Anda di halaman 1dari 15

Ashobah

Disusun Oleh: Abdul Kabir Bagis

SEKOLAH TINGGI EKONOMI ISLAM (STEI) TAZKIA Bogor Kode Pos 16680, Website : www.tazkia.ac.id 20010/2011

KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbilalamin, segala puji hanya bagi Allah SWT yang masih memberikan kepada kita kesempatan untuk merasakan indahnya nikmat dan karuniaNya. Tidak lupa shalawat dan salam selalu tercurah pada Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing kita menuju Islam dan tak pernah melupakan umatnya. Semoga kita semua selalu berada dalam lindungan Allah SWT. Makalah ini disusun berdasarkan tugas yang telah diberikan kepada kami yang secara khusus membahas tentang Ashobah. Terimakasih kami ucapkan kepada Ust. Isa yang telah memberikan bimbingannya dengan penuh kesabaran. Tidak lupa juga terimakasih kami ucapkan kepada teman-teman yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan adapun segala kesalahan yang ada dalam makalah ini, harap dimaklumi adanya.

DAFTAR ISI
BAB I .................................................................................................................... 4 PENDAHULUAN ................................................................................................ 4 BAB II ................................................................................................................... 5 PEMBAHASAN ................................................................................................... 5 A. DEFINISI ASHOBAH ................................................................................ 5 B. PEMBAGIAN ASHOBAH ......................................................................... 6 1. Ashabah bin-Nafsi. ................................................................................... 7 2. Ashobah bil ghair. .................................................................................... 9 3. Ashobah maal ghairi. ............................................................................ 10 C. MASALAH ORANG YANG MEMILIKI DUA JALUR KETURUNAN. 11 BAB III................................................................................................................ 14 KESIMPULAN ................................................................................................... 14

BAB I PENDAHULUAN
Pada masa jahiliyah bangsa arab telah mengenal sistem waris yang menjadi sebab berpindahnya hak kepemilikan atas harta benda atau hak-hak material lainnya, dari seorang yang meninggal kepada orang lain yang menjadi ahli warisnya. Mewariskan dengan cara ashobah merupakan cara kedua untuk memberikan harta waris kepada ahli waris si mayit. Sebab, sebagaimana yang kita ketahui bahwa pembagian harta waris dapat dilakukan dengan dua cara yaitu fard dan tashib atau ashobah. Ahli waris yang mewarisi bagian tetap lebih di dahulukan daripada ahli yang menjadi ashobah. Sebab, kedudukan ashabul furudh lebih utama daripada kedudukan ashobah. Nabi saw bersabda, Berikan bagian-bagian tetap itu kepada orang yang berhak, dan jika ada sisa, baru untuk laki-laki dari keturunannya. Dalam istilah ulama fiqh ashobah berarti ahli waris yang tidak mempunyai bagian tertentu, baik besar maupun kecil, yang telah disepakati para ulama (seperti ashabul furudh) atau yang belum disepakati oleh mereka.

BAB II PEMBAHASAN
A. DEFINISI ASHOBAH Asobah menurut bahasa artinya: kekerabatan seorang laki-laki dengan ayahnya. Dinamakan ashshoba karena mereka mengelilinginya kata ashshoba artinya mengelilingi untuk melindungi dan membela. Sekelompok orang yang kuat di namakan ushbah. Allah Taala berfirman : Mereka berkata: jika ia benar- benar dimakan serigala, sedangkan kami golongan (orang yang kuat), sesunguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi : Yusuf (Q.S.12:14) Menurut istilah : ia adalah setiap pewaris yang tidak mampunyai bagian tertentu dengan tegas dalam AL-Qruan dan sunnah. Mereka itu adalah anak lelaki, anak lelaki dari anak lelaki (cucu lelaki), saudara lelaki seayah seibu, saudara lelaki seayah dan saudra saudara laki ayah yang seayah seibu). Kekerabatan mereka ini merupakan semacamnya adalah kuat, karena mereka ini mempunyai hubungan dengan mayit melalui ayah, bukan ibu, karena hubungan melalui ibu melemahkan hubungan kekerabatan (seperti saudara laki seibu ). Ahli faroid mendefinisikan ashobah dengan definisi istilah yang ringkas yaitu : setiap orang yang mendapatkan seluruh harta jika dia berada sendirian dan mendapatkan sisanya setelah Ashabul furudh mendapatkan bagian mereka yang telah di tentukan. Definisi ini masyhur di kalangan ulama faroidl: Dikatakan dalam mandhumah Ar-Rahbiyah: Dan wajip kita tetapkan pewaris asobah dengan setiap perkataan yang ringkas dan tepat maka setiap orang yang memperoleh setiap harta dari kaum kerabat atau bekas sahayanya atau lebih dari ketentuan bagiannya maka ia ashbah yang di utamakan. Dalil atas pewarisan ashobah: Dalil atas pewarisan ashobah berasal dri AL-Quran dan sunah.Adapun AL-Quran, yaitu firman allah Taala:
5

