Anda di halaman 1dari 10

SMA Atisa Dipamkara

Tugas Bahasa Indonesia

Identitas Novel
Judul Pengarang Penerbit Tahun Terbit Cetakan ke: Obsesi : Lexie Xu : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta : Oktober 2010 : - dua (Januari 2011) - tiga (Juli 2011) Jumlah Halaman Tebal Buku ISBN : 240 halaman : 20 cm : 978-979-22-6270-4

Ringkasan Novel
BAB 1 : Jenny
Di sebuah sekolah bernama SMA Persada Internasional, terdapat 3 siswa bernama Jenny. Jenny Tompel, orang yang judes dan selalu menyalahkan tompel yang dimilikinya sehingga itulah julukannya. Jenny Bajaj, Jenny yang super cengeng, ia dijuluki begitu karena ketika hari pertama, ujung sepatunya dilindas bajaj sehingga ia menangis tersedu-sedu sampai harus dibawa ke UKS padahal tidak ada luka sama sekali. Jenny yang terakhir adalah aku, Jenny Jenazah. Julukan itu diambil dari namaku Jenny Angkasa- yang disingkat menjadi Jennasa. Akan tetapi, sahabat ku Hanny, menyelamatkanku dari panggilan mengerikan itu. Cewek cantik itu sangat dekat denganku sehingga semua orang memanggil ku Hanny dan Jenny. Ia sangat populer di sekolah, tak heran jika ia disukai banyak pria. Berbeda denganku, pendiam, pemalu, tidak cantik, dan canggung. Tapi aku tetap memiliki pria idaman ku, Tony, kakak kelas ku yang sangat tampan. Aku sangat malu jika bertemu dengannya. Suatu hari, ia lewat bersama sahabatnya, Markus, dan aku pun segera mengumpat di dalam loker. Hanny pun datang dan menyapaku. Ia juga melihat Tony. Ia juga terpesona dengannya. Ketika kami berbincang, Tony mendengarnya dan ia segera menghampiri kami. Ternyata Tony mengajak Hanny kencan, dan aku pun diundang. Tidak seperti kencan Hanny lainnya, aku hanya menjadi figuran, tetapi Hanny tetap baik dan mengundangku. Setelah itu kami kembali ke kelas dan bertemu Jenny Tompel yang selalu cerewet. Hanny pun kesal dan membicarakannya kepada Johan, sahabat lelakinya yang mengerikan. Saat memulai pelajaran, tengkukku terasa dingin dan membuatku merasa bahwa Johan sedang mengawasiku.

1|Page

SMA Atisa Dipamkara

Tugas Bahasa Indonesia

BAB 2 : Hanny
Aku, Hanny, adalah cewek terpopuler menurut teman-temanku. Sudah banyak cowokcowok yang menembakku, dan banyak juga cowok- cowok yang kubuat patah hati. Walaupun aku cantik dan populer, tetapi aku tidak pintar secara akademis seperti sahabatku Jenny Angkasa. Ia tidak begitu populer dan modis sepertiku. Oleh karena itu, untuk kencanku dengan Tony besok, aku yang akan membantunya memilih baju untuk dipakai. Ketika sampai di rumah Jenny, aku sedikit takut, karena rumah ini sangat tua dan sedikit mengerikan. Memang ada gossip tentang hantu seorang ibu bergaun putih dan anaknya. Saat aku memasuki kamar Jenny, kamarnya sangat rapi dan indah dengan tembok bercat pink. Aku pun segera membuka lemari Jenny dan mencarikan gaun yang cocok. Aku pun mencoba salah satu gaun Jenny di kamar mandi. Ketika aku masuk dan mengganti pakaian ku, aku segera berlari karena aku merasa ada yang mengawasiku. Jenny dan aku pun mencoba mengecek apakah hal itu benar. Ketika masuk, tidak ada siapapun di dalam. Aku pun terkejut ketika melihat seragamku yang tadinya berantakan, sekarang sudah rapi tertata di atas meja wastafel.

