Anda di halaman 1dari 12

Telaah Kritis Penerapan Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK-BMN) TNI 2010-2012

Oleh: Nicko Kornelius Putra (339485)

Program Studi Ilmu Akuntansi Magister Sains Universitas Gadjah Mada Januari 2013

TELAAH KRITIS PENERAPAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN DAN AKUNTANSI BARANG MILIK NEGARA(SIMAK-BMN) TNI TAHUN 2010-2012 Nicko Kornelius Putra

1. PENDAHULUAN Sistem Informasi dan Manajemen Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK-BMN) TNI adalah sebuah sistem informasi yang digunakan sebagai aplikasi inventarisasi, penatausahaan, atau serangkaian prosedur yang mengatur tata cara pelaporan Barang Milik Negara yang

bertujuan untuk menghasilkan informasi yang diperlukan sebagai alat pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBN dan pelaporan manajerial (Manajerial Report) atas kekayaan negara yang dikuasai Kementerian Pertahanan dan TNI. Sejarah aplikasi keuangan Pemerintah ini diawali dari dari aplikasi pertama SAAT (Sistem Akuntansi Aset Tetap) yang berlaku selama masa periode 2003-2004. Aplikasi SAAT kemudian mengalami pengembangan dan berganti menjadi SABMN (Sistem Akuntansi Barang Milik Negara) yang dilaksanakan selama masa periode 2005 hingga periode semester 1 tahun 2008. SABMN tergantikan dan lahirlah pertama kali aplikasi pengelolaan dan pelaporan Barang Milik Negara yang kita sebut SIMAK-BMN 2008 dan Persediaan 2008 .Aplikasi ini berjalan dan seringkali mengalami kendala dan permasalahan di kalangan user karena seringkali terjadi permasalahan software dan sosialisasi penggunaan yang kurang optimal. Aplikasi ini belum mengalami proses perbaikan dari awal penggunaan semester ke 2 tahun 2008 hingga bulan Mei 2011. Akhirnya pada bulan Juni 2011 dilakukan pergantian aplikasi SIMAK-BMN 2008 menjadi aplikasi SIMAK-BMN 2010 hingga saat ini. Aplikasi inipun terus mengalami proses update software untuk mencapai titik optimal pelaksanaan aplikasi ini.

Penerapan SIMAK BMN TNI pada hakikatnya bertujuan untuk memaksimalkan pengelolaan dan pertanggungjawaban TNI terhadap penggunaan dan pelaporan Barang Milik Negara yang sejalan dengan dengan UU No.34 Tahun 2004 tentang TNI pasal 68 ayat 2, yang yang menyatakan bahwa TNI wajib mempertanggungjawabkan pengelolaan anggaran pertahanan negara kepada pemerintah dalam hal ini Menteri Pertahanan. Praktek pelaksanaan aplikasi SIMAK-BMN TNI pada kenyataannya masih mengalami beberapa kendala yang harus disikapi secara serius oleh TNI maupun Pemerintah. Aspek Operasional, Teknis, maupun Ekonomis harus diperhatikan dan dikembangkan lebih lanjut dalam rangka mencapai optimalisasi. Pemahaman terhadap aplikasi, kesiapan infrastruktur dan pendidikan atau pelatihan penggunaan aplikasi SIMAK-BMN masih menjadi kendala yang wajib dicarikan solusi yang paling tepat untuk pengelolaan yang lebih baik, seperti yang tampak pada hasil riset Gaguk Sunu Widiyanto pada SIMAK-BMN Lanud Adisutjipto Yogyakarta (MAKSI UGM,2012). Artikel ini juga akan mengungkapkan berbagai macam kendala SIMAK-BMN TNI secara umum dari berbagai instansi di bawah TNI yang dapat memberikan wawasan bagi pembaca untuk memahami kompleksitas penerapan SIMAK-BMN dikalangan TNI dan sekaligus mengungkapkan alternatif-alternatif solusi yang telah dilakukan dalam rangka mengatasi kendala-kendala yang muncul dari aplikasi SIMAK-BMN TNI.

