Anda di halaman 1dari 49

RINGKASAN CATATAN SEJARAH PEMERINTAHAN SIPIL NKA NII

7-10 Februari 1948


Masyumi Priangan melangsungkan musyawarah Ummat Islam di Pangwedusan (Priangan) dengan menghasilkan ketetapan: 1. Ummat Islam di Jawa sebelah Barat telah membulatkan tekad untuk terus melanjutkan perjuangan kemerdekaan Indonesia mengusir Belanda Penjajah berdasarkan Islam. 2. Membubarkan Masyumi di Jawa Barat dengan alasan: a) Masyumi adalah partai yang berdiri dibawah naungan RI yang mau - tidak mau dalam segala sesuatunya harus mengikuti kedudukan RI. b) Dengan adanya naskah Renvile, maka RI tidak punya alasan lagi untuk mengadakan hubungan dengan Jawa Barat, karena Jawa Barat telah diserahkan oleh RI kepada pihak Belanda. 3. Membentuk Majelis Islam (MI) sebagai Lembaga Perjuangan. 4. Mengangkat Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (SMK) sebagai Imam Islam yang memimpin Majelis Islam tersebut. 5. Sebagai alat perjuangan MI maka, di bentuklah Tentara Islam Indonesia (TII) dan Pahlawan Darul Islam (PADI) yang terdiri daripada bekas kelengkapan Masyumi, Hizbullah,dan Sabilillah. Tim Verifikasi Pengangkatan Imam: 1. Putra K.H. Zaenal Mustofa 2. K.H. Mustofa Kamil 3. Mualim Aut Daftar Calon Imam: 1. 2. 3. 4. 5. K.H. Yusuf Taujiri (Garut) K.H. Sanusi (Gunung Puyuh-Sukabumi) K.H. Abdul Halim (Majalengka) K.H. Sobari Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo

Hasil; Imam dan Anggota Dewan Imamah 1. Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo : Imam merangkap Kuasa Usaha (Menlu) 2. Kamran : Wakil Imam merangkap Menhan 3. Sanusi P. : Mensesneg merangkap Mendagri 4. K.H. Gojali Tusi : Menkeh 5. Toha Arsyad : Menpen 6. Udin Kartasasmita : Menkeu 7. Anwar Cokroaminoto : Wakil NII di RI 8. Abikusno : Wakil NII di Yogya

Agendanya: 1. Mendidik rakyat agar cocok menjadi WNII. 2. Memberikan penjelasan kepada rakyat bahwa Islam tidak bisa dimenangkan melalui feblisit (suara terbanyak). 3. Membangun daerah-daerah basis. 4. Memproklamasikan NII. 5. Membangun NII sehingga kokoh kedalam dan keluar. Dalam arti didalam negeri bisa melaksanakan Syariat Islam seluas-luasnya dan sesempurna-sempurnanya. Sedang keluar sanggup berdiri sejajar dengan negara-negara lain. 6. Membantu perjuangan Muslim di negara lain sehingga cepat bisa melaksanakan wajib sucinya. 7. Bersama-sama negara Islam membentuk Dewan Imamah Dunia untuk mengangkat Khalifah Dunia.

17 Februari 1948
DI-TII angkat senjata di gunung Cepu

2 Maret 1948
Konferensi Ummat Islam di Cipeundeuy-Cirebon dihadiri oleh wakil-wakil, didalam keputusan Musyawarah tersebut secara aklamasi menerima keputusan musyawarah Priangan Timur (Pangwedusan)

25 Agustus 1948
Maklumat Imam No. I, tentang: Pertahanan Rakyat

27 Agustus 1948
Dibentuknya Qanun Asasi NII Muqadimah, 16 BAB 34 Pasal dan masa peralihan

28 Oktober 1948
Maklumat Imam No. 2, tentang: Perubahan susunan DI Pengangkatan Wakil Resmi NII di RI

2 November 1948
Maklumat Imam No. 3, tentang: Pertahanan Rakyat dan Mobilisasi

10 Desember 1948
Maklumat Imam No. 4, tentang: Hubungan Internasional Perubahan kembali susunan Dewan Imamah

20 Desember 1948
Maklumat Imam No. 5, tentang: Pernyataan Perang DI-TII terhadap Belanda

21 Desember 1948
Maklumat Imam No. 6, tentang: Peryataan Sikap; mendirikan NKA-NII sebagai kelanjutan perjuangan kemerdekaan 17-08-1945 dan wakil mutlak NII di RI

23 Desember 1948
Maklumat Imam No. 7, tentang: Peryataan NII 1. NII dalam keadaan Perang 2. Hukum-hukum Perang 3. Dewan Imamah diganti menjadi K.T. 4. Pengesahan Pimpinan NII dan Pimpinan Majelis di tiap-tiap Daerah

25 Januari 1949
Maklumat Militer No. I, hal: Tentara Liar dan Gerombolan

31 Maret 1949
Maklumat Militer No. 2, hal: Bendera Negara, Bendera Tentara, Bendera Negara dan Tentara di masa Perang

7 Agustus 1949 (12 Syawal 1368)


Proklamasi Negara Karunia Allah-Negara Islam Indonesia di Jawa Barat (NKA-NII)

20 Agustus 1949
MP No. 1, hal: Penjelasan Proklamasi 1949 Kitab Undang-Undang Pidana (STAAT REGHT) 4 Tuntunan, 10 Bab, 30 Pasal -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

RINGKASAN CATATAN SEJARAH PEMERINTAHAN MILITER NKA NII

3 Oktober 1949
MKT. No. 1, hal: Menetapkan Bentuk Komandemen: 1. Dewan Imamah menjadi Komandemen Tertinggi 2. PADI dan unsur-unsur lain menjadi TII 3. BKN dan unsur-unsur lain menjadi PII

10 Oktober 1949
MP No. 2, hal: 1. Bawalah UIBI ke Mardhotillah 2. Melepaskan diri dari keyakinan & kekuasaan penjajah

12 Oktober 1949
MKT. No. 2, hal: Kewajiban Angkatan Senjata, memutuskan; dibangun suatu organisasi rakyat dengan nama dalam bentuk BARIS

14 Oktober 1949
MKT. No. 3, hal: Hubungan Internasional dan Inter Insuler dibawah keputusan KT-APNII

15 Oktober 1949
MKT. No. 4, hal:Peleburan Tentara dan ketentaraan diluar TII

31 Desember 1949
MP. No. 3, hal: Kalam akhir GOOD WILL

1 Januari 1950
MKT. No. 5, hal: Larangan atas organisasi, partai, perhimpunan, perkumpulan gerakan lainnya dengan sifat, corak, bentuk dan dasar yang manapun juga. Diluar organisasi Negara atau organisasi yang dibentuk disahkan oleh pemerintah.

7 September 1950
SP. No. 4, hal: Semboyan; Bawalah UIBI kearah Mardhatillah kalau perlu dengan dipaksa. Pedoman tiada wajib dan yang maha suci melainkan hanyalah wajib dan tugas menggalang NKANII. Tinjauan kedepan Oleh: KT-APNII

10 September 1950
MKT. No. 6, hal: Pembaharuan Baiat diwajibkan kepada: a. Seluruh tentara mulai Komandan b. Semua pemimpin-pemimpin Negara dalam segala tingkatan c. Anggota-anggota kader

17 Oktober 1950
Ketetapan KT. No. I, hal: Administrasi Keuangan Negara

7 Februari 1951
MKT. No. 7, hal: Peringatan HUT ke-3 (APNII), ummat Islam Bangsa Indonesia-Angkatan Senjata

7 Agustus 1952
Manifesto Politik NII No. 5 oleh KUKT-APNII Nota Rahasia I dan II Nasihat Pemerintahan NII

12 Oktober 1952
MKT. No. 8, hal: Memperhebat dan Mempercepat persiapan perang Totaliter. Penyempurnaan Bentuk Komandemen Lampiran MKT. No. 8 Penjelasan & Catatan: 5, 6-7 (Pedoman Gerilya)

17 Oktober 1952
MKT. No. 9, hal: Pemberian Pangkat dan pemakaian Tanda Pangkat

21 Oktober 1952
MKT. No. 10, hal: Konsolidasi Militer dan Alat Negara lainnyaLampiran 5 MKT. No. 10PPT. Kedudukan TIIa. Sebagai Tentara Allahb. Sebagai Tentara Ideologic. Sebagai Tentara Islamd. Sebagai Tentara RakyatPPT. III, Sapta Subaya

3 September 1953
S.P. No. 6, hal: Pemakluman Perang RIK terhadap NKA-NII oleh KUKT IdarulHuda

5 Oktober 1953
S.P. No. 7, hal: Masalah Aceh 5.B: 1 sampai 5 Penjelasan Struktur KUKT, diangkat dari AKT

19 November 1953
S.P. No. 8, hal:Pilih NKA-NII atau Pancasila oleh KUKT I. Huda

21 Desember 1953
Statement KT-APNII No. 9, tentang; Perkara Schmit dan Jungler oleh Jaya Sakti

7 September 1956
Statement KT-APNII No. 10, tentang; Bukti kebenaran NII dan bukti kepalsuan, kecurangan serta pengkhianatan RI 1950. Pancasila Komunis oleh AKT/Wk. KSU APNII, Jaya Sakti.

7 Agustus 1959
MKT. No. 11, hal: Pembentukan Komando Perang dan Penyempurnaan Stel-sel Komandemen Memutuskan: A. Pembagian Indonesia dan 7 daerah perang atau Sapta Palagan B. Susunan Komando Perang1. KPSI dipimpin oleh Imam-Plm. T. APNII. Jika karena satu atau lain hal ditunjuk dan diangkatlah seorang Panglima perang, selaku penggantinya, dengan purbawiesesapenuh. Calon pengganti Panglima Perang Pusat ini diambil dari dan diantara anggotaanggota KT, termasuk didalamnya KSU dan KUKT, atau dari dan diantaranya para Panglima Perang, yang kedudukannya dianggap setaraf dengan kedudukan anggota-anggotanya KT.Penjelasan MKT. 11, No. 4: Pemberi Komando dan Pelaksana Komando Pada umumnya segala saluran kenegaraan, dalam bidang-bidang Militer maupun dalam lapangan politik, juga selama masa perang ini, berjalan terus melalui system Komandemen, seperti yang tetap berlaku hingga saat ini. Tetapi di saat-saat genting-runcing, dimana Imam Plm. T.mengeluarkan Komando Umum, maka disaat itu kita hanya akan mengenai 2 (dua) tingkatan Pimpinan Peran, Pimpinan Negara dan Pimpinan Jamaah Mujahidin,Pimpinan Ummat berjuang, yakni: A. Tingkatan Pimpinan Perang pertama selaku pemberi Komando, ialah: (1) Imam-Plm. T., (2) Plm. Per. KPWB, (3)Plm. Per. KPW, dan (4) Kmd. Pertempuran Kompas, dan B. Tingkatan Pimpinan Perang kedua selaku pelaksana Komando, terdiri daripada (5) Komandan Pertempuran Sub-Kompas, (6) Komandan Pertempuran Sektor (7) Komandan Pertempuran Sub-Sektor, Komandan Lapangan hingga Komandan-Komandan Baris, pelaksanaan akan meliputi lapisanlapisan rakyat jelata seluruhnya, tanpa kecuali.

1 September 1959
MKT. No. 12, hal:Kedudukan General-staf Komandemen 2

2 September 1959
MKT. No. 13, hal: Penyempurnaan Pemberiaan Pangkat dan Pemakaian Tanda Pangkat

Juni 1961
MKT No. 14 memiliki status hukum sebagai peraturan pemerintah pengganti undang-undang, Sesuai bunyi Qanun Asasi NII Bab 3 pasal 9 Ayat 1.Plm. T. S.M. Kartosuwiryo mengadakan musyawarah diMabes, sekitar Garut, dengan dihadiri oleh: 1. Imam SMK sebagai Pimpinan Sidang 2. Kepala Majelis Keuangan AKT; Jaja Sujadi, Umar Saiid sebagai Wakil Pemerintah 3. KPWB; Agus Abdullah sebagai Wakil APNII 4. KD; Abu Bakar Misbah sebagai Wakil Dewan Fatwa-Bid.Hukum 5. Tahmid RB sebagai Penulis 6. Kom. Bataliyon Jaga Mabes; Aceng Kurnia sebagai Anggota 7. Kom. Bataliyon-Kom. Wil. setempat; Esja sebagai Anggota 8. Sek-Pri Imam; Pak Jamhur sebagai Anggota 9. Pengawal Pribadi Imam; Pak Ajum Keputusan Musyawarah merubah Jihad Fisabilillah menjadi Jihad Fillah ,Imam mengeluarkan maklumat perintah JIHAD FILLAH dan perintah penyelamatan Dhohir dan Batin Mujahiddin dan Umat Islam

24 April 1962
Statement KT-APNII No. 11: Perintah Imam yang terakhir Memerintahkan penghentian tembakmenembak, secara hukum didalam Qanun Asasi Bab. IV Ps. 17

4 Juni 1962
Imam S.M. Kartosuwiryo tertawan Sumber: http://www.scribd.com/doc/17811545/Ringkasan-Catatan-Sejarah-Nii

KISAH PAHLAWAN INDONESIA SEJATI

Eramuslim.com | Media Islam Rujukan, Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillah, alhamdulillah, walhamdulillah. Allah Taala memiliki banyak cara untuk membela hamba-Nya. Ketika manusia (seindonesia) berkonspirasi untuk menghancurkan nama baik dan kehormatan Al Ustadz Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo rahimahullah; maka Dia memiliki caraNya untuk memuliakan beliau. Melalui buku Hari Terakhir Kartosoewirjo yang ditulis oleh Fadli Zon; melalui pameran foto-foto seputar eksekusi beliau pada tahun 1962; melalui bedah buku dan seterusnya; alhamdulillah akhirnya terkuaklah banyak fakta sejarah yang selama ini

disembunyikan. Sebagian besar manusia (Muslim) di Indonesia selama ini berprasangka buruk terhadap sosok almarhum SM. Kartosoewirjo. Mereka melontarkan tuduhan-tuduhan tak berdasar. Alhamdulillah, dengan segala pertolongan Allah banyak sisi suram cerita sejarah itu yang harus dihapus, diganti kisah lain yang lebih benar dan tidak dusta. Tampaknya bangsa Indonesia harus menulis ulang ulasan sejarahnya seputar sosok SM. Kartosoewirjo dan gerakan Daarul Islam-nya.

Berikut ini poin-poin apresiasi dan analisis yang bisa kami sampaikan, terkait pengungkapan 81 foto-foto eksklusif yang semula merupakan rahasia negara itu. Bentuk apresiasi ini adalah upaya nyata untuk mulai menulis sejarah tokoh Islam dengan cara pandang yang benar; meskipun musuh-musuh Islam alergi terhadapnya. Kalau mereka alergi, setidaknya kita perlu berkata jujur kepada kaum Muslimin dan kemanusiaan manusia di dunia. [1]. Imam SM. Kartosoewirjo ternyata adalah pribadi yang sederhana, biasa, tidak berbeda dengan manusia-manusia Indonesia yang lain. Ada yang mengatakan, sosoknya seperti petani. Begitu pula, keluarga beliau juga sederhana, termasuk istri dan anak-anaknya. Namun harus diakui, beliau adalah sosok pemimpin revolusi Islam terbesar di Indonesia. Gerakan Daarul Islam (DI) merupakan gerakan politik-militer yang paling luas pengaruhnya. Ia berpengaruh di Jawa Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sulawesi Selatan, Kalimatan Selatan, hingga Nusa Tenggara.

