Anda di halaman 1dari 25

Persalinan atas kesadaran dan permintaan si Ibu ditolong oleh tenaga kesehatan (dokter, bidan dan para medis

lainnya) dirumah atau disarana kesehatan Target : 58% ( 2009)

PERTOLONGA N PERSALINAN OLEH TENAGA KSESEHATAN EFEKTIF TURUNKAN AKI DI INDONESIA


Penyebab langsung kematian ibu di Indonesia, 80 % karena komplikasi obstetri dan 20 % oleh sebab lainnya. Sedangkan penyebab tidak langsung adalah 3 Terlambat dan 4 Terlalu. Tiga faktor terlambat yang dimaksud adalah terlambat dalam mengambil keputusan, terlambat sampai ke tempat rujukan, dan terlambat dalam mendapat pelayanan di fasilitas kesehatan. Adapun 4 terlalu adalah terlalu muda saat melahirkan, terlalu tua melahirkan, terlalu banyak anak, dan terlalu dekat jarak melahirkan. Untuk mengatasi hal itu diperlukan upaya pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan keterlibatan masyarakat madani termasuk organisasi profesi dalam menurunkan AKI (Angka Kematian Ibu) di Indonesia. Hal itu disampaikan Menkes, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH. Dr. PH saat membuka Dialog Interaktif Nasional Tanggung Jawab Bersama Mengurangi Kematian Ibu dan Balita , tanggal (10/05, 2010) di Jakarta yang dihadiri 425 peserta, terdiri dari 84 organisasi wanita. Dalam acara itu juga hadir, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari, S. IP. Acara ini diselenggarakan sebagai rekomendasi Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) ke-23 pada bulan Desember 2009. Salah satu hasilnya adalah menurunkan AKI dan AKB sebagai sasaran dalam pencapaian MDGs ( Millenium Development Goals ). Selanjutnya Menkes menegaskan, sesuai RPJMN tahun 2010-2014, sasaran pembangunan kesehatan, yaitu; menurunnya AKI sebesar 118 per 100 ribu KH (Kelahiran Hidup), meningkatnya umur harapan hidup (72 tahun), menurunnya angka kematian bayi (AKB) sebesar 24 per 1000 KH dan menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita menjadi 15%. Kesehatan anak di Indonesia, ujar Menkes terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu sebagai akibat dari perbaikan pelayanan kesehatan. Sebagai contoh, hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007, menunjukkan AKB (34 per 1000 KH) dan angka kematian balita/AKABA (44 per 1000 KH), dan AKI (228 per 100 ribu KH). Target pencapaian sasaran di tahun 2015 yaitu, AKB 23 per 1000 KH dan AKBA 32 per 1000 KH. Menurut Menkes, untuk menjamin upaya kesehatan yang berkualitas diperlukan reformasi kesehatan. Pertama, terlaksananya revitalisasi Puskesmas sebagai primary health care berfungsi sebagai pusat pembangunan wilayah perluasan kesehatan, pusat pemberdayaan kesehatan, pusat pelayanan kesehatan primer, dan pusat pelayanan perorangan primer. Kedua, meningkatkan distribusi, mutu serta terwujudnya pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan ke seluruh wilayah Indonesia secara merata, termasuk distribusinya ke Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK). Ketiga, pemanfaatan obat generik dan produksi bahan baku obat sendiri secara maksimal, salah satunya dengan saintifikasi jamu. Keempat, menjamin kesehatan bagi setiap orang terutama masyarakat miskin sesuai UUSJSN melalui jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) dengan memperluas cakupan kepesertaan. Kelima, mengatasi permasalahan pelayanan kesehatan di Daerah yang Bermasalah Kesehatan (PDBK). Keenam, melaksanakan sistem Reformasi Birokrasi untuk menghindari terjadinya penyimpangan administratif, contohnya transparansi data base dan

prosedur-prosedur pelayanan adminstrasi serta proses pengadaan barang dan jasa yang sudah melalui proses e-procurement. Ketujuh, mengupayakan pelayanan kesehatan dengan taraf Internasional bagi masyarakat Indonesia melalui World Class Health Care, ungkap Menkes. Sementera itu, Meneg PP dan PA, Linda Amalia Sari, S.IP, menyatakan dalam RPJMN 2010-2014 dan Kepres No. 5 tahun 2010, ada 3 hal yang harus diarusutamakan, antara lain; pembangunan berkelanjutan dan pengarusutamaan gender. Pengarusutamaan gender mencerminkan kesejajaran peran perempuan dan laki-laki dalam pembangunan nasional, salah satunya adalah Anggaran Responsif Gender, yang berfungsi mengakomodir dan mewadahi kepentingan perempuan dan laki laki dalam setiap pelaksanaan program, termasuk upaya percepatan penurunan angka kematian ibu. Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 02152907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-500567, 30413700, atau alamat email puskom.publik@yahoo.co.id, info@puskom.depkes.go.id, kontak@puskom.depkes.go.i d.

Hubungan Pengetahuan Tentang Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan dengan Sikap Ibu Hamil Terhadap Persalinan oleh Tenaga Kesehatan di Desa XX Posted on 29 April 2009 by grahacendikia Kehamilan merupakan saat yang menyenangkan dan dinati-nantikan oleh setiap keluarga, tetapi juga dapat menjadi saat kegelisaah dan keprihatinan sebagai resiko dari kehamilan dan atau proses persalinan yang akan dihadapi. Kematian seorang ibu dalam proses persalinan atau akibat lain yang berhubungan dengan kehamilan merupakan suatu pengalaman yang menyedihkan bagi keluarga dan anak yang ditinggalkannya. Potensi resiko pada suatu kehamilan dan persalinan selalu bisa terjadi, baik rendah maupun tinggi untuk terjadinya komplikasi obstetri, yang dapat menyebabkan kematian / kesakitan / kecacatan / ketidakpuasan atau ketidaknyamanan. Kondisi nyata di Indonesia menunjukkan Angka Kematian Ibu / AKI masih sangat tinggi, yaitu 373/100.000 KH, dengan jumlah kasus perdarahan 45,5%, eklampsia 12,9%, aborsi 11,1%, sepsis post partum 9,6%, partus lama 6,5%, anemia 1,6% dan penyebab tidak langsung 14,1%.

Salah satu indikator proses yang penting dalam program safe motherhood (perlindungan terhadap ibu) adalah memperhatikan seberapa banyak persalinan yang dapat ditangani oleh tenaga kesehatan. Persalinan oleh tenaga kesehatan di Indonesia walaupun menunjukkan kenaikan yang signifikan, namun jangkauannya masih rendah dan akibat dari masih ada persalinan oleh tenaga non kesehatan maka merupakan penunjang tingginya angka kematian ibu. Tidak tersedianya bidan di desa menyebabkan alternatif dukun beranak sebagai hanya satusatunya pilihan. Namun tidak selamanya masalah kekurangan tenaga bidan menjadi penyebab masyarakat memilih pertolongan persalinan pada dukun beranak. Pelayanan dukun yang

dirasa lebih baik membuat masyarakat desa cenderung meminta pertolongan pada dukun bayi. Pelayanan ekstra yang diberikan dukun tersebut antara lain secara rutin memandikan bayi, merawat, memijat bayi dan ibu nifas, mencuci pakaian, membuat jamu, serta memandu acara-acara ritual kelahiran bayi yang masih menjadi budaya kental yang berlaku di kalangan masyarakat desa. Sebagai contoh di wilayah kerja Puskesmas Sumbermanjing Kulon semua desa telah memiliki bidan desa, termasuk di desa Sumberkerto. Masyarakat di wilayah desa ini telah mengetahui keberadaan bidan desa yang menempati polindes di pusat desa. Tetapi mereka cenderung memanfaatkan tenaga bidan hanya untuk melakukan pemeriksaan kehamilan saja, sedangkan untuk pertolongan persalinannya banyak yang memilih melahirkan di dukun. Pertolongan persalinan yang tidak aman dan sehat oleh tenaga yang tidak profesional dapat meningkatkan resiko komplikasi kehamilan dan persalinan berupa kematian ibu dan atau kematian bayi. Jika kondisi ini dibiarkan pada akhirnya akan menimbulkan korban akibat pertolongan yang salah. Hal ini dibuktikan dengan adanya kasus persalinan yang dilakukan oleh dukun pada Januari 2007, dimana terjadi partus lama yang menimbulkan kematian pada janin dan ibu. kejadian ini seharusnya menjadi pelajaran yang berharga bagi seluruh elemen masyarakat, terutama ibu-ibu hamil agar mereka mengetahui, memahami, dan menyadari tentang metode persalinan aman dan sehat. Masyarakat terutama ibu-ibu seharusnya memiliki sikap berupa keyakinan terhadap pertolongan persalinan sehat yang ditangani oleh tenaga kesehatan/bidan, namun kenyataannya walaupun telah ada kasus kematian ibu bersalin karena pertolongan yang tidak benar, banyak ibu hamil yang masih saja tidak mau melahirkan di bidan. Bisa jadi hal ini terjadi karena kurangnya wawasan dan pengetahuan ibu tentang metode persalinan sehat dan aman yang seharusnya menjadi pilihan utama mereka.

