P. 1
Tugas Besar Irigasi Bangunan Air I

Tugas Besar Irigasi Bangunan Air I

|Views: 68|Likes:
Dipublikasikan oleh Derry Ardiansyah

More info:

Published by: Derry Ardiansyah on Jan 24, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/06/2013

pdf

text

original

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi

dan Bangunan Air I
1
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
BAB I
PENDAHULUAN

Air merupakan sumber daya alam yang semakin hari semakin terbatas
persediannya untuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup. Berdasarkan jumlah tempat
untuk memperolehnya, air terdapat di laut dengan jumlah yang paling besar, yang
kedua air berada di dalam permukaan tanah, dan yang ketiga berada di atmosfer.
Meskipun berupa air juga, namun sifat air dari ketiga tempat tersebut berbeda-beda. Air
dari laut memiliki rasa yang asin, dan di dalam permukaan tanah adalah air dengan
kualitas yang lebih baik, yaitu air tawar, dan yang terakhir adalah air yang berada di
atmosfer, yaitu dalam bentuk butir-butir air hasil penguapan air hujan.
Beberapa hal penting yang menyebabkan eratnya hubungan manusia dengan
sumber daya air, dapat disebutkan antara lain :
a. Kebutuhan manusia akan kebutuhan makanan nabati.
Untuk kelangsungan hidupnya, manusia membutuhkan juga makanan nabati. Jenis
makanan ini didapat manusia dari usahanya dalam mengolah tanah dengan tumbuhan
penghasil makanan. Untuk keperluan tumbuh dan berkembangnya, tanaman tersebut
memerlukan penanganan khusus, terutama dalam pengaturan akan kebutuhan airnya.
Manusia kemudian membuat bangunan dan saluran yang berfungsi sebagai prasarana
pengambil, pengatur dan pembagi air sungai untuk pembasahan lahan pertaniannya.
Bangunan pengambil air tersebut berupa bangunan yang sederhana dan sementara
berupa tumpukan batu, kayu dan tanah, sampai dengan bangunan yang permanen
seperti bendung, waduk dan bangunan-bangunan lainnya.
b. Kebutuhan manusia akan kenyamanan dan keamanan hidupnya.


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
2
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
Seperti telah diketahui bersama, dalam keadaan biasa dan normal, sungai adalah
mitra yang baik bagi kehidupan manusia. Namun, dalam keadaan dan saatsaat tertentu,
sungaipun adalah musuh manusia yang akan merusak kenyamanan dan keamanan
hidupnya. Pada setiap kejadian dan kegiatan yang ditimbulkan oleh sifat dan perilaku
sungai, manusia kemudian berfikir dan berupaya untuk sebanyak-banyaknya
memanfaatkan sifat dan perilaku sungai yang menguntungkan dan memperkecil atau
bahkan berusaha menghilangkan sifat yang merugikan kehidupannya. Manusia lalu
membangun bangunan-bangunan air sepanjang sungai yang bertujuan untuk
memanfaatkan sumber daya air sungai, misalnya bendungan-bendungan,pusat listrik
tenaga air ataupun membuat bangunan yang diharapkan akan dapat melindungi
manusia terhadap beneana yang ditimbulkan oleh perilaku sungai, misalnya waduk,
krib, tanggul, penahan lereng, bronjong dan fasilitas lainnya.
Kenyataan sejarah pun kemudian membuktikan, bahwa manusia yang tidak bisa
bersahabat dan melestarikan keberadaan sumber daya air yang ada, akan surut dan
runtuh kejayaannya. Kehancuran tersebut tidak hanya semata-mata karena disebabkan
oleh bencana yang ditimbulkan oleh perilaku alam, namun kebanyak merupakan proses
akibat menurunnya fungsi sumber daya air sungai sehingga mematikan beberapa sarana
dan prasarana yang penting bagi kehidupan manusia.
Iklim turut mempengaruhi keberadaan air di muka bumi ini. Keadaan iklim yang
tidak menentu membuat keberadaan air juga menjadi tidak jelas. Di Indonesia sendiri
misalnya, pada waktu musim kemarau, beberapa daerah mengalami kekeringan, dan
ketika musim hujan tiba, mengalami banjir. Oleh karena itu, di butuhkan pengelolaan
air dan tentunya juga lahan yang baik. Pengelolaan air irigasi merupakan cara
pendayagunaan keterampilan-keterampilan, fisis, biologis, kemis, dan sumber daya


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
3
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
sosial untuk menyediakan air dalam rangka memperbaiki produksi pangan dan serat-
seratan.
Untuk menunjang pengelolaan air irigasi tersebut maka dibuatlah suatu jaringan
irigasi.Jaringan irigasi adalah satu kesatuan saluran dan bangunan yang diperlukan
untuk pengaturan air irigasi, mulai dari penyediaan, pengambilan, pembagian,
pemberian dan penggunaannya.
Secara hirarki jaringan irigasi dibagi menjadi jaringan utama dan jaringan tersier.
Jaringan utama meliputi bangunan, saluran primer dan saluran sekunder. Sedangkan
jaringan tersier terdiri dari bangunan dan saluran yang berada dalam petak tersier.
Suatu kesatuan wilayah yang mendapatkan air dari suatu jarigan irigasi disebut dengan
Daerah Irigasi.

1.1. Sejarah Irigasi
Secara umum menjelaskan perkembangan mulai dari adanya usaha pembuatan
irigasi sangat sedehana, perkembangan irigasi di Mesir, Babilonia, India,dll kemudian
bagaimana perkembangan irigasi di Indonesia sampai saat sekarang.
 Irigasi Mesir Kuno dan Tradisional Nusantara
Sejak Mesir Kuno telah dikenal dengan memanfaatkan Sungai Nil. Di Indonesia
irigasi tradisional telah juga berlangsung sejak nenek moyang kita. Hal ini dapat dilihat
juga cara bercocok tanam pada masa kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia. Dengan
membendung kali secara bergantian untuk dialirkan ke sawah. Cara lain adalah mencari
sumber air pegunungan dan dialirkan dengan bambu yang bersambung. Ada juga
dengan membawa dengan ember yang terbuat dari daun pinang atau menimba dari kali
yang dilemparkan ke sawah dengan ember daun pinang juga.
 Sistem Irigasi Zaman Hindia Belanda


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
4
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
Sistem irigasi adalah salah satu upaya Belanda dalam melaksanakan Tanam Paksa
(Cultuurstelsel) pada tahun 1830. Pemerintah Hindia Belanda dalam Tanam Paksa
tersebut mengupayakan agar semua lahan yang dicetak untuk persawahan maupun
perkebunan harus menghasilkan panen yang optimal dalam mengeksplotasi tanah
jajahannya.
Sistem irigasi yang dulu telah mengenal saluran primer, sekunder, ataupun
tersier. Tetapi sumber air belum memakai sistem Waduk Serbaguna seperti TVA di
Amerika Serikat. Air dalam irigasi lama disalurkan dari sumber kali yang disusun
dalam sistem irigasi terpadu, untuk memenuhi pengairan persawahan, di mana para
petani diharuskan membayar uang iuran sewa pemakaian air untuk sawahnya.
Di Bali, irigasi sudah ada sebelum tahun 1343 M, hal ini terbukti dengan adanya
sedahan (petugas yang melakukan koordinasi atas subak-subak dan mengurus
pemungutan pajak atas tanah wilayahnya). Sedangkan pengertian subak adalah “ Suatu
masyarakat hukum adat di Bali yang bersifat sosio agraris relegius yang secra histories
tumbuh dan berkembang sebagai suatu organisasi di bidang tataguna air di tingkat
usaha tani” (PP. 23 tahun 1982, tentang Irigasi).

1.2 Pengertian Irigasi
irigasi yaitu merupakan suatu proses pengaliran air dari sumber air ke system
pertanian. Irigasi adalah proses penambahan air untuk memenuhi kebutuhan lengas
tanah bagi pertumbuhan tanaman (Israelsen & Hansen, 1980).Irigasi adalah usaha
penyediaan, pengaturan dan pembuangan air untuk menunjang pertanian yang jenisnya
meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa, dan
tambak (PP 20/2006). Tindakan intervensi manusia untuk mengubah agihan air dari


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
5
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
sumbernya menurut ruang dan waktu serta mengelola sebagian atau seluruh jumlah
tersebut untuk menaikkan produksi tanaman (Small & Svendsen, 1992).
Beberapa Pengertian Irigasi :
a. Daerah pengaliran : adalah daerah pada pengaliran sungai (DPS), dimana apabila
terjadi peristiwa-peristiwa alam dan perubahan hidro-klimatologi, akan
mempengaruhi kondisi pengaliran pada sungai tersebut.
b. Daerah irigasi atau daerah pengairan : adalah kesatuan wilayah atau daerah yang
mendapat air dari satu jaringan irigasi.
c. Daerah potensial : adalah daerah yang mempunyai kemungkinan baik untuk
dikembangkan.
d. Daerah fungsional : adalah bagian dari daerah potensial yang telah memiliki
jaringan irigasi yang telah dikembangkan; luas daerah fungsional ini sama atau
lebih keeil dari daerah potensial.
e. Jaringan irigasi : adalah saluran dan bangunan yang merupakan satu kesatuan dan
diperlukan untuk pengaturan air irigasi mulai dari penyediaan, pengambilan,
pembagian, pemberian dan penggunannya.
f. Petak irigasi : adalah petak lahan yang memperoleh pemberian air irigasi dari satu
jaringan irigasi.
g. Penyediaan irigasi : adalah penentuan banyaknya air yang dapat dipergunakan
untuk menunjang pertanian.
h. Pembagian air irigasi : adalah penyaluran air yang dilaksanakan oleh pihak yang
berwenang dalam ekspoitasi pada jaringan irigasi utama hingga ke petak tersier.
i. Pemberian air irigasi : adalah penyaluran jatah air irigasi dari jaringan utama ke
petak tersier.
j. Penggunaan air irigasi : adalah pemanfaatan air irigasi di tingkat usaha tani.


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
6
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
Sedangkan menurut PP RI No. 77 tahun 2001 mengenai irigasi, mendefinisikan
Air adalah semua air yang terdapat pada, di atas maupun di bawah permukaan tanah,
termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan, dan air laut yang
dimanfaatkan di darat. Sumber air adalah wadah atau tempat air baik yang terdapat
pada, di atas maupun di bawah permukaan tanah. Irigasi adalah usaha penyediaan dan
pengaturan air untuk menunjang pertanian, yang jenisnya meliputi irigasi air
permukaan, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak.
Daerah irigasi adalah kesatuan wilayah yang mendapat air dari satu jaringan
irigasi. Jaringan irigasi adalah saluran, bangunan, dan bangunan pelengkapnya yang
merupakan satu kesatuan dan diperlukan untuk pengaturan air irigasi mulai dari
penyediaan, pengambilan, pembagian, pemberian yang berada dalam satu system
irigasi, mulai dari bangunan utama, saluran induk atau primer, saluran sekunder, dan
bangunan sadap serta bangunan pelengkapnya.
Jaringan tersier adalah jaringan irigasi yang berfungsi sebagai prasarana
pelayanan air di dalam petak tersier yang terdiri dari saluran pembawa yang disebut
saluran tersier, saluran pembagi yang disebut saluran kuarter dan saluran pembuang
berikut saluran bangunan turutan serta pelengkapnya, termasuk jaringan irigasi pompa
yang luas areal pelayanannya disamakan dengan areal tersier. Petak irigasi adalah petak
lahan yang memperoleh air irigasi. Petak tersier adalah kumpulan petak irigasi yang
merupakan kesatuan dan mendapatkan air irigasi melalui saluran tersier yang sama.
Penyediaan air irigasi adalah penentuan banyaknya air per satuan waktu dan saat
pemberian air yang dapat dipergunakan untuk menunjang pertanian. Pembagian air
irigasi adalah penyaluran air dalam jaringan utama. Pemberian air irigasi adalah alokasi
air dari jaringan utama ke petak tersier dan kuaerter. Penggunaan air irigasi adalah
pemanfaatan air di lahan pertanian.


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
7
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
Waduk adalah tempat atau wadah penampungan air di sungai agar dapat
digunakan untuk irigasi maupun keperluan lainnya. Waduk lapangan atau embung
adalah tempat atau wadah penampungan air irigasi pada waktu terjadi surplus air di
sungai atau air hujan. Pembangunan jaringan irigasi adalah seluruh kegiatan
penyediaan jaringan irigasi di wilayah tertentu yang belum ada jaringan irigasinya atau
penyediaan jaringan irigasi untuk menambah areal pelayanan.
Pengelolaan irigasi adalah segala usaha pendayagunaan air irigasi yang meliputi
operasi dan pemeliharaan, pengamanan, rehabilitasi, dan peningkatan jaringan irigasi.
Operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi adalah kegiatan pengaturan air dan jaringan
irigasi yang meliputi penyediaan, pembagian, pemberian, penggunaan, dan
pembuangannya, termasuk usaha mempertahankan kondisi jaringan irigasi agar tetap
berfungsi dengan baik. Pengamanan jaringan irigasi adalah adalah upaya untuk
mencegah dan menanggulangi terjadinya kerusakan jaringan irigasi yang disebabkan
oleh daya rusak air, hewan, atau oleh manusia guna mempertahankan fungsi jaringan
irigasi.
Irigasi merupakan suatu ilmu yang memanfaatkan air untuk tanaan mulai dari
tumbuh sampai masa panen. Air tersebut diambil dari sumbernya, dibawa melalui
saluran, dibagikan kepada tanaman yang memerlukan secara teratur, dan setelah air
tersebut terpakai, kemudian dibuang melalui saluran pembuang menuju sungai kembali.
Irigasi dikehendaki dalam situasi:
(a) bila jumlah curah hujan lebih kecil dari pada kebutuhan tanaman;
(b) bila jumlah curah hujan mencukupi tetapi distribusi dari curah hujan tidak
bersamaan dengan waktu yang dikehendaki tanaman.




UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
8
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
1.3 Maksud Dan Tujuan Irigasi
Tujuan utama irigasi adalah untuk: Membasahi tanah, merabuk, mengatur suhu
tanah, kolmatase, membersihkan air kotor, meninggikan air tanah, pemeliharaan ikan.
Tujuan pembuatan suatu bangunan air di sungai adalah sebagai upaya manusia untuk
meningkatkan faktor yang menguntungkan dan memperkecil atau menghilangkan
faktor yang merugikan dari suatu sumber daya air terhadap kehidupan manusia.
Manfaat dari suatu bangunan air di sungai adalah untuk membantu manusia dalam
kelangsungan hidupnya, dalam upaya penyediaan makanan nabati dan memperbesar
rasa aman dan kenyamanan hidup manusia terutama yang hidup di lembah dan di tepi
sungai. Tujuan irigasi pada suatu daerah adalah upaya untuk penyediaan dan
pengaturan air untuk menunjang pertanian, dari sumber air ke daerah yang memerlukan
dan mendistribusikan secara teknis dan sistematis.
Adapun manfaat suatu sistem irigasi adalah :
a. untuk membasahi tanah, yaitu membantu pembasahan tanah pada daerah
yang curah hujannya kurang atua tidak menentu.
b. untuk mengatur pembasahan tanah, yang dimaksudkan agar daerah pertanaindapat
di airi sepanajng waktu, baik pada musim kemarau mupun pada musim penghujan.
c. untuk menyuburkan tanah, yaitu dengan mengalirkan air yang mengandung lumpur
pada daerah pertanian sehingga tanah dapat menerima unsur-unrur penyubur.
d. untuk kolmatase, yaitu meninggikan tanah yang rendah (rawa) dengan endapan
lumpur yang dikandung oleh air irigasi.
e. untuk penggelontoran air di kota, yaitu dengan menggunakan air irigasi,
kotoran/sampah di kota digelontor ke tempat yang telah disediakan dan selanjutnya
dibasmi secara alamiah.


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
9
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
f. pada daerah dingin, dengan mengalirkan air yang suhunya lebih tinggi daripada
tanah, dimungkinkan untuk mengadakan pertanianjuga pada musim tersebut.

Irigasi berfungsi mendukung produktivitas usaha tani guna meningkatkan
produksi pertanian dalam rangka ketahanan pangan nasional dan kesejahteraan
masyarakat, khususnya petani, yang diwujudkan melalui keberlanjutan sistem irigasi
dalam hal ini perencanaan irigasi harus memperhatikan:
(1) partisipasi pengguna air terutama petani,
(2) terpadu,
(3) berwawasan lingkungan hidup,
(4) transparan,
(5) akuntabel,
(6) berkeadilan.
1. Partisipasi pengguna air
Penggunaan air irigasi adalah kegiatan memanfaatkan air dari petak tersier untuk
mengairi lahan pertanian pada saat diperlukan. Petani merupakan pemakai utama air
irigasi untuk mengairi sawah. Partisipasi masyarakat umumnya berwujud peran serta
dalam proses pengambilan keputusan pengaturan pemakaian air selain itu, kontribusi
finansial untuk membiayai perbaikan kerusakan prasarana pengairan.
2. Terpadu
Dalam perencanaan serta penggunaan irigasi dilaksanakan secara bersama-sama
dari instansi pemerintah yang terkait sampai pada masyarakat petani pemakai air
dimana setiap pihak yang terkait mempunyai fungsi masing-masing. Di masa lalu,
pemerintah sering kali lebih berperan (dominan) dalam merencanakan, melaksanakan,


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
10
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
dan mengevaluasi sistem irigasi. Saat ini sistem irigasi harus dilaksanakan secara
bersama bahkan dimulai dari daerah yang paling membutuhkan.
3. Berwawasan lingkungan
Pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi bertujuan mewujudkan
kemanfaatan air dalam bidang pertanian dilaksanakan di seluruh daerah irigasi dengan
berwawasan lingkungan. Artinya pendekatan interdisipliner eko-hidroulik dipandang
sebagai suatu pola rekayasa yang bisa diterima serta memiliki keberlanjutan yang
tinggi, karena pendekatan yang digunakan sudah memasukkan faktor fisik (abiotik)
maupun non fisik (biotik) yang memegang peran penting dalam penyelesaian masalah
keairan.
4. Transparan
Dalam merancang irigasi dibutuhkan keterbukaan atau transparansi semua aspek
baik dalam pendanaan sampai langkah-langkah apa yang harus dilakukan dalam
merancang sistem irigasi, serta terbuka dalam menerima masukan dari berbagai sumber
terutama petani pemakai air.
5. Akuntabel
Dalam perancangan irigasi harus diperhatikan segi ekonomisnya, yang pertama
mengetahui seberapa besar keuntungan ekonomi petani apabila menggunakan irigasi,
dana yang digunakan untuk pembangunan irigasi harus terinci sehingga tidak terjadi
penyimpangan anggaran.
6. Berkeadilan
Penggunaan irigasi harus ditinjau dari pembagian air irigasinya yang merata
sehingga semua aspek tidak ada yang dirugikan.
Sistem Rancangan Irigasi membutuhkan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Survey kondisi keadaan sekarang (sesuai kebutuhan pertanian)


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
11
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
- Penyusunan daerah yang akan dirancang
- Survey keperluan irigasi(sumber air)
- Survey saluran irigasi dan drainase yang ada (terdapat aliran air yang
permanen atau tidak)
- Survey dan pengumpulan data Hidrologi dan meteorologi (Klimat, Sumber
air, Topografi, Jenis tanah, dan Tata guna lahan)
- Survey hubungan pemanfaatan air yang bersamaan (Sosek, Sosio-kultur)
2. Rancangan fasilitas Irigasi (Rice baced irrigation)
- Rancangan irigasi di persawahan:
a. Penentuan keperluan Air
b. Penyelidikan kemungkinan penghematan air irigasi
c. Pemeliharaan cara irigasi perhitungan air (perhitungan keperluan air
periodis)
d. Tindakan yang diperlukan setelah terjadi perubahan lingkungan.
3. Rancangan fasilitas sumber air dan penyaluran air
- Penyelidikan cara pemberian air
- Penentuan fasilitas keperluan air
- Rancangan fasilitas sumber air

1.4 Sistem Irigasi dan Klasifikasi Jaringan Irigasi
Sistem Irigasi
Berikut ini penjelasan berbagai saluran yang ada dalam suatu sistern irigasi.


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
12
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
o Saluran primer membawa air dari bangunan sadap menuju saluran sekunder
dan ke petak-petak tersier yang diairi. Batas ujung saluran primer adalah
pada bangunan bagi yang terakhir.
o Saluran sekunder membawa air dari bangunan yang menyadap dari saluran
primer menuju petak-petak tersier yang dilayani oleh saluran sekunder
tersebut. batas akhir dari saluran sekunder adalah bangunan sadap terakhir.
o Saluran tersier membawa air dari bangunan yang menyadap dari saluran
sekunder menuju petak-petak kuarter yang dilayani oleh saluran sekunder
tersebut. batas akhir dari saluran sekunder adalah bangunan boks tersier
terkahir.
o Saluran kuarter mernbawa air dari bangunan yang menyadap dari boks
tersier menuju petak-petak sawah yang dilayani oleh saluran sekunder
tersebut. batas akhir dari saluran sekunder adalah bangunan boks kuarter
terkahir.
o Saluran Pembuang
o Saluran pembuang kuarter menampung air langsung dari sawah di
daerah atasnya atau dari saluran pernbuang di daerah bawah.
o Saluran pembuang tersier menampung air buangan dari saluran
pernbuang kuarter.
o Saluran pembuang primer menampung dari saluran pernbuang tersier
dan membawanya untuk dialirkan kernbali ke sungai.

1.5 Jaringan irigasi
Jaringan irigasi adalah satu kesatuan saluran dan bangunan yang diperlukan
untuk pengaturan air irigasi, mulai dari penyediaan, pengambilan, pembagian,


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
13
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
pemberian dan penggunaannya. Berkaitan dengan sistem irigasi yang telah dibahas
pada bab 1, maka jaringan irigasi yang akan dibahas pada bab ini termasuk sistem
irigasi permukaan .Secara hirarki jaringan irigasi dibagi menjadi jaringan utama dan
jaringan tersier. Jaringan utama meliputi bangunan, saluran primer dan saluran
sekunder.Sedangkan jaringan tersier terdiri dari bangunan dan saluran yang berada
dalampetak tersier. Suatu kesatuan wilayah yang mendapatkan air dari suatu jarigan
irigasi disebut dengan Daerah Irigasi.

1.6 Klasifikasi Jaringan Irigasi
Berdasarkan cara pengaturan, pengukuran, serta kelengkapan fasilitas, jaringan
irigasi dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu (1) jaringan irigasi sederhana,
(2) jaringan irigasi semi teknis dan (3) jaringan irigasi teknis
o Jaringan irigasi sederhana biasanya diusahakan secara mandiri oleh suatu
kelompok petani pemakai air, sehingga kelengkapan maupun kemampuan
dalam mengukur dan mengatur masih sangat terbatas. Ketersediaan air
biasanya melimpah dan mempunyai kemiringan yang sedang sampai curam,
sehingga mudah untuk mengalirkan dan membagi air. Jaringan irigasi
sederhana mudah diorganisasikan karena menyangkut pemakai air dari latar
belakang sosial yang sama. Namun jaringan ini masih memiliki beberapa
kelemahan antara lain, (1) terjadi pemborosan air karena banyak air yang
terbuang, (2) air yang terbuang tidak selalu mencapai lahan di sebelah
bawah yang lebih subur, dan (3) bangunan penyadap bersifat sementara,
sehingga tidak mampu bertahan lama.


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
14
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
o Jaringan irigasi semi teknis memiliki bangunan sadap yang permanen
ataupun semi permanen. Bangunan sadap pada umumnya sudah dilengkapi
dengan bangunan pengambil dan pengukur. Jaringan saluran sudah terdapat
beberapa bangunan permanen, namun sistem pembagiannya belum
sepenuhnya mampu mengatur dan mengukur. Karena belum mampu
mengatur dan mengukur dengan baik, sistem pengorganisasian biasanya
lebih rumit.
o Jaringan irigasi teknis mempunyai bangunan sadap yang permanen.
Bangunan sadap serta bangunan bagi mampu mengatur dan mengukur.
Disamping itu terdapat pemisahan antara saluran pemberi dan pembuang.
Pengaturan dan pengukuran dilakukan dari bangunan penyadap sampai ke
petak tersier. Untuk memudahkan sistem pelayanan irigasi kepada lahan
pertanian, disusun suatu organisasi petak yang terdiri dari petak primer,
petak sekunder, petak tersier, petak kuarter dan petak sawah sebagai satuan
terkecil.



UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
15
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
BAB II
PERHITUNGAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI

2.1 Metode Pemberian Air
Metode pemberian bagi tanaman sangat tergantung dari macam tanaman,
peralata yang dipergunakan dan kebiasaan setempat yang berlaku.
Ada5 cara pokok dalam pemberian air bagi tanaman :
1. Merendam tanah
Dengan merendam tanah ada 3 cara yang dapat dilakukan, yaitu :
a. Pemberian secara alami atau sesuai dengan keadaan alamnya, akibat
banjir sungai meluap dan menggenangi tanah persawahan, kemudian
baru ditanami setelah air surut.
b. Merendam tanah dengan air diam.
c. Merendam tanah dengan memperbaharui air.
2. Merembeskan air
Ada 2 cara yang dapat dilakukan, yaitu :
a. Pengaliran lereng tanah, dimana air dialirkan pada daerah miring dan
daam lapisan tipis baja.
b. Pengaliran panggung tanah, cara pemberian airnya sama dengan
pengaliran dilereng tanah, cara ini dilakukan untuk mengairi ladang
yang tanahnya datar.

