Anda di halaman 1dari 66

ANALISIS KINERJA BIDAN DESA DAN HUBUNGANNYA DENGAN KEBERHASILAN PROGRAM PERBAIKAN GIZI DAN KESEHATAN DI KABUPATEN LAMPUNG

BARAT

YATINO A54103306

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2005

ANALISIS KINERJA BIDAN DESA DAN HUBUNGANNYA DENGAN KEBERHASILAN PROGRAM PERBAIKAN GIZI DAN KESEHATAN DI KABUPATEN LAMPUNG BARAT

Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian bidang Gizi Masyarakat pada Fakultas Pertanian Institut Pertenian Bogor

Oleh: YATINO A54103306

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2005

RINGKASAN YATINO. Analisis Kinerja Bidan Desa dan Hubungannya dengan Keberhasilan Program Perbaikan Gizi dan Kesehatan di Kabupaten Lampung Barat (Dibimbing oleh RETNANINGSIH) Penelitian ini bertujuan menganalisis kinerja bidan desa dan hubungannya dengan keberhasilan program perbaikan gizi dan kesehatan di Kabupaten Lampung Barat. Secara khusus penelitian bertujuan untuk melakukan penilaian terhadap kinerja bidan desa, mengkaji faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja, menilai keberhasilan program perbaikan gizi dan kesehatan serta mengkaji hubungan kinerja bidan desa dengan keberhasilan program perbaikian gizi dan kesehatan di Kabupaten Lampung Barat. Penelitian dilakukan pada bulan April sampai dengan Mei 2005 di Kabupaten Lampung Barat, Propinsi Lampung. Populasi adalah Bidan desa yang bertugas di Kabupaten Lampung Barat. Contoh sebanyak 48 orang dipilih secara acak. Jenis data yang dikumpulkan mencakup data primer dan data sekunder. Data primer meliputi data keberhasilan program gizi,data keberhasilan program kesehatan, data kinerja bidan dan data faktor internal (umur, masa kerja, pendidikan, pelatihan, asal daerah, status perkawinan dan motivasi) serta data faktor eksternal (sarana dan prasana, insentif, supervisi dan mitra kerja), sedangkan data sekunder mencakup data gambaran umum wilayah, gambaran umum bidan desa Data dikumpulkan melalui wawancara dengan mengunakan kuisioner. Analisis data dilakukan dengan menggunakan tabulasi silang atau distribusi frekuensi dan menggunakan program Micsosoft Excel dan SPSS. 10.0 Dari hasil penelitian diperoleh bahwa kinerja bidan desa berada pada kategori kurang sebesar 95,9% dan kategori sedang sebesar 4,1% tidak ada satupun bidan yang memiliki kategori kinerja baik. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja bidan desa antara lain; faktor internal yaitu; Umur bidan desa berkisar antara 23 sampai 32 tahun dengan modus 28 tahun dan 79,6% bidan desa berumur < 30 tahun, sedangkan selebihnya 18,4% berumur lebih dari 30 tahun, masa kerja bidan desa berkisar 3 sampai 11 tahun dengan modus 9 tahun, 87,5% bidan desa yang memiliki masa kerja 5-10 tahun, 8,3% bidan desa memiliki masa kerja >10 tahun dan 4,2% bidan desa memiliki masa kerja <5 tahun. Tingkat pendidikan yang dimiliki bidan desa yaitu 59,2% bidan desa memiliki tingkat pendidikan PPB A dan 38,8% bidan desa memiliki memiliki tingkat pendidikan PPB C, dari penelitian ini juga diketahui semua bidan desa pernah mengikuti pelatihan yang diadakan Dinas Kesehatan Kabupaten/Propinsi, sedangkan jika dilihat berdasarkan asal daerah 60,4% bidan desa yang ada di Kebupaten Lampung Barat merupakan bidan pendatang dan 39,6% adalah penduduk asli, semua bidan desa berstatus kawin (100%) dan bidan desa yang memiliki motivasi baik sebesar 66,7%, bidan desa yang memiliki motivasi kurang sebesar 33,3%. Faktor eksternal yang berhubungan dengan kinerja yaitu; sarana kesehatan dan gizi. Untuk kelengkapan sarana kesehatan, 36,6% bidan desa memiliki sarana lengkap, 61% bidan desa memiliki sarana kesehatan dengan kategori sedang dan 2,4% bidan desa memiliki sarana kesehatan dengan kategori tidak

lengkap. Sedangkan untuk kelengkapan sarana gizi, sebagian besar (95,8%) bidan desa memiliki kelengkapan sarana gizi dan sisanya 4,2% bidan desa memiliki sarana gizi dengan kategori sedang. Bidan desa yang menjawab menerima insentif dengan kategori memuaskan sebesar 50% dan 50% lagi menyatakan insentif yang mereka terima tidak memuaskan, sedangkan pembinaan yang dilakukan Kepala Puskesmas, 60,4% bidan desa menjawab pembinaan yang dilakukan Kepala Puskesmas memiliki kategori baik, 10,4% bidan desa menjawab pembinaan yang dilakukan Kepala Puskesmas memiliki kategori sedang dan 29,2 bidan desa menjawab kurang, bidan desa yang dapat berkerja dengan mitra kerjanya di wiliayah kerjanya yaitu 68,8% bidan desa memiliki mitra kerja dengan katergori baik, 27,1% bidan desa memiliki mitra kerja dengan kategori sedang dan 4,2% bidan desa memiliki mitra kerja dengan kategori kurang. Berdasarkan tingkat keberhasilan program gizi maka sebagian besar bidan desa mempunyai tingkat keberhasilan dengan kategori kurang yaitu sebesar 73,5% dan 18,4% bidan desa yang mempunyai tingkat keberhasilan dengan kategori sedang sebesar 18,4% dan sisanya 8,2% bidan desa mempunyai tingkat keberhasilan dengan kategori baik sebesar 8,2%, untuk keberhasilan program kesehatan, maka bidan desa mempunyai tingkat keberhasilan dengan kategori kategori sedang sebesar 39,6%, dan bidan desa yang mempunyai tingkat keberhasilan dengan kategori kurang sebesar 33,3% serta bidan desa yang mempunyai tingkat keberhasilan dengan kategori baik sebesar 27,1% Dari hasil uji korelasi Rank-Spearman tidak terdapat hubungan antara faktor internal (umur, masa kerja, pendidikan, pelatihan, asal daerah, status perkawinan dan motivasi) dengan kinerja Bidan desa (p>0,005), dan pada faktor eksternal (sarana dan prasana, insentif, supervisi dan mitra kerja) juga tidak terdapat hubungan dengan kinerja bidan desa kecuali pada sarana gizi terdapat hubungan negatif (p<0,005). Dari hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kinerja bidan desa dengan pencapaian program gizi dan kesehatan (p>0,005) Dari hasil penelitian ini penulis menyarankan ; 1. Kepada Dinas Kesehatan diharapkan untuk lebih meningkatkan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) dengan mengadakan pendidikan dan pelatihan-pelatihan kepada tenaga kesehatan umumnya dan bidan desa khususnya guna meningkatkan cakupan program kesehatan secara menyeluruh, 2. Kepada Dinas Kesehatan diharapkan untuk lebih memperhatikan kelengkapan sarana dan prasarana kesehatan dan gizi guna meningkatkan kinerja bidan desa, 3. Kepala Puskesmas diharapkan lebih meningkatan fungsi pengawasan dan bimbingan teknis serta memberikan insentif yang memadai guna lebih meningkatkan cakupan dan kinerja bidan desa dan 4. Kepada bidan desa diharapkan lebih menyadari tugas dan fungsinya sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan dan perpanjangan tangan dari Puskesmas guna melayani masyarakat.

UCAPAN TERIMA KASIH Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karuniah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Analisis Kinerja Bidan Desa dan Hubungannya dengan Keberhasilan Program Perbaikan Gizi dan Kesehatan di Kabupaten Lampung Barat berhasil selesai. Terima kasih penulis ucapakan kepada: 1. Ir. Retnaningsih, M.Si, sebagai dosen pembimbing skripsi yang telah banyak memberikan bimbingan dan masukan sejak penyusunan proposal penelitian sampai selasianya skripsi ini. 2. Ir. M.D. Djamaluddin, M.Sc, sebagai dosen pemandu dan dosen penguji atas masukan dan arahannya yang berharga untuk kesempurnaan skripsi ini. 3. Ketua Program Studi GMSK beserta seluruh dosen dan staf yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menimba ilmu dan pengalaman di Program Studi GMSK, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. 4. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Barat dan khususnya Kabid Kesga beserta staf yang banyak memberikan masukan dan informasi dalam penulisan kripsi ini 5. Seluruh Bidan Desa yang bersedia menjadi responden dalam penelitian ini 6. Istri dan anak-anakku tercinta yang memberikan dorongan moril dan meteril serta doanya setiap saat 7. Teman-teman AJ-40 dan semua adik-adik GMSK angkatan 38 dan 39 Dan masih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu per satu, semoga karya kecil ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Bogor, September 2005 Yatino

RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Palembang pada Tanggal 04 Mei 1969. Penulis adalah anak ke enam dari keluarga Bapak Amad Junur (Alm) dan Ibu Munirah (Alm). Penulis menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD) dari tahun 1978 sampai 1984 di SDN II Sukarami Pelembang. Tahun 1984 penulis melanjutkan sekolah ke SLTPN XI Talang Betutu Palembang hingga tahun 1987 dan pada tahun 1990 penulis menyelesaikan pendidikan SMAN XIII Palembang. Pada tahun 1990 penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Pembantu Ahli Gizi (SPAG) Depkes RI di Palembang dan selesai pada tahun 1991. Pada tahun 1992 penulis diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil di Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Barat. Tahun 1998 penulis melanjutkan pendidikan tugas belajar pada Akademi Gizi (Akzi) Depkes RI Jakarta dan selesai tahun 2000. Pada tahun 1996 penulis menikah dengan Kusmiati dan sekarang telah dikaruniahi dua orang putri (Elsa Rahmatika dan Elsyfa Rohmadoni) dan satu orang putra (Shidqie Giantino). Tahun 2003 kembali penulis mendapat kesempatan mengikuti tugas belajar dan diterima pada Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga (GMSK) Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL.. . DAFTAR GAMBAR ... DAFTAR LAMPIRAN. DAFTAR TABEL. PENDAHULUAN. Latar Belakang. Tujuan Penelitian. KegunaanPenelitian. TINJAUAN PUSTAKA.. Kedudukan, Tugas Pokok, dan Fungsi Bidan Desa Kinerja Bidan Desa.. Faktor Internal Bidan Desa.. Faktor Eksternal Bidan Desa Keberhasilan Program.. KERANGKA PEMIKIRAN. METODE PENELITIAN. Desain, Tempat dan Waktu. Populasi Dan Sampel... Jenis dan Cara Pengumpulan Data... Pengolahan dan Analisa Data.. Definisi Operasional HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian Karakteristik Contoh Faktor Internal. Faktor Eksternal.. Kinerja Bidan Desa.. i ii iii iv 1 1 4 4 5 5 7 8 11 14 16 19 19 19 20 20 22 24 24 26 26 30 36

Hasil Cakupan Program Kesehatan dan Gizi... Hubungan Faktor Internal dengan Kinerja Bidan Desa. Hubungan Faktor Eksternal dengan Kinerja Bidan Desa Hubungan Kinerja Bidan Desa dengan Keberhasilan Program .. Kesehatan dan Gizi. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan.. Saran. DAFTAR PUSTAKA... LAMPIRAN.

39 43 46 49 51 51 52 53 55

DAFTAR TABEL Nomor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Sebaran Tenaga Kesehatan Menurut Jenis Ketenagaan di Kabupaten Lampung Barat.......................................................................................... Jumlah Angkatan Kerja Menurut Lapangan Usaha di Kabupaten Lampung Barat.......................................................................................... Sebaran Contoh berdasarkan Kategori Umur............................................ Sebaran Contoh berdasarkan Masa Kerja.................................................. Sebaran Contoh berdasarkan Pendidikan................................................... Sebaran Contoh berdasarkan Asal Daerah................................................. Sebaran Contoh berdasarkan Jawaban terhadap Motivasi......................... Sebaran Contoh berdasarkan Motivasi...................................................... 25 26 27 27 28 29 30 25 Halaman 21

Kategori Faktor Internal dan Eksternal......................................................

Gambaran Kelengkapan Sarana Kesehatan dan Gizi pada Bidan Desa..... 31 Sebaran Contoh berdasarkan Sarana Kesehatan dan Gizi.......................... 33 Sebaran Contoh berdasarkan Insentif........................................................ Gambaran berdasarkan Jawaban Supervisi Kepala Puskesmas................. Sebaran Contoh berdasarkan Kategori Supervisi Kepala Puskesmas........ Sebaran Contoh berdasarkan Mitra Kerja.................................................. Sebaran Contoh berdasarkan Jawaban Aspek Kinerja............................... Sebaran Contoh berdasarkan Kinerja......................................................... Sebaran Contoh berdasarkan Cakupan Program Gizi pada Puskesmas..... Sebaran Contoh berdasarkan Cakupan Program Gizi................................ Sebaran Contoh berdasarkan Cakupan Program Kesehatan pada Puskesmas.................................................................................................. Sebaran Contoh berdasarkan Cakupan Program Kesehatan...................... Sebaran Contoh berdasarkan Faktor Internal dan Kinerja ........................ 42 43 45 33 34 34 36 37 38 41 41

Sebaran Contoh berdasarkan Kategori Kinerja dan Puskesmas................. 39

Sebaran Contoh berdasarkan Faktor Eksternal dan Kinerja....................... 48

10

25

Sebaran Contoh berdasarkan Kinerja dan Hasil Cakupan Program Kesehatan dan Gizi 50

11

DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 2 3 4 5 6 Peta Kabupaten Lampung Barat ................................................................ Hasil Uji Rank-Spearman........................................................................... Cakupan Program Perbaikan Gizi Bidan Desa.......................................... Cakupan Program Kesehatan Bidan Desa.................................................. Cakupan Hasil Penimbangan Bidan Desa.................................................. Kategori Bidan Desa..................................................................................

