Anda di halaman 1dari 2

Peristiwa jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, merupakan peristiwa naas kesekian

kali yang menimpa dunia penerbangan di Indonesia. Sebelumnya sudah ada beberapa kejadian serupa dengan jumlah korban puluhan bahkan ratusan orang. Setiap kali peristiwa serupa ini terjadi, proses evakuasi dilakukan oleh tim SAR guna mencari jejak korban yang hilang tercecer disekitar lokasi kejadian. Setelah berhasil di evakuasi, biasanya proses yang dilakukan kemudian adalah mengidentifikasi korban. Dalam proses identifikasi inilah, ada istilah yang disebut proses ante mortem dan post mortem. Identifikasi dalam kematian penting dilakukan, karena menyangkut masalah kemanusiaan. Selain itu juga dikuatkan berdasarkan Keputusan bersama Menkes dan Kapolri nomor 1087 / Menkes / SKB / IX / 2004 NO.POL.Kep / 40 / IX / 2004 tanggal 29 september 2004 disebutkan bahwa setiap korban mati pada bencana massal harus dilakukan identifikasi yang sesuai dengan kesepakatan bersama antara Depkes dengan Kepolisian. Secara harafiah istilah ante mortem memilki arti data jenazah sebelum kematian. Sedangkan istilah post mortem adalah data jenazah sesudah kematian. Tim forensik biasa melakukan identifikasi dengan cara mencocokkan data ante mortem dan post mortem untuk mengenali jenazah. Pengumpulan data ante mortem biasanya meliputi dua metode. Metoda sederhana menyangkut visual, perhiasan, pakaian dan dokumentasi dan Metoda ilmiah menyangkut sidik jari, medik , serologi, odontologi, antropologi, biologi. Sidik jari bisa ditemukan pada surat pribadi semacam SIM, Ijasah, KTP. Sementara untuk DNA bisa dicocokkan dari keluarga sekandung korban semisal orangtua dan anak-anak. Dan tanda-tanda lainnya, seperti tanda lahir, biasanya dikenali secara detail oleh keluarga terdekat. Sementara susunan dan struktur gigi bisa didapatkan recordnya dari dokter gigi yang merawat gigi korban yang bersangkutan. Biasanya tim DVI (Disaster Victim Identification) memeriksa gigi saat korban yang ditemui jasadnya sudah hancur. Identifikasi melalui gigi, merupakan salah satu metode indentifikasi dasar (primary indentifiers). Namun hanya akan berhasil bila ada data lengkapnya. Data yang dimaksud, yaitu berupa data gigi ante mortem serta dimilikinya standar pemeriksaan kedokteran gigi forensik yang baku. Sayangnya sebagian besar penduduk Indonesia belum berkesadaran memiliki catatan data gigi. Karena umumnya orang Indonesia jarang pergi ke dokter gigi. Kurang memahami pentingnya kontrol rutin ke dokter gigi. Entah karena praktek dokter gigi dikenakan biaya mahal, hingga kerap tak terjangkau oleh sebagian masyarakat, atau memang karena mitos berobat ke dokter gigi selama ini terkesan sakit dan menakutkan. Setelah proses antemortem ini lengkap, saat korban ditemukan maka akan dicocokkan data yang ada dengan korban yang ditemukan. Proses mencocokkan ini yang disebut post mortem. Bila sudah cocok, proses identifikasipun selesai. Sampai disini keluarga korban sudah bisa yakin, bahwa korban adalah keluarga mereka. Meskipun terkadang secara fisik jenazah agak

sulit dikenali, karena misalnya hangus terbakar. Namun dari lengkapnya ante mortem, jenazah seperti ini biasanya masih bisa dikenali dari struktur giginya. Ini karena gigi adalah bagian terkeras dari tubuh manusia yang komposisi bahan airnya sedikit dan sebagian besar terdiri atas bahan anorganik sehingga tidak mudah rusak. Karenanya tak ada salahnya kita menyimpan dengan baik file mengenai record kesehatan orang-orang terdekat kita. Karena mungkin saja suatu saat bisa berguna dan kita butuhkan. Meski ini bukan berarti saya mendoakan sesuatu yang buruk terjadi pada keluarga anda. Namun siapa bisa mengintip takdirNya?