jumlah puskesmas mencapai 21 buah. Yang sebenarnya adalah beberapa pulau yang terselingi selat-selat yang terlihat sempit. 108 .Gambar 5.17 Peta Wilayah Kabupaten Kepulauan Aru Melihat gambar peta di atas sepertinya Aru terdiri dari satu pulau besar dan beberapa pulau kecil.

yang berada di pesisir sebelah barat Pulau Kobroor. Perjalanan menuju lokasi Puskesmas Benjina bisa ditempuh dengan perahu bermotor reguler dengan perjalanan sekitar 3-4 jam dari ibukota Kabupaten Kepulauan Aru. Puskesmas Benjina terletak di Desa Benjina. Perjalanan yang cukup ‘mudah’ untuk wilayah kabupaten kepulauan yang memiliki 547 pulau ini. Kunjungan pertama adalah kulonuwun ke Puskesmas Benjina sekaligus untuk assessment dengan seluruh bidan yang melayani Jampersal di wilayah ini. Kab. Dalam kecamatan yang sama sebenarnya ada 4 Puskesmas yang beroperasi untuk sekitar 24 desa yang ada di wilayah ini. Kecamatan Aru Tengah. Kepulauan Aru. sedang Puskesmas Benjina sendiri bertanggung jawab atas 11 desa. 109 . salah satu puskesmas dengan jangkauan ‘termudah’ di wilayah ini.18 Puskesmas Benjina. dengan bentangan wilayah yang cukup luas. Di Puskesmas Benjina terdapat tenaga bidan sebanyak lima orang. Dobo. Gambar 5. yang entah mengapa semuanya ditugaskan berkumpul di Puskesmas Induk Benjina saja.Observasi partisipatif aksesibilitas fasilitas kesehatan untuk wilayah Kabupaten Kepulauan Aru kali ini kami lakukan dari Dobo (ibukota Kabupaten Kepulauan Aru) ke Puskesmas Benjina.

terdapat 3 Pustu (Puskesmas Pembantu). Hanya saja yang ada tenaga perawat hanya di Pustu Selibatabata. Dusun Papakula Kecil. Menurut pengakuan Kepala Puskesmas yang di’amin’kan oleh rekan Puskesmas lainnya. Usulan yang sangat manusiawi dari masyarakat yang merasakan manfaat keberadaan dukun bayi di tengah ketidaktersediaan tenaga kesehatan. Puskesmas Benjina sendiri dikepalai oleh seorang dokter. Jadi. dua lainnya masih kosong. Usulan lain yang menarik adalah usulan dari bapak pendeta yang untuk memberi perhatian dan penghargaan bagi dukun bayi. Di wilayah Benjina juga ada satu Poskesdes (Pos Kesehatan Desa). Kepala Desa Benjina menyatakan kesanggupannya untuk menyediakan tanah di wilayahnya untuk keperluan tersebut.Sama sekali tidak ada ‘bidan desa’ di wilayah ini? Dalam sebuah kesempatan diskusi dengan salah satu Kepala Dusun. Pada kesempatan diskusi tersebut para tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat juga sempat melontarkan usulan pengadaan pos-pos siaga di beberapa titik desa. banyak masyarakat di wilayah kerja Puskesmas di wilayah ini bersentuhan dengan pelayanan kesehatan sebulan sekali. yang rumahnya saat ini berada di Makassar. yang merupakan seorang dokter lulusan pertama yang asli daerah. Selibatabata dan Fatujuring. menyatakan bahwa Puskesmas menurunkan petugas untuk berkeliling di Posyandu sekali sebulan di setiap wilayah yang didominasi dengan jalur laut. yang ada adalah 4 orang tenaga dukun bayi. Dalam forum diskusi yang sama. Saat ini beliau sudah dipindahkan sebagai kepala bidang di Rumah Sakit Kabupaten di DOBO. yaitu di Namara. Jadi bila sakit saat baru 110 . jadi secara otomatis lebih sering di Dobo dan Makassar daripada di Benjina. Menurut pengakuan rekan Puskesmas. yaitu di Maririmar yang juga tersedia tenaga perawat laki-laki. terungkap bahwa di desanya tidak ada tenaga bidan sama sekali. Karena pelayanan kesehatan ibu dan anak yang mengandalkan satu titik di puskesmas saja menjadi salah satu faktor penyulit akses masyarakat di wilayah ini.

saja ada kunjungan Posyandu. memang mereka bersentuhan dengan petugas kesehatan sebulan sekali sesuai dengan jadwal Posyandu.. Kakek yang sedang sakit itu mengira kita sedang ada jadwal Posyandu. Bersabarlah kek. Setidaknya tujuh titik lokasi yang menjadi ampuan Puskesmas Benjina telah kami datangi. entah sampai kapan? Konfirmasi kami lakukan ke petugas Puskesmas tentang penjadwalan Posyandu ini. sampai pada akhirnya terlewat pada jadwal bulan berikutnya lagi. posisinya sudah duduk di bibir dermaga dengan kaki hendak menjangkau speedboat. mantri perempuan dari Purwokerto itu begitu telaten memberi penjelasan sekaligus memupuk harapan si kakek. di dermaga seorang kakek ber-jalan terbungkuk menggunakan tongkat hendak melompat ke speedboat kami. 600. 111 . dan meyakinkan bahwa dia akan kembali menjumpai kakek itu. dan berharap mendapat pengobatan dari mantri yang menyertai perjalanan kami.sekali jalan untuk tiga sampai empat hari berkeliling Posyandu di wilayah-wilayah ampuan Puskesmas tersebut. Mereka bercerita dengan tetap menaruh kepercayaan penuh pada petugas kesehatan.. bersabarlah. Desa Fatujuring. Dan betapa Mbak Ning. Dalam kesempatan ini kami juga sempat berkunjung dan berbaur dengan masyarakat di beberapa lokasi. dan bahwa memang menurut mereka kondisi ini terjadi berada di luar kuasa petugas kesehatan. wilayah RKIBenjina (Rumah Kayu Indonesia). Desa Gulili. Ada sebuah insiden kecil pada saat kami hendak meninggalkan Desa Gulili pada salah satu kunjungan. Setidaknya membutuhkan Rp. yaitu Desa Benjina. Menurut masyarakat di lokasi-lokasi tersebut.000. kami mendapat jawaban bahwa memang jadwal Posyandu keliling itu rutin.. maka kita harus bersabar menunggu satu bulan kemudian untuk mendapatkan pengobatan. tapi juga tergantung ketersediaan uang. tetapi seringkali juga mundur. Sungguh tak tertahan hati menangis merasai rintih dan harapnya. Desa Namara. Desa Selilau. dan wilayah Trans-Maijurung.

Bukannya Kementerian Kesehatan telah meluncurkan dana BOK ke semua Puskesmas? Yang setelah re-check ke petugas Dinas Kesehatan menemukan kenyataan bahwa Puskesmas Benjina menerima dana BOK sekitar 250 juta. Puskesmas Benjina sendiri sebetulnya sudah mempunyai speedboat sendiri. Kita coba berhitung untuk ‘ketersediaan uang’ ini.-. Menurut keterangan Dinas Kesehatan sempat dirapatkan soal kerusakan speedboat ini dengan beberapa Puskesmas yang mengalami hal yang sama. Ke-empat pulau tersebut adalah 112 . Kabupaten yang relatif baru ini merupakan pecahan dari Kabupaten Buton.000. Tetapi hasilnya untuk Puskesmas Benjina sampai saat ini dari dua tahun yang lalu tidak ada perbaikan sama sekali.-. Lalu dibandingkan dengan kucuran dana BOK yang sekitar Rp.800.000. 1.-. Kebutuhan biaya sesuai uraian di atas adalah untuk sewa longboat dari nelayan.Tergantung ketersediaan uang? Sungguh miris mendengar jawaban ini. Bila dibutuhkan 3 kali perjalanan untuk menjangkau Posyandu yang memerlukan biaya transportasi laut. dan dalam setahun hanya pada kisaran Rp. yang sekali perjalanannya membutuhkan biaya Rp. maka sesungguhnya kebutuhan per bulan untuk transportasi laut hanya membutuhkan Rp. 250.000. para Kepala Puskesmas merasa sanggup memperbaiki speedboatnya sendiri tanpa diambil alih oleh Dinas Kesehatan. 21. Pada saat pengambilan keputusan. Kabupaten Kepulauan Wakatobi Kabupaten Kepulauan Wakatobi merupakan salah satu wilayah dari Propinsi Sulawesi Tenggara yang berbatasan langsung dengan Propinsi Maluku Utara di sebelah Timur.000. 600. Itu belum termasuk dana operasional Puskesmas yang berasal dari APBD.000.600. hanya saja sudah rusak sejak dua tahun yang lalu. Nama Wakatobi sendiri merupakan representatif dari empat pulau besar yang menjadi basis kabupaten ini.-? Yang sekali lagi setelah konfirmasi dengan Dinas Kesehatan penyerapan dana BOK di Puskesmas Benjina mencapai 100%.

Gambar 5.19 Peta Kabupaten Kepulauan Wakatobi Mirip dengan wilayah kabupaten kepulauan lainnya. Pulau Kaledupa. Jalur laut bisa kita tempuh menggunakan kapal cepat dari Baubau sekitar empat jam. Sedang jalur udara bisa kita tempuh dari Makassar via Baubau yang tersedia hari Senin-Kamis.Pulau Wangi-wangi. laut dan udara. jalur transportasi yang tersedia untuk mencapai wilayah ini terdiri dari dua jalur. serta hari Sabtu via Kendari. dan terakhir pulau terjauh (paling Selatan) adalah Pulau Kaledupa. yang untuk kedua jenis jalur tersebut dilayani oleh maskapai Wings Air. Jalur udara yang cukup repetitif tersebut bukan karena Wakatobi sebagai destinasi bawah laut yang cukup 113 . Pulau Tomia.

sebagai satu-satunya Rumah Sakit di wilayah ini tidak memiliki. Untuk wilayah Puskesmas Tomia yang kami datangi.-. jarak antara Pulau Tomia ke Baubau mencapai 11 jam perjalanan dengan kapal reguler bertarif Rp. dengan ampuan wilayah yang mencapai 6 desa.. Cuman untuk yang kepulauan belum ada puskel laut. Wakatobi) Memang di Kabupaten Wakatobi belum tersedia fasilitas pelayanan transfusi darah.” (Toma..000. Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Wakatobi yang berada di Wanci pun.di sini. terutama untuk transfusi darah. Menurut pengakuan Dinas Kesehatan sebenarnya sudah tersedia tenaga untuk pelayanan transfusi darah. ketersediaan pelayanan kesehatan masih cukup menjadi masalah di wilayah ini. “. itupun hanya beroperasi 114 .. Kab. tetapi sarananya yang masih belum tersedia.untuk jangkauan sebenarnya sudah lebih baik. Dalam sebuah diskusi di Kecamatan Tomia yang melibatkan tokoh masyarakat.mendunia ini ramai dikunjungi wisatawan luar. karena di Wanci sarana kesehatannya masih kurang. bahkan untuk sekedar bank darah. Palang Merah Indonesia (PMI) sebenarnya sudah berdiri di kabupaten ini.. tapi perlu ditingkatkan lagi.. kader kesehatan dan bahkan dukun bayi kami juga menemukan beberapa kondisi yang menjadi realitas yang ketersediaan sarana dan fasilitas kesehatan yang harus dibenahi. 130. nanti akan dijemput ambulan.” demikian keluh salah satu tokoh masyarakat. rujukan harus ke Baubau.” usul salah satu Kepala Lingkungan kepada kami. “. Karena bila ada kasus harus dirujuk ke Baubau. “. Sebagai gambaran. tetapi lebih karena pemerintah kabupaten mensubsidi pihak maskapai untuk melayani jalur tersebut. tenaga bidan yang tersedia hanya 3 orang. yang otomatis setiap bidan harus mampu mencover dua desa. Seperti layaknya kabupaten kepulauan lainnya. tokoh agama.saya rasa pemberian layanan di sini sudah cukup bagus pak. tetapi belum memiliki Unit Transfusi Darah.. satu bidan untuk satu desa itu tidak cukup pak! Apalagi ini kita hanya diberi tiga bidan untuk enam desa. karena tinggal lapor.

seberang Pulau Tomia.000. untuk berganti tunggangan dari kapal speed menjadi pompong . perahu kecil yang di daerah lain biasa juga disebut sebagai jung atau ketinting .. kami harus bergeser ke pelabuhan lainnya. Di wilayah ini. bukan cerita baru bila ibu hamil dengan faktor penyulit yang dirujuk ke Baubau harus pass away sebelum sampai ke tempat rujukan. Jarak Pulau Tomia ke Wanci di Pulau Wangi-wangi sebenarnya lebih pendek. Dalam perjalanan yang kami arungi dengan kapal cepat bisa mencapai tiga sampai tiga setengah jam perjalanan. Dari Pelabuhan Waitii inilah kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Lamanggau. Meski juga sebenarnya sudah tersedia dokter obgyn di RSUD Kabupaten Wakatobi yang dikontrak selama enam bulan.000. karena harga sewanya mencapai kisaran di atas Rp. 10. Jadi. Carter atau sewa kapal sepertinya menjadi hal yang mustahil bagi penduduk wilayah ini. Waitii. Dari Pelabuhan Usuku di Pulau Tomia. 115 . Perjalanan menggunakan kapal speed bermesin tempel 5 biji berkekuatan 200 PK ini menempuh perjalanan selama kurang lebih 3 jam. Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Jabal di Pulau Wangi-wangi menuju Pelabuhan Usuku di Pulau Tomia. Jadi ibu hamil yang mau bersalin harus bersabar dengan jadwal yang ada serta perjalanan yang lama.sekali sehari.per kali sewa. terutama wilayah pesisirnya didominasi oleh keberadaan Suku Bajo yang tinggal di atas laut. Hanya saja memang ketersediaan sarana pelayanan kesehatan di RSUD Kabupaten Wakatobi tidak selengkap di Baubau. tempat bermukimnya saudara-saudara Suku Bajo yang membentuk koloni tersendiri di bibir pantai wilayah Lamanggau. Observasi partisipatif aksesibilitas fasilitas pelayanan kesehatan yang kedua kami lakukan di Pulau Lamanggau.

Sebuah perusahaan swasta yang mengelola obyek wisata di Onemobaa. 4 orang tidak tinggal di tempat. mereka tinggal di pulau seberang. Yang tinggal di Lamanggau hanya tenaga sanitarian yang PTT pusat. wilayah Barat pulau. Kondisi ini diperparah dengan lokasi Puskesmas yang berada di dalam wilayah ‘Wakatobi Dive Resort ’. Di Pulau ini jumlah tenaga kesehatan yang ada hanya 5 (lima) orang. Bagaimana tidak? Lokasi Puskesmas berada di Onemobaa. Untuk sarana bangunan Puskesmas. Dari kelima tenaga kesehatan yang ada tersebut. Sayangnya Puskesmas yang diresmikan oleh Gubernur Sulawesi Tenggara itu memiliki lokasi yang sama sekali tidak masuk akal. 116 . sebetulnya Pemerintah Daerah Kabupaten Wakatobi pada tahun 2009 sudah membangun gedung Puskesmas Induk Onemobaa yang representatif secara fisik. di Waitii. tetapi lebih tepat wilayah yang sama sekali tidak ada penduduk. Satu orang lagi juga seorang sanitarian. ini sudah termasuk Kepala Puskesmas. jauh dari permukiman penduduk yang menempati sisi Timur pulau. seorang Sarjana Kesehatan Masyarakat dengan basis sanitarian.20. Sedang sisanya adalah perawat. Kapal cepat yang melayani rute Wanci-Tomia Agak miris bercerita tentang pelayanan kesehatan di wilayah ini. Di wilayah Puskesmas ini bukan wilayah jarang penduduk.Gambar 5. PTT dari pusat.

siapa penduduk yang mau datang ke tempat ini dengan perjalanan yang cukup jauh dari permukiman. Kami harus naik pompong untuk mencapai lokasi Puskesmas Onemobaa yang berada di sisi lain pulau. 117 . Petugas kesehatan Puskesmas lebih memilih Puskesmas Pembantu (Pustu) Lamanggau untuk berkantor. tetapi relatif lebih mendekati permukiman penduduk. Setelah itu harus jalan kaki di jalan setapak sekitar 15 menit. salah satu staf Puskesmas.Puskesmas Onemobaa ini sudah tiga tahun tidak ditempati. Dalam sebuah kesempatan. mencoba untuk berkunjung ke Puskesmas Onemobaa. serta satu staf Dinas Kesehatan. berada di ujung desa. Karena kalaupun ditempati. Karena meski tempatnya juga tidak strategis. kami disertai oleh Kepala Puskesmas. barulah sampai di pintu gerbang ‘Wakatobi Dive Resort ’.

Tapi kami harus menunggu sekitar satu jam untuk menunggu ijin masuk tersebut.6 UTILITAS PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR OLEH PROVIDER YANG DISEDIAKAN OLEH PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Utilitas Pelayanan Kesehatan ibu dan bayi adalah cakupan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan Ibu dan bayi dalam program Jampersal di pelayanan dasar dan di pelayanan rujukan. selain itu juga didapatkan dari data sasaran Jampersal yang memanfaatkan layanan dengan Jampersal maupun non Jampersal. Puskesmas Onemobaa. Kab. 5.Gambar 5. Data diambil dari data sekunder puskesmas dan rumah sakit. Pada kesempatan kali ini kami diijinkan masuk.6. maka baru kita bisa masuk dan bisa ke Puskesmas. Bila manajemen berkenan memberikan ijin. Wakatobi Memasuki wilayah resort ini harus minta ijin pada pihak manajemen. 5.1 Utilitas di Pelayanan Dasar Data utilitas di pelayanan dasar yang didapatkan dari Dinas Kesehatan dan sasaran Jampersal yang diambil secara random di 2 (Dua) puskesmas di 118 .21.

Namun demikian peningkatan tidak terlalu mencolok berkisar 1% .6%. 119 . kota Mataram. Kota balikpapan ada sedikit peningkatan pada tahun 2011 dibandingkan tahun 2010.22.masing-masing kabupaten / kota. Sedangkan data tenaga pemeriksaan ANC pada sasaran non pengguna Jampersal dan pengguna Jampersal. Penolong persalinan pada sasaran non Jampersal dan tempat persalinan pada sasaran pengguna Jampersal diambil dari kuesioner sasaran. Bogor. Data tersebut ditampilkan dalam gambar sbb : Gambar 5. Cakupan Persalinan oleh Tenaga kesehatan di Kabupaten / Kota “non kepulauan ” Tahun 2010 – Juni 2012 Sumber data : Dinas kesehatan Kabupaten / Kota Di kabupaten / kota “non kepulauan” cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan dari tahun 2010 sampai dengan 2012.. Data sekunder meliputi data Persalinan oleh tenaga kesehatan dan kematian Maternal dan Kematian Neonatal di Kabupaten / Kota yang merupakan data sekunder dari Dinas kesehatan.36. nampak di beberapa kabupaten / kota yaitu Sampang. Untuk tahun 2012 belum dapat dibandingkan karena baru cakupan sampai bulan Juni 2012. Dari data Ditjen Bina Gizi dan KIA tahun 2012 didapatkan data untuk angka Nasional cakupan persalinan ditolong nakes di Indonesia tahun 2012 adalah 86.

36 (Ditjen Gikia Kemenkes. 2012) seperti terlihat di Kota Ambon dan Aru masih dibawah rata2 nasional. Cakupan Persalinan Tenaga Kesehatan di Kabupaten / Kota “Kepulauan” Tahun 2010 – Juni 2012 Sumber data : Dinas kesehatan Kabupaten / Kota Di kabupaten/kota kepulauan terdapat sedikit peningkatan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun2011. sumberdaya manusia dan kondisi geografis yang berat. prasarana.Dengan demikian untuk kabupaten / kota di non kepulauan cakupan persalinan tahun 2011 sudah diatas rata2 nasional. tapi masih ditemukan banyak kendala dari sarana. Hal ini dapat dipahami walaupun kabupaten kep. Aru menerima kebijakan Jampersal dengan baik. Pada tabel dibawah ini menjelaskan tentang “continum of care dari” sasaran Jampersal yang menggunakan Jampersal. di kep. di wilayah kepulauan cakupan persalinan tidak semuanya diatas rata2 nasional 86. Gambar 5. Aru bahkan masih jauh dari angka rata2. Sasaran yang diambil adalah 120 . Natuna yang mana kabupaten Natuna tidak memanfaatkan Jampersal tetapi Jamkesda. Tidak seperti di wilayah non kepulauan. Pada tahun2012 sampai dengan bulan Juni terlihat peningkatan cakupan walaupun belum dapat dibandingkan karena baru cakupan 6 bulan. namun peningkatan tidak nampak terlalu signifikan kecuali di Kep.23.

3% 100.3% 39.2% 59.ibu yang sedang masa nifas sehingga sudah melewati masa ANC.0% 55.0% 87.1% 50.4% 59.0% 94.8% K1 + K4 + Persalinan 71.0% 50.4% 59.7% 72. Bagaimana “continum of care” Ibu Nifas pengguna Jampersal di masing-masing kabupaten / kota terlihat di tabel dibawah ini : 121 .3% 66.9% Keterangan : • Responden Ibu Nifas : Ibu Nifas yang pernah memanfaatkan Jampersal K1.0% 57. Persalinan atau Pn • K1 : Ibu Nifas yang K1 memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 : Ibu Nifas yangK1 dan K4 memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 + Persalinan : Ibu Nifas yang K1.0% 72. Persalinan dan Pn memanfaatkan Jampersal Secara Total dari 13 kabupaten / Kota penelitian responden Ibu nifas yang memanfaatkan Jampersal untuk pelayanan K1 adalah 74.6% 64.3% 63.4% 68. K4 dan Persalinannya memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 + Persalinan + Pn : Ibu Nifas yang K1.3.9% K1 + K4 72.0% 90.5% 14. “Continum of care”pada Responden Sasaran Ibu Nifas Pengguna Jampersal Per Kabupaten / Kota (N= 573) Kabupaten/Kota Kab Sampang Kota Blitar Kota Mataram Kab Lombok Tengah Kota Bandung Kab Bogor Kota Ambon Kab Kep Aru Kota Kendari Kab Wakatobi Kota Batam Kota Balikpapan Kab Paser 13 kab/kota K1 91. Tabel 5.3% 87.0% 43.7% 33. pelayanan K1 dan K4 adalah 61.1% 66. K4.3% 66.6% 14. pelayanan K1. Di Sampang.3% 63. bahkan di Kota Kendari 100%.2% 27.5% 14.7% 87.9%.8% 74. K4 .9% K1 + K4 + Persalinan + PNC 67.3% 39.8% 62.2% 25.9% 72.9% dan pelayanan K1.1% 68.5% 14.8% 33.7% 33.3% 41.2% 86.2% 27.8% 58.4% 76.8% 58.0% 43. persalinan dan PNC.8%.7% 77.2% 61.9%. Persalinan dan Pelayanan Nifas adalah 57.5% 33. K4.3% 39. Kota Mataram dan Wakatobi Ibu nifas yang memanfaatkan K1 dengan Jampersal adalah > 90%.9% 33. K4 dan persalinan 59.1% 66.0% 52.

Continum of care Pelayanan Jampersal (K1.6% 15% B 1.4% 3.Tabel 5. Pengguna Jampersal yang menggunakan layanan K1 dan K4 di Kota Bandung.7% 0% 0% 0% 22. Hanya saja dari data ini tidak dapat dijelaskan lebih lanjut kelengkapan dalam paket PNC. Kota Ambon. Bogor. persalinan dan PNC.4.3% 8.5% 4% 9. Wakatobi.9% C 4.7% 0% 1.3% 6.K4.8% 2. tapi terjadi penurunan yang cukup tajam pada K4.2% 50% 7. Aru. Ternyata dari data diatas dapat dijelaskan bahwa ibu yang ketika persalinan memanfaatkan Jampersal. sebagian besar akan memanfaatkan layanan PNC. Tetapi jika dilihat “continum of care” sangat baik karena pasien melakukan K1 sampai dengan PNC dengan memanfaatkan Jampersal.7% 0% 0% 3. Kota Batam 122 . Di Bogor juga sudah cukup baik. Kep. Berbeda dengan Kota kendari ketika K1 semua responden (100%) menggunakan Jampersal. persalinan) dan PN Di Kabupaten / Kota di Lokasi Penelitian Tahun 2012 Kabupaten / Kota Kab Sampang Kota Blitar Kota Mataram Kab Lombok Tengah Kota Bandung Kab Bogor Kota Ambon Kab Kep Aru Kota Kendari Kab Wakatobi Kota Batam Kota Balikpapan Kab Paser 13 kab/kota A 20% 8% 47.1% 0% 3. yang mendapatkan layanan K1 menurun 2% yang bersalin dan Pn dengan memanfaatkan Jampersal.2% 4.8% 0% 2% 58.2% 2% Keterangan : A : K1 – (K1+K4+Persalinan) B : (K1+K4) –(K1+K4+Persalinan) C : (K1+K4+Persalinan).3% 0% 0% 0% 0% 0% 2.(K1+K4+Persalinan+PNC) Di perkotaan seperti Bandung dan Batam ibu nifas yang telah memanfaatkan Jampersal sedikit dibanding daerah penelitian lain.7% 5.2% 0% 0% 0% 0% 16.

Kota Bandung 6. Dari data diatas terlihat bahwa dengan memanfaatkan Jampersal sasaran dilayani oleh tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. Kota Blitar 3. persalinannya dilakukan di fasilitas kesehatan (100%).0%) 33 (100.5. persalinan dan Pn menurun cukup drastis.7%) 1.5%) 54 (100.0%) 0 (0.0%) 0 (0. Kab Wakatobi 11.0%) 65 (100.0%) 0 (0.5%) 0 (0. Yang perlu mendapat perhatian adalah Kota Kendari.2%.0%) 0 (0.0%) 64 (100.7%) masih dilakukan di non fasilitas kesehatan. Kota Kendari 10. Tempat Persalinan Responden Pengguna Jampersal di Lokasi penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Kabupaten / Kota Tempat Persalinan Jampersal Fasilitas Kesehatan Non Fasilitas Kesehatan 75 (100.8%). Kota Balikpapan 13. Dari tabel diatas terlihat bahwa 123 .0%) 63 (72. Responden pada data dibawah ini adalah hanya sasaran Jampersal yang menggunakan Jampersal ketika melahirkan tanpa memperhatikan apakah memanfaatkan jampersal ketika ANC atau PNC setelahnya. Kab Sampang 2. dimana pengguna Jampersal yang mendapat layanan K1 (100%) tapi ketika K4.6%) 0 (0. Paser Total Sumber : Data Sasaran Penelitian Jampersal 2012 Terdapat sepuluh kabupaten/kota yang sasaran Jampersal memanfaatkan pelayanan persalinan dengan Jampersal. Kab Bogor 7.0%) 0 (0.5%) dan Paser (25.dan Paser 100% bersalin dengan Jampersal dan 100% memanfaatkan layanan Pn kecuali Paser yang memanfaatkan Pn turun 22.3%) 726 (95.0%) 51 (100.0%) 0 (0. Ini menunjukan bahwa continum of care belum berjalan dengan baik. Kota Mataram 4.0%) 11 (100. Ada 3 (tiga0 kabupaten yang sasaran yang persalinan menggunakan Jampersal yaitu di Kepulauan Aru (27. Tabel 5.0%) 9 (25.3%) 0 (0.4%) 47 (100.0%) 3 (2. KotaBatam 12.0%) 58 (100.0%) 119 (97.7%) 36 (4. Wakatobi (2. Kab Kep Aru 9.0%) 60 (100.0%) 24 (27.0%) 26 (74. Kab Lombok Tengah 5.0%) 0 (0. Kota Ambon 8.