Program promosi Rancangan program promosi kesehatan memfokuskan bagaimana program kemitraan pelayanan persalinan terpadu dapat membantu peningkatan upaya keselamatan ibu dengan menjalin kemitraan dengan lintas sektoral yang terkait. Kemitraan mengandung arti saling bertukar pengetahuan, sumberdaya dan komitmen untuk mencapai tujuan bersama. Untuk itu diperlukan sikap saling menghargai dan keterbukaan tentang semua hal.

Kemitraan dengan wanita. Pendekatan partisipasif ini melibatkan kaum ibu mampu mengenali dan menentukan prioritas masalah kesehatan ibu, menyusun rencana pemecahan masalah bersama pemerintah setempat dan melaksanakannya. Beberapa kegiatannya adalah pelatihan dukun bayi, pendidikan dan pelatihan kaum wanita dan pria tentang persalinan yang

aman dirumah serta tentang keluarga berencana, mengembangkan persiapan rujukan ke rumah sakit dan mengembangkan materi informasi tentang kesehatan reproduksi. Kemitraan dengan masyarakat dan dukun bayi. Pelatihan petugas dalamn upaya keselamatan ibu tidaklah lengkap tanpa penyuluhan dan motivasi terhadap keluarga, masyarakat dan dukun bayi.

Kemitraan dengan bidan. Perlu dilakukan dengan asosiasi kebidanan (IBI) dalam mendukung pelayanan kesehatan reproduksi. Melalui asosiasi ini diharapkan para bidan mengikuti program pelatihan kesehatan reproduksi yang mencakup penanganan kegawatan obstetri, pencegahan infeksi dan keluarga berencana. Perhatian utama organisasi ini adalah memaksimalkan kebijakan dan dukungan teknis yang lestari dalam menjaga kualitas pelayanan kesehatan ibu.

Kemitraan dengan penentu kebijakan. Kemitraan antara lembaga pembangunan, donor dan pemerintah diperlukan dalam keberhasilan kegiatan keselamatan ibu. Kemitraan ini telah dilaksanakan didaerah Tanjungsari, menunjukkan kemitraan antara penyandang dana, pelayanan kesehatan pemerintah, tokoh masyarakat. Komitmen nasional terhadap kesehatan ibu oleh Bapenas dan Depkes memberikan lingkungan yang mendukung pelayanan kesehatan ibu. Pemerintah telah menempatkan satu bidan disetiap desa dengan mendidik 55.000 bidan didesa dalam kurun waktu delapan tahun. Pondok bersalin desa dilayani oleh bidan, dukun bayi, dan kader disediakan untuk memberikan pelayanan antenatal dan persalinan ditingkat desa. Disamping itu, kegiatan komunikasi, informasi dan edukasi dilaksanakan untuk mendukung kegiatan ini serta disediakan sarana komunikasi radio dengan fasilitas merespon obstetri gawat. Agar upaya keselamatan ibu tidak hanya sekedar retorika tetapi menjadi kenyataan diperlukan komitmen kuat dari penentu kebijakan, pengelola program dan masyarakat. Implikasi program keselamatan tenaga ibu kesehatan mencakup pada hal setiap ditingkat berikut: persalinan masyarakat

Menjamin Memperluas

kehadiran akses

terhadap

pelayanan

kebidanan

Meningkatkan akses terhadap pelayanan obstetri esensial, termasuk pelayanan gawat darurat Menyediakan pelayanan terpadu kesehatan reproduksi termasuk keluarga berencana dan pelayanan pasca aborsi

Menjamin kesinambungan pelayanan yang berhubungan dengan sarana rujukan dan didukung oleh bahan habis pakai, alat, obat dan transportasi yang memadai. Beberapa 1. Kegiatan kualitas dalam dan menurunkan cakupan AKI pelayanan, yaitu melalui : :

Peningkatan

a. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan antara lain berupa penyediaan tenaga bidan di desa, kesinambungan keberadaan bidan desa, penyediaan fasilitas pertolongan persalinan pada polindes/pustu dan puskesmas, kemitraan bidan dan dukun bayi, serta berbagai pelatihan bagi petugas.

b. Penyediaan pelayanan kegawatdaruratan yang berkualitas dan sesuai standar, antara lain bidan desa di polindes/pustu, puskesmas PONED (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Dasar), Rumah sakit PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Kualitas) 24 jam c. Mencegah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran, antara lain dalam bentuk KIE untuk mencegah terjadinya 4 terlalu, pelayanan KB berkualitas pasca persalinan dan pasca keguguran, pelayanan asuhan pasca keguguran, meningkatkan partisipasi aktif pria

d. Pemantapan kerjasama lintas program dan sektor, antara lain dengan jalan menjalin kemitraan dengan pemda, organisasi profesi (IDI, POGI, IDAI, IBI, PPNI), Perinasia, PMI, LSM dan berbagai swasta.

e. Peningkatan partisipasi perempuan, keluarga dan masyarakat, antara lain dalam bentuk meningkatkan pengetahuan tentang tanda bahaya, pencegahan terlambat 1 dan 2, serta menyediakan buku KIA. Kesiapan keluarga dan masyarakat dalam menghadapi persalinan dan kegawatdaruratan (dana, transportasi, donor darah), jaga selama hamil, cegah 4 terlalu, penyediaan dan pemanfaatan yankes ibu dan bayi, partisipasi dalam jaga mutu pelayanan 2. Peningkatan kapasitas manajemen pengelola program, melalui peningkatan kemampuan pengelola program agar mampu melaksanakan, merencanakan dan mengevaluasi kegiatan (P1 P2 P3) sesuai kondisi daerah. 3. Sosialisasi dan advokasi , melalui penyusunan hasil informasi cakupan program dan data informasi tentang masalah yang dihadapi daerah sebagai substansi untuk sosialisasi dan advokasi. Kepada para penentu kebijakan agar lebih berpihak kepada kepentingan ibu dan anak. Melalui berbagai upaya antara lain peningkatan pelayanan kesehatan, peningkatan kemampuan petugas serta melalui dukungan dan kemitraan berbagai pihak akan sangat menentukan upaya penurunan AKI terutama dengan memperhatikan 3 pesan kunci MPS.

Strategi berbasis masyarakat yang akan mendukung tercapainya tujuan upaya keselamatan ibu meliputi: Melibatkan anggota masyarakat, khususnya wanita dan pelaksana pelayanan setempat, dalam upaya memperbaiki kesehatan ibu. Bekerjasama dengan masyarakat, wanita, keluarga dan dukun/pengobat untuk mengubah sikap terhadap keterlambatan mendapat pertolongan. Menyediakan pendidikan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran tentang komplikasi obstetri serta kapan dan dimana mencari pertolongan. Konsep pengembangan sistem informasi dan pola rujukan dalam peningkatan Upaya kesehatan ibu dapat dimulai dari dukun bayi yang masih menjadi ujung tombak dalam pelayanan persalinan diharapkan telah menjadi bagian tenaga pendampingan yang menjadi bagian integral kemitraan pelayanan persalinan. Penemuan kasus persalinan akan dirujuk oleh dukun bayi ke bidan desa yang kemudian akan dirujuk kepada tingkat yang lebih tinggi (dokter/bidan ditingkat Puskesmas, dokter/bidan rumah sakit tingkat kabupaten/kota dan dokter/bidan rumah sakit tingkat propinsi). Namun demikan alur informasi dapat dirujuk ke jenjang lebih tinggi mengingat kasus kematian persalinan masih banyak terjadi karena keterlambatan dalam memberikan pertolongan persalinan.

Promosi kesehatan dalam sistem informasi diarahkan bagaimana informasi tentang persalinan secepat mungkin sampai kepada masyarakat, tenaga kesehatan yang menolong persalinan sehingga tindakan dini dapat dilakukan dalam menolong persalinan.

