PT. DACREA MITRAYASA.

BAB III PENDEKATAN DAN METODOLOGI
3.1. UMUM Bab ini menjelaskan pola pikir pendekatan dan metodologi yang digunakan. Metodologi ini digunakan sebagai acuan dalam menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan pekerjaan. Dengan adanya acuan ini diharapkan seluruh aspek pekerjaan dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya secara lebih efisien dan efektif.

3.2.

POLA PIKIR PENDEKATAN Pola pikir pendekatan merupakan salah satu upaya untuk menentukan metodologi yang tepat bagi pelaksanaan pekerjaan. Sebagaimana dijelaskan di dalam Kerangka Acuan Kerja, keluaran (output) yang diharapkan dari pekerjaan ini adalah : 1. Tersedianya detil rencana teknis flyover yang akurat, sesuai dengan etika perencanaan dan siap untuk digunakan dalam pelaksanaan, dan 2. Tersedianya dokumen lelang yang sudah sesuai dengan standar yang dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum. Untuk dapat mencapai sasaran tersebut maka dalam melaksanakan pekerjaan ini kami akan menerapkan pendekatan umum sebagai berikut :
 

 

Melakukan pemahaman terhadap KAK dan pengenalan terhadap materi layanan yang diperlukan. Menyediakan tenaga ahli maupun tenaga asisten yang berpengalaman dalam pekerjaan sejenis, berdedikasi, berbadan sehat dan didukung dengan fasilitas penunjang yang memadai. Melakukan pemahaman terhadap issue permasalahan yang ada yang mencakup kondisi persimpangan eksisting, batasan-batasan yang ada, standar-standar perencanaan dan ketentuan-ketentuan serta peraturan-peraturan yang berlaku. Melakukan kajian teknis secara umum guna menetapkan kriteria desain dan menentukan rencana kerja dan metode pelaksanaan pekerjaan yang tepat dan efektif. Melakukan kegiatan pengumpulan data lapangan secara terinci yang akan diperlukan sebagai data masukan dalam proses perencanan teknik ini. Melakukan kajian dan analisa terhadap semua data yang telah diperoleh dan melakukan perhitungan-perhitungan perencanaan teknik yang mencakup perencanaan geometrik jalan dan flyover, analisa penyelidikan tanah, analisa hidrologi, analisa lalu lintas, struktur perkerasan jalan pada pelebaran jalan,

Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO. Oerip Soemohardjo Makassar

III - 1

PT. DACREA MITRAYASA.

  

perencanaan bangunan bawah dan bangunan atas flyover, sistem drainase jalan dan flyover, bangunan-bangunan pelengkap, dan lain-lain. Menyiapkan gambar rencana. Melakukan perhitungan kuantitas pekerjaan dan analisa harga satuan pekerjaan serta menghitung perkiraan biaya proyek. Menyiapkan dokumen pelelangan.

Secara kronologis, pekerjaan penyusunan rencana teknis flyover ini dapat dikelompokkan menjadi 7 (tujuh) tahapan kegiatan utama sebagai berikut :        Tahap - 1 Tahap - 2 Tahap - 3 Tahap - 4 Tahap - 5 Tahap – 6 Tahap – 7 : : : : : : : Persiapan Survai Pendahuluan (Reconnaissance Survey) Penyusunan Kriteria Desain dan Rencana Survai Teknik Survai Teknik Perencanaan Teknis Penyusunan Produk Akhir Penyusunan Pelaporan.

Masing-masing tahapan kegiatan utama ini terdiri dari sub-sub kegiatan yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan perencanaan teknis sebagai berikut : D1 D1.1 D1.2 D1.3 D2 D2.1 D2.2 D2.3 D2.3.1 D2.3.2 D2.3.3 D2.3.4 D2.3.5 D2.3.6 D2.3.7 D2.3.8 D3 D4 D4.1 D4.2 D4.3 Persiapan, mencakup : Rapat, koordinasi dan konfirmasi. Inventarisasi informasi dan data-data awal/sekunder. Penyusunan rencana kerja terinci. Survai Pendahuluan (Reconnaissance Survey), mencakup : Studi literatur Koordinasi dengan instansi terkait Survai Pendahuluan, meliputi : Survai Pendahuluan Lalu Lintas Survai Pendahuluan Geometrik Jalan dan Persimpangan Survai Pendahuluan Topografi Survai Pendahuluan Geologi, Geoteknik, dan Material Survai Pendahuluan Upah, Harga Dasar Bahan dan Peralatan, dan Harga Satuan Pekerjaan Survai Pendahuluan Bangunan Pelengkap Jalan Survai Pendahuluan Hidrologi/Hidrolika Diskusi Perencanaan di lapangan Penyusunan Kriteria Desain dan Rencana Survai Teknik Survai Teknik, mencakup : Survai Topografi Survai Penyelidikan Tanah Survai Lalu Lintas

Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO. Oerip Soemohardjo Makassar

III - 2

PT. DACREA MITRAYASA.

D4.4 D4.5 D5 D5.1 D5.2 D5.3 D5.4 D5.5 D5.5.1 D5.5.2 D5.6 D5.6.1 D5.6.2 D5.6.3 D5.7 D5.7.1 D5.7.2 D5.8 D7 D7.1 D7.2 D7.3 D7.4 D7.5

Survai Inventarisasi Jalan, utilitas dan pembebasan lahan Survai Hidrologi Perencanaan Teknis, mencakup : Perencanaan Teknis Geometrik Perencanaan Teknis Perkerasan Jalan Perencanaan Teknis Drainase Jalan, tinjauan Underpass terhadap hidrologi. Perencanaan Bangunan Pelengkap dan Pengaman Jalan Perencanaan Teknis, meliputi : Analisis Struktur Penggambaran Penganggaran Biaya Konstruksi, meliputi : Perhitungan/Analisa Harga Satuan Pekerjaan Perhitungan Kuantitas Pekerjaan Perkiraan Biaya Pekerjaan Fisik (Engineer Estimate) Penyiapan Dokumen Lelang, meliputi : Penyusunan Spesifikasi Teknis Penyiapan Daftar Kuantitas dan Harga (BOQ) Tata Cara/Metode Pelaksanaan Pelaporan Laporan Akhir Ringkasan Eksekutif Cetak Blue Print (A1) & Gambar Rencana (A3) CD Dokumen Lelang.

3.3.

METODOLOGI PELAKSANAAN Berdasarkan pola pikir pendekatan di atas, kami menyusun metodologi pelaksanaan pekerjaan yang logis dengan mempertimbangkan segala aspek yang terkait guna mencapai tujuan dan sasaran pelaksanaan pekerjaan secara optimal dan hasil pekerjaan dapat memenuhi persyaratan yang telah ditentukan di dalam Kerangka Acuan Kerja. Secara lebih jelas, metodologi pelakasanaan pekerjaan diilustrasikan dalam Bagan Alir Pelaksanaan Pekerjaan yang disajikan pada Gambar 3.1. Uraian pelaksanaan setiap tahapan kegiatan dijelaskan di bawah ini.

Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO. Oerip Soemohardjo Makassar

III - 3

DACREA MITRAYASA.4 . Oerip Soemohardjo Makassar III . Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO.PT.

3. Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO. Peta Geologi skala 1 : 250.000 atau 1 : 25. fungsi dan status ruas jalan di persimpangan Jl.3 Peta jaringan jalan kota Makassar. Penetapan Desain Sementara (tentative) yang berfungsi sebagai panduan dalam pelaksanaan survai pendahuluan.000.PT. Mengumpulkan informasi dan data-data awal/sekunder di pusat. 3. AP Pattarani dan jalan akses tol. Kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahap persiapan ini meliputi : D1.1 D1 Persiapan Kegiatan persiapan ini dimaksudkan untuk : 1. yang dalam pekerjaan ini diwakili oleh seorang Project Officer.2 Inventarisasi informasi dan data-data awal (data sekunder). Data inventarisasi jalan. • D1.000. Laporan-laporan perencanaan jembatan yang pernah dilakukan di sekitar lokasi proyek. terutama mengenai permohonan bantuan penyediaan data dan informasi yang dibutuhkan (antara lain : informasi harga satuan/upah di lokasi proyek. informasi lokasi sumber material di sekitar lokasi proyek. Koordinasi dan konfirmasi dengan instansi terkait baik di pusat maupun di daerah berkenaan dengan pelaksanaan kegiatan perencanaan teknik ini. oleh • • • • D1. Oerip Soemohardjo. mencakup : • Penentuan titik awal dan akhir rencana proyek pada peta. Menetapkan desain sementara (tentative) berdasarkan data awal yang ada untuk digunakan sebagai panduan pelaksanaan survai pendahuluan.1 Rapat. Koordinasi dan konfirmasi. Jl. Oerip Soemohardjo Makassar III . informasi data struktur tanah di lokasi terdekat). Data curah hujan harian maksimum dalam jangka waktu 10 tahun pada daerah tangkapan. antara lain : • Data kelas. informasi utilitas di sekitar lokasi proyek. untuk mendapatkan kesamaan pandangan mengenai rencana pelaksanaan pekerjaan. 2. data kondisi jalan dan data lalu lintas dari IRMS. • Peta-peta dasar berupa : Peta topografi/rupa bumi (yang dikeluarkan Bakosurtanal) skala 1 : 250.5 . DACREA MITRAYASA. meliputi : • Rapat dengan pihak Pengguna Jasa.

