Anda di halaman 1dari 15

BAB I.

PENDAHULUAN

Saat ini dunia sedang mengalami masalah kesehatan global yang menyebabkan berbagai pemimpin negara akhirnya menyatukan visi dan misi ke dalam suatu Sasaran Pembangunan Milenium. Sasaran Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals atau disingkat dalam bahasa Inggris MDGs) adalah Deklarasi Milenium hasil kesepakatan kepala negara dan perwakilan dari 189 negara Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang mulai dijalankan pada September 2000, berupa delapan butir tujuan untuk dicapai pada tahun 2015. Targetnya adalah tercapai kesejahteraan rakyat dan pembangunan masyarakat pada 2015. Adapun delapan Sasaran Pembangunan Milenium tersebut antara lain dalam memberantas kemiskinan dan kelaparan, mencapai pendidikan untuk semua, mendorong kesetaraan jender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya, memastikan kelestarian lingkungan hidup, serta

mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan. Dalam rangka penuntasan sasaran-sasaran tersebut, komponen sasaran kedelapan yakni pengembangan kemitraan global untuk pembangunan menjadi suatu komponen esensial yang mendukung keberhasilan komponen-komponen lainnya. Dengan adanya kemitraan global, negara-negara miskin dan berkembang yang tidak mampu menyelesaikan permasalahan kesehatan di negaranya dapat dibantu oleh negara-negara maju. Lebih luas lagi baik negara-negara yang miskin dan masih berkembang dapat juga saling membantu dalam peningkatan status kesehatan di negara-negara tersebut. Pada dasarnya kemitraan internasional adalah suatu kerjasama yang terjadi karena adanya suatu national understanding yang mempunyai arah dan tujuan yang sama, serta di dukung oleh kondisi internasional yang saling membutuhkan, kerjasama itu didasari oleh kepentingan bersama antara negaranegara, meskipun kepentingan itu tidak identik. Salah satu bentuk kerjasama internasional di bidang kesehatan adalah melalui proyek the Global Fund untuk AIDS, tuberkulosis, dan malaria. Global

Fund untuk AIDS, Tuberkulosis dan Malaria (GFATM) adalah kemitraan publik/privat yang didedikasikan untuk menarik sumberdaya tambahan dalam, sektor privat dan komunitas terdampak (kelompok populasi kunci) adalah sebuah pendekatan baru terhadap pendanaan kesehatan Internasional. Masalah yang dihadapi oleh GF-ATM di Indonesia ialah mengenai banyaknya penyalahgunaan dan penyelewengan dana GF-ATM oleh berbagai pihak terkait. Hal ini akan mengancam kesinambungan proyek pemberantasan penyakit AIDS, tuberkulosis, dan malaria di Indonesia serta dapat mengurangi kepercayaan global terhadap Indonesia Melalui makalah ini akan dibahas mengenai masalah tersebut dan strategi yang dapat dilakukan untuk menyelesaikannya.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Kemitraan Internasional Kemitraan internasional adalah suatu kerjasama yang terjadi karena adanya suatu national understanding yang mempunyai arah dan tujuan yang sama, serta di dukung oleh kondisi internasional yang saling membutuhkan, kerjasama itu didasari oleh kepentingan bersama antara negara-negara, meskipun kepentingan itu tidak identik. Adapun faktor-faktor pendukung terwujudnya kemitraan internasional adalah: 1. Kemajuan di bidang teknologi yang memudahkan terjalinnya hubungan yang dapat dilakukan negara-negara, sehingga meningkatnya

ketergantungan satu sama lain. 2. Kemajuan serta perkembangan ekonomi mempengaruhi kesejahteraan bangsa dan negara. 3. Perubahan sifat perang dimana terdapat suatu keinginan bersama untuk saling melindungi internasional. 4. Adanya kesadaran dan keinginan berorganisasi merupakan salah satu metode kemitraan internasional. Kemitraan internasional diwujudkan dalam suatu organisasi yang disebut organisasi internasional yang merupakan wadah pertemuan negara-negara dalam menyatukan masing-masing kepentingan menjadi suatu kesepakatan internasional, ini merupakan bukti adanya International Understanding. Organisasi internasional adalah suatu perhimpunan negara-negara merdeka dan berdaulat yang bertujuan untuk mencapai kepentingan-kepentingan bersama melalui organ-organ dari perhimpunan itu sendiri. Organisasi internasional secara lebih lengkap didefinisikan sebagai pola kerjasama yang melintasi batas-batas negara, dengan didasari struktur organisasi yang jelas dan lengkap serta diharapkan atau diproyeksikan untuk berlangsung serta atau membela diri dalam bentuk kemitraan