3. Pengaliran dan pengeringan


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
16
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
Apabila tanah tidak begitu dapat meloloskan air (tanah liatt), maka tanah
mudah becek sehingga untuk mengatasinya disamping pengaliran juga harus
dilakukan pengeringan, untuk itu prlu dibangun drainase.
4. Pembasahan tanah
Dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu :
a. Melalui selokan atau saluran terbuka
Diatas tanah atau petak-petak tanah dibuat selokan-selokan, sehingga air
dapat dialirkan dalam selokan-selokan tersebut.
b. Dengan pipa-pipa yang ditanam dalam tanah.
Cara ini di indonesia belum banyak dilakukan, karena masih dianggap
mahal dan asing, biasanya diameter pipa adalah adalah 30cm, diberi
lubang-lubang dibeberapa tempat dan dijaga agar lubang tersebut tidak
tersumbat.
5. Menyiram dan menyemproturnakan
Cara pemberian air dengan menyiram menyerupai tetesan air hujan,
sehingga pmakaian air sangat hemat dan semua tanaman dapat kebagian air
sesuai jangkauan air hujan, cara ini terkenal dengan istilah sprinkler, yaitu
penyiraman sistem disemprotkan yang dilakukan dengan tekana, biasanya
dipakai curat seperti pompa curat pemadam kebakaran yang sering
dilakukan untuk penyiraman tanam kota.
2.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Air Tanaman
Kebutuhan air bagi tanaman biasa disebut sebagai kebutuhan air irigasi (NFP),
yang ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain :
a. Penyiapan lahan (LP = Land preparation)


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
17
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
b. Penggunaan konsumtip (Etc = evapotranspiration)
c. Perkolasi (P = percolation)
d. Pergantian lapisan air (WLR = water land requirement)
e. Curah hujan efektif (Re)
f. Efesiensi irigasi (ef)
g. Pola tanaman
Besarnya kebutruhan air irigasi dinyatakan sebagai berikut (Dirjen, Dep P.U
bagian penunjang perencanaan. 1986 : hal 6).
1. Kebutuhan air bersih disawah untuk padi
NFR = Etc + P – Re + WLR
2. Kebutuhan bersih air sawah untuk palawija
NFR = Etc + P – Re
3. Kebutuhan bersih air dipintu pengambilan (intake)
DR = NFR / 8,64*efesiensi irigasi

Cara Perhitungan Kebutuhan Air
Untuk menghitung kebutuhan air guna pertumbuhan tanaman, ada 4 cara dalam
menetapkan kesatuan pemakaian air, yaitu :
a. Menurut tnggi air yang dibutuhkan guna sebidang tanah yang ditanami,
sehingga banyaknya air yang dibutuhkan = tinggi muka air x luas tanah.
b. Jumlah air yang dibutuhkan untuk sebidang tanah (luas tanah yang ditanam)
dengan sekali penyiraman atau selama masa pertumbuhan tanaman,


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
18
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
misalnya A m tiap ha. Digunakan untuk menghitung jumlah kebutuhan air
disuatu daerah pengairan, karena persediaan aircraft diwaduk dalam jumlah
tertentu pula, maka arealnya tanaman dapati dihitung. Misalnya untuk
daerah 1 ha tanaman diperlukan A m selama pertumbuhannya. Maka areal
tanaman yang dapat dialiri oleh waduk = (isi waduk – kehilangan air akibat
peresapan dan penguapan) dibagi A =....ha
c. Dalam satuan pengaliran air, jadi dihitung isi air yang diperlukan dalam
satuan waktu (lama pengaliran) untuk satuan luas. Biasanya disebut A
liter/detik hektar. Cara ini lazim digunakan untuk setiap kebutuhan
pengairan bagi tanaman dalam tiap-tiap waktu tertentu 1 dt/ha atau m /dt/ha
d. Menentukan luas tanaman yang dapat diairi dalam jumlah dan waktu
tertentu 9 duty of water) – ( 1 second foot = 28,31 / dt untuk A ha tanaman )
atau dapat diartikan bahwa suatu tanaman dalam areal tertentu pula (1
second foot). Cara ini banyak digunakan di amerika, india, dan mesir
sedangkan di indonesia hampir tidak pernah ada yang memakai cara itu
(kurang lazim digunakan)
2.3 Hubungan Antara Air, Tanah, Udara Dan Tanaman.
Tanaman sejak disemaikan sampai mengeluarkan hasil memerlukan
unsur hara. Selain ketersediaan unsur hara. Pertumbuhan tanaman menyangkut
kesuburan dipengaruhi faktor-faktor seperti : air,iklim dan tanaman itu sendiri.
Kebutuha pokok untuk kesuburan hidup tanaman adalah ; unsur-unsur
tertentu (hara),air, udara,cahaya,dan panas (suhu). Pertumbuhan akar


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
19
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
dipengaruhi oleh tingkat tinggi rendahnya suhu tanah pada daerah perakaran,
begiyu pula dengan ketersediaan udara dalam tanah mempengaruhi pula
penapasan sebagian dari akar-akar tanaman.Pertumbuhan tanaman akan
mwnjadi baik bilamana disediakan kondidi ideal untuk tanaman tersebut. Unsur
hara yang diperlukan adalah unsur hara makro dan mikro ketersediaan unsur
hara dalam tanah berupa senyawa kompleks yang sukar larut dan dapat berupa
senyawa sederhana yang larut dalam air dan relatif tersedia untuk tanaman.
Keragaman jenis tumbuh-tumbuhan karena adanya pengaruh iklim yang
kompleks, selain butuh iar, tanaman membutuhkan tempat untuk hidup yaitu
tanah. Tanah yang untuk usaha pertanian adalah tanah yang mudah diolah, dan
produktivitas tinggi, Sedangkan komposisi tanah untuk kepentingan pertanian
berupa tanah mineral dengan kandungan bahan organic (humus) dan tentu saja
unsur air dan udara ada pada komposisi tanah tersebut.
Di bawah permukaan tanah, pori-pori mengandung air dan udara dengan
jumlah yang berubah-ubah bila air hujan jatuh kepermukaan tanah, air trus
bergerak ke bawa melalui zone aerasi dan sebagian mengisi pori-pori tanah dan
tinggal dalam pori-pori yang ditahan oleh gaya-gaya kapiler disekitar butir-butir
tanah.
Air yang berada pada lapisan atas dari zona aerasi disebut lengas tanah.
Bila kapasitas menahan air tanah pada zone aerasi telah dipenuhi, air akan
bergerak ke bawah menuju Zone saturasi, dan air ini disebut air tanah. Bentuk
tanah lengas secara umum diklasifikasikan sebagai : air gravitasi, air kapiler,
dan air higroskopis. Di dalampembicaraan tentang konstanta lengas tanah,


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
20
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
dijumpai beberapa yaitu : kapasitas kejenuhan, kapasitas lapang, titik layu
permanen, titik layu akhir, dan koefisien higroskopis.
Frekuensi pemberian air irigasi dipengaruhi oleh sipat hubungan antara
tanaman, tanah, dan air. Faktor yang mempengaruhi daya penahanan tanah
adalah tekstur, struktur, dan bahan-bahan organic yang trkandung dalam tanah.
Sedangkan ukuran butir menentukan struktur tanah, dan produktivitas tanaman
dipengaruhi oleh struktur tanah. Frekuensi pemberian air yang paling sesuai
merupakan hasil keputusan berdasarkan pengaruh berbagai faktor kombinasi
(hasil percobaan/penelitian). Kesubura fisik tanah ditentukan oleh struktur
tanah, namun kesuburan kimiawi ditentukan oleh kemampuan. Tanah
menyediakan unsur hara dalam jumlah yang cukup dan seimbang. Unsur-unsur
utama, yakni: C, H, O, N, S, P, K, Ca, Mg,Fe, Mn, Cu,B, Zn, Mo, dan Cl,
tanaman memerlukan air dalam jumlah berbeda menurut macam tanaman, bila
ditijau response terhadap air, secara garis di golongkan menjadi 3 jenis:
tanaman aquatik, tanaman semi aquatik, dan tanaman tanah kering.
2.4 Perhitungan Kebutuhan Air Untuk Tanaman


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
21
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

B. TABEL DATA KLIMATOLOGI
Tabel 1. Data Kecepatan Angin (Knot), Sumber BMKG STA. Meteorologi Pangkalan Bun 2005

No
Tahun Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember
1. 1996 5,0 5,0 5,0 5,0 5,0 5,0 5,0 6,0 6,0 5,0 5,0 5,0
2. 1997 6,0 6,0 5,0 5,0 5,0 6,0 6,0 5,0 6,0 5,0 5,0 5,0
3. 1998 5,0 5,0 5,0 5,0 5,0 4,0 5,0 6,0 5,0 5,0 5,0 5,0
4. 1999 5,0 5,0 5,0 6,0 6,0 6,0 5,0 5,0 5,0 5,0 6,0 5,0
5. 2000 5,0 5,0 6,0 5,0 5,0 5,0 6,0 6,0 6,0 5,0 5,0 5,0
6. 2001 5,0 6,0 5,0 6,0 5,0 5,0 6,0 7,0 6,0 5,0 6,0 6,0
7. 2002 5,0 5,0 5,0 5,0 5,0 6,0 6,0 7,0 7,0 6,0 6,0 5,0
8. 2003 5,0 5,0 5,0 5,0 6,0 6,0 6,0 6,0 6,0 6,0 5,0 6,0
9. 2004 6,0 5,0 5,0 5,0 5,0 6,0 6,0 6,0 6,0 6,0 5,0 6,0
10. 2005 5,0 5,0 5,0 5,0 6,0 6,0 6,0 6,0 6,0 6,0 5,0 6,0
RATA-RATA 5,2 5,2 5,1 5,2 5,3 5,5 5,7 6 5,9 5,4 5,3 5,4


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
22
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL


Tabel 2. Data Temperatur Udara rata-rata (°C), Sumber BMKG STA. Meteorologi Pangkalan Bun 2005

No Tahun Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember
1. 1996 25,9 25,9 27,6 26,8 27,2 27,6 26,2 25,7 26,5 25,9 26,5 25,9
2. 1997 26,4 26,2 26,9 26,4 26,9 27 25,9 26,2 25,7 26,2 26,5 27
3. 1998 26,8 27,3 26,9 27,3 27,5 26,9 26,7 26,2 26 26,7 26,1 26
4. 1999 25,7 26,4 26,3 26 26,4 26,2 25,5 25,7 25,8 26,2 25,9 25,8
5. 2000 25,5 26,3 26,7 26,2 26,9 26,2 25,9 26,2 26,6 26,4 26,4 26,4
6. 2001 26,2 26,5 26,4 26,5 27,4 26,6 26,5 26,6 26,8 26,6 26,2 26
7. 2002 26,3 26,9 26,6 26,5 27,4 26,4 27 26,2 26,2 26,8 26,3 26
8. 2003 25,4 26,5 26,5 26,5 27,2 27,8 26 26,4 26,7 26,6 26,1 26,1
9. 2004 26,3 26,5 26,5 27 27,3 26,5 25,8 25,6 26,7 26,7 25,6 26,1
10. 2005 26,6 26,4 26,7 26,3 27,1 26,9 26,1 26,5 26,6 26,4 25,6 26,1
RATA-RATA 26,11 26,49 26,71 26,55 27,13 26,81 26,16 26,13 26,4 26,5 26,12 26,14


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
23
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL



Tabel 3. Data Kelembaban Udara rata-rata (Rh dalam %), Sumber BMKG STA. Meteorologi Pangkalan Bun 2005

No Tahun Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember
1. 1996 88 89 88 86 84 86 85 87 85 88 86 87
2. 1997 85 85 88 88 85 82 84 79 81 85 86 85
3. 1998 89 88 90 89 89 89 87 89 89 88 90 89
4. 1999 88 87 88 88 88 87 87 85 86 88 90 90
5. 2000 89 86 85 92 89 91 90 90 89 92 90 89
6. 2001 85 84 85 87 84 86 85 81 84 86 88 87
7. 2002 87 84 89 90 88 86 81 81 83 83 88 88
8. 2003 87 88 88 89 88 83 84 83 84 87 91 90
9. 2004 90 88 80 88 86 85 88 80 79 85 88 88
10. 2005 88 89 89 91 87 87 87 86 83 88 89 90


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
24
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
RATA-RATA 87,6 86,8 87 88,8 86,8 86,2 85,8 84,1 84,3 87 88,6 88,3



Tabel 4. Data Lama Matahari Bersinar (n/D dalam %), Sumber BMKG STA. Meteorologi Pangkalan Bun 2005

No Tahun Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember
1. 1996 51 53 55 59 77 71 76 62 51 52 63 43
2. 1997 61 59 74 59 76 83 75 86 26 9 35 54
3. 1998 53 55 33 33 57 58 69 63 63 55 50 53
4. 1999 42 58 51 71 52 75 72 71 66 54 54 38
5. 2000 34 46 58 55 68 53 62 62 71 60 57 54
6. 2001 51 50 56 51 58 66 70 80 58 54 55 48
7. 2002 41 62 54 55 67 53 83 82 50 56 43 45
8. 2003 46 43 48 49 65 76 69 86 60 53 46 40
9. 2004 48 55 58 59 67 72 53 90 68 65 50 39


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
25
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
10. 2005 62 53 50 48 69 70 52 66 62 51 52 43
RATA-RATA 48,9 53,4 53,7 53,9 65,6 67,7 68,1 74,8 57,5 50,9 50,5 45,7


