Anda di halaman 1dari 2

Pemeriksaan fisik paru Pada dinding dada anterior tentukan letak ICS 2.

Caranya mencari tonjolan angulus sterni, bawa ke lateral-> costae kedua. Apeks paru terletak kurang lebih 2-4 cm diatas 1/3 medial klavikula dan batas bawah paru menyilang kosta 6 pada linea midklavikula dan menyilang kosta 8 pad alinea midaksila. Pada dinding dada posterior: tepat di bawah margo inferior scapula ialah costae ke-7 atau setinggi Vertebra thoracal VIII. Atau dengan menentukan penjolan tulang servikal pada leher-> vertebrae cervical VII. Batas bawah paru pada level proc spinosus thoracal 10, dan bisa sampai thoracal 12 bila inspirasi dalam. 1.Inspeksi Lakukan pengamatan bentuk/konfigurasi dada (diameter antero-posterior): apakah normal, dada bentuk tong, pectus excavatum atau pectus carinatum. Pergerakan dada simetris atau tidak selama bernapas. Dari depan: klavikula, fossa supraklavikula dan infraklavikula, catat adanya kelainan jumlah dan bentuk iga. Dari belakang: perhatikan letak dan bentuk scapula, perhatikan jalan dan bentuk kolumna vertebralis.

2. Palpasi Letakkan jari telunjuk di supra sternal notch menilai trakea di midline Periksa fremitus vocal (getaran suara) dengan teknik palpasi dan disebut fremitus taktil pada dinding anterior (sisi ulnar) dan posterior (telapak tangan). Fremitus vocal meningkat-> pada paeru yang lebih padat misal alveoli yang terisi eksudat (konsolidasi) asal bronkiolusnya tetap terbuka. Fremitus vocal menurun-> keadaan bronkus tertutup (atelektasis obstruksi), adanya cairan (efusi), atau udara dalam rongga pleura (pneumothoraks) 3.Perkusi Perkusi dinding thoraks anterior: perkusi mulai dari fossa supraklavikula sampai ke bawah dan bandingkan antara paru kiri dan kanan (sonor) Perkusi didnding thoraks posterior: sama saja dengan yang anterior. Ingat batas bawah paru biasanya setinggi VT X-XI. Lakukan perkusi batas peranjakan paru untuk mengetahui nesarnya pemnegmbangan paru 4.Auskultasi Lakukan auskultasi dinding thoraks anterior dan posterior, dan bandingkan kanan dan kiri. Suara napas normal yang terdengar ialah vesikuler dimana fase inspirasi yang lebih dominan dibandingkan ekspirasi. Suara tambahan (ronkhi atau rales) yang berasal dari paru pada dasarnya dibedakan menjadi dua yaitu:

a. Ronki basah (moist rales atau crackles): suara tambahan yang terputus-putus, dan terdengar pada saat inspirasi. Ronki basah dibagi menjadi tiga atas dasar kualitasnya: 1. Ronki basah kasar: cirinya seperti suara gelembung udara besar yang pecah. Terdengar bila banyak secret di saluran napas besar 2. Ronki basah sedang: cirinya terdengar seperti suara gelembung udara kecil yang pecah. Terdengar bila banyak secret di saluran napas kecil dan sedang. Misalnya: pada bronkiektasis, bronkopneumonia. 3. Ronki basah halus/ krepitasi: cirinya tidak mempunyai seifat gelembung lagi. Terdengar seperti gesekan rambut. Terdapat pada: sembab paru dini, pneumonia dini. b. Ronki kering: suara tambahan yang terus menerus, dan terdengar saat ekspirasi. Ronki kering dibagi emnjadi 2 atas dasar nadanya: 1. Ronki kering bernada rendah (sonorous): bila terjadi obstruksi partial saluran napas besar 2. Ronki kering bernada tinggi (sibilant): bila terjadi obstruksi saluran napas kecil dan disebut juga wheezing.