Anda di halaman 1dari 25

IDENTIFIKASI SISTEM PENERANGAN

A. Tujuan Khusus Pembelajaran Setelah mempelajari kegiatan belajar 1, peserta dapat : 1. Menjelaskan fungsi komponen sistem penerangan 2. Mengidentifikasi komponen sistem penerangan 3. Mengidentifikasi ukuran kabel sesuai beban kelistrikan

B. Materi Pembelajaran 1. Penghantar a. Jaringan Kabel (Wiring Harness)

Jaringan kabel merupakan sejumlah kabel yang terisolasi yang dihubungkan ke komponenkomponen. Kabel-kabel ini disatukan dalam satu unit untuk memudahkan penyambungannya pada komponen-komponen kelistrikan.

Gambar 1. Jaringan kabel (Wiring Harness)

b. Kode Warna Kabel-kabel otomotif mempunyai kode warna. Artinya, masing-masing rangkaian memberikan warna spesifik atau jumlah warna untuk membantu pekerja menelusuri rangkaian. Pada diagram kelistrikan yang dicetak dengan warna hitam biasanya dilengkapi dengan abjad untuk memudahkan pengidentifikasian. Sebagai contoh R atau red (merah), G untuk green (hijau) dan RG untuk merah dengan strip hijau. Gambar di bawah ini menunjukkan bagaimana keadaan kabel dengan kode dan menginterpretasikannya. Diameter kawat juga tercetak pada kabel. Pada rangkaian lain terdapat juga pengkodean dengan menggunakan angka untuk mengidentifikasi kabel.

KODE WARNA Hurup pertama merupakan warna utama kabel dan hurup lainnya merupakan warna strip. Bl - Black (Hitam) Bu - Blue (Biru) G - Green (Hijau) R - Red (Merah) Y - Yellow (Kuning) W - White (Putih) Br- Brown (Coklat) O- Orange (Oranye) P- Pink (Merah Muda) Gr- Grey (Abu-abu) V- Violet (Violet) P- Purple (Ungu) Lg- Light Green (Hijau Muda) Lb- Light Blue (Biru Muda) Gambar 2. Kode warna kabel

c. Diagram Pengawatan (Wiring Diagram) Diagram pengawatan adalah gambar garis yang menunjukkan unit-unit kelistrikan dan kabel-kabel penghubungnya. Diagram pengawatan sangat membantu orang-orang yang mengerjakan sistem kelistrikan pada kendaraan. Pada kendaraan-kendaraan masa kini sistem kelistrikannya lebih kompleks karena setiap tahunnya selalu ada tambahan komponen yang dipasang. 2. Sikring dan Fusible Link Sikring dipasang pada rangkaian kelistrikan yang bertujuan untuk menjaga rangkaian atau komponen dari kerusakan. Sikring umumnya dipasang pada sebuah kotak sikring dan diletakkan dalam kendaraan dekat panel instrumen. Ada juga sikring yang dipasang secara terpisah pada rangkaian. Sikring ditentukan menurut kapasitas arus yang melewati, seperti 10A dan 15A. Ukuran sikring biasanya berkisar antara 2 amper (digunakan untuk radio), sampai 30 amper (digunakan untuk sistem penyejuk udara atau kipas pemanas (heater fans).

Gambar 3. Jenis-jenis sikring

Sebuah sikring pada dasarnya terdiri dari elemen dalam bentuk kawat halus atau plat logam yang meleleh bila dialiri arus listik yang berlebihan. Terbakarnya sikring akan

membuka/memutuskan rangkaian dan mencegah mengalirnya arus. Terdapat tiga jenis sikring yang biasa digunakan pada kendaraan, yakni jenis cartridge, keramik , dan blade. Fusible links adalah sikring heavy duty yang ditempatkan di kompartemen engine dekat baterai. Sikring ini menghubungkan antara baterai dengan berbagai sistem kelistrikan dan memproteksi seluruh rangkaian pada kendaraan kecuali rangkaian motor starter. Sebuah kendaraan bisa mempunyai satu fusible link atau fusible link yang terpisah untuk rangkaian yang berbeda. Gambar berikut menunjukkan fusible link yang berbentuk kabel khusus yang dihubungkan ke rangkaian dan dirancang untuk mengalirkan arus normal dari sistem kelistrikan, tetapi dapat meleleh bila arus (dan panas dari arus) yang ditimbulkan berlebihan.

