Anda di halaman 1dari 110

ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI

PABRIK KELAPA SAWIT


(Studi Kasus Kabupaten Aceh Utara, Nanggroe Aceh
Darussalam)



SKRIPSI



MUKTI
A14103691











PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009
RINGKASAN
MUKTI. Analisis Kelayakan Investasi Pabrik Kelapa Sawit (Studi Kasus
Kabupaten Aceh Utara, Nanggroe Aceh Darussalam). Di bawah bimbingan RITA
NURMALINA SURYANA.

Kelapa sawit merupakan salah satu primadona tanaman perkebunan yang
menjadi salah satu penghasil devisa non-migas bagi Indonesia. Cerahnya prospek
komoditi minyak kelapa sawit dalam perdagangan minyak nabati dunia
mendorong pemerintah Indonesia untuk mengembangkan industri kelapa sawit
secara terintegratif (agroindustri). Pengembangan industri kelapa sawit sebagai
proses untuk meningkatkan added value bagi produk-produk yang berbasiskan
kelapa sawit, didukung oleh kebijakan-kebijakan pemerintah seperti program
revitalisasi perkebunan 2006-2010 (Departemen Pertanian,2006) dan subsisdi
investasi untuk perkebunan (Departemen Keuangan,2006).
Kabupaten Aceh Utara yang merupakan salah satu daerah potensial untuk
pengembangan industri kelapa sawit dengan luas areal perkebunan 29.187 ha dan
produksi 399.193 ton (2006). Pengembangan industri kelapa sawit baik perluasan
lahan maupun perbaikan produktivitas menyebabkan meningkatnya total produksi
tandan buah segar (TBS) sehingga membutuhkan pabrik pengolahan kelapa sawit
(PKS). Berdasarkan luas areal dan total produksi, Kabupaten Aceh Utara sudah
memenuhi syarat untuk pembangunan pabrik kelapa sawit sebagaimana yang telah
direkomendasi oleh pemerintah terkait dengan paket program kebun kredit
koperasi primer (KKPA) dan peraturan perizinan pembangunan pabrik kelapa
sawit (Peraturan Menteri Pertanian No. 26/Permentan/OT.140/2/2007). Sehingga
diperlukan penelitian tentang studi kelayakan pembangunan pabrik kelapa sawit
sebagai referensi layak atau tidaknya pembangunan pabrik kelapa sawit untuk
dilaksanakan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) Menganalisis kelayakan investasi
pembangunan pabrik kelapa sawit berdasarkan aspek teknis, institusional, pasar,
sosial dan lingkungan (non-finansial). (2) Menganalisis tingkat kelayakan
investasi pabrik kelapa sawit berdasarkan aspek finansial, serta (3) Menganalisis
sensitivitas kelayakan pabrik kelapa sawit terhadap perubahan biaya produksi dan
penurunan kapasitas produksi. Penelitian dilakukan pada Agustus-September
2008. Data yang digunakan merupakan data primer dan sekunder yang diperoleh
melalui observasi langsung serta studi literatur. Analisis dilakukan secara
kualitatif dan kuantitatif serta di kelompokkan menjadi dua skenario, skenario I
menggunakan dana sendiri sementara skenario II menggunakan dana pinjaman
kredit perbankan. Analisis kualitatif dilakukan secara deskriptif melalui observasi
dan studi literatur sedangkan analisis kuantitatif dilakukan dengan metode analisis
finansial berdasarkan kriteria NPV, IRR, B/C Ratio, Payback Period serta analisis
sensitivitas mengunakan indikator kenaikan biaya produksi sebesar 10 persen dan
penurunan kapasitas produksi 10 persen.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari perspektif aspek non-finansial
pembangunan pabrik kelapa sawit (PKS) kapasitas 30 ton TBS/jam di Kabupaten
Aceh Utara layak untuk dilaksanakan. Berdasarkan aspek non-finansial yang
terdiri dari aspek teknis, aspek pasar, institusional, sosial dan lingkungan tidak
terdapat kendala yang dapat menggangu proses operasional maupun tujuan yang
ingin dicapai dari pembangunan pabrik kelapa sawit. Sedangkan dari aspek
finansial berdasarkan asumsi-asumsi dan kriteria yang digunakan untuk skenario
I (dana sendiri) layak dilaksanakan dengan nilai NPV Rp. 106.698.657.000, IRR
22,34, B/C 2,30, PP 3 tahun 8 bulan. Sementara skenario II (pinjaman) tidak layak
untuk dilaksanakan secara finansial menurut hasil penilaian NPV (-Rp.
30.727.367.000, IRR 9,03, B/C 0,63, PP 6 tahun 4 bulan. Total investasi yang
dibutuhkan untuk pembangunan pabrik kelapa sawit sebesar Rp.82.368.421.000.
Hasil analisis sensitivitas dengan indikator kenaikan biaya produksi dan
penurunan kapasitas produksi, skenario I (dana sendiri) masih memungkinkan
untuk dilaksanakan sedangkan pada skenario II (pinjaman) pembangunan pabrik
kelapa sawit tidak layak untuk dilaksanakan.
Saran dari hasil penelitian ini adalah (1) berdasarkan rekomendasi
Pemerintah dan Peraturan menteri Pertanian No.26/Permentan/OT.140/2/2007,
idealnya Kabupaten Aceh Utara membutuhkan 2 unit Pabrik dengan Kapasitas 30
ton TBS per jam. (2) Pembangunan pabrik kelapa sawit di Kabupaten Aceh Utara
penting untuk dilaksanakan untuk menampung lonjakan produksi dan peran aktif
Pemerintah Daerah sangat diperlukan. (3) Untuk melindungi petani perkebunan
rakyat, sebaiknya pemerintah daerah kabupaten Aceh Utara membentuk BUMD
untuk pembangunan pabrik kelapa sawit, dengan pertimbangan luasan lahan dan
modal yang dimiliki oleh perkebunan rakyat tidak memadai dan memenuhi syarat
untuk perizinan pembangunan pabrik kelapa sawit.
























ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI
PABRIK KELAPA SAWIT
(Studi Kasus Kabupaten Aceh Utara, Nanggroe Aceh
Darussalam)










MUKTI
A14103691









Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada
Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor














PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009
Judul : Analisis Kelayakan Investasi Pabrik Kelapa Sawit (Studi Kasus
Kabupaten Aceh Utara, Nanggroe Aceh Darussalam)
Nama : Mukti
NRP : A14103691



Disetujui,
Pembimbing


Dr. Ir. Rita Nurmalina, MS.
NIP.19550713 198703 2 001





Mengetahui
Dekan Fakultas Pertanian


Prof.Dr.Ir. Didy Sopandie, M.Agr
NIP. 19571222 198203 1 002





Tanggal Lulus Ujian:
PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudulAnalisis Kelayakan
Investasi Pabrik kelapa Sawit, Studi Kasus kabupaten Aceh Utara, Nanggroe
Aceh Darussalam adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk
apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau
dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka dibagian
akhir skripsi ini.


Bogor, Agustus 2009

MUKTI
A 14103691
























RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Aceh Utara, Nanggroe Aceh Darussalam pada tanggal 30
Mei 1980. Penulis merupakan anak kedua dari dua bersaudara dari pasangan Wahi
dan Djuharen. Pendidikan formal penulis dimulai dari SDN 1 Samakurok Aceh
Utara (1992), SMPN 1 Samakurok Aceh Utara (1995) dan SMUN 1
Lhokseumawe (1998). Diploma III Program Studi Teknisi Peternakan, Fakultas
Peternakan, Institut Pertanian Bogor pada tahun 2000 selasai tahun 2003.
Kemudian tahun 2004 melanjutkan Strata I esktensi Manajemen Agribisnis,
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah S.W.T. atas segala
Rahmat dan Hidayah-Nya, sehingga skripsi yang berjudul Analisis Kelayakan
Investasi Pabrik Kelapa Sawit Kapasitas 30 ton TBS/jam (Studi Kasus Kabupaten
Aceh Utara, Nanggroe Aceh Darussalam) ini dapat diselesaikan. Skripsi ini
disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana pertanian pada
fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB).
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat kelayakan
Investasi pembangunan Pabrik Kelapa sawit (PKS) yang meliputi aspek financial
dan non-finansial serta analisis sensitivitas terhadap perubahan biaya produksi dan
penurunan kapasitas produksi. Penelitian dilakukan di Kabupaten Aceh Utara
Naggroe Aceh Darussalam.
Dengan segala kekurangan dan keterbatasan penulis, kritik dan saran
sangat diharapkan untuk kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat
bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan.




Bogor, Agustus 2009

Mukti

UCAPAN TERIMA KASIH

Syukur Alhamdulillah, pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati
penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah banyak
membantu baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap proses
penyusunan skripsi ini:
1. Keluarga penulis, atas segala pengorbanan dan ketabahan dalam mendidik
penulis.
2. Dr. Ir. Rita Nurmalina, MS, atas segala bimbingan, arahan, dorongan
moral dan pengorbanan waktu yang telah diberikan dalam proses
penyusunan dan penyelesaian skripsi ini.
3. Tanti Novianti, SP, M.Si, selaku dosen penguji utama serta dosen
evaluator kolokium atas kritik dan saran yang telah diberikan dalam
penyempurnaan skripsi ini.
4. Arif Karyadi Uswandi, SP, selaku dosen penguji wakil komisi pendidikan
atas koreksi dan saran yang telah diberikan.
5. Pimpinan beserta staff esktensi Manajemen Agribisnis.
6. Yosep Fernando selaku pembahas dalam seminar Skripsi.
7. Rekan dan sahabat, atas segala bantuannya.
8. Unit khusus bantuan korban bencana tsunami IPB, atas batuan biaya
pendidikan.
9. Fredericus Damianus, Direktur Utama PT. Bumi Maju Sawit, Sulawesi
Selatan.
10. Ir. Hasballah, Manager Pengembangan Bisnis PT. PDPA, Nanggroe Aceh
Darussalam.
11. Pengurus dan Penghuni Asrama Mahasiswa Aceh Leuser. Bogor
12. Pengurus Ikatan Mahasiswa Tanah Rencong (IMTR) Bogor.
13. Semua pihak baik secara langsung maupun tidak langsung yang telah
membantu dalam penyusunan skripsi ini.

DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR .................................................................................... i
UCAPAN TERIMA KASIH .......................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................. iv
DAFTAR TABEL .......................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. ix

I. PENDAHULUAN ..................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2 Perumusan Masalah .............................................................................. 4
1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................. 6
1.4. Kegunaan Penelitian ............................................................................ 7

II. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 8
2.1. Tandan Buah Segar ............................................................................. 8
2.2. Mutu Tandan Buah Segar .................................................................... 8
2.3. Perkebunan Kelapa Sawit .................................................................... 9
2.4. Pengolahan Kelapa Sawit .................................................................... 10
2.5. Penelitian Terdahulu............................................................................ 11

III. KERANGKA PEMIKIRAN ................................................................... 15

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis ................................................................ 15
3.1.1 Investasi ...................................................................................... 15
3.1.2 Studi Kelayakan Proyek ............................................................... 15
3.1.3 Aspek-aspek Analisis Kelayakan ................................................. 16
3.1.3.1 Aspek teknis .................................................................... 17
3.1.3.2 Aspek Pasar ..................................................................... 17
3.1.3.3 Aspek Institusional ........................................................... 17
3.1.3.4 Aspek Sosial dan Lingkungan .......................................... 18
3.1.3.5 Aspek Finansial ................................................................ 18
3.1.4. Analisis sensitivitas .................................................................... 19
3.1.5. Arus kas ..................................................................................... 20
3.2. Kerangka Pemikiran Operasional ........................................................ 20

IV. METODE PENELITIAN ........................................................................ 23

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................................... 23
4.2. Jenis dan Sumber Data ........................................................................ 23
4.3. Metode Analisis .................................................................................. 23
4.4. Kriteria Kelayakan Investasi ................................................................ 24
4.5. Asumsi Dasar Yang Digunakan ........................................................... 26

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ..................................... 29

5.1. Deskripsi Sekilas Kabupaten Aceh Utara ............................................. 29
5.2. Letak Geografis dan Iklim ................................................................... 30
5.3. Pertumbuhan Ekonomi ........................................................................ 30
5.4. Potensi Perkebunan Kabupaten Aceh Utara ......................................... 31

VI. ANALISIS KELAYAKAN NON-FINANSIAL ...................................... 32

6.1. Aspek Teknis ...................................................................................... 32
6.1.1. Lokasi Pabrik ............................................................................ 32
6.1.2. Fasilitas Produksi dan Pendukung ............................................. 33
6.1.3. Ketersediaan Bahan Baku .......................................................... 33
6.1.4. Analisis Kebutuhan Bahan Baku dan Jumlah Produksi .............. 34
6.1.5. Proses Produksi ......................................................................... 35
6.1.5.1. Proses Esktraksi ........................................................... 35
6.1.5.2. Proses Pemurnian ......................................................... 37
6.1.6. Mutu Produk ............................................................................. 38
6.1.7. Hasil Analisis Aspek Teknis ...................................................... 38
6.2. Aspek Manajemen ............................................................................... 39
6.2.1. Bentuk dan Struktur Organisasi ................................................. 39
6.2.2. Penyerapan tenaga Kerja ........................................................... 39
6.2.3. Hasil Analisis Aspek Manajemen .............................................. 40
6.3. Aspek Pasar ......................................................................................... 40
6.3.1. Gambaran sekilas Perkembangan Produksi dan Konsumsi
Dunia ........................................................................................ 42
6.3.2. Gambaran sekilas Perkembangan Produksi dan Konsumsi
Indonesia .................................................................................. 43
6.3.3. Potensi dan Prospek Pemasaran Minyak Kelapa Sawit .............. 44
6.3.4. Market Share Minyak Kelapa Sawit Indonesia .......................... 47
6.3.5. Sistem Distribusi ....................................................................... 48
6.3.6. Hasil Analisis Aspek Pasar ........................................................ 49
6.4. Aspek Lingkungan dan Sosial ............................................................. 49
6.4.1. Dampak Negatif Kegiatan Operasional Pabrik Kelapa Sawit ..... 50
6.4.2. Dampak Positif Pembangunan Pabrik Kelapa Sawit .................. 51
6.3.3. Hasil Analisis Aspek Lingkungan dan Sosial ............................. 52

VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL .............................................. 53

7.1. Ruang Lingkup Analisis ...................................................................... 53
7.2. Proyeksi Arus Kas ............................................................................... 53
7.2.1 Pengeluaran (Outflow) ................................................................ 54
7.2.1.1 Biaya Investasi ................................................................. 54
7.2.1.2 Biaya Operasional ............................................................ 55
7.2.2 Penerimaan (Inflow) .................................................................... 56
7.3. Proyeksi Laba-Rugi ............................................................................. 57
7.4. Kriteria Kelayakan Investasi ................................................................ 60
7.4.1. Net Present Value (NPV) ............................................................ 60
7.4.2. Internal rate of Return (IRR) ...................................................... 61
7.4.3. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) ................................................ 61
7.4.4. Payback Period (PP) .................................................................. 62
7.5. Analisis Sensitivitas ............................................................................ 62

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................. 66

8.1. Kesimpulan ......................................................................................... 66
8.2. Saran ................................................................................................... 67

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 68

DAFTAR TABEL
Nomor Halaman

1. Perkembangan Luas Area dan Produksi Kelapa Sawit Kab. Aceh Utara
(1997-2006) .............................................................................................. 3
2. Pabrik Kelapa Sawit di Nanggroe Aceh Darussalam .................................. 4
3. Potensi Ketersedian Bahan Baku TBS ....................................................... 34
4. Proyeksi Kebutuhan Kapasitas PKS dan Produksi CPO/PKO .................... 35
5. Komposisi Penggunaan Tenaga Kerja ....................................................... 40
6. Eskpor CPO dan Produk Turunan.............................................................. 47
7. Rekapitulasi Biaya Investasi Pabrik Kelapa Sawit ..................................... 54
8. Biaya Operasional ..................................................................................... 55
9. Rekapitulasi Penerimaan dan Produksi ..................................................... 57
10. Rekapitulasi Proyeksi Laba-Rugi dan Pajak .............................................. 58
11. Ringkasan Analisis Kriteria Investasi Pabrik Kelapa sawit ........................ 60
12. Ringkasan Analisis Sensitivitas pada Indikator Kenaikan Biaya Produksi . 63
13. Ringkasan Analisis Sensitivitas pada Indikator Penurunan Kapasita
Produksi .................................................................................................... 64

DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman

1. Alur Proses Pabrik Kelapa Sawit Kapasitas 30 ton TBS/jam ....................... 10
2. Kerangka Pemikiran Operasional ................................................................ 22
3. Negara-Negara Penghasil Minyak Kelapa Sawit ......................................... 42
4. Negara Pengkonsumsi CPO Terbesar Dunia ................................................ 43
5. Konsumsi Minyak kelapa Sawit Dunia (2004-2007) .................................... 43
6. Pola Konsumsi Minyak Kelapa Sawit (CPO) Indonesia ............................... 44

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Cashflow Skenario I ....................................................................... 71
2. Cashflow Skenario II ...................................................................... 72
3. Cashflow Skenario I, pada Indikator Kenaikan Biaya Produksi
10% ................................................................................................. 73
4. Cashflow Skenario II, pada Indikator Kenaikan Biaya Produksi
10% ................................................................................................. 74
5. Cashflow Skenario I, pada Indikator Penurunan Kapasitas
Produksi 10% .................................................................................. 75
6. Cashflow Skenario II, pada Indikator Penurunan Kapasitas
Produksi 10% .................................................................................. 76
7. Proyeksi Laba-Rugi ......................................................................... 77
8. Proyeksi Laba-Rugi, Pada Indikator Kenaikan Biaya Produksi ....... 78
9. Proyeksi Laba-Rugi, Pada Indikator penurunan Biaya Produksi ...... 79
10. Produksi, Bahan Baku dan Penjualan .............................................. 80
11. Produksi, Bahan Baku dan Penjualan ,Pada Indikator Penurunan
Biaya Produksi ................................................................................ 81
12. Biaya Operasional .......................................................................... 82
13. Investasi Fisik ................................................................................. 83
14. Proyeksi Biaya Operasional dan Pemeliharaan kendaraan ................ 86
15. Penyusutan, Modal kerja dan Biaya bahan Pembantu Proses
produksi .......................................................................................... 87
16. Biaya Pra-Operasional dan biaya Administrasi ................................ 88
17. Proyeksi Biaya Gaji Karyawan ........................................................ 89
18. Penarikan kredit ............................................................................... 91
19. Potensi areal Produksi dan Jumlah Petani Perkebunan Rakyat ......... 92
20. Penggunaan Lahan Perkebunan Besar di Kab. Aceh Utara ............... 93
21. Struktur bagan Organisasi dan Bagan pemasaran ............................. 95

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kelapa sawit sebagai penghasil minyak kelapa sawit (Crude palm oil) dan
inti kelapa sawit (Kernel Palm Oil) merupakan salah satu primadona tanaman
perkebunan yang menjadi sumber penghasil devisa non migas bagi Indonesia. Hal
ini disebabkan oleh permintaan dan harga produk CPO di pasar dunia meningkat
pesat dalam beberapa dekade terakhir ini, seiring dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan inovasi terhadap produk-produk turunan dari kelapa sawit yang
dapat digunakan sebagai bahan baku beberapa sektor industri lain (industri hilir).
Berkembangnya industri hilir (downstream industry), dan cerahnya
prospek komoditi minyak kelapa sawit dalam perdagangan minyak nabati dunia
mendorong pemerintah Indonesia untuk mengembangkan industri kelapa sawit
secara terintegratif (agroindustri). Pengembangan industri kelapa sawit secara
terintegratif dengan cara mensinergikan berbagai potensi yang ada dilakukan
untuk dapat menciptakan added value bagi produk-produk yang berbasiskan
kelapa sawit. Selain itu, Pengembangan industri kelapa sawit secara terintegratif
akan mendorong pertumbuhan pembangunan, terciptanya lapangan pekerjaan
baru, penurunan angka pengangguran dan kemiskinan serta mempercepat proses
alih tehnologi kepada masyarakat (petani).
Pengembangan industri kelapa sawit juga tidak terlepas dari adanya
kebijakan pemerintah yang memberikan berbagai insentif, seperti program
revitalisasi perkebunan 2006 2010 yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal
Perkebunan Departemen Pertanian. Selain dari itu kemudahan dalam hal perizinan
2

dan bantuan subsidi investasi untuk perkebunan sebagaimana yang tercantum
dalam Peraturan Pemerintah yang dikeluarkan oleh Departemen Keuangan No.
117/PMK.06/2006 tentang kredit untuk perkembangan energi nabati dan
revitalisasi perkebunan (KPEN RP). Penyebaran dan rencana pengembangan
industri kelapa sawit (perkebunan kelapa sawit) di Indonesia sebagian besar
berada di wilayah Sumatera, Kalimatan, Sulawesi dan Papua.
Dalam beberapa dekade terakhir luas areal perkebunan kelapa sawit terus
meningkat dari 290 ribu hektar pada tahun 1980 menjadi 5,9 juta hektar pada
tahun 2006 (Dirjen. Perkebunan, 2007). Bertambahnya luas perkebunan kelapa
sawit, menyebabkan total produksi minyak kelapa sawit Indonesia meningkat
pesat, dari 1,71 juta ton (1988) menjadi 5,38 juta ton pada tahun 1997. Tahun
1998, produksi minyak kelapa sawit mengalami penurunan menjadi 5 juta ton,
karena krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia. Tahun selanjutnya (1999)
kembali mengalami peningkatan sampai dengan awal tahun 2008, produksi
minyak kelapa sawit Indonesia mencapai angka 18 juta ton melampaui total
produksi Malaysia (GAPKI, 2008)
1
.
Aceh Utara yang merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Nanggroe
Aceh Darussalam memiliki potensi yang sangat besar untuk pengembangan
kelapa sawit di Indonesia baik dari segi luas areal maupun produksi. Pada tahun
2006 luas tanaman kelapa sawit telah mencapai 29.187 ha dan total produksi
399.193 ton yang terdiri dari perkebunan rakyat 14.834 ha dengan produksi
sejumlah 155.192 ton dan perkebunan besar seluas 14.353 ha dengan produksi
sejumlah 244.001 ton dan diperkirakan akan terus meningkat dimasa yang akan
datang (Tabel .1).
1
http://www.gapkiconference.org. Suplai CPO di pangkas. November 2008
3

Tabel 1. Perkembangan Luas Areal dan Produksi Kelapa Sawit kab. Aceh Utara
(1997-2006)
Tahun
Luas Areal(Ha)
Total
(Ha)
Produksi
(ton)

Perkebunan Rakyat Perkebunan Besar

2002 12513 12987 25500 304000
2003 12513 12987 25500 364194
2004 13889 13392 27281 365447
2005 14264 14353 28617 392021
2006 14834 14353 29187 399193
Sumber : Dinas Perkebunan Kabupaten Aceh Utara (2007)
Peningkatan produksi dan perluasan areal perkebunan kelapa sawit yang
terus meningkat tidak dibarengi dengan pembangunan pabrik kelapa sawit di
sekitar areal perkebunan. Berdasarkan Dinas perkebunan Nanggroe Aceh
Darussalam (Tabel.2), saat ini di Kabupaten Aceh Utara hanya terdapat satu
pabrik kelapa sawit yang merupakan milik PT. Perkebunan Nusantara I yang
berkapasitas produksi 45 ton TBS per jam, dengan kapasitas pengolahan 80% dari
kapasitas terpasang sehingga hanya mampu mengolah tandan buah segar (TBS)
milik perkebunan sendiri menjadi crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil
(PKO).
Berdasarkan luas areal perkebunan dan hasil produksi, Kabupaten Aceh
Utara sudah memenuhi aspek syarat perlu dan aspek syarat cukup untuk
pembangunan pabrik kelapa sawit (PKS) kapasitas 30 ton TBS per jam,
sebagaimana yang telah direkomendasikan oleh pemerintah terkait dengan paket
program kebun kredit koperasi primer untuk anggota (KKPA) dengan luasan
lahan 6000 ha ke atas (PPKS, 2002). Selain itu kontinuitas kecukupan pasokan
TBS bagi pabrik kelapa sawit sudah sesuai dengan peraturan perizinan
pembangunan pabrik kelapa sawit (Peraturan Menteri Pertanian
No.26/Permentan/OT.140/2/2007) yang mengharuskan kapasitas olah terpasang
4

minimal 20 persen dari kemampuan menyediakan pasokan TBS oleh kebun yang
menjamin pasokan TBS.
Tabel 2. Pabrik Kelapa Sawit di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Nama Perusahaan Kapasitas Produksi (ton/jam)
PKS Anugrah 45
PKS Simpang Kiri 30
PKS Alue Gantung 30
PKS Alue Manis 30
PKS Sucofindo Sungai Liput 30
PT. Para Sawita Suruwai 30
PT. Truban 30
PTPN 1 Seumentok 60
PTPN 1 Pulo Tiga 30
PT. Mapoli Raya 30
PKS Alue Nireh 30
PT. Wira Peraca Peurelak 30
PTPN 1 Cot Girek 45
PKS Delima Makmur 30
PT. Astra 45
PKS Sucofindo Rimo 30
PKS Pemda Aceh Selatan 30
PKS Fajar Baizuri Meulaboh 45
PKS Sucofindo Semayam 30
PKS Sucofindo scu dagan 30
PKS Karya Tanah Subur 30
PKS Mapoll Raya 30
Sumber : Dinas Perkebunan NAD (2007)

