Anda di halaman 1dari 77

LAPORAN KEGIATAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI PENDIDIKAN SISTEM GANDA DI PT. PERKEBUNAN NUSANTARA X (PERSERO) PG.

DJOMBANG BARU TAPEL 2011/2012

Disusun oleh :

1. 2. 3. 4. 5.

ELLEN HASTYA N. LAILATUL FADHILAH NAZILATUN NIMAH JALALLUDIN NAAFI UTAMI TRI PUSPITASARI O.

NIS. 12252 / 079 052 / KA NIS. 12256 / 083 052 / KA NIS. 12261 / 088 052 / KA NIS. 12289 / 259 053 / KI NIS. 12292 / 262 053 / KI NIS. 12305 / 275 053 / KI

6.

PEMERINTAHAN KABUPATEN TUBAN DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA, DAN OLAH RAGA SMK NEGERI 1 TUBAN Jl. Mastrip No. 2 Tuban Telp. (0356) 321 422

KATA PENGANTAR
Segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan program sekolah Pendidikan Sistem Ganda (PSG) dengan baik. Sebagai salah satu sekolah yang mendapat predikat ISO, Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Tuban selalu menghasilkan lulusan yang berkualitas dan siap pakai. Oleh karena itu, setiap siswa diwajibkan mengikuti pendidikan system ganda di industri yang sesuai dengan bidang dan jurusan masing-masing. Tujuan pembuatan laporan PSG ini dengan maksud untuk memenuhi persyaratan bahwa kami telah selesai melaksanakan program Pendidikan Sistem Ganda di PG. DJOMBANG BARU. Dalam menyelesaikan laporan ini kami mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang membantu yaitu : 1. Direktur utama PT. Perkebunan Nusantara (Persero) PG. Djombang Baru. 2. Bapak Administrator dan seluruh karyawan / karyawati PG. Djombang Baru. 3. Seluruh Chemiker yang telah membantu dalam melaksanakan prakerin di PG. Djombang Baru. 4. Bapak Kepala Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Tuban. 5. Bapak dan Ibu Guru selaku Pembina. 6. Seluruh dewan guru SMK Negeri 1 Tuban. 7. Orang tua serta rekan-rekan kami. Dan semua pihak yang telah mendukung suksesnya pelaksanaan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) Tak lupa pula kami ingin memohon maaf bila ada kesalahan yang disengaja mau pun tidak disengaja dari kami. Dan segala kerendahan hati, kami sangat mengharapkan kritik dan saran atas laporan kami ini, supaya lebih dan mudah dipahami.

Tuban, 30 Juni 2012

DAFTAR ISI
Cover ............................................... Lembar Pengesahan I .................................................... Lembar Pengesahan II .................................................. KataPengantar ................... Daftar Isi ..

i ii iii iv v

BAB I

PENDAHULUAN
1 2 2 2 3 3

I.1. Sejarah Perusahaan . I.2. Visidan Misi Perusahaan ..... I.3. Tujuan Perusahaan . I.4. Strategi Perusahaan . I.5. Lokasi Perusahaan ... I.6. Struktur Organisasi .

BAB II

STASIUN PENIMBANGAN
10 10 10 10 10 11 11

II.1. Tujuan. II.2. SaranaProduksi.. II.1.1.Bahan Baku.. II.1.2.Analisa Pendahuluan/GilingContoh . II.1.3.Tebang Angkut.... II.1.4.Lokasi Pengaturan Tebu. II.1.5.Tahap Penimbangan Tebu/ Stasiun Persiapan.

BAB III

STASIUN PENGGILINGAN
13 13 15 15

III.1. Tujuan III.2. Proses Stasiun Penggilingan III.3. Hasil Stasiun Penggilingan... III.4. Spesifikasi Alat di Stasiun Penggilingan

BAB IV

STASIUN PEMURNIAN
16 17

IV.1. Tujuan IV.2. Proses Stasiun Pemurnian

IV.3. Bahan Pembantu Pemurnian...


IV.3.1.Pembuatan Susu Kapur. IV.3.2.Pembuatan Gas SO2..

20 20 22 24

III.4. Spesifikasi Alat di Stasiun Pemurnian

BAB V

STASIUN PENGUAPAN
25 27 28 29 29 30

III.1. Tujuan III.2. Proses Stasiun Penguapan... V.1.2.Perjalanan Uap. V.1.2.Perjalanan Nira V.1.3.Perjalanan Air Embun III.3. Spesifikasi Alat di Stasiun Penguapan

BAB VI

STASIUN MASAKAN
31 31 35

VI.1. Tujuan VI.2. Proses Stasiun Masakan... VI.3. Spesifikasi Alat di Stasiun Masakan...

BAB VII

STASIUN PUTARAN
36 36 36 37 38 39

VII.1. Tujuan.. VII.2. Proses Stasiun Masakan.


VII.3.1. Stasiun HGF (High Grade Fugal) VII.3.2. Stasiun LGF (Low Grade Fugal).

VII.3. Hasil Stasiun Penggilingan. VII.4. Spesifikasi Alat di Stasiun Masakan..

BAB VIII STASIUN PENYELESAIAN


VIII.1. Tujuan. VIII.2. Proses Stasiun Penggilingan..... VIII.3. Spesifikasi Alat di Stasiun Penggilingan.. 40 40 41

BAB IX

LABORATORIUM
43 46 48

IX.1. Pendahuluan.. IX.2. Analisia Umum.. IX.3. Langkah Kerja Analisa

BAB X

PENGOLAHAN LIMBAH

X.1. Tujuan. X.2. Jenis-jenis Limbah dan Penanganan


X.2.1. Limbah Padat ... X.I.2. Limbah Cair .

66 66
66 68

BAB XI

PENUTUP
71 71 72 73 74

XI.1. Kesimpulan ....... XI.2. Saran .. XI.3. Kesan .. XI.4. Lampiran .. DAFTAR PUSTAKA ..

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN PENDIDIKAN SISTEM GANDA


DI PT PERKEBUNAN NUSANTARA X (PERSERO) PABRIK GULA DJOMBANG BARU

Pendidikan Sistem Ganda dilakukan mulai tanggal 01 Mei 2012 s/d tanggal 30 Juni 2012 dan Laporan ini telah diperiksa dan disetujui oleh :

Pembimbing Pabrik

Pembimbing Sekolah

Hari Susiyanto, ST

Drs. Abdul Hadis SST

Mengetahui :

Kepala SMK Negeri 1 Tuban

Kepala Jurusan Kimia

Drs. Gatoet Sudjito, ST,M.Si Pembina Tk.1 NIP : 1955 070 1981031014

Rosita Sri M, S.Pd NIP : 19660802 199302 2 001

BAB I PENDAHULUAN
I.1.SEJARAH PERUSAHAAN Pabrik Gula Djombang Baru berdiri pada tahun 1895. Dalam sejarahnya PG. Djombang Baru mempunyai 2 periode yaitu periode sebelum diambil alih dan sesudah diambil alih oleh pemerintah Indonesia. Sebelum diambil alih PG. Djombang Baru dimiliki oleh Belanda atas nama ANAMED AND CO pada tahun 1957, diadakan nasionalisasi dan pengambilan alih pabrikpabrik yang sebelumnya milik penjajah menjadi milik pemerintah Indonesia dan PG dibawah pengawasan PPN (Perusahaan Perkebunan Negara). Peraturan pemerintah No. 1 dan 2 tahun 1963 yang berisi Dipasar dibentuk BPN PPN gula, di Jawa Timur karesidenan diubah menjadi kantor direksi dan di pabrik gula diubah menjadi badan hukum yang dipimpin oleh direktur pimpinan pabrik gula. Pada tahun 1968 terjadi reorganisasi II berdasarkan pemerintahan No. 14 tahun 1968 yang berisi : BPN PPN gula dibubarkan dan di daerah-daerah dibentuk direksi PNP yang berbadan hukum sendiri dan nama PNP XXI karesidenan Surabaya membawahi 6 pabrik dan 1 rumah sakit. Wilayah Sidoarjo *Pabrik gula = Watoetoelis *Pabrik gula = Toelangan *Pabrik gula = Krembong Wilayah Mojokerto Wilayah Jombang *Gempolkerep dan rumah sakit gatoel *Pabrik gula = Tjoekir *Pabrik gula = Djombang Baru Pada tahun 1973 terjadi reorganisasi III berdasarkan peraturan pemerintah No. 23 yang berisi : Membubarkan PNP dan membentuk PNP XXII (Karesidenan Surabaya) dengan PNP XXII (Karesidenan Kediri) yang berdiri dari 5 pabrik gula dan 1 rumah sakit yaitu : Wilayah Nganjuk/Kertosono Wilayah Kediri *Pabrik gula = Lestari *Pabrik gula = Modjopanggong Tulungagung *Pabrik gula = Ngadirejo *Pabrik gula = Pesantren Baru *Pabrik gula = Meritjan

I.2.VISI DAN MISI PERUSAHAAN Visi Perusahaan Menjadi World Class Company, dengan pengertian memiliki produksi kelas dunia yang merupakan pusat keunggulan industry serta menjadi organisasi. Misi Perusahaan Misi Perusahaan diungkapkan dalam Tri Dharma Perkebunan, yaitu : - Menghasilkan devisa bagi Negara dan cara efisien. - Memenuhi fungsi pemeliharaan dan pengembangan sumber daya manusia. - Memelihara lingkungan hidup.

I.3.TUJUAN PERUSAHAAN Tujuan Perusahaan merupakan hal yang sangat penting dan merupakan sasaran yang harus dicapai. Tujuan yang ingin dicapai PG. Djombang Baru. a. Tujuan Jangka Pendek Berusaha mencapai tingkat produksi sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Berusaha meningkatkan kelancaran proses produksi. Berusaha menjaga kualitas produksi. b. Tujuan Jangka Panjang Memperoleh keuntungan yang maksimal dan biaya yang minimal. Mempertahankan dan meningkatkan kontinuitas perusahaan. Mengadakan perluasan pemasaran hasil produksi.

I.4.STRATEGI PERUSAHAAN PG. Djombang Baru pun memiliki beberapa strategi yaitu diantaranya adalah : Memberi kepuasan pemegang saham perusahaan, karyawan pemerintah dan masyarakat. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan Efisien dan efektif dalam operasional. Menyiapkan bahan baku layak giling. Menekan terjadinya jam berhenti.

I.5.LOKASI PERUSAHAAN Lokasi Pabrik merupakan faktor yang sangat penting untuk menentukan keberhasilan suatu pabrik. Berikut adalah topografi Pabrik PG. Djombang Baru

Nama Jalan Nama Desa Kecamatan Kabupaten Karesidenan Provinsi

: Jl. Panglima Sudirman No. 1 Jombang. : Pulo Lor : Jombang : Jombang : Surabaya : Jawa Timur

Letak PG. Djombang Baru ini sangat strategis karena telah mempertimbangkan beberapa faktor yang nantinya akan menunjang kelancaran perusahaan tersebut. Faktor-faktor itu antara lain : a. Bahan Baku Bahan Baku Pabrik Gula ini adalah tebu yang diperoleh dari hasil pengelolaan pabrik itu sendiri dan dari petani sekitarnya. b. Penyediaan Air Dengan adanya lokasi pabrik yang dibatasi oleh 2 buah sungai dan debit yang cukup besar sehingga dapat memenuhi kebutuhan pabrik dalam menjalankan operasinya. Dalam hal ini air berfungsi sebagai air proses, air pengisi ketel, selain itu dekat sungai memudahkan pembuang hasil pengolahan limbah pabrik. c. Transportasi Transportasi juga merupakan hal yang penting dalam menentukan lokasi perusahaan, lokasi pabrik terletak pada jalur antara trayek malang jombang dan Surabaya jombang, pabrik membuat jalur lori untuk memudahkan transportasi tebu dalam proses penggilingan. d. Tenaga Kerja Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja baik staf maupun non staf mudah diperoleh. Tenaga kerja staf diatur oleh direksi, sedangkan non staf diperoleh dari penduduk sekitar pabrik sehingga tidak mengalami kesulitan apabila sewaktu-waktu dibutuhkan.

I.6.STRUKTUR ORGANISASI PERUSAHAAN PG. Djombang Baru merupakan persero dibawah naungan PTPN X yang berkantor pusat dijalan jembatan merah No. 3-5 Surabaya. Pemimpin tertinggi adalah Administratur sebagai wakil direksi dari kantor pusat. Administrator dibantu oleh seorang wakil yaitu kepala bagian tanaman yang sewaktu-waktu dapat mengganti tugas pimpinan perusahaan apabila administrator tidak ada ditempat atau tugas lain.

Administrator membawahi 4 kepala bagian yang meliputi : Kepala Bagian Tanaman, Instalasi, Pengolahan dan Kepala Bagian A.K.U (Administrasi , Keuangan dan Umum). Struktur Organisasi PG. Djombang Baru dilihat dari hubungan kerja serta pembagian dan tanggung jawab adalah berbentuk organisasi. Adapun bentuk Struktur Organisasi PG. Djombang Baru dapat dilihat pada lampiran dibawah ini. Tugas, wewenang dan tanggung jawab dari masing-masing jabatan adalah sebagai berikut : a. Administrator Administrator sebagai pimpinan tertinggi di Pabrik Gula memiliki tugas dan wewenang, sebagai berikut : - Melaksanakan dan mengumumkan program kegiatan secara keseluruhan yang telah ditetapkan oleh direksi dalam pengolahan pabrik gula. - Memimpin dan mengkoordinir tugas pada kepala bagian agar terdapat kesatuan tindakan dalam melaksanakan kegiatan yang terpadu guna mencapai target produksi secara efektif dan efisien. - Mengelola serta mempertanggung jawabkan sumber daya menusia, sumber dan peralatan pabrik sesuai dengan norma yang berlaku. - Bertanggung jawab atas semua tugas dari masing-masing bagian yang ada diperusahaan. b. Kepala Bagian Tanaman Kepala Bagian Tanaman mempunyai tugas pokok menjalankan kebijakan yang telah ditetapkan oleh administrator, mengkoordinir semua bagian tanaman dan bertindak sebagai wakil administrator apabila tidak ditempat, kepala bagian tanaman ini dibantu oleh beberapa sinder antara lain : 1. Sinder kebun kepala bagian Sinder kebun kepala bagian membantu kepala bagian tanaman dengan tugas dan wewenang sebagai berikut : - Mengkoordinir semua tugas sinder kebun wilayah sesuai dengan tanggung jawab. - Mengkoordinir pelaksanaan penyusunan rencana kebutuhan anggaran perusahaan bagian tanaman. - Menghimpun data dan informasi untuk kepentingan dibagian tanaman dan menjamin penyediaan tebu dirayon sesuai dengan rencana. 2. Sinder kebun kepala angkutan

Sinder kebun kepala angkutan mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut : - Melaksanakan dan membantu menyusun rencana kebutuhan anggaran perusahaan dalam bidang angkutan, tebangan untuk tebu milik sendiri. - Menjamin kelancaran penyediaan tebu dan musim giling agar gilingan dapat berjalan dengan lancer sesuai dengan kapasitas giling. - Dilewat masa giling mengadakan perbaikan dan pembenahan wilayah emplasemen untuk persiapan giling yang akan datang. - Mengatur pelaksanaan tebangan / jadwal tebangan sesuai dengan kemasan masa tanam tebu. 3. Sinder kebun wilayah Sinder kebun wilayah memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai berikut : - Mengadakan penyuluhan bagi para petani tebu masyarakat diwilayah kerja untuk mencari area tanaman tebu. - Memberikan bimbingan kepada para petani tebu rakyat mengenai cara tanam yang baik agar produsen tebu dapat tinggi. - Mengembangkan tanaman tebu rakyat intensifikasi meliputi tebu rakyat intensifikasi kredit (TRIK) dan tebu rakyat intensifikasi non kredit (TRIP dan TRIN) sesuai dengan INPRES No. 9/1975. - Mengatur tebang angkut tebu diwilayahnya, mulai dari penentuan jadwal tebang sampai pelaksanaan penebangan sesuai dengan besar kecilnya bagian telah ditentukan wilayah. c. Kepala Bagian Instalasi Kepala Bagian Instalasi mempunyai tugas dan tanggung jawab akan semua kegiatan yang ada dibagian instalasi termasuk kelancaran jalannya proses produksi dengan mengadakan pemeliharaan dan pengadaan alat-alat yang diperlukan dalam proses produksi. Adapun tugas dan tanggung jawab tersebut adalah sebagai berikut : - Melaksanakan policy administrasi tentang jalannya proses produksi. - Membuat rencana kerja serta rencana kebutuhan anggaran perusahaan keperluan bagian instalasi yaitu biaya pemeliharaan mesin-mesin dan perlengkapan dalam 1 tahun. - Mengusahakan bekerjanya seluruh instalasi pabrik untuk menjamin kelancaran jalannya produksi (termasuk penyediaan air, penggunaan UUD dan lain-lain)

- Membina kerjasama yang baik antar bagian, mengingat proses produksi dilakukan terus menerus dan musim giling, apabila terjadi kerusakan pada salah satu mesin tersebut maka mesin akan menghentikan semua proses kegiatan produksi secara keseluruhan. d. Kepala Bagian Pengolahan Beberapa tugas dan tanggung jawab kepala bagian pengolahan : - Melaksanakan policy administrasi tentang pelaksanaan operasional dibagian pengolahan. - Disusunnya rencana kebutuhan anggaran perusahaan untuk biaya pengolahan selama satu tahun. - Melaksanakan pembinaan kerjasama yang baik dalam proses pengolahan bahan baku tebu sehingga menjadi gula standart yang telah ditentukan. - Mengusahakan adanya kerjasama dengan bagian instalasi agar proses pengolahan gula bisa berjalan dengan lancer, efektif dan efisien. - Menghimpun data dan informasi dalam meningkatkan pengendalian dan mengadakan evaluasi mengenai besarnya biaya pengolahan sehingga dapat ditekan biaya produksi. - Kepala bagian pengolahan dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari dibantu oleh beberapa chemifer / dokter gula. e. Kepala Bagian Administrasi Keuangan dan Umum Kepala Bagian Administrasi Keuangan dan Umum mempunyai pokok melaksakan dari administrasi dan mengkoordinir semua kelancaran tugas yang ada dibagian administrasi keuangan dan umum. Untuk kelancaran tugas yang ada dibagian administrasi keuangan dan umum dibagi dalam beberapa bagian diantaranya : 1. Bagian Perencanaan dan Pengawasan Mengkoordinir dalam penyusunan rencana kebutuhan perusahaan diseluruh bagian. Merencanakan kebutuhan penggunaan sumber dana atas dasar anggaran. Mengadakan pengawasan dan pengendalian atas penggunaan sumber dana. Membuat laporan atas penggunaan sumber dana / realisasi modal kerja. 2. Bagian Pembukuan Bagian Pembukuan mempunyai beberapa tugas diantaranya adalah : Membukukan semua transaksi secara harian, yang terjadi perusahaan baik secara cash, tunai maupun non cash / tunai.