Gambar 4. Fusible link dihubungkan pada sistem kelistrikan.

Kemampuan fusible link dapat diidentifikasi dari warnanya. Sebagai contoh, fusible link berwarna hitam akan meleleh bila dialiri arus sampai 180 amper, walaupun demikian pengaliran arus yang diijinkan hanya 45 amper. Sedangkan fusible link berwarna merah akan meleleh pada pengaliran arus sampai 150 amper dan yang berwarna hijau akan meleleh pada pengaliran arus 100 amper.

3. Saklar Saklar umumnya digunakan untuk mengoperasikan berbagai komponen kelistrikan. Sebagian saklar dioperasikan secara manual. Sebagian dioperasikan secara otomatis dan yang lainnya menggunakan remote control. Kerja saklar adalah menghubungkan dan memutuskan rangkaian yang sudah dipasang.

Pada kendaraan penumpang, dua saklar utamanya adalah kunci kontak dan saklar kombinasi pada streering colums. Kunci kontak mempunyai hubungan ke posisi start, ignition (pengapian), dan accessories (kelengkapan). Saklar kombinasi seperti diperlihatkan di bawah ini termasuk saklar pengontrol dan saklar untuk penerangan, penghapus kaca dan lampu belok.

Gambar 5. Saklar kombinasi pada steering column.

Saklar-saklar dioperasikan secara manual, tetapi pada berbagai kondisi saklar ini digunakan untuk mengoperasikan relay pada kompartemen engine dekat ke komponen. Relay inilah yang menghubungkan dan memutuskan arus ke komponen. Beberapa saklar lainnya ditempatkan pada instrumen (dashboard). Meskipun demikian terdapat juga saklar yang dipasang pada pedal rem, kopling, transmisi otomatis dan komponenkomponen lainnya. Selain saklar manual dan saklar elektronik (relay), saklar elektronik (transistor) juga digunakan pada komponen-komponen elektronik. 4. Relay Relay dipasang pada berbagai komponen sistem kelistrikan dan dikenal juga sebagai saklar elektromagnetik atau saklar elektromekanik. Gambar berikut menunjukkan beberapa relay dan penempatannya pada kendaraan. Walaupun demikian pengaturannya akan bervariasi tergantung pada merek dan model kendaraan. Seperti diperlihatkan pada gambar, relay digunakan untuk penerangan, klakson, instrument, sistem pengisian, sistem pengapian dan sebagainya.

Gambar 6. Penempatan relay pada kendaraan.

Secara umum relay dibedakan menjadi dua jenis menurut fungsi dasarnya, yakni relay normally open dan normally closed.

Gambar 7. Relay

Relay dapat digunakan untuk bemacam-macam keperluan. Relay normally open akan menghubungkan kontak apabila kumparan dialiri arus (a), sedangkan relay normally closed akan membuka kontaknya jika kumparan dialiri arus (b). Relay juga dapat bekerja secara kombinasi dari kedua jenis relay sebelumnya (c). Dalam hal ini, satu set kontak merupakan jenis normally open dan satu set lainnya jenis normally closed. Pembangkitan magnet pada kumparan akan menghubungkan komponen dalam rangkaian ke komponen lainnya. Diagram (d) menunjukkan variasi lain, pada relay ini, bila kumparan dialiri arus menyebabkan terputusnya satu komponen dalam rangkaian dan menghubungkan komponen lainnya. Ada beberapa keuntungan dari penggunaan relay pada sebuah rangkaian, antara lain: 1. Adanya jalur langsung antara baterai dan beban. 2. Penurunan/kehilangan tegangan sangat kecil. 3. Kemungkinan daya yang besar pada beban.