1.2 Perumusan Masalah
Pembangunan pabrik kelapa sawit (PKS) merupakan bagian integral dari
pembangunan industri kelapa sawit. Tanpa pabrik kelapa sawit, pengembangan
industri hulu (kebun kelapa sawit) baik perluasan lahan maupun perbaikan
produktivitas di daerah-daerah, seperti Aceh Utara akan sia-sia. Karena sifat dari
produk TBS yang jumlahnya banyak dan mudah rusak, sehingga memerlukan
pengolahan yang cepat. Kehadiran pabrik kelapa sawit pada daerah-daerah sentral
3

produksi TBS seperti Kabupaten Aceh Utara, sangat membantu petani yang
memiliki luas lahan yang relatif terbatas, untuk menampung hasil produksi dari
kebun yang di usahakannya. Selama ini petani harus menambah biaya transportasi
untuk pengangkutan TBS ke pabrik kelapa sawit lain di wilayah (Kab. Aceh
Timur, Tamiang atau Prov.Sumatra Utara) yang jaraknya lebih jauh dari areal
perkebunan. Oleh karena itu tidak sedikit TBS yang dihasilkan dari kebun,
terlantar dan membusuk di sekitar tempat pengumpulan.
Lambatnya proses penanganan terhadap TBS tentu saja menyebabkan
penurunan kualitas dan harga jual TBS menjadi rendah. Selain itu terjadi
perpindahan sumber pendapatan daerah ke daerah lain (Kab. Aceh Timur,
Tamiang atau Prov. Sumatra Utara) dari proses penciptaan nilai tambah produk
kelapa sawit yang dihasilkan oleh sektor perkebunan rakyat Kabupaten Aceh
Utara. Untuk mengantisipasi lonjakan produksi TBS perkebunan rakyat dan
hilangnya potensi sumber pendapatan daerah, maka diperlukan pembangunan
pabrik kelapa sawit dengan kapasitas 30 ton TBS per jam.
Investasi pembangunan pabrik kelapa sawit (PKS) kapasitas 30 ton TBS
per jam di Kabupaten Aceh Utara selain memberikan manfaat juga menimbulkan
biaya dan resiko. Hal ini menuntut perlunya perencanaan yang tepat dan objektif
untuk menganalisis manfaat dan resiko atas kegiatan investasi tersebut. Salah satu
analisis yang diperlukan adalah studi kelayakan investasi. Analisis ini dilakukan
untuk melihat layak atau tidaknya investasi dilakukan berdasarkan aspek aspek
yang dikaji sehingga dapat memberikan gambaran tepat kepada para investor yang
berminat dalam mengambil keputusan untuk berinvestasi di Kabupaten Aceh
Utara.
6

Dengan adanya pembangunan pabrik kelapa sawit, akan menciptakan
kawasan ekonomi baru dengan tumbuhnya sektor formal dan informal seperti
sekolah, pasar, sarana kesehatan, tranportasi dan telekomunikasi. Hal ini tentu saja
akan menimbulkan dampak yang lebih baik bagi kehidupan sosial ekonomi
masyarakat, pemerintah daerah, dan pihak pihak lain yang terkait secara langsung
maupun tidak langsung dalam kegiatan perekonomian di Kabupaten Aceh Utara.
Berdasarkan gambaran kondisi di atas, maka di dapat perumusan masalah
yang akan di kaji dalam penelitian ini, yaitu:
1. Seberapa besar kelayakan investasi untuk pembangunan pabrik kelapa sawit
kapasitas 30 ton TBS per jam.
2. Bagaimana kelayakan investasi dilihat dari aspek teknis, sosial, intitusional,
finansial dan pasar.
3. Bagaimana sensitivitas investasi pembangunan pabrik kelapa sawit terhadap
perubahan biaya dan kapasitas produksi.

1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas maka tujuan dari penelitian ini
dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Menganalisis kelayakan non finansial pembangunan pabrik kelapa sawit yang
meliputi aspek teknis, institusional, pasar,sosial dan lingkungan.
2. Menganalisis kelayakan finansial pembangunan pabrik kelapa sawit.
3. Menganalisis sensitivitas investasi pembangunan pabrik kelapa sawit terhadap
perubahan biaya dan kapasitas produksi.

7

1.4 Kegunaan Penelitian
Beberapa manfaat penelitian yang diharapkan segera dari hasil penelitian
ini adalah:
1. Diperolehnya bahan informasi untuk investasi pembangunan pabrik kelapa
sawit bagi pemerintah atau pihak pihak yang ingin menanamkan investasi
pada bidang agroindustri.
2. Mengetahui manfaat dan kendala sosial dari pembangunan pabrik kelapa sawit
bagi petani perkebunan rakyat dan masyarakat lokal.
3. Peneliti, mahasiswa, dan pihak-pihak lain yang memerlukan informasi tentang
pabrik kelapa sawit kapasitas 30 ton TBS per jam.

























8

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tandan Buah Segar (TBS)
Tanaman kelapa sawit ( Elaeis guineeensis Jacq.), tergolong jenis palma
yang buahnya kaya akan minyak nabati. Kelapa sawit yang dikenal adalah jenis
Dura, Psifera, dan Tenera, merupakan tanaman tropis yang termasuk kelompok
tanaman tahunan. Tenera ( Dura x Psifera ) merupakan tanaman yang saat ini
banyak dikembangkan. Buahnya mengandung 80 persen daging buah dan 20
persen biji yang batok atau cangkangnya tipis dan menghasilkan minyak 34 - 40
persen terhadap buah.
Buah yang dipanen dalam bentuk tandan disebut dengan tandan buah segar
(TBS). Bentuk, susunan, dan komposisi tandan sangat ditentukan oleh jenis
tanaman dan kesempurnaan penyerbukan. Buah sawit yang berukuran 12-18 gr/
butir, dapat dipanen setelah berumur enam bulan terhitung sejak penyerbukan
(PPKS dalam Mangoensoekarjo,2003).

2.2 Mutu Tandan Buah Segar
TBS, yang diterima di pabrik hendaknya memenuhi persyaratan bahan
baku, yaitu tidak menimbulkan kesulitan dalam proses ekstraksi minyak CPO dan
inti sawit. Sebelum buah diolah perlu dilakukan sortasi dan penimbangan di
tempat penampungan (loading ramp). Menurut Siregar (2003), hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam penentuan mutu TBS yang akan dimasukkan ke dalam pabrik
antara lain: Sortasi Panen, penimbangan TBS di Loading Ramp dan Material
Passing Digester (MPD).
9

2.3 Perkebunan Kelapa Sawit
Secara garis besar ada tiga bentuk utama usaha perkebunan, yaitu
perkebunan rakyat, perkebunan besar swasta dan perkebunan besar negara.
Bentuk lain yang relatif baru, yaitu bentuk perusahaan inti rakyat (PIR), yang
pola dasarnya merupakan bentuk gabungan antara perkebunan rakyat dengan
perkebunan besar negara atau perkebunan besar swasta, dengan tata hubungan
yang bersifat khusus.
Produktivitas perkebunan kelapa sawit dipengaruhi oleh kelas lahan,
tanaman, umur dan jenis bibit yang digunakan. Lubis (1992) membedakan kelas
lahan pengembangan kelapa sawit ke dalam empat kelas dengan produktivitas
rata-rata untuk kelas I, II, III dan IV pada umur 4 25 tahun berturut-turut sebesar
25,10 ton TBS/ha/tahun; 22,95 ton TBS/ha/tahun; 20,86 ton TBS/ha/tahun; dan
17,71 ton TBS/ha/tahun. Untuk semua kelas lahan, produktivitas meningkat antara
umur 15 hingga 21 tahun dan memasuki masa tua pada umur 22 tahun.
Berdasarkan data tersebut maka tanaman kelapa sawit digolongkan ke dalam dua
kelompok yaitu (Lubis,1992):
a. Tanaman belum menghasilkan (TBM) yaitu tanaman berumur 1-3 tahun.
b. Tanaman menghasilkan (TM) yaitu tanaman berumur 4 25 tahun.
Tanaman remaja menghasilkan (TRM) berumur 4 8 tahun.
Tanaman dewasa menghasilkan I (TDM I) berumur 9 14 tahun.
Tanaman dewasa menghasilkan II (TDM II) berumur 15 21 tahun.
Tanaman tua menghasilkan (TTM) berumur 20 25 tahun.


10

2.4 Pengolahan Kelapa Sawit
Dalam sistem pengolahan kelapa sawit dikenal dua jenis proses sesuai
dengan produk yang akan dihasilkan. Pertama adalah proses pengolahan untuk
menghasilkan Crude Palm Oil (CPO), dan kedua adalah proses pengolahan untuk
menghasilkan Palm Kernel Oil (PKO). Pada prinsipnya proses pengolahan kelapa
sawit adalah proses ekstraksi CPO secara mekanis dari TBS yang diikuti dengan
proses pemurnian. Secara keseluruhan proses tersebut terdiri dari beberapa
tahapan proses yang berjalan secara seimbang dan terkait satu sama lain. Tahapan
pengolahan TBS menjadi CPO menurut Pusat Penelitian Kelapa Sawit (2002)
dapat dilihat pada Gambar 1.



Gambar 1. Alur Proses Pabrik Kelapa Sawit Kapasitas 30 Ton TBS/jam
Sumber: Pusat Penelitian kelapa Sawit (2002)
11

2.5 Penelitian Terdahulu
Berdasarkan penelitian Harahap (2003) mengenai Prospek Pembangunan
Pabrik Mini CPO Untuk Meningkatkan Ekonomi Lokal di kota Dumai provinsi
Riau. Hasil dari analisis kelayakan investasi pada tingkat suku bunga 20 persen
menunjukkan bahwa pendirian pabrik pengolahan sawit (PKS) mini CPO
kapasitas 5 ton TBS per jam layak untuk dilaksanakan. Sementara melalui analisis
sensitivitas menunjukkan bahwa batas toleransi perubahan harga TBS untuk PKS
mini CPO ini adalah Rp 575 per kg.
Dampak yang dirasakan dari pembangunan PKS mini CPO kapasitas 5 ton
TBS per jam secara analisis kualitatif dapat dirasakan, seperti terbukanya
lapangan kerja bagi masyarakat setempat, terciptanya pembangunan sarana dan
prasarana fisik dan timbulnya industri-industri kecil dari hasil produk kelapa sawit
beserta turunannya. Akan tetapi secara kuantitatif seperti berapa besar tingkat
pendapatan masyarakat setempat sebagai dampak pembangunan PKS mini CPO
tidak dapak dibuktikan. Pola yang paling tepat untuk membangun PKS mini CPO
di kota Dumai provinsi Riau adalah melalui pola koperasi usaha perkebunan
dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat setempat selaku anggota koperasi.
Hasil penelitian Hartopo (2005) tentang Analisis Kelayakan Finansial
Pabrik Kelapa Sawit Mini, Studi Kasus Pabrik Kelapa Sawit Aek Pancur,Tanjung
Merawa, Medan, Sumatera Utara. Bedasarkan hasil uji kelayakan, kegiatan
investasi pembangunan industri PKS Mini kapasitas olah 5 ton TBS per jam
dinyatakan layak dari semua kriteria investasi. Hasil kriteria investasi yang
digunakan berturut-turut sebagai berikut : NPV = Rp 1.711.942.000 ; IRR = 28,22
persen ; Net B/C Ratio = 1,827 dan Payback period Sembilan tahun.
12

Analisis sensitivitas PKS mini pada skenario pertama yang menggunakan
harga beli TBS sebesar Rp 508,17 per kg TBS dengan rendemen minyak 19
persen dan rendemen inti 3,5 persen, menurut kriteria kelayakan dinyatakan layak.
Dalam skenario tersebut, PKS mini dapat beroperasional dengan baik pada NPV =
Rp. 483.478.000 ; IRR = 17,19 persen; Net B/C Ratio = 1,181 dan PP 10 tahun.
Sedangkan skenario dua tiga menurut kriteria investasi usaha pembangunan PKS
mini dinyatakan tidak layak sama sekali. Skenario dua menggunakan harga beli
TBS sebesar Rp 713 per kg dengan rendemen 21 persen dan rendemen inti 4
persen, skenario tiga menggunakan harga beli TBS sebesar Rp. 643,25 per kg
dengan rendemen minyak 19 persen dan rendemen inti 3,5 persen. Hal ini dapat
disimpulkan bahwa harga beli TBS dan kualitas rendemen sangat berpengaruh
terhadap kelayakan PKS mini.
Hasil analisis eksternalitas atau dampak adanya PKS mini menimbulkan
eksternalitas positif maupun negatif bagi lingkungan sekitar. Eksternalitas positif
yang ditimbulkan, yaitu 1) sarana dan prasarana pendukung yang lebih baik
seperti listrik, telepon, dan jalan raya; 2) biaya transportasi TBS yang dimiliki
oleh kebun rakyat dan swasta lebih rendah dan pendapatan masyarakat menjadi
meningkat. Eksternalitas negatif antara lain 1) kerusakan yang ditimbulkan PKS
mini seperti air sungai yang jelek, kebisisngan mesin PKS yang bekerja 20 jam
per hari dan kendaraan angkut minyak CPO maupun TBS, dan polusi udara; 2)
keamanan dari lingkungan di kebun rakyat dan swasta seperti pencurian TBS; 3)
penyelewengan yang dilakukan oleh pihak pabrik (masalah timbangan TBS yang
masuk ke pabrik).
13

Ilyas (2006) melakukan penelitian mengenai Program Pengembangan
Agroindutsri Pengolahan Minyak Kelapa Sawit Dalam Menunjang Perekonomian
Kota Dumai Propinsi Riau, menunjukkan bahwa agroindustri pengolahan minyak
kelapa sawit memberikan dampak yang positif terhadap perekonomian kota
Dumai, karena mempunyai efek multipler terhadap tenaga kerja sebesar 1,51
dengan pertumbuhan kesempatan kerja 4,68 persen. Selain itu memberi efek
multipler pendapatan terhadap daerah sebesar 27,02. Hal ini menunjukkan bahwa
permintaan dari luar wilayah kota Dumai terhadap produk agroindustri
pengolahan minyak kelapa sawit cukup besar.
Nugroho (2008) tentang Kelayakan Usaha Pembibitan Pre-nursery Kelapa
Sawit (Elaeis guneensis Jacq.) pada PT. Socfin Indonesia (Socfindo) Medan,
Sumatra Utara, menunjukkan bahwa usaha tersebut layak untuk dilaksanakan
secara finansial dan non finansial berdasarkan kriteria kriteria yang digunakan.
Penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan dua skenario yaitu kelayakan
finansial tanpa memperhitungkan inflasi dan kelayakan finansial dengan
memperhitungkan inflasi.
Noviayanti (2008) tentang Analisis Kelayakan Investasi Pengusahaan
Tapioka (Studi Kasus Pengrajin Tapioka Uhan di Desa Cipambuan, Kecamatan
Babakan Madang, Kabupaten Bogor) menunjukkan bahwa berdasarkan analisis
finansial dan non finansial usaha tersebut layak untuk dilaksanakan sesuai dengan
kriteria investasi yang digunakan. Analisis dilakukan dengan menggunakan dua
skenario yaitu pengolahan tapioka dengan bahan baku ubi kayu belum dikupas
dan pengusahaan tapioka dengan bahan baku ubi kayu sudah dikupas. Analisis
14

sensitivitas yang dilakukan menggunakan pendekatan penurunan harga output dan
kenaikan biaya operasional sebesar 7 persen.
Pada penelitian terdahulu (Harahap dan Hartopo) sama-sama menganalisis
pabrik kelapa sawit dengan kapasitas 5 ton TBS per jam (mini) dengan alat
analisis yang sama. Sedangkan pada penelitian kali ini yang dianalisis adalah
pabrik kelapa sawit dengan kapasitas 30 ton TBS per jam (kapasitas sedang) serta
berbeda dalam pendekatan penggunaan indikator sensitivitas yang digunakan
dalam penelitian. Sementara pada penelitian (Ilyas) persamaannya berhubungan
dengan komoditi penelitian yang dipilih sedangkan perbedaannya berkaitan
dengan maksud dan tujuan dari penelitian. Kemudian pada penelitian Nugroho
dan Noviayanti persamaannya terkait dengan alat analisis yang digunakan,
sementara perbedaannya terletak pada objek penelitian.






















13

BAB III
KERANGKA PEMIKIRAN

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.1 Investasi
Investasi dapat diartikan sebagai penanaman modal dalam suatu kegiatan yang
memiliki jangka waktu relatif panjang dalam berbagai bidang usaha
(Kasmir,2003). Oleh karena itu, investasi dapat dibagi dalam beberapa jenis,
yaitu:
a. Investasi nyata (real investment)
Investasi nyata merupakan investasi yang dibuat dalam harta tetap (fixed asset)
seperti tanah, bangunan, peralatan atau mesin-mesin.
b. Investasi finansial (financial investment)
Investasi finansial merupakan investasi dalam bentuk kontrak kerja, pembelian
saham, obligasi atau surat berharga lainnya seperti sertifikat deposito.
3.1.2 Studi Kelayakan Proyek
Proyek merupakan suatu kegiatan yang mengeluarkan biaya-biaya dengan
harapan akan memperoleh hasil dan secara logika merupakan wadah untuk
melaksanakan kegiatan-kegiatan perencanaan, pembiayaan dan pelaksanaan
dalam satu unit. Proyek merupakan elemen operasional yang paling kecil yang
disiapkan dan dilaksanakan sebagai suatu kesatuan yang terpisah dalam suatu
perencanaan menyeluruh perusahaan, perencanaan nasional atau program
pembangunan pertanian (Gittinger,1986). Berdasarkan definisi tersebut maka
proyek dapat diartikan sebagai suatu aktifitas yang mengeluarkan biaya untuk
mendapatkan manfaat.
16

Kasmir (2003) menyimpulkan bahwa pengertian studi kelayakan adalah
suatu kegiatan yang mempelajari secara mendalam tentang suatu kegiatan atau
usaha atau bisnis yang akan dijalankan, dalam rangka menentukan layak atau
tidak usaha dijalankan. Umar (2007) menyatakan bahwa studi kelayakan proyek
merupakan penelitian tentang layak atau tidaknya suatu proyek dibangun untuk
jangka waktu tertentu.
Pemilihan proyek sebagian didasarkan kepada indikator, nilai dan
hasilnya. Manfaat suatu proyek didefenisikan sebagai segala sesuatu yang
membantu suatu tujuan. Sedangkan biaya suatu proyek merupakan segala sesuatu
yang mengurangi suatu tujuan (Gittinger,1986). Paling tidak ada lima tujuan
mengapa sebelum proyek dijalankan perlu dilakukan studi kelayakan
(Kasmir,2003) yaitu: (1) menghindari resiko, (2) memudahkan perencanaan, (3)
memudahkan pelaksanaan pekerjaan, (4) memudahkan pengawasan, dan (5)
memudahkan pengendalian.
3.1.3 Aspek-aspek Analisis Kelayakan
Dalam menganalisis dan merencanakan suatu proyek harus
mempertimbangkan banyak aspek yang secara bersama-sama menentukan
bagaimana keuntungan yang dapat diperoleh dari suatu penanaman investasi
tertentu. Masing-masing aspek saling berhubungan dan saling mempengaruhi
dengan yang lainnya. Menurut Gittinger (1986) aspek-aspek tersebut terdiri dari
aspek teknis, aspek institusional-organisasi-manajerial, aspek sosial, aspek pasar,
aspek finansial, dan aspek ekonomi. Pada penelitian ini aspek yang
dipertimbangkan dan dianalisis yaitu aspek teknis, aspek pasar, aspek
institusional-organisasi-manajerial, aspek finansial, dan aspek sosial/lingkungan.
17

Urutan penilaian aspek mana yang harus didahulukan tergantung dari
kesiapan penilai dan kelengkapan data yang yang ada. Tentu saja dalam hal ini
dengan mempertimbangkan prioritas mana yang harus didahulukan lebih dahulu
dan mana yang berikutnya.
3.1.3.1 Aspek Teknis
Analisis secara teknis berhubungan dengan input proyek (penyediaan) dan
output (produksi) berupa barang-barang nyata dan jasa-jasa (Gittinger,1986).
Aspek teknis berkaitan dengan proses pembangunan proyek secara teknis seperti
lokasi proyek, kapasitas produksi, bahan baku, peralatan dan mesin, proses
produksi serta teknologi yang digunakan.
3.1.3.2 Aspek Pasar
Aspek-aspek pasar dari suatu proyek adalah rencana pemasaran output
yang dihasilkan oleh proyek dan rencana penyediaan input yang dibutuhkan untuk
kelangsungan dan pelaksanaan proyek (Gittinger,1986). Analisis pemasaran
penting dilakukan untuk mengetahui tingkat permintaan dan penawaran terhadap
barang-barang atau jasa-jasa yang dihasilkan dari pelaksanaan proyek. Atau
dengan kata lain, seberapa besar potensi pasar yang ada untuk produk atau jasa
yang ditawarkan dan seberapa besar market share yang dikuasai oleh para
pesaing. Kemudian bagaimana strategi pemasaran yang akan dijalankan untuk
menangkap peluang pasar dan pasar potensial yang ada.
3.1.3.3 Aspek Institusional-Organisasi-Manajerial
Aspek ini berkaitan dengan pengorganisasian dan pengelolaan
sumberdaya-sumberdaya yang terlibat dalam pelaksanaaan proyek. Analisis
dilakukan berkenaan dengan model dan personal manajerial yang digunakan
18

dalam proses pengambilan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan
perencanaan dan operasional harus sesuai dengan bentuk dan tujuan dari proyek.
3.1.3.4 Aspek Sosial dan Lingkungan
Analisis sosial berkaitan dengan kebiasaan-kebiasaan dan implikasi sosial
yang lebih luas dari investasi yang diusulkan, dimana pertimbangan-pertimbangan
sosial harus dipikirkan secara cermat agar dapat menentukan apakah suatu proyek
yang diusulkan tanggap (responsive) terhadap keadaan sosial (Gittinger,1986).
Sejauh mana proyek dapat memberi manfaat secara inplisit dan eksplisit terhadap
pendistribusian pendapatan serta penciptaan lapangan pekerjaan. Selain itu
analisis juga perlu mempertimbangkan pengaruh negatif dari pelaksanaan proyek
terhadap dampak sosial seperti kehilangan pekerjaan akibat adopsi tehnologi atau
penerapan alat-alat mekanis yang mengurangi keterlibatan tenaga kerja manusia.
Kualitas hidup masyarakat haruslah merupakan bagian dari rancangan
proyek. Analisis proyek juga harus mempertimbangkan dampak lingkungan yang
merugikan dari proyek yang direncanakan. Pembangunan proyek mungkin saja
akan merusak sumber-sumber air bersih dari limbah yang dihasilkan oleh proyek.
Lokasi pelaksanaan proyek harus dipilih dan ditinjau secara langsung untuk
menghindari rusaknya kelestarian lingkungan.
3.1.3.5 Aspek Finansial
Aspek-aspek finansial dari persiapan dan analisis proyek menerangkan
pengaruh-pengaruh finansial dari suatu proyek yang diusulkan terhadap pihak-
pihak yang terlibat di dalamnya. Tujuan utama analisis finansial adalah untuk
menentukan proyeksi mengenai anggaran yang akan digunakan secara efisien
19

dengan cara mengestimasi penerimaan dan pengeluaran pada saat pelaksanaan
proyek serta pada masa-masa yang akan datang setiap tahunnya (Gittinger,1986).
Rencana anggaran dari suatu proyeksi analisis finansial dilakukan untuk
mengetahui berapa besar investasi yang dibutuhkan dan sumber dana yang
digunakan untuk membiayai pelaksanaan proyek. Analisis finansial dapat juga
digunakan sebagai pertimbangan dalam permohonan kredit investasi dan kredit
modal kerja serta penjadwalan pelunasan kredit yang digunakan untuk membiayai
pembangunan proyek. Dalam analisis ini kriteria-kriteria yang digunakan adalah
payback period, net present value (NPV), internal rate return (IRR), profitability
index serta rasio-rasio keuangan.
3.1.4 Analisis Sensitivitas
Salah satu keuntungan analisis proyek secara finansial ataupun ekonomi
yang dilakukan secara teliti adalah bahwa dari analisis tersebut dapat diketahui
atau diperkirakan kapasitas hasil proyek bila ternyata terjadi hal-hal di luar
jangkauan asumsi yang telah dibuat pada waktu perencanaan. Gittinger (1986)
mengemukakan bahwa analisis sensitivitas adalah meneliti kembali suatu analisa
untuk dapat melihat pengaruh-pengaruh yang akan terjadi akibat keadaan yang
berubah-ubah. Sementara menurut Kadariah (1978), yang dimaksud dengan
analisis kepekaan atau sensitivitas adalah suatu teknis analisis untuk menguji
secara sistematis apa yang terjadi pada kapasitas penerimaan suatu proyek apabila
terjadi kejadian-kejadian yang berbeda dengan perkiraan yang di buat dalam
perencanaan.
Gittinger (1986) menambahkan proyeksi selalu menghadapi ketidakpastian
yang dapat saja terjadi pada keadaan yang telah diperkirakan. Pada bidang
20

pertanian terdapat empat masalah utama yang sensitif yaitu: (1) harga, (2)
keterlambatan pelaksanaan, (3) kenaikan biaya, dan (4) hasil. Analisis sensitivitas
dapat dilakukan dengan pendekatan nilai pengganti (switching value), dilakukan
secara coba-coba terhadap perubahan-perubahan yang terjadi sehingga dapat
diketahui tingkat kenaikan ataupun penurunan maksimum yang boleh terjadi agar
NPV sama dengan nol.
3.1.5 Arus Kas (Cash flow)
Cash flow merupakan arus kas atau aliran kas yang ada di perusahaan
dalam suatu peride tertentu. Dalam cash flow semua data pendapatan yang
diterima (cash in) dan biaya yang dikeluarkan (cash out) baik jenis maupun
jumlahnya diestimasi sedemikian rupa, sehingga menggambarkan kondisi
pemasukan dan pengeluaran di masa yang akan datang (Kasmir,2003). Cash flow
mempunyai tiga komponen utama yaitu Initial Cash flow yang berhubungan
dengan pengeluaran investasi, Operasional cash flow berkaitan dengan
operasional usaha dan Terminal cash flow berkaitan dengan nilai sisa aktiva yang
dianggap tidak memiliki nilai ekonomis lagi (Umar, 2007).