Media komunikasi seperti keberadaan handpone dapat dijadikan sebagai sarana dalam menyampaikan informasi persalinan kepada bidan yang akan menolong persalinan. Demikian juga untuk daerah yang sudah maju Dinas Kesehatan perlu merancang media informasi yang dapat diakses secara online melalui pembuatan website tentang kesehatan ibu dan anak. Sehingga melalui website ini masyarakat dapat dengan mudah memperoleh informasi tentang kesehatan termasuk informasi tentang peningkatan upaya keselamatan ibu dalam proses persalinan.

Pertolongan Persalinan oleh NAKES

Pertolongan persalinan oleh nakes yaitu :

Untuk dapat menurunkan angka kematian ibu di Indonesia, Departemen Kesehatan melakukan strategi agar semua asuhan antenatal dan sekitar 60 % dari keseluruhan

persalinan dilayani oleh tenaga kesehatan yang terlatih. Strategi ini dilaksanakan untuk dapat mengenali dan menanggulangi gangguan kehamilan dan persalinan sedini mungkin. Tingginya Angka Kematian Ibu ( AKI ) di Indonesia yaitu 307 per 100.000 kelahiran hidup ( WHO 2002 ) tertinggi di Asean, menempatkan upaya penurunan aki sebagai program prioritas. Penyebab langsung kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan, infeksi dan pre eklampsi. Dan untuk mencegah adanya komplikasi obstetric,serta memastikan bahwa komplikasi terdeteksi sedini mungkin serta ditangani secara memadai maka bidan harus kompeten dalam mengidentifikasi adanya tanda-tanda bahaya terutama pada kehamilan.

Definisi persalinan Persalinan biasa atau normal ( EUTOSIA) adalah proses kelahiran janin pada kehamilan cukup bulan (aterm, 40 minggu), pada janin letak memanjang dan presentasi belakang kepala, yang susut dengan pengeluaran plasenta, dan seluruh proses kelahiran dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa tindakan/pertolongan buatan dan tanpa komplikasi

PARTUS NORMAL ATAU PARTUS SPONTAN bila bayi lahir dengan presentasi letak belakang kepala tanpa memakai alat-alat atau pertolongan istimewa serta tidak melukai ibu dan bayi , umumnya berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam

Tujuan asuhan Persalinan normal oleh nakes: Menjaga kelangsungan hidup dan memberikan derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya, melalui berbagai upaya yang terintegerasi dan lengkap tetapi dengan intervensi yang seminimal mungkin agar prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang diinginkan (optimal).

Bidan, sebagai tenaga kesehatan dalam memberikan asuhan kebidanan kepada ibu hamil harus dapat mengenali dan menanggulangi tanda bahaya kehamilan dan persalinan sedini mungkin. Karena jika hal ini dibiarkan lebih lanjut maka dapat mengakibatkan kematian ibu dan janin. Tanda bahaya kehamilan tersebut antara lain: Perdarahan pervaginam Sakit kepala yang hebat

Penglihatan kabur Bengkak pada wajah, kaki dan jari-jari tangan Gerak janin berkurang Nyeri perut hebat

Perdarahan pervaginam Perdarahan pervaginam dapat terjadi setiap saat pada masa hamil,Perdarahan pada masa kehamilan dapat dibagi menjadi 2 yaitu : Perdarahan pada masa kehamilan muda Yaitu perdarahan yang terjadi pada masa kehamilan kurang dari 22 minggu. Pada masa kehamilan muda, perdarahan pervaginam yang berhubungan dengan kehamilan, dapat berupa: abortus, kehamilan mola, kehamilan ektopik. Perdarahan pada masa kehamilan lanjut Yaitu perdarahan yang terjadi pada usia kehamilan setelah 22 minggu sampai sebelum bayi lahir Perdarahan setelah usia kehamilan 22 minggu biasanya lebih banyak dan lebih berbahaya. Perdarahan ante partum yang berbahaya umumnya bersumber pada kelainan plasenta, Perdarahan pervaginam pada kehamilan lanjut, dua kondisi yang mengancam jiwa adalah plasenta previa solutio plasenta. Kelainan lain ialah perdarahan yang bersumber dari kelainan serviks dan vagina. Kelainan-kelainan yang mungkin tampak ialah erosi porsionis uteri, polip cerviks uteri, varises vulva dan trauma.

Sakit Kepala yang Hebat Nyeri kepala pada masa hamil dapat merupakan gejala pre-eklampsia Sakit kepala yang menunjukkan suatu masalah yang serius adalah: 1. sakit kepala hebat 2. sakit kepala yang menetap dan 3. tidak hilang dengan istirahat. Kadangkadang, dengan sakit kepala yang hebat tersebut, ibu mungkin menemukan

bahwa penglihatannya menjadi kabur atau berbayang. Sakit kepala yang hebat disebabkan karena terjadinya edema pada otak dan meningkatnya resistensi otak yang mempengaruhi Sistem Saraf Pusat, yang dapat menimbulkan kelainan serebral (nyeri kepala, kejang), dan gangguan penglihatan.

Penglihatan Kabur perubahan penglihatan atau pandangan kabur, dapat menjadi tanda pre-eklampsi. Masalah visual yang mengidentifikasikan keadaan yang mengancam jiwa adalah perubahan visual mendadak, misalnya penglihatan kabur atau berbayang, melihat bintik-bintik (spot) , berkunag-kunang.

Bengkak pada wajah,kaki dan tangan Edema ialah penimbunan cairan secara umum dan berlebihan dalam jaringan tubuh, dan biasanya dapat diketahui dari kenaikan berat badan serta pembengkakan kaki, jari tangan dan muka

Edema bisa menjadi menunjukkan adanya masalah serius dengan tanda-tanda antara lain : jika muncul pada muka dan tangan bengkak tidak hilang setelah beristirahat bengkak disertai dengan keluhan fisik lainnya, seperti : sakit kepala yang hebat, pandangan mata kabur dll. Hal ini dapat merupakan pertanda anemia, gagal jantung atau pre-eklampsia

Gerakan Janin Berkurang Gerak janin pertama inutero yang dapat dirasakan ibu disebut quickening, ini terjadi pada usia kehamilan 18 20 minggu pada wanita yang baru pertama kali hamil dan antara minggu ke 16 18 pada wanita yang mengandung bayi berikutnya.

Nyeri Perut yg Hebat Seorang wanita hamil Keluhan nyeri perut dapat merupakan gejala penyakit atau komplikasi yang fatal. Keadaan ini dapat terjadi pada kehamilan muda yaitu pada usia kehamilan kurang 22 minggu ataupun pada kehamilan lanjut yaitu pada usia kehamilan lebih 22 minggu. Selama masa hamil nyeri perut hebat dapat menunjukkan: Kehamilan ektopik

Preeklampsi, Persalinan premature, Solution plasenta. Abortus Ruptura uteri imminens

Kemitraan bidan dg dukun


KEMITRAAN BIDAN DENGAN DUKUN Masalah kesehatan bagi penduduk di kota maupun di perdesaan Indonesia masih saja merupakan masalah yang pelik. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya program kesehatan yang diterapkan dan terus dikembangkan belum berjalan dengan baik, baik itu program kesehatan baru maupun program kesehatan hasil modifikasi program lama. Banyak pelayanan kesehatan yang belum memadai. Indikator yang penting adalah kematian ibu dan bayi yang masih tinggi. Tak dapat disangkal lagi, ilmu kedokteran modern telah berkembang pesat sehingga meninggalkan konsep lama yang dibatasi oleh penggunaan teknis medis modern dalam melawan penyakit. Upaya bidang kesehatan masyarakat seperti peningkatan taraf kesehatan perorangan, pendidikan kesehatan, pencegahan dan pemberantasan penyakit menular, dan keluarga berencana harus juga memperhitungkan pengetahuanpengetahuan lain mengenai kebiasaan, adat istiadat, dan tingkat pengetahuan traditional medicine masyarakat setempat. Seringkali, program kesehatan menemui kegagalan karena dicoba untuk dijalankan hanya semata-mata dengan berpedoman kepada pertimbangan teknis medis yang kaku. Salah satu program yang belum mencapai sasaran sebagaimana yang diharapkan, adalah pertolongan persalinan. Hampir di seluruh Indonesia masih banyak persalinan yang ditolong oleh dukun bayi. Tenaga dukun bayi sejak dahulu kala sampai sekarang merupakan pemegang peranan penting dalam pelayanan kebidanan. Dalam lingkungan dukun bayi merupakan tenaga terpercaya dalam segala soal yang terkait dengan reproduksi wanita. Ia selalu membantu pada masa kehamilan, mendampingi wanita saat bersalin, sampai persalinan selesai dan mengurus ibu dan bayinya dalam masa nifas. Dukun bayi biasanya seorang wanita sudah berumur 40 tahun ke atas. Pekerjaan ini turun temurun dalam keluarga atau karena ia merasa mendapat pangglan tugas ini. Pengetahuan tentang fisiologis dan patologis dalam kehamilan, persalinan, serta nifas sangat terbatas oleh karena itu apabila timbul komplikasi ia tidak mampu untuk mengatasinya, bahkan tidak menyadari akibatnya, dukun tersebut menolong hanya berdasarkan pengalaman dan kurang

