Anda di halaman 1dari 12

PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBANTUAN ICT DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF DAN KEMAMPUAN AFEKTIF SISWA

Estina Ekawati PPPPTK Matematika Abstract. This study aims to obtain empirical evidence that mathematics learning process using ICT is more effective to improve students cognitive and affective ability than the conventional learning process is. This research was a quasi experiment with the pretest-posttest and nonequivalent control group design. The population of this research consisted of the students class XI of SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta. The sample was drawn using the availability sampling technique. The data were collected using a test and a questionnaire. The reliability coefficients of the test and the questionnaire respectively were 0.853 and 0.883. The data were analyzed using the descriptive and inferential statistics. The result of the research shows that mathematics learning process using ICT is superior in increasing students cognitive and affective ability than the conventional learning process is at a significance level of 0.05. Keywords: affective ability, cognitive ability, mathematics learning, ICT

1. Pendahuluan
Pembelajaran dewasa ini menghadapi dua tantangan. Tantangan yang pertama datang dari adanya perubahan persepsi tentang belajar itu sendiri dan tantangan yang kedua datang dari adanya teknologi informasi dan komunikasi yang lebih dikenal sebagai ICT (Information and Communications Technology), yang memperlihatkan perkembangan luar biasa. Konstruktivisme pada dasarnya telah menjawab tantangan yang pertama dengan meredefinisi belajar sebagai proses konstruktif yaitu informasi diubah menjadi pengetahuan melalui proses interpretasi, korespondensi, repre-sentasi, dan elaborasi (Diaz Santika, 2004:167). Sementara itu, kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi menawarkan berbagai kemudahan baru dalam pembelajaran yang memungkinkan terjadinya orientasi belajar dari outside guided menjadi self guided dan dari knowledge as possession menjadi knowledge as construction. Lebih dari itu, teknologi
n Pe

ternyata turut pula memainkan peran penting dalam memperbaharui konsepsi pembelajaran yang semula fokus pada pembelajaran sematamata suatu penyajian berbagai pengetahuan menjadi pembelajaran sebagai suatu bimbingan agar mampu melakukan eksplorasi sosial budaya yang kaya akan pengetahuan. Pembaharuan teori belajar melalui notion konstruktivisme dan pergeseran-pergeseran yang terjadi karena adanya kemajuan ICT merupakan dua hal yang sejalan dan saling memperkuat. Konstruktivisme dan teknologi komputer, secara terpisah maupun bersama-sama, telah menawarkan peluang-peluang baru dalam proses belajar mengajar baik di ruang kelas, belajar jarak jauh, maupun belajar mandiri. Gagasan dan prinsip-prinsip belajar yang ada pada notion konstruktivisme memiliki implikasi yang begitu eksplisit tentang perlunya lingkungan belajar yang didukung oleh teknologi. Salah satu tulisan (Maureen Tam, 2000: 1)

didikan Mat

e
m

Jur na l

ka ati

61

menyatakan bahwa komputer dapat secara efektif digunakan untuk mengembangkan higher-order thinking skills yang terdiri dari kemampuan mendefinisikan masalah, menilai (judging) suatu informasi, memecahkan masalah, dan menarik kesimpulan yang relevan. Komputer dalam hal ini akan berperan memberikan layanan dalam proses mengumpulkan dan mengkompilasi informasi, inquiry, dan kolaborasi (Rice & Wilson, 1999:1). Menurut Muhamad Ikhsan, komputer dapat dimanfaatkan untuk berbagai aspek pembelajaran, meliputi: kognitif, psikomotor, dan afektif. (1) Tujuan Kognitif Komputer dapat mengajarkan konsep-konsep aturan, prinsip, langkahlangkah, proses, dan kalkulasi yang kompleks. Komputer juga dapat menjelaskan konsep tersebut dengan sederhana melalui visual dan audio yang dianimasikan sehingga cocok untuk kegiatan pembelajaran mandiri. (2) Tujuan Psikomotor Dengan bentuk pembelajaran yang dikemas dalam bentuk games dan simulasi sangat bagus digunakan untuk menciptakan kondisi dunia kerja. Beberapa contoh program antara lain; simulasi pendaratan pesawat, simulasi perang dalam medan yang paling berat dan sebagainya. (3) Tujuan Afektif Bila program didesain secara tepat dengan memberikan potongan clip suara atau video yang isinya menggugah perasaan, pengembangan aspek sikap/afektif pun dapat dilakukan menggunakan media komputer. Model pembelajaran Gagne (1987) didasarkan pada hierarki keterampilan yang diorganisasikan sesuai dengan tingkat kompleksitasnya. Hierarki keterampilan yang dimaksud adalah: stimulus recognition,