24.24 menjelaskan responden yang tidak menggunakan Jampersal ketika bersalin berapa persen yang ditolong tenaga kesehatan.seluruh responden ketika bersalin dengan Jampersal maka persalinannya oleh nakes dan di fasilitas kesehatan kecuali 3 (tiga) kabupaten diatas yang merupakan daerah yang secara geografis memang sulit dan dengan keterbatasan sumberdaya. ketika persalinan ditolong oleh non tenaga kesehatan seperti tergambar dalam di bawah ini. Tenaga Pemeriksa Kehamilan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011 – April 2012 124 . Menjelaskan siapa tenaga pemeriksa kehamilan pada sasaran yang tidak menggunakan Jampersal dan tabel 5. Gambar dibawah ini respondennya adalah sasaran Jampersal yang tidak menggunakan Jampersal. Gambar 5. Bagaimana dengan responden yang tidak memanfaatkan Jampersal? Ketika ANC sasaran tidak menggunakan jampersal terlihat terjadi pergeseran dari tenaga kesehatan saat ANC.

25 Tenaga Penolong Persalinan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Sumber : Data sasaran Penelitian Jampersal 2012 Dari data sasaran yang tidak memanfaatkan Jampersal didapatkan bahwa terdapat sasaran ibu hamil yang sudah memeriksakan kehamilannya di tenaga kesehatan.50% perubahan dari pasien yang ketika pemeriksaan kehamilan dilakukan oleh tenaga kesehatan dan berubah menjadi bersalin pada tenaga non kesehatan. Bandung Lombok Tengah dan Kota Mataram. Bahkan di kepulauan Aru. Lombok tengah dan Kota Mataram antara 29% . Kepulauan Aru. 125 .Gambar 5. Nampak jelas pergeseran sasaran dari nakes ketika pemeriksaan kehamilan ke non nakes ketika persalinan di kabupaten / kota Balikpapan. Kota Kendari. Kota Batam. ketika persalinan pindah ke tenaga non kesehatan seperti nampak pada dua gambar diatas. Bogor.

preeklampsi/eklampsi 24 %. sedangkan penyebab tidak langsung adalah trauma obstetri 5 % dan lain – lain 11 % (WHO. Penyebab kematian maternal terbanyak dari data sekunder pada penelitian ini adalah perdarahan.Gambar 5. Dari analisa kematian maternal tahun 2011 dari data rutin penyebab kematian Maternal tertinggi perdarahan 35% dan hipertensi 22% dan Infeksi 5%. 2007). 126 . Infeksi . 2012). Kematian Maternal di Kabupaten / Kota Tahun 2010 . Kemenkes. eklamsi. infeksi 11 %.26. (Direktorat Ibu.Juni 2012 Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota Kematian Maternal pada tahun 2011 dan sampai dengan Juni 2012 di kabupaten / kota nampak cenderung meningkat kecuali Kota Bandung nampak menurun. Hal ini masih mengikuti pola menurut WHO 2007 bahwa penyebab kematian ibu yang paling umum di Indonesia adalah penyebab obstetri langsung yaitu perdarahan 28 %.

Persalinan di fasilitas kesehatan ini merupakan hal yang sangat penting. tetapi tahun 2012 di kabupaten Sampang dan Kota Batam ada kecenderungan meningkat.2.6. sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit. tenaga kesehatan memiliki sarana untuk melakukan tindakan pra rujukan yang diperlukan agar komplikasi tidak memburuk. Saat ini. Kematian Neonatal di Kabupaten / Kota Tahun 2010 .Gambar 5. 127 . belum semua persalinan itu dilakukan di fasilitas kesehatan.Juni 2012 Sumber : Dinas kesehatan Kota Untuk kematian Maternal pada tahun 2011 terlihat kecenderungan menurun. Penyebab kematian neonatal dari data sekunder Dinas kesehatan terbanyak adalah Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan Asfiksia. Semua layanan itu diberikan oleh tenaga-tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.27. Kalau dalam proses persalinan terjadi komplikasi. 5. Utilitas di Pelayanan Rujukan Jampersal menjamin pelayanan bagi ibu-ibu dengan kehamilan risiko tinggi dan persalinan dengan penyulit dan komplikasi.

Bogor). kematian neonatal < 24 jam dan kematian neonatal > 24 jam. kematian maternal >24 jam. Sampang.” (Bidan RS.. persalinan per vaginam rujukan tanpa komplikasi.Untuk utilitas di pelayanan rujukan di dapatkan data dari rumah sakit pemerintah di kabupaten / kota yang menjadi rumah sakit rujukan Jampersal dan mempunyai Perjanjian Kerjasama (PKS) dengan Dinas Kesehatan kabupaten / kota. selain itu setelah tahun ke-2 Jampersal dilaksanakan dilihat tren jumlah kemtian maternal dan neonatal di rumah sakit yang meliputi : kematian maternal < 24 jam. Paser.28. Data yang didapatkan adalah persalinan per vaginam rujukan dengan komplikasi.adanya Jampersal kunjungan naik 50 % antara lain kasus KPD (ketuban pecah) dan PCR (preklamsi). Hal ini kemungkinan disebabkan karena tahun tersebut sudah diberlakukan Jampersal. Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam dengan Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Secara umum pada tahun 2011 rujukan persalinan pervaginam dengan komplikasi ke rumah sakit pemerintah di kabupaten / kota meningkat (RSUD kota Blitar. Data tersebut ditampikan pada grafik sbb : Gambar 5. Loteng.. dimana dalam juknis Jampersal dijelaskan bahwa untuk persalinan dengan komplikasi dilakukan di pelayanan rujukan (Puskesmas Poned dan rumah sakit). 128 . “. Kab Bogor).

RSUD Lombok Tengah 5.29. RSUD Kota Kendari 10. RSUD Prov Ambon 8. RSUD kab. Tabel 5. RSUD Kab. Kota Ambon dan Kota Kendari per Juni tahun 2012 terlihat peningkatan yang cukup tinggi ( data diatas sampai dengan bulan Juni 2012). Bahkan di RSUD Blitar. terutama di RSUD Kota Blitar. Jumlah Kasus Sectio caesaria yang ditangani di Rumah sakit di Kabupaten / Kota Tahun 2010 – Juni 2012 Kabupaten 1. Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam tanpa Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Persalinan rujukan pervaginam tanpa komplikasi di rumah sakit tahun 2011 dan tahun 2012 terlihat kecenderungan juga meningkat.Bogor 7. RSUD Kab Wakatobi 2010 474 63 39 709 767 - Jumlah Kasus Sectio Caesaria 2011 s/d Juni 2012 598 147 61 889 1161 8 237 53 29 624 50 129 . RSUD Kota Bandung 6. RSUD Kota Mataram 4. Kep Aru 9. RSUD Kota Blitar 3.6. Sampang 2.Gambar 5. Loteng. RSUD kab.

tidak didapatkan data Sumber : RSUD Kabupaten /Kota /Provinsi yang menjadi tempat rujukan Jampersal kecuali RSUD di Natuna. RSUD Sampang. Kasus Persalinan sectio caesaria (SC) rumah sakit Pemerintah yang PKS dengan Dinas kesehatan di Kabupaten / Kota terlihat cenderung meningkat di tahun 2011 dan Juni 2012. Natuna 439 412 499 41 99 61 Keterangan : . tapi merupakan keseluruhan kasus yang ada di rumah sakit. RSUD Kab... RSUD Kota Batam Peningkatan kematian maternal di RS dimungkinkan karena rujukan dari layanan dasar meningkat pada tahun 2011 dan 2012. Sampang) Gambar 5. “. RSUD Kab.11. Kasus SC ada yang dirujuk maupun yang tidak dirujuk dengan jenis pelayanan SC elektif atas indikasi medis dan SC emergensi.”(SPOG.RSUD Kota Batam 12. Walaupun pada data diatas tidak hanya menggambarkan khusus kasus SC yang di biayai dengan Jampersal. RSUD Prov Balikpapan 13. 130 .30 Kematian Maternal < 24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 Kematian Maternal yang terjadi < 24 jam di rumah sakit bervariasi di RSUD Kota Blitar. Paser 14.sejak ada Jampersal pasien di rumah sakit menjadi lebih banyak dari sebelumnya bisa sampai hampir dua kali lipatnya. kab.

32 Kematian Neonatal di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010. Kondisi ini perlu dikaji lebih lanjut apakah berkaitan dengan meningkatnya kasus rujukan ke rumah sakit dan berpengaruh pada pelayanan karena keterbatasan sarana.Juni 1012 131 .31 Kematian Maternal >24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 Kematian Maternal > 24 jam di rumah sakit pada tahun 2011 juga terlihat kecenderungan meningkat di kabupaten/kota. prasarana dan SDM di rumah sakit.Gambar 5. Gambar 5.

Kematian neonatal di kota dan kabupaten ada yang meningkat pada tahun2011 seperti di di Kabupaten Bogor dan kota Blitar dan sampai Juni 2012 ada kecenderungan menurun. Di Kota Bandung dan Kota Balikpapan tahun 2011 kasus kemtian neonatal menurun. Gambar 5. Akseptabilitas sasaran terhadap Jampersal akan dijelaskan dimulai dengan siapa sasaran yang memanfaatkan Jampersal dan bagaimana kepuasan sasaran terhadap layanan Jampersal.243) Untuk mencapai target MDG’s Jampersal diluncurkan dengan sasaran adalah ibu hamil. Demikian juga di Kota Mataram kematian Neonatal tahun 2012 meningkat . 5. bersalin.33 Kepemilikan Jaminan Lain Pada Sasaran Pengguna Jampersal (N=1. Tapi di Kota Bandung. tapi di Kota Balikpapan sampai Juni 2012 meningkat cukup tinggi.7. ibu nifas ( sampai dengan 42 hari) dan neonatus (0 – 28 hari) yang tidak mempunyai jaminan kesehatan. Dari data sasaran penelitian ini ternyata yang memanfaatkan Jampersal 95% sudah memilik jaminan 132 . AKSEPTABILITAS SASARAN DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN.

Jamsostek. namun ada juga kabupaten / kota yang masih menggunakan Jaminan Kesehatan Daerah. Untuk Jamkesda beberapa kabupaten / kota juga cenderung memanfaatkan pembiayaan Jampersal atau dialihkan menjadi Jampersal. peserta Jamkesmas seringkali ke pelayanan tidak membawa kartu. persalinan. sehingga lebih mudah untuk dimanfaatkan dibandingkan jaminan kesehatan yang lain. Setiap pasien berobat mengambil kartu di kepala desa dan setelah berobat dikembalikan lagi ke kepala desa. sehingga anak ke 3 (tiga) dst sasaran tidak dapat memanfatkan Askes. Dan hanya 5% yang tidak mempunyai jaminan (lainnya). harus dilakukan pemilahan dulu. Yang masih menjadi masalah adalah mengenai kepersertaan Jamkesmas. Askes.kesehatan sebelumnya (Jamkesmas. Hal ini terjadi karena di kabupaten / kota sejak pembiayaan Jampersal mulai dilaksanakan maka pembiayaan Jamkesmas untuk pelayanan KIA (ANC. sehingga membuat pasien enggan untuk memanfaatkan kartunya. apakah sasaran tersebut bukan peserta Jamkesmas. PNC. Kenyataan di lapangan. karena kartu di simpan di Kepala Desa. Selain itu kemudahan pemanfaatan Jampersal dengan persyaratan cukup KTP dan bersifat portabilitas. KB) dibiayai dengan Jampersal. Karena untuk sasaran Jampersal. 133 . Askes juga dimanfaatkan oleh sasaran untuk persalinan anak ke 3 (tiga) dst. Disebabkan Askes hanya membiayai sampai anak ke 2 (dua). Jamkesda.

34 Alasan Tidak Menggunakan Jampersal Pada Sasaran (N=525) Sosialisasi menjadi faktor yang penting untuk keberhasilan pelaksanaan program jampersal. Yang menarik ada 0.Gambar 5. sehingga membuat keengganan dari tenaga kesehatan untuk memanfaatkan Jampersal untuk jasa pelayanannya.8% dari sasasan tidak memanfaatkan Jampersal karena dilarang oleh tenaga kesehatan dan kader kesehatan. Disini juga terlihat bahwa peran suami juga sangat mempengaruhi sasaran memanfaatkan atau tidak Jampersal. Dari data diatas menunjukkan bahwa sasaran yang tidak memenfaatkan Jampersal 66. 134 . Hal ini dapat dipahami karena di beberapa kabupaten / Kota besaran tarif jampersal dianggap belum memadai dan penerimaan klaim terlalu lama.70% karena tidak tahu adanya Jampersal.

35 Kepemilikan Jaminan pada sasaran Non pengguna Jampersal (N=525) Gambar 5. Untuk bayar air saja mahal mana biasanya yang bersalin 1 yang nungguin 3 -4 orang dan mandi semua. Kota Bandung.. 135 .di sini kan mahal apa2 bu. Bogor dan Kota Balikpapan terdapat > 20% pasien yang dikenakan biaya tambahan diluar Jampersal.36 Pembiayaan Tambahan Pada Sasaran Pengguna Jampersal pada Kabupaten/Kota Daerah Penelitian Nampak di sebagian besar kabupaten / Kota untuk persalinan terdapat pembiayaan lain pada pasien yang persalinannya menggunakan Jampersal. Kota Mataram. “.” (NN. Jadi bayar selisih itu juga termasuk untuk biaya tersebut. Kota Balikpapan). bahkan Kota Balikpapan sampai 84.Gambar 5. Dari Gambar di atas nampak bahwa di Kota Blitar..3%.

sudah ada patokan dari pemerintah. “. masyarakat menanggung.” (NN. “Uji petik” dapat dilakukan langsung ke masyarakat atau mengambil beberapa kasus secara acak untuk kemudian dilakukan konfirmasi melalui telpon. Diambil tiga tematik yang menarik untuk dilakukan penelitian lebih lanjut yaitu : 1) Program dalam upaya mendukung Kesehatan Ibu dan Anak dengan pendanaan melalui PNPM Gerakan Sehat Cerdas (GSC) yang merupakan Program dari Kementerian Dalam Negeri di Kabupaten Lombok Tengah.” (NN. tokoh masyarakat Kota Bandung).Jampersal tidak semua gratis. Tapi tingkat penyerapan tiap individu kan beda-beda. yaitu ikut KB jangka panjang. Jadi kalau bisa ada batasan-batasan . 136 .Jika dilihat lebih lanjut maka sebagian besar adalah perkotaan. Jadi kalau bisa gak ada tambahan-tambahan biaya lagi. Salah satu warga pernah merasakan jampersal di RS tapi ada beberapa obat yang masih musti bayar. Kalo ada tindakan lebih dari itu..... Lalu untuk pelayanan persalinan apa memang harus langsung pulang? Jadi kalau bisa ada jeda hari lah untuk pelayanan. obat B yang dibayar.PKK beberapa bulan lalu ada penjelasan dari PKM dan kami sudah berusaha untuk sosialisasi di warga.misalnya obat-obatan yang disediakan obat A. Kalo operasi kalo melebihi kuota di bayar sendiri. Untuk meminimalisasi keadaan ini maka beberapa daerah sudah melakukan “uji petik” pada beberapa kasus.. tokoh masyarakat Kota Bandung). “. Dari hasil uji petik verifikator mendapatkan bebarapa temuan terkait dengan pelaksanaan Jampersal seperti adanya penarikan pembiayaan pada pasien yang memanfaatkan Jampersal.8 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Dari proses pengumpulan data terdapat beberapa temuan yang menarik terkait Kesehatan Ibu dan Anak. Jampersal punya syarat – syarat khusus. yaitu IUD dan implant. ternyata ada tambahan obat B.” (Toma. Lalu untuk opname juga masih ada yang bayar. Berikut kutipan hasil FGD dengan tokoh masyarakat yang ada di Kota Bandung yang menyatakan bahwa ada biaya tambahan yang dibebankan kepada masyarakat: “. hanya untuk warga miskin saja. 5. Kota Blitar).. Jadi harapannya kalau bisa gratis semuanya.

Dari total 12 kecamatan di Lombok Tengah terdapat dua kecamatan yang tidak melaksanakan PNPM GSC yaitu 137 . IPM Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2010 adalah 60. 3) Antara Budaya. Menurut fasilitator kabupaten PNPM GSC Lombok Tengah.2) Bayang-bayang Jampersal di Lamanggau. Tujuan PNPM GSC adalah meningkatkan kesehatan ibu dan anak dan menuntaskan wajib belajar sembilan tahun. 5. Hal ini tentu menjadi pertanyaan besar.7 tahun artinya banyak penduduk Lombok Tengah yang tidak tamat Sekolah Dasar. pendidikan di Lombok Tengah juga masih kurang. Ditambah lagi angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Lombok Tengah yang cukup tinggi. Puskesmas ini mempunyai hanya satu desa sebagai wilayah kerjanya. Puskesmas Onemobaa adalah sebuah puskesmas yang dibangun sekitar tahun 2007. Tabu dan Upaya Penyelamatan Ibu di Kota Blitar.73 (peringkat ke 2 terendah Provinsi NTB) sedangkan IPKM Kabupaten Lombok Tengah 0. latar belakang adanya PNPM GSC di Lombok Tengah dikarenakan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lombok Tengah berada di urutan terakhir di provinsi NTB.467282 (peringkat ke 286 nasional). Selain kesehatan.8. Tema ini dipilih disebabkan adanya kejadian kematian maternal yang cukup tinggi di puskesmas di Kota Blitar yang secara akses ke pelayanan kesehatan sangat dekat dan fasilitas rujukan sangat memadai.1 Pemberdayaan Masyarakat dalam upaya mendukung program KIA melalui PNPM GSC di Kabupaten Lombok Tengah PNPM GSC merupakan pengembangan dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-Mandiri) yang dimulai pada tahun 2007. Berdasarkan informasi dari Pengelola Jampersal Dinas Kesehatan Kabupaten Wakatobi. yaitu Desa Lamanggau. Puskesmas Onemobaa tidak memfaatkan Jampersal. mengapa jumlah klaim yang diajukan oleh Puskesmas Onemobaa adalah nol rupiah. Hal ini terlihat dengan dana klaim yang diajukan Puskesmas Onemobaa pada tahun 2012 adalah nol rupiah. Rata-rata pendidikan masyarakat 5.

2) Setiap ibu hamil meminum minimal 90 butir pil FE (penambah darah) selama masa kehamilannya. 2)Pemberian vitamin A . 2) Tingkat kehadiran siswa sekolah dasar dalam mengikuti proses belajar mengajar minimum 85%. 3) Imunisasi dasar lengkap dan 4) Balita yang naik berat badannya (capaian N/D). Empat indikator kesehatan balita diantaranya adalah : 1) Penimbangan bulanan. Dana yang dikeluarkan PNPM GSC per kecamatan sebesar 1. sehingga setiap desa mendapat dana sebesar kurang lebih antara 200-300 juta per tahun. 3) Setiap persalinan harus di lakukan di tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. Adapun indikator keberhasilan PNPM GSC di bidang kesehatan ibu adalah sebagai berikut: 1) Setiap ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) ke tenaga kesehatan minimal sebanyak empat kali selama masa kehamilan. Sedangkan Untuk bidang pendidikan terdapat empat indikator yaitu : 1) Setiap anak usia sekolah dasar terdaftar sebagai siswa sekolah dasar . 3) Setiap anak yang lulus SD terdaftar sebagai siswa sekolah menengah pertama. 4) Setiap ibu yang sudah melahirkan melakukan PNC sebanyak tiga kali.8 milyar pada thn 2011. Untuk melihat keberhasilan Kabupaten Lombok Tengah dalam melaksanakan PNPM GSC berikut ini adalah grafik persentase keberhasilan indikator PNPM GSC Kabupaten Lombok tengah : 138 . 4) Tingkat kehadiran siswa sekolah menengah pertama dalam mengikuti proses belajar mengajar minimum 85%.Kecamatan Praya dan Kopang.

dan Indikator 7 (pemberian tablet vit A). Namun demikian. 2008) : 139 .Gambar 5. Sedangkan Indikator terendah pada Indikator satu (pencapaian pelayanan ANC lengkap/K4). perlu peningkatan pencapaian sebagai strategi kunci dalam upaya penurunan AKI dan AKB yang diprioritaskan pada indikator satu. disusul Indikator 2 (Pemberian pil Fe). Secara umum pencapaian delapan indikator PNPM GSC bidang Kesehatan di sepuluh Kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah cukup baik. Persentase Capaian Indikator Keberhasilan PNPM GSC Kabupaten Lombok Tengah Sumber : PNPM GSC Kabupaten Lombok Tengah Berdasarkan grafik di atas terlihat bahwa capaian indikator bidang kesehatan ibu dan anak tertinggi pada Indikator 3 (Pertolongan persalinan oleh dokter/tenaga kesehatan yang kompeten).37. Hasil ini menunjukkan makin masifnya linakes dengan kompetensi kebidanan (Pn) dan strategi linakes dalam upaya PWS KIA dan Gizi serta ketanggapan linakes dalam pencegahan tiga terlambat (3T) dalam pelayanan KIA di wilayah kerja Puskesmas. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam PNPM GSC berjenjang dari tingkat provinsi sampai ke tingkat desa (PTO PNPM GSC.

membina administrasi kegiatan. 2). membina pengembangan peran serta masyarakat. Tim Koordinasi Kabupaten. Camat. Spesialis manajemen informasi sistem. Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PJOK). pengendalian laporan keuangan. Di tingkat kabupaten : 1). meningkatkan dukungan teknis pendampingan dan pengendalian BLM PNPM GSC. dan melestarikan kegiatan-kegiatan yang didanai oleh program. bertugas dalam membangun dan membina hubungan dengan pelaku kesehatan dan pendidikan. mengembangkan. 2). Fasilitator Kabupaten. 4). serta mengkoordinir antar instansi terkait di kabupaten. 6). merupakan 140 . 2). Kelompok Kerja (Pokja). tetapi dilaksanakan berkali-kali secara rutin (atau yang bersifat multiyears). bertanggung jawab dalam memberikan bantuan teknis dalam pengembangan dan perawatan sistem informasi/komunikasi database untuk memastikan pelaporan yang akurat dan terkini. bertanggung jawab atas pelaksanaan program di tingkat kabupaten. Di tingkat kecamatan : 1). Unit Pengelola Kegiatan (UPK). Bupati. Tugas Puskesmas (terutama para bidan desa) adalah memberi masukan dan memfasilitasi kegiatan bidang kesehatan. Puskesmas. mengelola dana untuk kegiatan yang tidak langsung dilaksanakan sekaligus. 5).Di tingkat provinsi : 1). bertanggungjawab atas penyelenggaraan operasional kegiatan dan keberhasilan seluruh kegiatan di kecamatan. Spesialis PNPM GSC.pertemuan di kecamatan. pencairan dan penyaluran dana rekening kolektif serta rekening multiyears. memfasilitasi dan membantu Tim Koordinasi Kabupaten dalam mengkoordinasikan. memfasilitasi koordinasi antara masyarakat desa dengan Puskesmas dan cabang Dinas Pendidikan Nasional (Dinas Diknas) di wilayahnya. 4). pengelola dan operasional pelaksanaan kegiatan PNPM Generasi di tingkat antar desa termasuk mengkoordinasikan pertemuan. Fasilitator Kecamatan (FK). Fasilitator Keuangan. Kepala Puskesmas berperan sebagai Pembina pelaksanaan program di wilayah cakupan pelayanan Puskesmas itu berada. 3). 3).

pendamping masyarakat yang bertugas memfasilitasi masyarakat dalam melaksanakan setiap tahapan program mulai dari tahap sosialisasi, pelatihan, pemetaan sosial, perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian. FK juga berperan dalam membimbing FD/KPMD, Kader Dusun atau pelaku-pelaku program di tingkat desa dan kecamatan. Di tingkat desa :1). KPMD (Kader pemberdayaan masyarakat desa), memfasilitasi masyarakat dalam melaksanakan tahapan proses program di tingkat desa sejak persiapan, perencanaan, pelaksanaan sampai pelestarian kegiatan. 2). TPMD (Tim Pertimbangan Musyawarah Desa), memberikan pertimbangan dalam menetapkan dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan PNPM GSC. 3). PK/TPK (pelaksana kegiatan), tim yang akan melaksanakan kegiatan yang telah diputuskan musyawarah desa untuk didanai PNPM GSC terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara. 4). Kelompok ibu-ibu sasaran, kelompok yang dibentuk dengan mengumpulkan seluruh ibu yang menjadi sasaran program seperti ibu hamil dan ibu yang memiliki balita. Fungsi kelompok ini adalah sebagai forum diskusi berbagai permasalah yang dialami atau berbagi pengalaman diantara anggota-anggotanya. Salah satu kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah yang dianggap cukup berhasil melaksanakan PNPM GSC adalah Kecamatan Janapria. Pendapat ini dikemukakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Lombok Tengah karena menurutnya kerjasama antara PNPM GSC Kecamatan Janapria dengan pihak penyedia layanan kesehatan di wilayah kecamatan Janapria cukup baik dan dapat mendongkrak indikator keberhasilan program kesehatan ibu dan anak dari dinas kesehatan. Selain itu keberhasilan Kecamatan Janapria dalam PNPM GSC juga didukung oleh data capaian delapan indikator PNPM-GSC bidang Kesehatan di Kabupaten Lombok Tengah. (Tabel 1, terlampir) Berdasarkan data capaian delapan indikator di Kecamatan Janapria diperoleh informasi sebagai berikut: 1) Dari 12 desa yang ada di Kecamatan Janapria, belum ada desa yang berhasil diperiksa oleh bidan terkait ANC 4 kali (lengkap) selama masa kehamilan.
141

2) Dari 12 desa terdapat sepuluh desa di Kecamatan Janapria yang seluruh ibu hamilnya berhasil mendapatkan minimal 90 butir pil Fe selama masa kehamilan. 3) Semua desa di Kecamatan Janapria telah berhasil memperoleh persalinan yang ditangani oleh tenaga bidan atau dokter (Pn) dengan kompetensi kebidanan. 4) Dari 12 desa terdapat tujuh desa di Kecamatan Janapria yang ibu nifas dan bayinya telah berhasil memperoleh perawatan nifas oleh bidan atau dokter minimal dua kali perawatan dalam waktu 40 hari setelah proses persalinan. 5) Belum ada desa dengan bayi usia 12 bulan ke bawah yang berhasil memperoleh imunisasi dasar secara lengkap yaitu BCG, DPT, Campak, Polio, dan Hepatitis B dalam pelayanan KIA di Posyandu. 6) Semua desa dengan bayi usia 12 bulan ke bawah berat badanny a telah

berhasil di timbang dan selalu naik pada setiap bulannya (untuk bayi di bawah usia 6 bulan, berat badannya naik lebih dari 500 g per bulan dan bayi usia 6-12 bulan naik lebih dari 300 g). 7) Semua desa dengan anak usia 6 bulan sampai 59 bulan telah berhasil mendapatkan Vitamin A sebanyak 2 kali dalam Setahun. 8) Semua desa dengan anak balita (bawah lima tahun) telah berhasil ditimbang sebulan sekali secara rutin. Secara umum, implementasi capaian minimal 12 bulan GSC di Kecamatan Janapria melebihi nilai minimal indikator dengan demikian disimpulkan capaian cukup baik pada delapan indikator keberhasilan PNPM GSC. Keberhasilan PNPM GSC di Kecamatan Janapria tidak terlepas dari adanya koordinasi yang dilakukan PNPM GSC dengan layanan kesehatan yang ada di wilayah Kecamatan Janapria dimana ada dua puskesmas yang wilayah kerjanya ada di kecamatan ini yaitu Puskesmas Janapria dan Puskesmas Langko. PNPM GSC bertugas untuk melakukan kegiatan yang mendukung pelaksanaan layanan kesehatan ibu dan anak yang dilakukan oleh petugas kesehatan di Puskesmas Janapria dan Puskesmas Langko. Di bawah ini adalah grafik kunjungan K1, K4, dan linakes di
142

Puskesmas Janapria yang wilayah kerjanya meliputi enam desa yaitu Desa Janapria, Saba, Lekor, Pendem, Setuta, dan Jango.