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
26
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
Tabel 5. Data Curah Hujan Harian Pada Tahun 2005
Tgl Jan Feb mar apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des
1 11,5 0,0 9,5 13,0 0,0 11,5 12,0 0,0 0,0 0,0 9,5 11,5
2 12,0 0,0 10,0 12,0 0,0 14,5 11,5 10,0 10,0 13,5 10,0 12,0
3 13,0 11,0 8,5 12,5 11,0 0,0 12,5 10,5 8,5 0,0 8,5 13,0
4 9,5 10,0 9,0 0,0 10,0 9,5 0,0 9,0 9,0 9,5 9,0 9,5
5 10,0 9,0 0,0 0,0 9,0 8,5 9,0 0,0 0,0 10,0 0,0 10,0
6 8,5 0,0 0,0 8,5 8,5 0,0 8,5 9,6 0,0 12,5 0,0 0,0
7 0,0 0,0 11,0 9,6 0,0 0,0 0,0 10,0 11,0 0,0 11,0 0,0
8 0,0 0,0 12,3 8,5 0,0 10,5 8,5 12,3 12,3 11,8 12,3 10,5
9 0,0 13,5 14,0 0,0 13,5 0,0 0,0 13,5 14,0 11,2 14,0 0,0
10 0,0 12,0 0,0 0,0 12,0 11,0 9,5 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
11 8,5 11,0 8,5 10,2 11,0 8,5 10,2 8,5 8,5 8,5 8,5 8,5
12 9,2 0,0 9,0 11,0 0,0 0,0 11,0 9,0 9,0 9,2 9,0 9,2
13 11,0 10,5 0,0 13,5 10,5 11,0 13,5 0,0 0,0 0,0 0,0 11,0
14 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 12,0 10,5 0,0 0,0 12,5
15 15,5 11,0 8,0 13,5 11,0 13,5 13,5 8,0 8,0 13,5 8,0 0,0
16 12,0 0,0 12,0 12,0 0,0 12,5 12,0 12,0 12,0 12,0 12,0 0,0
17 0,0 10,5 0,0 14,0 10,5 0,0 14,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
18 0,0 12,0 13,0 0,0 12,0 11,5 0,0 13,0 13,0 10,5 13,0 13,5
19 0,0 14,0 0,0 0,0 14,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
20 10,5 0,0 15,5 10,5 0,0 10,5 10,5 15,5 12,2 11,2 15,5 10,5
21 11,5 0,0 0,0 11,5 0,0 11,5 11,5 0,0 11,5 11,5 0,0 11,5
22 13,0 0,0 11,0 13,0 0,0 13,0 13,0 11,0 11,0 12,0 11,0 13,0
23 8,0 16,0 13,5 0,0 16,0 8,0 12,5 13,5 13,5 0,0 13,5 8,0
24 7,5 0,0 10,2 7,5 0,0 7,5 0,0 10,2 10,2 7,5 10,2 7,5
25 0,0 15,0 0,0 0,0 15,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
26 0,0 0,0 0,0 10,5 0,0 10,0 10,5 13,5 0,0 0,0 0,0 0,0
27 6,0 18,0 10,2 6,0 18,0 0,0 10,2 10,2 10,2 6,0 10,2 10,6
28 12,0 16,0 11,5 12,0 0,0 12,0 12,0 11,5 11,5 12,0 11,5 12
29 0,0 - 10,5 0,0 0,0 0,0 0,0 10,5 10,5 0,0 10,5 0
30 0,0 - 8,0 11,2 12,0 11,0 11,2 8,0 8,0 10,0 8,0 11
31 11,0 - 0,0 - 9,5 - 13,0 8,5 - 7,0 - 10,3




UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
27
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL


Tabel 6. Data curah hujan Maksimal bulanan 10 tahun terakhir

No Tahun Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember
1. 1996 44,0 62,0 107,0 26,0 41,0 47,0 72,0 55,0 47,0 50,0 43,0 81,0
2. 1997 41,0 31,0 49,0 54,0 52,0 34,0 61,0 - - 11,4 78,4 79,0
3. 1998 38,0 86,0 97,0 78,0 42,0 64,0 109,0 80,0 43,0 47,0 35,0 27,0
4. 1999 34,0 50,3 30,6 78,8 52,0 27,4 52,4 60,7 115,0 84,2 62,6 51,8
5. 2000 45,4 58,3 64,2 47,0 40,6 57,0 118,3 41,2 60,7 63,9 151,2 57,0
6. 2001 65,0 27,1 59,3 93,8 36,0 58,6 22,4 14,6 70,6 69,0 42,9 53,6
7. 2002 119,7 31,0 119,1 74,1 39,2 43,6 8,6 30,2 58,6 53,8 74,0 100,4
8. 2003 37,0 73,5 113,6 122,5 68,1 78,9 58,3 47,9 9,0 72,3 45,7 39,4
9. 2004 68,0 29,6 57,7 76,2 83,0 45,6 49,8 - 40,0 54,0 60,8 41,6
10. 2005 24,6 24,6 76,1 81,0 60,6 14,4 40,0 40,5 89,9 35,5 103,6 37,0
RATA-RATA 51,7 47,3 77,4 73,1 51,5 47,1 59,2 37,0 53,4 54,1 69,7 56,8


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
28
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
Eto adalah jumlah dari evaporasi dan transpirasi yang terjadi secara bersama-sama.
Evaporasi adalah berubahnya air menjadi gas, sedangkan transpirasi adalah Evaporasi yang
terjadi pada tanaman. Besarnya Eto dari suatu tanaman dipengaruhi oleh berbagai faktor
alam. Sehingga sulit dihitung dengan rumus. Namun dengan adanya kesulitan tersebut justru
menimbulkan gairah bagi para ilmuan untuk mencari solusinya. Metode yang muncul cukup
banyak namun yang diuraikan dalam buku ini adalah BlaneCridlley (19950), Metode ini
radiasi Makkink (1957). Metode Penman (1948), dan Metode Panci evaporasi.
METODE BLANEY-CRIDLLE (1950)
Metode ini diperuntukan bagi daerah yang memiliki data iklim terutama temperatur udara
rata-rata. Data lain seperti kelembaban udara relatip, penyinaran matahari, kecepatan angin dapat
diperkirakan dari keadaan lapangan pada umumnya. Besarnya evapotranspirasi tetapan dapat dihitung
menggunakan pendekatan rumus sebagai berikut :
Eto = C.p.( 0,46 T + 8 )
C = ( 0,0311.T + 0,34 ) + K
Dengan Eto = evapotranspirasi tetapan pada bulan yang dipertimbangkan (mm/hari)
C = Faktor penyesuai (adjusment factor)
P = Prosentase harian rerata jam siank dalam setahunan
T = Temperatur harian rerata (°C), dalam bulanan yang diprhitungkan.
K = Faktor tanaman





UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
29
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
Tabel 2.1 Prosentase jam siang rerata harian dalam setahun (p), (Doorenbos & Pruit, 1977)
Lint Utara ° Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nop Des
40 22 24 27 30 32 34 33 31 28 25 22 21
35 23 25 27 29 31 32 32 30 28 25 23 22
30 24 25 27 29 31 32 31 30 28 26 24 23
25 24 26 27 29 30 32 31 29 28 26 25 24
20 25 26 27 28 29 30 30 29 28 26 25 25
15 26 26 27 28 29 29 29 28 28 27 26 25
10 26 27 27 28 28 29 29 28 28 27 26 26
5 27 27 27 28 28 28 28 28 28 27 27 27
0 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27

Tabel 2.2 Harga faktor tanaman (K)
Jenis Tanaman K daerah pantai K zone kering
Jeruk 0,50 0,65
Kapas 0,60 0,65
Kentang 0,65 0,75
Jagung 0,70 -
Tomat 0,70 -
Biji-bijian 0,75 0,86
Padi 1 -

Perhitungan Evapotranspirasi Tetapan (Eto)
ETo JANUARI = C.p.( 0,46 T + 8 )
= 2,1520.24.( 0,46 T + 8 )
= 1033,517554 mm/hari
EToFEBRUARI = C.p.( 0,46 T + 8 )
= 2,1638.26.( 0,46 T + 8 )
= 1135,62685 mm/hari
ETo MARET = C.p.( 0,46 T + 8 )
= 2,1707.27.( 0,46 T + 8 )
= 1188,964904 mm/hari
ETo APRIL = C.p.( 0,46 T + 8 )
= 2,1657.29.( 0,46 T + 8 )
= 1269,48646 mm/hari


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
30
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
ETo MEI = C.p.( 0,46 T + 8 )
= 2,1837.30.( 0,46 T + 8 )
= 1341,678597 mm/hari
ETo JUNI = C.p.( 0,46 T + 8 )
= 2,1738.32.( 0,46 T + 8 )
= 1414,362332 mm/hari
ETo JULI = C.p.( 0,46 T + 8 )
= 2,1536.31.( 0,46 T + 8 )
= 1337,460285 mm/hari
ETo AGUSTUS = C.p.( 0,46 T + 8 )
= 2,1526.29.( 0,46 T + 8 )
=1249,768988 mm/hari
ETo SEPTEMBER = C.p.( 0,46 T + 8 )
= 2,1598.28.( 0,46 T + 8 )
= 1217,081331 mm/hari
ETo OKTOBER = C.p.( 0,46 T + 8 )
= 2,1626.26.( 0,46 T + 8 )
= 1133,939387 mm/hari
ETo NOVEMBER = C.p.( 0,46 T + 8 )
= 1,1523.25.( 0,46 T + 8 )
= 576,6038862 mm/hari
ETo DESEMBER = C.p.( 0,46 T + 8 )
= 2,1530.24.( 0,46 T + 8 )
= 1034,67869 mm/hari





UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
31
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
Perhitungan Evapotranspirasi Tanaman (Eto)
Etocrop = ETo x 1 = ETo
ETcrop JANUARI = ETo x 1
= 1033,517554 x 1
= 1033,517554 mm/hari
ETcrop FEBRUARI = ETo x 1
= 1135,62685 x 1
= 1135,62685 mm/hari
ETcrop MARET = ETo x 1
= 1188,964904 x 1
= 1188,964904 mm/hari
ETcrop APRIL = ETo x 1
= 1269,48646 x 1
= 1269,48646 mm/hari
ETcrop MEI = ETo x 1
= 1341,678597 x 1
= 1341,678597 mm/hari
ETcrop JUNI = ETo x 1
= 1414,362332 x 1
= 1414,362332 mm/hari
ETcrop JULI = ETo x 1
= 1337,460285 x 1
= 1337,460285 mm/hari
ETcrop AGUSTUS = ETo x 1
=1249,768988 x 1
=1249,768988 mm/hari


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
32
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
ETcrop SEPTEMBER = ETo x 1
= 1217,081331 x 1
= 1217,081331 mm/hari
ETcrop OKTOBER = ETo x 1
= 1133,939387 x 1
= 1133,939387 mm/hari
ETcrop NOVEMBER = ETo x 1
= 576,6038862 x 1
= 576,6038862 mm/hari
ETcrop DESEMBER = ETo x 1
= 1034,67869 x 1
= 1034,67869 mm/hari

 Curah Hujan Efektif
Curah hujan efektif adalah curah hujan yang secara efektif dapat dimanfaatkan
oleh tanaman untuk irigasi padi, curah hujan efektif yang digunakan adalah curah hujan
efektif metode tahun dasar. Dengan rumus :
Re = 30 + 6N
Dimana :
N = Jumlah harian hujan yang berturut-turut
Ada 4 Pedoman untuk menentukan curah hujan efektif :
1. Hujan individual kurang dari 5mm tidak diperhitungkan menjadi hujan efektif
atau dianggap tidak ada hujan


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
33
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
2. Hujan yang diperhitungkan sebagai hujan efektif adalah 5-36 mm.
3. Hujan yang terjadi berturut-turut walau kurang dari 5mm dan diselingi tanpa
hujan 1 hari diperhitungkan sebagai hujan efektif.
4. Bila jumlah hujan lebih dari Re, maka Re adalah hujan efektif, selanjutnya bila
hasil perhitungan kurang dari Re, maka hasil perhitungan sebagai hujan efektif
adalah Re menggunakan rumus diatas.


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
34
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
Tabel Curah Hujan

Tgl Jan Feb mar apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des
1 11,5 0,0 9,5 13,0 0,0 11,5 12,0 0,0 0,0 0,0 9,5 11,5
2 12,0 0,0 10,0 12,0 0,0 14,5 11,5 10,0 10,0 13,5 10,0 12,0
3 13,0 11,0 8,5 12,5 11,0 0,0 12,5 10,5 8,5 0,0 8,5 13,0
4 9,5 10,0 9,0 0,0 10,0 9,5 0,0 9,0 9,0 9,5 9,0 9,5
5 10,0 9,0 0,0 0,0 9,0 8,5 9,0 0,0 0,0 10,0 0,0 10,0
6 8,5 0,0 0,0 8,5 8,5 0,0 8,5 9,6 0,0 12,5 0,0 0,0
7 0,0 0,0 11,0 9,6 0,0 0,0 0,0 10,0 11,0 0,0 11,0 0,0
8 0,0 0,0 12,3 8,5 0,0 10,5 8,5 12,3 12,3 11,8 12,3 10,5
9 0,0 13,5 14,0 0,0 13,5 0,0 0,0 13,5 14,0 11,2 14,0 0,0
10 0,0 12,0 0,0 0,0 12,0 11,0 9,5 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
11 8,5 11,0 8,5 10,2 11,0 8,5 10,2 8,5 8,5 8,5 8,5 8,5
12 9,2 0,0 9,0 11,0 0,0 0,0 11,0 9,0 9,0 9,2 9,0 9,2
13 11,0 10,5 0,0 13,5 10,5 11,0 13,5 0,0 0,0 0,0 0,0 11,0
14 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 12,0 10,5 0,0 0,0 12,5
15 15,5 11,0 8,0 13,5 11,0 13,5 13,5 8,0 8,0 13,5 8,0 0,0
16 12,0 0,0 12,0 12,0 0,0 12,5 12,0 12,0 12,0 12,0 12,0 0,0


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
35
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL


17 0,0 10,5 0,0 14,0 10,5 0,0 14,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
18 0,0 12,0 13,0 0,0 12,0 11,5 0,0 13,0 13,0 10,5 13,0 13,5
19 0,0 14,0 0,0 0,0 14,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
20 10,5 0,0 15,5 10,5 0,0 10,5 10,5 15,5 12,2 11,2 15,5 10,5
21 11,5 0,0 0,0 11,5 0,0 11,5 11,5 0,0 11,5 11,5 0,0 11,5
22 13,0 0,0 11,0 13,0 0,0 13,0 13,0 11,0 11,0 12,0 11,0 13,0
23 8,0 16,0 13,5 0,0 16,0 8,0 12,5 13,5 13,5 0,0 13,5 8,0
24 7,5 0,0 10,2 7,5 0,0 7,5 0,0 10,2 10,2 7,5 10,2 7,5
25 0,0 15,0 0,0 0,0 15,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
26 0,0 0,0 0,0 10,5 0,0 10,0 10,5 13,5 0,0 0,0 0,0 0,0
27 6,0 18,0 10,2 6,0 18,0 0,0 10,2 10,2 10,2 6,0 10,2 10,6
28 12,0 16,0 11,5 12,0 0,0 12,0 12,0 11,5 11,5 12,0 11,5 12
29 0,0 - 10,5 0,0 0,0 0,0 0,0 10,5 10,5 0,0 10,5 0
30 0,0 - 8,0 11,2 12,0 11,0 11,2 8,0 8,0 10,0 8,0 11
31 11,0 - 0,0 - 9,5 - 13,0 8,5 - 7,0 - 10,3
Jumlah Hujan
Efektif (Pe)
200,2000 189,5000 215,2000 220,5000 203,5000 206,0000 250,1000 249,8000 224,4000 199,4000 215,2000 215,6000
Jml Hari Hujan 19 15 20 20 17 19 22 23 22 19 21 22


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
36
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
PERHITUNGAN CURAH HUJAN EFEKTIF
Dari data Tabel 5. Data curah hujan harian pada tahun 2005, terlihat jumlah curah hujan
>5,maka dianggap hujan efektif sehingga tidak menggunakan rumus Re= 30 + 6.N ( kriteria
2 dan 3 )


Bulan Januari

Bulan Februari

Bulan Maret
Hujan efektif yang terjadi
pada tanggal :

Hujan efektif yang terjadi
pada tanggal :

Hujan efektif yang
terjadi pada tanggal :


Tgl Jan

Tgl Feb

Tgl Mar

1 11,5

3 11,0

1 9,5

2 12,0

4 10,0

2 10,0

3 13,0

5 9,0

3 8,5

4 9,5

9 13,5

4 9,0

5 10,0

10 12,0

7 11,0

6 8,5

11 11,0

8 12,3

11 8,5

13 10,5

9 14,0

12 9,2

15 11,0

11 8,5

13 11,0

17 10,5

12 9,0

15 15,5

18 12,0

15 8,0

16 12,0

19 14,0

16 12,0

20 10,5

23 16,0

18 13,0

21 11,5

25 15,0

20 15,5

22 13,0

27 18,0

22 11,0

23 8,0

28 16,0

23 13,5

24 7,5

Jumlah Hujan
Efektif (Pe)
189,5000

24 10,2

27 6,0

Jml Hari Hujan 15

27 10,2

28 12,0

28 11,5

31 11,0

29 10,5
Jumlah Hujan
Efektif (Pe)
200,2000

30 8,0

Jml Hari Hujan 19

Jumlah Hujan
Efektif (Pe)
215,2000


Jml Hari Hujan
20









Dari data tabel diatas maka total
hujan efektif (Pe) bulan Januari
= 200,2 mm

Dari data tabel diatas maka
total hujan efektif (Pe) bulan
Februari = 189,5 mm

Dari data tabel diatas
maka total hujan efektif
(Pe) bulan Maret = 215,2
mm




UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
37
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

PERHITUNGAN CURAH HUJAN EFEKTIF

Bulan April

Bulan Mei

Bulan Juni
Hujan efektif yang terjadi
pada tanggal :

Hujan efektif yang terjadi
pada tanggal :

Hujan efektif yang terjadi
pada tanggal :



Tgl apr

Tgl Mei

Tgl Jun

1 13,0

3 11,0

1 11,5
2 12,0

4 10,0

2 14,5
3 12,5

5 9,0

4 9,5
6 8,5

6 8,5

5 8,5
7 9,6

9 13,5

8 10,5
8 8,5

10 12,0

10 11,0
11 10,2

11 11,0

11 8,5
12 11,0

13 10,5

13 11,0
13 13,5

15 11,0

15 13,5
15 13,5

17 10,5

16 12,5
16 12,0

18 12,0

18 11,5
17 14,0

19 14,0

20 10,5
20 10,5

23 16,0

21 11,5
21 11,5

25 15,0

22 13,0
22 13,0

27 18,0

23 8,0

24 7,5

30 12,0

24 7,5
26 10,5

31 9,5

26 10,0

27 6,0

Jumlah Hujan
Efektif (Pe)
203,5000

28 12,0

28 12,0

Jml Hari Hujan 17

30 11,0

29 0,0

Jumlah Hujan
Efektif (Pe)
206,0000

30 11,2

Jml Hari Hujan 19

Jumlah Hujan
Efektif (Pe)
220,5000

Jml Hari Hujan 20



Dari data tabel diatas maka
total hujan efektif (Pe) bulan
April = 200,5 mm

Dari data tabel diatas maka
total hujan efektif (Pe) bulan
Mei = 183,5 mm

Dari data tabel diatas maka
total hujan efektif (Pe) bulan
Juni = 216 mm





UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
38
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
PERHITUNGAN CURAH HUJAN EFEKTIF

Bulan Juli

Bulan Augustus

Bulan September
Hujan efektif yang
terjadi pada tanggal :

Hujan efektif yang
terjadi pada tanggal :

Hujan efektif yang terjadi
pada tanggal :


Tgl Jul

Tgl Agt

Tgl Sep

1 12,0

2 10,0

2 10,0
2 11,5

3 10,5

3 8,5
3 12,5

4 9,0

4 9,0
5 9,0

6 9,6

7 11,0
6 8,5

7 10,0

8 12,3
8 8,5

8 12,3

9 14,0
10 9,5

9 13,5

11 8,5
11 10,2

11 8,5

12 9,0
12 11,0

12 9,0

14 10,5
13 13,5

14 12,0

15 8,0
15 13,5

15 8,0

16 12,0
16 12,0

16 12,0

18 13,0
17 14,0

18 13,0

20 12,2
20 10,5

20 15,5

21 11,5
21 11,5

22 11,0

22 11,0

22 13,0

23 13,5

23 13,5
23 12,5

24 10,2

24 10,2

26 10,5

26 13,5

27 10,2

27 10,2

27 10,2

28 11,5

28 12,0

28 11,5

29 10,5

30 11,2

29 10,5

30 8,0

31 13,0

30 8,0

Jumlah Hujan
Efektif (Pe)
224,4000

Jumlah
Hujan
Efektif (Pe)
250,1000

31 8,5

Jml Hari Hujan 24

Jml Hari
Hujan
22

Jumlah
Hujan
Efektif
(Pe)
249,8000


Jml Hari
Hujan 23


Dari data tabel diatas
maka total hujan efektif
(Pe) bulan Juli = 250,1

Dari data tabel diatas
maka total hujan
efektif (Pe) bulan

Dari data tabel diatas maka
total hujan efektif (Pe)
bulan September = 224,4



UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
39
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
mm Augustus = 249,8 mm mm
PERHITUNGAN CURAH HUJAN EFEKTIF

Bulan Oktober

Bulan November

Bulan Desember
Hujan efektif yang terjadi
pada tanggal :

Hujan efektif yang terjadi
pada tanggal :

Hujan efektif yang terjadi
pada tanggal :


Tgl Okt

Tgl Nop

Tgl Des
2 13,5

1 9,5

1 11,5
4 9,5

2 10,0

2 12,0
5 10,0

3 8,5

3 13,0
6 12,5

4 9,0

4 9,5
8 11,8

7 11,0

5 10,0
9 11,2

8 12,3

8 10,5
11 8,5

9 14,0

11 8,5
12 9,2

11 8,5

12 9,2
15 13,5

12 9,0

13 11,0
16 12,0

15 8,0

14 12,5
18 10,5

16 12,0

18 13,5
20 11,2

18 13,0

20 10,5
21 11,5

20 15,5

21 11,5
22 12,0

22 11,0

22 13,0
24 7,5

23 13,5

23 8,0

27 6,0

24 10,2

24 7,5
28 12,0

27 10,2

27 10,6

30 10,0

28 11,5

28 12

31 7,0

29 10,5

29 0
Jumlah Hujan
Efektif (Pe)
199,4000

30 8,0

30 11

Jml Hari Hujan 19

Jumlah Hujan
Efektif (Pe)
215,2000

31 10,3


Jml Hari Hujan 21

Jumlah Hujan
Efektif (Pe)
215,6000


Jml Hari Hujan 22


Dari data tabel diatas maka
total hujan efektif (Pe)
bulan Oktober = 250,1
mm

Dari data tabel diatas maka
total hujan efektif (Pe)
bulan Nopember= 249,8
mm

Dari data tabel diatas maka
total hujan efektif (Pe)
bulan Desember = 224,4
mm





UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
40
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

 Kebutuhan Air Untuk Penyiapan Lahan

Kebutuhan air untuk penyiapan lahan ( IR atau irrigationrequirement atau land
Preparation ) Umumnya menentukan kebutuhan maksimum air irigasi pada suatu
proyek.
Khusus untuk padi sebelum padi ditanam, Tanah harus diolah agar tidak keras
dan unsur hara dapat merata. Selama periode tanam, Kebutuhan air terbanyak adalah
pada saat pengolahan tanah. Pada saat ini diperlukan penggenangan air dalam
beberapa hari agar tanah lunak. Banyaknya air yang dibutuhkan selama periode
pengolahan tanah bekisar antara 150 – 250 mm. Atau dapat dihitung :

Wp = [ A. ( S + 0,5 . P . ( n – 1 )] . 10
Dengan Wp = Jumlah air saat pengolahan ( m3 )
A = Luas tanah yang diolah ( ha )
S = Tinggi air genangan ( mm ). Yaitu air untuk penjenuhan
( Zijlstra ) + tebal lapisan air genangan 50 mm
P = Perkolasi ( mm )
N = Lama waktu pengolahan ( hari ), 30 – 45 hari tergantung
Luas tenaga kerja.
Faktor 10 Muncul untuk konversi satuan.
Adapun besarnya perkolasi dapat diestimasi dengan keadaan tanah sebagai berikut :
Berdasarkan Keadaan Musim
Musim Kemarau : 1,0 – 2,0 mm/hari
Musim Penghujan : 0,5 – 1,0 mm/hari
Perhitungan Kebutuhan air untuk penyiapan lahan :
Wp = [ A. ( S + 0,5 . P . ( n – 1 )] . 10


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
41
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Dimana : A = 61,8 km
S = 100 mm + 50 mm = 150 mm
P = 2,0
N = 30
Maka : Wp = [ ∆ . ( S + 0,5 . P . ( n – 1 )] . 10
Wp = [ 61,8 ( 150 + 0,52 . 2 . ( 30 – 1 )] . 10
Wp = [ 61,8 . 179 ] . 10
Wp = 110,622 m³
 Perhitungan luas tanah yang diolah=A :

1. Luas Persegi = 2 x 2 cm ( ukuran pada peta )
= 200 x 200 m ( di kali skala 1 : 100 )
= 40.000 m²
= 0.04 km² ( 1 km = 100 ha )
= 4 ha
Luas Persegi Keseluruhan = 137 x 4
= 5,48 ha

2. Luas Trapesium =

=

=

m
= 3000 m²
= 0.03 km²
= 3 ha
3. Luas Trapesium =

=

=

m
= 20.000 m²


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
42
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
= 0.02 km²
= 2 ha
4. Luas segitiga = 1/2 a x t
= 1/2 .0,5.1 cm
= 1/2. 50.100 m
= 2.500 m²
= 0.25 km²
= 0.25 ha
5. Luas Trapesium =

=

= 20.000 m²
= 0.02 km²
= 2 ha
6. Luas Trapesium =

=

=
= 0.03 km²
= 3 ha
Luas Persegi Keseluruhan = 3 x 5
= 15 ha
7. Luas Trapesium =

=

= 40.000 m²
= 0.04 km²
= 4 ha


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
43
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
Luas Persegi Keseluruhan = 4 x 6
= 24 ha

8. Luas Trapesium =

=

=
= 0.05 km²
= 5 ha
9. Luas Trapesium =

=

=
= 0.07 km²
= 7 ha
10. Luas Segitiga =

=

=

m
= 35.000 m²
= 0,035 km²
= 3.5 ha
11. Luas Trapesium =

=

=
= 0.0575 km²
= 5.75 ha
12. Luas Segitiga =

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
44
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
=

=

m
= 15.000 m²
= 0,015 km²
= 1.5 ha
13. Luas Trapesium =

=

=
= 0.025 km²
= 2.5 ha
14. Luas Segitiga =

=

=

m
= 5.000 m²
= 0.005 km²
= 0.5 ha
Total Keseluruhan Petak = A = 6,18 km²
= 61,8 ha

 Kebutuhan Air Irigasi Untuk Tanaman
Kebutuhan Air irigasi untuk tanaman
Kebutuhan air netto (in) dapat dihitung berdasarkan keseimbangan air.
Parameter yang terkait meliputi Etcrop, hujan efektif (Pe), kontribusi air tanah (Ge),
air tanah pada setiap awal periode (Wb):
In = ETcrop – (Pe + Ge + Wb)