BAB 3 : Jenny
Bertahun- tahun aku tinggal di rumah menyeramkan ini. Kalau bukan karena Hannyberkhayal tentang hantu, aku tidak akan merasa taku. Bukannya aku tidak percaya pada Hanny, tetapi aku lebih mengandalkan logikaku. Tapi tetap saja, mala mini aku tidak bias tidur. Ketika aku mengalihkan pikiran ku pada kencan Hanny bedok, tiba- tiba sesosok bayangan putih terlihat di depan kamarku. Aku sangat terkejut, tetapi aku hanya berpikir positif, mungkin itu Mbak Mirna. Aku pun keluar untuk memastikannya. Ia pun melintas dari tangga kea rah dapur. Tubuhku membeku ketika melihat sosok wanita tinggi dengan gaun putih yang kukira adalah Mbak Mirna ternyata sedang melambai- lambai sambil memotong sesuatu. Sesaat aku merasa ada yang menghembuskan nafasnya di punggungku. Aku pun melihat sosok Hanny di pojok dapur tanpa bola mata, dan tanpa organ- organ dalam. Saat itulah aku berteriak dan terbangung di kamarku. Untunglah itu hanya mimpi, namun hari masih malam. Aku pun melanjutkan tidurku walaupun masih terkejut. Paginya, aku bersiap- siap untuk pergi. Tony pun menjemputku terlebih dahulu karena rumahnya bersebrangan dengan ku. Ia sangat enakjubkan. Ia juga memujiku cantik ketika itu. Kemudian kami pun pergi menjemput Hanny. Setelah tiu, kami menuju biosokop tanpa Markus karena ia langsung menuju mal sendiri. Sesampainya di sana, kami menuju ke dalam bioskop dan bertemu Markus, lalu masuk ke studio. Saat kencan pun, aku tidak merasa disingkirkan seperti kencan Hanny lainnya, karena Markus selalu mengajakku berbicara ketika Hanny dan Tony sedang ngobrol. Aku merasa bahagia sekali. Setelah itu, kami pun pulang. Tony mengantar Hanny terlebih dahulu, lalu pulang ke rumahnya. Aku pun diantar pulang dengan jalan kaki. Ketika kami sedang berbincang tentang kencan tadi, tiba- tiba ia terdiam dan menembakku. . .

2|Page

SMA Atisa Dipamkara

Tugas Bahasa Indonesia

BAB 4 : Hanny
Sehari setelah kencan kami, Tony datang ke rumahku dan menembakku dengan muka yang berkeringat dan sedikit pucat. Mungkin karena ia gugup. Aku pun menerimannya dan memeluknya. Setelah itu, aku segera menelpon Jenny dan memberitahunya. Ia pun menjawab dengan nada suara yng sedikit aneh, mungkin karena ia cemburu karena aku tahu ia juga suka pada Tony. Walaupun ia sudah merelakan perasaanya, aku tetap merasa bersalah. Esoknya, aku juga memberitahu Johan, namun ia justru tidak menyukai kabar tersebut dengan tatapan mata yang terlalu mesra. Jenny pun datang dengan muka yang sedikit pucat dan lemas serta mata yang membengkak. Saat aku bertanya pun, ia tidak mau memberitahunya. Hal tersebut membuatku sedikit kesal, mengapa ia tidak jujur saja padaku. Hubunganku ini membuat aku dan Jenny menjadi canggung, aku tidak mau kehilangan Jenny dan Tony. Saat istirahat, aku pun mengajak Jenny ke kantin dan ia pun menjawab dengan lemas. Tony pun menghampiriku dan mencium pipiku. Semua orang di kantin langsung bertepuk tangan. Anehnya, ketika kami makan, Jenny dan Tony tidak berbincang satu sama lain. Padahal awalnya biasa- biasa saja. Setelah makan, Tony mengajakku ke lapangan basket. Ketika sampai, ia pun mengakhiri hubungan kami. Aku sangat terkejut dan sedih. Aku berlari sambil menangis untuk menemui Jenny. Tetapi di tengah jalan aku dihentikan Johan. Johan memberitahuku bahwa Jenny dan Tony bekerja sama untuk memenangkan taruhan. Oleh karena itulah Tony menciumku ketika di kantin. Aku segera berlari mencari Jenny. Saat di kelas, aku bertanya pada Jenny apakah ia menyuruh Tony untuk berpacaran dengan aku. Aku sangat amat terkejut ketika ia berkata ia. Aku segera menamparnya sambil membentaknya tentang taruhan itu. Ia pun kebingungan ketika aku membentaknya tentang taruhan Tony. Aku yakin ia hanya berpura-pura. Aku pun berteriak menyumpahinya bahwa Jenny akan sial selamanya!