5. Bola Lampu

Sebuah bola lampu terdiri dari sebuah filamen halus kawat tungsten yang keadaannya dipertahankan memijar saat dialiri arus listrik. Pijaran filamen inilah yang menghasilkan cahaya. Filamen ini ditempatkan pada tabung kaca yang hampa udara. Walaupun demikian di dalamnya diisi sedikit gas inert. Filamen harus bekerja dalam daerah bebas oksigen untuk mencegah dari pengoksidasian atau terbakar. Terdapat berbagai macam bola lampu yang dipasang pada kendaraan, seperti dipelihatkan pada gambar di bawah ini.

Gambar 9. Jenis bola lmpu (a) dua filament dengan offset pins, (b) single filament, (c) quartz halogen, (d) festoon, (e) panel, (f) capless panel, (g) ulir (screw base)

1. Bola Lampu Festoon Bola lampu ini terdiri dari tabung gelas dengan sebuah filament yang dihubungkan pada metal penutup di kedua ujungnya. Bola lampu festoon digunakan untuk penerangan interior, lampu plat nomor dan pamakaian yang sejenis.

2. Bola Lampu Panel Bola lampu ini bentuknya kecil, umumnya digunakan untuk penerangan instrument dan lampu indikator. Beberapa jenis bola lampu ini mempunya fitting bayonet kecil. Kawat kecil yang berada di bawahnya berguna sebagai kotak.

3. Bola Lampu Jenis Seaaled Beam Bola lampu ini digunakan umumnya untuk lampu kepala. Bola lampu ini mempunyai reflektor, lensa dan filament yang diisolasi sebagai satu unit. Ini merupakan kelebihan, karena dapat menjaga permukaan reflektor dari kemungkinan lembab atau kotor. Filament dipersiapkan dengan volume gas yang lebih banyak daripada bola lampu normal.

Gambar 10. Bola lampu sealed beam, (a) sealed beam untuk dua lampu kepala, (sealed beam yang lebih besar untuk lampu kepala tunggal.

4. Bola Lampu Halogen Quartz Bola lampu halogen biasanya digunakan untuk lampu kepala yang didalamnya terdapat gas khusus halogen. Bola lampu ini dikonstruksi dalam bentuk sealed beam atau semi sealed hausing yang memungkinkan bola lampu ini biasa dipasang dan dilepas.

Gambar 10. Lampu kepala halogen/quartz

Bola lampu halogen sangat efisien dan menambah output sekitar 25 persen di atas lampu kepala biasa tanpa menaikkan arus pemakaian. Ukuran kemampuan lampu-lampu ini biasanya tertera pada lampu-lampu tersebut. Dengan demikian apabila lampu rusak, mudah menggantinya dengan lampu yang sejenis.

Gambar 11. lampu halogen dalam bentuk sealed beam.

Gambar 12. Lampu halogen jenis sealed beam dan bola lampu biasa.

Saklar dim digunakan untuk mengontrol kerja lampu jarak jauh dan lampu dekat pada lampu kepala. Saklar ini biasanya dipasang pada asembly steering column. Pada mobil tua, saklar ini biasanya dipasang pada lantai (floor board)

Gambar 13. Saklar dim

5. Daya Lampu Tenaga listrik diukur dalam watt. Satu watt sama dengan 1 volt x 1 amper. Dengan demikian daya suatu lampu dapat diperoleh dengan mengalikan tegangan dan arus yang mengalir pada lampu tersebut. Sebagai contoh pada sebuah lampu terdapat data 12 V/42 W. Data ini menunjukkan bahwa lampu tersebut diaplikasikan pada sistem 12 volt dan dapat dialiri arus sebesar 3,5 amper.

6. Reflektor Reflektor yang terdapat pada lampu kepala dilapisi alumunium untuk memantulkan cahaya. Filamen pada bola lampu ditempatkan sedemikian rupa di depan reflektor, sehingga fokus yang tepat bisa diperoleh. Gambar di bawah ini menunjukkan sebuah lampu kepala yang mempunyai dua filamen.