professional. Berbagai kasus sering menimpa seoarang ibu atau bayinya seperti kecacatan bayi sampai pada kematian ibu dan anak. Dalam usaha meningkatkan pelayanan kebidanan dan kesehatan anak maka tenaga kesehatan seperti bidan mengajak dukun untuk melakukan pelatihan dengan harapan dapat meningkatkan kemampuan dalam menolong persalinan, selain itu dapat juga mengenal tandatanda bahaya dalam kehamilan dan persalinan dan segera minta pertolongan pada bidan. Dukun bayi yang ada harus ditingkatkan kemampuannya, tetapi kita tidak dapat bekerjasama dengan dukun bayi dalam mengurangi angka kematian dan angka kesakitan (Prawirohardjo, 2005) . A. Pengertian Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan non-medis seringkali dilakukan oleh seseorang yang disebut sebagai dukun beranak, dukun bersalin atau peraji. Pada dasarnya dukun bersalin diangkat berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat atau merupakan pekerjaan yang sudah turun temurun dari nenek moyang atau keluarganya dan biasanya sudah berumur 40 tahun ke atas ( Prawirohardjo, 2005). Dukun bayi adalah profesi seseorang yang dalam aktivitasnya, menolong proses persalinan seseorang, merawat bayi mulai dari memandikan, menggendong, belajar berkomunikasi dan lain sebagainya. Dukun bayi biasanya juga selain dilengkapi dengan keahlian atau skill, juga dibantu dengan berbagai mantra khusus yang dipelajarinya dari pendahulu mereka. Proses pendampingan tersebut berjalan sampai dengan bayi berumur 2 tahunan. Tetapi, pendampingan yang sifatnya rutin sekitar 7 10 hari pasca melahirkan B. Cara-cara yang digunakan oleh para dukun bayi Tak berbeda dengan seorang bidan, dukun beranak melakukan pemeriksaan kehamilan melalui indri raba (palpasi). Biasanya perempuan yang mengandung, sejak mengidam sampai melahirkan selalu berkonsultasi kepada dukun, bedanya dibidan perempuan yang mengandunglah yang datang ketempat praktek bidan untuk berkonsultasi. Sedangkan dukun ia sendiri yang berkeliling dari pintu ke pintu memeriksa ibu yang hamil. Sejak usia kandungan 7 bulan control dilakukan lebih sering. Dukun menjaga jika ada gangguan, baik fisik maupun non fisik terhadap ibu dan janinnya. Agar janin lahir normal, dukun biasa melakukan perubahan posisi janin dalam kandungan dengan cara pemutaran perut (diurut-urut)disertai doa. Ketika usia kandungan 4 bulan, dukun melakukan upacara tasyakuran katanya janin mulai memiliki roh.hal itu terasa pada perut ibu bagian kanan ada gerakan halus. Pada usia kandungan 7 bulan, dukun melakukan upacara tingkeban. Katanya janin mulai bergerak meninggalkan alam rahim menuju alam dunia, melalui kelahiran. Calon ibu mendapat perawatan khusus, selain perutnya dielus-elus, badannya juga dipijat-pijat, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Malah disisir dan di bedaki agar ibu hamil tetap cantik meskipun perutnya makan lama makin besar.

C. Faktor-faktor Penyebab Mengapa Masyarakat Lebih Memilih Dukun Bayi daripada Bidan Masih banyak masyarakat yang memilih persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan dukun bayi daripada bidan disebabkan oleh beberapa faktor antara lain: 1. Kemiskinan Tersedianya berbagai jenis pelayanan publik serta persepsi tentang nilai dan mutu pelayanan merupakan faktor penentu apakah rakyat akan memilih kesehatan atau tidak. Biasanya, perempuan memilih berdasarkan penyedia layanan tersebut, sementara laki-laki menentukan pilihan mereka berdasarkan besar kecilnya biaya sejauh dijangkau oleh masyarakat miskin. Walaupun biaya merupakan alasan yang menentukan pilihan masyarakat miskin, ada sejumlah faktor yang membuat mereka lebih memilih layanan yang diberikan oleh dukun. Biaya pelayanan yang diberikan oleh bidan di desa untuk membantu persalinan lebih besar daripada penghasilan RT miskin dalam satu bulan. Disamping itu, biaya tersebut pun harus dibayar tunai. Sebaliknya, pembayaran terhadap dukun lebih lunak secara uang tunai dan ditambah barang. 2. Masih langkanya tenaga bidan di daerah-daerah pedalaman Sekarang dukun di kota semakin berkurang meskipun sebetulnya belum punah sama sekali bahkan disebagian besar kabupaten, dukun bayi masih eksis dan dominan. 3. Kultur budaya masyarakat Masyarakat kita terutama di pedesaan, masih lebih percaya kepada dukun bayi daripada kepada bidan apalagi dokter. Rasa takut masuk rumah sakit maih melekat pada kebanyakan kaum perempuan. Kalaupun terjadi kematian ibu atau kematian bayi mereka terima sebagai musibah yang bukan ditentukan manusia. Selain itu masih banyak perempuan terutama muslimah yang tidak membenarkan pemeriksaan kandungan, apalagi persalinan oleh dokter atau para medis laki-laki. Dengan sikap budaya dan agama seperti itu, kebanyakan kaum perempuan di pedesaan tetap memilih dukun beranak sebagai penolong persalinan meskipun dengan resiko sangat tinggi. 4. Bidan desa kurang Proaktif Departemen Kesehatan (Depkes) dengan program Pendidikan Bidan Desa merupakan suatu upaya untuk menurunkan AKI (Angka Kematian Ibu). Program Pendidikan Bidan Desa menjadi program unggulan Depkes yang dilakukan dengan memberikan pendidikan tambahan satu tahun sesudah pendidikan SPK (Sekolah Pendidikan Kebidanan) bagi calon didiknya. Program ini tidak luput dari kesulitan karena beberapa alasan: a) calon bidan desa usianya terlalu muda, kebanyakan belum menikah, b) program satu tahun tidak cukup untuk bisa menangani persalinan sendiri, tidak jarang dalam waktu pendidikan calon bidan desa hanya mengalami satu kali persalinan sendiri atau bersama kelompok, c) banyak bidan desa merangkap menjadi mahasiwa perguruan tinggi pada sore harinya di tempat lain. Otomatis mereka tidak siap menolong persalinan pada sore dan malam hari,