BAB 5 : Jenny
Satu-satunya hal yang terpikir olehku adalah melabrak Tony untuk menjelaskan semua tentang taruhan yang Hanny katakan. Tony pun terkejut. Ia pun mengajakku pergi menjauh dari kelas walaupun bel sudah berbunyi. Ternyata, teman-temannya membuat taruhan bahwa jika Tony dapat mencium Hanny dihadapan orang-orang, ia adalah lelaki sejati dan akan mendapatkan uang taruhan. Tapi ia sudah membatalkan perjanjian itu, namun ia tetap dipaksa. Walaupun ia menang, ia tidak mengambil uang tersebut. Lalu, aku pun bertanya mengapa ia bisa menyukaiku. Tony telah menyukaiku sejak kecil, ketika ia menyelamatkanku dari kejaran anjing mengerikan. Ketika mulai remaja, ia dan Markus sepakat untuk tidak menyukail, karena Markus pun jatuh cinta padaku. Namun ketika kencan bersama Hanny, Tony semakin jatuh cinta dan tidak dapat memendam perasaanya lagi. Aku sangat terkejut dan bahagia. Setelah itu, kami pun kembali ke kelas masingmasing. Tetapi sebelum itu, aku memintanya menjelaskan taruhan tersebut kepada Hanny. Saat istirahat ke dua dimulai, Tony berbicara dengan Hanny. Tak lama, terdengar suara tamparan. Ketika itu, semua orang memperolok-olok Hanny. Akupun berusaha membela, tetapi aku terdiam ketika Jenny Tompel mengatakan bahwa aku bukanlah sahabat Hanny lagi, dan tanpanya, aku bukan apaapa lagi.

3|Page

SMA Atisa Dipamkara

Tugas Bahasa Indonesia

BAB 6 : Hanny
Hidupku rasanya hampa tanpa Jenny. Walaupun aku cewek yang populer, tanpa Jenny aku merasa kesepian. Johan adalah satu- satunya sahabat ku yang masih bersamaku saat ini. Tetapi, aku merasa persahabatan ini justru menjadi aneh, seperti pacaran. Makan bersama, pulang bersama, belajar bersama. Tapi, memang benar kata orang, sahabat cowok itu tidak sebaik sahabat cewek. Tidak mungkin aku mengeluh tentang sakitnya menstruasi kepada Johan. Aku rindu sekali dengan Jenny. Selera humornya pun masih aku inginkan. Sekarang ia justru bersahabat dengan Jenny-Jenny aneh lainnya. Jenny Tompel yang ngeselin, dan Jenny Bajaj yang cengeng. Aku masih terus mengingat kejadian Jenny dan Tony. Kekesalanku pun aku lampiaskan ketika pelajaran olahraga. Seperti biasa, jika diminta membagi kelompok, kelompokku adalah kelompok orang populer, dan yang satu lagi tidak. Jenny sekarang bersama Jenny lainnya di kelompok yang satu lagi. Kami pun bermain voli. Aku mensmash muka Jenny tiga kali, Jenny Tompel lima kali, dan Jenny Bajaj, hanya sekali, karena ia harus dibawa ke UKS sambil menangis. Entah seberapa kencang smash ku tadi ke padanya, tetapi ia berhasil minta ijin untuk pulang lebih awal. Kami pun melihatnya masuk ke dalam mobilnya sambil ketakutan, mungkin karena supirnya pun sering ngebut. Tak lama ketika kami mengatur posisi bermain, terdengar suara tabrakan. Ternyata mobil Jenny Bajaj kecelakaan. Mobilnya menabrak tiang lampu lalu lintas di dekat sekolah kami. Guru kami segera menelpon ambulan. Pemandangan tersebut sangat mengerikan, badannya penuh darah. Kepalanya pun terluka. Aku pun ingin berteriak rasanya. Kemudian Jenny Jenazah pun melihat kejadian tersebut dengan air mata berlinang. Ingin rasanya berbicara dengannya. Tak lama, ada suara laki- laki berteriak Jenny! Jenny!. Ya, itu adalah Tony. Ia kira yang kecelakaan adalah Jenny Jenazah. Mereka langsung berpelukan dengan Jenny menangis di bahunya. Esoknya, kami mendapat kabar baik dari rumah sakit, Jenny Bajaj baik- baik saja. Namun, perasaan ku masih belum membaik. Merasa bersalah dan juga kesal. Johan pun terus menghiburku ketika perjalanan pulang.

BAB 7 : Jenny
Hidupku rasanya bagaikan mimpi buruk. Pertama, Hanny sangat membenciku sekarang. Sekarang, tidak ada lagi Hanny dan Jenny. Aku hanya berteman dengan Jenny lainnya. Walaupun sebenarnya duduk disamping mereka saja bagaikan disiksa. Jenny Tompel yang memaksaku untuk memanggilnya J-Lo, singkatan untuk Jennifer Lopez. Jenny Bajaj, yang kerjanya nangis dan ngeluh melulu. Aku rindu pada Hanny. Yang kedua, Jenny Bajaj kecelakaan. Hal itu sangat mengejutkan aku dan teman- teman lainnya. Tapi untunglah, esok harinya ternyata Jenny Bajaj dan supirnya baik- baik saja. Walaupun mengalami gegar otak, tetapi untunglah dia masih selamat. Keesokannya, kami terkejut ketika polisi datang untuk memeriksa semua guru dan siswa di sekolahku. Polisi mengatakan bahwa ada yang memotong tali rem mobil Jenny Bajaj, sehingga ketika suprinya menyadarinya, ia menabrakkan mobilnya ke tiang lampu lalu lintas agar tidak menabrak mobil lain. Penderitaanku terakhir adalah Hanny pun semakin membenciku karena kedekatanku dengan Tony. Ketika Jenny Bajaj tabrakan, Tony mencariku dan sangat peduli padaku. Ia kira akulah yang mengalami kecelakaan. Saat melihatku, ia langsung memelukku. Aku yakin, Hanny pasti sangat kesal melihatnya. Aku pun langsung melepaskan pelukanku.

4|Page

SMA Atisa Dipamkara

Tugas Bahasa Indonesia

Kini tiap kali aku ke kantin bersama Jenny Tompel, Tony selalu menghampiriku dan mengajakku makan bersama. J-Lo pun terkadang salah tingkah ketika bersama aku, Tony, dan Markus. Ketika aku di kelaspun, Tony terkadang mencuri-curi pandang kepadaku ketika ia dan teman-temannya melewati lorong. Saat pulang sekolah pun, aku sering membaca-baca buku di balkon sambil melihat Tony latihan Judo. Saat hari Minggu, aku ditelpon Tony. Mereka berniat untuk menyelidiki rumahku. Tentu saja aku memperbolehkan mereka. Sesampainnya di rumahku, mereka mulai berkeliling. Saat berada diruang tamu, mereka mengenang masa lalu rumah tersebut. Dulu, ada anak kecil bernama Jocelyn kata Tony. Sasaran utama Tony dan Markus adalah kamar ibu dari Jocelyn, yaitu kamarku. Setelah mengecek kamarku, kami pergi ke kamar orang tuaku karena Tony melihat bayangan hitam. Ternyata yang ia lihat hanyalah bayangan tikus.

BAB 8 : Hanny
Ternyata mengunjungi rumah Johan bukanlah hal yang baik. Dari depan saja sudah cukup menyeramkan. Selain itu, aku juga belum pernah masuk ke rumah laki-laki. Tetapi, untuk sahabat memang harus ada pengecualian. Ketika masuk ke kamarnya, kamarnya sangat berantakan. Sampah di mana-mana ditambah lagi dengan binatang-binatang peliharaan yang sebagian mengerikan seperti ular dan lain-lain. Buku-buku hipntoris dan sulap pun berserakan dimana-mana. Katanya, binatang-binatangnya itu digunakan untuk keperluan sulapnya. Ketika kami berbincang, ia ijin permisi untuk bertemu dengan adiknya yang menurutnya rese. Aku pun bingung, padahal adiknya tidak begitu mengganggu. Saat menunggu tiba- tiba terdengar suara tamparan. Aku terus melihat jam menunggu dijemput oleh supirku. Tak lama, Johan pun kembali. Saat ia kembali, supirku pun datang. Betapa lega rasanya. Tetapi, Johan menahanku ketika aku hendak keluar kamar. Tubuhku sudah membeku dan merinding. Ternyata ia hanya ingin member tasku yang ketinggalan. Betapa bodohnya aku mengira sahabatku sendiri itu akan mencelakaiku.

BAB 9 : Jenny
Hari ini, Jenny Bajaj telah kembali bersekolah. Ia menggunakan wig untuk menutupi jaitan dikepalanya. Saat sampai, Jenny Tompel tidak berbicara sama sekali padanya. Mungkin ia marah. Aku kasihan padanya. Ketika pelajaran kimia, kami pun diminta membentuk kelompok. Dengan mudah, semua teman- temanku membentuk kelompok. Jenny Bajaj tampak menyendiri dengan mata berkaca-kaca. Aku pun kasihan dan meninggalkan Jenny Tompel yang selalu cerewet ketika aku berniat mendekati Jenny Bajaj. Jenny Bajaj pun sangat berterima kasih padaku. Jenny Tompel pun sendiri sekarang. Aku pun ingin mengajaknya dalam satu kelompok, tapi justru dengan sombongnya ia menolak. Hanny yang melihat kejadian itu, mengkomentari sikap Jenny Tompel. Mereka pun menjadi bertengkar, tetapi aku berusaha menengahi mereka. Aku pun mendengar bisikan licik berkata sok baik padaku. Ternyata benar, itu bisikan Johan dengan tatapan mata menantang. Ibu guru pun menyuruh kami tenang. Lalu, setelah beberapa lama, lampu tiba-tiba mati. Saat kami terdiam beberapa lama, aku mendengar suara benda besar jatuh dan pecahan kaca yang diikuti suara jeritan.

5|Page

SMA Atisa Dipamkara

Tugas Bahasa Indonesia

Aku menyadari suara jeritan itu adalah jeritan Jenny Tompel. Lampu pun menyala kembali. Jenny Tompel pun tergeletak di lantai terjepit lemari cairan kimia dengan pecahan kaca di tubuhnya. Aku memeriksa nadinya di leher. Tiba- tiba matanya melotot padaku dan mengatakan Berikutnya Giliran Lo!!!, kemudian kembali pingsan.

BAB 10 : Hanny
Saat ambulans pergi, muka Jenny sangat pucat. Ia pasti sangat terkejut. Aku pun kasihan dan menghampiri serta berusaha menghiburnya. Aku bilang bahwa itu hanyalah ocehan saja. Jenny Bajaj langsung memotong dan membantah kata-kataku. Katanya itu bukanlah ocehan, semua kecelakaan ini terjadi gara-gara aku. Akulah yang mengutuk Jenny ketika kami bertengkar, namun aku tidak mengatakan Jenny yang mana. Itulah pendapatnya. Jenny pun menyudahi pertengkaranku dengan Jenny Bajaj. Lalu, Tony pun datang dan memeluk Jenny. Ia mendengar kabar mengenai kecelakaan di laboratorium. Tony pun melihatku dan menanyakan kabarku. Tapi aku hanya diam saja dan meninggalkannya. Johan juga melihatnya, dan mengatakan bahwa Tony sok mesra. Tapi aku tidak peduli karena aku masih memikirkan perkataan Jenny Bajaj mengenai akulah penyebab semua kecelakaan ini.

BAB 11 : Jenny
Kata-kata Jenny Tompel masih terngiang di kepalaku. Aku masih merasa takut. Lalu, aku pun menemui Tony dan Markus di tempat latihan Judo mereka. Kami berbincang di kantin mengenai kecelakaan yang menimpa teman kami, dan semuanya bernama Jenny. Setelah berbincang-bincang, aku ke wastafel untuk mencuci tanganku yang tidak sengaja dikotori oleh Tony. Ia bersikeras untuk membersihkan tanganku. Mesra sekali rasanya. Sesaat, ia menembakku. Aku ingin sekali mengiyakan nya, tetapi aku butuh persetujuan dari Hanny terlebih dahulu. Lalu, akupun diantar pulang oleh Tony. Sesampainya di rumah, aku segera mandi. Ketika aku membalut badanku dengan handuk, aku merapikan rambutku di depan cermin. Pandanganku langsung tertuju pada sudut cermin, karena terdapat sbuah telapak tangan kecil yang mungil di sana. Oh tidak!

BAB 12 : Hanny
Memang sulit memaafkan orang. Aku ingin sekali berbaikan dengan Jenny sehingga sepulang sekolah aku menuju rumahnya. Namun, ternyata Jenny belum pulang. Akhirnya aku memutuskan untuk ke rumah Johan terlebih dahulu untuk mengatakan bahwa aku ingin bersahabat kembali dengan Jenny dan ingin duduk disampingnya lagi. Sesampainya di sana, tidak ada orang di rumah itu. Aku tidak sengaja mendorong pintu depannya yang tidak terkunci. Aku pun masuk dan rasa ingin tahuku muncul sehingga aku menuju kamar Johan. Ketika melihat-lihat, aku menemukan foto sebuah keluarga, sepertinya keluarga Johan, namun semua muka di foto itu dicoret kecuali Johan. Lalu aku ingin menuju ke kamar adiknya. Aku terkejut melihat kamar dengan dinding, ranjang, boneka yang tercabik- cabik.

6|Page

SMA Atisa Dipamkara

Tugas Bahasa Indonesia

Jantungku mulai berdebar, lalu siapakah yang Johan ajak bicara waktu itu. Kamar ini terlihat sangat tua dengan jaring laba-laba. Suara mobil Johan pun terdengar dan aku segera menuju pintu depan. Johan menyapaku dan kami berbincang tentang aku dan Jenny ingin kembali bersama. Gerakgeriknya mulai mencurigakan, ia pun mendekatkan mukanya padaku. Ia ternyata jatuh cinta padaku, tapi aku hanya menganggapnya sahabat. Lalu aku segera pergi dari rumah itu.

BAB 13 : Jenny
Setelah kejadian di kamar mandi tadi, aku menelpon Tony. Tony pun datang dan meminta ijin Mbak Mirna untuk memeriksa. Saat kami masuk, Tony pun mengatakan, ada yang masuk ke kamar mandi itu karena uap air panas di cermin itu sudah hilang, tanpa air sedikitpun. Lalu Tony pun memeriksa dinding kamar mandiku yang ternyata terdapat bagian yang bisa di buka, seperti semacam jalan rahasia menuju kamar mandi orangtuaku. Sesampainya di sana, ia melihat tingkap di langit-langit yang bisa dibuka. Ia pun membukanya dan menemukan sebuah jalan rahasia baru. Tony pun menelpon Markus untuk mengajaknya memeriksa jalan rahasia tadi. Saat Markus sampai, kami pun masuk dan memeriksa jalan rahasia itu. Memang terdapat jejak-jejak kaki yang terlihat masih baru. Kami pun menemukan tingkap baru yang menuju pada ruang kantor ayahku. Setelah terus melanjutkan perjalanan, berhentilah kami pada suatu ruang di sudut jalan tersebut dengan meja, makanan cepat saji, dan boneka tanpa kepala. Tony terkejut ketika melihat kotak nasi makan yang dijual di kantin sekolah tergeletak di atas meja. Aku yakin semuanya pasti mencurigai satu orang. Johan. Kami juga menemukan palang menuju suatu tempat. Kami pun memanjatnya. Sesampainya di atas, terdapat dua jalan berbeda. Tony dan Markus pun berpencar dan aku menunggu mereka di sana. Markus menemukan bahwa jalan tersebut menuju ke rumah seorang dokter yang biasanya sangat ramai. Jadi kami pun sudah tahu dari mana pelaku itu bisa masuk. Tak lama, Mbak Mirna memanggilku. Ternyata di ruang tamu sudah ada Hanny yang menungguku.

BAB 14 : Hanny
Awalnya aku takut, tapi sekarang justru tertawa melihat Jenny, Tony, dan Markus menjadi dekil dengan baju yang berlumuran debu. Aku pun langsung memberitahukan niatku untuk berbalikan. Ternyata, setelah aku menanyakan semua yang ingin aku ketahui dari Jenny, aku lah yang salah. Aku langsung percaya pada Johan. Dan ternyata, yang menyebarkan gosip bahwa Johan berpacaran denganku adalah Johan sendiri. Ia sangat terobsesi padaku. Kamipun langsung mebuat perkiraan bagaimana ia bisa mengawasi kegiatan-kegiatan Jenny dan Hanny ketika di rumah itu. Karena Johan berada di belakang mereka, sangat mudah untuk mendengar apa saja yang Jenny dan Hanny ingin lakukan. Ia bahkan mengatakan Jenny Bajaj pantas mendapatkan kecelakaan. Intinya, Jenny sekarang tidak aman, sehingga aku mengajaknya untuk menginap di rumahku, dan Tony Markus akan berkemping di atap rumah Jenny.

7|Page

SMA Atisa Dipamkara

Tugas Bahasa Indonesia

BAB 15 : Jenny
Pagi itu, mereka berbincang bersama tentang malam pertama Tony Markus berkemping. Banyak penderitaan yang menimpa mereka seperti kecoa yang masuk ke dalam baju mereka. Tapi, hari ini kami akan masuk ke kantor administrasi untuk mencari tahu lebih tentang Johan. Ketika di ruang administrasi, mereka mulai mengecek file Johan. Mereka menemukan bahwa Johan dan keluarganya adalah pernah menghuni rumah Jenny. Jadi, wanita bergaun putih dan anaknya yang aku lihat adalah ibu dan adik dari Johan. Karena itulah, Johan mengetahui jalan rahasia yang kami temukan. Akhirnya, Markus menghubungi pamannya yang merupakan seorang inspektur polisi yang menangani kasus kematian ibu dan adik Johan. Menurut penyelidikan, Jocelyn tewas karena dibunuh Johan ketika Johan mendorongnya ke kolam, padahal Jocelyn tidak bisa berenang. Ibunya pun tewas bunuh diri karena tertekan akibat dari kematian ananknya. Aku sangat terkejut mendengarnya. Lalu, rumah itu pun dijual dan orangtuaku membelinya. Setelah cukup lama, kami pun pergi dan member tahu Hanny hasil penyidikan kami. Akan tetapi, kami tidak dapat menyerahkan Johan pada polisi karena belum ada bukti yang kuat.

BAB 16 : Hanny
Pagi ini aku terkejut ketika Johan menghampiri kami. Setelah berbicara singkat, kami pun masuk kelas. Kini, Jenny duduk di sampingku kembali. Akan tetapi, Jenny Bajaj tidak setuju. Aku memarahinya sehingga ia pun kembali dan menangis. Saat aku mengambil buku di tas, Johan menghampiriku. Jantungku sudah berdebar. Aku pun segera pergi dengan dia dibelakangku. Ketika di kelas, Johan berbicara padaku tentang kejadian saat Jenny dan aku bertengkar. Ia tetap bersikeras bahwa ia benar. Aku membalasnya dengan cukup galak. Guru pun datang. Jenny yang mendengarku berbicara pada Johan khawatir padaku karena takut jika Johan berbuat macam-maam jika Hanny membuatnya marah. Setelah bel berbunyi, Tony dan Markus datang ke kelas diam-diam agar Johan tidak tahu. Saat di kantin pun, Johan menatap Hanny dengan menyeramkan. Tony pun sangat emosi melihatnya. Akan tetapi, ia tidak bertindak sembarangan. Mereka menyusun rencana. Mula-mula, aku dimintai tolong untuk menjadi pengalih perhatian sehingga Tony dan Markus dapat menyelinap ke rumah Johan. Bel pun berbunyi, dan kami masuk ke kelas. Ketika aku mengambil buku di loker, tiba-tiba Johan sudah berada di belakangku. Ia iri terhadap kedekatanku dengan Jenny, sampaisampai ia ingin menyingkirkan Jenny. Tapi aku berusaha menenangkannya. Di sekolah aku menjadi sahabat Jenny, tetapi aku bersedia menjadi sahabatnya ketika pulang sekolah. Itu kataku padanya. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi bersama pada sore hari nanti.

BAB 17 : Jenny
Sore harinya, Hanny dan Johan pergi bersama. Aku, Tony, dan Markus segera pergi ke rumah Johan. Kesan pertamaku pada rumah ini adalah sedikit mengerikan, rumah yang tidak terlalu ramai dengan furnitur, tetapi anehnya, tidak ada foto sama sekali di rumah ini. Saat mengecek, kami memasuki suatu kamar yang amat mengerikan, dengan dinding, ranjang, boneka, dan perabotan lainnya yang tercabik-cabik. Di kamar berikutnya, kamar yang cukup luas dengan bantal-bantal yang disusun di atas ranjang seperti manusia. Aku rasa ini kamar ayah Johan. 8|Page

SMA Atisa Dipamkara

Tugas Bahasa Indonesia

Di sini pun tidak terdapat foto. Pada kamar selanjutnya, kami terkejut ketika menemukan seekor ular. Kamar ini sangat berantakan. Lalu, kami pun ke dapur dan tidak menemukan apa-apa. Kami melanjutkan perjalanan menuju ke pekarangan belakang yang ternyata adalah kuburan pribadi keluarga Johan. Terdapat dua batu nisan di sana, nisan pertama untuk ibu Johan, dan yang kedua untuk adik Johan. Aku terkejut ketika tiba-tiba Johan muncul di belakang kami dengan mengacungkan sebilah pisau pada muka Hanny.

BAB 18 : Hanny
Kami pun pergi bersama. Setelah beberapa lama, Johan gelisah karena ia tidak suka keramaian. Ia pun mengajakku ke rumahnya. Aku pun menelpon Jenny untuk memperingatkannya, tetapi aku ketahuan oleh Johan dan ia menamparku. Ia pun menarikku sampai petugas security pun takut padanya. Saat tiba di rumah Johan, ia sangat marah ketika menemukan di depan rumahnya terdapat mobil Tony, sehingga ia menjadikan aku sebagai sandera. Ia mengambil pisau dari mobil. Johan pun menarikku ke pekarangan belakang dan menemukan Jenny serta Tony dan Markus.

BAB 19 : Jenny
Aku terdiam bersama Tony dan Markus ketika melihat Hanny diteror seperti itu. Johan menyuruhku mengikat Tony dan Markus. Hanny pun dilempar oleh Johan dan ia menarikku. Badanku bergetar dan dingin. Saat aku, Johan dan Hanny, Markus, Tony berjalan menuju ruang belajar oleh Johan, Tony menyengkat kaki Johan sampai terjatuh. Johan sempat bangun dan ingin menusuk Tony, tetapi sedikit meleset sehingga badan Tony penuh dengan luka-luka. Pada saat itu, aku, Hanny, dan Markus ke dapur untuk mencari sesuatu. Kami mendapatkan parang dan segera menuju ke tempat Johan. Johan pun kabur menuju hutan angker diseberang rumahnya. Saat kami mengejarnya, tanpa disadari Johan menarikku dari belakang dan mencekikku. Tony pun mengambil parang yang dijatuhkan Jenny. Johan pun melemparku ke Tony dan kembali melarikan diri. Markus mengejarnya ke arah rumah Johan. Markus berhasil menangkapnya dan berkelahi dengannya. Johan pun lari mengambil ularnya untuk dilepaskan, akan tetapi ular itu justru menggigit Johan. Tony pun melumpuhkan ular itu dengan pisau dan Markus memenggal kepalanya. Karena kasihan, kami pun membawanya ke rumah sakit. Ketika di perjalanan, Johan mengatakan bahwa ialah yang membuat Jenny Bajaj dan Jenny Tompel celaka, begitu juga Jenny Jenazah, tetapi ia tidak membunuh Jocelyn. Ibunya mengira Johan membunuh adikny sehingga ibunya bunuh diri. Setelah itu, terdengar suara anak perempuan dari mulut Johan yang mengatakan bahwa Jocelyn tahu Johan ingin menolong Jocelyn. Lalu, Johan mencekik Tony yang sedang menyetir dan membuat mobil tidak terkendalai sehingga mobil menerjang bahu jalan dan terbalik. Aku berusaha menyadarkan Tony yang tidak sadar. Saat itu juga, Johan mencoba untuk kabur ke tengah jalan. Sebuah truk pun menabraknya dan tubuhnya terpental.

9|Page

SMA Atisa Dipamkara

Tugas Bahasa Indonesia

BAB 20 : Hanny
Dari kami berempat, Tony lah yang mengalami luka cukup parah sampai harus di rawat di rumah sakit. Setelah mendengarkan pengakuan dari kami, Paman Markus segera menyelidiki rumah Johan. Ternyata kuburan-kuburan di belakang rumah Johan hanya berisi peliharaan Johan yang mati. Selain itu wartawan pun mewawancarai kami satu per satu lengkap dengan foto kami untuk diterbitkan di surat kabar nasional. Esoknya, surat kabar itu tersebar dan terdapat artikel kami dengan judul Empat Remaja Berhasil Selamat dari Cengkraman Psikopat. Setelah kejadian itu, orangtua Jenny segera kembali dari luar negeri dan segera menjual rumah itu, lalu membeli rumah baru yang lebih layak. Jenny pun berpacaran dengan Tony. Seminggu setelah kejadian, ayah Johan datang ke sekolah. Ia mengucapkan terima kasih pada kami semua. Ia juga memohon pada kami untuk menjenguk Johan. Sepulang sekolah, kami pergi ke rumah sakit untuk menengok Johan dengan kepala plontos dan kursi roda. Ketika disapa, ia tidak mengenali, karena ia megalaimi amnesia total. Setelah cukup lama, mereka pun meninggalkan ruangan itu. Sebelum meninggalkan kamar, Jenny menoleh ke belakang dan melihat Johan tersenyum licik sambil berbisik dengan suara menyerupai anak perempuan Sampai ketemu lagi Kakak-Kakak

~TAMAT~

10 | P a g e