Anda di halaman 1dari 13

Penyakit pada Kerongkongan dan Esofagus

1. Akalasia Esofagus, atau dikenal juga dengan nama Simple ectasia,


Kardiospasme, Megaesofagus, Dilatasi esofagus difus tanpa stenosis atau Dilatasi esofagus idiopatik adalah suatu gangguan neuromuskular. Istilah achalasia berarti gagal untuk mengendur dan merujuk pada

ketidakmampuan dari lower esophageal sphincter (cincin otot antara esophagus bagian bawah dan lambung) untuk membuka dan membiarkan makanan lewat kedalam lambung. Kegagalan relaksasi batas

esofagogastrik pada proses menelan ini menyebabkan dilatasi bagian proksimal esofagus tanpa adanya gerak peristaltik. Penderita akalasia merasa perlu mendorong atau memaksa turunnya makanan dengan air atau minuman guna menyempurnakan proses menelan. Akalasia biasanya mulai pada dewasa muda walaupun ada juga yang ditemukan pada bayi dan sangat jarang pada usia lanjut. Biasanya gejala yang ditemukan adalah disfagia, regurgitasi, rasa terbakar dan nyeri substernal, penurunan berat badan dan rasa penuh pada substernal. Diagnosis Akalasia Esofagus ditegakkan berdasarkan gejala klinis, gambaran radiologik, esofagoskopi dan pemeriksaan manometrik. Pada pemeriksaan radiologik, tampak dilatasi pada daerah dua pertiga distal esofagus dengan gambaran peristaltik yang abnormal serta gambaran penyempitan di bagian distal esofagus atau esophagogastric junction yang menyerupai seperti bird-beak like appearance. Sifat terapi pada akalasia hanyalah paliatif, karena fungsi peristaltik esofagus tidak dapat dipulihkan kembali. Terapi dapat dilakukan dengan memberi diet tinggi kalori, medikamentosa, tindakan dilatasi, psikoterapi, dan operasi esofagokardiotomi (operasi Heller). Pembedahan memberikan hasil yang lebih baik dalam menghilangkan gejala pada sebagian besar pasien dan seharusnya lebih baik dilakukan daripada pneumatic dilatation apabila ada ahli bedah yang tersedia.

2. Disfagi atau kesulitan menelan makanan yang dimakan dari faring,


merupakan gejala utama penyakit faring atau esofagus. Disfagi jangan disalahtafsirkan dengan globus histerikus(perasaan adanya gumpalan dalam tenggorokan), yang dapat disebabkan oleh faktor emosi dan dapat terjadi tanpa harus menelan. Disfagi terjadi pada gangguan non-esofagus yang disebabkan oleh penyakit otot atau neurologis. Penyakit-penyakit ini adalah gangguan peredaran darah otak (stroke, penyakit serebrovaskular), miastenia gravis, distrofi otot, dan poliomielitis bulbaris. Keadaan ini memicu peningkatan risiko tersedak minuman atau makanan yang tersangkut dalam trakea atau bronkus. Disfagi esofageal mungkin dapat bersifat obsrrukrif atau disebabkan oleh motorik. Penyebab obstruksi adalah striktura esofagus dan tumor-rumor ekstrinsik atau intrinsik esofagus, yang mengakibatkan penyempitan lumen. Penyebab motorik disfagi dapat disebabkan olehberkurangnya, tidak adanya, atau terganggunya peristaltik atau disfungsi sfingter bagian atas atau bawah. Gangguan motorik yang sering menimbulkan disfagi adalah akalasia, skleroderma, dan spasme esofagus difus.

3. Pirosis (nyeri ulu hati) adalah gejala lain penyakit esofagus yang sering
terjadi. Pirosis ditandai oleh sensasi panas, terbakar yang biasanya sangat terasa di epigastrium atas atau di belakang prosesus xifoideus dan menyebar ke atas. Nyeri ulu hati dapat disebabkan oleh refluks asam lambung atau sekret empedu ke dalam esofagus bagian bawah, ke duanya mengiritasi mukosa. Refluks yang menetap disebabkan oleh inkompetensi sfingter esofagus bagian bawah dan dapat terjadi dengan atau tanpa hernia hiatus atau esofagitis. Nyeri ulu hati merupakan keluhan lazim selama kehamilan.

