Anda di halaman 1dari 6

CARA PENULISAN KARYA ILMIAH

1.

Pentingnya Tata Tulis Karya Ilmiah


Karya ilmiah adalah laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan hasil

penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan. karya ilmiah merupakan suatu cara untuk menyusun tulisan tentang perencanaan, pelaksanaaan, dan hasil suatu kajian ilmiah. Penyusunannya meliputi penggunaan bahasa, pengurutan materi tulisan, dan bagaimana cara naskah itu ditampilkan. Perencanaan kegiatan maksudnya menentukan menentukan dan menyusun langkah-langkah yang akan dilakukan beserta

objek-objeknya, sedangkan pelaksanaan kegiatan adalah bagaimana caranya kegiatan itu dilakukan tahap demi tahap, sedangkan hasil kegiatan merupakan segala sesuatu yang telah dicapai oeleh kegiatan tersebut. Pembahasan mengenai kegiatan ilmiah terdiri atas tiga aspek, yaitu : a. Materi kajian, adalah semua fenomena masalah yang ada dalam kehidupan b. Cara pengkajian, adalah metode yang digunakan untuk mengenali segala yang ada dalam kehidupan itu. c. Tujuan pengkajian adalah memprediksi atau mengendalikan berbagai fenomena dalam kehidupan itu agar bermanfaat bagi manusia.

2. Syarat dan Subjek Tata Tulis Karya Ilmiah


a. Menggunakan bahasa tulis ilmiah, b. Mengangkat fenomena yang terdapat dalm kehidupan, c. Menggunakan cara pengkajian tertentu, d. Menemukan sesuatu yang dapat dijadikan masukan untuk memprediksi atau mengontrol fenomena dalam kehidpan, dan e. Menyajikan tulisan itu dengan cara tertentu Pengkajian/pendekatan ilmiah dapat dilakukan dengan dua cara : pengkajian secara rasional dan secara empiris. Pengkajian secara rasional

artinya data yang diperlukan untuk meneliti masalah itu diambil dari berbagai literature. Pengkajian secara empiris artinya data yang diperlukan untuk meneliti masalah itu diambil dari kenyataan melalui teknik survey, percobaan, dan partisipasi.

3. Ciri Bahasa Iptek dalam Karangan Ilmiah


a. Bahasa baku Ragam bahasa baku adalah ragam yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar masyarakat pemakainya sebagai kerangka rujukan norma bahasa dalam penggunaannya. Ragam baku mempunyai sifat sebagai berikut : Kemantapan Dinamis Ragam bahasa baku mempunyai kemantapan dinamis berupa kaidah dan aturan yang tetap berarti tidak dapat berubah setiap saat. Cendekia Ragam baku bersifat cendekia karena ragam baku dipakai pada tempattempat resmi. Perwujudannya dalam kalimat, paragraph, dan satuan bahasa lain yang lebih besar mengungkapkan penalaran atau pemikiran yang teratur, logis, dan masuk akal. Seragam Artinya, proses pembakuan adalah proses penyeragaman bahasa.

b. Logis Ide, saran atau pesan yang disampaikan melalui bahasa Indonesia ragam ilmiah, harus sesuai fakta atau dapat diterima akal sehat. c. Kuantitatif Keterangan yang dikemukakan dalam tulisan dapat diukur secara pasti. d. Tepat/jelas Ide yang diungkapkan harus sesuai dengan ide yang dimaksudkan oleh penutur atau penulis dan mengandung suatu makna. e. Denotatif Artinya, kata-kata yang digunakan dipilih sesuai dengan arti sesungguhnya dan tidak melibatkan perasaan karena sifat ilmu itu objektif. f. Ringkas/Lugas

Ide dan gagasan diungkapkan dengan kalimat pendek, harus padat isi/bernas sesuai dengan kebsutuhan, langsung menuju pada sasaran, pemakaian kata seperlunya, tetapi pemilihannya tepat. g. Runtun Ide diungkapkan secara teratur sesuai dengan urutan dan tingkatannya baik dalam kalimat maupun dalam paragraph. Pada kalimat, penyimpangan/kesalahan terjadi karena berbagai hal seperti berikut ini : Pengaruh struktur bahasa daerah dan dialek, Pengaruh struktur bahasa asing, Mengandung makna taksa, Bermakna tidak logis/nirlogis, Mengandung gejala berlebihan/mubazir, Kalimat terlalu panjang, Kerancuan, Ketidaklengkapan unsur kalimat inti/nirlengkap.

4.