1-dengan untuk ibu bapak, bagi masing-masing adalah sepernam dari harta yang ditinggalkan. Jika yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibuk bapak-nya (saja).maka ibunya mendapatkan sepertiganya (An-Nisaa :11) 2-Jika seseorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan,maka bagian saudara perempuan itu separuh dari harta yang di tinggalkanya dan saudaranya yang laki-laki mewarisi(seluruh harta saudar perempuanya). Jika ia tidak mempunyai anak(An-nisaa :176).

B. PEMBAGIAN ASHOBAH Ashabah tebagi menjadi dua bagian, yaitu ashobahsababiyyah dan ashobahnasabiyyah. Ashabah sababiyyah adalah ashabah dari orang yang memerdekakan budak, baik laki-laki maupun perempuan, tetapi yang menjadi ashobahbin-nafsih, seperti anaknya, bapaknya, saudaranya dan pamanya, bukan menjadi ashobahbil-ghairi atau ashobahmal-ghari, seperti anka perempuan yang memerdekakan budak dan saudara perempuannya. Nemun pembicaraan tentang ashobahsababiyyah ini tidak lagi perlu terlalu panjang lebar, karena tidak ada lagi perbudakan saat ini. Sedangkan ashobahnasabiyyah atau ashobahsenasab adalah mereka yang menjadi kerabat si mayit dari laki-laki yang tidak diselingi, antaranya dan antara si mayit, oleh seorang perempuan, seperti anak, bapak, saudara kandung atau saudara sebapak dan paman kandung atau saudara atau paman sebapak. Termasuk di dalamnya anak perempuan apabila ia menjadi ashobahdengan saudaranya (anak laki-laki) atau saudara perempuan kandung atau sebapak yang menjadi ashobahkarena ada bersama anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki, atau karena ada bersama keduanya. Adapun dalil mewarisi dengan cara ashobahnasabiyah adalah firman Allah SWT Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-ankmu. Yaitu, bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahgian dua orang anak perempuan. Firman-Nya yang lain, Jika orang yang meninggal

tidak mempunyai anak dan ia di warisi oleh ibu bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga. (An-Nisaa : 11).

Ashobah senasab atau nasabiyyah terbagi menjadi tiga macam, yaitu sebagai berikut : 1) Ashobahbin-Nafsi ( menjadi ashobahdengan dirinya sendiri). 2) Ashobahbil ghair (menjadi ashobahdengan orang lain). 3) Ashobahmaal al ghair (menjadi ashobahkarena ada bersama orang lain). 1. Ashabah bin-Nafsi. a. Ketentuan menjadi ashobahbin-Nafsi Ashobahbin-Nafsi atau menjadi ashobahdengan dirinya sendiri adalah setiap laki-laki yang sangat dekat hubungan kekerabatannya denagn si mayit, yang tidak di selingi oleh seorang perempuan. Mereka adalah laki-laki yang telah disepakati para ulama dapat mewarisi kecuali suami dan saudara seibu. Jumlah mereka ada 12, yaitu : 1. Anak laki-laki 2. Cucu laki-laki dari anak laki-laki dan seterusnya kebawah 3. Ayah 4. Kakek dari ayah dan seterusnya ke atas 5. Saudara laki-laki kandung 6. Saudara seayah 7. Anak saudara kandung 8. Anak saudara seayah 9. Paman kandung 10.Paman sebapak 11.Anak paman kandung 12.Anak paman sebapak Jika semuanya ada, maka yang berhak mendapat warisan hanya anak dan ayah. Yang lainnya mahjub. Tapi yang menjadi ashobahhanya anak, sedangkan ayah menjadi shahib fard yaitu mendapat 1/6.