d) Pendidikan di kota memberikan dampak bahwa bidan desa lebih menyenangi kehidupan di kota daripada di tempat terpencil di desa. Keadaan ini menyebabkan hubungan yang kurang sehat antara masyarakat, khususnya ibu dan dukun bayi yang sudah ada di masyarakat dengan bidan desa yang merupakan pendatang baru. Selain kurang proaktif\ bidan desa juga masih kurang percaya diri untuk membaur dengan masyakat. Perubahan sikap dan perilaku dari bidan desa untuk menyesuaikan diri di masyarakat memerlukan waktu. D. Masalah yang dapat ditimbulkan apabila persalinan ditolong oleh Dukun Bayi Masalah yang ditimbulkan bila persalinan ditolong oleh selain tenaga-medis cenderung tinggi akibat pertolongan persalinan tanpa tenaga & fasilitas memadai. Karena persalinan masih ditangani oleh dukun beranak atau peraji, kasus kematian ibu saat melahirkan masih tetap tinggi. Pertolongan gawat darurat bila terjadi kasus perdarahan atau infeksi yang diderita ibu yang melahirkan, tidak dapat dilakukan. Definisi masyarakat yang masih menggunakan tenaga bidan bayi tentang mutu pelayanan berbeda dengan definisi standar medis. Kelemahan utama dari mutu pelayanan adalah tidak terpenuhinya standar minimal medis oleh para dukun beranak, seperti dengan praktek yang tidak steril(memotong tali pusat dengan sebilah bambu dan meniup lubang hidung bayi yang baru lahir dengan mulut). Selain itu, pertolongan persalinan oleh dukun sering menimbulkan kasus persalinan, diantaranya kepala bayi sudah lahir tetapi badannya masih belum bisa keluar atau partus macet, itu disebabkan karena cara memijat dukun bayi tersebut kurang profesional dan hanya berdasarkan kepada pengalaman. E. Usaha Untuk membangun Kemitraan Bidan dengan Dukun Bayi Kemitraan adalah suatu bentuk kerjasama antara bidan dengan dukun dimana setiap kali ada pasien yang hendak bersalin, dukun akan memanggil bidan. Pada saat pertolongan persalinan tersebut ada pembagian peran antara bidan dengan dukunnya. Sebenarnya, selain pada saat persalinan ada juga pembagian peran yang dilakukan pada saat kehamilan dan masa nifas, tetapi memang yang lebih banyak diutarakan adalah kerjasama pada saat persalinan. Peranan bidan lebih ditekankan kepada persalinan dan masa nifas. Pada saat persalinan, sudah semestinya peran bidan porsinya lebih besar dibandingkan dengan peran dukun. Selain menolong persalinan, bidan pun dapat memberikan suntikan kepada pasien yang membutuhkannya atau dapat dengan segera merujuk ke rumah sakit jika ada persalinan yang gawat atau sulit. Peran dukun hanya sebatas membantu bidan seperti mengelus-elus tubuh pasien, memberikan minum bila pasien membutuhkan dan yang terutama adalah memberikan kekuatan batin kepada pasien. Kehadiran dukun bayi sangatlah penting karena pasien beranggapan bahwa bila saat melahirkan ditunggui oleh dukun, maka persalinan akan berjalan lancar.

Usaha-usaha peningkatan pelayanan kesehatan seperti yang tercermin dalam program dukun terlatih itu memang bukan bertujuan untuk menghilangkan peranan yang dimainkan oleh sistem perawatan kesehatan yang lama dan menggantinya dengan sistem perawatan kesehatan yang baru. Pendidikan yang diberikan dalam program dukun latih itu justru terwujud sebagai pengakuan untuk menyelenggarakan (enforcement) pelayanan kesehatan kepada lembaga dukun bayi, khususnya penyelenggaraan proses pertolongan persalinan bagi masyarakat yang tinggal di daerah-daerah dimana fasilitas pelayanan kesehatan baru sangat terbatas. Lebih dari itu, dengan pendidikan yang diberikan, dukun bayi dianggap mampu mengantikan kehadiran fasilitas kesehatan yang baru yang diharapkan dapat meningkatkan taraf kesehatan penduduk. Pendidikan/kursus dukun bayi juga dimaksudkan untuk pemberian pengetahuan yang melengkapi sifatnya, dengan harapan dapat menurunkan resiko persalinan dan meningkatkan harapan hidup bayi dan ibunya. Dengan demikian, tugas-tugas pelayanan medis dilimpahkan pada dukun bayi yang memang tinggal bersama masyarakat setempat. Namun yang perlu diperhatikan, pengetahuan dan alih teknologi membutuhkan waktu sebelum pengetahuan dan teknologi tersebut benar-benar jadi milik masyarakat yang bersangkutan. Sebagaimana yang dikemukan oleh Michael Winkelman, ada tiga faktor penghalang dalam pelaksanaan atau penerapan program yang disebut the three delays yaitu: a) rintangan budaya (cultural barrier) Setiap kelompok masyarakat memilki budaya yang berbeda. Ada sebagian yang memilih untuk melahirkan dengan dukun karna menurut kebudayaannya itu lebih baik. Sehingga keberadaan dukun lebih dipandang berpengaruh dibandingkan keberadaan Bidan di dalam masyarakat tersebut. b) c) rintangan sosial (social barrier) Rintangan sosial ini berhubungan dengan kehidupan sosial masyarakat. rintangan psikologis (psychological barrier) Masyarakat lebih percaya dan nyaman dengan dukun karena pendekatan yang dipakai dukun adalah dengan menjalin interaksi. Dibandingkan dengan bidan, dukun lebih peka terhadap ibu hamil, karena dukun yang mencari ibu hamil akan tetapi kalau Bidan, ibu hamil yang mengunjunginya jadi secara psikologis bumil lebih nyaman dengan dukun. Ketiga hal tersebut yang perlu dicermati dalam penyusunan program pelatihan agar pengetahuan dan teknologi yang dilatihkan menjadi milik masyarakat setempat.

F. Program Kemitraan Bidan Dukun

Program Kemitraan Bidan Dukun merupakan salah satu program sebagai upaya untuk meningkatkan cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. Definisi Kemitraan Bidan Dukun sendiri adalah suatu bentuk kerjasama bidan dan dukun yang saling menguntungkan dengan

prinsip keterbukaan, kesetaraan dan kepercayaan dalam upaya untuk menyelamatkan ibu dan bayi, dengan menempatkan bidan sebagai penolong persalinan dan mengalihfungsikan dukun dari penolong persalinan menjadi mitra dalam merawat ibu dan bayi pada masa nifas, dengan berdasarkan kesepakatan yang telah dibuat antara bidan dan dukun serta melibatkan seluruh unsur/elemen masyarakat yang ada. Keberhasilan dari kegiatan kemitraan Bidan Dukun adalah ditandai dengan adanya kesepakatan antara Bidan dan dukun dimana dukun akan selalu merujuk setiap ibu hamil dan bersalin yang datang. serta akan membantu bidan dalam merawat ibu setelah bersalin dan bayinya. Sementara Bidan sepakat untuk memberikan sebagian penghasilan dari menolong persalinan yang dirujuk oleh dukun kepada dukun yang merujuk dengan besar yang bervariasi. Kesepakatan tersebut dituangkan dalam peraturan tertulis disaksikan oleh pempinan daerah setempat (Kepala Desa, Camat). Langkah langkah program kemitraan Bidan Dukun : I. Tingkat Propinsi : 1. Penyusunan Juknis; 2. Sosialisasi kepada dinkes Kab/Kota dan Lintas Sektor; 3. Fasilitasi ke Kab/Kota dan 4. Evaluasi II. Tingkat Kab/Kota : 1. Sosialisasi kepada lintas sektor; 2. Pembekalan Teknis dan 3. Pemantauan III. Tingkat Kecamatan/Puskesmas : 1. Sosialisasi kepada lintas sektor tingkat kecamatan dan desa; dan 2. Pemantauan dan Evaluasi IV. Tingkat Desa : 1. Sosialisasi dan kesepakatan; 2. Pembekalan dan magang dukun; 3. Dana bergulir; Pertemuan rutin bidan dukun (andy yussianto).

Masa-masa menjelang kelahiran, berbagai pikiran dan perasaan pasti berkecamuk di diri setiap ibu hamil. Ada perasaan bahagia karena tidak lama lagi ada anggota keluarga baru yang hadir. Ada rasa khawatir mengenai keselamatan dan kesehatan diri dan bayinya kelak. Bagi ibu dari kalangan tidak mampu, rasa khawatir itu bertambah ketika memikirkan biaya persalinan yang kelak harus ditanggung, terlebih di masa-masa sulit seperti sekarang ini.

Sejatinya, masyarakat kini tidak usah khawatir memikirkan biaya persalinan. Sejak tahun lalu Pemerintah telah menggulirkan program Jaminan Persalinan (Jampersal), dimana ibu-ibu hamil bisa mendapatkan layanan kesehatan dan persalinan yang biayanya dijamin oleh Pemerintah.

Program Jampersal terbuka bagi seluruh ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi-bayi baru lahir tanpa memandang strata sosialnya, sepanjang yang bersangkutan belum memiliki jaminan persalinan.

Berbeda dengan program Jamkesmas yang kepesertaannya ditetapkan oleh bupati/walikota berdasarkan kriteria miskin, peserta program Jampersal cukup mendaftar ke Puskesmas dan jaringannya, atau bidan praktik swasta yang sudah menjalin kerjasama untuk melayani peserta Jampersal.

Syaratnya pun mudah. Cukup menunjukkan identitas diri dan membuat pernyataan tidak mempunyai jaminan atau asuransi persalinan.