3.2 Kerangka Pemikiran Operasional
Industri hulu dan industri hilir kelapa sawit memiliki keterkaitan yang
sangat erat dalam perkembangan industri kelapa sawit. Di antara kedua industri
tersebut terdapat industri perantara yaitu pabrik kelapa sawit (PKS). Penelitian
tentang analisis kelayakan investasi pabrik kelapa sawit didasari oleh
meningkatnya luas areal dan produksi perkebunan kelapa sawit yang tidak
dibarengi dengan penambahan jumlah pabrik kelapa sawit. Lonjakan hasil
21

produksi kebun kelapa sawit tidak dapat ditampung dengan baik oleh pabrik
kelapa sawit yang ada. Kondisi tersebut tentu saja tidak efisien bagi petani, karena
harus menambah biaya transportasi untuk mengangkut TBS ke pabrik pengolahan
yang jaraknya jauh dari areal perkebunan yang diusahakan.
Berdasarkan kondisi tersebut diperlukan pembangunan pabrik kelapa sawit
untuk memaksimalkan potensi yang ada secara optimal. Sebelum pembangunan
pabrik kelapa sawit maka diperlukan studi kelayakan untuk menilai aspek-aspek
yang terkait agar investasi yang dilakukan bisa memberikan manfaat serta untuk
menghindari resikoresiko yang ditimbulkan oleh pembangunan pabrik kelapa
sawit.
Studi kelayakan investasi dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif
dengan menggunakan kriteria-kriteria investasi. Hasil perhitungan kriteria
investasi digunakan untuk menentukan layak atau tidak investasi pabrik kelapa
sawit dilaksanakan. Hasil analisis diharapkan dapat membantu dalam pengabilan
keputusan untuk pembangunan pabrik kelapa sawit. Secara lebih rinci alur
kerangka pemikiran operasional dapat dilihat pada Gambar 2.








22






















Gambar 2. Kerangka Pemikiran Operasional Pembangunan Pabrik Kelapa Sawit.





Perkebunan Kelapa sawit
Pabrik Kelapa sawit
Aspek
Teknis
Aspek
konstitusional
Aspek Sosial
dan
lingkungan
Aspek
Pasar
Tidak Layak Layak
Pengembangan
Pembangunan Pabrik
Kelapa sawit
Aspek Finansial, NVP,
IRR, NET B/C,
Payback Periot,
Analisis sensitivitas
Peningkatan Produksi dan perluasan
lahan sehingga Membutuhkan
Tambahan Kapasitas Pengolahan
Manfaat dan Biaya
23

BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Aceh Utara Propinsi Nanggroe
Aceh Darussalam. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive)
dikarenakan Kabupaten Aceh Utara merupakan salah satu wilayah potensial dari
segi luas areal dan jumlah produksi untuk pengembangan industri kelapa sawit.
Waktu pengambilan data dimulai dari bulan Agustus sampai dengan September
2008.

4.2 Jenis dan Sumber Data
Data dan informasi dikumpulkan untuk keperluan analisis aspek-aspek
yang berkaitan dengan proses pembangunan pabrik kelapa sawit. Data yang
dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh
langsung melalui observasi di daerah penelitian. Data sekunder diperoleh dari
informasi dan data yang telah ada, penelusuran melalui internet, buku, jurnal,
balai penelitian, instansi-instansi pemerintah, dan literatur-literatur yang berkaitan
dengan penelitian.

4.3 Metode Analisis
Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dan
kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang
aspek-aspek kelayakan pembangunan pabrik kelapa sawit (PKS) yang dilakukan
di Kabupaten Aceh Utara yang meliputi aspek teknis, aspek pasar, aspek
institusional-organisasi-manajerial, aspek sosial, dan aspek finansial.
24

Data kuantitatif yang diperoleh diolah dengan menggunakan Software
Microsoft Excel dan kalkulator kemudian ditampilkan dalam bentuk tabulasi
untuk memudahkan pembacaan dan interpretasi secara deskriptif. Analisis
kuantitatif meliputi analisis finansial pembangunan pabrik kelapa sawit (PKS)
dengan menggunakan kriteria-kriteria kelayakan investasi yaitu; Net present
Value (NPV), Internal Rate Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C),
Payback Period dan analisis sesitivitas.

4.4 Kriteria Kelayakan Investasi
a. Net Present Value (NPV)
NPV suatu proyek adalah manfaat bersih yang diperoleh selama umur
proyek. Di dapat dari selisih antara total PV (Present Value) manfaat dan biaya
pada setiap tahun kegiatan usaha dimasa yang akan datang. Kriteria dan keputusan
dalam analisis ini adalah layak jika NPV > 0 sedangkan bila NPV < 0, usaha
tersebut tidak layak untuk di usahakan (Kadariah, 1978). Rumus yang digunakan
adalah sebagai berikut:

keterangan: B
t
= Manfaat pada tahun t
C
t
= Biaya pada tahun t
i = Tingkat suku bunga
n = Umur ekonomis proyek
t = Waktu

b. Internal Rate Return (IRR)
Internal Rate Return (IRR) adalah tingkat pengembalian internal selama
umur proyek. IRR merupakan discount rate yang menjadikan manfaat bersih
23

sekarang sama dengan nol. Nilai IRR yang lebih besar atau sama dengan discount
rate yang telah ditentukan, maka usaha layak dilaksanakan sedangkan jika IRR
lebih kecil dari discount rate yang telah ditentukan, maka usaha tidak layak untuk
dilaksanakan (Kadariah, 1978). Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

Keterangan : i
1
= Discount rate yang menghasilkan NPV positif
I
2
= Discount rate yang menghasilkan NPV negatif
NPV
1
= NPV yang bernilai positif
NPV
2
= NPV yang bernilai negatif
c. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)
Net B/C merupakan perbandingan antara NPV total dari manfaat bersih
terhadap total dari biaya bersih (Kadariah, 1978). Metode ini diguna untuk melihat
berapa besar maanfaat bersih yang dapat diterima suatu proyek untuk setiap
investasi yang dikeluarkan. Bila Net B/C lebih besar sama dengan 1 usaha
dianggap layak untuk dilaksanakan dan jika B/C kurang dari 1 maka usaha tidak
layak untuk dilaksanakan. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :




Dimana, B
t
= total penerimaan pada tahun ke-t
C
t
= total biaya pada tahun ke-t
i = tingkat diskonto yang berlaku
n = umur ekonomi proyek


d. Payback Period
Payback Period merupakan salah satu metode dalam menilai kelayakan
suatu investasi, yang digunakan untuk mengukur periode pengembalian modal.

=
=
<
+

>
+

=
n
0 t
t t t
t t
n
0 t
t t t
t t
0) C B (untuk
i) (1
B C
) 0 C B (untuk
i) (1
C B
B/C Net
26

Dasar yang digunakan untuk perhitungan adalah aliran kas (Net Cashflow).
Semakin kecil angka yang dihasilkan mempunyai arti semakin cepat tingkat
pengembalian investasinya, maka usaha tersebut semakin baik untuk dilaksanakan
(Kasmir, 2003). Payback period dapat dirumuskan sebagai berikut:

e. Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat dampak yang ditimbulkan
dari perubahan-perubahan kondisi di luar jangkauan asumsi yang telah dibuat
pada saat perencanaan. Pada penelitian ini analisis sensitivitas dilakukan dengan
pendekatan perubahan akibat kenaikan biaya produksi dan penurunan kapasitas
produksi sebesar 10 persen. Penentuan kenaikan biaya produksi sebesar 10 persen
merujuk pada data inflasi rata-rata Indonesia dalam satu dekade terakhir yangg
tidak lebih dari 10 persen per tahun. Sedangkan penentuan penurunan kapasitas
produksi sebesar 10 persen merupakan tingkat toleransi yang dianggap wajar
untuk kebutuhan pasokan bahan baku yang disebabkan oleh faktor-faktor non
teknis yang mungkin terjadi.

4.5 Asumsi Dasar yang Digunakan
Sebagai dasar perhitungan finansial dalam studi kelayakan investasi,
asumsi-asumsi yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Umur ekonomis proyek 15 tahun, ditentukan berdasarkan umur teknis
bangunan pabrik.
2. Kapasitas terpasang pabrik 30 ton TBS per jam.
27

3. Jumlah jam operasional, 12 jam/hari, ditentukan berdasarkan jam operasional
rata-rata pabrik kelapa sawit di Sumatra Utara dan Riau pada kondisi normal.
Sedangkan di NAD dalam satu dekade terakhir kondisinya tidak normal
karena faktor keamanan sehingga tidak dijadikan sebagai tolok ukur.
4. Jumlah hari kerja, 25 hari per bulan, 300 hari per tahun, dengan asumsi hari
minggu libur serta hari libur nasional dan hari besar keagamaan.
5. Kebutuhan bahan baku TBS akan dipenuhi dari kebun rakyat dan kebun
swasta yang ada di Kab. Aceh Utara dan daerah sekitarnya berdasarkan
proyeksi ketersedian bahan baku per tahun.
6. Analisis di kelompokkan menjadi dua skenario berdasarkan struktur
pendanaan (sumber modal). Dengan komposisi pendanaan sebagai berikut :
Skenario I: seluruh biaya investasi menggunakan dana sendiri.
Skenario II: seluruh biaya investasi menggunakan fasilitas kredit
perbankan.
7. Jangka waktu pinjaman kredit selama 10 tahun.
8. Tingkat suku bunga kredit investasi 15 persen per tahun, berdasarkan suku
bunga kredit investasi yang berlaku pada Bank BPD untuk kredit investasi
yaitu sebesar 15 persen, tanggal 8 juli 2008.
9. Rendemen CPO 21 persen dan Kernel 4 persen. Asumsi ini berdasarkan potensi rata-
rata rendemen CPO dan Kernel di Indonesia ( Lubis, 1992 ).
10. Asumsi harga TBS, CPO dan Kernel sebagai berikut:
TBS Rp. 1.655
CPO Rp. 8.861
Kernel Rp. 4.900
28

Keterangan: Asumsi harga berdasarkan Kantor Pemasaran Bersama PT.
Perkebunan Nusantara, tanggal 8 juli 2008.
11. Biaya modal (faktor diskonto) untuk skenario I (dana sendiri), 7 persen
berdasarkan tingkat bunga deposito bulan juli 2008. Skenario II (pinjaman),
15 persen berdasarkan suku bunga kredit investasi, bulan juli 2008.
12. Asumsi biaya-biaya lain:
Biaya penyusutan dihitung dengan metode garis lurus.
Biaya asuransi sebesar 1,5 persen dihitung dari total biaya investasi pabrik
(proyeksi).
Biaya pemeliharaan pabrik 2,5 persen dihitung dari total biaya investasi
pabrik (proyeksi).
Perhitungan pajak penhasilan berdasarkan Undang-Undang No. 17 tahun
2000 tentang pajak penghasilan badan usaha.
Perhitungan pajak perolehan hak guna usaha (HGU) berdasarkan Undang-
Undang No. 12 tahun 1994.
Nilai sisa dari hasil penjualan asset dikenai pajak penjualan sebesar 10
persen.












29

BAB V
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

5.1 Deskripsi sekilas kabupaten Aceh Utara
Kabupaten Aceh Utara hingga tahun 2006 memiliki 850 desa dan 2
kelurahan, yang terbagi ke dalam 56 buah mukim. Sebanyak 780 buah desa
berada di kawasan dataran dan 72 desa di kawasan berbukit. Desa yang terletak di
daerah berbukit dijumpai di 12 kecamatan. Yang paling banyak desanya di
kawasan perbukitan adalah di Kecamatan Sawang, Syamtalira Bayu, Nisam, Kuta
Makmur, dan Muara Batu. Di samping itu, terdapat 40 buah desa yang berada di
kawasan pesisir.
Kabupaten Aceh Utara yang beriklim tropis, musim kemarau berlangsung
antara bulan Februari sampai Agustus, sedangkan musim penghujan antara bulan
September sampai Januari. Suhu dimusim kemarau rata-rata 32.8
o
C dan pada
musim penghujan rata-rata 28
o
C.
Flora dan fauna yang terdapat di daerah ini terdiri dari berbagai jenis
tumbuh - tumbuhan antara lain; kayu merbau, damar, damar laut, semantok,
meranti, cemara, kayu bakau, rotan dan sebagainya. Semua jenis tumbuh-
tumbuhan hidup subur dikawasan hutan merupakan kekayaan dan potensi yang
dapat mendukung pembangunan ekonomi jika mampu dikelola dengan baik tanpa
merusak kelestarian alam dan lingkungan. Sedangkan fauna, terdiri dari berbagai
jenis hewan liar seperti gajah, harimau, badak, rusa,indus kijang, orang hutan,
babi, ular dan lain-lain sebagainya.


30

5.2 Letak Geografis dan Iklim
Kabupaten Aceh Utara sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Nanggroe
Aceh Darussalam (NAD) yang terletak di bagian pantai pesisir utara pada
96.52.00
o
- 97.31.00
o
Bujur Timur dan 04.46.00
o
- 05.00.40
o
Lintang Utara.
Kabupaten Aceh Utara memiliki wilayah seluas 3.296,86 Km
2
dengan batas-batas
sebagai berikut :
1. Sebelah Utara dengan Kota Lhokseumawe dan Selat Malaka;
2. Sebelah Selatan dengan Kabupaten Bener Meriah;
3. Sebelah Timur dengan Kabupaten Aceh Timur;
4. Sebelah Barat dengan Kabupaten Bireuen.
Kabupaten Aceh Utara memiliki curah hujan rata-rata 86,9 mm per tahun
dengan hari hujan rata-rata sebanyak 14 hari per bulan. Curah hujan tertinggi rata-
rata terjadi setiap tahunnya pada bulan Mei. Kecepatan angin rata-rata 5 knots,
dan maksimum 14,66 knots dengan arah angin terbanyak dari Timur Laut dengan
temperatur maksimum 34,0
o
C dan minimum 19,6
o
C. Temperatur maksimum
terjadi pada bulan Juli dan April, sementara temperatur minimum terjadi pada
bulan Januari setiap tahunnya.

5.3 Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi Kota Kabupaten Aceh Utara sebagaimana
tergambar dalam PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000 sangat dipengaruhi
oleh sektor pertambangan dan penggalian, terutama sub sektor pertambangan
minyak dan gas. Selama kurun waktu 2000 hingga 2005, pertumbuhan ekonomi
menunjukkan kecenderungan yang menurun seiring dengan menurunnya
31

pertumbuhan sub sektor pertambangan minyak dan gas. Bahkan sejak tahun 2004
hingga tahun 2005 sektor ini mengalami pertumbuhan negatif, namun pada tahun
2006 kembali terjadi pertumbuhan yang positif.

5.4 Potensi Perkebunan Kabupaten Aceh Utara
Daerah Aceh Utara memiliki potensi besar di bidang perkebunan dan
kehutanan. Perkebunan di daerah Aceh Utara menghasilkan kelapa sawit sebagai
komoditi unggulan. Sedangkan karet, kelapa, kelapa hybrida, kakao dan pinang
sebagai komoditi andalan. Selain yang disebutkan tersebut, daerah Aceh Utara
juga menghasilkan komoditi lain seperti kopi, cengkeh, pala, lada, kapuk/ randu,
kemiri, sagu, aren, nilam, tebu, kunyit serta jahe.
Perkembangan pembangunan perkebunan di Aceh Utara untuk saat ini
dari luas wilayah potensial yang ada, masih sangat kecil yang dimanfaatkan.
Untuk komoditi unggulan (kelapa sawit), untuk tahun 2007 lahan yang
dikembangkan baru 940 Ha, memiliki cadangan areal seluas 28.250 Ha.
Sedangkan untuk komoditi andalan juga masih memiliki areal yang belum
dikembangkan yaitu kelapa memiliki cadangan areal seluas 2.375 Ha, karet seluas
1.400 Ha, kelapa hybrida luas areal cadangannya seluas 250 Ha, kakao luas areal
cadangannya 6.450 Ha dan areal pinang yang belum dimamfaatkan seluas 21.050
Ha.
2






2
http://www.acehutara.go.id
32

BAB VI
ANALISIS KELAYAKAN ASPEK NON FINANSIAL

6.1 Aspek Teknis
Analisis aspek teknis atau aspek operasi menyangkut dengan hal-hal yang
berkaitan dengan teknis atau operasi, sehingga jika tidak dianalisis dengan baik
akan berakibat fatal bagi proyek dikemudian hari. Kelengkapan kajian aspek
teknis sangat tergantung dari jenis usaha yang dijalankan, karena setiap usaha
memiliki karakteristik dan prioritas tersendiri. Aspek teknis dilakukan untuk
melihat kesiapan pelaksana proyek dalam menjalankan usaha dalam hal ketepatan
lokasi, jadwal pelaksanaan, bahan baku, proses produksi dan mutu produk yang
dihasilkan.
6.1.1 Lokasi Pabrik
Lokasi pembangunan pabrik kelapa sawit terletak di Gampong (desa)
Peureupok, Kecamatan Syamtalira Aron, kabupaten Aceh Utara dengan luas lahan
sekitar 10 ha. Untuk mencapai lokasi pabrik kelapa sawit yang ditetapkan, dari
kota Lhokseumawe dapat ditempuh melalui jalan darat selama kurang lebih 40
menit dengan jarak tempuh sekitar 27 Km. Sedangkan jarak lokasi pabrik kelapa
sawit ke pelabuhan terdekat yaitu pelabuhan Krueng Geukuh dapat ditempuh
dalam waktu selama 1 jam perjalanan dengan jarak tempuh sekitar 35 Km.
Kondisi jalan dari Lhokseumawe ke jalan masuk lokasi merupakan jalan negara
dengan aspal (hotmix) yang cukup baik, begitu pula jalan dari lokasi proyek ke
pelabuhan Krueng Geukuh. Dasar pemilihan lokasi pabrik kelapa sawit mencakup
beberapa faktor seperti; Ketersedian sumber air, drainase, daya dukung tanah,
infrastruktur, dan dekat dengan lokasi perkebunan.
33

6.1.2 Fasilitas Produksi dan Fasilitas Pendukung Produksi
Investasi fasilitas produksi beserta peralatannya untuk proses operasional
pabrik dengan kapasitas produksi 30 ton TBS per jam dapat dilihat secara lengkap
pada Lampiran 13. Sedangkan fasilitas pendukung yang diperlukan untuk
menunjang kelancaran operasional pabrik yaitu : kendaraan, perumahan, fasilitas
pengadaan air, laboratorium, gudang, peralatan telekomunikasi dan peralatan
pemadam kebakaran. Pembangunan fasilitas produksi dan fasilitas pendukung
dilakukan dalam beberapa tahapan yang terdiri dari pekerjaan sipil, rancang
bangun arsitektur dan rancang bangun struktur.
Pekerjaan sipil merupakan tahapan pertama yang meliputi persiapan dan
pematangan tanah untuk bangunan pabrik dan bangunan pendukungnya, sarana
prasarana pabrik, dan infrastruktur. Tahapan kedua yaitu rancang bangun
arsitektur untuk bangunan pabrik dan bangunan penunjang lainnya. Rancang
bangun arsitektur dilakukan untuk memudahkan penataan ruang atau tempat
sehingga penggunaan lahan dapat dimanfaatkan dengan baik sesuai dengan
kebutuhannya. Kemudian dilanjutkan dengan rancang bangun struktur yang terdiri
dari bangunan pabrik, instalasi mesin-mesin beserta perlengkapannya.
6.1.3 Ketersediaan Bahan Baku
Pembangunan pabrik kelapa sawit pada prinsipnya adalah untuk
menampung hasil TBS dari perkebunan rakyat yang melimpah dan sisanya dari
perkebunan besar swasta yang ada di Kabupaten Aceh Utara. Secara umum
kondisi perkebunan di Kabupaten Aceh Utara dapat dikatakan baik, khususnya
dari aspek sanitasi dan teknik budidaya tanam. Bibit yang digunakan jenis
34

Tennera, dengan populasi tanaman pada saat tanam umumnya bervariasi berkisar
antara 130 sampai 140 pokok per ha.
Berdasarkan data yang disajikan pada (Tabel.1) perkembangan luas areal
perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Aceh Utara telah mencapai 29.187 ha
dengan total produksi 399.193 ton per tahun. Dengan asumsi produktifitas rata-
rata 17 ton TBS/ha/tahun, produksi TBS tersebut lebih dari cukup untuk
mendukung pabrik kelapa sawit dengan kapasitas 30 ton per jam. Potensi realisasi
produksi perkebunan rakyat sebagai sumber bahan baku utama dapat dilihat pada
Lampiran 19. Sedangkan potensi lahan untuk pengembangan perkebunan besar di
Kabupaten Aceh Utara disajikan dalam Lampiran 20.
Tabel 3. Potensi Ketersedian Bahan Baku TBS per Tahun
Keterangan Persedian (ton) Terpakai(diolah)
TBS yang tersedia (perkebunan rakyat
dan perkebunan swasta) 399.193
TBS yang diolah oleh PTPN I
cot girek,kapasitas 45 ton TBS/jam 129.600
TBS yang diolah oleh PKS yang akan
dibangun kapasitas 30 ton TBS/jam 108.000
TBS yang tersisa (dapat dipasarkan ke
luar daerah) 161.593