Gambar 15. Arah pantulan sinar dari lampu kepala

Lampu jarak jauh (100 m) a. F merupakan titik api. b. Pemancaran sinar dipantulkan secara parallel terhadap poros reflektor, oleh karena itu jangkauannya luas. c. Melalui lensa, penyebaran cahaya menjadi merata. Lampu jarak dekat (25 m) a. Filament (A) didepan titik api, dengan demikian arah cahaya tertuju pada arah menurun. b. Penutup (K) memungkinkan tidak adanya sinar pada setengah cermin bagian bawah, oleh karena itu hanya cahaya pada cermin bagian atas yang bisa dipantulkan.

7. Lensa Lampu Terdapat dua jenis lensa yang digunakan untuk lampu kepala jarak dekat, yakni simetris dan asimetris. Penutup (K) pada bola lampu membatasi cahaya tepat pada bagian poros, hal ini mengakibatkan timbulnya kondisi pembatas terang dan gelap.

Gambar 15. Lensa lampu simetris Gambar 17. Lensa lampu asimetris

Posisi penutup (K) miring sebesar 15o. Hal ini menyebabkan cahaya melebar ke bawah (s). Akibatnya cahaya akan jatuh melebar pada bagian kanan jalan (sistem eropa). Untuk penggunaan di negara kita, kendaraan berjalan di sebelah kiri, maka konstruksi miringnya berada pada bagian kiri.

6. Rangkaian Sistem Penerangan a. Rangkaian lampu kepala dan blitz/pass Sistem lampu kepala biasanya terdiri dari baterai, saklar penerangan, saklar dim, sikring dan lampu kepala. Walaupun demikian terdapat juga rangkaian sistem lampu kepala yang dilengkapi dengan relay.

Gambar 17. Rangkaian sistem lampu kepala tanpa relay.

Cara kerjanya sebagai berikut : Apabila saklar penerangan diarahkan pada lampu kepala, arus dari baterai akan engalir ke saklar dim. Dari sini arus akan mengalir ke slah satu rangkaian lampu kepala (lampu jarak jauh atau jarak dekat) tergantung posisi saklar. Selanjutnya arus listrik mengalir ke lampu kepala melalui sikring. Rangkaian sistem lampu kepala yang menggunakan relay diperlihatkan pada gambar di bawah ini.

Gambar 18. Sistem lampu kepala menggunakan relay. Keterangan: 1. Lampu kepala kiri 6. Saklar utama 2. Lampu kepala kanan 7. Sikring 3. Relay lampu kepala jarak dekat 8. Fusible link 4. Relay lampu jarak jauh 9. Baterai 5. Saklar lampu jarak dekat dan jarak jauh

Cara kerjanya : Saat saklar penerangan diarahkan pada lampu kepala maka arus listrik dari baterai akan mengalir ke saklar dim dan diteruskan ke relay. Akibatnya pada kumparan relay timbul magnet. Kemagnetan ini menyebabkan terhubungnya kontak pada relay. Dengan demikian arus listrik dsari baterai akan mengalir ke lampu kepala.

b. Rangkaian Lampu Kabut Lampu kabut digunakan pada saat cuaca berkabut, jalanan berdebu atau hujan lebat. Penggunaan lampu harus mengikuti aturan yang berlaku yakni : a. Pemasangan kedua lampu harus berjarak sama, baik yang kiri maupun yang kanan dari titik tengah kendaraan. b. Lampu kabut dihubungkan bersama-sama dengan lampu jarak dekat (pada saklar dim). c. Lampu kabut tidak dihidupkan bersama-sama lampu jarak dan hanya dihidupkan bersama lampu kota. d. Lampu kabut boleh menggunakan lensa warna putih atau warna kuning.

