Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Uap air yaitu gas yang timbul akibat perubahan fase air menjadi uap dengan cara pendidihan (boiling). Untuk melakukan proses pendidihan diperlukan energi panas yang diperoleh dari sumber panas, misalnya dari pembakaran bahan bakar (padat, cair, gas), tenaga listrik dan gas panas sebagai sisa proses kimia serta tenaga nuklir. Sudah beribu-ribu tahun tahun manusia melakukan proses pendidihan (boiling) air menjadi uap air, tetapi baru dua abad ini mereka baru menemui bagaimana untuk mempergunakan uap untuk kepentingan mereka yaitu dengan diciptakannya boiler. Boiler menghasilkan uap dan uap yang dihasilkan ini dapat digunakan untuk membangkitkan listrik, menggerakkan turbin dan sebagianya. Boiler adalah bejana tertutup dimana panas pembakaran dialirkan ke air sampai terbentuk air panas atau steam. Air panas atau steam pada tekanan tertentu kemudian digunakan untuk mengalirkan panas ke suatu proses. Air adalah media yang berguna dan murah untuk mengalirkan panas ke suatu proses. Jika air dididihkan sampai menjadi steam, volumnya akan meningkat sekitar 1.600 kali, menghasilkan tenaga yang menyerupai bubuk mesiu yang mudah meledak, sehingga boiler merupakan peralatan yang harus dikelola dan dijaga dengan sangat baik.

2. Tujuan Tujuan dari makalah ini yaitu: 1. Mengetahui dan memahami tentang boiler. 2. Mengetahui dan memahami fungsi boiler. 3. Mengetahui macam-macam boiler. 4. Memahami prinsip kerja boiler.

BAB II PEMBAHASAN

A. Definisi Boiler Boiler adalah suatu alat yang menghasilkan uap (steam) dari air dengan jalan pemanasan. Steam yang dihasilkan pada tekanan tertentu kemudian digunakan untuk mengalirkan panas ke suatu proses. Dengan adanya perubahan air menjadi steam maka ada 3 hal yang perlu diperhatikan: 1. Container Container adalah tempat untuk memanaskan air menjadi uap air. 2. Air Air adalah bahan untuk membuat steam sesudah dipanaskan. 3. Panas Panas adalah energi yang digunakan untuk merubah air menjadi steam. Dengan memperhatikan ketiga hal tersebut diharapkan akan dihasilkan steam yang cukup, serta segala permasalahan misalnya masalah air yang akan merusak tempat karena korosi atau mengurangi effisiensi penyerapan panas akibat timbulnya kerak dapat diatasi dengan baik. Sistem boiler terdiri dari: sistem air umpan, sistem steam dan sistem bahan bakar. Sistem air umpan menyediakan air untuk boiler secara otomatis sesuai dengan kebutuhan steam. Berbagai kran disediakan untuk keperluan perawatan dan perbaikan. Sistem steam mengumpulkan dan mengontrol produksi steam dalam boiler. Steam dialirkan melalui sistem pemipaan ke titik pengguna. Pada keseluruhan sistem, tekanan steam diatur menggunakan kran dan dipantau dengan alat pemantau tekanan. Sistem bahan bakar adalah semua peralatan yang digunakan untuk

menyediakan bahan bakar untuk menghasilkan panas yang dibutuhkan. Peralatan yang diperlukan pada sistem bahan bakar tergantung pada jenis bahan bakar yang digunakan pada sistem. Air yang disuplai ke boiler untuk dirubah menjadi steam disebut air umpan. Dua sumber air umpan adalah: (1) Kondensat atau steam yang mengembun yang kembali dari proses dan (2) Air makeup (air baku yang sudah diolah) yang harus diumpankan dari luar ruang boiler dan plant proses. Untuk mendapatkan efisiensi boiler yang lebih tinggi, digunakan economizer untuk memanaskan awal air umpan menggunakan limbah panas pada gas buang.

B. JENIS-JENIS BOILER Berdasarkan Type Pipa Boiler dibagi menjadi 2, yaitu: 1. Fire Tube Boiler Terdiri dari tangki air yang dilubangi dan dilalui pipa-pipa, dimana gas panas yang mengalir pada tanki tersebut digunakan untuk memanaskan air di tanki. Air yang dipanaskan menghasilkan uap panas yang dapat digunakan untuk memanaskan air di kamar mandi ataupun laundry. Fire tube boilers biasanya digunakan untuk kapasitas steam yang relative kecil dengan tekanan steam rendah sampai sedang. Sebagai pedoman, fire tube boilers kompetitif untuk kecepatan steam sampai 12.000 kg/jam dengan tekanan sampai 18 kg/cm2. Fire tube boilers dapat menggunakan bahan bakar minyak bakar, gas dalam operasinya.