response generation, procedure following, use of terminology, descriminations, concepts formation, rule application, and problem solving. Oleh karena itu, untuk mencapai hasil pembelajaran yang sesuai dengan tingkat kompleksitas diperlukan rancangan instruksional yang dibangun secara efisien berurutan yaitu: gaining attention, identify objective; stimulating recall of prior learning, presenting the stimulus, providing learning guidance, eliciting performance, providing feed-back, assessing performance, and enhancing retention and transfer. Sedangkan Bruner (1966) mendefinisikan belajar sebagai sebuah proses aktif dimana pembelajar membangun gagasan baru berdasarkan pengetahuan yang telah ada. Dalam hal ini maka rancangan instruksional disusun secara sekuensial sehingga memungkinkan pembelajar membangun prinsip dan konsep atas dasar pengetahuan yang telah dimiliki. Gagasan Bruner menawarkan beberapa prinsip penting yang dapat digunakan dalam mengembangkan instruksional, yaitu bahwa rancangan instruksional harus: (1) memperhatikan aspek pengalaman dan konteks yang dapat menarik minat dan kemampuan belajar setiap pengajar; (2) terstruktur sehingga mudah dicerna; dan (3) disusun sedemikian rupa sehingga dapat menfasilitasi proses ekstrapolasi. Teori minimalis dari Carroll (1998) menyarankan agar para perancang meminimalkan materi pembelajaran mengingat materi yang exhausted akan menghambat proses belajar. Oleh karenanya perancang diminta untuk memberikan perhatiannya pada perancangan aktivitas yang mendukung aktivitas langsung para pembelajar. Dalam menerapkan teori ini maka perancang perlu untuk memperhatikan beberapa kriteria, yaitu: (1) membiarkan pembelajar
n Pe

didikan Mat

e
m

Jur na l

ka ati

62

memulai proses belajarnya dengan mengerjakan tugas-tugas yang bermakna; (2) meminimalkan tugastugas membaca atau bentuk aktivitas pasif lainnya dan memberikan kesempatan sebanyak mungkin kepada pembelajar untuk melakukan proses ekstrapolasi; dan (3) membuat seluruh aktivitas belajar bersifat self-contained dan tidak terikat atau bebas dari prinsip sekuensial. Hingga kini belum terlihat adanya model pembelajaran yang secara eksplisit mengakomodasi entry behavior dalam proses pembelajaran, padahal baik kemampuan awal maupun learning preferences merupakan hal yang sangat esensial dalam pembelajaran yang bersifat learner centered. David Ausubel (1978) menyarankan bahwa advance organizers mungkin dapat digunakan untuk menghubungkan struktur kognitif yang telah dimiliki sebelumnya oleh para pembelajar dengan informasi baru yang diterimanya. Ausubel mengklaim bahwa melalui penayangan representasi global dari pengetahuan yang harus dibangun oleh pembelajar, pendekatan advance organizer ini mungkin akan mendorong terjadinya integrative reconciliation dari sub-sub pengetahuan yang terkait. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan memonitor secara cermat aktivitas pembelajar ketika menggunakan advance organizer, mungkin struktur kognitif relatif setiap pembelajar sebelum pembelajaran sesungguhnya dilakukan dapat ditentukan. Berkaitan dengan hal di atas, dalam proses pembelajaran perlu dipilih strategi yang tepat agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Pada setiap kegiatan pembelajaran terlebih dahulu harus dirumuskan tujuan pembelajarannya. Tujuan pembelajaran harus bersifat behavioral atau berbentuk tingkah laku yang
n Pe

dapat diamati dan measurable atau dapat diukur. Dapat diukur artinya dapat dengan tepat dinilai apakah tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan pada awal kegiatan pembelajaran dapat dicapai atau belum. Di sinilah letak pentingnya strategi pembelajaran, yaitu menentukan semua langkah dan kegiatan yang perlu dilakukan, sehingga dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa. Hal ini dapat membantu siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan pada awal kegiatan pembelajaran. Adanya pembelajaran matematika di sekolah diharapkan siswa mampu menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari yang selanjutnya siswa dapat berpikir logis, kritis, dan praktis, serta bersikap positif, dan berjiwa kreatif, maupun dapat membentuk pola pikir siswa dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Akan tetapi, pentingnya peranan matematika ternyata tidak didukung kenyataan dalam dunia pendidikan. Sebenarnya matematika tidak sepenuhnya merupakan pelajaran yang sulit, hanya saja rasa takut terhadap matematika menjadikan siswa kurang berminat untuk belajar matematika. Hal ini menjadi salah satu penyebab prestasi belajar matematika siswa masih tergolong rendah. Kenyataan ini pula yang dijumpai pada sebagian siswa SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta khususnya kelas XI IPA. Berdasarkan hasil pra survei diketahui bahwa kemampuan afektif siswa baik dari segi minat maupun sikap terhadap matematika dan pembelajarannya tergolong rendah yaitu kurang dari 70%. Berdasarkan analisis peneliti, minat siswa terhadap proses pembelajaran matematika yang ada selama ini masih rendah (33,3%). Sedangkan dari ketercapaian siswa akan

