LAPORAN AKHIR PENELITIAN

RISET EVALUATIF IMPLEMENTASI JAMINAN PERSALINAN

Penyusun Laporan Tety Rachmawati dkk

KEMENTERIAN KESEHATAN RI BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN PUSAT HUMANIORA, KEBIJAKAN KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Jl. Indrapura 17 Surabaya 60176 Telp. 031-3528748/ Faks. 031-3528749 JANUARI 2013 i

ii

SURAT KEPUTUSAN PENELITIAN

iii

iv

v .

vi .

vii .

viii .

provider pelayanan kesehatan dan sasaran Jampersal yang diharapkan dapat memberikan wacana ke depan kebijakan Jampersal. Saran serta kritik membangun sangat kami harapkan untuk penyempurnaan dan perbaikan di masa mendatang. semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pengelola program baik di Dinas Kesehatan maupun Depkes RI sehingga bermanfaat dalam rangka perencanaan dan pengambilan kebijakan selanjutnya untuk peningkatan pelayanan Jampersal dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia dalam mewujudkan target MDGs. TOGA dan lintas sektor terhadap kebijakan Jampersal. Provider (RS dan Puskesmas). Akhir kata. memuat uraian analisis implementasi Jaminan Persalinan sehingga diharapkan diperoleh gambaran pelaksanaan kebijakan Jampersal di daerah. Surabaya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukkan dan pertimbangan pemangku kebijakan untuk mengambil keputusan kebijakan Jampersal. Dari penelitian di 14 Kabupaten/Kota ditemukan variasi implementasi Jampersal dan akseptabilitas pemangku kebijakan di tingkat kabupaten/kota. ketersediaan dan akses terdapapt sarana dan prasarana serta SDM dalam mendukung Jampersal serta utilisasi Jampersal dalam pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. masih diperlukan masukkan untuk sempurnanya hasil penelitian ini. masyarakat sebagai sasaran dan TOMA.KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan Syukur Alhamdulillah atas selesainya laporan penelitian ini. Laporan ini. Desember 2012 Tim Peneliti ix . akseptabilitas Dinas Kesehatan. Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggitingginya kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyusunan laporan ini. Kami seluruh Tim Peneliti “Riset Evaluatif Implementasi Jaminan Persalinan” menyadari bahwa hasil penelitian ini jauh dari sempurna.

x .

dan KB pasca persalinan) dan bayi baru terhadap program Jaminan Persalinan. 2) Menganalisis akseptabilitas kabupaten/kota terhadap program Jaminan dan Persalinan.bersalin. dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan. nifas. LSM dan organisasi stakeholder lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan. Program Jampersal dipergunakan untuk menanggung seluruh biaya persalinan mulai dari sebelum. hingga setelah persalinan bagi ibu yang tengah hamil mulai 2011. Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan evaluasi program Jampersal dalam upaya mencapai target MDGS. 5) Menganalisis utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. 7) Menganalisa pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan Ibu (hamil. 4) Menganalisis ketersediaan (availability). saat. nifas. 6 ) Menganalisis akseptabilitas sasaran dalam pelayanan kesehatan Ibu(hamil.bersalin. Toga. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan dan 8) Menganalisa akseptabilitas Toma.bersalin.RINGKASAN EKSEKUTIF RISET EVALUATIF IMPLEMENTASI JAMINAN PERSALINAN DI 14 KABUPATEN DI 7 (TUJUH) PROVINSI TAHUN 2012 Jaminan Persalinan (jampersal) merupakan Program Jaminan Persalinan untuk menekan angka kematian ibu bersalin. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan.bersalin. SDM terhadap program Jaminan Persalinan. Sedangkan tujuan khususnya adalah 1) Menganalisis kebijakan Jaminan Persalinan di daerah. angka kematian ibu (AKI) dan juga angka kematian bayi (AKB) akan menurun sehingga bisa mencapai target MDGs pada tahun 2015. nifas. nifas. xi . Diharapkan dengan diluncurkannya Jampersal. akses (accessibility) terhadap sarana dan prasarana. Lintas sektor. 3) Menganalisis pelayanan akseptabilitas Ibu provider(pemerintah swasta) dalam Kesehatan (hamil. Tujuan umum penelitian adalah menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan.

Pengumpulan data dengan wawancara dan FGD dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Cara pengambilan sampel adalah dengan mengidentifikasi Ibu hamil. Disain penelitian adalah cross sectional dengan jenis penelitian adalah gabungan penelitian kualitatif dan kuantitatif. Responden penelitian adalah 1) Pengguna program Jampersal yaitu ibu hamil. Dari sampel tersebut dibuat daftar/list. kemudian diambil 70 responden secara proportional random to size (acak dan proporsional) sesuai dengan jumlah Ibu hamil. 4) Responden sebagai pemegang kebijakan di tingkat kabupaten yaitu Kepala Dinas Kesehatan. Sehingga jumlah sampel adalah 140 untuk dua puskesmas di masingmasing Kabupaten/Kota. Wawancara mendalam dilakukan pada seluruh responden di Dinas Kesehatan. Kepala desa/lurah & aparat desa. Rumah Sakit dan Puskesmas dan FGD dilakukan pada bidan Puskesmas dan Toma. Bidan Koordinator. pengelola Jampersal Dinas Kesehatan. 3) Responden sebagai pelaksana program Jampersal yaitu a) Fasilitas Kesehatan tingkat pertama/dasar (Puskesmas) yaitu Kepala Puskesmas. ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) selama periode 6 bulan terakhir yaitu Oktober 2011 . ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) di masing-masing desa wilayah kerja Puskesmas. 2) Tokoh masyarakat :TOMA&TOGA. cek list dan data sekunder. Pengelola Jampersal RS.Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret – Desember 2012. verifikator independen dan bidan Kepala Ruangan. Direktur / Wadir Pelayanan RS. b) Fasilitas kesehatan tingkat lanjutan (Rumah Sakit) yaitu : dr. Pengelola Jampersal dan Bidan desa. Besar sampel adalah 70 orang untuk masing-masing Puskesmas. Obsgyn.April 2012 di seluruh desa wilayah kerja Puskesmas. dan kader Posyandu. Sedangkan untuk sasaran dan bidan dilakukan wawancara xii . berdasarkan perhitungan simple random sampling. verifikator Dinas Kesehatan dan kepala bidang Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan. pedoman wawancara. ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) dan ibu yang sudah melahirkan (mempunyai bayi maksimal umur 6 bulan) selama periode 6 bulan terakhir yaitu Oktober 2011-April 2012.

Secara umum provider (bidan. Hal khusus yang menjadi masukkan : • • Pelayanan ANC bidan mengharapkan bisa lebih dari 4 kali. Di Kabupaten/Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal walaupun belum optimal. c. penanganan perdarahan sebelum melakukan rujukan. Jenis paket pelayanan Jampersal di tingkat layanan dasar cukup baik diterima bidan. xiii . b. Pelayanan rujukan khususnya di Daerah yang akses jauh dari pelayanan rujukan diharapkan bidan yang telah mempunyai kompetensi khusus dapat melakukan pelayanan rujukan tertentu misalnya manual plasenta. Dukungan pembiayaan belum banyak terlihat. Di beberapa kabupaten/kota belum menerbitkan kebijakan lokal. Jampersal juga dapat menjadi sumber pendapatan daerah. Keterbatasan /tidak adanya dana sosialisasi menyebabkan sosialisasi Jampersal kurang fokus karena diikutkan dengan kegiatan lain. kurang pada substansi. Penerimaan Provider terhadap kebijakan jampersal : a. Kab. penyediaan sarana. dibatasi pada jumlah anak. Natuna tidak memanfaatkan Jampersal. Muatan politik mempengaruhi dukungan Pemerintah daerah terhadap Jampersal antara lain dalam bentuk sosialisasi. hanya perlu difokuskan pada masyarakat miskin. SPOG) mendukung terhadap kebijakan jampersal. Analisis data kualitatif dan kuantitatif secara deskriptif untuk menggambarkan implementasi Jampersal. Materi sosialisasi masih lebih kearah pertanggungjawaban administrasi. bahkan dengan adanya Jampersal Jamkesda di beberapa daerah dialihkan menjadi Jampersal. Sosialisasi menjadi kendala untuk pelaksanaan Jampersal. 3. Hasil penelitian menunjukkan Kebijakan Jaminan Persalinan di Kabupaten/Kota dapat didapatkan sebagai berikut : 1.dengan menggunakan kuesioner tersruktur. 2. Kebijakan Jampersal ditindaklanjuti dengan menerbitkan Peraturan Bupati atau Peraturan walikota.

Kendala juga dengan terbatasnya tenaga verifikator sehingga berkas klaim menumpuk di verifikator. Mekanisme klaim awalnya menjadi kendala karena terlalu lama. tapi juknis tahun 2012 sudah lebih sederhana. Ketersediaan puskesmas di setiap kecamatan di lokasi penelitian terpenuhi ada beberapa hal perlu diperhatikan : a. Pelayanan KB perlu lebih ditegaskan lagi. hal ini disebabkan persyaratan dianggap membebani. surat ijin mengemudi. e. d. satu desa dapat terdiri beberapa pulau. surat keterangan domisili. kartu keluarga. ibu nifas sampai 42 hari dan neonatal (0-28 hari) yang mempunyai salah satu persyaratan seperti KTP. ibu bersalin. h. sehingga beberapa RS terpaksa menarik tambahan biaya untuk obat. hanya Kota seperti Balikpapan dimana tingkat ekonomi tinggi besaran tersebut dianggap masih terlalu rendah. Di tingkat layanan dasar besaran Klaim menurut juknis 2012 secara umum sudah cukup. Di kepulauan perlu lebih banyak sarana pelayanan. Jumlah Bidan pada umumnya mencukupi kecuali xiv . Pencairan dana untuk BPS pada umumnya cukup lancar. KTP suami. ada daerah yang menerapkan pengisian inform consent untuk menggunakan KB Jangka panjang seperti IUD pada pengguna Jampersal. Portabilitas pelayanan dapat berjalan baik. Di rumah sakit tarif INA-CBG’s terutama untuk RS Tipe C besarannya dianggap terlalu kecil. 4. f. Masalah terjadi untuk pencairan untuk provider di puskesmas karena melalui mekanisme keuangan daerah sehingga bervariasi setiap daerah. habis pakai dsb. kartu mahasiswa/pelajar dan paspor. Di beberapa daerah kesulitan dalam pencairan. Kepesertaan/pengguna Jampersal adalah ibu hamil. g.• • Lama persalinan normal di beberapa daerah lebih dari satu hari.Untuk daerah kepulauan besaran klaim tidak masalah tapi biaya transport yang menjadi kendala karena bisa jauh lebih besar dari klaim Jampersal.

Sasaran yang memanfaatkan Jampersal pada pelayanan persalinan pada umumnya (95. Belum semua rumah sakit pemerintah di kabupaten melakukan PKS dengan Dinas Kesehatan. Terutama di daerah kepulauan sarana.3%) sudah di fasilitas kesehatan. Jumlah bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan masih sangat terbatas. hal ini disebabkan tidak semua bidan puskesmas/desa dapat melakukan PKS disebabkan antara lain : o Belum semua dinas kesehatan membuka kesempatan pada bidan puskesmas/BPS untuk melakukan PKS secara terbuka. harus aktif dan telah magang pada organisasi Profesi dalam waktu tertentu. b. dan distribusi bidan belum merata dan tidak semua bidan desa tinggal diwilayah kerjanya. Kota Kendari bidan yang ada kebanyakan masih lulusan D1. prasarana dan SDM rumah sakit sangat terbatas. Dari data sasaran Ibu Nifas ”Continum of care” perlu peningkatan pelayanan konseling pada sasaran agar terjadi kesinambungan dalam pemanfaatan paket pelayanan Jampersal mulai dari ANC sampai dengan KB paska nifas.di kepulauan Aru jumlah bidan sangat kurang. 5. Sisanya masih di xv . Puskesmas non perawatan tidak mempunyai sarana rawat inap untuk menolong persalinan. o Persyaratan pengurusan ijin praktek bidan yang menyebabkan bidan tidak dapat segera mendapatkan Ijin praktek dengan adanya persyaratan dari organisasi Profesi misalnya APN. Sarana Puskesmas rawat inap dan Poned masih terbatas. o Keterbatasan tenaga bidan karena ada batasan kompetensi. Pemanfaatan layanan Jampersal : a. d. bahkan tidak ada SPOG tetap. b. o Belum tersosialisasinya program Jampersal dengan baik. di beberapa lokasi kepala Dinas membuat kebijakan untuk menyediakan satu ruangan untuk rawat inap untuk persalinan. misalnya di kota Ambon. c.

sehingga sasaran Jampersal untuk yang belum mempunyai Jaminan kesehatan kurang sesuai.tenaga kesehatan tapi non fasilitas kesehatan yang terjadi di kabupaten yang tergolong daerah sulit secara akses.7% karena belum tersosialisasi Jampersal. Hal ini misalnya terjadi di Kabupaten Kepulauan Aru. Kabupaten Wakatobi dan Kabupaten Paser. Terdapat biaya tambahan yang dikenakan pada masyarakat yang memanfaatkan pelayanan Jampersal 7. Dari penelitian disimpulkan : xvi . Cenderung terjadi peningkatan rujukan persalinan per vaginam dengan komplikasi dan tanpa komplikasi di rumah sakit pemerintah tempat rujukan Jampersal pada 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. Dari data sasaran didapatkan : a. Masyarakat yang tidak memanfaatkan Jampersal 66. c. Toga. c. Jamkesda. Lintas sektor. 6. Pelaksanaan Jampersal didukung oleh Toma. Askes dan Jamsostek) ke pembiayaan Jampersal (95%). juga terdapat pembiayaan kesehatan melalui PNPM GSC yang merupakan program kementerian Dalam Negeri. b. Pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan dalam upaya mendukung pelaksanaan kebijakan Jaminan Persalinan. Selain pemberdayaan dari masyarakat langsung melalui kader kesehatan. LSM dan organisasi stakeholder lainnya karena dapat meningkatkan pelayanan oleh tenaga kesehatan. Terjadi pergeseran bagi pemanfaatan pembiayaan Jaminan kesehatan lain (Jamkesmas. dan juga ketersediaan tenaga kesehatannya terbatas. 8. d. Peningkatan kasus Sectio caesaria juga cukup tinggi di rumah sakit pemerintah rujukan Jampersal pada tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya.

dan peralatan kesehatan Puskesmas dan Poskesdes agar mampu melakukan pertolongan persalinan di Puskesmas dan Poskesdes secara memadai. provider dan masyarakat.a. Perlu adanya kesinambungan ketersediaan alokasi dana Pusat dalam pelaksanaan Jampersal. Sosialisasi pada masyarakat masih dianggap kurang. Masyarakat masih keberatan KB dengan alat kontrasepsi jangka panjang (mis. d. IUD). b. bahan habis pakai. brosur. c. lebih senang dengan KB suntik. b) Mendorong daerah untuk berkontribusi terhadap pemenuhan sarana prasarana. obat. xvii . c) Ketentuan besaran jasa pelayanan dan kelancaran klaim menjadi perhatian sebagai salah satu manfaat Jampersal untuk tenaga kesehatan yaitu adanya kepastian akan menerima jasa pelayanan medis sesuai ketentuan yang berlaku. Fasilitas layanan kesehatan dan terbatasnya sarana transportasi untuk rujukan masih menjadi kendala. diperlukan sarana pendukung sosialisasi seperti leaflet. Ada keterlibatan Toma . kader dalam sosialisasi pada masyarakat. Toga . Adapun saran untuk perbaikan Kebijakan Jaminan Persalinan adalah sbb: Jangka pendek 1. Pedoman Pelaksanaan harus memberi ruang untuk menampung kebijakan lokal a) Diterbitkannya turunan kebijakan Jampersal berupa Peraturan Bupati atau Peraturan Walikota. Masyarakat mengharapakan Jampersal dilanjutkan karena bermanfaat terutama masyarakat tidak mampu Rekomendasi dari penelitian ini adalah : Dengan dukungan dari Pemerintah Daerah.

Penguatan komitmen pelayanan KB pasca persalinan sebagai paket dan bagian tak terpisahkan dari pelayanan Jampersal dengan didorong untuk penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang. pelibatan lintas program. Pada daerah kepulauan atau wilayah dengan geografis sulit harus dipertimbangkan beberapa pilihan : o Menyediakan dana pendamping untuk penggantian transport rujukan bila diperlukan. dll. Jamkesmas. 4. kader) dalam sosialisasi lebih di tingkatkan. Sosialisasi menjadi kunci penting dalam keberhasilan. Jamkesda. e) Penguatan sinergisme berbagai sumber pembiayaan dalam mendukung pelaksanaan Jampersal. f) Penguatan Tim Pengelola Jamkesmas/Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam peningkatan kemampuan proses verifikasi dan pembayaran klaim Jampersal. 5. 2. 6. 3. seperti BOK. Disamping itu perlu penganggaran khusus untuk sosialisasi. bersalin dan nifas yang belum mempunyai jaminan. dengan menerapkan inform consent. Peningkatan kemampuan tenaga kesehatan yang ada di wilayah tertentu khususnya di daerah terpencil dan terisolir yang kurang diminati. Pengetatan mekanisme pengawasan dan sanksi agar seluruh penyedia pelayanan kesehatan (PPK) Jampersal tidak menarik biaya tambahan dari penerima manfaat Jampersal dengan melakukan “uji petik”. Toga. di antaranya melalui pemberian kewenangan tambahan/khusus mengingat keterbatasan tenaga sesuai kompetensi. lintas sektor dan masyarakat (Toma. o Menyediakan rumah singgah. bahwa sasaran jampersal adalah ibu hamil. xviii .d) Memberi penekanan pada pemerintah daerah untuk menepati ketentuan sesuai juknis.

Dukungan Kementerian Pekerjaan Umum. 2. sarana. seperti hambatan kultural dan hambatan informasi. serta keterampilan (skill) petugas sebagai penyedia layanan emergensi obstetrik dan neonatal tingkat dasar dan komprehensif. dalam pengertian memenuhi ketersediaan sarana pelayanan kesehatan tingkat dasar sampai dengan rujukan. Jangka Panjang Rekomendasi jangka panjang ini lebih diperuntukkan bagi pelayanan kesehatan ibu dan anak secara keseluruhan. dalam rangka memudahkan proses rujukan KIA. Keberadaan bidan sebagai anggota masyarakat memiliki keterbatasan yang harus diperhatikan. Penguatan sistem rujukan (improvement collaborative) antara Puskesmas PONED dan RS PONEK. Pemberdayaan Masyarakat sangat penting untuk mendukung pelaksanaan kebijakan Jampersal. dan Pemerintah Daerah dalam percepatan pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi yang memadai. xix . c. Peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui pemberian KIE (Konseling. obat dan peralatan.o Menyediakan pelayanan ‘one stop service’. perbatasan. Penguatan Puskesmas PONED dan RS PONEK. 1. Informasi dan Edukasi) tentang Jampersal untuk mengatasi hambatan non-medis dan non-finansial. khususnya di daerah tertinggal. Aspek Sarana dan Prasarana dan SDM a. d. baik aspek tenaga. dan kepulauan. b. Kementerian Perhubungan. sehingga diupayakan adanya pendamping di wilayah kerja bidan karena bidan mempunyai keterbatasan .

xx .

sasaran dan masyarakat terhadap kebijakan Jampersal. bidan dan dr. Kartu Keluarga. Adapaun pengumpulan data secara kualitatif dan kuantitatif dengan wawancara mendalam. kelancaran cairnya klaim pada provider di puskesmas dan jaringanny menjadi masalah utama dalam pelaksanaan Jampersal. dengan menganalisis transkrip hasil diskusi dan mendeskripsikannya dalam bentuk naratif. sedangkan kuantitatif dianalisis secara secara diskriptif. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa secara umum kabupaten / kota mendukung tujuan kebijakan Jampersal mencapai tujuan 4 dan 5 MDG’s dengan mengimplementasikan kebijakan Jampersal dengan variasi sesuai dengan kondisi dan kebijakan lokal yang berlaku di daerahnya dengan diterbitkanya Peraturan Bupati/walikota. Dukungan pemerintah daerah terhadap ketersediaan obat. dukun dll). melahirkan dan nifas) serta masyarakat( toma. kecuali KB paska nifas perlu adanya penekanan dalam pelaksanaannya misalnya dengan memberlakukan inform consent. rumah singgah atau one stop service untuk pelayanan dasar dan rujukan.ABSTRAK Dalam rangka mempercepat pencapaian tujuan pembangunan kesehatan nasional serta Millenium Development Goal (MDG’s). pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan meluncurkan kebijakan Jaminan Persalinan (Jampersal). Jawa Barat. Provider di tingkat layanan dasar dan rumah sakit pada umumnya mendukung kebijakan Jampersal. FGD dan kuesioner terstruktur serta pengambilan data sekunder (Profil kab/kota. pengelola Jamkesmas/Jampersal. Kebijakan Jaminan Persalinan dicanangkan tahun 2011 berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/ Menkes / Per /III/2011 dan diperbaharui dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 yang mulai berlaku per 1 Januari tahun 2012. Kalimantan Timur dan Kepulauan Riau yang masing-masing dipilih 2 (dua) kabupaten / kota. pengelola program KIA dan verifikator). Persyaratan bagi sasaran pengguna Jampersal adalah KTP. Besaran klaim di rumah sakit yang menggunakan tarif INA-CBGs perlu dilakukan penyesuaian dengan kondisi saat ini. Penelitian ini merupakan penelitian terapan untuk mengetahui implementasi kebijakan program Jampersal di 7 (tujuh) propinsi di Indonesia yaitu Jawa Timur. Puskesmas (kepala puskesmas. KTP suami. Data kualitatif hasil FGD dan wawancara mendalam dilakukan secara content analysis. Sulawesi Tenggara. bahan habis pakai dan pembiayaan masih kurang optimal. Portabilitas Jampersal dapat berjalan di layanan dasar maupaun rujukan. xxi . Surat keterangan domisili. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah Menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan. SPOG). pengelola Jampersal. Disain Penelitian secara potong lintang Responden penelitian adalah Dinas kesehatan ( Kadinkes. Kartu mahasiswa/pelajar dan paspor. rumah sakit ( direktur/ Kabid pelayanan.toga. Maluku. Khusus di daerah dengan geografis sulit seperti kepulauan dimana alat transportasi dan biaya transportasi sering menjadi kendala perlu solusi tersendiri dengan menambahkan biaya pendamping untuk transpertasi. cakupan program). NTB. Paket pelayanan Jampersal pada umumnya berjalan . bidan koordinator. sasaran (ibu hamil. pengelola Jampersal dan bidan desa). SIM. kader. Sosialisasi yang kurang optimal menjadi kendala yang perpengaruh terhadap akseptabilitas provider. verifikator independen.

Saran untuk Jampersal perlu adanya kesinambungan dalam pendanaan dengan penyempurnaan dalam petunjuk teknis dan implementasi. kebijakan Jampersal dirasakan manfaatnya dalam meningkatkan akses ke layanan kesehatan dalam masalah pembiayaan terutama pada masyarakat kurang mampu. Sehungga hanya terjadi pergeseran pembiayaan saja dari Jaminan lain ke Jampersal. masyarakat dan sasaran. Kata Kunci : Jampersal 2012 – Evaluasi implementasi-14 kabupaten/kota xxii .Sasaran pengguna Jampersal sebagian besar sudah memiliki Jaminan seperti Jamkesmas. Askes dan Jamsostek. Jamkesda. Hal ini dikarenakan menurut provider.

and financing. cadres. 2012. Each area were taken 2 (two) districts/cities. and obstetric specialists). TOGA. Furthermore. public health insurance/childbirth insurance managements. Southeast Sulawesi. and also Childbirth Insurance Benefit xxiii . midwives. Childbirth Insurance portability has been ran in basic services and referrals. birth. coordinator midwife. materials in medical services. Results of the study shows that In general. Requirements for Childbirth Insurance Program is ID Card. East Kalimantan and Riau archipelago. lack of Local Goverment supports concerns availability of pharmacies. Driver’s License. health program coverage. cities/districts have been supported goals of childbirth Insurance Program Policy to achieve the 4 and 5 MDGs goals. 2562/Menkes/Per/XII/2011 regarding Technical Guidance of Childbirth Insurance which was launched January 1. In 2011 Ministry of Health has been released a national policy concerning Childbirth Insurance Program (known as “Jampersal”). 631/Menkes/Per/III/2011 juncto Minister Decree of Health No. It was caused by conditions and policy local such as it has been released regent. Maluku. It was covered based on Minister Decree of Health No. lack of socialization for Childbirth Insurance Program have became barriers that influences to provider acceptability. and village midwives). It was a applied study to know how implementation of Childbirth Insurance Program Policy in 7 (seven) Provinces in Indonesia involves East Java. targets (pregnant women. targets and communities toward Childbirth Insurance Program Policy. Qualitative data of FGD and In-depth interviews results were conducted content analysis trough analysing discussions transcripts and desribes naratively whereas quantitative were analyzed descriptively. Health Center (head. Moreover. West Java. and secondary data were taken Profile of Disticts/Cities. All data were gathered qualitatively whereas quantitative data with In-depth interview. independence verificator. West Nusa Tenggara. Study design was a cross sectional whereas informants were District/City Health Office (head. and mayor decrees. Implementation of Childbirth Insurance Program Policy has been assorted every study area. Family Card.Abstract In order to accelerate achievement of the National Health Development and Millenium Development Goals. post natal) including communities (TOMA. This study aims to analyze implementing Childbirth Insurance Program. and the others). Childbirth Insurance managements. a domicile explanation letter. questionnaire structurely. Husband ID. and verificator for health office). Student Card and passport. cildbirth Insurance management. hospital (director/head of division for health services. maternal and neonatal management. FGD.

or one stop service. Evaluation of implementing Childbirth Insurance of 14 Districts/Cities. local health insurance. and Social Security Programs for Workers so that It just moved financing from an insurance to Childbirth Insurance. and targets that Childbirth Insurance Program policy has perceived benefits them that implicated to increase public access to facilities health services mainly family poors. Key words: Childbirth Insurance Program. It will needed solution strategy through adding attendant cost for basics and referrals services for transportation. health insurance. Most of targets users for Childbirth Insurance Program have already been others Insurance such as public health insurance. provider for basic services and referral levels have supported the Childbirth Insurance Program Policy.package. communities. It suggested that we are need sustainability concerns financing and revised technical guidance were caused by providers. xxiv . On the other hand. Disbursement of claims is late on provider at Health Center and their networks became main obstacle implementation of Childbirth Insurance Program and we also need tarrif revision for hospital that has applied INA-CBGs. shelter home. except implementation of Family Planning for post natal care has been stressed in implementation for example applying inform consent special for remote areas such as islands where transportation and cost have became barriers. In general.

M. S. drg.KM Rozana Ika Agustiya.I. M. 13. Setia Pranata.Sp. drg.S. M. Selma Siahaan. Apt. S. Epid.. Yunita Fitrianti.M. Msi Kepakaran Dokter. Yurika F. M. SKM.Vita K. S. Agung Dwi Laksono.Psi Nugroho Winarto Peneliti Peneliti Peneliti Peneliti Pembantu Administrasi 17.DAFTAR ANGGOTA TIM PENELITI SUSUNAN TIM PENELITI No. 5. Peneliti 12.Wasis. 14. Kes.Sos Wening Widjajanti.Ant Sri Handayani. 7.Psi.Psi.Kes Pemberdayaan Masyarakat Peneliti 3. SKM. magister Sains Peran P... Dr. R. Msi Ingan Ukur Tarigan. Ir. 9. S. 15. Drs.MPH Peneliti 11. Master Kesehatan Peneliti 6. Psikolog. Master Kesehatan Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Peneliti Peneliti 8. SKM. M. 2. Niniek L.M.Kes dr.KG Dra.Kes Analis Kebijakan Magister sains Peneliti Peneliti 4. Muhammad Agus Mikrajab. Tety Rachmawati. Pratiwi. Susilo Pembantu Administrasi 18 Supriyadi Pembantu Administrasi xxv . Rukmini.. 16. MHA Pemberdayaan Masyarakat Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Manajemen dan Kebijakan Kesehatan Perilaku dan Pelayanan Kesehatan Antropologi Sosiologi Kesehatan Masyarakat Psikologi Peneliti Peneliti 10. 1 Nama dr. S.

xxvi .

.....................................4 PUSAT PELAYANAN OBSTERIK NEONATAL EMERGENSI DASAR (PONED) ................................ DAFTAR ISI........1........................................5 RUMAH SAKIT PELAYANAN OBSTERIK NEONATAL EMERGENSI KOMPREHENSIF (PONEK) ........................................................................................................................................................................................ TINJAUAN PUSTAKA ........................................................1...2 PERJANJIAN KERJA SAMA ........................................................................... DEFINISI .............................. DAFTAR LAMPIRAN .2 KEBIJAKAN (JUKNIS JAMPERSAL 2012) ............... BAB I 1................................................. 2...............3 BAB II 2................................ KATA PENGANTAR .... DAFTAR ANGGOTA PENELITI .............2 1................................................................... 2... 2......................................................................1..6 BIDAN PRAKTEK MANDIRI ................................................................................................... 2...........................................................1 1......................3 FASILITAS KESEHATAN ......................................................................................2........................ DAFTAR GAMBAR ....1......................................1 JAMPERSAL .............. 2........................................................... LATAR BELAKANG ................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ......1............. FOKUS BIDANG PENELITIAN ................... 2... 2................................................................................. ABSTRAK ..................1 TUJUAN JAMPERSAL ................................ 2.2 SASARAN JAMPERSAL .............................................................. 2..................................... xxvii i ii ix xi xxi xxv xxvii xxxiii xxxvii xxxix 1 1 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 6 6 6 ...........................................1..... RINGKASAN EKSEKUTIF .................1 PENDAHULUAN ..................................................... DAFTAR TABEL..................................... SURAT KEPUTUSAN PENELITIAN . PERTANYAAN PENELITIAN ............................................................................................................................................................2..........................................

............................... KERANGKA OPERASIONAL.................3 4............................................. CARA PENGUMPULAN DATA ..................................... 4... DEFINISI OPERASIONAL .......................................1... 3........................ 2..........1 DEFINISI MATERNAL ..........................1 TUJUAN UMUM ...2........................................................................1...........................2 4............................. KERANGKA PIKIR ........ 2..................3 TEORI KEBIJAKAN .9....................... 2....2.........6..6 MANFAAT PENELITIAN .................................9 VARIABEL PENELITIAN ........ METODOLOGI ........4 4...................................................4 TEORI KEBIJAKAN PUBLIK ....................... 4. 2.......3..... TUJUAN PENELITIAN ..............................3 KEMATIAN MATERNAL ................................... xxviii 7 9 9 9 10 10 13 13 15 15 17 17 17 17 18 19 19 20 21 22 22 23 23 24 25 26 27 28 28 ................................2.. 2......................... 2.............................................4........ 2......6...4............................................2 ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ..3 PENYEBAB KEMATIAN MATERNAL .................. BAB III 3...................................................................... DESAIN/JENIS PENELITIAN ...... 3.....5 4......................... 2..............3 PAKET MANFAAT DAN TATA LAKSANA PELAKSANAAN JAMPERSAL ...............................................................................2 BAB IV 4............................... 2........3 DATA SEKUNDER ......................... RESPONDEN PENELITIAN ........ KERANGKA TEORI ......................2 TUJUAN KHUSUS ....................................................................1 ANALISIS KEBIJAKAN KESEHATAN ............. 4.6...........4 PENDANAAN JAMPERSAL ...................1 TAHAPAN PEMILIHAN LOKASI PENELITIAN ........8 4......................................................... 4.4.......................3...................................................2 TINGKAT KEMATIAN MATERNAL ........................................1 4..... 4............ 3..................................2 PENGUMPULAN DATA KUANTITATIF ...... TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN .......................................................7 4..........................................................1 TUJUAN DAN MANFAAT..........1 PENGUMPULAN DATA KUALITATIF ...............3...........................

.....2....7 KOTA AMBON .4 PERSYARATAN KLAIM . 5......................... 5....................... 5....2 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI KABUPATEN/KOTA LOKASI PENELITIAN .....................7 PENDANAAN ...................... 5......1...4......2 KARAKTERISTIK PENGGUNA JAMPERSAL ..10 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA .........................2 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI TINGKAT PUSAT DAN DAERAH ....2........9. BERSALIN DAN NIFAS ......2...........11 PERTIMBANGAN IJIN PENELITIAN ............2.......................................1.............................................................. 4.....3 KEPESERTAAN .1 KEBIJAKAN JAMPERSAL DI PUSAT .........1............................................. 5...................1.. 5...2............2 PAKET PELAYANAN ..... 5....6 KABUPATEN BOGOR .......................................................1..... 5.1..........................................2.........2..... 5....2.........2........ 5.. 5................2..................2.................. 5.........2......................2................. 5.........1 KARAKTERISTIK RESPONDEN IBU HAMIL.....2........................................................2...1 SASARAN .2..............4 KABUPATEN LOMBOK TENGAH ...................2.8 PROSES PENGAJUAN KLAIM ...........2......... 5.2 KOTA BLITAR .............................................1 SEKILAS TENTANG LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN ...............5 KOTA BANDUNG ......................3 KOTA MATARAM ........ xxix 33 36 39 43 43 44 44 45 45 46 47 47 49 49 50 52 53 54 55 56 57 .......................5 PEMBERI LAYANAN .........1..............................................2......... 4............... 5...1.6 BESARAN TARIF PELAYANAN .3 TAHAPAN PENGUMPULAN DATA DI LAPANGAN……………........ 5....1............................1 KABUPATEN SAMPANG .... 5.9...............................................2....2 TAHAPAN PELAKSANAAN PERSIAPAN DI LAPANGAN......12 JADWAL KEGIATAN ........................................................... 5.............................................2... 5.............................1......2............ 4............ 29 29 30 30 31 33 5.............. 4.. 5... BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ..2.2......

............................2.....1 SOSIALISASI JAMPERSAL DI PUSKESMAS DAN RUMAH SAKIT 71 5............2 PEMBERI LAYANAN DI FASILITAS KESEHATAN DASAR..........2........................9 KOTA KENDARI ...........2....3 SYARAT KLAIM..12 KABUPATEN PASSER ..............2.......... 5.......3 SYARAT PEMANFAATAN DAN MEKANISME KLAIM 5............4...13 KOTA BATAM ............ AKSES (ACCESIBILITY) TERHADAP SARANA DAN PRASARANA SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN ........2........4.... 5......................2... 5...........11 KOTA BALIKPAPAN ................2...10 KABUPATEN WAKATOBI ...............4.............................. 74 76 80 81 85 87 89 89 90 91 5...3........1 DUKUNGAN MANAJEMEN... 5.. 5........4.4...................... 5....2 KEPESERTAAN/SASARAN ..........5.....................4.......4 BESARAN TARIF PELAYANAN .....8 KABUPATEN KEPULAUAN ARU .........2 KEPESERTAAN ..........4...2............2....2................... 5........... 5....................4..................................3. 58 60 60 62 63 63 65 67 67 70 5...........2.....................14 KABUPATEN NATUNA ..............4...4 BESARAN TARIF PELAYANAN DAN JASA PELAYANAN 92 5.......... 95 xxx .........2........ SOSIALISASI DAN KEBIJAKAN LOKAL YANG MENDUKUNG JAMPERSAL .......5 JASA PELAYANAN ............................................3 AKSEPTABILITAS KABUPATEN/KOTA TERHADAP PROGRAM JAMPERSAL ...2........2....................... 5....2....3........4 AKSEPTABILITAS PROVIDER DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN ........................ 5.........................................2............4... 5...1 PAKET PELAYANAN ....... 5....2.2............1 PAKET LAYANAN.2............5 KETERSEDIAAN (AVAILABILITY)....3.....4............. 5.........3........ 5.......... 5.................................................... 5............4.3 PEMBERI LAYANAN DI FASILITAS KESEHATAN RUJUKAN 5......

LINTAS SEKTOR..6.....................................................5.................................................... SARAN/REKOMENDASI ..................................................2 AKSESIBILITAS JARAK .... LSM DAN ORGANISASI LAINNYA DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN JAMINAN PERSALINAN ... TOGA....................5.................................. KESIMPULAN ..8..7 AKSEPTABILITAS SASARAN DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMPERSAL ............................. xxxi 95 101 118 118 127 132 136 137 159 179 200 208 211 211 216 216 217 219 221 ........................ 5............... BAB VI 6...............3 ANTARA BUDAYA...... 5... 5..................9 AKSEPTABILITAS TOMA............1 JANGKA PANJANG ........................................8.................................................................. 6...1 SARANA DAN PRASARANA PELAYANAN DASAR DAN RUJUKAN ..............................1 6.....1 UTILITAS DAN PELAYANAN DASAR . 6........ 5......................2 BAYANG-BAYANG JAMPERSAL DI LAMANGGAU .6..................................................8 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN .. 5.......................................................................................... 5..2 KESIMPULAN DAN SARAN ............................6 UTILITAS PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR OLEH PROVINSI YANG DISEDIAKAN OLEH PROGRAM JAMINAN PERSALINAN ...........................8...........................................2...................... TABU DAN UPAYA PENYELAMATAN IBU DI KOTA BLITAR .... 5................................2 UTILITAS DAN PELAYANAN RUJUKAN .... DAFTAR KEPUSTAKAAN ....................................... 5.......................................1 HARAPAN MASYARAKAT .......5.........1 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM UPAYA MENDUKUNG PROGRAM KIA MELALUI PNPM GSC DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH .1 JANGKA PENDEK ... 5....9...........................................................................2........................................ 5......... UCAPAN TERIMA KASIH ................ 5......

xxxii .

1 Gambar 5.2 Gambar 4.4 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Umur pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 40 Gambar 5.8 Gambar 5.10 Gambar 5.DAFTAR GAMBAR Gambar Gambar 4.13 Ruang rawat Inap pasien Jampersal di Rumah Sakit Jarak ke pelayanan Kesehatan pada pengguna Jampersal di kabupaten/Kota “Daratan” xxxiii 42 71 71 75 83 99-100 di 101 102 .9 Gambar 5.5 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Pendidikan pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi 41 Jampersal Tahun 2012 Gambar 5.4 Gambar 5.2 Kerangka teori penelitian Kerangka pikir penelitian Nama Halaman 19 20 28 29 35 37 Kerangka operasional penelitian Tahap Pelaksanaan Persiapan Penelitian di Lapangan Peta Wilayah Indonesia Karakteristik Responden berdasarkan Umur pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Gambar 5.3 Gambar 4.3 Karakteristik Responden berdasarkan Pendidikan pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 39 Gambar 5.7 Gambar 5. tempat cuci kamar Operasi di Ruang kandungan dan kebidanan di RSUD Ambon Gambar 5.11 Diskusi Kelompok pada Bidan.12 Gambar 5.6 Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Jumlah Anak pada Sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Gambar 5.1 Gambar 4. Bagan Sosialisasi Jampersal di Kabupaten/Kota Persepsi Bidan Puskesmas terhadap Jaminan Persalinan Mekanisme pembeyaran klaim Jampersal Pelayanan Dasar Ruang ICU.

27 Kematian Neonatal di Kabupaten/Kota Tahun 2010 .23 Cakupan Persalinan Tenaga Kesehatan di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Tahun 2010 – Juni 2012 Gambar 5. Wakatobi Cakupan Persalinan oleh tenaga kesehatan di Kabupaten/Kota “Non Kepulauan” tahun 2010-Juni 2012 Gambar 5.18 Gambar 5.22 Peta Wilayah Provinsi Kepulauan Riau Posisi Kabupaten Kepulauan Aru di peta Indonesia Peta Wilayah Kabupaten Kepulauan Aru Puskesmas Benjina.24 Tenaga Pemeriksa Kehamilan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011 April 2012 Gambar 5.21 Gambar 5.26 Kematian Maternal di Kabupaten/Kota Tahun 2010 . Kab.29 Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam tanpa Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 129 128 127 126 xxxiv .16 Gambar 5. Kepulauan Aru Peta Kabupaten Kepulauan Wakatobi Kapal cepat yang melayani rute Wanci-Tomia Puskesmas Onemobaa.14 Jarak ke pelayanan kesehatan pada pengguna Jampersal 102 di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Gambar 5.17 Gambar 5. Kab.Juni 2012 Gambar 5.19 Gambar 5.Gambar 5.20 Gambar 5.28 Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam dengan Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Gambar 5.25 Tenaga Penolong Persalinan Pada Responden Non 125 124 120 103 106 108 109 113 116 118 119 Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Gambar 5.15 Gambar 5.Juni 2012 Gambar 5.

43 Gambar 5.49 Gambar 5.39 Kunjungan K1 dan K4 serta Linakes Desa Lekor.37 Persentase capaian indicator keberhasilan PNPM GSC Kab.46 Gambar 5.40 Gambar 5. Lombok Tengah 139 Gambar 5.34 Gambar 5.Gambar 5.d Okt 2012 145 Gambar 5.32 Kematian Neonatal di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010.31 Kematian Maternal >24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 131 Gambar 5. K4 dan Linakes Puskesmas Janapria Thn 2010-2012 143 Gambar 5.35 Kepemilikan Jaminan lain pada sasaran pengguna Jampersal Alasan tidak menggunakan Jampersal pada sasaran Kepemilikan Jampersal Jaminan pada sasaran Non pengguna 132 134 135 Gambar 5.48 Gambar 5.45 Gambar 5.30 Kematian Maternal < 24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 130 Gambar 5.44 Gambar 5.47 Gambar 5.36 Pembiayaan Tambahan pada sasaran pengguna Jampersal pada Kabupaten/ Kota Daerah Penelitian 135 Gambar 5. K4.Juni 1012 131 Gambar 5. Th 2010 s.33 Gambar 5.50 Kunjungan K1.38 Kunjungan K1. Linakes Desa Langko Thn 2010-2012 PMT yang diberikan ketika posyandu di Desa Langko Peta Kabupaten Wakatobi Peta Desa Lamanggau Jalan Menuju Puskesmas Onemobaa Pintu Gerbang Dive Wakatobi Resort Gedung Puskesmas Onemobaa Tempat pemeriksaan yang berkarat Rumah tenaga kesehatan xxxv 149 152 160 161 163 163 165 165 165 .41 Poskesdes Desa Lekor yang dibangun oleh PNPM GSC Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil yang difasilitasi oleh PNPM GSC 146 148 Gambar 5.42 Gambar 5.

56 Rumah Mbook Medaming “rumah bersalin Bajo” Kamar untuk bersalin Kamar untuk bersalin (tampak luar) Lantai bersalin Ibu nifas Diskusi kelompok masyarakat (TOMA. kader.55 Gambar 5.52 Gambar 5.54 Gambar 5.Gambar 5. dll) 175 175 175 175 176 201 xxxvi .51 Gambar 5. TOGA.53 Gambar 5.

3 “Continum of Care” pada Responden Sasaran Ibu Nifas Pengguna Jampersal per Kabupaten (N = 573). 27 31 47 95 Tabel 5. 122 persalinan) dan PN di Kabupaten/Kota di Lokasi Penelitian Tahun 2012 Tabel 5. K4.3 Tabel 5.5 Tempat Persalinan Responden Pengguna Jampersal di Lokasi penelitian Periode Oktober 2011-April 2012. Kabupaten dan Kota berdasarkan kriteria cakupan LINAKES Halaman 21 Tabel 4.4 “Continum of Care” Pelayanan Jampersal (K1.DAFTAR TABEL Tabel Tabel 4.6 Jumlah Kasus Sectio Caesaria yang ditangani di Rumah sakit di Kabupaten/Kota Tahun 2010 – Juni 2012 129 123 xxxvii .2 Tabel 4. Tabel 5.1 Tabel 5. 121 Tabel 5.1 Nama Pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi.2 Definisi Operasional Gant Chart Jadual Kegiatan Penelitian Tarif Pelayanan Jaminan Persalinan Tahun 2012 Sarana dan Sumber Daya Manusia yang Memberikan Pelayanan Jampersal.

xxxviii .

Menurut data Kemenkes. pengetahuan. pendidian masyarakat. kecukupan fasilitas kesehatan. Dengan program jampersal. Salah satu faktor yang penting dalam intervensi adalah perlu meningkatkan akses masyarakat terhadap persalinan yang sehat dengan memberikan kemudahan pembiayaan kepada ibu hamil.I. jumlah itu masih sangat tinggi.R. 2011). Program Jampersal adalah respons pemerintah melalui Kementerian Kesehatan untuk mengembangkan program/kegiatan yang bersifat quick wins dalam upaya menurunkan kematian maternal. diharapkan berharap bisa menekan angka kematian ibu hingga 118 per 100 ribu penduduk yang merupakan target RPJM 2014 dan 102 per 100 ribu penduduk sesuai target MDG’s tahun 2015. Hal ini dikarenakan masih banyaknya ibu yang tidak mampu membiayai persalinannya sehingga tidak dilayani oleh tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang baik. LATAR BELAKANG Dalam rangka mempercepat pencapaian tujuan pembangunan kesehatan nasional serta Millenium Development Goal (MDG’s ). Hasil studi District Health Account 1 intervensi khusus . lingkungan. pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan meluncurkan kebijakan Jaminan Persalinan (Jampersal).BAB I PENDAHULUAN 1. (Kemenkes. Untuk mencapai AKI dan AKB sesuai target MDG’s dihadapi berbagai masalah yang multi komples seperti masalah budaya. 2007). sumberdaya manusia dll. sehingga diperlukan (SDKI. Kebijakan Jaminan Persalinan dicanangkan tahun 2011 berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/Menkes/Per /III/2011 dan diperbaharui dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 yang mulai berlaku per 1 Januari tahun 2012.. 90 persen kematian ibu disebabkan karena persalinan. Saat ini Kemenkes mencatat angka kematian ibu masih di atas 228 orang per 100 ribu penduduk.1.

termasuk di dalamnya anggaran untuk program kesehatan ibu dan anak. persalinan hingga masa nifas termasuk bayi. 2011). salah satu faktor penting untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap persalinan sehat adalah dengan memberikan kemudahan pembiayaan untuk ibu hamil. dengan memanfaatkan pelayanan di seluruh jaringan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjutan (RS) di kelas III yang sudah memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kabupaten/Kota. (Kemenkes R.. ibu bersalin.I. Dengan ketentuan proses persalinan dilakukan di rumah sakit kelas III atau Puskesmas (Kemenkes. saat persalinan. angka kematian ibu (AKI) dan juga angka kematian bayi (AKB) akan menurun seiring dengan meningkatnya cakupan keluarga berencana sehingga bisa mencapai target MDGs pada tahun 2015 (Kemenkes. 2011). sehingga diharapkan dengan diluncurkannya Jampersal.di 80 kabupaten/kota (Gani. pemeriksaan kehamilan dengan risiko tinggi dan persalinan dengan penyulit serta komplikasi dilakukan secara berjenjang di Puskesmas dan rumah sakit berdasarkan rujukan. 2012) menunjukkan rendahnya komitmen pemerintah daerah untuk menyediakan anggaran kesehatan dalam jumlah yang memadai. tidak tergantung status sosial ekonomi yang bersangkutan. Program Jampersal terintegrasi dengan pelayanan KB. Dana yang dikeluarkan untuk program ini diperkirakan mencapai 2. 2 . Paket pelayanan jaminan Persalinan yang ditanggung oleh pemerintah adalah Antenatal care (ANC). bagi siapa saja.I. Selain itu.R. 2011). dan empat kali kontrol setelah persalinan sedangkan mekanisme pemberian jaminan persalinan ini diberikan seperti Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). ibu nifas (pasca melahirkan sampai 42 hari) dan bayi baru lahir (0-28 hari) yang belum memiliki jaminan persalinan. Program Jampersal adalah intervensi pembiayaan untuk menanggung seluruh biaya persalinan mulai dari masa kehamilan. yaitu pemeriksaan sebanyak 4 (empat) kali sebelum persalinan.I. Peserta program Jampersal adalah ibu hamil.R. Oleh karena itu.3 triliun rupiah.

Program Jampersal itu berbeda dengan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Laksono Trisnantoro telah melakukan penelitian Jampersal di DIY . serta pemberdayaan keluarga dam masyarakat dalam bidang kesehatan. memastikan memastikan bidan tinggal di desa. Persalinan yang sudah dibiayai Jamkesmas mencapai 1. Jampersal ini akan dilaksanakan secara bertahap mulai 2011. dari hasil penelitian menyatakan ada permasalah serius dalam kebijakan Jampersal. sedangkan Jamkesmas memberikan perlindungan kesehatan bagi warga miskin. Tahun 2011. meningkatkan cakupan peserta KB terutama dengan metode kontrasepsi jangka panjang. Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan evaluasi program Jampersal dalam upaya mencapai target MDGS dengan meningkatkan cakupan K1. meningkatkan persalinan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Walaupun tahun 2012 terdapat beberapa penelitian Jampersal . Diharapkan program jampersal ini bisa meningkatkan kualitas kelahiran pendudukan tanpa meningkatkan jumlah penduduk. meningkatkan cakupan peserta KB terutama dengan metode kontrasepsi jangka panjang.6 juta ibu hamil. serta pemberdayaan keluarga dam masyarakat dalam bidang kesehatan. 3 .Papua dan NTT dengan masing-masing di 1-2 kabupaten. meningkatkan persalinan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. dengan prioritas dalam perkiraan ibu bersalin dalam 1 tahun adalah 4. Dan tahun 2012 petunjuk teknis 2011 telah disempurnakan berdasarkan masukan sebelumnya . tapi masih terbatas dalam wilayan penelitiannya sehingga diperlukan penelitian yang lebih lanjut untuk mendapat informasi yang lebih luas. K4. Target MDGs dalam meningkatakan kesehatan ibu akan tercapai apabila 50% kematian ibu dapat dicegah dan hal tersebut dapat dicapai antara lain dengan meningkatkan cakupan K1.7 juta ibu hamil pertahun. Program ini tidak hanya pada ibu hamil yang miskin.

Bagaimana upaya pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi oleh provider dalam Implementasi Jaminan Persalinan ? 4. Lintas sektor. nifas. Bagaimana penerimaan provider dalam pelayanan Kesehatan Ibu dan bayi terhadap program Jaminan Persalinan ? 3. pertolongan persalinan. 4 . upaya yang dilakukan provider pelayanan kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat yang di fokuskan Dalam upaya meningkatkan cakupan pemeriksaan kehamilan. dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan 5. Bagaimana penerimaan kelompok masyarakat (Toma.2. akseptabilitas provider dan masyarakat.1. ketersediaan sarana dan prasarana dan sumberdaya manusia. dan pelayanan nifas dan pelayanan KB paska persalinan dalam rangka mendukung program Jampersal sehingga dapat menurunkan AKI dan AKB.3. Bagaimana penerimaan masyarakat dalam pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi terhadap Implementasi Jaminan Persalinan ? 6. Bagaimana kebijakan daerah (Kab/Kota) implementasi Jaminan Persalinan? 2.bersalin. Toga. Fokus bidang penelitian Fokus bidang penelitian adalah Kebijakan di tingkat pusat dan daerah dalam pembiayaan. Pertanyaan penelitian 1. LSM dan organisasi stakeholder lainnya) dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan? dan kendala dalam 1. Bagaimna utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil.

2.6 Bidan Praktik Mandiri adalah praktik bidan swasta perorangan.2 Perjanjian Kerjasama (PKS) adalah dokumen perjanjian yang ditandatangani bersama antara Dinas Kesehatan selaku Tim Pengelola Kabupaten/Kota dengan penanggung jawab institusi fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta yang mengatur hak dan kewajiban para pihak dalam jaminan persalinan.1 Definisi ( Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan 2012) 2. Kebijakan Jaminan Persalinan (Juknis Jampersal 2012) Jaminan Persalinan merupakan perluasan kepesertaan dari Jamkesmas dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja. dan Swasta.1. 2.3 Fasilitas Kesehatan adalah institusi pelayanan kesehatan sebagai tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan.2. 5 .1.1. 2. baik promotif. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. 2. pertolongan persalinan.4 Puskesmas Pelayanan Obsterik Neonatal Emergensi Dasar (PONED) adalah Puskesmas yang mempunyai kemampuan dalam memberikan pelayanan obstetri (kebidanan) dan bayi baru lahir emergensi dasar. preventif. Manfaat yang diterima oleh penerima manfaat Jaminan Persalinan terbatas pada pelayanan kehamilan. persalinan.5 Rumah Sakit Pelayanan Obsterik Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) adalah Rumah Sakit yang mempunyai kemampuan dalam memberikan pelayanan obstetri (kebidanan) dan bayi baru lahir emergensi komprehensif.1. kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah. TNI/POLRI. 2.1. 2. pelayanan nifas termasuk pelayanan KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. nifas.1 Jaminan Persalinan adalah jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan.1.

Ibu bersalin 3.2. batas waktu sampai dengan 28 hari pada bayi dan sampai dengan 42 hari pada 6 . b.1. Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan. dan bayi baru lahir. Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien. dan akuntabel. nifas. c. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kompeten.2.2. Ibu hamil 2. transparan. pertolongan persalinan. 2. Tujuan Umum Meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan. 3) Penanganan komplikasi ibu hamil. KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten. nifas. persalinan. Bayi baru lahir (sampai dengan usia 28 hari) Sasaran yang dimaksud diatas adalah kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi untuk mencegah AKI dan AKB dari suatu proses persalinan. Sasaran Jampersal Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah : 1. Meningkatnya cakupan pelayanan : 1) Bayi baru lahir. efektif. Tujuan Khusus a. bersalin. Agar pemahaman menjadi lebih jelas. Ibu nifas ( sampai 42 hari pasca melahirkan) 4. Tujuan Jampersal 1. 2) Keluarga Berencana pasca persalinan.2. 2.

dimana selama hamil. bersalin. nifas dan bayi baru lahir menjadi tanggung jawab Pemda/Dinas Kesehatan Kab/ Kota. dan KB pasca salin serta komplikasi yang mencakup seluruh sasaran ibu hamil. persalinan dan nifas. Pemeriksaan kehamilan (ANC) yang dibiayai oleh program ini mengacu pada buku Pedoman KIA. Pada Jaminan Persalinan dijamin penatalaksanaan komplikasi kehamilan antara lain : a) Penatalaksanaan abortus imminen. pre eklamsi dan eklamsi 7 . 1 kali pada triwulan kedua c. Paket Manfaat dan Tata Laksana Pelayanan Jaminan Persalinan Manfaat yang diterima oleh penerima Jaminan Persalinan sebagaimana diuraikan dibawah ini.ibu nifas adalah batas waktu pelayanan PNC dan tidak dimaksudkan sebagai batas waktu pemberian pelayanan yang tidak terkait langsung dengan proses persalinan dan atau pencegahan kematian ibu dan bayi karena suatu proses persalinan. sedangkan pada peserta Jamkesmas dijamin berbagai kelainan dan penyakit. 2. abortus inkompletus dan missed abortion b) Penatalaksanaan mola hidatidosa c) Penatalaksanaan hiperemesis gravidarum d) Penanganan Kehamilan Ektopik Terganggu e) Hipertensi dalam kehamilan. Penyediaan obatobatan. reagensia dan bahan habis pakai yang diperuntukkan bagi pelayanan kehamilan.3.2. ibu hamil diperiksa sebanyak 4 kali disertai konseling KB dengan frekuensi: a. 1 kali pada triwulan pertama b. Manfaat pelayanan jaminan persalinan meliputi: 1. 2. 2 kali pada triwulan ketiga Pemeriksaan kehamilan yang jumlahnya melebihi frekuensi diatas pada tiap-tiap triwulan tidak dibiayai oleh program ini.

Kunjungan kedua untuk KN2 (hari ke-3 s/d hari ke-7) 3. Kunjungan keempat untuk Kf3 (hari ke-29 s/d hari ke-42) Pelayanan nifas dijamin sebanyak empat kali. Jenis Pelayanan Keluarga Berencana pasca salin antara lain : a) Kontrasepsi mantap (Kontap) b) IUD. dan Kohort ibu. terkecuali pelayanan Nifas dengan komplikasi yang dirujuk ke Rumah sakit. Pelayanan nifas (Post Natal Care) Pelayanan ibu nifas dan bayi baru lahir dilaksanakan empat kali.f) Perdarahan pada masa kehamilan g) Decompensatio cordis pada kehamilan h) Pertumbuhan janin terhambat (PJT): tinggi fundus tidak sesuai usia kehamilan i) Penyakit lain sebagai komplikasi kehamilan yang mengancam nyawa. Keluarga Berencana (KB) adalah pelayanan KB pasca persalinan dilakukan hingga 42 hari pasca persalinan. masing-masing satu kali pada : 1. maka pelayanan nifas dilakukan sesuai pedoman pelayanan Nifas dengan komplikasi tersebut. Kunjungan pertama untuk Kf1 dan KN1 (6 jam s/d hari ke-2) 2. 3. Kartu Ibu. Implant. dan 8 . Kunjungan ketiga untuk Kf2 dan KN3 (hari ke-8 s/d hari ke-28) 4. Lama hari inap minimal di fasilitas kesehatan : 1) Persalinan normal dirawat inap minimal 1 (satu) hari 2) Persalinan per vaginam dengan tindakan dirawat inap minimal 2 (dua) hari 3) Persalinan dengan penyulit post sectio-caesaria dirawat inap minimal 3 (tiga) hari Pencatatan pelayanan pada ibu dan bayi baru lahir tercatat pada: Registrasi ibu hamil dan Pencatatan di Buku KIA.