4. Odinofagi didefinisikan sebagai nyeri telan dan dapat terjadi bersama


dengan disfagi. Odinofagi dapat dirasakan sebagai sensasi ketat atau nyeri membakar, tidak dapat dibedakan dari nyeri ulu hati di bagian tengah dada. Odinofagi dapat disebabkan oleh spasme esofagus akibat peregangan akut, atau dapat terjadi sekunder akibat peradangan mukosa esofagus.

5. Regurgitasi adalah aliran balik isi lambung ke dalam rongga mulut.


Bedanya dengan muntah adalah karena regurgitasi tidak membutuhkan tenaga dan tidak disertai oleh mual. Gangguan ini dirasakan dalam tenggorokan sebagai rasa asam atau cairan panas yang pahit. Regurgitasi tanpa tenaga ini cukup sering terjadi pada bayi akibat perkembangan sfingter esofagus bawah yang tidak sempurna. Pada orang dewasa, regurgitasi mencerminkan adanya inkompetensi sfingter esofagus bagian bawah dan kegagalan sfingter esofagus bagian atas untuk bertindak sebagai sawar regurgitasi. Water brash merupakan refleks hipersekresi saliva akibat adanya esofagitis peptik atau disfagi, dan tidak sama dengan regurgitasi. Water brash terjadi pada sekitar 15 % dari waktu pada saat seseorang menderita disfagi.

6. Spasme esofagus difus merupakan keadaan yang sering terjadi dan


dicirikan dengan kontraksi esofagus yang tidak terkoordinasi, non propulsif (peristaltik tersier) dan timbul bila menelan. Kelainan ini terutama mencolok pada duapertiga bawah organ, tetapi dapat menyerang seluruh esofagus. Kedua sfingter bekerja normal. Spasme esofagus difus merupakan penyakit yang penyebabnya tidak diketahui dan tampaknya lebih sering terjadi pada pasien berusia tua. Gangguan motilitas yang sama dapat timbul akibat esofagitis refluks atau obstruksi esofagus bagian bawah, misalnya pada karsinoma (biasanya hasil pemeriksaan manometrik pada karsinoma stadium dini adalah normal).

Spasme esofagus difus primer biasanya terjadi pada pasien berusia di atas 50 tahun. Respons menelan nonperistaltik sering ditemukan pada pemeriksaan radiologis dengan barium, dan meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Gambaran radiologisnya disebut corkscrew bead esophagus (esofagus botol), rosary

pembuka

esophagus (esofagus tasbih), curling(keriting) dan berbagai sebutan lain yang biasanya tidak banyak memiliki arti klinis. Dasar patogenik spasme difus hanya diketahui sedikit. Spasme dapat mewakili degenerasi neuron lokai (karena beberapa penderita memberi respons yang positif terhadap obat kolinergik) seperti pada akalasia. Spasme esofagus difus biasanya bersifat asimtomatis, tetapi pada beberapa kasus, kontraksi dapat menimbulkan gejala. Gejala yang paling sering timbul adalah disfagi intermiten dan odinofagi, yang diperberat oleh menelan makanan dingin, bolus yang besar, dan ketegangan saraf. Bila terdapat nyeri dada intermiten, spasme esofagus difus mungkin disalah tafsirkan sebagai angina pektoris, khususnya bila gejala tidak berkailan dengan makan. Yang membuat keadaan ini lebih membingungkan adalah hilangnya rasa nyeri akibat spasme bila diberi nitrogliserin. Akibatnya, beberapa penderita spasme esofagus dims salah didiagnosis sebagai penyakit jantung. Pemeriksaan motilitas memperlihatkan pola kontraksi non peristaltik hipermotil, yang akan membantu menegakkan diagnosis (lihat Gbr. 23-2, C). Pengobatan terdiri atas manipulasi diet (makan sedikit danhindari makanan dingin), antasida, sedatif, dan nitrogliserin untuk menghilangkan spasme. Bfla gejala menetap dan menyusahkan, dapat dianjurkan dilatasi esofagus. Sebagai usaha terakhir, dapat dilakukan miotomi longitudinal esofagus distal.