didikan Mat

e
m

Jur na l

ka ati

63

pembelajaran yang ada pada pokok bahasan sebelumnya hanya 50% dari nilai standar ketuntasan belajar minimum (SKBM) yang telah ditetapkan. Berdasarkan data yang sama, pada dasarnya siswa merasa dan sadar akan pentingnya matematika (86,1%), namun jika dikaitkan dengan anggapan mereka terhadap proses pembelajaran yang ada hal ini terasa wajar jika kemudian minat siswa terhadap matematika dan prestasi belajar belum optimal. Dari kenyataan di atas, hal ini sangat wajar jika siswa menginginkan akan adanya perubahan proses pembelajaran sebelumnya. Selain kurangnya minat terhadap matematika, penyebab lain prestasi belajar matematika masih rendah adalah matematika sebagai ilmu yang bersifat abstrak, dan sulit diterima oleh akal siswa. Agar konsep matematika lebih bisa diterima oleh akal siswa, maka perlu adanya pengonkritan dan penyeder-hanaan konsep yang diberikan. Oleh karena itu, dalam proses belajar mengajar (PBM) matematika diperlu-kan suatu visualisasi sehingga sesuatu yang abstrak dapat dipa-hami lebih konkrit. Pada era informatika, visualisasi berkembang dalam bentuk gambar bergerak (animasi) yang dapat ditambahkan suara (audio). Sajian audio visual atau lebih dikenal dengan sebutan multimedia menjadikan visualisasi lebih menarik. Strategi pembelajaran ini senada dengan petunjuk pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di sekolah, bahwa pembelajaran matematika haruslah bertumpu pada dua hal, yaitu optimalisasi interaksi semua unsur pembelajaran serta optimalisasi keterlibatan seluruh indra siswa (Erman Suherman, dkk, 2003: 63). ICT dalam hal ini komputer, dengan dukungan multimedia yang me-

mungkinkan adanya optimalisasi keterlibatan seluruh indra siswa dapat menyajikan sebuah tampilan berupa teks nonsekuensial, nonlinear, dan multidimensional dengan percabangan tautan dan simpul secara interaktif. Tampilan tersebut akan membuat pengguna (user) lebih leluasa memilih, mensintesis, dan mengelaborasi pengetahuan yang ingin dipahaminya. Komputer dapat mengakomodasi siswa yang lamban menerima pelajaran, karena komputer tidak pernah bosan, sangat sabar dalam menjalankan instruksi, seperti yang diinginkan. Iklim afektif ini akan melibatkan penggambaran ulang berbagai objek yang ada dalam pikiran siswa. Dan iklim inilah yang membuat tingkat retensi pengguna komputer multimedia lebih tinggi daripada bukan pengguna. Dengan kata lain, pembelajaran berbantuan komputer diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang menyediakan opsi yang mampu menstimulasi pembelajar untuk menggunakan kemampuan kognitifnya secara maksimal. Demikian juga permasalahan yang dialami oleh siswa SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta tersebut yang sebagian besar siswa khususnya kelas XI IPA menyatakan perlunya perubahan proses pembelajaran. Data pra survei tentang kemampuan dan keterampilan siswa dalam memahami dan mengoperasikan komputer lebih dari cukup. Jika dikaitkan dengan permasalahan yang ada, maka hal ini sangat memungkinkan bagi siswa untuk melakukan pembelajaran dengan berbantuan komputer. Dengan dukungan sekolah berupa fasilitas Internet diharapkan pemanfaatan komputer tersebut bisa dioptimalkan, salah satunya dengan proses pembelajaran berbantuan ICT. Dengan demikian diharapkan proses pembelajaran yang ada dapat meningkatkan baik ketercapaian siswa dalam pembelan Pe

didikan Mat

e
m

Jur na l

ka ati

64

jaran maupun minat dan sikap siswa baik terhadap matematika sendiri maupun terhadap proses pembelajarannya.

ngukur aspek afektif siswa mengenai minat dan sikap siswa baik terhadap matematika maupun terhadap proses pembelajaran. Ujicoba tes dan angket dilaksanakan kepada 37 siswa kelas XI IPA 2 SMA N 1 Wonosari. Berdasarkan hasil ujicoba instrumen diperoleh koefisien reliabilitas tes 0,853 dan angket sebesar 0,883. Analisis data dilakukan secara statistik deskriptif dan statistik inferensial yaitu dengan uji t dan uji Mann Whitney-U. Selain itu, analisis data siswa mengenai peningkatan kemampuan kognitif siswa juga dilakukan (Gall, 2003: 426-430) dengan gain score. Gain score atau disebut juga dengan peningkatan atau perbedaan skor merupakan nilai siklus setelah treatment dikurangi nilai siklus sebelum treatment. Hasil analisis data dengan gain score disajikan dalam bentuk persentase sehingga dapat menunjukkan pencapaian peningkatan dengan memperhatikan kemampuan awalnya. Persentase peningkatan dihitung dengan cara:
Skor tes akhir Skor tes awal 100% Skor tes awal

2. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Namun, karena dalam penelitian ini subjek tidak ditentukan secara acak, maka metode eksperimen yang digunakan merupakan eksperimen semu atau quasi experiment (Campbell and Stanlev, 1963: 34). Rancangan penelitian menggunakan pretest posttest only design dengan kelompok non ekuivalen. Menurut Mertler dan Charles (2005: 324), rancangan ini lebih kuat karena dilakukannya pretes untuk membangun ekuivalensi antar kelompok. Rancangan penelitian disajikan pada skema berikut: Pretes Kelompok eksperimen Pembelajaran berbantuan ICT Postes Pretes Kelompok kontrol Pembelajaran konvensional Postes Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta yang terdiri dari 350 siswa. Adapun jumlah sampel ditentukan secara nonproporsional atau sesuai dengan banyaknya siswa di kelas masing-masing. Penentuan kelas untuk penelitian dilakukan secara undian untuk menjaga subjektivitas dari peneliti. Setelah diundi, kelas XI IPA 1 sebagai kelompok kelas eksperimen yang terdiri dari 32 siswa dan kelas XI IPA 2 sebagai kelompok kelas kontrol yang terdiri dari 35 siswa. Instrumen dalam penelitian ini meliputi: (1) tes tertulis yaitu untuk mengukur kemampuan kognitif siswa dan (2) angket yaitu untuk men Pe

Untuk menilai seberapa besar perbedaan peningkatan skor antar siklus dilakukan perhitungan effect size (ES). Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut (Fraenkel & Wallen, 1993: 211): ES= GMS eksperimen GMS kontrol GMSeksperimen =

SD kontrol gain mean score kelompok eksperimen GMSkontrol = gain mean score kelompok kontrol SDkontrol = standar deviasi gain score kelompok kontrol

didikan Mat

e
m

Jur na l

ka ati

65

Kemudian, penafsirannya adalah apabila nilai ES lebih dari atau sama dengan 0,5 maka pencapaian peningkatan skor antar siklus adalah berbeda. 3. Hasil Penelitian dan Pembahasan a. Kemampuan Kognitif Pretes atau tes awal merupakan tes kemampuan siswa dalam memahami konsep yang diberikan kepada kedua kelompok sebelum percobaan dilaksanakan. Tes awal ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa dalam memahami materi matematika dengan standar kompetensi lingkaran. Dari hasil kemam-

puan awal siswa untuk kemampuan pemahaman konsep mengenai lingkaran semua siswa adalah memiliki skor nol. Analisis dari peneliti adalah bahwa materi ini merupakan materi baru bagi siswa. Dengan demikian, seluruh siswa pada masing-masing kelompok memiliki kemampuan awal yang sama tentang materi lingkaran. Data kemampuan kognitif siswa diambil dari hasil postes kedua kelompok kelas siswa, yaitu kelompok kelas eksperimen dengan pembelajaran berbantuan ICT dan kelompok kelas konvensional sebagai kelompok kontrol. Deskripsi data kemampuan kognitif siswa hasil postes dari kedua kelompok penelitian disajikan pada tabel 1.

Tabel 1. Deskripsi Data Hasil Kemampuan Kognitif Akhir Siswa


Keterangan Nilai keseluruhan materi Nilai pada indikator persamaan lingkaran Nilai pada indikator kedudu-kan titik dan garis terhadap lingkaran Nilai Rata-rata Kelas Eksperimen 7,91 Tuntas 8,61 7,20 Tuntas Tuntas Ketuntasan Individu 72% 91% 66% Tuntas Tuntas Belum tuntas Nilai Ratarata Kelas Kontrol 6,27 Belum tuntas 7,09 Tuntas 5,45 Belum tuntas Ketuntasan Individu 46% 49% 17% Belum tuntas Belum tuntas Belum tuntas

Tabel 2. Deskripsi Data Peningkatan Hasil Kemampuan Kognitif Siswa (Semua Nilai Awal 0)
Keterangan Nilai keseluruhan materi Nilai pada indikator persamaan lingkaran Nilai pada indikator kedudukan titik dan garis terhadap lingkaran Peningkatan Nilai Rata-rata Kelas Eksperimen 7,91 Tuntas 8,61 Tuntas 7,20 Tuntas Peningkatan Nilai Rata-rata Kelas Kontrol 6,27 Belum tuntas 7,09 Tuntas 5,45 Belum tuntas

Berdasarkan tabel deskripsi data hasil kemampuan kognitif akhir siswa tersebut, tampak bahwa nilai rata-rata dari masing-masing kelompok siswa cukup berbeda. Berdasarkan ketuntasan yang ditetapkan oleh

