Anda di halaman 1dari 50

BOOKLET BAKTI SOSIAL

Pengobatan, Khitan, dan Bedah Minor

Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Surakarta Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta 2012

Booklet Bakti Sosial: Pengobatan, Khitan, Bedah Minor

DAFTAR ISI
1. Pengobatan.2 2. Bedah Minor22 3. Sirkumsisi 36

PENGOBATAN

ANAMNESIS Anamnesis adalah pengambilan data /informasi subyektif yang dilakukan oleh dokter kepada pasien atau keluarga pasien melalui serangkaian wawancara yang berkaitan dengan keluhan utama pasien.

PEMERIKSAAN VITAL SIGN A. SUHU TUBUH Suhu tubuh merupakan hasil keseimbangan antara produksi panas dan hilangnya panas dari tubuh ke lingkungan. Produksi panas yang dihasilkan tubuh antara lain berasal dari : a. Metabolisme dari makanan ( Basal Metabolic Rate ) b. Olahraga c. Shivering atau kontraksi otot skelet d. Peningkatan produksi hormon tiroksin ( meningkatkan metabolisme seluler ) e. Proses penyakit infeksi f. Termogenesis kimiawi ( rangsangan langsung dari norepinefrin dan efinefrin atau dari rangsangan langsung simpatetik ) Suhu tubuh normal menurut umur UMUR Bayi baru lahir 2 tahun 12 tahun Dewasa SUHU ( Celcius ) 36,1 37,7 37,2 37 36 SUHU (Fahrenheit ) 97 100 98,9 98,6 96,8

Pengukuran suhu tubuh dapat dilakukan dibeberapa tempat yaitu di mulut (oral), anus (rectal), ketiak (axilla) dan telinga ( auricular ) . Masing- masing tempat mempunyai variasi suhu yang berlainan. Suhu rektal biasanya berkisar 0.4 C (0.7 F) lebih tinggi dari suhu oral dan suhu aksila lebih rendah 0.6 C (1 F) dari pada oral . Di Puskesmas biasanya yang sering dipergunakan adalah pemeriksaan suhu aksila.

B. DENYUT NADI Denyut nadi (pulse) adalah getaran/ denyut darah didalam pembuluh darah arteri akibat kontraksi ventrikel kiri jantung. Denyut ini dapat dirasakan dengan palpasi yaitu dengan menggunakan ujung jari tangan disepanjang jalannya pembuluh darah arteri, terutama pada tempat- tempat tonjolan tulang dengan sedikit menekan diatas pembuluh darah arteri. Pada umumnya ada 9 tempat untuk merasakan denyut nadi yaitu temporalis, karotid, apikal, brankialis, femoralis, radialis, poplitea, dorsalis pedis dan tibialis posterior, namun yang paling sering dilakukan yaitu : 1. Arteri radialis Terletak sepanjang tulang radialis, lebih mudah teraba diatas pergelangan tangan pada sisi ibu jari. Relatif mudah dan sering dipakai secara rutin 2. Arteri Brankialis Terletak di dalam otot biceps dari lengan atau medial di lipatan siku (fossa antekubital). Digunakan untuk mengukur tekanan darah dan kasus cardiac arrest pada infant 3. Arteri Karotid Terletak dileher dibawah lobus telinga, dimana terdapat arteri karotid berjalan diantara trakea dan otot sternokleidomastoideus. Sering digunakan untuk bayi, kasus cardiac arrest dan untuk memantau sirkulasi darah ke otak Frekuensi denyut nadi manusia bervariasi, tergantung dari banyak faktor yang

mempengaruhinya, pada saat aktifitas normal : Normal : 60 100 x / menit, Bradikardi : <> Takhikardi : > 100. x / menit Denyut nadi pada saat tidur yaitu : a. Bayi baru lahir 100 180 x/menit b. Usia 1 minggu 3 bulan 100 220 x/ menit c. Usia 3 bulan 2 tahun 80 150 x/menit d. usia 10 21 tahun 60 90 x/menit e. Usia lebih dari 21 tahun 69 100 x/menit

C. PEMERIKSAAN TEKANAN DARAH

4 Pemeriksaan tekanan darah diperoleh dari pengkuran pada sirkulasi arteri. Aliran darah akibat pemompaan jantung menimbulkan gelombang yaitu gelombang tinggi yang disebut tekanan systole dan gelombang pada titik terendah yang disebut tekanan diastole. Perbedaan antara systole dan diastole disebut pulse pressure. Satuan Tekanan darah dinyatakan dalam millimeter air raksa (mm hg). Hindari penempatan manset pada lengan yang terpasang infus, terpasang shunt arterivena, graft, operasi payudara, ketiak serta pengangkatan limfe, lengan/ tangan yang mengalami fistula, trauma dan tertutup gip atau balutan keras. Tabel tekanan darah No USIA Tekanan Sistole (mm Hg ) 1 2 3 4 5 Bayi Anak 7 - <> 10 - <> Laki- laki Perempuan Usia tengah Usia lanjut 65 115 87 117 124 136 124 127 120 140 160 Tekanan Diastole (mm Hg ) 42 80 48 64 77 84 63 74 80 80 90

D. PEMERIKSAAN FREKUENSI PERNAPASAN Seseorang dikatakan bernapas bila menghirup oksigen (O2) dan mengeluarkan karbon dioksida (CO2) melalui sistim pernapasan. Bernapas dapat dalam dan dapat pula dangkal. Pernapasan yang dalam akan mempunyai volume udara yang besar, baik pada waktu tarik napas/ inspirasi/ inhalasi atau pada waktu mengeluarkan napas/ ekspirasi/ekshalasi. Sedangkan pada pernapasan dangkal maka volume udara akan mengecil. Frekuensi napas normal tergantung umur : Usia baru lahir sekitar 35 50 x/menit Usia <> usia 2-12 tahun 18 26 x/menit dewasa 16 20 x/menit. Takhipnea :Bila pada dewasa pernapasan lebih dari 24 x/menit

5 Bradipnea : Bila kurang dari 10 x/menit disebut Apnea : Bila tidak bernapas .

ISTILAH ISTILAH DALAM RESEP Singkatan singkatan resep a, aa ,xxx a. c. ad in lag.gutt. ad. part. dolent. ad us.ext. (a.u.e) ad.us.int. (a.u.i) ad usus prop. add, ad. ag it. agit.a.sum. alt.dieb. ana Ante coenam Ad in lagenam guttatorium Ad partes dolantes Ad usus externum Ad usus internum Ad usus propium Adde Agits, agitetur Agita ante sumendum Ateris diebus Dari masing-masing Sebelum makan Dalam botol tetes Di tempat yang sakit Untuk pemakaian luar Untuk pemakaian dalam Untuk pemakaian sendiri Tambahkan Kocok, hendaknya dkocok Kocok sebelum dipakai Sesudah sehari, setiap dua hari a.d. a.l. b.d.d.c. Auris dextra Auris laeva Bis de die cochlear Telinga kanan Telinga kiri Dua kali sehari satu

sendok makan b.i.d. c.c ( coch. cib) c.th. d.c. d.t.d. da, det. f.l.a. Bis in die Cochlear cibarum Cochlear thea Durante coenam Da tales dosis Da , detur Fac lege artis Dua kali sehari Sendok makan Sendok teh Sementara makan Dengan dosis demikian Berikan Buatlah menurut keahlian

6 gtt. h.d h.m haust. Guttata Hora decubitus Hora matutima Haustus Tetes Jam tidur Pagi hari Sekali tegyuk, minum

sekaligus. in.d In.lag.ben.obt i.m.m inmitt, in. lag m. m.f m.d.s In dies In lagena bene obturata In manus medici Inmitte, in lagena Misce Misce fac Misceda signa Sehari, dalam sehari Dalam botol tertutup rapat Serahkan ke dokter Masukkan dalam botol Campur Campur dan buat Campur dan buat aturan pakai m.et.v m.i No. non.in lag.org Mare et vaspare Mihi ipsi Numero Non in lagena originale Pagi dan senja Untuk saya sendiri Jumlah Jangan diberikan dalam botol aslinya

o.b.h.c

Omni bihorio cochlear

Tiap dua jam 1 sendok makan

o.h o.4.h.c

Omni hora Omni cochlear cuatuor

Tiap jam hora Tiap empat jam 1 sendok makan Tiap malam / tiap sore Kedua belah mata

o.t / o.v O2 o.d.s p.d.sing

Omni nocte / omni vaspare

Oculus dextra sinistra Pro dosis singulari

Mata kanan dan kiri Takaran tunggal, sekali pakai

p.c

Post coenam

Sesudah makan

7 p.r.n Pulv Pro renata Pulvis, pulveres Jika diperlukan Serbuk terbagi, serbuk tak terbagi. q.s s. s.o.o sin.confec s.u.e s.u.c s.l a, aa ,xxx a. c. ad in lag.gutt. ad. part. dolent. ad us.ext. (a.u.e) ad.us.int. (a.u.i) ad usus prop. add, ad. ag it. agit.a.sum. alt.dieb. a.d. a.l. b.d.d.c. b.i.d. c.c ( coch. cib) c.th. d.c. Quantum satis Signa Sit opus sit Sine confectione Signa usus eksternum Signa usus coenitus Saccharum laetis ana Ante coenam Ad in lagenam guttatorium Ad partes dolantes Ad usus externum Ad usus internum Ad usus propium Adde Agits, agitetur Agita ante sumendum Ateris diebus Auris dextra Auris laeva Bis de die cochlear Bis in die Cochlear cibarum Cochlear thea Durante coenam Secukupnya Tandailah Bilamana perlu Tanpa pembungkus asli Tandailah obat luar Tandailah tahu pakai Gula susu Dari masing-masing Sebelum makan Dalam botol tetes Di tempat yang sakit Untuk pemakaian luar Untuk pemakaian dalam Untuk pemakaian sendiri Tambahkan Kocok, hendaknya dkocok Kocok sebelum dipakai Sesudah sehari, setiap dua hari Telinga kanan Telinga kiri Dua kali sehari satu sendok makan Dua kali sehari Sendok makan Sendok teh Sementara makan