Bahasa Indonesia yang Benar dengan Baik


Bahasa yang baik adalah bahasa yang efektif dalam menyampaikan suatu

maksud. Keefektifan komunikasi lebih banyak ditentukan oleh keserasian bahasa itu dengan situasinya (waktu, tempat, dan orang yang diajak bicara). Kesalahan pemakaian bahasa akan berakibat pada kesalahan penafsiran dan pemahaman gagasan yang dikemukakan dalam karangan ilmiah. Oleh karena itu, dalam pembuatan karya tulis ilmiah diharapkan adanya keseimbangan antara pesan ilmiah yang disampaikan dengn kualitas bahasa Indonesia yang digunakan.

5. Jenis Karya Tulis Ilmiah


a. Berdasarkan capaian akademis Disertasi adalah karya tulis ilmiah untuk mencapai gelar doctor (S3). Tesis adalah karya tulis ilmiah untuk mencapai gelar magister (S2) Skripsi/Tugas Akhir adalah karya tulis ilmiah untuk mencapai gelar sarjana (S1).

Makalah adalah karya tulis untuk memenuhi syarat mata kuliah tertentu.

b. Berdasarkan forum yang digunakan c. Laporan penelitian, adalah tulisan tentang proses dan hasil penelitian untuk memenuhi tugas suatu lembaga.

6. Judul karya ilmiah, bab, sub bab, dan lain sebagainya


a. Judul karya ilmiah dan bab, diketik dengan huruf besar/kapital, dicetak tebal, tanpa singkatan (kecuali yang berlaku umum seperti PT., CV.), posisinya di tengah halaman, dan tanpa diakhiri tanda titik. Perkecualiannya adalah judul pada halaman Persetujuan Seminar dan Pengesahan Skripsi (dengan huruf biasa, dicetak tebal). b. Judul sub-bab diketik sejajar dengan batas tepi (margin) sebelah kiri dengan menggunakan huruf A, B, C, dan seterusnya. Huruf pertama setiap kata dimulai dengan huruf besar (Title Case) kecuali kata penghubung dan kata depan, tanpa diakhiri titik. Judul sub-bab dicetak dengan huruf tebal (bold). c. Judul sub sub-bab dimulai dengan angka 1, 2, 3 dan seterusnya. Huruf pertama setiap kata dimulai dengan huruf besar (Title Case) kecuali kata penghubung dan kata depan, tanpa diakhiri titik. Judul sub subbab dicetak dengan huruf tebal (bold). d. Judul sub sub-sub-bab dimulai dengan huruf a, b, c dan seterusnya. Huruf pertama setiap kata dimulai dengan huruf besar (Title Case) kecuali kata penghubung dan kata depan, tanpa diakhiri titik. Judul sub sub-sub-bab dicetak dengan huruf tebal- miring (bold-italic). e. Judul sub sub-sub-sub bab dimulai dengan angka 1), 2), 3) dst. (tanpa titik), huruf dan a), b), judul c) sub (tanpa sub-sub-sub-sub titik). Huruf bab dimulai kata dengan dimulai pertama setiap

dengan huruf besar (Title Case) kecuali kata penghubung dan kata depan, tanpa diakhiri titik. Judul sub sub-sub-sub-bab dan sub sub- sub-sub-sub-bab dicetak dengan huruf miring (italic).

f.

Judul sub-bab, sub sub-bab, dan sub sub-sub-bab, dan seterusnya

(headings hierarchy) perlu dibedakan dengan rincian poin-poin atau item-item (points/items hierarchy). Penulisan headings hierarchy dimulai dari A, B, C, lalu 1, 2, 3, kemudian a, b, c, dan seterusnya (lihat Box) dibuat sejajar dengan batas tepi kiri pengetikan (batas margin kiri). Isi atau teksnya (alinea, kalimat) juga dibuat sejajar dengan batas tepi kiri pengetikan dan awal kalimat dalam alinea baru dibuat dengan indensi 1 cm). Sementara penulisan points/items hierarchy tidak sejajar dengan batas tepi kiri pengetikan (batas margin kiri), melainkan mengikuti poin-poin/item-item dimaksud atau posisinya disesuaikan dengan memperhatikan estetika. Penggunaan angka atau huruf awal untuk poin-poin atau item-item juga disesuaikan (bisa dimulai dari 1,2,3 atau a, b, c).

DAFTAR PUSTAKA

Metode penulisan imteks oleh staf pengajar KK ilmu ilmu kemanusiaan institute teknologi bandung http://pedoman-penulisan-karya-ilmiah-ppki.html