7. Skieroderma. Disfungsi motorik esofagus terjadi pada lebih dari


duapertiga penderita skleroderma sistemik progresif (skleroderma). Dasar kelainan pada saluran gastro instestinal adalah atrofi otot polos bagian

bawah esofagus. Diagnosis dapat diduga melalui pemeriksaan radiografik dengan barium, tetapi baru dipastikan setelah dilakukan gambaran manometrik. Tanda khas penyakit ini adalah adanya aperistaltik atau peristaltik yang lemah pada setengah sampai duapertiga distal esofagus, serta berkurangnya tekanan sfingter esofagus bagian distal. Inkompetensi sfingter esofagus distal sering menyebabkan terjadinya esofagitis refluks dengan pembentukan striktur pada esofagus bagian bawah. Walaupun refluks gastroesofagus dan esofagitis sering terjadi pada skleroderma, nyeri ulu hati bukanlah gejala yang sering ditemukan. Disfagi adalah gejala yang mencolok bila esofagitis mengakibatkan pembentukan striktur.

8. Esofagitis. Peradangan mukosa esofagus dapat bersifat akut atau kronis,


dan dijumpai dalam berbagai keadaan termasuk dalam gangguan motilitas yang baru dibicarakan. Suatu jenis esofagitis yang tidak berbahaya dapat terjadi setelah menelan cairan panas. Sensasi panas substernal biasanya terjadi dalam waktu singkat dan dikaitkan dengan edema superfisial dan esofago spasme. Bentuk esofagitis yang paling sering dijumpai disebabkan oleh refluks asam lambung, yang sering terjadi bersamaan dengan hernia hiatus. Di samping iru, terdapat pula esofagitis yang dapat menular, yaitu yang disebabkan oleh Candida albicans (sariawan), virus herpes simpleks, virus varisela zoster, sitome galovirus (hanya mengenai pasien gangguan imun), human immunodeficiency virus (HIV), dan Helicobacter

pylori.Esofagitis yang dapat menular (infeksius) lazim terjadi pada penderita imunodefisiensi berat, seperti pada sindrom imunodefisiensi didapat (AIDS). Bentuk esofagitis berat yang akut dapat terjadi setelah menelan basa atau asam kuat. Basa kuat sering ditemukan pada sebagian besar rumah tangga dalam bentuk cairan pembersih, bila terminum akan menyebabkan terjadinya nekrosis kolikuativa berat pada mukosa. Terminumnya zat ini secara kebetulan paling sering terjadi pada anak kecil, tetapi kadang-

kadang zat ini digunakan dalam percobaan bunuh diri. Gejala-gejala yang segera timbul adalah odinofagi berat, demam, keracunan dan kemungkinan perforasi esofagus disertai infeksi mediastinum dan kematian. Efek jangka panjang pada pasien adalah terbenruknya jaringan parut dan strikrur esofagus yang memerlukan dilatasi periodik dengan bougie selama sisa hidupnya. Pengobatan harus cepat dan intensif, antara lain pemberian antibiotika, steroid, cairan intravena, dan kemungkinan pembedahan. Pada penderita cedera kaustik tidak boleh diinduksi terjadinya muntah sebagai penanganan kedaruratan, karena tindakan ini akan kembali melukai esofagus dan orofaring.

9. Esofagitis Refluks Kronis dan Hernia Hiatus. Esofagitis refluks kronis


merupakan bentuk esofagitis yang paling sering ditemukan secara klinis. Gangguan ini disebabkan oleh sfingter esofagus bagian bawah yang bekerja dengan kurang baik dan refluks asam lambung atau getah alkali usus ke daiam esofagus yang berlangsung dalam waktu yang lama. Sekuele yang terjadi akibat refluks adalah peradangan, perdarahan, dan pembentukan jaringan parut dan striktur. Esofagitis refluks kronis sering dihubungkan dengan hernia hiatus. Terdapat sedikit hubungan antara beratnya gejala dengan beratnya derajat esofagitis. Sebagian penderita nyeri ulu hati hanya memiliki sedik't bukti adanya esofagitis, sementara penderita lain dengan refluks kronis bisa saja asimtomatis sampai terbentuk striktur. Pasien berusia lebih dari 40 tahun dengan keluhan nyeri ulu hati selama 10 tahun, sebaiknya dipertimbangkan untuk menjalani pemeriksaan esofagoskopi untuk mendeteksi adanya esofagus

Barrett. Esofagus Barrett adalah penggantian progresif mukosa berepitel gepeng bagian distal yang tererosi dengan epitel metaplastik, yang lebih tahan terhadap digesti peptikum. Epitel metaplastik lebih cenderung mengalami transformasi maligna dan karsinoma esofagus.