2. Water Tube Boiler Air mengalir melalui susunan pipa yang terletak di dalam gas panas yang dihasilkan dari pembakaran. Pada boiler water tube, air panas tidak berubah menjadi uap, sehingga bisa langsung digunakan untuk keperluan seperti air panas di kamar mandi, laundry. Ketika air dalam pipa-pipa didih mendapat pemanasan, air dalam pipa mendidih sehingga air mengandung uap dan berat jenis air berkurang, air dan uap mengalir ke atas. Air yang berat jenisnya lebih besar akan turun dan menggantikan posisi air yang menuju ke atas. Pada drum atas air dan uap berpisah menjadi uap jenuh, kemudian uap jenuh disalurkan ke superheater untuk diubah menjadi uap panas lanjut. Uap panas lanjut yang keluar dari superheater inilah yang akan dimanfaatkan sebagai penggerak mesin uap. Karakteristik water tube boiler sebagai berikut : Forced, induced dan balanced draft membantu untuk meningkatkan efisiensi pembakaran Kurang toleran terhadap kualitas air yang dihasilkan dari plant pengolahan air Memungkinkan untuk tingkat efisiensi panas yang lebih tinggi

Berdasarkan bahan bakar yang digunakan boiler dibagi menjadi 4, yaitu: 1. Solid Fuel Pemanasan yang terjadi akibat pembakaran antara pencampuran bahan bakar padat (batu bara, sampah kota, kayu) dengan oksigen dan sumber panas. 2. Oil Fuel Pemanasan yang terjadi akibat pembakaran antara pencampuran bahan bakar cair (solar, residu, kerosin) dengan oksigen dan sumber panas. 3. Gaseous Fuel Pemanasan yang terjadi antara pembakaran antara LNG (Liquid Natural Gas) dengan oksigen dan sumber panas. Harga bahan baku pembakarannya lebih murah diantara semua boiler yang lain.

4. Electric Pemanasan yang terjadi akibat sumber listrik yang menyuplai sumber panas. Berdasarkan kegunaannya boiler dibagi menjadi 2, yaitu: 1. Power Boiler Steam yang dihasilkan boiler ini menggunakan tipe water tube boiler, hasil steam yang dihasilkan memiliki tekanan dan kapasitas yang besar, sehingga mampu memutar turbin dan menghasilkan listrik dari generator. Kegunaan utamanya sebagai penghasil steam untuk menghasilkan listrik dari generator.

2. Industrial Boiler. Steam yang dihasilkan boiler ini menggunakan watertube boiler atau firetube boiler. Kegunaannya untuk menjalankan proses industri dan sebagai tambahan panas. Steam memiliki tekanan yang sedang dan kapasitas yang besar.

3. Commercial Boiler Steam yang dihasilkan boiler ini menggunakan watertube boiler atau firetube boiler. Kegunaannya untuk menjalankan proses operasi komersial. Tekanan yang dimiliki rendah.

4. Residential Boiler Steam yang dihasilkan boiler ini menggunakan boiler tipe firetube boiler. Boiler ini memiliki tekanan dan kapasitas yang rendah, biasanya digunakan pada perumahan.

5. Heat Recovery Boiler Steam yang dihasilkan boiler ini menggunakan boiler tipe watertube boiler atau firetube boiler. Steam yang dihasilkan memiliki kapasitas dan tekanan yang besar, kegunaan utamanya sebagai penghasil steam dari uap panas yang tidak terpakai. Hasil steam ini digunakan untuk menjalankan proses industri.

Berdasarkan Tekanan kerjanya, boiler dibagi menjadi 2 yaitu: 1. Low Pressure Boiler Tipe ini memiliki steam operasi kurang dari 15 psi, menghasilkan air dengan tekanan dibawah 160 psi dan temperature dibawah 250 F.

2. High Pressure Boiler Tipe ini memiliki steam operasi lebih dari 15 psi, menghasilkan air dengan tekanan di atas 160 psi dan temperature di atas 250 F.

C. Pengkajian Boiler 1. Evaluasi Kinerja Boiler Parameter kinerja boiler, seperti efisiensi dan rasio penguapan, berkurang terhadap waktu disebabkan buruknya pembakaran, kotornya permukaan penukar panas dan buruknya operasi dan pemeliharaan. Bahkan untuk boiler yang baru

sekalipun, alasan seperti buruknya kualitas bahan bakar dan kualitas air dapat mengakibatkan buruknya kinerja boiler. Neraca panas dapat membantu dalam mengidentifikasi kehilangan panas yang dapat atau tidak dapat dihindari. Uji efisiensi boiler dapat membantu dalam menemukan penyimpangan efisiensi boiler dari efisiensi terbaik dan target area permasalahan untuk tindakan perbaikan. a) Neraca panas Proses pembakaran dalam boiler dapat digambarkan dalam bentuk diagram alir energi. Diagram ini menggambarkan secara grafis tentang bagaimana energi masuk dari bahan bakar diubah menjadi aliran energi dengan berbagai kegunaan dan menjadi aliran kehilangan panas dan energi. Panah tebal menunjukan jumlah energi yang dikandung dalam aliran masing-masing.