SMA Muhammadiyah 2 Yogya-karta untuk pelajaran matematika adalah 7 (untuk skor maksimum 10) atau 70 (untuk skor maksimum 100) dan 70% untuk ketuntasan individu, maka nilai rata-rata untuk materi
n Pe

didikan Mat

e
m

Jur na l

ka ati

66

secara keseluruhan maupun pada tiap indikator pada kelas eksperimen adalah tuntas, sedangkan pada kelas konvensional hanya nilai rata-rata siswa pada indikator persamaan lingkaran saja yang tuntas. Untuk kelompok kelas eksperimen, nilai rata-rata kemampuan kognitif siswa adalah 7,91 dengan ketuntasan individu sebesar 72% dan rata-rata kemampuan kognitif siswa kelompok kelas konvensional yaitu 6,27 dengan ketuntasan individu 46%. Adapun data peningkatan skor kemampuan kognitif siswa adalah ditunjukkan pada tabel 2. Berdasarkan hasil analisis dari data awal dan data akhir siswa maka besarnya peningkatan skor siswa pada kelas eksperimen, yaitu kelas dengan pembelajaran menggunakan ICT lebih besar dibandingkan dengan peningkatan skor pada kelas konvensional. Besarnya peningkatan rata-rata siswa pada kelas eksperimen sebesar 7,91 sedangkan peningkatan rata-rata siswa pada kelas konvensional sebesar 6,27 untuk pembelajaran dengan berbantuan ICT secara keseluruhan. Sedangkan besarnya peningkatan rata-rata skor siswa pada pembelajaran dengan menggunakan komputer pada indikator menentukan persamaan lingkaran adalah 8,61 untuk siswa pada kelas eksperimen dan 7,09 pada siswa kelas konvensional. Sedangkan peningkatan rata-rata skor siswa pada pembelajaran dengan berbantuan Geogebra pada indikator menentukan kedudukan titik dan garis terhadap lingkaran adalah 7,20 pada kelas eksperimen dan 5,45 pada kelas konvensional. Dari ringkasan statistik tersebut diketahui bahwa kemampuan akhir siswa adalah cukup berbeda. Untuk mengetahui peningkatan kemampuan siswa dilakukan perhitungan gain mean score dan effect size. Peningn Pe

katan kemampuan kognitif siswa yang ditunjukkan dengan hasil siswa mengerjakan tes adalah kemampuan kognitif siswa secara keseluruhan yaitu pembelajaran dengan berbantuan ICT menunjukkan besarnya perbedaan sebesar ES = 0,896 > 0,50. Dari hasil ini dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan peningkatan kemampuan kognitif siswa yang ditunjukkan dengan hasil tes bahwa perbedaan peningkatan kemampuan kognitif siswa terdapat pada kemampuan siswa dalam pembelajaran dengan berbantuan ICT. Perbedaan skor pada pembelajaran dengan menggunakan komputer pada indikator menentukan persamaan lingkaran adalah sebesar ES = 0,624 > 0,50. Dari hasil ini dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan peningkatan kemampuan kognitif siswa yang ditunjukkan dengan hasil tes bahwa perbedaan peningkatan kemampuan kognitif siswa terdapat pada kemampuan siswa dalam pembelajaran dengan berbantuan ICT. Adapun perbedaan skor pada pembelajaran dengan menggunakan software geogebra pada indikator menentukan kedudukan titik dan garis terhadap lingkaran adalah sebesar ES = 0,797 > 0,5. Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan peningkatan kemampuan kognitif siswa yang ditunjukkan dengan hasil tes bahwa perbedaan peningkatan kemampuan kognitif siswa terdapat pada kemampuan siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan software Geo-gebra. Paparan data dengan peningkatan skor belum dapat mengungkapkan apakah peningkatan tersebut betulbetul dipengaruhi oleh perlakuan atau yang lain. Oleh karena itu dilakukan uji statistik yang bersesuaian. Sebelumnya dilakukan uji persyaratan dengan hasil ditunjukkan pada tabel 3.

didikan Mat

e
m

Jur na l

ka ati

67

Tabel 3. Ringkasan Hasil Uji Prasyarat Statistik


Aspek Ketercapaian secara keseluruhan Ketercapaian pada indikator menentukan persamaan lingkaran Ketercapaian pada indikator menentukan kedudukan titik dan garis terhadap lingkaran Uji Prasyarat Statistika Normalitas Homogenitas Data Kelompok Normal Homogen Tidak normal Tidak normal Tidak homogen Homogen Uji Statistik Uji-t Mann Whitney U test Mann Whitney U test