6.1.4 Analisis Kebutuhan Bahan Baku dan Jumlah Produksi
Saat ini, di Kabupaten Aceh Utara hanya terdapat satu pabrik kelapa sawit
yaitu PTPN I, yang berlokasi di Cot Girek dengan kapasitas 45 ton TBS per jam.
Keberadaan PTPN I tidak memberikan dampak apapun terhadap kelancaran
pasokan bahan baku TBS ke pabrik kelapa sawit yang direncanakan, karena
ketersedian bahan baku TBS jauh lebih besar dari kapasitas olah pabrik kelapa
sawit yang dimiliki oleh PTPN I. Berdasarkan kapasitas terpasang pabrik yaitu
33

sebesar 30 ton TBS per jam, dalam satu hari pabrik bekerja normal selama 12 jam,
dalam sebulan 25 hari dan dalam setahun bekerja selama 300 hari, maka
kebutuhan bahan baku yang diperlukan untuk proses produksi beserta produk
yang dihasilkan dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 4. Proyeksi Kebututuhan kapasitas PKS dan Produksi CPO/Kernel
Uraian Jumlah
Kapasitas terpasang 30 ton
Jam kerja/hari 12 jam
Hari kerja/bulan 25 hari
Hari kerja/tahun 300 hari
Kebutuhan kapasitas olah/hari 360 ton
Kebutuhan kapasitas olah/bulan 9.000 ton
Kebutuhan kapasitas olah/tahun 108.000 ton
Produksi CPO/hari (rendemen 21%) 75,6 ton
Produksi CPO/bulan (rendemen 21%) 1.890 ton
Produksi CPO/tahun (rendemen 21%) 22.680 ton
Produksi Kernel/hari (rendemen 4%) 14,4 ton
Produksi Kernel/bulan (rendemen 4%) 360 ton
Produksi Kernel/tahun (rendemen 4%) 4.320 ton

6.1.5 Proses Produksi
Proses pengolahan TBS menjadi minyak sawit dan minyak inti sawit,
terdiri dari proses ekstraksi secara mekanis dilanjutkan dengan proses pemurnian.
Dimana pentahapan pengolahan atau arus proses produksi dari tandan buah segar
(TBS) sampai menjadi CPO/Kernel secara garis besar dapat diuraikan sebagai
berikut:
6.1.5.1 Proses Eskstraksi
Tandan buah segar (TBS) yang diterima dari kebun di angkut dengan truk
atau trailer kemudian di timbang. Penimbangan dilakukan untuk mengetahui
36

volume TBS yang masuk ke pabrik dan lain-lain. Setelah dilakukan penimbangan,
kemudian dilakukan penyortiran untuk menentukan berapa persen TBS yang
layak diterima untuk diproses. Kemudian disimpan di Loading Ramp sebelum
dapat diproses pada proses pengolahan pertama (sterilisasi). Sebaiknya dari proses
penerimaan, penimbangan sampai penyimpanan, waktu yang dipergunakan harus
sependek mungkin, untuk dapat menghindari penurunan kualitas.
Tahapan pertama dalam proses ekstrasi minyak dan kernel dari Tandan
Buah Segar (TBS) adalah proses perebusan. Keberhasilan dalam proses perebusan
akan sangat mempengaruhi effisiensi dari proses ekstrasi selanjutnya, karena hasil
perebusan akan memberi efek pada proses perontokan, pelumatan dan proses
kempa/pengepresan. Setelah proses perebusan, kemudian dilanjutkan dengan
proses pemisahan berondolan dengan janjangan (threshing). Berondolan yang
telah dipisahkan dari janjangan masuk ke dalam digester, sementara janjangan
diangkut ketempat pembakaran tandan kosong (incenarator) atau digunakan
untuk Land Application.
Berondolan yang masuk kedalam digester kemudian dilumatkan sehingga
menjadi bubur. Untuk memudahkan proses pelumatan di dalam digester dilakukan
pemanasan dengan injection steam. selanjutnya buah dipress (pressing) untuk
memisahkan minyak kasar (Crude Oil) dari serat dan biji buah. Untuk
mempermudah proses pengepressan ditambahkan air panas, kemudian minyak
yang masih bercampur air keluar melalui dinding press cage yang mempunyai
perforasi untuk dimurnikan serta ampas + biji keluar dari Cylinder press cake
untuk dipisahkan. Proses pengepressan merupakan dasar perhitungan kapasitas
37

pabrik, oleh sebab itu harus dioperasikan secara optimal sehingga tidak
mengganggu rantai pengolahan.
6.1.5.2 Proses Pemurnian
Crude Oil dan air yang keluar dari screw press pada proses pengepressan
di pompakan ke crude oil gutter sebelum masuk ke sand trap tank. Kemudian dari
sand trap dialirkan ke vibrating screen (saringan getar), untuk memisahkan
serabut fiber yang terbawa. Saringan getar ini adalah saringan berganda yang
berfungsi untuk menyaring minyak (crude oil) yang masih mengandung kotoran.
Minyak kemudian ditampung dalam separating tank. Minyak yang keluar dari
separating tank dimurnikan dalam purifier (oil purifier) secara sentrifugal untuk
menurunkan kadar air dan kotoran. Selanjutnya dikeringkan lagi dengan alat
Vacuum Dryer karena kadar air (Moisture content) dari minyak yang keluar dari
purifier masih tinggi, supaya kadar asam lemak bebas (FFA) minyak tidak naik
terlalu cepat selama penyimpanan dalam storage tank .
Sedangkan air sludge yang masih bercampur minyak keluar melalui
bagian bawah separating tank selanjutnya diolah dengan mempergunakan sludge
separator. Minyak yang dihasilkan dikembalikan ke separating tank. Sedangkan
kotoran dalam bentuk lumpur kering dapat dipakai sebagai pupuk setelah diolah.
Sementara Ampas yang bercampur dengan biji yang keluar dari screw press
masuk ke dalam depericarper (pemisah ampas). Alat ini bekerja secara
pneumatis, yaitu sabut (ringan) terhisap ikut dengan udara dibawa ke ruangan
ketel uap dan dipakai sebagai bahan bakar. Sedangkan biji bersama benda-benda
padat lainnya jatuh ke bawah untuk diolah selanjutnya.
38

Biji-biji tersebut dikeringkan dengan udara panas dalam silo untuk
menurunkan kadar air yang ada pada inti (kernel) dan pada cangkang (shell)
supaya mudah pemisahan inti dengan cangkang. Pemisahan dilakukan dengan dry
separator system, Sebelum dipisahkan terlebih dahulu biji dipecahkan dengan nut
cracker. Inti (kernel) yang sudah terpisah dikeringkan lagi dalam silo (Kernel
Silo), kemudian kernel yang sudah kering sebagian diolah di kernel plan dengan
sistim press.
6.1.6 Mutu Produk
Kualitas minyak kelapa sawit (CPO) terutama ditentukan oleh kadar asam
lemak bebas atau free fatty acid (ALB atau FFA). Biasanya TBS yang dipanen
menurut kriteria matang yang normal mengandung kadar FFA = 1,2 persen. Pada
saat memanen, kemudian ditumpuk dan menunggu transportasi ke pabrik akan
naik 0,75 persen dan selama pengolahan FFA akan naik sekitar 0,3 persen. Jadi
CPO yang baik mutunya pada saat akan dipasarkan mengandung FFA sekitar 2,5
persen (Siregar, 2003).
6.1.7 Hasil analisis Aspek Teknis
Berdasarkan hasil analisis terhadap aspek teknis, secara umum tidak di
temukan hambatan atau kendala yang dapat menggangu aktivitas proses produksi
dan operasional pabrik kelapa sawit terutama yang menyangkut dengan
ketersediaan bahan baku. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembangunan
pabrik kelapa sawit dengan kapasitas produksi 30 ton TBS per jam dari segi aspek
teknis sangat mendukung dan layak untuk dilaksanakan.


39

6.2 Aspek Manajemen
6.2.1 Bentuk dan Struktur Organisasi
Bentuk badan usaha yang digunakan adalah perusahaan terbatas (PT)
dengan nama ditentukan dikemudian hari berdasarkan keputusan bersama para
pemegang saham. Struktur organisasi yang merupakan keseluruhan dari organisasi
manajemen proyek pembangunan pabrik kelapa sawit disajikan dalam Lampiran
21. Pembangunan dan segala aktivitas yang berkaitan dengan pengoperasian
Pabrik Kelapa Sawit secara sentralistik dikendalikan oleh top manajemen.
Sedangkan pelaksanaan kegiatan produksi dan operasional pabrik kelapa sawit
didelegasikan langsung kepada manajer pabrik.
Pada bagian ini pembahasan aspek manajemen untuk pabrik kelapa sawit
lebih ditekankan pada manajemen tingkat pabrik, yang dipersiapkan seefisien
mungkin dan didasarkan pada fungsi-fungsi yang dibutuhkan untuk mencapai
tujuan organisasi. Pada tingkat pabrik, manajemen akan dipimpin langsung oleh
manajer yang dibantu oleh beberapa staff, menurut tugas dan tanggung jawab
masing-masing.
6.2.2 Penyerapan Tenaga Kerja
Penyerapan dan rekruitmen tenaga kerja mulai dilakukan pada saat masa
kontruksi tetapi dalam jumlah terbatas. Pada umumnya merupakan tenaga kerja
kontraktor pelaksana pembangunan pabrik. Rekruitmen tenaga kerja dilakukan
secara bertahap sesuai dengan kebutuhan. Pada tahap pertama dilakukan untuk
keperluan pengawasan dan alih teknologi pabrikasi pabrik kelapa sawit. Tahap
berikutnya dilakukan untuk kebutuhan ketenagakerjaan pada saat pabrik
beroperasi secara komersial.
40

Komposisi penggunaan tenaga kerja untuk Pengoperasian pabrik kelapa
sawit, terdiri dari tenaga kerja staf dan non staf. Kemudian di bagi menurut tugas,
wewenang dan fungsi dari pekerjaan yang ada sesuai dengan tingkat kebutuhan.
Sebelum ditempatkan, semua tenaga kerja terlebih dahulu di bekali dengan
pelatihan dan training. Jumlah kebutuhan tenaga kerja pabrik seluruhnya
diperkirakan 113 orang dengan komposisi seperti yang di sajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Komposisi Pengunaaan Tenaga Kerja Staff dan Non Staff PKS
Kapasitas 30 ton TBS/jam
Jabatan Jumlah
Manajer 1
Asisten Manager 1
KTU ( Adm & keuangan) 1
Kepala Departemen 4
Proses 48
Kantor 10
Keamanan 13
Laboratorium 11
Sopir 14
Bengkel/workshop 6
Pelayan 2
Tukang Kebun 2
Total 113

6.2.3 Hasil Analisis Aspek Manajemen
Hasil analisis aspek manajemen menunjukkan bahwa dari aspek organisasi
manajerial dan ketersediaan kebutuhan tenaga kerja cukup mendukung untuk
pengelolaan dan pengoperasian pabrik sehingga pembangunan pabrik kelapa sawit
layak untuk dilaksanakan.

6.3 Aspek Pasar
Minyak kelapa sawit (CPO) merupakan salah satu produk perkebunan
yang memiliki nilai tinggi dan banyak diperdagangkan di pasar dunia. Manfaat
41

dari minyak kelapa sawit sendiri sangat bervariasi. Banyak industri yang dapat
menggunakan minyak kelapa sawit sebagai bahan baku produknya seperti industri
minyak goreng, industri bahan makanan, industri kosmetik dan energi
terbaharukan.
Cerahnya prospek minyak kelapa sawit (CPO) di masa yang akan datang,
merupakan peluang pasar yang sangat menjanjikan bagi produsen-produsen
minyak kelapa sawit termasuk Indonesia. Meningkatnya permintaan akan minyak
kelapa sawit terutama disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut
3
:
Minyak kelapa sawit dikenal sebagai minyak nabati dengan biaya produksi
yang paling murah dan hasil produksi yang paling tinggi, dibandingkan
dengan minyak nabati lainnya. Kenyataan ini menjadikan minyak kelapa
sawit sebagai minyak nabati dengan tingkat konsumsi tertinggi diantara
minyak nabati lainnya.
Peningkatan konsumsi minyak nabati di negara-negara berkembang seperti
Cina dan India sejalan dengan peningkatan populasi dan pendapatan perkapita
di negara tersebut.
Meningkatnya popularitas bio-energi menimbulkan permitaan tambahan dari
minyak nabati termasuk minyak kelapa sawit, selain permintaan tradisional
untuk makanan.
Di sisi lain, pertumbuhan pasokan minyak kelapa sawit dunia terbatas,
karena daerah ekologi yang cocok untuk penanaman (perkebunan kelapa sawit),
terletak pada beberapa daerah tertentu di Afrika Barat, Amerika Tengah, Amerika
Selatan dan Asia Tenggara. Dari semua daerah tersebut, hanya Indonesia dan
Malaysia yang menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, terutama dari segi
3
http://www.smart-tbk.com. Annual Reports 2008
42

luas areal yang ditanam maupun tingkat produksi minyak kelapa sawit yang
dihasilkan.
6.3.1 Gambaran Sekilas Perkembangan Produksi dan Konsumsi Dunia
Perkembangan produksi minyak kelapa sawit (CPO) dunia mengalami
peningkatan pesat semenjak tahun 1970-an dan saat ini merupakan salah satu
komoditas utama minyak nabati dunia. Negara-negara penghasil utama minyak
kelapa sawit dunia adalah Indonesia, Malaysia, Nigeria, Thailand dan Colombia
(Gambar 3). berdasarkan informasi dari United Stated Department of Agriculture
(USDA) sampai dengan awal tahun 2008 produksi minyak kelapa sawit dunia
mencapai 40,797 juta ton.

Gambar 3. Negara-Negara Penghasil Minyak Kelapa Sawit (CPO) Dunia.
Sumber: United Stated Department of Agriculture dalam PT.Gozco Plantation
4
Eropa dan Amerika merupakan pasar utama minyak kelapa sawit (CPO)
5
,
akan tetapi permintaan yang lebih besar berasal dari negara-negara berkembang
untuk keperluan bahan baku industri, energi dan makanan seperti China, India dan
Indonesia dan Malaysia (Gambar 4). Pada tahun 2006, konsumsi minyak kelapa
sawit dunia mencapai 37 juta ton dan sampai dengan awal tahun 2008 telah
mencapai 40,45 juta ton (Gambar 5).
4
http://www.gozco.co.id. Prospektus Usaha .2007
5
http://www.eye-aceh.org. Tanaman Emas pasca Tsunami di Aceh.2006
43

Gambar 4. Negara Pengkonsumsi CPO Terbesar Dunia (juta ton)
Sumber: United Stated Department of Agriculture dalam PT.Gozco Plantation

Gambar 5. Konsumsi Minyak Kelapa Sawit Dunia 2004-2007 (juta ton)


Sumber: United Stated Department of Agriculture dalam PT. Gozco Plantation
6.3.2. Gambaran Sekilas Perkembangan Produksi dan Konsumsi Indonesia
Indonesia merupakan negara produsen minyak kelapa sawit (CPO)
terbesar di dunia. Hingga awal 2008, produksi minyak kelapa sawit Indonesia
telah mencapai 18 juta ton (GAPKI, 2008). Perkembangan pesat industri kelapa
sawit Indonesia di dukung oleh luas areal perkebunan, kebijakan pemerintah serta
biaya tenaga kerja yang relatif murah di bandingkan dengan negara lain. Pada
tahun 2007, sekitar 46 persen dari total produksi minyak kelapa sawit dunia
berasal dari Indonesia, disusul oleh Malaysia yang berkontribusi sekitar 41 persen
dari total produksi dunia. Sampai dengan tahun 2006, luas lahan yang ditanami
44

kelapa sawit telah mencapai 5,9 juta hektar yang tersebar di seluruh Indonesia.
Bahkan di prediksikan pada tahun 2009 akan mencapai 9 juta hektar yang
sebagian besar terkonsentrasi di pulau sumatera yaitu sekitar 60 persen dan
merupakan areal dengan pohon kelapa sawit yang telah mencapai usia puncak
panen.
Sebagian besar (60 %) dari total produksi minyak kelapa sawit Indonesia
di ekspor ke luar negeri, sedangkan sisanya digunakan untuk memenuhi
kebutuhan dalam negeri (domestik). Untuk penggunaan domestik, industri minyak
goreng merupakan penyerap CPO dominan, mencapai 29,6 persen dari total
produksi sedangkan sisanya digunakan oleh industri oleokimia, sabun dan
margarine (Gambar 6). Beralihnya pola konsumsi masyarakat dari minyak goreng
kelapa ke minyak goreng kelapa sawit, menyebabkan perkembangan industri
minyak goreng kelapa sawit meningkat pesat. Konsumsi perkapita minyak goreng
Indonesia mencapai 16,5 kg per tahun dan khusus untuk minyak goreng kelapa
sawit sebesar 12,7 kg per tahun.

Gambar 6. Pola Konsumsi Minyak Kelapa Sawit (CPO) di Indonesia.


Sumber: Departemen Perindustrian Indonesia (2007), diolah.
6.3.3. Potensi dan Prospek Pemasaran Minyak Kelapa Sawit (CPO)
Secara kuantitatif, Indonesia relatif jauh lebih unggul dibandingkan
dengan negara lain dari segi sumber daya alam dan manusia. Dari sisi sumberdaya
43

alam Indonesia masih memiliki luas lahan untuk pengembangan perkebunan
kelapa sawit yang masih sangat luas yang mencapai 9 juta hektar lebih. Sementara
dari sisi sumberdaya manusia, jumlah sumberdaya manusia yang dimiliki
Indonesia masih sangat besar untuk perkebunan kelapa sawit yang kebutuhan
tenaga kerja sangat besar. Disamping itu, dengan tingkat produktifitas tanaman
yang ada saat ini, Indonesia berpeluang untuk meningkatkan produktifitas dengan
penggunaan bibit unggul dan pengelolaan produksi yang lebih professional.
Di tinjau dari sisi permintaan, diperkirakan permintaan terhadap produk
minyak kelapa sawit akan tetap tinggi dimasa-masa yang akan datang. Di banding
dengan produk subtitusinya seperti minyak kedele, minyak jagung dan minyak
bunga matahari, preferensi terhadap minyak kelapa sawit diperkirakan masih
relatif tinggi. Tingginya preferensi terhadap minyak kelapa sawit disebabkan
minyak kelapa sawit memiliki banyak keunggulan dibandingkan produk
subtitusinya. Keunggulan tersebut antara lain adalah lebih tahan lama untuk
disimpan, tahan terhadap tekanan dan suhu tinggi, tidak cepat bau, memiliki
kandungan gizi tinggi serta bermanfaat sebagai bahan baku berbagai jenis indutri
(Oil Word).
Berkaitan dengan produktifitas dan biaya produksi, minyak kelapa sawit
memiliki produktifitas relatif lebih tinggi dan biaya produksi yang relatif lebih
rendah di banding minyak nabati lainnya. Minyak kelapa sawit bisa mencapai
produksi hingga 3,5 ton per hektar (bahkan lebih), sedangkan biji kedele hanya
mencapai 0,4 ton per hektar dan biji matahari mencapai 0,5 ton per hektar.
Menurut Oil Word biaya produksi rata-rata minyak kedele mencapai US$ 300 per
ton, sedangkan minyak sawit hanya mencapai US$ 160 per ton. Selain itu
46

Indonesia memiliki keunggulan komparatif yaitu biaya tenaga kerja yang lebih
rendah di bandingkan dengan negara lain.
Keunggulan lain adalah dari sisi pengembangan produk yang diperoleh
dari produk utama yaitu; minyak kelapa sawit dan minyak inti sawit, serta produk
sampingan yang berasal dari limbah. Beberapa produk turunan yang dihasilkan
dari pengembangan minyak kelapa sawit diantaranya adalah minyak goreng,
produk-produk oleokimia, seperti fatty acid, fatty alcohol, glycerine, metallic
soap, stearic acid, methyl ester dan stearin. Sedangkan produk-produk yang
dihasilkan dari pemanfaatan limbah diantaranya adalah pupuk organik, kompos,
kalium, dan serat yang berasal dari tandan kosong kelapa sawit. Arang aktif dari
tempurung buah, pulp kertas yang berasal dari batang dan tandan sawit, perabot,
serta papan partikel dari batang. Pakan ternak dari batang dan pelepah serta pupuk
organik dari limbah cair yang berasal dari proses produksi minyak kelapa sawit.
Berdasarkan perpespektif harga dan pertumbuhan ekspor, perkembangan
harga minyak kelapa sawit di pasar dunia berfluktuatif dan bersifat kompleks yang
menyangkut faktor alam (iklim), biologis (masa tanaman belum menghasilkan
yang lama) dan issue-issue dunia terkini sehingga penawaran dan permintaan
jangka pendek menjadi tidak elastis. Fluktuasi harga komoditas perkebunan masih
akan menjadi fenomena yang harus disiasati pada masa-masa mendatang.
Sedangkan pertumbuhan ekspor minyak kelapa sawit dari tahun ke tahun terus
mengalami tren meningkat seiring dengan issue pemanasan global dan
pemanfaatan energi terbaharukan serta meningkatnya konsumsi dunia. Bahkan
diprediksikan peningkatan konsumsi dan ekspor ini akan terus berlanjut dalam
persentase yang lebih besar mengingat faktor yang mendukung hal tersebut cukup
47

banyak, seperti: pertumbuhan penduduk, pertumbuhan industri hilir dan
perkembangan energi alternatif.
Tabel 6. Ekspor CPO dan Produk Turunan (dalam ribu metric ton)
Tahun Total Ekspor CPO dan ProdukTurunan Porsi CPO (%)
2001 4330 41,57
2002 6355 44,06
2003 7225 40,14
2004 9260 41,04
2005 10520 43,73
2006 12140 41,19
Sumber: GAPKI (2007), diolah
6.3.4. Market Share Minyak Kelapa Sawit Indonesia.
Indonesia dan Malaysia diprediksikan akan terus menjadi pemain utama
dalam ekspor minyak kelapa sawit mengingat belum ada perkembangan yang
signifikan dari negara-negara pesaing lain. Persaingan minyak kelapa sawit di
pasar internasional cukup ketat, terutama berasal dari Asia Tenggara seperti
Malaysia dan Singapura. Dari Asia Tenggara sendiri, Malaysia yang merupakan
pesaing utama mempunyai pasar yang cukup luas, sehingga minyak kelapa sawit
Indonesia tidak dapat dengan mudah dipasarkan di pasar internasional.
6
Walaupun Malaysia mempunyai pasar yang cukup luas, namun bukan
merupakan ancaman yang serius bagi Indonesia. Karena negara tersebut saat ini
menghadapi kendala lahan yang semakin sempit sehingga merupakan hambatan
untuk melakukan eksploitasi, sedangkan Singapura pada hakekatnya tidak
mempunyai areal tanaman akan tetapi mengimpor dari negara lain seperti
Malaysia dan Indonesia. Peranan Singapura sebagai pengekspor minyak kelapa
sawit dunia tidak akan menjadi masalah serius, asalkan peranan sektor industri
hilir ditingkatkan dan gencar melakukan promosi di luar negeri.
6
http://www.eye-aceh.org. Tanaman Emas pasca Tsunami di Aceh.2006
48

Sampai dengan awal tahun 2008, Indonesia telah mampu melampaui
produksi Malaysia dan menjadi produsen terbesar minyak kelapa sawit di dunia.
Bahkan, banyak investor Malaysia yang melirik dan berminat menanamkan
investasinya pada lahan perkebunan di Indonesia yang dianggap strategis bagi
pengembangan bisnis kelapa sawit karena sulit mencari lahan kosong di Malaysia.
Pangsa pasar minyak kelapa sawit Indonesia adalah China, India, Malaysia,
Amerika Serikat dan Uni Eropa dengan tingkat pertumbuhan permintaan 7 persen
per tahun. China merupakan pasar potensial bagi Indonesia diikuti oleh India serta
hampir 80 persen impor CPO China dan India berasal dari Indonesia untuk
kebutuhan pangan maupun bahan baku industri
7
. Indonesia sendiri dengan jumlah
penduduk lebih dari 200 juta merupakan konsumen terbesar kedua dunia setelah
China.
6.3.5. Sistem Distribusi
Saluran distribusi TBS dan CPO/PKO di Indonesia, secara garis besar
sangatlah sederhana begitu juga yang terjadi di Kabupaten Aceh Utara. Dimana
TBS yang dihasilkan oleh perkebunan rakyat, perkebunan swasta dan perkebunan
milik Negara selanjutnya diolah oleh pabrik kelapa sawit (PKS) sehingga
menghasilkan CPO dan inti sawit (PKO). Kemudian produksi CPO atau PKO oleh
pabrik kelapa sawit milik PTPN dipasarkan melalui Komite Pemasaran Bersama
(KPB), sedangkan produksi yang dihasilkan pabrik kelapa sawit swasta dapat di
jual langsung ke pasar atau dapat juga dipasarkan melalui KPB.
Untuk pasar ekspor, KPB atau swasta melalui agen lokal yang saling ber
hubungan satu sama lainnya melakukan aktifitas bisnis serta bertransaksi dengan
agen luar negeri, seperti di Rotterdam (Belanda), Hamburg, Bremen (Jerman),
7
http://www.Kapan lagi. Permintaan Biofuel meningkat, dongkrak harga
CPO. Januari 2007
49

New York (AS), Guang Dong (China), New delhi (India), Kuala Lumpur
(Malaysia) serta Singapura. Kemudian CPO/PKO dikirim ke negara tujuan
dengan menggunakan kapal melalui pelabuhan-pelabuhan yang berada didaerah
sentral produksi kelapa sawit. Gambar bagan rantai pemasaran komoditi kelapa
sawit di kabupaten Aceh Utara dapat dilihat pada Lampiran 21.
6.3.6. Hasil Analisis Aspek Pasar
Secara keseluruhan berdasarkan kajian terhadap aspek pasar
mengindikasikan bahwa pembangunan pabrik kelapa sawit layak untuk
dilaksanakan dan memiliki prospek cerah dimasa yang akan datang. Bentuk pasar
merupakan pasar oligopoli ditandai oleh sedikitnya penjual dan hambatan masuk
yang sedikit sulit karena kebutuhan modal yang besar. Segmentasi pasar
merupakan pasar industri serta pasar sasaran yaitu pasar ekspor. Kendala yang
dihadapi hanya berkaitan dengan permasalahan promosi yang kurang, baik
melalui pameran dagang maupun lobbying oleh pemerintah sehingga sering kali
mendapat kesulitan untuk memperluas pangsa pasar, jika dibandingkan dengan
negara pesaing.