Membuat laporan keuangan secara periode (bulanan) dalam bentuk neraca dan laporan manajemennya. 3. Bagian Sekretaris dan Umum Bagian Sekretaris dan Umum mempunyai tugas tersendiri antara lain : Menyelesaikan persuratan, baik dalam surat yang keluar maupun surat yang masuk dalam bentuk ekspedisi. Melakukan pengarsipan semua surat-surat / dokumen. Memproses administrasi pengadaan bahan / barang untuk kebutuhan pabrik sesuai produksi. 4. Bagian Personalia Tugas-tugas bagian personalia sebagai berikut : Merencanakan kebutuhan tenaga kerja sesuai dengan standart informasi yang ada. Mengadakan Pembina tenaga kerja melalui pendidikan, kursus. Melakukan pembayaran yang menjadi hak-hak karyawan yaitu pembayaran gaji, upan dan santunan. Membuat laporan secara periode, mengenai posisi tenaga kerja dan biaya yang telah dibayarkan pada karyawan. 5. Bagian Gudang Tugas-tugas bagian gudang sebagai berikut : Menerima barang atas dasar pengadaan yang dibutuhkan masing-masing bagian. Menyimpan barang dalam gudang dan harus sesuai jenis barang yang dicatat dalam tabel gudang. Membukukan atas penerimaan dan pengeluaran barang yaitu yang dipakai dalam buku gudang. Membuat laporan posisi persediaan barang yang ada digudang setiap periode. 6. Tenaga Kerja Berdasarkan atas sifat hubungan kerja dengan perusahaan maka karyawan diklasifikasi menjadi 2 yaitu : 1. Karyawan Staff Karyawan Staff merupakan karyawan yang mempunyai hubungan kerja dengan perusahaan untuk jangka tidak tertentu. 2. Karyawan Non Staff Karyawan Non Staff dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :

Karyawan tetap Karyawan yang memiliki hubungan kerja dengan perusahaan untuk jangka waktu tertentu, karyawan terdiri dari karyawan tetap bulanan dan harian. Karyawan tidak tetap Karyawan yang mempunyai hubungan kerja dengan perusahaan untuk jangka waktu tertentu. Pada saat permulaan hubungan kerja harus melalui masa percobaan. Karyawan tidak tetap terdiri dari : Karyawan Honorer Karyawan yang bekerja pada waktu tertentu dengan system kontrak. Karyawan ini mendapat upah secara harian atau bulanan. Karyawan Kampanye Karyawan yang bekerja hanya dalam musim giling dan terlibat langsung dengan proses gula. Karyawan ini mendapat upah secara harian / bulanan. Karyawan musiman Karyawan yang bekerja hanya dalam satu musim dan tak berhubunan dengan proses pembuatan gula. Karyawan musim ini dibedakan menjadi 3 : 1. Karyawan Musiman Tanaman Karyawan yang melaksanakan mulai dari pembukaan tanah, persiapan tanah, pemeliharaan tebu sampai pada tebu siap tebang. Karyawan ini mendapat upah secara harian, bulanan dan borongan. 2. Karyawan Musiman Tebang Karyawan yang melaksanakan pekerjaannya mulai dari tebu tebang hingga tebu diangkat. Karyawan ini mendapat upah harian, bulanan dan borongan. 3. Karyawan Lain-lain Karyawan yang bekerja diempasemen yang tidak berhubungan langsung dengan penggilingan tebu. Karyawan ini mendapat upah harian, bulanan dan borongan. o Karyawan Borongan Karyawan yang melakukan pekerjaan yang bersifat

diborongan dengan upah borongan. o Karyawan Harian Lepas

Karyawan yang bekerja jika ada suatu pekerjaan tertentu dan bisa berhenti sewaktu-waktu bila pekerjaan sudah dianggap selesai. Karyawan ini mendapat upah berdasarkan hari-hari karyawan bekerja. Adapun pengaturan jam kerja dibagi menjadi 2, yaitu jam kerja karyawan yang dipabrik dan jam kerja untuk karyawan yang dikantor. 1. Jam kerja karyawan di pabrik menjadi 3 shif, yaitu : Shif masuk pagi Shif masuk siang Shif masuk malam 2. Jam kerja karyawan di kantor yaitu : Hari senin s/d kamis dan sabtu Masuk kerja Istirahat Hari Jumat Masuk kerja : 06.30 11.30 WIB : 06.30 14.00 WIB : 12.00 12.30 WIB : 06.00 14.00 WIB : 14.00 22.00 WIB : 22.00 06.00 WIB

BAB II STASIUN PENIMBANGAN


II.1.TUJUAN Stasiun Penimbangan adalah tempat untuk menimbang banyaknya tebu yang masuk.

II.2.SARANA PRODUKSI

II.1.1.Bahan Baku Bahan baku pembuatan gula adalah tebu. Dimana dalam tebu tersebut terkandung sukrosa yang merupakan bahan baku dalam pembuatan gula. Untuk mendapatkan hal tersebut diatas maka bahan baku dipengaruhi oleh jenis,umur, dan waktu tebang serta tingkat kematangan tebu sendiri. Untuk mengetahui kematangan tebu tersebut ditebang. Analisa ini dinamakan analisa pendahuluan /giling .

II.1.2.Analisa Pendahuluan/Giling Contoh Sebelum tebu masuk ke PG. Djombang Baru tebu diambil langsung oleh petugas dari ladang petani yang akan digunakan analisa pendahuluan. Langkah-langkah dari analisa tersebut yaitu: a. Batang tebu dibagi menjadi 3 bagian: pucuk,tengah,dan bawah. b. Digiling sesuai dengan bagian tersebut dengan 3 kali pengembalian nira sebanyak mungkin. c. Nira yang dihasilkan dianalisa dengan alat brix wager untuk mengetahui kadar brix. Sedangkan untuk mengetahui kadar pol dengan menggunakan alat pol buish yang dimasukkan dalam sacaromat. Dari hasil ini dapat diketahui tingkat kematangan tebu, yaitu bila kadar pol semakin tinggi maka batang tebu sudah masak dan batang tebu dapat ditebang dengan pedoman factor kemasakan dibawah 30%.

II.1.3.Tebang Angkut Setelah diadakan analisa pendahuluan di atas, pengaturan yang akan masuk pabrik diatur oleh petugas tebang angkut. Adapun tugas-tugasnya sebagai berikut: Mengadakan FMPW (Forum Musyawarah Penentuan Wilayah ) untuk menentukan tebutebu yang layak untuk ditebang berdasarkan analisa pendahuluan.

Menebang tebu ditangani KUD sesuai jatah per KUD/hari. Untuk mengetahui data per hari diadakan rapat tebangan yang membahas: Jatah harian Memecahkan persoalan dimasing-masing wilayah KUD Menentukan kondisi tanaman tersebut

Membagikan menurut pola wilayah Surat Perintah Kirim melalui kupon jatah yaitu satu kupon melalui kupon jatah yaitu untuk satu truk KUD atau petani mengirim tebu sesuai dengan jatah kupon yang diterima ke kantor SPTA ( Surat Perintah Tebang Angkut) lalu diperiksa tebu.

II.1.4.Lokasi Pengaturan Tebu Untuk menghindar tebu agar tidak mengalami kerusakan yang disebabkan dari faktorfaktor penyebab kerusakan, misalnya sinar matahari yang dapat menyebabkan kematian selsel tebu sehingga mengakibatkan air dalam sel dinding tebu dan terjadi penguapan. Dengan timbulnya penguapan akan mengakibatkan membesarnya larutan sel yang mati dan akhirnya cairan sel bersifat asam. Sifat asam inilah yang akan menyebabkan terpecahnya sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa dengan reaksi : C12H22O11 + H2O (sukrosa) C6H12O6 + C5H10O6 (glukosa) (fruktosa)

Hal ini Dapat diatasi dengan jalan mengatur halaman pabrik sedemikian rupa sehingga tebu yang pertama masuk halaman pabrik itulah tebu yang pertama kali digiling.

II.1.5.Tahap Penimbangan Tebu/ Stasiun Persiapan Penimbangan dibagi menjadi 2, yaitu : 1. Penimbangan tebu melalui truk Tarra truk kosong sudah diketahui sehingga truk yang membawa tebu dapat langsung ditimbang berat netto tebu dapat diketahui dengan cara perhitungan : Berat bruto tebu Berat tarra truk = Berat netto tebu Kemudian tebu dibawa di meja tebu untuk digiling. 2. Penimbangan tebu melalui lori Tarra lori dapat diketahui dan melihat kode alphabet (A-E) A:6 D:9

B:7 C:8

E : 10

Truk masuk ke emplasemen (tempat menurunkan tebu sebelum digiling) kemudian tebu dipindahkan ke lori dengan menggunakan crane, tebu yang sudah berada pada lori kemudian didorong oleh truktor ke tempat penimbangan, setelah proses penimbangan selesai maka lori akan dibawa ke meja tebu dengan didorong oleh truktor. Netto diketahui setelah melalui proses penimbangan dan siap untuk digiling dan menggunakan Surat Penimbangan Tebang Angkut (SPTA) Untuk petani (warna kuning) Untuk analisa (warna putih) Untuk bagian administrasi (warna merah) Untuk arsip administrasi timbang (warna biru) Hasilnya akan dibagi menjadi 2 yaitu = 66 % untuk petani dan 34 % untuk PG. Djombang Baru.

BAB III STASIUN PENGGILINGAN


III.1.TUJUAN Stasiun Gilingan adalah Suatu tempat untuk memecah tebu dan menggunakan alat yang tersusun secara sistematis. Proses Penggilingan ini bertujuan untuk mendapatkan nira sebanyak-banyaknya yang terkandung di dalam tebu.

III.2.PROSES STASIUN PENGGILINGAN Tebu yang digiling terlebih dahulu adalah tebu yang pertama masuk ke halaman pabrik dengan menggunakan lori dan dipindahkan oleh CRANE menuju ke Meja tebu dan masuk ke CANE CARIER, sebagai alat penggerak pesawat ini adalah elektro motor dengan kecepatan 11meter per menit. Pada alat potong (CANE CUTTER) tebu mengalami proses pemotongan yang bertujuan untuk meringankan beban unigrator yang terdiri atas: Satu buah motor penggerak a. Satu buah gear box b. Satu buah rotor cane cutter c. 32 buah mata pisau potong Cane cutter berfungsi sebagai pemotong tebu. Letaknya 130 cm dari cane carier, jumlah pisaunya ada 32 buah, pemutarannya 700 rpm. Tebu yang sudah dipotong oleh cane cutter sekitar 20 cm ditarik dan dimasukkan dalam unigrator. Unigrator ini bekerja langsung dengan mempunyai tugas ganda yaitu memotong dan menyayat tebu juga memukul yang menjadikan bagian-bagian kecil dan menghaluskan tebu, sehingga terbuka sel-selnya dan halus, hal ini akan mempermudah dalam proses pemerahan gilingan. Penggilingan tebu yang dilaksanakn di PG. Djombang Baru mempunyai 5 unit Gilingan yang masing-masing unit terdiri dari 3 rol gilingan yang berfungsi untuk memerah nira sebanyak mungkin dari tebu yang telah dipersiapkan. Tebu yang sudah hancur dari alat pengerjaan pendahuluan masuk diantara rol atas dan rol depan, diperas lalu memulai ampas plate masuk diantara rol atas dan rol belakang diperah, jarak antar rol atas dan rol belakang lebih kecil daripada jarak rol tas dan rol depan. Hal ini bertujuan agar didapat nira sebanyak mungkin pada saat diperah pada rol atas dan depan hingga volume sabut menjadi kecil. Nira mengalir melalui bagian depan rol depan dan bagian

rol belakang jatuh pada pipa nira dibawah gilingan, selanjutnya nira mengalir melalui talang goyang yang kemudian masuk ke bak penampung nira. Ampas yang keluar dari gilingan satu melewati plate pengantar(cakar tebu), selanjutnya ampas dibawa oleh ampas carier berikutnya. Ampas tidak dapat diperah dalam satu gilingan saja tapi beberapa gilingan yang dimana kerja gilingan makin belakang makin diperkecil, karena volume ampas semakin kecil, maka dapat diperah lebih baik. Pada waktu ampas berpindah dari gilingan satu ke gilingan yang lainnya dialiri air tebu atau air imbibisi dari unit gilingan belakangnya, dengan maksud nira yang masih ada dalam ampas diencerkan dan diperah sehingga fungsi pemerahan semaksimal mungkin. PG.Djombang Baru menggunakan system imbibisi majemuk, dimana ampas gilingan III dan IV menggunakan air imbibisi dengan perbandingan 3 : 7 , sedangkan ampas gilingan I,II,III menggunakan nira. Untuk jumlah air imbibisi 30 % tebu, disesuaikan dengan kemampuan Evaporator dan ampas yang dihasilkan harus kering. Air untuk membasahi ampas tadi disebut imbibisi. Pabrik Gula Djombang Baru menggunakan air imbibisi dengan suhu 80C 90C. Parameter atau batasan pemberian air imbibisi di PG.Djombang Baru adalah nira mentah persen tebu : 99% - 100% dan kemampuan dari badan penguapan serta ampas yang dihasilkan harus kering ( zat kering ampas > 48% ) Sedangkan nira yang digunakan untuk imbibisi merupakan hasil dari gilingan berikutnya yaitu: Nira gilingan III untuk imbibisi gilingan II Nira gilingan IV untuk imbibisi gilingan III Nira gilingan V untuk imbibisi gilingan IV

Ampas gilingan 1 diangkat dengan IMC (intermediet carrier) untuk diibawa ke gilingan 2. Ampas gilingan 2 mengalami penambahan Sedangkan nira yang dihasilkan dari

unit gilingan 2 sendiri dialirkan agar tercampur dengan nira gilingan 1 dan dihasilkan nira mentah.

III.3.HASIL STASIUN GILINGAN Hasil dari stasiun gilingan antara nira mentah dengan pH kurang lebih 6 - 6,3. Penambahan susu kapur dan phospat yang diharapkan supaya terjadi reaksi awal antara phospat dan susu kapur. Yang bertujuan untuk mengendapkan kotoran dan menaikkan pH nira mentah menjadi pH netral karena jika nira terlalu asam dapat menyebabkan kerusakan sukrosa. Disamping menghasilkan nira pada stasiun gilingan juga menghasilkan ampas. Ampas yang dihasilkan pada unit gilingan 1 dan 2 masih agak kasar dan juga masih banyak mengandung nira. Berbeda dengan ampas yang dihasilkan dari unit gilingan 3,4 dan gilingan 5. Pada unit gilingan 3 dan 4 ampas mengalami penambahan air imbibisi dengan suhu 70C. Hal ini selain untuk memerah nira sebanyak mungkin juga berfungsi untuk menekan kehilangan gula dalam ampas sekecil mungkin. Pada unit gilingan 5 tidak memerlukan penambahan air imbibisi karena memang diharapkan ampas yang keluar dari gilingan paling akhir benar-benar kering. Ampas kering dari sisa penggilingan 5 yang digunakan sebagai bahan bakar ketel yang digunakan untuk menghasilkan uap sebagai penggerak segala jenis mesin di PG. Djombang Baru.