b. Hukum-hukum menjadi ashobahbin-Nafsi. Ahli waris dengan ashobahbon-Nafsi dihadapkan pada tiga hukum, yaitu: Pertama, apabila dia hanya sendiri, ia dapat mengambil seluruh warisan berdasarkan firman Allah swt. Saudaranya yang laki-laki mewarisi (seluruh harta saudara perempuan), jika dia tidak mempunyai anak. (An-nisa : 176). Dalam ayat ini disebutkan bahwa saudara laki-laki dapat mewarisi seluruh harta milik saudara perempuannya, jika ia tidak mempunyai anak. Oleh Karena itu, anak laki-laki, cucu dari anak laki-laki, bapak, dan kakek lebih berhak karena mereka lebih dekat tali kekerabatannya dengan si mayit. Anak-anak saudara kandung atau sebapak, paman kandung atau sebapak dan anak-anak mereka, dapat di qiyas kan dengan hal tersebut, dengan segala macam bentuk ashobah. Kedua, orang yang menjadi ashobah dengan dirinya sendiri, apabila berkumpul dengan ashabul furudh, ia dapat mengambil bagian yang tersisa dari bagian tetap. Sabda Nabi saw Berikan bagian-bagian tetap kepada orang yang berhak, jika ada sisanya untuk ahli waris laki-laki dari keturunan si mayit. (HR Mutafaq alaih). Ketiga, orang yang menjadi ashobah dengan dirinya sendiri tidak bisa mendapatkan warisan apa pun, jika ashabul furudh mengambil semua harta waris, kecuali saudara kandung dalam masalah al-musyarakah. Tidak demikian halnya dengan saudara perempuan yang bukan seibu dalam masalah alakdariyah. Contoh: 1. Seseorang meninggal dunia, meninggalkan ahli waris hanya anak perempuan. 2. Seseorang meninggal dunia, meninggalkan ahli waris istri dan anak laki-laki. 3. Seseorang meninggal dunia, meninggalkan ahli waris suami, saudara perempuan kandung, dan paman dari pihak bapak.

2. Ashobah bil ghair. a. Ketentuan mengenai ashobah bil ghair. Ashobah bil ghair adalah ahli waris yang tadinya mendapatkan bagian tertentu (ashabul furudh), tapi berubah menjadi pengambil sisa semua harta karena ada arhli waris lain yang menariknya menjadi ashobah. Ahli waris yang menarik itu disebut muashshib. Dalam hal ini bagian tertentunya tidak berlaku dan ia hanya berbagi dengan muasshibnya. Berikut ahli waris yang menjadi ashobah bi ghairi beserta para muasshibnya : Anak perempuan muashshibnya anak laki-laki (saudara kandungnya). Cucu perempuan muashshibnya : Cucu laki-laki (baik saudara maupun sepupunya). Cicit laki-laki dari cucu laki-laki dari anak laki-laki (keponakannya) bila diperlukan. 3. Saudari kandung muashshibnya saudara kandung. 4. Saudari seayah muashsibnya saudara seayah. 1. 2. b. Hukum-hukum menjadi ashobah bi ghairi. Orang yang menjadi ashobah dengan orang lain atau ashobah bi ghairi sama seperti orang yang menjadi ashobah dengan dirinya sendiri (ashobah binnafsi) dalam dua hukum terakhir, yaitu mereka sama-sama mengambil bagian yang tersisa, setelah pembagian bagian tetap. Apabila ashabul furudh mengambil semua harta waris, ia tidak mendapatkan apa-apa. Sedangkan dalam hukum pertama yaitu, jika ia sendiri, ia dapat mengambil seluruh harta waris hal itu tidak terjadi pada ashobah bi gahiri, karena ia tidak mungkin sendiri. Contoh: 1. Seorang meningggal dunia, meninggalkan ahli waris : istri, anak laki-laki dan anak perempuan. Dalam masalah ini, istri mendapatkan 1/8 sebagian bagian

tetap, Karena ada furu yang mewarisi, anak laki-laki dan anak perempuan mendapatkan sisa sebagai ashobah bil gahairi dengan ketentuan laki-laki mendapatkan bagian sebesar dua bagian perempuan. 2. Seseorang meninggal dunia, meninggalkan ahli waris : suami, saudara perempuan kandung, saudara perempuan sebapak, dan saudara laki-laki sebapak. Dalam masalah ini, suami dan saudara perempuan kandung masingmasing mendapatkan 1/2 dari harta waris, sedangkan saudara perempuan dan saudara laki-laki sebapak tidak mendapatkan apa-apa, karena seluruh warisan telah di ambil oleh ashabul furudh.