10. Tumor (Kanker Esofagus). Tumor jinak esofagus jarang dijumpai. Tipe
yang paling sering adalah leiomioma (tumor otot polos). Leiomioma kadang-kadang mengeluarkan darah tetapi biasanya kurang memiliki makna klinis dan ditemukan secara kebetulan. Sebaliknya, kanker esofagus sering dijumpai, dan mengakibatkan kira-kira 4% dari semua kematian akibat kanker di Amerika Serikat dari tahun 1990 hingga 1996. Kanker esofagus diperkirakan merupakan 23% kanker yang melibatkan sistem digestif (American Cancer Society, 1999). Pria berusia antara 50 sampai 70 tahun merupakan kelompok yang paling sering terserang penyakit ini. Faktor predisposisinya adalah banyak merokok, banyak minum alkohol, dan refluks gaster kronis (esofagus

Barrett). Karsinoma sel gepeng merupakan jems tumor yang paling sering dan sangat bersifat maligna. Tumor dapat timbul di setiap bagian esofagus, tetapi sebagian besar berada pada duapertiga bawah. insiden sangat tinggi di daerah Pemeriksaan radiologis dengan barium, pemeriksaan sitologi, dan biopsi dengan esofagoskopi merupakan tindakan-tindakan penting dalam menentukan diagnosis. Daya tahanhidup 5 tahun kurang dari 10%. Penyebab prognosis yang buruk ini adalah adanya penyebaran limfatik yang dim dan lambatnya gejala yang timbul. Gejala pertama biasanya berupa disfagi, tetapi gejala ini biasanya tidak timbul sebelum tumor menyerang seluruh lingkaran esofagus. Penyinaran dan reseksi bedah adalah bentuk penatalaksanaan yang paling umum. Lesi yang berada di bagian atas esofagus tidak mungkin direseksi dan lesi diobati dengan penyinaran. Untuk memperlebar lumen dapat dimasukkan bougie atau protese dari plastik. Tindakan ini dimaksudkan agar penderita tetap dapat makan. Pengobatan paliatif yang lebih baru adalah dengan menggunakan sinar laser untuk menghancurkan bagian tengah tumor yang menyumbat, dengan demikian lumen tetap terbuka dan makanan dapat masuk.

11. Faringitis (Radang Tenggorokan). Faringitis adalah suatu peradangan


pada tenggorokan (faring). Faringitis bisa disebabkan oleh virus maupun bakteri. Kebanyakan disebabkan oleh virus, termasuk virus

penyebab common cold, flu, adenovirus, mononukleosis atau HIV. Bakteri yang menyebabkan faringitis adalah streptokokus grup A,

korinebakterium, arkanobakterium,Neisseria gonorrhoeae atau Chlamydia pneumoniae. Baik pada infeksi virus maupun bakteri, gejalanya sama yaitu nyeri tenggorokan dan nyeri menelan. Selaput lendir yang melapisi faring mengalami peradangan berat atau ringan dan tertutup oleh selaput yang berwarna keputihan atau mengeluarkan nanah. Gejala lainnya adalah: - demam - pembesaran kelenjar getah bening di leher - peningkatan jumlah sel darah putih. Gejala tersebut bisa ditemukan pada infeksi karena virus maupun bakteri, tetapi lebih merupakan gejala khas untuk infeksi karena bakteri.

2 jenis faringitis

Faringitis Virus Biasanya tidak ditemukan

Faringitis Bakteri Sering ditemukan nanah di tenggorokan

nanah di tenggorokan Demam ringan atau tanpa demam Jumlah sel darah

Demam ringan sampai sedang

putih Jumlah sel darah putih meningkat ringan sampai sedang

normal atau agak meningkat

Kelenjar getah bening normal Pembengkakan ringan sampai sedang atau sedikit membesar pada kelenjar getah bening

Tes

apus

tenggorokan Tes apus tenggorokan memberikan hasil positif untuk strep throat tumbuh pada biakan di

memberikan hasil negatif

Pada biakan di laboratorium Bakteri tidak tumbuh bakteri

laboratorium

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Jika diduga suatu strep throat, bisa dilakukan pemeriksaan terhadap apus tenggorokan.