12

PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan pembangunan di bidang kesehatan pada saat ini adalah mewujudkan manusia yang sehat, cerdas dan produktif. Pembangunan kesehatan menitikberatkan pada program-program yang mempunyai daya ungkit besar guna mencapai Indonesia Sehat 2010 yang merupakan visi pembangunan di bidang kesehatan (Depkes RI, 2000). Masalah gizi masyarakat digunakan sebagai salah satu indikator kualitas hidup karena masalah gizi dapat dipandang sebagai muara atau resultan dari berbagai faktor sosial, ekonomi dan budaya yang saling berkaitan. Rendahnya status gizi masyarakat yang bersifat multidimensional biasanya disebabkan oleh keterbelakangan sosial budaya, sehingga dalam pemecahan masalah tidak hanya menjadi tanggung jawab Departemen Kesehatan semata melainkan harus melibatkan beberapa departemen lain, diantaranya Departemen Pertanian (Syarief, Rustiawan & Julita, 1992). Usaha pembangunan di bidang gizi dan kesehatan secara langsung bertujuan untuk meningkatkan usia harapan hidup yang merupakan cermin kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Peningkatan kualitas SDM ini menjadi sangat penting karena dengan jumlah penduduk Indonesia yang besar akan menjadikan sebagai salah satu modal dasar pembangunan (Khomsan, 2002). Data UNDP tentang Human Development Index (HDI) menunjukkan bahwa pada tahun 2000 dari 147 negara, Indonesia terletak pada posisi yang kurang menggembirakan yaitu peringkat ke-109. Pada tahun 1996 1998, HDI Indonesia tidak jauh berbeda dengan Fhilipina yaitu urutan ke-95 dan 98. Namun sejak tahun 1999, posisi Indonesia merosot menjadi urutan ke-105 dan Fhilipina di urutan ke-77 (Khomsan, 2002). Banyak faktor yang menentukan kualitas SDM, salah satunya yang cukup mendasar adalah faktor gizi. Dari berbagai kajian WHO yang dilaporkan UNICEF (1999), diperkirakan 55 % penyebab kematian bayi dan anak baik langsung maupun tidak langsung di negara-negara berkembang termasuk Indonesia adalah masalah gizi

13

(Depkes RI, 2000). Selain itu, timbulnya krisis ekonomi yang berkepanjangan telah menyebabkan penurunan kegiatan produksi yang drastis sebagai akibat lapangan kerja berkurang dan pendapatan per kapita menurun. Hal ini jelas berdampak terhadap status gizi dan kesehatan masyarakat karena tidak terpenuhinya kecukupan konsumsi makanan dan timbulnya berbagai penyakit menular akibat lingkungan yang tidak sehat. Akibat krisis ekonomi tersebut, status gizi balita secara umum menurun yang ditunjukkan dari Kurang Energi Protein (KEP) pada kelompok usia 6-23 bulan meningkat dari 29,0 % pada tahun 1995 menjadi 30,5 % pada tahun 1998. Menurut hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) Kabupaten Lampung Barat pada tahun 2003, sebanyak 1.8 % balita menderita gizi buruk, 7,1 % menderita gizi kurang dan selebihnya gizi baik dan gizi lebih yaitu 87,4 % dan 3,8 %. Untuk cakupan program perbaikan gizi pada tahun yang sama, vitamin A anak balita 59,9 %, cakupan tablet besi pada ibu hamil pada trimester I (Fe 1) dan cakupan tablet besi pada ibu hamil pada trimester III(Fe 3) sebesar 69,9 % dan 74,8 % (Dinkes Lampung Barat, 2003). Menurut Khomsan (2003), pemecahan masalah gizi tidak hanya mungkin dilakukan oleh Ahli Gizi (AG) saja tetapi harus melibatkan beberapa jalur atau institusi yang ada di masyarakat baik jalur teknis maupun non teknis seperti Puskesmas, Polindes, Bidan Desa, Posyandu (Depkes RI, 2002). dan perbaikan gizi masyarakat. Departemen Kesehatan mempunyai peran yang penting dalam meningkatkan derajat kesehatan Pengelolaan program gizi pada Departemen Kesehatan dilaksanakan secara berjenjang mulai dari tingkat pusat, propinsi, kabupaten/ kota, kecamatan sampai ke tingkat desa (Depkes RI, 1995). Sejalan dengan terbentuknya Peraturan Pemerintah (PP) No. 25 tahun 2000 mengenai wewenang propinsi atau kabupaten/ kota sebagai daerah otonomi, maka peranan pemerintah daerah dan masyarakat akan makin menentukan terhadap keberhasilan program gizi dan kesehatan di wilayahnya. Sejak tahun 1980, Departemen Kesehatan melalui Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat melakukan terobosan dalam membantu program kesehatan ditingkat desa yaitu melalui penempatan 54.120 bidan di desa (Depkes RI, 2002). Bidan desa sebagai tenaga pelaksana pelayanan kesehatan yang langsung

14

berhubungan dengan masyarakat luas juga berperan sebagai perpanjangan tangan dari Puskesmas. Bidan desa mempunyai peran yang sangat penting dan strategis dalam meningkatkan status kesehatan masyarakat. Salah satu peran Bidan di desa adalah mendata sasaran pelayanan kebidanan dasar dan perbaikan gizi masyarakat serta menyebarkan informasi/penyuluhan ke seluruh masyarakat di wilayah kerjanya (Depkes RI, 1999). Menurut Laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Barat, jumlah bidan desa sampai tahun 2003 adalah sebanyak 92 orang atau 54,1 % dari 170 desa. Angka ini menunjukkan bahwa lebih dari setengah jumlah desa di Kabupaten Lampung Barat telah ditempati oleh bidan. Pada tingkat Puskesmas, upaya perbaikan gizi dilakukan oleh Ahli Gizi (AG) dan Pembantu Ahli Gizi (PAG). Namun harus disadari bahwa jumlah tenaga gizi di Puskesmas masih terbatas, di Kabupaten Lampung Barat, puskesmas yang terisi tenaga gizi baru mencapai 38,8 % dari 18 Puskesmas yang ada (Dinkes Lampung Barat, 2003). Hal ini menunjukkan bahwa masih sedikitnya tenaga gizi yang ditempatkan di Kabupaten Lampung Barat terutama di Puskesmas. Dengan memanfaatkan tenaga profesional dibidang kesehatan selain tenaga gizi dalam hal ini yaitu bidan desa, dapat diharapkan akan mempercepat keberhasilan perbaikan gizi dan kesehatan di masyarakat. program Hal ini sejalan dengan program langsung

pemerintah khususnya Departemen Kesehatan yaitu dengan menempatkan para bidan di desa yang merupakan unit pelayanan kesehatan terdepan sehingga menangani masyarakat di desa. Dari uraian di atas terlihat bahwa masih minimnya jumlah tenaga gizi di puskesmas dibandingkan dengan penyebaran tenaga bidan di desa. Dengan memanfaatkan tenaga profesional selain tenaga gizi, dalam hal ini yaitu bidan yang ada di Kabupaten Lampung Barat, diharapkan dapat membantu mempercepat keberhasilan program perbaikan gizi dan kesehatan di masyarakat. Bertolak dari kondisi lapang ini, maka penulis bermaksud menganalisis kinerja bidan desa dan hubungannya dengan keberhasilan program perbaikan gizi dan kesehatan di Kabupaten Lampung Barat.

15

Tujuan Penelitian Tujuan Umum Menganalisis kinerja Bidan Desa dan hubungannya dengan keberhasilan program perbaikan gizi dan kesehatan di Kabupaten Lampung Barat. Tujuan Khusus 1. Melakukan penilaian terhadap kinerja bidan desa 2. Mengkaji faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja bidan desa 3. Menilai keberhasilan program perbaikan gizi dan kesehatan bidan desa 4. Mengkaji hubungan kinerja bidan desa dengan keberhasilan program perbaikan gizi dan kesehatan. Manfaat Penelitian 1. Memberikan informasi dan masukan bagi pemerintah Kabupaten dalam rangka peningkatan kualitas SDM daerah 2. Memberikan informasi dan masukan bagi Dinas Kesehatan dalam rangka peningkatan kinerja bidan desa 3. Memberikan informasi dan masukan bagi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) untuk perencanaan pembangunan dibidang kesehatan di Kabupaten Lampung Barat 4. Penelitian ini juga diharapakan dapat memberikan informasi kepada masyarakat terhadap kinerja bidan desa dalam melayani masyarakat pada program gizi dan kesehatan.

16

TINJAUAN PUSTAKA Kedudukan, Tugas Pokok, dan Fungsi Bidan Desa Kedudukan Bidan adalah seseorang yang telah mengikuti dan menyelesaikan program pendidikan bidan yang telah diakui pemerintah dan lulus ujian sesuai dengan persyaratan yang berlaku (Depkes RI, 1994). Bidan desa adalah bidan yang ditempatkan dan bertugas di desa, mempunyai wilayah kerja satu sampai dua desa, dan dalam melaksanakan tugas pelayanan medis baik di dalam maupun diluar jam kerja, bidan harus bertanggung jawab kepada kepala puskesmas (Depkes RI,1992). Tugas Pokok Bidan desa mempunyai tugas utama yaitu melaksanakan kegiatan puskesmas di wilayah kerjanya berdasarkan urutan prioritas masalah kesehatan yang dihadapi sesuai dengan wewenang yang dimilikinya. Selain itu, seorang bidan juga dituntut untuk berperan serta dalam menggerakkan dan membina masyarakat desa di wilayah kerjanya agar tumbuh kesadaran untuk berperilaku hidup sehat (Depkes RI, 1989). Menurut Depkes (1994), selain tugas pokok bidan desa juga diberi wewenang dalam melaksanakan tugas antara lain : 1. Memberi penerangan dan penyuluhan tentang: a. Kehamilan b. Persalinan c. Nifas, menyusui dan perawatan buah dada d. Keluarga Berencana (KB) e. Perawatan bayi f. Perawatan anak pra sekolah g. Gizi 2. Melaksanakan pembinaan dan bimbingan tenaga kesehatan lain yang juga bekerja dalam pelayanan kebidanan dengan kemampun yang lebih rendah termasuk para dukun bayi (paraji)

17

3. Melayani kasus ibu untuk: a. Pengawasan kehamilan b. Pertolongan persalinan normal, termasuk persalinan letak sungsang c. Episiotomi dan penjahitan luka perinium tingkat I dan tingkat II d. Perawatan nifas dan menyusui, termasuk pemberian utero tonik e. Pemakaian cara kontrasepsi tertentu, sesuai dengan kebijakan pemerintah. 4. Melayani bayi dan anak pra sekolah untuk: a. Pengawasan pertumbuhan dan perkembangan anak b. Pemberian imunisasi c. Perawatan d. Petunjuk pemberian makan 5. Pemberian obat-obatan: a. Robonsia b. Pertolongan tertentu dalam bidang kebidanan, sepanjang hal itu tidak melalui suntikan, Pelaksanaan tugas dalam kegiatan program gizi, meliputi: 1. Merencanakan kegiatan gizi yang dilaksanakan di desanya bersama kepala puskemas dan Tenaga Gizi Puskesmas. 2. Melaksanakan kegiatan pelatihan gizi. 3. Melaksanakan kegiatan gizi dalam rangka memperbaiki status gizi masyarakat, seperti: a. Penyuluhan Gizi Mayarakat b. Usaha Perbaikan Gizi Keluarga c. Usaha Perbaikan Gizi Institusi d. Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi 4. Melaksanakan koordinasi kegiatan gizi di desa 5. Melaksanakan pemantauan dan penilaian gizi di wilayahnya 6. Melaksanakan bimbingan teknis dan pembinaan kepada kader dan kelompok dasawisma 7. Melaksanakan pencatatan dan pelaporan (Depkes, 1995).

18

Fungsi Bidan Desa di Wilayah Kerjanya Dalam melaksanakan tugas di desa, bidan desa memiliki beberapa fungsi yaitu memberikan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat di rumahrumah, menangani persalinan, pelayanan keluarga berencana, serta menggerakkan dan membina peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan yang sesuai dengan permasalahan kesehatan setempat. Selain itu, bidan desa juga melaksanakan fungsi pembinaan dan bimbingan kader, dukun bayi, posyandu, dan dasa wisma yang ada di wilayah kerjanya serta membina kerjasama lintas program dan lintas sektor termasuk dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Bidan desa juga berperan dalam memberikan rujukan medis maupun rujukan kesehatan ke puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya yang lebih tinggi serta mendeteksi secara dini adanya efek samping dan komplikasi pemakaian kontrasepsi atau kasus penyakit lain serta berusaha mengatasinya sesuai dengan kemampuan (Depkes RI, 1992) Kinerja Bidan Desa Kinerja merupakan perwujudan dari pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam menjalankan tugas yang diberikan (Depkes RI, 1996). Menurut Kusnadi (2003), suatu kinerja yang tidak terukur dan tidak diukur akan cenderung menyimpang keluar dari tujuan yang diharapkan dan akibatnya kinerja menjadi tidak efektif dan efisien, sedangkan menurut Robbin (1999) kinerja merupakan ukuran dari sebuah hasil. Pengukuran kinerja mutlak diperlukan untuk disesuaikan dengan tujuan dan target yang akan dicapai. Melalui pengukuran pula maka akan dapat diperhitungkan tingkat efektivitas dan efisiensinya. Menurut Gibson (1987), ada tiga faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang yaitu faktor individu (kemampuan, keterampilan, latar belakang, demografi), faktor psikologi (persepsi, sikap, kepribadian, belajar, motivasi) dan faktor organisasi yang merupakan faktor eksternal. Faktor Internal Bidan Desa Bidan desa adalah tenaga yang langsung menghadapi masyarakat. Peranan bidan desa ini sangat penting karena harus dapat mengidentifikasi dan menganalisis