Dibandingkan gerakan PKI, ia hanya dominan di Jakarta dan Jawa Timur saja. PRRI/Permesta hanya di Sumatera Barat, RMS hanya di Maluku, dan seterusnya. [2]. Sampai akhir hidupnya, SM. Kartosoewirjo konsisten dengan garis perjuangannya. Beliau membela perjuangannya, sampai di depan regu tembak. Hal ini mengingatkan kepada tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin yang pada tahun 60-an banyak dieksekusi mati oleh rezim Gamal Abdul Naser. Imam Daarul Islam itu tidak pernah mundur dari sikapnya dan bersedia mempertanggungjawabkan perjuangannya sampai titik darah penghabisan. Ketika diputuskan dia harus divonis mati, pihak pengadilan menawarkan dirinya untuk pergi kemana saja, sekali pun ke Amerika; selagi tidak ada urusan politik. Namun beliau menolak, karena yang dia inginkan adalah: segera bertemu Allah untuk memastikan apakah perjuangannya benar atau salah? Lihatlah manusia yang fisiknya tampak ringkih ini; dia sangat kuat dalam memegang prinsip dan tidak menyesal. Berbeda dengan umumnya aktivis-aktivis Islam yang semula idealis, lalu perlahan-lahan menjadi pragmatis dan menjual agama dengan harga murah. Nasalullah al afiyah. [3]. Dalam kapasitasnya sebagai musuh negara yang dianggap paling berbahaya; ternyata SM. Kartosoewirjo tampak dihormati, dihargai, dan dimuliakan oleh orang-orang yang berurusan dengan eksekusinya. Mereka tampak hening, berdiri rapi, penuh khidmat memberikan

penghormatan terakhir. Setelah wafat, beliau dimandikan dengan air laut, lalu dishalatkan dan dimakamkan secara Islami. Bahkan sejak diantar ke Pulau Ubi, beliau diperlakukan secara baik. Hal ini menandakan, bahwa orang-orang yang berurusan dengan eksekusinya tidak yakin sepenuhnya, bahwa beliau salah. Kalau mau jujur, SM. Kartosoewirjo adalah anak kandung dari TNI (dulu BKR atau TKR). Beliau itu semula berada dalam barisan TNI, berjuang menjaga wilayah Jawa Barat. [4]. Dalam segala kesederhanaannya, ternyata kharisma SM. Kartosoewirjo sangat menakutkan bagi rezim yang berkuasa (Orde Lama dan Orde Baru). Mereka begitu ketakutan, sehingga harus menyembunyikan dimana lokasi eksekusi; apakah di Pulau Onrust atau di atas kapal laut? Bahkan di Pulau Onrust, mereka buat dua pusara palsu, dengan label makam Kartosoewirjo. Sebegitu takutnya mereka, sehingga harus membuat sandiwara-sandiwara seperti itu. Bahkan Pulau Ubi dimana eksekusi diadakan dan pusara SM Kartosoewirjo ada disana; pulau itu kalau laut saat pasang, tidak akan tampak di permukaan. Masya Allah, sebegitu takutnya musuh-musuh politik Imam Darul Islam itu; mungkin mereka nyadar, kalau dirinya memang salah. [5]. SM. Kartosoewirjo rahimahullah dituduh dengan 3 perkara, yaitu: a. Beliau melakukan pemberontakan; b. Beliau berniat membunuh Presiden Soekarno; c. Beliau ingin lepas dari Indonesia. Atas tuduhan ini, beliau akui tuduhan pertama, dan beliau tolak dua tuduhan terakhir. Dengan demikian, kita tidak boleh menyimpulkan bahwa gerakan Daarul Islam bertujuan separatisme (memisahkan diri dari NKRI). Daarul Islam tetap dalam lingkup keindonesiaan dan tidak ingin memisahkan diri dari NKRI. Kalau mau dikembangkan secara politik; mestinya DI/TII

jangan dituduh sebagai pemberontak; tapi anggaplah ia sebagai aspirasi politik sebagian kaum Muslimin yang menuntut otonomi, untuk mengatur wilayahnya dengan sistem Islam. Kalau daerah lain ingin memakai sistem sekuler atau non Islami, ya itu silakan saja. Hanya saja, berikan otonomi kepada Daarul Islam untuk mengatur wilayahnya dengan sistem Islami. Bukankah dalam sistem federasi hal semacam itu memungkinkan terjadi? Atau setidaknya dalam bentuk otonomi khusus. [6]. SM. Kartosoewirjo dihukum mati berdasarkan keputusan pengadilan, yang dikukuhkan oleh persetujuan Presiden Soekarno. Soekarno sendiri sejatinya adalah mantan teman beliau, sebagai sesama murid HOS. Cokroaminoto di Surabaya. Bagi Soekarno, mengenyahkan kawan lamanya adalah keutamaan, meskipun yang bersangkutan berjuang demi Islam. [7]. Sebelum dieksekusi mati, SM. Kartosoewirjo mengajukan 4 tuntutan, dan hanya tuntutan terakhir yang dipenuhi. Pertama, beliau ingin bertemu dengan para perwira bawahannya; Kedua, beliau ingin agar eksekusinya disaksikan pengikutnya atau keluarganya; Ketiga, beliau ingin jenazahnya diserahkan kepada keluarganya; Keempat, beliau ingin bertemu keluarganya, untuk terakhir kalinya. Ternyata, hanya tuntutan terakhir yang dipenuhi. Beliau sudah tua dan lemah; beliau sudah sedia dihukum mati; beliau tidak menuntut ingin kesana-kemari; tetapi itu pun beliau masih dizhalimi dengan tidak dipenuhi hak-haknya sebagai manusia yang wajar. Sekedar dimakamkan oleh keluarganya saja, tuntutan itu ditolak. [8]. Bisa jadi keputusan Pemerintah RI untuk menghukum mati SM. Kartosoewirjo dianggap benar (menurut hukum positif dan vonis pengadilan). Tetapi mengapa di luar itu semua, SM. Kartosoewirjo masih dizhalimi sedemikian rupa? Tuntutan beliau yang manusiawi tidak dipenuhi; makamnya disamarkan di Pulau Onrust; dan dibuat catatan-catatan sejarah bohong seputar dirinya? Bukankah hal ini merupakan kezhaliman besar atas diri beliau? Akhirnya, kezhaliman itu terbongkar sudah, dengan dimuatnya foto-foto eksklusif seputar eksekusi Imam Daarul Islam. Ibarat menyembunyikan bau busuk, lama-lama akan tercium juga. [9]. SM. Kartosoewirjo rahimahullah tidaklah ingin membubarkan NKRI, tidak ingin keluar dari Indonesia, atau ingin men-Daarul Islam-kan Indonesia. Tidak demikian. Beliau itu ingin menegakkan pemerintahan otonom berdasarkan Islam. Jika pemerintahan itu tegak, ia tetap berada dalam cakupan NKRI; hanya saja memiliki otonomi untuk membangun wilayah dengan nilai-nilai Islam. Hal ini bukan tanpa alasan. Alasannya ialah lemahnya bargaining Soekarno-Hatta di mata Belanda (NICA). Mereka mau menanda-tangani perjanjian Renville dan KMB (Konferensi Meja Bundar) yang isinya amat sangat melukai hati bangsa Indonesia. Melalui Renville, wilayah RI hanya seputaran Yogya saja; selebihnya wilayah RIS. Pasukan TNI harus ditarik ke Yogya semua, sehingga hal itu membuka peluang bagi NICA untuk menguasai wilayah-wilayah di luar RI. Melalui KMB, bangsa Indonesia harus mengakui bahwa kemerdekaan RI merupakan hasil pengakuan dari Belanda; padahal RI merdeka setelah berhasil mengusir Jepang dari Tanah Air. Belanda sejak awal

tahun 1940-an sudah diusir dari Indonesia oleh Jepang. Di sisi lain, RI harus menerima beban hutang Belanda akibat terlibat dalam Perang Dunia II dan perang-perang lainnya. Beban hutang ini tidak pernah disampaikan oleh para sejarawan. Ekonom UGM, Revrisond Baswir sering menyinggung posisi hutang peninggalan KMB ini. SM. Kartosoewirjo tidak mau menerima semua perjanjian yang merusak bangsa dan negara itu. Tetapi beliau lalu disudutkan sebagai pemberontak. Naudzubillah wa naudzubillah min dzalik. [10]. Di balik pendirian Daarul Islam, ada satu SPIRIT yang tidak dipahami bangsa Indonesia, sejak dulu sampai kini. Akibat tidak dipahami masalah ini, akibatnya sangat fatal. Bahwa sejak awal, SM. Kartosoewirjo amat sangat membenci sikap tunduk kepada penjajah; beliau tidak mau menyerahkan wilayah walau sejengkal saja kepada penjajah. Beliau tidak mau dihina, karena harus merdeka lewat pengakuan Belanda. Wong, sudah merdeka sendiri kok, masih harus membutuhkan pengakuan Belanda? Beliau anti menanggung hutang-hutang Belanda, karena itu sama dengan memikulkan hutan orang kafir ke punggung anak-cucu sendiri. Tetapi tabiat beliau berbeda dengan Soekarno-Hatta yang dididik oleh pendidikan penjajah di negeri Belanda sana. Beliau tidak mau tunduk kepada penjajah, sedangkan Soekarno-Hatta suka dengan penjajahan (dalam model berbeda). Akhirnya kini bangsa Indonesia di zaman Reformasi (tahun 2012) ini bisa melihat, siapa yang lebih benar sikap politiknya; Soekarno-Hatta atau SM. Kartosoewirjo? Di zaman ketika kini bangsa Indonesia sudah dijajah di berbagai sektor oleh negara-negara asing ini, mestinya kita harus menangisi hasil perjanjian Renville dan KMB. Dua perjanjian laknat itulah yang menghantarkan bangsa Indonesia kini kehilangan hakikat kemerdekaan, setelah sebelumnya merasakan kemerdekaan. [11]. Banyak orang bertanya-tanya: Siapakah yang menyerahkan foto-foto eksklusif itu kepada Fadli Zon? Siapa dia? Bagaimana ceritanya? Dan mengapa dia lakukan tindakan itu? Saudaraku, kita tidak tahu apa alasan hakiki si pemberi (penjual) foto itu. Tapi kita yakin, dia pernah secara langsung atau tidak berhubungan dengan orang-orang yang menjadi saksi eksekusi pada tanggal 5 september 1962 itu. Dia mungkin punya hubungan dengan kameramen yang membuat foto-foto itu; atau dia berhubungan dengan pusat penyimpanan dokumentasi negara; atau dia pernah secara mujur menemukan foto-foto itu berserakan sebagai barang tak berguna, lalu dia lihat dan amati nilai historisnya, lalu disimpannya. Yang jelas, sumber foto itu sangat ingin memberi tahu bangsa Indonesia sejarah yang jujur tentang eksekusi SM. Kartosoewirjo dan kebenaran seputarnya. Hal ini tentu karena ia telah digerakkan oleh Allah Taala untuk mengungkapkan sejarah yang sebenarnya. Begitu gelisahnya sumber foto itu mendengar sejarah yang palsu dan penuh racun; sehingga menjadi tugas kemanusiaan baginya, untuk mengungkap fakta

sebenarnya. Khusus bagi Bang Fadli Zon, beliau juga layak diberi pujian, apresiasi, dan penghargaan atas pengungkapan fakta-fakta itu. Semoga Allah Taala memberi mereka balasan pahala sesuai kebaikan-kebaikan yang dilakukannya. Amin Allahumma amin.

Namun pujian dan apresiasi ini tidak berlaku bagi gerakan sempalan NII yang faksinya bermacammacam, lalu muaranya ke Mahad Al Zaytun di Indramayu, yang dipimpin oleh Abu Toto (Syech Panji Gumilang) itu. NII model begini adalah termasuk aliran sesat-menyesatkan yang dibentuk oleh infiltrasi penguasa, melalui tangan Ali Mutopo dan Pitut Soeharto. Apa yang kita apresiasi ialah gerakan Daarul Islam asli, di bawah pimpinan Al Ustadz SM. Kartosoewirjo rahimahullah, yang berdiri tegak di atas missi politik Islami, latar belakang sejarah, serta spirit anti penjajahan. Sebagai penutup tulisan ini, dalam Al Quran Allah Taala berfirman: Wa tuizzu man tasyau wa tudhillu man tasyau, bi yadikal khair innaka ala kulli syaiin qadiir (dan Engkau -ya Allahmemuliakan siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki; di Tangan-Mu segala hakikat kebaikan, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu). [Surat Ali Imran]. Demikianlah, manusia-manusia jahat bermaksud menodai dan merusak kehormatan SM.

Kartosoewirjo rahimahullah; namun Allah dengan segala cara-Nya hendak memuliakan hambaNya. Dia adalah Sang Mujahid Agung, sosok kesatria yang rela mati sampai titik darah penghabisan, demi membela cita-cita politik Islami. Bangsa Mesir memiliki mujahid Sayyid Quthb rahimahullah; bangsa Libia memiliki Umar Mukhtar rahimahullah; bangsa Rusia memiliki Imam Syamil rahimahullah; bangsa Palestina memiliki Syaikh Ahmad Yasin dan Syaikh Izzudiin Al Qasam rahimahullah; bangsa Pakistan memiliki Presiden Ziaul Haq rahimahullah; bangsa Turki memiliki Najmuddin Erbakan rahimahullah; bangsa Suriah memiliki Ustadz Marwan Hadid rahimahullah; maka kaum Muslimin Indonesia memiliki sosok Mujahid Agung: Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo rahimahullah. SM. Kartosoewirjo adalah sosok komandan militer, imam, sekaligus ideolog Daarul Islam yang tiada duanya di dunia Islam. Nyaris tidak dijumpai perjuangan dengan konsep Daarul Islam di masa lalu, di negeri-negeri Muslim lain, selain hanya di Indonesia. Pemimpin-pemimpin Ikhwanul Muslimin di Mesir, secara akidah mereka sepakat dengan konsep Daarul Islam; tetapi secara perjuangan militer, mereka belum sampai kesana. Ingatlah keistimewaan ini wahai Muslimin Nusantara! Semoga sekilas tulisan ini bermanfaat dan menjadi refleksi iman dan sejarah, bagi kita semua. Walhamdulillahi Rabbil alamiin, wa shallallah ala Rasulillah Muhammad wa ala alihi wa ashabihi ajmain. Jakarta, 18 September 2012. AM. Waskito. Sumber: http://eramuslim.com/berita-heroisme-sang-mujahid-agung.html#.UFlDM3zTYPY.facebook

AMANAT COKROAMINOTO
TJOKROAMINOTO DAN PENDIDIKAN: Moeslim Nationaal Onderwijs Oleh: Dala Mukti ..Anak-anakku semuanya, kalau kamu sudah dapat pendidikan Islam dan kalau kamu sudah sama dewasa, ditakdirkan Allah SWT yang maha luhur, kamu dijadikan orang tani, tentu kamu bisa mengerjakan pertanian secara Islam; kalau kamu ditakdirkan menjadi saudagar, jadilah saudagar secara Islam; kalau kamu ditakdirkan menjadi prajurit, jadilah prajurit menurut Islam; dan kalau kamu ditakdirkan menjadi senopati, jadilah senopati secara perintah Islam. Hingga dunia diatur sesuai dengan azas-azas Islam.. Amanat Alm HOS Tjokroaminoto kepada murid murid sekolah Jogjakarta, 24 Agustus 1925 Dewasa ini Pendidikan Nasional telah menuai prestasi yang belum pernah dicapai oleh era sebelumnya, barangkali.. Sekolah sekolah bertaraf internasional bermunculan di mana-mana, baik itu negeri maupun swasta. Walaupun banyak yang berkeluh kesah bahwa ini merupakan suatu program pengkastaan pendidikan, menjadikan pendidikan sebagai suatu komoditas, tak urung sekolah sekolah ini telah melahirkan lulusan yang memiliki kelebihan dari lulusan pada umumnya. Walaupun lulusan tersebut hanya segelintir saja dari seluruh prosentase lulusan di Indonesia, umumnya hanya kelompok yang yang memiliki kelebihan dari segi finansial karena seperti kita ketahui biaya untuk dapat memperoleh pendidikan di sekolah tersebut sangatlah besar. Namun demikian, satu dua masih ada sekolah yang memberikan penekanan pada prestasi murid, bukan pada kemampuan membayar uang sekolah, seperti misalnya Sekolah Bani Hasyim di Malang. Pula pencapaian prestasi murid-murid kita dalam Olympiade Internasional patut kita acungi jempol. Namun. Satu hal yang membuat gamang penulis adalah prestasi prestasi tersebut lebih kepada hal-hal yang bersifat kognitif. Balai Pendidikan dan Pengajaran Tjokroaminoto Pada sekitar tahun 1930an banyak berdiri Balai Pendidikan dan Pengajaran Tjokroaminoto. Sekolah ini didirikan oleh afdeling afdeling (cabang) Partai Syarikat Islam Indonesia. Tidak saja mengajarkan kepandaian akal namun juga mendidik dan menanamkan keutamaan budi pekerti, kemerdekaan dan kesholehan serta lain-lainnya. Kurikulum BPP Tjokroaminoto, berangkat dari satu tulisan yang berjudul Moeslim Nationaal Onderwijs karangan Jang Oetama HOS Tjokroaminoto (ket pen.- Majelis Tahkim (Kongres Nasional) PSII ke 21 pada tahun 1935, memutuskan memberikan gelar Jang Oetama pada HOS Tjokroaminoto untuk selanjutnya saya tulis marhum jang oetama) Marhum jang oetama mengatakan : Dimana asas-asas Islam itu adalah asas asas yang menuju Democratie dan Socialisme (Socialisme sejati menurut Islam), dan asas asas itu juga menuju maksud akan mencapai cita-cita kemerdekaan Ummat dan Kemerdekaan Negeri Tumpah Darah, maka kalau kita kaum Muslimin mendirikan sekolah-sekolah kita sendiri, tak boleh tidak pengajaran yang diberikan didalamnya haruslah pengajaran yang mengandung pendidikan akan menjadikan Muslim yang sejati dan bersifat nasional dalam arti kata : Menuju maksud akan mencapai cita cita kemerdekaan Ummat. Moeslim Nationaal Onderwijs Pada tahun 1925, marhum jang oetama menulis suatu buku yang berjudul Moeslim Nationaal Onderwijs. Buku ini menerangkan bahwa Pendidikan dan Pengajaran bagi kaum muslimin di Indonesia, selain mengajarkan kepandaian aqal, harus pula menanamkan asas asas Islam, antara lain: 1. Menanamkan benih kemerdekaan dan benih demokrasi. Yang telah menjadi tanda kebesaran dan tanda perbedaan Ummat Islam besar pada zaman dahulu.