III.4.SPESIFIKASI ALAT DI STASIUN PENGGILINGAN a. Lier gear b. Crane c. Meja tebu d. Cane Carier I e. Cane Cutter f. Cane Carier II g. Unigrator h. Gilingan i. Talang Getar : untuk menarik lori menuju ke Meja tebu : untuk mengangkut tebu dari Lori menuju ke Meja tebu : untuk menampung tebu/ meletakkan tebu sebelum ke cane carier : untuk mengangkut tebu dari meja tebu menuju cane cutter : untuk memotong dan mencacah tebu sebelum masuk ke unigrator : untuk mengangkut tebu dari cane cutter menuju ke unigrator : untuk mengepress tebu hingga berbentuk serat-serat : untuk memeras serabut tebu sehingga menghasilkan nira mentah : untuk menyaring ampas yang dibawa oleh nira mentah

j. Penampung Nira : untuk menampung nira mentah dari semua gilingan

BAB IV STASIUN PEMURNIAN


IV.1.TUJUAN Stasiun pemurnian nira bertujuan untuk memisahkan sukrosa dari kotoran bukan gula dengan menjaga kehilangan gula sekecil mungkin. Dalam proses pemurnian diusahakan untuk dapat menghilangkan kotoran-kotoran sebanyak mungkin, sehingga didapatkan gula sebanyak mungkin. Nira mentah yang dihasilkan dari stasiun gilingan terdapat komponen-komponen yang larut didalamnya, karena komponen tebu terdiri atas air, sakarosa, monosakarida, garamgaram, asam-asam, lempung, pasir atau tanah, lilin, zat warna, zat sejenis putih telur, ampas dsb. Komponen-komponen tebu tersebut akan membawa pengaruh terhadap sifat nira yaitu asam-asam, sehingga nira juga bersifat asam. Sifat keasaman ini akan berpengaruh didalam proses pemurnian dimana kita harus melakukan proses penetralan. Komponen tebu yang lain harus mendapatkan perhatian adalah monosakarida, unsur ini selalu ditemui dalam nira baik yang berasal dari batang tebu maupun sebagai hasil hidrolisa sakarosa. Monosakarida tidak stabil dalam suasana alkalis maka dari itu disini perlu penjagaan proses dengan baik agar hasil yang didapat bisa optimal, karena perpecahan monosakarida menghasilkan zat warna. Kebalikan dari sifat monosakarida adalah sakarosa yang tidak stabil dalam suasana asam(stabil dalam suasana alkalis), dalam suasana asam sakarosa akan mengalami inversi. Perpecahan sakarosa dan monosakarida selalu dipengaruhi oleh: pH, suhu, dan waktu tinggal. Maka dalam pelaksanaan di pabrikasi diusahakan supaya ketiga faktor tersebut tidak dalam keadaan ekstream bersama-sama. Selain itu masih banyak lagi komponen-komponen nira sehubungan dengan proses di permunian, antara lain: zat warna, koloid, garam-garam anorganik, asam-asam anorganik, silikat dll. Adapun kandungan nira mentah antara lain: Air, sebagai pelarut Dispersa molekuler, yaitu sukrosa, monosakarida, garam-garam, asam-asam bebas dsb. Dispersa koloid, yaitu protein(putih telur), blondok, pectin, zat warna dsb. Yang termasuk bukan gula : fruktosa, glukosa, lilin, bahan organic, gum, sabut Suspense kasar, yaitu ampas halus, pasir, tanah, lempung dsb

Sifat kotoran dalam nira mentah Kotoran kasar Kotoran melayang Kotoran terlarut : tanah, pasir, ampas halus dll : jenis kotoran yang tidak dapat mengendap(koloid) : zat-zar organic dan an organic

Ada 3 mekanisme didalam proses pemurnian nira, yaitu: Secara kimia : dengan pemberian susu kapur Ca(OH)2 untuk mendapatkan endapan sebanyak mungkin dalam waktu sesingkat-singkatnya. Dan pemberian gas SO2 untuk menetralkan kelebihan kapur. Secara fisika : perlakuan untuk menghilangkan kotoran dengan menggunakan sifat fisisnya: pengendapan, pengapungan, penyaringan. Secara kimia-fisika : proses penghilangan dilakukan secara fisika, yaitu: dengan pengendapan dengan penambahan bahan-bahan kimia seperti phospat dan flokulan yang dapat mempercepat proses pengendapan.

Pabrik Gula Djombang Baru juga melakukan proses pemurnian secara Sulfitasi dan sebagai bahan pembantu menggunakan Kapur Tohor dalam bentuk susu kapur dan Sulfur Dioxid (Belerang). Tujuan dari dilakukannya pemurnian nira ini adalah sebanyak mungkin komponen bukan gula yang terlarut maupun tidak terlarut( organic atau anorganik) atau berbentuk koloid yang terdapat dalam nira dapat diendapkan, sehingga nira yang akan diolah di stasiun masakan merupakan nira murni. Di stasiun pemurnian nira mentah dipanasi, diatur pH nya, ditambah bahan kimia lalu diendapkan secara continue di Door Clarifier.

IV.2.PROSES STASIUN PEMURNIAN Nira mentah dari stasiun gilingan masuk ke bak timbangan Boulogne, setelah nira tertimbang 3,5 ton , secara otomatis timbangan akan membuka dan nira akan masuk kedalam bak penampungan dibawahnya. Lalu nira dipompa ke PP 1 yang sebelumnya harus dalam kondisi panas sebelum nira dimasukkan. Di dalam PP 1 nira dipanaskan sampai suhu 75C, dengan tujuan : a. Supaya nira dapat bereaksi sempurna atau mempercepat reaksi. b. Untuk mempermudah terjadinya flokulasi dari bahan-bahan sejenis putih telur. c. Untuk membunuh mikroorganisme

Suhu pemanas 75oC - 80oC tersebut merupakan suhu yang optimal untuk melakukan suatu proses sulfitasi, maka bila suhu kurang dari 75oC dapat mengakibatkan reaksi dari komponen nira dengan bahan pembantu tidak dapat berjalan dengan sempurna, karena komponen nira umumnya bahan organic yang reaktifitasnya lambat. Oleh karena itu pemanasan dapat mempercepat reaksi tersebut. Sedangkan apabila suhu lebih dari 80oC dapat menyebabkan sakarosa rusak karena hidrolisa maupun terjadi karamelisasi dan terjadinya kerak pada pipa pemanas. Setelah dipanaskan dalam juice heater (PP) I , masuk kedalam Devekator I.

Keasaman nira berkisar pH 6,8 masuk ke devekator I dan ditambahkan dengan susu kapur Ca(OH) agar terjadi proses penetralan dan diharapkan pH nira naik hingga 7,2 dengan penambahan indikator BTB dan pH 7,2 warna reaksinya hijau tua. Nira dengan pH 7,2 masuk kedalam Devekator II dan ditambahkan dengan susu kapur untuk menaikkan pH hingga 8,68,9 dengan tujuan kotoran bukan gula dapat mengendap sempurna dan di tambahkan indikator PP dan bila pH 8,6 warna reaksinya kemerahan, apabila pH 9,0 warna reaksinya merah bata. kemudian kelebihan kapur tersebut secepatnya dinetralkan kembali dengan memberikan gas sulfit (CaSO) dalam peti sulfitasi nira mentah hingga pH turun menjadi 7,2 dengan penambahan indikator CVR dan warna reaksinya kehitaman. Proses defekasi harus dijaga besarnya pH, pH tidak boleh terlalu rendah juga terlalu tinggi, bila pH kurang tinggi maka proses pengendapan kotoran akan berlangsung tidak sempurna, ini disebabkan karena banyak kotoran yang tidak bereaksi dengan susu kapur sehingga pengendapan kurang berjalan sempurna. Selain itu bila pH terlalu rendah maka, sakarosa akan mengalami hirolisis menjadi monosakarida karena sakarosa tidak tahan pada suasana asam. Bila pH terlalu tinggi maka akan terjadi inversi monosakarida yang berakibat pada pembentukan warna pada nira. Nilai pH optimal pada kisaran 8,5 9,0, setelah sulfitasi diharapkan pH nira menjadi 7,1 7,2. Nira bersifat asam karena mengandung berbagai asam organic maupun anorganic dan koloid-koloid yang bermuatan negative atau bersifat asam sehingga nira mentah itu asam. Proses penghilangan kotoran pada nira dalam proses defekasi dimulai dengan proses penetralan nira terlebih dahulu. Ini dilakukan untuk menjaga agar gula tidak rusak mengingat sakarosa tidak tahan pada suasana asam. Sedangkan untuk menghilangkan kotoran lainnya dilakukan proses pemanasan pada suhu tinggi dan suasana asam maka kandungan sakarosa pada nira akan cepat rusak, oleh karena itu dilakukan dahulu proses penetralan nira untuk menekan kehilangan atau kerusakan sakarosa sekecil mungkin. Setelah susu kapur memasuki peti defekator lalu kemudian dilanjutkan dengan proses reaksi susu kapur dengan nira. Koloid

akan menggumpal jika muatannya dinetralkan, titik dimana koloid-koloid menggumpal ini dinamakan titik isoelektris. Pembentukan endapan akan tergantung pada pemberian reagent, sirkulasi atau pencampuran dan suhu larutan sehingga reaksi berlangsung lebih cepat. Setiap koloid mempunyai titik isoelektris yang berbeda, oleh karena itu penetralan koloid-koloid dalam nira oleh susu kapur dilakukan secara bertahap sehingga diharapkan seluruh koloid dapat digumpalkan. Reaksi antara susu kapur dengan komponen nira terutama asam diharapkan akan terbentuk endapan Ca3(PO4)2. Oleh karena itu kandungan phospat dalam nira sangatlah mempengaruhi pembentukan endapan pokok. Apabila phospat kurang akan mengakibatkan koloid yang mengendap sedikit dan semakin sedikit pula bukan gula yang dihilangkan. Adanya phospat dalam nira akan membentuk kalsium phospat yang mengendap dan akan mengabsorbsi endapan lain. Reaksi phospat yang terjadi di peti defekasi adalah : Ca(OH)2 P2O5+H2O H3PO4 3Ca2++PO43Ca2++2OH2H3PO4 3H++PO43Ca3(PO4)2

Selanjutnya dimasukkan ke pemanas Pendahuluan II (PP II) dengan temperature 100C - 105C yang bertujuan : a. Untuk mempermudah pengeluaran udara atau gas-gas yang terdapat dalam nira (di dalam bejana pengembang) b. Untuk menurunkan viskositas nira sehingga kecepata terbentuknya endapan besar. c. Untuk mempercepat pengendapan yang bukan termasuk gula. Bila suhu kurang dari 100oC maka tujuan diatas tidak dapat tercapai, sedangkan apabila suhu melebihi dari 105oC terbentuknya zat warna semakin tinggi, maka hal ini akan menurunkan kualitas dari gula produk, juga bila suhu terlalu tinggi dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan pada sakarosa (karamelisasi) Dari PP II nira dimasukkan ke Door clarifier, sebelum itu nira dilewatkan melalui Bejana pengembang (flash tank) dan Snow balling tank agar gas-gas yang semula terlarut dalam nira dapat terbuang sehingga tidak mengganggu proses pengendapan serta terjadi penggumpalan pengendapan. Untuk mempercepat pengendapan perlu ditambahkan larutan Floculand 0,5 % . Didalam Door clarifier akan terpisahkan antara nira jernih dengan nira kotor. Nira kotor yang masih banyak mengandung gula tersebut kemudian ditapis dengan

RVF (Rotary vacuum filter) untuk memisahkan blotong dari niranya dengan penambahan air panas bersuhu 80C agar proses penapisan berjalan sempurna. Tahap proses penapisan : Pembentukan dan penebalan lapisan Pencucian lapisan Pelepasan lapisan

Dalam proses penapisan, kotoran dari Door clarifier disedot oleh Pompa diafragma masuk dalam Mixer bagaselo untuk ditambah dengan ampas Bagasilo. Kemudian nira kotor masuk kedalam penampung nira kotor dan dihisap oleh RVF untuk menghisap nira tapis yang kemudian dipompa dan dialirkan ke nira mentah tertimbang (Bolougne), dan blotongnya bisa dijadikan sebagai bahan pembuatan pupuk. Kemudian nira jernih atau nira encer dialirkan oleh pompa untuk memasuki proses selanjutnya di stasiun penguapan. Sebelum masuk ke stasiun penguapan nira dipompa ke PP III, nira dipanaskan sampai 110oC dimaksudkan untuk menaikkan suhu nira karena saat berada dipeti pengendapan terjadi penurunan suhu, pemanasan nira ini diharapkan nira masuk ke dalam badan penguapan I sudah pada titik didihnya, karena badan penguapan fungsinya betul-betul sebagai penguap bukan sebagai pemanas. Untuk itu maka apabila nira tidak dipanasi maka akan membebani kerja badan penguapan. Hasil kerja pemanas nira akan menentukan baik buruknya proses pemurnian, seperti proses defikasi sulfitasi yang tidak sempurna yang akan mengakibatkan proses pengendapan tidak berlangsung dengan baik. Apabila nira jernih yang keluar dari Door Clarifier sangat keruh, ada kemungkinan proses pemanasan nira tidak sesuai standart kondisi operasi.

IV.3.BAHAN PEMBANTU PROSES PEMURNIAN IV.3.1.Pembuatan Susu Kapur Nira tebu pada dasarnya bersifat asam, oleh karena itu harus segera dinetralkan. Penetralan nira memerlukan suatu basa yang dapat bereaksi dengan komponnkomponen yang terdapat dalam nira dengan membentuk suatu endapan. Pembuatan hidroksida (Ca(OH)2) dibuat dengan mereaksikan kapur tohor (CaO) dengan air hingga terjadi reaksi: CaO + H2O Ca(OH)2 + panas

Pembuatan hidroksida kapur dari kapur tohor dan air adalah suatu reaksi eksoterm(mengeluarkan panas) saat reaksi terjadi panas keluar sampai mendidihkan

air yang diberikan seolah-olah air digunakan untuk memadamkan sumber api, inilah mengapa peristiwa tersebut sering disebut pemadaman kapur. Hidroksida yang terbentuk akan mengendap, endapan yang berwarna putih menyebabkan keruh sehingga disebut sebagai emulsi susu kapur. Reaksi penetralan ini adalah reaksi ionisasi, sehingga unsur yang bereaksi haruslah dalam bentuk ion berarti kalsiumnya juga dalam bentuk ion. Karena hidroksida kapur berada dalam bentuk endapan maka proses penetralan saat emulsi kapur diberikan kepada nira harus diubah dahulu menjadi ion, urutan proses menjadi : Ca(OH)2 endapan Ca(OH)2 larut Ca 2+ + 2z Ca(OH)2 larut Ca 2+ + OH CaZ2

Agar zat padat mudah larut maka luas permukaan zata padat tersebut harus besar, maka butiran kalsium hidroksida yang terbentuk haruslah lembut. Dalam membuat emulsi hidroksida kapur diharapkan butiran hidroksida kapur ini selembut dalam emulsi susu. Emulsi hidroksida kapur dalam pabrik disebut kapur. Persyaratan kapur sebagai berikut: a. Kadar CaO b. Zat tak larut dalam HCl c. Asam Kiesel d. Sulfat sebagai SO3 e. oksida Mg *sesuai dengan penetapan BP3GI Operasi pembuatan susu kapur: Langkah langkah pembuatan susu kapur adalah sebagai berikut: a. kapur tohor dipisahkan dengan batuan yang besar kemudian dimasukkan dalam tromol. Pemberian air untuk pemadaman kapur dengan air panas yang cukup bersih(umumnya digunakan air kondensat alat penukar panas ) dimaksudan agar terbentuknya partikel hidroksida kapur adalah partikel yang lembu. b. Setelah pemadaman tersebut, kemudian susu kapur tersebut meluap melalui mulut silinder dan jatuh pada sebuah talang. Talang tersebut dibuat suatu sekat agar susu kapur keluar dengan suatu luapn. c. Luapan susu kapur mengalir pada satu talang lagi menuju saringan dengan maksud agar kotoran kotora halus dapat dipisahkan. : 85 95 % :2% :2% : 0,2 % :2%

d. Kapur yang telah disaring dialirkan kedalam suatu bak berpengaduk dengan ditambah air untuk pengenceran yang berupa air dingin karena suhu semakin rendah kelarutan kapur semakin tinggi kemudian di pompa ke devekator. Peristiwa terbentuknya Kalsium Hidroksida: CaO + H2O Ca(OH)2
2+

+ 15,9 Keal

Susu kapur atau Hidroksida Kalsium inilah yang nantinya bila diberikan pada nira yang membentuk susu kapur yang aktif yang disebut Ca . ini bereaksi mengikat asam-

asam serta kotoran yang terkandung dalam nira. Sehingga terjadi penetralan serta terbentuknya endapan yang mudah dipisahkan dengan cara penapisan atau penyaringan. Di PG Djombang Baru pemberian susu kapur pada nira dengan dentitas 6Be.