"Identitas diri itu tidak harus KTP, tapi bisa juga surat keterangan dari RT atau RW setempat. Itu sudah cukup jadi bukti akuntabilitas buat tenaga kesehatan untuk menolong ibu hamil. Yang penting jangan sampai lantaran tak ada selembar KTP, ibu hamil tidak bisa mendapatkan pelayanan dari tenaga kesehatan," jelas dr. Gita Maya Koemara Sakti Soepono, MHA, Direktur Bina Kesehatan Ibu, Kementerian Kesehatan.

Ibu hamil yang menjadi peserta Jampersal berhak memperoleh pelayanan jaminan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan atau ante natal care (ANC) disertai konseling KB dengan frekuensi empat kali, pertolongan persalinan, pelayanan bayi baru lahir, pelayanan nifas dengan frekuensi empat kali dan pelayanan KB pasca persalinan.

Berbeda dengan tahun lalu, cakupan pelayanan Jampersal tahun ini lebih luas. Sekarang pemeriksaan kehamilan dengan penyulit atau komplikasi, seperti misalnya hipertensi, perdarahan masa kehamilan dan lain-lain juga dijamin melalui Jampersal. Demikian pula halnya penanganan komplikasi di saat persalinan, nifas, termasuk bayi baru lahir dan pelayanan KB pasca persalinan.

Jangan setengah-setengah

Masyarakat juga perlu mengetahui bahwa ketika seorang ibu sepakat persalinannya ditanggung dengan program ini, berarti seluruh pelayanan komprehensif yang ada di dalam Jampersal, mulai dari kehamilan, persalinan, sampai nifas wajib diikuti.

"Namanya paket komprehensif, jangan diambil setengah-setengah. Tidak bisa misalnya mau ikut pemeriksaan kehamilan dan nifasnya saja, sementara saat persalinan maunya dibantu oleh tenaga non kesehatan (dukun)," tegas dr. Maya.

Demikian pula halnya dengan KB pasca persalinan, ini juga wajib bagi ibu-ibu hamil yang ikut program Jampersal. Karena bagaimana pun faktor-faktor penyebab tidak langsung kematian ibu, antara lain kehamilan terlalu tua, terlalu rapat, dan terlalu sering, harus diatasi.

Jampersal tidak membatasi jaminan persalinan sampai anak ke sekian, karena filosofi program ini adalah untuk menyelamatkan ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir dari komplikasi dan risiko

kematian.

Hal lain yang perlu juga dipahami masyarakat, peserta Jampersal juga menerima konsekuensi bersedia dilayani di fasilitas-fasilitas pelayanan kesehatan sesuai ketentuan yang ditetapkan Pemerintah.

Untuk persalinan normal misalnya, pelayanan tidak serta merta dilakukan di RS, tapi lebih diutamakan di fasilitas pelayanan kesehatan dasar seperti Puskesmas dan jaringannya, atau cukup di bidan saja, baik bidan desa maupun bidan praktik mandiri. Pelayanan di RS hanya diberikan ketika pasien harus dirujuk karena ada penyulit atau komplikasi, dan itu dilaksanakan di fasilitas perawatan kelas III.

Sementara itu, Jampersal hanya memberikan jaminan yang berkaitan dengan persalinan saja. Jadi ketika ibu hamil terkena penyakit penyerta, seperti misalnya turbekulosis, malaria atau HIV, pengobatan penyakit itu tidak ditanggung program Jampersal. Namun demikian, pasien bisa mengikuti program-program penanggulangan penyakit terkait, yang kini bisa dijumpai di banyak Puskesmas.

"Apabila ditemukan penyakit penyerta pada ibu hamil, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan di Puskesmas," saran dr. Maya. **

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologis yang normal. Menurut Prawirohardjo (2002) Persalinan dan kelahiran yang normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin. Selama persalinan petugas kesehatan memberikan asuhan persalinan yang bertujuan untuk mencapai pertolongan persalinan yang bersih dan aman, dengan memperhatikan aspek sayang ibu dan bayi. Pertolongan persalinan yang bersih dan aman ini berupa tindakan tiga bersih dalam persalinan. Tindakan tiga bersih dalam persalinan merupakan suatu tindakan dalam persalinan yang harus memenuhi kriteria bersih tempat melahirkan, bersih alat pemotong tali pusat dan bersih tangan penolong. Tindakan tiga bersih dalam persalinan sangat berperan penting dalam pertolongan persalinan sebagai upaya pencegahan infeksi, yang mana sangat berpengaruh dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir (Dep.Kes RI, 2004). Tiga bersih ini harus diterapkan secara rutin pada saat menolong persalinan dan kelahiran yang bertujuan untuk melindungi ibu, bayi baru lahir, keluarga, penolong persalinan dan tenaga kesehatan lainnya dengan jalan menghindarkan transmisi penyakit yang disebabkan oleh bakteri, virus dan jamur (Dep.Kes RI, 2004). Persalinan yang tidak menggunakan prinsip 3 bersih akan menimbulkan berbagai dampak. Dampak yang paling utama akan dialami oleh ibu dan bayi baru lahir yang berupa infeksi post partum dan infeksi tali pusat pada bayi baru lahir (Manuaba, 1998). Kemudian dampak lain yang akan dialami oleh penolong persalinan, keluarga dan staf kesehatan lainnya, yang kemungkinan akan mengalami resiko terinfeksi penyakit-penyakit menular (Dep.Kes RI, 2004). Berdasarkan hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2003 angka kematian ibu dan bayi masih tinggi yaitu angka kematian ibu sebesar 307/100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi sebesar 35/1000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan Indonesia, 2003).

Angka kesakitan dan kematian ibu serta bayi yang masih tinggi ini berkaitan dengan pertolongan persalinan oleh dukun yaitu sebanyak 80%, yang rata-rata masih didominasi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Pertolongan persalinan oleh dukun ini tidak sedikit yang menimbulkan berbagai masalah. Hal ini disebabkan karena mereka bekerja tidak berdasarkan ilmiah, maka mereka tidak mengenal tindakan antiseptik dan tindakan yang patologis (Martaadisoebrata, 1982). Sehingga tindakan pencegahan infeksi dengan tiga bersih masih banyak tidak dilakukan oleh para dukun. Profil Kesehatan Kabupaten Lampung Tengah (2005) sekitar 33,07% persalinan ditolong oleh dukun baik terlatih maupun tidak terlatih dan dari 33,07% persalinan oleh dukun ini sekitar 6,25% ibu yang mengalami infeksi post partum dan 20% bayi baru lahir terinfeksi tali pusatnya. Fakta lain terjadi terutama di daerah pedesaan yaitu yang dialami di desa Bumi Nabung sekitar 37,5% ibu mengalami infeksi post partum dan 18,7% bayi baru lahir mengalami infeksi tali pusat dari 32,6% ibu bersalin yang ditolong oleh dukun (Arsip Laporan Puskesmas Bumi Nabung Utara, tahun 2006). Penyebab tidak dilakukan tiga bersih dalam persalinan oleh dukun dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu faktor sosial budaya berupa pengetahuan dukun yang kurang (ketidaktahuan dukun tentang tiga bersih) ini disebabkan karena sifat dukun yang turun temurun, sehingga dukun kurang menghiraukan cara pertolongan persalinan, yang bersih dan aman, faktor kedua yaitu faktor pelayanan medik yang meliputi kurangnya kemudahan untuk pelayanan kesehatan maternal, asuhan medik yang kurang baik, dan kurangnya tenaga terlatih dan obat-obat penyelamat jiwa. Kedua faktor penyebab tersebut yang mengakibatkan upaya pencegahan infeksi sulit diterapkan, sehingga angka kematian dan kesakitan ibu dan bayi masih tinggi (Prawirohardjo, 2002). Menurut hasil prasurvey di Desa Bumi Nabung Utara Kecamatan Bumi Nabung Lampung Tengah terdapat 4 dukun bayi yang masih aktif menolong persalinan dari 20 dukun bayi terlatih yang ada di 6 desa di wilayah kerja Puskesmas Bumi Nabung, kemudian di desa Bumi Nabung Utara tidak terdapat bidan, hanya ada Puskesmas pembantu dengan satu tenaga paramedis. Mengingat peran dukun bayi yang cukup besar di desa Bumi Nabung Utara Kecamatan Bumi Nabung Lampung Tengah, penulis tertarik untuk mengetahui bagaimana pengetahuan dukun terlatih tentang tiga bersih dalam pertolongan persalinan di Desa Bumi Nabung Utara Kecamatan Bumi Nabung Lampung Tengah. B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut : Bagaimana pengetahuan dukun terlatih tentang tiga bersih dalam pertolongan persalinan di desa Bumi Nabung Utara Kecamatan Bumi Nabung Lampung Tengah ? C. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini penulis membatasi ruang lingkup penelitian sebagai berikut : 1. Jenis Penelitian : deskriptif 2. Subjek Penelitian : dukun bayi yang sudah terlatih di desa Bumi Nabung 3. Objek Penelitian : pengetahuan dukun terlatih tentang tiga bersih dalam pertolongan persalinan 4. Lokasi Penelitian : desa Bumi Nabung Utara, Kecamatan Bumi Nabung Kabupaten Lampung Tengah 5. Waktu Penelitian : tanggal 7-14 Juni 2007 D. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui pengetahuan dukun terlatih tentang tiga bersih dalam pertolongan persalinan di desa Bumi Nabung Utara Kecamatan Bumi Nabung Lampung Tengah. 2. Tujuan Khusus a. Diketahuinya pengetahuan dukun tentang bersih tempat dalam pertolongan persalinan. b. Diketahuinya pengetahuan dukun tentang bersih alat dalam pertolongan persalinan c. Diketahuinya pengetahuan dukun tentang bersih penolong dalam pertolongan persalinan. E. Manfaat Penelitian 1. Bagi Dukun Agar dukun bayi mengetahui pentingnya tiga bersih dalam setiap pertolongan persalinan. 2. Bagi Puskesmas Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai dasar memperbaiki dan mengembangkan kualitas pelayanan pertolongan persalinan yang dilakukan oleh dukun. 3. Bagi Institusi Sebagai sumber bacaan dan referensi bagi perpustakaan di instansi pendidikan.