2. LANDASAN HUKUM DAN ALASAN KEBERADAAN SIMAK-BMN TNI

Eksistensi SIMAK-BMN TNI mengacu pada keharusan lembaga pemerintah untuk melaporkan kekayaan negara berupa uang dan barang sesuai dengan standar akuntansi dalam

rangka menunjukkan tertib administrasi dan kredibilitas negara. SIMAK-BMN dibuat dengan mendasarkan pada landasan hukum negara sebagai berikut:
a. UU No.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara b. UU No.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara

c. UU No.15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara
d. PP No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan e. PP No. 6 Tahun 2006

tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah, yang

mengalami perubahan dengan PP No.38 Tahun 2008


f.

Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.171/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat. Secara eksplisit, yang dimaksud Barang Milik Negara(BMN) adalah barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. BMN merupakan bagian dari aset pemerintah pusat. Adapun unsurnya bisa meliputi: aset lancar, aset tetap, aset lainnya, dan aset bersejarah.

g. Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.023/PMK.06/2010 tentang Penataan Pemanfaatan Barang Milik Negara di lingkungan Tentara Nasional Indonesia (TNI) h. Peraturan Direktur Jenderal Kekuatan Pertahanan Nomor 3 Tahun 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tata Cara Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan dan Pemindahtanganan Barang Milik Negara di Lingkungan Kementerian Pertahanan dan TNI. Kebutuhan akan SIMAK-BMN TNI dikarenakan beberapa situasi dan kondisi sebagai berikut:

a. Audit BPK terhadap Kementerian Pertahanan dan TNI masih memperoleh opini Wajar dengan Pengecualian. Hal ini disebabkan oleh masih banyaknya barang milik negara dalam laporan yang diaudit, belum mencerminkan jumlah dan nilai aset yang sebenarnya. b. Pengelolaan Akuntansi Barang belum sesuai ketentuan akuntansi yang berlaku. Standar Akuntansi yang belum sepenuhnya diterapkan menyebabkan nilai dari aset tetap, konstruksi dalam pengerjaan, barang persediaan, neraca barang dan catatan atas persediaan barang belum dapat menunjukkan nilai yang riil.
c. Pada Tahun 2003, dilakukan reorganisasi Kementerian Pertahanan TNI dimana

pengelola inventarisasi kekayaan negara di tingkat pusat dipisah, di mana pengelolaan Barang Tak Bergerak (BTB) diserahkan pada Direktorat Jenderal Sarana Pertahanan dan untuk Barang Bergerak (BB) diserahkan pada Direktorat Jenderal Kekuatan Pertahanan. Pemisahan ini seringkali menyebabkan proses pelaporan Barang Milik Negara mengalami keterlambatan dan ketidaksinkronan dalam penyusunan standar pelaporan akuntansi barang. d. Pada Tahun 2008, karena mendesaknya kebutuhan laporan keuangan terhadap nilai aset barang dan untuk mempercepat proses integrasi/sinkronisasi pelaporan nilai aset barang antar unit-unit dalam Kemenhan dan TNI, SIMAK-BMN untuk pertama kalinya digunakan dan dikembangkan sebagai sistem yang memiliki nilai tambah. Kelebihan dari sistem ini selain dapat memenuhi kebutuhan Departemen Keuangan dalam hal pelaporan akuntansi barang, juga dapat memenuhi kebutuhan Kementerian Pertahanan dan TNI dalam hal pembinaan materiil dan perencanaan internal.