Gambar 5.38 Kunjungan K1, K4 dan Linakes Puskesmas Janapria Thn 2010-2012 Sumber : Data PWS KIA Puskesmas Janapria 2010-2012

Berdasarkan grafik di atas terlihat bahwa kunjungan K1 pada tahun 2010 sebesar 83.3% kemudian sedikit menurun di tahun 2011 menjadi 78.3% dan kembali meningkat di tahun 2012 menjadi 88.4%. Untuk kunjungan K4 tahun angkanya cenderung terus meningkat dari tahun 2010 sebesar 77.5% kemudian menjadi 78.2% di tahun 2011 dan meningkat menjadi 82.05% di tahun 2011. Data linakes menunjukkan tahun 2010 sebesar 71.8%, menurun menjadi 65.5% pada tahun 2011 kemudian kembali meningkat menjadi 71.7% pada tahun 2012.

Pelaksanaan PNPM GSC di Desa Saba Menurut bendahara PNPM GSC Desa Saba yang juga merupakan kader posyandu Desa Saba yang juga merupakan bendahara PNPM GSC, tidak adanya pemberian uang transport bagi ibu hamil dan ibu bersalin bukan suatu masalah karena dulunya Desa Saba termasuk ke dalam desa siaga sehingga sudah ada ambulance desa yang akan mengantarkan ibu yang melahirkan. Ditambah lagi
143

dengan adanya budaya setempat yang membuat kesepakatan bersama agar penduduk yang tinggal di sekitar ibu hamil selalu siap sedia mengantarkan ibu hamil tersebut jika tiba waktu melahirkan. Kesepakatan bersama ini disebut dengan istilah “awig-awig” yaitu kesepakatan yang telah menjadi aturan bersama atau norma pada suatu masyarakat.
“..tidak jadi masalah karena desa Saba berangkat dari desa siaga maka ada ambulance desa, sudah jadi keputusan desa, awig-awignya ada siapapun yang ada di lingkungan itu ada yang mau melahirkan diwajibkan untuk membawa. Misalnya ada tetangga saya ada yang mau melahirkan, kita harus wajib mengantarkan ke tempat ibu bidan atau ke puskesmas..”

Untuk mendukung kesehatan ibu hamil sejak usia kehamilan lima bulan ibu hamil akan mendapatkan makanan tambahan. Pemberian makanan tambahan (PMT) terdiri dari dua jenis yaitu PMT penyuluhan untuk ibu hamil yang dalam kondisi sehat dan PMT pemulihan untuk ibu hamil yang tergolong kurang gizi. Bagi ibu hamil yang tergolong kurang gizi maka ibu hamil akan mendapat PMT yang porsinya lebih banyak dari ibu hamil yang dalam kondisi sehat yang terdiri dari susu 300 gram, berasnya 2 kg, telur 20 butir diberikan selama 3 bulan. Selain pemberian PMT juga dilakukan kelas ibu hamil yang dilakukan sebulan sekali. Kegiatan dalam kelas ibu hamil adalah senam bagi ibu hamil dan penyuluhan bagi ibu hamil mengenai pentingnya menjaga kesehatan selama masa kehamilan. Kelas ibu hamil ini difasilitasi oleh bidan puskesmas dengan PNPM GSC sebagai penyelenggaranya.

Pelaksanaan PNPM GSC di Desa Lekor Desa Lekor merupakan desa yang letaknya paling jauh dari pusat Kecamatan Janapria. Awalnya persalinan oleh tenaga kesehatan di desa ini sedikit, masyarakat lebih memilih untuk melahirkan di rumah dengan ditolong oleh dukun beranak yang dalam bahasa setempat disebut dengan “belian sasak”. Masyarakat Desa Lekor lebih mempercayai “belian sasak” untuk menolong
144

persalinan karena dalam menolong persalinan belian sasak menggunakan doadoa. Di bawah ini adalah data PWS KIA Desa Lekor yang diperoleh dari puskesmas Kecamatan Janapria :

Gambar 5.39 Kunjungan K1 dan K4 serta Linakes Desa Lekor, Th 2010-s.d Okt 2012 Sumber : PWS KIA Puskesmas Janapria, 2010-2012.

Berdasarkan data di atas terlihat untuk cakupan K1 mengalami peningkatan dari tahun 2010 yang semula 62.2% menjadi 68.2% pada tahun 2011 kemudian meningkat drastis menjadi 108.4% pada tahun 2012. Untuk cakupan K4 pada tahun 2010 sebesar 56.8% meningkat menjadi 71.9% pada tahun 2011 dan kembali meningkat menjadi 98.6% pada tahun 2012. Angka persalinan dengan ditolong tenaga kesehatan cakupannya sebesar 61.4% pada tahun 2010 kemudian sedikit menurun menjadi 56.57% pada tahun 2011 dan kembali meningkat menjadi 73.83% pada tahun 2012. Untuk mendorong agar masyarakat mau melahirkan di polindes dengan ditolong bidan maka PNPM GSC akan memberikan perlengkapan persalinan seperti bak mandi, kelambu bayi, paket perlengkapan bayi seperti baju bayi, popok, sabun, handuk kepada setiap ibu yang melahirkan di polindes.
145

awalnya kepengurusan program ini masih bergabung dengan PNPM Perdesaan.. ibu tetap meminta agar “belian sasak” mendampingi ibu ketika melahirkan.000.40. Poskesdes Desa Lekor yang dibangun oleh PNPM GSC Sumber : Dokumentasi Peneliti PNPM GSC di Desa Langko Kegiatan PNPM GSC telah dimulai di Desa Langko pada tahun 2011.” Gambar 5. Strategi pemberian paket bagi ibu yang melahirkan di poskesdes dan pemberian transport bagi “belian sasak” terbukti cukup berhasil mendorong ibu hamil di Desa Lekor untuk mau melahirkan di poskesdes dengan ditolong bidan. Pada bulan Agustus tahun 2011 baru dibentuk kepengurusan tersendiri untuk PNPM GSC. Satu tahun ini cuma ada satu yang melahirkan non nakes.. Untuk mendukung keinginan masyarakat ini maka PNPM GSC memberikan uang transport bagi “belian sasak” yang membawa ibu hamil untuk melahirkan di poskesdes sebesar Rp 80.Selain itu kehadiran balian sasak tidak dapat dihilangkan begitu saja dalam menolong persalinan karena walaupun ibu mau melahirkan di poskesdes. Seperti pernyataan bidan Desa Lekor berikut ini: “. Dalam PNPM GSC kepengurusannya terdiri dari pelaksana kegiatan 146 .sejak tahun 2012 per Januari sudah mulai kelihatan perubahan. Dulunya persalinan non nakes sangat banyak bisa 60-40%.

Maksudnya pemeriksaan awal makanya lebih banyak yang periksa kehamilan ke dukun. Pada awalnya. Hal ini dikarenakan ibu hamil merasa enggan jika harus ke puskesmas karena harus menunggu terlalu lama. Disamping itu sebelumnya ibu hamil jarang memeriksakan kehamilan ke posyandu karena ibu hamil lebih memilih untuk memeriksakan diri ke dukun beranak.. tanpa dipastikan atau di tes. ibu-ibu hamil di Desa Langko jarang yang mau memeriksakan kehamilannya atau melahirkan di bidan puskesmas. Salah satu cara agar bidan mau tinggal di polindes Desa Langko maka polindes harus diperbaiki dan ada sumber air bersih. Tingkat kesadarannya belum ada terhadap kesehatan jadi ketika 5 atau 6 bulan baru ke periksa ke petugas kesehatan. Alasan bidan tidak mau tinggal di polindes Desa Langko karena kondisi polindes yang sudah rusak dan tidak ada air bersih yang tersedia di polindes.kalau dulu kan ada kepercayaan kalau dipegang awal takut keguguran. usulan untuk merenovasi polindes paling banyak muncul di masyarakat. Kalau awal-awal cuma dikasih tahu sama dukun beranak. Pemilihan ketua PK PNPM GSC dipilih melalui musyawarah namun jika tidak terdapat kesepakatan dilakukan voting.(PK) yang terdiri dari satu orang ketua. Ketua PK Desa Langko yang sekarang. Ibu hamil lebih memilih memeriksakan diri ke polindes karena letak polindes lebih dekat namun tidak ada bidan yang tinggal di polindes Desa Langko. oh kamu hamil. Kemudian ada yang disebut dengan Tim Pertimbangan Musyawarah Desa (TPMD). namanya diusulkan karena telah lama menjadi KPMD di PNPM Perdesaan. Kepercayaannya kalau dari awal sudah dipegang bidan nanti keguguran atau 147 . Seperti diungkapkan oleh informan HB seorang bidan yang masih berstatus bidan magang di Desa Langko: “. Melihat kondisi polindes seperti ini maka ketika musyawarah antar dusun dilakukan untuk menentukan prioritas kegiatan PNPM GSC. Ditambah lagi dengan adanya kepercayaan di masyarakat bahwa ibu hamil pantang untuk diperiksa awal oleh petugas kesehatan karena takut keguguran. terpilih melalui voting. Selain PK ada yang disebut dengan Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD) yang terdiri dari dua orang. satu orang sekretaris dan satu orang bendahara.

maka bidan Desa Langko melakukan penyuluhan setiap dilaksanakannya posyandu di setiap dusun. Dalam kegiatan ini dilakukan senam ibu hamil yang disertai penyuluhan terhadap ibu hamil agar mau melahirkan di polindes atau puskesmas. sampai KB harus ke tenaga kesehatan.” Untuk mengubah pandangan masyarakat. Karena saya belum dilatih maka yang memimpin senam bidan koordinator dari puskesmas. Seperti diutarakan oleh bidan Desa Langko berikut ini: “.pada kelas ibu hamil kita undang ibu hamil yang tiga bulan lagi mau melahirkan.... baru telat satu minggu saja sudah ke bidan.41 Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil yang difasilitasi oleh PNPM GSC Sumber : Dokumentasi Fasilitator Kecamatan Janapria Namun pelaksanaan kelas ibu hamil tidak rutin dilakukan karena kegiatan ini bukan merupakan prioritas usulan dari masyarakat. kita ajarkan senam. Kelas ibu hamil penting untuk meningkatkan kesadaran ibu hamil untuk memeriksa sampai melahirkan.kandungannya hilang. PNPM GSC juga mendanai kegiatan kelas ibu hamil. Sebagai dukungan untuk kesehatan ibu hamil.” Gambar 5. Tapi sekarang sudah tidak. Hal ini cukup disayangkan oleh bidan Desa Langko karena menurutnya kelas ibu hamil sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran ibu hamil untuk memeriksakan kehamilan dan 148 .

televisi. Begitupula dengan angka K4 meningkat dari 95.melahirkan di tenaga kesehatan. Untuk pelatih senam atau pemberi penyuluhan biasanya juga diberikan uang sebagai narasumber. Berikut ini adalah tabel data K1.3% ibu hamil di Desa Langko memeriksakan kehamilannya ke puskesmas. Setiap ibu hamil yang datang ke kelas ibu hamil diberikan uang transport sebesar Rp 20. terlihat bahwa ibu hamil di Desa Langko cukup rajin memeriksakan kehamilannya angkanya pun cenderung meningkat dari tahun 2011 ke tahun 2012. polindes atau posyandu dan pada tahun 2012 angkanya meningkat menjadi 105. Untuk persalinan dengan ditolong tenaga kesehatan juga mengalami peningkatan berarti yaitu dari 91% pada tahun 2011 149 . bantal dan matras untuk senam ibu hamil serta dana untuk honor narasumber dan transport untuk ibu hamil yang datang. K4 persalinan oleh tenaga kesehatan Desa Langko yang diperoleh dari Puskesmas Langko : Gambar 5.000 dari dana PNPM GSC.42 Kunjungan K1. video player.7% tahun 2011 menjadi 100% pada tahun 2012. Dalam kegiatan kelas ibu hamil PNPM GSC bertugas menyediakan sarana dan prasarana seperti sound system. Linakes Desa Langko Thn 2010-2012 Sumber : Data PWS KIA Puskesmas Langko 2010-2012 Berdasarkan tabel di atas (penjelasan 2012). K4.4%. Seperti pada angka K1 tahun 2011 sebanyak 98.

Awalnya pada bulan pertama jumlah yang diberikan sesuai dengan data sasaran yang ada.7% pada tahun 2012.” Selain merenovasi polindes. Namun akibatnya jumlah ibu hamil yang mendapatkan PMT membeludak padahal jumlah dana yang ada hanya untuk 30 orang ibu hamil. Usulan pemberian uang transport untuk ibu hamil ini sebenarnya datang dari masyarakat namun menurut kepala Desa Langko ibu tanpa adanya uang transport pun ibu hamil di Desa sudah cukup rajin memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan karena letak Desa Langko bukan di pelosok sehingga tidak terlalu jauh dari puskesmas atau polindes. Pada bulan kedua semua ibu hamil dapat mendaftar untuk memperoleh PMT dengan syarat memiliki buku KIA. Tapi bertolak belakang dengan programnya dinas kesehatan. Untuk mengatasi hal ini PK Desa Langko berkonsultasi dengan petugas gizi dari puskesmas Langko. “. Dinas kesehatan memberitahukan hal ini ke kepala camat..menjadi 105. Namun pemberian uang transport kepada ibu hamil dihentikan karena tidak disetujui oleh pihak dinas kesehatan Lombok Tengah. Sebagai dukungan agar ibu hamil mau memeriksakan dirinya dan melahirkan ke petugas kesehatan maka PNPM GSC pernah memberikan uang transport untuk diberikan kepada ibu hamil. Ditambah lagi dengan kesadaran masyarakat Desa Langko yang mulai meningkat karena seringnya diadakan penyuluhan kesehatan kepada ibuibu hamil. kepala desa. untuk mendukung kesehatan ibu juga dilakukan pemberian makanan tambahan. hasilnya jumlah dana untuk 30 orang dibagi agar cukup untuk PMT sesuai jumlah 150 . Pemberian makanan tambahan ada yang untuk ibu hamil yang status gizinya masih baik dan ada yang diperuntukkan untuk ibu hamil Kek. Peningkatan ini dapat terjadi salahsatunya karena bidan yang bertugas di Desa Langko sudah tinggal menetap di polindes Desa Langko. Di Desa Langko tanpa transport untuk ibu hamil rasanya sudah rajin periksa kehamilan karena desa Langko bukan termasuk daerah pelosok.usulan dari masyarakat supaya tidak ada yang terlewatkan ibu hamil yang periksa kehamilan untuk mendapatkan jampersal nanti minimal dia periksa kehamilan empat kali sehingga kita support lewat transport itu. Pada tahun 2011 Desa Langko mulai memberikan PMT untuk ibu hamil..

telur rebus satu butir dan biskuit. gula. Saya sudah mendapat PMT ibu hamil tiga kali dari hamil satu bulan. Hal ini terpaksa dilakukan walaupun nantinya PMT yang diberikan tidak mencukupi kebutuhan ibu hamil. seperti terlihat pada gambar di bawah ini : 151 . PMT ibu hamil diberikan kepada ibu hamil dengan diantar ke rumah ibu hamil oleh kader posyandu. Misalnya pemberian susu untuk ibu hamil hanya diberikan susu yang ukuran kecil saja yang habis diminum dalam waktu empat hari jika diminum rutin setiap hari.5 kg. Kalau yang 400 gram bisa untuk dua minggu. pemberian imunisasi dan pemeriksaan terhadap ibu hamil. berikut penuturannya: “. ikan teri. kacangkacangan. kalau yang 200 gram untuk empat hari. ikan kering seperti cumi. Seperti susu ini kan hanya cukup untuk empat hari kadang-kadang saya beli sendiri juga susu Prenagen yang 400 gram harganya 80 ribu. tiap bulan dapat PMT ibu hamil.” Desa Langko terdiri dari sepuluh dusun dimana di setiap dusun telah memiliki Posyandu dengan jumlah kader di setiap dusun sebanyak lima orang.” Namun pemberian makanan tambahan ini dirasakan informan SU tidak mencukupi untuk kebutuhan ibu hamil setiap bulannya. minyak goreng sebanyak 1.ibu yang mendaftar.. Ketika posyandu dilakukan setiap balita yang datang akan diberikan PMT berupa bubur kacang hijau. telur empat butir.kalau menurut saya belum mencukupi kebutuhan.pernah dapat susu untuk ibu hamil yang 200 gram.. ikan teri ¼ kg serta susu untuk ibu hamil ukuran 200 gram. Seperti pengalaman ibu hamil SU yang menerima PMT ibu hamil dari PNPM GSC berikut ini: “... Posyandu dilakukan setiap bulan terdiri dari kegiatan penimbangan bayi dan balita. telur. PMT yang diberikan untuk ibu hamil terdiri dari gula merah.

memang sekarang salah satu perangsangnya karena ada PMT jadi banyak yang ke posyandu walaupun yang didapat cuma bubur kacang hijau sama telur.. melindungi. pemberian PMT juga bertujuan untuk menarik ibu-ibu agar mau membawa anaknya ke posyandu. dan desentralisasi. memelihara. Menurut Notoatmodjo.43 PMT yang diberikan ketika posyandu di Desa Langko Sumber : Dokumentasi Peneliti Pemberian PMT selain bertujuan untuk meningkatkan gizi setiap balita yang datang ke posyandu. mengembangkan gotong-royong masyarakat. Seperti dikemukakan oleh PK Desa Langko berikut ini: “. mengatasi.Gambar 5. 2007).com). dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri (Notoatmodjo.. (http://edukasi. menggali kontribusi masyarakat. tidak seberapa. Adapun prinsip pemberdayaan masyarakat adalah menumbuhkembangkan potensi masyarakat. menjalin kemitraan.kompasiana. Berdasarkan konsep di atas maka di dalam pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria sudah berusaha untuk menumbuhkan potensi masyarakat 152 .” Selanjutnya akan dibahas bagamana pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC dikaitkan dengan konsep-konsep tentang pemberdayaan masyarakat yang sebelumnya telah ada. pemberdayaan masyarakat ialah upaya atau proses untuk menumbuhkan kesadaran. kemauan. dan kemampuan masyarakat dalam mengenali.

penanggung jawab PNPM GSC Keamatan Janapria berikut ini: “Kan diberikan pelatihan-pelatihan untuk SDM mereka. Tapi kalau program ini tidak ada siapa yang diharapkan. dia yang melaksanakan. untuk melakukan perubahan pada masyarakat desa Lekor harus dilaksanakan pelan-pelan.yang belum kita lakukan sebenarnya proses penyadaran itu karena ini sangat tidak mudah.. melaksanakan dan memantau pelaksanaan PNPM GSC. 153 . Sedangkan kegiatan yang dilaksanakan PNPM GSC beberapa masih ada yang bersifat instan seperti pada pelaksanaan PNPM GSC di Desa Lekor dimana untuk membuat ibu hamil mau melahirkan di poskesdes maka diberikan stimulus berupa pemberian paket perlengkapan bayi. Pemberian paket untuk ibu yang melahirkan di Desa Lekor disadari oleh FK PNPM GSC Kecamatan Janapria merupakan cara yang instan dan belum mengarah ke proses penyadaran. dia rasakan karena dia yang merencanakan. itu mungkin yang terus dilakukan. Seperti penjelasannya berikut ini: “.. Yang sementara kita lakukan boleh saya katakana sedikit instan hanya untuk memotivasi mereka setelah itu selesai. Masyarakat mau melahirkan di polindes karena ada daya tarik dari paket yang diberikan bukan semata-mata karena kesadaran masyarakat yang telah tumbuh akan pentingnya melahirkan di fasilitas kesehatan dengan ditolong tenaga kesehatan. Hal ini dijelaskan oleh informan MU. Nah proses ini yang berusaha kami lakukan.. Tujuan program ini kan sebenarnya menyadarkan mereka agar menjadi kebutuhan mereka. Pelatihan ini bertujuan agar masyarakat di desa dapat membuat merencanakan.dengan adanya pelatihan terhadap pihak pelaksana PNPM GSC di tingkat desa. dia yang memantau. Untuk perencanaan dia datang ke dusun menampung aspirasi dari situ oh ini permasalahannya. Pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC lebih ke arah penguatan kapasitas pelaksana program yang ada di desa agar muncul partisipasi masyarakat untuk terlibat dalam program ini. oh ini potensi kita dari situ bisa dia rencanakan.” Namun pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC belum sampai ke tahap membangun kesadaran masyarakat agar menjadi mandiri dan sadar akan pentingnya menjaga kesehatan ibu dan anak. dia yang melanjutkan.” Cara instan ini terpaksa dilakukan karena karakter penduduk Desa Lekor yang menurut FK kecamatan Janapria sulit untuk diarahkan.

Karena dalam PNPM GSC masyarakat juga harus dapat membangun kemitraan dengan instansi-instansi terkait. Namun dalam pelaksanaannya terkadang kemitraan tidak berjalan dengan sempurna karena pada awalnya belum terjalin koordinasi dan komunikasi yang baik antara pihak kesehatan dengan PNPM GSC. Hanya saja.Pelaksanaan PNPM GSC yang berfokus pada keterlibatan masyarakat membuat usaha untuk membangun kemandirian kesehatan ibu dan anak di masyarakat menjadi kurang maksimal. Namun setelah di evaluasi kegiatan yang ada di PNPM GSC ternyata memiliki indikator yang sama dengan program KIA dari dinas kesehatan. Padahal PNPM GSC memiliki indikator keberhasilan program yang tidak terkait dengan pembangunan fisik. menurut informan pelaksanaan kegiatan di tingkat kecamatan dan desa yang kurang bagus. untuk mensinergikan kegiatan PNPM GSC dengan dinas kesehatan maka pihak dinas kesehatan mengundang fasilitator kabupaten PNPM GSC untuk berkoordinasi dalam melaksanakan kegiatan. Program PNPM berjalan dengan kegiatannya sendiri demikian juga dengan program dinas kesehatan. Berikut pernyataannya: 154 . Oleh karena itu. Hal ini terlihat dari banyaknya usulan dari masyarakat yang lebih banyak ke arah pembangunan fisik seperti pembangunan atau renovasi polindes dan posyandu. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Lombok Tengah pada awal 2011. Hal senada juga diungkapkan oleh Kasie Gizi Dinas Kesehatan Lombok Tengah. Setiap usulan dari masyarakat seharusnya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan pihak kesehatan dan pihak pendidikan. dinas kesehatan belum dilibatkan dalam program PNPM GSC. Pembangunan fisik sebenarnya hanya untuk mendukung keberhasilan indikator tersebut. pada awal tahun 2012 dinas kesehatan mulai mengkoordinasikan kegiatannya bersama dengan PNPM GSC dalam mencapai kegiatan yang fokus ke bidang kesehatan agar lebih terarah dalam mencapai keberhasilan indikator kesehatan ibu dan anak.

Partisipasi di dalam pelaksanaan dan 3.pertama dari FK mengawal proses fasilitasi kemudian dukungan masyarakat. 2. Tapi kita tetap tidak bisa meninggalkan yang punya bidang sehingga kita koordinasi.unand.ac..” Namun dengan pendekatan dan komunikasi dari pelaksana PNPM di tingkat Kecamatan Janapria terutama peran dari Fasilitator Kecamatan (FK) Janapria maka cukup terjalin koordinasi yang baik antara PNPM GSC dengan pihak penyedia layanan kesehatan dalam hal ini puskesmas Janapria dan puskesmas Langko yang wilayah kerjanya adalah desa-desa di Kecamatan Janapria.awalnya ego dari dinas itu. Tapi sering kita koordinasinya putus karena di atas koordinasinya sudah bagus yang di bawah eksekusinya kurang bagus.kita sering mengundang pihak PNPM GSC karena kita butuh.pasca. Menurut informan MU selaku penanggung jawab program PNPM di Kecamatan Janapria. Kami jawab ini kan program dari pusat dan kami laksanakan dan kita tidak jalan sendiri dan inilah bentuk pemberdayaan sebab yang melaksanakan ini kan dari masyarakat kan kita yang memfasilitasi. Berikut penjelasan FK Kecamatan Janapria: “. Partisipasi di dalam tahap perencanaan. Partisipasi di dalam tahap pemanfaatan. yang pertama kali saya kunjungi teman-teman dari layanan kesehatan seperti puskesmas dan dari pendidikan karena disitulah kita cari data awal... (http://www.“. bahkan ada pertanyaan dari dinas kesehatan “kok GSC ini tentang kesehatan kok PNPM yang menangani.. “.” Menurut Ericson (dalam Slamet. dukungan layanan. Awal-awal saya kesini saya lakukan itu.. pada awalnya Dinas kesehatan mempertanyakan kenapa kegiatan PNPM GSC yang bergerak di bidang kesehatan dana pelaksanaannya tidak diserahkan ke dinas kesehatan.” Pada kasus pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria pada awalnya pelaksana di tingkat kecamatan juga kurang dapat berkoordinasi dengan pihak penyedia layanan kesehatan di Kecamatan Janapria. Selanjutnya ketiga tahap 155 . 1994:89) bentuk partisipasi masyarakat dalam pembangunan terbagi atas tiga tahap. indikator mereka kan hampir sama dengan kami jadi kami yang merasa membutuhkan mereka karena mereka yang punya dana. kenapa dananya tidak di puskesmas saja”. yaitu : 1.. kerjasama dengan layanan ini yang penting karena kalau kita tidak lakukan kerjasama itu kita kan hanya memfasilitasi tidak paham tentang teknis bagaimana kesehatan dan puskesmas lah yang tahu sehingga koordinasi ini penting untuk kita maksimalkan.id).

Sebelum program dilaksanakan setelah dicapai kesepakatan mengenai prioritas kegiatan maka pelaksana kegiatan akan diberikan pelatihan di PNPM GSC kecamatan. Masyarakat berpartisipasi dengan memberikan usulan. Dalam musyawarah pertanggungjawaban desa masyarakat diminta untuk menilai pelaksanaan 156 . saran dan kritik melalui pertemuan-pertemuan yang diadakan.partisipasi masyarakat tersebut akan coba dikaitkan dengan pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria. Kemudian masyarakat juga diminta untuk memberikan usulannya mengenai kegiatan apa saja yang diprioritaskan untuk dilakukan. bagaimana cara membuat proposal. Dalam musyawarah antar dusun masyarakat diberikan kesempatan untuk memberikan usulan dalam rangka memperbaiki kondisi kesehatan ibu dan anak serta kondisi pendidikan. 1. Dalam pelaksanaan PNPM GSC partisipasi masyarakat dalam program ini merupakan wujud dari adanya pemberdayaan di dalam masyarakat. 80% dan 100%. Partisipasi di dalam tahap perencanaan (idea planing stage). Setelah itu masyarakat juga berpartisipasi dalam musyawarah pertanggungjawaban desa program yang diadakan ketika dana PNPM GSC sudah digunakan sebanyak 40%. Dalam pelatihan diberikan materi mengenai bagaimana cara membuat rancangan anggaran (RAB). bagaimana cara pelaksanaan kegiatan dan pelatihan lainnya yang bertujuan untuk membangun kesadaran pelaksana kegiatan PNPM GSC tentang pentingnya keterlibatan masyarakat dalam program ini tanpa didasari imbalan yang akan mereka dapat. Bentuk partisipasi masyarakat terlihat dari awal tahap perencanaan yaitu dilibatkannya masyarakat dalam memberikan usulan kegiatan melalui musyawarah antar dusun yang dilanjutkan dengan musyawarah antar desa. Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap penyusunan rencana dan strategi dalam penyusunan kepanitian dan anggaran pada suatu kegiatan/proyek.