IV.3.2.Pembuatan Gas SO2 Gas sulfit merupakan bahan pembantu pemurnian pada pabrik gula sulfitasi yang sangat penting. Gas sulfit membantu terbentuknya endapan tambahan disamping itu sebagai bahan pemucat nira kental, sehingga mengurangi intensitas warna yang ada dalam nira kental dan selanjutnya akan berpengaruh pada warna Kristal gula yang diperoleh. Namun demikian belerang tersebut harus memenuhi persyaratan belerang yang telah di tetapkan oleh P3GI. Syarat belerang menurut P3GI adalah : Kadar lengas Kadar abu Kadar zat bitominus Kadar arsen Kadar belerang Operasi pembuatan Gas SO2 Gas SO2 diperoleh dari hasil pembakaran belerang yang dilakukan dalam tobong belerang. Peristiwa yang terjadi dalam pembakaran belerang dengan reaksi sebagi berikut: S + O2 SO2 + panas : max 0,5 % : max 0,1 % : max 0,1 % : max 0,05 % : 99,6 99,9 %

Panas yang keluar pada pembakaran belerang sebesar 2217 kcaal/ kg belerang. Panas tersebut digunakan untuk melelehkan belerang padat sehingga selanjutnya diubah menjadi gas baru dapat terbakar. Reaksi pembakaran belerang berlangsung pada suhu

250 C dan panas yang keluar memungkinkan suhu naik lebih tinggi sehingga untuk mencegah keburukan dan kesukaran sebagai akibat dari naiknya suhu maka tobong belerang didinginkan di permukaan. Pada suhu 700 C akan terjadi : 2 SO2 + O2 2 SO4

Dengan melihat beberapa kemungkinan diatas maka pada tobong belerang diberikan air pendingin agar suhu pembakaran tidak terlalu tinggi. Keburukan yang dapat terjadi jika terbentuk gas SO4 : Kerusakn pada gula dan alat lebih banyak. Kualitas hasil terpengaruh.

Langkah langkah pembuatan gas SO2 a. Semua afsluiter tobong belerang ditutup kecuali pintu pemasukan belerang(pipa selubung uap) b. Masukkan belerang melalui pintu pemasukan belerang. c. Buka aflsuiter uap untuk mencairkan belerang dan dilanjutkan dengan pemberian alkokhol kedalam ruang pembakaran. d. Sebelum penyulutan api, pipa pengeluaran gas SO2 dibuang keluar agar tidak mengganggu jalanya pembakaran e. Setelah api mulai membara, aflsuiter udara dibuka pelan-pelan f. Setelah api membara maka aflsuiter udara dibuka penuh diteruskan pemasukan gas belerang kedalam peti aflsuiter Hal-hal yang harus diperhatikan a. Suhu air pendingin 70 C agar suhu dalam tobang dapat bertahan 250 C b. Gas belerang yang dihasilkan dilewatkan pada sublimatik untuk menjaga agar gas yang keluar benar-benar murni. c. Tekanan ketel angin dijaga tetap (0,4 0,6kg/ cm2 ) dan sebelum tobong sebaiknya diberikan kran pengatur d. Udara untuk pembakaran dikeringkan untuk mencegah terjadinya sublimasi atau terjadinya belerang besi ( FeS) = pyrite. Udara dikeringkan dengan kapur tohor yang setiap 6 12 jam sekali kapur tohor diganti.

IV.4.SPESIFIKASI ALAT DI STASIUN PEMURNIAN a. Timbangan nira mentah (Boulogne) : untuk mengetahui berat nira mentah yang dihasilkan dari stasiun gilingan yang masuk ke stasiun pemurnian dan sebagai dasar perhitungan pengawan pabrikasi. b. Bak penampungan bawah setelah ditimbangan Merupakan tempat yang digunakan untuk menampung nira mentah dari timbangan yang akan dipompa menuju Pemanas I dan II. c. Juice Heater ( PP 1 ) : untuk memanaskan nira sehingga diperoleh suhu yang sesuai kebutuhan, yaitu 75oC Penggunaan alat pemanas : Pemanas I sebanyak 3 buah (pakai Bleeding BP I) Pemanas II sebanyak 2 buah Pemanas III sebanyak 2 buah (pakai Ube)

d. Prekontraktor: untuk memberikan susu kapur ke dalam nira mendahului sebelum masuk defecator I agar penetralan lebih cepat tercapai. e. Defekator I dan II : merupakan tempat dimana nira mendapatkan penambahan susu kapur(menaikkan pH). f. Peti Sulfitir Nira Mentah : merupakan peti reaksi tempat terjadinya reaksi antara nira yang terkapuri dengan gas SO2. Di dalam peti sulfitasi terdapat sekat parabolis yang berfungsi untuk sirkulasi. Sirkulasi dibuat agar gas SO2 dapat bereaksi secara sempurna dengan nira yang terkapuri. g. Tobong Belerang : merupakan tempat pembakaran belerang h. Sublimator : merupakan tempat yang digunakan untuk menampung belerang setelah diuapkan. i. Penampung nira sementara : untuk menampung nira dari peti sulfitir nira mentah yang selanjutnya dipompa ke PP 2. j. Juice Heater (PP2) : : untuk memanaskan nira pada suhu 105 - 110C k. Flash Tank : merupakan tempat untuk menguapkan / memisahkan Nira dengan gas. l. Snow Bolling : tempat penambahan flokulan. m. Door Clarifier : alat ini berfungsi memisahkan nira jernih dengan nira kotor. Proses dipengaruhi oleh diameter partikel endapan, dentitas secara viskositas

larutan.Kecepatan endapan akan baik jika diameter partikel endapan besar, viskositas larutan kecil.

n. Penapis nira kotor (Rotary Drum Vacum Filter) : untuk memisahkan nira dengan kotorannya (Blotong). Pada nira kotor dari hasil pengendapan di Door Clarifier. Kotoran yang dipisahkan akan menempel pada saringan RDVF sedangkan nira tapis dipompa untuk diolah kembali dengan nira mentah tertimbang. o. Penapis ( saringan ) nira encer : Nira encer keluar dari Door Clarifier masih membawa sedikit kotoran terutama berupa ampas halus yang tidak tersaring oleh saringan nira mentah dan tidak terikut dalam nira kotor. Hal ini sangat mungkin terjadi karena ampas halus mempunyai berat jenis yang rendah, tidak / kurang mempunyai kemampuan jatuh ke bawah. Dengan saringan nira encer mesh 200 x 200 kotoran tersebut dapat tersaring / terpisahkan. Kotoran hasil saringan dengan cara menual diambil dan dibawa ke stasiun gilingan bercampur dengan ampas dari gilingan I untuk diperah. p. Pompa Hidrolik Diafragme : untuk memompa nira kotor yang berasal dari Door Clarifier.

BAB V PENGUAPAN
V.1.TUJUAN Stasiun Penguapan bertujuan untuk memproses penguapan kadar air yang terkandung dalam nira encer sehingga diperoleh nira kental. Stasiun Penguapan juga bertujuan untuk mempercepat proses kristalisasi. Nira encer hasil proses pemurnian masih mengandung bukan gula dan air, untuk mengurangi kandungan air dalam nira, nira encer diuapkan distasiun penguapan. Penguapan dilakukan hingga nira kental mencapai brix 60 atau 32 35 Be, dimana nira telah mendekati jenuh namun belum terbentuk Kristal. Untuk menguapkan air dalam badan penguap menggunakan uap bekas yang bertekanan 0,7 kg/cm2 yang diperoleh dari uap bekas dari alat penggerak. Apabila uap bekas kurang mencukupi maka ditambah dengan uap baru yang direduser. Penguapan dapat berlangsung dengan memberikan panas pada air hingga terjadi perubahan fase air menjadi uap. Untuk menghemat penggunaan uap maka uap hasil penguapan dari badan pertama digunakan untuk memanasi badan berikutnya.

Pabrik Gula Djombang Baru menggunakan sistem penguapan quadruple effect. Jumlah evaporator VI buah dimana BP V sebagai cadangan dan kadangkala dari ke V BP yang satu standby untuk dibersihkan secara bergantian. Sistem quadruple : Nira encer badan I diuapkan dengan bahan pemanas uap bekas dari stasiun gilingan yang bertekanan 0,7 kg/cm2. Uap badan I digunakan untuk memanaskan badan II. Uap badan II digunakan untuk memanaskan badan III. Uap badan III digunakan untuk memanaskan badan IV. Uap nira dari badan IV dialirkan ke kondensor untuk diembunkan. Dengan sistem quadruple effect penggunaan uap dapat dihemat, dimana 1 kg uap dapat menguapkan 4 kg air yang ada dalam nira. Didalam proses penguapan selisih suhu badan pemanas dengan nira mempengaruhi kecepatan penguapan. Untuk mencegah kerusakan gula di stasiun penguapan badan suhu I dibatasi 100 1200C dengan vacuum minimal 60 cmHg di badan akhir, sedangkan untuk badan berikutnya

dilakukan dalam suasana vacuum dan pengaliran uap nira maupun nira terjadi karena perbedaan tekanan antar badan I dengan yang lainnya. Dalam usaha menguapkan air dalam nira pada badan penguap harus diperhatikan : 1. Kecepatan tinggi dan waktu yang pendek. 2. Tidak terjadi kerusakan gula. 3. Tidak menimbulkan kesulitan dalam pengerjaan proses. Keberhasilan proses penguapan dapat dicapai jika : 1. Uap pemanas yang digunakan cukup. 2. Pembuatan hampa lancar. 3. Pengeluaran air embun lancar. 4. Pengeluaran gas tidak terembunkan berjalan lancar. 5. Tidak terjadi kebocoran pada perpipaan. 6. Pengaruh kerak dan pengaturan level nira.

V.2.PROSES STASIUN PENGUAPAN Operasi dalam penguapan meliputi cara memulai proses penguapan, pengendalian penjagaan penguapan supaya berjalan lancar dan oper badan. a. Cara memulai proses penguapan (formasi BP V berhenti) 1. Valve pengeluaran uap nira badan I , II dan III dibuka , sedang uap nira IV ditutup. 2. Valve pengeluaran nira badan I , II dan III dibuka , sedangkan badan IV ditutup. Semua valve pemasukan nira ditutup. 3. Pompa vacuum dan pompa injeksi dijalankan. Vacuum kondensor 65 cmHg. 4. Pancingan vacuum badan IV dibuka pelan-pelan sampai vacuum 45 cmHg baru valve uap nira badan IV dibuka 64 cmHg. Valve amoniak badan II dan III dibuka maka akan terjadi vacuum yang berbeda pada badan II, III, dan IV. 5. Uap bekas untuk badan pemanas I dibuka pelan-pelan begitu juga valve pemasuka nira. 6. Permukaan nira tiap badan diatur dengan menyetel pemasukan dan pengeluaran nira. 7. Pompa air kondensat dijalankan. 8. Valve pembuangan gas ruang pemanas badan I dibuang ke udara. 9. Pengeluaran nira badan IV dipompa ke peti nira kental. b. Cara pengendalian dan menjaga uap agar berjalan lancar

Mengendalikan alat agar berjalan dengan lancar berpedoman pada hal hal sebagai berikut : 1. Pengatur debit badan pemanas / penyediaan badan pemanas harus cukup. 2. Badan terakhir diusahakan harus mencapai vacuum sekitar 60 65 cmHg. 3. Pengeluaran air konden taip-tiap badan penguap harus lancar. 4. Pengeluaran gas amoniak harus lancar. 5. Mengatur ketinggian nira didalam pan penguapan (30 % panjang pipa nira) dengan kontrol pada gelas penduga. c. Cara oper badan (BP III operasi dan BP II disekrap) 1. Cara pengoperasian uap Output uap nira BP III dibuka. Input uap nira masuk BP III dibuka By pass uap BP III ditutup By pass BP II dibuka Input uap nira BP II ditutup Output nira BP II ditutup

2. Cara pengoperasian nira Input nira BP III dibuka By pass nira BP II dibuka Input nira BP II ditutup Output nira BP II ditutup By pass nira BP II ditutup Output nira BP III dibuka Untuk BP II sisa nira ditap dan dibilas dengan air setelah itu dilakukan masak soda dan penyekrapan. Perjalanan Uap, Nira dan Air Embun pada proses penguapan V.1.2.Perjalanan Uap Dalam badan I nira dipanasi dengan uap bekas yang bertekanan 0,7 kg/cm 2. Bila tekanan kurang maksimal disuplisi dengan uap baru, uap nira yang dihasilkan mengalir ke ruang pemanas badan II dengan tekanan 0,1 kg/cm2 dengan suhu 1000C. uap nira yang dihasilkan pada badan II untuk pemanas badan III dengan vacuum 30 cmHg dengan suhu 900C. uap nira badan III dipakai untuk memanaskan badan IV

dengan vacuum 63 cmHg dan suhu 600C. uap nira badan akhir diteruskan ke kondensor dan menjadi air jatuhan yang bersuhu 450C dengan air injeksi yang bersuhu 380C. Untuk menahan percikan nira yang terbawa oleh uap nira agar tidak terbawa ke evaporator berikutnya. Nira yang terdapat pada alat penangkap nira akan dikembalikan ke dalam evaporator melalui pipa pengembalian nira. Untuk menangkap nira alat ini tersusun dari plat yang disusun secara bertingkat (sapvanger) yang dapat membuat aliran berputar-putar sehingga nira menempel diplat sedang uap keluar lewat pipa pengeluaran uap.

V.1.2.Perjalanan Nira Nira encer dari Door Clarifier ditampung pada peti tarik nira encer, kemudian dipompa ke pemanas III sampai suhu 1100C. Nira kemudian masuk ke badan pemanas I yang bertekanan 0,7 kg/cm2. Dari badan penguap I masuk ke badan penguap II suhu 1000C dengan tekanan 0,1 kg/cm2. Dari badan penguap II masuk ke badan penguap III dengan vacuum 30 cmHg. Suhu 900C. Dari badan penguap II masuk ke badan penguap IV, suhu 600C dengan vacuum 60 cmHg. Karena adanya perbedaan tekanan pada tiap-tiap badan maka terjadi proses aliran nira dari badan penguap I, II, III, IV. Selanjutnya nira dipompa ke peti nira kental, kemudian nira dipompa ke bejana sulfitasi nira kental menjadi nira kental tersulfitir. Pompa nira kental dari badan akhir dihubungkan dengan ruang nira badan agar tekanannya sama sehingga nira kental jatuh karena gaya gravitasi dan mudah dipompa.

V.1.3.Perjalanan Air Embun Pengeluaran air embun harus lancar agar mekanisme perpindahan panas dapat berjalan sempurna. Sehingga tidak mengurangi luas bidang pemanasan. Didalam PG. Djombang Baru proses pengeluaran air embun BP I dan BP II menggunakan kondensat pure water atau juga pompa sentrifugal. Untuk BP III dan BP IV menggunakan kondensat sweet water. Antara badan penguap dengan receiver dan antara pompa sentrifugal dipasang pipa pengimbang untuk menghilangkan perbedaan tekanan antara receiver dan pipa penghisap pompa sehingga kondensat mudah dikeluarkan.

Air embun BP I dan BP II digunakan untuk pengisi air ketel dan apabila mengandung gula digunakan untuk proses, sedangkan air embun badan II dan IV ditampung dalam peti untuk pengeluaran proses.

V.3.SPESIFIKASI ALAT DI STASIUN PENGUAPAN 1. Evaporator Merupakan alat yang digunakan sebagai tempat untuk menguapkan nira encer (semua alat penguapan) 2. Kondensor Merupakan alat yang digunakan untuk mengembunkan uap nira dari

badan penguapan akhir. 3. Pipa amoniak Merupakan alat untuk mengeluarkan gas-gas yang tidak dapat terembunkan. 4. Pipa vakum Merupakan alat ukur. 5. Hhydrometer type bume Merupakan alat untuk mengetahui kekentalan nira

(menimbang kekentalan nira) 6. CJT Merupakan alat untuk menampung nira encer. 7. Pipa kondensor evaporator. Merupakan alat untuk mengeluarkan air konden dari

BAB VI MASAKAN
VI.1.TUJUAN Stasiun Masakan (kristalisasi) bertujuan untuk mengkristalkan nira kental yang merupakan hasil dari stasiun penguapan yang telah diturunkan pHnya antara 5,4 5,6 dengan tujuan untuk pemucatan warna atau bleaching sehingga diharapkan agar Kristal yang diperoleh memiliki kualitas warna yang sesuai dengan standart. Proses kristalisasi berlangsung dengan cara menguapkan air yang terkandung didalam nira kental, yaitu briknya sekitar 17 18 %. Tujuan utama proses ini adalah mengambil sukrosa dalam bentuk kristal dengan menekan kehilangan gula sekecil mungkin pada waktu sesingkat mungkin dan menghasilkan produk yang berkualitas baik serta biaya pengoperasiannya serendah mungkin.