3. KEBIJAKAN KEMENTERIAN PERTAHANAN & TNI DALAM PENERAPAN

SIMAK-BMN 2010-2012 Laporan Keuangan Kementerian Pertahanan dan TNI tahun 2009 telah diaudit BPK dan kembali mendapatkan opini Wajar dengan Pengecualian pada tanggal 7 Juni 2010. Meskipun demikian, banyak kemajuan yang dilakukan Kementerian Pertahanan dan TNI, khususnya pada pencatatan dan pelaporan Persediaan dan Peralatan dan Mesin, antara lain melalui kegiatan inventarisasi dan penilaian Aset Tetap bekerja sama dengan Kementerian Keuangan. Oleh karena itu, pada Tahun 2010, dilakukan serangkaian kebijakan oleh Kementerian Pertahanan dan TNI yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas Laporan Keuangan Kementerian Pertahanan dan TNI untuk periode 2010-2012. Kebijakan Kementerian Pertahanan dan TNI pada tahun 2010 tertuang dalam Rencana Aksi Penertiban Laporan Keuangan 2010 yang berisi rumusan kebijakan dan program kerja sebagai berikut :
(i)

menginstruksikan seluruh unit akuntansi keuangan dan barang membuat laporan

keuangan dan Laporan BMN sesuai dengan tugasnya


(ii)

menyelesaikan mensosialisasikan

pengembangan

aplikasi

SIMAK-BMN

dan

kepada Satuan Kerja terkait (iii) menetapkan dan menyempurnakan organisasi/unit-unit akuntansi BMN berikut tugas pokok, fungsi, uraian kerja dan target yang lebih jelas dan terukur
(iv)

menempatkan personel yang kompeten dan cukup secara kualitas maupun

kuantitas di bidang SIMAK-BMN

(v)

berkoordinasi dengan anggaran

Menteri Keuangan untuk meningkatkan alokasi

sertifikasi tanah negara yang dikuasasi Kementerian Pertahanan (vi) mengoptimalkan fungsi-fungsi badan keuangan dan badan logistik sebagai pusat pengolahan data transaksi keuangan dan barang milik negara serta fungsi satker sebagai ujung tombak penyusunan Laporan Keuangan secara berjenjang.
(vii)

mengoptimalkan fungsi Inspektorat Jenderal Kementerian Pertahanan, Markas

besar TNI dan Angkatan sebagai reviewer (fungsi quality assurance) konsep Laporan Keuangan Kementerian Pertahanan sebelum disahkan oleh Menteri Pertahanan
(viii)

Inspektorat Jenderal Kementerian mengalokasikan

Pertahanan

perlu lebih banyak

sumber dayanya (anggaran, waktu dan SDM auditor) untuk membantu Menteri Pertahanan dalam perbaikan sistem. Perbaikan sistem ini dapat membantu para

pelaksana dalam mengelola keuangan dan barang negara agar lebih akuntabel, transparan, dan mematuhi ketentuan perundangan yang berlaku. Selama tahun 2012, secara masif, Kementerian Pertahanan dan TNI menyelenggarakan sosialisasi dan penataran maupun program pendidikan dan pelatihan tentang SIMAK-BMN TNI diberbagai instansi di bawah Kementerian Pertahanan dan TNI baik pusat maupun daerah. Program ini bertujuan agar semakin banyak sumber daya manusia yang memahami dan menggunakan SIMAK-BMN dan membantu Inspektorat Jenderal Kementerian Pertahanan dengan memberikan feedback untuk perbaikan sistem SIMAK-BMN TNI.

4. REALITAS PENERAPAN SIMAK BMN TNI 2010-2012

Bagi sebagian kalangan, SIMAK-BMN dipandang sebagai aplikasi ideal yang dapat menjawab tantangan dari wujud pelaksanaan Peraturan Menteri Keuangan (PMK)

