Anda di halaman 1dari 7

GAMBARAN KUALITAS HIDUP ANAK USIA 10-11 TAHUN BERDASARKAN STATUS KESEHATAN MULUT

(Penelitian dilakukan di kompleks SDN Maccini Kota Makassar)

SKRIPSI Dewi Meilyana Hartika J 111 08 273

UNIVERSITAS HASANUDDIN FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI MAKASSAR

2011 ABSTRAK
Pengukuran klinis status kesehatan gigi dan mulut belum dapat menjelaskan status fungsi gigi dan mulut. Pengukuran klinis status kesehatan gigi dan mulut telah dilengkapi dengan melakukan pengukuran kesehatan mulut yang dihubungkan dengan kualitas hidup. kebanyakan pengukuran ini dilakukan pada orangtua dan orang dewasa. Masih sedikit yang melakukan penelitian pada anak-anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas hidup anak usia 10-11 tahun. Penelitian ini berjenis observasional deskriptif dengan desain potong lintang pada anak-anak usia 1011 tahun. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan indeks Child-OIDP dan mengukur status kesehatan mulut yakni status karies (indeks DMFT) dan status kebersihan mulut (indeks OHI-S). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 77,2% subjek mengalami gangguan kesehatan mulut. Makan adalah aktivitas yang paling banyak mengalami gangguan sebanyak 50,2%. Gangguan kesehatan mulut yang paling banyak dialami adalah gigi berlubang (80,73%), sakit gigi (77,06%) dan gigi sensitif (65,59%). Rata-rata DMFT yakni 2,36 yang termasuk kategori sedang dan rata-rata OHI-S yaitu 1,33 yang termasuk kategori rendah. Sebagai kesimpulan, dampak kesehatan mulut banyak terjadi namun tidak parah. Dampak kebanyakan berhubungan dengan kesulitan makan dan status emosional. Sakit gigi, gigi berlubang dan gigi sensitif adalah penyebab gangguan yang paling banyak dialami. Rata-rata karies tertinggi terdapat pada tidur/aktivitas dan rata-rata OHI-S tertinggi terdapat pada aktivitas sosial. Kata Kunci: Indeks Child-Oral Impact on Daily Performance, status kesehatan mulut, kualitas hidup

ABSTRACT
Measurement of clinical oral health status have not been able to explain the status of the function of the teeth and mouth. Measurement of clinical oral health status has been equipped with measuring oral health related quality of life. Most of these measurements performed on the elderly and adults. Still little is conducting research on children. This study aims to determine the image quality of life of children aged 10-11 years. This type observational descriptive study with cross-sectional design in children aged 10-11 years. This research was conducted by using the Child-OIDP index and measure the status of oral health which are status of caries (DMFT index) and oral hygiene status (OHI-S index). The results showed that 77,2% subjects experienced oral health problems. Eating was the common performances affected 50,2%. Oral health problems which the most experienced are tooth decay (80.73%), toothache (77.06%) and sensitive teeth (65.59%). The average DMFT of 2.36 which included moderate category and the average OHI-S is 1.33 which includes a low category. To conclude, Oral impacts were prevalent, but not severe. The impacts mainly related to difficulty eating and emotional state. Toothache, tooth decay and sensitive teeth contributed largely to the incidence of oral impacts. The highest average of caries status was sleeping/resting and highest average of oral hygiene status was social activities. Keywords: Child-Oral Impact on Daily Performance index, oral health status, quality of life