Gambar 10. Diagram neraca energi boiler

Neraca panas merupakan keseimbangan energi total yang masuk boiler terhadap yang meninggalkan boiler dalam bentuk yang berbeda. Berikut memberikan gambaran berbagai kehilangan yang terjadi untuk pembangkitan steam.

Gambar 11. Kehilangan pada Boiler yang Berbahan Bakar Batubara

Kehilangan energi dapat dibagi kedalam kehilangan yang tidak atau dapat dihindarkan. Tujuan dari Produksi Bersih dan/atau pengkajian energi harus mengurangi kehilangan yang dapat dihindari, dengan meningkatkan efisiensi energi. Kehilangan berikut dapat dihindari atau dikurangi: 1. Kehilangan gas cerobong: - Udara berlebih (diturunkan hingga ke nilai minimum yang tergantung dari teknologi burner, operasi (kontrol), dan pemeliharaan) - Suhu gas cerobong (diturunkan dengan mengoptimalkan perawatan (pembersihan), beban; burner yang lebih baik dan teknologi boiler) 2. Kehilangan karena bahan bakar yang tidak terbakar dalam cerobong dan abu (mengoptimalkan operasi dan pemeliharaan; teknologi burner yang lebih baik) 3. Kehilangan dari blowdown (pengolahan air umpan segar, daur ulang kondensat) 4. Kehilangan kondensat (manfaatkan sebanyak mungkin kondensat) 5. Kehilangan konveksi dan radiasi (dikurangi dengan isolasi boiler yang lebih baik)

b) Efisiensi Boiler Efisiensi termis boiler didefinisikan sebagai persen energi (panas) masuk yang digunakan secara efektif pada steam yang dihasilkan. Terdapat dua metode pengkajian efisiensi boiler: Metode Langsung: energi yang didapat dari fluida kerja (air dan steam) dibandingkan dengan energi yang terkandung dalam bahan bakar boiler. Metode Tidak Langsung: efisiensi merupakan perbedaan antara kehilangan dan energi yang masuk.

Metode langsung dalam menentukan efisiensi boiler Metodologi Dikenal juga sebagai metode input-output karena kenyataan bahwa metode ini hanya memerlukan keluaran/output (steam) dan panas masuk/input (bahan bakar) untuk evaluasi efisiensi. Efisiensi ini dapat dievaluasi dengan menggunakan rumus: Efisiensi Boiler (h) = Panas Keluar x 100 Panas Masuk Efisiensi Boiler (h) = Q x (hg hf) x 100 q x GCV Parameter yang dipantau untuk perhitungan efisiensi boiler dengan metode langsung adalah: Jumlah steam yang dihasilkan per jam (Q) dalam kg/jam Jumlah bahan bakar yang digunakan per jam (q) dalam kg/jam Tekanan kerja (dalam kg/cm2(g)) dan suhu lewat panas (oC), jika ada Suhu air umpan (oC)

Jenis bahan bakar dan nilai panas kotor bahan bakar (GCV) dalam kkal/kg bahan Bakar Dimana hg Entalpi steam jenuh dalam kkal/kg steam hf Entalpi air umpan dalam kkal/kg air

Keuntungan metode langsung Pekerja pabrik dapat dengan cepat mengevaluasi efisiensi boiler Memerlukan sedikit parameter untuk perhitungan Memerlukan sedikit instrumen untuk pemantauan Mudah membandingkan rasio penguapan dengan data benchmark Kerugian metode langsung Tidak memberikan petunjuk kepada operator tentang penyebab dari efisiensi sistem yang lebih rendah Tidak menghitung berbagai kehilangan yang berpengaruh pada berbagai tingkat efisiensi Metode tidak langsung dalam menentukan efisiensi boiler Metodologi Standar acuan untuk Uji Boiler di Tempat dengan menggunakan metode tidak langsung adalah British Standard, BS 845:1987 dan USA Standard ASME PTC-4-1 Power Test CodeSteam Generating Units. Metode tidak langsung juga dikenal dengan metode kehilangan panas. Efisiensi dapat dihitung dengan mengurangkan bagian kehilangan panas dari 100 sebagai berikut: Efisiensi boiler (n) = 100 - (i + ii + iii + iv + v + vi + vii)

Dimana kehilangan yang terjadi dalam boiler adalah kehilangan panas yang diakibatkan oleh: i. Gas cerobong yang kering ii. Penguapan air yang terbentuk karena H2 dalam bahan bakar iii. Penguapan kadar air dalam bahan bakar iv. Adanya kadar air dalam udara pembakaran v. Bahan bakar yang tidak terbakar dalam abu terbang/ fly ash vi. Bahan bakar yang tidak terbakar dalam abu bawah/ bottom ash vii. Radiasi dan kehilangan lain yang tidak terhitung Kehilangan yang diakibatkan oleh kadar air dalam bahan bakar dan yang disebabkan oleh pembakaran hidrogen tergantung pada bahan bakar, dan tidak dapat dikendalikan oleh perancangan. Data yang diperlukan untuk perhitungan efisiensi boiler dengan menggunakan metode tidak langsung adalah: Analisis ultimate bahan bakar (H2, O2, S, C, kadar air, kadar abu) Persentase oksigen atau CO2 dalam gas buang Suhu gas buang dalam oC (Tf) Suhu ambien dalam oC (Ta) dan kelembaban udara dalam kg/kg udara kering GCV bahan bakar dalam kkal/kg Persentase bahan yang dapat terbakar dalam abu (untuk bahan bakar padat) GCV abu dalam kkal/kg (untuk bahan bakar padat)