19

masalah gizi dan kesehatan yang ada, merencanakan, melaksanakan dan melaporkan kegiatan-kegiatan dalam rangka menanggulangi masalah gizi dan kesehatan Oleh karena itu, bidan desa diharapkan mampu memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat khususnya di bidang gizi dan kesehatan profesionalnya. Pendidikan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989), terdapat penjelasan bahwa pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan. Menurut pengertian yang lebih luas, pendidikan adalah proses seseorang dalam mendapatkan pengetahuan dan pemahaman, atau mengembangkan sikap serta keterampilan (Baihaqi, 2001 dalam Mujiono, 2002). Pendidikan merupakan hal yang dilakukan oleh lembaga pendidikan secara sengaja untuk memperoleh hasil yang berupa pengetahuan, keterampilan dan sikap seseorang (Arikunto, 1988). Pendidikan dalam arti yang sebenarnya adalah suatu proses penyampaian bahan, materi pendidikan kepada sasaran pendidikan (anak didik) guna mencapai perubahan tingkah laku (tujuan). Karena pendidikan itu adalah suatu proses, maka dengan sendirinya mempunyai masukan dan keluaran. Masukan proses pendidikan adalah sasaran pendidikan atau anak didik yang mempunyai berbagai karakteristik, sedangkan keluaran proses pendidikan adalah tenaga/ lulusan yang mempunyai kualifikasi tertentu sesuai dengan tujuan pendidikan institusi yang bersangkutan (Notoatmodjo, 1992). Jenis Pendidikan tenaga bidan di Indonesia dilaksanakan oleh Departemen Kesehatan melalui Politeknik Tenaga Kesehatan (Poltekes). Program Pendidikan Bidan (PPB) dilakukan beberapa jenjang tingkat pendidikan, yaitu PPB A yang dilaksanakan selama satu tahun dan menerima siswa dari lulusan Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) yang disebut Bidan A; PPB B dengan lama masa pendidikan satu tahun tetapi menerima siswa dari lulusan Akademi Perawat (Akper) yang disebut Bidan B dan biasanya sebagai pengajar pada PPB A; serta PPB C dengan masa sesuai dengan kemampuan

20

pendidikan tiga tahun dan menerima siswa dari SMP yang disebut Bidan C. Pada tahun 2000 telah dibuka PPB selama tiga tahun yaitu Akademi Kebidanan yang menerima siswa dari SMA yang lulusannya setara Diploma 3 (Depkes RI, 2004) Pelatihan Pelatihan adalah setiap usaha untuk memperbaiki kinerja pekerja pada suatu pekerjaan tertentu yang sedang menjadi tanggung jawabnya atau suatu pekerjaan yang ada kaitannya dengan pekerjaannya (Gomez, 2001). Menurut Notoatmodjo (1992), pelatihan merupakan bagian dari proses pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan atau keterampilan khusus seseorang atau sekelompok orang. Pelatihan juga merupakan cara untuk membekali tenaga kerja yang tidak mempunyai pendidikan formal sesuai tugasnya, sehingga meningkatkan kualitas kerjanya. Dengan pelatihan diharapkan seseorang dapat lebih mudah melaksanakan tugasnya. Tujuan dilakukannya pelatihan adalah untuk menutup jarak antara kecakapan dan kemampuan pegawai dengan tugas dalam jabatannya serta untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja dalam mencapai sasaran yang telah ditetapkan dalam pekerjaan saat ini (Handoko, 1989). Masa Kerja Lama kerja adalah jangka waktu yang telah dilalui seseorang sejak menekuni pekerjaan. Lama kerja dapat menggambarkan pengalaman seseorang dalam menguasai bidang tugasnya. Pada umumnya, petugas dengan pengalaman kerja yang banyak tidak memerlukan bimbingan dibandingkan dengan petugas yang pengalaman kerjanya sedikit. Menurut Ranupendoyo dan Saud (1990), semakin lama seseorang bekerja pada suatu organisasi maka akan semakin berpengalaman orang tersebut sehingga kecakapan kerjanya semakin baik.

21

Motivasi Motivasi adalah sesuatu hal yang berasal dari internal individu yang menimbulkan dorongan atau semangat untuk bekerja keras (Ilyas, 1999). Menurut Hasibuan (2003), motivasi adalah daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mau bekerja sama, bekerja efektif dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan, sedangkan motivasi menurut Seng (2001) adalah Motivation is the inner force which stir people fro their lethergic attitude into dinamic ection. It is function of stimulting other towards productive performence. From the viewpoint of psicology, motivation is anchored by hed that operate within a person and goals in the environment towart which a person attempts to move. Pada dasarnya, organisasi bukan saja mengharapkan tenaga kerja yang mampu, cakap dan terampil, tetapi yang terpenting mereka mau bekerja giat dan berkeinginan untuk mencapai hasil kerja yang optimal. Kemampuan, kecakapan dan keterampilan tenaga kerja tidak ada artinya bagi organisasi jika mereka tidak mau bekerja keras dengan mempergunakan kemampuan, kecakapan dan keterampilan yang dimilikinya. Motivasi merupakan hal yang penting, karena dengan adanya motivasi diharapkan setiap individu sebagai tenaga kerja mau bekerja keras dan antusias untuk mencapai produktivitas kerja yang tinggi. Status Perkawinan Status perkawinan tidak cukup untuk menarik kesimpulan terhadap produktifitas kerja. Namun berdasarkan penelitian yang konsisten menunjukan bahwa karyawan yang telah menikah lebih sedikit melakukan absensi, mengalami pergantian yang lebih rendah dan lebih puas terhadap pekerjaan yang mereka lakukan dibandingkan karyawan yang belum menikah. Perkawinan menuntut suatu peningkatan tanggung jawab yang membuat sebuah pekerjaan menjadi lebih berharga dan penting (Hasibuan, 2003).

22

Faktor Eksternal Bidan Desa Sarana dan Prasarana Sarana dan prasarana merupakan salah satu alat penunjang bagi seseorang dalam menjalankan tugasnya. Depkes RI (2000) menyatakan bahwa salah satu komponen penting dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan adalah sarana kesehatan yang mampu menunjang berbagai upaya pelayanan kesehatan baik pada tingkat individu maupun institusi. Bidan desa sebagai alat perpanjangan tangan dari Puskesmas memiliki peran yang penting dalam melaksanakan tugas. Untuk dapat melaksanakan tugas dengan baik perlu didukung dengan sarana yang memadai. Sarana fisik dasar yang harus dimiliki Bidan desa antara lain: 1. Ruang pemeriksaan terpisah dari pemakaian keluarga 2. Ukuran dan keadaan ruang periksa yang memadai untuk keperluan pemeriksaan ibu hamil, nifas, serta pelayanan keluarga berencana, ruang untuk pemeriksaan bayi dan anak pra sekolah 3. Tersedia satu tempat tidur pemeriksaan, satu meja kursi, serta satu lemari untuk meletakkan perlengkapan pemeriksaan. Sedangkan persyaratan sarana perlengkapan medis antara lain: tensimeter, stetoskop, timbangan dewasa, timbangan bayi, buku catatan khusus, buku laporan, dll (Depkes RI, 1994). Mitra Kerja Mitra kerja merupakan faktor penting yang harus dibina dalam organisasi sehingga semua tugas dapat dilaksanakan secara efektif oleh semua petugas di dalam organisasi. Mitra kerja adalah orang, organisasi, instansi yang bekerja sama dengan Bidan desa dalam pelaksanaan program perbaikan gizi. Mitra kerja Bidan Desa meliputi lintas program dan lintas sektor yang secara bersama-sama membantu pelaksanaan program perbaikan gizi dan kesehatan.

23

Suatu kerja sama dikatakan berjalan dengan baik, efektif dan efisien apabila target dan tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Menurut Chester I. Barnard (Kusnadi, 2003), kerja sama merupakan suatu sistem yang rumit baik dari aspek fisik, biologis, psikologis, maupun sosial dari dua orang atau lebih yang mengarah kepada suatu target atau tujuan tertentu. Suatu organisasi dalam bentuk apapun tidak akan mencapai tujuan yang diharapkan jika tidak dapat mengembangkan sistem kerja sama yang baik. Kerja sama merupakan kebutuhan mutlak setiap organisasi. Terdapat korelasi positif antara kualitas kerja sama dengan hasil yang dicapai. Pembinaan Pembinaan adalah suatu kegiatan bimbingan dan pengawasan oleh Kepala Puskesmas terhadap pelaksana di tingkat administrasi yang lebih rendah, dalam rangka memantapkan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan (Depkes RI, 1999). Selanjutnya dijelaskan bahwa tujuan pembinaan adalah meningkatkan kualitas pengelolaan program perbaikan gizi dan kesehatan dalam rangka menunjang pencapaian tujuan, sasaran dan target program perbaikan gizi dan kesehatan yang telah ditetapkan. Apabila pembinaan yang dilakukan terencana dan terarah, diharapkan semua kemajuan pelaksanaan program dapat dimonitor. cara-cara untuk mengatasinya. Insentif Insentif adalah perangsang atau pendorong yang diberikan dengan sengaja kepada para petugas agar dalam diri mereka timbul semangat yang lebih besar untuk berprestasi bagi organisasinya. Insentif ada dua macam yaitu insentif positif dan insentif negatif. Insentif positif adalah pimpinan memotivasi bawahan dengan memberikan hadiah kepada mereka yang berprestasi baik. Dengan insentif positif ini semangat kerja bawahan akan meningkat, karena manusia pada umumnya senang menerima yang baik-baik saja. Sedangkan insentif negatif adalah pimpinan Demikian juga halnya dengan kendala yang dihadapi petugas di lapangan dapat dideteksi sehingga dapat dicarikan

24

memotivasi bawahannya dengan memberikan hukuman kepada mereka yang pekerjaannya kurang baik (prestasi rendah). Dengan insentif negatif ini semangat kerja bawahan dalam jangka waktu pendek akan meningkat (Hasibuan, 2003). Insentif dalam penelitian ini berupa penghargaan yang diberikan pimpinan kepada bawahannya/bidan desa. Insentif yang biasa diberikan berupa uang atau Keberhasilan Program Keberhasilan program adalah jumlah sasaran yang berhasil diliput atau dijangkau oleh program perbaikan gizi yang dilaksanakan dihubungkan dengan target yang telah ditetapkan. Target adalah jumlah sasaran yang direncanakan dalam program perbaikan gizi yang ditentukan oleh pengelolah program perbaikan gizi propinsi/ kabupaten kota (Depkes RI, 1999). Keberhasilan program gizi dan kesehatan yang dilakukan oleh bidan desa dapat diketahui dengan melihat pencapaian target tugas pokok dan tugas tambahan yang diberikan kepada bidan desa. Pengukuran dilakukan berdasarkan kegiatan program gizi dan kesehatan yang dilaksanakan di desa. Keberhasilan Program Gizi Keberhasilan program gizi dapat dilihat dari kegiatan yang dilakukan bidan di desanya kemudian di bandingkan dengan target yang telah ditetapkan oleh Dinas Kesehatan. Kegiatan-kegiatan yang dinilai ada yang bersifat rutin ada juga yang tidak, misalnya kegiatan penimbangan ini bersifat rutin setiap satu bulan skali sedangkan yang tidak rutin pelatihan kader dimana kegiatan tersubut tergantung dari kegiatan Puskesmas. Adapun kegiatan yang menjadi tugas bidan desa yang dapat dilihat keberhasilannya meliputi : perencanaan, kegiatan penimbangan, merencanakan kegiatan distribusi obat gizi, ikut dalam kegiatan pelatihan kader gizi, penyuluhan gizi, ikut dalam kegiatan UPGK, ikut dalam kegiatan UPGI, ikut dalam kegiatan SKPG desa, melaksanakan koordinasi kegiatan UPGK, mendukung kegiatan lintas sektor, melaksanakan bimbingan kepada kelompok penimbangan, melaksnakan paket lebaran yang diberikan setiap triwulan atau menjelang lebaran/idul fitri.

25

bimbingan kepada kelompok dasa wisma, melaporkan kegiatan program gizi setiap bulan, dan melaksanakan pemantauan dan penilaian kegiatan penimbangan. Apakah bidan desa telah melaksanakan kegitan tersebut serta ikut merencanakan kegitan bersama instansi/dinas terkait guna mencapai keberhasilan progran yang maksimal. Keberhasilan Program Kesehatan Untuk keberhasilan program kesehatan, bidan desa melakukan kegiatan pelayanan kesehatan yang dapat di ukur keberhasilannya meliputi : melaksanakan pemeriksaan berkala pada ibu hamil, melakukan pertolongan persalinan, melakukan deteksi dini pada ibu hamil resiko dini, melakukan perawatan nifas, melakukan pembinaan terhadap dukun bayi, melakukan otopsi verbal, melakukan rujukan ibu hamil resti, dan melakukan pendampingan persalinan non nakes. Sebagai indikator keberhasilan, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota telah membuat batasan keberhasilan/cakupan dengan menetapkan target sesuai yang sesuai dengan keadan wilayah, jumlah penduduk, dan kelompok sasaran (Purwanto, 2002).

26

KERANGKA PEMIKIRAN Keberhasilan program perbaikan gizi dan kesehatan yang di lakukan bidan desa dapat dilihat dari kinerja bidan desa tersebut. Kinerja bidan desa yang baik diharapkan keberhasilan program kesehatan dan gizi akan baik pula. Untuk menilai kinerja bidan dapat dilihat dari berbagai aspek penilaian, aspek penilaian kinerja program gizi meliputi merencanakan kegiatan penimbangan selama satu tahun , merencanakan kegiatan distribusi obat gizi, ikut dalam kegiatan pelatihan kader gizi/posyandu, penyuluhan gizi di masyarakat untuk penimbangan, penyuluhan gizi di masyarakat tentang program gizi, ikut dalam kegiatan UPGK untuk penimbangan, ikut dalam kegiatan UPGI, ikut dalam kegiatan SKPG di desa, melaksanakan koordinasi kegiatan UPGK/Posyandu, mendukung kegiatan lintas program dalam pelaksanaan program gizi, mendukung kegiatan lintas sektor dalam pelaksanaan program gizi, melaksanakan bimbingan kepada kelompok penimbangan/Posyandu, melaksanakan bimbingan kepada kelompok dasa wisma, melaporkan kegiatan program gizi setiap bulan ke Puskesmas, melaksanakan pemantauan dan penilaian kegiatan penimbangan, sedangkan pada aspek program kesehatan penilaian kinerja meliputi melaksanakan pemeriksaan berkala pada ibu hamil, melakukan pertolongan persalinan, melakukan deteksi dini pada ibu hamil resiko tinggi, melakukan perawatan nifas, melakukan pembinaan terhadap dukun bayi, melakukan otopsi verbal maternal-perinatal, melakukan rujukan ibu hamil resiko tinggi, mendampingi persalinan non nakes. Kinerja bidan desa ini sangat dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi umur, masa kerja, pendidikan, pelatihan, asal daerah, status perkawinan dan motivasi, sedangkan faktor eksternal meliputi; arana kesehatan, sarana gizi, insentif, pembinaan dan mitra kerja. Dengan didukung faktor internal dan faktor ekternal yang baik dan memadai diharapkan dapat menunjang kinerja bidan desa yang baik, sehingga nantinya diharapkan kinerja yang baik dan terarah dapat mempercapat tercapainya keberhasilan program gizi dan kesehatan. Sebagai ilustrasi dapat digambarkan kerangka pemikiran dalam penelitian ini secara skematis pada Gambar 1.