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
45
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
Dengan satuan yang dipakai semua dalam mm. Untuk tahap preliminary, periode
yang dipakai bisa didasarkan pada satuan bulanan, tetapi untuk tahap perencanaan
harus sudah dalam periode 10 harian atau mingguan. Jumlah In untuk setiap jenis
tanaman pada areal irigasi merupakan kebutuhan air bagi tanman yg diperlukan.
Kebutuhan Air Bersih Bagi Padi








NFR = ETc + P – Re + WLR
ETc = Kc x Eto
Dimana :
Kc = Koefesien Tanaman
Eto = Evaportasi Tanaman
DR = NFR / 8,64*efesiensi irigasi



UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
46
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL





Perhitungan Kebutuhan Air
Periode Tengah
Bulanan
Padi


NEDECO/PROSIDA FAO

Varietas Biasa Varietas Unggul Varietas Biasa
1 1,2 1,2 1,1
2 1,2 1,27 1,1
3 1,32 1,33 1,1
4 1,4 1,30 1,1
5 1,35 1,30 1,1
6 1,24 0 1,05
7 1,12

0,95
8 0

0
Bul
an
ETcrop Pe Ge Wb In
1 2 3 4 5 6
- Eto x 1 - asumsi asumsi In=Etcrop-(Pe+Ge+Wb)
Jan 1033,517
6
200,20 50% 50% 832,3176 mm/hari
Feb 1135,626
8
189,50 50% 50% 945,1268 mm/hari
Ma
r
1188,964
9
215,20 50% 50% 972,7649 mm/hari
Ap
r
1269,486
4
220,50 50% 50% 1.047,9864 mm/hari
Me
i
1341,678
5
203,50 50% 50% 1.137,1785 mm/hari
Jun 1414,362
3
206,00 50% 50% 1.207,3623 mm/hari
Jul 1337,460
3
250,10 50% 50% 1.086,3603 mm/hari
Ag
ust
1249,769
0
249,80 50% 50% 998,9690 mm/hari
Sep 1217,081 224,40 50% 50% 991,6813 mm/hari


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
47
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
3
Ok
t
1133,939
4
199,40 50% 50% 933,5394 mm/hari
No
p
576,6038 215,20 50% 50% 360,4038 mm/hari
Des 1034,678
6
215,60 50% 50%
1.258,58 mm/hari


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
48
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
Bulan Periode Kc Eto Etc P Re WLR WLR1 WLR2 WLR3 C C1 C2 C3 NFR DR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17
- - - - 3*4 Asumsi - - - - - - - 5+6-7+8 16/8,64*0,9
Jan 1 0 1033,62 0 2 200,2 PL PL PL PL 0,00 0,00
2 1,2 1033,62 1240,34 2 200,2 PL 1,2 PL PL 1042,14 108,56
Feb 1 1,27 1135,63 1442,25 2 189,5 1,28 3,85 PL 1,27 1,2 PL 1256,03 130,84
2 1,33 1135,63 1510,38 2 189,5 1,28 3,85 3,80 1,33 1,27 1,20 1324,17 137,93
Mar 1 1,30 1188,96 1545,65 2 215,2 1,28 3,85 3,90 1,30 1,33 1,27 1333,74 138,93
2 1,30 1188,96 1545,65 2 215,2 3,93 1,30 1,3 1,33 1332,45 138,80
Apr 1 0 1269,49 0,00 2 220,5 2,60 0 1,3 1,30 0,00 0,00
2 1,2 1269,49 1523,38 2 220,5 PL PL 0 1,30 1304,88 135,93
Mei 1 1,27 1341,68 1703,93 2 203,5 PL PL PL 0,00 1502,43 156,50
2 1,33 1341,68 1784,43 2 203,5 PL PL PL PL 1582,93 164,89
Jun 1 1,30 1414,36 1838,67 2 206 PL 1,2 PL PL 1634,67 170,28
2 1,30 1414,36 1838,67 2 206 PL 1,27 1,2 PL 1634,67 170,28
Jul 1 0 1337,46 0 2 250,1 1,28 3,85 3,80 1,33 1,27 1,20 0,00 0,00
2 1,2 1337,46 1604,95 2 250,1 1,28 3,85 3,90 1,30 1,33 1,27 1358,14 141,47
Aug 1 1,27 1249,77 1587,21 2 249,8 1,28 3,85 3,93 1,30 1,3 1,33 1340,69 139,66
2 1,33 1249,77 1662,19 2 249,8 2,60 0,00 1,3 1,30 1414,39 147,33
Sep 1 1,30 1217,08 1582,21 2 224,4 PL PL 0 1,30 1359,81 141,65
2 1,30 1217,08 1582,21 2 224,4 PL PL PL 0,00 1359,81 141,65
Okt 1 0 1133,94 0,00 2 199,4 PL PL PL PL 0,00 0,00
2 1,2 1133,94 1360,73 2 199,4 PL 1,20 PL PL 1163,33 121,18
Nov 1 1,27 1134,94 1441,37 2 215,2 PL 1,27 1,2 PL 1228,17 127,93
2 1,33 1134,94 1509,47 2 215,2 1,28 3,85 3,80 1,33 1,27 1,20 1297,55 135,16
Des 1 1,30 1034,68 1345,08 2 215,6 1,28 3,85 3,90 1,30 1,33 1,27 1132,77 118,00
2 1,30 1034,68 1345,08 2 215,6 1,28 3,85 3,93 1,30 1,3 1,33 1132,77 118,00


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
49
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
 Rotasi Teknis
Rotasi teknis / pengatur golongan adalah cara penanaman dan waktu penanaman
yang dilakukan diatur secara teknis dalam beberapa golongan sehingga dinamakan
peraturan golongan dengan menggilir secara teknis maka dapat disebut juga sebagai
giliran teknis.
Seperti pada data yang diperoleh untuk suatu wilayah seperti di atas, dapat di
ingat bahwa keadaan air belum tentu tersedia cukup, maka sangat diperlukan efesiensi
oleh karenanya pemanfaatan sistem rotasi teknis sangat diperlukan agar di peroleh
penghematan air. Disamping itu masih dipilih saat-saat awal tanam tepat oleh
karenanya dipakai sistem simulasi sehingga diperkirakan pemanfaatan air hujan secara
optimal.
Rotasi teknis 3 golongan ialah kebutuhan air lahan dihitung dengan membagi
dalam 3 jenis golongan menurut waktu awal tanamnya sehingga kebutuhan air akan
lebih sdikit dibanding dengan awal penanaman yang bersamaan secara keseluruhan.
Sebagai contoh, petak pertama untuk lahan awal tanamnya 1 Januari, petak ke 2
untuk lahan dengan awal tanam 1 Februari, selanjutnya petak ke 3 untuk lahan dengan
awal tanamnya 1 Maret. Dari ke 3 golongan petak tersebut, kebutuhan airnya di
jumlahkan yang kemudian di bagi efisiensi NFR sebesarnya 65% dan rata-rata sehingga
diperoleh DR ( kebutuhan air lahan rata-rata per hektar). Apabila awal tanam petak
pertama di mulai pada tanggal 1 Januari, maka petak ke 2 mulai ditanami pada tanggal
1 Februari, dan petak 3 mulai ditanam pada tanggal 1 Maret, begitu sterusnya.
Keterangan :
Koefisien untuk DR di asumsikan : 0,65
Efisiensi Primer : 0,675
Efisiensi Sekunder : 0,78


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
50
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
Efisiensi Tersier : 0,885
Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Rotasi Teknis R1 R2 R3 Total Koefesien Rata - rata
Bulan In In In R1+R2+R3 Total/65% Koefesien/3
Jan
832,32 - - 832,32 1.280,49 426,83
Feb
945,13 945,13 - 1.890,25 2.908,08 969,36
Mar
972,76 972,76 972,76 2.918,29 4.489,68 1.496,56
Apr
1.047,99 1.047,99 1.047,99 3.143,96 4.836,86 1.612,29
Mei
1.137,18 1.137,18 1.137,18 3.411,54 5.248,52 1.749,51
Jun
1.207,36 1.207,36 1.207,36 3.622,09 5.572,44 1.857,48
Jul
1.086,36 1.086,36 1.086,36 3.259,08 5.013,97 1.671,32
Agust
998,97 998,97 998,97 2.996,91 4.610,63 1.536,88
Sep
991,68 991,68 991,68 2.975,04 4.576,99 1.525,66
Okt
933,54 933,54 933,54 2.800,62 4.308,64 1.436,21
Nop
360,40 360,40 360,40 1.081,21 1.663,40 554,47
Des
818,08 818,08 818,08 2.454,24 3.775,75 1.258,58

 Ketersediaan Air
Ketersedian air irigasi atau sering dinamakan sebagai DEBIT ANDALAN
(depndable low) adalah debit minimun untuk kemungkinan terpenuhi air yang sudah
ditentukan yang dapat dipakai untuk irigasi. Kemungkinan bahwa debit sungai lebih
rendah dari debit andalan adalah 20%. Debit andalan ditentukan pada periode tengah
bulanan ( Dirjen Pengairan, Dep.PU 1986:hal 70 ).
Ketersediaan air irigasi dihitung dengan rumus :
Q= ἀ × A × H ÷ T
Dimana :


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
51
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
Q : debit andalan ( ketersedian air irigasi), mm/hari
ἀ : koefesien yang besarnya 0,52 ( 0,52 asumsi)
A : luas lahan dalam ha
H : curah hujan harian rata-rata dalam mm
T : sesuai dengan umur bulan
Untuk mengkonversikannya kesatuan liter/detik maka Q dibagi dengan 8,64
Perhitungan Ketersediaan Air Irigasi Untuk Tanah Seluas 61,8 Ha
ἀ = 0,52
Q = ἀ × A × H ÷ T Q ÷ 8,64 A = 61,82
H T Bln
200,2 19 1 Q1 = 338,72 39,20 mm/hari
189,5 15 2 Q2 = 406,12 47,00 mm/hari
215,2 20 3 Q3 = 345,90 40,03 mm/hari
220,5 20 4 Q4 = 354,41 41,02 mm/hari
203,5 17 5 Q5 = 384,81 44,54 mm/hari
206,0 19 6 Q6 = 348,53 40,34 mm/hari
250,1 22 7 Q7 = 365,45 42,30 mm/hari
249,8 23 8 Q8 = 349,14 40,41 mm/hari
224,4 22 9 Q9 = 327,89 37,95 mm/hari
199,4 19 10 Q10 = 337,37 39,05 mm/hari
215,2 21 11 Q11 = 329,42 38,13 mm/hari
215,6 22 12 Q12 = 315,03 36,46 mm/hari




UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
52
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
BAB III
PERHITUNGAN SALURAN PADA JARINGAN IRIGASI
3.1 Peta Petak Irigasi ( dilampirkan)
3.2 Nomenklatur / Tata Nama Jaringan ( dilampirkan )
3.3 Perhitungan Kapasitas Saluran
Kapasitas saluran irigasi harus ditentukan dari kebutuhan irigasi selama
pengairan lahan, bila dipakai sistem rotasi ( permanen ) maka perlu penyesuaian
yang lebih lanjut sehingga tipe rotasi yang akan diterapkan perlu ditentukan
terlebih dahulu. Tahapan perhitungan dimensi saluran irigasi drencanakan mulai
dari beberapa:
a. Kebutuhan irigasi untuk semua lahan
b. Kapasitas rencana sebuah bangunan
c. Elevasi muka air rencana
d. Menentukan karakteristik salurannya
Kapasitas saluran primer :


Kapasitas saluran sekunder :



Kapasitas saluran tersier :


Dimana :
A : Luas daerah yang dialiri = 61,8 Ha
E
Primer
: 0,675
E
Sekunder
: Interpolasi :

0,78
E
Tersier
: 0,885


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
53
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
DR
Max
: 170,28 ( lihat hal. 44 )
SALURAN PRIMER
Nama
saluran
Nama Petak Yg
Dialiri
Luas ( Ha ) Luas Total
Yang
Dialiri
QP (Lt/dt) QP Total
PRIMER 1 D-ry-1 4 1461,780
D-ry-2 4 1461,780
D-ry-3 4 1461,780
D-ry-4 4 1461,780
D-ry-5 4 1461,780
D-ry-6 4 1461,780
D-ry-7 4 1461,780
D-ry-8 4 1461,780
D-ry-9 4 1461,780
D-ry-10 4 1461,780
D-ry-11 4 1461,780
D-ry-12 4 1461,780
D-ry-13 4 1461,780
D-ry-14 4 1461,780
D-ry-15 4 1461,780
D-ry-16 4 1461,780
D-ry-17 4 1461,780
D-ry-18 4 1461,780
D-ry-19 4 1461,780
D-ry-20 4 1461,780
D-ry-21 4 1461,780
D-ry-22 4 1461,780
D-ry-23 4 1461,780
D-ry-24 4 1461,780
D-ry-25 4 1461,780
D-ry-26 4 1461,780
D-ry-27 4 1461,780
D-ry-28 4 1461,780
D-ry-29 4 1461,780
D-ry-30 4 1461,780
D-ry-31 4 1461,780
D-ry-32 4 1461,780
D-ry-33 4 1461,780
D-ry-34 4 1461,780
D-ry-35 4 1461,780
D-ry-36 4 1461,780
D-ry-37 4 1461,780
D-ry-38 4 1461,780


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
54
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
D-ry-39 4 1461,780
D-ry-40 4 1461,780
D-ry-41 4 1461,780
D-ry-42 4 1461,780