VI.2.PROSES STASIUN MASAKAN Proses kristalisasi dilakukan dengan mengkondisikan nira kental pada konsentrasi yang melampaui kejenuhan dengan jalan penguapan airnya, sehingga dihasilkan Kristal gula yang kemurniannya lebih tinggi dan sisa gula dalam larutan akhir yang serendah-rendahnya. Didalam proses ini haruslah selalu diusahakan agar tercapai : - Hasil Kristal gula memenuhi syarat yang dikehendaki. - Kehilangan gula sekecil-kecilnya. - Waktu proses sependek-pendeknya. - Biaya yang dibutuhkan rendah. Dalam proses kritalisasi perlu diperhatikan dari sukrosa terutama yang berhubungan dengan kristalisasi itu sendiri, sifat-sifat tersebut diantaranya adalah kelarutan sukrosa. Sukrosa adalah bahan yang dapat larut dalam air dan kelarutannya sukrosa dipengaruhi oleh suhu. Hal-hal yang dapat mempengaruhi kecepatan kristalisasi a. Kandungan kotoran dalam larutan (kemurnian larutan) Kecepatan pengkristalan dalam suatu larutan, sangat dipengaruhi oleh kemurnia larutan tersebut. Semakin tinggi kemurnian suatu larutan semakin cepat pula proses kristalisasi, karena kotoran yang terdapat dalam larutan, dapat menghambat penempelan molekul sukrosa pada inti Kristal yang telah ada. b. Viscositas Larutan

Naiknya viscositas juga akan memperlambat proses kristalisasi. c. Sirkulasi Larutan Sirkulasi suatu larutan juga bisa dipengaruhi oleh bahan pemanas, akibat adanya selisih suhu (T) antara suhu bahan pemanas dan suhu nira. Dengan adanya sirkulasi, maka akan memberikan lebih banyak kesempatan terhadap molekul sukrosa untuk saling bertemu, sehingga terjadi penempelan antara molekul satu dengan yang lain.

Proses kristalisasi dilakukan dengan cara menguapkan nira dalam pan masakan yang memiliki vacuum untuk mencegah kerusakan gula. Nira encer jika diuapkan airnya akan menjadi pekat dan dalam keadaan ini jarak antara molekul-molekul sukrosa menjadi semakin dekat. Proses perubahan sacharosa dari bentuk larutan sampai menjadi bentuk Kristal melalui tahapan-tahapan daerah antara lain : 1. Larutan encer Larutan dimana larutan masih dapat melarutkan Kristal sacharosa. 2. Larutan jenuh Larutan dimana larutan tidak dapat melarutkan Kristal sacharosa lagi. 3. Larutan lewat jenuh Daerah Metamantap Daerah dimana molekul sacharosa dalam larutan baru dapat menempelkan diri pada Kristal yang telah ada, daerah ini juga disebut daerah pembesaran Kristal. Daerah Pertengahan Daerah dimana molekul sacharosa dalam larutan telah mampu membentuk inti Kristal apabila terdapat atau hadir Kristal sacharosa dalam larutan. Daerah Goyah Daerah dimana molekul sucrose dalam larutan telah mampu membentuk inti Kristal dengan serentak tanpa hadirnya Kristal yang lain. Besarnya HK ( Harga kemurnian ) masing- masing tingkat masakan yang ideal yaitu : Masakan A Masakan B Masakan C Masakan D : HK > 83 : HK 76 80 : HK 70 72 : HK 59 - 60

Dalam proses kritalisasi, Stasiun masakan menggunakan 8 pan masakan, yaitu : Pan I dan II untuk masakan D Pan III untuk masakan C Pan IV, V, VI, VII, VIII untuk masakan A

Bahan pemanas yang digunakan adalah uap bekas distasiun gilingan dan suplesi uap kering dari ketel. Dalam setiap pan dapat vacuum yang bertekanan berfungsi untuk menstabilkan suhu. Sebelum digunakan pan-pan ditarikkan vacuum dan jika pan sudah terisi vacuum diantara 60cmhg maka pan siap digunakan. Langkah langkah Memasak : Membuat hampa udara didalam pan masakan. Menarik larutan (nira, stroop, dsb) Afsluiter. Membuka uap bekas. Memasukkan bibitan. Memasak tua. Membesarkan Kristal. Menurunkan masakan. o Masakan A diturunkan ke koeltrog 11 , 12, 13, 14 o Masakan C diturunkan ke koletrog 9 , 10 o Masakan D diturunkan ke koeltrog 1 , 2 , 3 , 4 , 5 , 6 , 7 , 8

Agar dapat mengambil gula dalam bentuk Kristal sebanyak-banyaknya dengan biaya yang rendah serta hasil Kristal menurut syarat-syarat yang diminta, maka pengkristalan dijalankan secara bertingkat,umumnya dikerjakan dalam 3 atau 4 tingkat tergantung HK nira. Tiap-tiap tingkat pemasakan diberi tanda dengan huruf A,B,C,D, jadi ada Kristal masakan A, masakan B, masakan C, masakan D. Masakan A adalah pengkristalan yang pertama dihasilkan Kristal A dan larutan yang disebut setrop A ini yang dipakai bahan utama membuat masakan B, menghasilkan Kristal B dan setrup. Setrup B ini yang dipakai bahan utama membuat masakan C, menghasilkan Kristal D dan setrup D. Setrup D adalah setrup terakhir dan tidak lagi diambil kristalnya dalam pabrik disebut Tetes ( melasse).

1. Masakan A4 Nira kental dari peti tunggu dialirkan menuju pan masakan sampai volume 150 HL, kemudian dimasak sampai kekentalan 3 cm lalu ditambah babonan gula C

20 HL dan gula dimaskan hingga Kristal merata. Setelah merata ditambahkan nira kental sampai volume 300 HL. Setelah Kristal dihasilkan agak besar kemudian masakan A4 dibagi menjadi 2 bagian yaitu A2 A2 2. Masakan A2 Masakan A2 merupakan hasil masakan dari A4 ditambahkan nira kental sedikit demi sedikit. Cara ini dilakukan agar tidak timbul Kristal palsu, sebab Kristal palsu dapat mengganggu proses di stasiun putaran. Kristal palsu dapat dilebur dengan nira kental atau dapat juga dengan air siraman. Penambahan nira kental / air siraman tergantung pada volume masakan A2 apabila volume masakan A2 sudah 300 HL, dapat dilebur dengan air siraman dan jika volumenya kurang dari 300 HL, maka harus dilebur dengan nira kental A2 siap dibagi menjadi 2 bagian yaitu A1 A1 3. Masakan A1 Setelah masakan masing-masing 100 HL, lalu ditambahkan nira kental hingga volume yang diinginkan. Kristal hasil dari masakan ini harus berukuran 0,9 1,0 mm, apabila gula yang di hasilkan Vicos maka dapat ditambahkan surfactant (MJ SUF). Kristal gula yang telah memenuhi syarat siap di turunkan ke koeltrog untuk di dinginkan kemudian di pompa menuju ke HGF (High Grade Fugal).

4. Masakan C Untuk membuat masakan C maka mengambil stroop A sebanyak 120 HL ditambahkan nira kental sebanyak 30 HL larutkan dibuat jenuh dalam, lalu diberi bibitan gula D sebanyak 30 HL setelah dimasak maka dilihat apakah masih mengandung kotoran, jika masih dapat disiram dengan air kemudian dimasak lagi. Setelah ukuran Kristal 0,5 mm lalu Kristal di tuakan. Setelah Kristal telah memenuhi syarat maka siap di turunkan ke koeltrog untuk di dinginkan kemudian di pompa menuju ke LGF (Low Grade Fugal).

5. Masakan D2 Untuk membuat masakan D2 bahan yang diperlukan stroop A dengan volume 150 HL kemudian di masukkan ke dalam pan yang telah terisi vacuum stroop A dimasak dalam pan dan diberi BIBIT FONDANT. Setelah Kristal sudah merata maka

di tambahkan stroop A lagi hingga volume 200 HL kemudian dimasak hingga Kristal agak keras. Gula D2 di pecah menjadi 2 yaitu D1 D1 6. Masakan D1 Masakan D2 dibagi menjadi 2 bagian yaitu D1 D1 masing-masing dengan volume 100 HL. Kemudian masakan tersebut ditahan hingga kelihatan tua setelah warna gula sudah tua kemudian ditambahkan klare C dan klare D hingga kristalnya merata dan volume 200 HL.

VI.3.SPESIFIKASI ALAT DI STASIUN MASAKAN 1. Sulfitasi Nira Kental : alat yang digunakan untuk pemucatan nira kental dengan pH 5,5 5,6. Sulfitasi nira kental yang telah diuapkan, mempunyai viscositas 30 32 Be dan kandungan bahan kering dalam nira kental dibuat sekitar 60 65 % Brix dimaksudkan agar larutan mendekati konsentrasi jenuh. Nira mempunyai kemurnia sekitar 80 90 yang akan memiliki kejenuhan pada % Brix 75 pada suhu 60C. dimana nira inilah akan diproses lanjut yaitu kristalisasi, yang seelumnya telah mengalami pemurnian. 2. Pan Masakan : berfungsi untuk memasak nira kental menjadi Kristal gula. 3. Vacuum Meter : berfungsi untuk mengetahui berapa tekanan dalam pan masakan. 4. Kaca Penglihat : berfungsi untuk melihat volume Kristal gula dalam masakan. 5. Palung Pendingin (Koeltrog) : berfungsi sebagai penurun suhu, dimana di dalam palung ini terjadi proses kristalisasi lanjut dengan membuat massa bergerak dan bersirkulasi agar terjadi pencampuran merata dari larutan dan butir-butir Kristal, untuk itu palung di lengkapi dengan pengaduk berkecepatan rendah. 6. Pompa Masquite : berfungsi untuk memompa dari palung menuju ke stasiun putaran.

BAB VII STASIUN PUTARAN


VII.1.TUJUAN Stasiun Putaran bertujuan untuk memisahkan antara Kristal gula dengan larutannya. Pada dasarnya untuk mendapatkan Kristal yang murni dari campuran ini maka harus dilakukan pemisahan, pemisahan ini dilakukan dalam suatu alat saringan dengan menggunakan Dryer Centrifugal sebagai pendorong, karena adanya gaya centrifugal maka massa yang telah dimasukkan kedalam alat pemutar ini akan terlempar menjauhi titik pusat perputarannya, karena adanya saringan pada bagian dindingnya maka Kristal akan tertahan sedangkan larutannya akan menembus lubang- lubang saringan, dengan demikian akan terpisahkan antara Kristal dengan larutannya.

VII.2.PROSES STASIUN PUTARAN Di PG. Djombang Baru terdapat 2 stasiun putaran, yaitu : Stasiun HGF(High Grade Fugal) : untuk memutar masakan A. Stasiun LGF (Low Grade Fugal) : untuk memutar masakan C dan D.

VII.3.1.Stasiun HGF (High Grade Fugal) Pada putaran HGF ini fungsinya memisahkan gula SHS, klare SHS, stroop A. Dalam stasiun ini terdapat 5 buah putaran dengan kecepatan 1000 rpm. Masakan A dari stasiun masakan dipompa menuju HGF untuk diputar. Pada putaran I dan II digunakan untuk memutar hasil masakan A yang akan menghasilkan gula A dan stroop A. Lalu stroop A ditampung ditempat penampungan yang kemudian dipompa menuju stasiun masakan dan digunakan sebagai bahan masakan gula C, D1 dan D2 dalam putaran ini ditambahkan air dengan suhu 30C untuk memudahkan proses pemisahan antara gula SHS, stroop A, dan klare A. Gula SHS dipompa menuju penampungan atas untuk diputar pada putaran IV dan V. Pumutaran ini berfungsi untuk memisahkan antara gula produk dan klare SHS. Dalam putaran ini ditambahkan dengan air bersuhu 30C dan steam dengan suhu 40 - 45C, berfungsi untuk mengeringkan gula yang terdapat pada putaran IV dan V.

Klare SHS yang dihasilkan dari putaran IV dan V ditampung di penampungan bawah / penampungan klare kemudian dipompa menuju stasiun masakan untuk digunakan sebagai bahan masakan gula A. Gula SHS yang dihasilkan dikeluarkan ke talang getar dan menuju ke stasiun penyelesaian.

Cara menjalankan HGF secara manual: 1. Sakelar distel pada posisi manual, kemudian tombol reset ditekan, alat siap dioperasikan. 2. Tombol run ditekan dan basket mulai berputar secara perlahan, kemudian ditekan lagi tombol load yang akan menyebabkan RPM bertambah hingga mencapai RPM 275 kemudian menurun menjadi 225 sehingga pintu pengisian terbuka dengan ketebalan tertentu yang dapat diatur. 3. RPM basket bertambah kembali, bersama dengan itu pintu pengisian ditutup, setelah berputar 20 detik dilakukan pencucian selama 5 detik agar sirup lebih mudah lepas dari kristalnya. 4. Untuk putaran SHS, setelah pencucian dilakukan penyetuman selama 50 detik yang dimaksudkan untuk pengeringan. 5. Perputaran berlanjut sampai RPM 1000, 60 detik kemudian berputar menurun dan secara otomatis pengereman dilakukan sampai berhenti. Kemudian sungkup bawah membuka bersamaan dengan perputaran secara lambat. 6. Skaper bergerak kebawah melepas gula yang menempel pada dinding screen, dengan arah putar balik. 7. Setelah gula dalam basket habis, alat akan kembali pada kedudukan semula dan siap untuk dioperasikan kembali.

VII.3.2.Stasiun LGF (Low Grade Fugal) Pada putaran LGF ini fungsinya untuk memisahkan masakan C antara gula C dan klare C juga memisahkan masakan D antara gula D1 dengan tetes dan bibitan gula D2 dengan klare. Dalam stasiun ini terdapat 7 buah putaran, antara lain Putaran I III yaitu digunakan untuk memutar hasil masakan D1 Putaran IV V yaitu digunakan untuk memutar hasil masakan C Putaran VI VII yaitu digunakan untuk memutar hasil masakan D2

Proses pemutaran masakan C Hasil masakan C yang telah didinginkan di koeltrog 9 10 dipompa menuju LGF dan di putar pada putaran VI V, tetapi yang digunakan hanyalah putaran V sedangkan putaran IV hanyalah sebagai cadangan. Masakan C diputar dalam waktu 2 jam per koeltrog. Hasil dari putaran masakan C adalah gula C, serta stroop C yang dihasilkan dipompa menuju stasiun masakan dan digunakan untuk pembibitan pada pembuatan gula A. Sedangkan klare C dipompa menuju ke tempat penampungan di stasiun masakan. Proses pemutaran masakan D1 Hasil masakan D1 didinginkan di koeltrog 1 8, hasil masakan ini dipompa menuju ke LGF untuk diputar pada putaran 1 III, masakan D1 juga diputar selama 2 jam per koeltrog, dan menghasilkan gula D1 dan tetes hasilnya dibawa ke tempat penampungan tetes. Sedangkan gula D1 diputar lagi diputaran VI VII yang menghasilkan bibitan D2 dan klare D2 kemudian dipompa menuju ke stasiun masakan untuk dibuat masakan A.

Pemberian air dan uap pada putaran: Pemberian air dan uap ini bertujuan untuk membantu proses pemisahan Kristal dengan larutan induknya, sehingga gula lebih bersih dan putih , untuk pemberian uap da n air selengkapnya yaitu: Putaran A diberi air panas Putaran SHS diberi air panas dan uap Putaran A diberi air panas Putaran D1 diberi air dingin Putaran D2 diberi air panas Mixer diberi klare SHS

VII.3.HASIL STASIUN PUTARAN HGF Gula SHS Klare SHS Stroop A LGF Gula C

Stroop C Gula D1 Tetes Gula D2 Stroop D2

VII.4.SPESIFIKASI ALAT DI STASIUN PUTARAN Mesin di stasiun HGF, antara lain : 1. Centrifugal machine for high grade I, II, III Alat yang digunakan untuk memisahkan gula A dan sirup A. 2. Mixer Pengaduk setelah pemisahan gula A dan sirup A. 3. Centrifugal machine for high grade IV, V Alat untuk memisahkan gula SHS dan klare SHS. 4. Magma pump mixer gula A. Untuk memompa sirup A yang telah dipisahkan dengan gula A menuju pemasakan. 5. Tank stroop for high grade Alat untuk menampung sementara sirup A yang telah dipisahkan dengan gula A. 6. Talang getar A/B Alat untuk membawa dan meratakan gula. 7. Talang getar D Alat untuk mengeringkan gula. Mesin di stasiun LGF, antara lain : 1. Centrifugal machine for low grade I, II, III Alat yang digunakan untuk memisahkan antara gula D dan tetes. 2. Centrifugal machine for high grade VI, VII Alat yang digunakan untuk memisahkan antara gula D2 dan stroop D2 3. Centrifugal machine for high grade V Alat yang digunakan untuk memisahkan antara gula C dan stroop C.