27

KERANGKA PEMIKIRAN

Faktor Internal - Umur - Masa Kerja - Pendidikan - Pelatihan - Asal Daerah - Status Perkawinan - Motivasi

Faktor Eksternal - Sarana dan Prasana - Insentif - Pembinaan - Mitra Kerja

KINERJA BIDAN DESA - Program Perbaikan Gizi - Program Kesehatan

Program Gizi

Program Kesehatan

Keterangan: : Variabel yang diteliti Gambar 1. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kinerja Bidan Desa Terhadap Keberhasilan Program Perbaikan Gizi dan Kesehatan

28

METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah crossectional study, Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja yaitu di Kabupaten Lampung Barat, adapun yang menjadi pertimbangan dipilihnya Kabupaten Lampung Barat yaitu; belum adanya penelitian terhadap bidan desa dan masih minimnya jumlah tenaga gizi dibandingkan bidan desa selain itu juga peneliti berasal dari Kabupaten Lampung Barat. Waktu penelitian dilakukan pada bulan April sampai dengan bulan Mei 2005. Populasi dan Contoh Populasi dalam penelitian ini adalah Bidan Desa yang ditugaskan dan tinggal di desa yang ada di wilayah Kabupaten Lampung Barat pada 2004 yang berjumlah 92 orang, jumlah ditentukan dengan menggunakan estimasi yang biasa digunakan dalam penelitian kesehatan (Ariawan, 1998), yaitu: n= Z (21 / 2 ) P(1 P) N d 2 ( N 1) + Z (2 / 2) P (1 P) 1 = Jumlah populasi = Jumlah sampel = Nilai Z pada tingkat kepercayaan 95 % (1,96) = Presisi (0,1) = Proporsi (0,5)

Keterangan : N n Z (1 / 2 ) d P

Dengan demikian dapat dihitung jumlah Contoh minimal, yaitu : (1,96) 2 05 (1 0,5) 92 n= (0,1) 2 (92 1) + (1,96) 2 .0,5 (1 0,5) 88,3568 n= = 47,23 48 1,8704 Dari rumus di atas didapatkan jumlah contoh dalam penelitian ini adalah 48 orang bidan desa. Teknik pengambilan contoh dilakukan secara acak sederhana (simple random sampling) dimana setiap unit penelitian atau contoh dari populasi

29

mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai contoh (Singarimbun, 1995). Jenis dan Cara Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer meliputi data faktor internal (masa kerja, pendidikan, asal daerah, status perkawinan, dan motivasi), data faktor eksternal (sarana dan prasarana, insentif, Pembinaan, pelatihan, dan mitra kerja) dan data kinerja Bidan Desa (merencanakan kegiatan penimbangan, merencanakan kegiatan distribusi obat gizi, ikut dalam kegiatan pelatihan kader gizi, penyuluhan gizi, ikut dalam kegiatan UPGK, ikut dalam kegiatan UPGI, ikut dalam kegiatan SKPG desa, melaksanakan koordinasi kegiatan UPGK, mendukung kegiatan lintas sektor, melaksanakan bimbingan kepada kelompok penimbangan, melaksanakan bimbingan kepada kelompok dasa wisma, melaporkan kegiatan program gizi setiap bulan, melaksanakan pemantauan dan penilaian kegiatan penimbangan, melaksanakan pemeriksaan berkala pada ibu hamil, melakukan pertolongan persalinan, melakukan deteksi dini pada ibu hamil resiko dini, melakukan perawatan nifas, melakukan pembinaan terhadap dukun bayi, melakukan otopsi verbal, melakukan rujukan ibu hamil resti, dan melakukan pendampingan persalinan non nakes). Sedangkan data sekunder meliputi data karakteristik wilayah dan data cakupan keberhasilan program gizi dan kesehatan. Pengolahan dan Analisis Data Data yang diperoleh dari penelitian ini diolah dan dianalisis secara deskriptif dan statistik inferensial. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan komputer program SPSS. Data faktor internal (umur, pendidikan, pelatihan, masa kerja, pelatihan, motivasi, asal daerah, status perkawinan) dan faktor eksternal (sarana kesehatan, sarana gizi, insentif, pembinaan, mitra kerja) dianalisis dengan menggunakan tabulasi langsung atau distribusi frekuensi. Untuk mengetahui hubungan antara faktor internal dengan kinerja bidan desa dan hubungan faktor eksternal dengan kinerja serta hubungan kinerja bidan desa dengan keberhasilan progran perbaikan gizi dan kesehatan dianalisis menggunakan tabulasi silang dan uji

30

korelasi Rangk-Spearman. Pengkategorian faktor internal dan eksternal dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini. Tabel 1. Kategori Variabel Faktor Internal dan Faktor Eksternal No Variabel 1. Umur 2. Masa Kerja 3. Pendidikan 4. Pelatihan 5. Pengetahuan 6. Motivasi 7. Sarana 8. Beban Kerja 9. Mitra Kerja 10. Pembinaan 11. Insentif 12. Keberhasilan progran gizi 13. Keberhasilan progran kesehatan 14. Kinerja Bidan Desa Pertanyaan Jumlah 1 Jumlah 1 Jumlah 1 Jumlah 1 Jumlah 15 Skor 0 - 15 Jumlah 5 Skor 0 - 25 Jumlah 40 Skor 0 - 40 Jumlah 1 Jumlah 11 Skor 0 11 Jumlah 5 Skor 0 - 5 Jumlah 5 Skor 0 - 5 Jumlah 13 Skor 0 - 13 Jumlah 9 Skor 0 - 9 Jumlah 23 Skor 0 - 23 Kategori <30 tahun >30 tahun < 5 tahun 5-10 tahun > 10 tahun PPB A, PPB B, PPB C dan AKBID Pernah Tidak Pernah Baik Sedang Kurang Baik Sedang Kurang Baik Sedang Kurang Tunggal Ganda Baik Sedang Kurang Baik Sedang Kurang Memadai Tidak Memadai Baik Sedang Kurang Baik Sedang Kurang Baik Sedang Kurang Kriteria

1 0 > 80 % 50 80 % <50 % >80 % 50 80 % < 50 % >80 % 50 80 % < 50 % Sebagai Bidan Desa Bidan + Program lain > 80 % 50 80 % < 50 % > 80 % 50 80 % < 50 % Skor > rata-rata contoh Skor rata-rata contoh > 80 % 50 80 % < 50 % > 80 % 50 80 % < 50 % > 80 % 50 80 % < 50 %

31

Definisi Operasional Bidan Desa adalah Bidan Pegawai Tidak Tetap (PTT) yang ditempatkan dan bertugas di desa mempunyai wilayah kerja satu sampai dua desa dan dalam melaksanakan tugas pelayanan medik baik di dalam maupun diluar jam kerjanya bidan harus tetap bertanggung jawab kepada kepala puskesmas. Cakupan Hasil Program adalah sasaran yang berhasil diliput/ dicapai oleh program perbaikan gizi yang dilakukan oleh bidan desa di wilayah kerjanya dibandingkan dengan target. Insentif adalah pemberian imbalan baik berupa uang atau bentuk lain yang diterima oleh bidan desa selain gaji bulanan yang diberikan oleh atasan/kepala Puskesmas yang berkaitan dengan tugas pokok. Kinerja Bidan Desa adalah kemampuan bidan desa melaksanakan tugas dalam kegiatan program gizi dan kesehatan. Keberhasilan Program Gizi adalah tingkat pencapaian target program perbaikan gizi selama tahun 2004 dalam persentase (Vitamin A, tablet besi, kapsul yodium, pengukuran LILA, dan kegiatan penimbangan K/S, D/S, N/S, N/D) Keberhasilan Program kesehatan adalah tingkat pencapaian program kesehatan dasar selama tahun 2004 (pemeriksaan berkala pada ibu hamil yaitu cakupan K1 dan K4 pada ibu hamil, melakukan pertolongan persalinan termasuk pengenalan dini kehamilan dan resiko tinggi serta rujukan meliputi:a. Cakupan persalian nakes, b. Cakupan deteksi dini bumil resti, c. Cakupan rujukan bumil resti, melakukan perawatan nifas meliputi:a. Cakupan perawatan nifas, b. Cakupan Vit.A Motivasi adalah suatu dorongan baik internal maupun eksternal bidan desa yang mendorong bidan desa memilih profesi bidan. Masa Kerja adalah lama waktu kerja yang dihitung dalam satuan tahunsejak saat mulai bekerja/ SK pengangkatan. Mitra Kerja adalah orang, organisasi, instansi yang bekerja sama dengan bidan desa dalam pelaksanaan program perbaikan gizi dan kesehatan.

32

Pembinaan adalah kunjungan yang dilakukan oleh Kepala Puskesmas/ Dinas Kesehatan Kabupaten/ petugas gizi tingkat Kabupaten/ Kota dalam rangka pembinaan secara teknis. Status Perkawinan adalah status contoh apakah sudah menikah atau belum menikah. Sarana/Prasarana adalah semua sarana/fasilitas fisik yang harus digunakan untuk pelaksanaan program gizi dan kesehatan Pendidikan adalah ijazah terakhir yang dimiliki oleh bidan desa yang diakui oleh pemerintah sebagai syarat pendidikan bidan. Pelatihan adalah jenis pendidikan non formal untuk bidan desa yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota maupun tingkat Propinsi. Target adalah jumlah sasaran yang direncanakan dan terjangkau dalam program perbaikan gizi dan kesehatan.

33

HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kabupaten Lampung Barat memiliki luas 4.950,4 km2 atau 14,0% dari luas wilayah Provinsi Lampung. Sebelah barat kabupaten ini berbatasan dengan Samudera India, sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Ogan Komering Ulu (Sumatera Selatan) dan Kabupaten Bengkulu Selatan (Peta Kabupaten Lampung Barat disajikan pada lampiran 3) Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Tanggamus dan Selat sunda, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Lampung Utara dan Lampung Tengah. Secara administrasi, Kabupaten Lampung barat dibentuk berdasarkan UU No. 6 Tahun 1991, tanggal 16 Juli 1991 dan diundangkan tanggal 16 Agustus 1991 yang merupakan pemekaran wilayah Kabupaten Lampung Utara. Jumlah penduduk Kabupaten Lampung Barat tahun 2001 sebanyak 371.787 jiwa, meningkat pada tahun 2002 menjadi 377.018 jiwa dan pada tahun 2003 menjadi 383.737 jiwa. Berdasarkan profil kesehatan tahun 2003, jumlah penduduk berusia 10 tahun ke atas yang pernah mendapatkan pendidikan sebanyak 79,5%. Rinciannya adalah 30,1% tidak punya ijazah, 44,8% SD/MI sederajat, 16,2% SLTP/MTs/Kejuruan, 7,3% SMU/MA sederajat, 1,2% SA Kejuruan, 0,1% Diploma I/II , 0,2% Diploma III/sarjana muda, 0,1% diploma IV/S1 dan 0,1% S2/S3. Gambaran sarana kesehatan tahun 2003, puskesmas induk berjumlah 17 buah dengan 58 puskesmas pembantu. Puskesmas Krui Kecamatan Pesisir Tengah merupakan puskesmas dengan jumlah desa binaan terbanyak mencapai 20 desa. Puskesmas Bungin Kecamatan Sumber Jaya memiliki jumlah desa terkecil yaitu 5 desa. Persentase KK miskin tahun 2001 adalah 16,9% (24.866 KK), tahun 2003 jumlah keluarga miskin mencapai 29.191 KK (29,7%). Jumlah tenaga kesehatan di Kabupaten Lampung Barat sebanyak 367 orang, dengan jumlah terbanyak yaitu 37.6% tenaga perawat, 32.9% tenaga Bidan, 3.9% dokter umum, sementara persentasi tenaga terkecil 0.5% yaitu pasca sarjana dan dokter spesialis, rincian tenaga kesehatan dapat dilihat pada (Tabel 2).

34

Tabel 2. Sebaran Tenega Kesehatan menurut Jenis Ketenagaan di Kabupaten Lampung Barat
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tenaga Kesehatan Orang Pasca sarjana (S2) no medis Dokter spesialis Dokter umum Dokter gigi Sarjana Kesehatan Masyarakat (S1) Apoteker Perawat Bidan Gizi Sanitasi Jumlah 2 2 29 6 14 10 138 121 23 22 367 Jumlah % 0.5 0.5 7.9 1.6 3.8 2.7 37.6 32.9 6.6 6.0 100

Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten Lampung Barat Tahun 2003

Lebih dari separuh penduduk Kabupaten Lampung Barat tergolong pada usia kerja (76,7%). Namun demikian, dari total penduduk usia produktif hanya 44,7% yang masuk dalam kelompok angkatan kerja yang terdiri dari 4,8% bekerja, sisanya sedang mencari kerja. Berdasarkan lapangan usaha, sektor pertanian adalah sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Selanjutnya diikuti oleh sektor konstruksi, lembaga keuangan, dan perdagangan (Tabel 3). Tabel 3. Jumlah Angkatan Kerja Menurut Lapangan Usaha Kabupaten Lampung Barat No 1 2 3 4 5 6 7 Pertanian Konstruksi Bank, lembaga keuangan lainnya Perdagangan, restoran dan hotel Industri pengolahan Listrik, gas dan air minum Pertambangan/penggalian Lapangan Usaha % 87,2 4,7 4,2 1,7 1,3 0,8 0,1

Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten Lampung Barat Tahun 2003

35

Gambaran Umum Bidan Desa Di Indonesia bidan yang bertugas dapat dibedakan menjadi dua yaitu Bidan Pegawai Tidak Tetap (PTT) yang biasanya ditugaskan di desa-desa dan Bidan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bertugas di Puskesmas atau Rumah Sakit. Di Kabupaten Lampung Barat terdapat 121 orang tenaga bidan yang terdiri dari bidan desa PTT sebanyak 92 orang dan 29 orang bidan PNS. Sembilan puluh dua bidan desa ini ditempatkan di desa-desa diwiliyah kerja secara merata dari 170 desa yang ada di Kabupaten Lampung Barat. Penempatan bidan desa di Kabupaten Lampung Barat telah dimulai sejak tahun 1994 yang dimulai dari bidan PTT angkatan I, II, III dan terakhir angkatan IV dari berbagai Program Pendidikan Bidan (PPB) baik dari Propinsi Lampung maupun diluar Propinsi Lampung. Bidan desa PTT adalah bidan desa yang dikontrak oleh Pemerintah melalui Departemen Kesehatan selama 3 (tiga) tahun dan setiap habis kontrak dapat diperpanjang kembali untuk 3 (tiga) tahun kemudian, selama masa kontrak mereka mendapatkan gaji dan beberapa fasilitas yang diberikan. Bidan desa mendapatkan gaji sebesar Rp 450.000/bulan dan tunjangan daerah terpencil sebesar Rp.200.000/bulan, dan bidan desa juga mendapat insentif terhadap pelayanan jasa yang mereka berikan misalnya memberikan pertolongan persalinan berkisar antara Rp 150.000,- sampai dengan Rp 200.000,- , sedangkan untuk fasilitas Pemerintah daerah menyediakan Polindes (Pondok Bersalin Desa), kendaraan/sepeda dan alat kesehatan berupa Bidan Kit. Tidak semua bidan desa mendapatkan fasilitas dari pemerintah/Departemen Kesehatan berupa Polindes, kendaraan sepeda dan Bidan Kit. Bidan desa yang mendapat inventaris polindes dan kendaraan sepeda diutamakan mereka yang bertugas di desa terpencil atau juah dari pelayanan Puskesmas atau Rumah Sakit, sedangkan bidan kid semua bidan desa memperolehnya. Bidan desa yang tidak mendapat polindes biasanya mereka tinggal di rumah penduduk dengan cara kontrak atau tinggal bersama penduduk dalam satu rumah (kost).