PT.6 . DACREA MITRAYASA.4 Penyusunan Rencana Kerja Terinci Berdasarkan kajian terhadap informasi dan data awal yang telah terkumpul. D2 Survai Pendahuluan (Reconnaissance Survey) Survai Pendahuluan adalah survai yang dilakukan pada awal pelaksanaan pekerjaan.2. lingkungan. • Survai Pendahuluan Lalu Lintas untuk : mengetahui situasi dan kondisi lalu lintas pada persimpangan menentukan lokasi penempatan pos survai • Survai Pendahuluan Geometrik Jalan dan Persimpangan yang antara lain untuk : mengidentifikasi (secara stationing) kondisi medan. data struktur tanah. Rencana Kerja Terinci ini nantinya akan didiskusikan kembali untuk diperbaiki/dipertajam bilamana perlu berdasarkan kesimpulan dan rekomendasi dari hasil survai pendahuluan. dll. menjamin bahwa berdasarkan data hasil survai ini akan dapat dihitung secara kasar perkiraan kuantitas pekerjaan fisik yang akan timbul Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO. bangunan pelengkap jalan. gorong-gorong. yaitu pengumpulan dan pengkajian data-data pendukung perencanaan dari instansi terkait di lokasi proyek. bertujuan untuk memperoleh data awal dan gambaran umum mengenai kondisi lokasi proyek sehingga dapat diketahui permasalahan yang ada. antara lain : informasi utilitas. Oerip Soemohardjo Makassar III . untuk nantinya dilakukan pengecekan (sebelum ditetapkan sebagai alternatif terpilih) terhadap situasi dan kondisi di lapangan (kemudahan pelaksanaan. data bangunan pengaman. Survai pendahuluan dilakukan dengan memadukan informasi dan data sekunder yang dikumpulkan dari instansi terkait dengan hasil pengamatan yang didapat dari survai lapangan. Konsultan menyusun Rencana Kerja Terinci dan mendiskusikannya dengan Project Officer. 3. • Membuat beberapa alternatif rencana alinyemen horizontal flyover dan jalan. hasil rapat koordinasi serta hal-hal terkait yang tercantum di dalam Kerangka Acuan Kerja.3. dll) pada saat pelaksanaan survai pendahuluan dan survai detil. mengidentifikasi dan membuat sketsa lokasi-lokasi yang memerlukan perencanaan galian/timbunan. Kegiatan yang akan dilakukan dalam Survai Pendahuluan ini meliputi : • Studi Literatur. • Koordinasi dan konfirmasi dengan SKNVT P2JJ dan Dinas PU setempat serta instansi/lembaga terkait lainnya dan meminta masukan-masukan yang diperlukan sehubungan dengan dilaksanakannya survai pendahuluan. D1. estetika. desain jembatan di sekitar lokasi proyek dan laporan-laporan lainnya yang berkaitan yang dapat mempengaruhi perencanaan flyover.

• Survai Pendahuluan Bangunan Pelengkap Jalan. menyusun rencana kerja untuk survai detil pengukuran. Survai Pendahuluan Utilitas dan Resettlement untuk : • - • Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO. membuat foto dokumentasi pada lokasi-lokasi khusus. mengamati kondisi topografi dan mendata lokasi-lokasi yang memerlukan pengukuran khusus dan lokasi-lokasi yang memerlukan perpanjangan koridor dan menyarankan posisi patok BM pada titik yang akan dijadikan referensi. menyusun rencana kerja untuk pelaksanaan kegiatan survai detil. Oerip Soemohardjo Makassar III . serta menentukan titik sejauh 200 meter sebelum titik awal dan setelah titik akhir proyek sebagai koridor pengambilan data. Survai Pendahuluan Hidrologi/Hidrolika. menganalisa luas daerah tangkapan (catchment area). mengamati dan mencatat tinggi muka air normal. membuat foto-foto dokumentasi pada lokasi-lokas penting. • Survai Pendahuluan Topografi untuk : menentukan titik awal dan akhir proyek dan pemasangan patok Bench Mark di kedua titik tersebut. mengamati kondisi terrain pada daerah tangkapan sehubungan dengan bentuk dan kemiringan yang mempengaruhi pola aliran. membuat sketsa-sketsa dan foto-foto yang dianggap perlu sebagai panduan untuk pelaksanaan survai detil. mengamati perkiraan lokasi sumber material (quarry) di sekitar lokasi pekerjaan. meliputi : mengumpulkan data curah hujan harian maksimum dalam jangka 10 tahun. memberikan rekomendasi berkaitan dengan rencana trase flyover yang akan dipilih. Harga Satuan Bahan dan Peralatan. mencakup : mengamati secara visual karakteristik dan sifat tanah dan batuan. mencakup : inventarisasi bangunan pelengkap eksisting. mengidentifikasi dan membuat sketsa lokasi-lokasi yang berpotensi memiliki masalah drainase. kondisi serta membuat usulan perencanaan/penanganan yang diperlukan. muka air banjir dan muka air banjir tertinggi yang pernah terjadi. dan perkiraan rencana biaya secara sederhana yang akan mendekati final design. menginventarisasi bangunan drainase eksisting. - • - • Mengumpulkan data Upah. Survai Pendahuluan Geologi. mendata lokasi-lokasi yang akan dilakukan pengeboran maupun test pit. dan Harga Satuan Pekerjaan.. Geoteknik dan Material. dimensi. DACREA MITRAYASA.7 . jenis. menyusun rencana kerja untuk pelaksanaan survai detil.PT.

kondisi topografi dan geometrik jalan. jenis bangunan atas dan bangunan bawah flyover. biaya dan lingkungan. meliputi :  Kriteria Desain Jalan Geometrik Jalan • • • • • Perkerasan Jalan • • • • Kelas Jalan Kecepatan Rencana Potongan Melintang Jarak Pandangan Henti & Menyiap Alinyemen Horizontal Jenis Konstruksi LHR Rencana Umur Rencana CBR Rencana Tanah Dasar Tebal Minimum • Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO. menginventarisasi seluruh utilitas yang akan terkena rencana pembangunan flyover. 3. menentukan lokasi resettlement utilitas yang akan terkena rencana pembangunan flyover. Pola pikir pendekatan dalam penyusunan Kriteria Desain diilustrasikan pada Gambar 3.3. Terhadap semua data tersebut. • Diskusi perencanaan di lapangan mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan kondisi lapangan. serta parameter-parameter lainnya. D3 Penyusunan Kriteria Desain dan Rencana Survai Teknik Berdasarkan kajian terhadap semua data yang diperoleh pada tahap Persiapan dan data hasil Survai Pendahuluan serta masukan-masukan dari SKNVT P2JJ dan Dinas PU setempat serta instansi/lembaga terkait lainnya antara lain seperti kajian terhadap Study FS terdahulu dan kajian terhadap kinerja simpang existing. Kriteria desain ini akan berfungsi sebagai panduan dalam rencana survai detil dan memperbaiki/mempertajam rencana kerja terinci yang telah dibuat. Konsultan akan melakukan diskusi (asistensi) dengan pihak Project Officer untuk mendapatkan masukan dan persetujuan terhadap kriteria desain yang ditentukan sebelum diterapkan dalam kegiatan perencanaan teknik lebih lanjut. DACREA MITRAYASA. dilakukan kajian teknis guna menyiapkan basic design. baik data sekunder maupun data hasil survai lapangan. membuat sketsa situasi lapangan dan merumuskan usulan perencanaan yang diperlukan. berupa alternatif rencana flyover yang meliputi tipe bangunan bawah dan bangunan atas ditinjau dari aspek kemudahan pelaksanaan.3. yang disusun berdasarkan Standar Perencanaan (Standar Nasional Indonesia dan Standar Internasional) yang berlaku. Kriteria desain. Oerip Soemohardjo Makassar III . akan ditentukan kriteria desain yang mengacu pada parameter-paramater dan standar desain yang sesuai dengan kelas dan fungsi jalan.PT. sifat lalu lintas yang dilayani. Data yang diperoleh dari hasil survai pendahuluan ini merupakan dasar pelaksanaan survai teknik dan merupakan panduan untuk penyusunan Kriteria Desain. pemeliharaan. estetika.3.8 .

Lapisan • Alinyemen Vertikal Gambar 3. Oerip Soemohardjo Makassar III . DACREA MITRAYASA. Lalu Lintas Hidrologi.9 .PT. Struktur Tanah dan Utilitas Penyusunan KRITERIA DESAIN Masukan dari Instansi Terkait Peraturan dan PERATURAN MASUKAN & Standar Perencanaan Jembatan Peraturan dan Standar Perencanaan Jalan  Kriteria Desain Jembatan dan Drainase Kriteria Desain Flyover • • • Kriteria Desain Drainase • Tinggi Bebas Tipe Bangunan Atas Panjang dan Lebar Flyover Jenis Pondasi Tipe Bangunan Bawah Bangunan Pelengkap Periode Hujan Ulang Curah • • • • • Kecepatan Aliran Koefisien Pengaliran Koefisien Kekasaran Koefisien Frekuensi Kemiringan Saluran • • • Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO.3 POLA PIKIR PENYUSUNAN KRITERIA DESAIN Topografi dan Jaringan Jalan Inventarisasi dan Kondisi EXISTING INFORMASI & DATA Jalan.