8 d.t.d. da, det. f.l.a. gtt. h.d h.m haust. in.d In.lag.ben.obt i.m.m inmitt, in. lag m. m.f m.d.s m.et.v m.i No. non.in lag.org Da tales dosis Da , detur Fac lege artis Guttata Hora decubitus Hora matutima Haustus In dies In lagena bene obturata In manus medici Inmitte, in lagena Misce Misce fac Misceda signa Mare et vaspare Mihi ipsi Numero Non in lagena originale Dengan dosis demikian Berikan Buatlah menurut keahlian Tetes Jam tidur Pagi hari Sekali sekaligus. Sehari, dalam sehari Dalam botol tertutup rapat Serahkan ke dokter Masukkan dalam botol Campur Campur dan buat Campur dan buat aturan pakai Pagi dan senja Untuk saya sendiri Jumlah Jangan diberikan dalam tegyuk, minum

botol aslinya Tiap dua jam 1 sendok makan Tiap jam Tiap empat jam 1 sendok makan

o.b.h.c o.h o.4.h.c o.t / o.v O2 o.d.s p.d.sing

Omni bihorio cochlear Omni hora Omni cuatuor hora cochlear

Omni nocte / omni vaspare Tiap malam / tiap sore Kedua belah mata Oculus dextra sinistra Pro dosis singulari Mata kanan dan kiri Takaran tunggal, sekali

9 pakai p.c p.r.n Pulv q.s s. s.o.o sin.confec s.u.e s.u.c s.l Kode a.c. a.d / AD a.l. a.s. / AS a.u. / AU aa ad ad. Lib. alt. die. alt. h. amp. aq b.d. b.i.d. b.i.n. bis Post coenam Pro renata Pulvis, pulveres Quantum satis Signa Sit opus sit Sine confectione Signa usus eksternum Signa usus coenitus Saccharum laetis asal kata ante cibum / cibos aurio dexter aurio laeva auris sinister auris utro ana ad ad libitum alternus die alternus hora ampule aqua bis die bis in die bis in noctus bis Sesudah makan Jika diperlukan Serbuk terbagi, serbuk tak terbagi. Secukupnya Tandailah Bilamana perlu Tanpa pembungkus asli Tandailah obat luar Tandailah tahu pakai Gula susu Arti sebelum makan telinga kanan telinga kiri telinga kiri kedua telinga tiap-tiap hingga /sampai digunakan sesuai keinginan (bebas) setiap lain hari setiap lain jam 1 dosis unit air 2x sehari 2x sehari 2x semalam dua kali

10 bol. cap cc cc comp. d d.t.d dieb. alt. div. emp. emul. eq. pts. ex aq fl. ,fld. g gr grad. gtt. h. , hr. h.s. i, ii, iii, or iiii I.D. I.M. I.P I.V. inj. in p. aeq. lin liq bolus capsula cum cibos cubic centimetres comsitus dies dentur tales doses diebus alternis divide ex modo prescripto emulsum equalis partis ex aqua fluida gram grain gradatim gutta hora hora somni doses intra dermal intra muscularly intra peritoneal intra veneously injectio dividiatur in partes aequales linimentum liquor sebanyak dosis tunggal kapsul dengan makanan sentimeter kubik diloleskan hari berikan sesuai dosis setiap lain hari dibagi sesuai petunjuk cairan pengemulsi bagian yang sama dalam air cairan gram grain (1 gram=15 grain) berangsur-angsur diteteskan jam waktu tidur jumlah dosis disuntikkan di bawah kulit disuntikkan ke dalam otot disuntikkan di bawah selaput disuntikkan ke dalam nadi suntikan dibagi menjadi bagian yg sama digosok solution

11 lot. m, min. M. mane mcg mEq mg mist. mixt. ml nebul no. nocte noct. maneq. non rep. npo o.d / OD o.l. o.m. o.n. o.s / OS o.u / OU opth os otic p.c. p.o. p.p.a. p.r p.r.n. lotion minimum Misce mane microgram milli equivalent milligram mistura mixtura millilitter nebula numero nocte noct maneque non repetatur nill per os oculus dexter oculus laeva omni mane omni nocte oculus sinister oculo utro opthalmic ossa otical post cibum per os phiala prius agitata pro rectum pro re nata pelembab minimal campur pagi hari mikro gram mili ekuivalen mili gram campur mixture mili liter semprotan nomor malam pagi dan malam hari tidak dapat diulang tidak ada yg melalui mulut mata kanan mata kiri pada pagi hari pada malam hari mata kiri setiap mata pada mata tulang pada telinga setelah makan melalui mulut dikocok dahulu melalui anus sesuai kebutuhan

12 p.v. per pil pulv. q q._h q.3h q.a.d q.d. / QD q.h.s q.i.d. q.o.d. / QOD qq. hh. q.q.h. q.s. qAM ql q.p. qPM qv R/ rep. , rept. Rx s s.a. s.i.d s.o.s. SC, subc, subq,subcut per vaginum per pilula pulvis melalui kelamin wanita melalui pil bubuk setiap setiap . jam setiap 3 jam setiap hari yang berbeda setiap hari setiap menjelang tidur 4x sehari setiap hari yang berbeda setiap jam setiap 4 jam gunakan secukupnya setiap pagi sebanyak yang diinginkan sebanyak yang dianjurkan setiap sore sebanyak ambil dapat diulang resep tanpa gunakan pertimbangan sekali sehari segera jika dibutuhkan disuntikkan di bawah kulit sesuai

quaque quaque . hora quaque 3 hora quaque alternis die quaque die quaque hora somni quarter in die quaque os die quaque hora quarter quaque hora quantum sufficiat quaque ante meridiem quantum libet quantum placeat quaque post meridiem quantum vis recipe repetatur radix sine secundum artum semel in die si opus sit sub cutem

13 Sig. / S SL sol. ss. stat. supp. susp. syr. t.d.s t.i.d. t.i.w. tab. tal. tbsp. tr, tinc., tinct. troche tsp. u.d. / ut dict. ung. vag. signa, signetur sub lingualy solutio semis statim suppositorium suspentium syrupus ter die sumendum ter in die ter in w tabella talus tablespoon tincture trochiscus teaspoon ut dictum unguentum vaginum tulis pada label di bawah lidah larutan setengah / separuh segera obat perangsang penyerapan sirup 3x sehari 3x sehari 3x seminggu tablet seperti sendok makan (15 ml) larutan dlm alkohol obat batuk sendok teh (5 ml) sesuai petunjuk obat salep alat kelamin wanita

CONTOH PENULISAN RESEP a. Sediaan bentuk puyer/pulveres R/ Acetosal 100 mg Sacch. Lact. q.s m.f. pulv dtd no.X 3 dd I p.c --------------------------- b. Sediaan bentuk kapsul R/ Acetosal 100 mg

14 Codein HCl 10 mg Luminal 15 mg m.f. pulv dtd no.X da in caps 3 dd I p.c ---------------------------

R/ Acetosal 100 mg Codein HCl 10 mg Luminal 15 mg m.f. caps dtd no.X 3 dd I p.c ---------------------------

c. Sediaan paten bentuk kapsul R/ Tetracyclin caps. 250 mg no. XVI 4 dd I p.c ---------------------------

d. Sediaan bentuk cair R/ Ac. Boric. 3 Aq. Dest. Ad 100 cc m.f.sol S.u.e obat cuci mata ---------------------------

e. Sediaan paten bentuk cair R/ Calapol Susp. fl I 3 dd cth ---------------------------

15

f. Sediaan obat tetes/guttae sebagai obat dalam R/ Selfigon drops fl. I 3 dd gtt X ---------------------------

g. Sediaan obat tetes/guttae sebagai obat luar R/ Catalin fl. I 2 dd gtt. I i.o.u ---------------------------

