Anda di halaman 1dari 3

Crismon Ginting Gapenda Sari br.

Kaban Jesica Ferina Tarigan Kevin Pardede Tinezhia Novitasari Ginting

Eksistensi sebuah Bangsa, selalu diawali oleh sebuah fakta; fakta dimakan waktu yang cukup lama akhirnya menjadi sebuah Sejarah; Sejarah dimakan waktu pula, maka akan menjadi sebuah legenda; Seterusnya legenda dimakan waktu akan menjadi sebuah mitos, Sedangkan mitos adalah lawan kata dari logos. Kalau logos adalah sebuah ilmu pengetahuan yang membutuhkan pembuktian atau verifikasi, sedangkan mitos adalah sebaliknya, dari sebuah fakta karena termakan waktu yang cukup lama tadi menjadi sebuah keyakinan dan kepercayaan. Filsuf Junani Kuno Herakleitas pernah mengatakan bahwa segala sesuatu itu panta rei, selalu berubah dan mengalir, tiada yang tetap. Begitu pula halnya dengan masyarakay dan budaya Karo. Kemajuan masyarakat Karo yang menghuni sebuah kabupaten dengan penduduk sekitar 400.000 jiwa sungguh sangat pesat. Di satu pihak kemajuan tersebut memang sangat menggembirakan, sedang di pihak lain mencemaskan. Para orang tua sangat gembira akan kemajuan yang diperoleh putraputrinya lebih-lebih dalam bidang pendidikan, tetapi cemas karena adanya kecenderungan bagi putra-putra mereka lupa atau kurang paham lagi pada adapt istiadat harta pusaka peninggalan leluhur. Hal ini memang dapat dimengerti. Maka dari itu dewasa ini kita harus mengetahui kondisi tempat kita berpijak. Penelusuran dari Sejarah Kerajaan Haru sebenarnya migrasi atau pergerakan Orang Karo dari pantai/pesisir menuju pedalaman/pegunungan sudah membentuk lingkaran atau arus bolak-balik. Setelah penaklukan Kerajaan Haru II Deli Tua, Orang Karo lari ke pedalaman dataran Tinggi Karo, Seberaya. Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi (perlanja sira), Orang Karo yang sudah di dataran tinggi kembali ke pesisir/pantai seperti Deli Serdang, Medan dan Langkat membentuk komunitas baru lagi, Disinilah timbul istilah Karo Jahe dan Karo Binge. Inilah fakta bahwa Orang Karo dari pantai ke gunung dan turun gunung kembali ke daerah pantai, sehingga dapat disebutkan arus bolak-balik atau membentuk lingkaran. Wilayah yang didiami oleh suku Karo dibatasi sebelah Timur oleh pinggir jalan yang memisahkan dataran tinggi dari Serdang. Di sebelah Selatan kira-kira dibatasi oleh sungai Biang ( yang diberi nama sungai Wampu, apabila memasuki Langkat ), disebelah Barat dibatasi oleh gunung Sinabung dan disebelah Utara wilayah itu meluas sampai ke dataran rendah Deli dan Serdang. Suhu udara di dataran tinggi Karo sangat sejuk, berkisar antara 16 s/d 27 C dengan kelembaban udara rata-rata 28%. Sebagian besar masyarakat Karo bermata pencaharian sebagai petani. Uraian dari beberapa pendapat mengklasifikasikan sifat orang karo dari 3 dimensi yaitu: 1. Dimensi Psikologis Dimensi psikologis menyatakan orang karo adalah pemarah dan pendendam, mudah tersinggung. Dan mengutamakan harga diri. Carana e nge ateku lang merupakan ungkapan harga diri yang tidak tidak dapat ditawar. Sifat pendendam orang karo dikenal dengan istilah popular Sada matawari pe ateku la ras ia ; artinta tidak ada maaf bagimu. 2. Dimensi Sosiologis

Dimensi sosiologis menyatakan orang karo adalah pengasih, suka menolong adalah kenyataan yang sangat berpengaruh dalam kehidupan orang karo. Sifat saling membantu pada masyarakat karo dapat dilihat dari budaya aron. 3. Dimensi Ekonomi Dimensi ekonomi menyatakan orang karo adalah kikir-hemat berjuang mengumpulkan uang dan harta demi kepentingan prestise. Kebiasaan hemat ini dapat dimotivasi dua hal, pertama karena ketiadaan, sehingga orang karo harus hemat dan menjadi kelihatan kikir/pelit. Motivasi kedua adalah memupuk uang dan harta untuk bekal anak cucunya. 4. Dimensi Teologis Dimensi teologis menyatakan orang karo adalah percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Agama pertama yang dianut oleh orang karo adalah agama hindu (pemena) dan saat ini sebagian besar masyarakat karo memeluk agama protestan, katholik, dan islam, dan terdapat juga memeluk agama hindu. Fisik orang karo pada awalnya terbilang pendek, karena masa dalam janin dan pada masa pertumbuhan kurang memiliki asupan gizi yang tidak optimal. Mengenai keadaan fisik orang Karo, berdasar pengamatan khusus terhadap orang yang telah uzur (umur 75 s\d 100 tahun ). Bangun (1986 : 155-156) mengemukakan : Tinggi rata-rata 150-160 cm Rambut hitam antara lurus dan bergelombang Mata biasa antara sipit dan miring Wajah agak bundar mirip raut muka bangsa mongol Hidung agak pesek Bibir tebal, lebar Kulit sawo matang

