Anda di halaman 1dari 5

Air Tajin untuk anak autis Air Tajin bisa digunakan sebagai "pengganti" susu hewani.

untuk membuatnya tidak susah : Cara Membuat Air Tajin Bahan : 1. genggam beras 2. gelas air Cara membuat : 1. 2. 3. 4. 5. Cuci bersih beras sampai bersih, tiriskan Tempatkan di panci bergagang, tambahkan air, dan rebus. Aduk-aduk sesekali, sampai mengental. Angkat, saring. Kalo kental banget agak susah, ya cukup pisahkan dengan nasinya Dinginkan, dan sajikan segera.(bisa ditambahkan gula aren / stevia u pemanis)

Catatan :

Kekentalan tergantung selera, tapi jangan kental banget. Soalnya nanti kalau kekentalan jadi kenyang duluan. Jadi males makan/minum susu. Bisa dicampur dengan susu atau diminum langsung. Ini berguna banget untuk mengobati flu perut. Kalau misalnya agak repot, bisa aja waktu masak nasi di magic jar, airnya agak banyakin. Nanti kalau udah mendidih dan udah agak mengental, ambil airnya (gak semua lah, kira2 aja, biar nasinya juga tetep oke.Sumber : Majalah NOVA Manfaat lain

Posted by Mr Rizz Yogya at 20:29 Labels: air tajin autis, susu beras autis Kamis, 18 Oktober 2012 Kategori Autis berdasarkan intelegensia Kategori berikut bisa dijadikan salah satu acuan dalam memilih sekolah anak autis.

Low Functioning

Pada anak autis dengan Low Functioning, biasanya disertai dengan kemampuan bicara yang sangat minim, bahkan tidak berbicara sampai usia dewasa dan hambatan dalam memahami konsep. Anak autis dengan Low Funcitoning mencapai 70% dari populasi anak autis. Anak autis yang Low Function, biasanya berkomunikasi dengan cara non-verbal. Anak mungkin hanya menggunakan bahasa tubuh yang sangat minim (misal menarik tangan untuk meminta tolong diambilkan benda yang disuka), atau anak mengkomunikasikan ketidak sukannya dengan cara tantrum. Biasanya untuk mengakomodasi hambatannya ini didunakan PECS (Picture Exchange Communication System) atau sistem komunikasi melalui pertukaran gambar. Ini ditujukan untuk anak autis yang Non-Verbal bisa tetap melakukan komunikasi, sehingga ia tidak mengkomunikasikan keinginannya dengan cara yang tidak adaptif.

Middle Functioning

Anak autis dengan medium functioning mempunyai kemampuan yang lebih baik untuk memahami konsep. Sehingga waktu yang diperlukan untuk menguasai suatu pengtehuan (misal: tentang nama-nama benda, anggota tubuh, dll.) membutuhkan yang lebih cepat jika dibandingkan dengan anak autis yang low functioning. Pada banyak anak autis dengan medium functioning menunjukkan kemampuan berbicara, namun biasanya masih sangat terbatas dan lebih bersifat searah (misal: hanya menjawab ketika ditanya, namun tidak bisa membuat pertanyaan apabila ada hal yang tidak ia ketahui).

High Functioning

Anak dengan high functioning, mempunyai kemampuan dalam memahami konsep dengan cukup baik (untuk konsep yang tidak abstrak). Jika anak autis yang high functioning mendapatkan penangan yang tepat sejak dini, mendapat dorongan yang baik dalam keluarga, anak ini dapat hidup mandiri bahkan sampai berkeluarga. dr Adriana S. Giananjar, M.S., psikolog menyarankan : 1. Saat ingin mencari sekolah yang tepat, lebih baik mencari informasi atau rekomendasi dari orang tua lain, yang juga memiliki anak autistik. 2. Selalu mengajak anak ketika mendaftar masuk sekolah. Ini perlu dilakukan agar pihak sekolah mengetahui kondisi anak, kemampuan anak dan tidak terjadi masalah dikemudian hari. 3. Perlu untuk mengobservasi kurikulum dan kebijakan apa yang diberlakukan untuk siswa ABK, dan juga kesiapan siswa lain menghadapi siswa ABK. Bullying (intimidasi) biasanya dialami oleh anak autistik karna tidak siapnya siswa lain menerima siswa ABK. 4. Sekolah inklusi biasanya menyediakan guru bantu untuk mendampingi siswa ABK di dalam kelas. Biasanya dibutuhkan pada saat siswa ABK berada di kelas 1-2 sekolah dasar. Seiring perkembangan, biasanya guru bantu perlahan tidak dibutuhkan oleh mereka. 5. Guru bantu memiliki tugas khusus untuk memfasilitasi kesulitan yang mungkin dialami oleh siswa ABK saat proses belajar mengajar berlangsung. Misalnya, guru membantu anak menemukan halaman mana yang harus dibuka.