3. Ashobah maal ghairi. a. Ketentuan ashobah maal ghairi Ashobah maal ghairi adalah saudari sekandung atau sebapak seorang diri atau lebih. Ia mendapatkan sisa harta atau menjadi ashobah dengan syarat : Tidak ada muashshib Tidak ada hajib Bersama anak keturunan muwarrists Jika salah satu dari syarat ini tidak terpenuhi maka, saudari tidak bisa menjadi ashobah maal ghairi. - Bila ada muashshib, maka ia menjadi ashobah bi ghairi. 1. 2. 3. b. Hukum menjadi ashobah maal gahiri Saudara perempuan kandung sama hukumnnya seperti saudara laki-laki kandung, dan saudara saudara perempuan sebapak sama hukumnnya seperti saudara laki-laki sebapak. Oleh karena itu, setiap orang dari mereka berdua dapat mewarisi seperti saudaranya, dan mereka pun terhalang oleh orang yang menghalangi saudaranya. Mereka juga dapat mengambil sisa sebagai ashobah, setelah pembagian bagian tetap. Apabila ashabul furudh mengambil semua

10

harta waris, mereka tidak mendaptkan apa-apa, dan anak perempuan atau cucu perempuan (yang ada bersama mereka) tetap menjadi ashabul furudh. Contoh : Seorang meninggal dunia, meninggalkan ahli warist : seorang anak perempuan, ibu, seorang saudari seayah, dan sorang paman kandung. Dalam masalah ini, anak perempuan mendapat 1/2, ibu mendapat 1/6, saudari mendapat sisa harta, dan paman kandung tidak mendapat apa-apa. Dalam kasus ini saudari kandung menjadi ashobah maal ghairi, maka menjadikan mahjub saudara seayah.

C. MASALAH

ORANG

YANG

MEMILIKI

DUA

JALUR

KETURUNAN. Terkadang ada orang yang memiliki dua jalur keturunan, dimana setiap jalur yang ada membuat orang yang bersangkutan berhak mendapatkan warisan. Kemudian ada pertanyaan, apakah orang ini dapat mewarisi dua kali, dengan dua jalurnya itu atau hanya sekali?. Jawabanya adalah hal tersebut berbeda sesuai dengan perbedaan keadaan. Sebab, perbedaan jalur keturunan, terkadang melahirkan banyak sifat bagi ahli waris dan bisa juga tidak. Ketika sifat ahli waris itu banyak, mungkin lebih dari satu jalur yang mewarisinya, dan mungkin dari satu jalur. Orang yang bersangkutanpun dapat terhalang oleh salah satu sifatnya dan bias juga tidak, dengan syarat-syarat sebagai berikut: 1. Apabila jalur keturunan lebih dari satu yang tidak membawa banyak sifat bagi ahli waris, seperti nenek yang mempunya dua jalur kekerabatan, misalnya: ibu dari ibunya ibu, yang pada saat bersamaan ia juga adalah ibu dari bapaknya bapak, pembagian warisan cukup satu kali, yaitu hanya mendapatkan seperempat (1/6).

11

2. Apabila sifat lebih dari satu (dua sifat, misalnya-pent) dengan jalur keturunan lebih dari satu juga,ia dapat mewarisi dengan dua sifat itu, apabila salah satu dari jalur-jalur keturunan itu menjadikannya sebagai ashabah dan jalur lainnya menjadikannya sebagai ash-habul furudh, dengan syarat tidak ada orang yang menghalanginya. Contohnya: seseorang wakaf meninggalkan ahli waris: ibu dan suami yang juga anak paman. Dalam masalah ini, ibu mendapatkan sepertiga (1/3) sebagai bagian tetap, suami mendapatkan separuh (1/2) sebagai bagian tetap dan ia juga mendapatkan sisa sebagai ashabah, dengan sifatnya sebagai anak paman. Jika saudara kandung mayit bersama mereka berdua,ibu mendapatkan sepertiga (1/3), suami mendapatkan separuh (1/2), dan saudara kandung mendapatkan sisa/ ashbah , sedangkan suami dengan sifatnya sebagai anak paman tidak mendapatkan apa-apa karena terhalang oleh saudara kandung. 3. Apabila sifatnya lebih dari satu dengan pihak atau jalur keturunan yang lebih dari satu juga,dan keduanya membuatnya berhak mendapatkan warisan serta keduanya menjadi ashabah (ashabah bil ghair), ia mendapatkan warisan dengan jalur keturunannya yang terkuat. Contoh: apabila seseorang wafat meninggalkan ahli waris : anak laki-laki dan ia juga adalah cucu laki-laki daripaman si mayat, harta waris itu diberikan untuknya sebagai anak. Sedangkan ia, dengan jalur keturunan lain (yakni cucu laki-laki, anak laki-laki dari paman pent), tidak mendapatkan apa-apa. Sebab, jalur hubungan anak (al-bunuwah) didahulukan daripada jalur hubungan paman (al-umumah). Jalur yang berbeda ini terjadi apabila seorang perempuan menikah dengan anak pamannya, dan anak itu menjadi cucu pamannya. Beberapa catatan penting : 1. Apabila dalam diri seseorang terkumpul dua jalur keturunan atau lebih dan semuanya menjadikan ia sebagai ashabah, ia mewarisi melalui jalur yang terdahulu atau lebih kuat. Contohnya, anak yang menjadi orang yang memerdekakan oleh karena itu iadapat mewarisi dengan sifat, sebagai anak

