Anda di halaman 1dari 8

TUGAS INDIVIDUAL IKGA PERAWATAN PULPOTOMI VITAL DENGAN BAHAN CaOH2 PADA GIGI SULUNG

Oleh : Ahmad Tommy Tantowi Nim : 100600153

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2012

_____________________________________________________________________ PERAWATAN PULPOTOMI VITAL DENGAN BAHAN CaOH2 PADA GIGI SULUNG Ahmad Tommy Tantowi 100600153 Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Sumatera Utara Jl. Alumni No. 2 Kampus USU Medan 20155 _____________________________________________________________________ Abstract Pulp treatment are part of the dental care that includes diagnosis and treatment of illness or injury to the pulp tissue pulp and periapical tissue, so that the teeth in the mouth not in the pathological state, a healthy condition and able to function properly. If the pulp is exposed, then procedures pulpotomi aim to maintain the vitality of the pulp for the normal development of roots. In history, the calcium hydroxide is the material chosen for the procedure pulpotomi. Successful Treatment of pulp in primary teeth is very important for pediatric patients, because baby teeth that can be maintained is the best space maintainer Keywords : pulpotomi vital, CaOH2, gigi sulung. _____________________________________________________________________ PENDAHULUAN Salah satu penyebab dari terbukanya pulpa atau penyakit pulpa adalah karies dan trauma. Tetapi pada gigi sulung penyebab yang sering ditemukan pada penyakit pulpa adalah karies. Dikarenakan karies yang tidak dirawat sehingga meluas dari enamel masuk ke dentin hingga ke atap pulpa lalu menyebabkan pulpa terpapar. Pulpa yang terpapar akan di invasi oleh bakteri yang menginfeksi jaringan pulpa.Pulpa yang infeksi menjadi meradang dan dapat terjadi nekrose pulpa. Namun selain karies , pulpa yang sakit bisa juga disebabkan oleh trauma atau kesalahan pada preparasi kavitas Karies dan cedera akibat trauma pada gigi masih sangat umum ditemukan pada anak dan perawatan kerusakan yang luas yang ditimbulkannya masih merupakan bagian utama dari praktik kedokteran gigi anak. Apabila pulpa terpapar diakibatkan trauma, apeks akar terbuka lebar, bahkan jika hanya paparan pulpa

yang kecil dan pasien tidak segera merawat gigi setelah beberapa jam atau beberapa hari setelah injuri, atau jika sedikit mahkota yang tersisa untuk menahan restorasi secara sementara, perawatan yang dilakukan adalah pulpotomi. Tujuan utama perawatan operatif pada anak adalah mencegah meluasnya penyakit gigi dan memperbaiki gigi yang rusak sehingga dapat berfungsi kembali secara sehat , sehingga integritas lengkung geligi dan kesehatan jaringan mulut dapat dipertahankan Perawatan pulpa pada gigi sulung dapat dianggap upaya preventif karena gigi yangtelah dirawat dengna berhasil dapat dipertahankan dalam kedaan utuh , fungsi pengunyahan dipertahankan , infeksi dan peradangan kronis dapat dihilangkan sehingga kesehatan jaringan mulut yang baik dapat dipertahankan. Untuk mencapai tujuan ini, telah dikembangkan beberapp perawatan endodontik alternatif selain pencabutan gigi. Salah satu perawatan pulpa konservatif pada gigi sulung adalah pulpotomi PULPOTOMI VITAL Pulpotomi vital atau amputasi vital adalah tindakan pengambilan jaringan pulpa bagian koronal yang mengalami inflamasi dengan melakukan anestesi, kemudian memberikan medikamen di atas pulpa yang diamputasi agar pulpa bagian radikular tetap vital. Pulpotomi vital umunya dilakukan pada gigi sulung dan gigi permanen muda. Pulpotomi gigi sulung umunya menggunakan formokresol atau glutaradehid. Pada gigi dewasa muda dipakai kalsium hidroksid. Kalsium hidroksid pada pulpotomi vital gigi sulung menyebabkan resorpsi interna. Pulpotomi disebut juga pengangkatan sebagian jaringan pulpa. Biasanya jaringan pulpa di bagian korona yang cedera atau mengalami infeksi dibuang untuk mempertahankan vitalitas jaringan pulpa dalam saluran akar. Pulpotomi dapat dipilih sebagai perawatan pada kasus yang melibatkan kerusakan pulpa yang cukup serius namun belum saatnya gigi tersebut untuk dicabut, pulpotomi juga berguna untuk mempertahankan gigi tanpa menimbulkan simtom-simtom khususnya pada anak-anak. Jika jaringan pulpa masih vital dan dilakukan dengan bantuan anastesi lokal, perawatan dapat dilakukan dalam satu kali kunjungan; teknik pulpotomi demikian ini dinamakan amputasi pulpa vital.

INDIKASI PULPOTOMI Secara umum indikasi perawatan pulpotomi adalah perforasi pulpa karena proses karies atau proses mekanis pada gigi sulung vital, tidak ada pulpitis radikular, tidak ada rasa sakit spontan maupun menetap, panjang akar paling sedikit masih dua pertiga dari panjang keseluruhan, tidak ada tanda-tanda resorpsi internal, tidak ada kehilangan tulang interradikular, tidak ada fistula, perdarahan setelah amputasi pulpa berwarna pucat dan mudah dikendalikan (Budiyanti, 2006). Selain itu indikasinya adalah anak yang kooperatif, anak dengan pengalaman buruk pada pencabutan, untuk merawat pulpa gigi sulung yang terbuka, merawat gigi yang apeks akar belum terbentuk sempurna, untuk gigi yang dapat direstorasi (Bence, 1990, Andlaw dan Rock, 1993).

KONTRAINDIKASI PULPOTOMI

Secara umum kontraindikasi pulpotomi adalah sakit spontan, sakit pada malam hari, sakit pada perkusi, adanya pembengkakan, fistula, mobilitas patologis, resorpsi akar eksternal patologis yang luas, resorpsi internal dalam saluran akar, radiolusensi di daerah periapikal dan interradikular, kalsifikasi pulpa, terdapat pus atau eksudat serosa pada tempat perforasi, dan perdarahan yang tidak dapat dikendalikan dari pulpa yang terpotong (Budiyanti, 2006). Selain itu, kontraindikasinya adalah pasien yang tidak kooperatif, pasien dengan penyakit jantung kongenital atau riwayat demam rematik, pasien dengan kesehatan umum yang buruk, kehilangan tulang pada apeks dan atau di daerah furkasi (Kennedy, 1992; Andlaw dan Rock, 1993). KALSIUM HIDROKSIDA Mineralisasi kalsium Hidroksida. Penelitian telah menunjukkan bahwa kalsium hidroksida membentuk jembatan dentin ketika ditempatkan berkontak dengan jaringan pulpa. Kalsium hidroksida harus berkontak dengan jaringan untuk terjadinya mineralisasi. Permulaannya, zona nekrotik dibentuk berbatasan dengan bahan, dan tergantung pada pH bahan kalsium hidroksida, jembatan dentin langsung dibentuk berlawanan dengan zona nekrotik atau zona nekrotik diresorbsi dan diganti dengan jembatan dentin. Pembatas ini tidak selalu sempurna. Ion kalsium dalam kalsium hidroksida tidak menjadi tergabung dalam

bentuk jaringan keras. Kalsium hidroksida ialah inisiator daripada substrat yang memperbaiki. Terdapat beberapa teori bagaimana kalsium hidroksida merangsang pembentukan jaringan keras. Termasuk kandungan alkali yang tinggi ( pH 11), yang menghasilkan lingkungan menguntungkan untuk pengaktifan alkalin fosfatase, suatu enzim yang terlibat dalam mineralisasi. Ion kalsium mengurangi permeabelitas bentuk kapiler baru dalam jaringan yang diperbaiki, menurunkan jumlah cairan intersel dan meningkatkan konsentrasi ion kalsium yang diperoleh dari pasokan darah di awal mineralisasi. Ini dapat memiliki dua efek pada mineralisasi, dapat memberikan sumber ion kalsium untuk mineralisasi, dan dapat merangsang aktivitas kalsium pyrophosphatase, yang mengurangi tingkat ion

pyrophosphatase penghambat mineralisasi dalam jaringan. Efek antimikroba. Efek antimikroba dari bahan pulpotomi berhubungan dengan kemampuan bahan membunuh bakteri yang ada dan mencegah bakteri masuk lagi dari rongga mulut ke dalam pulpa. Sifat antimikroba dari kalsium hidroksida berasal dari beberapa faktor. pH yang tinggi menghasilkan lingkungan yang tidak baik untuk pertumbuhan bakteri. Ada tiga mekanisme kalsium hidroksida merangsang lisis bakteri yaitu ion hidroksil menghancurkan phospholipid sehingga membran sel dihancurkan, kadar alkali yang tinggi merusak ikatan ion sehingga protein bakteri dirubah serta ion hidroksil bereaksi dengan DNA bakteri, menghambat replikasi. Perawatan kalsium hidroksi juga telah menunjukkan penurunan efek

bakteridihubungkan dengan lipopolisakarida (LPS).Ini dapat mehidrolisis lipid dari bakteri LPS dan dapat mengeliminasi kemampuan LPS menstimulasi produksinekrosis tumor faktor alpha pada monosit darah perifer.Aksi ini menurunkankemampuan bakteri merusak jaringan. Kemampuan untuk mencegah penetrasi bakteri ke dalam pulpa

mempengaruhi pertahanan pulpa secara signifikan. Awalnya, dua pasta sistem kalsium hidroksidipercaya memiliki kemampuan menahan penetrasi bakteri; akan

tetapi,kemampuannya lebih lanjut masih dipertanyakan.Ikatan adesif dari kalsiumhidroksi pada dentin lemah, dan bahan resin adesif tidak terikat pada permukaan bahan. Kejadian bocornya bakteri ketika kalsium hidroksi digunakan pada perawatan pulpa telah dilaporkan sebanyak 47.0 persen. Ini sangat signifikandaripada kebocoran dihubungkan dengan restorasi ikatan resin. Inflamasi pulpa padaumumnya menunjukkan peningkatan jumlah bakteri.