BAB VIII STASIUN PENYELESAIAN


VIII.1.TUJUAN Stasiun Penyelesaian merupakan perlakuan lanjut terhadap gula produk keluar dari stasiun pemutaran. Denagn tujuan untuk menghasilkan gula yang kering., kristal gula yang rata serta warna kristal gula yang putih sebelum dimasukkan kedalam gula penyimpanan.

VIII.2.PROSES STASIUN PENYELESAIAN Gula yang berasal dari stasiun putaran memiliki kelembaban yang cukup tinggi sehingga perlu dikeringkan. Gula dari puteran SHS ini turun ke Grass Hopper( talang goyang ) menuju Bucket Elevator I. Pada Bucket Elevator I terjadi pemutaran agak cepat dengan tujuan agar tidak terjadi penggumpalan Kristal gula. Dari bucket elevator I, gula masih agak basah masuk ke Sugar Dryer and Cooler. Pertama-tama gula akan melewati Sugar Dryer untuk pengeringan lebih lanjut sehingga kelembaban dapat turun, disini dilakukan pengeringan dalam ruang tertutup dengan dihembuskan udara kering bersuhu 100C, lalu gula akan melewati Sugar Cooler yang mana dilakukan pendinginan dengan jalan dihembuskan udara pendingin dari cooling fan, hembusan udara kering dengan tekanan 4kg/cm2 dari forced draf fan. dimana suhu masuk gula 55C dan diharapkan suhu gula produk kurang dari 40C, karena jika lebih dari 40C maka dalam pengepakan gula, gula panas akan berubah warna menjadi merah kecoklatcoklatan. Pada alat sugar dryer and cooler ini juga dilengkapi dengan penghisap debu (blower) yang bertugas untuk menghisap debu gula yang ditimbulkan pada saat proses pengeringan dan pendinginan. Kristal yang keluar dari sugar dryer and cooler akan dibawa ke saringan gula, untuk dipisahkan antara gula halus, kasar dan gula produknya. Bagian dari sugar Dryer : Drying Fan Terdapat pada sap bagian dan digunakan sebagai tempat penambahan udara panas dengan suhu 80 100 C. Cooling Fan Di dalam cooling fan didinginkan dengan udara dingin yang berasal dari compressor dengan tekanan 1 2 kg/cm2 dan di tamping pada collector sweet pump.

Suction Fan Di dalam suction fan gula di hisap dengan tekanan 1 cmHg, gula yang telah masuk ke collector circulation pump untuk di semprot dengan air yang mempunyai suhu 40C, tujuan dari penyemprotan adalah untuk melarutkan gula dan air, sisa uap yang dihasilkan dibuang melalui cerobong asap, airnya dialirkan menuju tempat pembuangan limbah untuk diolah.

Gula produk yang dihasilkan dari sugar dryer kemudian dialirkan menuju Bucket Elevator II yang mempunyai jumlah 74 timba dan mempunyai prinsip kerja seperti Bucket Elevator I, kemudian Kristal gula menuju vibrating screen yang dilengkapi dengan saringan untuk memisahkan antara gula kasar, gula standart dan gula halus. Gula kasar dan gula halus yang dihasilkan dari pemisahan vibrating screen kemudian dimasukkan ke remelt tank mixer. Disana gula kasar dan gula halus dilarutkan dengan air dan menjadi larutan gula yang kemudian di alirkan menuju remelt tank pump untuk di pompa menuju ke stasiun masakan. Gula standart yang dihasilkan dialirkan menujur lekt conveyor yaitu alat yang terbuat dari karet yang digunakan sebagai jalan gula menuju magnet separator. Disana logam-logam yang mungkin ada di dalam Kristal gula akan terpisah. Dari magnet separator, Kristal gula ditimbang dan masuk ke sugar bin yang merupakan tempat menampung Kristal gula ( produk ) sebelum dikarungi kedalam sak gula. Berat gula dalam karung adalah 50kg, dalam sugar bin dilengkapi dengan backing scale pada saluran output. Backing scale adalah suatu alat bantu timbang sekaligus sebagai alat pengeluaran gula sehingga akan lebih mudah untuk dikemas dalam tepat 50kg (netto). Gula yang telah dikemas dalam sak lalu ditimbang lagi dengan timbangan berkel untuk pengecekan berat gula dalam karung, bila lebih maka akan dikurangi, sebaliknya bila kurang akan ditambahi. Setelah itu karung diangkut menuju stamvlor dengan tujuan untuk penampungan sementara dan pengecekab untuk dicatat dilaporan harian.

VIII.3. SPESIFIKASI ALAT DI STASIUN PENYELESAIAN 1. Talang Getar (Gress Hopper) Untuk mengangkat Kristal gula ke stasiun penyelesaian. 2. Bucket Elevator I Untuk mengangkat Kristal gula dari bawah ke atas dengan bantuan 24 timba yang di gerakkan oleh motor penggerak. 3. Drying Fan Untuk penambahan udara panas. 4. Cooling Fan

Untuk proses pendinginan Kristal gula. 5. Suction Fan Untuk menghisap uap yang tidak diperlukan di dalam Kristal gula. 6. Vibrating screen Untuk memisahkan antara gula kasar, gula standart dan gula halus. 7. Belt Conveyor Untuk jalannya gula menuju Magnet Seperator. 8. Magnet Seperator Untuk memisahkan antara logam-logam yang tidak diperlukan dengan gula produk. 9. Sugar Home Untuk mengemas gula ke dalam karung. 10. Timbangan Untuk menimbang berat gula yang akan dikemas.

BAB IX LABORATORIUM
IX.1.PENDAHULUAN Tebu adalah tanaman jenis rumput-rumputan yang di dalam batangnya banyak mengandung gula; berdiameter 2 4 meter. Secara utuh, tebu terdiri dari daun, pucuk, batang bongkotan dan akar. Di pabrik gula; daun, pucuk, dan akar disebut kotoran tebu, sedangkan bongkotan yang masih tertanam di tanah dimanfaatkan lagi untuk diambil sebagai bahan baku (bibit) tebu keprasan. Batang tebu adalah tebu yang bebas dari daun/ klaras, pucukan ( 40cm keatas dari titik tumbuh), bongkotan ( 20cm keatas dari akar paling bawah )dan akar. Didalam batang tebu inilah terkandung paling banyak gula tebu, khususnya sukrosa ( C11H22O11). Batang tebu disebut juga tebu layak giling. Pada umumnya, komposisi tebu terdiri dari nira tebu( 73 83 % tebu ) dan sabut tebu ( 12 20 % tebu ). Di dalam nira tebu terdiri dari brix atau zat padat terlarut ( 10 15 % tebu ) dan air tebu (65 75 % tebu ). Di dalam brix tebu terdiri dari gula tebu atau sukrosa ( 9 11 % tebu ) dan gula ( 1 7 % tebu ). Jika tebu segar dan tepat masak diperah dengan gilingan contoh dengan faktor perah sekitar 60 %, dihasilkan nira perahan pertama atau NPP (sekitar 60% tebu) dan ampas gilingan pertama atau APP (sekitar 40%). Di dalam NPP terkandung brik NPP (16,0 24,0 % ) dan air NPP (76 84 % NPP). Di dalam brix NPP terkandung sukrosa (15,2 22,8 % NPP) dan bukan gula (1,0 1,2 %) untuk lebih jelasnya dapat dilihat grafik pada Gambar 2.

Tebu (100 %) Nira (73 83) Brix (10 15 ) Gula Pol (9 14) Gambar 1. Komposisi Tebu Air (65 75) Bukan Gula (1 7) Sabut (12 20)

Tebu (100)

NPP (100)

NPP (sekitar 60) 84) (a)

APP (sekitar 40)

Brix NPP (16 24)

Air (76

Sukrosa (15,2 22,8) (b)

Bukan Gula (1 1,2)

Gambar 2. (a) Komposisi tebu ditinjau dari NPP , dan (b) Komposisi NPP

Pada saat ini banyak digunakan alat praparasi tebu (Shredder atau Unigrator) agar tebu yang diumpankan ke unit gilingan pertama mudah dicerna, dan diharapkan seluruh gula yang dikandung tebu dapat diperah. Indeks penyediaan tebu cacah (Preparation Index, PI atau Pol Open Cell, POC) merupakan suatu besaran yang biasa digunakan untuk menilai keberhasilan alat praparasi pabrik gula. Nilai PI atau POC berkisar antara 75 95. Semakin tinggi nilai PI atau POC menunjukkan semakin baik alat preparasi yang digunakan. Analisa kualitas merupakan suatu kebutuhan untuk mengetahui mutu suatu bahan. Analisis kualitas nira yang dilakukan di Unit Penggilingan meliputi : 1. Analisis kualitas tebu cacah yang berkaitan dengan alat preparasi yang digunakan, yaitu untuk mengetahui Preparation Index (PI) atau Pol Open Cell (POC). 2. Analisis kualitas ampas gilingan akhir untuk mengetahui pol dan bahan kering ampas gilingan akhir. 3. Analisis kualitas nira nira gilingan untuk mengetahui pol dan brix nira nira gilingan. Proses pemurnian dilakukan di Unit Pemurnian dalam Stasiun Pengolahan. Unit pemurnian nira bertugas membuang bukan gula dalam nira mentah sehingga kemurnian (HK pol) nira jernih yang dihasilkan lebih tinggi daripada nira mentahannya, kadar gula reduksi tidak meningkat, kadar CaO total, kekeruhan dan warna nira jernih rendah. Tiga faktor penting dari kondisi operasional proses yang mempengaruhi hasil pemurnian nira, yaitu pH, suhu dan waktu. Nilai keasaman nira (pH) pada umumnya merupakan efek dari hasil reaksi bercampurannya beberapa bahan secara kimiawi. Suhu pemurnian selama proses liming berlangsung mempengaruhi kualitas nira jernih. Pada kondisi suhu yang semakin tinggi (10 110C) dan pH yang semakin rendah (7,2 4,4). Sedangkan kerusakan gula reduksi meningkat pada kondisi pH tinggi (8 11) dan suhu tinggi (60 - 110C). oleh karena itu

kondisi operasional proses pemurnian nira perlu dicari optimalnya untuk mendapatkan kualitas nira jernih yang baik. Analisis kualitas nira yang dilakukan di Unit Pemurnian meliputi : 1. Analisis brix 2. Pol 3. Fosfat 4. CaO 5. Warna 6. Turbiditas.

Pada keadaan khusus diperlukan analisis sukrosa, gula reduksi dan TSAI. Proses penguapan dilakukan di Unit Penguapan dalam Stasiun Pengolahan. Unit penguapan bertugas mengentalkan nira encer yang mula mula brix 12 % dipekatkan menjadi brix 65 %. Dalam proses penguapan dijaga sedemikian rupa agar tidak terjadi kerusakan gula yang ada menjadi warna (rasio sukrosa / gula reduksi semakin rendah), banyak gula yang ikut menempel pada dinding bejana penguapan (rasio CaO nira kental / nira encer lebih rendah dari normal) namun demikian daya penguapan dalam batas normal (sekitar 25 kg/cm2 LP/jam). Analisis kualitas nira yang dilakukan di Unit Penguapan meliputi : 1. Analisis brix 2. Pol 3. Sukrosa 4. Gula reduksi 5. CaO 6. Warna Proses memasak, mengkristalkan dan memisahkan Kristal dengan stroop-nya dilakukan di Unit Masakan dan Putaran dalam Stasiun Pengolahan. Tugas di Unit Masakan dan Putaran ini dilakukan semaksimal mungkin sehingga stroop terakhir (tetes) tidak ada yang dapat lagi dikristalkan. Analisis kualitas nira yang dilakukan di Unit Masakan dan Putaran ini meliputi : 1. Analisis brix 2. Pol Tujuan dari menengahkan analisis kualitas nira dari bahan alur proses di pabrik gula ini, khususnya bagi Pemula, dalah untuk menambah wawasan bagaimana menentukan kualitas nira dan bahan alur proses di Stasiun Gilingan dan Pengolahan. Sebaliknya bagi yang

sudah berkompeten dalam masalah ini, anggaplah sebagai refresing untuk mengingat kembali bahwa analisis kualitas nira dan bahan alur proses cukup penting khususnya untuk pengawasan mutu dalam proses pabrikasi. Pada proses pengolahan gula di Pabrik Djobang Baru terdapat Laboratorium, yang digunakan untuk melakukan analisa dan hasil dari analisa itu digunakan untuk pengawasan proses di pabrikasi serta penilaian hasil kerja dari stasiun-stasiun lainnya. Tujuan dari diadakannya analisa ini adalah : 1. Untuk mengetahui seberapa besar gula yang dihasilkan dari bahan baku yang masuk, sehingga kehilangan gula dapat ditekan. 2. Untuk mengetahui apakah proses yang dilakukan sudah memenuhi ketentuan sehingga apabila terjadi penyimpangan dapat segera diketahui dan diatasi. 3. Menjaga agar kualitas produk sesuai yang diharapkan, sehingga dari analisa tersebut akan diketahui juga efektifitas alat yang dioperasikan.

IX.2.ANALISA UMUM 1. Brix Adalah Zat padat kering terlarut dalam suatu larutan ( gram per 100 gram larutan) yang dihitung sebagai sukrosa. Alat yang digunakan untuk mengukur brix ialah piknometer, hidrometer, dan refaktometer. 2. Pol Adalah Jumlah gula (gram) yang terlarut dalam 100 gram larutan yang mempunyai kesamaan putaran optic dengan sukrosa murni terlarut dalam air. Alat yang digunakan untuk mengukur pol suatu larutan dula ialah polarimeter atau sakarimeter. 3. HK Harga kekentalan dihitungan dari %pol dan brik 4. Analisa Shrap Analisa yang tidak menggunakan proses pengenceran. 5. Analisa Masquite Analisa yang menggunakan proses pengenceran. 6. Sukrosa Adalah Gula Kristal yang manis rasanya, dibuat dari tebu atau beet, mempunyai rumus kimia C12H22O11 , mempunyai sifat aktif optik ( memutar bidang polarisasi ). Dengan adanya sifat ini maka kadar gula ( sukrosa/ zat aktif optik lainnya ) dalam suatu larutan gula dapat ditentukan kadarnya dengan cara polarisasi.

7. Gula reduksi Adalah Gula yang mempunyai gugus aldehida atau keton bebas yang dalam suasana basa dapat mereduksi logam-logam, sedangkan gula itu sendiri teroksidasi menjadi asam-asam (asam aldonat , asam ketonat , atau asam uronat ). 8. Totas Sugar as Invert (TSAI) Adalah Jumlah semua gula yang ada didalam suatu larutan yang dihitung sebagai gula reduksi setelah larutan tersebut diinversi dengan asam. 9. Pengukuran Warna Nira Ada 2 cara untuk mengukur warna nira, cara Bottlers dan cara ICUMSA. Cara Bottlers warna diukur pada 2 panjang gelombang tanpa menyaring nira yang akan dikur warnanya, yaitu pada panjang gelombang 420 nm dan 720 nm. Namun di PG. Djombang Baru ini menggunakan cara ICUMSA, karena cara Bottlers untuk skala rutin pada industry minuman atau makanan. Pada cara ICUMSA warna diukur pada panjang gelombang 420 nm, yaitu setelah disaring terlebih dahulu dengan kiezelguhr (larutan penjernih) dan telah dinetralkan pada pH 7 dengan asam atau basa. Warna ICUMSA adalah nilai indeks absorbans dikalikan dengan 1000. 10. Pengukuran Turbiditas (kekeruhan) Hasil pemurnian nira ataupun penjernihan dalam analisis pol nira seharusnya jernih. Jika tidak terjadi demikian (keruh), khususnya dalam pemurnian nira dampak tak langsung adalah gula Kristal putih yang dihasilkan bernampak mangkak dan dop (tidak bercahaya), sedangkan untuk penjernihan memberikan dampak langsung tidak dapat dibaca dengan polarimeter. 11. Kadar Phospat Phospat dalam pemurnian nira diperlukan untuk membantu pembentukan endapan yang lunak dan kompak sebagai Ca3(PO4)2. Untuk keperluan pengendapan tersebut dibutuhkan kadar phospat dalam nira mentah sekitar 250 350 mg P2O5/liter nira mentah (=ppm). Untuk mengetahui kecukupan phospat dalam nira mentah, maka nira mentah perlu diukur kadar phospatnya. Jika kurang dari 250 ppm, perlu ditambahkan phospat dari luar. 12. Kadar Kapur Analisa kadar kapur dalam contoh nira dan bahan alur proses pabrikasi digunakan cara kompleksometris. 13. Kualitas Ampas Gilingan Akhir (AGA)

Ampas gilingan akhir (AGA) adalah bahan padatan berupa serabut hasil pemerahan cacahan tebu di unit gilingan yang keluar dari unit gilingan terakhir suatu pabrik gula.