12

bukan sebagai orang yang memerdekakan. Contoh lainnya adalah anak yang menjadi cucu paman (anak dari anaknya paman),yang juga menjadi anak dari orang yang memerdekakan. Dalam persoalan ini, dia mewarisi karena sifatnya sebagai anak, bukan sebagai cucu paman atau anak dari orang yang memerdekakan. Sebab, al-bunuwah lebih didahulukan daripada yang lainnya. 2. Apabila dalam diri seseorang terkumpul bagian tetap dan jalur ashabah, ia dapat mewarisi melalui dua jalur tersebut. Misalnya, suami yang juga menjadi anak paman, dan saudara seibu yang juga menjadi anak paman. 3. Apabila dalam diri seseorang terkumpul dua jalur bagian tetap, ia dapat mewarisi melalui keduanya, jika salah satunya tidak menghalangi yang lain. Jika satu jalur menghalangi jalur yang lain, ia dapat mewarisi melalui jalur melalui jalur penghalang tadi. Contohnya,buyut si mayit yang juga menjadi ibu dari ibunya ibu,dan ibu dari ibunya bapak. Dengan demikian, ia dapat mewarisi dua per tiga (2/3) dari seperenam (1/6), dari kedua jalur tersebut. 4. Jika ada seseorang menjimak ibunya secara tidak sengaja, lalu melahirkan anak perempuan, terkumpullah pada anak perempuan itu dua jalur bagian tetap. Pertama, sebagai anak perempuan orang yang berinteraksi dengan ibunya.sebagai saudara perempuan seibu. Dengan demikian, anak perempuan itu mewarisi orang yang menggauli ibunya sebagai anak, bukan sebagai saudara perempuan seibu, karena anak perempuan terhalang oleh anak-anak ibu.

13

BAB III KESIMPULAN


Asobah menurut bahasa artinya kekerabatan seorang laki-laki dengan ayahnya. Dinamakan ashshoba karena mereka mengelilinginya kata ashshoba artinya mengelilingi untuk melindungi dan membela. Sekelompok orang yang kuat di namakan ushbah. Menurut istilah ia adalah setiap pewaris yang tidak mampunyai bagian tertentu dengan tegas dalam AL-Qruan dan sunnah. Mereka itu adalah anak lelaki, anak lelaki dari anak lelaki (cucu lelaki), saudara lelaki seayah seibu, saudara lelaki seayah dan saudra saudara laki ayah yang seayah seibu). Ashobah senasab atau nasabiyyah terbagi menjadi tiga macam, yaitu sebagai berikut : 1) Ashobahbin-Nafsi ( menjadi ashobahdengan dirinya sendiri). 2) Ashobahbil ghair (menjadi ashobahdengan orang lain). 3) Ashobahmaal al ghair (menjadi ashobahkarena ada bersama orang lain). Ada orang yang memiliki dua jalur keturunan, dimana setiap jalur yang ada membuat orang yang bersangkutan berhak mendapatkan warisan. hal tersebut berbeda sesuai dengan perbedaan keadaan. Sebab, perbedaan jalur keturunan, terkadang melahirkan banyak sifat bagi ahli waris dan bisa juga tidak. Ketika sifat ahli waris itu banyak, mungkin lebih dari satu jalur yang mewarisinya, dan mungkin dari satu jalur.

14

15