melaksanakan fungsinya secara berkesinambungan dan melembaga guna

mengusahakan tercapainya tujuan-tujuan yang diperlukan serta disepakati bersama, baik antara pemerintah dengan pemerintah maupun antara sesama kelompok non-pemerintah pada negara yang berbeda Organisasi internasional terdiri dari International Governmental

Organization (selanjutnya disingkat IGO) dan International Non Governmental Organization (selanjutnya disingkat INGO), Organisasi-organisasi ini pada dasarnya dapat diklasifikasikan atas empat kategori: 1. Organisasi yang keanggotaan dan tujuannya bersifat umum, memiliki ruang lingkup global dan melakukan berbagai fungsi seperti keamanan, kerjasama, sosial, ekonomi dan perlindungan Hak Asasi Manusia (selanjutnya disingkat HAM), contohnya PBB. 2. Organisasi yang keanggotaannya umum dan tujuannya terbatas, organisasi ini dikenal juga sebagai organisasi fungsional karena bergerak dalam satu bidang yang spesifik, contohnya WHO, UNICEF, FAO. 3. Organisasi yang anggotanya terbatas dan tujuannya bersifat umum, organisasi ini merupakan organisasi regional yang memiliki fungsi dan tanggung jawab keamanan, politik, sosial, ekonomi berskala luar, contohnya ASEAN. 4. Organisasi yang anggota dan tujuannya bersifat terbatas, organisasi ini terbagi atas organisasi sosial, ekonomi dan militer, contohnya NATO. Dalam pembentukan organisasi internasional, khususnya IGO,

masyarakat internasional menginginkan agar organisasi internasional dapat memberikan perubahan dalam keadaan sistem internasional yang situasinya kini semakin mengindikasikan situasi disorder. Dalam perkembangannya, IGO yang turut membawa kemajuan bagi internasional dalam menangani berbagai macam situasi dunia adalah adanya peranan PBB. Peranan organisasi internasional dapat dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu: 1. Sebagai instrumen. Organisasi internasional digunakan oleh negaranegara anggotanya untuk mencapai tujuan tertentu berdasarkan tujuan politik luar negerinya.

2. Sebagai arena. Organisasi internasional merupakan tempat bertemu bagi anggota saja untuk membicarakan dan membahas masalah dalam negeri lain dengan tujuan untuk mendapat perhatian internasional. 3. Sebagai aktor independen. Organisasi internasional dapat membuat keputusan-keputusan sendiri tanpa dipengaruhi oleh kekuasaan atau paksaan dari luar organisasi

B. The Global Fund Salah satu bentuk kerjasama internasional di bidang kesehatan adalah melalui proyek the Global Fund untuk AIDS, tuberkulosis, dan malaria. Global Fund untuk AIDS, Tuberkulosis dan Malaria (GFATM) adalah kemitraan publik/privat yang didedikasikan untuk menarik sumberdaya tambahan dalam, sektor privat dan komunitas terdampak (kelompok populasi kunci) adalah sebuah pendekatan baru terhadap pendanaan kesehatan Internasional. Sejak diciptakan pada tahun 2002, GFATM telah menjadi sumber utama bagi pendanaan program penanggulangan AIDS, TB dan malaria, dengan persetujuan kepada dana sebesar 18,4 miliar dolar Amerika bagi 572 program di 140 negara. Pendanaan ini telah menyediakan pendanaan Internasional yaitu 1/4 bagi AIDS, 2/3 bagi TB dan 3/4 untuk malaria secara global. Global Fund untuk AIDS, Tuberkulosis dan Malaria telah memampukan negara - negara untuk memperkuat sistem kesehatan dengan banyak cara, sebagai contoh; peningkatan terhadap infrastruktur dan menyediakan pelatihan bagi pemberi layanan kesehatan. GFATM tetap berkomitmen untuk bekerja dalam kemitraan untuk meningkatkan penanggulangan terhadap 3 penyakit dan berupaya mewujudkan visinya - dunia yang bebas dari beban AIDS, TB dan malaria. Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis dan Malaria didirikan dengan beberapa susunan prinsip yang memandu seluruh kerja Global Fund - mulai dari tata kelola hingga penyelenggaraan pendanaan. Prinsip - prinsip tersebut adalah: Bekerja sebagai instrument finansial, bukan sebagai entitas/lembaga pelaksana. Tujuan dari GFATM adalah untuk menarik dan mengeluarkan sumberdaya penanggulangan AIDS, TB dan malaria. GFATM tidak