6.4. Aspek Lingkungan dan Sosial
Pembangunan pabrik kelapa sawit dengan kapasitas 30 ton TBS/jam dapat
digolongkan ke dalam kegiatan investasi berskala besar yang dilaksanakan untuk
menghasilkan dampak sosial ekonomi yang lebih baik. Namun jika ditinjau dari
segi lingkungan, kegiatan pembangunan pabrik kelapa sawit tentu saja akan
merubah tata ruang yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan di sekitar
lokasi pembangunan pabrik kelapa sawit. Identifikasi munculnya dampak yang
30

merugikan dengan adanya pembangunan Pabrik kelapa sawit perlu dilakukan
untuk memudahkan kemungkinan penanganan dan pengelolaan. Identifikasi
dilakukan mulai dari periode masa pembangunan sampai dengan masa setelah
beroperasi secara komersial.

6.4.1. Dampak Negatif Kegiatan Operasional Pabrik kelapa Sawit
Dampak yang mungkin terjadi diantaranya mencakup: (a) Timbulnya
bunyi suara pabrik pada daerah sekitar pabrik; (b) Kegiatan penggunaan air sungai
dan timbulnya buangan limbah yang berasal dari pabrik; (c) Timbulnya buangan
asap pabrik. Dari kegiatan tersebut yang dapat memberikan dampak negatif
terhadap lingkungan adalah butir (b), sedangkan yang lain sifatnya hanya lokal
dan intensitasnya rendah. Pengaruh bunyi suara pabrik pada daerah sekitar pabrik,
tidak akan menggangu daerah pemukiman dan perumahan karyawan pabrik.
Sedangkan pengaruh buangan asap jumlahnya tidak akan mempengaruhi kondisi
udara sekitar lingkungan.
Buangan limbah pabrik yang berasal dari kondensat, sludge, clay bath dan
air pencucian pabrik sebelum dibuang ke perairan bebas terlebih dahulu mendapat
proses penanganan untuk memisahkan minyak kasar dan sludge dengan
menggunakan alat Intergrated Clarification Tank. Sludge yang berasal dari alat
ini akan dikeringkan dengan rotary dryer yang menggunakan gas buang ketel uap
sebagai pemanas. Dengan memakai peralatan ini, banyaknya limbah akan
berkurang sekitar 35 persen. Kemudian sludge ditampung dalam silo untuk
dikeringkan dan selanjutnya dapat dipakai sebagai pupuk
31

Untuk pengolahan limbah hydrocylone dilakukan dengan cara
mengendapkan dan memisahkan zat padat yang berasal dari clay bath dengan alat
Primary Sedimentation Tank. Sedangkan untuk pengolahan kondensat sterilizer
dilakukan dengan cara menurunkan temperatur dari 80
o
C menjadi 30 35
o
C
yang berasal dari sterilizer dan clay bath dengan alat Equalization/cooling pound.
Selanjutnya diproses secara anaerobic oleh microorganisme dengan alat
Anaerobic pond sehingga kadar BOD dan COD-nya turun. Setelah mengalami
perlakuan tersebut, air buangan/limbah tidak akan mencemari tempat buangan.
6.4.2. Dampak positif Pembangunan Pabrik Kelapa Sawit
Proyek pembangunan pabrik kelapa sawit akan memberikan dampak
positif dengan terbukanya lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat dari berbagai
tingkat dan jenis keahlian. Proses penciptaan lapangan pekerjaan yang terjadi oleh
proyek pembangunan pabrik kelapa sawit akan lebih luas lagi dengan adanya
multiplier effect baik backward maupun forward linkages dari proyek seperti
timbulnya lapangan pekerjaan di sektor perdagangan, transportasi dan industri
kecil maupun besar.
Terbukanya lapangan pekerjaan baru, berarti adanya tambahan pendapatan
bagi pihak-pihak yang terlibat. Pihak yang secara langsung memperoleh kenaikan
pendapatan adalah para petani yang menjual TBS ke pabrik kelapa sawit (PKS)
dan penduduk sekitar proyek yang menjadi karyawan proyek. Pihak lain yang
memperoleh tambahan pendapatan adalah pemerintah daerah dan pusat.
Pendapatan tambahan bagi pemerintah berupa pajak-pajak yang terdiri dari PPh,
PPn, PBB dan PE. Selanjutnya penjualan hasil pengolahan kelapa sawit
menambah nilai ekspor dari perusahaan-perusahaan besar, sehingga akan
32

menghasilkan devisa yang dapat digunakan untuk membiayai pembangunan
nasional.
Selain itu proyek pembangunan pabrik kelapa sawit merupakan salah satu
cara pemerataan pembangunan sekaligus juga pemeratan kesempatan berusaha
dan pemeratan penduduk. Kebijakan pemerintah ini akan memberikan kesempatan
kepada pihak swasta untuk berusaha, sehingga keseimbangan kekuatan sosial
ekonomi antara pihak swasta dan pemerintah dapat terwujud. Jika dikaitkan
dengan pemerataan penduduk, maka proyek pembangunan pabrik kelapa sawit
berpotensi dalam mendorong penduduk untuk bermigrasi dari daerah yang padat
penduduknya ke wilayah yang masih kurang penduduknya.
6.4.3. Hasil Analisis Aspek Lingkungan dan Sosial
Berdasarkan hasil analisis aspek lingkungan dan sosial dapat disimpulkan
bahwa pembangunan pabrik kelapa sawit layak untuk dilaksanakan karena dapat
menciptakan lapangan pekerjaan baru serta memberikan pengaruh positif terhadap
perubahan sosial ekonomi. Dampak negatif yang timbul dari proyek,
penanganannya sudah direncanakan dan diantisipasi dengan baik.














33

BAB VII
ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

7.1 Ruang lingkup Analisis
Ruang lingkup analisis meliputi pembangunan pabrik kelapa sawit dengan
kapasitas 30 ton TBS per jam, penyediaan bahan baku, bahan pembantu proses
produksi beserta sarana dan prasarana penunjang. Pabrik kelapa sawit dibangun
untuk mengolah TBS yang dihasilkan oleh perkebunan rakyat dan swasta yang
ada di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Produk akhir
yang dihasilkan oleh pabrik kelapa sawit berupa CPO dan Kernel.
Dasar perhitungan harga adalah harga yang berlaku sekarang dan
dilakukan per tahun. Jangka waktu analisis dilakukan selama 15 tahun dengan
masa pembangunan proyek selama 18 bulan. Analisis finansial yang akan
dilakukan meliputi analisis investasi pembangunan proyek, pembiayaan proyek,
proyeksi laba-rugi dan proyeksi arus dana pada proyek beserta penilaian terhadap
sensitivitas proyeksi apabila ada perubahan yang mendasar pada variabel yang
sangat menentukan seperti penurunan kapasitas produksi dan kenaikan biaya
produksi.

7.2 Proyeksi Arus Kas
Proyeksi arus kas merupakan laporan aliran kas yang memperlihatkan
gambaran penerimaan (inflow) dan pengeluaran kas (outflow). Aliran arus kas
diproyeksikan selama 15 tahun sesuai dengan umur ekonomis pabrik. Selisih
antara arus penerimaan dan arus pengeluaran merupakan manfaat atau biaya yang
diterima dari kegiatan bisnis (pabrik kelapa sawit).
34

7.2.1 Outflow (Pengeluaran)
Arus pengeluaran atau arus biaya dalam analisis kelayakan investasi
pembangunan pabrik kelapa sawit dengan kapasitas 30 ton TBS per jam, terdiri
dari biaya investasi dan biaya operasional. Outflow menggambarkan pengeluaran-
pengeluaran yang akan terjadi selama umur ekonomis pabrik..
7.2.1.1 Biaya Investasi
Biaya investasi merupakan biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan awal
(star up cost) pembangunan pabrik kelapa sawit dengan kapasitas 30 ton TBS per
jam yang akan dilaksanakan di Kabupaten Aceh Utara. Biaya investasi ini
meliputi bangunan pabrik beserta instalasi permesinan, perumahan, gudang,
kendaraan dan jalan beserta sarana dan prasarana penunjang lainnya. Total jumlah
investasi keseluruhan sebesar Rp. 82.368.421.000. Berikut ini di sajikan
rekapitulasi biaya investasi pada (Tabel 7) sedangkan rincian lengkapnya dapat
dilihat pada Lampiran 13.
Tabel 7. Rekapitulasi Biaya Investasi Pabrik Kelapa Sawit
No Uraian Jumlah umur Teknis

Nilai(Rp.000)
1 Pabrik 1 Unit 15 tahun 75.357.246
2 Kendaraan 18 unit 10 tahun 3.561.000
3 Perumahan + mess + gudang 19 unit 20 tahun 2.850.000
4 Jalan 3,5 Km 10 tahun 600.175
total Investasi Fisik 82.368.421

Pembangunan pabrik kelapa sawit kapasitas 30 ton TBS per jam dilakukan
selama 18 bulan dengan umur ekonomis proyek 15 tahun di tetapkan berdasarkan
umur ekonomis pabrik.Biaya re-investasi yang dikeluarkan hanya untuk investasi
kendaraan dan jalan dikarenakan umur ekonomisnya lebih pendek dari umur
ekomonis proyek yaitu sebesar Rp. 4.161.175.000. Sementara untuk kebutuhan
33

lahan menggunakan HGU (hak guna lahan) seluas 10 hektar dengan masa
pemakaian 25 tahun dan dapat diperpanjang untuk periode berikutnya. Biaya
perolehan hak atas HGU mengacu pada Undang-Undang No.12 tahun 1994
tentang pajak perolehan atas pengelolaan tanah dan bangunan.
7.2.1.2 Biaya Operasional
Biaya operasional merupakan biaya yang dikeluarkan secara berkala
dalam rangka memenuhi input produksi dan kegiatan proses produksi agar
pengoperasian pabrik berjalan dengan lancar. Biaya-biaya ini terdiri dari biaya
tetap dan biaya variabel serta diasumsikan konstan untuk setiap tahunnya. Biaya
tetap merupakan biaya rutin yang harus dikeluarkan sehubungan dengan
pengoperasian pabrik yang terdiri dari biaya administrasi, pemeliharaan pabrik,
biaya pemeliharaan asset lain dan asuransi. Sedangkan biaya variabel merupakan
biaya yang timbul karena proses dan penggunaan input produksi yang terdiri dari
gaji, pembelian bahan baku dan biaya bahan pembantu proses produksi.
Rekapitulasi biaya operasional secara lengkap dapat dilihat pada Tabel berikut ini:
Tabel 8. Biaya Operasional Pabrik Kelapa Sawit (Rp.000)
Uraian
Tahun
0 1 2 3 s/d 15
Gaji Karyawan dan Staff 1.253.675 1.751.275 1.751.275
B. Adm dan Kantor 7300.000 1.210.000 1.210.000
Pembelian Tbs 62.937.000 161.838.000 179.820.000
B. Pemeliharaan Pabrik 941.966 1.883.932 1.883.932
B. Pemeliharaan asset lainya 516.570 1.033.140 1.033.140
B.B. Pembantu Proses Produksi 2.079.000 5.346.000 5.940.000
Asuransi 411.343 822.685 822.685
Total 68.869.554 173.885.032 192.461.032

Dari Tabel 8. di atas, tahun ke-0 merupakan tahun masa pembangunan
pabrik sampai dengan semester I tahun ke-1 sehingga tidak membutuhkan biaya
36

operasional dan proses produksi belum dapat dilakukan. Setelah pembangunan
pabrik selesai, pada semester ke II tahun ke-1 pabrik mulai berproduksi secara
komersial dengan kapasitas produksi awal diperkirakan sekitar 70 persen tahun
ke-1 serta 90 persen pada tahun ke-2 dari kapasitas terpasang pabrik yang
disebabkan oleh belum optimalnya pasokan bahan baku ke pabrik. Total biaya
operasional pada tahun ke-1 adalah Rp. 68.869.554.000 dan Rp. 173.885.032.000
pada tahun ke-2. Selanjutnya tahun ke-3 sampai dengan tahun ke-15 pabrik sudah
dapat beroperasi secara optimal sesuai dengan kapasitas terpasang mesin seiring
dengan stabilnya pasokan bahan baku ke pabrik. Jumlah total biaya operasional
per tahun sekitar Rp.192.461.032.000.
7.2.2 Inflow (Penerimaan)
Arus penerimaan atau pendapatan dalam analisis kelayakan investasi
pembangunan pabrik kelapa sawit dengan kapasitas 30 ton TBS per jam, terdiri
dari pendapatan hasil penjualan dan nilai sisa. Pendapatan penjualan diperoleh
dari hasil penjualan produk yang terdiri dari CPO dan kernel. Sedangkan nilai
sisa diperoleh dari nilai barang modal (asset) yang tersisa pada saat umur proyek
berakhir.
Pendapatan penjualan yang merupakan hasil penjualan produk sangat
dipengaruhi oleh kemampuan produksi pabrik serta harga penjualan. Produksi
CPO dan Kernel yang dihasilkan oleh pabrik tergantung dari kapasitas olah
terpasang pabrik,tingkat rendemen CPO, rendemen Kernel dan pasokan bahan
baku TBS ke pabrik. Kemampuan pasokan bahan baku TBS ke pabrik per hari ini
kemudian dijadikan dasar penentuan tolok ukur pengoperasian pabrik per hari.
37

Dalam penelitian ini, kapasitas olah terpasang pabrik adalah 30 ton TBS
per jam, tingkat rendemen CPO 21 persen, rendemen Kernel 4 persen, harga jual
CPO Rp. 8.861 per kg, Kernel Rp. 4.900 per kg serta waktu pengoperasian pabrik
12 jam per hari atau 50 persen dari kemampuan maksimal per hari. Pada tahun
pertama dan ke dua pasokan bahan baku TBS ke pabrik diperkirakan sekitar 70
dan 90 persen dari kapasitas rencana, baru pada tahun ke tiga pasokan bahan baku
TBS di perkirakan normal. Kondisi ini tentu saja berpengaruh pada output
produksi dan penerimaan hasil penjualan produk. Berikut ini disajikan
Rekapitulasi penerimaan (inflow), produksi dan hasil penjualan selama umur
proyek (Tabel 9).
Tabel 9. Rekapitulasi Penerimaan dan Produksi Pabrik Kelapa Sawit
(Rp.000)
Thn
Bahan
baku
(ton)
Produksi
CPO
(ton)
Nilai Penjualan
CPO
(Rp.000)
Produksi
Kernel
(ton)
Nilai Penjualan
Kernel
(Rp.000)
Nilai Sisa
(Rp.000)
Jumlah
(Rp.000)
0
1 37.800 7.938 70.338.618 1.521 7.452.900 77.791.518
2 97.200 20.412 180.870.732 3.888 19.051.200 199.921.932
3 108.000 22.680 200.967.480 4.320 21.168.000 222.135.480
4 108.000 22.680 200.967.480 4.320 21.168.000 222.135.480
5 108.000 22.680 200.967.480 4.320 21.168.000 222.135.480
6 108.000 22.680 200.967.480 4.320 21.168.000 222.135.480
7 108.000 22.680 200.967.480 4.320 21.168.000 222.135.480
8 108.000 22.680 200.967.480 4.320 21.168.000 222.135.480
9 108.000 22.680 200.967.480 4.320 21.168.000 222.135.480
10 108.000 22.680 200.967.480 4.320 21.168.000 222.135.480
11 108.000 22.680 200.967.480 4.320 21.168.000 222.135.480
12 108.000 22.680 200.967.480 4.320 21.168.000 222.135.480
13 108.000 22.680 200.967.480 4.320 21.168.000 222.135.480
14 108.000 22.680 200.967.480 4.320 21.168.000 222.135.480
15 108.000 22.680 200.967.480 4.320 21.168.000 2.793.090 224.928.570
Ttl 1.539.000 323.190 2.863.786.590 61.569 301.688.100 2.793.090 3.165.474.690

7.3 Analisis Laba-Rugi
Proyeksi laba-rugi didasarkan pada besarnya volume penjualan dan harga
jual produk yang dihasilkan oleh pabrik kelapa sawit, serta selisihnya terhadap
38

biaya produksi setiap tahun. Analisis laba-rugi digunakan untuk mengetahui
perkembangan profitabilitas usaha dari tahun ke tahun selama pabrik kelapa sawit
beroperasi secara komersial. Selain itu laporan laba-rugi juga digunakan sebagai
instrumen untuk menghitung besar kecilnya pajak penghasilan badan usaha yang
harus dibayarkan kepada pemerintah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Berdasarkan kondisi-kondisi yang diasumsikan, berikut ini disajikan rekapitulasi
proyeksi laba-rugi dan pajak yang dihasilkan selama 15 tahun berturut-turut sesuai
dengan umur ekonomis pabrik (Tabel 10). Sedangkan rincian lengkapnya dapat
dilihat pada Lampiran 7.
Tabel 10. Rekapitulasi Proyeksi Laba-Rugi Pabrik Kelapa Sawit (Rp.000)
Tahun Skenari I (Dana Sendiri) Skenario II (Pinjaman)
Laba Bersih Pajak Laba Bersih Pajak
0
1 2.033.582 846.535 -3.297.515
2 14.014.037 5.981.016 6.014.005 2.552.431
3 16.560.321 7.072.280 9.425.156 4.014.353
4 16.560.321 7.072.280 10.290.025 4.385.011
5 16.560.321 7.072.280 11.154.893 4.755.668
6 16.560.321 7.072.280 12.019.762 5.126.326
7 16.560.321 7.072.280 12.884.630 5.496.984
8 16.560.321 7.072.280 13.794.498 5.867.642
9 16.560.321 7.072.280 14.614.367 6.238.300
10 16.560.321 7.072.280 15.479.235 6.608.958
11 16.560.321 7.072.280 16.344.103 6.979.616
12 16.560.321 7.072.280 16.560.321 7.072.280
13 16.560.321 7.072.280 16.560.321 7.072.280
14 16.560.321 7.072.280 16.560.321 7.072.280
15 16.560.321 7.072.280 16.560.321 7.072.280
Total 231.331.792 98.767.191 184.964.443 80.314.409

Pada semester kedua tahun ke-1 pabrik kelapa sawit mulai beroperasi
secara komersial sehingga pabrik kelapa sawit memperoleh revenue dari hasil
penjualan CPO dan kernel. Pada tahun pertama dan kedua proyeksi produksi
diperkirakan sebesar 70 persen dan 90 persen dari kapasitas normal. Revenue yang
39

didapatkan dari total hasil penjualan setelah dikurangi biaya-biaya untuk skenario
I memperoleh laba bersih sebesar Rp. 2.033.582.000 pada tahun pertama dan Rp.
14.014.037.000 pada tahun kedua. Pada tahun berikutnya proyeksi laba bersih
meningkat menjadi Rp. 16.560.321.000 secara konstan untuk setiap tahunnya,
setelah kapasitas produksi pabrik beroperasi secara optimal (kapasitas
rencana).total akumulasi laba bersih dari kegiatan usaha selama umur ekonomis
pabrik untuk skenario I adalah sebesar Rp.231.331.792.000.
Sementara skenario II, pada tahun pertama proyeksi laba-rugi bernilai
negatif (rugi) sebesar Rp.3.297.515.000 disebabkan oleh beban bunga kredit
investasi. Tahun-tahun berikutnya kemampuan usaha dalam menghasilkan laba
bersih terus mengalami peningkatan karena pabrik kelapa sawit sudah dapat
dioperasikan pada kapasitas optimal serta beban biaya yang terus berkurang.
Kemudian pada tahun ke-12 dan seterusnya proyeksi laba bersih mulai stabil
seiring dengan berakhirnya pelunasan hutang investasi pada tahun ke-11. Total
akumulasi laba bersih dari kegiatan usaha selama umur ekonomis pabrik untuk
skenario II adalah sebesar Rp. 184.964.443.000.
Sedangkan pajak yang merupakan manfaat yang ditransfer kepada
masyarakat (pemerintah) memiliki korelasi dengan besar kecilnya profit yang
diperoleh dari kegiatan komersial pabrik kelapa sawit. Perhitungan pajak
dilakukan berdasarkan Undang Undang No.17 Tahun 2000 dengan ketentuan
sebagai berikut : 0 50 juta dikenakan pajak 10 persen, 50 100 juta dikenakan
pajak 15 persen dan 100 juta ke atas dikenakan pajak 30 persen. Total akumulasi
pajak selama umur proyek untuk skenario I sebesar Rp.98.767.191.000 dan
skenario II sebesar Rp.80.314.409.000.
60

7.4 Kriteria kelayakan Investasi
Penilaian kelayakan suatu investasi ditinjau dari aspek finansial dilakukan
dengan menggunakan beberapa kriteria investasi. Setiap kriteria yang digunakan
mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Semakin banyak kriteria
yang digunakan, maka semakin memberikan gambaran yang lengkap dan hasil
yang lebih baik. Adapun kriteria yang digunakan secara umum untuk dianalisis
dalam pengambilan keputusan penilaian investasi adalah: Net Present Value
(NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) dan
Payback period (PP). Berikut ini disajikan ringkasan hasil analisis kriteria
investasi untuk kedua skenario yang digunakan (Tabel 11). Sedangkan rincian
lengkap analisis kelayakan investasi dapat dilihat pada Lampiran 1.
Tabel 11. Ringkasan Analisis Kriteria Investasi Pabrik kelapa Sawit
Kriteria Investasi Skenario I (Dana Sendiri) Skenario II (Pinjaman)
NPV 106.698.657.000 - 30.727.367.000
IRR 22,34 9,03
B/C 2,30 0,63
PP 3 thn, 8 bln 6 th, 4 bln

7.4.1 Net Present Value (NPV)
Net present value merupakan selisih antara manfaat bersih yang diperoleh
dengan biaya yang dipergunakan dalam proyek, dihitung dengan menggunakan
discount rate 7 persen untuk skenario I dan 15 persen untuk skenario II. Discount
rate tersebut merupakan cost of capital sebagai opportunity cost dari suatu
investasi berdasarkan skenario yang digunakan. Penggunaan discount rate
tersebut (7 % dan 15 %) dikarenakan biaya modal yang diinvestasikan ke dalam
proyek berasal dari sumber yang berbeda sehingga biaya yang ditimbulkan oleh
setiap keputusan investasi tidak sama.
61

Hasil analisis menunjukkan NPV bernilai positif pada discount rate 7
persen untuk skenario I, sebesar Rp.106.698.657.000 dan skenario II pada
discount rate 15 persen bernilai negatif sebesar Rp. 30.727.367.000 selama 15
tahun. Nilai NPV positif pada skenario I merupakan indikasi bahwa rencana
investasi pembangunan pabrik kelapa sawit layak untuk dilaksanakan karena hasil
yang diperoleh lebih besar dari nol. Sementara nilai NPV negatif pada skenario II
mengindikasikan bahwa pembangunan pabrik kelapa sawit tidak layak untuk
dilaksanakan secara finansial.
7.4.2 Internal Rate of Return (IRR)
Analisis Internal Rate of return dengan discount rate 7 persen dan 15
persen digunakan untuk mengevaluasi kemampuan proyek dalam menghasilkan
keuntungan yang dikaitkan dengan nilai waktu uang. Nilai IRR mencerminkan
besarnya discount rate yang apabila digunakan untuk mendiskontokan seluruh kas
masuk akan menghasilkan jumlah kas yang sama dengan jumlah investasi proyek.
Hasil analisis menunjukkan nilai IRR 22,34 pada skenario I dan 9,03 pada
skenario II. Hal ini menunjukkan bahwa rencana pembangunan pabrik kelapa
sawit mampu menghasilkan opportunity cost yang lebih besar daripada cost of
capital yang diinginkan pada skenario I sehingga layak untuk dilaksanakan.
Sedangkan pada skenario II nilai IRR lebih rendah dari cost of capital yang telah
ditentukan sehingga tidak layak untuk dilaksanakan ditinjau dari aspek finansial.
7.4.3 Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)
Net benefit cost Ratio dilakukan untuk mengukur berapa besar manfaat
yang dapat diterima dari setiap investasi yang dikeluarkan. Hasil analisis rencana
pembangunan pabrik kelapa sawit menghasilkan nilai B/C Ratio 2,30 pada
62

skenario I dan 0,63 pada skenario II. Artinya keuntungan yang dihasilkan dari
proyek ini pada skenario I, lebih besar dari biaya yang harus dikeluarkan sehingga
layak untuk dilaksanakan. Sedangkan pada skenario II keuntungan yang
dihasilkan lebih kecil dari biaya yang dikeluarkan, maka pembangunan pabrik
kelapa sawit tidak layak untuk dilaksanakan secara finansial pada skenario II
karena manfaat yang dihasilkan lebih kecil dari biaya yang diinvestasikan.
7.4.4 Payback Period (PP)
Analisis payback period dilakukan bertujuan untuk mengetahui jangka
waktu pengembalian investasi. Hasil analisis proyek pembangunan pabrik kelapa
sawit ini akan mencapai titik pengembalian pada saat proyek berumur 3 tahun 8
bulan pada skenario I dan 6 tahun 4 bulan pada skenario II. Bila di tinjau dari
umur proyek pabrik kelapa sawit yang mencapai 15 tahun, maka pembangunan
pabrik memungkinkan dan layak untuk dilaksanakan karena janka waktu
pengembalian investasi lebih kecil dari umur proyek.

7.5 Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas digunakan untuk melihat tingkat kepekaan pabrik
kelapa sawit terhadap perubahan kondisi diluar jangkauan asumsi yang telah
dibuat pada saat perencanaan. Analisis ini dilakukan dan diarahkan pada dua
indikator yaitu bila terjadi kenaikan biaya produksi dan penurunan kapasitas
produksi sebesar 10 persen. Penetapan kenaikan biaya produksi sebesar 10 persen
merujuk pada data inflasi rata-rata tahunan di Indonesia dalam satu dekade
terakhir yang tidak pernah melebihi dari 10 persen. Sedangkan penurunan
kapasitas produksi 10 persen merupakan tingkat toleransi yang dianggap wajar
63

atas penurunan pasokan bahan baku yang disebabkan oleh faktor-faktor nonteknis
yang mungkin terjadi di lapangan.
a. Kenaikan Biaya Produksi (10 %)
Pada indikator kenaikan biaya produksi, analisis sensitivitas dilakukan
dengan asumsi terjadinya kenaikan biaya produksi sebesar 10 persen. Semua
variabel biaya produksi diproyeksikan mengalami kenaikan kecuali biaya
pembelian TBS dan biaya asuransi. Pengecualian dilakukan karena harga TBS
memiliki korelasi dengan harga CPO dan Kernel, karena naik turunnya harga TBS
dipengaruhi oleh harga CPO dan Kernel. Sedangkan biaya asuransi sifatnya tetap
sehingga tidak berpengaruh terhadap kelancaran kegiatan produksi. Berikut ini
disajikan ringkasan hasil analisis sensitivitas bila terjadi kenaikan biaya produksi
sebesar 10 persen (Tabel 12).
Tabel 12. Ringkasan Hasil Analisis Sensitivitas Pada Indikator Kenaikan
Biaya Produksi Sebesar 10 %.
Kriteri Investasi Skenario I (Dana Sendiri) Skenario II (Pinjaman)
NPV 99.772.392.000 - 35.189.724.000
IRR 21,47 8,12
B/C 2,21 0,57
PP 4 th, 1 bln 6 th, 8 bln

Berdasarkan hasil analisis sensitivitas yang dilakukan bila terjadi kenaikan
biaya produksi 10 persen, pembangunan pabrik kelapa sawit pada skenario I untuk
semua kriteria investasi yang dipakai, pembangunan pabrik kelapa sawit
memungkinkan dan layak untuk dilaksanakan. Dari hasil analisis ini dapat artikan
bahwa dengan tingkat toleransi kenaikan biaya produksi 10 persen kegiatan
operasional pabrik masih mampu memberikan manfaat pada skenario I.
Sedangkan skenario II tidak layak untuk dilaksanakan berdasarkan hasil yang
64

ditunjukkan oleh nilai NPV yang negatif, IRR di bawah cost of capital dan B/C
ratio kecil dari satu. Rincian lengkap proyeksi perhitungan kriteria kelayakan bila
terjadi kenaikan biaya produksi 10 persen dapat dilihat pada Lampiran 3.
b. Penurunan Kapasitas Produksi (10 %)
Analisis sensitivitas dengan indikator penurunan kapasitas produksi,
dilakukan dengan asumsi terjadinya penurunan kapasitas olah pabrik sebesar 10
persen. Penurunan kapasitas olah berimflikasi pada penurunan biaya pengadaan
bahan baku dan biaya bahan pembantu proses produksi. Selain itu, penurunan
kapasitas olah mengakibatkan penurunan volume produksi yang berpengaruh
terhadap pendapatan penjualan atau output yang dihasilkan. Berikut ini disajikan
ringkasan hasil analisis sensitivitas bila terjadi penurunan kapasitas produksi
sebesar 10 persen pada Tabel 13 berikut ini.
Tabel 13. Ringkasan Hasil Analisis Sensitivitas Pada Indikator Penurunan
Kapasitas Produksi Sebesar 10 %.
Kriteri Investasi Skenario I (Dana sendiri) Skenario II (Pinjaman)
NPV 84.671.172.000 - 45.027.555.000
IRR 19,52 6,09
B/C 2,03 0,45
PP 4 th, 3 bln 8 th, 1 bln

Dari hasil analisis yang dilakukan jika terjadi penurunan kapasitas
produksi sebesar 10 persen (Tabel.13), pembangunan pabrik kelapa sawit pada
skenario I masih layak untuk dilaksanakan berdasarkan kriteria-kriteria investasi
yang digunakan. Hal ini mengindikasikan bahwa penurunan kapasitas produksi
pada tingkat toleransi 10 persen yang berkaitan dengan pasokan atau ketersediaan
bahan baku pada skenario I masih dapat memberikan manfaat serta tidak
menyebabkan aktifitas operasional pabrik kelapa sawit terganggu. Sementara pada
63

skenario II menjadi tidak layak untuk dilaksanakan.. Rincian lengkap proyeksi
perhitungan yang ditimbulkan oleh penurunan kapasitas produksi dapat dilihat
pada Lampiran 5.








































66

BAB VIII
KESIMPULAN DAN SARAN

8.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan
beberapa hal sebagai berikut:
1. Berdasarkan hasil analisis aspek non-finansial yang terdiri dari aspek teknis,
aspek pasar, aspek organisasi manajemen dan aspek sosial yang dilakukan,
menunjukkan bahwa pembangunan pabrik kelapa sawit (PKS) kapasitas 30
ton TBS/ jam layak untuk dilaksanakan.
2. Secara finansial berdasarkan asumsi asumsi yang digunakan, skenario I (dana
sendiri) dengan discount factor 7 %, kegiatan investasi pabrik kelapa sawit
(PKS) kapasitas 30 ton TBS per jam layak untuk dilaksanakan ditinjau dari
semua kriteria investasi yang digunakan. Nilai NPV sebesar Rp.
106.698.657.000; IRR sebesar 22,34; Net B/C sebesar 2,30; dan Payback
Period selama 3 tahun 8 bulan. Sedangkan skenario II (pinjaman) dengan
discount factor 15 %, kegiatan investasi pabrik kelapa sawit tidak layak
dilaksanakan. Nilai NPV yang diperoleh sebesar (- Rp. 30.727.367.000); IRR
sebesar 9,03; Net B/C sebesar 0,63; dan Payback Period selama 6 tahun 4
bulan. Total keseluruhan investasi yang dibutuhkan adalah sebesar
Rp.82.368.421.000.
3. Hasil analisis sensitivitas pabrik kelapa sawit (PKS) kapasitas 30 ton TBS per
jam, pada indikator kenaikan biaya produksi sebesar 10 persen dan
penurunan kapasitas produksi 10 persen pada skenario I masih layak untuk
dilaksanakan sementara pada skenario II tidak layak untuk dilaksanakan.
67

8.2. Saran
Saran yang dapat penulis ajukan, antara lain :
1. Berdasarkan luas areal perkebunan dan total produksi TBS sebagaimana yang
telah direkomendasikan oleh Pemerintah serta Peraturan Menteri Pertanian
No.26/Permentan/OT.140/2/2007, idealnya Kabupaten Aceh Utara
membutuhkan 2 Unit Pabrik kelapa sawit (PKS) baru dengan kapasitas 30 ton
TBS/jam.
2. Pembangunan pabrik kelapa sawit sangat penting untuk dilaksanakan untuk
menampung lonjakan produksi TBS yang dihasilkan oleh perkebunan rakyat
dan perkebunan swasta di Kabupaten Aceh Utara. Pemerintah, terutama
pemerintahan daerah diharapkan dapat berperan serta untuk menarik minat
investor, memfasilitasi dan menjadi mediator antara pihak-pihak terkait untuk
memudahkan investasi.
3. Untuk melindungi petani perkebunan rakyat, Pemerintah Daerah Kabupaten
Aceh Utara sebaiknya membentuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk
pembangunan pabrik kelapa sawit (PKS) dengan pertimbangan luasan lahan
dan modal yang dimiliki oleh perkebunan rakyat tidak memadai dan
memenuhi syarat untuk perizinan pendirian pabrik kelapa sawit.






68

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Perindustrian. 2007. Pusat Data dan Informasi. Departemen
Perindustrian,Jakarta.

Direktorat Jenderal Perkebunan Indonesia. 2007. Basis Data Statistik Indonesia.
Departemen pertanian Indonesia, Jakarta.

Dinas Perkebunan Kabupaten Aceh Utara. 2007. Aceh dalam Angka, Nanggroe
Aceh Darussalam.

Gittinger,J.P. 1986. Analisa Ekonomi Proyek-proyek Pertanian. U-Press, Jakarta.

Harahap, E. 2003. Prospek Pembangunan Pabrik mini CPO Untuk Meningkatkan
Ekonomi Lokal di Kota Dumai Provinsi Riau. Tesis. Program Pascasarjana
Institut Pertanian Bogor. Bogor

Hartopo. 2005. Analisis Kelayakan Finansial Pabrik Kelapa Sawit Mini (Studi
Kasus ; Pabrik Kelapa Sawit Aek Pancur, Tanjung Merawa, Medan,
Sumatra Utara). Sripsi. Program Studi Ekonomi Pertanian dan
Sumberdaya. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Ilyas, Z. 2006. Program Pengembangan Agroindustri Pengolahan Minyak Kelapa
Sawit Dalam Menunjang Perekonomian Kota Dumai Provinsi Riau. Tesis.
Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Kadariah, Lien. K dan Clive, G. 1987. Pengantar Evaluasi Proyek. Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi. Universitas Indonesia, Jakarta.

Kasmir, dan Jakfar. 2003. Studi Kelayakan Bisnis. Prenada Media, Jakarta.

Lubis, H. A. U.1992. Kelapa Sawit Indonesia. Pusat Penelitian Perkebunan
Marihat, Sumatra Utara.

Noviyanti. 2008. Analisis Kelayakan Investasi Pengusahaan Tapioka (Studi
Kasus Pengrajin Tapioka Uhan di Desa Cipambuan, Kecamatan Babakan
Madang, Kabupaten Bogor). Skripsi. Program Studi Manajemen
Agribisnis. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Nugroho, Y. 2008. Kelayakan Usaha Pembibitan Pre-nursery Kelapa Sawit
(Elaeis guneensis Jacq.) pada PT. Socfin Indonesia (Socfindo) Medan,
Sumatra Utara. Skripsi. Program Studi Manajemen Agribisnis. Fakultas
Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Pusat Penelitian Kelapa Sawit.2002.Tinjauan Ekonomi Industri Kelapa Sawit.
Indonesian Oil Palm Researh Institute (IOPRI). Medan. Sumatra Utara.
69


Rangkuti, F. 2005. Teknik Membuat Perencanaan Bisnis dan Analisis Kasus. PT.
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

Sutojo, S. dan Kleinsteuber, F.2004. Financial management For Non-financial
Executives. PT. Damar Mulia Pustaka. Jakarta.

Siregar, I. M. 2003. Manajemen Pabrik Kelapa Sawit, Hal 319-484. Dalam
Mangoensoekarjo, S. dan Semangun, H. Manajemen Agrobisnis Kelapa
Sawit, 2003. Gadjah Mada University Press. Yogjakarta.

Umar, H. 2007. Teknik Menganalisis Kelayakan Rencana Bisnis secara
Komprehensif. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.




Lampiran 1. Cash Flow Skenario I
No Uraian
Tahun
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
A Inflow
1. Nilai Penjualan 77.791.518 199.921.932 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480
2. Nilai Sisa 2.793.090
Total Inflow 77.791.518 199.921.932 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 224.928.570
B Outflow
1. Biaya Investasi dan Reinvestasi 82.368.421 4.161.175
2.Biaya Operasional
Gaji Karyawan dan Staff 1.253.675 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275
Biaya Adm dan Kantor 730.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000
Pembelian TBS 62.937.000 161.838.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000
Biaya Pemeliharaan Pabrik 941.966 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932
Biaya Pemeliharan Asset Lain 516.570 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140
Biaya Pembantu Proses Produksi 2.079.000 5.346.000 5.940.000 5.940.000 5.940.000 5.940.000 5.940.000 5.940.000 5.940.000 5.940.000 5.940.000 5.940.000 5.940.000 5.940.000 5.940.000
Asuransi 411.343 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685
Total Biaya Operasional 68.869.554 173.885.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032
3.Biaya Non-Operasional
Angsuran Pokok
Bunga
Pajak 846.535 5.981.016 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280
Total Biaya Non-Operasional 846.535 5.981.016 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280
Total Outflow 82.368.421 69.716.089 179.866.048 199.533.312 199.533.312 199.533.312 199.533.312 199.533.312 199.533.312 199.533.312 199.533.312 203.694.487 199.533.312 199.533.312 199.533.312 199.533.312
Net Benefit -82.368.421 8.075.429 20.055.884 22.602.168 22.602.168 22.602.168 22.602.168 22.602.168 22.602.168 22.602.168 22.602.168 18.440.993 22.602.168 22.602.168 22.602.168 25.395.258
DF 7% 1 0,935 0,873 0,816 0,763 0,713 0,666 0,623 0,582 0,544 0,508 0,475 0,444 0,415 0,388 0,362
PV -82.368.421 7.550.526 17.508.787 18.443.369 17.245.454 16.115.346 15.053.044 14.081.151 13.154.462 12.295.579 11.481.901 8.759.472 10.035.363 9.379.900 8.769.641 9.193.083
NPV 106.698.657
NPV + 189.067.078
NPV - -82.368.421
Net B/C 2,30
IRR 22,34%
rata-rata kas bersih/tahun 21.372.761
Payback Period 3,85

Lampiran 2. Cash Flow Skenario II


No Uraian
Tahun
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
A Inflow
1. Nilai Penjualan 77.791.518 199.921.932 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480
2. Nilai Sisa 2.793.090
Total Inflow 77.791.518 199.921.932 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 224.928.570
B Outflow
1. Biaya Investasi dan Reinvestasi 82.368.421 4.161.175
2.Biaya Operasional
Gaji Karyawan dan Staff 1.253.675 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275
Biaya Adm dan Kantor 730.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000
Pembelian TBS 62.937.000 161.838.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000
Biaya Pemeliharaan Pabrik 941.966 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932
Biaya Pemeliharan Asset Lain 516.570 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140
Biaya Pembantu Proses Produksi 2.079.000 5.346.000 5.940.000 5.940.000 5.940.000 5.940.000 5.940.000 5.940.000 5.940.000 5.940.000 5.940.000 5.940.000 5.940.000 5.940.000 5.940.000
Asuransi 411.343 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685
Total Biaya Operasional 68.869.554 173.885.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032
3.Biaya Non-Operasional
Angsuran Pokok 4.118.421 8.236.842 8.236.842 8.236.842 8.236.842 8.236.842 8.236.842 8.236.842 8.236.842 8.236.842 4.118.421
Bunga 6.177.632 11.428.618 10.193.092 8.957.566 7.722.040 6.486.513 5.250.987 4.015.461 2.779.934 1.544.408 308.882
Pajak 2.552.431 4.014.353 4.385.011 4.755.668 5.126.326 5.496.984 5.855.142 6.238.300 6.608.958 6.979.616 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280
Total Biaya Non-Operasional 10.296.053 22.217.891 22.444.287 21.579.419 20.714.550 19.849.681 18.984.813 18.107.445 17.255.076 16.390.208 11.406.919 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280
Total Outflow 82.368.421 79.165.607 196.102.923 214.905.319 214.040.451 213.175.582 212.310.713 211.445.845 210.568.477 209.716.108 208.851.240 208.029.126 199.533.312 199.533.312 199.533.312 199.533.312
Net Benefit -82.368.421 -1.374.089 3.819.009 7.230.161 8.095.029 8.959.898 9.824.767 10.689.635 11.567.003 12.419.372 13.284.240 14.106.354 22.602.168 22.602.168 22.602.168 25.395.258
DF 15 % 1 0,87 0,756 0,658 0,572 0,497 0,432 0,376 0,327 0,284 0,247 0,215 0,187 0,163 0,141 0,123
PV -82.368.421 -1.195.457 2.887.171 4.757.446 4.630.357 4.453.069 4.244.299 4.019.303 3.782.410 3.527.102 3.281.207 3.032.866 4.226.605 3.684.153 3.186.906 3.123.617
NPV -30.727.367
NPV + 51.641.054
NPV - -82.368.421
Net B/C 0,63
IRR 9,03%
rata-rata kas bersih/tahun 12.788.209
Payback Period 6,44






Lampiran 3. Cash Flow Skenario I Pada Indikator Kenaikan Biaya Produksi 10 % (Rp.000)
No Uraian
Tahun
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
A Inflow
1. Nilai Penjualan 77.791.518 199.921.932 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480
2. Nilai Sisa 2.793.090
Total Inflow 77.791.518 199.921.932 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 224.928.570
B Outflow
1. Biaya Investasi dan Reinvestasi 82.368.421 4.161.175
2.Biaya Operasional
Gaji Karyawan dan Staff 1.379.043 1.926.403 1.926.403 1.926.403 1.926.403 1.926.403 1.926.403 1.926.403 1.926.403 1.926.403 1.926.403 1.926.403 1.926.403 1.926.403 1.926.403
Biaya Adm dan Kantor 778.000 1.306.000 1.306.000 1.306.000 1.306.000 1.306.000 1.306.000 1.306.000 1.306.000 1.306.000 1.306.000 1.306.000 1.306.000 1.306.000 1.306.000
Pembelian TBS 62.937.000 161.838.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000
Biaya Pemeliharaan Pabrik 1.036.163 2.072.325 2.072.325 2.072.325 2.072.325 2.072.325 2.072.325 2.072.325 2.072.325 2.072.325 2.072.325 2.072.325 2.072.325 2.072.325 2.072.325
Biaya Pemeliharan Asset Lain 568.227 1.136.454 1.136.454 1.136.454 1.136.454 1.136.454 1.136.454 1.136.454 1.136.454 1.136.454 1.136.454 1.136.454 1.136.454 1.136.454 1.136.454
Biaya Pembantu Proses Produksi 2.286.900 5.880.600 6.534.000 6.534.000 6.534.000 6.534.000 6.534.000 6.534.000 6.534.000 6.534.000 6.534.000 6.534.000 6.534.000 6.534.000 6.534.000
Asuransi 411.343 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685
Total Biaya Operasional 69.396.676 174.982.467 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867
3.Biaya Non-Operasional
Angsuran Pokok
Bunga
Pajak 688.399 5.651.785 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230
Total Biaya Non-Operasional 688.399 5.651.785 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230
Total Outflow 82.368.421 70.085.075 180.634.252 200.343.097 200.343.097 200.343.097 200.343.097 200.343.097 200.343.097 200.343.097 200.343.097 204.504.272 200.343.097 200.343.097 200.343.097 200.343.097
Net Benefit -82.368.421 7.706.443 19.287.680 21.792.383 21.792.383 21.792.383 21.792.383 21.792.383 21.792.383 21.792.383 21.792.383 17.631.208 21.792.383 21.792.383 21.792.383 24.585.473
DF 7% 1 0,935 0,873 0,816 0,763 0,713 0,666 0,623 0,582 0,544 0,508 0,475 0,444 0,415 0,388 0,362
PV -82.368.421 7.205.524 16.838.145 17.782.585 16.627.588 15.537.969 14.513.727 13.576.655 12.683.167 11.855.056 11.070.531 8.374.824 9.675.818 9.043.839 8.455.445 8.899.941
NPV 99.772.392
NPV + 182.140.813
NPV - -82.368.421
Net B/C 2,21
IRR 21,47%
rata-rata kas bersih/tahun 20.595.134
Payback Period 4,00

Lampiran 4. Cash Flow Skenario II, Pada Indikator Kenaikan Biaya Produksi 10 % (Rp.000)
No Uraian
Tahun
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
A Inflow
1. Nilai Penjualan 77.791.518 199.921.932 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480
2. Nilai Sisa 2.793.090
tal Inflow 77.791.518 199.921.932 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 224.928.570
B Outflow
1. Biaya Investasi dan Reinvestasi 82.368.421 4.161.175
2.Biaya Operasional
Gaji Karyawan dan Staff 1.379.043 1.926.403 1.926.403 1.926.403 1.926.403 1.926.403 1.926.403 1.926.403 1.926.403 1.926.403 1.926.403 1.926.403 1.926.403 1.926.403 1.926.403
Biaya Adm dan Kantor 778.000 1.306.000 1.306.000 1.306.000 1.306.000 1.306.000 1.306.000 1.306.000 1.306.000 1.306.000 1.306.000 1.306.000 1.306.000 1.306.000 1.306.000
Pembelian TBS 62.937.000 161.838.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000 179.820.000
Biaya Pemeliharaan Pabrik 1.036.163 2.072.325 2.072.325 2.072.325 2.072.325 2.072.325 2.072.325 2.072.325 2.072.325 2.072.325 2.072.325 2.072.325 2.072.325 2.072.325 2.072.325
Biaya Pemeliharan Asset Lain 568.227 1.136.454 1.136.454 1.136.454 1.136.454 1.136.454 1.136.454 1.136.454 1.136.454 1.136.454 1.136.454 1.136.454 1.136.454 1.136.454 1.136.454
Biaya Pembantu Proses Produksi 2.286.900 5.880.600 6.534.000 6.534.000 6.534.000 6.534.000 6.534.000 6.534.000 6.534.000 6.534.000 6.534.000 6.534.000 6.534.000 6.534.000 6.534.000
Asuransi 411.343 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685
Total Biaya Operasional 69.396.676 174.982.467 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867
3.Biaya Non-Operasional
Angsuran Pokok 4.118.421 8.236.842 8.236.842 8.236.842 8.236.842 8.236.842 8.236.842 8.236.842 8.236.842 8.236.842 4.118.421
Bunga 6.177.632 11.428.618 10.193.092 8.957.566 7.722.040 6.486.513 5.250.987 4.015.461 2.779.934 1.544.408 308.882
Pajak 2.223.200 3.667.302 4.037.960 4.408.618 4.779.276 5.149.934 5.520.592 5.891.250 6.261.907 6.632.565 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230
Total Biaya Non-Operasional 10.296.053 21.888.660 22.097.236 21.232.368 20.367.500 19.502.631 18.637.763 17.772.895 16.908.026 16.043.157 11.059.868 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230
Total Outflow 82.368.421 79.692.729 196.871.127 215.715.103 214.850.235 213.985.367 213.120.498 212.255.630 211.390.762 210.525.893 209.661.024 208.838.910 200.343.097 200.343.097 200.343.097 200.343.097
Net Benefit -82.368.421 -1.901.211 3.050.805 6.420.377 7.285.245 8.150.113 9.014.982 9.879.850 10.744.718 11.609.587 12.474.456 13.296.570 21.792.383 21.792.383 21.792.383 24.585.473
DF 15 % 1 0,87 0,756 0,658 0,572 0,497 0,432 0,376 0,327 0,284 0,247 0,215 0,187 0,163 0,141 0,123
PV -82.368.421 -1.654.054 2.306.409 4.224.608 4.167.160 4.050.606 3.894.472 3.714.824 3.513.523 3.297.123 3.081.191 2.858.763 4.075.176 3.552.158 3.072.726 3.024.013
NPV -35.189.724
NPV + 47.178.697
NPV - -82.368.421
Net B/C 0,57
IRR 8,12%
rata-rata kas bersih/tahun 11.999.208
Payback Period 6,86