36

Karakteristik Contoh Faktor Internal Umur. Kisaran umur contoh antara 23 sampai dengan 32 tahun dengan modus 28 tahun. Berdasarkan kategori umur, sebagian besar 79,6% berada pada kategori umur <30 tahun atau dewasa muda. Usia yang masih muda diharapkan membuat contoh memiliki kinerja yang bagus dan memiliki semangat untuk bekerja serta berprestasi. menyelesaikan Bila ditinjau dari segi umur, berarti contoh belum lama kebidanannya sehingga diharapkan bidan dapat pendidikan

melaksanakan segala tugas dan tanggung jawab yang pernah dipelajari di bangku pendidikan. Kategori umur contoh dibagi menjadi dua yaitu kategori <30 tahun dan 30 ta hun. L e je snyada t diliha pa T a l 4. bih la pa t da be Tabel 4. Sebaran Contoh berdasarkan Kategori Umur No 1 2 <30 30 Umur (Tahun) Total Rata-rata Modus Minimal Maksimal Masa kerja. n 39 9 48 % 79,6 18,4 100,0

28,2 28 23 32

Masa kerja menggambarkan pengalaman seseorang dalam

menguasai bidang tugasnya. Pada umumnya petugas dengan pengalaman kerja yang banyak tidak memerlukan banyak bimbingan dibandingkan dengan petugas yang pengalaman kerjanya sedikit. Masa kerja contoh berkisar dari 3 tahun sampai dengan 11 tahun dengan modus 9 tahun. Pada Tabel 5 terlihat bahwa umumnya (87,5%) contoh mempunyai masa kerja pada kategori >5 tahun. Dengan demikian, karena sebagian besar contoh mempunyai masa kerja yang >5 tahun diharapkan contoh memiliki pengalaman yang memadai sehingga pelaksanaan program kesehatan dan gizi berlangsung optimal. Hal ini sejalan dengan Ranupendoyo dan Saud (1990), yang menyatakan semakin

37

lama seseorang bekerja pada suatu organisasi, maka ia akan semakin berpengalaman sehingga memiliki kecakapan kerja yang semakin baik. Berdasarkan kategori masa kerja, sebaran contoh disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Sebaran Contoh berdasarkan Masa Kerja Masa Kerja (Tahun) n <5 2 5 10 42 >10 4 Total 48 Rata-rata 8,4 Modus 9,0 Minimal 3,0 Maksimal 11,0

No 1 2 3

% 4,2 87,5 8,3 100,0

Pendidikan. Tingkat pendidikan dapat mempengaruhi kinerja seseorang. Melalui pendidikan yang profesional diharapkan dapat terbentuknya tenaga kerja yang siap latih. Contoh merupakan bidan yang berasal dari berbagai institusi pendidikan kebidanan baik pendidikan bidan yang ada di Provinsi Lampung maupun dari luar provinsi. Pada tabel (Tabel 6) terlihat bahwa lebih dari setengah contoh (59,2%) menempuh pendidikan bidan pada Program Pendidikan Bidan A (PPB A). PPB A merupakan penyelenggaraan pendidikan bidan setelah responden menyelesaikan Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) kemudian melanjutkan dengan program bidan selama 1 tahun. Dengan keadaan ini diharapkan contoh memiliki cukup pengetahuan tentang program kesehatan dan gizi karena contoh memiliki pendidikan setingkat Diploma 1. PPB C adalah bidan yang menempuh pendidikan selama 3 tahun setelah tamat SMP atau setara SMA. Tabel 6. Sebaran Contoh berdasarkan Pendidikan No 1 2 PPB A PPB C Pendidikan Total N 29 19 48 % 59,2 38,8 100,0

38

Pelatihan.

Pelatihan adalah pendidikan non formal yang pernah diikuti

bidan selama melaksanakan tugas. Dengan mengikuti pelatihan diharapkan dapat meningkatkan keterampilan bidan desa dalam melaksanakan pekerjaannya. Berdasarkan pelatihan yang pernah diterima maka seluruh contoh menyatakan bahwa mereka semuanya (100,0%) pernah mengikuti pelatihan. Pelatihan yang pernah mereka ikuti antara lain pelatihan mengenai bimbingan konseling dan teknis fungsional bidan desa. Tujuan dilakukannya pelatihan adalah untuk mengurangi jarak antara kecakapan dan kemampuan bidan dengan tugas dalam jabatannya serta untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja dalam mencapai sasaran yang telah ditetapkan (Handoko, 1989). Oleh karena semua contoh pernah mengikuti pelatihan maka diharapkan kemampuan mereka dalam mencapai target pekerjaan yang telah ditetapkan semakin baik. Asal daerah. Contoh dibagi dua yaitu contoh yang asli berasal dari Lampung Barat dan contoh yang merupakan pendatang baik dari dalam Provinsi Lampung maupun di luar propinsi (Tabel 7). Lebih dari setengah (60,4%) contoh merupakan pendatang baik pendatang yang masih berasal dari Provinsi Lampung (39,6%) maupun dari luar Provinsi Lampung (20,8%). Akan tetapi, hal tersebut seharusnya bukanlah merupakan suatu halangan. Walaupun merupakan pendatang, contoh telah memiliki dasar sebagai seorang bidan sehingga perbedaan daerah tempat bertugas seharusnya tidak menjadi suatu rintangan. Hal ini terbukti dengan penerimaan contoh terhadap penempatan mereka di Lampung Barat. Tabel 7. Sebaran Contoh berdasarkan Asal Daerah No 1 2 Asal Daerah Asli (Kab.Lampung Barat) Pendatang - Dalam Provinsi Lampung - Luar Provinsi Lampung Total n 19 19 10 48 % 39,6 39,6 20,8 100,0

39

Status Perkawinan. Seluruh contoh (100%) berstatus kawin. Walaupun berstatus kawin, contoh tetap dituntut untuk melaksanakan tugas dengan baik dan lebih mementingkan kepentingan umum daripada kepentingannya sendiri. Motivasi. Pertanyaan yang diajukan merupakan pertanyaan motivasi menjadi bidan desa bukan motivasi setelah menjadi bidan, kepada contoh diberikan dua jenis pertanyaan meliputi satu pertanyaan terbuka dan lima pertanyaan dengan jawaban skala. Pertanyaan terbuka berupa apa yang menjadi metivasi menjadi bidan, pertanyaan tersebut, contoh yang menjawab ingin cepat kerja sebesar 45,8%, sesuai cita-cita (16,6%), anjuran orang tua (14,6), ingin membantu pemerintah (14,6) dan yang menjawab ingin membantu orang tua sebesar 8,4%.(Tabel 8). Tabel 8. Sebaran Contoh berdasarkan Motivasi Menjadi Bidan Desa No 1 2 3 4 5 Ingin cepat kerja Sesuai cita-cita Anjuran orang tua Ingin membantu pemerintah menurunkan AKI dan AKB Tidak mau merepotkan/Membantu orang tua Jumlah Jawaban n 22 8 7 7 4 48 % 45,8 16,6 14,6 14,6 8,4 100

Dari hasil penelitian ini juga diperoleh gambaran bahwa contoh merasa setuju dalam melaksanakan tugas gizi dan kesehatan sebesar 27% dan contoh yang menjawab sangat setuju dalam melaksanakan tugas sebesar 73%. Jika dilihat besarnya persentase bidan desa yang menjawab sangat setuju (73%) dalam melaksanakan tugas hal ini dimungkinkan karena mereka bekerja sesuai dengan keinginan yaitu ingin cepat kerja (45,8%) (tabel 8) sedangkan 83,3% contoh setuju menjadi penanggung jawab program gizi dan 16,7% contoh tidak setuju. Lebih dari setengah contoh 62,5% menyatakan suka bekerja dalam tim dan hanya 37,5% contoh yang tidak suka bekerja dalam tim. Masih kecilnya persentase bidan desa yang

40

menjawab suka bekerja dalam tim (62,5%) dikarenakan mereka kurang memahami pentingnya kerjasama dalam bekerja dan juga mereka kurang memahami buku panduan bidan yang telah mereka dapat sehingga dalam melaksanakan tugas mereka lebih suka sendiri-sendiri. Untuk pelaksanaan tugas semua contoh menyatakan segera (100%) dan Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Sebaran Contoh berdasarkan Jawaban terhadap Motivasi
No 1 2 3 4 5 Pertanyaan 1 Apakah Saudara bersemangat dalam melaksanakan tugas program gizi dan kesehatan? Apakah Saudara setuju bila program perbaikan gizi menjadi tanggung jawab Saudara? Apakah bila ada tugas, Saudara segera melaksanakannya? Apakah Saudara selalu melaksanakan program gizi? Apakah Saudara suka bekerja dalam tim? 0 0 0 0 0 % 0 0 0 0 0 2 0 8 0 0 18 % 0 16,7 0 0 37,5 Jawaban 3 13 40 48 39 30 % 27 83,3 100 81,2 62,5 4 35 0 0 9 0 % 73 0 0 18,8 0 5 0 0 0 0 0 % 0 0 0 0 0

Berdasarkan kategori motivasi, sebagian besar contoh 66,7% mempunyai motivasi dengan kategori baik, 33,3% contoh mempunyai kategori kurang dan tidak satupun contoh dengan kategori sedang. Hal ini cukup beralasan karena jika dilihat motivasi contoh menjadi bidan adalah ingin cepat kerja, sehingga dengan motivasi yang baik ini diharapkan dapat menunjang kinerja yang lebih baik pula. (Tabel 10). Tabel 10. Sebaran Contoh berdasarkan Motivasi No 1 2 3 Baik Sedang Kurang Motivasi n 32 0 16 48 % 66,7 0 33,3 100,0

Total

41

Faktor Eksternal Sarana dan prasarana. Sarana dan prasarana merupakan salah satu alat penunjang bagi seseorang dalam menjalankan tugasnya. Tanpa sarana dan prasarana yang baik maka bidan tidak bisa bekerja secara maksimal. Kelengkapan sarana dan prasarana diharapkan dapat meningkatkan kinerja bidan desa, sehingga hasil cakupan program-program kesehatan dapat menjadi lebih baik. Dari hasil penelitian sarana kesehatan diperoleh gambaran bahwa bidan desa yang memiliki Polindes hanaya 10,4% hal ini dikarenakan tidak semua bidan mendapat fasilitas Polindes dari pemerintah daerah hanya daerah terpencil dan jauh dari fasilitas kesehatan seperti Puskesmas dan Rumah Sakit. Bidan desa dengan ruang periksa (20,8%) ini diduga karena kebanyakan bidan desa tinggal dirumah penduduk atau kontrak jadi ruang periksa hanya disekat saja dengan mengunakan kain atau papan triplek. Untuk kendaraan dinas, contoh yang memiliki sebanyak 14,6%. Hal ini hampir sama dengan Polindes karena tidak semua bidan mendapat kendaraan dinas berupa sepeda. Tetapi ketidaklengkapan sarana kesehatan ini bukan merupankan kendala untuk melaksanakan tugas, karena jika dilihat persyaratan sarana kesehatan dasar yang harus dimiliki bidan telah memenuhi syarat. Untuk sarana gizi, contoh yang tidak memiliki kapsul yodium sebesar 10,4%. Hal ini disebabkan karena tidak semua daerah tempat bidan bertugas melaksanakan program yodium atau kegiatan distribusi kapsul yodium sering dilakukan oleh TPG Puskesmas. Sedangkan untuk pengukur tinggi badan sebesar 75,0%, hal ini diduga bidan beranggapan pengukuran tinggi badan tidak dilakukan setiap hari. Apabila diperlukan mereka dapat meminjam di Puskesmas atau pada TPG Puskesmas (Tabel 11).