Posted by Mr Rizz Yogya at 18:45 Labels: kategori autis Selasa, 16 Oktober 2012 Why Do Kids with Autism Stim? by ..Temple Grandin, PhD (mantan penderita autis) "Stims" adalah singkatan untuk diri-stimulasi perilaku, perilaku kebanyakan orang menunjukkan. Kita mungkin berputar rambut kita atau ketuk pensil - yang stimming. Perbedaan antara stims diterima dan mereka yang kita anggap tidak pantas dalam pengulangan jenis dan intens dari stims. Ketika saya melakukan stims seperti pasir dribbling melalui jari-jari saya, itu menenangkan saya. Ketika saya stimmed, suara yang menyakiti telinga saya berhenti. Sebagian besar anak-anak dengan autisme melakukan perilaku yang berulang-ulang karena rasanya enak dalam beberapa cara. Ini bisa menetralkan lingkungan sensorik besar, atau mengurangi tingkat kecemasan tinggi internal yang anak-anak ini biasanya rasakan setiap

hari. Individu dengan autisme menunjukkan berbagai stims, mereka mungkin batu, mengepakkan, berputar diri sendiri atau barang-barang seperti koin, kecepatan, memukul diri, atau mengulangi kata-kata berulang (stims verbal). Ketika perilaku yang tidak terkendali, terjadi berlebihan dalam pengaturan yang tidak pantas, atau mencegah anak dari interaksi sosial dapat diterima, masalah ada. Sebuah pertanyaan umum kedua orang tua dan guru bertanya kepada saya adalah: "Haruskah anak akan diizinkan untuk melakukan stims? Jawaban saya biasanya "ya dan tidak." Aku diizinkan untuk Stim dalam privasi kamar tidur saya selama satu jam setelah makan siang dan untuk waktu singkat setelah makan malam. Sisa waktu stims tidak diperbolehkan. Stimming benar-benar dilarang di meja makan, di toko-toko, dan di gereja. Saya pikir itu adalah penting bagi anak dengan autisme untuk memiliki beberapa waktu yang dijadwalkan untuk melakukan stims secara pribadi. Ketika mereka mendapatkan lebih distimulasi, bisa membantu mereka menenangkan diri. Pada individu dengan autisme yang lebih parah, stimming dapat digunakan sebagai hadiah. Dalam beberapa individu, mereka dapat mempertahankan perhatian untuk waktu yang singkat dan kemudian perlu untuk Stim untuk memfokuskan kembali dan menyetel kembali sistem mereka. Tiga Jenis Perilaku Repetitive Tidak semua perilaku repetitif adalah stims, sehingga sangat penting untuk membedakan sumber balik perilaku. 1. Stimming Perilaku Perilaku diri menenangkan anak dan membantunya kembali keseimbangan emosional.. Sayangnya, jika anak-anak diperbolehkan untuk Stim sepanjang hari, belajar tidak akan berlangsung karena otak anak adalah mematikan dari dunia luar. Hal ini sangat baik untuk memberikan anak waktu untuk stim tapi sisa hari, dua muda untuk lima tahun harus mendapatkan tiga sampai empat jam sehari dari satu-ke-satu kontak dengan seorang guru yang baik untuk menjaga otak anak terbuka untuk menerima informasi dan pembelajaran. 2. Gerakan Involuntary Gerakan-gerakan ini dapat menyerupai stims tetapi mereka mungkin disebabkan oleh salah satu Sindrom Tourette atau kondisi yang disebut tardive dyskinesia, yang merupakan efek samping dari obat antipsikotik seperti Risperdal (risperadone), Seroquel (quetiapine) atau Abilify (aripiprazole).. Kerusakan saraf - kadang-kadang permanen - dari obat ini menyebabkan perilaku berulang-ulang. Meskipun mereka disetujui oleh FDA untuk lima-year-olds, mereka adalah pilihan yang buruk karena bahaya kerusakan saraf dan berat badan besar. Saya akan merekomendasikan mencoba diet khusus atau suplemen minyak ikan pertama. 3. Meltdown Jumlah Karena Overload Sensory. Ketika ini terjadi, anak sering mengamuk sementara menunjukkan perilaku berulang seperti menendang atau mengepak. Pendekatan yang terbaik adalah untuk menempatkan anak di tempat yang tenang dan membiarkan dia tenang. Pengajaran mustahil selama meltdown. Ketika aku selesai mengamuk, ibu diam-diam mengatakan kepada saya konsekuensinya tidak ada TV malam ini dan itu. Tergantung pada alasan, pendekatan stimming terapi seperti ABA, modifikasi lingkungan, atau sensorik berbasis terapi dapat membantu dalam mengurangi atau memodifikasi tangan mereka. Orang tua juga dapat mengajarkan anak untuk menggantikan perilaku yang lebih dapat diterima untuk stim ketika di luar rumah, seperti menggosok sebuah benda kecil di saku anak atau meremas bola enak bukan tangan mengepak. http://autismdigest.com/why-do-kidswith-autism-stim/ SIAPA TEMPLE GRANDIN ??

Nama Temple Grandin memang tidak begitu terkenal di Indonesia. Namun, di negeri asalnya, Amerika Serikat, namanya sudah sangat dikenal luas, terutama jika dihubungkan dengan dunia autisme. Namanya pertama kali dikenal saat kisah hidupnya diangkat ke dalam sebuah buku yang ditulis oleh Oliver Sacks. Buku yang berjudul An Anthropologist On Mars tersebut berisi gambaran Grandin mengenai perasaannya berada diantara orang-orang neurotypical. Temple Grandin lahir di Boston, Massachusetts pada 29 Agustus 1947. Sebelum didiagnosa mengidap autis pada tahun 1950, Awalnya Grandin didiagnosa mengidap kerusaka otak ketika berusia dua tahun. Oleh orangtuanya ia kemudian dimasukan ke sebuah kelompok bermain yang guru-gurunya ia anggap sangat baik. Ibunya berkonsultasi kepada seorang dokter yang menyarankannya agar ia memberi putrinya itu terapi wicara. Ibunya kemudian menyewa seorang pengasuh yang menghabiskan waktu berjam-jam bermain sambil belajar bersama Grandin dan kakaknya. Tidak bisa berbicara Baca selengkapnya Posted by Mr Rizz Yogya at 21:42 0 comments