R/ Otolin ear drops fl I 4 dd gtt. III A.D ---------------------------

CARA2 MENGHITUNG DOSIS OBAT UTK ANAK 1. Berdasarkan Perbandingan dengan Dosis Dewasa a. menurut perbandingan umur b. menurut perbandingan berat badan c. menurut perbandingan luas permukaan tubuh (LPT) /BSA 2. Berdasarkan Ukuran Fisik Anak Secara Individu a. sesuai berat badan anak (kg) b. sesuai LPT (nomogram Du Bois) c. rumus R.O.Mosteller LPT anak/m2 = Tcm x BB kg 360 Cara no 2 lebih baik dari pada no 1 1. Rumus Dosis Anak Berdasarkan Umur a. YOUNG

16 Da = n n + 12 b. COWLING Da = Umur Pada Ultah Berikutnya x Dd(mg) 24 c. DILLING Da = n x Dd (mg) 20 d. AUGSBERGER Da = 4n+20 x Dd(mg) 100 e. FRIED Da = m x Dd (mg) 150 2. Rumus Dosis Anak Berdasarkan BB a. CLARK Da = W anak x Dd (mg) W dwasa b. Augsberger Da = 1,5 x W x Dd (mg) 100 3. Rumus Dosis Anak Berdasarkan Luas Permukaan Tubuh a. CRAWFORD-TERRY-ROURKE Da = LPT anak x Dd (mg) LPT dewasa LPT dewasa = 1,73 m2 W= BB kg m=umur anak bln n=umur anak th x Dd (mg) utk kurang dari 12 th

Daftar obat 1. AINS Nama obat Piroksikam

Indikasi Dosis Penyakit inflamasi 10-20 mg/hr sendi:osteoarthritis,

Kontra indikasi Hipersensitivitas, tukak lambung,

Efek samping Gangguan saluran cerna,

17
rheumatoid spondilitis, gangguan otot skelet, gout akut. Meringankan influenza yang disertai gejala demam, pilek, bersin, sakit kepala dan batuk. Menghilangkan rasa sakit, inflamasi rheumatoid arthritis, reumatik lain. Analgesik hamil, minum antikoagulan. pusing, tinnitus, nyeri kepala, eritem kulit.

Alpara

Sirup: anak (612th) 3x1: kaplet Dewasa: 1-2 kaplet 100-150 mg/3xpemberian Pasien alergi AINS, tukak lambung Dyspepsia, pusing, ruam, tinnitus.

Voltadex

Antalgin Asam mefenamat

3x500 mg 250-500 mg/2-3x pemberian/hari

Tukak lambung Hamil, anak <14 th, pemberian tidak > 14hr

Allopurinol

Pirai kronik

200-400 mg/hr

Paracetamol

Antipiretik

Dewasa: 1tablet/kaplet 34x sehari Anak 6-12th: 1tablet/kaplet 34x sehari

Alergi allopurinol, seranngan gout akut Penderita kerusakan hati

Dyspepsia, iritasi mukosa lambung, hipersensitivitas eritem, bronkokontriksi. Reaksi kulit, alergi, gangguan saluran cerna. Alergi, nekrosis hati

18

2. ANTIBIOTIK Nama obat Amoxicillin

Indikasi Infeksi saluran nafas, saluran kemih dan kelamin, infeksi antara lain: Salmonella, Shigella, kulit, luka sellulitis, furunkulosis.

Dosis Dewasa dan anak BB>20 kg: 250500 mg/3x pemberian/hr Bayi dan anak <20kg: 25-75 mg/kgBB/hr 3x pemberian

Kontra indikasi Pasien yang alergo thd penisilin

Efek samping Alergi (urtikaria, pruritus, angioderma, diare, mual, muntah)

3. ANTIHIPERTENSI Nama obat Captopril

Hct

Indikasi Penghambat ACE, efektif untuk hipertensi ringan, sedang, berat, gagal jantung kongestif Hipertensi dengan fungsi ginjal normal

Dosis 25-100 mg/2x pemberian/hr Tablet 12,5 :25 :50 mg

Kontra indikasi Hamil trimester 2 dan 3

Efek samping Batuk kering, rash

12,5-25 mg/1x pemberian/hr Tablet 25: 50 mg

Nifedipin

PJK, angina pectoris Lebih efektif >tiazid (Hct) untuk hipertensi gangguan fungsi ginjal atau gagal jantung.

Furosemid

15-30 mg/3x pemberian/hari Tablet 5:10 mg 20(1x)-80 mg/2x pemberian/hari

Wanita hamil dan menyusui Penyakit ginjal dengan anuria, koma hepatic, defisiensi elktrolit, wanita hamil trimester pertama, ibu menyusui

Hipokalemi, meningkatkan efek toksin obat digitalis, hiperkalsemi, hiperglikemi, hiperurisemia, hiperkolesterolemia, hipertrigliseridemia. Hipotensi, reflek simpatis kuat ex. Takikardi, palpitasi. Hipokalemi, meningkatkan efek toksin obat digitalis, hiperkalsemi, hiperglikemi, hiperurisemia, hiperkolesterolemia, hipertrigliseridemia.

19
4. OBAT SALURAN NAFAS Nama obat Indikasi GG Ekspektoran

Dextral

Ekspektoran

DMP Bronkris

Antitusif Batuk influenza, batuk karena radang saluran nafas. Asama bronchial, bronchitis, emfisema Bronkodilator pada asma bronchial, bronchitis akut atau kronis Mukolitik pada bronchitis

Dosis Sirup:100mg/5ml Dewasa: 2-4 x 100-400 mg/hr 3x1 Anak 6-12 th:1/2 kaplet atau sdt sirup Dewasa: 1 kaplet/1sdt sirup Dewasa: 10-30 mg/3-4x 1 hr Anak 2-5 th:2x1,5 tablet Anak 5-10 th: 3x2 tablet

Kontra indikasi Hipersensitif terhadap GG

Efek samping Dosis besar: kantuk, mual, muntah

Hipersensitif terhadap DMP Tukak lambung

Mengantuk, mual, pusing Mual, muntah, diare, gangguan pencernaan.

Salbutamol

Teosal

Dewasa; 1 tablet, 3x sehari Anak 6-12 th: tablet, 3x sehari 4-8 mg/3x sehari

Hipertiroidisme, tirotoksikasi, tukak lambung

Mual, muntah, palpitasi, takikardi, sakit kepala Mual, peninggian transaminase serum

Bromheksin

Tukak lambung

5. OBAT SALURAN CERNA Nama obat Indikasi Vosea Gastroparesis akut dan kambuh, menghilangkan rasa panas refluk esofagitis, mual, muntah metabolic o.k. obat, radiasi sesudah operasi

Dosis Dewasa: 3xsehari -1 tablet atau 12 sdt sirup Anak: max. mg/kgBB sehari dibagi 3 dosis Anak <6th: max 0,1 mb/kgBB dosis tunggal

Kontra indikasi

Efek samping Diare, kantuk, sembelit, gejala ekstrapiramidal, gelisah, lelah, iritabilitas, urtikaria

20
6. ANTI INFEKTIKUM, KOMBINASI Nama obat Indikasi Primadex forte Gastroenteritis, disentri, typoid, kolera, sistisis, uretritis, otitis media, sinusitis, meningitis, osteomielitis 7. OBAT ANTI DIABET Nama obat Indikasi Glibenclamid DM tipe II

Dosis Dewasa: 2xsehari 2 tablet (interval 12 jam) atau 2 tablet forte forte Anak 1-5 th: 2x sehari

Kontra indikasi Hipersensitivitas, diskrasia darah, gangguan fungsi hati dan ginjal, bayi baru lahir, hamil

Efek samping

Dosis 5-20 mg/1-2x sehari

Kontra indikasi DM juvenile, prekoma, koma diabetic, gangguan funsi ginhal berat, wanita hamil

Efek samping Mual, muntah, nyeri epigastrik, sakit kepala

8. DIURETIK OSMOTIK Nama obat Indikasi Isosorbit Glaucoma

Dosis 1-3 g/kgBB, 2-4x sehari

Kontra indikasi

Efek samping

9. OBAT LUAR Nama obat Bedak salycyl Hidrocortison zalf Tetes mata erlamycetin

Indikasi

Dosis

Kontra indikasi

Efek samping

Iritis, uveitis, konjungtivitis, keratitis, infeksi oleh bakteri lain

2 tetes 3-4 kali sehari ke mata

Hipersensitif terhadap chloramphenicol

Iritasi lokal

Tetes telinga erlamycetin 10. ANTI JAMUR Nama obat Griseofulvin

Indikasi Infeksi jamur di kulit, rambut, kuku

Dosis Anak: 10 mg/kgBB/hr Dewasa: 5001000 mg/hr dosis tunggal

Kontra indikasi

Efek samping Jarang, sakit kepala, atralgia, neuritis perifer, demam, mual

21
11. HIPNOTIK SEDATIF Nama obat Indikasi Diazepam 12. VITAMIN Nama obat Vit C Vit B1 Vit B6 Vit B12 Vit B Compex