Keuntungan metode tidak langsung Dapat diketahui neraca bahan dan energi yang lengkap untuk setiap aliran, yang dapat memudahkan dalam mengidentifikasi opsi-opsi untuk meningkatkan efisiensi boiler. Kerugian metode tidak langsung Perlu waktu lama Memerlukan fasilitas laboratorium untuk analisis

Blowdown Boiler Jika air dididihkan dan dihasilkan steam, padatan terlarut yang terdapat dalam air akan tinggal di boiler. Jika banyak padatan terdapat dalam air umpan, padatan tersebut akan terpekatkan dan akhirnya akan mencapai suatu tingkat dimana kelarutannya dalam air akan terlampaui dan akan mengendap dari larutan. Diatas tingkat konsenrasi tertentu, padatan tersebut mendorong terbentuknya busa dan menyebabkan terbawanya air ke steam. Endapan juga mengakibatkan terbentuknya kerak di bagian dalam boiler, mengakibatan pemanasan setempat menjadi berlebih dan akhirnya menyebabkan kegagalan pada pipa boiler. Oleh karena itu penting untuk mengendalikan tingkat konsentrasi padatan dalam suspensi dan yang terlarut dalam air yang dididihkan. Hal ini dicapai oleh proses yang disebut blowing down, dimana sejumlah tertentu volume air dikeluarkan dan secara otomatis diganti dengan air umpan. Dengan demikian akan tercapai tingkat optimum total padatan terlarut (TDS) dalam air boiler dan membuang padatan yang sudah rata keluar dari larutan dan yang cenderung tinggal pada permukaan boiler.

Blowdown penting untuk melindungi permukaan penukar panas pada boiler. Walau demikian, blowdown dapat menjadi sumber kehilangan panas yang cukup berarti, jika dilakukan secara tidak benar. Pengendalian blowdown boiler yang baik dapat secara signifikan menurunkan biaya perlakuan dan operasional yang meliput: Biaya perlakuan awal lebih rendah Konsumsi air make-up lebih sedikit Waktu penghentian untuk perawatan menjadi berkurang Umur pakai boiler meningkat Pemakaian bahan kimia untuk pengolahan air umpan menjadi lebih rendah Pengolahan Air Umpan Boiler Memproduksi steam yang berkualitas tergantung pada pengolahan air yang benar untuk mengendalikan kemurnian steam, endapan dan korosi. Sebuah boiler merupakan bagian dari sistem boiler, yang menerima semua bahan pencemar dari sistem didepannya. Kinerja boiler, efisiensi, dan umur layanan merupakan hasil langsung dari pemilihan dan pengendalian air umpan yang digunakan dalam boiler. Jika air umpan masuk ke boiler, kenaikan suhu dan tekanan menyebabkan komponen air memiliki sifat yang berbeda. Hampir semua komponen dalam air umpan dalam keadaan terlarut. Walau demikian, dibawah kondisi panas dan tekanan hampir seluruh komponen terlarut keluar dari larutan sebagai padatan partikulat, kadang-kadang dalam bentuk kristal dan pada waktu yang lain sebagai bentuk amorph. Jika kelarutan komponen spesifik dalam air terlewati, maka akan terjadi pembentukan kerak dan endapan. Air boiler harus cukup bebas dari pembentukan endapan padat supaya terjadi perpindahan panas yang cepat dan efisien dan harus tidak korosif terhadap logam boiler.

a) Pengendalian endapan Endapan dalam boiler dapat diakibatkan dari kesadahan air umpan dan hasil korosi dari sistem kondensat dan air umpan. Kesadahan air umpan dapat terjadi karena kurangnya sistem pelunakan.Endapan dan korosi menyebabkan kehilangan efisiensi yang dapat menyebabkan kegagalan dalam pipa boiler dan