Untuk mengurangi nyeri tenggorokan diberikan obat pereda nyeri (analgetik), obat hisap atau berkumur dengan larutan garam hangat. Aspirin tidak boleh diberikan kepada anak-anak dan remaja yang berusia dibawah 18 tahun karena bisa menyebabkan sindroma Reye. Jika diduga penyebabnya adalah bakteri, diberikan antibiotik. Untuk mengatasi infeksi dan mencegah komplikasi (misalnya demam rematik), jika penyebabnya streptokokus, diberikan tablet penicillin. Jika penderita memiliki alergi terhadap penicillin bisa diganti dengan erythromycin atau antibiotik lainnya.

12. Laringitis. Definisi Laringitis adalah salah satu penyakit tenggorokan,


dimana sesuai namanya adalah merupakan suatu kondisi medis yang melibatkan kotak suara atau laring. Maka dari itu diberi nama laringitis yang merupakan suatu kondisi dimana terjadi peradangan pada kotak suara yang terjadi karena infeksi yang berlebihan atau iritasi oleh bakteri. Kondisi medis ini bisa berlangsung akut dalam waktu singkat atau kronis yang memiliki efek secara jangka panjang. Penyebabnya ditentukan dari kedua keadaan tersebut.

Gejala: Gejala yang terlihat dari laringitis adalah kualitas suara orang yang menderitanya. Pita suara yang merupakan salah satu dari dua pasang selaput lendiri terletak di dalam laring. Maka dari itu jika laring mengalami peradangan, maka suara akan terdistorsi dan menjadi berbeda daripada saat normal. Gejala yang terlihat antara lain adalah suara menjadi serak, ada perasaan geli pada tenggorokan, terasa sakit di tenggorokan dan tenggorokan terasa kering. Pada beberapa kasus, suara seseorang yang menderita laringitis menjadi sangat lemah dan tidak dapat didengar oleh orang lain. Orang tersebut bisa juga menderita batuk kering dan pada anakanak bisa menderita kesulitan bernafas. Tenggorokan terasa mampet dan dorongan untuk terus membersihkan tenggorokan adalah sebuah gejala umum. Penyebab: Penyebab laringitis tergantung pada jenis kondisinya, sehingga bisa sangat bervariasi. Penyebab akut antara lain adalah infeksi virus flu, penggunaan suara yang berlebih atau berteriak, penyakit campak, gondok dan difteri. Penyebab ini sudah terbukti bertanggung jawab atas laringitis akut. Sedangkan penyebab dari laringitis kronis antara lain adalah penyakit gastroesphageal reflux (GERD), penyalahgunaan alkohol, merokok, asap bahan kimia yang terhirup, alergen dan iritan yang lainnya. Penggunaan suara yang berlebih juga dapat memicu timbulnya laringitis kronis. Pada suatu kondisi tertentu, infeksi bakteri, jamur, kanker, infeksi parasit atau lumpuhnya pita suara dapat juga terdeteksi sebagai penyebab potensial, namun pada kasus yang sangat jarang terjadi. Pengobatan penyakit laringitis berpusat pada sebab penyakit. Sebagian besar kasus laringitis adalah infeksi virus dan bisa terobati dengan sendirinya oleh sistem kekebalan tubuh dalam seminggu atau lebih. Pada kondisi lain, dokter akan memberikan pengobatan berupa antibiotik, kortikosteroid dan obat refluks asam tergantung penyebab penyakit laringitis tersebut. Hal yang harus dilakukan antara lain adalah:

Sebelum anda meminum obat, anda bisa melakukan perawatan diri supaya lebih nyaman. Caranya adalah dengan menghirup uap dari semangkuk air panas yang disarankan untuk penderita laringitis.

Gunakan suara anda seperlunya ketika anda sedang dalam masa pemulihan dari penyakit laringitis, apalagi berteriak-teriak hingga otot leher menegang.

Anda harus menjaga kadar air dalam tubuh anda dengan meminum air 1-1,5 liter setiap hari.

Pada pagi hari saat tenggorokan terasa iritasi, maka anda dapat berkumur air hangat yang diberi garam dapur atau ditambahkan cengkeh dan jahe.

Hindari merokok dan konsumsi minuman beralkohol karena dapat memperburuk gejala lebih lanjut.