Dosis

Kontra indikasi

Efek samping

Indikasi

Dosis

Kontra indikasi

Efek samping

Sakaneuron

Pencegahan dan pengobatan kekurangan vit B, letih, lesu Penguat saraf pada kehamilan, laktasi dan masa pertumbuhan

1-2 tablet/kaplet, 3x sehari

Dewasa: 3x sehari 1 kaplet

13. INJEKSI Nama obat Neuroboram

Indikasi Neuromialgium

Adrenalin Xylo Della

Syok anafilaktik

Dosis Tiap ml injeksi: vit. B1 100mg vit. B12 200 mg 0,33 cc

Kontra indikasi

Efek samping

22

BEDAH MINOR
Bedah minor (operasi kecil) dipakai untuk tindakan operasi yang ringan, biasanya dikerjakan dengan anestesi lokal. Sebagai contohnya adalah pengangkatan tumor-tumor jinak atau kista pada kulit, ekstraksi kuku, penanganan luka, dll. Prinsip dasar : 1. Asepsis dan antisepsis Asepsis adalah tindakan yang dimaksudkan untuk menjauhkan mikroorganisme penyebab infeksi ke medan operasi. Antisepsis adalah tindakan untuk membunuh mikroorganisme dengan bahan kimia untuk mencegah sepsis. Bahan-bahan kimia yang sering dipakai yaitu iodine tincture 3-5%, alkohol 70%, hibiscrub, savlon, hibitane, betadine, atau pisohex. Assepsis dan antisepsis ini dilakukan untuk alat dan ruangan operasi, orang-orang yang berada di ruang operasi baik pasien, tim operator maupun observer. 2. Sterilisasi Adalah suatu usaha untuk membuat suatu benda atau ruangan menjadi bebas kuman, yaitu dengan membunuh kuman maupun spora yang menempel pada benda atau ruang operasi tersebut. Ada 3 cara sterilisasi yang sering digunakan, yaitu : a. Pemanasan - Dengan tekanan, digunakan autoklaf yaitu suatu bejana tertutup yang berisi uap panas dengan tekanan tinggi (750 mmHg, suhu 121 C selama 10-15 menit). Cara ini dapat membunuh kuman beserta spora yang ada. - Tanpa tekanan Perebusan, cara ini dipakai untuk mensterilkan instrumen bedah minor jika tidak ada autklaf. Cara ini kurang baik karena spora tidak ikut mati. Diperlukan minimal 30 menit setelah air mendidih. Waktu ini dapat dikurangi dengan menambahkan alkali yang bersifat bakterisidal. Pemanasan kering menggunakan oven dengan temperatur 160 - 180 C dalam waktu 1-2 jam. Flamber/ pembakaran dilakukan dengan alkohol 90% atau spirtus. Bahan bakar harus cukup untuk nyala minimum 5 menit. Alat yang dibakar harus dalam keadaan bersih, kering, dan diletakkan pada wadah aluminium atau wadah tahan karat. b. Kimiawi - Tablet formalin - Gas etilan oksida c. Radiasi Dilakukan dengan menggunakan daya radiasi sinar X, sinar ultraviolet (UV), atau sinar gamma berdaya tinggi.

23

3. Instrumen a. Pemegang jarum/needle holder Alat ini biasanya dilengkapi dengan pengunci di bagian belakang. Ukurannya bermacam-macam, yaitu pendek, sedang, dan panjang. Pemegang jarum yang di gunakan disesuaikan dengan ukuran jarum yang ajkan di pakai.

Gambar 1a. needle holder

Gambar 1b. cara memegang needle holder

b. Pinset anatomis dan Pinset chirurgis Berguna untuk memegang dan menahan jaringan pada waktu diseksi atau menjahit. Pinset bergigi tajam, yang dapat dipaki untuk memegang jaringan yang hanya memerlukan tekanan minimal misalnya : subkutis, otot, fascia, tetapi tidak digunakan untuk struktur yang mudah berlubang seperti pleura dan peritoneum. Pinset anatomis digunakan untuk memegang jaringan saat menjahit.

24

Gambar 2a. macam-macam pinset

Gambar 2b. cara memegang pinset(kiri)

c. Scalpel/bistouri Skalpel adalah pisau tajam yang digunakan untuk operasi atau diseksi anatomi. Skalpel dapat di pakai berulang bila pisau yang di gunakan dapat dilepas dengan gagangnya. Bila terpisah pisaunya dinamakan blade.

Gambar 3a. macam-macam scalpel

Gambar 3b. cara memegang scalpel

d. Gunting praerer e. Guntung preparasi metzenbaum f. Gunting benang

25

Gambar 4. Alat-alat minor set ( macam-macam gunting)

g. Desinfeksi klem dan duk klem h. Klem pean bengkok dan lurus i. Klem mosquito j. Kait penahan luka/retractor

Gambar 5. Alat-alat minor set ( macam-macam klem )

26

Gambar 6. Alat-alat minor set yang sering digunakan

k. Benang Terbagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu : - Absorbable (dapat diserap oleh jaringan tubuh), contoh : catgut dan vicryl. Benang ini umumnya digunakan untuk menjahit jaringan yang letaknya profunda. - non absorbable (tidak dapat diserap jaringan tubuh), contoh : nylon, dacron, dan teflon. Benang ini umumnya digunakan untuk menjahit kulit.

Gambar 8. Benang absorbable (cat gut plain) dan non absorbable (silk) l. Jarum

27 Jarum yang digunakan dalam bedah minor bentuknya melengkung dengan ukuran yang berbeda-beda. Menurut lengkungnya, dikenal jarum yang berarti lengkung jarum tersebut sebesar lingkaran. Ukuran yang lain 3/8, , dan seterusnya maksimal 5/8. Menurut panjangnya (daam mm) dikenal jarum 12 yang artinya panjang jarum tersebut 12 mm. Sehingga jika jarum berukuran - 6 maka jarum tersebut berlengkung lingkaranm dengan panjang dari ujung ke ujung 6 mm.

Gambar 7. Macam-macam jenis ukuran jarum. Mengenal Benang, Jarum, dan Simpul Jahitan

Jarum terdiri dari ujung, badan, dan bagian belakang. Jarum yang dipakai berbeda-beda menurut kelengkungan dan panjangnya. Menurut lengkungnya, dikenal jarum yang berarti jarum tersebut kelengkungannya sebesar lingkaran. Ukuran lainnya 3/8, , dan seterusnya maksimal 5/8. Menurut panjangnya (dalam mm), dikenal jarum 12 yang artinya panjang jarum tersebut 12 mm. jadi jika jarum - 6 berarti jarum tersebut berlengkung lingkaran dengan panjang dari pangkal ke ujung 6 mm. Di dalam cara penggunaan jarum, dikenal pula bermacam-macam jarum

28 dari bentuk ujungnya yang tajam atau bentuk penampang badan jarum tersebut. Ini membawa penggunaan jarum tersebut pada organ-organ tertentu. Berikut ini adalah beberapa jenis ujung dari jarum: Ujung taper biasanya digunakan untuk menjahit jaringan yang lebih dalam semisal jaringan subkutan, pembuluh darah, dan intestinum. Ujung jarum jenis ini tidak cocok untuk menjahit di jaringan kulit. Jarum dengan ujung cutting mempunyai ujung dan tepi yang tajam yang sangat dibutuhkan untuk menembus kulit. Jarum ini adalah jarum yang digunakan untuk menjahit jaringan kulit. Ujung jarum reverse cutting hamper sama dengan ujung jarum cutting namun dengan tepi yang berlawanan dengan cutting biasa. Fungsi dari jarum ini sama dengan cutting yakni menjahit kulit dan juga tendon.

Benang yang digunakan pada operasi secara umum dibagi menjadi dua macam, yakni benang yang diserap (absorbable) dan benang yang tidak diserap (non-absorbable). Benang yang absorbable tidak memerlukan pengangkatan jahitan, namun benang ini menimbulkan lebih banyak jaringan parut sehingga kurang baik untuk menjahit kulit dan sering digunakan untuk menjahit jaringan yang lebih profundus. Contoh benang yang absorbable antara lain catgut dan vycril. Benang yang non-absorbable harus diangkat ketika luka sudah dianggap sembuh. Benang ini meninggalkan lebih sedikit jaringan parut daripada benang absorbable sehingga cocok untuk menjahit jaringan kulit. Contoh benang tersebut antara lain silk dan nilon.

4. Anestesi
Ada 2 macam anestesi yaitu anestesi umum dan local. Anestesi local dibedakan lagi menurut tempat diberikan obat anestesi, yaitu anestesi spinal, epidural, paravertebral, blok cabang saraf, infiltrasi, dan permukaan kulit (topical). Setiap anestesi harus memenuhi 2 syarat yaitu:menghilangkan reflex dan melemaskan otot, sedang pada naestesi umum diperlukan untuk menghilangkan kesadaran. Untuk bedah minor yang dipakai adalah anestesi local. Anestesi blok Obat anestesi langsung disuntikkan di sekitar saraf atau ke pangkal saraf. Misalnya apabila hendak mengoperasi daerah lengan, maka dapat dilakukan anestesi blok pada plexus brachialis. Anestesi infiltrat Obat anestesi disuntikkan langsung ke ujungujung saraf di bawa kulit. Untuk menguangi perdarahan dapat dicampur dengan adrenalin sebab adrenalin menyebabkan vasokontriksi

29
pembuluh darah. Campuran dengan adrenalin tidak boleh dipakai untuk operasi daerah yang mempunyai end artery seperti jari-jari, penis dan sebagainya. Field block Anestesi disuntikkan mengelilingi daerah tindakan, misalnya pada pengagkatan kista di kulit, tumortumor di kulit Anestesi topical Obat anestesi disemprotkan atau dioleskan ke permukaan kulit atau selaput lender, sehingga ujungujung saraf di bawahnya menjadi mati rasa, contoh:chlor etil Macam-macam obat anestesi local: 1. Prokain Obat anestesi local yang dipakai saat ini. Untuk anestesi infiltrat dipakai larutan - 1%, anestesi blok 2%, anestesi lumbal 4%, jumlah prokain yang masih aman dipakai adalah 2mg. daya mati rasanya cukup tinggi. 2. Lidokain Bekerja lebih cepat dan daya mati rasanya lebih lama dibandingkan dengan prokain 3. Kokain Untk anestesi topical, tidak untuk disuntikkan karena bersifat toksik 4. Tetrakain Lebih toksik dari kokain dan terutama dipenuhi sebagai anestesi lumbal. Mati rasanya dapat bertahan sampai 2 jam.

5. Jenis tindakan a. Insisi Dimulai dengan membuat sayatan lurus pada massa tumor misalnya pada abses. Arahnya sejajar dengan garis langer, sehingga akan terbentuk jaringan parut yang halus karena kolagen kulit terarah dengan baik. b. Eksisi Merupakan tindakan pengangkatan massa tumor. Indikasinya antara lain untuk kista epidermoid (klavus) dan kista dermoid. Klavus merupakan tumor jinak yang keras, biasanya tumbuh pada kulit telapak kaki maupun tangan. Biasanya timbul karena tusukan benda asing yang menyebabkan epitel kulit masuk ke bawah epidermis atau sisa sel yang berasal dari embrio. Klavus tampak seperti benjolan keras dan sakit bila ditekan atau dipijakkan. Ekisisi dilakukan dengan membuat sayatan berbentuk elips dengan sumbu panjang sesuai dengan arah ketegangan kulit. c. Ekstirpasi
Tindakan pengangkatan seluruh masa tumor beserta kapsulnya. Indikasi:ateroma, fibroma, lipoma

30
Ateroma Benjolan kecil yang terjadi karena saluran sebasea tersumbat sehingga lemak yang dikeluarkan kelenjar itu tertimbun dan bercampur dengan sel-sel. Akibatnya, secara perlahan-lahan timbullah pembesaran kelenjar rambut tersebut. Isi ateroma seperti bubur kebiruan yang mengental. Pada puncak benjolan ateroma terlihat suatu titik kebiru-biruan yang sebenarnya adalah lubang saluran kelenjar yang tersumbat. Lipoma Tumor jinak yang berasal dari jaringan lemak dan garis tengahnya antara berapa mm sampai puluhan cm. Lipoma srg ditemukan si pundak, lengan atas, punggung dan pantat. Fibroma Tumor yang berasal dari jaringan ikat tubuh. Teknik pengambilan ateroma: Siapkan dalam keadaan steril 2 buah pinset anatomis, 2 buah pinset chirurgis, 1 buah scalpel dan amatanya, 2 buah klem bengkok, 4 buah lem arteri, 1 gunting ujung lancip, 1 gunting lurus, naald volder, jarum oto dan jarum kulit, spuit 5 ml dengan jarum untu anestesi, zde, cat gut, doek dan sarung tangan. Juga beberapa ampul, prokin dan lidokain Kulit dibersihkan dengan antiseptic (iodine) lalu alcohol 70% Tutup daerah op dengan duk lubang di sekitar ateroma disuntik dengan prokain - 1% Tunggu beberapa saat sampai daerah yang akan dioperasi akan terasa kebal. Buat dengan hati-hati 2 insisi lengkung, sehingga titik ateroma terletak di tengah-tengah Setelah sayatan kulit tepat berada di atas pembungkus aeroma, lepaskan kulit dan jaringan yang berada di sekitar kapsul ateroma dengan gunting yang tajam bengkok. Dengan cara memisahkan jaringan kapsul dan sekitarnya, tumor diangkat, Usahakan ateroma tidak pecah, bila pecah usahakan agar kapsul dapat diangkat semua. Setelah semua ateroma terangkat, bila lubang yang ditimbulkan itu besar, jaringan lemak dijahit dengan cat gut, sedangkan bila lubangnya kecil kulit dapat langsung dijahit dengan benang sutra. Jarak 1 jahitan dengan lainnya dibuat kira2 1 cm. Sebelum dijahit, luka diolesi dengan betadhine Luka jahitan ditutup dengan kasa steril yang telah ditetesi lar.betadine

6. Macam-macam jahitan a. Simpul tunggal - Lakukan penusukan dari jarak -1 cm di tepi masing-masing luka dan sekaligus mengambil sebagian jaringan subkutan dengan teknik penusukan jarum yang tegak lurus pada arah atau garis luka. - Simpul diletakkan di tepi salah satu tempat tusukan di sebelah tepi luka - Benang dipotong kira-kira sepanjang 0,5-1 cm.

31

Gambar 11. Langkah-langkah menjahit luka

b. Donati Jahitan ini memungkinkan adaptasi yang lebih baik dari tepi luka. c. Intrakutan Dilakukan untuk mengurangi kejadian bekas luka terutama digunakan pada anakanak atau luka pada daerah wajah (alasan kosmetika). Umumnya jahitan intrakutan menggunakan benang atramatik dengan bahan dari nilon sehingga mudah ditarik. Penggunaan benang absorbable memungkinkan, tetapi perlu diwaspadai reaksi abrobsi tersebut dapat menimbulkan keloid. - Jahitan Intrakutan Terkubur Jahitan ini menggunakan benang yang non-absorbable dan simpul ini bertujuan merapatkan jaringan dibawah kulit sebelum dilakukan penjahitan di kulit.

32

d. Kontinyu Dipakai dengan tujuan yang sama seperti pada jahitan intrakutan. e. Kontinyu biasa Jarang digunakan karena jika terbentuk pus harus membongkar semua jahitan. f. Kontinyu festoon Biasanya digunakan untuk penutupan peritoneum atau penutupan kulit. g. Simpul Jelujur Terkunci Awal dari jahitan ini mirip dengan simpul tunggal namun kemudian jahitan dilanjutkan tanpa memotong benang.

h. Matras Vertikal dan Horizontal Simpul jahitan matras terdapat dua jenis, yakni Matras Vertikal dan Matras Horizontal. Matras Vertikal sebenarnya merupakan modifikasi dari simpul tunggal namun ditempatkan lebih lebar dan dalam, hasilnya pun lebih kuat.

33

i. Matras Horizontal dilakukan dengan menusukkan jarum dan kemudian dikeluarkan di tepi luka sisi berlawanan dan kemudian ditusukkan di sisi yang sama dengan sisi di mana jarum keluar.

j.

Jahitan Angka 8 Jahitan ini digunakan untuk mengikat jaringan yang ada di bagian lebih bawah, misal fascia, otot, dsb. Jarum dimasukkan agak dalam kemudian dikeluarkan di tepi luka yang berlawanan dan tidak sejajar dengan tempat masuk jarum. Kemudian jarum dimasukkan kembali sejajar dengan tempat keluarnya yang pertama dan kemudian keluar lagi sejajar dengan tempat jarum masuk pertama kali dan kemudian diikat.

34

7. Komplikasi pascabedah a. Perdarahan Perdarahan bisa terjadi saat operasi berlangsung atau beberapa waktu setelah operasi usai. Hal ini disebabkan karena tekanan darah yang turun selama operasi, beberapa jam setelah operasi normal kembali, sehingga sumbatan darah terlepas, sehingga menyebabkan terjadinya perdarahan. Perdarahan ini juga dapat disebabkan oleh lepasnya ikatan benang pada pembuluh darah karena ikatan kurang kuat atau terjadi infeksi pada jahitan tersebut. b. Syok Merupakan komplikasi pasca bedah yang gawat dan dapat menyebabkan kematian. Semua syok, apapun penyebabnya menimbulkan gangguan peredaran darah seperti kulit menjadi pucat, akral dingin, bibir membiru (tanda sianosis), nadi cepat dan lemah, pernafasan cepat dan dangkal, suhu tubuh menurun, dan tekanan sistolik turun di bawah 90mmHg sedangkan diastolic di bawah 60 mmHg. Penyebab syok dapat berupa : - Kehilangan darah telampau banyak (syok hipovolemik) - Syok neurogenik - Gangguan fungsi jantung - Syok vasogenik karena pelebaran pembuluh darah kapiler, syok anafilaktik sering bersifat vasogenik - Syok sepsis atau toksik

35 Syok psikis, dapat terjadi pada pasien yang ketakutan, kesakitan hebat, atau keadaan emosi yang hebat.

8. Perawatan luka operasi Luka perlu ditutup dengan kasa steril, sehingga sisa darah dapat diserap oleh kasa tersebut, mencegah kontaminasi mikroorganisme, tersenggol, dan memberikan rasa aman pada pasien. Setelah dilakukan operasi, luka yang timbul biasanya ditutup dengan kasa steril selagi masih di ruang operasi dan tidak perlu diganti sampai diangkat jahitannya, kecuali jika terjadi perdarahan sampai darah menembus kasa, sewaktu mengganti kasa perlu diperhatikan pengerjaannya harus dilakukan secara asepsis supaya tidak terjadi infeksi. Jahitan luka biasanya dibuka setelah hari kelima. Plester harus dilepaskan sejajar dengan kulit, jangan diangkat tegak lurus agar pasien tidak merasa sakit. Perlengkapan untuk mengganti perban terdiri dari : pinset anatomis, gunting tumpul, gunting perban, kasa steril, perban steril, plester, dan cairan antiseptik. Bila telah tiba waktunya untuk melepas jahitan, bersihkanlah luka dan kulit di sekitarnya dengan cairan antiseptik, pegang ujung benang, dengan pinset anatomis steril, lalu guntinglah benang itu tepat di bawah ikatan, sehingga benang yang berada di luar tidak masuk kembali ke dalam jaringan tubuh ketika benang diangkat.

36

SIRKUMSISI
PENGERTIAN Sirkumsisi adalah tindakan pengangkatan sebagian/seluruh preputium penis dengan tujuan tertentu. INDIKASI - Agama - Sosial - Medis: o Pymosis (preputium tidak dapat ditarik ke belakang atau tidak dapat membuka) o Parapymosis (preputium tidak dapat ditarik ke depan) o Kondiloma akuminata (permukaan kulit bertangkai akibat virus HPV) o Pencegahan terjadinya tumor (mencegah menumpuknya smegma yang diduga kuat bersifat karsinogenik) KONTRAINDIKASI Absolut: Hipospadia : meatus uretra externus terletak lebih ke proksimal dari permukaan ventral penis. Penanggulangannya dengan ordektomi dan ureoplasti. Epispadia : meatus uretra externus terletak pada bagian dorsal batang penis. Relatif: hemophilia (gangguan pembekuan darah), infeksi lokal, infeksi umum, diabetes mellitus KOMPLIKASI Perdarahan, hematoma, infeksi. PERALATAN (minimal) o Gunting jaringan lurus (tajam-tumpul) o Gunting jaringan bengkok o Klem arteri lurus o Klem arteri bengkok o Pinset anatomis o Pinset jaringan o Pemegang jarum (needle holder) o Jarum jahit kulit o Gunting perban o Benang plain catgut ukuran 3.0 o Semprit 3 ml atau 5 ml PERLENGKAPAN o Kapas

1 buah 1 buah 3 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 rol 1 buah

37 o o o o o o o o o o o o o o o Kassa steril Plester Kain penutup steril yang berlubang ditengahnya (duk) Sarung tangan streril Larutan NaCl 0,9% atau aqua destiled Savlon HC Sufratul Kassa depper Tempat sampah Meja/ bed operasi Meja peralatan Nampan steril Mangkuk steril Alkohol spray Tissue

1 buah 1 buah 1 buah 2 buah 1 buah 1 rol

Semua peralatan yang steril diletakkan dalam nampan steril pada meja peralatan, yaitu minor set, kassa depper, alkohol, povidone iodine, dan cat gut. Peralatan nonsteril, seperti spuit dalam kemasan, plester, lidokain, handscoen dan duk yang masih dibungkus, kassa steril, sufratul, salep antibiotik, tissue, serta alkohol spray diletakkan di meja peralatan. Alat yang digunakan dalam operasi dipersiapkan dengan sterilisasi. Sterilisasi ialah usaha untuk membuat suatu benda atau ruang menjadi bebas kuman, yaitu dengan membunuh kuman dan sporanya yang menempel pada benda tersebut. Pada saat ini banyak macam cara sterilisasi yang digunakan, antara lain: 1. Cara fisis Dengan autoclave digunakan uap panas dengan tekanan 750, temperatur 121o C dan lama 13 menit. Alat-alat yang disterilkan biasanya dibungkus dengan kain. Dengan demikian biasanya waktu ditambah 30 menit. Namun, bila tekanan dinaikkan maka waktu bisa diperpendek. Alat-alat yang dapat disterilkan dengan alat ini ialah kain-kain operasi(baju operasi yang digunakan tim operasi dan duk penutup penderita yang akan dioperasi, lat-alat operasi/instrumen(terutama yang terbuat dari logam) Panas kering: dengan menggunakan oven (temperatur lebih dari 160oC, waktu 1 jam). Cara ini digunakan untuk alat yang dapat rusak apabila menggunakan panas basah. Direbus: terutama dikerjakan dalam keadaan tidak ada autoclave. Cara ini kurang baik karena biasanya spora tidak ikut mati. Waktu yang diperlukan sampai mendidih 30 menit. Waktu sterilisasi ini dapat diperpendek dengan menambahkan larutan alkali yang mempunyai sifat bakterisid.

38 Dibakar: dilakukan pada keadaan darurat. Dengan cara ini, bakteri dan spora dapat mati tetapi bila dilakukan terus-menerus akan merusak alat terutama yang tajam. 2. Cara Kimia Banyak macam bahan kimia yang dapat digunakan untuk sterilisasi, tetapi umunya cara ini kurang dipercaya. Sebagai contoh: Formaldehyda, Hexachlorophene, dan Etil alkohol. Banyak bahan-bahan antiseptik, misal Betadine, phisohex, hibriscub, dan resiguard. OBAT-OBATAN o Lidokain HCl 2% (tanpa atau dengan campuran adrenalin) o Larutan antiseptik (larutan sublimate, povidone iodine 10%, dan alkohol 70%) o Salep antibiotik (kloramfenikol atau tetrasiklin 2%) o Analgetik oral (antalgin atau paracetamol) o Antibiotik oral (ampisilin atau amoxicillin) o Adrenalin 1:1000 ANATOMI PENIS

39

TUGAS-TUGAS: OPERATOR: Bertindak sebagai pemimpin operasi Menilai kelayakan operasi Melakukan tundakan anestesi, insisi, hemostasis, sampai hecting Mengatasi penyulit yang terjadi Follow up pasca khitan Bekerja pada zona steril

ASISTEN 1: Mitra kerja operator di meja steril Melakukan tindakan aseptik dan antiseptik Mempersiapkan alat pada tiap tahapan operasi Memelihara lapangan operasi agar tetap bersih dari darah dan material yang tidak diperlukan Melakukan balutan setelah operasi selesai

ASISTEN 2: Bekerja di zona nonsteril Mempersiapkan pasien sebleum operasi Menata tempat operasi Mempersiapkan keperluan selama dan setelah operasi

TAHAP-TAHAP SIRKUMSISI 1. Persiapan Operasi Persiapan operator/asisten: Memakai pakaian bersih, jika perlu memakai pakaian bedah minor Mencuci tangan dengan antiseptik Menggunakan sarung tangan steril selanjutnya dilarang memegang benda nonsteril hanya boleh memegang alat steril. Apabila ada asisten 2 maka asisten 2 tidak perlu menggunakan sarung tangan. Teknik menggunakan sarung tangan: Memakai sarung tangan kanan terlebih dahulu Memegang bagian dalam sarung tangan yang dilipat keluar dengan tangan kiri(bagian luar tidak boleh tersentuh) dan masukkan tangan kanan ke dalam sarung tangan

40 Rapikan dengan cara jari-jari tangan kiri ikut masuk menyusuri jari-jari tangan kanan dalam handscoen(skin to skin) sampai tepi Ambil sarung tangan kiri dengan tangan kanan Masukkan tangan kiri dengan dibantu oleh tangan kanan dan bagian luar handscoen(glove to glove). Operator di sebelah kanan pasien. a. Persiapan pasien Sebaiknya mandi dan buang air kecil terlebih dahulu Cukur rambut pubis jika ada dan bersihkan dengan air sabun Pasien dimotivasi untuk berdoa(membaca hafalan surat Al Quran atau doa lain) Periksa apakah pasien tersebut mempunyai riwayat alergi terhadap obat atau penyakit tertentu. Sebelum dilakukan sirkumsisi, kita tentukan tidak ada kontraindikasi untuk melakukan sirkumsisi. Hal ini diketahui dari anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dari anamnesis ditelusuri: o Riwayat gangguan hemostatis dan kelainan darah o Riwayat alergi obat, khususnya zat anastesi lokal, antibiotik, dan obat lainnya o Penyakit yang pernah/sedang diderita, misalnya demam, asma, sakit jantung Pada pemeriksaan fisik ditelusuri: o Status generalis: demam, tanda stress fisik, kelainan jantung dan paru o Status lokalis: hipospadia, epispadia, dan kelainan kongenital lain b. Persiapan alat dan obat-obat sirkumsisi c. Persiapan alat dan obat-obatan penunjang hidup bila terjadi syok anafilaksis 2. Asepsis dan Antisepsis a. Pasien sudah mandi dan membersihkan alat genitalia dengan sabun b. Bersihkan alat genitalia dengan alkohol 70% untuk menghilangkan lapisan lemak c. Pegang dan tarik sedikit ujung prepusium dengan kasa steril oleh tangan kiri. d. Usapkan iodine povidon 10% ke seluruh permukaan penis dan daerah sekitarnya dengan tangan kanan e. Perhatikan pola pengusapan yang melingkar keluar dan tidak mengusap bagian yang sudah diusap sebelumnya Pengusapan iodin povidon maupun alkohol dimulai dari ujung distal penis, diteruskan ke pangkal (proksimal) secara melingkar mengarah keluar seperti pola obat nyamuk (sentrifugal), tunggu sekitar 2 menit. f. Jika ingin mengulang gantilah kassa/kapas yang baru dan lakukan cara yang sama. g. Dengan cara yang sama, usapkan juga alcohol 70%. h. Tutuplah lapangan operasi dengan duk bolong steril.

3. Anestesi Dilakukan anastesi lokal dengan menggunakan lidokain 2%. 1. Infiltrasi

41

Tujuan : memblok impuls dari syaraf syaraf yang mempersarafi daerah sekitar insisi. Keuntungan : keberhasilan cukup tinggi, relatif lebih mudah. Kerugian : Penyuntikan berulang ulang sehingga anak kesakitan, waktu lebih lama, dan resiko terjadi hematom lebih besar. Tekhnik : Tarik dan regangkan batang penis Suntikkan jarum miring 15 derajat terhadap batang penis dengan lokasi 1/3-2/3 proksimal batang penis secara subcutis. Aspirasi, masukkan cc lidokain Penyuntikkan di jam 11,1,5,7, dan frenulum. Masase untuk mempercepat penyebaran obat Kegagalan anestesi biasanya karena penyuntikan hanya masuk ke mukosa saja, tidak masuk ke tunika albugenia. 2. Blok Tujuan : memblok semua impuls sensoris dari batang penis melalui nervus pudendus

42 Kerugian : keadaan anestesi sering tidak tercapai karena penyuntikan tidak melewati fasia bach. Tekhnik : Identifikasi pangkal penis, symphisis ossis pubis (SOP) Suntikan jarum tegak lurus di atas pangkal penis, di bawah SOP sampai menembus facia bach dengan tanda tanda : Sensasi menembus kertas Jika jarum ditarik ke atas, batang penis sedikit terangkat Bila obat disuntikkan tidak terjadi edema Aspirasi, masukkan obat 1 cc Jarum sedikit dicabut, miringkan jarum 30 derajat ke kanan tusukkan lagi sedikit, aspirasi masukkan obat 1 -2 cc, begitu pula dengan sebelah kiri. Massase daerah pangkal penis. 4. Pembersihan Glans Penis Buka glans penis sampai sulcus corona penis terpapar. Bila ada perlengketan, bebaskan dengan klem arteri atau dengan kassa steril. Bila ada smegma, bersihkan dengan kassa yang mengandung larutan sublimate. Membebaskan perlengketan 1. Tekhnik klem Lepaskan perlengketan preputium dengan permukaan glands penis dengan klem mosquito. Caranya, tarik preputium ke proksimal kemudian klem dibuka sambil didorong ke arah perlengketan. Cara ini dilakukan berulang-ulang kearah proksimal dan lateral sampai terlihat sulkus korona glandis dan pangkal mukosa prepusium di sekeliling sulkus korona glan penis. Keuntungan tehnik ini adalah dapat membebaskan perlengketan dengan cepat sedangkan keurangannya adalah dapat menyebabkan lecet didaerah gland dan mukosa. Yang harus diperhatikan dalam tehnik ini bahwa ujung klem harus benar-benar tumpul. Perlepasan dengan klem ini tidak boleh dipaksakan sebab glands penis dapat robek. Bekas perlengketan ini kemudian diolesi antiseptic ( betadine). Sering dijumpai adanya smegma. 2. Tekhnik kassa Cara ini lebih baik karena kemungkinan melukai penis lebih kecil disbanding dengan klem. Cara ini lebih sulit dibanding menggunakan klem. Caranya sama, preputium ditarik dengan tangan kiri ke arah proksimal sampai meregang sehingga terlihat perlengketan, tangan kanan memegang kasa steril untuk membebaskan perlengketan. Kemudian daerah perlengketan didorong dengan

43 kasa dan didorong ke arah proksimal sehingga perlengketan terlepas sedikit demi sedikit. Keuntungan tehnik ini adalah minimnya resiko lecet atau trauma pada gland penis, namun kerugiannya adalah prosesnya memakan waktu relatif lama. Yang harus diperhatikan dari beberapa tehnik diatas adalah perlengketan sekeliling perbatasan mukosa dan gland penis harus benar-benar bebas / lepas seluruhnya. Ciri perlengketan sudah lepas adalah sudah terlihat batas mukosa-batang penis dan sulkus korona glandis secara utuh, terlihat sebagai sudut tumpul yang melingkar sepanjang lingkaran penis.

Membersihkan smegma Membersihkan smegma menggunakan kassa yang ditekan dan didorong. Jika sulit, basahi kasa dengan povidone iodine. Jika dengan cara ini smegma masih sulit terlepas, dapat diatasi dengan klem mosquito dengan cara menjepit gumpalan smegma satu persatu, kemudian bersihkan dengan kasa yang telah dicelup iodin povidon 10%.

5. Pengguntingan dan Penjahitan o Pasang klem pada preputium diarah jam 6,11,1, dengan ujung klem mencapai 1,5 cm dari sulcus corona penis. Tujuannya sebagai pemandu tindakan dorsumsisi dan sarana hemostatis. o Lakukan dorsumsisi dengan menggantung kulit dorsum penis pada jam 12 menyusuri dari distal ke proksimal sampai dengan 0,3 sampai 0,5 cm dari corona.

o Pasang jahitan kendali, dengan menjahit batas ujung dorsumsisi agar pemotongan kulit selanjutnya lebih mudah dan simetris.

44

o Gunting secara melingkar (tindakan sirkumsisi) dimulai dari dorsal pada titik jahitan jam 12 melingkari penis, sisakan mukosa sekitar 0,5 cm. Pada sisi frenulum, pengguntingan membentuk huruf V di kiri kanan klem. Pemotongan harus simetris dan sama panjang antara kulit dari mukosa. o Atasi perdarahan yang timbul dengan jepitan klem, kemudian lakukan jahitan hemostatis dengan benang catgut. o Lakukan penjahitan aproksimasi kulit dengan mukosa, jahit kiri dan kanan glans, biasanya masing-masing 2-3 simpul. Prinsipnya adalah dengan mempertemukan pinggir kulit dan pinggir mukosa. o o o o o o o o o o Jahit mukosa distal frenulum (jam 6) dengan jahitan angka 8 atau 0. o Setelah penjahitan selesai, gunting mukosa frenulum disebelah distal dari jahitan sebelumnya, dan bersihkan dengan iodine 10% lalu beri salep kloramfenikol 2%.

HEMOSTASIS 1. Penekanan/depper Hanya bisa dilakukan pada perdarahan pembuluh darah kecil. Untuk pembuluh darah besar dilakukan penjepitan/pengekleman atau bahkan ligasi. 2. Pengekleman Sebelum diklem, harus dipastikan sumber perdarahan dengan mendep lokasi perdarahan. Posisi klem diusahakan tegak lurus supaya bagian yang terjepit seminimal mungkin.

45 3. Ligasi Dilakukan jika setelah pengekleman masih terjadi perdarahan 4. Kauterisasi Pembuluh darah yang terbuka dibakar untuk menimbulkan obstruksi Perdarahan yang besar umumnya terjadi pada: Jam 6 pada sisi mukosa frenulum Jam pada bawah kulit frenulum Antara jam 11 dan jam1 TEKNIK KHUSUS!! a. Melepaskan perlekatan preputium dan fimosis Perlekatan preputium dapat dilepaskan dengan kassa atau bantuan klem. Jika perlekatan luas, sebaiknya manipulasi dilakukan setelah anestesi. Dengan kassa steril (berantiseptik) : kedua ibu jari dan telunjuk operator digunakan untuk melepaskan perlekatan. Cara ini berisiko kecil, tapi teknik lebih sulit. Dengan klem arteri(terutama klem benkok): cari sela-sela yang dapat dimasuki ujung klem kemudian klem diregangkan pelan-pelan. Tak boleh dipaksakan karena glans dapat robek. Bekas perlekatan diolesi antiseptik dengan sebelumnya membersihkan smegma. Kurangi trauma yang tidak perlu dengan mempertimbangkan jenis tindakan. Fimosis biasanya diikuti perlekatan preputium. Prinsip penatalaksanaannya dengan melonggarkan preputium. b. Fimosis dengan sayatan dorsal Jika secara konservatif tak membawa hasil maka perlu dilakukan insisi pada jam 12(antara jam 11 dan 1) sebatas glans dapat dipaparkan. Selanjutnya dilakukan teknik sirkumsisi rutin. Jika disertai balanopostitis, insisi/sayatan dorsal dipertahankan sementara dengan jahitan cut gut sekaligus diberi sntibiotik. Setelah balanopostitis akut mereda, sirkumsisi dapat dilanjutkan. c. Parafimosis Pada parafimosis, preputium terperangkap di belakang tepi glans penis dalam sulcus corona glandis. Biasanya terjadi bendungan di glans maupun di dalam preputium yang menjadi besar sekali karena udem. Udem ditekan perlahan-lahan sampai berkurang dilanjutkan reposisi preputium. Lakukan sayatan dorsal bilamana reposisi gagal.

46 6. Pembalutan o Bersihkan dengan betadine dan olesi dengan salep antibiotik o Balut dengan sufratul secara melingkar o Balut dengan kassa steril kering ujung kain kasa dipilin sebagai tempat fiksasi supra pubic dengan menggunakan plester (Balutan Suspensorium) atau biarkan berbentuk cincin (Balutan Ring) o Tambahkan fiksasi dengan plester ke arah inguinal dextra et sinistra o Jangan sampai penis terpuntir saat membalut

7. Pemberian Obat-obatan o Analgetika : Antalgin 500mg PO 3dd1 Asam Mefenamat 500mg PO 3dd1 o Antibiotika : Amoksisilin 500mg PO 3dd1 Eritromisin 500mg 3dd1 o Roboransia : Vitamin B Complex Vitamin C o Pemberian obat-obatan ini dapat dimulai 2-3 jam sebelum sirkumsisi

8. Observasi Observasi 15 menit setelah khitan. Dilihat adakah tanda-tanda perdarahan. Apabila ada, segera ditangani. Apabila tidak ada, pasien diberi obat yang harus diminum dan diedukasi

9. Perawatan Pasca Khitan o Luka operasi sebaiknya tetap kering, minimal selama 3 hari o Perawatan untuk mencegah infeksi dan mempercepat penyembuhan o Pelepasan kassa pembalut pada hari ke- 3 o Setelah luka kering, tidak perlu dibungkus kassa. o Penggunaan celana dari bahan nilon sangat tidak dianjurkan agar luka operasi tetap kering

9. Pesan kepada orang tua pasien/Edukasi o Anak jangan terlalu aktif, perbanyak istirahat o Jangan terkena debu / kotoran lain

47 o o o o Hati hati dengan perdarahan post sircumsisi, bila ada segera kontrol Usahakan balutan tetap kering. Luka dalam 3 hari jangan kena air Bila selesai kencing hapus sisa air kencing dengan tisue atau kasa Perbanyak dengan makan dan minum yang bergizi terutama yang banyak mengandung protein, tidak ada larangan makan o Control pada hari ke 3 atau ke- 4 pasca operasi 10. Follow Up Follow up dilakukan 3 hari pasca sirkumsisi. Peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan sama. Yang dilakukan : mengangkat perban (lihat Bedah Minor), observasi adanya perdarahan, infeksi atu pun tanda-tanda peradangan. Tangani masing-masing masalah kalau ada. Jahitan tidak perlu diangkat. Jika sudah mengering tidak perlu diperban lagi, jikamasih basah bisa dilakukan perban ulang. Olesi lagi dengan salep atibiotik. 11. SETELAH KHITAN!! Cuci minor set : 1. Cuci pakai air sabun sambil disikat 2. Cuci di air BAYCLYN sambil disikat 3. Bilas pakai air bersih 4. Minor set disemprot pakai alkohol lalu dilap/dikeringkan 5. Taruh minor set pada tempatnya semprot pakai alkohol letakkan di box minor set Cuci duk: 1. 2. 3. 4. Cuci pakai air sabun sambil disikat Cuci di air BAYCLYN sambil disikat Bilas pakai air bersih Dikeringkan

Komplikasi a. Rasa nyeri Kompilkasi yang paling bisa ditoleransi secara wajar Perbedaan rasa nyeri sangat tergantung pada usia, tingkat pendidikan, dan intelegensi, tingkat ekonomi, serta sosial setiap pasien Untuk mengurangi dapat diberi analgesik sebelum sirkumsisi b. Edema Terjadi karena terlalu banyak obat anestesi yang diberikan sehingga mempersulit saat penjahitan. Bila edem terlalu besar , sebaiknya dibuang. Namun, meskipun dibiarkan tidak menjadi masalah selama tidak membuat kompresi penis. Edem diabsorbsi selama 24 jam.

48 Biasanya terjadi setelah hari kedua, tetapi bisa lebih cepat bila menggunakan anestesi cum vasokonstriktor. Bila oleh karena pembalutan terlalu ketat longgarkan balutan Secara umum tidak berbahaya. Dapat dikurangi dengan pemberian kortikosteroid lokal(Hydrocortison krim 1%, jangan pada tempat jahitan) atau oral (Dexametason 3x1) Perdarahan Terjadi karena ikatan/ligasi lepas atau penggunaan anestesi cum adrenalin (efek vasokonstriksi) terlalu banyak. Jika diperkirakan perdarahan banyak, buka pembalut bersihkan jendalan cari sumber perdarahan ligasi Bila perlu, diberikan hemostatik, misal Traneksamin 3x1 cap Perdarahan hanya merembes, tidak deras: kompres dengan kassa yang dibasahi adrenalin. Hematoma Terjadi karena pecahnya pembuluh darah yang kemudian berkumpul di submukosa akibat penusukan jarum ketika anestesi Jika kecil, tidak berbahayakarena akan diserap kembali oleh tubuh Bila terjadi saat atau tidak lama berselang post sirkumsisi, sebaiknya dikeluarkan Pemberian antiinflamasi membantu mempercepat penyerapan hematom. Infeksi o Tanda: penis bengkak, merah, nyeri Kadang terdapat nanah Jika berat menimbulkan demam o Terapi: kompres dengan Povidone Iodine/ revanol Antibiotik dan simtomatik Salep antibiotik Glands penis tertusuk/tersayat Perdarahan yang terjadi cukup deras. Penatalaksanaan: Menekan dengan kassa beberapa saat/ berkali-kali sampai perdarahan berkurang Perdarahan masih tetap basahi dengan adrenalin, ditekan beberapa saat dan berulang-ulang. Jika dengan adrenalin terjadi takikardi, segera hentikan kompres dan buatlah balutan, tekan beberapa saat. Perdarahan tetap banyak, segera konsul dengan dokter bedah. Syok Anafilaktik Terjadi karena resistensi arteri sehingga darah tertimbun pada pembuluh darah sebagai akibat perangsangan syaraf/psikis. Tanda-tanda:

c.

d.

e.

f.

g.

49 Pucat, keringat dingin, lemas, badan terasa melayang, mual. Tahap lanjut : pingsan, hipotensi, bradikardi. Penatalaksanaan: Letakkan pasien dalam posisi trendelenburg Suntikkan segera adrenalin 1:1000 sebanyak 0,3-0,4 ml intramuscular (sebaiknya deltoid atau subcutan) dan segera dimasase, ulangi pemberian 0,30,4 ml adrenalin tiap 5-10 menit sampai tekanan sistolik mencapai 90-100 mmHg dengan denyut jantung / nadi tidak melebihi 120/menit. Suntikan : antihistamin difenhidramin 10-20 mg Kortikosteroid-Hidrokortison 100-250 mg IV (1 ml mengandung 5 mg Dexamethason) Aminofilin 200-500 mg IV perlahan-lahan bila ada spasme bronkhial (1 ml mengandung 24 mg aminofilin) Bila terjadi henti nafas, berikan nafas buatan. Bila disertai henti jantung, lakukan pijat jantung pada pertengahan sternum Bersamaan dengan pemberian adrenalin, lakukan pernafasan buatan dengan kompresi jantung. Pemasangan infus dengan cairan apa saja. Kalau dapat dengan kristaloid ( NaCl atau Ringer Laktat) dengan tetesan secepat mungkin. Observasi dengan seksama sampai tanda-tanda vital stabil.

DISUSUN: Bidang 3 LKMI angkatan 2007 Bidang 3 LKMI angkatan 2008: - Nisa Ucil, Utami, Timur, Sukma, Zahra