Anda di halaman 1dari 23

I.

Ekosistem Lamun (Seagrass)

Lamun (sea grass) merupakan satu-satunya tumbuhan berbunga yang hidup terendam di dalam laut. Umumnya membentuk padang lamun yang luas di dasar laut yang masih dapat dijangkau oleh cahaya matahari yang memadai bagi pertumbuhannya. Hidup di perairan yang dangkal dan jernih, dengan sirkulasi air yang baik. Hampir semua tipe substrat dapat ditumbuhi lamun, mulai dari substrat berlumpur sampai berbatu. Lamun merupakan ekosistem yang tinggi

produktivitas organiknya, dimana hidup beraneka ragam biota laut seperti ikan, krustasea, moluska, dan cacing (Bengen 2011). Lamun merupakan tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang memiliki kemampuan beradaptasi secara penuh di perairan yang memiliki fluktuasi salinitas tinggi, hidup terbenam di dalam air dan memiliki rhizoma, daun, dan akar sejati. Hamparan vegetasi lamun yang menutupi suatu area pesisir disebut sebagai padang lamun (seagrass bed). Berbagai jenis ikan menjadikan daerah padang lamun sebagai daerah mencari makan (feeding ground), pengasuhan larva (nursery ground), tepat memijah (spawning ground), sebagai stabilitas dan penahanan sedimen, mengurangi dan memperlambat pergerakan gelombang, sebagai tempat terjadinya siklus nutrien (Philips dan Menez 1988) dan fungsinya sebagai penyerap karbon di lautan (carbon sink) atau dikenal dengan istilah blue carbon dan digunakan untuk proses fotosintesis (Kawaroe 2009). Padang lamun di Indonesia memiliki luas sekitar 30.000 km2 dan berperan penting di ekosistem laut dangkal, karena merupakan habitat bagi ikan dan biota perairan lainnya (Nontji 2009). Pada sistem klasifikasi, Monocotyledoneae, kelas lamun berada Dari 4 pada famili Sub lamun kelas yang

Angiospermae.

diketahui, 2 berada di perairan Indonesia yaitu Hydrocharitaceae dan Cymodoceae. Famili Hydrocharitaceae dominan merupakan lamun yang tumbuh di air tawar sedangkan 3 famili lain merupakan lamun yang tumbuh di laut. Hal yang penting dalam adaptasi reproduksi lamun adalah hidrophilus yaitu kemampuannya untuk melakukan polinasi di bawah air. Yang membedakan

antar spesies adalah keanekaragaman bentuk organ sistem vegetatif. Lamun memiliki akar sejati, daun, pembuluh internal yang merupakan sistem yang menyalurkan nutrien, air, dan gas.

Gambar 1. Ekosistem Padang Lamun dan Morfologi Lamun

Faktor-faktor pembatas yang menjadi penghalang bagi pertumbuhan lamun adalah diantaranya dapat di lihat pada Tabel 1.
No 1. Faktor Pembatas Cahaya (10 20%) Pengaruh yang diberikan Fotosintesis Mempengaruhi distribusi berdasarkan kedalaman. Penetrasi cahaya Peningkatan tekanan hidrostatis Ketersediaan cahaya Kekeringan jika terekspos pada siang hari Distribusi spesies dan Proses reproduksi Stress terhadap tekanan osmotik Suhu optimum untuk fotosintesis dan pertumbuhan Distribusi berbeda untuk lintang Eutrofikasi Sedimentasi Boat anchoring Diredging Polusi perairan

2. 3.

Kedalaman Periode Pasut

4. 5. 6.

Arus dan Gelombang Salinitas Suhu

7.

Anthropogems

Sumber: Bengen (2001)

Fungsi dan Peranan Lamun Padang lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktifitas

organiknya, dengan keanekaragaman biota yang cukup tinggi. Peranan lamun di lingkungan perairan laut dangkal sebagai berikut: 1. Sebagai produsen primer 2. Sebagai habitat biota 3. Sebagai penangkap/menahan sedimen 4. Daun lamun yang lebat akan memperlambat air yang disebabkan oleh arus dan ombak. 5. Sebagai pendaur zat hara Philips & Menez (1988) menyatakan bahwa, lamun digunakan sebagai komoditi yang sudah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat baik secara tradisional maupun secara modern. Secara tradisional lamun telah dimanfaatkan untuk: 1) kompos dan pupuk, 2) cerutu, 3) dianyam menjadi keranjang, 4) tumpukan untuk pematang, 5) mengisi kasur, 6) ada yang dimakan, 7) dibuat jaring ikan. Pada zaman modern ini, lamun telah dimanfaatkan untuk: 1). Penyaring limbah, 2). Stabilizator pantai, 3). Bahan untuk pabrik kertas, 4). Makanan, 5). Obat-obatan, dan 6) Sumber bahan kimia. Banyak kegiatan atau proses, baik alami maupun oleh aktivitas manusia yang mengancam kelangsungan ekosistem lamun. Ancaman-ancaman alami terhadap ekosistem lamun berupa angin topan, siklon (terutama di Philipina), gelombang pasang, kegiatan gunung berapi bawah laut, interaksi populasi dan komunitas (pemangsa dan persaingan), pergerakan sedimen dan kemungkinan hama dan penyakit, vertebrata pemangsa lamun seperti sapi laut (dugong). Diantara hewan invertebrata, bulu babi adalah pemakan lamun yang utama. Meskipun dampak dari pemakan ini hanya setempat, tetapi jika terjadi ledakan populasi pemakan tersebut akan terjadi kerusakan berat. Gerakan pasir juga mempengaruhi sebaran lamun. Bila air menjadi keruh karena sedimen, lamun akan bergeser ke tempat yang lebih dalam yang tidak memungkinkan untuk dapat bertahan hidup (Sangaji, 1994 dalam Tangke 2010).