3. tetapi tidak secara kebetulan atau oleh penyebab tambahan lainnya. 2.c) Suntik. 2.2. KEMATIAN MATERNAL 2. Dana belanja bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada angka 1 (satu) adalah dana yang diperuntukkan untuk pelayanan kesehatan dan rujukan pelayanan dasar peserta Jamkesmas. percepatan pencapaian MDG’s 2015 serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan termasuk persalinan oleh tenaga kesehatan difasilitas kesehatan. pelayanan persalinan serta rujukan risti persalinan peserta Jamkesmas dan masyarakat sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan sebagai penerima manfaat jaminan. melahirkan atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya masa kehamilan.1. Hal ini disebabkan 9 .000 kelahiran hidup.2.4. (Winkjosastro (Ed). Sesungguhnya kematian ini lebih tepat disebut Maternal Mortality Rasio. Pendanaan Jamkesmas dan Jampersal di pelayanan dasar dan pelayanan rujukan merupakan belanja bantuan sosial (bansos) bersumber APBN yang dimaksudkan untuk mendorong pencapaian program. Pendanaan Jaminan Persalinan 1. tidak tergantung dari lama dan lokasi kehamilan. disebabkan oleh apapun yang berhubungan dengan kehamilan atau penanganannya. 2002) 2. tingkat kematian maternal didefenisikan sebagai jumlah kematian maternal selama satu tahun dalam 100. 2002).3. (Winkjosastro (Ed). Defenisi Kematian maternal adalah kematian wanita sewaktu hamil. Tingkat Kematian Maternal Berdasarkan kesepakatan Internasional.3. 2. Data kematian maternal di Indonesia pada saat ini belum ada yang tepat. sebab denominator untuk Maternal Mortality Rate seharusnya population at risk untuk kehamilan dan persalinan yaitu jumlah wanita usia reproduksi (15-44 tahun).

(Winkjosastro (Ed).oleh belum adanya sistem pendaftaran wajib untuk kelahiran kematian.3. menerima pula penderita-penderita yang dikirim dari daerah sekitarnya karena kesukaran dalam persalinan.4. Perdarahan antepartum digolongkan sebagai berikut : 1. dibeberapa daerah. preeklampsia dan eklampsia serta infeksi. • Perdarahan Antepartum adalah perdarahan pervaginam pada kehamilan diatas 28 minggu atau lebih. maka sering disebut atau digolongkan perdarahan pada trimester ketiga. A. Penyebab Langsung Terjadi pada kehamilan yang dikehendaki atau tidak. menurut perkiraan kasar angka kematian maternal adalah 6-8 per 100 kelahiran hidup. Perdarahan yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan a) Pecahnya varices vagina b) Perdarahan polip serviks 10 . Perdarahan yang ada hubungannya dengan kehamilan a) Plasenta previa b) Solusi plasenta c) Perdarahan pada plasenta letak rendah d) Pecahnya sinus marginalis dan vasa previa 2. terdapat komplikasi kehamilan dan persalinan seperti perdarahan. Perdarahan Perdarahan dapat dibedakan dalam dua kelompok yaitu perdarahan antepartum dan perdarahan postpartum. Penyebab Kematian Maternal Secara garis besar penyebab kematian ibu dapat dikategorikan dalam penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. 2002) 2. selain menerima wanita untuk persalinan yang telah mendaftarkan diri terlebih dahulu.

.Plasenta manual dengan segera dilakukan. hamil kembar Retensio Plasenta adalah terlambatnya kelahiran plasenta selama setengah jam setelah persalinan bayi. Perdarahan postpartum merupakan penyebab penting kematian maternal khususnya di negara berkembang. Kejadian retensio plasenta berkaitan dengan : . b) Faktor predisposisi : Anemia.c) Perdarahan perlukan seviks d) Perdarahan karena keganasan serviks • Perdarahan Postpartum adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam setelah persalinan berlangsung. sisa plasenta. penyebab utama adalah robekan jalan lahir dan sisa plasenta atau membran.Retensio plasenta tanpa perdarahan. Atonia uteri adalah tidak adanya kontraksi uterus setelah proses persalinan. terbanyak dalam dua jam pertama.Mengganggu kontraksi otot rahim dan menimbulkan perdarahan. dan robekan jalan lahir.Grandemultipara 11 . penyebab utama adalah atoni uteri. plasenta akreta. Distensi rahim berlebihan : hidramnion. Grandemultipara. 2. Jarak hamil kurang dari 2 tahun. Penyebab dari atonia uteri adalah : a) Tindakan persalinan 2) Partus lama/persalinan terlantar. retensio plasenta. Perdarahan postpartum sekunder: terjadi setelah 24 jam pertama. plasenta inkreta dan perkreta. perdarahan postpartum dibagi menjadi perdarahan postpartum primer dan sekunder 1.Grandemultipara dengan implantasi plasenta dalam bentuk plasenta adhesiva. . 3) Trauma persalinan. Perdarahan postpartum primer: Terjadi dalam 24 jam pertama. Faktor-faktor yang menyebabkan perdarahan postpartum adalah : . . robekan vagina.

tujuan dan cara yang membentuk kerangka kegiatan. .. perdarahan yang masih berhubungan dengan kehamilan adalah perdarahan yang disebabkan oleh kehamilam ektopik terganggu (KET) dan juga keguguran atau abortus. perusahaan multi-nasional atau local. keguguran dengan infeksi. Keguguran atau abortus dapat dibagi menjadi : a) Berdasarkan Kejadiannya 1. (Manuaba. B. status gizi. kemiskinan. Keguguran buatan ilegal c) Berdasarkan Gambaran Klinisnya : Keguguran lengkap. Kehamilan ektopik terganggu (KET) : Kehamilan ektopik terganggu adalah kehamilan yang berimplantasi di luar endometrium normal dan sudah menimbulkan gangguan. Keguguran buatan atas indikasi medis.Persalinan yang dilakukan dengan tindakan. indikasi sosial b) Berdasarkan Pelaksanaannya 1.4. keguguran tidak lengkap. keguguran mengancam. Penyusun kebijakan merupakan mereka yang menyusun kebijakan dalam organisasi seperti pemerintah pusat atau daerah. Kejadian abortus sulit diketahui. Keguguran spontan 2. keguguran tak terhalangi. 2001) 2. Keguguran spontan diperkirakan sebesar 10% -15%. missed abortion. Kebijakan Publik (Public Policy) merujuk pada kebijakan-kebijakan yang 12 . anemia. Keguguran buatan terapeutik 2.Jarak persalinan pendek kurang dari 2 tahun. lembaga pendidikan atau rumah sakit. keguguran habitualis. Selain perdarahan antepartum dan postpartum. TEORI KEBIJAKAN PUBLIK Kebijakan adalah pernyataan yang luas tentang maksud. keterlambatan memberi pertolongan yang adekuat. Penyebab Tidak Langsung Jangkauan daerah Indonesia yang terlalu luas. karena sebagian besar tidak dilaporkan dan banyak dilakukan atas permintaan.

Organisasi.dibuat oleh negara atau pemerintah sedangkan kebijakan Kesehatan (health policy) mencakup tindakan yang mempengaruhi Institusi . serangkaian tahapan dalam proses penyusunan kebijakan. Selanjutnya. baik nasional maupun internasional yang dapat mempengaruhi kebijakan Kesehatan 2. 2. sebagai berikut: 13 . pelayanan. Dalam ilmu kesehatan masyarakat. dinegosiasikan. dikembangkan atau disusun. dilaksanakan. dan di evaluasi Dari ketiga faktor tersebut yang berperan penting dalam proses kebijakan Kesehatan adalah aktor (pelaku) yang merujuk kepada Individu. dikomunikasikan. Analisis Kebijakan Kesehatan Menurut Dunn (2009) mendefinisikan analisis kebijakan adalah suatu bentuk analisis yang menghasilkan dan menyajikan informasi sedemikian rupa sehingga dapat memberikan landasan dari para pembuat kebijakan dalam membuat keputusan. Andersen (1975) mendefinisikan kebijakan publik sebagai kegiatan yang mempunyai maksud/tujuan tertentu yang dilaksanakan oleh seorang/kelompok yang berperan dengan permasalahan atau suatu yang diperhatikan. ekonomi. Konteks merupakan faktor-faktor sistematis-politik. Konten (isi) merupakan substansi dari suatu kebijakan yang memperinci bagian-bagian dalam kebijakan 3. Proses mengacu kepada cara bagaimana kebijakan dimulai. dan upaya pendanaan sistem Kesehatan (Buse et al. sosial atau budaya. yaitu: 1. 2012). ada tiga faktor penting yang mempengaruhi dimensi kebijakan Kesehatan yang lebih dikenal dengan segitiga analisis kebijakan (policy analysis triangle) yang dikemukakan oleh Buse et al (2005.. 2005). atau bahkan Negara beserta tindakan mereka yang dapat mempengaruhi kebijakan Kesehatan.1.4. organisasi.

. Pelaksanaan kebijakan. sesuatu yang salah mungkin terjadi dan hasil kebijakan tidak seperti yang diharapkan. apakah tujuan tercapai dan apakah terjadi akibat yang tidak diharapkan. 2005). temukan apa yang terjadi saat kebijakan dilaksanakan. atau dirubah selama dalam pelaksanaan. 2007) cit Walt et al (2008). bagaimana kebijakan dihasilkan. 4. sebab bila kebijakan tidak dilaksanakan. Tahapan ini merupakan saat dimana kebijakan dapat diubah atau dibatalkan serta kebijakan yang baru ditetapkan (Buse et al. 14 . Kerangka analisis segitiga kebijakan banyak di adopsi dalam penelitian kebijakan Kesehatan di berbagai Negara dan telah digunakan untuk menganalisis sejumlah besar isu kesehatan termasuk Kesehatan mental. tahapan ini merupakan bagian penting dalam penyusuna kebijakan. Analisis yang satu ini lebih melihat kebelakang dan merenungkan kembali mengapa dan bagaimana kebijakan menemukan bentuknya sehingga agenda dan muatannya bisa mencapai tujuan tertentu (evaluasi sumatif). bagaimana pengawasannya. Analisis tipe ini memberikan informasi rinci tentang formulasi kebijakan (evaluasi formatif) atau mengantisipasi bagaimana kebijakan akan berjalan bila diterapkan. TB. Sedangkan analisis kebijakan retrospektif (analysis of policy) berhubungan dengan masa lampau dan deskriptif. Kesehatan reproduksi dan pelayanan antenatal care serta pengendalian penyakit sifilis (Gilson & Raphaely. Evaluasi kebijakan. menemukan siapa saja yang terlibat dalam perumusan kebijakan. Ada dua jenis analisis kebijakan menurut Buse et al (2005). reformasi sektor Kesehatan. dan dikomunikasikan 3. disetujui. menemukan bagaimana isu-isu yang ada dapat masuk kedalam agenda kebijakan. dan mengapa isu-isu yang lain justru tidak pernah dibicarakan 2.1. Perumusan kebijakan. Identifikasi masalah/isu. yaitu: analisis kebijakan prospektif (analysis for policy) diharapkan terjadi di masa yang akan datang.

2. Dengan ketentuan tersebut tujuannya dapat terwujudkan. sumber daya material (material resources). Teori Kebijakan 2. b. yaitu: 1) Bagaimana kebijakan Kesehatan maternal di buat (proses) dengan melalui 3 tahap. 2) Untuk siapa kebijakan Kesehatan maternal di buat (siapa aktornya). 2. Empat Faktor inter-relasi elemen pembuatan kebijakan kesehatan (Walt & Gilson. Standar dan sasaran kebijakan Setiap kebijakan publik harus mempunyai standard an suatu sasaran kebijakan yang jelas dan terukur (measurable). 15 . ada enam variabel yang mempengaruhi antara kinerja dan implementasi kebijakan. 3) Apa saja isu utama yang berimplikasi pada kebijakan Kesehatan maternal (konteks) dan 4) Apa output dari kebijakan Kesehatan maternal(isi). pengembangan dan implementasi kebijakan termasuk evaluasi kebijakan. Teori Meter & Horn (1975) Dalam implementasi kebijakan menurut Meter & Horn (1975). Greena et al (2011). dan sumber daya metoda (method resources).3. Analisis Implementasi Kebijakan Alexander (1985) mengemukakan bahwa salah satu metode untuk mengidentifikasi proses implementasi kebijakan Kesehatan dengan menggunakan teori kontigensi. yaitu: agenda setting.1. Dalam teori ini. Menurut Meter & Horn (1975) implementasi kebijakan meliputi tindakantindakan yang dilakukan melalui individu dalam kelompok baik publik maupun privat yang diarahkan pada pencapaian tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan.4. proses implementasi kebijakan diharapkan dapat memahami variasi dalam implementasi kebijakan dan dapat mengintegrasikan studi dan kasus serta mengidentifikasi masalah dalam penelitian.3.4. 1994) cit. yaitu: a. Sumber daya Meliputi SDM (human resources).2.4.

Karakteristik agen pelaksana Untuk mencapai keberhasilan maksimal harus diidentifikasi dan diketahui karakteristik agen pelaksananya. 2010) Menurut Weimer & Vining. c) intensitas disposisi implementor. Komunikasi antar organisasi Sebagai realitas dari program kebijakan perlu hubungan yang baik antar instansi terkait yaitu dukungan komunikasi dan koordinasi. karakteristik partisipan yakni mendukung dan menolak.3. 2. f. ekonomi. b) kondisi. Kondisi sosial. dan 3) Kemampuan pelaksana. e. ada 3 kelompok variabel yang dapat mempengaruhi keberhasilan implementasi program kebijakan. sejauhmana kelompok-kelompok kepentingan memberikan dukungan bagi implementsai kebijakan. dan politik Mencakup SD ekonomi lingkungan yang dapat mendukung keberhasilan implementasi kebijakan. 2) Sebuah kebijakan harus sesuai dengan tuntutan lingkungan. d. Kebijakan Sikap Atau disposisi implementor dibedakan menjadi 3 hal: a) tanggapan pelaksana terhadap kebijakan.4. Teori Weimer & Vining (1999.c.2. bagaimana sifat opini public yang ada di lingkungan dan apakah elit politik mendukung implementasi kebijakan tersebut. yaitu: 1) Logika suatu kebijakan. 16 .

akses (accessibility) terhadap sarana dan prasarana.BAB III TUJUAN DAN MANFAAT 3. nifas. nifas. nifas. LSM dan organisasi stakeholder lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jaminan Persalinan.bersalin. Toga. Tujuan Khusus 1. Menganalisis utilitas Pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. Menganalisis kebijakan Jaminan Persalinan di daerah 2. Menganalisis ketersediaan (availability). dan KB pasca persalinan) terhadap program Jaminan Persalinan 7.2. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan 4. Menganalisa pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan Ibu (hamil.bersalin.1.1. Tujuan umum Menganalisis Implementasi Jaminan Persalinan 3.bersalin. dan KB pasca persalinan) dan bayi baru lahir terhadap program Jaminan Persalinan 8. Menganalisa akseptabilitas Toma. nifas.1. dan KB pasca persalinan) dan Bayi baru lahir oleh provider terhadap program tingkat pusat dan (pemerintah dan swasta) yang disediakan oleh program Jaminan Persalinan 6.bersalin. 17 .1 Tujuan Penelitian 3. Menganalisis akseptabilitas kabupaten/kota Jaminan Persalinan 3. Menganalisis akseptabilitas provider (pemerintah dan swasta) dalam pelayanan Kesehatan Ibu (hamil. Lintas sektor. Menganalisis akseptabilitas sasaran dalam pelayanan kesehatan dan bayi baru Ibu(hamil. SDM terhadap program Jaminan Persalinan 5.

Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat : A.2. 18 . B. Bagi Masyarakat Sebagai masukkan dan menerima manfaat terhadap perbaikan program Jampersal sekaligus masyarakat sebagai kontrol dalam pelaksanaan program kesehatan.3. Bagi penentu kebijakan Sebagai bahan evaluasi kebijakan dan implementasi program Jampersal sehingga dapat dijadikan masukkan dalam menentukan/ perbaikan kebijakan program tersebut.

19 . yang terdiri dari variabel kepemimpinan. Ketepatan program dan Sasaran. Implementasi jampersal di bentuk 4 konstrak yaitu : 1.BAB IV METODOLOGI 4.1 Kerangka Teori Menurut Sandi Iljanto. ketersediaan fasyankes. ketersediaan sumberdaya kesehatan dan fungsi manajemen.1. kondisi geografis setempat dan peran keluarga. Faktor Kontekstual. 4. KERANGKA TEORI (Sandi Iljanto) Gambar 4. yang terdiri dari variabel antara lain turunan kebijakan. 2. 3. yang terdiri dari variabel status kesehatan Ibu dan Anak. Kapasitas Manajerial. Akseptabilitas Kebijakan. tren kesenjangan cakupan program KIA dan hasil pendataan sasaran program. yang terdiri dari variabel kemiskinan. sosialisasi dan fasilitasi peneyelenggaraan program/kegiatan.

INPUT KERANGKA PIKIR PROSES OUTPUT Kebijakan: Di Tk. Variabel Output dengan melihat cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak 20 . ibu bersalin. prasarana.Ibu hamil. Variabel Input yang mempengaruhi penelitian ini adalah 1) kebijakan di tingkat Pusat dan Daerah. mengacu juknis Jampersal (Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011) . pelayanan rujukan terencana & emergency sesuai indikasi medis untuk ibu janin/bayinya Implementasi Program Jampersal Upaya pelayanan & rujukan Pemberdayaan Masyarakat Gambar 4.2 Kerangka Pikir Dalam penelitian Jampersal terdapat variabel Input. Varibel proses terdiri dari : 1) implementasi program Jampersal . 2) Program di kabupaten/kota dengan tersedianya sarana. 3) Pemberdayaan Masyarakat adalah pemberdayaan masyarakat yang mendukung pelayanan KIA. nifas. ibu nifas dan bayi baru lahir dan 4) Kelompok Potensial Masyarakat. dll) Cakupan Pelayanan Ibu & Bayi : 1. -Ibu bersalin -Ibu nifas -bayi baru lahir Kelompok Potensial Masyarakat : -TOMA/TOGA/ -Kepala Desa -Kader Lintas sektor : (BKKBN) Organisai Masyarakat Organisasi Profesi : (IBI. 4. 2) Upaya pelayanan dan rujukan. Pusat dan Daerah : . pemeriksaan kehamilan pertolongan persalinan pelayanan nifas pelayanan bayi baru lahir 5. 3) Kelompok sasaran Jampersal yaitu Ibu hamil. 2. biaya dan jenis pelayanan . Proses dan Output. SDM.2. pelayanan KB pasca persalinan 6. 3. penanganan komplikasi ibu hamil bersalin. 7.Jampersal Program Kab/Kota : -Sarana/Prasarana -SDM -Biaya -Jenis Pelayanan Kelompok Sasaran . dan bayi baru lahir.4.

3. Penelitian dilakukan di tujuh Provinsi. tahun 2007). Selanjutnya dari provinsi terpilih tersebut dipilih satu) kabupaten dan satu kota berdasarkan cakupan LINAKESnya. Tabel 4.4.1. Jumlah provinsi yang dipilih untuk masing-masing kelompok sebanyak dua provinsi untuk kelompok LINAKES yang tinggi. Pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi. Dari kabupaten dan kota terpilih tersebut. Lokasi penelitian Provinsi dan kabupaten & kota terpilih berdasarkan kriteria cakupan LINAKES dapat dilihat pada tabel di bawah ini. sedangkan untuk kelompok LINAKES yang sedang dan rendah masing-masing dipilih dua provinsi. Kabupaten dan Kota berdasarkan kriteria cakupan LINAKES No Cakupan LINAKES Tinggi PROVINSI Jawa Timur 1 Kalimantan Timur NTB 2 Sedang Jawa Barat Maluku 3 Rendah Sulawesi Tenggara Bandung Ambon Bogor Kep. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN Penelitian dilakukan selama sepuluh bulan pada tahun 2012. Pemilihan provinsi didasarkan pada indikator cakupan pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan (LINAKES) dan jumlah kematian ibu dan anak tinggi (absolut). dipilih enam provinsi dengan cakupan LINAKES yang dibagi dalam tiga kelompok yaitu tinggi. Selanjutnya dari ke tujuh provinsi tersebut. sedang dan rendah yaitu Provinsi Jawa (Riskesdas.Aru KOTA Blitar Balikpapan Mataram KABUPATEN Sampang Paser Lombok Tengah Kendari Wakatobi 21 . sehingga jumlah provinsi terpilih semuanya ada tujuh provinsi. kemudian diambil dua kecamatan berdasarkan cakupan LINAKES yang tinggi dan rendah berdasarkan data/informasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota yang ada di provinsi terpilih.

4. daerah yang tidak menggunakan Jampersal. dan kader Posyandu. 22 . • Jenis Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian terapan untuk mengetahui implementasi kebijakan program Jampersal di 7 (tujuh) propinsi di Indonesia. 2.5. pengelolaan Jampersal (penyerapan anggaran). b) Kelompok PKK. dimana antara variabel yang dipengaruhi dan variabel yang mempengaruhi diukur pada saat yang sama (’point in time’). kriteria administrasi kota dan kabupaten.4. Responden sebagai pengguna program Jampersal yaitu : a) Ibu hamil. Responden sebagai pelaksana program Jampersal : a) Fasilitas Kesehatan tingkat pertama/dasar (Puskesmas) yaitu kepala puskesmas. Pemilihan rumah sakit (RS) di setiap kabupaten kota dipilih 1 (satu ) RS Pemerintah milik kabupaten/kota. pengelola Jampersal di Puskesmas dan Bidan desa yg ada di lokasi penelitian. DESAIN/JENIS PENELITIAN • Disain Penelitian : secara potong lintang . Sedangkan untuk daerah yang tidak menggunakan Jampersal dipilih Provinsi Kepulauan Riau yaitu kabupaten Natuna. sedangkan RS swasta dipilih yang sudah mempunyai perjanjian kerjasama (PKS). kriteria daratan dan kepulauan. tokoh masyarakat : TOMA&TOGA.Untuk memilih kabupaten kota berdasarkan jumlah kematian ibu dan anak tinggi (absolut). 4. ibu bersalin (bulin) dan ibu nifas (setelah 42 hari melahirkan) serta ibu yang sudah melahirkan selama periode bulan Oktober 2011 sampai dengan April 2012 di puskesmas terpilih. Bidan Koordinator. RESPONDEN PENELITIAN 1. Untuk pemilihan puskesmas dilakukan berdasarkan penyerapan anggaran Jampersal yang tinggi dan rendah di setiap kabupaten kota. Kepala desa/lurah & aparat desa.

bidan kepala ruangan. dokter kandungan dan kebidanan. dan wawancara mendalam (Indepth interview). PKK. Pelaksanaan FGD dilakukan di kabupaten/kota terpilih yang ada di masing-masing provinsi. Pengumpulan data kualitatif dilakukan dengan cara mengadakan diskusi terarah secara berkelompok (FGD). b) Pengelola dana/ program Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota. Pengelola Jampersal RS. Observasi partisipasi dilakukan 23 .TOMA/TOGA. observasi partisipasi dilakukan dengan cara melibatkan peneliti langsung di masyarakat. 4. Responden Masyarakat : Kepala Desa/Lurah. Sementara itu.6.1. Kader Posyandu. Responden sebagai Provider di tingkat kabupaten/kota yaitu: a) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota. yaitu observasi tersamar dan observasi partisipasi. CARA PENGUMPULAN DATA 4. Responden dari Organisasi profesi : Ikatan Bidan Indonesia (IBI) 5. Observasi Observasi dalam penelitian dilakukan dengan dua cara. Pelaksanaan FGD dan indepth interview dilakukan dengan menggunakan panduan wawancara FGD dan indepth interview. Observasi tersamar dilakukan untuk melihat perilaku tenaga kesehatan.b) Fasilitas kesehatan tingkat lanjutan (Rumah sakit/Balkesmas yg mempunyai program kerjasama/PKS dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang ada di lokasi penelitian) yaitu : Direktur / Wadir Pelayanan RS. 3. Penanggung Jawab program KIA.6. c) Verifikator 4. Pengumpulan data kualitatif Pengumpulan data kualitatif dilakukan oleh peneliti sebagai instrumen dengan dibantu panduan wawancara. verifikator independen. LSM dll.

4. Pengumpulan data kuantitatif Pengumpulan data kuantitatif ini dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang terstruktur (kuesioner) yang meliputi : 1) Kelompok Sasaran ( Bumil.sebagai triangulasi dari indepth interview melalui pedoman wawancara dan wawancara terstruktur melalui kuesioner. Setelah pengumpulan data ditentukan 3 lokasi kabupaten / kota untuk dilakukan penelitian tematik dengan dilakukan observasi selama 2 (dua) minggu di lokasi terpilih yaitu. ibu melahirkan. yang mendukung kegiatan kesehatan Ibu dan Anak. Bulin dan Bufas) : Data sikap. c) Wakatobi: di wilayah Wakatobi di pulau Tolandono kecamatan Tomia persalinan oleh tenaga kesehatan rendah. Adapun yang diobservasi adalah : 1) Kondisi geografi dan topografi yang ‘dianggap’ dapat menghambat dalam mengakses Jampersal.6. ditengarai masyarakat di desa Lamanggau pmasih banyak ditolong dukun walaupun sudah ada Jaminan Persalinan. Hal ini menarik mengingat Kota Blitar dengan 3 puskemas Poned dan RSUD Mardi Waluyo dengan akses mudah. 24 . ibu nifas dan bayi baru lahir) dan KB pasca persalinan yang berkaitan dengan pelaksanaan program Jampersal. 2) Interaksi sosial sasaran Jampersal dan tenaga kesehatan. a) Kota Blitar: Kota Blitar dipilih karena dianggap ada temuan menarik ketika pengumpulan data bulan Mei 2012 diwilayah puskesmas Kepanjen Kidul telah terdapat 4 (empat) kematian maternal periode Januaru – Juni 2012.2. 3) Interaksi sosial masyarakat terkait Jampersal. b) Lombok tengah: Di kabupaten Lombok Tengah terdapat PNPM GSC (generasi Sehat Cerdas). pengetahuan dan perilaku (PSP) dari responden penelitian yang berkaitan dengan penggunaan dana Jampersal (ibu hamil.

Pengumpulan data sekunder berupa profile kesehatan dilakukan dengan cara menghubungi masing-masing Dinas kesehatan/kota terpilih untuk mengirimkan data tersebut sebelum dilakukan pengumpulan data di lapangan. Sedangkan pengumpulan data laporan kegiatan di Puskesmas dan rumah sakit dimulai pada saat dilakukan persiapan daerah di masing-masing propinsi terpilih.3. Kemudian diambil secara acak sebanyak 70 orang setiap puskesmas terpilih (berdasarkan rumus metode survei). Enumerator sebelum terjun dilakukan pelatihan selama 1 (satu) oleh tim peneliti tentang tujuan penelitian dan cara pengumpulan data. pengetahuan dan perilaku (PSP) dari bidan Puskesmas dan Bidan desa sebagai pelaksana program Jampersal. Bulin dan Bufas yang pada periode oktober 2011-April 2012 yang ada di puskesmas terpilih ( diambil dari kohort). tahun 2010 dan 2011 25 . Data sekunder Data Sekunder dikumpulkan berkaitan dengan kebijakan dan pelaksanaan program Jampersal baik yang ada di tingkat kabupaten/kota maupun di fasilitas kesehatan di tingkat dasar (Puskesmas) dan di tingkat lanjutan (Rumah Sakit) . Pengambilan sampel dari bidan puskesmas adalah seluruh bidan pada puskesmas terpilih 4.2/2 P (1-P) N Pengumpulan data ini dilakukan dengan merekrut enumerator di kabupaten / kota lokasi penelitian. Untuk pengambilan data di setiap puskesmas ( sebanyak 70 responden yang sudah di sampling) dilakukan oleh 2 enumerator yang dipilih dengan kriteria 1) dapat menyediaan waktu sekitar 1 (satu) minggu) untuk melaksanakan survei ini. n = Z2 1 . Data sekunder ini meliputi: 1.Pengambilan sampel dari data sararan adalah Bumil. 2) Data sikap. Profil kesehatan: Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.2/2 P (1-P) N d2 (N-1) + Z2 1 . 2) pendidikan minimal D3 kesehatan dengan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan dan Poltekes setempat.6.

7. pertolongan persalinan. 5.2. pelayanan bayi baru lahir. persalinan. Pemberdayaan Masyarakat 26 . Data pertolongan persalinan yang terkait dengan rujukan Puskesmas dan Rumah Sakit/RS tahun 2010 & 2011. 3. KB pasca persalinan dan penanganan komplikasi pada kehamilan. pelayanan nifas. Data tentang cakupan pelayanan Jampersal di Dinas Kesehatan. Sarana dan prasarana di pelayanan kesehatan yang terkait dengan Jampersal 3. Rumah Sakit. VARIABEL PENELITIAN Variabel penelitian ini meliputi : 1. 4. Data tentang penyerapan anggararan Jampersal di tingkat Kabupaten dan rumah sakit. nifas dan bayi baru lahir. Laporan kegiatan Puskesmas (tahun 2010 & 2011) meliputi: pemeriksaan kehamilan. 4. SDM yang terkait dengan Jampersal. dan Puskesmas. Pelayanan Jampersal 6. Kebijakan Jampersal di tingkat pusat dan daerah 2. Pembiayaan Jampersal 5. persalinan di 4.

11. Kebijakan di tingkat pemerintah pusat yang terdiri dari peraturan menteri.April 2012 dalam kondisi sedang atau baru bersalin Sasaran Nifas Ibu yang pada periode oktober 2011. 9. masyarakat. DEFINISI OPERASIONAL Tabel 4. tokoh adat. Kabupaten Kota (Perda. 5. SK Kepala Dinas Kesehatan dll. perangkat desa dll. Tokoh masyarakat bisa tokoh Agama. Implementasi Program Penerapan Jaminan persalinan di tingkat kabupaten mulai dari Dinas kesehatan. Definisi Operasional No. bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan. Program Kab/Kota Kegiatan ditingkat kabupaten /Kota dalam upaya menunjang program Jampersal (Pemenuhan sarana. 3. Balai Praktek Swasta. Jampersal Rumah Sakit. 7. TOMA/TOGA Orang / tokoh yang disegani di masyarakat . pembiayaan dan jenis pelayanan) Sasaran Ibu Hamil Ibu yang pada periode oktober 2011. 1. 10.4. Upaya Pelayanan dan Upaya pelayanan Jaminan persalinan yang tercantum dalam juknis Jampersal tahun Rujukan 2011 dan 2012 Pemberdayaan Upaya untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. Puskesmas.8. maupun undang-undang yang terkait dengan peaksanan jaminan persalinan Kebijakan Tk Daerah Peraturan ditingkat Provinsi. prasarana. Variabel Kebijakan Tk. 8. SK Bupati/Walikota. peraturan pemerintah. 4. keputusan menteri.2. memutuskan serta melakukan sesuatu yang dipandang 27 .April 2012 sedang dalam kondisi hamil Sasaran Ibu bersalin Ibu yang pada periode oktober 2011. 6. Pusat Definisi Operasional 2. Kemandirian masyarakat merupakan suatu kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ditandai dengan kemampuan memikirkan.April 2012 sedang dalam periode nifas ( mlai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan seperti pra hamil sekitar 6-8 mgg atau sekitar 42 mgg Bayi baru lahir Bayi baru lahir dengan usia 0-7 hari disebut neonatal dini dan usia 7-28 hari disebut neonatal lanjut. Kemandirian Masyarakat tersebut meliputi kemandirian berpikir. keputusan presiden. SDM .

sedang.: ibu yg sdh melahirkan Faskes : Puskesmas .3 Kerangka Operasional 28 .9. 4.tepat demi mencapai pemecahan masalah yang dihadapi dengan mempergunakan daya/kemampuan yang dimiliki dalam kaitannya dengan pencarian pertolongan pada persalinan /KIA. Dinkes kab/kota dan provinsi Uji Coba kuesioner Persiapan Daerah di masing-masing lokasi penelitian Tahap pengumpulan & pengukuran + 4 bln Pengumpulan data : Kualitatif : FGD & Indepth interview) Kuantitatif : data primer & sekunder Editing. Tahap pemilihan Lokasi Penelitian Provinsi terpilih (7) kriteria : cakupan linakes Tahap persiapan +2 bln ( tinggi.1.9.RS. rendah) 1 Kabupaten dan 1 Kota terpilih/provinsi kriteria : Data cakupan linakes Dinkes Kab/Kota 2 kecamatan/kabupaten dan kota Pemilihan Responden di tingkat : masyarakat.Cleaning dan inputing Data Tahap Penyelesaian 4 bln Pengolahan dan Analisis Data Laporan Akhir Gambar 4. KERANGKA OPERASIONAL 4.

9.menentukan lokasi kecamatan di msg2 kabupaten/kota di provinsi terpilih .menentukan sampel penelitian untuk data kualitatif (FGD & indepth) & kuantitatif . Tahap Pelaksanaan Persiapan di lapangan : Pengurusan ijin Etik penelitian (Komisi Etik penelitian) Komunikasi dg Key person yg ada di : DinKes Propinsi.4 Tahapan pelaksanaan persiapan di lapangan 4. Mengadakan pertemuan dengan tim Dinas Kesehatan di tingkat Provinsi 29 .mengkondisikan pelaksanaan pengumpulan data di lapangan Gambar 4. Menyiapkan panduan wawancara untuk data kualitatif (FGD & indepth interview) 3.ijin penelitian di masing2 provinsi terpilih . Tahap Pengumpulan Data Di Lapangan : 1.3.9.4. Melakukan uji coba kuesioner. 4.2. DinKes kabupaten/kota dan Faskes ( Puskesmas & RS) Pengiriman Form untuk kerangka sampel pada ibu yg sudah melahirkan /bulin selama periode 6 bl ke Bidan (Puskesmas) Profile Kesehatan kabupaten/kota Persiapan Daerah : . Menyiapkan instrumen penelitian yaitu daftar pertanyaan terstruktur/kuesioner 2. menganalisis hasil uji coba (validitas & reabilitas) serta memperbaiki kuesioner jika ada perubahan berdasarkan hasil analisis uji coba kuesioner.

Data kuantitatif dianalisis secara secara diskriptif. Bidan desa) 7. Mengadakan pertemuan dengan tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di masing. yaitu analisis domain. Menentukan responden penelitian yang terpilih di masing-masing lokasi penelitian sesuai dengan kebutuhan dan tujuan penelitian 4. PERTIMBANGAN IJIN PENELITIAN Surat izin penelitian diperoleh dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan sedangkan etik penelitian diperoleh dari Komisi Etik penelitian dengan mengeluarkan Ethical Clearence (EC). PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA Setelah data terkumpul. 30 . Sementara itu. untuk observasi partisipasi dilakukan dengan empat tahap analisis. Menentukan peneliti daerah yang terlibat dalam penelitian untuk masing2 lokasi Penelitian (Dinkes Kabupaten/Kota. Bidan Puskesmas.11. 4. dengan menganalisis transkrip hasil diskusi dan mendeskripsikannya dalam bentuk naratif.masing provinsi 6. dan analisis tema.10. analisis komponensial.5. maka dilakukan pengolahan dan analisis data kuantitatif dan kualitatif. Sedangkan untuk data kualitatif hasil FGD dan wawancara mendalam dilakukan secara content analysis. Mendiskusikan pelaksanaan FGD & indepth interview untuk masing2 kelompok responden di lokasi penelitian 8. analisis taksonomi.

12.4.3. JADWAL KEGIATAN Tabel 4. Gant Chart Jadual Kegiatan Penelitian Bulan No 1 2 Uraian Kegiatan Pembuatan Proposal& Protokol Pembuatan : Kuesioner Panduan FGD&indepth interview Peetunjuk teknis di lapangan Formulir Sampling Frame Permintaan Ethical clearance Uji Coba Kuesioner 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 3 4 5 5 6 9 10 11 12 13 Persiapan daerah Pengumpulan data sekunder Pengmpulan data kuantitatif & kualitatif Analisis data Penyusunan draf t Lap Awal Penyusunan Lap Awal Desiminasi awal Penyusunan Laporan 31 .

32 .

6) utilitas pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir yang disediakan oleh jampersal.1. 8) Pemberdayaan dalam meningkatkan Cakupan pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir terhadap Jampersal. terdapat perbedaan dalam implementasi Jampersal di 14 lokasi tersebut. 3) akseptabilitas kabupaten terhadap program Jampersal. 2) implementasi kebijakan Jampersal di tingkat pusat dan Daerah. dan 9) akseptabilitas Toma. rumah sakit dan puskesmas. LSM dan organisasi lainnya dalam meningkatkan pelayanan Jampersal. Secara tidak langsung faktor geografi 33 . lintas sektor. penelitian ini dilakukan di 14 lokasi. Toga. Selain itu juga terkumpul data sekunder dari Dinas kesehatan. Dengan kata lain. Perbedaan tersebut disebabkan banyak faktor. Hal ini dilaksanakan oleh karena dalam implementasi Jampersal dipengaruhi oleh faktor tersebut diatas. 4) akseptabilitas provider dalam pelayanan jampersal. 5) ketersediaan dan akses terhadap sarana dan serta sumberdaya manusia terhadap Jampersal. Data kuantitatif dari bidan sebanyak 736 orang dan sasaran sebanyak 1787 orang dari 13 kabupaten/kota yang menjadi lokasi penelitian. 5. Berdasarkan hasil penelitian tersebut. Salah satunya adalah faktor letak geografi.BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Dari Hasil penelitian di dapatkan data hasil wawancara dan FGD (berupa transkrip). SEKILAS TENTANG LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN Penelitian ini dilakukan di tujuh provinsi yang terdiri dari tujuh kabupaten dan tujuh kota. kecuali kabupaten Natuna (sebagai pembanding) karena tidak memanfaatkan dana Jampersal. 7) akseptabilitas sasaran dalam Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir terhadap Jampersal. Setelah dilakukan analisis data hasil penelitian kami susun berdasarkan tujuan penelitian dengan dimulai memaparkan karakteristik wilayah penelitian dan reponden sebagai berikut : Laporan penelitian ini akan menjawab tujuan penelitian yang dijelaskan dengan urutan sebagia berikut: 1) karakteristik.

Penelitian ini dilakukan di tujuh kabupaten dan tujuh kota. Dalam hal ini.56) dan Kalimantan Timur (52. kadangkala tingginya ratio bidan dalam suatu daerah belum tentu menjamin kualitas pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan. Sulawesi Tenggara (74. sedangkan ‘non-kepulauan’ tidak memiliki gugusan-gugusan tersebut. dan 2) berdasarkan kepulauan dan ‘non-kepulauan’. yaitu Maluku (74. Selain itu. Daerah yang dikatakan kepulauan adalah daerah yang mempunyai gugusan-gugusan pulau yang menjadi wilayahnya.25).56). Kementerian Kesehatan Tahun 2012. menyebabkan daerah ini membutuhkan transportasi air yang lebih banyak daripada daerah non-kepulauan. lokasi penelitian ini juga dilakukan di kepulauan dan ‘non-kepulauan’.25. Selain data PPSDMK tersebut terdapat juga data dari Direktorat Bina Gizi dan KIA.94). Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011.09). yaitu Jawa Timur (33. Hal ini dilakukan untuk menemukan pola perbedaan atau persamaan dalam implementasi antara kabupaten dan kota. Jawa Barat (24. keadaan geografi akan dibedakan menjadi dua yaitu 1) berdasarkan kabupaten dan kota.000 adalah sebagai berikut: terdapat empat provinsi yang memiliki ratio bidan di bawah nasional (57. Namun.67) dan Kepulauan Riau (64. NTB (45. Perbedaan keadaan geografi tersebut seharusnya menjadi pertimbangan dalam pendistribusian tenaga kesehatan khususnya bidan. Banyaknya gugusan pulau yang dimiliki oleh daerah kepulauan.38). untuk ratio bidan Indonesia (Nasional) adalah 52. dan tiga provinsi yang memiliki ratio bidan di atas rata-rata nasional. Menurut Badan PPSDMK. Sementara itu ratio Bidan di lokasi penelitian per 100. yang menyatakan bahwa data cakupan untuk persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (linakes) adalah sebagai berikut: 34 .tersebut berpengaruh dalam implementasi Jampersal.14).

35%).39%). Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011.84%). Maluku (77. Nusa Tenggara Barat (82.02%). Masih banyaknya provinsi di Indonesia yang mempunyai cakupan linakes di bawah rata-rata nasional tersebutlah yang menyebabkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengadakan Jampersal. apakah persalinan ‘gratis’ tersebut dapat menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan ke tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan? Gambar 5. dan Kalimantan Timur (85. Hal ini dilakukan untuk menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan ke tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan.49%). dan - terdapat lima provinsi yang mempunyai cakupan linakes di bawah cakupan linakes nasional.- terdapat dua provinsi yang mempunyai cakupan linakes di atas rata-rata cakupan linakes nasional (86. Sulawesi Tenggara ( 85.28%) dan Kepulauan Riau (97. yaitu Jawa Timur (95. untuk rasio 35 . Menurut Badan PPSDMK. Namun. yaitu Jawa Barat (81.1 Peta Wilayah Indonesia Perbedaan karakteristik wilayah tersebut seharusnya menjadi pertimbangan dalam pendistribusian tenaga kesehatan khususnya bidan.30 %).44%).

Sulawesi Tenggara ( 85.44%) dan Kalimantan Timur (85. ibu bersalin dan ibu Nifas yang merupakan sasaran Jampersal.bidan Indonesia (Nasional) adalah 52.56). yaitu Jawa Timur (33. dan Nifas Selain membahas tentang karakteristik wilayah penelitian. Jawa Barat (24.28%). 5. Dari analisis data karakteristik responden sebagai berikut : 36 . Maluku (77. Karakteristik meliputi umur.67) dan kepulauan Riau (64.09).84%) sedangkan Jawa Barat (81. Sementara itu rasio Bidan di lokasi penelitian per 100.94).1. Pada penelitian ini dilakukan pengumpulan data pada sasaran Jampersal yaitu ibu hamil. diambil dari list kohort ibu masing-masing puskesmas sebanyak 70 responden yang diambil secara acak.38).787 orang. Selain data PPSDMK tersebut terdapat juga data dari Direktorat Bina Gizi dan KIA. pendidikan dan jumlah anak (paritas). NTB (45. Nusa Tenggara Barat (82.56) dan Kalimantan Timur (52. sulawesi Tenggara (74.49%). Responden diambil di wilayah 2 puskesmas terpilih di kabupaten / kota.30 %. Kepulauan Riau (97.02%). provinsi lokasi penelitian yang diatas angka Nasional adalah Jawa Timur (95. Pada bagian ini akan menjelaskan karakteristik kedua sasran tersebut.25. Bersalin.35%) masih dibawah angka Nasional. Dari sasaran Jampersal ada yang memanfaatkan Jampersal dan ada yang tidak memanfaatkan Jampersal.000 adalah sebagai berikut : terdapat 4 (Empat) provinsi lokasi penelitian rasio bidan dibawah nasiona (57.39%). dibahas juga karakteristik responden ibu hamil.1. Dari 13 kabupaten/ Kota terkumpul sejumlah 1. Karakteristik Responden Ibu Hamil. Sedangkan 3 (Tiga) provinsi yaitu Maluku (74. yang menyatakan bahwa data cakupan untuk persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (Linakes) adalah sebagai berikut : Cakupan Linakes Indonesia (Nasional) adalah 86.14).25). ibu bersalin dan ibu nifas periode Oktober 2011 sampai dengan April 2012. Kementerian Kesehatan Tahun 2012.

Kota Bandung.2 Karakteristik Responden berdasarkan umur pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N = 1. Setiap kehamilan dan persalinan mempunyai risiko meskipun bagi perempuan yang tidak mempunyai masalah kesehatan sebelumnya.Gambar 5.787 Dari karakteristik responden sasaran yang terkumpul. nampak sekitar 15%-20% responden adalah resiko tinggi yaitu ibu hamil berusia < 20 tahun dan umur >35 tahun. kira . Wakatobi dan Kota Batam. Kota Mataram. Yang menarik prosentase ibu hamil pada usia kurang dari 20 tahun cukup tinggi (>10%) terutama di Kota Blitar.kira 40 % ibu hamil mempunyai masalah kesehatan yang berkaitan dengan masalah 37 . Lombok Tengah dan tertinggi di Paser (17%). kepulauan Aru. Dan prosentase ibu hamil> 35 tahun tinggi (>10%) di Sampang.

10% saja yang berpendidikan Perguruan Tinggi. banyaknya kehamilan akan meningkatkan risiko perempuan untuk mendapatkan masalah kesehatan. 2004). (Rukmini dkk.3. Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menyatakan bahwa kematian maternal akan meningkat 4 kali lipat pada ibu yang hamil pada usia 35 – 39 tahun bila dibanding wanita yang hamil pada usia 20 – 24 tahun. Resiko tersebut akan semakin meningkat pada usia di luar usia reproduksi (< 20 tahun atau >35 tahun). Bahkan di 38 .kehamilan dan 15 % ibu hamil menderita komplikasi jangka panjang. Oleh karena itu pada usia reproduksi. Karakteristik Responden berdasarkan pendidikan pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 Karakteristik pendidikan dari responden > 50% adalah berpendidikan SLTP dan hanya 8. Gambar 5. 2005). Usia kehamilan yang paling aman untuk melahirkan adalah usia 20 – 30 tahun (Kemenkes RI. usia paling produktif untuk hamil dan melahirkan sehingga berisiko menderita penyakit baik akibat langsung dari kehamilan maupun tidak langsung. Kematian ibu paling banyak terjadi pada usia antara 20 sampai 30 tahun.

1. yaitu di bawah umur 20 tahun dan di atas 35 tahun. baik dari kelas bawah. ibu bersalin dan ibu nifas yang menggunakan Jampersal sebanyak 1254 responden (70. menengah. Hal ini seperti yang ditunjukan pada gambar berikut ini: 39 . Masyarakat yang banyak menggunakan Jampersal rata-rata berusia sekitar 20-35 tahun. Target Nasional untuk cakupan resiko tinggi oleh tenaga kesehatan adalah 20%.2%).9%) dan > 35 tahun (25.70 adalah cukup tinggi. ada 17. atau pun atas. Namun. mencapai 17. tidak semua masyarakat Indonesia berminat untuk mendapatkan persalinan gratis tersebut. Namun. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa dari 1787 responden sasaran ibu hamil. disusul di Lombok tengah dan Bogor responden berpendidikan SLTP > 70%. Dari kajian lanjut data Sensus Penduduk (SP) 2010 didapatkan bahwa usia resiko tinggi pada ibu hamil penyumbang kematian maternal cukup tinggi yaitu pada usia ibu < 20 tahun (6.Sampang hampir seluruh responden berpendidikan SLTP. Hal ini menunjukan Jampersal banyak diminati oleh masyarakat. Pada pengguna Jampersal risiko tinggi berdasarkan umur. Karakteristik Pengguna Jampersal Jampersal disediakan untuk seluruh masyarakat Indonesia.70% masyarakat yang mempunyai resiko tinggi berdasarkan usia.6%). 5.2. Kondisi ini menggambarkan bahwa sasaran Jaminan Persalinan sebagian besar adalah pendidikan rendah.

disusul di Lombok tengah dan Bogor responden berpendidikan SLTP > 70%. bahkan di Sampang hampir seluruh responden berpendidikan SLTP.Gambar 5. Kondisi ini menggambarkan bahwa sasaran Jaminan Persalinan sebagian besar adalah pendidikan rendah.254 Selain berdasarkan umur. pengguna Jampersal juga dapat dilihat berdasarkan pendidikan. 40 . Berdasarkan pendidikan. lebih dari 50% pengguna Jampersal berpendidikan SLTP.4. Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Umur pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N= 1.10% saja. yang berpendidikan sampai perguruan tinggi hanya 8. Sementara itu.

254 Berdasarkan Riskesdas 2010 permasalahan kesehatan pada perempuan berawal dari masih tingginya usia perkawinan pertama di bawah 20 tahun (4. Informasi dari data SP 2010 didapatkan kematian maternal yang mempunyai anak >4 adalah 10. seperti diketahui semakin banyak jumlah anak maka resiko dalam kehamilan juga semakin besar. ratarata pengguna Jampersal mempunyai anak kurang dari empat orang. pengguna Jampersal juga dapat dilihat berdasarkan jumlah anak yang dimiliki. Salah satu yang dilakukan pemerintah adalah dengan mendorong program wajib belajar 15 tahun dengan harapan akan menunda pernikahan dini karena harus mengikuti pendidikan formal terlebih dahulu (Riskesdas. 41 . masih 12. Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Pendidikan pada sasaran Riset Evaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 N= 1. Berdasarkan hasil penelitian. Hal ini perlu menjadi pertimbangan mengapa sasaran Jampersal tidak ada pembatasan jumlah anak .Gambar 5.5%.5.10% pengguna Jampersal yang mempunyai anak di atas empat orang. 2010). Namun.8% pada usia 10 – 14 tahun. Selain faktor umur dan pendidikan. 41.9% pada usia 15 -19 tahun).

ibu bersalin dan ibu nifas yang menggunakan Jampersal sebanyak 1254 responden.Gambar 5. 42 . Pertanyaan ini akan dijawab dalam tujuan penelitian tentang akseptabilitas sasaran terhadap Jampersal. Hal ini tentu menjadi tanda tanya mengapa mereka tidak mau menggunakan Jampersal. padahal pelayanan tersebut merupakan pelayanan gratis yang diberikan oleh pemerintah. Dengan kata lain. Karakteristik Responden Pengguna Jampersal berdasarkan Jumlah Anak pada sasaran RisetEvaluatif Implementasi Jampersal Tahun 2012 (N=1254) Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa dari 1787 responden sasaran ibu hamil. masih ada sekitar 533 responden yang tidak menggunakan Jampersal.6.

biaya persalinannya ditanggung oleh Pemerintah melalui Program Jaminan Persalinan. Tujuan dari Program Jampersal adalah Meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan. walaupun dicanangkan awal 2011 tapi pada kenyataannya baru dapat dilaksanakan April 2011.5. persalinan. nifas. Dalam pelaksanaannya Jampersal pada tahun 2011 banyak ditemukan kendala. 5.1. Diharapkan dengan juknis yang sudah disempurnakan dari sebelumnya program jampersal dapat berjalan lebih baik dari tahun sebelumnya. Hal ini menimbulkan beberapa masalah di daerah karena tahun anggaran saat itu sudah berlangsung. Adapun tujuan khususnya adalah 43 . Kebijakan Jaminan Persalinan di Pusat Untuk mempercepat pencapaian MDG’s Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2011 melaksanakan program Jaminan Persalinan. Sedangkan kebijakan Jaminan Persalinan di Daerah adalah implementasi Jampersal di 14 kab/ Kota lokasi penelitian. Tahun 2012 diterbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan.2 KEBIJAKAN JAMINAN PERSALINAN DI TINGKAT PUSAT DAN DAERAH Kebijakan Jaminan Persalinan di tingkat Pusat adalah kebijakan Jampersal berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Petunjuk teknis untuk pelaksanaan Jampersal tahun 2012 dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan anak dan mempercepat pencapaian MDG’setelah ditetapkan kebijakan bahwa setiap ibu yang melahirkan. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB.2. Dalam menindaklanjuti pelaksanaan program Jampersal diterbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 631/ Menkes / Per /III/2011. Petunjuk teknis tersebut mulai berlaku per 1 Januari 2012.

bersalin. Jenis pelayanan Jaminan persalinan di tingkat pertama meliputi: 1. komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir 3. ibu nifas dan bayi baru lahir. Pelayanan rujukan terencana sesuai indikasi medis untuk ibu dan janin/ bayinya. Pertolongan persalinan normal. KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten.2. Pelayanan Nifas (PNC) bagi ibu dan bayi baru lahir sesuai standar pelayanan KIA dengan frekuensi 4 kali. dan akuntabel. transparan. Pemeriksaan kehamilan (ANC) dengan risiko tinggi (risti) 44 .1.2. 6. 5. ibu bersalin. 4. Paket Pelayanan a. Deteksi dini faktor risiko. dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kompeten. Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien. 5. Pertolongan persalinan dengan komplikasi dan atau penyulit pervaginam yang merupakan kompetensi Puskesmas PONED. Pelayanan ANC sesuai standar pelayanan KIA dengan frekuensi 4 kali. Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan. c.2.1. 7. Meningkatnya cakupan pelayanan: a) bayi baru lahir. b. b) Keluarga Berencana pasca persalinan. 5. efektif.a. nifas. 2. b. Pelayanan KB paska persalinan serta komplikasinya.1. dan bayi baru lahir. c) Penanganan komplikasi ibu hamil. Jenis pelayanan Persalinan di tingkat lanjutan meliputi: 1. pertolongan persalinan. Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah Ibu hamil. Sasaran Kelompok sasaran adalah yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi.

Fotokopi kartu identitas diri sasaran yang masih berlaku (KTP atau identitas lainnya). 4. 5. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. Penatalaksanaan KB paska salin dengan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) atau kontrasepsi mantap (Kontap) sertapenanganan komplikasi.1. Kepesertaan Jaminan Persalinan adalah perluasan kepesertaan dari Jamkesmas dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja. Penerima manfaat Jaminan Persalinan mencakup seluruh sasaran yang belum memiliki jaminan kesehatan untuk persalinan. 1. pelayanan nifas.2. 5. termasuk pelayanan bayi baru lahir dan KB pasca persalinan.4. Untuk 45 .3. Manfaat yang diterima oleh penerima manfaat Jaminan Persalinan terbatas padapelayanan kehamilan. b.2. Pemeriksaan paska persalinan (PNC) dengan risiko tinggi (risti). 5. nifas. dapat digunakan kartu ibu atau keterangan pelayanan lainnya pengganti buku KIA yang ditandatangani ibu hamil/bersalin dan petugas yang menangani. persalinan. Pertolongan persalinan dengan risti dan penyulit yang tidak mampu dilakukan di pelayanan tingkat pertama. dan bagi peserta jamkesmas dilengkapi dengan fotokopi kartu Jamkesmas. Penanganan komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir dalam kaitan akibat persalinan.2. 3. Persyaratan Klaim Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Pertanggungjawaban klaim pelayanan Jaminan Persalinan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama ke Tim Pengelola Kabupaten/Kota dilengkapi: a. Fotokopi lembar pelayanan pada Buku KIA sesuai pelayanan yang diberikan untuk Pemeriksaan kehamilan. Apabila peserta Jamkesmas atau penerima manfaat Jaminan Persalinan non Jamkesmas tidak memiliki buku KIA pada daerah tertentu.1.

Klinik Bersalin. Pemberi Layanan Fasilitas kesehatan tingkat pertama swasta seperti Bidan Praktik Mandiri. d. Sedangkan untuk fasilitas kesehatan tingkat lanjutan baik pemerintah maupun swasta harus mempunyai Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selaku Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kabupaten/Kota yang 46 . c) Bukti pelayanan untuk Rawat Jalan dan resume medis untuk rawat inap 5. b) Fotokopi/tembusan surat rujukan dari Puskesmas. Pada kondisi tidak ada partograf dapat digunakan keterangan lain yang menjelaskan tentang pelayanan persalinan yang diberikan. Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan Pertanggungjawaban klaim pelayanan Jaminan Persalinan di fasilitas kesehatan lanjutan dilengkapi : a) Fotokopi kartu identitas diri sasaran yang masih berlaku (KTP atau identitas lainnya).5. c. dan bagi peserta jamkesmas dilengkapi dengan fotokopi kartu Jamkesmas. termasuk keterangan tindakan pra rujukan yang telah dilakukan di tandatangani oleh sasaran/keluarga. Fasilitas Kesehatan Swasta/Bidan Praktik Mandiri di tandatangani oleh sasaran atau keluarga sasaran. Partograf yang ditandatangani oleh tenaga kesehatan penolong persalinan untuk Pertolongan persalinan.2.pemenuhan buku KIA di daerah. 2. Dokter praktik yang berkeinginan ikut serta dalam program ini harus mempunyai perjanjian kerja sama (PKS) dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selaku Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK atas nama Pemerintah Daerah setempat yang mengeluarkan ijin praktiknya.1. Fotokopi/tembusan surat rujukan. Tim Pengelola Kabupaten/Kota melakukan koordinasi kepada penanggung jawab program KIA daerah maupun pusat (Ditjen Gizi dan KIA).

000 500. nifas dan bayi baru lahir dengan komplikasi.1.000 80.1.000 Pada saat menolong persalinan ternyata ada komplikasi. Pendanaan Jamkesmas dan Jampersal di pelayanan dasar dan pelayanan rujukan merupakan belanja bantuan sosial (bansos) bersumber APBN yang dimaksudkan untuk mendorong pencapaian program.000 Jumlah 80. persalinan per vaginam termasuk pelayanan nifas dan pelayanan bayi baru lahir dengan tindakan emergensi dasar.000 Keterangan Standar 4x Standar 4x 4. 47 .000 Dilakukan di Puskesmas PONED Sedangkan tarif untuk pelayaan Jampersal di Rumah sakit menggunakan tarif standart INA-CBG’s.2.6. 5.000 500. 2. Pelayanan pasca keguguran. percepatan pencapaian MDG’s 2015 serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan termasuk persalinan oleh tenagakesehatan di fasilitas kesehatan.2. Jenis pelayanan Pemeriksaan kehamilan Persalinan normal Pelayanan nifas termasuk pelayanan bayi baru lahir dan KB pasca persalinan Pelayanan tindakan pra rujukan untuk ibu hamil. 1 kali 100.000 20. 5. Pendanaan 1.1.000 100. Frekuensi 4 kali 1 kali 4 kali Tarif 20. 1 kali 650. Contoh format perjanjian kerjasama sebagaimana Formulir 1 terlampir. bersalin. Tarif pelayanan Jaminan Persalinan Tahun 2012 No 1. 3.000 650. Besaran Tarif pelayanan Tabel 5.7.diketahui oleh Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Provinsi. wajib segera dirujuk 5.

pendapatan tersebut merupakan pendapatan lain-lain PAD yang sah. Pembayaran pelayanan persalinan dan KB bagi peserta Jamkesmas maupun penerima manfaat Jaminan Persalinan di pelayanan dasar dan di pelayanan rujukan oleh fasilitas kesehatan dilakukan dengan mekanisme “Klaim”. Jasa pelayanan KB di pelayanan dasar di klaimkan pada Tim Pengelola Jamkesmas & BOK di Dinas Kesehatan sesuai besaran yang ditetapkan. Dana Jamkesmas dan Jampersal yang disalurkan sebagaimana pada poin 1 s/d 4 di atas. maka status dana menjadi pendapatan fasilitas kesehatan untuk daerah yang belum menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan BLUD (PPK-BLUD). pelayanan persalinan serta rujukan risti persalinan peserta Jamkesmas dan masyarakat sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan sebagai penerima manfaat jaminan. Setelah dana tersebut disalurkan Kementerian Kesehatan ke rekening Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab program (melalui SP2D) dan rekening Rumah Sakit. Setelah hasil verifikasi klaim dibayarkan sebagai penggantian pelayanan kesehatan. 7. 3. maka status dana tersebut berubah menjadi dana peserta Jamkesmas dan masyarakat penerima manfaat Jaminan Persalinan. sedangkan bagi fasilitas kesehatan daerah yang sudah menerapkan PPK-BLUD. Dana Jampersal di pelayanan kesehatan dasar disalurkan ke rekening Dinas kesehatan kabupaten/kota.2. 5.21/PB/2011). 6. terintegrasi (menjadi satu kesatuan) dengan dana Jamkesmas. 48 . 4. Dana belanja bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada angka 1(satu) adalah dana yang diperuntukkan untuk pelayanankesehatan dan rujukan pelayanan dasar peserta Jamkesmas. bukan bagian dari dana transfer daerah ke Pemerintah Kabupaten/Kota sehingga penggunaan dana tersebut tidak melalui Kas Daerah (Perdirjen Perbendaharaan Nomor: PER. selanjutnya pemanfaatannya mengikuti ketentuan Peraturan perundang undangan.