10 .PT. Dalam penyusunan rencana kegiatan survai ini akan dilakukan diskusi dengan Project Officer untuk mendapatkan masukan-masukan. dan pengorganisasian tim. Gambar 3. yang mencakup jenis survai yang diperlukan.4 POLA PIKIR KEGIATAN SURVAI TEKNIK Diskusi dengan Pengguna Jasa Pengorganisasian dan Koordinasi Tim Survai Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO. Oerip Soemohardjo Makassar Penentuan Jenis dan Lokasi Survai serta Penyiapan Kelengkapan Survai III . akan disusun rencana kegiatan survai teknik. jadwal pelaksanaan survai. DACREA MITRAYASA.3.  Kriteria Desain Penerangan Jalan dan Kelengkapan Jalan Kriteria Desain Penerangan Jalan Kuat Penerangan Jenis Lampu Tinggi Tiang Lampu Jarak Tiang Lampu Pemasangan Kriteria Desain Kelengkapan Jalan Jenis Rambu Dimensi dan Warna Rambu Jarak Pemasangan Rambu • • • • • • •  Kriteria Desain Arsitektur dan Lansekap Kriteria Desain Arsitektur • • • • • Kriteria Desain Lansekap • • • • • Fungsi Kawasan Estetika Kepentingan Daerah Kemudahan Pelaksanaan Dana Jenis Tanaman Luas Lahan Peruntukan Lahan Kondisi Lingkungan Pemeliharaan 3.4 D4 Survai Teknik Berdasarkan data hasil survai serta mengacu pada pra-rancangan dan Kriteria Desain yang telah disetujui.

Survai Topografi Survai Teknik Survai Geologi.11 . bangunan pelengkap dan utilitas Survai Hidrologi Survai Lalu Lintas D4. Geoteknik dan Material Survai Inventarisasi Jalan.  Pengukuran kerangka/titik kontrol horisontal dan vertikal. akan dibuat pada setiap seksi. Survai topografi merupakan salah satu kegiatan kunci dalam pekerjaan ini karena data topografi merupakan dasar dari semua data geometrik. Koreksi sudut akan diberikan berdasarkan panjang kaki sudut.  Pengukuran situasi lengkap. dimensi bangunan bawah flyover dan perhitungan volume sehingga hasil pengukuran haruslah akurat dan tidak terdapat kesalahan dalam pengukuran. Lingkup kegiatan Survai Topografi dalam pekerjaan ini meliputi :  Pemasangan patok-patok Bench Mark (dari beton berukuran 10x10x75 cm) minimal 3 buah. mengacu pada tabel almanak matahari yang diterbitkan oleh Direktorat Topografi TNI-AD untuk tahun yang sedang berjalan dan harus dilakukan di lokasi pekerjaan. Perhitungan-perhitungan dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :  Pengintaian Matahari.  Pengukuran potongan melintang setiap 25 meter atau lebih dekat. dan harus dilakukan di lokasi pengukuran.1 Survai Topografi Tujuan pengukuran topografi dalam pekerjaan ini adalah mengumpulkan data koordinat dan ketinggian permukaan tanah sepanjang rencana trase flyover di dalam koridor yang ditetapkan untuk penyiapan peta topografi dengan skala 1 : 500.PT. antara pengamatan matahari yang satu dengan pengamatan berikutnya. masing-masing 1 (satu) buah pada titik awal dan akhir proyek dan 1 (satu) buah pada titik yang akan dijadikan referensi. DACREA MITRAYASA. sesuai dengan kebutuhan. Oerip Soemohardjo Makassar III .  Perhitungan koordinat poligon. Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO.

serta mengidentifikasi lokasi sumber bahan termasuk perkiraan kuantitasnya.  Garis-garis grid dibuat setiap 10 cm.2 Survai Penyelidikan Tanah Tujuan survai Penyelidikan Tanah meliputi antara lain : survai geologi.  Koordinat grid terluar (dari gambar) dicantumkan harga absis (x) dan ordinat (y)-nya.  Pada setiap titik ikat (BM) akan dicantumkan nilai X. tiang utilitas telepon dan PJU. geoteknik dan material dalam pekerjaan ini adalah untuk melakukan pemetaan penyebaran tanah/batuan dasar termasuk kisaran tebal lapisan tanah. batas lansekap.Z-nya dan diberi tanda khusus.  Gambar topografi akan mencakup Daerah Manfaat Jalan (DAMAJA). batas ROW. Oerip Soemohardjo Makassar III . dan akan dilakukan kontrol perhitungan pada setiap lembar perhitungan dengan menjumlahkan beda tingginya. Survai Geologi Survai geologi dilakukan dengan tujuan mengetahui potensi gempa.  Perhitungan sifat datar akan dilakukan hingga 4 desimal (ketelitian 0. akan dibuat dengan ketentuan sebagai berikut :  Penggambaran poligon dibuat dengan skala 1 : 500.  Perhitungan Ketinggian Detil akan dihitung berdasarkan ketinggian patok ukur yang dipakai sebagai titik pengukuran detil dan dihitung secara tachimetris. Penggambaran. DACREA MITRAYASA. seperti batas lajur jalan dan bahu jalan. menentukan jenis dan karakteristik tanah untuk keperluan bahan jalan dan struktur. memberikan informasi mengenai stabilitas tanah.Y.PT. dll.  Seluruh perhitungan akan dilakukan secara komputerisasi. utilitas PAM dan Gas. Survai meliputi pemetaan geologi permukaan detil dengan peta dasar topografi skala 1:250. liquefaction.  Pada setiap lembar gambar dan atau setiap 1 meter panjang gambar dicantumkan petunjuk arah Utara.5 mm).  Penggambaran titik poligon dibuat berdasarkan hasil perhitungan.  Semua data lapangan yang permanen akan digambarkan. Lingkup kegiatan Survai Geologi meliputi : Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO.12 .000. dan Daerah Pengawasan Jalan (DAWASJA). bangunan pelengkap. D4. letak dan dimensi gorong-gorong.  Semua gambar topografi akan disajikan dengan menggunakan software komputer. Daerah Milik Jalan (DAMIJA). batas selokan.

Penyelidikan yang dilakukan meliputi :  menyelidiki setlement dan kekuatan geser  mengevaluasi karakteristik tanah. Digunakan untuk megambil contoh tanah. harus dijaga agar tidak terjadi tekanan yang berlebih pada tanah.  Survai Geoteknik Dalam perencanaan jembatan/flyover dan jalan adalah suatu keharusan untuk dilakukannya penyelidikan geoteknik pada lokasi-lokasi : 1. Batasbatas pemetaan akan ditetapkan dengan jelas sesuai dengan data pengukuran topografi untuk selanjutnya diplot dalam gambar rencana dengan skala 1 : 2. kondisi drainase alami.5 m (pada arah Utara . Analisis terhadap lapukan batuan berdasarkan pemeriksaan sifat fisik/ kimia. pola aliran air permukaan dan tinggi muka air tanah.  Pemetaan jenis batuan yang ada disepanjang trase jalan. perkiraan prosentase butiran kasar/halus) sesuai dengan Metoda USCS.  Pada lokasi oprit dan pelebaran jalan : Dilakukan Bor Tangan dengan mengacu pada ASTM D 4719. jenis tanah. mencakup jenis struktur geologi yang ada antara lain : sesar/patahan. dan setiap contoh tanah akan diberi identitas yang jelas.0 m. Panjang 1. kekar.13 . DACREA MITRAYASA. Pendalaman dilakukan dengan menggunakan sistem putar (rotary drilling) dengan diameter mata bor minimum 75 mm. Pada lokasi abutment dan pilar flyover :  Pemboran Mesin/SPT dengan ketentuan berikut : Mengacu pada ASTM D 2113-94.000 ukuran A3. tata guna lahan. Oerip Soemohardjo Makassar III . dan perlipatan.PT. tebal pelapukan tanah dasar. warna. Putaran bor untuk tanah lunak dilakukan dengan kecepatan maksimum 1 putaran per detik. Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO. Pengambilan contoh tanah dari sumuran uji (test pit) : Dilakukan pada setiap jenis satuan tanah yang berbeda dengan kedalaman 1 – 2 m. Apabila menggunakan drilling mud. kemudian hasilnya akan diplot di atas peta geologi teknik termasuk didalamnya pengamatan tentang : gerakan tanah.Selatan) dan lebar 1. perlapisan batuan. meliputi pemeriksaan sifat tanah (konsistensi. Volume contoh tanah adalah 25 – 40 kg untuk setiap contoh tanah. -  2. Kecepatan penetrasi dilakukan maksimum 30 mm per detik.  Penyelidikan lapangan. Kestabilan galian atau lubang bor pada daerah deposit yang lunak dilakukan dengan menggunakan bentonite (drilling mud) atau casing dengan diameter minimum 100 mm.

PT. Oerip Soemohardjo Makassar III . Unconfined Compressive Strength. alat sondir terangkat ke atas. Uji sondir akan memberikan hasil tahanan ujung konus/conus resistance (NHK) dan daya lekat tanah setiap kedalaman yang diselidiki dalam bentuk jumlah hambatan lekat/total friction resistance (JHP). Apabila menggunakan casing. Terhadap undisturbed sample dilakukan tes laboratorium untuk menentukan index dan structural properties tanah. Besaran structural properties meliputi : Triaxial Compression Test (Unconsolidated Undrained). Atterberg Limits.14 . Pengeboran dapat berhenti setelah menembus kedalaman 5 m tanah keras. DACREA MITRAYASA. Moisture Content. Pada setiap interval kedalaman 1. letak muka air tanah dan data lainnya yang mendukung beserta letak kedalaman lapisan tanah yang bersangkutan. Sebagai hasil bor. Hasil yang diperoleh adalah nilai sondir (qc) atau perlawanan penetrasi konus dan jumlah hambatan lekat (JHP). - Sondir (Pneutrometer Static) Hanya digunakan pada tanah berbutir halus. Sondir berat dengan kapasitas 10 ton. Apabila pembacaan manometer belum menunjukkan angka yang maksimum. casing dipasang setelah mencapai 2 m atau lebih. kecuali di lokasi tanah keras yang lebih dangkal. Kedalaman bor minimum 20 m. harga SPT. Bulk Density. Consolidation Test. Besaran index properties meliputi : Specific Gravity. Direct Shear Test. Pembacaan dilakukan pada setiap penekanan pipa sedalam 20 cm.  Ada dua macam alat sondir yang digunakan : 1. Grafik yang dibuat adalah perlawana penetrasi konus (qc) pada tiap kedalaman dan jumlah hambatan lekat (JHP) secara kumulatif. pekerjaan sondir dihentikan apabila pembacaan pada manometer berturut-turut menunjukkan harga >150 kg/cm2. Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO. Sondir ringan dengan kapasitas 2. Pada setiap kedalaman 3 m (kecuali ditentukan lain) pada tanah lunak diambil undisturbed sample untuk tes laboratorium. Posisi dasar casing minimal berjarak 50 cm dari posisi pengambilan sampel berikutnya. Grain Size Analysis.5 m dilakukan SPT (Standard Penetration Test) dan diambil contoh tanahnya.5 ton 2. dibuat bor log yang paling sedikit dilengkapi dengan lithologi (geological description). maka alat sondir diberi pemberat yang diletakkan pada baja kanal jangkar. Dilakukan untuk mengetahui kedalaman lapisan tanah keras.

Oerip Soemohardjo Makassar III .000. Penghitungan lalu lintas dilakukan pada 2 (dua) sisi jalan dan pencatatannya untuk masing-masing arah. Pemilihan lokasi pos penghitungan ditentukan berdasarakan kriteria : Lokasi pos tersebut mewakili jumlah lalu lintas harian rata-rata dan ruas jalan tidak terpengaruh oleh angkutan ulang alik yang tidak mewakili ruas (commuter traffic).  Tabel 2. serta menginventarisasi jumlah setiap jenis kendaraan yang melewati ruas jalan tertentu dalam satuan waktu. Penghitungan lalu lintas dilakukan pada 2 (dua) sisi jalan.  Pos tipe C untuk ruas jakan dengan LHR < 5. DACREA MITRAYASA.  Lokasi pos tersebut mempunyai jarak pandang yang cukup untuk kedua arah. Survai lalu lintas yang akan dilakukan pada pekerjaan ini adalah survai peghitungan volume lalu lintas (traffic counting) pada persimpangan rencana flyover secara terus-menerus selama 2 x 24 jam. yaitu : Pos tipe A untuk ruas jalan dengan LHR > 10.  Penentuan tipe pos penghitungan lalu lintas didasarkan pada jumlah LHR.3 Survai Lalu Lintas Tujuan survai lalu lintas adalah untuk mengetahui kondisi lalu lintas. Penghitungan dan pencatatan akan dilakukan terhadap semua jenis kendaraan yang lewat.PT.000 s/d 10. D4. sehingga dapat dihitung lalu lintas harian ratarata sebagai dasar perencanaan jalan dan jembatan.000. pencatatannya untuk masingmasing arah dan dibedakan berdasarkan dua kelompok jenis kendaraan.  Pos tipe B untuk ruas jalan dengan LHR 5.000. Penghitungan lalu lintasnya dilaksanakan pada 1 (satu) sisi jalan dan pencatatannya dibedakan untuk masing-masing arah.15 . kecepatan kendaraan rata-rata.1 Tipe Pos dan Cara Penghitungan Volume Lalu Lintas C • B POS B A POS A A Tipe POS POS A Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO. sehingga memungkinkan pencatatan kendaraan dengan mudah dan jelas  Lokasi pos tidak berada pada persilangan jalan. yang dikategorikan dalam 11 kategori kendaraan. menginventarisasi jalan yang ada.

mencakup kendaraan bermotor dan kendaraan tidak bermotor. • • LHR Ruas Jalan Penghit ungan lalu lintas > 10. seperti ditunjukkan pada Tabel 2. Andong/Dokar. kendaraan dibagi ke dalam 11 (sebelas) kategori kendaraan. micro Truk.000 – 10. Gerobak Sapi D4. Jeep dan Station Wagon Opelet. DACREA MITRAYASA.: Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO. Tabel 2.2 Penggolongan Jenis Kendaraan dalam Survai Perhitungan Lalu Lintas Golongan/ Kelompok 1 2 3 4 5a 5b 6 7a 7b 7c 8 Jenis Kendaraan Sepeda motor. dan Mobil hantaran/Pick-up Box Bus Kecil Bus Besar Truk 2 Sumbu Truk 3 Sumbu Truk Gandengan Truk Semi Trailer Kendaraan Tidak Bermotor. sepeda kumbang dan kendaraan bermotor roda 3 Sedan.000 Dibedakan untuk masingmasing arah. dibedakan atas 2 kelompok jenis kendaraan Pengelompokan Kendaraan Dalam perhitungan jumlah lalu lintas. Lingkup kegiatan inventarisasi jalan adalah mencatat data-data jalan sbb.16 . Becak.PT. Pemeriksaan akan dilakukan dengan mencatat kondisi rata-rata setiap interval 25. Sepeda. sekuter. Combi dan Minibus Pick-Up. 5. Utilitas dan Pembebasan Lahan Tujuan dan kegiatan ini adalah untuk mendapatkan data secara umum mengenai kondisi perkerasan di sepanjang koridor rencana flyover. Suburban.000 Untuk masingmasing arah LHR < 5. Pick-up Opelet.000 Pada masingmasing arah.4 Survai Inventarisasi Jalan.2 berikut ini. Oerip Soemohardjo Makassar III .

Pada tahap ini akan dilakukan analisa/perhitungan yang hasilnya akan dituangkan dalam Gambar Rencana.7 Pola Pikir Kegiatan Perencanaan Teknis Diskusi dengan Pengguna Jasa Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO.  Lebar perkerasan jalan eksisting.5 D5 Perencanaan Teknis Perencanaan Teknis adalah bagian utama pekerjaan ini.3. sambil menunggu hasil analisa/perhitungan lengkap data topografi. Analisa/perhitungan akan dilakukan berdasarkan Standar Nasional Indonesia dan Standar Internasional yang berlaku. arah pengambilan foto dan tinggi petugas yang memegang nomor Sta. 3. perencanaan teknis dilakukan dengan mengacu kepada Laporan Antara.  Data yang diperoleh dicatat di dalam format Inventarisasi Jalan (Highway Geometric Inventory). DACREA MITRAYASA. dan data inventarisasi jalan. yaitu data analisa dan penilaian awal dari hasil survai teknik yang telah didiskusikan dengan Project Officer. data geologi dan geoteknik. dalam meter. Pada awal kegiatan. Gambar 3. Oerip Soemohardjo Makassar III .  Membuat foto dokumentasi inventarisasi geometrik jalan minimal 1 (satu) buah foto per 25 meter.17 .  Foto ditempel pada format standar dengan mencantumkan hal-hal yang diperlukan seperti nomor dan nama ruas jalan.  Kondisi daerah di sisi kanan dan kiri jalan serta sarana utilitas yang ada. per 25 meter. data lalu lintas.PT.  Jenis bahan perkerasan jalan eksisting.

Peraturan & Standar yang Berlaku Analisa Hasil Survai Teknik & Data Sekunder Analisa Geometrik Gambar Rencana Analisis Struktur Methode Pelaksanaan Analisa Perkerasan Jalan analisa Drainase Analisa Teknis Bangunan Pelengkap & Pengaman Jalan D5.  A Policy on Geometric Design of Highway and Streets. Direktorat Pembinaan Jalan Kota. keamanan. dan kenyamanan yang optimal dalam batas pertimbangan ekonomi yang layak. Standar yang digunakan sebagai acuan dalam perencanaan geometrik antara lain :  Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan. agar dapat menghasilkan efisiensi. Maret 1992. Perencanaan geometrik flyover dipengaruhi oleh faktor-faktor :     Panjang dan lebar flyover Tinggi bebas minimum Karakteristik lalu lintas Keamanan Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO. Direktorat Jenderal Bina Marga. DACREA MITRAYASA.18 . Oerip Soemohardjo Makassar III .1 Perencanaan Teknis Geometri Perencanaan geometrik flyover merupakan tahap awal perencanaan flyover yang dititik beratkan pada perencanaan bentuk fisik sehingga dapat diwujudkan hubungan yang baik antara ruang dan waktu sehubungan dengan kendaraan yang bergerak.PT. AASHTO 1994.

Pada dasarnya elemen geometrik suatu jalan terdiri dari :    Potongan melintang Alinyemen horisontal Alinyemen vertikal. berarti jumlah lajur lalu lintas adalah 4 lajur 2 arah. Kemiringan melintang di daerah tikungan dipergunakan untuk keseimbangan gaya sentrifugal. Tabel 3. DACREA MITRAYASA. disamping untuk kebutuhan drainase.0 meter. Kecepatan rencana ditetapkan untuk merencanakan dan mengkorelasikan semua bentuk fisik jalan yang memepengaruhi jalannya kendaraan.  Lebar lajur lalu lintas Lebar lajur lalu lintas merupakan lebar kendaraan rencana ditambah dengan ruang bebas antara kendaraan.3 Batasan Panjang Jari-jari Lengkung Superelevasi (%) Jari-jari lengkung.  Jumlah lajur lalu lintas Sebagaimana telah ditentukan dalam KAK.  Kelayakan ekonomi.3. Mengenai hal ini lebih lanjut dapat dilihat pada Tabel 3. dimana besaran dari ketiga elemen geometrik tersebut di atas diturunkan dari kecepatan rencananya. Potongan Melintang Potongan melintang jalan merupakan potongan melintang tegak lurus sumbu jalan. Kecepatan Rencana Kecepatan rencana adalah kecepatan aman maksimum yang dapat diadakan dan kecepatan menerus tertinggi bila keadaan mengijinkan.19 . Jalur Lalu Lintas Jalur lalu lintas adalah keseluruhan bagian perkerasan jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas kendaraan. lebar flyover adalah 2 x 7. R (m) Vr = 80 km/jam Vr = 60 km/jam Vr = 40 km/jam Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO. Oerip Soemohardjo Makassar III . Potongan melintang terdiri dari bagian-bagian jalan sebagai berikut : 1.PT.  Kemiringan melintang (superelevasi) Kemiringan melintang jalur lalu lintas sebesar 2 % di daerah lurus terutama untuk keperluan drainase jalan.

Median Median disediakan untuk memberikan ruang jagaan keamanan dari gangguan yang mungkin ditimbulkan oleh lalu lintas yang berlawanan arah. termasuk lengkung transisi apabila ada. sehingga tidak mengganggu kendaraan lain yang akan melewati jalur lalu lintas.  Jarak pandangan henti. untuk itu lebarnya harus mencukupi.20 .  Panjang minimum lengkung transisi Lengkung transisi ditempatkan : Diantara lengkung lingkaran dengan jari jari yang berbeda Diantara bagian lurus dan lengkung lingkaran.500 120 190 270 330 420 560 800 R < 150 R < 230 R < 330 R < 420 R < 560 R < 800 R < 1. dan Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO. Perhitungan geometriknya harus memperhatikan syarat-syarat berikut :  Hubungan antara jari-jari minimum dan superelevasi maksimum  Jari-jari minimum tikungan  Panjang minimum lengkung horizontal Panjang minimum lengkung horisontal direncanakan untuk memenuhi semua lengkung horisontal. Alinyemen Horizontal Alinyemen horizontal adalah bentuk geometrik flyover pada arah horizontal. Oerip Soemohardjo Makassar III .240 R < 280 R < 380 R < 540 R < 670 R < 870 R < 1. 10 8 6 5 4 3 2 230 330 450 540 670 870 1. Jarak pandangan henti terdiri atas dua jarak : jarak antara kendaraan sejak saat pengemudi melihat halangan/hambatan yang menyebabkan harus berhenti sampai saat rem kendaraan diinjak/digunakan (brake reaction time).300 50 80 130 160 210 280 400 R < 65 R < 100 R < 160 R < 210 R < 280 R < 400 R < 800 2. Bahu jalan Bahu Jalan disediakan untuk tempat pemberhentian bila terjadi gangguan pada kendaraan.PT. DACREA MITRAYASA. 3.240 R < 3. dan mempunyai panjang yang cukup bagi pengemudi untuk menggerakkan kemudi dengan nyaman yang diperbolehkan untuk perubahan didalam lengkung.

DACREA MITRAYASA. Halhal yang menjadi pertimbangan dalam perencanaan alinyemen vertikal adalah :  Kecepatan rencana  Tinggi bebas minimum D5. Alinyemen Vertikal Alinyemen vertikal adalah bentuk geometrik flyover pada arah vertikal. Jarak pandangan henti tergantung pada kecepatan awal kendaraan dan koefisien gesekan antara ban/roda kendaraan dan perkerasan. Oerip Soemohardjo Makassar III .  Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO. jarak yang dibutuhkan untuk menghentikan kendaraan sejak saat dimulainya penggunaan rem hingga kendaraan berhenti.  Superelevasi.PT.21 .2 Perencanaan Teknis Perkerasan Jalan Standar yang digunakan sebagai acuan dalam perencanaan perkerasan jalan adalah : AASHTO Guide For Design of Pavement Structure 1993  Metode Analisa Komponen  Ausroads Pavement Design 2000  RDS.

Oerip Soemohardjo Makassar III . Parameter yang Digunakan 1.22 . Data yang Dibutuhkan Dalam perencanaan konstruksi perkerasan dibutuhkan data-data sebagai berikut :  Data CBR tanah dasar pada lokasi pelebaran jalan. DACREA MITRAYASA.   Data-data lain yang relevan. Base B dan Subgrade) pada lajur luar.  Data lapis-lapis perkerasan eksisting (Aspal. hasil Test Pit dan pengujian CBR lapangan dan laboratorium.  Data lalu lintas harian hasil survai lalu lintas (traffic counting). Beton.  Data sekunder berupa data pertumbuhan lalu lintas. Lalu lintas Data dan parameter lalu-lintas yang digunakan untuk perencanaan tebal perkerasan meliputi :     Jenis kendaraan Volume lalu lintas harian rata-rata Pertumbuhan lalu lintas tahunan Damage factor Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO. Base A.PT. Umur rencana perkerasan.

PT. DACREA MITRAYASA. Oerip Soemohardjo Makassar III .4 Faktor Distribusi Lajur (DL) Jumlah Lajur setiap arah 1 2 3 4 Sumber : AASHTO 1993 (halaman II-9) DL (%) 100 80 – 100 60 – 80 50 – 75 2.5 Reliability (R) R (%) Urban 85 – 99.5 dan untuk nilai Standard Normal Deviation (ZR) mengacu pada Tabel 3.23 . Tabel 3.9 80 – 99 80 – 95 50 – 80 Rural 80 – 99.6 Standard Normal Deviation ( ZR ) Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO. Reliability (R) Reliability (R) adalah probabilitas bahwa perkerasan yang direncanakan akan tetap memuaskan selama masa layanannya.  Umur rencana  Faktor distribusi lajur  Equivalent Single Axle Load (ESAL) selama umur rencana Tabel 3. Nilai dari Reliability (R) yang disarankan mengacu pada Tabel 3.6 sebagaimana diuraikan berikut dibawah ini.9 75 – 95 75 – 95 50 – 80 Klasifikasi Jalan Jalan Tol Jalan Arteri Jalan Kolektor Jalan Lokal Sumber : AASHTO 1993 (halaman II-9) Tabel 3.

persentase struktur perkerasan dalam satu tahun terkena air sampai tingkat mendekati jenuh air (saturated). 1 – 5%.000 -0. R (%) 50 60 70 75 80 85 90 91 92 ZR -0.642 -1. dan > 25%. Tabel 3.7 Mutu Drainase  Mutu Drainase Excellent Good Fair Poor Very poor Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO.282 -1. poor.476 -1.750 Sumber : AASHTO 1993 (halaman I-62) Penetapan konsep Reliability mencakup hal-hal sebagai berikut : Berdasarkan pada parameter klasifikasi fungsi jalan Berdasarkan pada status lokasi jalan.253 -0.037 -1. dengan variasi : < 1%. Mutu ini ditentukan oleh berapa lama air dapat dibebaskan dari pondasi perkerasan. Variabel kedua.674 -0. Resilient Modulus 5.524 -0.9 99.555 -1.841 -1.24 . fair. yaitu urban atau rural Penetapan tingkat Reliability (R) Penetapan Standard Normal Deviation (ZR)  Penetapan Standar Deviasi (So). Oerip Soemohardjo Makassar Lama Air Dipindahkan 2 jam 1 hari 1 minggu 1 bulan Tidak dapat dipindahkan III .090 -3. very poor. Serviceability 4.054 -3. good. DACREA MITRAYASA. yaitu :  Variabel pertama.405 R (%) 93 94 95 96 97 98 99 99.340 -1. 5 – 25%. mutu drainase.751 -1.PT.     3.99 ZR -1. Koefisien Drainase AASHTO memberikan 2 variabel untuk menentukan nilai koefisien drainase. dengan variasi : excellent.881 -2.054 -2.

DACREA MITRAYASA.90 0. Koefisien Lapisan 8.00 1.8 dan Tabel 3.90 – 0.15 – 1.90 0.70 Quality of drainage Exellent Good Fair Poor Very poor Sumber : AASHTO 1993 (halaman II-26) 6.95 – 0.10 1.9.35 – 1.40 – 1.25 – 1.10 – 1.05 – 0.00 1.10 – 1.25 – 1.80 1.9 Koefisien Drainase untuk Rigid Pavement (Cd) Percent of time pavement structure is exposed to moisture levels approaching saturation < 1% 1 – 5% 5 – 25% > 25% 1.20 – 1.70 0.05 1.00 1.15 – 1.80 – 0.00 1.20 1.00 – 0.80 0.20 1. Load Transfer Coefficient (J) 7.35 – 1.15 – 1.80 0.05 – 0.15 – 1. Structural Number (SN) 9. Tebal Minimum Lapisan Perkerasan Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO. Sumber : AASHTO 1993 (halaman II-22) Koefisien drainase untuk Flexible Pavement dan Rigid Pavement ditunjukkan pada Tabel 3.05 1.30 1.30 – 1. Oerip Soemohardjo Makassar III .40 0.75 – 0.25 1.25 – 1.00 – 0. Tabel 3.20 – 1.15 1.90 0.10 1.75 0.60 1.PT.80 – 0.60 0.80 0.40 Quality of drainage Exellent Good Fair Poor Very poor Sumber : AASHTO 1993 (halaman II-25) Tabel 3.8 Koefisien Drainase untuk Flexible Pavement (mi) Percent of time pavement structure is exposed to moisture levels approaching saturation < 1% 1 – 5% 5 – 25% > 25% 1.10 1.90 1.90 – 0.95 0.15 1.00 – 0.15 1.00 1.20 1.80 1.15 1.15 – 1.00 – 0.10 – 1.15 – 1.25 .10 1.00 1.80 0.35 1.

000 50.0 4.001 – 150. pada prinsipnya air hujan (air) yang jatuh di suatu daerah harus dapat segera dibuang.5 3. Dengan menggunakan analisa statistik dan rumus Dr.5 4. Untuk keperluan itu maka harus dibuatkan saluran-saluran guna menampung air hujan yang mengalir pada permukaan tanah atau jalan dan mengalirkannya kedalam saluran pembuangan. Dalam perencanaan drainase jalan.000.000 > 7.000 150.0 3.26 .001 – 7. Mononobe dapat ditentukan besarnya Intensitas Curah Hujan yang akan digunakan untuk merencanakan :  Besar debit air yang harus disalurkan Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO. Saluran pembuangan ini akan mengalirkan air lebih lanjut ke sungai atau ke tempat pembuangan air lainnya.0 6. Tabel 3.0 4.0 2.000. Untuk dapat menghitung debit rencana diperlukan data hujan harian maksimum pada lokasi rencana. DACREA MITRAYASA.000 2. Oerip Soemohardjo Makassar III .0 D5. Data hujan ini didapat dari Badan Meteorologi dan Geofisika dengan durasi data sepanjang 10 tahun.0 2.001 – 2.10.3 Perencanaan Teknis Drainase Standar yang digunakan sebagai acuan dalam perencanaan drainase antara lain :  Tata Cara Perencanaan Drainase Permukaan Jalan (SNI 03 – 3414 – 1994)  Metode Pengukuran Debit Sungai dan Saluran Terbuka (SK SNI 17 – 1989 – F)  Petunjuk Desain Drainase Permukaan Jalan.0 Aggregate Base (inch) 4.000 Sumber : AASHTO 1993 (halaman II-35) Asphalt Concrete (inch) 1. Tebal minimum lapis perkerasan mengacu pada Tabel 3.001 – 500.000.000.000 500.0 6.PT.0 6.10 Tebal minimum Lapis Perkerasan Traffic (ESAL) < 50.

kemiringan rata-rata dasar pengairan (s).Saluran tanah.PT.Aliran pelan banyak tumbuhan dan berlubang 3. Saluran pasangan batu tanpa finishing 4. 4. Coba penampang basah : Tinggi Penampang (h).Seperti yang diatas ada tumbuhan atau kerikil .11 Koefisien Kekasaran Manning Jenis Saluran 1. hitung : beda tinggi (ΔH).023 – 0. Langkah-Langkah Analisa Hidrologi 1. Hitung luas daerah aliran (A) Dari peta topografi yang tersedia dihitung luas cathment area pada lokasi flyover dari aliran air yang berada di dalam koridor perencanaan.040 0.Bersih.013 – 0. Hitung Debit Kapasitas Saluran (Q) Koefisien Kekasaran (n) 0. Saluran beton pra cetak 6.27 .  Bentuk dan dimensi struktur/konstruksi drainase. Saluran Buatan . Hitung Debit Rencana (Q) Perencanaan dimensi dan konstruksi drainase 1. Keliling Penampang Basah (O). tidak berlubang . Hitung koefisien pengaliran (C) 2. 2.025 0. s = ΔH/L 3. Hitung/tentukan Kemiringan Dasar Saluran (S) 5. Lama waktu konsenterasi (Tc) 4. Dari data pengukuran. Intensitas curah hujan ( I ) 5.lurus teratur . 6. 3. Kecepatan air rata-rata (V) 7. panjang daerah pengairan (L).035 0.021 0.050 – 0.017 – 0.014 – 0. lurus. Saluran beton 5.Saluran pada dinding lurus teratur 2.025 – 0.025 – 0. tidak berpasir. DACREA MITRAYASA. Tentukan Koefisien Kekasaran (n) Tabel 3. Tentukan bentuk penampang basah dan tipe dinding saluran.030 – 0. Luas Penampang Basah (F).015 Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO.080 0. Hitung Radius Hidrolik (R). Saluran Alam . Oerip Soemohardjo Makassar III .035 0.033 0.

6.40 – 0.70 – 0.75 – 0.6 C.12 Hubungan Kondisi Permukaan Tanah dan Koefisien Pengaliran (C) No.85 0. 1.60 0.90 4.40 – 0. 12. 5.90 0.95 0.40 0.PT.70 – 0.I .40 – 0.60 – 0. Oerip Soemohardjo Makassar III .95 0.70 – 0.70 0. 8. 10 11.45 – 0. 2.28 .65 0.20 0. ini harus lebih besar dari pada debit Debit Rencana Debit Rencana dihitung dengan menggunakan Rational Formula (SNI 08 – 2424 – 1994).10 – 0. yaitu : Q = Q C I A = = = = 1 3.60 0.80 0.70 – 0. 3.A Debit Rencana (m3/det) Koefisien Pengaliran Intensitas Curah Hujan (mm/jam) Luas Catchment Area (km2) Harga parameter C ditentukan dari tabel berikut ini : Tabel 3.70 0. 7.20 – 0. Kondisi Permukaan Tanah Jalan beton dan aspal Jalan kerikil dan jalan tanah Bahu jalan : Tanah berbutir halus Tanah berbutir kasar Batuan masif keras Batuan masif lunak Daerah pertokoan Daerah pinggir kota Daerah industri Pemukiman padat Pemukiman tidak padat Taman dan kebun Persawahan Perbukitan Pegunungan Koefisien Pengaliran (C) * 0.1994 Keterangan : Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO.60 – 0.60 0.40 – 0.70 0. DACREA MITRAYASA. 9. Kapasitas saluran rencana/maksimum. Sumber : SNI 03 – 3424 .60 – 0.

PT. 1. No 12 / BNKT / 1991.3424 . Oerip Soemohardjo Makassar III .0 1. tentang Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas D5. Tinggi Jagaan Periode ulang curah hujan maksimum dan clearance untuk perencanaan konstruksi drainase ditentukan seperti dalam Tabel 3.13 Periode Ulang dan Tinggi Jagaan Untuk Desain Saluran No. KM 61 tahun 1993. Direktorat Jenderal Bina Marga.  Keputusan Menteri Perhubungan No.3 10 5 0.5 0.5 Sumber : SNI 06 . marka. Saluran Drainase Sungai Besar (Qp ≥ 200 m3/dt) Sungai Kecil (Qp < 200 m3/dt) Saluran Drainase jalan dan Saluran Drainase samping Gorong-Gorong : Jalan Arteri Jalan Lokal Periode Ulang (tahun) 100 50 5 Tinggi Jagaan (m) 2. KM 60 tahun 1993 tentang Marka Jalan. *) untuk daerah datar diambil nilai C yang terkecil sedangkan untuk daerah lereng diambil nilai C yang besar. 4.1994 D5.4 Perencanaan Bangunan Pelengkap & Pengaman Jalan Desain penerangan jalan umum mengacu pada :  Spesifikasi Lampu Penerangan Jalan Perkotaan.13 di bawah ini. Departemen Pekerjaan Umum.KM 62 tahun 1993.29 . 3. No. Desain rambu. DACREA MITRAYASA.5 Perencanaan Teknis Flyover Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO. 2. Tabel 3. Februari 1992. dan lampu isyarat mengacu pada :  Keputusan Menteri Perhubungan No.0 0.  Keputusan Menteri Perhubungan.

DACREA MITRAYASA. Oerip Soemohardjo Makassar III . Gambar 3.3. bangunan bawah.  Spesifikasi Jembatan Jalan Raya AASHTO. dan pondasi. Secara umum.33-1992. Ini dimulai dengan suatu definisi dari masalah dan berkembang dalam hasil yang akan berguna setelah beberapa percobaan dan modifikasi.9 POLA PIKIR PERENCANAAN TEKNIS FLYOVER Potongan Melintang Beban Standar Perencanaan Kombinasi Pembebanan Data / Analisis Soil Perhitungan Struktur Flyover Tahapan perencanaan adalah bersifat uji-coba. perencanaan teknis flyover akan meliputi perencanaan bangunan atas. Pokok-pokok Perencanaan Struktur jembatan/flyover yang baik haruslah memenuhi pokok-pokok berikut :       Kekuatan dan stabilitas struktural Kelayanan Keawetan Kemudahan pelaksanaan Ekonomis dapat disetujui Bentuk estetika baik.  Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971 NI-2. Standar yang digunakan sebagai acuan dalam perencanaan struktur flyover antara lain :  Bridge Management System (BMS) 1992.  Spesifikasi Jepang.30 .  Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Jembatan Jalan Raya. Departemen Pekerjaan Umum.28.  Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung SK SNI T-15-1991-03. SNI 0.PT. Direktorat Jenderal Bina Marga. Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO.

DACREA MITRAYASA. Aksi Tetap Aksi yang bekerja sepanjang waktu dan bersumber pada sifat bahan jembatan.Beban Tumbukan. hambatan perencanaan. menurut lamanya aksi tersebut bekerja. Filosofi Perencanaan Terdapat dua pendekatan dasar untuk menjamin keamanan struktural yang diijinkan oleh Peraturan Jembatan. dan memenuhi kriteria desain arsitektur.Gaya Sentrifugal . Pilihan Bentuk Struktural Hal pertama yang harus dilakukan dalam tahapan perencanaan teknis flyover adalah menentukan bentuk struktural terpilih dengan memperhatikan kondisi lapangan. walaupun mungkin sering terjadi.Beban Truk T .31 . Spesifikasi Pembebanan Menurut spesifikasi Bina Marga – Bridge Management System 1992. beban sekunder dan beban khusus. tetapi mereka menggunakan nilai beban rencana berbeda dan deskripsi berbeda untuk faktor keamanan.  Aksi Lingkungan Beban sendiri Beban mati Pengaruh prategang Pengaruh susut dan rangkak Tekanan tanah Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO. Aksi Transient Aksi ini bekerja dengan waktu yang pendek. yaitu :  Beban Lalu-lintas . yaitu : 1. Aksi ini terbagi beberapa kelompok menurut sumber.Beban Lajur D . Dua filosofi perencanaan tersebut dikenal sebagai “Rencana Tegangan Kerja“ dan “Rencana Keadaan Batas”. Oerip Soemohardjo Makassar III . Data aksi umum yang mempengaruhi jembatan terbagi menjadi 2 bagian.PT.Gaya Rem . cara jembatan dibangun dan bangunan lain yang mungkin menempel pada jembatan. beban dan gaya yang digunakan dalam perhitungan tegangan-tegangan dalam konstruksi adalah beban primer. Yang termasuk aksi ini adalah :      2. Keduanya memberikan jawaban serupa.

Oerip Soemohardjo Makassar III . Rencana Tegangan Kerja Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO. Benda Hanyutan Penurunan  - Aksi-aksi lainnya Gesekan pada Perletakan Pengaruh Getaran Beban pelaksanaan Klasifikasi aksi ini digunakan untuk mendapatkan kombinasi pembebanan yang akan digunakan dalam perencanaan flyover.16. Sebagai ringkasan kombinasi yang lazim diberikan pada Tabel 3. Kombinasi pada keadaan batas ultimate Kombinasi pada keadaan batas ultimate terdiri dari jumlah pengaruh tetap dengan satu pengaruh transient.PT. Sedangkan Faktor beban adalah pengali numerik yang diambil untuk :  Adanya pembedaan yang tidak diinginkan pada beban.32 . 2.  Ketidak tetapan dalam memperkirakan pengaruh pembebanan. Kombinasi beban rencana dikelompokkan ke dalam kelompok-kelompok yaitu :  Kombinasi dalam batas daya layan  Kombinasi dalam batas ultimate  Kombinasi dalam perencanaan berdasarkan tegangan kerja. DACREA MITRAYASA. Kombinasi pada keadaan batas daya layan Kombinasi beban pada keadaan batas daya layan terbagi beberapa kombinasi. Aksi Nominal merupakan aksi yang terdefinisi dalam Tata Cara Pembebanan jembatan di peraturan Perencanaan Teknik Jembatan serta data statistik dengan periode ulang 50 tahun. - Beban Angin Pengaruh Gempa Pengaruh Temperatur Tekanan Hidrostatis dan Gaya Apung Aliran Air.  Adanya perbedaan ketepatan dimensi yang dicapai dalam pelaksanaan.14. Aksi rencana adalah aksi nominal yang telah bertambah atau berkurang oleh faktor beban. Ringkasan Faktor Beban pada aksi-aksi rencana dapat dilihat pada Tabel 3. Kombinasi Beban 1.

0 1. 6.0 1. 15.0 Tdd 1.80 0.Jembatan sementara Tekanan Hidrostatik dan gaya apung Beban Angin Pengaruh Gempa Gesekan Perletakan Getaran Pelaksanaan Simbol PMS Lamanya Waktu Tetap 1. 10. 19. 5.70 0.80 0.00 1.0 1.25 2.80 0.00 1.80 Tdd 1. Oerip Soemohardjo Makassar III .0 1. DACREA MITRAYASA.00 2. Aksi Nama Berat Sendiri .Tekanan Tanah Vertikal .3 1.Jembatan Tetap .50 1.Kasus Umum . 21.0 1.25 1.00 1.00 1. hanyutan & batang kayu .0 1.70 0.0 1.00 1. Tegangan ijin tersebut diperoleh dengan membuat beberapa toleransi untuk stabilitas tidak linier dan pengaruh bahan pada kekuatan unsur terisolasi.0 1. sebenarnya adalah besaran kekuatan ultimate yang dibagi oleh faktor kemanan. Rencana Tegangan Kerja adalah pendekatan elastis yang digunakan untuk memperkirakan kekuatan atau stabilitas dengan membatasi tegangan dalam struktur aktual pada beban kerja.75 Daya Layan Faktor Beban Ultimate Normal Terkurangi 2.Gorong-gorong . 8.80 Tdd Tdd 0.0 1.Kasus khusus Penyusutan dan Rangkak Prategang Tekanan Tanah .20 1.0 1. 18. PPL TTD TTT TTB TTR TTP TTC PES PET PEF 16.Pasif .00 2.30 Tdd 0.25 1.Jembatan besar & Penting . 20.20 2.0 1.80 Tdd Tdd Tdd Tdd 1. SF : Tegangan kerja ≤ Tegangan ijin = tegangan ultimate SF Tabel 3. PEU PEW PEQ TBF TVI TCL Tetap Transient Transient Transient Transient Transient Transient Transient Transient Transient Transient Transient Transient Transient Transient Transient Transient Transient Transient Transient Catatan : Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO.85 0.0 1.0 1.0 1. 4.40 1.PT.0 1.00 Tdd 1.30 0.Aktif .80 Tdd Tdd Tdd Tdd Tdd Tdd 0. 7.Tekanan Tanah Lateral . 9.40 1.0 1.0 1.25 1. 12.0 1.Beton Pracetak .14 Faktor Beban No 1.Beton dicor ditempat Beban Mati Tambahan . 17.0 2.00 1.20 1. 13.0 1.0 1.0 1.0 1.00 Tdd Tdd 0. 3.00 1. 14.50 1.00 2.00 2.0 1.33 .Diam Beban Pelaksanaan Tetap Beban Lajur “D” Beban Truk “T” Gaya Rem Gaya Sentrifugal Beban Trotoar Beban Tumbukan pd penyangga Penurunan Temperatur Aliran sungai.0 PMA PSR PPR PTA Tetap Tetap Tetap Tetap 1. 11.0 1.

15 Kombinasi Beban pada Batas Daya Layan Kombinasi Primer Sekunder Tersier Beban Aksi Tetap + satu Aksi Transient Primer + 0.Beban Pelaksanaan Tetap Beban Lajur “D” atau Beban Truk “T” Gaya Rem atau Gaya Sentrifugal Beban Pejalan Kaki Gesekan Perletakan Pengaruh Temperatur Aliran/Hanyutan/Tumbukan dan Hidrostatis /Apung Beban Angin Pengaruh Gempa Tumbukan Pengaruh Getaran Pelaksanaan Simbol PMS PMA PSR PPR PTA TTD TTT TTB TTR TTP TBF TET TEF TEU PEW PEQ PBF TVI TCL o o o x X o o x o o x x o o x x x x o o x o o o o x o o o o o o o o o o o o o o x x o o x o o o x o o o x x o o o o o o 1 x Kombinasi Beban Daya Layan (1) Ultimate (2) 2 x 3 x 4 x 5 x 6 x 1 x 2 x 3 x 4 x 5 x 6 x Catatan : (1) Dalam keadaan batas daya layan pada bagian tabel ini.Prategang . (1) Simbol yang terlihat hanya untuk beban nominal.PT. Tabel 3.16 Kombinasi yang Lazim Digunakan Aksi Nama Aksi Tetap . faktor beban yang cocok adalah nol. Dalam hal ini dimana pengaruh beban transient adalah meningkatkan keamanan.7 (satu Aksi Transient lainnya) Primer + 0.Penyusutan dan Rangkak . simbol untuk beban rencana menggunakan tanda bintang untuk : PMS : berat sendiri nominal P*MS : Berat sendiri rencana (2) Untuk penjelasan lihat pasal yang sesuai.Tekanan Tanah . aksi dengan tanda x adalah memasukkan faktor beban daya layan penuh Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO. (3) Ttd : menandakan tidak dapat dipakai. DACREA MITRAYASA.Beban Mati Tambahan . Oerip Soemohardjo Makassar III .5 (dua atau lebih Aksi Transient) Tabel 3.Berat Sendiri .34 .

reaksi perletakan dan reformasi (dengan tambahan dan pengurangan untuk keadaan. Model struktural tertentu Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO.3. Kejadian keruntuhan umumnya dikelompokan dalam dua kategori utama (atau keadaan batas) : 1. gaya aksial. Idealisasi struktur yang baik adalah yang mewakili secara realistik perilaku aktual struktur dan kondisi batas pada aksi beban rencana. Kombinasi beban untuk aksi demikian harus dihitung dengan melihat harga rencana maksimum dan minimum untuk menentukan keadaan yang paling bahaya. aksi dengan tanda x adalah memasukkan faktor beban ultimate penuh o adalah memasukkan faktor beban ultimate yang sudah diturunkan besarnya sama dengan daya layan Beberapa aksi tetap bisa berubah menurut waktu secara perlahan-lahan. geser. 1. Keadaan batas ultimate atau runtuh Keadaan batas ultimate dilampaui bila keamanan jembatan terancam oleh :    deformasi tidak dibatasi perputaran guling kurang stabilitas. Terdapat beberapa cara untuk menghitung respons tersebut.35 . o (2) (3) adalah memasukkan faktor beban daya layan yang sudah diturunkan harganya Dalam keadaan batas ultimate pada bagian tabel ini. Respons susunan keseluruhan akan mencakup kemantapan terhadap geseran dan guling.PT. 2. puntir. keawetan dan getaran.3. DACREA MITRAYASA. retakan dan terkelupas.6 dan 3. Analisis Bangunan Bawah dan Bangunan Atas Analisis struktural mencakup idealisasi struktur sebagai model numerik darimana respons unsur tersendiri dan susunan keseluruhan dapat dihitung. Rencana Keadaan Batas Rencana Keadaan Batas adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pendekatan perencanaan dimana semua fungsi bentuk struktur telah diperhitungkan. Respons unsur tersendiri yang diperlukan mencakup momen lentur. Oerip Soemohardjo Makassar III . Keadaan batas kelayanan Keadaan batas kelayanan adalah kondisi kurang parah yang berkaitan dengan lendutan. BMS Peraturan Bagian 3. Tingkat perencanaan aksi tersebut dipilih demikian sehingga :    tidak membuat jembatan kurang baik untuk penggunaan tidak menimbulkan kekhawatiran masyarakat tidak banyak mengurangi umur kelayanan jembatan.9).

meliputi : denah. .2. . dan harga satuan pekerjaan pada lokasi proyek yang diperoleh dari instansi terkait pada saat Survai Pendahuluan.2. detil struktur Gambar bangunan pelengkap Gambar standar.L.BMS Peraturan Bagian 3.L. Peraturan menyatakan bahwa satu dari cara berikut dapat digunakan :  Cara elastis linier pada S. Perhitungan/analisa harga satuan pekerjaan Perhitungan/analisa harga satuan dilakukan untuk mendapatkan harga satuan item pekerjaan yang dalam Spesifikasi dijadikan mata pembayaran pekerjaan. material dan tenaga mengacu pada data upah. Penggambaran Gambar rencana akan dikerjakan dengan bantuan komputer menggunakan CAD System.2.S.6 Penganggaran Biaya Konstruksi Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah : 1. Gambar-gambar yang disiapkan terdiri dari :        Gambar layout alinyemen Gambar plan & profile Gambar potongan melintang Gambar tipikal struktur perkerasan jalan Gambar struktur flyover. Oerip Soemohardjo Makassar III . 2.36 .2.S.4. harga satuan bahan dan peralatan.  Cara plastis hanya pada U. Model struktural tidak tertentu Bila struktural tidak dapat direduksi sampai model tertentu atau dimana deformasi juga diperlukan.3. potongan. Banyak struktural jembatan dapat diidealisasi dengan ketepatan mencukupi seperti model dua dimensi tertentu yang dapat dihitung untuk gaya respons unsur dan kemantapan susunan keseluruhan dengan statika sederhana.PT. Perhitungan analisa harga satuan peralatan (equipment). DACREA MITRAYASA.L.2.BMS Peraturan Bagian 3. dan U. BMS Peraturan Bagian 3. D5.S.S. Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO.L.S.L. dan U.  Cara elastis mendalam tidak linier pada S.

 BAB IX Bentuk-bentuk Jaminan. sedangkan Bab II. 3. dan Surat Perjanjian Kemitraan.  BAB VIII Daftar Kuantitas.7 Penyiapan Dokumen Lelang Sesuai standar Departemen Pekerjaan Umum. Bab VI.  BAB VI Spesifikasi Teknis.  BAB IV Syarat-Syarat Umum Kontrak. Perkiraan Biaya Pekerjaan Fisik (Engineer Estimate) Berdasarkan hasil perhitungan kuantitas pekerjaan dan perhitungan harga satuan pekerjaan dilakukan perhitungan perkiraan biaya konstruksi yang akan menjadi acuan penyediaan anggaran bagi pelaksanaan konstruksi.  BAB VII Gambar-Gambar.  BAB III Bentuk Surat Penawaran. Bab I. 2.  BAB II Data Lelang.PT. Surat Perjanjian. Perhitungan kuantitas pekerjaan Perhitungan kuantitas pekerjaan dilakukan untuk setiap jenis pekerjaan mengacu pada gambar rencana dan standar mata pembayaran. Bab V. Oleh karena itu.  BAB V Syarat-Syarat Khusus Kontrak. Penyusunan spesifikasi teknis Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO. dan Bab IX merupakan dokumen lelang yang mengatur administrasi. Surat Penunjukan.37 . D6. DACREA MITRAYASA.  Adendum (bila ada). penyiapan dokumen lelang ini meliputi : 1. Bab III. dan Bab VIII merupakan dokumen lelang yang mengatur teknis pekerjaan sehingga harus disesuaikan dengan jenis pekerjaan. Oerip Soemohardjo Makassar III . Lampiran. Bab IV. Analisa Harga Satuan dan Metode Pelaksanaan. Bab VII. dokumen lelang pekerjaan fisik terdiri dari :  BAB I Instruksi Kepada Peserta Lelang.

DACREA MITRAYASA. batasan-batasan. Penyiapan daftar kuantitas dan harga (BOQ) Daftar kuantitas dan harga (Bill of Quantity/BOQ) disiapkan berdasarkan hasil perhitungan kuantitas pekerjaan. D6. dilakukan pula pembahasan/presentasi pada untuk mendapatkan masukan dan koreksi. prosedur dan metode pelaksanaan pekerjaan. Sedangkan presentasi pada Konsep Laporan Akhir dimaksudkan untuk menyempurnakan hasil akhir penyusunan rencana teknis flyover. Penyusunan spesifikasi teknis akan mengacu pada Spesifikasi Umum Bidang Jalan dan Jembatan yang berlaku dan akan meliputi kegiatankegiatan :  Inventarisasi dan penyusunan nomor item pembayaran untuk setiapjenis pekerjaan yang ada dalam perencanaan teknik  Penyusunan spesifikasi khusus yang terdiri dari penyusunan filosofi pekerjaan. Presentasi pada Laporan Pendahuluan dimaksudkan untuk mendapatkan rencana kerja dan rencana survai yang tepat sasaran dan optimal. 2.8 Tata Cara/Metode Pelaksanaan Tata cara/metode pelaksanaan sebagai acuan dalam pelaksanaan pembangunan fisik adalah tata cara/metode pelaksanaan yang digunakan sebagai dasar penentuan biaya konstruksi.PT. Selain melakukan koordinasi secara rutin dan periodik dengan Project Officer. cara pengukuran dan pembayaran untuk setiap item pekerjaan yang belum tertuang dalam spesifikasi umum. Presentasi dilakukan pada saat pembuatan Laporan Pendahuluan dan Konsep Laporan Akhir.38 . FORMULIR PENDUKUNG Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO. KOORDINASI Koordinasi dilakukan agar kegiatan penyusunan rencana teknis flyover ini memberikan hasil yang optimum. kriteria-kriteria. Oerip Soemohardjo Makassar III .

Formulir pendukung kegiatan survai teknik. DACREA MITRAYASA.39 . survai lalu lintas dan survai inventarisasi jalan. yaitu : survai topografi. yang digunakan ada pada lembar lampiran. survai geologi dan geoteknik. Oerip Soemohardjo Makassar III .PT. Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Rencana FO.