Gambar 19. Rangkaian lampu kabut

Bila lampu kabut akan diaktifkan maka saklar lampu kepala harus pada posisi lampu jarak dekat. Saat saklar lampu kabut diaktifkan, arus listrik dari saklar lampu kepala akan mengalir ke relay melalui saklar lampu kabut. Dengan aktifnya relay maka arus listrik dari baterai akan mengalir ke lampu kabut melalui sikring dan relay.

c. Rangkaian lampu belok dan hazzard Lampu tanda belok dipasang di bagian depan dan bagian belakang kendaraan. Lampu ini digunakan untuk memberi isyarat pada pengemudi lain bahwa kendaraan akan belok atau pindah jalur. Saklar lampu tanda belok umumnya dipasang pada assembly steering column. Pada kendaraan modern biasanya saklar ini merupakan saklar multifungsi yang juga difungsikan sebagai saklar dim (kadang-kadang juga untuk saklar klakson). Lampu tanda belok yang normal berkedip (nyala-mati) sebanyak 90 30 kali permenit. Lampu tanda bahaya (hazard) biasanya merupakan satu kesatuan dengan lampu tanda belok tetapi dalam operasinya menggunakan saklar lain. Bila saklar ini diarahkan pada posisi kerja maka seluruh lampu tanda belok (kiri dan kanan) akan berkedip serempak. Lampu tanda bahaya dihidupkan hanya dalam keadaan darurat. Berkedipnya lampu tanda bahaya diatur oleh flasher, baik jenis thermomagnetic maupun jenis elektronik.

Gambar 20. Rangkaian flasher thermomagnetic sederhana

Gambar 21. Flasher elektronik

Sistem lampu belok dengan flasher bimetal

Sistem lampu belok dan hazzard dengan flasher dan dua dioda

Gambar 22. Rangkaian dasar sistem lampu belok dan lampu tanda bahaya.

Cara kerja sistem lampu belok dan lampu tanda bahaya : Apabila saklar lampu belok diarahkan ke arah kiri atau kanan maka arus listrik dari baterai akan mengalir ke kunci kontak, flasher, saklar lampu belok dan lampu belok. Dengan bekerjanya flasher maka lampu belok akan mulai berkedip. Sedangkan untuk lampu tanda bahaya, aliran listrik dari baterai mengalir ke flasher, saklar hazard dan lampu hazard (keempat lampu tanda belok). Dengan demikian lampu hazard ini akan mulai bekerja (nyala-mati secara periodik).

d. Rangkaian lampu jarak (clereance) dan tanda nomor Pada kendaraan biasanya terdapat beberapa lampu jarak, pemasangan lampu jarak ini minimal dua buah di depan kendaraan. Lampu ini berfungsi sebagai tanda keberadaan dan lebarnya kendaraan (lampu jarak), sedangkan lampu yang dipasang di belakang kendaraan biasa disebut lampu

belakang, dengan fungsi sama seperti lampu yang dipasang di depan. Lampu plat nomor digunakan sebagai penerang plat nomor saat kendaraan digunakan pada malam hari. Karena kegunaannya untuk mengetahui lebar dan tinggi kendaraan, posisi lampu kota harus berada di bagian ujung dari bagian yang terlebar dan tertinggi dari kendaraan.

Gambar 23. Rangkaian sistem lampu jarak dan lampu plat nomor.

Cara kerja lampu-lampu ini sebagai berikut : Apabila saklar penerangan diarahkan pada posisi lampu jarak, maka arus listrik akan mengalir dari baterai, saklar penerangan, sikring, lampu jarak dan lampu plat nomor.

e. Rangkaian lampu mundur Lampu mundur dipasang di bagian belakang kendaraan untuk memberikan penerangan di bagian belakang kendaraan saat kendaraan mundur pada malam hari. Selain itu juga berfungsi untuk memberi tanda pada pengendara lain bahwa kendaraan bermaksud mundur. Sistem lampu mundur terdiri dari sikring, saklar yang dipasang pada transmisi, dan dua buah lampu. Apabila transmisi diarahkan pada posisi mundur, saklar akan menghubungkan rangkaian dan menyalakan lampu.