13. Varises Esofagus. Varises esofagus adalah penyakit yang ditandai


dengan pembesaran abnormal pembuluh darah vena di esofagus bagian bawah. Esofagus adalah saluran yang menghubungkan antara

kerongkongan dan lambung.Varises esofagus terjadi jika aliran darah menuju hati terhalang. Aliran tersebut akan mencari jalan lain, yaitu ke pembuluh darah di esophagus, lambung, atau rectum yang lebih kecil dan lebih mudah pecah. Yidak imbangnya antara tekanan aliran darah dengan kemampuan pembuluh darah mengakibatkan pembesaran pembuluh darah (varises). Varises esophagus biasanya tidak bergejala, kecuali jika sudah robek dan berdarah.

14. Kanker tenggorokan adalah tumor ganas yang berkembang di area


tenggorokan, larynx (kotak suara), dan tonsil. Bagaimana gejalanya? Kanker tenggorokan memiliki gejala yang samar dan mencakup hal-hal yang cenderung kurang serius sehingga penderitanya mengabaikan tandatanda tersebut. Ketika batuk Anda mengeluarkan darah atau ketika mengalami sakit tenggorokan yang tidak kunjung sembuh hingga dua minggu lamanya, waspadalah dan segera kunjungi dokter. Gejala-gejala kanker tenggorokan yang lain adalah Anda akan

mengeluarkan bunyi melengking saat bernafas, susah untuk menelan selama periode yang panjang, sakit pada bagian telinga, turunnya berat badan secara drastis, serta adanya benjolan di sekitar area leher. Sebagian besar orang menganggap sakit saat menelan yang berkepanjangan adalah hal yang wajar sehingga mereka tidak melakukan tindakan apapun. Di lain pihak, meski tidak kanker tenggorokan disebabkan merokok dan alkohol, alangkah baiknya bagi Anda yang merokok dan peminum alkohol untuk memeriksakan diri secara rutin. Semakin cepat penyakit kanker ditemukan dalam tubuh Anda maka semakin besar peluang untuk disembuhkan. Jika telah ditemukan kanker pada tenggorokan secara positif, maka dokter akan menyarankan beberapa metode penyembuhan yang umum

digunakan. Pilihan pengobatan yang tepat sangat bergantung dari tempat tumbuhnya kanker dan level stadium kanker. Penyembuhan dapat berupa: -Terapi radiasi

Menggunakan partikel berenergi tinggi seperti X-ray untuk menyampaikan radiasi ke sel yang tumbuh dengan ganas. Ketika radiasi ini berhasil maka sel-sel yang ganas tersebut akan mati. Terapi radiasi adalah metode pengobatan penyakit kanker yang paling baik untuk kanker tenggorokan stadium awal. -Pembedahan Ada beberapa jenis pembedahan yang penerapannya sangat tergantung dari lokasi tumbuhnya sel kanker dan stadium kanker. Pada stadium awal,

pembedahan akan dilakukan dengan endoskopi yakni memasukkan suatu alat ke dalam tenggorokan sehingga bagian-bagian yang terkena kanker bisa dibedah atau dipotong. Untuk stadium lanjut, misalnya kanker tenggorokan pada pita suara, tidak ada jalan lain selain mengambil keseluruhan atau sebagian dari pita suara. Tetapi dokter akan berusaha untuk mempertahankan agar penderita kanker tetap bisa berbicara dan bersuara. -Kemoterapi Kemoterapi dilakukan dengan menggunakan bahan kimia yang

dimasukkan ke dalam tubuh agar sel-sel kanker mati. Pada banyak kasus, kemoterapi kemudian dikombinasikan dengan terapi radiasi. Karena setelah mendapat kemoterapi biasanya sel-sel kanker akan sangat sensitif terhadap radiasi. -Terapi obat yang ditargetkan

Untuk kasus kanker tenggorokan, obat yang digunakan sebagai terapi adalah Cetuximab. Biasanya penderita kanker tenggorokan

mengombinasikan obat ini dengan kemoterapi dan terapi radiasi.

Kanker tenggorokan memang tak sepopuler kanker payudara atau darah namun Anda tetap harus waspada terhadap gejalanya. Terlebih Anda yang merokok dan minum minuman beralkohol. Karena tenggorokan adalah aset manusia yang berharga sebagai bagian dari sistem pencernaan dan produksi suara.