menyelenggarakan program secara langsung, mengandalkan kemitraan luas dengan organisasi pengembangan dilapangan dengan cara

memberikan pengetahuan lokal dan bantuan teknis bila dibutuhkan. Menciptakan ketersediaan dan meningkatkan sumberdaya finansial tambahan. GFATM dituntut untuk menggalang sejumlah besar uang yang bisa saja digunakan mengantikan atau mengurangi sementara waktu sumberdaya lain penanggulangan AIDS, TB dan malaria. Tujuannya adalah demi melengkapi kesenjangan kebutuhan ditingkat negara dalam menanggulangi 3 penyakit disebut dan memperkuat sistim kesehatan yang dibutuhkan dengan mendanai program pelengkap yang telah didukung oleh donor lain, serta mendorong pengunaan dana internal/domestik untuk menstimulasi investasi yang lebih dalam oleh donor dan penerima dana. Mendukung program yang berasal dari prioritas dan perencanaan nasional. Model pendanaan inovatif GFATM mendanai program yang

dikembangkan oleh negara penerima dana sesuai dengan prioritas dan perencanaan strategi kesehatan Nasional. Persyaratan dukungan adalah dimana seluruh bagian masyarakat dilibatkan dalam konteks kesehatan masyarakat, termasuk masyarakat sipil dan sektor privat demi memastikan program yang kuat dan menyeluruh. Bekerja dengan sikap yang seimbang dalam region/daerah, penyakit dan intervensi yang berbeda. GFATM memberikan prioritas untuk mendanai negara dengan pendapatan yang rendah dan beban penyakit yang berat, tetapi juga akan mempertimbangkan negara dengan pendapatan menegah sesuai dengan temuan World Bank. Selama mendanai AIDS, TB dan malaria diseluruh dunia, GFATM melakukan pendekatan yang menyetir kepastian dana digunakan sesuai dengan kebutuhan yang paling penting Mendorong pendekatan seimbang antara pencegahan dan pengobatan. GFATM menggunakan pendekatan yang menyeluruh (komperhensif) bagi AIDS, TB dan malaria, mendanai baik pencegahan dan pengobatan berdasarkan kebutuhan yang telah ditentukan.

Evaluasi proposal melalui proses kajian independen. Global Fund menggunakan panel pengkaji independen (Technical review Panel - TRP) untuk memastikan jumlah dana terbatas yang dialokasikan kepada program memiliki kemungkinan sukses yang besar. Panel ini melibatkan ahli penyakit, juga ahli lain dibidang pengembangan yang mampu memetakan bagaimana program yang diajukan dapat melengkapi upaya perbaikan kesehatan dan penguranagan kemiskinan yang sedang/sudah berjalan pada tingkat negara.

Bekerja dengan transparansi dan akuntabilitas. GFATM memastikan penerima dananya akuntabel terhadap standar yang sudah disepakati secara kuat yang memerlukan program dapat mencapai target tertentu selama masa periode pendanaan. Masyarakat harus dapat

menemukan/menelusuri seluruh perkembangan pendanaan melalui website, melakukan evaluasi independen terhadap kinerja organisasi dan dalam

mendiseminasikan/membagikan pertemuan Dewan GFATM.