Gambar 25. Rangkaian lampu mundur

f. Rangkaian lampu rem Lampu rem digunakan sebagai tanda bagi pengendara yang ada di belakangnya. Lampu rem memberi tanda bahwa kendaraan sedang diperlambat atau akan berhenti. Sistem, lampu rem terdiri dari sikring, saklar lampu rem, lampu belakang dan kabel penghubung. Saklar lampu rem terdapat dua jenis yakni jenis mekanik dan hidrolik. Pada mobil-mobil modern umumnya digunakan

saklar lampu rem jenis mekanik yang dipasang pada pedal rem. Seperti ditunjukkan pada gambar di bawah ini, apabila pedal rem diinjak maka saklar akan terhubung.

Gambar 26. Rangkaian lampu rem

Gambar 27. Pedal rem dalam posisi bebassaklar terbuka saklar tertutup.

Gambar 28. Pedal rem dalam posisi bekerja-

g. Rangkaian klakson Klakson adalah terompet elektromekanik atau sebuah alat yang membuat pendengarnya waspada. Biasanya klakson digunakan pada kereta, mobil dan kapal untuk mengkomunikasikan sesuatu, dimana klakson memberi tahu pendengarnya bahwa ada kendaraan yang datang dan mengingatkan akan kemungkinan bahaya yang terjadi

Gambar 29. Rangkaian klakson

SIMBOL KELISTRIKAN OTOMOTIF


A. Tujuan Khusus Pembelajaran Setelah mempelajari kegiatan belajar 2, peserta dapat :

1. Menjelaskan simbol kelistrikan dan maknanya 2. Menerapkan simbol kelistrikan otomotif. B. Materi Pembelajaran
Untuk memudahkan penterjemahan wiring diagram yang diimplementasikan dalam teknik otomotif, maka pengetahuan tentang symbol kelistrikan menjadi hal yang sangat penting. Symbol kelistrikan yang biasa digunakan dalam teknik otomotif ditunjukkan pada tabel berikut. Ampere Meter

Horn

Resistor

Relay

Speaker

Transistor

Ignation Coil

Verible Resistor Sakelar

PENGGUNAAN ALAT UKUR LISTRIK


A. Tujuan Khusus Pembelajaran Setelah mempelajari kegiatan belajar 3, peserta dapat : 1. Mengidentifikasi alat ukur listrik. 2. Menjelaskan cara menggunakan amper meter 3. Menjelaskan cara menggunakan volt meter. 4. Menjelaskan cara menggunakan ohm meter.

A. Materi Pembelajaran Instrumen yang biasa digunakan untuk mendiagnosa masalah dalam sirkuit listrik yaitu Voltmeter, Ohmmeter, dan Amperemeter (Ammeter). Untuk meningkatkan kemampuan dalam memperbaiki kelistrikan pada kendaraan, perlu meningkatkan pemahaman alat ukur ini. Tanpa menggunakan alat listrik tertentu, maka akan sulit mendiagnosa kerusakan yang terjadi pada sistem kelistrikan. Sangat penting bagi kita untuk mengenal secara lengkap karakteristik alat yang paling banyak digunakan yaitu Voltmeter, Ammeter, dan Ohmmeter. Ada dua bentuk desain alat ukur listrik yang digunakan dewasa ini, yakni jenis analog dan digital. Masing masing alat ukur tersebut saat ini banyak digunakan dalam pekerjaan di industri.

1. Voltmeter Volmeter digunakan untuk mengukur tegangan (tekanan listrik) antara dua titik dalam sirkuit/rangkaian listrik. Voltmeter bisa digunakan untuk mengukur tegangan yang ada dalam baterai, tegangan pada beban, dan penurunan tegangan dalam rangkaian. Volt meter dalam penggunaannya harus dirangkai secara parallel dengan beban kelistrikan yang diukur. Dalam hal ini probe positif dihubungkan dengan tegangan positif, dan probe negative dihubungkan dengan tegangan negative.

Gambar 31. Voltmeter dihubungkan parallel dengan beban rangkaian yang diukur.