Selanjutnya klik disini: makalah asuhan kebidanan: Pengetahuan dukun terlatih tentang tiga bersih dalam pertolongan persalinan di desa dapatkan kti skripsi kesehatan KLIK DISINI

GAMBARAN PERTOLONGAN PERSALINAN YANG DITOLONG OLEH TENAGA KESEHATAN NON-MEDIS DI PUSKESMAS
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Persalinan merupakan kejadian fisiologis yang prosesnya dapat berjalan dengan aman jika penolong persalinan dapat memantau persalinan untuk mendeteksi dini terjadinya komplikasi Pertolongan persalinan oleh dukun menurut WHO relatif masih tinggi yaitu sekitar 70% sampai 80% (Manuaba, 1998). Di Indonesia pertolongan persalinan yang ditolong oleh dukun bayi sebesar 40%(Djaja,2003). Tenaga yang sejak dahulu kala sampai sekarang memegang peranan penting dalam pelayanan kebidanan ialah dukun bayi atau nama lainnya dukun beranak, dukun bersalin, dukun peraji. Dalam lingkungan dukun bayi merupakan tenaga terpercaya dalam segala soal yang terkait dengan reproduksi wanita. Ia selalu membantu pada masa kehamilan, mendampingi wanita saat bersalin, sampai persalinan selesai dan mengurus ibid an bayinya dalam masa nifas. Dukun bayi biasanya seorang wanita sudah berumur 40 tahun ke atas. Pekerjaan ini turun temurun dalam keluarga atau karena ia merasa mendapat panggilan tugas ini. Pengetahuan mereka tentang fisiologis dan patologis dalam kehamilan, persalinan, serta nifas sangat terbatas oleh karena itu apabila timbul komplikasi mereka tidak mampu untuk mengatasinya, bahkan tidak menyadari akibatnya, dukun tersebut menolong hanya berdasarkan pengalaman dan kurang professional. Berbagai kasus sering menimpa seoarang ibu atau bayinya seperti kecacatan bayi sampai pada kematian ibu dan anak. Penyebab langsung kematian bayi di Indonesia diantaranya asfiksia (27%), Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) (29%), Tetanus Neonatorum (10%), masalah pemberian makanan (10%), Gangguan hematologik (6%), dan infeksi (5%) (Depkes,2007). . Infeksi pada bayi baru lahir sebagai penyebab kematian neonatal masih banyak dijumpai. Infeksi pada bayi baru lahir disebabkan oleh pertolongan persalinan oleh dukun bayi yang belum mengerti tentang konsep bersih dan aman dalam menolong persalinan (Depkes RI,1992). Dalam usaha meningkatkan pelayanan kebidanan dan kesehatan anak maka tenaga kesehatan seperti bidan mengajak dukun untuk melakukan pelatihan dengan harapan dapat meningkatkan kemampuan dalam menolong persalinan, selain itu dapat juga mengenal tanda-tanda bahaya dalam kehamilan dan persalinan dan segera minta pertolongan pada bidan. Dukun bayi yag ada harus ditingkatkan kemampuannya, tetapi kita tidak dapat bekerjasama dengan dukun bayi dalm mengurangi angka kematian dan angka kesakitan (Prawirohardjo, 2005).

B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang dan landasan teori dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut : Bagaimana Gambaran Pertolongan Persalinan yang Di Tolong Oleh Tenaga Kesehatan Non-Medis di Puskesmas Kalampangan. C. Tujuan 1. Tujuan umum Mengetahui gambaran tentang pertolongan persalinan oleh tenaga non-medis.Tujuan 2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui apa itu pertolongan persalinan oleh tenaga non-medis. b. Untuk mengetahui cara-cara pertolongan persalinan oleh tenaga non-medis c. UntuK mengetahui faktor-faktor penyebab mengapa masyarakat lebih banyak yang minta pertolongan persalinan oleh tenaga non-medis d. Untuk mengethui usaha-usaha yang dilakukan untuk menjalin kerjasama antara tenaga medis dan non-medis dalam menolong persalinan e. Untuk mengetahui masalah yang dapat ditimbulkan apabila persalinan ditolong oleh tenaga nonmedis f. Untuk mengetahui pelayanan apa saja yang dapat diberikan oleh tenaga kesehatan non-medis.

D. MANFAAT 1. Untuk Masyarakat a. Masyarakat lebih mengetahui tentang bagaimana pertolongan persalinan oleh tenaga non-medis. b. Masyarakat lebih bisa mengetahui apa keuntungan dan kerugian pertolongan persalinan oleh nonmedis.

2. Untuk paraji Peraji menyadari kelemahan dari pertolongan yang diberikannya dan bersedia untuk menerima pelatihan dan menambah pengetahuan.

3. Untuk Tenaga Medis Kerjasam antara tenaga medis dan non-medis terus terjalin untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan teutama di desa.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tenaga kesehatan non-medis ( dukun ) 1. Pengertian Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan non-medis seringkali dilakukan oleh seseorang yang disebut sebagai dukun beranak, dukun bersalin atau peraji. Pada dasarnya dukun bersalin diangkat berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat atau merupakan pekerjaan yang sudah turun temurun dari nenek moyang atau keluarganya dan biasanya sudah berumur 40 tahun ke atas ( Prawirohardjo, 2005). Pendidikan dukun umumnya adalah Kejar Paket A atau tamat SD, bisa baca tulis dengan kapasitas yang rendah, mereka tidak mendapat ilmu tentang cara pertolongan persalinan secara teori di bangku kuliah, tetapi mereka hanya berdasarkan pengalaman saja. Peralatan yang digunakannya hanya seadanya seperti memotong tali pusat menggunakan bambu, untuk mengikat tali pusat menggunakan tali naken, dan untuk alasnya menggunakan daun pisang 2. Cara-cara Pertolongan Oleh Tenaga Non-medis Tak berbeda dengan seorang bidan, dukun beranak melakukan pemeriksaan kehamilan melalui indri raba (palpasi). Biasanya perempuan yang mengandung, sejak mengidam sampai melahirkan selalu berkonsultasi kepada dukun, bedanya dibidan perempuan yang mengandunglah yang datang ketempat praktek bidan untuk berkonsultasi. Sedangkan dukun ia sendiri yang berkeliling dari pintu ke pintu memeriksa ibu yang hamil. Sejak usia kandungan 7 bulan control dilakukan lebih sering. Dukun menjaga jika ada gangguan, baik fisik maupun non fisik terhadap ibu dan janinnya. Agar janin lahir normal, dukun biasa melakukan perubahan posisi janin dalam kandungan dengan cara pemutaran perut (diurut-urut)disertai doa Ketika usia kandungan 4 bulan, dukun melakukan upacara tasyakuran katanya janin mulai memiliki roh.hal itu terasa pada perut ibu bagian kanan ada gerakan halus. Pada usia kandungan 7 bulan, dukun melakukan upacara tingkeban. Katanya janin mulai bergerak meninggalkan alam rahim menuju alam dunia, melalui kelahiran. Calon ibu mendapat perawatan khusus, selain perutnya