42

Tabel 11. Gambaran Kelengkapan Sarana Kesehatan dan Gizi pada Bidan Desa No
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Kelengkapan Sarana
Sarana Kesehatan Polindes Ruang periksa Kendaraan dinas Tensimeter Stetoskop biasa Stetoskop bidan Timbangan bayi Timbangan dewasa Bak sarung tangan Sarung tangan steril Bak kapas lisol kecil Tensimeter air raksa Bak kapas lisol besar Waskom Piala ginjal Termometer badan Spekulum vagina Tensimeter stril Reagen obat cair Spoit 5ml Jarum suntik Obat suntik Obat suntik darurat Buku catatan kasus Kartu pasien Buku laporan Bidan kit IUD kit Sarana Gizi KMS Balita KMS Bumil Vitamin A bayi Vitamin A balita Tablet tambah darah Kapsul iodium Balok SKDN Meja/kursi Pengukur tinggi badan Pengukur lila

n
5 10 7 48 48 45 35 30 48 48 25 20 23 48 48 48 48 35 24 48 48 48 48 48 48 48 48 45 48 48 48 48 48 5 48 48 36 48

Ya

%
10,4 20,8 14,6 100,0 100,0 93,8 72,9 62,5 100,0 100,0 52,1 41,6 47,9 100,0 100,0 100,0 100,0 72,9 50,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 93,8 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 10,4 100,0 100,0 75,0 100,0

n
43 38 41 0 0 3 13 18 0 0 23 28 25 0 0 0 0 13 24 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 43 0 0 12 0

Tidak

%
89,6 79,2 85,4 0 0 6,2 27,1 37,5 0 0 48,8 58,4 52,1 0 0 0 0 27,1 50,0 0 0 0 0 0 0 0 0 6,2 0 0 0 0 0 89,6 0 27,1 25,0 0

43

Dari beberapa aspek sarana dan prasarana kesehatan diperoleh skor berkisar 13 sampai 28 dengan rata-rata 20,3 dan standar deviasi 3,4. Untuk sarana gizi diperoleh skor berkisar 8 sampai 10 dengan rata-rata 10,7 dan standar deviasi 1,2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelengkapan sarana yang berkaitan dengan program kesehatan pada kategori sedang (61,0%), kategori baik (36,6%) dan kategori kurang (2,4%) (Tabel 12). Sarana kesehatan yang umumnya dimiliki para bidan adalah tensimeter, stetoskop, timbangan bayi, timbangan dewasa, waskom, piala ginjal, sarung tangan steril, termometer badan, jarum suntik, kartu pasien dan buku laporan. Dalam hal kelengkapan sarana gizi, diperoleh bahwa bidan yang memiliki sarana gizi baik sebesar 95,8%, sarana giz sedang hanya 4,2% dan tidak ada bidan desa yang memiliki kategori kurang (Tabel 12). Dengan adanya sarana gizi yang memadai ini diharapkan bidan desa dapat bekerja dengan baik dalam membantu keberhasilan program gizi di daerahnya terutama di Puskesmas tempat dia bekerja, sedangkan sarana gizi yang umum dimiliki adalah Kartu Menuju Sehat (KMS) Balita, KMS ibu hamil, vitamin A bayi, vitamin A balita, tablet tambah darah, balok SKDN, dan pengukur Lingkar Lengan Atas (LILA). Tabel 12. Sebaran Contoh berdasarkan Kelengkapan Sarana Kesehatan dan Gizi No 1 2 3 1 2 3 Sarana kesehatan Lengkap Sedang Tidak Lengkap Total Sarana Gizi Lengkap Sedang Tidak Lengkap Total n 15 25 1 48 46 2 0 48 % 36,6 61,0 2,4 100,0 95,8 4,2 0 100,0

Insentif. Hasil wawancara menunjukkan bahwa 50% responden menyatakan bahwa insentif yang diterima sudah memadai, sedangkan 50% responden menyatakan bahwa insentif yang diberikan tidak memadai. Contoh yang menyatakan insentif

44

memadai karena mendapat tugas tambahan dari Puskesmas sehingga dengan tugas tambahan tersebut contoh sering mendapat insentif misalnya pada saat Idul Fitri, tugas piket pada Puskesmas Rawat Inap. Sedangkan contoh yang menyatakan penerimaan insentif tidak memadai diduga disebabkan contoh tidak mendapat tugas tambahan dari Puskesmas. Biasanya insentif rutin saja misalnya setiap Idul Fitri. Hasil insentif bidan desa ini tidak termasuk penghasilan hasil praktek bidan misalnya biaya menolong persalinan atau memberikan pelayanan pengobatan. Berdasarkan pemberian insentif, distribusi contoh disajikan pada Tabel 13. Tabel 13. Sebaran Contoh berdasarkan Insentif No 1 2 Memadai Tidak Memadai Total Pembinaan. Insentif n 24 24 48 % 50,0 50,0 100,0

Dari hasil penelitian diperoleh gambaran bahwa masih

sedikitnya kepala puskesmas yang memberikan petunjuk dalam melaksanakan tugas kepada bidan desa (58,3%) begitu juga dengan jadwal kunjungan/ Pembinaan (41,7%) (Tabel 14). Hal ini cukup memprihatinkan sebab bidan desa yang bekerja sebagai perpanjangan tangan dari puskesmas perlu mendapat perhatian/ pantauan sehingga kinerja yang terbentuk diharapkan dapat lebih baik. Namun kenyataan yang dihadapi adalah kepala puskesmas sendiri kurang perhatian terhadap program yang dikerjakan bawahannya.

45

Tabel 14. Gambaran Pembinaan Kepala Puskesmas No


1 2 3 4 5

Pertanyaan Pembinaan
Apakah kepala puskesmas melakukan kunjungan ke wilayah saudara secara berkala? Apa ada jadwal kunjungan? Apakah kepala puskesmas selalu mengecek hasil kerja Saudara? Apakah kepala puskesmas selalu memberi petunjuk dalam melaksanakan tugas yang dberikan? Apakah kepala puskesmas memberikan perhatian terhadap keberhasilan program gizi dan kesehatan di wilayah Saudara?

n 30 20 35 28 40

Ya

% 62,5 41,7 72,9 58,3 83,3

18 28 13 20 8

Tidak n %

31,5 58,3 27,1 41,7 16,7

Beberapa aspek Pembinaan yang ditanyakan diperoleh skor berkisar 0 sampai dengan 5 dengan rata-rata 3. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembinaan dengan kategori baik sebesar 60,4%, pembinaan dengan kategori sedang (10,4%) dan kurang (29,2%) (Tabel 15) Tabel 15. Sebaran Contoh berdasarkan Kategori Pembinaan No 1 2 3 Baik Sedang Kurang Kategori n 29 5 14 48 % 60,4 10,4 29,2 100,0

Total

Pembinaan yang dilakukan umumnya berupa kunjungan kepala puskesmas ke wilayah kerja bidan desa. Tujuan dilakukannya pembinaan adalah untuk meningkatkan kualitas pengelolaan program dalam rangka menunjang pencapaian tujuan, sasaran dan target program perbaikan yang telah ditetapkan. Pembinaan yang dilakukan dengan terencana dan terarah diharapkan dapat mampu menunjang pelaksanaan program dan mampu mengatasi kendala-kendala yang dihadapi petugas di lapangan. Melalui pembinaan, pelaksanaan program dapat dimonitor dan dapat mencari cara-cara yang efektif untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Penelitian ini memperoleh gambaran bahwa pembinaan kepala puskesmas secara umum masih berada pada kategori sedang. Namun demikian, belum ada

46

jadwal secara sistematis dari kepala puskesmas untuk melaksanakan Pembinaan ke wilayah kerja dan mengecek hasil kerja bidan desa, sehingga bila ada pekerjaan bidan desa yang tidak sesuai dengan standar dapat segera diperbaiki. Sebagian besar kepala puskesmas selalu memberikan petunjuk pada bidan desa sebelum bidan tersebut melaksanakan tugas yang diberikan. Contoh yang menyatakan bahwa kepala puskesmas selalu memeriksa hasil pekerjaan bidan desa sebesar (72,9%) (Tabel 14). Mitra kerja. Mitra kerja adalah orang, organisasi, instansi yang bekerja sama dengan bidan desa dalam pelaksanaan program. Mitra kerja bidan desa meliputi lintas program dan lintas sektor yang secara bersama-sama membantu pelaksanaan program perbaikan gizi dan kesehatan. Mitra kerja merupakan faktor penting yang harus dibina sehingga bidan desa mampu melaksanakan tugas secara efektif dan efisien. Adapun mitra kerja bidan desa antara lain: Kepala Desa, Ketua TP PKK, LMD, BPD, Tokoh Masyarakat Pemuka Agama, Dasawisma dan Kader. Dukungan mitra kerja terhadap contoh dijelaskan pada (Tabel 16). Lebih dari setengah contoh (68,8%) menyatakan memiliki dukungan mitra kerja pada kategori baik. Hal ini berarti bidan desa mampu menjalin kerjasama yang baik dengan lintas program dan lintas sektor terkait. dilaksanakan tanpa hambatan dan rintangan yang berarti. Tabel 16. Sebaran Contoh berdasarkan Mitra Kerja 1 2 3 No Baik Sedang Kurang Mitra Kerja N 33 13 2 48 Kinerja Bidan Desa Beberapa aspek yang ditanyakan untuk mengukur kinerja diperoleh skor berkisar 1 sampai 23 dengan rata-rata 21,0 dan modus 23. Dari hasil penelitian ini diperoleh gambaran bahwa contoh yang merencanakan distribusi paket pertolongan % 68,8 27,1 4,2 100,0 Dengan adanya jalinan kerjasama yang baik maka diharapkan program kesehatan dan gizi dapat

Total

47

gizi hanya 58,3%.

Hal ini diduga tidak semua bidan desa melaksanakan paket

pertolongan gizi secara lengkap. Misalnya pada kapsul yodium tidak semua wilayah kerja bidan desa merupakan daerah endemik gondok. Contoh yang ikut dalam kegiatan UPGI adalah sebesar 29,2%. Hal ini dimungkinkan karena tidak semua wilayah kerja bidan desa memiliki institusi yang melaksanakan penyelenggaraan makanan. Institusi yang ikut serta dalam UPGI biasanya bidan desa yang ada di Kabupaten. Sedangkan sedikitnya bidan desa dalam melukukan bimbingan dasa wisma yaitu sebesar 39,6% dikarenakan tidak semua desa memiliki kelompok dasa wisma dan hanya beberapa bidan desa saja yang memiliki kelompok dasawisma di wilayah kerjanya. Selanjutnya, contoh yang melaksanakan koordinasi kegiatan UPGK dan mendukung kegiatan lintas program dan lintas sektor masing-masing sebesar 79,2% (Tabel 17).

48

Tabel 17. Sebaran Contoh berdasarkan Aspek Kinerja No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Aspek Kinerja Bidan Desa Merencanakan kegiatan penimbangan Merencanakan distribusi paket pertolongan gizi* (Vit.A, Fe, Yodium, PMT) Ikut dalam pelatihan kader posyandu Melakukan penyuluhan gizi Melakukan penyuluhan tentang program gizi Ikut dalam kegiatan Upaya Perbaikan Gizi Keluarga ( UPGK) Ikut dalam kegiatan Upaya Perbaikan Gizi Institusi (UPGI)** Ikut dalam kegiatan Sistim Kewaspadaan Pangandan Gizi ( SKPG) Melaksanakan koordinasi kegiatan UPGK Mendukung kegiatan lintas program Mendukung kegiatan lintas sektor Melaksanakan bimbingan ke posyandu Melaksanakan bimbingan kepada dasawisma*** Melaporkan kegiatan gizi Melaksanakan pemantauan dan penilaian Melaksanakan kegiatan berkala ibu hamil Melakukan pertolongan persalinan Melakukan deteksi dini biu hamil resiko tinggi Melakukan perawatan nifas Melakukan pembinaan terhadap dukun bayi Melakukan otopsi verbal maternal-perinatal Melakukan rujukan ibu hamil resiko tinggi Mendampingi persalinan non nakes
Keterangan:

n 43 28

Ya

% 89,6 58,3

Tidak n % 5 10,3 20 41,7 0 0 10 0 30 15 10 10 10 5 27 0 0 0 5 5 0 0 0 0 5 0 0 20,8 0 70,8 31,2 20,8 20,8 20,8 10,4 60,4 0 0 0 10,4 10,4 0 0 0 0 10,4

48 100,0 48 100,0 38 79,2 48 100,0 14 33 38 38 38 43 19 48 48 48 43 43 48 48 48 48 43 29,2 68,8 79,2 79,2 79,2 89,6 39,6 100,0 100,0 100,0 89,6 89,6 100,0 100,0 100,0 100,0 89,6

* Bidan Desa yang memberikan paket pertolongan gizi lengkap ** Bidan Desa yang melaksanakan Kegiatan UPGI *** Bidan Desa yang melaksanakankegiatab dasawisma

Rendahnyak kinerja bidan desa terutama terjadi karena umumnya para bidan tersebut tidak merencanakan kegiatan distribusi obat, tidak berpartisipasi dalam kegiatan SKPG, tidak melakukan koordinasi terhadap kegiatan posyandu, tidak terlibat dalam kegiatan lintas program dan lintas sektor. Dengan demikian terlihat jelas bahwa kinerja bidan desa yang berada pada kategori kurang (95,9%) tersebut dikarenakan faktor individu dan faktor organisasi. Contohnya responden tidak

49

memiliki kemampuan merencanakan kegiatan dengan baik, tidak menguasai wilayah tempat bertugas karena sebagian besar responden adalah pendatang. Selain itu, responden kurang teribat dalam kegiatan lintas sektor dan lintas program sehingga responden kurang memiliki keterampilan sebagai tenaga kesehatan. Padahal, sebagai tenaga kesehatan yang ditempatkan di desa mereka diharapkan mampu melakukan berbagai hal walaupun tidak termasuk dalam tugas dan tanggung jawabnya. Masyarakat hanya mengetahui bahwa bidan adalah tenaga kesehatan sehingga masyarakat berpendapat sebagai seorang tenaga kesehatan maka bidan pasti bisa melakukan segala hal yang berkaitan dengan keadaan kesehatan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada contoh yang mempunyai kinerja baik. Kinerja bidan desa berada pada kategori kurang (95,9%) dan sedang 4,1% (Tabel 18). Tabel 18. Sebaran Contoh berdasarkan Kinerja 1 2 3 No Kategori Kinerja Baik Sedang Kurang Total n 0 2 46 48 % 0 4,1 95,9 100,0

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya ada 2 orang responden yang memiliki kinerja pada kategori sedang yaitu responden yang berasal dari Puskesmas Pugung Tampak (2,1%) dan Puskesmas Krui (2,1%). Responden yang memiliki kinerja kurang paling banyak ditemukan pada Puskesmas Krui (12,5%) (Tabel 19). Hal ini cukup beralasan karena jika dilihat dari supervise, kepala puskesmas tidak dilaksanakan secara rutin sehingga bidan desa tidak ada evaluasi kegiatan untuk meningkatkan kinerja.