Lampiran 5. Cash Flow Skenario I, Pada Indikator Penurunan Kapasitas Produksi 10 % (Rp.000)
No Uraian
Tahun
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
A Inflow
1. Nilai Penjualan 66.640.644 177.708.384 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932
2. Nilai Sisa 2.793.090
Total Inflow 66.640.644 177.708.384 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 202.715.022
B Outflow
1. Biaya Investasi dan Reinvestasi 82.368.421 4.161.175
2.Biaya Operasional
Gaji Karyawan dan Staff 1.253.675 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275
Biaya Adm dan Kantor 730.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000
Pembelian TBS 53.946.000 143.856.000 161.838.000 161.838.000 161.838.000 161.838.000 161.838.000 161.838.000 161.838.000 161.838.000 161.838.000 161.838.000 161.838.000 161.838.000 161.838.000
Biaya Pemeliharaan Pabrik 941.966 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932
Biaya Pemeliharan Asset Lain 516.570 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140
Biaya Pembantu Proses Produksi 1.782.000 4.752.000 5.346.000 5.346.000 5.346.000 5.346.000 5.346.000 5.346.000 5.346.000 5.346.000 5.346.000 5.346.000 5.346.000 5.346.000 5.346.000
Asuransi 411.343 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685
Total Biaya Operasional 59.581.554 155.309.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032
3.Biaya Non-Operasional
Angsuran Pokok
Bunga
Pajak 287.673 4.889.752 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016
Total Biaya Non-Operasional 287.673 4.889.752 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016
Total Outflow 82.368.421 59.869.227 160.198.784 179.866.048 179.866.048 179.866.048 179.866.048 179.866.048 179.866.048 179.866.048 179.866.048 184.027.223 179.866.048 179.866.048 179.866.048 179.866.048
Net Benefit -82.368.421 6.771.417 17.509.600 20.055.884 20.055.884 20.055.884 20.055.884 20.055.884 20.055.884 20.055.884 20.055.884 15.894.709 20.055.884 20.055.884 20.055.884 22.848.974
DF 7% 1 0,935 0,873 0,816 0,763 0,713 0,666 0,623 0,582 0,544 0,508 0,475 0,444 0,415 0,388 0,362
PV -82.368.421 6.331.275 15.285.881 16.365.601 15.302.639 14.299.845 13.357.219 12.494.816 11.672.524 10.910.401 10.188.389 7.549.987 8.904.812 8.323.192 7.781.683 8.271.329
NPV 84.671.172
NPV + 167.039.593
NPV - -82.368.421
Net B/C 2,03
IRR 19,52%
rata-rata kas bersih/tahun 18.909.295
Payback Period 4,36






Lampiran 6. Cash Flow Skenario II, Pada Indikator Penurunan Kapasitas Produksi 10 % (Rp.000)
No Uraian
Tahun
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
A Inflow
1. Nilai Penjualan 66.640.644 177.708.384 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932
2. Nilai Sisa 2.793.090
Total Inflow 66.640.644 177.708.384 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 202.715.022
B Outflow
1. Biaya Investasi dan Reinvestasi 82.368.421 4.161.175
2.Biaya Operasional
Gaji Karyawan dan Staff 1.253.675 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275 1.751.275
Biaya Adm dan Kantor 730.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000 1.210.000
Pembelian TBS 53.946.000 143.856.000 161.838.000 161.838.000 161.838.000 161.838.000 161.838.000 161.838.000 161.838.000 161.838.000 161.838.000 161.838.000 161.838.000 161.838.000 161.838.000
Biaya Pemeliharaan Pabrik 941.966 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932 1.883.932
Biaya Pemeliharan Asset Lain 516.570 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140 1.033.140
Biaya Pembantu Proses Produksi 1.782.000 4.752.000 5.346.000 5.346.000 5.346.000 5.346.000 5.346.000 5.346.000 5.346.000 5.346.000 5.346.000 5.346.000 5.346.000 5.346.000 5.346.000
Asuransi 411.343 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685 822.685
Total Biaya Operasional 59.581.554 155.309.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.88S.032
3.Biaya Non-Operasional
Angsuran Pokok 4.118.421 8.236.842 8.236.842 8.236.842 8.236.842 8.236.842 8.236.842 8.236.842 8.236.842 8.236.842 4.118.421
Bunga 6.177.632 11.428.618 10.193.092 8.957.566 7.722.040 6.486.513 5.250.987 4.015.461 2.779.934 1.544.408 308.882
Pajak 1.461.166 2.923.088 3.293.746 3.664.404 4.035.062 4.405.720 4.776.378 5.147.036 5.517.694 5.888.351 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016
Total Biaya Non-Operasional 10.296.053 21.126.626 21.353.022 20.488.154 19.623.286 18.758.417 17.893.549 17.028.681 16.163.812 15.298.944 10.315.654 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016
Total Outflow 82.368.421 69.877.607 176.435.658 195.238.054 194.373.186 193.508.318 192.643.449 191.778.581 190.913.713 190.048.844 189.183.976 188.361.861 179.866.048 179.866.048 179.866.048 179.866.048
Net Benefit -82.368.421 -3.236.963 1.272.726 4.683.878 5.548.746 6.413.614 7.278.483 8.143.351 9.008.219 9.873.088 10.737.956 11.560.071 20.055.884 20.055.884 20.055.884 22.848.974
DF 15 % 1 0,87 0,756 0,658 0,572 0,497 0,432 0,376 0,327 0,284 0,247 0,215 0,187 0,163 0,141 0,123
PV -82.368.421 -2.816.158 962.181 3.081.992 3.173.883 3.187.566 3.144.305 3.061.900 2.945.688 2.803.957 2.652.275 2.485.415 3.750.450 3.269.109 2.827.880 2.810.424
NPV -45.027.555
NPV + 37.340.866
NPV - -82.368.421
Net B/C 0,45
IRR 6,09%
rata-rata kas bersih/tahun 10.286.653
Payback Period 8,01

Lampiran 7a. Laporan Laba-Rugi Skenario I (Rp.000)


Uraian Thn ke 0 Thn ke 1 Thn ke 2 Thn ke 3 Thn ke 4 Thn ke 5 Thn ke 6 Thn ke 7 Thn ke 8 Thn ke 9 Thn ke 10 Thn ke 11 Thn ke 12 Thn ke 13 Thn ke 14 Thn ke 15
A Revenue 77.791.518 199.921.932 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480

B Biaya-biaya Pengeluaran
1 Biaya Produksi 68.869.554 173.885.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032
2 Penyusutan 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847
Total 74.911.401 179.926.879 198.502.879 198.502.879 198.502.879 198.502.879 198.502.879 198.502.879 198.502.879 198.502.879 198.502.879 198.502.879 198.502.879 198.502.879 198.502.879

Laba kotor 2.880.117 19.995.053 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601

C Pembayaran Bunga
Pembayaran Bunga Investasi
Pembayaran Bunga Modal Kerja
Laba(Rugi) sebelum Pajak 2.880.117 19.995.053 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601

D Pembayaran PPH
penghasilan 0 - 50 juta = 10 % 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000
penghasilan50 - 100 juta = 15 % 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500
di atas 100 juta = 30 % 834.035 5.968.516 7.059.780 7.059.780 7.059.780 7.059.780 7.059.780 7.059.780 7.059.780 7.059.780 7.059.780 7.059.780 7.059.780 7.059.780 7.059.780
total 846.535 5.981.016 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280

Laba(rugi) Bersih 2.033.582 14.014.037 16.560.321 16.560.321 16.560.321 16.560.321 16.560.321 16.560.321 16.560.321 16.560.321 16.560.321 16.560.321 16.560.321 16.560.321 16.560.321

Kumulatif Laba(rugi) 2.033.582 16.047.619 32.607.940 49.168.260 65.728.581 82.288.902 98.849.223 115.409.543 131.969.864 148.530.185 165.090.505 181.650.826 198.211.147 214.771.467 231.331.788

Lampiran 7b. Laporan Laba-Rugi Skenario II (Rp.000)


Uraian Thn ke 0 Thn ke 1 Thn ke 2 Thn ke 3 Thn ke 4 Thn ke 5 Thn ke 6 Thn ke 7 Thn ke 8 Thn ke 9 Thn ke 10 Thn ke 11 Thn ke 12 Thn ke 13 Thn ke 14 Thn ke 15
A Revenue 77.791.518 199.921.932 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480

B Biaya-biaya Pengeluaran
1 Biaya Produksi 68.869.554 173.885.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032 192.461.032
2 Penyusutan 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847
Total 74.911.401 179.926.879 198.502.879 198.502.879 198.502.879 198.502.879 198.502.879 198.502.879 198.502.879 198.502.879 198.502.879 198.502.879 198.502.879 198.502.879 198.502.879

Laba kotor 2.880.117 19.995.053 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601

C Pembayaran Bunga
Pembayaran Bunga Investasi 6.177.632 11.428.618 10.193.092 8.957.566 7.722.040 6.486.513 5.250.987 4.015.461 2.779.934 1.544.408 308.882
Pembayaran Bunga Modal Kerja
Laba(Rugi) sebelum Pajak -3.297.515 8.566.435 13.439.509 14.675.035 15.910.561 17.146.088 18.381.614 19.617.140 20.852.667 22.088.193 23.323.719 23.632.601 23.632.601 23.632.601 23.632.601

D Pembayaran PPH
penghasilan 0 - 50 juta = 10 % 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000
penghasilan50 - 100 juta = 15 % 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500
di atas 100 juta = 30 % 2.539.931 4.001.853 4.372.511 4.743.168 5.113.826 5.484.484 5.855.142 6.225.800 6.596.458 6.967.116 7.059.780 7.059.780 7.059.780 7.059.780
total 2.552.431 4.014.353 4.385.011 4.755.668 5.126.326 5.496.984 5.867.642 6.238.300 6.608.958 6.979.616 7.072.280 7.072.280 7.072.280 7.072.280

Laba(rugi) Bersih -3.297.515 6.014.005 9.425.156 10.290.025 11.154.893 12.019.762 12.884.630 13.749.498 14.614.367 15.479.235 16.344.103 16.560.321 16.560.321 16.560.321 16.560.321

Kumulatif Laba(rugi) -3.297.515 2.716.490 12.141.646 22.431.670 33.586.563 45.606.325 58.490.954 72.240.452 86.854.819 102.334.054 118.678.158 135.238.478 151.798.799 168.359.120 184.919.441



Lampiran 8a Laporan Laba-Rugi Skenario I, Pada Indikator Kenaikan Biaya Produksi 10 % (Rp.000)
Uraian Thn ke 0 Thn ke 1 Thn ke 2 Thn ke 3 Thn ke 4 Thn ke 5 Thn ke 6 Thn ke 7 Thn ke 8 Thn ke 9 Thn ke 10 Thn ke 11 Thn ke 12 Thn ke 13 Thn ke 14 Thn ke 15
A Revenue 77.791.518 199.921.932 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480

B Biaya-biaya Pengeluaran
1 Biaya Produksi 69.396.676 174.982.467 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867
2 Penyusutan 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847
Total 75.438.523 181.024.314 199.659.714 199.659.714 199.659.714 199.659.714 199.659.714 199.659.714 199.659.714 199.659.714 199.659.714 199.659.714 199.659.714 199.659.714 199.659.714

Laba kotor 2.352.995 18.897.618 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766

C Pembayaran Bunga
Pembayaran Bunga Investasi
Pembayaran Bunga Modal Kerja
Laba(Rugi) sebelum Pajak 2.352.995 18.897.618 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766

D Pembayaran PPH
penghasilan 0 - 50 juta = 10 % 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000
penghasilan50 - 100 juta = 15 % 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500
di atas 100 juta = 30 % 675.899 5.639.285 6.712.730 6.712.730 6.712.730 6.712.730 6.712.730 6.712.730 6.712.730 6.712.730 6.712.730 6.712.730 6.712.730 6.712.730 6.712.730
total 688.399 5.651.785 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230

Laba(rugi) Bersih 1.664.597 13.245.833 15.750.536 15.750.536 15.750.536 15.750.536 15.750.536 15.750.536 15.750.536 15.750.536 15.750.536 15.750.536 15.750.536 15.750.536 15.750.536

Kumulatif Laba(rugi) 1.664.597 14.910.429 30.660.965 46.411.502 62.162.038 77.912.574 93.663.110 109.413.646 125.164.183 140.914.719 156.665.255 172.415.791 188.166.327 203.916.864 219.667.400

Lampiran 8b Laporan Laba-Rugi Skenario II, Pada Indikator Kenaikan Biaya Produksi 10 % (Rp.000)
Uraian Thn ke 0 Thn ke 1 Thn ke 2 Thn ke 3 Thn ke 4 Thn ke 5 Thn ke 6 Thn ke 7 Thn ke 8 Thn ke 9 Thn ke 10 Thn ke 11 Thn ke 12 Thn ke 13 Thn ke 14 Thn ke 15
A Revenue 77.791.518 199.921.932 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480 222.135.480

B Biaya-biaya Pengeluaran
1 Biaya Produksi 69.396.676 174.982.467 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867 193.617.867
2 Penyusutan 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847
Total 75.438.523 181.024.314 199.659.714 199.659.714 199.659.714 199.659.714 199.659.714 199.659.714 199.659.714 199.659.714 199.659.714 199.659.714 199.659.714 199.659.714 199.659.714

Laba kotor 2.352.995 18.897.618 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766

C Pembayaran Bunga
Pembayaran Bunga Investasi 6.177.632 11.428.618 10.193.092 8.957.566 7.722.040 6.486.513 5.250.987 4.015.461 2.779.934 1.544.408 308.882
Pembayaran Bunga Modal Kerja
Laba(Rugi) sebelum Pajak -3.824.637 7.469.000 12.282.674 13.518.200 14.753.726 15.989.253 17.224.779 18.460.305 19.695.832 20.931.358 22.166.884 22.475.766 22.475.766 22.475.766 22.475.766

D Pembayaran PPH
penghasilan 0 - 50 juta = 10 % 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000
penghasilan50 - 100 juta = 15 % 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500
di atas 100 juta = 30 % 2.210.700 3.654.802 4.025.460 4.396.118 4.766.776 5.137.434 5.508.092 5.878.750 6.249.407 6.620.065 6.712.730 6.712.730 6.712.730 6.712.730
total 2.223.200 3.667.302 4.037.960 4.408.618 4.779.276 5.149.934 5.520.592 5.891.250 6.261.907 6.632.565 6.725.230 6.725.230 6.725.230 6.725.230

Laba(rugi) Bersih -3.824.637 5.245.800 8.615.372 9.480.240 10.345.108 11.209.977 12.074.845 12.939.714 13.804.582 14.669.451 15.534.319 15.750.536 15.750.536 15.750.536 15.750.536

Kumulatif Laba(rugi) -3.824.637 1.421.163 10.036.535 19.516.775 29.861.883 41.071.860 53.146.705 66.086.419 79.891.001 94.560.452 110.094.771 125.845.307 141.595.843 157.346.379 173.096.916



Lampiran 9a Laporan Laba-Rugi Skenario I, Pada Indikator Penurunan Kapasitas Produksi 10 % (Rp.000
Uraian Thn ke 0 Thn ke 1 Thn ke 2 Thn ke 3 Thn ke 4 Thn ke 5 Thn ke 6 Thn ke 7 Thn ke 8 Thn ke 9 Thn ke 10 Thn ke 11 Thn ke 12 Thn ke 13 Thn ke 14 Thn ke 15
A Revenue 66.640.644 177.708.384 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932

B Biaya-biaya Pengeluaran
1 Biaya Produksi 59.581.554 155.309.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032
2 Penyusutan 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847
Total 65.623.401 161.350.879 179.926.879 179.926.879 179.926.879 179.926.879 179.926.879 179.926.879 179.926.879 179.926.879 179.926.879 179.926.879 179.926.879 179.926.879 179.926.879

Laba kotor 1.017.243 16.357.505 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053

C Pembayaran Bunga
Pembayaran Bunga Investasi
Pembayaran Bunga Modal Kerja
Laba(Rugi) sebelum Pajak 1.017.243 16.357.505 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053

D Pembayaran PPH
penghasilan 0 - 50 juta = 10 % 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000
penghasilan50 - 100 juta = 15 % 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500
di atas 100 juta = 30 % 275.173 4.877.252 5.968.516 5.968.516 5.968.516 5.968.516 5.968.516 5.968.516 5.968.516 5.968.516 5.968.516 5.968.516 5.968.516 5.968.516 5.968.516
total 287.673 4.889.752 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016

Laba(rugi) Bersih 729.570 11.467.754 14.014.037 14.014.037 14.014.037 14.014.037 14.014.037 14.014.037 14.014.037 14.014.037 14.014.037 14.014.037 14.014.037 14.014.037 14.014.037

Kumulatif Laba(rugi) 729.570 12.197.324 26.211.361 40.225.398 54.239.435 68.253.472 82.267.509 96.281.546 110.295.583 124.309.620 138.323.658 152.337.695 166.351.732 180.365.769 194.379.806

Lampiran 9b Laporan Laba-Rugi Skenario II, Pada Indikator Penurunan Kapasitas Produksi 10 % (Rp.000)
Uraian Thn ke 0 Thn ke 1 Thn ke 2 Thn ke 3 Thn ke 4 Thn ke 5 Thn ke 6 Thn ke 7 Thn ke 8 Thn ke 9 Thn ke 10 Thn ke 11 Thn ke 12 Thn ke 13 Thn ke 14 Thn ke 15
A Revenue 66.640.644 177.708.384 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932 199.921.932

B Biaya-biaya Pengeluaran
1 Biaya Produksi 59.581.554 155.309.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032 173.885.032
2 Penyusutan 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847 6.041.847
Total 65.623.401 161.350.879 179.926.879 179.926.879 179.926.879 179.926.879 179.926.879 179.926.879 179.926.879 179.926.879 179.926.879 179.926.879 179.926.879 179.926.879 179.926.879

Laba kotor 1.017.243 16.357.505 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053

C Pembayaran Bunga
Pembayaran Bunga Investasi 6.177.632 11.428.618 10.193.092 8.957.566 7.722.040 6.486.513 5.250.987 4.015.461 2.779.934 1.544.408 308.882
Pembayaran Bunga Modal Kerja
Laba(Rugi) sebelum Pajak -5.160.389 4.928.887 9.801.961 11.037.487 12.273.013 13.508.540 14.744.066 15.979.592 17.215.119 18.450.645 19.686.171 19.995.053 19.995.053 19.995.053 19.995.053

D Pembayaran PPH
penghasilan 0 - 50 juta = 10 % 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000
penghasilan50 - 100 juta = 15 % 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500
di atas 100 juta = 30 % 1.448.666 2.910.588 3.281.246 3.651.904 4.022.562 4.393.220 4.763.878 5.134.536 5.505.194 5.875.851 5.968.516 5.968.516 5.968.516 5.968.516
total 1.461.166 2.923.088 3.293.746 3.664.404 4.035.062 4.405.720 4.776.378 5.147.036 5.517.694 5.888.351 5.981.016 5.981.016 5.981.016 5.981.016

Laba(rugi) Bersih -5.160.389 3.467.721 6.878.873 7.743.741 8.608.609 9.473.478 10.338.346 11.203.214 12.068.083 12.932.952 13.797.820 14.014.037 14.014.037 14.014.037 14.014.037

Kumulatif Laba(rugi) -5.160.389 -1.692.668 5.186.205 12.929.946 21.538.555 31.012.033 41.350.379 52.553.593 64.621.677 77.554.628 91.352.448 105.366.485 119.380.522 133.394.559 147.408.596

Lampiran 10. Produksi, bahan Baku dan penjualan


Tahun
Kapasitas
Rencana
(%)
Kapasitas
Optimal
(ton)
Bahan
baku TBS
(ton)
Harga
TBS/kg
Nilai
Pembelian
(Rp.000)
Produksi
CPO
(ton)
Harga
CPO/kg
Nilai CPO
(Rp.000)
Produksi
Kernel
(ton)
Harga
Kernel/kg
Nilai Kernel
(Rp.000)
Nilai
Penjualam
(Rp.000)
0
1 70 30 37.800 1.665 62.937.000 7.938 8.861 70.338.618 1.521 4.900 7.452.900 77.791.518
2 90 30 97.200 1.665 161.838.000 20.412 8.861 180.870.732 3.888 4.900 19.051.200 199.921.932
3 100 30 108.000 1.665 179.820.000 22.680 8.861 200.967.480 4.320 4.900 21.168.000 222.135.480
4 100 30 108.000 1.665 179.820.000 22.680 8.861 200.967.480 4.320 4.900 21.168.000 222.135.480
5 100 30 108.000 1.665 179.820.000 22.680 8.861 200.967.480 4.320 4.900 21.168.000 222.135.480
6 100 30 108.000 1.665 179.820.000 22.680 8.861 200.967.480 4.320 4.900 21.168.000 222.135.480
7 100 30 108.000 1.665 179.820.000 22.680 8.861 200.967.480 4.320 4.900 21.168.000 222.135.480
8 100 30 108.000 1.665 179.820.000 22.680 8.861 200.967.480 4.320 4.900 21.168.000 222.135.480
9 100 30 108.000 1.665 179.820.000 22.680 8.861 200.967.480 4.320 4.900 21.168.000 222.135.480
10 100 30 108.000 1.665 179.820.000 22.680 8.861 200.967.480 4.320 4.900 21.168.000 222.135.480
11 100 30 108.000 1.665 179.820.000 22.680 8.861 200.967.480 4.320 4.900 21.168.000 222.135.480
12 100 30 108.000 1.665 179.820.000 22.680 8.861 200.967.480 4.320 4.900 21.168.000 222.135.480
13 100 30 108.000 1.665 179.820.000 22.680 8.861 200.967.480 4.320 4.900 21.168.000 222.135.480
14 100 30 108.000 1.665 179.820.000 22.680 8.861 200.967.480 4.320 4.900 21.168.000 222.135.480
15 100 30 108.000 1.665 179.820.000 22.680 8.861 200.967.480 4.320 4.900 21.168.000 222.135.480
Total 1.539.000 2.382.615.000 323.190 2.863.786.590 61.569 301.688.100 3.165.474.690