PROSEDUR PERAWATAN PULPOTOMI Prosedur pulpotomi meliputi pengambilan seluruh pulpa bagain korona gigi dengan pulpa terbuka karena karies yang sebagaian meradang, diikuti dengan peletakkan obat-obatan tepat di atas pulpa yang terpotong. Setelah penempatan obat, selanjutnya dapat dilakukan penumpatan permanen. Pada gigi sulung, prosedur pulpotomi dapat dilakukan dalam satu kali kunjungan (Budiyanti, 2006).

Langkah-langkah perawatan pulpotomi vital l satu kali kunjungan untuk gigi sulung : 1. Siapkan instrumen dan bahan. 2. Isolasi gigi. 3. Preparasi kavitas. 4. Ekskavasi karies yang dalam. 5. Buang atap pulpa. 6. Buang pulpa bagian korona. 7. Cuci dan keringkan kamar pulpa. 8. Aplikasikan kalsium hidroksida. 9. Berikan bahan antiseptik. 10. Restorasi gigi.

Pada gigi sulung, prosedur pulpotomi dapat dilakukan dalam satu kali kunjungan jika dibantu dengan penggunaan anastesi lokal. Dalam hal ini tekniknya merupakan amputasi pulpa vital Perawatan pulpotomi dinyatakan berhasil apabila kontrol setelah 6 bulan tidak ada keluhan, tidak ada gejala klinis, tes vitalitas untuk pulpotomi vital (+) dan pada gambaran radiografik lebih baik dibandingkan dengan foto awal. Tanda pertama kegagalan perawatan adalah terjadinya resorpsi internal pada akar yang berdekatan dengan tempat pemberian obat. Pada keadaan lanjut diikuti dengan resorpsi eksternal (Budiyanti, 2006). Pada molar sulung, radiolusensi berkembang di daerah apeks bifurkasi atau trifurkasi, sedangkan pada gigi anterior di daerah apeks atau di sebelah lateral akar (Camp et al., 2002). Apabila infeki pulpa sampai melibatkan benih gigi pengganti, atau gigi mengalami resopsi internal atau eksternal yang luas, maka sebaiknya dicabut (Whitworth & Nunn, 1997).

PEMBAHASAN Tujuan utama dari pulpotomi adalah untuk membentuk akar yang sempurna. Bagian dari pulpa yang bertindak sebagai pertahanan jaringan, tempat mikroorganisme menginfeksi sehingga terjadi inflamasi dihilangkan untuk menjaga vitalitas dan kesehatan pulpa yang tersisa yang tidak terinfeksi atau terinflamasi. Kalsium hidroksida merupakan senyawa kimia dengan rumus Ca(OH)2, berwarna bubuk putih atau kristal dan terjadi oleh karena reaksi pencampuranantara kalsium oksida dengan air. Kalsium hidroksida juga bisa didapatkan darireaksi antara larutan kalium dengan sodium hidroksida.Kalsium hidroksida pertama kali digunakan pada perawatan pulpa vital dan pulpotomi pada gigi sulung. Bahan ini dapat merangsang penyembuhandengan mendorong terbentuknya dentin sekunder dan merangsang aktivitasodontoklas sehingga sering terjadi internal resorbsi pada dentin.Produk sederhana dari tipe ini hanya mengandung larutan kalsium hidroksidadalam air. Bahan tersebut tidak cukup kuat menerima tekanan sewaktu pengisian bahan tambal seperti amalgam. Selain bahan ini juga mengandung adanya larutanmetil selulosa atau resin dalam pelarut yang mudah menguap seperti kloroform.(Walton dan Torabinejad, 1998)

DAFTAR PUSTAKA : 1. Aya A. Perawatan Saluran Akar. http://amaliapradana.blogspot.com/. 22 Oktober 2012. 2. Kennedy, D.B. Konservasi Gigi Anak. Jakarta : EGC, 1992: 213. 3. Budiyanti, E.A. Perawatan Endodontik Pada Anak. Jakarta : EGC, 2006: 29. 4. Witherspoon, D.E, Small J.C, Harris, G.Z. Pulpotomi Menggunakan Mineral Trioxide Aggregate. http://www.scribd.com/doc/80922762/Pulpotomi-Mineral-Trioxide-Aggregate. Oktober 2012 5. McDonald RE, Avery DR, Dean JA. Dentistry for the child and adolescent. 9th edition. St Louis: CV Mosby, 2004; 411. 6. Nicholls. Endodontics (Third Edition). Bristol : Wright, 1984 : 52-53. 24