Dalam majalah Sendjata Pemoeda , sebuah majalah intern barisan pemuda PSII, SIAP (Syarikat Islam Afdeling Padvinderijs/ Angkatan Pandu) dan Pemuda Muslimin Indonesia, marhoem jang oetama mengatakan, Tidak bisa manusia menjadi utama yang sesungguh-sungguhnya, tidak bisa manusia menjadi besar dan mulia dalam arti kata yang sebenarnya, tidak bisa ia menjadi berani dengan keberanian yang suci dan utama, kalau ada banyak barang yang ditakuti dan disembahnya. Keutamaan, kebesaran, kemuliaan dan keberanian yang sedemikian itu, hanyalah bias tercapai karena TAUHID saja, tegasnya menetapkan lahir bathin : tidak ada sesembahan selain Allah sahaja Sekitar awal tahun 1970an, penulis sempat bertemu dengan putera marhum jang oetama, yakni H. Anwar Tjokroaminoto. Dari beliau penulis mendapat ceritera bahwa, ketika beliau mendapatkan ijasah sekolah, beliau dengan bangga mempertunjukkan ijasahnya pada ayahandanya, marhum jang oetama HOS Tjokroaminoto. Sejenak marhum jang oetama memperhatikan ijasah tersebut kemudian berkata : Kalau kamu mau memburuh, maka sebaik baik majikan adalah Allah taala. Selepas habis mengucapkan kalimat tersebut, marhum jang oetama lantas merobek robek ijasah yang masih hangat, baru didapatkan puteranya H. Anwar Tjokroaminoto. Berbagai perasaan berkecamuk dan bergumul dalam diri Anwar muda, kaget, cemas, sedih, marah, kecewa bahkan takut !. Ingin menangis namun air mata tidak keluar, ingin marah namun bakti pada orang tua mencegahnya. Kemudian marhum jang utama menugaskan Anwar untuk membangun Partai Syarikat Islam Indonesia di Sumatera. Anwar di tempatkan di Manggala, suatu daerah terpencil di Lampung, saat itu masih berupa hutan, membangun pemukiman dan mendirikan afdeling (cabang) Partai (syarat pendirian afdeling minimal sepuluh orang anggota baiat/ anggota yang sudah paham nilai-nilai perjuangan partai). Begitu pula kejadiannya dengan putera marhum jang oetama lainnya yakni H.Harsono Tjokroaminoto, beliau kemudian ditugaskan di Bolaang Mangandauw Sulawesi Utara. 2. Menanamkan benih keberanian yang luhur, benih keichlasan hati, kesetiaan dan kecintaan kepada yang benar (haq), yang telah menjadi tiap tiap orang dan tabiat masyarakat Islam pada zaman dahulu; 3. Menanamkan benih peri kebathinan yang halus, keutamaan budi pekerti dan kebaikan perangai, yang dulu telah menyebabkan orang Arab penduduk laut pasir itu menjadi bangsa tuan yang halus adat lembaganya dan menjadi penanam dan penyebar keadaban dan kesopanan; W. Wondoamiseno menceritakan bahwa marhum jang oetama memberi wejangan kepada sekalian kader-kadernya termasuk W Wondoamiseno sebagai berikut: Kalau kamu mau menjadi pemimpin rakyat yang sungguh-sungguh, lebih dahulu kamu harus cinta betul betul kepada rakyat, , korbankanlah jiwa raga dan tenagamu untuk membela kepentingan rakyat seperti membela dirimu sendiri, sebab kamu adalah satu bagian daripadanya. Dan cintailah kepada kebenaran dalam segala usahamu, tentu Allah akan menolong kamu. Jangan sombong dan jangan bercidera janji. Jangan membeda-bedakan bulu, barangsiapa datang kepadamu terimalah dengan baik dan hormat, meski fakir dan miskin sekalipun. Kalau kebetulan kamu tidur, bangunlah dengan hati yang ikhlas, jangan menyesal sekalipun yang datang tidak membawa rejeki bagimu. Percayalah Allah sifat murah dan kasih sayang pada hambanya. Tetapi.. kalau kamu berhadapan dengan lawan , baik siapa dan dari bangsa apapun juga, harus kamu tunjukkan sikap sebagai satria yang gagah berani, janganlah sekali-kali suka merendahkan diri. Seorang pemimpin harus mempunyai rasa perasaan bahwa dirinya lebih tinggi dan lebih berharga derajatnya dalam pandangan rakyat dan juga dalam pandangan Allah. Percayalah .. Allah tidak akan sia siakan segala usahamu sebagai pemimpin rakyat, asal hatimu jujur dan ikhlas. Insya Allah pengaruh akan datang dengan

sendirinya. Ilmu boleh kamu cari, tapi kepercayaan adalah tergantung atas kejujuran dan keichlasan hatimu sendiri. Kalau kamu berjanji tepatilah, jangan bercidera !. 4. Menanam benih kehidupan yang shaleh sebagai yang dulu telah menjadi sebab mashur nama Ummat Islam; Lebih lanjut lihat karya marhum jang oetama berjudul Reglement Umum bagi Ummat Islam 5. Menanamkan rasa kecintaan terhadap tanah tumpah darah dengan jalan mempelajari cultur dan adat istiadat bangsa sendiri. Banyak orang yang tidak tahu dan tidak mengira bahwa marhum jang oetama adalah juga seorang seniman. Beliau adalah seorang yang ahli dalam seni karawitan. Pandai menabuh gamelan dan memainkan kendang. Bahkan tari jawa yang sangat tinggi nilai seninyapun dikuasainya. (tari jawa merupakan syarat kelulusan bagi murid-murid OSVIA dari kalangan priyayi) Beliau sering ikut dalam pertunjukan wayang orang, memerankan tokoh idolanya yakni Hanoman. Dalam lakon Ramayana kerap dipertunjukkan perkelahian antara Hanoman dan Raja Dasamuka. Raja Dasamuka (sepuluh muka) dalam ibaratnya adalah sang Kapitalisme angkara murka. Siapapun lawan yang dihadapinya pasti akan dilibas habis; semua manusia dijajah olehnya. Namun ketika berhadapan dengan Hanoman, dapatlah dipatahkan kekuatannya sehingga rebahlah sang Raja Dasamuka bahkan hingga menemui ajalnya. Seperti keinginan beliau yang diungkapkan dalam buku tafsir program azas dan program tandhim yaitu rebahnya internasional kapitalisme dan internasional imperialisme Selain kepada seni tari dan seni gamelan, tiada kurang pula minat dan perhatian beliau akan seni suara. Tembang jawa, atau yang dikenal dengan Mocopat sangat disukainya. Bahkan di usia tuanya setelah beliau menjadi pemimpin ummat yang besar, beliau masih suka menembangkan mocopat dikala senggang. Tembang jawa, biasanya mengandung kiasan, petuah ataupun sindiran. Indah susunan katanya, berirama lemah gemulai, tetapi mengandung isi yang dalam, tak jarang merupakan sindiran yang tajam. Benar-benar merupakan suatu karya sastra yang tinggi nilai seninya. Perhatikan pula cara berpakaian beliau. Pada masa itu cara berpakaian memeperlihatkan setiap kelas dalam masyarakat. Sarung adalah pakaian kaum santri yang termasuk dalam kelas inlander, beskap dan kain panjang adalah pakaian untuk kaum priyayi, sedangkan dasi dan jas adalah pakaian untuk bangsa eropa. Marhum jang oetama lebih sering mengenakan beskap yang dipadu dengan kain sarung dimana untuk tutup kepalanya beliau mengenakan peci (beliau tidak pernah lepas dari tutup kepala-pen). Lain waktu dikala harus hadir dalam pertemuan dengan kalangan penguasa (seperti dalam volksraad) beliau mengenakan dasi namun tutup kepalanya blangkon. Alm Moh Roem menyebut cara berpakaian beliau sebagai revolusioner. Demikianlah cara berpakaian beliaupun mempertunjukkan kecintaan beliau pada rakyat dan negera tumpah darah Indonesia. Penutup Pendidikan sebagai suatu anasir dari sebuah kebudayaan, bahkan sebagai salah satu pilar dari peradaban, sangat diperhatikan oleh marhum jang oetama. Kita dapat melihat dalam tulisan tulisan beliau seperti Culture dan Adat Islam dan juga dalam karya masterpiece beliau Tafsir Program Azas dan Program Tandhim Sejatinya masih panjang ulasan tentang Moeslim Nationaal Onderwijs Namun terus terang penulis sudah mengantuk. Namun ingin penulis sampaikan wejangan beliau yang ditulis dalam buku Islam dan Socialisme sebagai berikut: kalau ada orang Islam mendirikan sekolahan (madrasah) tinggi, pertengahan atau rendah, dengan cuma memberi pengajaran untuk kepandaian aqal saja, tetapi di dalam hatinya anak-anak tidak ditanamkan benih kemerdekaan dan benih democratie, yang menjadi tanda kebesaran dan tanda perbedaannya Ummat Islam besar pada zaman dulu itu, dan di dalam hatinya anak-anak tidak pula ditanamkan benihnya keberanian yang luhur, keichlasan

hati, kesetiaan dan kecintaan kepada barang yang benar, yang telah menjadi tabiatnya pergaulan hidup Islam bersama pada zaman dulu, dan murid-murid tidak juga diberinya pengajaran yang mendidik kebhatinan yang halus, keutamaan budi dan kebaikan perangai, yang dulu telah membikin orang arab penduduk lautan pasir menjadi bangsa tuan yang halus adat lembaganya dan menjadi tukang menanam keadaban dan kesopanan, dan juga di dalam hatinya muridmurid tidak ditanam bijinya penghidupan yang saleh dan sederhana, sebagai yang dulu sudah menjadikan mashur namanya ummat Islam, sekolah-sekolah yang hanya memberi kepandaian yang dingin, tidak hidup dan akhrnya hanya menuntun kepada materialisme, sekolah-sekolah yang demikian itu bagi ummat Islam lebih baik tidak ada saja! Semoga Allah memercikkan pada kita ilmu, karomah serta hikmah yang dahulu pernah DIA berikan pada marhum jang oetama HOS Tjokroaminoto. Shalawat serta salam bagi junjungan kita Rasulullah beserta para sahabat dan keluarga beliau. Semoga marhum jang oetama tersenyum melihat kita mempelajari pemikiran-pemikiran beliau, dan Allah taala menambah nambah jariah pada beliau atas ilmu yang diwariskan pada kita. Amin. Billahi fi sabilil Haq. Dala Mukti Sumber bacaan : Moeslim Nationaal Onderwijs- HOS Tjokroaminoto, Islam dan Socialisme-HOS Tjokroaminoto,Tafsir Program Azas dan Program Tandhim-HOS Tjokroaminoto, Culture dan Adat Islam HOS Tjokroaminoto, HOS Tjokroaminoto hidup dan perjuangannya bahagian I dan II Amelz, Literatur lain dari PSII, Cerita dari Alm H. Anwar Tjokroaminoto, Cerita dari Alm. H. Ahmad Dainuri Tjokroaminoto Sumber: https://tjokroaminoto.wordpress.com/2010/06/27/tjkroaminoto-dan-pendidikan-moeslimnationaal-onderwijs/

HARI TERAKHIR KARTOSUWIRYO

Misteri

terkait kematian pejuang Islam dan bangsa Imam DI/TII Sekarmadji Marijan Kartosoewiryo akhirnya terkuak. Setidaknya bagaimana proses eksekusi dan lokasi pekuburannya dapat masyarakat ketahui sekarang.
"Saya merasa terpanggil untuk membuka fakta sejarah ini, agar masyarakat dan mereka yang masih menganggap Pulau Onrust sebagai tempat dimakamkannya kartosoewiryo dapat mengetahui fakta sebenarnya,"Kata Fadli Zon mengawali peluncuran dan bedah buku 'Hari Terakhir Kartosoewirjo' yang ia tulis, di Taman Ismail Marzuki, Jakpus, Rabu (5/9). Sejarawan Mohammad Iskandar menambahkan publikasi 81 foto hari-hari terakhir pemimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, membuka pengetahuan baru. Foto-foto itu meluruskan kontroversi yang berkembang selama ini.

Imam Kartosoewiryo bersama Istri setelah makan siang


Iskandar menceritakan, dirinya pernah bertemu dengan anak buah Kartosoewirjo. "Mereka bertanya karena banyak isu. Isunya kan nggak jelas, ada yang bilang ditembak dan tidak diperlakukan secara Islami," katanya.

Dengan adanya foto ini, masyarakat, ungkap Iskandar dapat mengetahui secara jelas proses eksekusi mati yang dilakukan. "Ternyata (pemakaman) diperlakukan secara Islami, dishalatkan. Dengan foto ini, kontroversi dan imajinasi yang mengawang-awang tersingkap," tuturnya.

Makan siang terakhir bersama keluarga


Dalam foto terlihat jelas proses eksekusi yang dilakukan. Saat di kapal, Kartosoewirjo tampak dalam foto berdoa dengan dibantu seorang rohaniwan dari TNI. Usai ditembak, Kartosoewirjo juga diperiksa dokter dan dimakamkan dengan cara dikafani. Setelah dimakamkan tiang eksekusi Kartosoewirjo dibakar. Bagi Iskandar, Kartosoewirjo adalah agen perubahan kala itu. "Dia tidak puas dengan kondisi yang ada termasuk kondisi masyarakat Islam saat itu," pungkasnya. DI/TII gerombolan pengacau? Ia juga menjelaskan bahwasanya, tuduhan dan anggapan masyarakat bahwa DI/TII merupakan gerombolan pengacau, disebabkan oleh penyusupan yang dilakukan oleh PKI dan mengaku-aku sebagai bagian dari DI/TII.

Ruku' saat sholat Taubat


"Merekalah yang diduga sebagai gerombolan yang sering bersikap kasar terhadap masyarakat. Namun, saya belum bisa mengkonfirmasi nama-nama tersebut, karena sudah banyak yang meninggal" papar Iskandar. Yayan, salah satu peneliti kehidupan kartosoewiryo membenarkan rumor yang beredar tersebut. Menurutnya, sidang Mahmilub salah seorang tokoh PKI yang pernah menjadi perwira angkatan darat mengakui bahwa ia pernah menyusupkan anggota PKI ke dalam DI/TII saat membacakan eksepsinya.

Regu tembak

melakukan tembakan bersama


"Ketika Suparjo dituduh oleh oditur telah menaruh tentara ke dalam Dewan Revolusi, ia menyatakan bahwa ia menaruh tentara ke Dewan Revolusi bukan untuk memperkuat, tetapi untuk menikam dari dalam sebagaimana pernah ia lakukan dahulu kepada NII, nah ngaku dia" ungkap Yayan. Tuduhan Hukum terhadap Sang Imam Penulis buku 'Hari Terakhir Kartosoewirjo', Fadli Zon menyebut ada tiga kejahatan politik yang disangkakan pemerintah pada Kartosoewirjo. Pertama, memimpin dan mengatur penyerangan dengan maksud hendak menggulingkan pemerintah pemerintahan yang sah. Kedua, dituduh ingin memisahkan diri dari Indonesia. Dan ketiga Kartosoewirjo dituduh melakukan makar pembunuhan terhadap presiden. "Namun, yang diakui oleh Kartosoewiryo dalam pengadilan hanya ingin menggulingkan pemerintahan, untuk keluar dari Indonesia dan membunuh presiden ia tolak" jelas Fadli.

Tembakan terakhir
Pengadilan militer pada 16 Agustus 1962, menjatuhkan vonis mati bagi Kartosoewirjo. Dia akhirnya ditembak mati dan dimakamkan di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu pada September 1962. Kejadian menarik sebelum terjadinya eksekusi mati, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo memiliki permintaan khusus kepada Mahkamah Darurat Perang (Mahadper). Sardjono Kartosoewirjo, anak bungsu Kartosoewirjo mengungkapkan, ada empat permintaan ayahnya saat itu. Pertama, meminta bertemu dengan perwira NII terdekat, namun ditolak. Kedua, meminta eksekusi dilihat oleh perwakilan keluarga, juga ditolak. Ketiga, Kartosoewirjo

minta jenazahnya dikembalikan ke keluarga dan dimakamkan di pemakaman keluarga, pun diitolak. "Namun, permintaan terakhir yang meminta bertemu dengan keluarga dikabulkan," tutur Sardjono. Pertemuan Kartosoewirjo dengan keluarga untuk terakhir kalinya, diisi dengan makan siang bersama. Uniknya, dalam makan siang tersebut, menu yang disajikan ialah rendang. Padahal, dalam buku tersebut dikatakan bahwa Dewi Siti Kalsum, istri Kartosoewirjo, tidak terbiasa memakan rendang. "Karena tidak terbiasa makan rendang, istri Kartosoewirjo merasa kepedasan," tulis caption foto yang ada dalam buku. Foto dalam buku menggambarkan Kartosoewirjo sama sekali tidak memakan rendang yang telah disediakan. Ia hanya merokok dan berbincang dengan keluarganya. Caption foto selanjutnya menuliskan, Kartosoewirjo menikmati kopi bersama istrinya sambil bersenda gurau sejenak. "Anak-anak Kartosoewirjo akhirnya menghabiskan hidangan yang telah disajikan, daging rendang. Setelah makan bersama, mereka melakukan foto bersama, dan terlihat Kartosoewirjo memberikan pesan terakhir," tulis Fadli Zon. Dalam jamuan terakhir itu, selain sang istri, lima dari tujuh anak-anak Kartosoewirjo turut hadir, yakni Tahmid Basuki Rahmat, Dodo Mohammad Darda, Kartika, Komalasari, dan Danti. Dalam foto bersama keluarga yang terakhir, mata Dewi Siti Kalsum, istri Kartosoewirjo terlihat sembab, seusai suaminya menyampaikan pesan-pesan terakhir sebelum dieksekusi mati. Melalui koleksi 81 fotonya, Fadli Zon menuturkan sesaat menjelang Kartosoewirjo tampak tenang dan ikhlas tanpa sedikitpun rasa takut. Keinginan terakhir Sang Imam "Kematian hanyalah perpindahan ruh, dari yang berjasad kepada yang tidak," tutur Sardjono, anak bungsu Kartosoewirjo, menceritakan pesan terakhir ayahnya. eksekusi,

Imam Kartosoewiryo di Sholatkan


Menurut Sarjono, Pada detik-detik terakhir, Ketua Mahkamah Darurat Perang (Mahadper) menyatakan dan menawarkan bahwa ia berhak memenuhi permintaan terakhir Kartosoewiryo sebelum dieksekusi, meskipun permintaan tersebut berupa keinginan pergi keluar negeri atau ke pelosok Amerika asalkan tidak ada unsur persoalan politik, akan Maahadper luluskan. "Tetapi, bapak hanya meminta ke mereka (Mahadper), Saya ingin segera bertemu Allah, karena saya ingin segera tahu, apakah selama ini kebijakan yang saya jalankan sudah benar dan di terima oleh Allah" jelas Sarjono menirukan perkataan orang tuanya. Sarjono pun, menaruh kekaguman yang besar kepada ayahandanya tersebut, sebab didetik-detik akhir hidupnya, tetap tegar dan hanya menginginkan suatu hal yang sederhana, segera bertemu dengan Allah. Semoga Allah menerima segala amal ibadah pejuang Islam Imam Kartosoewiryo. Amien. (bilal/arrahmah.com) Sumber: http://arrahmah.com/read/2012/09/05/22951-hari-hari-terakhir-imamkartosoewiryo.html

Kisah 3 murid Tjokroaminoto: Soekarno, Semaoen, Kartosoewirjo

Jauh sebelum memilih jalan hidupnya masing-masing, tiga tokoh pergerakan Soekarno,Semaoen, dan Kartosoewirjo pernah tinggal bersama. Mereka menjadi murid dari pemimpin Sarekat Islam Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto. Di sebuah jalan kecil bernama Gang Paneleh VII, di tepi Sungai Kalimas, Surabaya, rumah Tjokroaminoto berada. Rumah itu bernomor 29-31.