Aktivitas manusia yang mengancam kelangsungan hidup ekosistem lamun adalah pengerukan yang berkaitan dengan pembangunan areal estate pinggir laut, pelabuhan,industri, saluran navigasi. Dampak potensial: Perusakan total padang lamun, Perusakan habitat dilokasi pembuangan hasil pengerukan. Dampak sekunder: pada perairan dengan meningkatnya kekeruhan air, dan terlapisnya insan hewan air. Fauna di Ekosistem Lamun Komunitas lamun dihuni oleh banyak jenis hewan bentik, organisme demersal serta pelagis yang menetap maupun yang tinggal sementara. Spesies yang sementara hidup di lamun adalah juvenil dari organisme yang mencari makanan serta perlindungan. Ada empat kelompok besar fauna : 1. Infauna (hewan yang hidup didalam sedimen) 2. Fauna Motil (fauna motil berasosiasi dengan lapisan permukaan sedimen 3. Epifauna Sesil (organisme yang menempel pada bagian lamun) 4. Fauna Epibentik Fauna (fauna yang berukuran besar dan bergerak diantara lamun). 1. Krustase Krustasea yang berasosiasi dengan lamun merupakan komponen penting dari jaring makanan di lamun. krustase sebagai produsen primer karena merupakan sumber makanan utama bagi berbagai ikan dan invertebrata selama juvenil dan dewasa. Krustase predator yang paling umum adalah kepiting kotak, Famili Calappidae dan aktif memakan gastropoda. 2. Moluska Moluska adalah kelompok makroinvertebrata yang paling banyak diketahui berasosiasi dengan lamun di Indonesia, dan mungkin yang paling banyak dieksploitasi. Moluska utama pada padang lamun subtropis adalah detrivor dengan sangat sedikit yang langsung memakan lamun. Gastropoda cenderung memakan perifiton. Mudjiono et al. (1992) mencatat 15 spesies moluska (11 gastropoda dan 4 bivalvia) dari padang lamun di Teluk Banten, Barat Daya Laut Jawa.

3. Echinodermata Hewan Echinodermata adalah komponen komunitas bentik di lamun memiliki nilai ekonomi. Lima kelas echinodermata yang ditemukan pada ekosistem lamun. Holothuroidea (timun laut atau teripang), Echinoidea (bulu babi), Asteroidea (Bintang laut), Ophiuroidea (Bintang Laut Ular), Crinoidea. Echinodermata besar lain seperti Protoreaster, Peintaceraster dan Culcita spp. cenderung pengurai dan pemakan segala dan tidak memakan lamun secara langsung. Echinodermata pada umumnya makan pada malam hari. Mereka mencari sampai ke dasar substrat, memakan alga, serasah lamun dan daun lamun yang masih hidup. 4. Ikan Di Lamun Ekosistem lamun adalah habitat yang penting bagi spesies ikan khusus sebagai daerah asuhan. Keanekaragaman dan kelimpahan ikan di padang lamun biasanya lebih tinggi daripada yang berdekatan dengan substrat kosong. Zooplankton dan epifauna krustasean adalah makanan utama ikan yang berasosiasi dengan lamun. Kelimpahan relatif dan komposisi spesies ikan di padang lamun tergantung pada tipe (terumbu karang, estuaria, mangrove) . Ekosistem padang lamun sangat penting bagi kehidupan penyu hijau dan dugong karena merupakan sumber makan. Dugong mengkonsumsi lamun terutama bagian daun dan rhizoma yang memiliki kandungan nitrogen tinggi. Ekosistem padang lamun berfungsi sebagai penyuplai energi baik pada zona benthik maupun pelagis. Berdasarkan Bell dan Pollard (1989) dengan beberapa perubahan. Jenis ikan yang bernilai ekonomis penting di ekosistem lamun adalah Pterocaesio sp (ikan ekor kuning), Caranx sexfasciatus (ikan kue/bubara), Leiognathus bindus (ikan peperek), Lethirinus crnatus (ikan sikuda), Herklot sichtys quadrimaculatus (ikan make).

Gambar 2. Rantai Makanan Pada Lamun

Jika dilihat dari pola zonasi lamun secara horisontal, maka dapat dikatakan ekosistem lamun terletak di antara dua ekosistem bahari penting yaitu ekosistem mangrove dan ekosistem terumbu karang (Gambar 3). Dengan letak yang berdekatan dengan dua ekosistem pantai tropik tersebut, ekosistem lamun tidak terisolasi atau berdiri sendiri tetapi berinteraksi dengan kedua ekosistem tersebut.

Gambar 3. Model interaksi tiga ekosistem utama di wilayah pesisir yaitu: ekosistem padang lamun, mangrove dan terumbu karang (Bengen 2001) Adanya interaksi yang timbal balik dan saling mendukung, maka secara ekologis lamun mempunyai peran yang cukup besar bagi ekosistem pesisir.