Dewasa ini fisik Orang Karo semakin baik dan telah berubah tinggi badan antara 165170 cm. Ini sebagai akibat perbaikan asupan gizi yang disebabkan oleh kesadaran kesehatan dan kemampuan ekonomi masyakaratnya. Karakter rahang Orang Karo berbeda antara satu dengan lainnya. Tidak seperti Orang Batak Toba rahang wajahnya relatif sama. Sedangkan karakter rahang Orang Karo relative berbeda. Sebahagian mirip orang India, sebahagian mirip mongol dan sebahagian lagi mirip rahang Batak Toba. Perbedaan rahang ini membuktikan bahwa Orang Karo memiliki moyang yang tidak satu, karena setelah Kerajaan Haru IV di Seberaya, migrant dari Aceh, Tapanuli terus masuk ke wilayah pendudukan Orang Karo, baik di Tanah Karo, Langkat, maupun Deli Serdang. Kata rebu berarti pantang, tidak pantas, dilarang, tidak dapat, tidak diizinkan, melakukan sesuatu hal atau perbuatan. Jadi dalam kata ini terkandung pengertian yang negative yang berisi larangan kepada seseorang untuk melakukan sesuatu. Orang yang melanggar karangan tersebut adalah orang yang tidak tahu adapt, tidak menuruti tata kebiasaan yang berlaku; dan orang yang demikian akan dicemoohkan dan dihina oleh orang banyak . Agaknya pengertian kata rebu dalam bahasa Karo ini dapat disejajarkan dengan kata tabu dalam bahasa-bahasa Polinesia yang sudah tidak asing lagi dalam dunia antropologi-budaya. Pada masyakarat Karo, sudah terkenal akan adanya rebu : a. antara mami dengan kela b. antara bengkila dengan permain. c. antara turangku dengan turangku. Ada sebuah pemeo Karo yang berbunyi: Adi la beluh ertutur, labo siat ku japa pe yang berarti Kalau tak pandai bertutur, takkan ada tempat ke mana pun. Yang dimaksud dengan istilah ertutur pada masyarakat Karo ialah saling memperkenalkan diri dengan menyebut merga/beru serta bebere masing-masing untuk mengetahui hubungan kekerabatan secara adapt. Bahkan kadang-kadang sampai kepada soler dan binuan (soler = bebere ibu; binuang = bebere ayah).Adapun marga dalam suku karo ada 5 yang disebut dengan merga silima, yaitu : 1. Karo karo 2. Ginting 3. Tarigan 4. Sembiring 5. Perangin angin

Pada masyarakat Karo terdapat tradisi merdang-merdem yang merupakan ritus budaya peninggalan Hindu, yang dilaksanakan sebelum menanam padi tiba, namun pada masa sekarang ini tradisi tersebut lebih sering dikenal dengan istilah kerja tahun. Kerja tahun tersebut bertujuan untuk saling bersilaturahmi dengan saudara saudara yang berjauhan. Dan biasanya makanan tradisional saat kerja tahun adalah cimpa, lemang, tasak telu, terites, cipera, dll. Disamping tradisi tersebut terdapat juga objek-objek wisata yang menjadi daya tarik wilayah karo. Adapun tempat wisata tersebut seperti: - Gundaling - Sipiso piso - Tongging - Air panas - Gunung Sibayak - Lau Kawar - Lingga - Tahura Disamping itu ada satu kegiatan yang sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Karo, yaitu kegiatan drum band antar sekolah setanah Karo guna memperingati hari kemerdekaan Indonesia tepatnya tanggal 17 Agustus. Dimana pada kegiatan ini, mulai dari anak PAUD sampai ke semua bagian pemerintahan ikut serta berpartisipasi dalam memeriahkan HUT RI. Bahkan masyarakat dari pedesaan juga turut meramaikan kegiatan ini dengan ikut menyaksikan kehebohan perayaan HUT RI ini . Jalan jalan juga dipadati oleh pedagang-pedagang loak dadakan, sehingga jalanan macet.