Setelah menjadi pemimpin SI yang anggotanya 2,5 juta orang, Tjokroaminoto yang saat itu berusia 33 tahun tidak memiliki penghasilan lain, kecuali dari rumah kos yang dihuni 10 orang itu. Setiap orang membayar Rp 11. Istri Tjokro, Soeharsikin, yang mengurus keuangan mereka. Banyak alumni rumah kos tersebut yang menjadi tokoh pergerakan sebelum kemerdekaan.Soekarno yang kemudian mendirikan Partai Nasional Indonesia. Semaoen, Alimin, dan Musso menjadi tokoh-tokoh utama Partai Komunis Indonesia serta SM Kartosoewirjo yang kemudian menjadi pemimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Di rumah itu juga, tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti KH Ahmad Dahlan dan KH Mas Mansyur sering bertukar pikiran. Soekarno Soekarno 'mondok' di rumah Tjokroaminoto pada usia 15 tahun. Ayah Soekarno, Soekemi Sosrodihardjo, menitipkan Soekarno yang melanjutkan pendidikan di Hoogere Burger School (HBS). Saat itu, tahun 1916, Tjokroaminoto sudah menjadi Ketua Sarekat Islam, organisasi politik terbesar dan yang pertama menggagas nasionalisme. Dalam salah satu biografinya yang ditulis Cindy Adams, Soekarno mengenang Tjokroaminoto sebagai idolanya. Dia belajar tentang menggunakan politik sebagai alat mencapai kesejahteraan rakyat. Dia belajar tentang bentuk-bentuk modern pergerakan seperti pengorganisasian massa dan perlunya menulis di media. Sesekali Soekarno menulis menggantikan Tjokro di Oetoesan Hindia dengan nama samaran Bima. Soekarno juga kerap menirukan gaya Tjokroaminoto berpidato.

SM Kartosoewirjo Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo muda mulai tertarik pada dunia pergerakan saat bersekolah di Nederlandsch Indische Artsen School atau biasa disebut Sekolah Dokter Jawa yang berlokasi di Surabaya pada 1923. Dia gemar membaca buku-buku milik pamannya, Mas Marco Kartodikromo yang sebagian besar buku beraliran kiri dan sosialisme. Marco dikenal sebagai wartawan dan aktivis Sarikat Islam beraliran merah. Terpengaruh berbagai bacaan itu, Kartosoewirjo terjun ke politik dengan bergabung dengan Jong Java dan kemudian Jong Islamieten Bond. Guru utamanya di dunia pergerakan sekaligus guru agamanya adalah Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. Kartosoewirjo begitu mengagumi dan terpesona dengan Tjokroaminoto yang sering berpidato dalam berbagai pertemuan. Kartosoewirjo melamar menjadi murid dan mulai mondok di rumah Ketua Sarekat Islam itu di Surabaya. Untuk membayar uang pondokan, Kartosoewirjo bekerja di surat kabar Fadjar Asia milik Tjokroaminoto. Ketekunan dan kecerdasan membuatnya menjadi sekretaris pribadi Tjokroaminoto. Tulisan-tulisan yang berisi penentangan terhadap bangsawan Jawa (termasuk Sultan Solo) yang bekerjasama dengan Belanda menjadi ciri khas Kartosoewirjo. Dalam artikelnya tampak pandangan politiknya yang radikal. Dia juga sering mengkritik pihak nasionalis. Kartosoewirjo bersama Tjokroaminoto hingga tahun 1929. Pada masa perang kemerdekaan 1945-1949, Kartosoewirjo terlibat aktif tetapi sikap kerasnya membuatnya sering bertolak belakang dengan pemerintah. Kekecewaannya terhadap pemerintah membulatkan tekadnya untuk membentuk Negara Islam Indonesia yang diproklamirkan pada 7 Agustus 1949. Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan Aceh bergabung. Perjuangan Kartosoewirjo berakhir ketika aparat keamanan menangkapnya setelah melalui perburuan panjang di wilayah Gunung Rakutak di Jawa Barat pada 4 Juni 1962. Soekarno yang menjadi presiden, teman kosnya semasa di Surabaya, adalah orang yang menandatangani eksekusi mati Kartosoewirjo pada September 1962. Semaoen Semaoen adalah Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) pertama. Kemunculannya di panggung politik pergerakan dimulai di usia belia, 14 tahun. Saat itu, tahun 1914, ia bergabung dengan Sarekat Islam (SI) wilayah Surabaya. Pertemuannya dengan Henk Sneevliet tokoh komunis asal Belanda pada 1915, membuat Semaoen bergabung dengan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging, organisasi sosial demokrat Hindia Belanda (ISDV) cabang Surabaya. Aktivitasnya yang tinggi dalam dunia pergerakan membuatnya berhenti bekerja perusahaan kereta Belanda. Saat pindah ke Semarang, dia menjadi redaktur surat kabar VSTP berbahasa Melayu, dan Sinar Djawa-Sinar Hindia, koran Sarekat Islam Semarang. Pada tahun 1918 dia juga menjadi anggota dewan pimpinan di Sarekat Islam (SI). Sebagai Ketua SI Semarang, Semaoen banyak terlibat dengan pemogokan buruh. Bersama-sama dengan Alimin dan Darsono, Semaoen mewujudkan cita-cita Sneevliet untuk memperbesar dan memperkuat gerakan komunis di Hindia Belanda. Sikap dan prinsip komunisme yang dianut Semaoen membuat renggang hubungannya dengan anggota SI lainnya. Pada 23 Mei 1920, Semaoen mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia.

Tujuh bulan kemudian, namanya diubah menjadi Partai Komunis Indonesia dan Semaoen sebagai ketuanya. PKI pada awalnya adalah bagian dari Sarekat Islam, tapi akibat perbedaan paham akhirnya membuat kedua kekuatan besar di SI ini berpisah pada bulan Oktober 1921. Pada akhir tahun itu juga dia meninggalkan Indonesia untuk pergi ke Moskow, dan Tan Malaka menggantikannya sebagai Ketua Umum. Setelah kembali ke Indonesia pada bulan Mei 1922, dia mendapatkan kembali posisi Ketua Umum dan mencoba untuk meraih pengaruhnya kembali di SI tetapi kurang berhasil.

Sumber: http://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-3-murid-tjokroaminoto-soekarno-semaoenkartosoewirjo.html

PROBLEMATIKA DAN SOLUSI NII DI JAWA TIMUR


LATAR BELAKANG Semenjak kurun waktu antara 1945 hingga saat ini, berbagai peristiwa telah terjadi dan tidak sedikit yang mengakibatkan munculnya ancaman terhadap keutuhan bangsa dan negara Indonesia. Salah satu peristiwa penting yang meninggalkan bekas dalam catatan sejarah negeri ini adalah berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) di awal masa kemerdekaan. Persoalan ini memang selalu menarik untuk diperbincangkan, lengkap dengan segala pendapat para ahli maupun saksi-saksi sejarah. Fakta yang diungkapkan dalam buku pelajaran sejarah di bangku sekolah maupun yang tersimpan di dalam arsip nasional Pemerintah Indonesia dianggap sebagai kebohongan oleh sebagian pihak, termasuk di antaranya komunitas yang mengaku sebagai Warga Negara Islam Indonesia dan parsimpatisannya. Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo adalah nama yang tak dapat dilepaskan dari pembahasan masalah yang berkaitan dengan Negara Islam Indonesia. Dialah pendiri negara berasas Islam tersebut. Dalam sejarah yang kita pelajari, Kartosoewirjo adalah tokoh yang tidak lebih dari seorang pemberontak yang telah mendirikan negara baru di wilayah negara Republik Indonesia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, sebuah gerakan yang mengatasnamakan Negara Islam Indonesia sangat gencar melakukan rekrutmen anggota baru, tetapi cara-cara yang mereka gunakan ternyata berlawanan dengan syariahdan sunnah Rasulullah saw. Saat ini ada beberapa indikasi yang menunjukkan bahwa basis kelompok NII masih terus hidup dan berkembang dengan pesat. Kelompok ini berusaha membangun supremasi Islam, hingga akhirnya mereka memproklamasikan diri sebagai sebuah negara pada 7 Agustus 1949, dan berhasil mempertahankan eksistensinya hingga 13 tahun lamanya (1949-1962). PERMASALAHAN Sebagai negara hukum dan berdaulat, Indonesia mewajibkan seluruh warga negaranya untuk menjalankan hak dan kewajibannya dalam upaya penjagaan kedaulatan republik. Pada konteks inilah kemudian muncul problem mendasar bagi keberadaan komunitas NII di Indonesia. Sebagai sebuah gerakan keagamaan dan politik, NII tidak menerima ideologi Pancasila dan tetap mempertahankan upaya menjadikan Islam sebagai dasar Indonesia. Selain itu, kini sedang marak penipuan berkedok NII yang terjadi pada beberapa kalangan terpelajar (mahasiswa) di Jawa Timur. Kajian sementara menyebutkan bahwa kejahatan yang dijalankan oleh kelompok NII ini menggunakan teknik cuci otak (brain washing) pada para korbannya. Maka ada dua persoalan, yaitu masalah ideologi dan kriminalitas yang sekarang melekat pada komunitas NII. SETTING HISTORIS BERDIRINYA NII Kemunculan Negara Islam Indonesia[1] (NII) dinilai oleh beberapa pihak sebagai akibat dari merasa sakit hatinya kalangan Islam Politik pada saat terjadi vacuum of power di Republik Indonesia (RI). Sejak tahun 1926, telah berkumpul para ulama di Arab dari berbagai belahan dunia, termasuk Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, guna membahas rekonstruksi khillafah Islam (politik Islam) universal yang runtuh pada tahun 1924. Sayangnya, syuro para ulama tersebut tidak membuahkan hasil dan tidak berkelanjutan. Adalah Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo yang merupakan orang kepercayaan Tjokroaminoto menindaklanjuti usaha rekonstruksi khilafah Islam dengan menyusun brosur sikap hijrah berdasarkan keputusan kongres PSII 1936. Kemudian pada 24 April 1940, Kartosoewirjo bersama para ulama mendirikan Institut Shuffah di Malangbong. Institut Shuffah merupakan suatu laboratorium pendidikan tempat mendidik kader-kader mujahid seperti di zaman Nabi Muhammad saw. Institut shuffah yang didirikan telah melahirkan para pembela Islam dengan ilmu Islam yang sempurna dan keimanan yang teguh. Mujahid dalam orientasi Institut Shuffah adalah mereka yang rela berkorban secara fisik dan material pada perjuangan yang diyakini sebagai representasi Islam paling benar. Beberapa alumnus Shuffah ini kemudian melebur kedalam Laskar Hizbullah dan Sabilillah. Dalam perkembangannya, sebagian laskar Hizbullah dan Sabilillah yang menjadi alumni didikan RM Kartosoewiryo tidak diizinkan ikut hijrah ke Yogyakarta mengikuti langkah yang diambil tentara RI. Alasannya lebih didasarkan pada anggapan Kartosoewiryo pada aktifis politik Indonesia wakt itu bahwa mereka telah melakukan berbagai kekonyolan politik. Laskar inilah yang pada akhirnya menjadi Tentara Islam Indonesia (TII). Selanjutnya, pada tanggal 10 Februari 1948, diadakan sebuah konferensi di Cisayong yang menghasilkan keputusan membentuk Majelis Islam dan mengangkat Kartosoewirjo sebagai Panglima Tinggi Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Konferensi di Cisayong tersebut juga menyepakati bahwa perjuangan haruslah melalui langkah-langkah berikut: 1. 2. Mendidik rakyat agar cocok menjadi warga negara Islam. Memberikan penjelasan kepada rakyat bahwa Islam tidak bisa dimenangkan dengan feblisit (referendum).

3. 4. 5.

Membangun daerah basis. Memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia. Membangun Negara Islam Indonesia sehingga kokoh ke luar dan ke dalam, dalam arti, di dalam negeri dapat melaksanakan syariat Islam seluas-luasnya dan sesempurna-sempurnanya, sedangkan ke luar, sanggup berdiri sejajar dengan warga negara lain. Membantu perjuangan umat Islam di negeri-negeri lain sehingga dengan cepat dapat melaksanakan kewajiban sucinya. Bersama negara-negara Islam membentuk Dewan Imamah Dunia untuk mengangkat khalifah dunia.

6. 7.

Kemudian pada tanggal 20 Desember 1948, dikumandangkan jihad suci melawan penjajah Belanda dengan dikeluarkan Maklumat Imam yang menyatakan bahwa situasi negara dalam keadaan perang, dan diberlakukan hukum Islam dalam keadaan perang. Setelah sembilan bulan seruan jihad suci, maka pada tanggal 7 Agustus 1949, diproklamasikan berdirinya NII yang dikumandangkan ke seluruh dunia. Berbagai sumber literatur tentang NII menyatakan bahwa lahirnya NII sesungguhnya bukanlah hasil rekayasa manusia, melainkan afalullah (aktifitas Allah swt). Tujuan dan program yang diemban pemerintah NII adalah menyadarkan manusia bahwa mereka adalah hamba Allah dan berusaha menegakkan khilafah di muka bumi. Pendirian NII mengacu pada Negara Madinah di zaman Rasulullah saw. pasca runtuhnya kekhalifahan Islam yang terakhir di Turki pada tahun 1924. Hukum yang melandasi Negara Madinah atau hukum kenegaraan (sosial kemasyarakatan anta rumat beragama) adalah Hukum Islam. Maka, Negara Islam Indonesia pun dalam Qanun Asasi (konstitusi)-nya, yakni Bab I Pasal 1, menegaskan bahwa: 1. 2. 3. Negara Islam Indonesia adalah Negara Karunia Allah subhanahu wa taala kepada bangsa Indonesia. Sifat Negara itu jumhuryah (republik) dengan sistem pemerintahan federal. Negara menjamin berlakunya syariat Islam di dalam kalangan kaum muslimin. Negara memberi keleluasaan kepada pemeluk agama lainnya dalam melakukan ibadahnya.

Selanjutnya, Pasal 2 Qanun Asasi tersebut menyebutkan bahwa: 1. 2. Dasar dan hukum yang berlaku di Negara Islam Indonesia adalah Islam. Hukum yang tertinggi adalah Al-Quran dan Hadits sahih.