No.171/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat dan UU No.38 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah. Realita yang terjadi dilapangan adalah jauh panggang dari arang. Masalah-masalah masih sering muncul di dalam pelaksanaan SIMAK-BMN pada berbagai instansi, termasuk juga Kementerian Pertahanan & TNI beserta sub-sub unit di bawahnya, baik tingkat pusat maupun daerah. Meskipun semenjak 2008 aplikasi ini diterapkan, aplikasi SIMAK- BMN dalam lingkungan Kementerian Pertahanan dan TNI dalam kurun waktu 2010-2012, masih banyak menimbulkan kendala dan keluhan baik dari sisi teknis, operasional maupun ekonomis. Kendala yang muncul dari segi teknis adalah mengenai infrastruktur yang digunakan untuk penerapan aplikasi ini masih belum seragam dan reliabel di kalangan Kementerian Pertahanan dan TNI secara keseluruhan. Aplikasi ini telah wajib dicanangkan diseluruh satuan kerja TNI di daerah maupun pusat dan bersifat integratif. Sistem Informasi yang bersifat integratif ini memerlukan jaringan komputer dan teknologi yang mumpuni, seiring dengan perkembangan atau update aplikasi SIMAK-BMN TNI yang menjawab kebutuhan penggunanya. Jaringan Teknologi Komputer untuk menjalankan aplikasi ini tidaklah murah. Solusi telah ditemukan, dengan anggaran Kementerian Pertahanan dan TNI yang meningkat 6 % pada tahun 2011 untuk sarana dan prasarana yang berhubungan dengan aplikasi SIMAK-BMN. Proses pengadaan sarana dan prasarana di kalangan pemerintah, seperti yang kita tahu, sering mengalami kelambatan dalam proses realisasinya. Sementara itu, kebijakan penggunaan aplikasi

SIMAK-BMN telah berlaku nasional di kalangan TNI. Hal yang wajar terjadi, jika pada akhirnya pengungkapan laporan keuangan Kementerian Pertahanan dan TNI cenderung terlambat dalam proses penyelesaiannya dan masih banyak laporan keuangan yang tidak menggunakan informasi dari SIMAK-BMN karena belum tersedianya sarana dan prasarana di satuan kerja yang bersangkutan. Dari segi aplikasi, SIMAK-BMN masih perlu banyak penyempurnaan karena apa yang ditampilkan pada diklat SIMAK-BMN maupun modul seringkali tidak sesuai dengan realitas SIMAK-BMN yang digunakan. Kendala dari segi operasional, lebih muncul dari sisi sumber daya manusia yang menjadi pengguna aplikasi ini. Kebutuhan akan operator diseluruh satuan kerja TNI di daerah, menyebabkan alternatif penggunaan operator yang kurang memahami aspek akuntansi dan teknologi komputer, dan pada akhirnya berakibat pada frekuensi kesalahan dan keterlambatan penyelesaian laporan keuangan. Sosialisasi aplikasi dan pelatihan-pelatihan SIMAK-BMN TNI pada 2012 semakin gencar dilaksanakan di kalangan TNI. Namun, sosialisasi SIMAK-BMN TNI hanya menyentuh permukaan dan kedalaman akan penggunaan aplikasi ini masih belum tersentuh karena keterbatasan waktu pelatihan/sosialisasi dan keterbatasan anggaran. Kendala tambahan lain yang muncul adalah keterbatasan pemilihan sumber daya manusia yang memiliki pemahaman tentang tata cara penggunaan aplikasi dan pemahaman akuntansi. Tidak semua satuan kerja TNI memiliki sumber daya yang berkualifikasi seperti itu. Usulan-usulan untuk memberikan materi pendidikan khusus di bidang akuntansi barang dan aplikasi SIMAK-BMN secara terkonsentrasi juga masih dalam pembahasan, karena membutuhkan (kembali) anggaran yang tidak sedikit untuk merealisasikannya. Dari segi ekonomis, anggaran yang dibutuhkan untuk memastikan SIMAK-BMN berjalan 100% sesuai dengan Kebijakan Pertahanan Negara 2010-2014, bukanlah anggaran yang