11. Tim verifikasi pemberi layanan Tk I melakukan verifikasi dan memberikan persetujuan membayar kepada masing-masing fasilitas kesehatan. mengacu pada Standar Biaya Umum (SBU) APBN. 49 . 10. bersalin.8. Pemanfaatan dana jaminan persalinan pada pelayanan lanjutan mengikuti mekanisme pengelolaan pendapatan fungsional fasilitas kesehatan dan berlaku sesuai status rumah sakit tersebut (BLU/BLU(D) atau PNBP) 5.1. komplikasi kebidanan dan komplikasi neonatal pasca persalinan bagi penerima manfaat Jaminan Persalinan di pelayanan kesehatan dasar dibiayai dengan dana dalam program ini. 8. maka kekurangan atas pelayanan yang belum diklaimkan/ terbayarkan tersebut akan diperhitungkan dan dibayarkan pada tahun berikutnya sepanjang ditunjang dengan buktibukti yangsah. 9. Sisa dana pada rekening Tim Pengelola Jamkesmas Kabupaten/Kota yang tidak digunakan dan/atau tidak tersalurkan sampai dengan akhir tahun anggaran harus disetorkan ke Kas Negara dan menggunakan Surat Setoran Bukan Pajak (SSBP). Proses klaim bagi fasilitas kesehatan tingkat pertama: Pemberi layanan Tk pertama mengajukan klaim setelah memberikan pelayanan kepada Dinas Kesehatan/Tim Pengelola Kabupaten/Kota dengan melengkapi bukti pelayanan yang sah dan harus di tanda tangani oleh peserta (ibu hamil. Apabila terjadi kekurangan dana pelayanan persalinan atau pelayanan persalinan yang sudah diberikan akan tetapi belum diklaimkan/belum terbayarkan pada akhir tahun anggaran. Standar biaya transportasi yang berlaku di daerah.sedangkan jasa pelayanan KB di pelayanan lanjutan mengikuti pola pembayaran INA-CBG’s.2. nifas). Transport rujukan risti. Proses Pengajuan Klaim 1.

2. Proses klaim Jaminan persalinan bagi fasilitas kesehatan tingkat lanjutan: Fasilitas kesehatan tingkat rujukan melakukan pengajuan klaim program jaminan persalinan melalui mekanisme klaim Jamkesmas, yaitu dengan INA CBGs

5.2.2. Kebijakan Jaminan persalinan di Kabupaten/Kota di lokasi penelitian Kebijakan Jampersal di kabupaten/kota adalah kebijakan Jampersal yang diimplementasikan daerah yang disesuaikan dengan kondisi dan kebijakan lokal yang ada di daerah tersebut. Berdasarkan penelitian ini terdapat variasi kebijakan lokal dalam mengimplementasikan Jampersal. Hal ini sangat

tergantung pada penentu kebijakan di daerah seperti bupati dan kepala dinas kesehatan.

5.2.2.1.

Kabupaten Sampang

Dukungan Pemda Sampang terhadap program Jampersal berupa penetapan Peraturan Daerah No. 5 tahun 2011, tentang jasa Pelayanan dan kebijakan Dinas Kesehatan.
“..pada Perda no 5 tahun 2011, ada Pasal karet yang menyatakan berlaku fleksibel sesuai dengan program pemerintah, Jasa pelayanan persalinan japelnya 75% dari seberapapun besar paket pelayanan persalinan yang berlaku termasuk jampersal, tanpa merubah Perda cukup mengganti Peraturan Bupati saja. Perda ini sudah memprediksi untuk hal2 terkait seperti Jampersal sehingga terjadinya perubahan tarif tidak mempersulit karena cukup merubah Peraturan Bupati saja..” (kadinkes, Kab. Sampang).

Pelaksanaan Jampersal di kabupaten Sampang mengacu pada juknis 2012, namun terdapat kebijakan lokal terhadap tempat pertolongan persalinan. Sebagaimana juknis Jampersal 2012, tujuan dari Jampersal adalah meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. Namun pelaksanaannya di Sampang, pertolongan persalinan pada Jampersal dilakukan oleh tenaga kesehatan, tanpa memandang tempat pertolongan persalinan.
50

Pertolongan persalinan dapat dilakukan tidak hanya di fasilitas kesehatan, tapi juga di rumah penduduk. Jadi, bidan dapat mengklaim pertolongan persalinan yang dilaksanakan di rumah pasien. Menurut informan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang.
“..implementasi Jampersal di Kabupaten Sampang mengacu pada juknis jampersal tahun 2012. Jampersal di Sampang 100% adalah pertolongan persalinan di tenaga kesehatan tanpa melihat dimana tempat persalinan dapat di fasilitas kesehatan maupun bukan di fasilitas kesehatan (di rumah penduduk dll). Kabupaten Sampang menjual nakes tidak faskes..” (Dinkes, Kab. Sampang).

Untuk cakupan pelayanan, diharapkan semua ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir mendapatkan pelayanan oleh tenaga kesehatan dengan syarat tidak memiliki kartu Jamkesmas dan Jamkesda atau tidak mempunyai jaminan lain. Sedangkan pelayanan rujukan di RS untuk Jampersal semua persalinan diarahkan ke Jampersal asal masyarakat mau di kelas III. Pertolongan persalinan pada Jampersal dilakukan oleh tenaga kesehatan, tanpa memandang tempat pertolongan persalinan di fasilitas kesehatan atau di bukan fasilitas kesehatan. Pemberi layanan di puskesmas dan jaringan adalah bidan puskesmas dan bidan desa, sedangkan PKS hanya untuk bidan swasta (BPS), bidan puskesmas yang tidak mempunyai wilayah dapat PKS, sedangkan Bidan Desa karena mempunyai wilayah kerja tidak boleh melakukan PKS. Kebijakan Jampersal, Dinkes dihadapkan dua persoalan yaitu cakupan pelayanan untuk kepentingan program KIA dengan kebijakan pembiayaan. Namun disisi lain, tidak semua pelayanan oleh tenaga kesehatan dapat diklaimkan. Diharapkan, sasaran yang memiliki asuransi ataupun yang mampu dapat membayar sendiri pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan. Artinya, bahwa pencapaian cakupan pelayanan KIA di Puskesmas, belum tentu sama dengan jumlah pelayanan yang dilklaimkan. Alur Klaim Jampersal adalah klaim dari bidan diverifikasi oleh Dinas kesehatan Prosedur sesuai keuangan daerah. Dana Jampersal yang ditransfer ke Dinas Kesehatan merupakan dana masyarakat, setelah pelayanan di klaim oleh
51

pelayanan,

merupakan

dana

fasilitas

puskesmas

atau

RS

(fasilitas

pemerintah)kemudian fasilitas pemerintah menyetor ke daerah, 100% disetor ke daerah, setelah itu dana dikembalikan ke pelayanan yang terbagi dua yaitu jasa pelayanan dan jasa sarana. Pengembalian klaim untuk jasa bidan desa pada jampersal adalah 75%, sedangkan BPM klaim pelayanan sebesar 100%.

5.2.2.2.

Kota Blitar

Dalam pelaksanaan kebijakan Jampersal di kota Blitar sangat bermanfaat bagi masyarakat dan legislatif juga mendukung program tersebut, hal ini ditunjukkan dengan adanya Perwali di Kota Blitar ini. Selain Peraturan Walikota, juga terdapat Surat keputusan walikota untuk pengobatan gratis, meskipun demikian kebijakan Jampersal tetap mengacu pada kebijakan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan, sehingga dalam pelaksanaannya pun sesuai dengan petunjuk teknis. Meskipun demikian ada masyarakat mampu dan seharusnya tidak menggunakan Jampersal, tetapi dalam pelaksanaannya masih memanfaatkan Jampersal untuk melakukan persalinan. Paket pelayanan Jampersal adalah: ANC, Persalinan dan PNC dan Keluarga berencana sesuai dengan juknis. Untuk pelaksanan layanan Jampersal melibatkan bidan, Bidan praktek swasta (BPS), klinik bersalin, dokter swasta. Kepesertaan dan persyaratan pengguna Jaminan persalinan adalah masyarakat/ ibu hamil dengan melengkapi persyaratan saja seperti KTP dan KK, partograf ANC serta inform concern Alur pelaksanaan klaim sebagai berikut : Persalinan jampersal melengkapi syarat menggunakan Jaminan persalinan di bidan atau provider, bidan melengkapi persyaratan klaim kemudian ke Kepala Puskesmas, diperiksa verifikator setelah disetujui tunggu dana turun ke Dinas Kesehatan, dana turun ke puskesmas, di Setor ke bendahara Kota, disetor ke Pemerintah daerah dan akhirnya dicairkan dalam bentuk jasa pelayanan sesuai dengan juknis pusat, meskipun sampai saat ini dana masih belum bisa keluar, hal ini karena juknis Jampersal baru keluar sekitar bulan Juni, padahal dana APBD sudah direncanakan
52

awal tahun, sehingga jampersal tidak ada dalam mata anggaran (MAK) jampersal dalam APBD. Hal tersebut menyebabkan dana sampai saat ini belum diterima, padahal bidan sudah melaksanakan tuganya melakukan persalinan jampersal. Pencairan klaim untik BPS dimana anggaran tidak harus masuk ke APBD, maka dana BPS bisa segera diterima oleh bidan. Besaran jasa pelayanan ketentuannya sesuai dengan juknis pusat, yaitu 350 rb per persalinan normal (Tahun 2011) dan tahun ini naik menjadi 500 rb per persalinan normal.

5.2.2.3.

Kota Mataram

Di Kota Mataram kebijakan Jampersal dengan mengacu pada Petunjuk Teknis Jampersal tahun 2012 . Pelaksanaannya di tindaklanjuti dengan terbitnya Surat kesepakatan pembagian jasa pelayanan jampersal tertanggal 10 Mei 2012 yang di fasilitasi oleh Kepala Dinas kesehatan Mataram yang merupakan kesepakatan di internal Dinas Kesehatan Kota Mataram terutama kesepakatan dalam pembagian besaran jasa pelayanan. Kesepakatan ini dibuat atas usulan dari bawah yaitu Bidan dengan

melibatkan seluruh bidan koordinator di puskesmas, bidan desa, IBI, Kepala puskesmas, Dinas kesehatan dan di fasilitasi Kepala Dinas walaupun belum terbit SK Walikota katika penelitian berlangsung (bulan Juni 2012) sudah berani untuk dilaksanakan. Kabar terakhir Surat Keputusan Walikota sudah terbit. Di Kota Mataram juga berlaku kebijakan open call, dimana masyarakat bisa dengan mudah mendapat nomor handphone tenaga kesehatan. Di setiap puskesmas ada nomer tenaga kesehatan yang bisa dihubungi setiap saat. Dari situ masyarakat bisa menghubungi tenaga kesehatan atau puskesmas. Kebijakan Jampersal sangat membantu dalam meningkatan persalinan ke tenaga kesehatan, karena masyarakat mempunyai kendala pada biaya persalinan. Sebagai contoh di puskesmas karang pule persalinan oleh dukun menurun yang semula sebelum adanya jampersal 6% sekarang menjadi 2% persalinan oleh dukun bayi.
53

Kepesertaan tetap mengacu pada juknis Jampersal th 2012 , orang yang tidak mampu tetapi tidak punya kartu Jamkesmas. Sasaran jampersal sudah terpenuhi untuk persyaratan klaim hanya pakai kartu identitas domisili. Kepesertaan sasaran bisa diakomodir, cukup pakai KTP suami, atau kartu pengenal lainnya atau kartu domisili dari kepala lingkungan atau Kartu Keluarga/Kartu pelajar/ kartu mahasiswa. Tidak dibedakan antar pelayanan persalinan dari bidan desa maupun BPS, hanya di pelayanan ANC, K1-K4 untuk BPS tidak mengharuskan memakai jasa ANC dengan Jampersal. Di Kota Mataram pencairan klaim tidak ada potongan sesenpun (100%). Alur pencairan setelah dari Kas Daerah ke Dinkes Kota Mataram kemudian ke puskesmas sesuai klaim. Di Kota Mataram besaran tarif Persalinan berdasrkan Perda lebih kecil dari tarif Jampersal.

5.2.2.4.

Kabupaten Lombok Tengah Di Kabupaten Lombok Tengah Peraturan Bupati berupa kebijakan untuk

penurunan angka kematian ibu dan bayi yaitu “AKI No” yang berlaku sejak 2009, sebelumnya sejak tahun 2003 Provinsi NTB pembiayaan persalinan berlaku gratis dan sejak tahun 2011 Jampersal di berlakukan di NTB.
“..namun demikian penurunan AKI mengalami fluktuatif, banyak faktor yang mempengaruhi antara lain sumberdaya manusia, biaya dan faktor lainnya. Sejak tahun 2003 persalinan gratis berlangsung, justru nampak besar dampaknya pada turunnya angka kematian bayi yaitu tahun 2004 adalah 500/1000 KH dan tahun 2011 menjadi 141/ 1000 KH..” ( Kadinkes Lombok Tengah).

Dalam pelaksanaan Jampersal Lombok Tengah mengacu pada juknis Pusat, selain itu juga membuat Juknis penunjang yang menyangkut jasa yaitu rincian tarif. Sedangkan dukun juga mendapat bagian dalam jampersal dengan dibuatkan SK dukun untuk mengeluarkannya pembiayaan tersebut. BPS belum dilibatkan dalam pelayanan Jampersal, sehingga belum terjalin PKS antara Bidan Praktek Swasta (BPS) dengan Dinas kesehatan. Sementara ini Dinkes masih tersita dengan penyelesaian masalah keuangan terkait Jampersal yang cukup rumit. Selain itu ada ketakutan terjadi double claim jika BPS dilibatkan dalam

54

dan masyarakat atau jaminan pemeliharaan kesehatan lainnya. jika tidak mempunyai persyaratan tersebut bisa menggunakan surat keterangan domisili. saya benar-benar belum memiliki jaminan persalinan dari badan asuransi pemerintah. 5. Bidan Praktek Swasta / mandiri sudah banyak yang lakukan PKS. 55 . swasta.2. Bahwa saya bersedia mendapatkan pelayanan pada fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjutan (Rumah Sakit) di kelas III yang memiliki perjanjian kerja sama (PKS) dengan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kota Bandung. Di Kota Bandung Kebijakan Jampersal untuk Pelayanan harus dilakukan oleh tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. Bahwa saya akan bersedia menerima pelayanan jaminan persalinan yang mengacu pada standar pelayanan kesehatan ibu dan anak sesuai program Jampersal.Jampersal.2. sedangkan transport bidan diambilkan dari dana BOK. Persyaratan pasien memanfaatkan Jampersal adalah mempunyai KTP dan KK. 3. Bahwa untuk kehamilan dan persalinan ini.5. Implementasi Program Jampersal di tingkat puskesmas adalah dengan penandatanganan informed consent yang dibuat oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung oleh peserta Jampersal yang di dalamnya menyatakan: 1. Kota Bandung Kebijakan Jampersal dalam rangka mencapai target MDGs untuk turunkan AKI dan AKB. 2. Bahwa saya bersedia menggunakan kontasepsi pasca persalinan. Untuk Jasa bidan memanfaatkan pembiayaan Jampersal. dengan mengikuti petunjuk teknis yang berlaku. Sedangkan untuk bidan Puskesmas bisa melakukan PKS ketika melakukan praktek di luar jam kerja di puskesmas. Untuk pemberi pelayanan kesehatan dilakukan PKS antara bidan praktek swasta dengan Dinas kesehatan. 4. Jampersal memudahkan akses dari segi pembiayaan. paling tidak di tiap kelurahan sudah ada 1 BPS.

Pemerintah menyediakan obat dan bahan medis habis pakai bagi setiap puskesmas. 6. Bahwa saya bersedia mematuhi amanat persalinan yang diberikan oleh pemberi layanan Pemerintah Kota Bandung tidak membuat suatu aturan khusus terkait keuangan Jampersal. Form tersebut dibuat untuk menghindari permasalahan yan disebabkan berkas menumpuk. Dinas Kesehatan membuat protap yang merupakan alur pembayaran klaim jampersal. 5. Paket pelayanan Jampersal memberikan pelayanan berupa pemeriksaan kehamilan sebanyak empat kali. Kabupaten Bogor Dalam pelaksanaan Jampersal. Bahwa saya tidak akan menyalahgunakan jaminan persalinan ini dengan tindakan yang memungkinkan duplikasi pembiayaannya.6. Dengan adanya protap adalah 56 . dan bahan habis pakai. Bogor.2. karena dilakukan sesuai dengan domisili pasien. maka pemerintah Kota Bandung melakukan pembagian zona rujukan. Sedangkan di puskesmas dana Jampersal belum cair. Sehingga di Puskesmes belum ada pengembalian dana klaim. karena dana masih di kas daerah sejak tahun 2011. sesuai dengan mekanisme keuangan daerah yang berlaku. belum diterbitkan Perda atau SK di kab. Supaya tidak terjadi penumpukan pasien di rumah sakit tertentu. Dalam alur tersebut dijelaskan secara rinci tentang berapa puskesmas mengklaim ke Dinas kesehatan per wilayah. pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. jumlah yang di verifikasi. Jadi akan mempermudah masyarakat dalam melakukan rujukan pasien Jampersal. jumlah yang diperbaiki. Ada dukungan BKKBN berupa alat kontrasepsi. Klaim untuk BPS setiap bulan cair dan tepat waktu. jadi uang yang diterima oleh puskesmas dikembalikan lagi ke kas daerah.5. yang sudah diberikan adalah obat. kabupaten Bogor mengacu kepada petunjuk Teknis yang ada. IBI sangat mendukung kegiatan sosialisasi Jampersal. pemeriksaan nifas dan bayi baru lahir sebanyak empat kali dan pelayanan KB. dan jumlah yang harus dibayar.2.

catatan pelayanan ANC. kendala yang ada adalah prasyarat jenjang pendidikan yang harus D-III. padahal rata-rata bidan di Kota Ambon. Dinas mempunyai 18 RS (termasuk RS perbatasan). Dinas kesehatan Kota Ambon mengeluarkan kebijakan terkait pengeluarkan Surat Ijin Praktek Bidan untuk mengatasi kekurangan tenaga bidan BPS yang PKS.untuk mempercepat realisasi pembayaran klaim Jampersal.7. kota Bogor.2.Dalam mengurus Surat Ijin praktek. Syarat klaim adalah fotokopi KTP. tetapi bidan PKS yang ada hanya 1. dan email. Untuk jasa medis. Protap tersebut. namun diantara 18 RS tersebut. Kepesertaan adalah ibu hamil. Pengaduan masalah kesehatan dapat online. SMS langsung ke Kepala Dina.2. disosialisasikan kepada puskesmas dan juga bidan dan BPS. Ada kebijakan khusus dari Kadinkes untuk bidan puskesmas diluar jam dinas bisa melakukan PKS. Persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis. masih ada RS yang tidak ada MOU dengan Jamkesmas sehingga memakai Jamkesda. didukung dengan SK Walikota dan SK Kepala Dinas. hal ini terjadi karena adanya kendala dalam mengurus Surat Ijin Praktek. Dinas bekerjasama dengan RS perbatasan. Untuk tahun ini Pemda menganggarkan 76 milyar untuk Jamkesda. Pelaksanaan mengikuti juknis. Kota Ambon Dalam pelaksaaan kebijakan Jampersal Kota Ambon. Dukungan pembiayaan Daerah adalah Jamkesda. 57 . Permasalahan kepesertaan di kota Ambon adalah penduduk banyak yang tidak mempunyai KTP atau identitas lain. ada kebijakan dan aturan bahwa harus dipotong untuk PAD sebesar 15 % dan biaya administrasi 10 %. Paket pelayanan sudah sesuai dengan juknis. jenjang pendidikannya masih DI dan untuk sekolah lagi mereka merasa keberatan masalah dana untuk sekolah. dll. atau lewat Koran. bersalin dan nifas yang memiliki KTP atau kartu domisili. partograf dan catatan nifas. dalam map bukti fisik ada rekapan tersebut dan verifikator mencocokan antara rekapan dan bukti fisik yang tersedia. seperti Tangerang. 5. Bupati bahkan anggota dewan juga memfasilitasi. via SMS.

dan dalam proses klaim dengan mengatasnamakan bidan. Hal ini dilakukan melalui kesepakatan.2. Di Kepulauan Aru karena keterbatasan jumlah bidan. Dana setelah diklaim untuk bidan puskesmas 20% masuk kasda sedangkan 80% lagsung ke puskesmas (bidan) tanpa masuk ke Kasda terlebih dahulu. Pelaksanaan Jampersal sejak 2011. Kepulauan Aru adalah daerah kepulauan. Tidak ada penerbitan kebijakan atau aturan baru terkait Jampersal.2. Kepulauan Aru dalam pelaksanaannya lancar dan tidak ada masalah karena semuanya menerima kebijakan ini. Semuanya mengacu pada petunjuk teknis dari Kementerian Kesehatan. justru dana operasional dari pemerintah daerah dikurangi.8. momen tersebut juga digunakan untuk melakukan pelayanan di masyarakat. 58 . Tapi kemudian hal ini menjadi temuan sehingga mulai saat ini dana setelah klaim masuk kasda dahulu. Untuk kunjungan ke dusun petugas menggunakan dana operasional puskesmas atau jika kegiatan puskesmas keliling. perawat juga melayani pemeriksaan kehamilan dan menolong persalinan dengan memanfaatkan Jampersal. 5. Selama Jampersal 2011 sampai awal 2012 klaim bidan puskesmas cukup lancar. tapi karena kondisi di Kab. Kabupaten Kepulauan Aru Jampersal di Kab. Padahal sebelumnya dana setelah klaim apling lambat 2 mgg sudah bisa cair. pelayanan Jampersal adalah petugas mendatangi masyarakat untuk memberikan pelayanan. bahkan setelah ada dana tambahan dari pusat (dana BOK).Pemerintah Daerah tidak mempersulit dalam prosentase besaran klaim Jampersal yaitu 20% Kasda dan 80% jasa pelayanan. Seharusnya Jampersal adalah pelayanan diberikan oleh petugas kesehatan di fasilitas kesehatan. Di sini jarang sekali orang datang untuk periksa kesehatan dalam hal ini kehamilan di fasilitas kesehatan kalau bukan di daerah perkotaan. Untuk dukungan dalam pembiayaan dari pemerintah daerah terkait Jampersal tidak ada. Hal ini menyebabkan dana menjadi tersedat dan belum cair.

sehingga pasien dapat diterima di rumah sakit dengan memanfaatkan Jampersal. Kepulauan Aru belum ada praktek swasta yang mengajukan klaim Jampersal. memerlukan biaya yang cukup tinggi untuk transportasi sehingga untuk pembiayaannya dari dana operasional puskesmas dan keluarga ibu yang bersangkutan. “. Syarat klaim tersebut adalah partograf. Untuk mengatasi masalah tersebut dan agar masyarakat dapat memperoleh pelayanan maka digunakan keterangan domisili. Kebijakan Rumah sakit sering menerima pasien Jampersal yang tidak membawa rujukan dengan alasan kemanusiaan. Kep. di desa Ujir. Sisanya tidak karena memang pada waktu itu tidak ada tenaga bidannya. Masalahnya.. Bahkan seringkali keluarga yang membiayai transport menuju ke Dobo. Ini tidak tertolong karena tidak ada transportasi yang mengantar ibu tersebut ke Puskesmas atau RS yang terdapat di Dobo. Jika ada kasus rujukan dari pulau di luar Dobo. tidak semua masyarakat punya KTP. Kab. kecamatan Pulau-pulau Aru ada kasus kematian ibu. 59 . Pemanfaatan dana jampersal pada tahun lalu bisa dibilang rendah. KTP atau surat keterangan domisili dan ANC harus empat kali untuk bisa klaim pelayanan ANC. Sekarang di tahun 2012 ini mulai ditempatkan tenaga bidan honorer. hanya sembilan puskesmas yang memanfaatkan dana jampersal. Di Kab. Aru). Sulit dan mahalnya biaya transportasi untuk merujuk seringkali menyebabkan kematian Ibu. Peserta Jampersal adalah semua ibu hamil dan melahirkan. RS tidak pernah menolak pasien yang datang. padahal yang memberikan pelayanan jampersal kan seorang bidan.” (RS.Untuk mendapatkan pelayanan Jampersal tidak ada masalah karena semua masyarakat dapat dilayani tanpa ada syarat tertentu meskipun penduduk dari luar wilayah. Karena dari 22 puskesmas yang ada. Persyaratan yang diperlukan untuk mendapatkan pelayanan jampersal hanya KTP. Jika terjadi penolakan maka Dinas dan Puskesmas akan memfasilitasi. baik yang kaya maupun yang miskin.. terutama mereka yang berada di pedalaman.beberapa bulan kemaren. buku KIA.

bersalin dan nifas yang memiliki KTP atau kartu domisili. 3) pemberian bantuan keuangan pada pemerintah desa dan kelurahan. bidan desa. Tidak ada Bidan Praktek Swasta (BPS) dan rumah sakit swasta yang melakukan “PKS” dengan Dinas kesehatan.2. 2) pembebasan biaya pengobatan dan.-. Pelayanan rujukan dilakukan “PKS” RSUD Provinsi dan RSUD Kota.dan potong pajak 5% -15% tergantung golongan. 5. Jampersal melayani peserta dari wilayah diluar Kendari (portabilitas).2. Sedangkan dana yang kembali ke puskesmas setalah dipotong BHP (bahan habis pakai) sebesar Rp. uang makan Rp. Kota Kendari Dalam pelaksanaan kebijakan Jampersal Kota kendari tidak mengeluarkan kebijakan khusus. Persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis. Terdapat pembiayaan BAHTERAMAS (Bangun Kesejahteraan Masyarakat) yang didukung 3 (tiga) pilar utama. Paket pelayanan untuk Jaminan persalinan berlaku sesuai petunjuk teknis dari pusat. puskesmas poned.per hari.000.. 55. Kabupaten Wakatobi Di Kabupaten Wakatobi Peraturan Bupati yang mendukung pelaksanaan Jampersal belum ada.5. Kepesertaan adalah ibu hamil..2.000. Tarif Bahteramas untuk persalinan adalah 250. sedangkan ANC gratis. Untuk pelaksanaan Jampersal di Kabupaten Wakatobi hanya berdasarkan petunjuk teknis yang sudah dikeluarkan oleh Kementerian 60 .9. Rp.. Untuk persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.10. Dengan demikian . Pelaksanaan mengikuti juknis dan mengacu Perwali retribusi yang sudah berlaku. yaitu 1) pembebasan biaya operasional pendidikan. dana APBN dan APBD dialokasikan untuk melaksanakan pembangunan yang berkeadilan dan pro rakyat.35.dan perawatan bayi Rp.2. 50. Tarif Jampersal di Kota kendari sesuai juknis.000.000. Tenaga kesehatan pemberi layanan Jampersal di tingkat dasar adalah bidan di puskesmas.

Salah satunya adalah dengan menaikkan anggaran untuk kemitraan dukun dan bidan dengan mengalokasikan dana khusus bagi dukun yang mau bekerja sama dengan bidan. terlebih dalam kegiatan sosialisasi program Jampersal ke stake holder yang ada di bawah koordinasi dinas kesehatan dan kepada masyarakat. Dukungan pemerintah daerah dalam pelaksanaan Jampersal sangat besar. artinya untuk satu orang ibu klaim langsung secara keseluruhan mulai dari ANC sampai dengan PNC. karena selama ini tidak ada pos khusus yang digunakan untuk sosialisasi Jampersal. Dana APBD juga dialokasikan untuk pelaksanaan sosialisasi Jampersal. Sedangkan untuk pengelola Jampersal tingkat Kabupaten. Selama ini dinas tidak tahu dengan pasti biaya rujukan itu berasal dari mana karena yang melaksanakan adalah puskesmas. Pembiayaan Jamkesda didukung oleh APBD. Selain itu bagi PNS juga sudah disediakan ASKES. Untuk beberapa kasus rujukan pasien Jampersal juga sudah ditangani dengan baik. Rujukan memerlukan biaya yang besar karena wilayah Wakatobi adalah kepulauan.Kesehatan. 61 . Sebelum ada program Jampersal. Pemerintah daerah sangat intens mendukung kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak untuk tahun 2013. Jaminan persalinan sudah dilaksanakan dengan baik. Selama ini kepala dinas secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program Jampersal. di kabupaten Wakatobi sudah dilaksanakan pelayanan kesehatan gratis dengan pembiayaan Jamkesda dan Jamkesmas. Selain itu pihak pemerintah daerah membantu masyarakat dalam membuat surat keterangan domisili bagi masyarakat yang tidak atau belum memiliki KTP. karena syarat untuk mendapatkan pelayanan Jampersal adalah memiliki KTP. Verifikasi dilakukan disesuaikan dengan ketentuan dan standar substansinya. yang bisa juga digunakan untuk membiayai persalinan. Kepesertaan sesuai juknis. Di Kabupaten Wakatobi klaim dilakukan per paket. Bupati menerbitkan Surat Keputusan untuk Pengelola Jampersal.

Untuk proses klain sejauh ini tidak ada masalah.. Belum ada Peraturan Daerah terkait Jampersal. Dalam mekanisme klaim di Balikpapan sesuai dengan petunjuk teknis yaitu ketika klaim sudah cair dan akan disetor kembali ke Kasda tapi belum dilaksanakan penarikan dana kembali karena Perwali masih dalam proses sehingga sampai saat penelitian dilaksanakan besaran Jasa pelayanan untuk bidan puskesmas belum pernah dibicarakan.500. kecuali untuk bahan habis pakai jumlahnya terbatas Persyaratan untuk klaim jampersal adalah Kartu identitas ( KTP. saat penelitian berlangsung Peraturan Walikota sedang dilakukan penyusunannya. maka pembiayaan persalinan dengan Jamkesda digantikan dengan pembiayaan Jampersal. Pelaksana layanan dasar adalah bidan puskesmas dan bidan praktek swasta yang juga sudah banyak melakukan PKS dengan Dinas kesehatan. Untuk rujukan ke RS transport gratis merupakan fasilitas dari pemerintah daerah. 5. terutama untuk membiayai pasien yang tidak bisa membayar sama sekali atau setengah miskin.000. Kota Balikpapan Implementasi kebijakan Jampersal di Kota Balikpapan dilaksanakan sesuai dengan petunjuk teknis. surat domisili). Untuk Obat-obatan fasilitas puskesmas tidak ada masalah dalam ketersediaan obatobatan. 62 .2.2. yang mana tanggal pelayanan yang bisa diklaim disesuaikan dengan standar waktunya.11. Untuk merujuk ke RS ditambahkan surat rujukan dari puskesmas. Sebelum ada Jampersal untuk persalinan Jamkesda sebesar Rp. buku KIA untuk kalim Antenatal care (ANC) dan ditambah partograf untuk persalinan. Kebijakan Jampersal ternyata cukup membantu provider pemberi layanan.tapi setelah ada pembiayaan Jampersal.Misalnya untuk ANC berlaku konsep 1-1-2.

. terkadang kurang tepat sasaran.13. di kabupaten Paser pelayanan persalinan adalah gratis. Dalam pelaksanaan Jampersal di pelayanan dasar untuk persyaratan klaim sesuai dengan petunjuk teknis. Sebelum kebijakan Jampersal dilaksanakan. Rumah sakit belum melaksanakan Jampersal. Ada kendala dalam pelaksanaan Jampersal karena ada pengalaman terdapatnya “temuan” oleh BPK dalam pengelolaan anggaran BOK pada tahun sebelumnya yang menyebabkan Kepala Dinas ekstra hati-hati dalam menerima Jampersal. Sedangkan untuk bidan praktek swasta belum ada yang melakukan “PKS” dengan Dinas kesehatan. Kepesertaan Jampersal adalah ibu hamil. bersalin dan ibu nifas yang mempunyai KTP atau Kartu keluarga.2. pihak manajemen rumah sakit merasa belum pernah tersosialisasi Jampersal secara langsung. Besaran tarif jampersal sesuai Petunjuk teknis yang berlaku.” (Dinas kesehatan. tahun ini sedang di proses pembuatan Peraturan daerah. Dengan BPS tidak ada MoU. “.12. Kabupaten Paser Di Kabupaten Paser sejak Jampersal berlangsung tahun 2011 sampai saat penelitian belum diterbitkan Peraturan daerah atau Peraturan Bupati . sehingga dengan adanya kebijakan Jampersal tidak sejalan dengan peraturan daerah. Paser). ini karena adanya perbedaan tarif. hanya dalam penyaringan di salahgunakan. dimana tidak ada mata anggaran untuk jasa persalinan..2. Kab.2. 5. karena tidak ada pembatasan keperuntukan baik orang miskin dan kaya dapat memakai 63 .sampai sekarang belum ada peraturan bupati ataupun arahan dari Dinas Kesehatan tentang Juknis Jampersal. sehingga hanya sedikit yang memakai Jampersal.. Pemberi Layanan Jampersal di pelayanan dasar adalah bidan puskesmas dan bidan desa.2. Hal ini menyebabkan Jampersal kurang berjalan dengan baik di Kabupaten Paser.5. Namun pada tahun 2012 belum ada klaim Jampersal yang cair karena menunggu terbitnya Peraturan Daerah. Kota Batam Kebijakan jampersal pada pelayanan persalinan baik.

Bidan BPS yang PKS menjadi bertambah dengan cepat.yang dianggap terlalu rendah. Di Kota Batam untuk pelayanan kesehatan dasar berlaku gratis. Kebijakan Jampersal di Kota Batam untuk persalinan dilakukan oleh Nakes di fasilitas kesehatan dan terdapat Perwali untuk Jampersal yang diterbit sejak tahun 2011. Saat ini di Batam terdapat sekitar 400 bidan tapi tidak semuanya mempunyai ijin praktek sehingga tidak dapat PKS. Hal ini karena IBI mensyaratkan bidan PKS harus punya ijin praktek. mulai th 2011. Kebijakan Jampersal dalam pelaksanaan di lapangan dan administrasi mengikuti sistem yang sesuai petunjuk teknis. SIM. paspor.000.. Kebijakan untuk provider pelaksana Jampersal adalah Bidan desa/puskesmas di luar jam Dinas jika sudah mempunyai ijin praktek dapat melakukan MOU dengan Dinkes. Saat ini Pemerintah daerah mengalokasikan insentif untuk tenaga kesehatan berupa upah pelayanan Kesehatan (UPK). sehingga dengan adanya Perda tersebut pada tahun 2013 diharapkan dana Jampersal untuk bidan puskesmas dan jaringannya bisa di manfaatkan sesuai dengan aturan yang ada.350.Jampersal. tetapi dengan kenaikan tarif menjadi Rp. Pencapaian MDGs baru menggaung satu tahun sekarang. persyaratan untuk mendapatkan surat ijin praktek adalah harus mempunyai rekomendasi dari IBI.Untuk mengatasi masalah ini mulai tahun 2013 diterbitkan Peraturan Daerah yang mengatur tarif pelayanan dasar. surat domisili oleh RT/RW. Dan dana Jampersal setelah masuk ke kas negara tidak dapat ditarik kembali dikarenakan tidak adanya mata anggaran untuk penyetoran dan penarikan.500. Saat ini terdapat lebih dari 90 bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan untuk program Jampersal.. 64 . Dalam implementasi Jampersal di kota Batam awalnya tersendat karena klaim hanya Rp. Dengan demikian dana Jampersal untuk bidan di puskesmas tidak dapat dibayarkan kepada pelaksana Jampersal di puskesmas.ditambah empat kali pemeriksaan kehamilan.000. Kepersertaan pasien jampersal tidak menjadi hambatan yaitu ibu hamil yang tidak punya jaminan dan punya identitas diri berupa KTP.

2. Seperti diketahui bidan puskesmas di Batam. Tentu saja hal ini membuat bidan menjadi tidak nyaman dan berisiko untuk menjadi temuan. puskesmas di pulau disediakan rumah tunggu untuk persalinana yang letaknya didekat rumah bidan. klaim Jampersal sampai saat penelitian dilakukan belum dapat dicairkan karena terdapat Aturan Daerah yang tidak memungkinkan untuk pencairan dana Jampersal. kemitraan dukun dilaksanakan di dua puskesmas tersebut juga dilakukan dengan ketentuan ketika ibu bersalin adalah rujukan dukun maka wajib ada bidan dalam melakukan pelayanan persalinan. Kebijakan Dinas kesehatan. Kabupaten kepulauan Natuna Kabupaten Natuna adalah satu-satunya kabupaten yang dalam penelitian ini tidak memanfaatkan pembiayaan Jampersal. Penanganan keluhan pasien khususnya untuk Jamkesmas dan Jampersal dilakukan di Kota Batam sudah dilakukan melalui tim Jamkesmas di Dinas Kesehatan. Pada tahun 2011 bidan yang belum PKS dengan Dinas Kesehatan juga dapat melakukan kemitraan dengan dukun. sehingga beberapa bidan di puskesmas termasuk di puskesmas pulau Galang tidak dapat melakukan PKS dengan Dinas kesehatan.14. 5. pembiayaan pelayanan dapat di klaim dengan Jampersal. baru bisa diklaim/dibayarkan Jampersal dengan rincian yang disepakati yaitu sebesar 100 ribu untuk jasa dukun dan 400 ribu jasa pelayanan bidan. Kebijakan ini dirasakan cukup memberatkan untuk bidan. Pada tahun 2011 ketika program Jampersal dicanangkan. Sehingga terjadi pengklaim Jampersal beberapa bidan di atas namakan satu bidan yang PKS.Untuk mendapatkan rekomendasi tersebut bidan harus mengikuti pelatihan APN dan sebagai anggota IBI aktif selama 1 (satu) tahun. tapi tahun 2012 kemitraan hanya bisa dilakukan oleh bidan PKS saja. Untuk puskesmas yang diwilayahnya masih ada dukun seperti puskesmas Bulang dan Galang terdapat program kemitraan.2. Hal ini disebabkan Di Kabupaten Natuna sejak Tahun 2007 berlaku peraturan bupati untuk pertolongan persalinan 65 .

Kebijakan khusus RS terkait pelayanan. yaitu untuk tarif Perda berbeda dengan tarif INA CBGs. Potongan bervariasi. sesuai dengan kemampuan membayar pasien. 66 . sedangkan saat ini atas instruksi propinsi Jamkesda harus menggunakan tarif INA CBGs. Permasalahan saat ini adalah tarif untuk di rumah sakit. Sehingga masyarakat Natuna untuk pertolongan persalinan sudah dibiayai dengan Jamkesda. maka RS mengambil kebijakan untuk memotong biaya pelayanan RS. 2) Perbub untuk tarif di RS. kecuali TNI/Polri yang suami/istrinya adalah petugas RS untuk biaya kesehatan gratis. Hal ini disebabkan jika Kabupaten Natuna akan memanfaatkan Jampersal maka harus melakukan revisi Peraturan Bupati tersebut. Karena mereka juga abdi masyarakat. Sebenarnya Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna berkeinginan untuk memanfaatkan Jampersal. 4) MOU antara Dinas Kesehatan dan RS. karena mereka tidak memiliki fasilitas kesehatan di Natuna. yaitu untuk anggota TNI/Polri. sedangkan mereka bukan peserta Askes. dari hasil konsultasi dikemukan bahwa jika Daerah mempunyai Pembiayaan untuk persalinan dapat tidak memanfaatkan Jampersal sehingga diputuskan Kabupaten Natuna tidak memanfaatkan Jampersal. Ketika terdapat peraturan Menteri Kesehatan untuk Jaminan Persalinan Dinas Kesehatan kabupaten Natuna melakukan konsultasi dengan Kemenkes (Pusat). potongan yang terbesar sampai 50%. Jamkesda sudah mencover seluruh pelayanan untuk kesehatan ibu dan bayi. Peraturan tentang Jamkesda meliputi 1) Peraturan daerah tentang Jamkesda. setiap bulan dipotong 3%. sehingga tahun ini diusulkan untuk dilakukan revisi peraturan Bupati. tetapi mereka tidak bisa menggunakan haknya karena tidak ada fasilitas TNI/Polri di Natuna.yaitu Jamkesda Kabupaten Natuna. 5) Jasa Pelayanan. SK Direktur. 3) Perbub/SK Bupati untuk insentif petugas kesehatan RS.

1. 3) bebas gizi buruk. Anggaran pendukung dialokasikan dari bantuan dana dekonsentrasi propinsi yang diperuntukkan untuk pembiayaan operasional pembinaan Rumah Sakit Ponek kepada Puskesmas PONED. 1) Bebas kematian ibu melahirkan. peralatan dan bahan habis pakai dll. walaupun bentuk dukungan secara khusus misalnya dalam bentuk penyediaan sarana. Dinas Kesehatan memiliki perjanjian/memorandum of understanding (MOU) dengan Rumah Sakit untuk pembinaan dari Rumah Sakit PONEK kepada Puskesmas PONED. Program ini merupakan program Bupati . rumah sakit dan puskesmas dan jaringannya dalam pelaksanaan Jaminan persalinan.3.3 AKSEPTABILITAS KABUPATEN/KOTA TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Akseptabilitas kabupaten/kota adalah penerimaan pemerintahan daerah.5. SDM. Pembiayaan di tingkat Kabupaten.sehingga dalam sosialisasinya Jampersal melibatkan dinas lintas sektor termasuk dinas 67 . dalam mendukung program Jampersal belum dilakukan di semua kabupaten/kota. 2) bebas kematian bayi. Bentuk penerimaan dapat berupa dukungan manajemen. sosialisasi dan kebijakan lokal yang mendukung Jampersal Di Kabupaten/Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal dengan bervariasi. Komitmen Kabupaten Sampang untuk mendukung kebijakan Jampersal adalah dengan adanya Peraturan Daerah No. bebas bayi tidak terimunisasi lengkap. Di Kabupaten Sampang sosialisasi Jampersal di kecamatan dilakukan melalui program Libas 2+ (5 Bebas yaitu. 5 tahun 2011. 4) Bebas TB. dukungan dalam sosialisasi dan adanya kebijakan lokal yang berlaku di wilyah kabupaten/kota. tentang jasa Pelayanan dan kebijakan. 5. Dukungan Manajemen. sedangkan 2+ adalah pelayanan gratis masyarakat dan tuntas penanganan kusta. Pemda tidak mengalokasikan secara khusus dari APBD.

kesehatan, walaupun ‘bungkusnya” adalah LIBAS bukan Jampersal secara langsung. Pemerintah Daerah Kota Blitar mendukung pelaksanaan Jampersal dengan diterbitkannya Perwali yang didalamnya berisi tentang kebijakan di Kota Blitar termasuk jasa pelayanan bagi petugas kesehatan. Dalam mendukung Jampersal dengan menambah jumlah bidan dalam rangka penurunan Angka Kematian Ibu. Selain itu dukungan pemda ditunjukkan dengan sarana untuk bersalin di puskesmas PONED. Dukungan yang diberikan oleh Pemerintah Kota Kota Bandung adalah dengan membagi wilayah rujukan ke dalam zona-zona tertentu, supaya tidak terjadi penumpukan pasien di satu rumah sakit saja. Selain itu, ada peningkatan jumlah rumah sakit yang bisa menjadi pusat rujukan bagi pasien dengan komplikasi.
“..RSUD Kota Bandung merupakan rujukan untuk wilayah Bandung Timur, di wilayahnya terdapat dua puskesmas PONED yaitu Puskesmas Cibiru dan Puskesmas Padasuka. Seperti diketahui sejak sebulan yang lalu di Kota Bandung di launching Sistem Kesehatan Kota Bandung dengan melibatkan seluruh saranan kesehatan di kota Bandung dibagi Zona (jejaring Rujukan)..“ (NN, RSUD Kota Bandung).

penambahan

Di Kota Mataram dukungan Pemerintah daerah dengan menyekolahkan bidan menjadi Bidan dan Perawat menjadi D3 dengan dukungan dana APBD. Selain itu dilakukan pelatihan bidan oleh SPOG ada empat puskesmas PONED yaitu Puskesmas Ampenan, Puskesmas Cakra dan Puskesmas Tanjung Karang. Obat dan BHP disediakan untuk bidan yg melakukan pelayanan di puskesmas dan Polindes dan terdapat dana khusus untuk operasional BHP.
“..kebutuhan obat dan BHP biasanya PKM menyediakan sendiri tapi juga ada yg dari dinkes. Penyediaannya dari dana yg berasal dari operasional PKM..” (FGD Bidan, Kota Mataram).

Di Kabupaten Wakatobi dukungan pemerintah daerah dalam pelaksanaan Jampersal sangat besar. Dengan adanya Jampersal, maka pemerintah daerah sangat intens mendukung kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak untuk tahun 2013. Salah satunya adalah dengan menaikkan anggaran untuk
68

kemitraan dukun dan bidan dengan mengalokasikan dana khusus bagi dukun yang mau bekerja sama dengan bidan. Di Wakatobi komitmen daerah terhadap pembiayaan Jampersal bagus. Selama ini daerah sudah menyiapkan dana pendamping, khususnya untuk membiayai tenaga kesehatan yang harus mendampingi pasien yang di rujuk. Kami biasanya merujuk ke Bau-bau karena disana sarananya lebih lengkap. Selain jampersal dan jamkesmas, kami punya bahtera mas dari propinsi untuk masyarakat miskin dan jamkesda kab. Dana ini yang kami gunakan untuk membiayai tenaga kesehatan pendamping pasien. Bupati Wakatobi punya perhatian khusus terhadap Jampersal dan kesehatan pada umumnya. Ini diwujudkan dengan dibangunnya ruang operasi yang semoga cepat selesai. Pemerintah kabupaten juga sudah lama menganggarkan kontrak untuk SPOG sebesar 25 juta setiap bulannya, tapi sayang tidak ada yang berminat sehingga akhirnya alokasi anggaran itu dihapus. Padahal juga disediakan rumah dinas dan kendaraan dinas. Pernah diupayakan kerjasama dengan SPOG di Kendari, perkunjungan akan dibiayai sebesar 4,5 juta,tetapi tidak berjalan juga. Saat ini Wakatobi untuk tenaga spesialis untuk kebidanan dan Kandungan adalah kontrak dengan Residen yang sedang mengambil pendidikan. Selama penelitian berlangsung selama satu minggu Tenaga dokter spesialis tidak dapat ditemui karena sedang berada di luar Provinsi. Itu kondisi yang ada. Untuk

mengatasi kekurangan tenaga, kami diminta membuat usulan tenaga dokter spesialis yaitu SPOG. Ini sudah ditindaklanjuti dengan meminta pada Badan Kepegawaian daerah (BKD) mengenai usulan tenaga tersebut, tetapi belum ada kabar sampai penelitian selesai dilaksanakan. Di Kota Batam pelayanan dasar gratis. Untuk tenaga kesehatan terdapat UPK (upah pelayanan Kesehatan) yaitu insentif di luar gaji berupa upah pelayanan kesehatan (UPK) dari Pemda yang jumlahnya cukup besar. Ini merupakan bentuk komitmen dari Pemda terhadap program kesehatan termasuk Jampersal.
69

Dari penelitian ini secara umum kabupaten/kota memberikan dukungan terhadap kebijakan Jampersal dengan melihat komitmen pengambil kebijakan dan pelaksana program Jampersal adalah baik, hal ini terlihat dengan adanya keinginan untuk mensukseskan program ini. Hal ini diperkuat dengan penelitian dari Armey Yudha tahun 2012 di Kabupaten Lebak yang menyatakan hal yang sama.

5.4.

AKSEPTABILITAS PROVIDER DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN. Dalam pelaksanaan Jaminan Persalinan di kabupaten/Kota peran

pemberi layanan sangat mempengaruhi

implementasi Jaminan Persalinan.

Adapun yang dimaksud pemberi layanan (provider) adalah dokter, bidan puskesmas, bidan desa, bidan praktek swasta dan bidan rumah sakit dan Dokter Kandungan dan Kebidanan (SPOG). Akseptabilitas/penerimaan provider terhadap Jampersal mempengaruhi keberhasilan dari tujuan Jampersal. Akseptabilitas disini adalah penerimaan provider terhadap Jampersal dengan menggali

persepsi, upaya yang dilakukan dalam mendukung kelancaran pelaksanaan Jampersal. Sosialisasi sangat berpengaruh terhadap penerimaan provider terhadap kebijakan Jampersal. Untuk mengetahui penerimaan Provider terhadap kebijakan Jampersal , maka akan dibahas sosialisasi yang dilakukan terhadap provider, peneriman terhadap paket layanan, penerimaan terhadap kepesertaan/sasaran,

pemanfaatan dan persyaratan klaim, Pelayanan.

besaran tarif pelayanan dan Jasa

70

Gambar 5.7 Diskusi Kelompok pada Bidan

5.4.1. Sosialisasi Jampersal di Puskesmas dan Rumah Sakit

Gambar 5.8 Bagan Sosialisasi Jampersal di Kabupaten / Kota

Menurut Nawawi (2009) terdapat banyak cara dalam mensosialisasikan kebijakan yaitu dengan mempublikasikan seremoni penandatangan naskah kebijakan publik, berita di media masa, seminar dan sarana lainnya seperti buklet, leaflet dan lain sebagainya.
71

Dalam sosialisasi Jampersal di kabupaten / kota terdapat pola yang hampir sama yaitu dimulai dengan kepala Dinas dan Pengelola Jampersal

kabupaten/kota mendapatkan sosialisasi di Dinas kesehatan Provinsi atau mendapat sosialisasi langsung dari Kemenkes RI (Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan). Materi yang di sosialisasikan adalah Juknis Jampersal tahun 2011. “..pada tahun 2011 pernah ada tiga orang dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang datang ke Pulau Kaledupa, sekalian kami minta untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat Pulau Kaledupa tentang Program Jampersal. Sebenarnya tiga orang datang ke Pulau Kaledupa bukan untuk melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan Program Jampersal.Pernah juga pihak Kemenkes mengundang seluruh kabupaten di Indonesia untuk mengevaluasi program Jamkesmas, Jampersal dan BOK di Bali. Dalam evaluasi itu juga sekalian disosialisasikan program Jampersal..” (Kadinkes, Kab Wakatobi).
“..awalnya dapat informasi Jampersal dari pemerintah provinsi yang membahas juknis Jampersal. Sosialiasi dari pusat kita dapat dari internet, ada berita-berita terbaru kami update dari internet kemudian kita ekspos dan kadang kita kirimkan ke bidan-bidan puskesmas..” (Kabid KIA, Kota Balikpapan). “..sosialisasi dengan spot iklan di RRI, itu inovasi dari kami dan mendapat penganggaran dari Propinsi. Penyuluhan di RRI setiap sabtu dimulai tahun 2012. Tahun 2011, sosialisasi dgn pertemuan lintas sektor, kita lanjutkan ke puskesmas..” (Kabid Yankes, Kota Ambon).

Dinas Kesehatan Kabupaten mensosialisasikan dengan mengundang kepala puskesmas dan Bidan koordinator,organisasi Profesi karena sosialisasi tidak ada dana khusus maka pelaksanaan di daerah tergantung Dinas kesehatan masing-masing, biasanya terintegrasi dengan kegiatan program lainnya. Materi sosialisasi pada umumnya adalah tentang petunjuk teknis Jampersal meliputi syarat pengguna Jampersal, paket pelayanan, persyaratan klaim dan, besaran tarif. Setiap kabupaten/kota untuk frekuensi dan kualitas sosialisasi sangat bervariasi dikarenakan tidak ada petunjuk dan anggaran khusus untuk program Jampersal, sehingga pelaksanaan terintegrasi atau dilakukan bersamaan dengan kegiatan program lain. Sosialisasi dilakukan oleh pengelola Jampersal Dinas kesehatan dengan mengumpulkan bidan, kepala puskesmas, bidan koordinasi, dan bendahara puskesmas. Secara umum sosialisasi untuk provider/pelaksana pelayanan Jampersal dirasakan kurang.
72

PKK..” ( Kota Blitar) Dalam sosialisasi di kabupaten/kota. Selain itu Rumah sakit mendapat sosialisasi langsung dari Pusat Pembiayaan Jaminan Kesehatan (P2JK) dengan mengundang Direktur RS atau pengelola Jamkesmas dan Jampersal. Walaupun sosialisasi terhadap pemberi layanan (provider) sudah dilakukan.sosialisasi sudah jalan tapi belum sampai ke akar. muslimat. dukun. Bidan memanfaatkan klas ibu hamil sebagai sarana sosialisasi Jampersal yang cukup efektif pada sasaran. kepala desa.. Di beberapa kabupaten seperti Sampang sosialisasi oleh Puskesmas ditingkat kecamatan dengan mengundang camat. 73 .Di puskesmas kepala puskesmas meneruskan sosialisasi. seharusnya ada kerja sama yang baik antara pemerintah dengan aparatur desa. Kota Balikpapan dan Kota Batam rumah sakit yang menjadi rujukan Jampersal dan menjalin perjanjian kerjasama adalah Rumah Sakit Provinsi. dari hasil FGD banyak keluhan bidan tentang minimnya pengetahuan bidan terhadap program Jampersal. mulai dari kabupaten sampai desa. dukun dan Toma. “. Kondisi ini menyebabkan komunikasi dan sosialisasi antara Dinas kesehatan Kabupaten/kota dan Rumah sakit Provinsi tersebut kurang lancar. kepolisian. Materi sosialisasi tidak khusus tentang Jampersal masih secara umum tentang Jampersal. kader kesehatan. kecamatan. Sosialisasi pada bidan desa melalui pertemuan rutin bulanan oleh bidan koordinator. fatayat atau aisiyah. Selanjutnya bidan desa melakukan sosialisasi pada masyarakat. Namun demikian di beberapa kabupaten/kota sosialisasi dirasakan masih kurang. Untuk sosialisasi lintas sektoral dilakukan pada pertemuan atau rapat koordinasi di tingkat Dinas di kabupaten. biasanya kepala puskesmas melakukan sosialisasi melalui rapat rutin/minilokakarya di puskesmas. Sosialisasi juga dilakukan melalui organisasi masyarakat. dinas kesehatan mengundang juga rumah sakit yang akan menjadi rujukan Jampersal. Di Kota Ambon. namun frekuensi dan kualitas sosialisasi masih dirasakan kurang. hal ini juga menjadi kendala dalam sosalisasi karena Dinas kesehatan kota tersebut merasa sosialisasi menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan Provinsi.

Karena keterbatasan sosialisasi terdapat provider di tingkat rumah sakit yang beranggapan bahwa pelayanan Jampersala hanya dilaksanakan di tingkat layanan dasar yaitu di puskesmas dan jaringannya serta bidan praktek swasta saja. Jadi pada saat itu semua pengelola Jamkesmas Jampersal dari dinas dan rumah sakit seluruh Indonesia dikumpulkan.” (Dinkes. 4) dukungan sarana. pusat melaksakan acara evaluasi pelaksanaan Jamkesmas dan Jampersal 2011 serta rencana kebijakan Jamkesmas Jampersal 2012. bidan praktek swasta... Waktu itu awal-awal juknis 2011. Kota Mataram). 7) Jangkauan Jampersal terhadap sasaran. Pemberi Layanan di Fasilitas Kesehatan Dasar Dalam memberikan pelayanan kesehatan dasar di puskesmas.. dilakukan oleh pihak humas kerjasama dengan kasi pelayanan ke puskesmas-puskesmas terutama untuk rujukan berjenjang. pemberi layanan (provider) yang memegang peranan dalam pelayanan Jaminan Persalinan adalah dokter. Pada bulan November 2011 di Bali. Untuk penyuluhan di RS tdk dilakukan.untuk sosialisasi dari pusat hanya ada pada waktu pertemuan di propinsi. Khusus terhadap bidan dilakukan pengisian kuesioner dengan skala likert dengan self assement untuk mengetahui persepsi bidan terhadap Jampersal. 5) kendala implementasi Jampersal.4. 5. 9) kepuasan terhadap reward (tahun 2012) yang tertuang pada gambar dibawah ini. 8) Persepsi tentang merujk pasien dan. Pada saat ini pihak pengelola belum memiliki Juknis 2012. Persepsi bidan dibentuk dari beberapa pertanyaan yang dikompositkan. 74 .. 2) dukungan Jampersal pada program KIA. “. Dalam penelitian ini dilakukan wawancara mendalam dan FGD pada provider untuk mengetahui penerimaan terhadap Jampersal. puskesmas PONED dan jaringannya serta BP swasta yang melayani pelayanan KIA. Tapi kalau pusat datang langsung ke RS tidak ada. 3) Sosialisasi Jampersal. 6) tugas sebagai penolong persalinan. Dari komposit pertanyaan bidan di peroleh persepsi bidan terhadap Jampersal sbb: 1) dukungan pada kebijuakan Jampersal. bidan puskesmas.“.” (RSUD.untuk sosialisasi jampersal di RS. bidan desa.2. Kab Sampang).

Ternyata 35.6% bidan menyatakan bahwa Jampersal mendukung program KIA.4% responden bidan juga kurang memadai. budaya untuk bersalin di non nakes. Riset Evaluatif Implementasi Jampersal 2012 Dari hasil self assessment bidan terhadap kebijakan Jampersal. 94. Persepsi bidan terhadap kendala meliputi kendala dalam meyakinkan masyarakat untuk memanfaatkan Jampersal.Gambar 5.6%).6% bidan menyatakan setuju dan mendukung program Jampersal. yaitu upaya penurunan AKI dan AKB. Dalam menjalankan tugasnya bidan menghadapi kendala. Di puskesmas sosialisasi kebijakan Jampersal dan sosialisasi pada masyarakat menurut bidan masih kurang (60. akses ke nakes karena kendala geografis dan masyarakat yang masih lebih senang bersalin dirumah. Demikian pula sarana untuk menolong persalinan di puskesmas/polindes menurut 44.9 Persepsi Bidan Puskesmas terhadap Jaminan Persalinan N=736 Sumber : data self assessment bidan. bidan menyatakan sebaiknya Jampersal dilanjutkan karena banyak bermanfaat untuk masyarakat miskin.5% bidan menyatakan masih mempunyai kendala terhadap 75 . Selain itu 94. Sosialisasi masih menjadi tanggung jawab dinas kesehatan. program ini juga dinilai mampu memberi dukungan pada masyarakat yang kurang memiliki akses secara pembiayaan ke tenaga kesehatan.

tapi lebih senang jika memberi pelayanan pengobatan karena menolong persalinan dianggap sangat berisiko.6% bidan menyatakan baik. malah kalau ada kasus sebulan bisa 2 kali.4. dan program “Tempelkan Musik Mozart di perut Ibu. 82. Kesesuaian reward Jampersal dengan tugas yang dibebankan dan kepuasan adanya kepastian pembiayaan dengan adanya Jampersal. dimana selama hamil. sebenarnya sudah bagus. c). namun beberapa bidan merasa kurang jika hanya empat kali saja ANC yang dibiayai oleh Jampersal.5% bidan menyatakan senang menolong persalinan sendiri daripada merujuk ke layanan rujukan. Selama ini paket pelayanan yang diberikan adalah 10 T. Dua kali pada triwulan ketiga . 1 kali pada triwulan kedua. yang ditambah adalah pemberian tablet DHA. bisa tiap bulan. Persepsi bidan terhadap keterjangkauan (akses jarak) masyarakat terhadap Jampersal. Ini karena di beberapa daerah pemeriksaan kehamilan sebelum ada Jampersal kebijakan Daerah yang menggratiskan pembiayaan ANC di fasilitas pemerintah. untuk masalah ANC.” (Bidan Kab. Namun namun paket pelayanannya mungkin bisa ditambah..paket pelayanan yang diberikan program jampersal. mungkin bisa ditambah menjadi 12 T. Namun demikian hasil penelitian ini dengan adanya Jampersal 81. “..1. secara umum bidan dapat menerima. Dengan demikian jika masyarakat melakukan ANC lebih dari frekuensi yang dibiayai Jampersal maka bidan tidak dapat mengklaimkan pelayanan tersebut. “.2. Bogor)..hal diatas 94. ibu hamil diperiksa sebanyak 4 kali disertai konseling KB dengan frekuensi a). didapatkan 85. Sampang). Paket Layanan pemeriksaan Paket pelayanan pemeriksan kehamilan (ANC) adalah kehamilan (ANC) yang dibiayai oleh program ini mengacu pada buku Pedoman KIA.” (Bidan Kab.cuma gini pak. ANC itu kebanyakan ndak 4 kali pak. b). 76 . hasil penelitian 5.. sehingga masyarakat cenderung melakukan ANC pada tenaga kesehatan lebih dari 4 (empat) kali.7 % bidan menyatakan yang memanfatkan Jampersal tidak hanya sasaran yang dekat dengan puskesmas/polindes saja tetapi juga yang jauh. 1 kali pada triwulan pertama. namun ya tergantung dari Kemenkes.3% bidan menyatakan senang dengan tugas yang menjadi tupoksinya yaitu menolong persalinan.

misalnya manual plasenta. dalam pelayanan Jampersal hanya persalinan saja yang dapat di klaim. karena kebijakannnya di Puskesmas perawatan. Aru dan Sampang karena geografis sehingga masyarakat masih bersalin di rumah dengan ditolong oleh tenaga kesehatan. Kab. Kompetensi bidan. bahwa kegawatdaruratan kebidanan dapat dilakukan tidak hanya di Puskesmas Poned tetapi juga di Puskesmas perawatan. tidak semua bisa diklaim. sehingga biaya untuk kelebihan hari dibebankan ke pasien Jampersal. Seperti pernyataan informan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang berikut: “.. Untuk persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan dibeberapa kabupaten tidak dapat dilaksanakan dengan berbagai kondisi misalnya di kabupaten Kep. Sampang). Apabila hal tersebut diterapkan. jadi syaratnya Puskesmas Perawatan saja. boleh mengklaim. Kita kembalikan ke program. menurut juknis Jampersal dilakukan di Puskesmas PONED. mungkin sejauh ada pelimpahan tugas bisa melakukan ini itu mungkin bisa dibijaksana.bidan melaksanakan pelayanan. tapi secara kualitas sesuai dengan waktu yang ditetapkan masih perlu dievaluasi lebih lanjut. bahkan di Aru 77 . Untuk paket persalinan normal dalam petunjuk teknis dinyatakan dilakukan oleh nakes di fasilitas kesehatan dengan rawat inap minimal 1 (satu) hari .. maka hanya sedikit Puskesmas yang dapat melakukan karena terbatasnya Puskesmas PONED terutama di kabupaten. Pelaksanaannya misalnya di Kabupaten Sampang ada kebijakan Dinas Kesehatan.” (Dinkes. Demikian pula dengan pelayanan kegawatdaruratan kebidanan. tapi kalau Poned terlalu jauh.Dalam salah satu FGD bidan di Lombok Tengah bidan bahkan tidak mengetahui bahwa paket pelayanan ANC dan PNC dapat di klaim. bisa melakukan tindakan selain itu. Untuk ANC secara kuantitas frekuensi lebih dari 4 kali pemeriksaan. Hal ini di karenakan di Loteng sebelum Jampersal sudah ada kebijakan kabupaten gratis untuk semua pelayanan kesehatan. untuk program itu seperti apa ? untuk puskesmas perawatan. tapi ada beberapa kabupaten/kota misalnya seperti kota Balikpapan puskesmas menyatakan pelayanan persalinan satu hari kurang karena kebiasaan di daerah tersebut untuk persalinan lebih dari satu hari. Di kabupaten/kota secara umum cukup dan dapat di implementasikan. tetapi tidak bisa diklaimkan bukan wewenangnya.

Pelayanan nifas diintegrasikan antara pelayanan ibu nifas. tapi jika lebih dari sehari maka pasien dikenakan biaya tambahan antara Rp.000.PNC. “.untuk mengganti bahan habis pakai dan uang makan pasien. Dari penelitian ini didapatkan bahwa di kabupaten/kota PNC dapat diimplementasikan. padahal bs aja dlm sehari lebih dari 1 kunjungan/ KN 1 hari 3 kali (harus ada SPT dari kepala Puskesmas). 150. temuan BPK.. Aru). demikian juga di beberapa puskesmas dengan geografis cukup sulit seperti di Lombok Tengah. bahkan dengan adanya paket ini cakupan PNC meningkat. jika pasien dirawat sehari makan gratis sesuai paket Jampersal . Untuk transport kunjungan rumah tersebut di Lombok tengah di biayai dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK).. pelayanan bayi baru lahir. Jadi klo OH 78 .” (Kepala Puskesmas di Kab.. transport dari BOK dibayar tdk boleh lebih dari 30 hari (ini kendalanya).” (Bidan Kab. Berbeda dengan Kab.masyarakat disini lebih suka melahirkan di rumah. dan pelayanan KB pasca salin. sehingga dilakukan “jemput bola” dan pasien Jampersal dibawa ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan persalinan. Mereka harus dijemput oleh bidan desa untuk bersalin ke sarana kesehatan. “. Wakatobi) Paket Pelayanan Nifas (PNC) adalah Pelayanan nifas sesuai standar yang dibiayai oleh program Jampersal pada ibu dan bayi baru lahir yang meliputi pelayanan ibu nifas. Pelayanan bayi baru lahir dilakukan pada saat lahir. Kalau sudah mulai sakit.keterbatasan sarana dan tenaga kesehatan di puskesmas sehingga persalinan dilakukan di rumah.. bayi baru lahir dan pelayanan KB pasca salin.pada persalinan normal di puskesmas pasien dirawat antara 1 – 3 hari.belum punya kesadaran untuk datang sendiri ke sarana kesehatan.. Wakatobi dimana ada komitmen untuk persalinan oleh nakes di fasilitas kesehatan.. mungkin merasa lebih enak di rumah. Lagian di puskesmas tidak ruangan yang.. tapi ada beberapa masalah dalam pelaksanaannya sehingga menjadi temuan. “.. Kep. Pada beberapa daerah dengan geografis sulit seperti di kepulauan Aru dan Wakatobi pelayanan nifas dilakukan dengan kunjungan rumah oleh tenaga kesehatan. pasien menghubungi bidan kemudian meminta supaya bidan mengangkut pasien ke sarana kesehatan dengan menggunakan motor atau mobil ambulan.” (Kepala Puskesmas di Kota Balikpapan).000.. “. OH tdk boleh lebih. Tatalaksana asuhan PNC merupakan pelayanan Ibu dan Bayi baru lahir sesuai dengan Buku Pedoman KIA.300.

sedangkan permasalahannya penyediaan alat kontrasepsi terbatas oleh BKKBN. Padahal klo KN harus dikunjungi. Hal ini menyebabkan lepasnya kesempatan untuk mendapatkan akseptor KB paska persalinan. tapi secara umum di kabupaten / kota pasien lebih memilih KB suntik sebagai alat kontrasepsi.” (Dinkes. Walaupun ada di tetapkan pengisian informed consent untuk yang akan memanfaatkan Jampersal agar menggunaan IUD paska persalinan.. “. Untuk jenis pelayanan alat kontrasepsipun masih bervariasi ada yang sudah secara tegas berani menetapkan kontrasepsi mantap (IUD) misalnya seperti di Puskesmas Puter di Kota Bandung. Namun beberapa pasien menolak memakai Jampersal ketika diharuskan KB dengan IUD.” (Bidan Kab Lombok Tengah). bagaimana jika ternyata yang sudah terpakai ini sudah lebih dari Rp 100. Di Kota Bandung pelayanan Jampersal untuk KB dapat dilakukan paska placenta langsung pasang IUD tapi masih ada masyarakat yang memilih KB suntik saja.. bukan termasuk KB diluar itu. Sampang) Di Kota Kendari pelaksanaan KB paska persalinan belum dapat berjalan secara lancar karena masih adanya budaya di masyarakat yang belum mau ber KB sebelum 42 hari karena masa nifas dianggap belum perlu untuk menggunakan alat kontrasepsi. Untuk paket pelayanan KB belum semua kabupaten/kota menerapkan. masyarakat memilih untuk melepas Jampersal untuk dapat memanfaatkan KB suntuk dengan pembiayaan sendiri seperti diutarakan oleh kepala Puskesmas Puter. “.” (kepala Puskesmas di Kota Bandung). Kab.lebih dari 30 hari tidak dibayar.. Beberapa bidan juga mengeluhkan adanya masalah rujukan ini.Jampersal di puskesmas puter setiap pasien yang menggunakan program harus menandatangai inform consent sampai menggunakan KB IUD.kita hanya membatasi KB pasca persalinan..000.. 79 . terutama jika ada kasus. padahal penggantian Jampersal hanya Rp 100.000. pasien lebih baik membayar sendiri. Ada beberapa kabupaten/kota yang menerapkan inform consent untuk pelayanan Jampersal sampai dengan pelayanan KB.

... Sasaran pengguna Jampersal adalah 1). Aru). terutama bagi masyarakat miskin yang bebas dari biaya persalinan. Salah satu syarat sasaran yang memanfaatkan Jampersal adalah belum memiliki Jaminan persalinan. ibu nifas sampai dengan paska persalinan 42 hari dan 4).2. Untuk yang terlantar dinas yang fasilitasi sama jamkesda. Batas waktu sampai dengan 28 hari pada bayi dan sampai dengan 42 hari pada ibu nifas adalah batas waktu pelayanan PNC dan tidak dimaksudkan sebagai batas waktu pemberian pelayanan yang tidak terkait langsung dengan proses persalinan dan atau pencegahan kematian ibu dan bayi karena suatu proses persalinan.. Tapi pada umumnya (sebagian provider) yang dilakukan wawancara mendalam dan FGD menerima program Jampersal dengan baik. 80 . 2). 3).4.. Misalnya untuk sakit jiwa dia melahirkan ya pakai surat itu saja.program jampersal ini disambut baik. “. Kota Balikpapan). Biasanya langsung ke nakersos saja. ibu hamil . “.” (Bidan Kota Blitar). Terkait sasaran Jampersal sebagian besar provider memasalahkan dengan tidak adanya pembatasan pada sasaran yang tidak mampu / miskin saja.5. tidak saja pada proses melahirkan tapi sampai pada biaya pelayanan ke rumah sakit jika ada yang komplikasi..beta maunya itu dibuat klasifikasi hanya diperuntukan anak pertama dan yang tidak masuk Askes saja. ibu bersalin. tapi juga dapat dimanfaatkan sasaran mampu. nanti dia datang untuk dibuatkan surat terlantar. Jika ada pasien mampu maka wajib bayar. Kepesertaan / sasaran Sasaran Jampersal adalah kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi untuk mencegah AKI dan AKB dari suatu proses persalinan. selain itu tidak adanya pembatasan jumlah anak sebagai sasaran Jampersal sebagian provider mengkhawatirkan akan menjadi berbenturan dengan program Keluarga Berencana.” (Bidan Kota Ambon).2. Supaya program KB berjalan dengan baik.. Pemahaman masyarakat sekarang dengan adanya jampersal masyarakat merasa enak.. “.kalau yang lalu ada yang tidak punya ktp sama sekali. mau buat anak berapa juga tetap gratis.menurut saya jampersal harusnya untuk masyarakat yang tidak mampu.” (dinkes. neonatal (0-28 hari). “.” (Bidan Kep.

. Kita sbg bidan yang mengurusnya sampai kita mencari ke rumahnya ternyata rumanya sudah tdk ada krn banjir. Baru ketika mengetahui bahwa untuk memanfaatkan Jampersal harus memiliki kartu identitas yaitu KTP. paspor (Kab. Syarat dan Mekanisme Klaim Sasaran Jampersal dapat memanfaatkan Jampersal dengan syarat dapat menunjukkan kartu identitas berupa Kartu tanda penduduk (KTP). Tapi hampir seluruh kabupaten/kota lokasi penelitian mempermudah persyaratan dengan cukup sasaran membawa surat keterangan domisili. tp sampai melahirkan belum juga mengurus.. “.” (Bidan Kota Ambon).4.masalah Identitas ini (KTP/Kartu domisili) ini persoalan yang rumit dan menjengkelkan. KTP suami (Kota Blitar).” ( Bidan Kota Ambon). misalnya dengan memperbolehkan dengan hanya surat keterangan domisili. tidak punya KK maka langsung menjadi pasien umum dan harus bayar.jika ada pasien seng punya KTP (tdk punya KTP).. Lombok Tengah). Dibeberapa Kabupaten kepemilikan KTP untuk sasaran menjadi masalah. karena masyarakat sering tidak mempunyai KTP. 81 .3.2. KTP tdk ada bs dengan domisili tetapi disyahkan oleh camat. Kartu Keluarga (kota Ambon). 5. Batam). “. kartu mahasiswa. Di kabupaten Kota persyaratan ini diimplementasikan bervariasi dengan tujuan memberi kemudahan pada sararan untuk memanfaatkan Jampersal. Kartu pelajar (Kab.. Surat Ijin Mengemudi (kab. masyarakat mulai merasa pentingnya untuk mempunyai kartu identitas. KK juga harus disyahkan camat. karena ada pasien ibu hamil datang ANC dengan jampersal tetapi tidak membawa KTP atau identitas lain utk persyaratan klaim. Menurut informan sebelumnya masyarakat merasa tidak berkepentingan untuk memiliki KTP.Sebetulnya dari penjelasan diatas menunjukkan juga keterbatasan pemahaman bidan pada program Jaminan Persalinan terutama terhadap pelayanan KB yang merupakan satu paket dalam pelayanan PNC. untungnya bpk raja/lurah mengenalnya jadi bisa dibuatkan surat domisili. Lombok Tengah).

10. Dalam petunjuk teknis Jampersal 2012 diterangkan bahwa besaran jasa medis yang dikembalikan pada fasilitas kesehatan minimal 75%. Dalam implementasi dilapangan secara umum kabupaten/kota melaksanakan alur dana seperti dalam petunjuk teknis. Besarkecilnya jasa medis yang diembalikan tergantung pada komitmen atau aturan yang berlaku di daerah tersebut. 82 . terintegrasi (menjadi satu kesatuan) dengan dana Jamkesmas. namun ada beberapa daerah yang masih beranggapan bahwa dana Jampersal masuk dalam rekening Pemerintah Daerah sehingga sering menimbulkan polemik di daerah. Namun demikian pada kenyataannya tidak demikian. Sehingga dana yang sudah di klaim setelah cair ke fasilitas kesehatan/ puskesmas akan disetorkan kembali seluruhnya pada kas daerah. maka status dana menjadi pendapatan fasilitas kesehatan/puskesmas yang belum menerapkan BLUD (kebetulan puskesmas yang menjadi lokasi penelitian kebanyakan adalah non BLUD). Setelah hasil verifikasi klaim dibayarkan sebagai penggantian pelayanan kesehatan. terdapat daerah yang lebih besar dari 75% tapi ada juga yang jauh lebih kecil dari ketentuan di petunjuk teknis.Menurut petunjuk teknis Jampersal di kabupaten/kota dana Jampersal di pelayanan kesehatan dasar disalurkan ke Rekening Dinas kesehatan kabupaten/kota. Yang kemudian akan dikembalikan pada fasilitas kesehatan sesuai dengan besaran yang diatur dalam Perbup atau Perwali. maka status dana tersebut berubah menjadi dana peserta Jamkesmas dan masyarakat penerima manfaat Jaminan Persalinan. Setelah dana tersebut disalurkan Kementerian Kesehatan ke rekening Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab program (melalui SP2D). Adapun alur pembayaran klaim setelah disetor ke kas daerah digambarkan pada gambar 5.

.Gambar 5. jenis tindakan dan besaran tarif.. Kami menerima dana jasa pelayanan penuh. disimpan di Puskesmas.jasa pelayanan bidan harus melalui jalan yang cukup panjang untuk bisa dibayarkan. sedangkan berkas klaim yang lain dibawa kembali ke Puskesmas yaitu buku KIA. sehingga kami tidak berani lagi mengeluarkan klaim jasa pelayanan jampersal. “. Untuk persyaratan klaim berdasarkan nama pasien.” (Bidan Kota Blitar).. 83 ...Kalau tahun yang lalu 2011. Aru). jika kuitansi sudah lengkap bendahara Jampersal membuatkan STSR (surat tanda setor retribusi) akhirnya disetor ke kas Daerah sebagai PAD. berharap agar sistem klaim lebih di sederhanakan. partograf. Kalau ada dana turun maka kami di puskesmas selalu diberi tahu bahwa dana jampersal sudah ada silahkan segera mengajukan klaim.bidan bisa menerima besaran jasa pelayanan. Dinas kesehatan sangat baik dalam membantu pencairan dana.” (Pengelola Jampersal. dientry data soft ware Jampersal. kelayakan. kami mengeluarkan klaim sekitar 40% karena program jampersal tidak melalui kas daerah. Teman-teman bidan secara sukarela menanggung biaya perjalanan dan penginapan saya ke wanci (ibukota wakatobi) saat mengurus klaim.10 Mekanisme Pembayaran klaim Jampersal di Pelayanan Dasar Di Kabupaten Sampang untuk proses klaim dimulai dengan verifikasi kelengkapan berkas . identitas. Kab. pengisian teknis. “. tidak ada potongan dari dinas kesehatan.. bukti kb dll. tetapi hal tersebut menjadi temuan. Setelah itu direkap oleh pengelola Jampersal. setelah selesai diverifikasi. Kab Paser). “.” (Pengelola Jampersal.

klaim untuk BPS tiap bulan cair dan tepat waktu. Hal ini disebabkan karena proses mekanisme keuangan daerah. Kab.. Ada penggantian obat dan lainnya. Yang menjadi masalah adalah untuk pelayanan ANC karena biaya karcis untuk ANC menurut Perda Rp. 5000.” (Puskesmas. Biasanya lewat tanggal 20 baru turun gitu.dalam mekanisme klaim di Balikpapan ketika uang sudah cair dan akan disetor ke Kasda maka dilakukan penyobekkan karrcis sebanyak jumlah uang yang di klaim. “. tetapi berkas yang sudah ada di dinas Kesehatan tetap berjalan dan akan diganti setelah perbaikan sehingga proses tetap berjalan walaupun berkas ada perbaikan. Klaim bisa satu minggu aja.... Kota Bandung). Untuk menanggulangi masalah ini kepala Dinas Kab. “.000 untuk jasa. “. Untuk klaim itu dikirim sebelum tanggal 10 bulan selanjutnya. Proses pengajuan klaim susah. Persyaratan klaim susah karena ada yang tidak punya KTP.. Dipotong untuk jasa lainnya tambah ppn. soalnya petugasnya tidak stand by. Klaim untuk infus tidak diganti oleh Jampersal.adanya tenaga verifikator di puskesmas yaitu bidan koordinator sebagai pelaksananya sehingga diharapkan dengan adanya verifikator di puskesmas akan membantu verifikator di Dinas kesehatan di Dinkes dalam melaksanakan tugasnya. Sampang melakukan percepatan dengan berkas yang harus diperbaiki akan dikembalikan pada puskesmas untuk perbaikan... Balikpapan antara lain adalah lamanya proses verifikasi di dinas kesehatan. Karena dengan keterbatasan tenaga verifikator di Dinkes sistem ini diharapkan klaim menjadi lebih cepat. Hal ini disebabkan banyaknya berkas yang harus diverifikasi tetapi jumlah tenaga verifikator terbatas dan merangkap tugas lain.” (Dinas kesehatan. Jarak klaim sama pencairan tidak terlalu lama. Tapi untuk jumlah riilnya tidak tahu karena diakumulasi. Kepala puskesmas keberatan karena tidak masuk akal 84 .Puskesmas klaim ke DKK tapi uang tidak diterima puskesmas.maka setiap ada ANC dilakukan penyobekan karcis 4. Pengajuan klaim dengan per bulan membuat ribet dan membuat repot. Mojokerto. Kalau mau klaim harus telpon dulu. Di daerah uji coba penelitian Kab. Kota Bandung).Masalah dalam pengklaiman dibeberapa daerah ditemukan misalnya di kota Ambon. Untuk persalinan itu hanya terima Rp 50.” (Kepala Dinas.. kepala dinas kesehatan menetapkan verifikator di puskesmas. Klaim BPS harusnya bisa diambil di Puskesmas. “. Mojokerto) Proses pengembalian dana setelah dari kas daerah ke puskesmas juga sering sekali menjadi kendala lamanya uang cair ke provider.

Proses cairnya juga lebih cepat dan lancar dibandingkan bidan di puskesmas dan jaringannya yang non BLUD.” (Puskesmas. Jika cair nanti besaran yang diusulkan dari Dinkes 75% untuk jaspel dan dana operasional di puskesmas (jika disetujui pemerintah kota). 200. 20.000.-).000.. Untuk proses klaim dana Jampersal pada bidan BPS yang melakukan PKS dengan dinas kesehatan pada umumnya tidak ditemukan kendala dalam prosesnya. Walaupun di beberapa kabupaten/kota tarif Jampersal dibawah tarif yang 85 . Dari hasil penelitian didapatkan secara umum tidak ada masalah dengan besaran tarif untuk ANC. Di Kabupaten/kota lokasi penelitian besaran tarif persalinan menurut sebagian besar provider di layanan dasar sudah cukup bagus sesuai dengan perda (rata-rata antara Rp.dengan frekuensi pemeriksaan 4 (empat) kali . 100.. Besaran Tarif Pelayanan Dalam petunjuk teknis besaran tarif Jampersal tahun 2012 untuk ANC menjadi Rp. Besaran tarif pada bidan PKS pada umumnya diterima sesuai dengan petunjuk teknis yang berlaku. Untuk itu di beberapa kabupaten/kota seperti Batam dinas kesehatan untuk pelayanan Jampersal di layanan dasar mendorong BPS yang PKS diharapkan dapat memanfaatkan Jampersal..dengan frekuensi 4 (empat) kali dan tindakan pra rujukan Rp..000.-. 5.. Tapi sampai saat ini belum ada penjelasan pasti dari Dinkes..000. dimana terdapat persyaratan yang ditentukan oleh profesi yang harus dipenuhi.sampai saat ini jasa pelayanan Jampersal untuk bidan puskesmas untuk tahun 2012 belum ada yang cair. Kota Balikpapan).4.2.dalam pencatatan 1 orang melakukan ANC 4 kali dalam sehari. Namun sayang sekali tidak banyak bidan BPS yang dapat memanfaatkannya dikarenakan terkendala dalam pengurusan PKS dikarenakan tidak dapat memenuhi persyaratan terutama dalam pengurusan surat ijin praktek.500.000 sampai dengan Rp.” (Dinkes Kota Balikpapan).700. persalinan normal Rp.000.4. 20. PNC Rp.. Lebih mudahnya proses klaim dan pencairan dana pada BPS dikarenakan tidak perlu melalui mekanisme keuangan daerah tapi langsung melalui dinas kesehatan. puskesmas akan mengikuti aturan tersebut. “.

“. Misal kalau ada kasus perdarahan maupun manual plasenta.besaran tariff sudah cukup bagus sesuai dengan perda. tidak semua pasien dapat membayar sesuai dengan tarif tersebut bahkan beberapa pasien di gratiskan karena tidak mampu membayar. memberi makan pada pengantar pasien selama pasien dirawat melahirkan.menurut saya kalau persalinan normal. Sebetulnya dengan adanya Jampersal bidan merasa ada kepastian dalam pendanaan dari setiap pasien yang memanfaatkannya dan dapat melakukan subsidi silang. Bandung dll. Namun demikian menurut bidan dan ketua IBI (Ketua IBI Bandung) sebagai responden penelitian ini. Minta ditambah.” (Bidan kab. Kalau persalinan yang mengalami kegawatdaruratan kita juga yang menangani.berlaku pada umumnya di wilayah tersebut terutama untuk BPS misalnya seperti di Balikpapan.. Sampang). persalinan sampai PNC. 86 . Alasan perlu dinaikkan tarif tersebut karena menurutnya ada biaya lain yang perlu dibayarkan ketika menolong persalinan misalnya biaya dukun untuk pasien yang merupakan rujukan dukun. hanya saja tarifnya apa bisa ditingkatkan. Untuk besaran tarif karena adanya variasi dari nilai fiskal daerah. tapi ternyata dibayar cuma segitu. tapi ternyata dibayar cuma sesuai dengan tariff di juknis. klo boleh dinaikkan sedikit dg tarif 750 rb disesuaikan dg tarif umum. dengan adanya paket jampersal untuk besaran tarif Rp 500.000 untuk persalinan oleh bidan. kalo bisa sampe 700 rb. dengan tarif bidan yang tinggi.karena membayar dukun. Batam. maka bidan desa akan menerima 75% dari Rp 500. Apalgi kalo di wilayah PKM galang ini wilayah kerjanya luas dan jauh2 jadi biaya tersebut juga sbg biaya transport bidan dalam menolong persalinan jika harus dipanggil ke rumah pasien.keluhan bidan itu kurang sdh melayani pasien. geografis dll ada yang mengusulkan untuk dilakukan regionalisasi pada tarif. makan minum pasien. BHP dll. untuk bahan habis pakai saja kami menghabiskan lebih dari 200.. Hanya masalahnya tidak di semua kabupaten/kota klaim dapat cair dengan cepat dan lancar sehingga bidan harus mengeluarkan biaya yang cukup besar terlebih dahulu sebelum dana dapat dicairkan. perda mengatur besaran persalinan oleh bidan sebesar Rp 350.” (Puskesmas.000. maksudnya persalinan tanpa ada perdarahan. “. “. karena di sini semua lebih mahal dibandingkan dengan di jawa. Bogor)..” (Bidan Kab. paket pelayanan sudah cukup.. krn BHP sendiri. Paser). kab.. jadi bidan hanya 400 rb.. kami menanganinya.sudah sesuai mulai dari ANC.000..” (Puskesmas. Kota Batam).000. “..

jasa pelayanan untuk persalinan ditetapkan untuk . Dengan demikian biaya transportasi merupakan faktor penting untuk mendapatkan pelayanan persalinan di fasilitas kesehatan. 350.” (Dinas kesehatan.perlu ada regionalisasi tarif.2.5.-.000. tidak masalah dalam tarif Jampersal tetapi yang menjadi masalah adalah kurangnya akses transportasi dan mahalnya biaya transportasi serta terbatasnya sarana dan sumberdaya manusia yang ada. Hal ini didukung adanya kesepakatan IBI bahwa bidan dapat menarik biaya tambahan kepada pasien dalam batasan tertentu... Data penelitian ini di wilayah ini didapatkan di luar pembiayaan Jampersal terdapat juga pasien yang membayar biaya tambahan.“. 3. Sehingga untuk kabupaten kepulauan Aru.. Aru). Jasa Pelayanan Di dalam petunjuk teknis Jampersal tahun 2012 . “.000. dimana tarif persalinan normal cukup tinggi yaitu lebih dari Rp. Sehingga tarif Jampersal dianggap kurang memadai. sedang tarif umum tidak ada. karena semua bidan di sini adalah bidan pemerintah 24 jam. 500. 5.. Kota kendari).000. Berbeda untuk kabupaten kepulauan misalnya di kabupaten Kep.000..tarif jampersal lebih baik dibandingkan tarif puskesmas.. Kab.” (Bikor. Kota Kendari).4.000.”(Puskesmas.. 2) Puskesmas BLUD setelah dana di klaim maka menjadi dana pendapatan/penerimaan fasilitas kesehatan . “. sebab tarif persalinan tiap daerah berbedabeda. Yang masih belum ada dalam jampersal adalah biaya untuk petugas pendamping saat melakukan rujukan.pada tahun lalu saat masih pakai tarif Pemda biaya persalinan Rp. 3) sedangkan untuk BPS 100% menjadi jasa pelayanan. Wakatobi biaya transpotasi ke pelayanan kesehatan dapat jauh lebih mahal dibandingkan biaya persalinannya sendiri. Di Kota Balikpapan dan Kabupten Paser. 1).000.bahkan di Kota Balikpapan untuk klas VIP tarif bidan untuk persalinan normal dapat lebih dari Rp. Jadi untuk tarif jampersal dirasa cukup.1. Puskesmas non BLUD minimal adalah 75% dari tarif persalinan normal yaitu Rp. Aru dan kabupaten Wakatobi.-. 87 .-.

Sedangkan untuk puskesmas non BLUD (semua puskesmas dalam penelitian ini adalah non BLUD) untuk dana Jampersal 2012 terkendala dengan mekanisme keuangan dimana setelah proses klaim dana yang telah menjadi pendapatan/penerimaan fasilitas kesehatan (Puskesmas) mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan. karena tidak melalui mekanisme keuangan daerah. Beberapa kabupaten/kota (Sampang. Blitar.Dalam implementasi untuk BPS dan puskesmas BLUD jasa pelayanan dapat diterima dengan waktu yang relatif lebih cepat dan lancar dan dapat diterima 100%. Batam) menerbitkan Perbup/Perwali untuk mengatur Jampersal. Kabupaten Kepulauan Aru. tapi prosentase yang menjadi hak daerah saja yang disetorkan. maka untuk mencairkan dana berikutnya diperlukan menunggu dana Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) sehingga bulan November baru dapat di cairkan. Di Kota Bandung untuk jasa pelayanan di puskesmas non BLUD mengikuti Perda yang ada tanpa membuat peraturan baru untuk Jampersal. Ambon. Kota Batam karena sudah terdapat anggaran untuk jasa pelayanan untuk tenaga kesehatan. sehingga tidak dimungkinkan untuk menarik jasa pelayanan lagi. Walaupun demikian tidak semua daerah lancar dalam proses pencairannya terkendala masalah teknis misalnya di Sampang karena jumlah realita klaim Jampersal jauh lebih besar dari perencanaan Jampersal 2012. hanya masalahnya besaran jasa pelayanan dalam Perda jauh lebih rendah dari besaran jasa pelayanan Jampersal untuk persalinan normal. 88 . Kota Blitar ketika Perwali terbit belum terdapat mata anggaran untuk menyetoran dan penarikkan kembali. Wakatobi walaupun tidak mengeluarkan Perbup /Perwali mengikuti proses klaim juknis Jampersal 2011 yaitu penerimaan fasilitas kesehatan tidak disetorkan ke kasda keseluruhan. Lombok tengah. Mataram. yaitu dana disetor ke kas daerah kab/kota masing-masing.

Paket Layanan Di rumah sakit petunjuk untuk Paket layanan Jampersal pada umumnya adalah sesuai dengan petunjuk teknis yang ada. Sampang) Provider (Bidan. Kab. Provider di rumah sakit pada umumya mendukung kebijakan Jampersal dalam upaya mencapai target MDGs.3. tapi banyak provider yang tidak tersosialisasi dengan jenis paket pelayanan Jampersal. “. Provider tingkat lanjutan memberikan pelayanan untuk pasien rujukan yang tidak bisa ditangani oleh provider kesehatan tingkat pertama.4. Tapi untuk yang sekarang sudah lebih jelas bahwa untuk semua kasus kehamilan akan ditanggung semua. Sampang). Dalam penelitian ini dilakukan wawancara mendalam pada provider untuk mengetahui penerimaan terhadap Jampersal.4.. SPOG) pada umumnya tidak mempermasalahkan paket pelayanan yang ditetapkan dalan juknis. karena banyak pasien yang tanpa rujukan langsung datang sendiri ke pemberi pelayanan tingkat lanjutan. provider pelaksana yang memegang peranan dalam pelayanan Jampersal adalah bidan rumah sakit dan SPOG. 5.1.5.. Sering timbul masalah 89 . Untuk paket pelayanan Jampersal semua kasus yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan.3. Kecuali untuk kasus ginekologi. Disamping itu dengan kunjungan dokter obgyn ke puskesmas PONED secara bergiliran meningkatkan jumlah pasien ke RS demikian juga atas motivasi bidan dan pendampingan bidan jkia merujuk ke rumah sakit menyebabkan kunjungan ke RS juga menjadi meningkat...” (RSUD. “. Sejak ada Jampersal pasien di rumah sakit menjadi lebih banyak dari sebelumnya bisa sampai hampir dua kali lipatnya.Jampersal bermanfaat terutama untuk masyarakat yang dulunya ke dukun sekarang ke nakes. Pemberi Layanan di Fasilitas Kesehatan Rujukan Dalam memberikan pelayanan di fasilitas kesehatan rujukan. Namun kenyataannya tidak demikian. termasuk penyakit yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan yang dapat membahayakan jiwa ibu. demikian masyarakat yang sebelumnya ada permasalahan dengan ekonomi. ditanggung oleh Jampersal. Kab.” (RSUD.pada waktu awal pelaksanaan jampersal tahun 2011 untuk kiret dan KET terkadang mereka masih suka bingung ini masuk jampersal atau tidak.

Pelayanan pasien Jampersal sama dengan pelayanan untuk pasien umum.” (NN. mereka langsung bersalin di pemberi pelayanan kesehatan tingkat lanjutan (dalam hal ini rumah sakit. “. hal ini mengakibatkan adanya peningkatan jumlah pasien yang bersalin di rumah sakit. akibatnya banyak peserta yang tidak mau ikut KB .dalam pengklaiman jika ada pasien Jampersal yang dirujuk dari pelayanan dasar karena komplikasi tetapi di rumah sakit dapat bersalin secara normal. nifas..2. Setelah persalinan biasanya pasien akan diserahkan kembali ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan pasca nifas. Padahal. baik negeri maupun swasta). di dalam Juknis disebutkan bahwa ibu hamil. RSUD). sebaiknya dilakukan pembatasan pada masyarakat tidak mampu dan benar-benar tidak mempunyai Jaminan. Sedangkan menurut juknis Jampersal menyatakan bahwa sasaran Jampersal 90 .3. Sedangkan pemberi pelayanan tingkat lanjutan adalah pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan spesialistik untuk pelayanan kebidanan dan bayi baru lahir kepada ibu hamil..Belum ada ketegasan program jampersal yang mengharuskan peserta jampersal harus ikut KB. ibu bersalin dan ibu nifas yang ingin mendapatkan pelayanan Jampersal dilayani oleh pemberi pelayanan di tingkat pertama. 5. dan banyak yang memanfaatkan program jampersal ini untuk sering hamil (pumpung gratis) tanpa memperdulikan masa depan anak dan ibunya yang apabila sering melahirkan dan banyak anak akan lebih beresiko. Bila demikian apakah target untuk menurunkan AKI bisa tercapai? Seharusnya program jampersal harus tegas di ikuti dengan program KB. dan bayi baru lahir dengan resiko tinggi dan atau dengan komplikasi yang tidak dapat ditangani pada fasilitas kesehatan tingkat pertama yang dilaksanakan berdasarkan rujukan atas indikasi medis. Kendala lain yang dihadapi adalah pasien kadang tidak mau bersalin di pemberi pelayanan tingkat pertama. Kebanyakan di sini pasien yang datang persalinan dengan komplikasi atau penyulit. bersalin. Untuk pelayanan KB paska Nifas tidak semua RS mengetahui.4. Kepesertaan Untuk sasaran Jampersal di rumah sakit. Hal ini perlu karena pengguna Jampersal ternyata banyak dari masyarakat yang mampu dan sudah mempunyai jaminan kesehatan lain misalnya Askes.

91 . “. KK. persyaratannya KTP dan rujukan. Persyaratan pengajuan klaim yang penting sudah ditanda tangani verifikator independen dan direktur. Sampang).4. kartu pelajar. partograf dan buku KIA ( RSUD Mataram).. Kab. dimana pemberi pelayanan kesehatan baik di tingkat pertama maupun lanjutan menerima pasien yang berasal dari daerah manapun. Klaim diajukan ke pusat melalui kurir & konfirmasi dari pusat via telpon. Syarat Klaim Pengajuan klaim di rumah sakit pada umumnya disesuaikan dengan juknis yang ada.semua ibu yang tidak memiliki kartu Jamkesmas dan Jamkesda.” (RSUD.pihak rumah sakit berharap adanya pembatasan dalam hal kepesertaan. RSUD ).sungsang ini tidak masuk akal.. Sampang).. RSUD). Aru). Kep. Seharusnya partograf hanya untuk kasus persalinan letak kepala pada fase aktif pada fase laten tidak bisa mengisi partograf. “. karena pada prinsipnya jampersal adalah bagi seluruh masyarakat yang melakukan persalinan di kelas III. “. Jadi dikhawatirkan ini akan menjadi tumpang tindih dengan asuransi lainnya.. SIM.” (SPOG. tetapi tetap tidak bisa menolak. Karena yang menerima di depan tidak tahu tentang teori. mengapa setiap persalinan harus ada partografnya padahal untuk kasus letak lintang. Karena terkadang ada pasien yang memiliki askes tapi untuk anak ke 4 mau ditanggung dengan jampersal. RW/ Kelurahan bahwa ybs tidak mampu (RSUD.. kartu domisili. Ini menjadi masalah kalau partograf menjadi syarat yang diwajibkan untuk pasien jampersal.yang perlu di di klarifikasi adalah masalah partograf . “. Kab.adalah ibu dan bayi yang belum mempunyai jaminan kesehatan.” (Pengelola. Selain itu pasien membawa rujukan. tetapi banyaknya masyarakat yang mampu tetapi masih menggunakan fasilitas jampersal.hambatannya sebetulnya tidak ada.... buku nikah.3. Kab. banyak pengguna Jampersal telah memiliki jaminan kesehatan. namun pelayanan yang dinginkan tersebut tidak lagi ditanggung dalam paket pelayanan asuransi yang diikutinya. Terkadang saya kasihan ke pasien karena mereka tidak mengerti karena masalah ini ditolak sehingga harus wira wiri. Namun dalam kenyataannya. Sasaran dapat memanfaatkan Jampersal di fasilitas rujukan dengan membawa KTP. 5. Kepesertaan Jampersal berlaku prinsip portabilitas. keterangan RT.3.” (Pengelola Jampersal.

klaim Jampersal dikirimkan ke P2JK menjadi satu dengan klaim Jamkesmas. jadi setelah pasien masuk.3. Besaran Tarif Pelayanan dan Jasa Pelayanan Tarif pelayanan Jampersal di rumah sakit berdasarkan tarif INA CBG’s.Mekanismenya. Yang menjadi kendala dalam hal ini adalah feed back yang kadang-kang terlambat. kemudian di data sesuai dengan syarat yang ada kemudian di input datanya kemudian diperiksa kelengkapannya jika sudah sesuai maka akan di tandatangani oleh direktur selanjutnya berkas klaim tersebut dikirim ke Pusat oleh petugas administrasi pelayanan terpadu di rumah sakit. kota Bandung).. Besar jasa pelayanan pada provider (pemberi layanan) hendaknya memperhatikan maksud pemberian insentif yaitu untuk akselerasi tujuan 92 .outnya dikirim. termasuk di dalamnya adalah jasa pelayanan.persyaratan jampersal lebih mudah daripada jamkesda... Sedangkan dana yang telah menjadi pendapatan/penerimaan jasa layanan (Rumah Sakit/Balkesmas BLUD) maka pendapatan jasa layanan tersebut dapat langsung digunakan dan dimanfaatkan sesuai RBA/DPA-BLUD.4. Dalam juknis dinyatakan fasilitas bahwa dana yang telah Sakit non menjadi BLUD). pendapatan/penerimaan kesehatan (Rumah selanjutnya pengelolaan serta penggunaan danpemanfaatannya dilakukan dengan mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan. Sampang).4.” (SPOG. Kab. “. surat rujukan dari Puskesmas atau bidan. sehingga kami juga sering terlambat dalam membayarkan jasa medik. biasanya kami padukan dengan bagian verifikator independennya. Disini ketidak tahuan pihak rumah sakit bahwa laporan tidak perlu menunggu feedback dari P2JK. Biasanya berkas klaim yang dikirim itu ada dalam bentuk software tapi juga print. Selanjutnya kami tinggal menunggu feedback dari Pusat untuk bisa mengambil uang atas klaim yang sudah dikirimkan tersebut. Tahun 2011 klaim lebih lancar dibandingkan tahun 2012.”(verifikator independen. 5.. “. Yang diperiksa oleh verifikator adalah : KTP. surat jaminan pelayanan yang dibuat oleh pihak RS. Dulu dalam satu tahun itu bisa 4 sampai 5 kali klaim.

namun kalau boleh kami memberikan saran. dan bahan habis pakai. bisa-bisa partus fisiologis tidak ada lagi kalau jasa sectio di naikkan.” (NN.tidak manusiawi. RSUD).8 juta lah. “.000 itu Cuma habis untuk obat saja. “. Ada potongan dimana-mana karena masalah birokrasi.. Besaran Jasa medik untuk untuk bidan.. ya kalau bisa dinaikkan menjadi 4 sampe 5 juta lah..083.program dan tujuan MDG’s. Obgyn sectio semua.000. Yang menjadi masalah adalah besaran tarif yang berlaku (INA-CBG’s) sebagian provider rumah sakit menyatakan besarannya sudah tidak sesuai dengan kondisi sekarang.tarif sedikit..” (Pengelola Jampersal RS. jadi tarifnya memang masih jauh di bawah standartnya. tapi dengan jampersal kan hanya 1..yang saya tahu. Ini masalah personal. apa itu manusiawi. Kota Ambon)..” (SPOG. Masa 1 sectio saya dibayar 150.” (SPOG.” (bidan RS. Pengaturan mengenai jasa pelayanan/jasa medik tersebut dilakukan sesuai dengan ketentuan yang mengatur mengenai hal itu.dokter obgyn tidak terlalu mempermasalahkan karena takut mengungkap. biasanya kalau pelayanan sectio itu kan antara 6 sampai 7 juta ya.2 atau 1. harus ikhlas. “. lalu bagaimana bayar pelayanan dan perawatan.. SPOG dan semua tenaga di RS Jampersal RS mengacu pada peraturan (44%).083..000 . “.. Sepaket 2.. Disatu sisi tariff kecil dan di sisi lain mengutamakan kemanusiaan. Itu juga saya heran yg menentukan tarif di pusat koq bisa sectio itu keluar angka 2.. RSUD). jadi yang diterima nakes kecil. Kota Bandung). Wakatobi). kalau tariff sectio dinaikkan mungkin juga dr. dana yang ada masuk ke daerah dan kami nanti akan mendapat japel sebesar 44% sesuai perda yang ada. Itu aka diterimakan antara 3 sampai 6 bulan sekali. Pada implementasi di RSUD kabupaten / kota penelitian berjalan seperti aturan yang berlaku.. apa itu masuk akal dan pikiran? Apa yang buat ini tidak berpikir. 93 . Bedanya sampai 1 juta per pasien. belum untuk bahan habis pakai. kab. karena kalau tidak salah tarif untuk jasa pelayanan rasanya masih kurang sesuai dengan yang standarnnya. Karena biaya itu kan juga termasuk untuk keperluan lainnya seperti obat.pembiayaan Jampersal selama ini ya berjalan sesuai dengan aturan yang ada ya dari pemerintah sesuai dengan INA CBGs. karena terlalu rendah. supaya pelayanan juga bisa lebih maksimal. Besaran Jasa pelayanan kesehatan (total) ditetapkan oleh Kepala Daerah atas usulan Direktur Rumah Sakit dengan setinggitingginya 44% atas biaya pelayanan kesehatan yang telah dilakukan. “.

Tarif untuk pasien-pasien dengan tindakan sangat kecil dibandingkan dengan yg tanpa tindakan.menurut saya standarnya untuk paket standar kelas 3 itu 5. masih terjangkau masyarakat untuk pasien kelas 3.apabila tahu bahwa standar penggantian biaya oleh Jampersal lebih rendah dari standar penggantian biaya oleh JKP. Terdapat juga rumah sakit yang mengenakan tarif tambahan pada pasien Jampersal yang dianggap mampu dengan melakukan pendekatan terlebih dahulu terhadap pasien.. dokter dan tenaga dokter spesialis Obgyn kami menjadi kurang tertarik pada Jampersal.” (dr.2 jt.. Untuk RSUD yang menggunakan tarif Kelas III.obgyn dapat 300 ribu per sectio tapi kalau kena tuntutan hukum bisa kena denda sampai 300 juta.tarif dinaikkan tapi jangan terlalu tinggi sehingga membahayakan profesi maksudnya kalau terlalu tinggi.2 juta sama dengan tarif tindakan sectio.000 – 1250000. premature dan tindakan lain yang lebih beresiko juga 1. Didaerah tarif Jamkesda bervariasi ada yang menggunakan INA-CBG’s adapula yang menggunakan tarif Kelas III.000. Kota Ambon). SPOG. RSUD).. Itu kalau di swasta standar tarifnya itu. “. Contoh: kasus angina pectoris.. pihak rumah sakit lebih senang memanfatkan dengan tarif tersebut karena dianggap lebih sesuai (tarif jauh lebih tinggi dari tarif Jampersal) sehingga sering terjadi masalah dengan pasien yang menggunakan Jampersal. maka para bidan. Kota Kendari).. “. “. 94 . khawatir nanti pasien bisa di sectio semua Atur incentive yang lebih baik.000 . itu sudah pas-pasan.” (RS. Kota Blitar).. asthma dan diare bisa di klaim dengan tariff sampai dengan 1... Dokternya hanya dapat 750.” (RS.RSUD selain melayani Jamkesmas dan Jampersal juga melayani Jaminan kesehatan daerah (Jamkesda). “.” (SPOG.

depkes.5. AKSES (ACCESSIBILITY) TERHADAP SARANA DAN PRASARANA. Wakatobi Balikpapan Paser Batam Natuna 19 26 17 15 12 8 5 10 12 10 129 437 145 85 165 100 27 118 74 65 1 1 1 2 1 *Bidan Dinkes : Bidan puskesmas dan Bidan Desa Sumber : Dinas Kesehatan dan www. 13. 11.5. 12. Bidan merupakan ujung tombak dalam memberika di pelayanan kesehatan ibu dan anak di pelayanan dasar. sarana dan prasarana yang memadai. 4. Di setiap desa diharapkan terdapat satu bidan desa yang dapat melayani wilayahnya. 2. Klinik bersalin. Tabel 5. Dinas kesehatan melakukan MoU dengan mebuat Perjanjian kerjasama (PKS) dengan bidan praktek swasta (BPS). 6. 7.go. Di kabupaten/kota lokasi penelitian ketersediaan sarana dan prasarana seperti terlihat pada tabel dibawah ini.5.1 Sarana dan Prasarana Pelayanan Dasar dan Rujukan Dalam rangka mencapai target MDG’s untuk menurunkan AKI dan AKB perlu ditunjang sumberdaya manusia di bidang kesehatan. 3. 14. 8. Sampang Blitar Mataram Lombok Tengah Bandung Bogor Ambon Aru Kendari Puskesmas 21 3 10 25 73 101 22 21 15 Kec 14 3 6 12 30 40 5 7 10 Bidan Kelurahan Dinkes* 299 40 78 193 347 702 109 42 123 186 21 50 124 139 426 50 119 64 BPS “PKS” 45 9 5 155 39 1 tdk ada data 90 4 92 - RS Pemerintah 1 1 1 1 3 4 1 1 1 10. Disamping itu untuk Jampersal.id 95 . 9. Sarana dan Sumberdaya manusia yang memberikan Pelayanan Jampersal Jumlah Fasilitas dan SDM No Kab/Kota 1. KETERSEDIAAN (AVAILABILITY).2. rumah sakit pemerintah dan swasta. 5. SDM TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN 5.bppsdmk.

tetapi pada kenyataannya terutama di kab.. Karena dari 22 puskesmas yang ada. tetapi jumlah bidan hanya 42 orang. baik itu dokter maupun bidan.pemanfaatan dana jampersal pada tahun lalu bisa dibilang rendah. Jumlah desa di kabupaten kepulauan Aru lebih banyak daripada jumlah bidan yang ada yaitu terdapat 119 desa. Kabupaten kepulauan Aru). Kompetensi bidanpun masih perlu untuk ditingkatkan. Sisanya tidak karena memang pada waktu itu tidak ada tenaga bidannya. Dari wawancara dengan pengelola Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten kepulauan Aru menyatakan sbb: “. Penyediaan pelayanan kesehatan tingkat pertama di puskesmas PONED di kota misalnya di kota Blitar dan Kota Bandung puskesmas PONED masih terbatas sarana dan sumber daya manusianya. Kota Bandung. selain itu perlu juga diperhitungkan dengan luas wilayah dan geografis di wilayah. bahkan satu desa terdiri dari beberapa pulau. bahkan Kabupaten Lombok Tengah. Jika dilihat daridata rasio bidan menurut Badan PPSDMK. Persentase puskesmas PONED yang mempunyai kurang 96 .” (Pengelola Jampersal. Hal ini dikerenakan pendistribusiannya tidak merata..Di semua kabupaten/kota lokasi penelitian di tiap kecamatan sudah terdapat sedikitnya satu puskesmas. kabupaten Bogor. Dalam pelaksanaan Jampersal untuk pemenuhan fasilitas layanan kesehatan tidak semua kabupaten/Kota mempunyai perjanjian kerjasama antara Dinas kesehatan dan BPS seperti Kabupaten Lombok Tengah (Dinas kesehatan belum membuka kesempatan ini). padahal yang memberikan pelayanan jampersal kan seorang bidan. Kepulauan Aru jumlah bidan kurang. hanya 9 puskesmas yang memanfaatkan dana jampersal. Apalagi lokasi di kabupaten penelitian. Kementerian Kesehatan RI Tahun 2011 Maluku. Kabupaten Wakatobi. Kabupaten Kepulauan Aru. Kabupaten Kepulauan Aru (keterbatasan SDM) dan Kabupaten Paser (belum ada BPS yang mendaftar). Kota Balikpapan dalam satu kecamatan terdapat 2-3 puskesmas. Sulawesi Tenggara dan kepulauan Riau diatas rasio bidan Nasional. Hanya saja yang perlu diperhatikan di kabupaten kepulauan satu kecamatan bisa terdiri dari beberapa pulau. Kota Ambon. Sekarang di tahun 2012 ini mulai ditempatkan tenaga bidan honorer.

SPOG. bisa melahirkan di polindes. 97 . Yang sementara ini ada dan sedang berjalan di RS untuk pelayanan masyarakat miskin atau tidak mampu adalah Jamkesmas dan Jaminan Kesehatan Paser (JKP).puskesmas PONED dengan satu tenaga dokter dan bidan yang sudah mendapat pelatihan PONED.. Kota Kendari) Di kabupaten / Kota rumah sakit pemerintah menjalin perjanjian kerjasama sebagai fasilitas rujukan Jampersal. (RIFASKES.7%. Propinsi dan Pusat. SPOG terutama di kabupaten.” (Puskesmas. “. sehingga belum melayani pasien dengan Jampersal. Untuk sarana sebagai puskesmas PONED masih dirasakan kurang.mengatakan tidak tahu dan belum pernah sekalipun di RS mendapatkan sosialisasi tentang Jampersal baik dari Dinas Kesehatan Kabupaten. Kota Batam (RS Camatha Sahidya). Dana untuk pengadaan sarana dan prasarana di fasilitas tersebut berasal dari APBD. Tenaga perawat (Lombok tengah) dan dr.. Fasilitas rujukan terutama di kabupaten juga masih menjadi kendala dimana minimnya fasilitas dan SDM kesehatan terutama keterbatasan dr. Di rumah sakit kabupaten Lombok Tengah dan kota Ambon terdapat keterbatasan prasarana seperti tidak adanya ruang recovery untuk pasien paska operasi (Lombok tengah). “.. Karena sarana dan prasarana di semua fasilitas kesehatan tersebut sudah dilengkapi. Kota Ambon).6% sementara di perdesaan 21..”(Direktur RSUD Paser). 2011). bahkan di Kota Bandung walikota menlaunching jejaring pemberi pelayanan di Pemerintah Kota dengan melibatkan RS Swasta di wilayahnya. peralatan di ruang ICU (Lombok Barat. poskesdes maupun pustu. Inovasi dilakukan di Kabupaten Wakatobi dengan memberikan kebebasan supaya masyarakat melahirkan di fasilitas kesehatan selain puskesmas. Bahkan dibeberapa kabupaten/kota sudah menjalin perjanjian kerjasama dengan RS Swasta misalnya Kabupaten Lombok Tengah (RS Yatopa). Sementara Rumah sakit Pemerintah di Kabupaten Paser menyatakan belum melakukan perjanjian kerjasama untuk Jampersal karena belum tersosialisasi Jampersal.dari 20% jenis alat kesehatan PONED di perkotaan 31.

sekarang sudah lumayan dulu-dulu PLNnya kan bermasalah. “. SPOG / PPDS yang sedang menempuh pendidikan. di beberapa kabupaten/kota menjadi Dinas Pemberdayaan Perempuan 98 . Dan tenaga tersebut (dr.resinden ada di aru ada di tual d saumlaki juga ada. Dokter setelah melakukan operasi diserahkan ke ruangan. SGOG.. peneliti tidak dapat menemui dr tersebut dikarenakan tidak berada di tempat (di luar wilyah kabupaten tersebut). Lombok Tengah). Bekerjasama dengan Fakultas kedokteran untuk tenaga kontrak dr. Kota Ambon).. pengawasan post operasi yang baik. maka Puskesmas mendistribusikan alat tersebut ke bidan desa di wilayahnya. ventilator yang kurang dsb. Tapi saya belum pernah ke sana jd tidak tahu apa ada sarananya. Di kabupaten/kota lokasi penelitian secara umum proses penyediaan alat kontrasepsi pada pelayanan KB di Puskesmas melalui BKKBN. Perencanaan kebutuhan alat kontrasepsi dilakukan pada level Puskesmas ke pengelola KB atau petugas lapangan KB (PLKB) tingkat kecamatan. diruangan harus diawasi oleh perawat. Tetapi disini kebanyakan perawat di ruangan adalah honorer yang gajinya hanya 250 ribu. Lombok Tengah). “.. ruangan ICU.penyebab kematian ibu juga karena sarana prasarana yang tidak memadai. bagaimana dia mau care dengan pasien.sebenarnya kematian itu dapat dikendalikan apabila tim work yang baik... SPOG. Dinas Kesehatan Kabupaten hanya menerima laporan dan rekapitulasi dari Puskesmas. Jadi perencanaan tersebut tidak dilakukan di level Kabupaten.” (dr. Dengan SKPD BKKBN di kabupaten/kota saat ini tidak selalu berdiri sendiri. SPOG/ PPDS) tidak sepenuhnya “stand by” 24 jam di rumah sakit. Lagipula untuk sectio kan tidak perlu banyak fasilitas. Setelah mendapatkan alat kontrasepsi. mulai pada saat setelah tidakan.. Yang menjadi masalah saat ini adalah ketersediaan alat kontrasepsi di layanan dasar masih kurang. Dimana mekanismenya adalah Puskesmas membuat rencana kebutuhan alat kontrasepsi kepada SKPD pengelola program KB yaitu BKKBN atau Dinas pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana.” (dr. “. Seperti contoh ketika peneliti pengumpulan data di salah satu RS di Kepulauan selama 1 (satu) minggu.Untuk mengatasi kekurangan tenaga beberapa daerah merekrut tenaga honorer misalnya di Lombok Tengah untuk tenaga perawat.” (dr SPOG. Tapi listrik itu yang masalah.

obat dan sarana lain yang dibutuhkan masih kurang.. laparatomi. “. Kab. pil .” (Puskesmas..seperti di Kepulauan Aru tidak ada BKKBN yang melayani kebutuhan Keluarga Berencana.ketersediaan alat. MOW. kami selalu mem otivasi klien utk ikut KB sehingga hasilnya banyak yg bersedia ikut KB.. Bogor). tapi menjadi Dinas Pemberdayaan Perempuan dimana salah satu bidangnya menangani KB..” (Bidan RS. Kota kendari). demikian juga SDM terlatih baik sesuai SOP.Alat kontrasepsi tersedia semua IUD. terlatih untuk pemasangan IUD danalat KB lain. suntik. “. implant. 99 .

Gambar 5. tempat cuci kamar Operasi di Ruang Kandungan dan Kebidanan RSUD di Ambon 100 .11. Ruang ICU.

101 . Ruang rawat Inap pasien Jampersal di Rumah Sakit 5. Lombok Tengah.5.12. Kota Mataram. Namun demikian perlu diperhatikan geografis pada lokasi kabupaten daerah pegunungan / bukit dimana untuk mencapai lokasi memerlukan waktu lebih lama dikarenakan harus ditempuh dengan roda dua atau bahkan jalan kaki. Kota Batam) dan ”kepulauan” yaitu dimana letak pelayanan dasar dengan wilayahnya dapat berbeda pulau (Kota Ambon. Kota Bandung. Demikian pula kabupaten kepulauan dimana untuk mencapai fasilitas harus melalui transportasi laut sehingga menyebabkan waktu tempuh dan biaya menjadi kendala tersendiri. Kota Blitar. Balikpapan. Paser.Wakatobi dan Natuna) sebagian besar jarak ke pelayanan dasar adalah <5 km. Kepulauan Aru.2 Aksesibilitas jarak Aksesabilitas jarak adalah jarak yang ditempuh responden yang menggunakan Jampersal dari rumah ke pelayanan kesehatan yang di manfaatkan saat menggunakan Jaminan persalinan. Kota Kendari.Gambar 5. Bogor. bahkan di beberapa daerah alat transportasi tidak tersedia setiap saat. Dari gambar dibawah nampak antara aksesabilitas di kabupaten/kota “non kepulauan“ yaitu kabupaten yang letak pelayanan dasar dengan wilayahnya terletak satu pulau (Sampang.

maka seluruh kabupaten di propinsi ini adalah sebuah kepulauan. Sesuai namanya. sehingga dapat menggambarkan bagaimana akses masyarakat dalam upaya mendapat pelayanan.Gambar 5. Kabupaten Kepulauan Natuna Kabupaten Kepulauan Natuna merupakan salah satu wilayah dari Propinsi Kepulauan Riau.14 Jarak ke pelayanan kesehatan pada pengguna Jampersal di Kabupaten/Kota “Kepulauan” Untuk menggambarkan akses ke pelayanan kesehatan terutama di kabupaten kepulauan seperti Kepulauan Natuna. 102 . Kepulauan Aru dan Wakatobi dijelaskan lebih lanjut dibawah ini.13 Jarak ke pelayanan Kesehatan pada pengguna Jampersal di kabupaten/Kota “non kepulauan” Gambar 5.

Gambar 5.15. Peta Wilayah Provinsi Kepulauan Riau

Kabupaten Natuna, kabupaten kepulauan yang memiliki banyak lanscape view yang sangat cantik ini merupakan salah satu wilayah paling Utara Republik ini yang berbatasan laut langsung dengan negara tetangga Vietnam dan Kamboja. Dengan posisinya yang demikian, maka Kementerian Kesehatan menempatkan Kabupaten Natuna sebagai salah satu Kabupaten DTPK (Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan). Gambaran kondisi ketertinggalan wilayah kabupaten kepulauan ini bisa dilihat dari ketersediaan sarana komunikasi yang ada. Untuk sambungan telepon tetap (fixed landlines), hanya tersedia di sekitar Ranai sebagai ibukota kabupaten ini saja. Untuk wilayah lain yang berupa kepulauan hanya tersedia jaringan telepon seluler bila beruntung. Di wilayah Pulau Subi dan Pulau Midai misalnya,

103

sinyal cukup sulit untuk didapatkan. Sedang di wilayah Serasan Timur tidak usah berharap akan ada sinyal yang sampai. Untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Natuna, tersedia dua jalur transportasi. Yang pertama adalah jalur udara melalui Batam ke Ranai (ibukota Kabupaten Kepulauan Riau). Saat ini ada Wings Air dan Sriwijaya Air yang melayani jalur ini dua atau tiga kali seminggu. Yang kedua adalah jalur laut. Sama dengan jalur udara, jenis transportasi ini juga tidak tersedia setiap hari. Berdasarkan pengamatan, ketersediaan tranportasi untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Natuna relatif mudah, terutama untuk mencapai ibukotanya, Ranai. Tapi, justru dari Ranai menuju ke wilayah lain dari Kabupaten Natuna perlu effort khusus yang cukup menguras tenaga, biaya dan waktu. Hal ini juga akan sangat berkaitan erat dengan aksesibilitas pelayanan kesehatan di wilayah ini. Untuk seluruh wilayah Kabupaten Natuna fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia bisa dibilang hanya ada pelayanan dasar saja. Kecuali di ibu kotanya, Ranai, yang telah ada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Natuna sebagai satu-satunya rumah sakit sebagai pusat rujukan tingkat kabupaten. Secara kuantitas, sebenarnya untuk tenaga kesehatan telah lebih dari cukup tersedia. Untuk tenaga bidan misalnya, telah ada 108 bidan di wilayah ini. Dengan jumlah desa dan kelurahan yang hanya 73 maka seharusnya semua desa telah bisa terisi tenaga bidan. Tapi kenyataannya menurut Kabid Yankes Dinas Kesehatan, ada beberapa desa yang kosong tanpa hadirnya bidan. Bagaimana tidak? Dari 108 bidan tersebut, sejumlah 70-an bidan menumpuk di Ranai. Berbicara tentang aksesibilitas fasilitas kesehatan di kepulauan, tidak akan pernah terlepas atau bahkan sangat tergantung dengan ketersediaan sarana transportasinya. Bentangan Kabupaten Natuna yang beribukota di Ranai, dengan wilayah paling Utara di Pulau Laut, serta dengan wilayah paling Selatan di

104

wilayah Pulau Subi dan Serasan, sungguh memerlukan banyak energi dan kesabaran untuk mencapainya. Paparan berikut diharapkan mampu memberi sedikit gambaran tentang beberapa jalur transportasi serta ketersediaan sarana transportasinya, berdasarkan hasil wawancara dengan Kabid Yankes Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna. A. Jalur Pulau Laut-Ranai; memerlukan waktu tempuh sekitar 8 jam perjalanan dengan kapal besi reguler dari Pelni. Tarif sekitar Rp. 100.000,-, dengan frekuensi sekitar 10-15 hari sekali. Jalur ini juga bisa ditempuh dengan kapal kayu (tongkang), yang bila beruntung kita bisa nebeng kapal barang dengan tarif sekitar Rp. 120.000,-, atau bila mau sewa sendiri dengan tarif lima sampai belasan juta, tergantung besaran kapal kayu, yang berarti juga bergantung dengan tingkat keamanannya. B. Jalur Serasan-Ranai; jalur ini dilewati oleh kapal Pelni Bukit Raya yang memerlukan waktu tempuh sekitar 8 jam perjalanan menuju Ranai. Dengan tarif sekitar Rp. 120.000,- jalur perjalanan ini juga tersedia dalam frekuensi sekitar 15 hari sekali. C. Jalur Pulau Subi-Ranai; hampir sama dengan tarif di dua jalur sebelumnya, cukup murah, hanya dalam kisaran Rp. 120.000,- saja, tapi dengan jarak tempuh yang bisa mencapai 24 jam perjalanan.

Kabupaten Kepulauan Aru Kabupaten Kepulauan Aru merupakan salah satu wilayah dari Propinsi seribu pulau, Propinsi Maluku. Meski sebenarnya julukan ini kurang pas dibandingkan faktanya. Propinsi seribu pulau. Untuk Kabupaten Kepulauan Aru saja jumlah pulaunya sudah mencapai 547 pulau, belum ditambah dengan pulaupulau kabupaten lain di wilayah yang bersebelahan dengan Pulau Papua ini.

105

Gambar 5.16 Posisi Kabupaten Kepulauan Aru di peta Indonesia

Untuk mencapai kabupaten kepulauan ini selain dengan jalur laut juga bisa dilakukan dengan pesawat. Satu-satunya pesawat maskapai yang beroperasi dan mau mendarat pada tahun 2012 ini di pulau tersebut adalah Trigana Air, setelah sebelumnya dua maskapai lainnya (Merpati dan Wings Air) menarik diri dari jalur tersebut. Jalur pesawat terbang yang harus kita dilalui untuk mencapai Kabupaten Kepulauan Aru dari Kota Ambon adalah Ambon-Tual-Dobo. Kota Tual adalah kota yang sebelum memisahkan diri masih merupakan ibukota Kabupaten Maluku Tenggara. Jarak tempuh terbang Kota Ambon-Kota Tual mencapai 90 menit, dan jarak tempuh Kota Tual-Dobo mencapai 25 menit. Bila perjalanan tersebut kita tempuh melalui jalur laut dari Kota Ambon, maka kita bisa semalaman terapung di lautan. Bila kita membayangkan mencapai kabupaten kepulauan ini sulit, maka sesungguhnya mencapai wilayah kerja di kepulauan ini jauh lebih sulit lagi. Jalur laut adalah jalur transportasi satu-satunya, yang untuk mencapainya sangat tergantung dengan kondisi angin laut yang seringkali sangat tidak bersahabat.
106

Iklim dipengaruhi oleh Laut Banda, Laut Arafura dan Samudera Indonesia, juga dibayangi oleh Pulau Irian di Bagian Timur dan Benua Australia di Bagian Selatan sehingga sewaktu-waktu bisa terjadi perubahan iklim yang ekstrim. Untuk sarana komunikasi, kondisi Kepulauan Aru sudah cukup baik untuk golongan DTPK. Sudah ada jaringan Telkom dan komunikasi seluler. Telkomsel sebagai satu-satunya provider yang bernyawa di daerah ini telah hadir dengan sinyal cukup kuat, meski terbatas hanya jaringan GSM. Setidaknya saya masih bisa memberi kabar orang rumah bahwa saya masih baik-baik saja.

107

17 Peta Wilayah Kabupaten Kepulauan Aru Melihat gambar peta di atas sepertinya Aru terdiri dari satu pulau besar dan beberapa pulau kecil. tapi lebih dikarenakan terlalu banyaknya kepulauan yang menjadi wilayah kerja Dinas Kesehatan di sana.Gambar 5. Banyaknya jumlah puskesmas dibanding dengan jumlah kecamatan bukanlah dikarenakan kabupaten kepulauan ini kaya raya. 108 . Yang sebenarnya adalah beberapa pulau yang terselingi selat-selat yang terlihat sempit. tetapi saat observasi didapatkan kenyataan yang cukup lebar. Kabupaten Kepulauan Aru memiliki 7 (tujuh) kecamatan dengan jumlah puskesmas mencapai 21 buah.

Kunjungan pertama adalah kulonuwun ke Puskesmas Benjina sekaligus untuk assessment dengan seluruh bidan yang melayani Jampersal di wilayah ini. Perjalanan menuju lokasi Puskesmas Benjina bisa ditempuh dengan perahu bermotor reguler dengan perjalanan sekitar 3-4 jam dari ibukota Kabupaten Kepulauan Aru. Di Puskesmas Benjina terdapat tenaga bidan sebanyak lima orang. yang berada di pesisir sebelah barat Pulau Kobroor. Dalam kecamatan yang sama sebenarnya ada 4 Puskesmas yang beroperasi untuk sekitar 24 desa yang ada di wilayah ini. Kecamatan Aru Tengah. Kepulauan Aru. Puskesmas Benjina terletak di Desa Benjina. Gambar 5. Dobo.18 Puskesmas Benjina. 109 . sedang Puskesmas Benjina sendiri bertanggung jawab atas 11 desa. Perjalanan yang cukup ‘mudah’ untuk wilayah kabupaten kepulauan yang memiliki 547 pulau ini. dengan bentangan wilayah yang cukup luas. Kab. salah satu puskesmas dengan jangkauan ‘termudah’ di wilayah ini.Observasi partisipatif aksesibilitas fasilitas kesehatan untuk wilayah Kabupaten Kepulauan Aru kali ini kami lakukan dari Dobo (ibukota Kabupaten Kepulauan Aru) ke Puskesmas Benjina. yang entah mengapa semuanya ditugaskan berkumpul di Puskesmas Induk Benjina saja.

terdapat 3 Pustu (Puskesmas Pembantu). Karena pelayanan kesehatan ibu dan anak yang mengandalkan satu titik di puskesmas saja menjadi salah satu faktor penyulit akses masyarakat di wilayah ini. Hanya saja yang ada tenaga perawat hanya di Pustu Selibatabata. yang merupakan seorang dokter lulusan pertama yang asli daerah. Menurut pengakuan Kepala Puskesmas yang di’amin’kan oleh rekan Puskesmas lainnya. Jadi. Usulan yang sangat manusiawi dari masyarakat yang merasakan manfaat keberadaan dukun bayi di tengah ketidaktersediaan tenaga kesehatan. Dusun Papakula Kecil. Usulan lain yang menarik adalah usulan dari bapak pendeta yang untuk memberi perhatian dan penghargaan bagi dukun bayi. Kepala Desa Benjina menyatakan kesanggupannya untuk menyediakan tanah di wilayahnya untuk keperluan tersebut. Puskesmas Benjina sendiri dikepalai oleh seorang dokter. banyak masyarakat di wilayah kerja Puskesmas di wilayah ini bersentuhan dengan pelayanan kesehatan sebulan sekali. yang ada adalah 4 orang tenaga dukun bayi. Pada kesempatan diskusi tersebut para tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat juga sempat melontarkan usulan pengadaan pos-pos siaga di beberapa titik desa. Saat ini beliau sudah dipindahkan sebagai kepala bidang di Rumah Sakit Kabupaten di DOBO. Jadi bila sakit saat baru 110 . terungkap bahwa di desanya tidak ada tenaga bidan sama sekali. yang rumahnya saat ini berada di Makassar. jadi secara otomatis lebih sering di Dobo dan Makassar daripada di Benjina. menyatakan bahwa Puskesmas menurunkan petugas untuk berkeliling di Posyandu sekali sebulan di setiap wilayah yang didominasi dengan jalur laut. dua lainnya masih kosong. Menurut pengakuan rekan Puskesmas. yaitu di Maririmar yang juga tersedia tenaga perawat laki-laki. Selibatabata dan Fatujuring.Sama sekali tidak ada ‘bidan desa’ di wilayah ini? Dalam sebuah kesempatan diskusi dengan salah satu Kepala Dusun. Di wilayah Benjina juga ada satu Poskesdes (Pos Kesehatan Desa). yaitu di Namara. Dalam forum diskusi yang sama.

Bersabarlah kek. 111 .. Dalam kesempatan ini kami juga sempat berkunjung dan berbaur dengan masyarakat di beberapa lokasi. Desa Selilau. Desa Namara. sampai pada akhirnya terlewat pada jadwal bulan berikutnya lagi. maka kita harus bersabar menunggu satu bulan kemudian untuk mendapatkan pengobatan. Kakek yang sedang sakit itu mengira kita sedang ada jadwal Posyandu. dan bahwa memang menurut mereka kondisi ini terjadi berada di luar kuasa petugas kesehatan.sekali jalan untuk tiga sampai empat hari berkeliling Posyandu di wilayah-wilayah ampuan Puskesmas tersebut. Sungguh tak tertahan hati menangis merasai rintih dan harapnya. entah sampai kapan? Konfirmasi kami lakukan ke petugas Puskesmas tentang penjadwalan Posyandu ini.. dan wilayah Trans-Maijurung. Mereka bercerita dengan tetap menaruh kepercayaan penuh pada petugas kesehatan. Menurut masyarakat di lokasi-lokasi tersebut.saja ada kunjungan Posyandu. posisinya sudah duduk di bibir dermaga dengan kaki hendak menjangkau speedboat.. tapi juga tergantung ketersediaan uang. Desa Fatujuring. bersabarlah. di dermaga seorang kakek ber-jalan terbungkuk menggunakan tongkat hendak melompat ke speedboat kami. mantri perempuan dari Purwokerto itu begitu telaten memberi penjelasan sekaligus memupuk harapan si kakek. Setidaknya tujuh titik lokasi yang menjadi ampuan Puskesmas Benjina telah kami datangi. 600. Setidaknya membutuhkan Rp. dan meyakinkan bahwa dia akan kembali menjumpai kakek itu. wilayah RKIBenjina (Rumah Kayu Indonesia). Ada sebuah insiden kecil pada saat kami hendak meninggalkan Desa Gulili pada salah satu kunjungan. Desa Gulili. kami mendapat jawaban bahwa memang jadwal Posyandu keliling itu rutin. Dan betapa Mbak Ning. tetapi seringkali juga mundur. memang mereka bersentuhan dengan petugas kesehatan sebulan sekali sesuai dengan jadwal Posyandu.000. dan berharap mendapat pengobatan dari mantri yang menyertai perjalanan kami. yaitu Desa Benjina.

250. Puskesmas Benjina sendiri sebetulnya sudah mempunyai speedboat sendiri. hanya saja sudah rusak sejak dua tahun yang lalu. yang sekali perjalanannya membutuhkan biaya Rp. Tetapi hasilnya untuk Puskesmas Benjina sampai saat ini dari dua tahun yang lalu tidak ada perbaikan sama sekali. Lalu dibandingkan dengan kucuran dana BOK yang sekitar Rp.000.-. Ke-empat pulau tersebut adalah 112 . 600. Pada saat pengambilan keputusan.000.600. Bukannya Kementerian Kesehatan telah meluncurkan dana BOK ke semua Puskesmas? Yang setelah re-check ke petugas Dinas Kesehatan menemukan kenyataan bahwa Puskesmas Benjina menerima dana BOK sekitar 250 juta. Kita coba berhitung untuk ‘ketersediaan uang’ ini.Tergantung ketersediaan uang? Sungguh miris mendengar jawaban ini.-. Kabupaten yang relatif baru ini merupakan pecahan dari Kabupaten Buton.000. para Kepala Puskesmas merasa sanggup memperbaiki speedboatnya sendiri tanpa diambil alih oleh Dinas Kesehatan. Kabupaten Kepulauan Wakatobi Kabupaten Kepulauan Wakatobi merupakan salah satu wilayah dari Propinsi Sulawesi Tenggara yang berbatasan langsung dengan Propinsi Maluku Utara di sebelah Timur. Kebutuhan biaya sesuai uraian di atas adalah untuk sewa longboat dari nelayan. 21. dan dalam setahun hanya pada kisaran Rp.800. 1. maka sesungguhnya kebutuhan per bulan untuk transportasi laut hanya membutuhkan Rp. Menurut keterangan Dinas Kesehatan sempat dirapatkan soal kerusakan speedboat ini dengan beberapa Puskesmas yang mengalami hal yang sama.000. Nama Wakatobi sendiri merupakan representatif dari empat pulau besar yang menjadi basis kabupaten ini.000. Bila dibutuhkan 3 kali perjalanan untuk menjangkau Posyandu yang memerlukan biaya transportasi laut. Itu belum termasuk dana operasional Puskesmas yang berasal dari APBD.-.-? Yang sekali lagi setelah konfirmasi dengan Dinas Kesehatan penyerapan dana BOK di Puskesmas Benjina mencapai 100%.

Pulau Tomia. Sedang jalur udara bisa kita tempuh dari Makassar via Baubau yang tersedia hari Senin-Kamis. Jalur laut bisa kita tempuh menggunakan kapal cepat dari Baubau sekitar empat jam. yang untuk kedua jenis jalur tersebut dilayani oleh maskapai Wings Air. Jalur udara yang cukup repetitif tersebut bukan karena Wakatobi sebagai destinasi bawah laut yang cukup 113 . Gambar 5. serta hari Sabtu via Kendari.19 Peta Kabupaten Kepulauan Wakatobi Mirip dengan wilayah kabupaten kepulauan lainnya. laut dan udara. dan terakhir pulau terjauh (paling Selatan) adalah Pulau Kaledupa.Pulau Wangi-wangi. Pulau Kaledupa. jalur transportasi yang tersedia untuk mencapai wilayah ini terdiri dari dua jalur.

ketersediaan pelayanan kesehatan masih cukup menjadi masalah di wilayah ini. tetapi belum memiliki Unit Transfusi Darah.saya rasa pemberian layanan di sini sudah cukup bagus pak.untuk jangkauan sebenarnya sudah lebih baik. “.. yang otomatis setiap bidan harus mampu mencover dua desa. Menurut pengakuan Dinas Kesehatan sebenarnya sudah tersedia tenaga untuk pelayanan transfusi darah. Seperti layaknya kabupaten kepulauan lainnya. Cuman untuk yang kepulauan belum ada puskel laut. rujukan harus ke Baubau. Wakatobi) Memang di Kabupaten Wakatobi belum tersedia fasilitas pelayanan transfusi darah. karena tinggal lapor. “. tapi perlu ditingkatkan lagi. kader kesehatan dan bahkan dukun bayi kami juga menemukan beberapa kondisi yang menjadi realitas yang ketersediaan sarana dan fasilitas kesehatan yang harus dibenahi. tokoh agama. sebagai satu-satunya Rumah Sakit di wilayah ini tidak memiliki. tenaga bidan yang tersedia hanya 3 orang..mendunia ini ramai dikunjungi wisatawan luar.-. terutama untuk transfusi darah. Kab.” (Toma.. tetapi sarananya yang masih belum tersedia. jarak antara Pulau Tomia ke Baubau mencapai 11 jam perjalanan dengan kapal reguler bertarif Rp. karena di Wanci sarana kesehatannya masih kurang. Karena bila ada kasus harus dirujuk ke Baubau..” demikian keluh salah satu tokoh masyarakat.000. Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Wakatobi yang berada di Wanci pun. dengan ampuan wilayah yang mencapai 6 desa.di sini. nanti akan dijemput ambulan. Dalam sebuah diskusi di Kecamatan Tomia yang melibatkan tokoh masyarakat. 130.. Untuk wilayah Puskesmas Tomia yang kami datangi.” usul salah satu Kepala Lingkungan kepada kami. Sebagai gambaran. tetapi lebih karena pemerintah kabupaten mensubsidi pihak maskapai untuk melayani jalur tersebut. Palang Merah Indonesia (PMI) sebenarnya sudah berdiri di kabupaten ini. itupun hanya beroperasi 114 . “. satu bidan untuk satu desa itu tidak cukup pak! Apalagi ini kita hanya diberi tiga bidan untuk enam desa. bahkan untuk sekedar bank darah..

Dari Pelabuhan Waitii inilah kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Lamanggau.. Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Jabal di Pulau Wangi-wangi menuju Pelabuhan Usuku di Pulau Tomia. 10. Di wilayah ini.per kali sewa. Jadi. untuk berganti tunggangan dari kapal speed menjadi pompong . seberang Pulau Tomia. Jadi ibu hamil yang mau bersalin harus bersabar dengan jadwal yang ada serta perjalanan yang lama. terutama wilayah pesisirnya didominasi oleh keberadaan Suku Bajo yang tinggal di atas laut. bukan cerita baru bila ibu hamil dengan faktor penyulit yang dirujuk ke Baubau harus pass away sebelum sampai ke tempat rujukan.000. 115 . Dalam perjalanan yang kami arungi dengan kapal cepat bisa mencapai tiga sampai tiga setengah jam perjalanan. Carter atau sewa kapal sepertinya menjadi hal yang mustahil bagi penduduk wilayah ini. perahu kecil yang di daerah lain biasa juga disebut sebagai jung atau ketinting . tempat bermukimnya saudara-saudara Suku Bajo yang membentuk koloni tersendiri di bibir pantai wilayah Lamanggau. Perjalanan menggunakan kapal speed bermesin tempel 5 biji berkekuatan 200 PK ini menempuh perjalanan selama kurang lebih 3 jam. karena harga sewanya mencapai kisaran di atas Rp.sekali sehari. Hanya saja memang ketersediaan sarana pelayanan kesehatan di RSUD Kabupaten Wakatobi tidak selengkap di Baubau. Meski juga sebenarnya sudah tersedia dokter obgyn di RSUD Kabupaten Wakatobi yang dikontrak selama enam bulan. Waitii. Observasi partisipatif aksesibilitas fasilitas pelayanan kesehatan yang kedua kami lakukan di Pulau Lamanggau. Dari Pelabuhan Usuku di Pulau Tomia.000. Jarak Pulau Tomia ke Wanci di Pulau Wangi-wangi sebenarnya lebih pendek. kami harus bergeser ke pelabuhan lainnya.

Gambar 5. Sebuah perusahaan swasta yang mengelola obyek wisata di Onemobaa. Sedang sisanya adalah perawat. Di wilayah Puskesmas ini bukan wilayah jarang penduduk. sebetulnya Pemerintah Daerah Kabupaten Wakatobi pada tahun 2009 sudah membangun gedung Puskesmas Induk Onemobaa yang representatif secara fisik. Yang tinggal di Lamanggau hanya tenaga sanitarian yang PTT pusat. jauh dari permukiman penduduk yang menempati sisi Timur pulau. tetapi lebih tepat wilayah yang sama sekali tidak ada penduduk. 4 orang tidak tinggal di tempat. di Waitii.20. PTT dari pusat. Kondisi ini diperparah dengan lokasi Puskesmas yang berada di dalam wilayah ‘Wakatobi Dive Resort ’. Satu orang lagi juga seorang sanitarian. Dari kelima tenaga kesehatan yang ada tersebut. mereka tinggal di pulau seberang. Di Pulau ini jumlah tenaga kesehatan yang ada hanya 5 (lima) orang. seorang Sarjana Kesehatan Masyarakat dengan basis sanitarian. ini sudah termasuk Kepala Puskesmas. 116 . Bagaimana tidak? Lokasi Puskesmas berada di Onemobaa. Sayangnya Puskesmas yang diresmikan oleh Gubernur Sulawesi Tenggara itu memiliki lokasi yang sama sekali tidak masuk akal. wilayah Barat pulau. Kapal cepat yang melayani rute Wanci-Tomia Agak miris bercerita tentang pelayanan kesehatan di wilayah ini. Untuk sarana bangunan Puskesmas.

tetapi relatif lebih mendekati permukiman penduduk. Dalam sebuah kesempatan. Kami harus naik pompong untuk mencapai lokasi Puskesmas Onemobaa yang berada di sisi lain pulau. salah satu staf Puskesmas. Karena meski tempatnya juga tidak strategis.Puskesmas Onemobaa ini sudah tiga tahun tidak ditempati. berada di ujung desa. barulah sampai di pintu gerbang ‘Wakatobi Dive Resort ’. serta satu staf Dinas Kesehatan. siapa penduduk yang mau datang ke tempat ini dengan perjalanan yang cukup jauh dari permukiman. Setelah itu harus jalan kaki di jalan setapak sekitar 15 menit. 117 . mencoba untuk berkunjung ke Puskesmas Onemobaa. Karena kalaupun ditempati. kami disertai oleh Kepala Puskesmas. Petugas kesehatan Puskesmas lebih memilih Puskesmas Pembantu (Pustu) Lamanggau untuk berkantor.

Gambar 5. Puskesmas Onemobaa. Wakatobi Memasuki wilayah resort ini harus minta ijin pada pihak manajemen. selain itu juga didapatkan dari data sasaran Jampersal yang memanfaatkan layanan dengan Jampersal maupun non Jampersal. Data diambil dari data sekunder puskesmas dan rumah sakit. Pada kesempatan kali ini kami diijinkan masuk.21. Tapi kami harus menunggu sekitar satu jam untuk menunggu ijin masuk tersebut. 5. maka baru kita bisa masuk dan bisa ke Puskesmas. Kab.6.6 UTILITAS PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR OLEH PROVIDER YANG DISEDIAKAN OLEH PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Utilitas Pelayanan Kesehatan ibu dan bayi adalah cakupan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan Ibu dan bayi dalam program Jampersal di pelayanan dasar dan di pelayanan rujukan. 5. Bila manajemen berkenan memberikan ijin.1 Utilitas di Pelayanan Dasar Data utilitas di pelayanan dasar yang didapatkan dari Dinas Kesehatan dan sasaran Jampersal yang diambil secara random di 2 (Dua) puskesmas di 118 .

Dari data Ditjen Bina Gizi dan KIA tahun 2012 didapatkan data untuk angka Nasional cakupan persalinan ditolong nakes di Indonesia tahun 2012 adalah 86.6%.36. Bogor. Data tersebut ditampilkan dalam gambar sbb : Gambar 5.. 119 . Untuk tahun 2012 belum dapat dibandingkan karena baru cakupan sampai bulan Juni 2012. kota Mataram. Sedangkan data tenaga pemeriksaan ANC pada sasaran non pengguna Jampersal dan pengguna Jampersal. Penolong persalinan pada sasaran non Jampersal dan tempat persalinan pada sasaran pengguna Jampersal diambil dari kuesioner sasaran.22. nampak di beberapa kabupaten / kota yaitu Sampang. Data sekunder meliputi data Persalinan oleh tenaga kesehatan dan kematian Maternal dan Kematian Neonatal di Kabupaten / Kota yang merupakan data sekunder dari Dinas kesehatan.masing-masing kabupaten / kota. Kota balikpapan ada sedikit peningkatan pada tahun 2011 dibandingkan tahun 2010. Namun demikian peningkatan tidak terlalu mencolok berkisar 1% . Cakupan Persalinan oleh Tenaga kesehatan di Kabupaten / Kota “non kepulauan ” Tahun 2010 – Juni 2012 Sumber data : Dinas kesehatan Kabupaten / Kota Di kabupaten / kota “non kepulauan” cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan dari tahun 2010 sampai dengan 2012.

Hal ini dapat dipahami walaupun kabupaten kep. 2012) seperti terlihat di Kota Ambon dan Aru masih dibawah rata2 nasional. Aru menerima kebijakan Jampersal dengan baik. Sasaran yang diambil adalah 120 . namun peningkatan tidak nampak terlalu signifikan kecuali di Kep.Dengan demikian untuk kabupaten / kota di non kepulauan cakupan persalinan tahun 2011 sudah diatas rata2 nasional.36 (Ditjen Gikia Kemenkes. di wilayah kepulauan cakupan persalinan tidak semuanya diatas rata2 nasional 86. di kep. Cakupan Persalinan Tenaga Kesehatan di Kabupaten / Kota “Kepulauan” Tahun 2010 – Juni 2012 Sumber data : Dinas kesehatan Kabupaten / Kota Di kabupaten/kota kepulauan terdapat sedikit peningkatan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun2011. Tidak seperti di wilayah non kepulauan. Pada tabel dibawah ini menjelaskan tentang “continum of care dari” sasaran Jampersal yang menggunakan Jampersal. sumberdaya manusia dan kondisi geografis yang berat. Aru bahkan masih jauh dari angka rata2.23. tapi masih ditemukan banyak kendala dari sarana. prasarana. Natuna yang mana kabupaten Natuna tidak memanfaatkan Jampersal tetapi Jamkesda. Gambar 5. Pada tahun2012 sampai dengan bulan Juni terlihat peningkatan cakupan walaupun belum dapat dibandingkan karena baru cakupan 6 bulan.

K4 dan Persalinannya memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 + Persalinan + Pn : Ibu Nifas yang K1. K4.0% 57. K4 dan persalinan 59. Bagaimana “continum of care” Ibu Nifas pengguna Jampersal di masing-masing kabupaten / kota terlihat di tabel dibawah ini : 121 .0% 43.9% 33.8% K1 + K4 + Persalinan 71.5% 33.9% 72.0% 55.0% 52. Persalinan dan Pn memanfaatkan Jampersal Secara Total dari 13 kabupaten / Kota penelitian responden Ibu nifas yang memanfaatkan Jampersal untuk pelayanan K1 adalah 74.3% 39. pelayanan K1 dan K4 adalah 61. Kota Mataram dan Wakatobi Ibu nifas yang memanfaatkan K1 dengan Jampersal adalah > 90%.3.3% 63. K4.0% 43.8% 62.7% 33.2% 59.6% 14.3% 39.0% 94.4% 59.8%.9%. Di Sampang.0% 87.2% 27. persalinan dan PNC.9% Keterangan : • Responden Ibu Nifas : Ibu Nifas yang pernah memanfaatkan Jampersal K1.1% 50.ibu yang sedang masa nifas sehingga sudah melewati masa ANC.4% 59. Persalinan atau Pn • K1 : Ibu Nifas yang K1 memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 : Ibu Nifas yangK1 dan K4 memanfaatkan Jampersal • K1 + K4 + Persalinan : Ibu Nifas yang K1.3% 41.7% 33.3% 63.2% 86.3% 66.0% 72.8% 33. Persalinan dan Pelayanan Nifas adalah 57. Tabel 5. bahkan di Kota Kendari 100%. “Continum of care”pada Responden Sasaran Ibu Nifas Pengguna Jampersal Per Kabupaten / Kota (N= 573) Kabupaten/Kota Kab Sampang Kota Blitar Kota Mataram Kab Lombok Tengah Kota Bandung Kab Bogor Kota Ambon Kab Kep Aru Kota Kendari Kab Wakatobi Kota Batam Kota Balikpapan Kab Paser 13 kab/kota K1 91.3% 100.8% 58.2% 27.5% 14.4% 76.9% K1 + K4 72.9% dan pelayanan K1.1% 68.5% 14.3% 39.2% 25.2% 61.9% K1 + K4 + Persalinan + PNC 67.0% 50.3% 66.6% 64.4% 68.3% 87.5% 14.7% 87. pelayanan K1.9%.0% 90.7% 77.8% 58.8% 74.1% 66.7% 72. K4 .1% 66.

4.K4. persalinan) dan PN Di Kabupaten / Kota di Lokasi Penelitian Tahun 2012 Kabupaten / Kota Kab Sampang Kota Blitar Kota Mataram Kab Lombok Tengah Kota Bandung Kab Bogor Kota Ambon Kab Kep Aru Kota Kendari Kab Wakatobi Kota Batam Kota Balikpapan Kab Paser 13 kab/kota A 20% 8% 47. Bogor.7% 5. persalinan dan PNC.8% 0% 2% 58.8% 2.9% C 4. Kota Ambon. Hanya saja dari data ini tidak dapat dijelaskan lebih lanjut kelengkapan dalam paket PNC.4% 3. Kep. Pengguna Jampersal yang menggunakan layanan K1 dan K4 di Kota Bandung.3% 8. Aru.2% 4. Ternyata dari data diatas dapat dijelaskan bahwa ibu yang ketika persalinan memanfaatkan Jampersal.3% 6. Wakatobi.(K1+K4+Persalinan+PNC) Di perkotaan seperti Bandung dan Batam ibu nifas yang telah memanfaatkan Jampersal sedikit dibanding daerah penelitian lain.5% 4% 9.7% 0% 0% 0% 22. yang mendapatkan layanan K1 menurun 2% yang bersalin dan Pn dengan memanfaatkan Jampersal.2% 2% Keterangan : A : K1 – (K1+K4+Persalinan) B : (K1+K4) –(K1+K4+Persalinan) C : (K1+K4+Persalinan). tapi terjadi penurunan yang cukup tajam pada K4.2% 0% 0% 0% 0% 16.7% 0% 1.6% 15% B 1. Di Bogor juga sudah cukup baik.3% 0% 0% 0% 0% 0% 2. sebagian besar akan memanfaatkan layanan PNC. Kota Batam 122 . Berbeda dengan Kota kendari ketika K1 semua responden (100%) menggunakan Jampersal.2% 50% 7. Continum of care Pelayanan Jampersal (K1.1% 0% 3. Tetapi jika dilihat “continum of care” sangat baik karena pasien melakukan K1 sampai dengan PNC dengan memanfaatkan Jampersal.7% 0% 0% 3.Tabel 5.

Paser Total Sumber : Data Sasaran Penelitian Jampersal 2012 Terdapat sepuluh kabupaten/kota yang sasaran Jampersal memanfaatkan pelayanan persalinan dengan Jampersal. Kab Lombok Tengah 5.5%) 54 (100.3%) 726 (95.0%) 63 (72.0%) 51 (100.7%) 36 (4.0%) 60 (100.0%) 0 (0.6%) 0 (0. Kab Sampang 2.0%) 0 (0. Kota Ambon 8. dimana pengguna Jampersal yang mendapat layanan K1 (100%) tapi ketika K4.0%) 11 (100.4%) 47 (100.0%) 0 (0. Ini menunjukan bahwa continum of care belum berjalan dengan baik. KotaBatam 12. Dari data diatas terlihat bahwa dengan memanfaatkan Jampersal sasaran dilayani oleh tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan.8%).0%) 26 (74. Responden pada data dibawah ini adalah hanya sasaran Jampersal yang menggunakan Jampersal ketika melahirkan tanpa memperhatikan apakah memanfaatkan jampersal ketika ANC atau PNC setelahnya.3%) 0 (0.7%) 1.7%) masih dilakukan di non fasilitas kesehatan. Tempat Persalinan Responden Pengguna Jampersal di Lokasi penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Kabupaten / Kota Tempat Persalinan Jampersal Fasilitas Kesehatan Non Fasilitas Kesehatan 75 (100.5. Tabel 5. Kab Bogor 7.0%) 33 (100.2%.0%) 0 (0. Dari tabel diatas terlihat bahwa 123 . Kota Balikpapan 13. Kab Wakatobi 11.5%) 0 (0.0%) 58 (100. Ada 3 (tiga0 kabupaten yang sasaran yang persalinan menggunakan Jampersal yaitu di Kepulauan Aru (27. persalinan dan Pn menurun cukup drastis.0%) 119 (97. Kab Kep Aru 9. Kota Kendari 10. Yang perlu mendapat perhatian adalah Kota Kendari.0%) 3 (2. Kota Bandung 6.0%) 0 (0.0%) 65 (100. Kota Blitar 3. Kota Mataram 4.0%) 64 (100.0%) 9 (25. Wakatobi (2.0%) 24 (27.0%) 0 (0.dan Paser 100% bersalin dengan Jampersal dan 100% memanfaatkan layanan Pn kecuali Paser yang memanfaatkan Pn turun 22.0%) 0 (0.5%) dan Paser (25. persalinannya dilakukan di fasilitas kesehatan (100%).

Menjelaskan siapa tenaga pemeriksa kehamilan pada sasaran yang tidak menggunakan Jampersal dan tabel 5. Bagaimana dengan responden yang tidak memanfaatkan Jampersal? Ketika ANC sasaran tidak menggunakan jampersal terlihat terjadi pergeseran dari tenaga kesehatan saat ANC.24.seluruh responden ketika bersalin dengan Jampersal maka persalinannya oleh nakes dan di fasilitas kesehatan kecuali 3 (tiga) kabupaten diatas yang merupakan daerah yang secara geografis memang sulit dan dengan keterbatasan sumberdaya. Gambar dibawah ini respondennya adalah sasaran Jampersal yang tidak menggunakan Jampersal. Gambar 5.24 menjelaskan responden yang tidak menggunakan Jampersal ketika bersalin berapa persen yang ditolong tenaga kesehatan. Tenaga Pemeriksa Kehamilan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011 – April 2012 124 . ketika persalinan ditolong oleh non tenaga kesehatan seperti tergambar dalam di bawah ini.

Bahkan di kepulauan Aru. Kepulauan Aru. ketika persalinan pindah ke tenaga non kesehatan seperti nampak pada dua gambar diatas. Nampak jelas pergeseran sasaran dari nakes ketika pemeriksaan kehamilan ke non nakes ketika persalinan di kabupaten / kota Balikpapan.25 Tenaga Penolong Persalinan Pada Responden Non Pengguna Jampersal di Lokasi Penelitian Periode Oktober 2011-April 2012 Sumber : Data sasaran Penelitian Jampersal 2012 Dari data sasaran yang tidak memanfaatkan Jampersal didapatkan bahwa terdapat sasaran ibu hamil yang sudah memeriksakan kehamilannya di tenaga kesehatan. Kota Batam. Bandung Lombok Tengah dan Kota Mataram. Lombok tengah dan Kota Mataram antara 29% . Kota Kendari. Bogor.Gambar 5.50% perubahan dari pasien yang ketika pemeriksaan kehamilan dilakukan oleh tenaga kesehatan dan berubah menjadi bersalin pada tenaga non kesehatan. 125 .

(Direktorat Ibu.26. Penyebab kematian maternal terbanyak dari data sekunder pada penelitian ini adalah perdarahan. preeklampsi/eklampsi 24 %.Juni 2012 Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota Kematian Maternal pada tahun 2011 dan sampai dengan Juni 2012 di kabupaten / kota nampak cenderung meningkat kecuali Kota Bandung nampak menurun. sedangkan penyebab tidak langsung adalah trauma obstetri 5 % dan lain – lain 11 % (WHO.Gambar 5. Kemenkes. Hal ini masih mengikuti pola menurut WHO 2007 bahwa penyebab kematian ibu yang paling umum di Indonesia adalah penyebab obstetri langsung yaitu perdarahan 28 %. 126 . infeksi 11 %. Kematian Maternal di Kabupaten / Kota Tahun 2010 . Infeksi . 2012). Dari analisa kematian maternal tahun 2011 dari data rutin penyebab kematian Maternal tertinggi perdarahan 35% dan hipertensi 22% dan Infeksi 5%. eklamsi. 2007).

Gambar 5. Kematian Neonatal di Kabupaten / Kota Tahun 2010 . Kalau dalam proses persalinan terjadi komplikasi. Penyebab kematian neonatal dari data sekunder Dinas kesehatan terbanyak adalah Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan Asfiksia. 127 . Semua layanan itu diberikan oleh tenaga-tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. belum semua persalinan itu dilakukan di fasilitas kesehatan. tenaga kesehatan memiliki sarana untuk melakukan tindakan pra rujukan yang diperlukan agar komplikasi tidak memburuk. Utilitas di Pelayanan Rujukan Jampersal menjamin pelayanan bagi ibu-ibu dengan kehamilan risiko tinggi dan persalinan dengan penyulit dan komplikasi. sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit.Juni 2012 Sumber : Dinas kesehatan Kota Untuk kematian Maternal pada tahun 2011 terlihat kecenderungan menurun. Saat ini. tetapi tahun 2012 di kabupaten Sampang dan Kota Batam ada kecenderungan meningkat. Persalinan di fasilitas kesehatan ini merupakan hal yang sangat penting.27.6.2. 5.

selain itu setelah tahun ke-2 Jampersal dilaksanakan dilihat tren jumlah kemtian maternal dan neonatal di rumah sakit yang meliputi : kematian maternal < 24 jam. Paser.adanya Jampersal kunjungan naik 50 % antara lain kasus KPD (ketuban pecah) dan PCR (preklamsi). Bogor).” (Bidan RS. Data yang didapatkan adalah persalinan per vaginam rujukan dengan komplikasi. kematian maternal >24 jam. “.28. dimana dalam juknis Jampersal dijelaskan bahwa untuk persalinan dengan komplikasi dilakukan di pelayanan rujukan (Puskesmas Poned dan rumah sakit).Untuk utilitas di pelayanan rujukan di dapatkan data dari rumah sakit pemerintah di kabupaten / kota yang menjadi rumah sakit rujukan Jampersal dan mempunyai Perjanjian Kerjasama (PKS) dengan Dinas Kesehatan kabupaten / kota. kematian neonatal < 24 jam dan kematian neonatal > 24 jam.. Data tersebut ditampikan pada grafik sbb : Gambar 5. Loteng. Kab Bogor). Sampang. Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam dengan Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Secara umum pada tahun 2011 rujukan persalinan pervaginam dengan komplikasi ke rumah sakit pemerintah di kabupaten / kota meningkat (RSUD kota Blitar. Hal ini kemungkinan disebabkan karena tahun tersebut sudah diberlakukan Jampersal. persalinan per vaginam rujukan tanpa komplikasi.. 128 .

6. Bahkan di RSUD Blitar. RSUD Kota Mataram 4. RSUD Kab. RSUD kab. terutama di RSUD Kota Blitar. RSUD Kota Blitar 3. RSUD Kota Bandung 6. Loteng. Kota Ambon dan Kota Kendari per Juni tahun 2012 terlihat peningkatan yang cukup tinggi ( data diatas sampai dengan bulan Juni 2012). RSUD Lombok Tengah 5. RSUD kab.Gambar 5.29. Jumlah Kasus Sectio caesaria yang ditangani di Rumah sakit di Kabupaten / Kota Tahun 2010 – Juni 2012 Kabupaten 1. Tabel 5. RSUD Prov Ambon 8. RSUD Kota Kendari 10.Bogor 7. Sampang 2. RSUD Kab Wakatobi 2010 474 63 39 709 767 - Jumlah Kasus Sectio Caesaria 2011 s/d Juni 2012 598 147 61 889 1161 8 237 53 29 624 50 129 . Kep Aru 9. Penatalaksanaan Persalinan Rujukan Per vaginam tanpa Komplikasi di RS Pemerintah di Lokasi Penelitian tahun 2012 Persalinan rujukan pervaginam tanpa komplikasi di rumah sakit tahun 2011 dan tahun 2012 terlihat kecenderungan juga meningkat.

Sampang) Gambar 5.RSUD Kota Batam 12. RSUD Kota Batam Peningkatan kematian maternal di RS dimungkinkan karena rujukan dari layanan dasar meningkat pada tahun 2011 dan 2012. Kasus Persalinan sectio caesaria (SC) rumah sakit Pemerintah yang PKS dengan Dinas kesehatan di Kabupaten / Kota terlihat cenderung meningkat di tahun 2011 dan Juni 2012.. Kasus SC ada yang dirujuk maupun yang tidak dirujuk dengan jenis pelayanan SC elektif atas indikasi medis dan SC emergensi. RSUD Sampang.sejak ada Jampersal pasien di rumah sakit menjadi lebih banyak dari sebelumnya bisa sampai hampir dua kali lipatnya.11. RSUD Kab. “. 130 .tidak didapatkan data Sumber : RSUD Kabupaten /Kota /Provinsi yang menjadi tempat rujukan Jampersal kecuali RSUD di Natuna. Walaupun pada data diatas tidak hanya menggambarkan khusus kasus SC yang di biayai dengan Jampersal.. kab. Paser 14.”(SPOG. Natuna 439 412 499 41 99 61 Keterangan : . RSUD Kab.30 Kematian Maternal < 24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 Kematian Maternal yang terjadi < 24 jam di rumah sakit bervariasi di RSUD Kota Blitar. RSUD Prov Balikpapan 13. tapi merupakan keseluruhan kasus yang ada di rumah sakit.

Kondisi ini perlu dikaji lebih lanjut apakah berkaitan dengan meningkatnya kasus rujukan ke rumah sakit dan berpengaruh pada pelayanan karena keterbatasan sarana.31 Kematian Maternal >24 jam di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010-1012 Kematian Maternal > 24 jam di rumah sakit pada tahun 2011 juga terlihat kecenderungan meningkat di kabupaten/kota.Gambar 5. Gambar 5.Juni 1012 131 .32 Kematian Neonatal di Rumah Sakit Pemerintah di Lokasi Penelitian Tahun 2010. prasarana dan SDM di rumah sakit.

Tapi di Kota Bandung. Di Kota Bandung dan Kota Balikpapan tahun 2011 kasus kemtian neonatal menurun. Akseptabilitas sasaran terhadap Jampersal akan dijelaskan dimulai dengan siapa sasaran yang memanfaatkan Jampersal dan bagaimana kepuasan sasaran terhadap layanan Jampersal. Gambar 5.33 Kepemilikan Jaminan Lain Pada Sasaran Pengguna Jampersal (N=1. 5. ibu nifas ( sampai dengan 42 hari) dan neonatus (0 – 28 hari) yang tidak mempunyai jaminan kesehatan. tapi di Kota Balikpapan sampai Juni 2012 meningkat cukup tinggi.243) Untuk mencapai target MDG’s Jampersal diluncurkan dengan sasaran adalah ibu hamil. AKSEPTABILITAS SASARAN DALAM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN. Demikian juga di Kota Mataram kematian Neonatal tahun 2012 meningkat .Kematian neonatal di kota dan kabupaten ada yang meningkat pada tahun2011 seperti di di Kabupaten Bogor dan kota Blitar dan sampai Juni 2012 ada kecenderungan menurun. bersalin. Dari data sasaran penelitian ini ternyata yang memanfaatkan Jampersal 95% sudah memilik jaminan 132 .7.

Selain itu kemudahan pemanfaatan Jampersal dengan persyaratan cukup KTP dan bersifat portabilitas. sehingga membuat pasien enggan untuk memanfaatkan kartunya. Dan hanya 5% yang tidak mempunyai jaminan (lainnya). PNC. karena kartu di simpan di Kepala Desa. Disebabkan Askes hanya membiayai sampai anak ke 2 (dua). apakah sasaran tersebut bukan peserta Jamkesmas. Askes juga dimanfaatkan oleh sasaran untuk persalinan anak ke 3 (tiga) dst. peserta Jamkesmas seringkali ke pelayanan tidak membawa kartu. 133 . sehingga anak ke 3 (tiga) dst sasaran tidak dapat memanfatkan Askes. sehingga lebih mudah untuk dimanfaatkan dibandingkan jaminan kesehatan yang lain. Askes. Setiap pasien berobat mengambil kartu di kepala desa dan setelah berobat dikembalikan lagi ke kepala desa. Untuk Jamkesda beberapa kabupaten / kota juga cenderung memanfaatkan pembiayaan Jampersal atau dialihkan menjadi Jampersal. KB) dibiayai dengan Jampersal. namun ada juga kabupaten / kota yang masih menggunakan Jaminan Kesehatan Daerah. Yang masih menjadi masalah adalah mengenai kepersertaan Jamkesmas. Jamkesda. Jamsostek. persalinan. Karena untuk sasaran Jampersal. harus dilakukan pemilahan dulu. Hal ini terjadi karena di kabupaten / kota sejak pembiayaan Jampersal mulai dilaksanakan maka pembiayaan Jamkesmas untuk pelayanan KIA (ANC.kesehatan sebelumnya (Jamkesmas. Kenyataan di lapangan.

Gambar 5. sehingga membuat keengganan dari tenaga kesehatan untuk memanfaatkan Jampersal untuk jasa pelayanannya.70% karena tidak tahu adanya Jampersal. Dari data diatas menunjukkan bahwa sasaran yang tidak memenfaatkan Jampersal 66. Hal ini dapat dipahami karena di beberapa kabupaten / Kota besaran tarif jampersal dianggap belum memadai dan penerimaan klaim terlalu lama.8% dari sasasan tidak memanfaatkan Jampersal karena dilarang oleh tenaga kesehatan dan kader kesehatan. 134 . Yang menarik ada 0. Disini juga terlihat bahwa peran suami juga sangat mempengaruhi sasaran memanfaatkan atau tidak Jampersal.34 Alasan Tidak Menggunakan Jampersal Pada Sasaran (N=525) Sosialisasi menjadi faktor yang penting untuk keberhasilan pelaksanaan program jampersal.

Gambar 5.36 Pembiayaan Tambahan Pada Sasaran Pengguna Jampersal pada Kabupaten/Kota Daerah Penelitian Nampak di sebagian besar kabupaten / Kota untuk persalinan terdapat pembiayaan lain pada pasien yang persalinannya menggunakan Jampersal. bahkan Kota Balikpapan sampai 84. Untuk bayar air saja mahal mana biasanya yang bersalin 1 yang nungguin 3 -4 orang dan mandi semua. Jadi bayar selisih itu juga termasuk untuk biaya tersebut.35 Kepemilikan Jaminan pada sasaran Non pengguna Jampersal (N=525) Gambar 5. “. 135 . Bogor dan Kota Balikpapan terdapat > 20% pasien yang dikenakan biaya tambahan diluar Jampersal.. Kota Bandung.di sini kan mahal apa2 bu.” (NN.3%.. Kota Balikpapan). Kota Mataram. Dari Gambar di atas nampak bahwa di Kota Blitar.

“.. Diambil tiga tematik yang menarik untuk dilakukan penelitian lebih lanjut yaitu : 1) Program dalam upaya mendukung Kesehatan Ibu dan Anak dengan pendanaan melalui PNPM Gerakan Sehat Cerdas (GSC) yang merupakan Program dari Kementerian Dalam Negeri di Kabupaten Lombok Tengah. Kalo operasi kalo melebihi kuota di bayar sendiri. 5. Dari hasil uji petik verifikator mendapatkan bebarapa temuan terkait dengan pelaksanaan Jampersal seperti adanya penarikan pembiayaan pada pasien yang memanfaatkan Jampersal. tokoh masyarakat Kota Bandung). “..” (Toma. yaitu ikut KB jangka panjang. yaitu IUD dan implant. Salah satu warga pernah merasakan jampersal di RS tapi ada beberapa obat yang masih musti bayar. Jadi kalau bisa gak ada tambahan-tambahan biaya lagi..” (NN. hanya untuk warga miskin saja. obat B yang dibayar.” (NN. masyarakat menanggung.8 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TERHADAP PROGRAM JAMINAN PERSALINAN Dari proses pengumpulan data terdapat beberapa temuan yang menarik terkait Kesehatan Ibu dan Anak.misalnya obat-obatan yang disediakan obat A. Tapi tingkat penyerapan tiap individu kan beda-beda. Kalo ada tindakan lebih dari itu. tokoh masyarakat Kota Bandung). Jadi kalau bisa ada batasan-batasan . Untuk meminimalisasi keadaan ini maka beberapa daerah sudah melakukan “uji petik” pada beberapa kasus.PKK beberapa bulan lalu ada penjelasan dari PKM dan kami sudah berusaha untuk sosialisasi di warga. 136 . Berikut kutipan hasil FGD dengan tokoh masyarakat yang ada di Kota Bandung yang menyatakan bahwa ada biaya tambahan yang dibebankan kepada masyarakat: “.. Jadi harapannya kalau bisa gratis semuanya. Lalu untuk pelayanan persalinan apa memang harus langsung pulang? Jadi kalau bisa ada jeda hari lah untuk pelayanan. ternyata ada tambahan obat B.Jika dilihat lebih lanjut maka sebagian besar adalah perkotaan. “Uji petik” dapat dilakukan langsung ke masyarakat atau mengambil beberapa kasus secara acak untuk kemudian dilakukan konfirmasi melalui telpon. Jampersal punya syarat – syarat khusus... Lalu untuk opname juga masih ada yang bayar.Jampersal tidak semua gratis. sudah ada patokan dari pemerintah. Kota Blitar).

3) Antara Budaya.1 Pemberdayaan Masyarakat dalam upaya mendukung program KIA melalui PNPM GSC di Kabupaten Lombok Tengah PNPM GSC merupakan pengembangan dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-Mandiri) yang dimulai pada tahun 2007. Tema ini dipilih disebabkan adanya kejadian kematian maternal yang cukup tinggi di puskesmas di Kota Blitar yang secara akses ke pelayanan kesehatan sangat dekat dan fasilitas rujukan sangat memadai. Tabu dan Upaya Penyelamatan Ibu di Kota Blitar. Puskesmas ini mempunyai hanya satu desa sebagai wilayah kerjanya. 5. Menurut fasilitator kabupaten PNPM GSC Lombok Tengah.7 tahun artinya banyak penduduk Lombok Tengah yang tidak tamat Sekolah Dasar.73 (peringkat ke 2 terendah Provinsi NTB) sedangkan IPKM Kabupaten Lombok Tengah 0. Puskesmas Onemobaa adalah sebuah puskesmas yang dibangun sekitar tahun 2007. latar belakang adanya PNPM GSC di Lombok Tengah dikarenakan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lombok Tengah berada di urutan terakhir di provinsi NTB. Selain kesehatan.467282 (peringkat ke 286 nasional). IPM Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2010 adalah 60. Berdasarkan informasi dari Pengelola Jampersal Dinas Kesehatan Kabupaten Wakatobi. pendidikan di Lombok Tengah juga masih kurang. Hal ini tentu menjadi pertanyaan besar. Dari total 12 kecamatan di Lombok Tengah terdapat dua kecamatan yang tidak melaksanakan PNPM GSC yaitu 137 . Rata-rata pendidikan masyarakat 5. Hal ini terlihat dengan dana klaim yang diajukan Puskesmas Onemobaa pada tahun 2012 adalah nol rupiah. Tujuan PNPM GSC adalah meningkatkan kesehatan ibu dan anak dan menuntaskan wajib belajar sembilan tahun. yaitu Desa Lamanggau. mengapa jumlah klaim yang diajukan oleh Puskesmas Onemobaa adalah nol rupiah. Puskesmas Onemobaa tidak memfaatkan Jampersal.2) Bayang-bayang Jampersal di Lamanggau. Ditambah lagi angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Lombok Tengah yang cukup tinggi.8.

sehingga setiap desa mendapat dana sebesar kurang lebih antara 200-300 juta per tahun. Dana yang dikeluarkan PNPM GSC per kecamatan sebesar 1.Kecamatan Praya dan Kopang. Sedangkan Untuk bidang pendidikan terdapat empat indikator yaitu : 1) Setiap anak usia sekolah dasar terdaftar sebagai siswa sekolah dasar . 4) Setiap ibu yang sudah melahirkan melakukan PNC sebanyak tiga kali. 3) Setiap persalinan harus di lakukan di tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. 2)Pemberian vitamin A . 3) Imunisasi dasar lengkap dan 4) Balita yang naik berat badannya (capaian N/D). Empat indikator kesehatan balita diantaranya adalah : 1) Penimbangan bulanan. 3) Setiap anak yang lulus SD terdaftar sebagai siswa sekolah menengah pertama. 2) Tingkat kehadiran siswa sekolah dasar dalam mengikuti proses belajar mengajar minimum 85%. Adapun indikator keberhasilan PNPM GSC di bidang kesehatan ibu adalah sebagai berikut: 1) Setiap ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) ke tenaga kesehatan minimal sebanyak empat kali selama masa kehamilan. 4) Tingkat kehadiran siswa sekolah menengah pertama dalam mengikuti proses belajar mengajar minimum 85%.8 milyar pada thn 2011. Untuk melihat keberhasilan Kabupaten Lombok Tengah dalam melaksanakan PNPM GSC berikut ini adalah grafik persentase keberhasilan indikator PNPM GSC Kabupaten Lombok tengah : 138 . 2) Setiap ibu hamil meminum minimal 90 butir pil FE (penambah darah) selama masa kehamilannya.

Hasil ini menunjukkan makin masifnya linakes dengan kompetensi kebidanan (Pn) dan strategi linakes dalam upaya PWS KIA dan Gizi serta ketanggapan linakes dalam pencegahan tiga terlambat (3T) dalam pelayanan KIA di wilayah kerja Puskesmas. perlu peningkatan pencapaian sebagai strategi kunci dalam upaya penurunan AKI dan AKB yang diprioritaskan pada indikator satu. Persentase Capaian Indikator Keberhasilan PNPM GSC Kabupaten Lombok Tengah Sumber : PNPM GSC Kabupaten Lombok Tengah Berdasarkan grafik di atas terlihat bahwa capaian indikator bidang kesehatan ibu dan anak tertinggi pada Indikator 3 (Pertolongan persalinan oleh dokter/tenaga kesehatan yang kompeten). 2008) : 139 . Secara umum pencapaian delapan indikator PNPM GSC bidang Kesehatan di sepuluh Kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah cukup baik. disusul Indikator 2 (Pemberian pil Fe). dan Indikator 7 (pemberian tablet vit A). Sedangkan Indikator terendah pada Indikator satu (pencapaian pelayanan ANC lengkap/K4).Gambar 5. Namun demikian.37. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam PNPM GSC berjenjang dari tingkat provinsi sampai ke tingkat desa (PTO PNPM GSC.

Puskesmas.Di tingkat provinsi : 1). pencairan dan penyaluran dana rekening kolektif serta rekening multiyears. 2). pengelola dan operasional pelaksanaan kegiatan PNPM Generasi di tingkat antar desa termasuk mengkoordinasikan pertemuan. Kepala Puskesmas berperan sebagai Pembina pelaksanaan program di wilayah cakupan pelayanan Puskesmas itu berada. Di tingkat kecamatan : 1). merupakan 140 . Fasilitator Kecamatan (FK). 2). Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PJOK). Spesialis PNPM GSC. 4). memfasilitasi dan membantu Tim Koordinasi Kabupaten dalam mengkoordinasikan. tetapi dilaksanakan berkali-kali secara rutin (atau yang bersifat multiyears). Tim Koordinasi Kabupaten. dan melestarikan kegiatan-kegiatan yang didanai oleh program. 6). bertanggungjawab atas penyelenggaraan operasional kegiatan dan keberhasilan seluruh kegiatan di kecamatan. Tugas Puskesmas (terutama para bidan desa) adalah memberi masukan dan memfasilitasi kegiatan bidang kesehatan. 3). Camat. pengendalian laporan keuangan. 4). memfasilitasi koordinasi antara masyarakat desa dengan Puskesmas dan cabang Dinas Pendidikan Nasional (Dinas Diknas) di wilayahnya. Unit Pengelola Kegiatan (UPK). mengembangkan. Fasilitator Keuangan. Di tingkat kabupaten : 1). Bupati. Fasilitator Kabupaten. membina administrasi kegiatan. 3).pertemuan di kecamatan. bertugas dalam membangun dan membina hubungan dengan pelaku kesehatan dan pendidikan. 2). bertanggung jawab atas pelaksanaan program di tingkat kabupaten. Kelompok Kerja (Pokja). mengelola dana untuk kegiatan yang tidak langsung dilaksanakan sekaligus. bertanggung jawab dalam memberikan bantuan teknis dalam pengembangan dan perawatan sistem informasi/komunikasi database untuk memastikan pelaporan yang akurat dan terkini. membina pengembangan peran serta masyarakat. 5). serta mengkoordinir antar instansi terkait di kabupaten. Spesialis manajemen informasi sistem. meningkatkan dukungan teknis pendampingan dan pengendalian BLM PNPM GSC.

pendamping masyarakat yang bertugas memfasilitasi masyarakat dalam melaksanakan setiap tahapan program mulai dari tahap sosialisasi, pelatihan, pemetaan sosial, perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian. FK juga berperan dalam membimbing FD/KPMD, Kader Dusun atau pelaku-pelaku program di tingkat desa dan kecamatan. Di tingkat desa :1). KPMD (Kader pemberdayaan masyarakat desa), memfasilitasi masyarakat dalam melaksanakan tahapan proses program di tingkat desa sejak persiapan, perencanaan, pelaksanaan sampai pelestarian kegiatan. 2). TPMD (Tim Pertimbangan Musyawarah Desa), memberikan pertimbangan dalam menetapkan dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan PNPM GSC. 3). PK/TPK (pelaksana kegiatan), tim yang akan melaksanakan kegiatan yang telah diputuskan musyawarah desa untuk didanai PNPM GSC terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara. 4). Kelompok ibu-ibu sasaran, kelompok yang dibentuk dengan mengumpulkan seluruh ibu yang menjadi sasaran program seperti ibu hamil dan ibu yang memiliki balita. Fungsi kelompok ini adalah sebagai forum diskusi berbagai permasalah yang dialami atau berbagi pengalaman diantara anggota-anggotanya. Salah satu kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah yang dianggap cukup berhasil melaksanakan PNPM GSC adalah Kecamatan Janapria. Pendapat ini dikemukakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Lombok Tengah karena menurutnya kerjasama antara PNPM GSC Kecamatan Janapria dengan pihak penyedia layanan kesehatan di wilayah kecamatan Janapria cukup baik dan dapat mendongkrak indikator keberhasilan program kesehatan ibu dan anak dari dinas kesehatan. Selain itu keberhasilan Kecamatan Janapria dalam PNPM GSC juga didukung oleh data capaian delapan indikator PNPM-GSC bidang Kesehatan di Kabupaten Lombok Tengah. (Tabel 1, terlampir) Berdasarkan data capaian delapan indikator di Kecamatan Janapria diperoleh informasi sebagai berikut: 1) Dari 12 desa yang ada di Kecamatan Janapria, belum ada desa yang berhasil diperiksa oleh bidan terkait ANC 4 kali (lengkap) selama masa kehamilan.
141

2) Dari 12 desa terdapat sepuluh desa di Kecamatan Janapria yang seluruh ibu hamilnya berhasil mendapatkan minimal 90 butir pil Fe selama masa kehamilan. 3) Semua desa di Kecamatan Janapria telah berhasil memperoleh persalinan yang ditangani oleh tenaga bidan atau dokter (Pn) dengan kompetensi kebidanan. 4) Dari 12 desa terdapat tujuh desa di Kecamatan Janapria yang ibu nifas dan bayinya telah berhasil memperoleh perawatan nifas oleh bidan atau dokter minimal dua kali perawatan dalam waktu 40 hari setelah proses persalinan. 5) Belum ada desa dengan bayi usia 12 bulan ke bawah yang berhasil memperoleh imunisasi dasar secara lengkap yaitu BCG, DPT, Campak, Polio, dan Hepatitis B dalam pelayanan KIA di Posyandu. 6) Semua desa dengan bayi usia 12 bulan ke bawah berat badanny a telah

berhasil di timbang dan selalu naik pada setiap bulannya (untuk bayi di bawah usia 6 bulan, berat badannya naik lebih dari 500 g per bulan dan bayi usia 6-12 bulan naik lebih dari 300 g). 7) Semua desa dengan anak usia 6 bulan sampai 59 bulan telah berhasil mendapatkan Vitamin A sebanyak 2 kali dalam Setahun. 8) Semua desa dengan anak balita (bawah lima tahun) telah berhasil ditimbang sebulan sekali secara rutin. Secara umum, implementasi capaian minimal 12 bulan GSC di Kecamatan Janapria melebihi nilai minimal indikator dengan demikian disimpulkan capaian cukup baik pada delapan indikator keberhasilan PNPM GSC. Keberhasilan PNPM GSC di Kecamatan Janapria tidak terlepas dari adanya koordinasi yang dilakukan PNPM GSC dengan layanan kesehatan yang ada di wilayah Kecamatan Janapria dimana ada dua puskesmas yang wilayah kerjanya ada di kecamatan ini yaitu Puskesmas Janapria dan Puskesmas Langko. PNPM GSC bertugas untuk melakukan kegiatan yang mendukung pelaksanaan layanan kesehatan ibu dan anak yang dilakukan oleh petugas kesehatan di Puskesmas Janapria dan Puskesmas Langko. Di bawah ini adalah grafik kunjungan K1, K4, dan linakes di
142

Puskesmas Janapria yang wilayah kerjanya meliputi enam desa yaitu Desa Janapria, Saba, Lekor, Pendem, Setuta, dan Jango.

Gambar 5.38 Kunjungan K1, K4 dan Linakes Puskesmas Janapria Thn 2010-2012 Sumber : Data PWS KIA Puskesmas Janapria 2010-2012

Berdasarkan grafik di atas terlihat bahwa kunjungan K1 pada tahun 2010 sebesar 83.3% kemudian sedikit menurun di tahun 2011 menjadi 78.3% dan kembali meningkat di tahun 2012 menjadi 88.4%. Untuk kunjungan K4 tahun angkanya cenderung terus meningkat dari tahun 2010 sebesar 77.5% kemudian menjadi 78.2% di tahun 2011 dan meningkat menjadi 82.05% di tahun 2011. Data linakes menunjukkan tahun 2010 sebesar 71.8%, menurun menjadi 65.5% pada tahun 2011 kemudian kembali meningkat menjadi 71.7% pada tahun 2012.

Pelaksanaan PNPM GSC di Desa Saba Menurut bendahara PNPM GSC Desa Saba yang juga merupakan kader posyandu Desa Saba yang juga merupakan bendahara PNPM GSC, tidak adanya pemberian uang transport bagi ibu hamil dan ibu bersalin bukan suatu masalah karena dulunya Desa Saba termasuk ke dalam desa siaga sehingga sudah ada ambulance desa yang akan mengantarkan ibu yang melahirkan. Ditambah lagi
143

dengan adanya budaya setempat yang membuat kesepakatan bersama agar penduduk yang tinggal di sekitar ibu hamil selalu siap sedia mengantarkan ibu hamil tersebut jika tiba waktu melahirkan. Kesepakatan bersama ini disebut dengan istilah “awig-awig” yaitu kesepakatan yang telah menjadi aturan bersama atau norma pada suatu masyarakat.
“..tidak jadi masalah karena desa Saba berangkat dari desa siaga maka ada ambulance desa, sudah jadi keputusan desa, awig-awignya ada siapapun yang ada di lingkungan itu ada yang mau melahirkan diwajibkan untuk membawa. Misalnya ada tetangga saya ada yang mau melahirkan, kita harus wajib mengantarkan ke tempat ibu bidan atau ke puskesmas..”

Untuk mendukung kesehatan ibu hamil sejak usia kehamilan lima bulan ibu hamil akan mendapatkan makanan tambahan. Pemberian makanan tambahan (PMT) terdiri dari dua jenis yaitu PMT penyuluhan untuk ibu hamil yang dalam kondisi sehat dan PMT pemulihan untuk ibu hamil yang tergolong kurang gizi. Bagi ibu hamil yang tergolong kurang gizi maka ibu hamil akan mendapat PMT yang porsinya lebih banyak dari ibu hamil yang dalam kondisi sehat yang terdiri dari susu 300 gram, berasnya 2 kg, telur 20 butir diberikan selama 3 bulan. Selain pemberian PMT juga dilakukan kelas ibu hamil yang dilakukan sebulan sekali. Kegiatan dalam kelas ibu hamil adalah senam bagi ibu hamil dan penyuluhan bagi ibu hamil mengenai pentingnya menjaga kesehatan selama masa kehamilan. Kelas ibu hamil ini difasilitasi oleh bidan puskesmas dengan PNPM GSC sebagai penyelenggaranya.

Pelaksanaan PNPM GSC di Desa Lekor Desa Lekor merupakan desa yang letaknya paling jauh dari pusat Kecamatan Janapria. Awalnya persalinan oleh tenaga kesehatan di desa ini sedikit, masyarakat lebih memilih untuk melahirkan di rumah dengan ditolong oleh dukun beranak yang dalam bahasa setempat disebut dengan “belian sasak”. Masyarakat Desa Lekor lebih mempercayai “belian sasak” untuk menolong
144

persalinan karena dalam menolong persalinan belian sasak menggunakan doadoa. Di bawah ini adalah data PWS KIA Desa Lekor yang diperoleh dari puskesmas Kecamatan Janapria :

Gambar 5.39 Kunjungan K1 dan K4 serta Linakes Desa Lekor, Th 2010-s.d Okt 2012 Sumber : PWS KIA Puskesmas Janapria, 2010-2012.

Berdasarkan data di atas terlihat untuk cakupan K1 mengalami peningkatan dari tahun 2010 yang semula 62.2% menjadi 68.2% pada tahun 2011 kemudian meningkat drastis menjadi 108.4% pada tahun 2012. Untuk cakupan K4 pada tahun 2010 sebesar 56.8% meningkat menjadi 71.9% pada tahun 2011 dan kembali meningkat menjadi 98.6% pada tahun 2012. Angka persalinan dengan ditolong tenaga kesehatan cakupannya sebesar 61.4% pada tahun 2010 kemudian sedikit menurun menjadi 56.57% pada tahun 2011 dan kembali meningkat menjadi 73.83% pada tahun 2012. Untuk mendorong agar masyarakat mau melahirkan di polindes dengan ditolong bidan maka PNPM GSC akan memberikan perlengkapan persalinan seperti bak mandi, kelambu bayi, paket perlengkapan bayi seperti baju bayi, popok, sabun, handuk kepada setiap ibu yang melahirkan di polindes.
145

awalnya kepengurusan program ini masih bergabung dengan PNPM Perdesaan.Selain itu kehadiran balian sasak tidak dapat dihilangkan begitu saja dalam menolong persalinan karena walaupun ibu mau melahirkan di poskesdes.” Gambar 5. Pada bulan Agustus tahun 2011 baru dibentuk kepengurusan tersendiri untuk PNPM GSC. Seperti pernyataan bidan Desa Lekor berikut ini: “. Poskesdes Desa Lekor yang dibangun oleh PNPM GSC Sumber : Dokumentasi Peneliti PNPM GSC di Desa Langko Kegiatan PNPM GSC telah dimulai di Desa Langko pada tahun 2011. Dulunya persalinan non nakes sangat banyak bisa 60-40%.. ibu tetap meminta agar “belian sasak” mendampingi ibu ketika melahirkan. Untuk mendukung keinginan masyarakat ini maka PNPM GSC memberikan uang transport bagi “belian sasak” yang membawa ibu hamil untuk melahirkan di poskesdes sebesar Rp 80.40. Satu tahun ini cuma ada satu yang melahirkan non nakes. Strategi pemberian paket bagi ibu yang melahirkan di poskesdes dan pemberian transport bagi “belian sasak” terbukti cukup berhasil mendorong ibu hamil di Desa Lekor untuk mau melahirkan di poskesdes dengan ditolong bidan.000.sejak tahun 2012 per Januari sudah mulai kelihatan perubahan.. Dalam PNPM GSC kepengurusannya terdiri dari pelaksana kegiatan 146 .

oh kamu hamil. Alasan bidan tidak mau tinggal di polindes Desa Langko karena kondisi polindes yang sudah rusak dan tidak ada air bersih yang tersedia di polindes. satu orang sekretaris dan satu orang bendahara. Maksudnya pemeriksaan awal makanya lebih banyak yang periksa kehamilan ke dukun. Pemilihan ketua PK PNPM GSC dipilih melalui musyawarah namun jika tidak terdapat kesepakatan dilakukan voting. Salah satu cara agar bidan mau tinggal di polindes Desa Langko maka polindes harus diperbaiki dan ada sumber air bersih. Kemudian ada yang disebut dengan Tim Pertimbangan Musyawarah Desa (TPMD). Hal ini dikarenakan ibu hamil merasa enggan jika harus ke puskesmas karena harus menunggu terlalu lama. Disamping itu sebelumnya ibu hamil jarang memeriksakan kehamilan ke posyandu karena ibu hamil lebih memilih untuk memeriksakan diri ke dukun beranak. Seperti diungkapkan oleh informan HB seorang bidan yang masih berstatus bidan magang di Desa Langko: “. Ditambah lagi dengan adanya kepercayaan di masyarakat bahwa ibu hamil pantang untuk diperiksa awal oleh petugas kesehatan karena takut keguguran.(PK) yang terdiri dari satu orang ketua. Kepercayaannya kalau dari awal sudah dipegang bidan nanti keguguran atau 147 . tanpa dipastikan atau di tes. Pada awalnya. Ketua PK Desa Langko yang sekarang. terpilih melalui voting. Melihat kondisi polindes seperti ini maka ketika musyawarah antar dusun dilakukan untuk menentukan prioritas kegiatan PNPM GSC. ibu-ibu hamil di Desa Langko jarang yang mau memeriksakan kehamilannya atau melahirkan di bidan puskesmas. Ibu hamil lebih memilih memeriksakan diri ke polindes karena letak polindes lebih dekat namun tidak ada bidan yang tinggal di polindes Desa Langko. Selain PK ada yang disebut dengan Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD) yang terdiri dari dua orang. Kalau awal-awal cuma dikasih tahu sama dukun beranak. usulan untuk merenovasi polindes paling banyak muncul di masyarakat.kalau dulu kan ada kepercayaan kalau dipegang awal takut keguguran.. namanya diusulkan karena telah lama menjadi KPMD di PNPM Perdesaan. Tingkat kesadarannya belum ada terhadap kesehatan jadi ketika 5 atau 6 bulan baru ke periksa ke petugas kesehatan.

” Gambar 5.” Untuk mengubah pandangan masyarakat. Seperti diutarakan oleh bidan Desa Langko berikut ini: “. kita ajarkan senam. maka bidan Desa Langko melakukan penyuluhan setiap dilaksanakannya posyandu di setiap dusun.. Kelas ibu hamil penting untuk meningkatkan kesadaran ibu hamil untuk memeriksa sampai melahirkan. PNPM GSC juga mendanai kegiatan kelas ibu hamil. baru telat satu minggu saja sudah ke bidan.pada kelas ibu hamil kita undang ibu hamil yang tiga bulan lagi mau melahirkan.41 Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil yang difasilitasi oleh PNPM GSC Sumber : Dokumentasi Fasilitator Kecamatan Janapria Namun pelaksanaan kelas ibu hamil tidak rutin dilakukan karena kegiatan ini bukan merupakan prioritas usulan dari masyarakat.kandungannya hilang. Dalam kegiatan ini dilakukan senam ibu hamil yang disertai penyuluhan terhadap ibu hamil agar mau melahirkan di polindes atau puskesmas. sampai KB harus ke tenaga kesehatan. Tapi sekarang sudah tidak... Hal ini cukup disayangkan oleh bidan Desa Langko karena menurutnya kelas ibu hamil sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran ibu hamil untuk memeriksakan kehamilan dan 148 . Karena saya belum dilatih maka yang memimpin senam bidan koordinator dari puskesmas. Sebagai dukungan untuk kesehatan ibu hamil.

Dalam kegiatan kelas ibu hamil PNPM GSC bertugas menyediakan sarana dan prasarana seperti sound system. Seperti pada angka K1 tahun 2011 sebanyak 98.melahirkan di tenaga kesehatan.42 Kunjungan K1. Untuk persalinan dengan ditolong tenaga kesehatan juga mengalami peningkatan berarti yaitu dari 91% pada tahun 2011 149 . K4 persalinan oleh tenaga kesehatan Desa Langko yang diperoleh dari Puskesmas Langko : Gambar 5.3% ibu hamil di Desa Langko memeriksakan kehamilannya ke puskesmas. polindes atau posyandu dan pada tahun 2012 angkanya meningkat menjadi 105. Untuk pelatih senam atau pemberi penyuluhan biasanya juga diberikan uang sebagai narasumber. televisi.000 dari dana PNPM GSC. Linakes Desa Langko Thn 2010-2012 Sumber : Data PWS KIA Puskesmas Langko 2010-2012 Berdasarkan tabel di atas (penjelasan 2012). Berikut ini adalah tabel data K1. K4. bantal dan matras untuk senam ibu hamil serta dana untuk honor narasumber dan transport untuk ibu hamil yang datang. Begitupula dengan angka K4 meningkat dari 95. video player. terlihat bahwa ibu hamil di Desa Langko cukup rajin memeriksakan kehamilannya angkanya pun cenderung meningkat dari tahun 2011 ke tahun 2012.7% tahun 2011 menjadi 100% pada tahun 2012. Setiap ibu hamil yang datang ke kelas ibu hamil diberikan uang transport sebesar Rp 20.4%.

menjadi 105. kepala desa.” Selain merenovasi polindes. Pada tahun 2011 Desa Langko mulai memberikan PMT untuk ibu hamil. hasilnya jumlah dana untuk 30 orang dibagi agar cukup untuk PMT sesuai jumlah 150 . untuk mendukung kesehatan ibu juga dilakukan pemberian makanan tambahan. Awalnya pada bulan pertama jumlah yang diberikan sesuai dengan data sasaran yang ada. Dinas kesehatan memberitahukan hal ini ke kepala camat. Sebagai dukungan agar ibu hamil mau memeriksakan dirinya dan melahirkan ke petugas kesehatan maka PNPM GSC pernah memberikan uang transport untuk diberikan kepada ibu hamil. “. Pada bulan kedua semua ibu hamil dapat mendaftar untuk memperoleh PMT dengan syarat memiliki buku KIA. Tapi bertolak belakang dengan programnya dinas kesehatan.. Usulan pemberian uang transport untuk ibu hamil ini sebenarnya datang dari masyarakat namun menurut kepala Desa Langko ibu tanpa adanya uang transport pun ibu hamil di Desa sudah cukup rajin memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan karena letak Desa Langko bukan di pelosok sehingga tidak terlalu jauh dari puskesmas atau polindes. Di Desa Langko tanpa transport untuk ibu hamil rasanya sudah rajin periksa kehamilan karena desa Langko bukan termasuk daerah pelosok. Untuk mengatasi hal ini PK Desa Langko berkonsultasi dengan petugas gizi dari puskesmas Langko. Ditambah lagi dengan kesadaran masyarakat Desa Langko yang mulai meningkat karena seringnya diadakan penyuluhan kesehatan kepada ibuibu hamil. Pemberian makanan tambahan ada yang untuk ibu hamil yang status gizinya masih baik dan ada yang diperuntukkan untuk ibu hamil Kek..usulan dari masyarakat supaya tidak ada yang terlewatkan ibu hamil yang periksa kehamilan untuk mendapatkan jampersal nanti minimal dia periksa kehamilan empat kali sehingga kita support lewat transport itu. Peningkatan ini dapat terjadi salahsatunya karena bidan yang bertugas di Desa Langko sudah tinggal menetap di polindes Desa Langko.7% pada tahun 2012. Namun akibatnya jumlah ibu hamil yang mendapatkan PMT membeludak padahal jumlah dana yang ada hanya untuk 30 orang ibu hamil. Namun pemberian uang transport kepada ibu hamil dihentikan karena tidak disetujui oleh pihak dinas kesehatan Lombok Tengah.

seperti terlihat pada gambar di bawah ini : 151 . Hal ini terpaksa dilakukan walaupun nantinya PMT yang diberikan tidak mencukupi kebutuhan ibu hamil. Ketika posyandu dilakukan setiap balita yang datang akan diberikan PMT berupa bubur kacang hijau. berikut penuturannya: “. kalau yang 200 gram untuk empat hari. pemberian imunisasi dan pemeriksaan terhadap ibu hamil. ikan teri ¼ kg serta susu untuk ibu hamil ukuran 200 gram. Posyandu dilakukan setiap bulan terdiri dari kegiatan penimbangan bayi dan balita.5 kg. ikan teri. telur. gula.” Namun pemberian makanan tambahan ini dirasakan informan SU tidak mencukupi untuk kebutuhan ibu hamil setiap bulannya. PMT yang diberikan untuk ibu hamil terdiri dari gula merah.ibu yang mendaftar.pernah dapat susu untuk ibu hamil yang 200 gram... kacangkacangan. Seperti pengalaman ibu hamil SU yang menerima PMT ibu hamil dari PNPM GSC berikut ini: “. PMT ibu hamil diberikan kepada ibu hamil dengan diantar ke rumah ibu hamil oleh kader posyandu. tiap bulan dapat PMT ibu hamil. Saya sudah mendapat PMT ibu hamil tiga kali dari hamil satu bulan.” Desa Langko terdiri dari sepuluh dusun dimana di setiap dusun telah memiliki Posyandu dengan jumlah kader di setiap dusun sebanyak lima orang. Kalau yang 400 gram bisa untuk dua minggu.. ikan kering seperti cumi.. Seperti susu ini kan hanya cukup untuk empat hari kadang-kadang saya beli sendiri juga susu Prenagen yang 400 gram harganya 80 ribu. telur empat butir. minyak goreng sebanyak 1. telur rebus satu butir dan biskuit. Misalnya pemberian susu untuk ibu hamil hanya diberikan susu yang ukuran kecil saja yang habis diminum dalam waktu empat hari jika diminum rutin setiap hari.kalau menurut saya belum mencukupi kebutuhan.

kompasiana.43 PMT yang diberikan ketika posyandu di Desa Langko Sumber : Dokumentasi Peneliti Pemberian PMT selain bertujuan untuk meningkatkan gizi setiap balita yang datang ke posyandu. (http://edukasi. pemberian PMT juga bertujuan untuk menarik ibu-ibu agar mau membawa anaknya ke posyandu. mengatasi. Seperti dikemukakan oleh PK Desa Langko berikut ini: “. mengembangkan gotong-royong masyarakat.. Menurut Notoatmodjo. tidak seberapa.com). melindungi. dan kemampuan masyarakat dalam mengenali. dan desentralisasi. Adapun prinsip pemberdayaan masyarakat adalah menumbuhkembangkan potensi masyarakat. kemauan. 2007). menjalin kemitraan.memang sekarang salah satu perangsangnya karena ada PMT jadi banyak yang ke posyandu walaupun yang didapat cuma bubur kacang hijau sama telur.” Selanjutnya akan dibahas bagamana pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC dikaitkan dengan konsep-konsep tentang pemberdayaan masyarakat yang sebelumnya telah ada. Berdasarkan konsep di atas maka di dalam pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria sudah berusaha untuk menumbuhkan potensi masyarakat 152 .Gambar 5. pemberdayaan masyarakat ialah upaya atau proses untuk menumbuhkan kesadaran. memelihara. dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri (Notoatmodjo.. menggali kontribusi masyarakat.

Seperti penjelasannya berikut ini: “.. 153 . Untuk perencanaan dia datang ke dusun menampung aspirasi dari situ oh ini permasalahannya. dia yang memantau. Pemberian paket untuk ibu yang melahirkan di Desa Lekor disadari oleh FK PNPM GSC Kecamatan Janapria merupakan cara yang instan dan belum mengarah ke proses penyadaran. itu mungkin yang terus dilakukan. Masyarakat mau melahirkan di polindes karena ada daya tarik dari paket yang diberikan bukan semata-mata karena kesadaran masyarakat yang telah tumbuh akan pentingnya melahirkan di fasilitas kesehatan dengan ditolong tenaga kesehatan. Nah proses ini yang berusaha kami lakukan.yang belum kita lakukan sebenarnya proses penyadaran itu karena ini sangat tidak mudah. oh ini potensi kita dari situ bisa dia rencanakan.” Namun pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC belum sampai ke tahap membangun kesadaran masyarakat agar menjadi mandiri dan sadar akan pentingnya menjaga kesehatan ibu dan anak. Pelatihan ini bertujuan agar masyarakat di desa dapat membuat merencanakan. Tujuan program ini kan sebenarnya menyadarkan mereka agar menjadi kebutuhan mereka. penanggung jawab PNPM GSC Keamatan Janapria berikut ini: “Kan diberikan pelatihan-pelatihan untuk SDM mereka. Pemberdayaan masyarakat dalam PNPM GSC lebih ke arah penguatan kapasitas pelaksana program yang ada di desa agar muncul partisipasi masyarakat untuk terlibat dalam program ini. Sedangkan kegiatan yang dilaksanakan PNPM GSC beberapa masih ada yang bersifat instan seperti pada pelaksanaan PNPM GSC di Desa Lekor dimana untuk membuat ibu hamil mau melahirkan di poskesdes maka diberikan stimulus berupa pemberian paket perlengkapan bayi. dia rasakan karena dia yang merencanakan.” Cara instan ini terpaksa dilakukan karena karakter penduduk Desa Lekor yang menurut FK kecamatan Janapria sulit untuk diarahkan. untuk melakukan perubahan pada masyarakat desa Lekor harus dilaksanakan pelan-pelan... dia yang melaksanakan. Hal ini dijelaskan oleh informan MU. Yang sementara kita lakukan boleh saya katakana sedikit instan hanya untuk memotivasi mereka setelah itu selesai. Tapi kalau program ini tidak ada siapa yang diharapkan.dengan adanya pelatihan terhadap pihak pelaksana PNPM GSC di tingkat desa. melaksanakan dan memantau pelaksanaan PNPM GSC. dia yang melanjutkan.

menurut informan pelaksanaan kegiatan di tingkat kecamatan dan desa yang kurang bagus. Program PNPM berjalan dengan kegiatannya sendiri demikian juga dengan program dinas kesehatan. Namun setelah di evaluasi kegiatan yang ada di PNPM GSC ternyata memiliki indikator yang sama dengan program KIA dari dinas kesehatan. Oleh karena itu. Padahal PNPM GSC memiliki indikator keberhasilan program yang tidak terkait dengan pembangunan fisik. Hal ini terlihat dari banyaknya usulan dari masyarakat yang lebih banyak ke arah pembangunan fisik seperti pembangunan atau renovasi polindes dan posyandu. dinas kesehatan belum dilibatkan dalam program PNPM GSC. Karena dalam PNPM GSC masyarakat juga harus dapat membangun kemitraan dengan instansi-instansi terkait. Hal senada juga diungkapkan oleh Kasie Gizi Dinas Kesehatan Lombok Tengah. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Lombok Tengah pada awal 2011. untuk mensinergikan kegiatan PNPM GSC dengan dinas kesehatan maka pihak dinas kesehatan mengundang fasilitator kabupaten PNPM GSC untuk berkoordinasi dalam melaksanakan kegiatan. Berikut pernyataannya: 154 . pada awal tahun 2012 dinas kesehatan mulai mengkoordinasikan kegiatannya bersama dengan PNPM GSC dalam mencapai kegiatan yang fokus ke bidang kesehatan agar lebih terarah dalam mencapai keberhasilan indikator kesehatan ibu dan anak. Namun dalam pelaksanaannya terkadang kemitraan tidak berjalan dengan sempurna karena pada awalnya belum terjalin koordinasi dan komunikasi yang baik antara pihak kesehatan dengan PNPM GSC. Pembangunan fisik sebenarnya hanya untuk mendukung keberhasilan indikator tersebut.Pelaksanaan PNPM GSC yang berfokus pada keterlibatan masyarakat membuat usaha untuk membangun kemandirian kesehatan ibu dan anak di masyarakat menjadi kurang maksimal. Hanya saja. Setiap usulan dari masyarakat seharusnya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan pihak kesehatan dan pihak pendidikan.

” Pada kasus pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria pada awalnya pelaksana di tingkat kecamatan juga kurang dapat berkoordinasi dengan pihak penyedia layanan kesehatan di Kecamatan Janapria.kita sering mengundang pihak PNPM GSC karena kita butuh. Berikut penjelasan FK Kecamatan Janapria: “.“. (http://www.pasca.awalnya ego dari dinas itu. Partisipasi di dalam pelaksanaan dan 3.” Namun dengan pendekatan dan komunikasi dari pelaksana PNPM di tingkat Kecamatan Janapria terutama peran dari Fasilitator Kecamatan (FK) Janapria maka cukup terjalin koordinasi yang baik antara PNPM GSC dengan pihak penyedia layanan kesehatan dalam hal ini puskesmas Janapria dan puskesmas Langko yang wilayah kerjanya adalah desa-desa di Kecamatan Janapria. indikator mereka kan hampir sama dengan kami jadi kami yang merasa membutuhkan mereka karena mereka yang punya dana. “. pada awalnya Dinas kesehatan mempertanyakan kenapa kegiatan PNPM GSC yang bergerak di bidang kesehatan dana pelaksanaannya tidak diserahkan ke dinas kesehatan. yang pertama kali saya kunjungi teman-teman dari layanan kesehatan seperti puskesmas dan dari pendidikan karena disitulah kita cari data awal. Selanjutnya ketiga tahap 155 ..” Menurut Ericson (dalam Slamet. 2.unand... yaitu : 1. dukungan layanan. kerjasama dengan layanan ini yang penting karena kalau kita tidak lakukan kerjasama itu kita kan hanya memfasilitasi tidak paham tentang teknis bagaimana kesehatan dan puskesmas lah yang tahu sehingga koordinasi ini penting untuk kita maksimalkan.. Partisipasi di dalam tahap pemanfaatan.pertama dari FK mengawal proses fasilitasi kemudian dukungan masyarakat. Kami jawab ini kan program dari pusat dan kami laksanakan dan kita tidak jalan sendiri dan inilah bentuk pemberdayaan sebab yang melaksanakan ini kan dari masyarakat kan kita yang memfasilitasi. bahkan ada pertanyaan dari dinas kesehatan “kok GSC ini tentang kesehatan kok PNPM yang menangani. Awal-awal saya kesini saya lakukan itu. Menurut informan MU selaku penanggung jawab program PNPM di Kecamatan Janapria.id). kenapa dananya tidak di puskesmas saja”. Partisipasi di dalam tahap perencanaan..ac.. 1994:89) bentuk partisipasi masyarakat dalam pembangunan terbagi atas tiga tahap. Tapi kita tetap tidak bisa meninggalkan yang punya bidang sehingga kita koordinasi. Tapi sering kita koordinasinya putus karena di atas koordinasinya sudah bagus yang di bawah eksekusinya kurang bagus.

Partisipasi di dalam tahap perencanaan (idea planing stage). Bentuk partisipasi masyarakat terlihat dari awal tahap perencanaan yaitu dilibatkannya masyarakat dalam memberikan usulan kegiatan melalui musyawarah antar dusun yang dilanjutkan dengan musyawarah antar desa. Masyarakat berpartisipasi dengan memberikan usulan. Setelah itu masyarakat juga berpartisipasi dalam musyawarah pertanggungjawaban desa program yang diadakan ketika dana PNPM GSC sudah digunakan sebanyak 40%. Dalam musyawarah antar dusun masyarakat diberikan kesempatan untuk memberikan usulan dalam rangka memperbaiki kondisi kesehatan ibu dan anak serta kondisi pendidikan. Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap penyusunan rencana dan strategi dalam penyusunan kepanitian dan anggaran pada suatu kegiatan/proyek. 1. bagaimana cara membuat proposal. Dalam musyawarah pertanggungjawaban desa masyarakat diminta untuk menilai pelaksanaan 156 . Dalam pelaksanaan PNPM GSC partisipasi masyarakat dalam program ini merupakan wujud dari adanya pemberdayaan di dalam masyarakat. bagaimana cara pelaksanaan kegiatan dan pelatihan lainnya yang bertujuan untuk membangun kesadaran pelaksana kegiatan PNPM GSC tentang pentingnya keterlibatan masyarakat dalam program ini tanpa didasari imbalan yang akan mereka dapat. 80% dan 100%. Sebelum program dilaksanakan setelah dicapai kesepakatan mengenai prioritas kegiatan maka pelaksana kegiatan akan diberikan pelatihan di PNPM GSC kecamatan. Kemudian masyarakat juga diminta untuk memberikan usulannya mengenai kegiatan apa saja yang diprioritaskan untuk dilakukan.partisipasi masyarakat tersebut akan coba dikaitkan dengan pelaksanaan PNPM GSC di Kecamatan Janapria. saran dan kritik melalui pertemuan-pertemuan yang diadakan. Dalam pelatihan diberikan materi mengenai bagaimana cara membuat rancangan anggaran (RAB).

PNPM GSC hanya memfasilitasi biaya untuk pembangunan polindes atau posyandu seperti pembelian bahan bangunan. kalau ada lahan itu baru kita setujui pembangunan posyandu. partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan PNPM GSC juga dapat dilihat dari adanya masyarakat yang bersedia rumahnya digunakan sebagai tempat pelaksanaan posyandu. material. Kemudian jika pelaksana kegiatan PNPM GSC tidak dapat mempertanggungjawabkan dana yang telah terpakai maka bisa saja ketua dan anggotanya diusulkan oleh masyarakat untuk diganti.. “. Partisipasi di dalam tahap pelaksanaan (implementation stage).misalnya kita membangun posyandu tidak mungkin program menganggarkan jadi syaratnya masyarakat harus menyiapkan lahan yang sudah dibebaskan dengan bukti pembebasan ada dan berupa hibah dari pihak desa. Ada kegiatan lain dimana masyarakat berswadaya dalam bentuk tenaga.PNPM GSC. Seperti kepala dusun Langko Gunting di Desa Langko 157 .” Selain penyediaan lahan untuk pembangunan polindes atau posyandu. Jika ternyata kegiatan yang dilakukan tidak sesuai dengan usulan masyarakat atau pelaksana kegiatan PNPM GSC di desa tidak kelihatan kinerjanya maka masyarakat akan mengkritik pelaksana kegiatan PNPM GSC. Masyarakat disini dapat memberikan tenaga. Masyarakat akan menilai pelaksanaan PNPM GSC berhasil jika prioritas kegiatan yang diusulkan masyarakat benar-benar telah dilakukan. uang ataupun material/barang serta ide-ide sebagai salah satu wujud partisipasinya pada pekerjaan tersebut. 2.. Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap pelaksanaan pekerjaan suatu proyek. Syarat dari PNPM GSC untuk membangun polindes atau posyandu adalah harus adanya masyarakat yang mau menghibahkan tanahnya sebagai lokasi polindes atau posyandu. Dalam PNPM GSC bentuk partisipasi ini dapat terlihat dari adanya masyarakat yang mau menghibahkan tanahnya untuk dijadikan polindes atau posyandu. Sedangkan untuk tenaga membangun polindes atau posyandu ada juga yang berasal dari masyarakat setempat.

pada hari pelaksanaan posyandu dan satu hari setelah pelaksanaan posyandu sebesar Rp 15. Maka sebagai balas jasa dari apa yang telah dilakukan para kader kebanyakan muncul usulan di masyarakat untuk memberikan insentif bagi para kader dengan menggunakan dana PNPM GSC. Dalam PNPM GSC peran kader posyandu sangat penting karena kader posyandu sebagai penyuluh terdepan yang dapat mengajak masyarakat agar mau memanfaatkan layanan kesehatan.rumah saya dijadikan tempat untuk posyandu sejak setahun terakhir ketika saya menjadi kepala dusun karena di dusun Langko Gunting ini belum ada tempat pelaksanaan posyandu yang permanen. Dengan adanya uang transport ini masyarakat berharap kader posyandu lebih giat mengajak ibu yang memiliki bayi dan balita agar mau membawa anaknya ke posyandu dan memotivasi ibu hamil agar mau memeriksakan kehamilan dan melahirkan di tenaga kesehatan.” 158 .000 per harinya. seorang kader dari Dusun Lengarak.. Seperti pernyataan informan IT. Jadi satu orang kader total mendapatkan uang transport sebesar Rp 45. berikut uraiannya: “. Anggota KPMD hanya dua orang jika tanpa bantuan dari kaderkader posyandu di setiap dusun.. Namun adanya insentif ini bukanlah motivasi utama kader di Desa Langko melaksanakan perannya sebagai seorang kader.kalau saya tetap akan jadi kader walaupun nanti suatu saat tidak ada honor lagi dari PNPM GSC. KPM akan kesulitan untuk mendata sasaran dan menemukan permasalahan kesehatan ibu dan anak yang ada pada setiap dusun.” Partisipasi dalam tahap pelaksanaan juga terlihat dari adanya peran kader posyandu dalam pelaksanaan kegiatan PNPM GSC.000. Kader posyandu juga turut membantu KPMD (Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa) dalam mendata sasaran yang ada di desa. Desa Langko berikut ini : “.yang bersedia rumahnya dipakai untuk pelaksanaan posyandu setiap bulannya.. Insentif ini tidak berupa gaji tetapi uang transport yang diberikan sehari sebelum pelaksanaan posyandu.. Soalnya dari dulu sudah jadi kader walaupun tidak ada honornya.

159 . Kepulauan Wakatobi merupakan gugusan pulau-pulai kecil. bahkan dapat dikatakan gugusan pulau sangat kecil.Kader IT adalah satu-satunya kader laki-laki yang ada di Kecamatan Janapria. Provinsi Sulawesi Tenggara. Kader IT sudah lebih dari sepuluh tahun lamanya menjadi kader di Dusun Lengarak. masyarakat berhak menilai apakah kepengurusan pelaksana kegiatan di desa berjalan dengan baik atau tidak. Masyarakat berhak mengusulkan kepengurusan akan tetap dilanjutkan atau harus diganti. Pada PNPM GSC partisipasi ini terlihat dengan terlibatnya masyarakat pada musyawarah pertanggungjawaban desa ketika dana PNPM GSC sudah terpakai dan kegiatan-kegiatan dalam PNPM GSC di desa sudah dilaksanakan. Kabupaten Wakatobi.96 km. yang membentang dari Utara ke Selatan di antara 5012’ – 6010’ LS (sepanjang kurang lebih 160km) dan 123020’ – 124039’ BT (sepanjang kurang lebih 120 km).2 BAYANG-BAYANG JAMPERSAL DI LAMANGGAU Desa Lamanggau terletak di Kecamatan Tomia. Partisipasi di dalam pemanfaatan (utilitazion stage) Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah pelibatan seseorang pada tahap pemanfaatan suatu proyek setelah proyek tersebut selesai dikerjakan.900 km2 serta panjang garis pantai 251. berjumlah 48 buah pulau dengan luas daratan 823 km2 dan luas perairan 13. 3. kebanyakan kader adalah perempuan.8. Sebelum ada PNPM GSC ia tidak pernah mendapatkan insentif per bulannya namun walaupun suatu saat tidak ada lagi insentif dari PNPM GSC ia tetap akan menjadi kader karena uang bukanlah motivasi utamanya menjadi kader. 5. Dalam musyawarah pertanggungjawaban desa. Kabupaten Wakatobi terletak di sebelah Timur Kabupaten Buton.

Setelah tiba di Dermaga Waitii.-. maka keberangkatan akan ditunda sampai jam 10 pagi. Speed boat hanya beroperasi satu hari sekali.html Kabupaten Wakatobi memiliki 8 kecamatan. Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Jabal di Wanci. 76 desa (sumber: Permendagri Nomor 66 Tahun 2011).com/2012/04/peta-wakatobi. yaitu pada pukul 09. Salah satu desa tersebut adalah Desa Lamanggau yang terletak di Pulau Tolandono. jadwal tersebut tidak menentu tergantung pada keadaan penumpang. Perjalanan dari Wangi-wangi ini membutuhkan waktu sekitar 2. Namun.blogspot.000 perorang. Pulau Wangi-wangi. Desa Lamanggau dapat diakses hanya dengan speed boat dan pompong atau disebut bodi dalam bahasa Bajo. 8 kelurahan. Apabila pada pukul 09. perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan pompong 160 .00 penumpang belum mencapai jumlah sepuluh orang.000. yaitu sebuah pulau yang berada di barat daya Pulau Tomia.44 Peta Kabupaten Wakatobi Sumber: http://visitkendari. dengan menggunakan speed boat dengan tarif Rp 120.5 jam untuk sampai ke Dermaga Osuku di pulau Tomia.Gambar 5.15.00 pagi. Waktu tempuh ojek ini sekitar 20 menit dengan tarif Rp. yang kemudian akan dilanjutkan dengan ojek darat menuju Dermaga Waitii. dan apabila tidak mencukupi 10 orang bisa saja keberangkatan ditunda hingga esok hari.

Sebagai penghubung antara satu rumah ke rumah lain. dan Dusun Dunia Baru. Mayoritas rumah yang terdapat di Dusun Ketapang terbuat dari semen dan sebagian terbuat dari kayu. Dusun Lasoilo yang berada di tepi laut mayoritas dihuni oleh orang Bajo. Sementara itu. Gambar 5. Desa Lamanggau terdiri dari tiga dusun. Dusun Ketapang mayoritas dihuni oleh orang Buton Tomia yang seringkali disebut dengan ‘orang darat’ oleh orang Bajo. Di pulau tersebutlah Desa Lamanggau terletak. Desa Lamanggau termasuk dalam wilayah Kecamatan Tomia.000 per orang.45 Peta Desa Lamanggau Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. terletak di daratan yang agak tinggi. Rumah-rumah di dusun tersebut mayoritas didirikan di tepi laut bahkan ada yang didirikan di atas laut. Kabupaten Wakatobi.untuk menuju Pulau Tolandono selama kurang lebih 10 menit dengan tariff Rp 3. November 2012 Di Pulau Tolandono hanya terdapat satu desa. Dusun Ketapang. Dusun ini dihuni oleh orang Bajo dan orang Buton-Tomia yang telah melakukan 161 . Kata ‘darat’ tersebut menunjukan kondisi Dusun Ketapang tempat mayoritas orang Buton Tomia berada. dibangun jembatan kayu sebagai alat penyeberangan dari satu rumah ke rumah lain. yaitu Dusun Lasoilo. Secara administratif. Berbeda dengan Dusun Lasoilo. dusun yang ketiga adalah Dusun Dunia Baru. yaitu Desa Lamanggau.

000 (pulang pergi) dengan jarak tempuh kurang lebih 10 sampai 15 menit. Untuk desa Lamanggau. tepatnya di sebelah selatan DWR. Jalur darat hanya dapat dilalui dengan menggunakan kendaraan roda dua. Listrik yang mengalir di Desa Lamanggau merupakan bantuan dari Dive Wakatobi Resort yang terletak di bagian barat daya Pulau Tolandono. Selain Desa Lamanggau. Kondisi geografi Dusun Dunia Baru merupakan perpaduan antara Dusun Lasoilo dan Dusun Ketapang. Biaya yang dikeluarkan untuk menyewa kendaraan tersebut sekitar Rp 20.00 hingga 06. Resort tersebut juga menawarkan wisata bawah laut di sekitar Pulau Tomia. kendaraan tersebut hanya bisa 162 . apalagi wisatawan asing yang berkunjung ke sana. Begitu pula dengan kecukupan air bersih di desa ini. Resort tersebut berdiri sekitar tahun 1990-an oleh investor asing. sedangkan sebagian lagi tinggal di lautan. karena jalan yang dilalui berupa jalan setapak yang dikelilingi oleh kebun dan semak-semak.perkawinan. yaitu jalur darat dan jalur laut. Pada siang hari tak ada aliran listrik sama sekali. Dengan kata lain. Tentunya kondisi ini mencakup pustu dan puskesmas yang ada di sana. Desa Lamanggau merupakan satu-satunya desa yang menjadi wilayah kerja Puskesmas Onemobaa. Namun.00. Tidak tersedia sumber mata air tawar di Desa Lamanggau. resort tersebut juga memberikan bantuan kepada beberapa desa yang ada di Pulau Tomia dan sekitarnya. ada yang berbentuk uang tunai ada juga yang berbentuk bangunan seperti pagar desa. Untuk menuju ke puskesmas tersebut dapat melalui dua jalur. Puskesmas tersebut terletak kurang lebih satu kilometer dari pemukiman masyarakat Desa Lamanggau. masyarakat harus menyebrang pulau untuk bisa mencapai sumber mata air tawar. sehingga banyak wisatawan. Bantuan tersebut bermacam-macam. Puskesmas tersebut dibangun pada tahun 2007 di sebelah timur Dive Wakatobi Resort (DWR) yang dibangun sekitar tahun 1990an. sebagian masyarakat Dusun Dunia Baru tinggal di daratan. bantuan yang diberikan berupa bantuan uang kas desa dan aliran listrik pada malam hari yang dimulai sejak pukul jam 18. sehingga sekilas puskesmas ini terlihat terletak dalam area DWR.

Dari dermaga. pengunjung dipersilahkan masuk dengan jalur yang telah ditentukan. pengunjung harus berjalan selama kurang lebih 10 menit melewati jalan setapak yang dikelilingi oleh kebun untuk menuju ke pos satpam resort.mencapai pos satpam DWR. Gambar 5. Perjalanan tersebut ditempuh kurang lebih 10 hingga 15 menit. Setelah sampai di gerbang resort. Jalan setapak ini bukanlah jalan yang mulus beraspal bagus dan mudah untuk dilewati. Perjalanan dimulai dari Dermaga Lamanggau menuju dermaga yang terletak sebelum DWR. pengunjung puskesmas wajib lapor ke satpam penjaga resort.47 Jalan menuju Puskesmas Onemobaa (kiri) dan pintu gerbang milik Dive Wakatobi Resort (kanan). tibalah di Puskesmas Onemobaa. Sebelum masuk ke Puskesmas Onemobaa. pengunjung puskesmas masih harus menunggu izin dari satpam untuk dapat masuk dan melanjutkan perjalanan menuju puskesmas. Jalur kedua adalah melalui jalur laut dengan memggunakan pompong.46 dan 5. Setelah berjalan kurang lebih 10 menit. November 2012 163 . Akses jalan ini berupa jalan tanah berkerikil dan mempunyai banyak cabang jalan yang membuat bingung pengunjung yang belum pernah ke sana. pengunjung terlbih dahulu izin ke satpam yang berjada di pintu gerbang tersebut Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. Setelah menunggu beberapa menit untuk mendapat izin dari satpam. Setelah tiba di pos satpam.

gunting. Bangunan Puskesmas Onemobaa terdiri dari beberapa ruangan yang sudah dipasang papan nama ruangan seperti ruangan KIA. dan untuk menuju jalan depan pengunjung akan menambah waktu untuk berjalan.Puskesmas Onemobaa terletak jauh dari pemukiman masyarakat Desa Lamanggau. bersalin. Sampai saat ini kepala puskesmas dan stafnya secara bergilir masih datang untuk mengecek bangunan atau sekedar membersihkan puskesmas dan lingkungan sekitarnya. dua alat tersebut dipindahkan ke pustu yang terletak di Dusun Ketapang. maka pengunjung akan melewati tumpukan sampah. namun jika melewati jalan belakang. poli gigi. Namun karena tidak dipakai. 164 . dan loket pendaftaran. Menurut penuturan kepala puskesmas. Memang jika dilihat dari depan. bahkan tidak ada satu rumah pun berdiri di sekitar bangunan puskesmas. Puskesmas tersebut dikelilingi oleh kebun dan semak-semak belukar. Pada saat ada kunjungan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten. Di dalam bangunan tersebut terdapat beberapa alat kesehatan seperti tempat periksa pasien. Pada awalnya bangunan puskesmas dikelilingi oleh pagar kawat berduri sehingga pengunjung harus melewati jalan depan. sebelumnya bangunan ini juga sudah dipasangi genset dan tandon air. pagar kawat berduri tersebut dirusak sebagian oleh kepala dinas karena dianggap menghambat akses masyarakat untuk ke puskesmas. dan alat pendukung lainnya seperti meja dan kursi. Hal yang paling memprihatinkan di sisi bangunan ini dijadikan tempat pembuangan sampah kering dan tanaman dari resort. sampah tersebut tidak terlihat. Beberapa alat kesehatan tersebut mulai tampak berkarat.

ruang tamu. Rumah tersebut terbuat dari kayu yang memiliki dua kamar. Dua rumah tersebut memiliki ukuran dan bentuk yang sama. kamar mandi. dua bangunan tersebut diperuntukan kepala puskesmas dan tenaga kesehatan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa.50 Gedung Puskesmas Onemobaa yang mulai tertutup dengan tumbuhan yang menjulang tinggi (kiri).49 dan 5. dan dapur.48. Menurut masyarakat Desa Lamanggau. sejak Puskesmas Onemobaa dibangun hingga saat ini belum ada masyarakat setempat yang menggunakan puskesmas tersebut sebagai tempat untuk mendapatkan fasilitas kesehatan. November 2012 Selain bangunan puskesmas. Di salah satu rumah tersebut telah tersedia kasur lengkap dengan batalnya. dan rumah tenaga kesehatan yang megah tapi tidak pernah dihuni (bawah). 5. Menurut kepala puskesmas.Gambar 5. Namun. sejak dibangun hingga saat ini rumah tersebut belum pernah digunakan sama halnya dengan Puskesmas Onemobaa. tempat periksa pasien yang sudah mulai berkarat (kanan). 165 . terdapat juga dua bangunan yang berbentuk rumah panggung. Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti.

dapat dilihat bahwa tidak ada bidan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa. misalnya kepala puskesmas yang merangkap juga sebagai petugas obat-obatan atau perawat yang merangkap menjadi petugas administrasi. akses yang ‘rumit’ karena harus menunggu izin dari satpam resort. Hal ini disebabkan karena sekitar bulan September 2012. Dia adalah seorang petugas kesehatan yang diperbantukan khusus dari pusat. Dengan kata lain. dan petugas kesehatan yang ‘tidak ada’. Jumlah petugas Puskesmas Onemobaa ada lima orang. tidak ada bidan yang dapat menolong persalinan di Desa Lamanggau. Lima orang petugas tersebut dibantu oleh dua orang tenaga honorer lulusan SMA. Dari lima petugas puskesmas tersebut hanya dua orang yang memiliki SK penempatan di Puskemas Onemobaa. Sementara itu. dan satu orang petugas kesehatan lingkungan yang ditugaskan khusus dari pusat. hanya ada satu petugas kesehatan yang menetap di Desa Lamanggau. maka tak heran jika setiap petugas memiliki tugas ganda. Hal ini disebabkan karena letak puskesmas yang jauh dari pemukiman masyarakat. tiga orang perawat. bidan yang ditugaskan untuk membantu Puskesmas Onemobaa mengajukan surat pindah kembali ke Puskesmas Osuku sesuai dengan SK penempatannya. yaitu dua orang perawat. dari lima petugas kesehatan tersebut.bahkan sebagian besar belum pernah berkunjung ke puskesmas. yang terdiri dari satu kepala puskesmas dengan latar pendidikan kesehatan lingkungan. satu orang petugas kesehatan lingkungan merupakan tenaga khusus yang diperbantukan dari pusat. Namun. Kondisi Puskesmas Onemobaa yang jauh dari pemukiman masyarakat menyebabkan para petugas kesehatan di puskesmas tersebut bertugas dan berkantor di pustu yang terletak di Dusun Ketapang. Empat orang petugas lainnya tinggal di Pulau Tomia yang terletak di seberang Pulau Tolandono. Berdasarkan data mengenai jumlah dan latar belakang petugas puskesmas. Dengan jumlah petugas yang terbatas seperti ini. Sejak diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan SK penempatan di 166 . Kepala puskesmas dan satu orang perawat lainnya ditugaskan dengan nota dinas dari Puskesmas Tomia untuk membantu Puskesmas Onemoba’a.

Hal ini berkaitan dengan kebijakan pemerintah Kabupaten Wakatobi yang mengadopsi kebijakan Kementerian Kesehatan bahwa persalinan yang didanai oleh Jampersal adalah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. bidan tersebut belum pernah tinggal di Desa Lamanggau yang menjadi satu-satunya wilayah kerja Puskesmas Onemobaa. ada empat orang ibu yang ditolongnya untuk melakukan persalinan. Selama bertugas di Puskesmas Onemobaa. bukan di fasilitas kesehatan. bidan tersebut tetap menerima panggilan masyarakat untuk membantu persalinan. bidan tersebut yang merupakan kelahiran Osuku. bidan tersebut ditugaskan untuk membantu Puskesmas Oneombaa. Alasan bidan tersebut tidak tinggal di Desa Lamanggau karena keterbatasan fasilitas yang dimiliki oleh Desa Lamanggau seperti air dan listrik yang hanya menyala pada malam hari. Kini. ia tidak bisa mengklaim persalinan tersebut sebagai persalinan yang didanai oleh Jampersal. bidan tersebut telah bertugas selama dua tahun di Puskesmas Onemobaa. Empat persalinan yang ditolong oleh bidan tersebut dilakukan di rumah. Sebelum ditugaskan di Puskesmas Onemobaa. bidan tersebut kembalu bertugas di Puskesmas Osuku sesuai dengan SK penempatannya.00 malam hari. Namun ada rasa sungkan yang dimiliki oleh masyarakat setempat untuk memanggil bidan apalagi jika persalinan terjadi pada malam hari. sejak September 2012. Dari empat orang yang ditolong tersebut. Hal ini disebabkan karena keadaan transportasi laut yang tersedia antara Pulau Tomia dan Pulau Tolandono hanya beroperasi sampai pukul 19. selama dua tahun ia bertugas di Desa Lamanggau. telah mempunyai keluarga dan sedang hamil delapan bulan. meskipun tidak tinggal di Desa Lamanggau. Kondisi tersebutlah yang memberatkannya untuk tinggal di Desa Lamanggau. Oleh sebab itu. 167 . Jadi. Selain itu.Puskesmas Osuku. bidan tersebut pernah mengabdikan dirinya di Puskesmas Onemobaa sebagai bidan PTT (Pegawai Tidak Tetap) pada tahun 2011. Menurut cerita bidan tersebut. Namun menurutnya. tiga orang berasal dari etnis Bajo dan satu orang dari etnis Buton-Tomia.

Menurut penuturan Bidan Mi (nama samaran bidan yang bertugas di Puskesmas Onemobaa pada saat itu). agak sulit mengajak masyarakat Lamanggau untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. sehingga ada rasa sungkan untuk memanggil bidan tersebut. bidan tersebut berada di seberang pulau. keengganan mereka memanggil bidan untuk menolong persalinan karena letak rumah bidan tersebut tidak berada di sekitar mereka. Namun nyatanya upaya tersebut belum membuahkan hasil. hanya ada empat persalinan yang ditolong oleh bidan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Selain itu. Meskipun bidan tersebut selalu berkata bahwa dia 168 . dari tahun 2011 hingga tahun 2012. Berbagai upaya telah dilakukan bidan tersebut untuk menarik minat masyarakat agar mau bersalin di tenaga kesehatan ataupun fasilitas kesehatan. Dengan kata lain. Baginya untuk sampai tahap masyarakat mau memanggilnya pada saat persalinan pun sudah hal yang luar biasa. Masyarakat setempat seringkali memanggil dukun beranak untuk menolong persalinan. apalagi persalinan sering terjadi pada malam hari atau dini hari. sedangkan transportasi antar Pulau Tomia dan Pulua Tolandono hanya sampai pada pukul 19.00 malam hari. Hal ini terlihat pada data persalinan tahun 2012 yang menjelaskan bahwa hanya ada dua persalinan yang ditolong oleh bidan dari sepuluh persalinan yang terjadi di tahun 2012. Dari empat persalinan tersebut. hanya ada tiga ibu yang memanggil Bidan Mi berdasarkan kesadaran ibu itu sendiri. misalnya sosialiasi tentang persalinan gratis sampai pada iming-iming akan diberikan hadiah bila mau melakukan persalinan di tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. Sementara itu. sehingga dipanggil untuk membantu persalinan. Bidan dipanggil kadangkala hanya untuk memberikan suntikan pasca-persalinan. Menurut penuturan beberapa orang dari masyarakat setempat. Masyarakat sebagai sasaran tenaga kesehatan mempunyai alasan sendiri mengapa mereka tidak mau memanggil bidan sebagai penolong persalinan dan mengapa mereka tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan yang telah disediakan. satu persalinan lagi ditolong oleh Bidan Mi karena pada saat persalinan terjadi Bidan Mi secara tidak sengaja sedang berjalan lewat rumah ibu tersebut.

tentunya menjadi pantangan bagi masyarakat di sini. namun ada rasa sungkan yang dimiliki masyarakat untuk menghubungi bidan pada malam hari apalagi terkendala dengan trasnportasi. mereka lebih memilih dukun beranak sebagai penolong persalinan dan rumah sebagai tempat persalinan. Selain enggan memanggil bidan sebagai penolong persalinan. Ada beberapa alasan yang diungkapkan oleh masyarakat mengapa mereka tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. Menurut kepercayaan masyarakat setempat. orang yang sedang hamil dan bayi adalah rentan terhadap gangguan makhlukmakhluk halus. 2) tidak ada air dan listrik yang tersedia di fasilitas kesehatan. Puskesmas Onemobaa yang letaknya jauh dari pemukiman masyarakat seperti yang telah dijelaskan sebelumnya menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat tidak mau melakukan persalinan di puskesmas. 3) tenaga kesehatan yang tidak ada. Oleh sebab itu. tenaga kesehatan pun kadangkala tidak ada di fasilitas kesehatan meskipun di siang hari. Selain itu. yang menurut mereka haus akan darah. Sementara itu.siap untuk dihubungi kapanpun. jadi mereka harus dijaga sebaik mungkin dengan melakukan pantangan-pantangan yang ditentukan oleh adat. dan 4) berkaitan dengan sosial budaya yang dimiliki oleh masyarakat setempat. keengganan masyarakat tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi sarana yang tersedia di fasilitas tersebut seperti air dan listrik tidak tersedia di fasilitas kesehatan tersebut. Mereka khawatir akan terjadi hal-hal yang buruk akan terjadi pada ibu dan bayinya jika melahirkan di pustu yang dekat dengan lokasi kuburan. pustu yang dibangun di ‘sudut’ pemukiman masyarakat dan dekat dengan kuburan juga menjadi salah satu alasan lagi. Lokasi kuburan yang identik dengan tempat tinggal makhluk halus. antara lain 1) letak puskesmas yang jauh dari pemukiman dan letak pustu yang dekat dengan kuburan. masyarakat setempat juga tidak mau melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. 169 . Selain faktor letak fasilitas kesehatan.

Alasan yang paling umum diutarakan adalah akses air dan listrik yang memang sulit di desa ini. Oleh sebab itu. dan nilai budaya yang dimilki oleh masyarakat setempat. Polindes ini sudah dibangun terlebih dahulu sebelum adanya pustu ataupun puskesmas. Selain itu. dan perlengkapan lainnya. makanan. Polindes tersebut sempat akan dijadikan sebagai rumah dinas bagi bidan yang bertugas di Desa Lamanggau ini. Apabila melakukan persalinan di rumah. ada kepercayaan dalam masyarakat Bajo khususnya. yang sebetulnya tempatnya lebih strategis daripada pustu karena letaknya tepat di tengah desa. mereka enggan melakukan persalinan di puskesmas atau pustu karena syarat tersebut belum dipenuhi. bangunan polindes ini ditujukan sebagai tempat bersalin. Namun pada kenyataannya hingga saat ini belum pernah sekalipun tempat itu digunakan sebagai tempat persalinan. bahwa ada syarat yang harus dipenuhi sebagai tempat persalinan yang akan dijelaskan pada bagian selanjutnya. Bangunan ini sempat dibiarkan kosong selama beberapa tahun. Namun ternyata tidak ada satu pun bidan yang pernah bertugas di desa ini berminat untuk tinggal. pustu. yaitu Posyandu Cemara I untuk masyarakat yang tinggal di Dusun Ketapang dan Dunia Baru dan Posyandu Cemara II untuk masyarakat di Dusun Lasoilo. hingga akhirnya kini digunakan sebagai rumah tinggal ustadz yang memang ditugaskan oleh sebuah yayasan agama untuk mengabdi dan mengajarkan ilmu agama bagi masyarakat Lamanggau ini. di Desa Lamanggau juga terdapat posyandu. Selain pustu.Dukun beranak dipilih sebagai penolong persalinan dan rumah sebagai tempat persalinan dipengaruhi oleh faktor sosial budaya yang dimiliki oleh masyarakat setempat. Dengan kata 170 . Pada awal pembangunannya. Polindes tersebut dibangun di sebelah masjid. dan polindes. listrik. Hal ini tentunya terkait dengan masalah ketersediaan air. Ada dua posyandu yang dibentuk oleh puskesmas. tetangga yang ada di sekitar juga dapat membantu persalinan seperti menyediakan air. di Desa Lamanggau terdapat polindes yang dibangun berdasarkan program Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM MPd). Selain tersedia puskesmas.

Pada awal tahun 171 . Hal ini disebabkan karena kondisi pangullieh yang sudah tua dan didukung dengan kondisi kesehatannya yang kurang baik. khususnya Posyandu Cemara 2. Kegiatan Posyandu ini dilakukan di teras salah satu rumah warga. Sando merupakan istilah dukun beranak yang berasal dari orang Buton-Tomia. yaitu setiap tanggal 20 untuk Posyandu Cemara I dan tanggal 21 untuk Posyandu Cemara II. maka para kader tersebut akan mendatangi rumah yang bersangkutan dan menjemput untuk datang ke posyandu. dikarenakan ada yang tidak datang. Bahkan jika jumlah kunjungan pada hari itu kurang dari biasanya. Mereka dengan sigap membantu petugas puskesmas untuk mengumpulkan para ibu hamil dan balita. Posyandu Cemara I untuk ‘orang darat’ dan Posyandu Cemara II untuk orang Bajo. Namun ternyata satu posyandu tersebut kurang efektif. Akhirnya pihak puskesmas merekrut kader-kader dari masyarakat Bajo dan membentuk Posyandu Cemara II. Pada tanggal yang telah ditentukan para kader akan bergotong royong membersiapkan peralatan penimbangan dan petugas puskesmas akan datang untuk melakukan pemeriksaan. terdapat 8 orang dari 10 ibu bersalin yang ditolong oleh sando pada tahun 2012. Pangullieh yang berusia sekitar 60-an tahun mempunyai penyakit diabetes. Tak heran jika para petugas puskesmas merasa sangat terbantu dengan adanya para kader ini. Namun. yaitu Posyandu Cemara I. sando-lah yang paling banyak memegang peran dalam persalinan di Desa Lamanggau sejak tahun 2010. PERSALINAN DI DESA LAMANGGAU Berdasarkan data sekunder yang terdapat di pustu. Para kader posyandu di desa ini sangat aktif. Pada saat ini ada seorang sando dan seorang pangullieh di Desa Lamanggau. karena masyarakat Bajo sedikit sekali yang terjaring dalam pemeriksaan. Kegiatan posyandu-posyandu ini diadakan satu bulan sekali.lain. sedangkan dukun beranak dari orang Bajo disebut dengan istilah pangullieh. Pada awalnya hanya ada satu posyandu yang terdapat di Desa Lamanggau.

Berbeda dengan pangullieh. Pada saat itu. Sejak saat itu.2010. Menurut pangullieh. melarang ibunya untuk menolong persalinan. Begitu pula apabila ia menemukan ibu hamil. ia memanggil Bidan Mi yang pada saat itu masih bertugas sebagai bidan di Puskesmas Onemobaa untuk menolong persalinan. Sama halnya dengan pangullieh. banyak pengetahuan tentang kehamilan. ibu nifas. ibu nifas. Pangullieh berperan sebagai penolong persalinan di Desa Lamanggau selama kurang lebih 35 tahun. Ibu Ma yang juga berperan sebagai kader kesehatan selalu menyarankan ibu hamil. Selain itu. Ibu Ma. ia selalu menyarankan ibu pasca-bersalin tersebut untuk memeriksakan diri ke petugas kesehatan. dan bayi ke petugas kesehatan. Begitu pula pada saat Ibu Ma melahirkan putra bungsunya pada bulan Februari 2012. dan petugas kesehatan. sando. sando-lah yang dipanggil oleh masyarakat setempat untuk menolong persalinan di Desa Lamanggau. Puskesmas Waha mewajibkan semua dukun beranak. sando berperan sebagai dukun beranak di Desa Lamanggau selama kurang lebih 15 tahun. putri pangullieh. dan ibu nifas yang ia peroleh pada saat itu. arisan tersebut juga menjadi wadah bagi pihak puskesmas untuk memberikan pengetahuan kepada para pangullieh dan sando tentang cara pertolongan persalinan termasuk memberikan alat-alat pertolongan persalinan seperti gunting dan sarung tangan. apabila ia menolong persalinan. Arisan tersebut diadakan sebagai wadah untuk bertukar pikiran antara para pangullieh. ia selalu menyarankan untuk memeriksakan kehamilan. baik pangullieh maupun sando. Akhirnya. Sama halnya dengan pangullieh. ibu bersalin. ibu nifas. penyakit diabetesnya semakin parah yang melemahkan kondisi fisiknya. untuk datang ke Puskesmas Waha sebulan sekali untuk mengikuti arisan dukun beranak. sando juga ikut dalam arisan dukun beranak yang diadakan oleh Puskesmas 172 . Sejak saat itu pula pangullieh tidak dipanggil lagi oleh masyarakat setempat untuk menolong persalinan. pertolongan persalinan. Pada tahun 2004 dia pernah ‘magang’ di Puskesmas Waha. dan bayi untuk memeriksakan diri ke petugas kesehatan. Sejak saat itu. dan balita. Berdasarkan pengetahuan tersebutlah ia sedikit mengerti tentang ‘ilmu’ dalam dunia medis tentang pertolongan persalinan.

Sejak masyarakat Desa Lamanggau mengetahui bahwa Bidan Mi sedang hamil. Setelah mereka bergaul dengan intensif. maka ibu hamil tersebut ‘diungsikan’ terlebih dahulu dari tempat ibu bersalin. maka mereka tidak memanggil Bidan Mi untuk menolong persalinan meskipun pada saat itu Bidan Mi masih bertugas di Puskesmas Onemobaa. Sebagai contoh. apakah berasal dari etnis Buton-Tomia atau dari etnis Bajo. Sejak pangullieh sudah tidak menolong persalinan lagi. Apabila ada ibu hamil di sekitar ibu bersalin. Terlepas dari itu.1 Percampuran budaya tersebut juga menyebabkan kaburnya ‘pemilik asli’ budaya tersebut.Waha. termasuk orang Bajo meskipun sando adalah ‘orang darat’. begitu pula sebaliknya. Percampuran budaya antara dua kelompok yang berbeda tersebut disebut dengan asimilasi oleh para antropolog. sifat khas dari unsur-unsur kebudayaan masing-masing berubah menjadi unsur kebudayaan campuran (Hermanto. ‘pemilik asli’ kepercayaan tersebut belum dapat dideteksi. Dengan kata lain. Kepercayaan ini diyakini oleh masyarakat Desa Lamanggau baik yang berasal dari etnis Buton-Tomia maupun etnis Bajo. ada nilai budaya yang dimiliki oleh orang Bajo tetapi tidak dimiliki oleh orang darat. Selain percampuran budaya antara dua etnis tersebut. masih ada juga nilai budaya yang masih dipegang teguh oleh masing-masing etnis tersebut. Salah satu nilai budaya yang dimiliki oleh masyarakat Desa Lamanggau adalah kepercayaan bahwa ibu hamil tidak boleh menolong persalinan. Peran sando sebagai penolong persalinan dalam dua etnis yang berbeda tersebutlah menyebabkan adanya percampuran budaya yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan antara orang Buton-Tomia dan orang Bajo. dalam 1 Menurut Koetjaraningrat. asimilasi adalah suatu proses sosial yang terjadi pada berbagai golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda. Namun. Hal ini karena adanya kepercayaan dalam masyarakat setempat bahwa keberadaan ibu hamil di sekitar ibu bersalin dapat mempersulit proses persalinan. 2010:120) 173 . kepercayaan tersebut telah mempengaruhi peran bidan di Desa Lamanggau dalam pertolongan persalinan. sejak saat itu pula sando yang seringkali dipanggil oleh masyarakat Desa Lamanggau untuk menolong persalinan. bahkan ibu hamil dilarang berada di rumah ibu yang sedang bersalin.

Rumah tersebut berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu.masyarakat Bajo ada kepercayaan tentang tempat melahirkan. berdinding anyaman bambu yang disebut gedeg oleh orang Jawa. Rumah tersebut paling sering digunakan oleh masyarakat Bajo sebagai tempat persalinan karena dipercaya oleh masyarakat setempat dapat memudahkan persalinan seorang ibu. Ritual tersebut dilakukan oleh ‘orang tua’ yang dianggap mempunyai ‘ilmu’ dalam mendoakan sebuah rumah agar bisa dijadikan tempat bersalin. Oleh sebab itu. Di Dusun Lasoilo yang mayoritas dihuni oleh orang Bajo. Apabila rumah tersebut tidak didoakan terlebih dahulu oleh ‘orang tua’ tersebut. Menurut kepercayaan orang Bajo. setiap ibu yang melahirkan di rumah tersebut selalu menjalani persalinan dengan mudah. dan berlantaikan bambu. Namun. rumah yang boleh digunakan sebagai tempat melahirkan adalah rumah yang pernah digunakan sebagai tempat melahirkan. Menurut mereka. salah seorang kader kesehatan dan juga anak seorang pangullieh. masyarakat Bajo akan menggunakan pustu sebagai tempat persalinan apabila telah ‘dipagari’ dengan doa-doa oleh ‘orang tua’. apabila rumah yang belum pernah digunakan sebagai tempat persalinan akan digunakan sebagai tempat persalinan. maka pada saat persalinan ibu tersebut akan dibawa ke rumah yang sudah pernah digunakan untuk persalinan. kepercayaan tersebut menjadi salah satu faktor mengapa masyarakat Bajo enggan melakukan persalinan di pustu. Apabila ada seorang ibu hamil berada di dalam sebuah rumah yang belum pernah digunakan untuk persalinan. Kepercayaan tersebut menjadikan rumah Mbook Medaming sebagai ‘rumah bersalin’ masyarakat Bajo. Untuk memasuki rumah tersebut harus melewati tangga 174 . maka rumah tersebut tidak boleh digunakan sebagai tempat bersalin. Menurut Ibu Ma. Rumah tersebut adalah rumah Mbook Medaming. Rumah Mbook Medaming terletak di Dusun Lasoilo yang mayoritas dihuni oleh orang Bajo. terdapat sebuah rumah yang dipercaya oleh orang Bajo sebagai ‘rumah bersalin’. Menurut mereka pustu tersebut belum pernah digunakan sebagai tempat persalinan dan belum ‘dipagari’ dengan doadoa oleh ‘orang tua’. maka harus dilakukan ritual terlebih dahulu.

Ruangan tersebut adalah kamar Mbook Medaming yang digunakan sebagai ruang bersalin.yang memiliki kurang lebih sebanyak lima anak tangga. Mbook Medaming dan keluarga tidak pernah marah. atau merasa terganggu. 2) kamar yang dijadikan tempat bersalin (tampak dari dalam). dan 4) lantai rumah yang terbuat dari bambu yang bercelah-celah. Setiap ada ibu yang akan melahirkan di rumah tersebut. 5.53 dan 5. 1 2 3 4 Gambar 5. Di sudut ruangan tersebut terdapat sebuah ruangan yang berukuran kurang lebih 2 x 2 meter. sehingga darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan bisa langsung jatuh ke bawah rumah dan dibawa oleh air laut. 3) kamar yang dijadikan tempat bersalin (tampak dari luar).52 . Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. Ruangan tersebut berlantaikan bambu yang memiliki celah. Ruangan yang berlantai bambu tersebut disebut dengan jongkeng oleh masyarakat Bajo. mencegah.54 1) Rumah Mbook Medaming yang menjadi ‘rumah bersalin’ masyarakat Bajo. November 2012 175 . Ruang pertama yang ditemukan adalah ‘ruang tamu’ yang berukuran kurang lebih 4 x 4 meter.51. 5.

Parapara tersebut digunakan karena mempunyai celah-celah sehingga darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan mudah dibersihkan. Gambar 5.Berbeda dengan masyarakat Bajo. masyarakat Buton-Tomia juga melahirkan di atas bambu yang bercelah tersebut. Sumber: Dokumentasi Tim Peneliti. masyarakat Buton-Tomia tidak mempunyai kepercayaan tempat melahirkan. Masyarakat setempat menggunakan parapara agar darah yang dikeluarkan pada saat melahirkan bisa langsung dibersihkan dengan air. Jampersal yang menawarkan pelayanan persalinan gratis diharapkan mampu menarik minat masyarakat untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan 176 . sama halnya dengan masyarakat Bajo yang melahirkan di tempat yang terbuat dari bambu yang mempunyai celah. dan air tersebut bisa langsung jatuh ke bawah tanah atau bawah laut.55 Ibu nifas Seorang ibu nifas sedang duduk di atas parapara. Parapara adalah tempat melahirkan yang digunakan oleh masyarakat Buton-Tomia. Tempat tersebut biasanya disebut dengan parapara oleh masyarakat ButonTomia. Namun. November 2012 Berdasarkan penjelasan pada diskripsi sebelumnya dapat dilihat bahwa banyak faktor yang mempengaruhi implementasi Jampersal di masyarakat. Bagi mereka di mana saja ibu bersalin boleh melahirkan tanpa ada syarat tempat tersebut harus didoakan terlebih dahulu seperti orang Bajo.

program tersebut mempunyai banyak hambatan. Dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak. Ada satu puskesmas induk dan satu puskesmas pembantu yang disediakan untuk masyarakat Desa Lamanggau. Apabila tiga elemen tersebut tidak ‘mendukung’ dalam pelakasanaan program Jampersal. Hambatan tersebut dapat berasal dari kondisi fasilitas kesehatan. ketersediaan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan hanya menjadi tinta hitam catatan laporan sumber daya tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Wakatobi. Cara tersebutlah yang melekat dalam diri mereka dan dianut dari nenek moyang sampai sekarang. Masyarakat hanya dapat berobat di pustu dengan 177 . Oleh sebab itulah. puskesmas induk yang sudah dibangun dengan bentuk bangunan yang bagus serta fasilitas yang lengkap ini tidak pernah sekalipun dinikmati oleh masyarakat. mereka bertahan untuk sehat termasuk bersalin dengan cara mereka. Namun. maka program Jampersal hanya menjadi bayang-bayang yang tidak bisa direalisasikan dalam nyata. karena mereka tidak mampu ‘menikmati’ pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang berada ‘jauh’ dari sisi mereka. Namun. Tiga elemen tersebut saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Pemerintah memang telah membangun fasilitas kesehatan berupa puskesmas dan pustu di Desa Lamanggau. dan budaya masyarakat setempat. Tinta hitam tersebut menjadi buram dalam mata masyarakat Desa Lamanggau. pada implementasinya. secara teori seharusnya fasilitas tersebut sudah mampu mengakomodir kebutuhan masyarakat dalam hal kesehatan. Bagaimana masyarakat mau dan mampu untuk menikmati jika puskesmas ini dibangun di tempat yang jauh dan sulit dijangkau aksesnya. Bagaimana tidak. ketersediaan fasilitas kesehatan di Desa Lamanggau bisa dikatakan sudah cukup.oleh tenaga kesehatan. tenaga kesehatan. kenyataan yang ada tidaklah seindah teori dan catatan laporan. Selain itu. Pemerintah juga menyediakan tenaga kesehatan untuk ditugaskan di desa ini. Namun jika kita lihat langsung di lapangan. Secara kasat mata. fasilitas kesehatan yang terletak jauh di mata dan jauh di kaki juga tidak bisa mereka nikmati.

Atau lokasi fasilitas kesehatan. Belum lagi untuk masuk ke area puskesmas harus menunggu izin dari pihak keamanan resort terlebih dahulu. Dengan kenyataan bahwa jumlah tenaga yang terbatas serta sebagian besar tidak tinggal di desa tentunya akan membatasi akses masyarakat untuk bersentuhan dengan tenaga kesehatan. yang terletak dengan kuburan yang dianggap sebagai salah satu tempat yang dilarang didekati wanita hamil dan bayi dalam budaya setempat. Masyarakat merasa bidan ini adalah bagian dari keluarga mereka. Selain akses yang lebih mudah bagi masyarakat untuk bersentuhan dengan tenaga kesehatan. dalam hal ini pustu.fasilitas seadanya. Jadi untuk merangkul masyarakat ini tentunya harus bisa memahami dan mengikuti alur pikir mereka. Tenaga kesehatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat sejatinya juga mengerti dan paham akan budaya serta kearifan lokal yang ada. Entah apa yang menjadi landasan awal dari penempatan lokasi puskesmas ini. sebuah fasilitas umum yang ditujukan untuk masyarakat tapi aksesnya sulit dan sangat terbatas bagi masyarakat itu sendiri. budaya setempat mengatakan bahwa wanita hamil tidak boleh ada di dekat ibu yang akan melahirkan.misalnya bidan desa. Tidak mungkin rasanya jika ada ibu yang akan melahirkan tapi harus naik pompong (perahu) atau ojek dan kemudian berjalan lagi 15 – 20 menit dengan kondisi jalan yang berliku. ini tinggal di desa kemudian berbaur dengan masyarakat tentunya akan lebih efektif. Keterbatasan tenaga kesehatan juga turut mempengaruhi kualitas pelayanan yang ada. sementara bidan yang bertugas di sini sedang hamil. apakah mungkin tenaga kesehatan ini akan cepat tanggap menolong sementara mereka tinggal di lain pulau dengan transportasi terbatas? Jika tenaga kesehatan . Jika keadaan darurat terjadi. Bagaimana bisa. Dalam kasus ini misalnya. 178 . kedekatan secara emosional dan psikologis pun akan terbentuk. Budaya serta kearifan lokal yang sudah mendarah daging secara turun temurun akan senantiasa dipegang teguh oleh masyarakat sebagai pedoman hidup mereka. misalnya ada kasus persalinan di tengah malam.

ANTARA BUDAYA. butuh bidan. tenaga kesehatan. diharapkan berharap bisa menekan angka kematian ibu dan bayi sebagaimana target MDG’s tahun 2015. Berdasarkan juknis Jampersal tahun 2012. Melalui intervensi Jampersal. TABU DAN UPAYA PENYELAMATAN IBU DI KOTA BLITAR Program jampersal. Kota Blitar. sehingga adanya anggapan bahwa meskipun tenaga kesehatan tidak menetap di desa tersebut dan fasilitas kesehatan berada jauh dari pemukiman.3. dan kondisi sosial budaya masyarakat. Namun nyatanya pikiran tersebut tidak mampu ‘mengajak’ masyarakat untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan oleh tenaga kesehatan. Di wilayah kerja Puskesmas Kepanjen Kidul. dan selalu ingin gratis.8. Tiga kasus terjadi di RS dan satu kasus terjadi di Puskesmas. Begitu pula dengan kebijakan yang ada di Kabupaten Wakatobi. Namun. 5. Namun demikian kondisi di lapangan bisa tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. pada kenyataannya meskipun persalinan telah dijamin oleh pemerintah. diharapkan tidak terjadi lagi kasus kematian ibu dan bayi. terjadi empat kasus kematian ibu. Kejadian tersebut 179 . ini dianggap sebagai bencana dan merupakan rekor kasus karena dalam dua tahun sebelumnya tidak ada kematian ibu.Jika selama ini puskesmas dibangun berdasarkan ‘keangkuhan’ para policy maker dengan pikiran bahwa masyarakat membutuhkan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. apalagi diiming-imingi dengan kata gratis. Mungkin masih banyak yang beranggapan bahwa masyarakatlah yang butuh dokter. tetapi belum mampu menarik masyarakat untuk bersalin ke tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan karena disebabkan kondisi fasilitas kesehatan. Ternyata kata ‘gratis’ tidak mampu mengalahkan kearifan lokal yang telah dimiliki oleh masyarakat setempat. persalinan yang bisa diklaim adalah persalinan dengan tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. pasti akan digunakan oleh masyarakat. Bagi teman-teman di Puskesmas. JawaTimur mulai januari sampai dengan bulan Nopember 2012.

pendidikan SLTA . RS Swasta. Meskipun Px merupakan orang yang mudah bergaul. adanya kasus kematian maternal yang terjadi di wilayah kerja puskesmas Kepanjen Kidul merupakan kondisi yang sangat tidak diharapkan oleh Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab bidang kesehatan. Menindaklanjuti kasus kematian tersebut. tetapi kejadian itu masih saja di temui. Px kerja di sebuah dealer sepeda motor sebagai sales counter. pihak Dinas Kesehatan dan Puskesmas sudah melakukan review maternal perinatal. Sejak sebelum hamil hingga 1 hari sebelum Px meninggal. RSUD. Gambaran Kasus Kematian Maternal Memperhatikan kondisi daerah yang merupakan daerah perkotaan dengan fasilitas kesehatan yang sangat memadai dan mudah di akses. Gambaran hasil review adalah sebagai berikut : KASUS 1 adalah Ny. 3 Puskesmas. Px terkenal sebagai karyawati yang cekatan dan mudah bergaul sehingga Px sangat membantu tempat dia bekerja dalam mencari customer.merupakan temuan menarik untuk dikaji lebih mendalam karena keberadaan fasilitas kesehatan di kota Blitar cukup memadai. ritme kerja Px tidak berubah. berumur 24 tahun. Jarak tempuh yang dibutuhkan dari pelosok kota menuju ke fasilitas kesehatan tidak lebih dari 15 menit dengan kendaraan bermotor. Px bekerja dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore dan beberapa kali harus lembur. akan tetapi Px 180 . bekerja swasta Deskripsi Kasus Kehamilan Px kali ini merupakan kehamilan 1. Bahkan sore hingga malam sebelum Px meninggal Px sering menerima telpon dari atasan karena Px sedang dalam proses persetujuan penawaran harga penjualan dengan pembeli. Di tempat kerjanya. F. Klinik Bersalin dan didukung oleh praktek dokter obgyn serta bidan praktek swasta. Walau semua sumberdaya sudah dikerahkan untuk meniadakan kasus kematian maternal perinatal. Anak pertama telah berusia 5 tahun dan tinggal bersama orang tua Px d Rembang Blitar.

Kemudian Px merasa kepalanya sangat sakit dan ingin minum obat karena sudah tidak tahan. padahal waktu hamil pertama. Px jarang sekali menceritakan masalahnya dengan orang lain. Px mengeluh sakit kepala. Px tidak mau. Pagi harinya. padahal saat itu suami Px sudah tidur dan tidak kuat untuk mengendarai motor. Blitar dengan mengendarai motor. Jam 11 malam Px minta pulang ke rumah mertua kembali. tetapi Px tetap mencari hingga tempat obat berantakan. Px minta diantar suami untuk ke rumah orang tuanya dengan alasan Px kangen dengan anak pertamanya. akhirnya Px memuntahkannya. setelah maghrib. Sepulang dari kerja. Kondisi kehamilan Px ini dianggap suami dan keluarganya berbeda dengan kehamilan terdahulu karena hingga memasuki bulan ke-5 Px masih mengeluh mual dan pusing. Ketika suami membangunkan. termasuk dalam hubungannya dengan suaminya. Akan tetapi Px tetap bersikukuh mencari “Poldan Mix” yang biasa dipakai oleh keluarga jika sakit kepala karena Px menganggap obat dari bidan tidak manjur. Karena ukuran obat yang besar.30. Hanya saja ketika Px mengeluh pusing dan muntah-muntah. Obat langsung ditelan tanpa menggunakan air. dan suami menyuruh Px ke dokter. Meskipun suami Px sudah menyembunyikan obat tersebut. Suami Px tidak mengetahui.adalah pribadi yang tertutup. Suami Px baru membangunkan Px ketika jam sudah menunjukkan pukul 05. apakah obat tersebut kembali 181 . Karena ngotot minta pulang saat itu juga. Suami Px pikir Px kecapaian karena semalam sampai di rumah sudah larut. tidak biasanya Px bangun siang. Setelah itu Px menyapu halaman. Akhirnya Px menemukan obat yang disembunyikan suaminya. akhirnya Px yang mengendarai motor. Suami mengingatkan agar tidak minum obat sembarangan dan minum obat dari bidan saja. Sampai di rumah suami Px langsung tidur. Px hanya mual-mual sampai bulan ke-3 saja. sedangkan suaminya yang membonceng. Tidak jarang Px muntah-muntah ketika mengeluh mual dan pusing. Px sempat mencuci piring dan memasak nasi. Px diantar suaminya pergi ke rumah orang tuanya di Rembang.

Px dirujuk ke RS. akan tetapi rumah Px tidak menghadap ke jalan raya. akan tetapi keluarga Px membutuhkan waktu untuk mencari dan menanti transportasi untuk membawa Px ke Puskesmas. Akhirnya suami bertemu dengan becak yang diharapkan dapat mengantar ke puskesmas. Tidak lama pada saat Px menyapu halaman. melainkan menghadap ke tembok rumah tetangga. Dengan mengendarai sepeda motor. 182 . Antara rumah Px dan rumah tetangga terdapat halaman yang sangat luas. Walaupun letak puskesmas dekat dengan tempat tinggal Px dan tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di puskesmas. Kendaraan yang dimiliki hanya sepeda motor. Px muntah-muntah.00 ibu datang ke UGD Puskesmas dengan kondisi tidak sadar. Sauami Px bingung bagaimana cara membawa Px ke puskesmas yang jaraknya sebenarnya tidak jauh. Di RS Px masuk ke ICU dan dipasang alat bantu nafas dan jantung.diminum oleh Px atau dibuang. karena semalam Px pulang larut. • • Ibu langsung dirujuk ke RS dan meninggal di RS tanggal 6-3-2012 Riwayat minum obat di rumah sebelum dibawa ke puskesmas. Akan tetapi tukang becak tersebut mengatakan bahwa dirinya harus mengantar cucunya dahulu baru bisa mengantar ke puskesmas. langsung dibawa ke UGD. suami mencari kendaraan yang bisa dipakai untuk membawa Px ke Puskesmas. Suami mengira Px masuk angin. Sesampai di puskesmas. suami menemukan Px sudah dalam keadaan “ngorok”. padahal Px dalam kondisi yang tidak sadar. pucat dan nafas ngorok. karena kondisi Px sudah tidak sadar. rumah keluarga Px terletak di tepi jalan raya yang dilewati oleh banyak kendaraan yang berlalu lalang. Px tetap tidak bereaksi akhirnya suami Px menyadari bahwa Px butuh pertolongan dan harus segera dibawa ke puskesmas. Px masuk kamar kembali dan suami yang melanjutkan menyapu halaman dan ruang tamu. Waktu suami masuk kamar. • Tanggal 1-3-2012 pukul 08. Dilihat dari kondisi lingkungannya. “Panadol” satu tablet karena mengeluh pusing sejak kemarin sore. Suami menyuruh Px untuk masuk rumah dan istirahat saja. Selain posisi rumah Px yang menghadap ke tembok tetangga.

selama Px hamil. Menurut kader. Px hanya mengatakan jika kehamilannya baik-baik saja. Kader bercerita jika penduduk di wilayahnya rata-rata adalah pedagang dan buruh tani. Menurut kader. Kader juga tidak mengetahui kondisi kehamilan Px karena kader hampir tidak pernah bertemu Px selama Px hamil. sehingga ketika terjadi sesuatu tidak ada tetangga yang mengetahuinya. Ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumah kader aktif datang pada saat jadwal posyandu berlangsung. Suami tidak pernah ikut masuk ke ruang dokter ketika Px kontrol sehingga suami tidak tau dengan benar kondisi Px. Komunikasi keluarga Px dengan tetangga kurang lancar. akan tetapi karena rumah Px yang jauh. akan tetapi jarak rumah yang lumayan jauh menghalangi proses komunikasi kader dan Px. Px tidak pernah datang pada kegiatan posyandu. Untuk resiko-resiko masa kehamilan. kader memang tidak memberi penyuluhan secara personal. Px bekerja dari pagi hingga sore dan karena Px juga tidak pernah hadir jika ada acara di kampung menyebabkan kader jarang berkomunikasi dengan Px. Rumah kader wilayah Px juga lumayan jauh dari tempat tinggal Px. Sebenarnya kader aktif datang berkunjung ke rumah ibu hamil untuk mengontrol kondisi ibu hamil. Kader mengaku bahwa dia dan tim aktif memberikan penyuluhan kepada ibu hamil. Pada kasus ini tampak bahwa kurangnya pengetahuan ibu tentang bahaya penggunaan obat secara bebas. Posisi rumah Px yang jauh dari rumah kader 183 . akan tetapi biasanya ibu-ibu yang datang ke psyandu meminjam buku-buku tentang kehamilan yang dibaca saat jadwal posyandu. sehingga mereka akan berangkat kerja pagi-pagi dan pulang di malam hari. ibu menyusui dan ibu yang mempunyai anak balita tentang kesehatan. memang suami Px sering main bola dengan temantemannya yang tinggal di sekitar rumah kader. Bahkan kader baru mengetahui berita kematian Px setelah hari ke-3 Px meninggal.halaman yang luas dapat pula menjadi penghalang keluarga Px untuk berkomunikasi dengan tetangga.

KASUS 2 : Ny. pagi-pagi sekali suami Px sudah berangkat untuk berjualan (di pasar dari jam delapan pagi sampai jam tiga sore). Ibu px meninggal karena darah tinggi (stroke). permasalahan yang ada pada kasus satu jika diringkas adalah: • • Kurangnya pengetahuan ibu tentang bahaya penggunaan obat secara bebas Suami tidak pernah ikut masuk ke ruang dokter ketika Px kontrol sehingga suami tidak tahu dengan benar kondisi Px. Anak kedua perempuan. Ada lima anggota keluarga di rumah (selain dengan keluarga inti. Berdasarkan penjelasan di atas. • Komunikasi keluarga Px dengan tetangga kurang lancar. Px juga tinggal bersama dengan keponakannya). berumur empat tahun. sehingga ketika terjadi sesuatu tidak ada tetangga yang mengetahuinya • Posisi rumah Px yang jauh dari rumah kader menyebabkan terputusnya komunikasi antara Px dengan kader. Px adalah seorang ibu rumah tangga sedangkan suami Px adalah pedagang yang berjualan sayur di pasar Wlingi. tinggal bersama Px. Px hanya mengatakan jika kehamilannya baik-baik saja. Setiap pagi. umur 33 tahun. sehingga ketika Px tertimpa musibah. sehingga ketika Px tertimpa musibah. telah berusia tujuh tahun dan tinggal bersama orang tua Px. Px juga selalu tidur siang. Sebelum hamil Px pernah merasa kaku- 184 . Px memang mempunyai riwayat hipertensi sejak sebelum hamil. kader tidak mengetahuinya. kader tidak mengetahuinya. Anak pertama laki-laki. pendidikan SLTA dan sebagai ibu rumah tangga Deskripsi Kasus Kehamilan Px kali ini merupakan kehamilan ketiga. Px mempunyai kebiasaan untuk minum jus setiap hari. ayah Px pernah stroke tetapi meninggalnya bukan karena darah tinggi. Sehari-harinya Px hanya di rumah beserta satu orang anaknya. N.menyebabkan terputusnya komunikasi antara Px dengan kader.

Px hanya mengatakan jika kondisi Px dan janin baik. kemudian meminumnya. Pada kehamilan usia 3 bulan Px mengeluh ambeien. karena Px tidak cerita. selain itu juga mengingat Px mempunyai riwayat tekanan darah tinggi. karena anak 1 dan 2 juga operasi. Pada hari Rabu sore Px mengeluh sakit di ulu hati sampai punggung. Menurut tetangga. Setiap kali Px kontrol ke dokter. Hari kamis Px mengeluh kepalanya pusing dan sakit sekali. Awal hamil hingga kehamilan 2 bulan. padahal rata-rata penduduk di lingkungan sekitar tempat tinggal Px hanya mempunyai dua orang anak. Suami menyuruh Px untuk ke dokter. akan tetapi Px tidak mau. Keluar rumah seperlunya saja.kaku di tangannya. Px selalu melihat langit hitam dan bergulung-gulung seperti mau ada badai atau bencana. Px mengatakan bahwa sakitnya adalah bawaan bayi. Perasaan itu juga yang membuat Px stress selama hamil. Ketika usia kehamilan menginjak 8 bulan. suami selalu mengantar. Tetangga menceritakan bahwa kemungkinan Px malu hamil lagi karena Px hamil anak yang ketiga. kondisi Px sudah stres. Tanpa konsultasi dokter terlebih dahulu. akan tetapi suami tidak pernah ikut masuk ke ruang praktek dokter. Px tampak bengkak pada muka dan kaki. Selama hamil Px sering bercerita pada tetangga kalau Px keluar rumah. tapi tidak lama kemudian sembuh. Menurut tetangga. jenis kelamin bayi perempuan. kemudian meminumnya dengan cara mencampur obat tersebut 1 tetes dengan air satu gelas. Px membeli obat “Trace Minerals”. beberapa hari setelah kontrol. sejak awal kehamilan. Tetangga tidak menanyakan kondisi Px. akan tetapi Px masih merasa sangat sakit di kepalanya. Px jarang keluar rumah saat hamil. Px merasa punggungnya sakit. Ketika terakhir kali Px kontrol. Px pernah tensinya tinggi sekali ketika anaknya sakit. Px sehat dan tidak mengalami keluhan apapun. minggu-minggu terakhir sebelum Px meninggal.Px bercerita kepada tetangga jika dokter menyarankan Px untuk operasi saja jika melahirkan nanti. Padahal sebelumnya Px tidak pernah merasa sakit di punggungnya. Kemudian Px minta diambilkan suaminya obat sakit kepala 185 . Sakit di punggungnya sembuh.

Pukul 5. Setelah Px dianggap stabil. dokter di RS tidak ada. setelah suami berangkat Px ke pasar seperti biasa dengan mengendarai sepeda motor. Kemudian perawat masuk dan memasang kateter. Sampai di RS Px langsung masuk ke UGD. Lalu Px menyetrika baju semalaman. Suami Px awalnya melarang Px untuk minum obat “puyer 16” dan memaksa Px untuk ke dokter saja. Jam 4. Di UGD Px diinfus. karena Px merasa kepalanya masih pusing. Px mengatakan pada suami bahwa dirinya tidak bisa tidur. Px hanya diinfus oleh perawat karena menurut perawat. Px kejang. Hari sabtu malam. Menurut tetangga.30. Px bercerita pada tetangga kalau sepulang dari pasar Px sempat mampir ke apotek untuk “tensi”. Di ruang perawatan Px sudah bisa diajak bicara dan merespon tetangganya dengan benar. Px baru bisa tidur. Ketika perawat memasang kateter Px mengaduh kesakitan kemudian Px kembali kejang-kejang dan tidak sadar sampai Px meninggal. Px dipindah ke ruang perawatan. akhirnya suami mengambilkan obat dan meminumkan obat sakit kepala “puyer 16”. Akhirnya karena Px bersikeras untuk tidak mau ke dokter dan suami tidak tega melihat Px sakit kepala. akan tetapi Px tetap tidak mau ke dokter dan mengatakan bahwa ke dokternya sekalian saja dua minggu lagi. Px bercerita bahwa dirinya bermimpi dibacakan surat Al Ikhlas oleh anak kecil. Px sudah terbangun. • 1 minggu sebelum meninggal ibu mengeluh pusing. Keponakan yang tinggal dengan Px menemukan Px yang kejang kemudian meminta tolong tetangga.“puyer 16” di tempat obat. Ketika akan membuat jus.30. kemudian ibu minum puyer • 18-4-2012 ibu mengeluh nyeri dada sampai tembus punggung. keponakan Px menjaga anak Px di rumah dan menelpon suami Px. Px cerita jika tensinya 170. setelah sholat Subuh. Px mengantar suami berangkat kerja sampai depan pintu pagar. akan tetapi dokter sudah dihubungi (saat itu hari minggu dan tidak ada seorang pun dokter jaga di RS “A” tersebut). Px dibawa ke RS “A” oleh tetangga. tapi ibu menolak untuk periksa • 186 20-4-2012 suami mengatakan kaki ibu mulai bengkak .

kemudian meminta bantuan tetangga untuk membawa ibu ke RSU Aminah.• 22-4-2012 jam 07.30 ibu meninggal dunia Px hanya dekat dengan tetangga sebelah kiri rumah Px. anak bungsu Px diasuh oleh tetangga Px. akan tetapi ada suatu kebiasaan bagi ibu hamil untuk menyembunyikan awal-awal kehamilannya hingga perutnya terlihat besar. Yang menemukan pertama kali keponakannya. Setelah ada kasus kematian. sehinga sudah terlambat untuk pemeriksaan awal. permasalahan yang ada pada kasus kedua jika diringkas adalah : • Terlambat mendeteksi tanda bahaya kehamilan karena ibu tidak tahu bahaya minum obat sembarangan • • Terlambat merujuk Terlambat mendapat pertolongan 187 . karena suami Px berjualan di pasar yang letaknya jauh dari rumah. Sampai di rumah ibu mengalami kejang. Tetangga tersebut juga yang mengantarkan Px ke RS “A” sebelum Px meninggal.? mmHg. Tetangga Px tersebut 2 bulan terakhir menjadi kader di wilayah tempat tinggalnya. diadakan pertemuan seluruh petugas posyandu oleh dinas kesehatan dan puskesmas.30 Px ke apotek untuk periksa tekanan darah.. Bahkan setelah Px meninggal. Padahal rata-rata perut yang sudah terlihat besar itu ketika memasuki kehamilan bulan ke-7. Tetangga (suamiistri) mengantarkan Px ke RS dengan menggunakan mobil. Sebenarnya kader dan petugas posyandu sudah sering sekali mendata ibu-ibu yang hamil. RS “A” dipilih karena lokasi RS “A” dekat dengan tempat tinggal Px. Berdasarkanpenjelasan di atas.. Data tentang ibu hamil juga diminta dari petugas koordinasi posyandu. Suami Px sampai di rumah ketika jenazah Px sudah sampai rumah. • Pukul 10. Dengan tetangga tersebut hubungan keluarga Px dan keluarga tetangganya sangat dekat. hasilnya 170/.

sehingga meningkatkan resiko Px mengalami hipertensi. Hanya saja ketika hamil Px beberapa kali sakit batuk. tapi dibiarkan saja (tidak minum obat) sudah sembuh sendiri. Px selalu bilang baik-baik saja sepulang dari kontrol di BPS. Suami Px mengatakan bahwa ketika hamil kondisi Px baik-baik saja. akan tetapi karena suami tidak ikut masuk ke ruang praktek. B.00 ibu mengeluh sesak nafas dan periksa ke BPS Bidan menyarankan ibu langsung ke puskesmas Dari puskesmas ibu langsung dirujuk menggunakan ambulance ke RS Ibu meninggal setelah sampai di RS . Ibunya juga meninggal dengan diagnosa yang sama ketika melahirkan Px. • • • • • 188 Ibu periksa hamil ke BPS dan puskesmas Tanggal 4-4-2012 jam 00. maka suami tidak mengetahui secara jelas kondisi kehamilan Px. akan tetapi ada kekhawatiran dikalangan keluarga karena keluarga takut Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya (takut kutukan itu harus dialami Px). Hal tersebut oleh keluarga Px lebih dianggap sebagai sebuah kutukan yang dialami oleh keluarga. Keluarga Px juga tidak paham jika Px mempunyai sejarah keluarga dengan hipertensi. Deskripsi Kasus Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya. pendidikan SLTA dan bekerja sebagai pedagang. Keluarga merasa kematian Px merupakan pemutus kutukan yang harus dialami oleh keluarga karena Px dan bayinya meninggal. Neneknya meninggal dengan diagnosa eklamsi ketika melahirkan ibunya. Ketika hamil Px sempat mengeluh sakit gigi yang tak tertahankan dan akhirnya Px melakukan cabut gigi di puskesmas. Px selalu periksa kehamilan di BPS. sehingga tidak ada lagi yang harus menanggung kutukan Keluarga Px tidak paham resiko yang dialami ibu hamil. Keluarga sangat senang ketika Px hamil. umur 31 tahun.KASUS 3 : Nama Ny.

Kader juga tidak 189 . akan tetapi karena rumah Px yang jauh. Selain posisi rumah Px yang menghadap ke tembok tetangga. Menurut kader. Px bekerja dari pagi hingga sore dan karena Px juga tidak pernah hadir jika ada acara di kampung menyebabkan kader jarang berkomunikasi dengan Px. Kader mengaku bahwa dia dan tim aktif memberikan penyuluhan kepada ibu hamil. selama Px hamil. “Mungkin Px kontrolnya langsung ke Puskesmas mbak. Px tidak pernah datang pada kegiatan posyandu. ibu menyusui dan ibu yang mempunyai anak balita tentang kesehatan. Rumah kader wilayah Px juga lumayan jauh dari tempattinggal Px. akan tetapi rumah Px tidak menghadap ke jalan raya. Sebenarnya kader aktif datang berkunjung ke rumah ibu hamil untuk mengontrol kondisi ibu hamil. kader memang tidak memberi penyuluhan secara personal. Bahkan kader baru mengetahui berita kematian Px setelah hari ke-3 Px meninggal. sehingga mereka akan berangkat kerja pagi-pagi dan pulang di malam hari. soalnya lebih dekat ke puskesmas daripada ke sini (posyandu)” Kader bercerita jika penduduk di wilayahnya rata-rata adalah pedagang dan buruh tani. melainkan menghadap ke tembok rumah tetangga.• Ibu mengattakan pernah cabut gigi ketika hamil Rumah keluarga Px terletak di tepi jalan raya yang dilewati oleh banyak kendaraan yang berlalu lalang. memang suami Px sering main bola dengan temantemannya yang tinggal di sekitar rumah kader. Ibu-ibu yang tinggal di sekitar rumah kader aktif datang pada saat jadwal posyandu berlangsung. Antara rumah Px dan rumah tetangga terdapat halaman yang sangat luas. akan tetapi biasanya ibu-ibu yang datang ke psyandu meminjam buku-buku tentang kehamilan yang dibaca saat jadwal posyandu. Untuk resiko-resiko masa kehamilan. halaman yang luas dapat pula menjadi penghalang keluarga Px untuk berkomunikasi dengan tetangga. Menurut kader. akan tetapi jarak rumah yang lumayan jauh menghalangi proses komunikasi kader dan Px.

Keluarga sangat senang ketika Px hamil. sehingga tidak ada lagi yang harus menanggung kutukan Keluarga Px tidak paham resiko yang dialami ibu hamil. Keluarga Px juga tidak paham jika Px mempunyai sejarah keluarga dengan hipertensi. umur 31 tahun pendidikan SLTA dan bekerja sebagai pedagang. Ibunya juga meninggal dengan diagnosa yang sama ketika melahirkan Px. sehingga meningkatkan resiko Px mengalami hipertensi. akan tetapi ada kekhawatiran dikalangan keluarga karena keluarga takut Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya (takut kutukan itu harus dialami Px Suami Px mengatakan bahwa ketika hamil kondisi Px baik-baik saja.mengetahui kondisi kehamilan Px karena kader hampir tidak pernah bertemu Px selama Px hamil. Berdasarkan penjelasan di atas. Diskripsi Kasus Px mengalami hal yang sama dengan ibu dan neneknya. Hanya saja ketika hamil Px beberapa kali sakit batuk. Keluarga merasa kematian Px merupakan pemutus kutukan yang harus dialami oleh keluarga karena Px dan bayinya meninggal. Hal tersebut oleh keluarga Px lebih dianggap sebagai sebuah kutukan yang dialami oleh keluarga. permasalahan yang ada pada kasus 3 adalah: • Terlambat mendeteksi tanda bahaya kehamilan karena keluarga mengira ibu kesurupan • Terlambat merujuk karena kondisi cuaca hujan. Ketika hamil Px sempat mengeluh sakit gigi 190 . rumah berada di bantaran sungai dan tidak ada kendaraan • Terlambat mendapatkan pertolongan KASUS 4 : Nama Ny B. Neneknya meninggal dengan diagnosa eklamsi ketika melahirkan ibunya. tapi dibiarkan saja (tidak minum obat) sudah sembuh sendiri.

” Sedangkan beberapa ibu hamil mengatakan bahwa mereka tidak mau menceritakan awal kehamilannya kepada orang di luar keluarga inti karena jika kehamilan itu tidak berlanjut. mereka akan malu. beberapa menjawab “tidak tahu”. Makanya mereka biasanya baru akan cerita kalau perutnya sudah kelihatan besar.. Tapi itu kan sudah terlambat ya mbak. ternyata masih ada kepercayaan yang dipegang oleh para ibu hamil. “. tempat penelitian ini berlangsung..” 191 .gak tau mbak.00 ibu mengeluh sesak nafas dan periksa ke BPS Bidan menyarankan ibu langsung ke puskesmas Dari puskesmas ibu langsung dirujuk menggunakan ambulance ke RS Ibu meninggal setelah sampai di RS Ibu mengatakan pernah cabut gigi ketika hamil Permasalahan yang dialami oleh Px adalah: • • Kurangnya pengetahuan ibu tentang resiko cabut gigi pada masa kehamilan Kurangnya pengetahuan keluarga tentang resiko-resiko di masa kehamilan Taboo vs Malu Di Kota Blitar. Lha wong kalau perutnya sudah kelihatan besar berarti kan kira-kira sudah 4 bulan keatas. Takut ada apaapa kalo gak nurut. Kronologi kejadian yang dialami Px : • • • • • • Ibu periksa hamil ke BPS dan puskesmas Tanggal 4-4-2012 jam 00.nek wis kadhung cerito trus gak sidho hamil lak isin mbak.. akan tetapi karena suami tidak ikut masuk ke ruang praktek. maka suami tidak mengetahui secara jelas kondisi kehamilan Px. Px selalu bilang baik-baik saja sepulang dari kontrol di BPS. Px selalu periksa kehamilan di BPS.. pokoknya nurut aja apa kata orang-orang tua. “. dimana ketika kandungan masih berusia muda (belum kelihatan hamil) para ibu hamil dilarang untuk menceritakan kehamilannya kepada orang lain. Beberapa ibu hamil dan kader yang ditanyai tentang alasan mengapa tidak boleh menceritakan kehamilannya di awal kehamilan.yang tak tertahankan dan akhirnya Px melakukan cabut gigi di puskesmas.

Entah mereka memeriksakan kehamilannya atau tidak dan dimana mereka memeriksakan kehamilannya. program KB begitu gencar digalakkan dan sangat sukses.embuh prikso nang ndi mbak.” Peran Suami Peran suami di keluarga dalam budaya Jawa sangat penting.wong g tau metu seko ngomah. Sebenarnya tetanggatetangga dan lingkungan tidak ada yang mempermasalahkan kehamilan ibu tersebut asal hamil dengan suami sah-nya. karena anak ke-3 saja sudah merasa banyak. Dalam situasi yang sulit dan mendesak.. suami haruslah mampu mengambil keputusan dengan tepat. peran suami sebagai pengambil keputusan dan mendampingi istri selama masa kehamilan sangatlah penting.. Hal ini menyebabkan ibu-ibu malu menceritakan kehamilannya kepada orang lain hingga perutnya tampak besar dan tetangga-tetangga tahu jika ibu tersebut hamil. Ibu-ibu yang hamil anak ke-3 atau lebih merasa malu dengan kehamilannya. Lain kasus.Selain masalah ketabuan yang berkembang diantara ibu hamil sehingga tidak mau menceritakan awal kehamilannya kepada orang di luar keluarga intinya. akan tetapi biasanya ibu hamil tersebut malu sendiri dengan tetangganya. sebab sebagian besar tetangganya hanya mempunyai dua anak. Berkaitan dengan kehamilan. “. sehingga sebagian besar penduduk Kota Blitar hanya mempunyai dua anak. ada pula ibu yang hamil dengan lelaki lain karena suaminya adalah TKI di luar negeri dan tidak pernah pulang serta TKW yang pulang dalam kondisi hamil. Umumnya mereka menyembunyikan diri dan tidak bersosialisasi. Engkuk ujug2 wis lair anake. Suami hendaknya mendampingi dan memberikan ekstra perhatian kepada istrinya yang sedang hamil. Suami sebagai kepala keluarga dan pengambil keputusan. Kehamilan memang merupakan masa-masa dimana seorang ibu 192 . masalah “malu” juga ada di antara ibu hamil yang menyebabkan dirinya tidak mau menceritakan kehamilannya. Di Kota Blitar. Kedua kelompok inilah yang dianggap para kader sebagai kelompok yang “susah dijangkau”. Ternyata dampak positif program KB juga disertai dengan dampak negatif yang timbul di masyarakat.

Pelabelan “gawan bayi” pada perubahan kondisi ibu hamil yang sebetulnya mengindikasikan terjadinya gangguan pada diri ibu dan kehamilannya menyebabkan berkurangnya ketanggapan pada diri suami dan lingkungan (orang tua. akan tetapi suami ikut masuk ke ruang periksa ketika istri sedang periksa. Kepedulian dan ketanggapan suami terhadap tanda-tanda dan gejala yang berhubungan dengan resiko kehamilan dapat meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan. suami dengan istri yang sedang hamil hendaknya juga mempunyai pengetahun tentang kehamilan. suami sebaiknya menemani istri yang sedang kontrol kehamilan. bidan. keluarga dan teman) akan gangguan yang dialami oleh ibu hamil. Ibu akan berubah menjadi sangat sensitive ketika hamil. Terutama resikoresiko yang kemungkinan terjadi. Tidak hanya seorang ibu yang sedang hamil yang harus mempunyai pengetahuan tentang kehamilan. suami tidak tahu kondisi istri yang sebenarnya. Menemani tidak hanya menunggu di depan pintu praktek dokter. atau d depan pintu poli di puskesmas atau RS. juga membantu dokter mengkomunikasikan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi jika istri memang mengalami kondisi khusus (misalnya. berkaitan dengan kondisi istri yang sedang hamil. Beberapa kasus menunjukkan bahwa ketidakpedulian dan ketidaktanggapan suami membawa akibat yang fatal bagi kondisi istrinya yang sedang hamil. tekanan darah tinggi) atau kondisi khusus yang terjadi pada janin (misalnya. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan biologis yang terjadi pada diri seorang ibu. Untuk mengantisipasi hal tersebut.membutuhkan perhatian ekstra dari pasangannya (suami) dan lingkungannya. Hal tersebut selain membantu suami untuk mengetahui kondisi istri yang sebenarnya. Perubahan tersebut juga memberikan efek pada emosi ibu. janin sungsang). Pengambilan keputusan yang tepat untuk membwa istri yang sedang hamil untuk berkunjung ke pelayanan kesehatan terjadi mulai awal terdeteksinya 193 . Seringkali ibu yang sedang hamil tidak mau menceritakan kondisi dirinya dan kehamilannya yang sesungguhnya kepada suaminya sehingga ketika terjadi sesuatu pada istrinya yang sedang hamil.

pendidikan dan untuk beberapa daerah tertentu dengan faktor geografis. ada bidan desa yang sudah dilengkapi dengan Bidan Kit. Kalau dilihat dari profesinya. Kadarzi dan peningkatan kesehatan ibu. Di Puskesmas. suami yang siaga akan suap mengantarkan istri yang akan melahirkan dengan membawanya ke unit pelayanan kesehatan. persalinan dan nifas ibu dan bayinya. Kadarzi dan KIA para kader juga mendapat pembekalan tentang penggerakan. obat-obatan dan bahan-bahan untuk memberikan pelayanan kesehatan selama kehamilan. Kader Kesehatan di wilayah Puskesmas Kepanjen Kidul semuanya perempuan. Peran Kader Dalam Pelayanan Jampersal Guna memberikan pelayanan kesehatan ibu dan bayi. Selama hamil. Sejak awal terdeteksinya kehamilan istri. jika terjadi keluhan pada istri. Pemerintah telah melaksanakan berbagai upaya terbaiknya. Namun ada juga pedagang dan pekerja lepas. para suami juga harus tanggap untuk mengajak istri memeriksakannya ke pelayanan kesehatan. Untuk memberikan hasil kerjasama yang optimal ada beberapa pembekalan yang diberikan kepada para kader. 194 . Keterbatasan tenaga kesehatan untuk menjangkau masyarakat menyadarkan tentang pentingnya peran serta masyarakat. memang kebanyakan mereka adalah sebagai ibu rumah tangga. Kesadaran tentang keterbatasan tenaga dan anggaran telah membuat Puskesmas Kepanjen Kidul senantiasa bermitra dengan masyarakat/ kader dalam menjalankan program-program pelayanannya. Selain tentang substansi PHBS.kehamilan istri. Kemitraan dengan kader lebih ditekankan pada upaya menggerakkan masyarakat dalam hal PHBS. pemberdayaan masyarakat dan P3K. Hingga akhirnya ketika istri akan melahirkan. pemanfaatan pelayanan ibu dan bayi yang sudah disediakan oleh Pemerintah ini senantiasa terkait dengan kemiskinan. Masalahnya. Di level komunitas. suami hendaknya mendorong istri untuk memeriksakan kehamilan istri sejak dini. sudah ada Dokter umum dan tenaga bidan yang mampu memberikan pelayanan PONED. sehingga jika ada sesuatu yang tidak diinginkan dapat diketahui sejak awal kehamilan. bayi dan anak.