Voltmeter umumnya mempunyai beberapa skala ukur yang bisa dipilih sesuai dengan keperluan. Jika nilai tegangan yang akan diukur tidak diketahui, maka pilihlah skala ukur tertinggi

untuk mencegah rusaknya alat tersebut. Sebagai contoh, untuk memeriksa tegangan baterai 12 Volt, pilihlah skala ukur yang lebih besar dari 12 volt, misalnya 20 volt. Hubungkan Voltmeter positif (+) (merah) pada baterai positif (+) dan negatif (-)(hitam) pada negatif (-) baterai.

Gambar 32 Voltmeter dihubungkan pada baterai.

Gambar 33. Skala pada Voltmeter

2. Amperemeter (Ammeter) Ammeter digunakan untuk mengukur aliran arus pada beban rangkaian/sirkuit listrik. Ammeter dihubungkan secara seri dengan rangkaian. Untuk memasang ammeter dapat dilakukan dengan memutuskan rangkaian/sirkuit, kemudian sambung kembali dengan Ammeter.

Gambar 34. Pemasangan Ammeter pada rangkaian listrik

3. Ohmmeter Ohmmeter digunakan untuk mengukur resistansi komponen atau rangkaian. Ohmmeter juga dapat dipergunakan untuk memeriksa kondisi saklar, kabel dan sekering untuk mengetahui apakah terputus atau ada rangkaian terbuka. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa perubahan skala tidaklah linier. Catatan : Garis skala ke arah kanan menunjukkan nilai yang kecil perubahan hanya menandakan 1 satuan (terhadap nilai yang ditunjukkan oleh saklar putar) Ke arah kiri perubahan menunjukkan nilai yang lebih besar dari 100 atau 1000 kali.

Gambar 35 Ohmmeter

Ohmmeter harus memiliki sendiri baterai karena ohmmeter mengukur resistansi dengan mengalirkan arus melalui resistor. Oleh karena itu pada saat mengetes sebuah komponen atau rangkaian dengan menggunakan ohmmeter, sumber power supply harus diputus. Ohmmeter mempunyai skala range yang menunjukkan lebih dari satu range nilai tahanan. Untuk menghitung resistansi, pembacaan pada skala dikalikan dengan nilai saklar putar yang dipilih. Persiapan Penggunaan Ohmmeter 1. Pilih range yang dikehendaki. 2. Setel jarum penunjuk pada posisi Nol meter dengan dengan cara sebagai berikut:

Hubungkan kedua jarum penduga (Probe)

Gambar 36 Ohmmeter (setting 1)

Setel Adjuster (penyesuai titik nol) hingga pembacaan meter menunjukkan angka nol.

Gambar 37 Ohmmeter (setting 2)

Catatan : Meter harus disetel pada angka nol setiap kali merubah skala pengukuran (range scale). Prosedur Pengoperasian Ohmmeter PERINGATAN : Untuk melindungi Ohmmeter terhadap kerusakan elektronis yang permanen maka jangan sekali-kali menghubungkan Ohmmeter pada rangkaian yang beraliran arus, ikuti langkah-langkah berikut dengan hati-hati. 1. Putuskan hubungan power supply pada rangkaian 2. Pilih skala yang paling sesuai dengan memutar selektor. 3. Agar diperoleh akurasi yang maksimum, nol-kan ohmmeter setiap mengganti range. 4. Hubungkan ohmmeter pada komponen atau rangkaian yang hendak dites. 5. Jika diperoleh pembacaan pada skala range yang sesuai, lihat nilai pada ohmmeter dan hitung resistansi dengan mengalikannya terhadap nilai skala range. 6. Selalu matikan ohmmeter jika tidak digunakan.

Gambar 38. Pengoperasian Ohmmeter

4. Multi Meter Multimeter yang digunakan pada dasarnya ada dua (2) macam, yaitu tipe analog dan tipe digital. Masing-masing mempunyai kegunaan yang sama, keduanya dapat digunakan untuk mengukur tegangan, tahanan (ohm) dan aliran arus (ampere).