mudah untuk dicairkan dan didistribusikan segera. Investasi yang dibutuhkan untuk penyediaan sarana dan prasarana, pelatihan operator dan penyempurnaan aplikasi SIMAK-BMN TNI ini masih sangat besar. Pencairan anggaran SIMAK-BMN TNI ini berjalan secara multi-year, sementara laporan keuangan Kementerian Pertahanan dan TNI selalu diaudit dari tahun ke tahun. Upaya untuk memberikan pemahaman kepada BPK dan DPR khususnya harus lebih ditingkatkan oleh Kementerian Pertahanan dan TNI untuk dapat memberikan rasionalisasi kenapa Laporan Keuangan Kementerian Pertahanan dan TNI masih memerlukan pembenahan. Keuntungan ekonomis yang didapatkan dari aplikasi SIMAK-BMN TNI ini berpotensi untuk dirasakan setelah tahun 2014 dengan adanya penghematan-penghematan dari segi teknis administrasi pelaporan dan inventarisasi kekayaan negara berupa uang dan barang dari Kementerian Pertahanan dan TNI. Hingga akhir tahun 2012, ketiga aspek tersebut di atas masih mengalami proses pembenahan dalam rangka pencapaian optimalisasi pelaksanaan aplikasi SIMAK-BMN TNI di seluruh satuan kerja TNI.

5.

KESIMPULAN SIMAK-BMN adalah aplikasi yang wajib diterapkan pemerintah dalam rangka

pencapaian sistem akuntansi dan pelaporan keuangan yang terintegrasi yang pada akhirnya membawa pada penghematan keuangan negara. SIMAK-BMN TNI dalam praktiknya, masih membutuhkan investasi finansial dan non finansial untuk mencapai optimalisasi penggunaan aplikasi ini. Kementerian Pertahanan dan TNI dalam usahanya untuk memperbaiki pengelolaan Barang Milik Negara dan penggunaan SIMAK-BMN TNI, telah membawa berbagai macam kemajuan dalam wujud akhir laporan keuangan Kementerian Pertahanan dan TNI yang dinilai

oleh BPK semakin membaik (Hasil Audit BPK 2011). Akan tetapi solusi-solusi yang diberikan untuk mengatasi kendala-kendala yang terjadi dalam penerapan SIMAK-BMN TNI masih belum maksimal. Masalah-masalah dari segi teknis, operasional, ekonomis bahkan politik (dari kalangan DPR khususnya) masih menjadi bahan pertimbangan bagi Kementerian Pertahanan dan TNI untuk membuat alternatif alternatif solusi yang pada akhirnya mewujudkan penggunaan aplikasi SIMAK-BMN 100% di akhir tahun 2014.

6.

TINJAUAN PUSTAKA

Komisi I DPR RI. Catatan Rapat Kerja Komisi I DPR RI dengan Menteri Pertahanan dan Panglima TNI. Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, 22 Februari 2010. Peraturan Direktur Jenderal Kekuatan Pertahanan Nomor 3 Tahun 2010: Petunjuk Pelaksanaan Tata Cara Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan dan Pemindahtanganan Barang Milik Negara di Lingkungan Kementerian Pertahanan dan TNI. Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.171/PMK.05/2007: Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat. Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.023/PMK.06/2010: Penataan Pemanfaatan Barang Milik Negara di lingkungan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005: Standar Akuntansi Pemerintahan. Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2008: Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah. Poernomo, Hadi. Sambutan Ketua BPK RI dalam Acara Penyerahan LHP LK Kemhan Tahun 2009. BPK, 7 Juni 2010. Pokok-Pokok Kebijakan TNI Angkatan Darat Tahun 2012. Rapim TNI AD, Januari 2012. Pusat Keuangan Kementerian Pertahanan RI. Petunjuk Pelaksanaan tentang Sistem Akuntansi Instansi di Lingkungan Kemhan dan TNI. Juklak No.3/IX/2011. UU No.17 Tahun 2003: Keuangan Negara. UU No.1 Tahun 2004: Perbendaharaan Negara.

UU No.15 Tahun 2004: Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Widianto, Gaguk Sunu. Analisis Pelaksanaan Sistem Akuntansi Instansi Di Pangkalan TNI Angkatan Udara Adisutjipto Yogyakarta. Accounting and Business Information Systems, Vol.1 No.2,Universitas Gadjah Mada, Agustus 2012