Dari hasil uji hipotesis yang telah dilakukan, yaitu dengan uji-t pada taraf signifikansi =0,05 terlihat bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara ketercapaian siswa pada kelompok kelas eksperimen yaitu kelompok kelas yang didominasi oleh pembelajaran berbantuan ICT dengan ketercapaian siswa pada kelompok kontrol pada materi pembelajaran lingkaran. Dalam hal ini pembelajaran berbantuan ICT lebih unggul dalam meningkatkan kemampuan kognitif siswa dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. Media ICT yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah suatu kesatuan antara penggunaan software CD pembelajaran dan pemanfaatan software Geogebra. Jika hasil diperinci lebih mendalam, maka pemanfaatan komputer dalam hal ini penggunaan software CD pembelajaran dengan indikator materi pembelajaran menentukan persamaan lingkaran, maka penggunaan CD pembelajaran berdasarkan analisis statistik (=0,05) memberikan hasil yang berbeda. Siswa yang mengalami pembelajaran dengan media komputer memiliki ketercapaian yang lebih unggul dibandingkan dengan ketercapaian siswa yang mengalami

pembelajaran dengan memanfaatkan sarana yang seadanya di kelas. Demikian juga dengan penggunaan ICT dalam hal ini pemanfaatan software Geogebra dalam pembelajaran memberikan hasil yang signifikan (=0,05). Dari hasil uji statistik menunjukkan bahwa siswa yang mengalami pembelajaran dengan memanfaatkan software Geogebra memiliki hasil yang lebih dibandingkan dengan siswa yang belajar tanpa bantuan software, yaitu pada indikator menentukan kedudukan titik dan garis terhadap lingkaran. b. Kemampuan Afektif Angket dalam penelitian ini untuk mengungkap aspek sikap dan minat siswa terhadap materi maupun terhadap proses pembelajaran serta hal yang berhubungan dengan matematika sebagai indikasi kemampuan afektif siswa. Adapun hasil dari angket yang menunjukkan kemampuan afektif awal siswa disajikan dalam tabel 4. Setelah masing-masing kelompok pembelajaran mendapatkan perlakuan sesuai dengan strategi yang telah ditetapkan, didapatkan hasil kemampuan afektif akhir siswa yang disajikan pada tabel 5.

n Pe

didikan Mat

e
m

Jur na l

ka ati

68

Tabel 4. Deskripsi Hasil Kemampuan Afektif Awal Siswa


Keterangan Minat dan sikap secara keseluruhan Minat dan sikap terhadap materi lingkaran Minat dan sikap terhadap proses pembelajaran Minat dan sikap terhadap hal yang berhubungan dengan lingkaran maupun proses pembelajarannya Skor Rata-rata Kelas Eksperimen 2,67 Biasa 1 Kurang 3,0 Biasa 3,29 Biasa Skor Rata-rata Kelas Kontrol 2,76 Biasa 1 Kurang 3,22 Biasa 2,96 Biasa

Tabel 5. Deskripsi Hasil Kemampuan Afektif Akhir Siswa


Keterangan Minat dan sikap secara keseluruhan Minat dan sikap terhadap materi lingkaran Minat dan sikap terhadap proses pembelajaran Minat dan sikap terhadap hal yang berhubungan dengan lingkaran maupun proses pembelajarannya Skor Rata-rata Kelas Eksperimen 3,63 Biasa 3,74 Lebih positif 3,42 Biasa 4,2 Lebih positif Skor Rata-rata Kelas Kontrol 3,58 Biasa 3,32 Biasa 3,65 3,62 Biasa Biasa

Berdasarkan tabel hasil kemampuan afektif akhir siswa di atas, terlihat bahwa terdapat peningkatan skor dibandingkan dengan data awal. Meskipun rata-rata skor kemampuan afektif secara keseluruhan adalah pada selang biasa saja, namun demikian rata-rata skor pada kelas eksperimen adalah lebih tinggi. Sedangkan pada aspek minat dan sikap siswa terhadap materi lingkaran maupun terhadap hal yang berhubungan dengan matematika

yaitu rata-rata skor pada kelas eksperimen adalah lebih positif dibandingkan siswa pada kelas kontrol yang biasa saja. Sedangkan pada aspek minat dan sikap terhadap proses pembelajaran siswa pada kedua kelompok kelas adalah pada interval yang sama. Untuk lebih jelas dan rinci analisis selanjutnya yaitu dengan peningkatan dan perbedaan peningkatan skor (Tabel 6).