ketidakmampuan memproduksi steam. Endapan bertindak sebagai isolator dan memperlambat perpindahan panas. Sejumlah besar endapan diseluruh boiler dapat mengurangi perpindahan panas yang secara signifikan dapat menurunkan efisiensi boiler. Berbagai jenis endapan akan mempengaruhi efisiensi boiler secara berbeda-beda, sehingga sangat penting untuk menganalisis karakteristik endapan. Efek pengisolasian terhadap endapan menyebabkan naiknya suhu logam boiler dan mungkin dapat menyebabkan kegagalan pipa karena pemanasan berlebih. b) Kotoran yang mengakibatkan pengendapan Bahan kimia yang paling penting dalam air yang mempengaruhi pembentukan endapan dalam boiler adalah garam kalsium dan magnesium yang dikenal dengan garam sadah. Kalsium dan magnesium bikarbonat larut dalam air membentuk larutan basa/alkali dan garam-garam tersebut dikenal dengan kesadahan alkali. Garam-garam tersebut terurai dengan pemanasan, melepaskan karbon dioksida dan membentuk lumpur lunak, yang kemudian mengendap. Hal ini disebut dengan kesadahan sementara (kesadahan yang dapat dibuang dengan pendidihan). Kalsium dan magnesium sulfat, klorida dan nitrat, jika dilarutkan dalam air secara kimiawi akan menjadi netral dan dikenal dengan kesadahan nonalkali. Bahan tersebut disebut bahan kimia sadah permanen dan membentuk kerak yang keras pada permukaan boiler yang sulit dihilangkan. Bahan kimia sadah non-alkali terlepas dari larutannya karena penurunan daya larut dengan meningkatnya suhu, dengan pemekatan karena penguapan yang berlangsung dalam boiler, atau dengan perubahan bahan kimia menjadi senyawa yang kurang larut.

c) Silika Keberadaan silika dalam air boiler dapat meningkatkan pembentukan kerak silika yang keras. Silika dapat juga berinteraksi dengan garam kalsium dan magnesium, membentuk silikat kalsium dan magnesium dengan daya konduktivitas panas yang rendah. Silika dapat meningkatkan endapan pada sirip turbin, setelah terbawa dalam bentuk tetesan air dalam steam, atau dalam bentuk yang mudah menguap dalam steam pada tekanan tinggi. d) Pengolahan air internal Pengolahan internal adalah penambahan bahan kimia ke boiler untuk mencegah pembentukan kerak. Senyawa pembentuk kerak diubah menjadi lumpur yang mengalir bebas, yang dapat dibuang dengan blowdown. Metode ini terbatas pada boiler dimana air umpan mengandung garam sadah yang rendah, dengan tekanan rendah, kandungan TDS tinggi dalam boiler dapat ditoleransi, dan jika jumlah airnya kecil. Jika kondisi tersebut tidak terpenuhi maka laju blowdown yang tinggi diperlukan untuk membuang lumpur. Hal tersebut menjadi tidak ekonomis sehubungan dengan kehilangan air dan panas. Jenis sumber air yang berbeda memerlukan bahan kimia yang berbeda pula. Senyawa seperti sodium karbonat, sodium aluminat, sodium fosfat, sodium sulfit dan komponen sayuran atau senyawa inorganik seluruhnya dapat digunakan untuk maksud ini. Untuk setiap kondisi air diperlukan bahan kimia tertentu. Harus dikonsultasikan dengan seorang spesialis dalam menentukan bahan kimia yang paling cocok untuk digunakan pada setiap kasus. Pengolahan air hanya dengan pengolahan internal tidak direkomendasikan.

e) Pengolahan Air Eksternal Pengolahan eksternal digunakan untuk membuang padatan tersuspensi, padatan telarut (terutama ion kalsium dan magnesium yang merupakan penyebab utama pembentukan kerak) dan gas-gas terlarut (oksigen dan karbon dioksida). Proses perlakuan eksternal yang ada adalah: Pertukaran ion Deaerasi (mekanis dan kimia) Osmosis balik (reverse osmosis) Penghilangan mineral/demineralisasi

Sebelum digunakan cara diatas, perlu untuk membuang padatan dan warna dari bahan baku air, sebab bahan tersebut dapat mengotori resin yang digunakan pada bagian pengolahan berikutnya. Metode pengolahan awal adalah sedimentasi sederhana dalam tangki pengendapan atau pengendapan dalam clarifiers dengan bantuan koagulan dan flokulan. Penyaring pasir bertekanan, dengan aerasi untuk menghilangkan karbon dioksida dan besi, dapat digunakan untuk menghilangkan garam-garam logam dari air sumur. Tahap pertama pengolahan adalah menghilangkan garam sadah dan garam non-sadah. Penghilangan hanya garam sadah disebut pelunakan, sedangkan penghilangan total garam dari larutan disebut penghilangan mineral atau demineralisasi. f) Rekomendasi untuk boiler dan kualitas air umpan Kotoran yang ditemukan dalam boiler tergantung pada kualitas air umpan yang tidak diolah, proses pengolahan yang digunakan dan prosedur pengoperasian boiler. Sebagai aturan umum, semakin tinggi tekanan operasi boiler akan semakin besar sensitifitas terhadap kotoran.