dielus-elus, badannya juga dipijat-pijat, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Malah disisir dan di bedaki agar ibu hamil tetap cantik meskipun perutnya makan lama makin besar 3. Fakto-faktor Penyebab Mengapa Masyarakat Lebih Memilih Penolong Bersalin Dengan tenaga Kesehatan Non-medis Masih banyak masyarakat yang memilih persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan nonmedis daripada tenaga kesehatan disebabkan oleh beberapa faktor antara lain: a. Kemiskinan Tersedianya berbagai jenis pelayanan public serta persepsi tentang nilai dan mutu pelayanan merupakan faktor penentu apakah rakyat akan memilih kesehatan atau tidak. Biasanya, perempuan memilih berdasakan penyedia layanan tersebut, sementara laki-laki menentukan pilihan mereka berdasarkan besar kecilnya biaya sejauh dijangkau oleh masyarakat miskin. Sekitar 65% dari seluruh masyarakat miskin yang diteliti menggunakan penyesia layanan kesehatan rakyat seperti bidan di desa, puskesmas atau puskesmas pembantu(pustu), sementara 35% sisanya menggunakan dukun beranak yang dikenal dengan berbagai sebutan. Walaupun biaya merupakan alasan yang menentukan pilihan masyarakat miskin, ada sejumlah faktor yang membuat mereka lebih memilih layanan yang diberikan oleh dukun. Biaya pelayanan yang diberikan oleh bidan di desa untuk membantu persalinan lebih besar daripada penghasilan RT miskin dalam satu bulan. Disamping itu, biaya tersebut pun harus dibayar tunai. Sebaliknya, pembayaran terhadap dukun lebih lunak secara uang tunai dan ditambah barang. Besarnya tariff dukun hanya sepersepuluh atau seperlima dari tariff bidan dea. Dukun juga bersedia pembayaran mereka ditunda atau dicicil(Suara Merdeka, 2003). b. Masih langkanya tenaga medis di daerah-daerah pedalaman Sekarang dukun di kota semakin berkurang meskkipun sebetulnya belum punah sama sekali bahkan disebagian besar kabupaten, dukun beranak masih eksis dan dominant. Menurut data yang diperoleh Dinas Kesehatan Jawa Barat jumlah bidan jaga di Jawa Barat sampai tahun 2005 ada 7.625 orang. Disebutkan pada data tersebut, junlah dukun di perkotaan hanya setengah jumlah bidan termasuk di kota Bandung. Namun, di 9 daerah (kabupaten) jumlah dukun lebih banyak (dua kali lipat) jumlah bidan. Malah di Jawa Barat masih ada 10 kabupaten yang tidak ada bidan (Ketua Mitra Peduli/Milik Jabar). c. Kultur budaya masyarakat Masyarakat kita terutama di pedesaan, masih lebih percaya kepada dukun beranak daripada kepada bidan apalagi dokter. Rasa takut masuk rumah sakit maih melekat pada kebanyakan kaum

perempuan. Kalaupun terjadi kematian ibu atau kematian bayi mereka terima sebagai musibah yang bukan ditentukan manusia Selain itu masih banyak perempuan terutama muslimah yang tidak membenarkan pemeriksaan kandungan, apalagi persalinan oleh dokter atau para medis laki-laki. Dengan sikap budaya dan agama seperti itu, kebanyakan kaum perempuan di padesaan tetap memilih dukun beranak sebagai penolong persalinan meskipun dengan resiko sangat tinggi. d. Masalah Yang Dapat Ditimbulkan Apabila Persalinan Ditolong Oleh Non-medis Menurut sinyalemen Dinkes AKI cenderung tinggi akibat pertolongan persalinan tanpa fasilitas memadai, antara lain tidak adanya tenaga bidan apalagi dokter obsgin. Karena persalinan masih ditangani oleh dukun beranak atau peraji, kasus kematian ibu saat melahirkan masih tetap tinggi. Pertolongan gawat darurat bila terjadi kasus perdarahan atau infeksi yang diderita ibu yang melahirkan, tidak dapat dilakukan. Penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan orang lebih memilih untuk menggunakan dukun beranak. Sementara itu, definisi merekatentang mutu pelayanan berbeda dengan definisi standar medis. Kelemahan utama dari mutu pelayanan adalah tidak terpenuhinya standar minimal medis oleh para dukun beranak, seperti dengan praktek yang tidak steril(memotong tali pusat dengan sebilah bambu dan meniup lubang hidung bayi yang baru lahir dengan mulut). Riwayat kasus kematian ibu dan janin dalam penelitian ini menggambarkan apa yang terjadi jika dukun beranak gagal mengetahui tanda bahaya dalam masa kehamilan dan persalinan serta rujukan yang terlambat dan kecacatan janin pun bisa terjadi dari kekurangtahuan dukun beeranak akan tanda-tanda bahaya kehamilan yang tidak dikenal(Suara Merdeka, 2003). Selain itu, pertolongan persalinan oleh dukun sering menimbulkan kasus persalinan, diantaranya kepala bayi sudah lahir tetapi badannya masih belum bisa keluar atau partus macet, itu disebabkan karena cara memijat dukun bayi tersebut kurang profesional dan hanya berdasarkan kepada pengalaman.

e. Usaha Untuk Menjalin Kerjasama Antara Tenaga Medis dan Non-medis Dalam Menolong Persalinan Berdasarkan dukun di Indonesia masih mempunyai peranan dalam menolong suatu persalinan dan tidak bisa dipungkiri, masih banyak persalinan yang ditolong oleh dukun beranak, walaupun dalam menolong persalinan dukun tidak berdasarkan kepada pengalaman dan berbagai kasus persalinan oleh dukun seringkali terjadi dan menimpa seorang ibu dan atau bayinya. Tetapi keberadaan dukun di Indonesia tidak boleh dihilangkan tetapi kita bisa melakukan kerjasama dengan dukun untuk mengatasi hal-hal atau berbagai kasus persalinan oleh dukun.

Seperti di daerah pedesaan Paminggir, Alas Kokon, Kertajayadan daerah perkotaan Soklat setelah dua dari empat dukun beranak yang diwawacarai telah menerima pelatihan dari dokterdokter puskesmas pada tahun 1990-1991. Mereka merasa pelatihan dan peralatan persalinan yang diberikan saat pelatihan sangat bermanfaat. Para dukun juga dilatih tentang pencatatan dan pelaporan. Setiap dukun dilatih membaca sampai mengerti bagaimana cara pengisian kolom tersebut. Pelatihan untuk perawatan ibu hamil, pertolongan pada diare, makanan bergizibagi bayi, balita dan ibu hamil juga dilakukan. Membina hubungan baik dengan dukun juga dilakukan agar kita bisa lebih gampang menjalin kerjasama dengan dukun. f. Pelayanan yang Dapat Diberikan Oleh Tenaga Non-medis Dalam mutu pelayanan tidak dipenuhinya standar minimal medis oleh para dukun, seperti dengan praktek yang tidak steril(memotong tali pusat dengan sebilah bambu dan meniup lubang hidung bayi baru lahir dengan mulut). Layanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan non-medis misalnya: 1. 2. Dukun mau mendatangi setiap ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan kehamilan. Dukun mematok harga muruh, kadang bisa disertai atau diganti dengan sesuatu barang misalnya beras, kelapa, dan bahan dapur lainnya. 3. Dukun beranak dapat melanjutkan layanan untuk 1-44 hari pasca melahirkan dengan sabar memanjakan ibu dan bayinya misalkan dia mencuci dan membersihkan ibu setelah melahirkan. 4. Dukun menemani anggota keluarga agar bisa beristirahat dan memulihkan diri, sebaliknya bidan seringkali tidak bersedia saat dibutuhkan atau bahkan tidak mau datang saat dipanggil.

B. Kerangka Konsep

DAFTAR PUSTAKA

1. Kartika,

Sofia.

2004.

Kerjasama

Dukun

dan

Bidan

Desa

untuk

Menekan

AKI

dan

AKB.http://www.jurnalperempuan.com 2. Ketua Mitra Peduli Kependudukan/Milik Jabar. 2006. Pikiran Rakyat Bandung

http://www.pikiranrakyatbandung.com 3. prawirahardjo, Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBPSP