Anda di halaman 1dari 1

28 JANUARI 2011

ARTIKEL FISIKA DEPARTEMEN FISIKA MABIT NURUL FIKRI 2011

GELOMBANG SUARA PADA MATAHARI


Ilmu yang mempelajari osilasi gelombang pada matahari disebut helioseismologi. Secara alamiahnya, mencakup gelombang suara (gelombang p), gelombang gravitasi, dan gelombang gravitasi permukaan yang semuanya muncul pada matahari. Semua gelombang tersebut tersusun atas partikel yang berosilasi. Namun, terdapat gaya berbeda yang menyebabkan osilasi. Untuk gelombang suara, perbedaan tekanan akan menyebabkan partikel berosilasi. Pada matahari, gelombang suara merambat melalui zona konvektif, yang letaknya tepat dibawah permukaan, atau fotosfer. Gelombang suara tidak merambat lurus, sebagaimana terdapat pada gambar. Gelombang suara pada matahari menyebabkan permukaan matahari bergetar dalam arah radial, seperti bel yang berbunyi dan bergetar. Ketika bel berbunyi, sebuah bandul menumbuk dinding bel sehingga terjadi gelombang berdiri. Permukaan matahari juga memiliki gelombang berdiri, namun tidak dihasilkan oleh satu fenomena besar. Para ilmuwan menyimpulkan bahwa terdapat banyak gangguan kecil pada zona konvektif yang akhirnya menyebabkan terjadinya gelombang suara pada matahari. Sama seperti air mendidih dalam panci yang menjadi sangat berisik, gelembung yang ukurannya lebih besar dari kota Jakarta terbentuk pada permukaan matahari dan menyebabkan gelombang suara. Tidak seperti panci berisi air mendidih, suara yang datang dari matahari ternyata sangat kecil untuk kita dengar. Nada A yang berada dibawah nada tengah C di piano memiliki periode 0,00227 detik dengan frekuensi 440 Hz. Sedangkan osilasi gelombang dari matahari memiliki periode 5 menit dan frekuensi 0,003 Hz. Karena kita tidak bisa mendengar gelombang suara dari matahari, ilmuwan mengukur gerakan dari permukaan matahari untuk mempelajari gelombang suaranya. Karena gelombang suara membutuhkan waktu dua jam untuk merambat dari satu sisi matahari ke sisi lainnya, maka kita membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengamati matahari.

Hal ini menyebabkan pengamatan dari bumi menjadi sulit karena matahari tidak dapat kita lihat ketika malam hari. Pada tahun 1995, Solar and Heliospheric Observatory (SOHO) diluncurkan oleh NASA. Satelit ini mengitari matahari dengan posisi yang membuatnya dapat selalu melihat matahari. Gerakan permukaan matahari diukur dengan mengamati pergeseran Doppler pada cahaya matahari. Getaran yang diukur memiliki pola yang cukup rumit, yaitu gabungan dari seluruh gelombang berdiri yang ada pada matahari. Seperti bel yang berbunyi, banyak nada-nada mendesis yang mengganggu. Dengan menggunakan analisis dengan sangat hati-hati, masingmasing gelombang berdiri dari matahari dan intensitasnya dapat kita hitung. Karena komposisi, temperatur, dan kerapatan mempengaruhi gelombang suara, osilasi gelombang matahari memberikan informasi kepada kita tentang bagian dalam matahari. Hasil pengamatan SOHO memberikan gambaran mengenai rasio rotasi matahari terhadap fungsi garis lintang dan kedalamannya, juga terhadap fungsi kerapatan dan temperaturnya. Hasil ini kemudian dicocokkan dengan teori perhitungan untuk meningkatkan pemahaman kita terhadap matahari.

Sumber : www.scientificamerican.com
DEPARTEMEN FISIKA MABIT NURUL FIKRI 2011