IX.3.LANGKAH KERJA ANALISA

Analisa Shrap
Bahan : - NPP - Gil 2 - Gil 3 - Gil 4 Peralatan : - Tabung Mohl - Brix Weger - Labu Ukur - Corong Prosedur : 1. Ambil sampel pada masing-masing sampel nira yang akan di analisa. 2. Masukkan sampel ke dalam tabung mohl. 3. Masukkan brix wager ke dalam tabung mohl, untuk membaca brix dan suhu 4. Ambil 100 ml, kemudian masukkan ke dalam labu ukur, lalu tambahkan 5 ml form A dan form B. Kocok hingga homogen. 5. Kemudian saring dikertas saring (ulangi penyaringan 2 kali sampai terlihat jernih) 6. Masukkan sampel ke dalam tabung Pol buis, dan lihat hasil putarannya di timbangan Sucromat. 7. Hitung brix , % pol dan HK Perhitungan : Brix terbaca Suhu Suhu terkoreksi Brix terkoreksi = 1350 = 305 = 020 ( lihat tabel) = Brix terbaca + Suhu terkoreksi = 1350 + 020 = 1380 Putaran = 344 - Kertas Saring - Timbangan Sucromat - Tabung Pol buis - Gil 5 - Nira Mentah 1 - Nira Mentah 2 - Nira Tapis - Nira Encer - Form A - Form B

% Pol

= 924 + 11 (lihat tabel brix terbaca + putaran ) = 935

HK = = = 677 % x 100 %

x 100 %

Analisa Masquite
Bahan : - Analisa stroop A - Analisa stroop C - Analisa stroop D - Analisa tetes - Analisa Masakan A - Analisa Masakan C Peralatan : - Tabung Mohl - Brix Weger - Labu Ukur - Corong - Gelas Ukur Prosedur : Analisa Stroop A 1. Ambil sampel stroop A, lalu timbang sebanyak 150 gr dan encerkan dengan air hingga volume menjadi 1500 gr. Aduk sampai rata. 2. Masukkan ke dalam tabung mohl 3. Masukkan brix wager ke dalam tabung mohl, untuk membaca brix dan suhu 4. Ambil 100 ml, kemudian masukkan ke dalam labu ukur, lalu tambahkan 5 ml form A dan form B. Kocok hingga homogen. 5. Kemudian saring dikertas saring (ulangi penyaringan 2 kali sampai terlihat jernih) 6. Masukkan sampel ke dalam tabung Pol buis, dan lihat hasil putarannya di timbangan Sucromat. 7. Hitung brix , % pol dan HK - Kertas Saring - Timbangan Sucromat - Tabung Pol buis - Pengaduk - Askan (150 gr) (150 gr) (150 gr) (150 gr) (300 gr) (150 gr) - Analisa Masakan D - Analisa Nira Kental - Form A - Form B - Air (150 gr) (500 gr)

Perhitungan: Brix terbaca Suhu Suhu terkoreksi Brix terkoreksi = 840 = 315 = 0272 ( lihat tabel) = Brix terbaca + Suhu terkoreksi = 84 + 272 = 356 Putaran % Pol = 518 HK = = = 145 % Perhitungan distroop C, stroop D, tetes, masakan A, masakan C, masakan D, nira kental semuanya sama. x 100 % x 100 % = 187 = 499 + 019 (lihat tabel brix terbaca + putaran )

Pengukuran Turbidity
Bahan : - Sampel NE - Aquades Peralatan : - Cuvet dan Spektrumlab Prosedur : 1. Masukkan sampel NE tersebut ke dalam cuvet. 2. Mengamati absorben pada spektrumlab dengan panjang gelombang 900 Perhitungan : Absorbensi sampel NPP = 0,269 Standart turbidity = 50 Standart aquades = 0,075 Rumus :

C2 =

= = 179 ppm Analisa Gula Reduksi pada Nira Mentah 2 (NM2)


Bahan : - Larutan EDTA 4% - Indikator Methylen Biru - Larutan Standard Fehling A dan B Peralatan : - Labu takar 250 ml - Pipet Gondok - Pipet skala 10 ml - Seperangkat buret lane dan Eynon Prosedur : 1. Menimbang sampel nira (NM2) sebanyak 12 gram 2. Memasukkan ke dalam labu takar 100 ml 3. Menambahkan HCl 1:1 sebanyak 10 ml 4. Menambahkan aquades sampai garis tanda 5. Mengocok campuran hingga homogen selanjutnya larutan campuran ini disebut dengan larutan A 6. Menyiapkan masing-masing 5 ml Fehling A dan 5 ml Fehling B lalu ditempatkan dalam erlenmeyer 300 ml mulut lebar. Selanjutnya larutan ini disebut larutan B 7. Mengisi buret lane dan eynon dengan 50 ml larutan A, selanjutnya mengurangi 15 ml larutan dalam buret untuk ditambahkan dalam larutan B pada erlenmeyer 300 ml mulut lebar 8. Mengamati warnnya hingga merah bata sambil digoyang-goyang dan suhu dikondisikan sebesar 1500C, lalu menambah 2 tetes indikator metilen biru. 9. Selanjutnya menitrasi dengan larutan A hingga warnanya merah bata dan mengamati garis tanda titran pada buret. Perhitungan : Volume titrasi Faktor Fehling % pol = 26,7 ml = 1,03932 = 10,26 - Hot plane - Erlenmeyer 300 ml mulut lebar - Beaker glass - Sampel NM2 - Aquades

Berat nira sampel = 12 gram Volume titrasi sebenarnya = Volume titrasi x Faktor fehling = 26,7 x 1,03932 = 27,7 Volume titrasi sebenarnya 27,7 menunjukkan bahwa titrasi tersebut berada pada rentang 27 dan 28 % Pol dalam titrasi =

=
= 1,23 Hasil interpolasi Vol titrasi 27 27,7 28 Y 1 186,7 Y 180,2 = 186,7 + X 1,23 2 183,7 Z 177,5 x (180,2 186,7)

= 186,7 + (0,7 x (-6,5)) = 186,7 + (-4,55) = 182,15 Z = 183,7 + x (177,5 183,7)

= 183,7 + (0,7 x (-6,2)) = 183,7 + (-4,34) = 179,36 X = 182,15 + x (179,36 182,15)

= 182,15 + (0,77 x (-2,79)) = 182,15 + (-2,15) = 180 Gula Reduksi = = = 1,5 % x 100% x 100%

Hasil Pengamatan : Warna setelah titrasi = merah bata

Analisa Sakarosa pada Nira Perahan Pertama (NPP)


Bahan: - Sampel NPP (Filtrat NPP) - HCl 1:1 15 ml - Keisselguhr Peralatan : - Labu takar - Kertas saring - Erlenmeyer - Pol buis selubung air - Form A dan B - Aquades

Pembuatan Sampel NPP (Filtrat NPP) 1. Mengambil 100 ml NPP 2. Menambah dengan 5 ml Form A dan 5 ml Form B 3. Menyaring dengan kertas saring sehingga diperoleh warna filtrat yang jernih Prosedur Analisis Sakarosa: 1. Mengambil Filtrat NPP sebanyak 25 ml dan memasukkan dalam labu takar 50 ml. 2. Menambah HCl 1:1 sebanyak 15 ml lalu mengocok hingga homogen. 3. Mendiamkan campuran selama 2 jam. 4. Menambahkan kiesselguhr lalu menambah aquades hingga tanda batas. 5. Mengamati putaran dengan pol buis selubung air Perhitungan : Diketahui : Brix terkoreksi = 16,08 Densitas = 1,06162 Putaran Invert = -7,12oZ Suhu = 27,5oC (T) % Pol = 11,98 Ketetapan = 0,286 Rumus S = Cara Mencari I = x 100%

= =

= -3,8
Cara Mencari C = Dengan tabel antara -7,12 dengan suhu 27,5oC Hasil interpolasi Vol titrasi -7 -7,12 -8 Y = 144,90 + 26 C 144,84 Y 144,90 X 27,5C 28C 144,90 Z 144,95 (144,84 144,90)

= 144,90 + (0,12 x (-0,06)) = 144,90 +(-0,0072) = 144,89 Z = 144,95 + (144,90 144,95)

= 144,95 + (0,12 x (-0,05)) = 144,95 + (-0,006) = 144,94 X = 144,94 + (144,89 144,94)

= 144,94 + (0,25 x (-0,05)) = 144,90 +(-0,0125) = 144,93 Jadi, C = 144,93 S = = = x 100% x 100% x 10%

` = 12,03% Hasil Pengamatan : Warna Filtrat NPP = Kuning Filtrat NPP + HCl = Kuning muda Filtrat NPP + HCl + kiesselhgur = Kuning muda

Analisa Phospat Pada Nira Pemerah Pertama (NPP)


Bahan: - Aquades - Sampel NPP - Reagent 1 dan Reagent 2 Peralatan : - Labu takar - Komparator - Kertas saring whatman Prosedur : 1. Mengambil 1 ml nira sampel (NPP) dan mengencerkan dengan 50 ml aquades 2. Mengambil 10 ml nira yang telah diencerkan dan memasukkan ke dalam komparator dan saring dengan kertas saring whatman. 3. Menetesi reagent phospat 1 dan phospat 2 ke dalam komparator sebanyak 10 tetes 4. Mengocok dan mendiamkan selama 10 menit 5. Mengamati hasil dan menyamakan warna dengan alat komparator Perhitungan : Kadar Phospat = skala perubahan warna pada komparator x volume pengenceran = 5 x 50 = 250 Hasil Pengamatan : Warna sampel nira (NPP) setelah diencerkan : cokelat tua Warna campuran setelah didiamkan selam 10 menit : Hijau kebiruan

Analisa Phospat Pada Nira Mentah 2 (NM2)


Bahan: - Aquades - Sampel NM2 - Reagent 1 dan Reagent 2 Peralatan : - Labu takar - Komparator - Kertas saring whatman Prosedur : 1. Mengambil 1 ml nira sampel (NM2) dan mengencerkan dengan 50 ml aquades

2. Mengambil 10 ml nira yang telah diencerkan dan memasukkan ke dalam komparator dan saring dengan kertas saring whatman. 3. Menetesi reagent phospat 1 dan phospat 2 ke dalam komparator sebanyak 10 tetes 4. Mengocok dan mendiamkan selama 10 menit 5. Mengamati hasil dan menyamakan warna dengan alat komparator Perhitungan : Kadar Phospat = skala perubahan warna pada komparator x volume pengenceran = 5,8 x 50 = 290 Hasil Pengamatan : Warna sampel nira (NPP) setelah diencerkan : cokelat tua Warna campuran setelah didiamkan selam 10 menit : Hijau kebiruan

Analisa Kadar Kapur pada Nira Encer


Bahan : - Sampel nira (nira encer) - Aquades - KCN 10% Peralatan : - Cawan porselen - Pipet Gondok - Batang Pengaduk Prosedur : 1. Mengambil sampel nira encer sebanyak 5 ml lalu meletakkan ke dalam cawan porselen 2. Menambahkan aquades sebanyak 45 ml 3. Menambahkan buffer amoniak sebanyak 2 ml 4. Menambahkan 2 ml KCN 10% 5. Menambahkan indikator EBT sebanyak 3 tetes 6. Menambahkan EDTA 0,1 N ke dalam buret (sebagai titran) 7. Titrasi berhenti jika sudah terjadi perubahan warna menjadi hijau. Perhitungan : Rumus = = x 1 x 4,5 x normalitas EDTA x angka hasil titrasi - Buret - Gelas ukur - EDTA 0,1 N - Indikator EBT - Buffer amoniak

= 900 ppm Hasil Pengamatan : Warna sampel nira dan air = kuning muda Warna campuran = cokelat muda Warna campuran setelah titrasi = hijau

Analisa Icumsa pada GKP


Bahan : - Sampel GKP - Kiesselghur - HCl 0,05 N Peralatan : - Hand Brix - Spektrumlab Prosedur : 1. Mengambil sampel (GKP) sebanyak 50 gram dan menambah dengan aquades 50 ml 2. Melihat brix, sebelumnya diencerkan 5 ml sampel dan 5 ml aquades. 3. Melihat densitas (melihat tabel) 4. Menambah kiesslghur sebanyak 2 gram 5. Menyaring dengan kertas whatman 6. Mengamati absorben pada spektrumlab dengan panjang gelombang 420 Perhitungan : Brix = 23 x 2 = 46 BJ = 1,20455 dilihat pada tabel dengan melihat nilai brix (46) Absorben Nira sampel dilihat setelah diamati dengan Spektrumlab = 0,166 IU = - Kertas saring whatman - Corong kaca - Aquades - NaOH 0,05 N

= = = 299,5887 iu
Hasil Pengamatan : Warna sampel (GKP) + air sampel = cokelat muda Hasil saringan = larutan cokelat muda

Analisa Icumsa pada NPP


Bahan : - Nira sampel berupa NPP - Aquades - NaOH 0,05 N Peralatan : - Hand Brix - Spektrumlab Prosedur Analisa Icumsa : 1. Mengambil nira sampel (NPP) sebanyak 10 ml dan menambah dengan aquades 50 ml diaduk hingga homogen (agar bisa menjadikan brix 2 5) 2. Mengamati brik dengan hand brik kemudian melihat densitas dengan tabel 3. Menambah kiesslghur sebanyak 2 gram 4. Menyaring dengan kertas whatman 5. Lalu melihat nilai pH, bila > 7 maka ditambah dengan HCl 0,05 N, bila < 7 ditambahkan/dinaikkan dengan NaOH 0,05 N. 6. Mengamati absorben pada spektrumlab dengan panjang gelombang 420 Perhitungan : Brix = 4 BJ = 1,01197 dilihat pada tabel dengan melihat nilai brix (4) Absorben Nira sampel dilihat setelah diamati dengan Spektrumlab = 0,175 IU = - Kertas saring whatman no 42 - Corong kaca - HCl 0,05 N - Kiesselghur

= = = 4323,25 iu
Hasil Pengamatan : Warna nira sampel (NPP) + air sampel = cokelat muda Hasil saringan = larutan cokelat muda

Analisa TSAI dan TSAS Nira Mentah


Bahan : - Indikator MB - Aquades - NaOH 4% - Indikator PP Peralatan : - Labu takar 250 ml - Pipet skala 10 ml - Hot plane - Beaker glass Prosedur : 1. Menimbang nira mentah sebanyak 20 gram dalam labu takar 250 ml 2. Mengencerkan hingga tanda batas labu kemudian menngocok hingga homogen selanjutnya larutan hasil percampuran ini disebut Larutan A 3. Mengambil 50 ml larutan A dalam beaker glass 250 ml kemudian menambahkan HCl 1:1 sebanyak 10 ml lalu mencampurkan hingga homogen 4. Memanaskan selama 15 menit pada suhu 60oC. Setiap 2-3 menit sekali digoyanggoyang agar suhu dalam cairan bisa homogen 5. Mendinginkan cairan tersebut hingga mencapai suhu ruangan lalu meletakan dalam labu ukur 250 ml 6. Menambah larutan EDTA 4% sebanyak 4 ml 7. Menetralkan dengan PP dan NaOH 4%. Pada penambahan ini dikondisikan larutan dapat netral setelah penetasan pertama NaOH menghasilkan warna merah muda. Kemudian menambah aquades hingga tanda batas. Lalu hasil percampuran ini disebut larutan B 8. Menyiapkan masing-masing 5 ml Fehling A dan 5 ml Fehling B lalu ditempatkan dalam erlenmeyer 300 ml mulut lebar. Selanjutnya larutan ini disebut larutan C 9. Mengisi buret lane dan eynon dengan 50 ml larutan B, selanjutnya mengurangi 15 ml larutan dalam buret untuk ditambahkan dalam larutan C pada erlenmeyer 300 ml mulut lebar 10. Mengamati warnnya hingga merah bata sambil digoyang-goyang dan suhu dikondisikan sebesar 1500C, lalu menambahkan 2 tetes indikator metilen biru. - Pipet Gondok - Seperangkat buret lane dan Eynon - Erlenmeyer 300 ml mulut lebar - Nira mentah 20 gram - Fehling I dan Fehling II - EDTA 4 % - Larutan HCL 1:1

11. Selanjutnya menitrasi dengan larutan B hingga warnanya merah bata dan mengamati garis tanda titran pada buret. Perhitungan : Berat nira mentah = 20 gram Volume titran = 34 ml Faktor Fehling = 0,98765 Volume titran sesungguhnya = 34 x 0,98765 = 33,6 ml. Hasil volume titran sesungguhnya dilihat pada tabel sehingga di dapat 154,0 mg gula reduksi per 100 ml titran Berat nira mentah dalam 100 ml titran = 1600 gram Kadar TSAI dalam nira mentah = x 100% = 9,63%