Air Boiler Rekomendasi untuk boiler dan kualitas air umpan Kotoran yang ditemukan dalam boiler tergantung pada kualitas air umpan yang tidak diolah, proses pengolahan yang digunakan dan prosedur pengoperasian boiler. Sebagai aturan umum, semakin tinggi tekanan operasi boiler akan semakin besar sensitifitas terhadap kotoran
REKOMENDASI BATAS AIR UMPAN (IS 10392, 1982) Faktor Total besi (maks.) ppm Total tembaga (maks.) ppm Total silika (maks.) ppm Oksigen (maks.) ppm Residu hidrasin ppm pH pada 250C Kesadahan, ppm Hingga 20 kg/cm2 0.05 0.01 1 0.02 8.8 - 9.2 1 21 - 39 kg/cm2 0.02 0.01 0.3 0.02 8.8 - 9.2 0.5 40- 59 kg/cm2 0.01 0.01 0.1 0.01 -0.02 - 0.04 8.2 - 9.2 -

REKOMENDASI BATAS AIR BOILER (IS 10392, 1982) Faktor TDS, ppm Total padatan besi terlarut konduktivitas listrik spesifik pada 250C Residu fosfat, ppm Hingga 20 kg/cm2 3000 - 3500 500 1000 20 -40 21 - 39 kg/cm2 1500 - 2500 200 400 20 - 40 40- 59 kg/cm2 500 - 1500 150 300 15 - 25

pH pada 250C Silika (maks), ppm

10 - 10.5 25

10 - 10.5 15

9.8 - 10.2 10

Air yang dipakai untuk pembuatan steam harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu: 1. Tidak boleh berbuih, 2. Tidak boleh membentuk scale (kerak), 3. Tidak boleh menyebabkan terjadinya korosi pada pipa-pipa. Zat-zat yang terkandung didalam air boiler yang dapat menyebabkan kerusakan boiler adalah: 1. Kadar Soluble matter yang tinggi, 2. Suspended solid, 3. Garam-garam Ca dan Mg, 4. Silika, sulfate, asam bebas (free acid) dan oxide, 5. Organik matter. Buih atau Busa Busa disebabkan oleh surface active agent (misalnya sabun); juga ada hubungannya dengan salt content. Yang menyebabkan busa adalah: 1. Solid matter 2. Suspendid matter 3. Suatu kebasaan yang tinggi sekali

Kesulitan-kesulitan yang dihadapi karena adanya busa: 1. Kesulitan membaca tinggi permukaan air didalam boiler 2. Karena buih dapat menciptakan percikan yang kuat sehingga mengakibatkan adanya solid yang menempel dan akan mengakibatkan terjadinya korosi dengan adanya pemanasan lebih lanjut Cara-cara mengetahui (menentukan) busa: Cara menentukan busa dengan dua cara yaitu: 1. Salt Content 1.1 Ditambah Natrium Karbonat (pelunakan sebagian). Dengan penguapan sampai separuh volume air tersebut dilihat apakah timbul busa atau tidak. 1.2 Dihilangkan Suspendid solid, dengan penguapan sampai 1/6nya apakah timbul busa atau tidak 1.3 Menghilangkan hardness sampai 0.560D, dengan penguapan sampai 1/6nya apakah timbul busa atau tidak 1.4 Semua dihilangkan kecuali salt content, dengan penguapan sampai 1/20 volum bisa dilihat timbul busa atau tidak. 2. Critical Consentration Critical Consentration adalah suatu ukuran yang ditentukan secara empiris kapan air tersebut mulai membusa. Ukuran tersebuat adalah konsentrasi air yang diukur. Solid content dan salt content masih ada hubungan. Oleh karena itu untuk menentukan critical consentration cukup mengukur dari salt content air tersebut. Apabila air sudah mencapai salt content yang maksimum, air tersebut tidak boleh dipakai lagi karena salt content yang maksimum menyebabkan terjadinya busa.

Pencegahan terjadinya buih. Foaming terjadi karena tingginya caustic soda, garam-garam sodium lainnya. Selain itu foaming juga bisa disebabkan adanya minyak-minyak atau kontaminasi organik. Pencegahan dapat dilakukan dengan: 1. Pemberian asam organic dan Castrol oil. 2. Barium salt. 3. Polyamide, poly alkylene glycol. 4. Kontrol adanya lumpur dan kerak. 5. Control alkalinitas dari air tersebut. Priming Priming adalah keluarnya air bersama-sama dengan uap secara tiba-tiba dank eras dari boiler. Priming terjadi karena ketinggian air didalam boiler. Akibat priming akan merusak mesin-mesin atau turbin-turbin. Priming disebabkan persoalan mekanis dan sebagian persoaalan kimia yang disimpulkan sebagai berikut: 1. Ketinggian air dalam boiler terlalu tinggi 2. Konsentrasi tinggi dari bahan kimia dalam air 3. Kotoran-kotoran yang menyebabkan naiknya tegangan permukaan 4. Pembukaan katup uap terlalu cepat. Pencegahannya Kalau penyebabnya adalah persoalan mekanik maka pencegahannya meliputi: 1. Design boiler harus tepat 2. Dijaga ketinggian air 3. Metode penyalaan