GERAKAN NII RM KARTOSUWIRYO Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo lahir pada tanggal 7 Januari 1907 di Cepu, sebuah kota kecil antara Blora dan Bojonegoro yang menjadi daerah perbatasan Jawa Timur dengan Jawa Tengah. Ayahnya, yang bernama Kartosoewirjo, bekerja sebagai mantri pada kantor yang mengoordinasikan para penjual candu di kota kecil Pamotan, dekat Rembang. Pada masa itu, mantri candu sederajat dengan jabatan Sekretaris Distrik. Dalam posisi inilah, ayah Kartosoewirjo mempunyai kedudukan yang cukup penting sebagai seorang pribumi saat itu dan menimbulkan pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan garis sejarah anaknya. Kartosoewirjo pun kemudian mengikuti tali pengaruh ini hingga pada usia remajanya. Dengan kedudukan istimewa orang tuanya serta makin mapannya gerakan pencerahan Indonesia ketika itulah, Kartosoewirjo dibesarkan dan berkembang. Ia terasuh di bawah sistem rasional Barat yang mulai dicangkokkan Belanda di tanah jajahan Hindia. Suasana politis ini juga mewarnai pola asuh orang tuanya yang berusaha menghidupkan suasana kehidupan keluarga yang liberal. Masing-masing anggota keluarganya mengembangkan visi dan arah pemikirannya ke berbagai orientasi. Ia mempunyai seorang kakak perempuan yang tinggal di Surakarta pada tahun 1950-an yang hidup dengan penuh keguyuban, dan seorang kakak laki-laki yang memimpin Serikat Buruh Kereta Api pada tahun 1920-an, ketika di Indonesia terbentuk berbagai Serikat Buruh.[2] Pada tahun 1911, saat para aktivis di negeri ini mendirikan organisasi, saat itu Kartosoewirjo berusia enam tahun dan masuk Inlandsche School der Tweede Klasse (ISTK) atau Sekolah Kelas Dua untuk Kaum Bumiputera di Pamotan. Empat tahun kemudian, ia melanjutkan sekolah ke HollandschInlandsche School (HIS) di Rembang. Tahun 1919, ketika orang tuanya pindah ke Bojonegoro, mereka memasukkan Kartosoewirjo ke sekolah

Europeesche Lagere School (ELS). Bagi seorang putra pribumi, HIS dan ELS merupakan sekolah elit. Karena kecerdasan dan bakat khusus yang dimilikinya, Kartosoewirjo dapat masuk sekolah yang direncanakan sebagai lembaga pendidikan untuk orang Eropa dan kalangan masyarakat IndoEropa. Semasa remajanya di Bojonegoro inilah Kartosoewirjo mendapatkan pendidikan agama dari seorang tokoh bernama Notodihardjo yang menjadi guru agamanya. Dia adalah tokoh Islam modern yang mengikuti Muhammadiyah. Notodihardjo kemudian menanamkan banyak aspek kemodernan Islam ke dalam alam pikiran Kartosoewirjo. Pemikiranpemikirannya sangat mempengaruhi bagaimana Kartosoewirjo bersikap dalam merespon ajaranajaran agama Islam. Dalam masa-masa yang bisa kita sebut sebagai the formative age-nya. Pada tahun 1923, setelah menamatkan sekolah di ELS, Kartosoewirjo pergi ke Surabaya melanjutkan studinya pada Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS), Sekolah Kedokteran Belanda untuk Pribumi. Pada saat kuliah inilah, tepatnya pada tahun 1926, ia terlibat dengan banyak aktivitas organisasi pergerakan nasionalisme Indonesia di Surabaya. Selama kuliah, Kartosoewirjo mulai berkenalan dengan pemikiran-pemikiran Islam. Ia mulai mengaji secara serius hingga kemudian begitu terasuki oleh shibghatullah sehingga ia kemudian menjadi Islam minded. Semua aktivitasnya dilakukan hanya untuk mempelajari Islam semata dan berbuat untuk Islam saja. Dia pun kemudian sering meninggalkan aktivitas kuliah dan menjadi tidak begitu peduli dengan ilmu-ilmu yang diajarkan oleh sekolah Belanda, tentunya setelah ia mengkaji dan membaca banyak buku dari berbagai disiplin ilmu, dari kedokteran hingga ilmu-ilmu sosial dan politik. Dengan modal ilmu pengetahuan yang tidak sedikit itu, ia memasuki organisasi politik Sjarikat Islam di bawah pimpinan Haji Oemar Said (H.O.S.) Tjokroaminoto. Pemikiran-pemikiran Tjokroaminoto banyak memengaruhi sikap, tindakan, dan orientasi Kartosuwirjo. Maka, setahun kemudian, dia dikeluarkan dari sekolah karena dituduh menjadi aktivis politik, dan didapati memiliki sejumlah buku sosialis dan komunis yang diperoleh dari pamannya, Marko Kartodikromo, seorang wartawan dan sastrawan yang cukup terkenal pada zamannya. Sekolah tempat belajar tersebut tidak berani menuduh Kartosoewirjo sebagai orang yang terasuki ilmu-ilmu Islam, melainkan dituduh komunis, karena ideologi ini sering dipandang sebagai paham yang membahayakan. Padahal, ideologi Islamlah yang sangat berbahaya bagi penguasa saat itu. Tidaklah mengherankan, selanjutnya Kartosuwirjo tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kesadaran politik sekaligus memiliki integritas keislaman yang tinggi. Dalam berbagai literatur berbahasa Indonesia maupun berbahasa asing, ia digambarkan sebagai seorang ulama besar di Asia Tenggara. Kartosoewirjo memulai karir politiknya di kota Surabaya dengan bergabung ke dalam organisasi pemuda Jong Java. Ia merupakan murid dari H.O.S. Tjokroaminoto, yang kala itu juga menjadi guru dari Musso dan Soekarno. Perbedaan jelas tampak dari ketiga tokoh yang merupakan anak didik dari Trjokroaminoto tersebut. Soekarno adalah tokoh nasionalis yang akhirnya menjadi pemimpin pertama negara ini, sedangkan Musso dan Kartosoewirjo adalah dua nama yang pada masa awal pemerintahan Soekarno dianggap sebagai pemberontak. Perbedaannya adalah, Musso beraliran komunis, sementara Kartosoewirjo berniat mendirikan negara berasaskan syariat Islam.[3] Semenjak tahun 1923, dia sudah aktif dalam gerakan kepemudaan, di antaranya gerakan pemuda Jong Java tersebut. Kemudian, pada tahun 1925, ia termasuk ke dalam anggotaanggota Jong Java yang mengutamakan cita-cita keislamannya dan akhirnya mendirikan Jong Islamieten Bond (JIB). Kartosoewirjo pun pindah ke organisasi ini karena sikap pemihakan kepada agamanya. Dua organisasi inilah yang kemudian membawa dirinya menjadi salah satu pelaku sejarah gerakan pemuda yang amat berpengaruh dalam kebangkitan pemuda Indonesia, Sumpah Pemuda. Selain bertugas sebagai Sekretaris Umum Partij Sjarikat Islam Hindia Timur (PSIHT), Kartosoewirjo pun bekerja sebagai wartawan di surat kabar harian Fadjar Asia. Semula ia bekerja sebagai korektor, kemudian diangkat menjadi reporter. Pada tahun 1929, dalam usianya yang relatif muda, sekitar 22 tahun, Kartosoewirjo telah menjadi Redaktur Harian Fadjar Asia. Dalam kapasitasnya sebagai redaktur, mulailah ia menerbitkan berbagai artikel yang isinya dipenuhi banyak kritikan, baik kepada penguasa pribumi maupun penjajah Belanda. Dalam perjalanan tugasnya ke Malangbong, ia bertemu dengan pemimpin PSIHT setempat yang terkenal bernama Ajengan Ardiwisastera. Di sana pulalah dia berkenalan dengan Siti Dewi Kalsum, putri Ajengan Ardiwisastera, yang kemudian dinikahinya pada bulan April tahun 1929. Perkawinan yang sakinah ini kemudian dikarunia dua belas anak, tiga yang terakhir lahir di hutan-hutan belantara Jawa Barat. Begitu banyaknya pengalaman telah menghantarkan dirinya sebagai aktor intelektual dalam kancah pergerakan nasional.

Pada tahun 1943, ketika Jepang berkuasa di Indonesia, Kartosoewirjo kembali aktif di bidang politik, yang sempat terhenti. Dia bergabung dengan sebuah organisasi kesejahteraan Madjlis Islam Alaa Indonesia (MIAI) di bawah pimpinan Wondoamiseno, sekaligus menjadi sekretaris dalam Majelis Baitul-Mal pada organisasi tersebut. Dalam masa pendudukan Jepang ini, dia pun memfungsikan kembali lembaga shuffah yang pernah dia bentuk. Namun, kali ini lebih banyak memberikan pendidikan kemiliteran karena saat itu Jepang telah membuka pendidikan militernya. Kemudian, siswa yang menerima latihan kemiliteran di institut shuffah itu akhirnya memasuki salah satu organisasi gerilya Islam yang utama sesudah perang, Hizbullah dan Sabilillah, yang nantinya menjadi inti Tentara Islam Indonesia di Jawa Barat. Pada bulan Agustus 1945 menjelang berakhirnya kekuasaan Jepang di Indonesia, Kartosoewirjo yang disertai tentara Hizbullah berada di Jakarta. Dia juga telah mengetahui kekalahan Jepang dari sekutu, bahkan dia mempunyai rencana: kinilah saatnya rakyat Indonesia, khususnya umat Islam, merebut kemerdekaannya dari tangan penjajah. Berdasarkan beberapa literatur, disebutkan bahwa Kartosoewirjo telah memproklamasikan kemerdekaan pada bulan Agustus 1945. Akan tetapi, proklamasinya ditarik kembali sesudah ada pernyataan kemerdekaan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta. Untuk sementara waktu dia tetap loyal kepada republik dan menerima proklamasi tersebut. Namun, sejak kemerdekaan RI diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, kaum nasionalislah yang memegang tampuk kekuasaan negara dan berusaha menerapkan prinsipprinsip kenegaraan modern yang dianggap sekuler oleh kalangan nasionalis Islam. Semenjak itu, kalangan NasionalisIslam tersingkir secara sistematis dan hingga akhir 1970-an kalangan nasionalis Islam berada di luar negara. Dari sinilah dimulainya pertentangan serius antara kalangan nasionalis Islam dan kaum nasionalis sekuler. Karena kaum nasionalis sekuler mulai secara efektif memegang kekuasaan negara, maka pertentangan ini untuk selanjutnya dianggap sebagai pertentangan antara Islam dan negara. Situasi yang kacau akibat agresi militer kedua Belanda, apalagi dengan ditandatanganinya perjanjian Renville antara Pemerintah RI dengan Belanda. Perjanjian tersebut berisi antara lain, gencatan senjata dan pengakuan garis demarkasi van Mook. Artinya, Pemerintah RI harus mengakui kedaulatan Belanda atas Indonesia dan itu merupakan pil pahit bagi republik ini. Tempattempat penting yang strategis bagi pasukan RI di daerahdaerah yang dikuasai pasukan Belanda harus dikosongkan, dan semua pasukan harus ditarik mundur ke Jawa Tengah. Karena persetujuan ini, tentara RI di Jawa Barat, Divisi Siliwangi, mematuhi ketentuan-ketentuannya. Presiden RI saat itu, Soekarno menyebut mundurnya TNI ini dengan memakai istilah Islam, hijrah. Namun, sebaliknya, pasukan gerilyawan Hizbullah dan Sabilillah, bagian yang cukup besar dari kedua organisasi gerilya Jawa Barat, menolak untuk mematuhinya. Hizbullah dan Sabilillah menganggap diri mereka lebih tahu apa makna hijrah itu. Pada tahun 1949, Indonesia mengalami suatu perubahan politik besar-besaran. Pada saat Jawa Barat mengalami kekosongan kekuasaan, maka ketika itu terjadilah sebuah proklamasi Negara Islam di Nusantara, sebuah negeri Al-Jumhuriyah Indonesia yang kelak kemudian dikenal sebagai Ad-Daulatul Islamiyah atau Darul Islam atau Negara Islam Indonesia yang lebih dikenal oleh masyarakat sebagai DI/TII. DI/TII di dalam sejarah Indonesia sering disebut para pengamat sebagai Islam yang muncul dalam wajah tegang. Bahkan, peristiwa ini tercatat dalam sejarah sebagai sebuah pemberontakan. Akhirnya, perjuangan panjang Kartosoewirjo selama 13 tahun pupus setelah Kartosoewirjo sendiri tertangkap. Pengadilan Mahadper pada tanggal 16 Agustus 1962, menyatakan bahwa perjuangan Kartosoewirjo dalam menegakkan Negara Islam Indonesia itu adalah sebuah pemberontakan. Hukuman mati kemudian diberikan kepada Kartosoewirjo. Tentang kisah wafatnya Kartosoewirjo, tidak banyak sumber yang memaparkan informasinya secara jelas. Mulai dari eksekusi matinya hingga letak jasadnya dimakamkan pun terkesan serba misterius. SINONIM NII DI NUSANTARA Gerakan pemberontakan yang dilakukan NII Kartosoewiryo sendiri memiliki kesamaan dengan gerakan makar di beberapa tempat lain dengan tokoh yang berbeda. Dikenal beberapa nama seperti Daud Beureueh di Aceh, Ibnu Hadjar di Kalimantan Selatan, Amir Fatah di Jawa Tengah, dan Kahar Muzakkar[4] di Sulawesi Selatan. Pemberontakan DI/TII di Aceh dimulai dengan Proklamasi Daud Beureueh bahwa Aceh merupakan bagian Negara Islam Indonesia di bawah pimpinan Imam Kartosuwirjo pada tanggal 20 September1953. Daued Beureueh pernah memegang jabatan sebagai Gubernur Militer Daerah Istimewa Aceh sewaktu agresi militer pertama Belanda pada pertengahan tahun 1947. Sebagai Gubernur Militer ia berkuasa penuh atas pertahanan daerah Aceh dan menguasai seluruh aparat pemerintahan baik sipil maupun militer. Sebagai seorang tokoh ulama dan bekas Gubernur Militer, Daud Beureuh tidak sulit memperoleh pengikut. Daud Beureuh juga berhasil memengaruhi pejabat-pejabat Pemerintah Aceh, khususnya di daerah Pidie. Untuk beberapa waktu lamanya Daud Beureuh dan pengikut-pengikutnya dapat mengusai sebagian besar daerah Aceh termasuk sejumlah kota.

Sesudah bantuan datang dari Sumatera Utara dan Sumatera Tengah, operasi pemulihan keamanan ABRI ( TNI-POLRI ) segera dimulai. Setelah didesak dari kota-kota besar, Daud Beureuh meneruskan perlawanannya di hutan-hutan. Penyelesaian terakhir Pemberontakan Daud Beureuh ini dilakukan dengan suatu Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh pada bulan Desember 1962 atas prakarsa Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel Jendral Makarawong. Amir Fatah merupakan tokoh yang membidani lahirnya DI/TII Jawa Tengah. Semula ia bersikap setia pada RI, namun kemudian sikapnya berubah dengan mendukung Gerakan DI/TII. Perubahan sikap tersebut disebabkan oleh beberapa alasan. Pertama, terdapat persamaan ideologi antara Amir Fatah dengan S.M. Kartosuwirjo, yaitu keduanya menjadi pendukung setia Ideologi Islam. Kedua, Amir Fatah dan para pendukungnya menganggap bahwa aparatur Pemerintah RI dan TNI yang bertugas di daerah Tegal-Brebes telah terpengaruh oleh orang-orang Kiri, dan mengganggu perjuangan umat Islam. Ketiga, adanya pengaruh orang-orang Kiri tersebut, Pemerintah RI dan TNI tidak menghargai perjuangan Amir Fatah dan para pendukungnya selama itu di daerah Tegal-Brebes. Bahkan kekuasaan yang telah dibinanya sebelum Agresi Militer II, harus diserahkan kepda TNI di bawah Wongsoatmojo. Keempat, adanya perintah penangkapan dirinya oleh Mayor Wongsoatmojo. Hingga kini Amir Fatah dinilai sebagai pembelot baik oleh negara RI maupun umat muslim Indonesia. Pada bulan Oktober 1950 DI/ TII juga tercatat melakukan pemberontakan di Kalimantan Selatan yang dipimpin oleh Ibnu Hadjar. Para pemberontak melakukan pengacauan dengan menyerang pos-pos kesatuan ABRI (TNI-POLRI). Dalam menghadapi gerombolan DI/TII tersebut pemerintah pada mulanya melakukan pendekatan kepada Ibnu Hadjar dengan diberi kesempatan untuk menyerah, dan akan diterima menjadi anggota ABRI. Ibnu Hadjar sempat menyerah, akan tetapi setelah menyerah dia kembali melarikan diri dan melakukan pemberontakan lagi sehingga pemerintah akhirnya menugaskan pasukan ABRI (TNI-POLRI) untuk menangkap Ibnu Hadjar. Pada akhir tahun 1959 Ibnu Hadjar beserta seluruh anggota gerombolannya tertangkap dan dihukum mati. Pemerintah berencana membubarkan Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) dan anggotanya disalurkan ke masyarakat. Tenyata Kahar Muzakkar menuntut agar Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan dan kesatuan gerilya lainnya dimasukkan delam satu brigade yang disebut Brigade Hasanuddin di bawah pimpinanya. Tuntutan itu ditolak karena banyak di antara mereka yang tidak memenuhi syarat untuk dinas militer. Pemerintah mengambil kebijaksanaan menyalurkan bekas gerilyawan itu ke Corps Tjadangan Nasional (CTN). Pada saat dilantik sebagai Pejabat Wakil Panglima Tentara dan Tetorium VII, Kahar Muzakkar beserta para pengikutnya melarikan diri ke hutan dengan membawa persenjataan lengkap dan mengadakan pengacauan. Kahar Muzakkar mengubah nama pasukannya menjadi Tentara Islam Indonesia dan menyatakan sebagai bagian dari DI/TII Kartosuwiryo pada tanggal 7 Agustus 1953. Tanggal 3 Februari 1965, Kahar Muzakkar tertembak mati oleh pasukan ABRI (TNI-POLRI) dalam sebuah baku tembak. ANALISIS Jawa Timur merupakan propinsi di Indonesia dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi. Pada tahun 2007, tercatat ada sebanyak 36.895.571 jiwa manusia yang hidup di Jawa Timur dengan tingkat kepadatan sebesar 814 jiwa/km2, sedangkan pada tahun 2008, tercatat ada 37.094.836 jiwa yang hidup di Jawa Timur dengan laju pertumbuhan sebesar 0,54%. Secara umum, kawasan perkotaan memiliki tingkat kepadatan penduduk lebih tinggi dibanding dengan kepadatan penduduk yang hidup di kawasan pedesaan. Dari sisi etnisitas, Jawa Timur menjadi satu kawasan yang relatif heterogen, walaupun secara umum suku Jawa menjadi mayoritas dengan menempati sebagaian besar kawasan di tiap kawasan. Selain itu juga ada suku Madura yang umumnya bermukim di pulau Madura dan kawasan timur dari Jawa Timur. Pada umumnya, suku ini bekerja pada aspek informal dan dapat dijumpai di tiap kota. Di kawasan Tengger juga terdapat suku Tengger yang merupakan keturunan para pelarian dari kerajaan Majapahit setelah mengalami keruntuhannya. Terdapat juga suku Osing yang menempati sebagian kawasan di Banyuwangi, ada juga suku Samin yang menempati kawasan di kabupaten Bojonegoro. Selain etnis asli Indonesia, Jawa Timur juga dihuni oleh suku Cina, Arab dan warga ekspatriat yang secara umum memiliki pekerjaan dalam sektor industri dan perdagangan. Dalam aspek keyakinan, tercatat angka 95,76% penduduk JawaTimur mayoritas beragama Islam. Kemudian 1,98% beragama Protestan; 0,98% beragama Katolik; 0,94% beragama Hindu; 0,29% beragama Budha; dan lainnya sebanyak 0,05%. Hal ini menunjukkan bahwa dalam aspek agama dan keyakinan, masyarakat Jawa Timur juga merupakan mayarakat yang heterogen. Keragaman agama dan keyakinan ini juga dapat dilihat dengan adanya fasilitas rumah ibadah dari tiap pemeluk agama yang ada. Sampai tahun 2007, di Jawa Timur tercatat ada 36.390 masjid; 156.902 langgar atau mushalla; 1.936 gereja Protestan; 342 gereja Katolik; 397 pura dan 169 vihara. Keragaman agama dan suku ini, terkadang dapat menimbulkan konflik atau kerusuhan antar kelompok dalam masyarakat. Sebelum tahun 2010, terdapat beberapa konflik bertemakan suku, ras, agama dan antar golongan (SARA) di Jawa Timur. Tahun 2005 terjadi 13 kasus kerusuhan SARA di kabupaten Malang (2 kasus); dan kabupaten Probolinggo (11 kasus). Tahun 2006 terjadi 4 kasus kerusuhan, yaitu di Sidoarjo (1 kasus); kabupaten Jember (2 kasus); dan di kabupaten Nganjuk (1 kasus). Tahun 2008 terjadi satu kerusuhan SARA di kabupaten Pasuruan. Beberapa waktu terakhir ini, telah terjadi penipuan terhadap beberapa mahasiswa di Jawa Timur melalui modus brain washing. Penipuan tersebut terungkap setelah beberapa mahasiswa yang menjadi korban terkuak oleh media massa. Kondisi ini tidak dapat dilepaskan dari faktor doktrin ajaran dari kelompok NII dalam proses rekrutmen anggota.