Penggunaan Multimeter analog sama seperti meter-meter analog yang telah disebutkan sebelumnya. Penggunaannya setelah alat dihubungkan, dirubah skalanya dan diatur (dinolkan) sebelum dugunakan untuk mengukur. 1) Penggunaan Multimeter Digital Multimeter digital memiliki kegunaan yang luas. Multimeter digital jauh lebih akurat daripada multimeter tipe analog. Alat ini memiliki pilihan batas skala (Scale range) yang lebih luas untuk memilih kuantitas yang akan diukur (tegangan, arus, resistansi, dan lain-lain). Meter yang ditunjukkan pada gambar berikut tidak memiliki batas skala (Scale range) untuk tiap pilihan pengukuran. Alat ini secara otomatis akan mengatur batas ukurnya (autoranging), sehingga tidak perlu mengatur range-nya).

Gambar 39. Multimeter Digital

1) Pengukuran Tegangan Pilih DC V(arus searah) pada tombol range, pasang probe/colok merah positif (+) pada terminal positif baterai. Pasang probe hitam negatif (-) pada negatif baterai. Pembacaan tegangan akan ditampilkan di layar LCD.

Gambar 40. Mengukur tegangan dengan Multimeter Digital

2) Pengukuran Arus Catatan : Sebelum melakukan pengukuran arus, ingat bahwa Multimeter digital tidak bisa mengukur aliran arus yang besar, biasanya paling besar 10 ampere. Pilih Am pada skala ukur.

Lepaskan probe/jarum penduga merah positif (+) dan pasang pada terminal 10A. Matikan power supply dan putuskan hubungannya pada rangkaian dan hubungkan probe-probe meter dalam hubungan seri, nyalakan catu daya dan baca nilai yang ditunjukkan alat.

Gambar 41. Sambungan Ammeter

3) Pengukuran Tahanan Lepaskan baterai. Pilih skala meter pa

Selalu matikan alat ukur (meter) jika tidak sedang digunakan. Hubungkan probe/jarum penduga pengukur seperti yang d Yakinkan bahwa alat yang diukur tidak terhubung dengan baterai, jika terjadi maka bisa timbul kerusakan pada alat.

Gambar 42. Pemeriksaan Resistor dengan Ohmmeter

TEKNIK PENYAMBUNGAN KABEL


A. Tujuan Khusus Pembelajaran Setelah mempelajari kegiatan belajar 4, peserta dapat : 1. Mengidentifikasi jenis-jenis kabel 2. Mengidentifikasi jenis-jenis terminal kabel 3. Menyambung kabel dengan teknik solder dan crimping

B. Materi Pembelajaran 1. Ukuran Kabel Ukuran kabel otomotif umumnya adalah milimeter (mm), misalnya 3 mm, 4 mm, 5 mm dan seterusnya. Angka-angka ini merupakan ukuran nominal diameter luar kabel (konduktor dan isolator). Bagian konduktor kabel terbuat dari bagian helaian tembaga. Diameter helaian kawat ini biasanya sekitar 0,3 mm. Pembuat kabel biasanya menggunakan helaian kawat yang sama untuk berbagai ukuran kabel. Contoh : Kabel 3 mm terbuat dari 16 helai kawat dengan diameter 0,3 mm Kabel 4 mm terbuat dari 26 helai kawat dengan diameter 0,3 mm Kabel 6 mm terbuat dari 65 helai kawat dengan diameter 0,3 mm Produsen kabel biasanya memberi data kabel dalam (mm2). Misalnya 1,25 mm2 dan tersedia juga ukuran besar arus dalam amper.
Luas nominal konduktor mm2 Jumlah diameter kabel No./mm 0.85 1.25 2.00 3.00 5.00 8 14 19 25 36.5 40 11/0.32 16/0.32 26/0.32 41/0.32 65/0.32 94/0.32 182/0.32 247/0.32 323/0.32 455/0.32 520/0.32 18 16 14 12 10 8 6 4 3 2 1 & Persamaan Pengukur kawat SAE Perkiraan diameter keseluruhan mm 2.5 2.9 3.1 3.8 4.6 5.5 7.3 9.0 10.8 11.7 12.7 5 10 25 20 25 3 6 10 15 18 45 70 90 100 120 130 Kabel Tunggal Arus kerja kabel serabut Kabel