4. Over loading 5. Perubahan yang sangat menyolok 6. Steam storage diatas water level harus tepat 7. Ukuran steam header 8. Kecepatan uap meninggalkan boiler Kalau penyebabnya adalah zat kimia, maka perlu adanya control solid yang ada didalam air boiler tersebut. Carry Over Carry over terjadi karena adanya zat padat yang ada didalam air boiler ikut dengan air atau steam keluar boiler dan akan mengendap pada pipa-pipa uap, keran-keran, superheater, mesin atau turbin. Padatan ini akan merusak sudut-sudut turbin dan pelumasan dari mesin-mesin. Selain itu akibat adanya pemanasan maka zat padat yang ada didalam air akan timbul dan melekat pada metal kemudian dengan pemanasan lanjut akan pecah atau lepas sehingga bisa merusak benda-benda yang dilekati zat padat tadi. Carry over dari air boiler merupakan persoalan mekanis atau sebagian persoaalan kimia. Kalau penyebabnya masalah mekanis meliputi: deficiency pada boiler design, ketinggian air, penyalaan yang tidak benar, over loading dan perubahan yang menyolok. Kalau penyebabnya masalah kimia, disebabkan adanya kandungan zat-zat kimia yang melebihi critical consentrationnya. Pencegahannya: 1. Boiler design haruslah yang baik 2. Kalau penyebabnya adalah masalah kimia, maka perlu diperhatikan keadaan dan jumlah zat padat yang ada dalam air boiler.

Scale (kerak) Kerak didalam boiler disebabkan oleh garam Ca++ dan Mg akan menyebabkan : Isolasi terhadap panas sehingga energi dari bahan bakar tertolak Scale ini kadang-kadang tiba-toba pecah, sehingga air langsung berhubungan dengan ketel yang akan menimbulkan pecahan (kebocoran) karena boiler mendapat tekanan yang kuat.
++

. Scale yang terbentuk

Ada 2 macam kerak boiler yaitu : 1. Sludge (lumpur) Kerak ini tidak mengganggu terlalu banyak. Dengan blow down lumpurlumpur tadi bisa dikurangi. Selain dari maksud diatas blow down berguna untuk : a. Mengontrol ketinggian air. b. Mengontrol konsentrasi bahan kimia pada air. c. Pembuangan pada waktu pembersihan.

2. Scale yang melekat pada dindingh boiler Kerak ini lebih sukar dibersihkan sebab melekat pada dinding. Ada 2 macam type dari kerak ini, yaitu : A. Scale porous Sifatnya lebih merusak boiler sebab didalam scale tersebut mengurung steam. Dimana akan terjadi gelembung-gelembung steam yang akan merusak dinding karena adanya peristiwa kelewat panas. Contohnya : scale calcife B. Scale solid Scale ini sifatnya lebih padat dibandingkan dengan scale porous. Dibandingkan scale porous ini kurang daya rusaknya terhadap ketel.

Contohnya : aragonate scale Selain garam-garam Ca dan Mg, olie dapat juga merusak boiler sebab oxide besi dengan olie akan membentuk lumpur yang akan menghalangi daya serap panas oleh boiler.

Yang menyebabkan scale adalah : Garam-garam Ca dan Mg , sulfat dan Silicat. Contohnya : CaSO4 ; Mg silicat ; Ca silicat Garam-garam ini solubilitinya berkurang sehingga mengendap pada dinding dinding yang panas. Scale ini terjadi karena peristiwa fisika. Garam-garam Carbonat Contohnya : CaCO3 , HgCO3 Garam-garam ini akan mengendap pada temperature tinggi, sehingga mengendap pada dinding ketel Air yang diambil dari sumber air biasanya mengandung CaHCO3 yang terurai pada pemanasan sampai 70 C. Jadi sewaktu dimasukkan kedalam ketel CaCO3 sudah merupakan butiranbutiran kecil sehingga CaCO3 tidak merupakan scale pada dinding ketel, tetapi merupakan sludge pada air yang dipanasi. SiO2 : Al2O3 dan Mg(OH)2

Cara pencegahannya Ion-ion Mg dan Ca yang selalu membuat scale dapat di cegah dengan menurunkan hardnessnya. Untuk boiler-boiler lama masih bisa 10 D. tetapi untuk type boiler yang sekarang birnya harus mempunyai kesadahan jauh dibawah 10 D.

Untuk penghilangan atau pengurangan kesadahan tersebut dapat dilakukan dengan : External softening External softening adalah cara pelunakan air yang dilakukan diluar boiler. Misalnya : Line soda softening Phosphate softening Deminerallisation Silica removal Oil removal Internal softening Internal softening adalah cara pelunakan air yang dilakukan di dalam boiler. Misalnya : Penambahan soda Penambahan phosphate Penambahan organic substance Penambahan algor

Corrosi Corrosi adalah perusakan pada metal boiler. Perusakan yang cukup besar bisa menyebabkan reparasi yang berat bahkan kadang-kadang boiler tersebut harus diberhentikan pemakaiannya.