Terkait dengan persoalan doktrin. NII Kartosoewiryo berpendapat bahwa sesungguhnya saat ini sedang terjadi kebodohan baru (jahiliyah modern) dalam diri umat Islam. Sayangnya, jahiliyah modern ini di-back-up oleh penguasa di tiap lini. Penguasa yang berpihak kepada kelaliman ini disebut oleh mereka sebagai penguasa thaghut. Tiap muslim memiliki kewajiban moral untuk menegakkan ajaran Allah sekaligus membenarkan kelaliman yang sedang terjadi. Penegakan ajaran Tuhan sesuai dengan doktrinla hukma illa lillah (tidak ada hukum yang wajib dijalankan selain hukum Allah). Jalan yang paling efektif untuk melakukan pembenahan tersebut adalah dengan cara menegakkan pemerintahan Islam (khilafah a-Islamiyah) yang harus dijalankan dengan melakukan jihad ofensif. Maka jadilah NII Kartosoewiryo melakukan gerakan makar kepada RI dengan doktrin ini. Sampai saat ini, di tubuh NII sendiri telah terjadi polarisasi gerakan yang mengidentitaskan dirinya sebagai NII asli dan NII KW IX. NII KW (Komendemen Wilayah) IX adalah sempalan dari NII yang telah lebih dulu lahir. NII KW IX inilah yang pada waktu belakangan ini dituding sebagai organisasi dan jaringan yang bertanggung jawab atas praktek penipuan pada beberapa mahasiswa. NII KW IX disinyalir merupakan sempalan dari NII yang diwariskan oleh Kartosoewiryo. NII KW IX dituding oleh NII Kartosoewiryo sebagai hasil bentukan intelejen RI untuk melemahkan NII yang asli. Upaya untuk memperlemah NII asli itu dijalankan dengan melakukan berbagai penipuan kepada tiap kalangan untuk membangun citra negatif dari NII yang asli. Kelompok ini (NII KW IX) tidak bertujuan mendirikan negara Islam, tapi hanya ingin mencari keuntungan material semata.[5] Kini NII Kartosoewiryo lebih identik dengan kegiatan halaqah (kajian) yang dilakukan dengan basis massa yang dimilikinya. Kelompok ini tidak begitu lagi semarak menganjurkan warganya untuk melakukan kegiatan jihad ofensif kepada problematika kontemporer yang sedang terjadi. Kelompok ini lebih memilih untuk melakukan penyadaran internal tanpa pencucian otak pada orang lain. Mediasi penyadarannya adalah melalui kajian antar personal dan kelompok yang sudah ada dan diwariskan secara turun temurun. Keturunan laskar DI/TII Kartosoewiryo kini diyakini masih banyak bermukim di sekitar daerah Desa Cisampah, Kecamatan Ciawiligar, Kawedanan Cisayong, Tasikmalaya, Jawa Barat. Gerakan NII Kartosoewiryo ini mendapat tekanan pada masa rezim Orde Lama dan Orde Baru dalam bentuk fisik dan militer. Ini juga dialami oleh gerakan makar lain yang memiliki kesamaan dengan NII Kartosoewiryo, yaitu upaya membentuk Negara Islam Indonesia. Berbagai gerakan tersebut seperti yang pernah dilakukan oleh Daud Beureueh di Aceh, Ibnu Hadjar di Kalimantan Selatan, Amir Fatah di Jawa Tengah, dan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan. Kelompok-kelompok ini dianggap sebagai bagian dari bahaya latent dari pemerintah Orde Baru, sehingga mendapatkan perlakuan yang determinatif dari pemerintah. Jadilah ideologisasi yang masih dijalankan akan melalui jalur rahasia dengan harapan agar tidak terendus oleh intelejen negara. Ideologisasi ini hanya akan maksimal bila dilakukan dan dilambari secara tertutup dari keluarga ke keluarga lain yang memiliki hubungan kekerabatan. Maka konsep extended family menjadi sebuah media yang dapat menunjang ideologisasi NII versi Kartosoewiryo. Kelompok NII KW IX yang kini diyakini berada dalam kendali Abu Toto atau Panji Gumilang yang menjadi pengasuh di pesantren Al Zaytun[6], ditegaskan bukan menjadi bagian resmi dari NII Kartosoewiryo. Kelompok ini (NII KW IX) merupakan hasil rekayasa intelejen yang disusupkan oleh negara dalam upaya memperlemah NII warisan Kartosoewiryo.[7] Upaya memperlemah ini dijalankan melalui sebuah operasi untuk merekrut anggota baru NII KW IX dengan orientasi agar mereka akan dijadikan garda terdepan dalam pengumpulan uang yang wajib disetorkan sebagai bagian dari jihad membela kebenaran. Uang inilah yang kemudian dikelola oleh pimpinan NII KW IX. Diharapkan nantinya muncul banyak kerugian pada masyarakat secara luas, dan ketika khalayak menyadarinya, maka akan terjadi sikap antipasti terhadap NII. Sikap antipati ini diskenario oleh intelejen melalui NII KW IX agar muncul kekuatan aktif dari dalam masyarakat untuk menghindari NII Kartosoewiryo.[8] Terlepas dari itu rekayasa atau tidak adanya campur tangan intelejen negara terhadap NII Kartosoewiryo, pada dasarnya NII KW IX memiliki kejanggalan doktrin keagamaan yang sengaja di-agitasikan pada pengikutnya.[9] Hal itu dapat dilihat dari beberapa hal. Pertama, yaitu adanya konsep RMU (rububiyah, mulkiyah, dan uluhiyah) dalam konsep ketauhidannya. Ikrar syahadat asyhadu an la ilaha illallah dalam sistem doktrin NII KW IX adalah ibarat dasar tauhid yang menjelaskan keyakinan bahwa dalam keimanan dapat diumpamakan dengan tanaman. Ada akar, batang dan buah. Pengakuan pada Allah, menuntut penjalanan syariat Islam dengan kaffah, hal ini diibaratkan dengan batang dari pohon, sedangkan akarnya adalah negara Islam, dan buahnya adalah umat Islam secara keseluruhan. Maka upaya aktif untuk mendirikan negara Islam merupakan bagian penting dari tauhid yang diyakini. Jika tidak merasa berkewajiban untuk mendirikan negara Islam, maka ketauhidan yang diyakini belum benar.[10] Kedua, kelompok meringkas lima Hukum Dasar Islam (wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram) menjadi hanya tiga, yaitu wajib, haram dan sunnah. Tindakan ini berdampak pada status fiqh (hukum Islam) dari aktifitas yang mereka jalankan, termasuk dalam hal shalat. Dalam keyakinan NII KW IX, shalat masih belum diwajibkan pada saat ini, karena masih dalam kondisi jahiliyah yang sama dengan masa Rasulullah saw di Makkah. Maka jika ada anggota NII KW IX yang tidak shalat, juga tidak berdosa karena kewajiban itu sudah ditanggung oleh pemimpin mereka (Imam). Kewajiban melaksanakan shalat sudah tergantikan ketika mereka melakukan propaganda dan mengajak orang lain masuk kelompoknya. Ketiga, tentang puasa Ramadlan. Kelompok ini mengartikan puasa (shaum) bukan dengan pelaksanaan puasa di bulan Ramadlan, namun diartikan dengan upaya menjaga diri untuk menggunakan harta secara berlebihan. Harta yang digunakan secara berlebihan merupakan bagian dari perbuatan dosa, dan untuk menghindari itu mereka diwajibkan

menyerahkan sebagian hartanya untuk organisasinya. Dengan menyerahkan harta pada organisasi, maka kewajiban puasa Ramadlan menjadi lunas. Keempat, dalam masalah zakat, kelompok ini menegaskan bahwa memberikan harta kepada orang miskin adalah kewajiban mutlak yang harus dilakukan tiap anggota. Pemberian harta zakat itu dapat diberikan langsung, atau disalurkan kepada organisasinya. Untuk memenuhi kewajiban mutlak tersebut, kelompok ini menghalalkan segala macam cara, termasuk menipu. Doktrin seperti ini dapat ditengarai menjadi alasan kuat dimana dihalalkan berbagai macam cara penipuan untuk melunasi kewajiban terhadap organisasi. Kelima, tentang haji, kelompok NII KW IX menyatakan bahwa ibadah ini bukan merupakan kewajiban yang harus dilakukan sebagaimana mayoritas muslim melaksanakannya. Namun, kelompok ini menganggap bahwa haji adalah sebuah program organisasi yang waktu dan tempat pelaksanaannya diatur secara mandiri oleh NII KW IX. Beberapa doktrin tersebut menjadi dasar bahwa perbuatan aktifis NII KW IX bukan semata-mata persoalan kriminal. Persoalan agama juga tidak menjadi satu faktor utama dalam melihat permasalahan tersebut.[11] Namun lebih dari itu, persoalan tersebut juga merupakan persoalan perbedaan ideologi yang diyakini kebenarannya oleh pengikut kelompok ini. Tindakan kriminal yang lahir oleh kelompok ini tidak berangkat dari latar belakang yang kosong dan tiba-tiba. Ada sesuatu yang mendasari mereka untuk rela melakukan penipuan dan tindakan melanggar hukum lain, yaitu ideologi. Terkait dengan hal ini, maka sebenarnya yang menjadi perhatian serius adalah adanya ancaman sungguh-sungguh terhadap Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia. Ancaman itupun tidak bersifat sementara, namun bersifat laten yang berisi potensi kemunculannya pada dimensi ruang, waktu dan model yang berbeda. Bahaya latency ini ditambah dengan fakta bahwa korban atau orang yang direkrut oleh kelompok NII KW IX adalah kelompok mahasiswa dan pelajar yang dalam proyeksi 10 sampai 30 tahun kedepan mereka akan menjadi pelaku di semua sektor pembangunan di negara Indonesia. Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi pada bangsa Indonesia ketika Pancasila sudah terancam dalam sistem ideologi baru pada masa puluhan tahun mendatang. Tentunya hal ini harus dipandang tidak secara hitam-putih semata, namun harus dicermati secara komprehensif demi kepentingan Indonesia sebagai negara dan bangsa.[12] SOLUSI NII DI JAWA TIMUR Terkait dengan persoalan ini, maka ada beberapa solusi yang dapat dilakukan, yaitu: 1. 2. 3. 4. Memantapkan pilar kebangsaan melalui perkuliahan serta program pendidikan baik di tingkat perguruan tinggi maupun di tingkat SLTA; Menyelenggarakan berbagai seminar, simposium, semiloka, dan workshop dengan tema membedah ideologi NII dan pemantapan sila kebangsaan; Membuat instrument dalam seleksi tenaga pendidik/tenaga kependidikan/dan PNS lain untuk memahami ideologi peserta orang yang akan direkrut; Merumuskan aturan-aturan yang terkait dengan pentingnya penjaringan orang-orang atau kelompok yang memiliki ideologi berbeda dengan Pancasila. Di dalam aturan tersebut ditegaskan bentuk sangsi terhadap orang atau kelompok yang berideologi selain Pancasila; Menyelenggarakan temu organisasi mahasiswa/organisasi pemuda/organisasi pemuda Agama dalam rangka memahami pilar penyangga kebangsaan dan menghindari ideologi selain Pancasila; Membentengi mahasiswa/pemuda dari pengaruh negatif ideologi yang berseberangan dengan Pancasila; Pemerintah hendaknya berorientasi pada upaya memperbaiki tingkat kesejahteraan sosial, lapangan kerja, dan mengurangi jarak kemiskinan dalam masyarakat.

5. 6. 7.

[1] Yon Machmudi, Islamising Indonesia, (Canberra: ANU Press, 2008) h. 40 [2] Al-Chaidar, Siapa S.M. Kartosoewirjo?, (http://www.hidayatullah.com/sahid/9905/sejarah.html) [3] Lubis, Muhammad Ridwan, Pemikiran Sukarno tentang Islam, (Jakarta: Haji Masagung, 1992), h. 86-87 [4] Lihat Syafaruddin UsmanMhd, Tragedi Patriot dan Pemberontakan Kahar Muzakkar, (Yogyakarta: Narasi, 2010) [5] Ini didasarkan pada penuturan Al Chaidar yang menjadi mantan aktifis NII Kartosoewiryo. Periksahttp://ihwansalafy.wordpress.com/2011/04/28/beda-nii-kw-9-abu-toto-panji-gumilang-dan-nii-karto-soewiryo/ [6] Beberapa kajian menyatakan bahwa gerakan NII dengan berbagai propaganda ajaran yang menyimpang terbungkus rapi selama beberapa kurun waktu di pesantren Al-Zaytun. Lihat Umar Abduh,Membongkar Gerakan Sesat NII di Balik Pesantren Mewah Al-Zaytun, LPPI [7] Dalam beberapa literatur dituliskan bahwa dalam tubuh NII pernah ada konflik internal yang direkayasa oleh intelejen Indonesia. Klaim Adah Djaelani bahwa dirinya adalah penerus NII Kartosoewiryo, tidak dibenarkan oleh Raden Abdul Fatah Wirangganapati, mantan Kuasa usaha Komendemen Tertinggi Angkatan Perang NII yang saat polemic itu terjadi bertugas mengangkat panglima komandemen wilayah. Lihat Endang Turmudi dan Riza Sihbudi (ed), Islam dan Radikalisme di Indonesia, (Jakarta: LIPI Press, 2005) h. 228 [8] http://ihwansalafy.wordpress.com/2011/04/28/beda-nii-kw-9-abu-toto-panji-gumilang-dan-nii-karto-soewiryo/

[9] Kejanggalan tersebut melahirkan berbagai opini yang mempertanyakan kembali otentitas NII, khususnya doktrin ajaran NII yang ada. Lihat Nur Syam, Masih Adakah Yang Percaya Gerakan NII, dalam http://nursyam.sunanampel.ac.id/#/?p=2619. Hal ini juga didukung dengan komparasi antara ajaran NII dengan substansi ajaran Islam yang bertolak belakang. Periksa juga Nur Syam, Dimanakah Rasionalitas NII, http://nursyam.sunan-ampel.ac.id/#/?p=2626. [10] Lihat Endang Turmudi dan Riza Sihbudi (ed), Islam dan Radikalisme di Indonesia, (Jakarta: LIPI Press, 2005) h. 233 [11] Nur Syam, NII Adalah Ideologi, http://nursyam.sunan-ampel.ac.id/#/?p=2629. [12] Nur Syam, Mempertahankan NKRI di Era Pertarungan Ideologi. Lihat http://nursyam.sunanampel.ac.id/#/?p=2613

Menelusuri Perjalanan Jihad S.M. KARTOSUWIRYO


April 27, 2012

oleh : Irfan S Awwas Dalam sejarah politik nasional, nama S.M. Kartosuwiryo diguratkan dengan tinta agak gelap. Bahkan ia diidentikkan dengan gambar kelam yang ada kalanya bernuansa mistis. Buku-buku sejarah nasional memosisikan Kartosuwiryo sebagai orang yang bermimpi mendirikan negara baru. Hal ini berlangsung hingga sekarang Padahal Kartosuwiryo bukanlah tokoh yang garang atau misterius. Ia lahir dari keluarga yang jelas. Begitu juga pendidikan formal, profesi, dan keterkait-annya dengan tokoh-tokoh nasional seperti Abikusno, Panglima Besar Jenderal Sudirman, Agus Salim, H.O.S. Cokroaminoto, dan bahkan Soekarno. Gambaran kelam soal Kartosuwiryo ini, muncul dari situasi yang disemaikan pemerintahan Soekarno. Sebab utamanya karena Soekarno yang berpaham komunis merasa terancam kedudukannya. Maka dia mencari dukungan dengan memperalat umat Islam untuk menghadapi saudaranya sesama muslim dalam Negara Islam Indonesia (NII).Konspirasi Soekarno dengan ulama NU sehingga ia menerima julukan waliyyul amri ad-dharuri bisy-syaukah, juga merupakan rekayasa Soekarno untuk meredam kecenderungan masyarakat kepada konsep negara Kartosuwiryo. Untuk memenuhi syarat sebagai waliyyul amri, Bung Karno mendirikan masjid Baiturrahim di Istana Negara. Prakteknya, masjid itu didirikan sebagai simbol semata agar rakyat menilainya

sebagai pemimpin yang taat menjalankan ajaran-ajaran Islam Sikap permusuhan terhadap Islamisme seperti itu terus berkembang dan meluas, tidak saja di kalangan sipil tapi juga di lingkungan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (lahir di Cepu, Jawa Tengah, 7 Januari 1905 meninggal 5 September 1962 pada umur 57 tahun) adalah seorang ulama karismatik yang memproklamirkan Negara Islam Indonesia (NII) di Tasikmalaya pada tahun 1949.