.masyarakat di tempat saya banyak dari kalangan telok-lemak. silahkan hubungi saya. sampeyan bisa periksa kehamilan.” Ketika ada ibu hamil maka kader akan selalu memantau kondisi ibu hamil tersebut. Sebagaimana diungkap oleh kepala Puskesmas Kepanjen Kidul. Kalau ada sesuatu yang spesial. khawatir terhadap penerimaan masyarakat akan menganggap kader sebagai orang “sok tahu” dan terlalu banyak omong. Sebagaimana dikemukakan oleh ibu Kader Ririn... Kader akan bertanya langsung kepada yang bersangkutan atau kalau saat dilakukan kunjungan..” Kegiatan rutin dari Kader adalah melakukan Posyandu dan pertemuan antar kader yang dilakukan setiap bulan. ini no HP saya. Namun saya berusaha sebisa saya untuk memberikan penjelasan.Ketidakterikatan dengan pekerjaan yang membuat mereka punya waktu lebih untuk melaksanakan tanggungjawabnya sebagai pekerja sosial... Kurang opo. Ini lho ada pelayanan gratis.” Namun demikian ada kegalauan dari Kader ketika mau memberikan penyuluhan kepada masyarakat. maka pada saat pertemuan itu juga digunakan untuk melakukan sosialisasi. Terkait dengan kegiatan Jampersal. “. Kadarzi dan KIA yang terdapat di masing-masing wilayahnya. tanggungjawab yang diemban oleh Kader adalah membantu menggerakkan para ibu hamil yang ada di wilayahnya untuk melakukan ANC dan persalinan di petugas kesehatan. Salah satu diantaranya adalah pemberian informasi tentang Jampersal kepada Kader.. “. “.komitmen kader dalam melaksanakan tanggungjawabnya sangat bagus. Tentunya juga karena mereka punya komitmen yang bagus sebagai kader. Kalau sewaktu-waktu mereka kita minta datang ke Puskesmas. Sulit untuk dikasiktahu.kalau ada apa-apa. Setiap kunjungan biasanya ditambahi dengan pesan. Pada pertemuan rutin kader yang dilakukan adalah menginformasikan kondisi PHBS. Perasaan tidak enak hati. sampeyan bisa melahirkan tanpa mbayar. 195 . mereka selalu hadir walau hanya saya hubungi via telepon. yang bersangkutan tidak ada maka sudah merupakan protap untuk bertanya kepada tetangga di kanan-kirinya tentang keadaannya untuk kemudian ditindaklanjuti lagi pada kunjungan berikutnya. mereka sering datang dan pergi.

Hal 196 . “. bukan orang kesehatan. Ketika terjadi kasus kematian maternal. Mereka cenderung kondisi itu dan menunggu waktu kunjungan berikutnya.saya diwanti-wanti oleh bu Bidan agar kematian ibu ini jangan sampai terjadi lagi.....“. kok banyak bicara tentang kesehatan..setelah ada kasus. Rasa percaya diri yang kurang karena mereka hanya ibu rumah tangga biasa.. sebagaimana dituturkan oleh ibu Susi dan Ririn berikut.. kok kenyi banget.” Upaya Penyelamatan Vs Takdir Sebagaimana diketahui.. alamiah dan kodrati. Dengan adanya kasus tersebut. Paling tidak Kader akan ditanya banyak hal terkait kasus kematian itu oleh bidan dalam rangka melengkapi informasi untuk review maternal mortalitas. sopo sih kui. Resiko ini baru diketahui pada saat kasusnya sudah terlambat dapat membawa akibat fatal yaitu kematian. ketika terjadi masalah kesehatan. Namun demikian. Memahami perilaku perawatan kehamilan adalah penting untuk mengetahui dampak kesehatan bayi dan si ibu sendiri.. tapi saya tidak tahu apa tindak lanjut dari RT.” Ini merupakan kendala yang hampir dipunyai oleh semua Kader. kehamilan dan persalinan yang aman tidak terlepas dari faktor sosial budaya dan lingkungan di dalam masyarakat di mana mereka berada.saya tidak enak hati. Kader diminta untuk lebih melakukan pemantauan kondisi para ibu hamil agar tidak terjadi lagi kasus kematian maternal. ibu tidak langsung pergi ke petugas kesehatan. Mereka kurang menyadari pentingnya segera memeriksakan kehamilan ketika mengalami masalah kesehatan yang bisa menyebabkan tidak terdeteksinya faktor-faktor resiko tinggi yang mungkin dialami oleh mereka. Saya kemudian juga minta bantuan pihak RT untuk sama-sama memantau. Kader juga direpotkan dengan kejadian itu. Ada permintaan dari Kelurahan dan RT agar kami para kader membantu mendeteksi. Fakta yang teramati dalam kasus kematian di daerah studi menunjukkan bahwa keempat Ibu yang meningggal berdasarkan catatan di Puskesmas sudah memeriksakan dirinya secara rutin setiap bulan ke bidan ataupun dokter.. Kehamilan dianggap sebagai hal yang biasa.” “..

harusnya masyarakat bisa mengakses dengan mudah fasilitas kesehatan yang ada. Secara medis. keterlambatan mencari pertolongan disebabkan juga oleh adanya suatu keyakinan dan sikap pasrah dari masyarakat bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan takdir yang tak dapat dihindarkan. semua tidak ada yang lebih dari 2 km. Selain dari faktor keterlambatan dalam pengambilan keputusan. Alat transportasinyapun mudah diperoleh setiap saat. Suatu kondisi yang tidak dihindari bahwa dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak melalui program-program pembangunan 197 . Tidak jarang pula nasehatnasehat yang diberikan oleh teman atau tetangga mempengaruhi keputusan yang diambil. Padahal masih ada beberapa Rumah Sakit Swasta dan banyak Dokter dan Bidan praktek swasta. Pada keempat kasus kematian. penyebab tiga kasus kematian ibu diduga eklamsia dan satu kasus tidak ditemukan indikasi. Kalau dilihat dari fasilitas kesehatan yang disediakan Pemerintah Daerah seperti tiga Puskesmas dan sebuah RSUD di Kota Blitar yang luas wilayahnya hanya 32. suami yang seringkali menjadi panik melihat keadaan krisis yang terjadi. Kasus kematian yang terjadi di Puskesmas Kepanjen Kidul merupakan gambaran bagaimana kultur perkotaan yang bercirikan melemahnya ikatan sosial.ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya informasi. Karena kondisi tersebut bila tidak ditangani secara tepat dan profesional dapat berakibat fatal bagi ibu. faktor geografis dan kendala ekonomi. Keterlambatan juga muncul karena kepanikan.58 km². Namun. Keperdulian keluarga dan tetangga sekitar harusnya bisa dioptimalkan untuk dilibatkan dalam upaya pemantauan dan deteksi dini resiko kehamilan yang mungkin dialami oleh seorang ibu hamil. kefatalan ini juga karena ada faktor keterlambatan pengambilan keputusan dari keluarga dan ibu yang bersangkutan. juga berkontribusi terhadap kasus ini. Kepanikan dan ketidaktahuan akan gejala-gejala tertentu saat persalinan dapat menghambat tindakan yang seharusnya dilakukan dengan cepat. kalau dilihat dari jarak tempat tinggal ke fasilitas kesehatan terdekatnya.

Keberadaan petugas kesehatan dan kelengkapan fasilitas kesehatan semata tidaklah cukup untuk mengatasi masalah-masalah KIA di suatu daerah. Perilaku kesehatan di masyarakat baik yang menguntungkan atau merugikan kesehatan banyak sekali dipengaruhi oleh faktor sosial budaya. Apalagi kalau persepsi tentang kesehatan ataupun penyebab sakit sudah berbeda sekali dengan konsep medis. Pada dasarnya. mengatur dan mempengaruhi tindakan atau kegiatan individu-individu suatu kelompok sosial untuk memenuhi berbagai kebutuhan kesehatan. Mengingat bahwa dari indikator-indikator yang ada menunjukkan derajat kesehatan ibu dan anak masih perlu diingkatkan. maka dalam upaya perbaikannya perlu pendekatan-pendekatan yang dilakukan secara holistik dan integratif yang tidak hanya terbatas pada bidang kesehatan secara medis saja tetapi juga ekonomi.kesehatan perlu memperhatikan aspek-aspek sosial-budaya masyarakat. Dalam hal melakukan upayaupaya perbaikan perlu disadari bahwa hubungan ibu dan anak sangat erat dimana kondisi kesehatan ibu akan dapat secara langsung mempengaruhi kondisi kesehatan anaknya. sosial dan budaya. peran kebudayaan terhadap kesehatan masyarakat adalah dalam membentuk. Oleh karena itu. baik mulai dari kandungan maupun setelah persalinan. Dengan alasan ini pula dalam hal penempatan petugas kesehatan dimana selain memberi pelayanan kesehatan pada masyarakat juga berfungsi sebagai agen perubah maka pengetahuan dan kemampuan berkomunikasi dari petugas kesehatan sangat diperlukan disamping kemampuan dan ketrampilan memberi pelayanan kesehatan. pendidikan. penting sekali menempatkan konteks reproduksi dalam program KIA 198 . Memang tidak semua perilaku masyarakat yang pada awalnya bertujuan untuk menjaga kesehatan dirinya adalah merupakan praktek yang sesuai dengan ketentuan medis dan kesehatan. Dan untuk merubah perilaku ini sangat membutuhkan waktu dan cara yang strategis. tentunya upaya mengatasinya juga berbeda disesuaikan dengan keyakinan ataupun kepercayaan-kepercayaan yang sudah dianut secara turun-temurun sehingga lebih banyak menimbulkan dampak-dampak yang merugikan bagi kesehatan.

Pemberian bekal imu pada ibu hamil. Sedangkan ilmu yang telah dimiliki oleh suami dan keluarga diharapkan mampu membantu ibu hamil jika terjadi hal-hal genting terjadi pada ibu hamil. Pemberian tambahan ilmu / pengetahuan baik pada ibu hamil maupun suami dan keluarga diharapkan mampu menjadi salah satu upaya penyelamatan pada ibu hamil. melainkan wajib dimiliki oleh keluarga. Pengetahuan yang dimiliki oleh suami dan keluarga ibu hamil diharapkan mampu menjadi bekal apabila kelak terjadi suatu kondisi yang tidak diinginkan pada ibu hamil. terutama oleh suami. Dengan pengetahuan tentang kehamilan dan resiko-resiko kehamilan. Selain itu suami dan keluarga dapat menjadi suami dan keluarga siaga bagi istri dan saudaranya yang hamil. 199 . suami dan keluarganya tidak dapat dilakukan dengan cara “pukul rata” akan tetapi dilakukan dengan “bahasa” yang sama dengan konsep dan “bahasa” yang dipahami oleh keluarga tersebut. Proses pendampingan oleh tenaga kesehatan secara berkesimbungan juga dinilai efektif untuk merubah konsep “keliru” yang berkembang di masyarakat. masa remaja hingga dewasa. Ilmu yang tentang kehamilan dan resiko-resiko kehamilan yang dimiliki oleh ibu hamil diharapkan mampu menjadikan ibu hamil tanggap dan mengerti tentang perubahan kondisi yang dialaminya sehingga mampu mengambil keputusan yang tepat bagi dirinya. Ilmu vs Upaya Penyelamatan Ilmu/pengetahuan tentang kehamilan tidak saja wajib dimiliki oleh ibu hamil saja. ibu hamil dapat mendeteksi resiko-resiko yang ada di dalam dirinya. Keputusan tepat yang dilandasi ilmu sangat diperlukan dalam membantu ibu hamil dalam usaha menyelamatkan baik ibu maupun anak yang dikandungnya.sehingga diharapkan kondisi kesehatan seseorang benar-benar dapat terpelihara sesuai dengan konsep medis yang tepat sejak ia berada dalam kandungan. Hal ini wajib dilakukan agar konsep yang akan kita sampaikan mampu dipahami dengan benar oleh ibu hamil dan keluarganya. masa kanak-kanak.

200 . Untuk memenuhi tujuan tersebut dilakukan Fokus Grup Diskusi (FGD) dengan tokoh masyarakat. LINTAS SEKTOR. LSM DAN ORGANISASI LAINNYA DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN JAMINAN PERSALINAN Salah satu tujuan yang akan dicapai dalam studi ini adalah mengetahui akseptabilitas masyarakat meningkatkan pelayanan Jampersal. kader kesehatan. bukan saja tanggung jawab kader dan petugas kesehatan. Materi yang didiskusikan adalah tentang akseptabilitas masyarakat terhadap Jampersal mulai kegiatan sosialisasi. pemahaman dan pemanfaatan serta harapan masyarakat terhadap keberadaan program Jampersal. aparat desa dan dukun. Kader sangat berperan dalam penyampaian informasi tentang kehamilan dan resiko-resikonya pada ibu hamil dan keluarganya. 5. suami lah pengambil keputusan jika ada persoalan-persoalan rumah tangga. Pemberian ilmu / pengetahuan pada ibu hamil dan keluarganya diharapkan mampu menjadi salah satu alternatif penyelamatan ibu hamil. Peran suami dalam pengambilan keputusan untuk ibu hamil sangatlah penting. TOGA. Dapat kita simpulkan bahwa upaya penyelamatan ibu hamil merupakan tanggung jawab semua pihak. melainkan tanggung jawab ibu hamil itu sendiri. karena dalam Budaya Jawa. tokoh agama.Adanya kepercayaan-kepercayaan yang “keliru” yang tumbuh di masyarakat menyebabkan masyarakat kurang “tanggap” dalam menyikapi perubahan kondisi yang dialami oleh ibu hamil.9 AKSEPTABILITAS TOMA. suami dan keluarganya.

Kepala puskesmas dan bidan diakui sebagai orang yang banyak memberikan penjelasan tentang Jampersal. Tetapi Kota Mataram sosialisasi juga dilakukan dengan memanfaatkan masjid. ulama dan masyarakat. TOGA. selain itu juga melalui media elektronik televisi. dll) Sosialisasi Jampersal kepada masyarakat secara umum diberikan oleh pihak puskesmas. petugas puskesmas dengan didampingi kader dan tokoh masyarakat. Sasaran utama sosialisasi di masyarakat adalah kepada para kader kesehatan yang akan diteruskan pada ibu hamil di posyandu. Di Kota Bandung kader juga secara proaktif mendatangi sasaran jampersal. Kegiatan pengajian umum ini memang di desain sebagai media komunikasi pemerintah. dari kepolisian juga sering. Para bidan juga senantiasa memberikan informasi tentang Jampersal kepada ibu hamil ketika periksa kehamilannya. 201 . sosalisasi juga dilakukan dengan memanfaatkan kegiatan pengajian umum.Gambar 5.56 Diskusi kelompok masyarakat (TOMA. Sehingga yang memanfaatkan media pengajian ini bukan cuma dari kesehatan. Melalui pengeras suara yang ada di mesjid. kader. Pertemuan kader dan posyandu memang merupakan tempat utama bagi petugas kesehatan melakukan sosalisasi. memberikan informasi tentang Jampersal. Sedangkan di Sampang.

setiap triwulan ada undangan sosialisasi dari dinkes atau pkm... “. Menyadari kondisi geografis yang berupa kepulauan...pokja 4 bisa bantu sosialisasi. Selain itu.di kelurahan sosialisasinya. masyarakat menganggap perlu memperhatikan kemitraan dengan dukun. Ada juga yang mengaku bahwa dia baru tahu setelah mengikuti kegiatan FGD ini.” Kondisi yang sangat berbeda dibandingkan daerah lain dalam upaya sosialisasi Jampersal. kadang kita undang kumpul masyarakat.Sosialisasi Jampersal yang menjadi tugas Dinas Kesehatan dengan segenap jajarannya. kab. Kita sampaikan di situ.. Peserta FGD di Kota Kendari mengemukakan bahwa masyarakat kurang tersosialisasi dengan Jampersal..” 202 . terjadi di Kabupaten Wakatobi. Wakatobi). karena masyarakat yang mampu di Wakatobi banyak yang melahirkan di rumah dukun didampingi oleh bidan.. masih kuatnya tradisi melahirkan dengan ditolong dukun dan perasaan “malu” jika melahirkan di Puskesmas membuat Dinas Kesehatan dan jajarannya perlu memperbanyak frekuensi sosialisasi. Di pos kamling. kalau di PKK hanya sebagian ibu-ibu yang hadir. “. Menurut Toma.perlu dipikirkan insentif untuk dukun yang bekerja sama dengan bidan.. mereka takut ke RS takut biaya mahal. Puskesmas sebagai lembaga pelayanan kesehatan yang langsung berhubungan dengan masyarakat mengaku bahwa sudah melakukan sosialisasi tapi tidak langsung ke masyarakat. Kita teruskan lagi di masyarakat. masyarakat mengharapkan sosialisasi hendaknya dilakukan di tempat yang lebih dapat diakses oleh masyarakat misalnya di kelurahan.” ". Seharusnya sosialisasi juga dilakukan kepada ketua RT yang nantinya akan disebarluaskan pada warganya. karena masyarakat disini kurang tahu mengenai jampersal jadi lebih banyak ke dukun. “. Mungkin harus ada kesepakatan soal insentif dengan puskesmas. ternyata tidak diterima oleh semua masyarakat. kalau di kelurahan yang mendengar bisa lebih banyak. sosialisasi Jampersal dilakukan setiap triwulan dengan memberikan undangan pada Toma ke Dinas kesehatan atau puskesmas setempat. Sehubungan dengan minimnya sosialisasi tersebut. atau langsung dr pintu ke pintu.” (Toma.

Kabupaten Kepulauan Aru. kalau dilakukan oleh kader ada ke khawatiran informasi yang diberikan kurang tepat. Sementara masyarakat maunya mendapat jaminan kejelasan dan kebenaran informasi yang disampaikan. siapa yang kurang mempunyai keperdulian sampai ditemukan data sebanyak 66. dari Dinas Kesehatan ke Puskesmas ke Kader dan diharapkan kader dapat menyampaikan kepada masyarakat. 203 . maka secara umum dapat dikatakan bahwa sosialisasi pada masyarakat dirasakan masih kurang. Bahkan Dinas Kesehatan sudah memproduksi brosur untuk dibagikan kepada masyarakat. Ini mengindikasikan bahwa petugas kesehatan sudah berusaha melakukan sosialisasi sampai ke komunitas terpencil. diketahui bahwa terdapat 66. apakah mereka yang sudah mendapat sosialisasi kemudian berkenan menyampaikan pada yang lain? Kalau dilihat dari hasil wawancara kepada para ibu hamil dan yang baru melahirkan.7% diantara mereka yang tidak memanfaatkan Jampersal disebabkan ketidak tahuan tentang program Jampersal. Kalau ini dijadikan sebagai indikator kegiatan sosialisasi. Di Blitar. Masalahnya.7% ibu hamil dan bersalin yang tidak memanfaatkan Jampersal karena tidak tahu? Atau apakah ini terjadi karena metode sosialisasi kurang tepat? Mungkin masyarakat butuh jaminan kebenaran informasi yang disampaikan. disana terpampang satu poster tentang Jampersal.Dari hasil FGD diketahui bahwa mereka ada yang mendengar tentang Jampersal dan ada pula yang belum. Masyarakat maunya informasi tentang kesehatan. poster Jampersal juga terlihat di rumah kediaman kader yang difungsikan sebagai posyandu. Masalahnya. Metode yang biasa dilakukan adalah memberi informasi dengan cara berantai. Sehingga Di Kota Blitar tokoh masyarakat berpendapat bahwa kebenaran informasi akan bisa dipertanggung jawabkan jika sosialisasi dilakukan oleh tenaga kesehatan. Kalau memperhatikan salah satu Posyandu di wilayah puskesmas Benjina. harusnya disampaikan oleh orang kesehatan karena dianggap lebih kompeten.

Adapun jenis pelayanan yang diberikan meliputi pemeriksaan kehamilan. Semua orang yang pernah mendengar. Jampersal yang bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi. tidsak saja pada proses melahirkan tapi sampai pada biaya pelayanan ke rumah sakit jika ada yang komplikasi dan di rujuk ke puskesmas dan rumah sakit sekarang dibiayai jadi gratis.Pemahaman Masyarakat Tentang Jampersal. Dalam petunjuk pelaksanaan Jampersal tertulis bahwa kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan jampersal adalah ibu hamil. sebagian besar peserta FGD di 14 kabupaten/kota daerah studi menyatakan pernah mendengar. pertolongan persalinan.. Begitu ditanya tentang apa pernah mendengar tentang jampersal. pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir. di rancang untuk menghilangkan hambatan finansial bagi ibu untuk mendapatkan pelayanan terkait dengan persalinan. bukan untuk orang miskin saja tetapi untuk semua lapisan masyarakat. ibu nifas dan bayinya. karena dalam program tersebut tidak ada batasan untuk melahirkan artinya anak ke berapa pun diberi jaminan untuk persalinan gratis. Mengenai persyaratan. “.. ibu bersalin.Jampersal adalah program kesehatan yang menguntungkan terutama bagi masyarakat yang tidak mampu..” “. terutama bagi masyarakat miskin yang bebas dari biaya persalinan. Sebagai program yang relatif baru dengan harapan keberhasilan yang besar. secara umum mengatakan bahwa jampersal adalah seperti cuplikan diskusi masyarakat di wilayah Puskesmas Sanan Wetan Blitar mengenai apa yang diketahui tentang program Jampersal. Dikemukakan bahwa penerima pelayanan adalah seluruh sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja. perlu untuk diketahui bagaimana pemahaman masyarakat terhadap program Jampersal. Tetapi ketika ditanya tentang apa yang diketahui tentang Jampersal. tidak semua bisa berpendapat.” 204 .program jampersal merupakan program pemberian pelayanan secara gratis untuk persalinan bagi masyarakat.” “.program jampersal ini disambut baik.... secara eksplisit tidak tercantum persyaratan tertentu agar sasaran bisa mendapat pelayanan Jampersal.

” “. Kalau di wilayah puskesmas Benjina di Kabupaten Kepulauan Aru.. “jampersal bukan untuk orang miskin saja tapi untuk semua lapisan masyarakat”. Di kota Bandung. Bahwasannya jampersal adalah “program persalinan gratis”. Masyarakat banyak yang 205 . masih ada anggapan masyarakat bahwa yang gratis itu pelayanan pemeriksaan kehamilan dan persalinan saja sehingga untuk keperluan yang lainnya tidak gratis.” Dari komentar masyarakat warga Sanan Wetan yang notabene merupakan daerah perkotaan dapat kita lihat bagaimana pemahaman mereka tentang Jampersal..program jampersal di masyarakat ini baik. Dari 10 peserta FGD hanya Ibu Ome dan Ibu Tini yang pernah mendengar tentang Jampersal tetapi tidak tahu Jampersal itu apa.. yang berlokasi di kota Kabupaten Kepulauan Aru.“.jampersal adalah program gratis untuk ibu yang melahirkan sehingga program ini baik sekali untuk masyarakat. Belum ada seorangpun anggota masyarakat yang mampu menjelaskan secara utuh dilihat dari tujuan.. ketika diminta berkomentar tentang program Jampersal semuanya terdiam. Lebih lanjut diakui bahwa ibu harus meminta persetujuan dari suami terlebih dahulu untuk langsung menggunakan alat kontrasepsi. Pemahaman masyarakat di Blitar ini berbeda sekali dengan masyarakat di kabupaten Kepulauan Aru. berikut adalah variasi pemahaman masyarakat mengenai Jampersal. saling pandang dan tetap terdiam. namun sosialisasi di masyarakat yang kurang.. Maluku. “program untuk masyarakat miskin”. Kebanyakan yang diketahui masih sebatas bahwa Jampersal hanya melayani pemeriksaan ibu hamil dan melahirkan gratis di layanan kesehatan / bidan. Jenis pelayanan yang diberikan dalam program Jampersal secara umum tidak diketahui secara mendetail oleh masyarakat. “bila dirujuk ke Rumah Sakit juga gratis”. persalinan dan pemerikasaan setelah melahirkan dan bayi sampai 28 hari sampai pemasangan alat kontrasepsi jangka panjang. sasaran dan persyaratannya. kader mengaku telah mensosialisasikan bahwa paket pelayanan Jampersal itu terdiri dari pemeriksaan kehamilan. seperti proses administrasi yang bisa membuat bingung bidan terutama pada masyarakat yang pendatang (bukan dari kota blitar) yang tidak punya KTP. Diskusi yang dilakukan di wilayah puskesmas Dobo.. jenis pelayanan yang diberikan. Secara garis besar.

.yang dilayani oleh program jampersal adalah persalinan.. pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir. Ini mengindikasikan kalau sebenarnya petugas kesehatan sudah menyampaikan kepada masyarakat tentang jenis pelayanan yang bisa dinikmati oleh sasaran Jampersal.yang sedang di penjara juga bisa ikut Jampersal.” “.untuk Ibu Hamil sampai kunjungan ke empat (K4) 1 kali triwulan pertama 1 kali triwulan kedua 2 kali triwulan ketiga... pertolongan persalinan..kaya miskin boleh ikut Jampersal. Mungkin karena penyerapan informasi oleh masyarakat yang terbatas sehingga pemahamannya kemudian juga terbatas. KIA. bersalin dan bayi yang baru dilahirkan adalah mereka yang bisa mendapatkan pelayanan Jampersal. Mengenai siapa sasaran yang berhak memanfaatkan pelayanan Jampersal.” “..” Tidak ada yang tahu bahwa Jampersal hanya diperuntukkan pada mereka yang tidak mempunyai jaminan persalinan. periksa bumil dan KB.. tetapi ada masyarakat juga tahu bahwa: “...keberatan untuk pemasangan alat kontrasepsi jangka panjang seperti IUD. tapi mereka yang mampu juga boleh menikmati fasilitas Jampersal. masyarakat mengemukakan bahwa: “.yang dari luar kota bisa ikut Jampersal di Kota Bandung. ada banyak komentar sehubungan dengan hal tersebut. 206 . dapat kita ketahui bahwa masyarakat sudah tahu kalau paket pelayanan Jampersal meliputi pemeriksaan kehamilan. Sebagian masyarakat lebih senang KB suntik.” “.” “.setahu saya untuk bersalin sama memberikan bantuan bagi bayi yang mengalami gangguan kesehatan tapi sebelum umurnya 1 bulan.” Dari ragam pendapat masyarakat baik di Bandung maupun di Mataram... Di kota Mataram. semua yang tahu jampersal mengemukakan bahwa yang ibu yang hamil. Walau masih banyak yang beranggapan bahwa Jampersal ini diperuntukkan bagi mereka yang tidak mampu.. Dengan diketahuinya bahwa Jampersal ternyata tidak hanya untuk kelompok masyarakat tidak mampu. Tentang pelayanan yang diberikan.

kalau ada penduduk baru kemudian istrinya bersalin diberi keterangan domisili dari kelurahan. Nah. seperti proses administrasi yang bisa membuat bingung bidan terutama pada masyarakat yang pendatang yang tidak punya KTP...” “. untuk pengurusan memerlukan waktu. terutama untuk keluarga miskin saja.. kalau negara mampu. Dengan adanya program Jampersal...program jampersal di masyarakat ini baik.untuk ikut jampersal. masalah pendatang tanpa identitas baru yang sesuai dan bagaimana bila kehamilan itu terjadi diluar nikah adalah hal-hal yang terkait dengan persyaratan pelayanan Jampersal..kalau ada masyarakat yang nggak mampu pakai jamkesmas dibuatkan surat keterangan untuk mendapatkan pelayanan jamkesmas dan jampersal…..... Aparat desa menyatakan dapat membantu untuk kelancaran pembuatan KTP atau surat keterangan domisili setelah mendapat sosialisasi tentang Jampersal. pada saat dibutuhkan baru bingung mencari surat... biasanya yang suka ikut itu yang menengah ke bawah. maka perlu dibatasi. Asal punya KSK atau KTP saja sudah bisa dilayani.” Kepemilikan KTP dan/atau KK memang merupakan persyaratan pelayanan Jampersal di semua kabupaten / kota. kenapa tidak? tentunya semua boleh mendapat pelayanan gratis. Tetapi kalau peserta Jampersal tidak punya KTP atau KK..... Berikut ini beberapa komentar masyarakat. ibu-ibu yang selama ini tidak punya KTP 207 .....Masyarakat tidak mempersiapkan syarat-syarat untuk Jampersal. kalau negara kurang mampu. Walau demikian di Kota Ambon KTP masih menjadi masalah.. mereka bisa memanfaatkan surat keterangan domisili.untuk memberikan subsidi kepada semua masyarakat. namun sosialisasi di masyarakat yang kurang. Masih adanya ibu yang tidak punya kartu identitas. karena banyak masyarakat yang tidak mempunyai KTP..” “.” “..” Yang seringkali “ramai” didiskusikan adalah ketika bicara tentang persyaratan agar sasaran bisa mendapat pelayanan Jampersal.masyarakat kaya gengsi kalau ikut Jampersal. “..” “.“.program jampersal ini dibuat kriteria yang lebih khusus.” “.

“. Selama berkaitan dengan kehamilan dan persalinan. perlu ditingkatkan dengan pelayanan transfusi darah. Diharapkan agar sosialisasi ke masyarakat harus lebih ditingkatkan lagi.. 5. Seharusnya ada surat edaran dari puskesmas atau dinas kepada RW di seluruh wilayah kerja puskesmas supaya masyarakat menggunakan Jampersal. Termasuk keluhan tentang kurangnya fasilitas.. harusnya biaya pelayanan di rumah sakit ditanggung oleh Jampersal.di rujuk di rumah sakit yang bersangkutan.9. Dalam pelaksanaan suatu program. Kota Bandung).program Jampersal harus terus dilanjutkan. Wakatobi).. karena bila ada kasus harus dirujuk ke Baubau.” “. pelayanan rujukan. Masyarakat berharap adanya kepastian pembiayaan Jampersal sebab di beberapa Kabupaten.harapan pertama adalah perbaikan fasilitas. masih terdengar keluhan masyarakat tentang adanya tambahan pembiayaan pada pengguna Jampersal. Harapan Masyarakat Relatif barunya pelaksanaan Jampersal.. karena kasihan masyarakat yang tidak mampu. “. dan terbatasnya sarana transportasi untuk 208 .kalo ada warga yg harus dirujuk ke PKM atau RS. jangan berhenti.1.. Tomia ke Baubau ditempuh dengan kapal reguler 11 jam dengan ongkos 130 ribu. kegiatan sosialisasi merupakan hal penting untuk menentukan keberhasilannya. Dengan merasakan manfaatnya.. sebagaimana berikut.” (Toma.” ( Toma.. Kab. Dalam pelaksanaan. “. Kota Mataram). tidak ada mobil ambulace yg tersedia setiap saat jadi hrs mencari2 dulu pertolongan. Kalau harus carter sekitar 10 juta ke atas..” (Toma. udah di kelas tiga tapi di suruh bayar. ada beberapa kasus yang dikeluhkan masyarakat. Untuk persalinan yang tidak dapat dilakukan dibidan dapat dilakukan rujukan ke rumah sakit yang sudah ditentukan. sekarang mereka mau mengurus kepemilikan KTP.karena belum merasa berkepentingan. banyak harapan masyarakat terhadap Jampersal. tidak membuat masyarakat kurang peduli dengan keberadaannya.

Jadi secara psikologis lebih percaya pada bidan kampung. “. Namun karena menyadari besarnya manfaat yang diperoleh dari program Jampersal. dilanjutkan di tahun-tahun mendatang. tapi langsung ditempatkan ke masyarakat tanpa dampingan senior. langsung tindakan saja. termasuk kekhawatiran Jampersal akan mengakibatkan ledakan penduduk. Jadi gimaa mau percaya.belum lagi bidan kecil2. Misalnya kalu ibu hamil kalu ke RS negeri sudah menunggu lama lalu akhirnya di caesar.masyarakat itu butuh penjelasan dan pendekatan. misal umurnya sudah banyak. Selain itu masyarakat mempunyai pandangan mengapa masyarakat juga lebih senang melahirkan ditolong dukun dibanding oleh tenaga kesehatan. Natuna). Terlepas dari keluhan masyarakat yang ada. Natuna). mereka lebih sabar telaten menunggu bila mengeluh kesakitan. Kalau di dukun kampung.. Kep. khususnya bagi keluarga tidak mampu. Di RS atau puskesmas kan suka cuek kalo pasien yang mengeluh kesakitan. “. Nah inilah yg tidak pernah dijelaskan ke masyarakat.” (Toma. semua masyarakat di semua daerah studi berpendapat dan mempunyai harapan yang sama. Akhirnya masyarakat ini kan taunya kalau ke RS akan dibelah. Untuk itu diharapkan bidan-bidan di Natuna mendapat pelatihan untuk dapat meningkatkan teknis dan kualitas layanan agar masyarakat tidak perlu mendapatkan layanan kesehatan di luar negeri. Istilahnya dulu dia saya yang urus mandiin segala macam. mereka baru.. Pelan-pelan ditolong persalinannya.” (Toma. Kab.. Program Jampersal diharapkan dapat 209 . walaupun kabupaten tersebut tidak memanfaatkan Jampersal mengharapkan pelayanan kesehatan lebih baik seperti layanan kesehatan di luar negeri..Khusus untuk masyarakat di Natuna. Seperti diketahui untuk masyarakat Natuna akses untuk mendapatkan pelayanan dari Malaysia dan Singapura bahkan dapat lebih dekat dibandingkan harus ke Batam atau wilayah lain di Indonesia. Kab kep. Padahal mungkin dari dokter sendiri ada penjelasan dan alasan. nah sekarang tiba2 dia mau turun saya persalinan.

210 .

KESIMPULAN 1. SPOG) mendukung terhadap kebijakan jampersal . Dukungan pembiayaan belum banyak terlihat. Jamkesda di beberapa daerah dialihkan menjadi Jampersal.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. dibatasi pada jumlah anak. Secara umum provider ( bidan. Di beberapa kabupaten / kota tidak menerbitkan Peraturan baru tetapi mengikuti Peraturan Pusat yang sudah ada / sesuai petunjuk teknis yang ada atau mengikuti Peraturan daerah yang sudah ada. Program Jampersal mendukung pada pelaksanaan program KIA terutama pada bidan di puskesmas. Muatan politik mempengaruhi dukungan Pemerintah daerah terhadap Jampersal dalam bentuk sosialisasi Kebijakan Jampersal dengan kebijakan daerah berkaitan dengan mendukung penurunan AKI dan AKB misalnya LIBAS di Sampang. Materi sosialisasi masih 211 . Kebijakan Jampersal ditindaklanjuti dengan menerbitkan Peraturan Bupati atau Peraturan walikota. SDM. peralatan dan bahan habis pakai dll. Sosialisasi menjadi kendala untuk pelaksanaan Jampersal. Khusus Kepulauan Natuna tidak memanfaatkan pembiayaan Jampersal 2. Di Kabupaten / Kota Pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap Jampersal walaupun belum optimal. Belum semua daerah memberi dukungan dalam bentuk penyediaan sarana. Keterbatasan / tidak adanya dana sosialisasi menyebabkan sosialisasi Jampersal kurang fokus karena diikutkan dengan kegiatan lain. Bahkan Jampersal juga dapat menjadi sumber pendapatan daerah.1. b. 3. Penerimaan Provider terhadap kebijakan jampersal : a. “AKINO” di Nusa Tenggara Barat. hanya perlu difokuskan pada masyarakat miskin. Penerbitan Perbup dan Perwali sebagai salah satu bentuk dukungan Pemda.

hanya Kota seperti Balikpapan dimana tingkat ekonomi tinggi besaran tersebut dianggap masih terlalu rendah. ibu nifas sampai 42 hari dan neonatal (0-28 hari) yang mempunyai salah satu persyaratan seperti KTP. d. c. surat keterangan domisili. kartu keluarga. Mekanisme klaim awalnya menjadi kendala karena terlalu lama.lebih kearah pertanggungjawaban administrasi. e. ibu bersalin. ada daerah yang meerapkan pengisian inform consent untuk menggunakan KB Jangka panjang seperti IUD pada pengguna Jampersal. Masalah juga timbul pada RS yang memberlakukan tarif Jamkesda dengan tarif RS kelas III. g. perdarahan sebelum melakukan rujukan. surat ijin mengemudi. • • Lama persalinan normal di beberapa daerah lebih dari satu hari. Jenis paket pelayanan Jampersal di tingkat layanan dasar cukup baik diterima bidan. Pelayanan rujukan khususnya di Daerah yang akses jauh dari pelayanan rujukan diharapkan bidan yang telah mempunyai kompetensi khusus dapat melakukan pelayanan rujukan tertentu misalnya manual plasenta. tapi juknis tahun 2012 212 . kurang pada substansi. Di tingkat layanan dasar besaran Klaim menurut juknis 2012 secara umum sudah cukup. Pelayanan KB perlu lebih ditegaskan lagi.. Di rumah sakit tarif INA-CBG’s terutama untuk RS Tipe C besarannya dianggap terlalu kecil. Hal khusus yang menjadi masukkan : • • Pelayanan ANC bidan mengharapkan bisa lebih dari 4 kali. kartu mahasiswa/ pelajar dan paspor. Kepesertaan / pengguna Jampersal adalah ibu hamil. sehingga beberapa RS terpaksa menarik tambahan biaya untuk obat. Portabilitas pelayanan dapat berjalan baik. Keterbatasan pengetahuan Jampersal sering menyebabkan provider “setengah hati” menerima dan melaksanakannya. f. KTP suami. hal ini disebabkan persyaratan dianggap membebani.Untuk daerah kepulauan besaran kalim tidak masalah tapi biaya transport yang menjadi kendala karena bisa jauh lebih besar dari klaim Jampersal. habis pakai dsb.

dan distribusi bidan belum merata. walaupun masih ada yang mengikuti Juknis 2011. • Persyaratan pengurusan ijin praktek bidan yang menyebabkan bidan tidak dapat segera mendapatkan Ijin praktek dengan adanya persyaratan dari organisasi Profesi misalnya APN. tidak semua bidan desa tinggal di wilayah kerjanya. Pencairan dana untuk BPS pada umumnya cukup lancar dan dapat diterimakan 100%. Di kepulauan perlu lebih banyak sarana pelayanan. h. Di beberapa daerah kesulitan dalam pencairan. c. Kendala juga dengan terbatasnya tenaga verifikator sehingga berkas klaim menumpuk di verifikator. • Keterbatasan tenaga bidan karena ada batasan kompetensi. Ketersediaan puskesmas di setiap kecamatan di lokasi penelitian terpenuhi ada beberapa hal perlu diperhatikan : a. Puskesmas non perawatan tidak mempunyai sarana rawat inap untuk menolong persalinan. harus aktif dan telah magang pada organisasi Profesi dalam waktu tertentu. hal ini disebabkan tidak semua bidan puskesmas / desa dapat melakukan PKS disebabkan antara lain : • Belum semua dinas kesehatan membuka kesempatan pada bidan puskesmas / BPS untuk melakukan PKS secara terbuka. • Belum tersosialisasinya program Jampersal dengan baik. Mekanisme pencairan dana pada umumnya mengikuti Juknis 2012. misalnya di kota Ambon. Jumlah Bidan pada umumnya mencukupi kecuali di kepulauan Aru jumlah bidan sangat kurang. di beberapa lokasi kepala Dinas membuat 213 . b. Jumlah bidan BPS yang PKS dengan Dinas Kesehatan masih sangat terbatas.sudah lebih sederhana. satu desa dapat terdiri beberapa pulau. Kota Kendari bidan yang ada kebanyakan masih lulusan D1. Masalah terjadi untuk pencairan untuk provider di puskesmas karena melalui mekanisme keunagan daerah sehingga bervariasi setiap daerah. 4.

Continum of care dari Ibu nifas pengguna Jampersal untuk persalinan di 13 kabupaten / kota turun 15% dari yang memanfaatkan pelayanan ANC (K1). prasarana dan SDM rumah sakit sangat terbatas. 5. Hal ini misalnya terjadi di Kabupaten Kepulauan Aru. Pemanfaatan layanan Jampersal : a. Sarana Puskesmas rawat inap dan Poned masih terbatas. b. 214 . Cenderung terjadi peningkatan rujukan persalinan per vaginam dengan komplikasi dan tanpa komplikasi di rumah sakit pemerintah tempat rujukan Jampersal pada 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya.9% dari yang memanfaatkan pelayanan ANC K1 dan K4. c. dan juga ketersediaan tenaga kesehatannya terbatas. 95. Peningkatan kasus Sectio caesaria juga cukup tinggi di rumah sakit pemerintah rujukan Jampersal pada tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya. • Untuk pengguna Jampersal. d.3% dilakukan di fasilitas kesehatan. Kecenderungan tempat persalinan non fasilitas kesehatan terjadi di kabupaten yang tergolong daerah sulit secara akses. Belum semua rumah sakit pemerintah di kabupaten melakukan PKS dengan Dinas Kesehatan. bahkan tidak ada SPOG tetap.kebijakan untuk menyediakan satu ruangan untuk rawat inap untuk persalinan. • Ibu nifas pengguna Jampersal untuk persalinan di 13 kabupaten / kota turun 1. pada pelayanan persalinan di 13 kabupaten/kota. • Ibu nifas pengguna Jampersal untuk PNC di 13 kabupaten / kota turun 2% dari yang memanfaatkan pelayanan persalinan . Kabupaten Wakatobi dan Kabupaten Paser. Terutama di daerah kepulauan sarana.

6. Sosialisasi yang diperoleh masyarakat dinilai kurang. Pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan dalam upaya mendukung pelaksanaan kebijakan Jaminan Persalinan. Jampersal persyaratan lebih mudah untuk dipenuhi . sehingga dengan adanya Jampersal terjadi pergeseran bagi pemanfaatan Jaminan kesehatan lain ke Jampersal. Masyarakat yang memanfaatkan Jampersal 95% telah memiliki Jaminan lain seperti Jamkesmas (52%) . LSM mengharapkan lebih dilibatkan dalam sosialisasi Jampersal. Selain pemberdayaan dari masyarakat langsung melalui kader kesehatan. Toga. masyarakat sudah mendapat sosialisasi adanya Jampersal. IUD). juga terdapat pembiayaan kesehatan melalui PNPM GSC yang merupakan program kementerian Dalam Negeri.7% karena belum tersosialisasi Jampersal. Masyarakat yang tidak memanfaatkan Jampersal 66. c.30%). 215 . Jampersal bersifat portabilitas. b. Masyarakat merasa bahwa jampersal sangat bermanfaat dan berharap program ini terus berlanjut. Hanya 5 % yang lain2 termasuk tida mempunyai Jaminan. Jamkesda (19. hanya saja untuk paket pelayanan KB masyarakat masih keberatan dengan menggunakan alat kontrasepsi jangka panjang (mis. dan lebih senang dengan KB suntik. selain itu ada daerah ketika ada Jampersal maka Jamkesda dialihkan ke Jampersal. Untuk paket pelayanan Jampersal masyarakat sudah memanfaatkannya. Dari data didapatkan : a. Di level komunitas. Lintas sektor. Di beberapa kabupaten / Kota daerah penelitian terdapat biaya tambahan yang dikenakan pada masyarakat yang memanfaatkan pelayanan Jampersal 7.10% dan Jamsostek (11. 8. Toma.6%). Askes (12.

Penguatan Tim Pengelola Jamkesmas/Jampersal di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam peningkatan kemampuan proses verifikasi dan pembayaran klaim Jampersal. Toga. Mendorong daerah untuk berkontribusi terhadap pemenuhan sarana prasarana. provider dan masyarakat perlu adanya kesinambungan ketersediaan alokasi dana Pusat dalam pelaksanaan Jampersal. Ketentuan besaran jasa pelayanan dan kelancaran klaim menjadi perhatian sebagai salah satu manfaat Jampersal untuk tenaga kesehatan yaitu adanya kepastian akan menerima jasa pelayanan medis sesuai ketentuan yang berlaku. 2. bahan habis pakai.2. Diterbitkannya turunan kebijakan Jampersal berupa Peraturan Bupati atau Peraturan Walikota. 6. Penguatan sinergisme berbagai sumber pembiayaan dalam mendukung pelaksanaan Jampersal. 4. bahwa sasaran jampersal adalah ibu hamil. Memberi penekanan pada pemerintah daerah untuk menepati ketentuan sesuai juknis. lintas sektor dan masyarakat (Toma. Jamkesmas. dan peralatan kesehatan Puskesmas dan Poskesdes agar mampu melakukan pertolongan persalinan di Puskesmas dan Poskesdes secara memadai. 3. 5. bersalin dan nifas yang belum mempunyai jaminan. Jamkesda. pelibatan lintas program. dll. obat.3.1 Jangka pendek Pedoman Pelaksanaan harus memberi ruang untuk menampung kebijakan local: 1. • Sosialisasi menjadi kunci penting dalam keberhasilan.2 SARAN/REKOMENDASI Dengan dukungan dari Pemerintah Daerah. Adapun saran untuk perbaikan Kebijakan Jaminan Persalinan adalah sbb : 3. kader) dalam 216 . seperti BOK.

dan Pemerintah Daerah dalam percepatan pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi yang memadai. • Peningkatan kemampuan tenaga kesehatan yang ada di wilayah tertentu khususnya di daerah terpencil dan terisolir yang kurang diminati. Disamping itu perlu penganggaran khusus untuk sosialisasi. dengan menerapkan inform consent.2. 217 . khususnya di daerah tertinggal. Kementerian Perhubungan. Menyediakan dana pendamping untuk penggantian transport rujukan bila diperlukan. Menyediakan pelayanan ‘one stop service’. Menyediakan rumah singgah. b. 6. dalam pengertian memenuhi ketersediaan sarana pelayanan kesehatan tingkat dasar sampai dengan rujukan. • Pengetatan mekanisme pengawasan dan sanksi agar seluruh penyedia pelayanan kesehatan (PPK) Jampersal tidak menarik biaya tambahan dari penerima manfaat Jampersal dengan melakukan “uji petik”. • Aspek Sarana dan Prasarana dan SDM 1) Dukungan Kementerian Pekerjaan Umum. • Pada daerah kepulauan atau wilayah dengan geografis sulit harus dipertimbangkan beberapa pilihan : a. di antaranya melalui pemberian kewenangan tambahan/khusus mengingat keterbatasan tenaga sesuai kompetensi.2 Jangka Panjang Rekomendasi jangka panjang ini lebih diperuntukkan bagi pelayanan kesehatan ibu dan anak secara keseluruhan. c.sosialisasi lebih di tingkatkan. • Penguatan komitmen pelayanan KB pasca persalinan sebagai paket dan bagian tak terpisahkan dari pelayanan Jampersal dengan didorong untuk penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang.

serta keterampilan (skill) petugas sebagai penyedia layanan emergensi obstetrik dan neonatal tingkat dasar dan komprehensif. Peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui pemberian KIE (Konseling. 3) Penguatan sistem rujukan (improvement collaborative) antara Puskesmas PONED dan RS PONEK.perbatasan. kader kesehatan dan lintas sektor dalam kesehatan dalam sosialisasi program kesehatan termasuk jampersal. 218 . sarana. baik aspek tenaga. • Pemberdayaan Masyarakat sangat penting untuk mendukung pelaksanaan kebijakan Jampersal. seperti hambatan kultural dan hambatan informasi. Informasi dan Edukasi) tentang Jampersal untuk mengatasi hambatan non-medis dan non-finansial. 2) Penguatan Puskesmas PONED dan RS PONEK. 4) Keberadaan bidan sebagai anggota masyarakat memiliki keterbatasan yang harus diperhatikan. dalam rangka memudahkan proses rujukan KIA. • Melibatkan tokoh masyarakat. tokoh agama. dan kepulauan. sehingga diupayakan adanya pendamping di wilayah kerja bidan karena bidan mempunyai keterbatasan . obat dan peralatan.

atas segala perhatian. 4. RSUD. Toga. Sandi Iljanto.. Drg. Seluruh Kepala Dinas Kesehatan dan Direktur Rumah Sakit Daerah di 14 Kabupaten/Kota Lokasi Penelitia atas ijin dan kerjasamanya selama penelitian berlangsung. dr.Sc. Seluruh responden yang terlibat pada penelitian ini baik di dinas Kesehatan. 3. atas segala perhatian. drg. Trihono. Kepala Pusat Jaminan Kesehatan. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga kami sampaikan kepada: 1. 219 . masyarakat. Laporan ini merupakan penelitian DIPA 2012. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Kesehatan RI atas terlaksananya penelitian DIPA 2012.. kami menyampaikan terima kasih banyak kepada yang terhormat Bapak Dr. Dengan segala kerendahan hati. 6. Sampang. Riskiyana. kesempatan dan dukungan yang diberikan. Lintas sektor terhadap segala perhatian dan informasi yang diberikan. M. M. Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat.UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karuniaNya karena telah menyelesaikan laporan penelitian dengan tepat waktu dengan judul “ Riset Evaluatif Implementasi Jaminan Persalinan ”. Toma.Kes. sebagai narasumber yang telah bekerjasama dan memberikan masukkan tentang Program terkait kebijakan Jampersal. selaku Kepala Pusat Humaniora.. 5. Terima kasih pula Bapak Agus Suprapto. sebagai narasumber dan bekerjasama dalam memberikan informasi tentang Pembiayaan Jaminan Persalinan. kekompakan dan kerjasamanya demi kelancaran penelitian ini. Kasubdit Ibu Nifas dr. Teman-teman tim peneliti di penelitian ini. Usman Sumantri. sebagai Mitra dalam pelaksanaan penelitian Jaminan Persalinan. yang dilakukan di 14 Kabupaten / Kota di 7 Provinsi di Indonesia. 2. DR. Puskesmas.

220 . Teman-teman pembantu administrasi yang mengurus kelancaran administrasi keuangan.7.

Pearson. Badan Litbangkes. 2011. 741/Menkes/Per/VII/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota. Depkes RI (2008a) Permenkes No. Carine Ronsmans C. Heddy Shri. 221 . IPKM: Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat. when. Buse K. Badan Litbangkes RI. where. Jakarta Badan Pusat Statistik RI. Gadjah Mada University Press Emzir.DAFTAR KEPUSTAKAAN ___________________ 2011. William. Analisis Data. (2006) Maternal mortality: who. 4th Ed.. 2012. BPS Kab Lombok Tengah. 828/Menkes/SK/IX/2008 tentang Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota. Mays N. J. Profil Kesehatan Wakatobi. Dunn. Jakarta: PT. Dunn WN (2009) Public Policy Analysis: An Introduction. 1985.. Andersen. Rajagrafindo Persada. Wakatobi: Dinas Kesehatan Ahimsa. 2003. 1st ed. Pengantar Analisis Kebijakan Publik (second edition)(terjemahan). Badan Pusat Statistik RI. 16: 403. 2nd ed. Badan Litbangkes RI. Rencana Strategis Nasional. Yogyakarta. From Idea to Action: Notes for a Contingency Theory of the Policy Implementation Process. Walt G. England. Walt G. Open University Press. Praya.. Strukturalisme Levi Strauss. Hasil Lokakarya Nasional “Perkembangan Pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu di Delapan Propinsi Daerah Uji Coba”. England. Departemen Kesehatan RI. 2012. Yogyakarta: Kepel Press. and why. Jakarta. Jakarta. 2007. Mitos dan Karya Sastra. Depkes RI (2008b) Kepmenkes No. Administration & Society. 1975. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar Tahun 2010. Departemen Dalam Negeri RI (2008) Petunjuk Teknis Operasional PNPM Generasi Sehat dan Cerdas. ER. Buse K. Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat. Laporan Survey Demografi Kesehatan Indonesia Tahun 2007. Macro Internasional. Anonym. (2012) Making Health Policy. Open University Press. Alexander. Jogjakarta. Praya. Lombok Tengah Dalam Angka Tahun 2012. Dinkes Kab Lombok Tengah (2011) Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2011. Pedoman Pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu. (2005) Making Health Policy. 2010. 2000. 368(9542):1189 – 1200. Making Pregnancy Safer (MPS) di Indonesia 2001-2010.. Public Policy Making. 2011 Metodologi Penelitian Kualitatif. The Lancet. Graham WJ. Mays N. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1996. Nelson: London. USAID.

. Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Kesehatan. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. Green. David Hughes. 2011e. Harvester Wheatsheaf Graham WJ. No.. 3 July 2002 Yoni Yulianti. Jose Figueroa-Munoz. Myfanwy Morgan. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI.Gordon. The Policy Process. Notoatmodjo. 1999.depkes. India and China. Lawrence W. 2.id Kementerian Kesehatan RI. Ramanif KV. Zahr-CLA. Qiane X. Jakarta. Inside The Academy: Profiling Dr. Janet Lewis and Ke Young dalam Hill. Jakarta. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. Jampersal Solusi Persalinan. J. & Campbell OMR (2008) Measuring maternal mortality: An overview of opportunities and options for developing countries. Jakarta. Setia..Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Niniek L Pratiwi. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. New York.. Meryl Hudson. 6. 2012. Mukhopadhyayd M. Kementerian Kesehatan RI. 222 . Administration and Society 6(4):445-8. Vol. Stanton C. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku . Kemenkes RI (2011b) Laporan Nasional Riset Fasilitas Kesehatan 2011: Laporan Puskesmas. R.go. Badan Litbangkes. Sugeng Rahanto. 2011d. BMC Medicine. Martin. Kebijakan Jaminan Persalinan.. 2011. Anhb LV.. Nomor 2562/MENKES/PER/XII/2010 McDermott. Soekidjo. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Gereina N. Press Release. 2007. Gambaran Peran Kader Posyandu dalam Upaya Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi di Kota Manado dan Palangkaraya.Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Bagaimana Pendanaan Jampersal? Mediakom edisi 29/April 2011 Kementerian Kesehatan RI. 2011b. Volume 23. Ahmed S. Pearsona S. Martineauc T. 2011c. halaman 3-6 Meter DMV & Horn CEV (1975) The Policy Implementation Process: A Conceptual Framework. Soorsg W (2011) Health policy processes in maternal health: A comparison of Vietnam. Health Policy 100. Mirzoeva T. 2002. April 2011. Barry Gibson1. Birda P. 1993. 14. Michael (eds). Menkes Beberkan Program Prioritas Kemenkes 2011. Percepatan Penurunan AKI dan AKB. Volume 7 No. Gulliford. Roger Beech2. American Journal of Health Behavior. Nomor 2562/MENKES/PER/XII/2011 Kementerian Kesehatan RI.12 Greena A. Kemenkes RI (2011a) Profil Kesehatan Indonesia 2010. Diunduh dari http://www. 2011a. Rineka Cipta Pranata. A Reader.67–173. What does `access to health care’ mean? Journal of Health Services Research and Policy. Ian.. “Analisis Partisipasi Masyarakat dalam PNPM Mandiri Perkotaan di Kota Solok”.

. tahun 2007. (1999) Policy Analysis: Concepts and Practice.id/data/2012/04/AgFin_18-1_10-Rasyidi-_No.15.-Rev. Weimer DL. KL.pdf http://health. Prentice-Hall. diakses pada tanggal 20 Des 2012 pukul 9. 2005).html. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.id/id/wp.. Brugha R.com/read/2012/12/12/180034/2116877/1301/nikahmuda-bikin-angka kematian-ibu-susah-ditekan?881104755./ANALISIS-PARTISIPASI-MASYARAKAT. 2010 Metodologi Penelitian.ac. 3rd Ed. http://buk. RSUD Larantuka dan RSUD Serang. Schneider H.php?option=com_content&view=article&id=296 :bidan-berperan-penting-turunkan-aki-danakb&catid=113:keperawatan&Itemid=139 diunduh pada tanggal 19 Desember 2012.kompasiana. (2008) ‘Doing’ health policy analysis: methodological and conceptual reflections and challenges. RSUD Padang Pariaman.Ratna.go.pasca. RSUD Sikka. 2007. Murray SF. Wilujeng. Shiffman J. Weimer DL. & Vining AR. & Gilson L. Walt G. Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya._.ac.unram. & Vining AR. http://fp.pdf 223 .5th Ed. Gambaran Penyebab Kematian Maternal di Rumah Sakit (Studi di RSUD Pesisir Selatan.detik. Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI). http://www. Statistik Daerah Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2012.unand.com/2012/10/03/pentinganya-pemberdayaanmasyarakat-di-bidang-kesehatan-498435. Nyoman Kutha. Pearson.id/index. Health Policy and Planning 23:308–317. Rukmini. http://edukasi.Jakarta.depkes. (2010) Policy Analysis: Concepts and Practice.

224 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful