Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN JIWA ISOLASI SOSIAL

TINJAUAN TEORI 1. PENGERTIAN Menurut Townsend, M.C (1998:152) isolasi sosial merupakan keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain dianggap menyatakan sikap negatif dan mengancam bagi dirinya. Sedangkan menurut DEPKES RI (1998) Seseorang dengan perilaku menarik diri akan menghindari interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran dan prestasi atau kegagalan. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain, yang dimanivestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan orang lain . Isolasi sosial merupakan keadaan di mana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak (Carpenito ,L.J, 1998: 381). Menurut Rawlins, R.P & Heacock, P.E (1988 : 423) isolasi sosial menarik diri merupakan usaha menghindar dari interaksi dan berhubungan dengan orang lain, individu merasa kehilangan hubungan akrab, tidak mempunyai kesempatan dalam berfikir, berperasaan, berprestasi, atau selalu dalam kegagalan. RENTANG RESPON SOSIAL Manusia sebagai makhluk sosial adalah memenuhi kebutuhan sehari hari, tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa ada hubungan dengan lingkungan sosialnya. Hubungan dengan orang lain dan lingkungan sosialnya menimbulkan respon respon sosial pada individu. Rentang respon sosial individu berada dalam rentang adaptif sampai dengan maladaptif. Respon Adaptif Yaitu respon individu dalam penyesuaian masalah yang dapat diterima oleh norma -norma sosial dan kebudayaan, meliputi :

a. Solitude (Menyendiri) Merupakan respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang telah dilakukan di lingkungan sosialnya, dan merupakan suatu cara mengevaluasi diri untuk menentukan langkah langkah selanjutnya. b. Autonomy (Kebebasan) Respon individu untuk menentukan dan menyampaikan ide ide pikiran dan perasaan dalam hubungan sosial. c. Mutuality Respon individu dalam berhubungan interpersonal dimana individu saling memberi dan menerima. d. Interdependence (Saling Ketergantungan) Respon individu dimana terdapat saling ketergantungan dalam melakukan hubungan interpersonal. Respon Antara Adaptif dan Maladaptif a. Aloness (Kesepian) Dimana individu mulai merasakan kesepian, terkucilkan dan tersisihkan dari lingkungan. b. Manipulation (Manipulasi) Hubungan terpusat pada masalah pengendalian orang lain dan individu cenderung berorientasi pada diri sendiri atau tujuan bukan pada orang lain. c. Dependence (Ketergantungan) Individu mulai tergantung kepada individu yang lain dan mulai tidak memperhatikan kemampuan yang dimilikinya. Respon Maladaptif Yaitu respon individu dalam penyelesaian masalah yang menyimpang dari norma norma sosial dan budaya lingkungannya. a. Loneliness (Kesepian) Gangguan yang terjadi apabila seseorang memutuskan untuk tidak berhubungan dengan orang lain atau tanpa bersama orang lain untuk mencari ketenangan waktu sementara. b. Exploitation (Pemerasan) Gangguan yang terjadi dimana seseorang selalu mementingkan keinginannya tanpa memperhatikan orang lain untuk mencari ketenangan pribadi. c. Withdrawl (Menarik Diri) Gangguan yang terjadi dimana seseorang menentukan kesulitan dalam membina hubungan saling terbuka dengan orang lain, dimana individu sengaja menghindari hubungan interpersonal ataupun dengan lingkungannya. d. Paranoid (Curiga) Gangguan yang terjadi apabila seseorang gagal dalam mengembangkan rasa percaya pada orang lain.

2. FAKTOR PREDISPOSISI DAN PRESIPITASI Faktor predisposisi terjadinya perilaku menarik diri adalah kegagalan perkembangan yang dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya orang lain, ragu takut salah, putus asa terhadap hubungan dengan orang lain, menghindar dari orang lain, tidak mampu merumuskan keinginan dan

merasa tertekan.

Sedangkan faktor presipitasi dari faktor sosio-cultural karena menurunnya stabilitas keluarga dan berpisah karena meninggal dan faktor psikologis seperti berpisah dengan orang yang terdekat atau kegagalan orang lain untuk bergantung, merasa tidak berarti dalam keluarga sehingga menyebabkan klien berespons menghindar dengan menarik diri dari lingkungan (Stuart and Sundeen, 1995). a.Faktor Predisposisi 1) Teori Biologikal dan hubungannya dengan menarik diri a) Genetik Transmisi gangguan alam perasaan yang membuat perasaan sedih dan individu merasa tak pantas berada ditengah lingkungan sosialnya. Keadaan ini diteruskan melalui garis keturunan. Frekuensi gangguan alam perasaan meningkat pada kembar monozigot dibanding dizigot walaupun diasuh secara terpisah. b) Neurotransmitter Katekolamin : Penurunan relatif dari katekolamin otak atau aktifitas sistem katekolamin menyebabkan timbulnya depresi dan berusaha menghindari lingkungan sosial.. Asetilkolin : Suatu peningkatan aktifitas kolinergik dapat menjadi faktor penyebab dan berusaha menghindasi lingkungan sosial. Serotonin : Suatu defisit pada sistem serotoninergik dapat merupakan faktor penyebab dari depresi dan berusaha menghindasi lingkungan sosial. c) Endokrin Keadaan sedih berkaitan dengan gannguan hormon seperti pada hipotiroidisme dan hipertirodisme, terapi estrogen eksogen, dan post partum. d) Kronobiologi Gangguan dari ritme sirkadian. 2) Teori Psikologikal dan hubungannya dengan menarik diri Uraian teori psikologikal dan hubungannya dengan menarik diri yang dipaparkan disini lebih spesifik berdasarkan Teori Perkembangan Erik H. Erikson. Menurut Erikson, dalam menuju maturasi psikososial, manusia perlu menjalankan 8 tugas perkembangan (development task) sesuai dengan proses perkembangan usia. Faktor stimulasi menjadi sangat penting melalui proses belajar menuju maturasi. Untuk mengembangkan hubungan social yang positif, setiap tugas perkembangan sepanjang daur kehidupan diharapkan dilalui dengan sukses sehingga kemampuan membina hubungan social dapat menghasilkan kepuasan bagi individu. Sebaliknya tugas perkembangan yang tidak dijalankan dengan baik memberikan implikasi masalah psikososial di kemudian hari, yaitu: (a) Masa bayi/anak usia 0 1,5 tahun (konflik basic trust vs mistrust) Bayi sangat bergantung pada orang lain dalam pemenuhan kebutuhan biologis dan psikologisnya. Bayi biasanya berkomunikasi untuk dipenuhi kebutuhannya dengan menangis. Kesediaan ibu secara konsisten untuk memenuhi kebutuhan makan, rasa aman, rasa nyaman dan kehangatan akan berimplikasi pada pemebntukan rasa percaya pada diri sendiri, orang lain dan lingkungannya. Kegagalan ibu dalam memenuhi kebutuhannya akan berimplikasi pada rasa tidak percaya pada diri sendiri, orang lain, lingkungannya dan perilaku menarik diri.

(b) Masa anak usia 1,5 3 tahun (Conflik otonomy vs shame and doubt). Pada rentang usia ini, anak mulai menyadari dirinya terpisah dengan orang lain (memiliki otonomi). Anakan mulai berkreasi dalam kebebasan dirinya seperti berlari-lari kian kemari, memegang segala sesuatu yang disukainya, dapat mengendalikan organ-organ tubuhnya dan dapat menyatakan menolak atau menerima sesuatu dari orang lain. Otonomi anak yang berkembang pada tahap ini menuju pada membina hubungan dengan orang lain secara interdependent. Kegagalan anak dalam membina hubungan dengan lingkungannya dan keluarga cenderung membatasi kebebasannya tas dasar pertimbangan yang negatif terhadap lingkungannya (over protective) berimplikasi pada kepribadian anak yang pemalu dan peragu. Pada kondisi lebih lanjut mengakibatkan individu menarik diri dari orang lain dan lingkungannya. (c) Masa anak usia 3 6 tahun (Conflik initiative vs guilt) Pada usia ini semakin berkembang rasa inisitatif anak. Anak mulai banyak bertanya secara kritis dan mencoba melakukan tugas tertentu. Inisiatif yang ditunjukkan misalnya mandi sendiri, memebreskan sendiri permainannya, membantu adiknya dan sebagainya. Pada usia ini, anak mulai menghadapi tuntutan normative dari lingkungannya. Hal ini dapat menimbulkan krisis pada anak sehingga akan mengalami kekecewaaan yang selanjutnya menuju pada rasa bersalah yang berlebihan. Sebaliknya jika lingkungannya kondusif maka berimplikasi pada pembentukan kepribadian anak yang berinisiatif. Perilaku yang menunjukkan rasa bersalah yaitu, takut memulai pekerjaan yang baru, meminta maaf secara berlebihan dan menjadi sangat malu hanya karena kesalahan kecil. Pada kondisi lebih lanjut dapat menimbulkan menarik diri. (d) Masa anak usia 6 12 tahun (Conflik industry vs inferiority) Pada usia ini, anak mulai terdorong untuk melaksanakan tugas-tugas yang dihadapinya secara sempurna dan menghasilkan karya-karya tertentu. Pada usia ini anak mulai bersekolah dan memulai menyesuaikan diri dengan aturan-aturan baru di lingkungan sekolah dan keluarga. Dengan bersekolah, anak memulai mengembangkan hubungan interpersonal dengan peer groupnya terutama dengan yang berjenis kelamin sama. Anak mulai mampu menukar kemampuannya, merasakan kegunaannya dan berkesempatan mebandingkan dirinya dengan teman sebayanya. Orang tua tidak lagi menjadi atusatunya sumber identifikasi anak. Anak mulai melihat dan mengagumi orang lain selain orang tua dan temannya. Figur guru sangat menjadi panutan bagi anak sehingga sering kali anak menjadi lebih percaya pada gurunya daripada orang tuanya. Oleh karena itu orang tua dan guru haruslah menjadi figure yang seimbang untuk ditiru anak. Apabila lingkungan (orang tua dan guru) tidak menghargai hasil karya atau usaha anak maka anak akan mengalami ketidakpuasan dalam bekerja dan diliputi perasaan kurang, tidak mampu dan inferior yang ditunjukkan dengan perilaku : Tidak biasa bekerja sama dengan orang lain, tidak mampu mengerjakan tugas dengan tuntas dan tidak mampu mengatur tugas atau pekerjaan. Pada kondisi lebih lanjut mengakibatkan menarik diri. (e) Masa usia 12 20 tahun (Conflik identity vs role confusion) Merupakan usia peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa, yang sering disebut pubertas. Perubahan fisik dan kejiwaan terjadi begitu pesat sehingga dapat mengganggu keseimbangan diri yang sebelumnya sudah tercapai. Secara biologis kemampuan anak sama dengan orang dewasa, namun secara psikosial dianggap masih labil. Mereka dianggap tidak pantas berperilaku seperti anak-anak tetapi lingkungan juga tidak mengakui mereka sebagai orang dewasa. Pada usia ini, remaja mulai menunjukkan identitas dirinya, baik dalam seksual, umur dan pekerjaan. Kelompok teman sebaya menjadi sangat penting bagi

remaja. Melalui teman sebaya, remaja dapat mengeksprersikan perasaan, pikiran, memainkan peran dan bereksperimen dengan peran. Dalam kelompok inilah remaja mendapat pengakuan dan merima keberadaannya. Sikap orang tua yang terbuka, mengembangkan komunikasi yang akrab, menghargai pendapat dan pikiran remaja, memberikan kesempatan untuk mengekspresikan diri sebagai sahabat bagi remaja akan sangat membantu remaja dalam memperoleh identitas dirinya. Sikap orang tua dan lingkungan yang tidak mendukung ke arah remaja menemukan identitas dirinya dengan selalau saling bertentangan akan menimbulkan kegagalan perkembangan yaitu terjadi kebingungan peran yang ditunjukkan dengan perilaku tidak mempunyai tujuan hidup yang pasti, tidak mampu bertanggung jawab terhadap perbuatannya sendiri dan mengadopsi nilai-nilai orang lain tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu. Pada kondisi lebih lanjut mengakibatkan menarik diri. (f) Masa usia 20 40 tahun (Conflik intimacy vs isolation) Tahap ini merupakan tahap perkembangan dewasa awal. Individu mulai bekerja dan meningkatkan hubungan yang khusus dengan lawan jenisnya. Usia ini dapat juga dikatakan sebagai karier dan berumah tangga. Pada usia ini individu biasanya juga sudah terlepas dari orang tuanya sehingga kegagalan maupun kesuksesan dalam tahap perkembangan ini lebih banyak ditentukan oleh dirinya sendiri dan pasangan hidupnya daripada orang tuanya. Kegagalan dalam memenuhi perkembangan pada tahap ini mengakibatkan individu merasa terisolasi dan mearik diri. (g) Masa usia 40 60 tahun (Conflik generativity vs stagnation) Usia 40 60 tahun merupakan usia ketika seseorang mengalami titik karier puncak. Pada usia ini, individu akan menghasilkan sesuatu yang dapat ditawarkan kepada keturunannya. Dapat berupa tulisan, ide atau pikiran. Individu pada tahap perkembangan ini akan banyak memberikan nasihat dan pengarahan. Kegagalan pada tahap perkembangan ini berakibat individu mengalami stagnasi dimana individu lebih banyak menceritakan dirinya sendiri daripada mendengarkan orang lain. Implikasinya terhadap perkembangan psikososial dimana individu akan dijauhi dan menjauhkan diri dari orang lain dan lingkungannya yang disebut dengan menarik diri. (h) Masa usia 65 tahun keatas. Masa ini, individu akan mengalami masa kepuasan dan ketidakpuasan dalam kehidupannya. Bila dalam tahap perkembangan sebelumnya individu mengalami kepuasan dan siap mengalami penurunan fungsi hidupnya bahkan kematian. Hal ini disebut dengan individu telah mencapai integritas diri. Kegagalan pada usia ini, mengakibatkan individu akan mengalami keputusasaan hidup atau despair dengan berperilaku menangis dan apatis, sulit menerima perubahan dan sangat bergantung pada orang lain (tidak mandiri). Jika tidak mendapatkan perhatian mengakibatkan individu menarik diri dari orang lain dan lingkungan. 3) Teori sosiokultural dan hubungannya dengan menarik diri. Menurut Kartini Kartono (1999, dikutip oleh Sunaryo, 2004) menyebutkan bahwa timbulnya gangguan mental/gangguan jiwa ditinjau dari factor sosial-budaya/sisio-kultural sebagai berikut: (a) Konflik dengan standar social dan norma etis Gangguan mental dapat terjadi karena individu tidak mampu berperilaku sesuai dengan standar social dan norma etik yang berlaku sehingga dalam kehidupan social akan terjadi benturan dengan masyarakat yang menganut standar social dan norma etik tertentu. Prinsip ini erat kaitannya dengan stress adaptasi yang menurut Suliswati, dkk. (2005) menyebutkan bahwa stress disebabkan oleh perubahan-perubahan diantaranya perubahan nilai budaya, perubahan system kemasyarakatan dan pekerjaan yang

mengakibatkan gangguan keseimbangan mental-emosional karena gangguan produktivitas dan kehidupan seseorang menjadi tidak efisien. Kondisi ini berpengaruh terhadap respons menarik diri seseorang. (b) Overproteksi orang tua Akibat dari overproteksi atau perlindungan orang tua yang berlebihan terhadap anak mengakibatkan anak menjadi tidak mandiri, tidak percaya diri, tidak memiliki harga diri, ragu-ragu dan tidak memiliki kreativitas dan inisiatif. Dengan demikian mentalitas anak menjadi rapuh sehingga dapat diasumsikan bahwa lama kelamaan individu akan menarik diri dari orang lain dan lingkungan. (c) Anak yang ditolak/tidak diterima dalam kelahirannya (rejected child) Sering terjadi pada pasangan suami-isteri yang belum dewasa secara psikis sehingga pada saat hamil dan melahirkan cenderung menolak atau tidak mau bertanggung jawab sebagai ayah dan ibu yang baik (tidak cukup memberikan kasih saying). Hal ini dapat membentuk pribadi anak yang labil, mentalitas yang rapuh karena tidak percaya diri, tidak meiliki harga diri dan curiga sehingga dapat menimbulkan menarik diri dari hubungan social. (d) Kondisi broken home Keluarga yang broken home mengakibatkan anak mengalami kesulitan beradaptasi dengan lingkungan, hati yang kacau, bingung, sedih, hidup terombang-ambing antara kasih sayang dan kekecewaan terhadap orang tua. Selanjutnya anak menjadi mudah tersinggung, kesedihan yang berlebihan, putus asa, merasa terhina dan merasa berdosa. Perilaku anak akan menyimpang dari norma social seperti agresif, sadistic, kriminal dan psikopatis. Kondisi ini mengakibatkan individu dijauhi atau menjauhkan diri dari orang lain dan lingkungan social. (e) Konflik budaya Pertemuan budaya antara daerah atau suku bangsa yang satu dengan lainnya membutuhkan saling pengertian dan adaptasi sosial. Apabila terjadi konflik budaya dapat menimbulkan kecemasan, ketakutan dan kehidupan perasaan semakin datar, dingin dan beku. Ekses yang terjadi adalah perilaku yang menyimpang seperti tindakan kejahatan, kekalutan bathin dan stress psikososial. Kesemuaannya itu akan membawa individu pada kondisi menarik diri dari hubungan social. (f) Lingkungan sekolah yang tidak kondusif Lingkungan sekolah yang tidak kondusif seperti temperamen guru yang kejam, aktivitas peserta didik yang tertekan, bangunan tidak memenuhi syarat, tidak memiliki tempat rekreasi, dan sebagainya berimplikasi terhadap gangguan emosi anak serta konflik yang menjurus pada gangguan psikososial. Anak menjadi minder, tidak ada kebanggaan diri dan menurunnya kreatifitas sehingga berdampak pada harga diri yang rendah sehingga mengakibatkan menarik diri dari hubungan sosialnya. (g) Cacat jasmaniah Anak yang cacat jasmani cenderung merasa malu, minder, dibayangi ketakutan, keragu-raguan akan masa depannya sehingga menimbulkan harga diri rendah yang menjurus pada menarik diri. (h) Motif kemewahan materi/financial Dewasa ini orang berlomba-lomba untuk memperoleh kemewahan material/finansial. Kebahagiaan hidup diukur dari suksesnya sesorang menduduki jabatan tinggi, status social dan sukses finasial. Keadaan seperti ini menggiring orang untuk melakukan penyimpangan atau mendapatkan materi dengan cara yang tidak halal. Orang menjadi gelisah dan cemas karena bertentangan dengan nilai-nilai agama yang dianutnya. Atau pada kondisi lain, pendapatan kecil tetapi ambisinya besar untuk sukses

finansial, akibatnya timbul ketegangan batin dan ketakutan. Karena ukuran hidupnya/harga dirinya adalah sukses finansial, sementara kenyataannya tidak sesuai dengan harapan maka individu merasa renhdah diri atau martabatnya menurun. Akibatnya menjauhkan diri dari hubungan social dan lingkungan. b. Stresor Presipitasi 1) Faktor Nature (alamiah) Secara alamiah, manusia merupakan makhluk holistic yang terdiri dari dimensi bio-psiko-sosial dan spiritual (Dadang Hawari, 2002). Oleh karena itu meskipun stressor presipitasi yang sama tetapi apakah berdampak pada gangguan jiwa atau kondisi psikososial tertentu yang maladaptive dari individu, sangat bergantung pada ketahanan holistic individu tersebut (W.F. Maramis, 1998). 2) Faktor Origin (sumber presipitasi) Demikian juga dengan factor sumber presipitasi, baik internal maupun eksternal yang berdampak pada psikososial seseorang. Hal ini karena manusia bersifat unik.

3) Faktor Timing Setiap stressor yang berdampak pada trauma psikologis seseorang yang berimplikasi pada gangguan jiwa sangat ditentukan oleh kapan terjadinya stressor, berapa lama dan frekuensi stressor (PPDGJ-III, 2000). 4) Faktor Number (Banyaknya stressor) Demikian juga dengan stressor yang berimplikasi pada kondisi gangguan jiwa sangat ditentukan oleh banyaknya stressor pada kurun waktu tertentu. Misalnya, baru saja suami meninggal, seminggu kemudian anak mengalami cacad permanen karena kecelakaan lalu lintas, lalu sebulan kemudian ibu kena PHK dari tempat kerjanya (Luh Ketut Suryani, 2005). 5) Appraisal of Stressor (cara menilai predisposisi dan presipitasi) Pandangan setiap individu terhadap factor predisposisi dan presipitasi yang dialami sangat tergantung pada : (a)Faktor kognitif : Berhubungan dengan tingkat pendidikan, luasnya pengetahuan dan pengalaman. (b)Faktor Afektif : Berhubungan dengan tipe kepribadian seseorang. Menurut tipologi kepribadian C.G. Jung (dikutip oleh Sunaryo, 2004), menyebutkan bahwa tipe kepribadian introvert bersifat: Tertutup, suka memikirkan diri sendiri, tidak terpengaruh pujian, banyak fantasi, tidak tahan keritik, mudah tersinggung, menahan ekspresi emosinya, sukar bergaul, sukar dimengerti orang lain, suka membesarkan kesalahannya dan suka keritik terhadap diri sendiri.Tipe kepribadian extrovert bersifat : Terbuka, licah dalam pergaulan, riang, ramah, mudah berhubungan dengan orang lain, melihat realitas dan keharusan, kebal terhadap keritik, ekspresi emosinya spontan, tidak begitu merasakan kegagalan dan tidak banyak mengeritik diri sendiri. Tipe kepribadian ambivert dimana seseorang memiliki kedua tipe kepribadian dasar tersebut sehingga sulit untuk menggolongkan dalam salah satu tipe. (c)Faktor Physiological Menurut Suhartono Taat Putra (2005), kondisi fisik seperti status nutrisi, status kesehatan fisik, factor kecacadan atau kesempurnaan fisik sangat berpengaruh bagi penilaian seseorang terhadap stressor

predisposisi dan presipitasi. (d)Faktor Bahavioral Pada dasarnya perilaku seseorang turut mempengaruhi nilai, keyakinan, sikap dan keputusannya (Bimo Walgito, 1989). Oleh karena itu, factor perilaku turut berperan pada seseorang dalam menilai factor predisposisi dan presipitasi yang dihadapinya. Misalnya, seorang peminum alcohol, dalam keadaan mabuk akan lebih emosional dalam menghadapi stressor.Demikian juga dengan perokok atau penjudi, dalam menilai stressor berbeda dengan seseorang yang taat beribadah. (e)Faktor Sosial Manusia merupakan makhluk social yang hidupnya saling bergantung antara satu dengan lainnya. Menurut Luh Ketut Suryani (2005), kehidupan kolektif atau kebersamaan berperan dalam pengambilan keputusan, adopsi nilai, pembelajaran, pertukaran pengalaman dan penyelenggaraan ritualitas. Dengan demikian, dapat diasumsikan bahwa factor kolektifitas atau kebersamaan berpengaruh terhadap cara menilai stressor predisposisi dan presipitasi. 3. MANIFESTASI KLINIK Menurut Townsend, M.C (1998:152-153) & Carpenito,L.J (1998: 382) isolasi sosial menarik diri sering ditemukan adanya tanda dan gejala sebagai berikut: a. Data subjektif : 1) Mengungkapkan perasaan tidak berguna, penolakan oleh lingkungan 2) Mengungkapkan keraguan tentang kemampuan yang dimiliki b. Data objektif : 1) Tampak menyendiri dalam ruangan 2) Tidak berkomunikasi, menarik diri 3) Tidak melakukan kontak mata 4) Tampak sedih, afek datar 5) Posisi meringkuk di tempat tidur dengang punggung menghadap ke pintu 6) Adanya perhatian dan tindakan yang tidak sesuai atau imatur dengan perkembangan usianya 7) Kegagalan untuk berinterakasi dengan orang lain didekatnya 8) Kurang aktivitas fisik dan verbal 9) Tidak mampu membuat keputusan dan berkonsentrasi 10) Mengekspresikan perasaan kesepian dan penolakan di wajahnya 4. PSIKOPATOLOGI Resiko gangguan persepsi sensori : halusinasi ( Efek ) Deficit perawatan diri Isolasi Sosial : Menarik Diri ( Core Problem ) Harga Diri Rendah ( Cause ) 5. PENATALAKSANAAN

a. Pengkajian Pengelompokan data pada pengkajian kesehatan jiwa berupa faktor presipitasi, penilaian stressor, suberkoping yang dimiliki klien. Setiap melakukan pengkajian, tulis tempat klien dirawat dan tanggal dirawat isi pengkajian meliputi: 1) Identitas Klien Meliputi nama klien, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, tangggal MRS, informan, tangggal pengkajian, No Rumah klien dan alamat klien. 2) Keluhan Utama Keluhan biasanya berupa menyendiri (menghindar dari orang lain) komunikasi kurang atau tidak ada, berdiam diri dikamar, menolak interaksi dengan orang lain, tidak melakukan kegiatan sehari hari, dependen. 3) Faktor predisposisi Kehilangan, perpisahan, penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak realistis, kegagalan / frustasi berulang, tekanan dari kelompok sebaya; perubahan struktur sosial. Terjadi trauma yang tiba - tiba misalnya harus dioperasi, kecelakaan dicerai suami, putus sekolah, PHK, perasaan malu karena sesuatu yang terjadi (korban perkosaan, dituduh kkn, dipenjara tiba tiba) perlakuan orang lain yang tidak menghargai klien/ perasaan negatif terhadap diri sendiri yang berlangsung lama. 4) Aspek fisik / biologis Hasil pengukuran tada vital (TD, Nadi, suhu, Pernapasan, TB, BB) dan keluhan fisik yang dialami oleh klien. 5) Aspek Psikososial a) Genogram yang menggambarkan tiga generasi b) Konsep diri b.1) citra tubuh : Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah atau tidak menerima perubahan tubuh yang telah terjadi atau yang akan terjadi. Menolak penjelasan perubahan tubuh, persepsi negatif tentang tubuh. Preokupasi dengan bagia tubuh yang hilang, mengungkapkan keputus asaan, mengungkapkan ketakutan. b.2) Identitas diri : Ketidak pastian memandang diri, sukar menetapkan keinginan dan tidak mampu mengambil keputusan. b.3) Peran : Berubah atau berhenti fungsi peran yang disebabkan penyakit, proses menua, putus sekolah, PHK. b.4) Ideal diri : Mengungkapkan keputusasaan karena penyakitnya : mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi. b.5) Harga diri : Perasaan malu terhadap diri sendiri, rasa bersalah terhadap diri sendiri, gangguan hubungan sosial, merendahkan martabat, mencederai diri, dan kurang percaya diri. c) Klien mempunyai gangguan / hambatan dalam melakukan hubungan social dengan orang lain terdekat dalam kehidupan, kelompok yang diikuti dalam masyarakat. 6) Keyakinan klien terhadap Tuhan dan kegiatan untuk ibadah ( spritual)

7) Status Mental Kontak mata klien kurang / tidak dapat mempertahankan kontak mata, kurang dapat memulai pembicaraan, klien suka menyendiri dan kurang mampu berhubungan dengan orang lain, adanya perasaan keputusasaan dan kurang berharga dalam hidup. 8) Kebutuhan persiapan pulang a) Klien mampu menyiapkan dan membersihkan alat makan b) Klien mampu BAB dan BAK, menggunakan dan membersihkan WC, membersikan dan merapikan pakaian c) Pada observasi mandi dan cara berpakaian klien terlihat rapi d) Klien dapat melakukan istirahat dan tidur, dapat beraktivitas didalam dan diluar rumah e) Klien dapat menjalankan program pengobatan dengan benar. 9) Mekanisme Koping Klien apabila mendapat masalah takut atau tidak mau menceritakan nya pada orang orang lain( lebih sering menggunakan koping menarik diri) 10) Aspek Medik Terapi yang diterima klien bisa berupa therapy farmakologi ECT, Psikomotor, therapy okopasional, TAK , dan rehabilitas. ANALISA DATA NO TGL/JAM DATA FOKUS MASALAH 1 Subyektif: o Mengatakan malas berinteraksi o Mengatakan orang lain tidak mau menerima dirinya o Merasa orang lain tidak selevel Obyektif: o Menyendiri o Mengurung diri o Tidak mau bercakap-cakap dengan orang lain Isolasi Sosial

2 Subyektif: o Mengeluh hidup tidak bermakna o Tidak memiliki kelebihan apapun o Merasa jelek Obyektif: o Kontak mata kurang o Tidak berinisiatif berinteraksi dengan orang lain Gangguan konsep diri : harga diri rendah 3 Subyektif: o Mengatakan mendengar suara bisikan/melihat bayangan Obyektif: o Bicara sendiri o Tertawa sendiri Marah tanpa sebab Gangguan persepsi sensori : halusinasi

4 Subyektif: o Menyatakan malas mandi o Tidak tahu cara makan yang baik o Tidak tahu cara dandan yang baik o Tidak tahu cara eliminasi yang baik Obyektif: o Badan kotor o Dandanan tidak rapi o Makan berantakan Bab/bak sembarang tempat Deficit perawatan diri 6. DIAGNOSA KEPERAWATAN Isolasi social : menarik diri Gangguan konsep diri : harga diri rendah Gangguan persepsi sensori : halusinasi Deficit perawatan diri 7. FOCUS INTERVENSI STRATEGI PELAKSANAAN PADA PS. ISOLASI SOSIAL SP PASIEN SP KELUARGA

SP1 : - Membina hubungan saling percaya - Mengidentifikasi penyebab isolasi social - Berdiskusi tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain - Berdiskusi tentang kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain - Mengajarkan pasien cara berkenalan dengan satu orang - Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian pasien SP 1 : - Membina hubungan saling percaya - Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien - Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala isolasi social yang dialami pasien - Menjelaskan cara merawat pasien isolasi social SP II : - Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien - Memberikan kesempatan pasien mempraktekan cara berkenalan dengan satu orang - Membatu pasien memasukkan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian SP II : - Melatih keluarga mempraktekan cara merawat pasien dengan isolasi social - Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien isolasi social SP III : - Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien - Memberikan kesempatan pada pasien berkenalan dengan dua orang atau lebih - Mengajurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian pasien SP III : - Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas dirumah termasuk minum obat - Menjelaskan follow up pasien setelah pulang DAFTAR PUSTAKA Anna Budi Keliat, SKp. (2000). Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sosial Menarik Diri, Jakarta ; Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Nurjanah, Intansari S.Kep. 2001. Pedoman Penanganan Pada Gangguan Jiwa. Yogyakarta : Momedia Perry, Potter. 2005 . Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC Rasmun S. Kep. M 2004. Seres Kopino dan Adaptasir Toors dan Pohon Masalah Keperawatan. Jakarta : CV Sagung Seto Stuart, GW. 2002. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 5. Jakarta: EGC. Tarwoto dan Wartonah. 2000. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta. www.erfanhiyandi.blogspot.com/askep_isolasi sosial.html. (di akses 13 Mei 2009) Posted 10th December 2011 by okta diamond