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Kesehatan gigi dan mulut merupakan hal yang sangat penting. Penyakit gigi dan mulut menduduki urutan pertama dari daftar 10 besar penyakit yang paling sering dikeluhkan masyarakat berdasarkan hasil studi morbiditas SKRT-Surkernas tahun 2004. Data dari Riskedas tahun 2007 yang dikeluarkan Depkes RI juga melaporkan bahwa penduduk Indonesia yang mengalami karies gigi sebanyak 72,1% dan sebanyak 46,5% di antaranya karies gigi aktif yang belum dirawat.1 Hal ini berarti masih banyak masyarakat Indonesia yang masih mengabaikan kesehatan gigi dan mulutnya. Pada umumnya penyakit mulut tidak membahayakan kehidupan namun dampak yang ditimbulkan bisa mempengaruhi kesejahteraan kehidupan individu maupun populasi.2 Sejak akhir tahun 1980, kesehatan mulut yang berkaitan dengan kualitas hidup sudah mulai menjadi prioritas para spesialis dan mereka memusatkan pada evaluasi konsekuensi penyakit mulut dalam kehidupan individu dan pendirian langkahlangkah yang tepat untuk mencegah efek negatif penyakit mulut terhadap kualitas hidup. Organisasi kesehatan dunia WHO merumuskan konsep sehat bukan hanya dengan tidak adanya penyakit dan kecacatan, melainkan juga mencakup keadaan

sehat baik fisik, mental maupun sosial. Penelitian yang ada saat ini kebanyakan hanya mengukur indeks klinis dari suatu penyakit dan berfokus pada ada atau tidaknya suatu penyakit. Mereka tidak menginformasikan kita tentang kesejahteraan seseorang tentang mulutnya contohnya kemampuan dalam mengunyah dan menikmati makanannnya. 3 Studi yang dilakukan oleh Rosenberg D. pada pasien-pasien penderita penyakit gigi dan mulut, menemukan bahwa pengukuran klinis seperti jumlah gigi yang mengalami karies berupa DMF-T tidak mampu menjelaskan status fungsi dari gigi dan mulut. Pertemuan para pakar kedokteran gigi di North Carolina, USA 1996 menekankan betapa pentingnya memasukkan aspek kualitas hidup dalam menilai hasil-hasil program pelayanan kesehatan gigi dan mulut. 4 Pada masa sekarang ini, telah banyak penelitian yang meneliti tentang kesehatan gigi dan mulut yang dihubungkan dengan kualitas hidup. Kebanyakan penelitian yang dilakukan hanya mengukur mengenai kualitas hidup orang dewasa dan orangtua. Evaluasi dampak kesehatan mulut terhadap kualitas hidup anak membutuhkan penetapan khusus karena anak-anak berbeda dengan orang dewasa kira-kira 2 karakteristik utama. Pertama dan paling penting adalah kurangnya kemampuan untuk mengambil keputusan yang berhubungan dengan kesehatan mulutnya sendiri. Kedua adalah perbedaan dalam hal persepsi dan pengalaman.5 Oleh karena itu, perlu dilakukan pengukuran kualitas hidup anak-anak terhadap status kesehatan gigi dan mulutnya.

1.2 RUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan pertanyaan penelitian adalah bagaimana gambaran kualitas hidup anak usia 10-11 tahun berdasarkan kesehatan gigi dan mulutnya 1.3 TUJUAN PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas hidup anak usia 1011 tahun berdasarkan kesehatan gigi dan mulutnya 1.4 MANFAAT PENELITIAN Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi bagi instansi terkait dalam rangka peningkatan derajat kesehatan gigi dan mulut khususnya anak-anak.

BAB VII PENUTUP

1.1 KESIMPULAN 1. Secara umum, gangguan aktivitas terbanyak yang dialami oleh siswa

SDN Maccini kota Makassar usia 10-11 tahun adalah aktivitas makan. 2. 3. Rata-rata status karies tertinggi terdapat pada gangguan aktivitas tidur. Rata-rata status kebersihan mulut tertinggi terdapat pada gangguan

aktivitas bersosialisasi. 4. Rata-rata status karies pada semua gangguan aktivitas hidup adalah

berkategori rendah dan rata-rata status kebersihan mulut pada semua sgangguan aktivitas hidup adalah berkategori sedang. 1.2 SARAN 1. Perlunya peningkatan penyuluhan tentang kesehatan gigi dan mulut pada anak sejak usia dini. 2. Perlunya UKGS di sekolah-sekolah dasar agar anak bisa memahami tentang kesehatan gigi dan mulut.

Anda mungkin juga menyukai