Anda di halaman 1dari 2

MATERI PAI STMIK SINUS

MENUJU MANUSIA SEMPURNA


Sosok insan kamil dapat dilihat dari para Nabi seperti : 1. 2. 3. 4. Nabi Ibrahim yg bergelar Khalilullah (sahabat Allah) Nabi Musa yg bergelar Kalamullah (pembicara Allah) Nabi Isa yg bergelar Ruhullah (ruh Allah), dan Nabi Muhammad yg bergelar Habibullah (kekasih Allah)

Namun julukan insan kamil bukanlah mutlak untuk para nabi, melainkan ditujukan kepada sebagian manusia yaitu bagi mereka yg beriman, bertaqwa dan beramal shaleh terutama para waliyyullah (QS. Yunus : 62-63). Menurut Muhammad Iqbal, proses lahirnya insan kamil melalui 3 tahap, yaitu : 1. Ketaatan pada hukum 2. Penguasaan diri sebagai bentuk tertinggi kesadaran diri tentang pribadi 3. Kekhalifahan Ilahi Insan Kamil adalah sebuah proses penyempurnaan diri yg berlangsung tiada henti hingga akhir hayat, oleh karena itu yg dimaksud dg upaya menuju insan kamil adalah semata-mata upaya menuju kesempurnaan diri. Ia merupakan sebuah upaya insani agar dapat menuju ke proses penyempurnaan diri dalam rangka menghambakan diri kpd Allah. Upaya tersebut antara lain adalah : 1. 2. 3. 4. 5. Menyadari hakikat hidup. Meluruskan pandangan hidup Siap merubah diri Mewaspadai rizki yg tdk halal & tdk baik Senantiasa memohon petunjuk Ilahi

Menyadari hakikat hidup dan meluruskan pandangan hidup.


Tingkat kesadaran akan hakikat hidup di dunia sangat menentukan tepat tidaknya seseorang dlm menyikapi kehidupan ini, adapun hakikat hidup yg semestinya disadari oleh setiap muslim dlm rangka menuju proses penyempurnaan dirinya antara lain : Hidup di dunia berorientasi pd ibadah (QS. Adz-Dzaariyaat : 56), hidup di dunia bersifat sementara (QS. AlAn'Am : 32 dan QS. Muhammad : 36), akhiratlah kehidupan yg sebenarnya (QS. AlAnkabuut : 64 dan QS. Al-Mu'min : 39), Kehidupan dunia laksana pedang bermata dua(disabdakan oleh Rasulullah SAW "Dunia adalah hiasan yg menggiurkan, barang siapa yg menggunakannya secara hak (benar) niscaya ia diberkati kehidupannya. Namun betapa banyak orang yg tergiur oleh keindahannya dan memanfaatkannya sebagai pemuas nafsu belaka, maka tiadalah balasan baginya pada hari kiamat kecuali neraka" (HR. ath-Thabarani), berhimmah menjadi insan kamil, membiasakan diri dg berakhlak mulia dan menjauhi akhlak tercela, menafkahi diri dg makanan halal dan menjauhkan yg haram.

NABI MUHAMMAD SEBAGAI USWATUN KHASANAH


Nabi Muhammad diutus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS. Al-Ambiya' : 107). Tujuan dari risalah Nabi Muhammad atau misi Islam adalah : membersihkan dan mensucikan jiwa dengan jalan mengenal Allah serta beribadah kepada-Nya, dan mengokohkan hubungan antara manusia dengan menegakkannya di atas dasar kasih sayang, persamaan, dan keadilan. Risalah yg diwaba beliau adalah norma-norma yg mengajarkan kepada umatnya untuk berbuat baik dan menjauhi perbuatan yg buruk. Akhlak Nabi Muhammad sangatlah mulia, sedikitnya ada 4 sifat (asma) Allah yang diberikan dan ditempelkan menyertai Nabi Muhammad sebagai rasul yaitu : Aziiz, Hariish, Ra'uuf dan Rahiim (QS. At-Taubah : 128, dan QS. Al-Qalam : 4) nabi Muhammad sebagai suri tauladan bagi manusia dalam segala bidang dan keadaan, dalam memenuhi kewajiban dan menunaikan amanah, berdakwah menyeru manusia kepada tauhid, memimpin rakyat, membangun negara dan segala aspek kehidupan, sebagaimana firman Allah dlm QS. Al-Ahzab : 21) Untuk menumbuhkan kekuatan dalam diri menuju insan kamil, seorang mukmin meresapi dan menghayati akhlak Ilahi, seperti para Khulafa ar-Rasyidin yaitu : Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Para sahabat itulah yg secara langsung mencontoh perilaku Nabi Muhammad SAW.