Adapun peran lamun tersebut (Nienhuis et al., 1989; Hutomo dan Azkab, 1987; Zulkifli, 2000) adalah sebagai berikut: (1) produsen primer, dimana lamun memfiksasi sejumlah karbon organik dan sebagian besar memasuki rantai makanan di laut, baik melalui pemangsaan langsung oleh herbivora maupun melalui dekomposisi serasah; (2) sebagai habitat biota, lamun memberi perlindungan dan tempat penempelan hewan dan tumbuh-tumbuhan; (3) sebagai penangkap sedimen, lamun yang lebat memperlambat gerakan air yang disebabkan oleh arus dan ombak; (4) sebagai pendaur zat hara; dan (5) sebagai makanan dan kebutuhan lain, seperti bahan baku pembuatan kertas. Sedangkan dalam Fortes (1990), peran lamun bagi manusia baik langsung maupun tidak langsung, dapat dibagi menjadi dua yaitu: (1) peran tradisional, seperti sebagai bahan tenunan keranjang, kompos untuk pupuk; (2) peran kontemporer, seperti penyaring air buangan; pembuatan kertas.

II. Ekosistem Mangrove dan Karakteristiknya

Kata mangrove mempunyai dua arti, pertama sebagai komunitas, yaitu komunitas atau masyarakat tumbuhan atau hutan yang tahan terhadap kadar garam atau salinitas, dan kedua sebagai individu spesies (Macnae, 1968 dalam Supriharyono, 2000). Supaya tidak rancu, Macnae menggunakan istilah mangal apabila berkaitan dengan komunitas hutan dan mangrove untuk individu tumbuhan. Hutan mangrove oleh masyarakat sering disebut pula dengan hutan bakau atau hutan payau. Namun menurut Khazali (1999), penyebutan mangrove sebagai bakau nampaknya kurang tepat karena bakau merupakan salah satu nama kelompok jenis tumbuhan yang ada di mangrove. Nybakken (1988) menyatakan hutan mangrove adalah sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu komunitas pantai tropik yang didominasi oleh beberapa spesies pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin. Kusmana (2002) mendefinisikan bahwa mangrove adalah suatu komunitas tumbuhan atau suatu individu jenis tumbuhan yang membentuk komunitas di daerah pasang surut. Hutan mangrove merupakan tipe hutan yang secara alami dipengaruhi oleh pasang surut air laut, tergenang pada saat pasang naik dan bebas genangan pada saat pasang rendah. Hutan mangrove biasa juga dikenal dengan sebutan hutan pantai (coastal woodland ), hutan pasang surut (tidal forest), dan hutan bakau, yang merupakan formasi tumbuhan litoral yang karakteristiknya terdapat di daerah tropika dan sub tropika. Vegetasi mangrove telah mengembangkan pola adaptasi secara morfologi dan fisiologi untuk hidup pada daerah pasang surut (intertidal). Pola adaptasi yang dikembangkan oleh vegetasi mangrove terhadap lingkungan pasang surut, yang mudah dikenali adalah sistem akar udara. Fungsi utamanya adalah untuk pertukaran gas, memperkokoh tegaknya batang pada daerah lumpur dan penyerapan unsur hara. Terdapat perbedaan struktur akar napas antar jenis yang berbeda. Misalnya akar udara pada Avicennia spp, akar pancang pada Sonneratia

spp, akar lutut pada Bruguiera spp, akar papan pada Xylocarpus spp, dan akar tunjang pada Rhizophora spp (Tomlinson 1986). Adaptasi terhadap kadar garam yang berlebih dalam tubuh vegetasi mangrove, merupakan hal penting bagi beberapa jenis agar tetap eksis pada lingkungan salin. Spesies Avicennia spp, Aegiceras spp dan Aegialitis spp, menghilangkan kelebihan kadar garam melalui kelenjar pengeluaran (excretion glands) FAO (2007).

Gambar 3. Ekosistem Mangrove

Mangrove tumbuh di pantai-pantai yang terlindungi atau pantai-pantai yang datr, biasanya disepanjang sisi pulau yang terlindung dari angin atau dibelakang terumbu karang di lepas pantai yang terlindung. Ekosistem mangrove yang merupakan ekosistem peralihan antara darat dan laut, sudah sejak lama diketahui mepunyai peranan penting dalam kehidupan dan merupakan mata rantai yang sangat penting dalam memelihara keseimbangan siklus biologi di suatu perairan (Nontji 1987).

Distribusi dan Komposisi Mangrove Distribusi jenis vegetasi mangrove secara umum telah dikaji oleh beberapa penulis (misalnya: Tomlinson 1986; Ellison et al. 1999). Ekosistem mangrove umumnya tumbuh subur di daerah tropik dan sub tropik. Penyebaran

geografi mangrove dapat dibagi menjadi dua daerah utama, yaitu kelompok belahan bumi bagian barat dan belahan bumi bagian timur. Kelompok belahan bumi bagian barat terdiri dari: wilayah Afrika-Amerika, meliputi: Pantai Lautan Atlantik, Pantai Lautan Pasipik dan kepulauan Galapagos. Belahan bumi timur meliputi: Afrika Timur, Laut Merah, India, Asia Tenggara, Jepang selatan, Australia, Selandia baru, dan kepulauan Pasipik Selatan. Sekitar 80% dari mangrove yang ada, ditemukan di wilayah Indo-Pasipik (Mastaller 1997). Luas hutan mangrove Indonesia berkisar antara 2,5 hingga 4,5 juta hektar, melebihi Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta ha) dan Australia (0,97 juta ha) (Spalding et al. 1997). Areal mangrove yang luas di Indonesia terutama terdapat di pantai timur Sumatera, dan pantai barat dan selatan kalimantan, serta Papua. Ekosistem mangrove yang masih baik ditemukan di pantai barat daya Papua, terutama di sekitar Teluk Bintuni. Mangrove di Papua emncapai luas 1,3 juta ha, sekitar sepertiga dari luas hutan bakau Indonesia (Noor et al. 1999). Di Sulawesi Tenggara luas hutan mangrove sekitar 54.259 ha, yang tersebar di Kabupaten Kendari, 16.750 ha, Kolaka 8.000 ha, Muna 16.600 ha, dan Kabupaten buton 12.900 ha (Anonim 2000). Hasil analisis Citra Landsat ETN 7 2008 dan data lapangan pada mangrove di Kabupaten Wakatobi pada tahun 2009 sekitar 1.046,126 ha.