Kadar TSAS dalam nira mentah = 0,95 x 9,63 % = 9,15 % Hasil Pengamatan : Warna larutan A = Cokelat tua Warna larutan B = larutan kuning Warna larutan C = biru tua Hasil larutan setelah titrasi = merah bata

Analisa Blotong
Bahan : - Blotong - Air - Form A dan Form B Peralatan : - Cawan Porselin - Labu Takar - Labu ukur - Kaleng - Polbuis Prosedur : 1. Timbang blotong 50 gram. 2. Tumbuk sampai halus dan masukkan dalam labu takar 200 ml. 3. Tambahkan air sampai tanda batas. - Oven - Corong - Kertas Saring - Penjepit - Schromat

4. Tambahkan form A dan form B masing-masing 5 ml. 5. Tapis dan lihat putarannya. 1. Timbang blotong 20 gram. 2. Letakkan pada kaleng dan masukkan ke dalam oven pada suhu 400C selama 4 jam. 3. Lalu timbang sampel beserta kalengnya. Perhitungan : Blotong Kaleng dan blotong Selama 4 jam Air Air dalam 100 blotong Bahan kering Gula Hasil Pengamatan : Blotong yang dioven , tidak mengandung kadar air dan sangat kering Blotong yang ditumbuk berwarna hitam dan setelah ditapis berwarna kuning = 20 = 1000 = 890 = 110 = 55 = 45 = 5,8

Analisa Ampas
Bahan : - Ampas dari gilingan terakhir - Air - Form A dan Form B Peralatan : - Tahang - Polbuis - Kertas saring Prosedur : 1. Timbang ampas gilingan akhir sebanyak 1 kg, masukkan dalam alat ekstraksi 2. Tambahkan air 10 liter dan panaskan dialihkan selama 1 jam terhitung mulai adanya tetesan uap air dalam kace 3. Larutannya dinginkan dan masukkan ke labu takar 100-110 ml sampai garis tanda 100 ml 4. Tambahkan form A dan form B masing-masing 5 ml, kocok dan tapis - Labu Ukur - Corong - Schromat

5. Lihat putarannys Perhitungan : Berat tahang masak + 1 kg ampas Berat tahang masak + ampas kering Berat air Kadar air Kadar zat kering Percobaan Polarimeter Kadar Pol (tabel) Hasil Pengamatan : Ampas yang dimasak menghasilkan air berwarna coklat Ampas yang dikeringkan menjadi kering dan tidak menghasilkan kadar airnya = 6870 = 6365 = 505 = 505 = 495 (1000-505) = 21 (1,07 x 2) = 315

Analisa COD (manual)


Bahan : - Air Limbah - Larutan K2Cr2O7 0,1 N - H2SO4 pekat - AgSO4 1,25% Peralatan : - Erlenmeyer - Destilasi dengan kondensor dan heating mantel - Hot plate - Buret Prosedur : 1. Masukkan 25 ml K2Cr2O7 0,1 N ke dalam erelnmeyer. 2. Ambil 30 ml H2SO4 3. Ambil 20 ml contoh dari pengenceran 10x 4. Tambahkan 10 ml AgSO4 1,25% 5. 5 butir batu didih 6. Didihkan selama 2 jam dan dinginkan 7. Tambahkan 50 ml aquadest sambil bilas kondensor 8. Beri 5 tetes indicator ferroin 9. Titrasi dengas FAS (Fe (NH4)2 SO4 0,1 N) - Batu didih - Indikator ferroin - Fas-ferro ammonium sulfat - Aquades

Perhitungan : Diketahui : Titrasi Blanko Titrasi Contoh


Mg

= 26,0 = 24,0

/l

= = = = 784,24 mg/l Analisa COD

Bahan : - Sampel limbah cair - Reagen COD (K2Cr2O7 , H2SO4 , AgSO4) Peralatan : - Filter fotometer - Erlenmeyer untuk mengambil sampel - Reaktor / pemanas dengan suhu 150C selama 2 jam - Pipet 2 ml Prosedur : 1. Sampel limbah polutan dan non polutan 2. Temperatur diukur 3. Diambil 2 ml 4. Dimasukkan cuvet yang berisi reagen COD 5. Dikocok hingga homogen 6. Dimasukkan ke dalam reagen pada suhu 150C selama 2 jam 7. Dinginkan 15 menit 8. Filter fotometer di nyalakan (on) 9. Pilih CSB 1500 10. Masukkan larutan standart COD 11. Tekan zero 12. Sampel dimasukkan

Analisa PI (Preparation Index)


Tujuannya untuk mengukur kemampuan sleder yang menyediakan ampas cacah untuk gilingan I. Bahan : Peralatan : Prosedur : 1. Ambil 1 kg ampas sebelum masuk pada gilingan I dan ditambahkan air 3 liter. 2. Diputar di tumbler selama 10 menit. 3. Ambil nira dan amati brixnya. Perhitungan : % PI = x 100% Tumbler Jevcoo - Hand brix - Labu ukur Sampel ampas Air

Analisa POC (Pol Open Cell)


Tujuannya untuk mengamati kemampuan sleder yang membuka sel-sel pada batang tebu. Bahan : Peralatan : Prosedur : 4. Ambil 1 kg ampas sebelum masuk pada gilingan I dan ditambahkan air 3 liter. 5. Diputar di tumbler selama 10 menit. 6. Ambil nira dan amati polnya. Perhitungan : % POC = x 100% Tumbler Jevcoo - Pulbuis - Labu ukur Sampel ampas Air

BAB X PENGOLAHAN LIMBAH


X.1.TUJUAN Pengolahan Limbah bertujuan untuk mencegah dampak negative yang terjadi akibat dari pembuangan limbah yang dihasilkan dari produksi gula, dimana lingkungan merupakan salah satu faktor yang penting Sejalan dengan program PG. Djombang Baru selalu memperhatikan penanganan limbah, yang dihasilkan baik limbah padat, cair maupun gas. Untuk menghasilkan limbah yang memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan oleh premarital maka diperlukan suatu unit pengolahan limbah (UPL) yang tepat dan ekonomis. Berdasarkan dampak penting yang dapat terjadi sebagai akibat dan kegiatan pabrik gula sesuai PP no 29 tahun 1986 tentang AMDAL, maka PG. Djombang Baru telah melakukan study analisa di bidang lingkungan (SEL). X.2.JENIS JENIS LIMBAH DAN PENANGANAN XI.2.1.Limbah Padat Limbah Padat adalah limbah yang dihasilkan dari stasiun pemurnian dan hasil dari bahan bakar ketel. Limbah padat dibuang ke lingkungan harus dianalisir kandungan yang ada didalamnya. Analisa tersebut bertujuan untuk menekan seminimal mungkin zat-zat yang terkandung dalam limbah padat. Limbah Padat yang dihasilkan oleh PG. Djombang Baru ini dibedakan menjadi 3, yaitu : 1. Blotong Merupakan limbah padat hasil dari proses pengolahan gula yang masih mengandung nira. Penanganan didalam pabrik meliputi : Endapan yang dihasilkan dari proyek penapisan nira pada RVF. Blotong yang berbobot 50 ton/hari tersebut juga dianalisa dilaboratorium pabrikasi untuk mengetahui kadar gula dan zat kering dari blotong tiap jamnya. Manfaat dan syarat penggunaan blotong : i. Digunakan untuk pupuk : Harus untuk lahan yang baik.

Nilai nisbah karbon terhadap nitrogen (C/N ratio) dibawah 15. Dosis 20-40 ton/Ha/3 tahun untuk tanah sawah. Maksimum 40 ton/Ha/3 tahun untuk tanah tegalan. ii. Digunakan untuk bahan bakar : Dicetak seperti balok. Blotong yang dicetak dipanaskan secara alamiah dibawah sinar matahari sampai kering. Setelah kering, sebelum digunakan sebagai bahan bakar disimpan terlebih dahulu ditempat tertutup dan kering. Sebelum digunakan blotong, dijemur kembali kemudian dipotong sesuai kebutuhan. iii. Digunakan untuk tanah uruk : Lahan yang akan diuruk tidak berdekatan dengan sumber air (sumur). Lahan yang akan diuruk tidak terdapat tanaman produksi. Lahan tidak miring. Bagian tepi yang diuruk dibuatkan tanggul pengaman untuk mencegah blotong agat tidak longsor ke tempat lain. Setelah diuruk sebaiknya permukaan blotong ditutup. 2. Abu Ketel Merupakan limbah sisa hasil pembakaran bahan bakar ketel (ampas tebu atau residu). Abu ketel memiliki kandungan unsur logam dengan kondisi yang tidak berbahaya karena masih dibawah amang kotor. Abu ketel dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : a. Abu dapur ketel Adalah abu yang di dapat dari kapur api ketel. Penanganan didalam pabrik sebagai berikut : Abu ketel secara periodic dikorek dan dikeluarkan dari kapur kemudian disiram air untuk memadamkan bara api. Abu ketel diangkat dengan truk untuk dibuang ketempat penampungan milik pabrik yang jauh dari pemukiman penduduk dengan luas area 1.960 Ha. Area penampungan abu diberi pagar pembatas dengan pondasi beton. b. Abu cerobong ketel

Adalah abu yang di dapat dari hasil penangkapan abu yang ikut asap cerobong dan ditangkap dengan spray air. Penanganan didalam pabrik sebagai berikut : Abu yang keluar terbawa asap cerobong kabel ditangkap dengan sprayet (Dust Collector). Sebagian abu yang terendapkan dengan air conveyor, abu ditarik masuk ke truk abu. Abu yang belum terendapkan dipompa ke bak pengendapan abu, dimana abu akan mengendap sedang airnya terus mengalir. Setiap 3 kali sehari baik yang terisi abu dilakukan pebgedukan untuk dibuang. Penanganan diluar pabrik sebagai berikur : Tumpukkan abu dilokasi penampungan diratakan (dengan tractor atau menual). Mencegah adanya sumber api disekitar lokasi. Manfaat dan syarat penggunaan abu ketel sebagai berikur : Diaduk dengan blotong hingga homogen. Digunakan sebagai pupuk dasar dengan dosis 40 ton/Ha. Nilai nisbah karbon (C/IV ratio kurang dari 15) 3. Ampas Ampas berasal dari gilingan akhir dan digunakan sebagai bahan bakar ketel untuk proses produksi, bila berlebih dilakukan pengebalan dan sisanya dijual. Produksi rata-rata mencapai 700 ton/hari.

X.I.2.Limbah Cair Limbah cair adalah semua hasil dari sisa proses produksi, yang berupa cairan limbah cair tersebut dibedakan menajdi 2, yaitu : 1. Limbah Cair Polutan Limbah cair pulutan yang berasak dari bekas cucian evaporator, juice heater, dan pending in metal gilingan tidak dapat dibuang secara bebas sehingga perlu penanganan yang lebih khusus. Pada IPAL (Instalasi Penanganan Air Limbah), limbah harus sampai memenuhi baku mutu lingkungan agar dapat dibuang ke sungai Co Kenongo. 2. Limbah cair non-polutan

Limbah cair non-polutan yang berasal dari pendingin palung masakan dan air pendingin kondensor dapat dibuang secara bebas ke sungai karena tidak berbahaya bagi masyarakat sekitar. Tapi sebagian limbah ini akan di recycle apabila debit air sungai Gude / Co Kenongo tidak cukup. Pengolahan Limbah Cair : Adapun pengolahan limbah ini adalah sebagai berikut : 1. Pemisah Minyak Limbah sebelum masuk kolam pemisah minyak mempunyai suhu 40 41C yang kemudian dilewatkan saringan untuk menghindari kotoran-kotoran kasar yang masuk kolam ( sampah atau ampas ). Pada proses pemisah minyak bertujuan memisahkan sejumlah minyak yang terkandung dalam limbah air dengan cara pemasangan sekat yang berfungsi untuk membantu memisahkan minyak. Minyak harus diencerkan dari sistem ini karena dapat membunuh mikroorganisme yang terdapat dalam air limbah. 2. Pengendap Disini kotoran yang lolos dari saringan dibiarkan mengendap sehingga mongering kadar zat tettarium. Pada kolom ini terjadi kegiatan mikroorganisme anaerob karena rendahnya kadar oxygen yang treading ( dapat dilihat dari COD hasil analisa ) 3. Aerasi Limbah cair setelah diendapkan dikolam pengendap kemudian dialirkan ke kolam aerasi, disini oxygen di distribusi kedalam kolam diatur merata dengan bantuan kompresor, hal ini untuk menaikkan kadar oxygen sehingga memberi kesempatan mikroorganisme untuk hidup. Pada PG. Djombang Baru jenis dari pengolahan adalah type aerasi facultative dimana di bagian tengah hingga kolam dikembangkan bakteri anaerob. Dan bagian tengah hingga atas kolam adalah bakteri aerob, yakni dengan penggunaan bakteri Inola 121. Untuk pH ( keasaman ) dari limbah yang masuk diatur sekitar normal 6 7 dengan jalan menambahkan kapur. Dan untuk memenuhi oxygen udara dihembuskan melalui surface aerator. 4. Penetral Pada kolam ini terjadi penetralan limbah yang diproses sebelum dibuang ke sungai. Limbah organic biasanya bersifat asam untuk menentralkan bisa ditambahkan soda kapur atau larutan soda api, bekas peaking dari stasiun penguapan.

5. Kolam Kontrol Untuk mengetahui tingkat keberhasilan penanganan limbah ini diperlukan kolam control. Sebagai indicator kolam control dapat iguana lumut, jentik-jentik yang berkembang biak. Kedua indicator tersebut berarti proses penanganan limbah berhasil dan dapat dialirkan ke sungai.

BAB XI PENUTUP
XI.1.KESIMPULAN Setelah melakukan kerja praktek di PG. Djombang Baru, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. PG. Djombang Baru memproduksi gula Kristal putih dari bahan baku tebu dengan kapasitas giling sekitar 20.000 kuintal tebu per hari. Sedangkan produk samping yang dihasilkan adalah tetes, blotong, dan ampas. 2. Proses pengolahan gula melalui tahapan-tahapan, yaitu tahap persiapan, stasiun penggilingan, stasiun pemurnian, stasiun penguapan, stasiun masakan, stasiun putaran, dan stasiun penyelesaian. 3. Bahan baku utama pembuatan gula PG. Djombang Baru adalah tebu, dengan bahan pembantu belerang, asam phospat, kapur, dan flokulan. 4. Waktu giling tebu tidak berlangsung sepanjang tahun, biasanya 6 bulan mengingat umur efektif tebu, lahan, dan waktu tanam tebu. 5. Proses pengolahan tebu hingga menjadi gula merupakan aliran produksi yang harus beroperasi secara teratur. Pengawasan mutu dilakukan dengan analisa laboratorium untuk setiap tahapan proses pada setiap stasiun selama proses berlangsung. Sebagai pembanding digunakan angka-angka standart. 6. Penanganan limbah yang dilakukan : Blotong digunakan sebagai bahan bakar, pupuk, dan tanah urukan. Limbah cair polutan diproses di Instalasi Pengolahan Limbah Cair (IPAL) sebelum dibuang ke sungai. Pemasangan dust collector untuk menangkap abu ketel.

7. Pembersihan dan perawaran dari peralatan pabrik yang telah digunakan dalam proses giling dilakukan setiap tahun sebelum memasuki masa giling berikutnya.

XI.2.SARAN Persediaan tebu yang terlalu berlebihan sebaiknya dikurangi agar tidak terjadi kehilangan sakarosa akibat menunggu terlalu lama di emplassement. Penanganan dan pengolahan limbah lebih ditingkatkan.

Meningkatkan mutu tebu dari kebun, misalnya penelitian untuk mendapatkan tebu dengan kadar sakarosa. APD untuk para pekerja kurang memadahi, harus ditingkatkan lagi. Pipa-pipa gas yang bocor serta mesin-mesin yang rusak sebaiknya diperbaiki agar tidak mengganggu para pekerja dan proses kerja mesin dalam bekerja.

XI.3.KESAN Selama melakukan kerja praktek di PG.Djombang Baru, kami memperoleh banyak pengetahuan baru. Kami mendapat penjelasan dari pembimbing lapangan, chemiker, para karyawan, dan mandor. Beliau memperlakukan kami dengan baik dan ramah. Hal ini membuat kami tidak merasa sungkan untuk menanyakan segala sesuatu yang belum kami pahami di pabrik. Kami merasa sangat senang karena kami diijinkan melihat proses secara detail dan diberi kesempatan melihat alat-alat lebih dekat, bahkan kami juga turut serta melakukan analisa di laboratorium. Meskipun kami tidak selalu bisa berdiskusi dengan pembimbing lapangan, namun kami tetap bisa mempelajari proses di pabrik dari chemiker yang bertugas. Para chemiker dengan sabar memberi pengarahan dan mengantar kami di tempat-tempat yang perlu dipelajari. Kami sangat berterimakasih karena telah diterima dengan baik dan telah diberi pengetahuan yang sangat berguna bagi kami.