Tabel 6. Deskripsi Hasil Peningkatan Skor Kemampuan Afektif Siswa


Keterangan Minat dan sikap secara keseluruhan Minat dan sikap terhadap materi lingkaran Minat dan sikap terhadap proses pembelajaran Minat dan sikap terhadap hal yang berhubungan dengan lingkaran maupun proses pembelajarannya Peningkatan Skor Kelas Kelas Eksperimen Kontrol 0,96 0,82 2,74 0,42 0,91 2,32 0,43 0,66 Persentase Kelas Kelas Eksperimen Kontrol 35,95% 29,71% 274% 14% 27,65% 232% 13,35% 22,3%

n Pe

didikan Mat

e
m

Jur na l

ka ati

69

Tidak jauh berbeda dengan hasil analisis kemampuan kognitif siswa, hasil analisis pada kemampuan afektif siswa secara deskriptif dengan data berasal dari angket siswa menunjukkan bahwa kemampuan afektif siswa pada kelompok kelas eksperimen, memiliki kemampuan afektif yang lebih dibandingkan dengan kemampuan siswa pada kelompok kelas kontrol. Sedangkan analisis hasil pada minat dan sikap terhadap materi lingkaran secara deskriptif menunjukkan ratarata skor pembelajaran dengan ICT dan pembelajaran tanpa ICT menunjukkan hasil yang positif. Namun demikian, terdapat perbedaan sebesar 42% pada peningkatan minat dan sikap terhadap aspek materi lingkaran, kelompok kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan pada kelompok kontrol. Aspek pada minat dan sikap terhadap proses pembelajaran secara deskriptif menunjukkan rata-rata skor yang positif. Namun demikian, terdapat perbedaan sebesar 0,65% pada peningkatan minat dan sikap terhadap aspek proses pembelajaran kelompok kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelompok kelas kontrol. Minat dan sikap terhadap hal yang berhubungan dengan materi matematika dan proses pembelajaran secara deskriptif menunjukkan ratarata skor yang sama-sama positif. Namun demikian, peningkatan skor terdapat perbedaan sebesar 5,35% bahwa peningkatan minat dan sikap terhadap aspek hal yang berhubungan dengan materi matematika dan proses pembelajaran pada kelompok kelas pembelajaran dengan ICT lebih tinggi dibandingkan pada kelompok kelas pembelajaran konvensional. Hasil dari penelitian di atas senada dengan pendapat yang disampaikan

oleh Muhammad Ihsan dan ditulis pada kajian teori, bahwa pembelajaran dengan komputer dapat digunakan untuk tujuan afektif, selain untuk tujuan kognitif dan psikomotorik. Demikian juga dengan media yang digunakan pada pembelajaran di kelompok kelas eksperimen, yaitu pembelajaran dengan menggunakan komputer serta menggunakan CD pembelajaran. Pembelajaran seperti ini merupakan hal baru bagi siswa. Berdasarkan pengalaman belajar yang didapatkan siswa, pembelajaran cenderung didominasi oleh metode ceramah, yaitu pembelajaran yang cenderung teacher oriented, sedangkan dengan pembelajaran berbantuan komputer cenderung menjadikan pembelajaran bersifat student oriented. Sebagaimana yang disampaikan oleh siswa pada kelas eksperimen, yaitu berdasarkan saran dan masukan setelah pembelajaran dengan berbantuan ICT, bahwa pembelajaran dengan berbantuan ICT adalah menarik dan membantu siswa dalam memahami konsep yang ada. Demikian juga dengan penggunaan software Geogebra adalah hal yang sangat baru bagi siswa. Bahkan mereka berpendapat penggunaan software alat bantu bisa dilanjutkan untuk pembelajaran selanjutnya. Selain itu penggunaan laboratorium komputer dalam pembelajaran matematika masih sangat jarang dilakukan, khususnya di SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Pembelajaran didominasi di kelas, sedangkan pada saat pembelajaran dengan berbantuan ICT ini dilakukan secara moving class. Pada saat pembelajaran dengan menggunakan software CD pembelajaran dilakukan dikelas multimedia, sedangkan pembelajaran dengan software Geogebra dilakukan di laboratorium komputer. Dengan adanya suasana yang santai seperti ini memungkinkan siswa
n Pe

didikan Mat

e
m

Jur na l

ka ati

70

untuk belajar secara nyaman dan tidak terkesan kaku. Berdasarkan hasil temuan peneliti di lapangan, keuntungan dan kelebihan dari pembelajaran dengan berbantuan ICT ini adalah: Kelebihan: a) Pembelajaran berbantuan ICT dapat meningkatkan motivasi siswa, hal ini dapat dilihat dari antusias siswa ketika belajar dengan multimedia. b) Mendukung pembelajaran individual sesuai kemampuan siswa, hal ini dapat dilihat dari unjuk kerja siswa di lab komputer. Kecepatan dan ketepatan siswa dalam mengerjakan tugas berbeda-beda sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa, termasuk juga kaitannya dengan kemampuan siswa dalam mengoperasikan komputer. Kekurangan: a) Pembelajaran dengan berbantuan ICT, terutama dengan unjuk kerja siswa di laboratorium komputer memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan pembelajaran tanpa menggunakan media. Hal ini dapat menjadi pertimbangan sendiri bagi pengajar khususnya dengan pengaturan waktu yang dibatasi dengan banyaknya materi pelajaran yang harus diselesaikan. b) Penggunaan komputer secara terus-menerus dapat menjadikan ketergantungan siswa terhadap komputer sehingga dikhawatirkan pemahaman konsep matematika secara terurut dan terinci kurang optimal, karena semua dikerjakan oleh komputer. Selain itu perintah-perintah yang digunakan pada komputer juga memerlukan keterampilan khusus.