50

Tabel 19. Sebaran Contoh berdasarkan Kategori Kinerja dan Puskesmas No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Nama Puskesmas Pugung Tampak Liwa Buay Nyerupa Sekincau Batu Brak Lemong Krui Karya Penggawa Biha Bungin Sumber Jaya Fajar Bulan Sri Mulyo Kenali Ngambur Total n 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Sedang Kategori Kinerja 2,1 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 2,1 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 4,2 % n 1 4 5 2 2 1 6 2 5 1 6 3 2 2 3 46 Kurang

2,1 8,3 10,4 4,2 4,2 2,1 12,5 4,2 10,4 2,1 12,5 6,3 4,2 4,2 6,3 95,8

Hasil Cakupan Program Kesehatan dan Gizi Keberhasilan program kesehatan dan gizi yang dilakukan oleh bidan desa diketahui dengan melihat pencapaian target tugas pokok dan tugas tambahan yang diberikan kepada bidan desa. Pengukuran dilakukan berdasarkan kegiatan program gizi dan kesehatan yang dilaksanakan di desa. Keberhasilan program gizi dapat dilihat dengan perencanaan kegiatan penimbangan, merencanakan kegiatan distribusi obat gizi, ikut dalam kegiatan pelatihan kader gizi, penyuluhan gizi. Selain itu, bidan desa juga diharapkan ikut serta dalam kegiatan UPGK, UPGI, SKPG yang ada di desa, melaksanakan koordinasi kegiatan UPGK, mendukung kegiatan lintas sektor. Bidan desa juga diharapkan untuk ikut serta dalam melaksanakan bimbingan kepada kelompok penimbangan, melaksanakan bimbingan kelompok dasa wisma, melaporkan kegiatan program gizi setiap bulan, melaksanakan pemantauan dan penilaian kegiatan penimbangan.

51

Bila dilihat cakupan program gizi per Puskesmas, maka

masih banyak

Puskesmas yang mempunyai cakupan program gizi kurang (11 Puskesmas atau 73,3%) dan Puskesmas yang mempunyai cakupan gizi sedang (4 Puskesmas atau 26,7%) (Tabel 20). Puskesmas yang mempunyai cakupan sedang meliputi Puskesmas Pugung Tampak, Puskesmas Batu Berak, Puskesmas Bungindan Puskesmas Kenali. Sedangkan Puskesmas yang mempunyai cakupan program gizi kurang meliputi Puskesmas Liwa, Puskesmas Buay Neyerupa, Puskesmas Sekincau, Puskesmas Lemong, Puskesmas Krui, Puskesmas Lemong, Puskesmas Karya Penggawa, Puskesmas Biha, Puskesmas Sumber Jaya, Puskesmas Fajar Bulan, Puskesmas Sri Mulyo dan Puskesmas Ngambur. Hal ini diduga kurangnya kontribusi Bidan Desa dalam mendukung program gizi di tingkat Puskesmas, karena cakupan program gizi Puskesmas merupakan hasil komulatif dari beberapa program gizi yang dilaksanakan di Desa atau yang dulakukan oleh Bidan Desa (Cakupan Program Gizi/Penimbangan disajiakn pada lampiran 1), dan juga Bidan Desa beranggapan bahwa program gizi merupakan tanggung jawab Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) Puskesmas. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa keberhasilan program gizi adalah tanggung jawab TPG. Akan tetapi, pelaksanaan program gizi di desa merupakan tanggung jawab bidan desa yang mana hal tersebut termuat dalam buku panduan bidan di desa. TPG hanya melakukan koordinasi dan memantau pelaksanaan kegiatan gizi di puskesmas. Hal ini sesuai dengan ketetapan menteri kesehatan yang menyatakan bahwa satu orang TPG hanya diperuntukkan untuk satu puskesmas. Sebuah puskesmas memiliki wilayah kerja yang terdiri dari beberapa desa, sehingga dengan demikian jelas bahwa tanggung jawab di desa sepenuhnya merupakan tanggung jawab bidan desa. TPG diharapkan dapat membantu bidan desa melaksanakan program gizi di setiap desa. Pada Tabel 21 terlihat bahwa sebaran contoh berdasarkan program gizi lebih dari separuhnya yaitu sebesar 73,5% mempunyai kategori kurang dan sedikit sekali responden yang mempunyai kategori baik yaitu hanya (8,2%). Hal ini cukup berasalan karena jika dilihat cakupan program gizi per Puskesmas hanya empat

52

Puskesmas saja yang mempunyai kategori sedang, sedangkan selebihnya mempunyai kategori kurang (11 Puskesmas). Rendahnya cakupan ini diduga masih kurang aktifnya dalam kegiatan penimbangan yang dilakukan bidan desa dan juga kurangnya dukungan pimpinan dengan kegiatan Pembinaan yang masih rendah dan tidak terjadwal. Tabel 21. Sebaran Contoh berdasarkan cakupan Program Gizi 1 2 3 No Kategori Program Gizi Baik Sedang Kurang Total n 4 9 35 48 % 8,2 18,4 73,5 100,0

Lain halnya dengan program kesehatan, hasil cakupan program kesehatan relatif lebih baik dibanding dengan program gizi. Puskesmas yang mempunyai kategori baik (4 Puskesmas atau 26,7%), puskesmas yang mempunyai kategori sedang (6 Puskesmas atau 40%) dan yang mempunyai kategori kurang (5 Puskesmas atau 33,3%). Hal ini cukup beralasan karena bidan desa dalam melaksanakan tugas tidak hanya pada jam kerja saja, sehingga cakupan program kesehatan dapat dilakukan diluar jam kerja bidan (praktek bidan) sedangkan pada program gizi biasanya hanya dilakukan pada saat penimbangan saja/ waktu Posyandu. Puskesmas yang mempunyai kategori baik meliputi; Puskesmas Pugung Tampak, Puskesmas Buay Nyerupa, Puskesmas Batu Berak dan Puskesmas Biha. program kesehatan disajikan pada lampiran 2) (Tabel 22). Berdasarkan keberhasilan program kesehatan maka contoh terdistribusi pada kategori sedang (39,6%) dan baik (27,1%) (Tabel 22). Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran bidan desa masih sangat sedikit memberikan kontribusi bagi keberhasilan program kesehatan. Terjadinya hal tersebut disinyalir disebabkan oleh karena bidan desa yang seharusnya bertugas di desa-desa yang memerlukan lebih memilih untuk bertugas di wilayah perkotaan dan kepala puskesmas meminta bidan desa untuk masuk ke puskesmas padahal jelas sebagai seorang bidan desa, bidan tersebut harus (Hasil cakupan

53

masuk kerja ke desa bukan ke puskesmas.

Memang, bidan desa memerlukan

koordinasi dan Pembinaan dari puskesmas namun hal tersebut seharusnya tidak membuat bidan desa lebih mengutamakan kehadirannya ke puskesmas daripada ke desa. Tabel 23. Sebaran Contoh berdasarkan Cakupan Program Kesehatan No 1 2 3 Kategori Program Kesehatan Baik Sedang Kurang Total n 13 19 16 48 % 27,1 39,6 33,3 100,0

Hubungan Faktor Internal dengan Kinerja Bidan Desa Hubungan Umur dengan Kinerja Bidan Desa Usia diharapkan membuat responden memiliki kinerja yang baik, dengan usia tersebut responden memiliki semangat untuk berkerja dan berprestasi. Terlihat pada (Tabel 4) responden yang berumur < 30 tahun yaitu 77.1% mempunyai kinerja kurang, dan 4.2% mempunyai kinerja baik, sedangkan contah yang berumur >= 30 tahun yaitu 18.8% mempunyai kinerja kurang. Secara statistik menunjukan tidak terdapat hubungan antara umur dengan kinerja bidan desa (p>0.05) (Tabel 24). Hubungan Masa Kerja dengan Kinerja Bidan Desa Masa kerja contoh berkisar antara 3 11 tahun, ratarata contoh memiliki masa kerja 8,4 tahun dengan masa kerja maksimal 11 tahun dan masa kerja minimal 3 tahun. Contoh yang masa kerjanya < 5 tahun terdapat 4,2% mempunyai kinerja kurang, contoh yang masa kerjanya 5 10 tahun terdapat 4,2% mempunyai kinerja sedang dan 83,3% mempunyai kinerja kurang, sedangkan masa kerja > 10 tahun terdapat 8,3% mempunyai kinerja sedang. Secara statistik tidak ada hubungan yang signifikan antara masa kerja dengan kinerja bidan desa (p>0.05) (Tabel 24). Ini diduga penyebabnya contoh merasa jenuh sehingga menganggap kegiatan mereka laksanakan hanya merupakan kegitan rutin dan sekedar melaksanakan tugas serta

54

contoh sering meninggalkan tugas karena apabila dilihat dari asal daerah, lebih dari setengah (60,4%) contoh berasal dari luar daerah. Hubungan Pendidikan dengan Kinerja Bidan Desa Melalui pendidikan yang profesional diharapkan akan menciptakan kinerja yang lebih baik dibandingkan pendidikan non professional. Terlihat pada (Tabel 24), contoh yang berpendidikan PPB A dan PPB C mempunyai kinerja sedang yaitu 2,1%, sedangkan yang mempunyai kinerja kurang cenderung pada PPB A yaitu 58,3% dan PPB C mempunyai kinerja kurang hanya 37,5%. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan Nurani (2000) mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja TPG di Kabupaten Cirebon, yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara pendidikan dengan kinerja TPG. Dari hasil penelitian ini dapat diartikan bahwa contoh yang memiliki pendidikan lebih tinggi belum tentu mempunyai kinerja sedang/ baik. Secara statistik tidak terdapat hubungan antara pendidikan dengan kinerja bidan desa (p>0.05) (Tabel 24). Hubungan Pelatihan dengan Kinerja Bidan Desa Hasil penelitian menunjukkan semua responden pernah mengikuti pelatihan, yang mana 4,2% contoh mempunyai kinerja sedang dan 95,8 % contoh mempunyai kinerja kurang. Penelitian ini bertentangan dengan penelitian Purwanto (2003) yang menyatakan bahwa ada hubungan antara pelatihan dengan kinerja TPG di Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat. Uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan antara pelatihan dengan kinerja Bidan (p>0.05) (Tabel 24). Hal ini diduga disebabkan bidan desa yang ikut pelatihan tidak menerapkan hasil pelatihan yang didapat atau pelatihan yang mereka dapat tidak sesuai dengan fungsinya sebagai bidan desa serta tidak adanya feetback dari pelatihan yang mereka terima sehingga sulit menilai keberhasilannya.

55

Tabel 24. Sebaran Contoh berdasarkan Faktor Internal dan Kinerja Faktor Internal Umur <30 Tahun 30 T a hun Jumlah Masa Kerja <5 Tahun 5 10 Tahun >10 Tahun Jumlah Pendidikan PPB A PPB C Jumlah Pelatihan Pernah Tidak Pernah Jumlah Status Perkawinan Kawin Tidak Kawin Jumlah Motivasi Baik Kurang Jumlah n 39 9 48 2 42 4 48 29 19 48 48 0,0 48 48 0,0 48 32 16 48 Kinerja Sedang (%) Kurang (%) 4,2 0,0 4,2 0,0 4,2 0,0 4,2 2,1 2,1 4,2 4,2 0,0 4,2 4,2 0,0 4,2 2,1 2,1 4,2 77,1 18,8 95,8 4,2 83,3 8,3 95,8 58,3 37,5 95,8 95,8 0,0 95,8 95,8 0,0 95,8 64,6 31,2 95,8 Nilai P 0,498

0,860

0,764

1,0

1,0

0,619

Hubungan Status Perkawinan dengan Kinerja Bidan Desa Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua contoh berstatus kawin, yang mana 4,2% contoh mempunyai kinerja sedang dan 95,8% mempunyai kinerja kurang. Dari uji statistik tidak terdapat hubungan antara status perkawinan dengan kinerja bidan desa (p>0.05) hal ini diduga masih rendahnya sarana dan prasarana yang menunjang kinerja bidan bidan desa ini terlihat dari kelengkapan sarana kesehatan yang berkategori sedang yaitu sebesar 36,6% (Tabel 24).

56

Hubungan Motivasi dengan Kinerja Bidan Desa Motivasi merupakan proses batin atau psikologi yang terjadi pada diri seseorang dan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Contoh yang memiliki motivasi baik adalah sebesar 66,7% yang mana mereka memiliki kinerja sedang hanya 2,1% dan yang mempunyai kinerja kurang sebesar 64,6%. Sedangkan 33,3% contoh mempunyai motivasi kurang, yang mana dari persentase tersebut 2,1% mempunyai kinerja sedang dan 31,2% mempunyai kinerja kurang. Apabila dilihat dari persentasi contoh yang memiliki motivasi baik mempunyai kinerja kurang. Hal ini diduga responden tidak mendapat insentif yang memadai dari Kepala Puskesmas (50%) dan juga lebih dari setengah contoh merupakan pendatang (60,4%). Dari hasil uji statistik tidak terdapat hubungan antara motivasi dengan kinerja Bidan Desa (p>0.05) (Tabel 24). Hubungan Faktor Eksternal dengan Kinerja Bidan Desa Hubungan Sarana Kesehatan dengan Kinerja Bidan Desa Salah satu faktor untuk mendukung kelancaran program kesehatan adalah tersedianya sarana kesehatan. Sarana kesehatan yang memadai sangat membantu kelancaran tugas dan sangat berpengaruh dengan kinerja yang akan dicapai. Hasil penelitian menunjukkan contoh yang memiliki sarana kesehatan baik sebesar 36,6% dan mempunyai kinerja kurang. Sedangkan responden yang memiliki sarana sedang adalah sebesar 61% dengan kinerja sedang sebesar 2,4% dan kinerja kurang sebasar 58,5%. Untuk responden yang memiliki sarana kurang sebesar 2,4% dengan kinerja sedang 2,4%. Berdasarkan persentase tersebut dapat dikatakan bahwa sebagian besar contoh memiliki sarana sedang dengan kinerja kurang. Dari hasil uji korelasi sperman tidak terdapat hubungan antara sarana kesahatan dengan kinerja bidan desa (p>0.05) (Tabel 25). Hal ini diduga sarana kesehatan yang dimiliki oleh bidan desa tidak memadai lagi atau sarana kesehatan tersebut telah rusak. Karena sebagian besar sarana kesehatan yang dimiliki bidan desa adalah milik sendiri yang dibeli sejak mulai bertugas yang cukup lama (diatas lima tahun).