Sejarah hidup Pada tahun 1901, Belanda menetapkan politik etis (politik balas budi). Penerapan politik etis ini menyebabkan banyak sekolah modern yang dibuka untuk penduduk pribumi. Kartosoewirjo adalah salah seorang anak negeri yang berkesempatan mengenyam pendidikan modern ini. Hal ini disebabkan karena ayahnya memiliki kedudukan yang cukup penting sebagai seorang pribumi saat itu. Pada umur 8 tahun, Kartosoewirjo masuk ke sekolah Inlandsche School der Tweede Klasse (ISTK). Sekolah ini menjadi sekolah nomor dua bagi kalangan bumiputera. Empat tahun kemudian, ia masuk ELS di Bojonegoro (sekolah untuk orang Eropa). Orang Indonesia yang berhasil masuk ELS adalah orang yang memiliki kecerdasan yang tinggi. Di Bojonegoro, Kartosoewirjo mengenal guru rohaninya yang bernama Notodiharjo, seorang tokoh Islam modern yang mengikuti alur pemikiran Muhammadiah. Ia menanamkan pemikiran Islam modern ke dalam alam pemikiran Kartosoewirjo. Pemikiran Notodiharjo ini sangat memengaruhi sikap Kartosoewirjo dalam meresponi ajaran-ajaran Islam. Setelah lulus dari ELS pada tahun 1923, Kartosoewirjo melanjutkan studinya di Perguruan Tinggi Kedokteran Nederlands Indische Artsen School. Pada masa ini, ia mengenal dan bergabung dengan organisasi Syarikat Islam yang dipimpin oleh H. O. S. Tjokroaminoto. Ia sempat tinggal di rumah Tjokroaminoto. Ia menjadi murid sekaligus sekretaris pribadi H. O. S. Tjokroaminoto. Tjokroaminoto sangat memengaruhi perkembangan pemikiran dan aksi politik Kartosoewirjo. Ketertarikan Kartosoewirjo untuk mempelajari dunia politik semakin dirangsang oleh pamannya yang semakin memengaruhinya untuk semakin mendalami ilmu politik. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila nanti Kartosoewirjo tumbuh sebagai orang yang memiliki integritas keIslaman yang kuat dan kesadaran politik yang tinggi. Semasa kuliah di Surabaya inilah Kartosoewirjo banyak terlibat dalam organisasi pergerakan nasional seperti Jong Java dan Jong Islamieten Bond (JIB), dua organisasi pemuda yang berperan penting dalam Sumpah Pemuda 1928. Selain itu ia juga masuk Sjarikat Islam (SI) dan banyak dipengaruhi oleh pemikiran politik HOS Tjokroaminoto yang sangat mengangan-angankan

berdirinya sebuah baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur (negeri yang makmur dan diridhoi Allah SWT). Ketika Syarikat Islam berubah menjadi Partai Sjarikat Islam Hindia Timur (PSIHT), Kartosoewirjo dipercaya memegang jabatan sekretaris jenderal. Saat itu usianya masih sangat muda, baru 22 tahun. Kariernya kemudian melejit saat ia menjadi sekretaris jenderal Partai Serikat Islam Indonesia (PSII). PSII merupakan kelanjutan dari Sarekat Islam. Kartosoewirjo kemudian bercita-cita untuk mendirikan negara Islam (Daulah Islamiyah). Di PSII ia menemukan jodohnya. Ia menikah dengan Umi Kalsum, anak seorang tokoh PSII di Malangbong. Ia kemudian keluar dari PSII dan mendirikan Komite Pembela Kebenaran Partai Sarekat Islam Indonesia (KPKPSII). Kartosoewirjo amat kritis. Ia banyak menulis kritikan baik bagi penguasa pribumi maupun pemerintah kolonial di Harian Fadjar Asia, surat kabar tempatnya bekerja sebagai wartawan dan beberapa saat kemudian diangkat sebagai redaktur. Ketika Jepang menguasai Hindia Timur, seluruh organisasi pergerakan dibubarkan. Jepang hanya memperbolehkan beberapa organisasi yang dianggap tidak membahayakan kedudukan Jepang. Oleh karena itu PSIHT dibubarkan dan berganti menjadi Madjlis Islam Alaa Indonesia (MIAI) pimpinan Wondoamiseno. Kala itu Kartosoewirjo menjabat sebagai sektretaris Majelis Baitul-Mal, organisasi di bawah MIAI. Menurut Kartosoewirjo, PSII adalah partai yang berdiri di luar lembaga yang didirikan oleh Belanda. Oleh karena itu, ia menuntut suatu penerapan politik hijrah yang tidak mengenal kompromi. Menurutnya, PSII harus menolak segala bentuk kerjasama dengan Belanda tanpa mengenal kompromi dengan cara jihad. Ia mendasarkan segala tindakkan politiknya saat itu berdasarkan pembedahan dan tafsirannya sendiri terhadap Al-Quran. Ia tetap istiqomah pada pendiriannya, walaupun berbagai rintangan menghadang, baik itu rintangan dari tubuh partai itu sendiri, rintangan dari tokoh nasionalis, maupun rintangan dari tekanan pemerintah Kolonial. Pada masa perang kemerdekaan, Kartosoewirjo terlibat aktif tetapi sikap kerasnya membuatnya sering bertolak belakang dengan pemerintah, termasuk ketika ia menolak pemerintah pusat agar seluruh Divisi Siliwangi melakukan long march ke Jawa Tengah. Perintah long march itu merupakan konsekuensi dari Perjanjian Renville yang sangat mempersempit wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Kartosoewirjo juga menolak posisi menteri yang ditawarkan Amir Sjarifuddin yang saat itu menjabat Perdana Menteri. Ketika Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, sebuah sumber menyatakan bahwa sebenarnya Kartosoewirjo sudah terlebih dahulu memproklamirkan kemerdekaan sebuah negara Islam. Namun atas pertimbangan kebangsaan dan kesatuan ia mencabut kembali proklamasi tersebut dan bersedia turut menegakkan Republik Indonesia dengan syarat umat Islam Indonesia diberi kesempatan untuk menjalankan syariat Islam. Hal ini sebagaimana tercantum dalam sila pertama Piagam Jakarta yang kemudian dihapus sehingga hanya menyisakan kalimat Ketuhanan yang Maha Esa saja.

Penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta tersebut merupakan awal retaknya hubungan Kartosoewirjo dan Soekarno, teman seperguruannya semasa masih dididik oleh HOS

Tjokroaminoto. Keduanya memang menunjukkan sikap dan prinsip politik berbeda. Kartosoewirjo adalah seorang muslim taat yang mencita-citakan berdirinya negara berdasarkan syariat Islam, sedangkan Soekarno nasionalis sekuler yang lebih mementingkan persatuan dan kesatuan Indonesia dengan Pancasila-nya. Hal ini membuat Kartosoewirjo selalu berseberangan dengan pemerintah RI. Ia bahkan menolak jabatan menteri yang ditawarkan Perdana Menteri Amir Sjarifuddin. Ketika wilayah Republik Indonesia hanya tinggal Yogyakarta dan beberapa karesidenan di Jawa Tengah sebagai hasil kesepakatan dalam Perjanjian Renville, Kartosoewirjo melihat peluang untuk mendirikan negara Islam yang dicita-citakannya. Maka iapun memprokamasikan Negara Islam Indonesia (NII) di Malangbong, Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 7 Agustus 1949. Jawa Barat waktu itu merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Belanda, sehingga klaim sejarah yang menyatakan bahwa Kartosoewirjo merupakan pemberontak Republik Indonesia seharusnya dipelajari kembali. Pada tanggal 27 Desember 1949 pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS) dibentuk sebagai hasil dari Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda. Dalam negara federasi yang diakui kedaulatannya oleh Kerajaan Belanda itu, Republik Indonesia di Yogyakarta merupakan salah satu dari 16 negara federal anggota RIS. Soekarno terpilih sebagai presiden RIS, sedangkan jabatan presiden RI diserahkan pada Mr. Asaat. Terbentuknya RIS secara otomatis membenturkan NII dengan RIS karena Negara Pasundan bentukan Belanda yang menguasai wilayah Jawa Barat merupakan anggota federasi RIS. Konfrontasi memperebutkan Jawa Baratpun meletus. RIS merasa berhak atas Jawa Barat berdasarkan hasil KMB, sedangkan NII bersikeras mereka lebih berhak karena telah lebih dulu memproklamasikan diri sebelum dibentuknya Negara Pasundan dan RIS. Kekecewaannya terhadap pemerintah pusat semakin membulatkan tekadnya untuk membentuk Negara Islam Indonesia. Kartosoewirjo kemudian memproklamirkan NII pada 7 Agustus 1949. Tercatat beberapa daerah menyatakan menjadi bagian dari NII terutama Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan Aceh. Pemerintah Indonesia kemudian bereaksi dengan menjalankan operasi untuk menangkap Kartosoewirjo. Gerilya NII melawan pemerintah berlangsung lama. Perjuangan Kartosoewirjo berakhir ketika aparat keamanan menangkapnya setelah melalui perburuan panjang di wilayah Gunung Rakutak di Jawa Barat pada 4 Juni 1962. Perang NII-RIS berlangsung selama 13 tahun. Dalam masa 13 tahun itu RIS berubah bentuk menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Negara Pasundan menjadi provinsi Jawa Barat. Hal ini membuat NII semakin terpojok karena dengan bentuk baru RIS tersebut NII seperti negara dalam negara

Pada akhirnya tentara NKRI berhasil menghabisi perlawanan NII, ditandai dengan tertangkapnya SM Kartosoewirjo selaku Imam Besar (presiden) NII di wilayah Gunung Geber pada 4 Juni 1962. Mahkamah militer menyatakan Kartosoewirjo bersalah dan menjatuhkan hukuman mati. Mantan aktivis, jurnalis, sekaligus ulama kharismatik itupun menghembuskan napas terakhirnya di depan regu tembak NKRI pada September 1962. Pada masa Orde Baru (orde militerisme), Islamisme agaknya dipandang lebih berbahaya daripada sekularisme, komunisme atau misionaris Kristen dan Yahudi. Bahkan Seminar TNI Angkatan Darat (Agustus 1966) di Bandung malah bersikap antipati, menganggap gerakan Darul Islam (DI) atau NII sebagai musuh bangsa nomor satu, baru menyusul PKI.

Sikap istiqamah yang ditunjukkan Kartosuwiryo terhadap cita-cita perjuangan yang telah digariskannya patut diteladani oleh siapa saja (para aktivis) yang menyebut dirinya sebagai orang pergerakan, apa pun ideologinya, dengan terlebih dahulu mengenyampingkan naluri sektarian yang ada pada dirinya.

http://ruangjuang.wordpress.com/2012/04/27/menelusuri-perjalanan-jihad-s-m-kartosuwiryo/

N-11 DAN N12 1


N-11 DALAM NEGARA DEMOKRASI

Pendahuluan Data empirik pada realitas politik menunjukkan, dalam dua pemilu terakhir suara partai Islam melorot tajam. Bahkan dalam sejarah pemilu di Indonesia dukungan terbesar pemilih muslim pada parpol Islam terjadi pada pemilu 1955 sebesar 44%. Setelah itu dengan segala dinamika yang menyertai, parpol Islam memperoleh dukungan tidak lebih dari 30%. Partaipartai Islam sebagai alat perjuangan politik Islam tidak mendapat dukungan yang signifikan, sementara kehendak untuk mendirikan negara Islam dan menjadi Islam sebagai dasar negara secara formal masih tetap kuat membara dalam kesadaran dan nalar aktivis muslim. Tampaknya bagi sebagian umat Islam kegagalan meraih dukungan signifikan dari pemilih muslim demikian bukan dipahami sebagai kesalahan strategi dalam berkomunikasi dan merebut hati rakyat yang mayoritas muslim. Tetapi sebaliknya sering dipahami sebagai akibat konspirasi jahat kekuatan anti-Islam dari dalam dan luar negeri. Karena itu, respon yang muncul justru aktualisasi kekuatan latin koservatisme dalam komunitas gerakan Islam. Dari sini muncul kembali romantisme ke masa lalu yang jauh ke model sistem khilafat atau romatisme dekat ke masa awal-awal kemerdekaan yaitu NII yang pernah lahir dalam sejarah nasional. Selanjutnya, gerakan NII tidak pernah lenyap dari cita-cita sebagian umat Islam di Indonesia. Cita-cita mengenai negara Islam Indonesia tidak berhenti seiring diantangkapnya deklarator NII RM Kartosoewirjo oleh TNI pada tahun 1962. Dari waktu ke waktu hingga era reformasi saat ini cita-cita NII tetap menjadi payung bagi sejumlah gerakan Islam baik secara struktural maupun kultural, dalam landscape sistem demokrasi.

Diversifikasi Gerakan NII Di Indonesia wacana dan karya kesarjanaan tentang negara Islam sering dikaitkan dengan aspirasi ideologis dan politis golongan agama yang kemudian bermetamorfosis menjadi partai Islam. Ini karena mereka, sebagaimana tercermin dalam di Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (1945) dan sidang Konstituante (1956-1957) ingin menjadikan Islam sebagai dasar negara. Sebagaimana dimaklumi khalayak, perdebatan dalam BPUPKI lebih pada keinginan menjadikan Islam sebagai dasar negara, bukan negara Islam. Baru pada 7 Agustus Kartosoewirjolah yang jauh melangkah menyatakan sikap politiknya secara tegas mengumumkan berdirinya NII melalui gerakan. Namun begitu, sejatinya ada banyak ulasan dan

alasan (interpretasi) agamis, sosiologis, politis mengapa NII muncul sebagai cita-cita sebagian pemeluk Islam di Indonesia sejak sebelum negeri ini terbebas dari kolonialisme. Dari aspek pengalaman keagamaan pendiri gerakan NII sejatinya tidak cukup meyakinkan untuk menjadi pioner gerakan Islam militan. Cornelis Van Dijk, dalam bukunyaDarul Islam, setidaknya menggambarkan sosok SM Kartosoewirjo sebagai orang yang tidak masuk dalam kategori santri dalam terminologi Geertz. Sekolahnya pun tidak berasal dari pesantren tetapi dari sekolah HIS dan NIAS, sekolah dokter Jawa milik pemerintah kolonial. Sementara keluarganya berasal dari struktur priyayi. Ayahnya seorang penjual candu, seorang perantara dalam jaringan distribusi candu siap pakai yang dikontrol dan diusahakan oleh pemerintah /kolonial (Tempo, 22 Agustus 2010, 72). Terlepas asal-usul keluarga dan pendidikan formal itu, ia memang pernah berguru kepada HOS Cokroaminoto bapak pergerakan nasionalisme Indonesia melalui syarikat Islamselama sekitar empat tahun di Surabaya. Berbeda dengan Soekarno (nasionalis) dan Semaun (komunis) yang pernah menjadikan Cokroaminoto sebagai mentor dan inspirator gerakan, Kartosoewirjo setelah rampung berguru ditunjuk sebagai wakil PSII di Jawa Barat dan bahkan pernah bergabung ke Masyumi (7/8/1945). Kartosoewirjo banyak mendapatkan wawasan keagamaan secara otodidak dan dari para guru yang dijumpai di Malangbong Garut Jawa Barat. Lazimnya sebuah gerakan sempalan muncul karena faktor ketidakterimaan terhadap reposisi suatu kelompok dalam tatanan baru. Ada semacam kecemburuan tidak dilibatkannya kelompok Kartosoewirjo dalam proses peletakan dasar-dasar bernegara pascakolonialisme. Deklarasi NII, menurut Deliar Noer juga karena kekecewaan terhadap isi Persetujuan Renville. Kartosoewirjo yang saat itu memimpin sebagian kekuatan bersenjata umat di daerah Jawa Barat tidak setuju dengan perjanjian Renville yaitu ditariknya kekuatan bersenjata Indonesia, termasuk Hizbullah dan Sabilillah dari daerah yang dianggap dikuasai Belanda yang sebagian wilayahnya adalah Jawa Barat. Sementara itu, rakyat juga masih diselimuti kecemasan atas jatuhnya pemerintahan RI di Yogyakarta pada Desember 1948 karena aksi militer Belanda, dan ditangkapnya sejumlah tokoh penting dalam pemerintahan, sehingga terjadi kekosongan pemerintahan RI. Vacum of power seringkali memunculkan pikiran-pikiran liar untuk memanfaatkan kesempatan dengan memisahkan diri dari keseluruhan sistem yang sedang berlangsung. Dalam situasi semacam ini NII menemukan momentum dipermaklumkan. Dalam konteks ini kental warna kebencian terhadap kolonialisme Belanda dalam kaitannya dengan berdirinya NII. NII Kartosoewirjo menetapkan dua tahap perjuangan revolusi. Pertama revolusi nasional, melawan penjajah Belanda yang sudah berhasil dilakukan pada proklamasi kemerdekaan Indonesia. Kedua, revolusi sosial melawan pemerintahan Indonesia yang tidak berdasarkan Islam tetapi menganut sistem demokrasi dan Pancasila (Haluan Politik Islam, 1946). Kartosoewirjo ditangkap hidup-hidup di gunung Geber Majalaya tahun 1962 setelah 13 tahun gerilya melawan TNI dan dieksekusi oleh regu tembak pada 5 September 1962 bersama

lima anak buahnya. Situasi dan dinamika NII segera berubah antara diburu untuk dilenyapkan atau dijinakkan guna kepentingan politik baru seiring dengan pemberontakan PKI (gerakan 30 September 1965). Karena Orba akan segera menggelar pemilu bersaing dengan PKI maka anggota NII dijinakkan sebagai alat rahasia untuk memenangkan Golkar di wilayah Jabar khususnya. Pada tahun 1971 mereka dibiayai untuk mengadakan reuni eks-NII dan penyuluhan sekitar pemilu serta menjadikan PKI sebagai musuh bersama. Maka berlakulah prinsip musuh dari musuh adalah teman. Gagasan negara Islam tidak mati setelah Kartosoewirjo mangkat. Operasi inteljen untuk menjinakkan justru memicu gerakan neo-Darul Islam, dengan ragam faksi dan metode gerakan. Sempat terjadi pembelahan kedalam dua sel, yakni kelompok fillah (berjuang tanpa tanpa senjata) dan kelompok fisabilillah (yang tetap mengobarkan perang dengan ideologi iman, hijrah, dan jihad. Memang dalam sosiologi gerakan keagamaan biasanya berlaku dalil, tatkala pimpinan telah dianggap lemah dan lamban dalam melakukan gerakan maka kelompok militan akan tampil menyelamatkan etika kelompok dengan risiko memisahkan diri dari kelompok dominan. Faksi NII mengalami pemendaran yang sangat kompleks. Di Garut misalnya masih ada Sensen Komara menjalankan Negara Islam Indonesia, meneruskan perjuangan ayahnya yang juga petinggi DI era Kartosoewirjo. Faksi Ajengan Masduki, 1979 (DI ansharulah dan akram). Faksi Abdullah Sungkar 1993 (mendirikan Jamaah Islamiyah). Faksi Adah Djaelani 1995. Faksi Tahmid Rahmad Basuki, 1999. Faksi KW-9 Al-Zaytun pimpinan Panji Gumilang 1998.

Cita-Cita NII dalam Arena Demokarsi Gayuh dengan cita-cita NII lantaran kecewa dengan perjuangan tokoh muslim dalam merumuskan dasar negara, mimpi NII yang terus hidup juga selalu mendapat kipasan demografis muslim sebagai mayoritas. Secara statistik penduduk muslim di negeri ini mencapai 87%. Namun demikian pemeluk yang mayoritas itu memiliki orientasi keagamaan, ritual, politik, dan budaya yang berbeda-beda. Komposisi pemeluk sebagai mayoritas tersebut seringkali menjadi dasar tuntutan bagi pemberlakuan syariat, tuntutan penempatan Islam sebagai dasar negara hingga perjuangan pembentukan NII atau bentuk lain. Tuntutan lain adalah sudah sewajarnya mayoritas muslim mendirikan negara Islam dengan segala institusi detailnya. Sementara yang lain mengatakan pentingnya penerapan nilainilai Islam dalam format substansi dalam bingkai sistem demokrasi. Dalam konteks itulah lalu muncul persoalan, apakah penerapan Islam itu harus dalam format negara dan undang-undang NII sebagaimana Kartosoewirjo atau mengusung nilai luhur dalam suatu sistem yang kompatibel dengan sistem pemerintahan demokrasi modern? Jawaban terhadap pertanyaan itu beragam tergantung lingkungan sosial politik dan persepsi serta pemahaman terhadap situasi sosial dan arti kepemelukan secara statistik.Bagi yang mendukung negara Islam memiliki alasan sejarah tentang berdirinya berbagai kerajaan Islam di hampir seluruh sudut Tanah Air dari Aceh sampai Papua. Tentu saja ada alasan teologis,

bahwa seorang muslim harus mengikuti segenap perilaku Nabi Muhammad dalam segala aspeknya baik yang bersifat privat maupun publik-bernegara. Di lain pihak, tidak sedikit pula yang tidak mempermasalahkan bentuk negara atau dasar negara tetapi pada fungsi dan realisasi nilai-nilai luhur dan kemanusiaan yang pada satu sisi paralel dan kompatibel dengan sistem negara modern (Bilveer, 2007). Kelompok ini berpendapat bahwa suatu masyarakat bisa disebut menerapkan ajaran Islam dilihat dan diukur dari kualitas dan realitas kehidupan mereka. Kualitas itu meliputi seluruh aspek kehidupan sosial dan individual secara kasat mata walaupun tidak secara verbal dinyatakan sebagai negara Islam. Dua pandangan tersebut berimplikasi dalam berbagai persoalan, termasuk tentang sikap terhadap demokrasi. Sedikitnya ada tiga pendapat yang berbeda dalam menyikapi hubungan demokrasi dengan Islam. Pertama, mereka yang menolak demokrasi dengan mengatasnamakan Islam. Mereka ini bependapat bahwa demokrasi dan Islam adalah dua hal yang bertentangan dan tidak akan bisa dipertemukan. Mereka beralasan: (1) Demokrasi merupakan hasil pemikiran manusia sedangkan Islam berasal dari Allah. (2) Demokrasi berarti kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat; sedangkan Islam mengatakan bahwa kekuasaan itu milik Allah. (3) Demokrasi ditentukan oleh suara terbanyak, padahal belum tentu suara terbanyak merupakan kebenaran. Dalam buku ini kelompok yang termasuk dalam paham ini adalah gerakan-gerakan fundamentalis muslim seperti HTI, JAT, laskar Jihad, dan MMI. Mereka menolak demokrasi karena dinilai tidak islami. Iklim kebebasan justru memungkinkan komunitas ini tetap eksis bahkan bebas menyuarakan aspirasi. Ada yang dengan lantang menyuarakan sistem khilafah sebagai untuk mengamandemen demokrasi. Ada pula yang memilik golput karena demokrasi dianggap biang perpecahan, demokrasi musibah bagi bangsa Indonesia. Kedua, mereka yang pro-demokrasi secara moderat. Kelompok ini berpendapat bahwa ada yang positif dalam sistem demokrasi, dan hakikat dari demokrasi itu sendiri tidak bertentangan, bahkan bersesuaian, dengan ajaran Islam. Sebagaimana kita ketahui bahwa hakikat demokrasi itu adalah hak rakyat untuk memilih siapa pemimpinnya. Tidak boleh ada yang memaksa mereka untuk memilih pemimpin yang tidak mereka sukai, atau pemimpin zhalim, atau korup, yang merampas hak-hak mereka sebagai rakyat. Substansi demokrasi ini berarti juga meniscayakan perlu adanya mekanisme dalam pemerintahan yang memungkinkan rakyat untuk melakukan fungsi kontrol atau pengawasan, juga evaluasi terhadap jalannya pemerintahan. Disamping perlu pula adanya mekanisme yang memungkinkan rakyat memberikan peringatan dan menasihati pemimpin apabila mereka menyimpang dari amanat yang diberikan kepada mereka; juga peringatan keras kepada pemimpin yang tidak mau mendengarkan aspirasi rakyatnya; bahkan memungkinkan rakyat untuk memakzulkannya dengan jalan damai. Gerakan dan organisasi tradisonal, modernis moderat, dan tarekat masuk dalam kategori ini. Ketiga, kelompok yang menerima demokrasi dengan opsi. Mereka menerima demokrasi tetapi dengan catatan pengecualian. Ada yang menghalalkan pemilu namun mengharamkan

presiden perempuan dan pemimpin non-muslim. Ada juga yang memilih pemilu sebagai arena berjuang karena memberi peluang penerapan syariat Islam. Sementara ada juga yang menerima demokrasi karena mencegah bahaya yang lebih besar, yaitu mencegah kepemimpinan agama lain sehingga demokrasi diterima karena darurat.

Demokrasi sebagai Sasaran Antara Pasca-Orde baru runtuh tahun 1998 masa reformasi ketika semua golongan masyarakat bebas mengemukakan aspirasinya dan membentuk kelompok dan partai, muncul lagi gagasan NII. Praktek demokrasi memunculkan fenomena baru tentang rivalitas gagasa konservatif NII. Fenomena demikian merupakan pengalaman berharga bagi aktivis gerakan Islam sehingga memunculkan fenomena lain yang lebih menarik yaitu pemanfaatan demokrasi bagi tujuantujuan yang dalam banyak hal berbeda atau bertentangan dengan ide dasar demokrasi itu sendiri. Gagasan ini sepertinya tak pernah benar-benar lenyap dari kesadaran teologis dan ideologis pemeluk Islam di negeri ini. Kadang begitu kuat dan meluas menjadi wacana publik, tetapi sekali waktu tenggelam beredar secara diam-diam dari mulut ke mulut dari ruang bawah tanah. Pada saat yang lain kembali muncul secara terbuka dan mendadak dalam bentuk paling radikal dan keras yang bahkan membuat sebagian umat Islam mengecamnya. Karena itu, kuat diduga NII sengaja dimainkan untuk dalam situasi politik tertentu dan untuk tujuan kelompok tertentu pula. Eksplorasi yang amat memuaskan tentang bangkitnya gagasan negara Islam telah dilakukan oleh Haedar Nashir dalam Islam Syariat (2008). Bahwa perjuang penegakan negara Islam melalui jalur atas dan dan jalur bawah. Sejauh ini tidak ada buku lain yang setara dengan buku dari desertasi tersebut. Fenomena lain yang menarik dicermati era reformasi adalah munculnya gerakangerakan politik yang menumpang demokrasi. Mereka menerima demokrasi sebagai suatu keharusan sejarah yang harus dilalui. Karena itu demokrasi merupakan rumah singgah sementara yang dapat mengantarkan cita-cita utama negara Islam atau negara berdasar syariah Islam. Perjuangan penegakan hukum Islam harus melalui mekanisme yang berlaku yaitu dengan mendirikan partai politik, menempati posisi pengambil kebijakan, menerbitan undang-undang dan usaha-usaha lain yang konstitusional. Partai-partai Islam semacam PKS termasuk dalam kategori ini (hlm. 210). Jamaah Tablig, Al-Irsyad, Hidayatullah ormas yang dekat dengan sikap ini. Rekaman tentang keganjilan-keganjilan ekspresi dalam era demokrasi ini seputar cita-cita negara Islam ini dengan lugas dan provokatif diuraikan dalam buku Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia (2009). Pendek kata, cita-cita tegaknya negara Islam di Indonesia masih terus dikobarkan dengan beragam jalan. Sebagian berusaha mewujudkan dengan jalan jihad fisik. Sebagian dengan jalan memanfaatkan konstitusi, dan sebagian lain dengan jalur kultural dan pendidikan. Suka atau tidak suka, demokrasi telah menjadi bagian penting dalam pengelolaan bangsa yang mayoritas muslim ini. Yang menarik dari proses demokratisasi di Indonesia, bukan hanya bahwa

bangsa ini berhasil bangkit dari kungkungan politik otoritarian dan membangun sistem demokrasi di negeri Muslim terbesar di planet ini, melainkan juga fakta bahwa aktor-aktor utama dalam proses demokratisasi tersebut adalah para tokoh dan organisasi Muslim. Fakta keras ini yang kemudian membuat para pengamat dan advokat demokrasi menobatkan Indonesianegeri Muslim terbesar di planet inisebagai the shining example demokrasi di dunia Islam, sekaligus mengangkat Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga setelah India dan Amerika Serikat. Ini sekaligus mematahkan pandangan umum di kalangan sarjana dan pengamat Barat bahwa Islam memiliki banyak pertentangan dengan demokrasi, dan karena itu negeri Muslim adalah lahan tandus bagi proses demokratisasi. Apa yang terjadi di Indonesia lebih dari satu daswarsa lalu kini terulang di negara otoritarian dan monarki di negara-negara muslim di kawasan Arab-Afrika. Sekurang-kurangnya di sana akan terjadi pergumulan baru antara kekuatan-kekuatan Islam baik yang pro maupun yang kontra demokrasi.

Penutup Wacana yang mengemuka belakangan adalah ideologi pendirian negara Islam yang tak pernah padam itu tertuduh(?) sebagai biang kecemasan dalam masyarakat. Orang tua mencemaskan anaknya yang kuliah semakin saleh, dermawan mencemaskan pencari sumbangan, bupati mencemaskan sekolah yang tidak mau menyelenggarakan upacara, para veteran mencemaskan anak TK yang tidak hafal pancasila dan lagu Indonesia Raya. Semua kecemasan disinyalir bermuara pada ideologi emoh NKRI. Dalam berdemokrasi ideologi dan citacita apa saja boleh ditawarkan asalkan dengan mempertimbangkan konstitusi yang telah disepakati dan menjaga ketertiban umum dalam bingkai hukum yang berlaku. Cita-cita negara Islam, masyarakat Islam, sekuler, khilafah islamiyah, dan lain-lain bisa menjadi bagian dari keseluruhan model pilihan. Menutup tulisan ini ada baiknya disimak kegelisahan banyak pihak yang terwakili dalam kutipan berikut: Mekarnya NII, terorisme, dan radikalisme menghentak kesadaran semua pihak. Gerakan seperti ini tidak lah sederhana. Gerakan yang cenderung radikal ini biasanya lahir dalam kompleksitas masalah yang ruwet. Termasuk dalam ranah keagamaan. Gerkan ini muncul dari situasi politik, ekonomi dan budaya yang penuh antagonis, karena itu solusinya pun tidak dapat parsial, tetapi memerlukan pendekatan yang menyeluruh (Suara Muhammadiyah, 1-15 Juni 2011, hlm.6).

http://m-jinan.blogspot.com/2011/06/n-11-dan-n12-1.html

Foto-Foto Eksekusi Mati RM. Kartosoewirjo


At 12:37 PM Posted By Sukman Ibrahim Labels: Foto

Inilah foto pertama dalam sejarah modern Indonesia, detik-detik terakhir seorang tokoh pemberontak dari masa galau republik muda setelah kemerdekaan 1945 itu terungkap ke publik. Buku itu juga menyodorkan detil baru, yang kerap keliru disebut oleh banyak buku sejarah. Di satu set foto yang diterima Fadli Zon dari seorang kolektor, misalnya, jelas disebutkan sang Imam dieksekusi di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.

Foto-foto itu diambil dalam sekuens yang kronologis, sehingga ia mampu berbicara sendiri tentang perjalanan akhir seorang Kartosoewirjo. Tak jelas siapa fotografernya. Namun kata Fadli Zon dalam catatannya di bukunya itu Hari Terakhir Kartosoewirjo: 81 Foto Eksekusi Imam DI/TII, sangat mungkin diambil oleh salah satu anggota TNI yang bertugas hari itu. Menilik komposisi gambar, dan momen yang diambil, sang fotografer tampaknya biasa melakukan pekerjaan dokumentasi. Berikut kronologi naratif dari prosesi hukuman mati berdasarkan rangkaian foto di buku itu.

Pulau Ubi, Tempat Eksekusi

Menuju Tiang Tembak

Diikat di tiang tembak

Regu Tembak Siap Mengeksekusi

Tewas Dieksekusi

Mayatnya digotong menuju liang

Makam RM.Kartosoewirjo

http://alveroz.blogspot.com/2012/09/foto-foto-eksekusi-mati-rm-kartosoewirjo.html