dokumen

yang didiskusikan

BAB III. ANALISIS SITUASI

A. Analisis Masalah Masalah utama yang diangkat ialah perihal implementasi kegiatan GF-ATM yang tidak efektif dan efisien. Fenomena penyalahgunaan dana GF-ATM yang terjadi di berbagai negara akseptor, salah satunya Indonesia, ditambah lagi dengan berbagai proyek penanggulangan penyakit menular yang tidak disertai dengan analisis ekonomi yang baik, menyebabkan penggunaan dan menjadi tidak efisien dan efektif. Masalah utama ini setelah ditelusuri dapat disebabkan oleh hal-hal seperti kualitas dan kuantitas sumber daya manusia, sumber daya alam, fisik, serta faktor sosial dan politik. Saat ini SDM tidak hanya dipandang sebagai sumber daya belaka, melainkan lebih berupa modal atau aset bagi institusi atau organisasi. Kinerja dari SDM akan secara langsung mempengaruhi hasil keluaran dari suatu proyek organisasi (Charles, 1995). Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja SDM termasuk faktor individu dan faktor kelompok. Seorang individu sangat dipengaruhi oleh tingkat dan kualitas pendidikan/pelatihan, motivasi kerja, stres kerja, serta kepribadian dari individu tersebut. Disisi lain faktor organisasi juga memegang peranan penting dalam kinerja SDM. Faktor organisasi ini mencakup budaya kerja, atmosfir kerja, gaya kepemimpinan dan sebagainya. Faktor individu dan faktor organisasi saling berkaitan satu sama lainnya, sebagai contoh meskipun faktor individu sudah baik namun apabila terdapat budaya korupsi (material, waktu, dan sebagainya), atmosfir kerja yang tidak mendukung, serta adanya pimpinan yang otoriter akan menyebabkan kualitas SDM secara keseluruhan akan menurun. Di lain pihak, meskipun suatu organisasi tertata dengan baik dan didukung dengan bantuan-bantuan dana dari berbagai pihak, namun apabila individu-individu di dalamnya tidak bekerja sesuai tugasnya maka tujuan kegiatan tidak akan tercapai. Permasalahan SDM kesehatan ini merupakan tantangan yang harus segera dijawab oleh pemerintah. Koordinator Program Manajemen WHO Wilayah Asia Tenggara Dr. M Mucaherul Hug pada keteranganya usai pembukaan Konferensi Aliansi Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan Se-Asia

Pasifik di Sanur pada April 2010 menyatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dari 57 negara di dunia yang masuk dalam kategori negara yang mengalami krisis tenaga kesehatan. Menurut Mucaherul Hug, selain karena tidak meratanya distribusi, krisis tenaga kesehatan di Indonesia juga disebabkan oleh rendahnya kompetensi tenaga kesehatan Indonesia. Dalam hal ini, pemerintah harus memberikan perhatian lebih pada institusi pendidikan terkait, serta menyusun dan menegaskan regulasi sebagai upaya menjawab permasalahan distribusi tenaga kesehatan yang belum merata, terutama untuk daerah terpencil dan perbatasan. (Kemenkes, 2011) Selain permasalahan SDM, masalah utama juga dapat disebabkan oleh sumber daya lainnya tidak menunjang. Sumber daya yang dimaksud disini mencakup sarana dan prasarana dasar, sistem informasi dan teknologi, keadaan lingkungan, serta dana penunjang. Dana GF-ATM pada dasarnya merupakan suatu bantuan dan dalam hal ini bukan berarti negara akseptornya tidak memiliki kesiapan sama sekali. Sumber daya alam serta fisik dari negara akseptor harus pula mendukung. Misalnya apabila suatu daerah dari negara akseptor diberikan bantuan untuk pengadaan alat-alat yang berkaitan dengan penanggulangan ketiga penyakit sasaran (AIDS, tuberkulosis, maupun malaria), tetapi ternyata tidak memiliki gudang penyimpanan atau bangunan yang tidak layak pakai, maka kemungkinan alat-alat yang diadakan akan cepat rusak sehingga perlu perbaikan. Ini menyebabkan penggunaan dana menjadi tidak efisien. Faktor lainnya yang dapat menyebabkan tidak efektif dan efisiennya pengunaan dana GF-ATM adalah faktor sosial dan politik. Desentralisasi yang memberi peluang bagi Pemerintah Daerah untuk mengambil andil penting dalam penanganan masalah kesehatan secara teoritis dapat menyebabkan tercapainya pelayanan kesehatan yang lebih responsif terhadap kebutuhan lokal. Namun pada kenyataannya hal ini lebih mendorong timbulnya disparitas antar daerah dan sulit terpenuhinya informasi kesehatan yang esensial. Terlebih lagi, peningkatan pembiayaan yang dilakukan Pemerintah Daerah dalam pembiayaan pengobatan kuratif menyebabkan berbagai pelayanan kesehatan preventif dan promotif oleh Pemerintah Daerah menurun. Keadaan ini dapat menyebabkan disparitas

perkembangan

penanggulangan

masalah

penyakit

sasaran

yakni

AIDS,

tuberkulosis, dan malaria antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Masalah kesehatan global (AIDS, TBC, dan malaria) tidak teratasi

Biaya kesehatan terutama terkait penyakit AIDS, TBC, dan malaria meningkat

Ancaman penghentian dana GFATM

Tujuan tidak tercapai

Hilangnya kepercayaan terhadap negara akseptor

Pengelolaan dana GF-ATM tidak efektif dan efisien

Kinerja SDM tidak optimal

Sumber daya lainnya kurang menunjang

Keadaan sosial politik tidak menunjang

Individu - Pendidikan/Pela tihan - Motivasi kerja - Stres kerja - Kepribadian

Organisasi - Budaya organisasi - Atmosfir kerja - Gaya kepemimpinan

Keterbatasan sistem informasi dan teknologi

Sarana dan prasarana dasar tidak mendukung

Tidak adanya dana penunjang

Gambar 1. Skema pohon masalah

B. Analisis Tujuan Permasalahan pengelolaan dana GF-ATM yang tidak efisien dan efektif dapat berdampak luas bagi negara akseptor yang bersangkutan. Berbagai akibat buruk seperti tidak tercapainya tujuan penanggulangan penyakit AIDS, tuberkulosis, dan malaria secara berkesinambungan serta hilangnya kepercayaan dari GF-ATM terhadap negara akseptor. Inilah sebabnya permasalahan ini harus ditanggulangi dengan benar. Dalam rangka merumuskan strategi penanggulangan masalahmasalah tersebut, perlu dirumuskan dahulu tujuan yang ingin dicapai. Tujuan-

10

tujuan tersebut dapat dirangkum dalam suatu pohon tujuan seperti pada Gambar 2 di bawah ini.

Masalah kesehatan global (AIDS, TBC, dan malaria) dapat teratasi

Biaya kesehatan terutama terkait penyakit AIDS, TBC, dan malaria dapat ditekan

Dana GF-ATM tetap mengalir

Target-target kegiatan tercapai

Kepercayaan GF-ATM terhadap Indonesia meningkat

Pengelolaan dana GF-ATM efektif dan efisien

Kinerja SDM optimal

Sumber daya lainnya menunjang

Keadaan sosial politik menunjang

Pelatihan SDM Peningkatan motivasi kerja Beban kerja tidak berlebihan Pembinaan kepribadian individu

Memberantas budaya korupsi Meningkatkan atmosfir kerja Mengembangkan sistem kepemimpinan yang kondusif

Perbaikan sistem informasi dan teknologi

Pengadaan dan
pengoptimalan

sarana dan prasarana dasar

Tersedianya dana penunjang

Perbaikan sistem ekonomi Indonesia

Peningkatan peran pemerintah nasional

Gambar 2. Skema pohon tujuan

11

BAB IV. ANALISIS STRATEGI

A. Analisis SWOT Setelah memahami masalah utama yang terjadi dan tujuan yang akan dicapai kemudian dapat ditentukan strategi-strategi yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Ada berbagai metode analisis strategi yang dapat digunakan, salah satunya ialah dengan melakukan analisis SWOT. Analisis SWOT adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dalam suatu proyek atau suatu spekulasi bisnis. Proses ini melibatkan penentuan tujuan yang spesifik dari spekulasi bisnis atau proyek dan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mendukung dan yang tidak dalam mencapai tujuan tersebut. Dalam permasalahan penggunaan dana GF-ATM yang tidak efisien dan efektif di Indonesia dapat dirumuskan komponen-komponen internal dan eksternalnya sebagai berikut: Faktor Internal Kekuatan. Negara Indonesia memiliki jumlah penduduk yang banyak yang sebenarnya dapat menjadi modal yang besar apabila dimanfaatkan dengan baik. Selain itu negara Indonesia pada dasarnya kaya dengan sumber daya alam yang apabila dikelola dengan optimal dapat mendukung pembangunan bangsa. Kelemahan. Seperti yang telah dibahas dalam analisis situasi pada bab sebelumnya, yang menjadi kelemahan negara Indonesia sebagai akseptor dana GF-ATM antara lain pada sumber daya manusia, sumber daya alam dan fisik penunjang, serta keadaan sosial politik terutama kebijakan otonomisasi daerah. Kelemahan ini menyebabkan disparitas pencapaian program-program yang didanai oleh GF-ATM.

12

Faktor Eksternal Kesempatan. Indonesia memiliki berbagai kerjasama internasional baik dengan pihak pemerintah maupun non-pemerintah. Kerjasama ini dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan kesehatan negara selain dari pemanfaatan dana-dana bantuan antara lain dari GF-ATM. Hal ini dapat menjaga ketahanan proyek penanggulangan penyakit global meskipun GF-ATM terancam dihentikan akibat berbagai alas an. Ancaman. Ancaman utama dari proyek GF-ATM ini adalah masalah krisis ekonomi global. Global fund adalah proyek yang dana bersumber dari berbagai negara maju yang memberikan komitmennya sebagai donor dana. Berbagai permasalahan ekonomi global saat ini menyebabkan banyak negara donor mengurangi sumbangannya bahkan menghentikan untuk sementara waktu. Akibatnya dana yang terkumpul untuk GF-ATM menjadi rendah dan mempengaruhi kesinambungan program global penanggulangan AIDS, tuberkulosis dan malaria.

B. Strategi Strategi-strategi yang dapat dilakukan dengan mempertimbangkan analisis SWOT di atas antara lain: Memberlakukan seleksi yang ketat terhadap perekrutan SDM terkait proyek GF-ATM Melaksanaan pendidikan dan pembinaan SDM yang terkait proyek GF-ATM serta melakukan pembinaan kepribadian individu Meningkatkan kesejahteraan SDM Memberantas budaya organisasi yang cenderung melakukan KKN dengan mengembangkan budaya kejujuran dan transparansi Meningkatkan keketatan sistem evaluasi proyek GF-ATM terutama dalam pertanggungjawaban keuangan proyek Meningkatkan peran pemerintah nasional pusat dan daerah dalam mendukung proyek GF-ATM

13

Koordinasi dan pengawasan yang optimal dalam pelayanan kesehatan pada sistem desentralisasi. Pemerintah Pusat harus mengembalikan peran pemerintah propinsi sebagai penanggungjawab dan pusat koordinasi pemerintah daerah, sementara pemerintah pusat melakukan rekonstruksi fungsinya sebagai pihak yang berfokus pada penanganan kesehatan yang paling essensial dan relevan dengan pola penyakit masa kini.

14

DAFTAR PUSTAKA

Charles R. 1995. Strategy and Human Resources: a General Managerial Perspective. New Jersey: Prentice Hall. Kartasasmita G. 1996. Pembangunan untuk Rakyat: Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan. PT. Pustaka Cidesindo. Kemenkes, 2011. Konferensi Aliansi Sumber Daya Manusia Kesehatan Se-Asia Pasifik. (diakses dari: http://www.depkes.go.id/index.php/berita/pressrelease/1234-konferensi-aliansi-sumber-daya-manusia-kesehatan-se-asiapasifik.html, tanggal: 20 Desember 2011) Jothi. 2009. Global Fund di Indonesia (diakses http://www.jothi.or.id/node/43, tanggal: 20 Desember 2011) dari:

Rudy, TM. 1998. Administrasi dan Organisasi Internasional. Bandung: Refika Aditama. Stalker, P. 2008. Millenium Development Goals. (Diakses dari: http://www.undp.or.id/pubs/docs/Let%20Speak%20Out%20for%20MDGs %20-%20ID.pdf, pada tanggal: 21 Desember 2011)

15