57

Hubungan Sarana Gizi dengan Kinerja Bidan Desa Sama halnya dengan sarana kesehatan, sarana gizipun cukup membantu dalam memperlancar kegiatan dan pelaksanaan program gizi di desa. Hasil penelitian menunjukkan 95,8% responden memiliki sarana gizi yang baik dengan kinerja sedang sebesar 2,1% dan kinerja kurang sebesar 93,8%. Sedangkan responden yang memiliki sarana gizi sedang sebanyak 4,2% dengan kinerja sedang dan kurang masing-masing 2,1% (Tabel 24). Dari hasil uji statistik terdapat hubungan antara sarana gizi dengan kinerja bidan desa (p=0.001) (Tabel 25). Hal ini sesuai dengan pernyataan Depkes RI (2000) bahwa salah satu komponen penting dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan dan gizi adalah tersedianya sarana yang memadai. Hubungan Pembinaan dengan Kinerja Bidan Desa Pelaksanakan Pembinaan yang dilakukan atasan/ kepala puskesmas terhadap bidan desa diharapkan akan memacu kinerjanya dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai bidan desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 60,4% contoh menyatakan Pembinaan yang dilakukan baik, 58,3% mempunyai kinerja kurang dan 2,1% mempunyai kinerja sedang. 10,3% responden menyatakan Pembinaan yang sedang dengan kinerja sedang (2,1%) dan kinerja baik (8,3%), sedangkan responden yang menyatakan Pembinaan yang dilakukan kurang sebanyak 29,2% yang semuanya memiliki kinerja kurang (Tabel 25). Apabila dilihat dari persentase tersebut, walaupun Pembinaan yang dilakukan baik namun kinerja yang dihasilkan kurang. Dari uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan antara Pembinaan dengan kinerja Bidan Desa (p>0.005) (Tabel 25).

58

Tabel 25. Sebaran Contoh berdasarkan Faktor Eksternal dan Kinerja Faktor Internal Sarana Kesehatan Baik Sedang Kurang Jumlah Sarana Gizi Baik Sedang Kurang Jumlah Pembinaan Baik Sedang Kurang Jumlah Mitra Kerja Baik Sedang Kurang Jumlah n 15 25 1 41 46 2 0 48 29 5 14 48 33 13 2 48 Kinerja Sedang (%) Kurang (%) 0,0 2,4 2,4 4,9 2,1 2,1 0 4,2 2,1 2,1 0,0 4,2 2,1 2,1 0,0 4,2 36,6 58,5 0,0 95,1 93,8 2,1 0 95,8 58,3 8,3 29,2 95,8 66,7 25,0 4,2 95,8 Nilai P 0,054

0,001*

0,907

0,615

Hubungan Mitra Kerja dengan Kinerja Bidan Desa Kegiatan program gizi dan kesehatan di desa yang dilakukan bidan desa tidak terlepas dari kerja sama lintas sektor maupun lintas program. Dengan menjalin hubungan yang baik dengan mitra kerja diharapkan akan mempermudah dan memperlancar pelaksanaan pekerjaan guna mencapai kinerja yang optimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki mitra kerja sedang dan baik yaitu masing-masing sebesar 68,8% dan 27,1%. kurang (Tabel 25). Sedangkan yang mempunyai mitra kerja kurang sebanyak 4,2% yang semuanya memiliki kinerja Walaupun persentase mitra kerja baik namun kinerja yang dihasilkan oleh mereka kurang. Hal ini diduga bidan desa dalam melaksanakan lintas sektor hanya diawalnya saja dan untuk kegiatan selanjutnya dilakukan masing-masing sektor dan juga semua contoh berstatus kawin sehingga waktu mereka lebih sedikit

59

untuk kegiatan luar rumah. Uji korelasi Spearman tidak menunjukkan hubungan antara mitra kerja dengan kinerja bidan desa (p>0.005) (Tabel 25). Hubungan Kinerja Bidan Desa dengan Keberhasilan Program Kesehatan dan Gizi Pelayanan kesehatan dasar yang harus dilakukan oleh seorang bidan desa antara lain adalah melaksanakan pemeriksaan berkala ibu hamil, melakukan pertolongan persalinan, melakukan deteksi dini pada ibu hamil resiko tinggi. Bidan desa merupakan pelaku perawatan nifas, pembina dukun bayi, dan pelaku otopsi verbal. Selain itu, bidan desa juga harus melakukan rujukan ibu hamil resiko tinggi dan melakukan pendampingan persalinan non nakes. Hasil analisis menunjukkan bahwa hasil cakupan program kesehatan dan gizi tidak berhubungan dengan dengan kinerja bidan desa (Tabel 26). Hal ini dimungkinkan, karena jika dilihat dari keberhasilan program hampir semua bidan tidak menunjukkan hasil yang memuaskan begitupun dengan cakupan. Baik untuk cakupan program gizi dan kesehatan, semua bidan desa masih dibawah target yang telah ditentukan Dinas Kesehatan. Mungkin hanya satu atau dua orang bidan saja yang mencapai target dalam program. Berdasarkan pengamatan dilapang terlihat semangat/ etos kerja bidan desa relatif rendah, bidan desa kurang memahami tugas dan fungsinya sebagai bidan desa yang merupakan ujung tombak pelayanan dimasyarakat. Hal ini dimungkinkan karena bidan tidak menerapkan buku-buku panduan yang ada, kemudian bidan desa beranggapan mereka tidak di perhatikan oleh pemerintah terutama Departemen Kesehatan karena sejak mereka diangkat/ ditugaskan menjadi bidan desa (PTT) tidak juga diangkat menjadi pegawai (PNS). Padahal sebelumnya pemerintah menjanjikan mereka akan diangkat setelah mengabdi 2 (dua) tahun, sedangkan beban kerja mereka sama dengan bidan PNS bahkan lebih berat kerena mereka tinggal di desa dan bidan PNS kebanyakan tinggal di Ibukota Kecamatan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Depkes RI tahun 2000 yang menyatakan bahwa keterlibatan bidan desa dalam keberhasilan program

60

kesehatan dan gizi sangat kecil. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa program bidan desa hanya dapat meningkatkan program sebesar 0,05 %. Dengan demikian program bidan desa tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan yaitu sebagai pelaksana pelayanan kesehatan yang langsung berhubungan dengan masyarakat dan juga sebagai perpanjangan tangan dari Puskesmas. Tabel 26. Sebaran Contoh berdasarkan Kinerja dan Hasil Cakupan Program Kesehatan dan Gizi Hasil Cakupan Program Kesehatan Baik Sedang Kurang Jumlah Program Gizi Baik Sedang Kurang Jumlah n 13 19 16 48 4 8 36 48 Kinerja Sedang (%) Kurang (%) 2,1 2,1 0,0 4,2 0,0 0,0 4,2 4,2 25,0 37,5 33,3 95,8 8,2 18,9 68,8 95,8 Nilai P 0,401

0,286

61

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja bidan desa antara lain; faktor internal yaitu; Umur bidan desa sebagian besar < 30 th (79,6%) dan >=30 (18,4%), masa kerja bidan desa berkisar 5-10 th yaitu 87,5% dan sisanya masa kerja <5 th sebesar 4,2% dan >10 th sebesar 8,3%, tingkat pendidikian bidan desa terbayak adalah PPB A sebesar 59,2% dan PPB C sebesar 38,8%, semua bidan desa pernah mengikuti pelatihan (100%), bidan desa yang merupakan penduduk asli Lampung Barat sebesar 39,6% dan selebihnya pendatang yaitu 60,4%, bidan desa yang berstatus berkeluerga/kawin sebesar 100%, Bidan desa yang memiliki motivasi baik sebesar 66,7% dan yang bermotivasi kurang sebesar 33,3%, faktor eksternal yaitu; sarana kesehatan, contoh yang mempunyai sarana kesehatan dengan kategori lengkap sebesar 36,6% dan kategori sedang sebesar 61,0%, untuk sarana gizi contoh yang mempunyai sarana gizi dengan kategori lengkap sebesar 95,8% dan yang mempunyai sarana gizi dengan kategori sedang sebesar 4,2%, bidan desa menerima insentif dengan kategori memadai sebesar 50%, bidan desa dengan pembinaan dengan kategori baik sebesar 36,6%, bidan desa yang mempunyai mitra kerja dengan kategori baik sebesar 68,8%. 2. Bidan desa yang memiliki kinerja dengan kategori kurang sebesar 95,9% dan bidan desa yang memiliki kategori sedang sebesar 4,1% dan dari hasil penelitian ini tidak ada satupun bidan desa yang memiliki kinerja dengan kategori baik. 3. Berdasarkan tingkat keberhasilan program gizi maka sebagian besar contoh memiliki tingkat keberhasilan dengan kategori kurang sebesar 73,5%, contoh dengan tingkat keberhasilan pada kategori sedang sebesar 18,4% dan contoh yang memiliki kategori baik sebesar 8,2%, sedangkan tingkat keberhasilan program kesehatan, maka contoh yang mempunyai keberhasilan dengan kategori sedang sebesar 39,6%, contoh yang memiliki keberhasilan dengan kategori kurang sebesar 33,3% dan contoh yang memiliki keberhasilan dengan kategori baik sebesar 27,1%.

62

4. Tidak terdapat hubungan antara faktor internal (umur, masa kerja, pendidikan, pelatihan, asal daerah, status perkawinan dan motivasi) dengan kinerja bidan desa (p>0,005), dan pada faktor eksternal (sarana dan prasana, insentif, supervisi dan mitra kerja) juga tidak terdapat hubungan dengan kinerja bidan desa kecuali pada sarana gizi terdapat hubungan negatif. (p<0,005) sedangkan pada Uji Statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kinerja bidan desa dengan pencapaian program gizi dan kesehatan (p>0,005) Saran 1. Diharapkan Kepada Dinas Kesehatan untuk lebih meningkatkan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) dengan mengadakan pendidikan dan pelatihanpelatihan kepada tenaga kesehatan umumnya dan bidan desa khususnya guna meningkatkan cakupan program kesehatan secara menyeluruh 2. Diharapkan Kepada Dinas Kesehatan untuk lebih memperhatikan kelengkapan sarana dan prasarana kesehatan dan gizi guna meningkatkan kinerja bidan desa. 3. Kepala Puskesmas diharapkan lebih meningkatan fungsi pengawasan dan bimbingan teknis serta memberikan insentif meningkatkan cakupan dan kinerja bidan desa 4. Kepada bidan desa diharapkan lebih menyadari tugas dan fungsinya sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan dan perpanjangan tangan dari Puskesmas guna melayani masyarakat. yang memadai guna lebih

63

DAFTAR PUSTAKA Ariawan. 1998. Besar dan Metode Sampel pada Penelitian Kesehatan, FKM. UI, Jakarta. Arikunto, S. 1988. Penilaian Program Pendidikan. Bina Aksara, Jakarta _________ 1992. Panduan Bidan Desa di Tingkat desa Bagia II, Departemen 1994a. Buku Saku Bidan Desa, Direktorad Jenderal Pembinaan Masyarakat Direktorad bina kesehatan Keluarga, Departemen Kesehatan RI, Jakarta. _________ _________ _________ _________ 1995. Pedoman Kerja Badan Perbaikan Gizi Daerah (BPGD). 1996. Konsep Kebidanan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta. 1999. Pedoman Teknis Program Jaring Pengaman Sosial Bidang 2000. Buku Panduan Pengelolaan Program Gizi Kabupaten/Kota. Departemen Kesehatan RI, Jakarta. Kesehatan RI, Jakarta.

Kesehatan (JPS-BK) Bagi Bidan Desa, Departemen Kesehatan RI, Jakarta. Dinas Kesehatan Lampung Barat, 2003. Laporan Tahunan Seksi Ibu Anak dan Usila, Dinkes Lampung Barat, Lampung. Ditjen Kesmas, Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Departemen Kesehatan RI, Jakarta. Gibson, J., Vancevich., Donelly. 1987. Organisasi dan Manajemen ; Perilaku, Struktur dan Proses, Edisi ke-4 (Djoerban Wahid, penerjemah). Erlangga, Yogyakarta. Gitosudarmo, I. Dan A. Mulyono. 1996. Prinsip Dasar Manajemen, Edisi Ketiga. BPFE, Yogyakarta. Gomez, J. F. C. 2001. Manajemen Sumberdaya Manusia. Andi Offset, Yogyakarta. Handoko, T. H. 1989. Manajemen Personalia dan Sumberdaya Manusia, Edisi Ke-2. BPFE, Yogyakarta. Hasibuan, M. S. P. 2003. Organisasi dan Motivasi, Dasar Peningkatan Produktivitas. PT Bumi Aksara, Jakarta. Ilyas, Y. 1999. Kinerja ; Teori, Penilaian, dan Penelitian. Penerbit FKM UI, Jakarta.

64

Khomsan, A. 2002. Pangan dan Gizi dalam Dimensi Kesejahtaraan. Jurusan GMSK, Fakultas Pertanian, IPB, Bogor. Kusnadi. 2003. Masalah, Kerja Sama, Konflik dan Kinerja. Taroda, Malang. Mujiono, 2002. analisis Kinerja Tenaga Pelaksana Gizi Puskesmas dan Hubungannya dengan Upaya Perbaiakan Gizi di Kabupaten Barito Selatan. Skripsi Sarjana Jurusan GMSK, Fakultas Peratanian, IPB, Gogor. Notoatmodjo, S. 1992. Pengembangan Sumberdaya Manusia. PT Rineka Cipta, Jakarta. Syarif, H,. A. Rustiawan & V. Julita. 1992, Petunjuk Laboraturim, Kaji tindak Pertisifatif dalam Sistim Pangan dan Gizi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Dirjen Pendidikan Tinggi. Pusat Antar Universitas, Bogor. Pusat Bahas, Depdikbud. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka, Jakarta. Purwanto, 2003. Kinerja Tenaga Pelaksana Gizi dan Hubungannya dengan Keberhasilan Program Gizi di Kabupaten Tanah Datar. Skripsi Sarjana Jurusan GMSK, Fakultas Pertanian, IPB, Bogor. Ranupandoyo, H. Dan Husnan Saud. 1990. Manajemen Personalia, Edisi ke-4. BPFE, Yogyakarta. Rao, T. V. 1986. Penilaian Prestasi Kerja ; Teori dan Praktek. Binawan Presindo, Jakarta.

65

Lampiran 2. Hasil Uji Rank-Spearman antara Kinerja dengan Faktor Internal dan Faktor Eksternal serta CakupanProgram Variabel Dependent Kinerja Bidan Desa Variabel Independent Faktor Internal Umur Masa Kerja Pendidikan Pelatihan Status Perkawinan Motivasi Faktor Eksternal Kinerja Bidan Desa Sarana Kesehatan Sarana Gizi Supervisi Mitra Kerja Cakupan Program Kinerja Bidan Desa Program Kesehatan Program Gizi -0,123 0,155 0,401 0,286 -0,304 -0,478 0,017 -0,074 0,054 0,001* 0,907 0,615 0,100 0,028 0,044 -0,167 -0,145 -0,074 0,498 0,860 0,764 1,0 1,0 0,619 r p. Value

66