Lampiran 11. Produksi, bahan Baku dan penjualan, Pada Indikator Penurunan Kapasitas Produksi 10 %
Tahun
Kapasitas
Rencana
(%)
Kapasitas
Optimal
(ton)
Bahan
baku TBS
(ton)
Harga
TBS/kg
Nilai
Pembelian
(Rp.000)
Produksi
CPO
(ton)
Harga
CPO/kg
Nilai CPO
(Rp.000)
Produksi
Kernel
(ton)
Harga
Kernel/kg
Nilai Kernel
(Rp.000)
Nilai
Penjualam
(Rp.000)
0
1 60 30 32.400 1.665 53.946.000 6.804 8.861 60.290.244 1.296 4.900 6.350.400 66.640.644
2 80 30 86.400 1.665 143.856.000 18.144 8.861 160.773.984 3.456 4.900 16.934.400 177.708.384
3 90 30 97.200 1.665 161.838.000 20.412 8.861 180.870.732 3.888 4.900 19.051.200 199.921.932
4 90 30 97.200 1.665 161.838.000 20.412 8.861 180.870.732 3.888 4.900 19.051.200 199.921.932
5 90 30 97.200 1.665 161.838.000 20.412 8.861 180.870.732 3.888 4.900 19.051.200 199.921.932
6 90 30 97.200 1.665 161.838.000 20.412 8.861 180.870.732 3.888 4.900 19.051.200 199.921.932
7 90 30 97.200 1.665 161.838.000 20.412 8.861 180.870.732 3.888 4.900 19.051.200 199.921.932
8 90 30 97.200 1.665 161.838.000 20.412 8.861 180.870.732 3.888 4.900 19.051.200 199.921.932
9 90 30 97.200 1.665 161.838.000 20.412 8.861 180.870.732 3.888 4.900 19.051.200 199.921.932
10 90 30 97.200 1.665 161.838.000 20.412 8.861 180.870.732 3.888 4.900 19.051.200 199.921.932
11 90 30 97.200 1.665 161.838.000 20.412 8.861 180.870.732 3.888 4.900 19.051.200 199.921.932
12 90 30 97.200 1.665 161.838.000 20.412 8.861 180.870.732 3.888 4.900 19.051.200 199.921.932
13 90 30 97.200 1.665 161.838.000 20.412 8.861 180.870.732 3.888 4.900 19.051.200 199.921.932
14 90 30 97.200 1.665 161.838.000 20.412 8.861 180.870.732 3.888 4.900 19.051.200 199.921.932
15 90 30 97.200 1.665 161.838.000 20.412 8.861 180.870.732 3.888 4.900 19.051.200 199.921.932
Total 1.382.400 2.301.696.000 290.304 2.572.383.744 55.296 270.950.400 2.843.334.144


Lampiran 12a. Biaya Operasional pada Indikator Kenaikan Biaya Produksi
10 % (Rp.000)
Uraian
Tahun
0 1 2 3 s/d 15
Gaji Karyawan dan Staff 1.379.043 1.926.403 1.926.403
B. Adm dan Kantor 778.000 1.306.000 1.306.000
Pembelian Tbs 62.937.000 161.838.000 179.820.000
B. Pemeliharaan Pabrik 1.036.163 2.072.325 2.072.325
B. Pemeliharaan asset lainya 568.227 1.136.454 1.136.454
B.B. Pembantu Proses Produksi 2.286.900 5.880.600 6.534.000
Asuransi 411.343 822.685 822.685
Total 69.396.676 174.982.467 193.617.867

Lampiran 12b. Biaya Operasional pada Indikator Penurunan Kapasitas


Produksi 10 % (Rp.000)
Uraian
Tahun
0 1 2 3 s/d 15
Gaji Karyawan dan Staff 1.253.675 1.751.275 1.751.275
B. Adm dan Kantor 730.000 1.210.000 1.210.000
Pembelian Tbs 53.946.000 143.856.000 161.838.000
B. Pemeliharaan Pabrik 941.966 1.883.932 1.883.932
B. Pemeliharaan asset lainya 516.570 1.033.140 1.033.140
B.B. Pembantu Proses Produksi 1.782.000 4.752.000 5.346.000
Asuransi 411.343 822.685 822.685
Total 59.581.554 155.309.032 173.885.032


Lampiran 13. Investasi Fisik/ Asset Tetap (Rp.000)

Ket : Data di peroleh dari PT.Bumi Maju Sawit
No Uraian Nilai
I Investasi Pabrik
1 Fruit Bunch Reception Station 4.520.434
2 Sterilising Station 2.789.722
3 Threshing Station 3.122.768
4 Pressing Station 3.972.660
5 Clarification Station 3.905.563
6 Oil Despatch Station 2.616.214
7 Depericarping Station 1.273.652
8 Kernel Recovery Station 4.447.262
9 Steam Plant 10.635.426
10 Power Plant 3.648.763
11 Raw Water Treatment 1.824.523
12 Softener Treatment 4000 BOD 1.752.378
13 Effluent Treatment Plant 1.453.549
14 Piping. Valve dll 2.692.436
15 Electrical Work 3.116.142
16 Work Shop Equipment 462.975
17 Laboratory Equipment 383.402
18 Fire Fighting 505.858
19 Civil Work 18.209.842
20 Other 4.023.677
Total Investasi Pabrik (kebutuhan lahan sekitar 6 Ha) 75.357.246

II Investasi Lainnya
a Perumahan 2.850.000
b Kendaraan 3.561.000
c Jalan 600.175
Total Investasi Lain (kebutuhan lahan sekitar 4 Ha) 7.011.175

Total Investasi Fisik 82.368.421

Sub-lampiran 13a. Kebutuhan Kendaraan dan Alat Berat A(Rp.000)


Sub-lampiran 13b. Kebutuhan Perumahan (Rp.000)


No Uraian Biaya/ Unit Kebutuhan Biaya
(Rp.000) Kebutuhan Biaya
A Kendaraan Staff
1 Mini bus/ Jepp 200.000 2 400.000
2 Pick Up 125.000 1 125.000
3 Sepeda Motor 17.000 8 136.000
Total 661.000
B Kendaraan CPO dan PKO
1 Tanker Truck 350.000 4 1.400.000
2 Standart Truck 150.000 2 300.000
Total 1.700.000
C Alat Berat
1 Loader 1.200.000 1 1.200.000
Total 1.200.000
Total A+B+C 18 3.561.000
No Uraian harga/ Unit Total
(Rp.000) Kebutuhan Biaya
Perumahan untuk:
1 Manajer(120 m
2
) 250.000 1 250.000
2 Assintant Manager (80 m
2
) 200.000 1 200.000
3 KTU(70 m2) 150.000 1 150.000
4 Kepala Departement (60 m
2
) 100.000 4 400.000
5 Mess (200 m
2
) 300.000 2 600.000
6 Gudang(450 m
2
) 125.000 10 1.250.000
2.850.000

Sub-lampiran 13c. Proyeksi Biaya Pembuatan Jalan (Rp.000)
Uraian Biaya per Unit Kebutuhan Total
Jalan dalam lokasi proyek 223.730 2 km 447.460
Jalan perumahan 101.810 1,5 km 152.715
Total 600.175

Sub-lampiran 13d. Proyeksi Rincian Biaya Pembuatan Jalan Dalam Lokasi
Pabrik (Rp.000)
No Uraian Kebutuhan
(m3)
Biaya
per
Unit(Rp.000)
Total
(Rp.000)
1 Kontruksi Jalan
a Cut and Fill 5,5 468 2.574
b Perataan 1,05 233 245
c Pemadatan I 1,25 161 201
2 Ketbalan (12 cm)
a Stock Piling 1,13 468 529
b Penghamparan 1,13 468 529
c Pemadatan II 1,76 161 283
3 Material
a Krikil 80 200 16.000
b Gorong-gorong @ 60 cm 1,8 1.118 2.012
Biaya pembuatan jalan untuk per 100 m 22.373
Biaya pembuatan jalan untuk per 1 km 223.730

Sub-lampiran 13e. Proyeksi Rincian Biaya Pembuatan Jalan Dalam
Perumahan (Rp.000)

No Uraian Kebutuhan
(M3)
Biaya
per Unit(RP.000)
Total
Rp.000)
1 Ketebalan (15 cm)
a Stock Piling 0,83 468 389
b Penghamparan 0,83 468 389
c Pemadatan 2,5 161 403
2 Material
a Krikil 45 200 9.000
Biaya pembuatan jalan untuk per 100 m 10181
Biaya pembuatan jalan untuk per 1 km 101.810




Lampiran 14. Proyeksi Biaya Operasional dan Pemeliharaan Kendaraan (Rp.000)
Uraian Total Bahan bakar per bulan Pelumas per bulan Pemeliharaan Biaya operasional dan Pemeliharaan
Kebutuhan Harga/Ltr Kebutuhan/Bln Biaya Harga/ltr Kebuthan/Bln Biaya per bulan per bulan per tahun
A Kendararaan Operasinal Staff dan karyawan
1 Mini bus/ Jeep 2 6 500 6,000 28 6 336 1,268 7,604 91,248
2 Pick Up 1 6 500 3,000 28 6 168 634 3,802 45,624
3 Sepeda Motor 8 6 125 6,000 28 1 224 1,245 7,469 89628
Total 11 18 1125 15,000 84 13 728 3,147 18,875 226,500

B Kendaraan Angkutan CPO dan Kernel
1 Tangker Truck 4 6 1500 36,000 28 12 1,344 7,469 44,813 537,756
2 Standart Truck 2 6 1500 18,000 28 12 672 3,735 22,407 268,884
Total 6 12 3000 54,000 56 24 2,016 11,204 67,220 806,640
Total A+B 17 30 4125 69,000 140 37 2,744 14,351 86,095 1,033,140


Lampiran 15a. Penyusutan (Rp.000)


Lampiran 15b. Biaya Bahan Pembantu Proses Produksi (Per Ton TBS)



Uraian Nilai Aset Rate Umur
Pakai
Penyusutan Nilai sisa
Penyusutan Asset
Perumahan 2.850.000 5% 20 124.500 712.500
Alat berat dan kendaraan 3.561.000 10% 10 356.100 1.780.500
Jalan 600.175 10% 10 60.018 300.090
Pabrik 75.357.246 15 5.501.229 0
Total 6.041.847 2.793.090

Uraian Jumlah
a Bahan bakar dan Pelumas 24.000
b Listrik dan Air 19.000
c Bahan Kimia 8.000
d Packing Kernel 4.000
total 55.000

Lampiran 16b. Biaya Umum dan Administrasi (Rp.000)
No Uraian Rp.000/ Bulan Rp.000/Tahun
1 Telp, Fax dan Mail 9.500 114.000
2 Air dan Listrik 11.500 138.000
3 Alat-alat kantor 2.500 30.000
4 Photo copy dan Printing 1.500 18.000
5 Buku-buku, Koran dan Majalah 500 6.000
6 Pemeliharaan Peralatan kantor 1.500 18.000
7 Perijinan dan lain-lain 5.000 60.000
8 Pelatihan dan Seminar 13.000 156.000
9 Perjalanan Dinas 25.000 300.000
10 Sumbangan sumbangan 5.000 60.000
11 General Supplier 5.000 60.000
12 Biaya perolehan HGU 250.000
Total 80.000 1.210.000



Lampiran 17. Proyeksi Biaya Gaji Karyawan (Rp.000)
No Uraian Jlh Gaji/org/bln Thr/org/thn Thn ke 0 Thn ke 1 Thn ke 2 s/d 15
A Direksi
1 Director 1 12,000 12,000 156,000 156,000 156,000
2 Operation Director 1 10,500 10,500 136,500 136,500 136,500
3 Commercial Director 1 10,500 10,500 136,500 136,500 136,500
4 Accounting Staff 1 1550 1550 20,150 20,150 20,150
5 Receptionis 1 975 975 12,675 12,675 12,675
6 Office Boy 1 450 450 5,850 5,850 5,850
7 total 6 467,675 467,675 467,675
B Managenment Pabrik
1 Manager 1 9,750 9,750 126,750 126,750
2 Asistannt Manager 1 5,250 5,250 68,250 68,250
3 Chief Administration 1 2,275 2,275 29,575 29,575
4 Head Departement 4 3,250 3,250 91,000 169,000
Total 7 315,575 393,575
C Karyawan
1 Foreman Processing 2 1,375 1,375 19,250 35,750
2 Ramp Top 2 825 825 11,550 21,450
3 Ramp Button 2 825 825 11,550 21,450
4 Sterillizer Operator 2 550 550 7,700 14,300
5 Sterillizer Attendant 2 550 550 7,700 14,300
6 Cage Hendling 4 750 750 21,000 39,000
7 Press Station 4 475 475 13,300 24,700
8 Clarification Operator 4 550 550 15,400 28,600
9 Kernel station 4 550 550 15,400 28,600
10 Unstripped Bunch Recycling 2 700 700 9,800 18,200
11 Engine Room- Turbin Operator 2 1,375 1,375 19,250 35,750
12 Power Supply - Diesel Engine Operator 2 700 700 9,800 18,200
13 Water Supply - Water Treatment Operator 2 600 600 8,400 15,600
14 Foreman Boiler House 2 1,375 1,375 19,250 35,750
15 Boiler House 4 500 500 14,000 30,000
16 Effluent Treatment Plant 4 700 700 19,600 42,000
17 Oil Despatch Attendance 1 500 500 3,500 6,500
18 Kernel Despatch Attendance 1 500 500 3,500 6,500
19 Mill Campound Cleaning 2 600 600 8,400 15,600
Total 48 238,350 452,250




Lampiran 17. Lanjutan
No Uraian Jlh Gaji/Org/Bln THR/Org/Thn Thn ke 0 Thn ke 1 Thn ke 2 s/d 15
D kantor Pabrik
Bookkeeping Clerk/ Cashier 1 925 925 6,475 12,025
Production Clerk 1 700 700 4,900 9,100
Inventory Clerk/ Purchasing 2 700 700 9,800 18,200

Despatch
Clerk/Expenditure/personalia 1 875 875 6,125 11,375
Bulking Clerk 1 600 600 4,200 7,800
Computer Operator 1 650 650 4,550 8,450
Weighbridge Operator 2 700 700 9,800 18,200
Office Boy 1 450 450 3,150 5,850
Total 10 5600 5600 49,000 91,000
E Scurity
Commander 1 825 825 5,775 10,725
Staff 12 700 700 58,800 109,200
Total 13 64,575 119,925
F Laboratorium
Laboratory analist 2 1,825 1,825 21,900 47,450
Sample Boy 2 875 875 12,250 22,750
Sorter 1 700 700 4,900 9,100
FFB Grading 6 600 600 25,200 46,800
Total 11 64,250 126,100
G Driver
Driver Director/Manager 1 775 775 10,075 10,075 10,075
Truck Driver 12 600 600 50,400 93,600
Pick Up Driver 1 600 600 4,200 7,800
Total 14 10,075 64,675 111,475
H Workshop
Foreman Maintenace 1 1950 1950 13,650 25,350
Grade 1 Filter 2 975 975 13,650 25,350
Grade 2 Filter 2 700 700 9,800 18,200
Maintenance Clerk 1 650 650 4,550 8,450
Total 6 41,650 77,350
I Pekerja Lainya
Tukan Kebun 2 450 450 6,300 11,700
Pelayan 2 450 450 6,300 11,700
Total 4 12,600 23,400

Total C+D+E+G+H+I 106 10,075 470,425 890,025

Total A+B+C+D+E+G+H+I 119 477,750 1,253,675 1,751,275




Lampiran 18. Penarikan Kredit, Perhitungan Bunga dan Pelunasan Kredit
(Rp.000)
Tahun
Tingkat
Bunga
Penarikan Kredit Angsuran Pokok Saldo Akhir
Pembayaran
Bunga
Per Semester Skenario II Skenario II Skenario II Skenario II
Tahun 0
Smtr 1 7.50% 41.184.211 41.184.211
Smtr 2 7.50% 41.184.210 82.368.421
sub total 15.00% 82.368.421
Tahun 1
Smtr 1 7.50% 82.368.421
Smtr 2 7.50% 4.118.421 78.250.000 6.177.632
sub total 15.00% 4.118.421 6.177.632
Tahun 2
Smtr 1 7.50% 4.118.421 74.131.579 5.868.750
Smtr 2 7.50% 4.118.421 70.013.158 5.559.868
sub total 15.00% 8.236.842 11.428.618
Tahun 3
Smtr 1 7.50% 4.118.421 65.894.737 5.250.987
Smtr 2 7.50% 4.118.421 61.776.316 4.942.105
sub total 15.00% 8.236.842 10.193.092
Tahun 4
Smtr 1 7.50% 4.118.421 57.657.895 4.633.224
Smtr 2 7.50% 4.118.421 53.539.474 4.324.342
sub total 15.00% 8.236.842 8.957.566
Tahun 5
Smtr 1 7.50% 4.118.421 49.421.053 4.015.461
Smtr 2 7.50% 4.118.421 45.302.632 3.706.579
sub total 15.00% 8.236.842 7.722.040
Tahun 6
Smtr 1 7.50% 4.118.421 41.184.211 3.397.697
Smtr 2 7.50% 4.118.421 37.065.790 3.088.816
sub total 15.00% 8.236.842 6.486.513
Tahun 7
Smtr 1 7.50% 4.118.421 32.947.369 2.779.934
Smtr 2 7.50% 4.118.421 28.828.948 2.471.053
sub total 15.00% 8.236.842 5.250.987
Tahun 8
Smtr 1 7.50% 4.118.421 24.710.527 2.162.171
Smtr 2 7.50% 4.118.421 20.592.106 1.853.290
sub total 15.00% 8.236.842 4.015.461
Tahun 9
Smtr 1 7.50% 4.118.421 16.473.685 1.544.408
Smtr 2 7.50% 4.118.421 12.355.264 1.235.526
sub total 15.00% 8.236.842 2.779.934
Tahun 10
Smtr 1 7.50% 4.118.421 8.236.843 926.645
Smtr 2 7.50% 4.118.421 4.118.422 617.763
sub total 15.00% 8.236.842 1.544.408
Tahun 11
Smtr 1 7.50% 4.118.421 0 308.882
Smtr 2 7.50%
sub total 15.00% 4.118.421 308.882


Lampiran 19. Potensi Realisasi Area, Produsi dan Jumlah Petani
Perkebunan Rakyat


Sumber : Dinas Perkebunan Kab. Aceh Utra (2007)
Ket : TBM = Tanaman Belum Menghasilkan
TM = Tanaman Menghasilkan
TR = Tanaman Rusak

No Kecamatan

Luas Area (Ha) Produksi Produktifitas Pekebun
TBM TM TR Jumlah (ton) (Ton/Ha) (KK)
1 Muara Batu - - - - - - -
2 Sawang 606 281 19 906 4645 16.53 755
3 Dewantara 50 - - 50 - 47
4 Nisam 310 229 37 576 3618 15.80 358
5 Kuta Makmur 289 1105 35 1429 18958 17.16 1073
6 Syamtalira Bayu 152 970 12 1134 15861 16.35 720
7 Samudera - - - - - - -
8 Meurah Mulia 13 185 1 199 2881 15.57 107
9 Tanah Pasir - - - - - - -
10 Tanah luas 100 272 8 380 4261 15.67 293
11 Syamtalira Aron - - - - - - -
12 Matang Kuli 107 103 550 760 1707 16.57 510
13 Lkokseukon 280 3852 168 4300 64305 16.69 2270
14 Baktiya 121 622 11 754 10305 16.57 499
15 Seunuddon - - - - - - -
16 Tanah Jambo Aye 330 1037 1934 3301 17642 17.01 1719
17 Cot Girek 29 210 5 244 3475 16.55 140
18 Langkahan 200 141 10 351 2333 16.55 363
19 Baktiya Barat - 97 3 100 1604 16.54 62
20 Paya Bakong - 12 7 19 192 16.00 23
21 Nibong - 17 2 19 181 10.65 31
22 Simpang Kramat 105 195 12 312 3224 16.53 191
Jumlah 2692 9328 2814 14834 155192 9161

Lampiran.20 Penggunaan Lahan Perkebunan Besar di Kab. Aceh Utara (2007)
No Nama Perusahaan
Luas
(Ha) Letak Tanah Tahapan proses
Perkembangan
Lapangan
1 PT. Isna Praja Buana 3000 Sawang Izin lokasi Tanaman Kakou
Nisam 40421-3/01/1994 (berakhir)
2 PT. Teguh Bersama 2500 Baktia Izin lokasi Kelapa sawit
Perkasa Lhokseukon 40421-3/09/1994 (pembatalan)
3 Kopkar Irham 600 Tanah Luas Izin lokasi Kelapa sawit
meurah Mulia 40421-3/10/P/1997 (berakhir)
4 PT. Teguh Bersama 760 meurah Mulia Izin lokasi Kelapa sawit
Perkasa Tanah Luas 40421-3/15/1994 (pembatalan)
5 KUD Pirak Jaya 200 Matang Kuli HGU Kelapa sawit
3/HGU/BPN/175-1995
6 PT. Mandum Payah 10000 Tanah jambo Aye Izin lokasi Kelapa sawit
Tamita Lhokseukon 40421-3/21/P/1995
7 PT. Satya Agung 200 meurah Mulia HGU Kelapa sawit
3/HGU/BPN/1996-1997
8 PT. Satya Agung 50 meurah Mulia Izin lokasi Kelapa sawit
40421-3/07/1996
9 PT. Satya Agung 8126 Syamtalira Bayu HGU
9/HGU/DA/1986
10 PT. Satya Agung 1447 Syamtalira Bayu HGU
41/HGU/DA/1988
11 PT. Satya Agung 1913 Syamtalira Bayu HGU
16/HGU/DA/1981
12 PT. Dunia Perdana 5000 Sawang Izin lokasi Kelapa sawit
Nisam 40421-3/06/P/1997
Kuta Makmur
Syamtalira Bayu
13 PT. Matang Kuli 200 Matang Kuli Izin lokasi
40421-3/04/1996
14 PT. Narata Indah 200 Meurah Mulia HGU Kelapa sawit
8/HGU/BPN/1996-1997
15 PT. Molimas 200 Meurah Mulia HGU Kelapa sawit
9/HGU/BPN/1996-1997
16 KPN Bina Takana 200 Tanah Luas HGU Kelapa sawit
7/HGU/BPN/1996-1997
17 PT. Molimas 200 Lhokseukon HGU Kelapa sawit
7/HGU/BPN/1997-1998
18 PT. Gunci Geubrina 100 Sawang Izin lokasi Kelapa sawit
40421-3/05/1997
19 Yayasan Rudi 200 Nisam Izin lokasi Kelapa sawit
40421-3/11/P/1997



Lampiran 20 Lanjuran
No Nama Perusahaan
Luas
(Ha) Letak Tanah Tahapan proses
Perkembangan
Lapangan
20 Yayasan Darunnadewan 200 Nisam Izin lokasi Kelapa sawit
Kahlatul arfama 40421-3/12/P/1997
21 Kopotren Rudyah 165 Nisam Izin lokasi Kelapa sawit
40421-3/12/P/1997
22 PT. Bukit Nibong Palm 200 Tanah jambo Aye Izin lokasi Kelapa sawit
40421-3/17/1997
23 PT. Marindo 200 Lhokseukon Izin lokasi Kelapa sawit
Baktia 40421-3/1/1998
24 PT. Persada Indah 174 Kuta Makmur Izin lokasi Kelapa sawit
Makmur 40421-3/2/1998
25 Yayasan 200 Baktia Izin lokasi Kelapa sawit
Santri Malikussaleh 40421-3/4/1998
26 PT. Swindo Seminou 1700 Tanah jambo Aye Izin lokasi Kelapa sawit
40421-3/5/1998
27 PT. Swindo Seminou 700 Lhokseukon Izin lokasi Kelapa sawit
(plasma) 40421-3/15/1998
28 PT. Satya Agung 65 Meurah Mulia Izin lokasi Kelapa sawit
40421-3/7/1998
29 KSU Kawah Sejati 650 Meurah Mulia Izin lokasi Kelapa sawit
Matang Kuli 40421-3/16/1998
30 PT. Blang Kolam 652 Kuta Makmur HGU Kelapa sawit
Adipratama 53/HGU/BPN/89
31 PT. Narata Indah 1737 Syamtalira Bayu HGU Kelapa sawit
33/HGU/BPN/96
32 PT. Bapco 1124 Matang Kuli HGU Kelapa sawit
74/HGU/DA/76
33 PTPN I 7506 Lhokseukon HGU Kelapa sawit
6/HGU/BPN/96 Kakao
34 PT. Blang 5.151 Matang Kuli HGU Kelapa sawit
Ara Company Lhokseukon 14/HGU/DA/1985




Lampiran.21a Struktur Organisasi di Tingkat Manajemen Pabrik



Lampiran.21b Bagan Rantai Pemasaran




Perkebunan
Rakyat
Perkebunan
Besar
KUD
Pedagang
PKS
Agen Lokal
KPB Agen LN
Dalam
Negeri
Luar
Negeri