PNPM GSC. Partisipasi di dalam tahap pelaksanaan (implementation stage)... PNPM GSC hanya memfasilitasi biaya untuk pembangunan polindes atau posyandu seperti pembelian bahan bangunan.misalnya kita membangun posyandu tidak mungkin program menganggarkan jadi syaratnya masyarakat harus menyiapkan lahan yang sudah dibebaskan dengan bukti pembebasan ada dan berupa hibah dari pihak desa. Jika ternyata kegiatan yang dilakukan tidak sesuai dengan usulan masyarakat atau pelaksana kegiatan PNPM GSC di desa tidak kelihatan kinerjanya maka masyarakat akan mengkritik pelaksana kegiatan PNPM GSC. “. Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap pelaksanaan pekerjaan suatu proyek. Seperti kepala dusun Langko Gunting di Desa Langko 157 . partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan PNPM GSC juga dapat dilihat dari adanya masyarakat yang bersedia rumahnya digunakan sebagai tempat pelaksanaan posyandu. kalau ada lahan itu baru kita setujui pembangunan posyandu. Masyarakat disini dapat memberikan tenaga. uang ataupun material/barang serta ide-ide sebagai salah satu wujud partisipasinya pada pekerjaan tersebut. Ada kegiatan lain dimana masyarakat berswadaya dalam bentuk tenaga. material. Kemudian jika pelaksana kegiatan PNPM GSC tidak dapat mempertanggungjawabkan dana yang telah terpakai maka bisa saja ketua dan anggotanya diusulkan oleh masyarakat untuk diganti.” Selain penyediaan lahan untuk pembangunan polindes atau posyandu. Sedangkan untuk tenaga membangun polindes atau posyandu ada juga yang berasal dari masyarakat setempat. Dalam PNPM GSC bentuk partisipasi ini dapat terlihat dari adanya masyarakat yang mau menghibahkan tanahnya untuk dijadikan polindes atau posyandu. Syarat dari PNPM GSC untuk membangun polindes atau posyandu adalah harus adanya masyarakat yang mau menghibahkan tanahnya sebagai lokasi polindes atau posyandu. 2. Masyarakat akan menilai pelaksanaan PNPM GSC berhasil jika prioritas kegiatan yang diusulkan masyarakat benar-benar telah dilakukan.

Anggota KPMD hanya dua orang jika tanpa bantuan dari kaderkader posyandu di setiap dusun. Seperti pernyataan informan IT.. Desa Langko berikut ini : “.” Partisipasi dalam tahap pelaksanaan juga terlihat dari adanya peran kader posyandu dalam pelaksanaan kegiatan PNPM GSC.000 per harinya.. pada hari pelaksanaan posyandu dan satu hari setelah pelaksanaan posyandu sebesar Rp 15. Maka sebagai balas jasa dari apa yang telah dilakukan para kader kebanyakan muncul usulan di masyarakat untuk memberikan insentif bagi para kader dengan menggunakan dana PNPM GSC. seorang kader dari Dusun Lengarak. Insentif ini tidak berupa gaji tetapi uang transport yang diberikan sehari sebelum pelaksanaan posyandu.yang bersedia rumahnya dipakai untuk pelaksanaan posyandu setiap bulannya.000. Dalam PNPM GSC peran kader posyandu sangat penting karena kader posyandu sebagai penyuluh terdepan yang dapat mengajak masyarakat agar mau memanfaatkan layanan kesehatan.rumah saya dijadikan tempat untuk posyandu sejak setahun terakhir ketika saya menjadi kepala dusun karena di dusun Langko Gunting ini belum ada tempat pelaksanaan posyandu yang permanen. Namun adanya insentif ini bukanlah motivasi utama kader di Desa Langko melaksanakan perannya sebagai seorang kader.. Soalnya dari dulu sudah jadi kader walaupun tidak ada honornya. KPM akan kesulitan untuk mendata sasaran dan menemukan permasalahan kesehatan ibu dan anak yang ada pada setiap dusun.kalau saya tetap akan jadi kader walaupun nanti suatu saat tidak ada honor lagi dari PNPM GSC. Dengan adanya uang transport ini masyarakat berharap kader posyandu lebih giat mengajak ibu yang memiliki bayi dan balita agar mau membawa anaknya ke posyandu dan memotivasi ibu hamil agar mau memeriksakan kehamilan dan melahirkan di tenaga kesehatan. Kader posyandu juga turut membantu KPMD (Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa) dalam mendata sasaran yang ada di desa.. Jadi satu orang kader total mendapatkan uang transport sebesar Rp 45.” 158 . berikut uraiannya: “.

Kader IT adalah satu-satunya kader laki-laki yang ada di Kecamatan Janapria. Provinsi Sulawesi Tenggara. Dalam musyawarah pertanggungjawaban desa. kebanyakan kader adalah perempuan. yang membentang dari Utara ke Selatan di antara 5012’ – 6010’ LS (sepanjang kurang lebih 160km) dan 123020’ – 124039’ BT (sepanjang kurang lebih 120 km).96 km.8. 159 . Kabupaten Wakatobi.900 km2 serta panjang garis pantai 251. berjumlah 48 buah pulau dengan luas daratan 823 km2 dan luas perairan 13. 3. Partisipasi di dalam pemanfaatan (utilitazion stage) Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap pemanfaatan suatu proyek setelah proyek tersebut selesai dikerjakan. Sebelum ada PNPM GSC ia tidak pernah mendapatkan insentif per bulannya namun walaupun suatu saat tidak ada lagi insentif dari PNPM GSC ia tetap akan menjadi kader karena uang bukanlah motivasi utamanya menjadi kader. Kabupaten Wakatobi terletak di sebelah Timur Kabupaten Buton.2 BAYANG-BAYANG JAMPERSAL DI LAMANGGAU Desa Lamanggau terletak di Kecamatan Tomia. Pada PNPM GSC partisipasi ini terlihat dengan terlibatnya masyarakat pada musyawarah pertanggungjawaban desa ketika dana PNPM GSC sudah terpakai dan kegiatan-kegiatan dalam PNPM GSC di desa sudah dilaksanakan. Kader IT sudah lebih dari sepuluh tahun lamanya menjadi kader di Dusun Lengarak. Kepulauan Wakatobi merupakan gugusan pulau-pulai kecil. 5. Masyarakat berhak mengusulkan kepengurusan akan tetap dilanjutkan atau harus diganti. masyarakat berhak menilai apakah kepengurusan pelaksana kegiatan di desa berjalan dengan baik atau tidak. bahkan dapat dikatakan gugusan pulau sangat kecil.

com/2012/04/peta-wakatobi. Setelah tiba di Dermaga Waitii.00 penumpang belum mencapai jumlah sepuluh orang. Waktu tempuh ojek ini sekitar 20 menit dengan tarif Rp. Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Jabal di Wanci.5 jam untuk sampai ke Dermaga Osuku di pulau Tomia. 8 kelurahan. Apabila pada pukul 09. yaitu sebuah pulau yang berada di barat daya Pulau Tomia. 76 desa (sumber: Permendagri Nomor 66 Tahun 2011). Perjalanan dari Wangi-wangi ini membutuhkan waktu sekitar 2.00 pagi.Gambar 5. yaitu pada pukul 09. yang kemudian akan dilanjutkan dengan ojek darat menuju Dermaga Waitii.000.15. dengan menggunakan speed boat dengan tarif Rp 120. maka keberangkatan akan ditunda sampai jam 10 pagi. jadwal tersebut tidak menentu tergantung pada keadaan penumpang.blogspot. Namun.000 perorang. dan apabila tidak mencukupi 10 orang bisa saja keberangkatan ditunda hingga esok hari. perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan pompong 160 . Salah satu desa tersebut adalah Desa Lamanggau yang terletak di Pulau Tolandono.44 Peta Kabupaten Wakatobi Sumber: http://visitkendari. Speed boat hanya beroperasi satu hari sekali.html Kabupaten Wakatobi memiliki 8 kecamatan.-. Pulau Wangi-wangi. Desa Lamanggau dapat diakses hanya dengan speed boat dan pompong atau disebut bodi dalam bahasa Bajo.

dusun yang ketiga adalah Dusun Dunia Baru. dibangun jembatan kayu sebagai alat penyeberangan dari satu rumah ke rumah lain. Gambar 5. Berbeda dengan Dusun Lasoilo. Dusun Lasoilo yang berada di tepi laut mayoritas dihuni oleh orang Bajo. Kabupaten Wakatobi. terletak di daratan yang agak tinggi.45 Peta Desa Lamanggau Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti.000 per orang. Desa Lamanggau terdiri dari tiga dusun. Dusun Ketapang mayoritas dihuni oleh orang Buton Tomia yang seringkali disebut dengan ‘orang darat’ oleh orang Bajo. Secara administratif. Mayoritas rumah yang terdapat di Dusun Ketapang terbuat dari semen dan sebagian terbuat dari kayu. Kata ‘darat’ tersebut menunjukan kondisi Dusun Ketapang tempat mayoritas orang Buton Tomia berada. Sebagai penghubung antara satu rumah ke rumah lain. yaitu Dusun Lasoilo. Dusun Ketapang.untuk menuju Pulau Tolandono selama kurang lebih 10 menit dengan tariff Rp 3. Dusun ini dihuni oleh orang Bajo dan orang Buton-Tomia yang telah melakukan 161 . yaitu Desa Lamanggau. Desa Lamanggau termasuk dalam wilayah Kecamatan Tomia. Sementara itu. Rumah-rumah di dusun tersebut mayoritas didirikan di tepi laut bahkan ada yang didirikan di atas laut. November 2012 Di Pulau Tolandono hanya terdapat satu desa. Di pulau tersebutlah Desa Lamanggau terletak. dan Dusun Dunia Baru.

Namun. ada yang berbentuk uang tunai ada juga yang berbentuk bangunan seperti pagar desa. Dengan kata lain.00.perkawinan. kendaraan tersebut hanya bisa 162 . Begitu pula dengan kecukupan air bersih di desa ini. masyarakat harus menyebrang pulau untuk bisa mencapai sumber mata air tawar. apalagi wisatawan asing yang berkunjung ke sana. karena jalan yang dilalui berupa jalan setapak yang dikelilingi oleh kebun dan semak-semak. Desa Lamanggau merupakan satu-satunya desa yang menjadi wilayah kerja Puskesmas Onemobaa. Listrik yang mengalir di Desa Lamanggau merupakan bantuan dari Dive Wakatobi Resort yang terletak di bagian barat daya Pulau Tolandono. yaitu jalur darat dan jalur laut.00 hingga 06. Puskesmas tersebut dibangun pada tahun 2007 di sebelah timur Dive Wakatobi Resort (DWR) yang dibangun sekitar tahun 1990an. Resort tersebut berdiri sekitar tahun 1990-an oleh investor asing. tepatnya di sebelah selatan DWR.000 (pulang pergi) dengan jarak tempuh kurang lebih 10 sampai 15 menit. sehingga sekilas puskesmas ini terlihat terletak dalam area DWR. Puskesmas tersebut terletak kurang lebih satu kilometer dari pemukiman masyarakat Desa Lamanggau. Pada siang hari tak ada aliran listrik sama sekali. Bantuan tersebut bermacam-macam. Tentunya kondisi ini mencakup pustu dan puskesmas yang ada di sana. sedangkan sebagian lagi tinggal di lautan. Biaya yang dikeluarkan untuk menyewa kendaraan tersebut sekitar Rp 20. Untuk desa Lamanggau. Selain Desa Lamanggau. Resort tersebut juga menawarkan wisata bawah laut di sekitar Pulau Tomia. bantuan yang diberikan berupa bantuan uang kas desa dan aliran listrik pada malam hari yang dimulai sejak pukul jam 18. Kondisi geografi Dusun Dunia Baru merupakan perpaduan antara Dusun Lasoilo dan Dusun Ketapang. Jalur darat hanya dapat dilalui dengan menggunakan kendaraan roda dua. Tidak tersedia sumber mata air tawar di Desa Lamanggau. Untuk menuju ke puskesmas tersebut dapat melalui dua jalur. sebagian masyarakat Dusun Dunia Baru tinggal di daratan. resort tersebut juga memberikan bantuan kepada beberapa desa yang ada di Pulau Tomia dan sekitarnya. sehingga banyak wisatawan.

pengunjung harus berjalan selama kurang lebih 10 menit melewati jalan setapak yang dikelilingi oleh kebun untuk menuju ke pos satpam resort. pengunjung dipersilahkan masuk dengan jalur yang telah ditentukan. Setelah menunggu beberapa menit untuk mendapat izin dari satpam. Sebelum masuk ke Puskesmas Onemobaa. Jalan setapak ini bukanlah jalan yang mulus beraspal bagus dan mudah untuk dilewati. Perjalanan dimulai dari Dermaga Lamanggau menuju dermaga yang terletak sebelum DWR.46 dan 5. November 2012 163 . Gambar 5. Setelah sampai di gerbang resort.mencapai pos satpam DWR.47 Jalan menuju Puskesmas Onemobaa (kiri) dan pintu gerbang milik Dive Wakatobi Resort (kanan). Jalur kedua adalah melalui jalur laut dengan memggunakan pompong. Akses jalan ini berupa jalan tanah berkerikil dan mempunyai banyak cabang jalan yang membuat bingung pengunjung yang belum pernah ke sana. pengunjung terlbih dahulu izin ke satpam yang berjada di pintu gerbang tersebut Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. Setelah tiba di pos satpam. tibalah di Puskesmas Onemobaa. Perjalanan tersebut ditempuh kurang lebih 10 hingga 15 menit. Dari dermaga. pengunjung puskesmas masih harus menunggu izin dari satpam untuk dapat masuk dan melanjutkan perjalanan menuju puskesmas. pengunjung puskesmas wajib lapor ke satpam penjaga resort. Setelah berjalan kurang lebih 10 menit.

Pada awalnya bangunan puskesmas dikelilingi oleh pagar kawat berduri sehingga pengunjung harus melewati jalan depan. Sampai saat ini kepala puskesmas dan stafnya secara bergilir masih datang untuk mengecek bangunan atau sekedar membersihkan puskesmas dan lingkungan sekitarnya. Namun karena tidak dipakai.Puskesmas Onemobaa terletak jauh dari pemukiman masyarakat Desa Lamanggau. gunting. Puskesmas tersebut dikelilingi oleh kebun dan semak-semak belukar. bahkan tidak ada satu rumah pun berdiri di sekitar bangunan puskesmas. Pada saat ada kunjungan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten. poli gigi. Memang jika dilihat dari depan. pagar kawat berduri tersebut dirusak sebagian oleh kepala dinas karena dianggap menghambat akses masyarakat untuk ke puskesmas. maka pengunjung akan melewati tumpukan sampah. bersalin. dan loket pendaftaran. Di dalam bangunan tersebut terdapat beberapa alat kesehatan seperti tempat periksa pasien. sebelumnya bangunan ini juga sudah dipasangi genset dan tandon air. dan alat pendukung lainnya seperti meja dan kursi. Menurut penuturan kepala puskesmas. 164 . Bangunan Puskesmas Onemobaa terdiri dari beberapa ruangan yang sudah dipasang papan nama ruangan seperti ruangan KIA. namun jika melewati jalan belakang. Hal yang paling memprihatinkan di sisi bangunan ini dijadikan tempat pembuangan sampah kering dan tanaman dari resort. dan untuk menuju jalan depan pengunjung akan menambah waktu untuk berjalan. dua alat tersebut dipindahkan ke pustu yang terletak di Dusun Ketapang. sampah tersebut tidak terlihat. Beberapa alat kesehatan tersebut mulai tampak berkarat.

Di salah satu rumah tersebut telah tersedia kasur lengkap dengan batalnya. ruang tamu. Rumah tersebut terbuat dari kayu yang memiliki dua kamar.49 dan 5. November 2012 Selain bangunan puskesmas.Gambar 5. dan dapur. Menurut kepala puskesmas.48. dan rumah tenaga kesehatan yang megah tapi tidak pernah dihuni (bawah). tempat periksa pasien yang sudah mulai berkarat (kanan). kamar mandi. Dua rumah tersebut memiliki ukuran dan bentuk yang sama. Namun. Menurut masyarakat Desa Lamanggau.50 Gedung Puskesmas Onemobaa yang mulai tertutup dengan tumbuhan yang menjulang tinggi (kiri). Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. dua bangunan tersebut diperuntukan kepala puskesmas dan tenaga kesehatan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa. terdapat juga dua bangunan yang berbentuk rumah panggung. sejak Puskesmas Onemobaa dibangun hingga saat ini belum ada masyarakat setempat yang menggunakan puskesmas tersebut sebagai tempat untuk mendapatkan fasilitas kesehatan. sejak dibangun hingga saat ini rumah tersebut belum pernah digunakan sama halnya dengan Puskesmas Onemobaa. 5. 165 .

yang terdiri dari satu kepala puskesmas dengan latar pendidikan kesehatan lingkungan. Kondisi Puskesmas Onemobaa yang jauh dari pemukiman masyarakat menyebabkan para petugas kesehatan di puskesmas tersebut bertugas dan berkantor di pustu yang terletak di Dusun Ketapang. Dia adalah seorang petugas kesehatan yang diperbantukan khusus dari pusat.bahkan sebagian besar belum pernah berkunjung ke puskesmas. Hal ini disebabkan karena sekitar bulan September 2012. Jumlah petugas Puskesmas Onemobaa ada lima orang. Sementara itu. Lima orang petugas tersebut dibantu oleh dua orang tenaga honorer lulusan SMA. Namun. Empat orang petugas lainnya tinggal di Pulau Tomia yang terletak di seberang Pulau Tolandono. Kepala puskesmas dan satu orang perawat lainnya ditugaskan dengan nota dinas dari Puskesmas Tomia untuk membantu Puskesmas Onemoba’a. yaitu dua orang perawat. dan satu orang petugas kesehatan lingkungan yang ditugaskan khusus dari pusat. misalnya kepala puskesmas yang merangkap juga sebagai petugas obat-obatan atau perawat yang merangkap menjadi petugas administrasi. hanya ada satu petugas kesehatan yang menetap di Desa Lamanggau. akses yang ‘rumit’ karena harus menunggu izin dari satpam resort. satu orang petugas kesehatan lingkungan merupakan tenaga khusus yang diperbantukan dari pusat. Sejak diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan SK penempatan di 166 . Dengan jumlah petugas yang terbatas seperti ini. tidak ada bidan yang dapat menolong persalinan di Desa Lamanggau. dan petugas kesehatan yang ‘tidak ada’. maka tak heran jika setiap petugas memiliki tugas ganda. bidan yang ditugaskan untuk membantu Puskesmas Onemobaa mengajukan surat pindah kembali ke Puskesmas Osuku sesuai dengan SK penempatannya. Hal ini disebabkan karena letak puskesmas yang jauh dari pemukiman masyarakat. Berdasarkan data mengenai jumlah dan latar belakang petugas puskesmas. dapat dilihat bahwa tidak ada bidan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa. Dari lima petugas puskesmas tersebut hanya dua orang yang memiliki SK penempatan di Puskemas Onemobaa. dari lima petugas kesehatan tersebut. Dengan kata lain. tiga orang perawat.

bidan tersebut pernah mengabdikan dirinya di Puskesmas Onemobaa sebagai bidan PTT (Pegawai Tidak Tetap) pada tahun 2011. bidan tersebut kembalu bertugas di Puskesmas Osuku sesuai dengan SK penempatannya. bidan tersebut belum pernah tinggal di Desa Lamanggau yang menjadi satu-satunya wilayah kerja Puskesmas Onemobaa. Namun menurutnya. meskipun tidak tinggal di Desa Lamanggau. tiga orang berasal dari etnis Bajo dan satu orang dari etnis Buton-Tomia. selama dua tahun ia bertugas di Desa Lamanggau.00 malam hari. Oleh sebab itu. Kondisi tersebutlah yang memberatkannya untuk tinggal di Desa Lamanggau. ada empat orang ibu yang ditolongnya untuk melakukan persalinan. Sebelum ditugaskan di Puskesmas Onemobaa. Selama bertugas di Puskesmas Onemobaa. Empat persalinan yang ditolong oleh bidan tersebut dilakukan di rumah. bidan tersebut yang merupakan kelahiran Osuku. Kini. bidan tersebut ditugaskan untuk membantu Puskesmas Oneombaa. Selain itu. bidan tersebut telah bertugas selama dua tahun di Puskesmas Onemobaa.Puskesmas Osuku. Hal ini berkaitan dengan kebijakan pemerintah Kabupaten Wakatobi yang mengadopsi kebijakan Kementerian Kesehatan bahwa persalinan yang didanai oleh Jampersal adalah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. ia tidak bisa mengklaim persalinan tersebut sebagai persalinan yang didanai oleh Jampersal. Alasan bidan tersebut tidak tinggal di Desa Lamanggau karena keterbatasan fasilitas yang dimiliki oleh Desa Lamanggau seperti air dan listrik yang hanya menyala pada malam hari. bidan tersebut tetap menerima panggilan masyarakat untuk membantu persalinan. Menurut cerita bidan tersebut. sejak September 2012. 167 . Namun ada rasa sungkan yang dimiliki oleh masyarakat setempat untuk memanggil bidan apalagi jika persalinan terjadi pada malam hari. Jadi. Dari empat orang yang ditolong tersebut. telah mempunyai keluarga dan sedang hamil delapan bulan. bukan di fasilitas kesehatan. Hal ini disebabkan karena keadaan transportasi laut yang tersedia antara Pulau Tomia dan Pulau Tolandono hanya beroperasi sampai pukul 19.

sehingga dipanggil untuk membantu persalinan. Menurut penuturan beberapa orang dari masyarakat setempat. Masyarakat sebagai sasaran tenaga kesehatan mempunyai alasan sendiri mengapa mereka tidak mau memanggil bidan sebagai penolong persalinan dan mengapa mereka tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan yang telah disediakan. Dari empat persalinan tersebut. hanya ada tiga ibu yang memanggil Bidan Mi berdasarkan kesadaran ibu itu sendiri. Dengan kata lain. Baginya untuk sampai tahap masyarakat mau memanggilnya pada saat persalinan pun sudah hal yang luar biasa. Berbagai upaya telah dilakukan bidan tersebut untuk menarik minat masyarakat agar mau bersalin di tenaga kesehatan ataupun fasilitas kesehatan. Namun nyatanya upaya tersebut belum membuahkan hasil. keengganan mereka memanggil bidan untuk menolong persalinan karena letak rumah bidan tersebut tidak berada di sekitar mereka. Hal ini terlihat pada data persalinan tahun 2012 yang menjelaskan bahwa hanya ada dua persalinan yang ditolong oleh bidan dari sepuluh persalinan yang terjadi di tahun 2012. hanya ada empat persalinan yang ditolong oleh bidan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Meskipun bidan tersebut selalu berkata bahwa dia 168 . Bidan dipanggil kadangkala hanya untuk memberikan suntikan pasca-persalinan. Sementara itu. agak sulit mengajak masyarakat Lamanggau untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. sedangkan transportasi antar Pulau Tomia dan Pulua Tolandono hanya sampai pada pukul 19.Menurut penuturan Bidan Mi (nama samaran bidan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa pada saat itu). misalnya sosialiasi tentang persalinan gratis sampai pada iming-iming akan diberikan hadiah bila mau melakukan persalinan di tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. Masyarakat setempat seringkali memanggil dukun beranak untuk menolong persalinan. apalagi persalinan sering terjadi pada malam hari atau dini hari.00 malam hari. bidan tersebut berada di seberang pulau. dari tahun 2011 hingga tahun 2012. satu persalinan lagi ditolong oleh Bidan Mi karena pada saat persalinan terjadi Bidan Mi secara tidak sengaja sedang berjalan lewat rumah ibu tersebut. Selain itu. sehingga ada rasa sungkan untuk memanggil bidan tersebut.

Mereka khawatir akan terjadi hal-hal yang buruk akan terjadi pada ibu dan bayinya jika melahirkan di pustu yang dekat dengan lokasi kuburan. masyarakat setempat juga tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. yang menurut mereka haus akan darah. Sementara itu. Menurut kepercayaan masyarakat setempat. dan 4) berkaitan dengan sosial budaya yang dimiliki oleh masyarakat setempat. 169 . Ada beberapa alasan yang diungkapkan oleh masyarakat mengapa mereka tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. pustu yang dibangun di ‘sudut’ pemukiman masyarakat dan dekat dengan kuburan juga menjadi salah satu alasan lagi. tenaga kesehatan pun kadangkala tidak ada di fasilitas kesehatan meskipun di siang hari. 3) tenaga kesehatan yang tidak ada. orang yang sedang hamil dan bayi adalah rentan terhadap gangguan makhlukmakhluk halus. Puskesmas Onemobaa yang letaknya jauh dari pemukiman masyarakat seperti yang telah dijelaskan sebelumnya menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat tidak mau melakukan persalinan di puskesmas. antara lain 1) letak puskesmas yang jauh dari pemukiman dan letak pustu yang dekat dengan kuburan. mereka lebih memilih dukun beranak sebagai penolong persalinan dan rumah sebagai tempat persalinan. Selain enggan memanggil bidan sebagai penolong persalinan. tentunya menjadi pantangan bagi masyarakat di sini. 2) tidak ada air dan listrik yang tersedia di fasilitas kesehatan. namun ada rasa sungkan yang dimiliki masyarakat untuk menghubungi bidan pada malam hari apalagi terkendala dengan trasnportasi. Lokasi kuburan yang identik dengan tempat tinggal makhluk halus. jadi mereka harus dijaga sebaik mungkin dengan melakukan pantangan-pantangan yang ditentukan oleh adat. Selain faktor letak fasilitas kesehatan. keengganan masyarakat tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi sarana yang tersedia di fasilitas tersebut seperti air dan listrik tidak tersedia di fasilitas kesehatan tersebut. Selain itu. Oleh sebab itu.siap untuk dihubungi kapanpun.

Oleh sebab itu. Selain pustu. Bangunan ini sempat dibiarkan kosong selama beberapa tahun. dan perlengkapan lainnya. listrik. pustu. dan nilai budaya yang dimilki oleh masyarakat setempat. Ada dua posyandu yang dibentuk oleh puskesmas. Namun ternyata tidak ada satu pun bidan yang pernah bertugas di desa ini berminat untuk tinggal. tetangga yang ada di sekitar juga dapat membantu persalinan seperti menyediakan air. yaitu Posyandu Cemara I untuk masyarakat yang tinggal di Dusun Ketapang dan Dunia Baru dan Posyandu Cemara II untuk masyarakat di Dusun Lasoilo. bangunan polindes ini ditujukan sebagai tempat bersalin. Apabila melakukan persalinan di rumah. Selain tersedia puskesmas. di Desa Lamanggau juga terdapat posyandu. hingga akhirnya kini digunakan sebagai rumah tinggal ustadz yang memang ditugaskan oleh sebuah yayasan agama untuk mengabdi dan mengajarkan ilmu agama bagi masyarakat Lamanggau ini. Hal ini tentunya terkait dengan masalah ketersediaan air. Pada awal pembangunannya. Selain itu. Dengan kata 170 . di Desa Lamanggau terdapat polindes yang dibangun berdasarkan program Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM MPd). yang sebetulnya tempatnya lebih strategis daripada pustu karena letaknya tepat di tengah desa. Namun pada kenyataannya hingga saat ini belum pernah sekalipun tempat itu digunakan sebagai tempat persalinan. makanan. Polindes tersebut dibangun di sebelah masjid. Polindes tersebut sempat akan dijadikan sebagai rumah dinas bagi bidan yang bertugas di Desa Lamanggau ini. dan polindes. mereka enggan melakukan persalinan di puskesmas atau pustu karena syarat tersebut belum dipenuhi. Alasan yang paling umum diutarakan adalah akses air dan listrik yang memang sulit di desa ini.Dukun beranak dipilih sebagai penolong persalinan dan rumah sebagai tempat persalinan dipengaruhi oleh faktor sosial budaya yang dimiliki oleh masyarakat setempat. bahwa ada syarat yang harus dipenuhi sebagai tempat persalinan yang akan dijelaskan pada bagian selanjutnya. Polindes ini sudah dibangun terlebih dahulu sebelum adanya pustu ataupun puskesmas. ada kepercayaan dalam masyarakat Bajo khususnya.

Namun.lain. Mereka dengan sigap membantu petugas puskesmas untuk mengumpulkan para ibu hamil dan balita. Bahkan jika jumlah kunjungan pada hari itu kurang dari biasanya. Kegiatan Posyandu ini dilakukan di teras salah satu rumah warga. Kegiatan posyandu-posyandu ini diadakan satu bulan sekali. PERSALINAN DI DESA LAMANGGAU Berdasarkan data sekunder yang terdapat di pustu. Pada awalnya hanya ada satu posyandu yang terdapat di Desa Lamanggau. Tak heran jika para petugas puskesmas merasa sangat terbantu dengan adanya para kader ini. Pada tanggal yang telah ditentukan para kader akan bergotong royong membersiapkan peralatan penimbangan dan petugas puskesmas akan datang untuk melakukan pemeriksaan. Hal ini disebabkan karena kondisi pangullieh yang sudah tua dan didukung dengan kondisi kesehatannya yang kurang baik. karena masyarakat Bajo sedikit sekali yang terjaring dalam pemeriksaan. terdapat 8 orang dari 10 ibu bersalin yang ditolong oleh sando pada tahun 2012. Para kader posyandu di desa ini sangat aktif. yaitu setiap tanggal 20 untuk Posyandu Cemara I dan tanggal 21 untuk Posyandu Cemara II. sando-lah yang paling banyak memegang peran dalam persalinan di Desa Lamanggau sejak tahun 2010. Sando merupakan istilah dukun beranak yang berasal dari orang Buton-Tomia. yaitu Posyandu Cemara I. Namun ternyata satu posyandu tersebut kurang efektif. Posyandu Cemara I untuk ‘orang darat’ dan Posyandu Cemara II untuk orang Bajo. Akhirnya pihak puskesmas merekrut kader-kader dari masyarakat Bajo dan membentuk Posyandu Cemara II. sedangkan dukun beranak dari orang Bajo disebut dengan istilah pangullieh. khususnya Posyandu Cemara 2. maka para kader tersebut akan mendatangi rumah yang bersangkutan dan menjemput untuk datang ke posyandu. Pada awal tahun 171 . Pada saat ini ada seorang sando dan seorang pangullieh di Desa Lamanggau. dikarenakan ada yang tidak datang. Pangullieh yang berusia sekitar 60-an tahun mempunyai penyakit diabetes.

ibu nifas. dan balita. Arisan tersebut diadakan sebagai wadah untuk bertukar pikiran antara para pangullieh. ia memanggil Bidan Mi yang pada saat itu masih bertugas sebagai bidan di Puskesmas Onemobaa untuk menolong persalinan. Menurut pangullieh. Selain itu. ibu nifas. Pada tahun 2004 dia pernah ‘magang’ di Puskesmas Waha. untuk datang ke Puskesmas Waha sebulan sekali untuk mengikuti arisan dukun beranak. Puskesmas Waha mewajibkan semua dukun beranak. baik pangullieh maupun sando. melarang ibunya untuk menolong persalinan. putri pangullieh. Sejak saat itu pula pangullieh tidak dipanggil lagi oleh masyarakat setempat untuk menolong persalinan. ia selalu menyarankan untuk memeriksakan kehamilan. arisan tersebut juga menjadi wadah bagi pihak puskesmas untuk memberikan pengetahuan kepada para pangullieh dan sando tentang cara pertolongan persalinan termasuk memberikan alat-alat pertolongan persalinan seperti gunting dan sarung tangan. sando juga ikut dalam arisan dukun beranak yang diadakan oleh Puskesmas 172 . ibu bersalin. Pangullieh berperan sebagai penolong persalinan di Desa Lamanggau selama kurang lebih 35 tahun. Ibu Ma. Berdasarkan pengetahuan tersebutlah ia sedikit mengerti tentang ‘ilmu’ dalam dunia medis tentang pertolongan persalinan. dan bayi ke petugas kesehatan. ibu nifas. Begitu pula apabila ia menemukan ibu hamil. Ibu Ma yang juga berperan sebagai kader kesehatan selalu menyarankan ibu hamil. pertolongan persalinan. Pada saat itu. Berbeda dengan pangullieh. sando-lah yang dipanggil oleh masyarakat setempat untuk menolong persalinan di Desa Lamanggau. Akhirnya. ia selalu menyarankan ibu pasca-bersalin tersebut untuk memeriksakan diri ke petugas kesehatan. penyakit diabetesnya semakin parah yang melemahkan kondisi fisiknya. banyak pengetahuan tentang kehamilan. Sejak saat itu. Sama halnya dengan pangullieh. sando berperan sebagai dukun beranak di Desa Lamanggau selama kurang lebih 15 tahun. dan petugas kesehatan. apabila ia menolong persalinan. Sama halnya dengan pangullieh. Begitu pula pada saat Ibu Ma melahirkan putra bungsunya pada bulan Februari 2012. dan ibu nifas yang ia peroleh pada saat itu. sando.2010. dan bayi untuk memeriksakan diri ke petugas kesehatan. Sejak saat itu.

asimilasi adalah suatu proses sosial yang terjadi pada berbagai golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda. sifat khas dari unsur-unsur kebudayaan masing-masing berubah menjadi unsur kebudayaan campuran (Hermanto. Sejak pangullieh sudah tidak menolong persalinan lagi. Terlepas dari itu. Namun. ‘pemilik asli’ kepercayaan tersebut belum dapat dideteksi. sejak saat itu pula sando yang seringkali dipanggil oleh masyarakat Desa Lamanggau untuk menolong persalinan. masih ada juga nilai budaya yang masih dipegang teguh oleh masing-masing etnis tersebut. Sebagai contoh. Salah satu nilai budaya yang dimiliki oleh masyarakat Desa Lamanggau adalah kepercayaan bahwa ibu hamil tidak boleh menolong persalinan. ada nilai budaya yang dimiliki oleh orang Bajo tetapi tidak dimiliki oleh orang darat.Waha. Peran sando sebagai penolong persalinan dalam dua etnis yang berbeda tersebutlah menyebabkan adanya percampuran budaya yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan antara orang Buton-Tomia dan orang Bajo. Kepercayaan ini diyakini oleh masyarakat Desa Lamanggau baik yang berasal dari etnis Buton-Tomia maupun etnis Bajo. Percampuran budaya antara dua kelompok yang berbeda tersebut disebut dengan asimilasi oleh para antropolog. termasuk orang Bajo meskipun sando adalah ‘orang darat’. Selain percampuran budaya antara dua etnis tersebut. begitu pula sebaliknya. apakah berasal dari etnis Buton-Tomia atau dari etnis Bajo. 2010:120) 173 . dalam 1 Menurut Koetjaraningrat. Dengan kata lain. maka ibu hamil tersebut ‘diungsikan’ terlebih dahulu dari tempat ibu bersalin. Sejak masyarakat Desa Lamanggau mengetahui bahwa Bidan Mi sedang hamil. maka mereka tidak memanggil Bidan Mi untuk menolong persalinan meskipun pada saat itu Bidan Mi masih bertugas di Puskesmas Onemobaa. kepercayaan tersebut telah mempengaruhi peran bidan di Desa Lamanggau dalam pertolongan persalinan. Hal ini karena adanya kepercayaan dalam masyarakat setempat bahwa keberadaan ibu hamil di sekitar ibu bersalin dapat mempersulit proses persalinan. bahkan ibu hamil dilarang berada di rumah ibu yang sedang bersalin. Apabila ada ibu hamil di sekitar ibu bersalin.1 Percampuran budaya tersebut juga menyebabkan kaburnya ‘pemilik asli’ budaya tersebut. Setelah mereka bergaul dengan intensif.

Rumah Mbook Medaming terletak di Dusun Lasoilo yang mayoritas dihuni oleh orang Bajo. Menurut kepercayaan orang Bajo. Apabila rumah tersebut tidak didoakan terlebih dahulu oleh ‘orang tua’ tersebut. rumah yang boleh digunakan sebagai tempat melahirkan adalah rumah yang pernah digunakan sebagai tempat melahirkan. dan berlantaikan bambu. Kepercayaan tersebut menjadikan rumah Mbook Medaming sebagai ‘rumah bersalin’ masyarakat Bajo. Menurut Ibu Ma. Menurut mereka pustu tersebut belum pernah digunakan sebagai tempat persalinan dan belum ‘dipagari’ dengan doadoa oleh ‘orang tua’. terdapat sebuah rumah yang dipercaya oleh orang Bajo sebagai ‘rumah bersalin’. salah seorang kader kesehatan dan juga anak seorang pangullieh. maka rumah tersebut tidak boleh digunakan sebagai tempat bersalin.masyarakat Bajo ada kepercayaan tentang tempat melahirkan. Rumah tersebut adalah rumah Mbook Medaming. setiap ibu yang melahirkan di rumah tersebut selalu menjalani persalinan dengan mudah. Rumah tersebut berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu. apabila rumah yang belum pernah digunakan sebagai tempat persalinan akan digunakan sebagai tempat persalinan. Apabila ada seorang ibu hamil berada di dalam sebuah rumah yang belum pernah digunakan untuk persalinan. berdinding anyaman bambu yang disebut gedeg oleh orang Jawa. maka harus dilakukan ritual terlebih dahulu. Namun. kepercayaan tersebut menjadi salah satu faktor mengapa masyarakat Bajo enggan melakukan persalinan di pustu. Untuk memasuki rumah tersebut harus melewati tangga 174 . maka pada saat persalinan ibu tersebut akan dibawa ke rumah yang sudah pernah digunakan untuk persalinan. masyarakat Bajo akan menggunakan pustu sebagai tempat persalinan apabila telah ‘dipagari’ dengan doa-doa oleh ‘orang tua’. Menurut mereka. Oleh sebab itu. Rumah tersebut paling sering digunakan oleh masyarakat Bajo sebagai tempat persalinan karena dipercaya oleh masyarakat setempat dapat memudahkan persalinan seorang ibu. Ritual tersebut dilakukan oleh ‘orang tua’ yang dianggap mempunyai ‘ilmu’ dalam mendoakan sebuah rumah agar bisa dijadikan tempat bersalin. Di Dusun Lasoilo yang mayoritas dihuni oleh orang Bajo.

5. Di sudut ruangan tersebut terdapat sebuah ruangan yang berukuran kurang lebih 2 x 2 meter. Ruangan tersebut adalah kamar Mbook Medaming yang digunakan sebagai ruang bersalin. 2) kamar yang dijadikan tempat bersalin (tampak dari dalam). sehingga darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan bisa langsung jatuh ke bawah rumah dan dibawa oleh air laut. atau merasa terganggu. Ruang pertama yang ditemukan adalah ‘ruang tamu’ yang berukuran kurang lebih 4 x 4 meter. Setiap ada ibu yang akan melahirkan di rumah tersebut. 3) kamar yang dijadikan tempat bersalin (tampak dari luar).yang memiliki kurang lebih sebanyak lima anak tangga. November 2012 175 . 5. Mbook Medaming dan keluarga tidak pernah marah.54 1) Rumah Mbook Medaming yang menjadi ‘rumah bersalin’ masyarakat Bajo.52 . 1 2 3 4 Gambar 5. Ruangan yang berlantai bambu tersebut disebut dengan jongkeng oleh masyarakat Bajo. mencegah. Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. dan 4) lantai rumah yang terbuat dari bambu yang bercelah-celah.53 dan 5.51. Ruangan tersebut berlantaikan bambu yang memiliki celah.

sama halnya dengan masyarakat Bajo yang melahirkan di tempat yang terbuat dari bambu yang mempunyai celah. masyarakat Buton-Tomia juga melahirkan di atas bambu yang bercelah tersebut. Parapara tersebut digunakan karena mempunyai celah-celah sehingga darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan mudah dibersihkan. masyarakat Buton-Tomia tidak mempunyai kepercayaan tempat melahirkan.55 Ibu nifas Seorang ibu nifas sedang duduk di atas parapara. Parapara adalah tempat melahirkan yang digunakan oleh masyarakat Buton-Tomia. Gambar 5. Masyarakat setempat menggunakan parapara agar darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan bisa langsung dibersihkan dengan air. dan air tersebut bisa langsung jatuh ke bawah tanah atau bawah laut. Bagi mereka di mana saja ibu bersalin boleh melahirkan tanpa ada syarat tempat tersebut harus didoakan terlebih dahulu seperti orang Bajo. Tempat tersebut biasanya disebut dengan parapara oleh masyarakat ButonTomia. November 2012 Berdasarkan penjelasan pada diskripsi sebelumnya dapat dilihat bahwa banyak faktor yang mempengaruhi implementasi Jampersal di masyarakat. Namun.Berbeda dengan masyarakat Bajo. Jampersal yang menawarkan pelayanan persalinan gratis diharapkan mampu menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan 176 . Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti.

Oleh sebab itulah. dan budaya masyarakat setempat. pada implementasinya. Namun. Secara kasat mata.oleh tenaga kesehatan. Bagaimana tidak. Hambatan tersebut dapat berasal dari kondisi fasilitas kesehatan. Ada satu puskesmas induk dan satu puskesmas pembantu yang disediakan untuk masyarakat Desa Lamanggau. program tersebut mempunyai banyak hambatan. Namun. Apabila tiga elemen tersebut tidak ‘mendukung’ dalam pelakasanaan program Jampersal. ketersediaan fasilitas kesehatan di Desa Lamanggau bisa dikatakan sudah cukup. Cara tersebutlah yang melekat dalam diri mereka dan dianut dari nenek moyang sampai sekarang. Selain itu. tenaga kesehatan. Dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak. karena mereka tidak mampu ‘menikmati’ pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang berada ‘jauh’ dari sisi mereka. maka program Jampersal hanya menjadi bayang-bayang yang tidak bisa direalisasikan dalam nyata. Bagaimana masyarakat mau dan mampu untuk menikmati jika puskesmas ini dibangun di tempat yang jauh dan sulit dijangkau aksesnya. Pemerintah memang telah membangun fasilitas kesehatan berupa puskesmas dan pustu di Desa Lamanggau. secara teori seharusnya fasilitas tersebut sudah mampu mengakomodir kebutuhan masyarakat dalam hal kesehatan. Namun jika kita lihat langsung di lapangan. kenyataan yang ada tidaklah seindah teori dan catatan laporan. Tiga elemen tersebut saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Pemerintah juga menyediakan tenaga kesehatan untuk ditugaskan di desa ini. Tinta hitam tersebut menjadi buram dalam mata masyarakat Desa Lamanggau. puskesmas induk yang sudah dibangun dengan bentuk bangunan yang bagus serta fasilitas yang lengkap ini tidak pernah sekalipun dinikmati oleh masyarakat. fasilitas kesehatan yang terletak jauh di mata dan jauh di kaki juga tidak bisa mereka nikmati. ketersediaan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan hanya menjadi tinta hitam catatan laporan sumber daya tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Wakatobi. Masyarakat hanya dapat berobat di pustu dengan 177 . mereka bertahan untuk sehat termasuk bersalin dengan cara mereka.

ini tinggal di desa kemudian berbaur dengan masyarakat tentunya akan lebih efektif. Belum lagi untuk masuk ke area puskesmas harus menunggu izin dari pihak keamanan resort terlebih dahulu. Jika keadaan darurat terjadi. Tenaga kesehatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat sejatinya juga mengerti dan paham akan budaya serta kearifan lokal yang ada. Dalam kasus ini misalnya. yang terletak dengan kuburan yang dianggap sebagai salah satu tempat yang dilarang didekati wanita hamil dan bayi dalam budaya setempat. Selain akses yang lebih mudah bagi masyarakat untuk bersentuhan dengan tenaga kesehatan. 178 . Bagaimana bisa. kedekatan secara emosional dan psikologis pun akan terbentuk. apakah mungkin tenaga kesehatan ini akan cepat tanggap menolong sementara mereka tinggal di lain pulau dengan transportasi terbatas? Jika tenaga kesehatan . Keterbatasan tenaga kesehatan juga turut mempengaruhi kualitas pelayanan yang ada.fasilitas seadanya. Masyarakat merasa bidan ini adalah bagian dari keluarga mereka. Budaya serta kearifan lokal yang sudah mendarah daging secara turun temurun akan senantiasa dipegang teguh oleh masyarakat sebagai pedoman hidup mereka. Entah apa yang menjadi landasan awal dari penempatan lokasi puskesmas ini. Atau lokasi fasilitas kesehatan. misalnya ada kasus persalinan di tengah malam. dalam hal ini pustu. sebuah fasilitas umum yang ditujukan untuk masyarakat tapi aksesnya sulit dan sangat terbatas bagi masyarakat itu sendiri. Jadi untuk merangkul masyarakat ini tentunya harus bisa memahami dan mengikuti alur pikir mereka. Dengan kenyataan bahwa jumlah tenaga yang terbatas serta sebagian besar tidak tinggal di desa tentunya akan membatasi akses masyarakat untuk bersentuhan dengan tenaga kesehatan. budaya setempat mengatakan bahwa wanita hamil tidak boleh ada di dekat ibu yang akan melahirkan. sementara bidan yang bertugas di sini sedang hamil.misalnya bidan desa. Tidak mungkin rasanya jika ada ibu yang akan melahirkan tapi harus naik pompong (perahu) atau ojek dan kemudian berjalan lagi 15 – 20 menit dengan kondisi jalan yang berliku.

Bagi teman-teman di Puskesmas. Namun demikian kondisi di lapangan bisa tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.Jika selama ini puskesmas dibangun berdasarkan ‘keangkuhan’ para policy maker dengan pikiran bahwa masyarakat membutuhkan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. sehingga adanya anggapan bahwa meskipun tenaga kesehatan tidak menetap di desa tersebut dan fasilitas kesehatan berada jauh dari pemukiman. terjadi empat kasus kematian ibu. 5. diharapkan tidak terjadi lagi kasus kematian ibu dan bayi. Berdasarkan juknis Jampersal tahun 2012. ANTARA BUDAYA. persalinan yang bisa diklaim adalah persalinan dengan tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Kejadian tersebut 179 . Mungkin masih banyak yang beranggapan bahwa masyarakatlah yang butuh dokter. diharapkan berharap bisa menekan angka kematian ibu dan bayi sebagaimana target MDG’s tahun 2015. Kota Blitar. Namun nyatanya pikiran tersebut tidak mampu ‘mengajak’ masyarakat untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan oleh tenaga kesehatan. pada kenyataannya meskipun persalinan telah dijamin oleh pemerintah. pasti akan digunakan oleh masyarakat. Di wilayah kerja Puskesmas Kepanjen Kidul. JawaTimur mulai januari sampai dengan bulan Nopember 2012.8. Melalui intervensi Jampersal. Begitu pula dengan kebijakan yang ada di Kabupaten Wakatobi.3. tetapi belum mampu menarik masyarakat untuk bersalin ke tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan karena disebabkan kondisi fasilitas kesehatan. Tiga kasus terjadi di RS dan satu kasus terjadi di Puskesmas. Ternyata kata ‘gratis’ tidak mampu mengalahkan kearifan lokal yang telah dimiliki oleh masyarakat setempat. Namun. dan kondisi sosial budaya masyarakat. ini dianggap sebagai bencana dan merupakan rekor kasus karena dalam dua tahun sebelumnya tidak ada kematian ibu. tenaga kesehatan. TABU DAN UPAYA PENYELAMATAN IBU DI KOTA BLITAR Program jampersal. butuh bidan. apalagi diiming-imingi dengan kata gratis. dan selalu ingin gratis.

RSUD. Jarak tempuh yang dibutuhkan dari pelosok kota menuju ke fasilitas kesehatan tidak lebih dari 15 menit dengan kendaraan bermotor. pendidikan SLTA . Px bekerja dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore dan beberapa kali harus lembur. bekerja swasta Deskripsi Kasus Kehamilan Px kali ini merupakan kehamilan 1. tetapi kejadian itu masih saja di temui. Gambaran hasil review adalah sebagai berikut : KASUS 1 adalah Ny. RS Swasta. Meskipun Px merupakan orang yang mudah bergaul. akan tetapi Px 180 . Px terkenal sebagai karyawati yang cekatan dan mudah bergaul sehingga Px sangat membantu tempat dia bekerja dalam mencari customer. pihak Dinas Kesehatan dan Puskesmas sudah melakukan review maternal perinatal. Gambaran Kasus Kematian Maternal Memperhatikan kondisi daerah yang merupakan daerah perkotaan dengan fasilitas kesehatan yang sangat memadai dan mudah di akses. Di tempat kerjanya.merupakan temuan menarik untuk dikaji lebih mendalam karena keberadaan fasilitas kesehatan di kota Blitar cukup memadai. Klinik Bersalin dan didukung oleh praktek dokter obgyn serta bidan praktek swasta. Walau semua sumberdaya sudah dikerahkan untuk meniadakan kasus kematian maternal perinatal. Px kerja di sebuah dealer sepeda motor sebagai sales counter. F. Menindaklanjuti kasus kematian tersebut. ritme kerja Px tidak berubah. 3 Puskesmas. adanya kasus kematian maternal yang terjadi di wilayah kerja puskesmas Kepanjen Kidul merupakan kondisi yang sangat tidak diharapkan oleh Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab bidang kesehatan. Sejak sebelum hamil hingga 1 hari sebelum Px meninggal. Anak pertama telah berusia 5 tahun dan tinggal bersama orang tua Px d Rembang Blitar. Bahkan sore hingga malam sebelum Px meninggal Px sering menerima telpon dari atasan karena Px sedang dalam proses persetujuan penawaran harga penjualan dengan pembeli. berumur 24 tahun.

Sampai di rumah suami Px langsung tidur. apakah obat tersebut kembali 181 . Px minta diantar suami untuk ke rumah orang tuanya dengan alasan Px kangen dengan anak pertamanya. akhirnya Px yang mengendarai motor. Px sempat mencuci piring dan memasak nasi. Karena ngotot minta pulang saat itu juga.adalah pribadi yang tertutup. Suami Px baru membangunkan Px ketika jam sudah menunjukkan pukul 05. Karena ukuran obat yang besar. sedangkan suaminya yang membonceng. Kondisi kehamilan Px ini dianggap suami dan keluarganya berbeda dengan kehamilan terdahulu karena hingga memasuki bulan ke-5 Px masih mengeluh mual dan pusing. Px tidak mau. Kemudian Px merasa kepalanya sangat sakit dan ingin minum obat karena sudah tidak tahan. Tidak jarang Px muntah-muntah ketika mengeluh mual dan pusing. dan suami menyuruh Px ke dokter. Px jarang sekali menceritakan masalahnya dengan orang lain. Obat langsung ditelan tanpa menggunakan air. termasuk dalam hubungannya dengan suaminya. Akan tetapi Px tetap bersikukuh mencari “Poldan Mix” yang biasa dipakai oleh keluarga jika sakit kepala karena Px menganggap obat dari bidan tidak manjur. Pagi harinya. Suami Px pikir Px kecapaian karena semalam sampai di rumah sudah larut. padahal waktu hamil pertama. Sepulang dari kerja. Akhirnya Px menemukan obat yang disembunyikan suaminya. Px mengeluh sakit kepala. Jam 11 malam Px minta pulang ke rumah mertua kembali. Px diantar suaminya pergi ke rumah orang tuanya di Rembang. Px hanya mual-mual sampai bulan ke-3 saja. akhirnya Px memuntahkannya. tetapi Px tetap mencari hingga tempat obat berantakan. Blitar dengan mengendarai motor. Setelah itu Px menyapu halaman. Suami mengingatkan agar tidak minum obat sembarangan dan minum obat dari bidan saja.30. Suami Px tidak mengetahui. tidak biasanya Px bangun siang. Hanya saja ketika Px mengeluh pusing dan muntah-muntah. Ketika suami membangunkan. padahal saat itu suami Px sudah tidur dan tidak kuat untuk mengendarai motor. setelah maghrib. Meskipun suami Px sudah menyembunyikan obat tersebut.

karena kondisi Px sudah tidak sadar. Walaupun letak puskesmas dekat dengan tempat tinggal Px dan tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di puskesmas. Suami mengira Px masuk angin. langsung dibawa ke UGD. “Panadol” satu tablet karena mengeluh pusing sejak kemarin sore. suami mencari kendaraan yang bisa dipakai untuk membawa Px ke Puskesmas. Px masuk kamar kembali dan suami yang melanjutkan menyapu halaman dan ruang tamu. Suami menyuruh Px untuk masuk rumah dan istirahat saja. Antara rumah Px dan rumah tetangga terdapat halaman yang sangat luas. suami menemukan Px sudah dalam keadaan “ngorok”.00 ibu datang ke UGD Puskesmas dengan kondisi tidak sadar. melainkan menghadap ke tembok rumah tetangga.diminum oleh Px atau dibuang. • Tanggal 1-3-2012 pukul 08. Px tetap tidak bereaksi akhirnya suami Px menyadari bahwa Px butuh pertolongan dan harus segera dibawa ke puskesmas. Akhirnya suami bertemu dengan becak yang diharapkan dapat mengantar ke puskesmas. Waktu suami masuk kamar. Di RS Px masuk ke ICU dan dipasang alat bantu nafas dan jantung. • • Ibu langsung dirujuk ke RS dan meninggal di RS tanggal 6-3-2012 Riwayat minum obat di rumah sebelum dibawa ke puskesmas. Tidak lama pada saat Px menyapu halaman. Px muntah-muntah. Kendaraan yang dimiliki hanya sepeda motor. Selain posisi rumah Px yang menghadap ke tembok tetangga. karena semalam Px pulang larut. Px dirujuk ke RS. padahal Px dalam kondisi yang tidak sadar. Sesampai di puskesmas. Akan tetapi tukang becak tersebut mengatakan bahwa dirinya harus mengantar cucunya dahulu baru bisa mengantar ke puskesmas. Dilihat dari kondisi lingkungannya. akan tetapi keluarga Px membutuhkan waktu untuk mencari dan menanti transportasi untuk membawa Px ke Puskesmas. 182 . Sauami Px bingung bagaimana cara membawa Px ke puskesmas yang jaraknya sebenarnya tidak jauh. akan tetapi rumah Px tidak menghadap ke jalan raya. pucat dan nafas ngorok. Dengan mengendarai sepeda motor. rumah keluarga Px terletak di tepi jalan raya yang dilewati oleh banyak kendaraan yang berlalu lalang.

Bahkan kader baru mengetahui berita kematian Px setelah hari ke-3 Px meninggal. ibu menyusui dan ibu yang mempunyai anak balita tentang kesehatan. Ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumah kader aktif datang pada saat jadwal posyandu berlangsung. akan tetapi biasanya ibu-ibu yang datang ke psyandu meminjam buku-buku tentang kehamilan yang dibaca saat jadwal posyandu. selama Px hamil. Posisi rumah Px yang jauh dari rumah kader 183 . Komunikasi keluarga Px dengan tetangga kurang lancar. memang suami Px sering main bola dengan temantemannya yang tinggal di sekitar rumah kader. Kader juga tidak mengetahui kondisi kehamilan Px karena kader hampir tidak pernah bertemu Px selama Px hamil. Sebenarnya kader aktif datang berkunjung ke rumah ibu hamil untuk mengontrol kondisi ibu hamil. Untuk resiko-resiko masa kehamilan. kader memang tidak memberi penyuluhan secara personal. Kader bercerita jika penduduk di wilayahnya rata-rata adalah pedagang dan buruh tani. Pada kasus ini tampak bahwa kurangnya pengetahuan ibu tentang bahaya penggunaan obat secara bebas. Menurut kader. Px hanya mengatakan jika kehamilannya baik-baik saja. Px bekerja dari pagi hingga sore dan karena Px juga tidak pernah hadir jika ada acara di kampung menyebabkan kader jarang berkomunikasi dengan Px. Suami tidak pernah ikut masuk ke ruang dokter ketika Px kontrol sehingga suami tidak tau dengan benar kondisi Px. sehingga mereka akan berangkat kerja pagi-pagi dan pulang di malam hari. akan tetapi jarak rumah yang lumayan jauh menghalangi proses komunikasi kader dan Px. akan tetapi karena rumah Px yang jauh. Px tidak pernah datang pada kegiatan posyandu.halaman yang luas dapat pula menjadi penghalang keluarga Px untuk berkomunikasi dengan tetangga. Kader mengaku bahwa dia dan tim aktif memberikan penyuluhan kepada ibu hamil. Rumah kader wilayah Px juga lumayan jauh dari tempat tinggal Px. sehingga ketika terjadi sesuatu tidak ada tetangga yang mengetahuinya. Menurut kader.

kader tidak mengetahuinya. Sehari-harinya Px hanya di rumah beserta satu orang anaknya. Anak pertama laki-laki. Sebelum hamil Px pernah merasa kaku- 184 . telah berusia tujuh tahun dan tinggal bersama orang tua Px. Setiap pagi. kader tidak mengetahuinya. umur 33 tahun. Px memang mempunyai riwayat hipertensi sejak sebelum hamil. sehingga ketika Px tertimpa musibah. ayah Px pernah stroke tetapi meninggalnya bukan karena darah tinggi. Px mempunyai kebiasaan untuk minum jus setiap hari. Px juga selalu tidur siang. Ada lima anggota keluarga di rumah (selain dengan keluarga inti. Berdasarkan penjelasan di atas. • Komunikasi keluarga Px dengan tetangga kurang lancar. KASUS 2 : Ny. pagi-pagi sekali suami Px sudah berangkat untuk berjualan (di pasar dari jam delapan pagi sampai jam tiga sore). pendidikan SLTA dan sebagai ibu rumah tangga Deskripsi Kasus Kehamilan Px kali ini merupakan kehamilan ketiga. tinggal bersama Px. berumur empat tahun. permasalahan yang ada pada kasus satu jika diringkas adalah: • • Kurangnya pengetahuan ibu tentang bahaya penggunaan obat secara bebas Suami tidak pernah ikut masuk ke ruang dokter ketika Px kontrol sehingga suami tidak tahu dengan benar kondisi Px. Px hanya mengatakan jika kehamilannya baik-baik saja. Ibu px meninggal karena darah tinggi (stroke). sehingga ketika Px tertimpa musibah. Px adalah seorang ibu rumah tangga sedangkan suami Px adalah pedagang yang berjualan sayur di pasar Wlingi. sehingga ketika terjadi sesuatu tidak ada tetangga yang mengetahuinya • Posisi rumah Px yang jauh dari rumah kader menyebabkan terputusnya komunikasi antara Px dengan kader. N.menyebabkan terputusnya komunikasi antara Px dengan kader. Px juga tinggal bersama dengan keponakannya). Anak kedua perempuan.

Tetangga tidak menanyakan kondisi Px. Suami menyuruh Px untuk ke dokter. Selama hamil Px sering bercerita pada tetangga kalau Px keluar rumah. Perasaan itu juga yang membuat Px stress selama hamil. selain itu juga mengingat Px mempunyai riwayat tekanan darah tinggi. kemudian meminumnya. sejak awal kehamilan. jenis kelamin bayi perempuan. Ketika terakhir kali Px kontrol. Px mengatakan bahwa sakitnya adalah bawaan bayi. Px selalu melihat langit hitam dan bergulung-gulung seperti mau ada badai atau bencana. beberapa hari setelah kontrol. minggu-minggu terakhir sebelum Px meninggal. tapi tidak lama kemudian sembuh.kaku di tangannya. Menurut tetangga. Px hanya mengatakan jika kondisi Px dan janin baik. akan tetapi Px masih merasa sangat sakit di kepalanya. Awal hamil hingga kehamilan 2 bulan. suami selalu mengantar. Padahal sebelumnya Px tidak pernah merasa sakit di punggungnya.Px bercerita kepada tetangga jika dokter menyarankan Px untuk operasi saja jika melahirkan nanti. kemudian meminumnya dengan cara mencampur obat tersebut 1 tetes dengan air satu gelas. Menurut tetangga. Pada hari Rabu sore Px mengeluh sakit di ulu hati sampai punggung. akan tetapi suami tidak pernah ikut masuk ke ruang praktek dokter. Hari kamis Px mengeluh kepalanya pusing dan sakit sekali. akan tetapi Px tidak mau. karena anak 1 dan 2 juga operasi. Px jarang keluar rumah saat hamil. Tetangga menceritakan bahwa kemungkinan Px malu hamil lagi karena Px hamil anak yang ketiga. Px sehat dan tidak mengalami keluhan apapun. Sakit di punggungnya sembuh. kondisi Px sudah stres. Setiap kali Px kontrol ke dokter. Tanpa konsultasi dokter terlebih dahulu. karena Px tidak cerita. padahal rata-rata penduduk di lingkungan sekitar tempat tinggal Px hanya mempunyai dua orang anak. Pada kehamilan usia 3 bulan Px mengeluh ambeien. Px merasa punggungnya sakit. Px membeli obat “Trace Minerals”. Keluar rumah seperlunya saja. Px tampak bengkak pada muka dan kaki. Kemudian Px minta diambilkan suaminya obat sakit kepala 185 . Ketika usia kehamilan menginjak 8 bulan. Px pernah tensinya tinggi sekali ketika anaknya sakit.

akan tetapi Px tetap tidak mau ke dokter dan mengatakan bahwa ke dokternya sekalian saja dua minggu lagi. Px cerita jika tensinya 170. Kemudian perawat masuk dan memasang kateter. Pukul 5. Px dipindah ke ruang perawatan. setelah suami berangkat Px ke pasar seperti biasa dengan mengendarai sepeda motor. Di ruang perawatan Px sudah bisa diajak bicara dan merespon tetangganya dengan benar. setelah sholat Subuh. Hari sabtu malam. Px dibawa ke RS “A” oleh tetangga. Akhirnya karena Px bersikeras untuk tidak mau ke dokter dan suami tidak tega melihat Px sakit kepala. Ketika akan membuat jus. Sampai di RS Px langsung masuk ke UGD. Px hanya diinfus oleh perawat karena menurut perawat. Lalu Px menyetrika baju semalaman. Px mengantar suami berangkat kerja sampai depan pintu pagar.30. kemudian ibu minum puyer • 18-4-2012 ibu mengeluh nyeri dada sampai tembus punggung. Px sudah terbangun. akhirnya suami mengambilkan obat dan meminumkan obat sakit kepala “puyer 16”. karena Px merasa kepalanya masih pusing. • 1 minggu sebelum meninggal ibu mengeluh pusing. Jam 4.“puyer 16” di tempat obat. Menurut tetangga. Px baru bisa tidur. tapi ibu menolak untuk periksa • 186 20-4-2012 suami mengatakan kaki ibu mulai bengkak . Di UGD Px diinfus.30. Px bercerita pada tetangga kalau sepulang dari pasar Px sempat mampir ke apotek untuk “tensi”. Px kejang. Px bercerita bahwa dirinya bermimpi dibacakan surat Al Ikhlas oleh anak kecil. Keponakan yang tinggal dengan Px menemukan Px yang kejang kemudian meminta tolong tetangga. Suami Px awalnya melarang Px untuk minum obat “puyer 16” dan memaksa Px untuk ke dokter saja. Px mengatakan pada suami bahwa dirinya tidak bisa tidur. akan tetapi dokter sudah dihubungi (saat itu hari minggu dan tidak ada seorang pun dokter jaga di RS “A” tersebut). dokter di RS tidak ada. Setelah Px dianggap stabil. Ketika perawat memasang kateter Px mengaduh kesakitan kemudian Px kembali kejang-kejang dan tidak sadar sampai Px meninggal. keponakan Px menjaga anak Px di rumah dan menelpon suami Px.

Sebenarnya kader dan petugas posyandu sudah sering sekali mendata ibu-ibu yang hamil. anak bungsu Px diasuh oleh tetangga Px. akan tetapi ada suatu kebiasaan bagi ibu hamil untuk menyembunyikan awal-awal kehamilannya hingga perutnya terlihat besar.. Tetangga Px tersebut 2 bulan terakhir menjadi kader di wilayah tempat tinggalnya. Suami Px sampai di rumah ketika jenazah Px sudah sampai rumah. sehinga sudah terlambat untuk pemeriksaan awal. RS “A” dipilih karena lokasi RS “A” dekat dengan tempat tinggal Px. karena suami Px berjualan di pasar yang letaknya jauh dari rumah. Padahal rata-rata perut yang sudah terlihat besar itu ketika memasuki kehamilan bulan ke-7. Berdasarkanpenjelasan di atas. kemudian meminta bantuan tetangga untuk membawa ibu ke RSU Aminah. Yang menemukan pertama kali keponakannya. Sampai di rumah ibu mengalami kejang. Setelah ada kasus kematian. • Pukul 10.. Tetangga tersebut juga yang mengantarkan Px ke RS “A” sebelum Px meninggal. Bahkan setelah Px meninggal.• 22-4-2012 jam 07.30 ibu meninggal dunia Px hanya dekat dengan tetangga sebelah kiri rumah Px. hasilnya 170/. permasalahan yang ada pada kasus kedua jika diringkas adalah : • Terlambat mendeteksi tanda bahaya kehamilan karena ibu tidak tahu bahaya minum obat sembarangan • • Terlambat merujuk Terlambat mendapat pertolongan 187 .30 Px ke apotek untuk periksa tekanan darah. Tetangga (suamiistri) mengantarkan Px ke RS dengan menggunakan mobil. diadakan pertemuan seluruh petugas posyandu oleh dinas kesehatan dan puskesmas. Dengan tetangga tersebut hubungan keluarga Px dan keluarga tetangganya sangat dekat. Data tentang ibu hamil juga diminta dari petugas koordinasi posyandu.? mmHg.

Ibunya juga meninggal dengan diagnosa yang sama ketika melahirkan Px. B. Neneknya meninggal dengan diagnosa eklamsi ketika melahirkan ibunya. pendidikan SLTA dan bekerja sebagai pedagang. maka suami tidak mengetahui secara jelas kondisi kehamilan Px. Keluarga Px juga tidak paham jika Px mempunyai sejarah keluarga dengan hipertensi. Hanya saja ketika hamil Px beberapa kali sakit batuk.KASUS 3 : Nama Ny. Ketika hamil Px sempat mengeluh sakit gigi yang tak tertahankan dan akhirnya Px melakukan cabut gigi di puskesmas. akan tetapi ada kekhawatiran dikalangan keluarga karena keluarga takut Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya (takut kutukan itu harus dialami Px). Px selalu periksa kehamilan di BPS. tapi dibiarkan saja (tidak minum obat) sudah sembuh sendiri. Keluarga merasa kematian Px merupakan pemutus kutukan yang harus dialami oleh keluarga karena Px dan bayinya meninggal. Hal tersebut oleh keluarga Px lebih dianggap sebagai sebuah kutukan yang dialami oleh keluarga. Keluarga sangat senang ketika Px hamil.00 ibu mengeluh sesak nafas dan periksa ke BPS Bidan menyarankan ibu langsung ke puskesmas Dari puskesmas ibu langsung dirujuk menggunakan ambulance ke RS Ibu meninggal setelah sampai di RS . sehingga meningkatkan resiko Px mengalami hipertensi. akan tetapi karena suami tidak ikut masuk ke ruang praktek. umur 31 tahun. sehingga tidak ada lagi yang harus menanggung kutukan Keluarga Px tidak paham resiko yang dialami ibu hamil. • • • • • 188 Ibu periksa hamil ke BPS dan puskesmas Tanggal 4-4-2012 jam 00. Suami Px mengatakan bahwa ketika hamil kondisi Px baik-baik saja. Px selalu bilang baik-baik saja sepulang dari kontrol di BPS. Deskripsi Kasus Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya.

Px tidak pernah datang pada kegiatan posyandu. akan tetapi karena rumah Px yang jauh. Menurut kader. halaman yang luas dapat pula menjadi penghalang keluarga Px untuk berkomunikasi dengan tetangga. Px bekerja dari pagi hingga sore dan karena Px juga tidak pernah hadir jika ada acara di kampung menyebabkan kader jarang berkomunikasi dengan Px. Kader juga tidak 189 . akan tetapi jarak rumah yang lumayan jauh menghalangi proses komunikasi kader dan Px. melainkan menghadap ke tembok rumah tetangga. Sebenarnya kader aktif datang berkunjung ke rumah ibu hamil untuk mengontrol kondisi ibu hamil. sehingga mereka akan berangkat kerja pagi-pagi dan pulang di malam hari. Ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumah kader aktif datang pada saat jadwal posyandu berlangsung. kader memang tidak memberi penyuluhan secara personal. akan tetapi rumah Px tidak menghadap ke jalan raya. Rumah kader wilayah Px juga lumayan jauh dari tempattinggal Px. akan tetapi biasanya ibu-ibu yang datang ke psyandu meminjam buku-buku tentang kehamilan yang dibaca saat jadwal posyandu. Antara rumah Px dan rumah tetangga terdapat halaman yang sangat luas.• Ibu mengattakan pernah cabut gigi ketika hamil Rumah keluarga Px terletak di tepi jalan raya yang dilewati oleh banyak kendaraan yang berlalu lalang. Bahkan kader baru mengetahui berita kematian Px setelah hari ke-3 Px meninggal. Untuk resiko-resiko masa kehamilan. Selain posisi rumah Px yang menghadap ke tembok tetangga. Kader mengaku bahwa dia dan tim aktif memberikan penyuluhan kepada ibu hamil. “Mungkin Px kontrolnya langsung ke Puskesmas mbak. memang suami Px sering main bola dengan temantemannya yang tinggal di sekitar rumah kader. selama Px hamil. ibu menyusui dan ibu yang mempunyai anak balita tentang kesehatan. Menurut kader. soalnya lebih dekat ke puskesmas daripada ke sini (posyandu)” Kader bercerita jika penduduk di wilayahnya rata-rata adalah pedagang dan buruh tani.

rumah berada di bantaran sungai dan tidak ada kendaraan • Terlambat mendapatkan pertolongan KASUS 4 : Nama Ny B. Hal tersebut oleh keluarga Px lebih dianggap sebagai sebuah kutukan yang dialami oleh keluarga.mengetahui kondisi kehamilan Px karena kader hampir tidak pernah bertemu Px selama Px hamil. umur 31 tahun pendidikan SLTA dan bekerja sebagai pedagang. Ibunya juga meninggal dengan diagnosa yang sama ketika melahirkan Px. Neneknya meninggal dengan diagnosa eklamsi ketika melahirkan ibunya. Keluarga sangat senang ketika Px hamil. Diskripsi Kasus Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya. tapi dibiarkan saja (tidak minum obat) sudah sembuh sendiri. Keluarga merasa kematian Px merupakan pemutus kutukan yang harus dialami oleh keluarga karena Px dan bayinya meninggal. Berdasarkan penjelasan di atas. Keluarga Px juga tidak paham jika Px mempunyai sejarah keluarga dengan hipertensi. akan tetapi ada kekhawatiran dikalangan keluarga karena keluarga takut Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya (takut kutukan itu harus dialami Px Suami Px mengatakan bahwa ketika hamil kondisi Px baik-baik saja. Ketika hamil Px sempat mengeluh sakit gigi 190 . Hanya saja ketika hamil Px beberapa kali sakit batuk. sehingga tidak ada lagi yang harus menanggung kutukan Keluarga Px tidak paham resiko yang dialami ibu hamil. sehingga meningkatkan resiko Px mengalami hipertensi. permasalahan yang ada pada kasus 3 adalah: • Terlambat mendeteksi tanda bahaya kehamilan karena keluarga mengira ibu kesurupan • Terlambat merujuk karena kondisi cuaca hujan.

Tapi itu kan sudah terlambat ya mbak. Beberapa ibu hamil dan kader yang ditanyai tentang alasan mengapa tidak boleh menceritakan kehamilannya di awal kehamilan.00 ibu mengeluh sesak nafas dan periksa ke BPS Bidan menyarankan ibu langsung ke puskesmas Dari puskesmas ibu langsung dirujuk menggunakan ambulance ke RS Ibu meninggal setelah sampai di RS Ibu mengatakan pernah cabut gigi ketika hamil Permasalahan yang dialami oleh Px adalah: • • Kurangnya pengetahuan ibu tentang resiko cabut gigi pada masa kehamilan Kurangnya pengetahuan keluarga tentang resiko-resiko di masa kehamilan Taboo vs Malu Di Kota Blitar. pokoknya nurut aja apa kata orang-orang tua.” 191 . Px selalu periksa kehamilan di BPS. Px selalu bilang baik-baik saja sepulang dari kontrol di BPS. maka suami tidak mengetahui secara jelas kondisi kehamilan Px... Lha wong kalau perutnya sudah kelihatan besar berarti kan kira-kira sudah 4 bulan keatas. ternyata masih ada kepercayaan yang dipegang oleh para ibu hamil. akan tetapi karena suami tidak ikut masuk ke ruang praktek. “. dimana ketika kandungan masih berusia muda (belum kelihatan hamil) para ibu hamil dilarang untuk menceritakan kehamilannya kepada orang lain.” Sedangkan beberapa ibu hamil mengatakan bahwa mereka tidak mau menceritakan awal kehamilannya kepada orang di luar keluarga inti karena jika kehamilan itu tidak berlanjut..yang tak tertahankan dan akhirnya Px melakukan cabut gigi di puskesmas. Takut ada apaapa kalo gak nurut..nek wis kadhung cerito trus gak sidho hamil lak isin mbak. beberapa menjawab “tidak tahu”. Kronologi kejadian yang dialami Px : • • • • • • Ibu periksa hamil ke BPS dan puskesmas Tanggal 4-4-2012 jam 00. tempat penelitian ini berlangsung. mereka akan malu. “. Makanya mereka biasanya baru akan cerita kalau perutnya sudah kelihatan besar.gak tau mbak.

embuh prikso nang ndi mbak. Suami sebagai kepala keluarga dan pengambil keputusan. Kehamilan memang merupakan masa-masa dimana seorang ibu 192 . masalah “malu” juga ada di antara ibu hamil yang menyebabkan dirinya tidak mau menceritakan kehamilannya. “. Dalam situasi yang sulit dan mendesak. ada pula ibu yang hamil dengan lelaki lain karena suaminya adalah TKI di luar negeri dan tidak pernah pulang serta TKW yang pulang dalam kondisi hamil. sebab sebagian besar tetangganya hanya mempunyai dua anak. Hal ini menyebabkan ibu-ibu malu menceritakan kehamilannya kepada orang lain hingga perutnya tampak besar dan tetangga-tetangga tahu jika ibu tersebut hamil. Ibu-ibu yang hamil anak ke-3 atau lebih merasa malu dengan kehamilannya.Selain masalah ketabuan yang berkembang diantara ibu hamil sehingga tidak mau menceritakan awal kehamilannya kepada orang di luar keluarga intinya. Engkuk ujug2 wis lair anake. program KB begitu gencar digalakkan dan sangat sukses.wong g tau metu seko ngomah. karena anak ke-3 saja sudah merasa banyak. sehingga sebagian besar penduduk Kota Blitar hanya mempunyai dua anak. Lain kasus.” Peran Suami Peran suami di keluarga dalam budaya Jawa sangat penting.. Umumnya mereka menyembunyikan diri dan tidak bersosialisasi. Suami hendaknya mendampingi dan memberikan ekstra perhatian kepada istrinya yang sedang hamil. Sebenarnya tetanggatetangga dan lingkungan tidak ada yang mempermasalahkan kehamilan ibu tersebut asal hamil dengan suami sah-nya. Di Kota Blitar. Entah mereka memeriksakan kehamilannya atau tidak dan dimana mereka memeriksakan kehamilannya.. Ternyata dampak positif program KB juga disertai dengan dampak negatif yang timbul di masyarakat. peran suami sebagai pengambil keputusan dan mendampingi istri selama masa kehamilan sangatlah penting. suami haruslah mampu mengambil keputusan dengan tepat. Berkaitan dengan kehamilan. akan tetapi biasanya ibu hamil tersebut malu sendiri dengan tetangganya. Kedua kelompok inilah yang dianggap para kader sebagai kelompok yang “susah dijangkau”.

berkaitan dengan kondisi istri yang sedang hamil. Hal tersebut selain membantu suami untuk mengetahui kondisi istri yang sebenarnya. juga membantu dokter mengkomunikasikan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi jika istri memang mengalami kondisi khusus (misalnya. Perubahan tersebut juga memberikan efek pada emosi ibu. Pengambilan keputusan yang tepat untuk membwa istri yang sedang hamil untuk berkunjung ke pelayanan kesehatan terjadi mulai awal terdeteksinya 193 . suami tidak tahu kondisi istri yang sebenarnya. janin sungsang). Terutama resikoresiko yang kemungkinan terjadi. Kepedulian dan ketanggapan suami terhadap tanda-tanda dan gejala yang berhubungan dengan resiko kehamilan dapat meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan. Menemani tidak hanya menunggu di depan pintu praktek dokter. Seringkali ibu yang sedang hamil tidak mau menceritakan kondisi dirinya dan kehamilannya yang sesungguhnya kepada suaminya sehingga ketika terjadi sesuatu pada istrinya yang sedang hamil. Untuk mengantisipasi hal tersebut. keluarga dan teman) akan gangguan yang dialami oleh ibu hamil. atau d depan pintu poli di puskesmas atau RS. suami dengan istri yang sedang hamil hendaknya juga mempunyai pengetahun tentang kehamilan.membutuhkan perhatian ekstra dari pasangannya (suami) dan lingkungannya. Beberapa kasus menunjukkan bahwa ketidakpedulian dan ketidaktanggapan suami membawa akibat yang fatal bagi kondisi istrinya yang sedang hamil. suami sebaiknya menemani istri yang sedang kontrol kehamilan. Tidak hanya seorang ibu yang sedang hamil yang harus mempunyai pengetahuan tentang kehamilan. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan biologis yang terjadi pada diri seorang ibu. Ibu akan berubah menjadi sangat sensitive ketika hamil. Pelabelan “gawan bayi” pada perubahan kondisi ibu hamil yang sebetulnya mengindikasikan terjadinya gangguan pada diri ibu dan kehamilannya menyebabkan berkurangnya ketanggapan pada diri suami dan lingkungan (orang tua. tekanan darah tinggi) atau kondisi khusus yang terjadi pada janin (misalnya. akan tetapi suami ikut masuk ke ruang periksa ketika istri sedang periksa. bidan.

Hingga akhirnya ketika istri akan melahirkan.kehamilan istri. obat-obatan dan bahan-bahan untuk memberikan pelayanan kesehatan selama kehamilan. Selain tentang substansi PHBS. Peran Kader Dalam Pelayanan Jampersal Guna memberikan pelayanan kesehatan ibu dan bayi. sehingga jika ada sesuatu yang tidak diinginkan dapat diketahui sejak awal kehamilan. suami hendaknya mendorong istri untuk memeriksakan kehamilan istri sejak dini. Masalahnya. Keterbatasan tenaga kesehatan untuk menjangkau masyarakat menyadarkan tentang pentingnya peran serta masyarakat. Sejak awal terdeteksinya kehamilan istri. 194 . jika terjadi keluhan pada istri. Di Puskesmas. Kesadaran tentang keterbatasan tenaga dan anggaran telah membuat Puskesmas Kepanjen Kidul senantiasa bermitra dengan masyarakat/ kader dalam menjalankan program-program pelayanannya. persalinan dan nifas ibu dan bayinya. ada bidan desa yang sudah dilengkapi dengan Bidan Kit. suami yang siaga akan suap mengantarkan istri yang akan melahirkan dengan membawanya ke unit pelayanan kesehatan. Kalau dilihat dari profesinya. Kadarzi dan KIA para kader juga mendapat pembekalan tentang penggerakan. bayi dan anak. memang kebanyakan mereka adalah sebagai ibu rumah tangga. pemberdayaan masyarakat dan P3K. Kader Kesehatan di wilayah Puskesmas Kepanjen Kidul semuanya perempuan. Pemerintah telah melaksanakan berbagai upaya terbaiknya. pemanfaatan pelayanan ibu dan bayi yang sudah disediakan oleh Pemerintah ini senantiasa terkait dengan kemiskinan. para suami juga harus tanggap untuk mengajak istri memeriksakannya ke pelayanan kesehatan. Kadarzi dan peningkatan kesehatan ibu. Untuk memberikan hasil kerjasama yang optimal ada beberapa pembekalan yang diberikan kepada para kader. Selama hamil. sudah ada Dokter umum dan tenaga bidan yang mampu memberikan pelayanan PONED. Namun ada juga pedagang dan pekerja lepas. Di level komunitas. pendidikan dan untuk beberapa daerah tertentu dengan faktor geografis. Kemitraan dengan kader lebih ditekankan pada upaya menggerakkan masyarakat dalam hal PHBS.

sampeyan bisa melahirkan tanpa mbayar. Sulit untuk dikasiktahu. “. mereka sering datang dan pergi.” Kegiatan rutin dari Kader adalah melakukan Posyandu dan pertemuan antar kader yang dilakukan setiap bulan.masyarakat di tempat saya banyak dari kalangan telok-lemak.” Namun demikian ada kegalauan dari Kader ketika mau memberikan penyuluhan kepada masyarakat.kalau ada apa-apa.komitmen kader dalam melaksanakan tanggungjawabnya sangat bagus. Kalau sewaktu-waktu mereka kita minta datang ke Puskesmas. Sebagaimana diungkap oleh kepala Puskesmas Kepanjen Kidul. tanggungjawab yang diemban oleh Kader adalah membantu menggerakkan para ibu hamil yang ada di wilayahnya untuk melakukan ANC dan persalinan di petugas kesehatan. “.” Ketika ada ibu hamil maka kader akan selalu memantau kondisi ibu hamil tersebut... Kalau ada sesuatu yang spesial. maka pada saat pertemuan itu juga digunakan untuk melakukan sosialisasi. khawatir terhadap penerimaan masyarakat akan menganggap kader sebagai orang “sok tahu” dan terlalu banyak omong. sampeyan bisa periksa kehamilan. 195 . Tentunya juga karena mereka punya komitmen yang bagus sebagai kader.. Kadarzi dan KIA yang terdapat di masing-masing wilayahnya. Perasaan tidak enak hati.. Setiap kunjungan biasanya ditambahi dengan pesan.. Kurang opo. Terkait dengan kegiatan Jampersal.. Kader akan bertanya langsung kepada yang bersangkutan atau kalau saat dilakukan kunjungan. Pada pertemuan rutin kader yang dilakukan adalah menginformasikan kondisi PHBS. ini no HP saya.. mereka selalu hadir walau hanya saya hubungi via telepon. Salah satu diantaranya adalah pemberian informasi tentang Jampersal kepada Kader. silahkan hubungi saya. Namun saya berusaha sebisa saya untuk memberikan penjelasan. Ini lho ada pelayanan gratis. yang bersangkutan tidak ada maka sudah merupakan protap untuk bertanya kepada tetangga di kanan-kirinya tentang keadaannya untuk kemudian ditindaklanjuti lagi pada kunjungan berikutnya.Ketidakterikatan dengan pekerjaan yang membuat mereka punya waktu lebih untuk melaksanakan tanggungjawabnya sebagai pekerja sosial. “. Sebagaimana dikemukakan oleh ibu Kader Ririn.

kok kenyi banget.setelah ada kasus. tapi saya tidak tahu apa tindak lanjut dari RT..” “. Resiko ini baru diketahui pada saat kasusnya sudah terlambat dapat membawa akibat fatal yaitu kematian. Paling tidak Kader akan ditanya banyak hal terkait kasus kematian itu oleh bidan dalam rangka melengkapi informasi untuk review maternal mortalitas. Mereka cenderung kondisi itu dan menunggu waktu kunjungan berikutnya.. alamiah dan kodrati.. Kader juga direpotkan dengan kejadian itu. Ketika terjadi kasus kematian maternal. kehamilan dan persalinan yang aman tidak terlepas dari faktor sosial budaya dan lingkungan di dalam masyarakat di mana mereka berada. Namun demikian.saya diwanti-wanti oleh bu Bidan agar kematian ibu ini jangan sampai terjadi lagi. Saya kemudian juga minta bantuan pihak RT untuk sama-sama memantau.” Ini merupakan kendala yang hampir dipunyai oleh semua Kader. Fakta yang teramati dalam kasus kematian di daerah studi menunjukkan bahwa keempat Ibu yang meningggal berdasarkan catatan di Puskesmas sudah memeriksakan dirinya secara rutin setiap bulan ke bidan ataupun dokter..saya tidak enak hati..“. sebagaimana dituturkan oleh ibu Susi dan Ririn berikut. sopo sih kui. ketika terjadi masalah kesehatan.. Dengan adanya kasus tersebut.. ibu tidak langsung pergi ke petugas kesehatan.. Ada permintaan dari Kelurahan dan RT agar kami para kader membantu mendeteksi. Memahami perilaku perawatan kehamilan adalah penting untuk mengetahui dampak kesehatan bayi dan si ibu sendiri. kok banyak bicara tentang kesehatan.. bukan orang kesehatan. Hal 196 . Rasa percaya diri yang kurang karena mereka hanya ibu rumah tangga biasa. “. Kader diminta untuk lebih melakukan pemantauan kondisi para ibu hamil agar tidak terjadi lagi kasus kematian maternal.. Mereka kurang menyadari pentingnya segera memeriksakan kehamilan ketika mengalami masalah kesehatan yang bisa menyebabkan tidak terdeteksinya faktor-faktor resiko tinggi yang mungkin dialami oleh mereka..” Upaya Penyelamatan Vs Takdir Sebagaimana diketahui. Kehamilan dianggap sebagai hal yang biasa.

Karena kondisi tersebut bila tidak ditangani secara tepat dan profesional dapat berakibat fatal bagi ibu. kalau dilihat dari jarak tempat tinggal ke fasilitas kesehatan terdekatnya. Namun.ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya informasi. Tidak jarang pula nasehatnasehat yang diberikan oleh teman atau tetangga mempengaruhi keputusan yang diambil. semua tidak ada yang lebih dari 2 km. Kasus kematian yang terjadi di Puskesmas Kepanjen Kidul merupakan gambaran bagaimana kultur perkotaan yang bercirikan melemahnya ikatan sosial. Keperdulian keluarga dan tetangga sekitar harusnya bisa dioptimalkan untuk dilibatkan dalam upaya pemantauan dan deteksi dini resiko kehamilan yang mungkin dialami oleh seorang ibu hamil. Alat transportasinyapun mudah diperoleh setiap saat. keterlambatan mencari pertolongan disebabkan juga oleh adanya suatu keyakinan dan sikap pasrah dari masyarakat bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan takdir yang tak dapat dihindarkan. Selain dari faktor keterlambatan dalam pengambilan keputusan. harusnya masyarakat bisa mengakses dengan mudah fasilitas kesehatan yang ada. Padahal masih ada beberapa Rumah Sakit Swasta dan banyak Dokter dan Bidan praktek swasta. Keterlambatan juga muncul karena kepanikan. Pada keempat kasus kematian. Secara medis. Kalau dilihat dari fasilitas kesehatan yang disediakan Pemerintah Daerah seperti tiga Puskesmas dan sebuah RSUD di Kota Blitar yang luas wilayahnya hanya 32. Kepanikan dan ketidaktahuan akan gejala-gejala tertentu saat persalinan dapat menghambat tindakan yang seharusnya dilakukan dengan cepat. suami yang seringkali menjadi panik melihat keadaan krisis yang terjadi. faktor geografis dan kendala ekonomi. Suatu kondisi yang tidak dihindari bahwa dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak melalui program-program pembangunan 197 .58 km². juga berkontribusi terhadap kasus ini. kefatalan ini juga karena ada faktor keterlambatan pengambilan keputusan dari keluarga dan ibu yang bersangkutan. penyebab tiga kasus kematian ibu diduga eklamsia dan satu kasus tidak ditemukan indikasi.

Dengan alasan ini pula dalam hal penempatan petugas kesehatan dimana selain memberi pelayanan kesehatan pada masyarakat juga berfungsi sebagai agen perubah maka pengetahuan dan kemampuan berkomunikasi dari petugas kesehatan sangat diperlukan disamping kemampuan dan ketrampilan memberi pelayanan kesehatan. baik mulai dari kandungan maupun setelah persalinan. Apalagi kalau persepsi tentang kesehatan ataupun penyebab sakit sudah berbeda sekali dengan konsep medis. Mengingat bahwa dari indikator-indikator yang ada menunjukkan derajat kesehatan ibu dan anak masih perlu diingkatkan. Oleh karena itu. Dalam hal melakukan upayaupaya perbaikan perlu disadari bahwa hubungan ibu dan anak sangat erat dimana kondisi kesehatan ibu akan dapat secara langsung mempengaruhi kondisi kesehatan anaknya. mengatur dan mempengaruhi tindakan atau kegiatan individu-individu suatu kelompok sosial untuk memenuhi berbagai kebutuhan kesehatan. pendidikan. Keberadaan petugas kesehatan dan kelengkapan fasilitas kesehatan semata tidaklah cukup untuk mengatasi masalah-masalah KIA di suatu daerah.kesehatan perlu memperhatikan aspek-aspek sosial-budaya masyarakat. Perilaku kesehatan di masyarakat baik yang menguntungkan atau merugikan kesehatan banyak sekali dipengaruhi oleh faktor sosial budaya. peran kebudayaan terhadap kesehatan masyarakat adalah dalam membentuk. maka dalam upaya perbaikannya perlu pendekatan-pendekatan yang dilakukan secara holistik dan integratif yang tidak hanya terbatas pada bidang kesehatan secara medis saja tetapi juga ekonomi. Memang tidak semua perilaku masyarakat yang pada awalnya bertujuan untuk menjaga kesehatan dirinya adalah merupakan praktek yang sesuai dengan ketentuan medis dan kesehatan. sosial dan budaya. Pada dasarnya. penting sekali menempatkan konteks reproduksi dalam program KIA 198 . Dan untuk merubah perilaku ini sangat membutuhkan waktu dan cara yang strategis. tentunya upaya mengatasinya juga berbeda disesuaikan dengan keyakinan ataupun kepercayaan-kepercayaan yang sudah dianut secara turun-temurun sehingga lebih banyak menimbulkan dampak-dampak yang merugikan bagi kesehatan.

masa remaja hingga dewasa. ibu hamil dapat mendeteksi resiko-resiko yang ada di dalam dirinya. masa kanak-kanak. Selain itu suami dan keluarga dapat menjadi suami dan keluarga siaga bagi istri dan saudaranya yang hamil. Ilmu vs Upaya Penyelamatan Ilmu/pengetahuan tentang kehamilan tidak saja wajib dimiliki oleh ibu hamil saja. Pemberian tambahan ilmu / pengetahuan baik pada ibu hamil maupun suami dan keluarga diharapkan mampu menjadi salah satu upaya penyelamatan pada ibu hamil. Keputusan tepat yang dilandasi ilmu sangat diperlukan dalam membantu ibu hamil dalam usaha menyelamatkan baik ibu maupun anak yang dikandungnya. Hal ini wajib dilakukan agar konsep yang akan kita sampaikan mampu dipahami dengan benar oleh ibu hamil dan keluarganya. Pengetahuan yang dimiliki oleh suami dan keluarga ibu hamil diharapkan mampu menjadi bekal apabila kelak terjadi suatu kondisi yang tidak diinginkan pada ibu hamil. Dengan pengetahuan tentang kehamilan dan resiko-resiko kehamilan. Proses pendampingan oleh tenaga kesehatan secara berkesimbungan juga dinilai efektif untuk merubah konsep “keliru” yang berkembang di masyarakat. melainkan wajib dimiliki oleh keluarga. suami dan keluarganya tidak dapat dilakukan dengan cara “pukul rata” akan tetapi dilakukan dengan “bahasa” yang sama dengan konsep dan “bahasa” yang dipahami oleh keluarga tersebut.sehingga diharapkan kondisi kesehatan seseorang benar-benar dapat terpelihara sesuai dengan konsep medis yang tepat sejak ia berada dalam kandungan. terutama oleh suami. Ilmu yang tentang kehamilan dan resiko-resiko kehamilan yang dimiliki oleh ibu hamil diharapkan mampu menjadikan ibu hamil tanggap dan mengerti tentang perubahan kondisi yang dialaminya sehingga mampu mengambil keputusan yang tepat bagi dirinya. 199 . Pemberian bekal imu pada ibu hamil. Sedangkan ilmu yang telah dimiliki oleh suami dan keluarga diharapkan mampu membantu ibu hamil jika terjadi hal-hal genting terjadi pada ibu hamil.

Adanya kepercayaan-kepercayaan yang “keliru” yang tumbuh di masyarakat menyebabkan masyarakat kurang “tanggap” dalam menyikapi perubahan kondisi yang dialami oleh ibu hamil. tokoh agama. 5. Peran suami dalam pengambilan keputusan untuk ibu hamil sangatlah penting. bukan saja tanggung jawab kader dan petugas kesehatan. Pemberian ilmu / pengetahuan pada ibu hamil dan keluarganya diharapkan mampu menjadi salah satu alternatif penyelamatan ibu hamil. pemahaman dan pemanfaatan serta harapan masyarakat terhadap keberadaan program Jampersal. Dapat kita simpulkan bahwa upaya penyelamatan ibu hamil merupakan tanggung jawab semua pihak. kader kesehatan. Untuk memenuhi tujuan tersebut dilakukan Fokus Grup Diskusi (FGD) dengan tokoh masyarakat. Materi yang didiskusikan adalah tentang akseptabilitas masyarakat terhadap Jampersal mulai kegiatan sosialisasi. 200 . melainkan tanggung jawab ibu hamil itu sendiri. karena dalam Budaya Jawa. TOGA. suami dan keluarganya. Kader sangat berperan dalam penyampaian informasi tentang kehamilan dan resiko-resikonya pada ibu hamil dan keluarganya. suami lah pengambil keputusan jika ada persoalan-persoalan rumah tangga.9 AKSEPTABILITAS TOMA. aparat desa dan dukun. LSM DAN ORGANISASI LAINNYA DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN JAMINAN PERSALINAN Salah satu tujuan yang akan dicapai dalam studi ini adalah mengetahui akseptabilitas masyarakat meningkatkan pelayanan Jampersal. LINTAS SEKTOR.

TOGA. Sedangkan di Sampang. Di Kota Bandung kader juga secara proaktif mendatangi sasaran jampersal. ulama dan masyarakat.Gambar 5. Kepala puskesmas dan bidan diakui sebagai orang yang banyak memberikan penjelasan tentang Jampersal. sosalisasi juga dilakukan dengan memanfaatkan kegiatan pengajian umum. Tetapi Kota Mataram sosialisasi juga dilakukan dengan memanfaatkan masjid. petugas puskesmas dengan didampingi kader dan tokoh masyarakat. dll) Sosialisasi Jampersal kepada masyarakat secara umum diberikan oleh pihak puskesmas. Melalui pengeras suara yang ada di mesjid. kader. dari kepolisian juga sering.56 Diskusi kelompok masyarakat (TOMA. Sehingga yang memanfaatkan media pengajian ini bukan cuma dari kesehatan. memberikan informasi tentang Jampersal. 201 . Sasaran utama sosialisasi di masyarakat adalah kepada para kader kesehatan yang akan diteruskan pada ibu hamil di posyandu. selain itu juga melalui media elektronik televisi. Pertemuan kader dan posyandu memang merupakan tempat utama bagi petugas kesehatan melakukan sosalisasi. Kegiatan pengajian umum ini memang di desain sebagai media komunikasi pemerintah. Para bidan juga senantiasa memberikan informasi tentang Jampersal kepada ibu hamil ketika periksa kehamilannya.

terjadi di Kabupaten Wakatobi. ternyata tidak diterima oleh semua masyarakat. karena masyarakat disini kurang tahu mengenai jampersal jadi lebih banyak ke dukun. Di pos kamling. “. Kita teruskan lagi di masyarakat.” (Toma.” 202 .setiap triwulan ada undangan sosialisasi dari dinkes atau pkm. sosialisasi Jampersal dilakukan setiap triwulan dengan memberikan undangan pada Toma ke Dinas kesehatan atau puskesmas setempat. mereka takut ke RS takut biaya mahal. atau langsung dr pintu ke pintu.. Seharusnya sosialisasi juga dilakukan kepada ketua RT yang nantinya akan disebarluaskan pada warganya. “. kalau di kelurahan yang mendengar bisa lebih banyak.Sosialisasi Jampersal yang menjadi tugas Dinas Kesehatan dengan segenap jajarannya. kalau di PKK hanya sebagian ibu-ibu yang hadir... Menyadari kondisi geografis yang berupa kepulauan. Sehubungan dengan minimnya sosialisasi tersebut. kadang kita undang kumpul masyarakat. Peserta FGD di Kota Kendari mengemukakan bahwa masyarakat kurang tersosialisasi dengan Jampersal. Menurut Toma.” Kondisi yang sangat berbeda dibandingkan daerah lain dalam upaya sosialisasi Jampersal. kab...di kelurahan sosialisasinya. “.perlu dipikirkan insentif untuk dukun yang bekerja sama dengan bidan. masih kuatnya tradisi melahirkan dengan ditolong dukun dan perasaan “malu” jika melahirkan di Puskesmas membuat Dinas Kesehatan dan jajarannya perlu memperbanyak frekuensi sosialisasi. Ada juga yang mengaku bahwa dia baru tahu setelah mengikuti kegiatan FGD ini.pokja 4 bisa bantu sosialisasi. karena masyarakat yang mampu di Wakatobi banyak yang melahirkan di rumah dukun didampingi oleh bidan. Kita sampaikan di situ. masyarakat menganggap perlu memperhatikan kemitraan dengan dukun.. Wakatobi). masyarakat mengharapkan sosialisasi hendaknya dilakukan di tempat yang lebih dapat diakses oleh masyarakat misalnya di kelurahan.. Puskesmas sebagai lembaga pelayanan kesehatan yang langsung berhubungan dengan masyarakat mengaku bahwa sudah melakukan sosialisasi tapi tidak langsung ke masyarakat. Mungkin harus ada kesepakatan soal insentif dengan puskesmas.” ".. Selain itu.

Kalau ini dijadikan sebagai indikator kegiatan sosialisasi. Masalahnya. Ini mengindikasikan bahwa petugas kesehatan sudah berusaha melakukan sosialisasi sampai ke komunitas terpencil. 203 . maka secara umum dapat dikatakan bahwa sosialisasi pada masyarakat dirasakan masih kurang. Masyarakat maunya informasi tentang kesehatan. Metode yang biasa dilakukan adalah memberi informasi dengan cara berantai. Kalau memperhatikan salah satu Posyandu di wilayah puskesmas Benjina. Sementara masyarakat maunya mendapat jaminan kejelasan dan kebenaran informasi yang disampaikan. Masalahnya. Kabupaten Kepulauan Aru. Di Blitar. diketahui bahwa terdapat 66.7% ibu hamil dan bersalin yang tidak memanfaatkan Jampersal karena tidak tahu? Atau apakah ini terjadi karena metode sosialisasi kurang tepat? Mungkin masyarakat butuh jaminan kebenaran informasi yang disampaikan. harusnya disampaikan oleh orang kesehatan karena dianggap lebih kompeten. Sehingga Di Kota Blitar tokoh masyarakat berpendapat bahwa kebenaran informasi akan bisa dipertanggung jawabkan jika sosialisasi dilakukan oleh tenaga kesehatan. dari Dinas Kesehatan ke Puskesmas ke Kader dan diharapkan kader dapat menyampaikan kepada masyarakat. siapa yang kurang mempunyai keperdulian sampai ditemukan data sebanyak 66. Bahkan Dinas Kesehatan sudah memproduksi brosur untuk dibagikan kepada masyarakat.7% diantara mereka yang tidak memanfaatkan Jampersal disebabkan ketidak tahuan tentang program Jampersal. kalau dilakukan oleh kader ada ke khawatiran informasi yang diberikan kurang tepat. disana terpampang satu poster tentang Jampersal. poster Jampersal juga terlihat di rumah kediaman kader yang difungsikan sebagai posyandu.Dari hasil FGD diketahui bahwa mereka ada yang mendengar tentang Jampersal dan ada pula yang belum. apakah mereka yang sudah mendapat sosialisasi kemudian berkenan menyampaikan pada yang lain? Kalau dilihat dari hasil wawancara kepada para ibu hamil dan yang baru melahirkan.

tidak semua bisa berpendapat. bukan untuk orang miskin saja tetapi untuk semua lapisan masyarakat. ibu bersalin.. Begitu ditanya tentang apa pernah mendengar tentang jampersal. Dalam petunjuk pelaksanaan Jampersal tertulis bahwa kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan jampersal adalah ibu hamil. “. ibu nifas dan bayinya.. terutama bagi masyarakat miskin yang bebas dari biaya persalinan.” 204 ... Adapun jenis pelayanan yang diberikan meliputi pemeriksaan kehamilan.program jampersal merupakan program pemberian pelayanan secara gratis untuk persalinan bagi masyarakat. Jampersal yang bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi.. Tetapi ketika ditanya tentang apa yang diketahui tentang Jampersal. Mengenai persyaratan. secara eksplisit tidak tercantum persyaratan tertentu agar sasaran bisa mendapat pelayanan Jampersal. Semua orang yang pernah mendengar. Sebagai program yang relatif baru dengan harapan keberhasilan yang besar. sebagian besar peserta FGD di 14 kabupaten/kota daerah studi menyatakan pernah mendengar.program jampersal ini disambut baik..” “. perlu untuk diketahui bagaimana pemahaman masyarakat terhadap program Jampersal.Pemahaman Masyarakat Tentang Jampersal. pertolongan persalinan. karena dalam program tersebut tidak ada batasan untuk melahirkan artinya anak ke berapa pun diberi jaminan untuk persalinan gratis.Jampersal adalah program kesehatan yang menguntungkan terutama bagi masyarakat yang tidak mampu. pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir. tidsak saja pada proses melahirkan tapi sampai pada biaya pelayanan ke rumah sakit jika ada yang komplikasi dan di rujuk ke puskesmas dan rumah sakit sekarang dibiayai jadi gratis.” “. di rancang untuk menghilangkan hambatan finansial bagi ibu untuk mendapatkan pelayanan terkait dengan persalinan. secara umum mengatakan bahwa jampersal adalah seperti cuplikan diskusi masyarakat di wilayah Puskesmas Sanan Wetan Blitar mengenai apa yang diketahui tentang program Jampersal. Dikemukakan bahwa penerima pelayanan adalah seluruh sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja.

. seperti proses administrasi yang bisa membuat bingung bidan terutama pada masyarakat yang pendatang (bukan dari kota blitar) yang tidak punya KTP. Lebih lanjut diakui bahwa ibu harus meminta persetujuan dari suami terlebih dahulu untuk langsung menggunakan alat kontrasepsi... saling pandang dan tetap terdiam.“. Di kota Bandung. namun sosialisasi di masyarakat yang kurang. Masyarakat banyak yang 205 .jampersal adalah program gratis untuk ibu yang melahirkan sehingga program ini baik sekali untuk masyarakat. Bahwasannya jampersal adalah “program persalinan gratis”. Diskusi yang dilakukan di wilayah puskesmas Dobo. masih ada anggapan masyarakat bahwa yang gratis itu pelayanan pemeriksaan kehamilan dan persalinan saja sehingga untuk keperluan yang lainnya tidak gratis. Kalau di wilayah puskesmas Benjina di Kabupaten Kepulauan Aru. Belum ada seorangpun anggota masyarakat yang mampu menjelaskan secara utuh dilihat dari tujuan. “program untuk masyarakat miskin”. Kebanyakan yang diketahui masih sebatas bahwa Jampersal hanya melayani pemeriksaan ibu hamil dan melahirkan gratis di layanan kesehatan / bidan.program jampersal di masyarakat ini baik. Secara garis besar. jenis pelayanan yang diberikan..” “. Dari 10 peserta FGD hanya Ibu Ome dan Ibu Tini yang pernah mendengar tentang Jampersal tetapi tidak tahu Jampersal itu apa. ketika diminta berkomentar tentang program Jampersal semuanya terdiam. kader mengaku telah mensosialisasikan bahwa paket pelayanan Jampersal itu terdiri dari pemeriksaan kehamilan. Jenis pelayanan yang diberikan dalam program Jampersal secara umum tidak diketahui secara mendetail oleh masyarakat. Pemahaman masyarakat di Blitar ini berbeda sekali dengan masyarakat di kabupaten Kepulauan Aru. “jampersal bukan untuk orang miskin saja tapi untuk semua lapisan masyarakat”. persalinan dan pemerikasaan setelah melahirkan dan bayi sampai 28 hari sampai pemasangan alat kontrasepsi jangka panjang.. berikut adalah variasi pemahaman masyarakat mengenai Jampersal.” Dari komentar masyarakat warga Sanan Wetan yang notabene merupakan daerah perkotaan dapat kita lihat bagaimana pemahaman mereka tentang Jampersal.. “bila dirujuk ke Rumah Sakit juga gratis”. sasaran dan persyaratannya. Maluku. yang berlokasi di kota Kabupaten Kepulauan Aru.

Mungkin karena penyerapan informasi oleh masyarakat yang terbatas sehingga pemahamannya kemudian juga terbatas.kaya miskin boleh ikut Jampersal.. pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir. dapat kita ketahui bahwa masyarakat sudah tahu kalau paket pelayanan Jampersal meliputi pemeriksaan kehamilan...yang sedang di penjara juga bisa ikut Jampersal. bersalin dan bayi yang baru dilahirkan adalah mereka yang bisa mendapatkan pelayanan Jampersal.. masyarakat mengemukakan bahwa: “. Dengan diketahuinya bahwa Jampersal ternyata tidak hanya untuk kelompok masyarakat tidak mampu.yang dilayani oleh program jampersal adalah persalinan.” “. Mengenai siapa sasaran yang berhak memanfaatkan pelayanan Jampersal..untuk Ibu Hamil sampai kunjungan ke empat (K4) 1 kali triwulan pertama 1 kali triwulan kedua 2 kali triwulan ketiga.” “.. semua yang tahu jampersal mengemukakan bahwa yang ibu yang hamil.” “. Ini mengindikasikan kalau sebenarnya petugas kesehatan sudah menyampaikan kepada masyarakat tentang jenis pelayanan yang bisa dinikmati oleh sasaran Jampersal.. Tentang pelayanan yang diberikan. Di kota Mataram.” Tidak ada yang tahu bahwa Jampersal hanya diperuntukkan pada mereka yang tidak mempunyai jaminan persalinan.. tetapi ada masyarakat juga tahu bahwa: “. KIA. periksa bumil dan KB.” “. pertolongan persalinan.setahu saya untuk bersalin sama memberikan bantuan bagi bayi yang mengalami gangguan kesehatan tapi sebelum umurnya 1 bulan. Walau masih banyak yang beranggapan bahwa Jampersal ini diperuntukkan bagi mereka yang tidak mampu..” Dari ragam pendapat masyarakat baik di Bandung maupun di Mataram. 206 ..keberatan untuk pemasangan alat kontrasepsi jangka panjang seperti IUD. ada banyak komentar sehubungan dengan hal tersebut..yang dari luar kota bisa ikut Jampersal di Kota Bandung.. tapi mereka yang mampu juga boleh menikmati fasilitas Jampersal. Sebagian masyarakat lebih senang KB suntik.

. kalau ada penduduk baru kemudian istrinya bersalin diberi keterangan domisili dari kelurahan.... Nah. Asal punya KSK atau KTP saja sudah bisa dilayani. kalau negara kurang mampu. kenapa tidak? tentunya semua boleh mendapat pelayanan gratis. Aparat desa menyatakan dapat membantu untuk kelancaran pembuatan KTP atau surat keterangan domisili setelah mendapat sosialisasi tentang Jampersal. Tetapi kalau peserta Jampersal tidak punya KTP atau KK... biasanya yang suka ikut itu yang menengah ke bawah.” “.“.” “. ibu-ibu yang selama ini tidak punya KTP 207 . pada saat dibutuhkan baru bingung mencari surat. mereka bisa memanfaatkan surat keterangan domisili.. kalau negara mampu. “.untuk ikut jampersal. masalah pendatang tanpa identitas baru yang sesuai dan bagaimana bila kehamilan itu terjadi diluar nikah adalah hal-hal yang terkait dengan persyaratan pelayanan Jampersal.. Dengan adanya program Jampersal. Walau demikian di Kota Ambon KTP masih menjadi masalah. terutama untuk keluarga miskin saja.. seperti proses administrasi yang bisa membuat bingung bidan terutama pada masyarakat yang pendatang yang tidak punya KTP.” “...program jampersal di masyarakat ini baik. namun sosialisasi di masyarakat yang kurang.... Berikut ini beberapa komentar masyarakat...” Kepemilikan KTP dan/atau KK memang merupakan persyaratan pelayanan Jampersal di semua kabupaten / kota. karena banyak masyarakat yang tidak mempunyai KTP... Masih adanya ibu yang tidak punya kartu identitas.masyarakat kaya gengsi kalau ikut Jampersal.” “.Masyarakat tidak mempersiapkan syarat-syarat untuk Jampersal. untuk pengurusan memerlukan waktu.kalau ada masyarakat yang nggak mampu pakai jamkesmas dibuatkan surat keterangan untuk mendapatkan pelayanan jamkesmas dan jampersal….” “.untuk memberikan subsidi kepada semua masyarakat.” Yang seringkali “ramai” didiskusikan adalah ketika bicara tentang persyaratan agar sasaran bisa mendapat pelayanan Jampersal. maka perlu dibatasi....program jampersal ini dibuat kriteria yang lebih khusus....

Kab. Selama berkaitan dengan kehamilan dan persalinan. 5. Harapan Masyarakat Relatif barunya pelaksanaan Jampersal. “. “. Tomia ke Baubau ditempuh dengan kapal reguler 11 jam dengan ongkos 130 ribu. Seharusnya ada surat edaran dari puskesmas atau dinas kepada RW di seluruh wilayah kerja puskesmas supaya masyarakat menggunakan Jampersal.kalo ada warga yg harus dirujuk ke PKM atau RS. tidak ada mobil ambulace yg tersedia setiap saat jadi hrs mencari2 dulu pertolongan.karena belum merasa berkepentingan. Dalam pelaksanaan. Diharapkan agar sosialisasi ke masyarakat harus lebih ditingkatkan lagi. masih terdengar keluhan masyarakat tentang adanya tambahan pembiayaan pada pengguna Jampersal.harapan pertama adalah perbaikan fasilitas. banyak harapan masyarakat terhadap Jampersal. karena kasihan masyarakat yang tidak mampu.di rujuk di rumah sakit yang bersangkutan. kegiatan sosialisasi merupakan hal penting untuk menentukan keberhasilannya.” ( Toma. ada beberapa kasus yang dikeluhkan masyarakat. sebagaimana berikut. Dalam pelaksanaan suatu program. Wakatobi). Masyarakat berharap adanya kepastian pembiayaan Jampersal sebab di beberapa Kabupaten. udah di kelas tiga tapi di suruh bayar.. harusnya biaya pelayanan di rumah sakit ditanggung oleh Jampersal. Kota Mataram).9..” (Toma.. Termasuk keluhan tentang kurangnya fasilitas.” “. dan terbatasnya sarana transportasi untuk 208 ..1. pelayanan rujukan.. sekarang mereka mau mengurus kepemilikan KTP.program Jampersal harus terus dilanjutkan. perlu ditingkatkan dengan pelayanan transfusi darah.. Kalau harus carter sekitar 10 juta ke atas. karena bila ada kasus harus dirujuk ke Baubau. jangan berhenti. Dengan merasakan manfaatnya.. Untuk persalinan yang tidak dapat dilakukan dibidan dapat dilakukan rujukan ke rumah sakit yang sudah ditentukan. Kota Bandung). tidak membuat masyarakat kurang peduli dengan keberadaannya. “..” (Toma.

. mereka lebih sabar telaten menunggu bila mengeluh kesakitan. Pelan-pelan ditolong persalinannya. Natuna). misal umurnya sudah banyak.belum lagi bidan kecil2. Istilahnya dulu dia saya yang urus mandiin segala macam.” (Toma. semua masyarakat di semua daerah studi berpendapat dan mempunyai harapan yang sama. Di RS atau puskesmas kan suka cuek kalo pasien yang mengeluh kesakitan. “. Namun karena menyadari besarnya manfaat yang diperoleh dari program Jampersal. Program Jampersal diharapkan dapat 209 . Natuna). termasuk kekhawatiran Jampersal akan mengakibatkan ledakan penduduk. Kep. tapi langsung ditempatkan ke masyarakat tanpa dampingan senior. Misalnya kalu ibu hamil kalu ke RS negeri sudah menunggu lama lalu akhirnya di caesar. dilanjutkan di tahun-tahun mendatang. Terlepas dari keluhan masyarakat yang ada. nah sekarang tiba2 dia mau turun saya persalinan.. Selain itu masyarakat mempunyai pandangan mengapa masyarakat juga lebih senang melahirkan ditolong dukun dibanding oleh tenaga kesehatan. Kalau di dukun kampung. walaupun kabupaten tersebut tidak memanfaatkan Jampersal mengharapkan pelayanan kesehatan lebih baik seperti layanan kesehatan di luar negeri. Untuk itu diharapkan bidan-bidan di Natuna mendapat pelatihan untuk dapat meningkatkan teknis dan kualitas layanan agar masyarakat tidak perlu mendapatkan layanan kesehatan di luar negeri. Padahal mungkin dari dokter sendiri ada penjelasan dan alasan. Kab kep. langsung tindakan saja. Akhirnya masyarakat ini kan taunya kalau ke RS akan dibelah.Khusus untuk masyarakat di Natuna. mereka baru. Seperti diketahui untuk masyarakat Natuna akses untuk mendapatkan pelayanan dari Malaysia dan Singapura bahkan dapat lebih dekat dibandingkan harus ke Batam atau wilayah lain di Indonesia. khususnya bagi keluarga tidak mampu. Kab.” (Toma.masyarakat itu butuh penjelasan dan pendekatan. Nah inilah yg tidak pernah dijelaskan ke masyarakat.. Jadi secara psikologis lebih percaya pada bidan kampung. “. Jadi gimaa mau percaya..

210 .

dibatasi pada jumlah anak. Secara umum provider ( bidan. Materi sosialisasi masih 211 . peralatan dan bahan habis pakai dll. hanya perlu difokuskan pada masyarakat miskin. Sosialisasi menjadi kendala untuk pelaksanaan Jampersal.1. Bahkan Jampersal juga dapat menjadi sumber pendapatan daerah. Keterbatasan / tidak adanya dana sosialisasi menyebabkan sosialisasi Jampersal kurang fokus karena diikutkan dengan kegiatan lain. Di Kabupaten / Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal walaupun belum optimal. Jamkesda di beberapa daerah dialihkan menjadi Jampersal. Penerbitan Perbup dan Perwali sebagai salah satu bentuk dukungan Pemda. KESIMPULAN 1. Di beberapa kabupaten / kota tidak menerbitkan Peraturan baru tetapi mengikuti Peraturan Pusat yang sudah ada / sesuai petunjuk teknis yang ada atau mengikuti Peraturan daerah yang sudah ada. Kebijakan Jampersal ditindaklanjuti dengan menerbitkan Peraturan Bupati atau Peraturan walikota. Khusus Kepulauan Natuna tidak memanfaatkan pembiayaan Jampersal 2. Belum semua daerah memberi dukungan dalam bentuk penyediaan sarana.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. “AKINO” di Nusa Tenggara Barat. SPOG) mendukung terhadap kebijakan jampersal . Dukungan pembiayaan belum banyak terlihat. Muatan politik mempengaruhi dukungan Pemerintah daerah terhadap Jampersal dalam bentuk sosialisasi Kebijakan Jampersal dengan kebijakan daerah berkaitan dengan mendukung penurunan AKI dan AKB misalnya LIBAS di Sampang. Penerimaan Provider terhadap kebijakan jampersal : a. b. 3. SDM. Program Jampersal mendukung pada pelaksanaan program KIA terutama pada bidan di puskesmas.

ibu nifas sampai 42 hari dan neonatal (0-28 hari) yang mempunyai salah satu persyaratan seperti KTP. Di tingkat layanan dasar besaran Klaim menurut juknis 2012 secara umum sudah cukup. tapi juknis tahun 2012 212 . habis pakai dsb.. d. Hal khusus yang menjadi masukkan : • • Pelayanan ANC bidan mengharapkan bisa lebih dari 4 kali. perdarahan sebelum melakukan rujukan. KTP suami. hanya Kota seperti Balikpapan dimana tingkat ekonomi tinggi besaran tersebut dianggap masih terlalu rendah. ada daerah yang meerapkan pengisian inform consent untuk menggunakan KB Jangka panjang seperti IUD pada pengguna Jampersal. f. Pelayanan rujukan khususnya di Daerah yang akses jauh dari pelayanan rujukan diharapkan bidan yang telah mempunyai kompetensi khusus dapat melakukan pelayanan rujukan tertentu misalnya manual plasenta. ibu bersalin. • • Lama persalinan normal di beberapa daerah lebih dari satu hari. hal ini disebabkan persyaratan dianggap membebani. Mekanisme klaim awalnya menjadi kendala karena terlalu lama. kurang pada substansi. c.Untuk daerah kepulauan besaran kalim tidak masalah tapi biaya transport yang menjadi kendala karena bisa jauh lebih besar dari klaim Jampersal. Kepesertaan / pengguna Jampersal adalah ibu hamil. e.lebih kearah pertanggungjawaban administrasi. Di rumah sakit tarif INA-CBG’s terutama untuk RS Tipe C besarannya dianggap terlalu kecil. kartu mahasiswa/ pelajar dan paspor. Pelayanan KB perlu lebih ditegaskan lagi. Portabilitas pelayanan dapat berjalan baik. g. surat ijin mengemudi. surat keterangan domisili. Keterbatasan pengetahuan Jampersal sering menyebabkan provider “setengah hati” menerima dan melaksanakannya. Masalah juga timbul pada RS yang memberlakukan tarif Jamkesda dengan tarif RS kelas III. kartu keluarga. sehingga beberapa RS terpaksa menarik tambahan biaya untuk obat. Jenis paket pelayanan Jampersal di tingkat layanan dasar cukup baik diterima bidan.

4. c. misalnya di kota Ambon. Masalah terjadi untuk pencairan untuk provider di puskesmas karena melalui mekanisme keunagan daerah sehingga bervariasi setiap daerah. walaupun masih ada yang mengikuti Juknis 2011.sudah lebih sederhana. Puskesmas non perawatan tidak mempunyai sarana rawat inap untuk menolong persalinan. dan distribusi bidan belum merata. h. Jumlah Bidan pada umumnya mencukupi kecuali di kepulauan Aru jumlah bidan sangat kurang. • Belum tersosialisasinya program Jampersal dengan baik. Kota Kendari bidan yang ada kebanyakan masih lulusan D1. Di kepulauan perlu lebih banyak sarana pelayanan. Mekanisme pencairan dana pada umumnya mengikuti Juknis 2012. • Persyaratan pengurusan ijin praktek bidan yang menyebabkan bidan tidak dapat segera mendapatkan Ijin praktek dengan adanya persyaratan dari organisasi Profesi misalnya APN. hal ini disebabkan tidak semua bidan puskesmas / desa dapat melakukan PKS disebabkan antara lain : • Belum semua dinas kesehatan membuka kesempatan pada bidan puskesmas / BPS untuk melakukan PKS secara terbuka. Ketersediaan puskesmas di setiap kecamatan di lokasi penelitian terpenuhi ada beberapa hal perlu diperhatikan : a. b. di beberapa lokasi kepala Dinas membuat 213 . Jumlah bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan masih sangat terbatas. • Keterbatasan tenaga bidan karena ada batasan kompetensi. harus aktif dan telah magang pada organisasi Profesi dalam waktu tertentu. tidak semua bidan desa tinggal di wilayah kerjanya. Di beberapa daerah kesulitan dalam pencairan. Kendala juga dengan terbatasnya tenaga verifikator sehingga berkas klaim menumpuk di verifikator. satu desa dapat terdiri beberapa pulau. Pencairan dana untuk BPS pada umumnya cukup lancar dan dapat diterimakan 100%.

pada pelayanan persalinan di 13 kabupaten/kota. 214 . Sarana Puskesmas rawat inap dan Poned masih terbatas. c. Pemanfaatan layanan Jampersal : a. Kecenderungan tempat persalinan non fasilitas kesehatan terjadi di kabupaten yang tergolong daerah sulit secara akses. dan juga ketersediaan tenaga kesehatannya terbatas. 5. • Ibu nifas pengguna Jampersal untuk PNC di 13 kabupaten / kota turun 2% dari yang memanfaatkan pelayanan persalinan .3% dilakukan di fasilitas kesehatan. Continum of care dari Ibu nifas pengguna Jampersal untuk persalinan di 13 kabupaten / kota turun 15% dari yang memanfaatkan pelayanan ANC (K1). Cenderung terjadi peningkatan rujukan persalinan per vaginam dengan komplikasi dan tanpa komplikasi di rumah sakit pemerintah tempat rujukan Jampersal pada 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. prasarana dan SDM rumah sakit sangat terbatas. Belum semua rumah sakit pemerintah di kabupaten melakukan PKS dengan Dinas Kesehatan. Hal ini misalnya terjadi di Kabupaten Kepulauan Aru. d.kebijakan untuk menyediakan satu ruangan untuk rawat inap untuk persalinan. Peningkatan kasus Sectio caesaria juga cukup tinggi di rumah sakit pemerintah rujukan Jampersal pada tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. bahkan tidak ada SPOG tetap. • Ibu nifas pengguna Jampersal untuk persalinan di 13 kabupaten / kota turun 1. Terutama di daerah kepulauan sarana. • Untuk pengguna Jampersal. 95.9% dari yang memanfaatkan pelayanan ANC K1 dan K4. b. Kabupaten Wakatobi dan Kabupaten Paser.

Masyarakat yang memanfaatkan Jampersal 95% telah memiliki Jaminan lain seperti Jamkesmas (52%) .7% karena belum tersosialisasi Jampersal. dan lebih senang dengan KB suntik. Di level komunitas. LSM mengharapkan lebih dilibatkan dalam sosialisasi Jampersal. hanya saja untuk paket pelayanan KB masyarakat masih keberatan dengan menggunakan alat kontrasepsi jangka panjang (mis. Lintas sektor. Masyarakat yang tidak memanfaatkan Jampersal 66. Jampersal bersifat portabilitas. juga terdapat pembiayaan kesehatan melalui PNPM GSC yang merupakan program kementerian Dalam Negeri. Jampersal persyaratan lebih mudah untuk dipenuhi . IUD). Jamkesda (19. Askes (12.6. b. Toga. 8. selain itu ada daerah ketika ada Jampersal maka Jamkesda dialihkan ke Jampersal. 215 . sehingga dengan adanya Jampersal terjadi pergeseran bagi pemanfaatan Jaminan kesehatan lain ke Jampersal.10% dan Jamsostek (11. Untuk paket pelayanan Jampersal masyarakat sudah memanfaatkannya. Pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan dalam upaya mendukung pelaksanaan kebijakan Jaminan Persalinan. Hanya 5 % yang lain2 termasuk tida mempunyai Jaminan. Sosialisasi yang diperoleh masyarakat dinilai kurang. Selain pemberdayaan dari masyarakat langsung melalui kader kesehatan.30%). Di beberapa kabupaten / Kota daerah penelitian terdapat biaya tambahan yang dikenakan pada masyarakat yang memanfaatkan pelayanan Jampersal 7. Toma. c. masyarakat sudah mendapat sosialisasi adanya Jampersal. Dari data didapatkan : a. Masyarakat merasa bahwa jampersal sangat bermanfaat dan berharap program ini terus berlanjut.6%).

dll. lintas sektor dan masyarakat (Toma. kader) dalam 216 . Penguatan sinergisme berbagai sumber pembiayaan dalam mendukung pelaksanaan Jampersal. Adapun saran untuk perbaikan Kebijakan Jaminan Persalinan adalah sbb : 3. Jamkesmas. 4. 3. bersalin dan nifas yang belum mempunyai jaminan. Toga. Diterbitkannya turunan kebijakan Jampersal berupa Peraturan Bupati atau Peraturan Walikota. bahan habis pakai. 6. Penguatan Tim Pengelola Jamkesmas/Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam peningkatan kemampuan proses verifikasi dan pembayaran klaim Jampersal. seperti BOK. Memberi penekanan pada pemerintah daerah untuk menepati ketentuan sesuai juknis. obat. 5.1 Jangka pendek Pedoman Pelaksanaan harus memberi ruang untuk menampung kebijakan local: 1. Ketentuan besaran jasa pelayanan dan kelancaran klaim menjadi perhatian sebagai salah satu manfaat Jampersal untuk tenaga kesehatan yaitu adanya kepastian akan menerima jasa pelayanan medis sesuai ketentuan yang berlaku. • Sosialisasi menjadi kunci penting dalam keberhasilan. Mendorong daerah untuk berkontribusi terhadap pemenuhan sarana prasarana. 2. bahwa sasaran jampersal adalah ibu hamil. provider dan masyarakat perlu adanya kesinambungan ketersediaan alokasi dana Pusat dalam pelaksanaan Jampersal.2 SARAN/REKOMENDASI Dengan dukungan dari Pemerintah Daerah. Jamkesda. dan peralatan kesehatan Puskesmas dan Poskesdes agar mampu melakukan pertolongan persalinan di Puskesmas dan Poskesdes secara memadai.2.3. pelibatan lintas program.

b.2 Jangka Panjang Rekomendasi jangka panjang ini lebih diperuntukkan bagi pelayanan kesehatan ibu dan anak secara keseluruhan. dengan menerapkan inform consent. c. dalam pengertian memenuhi ketersediaan sarana pelayanan kesehatan tingkat dasar sampai dengan rujukan. • Pengetatan mekanisme pengawasan dan sanksi agar seluruh penyedia pelayanan kesehatan (PPK) Jampersal tidak menarik biaya tambahan dari penerima manfaat Jampersal dengan melakukan “uji petik”.2. dan Pemerintah Daerah dalam percepatan pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi yang memadai. Kementerian Perhubungan. 217 . khususnya di daerah tertinggal. • Aspek Sarana dan Prasarana dan SDM 1) Dukungan Kementerian Pekerjaan Umum. Disamping itu perlu penganggaran khusus untuk sosialisasi. 6. • Pada daerah kepulauan atau wilayah dengan geografis sulit harus dipertimbangkan beberapa pilihan : a. • Penguatan komitmen pelayanan KB pasca persalinan sebagai paket dan bagian tak terpisahkan dari pelayanan Jampersal dengan didorong untuk penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang. • Peningkatan kemampuan tenaga kesehatan yang ada di wilayah tertentu khususnya di daerah terpencil dan terisolir yang kurang diminati. Menyediakan pelayanan ‘one stop service’. Menyediakan rumah singgah. di antaranya melalui pemberian kewenangan tambahan/khusus mengingat keterbatasan tenaga sesuai kompetensi. Menyediakan dana pendamping untuk penggantian transport rujukan bila diperlukan.sosialisasi lebih di tingkatkan.

• Melibatkan tokoh masyarakat. dalam rangka memudahkan proses rujukan KIA. obat dan peralatan. seperti hambatan kultural dan hambatan informasi. serta keterampilan (skill) petugas sebagai penyedia layanan emergensi obstetrik dan neonatal tingkat dasar dan komprehensif. tokoh agama. sehingga diupayakan adanya pendamping di wilayah kerja bidan karena bidan mempunyai keterbatasan . baik aspek tenaga. • Pemberdayaan Masyarakat sangat penting untuk mendukung pelaksanaan kebijakan Jampersal. Peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui pemberian KIE (Konseling. sarana. 4) Keberadaan bidan sebagai anggota masyarakat memiliki keterbatasan yang harus diperhatikan. dan kepulauan. 3) Penguatan sistem rujukan (improvement collaborative) antara Puskesmas PONED dan RS PONEK.perbatasan. kader kesehatan dan lintas sektor dalam kesehatan dalam sosialisasi program kesehatan termasuk jampersal. Informasi dan Edukasi) tentang Jampersal untuk mengatasi hambatan non-medis dan non-finansial. 218 . 2) Penguatan Puskesmas PONED dan RS PONEK.

masyarakat.. sebagai narasumber yang telah bekerjasama dan memberikan masukkan tentang Program terkait kebijakan Jampersal. 219 . M. Kasubdit Ibu Nifas dr. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga kami sampaikan kepada: 1. yang dilakukan di 14 Kabupaten / Kota di 7 Provinsi di Indonesia. Riskiyana.UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karuniaNya karena telah menyelesaikan laporan penelitian dengan tepat waktu dengan judul “ Riset Evaluatif Implementasi Jaminan Persalinan ”. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Kesehatan RI atas terlaksananya penelitian DIPA 2012. M. 4. Drg. Sandi Iljanto. 2. Toma. Sampang. Usman Sumantri. Toga. Puskesmas. kekompakan dan kerjasamanya demi kelancaran penelitian ini. Lintas sektor terhadap segala perhatian dan informasi yang diberikan. atas segala perhatian. RSUD. dr. sebagai narasumber dan bekerjasama dalam memberikan informasi tentang Pembiayaan Jaminan Persalinan. kesempatan dan dukungan yang diberikan.Kes. Terima kasih pula Bapak Agus Suprapto.Sc. selaku Kepala Pusat Humaniora. Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat. 5. Dengan segala kerendahan hati. sebagai Mitra dalam pelaksanaan penelitian Jaminan Persalinan. drg. 3. Seluruh Kepala Dinas Kesehatan dan Direktur Rumah Sakit Daerah di 14 Kabupaten/Kota Lokasi Penelitia atas ijin dan kerjasamanya selama penelitian berlangsung.. Kepala Pusat Jaminan Kesehatan. Seluruh responden yang terlibat pada penelitian ini baik di dinas Kesehatan.. Teman-teman tim peneliti di penelitian ini. Laporan ini merupakan penelitian DIPA 2012. atas segala perhatian. 6. kami menyampaikan terima kasih banyak kepada yang terhormat Bapak Dr. Trihono. DR.

7. 220 . Teman-teman pembantu administrasi yang mengurus kelancaran administrasi keuangan.

Profil Kesehatan Wakatobi. Jakarta Badan Pusat Statistik RI. Lombok Tengah Dalam Angka Tahun 2012. Walt G. 1st ed. ER. Nelson: London.DAFTAR KEPUSTAKAAN ___________________ 2011. Wakatobi: Dinas Kesehatan Ahimsa. Buse K. BPS Kab Lombok Tengah. Graham WJ. Badan Pusat Statistik RI. Pearson. From Idea to Action: Notes for a Contingency Theory of the Policy Implementation Process. Depkes RI (2008b) Kepmenkes No.. 828/Menkes/SK/IX/2008 tentang Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota. IPKM: Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat. Heddy Shri. Public Policy Making. Open University Press. 16: 403. (2012) Making Health Policy. Dunn WN (2009) Public Policy Analysis: An Introduction. Hasil Lokakarya Nasional “Perkembangan Pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu di Delapan Propinsi Daerah Uji Coba”.. 2012. Jogjakarta. Jakarta. 1985. (2006) Maternal mortality: who. Rajagrafindo Persada. 221 . Making Pregnancy Safer (MPS) di Indonesia 2001-2010. when. Badan Litbangkes. Mays N. Departemen Kesehatan RI. Depkes RI (2008a) Permenkes No. Strukturalisme Levi Strauss. USAID. 2003. Jakarta. Departemen Dalam Negeri RI (2008) Petunjuk Teknis Operasional PNPM Generasi Sehat dan Cerdas. Alexander. 2nd ed. Walt G. Badan Litbangkes RI. Andersen.. Badan Litbangkes RI. Carine Ronsmans C.. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. William. Dunn. Dinkes Kab Lombok Tengah (2011) Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2011. Buse K. 368(9542):1189 – 1200. 2010. 2000. 2012. Laporan Survey Demografi Kesehatan Indonesia Tahun 2007. 2011. Jakarta: PT. Yogyakarta. Rencana Strategis Nasional. Praya. 1996. 2007. (2005) Making Health Policy. Mitos dan Karya Sastra. Open University Press. England. 2011 Metodologi Penelitian Kualitatif. and why. where. Administration & Society. Pedoman Pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu. Mays N. England. 4th Ed. Analisis Data. Pengantar Analisis Kebijakan Publik (second edition)(terjemahan). Macro Internasional. 741/Menkes/Per/VII/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota. Gadjah Mada University Press Emzir. Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat. The Lancet. 1975. J. Yogyakarta: Kepel Press. Praya. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar Tahun 2010. Anonym.

. & Campbell OMR (2008) Measuring maternal mortality: An overview of opportunities and options for developing countries. Anhb LV. Jampersal Solusi Persalinan. 2. Lawrence W.id Kementerian Kesehatan RI.depkes. Mukhopadhyayd M. Press Release. Gereina N. Niniek L Pratiwi.67–173. Green. 1999. Qiane X. Kemenkes RI (2011a) Profil Kesehatan Indonesia 2010.12 Greena A. Gulliford. 2011a. Nomor 2562/MENKES/PER/XII/2011 Kementerian Kesehatan RI. Setia. “Analisis Partisipasi Masyarakat dalam PNPM Mandiri Perkotaan di Kota Solok”. 6. Percepatan Penurunan AKI dan AKB. 2011c.. BMC Medicine. Jakarta. Health Policy 100. Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Kesehatan. Janet Lewis and Ke Young dalam Hill. Barry Gibson1. Birda P. Kemenkes RI (2011b) Laporan Nasional Riset Fasilitas Kesehatan 2011: Laporan Puskesmas. Harvester Wheatsheaf Graham WJ.. Notoatmodjo. Soorsg W (2011) Health policy processes in maternal health: A comparison of Vietnam. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. Soekidjo. 2011. Diunduh dari http://www. Martineauc T. Mirzoeva T. Jakarta. 2011d. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. April 2011. Stanton C. 2011b. Martin. Michael (eds). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Badan Litbangkes. Volume 23. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku . Nomor 2562/MENKES/PER/XII/2010 McDermott. Sugeng Rahanto. Roger Beech2.. Inside The Academy: Profiling Dr.Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. India and China. J. New York. 1993. A Reader.Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Volume 7 No. Myfanwy Morgan. What does `access to health care’ mean? Journal of Health Services Research and Policy..Gordon. Meryl Hudson. 222 .go. The Policy Process. Menkes Beberkan Program Prioritas Kemenkes 2011. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. 3 July 2002 Yoni Yulianti. Pearsona S. Gambaran Peran Kader Posyandu dalam Upaya Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi di Kota Manado dan Palangkaraya. No. 2007.. R. Ahmed S. Ian. Kementerian Kesehatan RI. 2011e. Jose Figueroa-Munoz. Jakarta. Ramanif KV. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2012.. halaman 3-6 Meter DMV & Horn CEV (1975) The Policy Implementation Process: A Conceptual Framework. Administration and Society 6(4):445-8. Kebijakan Jaminan Persalinan. American Journal of Health Behavior. David Hughes. Bagaimana Pendanaan Jampersal? Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. 2002. Vol. Rineka Cipta Pranata. 14. Zahr-CLA.

com/2012/10/03/pentinganya-pemberdayaanmasyarakat-di-bidang-kesehatan-498435. Weimer DL. & Vining AR.5th Ed. Weimer DL. Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI).15. & Gilson L.. Murray SF. Schneider H.pasca.. (2010) Policy Analysis: Concepts and Practice.id/data/2012/04/AgFin_18-1_10-Rasyidi-_No. Statistik Daerah Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2012. Rukmini. 2005).depkes. Walt G.Ratna. Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya. Nyoman Kutha.html.unand. Gambaran Penyebab Kematian Maternal di Rumah Sakit (Studi di RSUD Pesisir Selatan.detik. Brugha R.ac. KL. & Vining AR. (1999) Policy Analysis: Concepts and Practice.unram. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Health Policy and Planning 23:308–317. RSUD Larantuka dan RSUD Serang.-Rev./ANALISIS-PARTISIPASI-MASYARAKAT.kompasiana. (2008) ‘Doing’ health policy analysis: methodological and conceptual reflections and challenges. http://fp.php?option=com_content&view=article&id=296 :bidan-berperan-penting-turunkan-aki-danakb&catid=113:keperawatan&Itemid=139 diunduh pada tanggal 19 Desember 2012. diakses pada tanggal 20 Des 2012 pukul 9.Jakarta. RSUD Sikka. Wilujeng.pdf 223 . RSUD Padang Pariaman. http://buk. 2010 Metodologi Penelitian. http://www.go. Shiffman J. Pearson.id/index.pdf http://health. 3rd Ed.com/read/2012/12/12/180034/2116877/1301/nikahmuda-bikin-angka kematian-ibu-susah-ditekan?881104755.id/id/wp. http://edukasi. tahun 2007._. 2007.ac. Prentice-Hall.

224 .