Penyebab corrosi 1. Keasaman atau pH rendah

Pada keasman dapat menyebabkan ion hydrogen cukup besar yang akan melapisi permukaan metal yang bisa menimbulkan gas yang meninggalkan permukaan metal yang akan menyebabkan terjadinya corrosi 2. Adanya oxygen Adanya oxygen yang terlarut akan menyebabkan corrosi sebagai berikut : Oxygen mengoksidasi ferrohydroxida Fe(OH)2 menjadi ferrihydroxida Fe(OH)3 dimana Fe(OH)3 akan mudah larut didalam air. Oxygen akan bereaksi dengan hydrogen ion yang melapisi permukaan metal. Ion hydrogen tersebut terjadi karena adanya reaksi Fe++ dengan air. Dengan hilangnya lapisan tadi membuka kemungkinan corrosi.

3. Adanya bicarbonate Adanya bikarbonat didalam air boiler akan menyebabkan terjadinya CO2, karena pemanasan dan adanya tekanan. CO2 yang terjadi bereaksi dengan air menjadi asam carbonat. Asam ini pelan-pelan akan bereaksi dengan metal dan besi membentuk garam bicarbonate. Garam bicarbonate ini dengan pemanasan akan membentuk CO2 lagi. Sekali lagi CO2 bereaksi dengan air membentuk asam, demikian terus menerus sehingga bisa merupakan syklus.

4. Adanya gas : H2S , SO2 , dan NH3 Adanya gas : H2S , SO2 , dan NH3 bisa menyebabkan corrosi, tetapi tidak sehebat yang disebabkan oleh gas O2 atau CO2. 5. Adanya bahan-bahan organik Adanya bahan-bahan organik yang berupa asam organic yang masuk kedalam boiler akan menyebabkan terjadinya corrosi. 6. Adanya minyak dan gemuk

Minyak dan gemuk yang berasal dari minyak bumi, binatang dan tumbuhtumbuhan akan menghasilkan asam organic dan glyserine. Asam organik akan bereaksi dengan besi yang kadang-kadang CO2 juga bisa terbentuk dari senyawa organic sehingga merupakan salah satu penyebab terjadinya corrosi.

Pencegahan corrosi Untuk mencegah terjadinya corrosi dapat dikerjakan seperti berikut : 1. Pengaturan alkalinity dan pembentukan lapisan film, dimana pH air boiler diharapkan lebih besar dari 9,5 dan kecil kandungan hydroxide alkalinity. Alkalinity bisa diatur dengan penambahan caustic soda dan trisodiom phosphate. 2. Untuk menghilangkan O2 dapat dilakukan dengan deaerasi, sedangkan untuk menghilangkan CO2 dapat dilakukan dengan pemanasan dengan cara pemanasan pendahuluan secara terbuka pada boiler feed water. Dapat juga dengan penambahan bahan-bahan kimia, misalnya: tannin, turunan glucose. 3. Memberikan perlindungan dengan pembentukan film dengan memakai : tannin, turunan lignin turunan glucose. 4. Kalau penyebab corrosi karena kondensat bisa dicegah dengan : senyawa amina atau ammonia.

C. Caustic embrittlement Salah satu penyebab kerapukan dari metal adlah adanya NaOH bebas didalam boiler yang terkonsentrasi pada suatu titik kebocoran dan secara kimia akan menyerang metal tersebut. Dengan adanya serangan bahan kimia tersebut akan timbul retakan yang tidak beraturan apalagi pada metal yang terkena tekanan.

Pencegahan Caustic Embrittlement a) Mencegah kebocoran pada daerah metal yang mengalami tekanan. b) Penambahan inhibitor

c) Menjaga alkalinitas hydroxide yang rendah pada air boiler dengan cara: Mengontrol pH dengan menggunakan phosphate. pH dari air boiler terkontrol dengan cara melihat endapan trisodium phosphate. Penambhan bahan-bahan kimia untuk mencegah ombrittlement yaitu : lignin , tannin , sodium intrate. D. Panas Panas dipakai untuk merubah air menjadi steam. Panas bisa didapatkan dari matahari, listrik, gas, minyak, batubara dan kayu. Pemakaian bahan-bahan tersebut tergantung dari besar kecilnya steam yang akan dihasilkan. Untuk pemakaian yang sifatnya komersial dipakai bahan bakar minyak, batubara atau gas.

Bahan Bakar Bahan bakar untuk ketel bisa dibagi menjadi 3 zat, yaitu : 1. Bahan bakar padat (solid), misalnya batubara atu kayu. Untuk bahan bakar padat dikenal stoker untuk mengefisiensikan pembakaran. Dikenal beberapa macam stoker, tergantung dari mekanisme jalannya bahan bakar tersebut. Macam-macam stoker antara lain : Scrow food stoker Ram food stoker

2. Bahan bakar cair Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan bahan bakar cair yaitu : Heating value dari bahan bakar Flash point Firo point

3. Bahan bakar gas

Untuk bahan bkar gas cara penyalaan lebih mudah dibandingkan dengan kedua bahan bakar yang lainnya. Yang perlu diperhatikan adalah campuran antara minyak dan udara untuk menyempurnakan pembakaran.