4. Simpulan dan Saran


Berdasarkan analisis dan pembahasan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: 1) Pembelajaran matematika berbantuan ICT lebih unggul dalam meningkatkan kemampuan kognitif siswa dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. 2) Pembelajaran matematika berbantuan ICT lebih unggul dalam meningkatkan kemampuan afektif siswa dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. Kesimpulan secara keseluruhan dari hasil penelitian ini bahwa dengan pembelajaran matematika berbantuan ICT maka hasil ketercapaian siswa lebih baik dibandingkan dengan ketercapaian siswa dengan pembelajaran tanpa berbantuan ICT. Demikian juga dengan minat dan sikap siswa baik terhadap matematika, proses pembelajarannya, maupun hal lain yang berhubungan dengan matematika maupun proses pembelajarannya. Berdasarkan kesimpulan penelitian dan dengan memperhatikan keterbatasan dalam penelitian ini, maka saran yang dapat disampaikan adalah: 1) Karena adanya fasilitas yang mendukung untuk diadakannya pembelajaran berbantuan ICT, bagi para guru SMA khususnya guru matematika di SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta sebaiknya melaksanakan pembelajaran matematika berbantuan ICT sebagai alternatif strategi pembelajaran. 2) Hendaknya pengembangan pembelajaran matematika berbantuan ICT mencakup lingkup materi yang lebih luas selain geometri.

n Pe

didikan Mat

e
m

Jur na l

ka ati

71

Daftar Pustaka
Ausubel, D. (1978). In Defense of Advance Organizers: A Repy to The Critics. Review of Educational Research, 48, 251-257. Diambil dari http://tip.psychology.org/ausubel.html pada 11 April 2008. Bruner, J. (1966). Toward a Theory of Instruction. Cambridge, MA: Harvard University Press. Diambil dari http://tip.psychology.org/bruner.html pada 11 April 2008. Campbell, D.T. & Stanlev, J.C. (1963). Experimental and Quasi-experimental Designs for Research. Chicago: Rand Menally & Company Carroll, J.M. (1998). Minimalism Beyond the Nurnberg Funnel. Cambridge, MA: MIT Press. Diambil dari http://tip.psychology.org/carroll.html pada 11 April 2008. Creswell, John W. (2005). Educational Research: Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qualiative Research, 3rd Edition. New Jersey: Pearson Prentice Hall. Diaz Santika. (2004). Brain-Based Scaffolded Instruction: Sebuah Pendekatan Integratif dalam Pengembangan Model Pembelajaran Berbantuan Komputer. Jakarta: Kencana Prenada Media Group Erman Suherman, dkk. (2003). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: UPI Fraenkel, J.R & Wallen, N.E. (1993). How To Design and Evaluate Research In Education, 2nd Edition. New York: McGraw-Hill Inc. Gagne, R. (1987). Instructional Technology Foundations. Hillsdale, NJ: Lawrence Erlbaum Assoc. Diambil dari http://tip.psychology.org/gagne.html pada 11 April 2008. Gall, M.D, Gall, J.P & Borg, W.R. (2003). Educational Research: An Introduction. Boston: Pearson Education Inc. Maureen, Tam. (2000). Constructivism, Instructioal Design, and Technology: Implication for Transforming Distance Learning. Educational Technology, Vol: 2, No: 2. Diambil dari http://ifets.massey.ac.nz/periodical/vol_2_2000/tam.pdf pada 11 April 2008. Mertler, C.A & Charles, C.M. (2005). Introduction to Educational Research. New York: Pearson Education, Inc. Muhamad Ikhsan. (2006). Prinsip Pengembangan Media Pendidikan. Diambil dari http://muhamadikhsan.info/?p=5 pada pada tanggal 20 Juli 2007 Rice & Wilson. (1999). How Technology Aid Constructivism in The Social Studies Classrom. Jurnal vol: 90. Diambil dari http://www.questia.com pada 11 April 2008.

Tentang Penulis: Estina Ekawati. Lahir di Gunungkidul tanggal 12 Agustus 1983. Pendidikan yang pernah ditempuh S1 Matematika dari FMIPA UNY, S2 Pendidikan Matematika dari Program Pascasarjana UNY. Hingga sekarang bekerja sebagai staf di Unit Media Teknologi Informasi dan Komunikasi (MTIK) PPPPTK Matematika.

n Pe

didikan Mat

e
m

Jur na l

ka ati

72

Anda mungkin juga menyukai