Zonasi Mangrove Ekosistem mangrove merupakan ekosistem peralihan, antara ekosistem darat dan ekositem laut, sehingga kondisi lingkungan mangrove khas, kenyataan ini mungkin yang menyebabkan komposisi spesies mangrove relatif rendah, namun demikian kerapatan populasi masing-masing spesies umumnya besar. Walaupun habitat mangrove bersifat khusus, tetapi setiap spesies mempunyai kisaran ekologis tersendiri dan masing-masing spesies mempunyai relung (niche) yang khusus sehingga menyebabkan terbentuknya berbagai macam zona (mintakat). Meskipun komposisi jenis mangrove berbeda antara berbagai tempat, tetapi secara umum spesies yang menyusun komunitas mangrove terdiri atas: (1)

10

Pohon-pohon yang termasuk dalam marga/genus Rhizophora spp, Bruguiera spp, Ceriops spp (familia Rhizophoraceae), Avicennia spp (familia Avicenniaceae), Sonneratia spp (familia Sonneratiaceae), Xylocarpus spp (familia meliaceae), Lumnitzera spp (familia Combretaceae), (2) Jenis-jenis perdu, seperti Aegialitis spp (familia Plumbaginaceae), dan Scyphipora sp (familia Rubiaceae), (3) golongan palm seperti Nipa frukticans dan golongan paku-pakuan, seperti Acrosticum sp. Golongan liana yang umum ditemukan di komunitas mangrove adalah Derris heptaphyla (Chapman 1976).

Gambar 5. Contoh Zonasi Mangrove Flora mangrove umumnya di lapangan tumbuh membentuk zonasi mulai dari pinggir pantai sampai pedalaman daratan. Zonasi di hutan mangrove mencerminkan tanggapan ekofisiologis tumbuhan mangrove terhadap gradasi lingkungan. Zonasi yang terbentuk bisa berupa zonasi yang sederhana (satu zonasi, zonasi campuran) dan zonasi yang kompleks (beberapa zonasi) tergantung pada kondisi lingkungan mangrove yang bersangkutan. lingkungan yang penting dalam mengontrol zonasi adalah: Pasang surut yang secara tidak langsung mengontrol dalamnya muka air (water table) dan salinitas air dan tanah. Secara langsung arus pasang surut dapat menyebabkan kerusakan terhadap anakan. Tipe tanah yang secara tidak langsung menentukan tingkat aerasi tanah, tingginya muka air dan drainase. Kadar garam tanah dan air yang berkaitan dengan toleransi spesies terhadap kadar garam. Beberapa faktor

11

Cahaya yang berpengaruh terhadap pertumbuhan anakan dari species intoleran seperti Rhizophora, Avicennia dan Sonneratia. Pasokan dan aliran air tawar

Karakteristik Flora dan Fauna dalam Hutan Mangrove Flora mangrove terdiri atas pohon, epipit, liana, alga, bakteri dan fungi. Menurut Hutching dan Saenger (1987) telah diketahui lebih dari 20 famili flora mangrove dunia yang terdiri dari 30 genus dan lebih kurang 80 spesies. Sedangkan jenis-jenis tumbuhan yang ditemukan di hutan mangrove Indonesia adalah sekitar 89 jenis, yang terdiri atas 35 jenis pohon, 5 jenis terna, 9 jenis perdu, 9 jenis liana, 29 jenis epifit dan 2 jenis parasit (Soemodihardjo et al, 1993).mTomlinson (1986) membagi flora mangrove menjadi tiga kelompok, yakni: 1. Flora mangrove mayor (flora mangrove sebenarnya), yakni flora yang menunjukkan kesetiaan terhadap habitat mangrove, berkemampuan membentuk tegakan murni dan secara dominan mencirikan struktur komunitas, secara morfologi mempunyai bentuk-bentuk adaptif khusus (bentuk akar dan viviparitas) terhadap lingkungan mangrove, dan mempunyai mekanisme fisiologis dalam mengontrol garam. Contohnya adalah Avicennia, Rhizophora, Bruguiera,

Ceriops, Kandelia, Sonneratia, Lumnitzera, Laguncularia dan Nypa. 2. Flora mangrove minor, yakni flora mangrove yang tidak mampu membentuk tegakan murni, sehingga secara morfologis tidak berperan dominan dalam struktur komunitas, contoh: Excoecaria, Xylocarpus, Heritiera, Aegiceras. Aegialitis, Acrostichum, Camptostemon, Scyphiphora, Pemphis, Osbornia dan Pelliciera. 3. Asosiasi mangrove, contohnya adalah Cerbera, Acanthus, Derris, Hibiscus, Calamus, dan lain-lain. Biota pada Ekosistem Mangrove a. P. Rambut (di Teluk Jakarta) dan P. Dua (di Teluk Banten), merupakan bird sanctuary dan juga habitat kalong (Pteropus vampyrus), b. Primata: monyet (Macaca fascicularis), lutung (Presbytis cristatus) dan bekantan (Nasalis larvatus).

12

c. Hewan karnivora yaitu kucing mangrove (Felis viverrina), luwak (Paradoxurus hermaphrodites) dan garang-garang (Herpestes javanicus). d. Amphibi (katak) dan reptil (ular, biawak dan buaya).

Fauna mangrove hampir mewakili semua phylum, meliputi protozoa sederhana sampai burung, reptilia dan mamalia. Secara garis besar fauna mangrove dapat dibedakan atas fauna darat (terrestrial), fauna air tawar dan fauna laut. Fauna darat, misalnya kera ekor panjang (Macaca spp.), Biawak (Varanus salvator), berbagai jenis burung, dan lain-lain. Sedangkan fauna laut didominasi oleh Mollusca dan Crustaceae. Golongan Mollusca umunya didominasi oleh Gastropoda, sedangkan golongan Crustaceae didominasi oleh Bracyura. Para peneliti melaporkan bahwa fauna laut tersebut merupakan komponen utama fauna hutan mangrove. Fungsi Ekosistem Mangrove Ekosistem mangrove memiliki sejumlah fungsi penting, baik dalam skala lokal maupun nasional. Banyak nelayan, petani dan penduduk pedesaan hidupnya bergantung pada ekosistem mangrove, untuk memenuhi berbagai keperluan, baik berupa produk kayu (misalnya kayu bangunan, kayu bakar, dan arang kayu), maupun hasil non-kayu (seperti bahan makanan, atap rumah, pakan ternak, alkohol, gula, obat-obatan dan madu). Mangrove dapat juga dimanfaatkan sebagai sumber penghasil tannin (FAO 1994). Nilai ekonomi hutan mangrove di Teluk Kotania Provinsi Maluku, pada tahun 1999 mencapai Rp. 64,8 milyar atau Rp. 60,9 Juta/ha, (Supriadi & Wouthuyzen 2005). Ekosistem mangrove mendukung konservasi keanekaragaman hayati, dengan menyediakan tempat tinggal, tempat berkembang biak, tempat pengasuhan anak dan tempat mencari makan berbagai jenis hewan. Termasuk beberapa golongan hewan yang terancam kepunahan, mulai dari golongan reptil, amphibi, aves, dan mamalia. Ekosistem mangrove dapat juga melindungi ekosistem terumbu karang (coral reefs), dan padang lamun (sea grass) (FAO 2007). Fungsi penting lain dari ekosistem mangrove adalah kedudukan ekosistem mangrove sebagai mata rantai yang menghubungkan ekosistem laut dan
13

darat. Hutan mangrove menghasilkan bahan organik dalam jumlah besar, terutama bentuk seresah. Seresah mangrove merupakan sumber bahan organik penting dalam rantai makanan di dalam hutan mangrove. Seresah tersebut akan mengalami dekomposisi akibat aktifitas mikroorganisme. Hasil dekomposisi ini akan menjadi sumber nutrisi fitoplankton dalam kedudukannya sebagai produsen primer, dan kemudian zooplankton memanfaatkan fitoplankton sebagai sumber energi utama, dalam kedudukakannya sebagai konsumen primer. Zooplankton akan dimakan oleh crustaceae dan ikan-ikan kecil, selanjutnya jenis-jenis ini merupakan sumber energi bagi tingkat yang lebih tinggi dalam rantai makanan. Bahan organik yang dihasilkan oleh hutan mangrove, akan memberikan sumbangan pada rantai makanan di perairan pantai dekat hutan mangrove, sehingga perairan pantai disekitar hutan mangrove mempunyai produktivitas yang tinggi (Lear & Turner, 1977). Berbagai jenis ikan baik yang komersial maupun non-komersial juga bergantung pada keberadaan ekosistem mangrove (FAO 2007). Hutan mangrove merupakan tempat aman bagi berbagai jenis burung dan ikan untuk mencari makan, bersarang dan tinggal. Kebanyakan ikan yang hidup di mangrove juga ditemukan di laut sekitar pantai. Ikan ini tinggal di hutan mangrove pada waktu atau tahap tertentu, misalnya pada saat muda dan musim kawin. Terdapat pula jenis ikan tawar yang dapat hidup di area mangrove. Ketersediaan makanan dan perlindungan merupakan faktor penting yang menyebabkan ikan bermigrasi keluar masuk lingkungan ini. Contoh jenis ikan yang menghuni ekosistem mangrove yaitu Chanos chanos, Scatophagus argus, Stigmatogobius sadanundio, Oryzias javanicus, Mystus gulio, dan Zenarchopterus buffonis. Ikan gelodok (Periophthalmodonidae; Gobiidae) merupakan salah satu dari sedikit hewan yang habitatnya terbatas di area mangrove. Mereka membentuk lubang dalam tanah dan dapat berenang seperti ikan dengan menggunakan sirip pektoral, akan tetapi juga dapat memanjat pohon atau melewati tanah dengan sirip tersebut. Beberapa jenis ikan gelodok antara lain, Periophthalmodon schlosseri, Periophthalmus novemradiatus, dan Boleophthalmus boddarti (Setiawan et al, 2002).

14

Gambar 6. Aliran materi pada ekosistem mangrove

Gambar 7. Rantai makanan ekosistem mangrove

15

III. Peranan Mangrove dan Lamun sebagai Carbon Sink (Penyerap Karbon) Seiring meningkatnya taraf hidup umat manusia, emisi Gas Rumah Kaca (GRK) meningkat dengan tajam karena meningkatnya konsumsi bahan bakar fosil (BBF) sejak revolusi industri. Apabila tidak ada upaya untuk menekan emisi GRK, maka diperkirakan dalam waktu 100 tahun (tahun 2100) atau bisa lebih cepat, konsentrasi gas rumah kaca, khususnya CO2 akan mencapai dua kali lipat, menyebabkan peningkatan suhu global dan tinggi muka air laut. Naiknya muka air laut akan mempersempit luas daratan dan menenggelamkan beberapa negara kepulauan kecil, termasuk Indonesia, sementara itu peningkatan suhu global akan mengarah pada perubahan iklim. Pemerintah Indonesia menunjukkan

kesunguhannya untuk dapat berpartisipasi dalam rangka memerangi perubahan iklim. REDD merupakan salah satu strategi yang diterapkan Indonesia dalam melawan pemanasan global pada COP 2007 di Nusa Dua Bali. Dimana negara berkembang yang berhasil melakukan upaya pencegahan konversi dan degradasi (mitigasi) hutan akan mendapat bantuan dan insentif dari negara maju dan dapat melakukan perdagangan karbon (carbon credit purchase) (Dutschke et al. 2008). Menurut Badan Konservasi Sumber Daya Alam (2005), Carbon offset, merupakan jasa lingkungan yang memberikan kontribusi dalam upaya mencegah dampak negatif perubahan iklim, dimana melalui Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development Mecchanism, CDM) di bawah Protocol Kyoto, berdasarkan kajian sementara bahwa Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk dapat bersaing dalam pasar dunia untuk pengurangan karbon. Salah satu cara dimana manusia dapat beradaptasi terhadap perubahan iklim adalah dengan cara menjaga ekosistem pantai lebih tangguh dan sehat, tidak hanya untuk saat ini tetapi untuk masa yang akan datang. Pantai yang luas dibatasi oleh hutan mangrove, dilindungi oleh hamparan rawa payau dan padang lamun serta terumbu karang yang sehat. Hutan mangrove memiliki fungsi dan peranan penting dalam kehidupan umat manusia baik sebagai fungsi ekologis maupun sebagai fungsi mitigasi dalam

16

mengabsorbsi CO2. Fungsi ekologis hutan angrove meliputi: (a) Pencegah abrasi pantai; (b) Sebagai nursery ground, feeding ground, spawning ground; (c) Sebagai surface runoff; (d) Sebagai penghasil sejulah besar detritus. Hutan mangrove merupakan bagian dari blue carbon yaitu salah satu sumber karbon dari ekosistem pesisir dan lautan dan berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan emisi CO2 yang merupakan gas rumah kaca. Proses fotosintesis pada tumbuhan dapat merubah karbon anorganik (CO2) menjadi karbon organik dalam bentuk bahan vegetasi. Pada sebagian besar ekosistem, bahan ini membusuk dan melepaskan karbon kembali ke atmosfer sebagai CO2. Akan tetapi hutan mangrove justru mengandung sejumlah besar bahan organik yang tidak membusuk. Karena itu hutan mangrove lebih berfungsi sebagai penyerap karbon (carbon sink) dibandingkan dengan sumber karbon (carbon source). Fakta ilmiah menunjukkan dimana ekosistem pesisir dan lautan mampu menyerap emisi CO2 atmospherik 42%, ekosistem terestrial sekitar 56% dan lainnya (Cook 2010). Hasil penelitian Twilley et al. (1992) menunjukkan bahwa kawasan pesisir tropika adalah wilayah yang secara biogeokimia paling aktif dan

mempresentasikan carbon sink potensial yang penting di biosfir ini. Laju produktivitas akumulasi biomassa dipengaruhi oleh kombinasi dari faktor-faktor global seperti posisi (latitude) dan faktor lokal seperti hidrologi. Penyimpanan carbon dalam bimassa angrove diperkirakan mencapai 4,03 Pg C (Peta=1015) dan 70% berada di pesisir dengan posisi lintang dari 0o-10o. Rata-rata produksi kayu adalah 12,08 Mg ha-1th-1 (Mega=106) dimana nilai ini ekuivalen dengan 0,16 Pg C th-1 yang tersimpan dalam biomassa mangrove. Sementara itu, karbon yang terkumpul dalam sedimen adalah 0,02 Pg C th-1. Rosot karbon (carbon sink) merupakan media atau tempat penyerapan dan penyimpanan karbon dalam bentuk bahan organik, vegetasi hutan, laut dan tanah (CIFOR 2009). Distribusi biomassa mangrove di kawasan tropis menunjukkan nilai yang lebih tinggi pada area yang lebih rendah. Terdapat variasi dari biomassa mangrove pada ketinggian yang sama. Potensi biomassa maksimum pada 10o dan 35o adalah berkisar antara 100 dan 400 Mg ha-1. Twilley et al (1992)menemukan

17

bahwa dengan meningkatnya salinitas, nilai parameter struktural dan fungsional akan menurun. Padang lamun di Indonesia memiliki luas sekitar 30.000 km2 dan berperan penting di ekosistem laut dangkal, karena merupakan habitat bagi ikan dan biota perairan lainnya (Nontji 2009). Berbagai jenis ikan menjadikan daerah padang lamun sebagai daerah mencari makan (feeding ground), pengasuhan larva (nursery ground), tepat memijah (spawning ground), sebagai stabilitas dan penahanan sedimen, mengurangi dan memperlambat pergerakan gelombang, sebagai tempat terjadinya siklus nutrien (Philips dan Menez 1988) dan fungsinya sebagai penyerap karbon di lautan (carbon sink) atau dikenal dengan istilah blue carbon dan digunakan untuk proses fotosintesis (Kawaroe 2009). Pentingnya peran padang lamun di ekosistem laut dangkal tidak menjamin ekosistem ini tetap terjaga, diperkirakan kerusakan padang lamun di Indonesia telah mencapai 30-40%. Sekitar 60% padang lamun di pesisir Pulau Jawa telah mengalai gangguan berupa kerusakan dan pengurangan luas yang diduga akibat pengaruh aktivitas manusia (Fortes 1994 dalam Nontji 2009). Kehidupan di laut berpotensi membantu pencegahan pemanasan global melalui peran tumbuhan laut. Tumbuhan laut dapat menyerap 2 milliar ton karbondioksida dari atmosfer setiap tahun, dan sebagian besar yang bertanggung jawab akan hal itu adalah plankton walaupun penyerapan oleh plankton ini hanya sebagian kecil yang diendapkan ke dasar laut sebagai penyimpan karbon. Lain halnya dengan ekosistem pantai terutama padang lamun, meskipun seluruhnya hanya mencakup kurang dari 1 persen dari luasan dasar laut samudra, namun dapat menyimpan lebih dari separuh karbon yang terkubur di dasar laut. Tumbuhan laut diperkirakan mengikat sekitar 1.650 juta ton karbondioksida per tahun kurang lebih separuh dari emisi dari kegiatan transportasi global hingga menjadikan tumbuhan laut merupakan carbon sinks yang paling besar di bumi ini. Akan tetapi kini kapasitasnya untuk menyerap emisi karbon berada dalam ancaman: habitatnya semakin hilang (habitat loss) dengan laju sekitar 7 persen per tahun, atau sampai 15 kali lebih laju dari yang dialami hutan-hujan tropis.

18

Penyerapan karbon di lautan dunia tersimpan dalam bentuk sedimen yang berasal dari mangrove, salt marshes, dan padang lamun. Blue carbon ini tersimpan sampai dengan jutaan tahun dan lebih lama dibandingkan dengan hutan yang hanya tersimpan puluhan sampai ratusan tahun karena mengalami pencucian. Walaupun biomas tumbuhan laut jika dibandingkan dengan tumbuhan darat hanya sekitar 0,05%, tetapi siklus karbon yang terjadi di laut jika dijumlahkan selama setahun hampir sama bahkan lebih dibandingkan dengan tumbuhan darat. Sehingga hal ini menunjukkan efisiensi tumbuhan laut sebagai carbon sinks (Kawaroe 2009). Aliran karbon dioksida (CO2) dari udara melewati muka air laut merupakan fungsi dari kelarutan (solubility) CO2 di dalam air laut dan dikenal sebagai solubility pump. Jumlah CO2 terlarut di air laut adalah utamanya dipengaruhi oleh kondisi fisika-kimia (suhu air laut, salinitas, total alkalinitas) dan proses biologi (produktivitas primer) yang terjadi di laut. Melalui proses pertukaran gas, CO2 ditransfer dari udara ke laut dan berubah bentuk menjadi dissolved inorganik carbon (DIC). Proses ini terjadi secara terus menerus karena laut tidak jenuh oleh kandungan CO2 jika dibandingkan atmosfer. Proses ini sangat efisien terjadi di wilayah dengan posisi lintang tinggi (temperate) karena kelarutan CO2 sangat efisien pada kondisi suhu rendah. Pada proses seperti ini, CO2 di atmosfer dalam jumlah banyak akan terlarut dan tersimpan sehingga tidak menjadi gas rumah kaca di atmosfer. Produktivitas primer di laut sangat ditentukan oleh keberadaan CO2 untuk melakukan proses fotosintesis utamanya oleh fitoplankton dan proses ini dikenal sebagai biological pump. Bersama dengan solubility pump, proses biological pump akan berjalan dan mengendapkan karbon (carbon sinks) di dasar laut (Kawaroe 2009). Padang lamun sebagai vegetasi ekosistem pesisir bersama sama dengan mangrove dan hutan di darat merupakan pusat keanekaragaman (hot spot) yang menyediakan fungsi penting dan bernilai yaitu sebagai karbon sinks seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Akan tetapi pengurangan luasan habitat pesisir empat kali lebih cepat dibandingkan dengan hutan dan rata-rata pengurangannya juga mengalami peningkatan. Kondisi ini diduga disebabkan karena masyarakat

19

lebih banyak menerima informasi tentang keberadaan, keuntungan dan fungsi hutan jika dibandingkan dengan vegetasi ekosistem pesisir. Kurangnya perhatian masyarakat tentang vegetasi ekosistem pesisir bisa juga disebabkan karena masih berorientasi darat dan tidak terlihatnya vegetasi pesisir ini secara kasat mata sehingga sepertinya tidak berperan di dalam kehidupan. Perubahan pola pikir ini menjadi salah satu tanggung jawab di dalam pemberdayaan masyarakat pesisir dan targetnya adalah bukan saja masyarakat pesisir tetapi semua masyarakat Indonesia dan dunia.

20

PENUTUP
Salah satu cara dimana manusia dapat beradaptasi terhadap perubahan iklim adalah dengan cara menjaga ekosistem pantai lebih tangguh dan sehat, tidak hanya untuk saat ini tetapi untuk masa yang akan datang. Pantai yang luas dibatasi oleh hutan mangrove, dilindungi oleh hamparan rawa payau dan padang lamun serta terumbu karang yang sehat dapat bertahan lebih baik terhadap gempuran fenomena kenaikan muka laut, gelombang badai, pengasaman, rob dibanding pantai sempit dengan kontruksi beton disisi daratan dan rusaknya hutan mangrove dan hamparan padang laun dan terumbu karang di bagian lautnya. Habitat pantai terbukti dapat mengembalikan areal ekosistem karbon biru yang telah hilang terutaa aspek ekologi. Pemulihan tersebut dapat mengembalikan jasa-jasa penting seperti kemampuan untuk meningkatkan kadar oksigen terlalut dalam perairan pantai, membantu memulihkan stok ikan global serta melindungi pesisir dari badai bencana cuaca ekstrim. Saat bersamaan, habitat pantai pun dapat menghentikan penyusutan dan degradasi penyerap karbon alami penting sehingga berkontribusi terhadap emisi karbondioksida dan mitigasi perubahan iklim jangka panjang. Negara diseluruh penjuru dunia yang memiliki perairan dangkal yang luas, berpeluang mengeksplorasi mitigasi emisi karbondioksida melalui upaya perlindungan dan pemulihan ekosistem penyerap karbon biru yang dimilikinya. Dengan demikian strategi win-win setara dengan strategi untuk melindungi dan memulihkan kapasitas penyerapan karbon pada hutan hujan tropis yang dapat mebantu negara memenuhi komitmen Konvensi PBB mengenai Keanekaragaman Hayati dan Perubahan iklim. Maka mulailah peduli pada peran penting Sang Penyerap Karbon Biru demi masa depan bumi kita yang lebih baik.

21

DAFTAR PUSTAKA

Bengen,D.G. 2001. Sinopsis ekosistem dan sumberdaya alam pesisir. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Instititut Pertanian Bogor. Bengen, D. G. 2011. Struktur dan Dinamika Ekosistem Pesisir Dan Laut . Bahan Kuliah Evaluasi Ekosistem Pesisir dan Lautan Sekolah Pascasarjana SPL S3 IPB. [CIFOR] Centre for International Forestry Research. 2009. REDD Apakah itu? Pedoman CIFOR tentang Hutan, Perubahan iklim dan REDD. CIFOR. Bogor. Chapman VJ. 1976. Mangrove Vegetation. J. Cremer Publ. Leutherhausen, Germany. [FAO] Food and Agriculture Organization of The United Nations. 1994. Mangrove Forest Management Guidelines. Rome : FAO, Rome. FAO. 2007. The Worlds Mangroves 19802005. Forest Resources Assessment Working Paper No. 153. Food and Agriculture Organization of The United Nations. Rome. Fortes, M. D. 1990. Seagrass: A Resources Unknown in the ASEAN Region. ICLARM Education Series 2, ICLARM, Manila, Phillipines. Kawaroe, M. 2009. Perspfektif Lamun Sebagai Blue Carbon Sink di Laut. Lokakarya Nasional I Pengelolaan Ekosistem Lamun. 18 November 2009. Jakarta, Indonesia. Khazali, M. 1999. Panduan Teknis Penanaman Mangrove Bersama Masyarakat. Wetland International Indonesia Programme. Bogor, Indonesia. Kusmana C. 2002. Pengelolaan Ekosistem Mangrove secara Berkelanjutan dan Berbasis Masyarakat. Jakarta: Lokakarya Nasional Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Mastaller M. 1997. Mangroves: The Forgotten Forest between Land and Sea. Tropical Press Sdn.Bhd., Kuala Lumpur. Nontji, A. 2009. Rehabilitasi Ekosistem Lamun dalam Pengelolaan Sumberdaya Pesisir. Lokakarya Nasional I Pengelolaan Ekosiste Lamun. 18 November 2009. Jakarta, Indonesia. Nybakken,J.W. 1988. Biologi Laut suatu pendekatan ekologis. Gramedia, Jakarta.

22

Phillips, R. C. And Menez, E. G. 1988. Seagrass. Smithsonian Contributions to the Marine Sciences, No. 34. Smithsonian Institute Press, Washington, D. C. Setiawan, Ahmad Dwi, Ari Susilowati dan Sutarno. 2002. Biodiversitas Genetik, Spesies dan Ekosistem Mangrove di Jawa Petunjuk Praktikum Biodiversitas; Studi Kasus Mangrove. UNS Press. Semarang. Supriharyono. 2000. Pelestarian dan Pengelolaan Sumber Daya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta, Indonesia. Spalding M, F Blasco, C Field. 1997. World mangrove atlas. The International Society for Mangrove Ecosystems, Okinawa. 178 p. Tangke, Umar. 2010. Ekosistem Padang Lamun (Manfaat, Fungsi, Rehabilitasi). Jurnal Ilmiah agribisnis dan Perikanan (agrikan UMMU-Ternate). Volume 3 Edisi 1 (Mei 2010). Hal 9-20. Tomlinson CB. 1986. The Botany of Mangroves. Cambridge Tropical Biology Series, Cambridge University Press, Cambridge, New York, U.S. Twilley, R. R., Chen, R. H., & Hargis, T., 1992. Carbon sinks in angrove forests and their implication to the carbon budget of tropical coastal ecosystems. Water Air Soil Pollut. 64, 265-288. Zulkifli. 2000. Sebaran Spasial Komunitas Perifiton dan Asosiasinya dengan Lamun di Perairan Teluk Pandan Lampung Selatan. Tesis. Program Pascasarjana IPB. Bogor.

23