168
61394,756

PRIMER 2 AL-1 4 1461,780
AL-2 4 1461,780
AL-3 4 1461,780
AL-4 4 1461,780
AL-5 4 1461,780
AL-6 4 1461,780
AL-7 4 1461,780
AL-8 4 1461,780
AL-9 4 1461,780
AL-10 4 1461,780
AL-11 4 1461,780
AL-12 4 1461,780
AL-13 4 1461,780
AL-14 4 1461,780
AL-15 4 1461,780
AL-16 4 1461,780
AL-17 4 1461,780
AL-18 4 1461,780
AL-19 4 1461,780
AL-20 4 1461,780
AL-21 4 1461,780
AL-22 4 1461,780
AL-23 4 1461,780
AL-24 4 1461,780
AL-25 4 1461,780
AL-26 4 1461,780
AL-27 4 1461,780
AL-28 4 1461,780
AL-29 4 1461,780
AL-30 4 1461,780
AL-31 4 1461,780
AL-32 4 1461,780
AL-33 4 1461,780
AL-34 4 1461,780
AL-35 4 1461,780
AL-36 4 1461,780
AL-37 4 1461,780
AL-38 4 1461,780
AL-39 4 1461,780


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
55
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
AL-40 4 1461,780
AL-41 4 1461,780
AL-42 4 1461,780
AL-43 2 730,890
AL-44 0,5 182,722
AL-45 0,5 182,722
AL-46 4 1461,780
AL-47 4 1461,780
AL-48 4 1461,780
AL-49 4 1461,780
AL-50 4 1461,780
AL-51 1,5 548,167
AL-52 4 1461,780
AL-53 4 1461,780
AL-54 4 1461,780
AL-55 4 1461,780
AL-56 1,75 639,529

210,25

76834,8

PRIMER 3 CL-1 4 1461,780
CL-2 4 1461,780
CL-3 4 1461,780
CL-4 4 1461,780
CL-5 4 1461,780
CL-6 4 1461,780
CL-7 4 1461,780
CL-8 4 1461,780
CL-9 4 1461,780
CL-10 3 1096,335
CL-11 4 1461,780
CL-12 4 1461,780
CL-13 4 1461,780
CL-14 4 1461,780
CL-15 4 1461,780
CL-16 4 1461,780
CL-17 4 1461,780
CL-18 4 1461,780
CL-19 4 1461,780
CL-20 0,5 182,722
CL-21 4 1461,780
CL-22 3 1096,335
CL-23 4 1461,780
CL-24 4 1461,780
CL-25 4 1461,780


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
56
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
CL-26 4 1461,780
CL-27 4 1461,780
CL-28 4 1461,780
CL-29 4 1461,780
CL-30 4 1461,780
CL-31 4 1461,780
CL-32 3 1096,335
CL-33 4 1461,780
CL-34 4 1461,780
CL-35 4 1461,780
CL-36 4 1461,780
CL-37 4 1461,780
CL-38 2 730,890
CL-39 4 1461,780
CL-40 4 1461,780
CL-41 3 1096,335
CL-42 4 1461,780
CL-43 4 1461,780
CL-44 4 1461,780
CL-45 3 1096,335
CL-46 2 730,890
CL-47 4 1461,780
CL-48 4 1461,780
CL-49 4 1461,780
CL-50 3 1096,335
CL-51 4 1461,780
CL-52 4 1461,780
CL-53 4 1461,780
CL-54 4 1461,780
CL-55 4 1461,780
CL-56 4 1461,780
CL-57 4 1461,780
CL-58 2 730,890
CL-59 4 1461,780
CL-60 4 1461,780
CL-61 4 1461,780
CL-62 3 1096,335
CL-63 2 730,890
CL-64 4 1461,780
CL-65 4 1461,780
CL-66 0,25 91,361

241,75
88346,323



UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
57
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
SALURAN SEKUNDER
Nama saluran Nama
Petak Yg
Dialiri
Luas (
Ha )
Luas Total
Yang Dialiri
QP
(Lt/dt)
QP Total
SEKUNDER 1 D-ry-1 4 986,701
D-ry-2 4 986,701
D-ry-3 4 986,701
D-ry-4 4 986,701
D-ry-5 4 986,701
D-ry-6 4 986,701
D-ry-7 4 986,701
D-ry-8 4 986,701
D-ry-9 4 986,701
D-ry-10 4 986,701
D-ry-11 4 986,701
D-ry-12 4 986,701
D-ry-13 4 986,701
D-ry-14 4 986,701
D-ry-15 4 986,701
D-ry-16 4 986,701
D-ry-17 4 986,701
D-ry-18 4 986,701
D-ry-19 4 986,701
D-ry-20 4 986,701
D-ry-21 4 986,701
D-ry-22 4 986,701
D-ry-23 4 986,701
D-ry-24 4 986,701
AL-1 4 986,701
AL-2 4 986,701
AL-3 4 986,701
AL-4 4 986,701
AL-5 4 986,701
AL-6 4 986,701
AL-7 4 986,701
AL-8 4 986,701
AL-9 4 986,701
AL-10 4 986,701
AL-11 4 986,701
AL-12 4 986,701
AL-13 4 986,701
AL-14 4 986,701
AL-15 4 986,701
AL-16 4 986,701


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
58
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
AL-17 4 986,701
AL-18 4 986,701
AL-19 4 986,701
AL-20 4 986,701
AL-21 4 986,701
AL-22 4 986,701
AL-23 4 986,701
AL-24 4 986,701
AL-25 4 986,701
AL-26 4 986,701
AL-27 4 986,701
AL-28 4 986,701
AL-29 4 986,701
AL-30 4 986,701
AL-31 4 986,701
AL-32 4 986,701
AL-33 4 986,701
AL-34 4 986,701
AL-35 4 986,701
AL-36 4 986,701
AL-37 4 986,701

244
60188,787
SEKUNDER 2
D-ry-25 4 986,701
D-ry-26 4 986,701
D-ry-27 4 986,701
D-ry-28 4 986,701
D-ry-29 4 986,701
D-ry-30 4 986,701
D-ry-31 4 986,701
D-ry-32 4 986,701
D-ry-33 4 986,701
D-ry-34 4 986,701
D-ry-35 4 986,701
D-ry-36 4 986,701
D-ry-37 4 986,701
D-ry-38 4 986,701
D-ry-39 4 986,701
D-ry-40 4 986,701
D-ry-41 4 986,701
D-ry-42 4 986,701
AL-38 4 986,701
AL-39 4 986,701
AL-40 4 986,701
AL-41 4 986,701


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
59
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
AL-42 4 986,701
AL-43 2 493,351
AL-44 0,5 123,338
AL-45 0,5 123,338
AL-46 4 986,701
AL-47 4 986,701
AL-48 4 986,701
AL-49 4 986,701
AL-50 4 986,701
AL-51 1,5 370,013
AL-52 4 986,701
AL-53 4 986,701
AL-54 4 986,701
AL-55 4 986,701
AL-56 1,75 431,682

134,250
33116,167
SEKUNDER 3
CL-1 4 986,701
CL-2 4 986,701
CL-3 4 986,701
CL-4 4 986,701
CL-5 4 986,701
CL-6 4 986,701
CL-7 4 986,701
CL-8 4 986,701
CL-9 4 986,701
CL-10 3 740,026
CL-11 4 986,701
CL-12 4 986,701
CL-13 4 986,701
CL-14 4 986,701
CL-15 4 986,701
CL-16 4 986,701
CL-17 4 986,701
CL-18 4 986,701
CL-19 4 986,701
CL-20 0,5 123,338
CL-21 4 986,701
CL-22 3 740,026
CL-23 4 986,701
CL-24 4 986,701
CL-25 4 986,701
CL-26 4 986,701
CL-27 4 986,701


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
60
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
CL-28 4 986,701
CL-29 4 986,701
CL-30 4 986,701
CL-31 4 986,701
CL-32 3 740,026
CL-33 4 986,701
CL-34 4 986,701
CL-35 4 986,701
CL-36 4 986,701
CL-37 4 986,701
CL-38 2 493,351

143,50
35397,914
SEKUNDER 4
CL-39 4 1461,780
CL-40 4 1461,780
CL-41 3 1096,335
CL-42 4 1461,780
CL-43 4 1461,780
CL-44 4 1461,780
CL-45 3 1096,335
CL-46 2 730,890
CL-47 4 1461,780
CL-48 4 1461,780
CL-49 4 1461,780
CL-50 3 1096,335
CL-51 4 1461,780
CL-52 4 1461,780
CL-53 4 1461,780
CL-54 4 1461,780
CL-55 4 1461,780
CL-56 4 1461,780
CL-57 4 1461,780
CL-58 2 730,890
CL-59 4 1461,780
CL-60 4 1461,780
CL-61 4 1461,780
CL-62 3 1096,335
CL-63 2 730,890
CL-64 4 1461,780
CL-65 4 1461,780
CL-66 0,25 91,361

98,25
35904,969



UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
61
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
SALURAN TERSIER
Nama
saluran
Nama
Petak Yg
Dialiri
Luas
( Ha
)
Luas Total
Yang
Dialiri
QP (Lt/dt) QP Total
TERSIER 1 D-ry-1 4 769,627
D-ry-2 4 769,627
D-ry-3 4 769,627
D-ry-4 4 769,627
D-ry-5 4 769,627
D-ry-6 4 769,627
AL-1 4 769,627
AL-2 4 769,627
AL-3 4 769,627
AL-4 4 769,627
AL-5 4 769,627
AL-6 4 769,627
AL-7 4 769,627
AL-8 4 769,627
AL-9 4 769,627
60 11544,407
TERSIER 2 D-ry-7 4 769,627
D-ry-8 4 769,627
D-ry-9 4 769,627
D-ry-10 4 769,627
D-ry-11 4 769,627
D-ry-12 4 769,627
AL-10 4 769,627
AL-11 4 769,627
AL-12 4 769,627
AL-13 4 769,627
AL-14 4 769,627
AL-15 4 769,627
AL-16 4 769,627
AL-17 4 769,627
AL-18 4 769,627
60 11544,407
TERSIER 3 D-ry-13 4 769,627
D-ry-14 4 769,627
D-ry-15 4 769,627
D-ry-16 4 769,627
D-ry-17 4 769,627
D-ry-18 4 769,627
AL-19 4 769,627
AL-20 4 769,627


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
62
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
AL-21 4 769,627
AL-22 4 769,627
AL-23 4 769,627
AL-24 4 769,627
AL-25 4 769,627
AL-26 4 769,627
AL-27 4 769,627
60 11544,407
TERSIER 4 D-ry-19 4 769,627
D-ry-20 4 769,627
D-ry-21 4 769,627
D-ry-22 4 769,627
D-ry-23 4 769,627
D-ry-24 4 769,627
AL-28 4 769,627
AL-29 4 769,627
AL-30 4 769,627
AL-31 4 769,627
AL-32 4 769,627
AL-34 4 769,627
AL-35 4 769,627
AL-36 4 769,627
AL-37 4 769,627
60 11544,407
TERSIER 5 D-ry-25 4 769,627
D-ry-26 4 769,627
D-ry-27 4 769,627
D-ry-28 4 769,627
D-ry-29 4 769,627
D-ry-30 4 769,627
AL-33 4 769,627
AL-38 4 769,627
AL-39 4 769,627
AL-40 4 769,627
AL-41 4 769,627
AL-42 4 769,627
AL-43 2 384,814
AL-44 0,5 96,203
AL-45 0,5 96,203
51 9812,746
TERSIER 6 D-ry-31 4 769,627
D-ry-32 4 769,627
D-ry-33 4 769,627
D-ry-34 4 769,627
D-ry-35 4 769,627


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
63
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
D-ry-36 4 769,627
AL-46 4 769,627
AL-47 4 769,627
AL-48 4 769,627
AL-49 4 769,627
AL-50 4 769,627
AL-51 1,5 288,610
45,5 8754,508
TERSIER 7 D-ry-37 4 769,627
D-ry-38 4 769,627
D-ry-39 4 769,627
D-ry-40 4 769,627
D-ry-41 4 769,627
D-ry-42 4 769,627
AL-52 4 769,627
AL-53 4 769,627
AL-54 4 769,627
AL-55 4 769,627
AL-56 1,75 336,712
41,75 8032,983
TERSIER 8 CL-1 4 769,627
CL-2 4 769,627
CL-3 4 769,627
CL-4 4 769,627
CL-5 4 769,627
CL-6 4 769,627
CL-7 4 769,627
CL-8 4 769,627
CL-9 4 769,627
CL-10 3 577,220
39 7503,864
TERSIER 9 CL-11 4 769,627
CL-12 4 769,627
CL-13 4 769,627
CL-14 4 769,627
CL-15 4 769,627
CL-16 4 769,627
CL-17 4 769,627
CL-18 4 769,627
CL-19 4 769,627
CL-20 0,5 96,203
36,5 7022,847
TERSIER 10 CL-21 4 769,627
CL-22 3 577,220


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
64
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
CL-23 4 769,627
CL-24 4 769,627
CL-25 4 769,627
CL-26 4 769,627
CL-27 4 769,627
CL-28 4 769,627
CL-29 4 769,627
35 6734,237
TERSIER 11 CL-30 4 769,627
CL-31 4 769,627
CL-32 3 577,220
CL-33 4 769,627
CL-34 4 769,627
CL-35 4 769,627
CL-36 4 769,627
CL-37 4 769,627
CL-38 2 384,814
33 6349,424
TERSIER 12 CL-39 4 769,627
CL-40 4 769,627
CL-41 3 577,220
CL-42 4 769,627
CL-43 4 769,627
CL-44 4 769,627
CL-45 3 577,220
26 5002,576
TERSIER 13 CL-46 2 384,814
CL-47 4 769,627
CL-48 4 769,627
CL-49 4 769,627
CL-50 3 577,220
CL-51 4 769,627
CL-52 4 769,627
CL-65 4 769,627
29 5579,797
TERSIER 14 CL-53 4 769,627
CL-54 4 769,627
CL-55 4 769,627
CL-56 4 769,627
CL-57 4 769,627
CL-58 2 384,814
CL-64 4 769,627
26 5002,576
TERSIER 15 CL-59 4 769,627


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
65
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
CL-60 4 769,627
CL-61 4 769,627
CL-62 3 577,220
CL-63 2 384,814
CL-66 0,25 48,102
17,25 3319,017


 Dalam perhitungan dimensi saluran digunakan rumus dasar sebagai berikut:
Q = A x V

Dimana :
Q = Debit/kapasitas saluran (m
3
/dt)
A= Penampang basah saluran (m
2
)
V = Kecepatan aliran (m/dt)
Dari rumus tersebut maka dapat kita uraikan menjadi :
V = k x R
2/3
x I
½
A = (b + m x h) x h

P = b + 2 x h x √ (1+ m2)

R = A/P
Dimana :
K = koefisien kekasaran (m
1/3
/dt)
m = Kemiringan talud
n = Perbandingan lebar dasar saluran dengan kedalaman air (b/h)
I = Kemiringan dasar saluran (kemiringan rencana)


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
66
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
b = Lebar dasar saluran (m)
h = Tinggi air (m)


Tabel Parameter perhitungan untuk kemiringan saluran
Q (m
3
/dt) m n = b/h K V (m/dt)
0.00-0.15 1 1.0 35 0.25-0.30
0.15-0.30 1 1.0 35 0.30-0.35
0.30-0.40 1 1.0 35 0.35-0.40
0.40-0.50 1 1.0-1.2 35 0.40-0.45
0.50-0.75 1 1.2-1.3 35 0.45-0.50
0.75-1.00 1 1.3-1.5 35 0.50-0.55
1.00-1.50 1 1.5-1.8 40 0.50-0.55
1.50-3.00 1.5 1.8-2.3 40 0.55-0.60
3.00-4.50 1.5 2.3-2.7 40 0.60-0.65
4.50-5.00 1.5 2.7-2.9 40 0.65-0.70
5.00-6.00 1.5 2.9-3.1 42.5 0.65-0.70
6.00-7.50 1.5 3.1-3.5 42.5 0.70
7.50-9.00 1.5 3.5-3.7 42.5 0.70
9.00-10.00 1.5 3.7-3.9 42.5 0.70
10.00-11.00 2.0 3.9-4.2 45 0.70
11.00-15.00 2.0 4.2-4.9 45 0.70
15.00-25.00 2.0 4.9-6.5 45 0.70
25.00-40.00 2.0 6.5-9.6 45 0.75
40.00-80.00 2.0 12.0 45 0.80

Sumber : Dari Buku KP 01





UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
67
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
Tabel Tinggi jagaan minimum untuk saluran tanah:
Q (m3/dt) Tinggi jagaan (W)
< 0.5 0.40
0.5-1.5 0.50
1.5-5.0 0.60
5.0-10.0 0.75
10.0-15.0 0.85
>15.0 1.00
Sumber : Dari Buku KP 03
I. SALURAN PRIMER
a) Saluran Primer 1
Q = 6,13948 m
3
/dt
m = 1,5
k = 42,5
n = 3,5 → n = b/h
b = 3,5 h
I = 0,0002

A = bh + m.h
2

= ( 3,5h. h + 1,5h
2
)
= 5 h
2


P = b + 2h
2
1 m 


= 3,5 h + 2h
2
5 , 1 1




UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
68
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
= 7,1056 h
R =



=

= 0,7037 h


V = k x R
2/3
x I
1/2

= 42,5 x (0,7037 h )
2/3
x ( 0,0002 )
1/2

= 0,4755 h
2/3


Q = A x V
6,13948 = 5 h
2
x

0,4755 h
2/3

6,13948 = 2,3776 h
8/3

h
8/3
= 2,5822
h = 1,4272

Maka : b = 3,5 x h = 4,9952
P = 7,1056 x h = 10,1411
A = 5 x h
2
= 10,1845
R = 0,7037 x h = 1,0043
V =
A
Q
=

= 0,6028


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
69
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
V baru = 0,6028
V ijin = 0,7
A baru =
Vbaru
Q
= 10,1849
h baru =
3
Abaru
= 1,8425
b baru = 3,5 x h baru = 6,4488

P baru = 7,1056 x h baru = 13,0921
R baru = 0,7037 x h baru = 1,2966

Q = A x V
Q = A x k x R
2/3
x I
1/2

= 10,1849 x 42,5 x (1,2966)
2/3
x I
1/2

= 514,6947 x I
1/2

I
1/2
= 0,0119
I = 1,4161 x 10
-4

b) Saluran Primer 2
Q = 7,68348 m
3
/dt
m = 1,5
k = 42,5
n = 3,7 → n = b/h


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
70
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
b = 3,7 h
I = 0,0005

A = bh + m.h
2

= ( 3,7 h. h + 1,5 h
2
)
= 5,55 h
2


P = b + 2h
2
1 m 


= 3,7 h + 2h
2
5 , 1 1


= 7,3056 h
R =



=

= 0,7597 h

V = k x R
2/3
x I
1/2

= 42,5 x (0,7597 h )
2/3
x ( 0,0005 )
1/2

= 0,7912 h
2/3


Q = A x V
7,68348 = 5,55 h
2
x

0,7912 h
2/3

7,68348 = 4,3912 h
8/3



UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
71
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
h
8/3
= 1,7497
h = 1,2334

Maka : b = 3,7 x h = 4,5636
P = 7,3056 x h = 9,0107
A = 5,55 x h
2
= 8,4431
R = 0,7597 x h = 0,9370
V =
A
Q
=

= 0,9100
V baru = 0,9100
V ijin = 0,7
A baru =
Vbaru
Q
= 8,4434
h baru =
3
Abaru
= 1.6776
b baru = 3,7 x h baru = 6,2071

P baru = 7,3056 x h baru = 12,2559
R baru = 0,7597 x h baru = 1,2745

Q = A x V
Q = A x k x R
2/3
x I
1/2

= 8,4434 x 42,5 x (1,2745)
2/3
x I
1/2



UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
72
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
= 421,8255 x I
1/2

I
1/2
= 0,0182
I = 3,3124 x 10
-4

c) Saluran Primer 3
Q = 8,83463 m
3
/dt
m = 1,5
k = 42,5
n = 3,7 → n = b/h
b = 3,7 h
I = 0,0003

A = bh + m.h
2

= ( 3,7 h. h + 1,5 h
2
)
= 5,55 h
2


P = b + 2h
2
1 m 


= 3,7 h + 2h
2
5 , 1 1


= 7,3056 h
R =



=

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
73
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
= 0,7597 h

V = k x R
2/3
x I
1/2

= 42,5 x (0,7597 h )
2/3
x ( 0,0003 )
1/2

= 0,6129 h
2/3


Q = A x V
8,83463= 5,55 h
2
x

0,6129 h
2/3

8,83463= 3,4016 h
8/3

h
8/3
= 2,5972
h = 1,4303

Maka : b = 3,7 x h = 5,2921
P = 7,3056 x h = 10,4492
A = 5,55 x h
2
= 11,3540
R = 0,6282 x h = 2,0458
V =
A
Q
=

= 0,7781
V baru = 0,7781
V ijin = 0,7
A baru =
Vbaru
Q
= 11,3541


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
74
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
h baru =
3
Abaru
= 1,9454
b baru = 3,7 x h baru = 7,1980

P baru = 7,3056 x h baru = 14,2123
R baru = 0,7597 x h baru = 1,4779

Q = A x V
Q = A x k x R
2/3
x I
1/2

= 11,3541x 42,5 x (1,4779)
2/3
x I
1/2

= 626,0923 x I
1/2

I
1/2
= 0,0141
I = 1,9881 x 10
-4
TABEL DIMENSI SALURAN
Nama Q (m3/dtk) A (m2) P (m) V (m/dtk) R (m) B (m) H (m)
Saluran
Primer 1 10,1849 13,0921 0,6028 1,2966 6,4488 1,8425
Primer 2 8,4434 12,2559 0,9100 1,2745 6,2071 1.6776
Primer 3 8,83463 11,3541 14,2123 0,7781 1,4779 7,1980 1,9454


II. SALURAN SEKUNDER
a) Saluran Sekunder 1
Q = 6,01888 m
3
/dt
m = 1,5


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
75
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
k = 42,5
n = 3,5 → n = b/h
b = 3,5 h
I = 0,0003
A = bh + m.h
2

= ( 3,5 h. h + 1,5 h
2
)
= 5 h
2

P = b + 2h
2
1 m 


= 3,5 h + 2h
2
5 , 1 1


= 7,1056 h
R =



=

= 0,7037 h
V = k x R
2/3
x I
1/2

= 42,5 x (0,7037 h )
2/3
x ( 0,0003 )
1/2

= 0,5824 h
2/3

Q = A x V
6,01888 = 5 h
2
x

0,5824 h
2/3

6,01888 = 2,9120 h
8/3

h
8/3
= 2,0669
h = 1,3129


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
76
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
Maka : B = 3,5 x h = 4.5952
P = 7,1056 x h = 9.3289
A = 5 x h
2
= 8.6185
R = 0,7037 x h = 0.9239
V =
A
Q
=

= 0,6984
V baru = 0,6984
V ijin = 0,7
A baru =
Vbaru
Q
= 8,6181
H baru =
3
Abaru
= 1,6949
B baru = 3,5 x h baru = 5,9322
P baru = 7,1056 x h baru = 12,0433
R baru = 0,7037 x h baru = 1,1927

Q = A x V
Q = A x k x R
2/3
x I
1/2

6,01888 = 8,6181 x 42,5 x (1,1927)
2/3
x I
1/2

6,01888 = 411,9280 x I
1/2

I
1/2
= 0,0146
I = 2,1316 x 10
-4



UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
77
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
b) Saluran Sekunder 2
Q = 3,31162 m
3
/dt
m = 1,5
k = 40
n = 2,7 → n = b/h
b = 2,7 h
I = 0,0002
A = bh + m.h
2

= ( 2,7 h. h + 1,5 h
2
)
= 4,2 h
2

P = b + 2h
2
1 m 


= 2,7 h + 2h
2
5 , 1 1


= 6,3056 h
R =



=

= 0,6661 h
V = k x R
2/3
x I
1/2

= 40 x (0,6661 h )
2/3
x ( 0,0002 )
1/2

= 0,4315 h
2/3

Q = A x V
3,31162 = 4,2 h
2
x

0,4315 h
2/3



UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
78
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
3,31162 = 1,8123 h
8/3

h
8/3
= 1,8273
h = 1,2537
Maka : B = 2,7 x h = 4.5952
P = 6,3056 x h = 9.3289
A = 4,2 x h
2
= 8.6185
R = 0,6661 x h = 0.9239
V =
A
Q
=

= 0,3842
V baru = 0,3842
V ijin = 0,65
A baru =
Vbaru
Q
= 8,6195
H baru =
3
Abaru
= 1,6950
B baru = 2,7 x h baru = 4,5765
P baru = 6,3056 x h baru = 10,6880
R baru = 0,6661 x h baru = 1,1290

Q = A x V
Q = A x k x R
2/3
x I
1/2

= 8,6195 x 40 x (1,1290)
2/3
x I
1/2

= 373,8276 x I
1/2



UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
79
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
I
1/2
= 0,0089
I = 7,921 x 10
-5

c) Saluran Sekunder 3
Q = 3,53979 m
3
/dt
m = 1,5
k = 40
n = 2,7 → n = b/h
b = 2,7 h
I = 0,0003
A = bh + m.h
2

= ( 2,7 h. h + 1,5 h
2
)
= 4,2 h
2

P = b + 2h
2
1 m 


= 2,7 h + 2h
2
5 , 1 1


= 6,3056 h
R =



=

= 0,6661 h
V = k x R
2/3
x I
1/2

= 40 x (0,6661 h )
2/3
x ( 0,0003 )
1/2


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
80
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

= 0,5284 h
2/3

Q = A x V
3,53979 = 4,2 h
2
x

0,5284 h
2/3

3,53979 = 2,2193 h
8/3

h
8/3
= 1,5950
h = 1,1913
Maka : B = 2,7 x h = 3,2165
P = 6,3056 x h = 7,5119
A = 4,2 x h
2
= 5,9606
R = 0,6661 x h = 0.7935
V =
A
Q
=

= 0,5939
V baru = 0,5939
V ijin = 0,65
A baru =
Vbaru
Q
= 5,9602
H baru =
3
Abaru
= 1,4095
B baru = 2,7 x h baru = 3,8057
P baru = 6,3056 x h baru = 8,8877
R baru = 0,6661 x h baru = 0,9389

Q = A x V


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
81
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
Q = A x k x R
2/3
x I
1/2

= 5,9602 x 40 x (0,9389)
2/3
x I
1/2

= 228,5952 x I
1/2

I
1/2
= 0,0155
I = 2,4025 x 10
-4

d) Saluran Sekunder 4
Q = 3,5905 m
3
/dt
m = 1,5
k = 40
n = 2,7 → n = b/h
b = 2,7 h
I = 0,0008
A = bh + m.h
2

= ( 2,7 h. h + 1,5 h
2
)
= 4,2 h
2

P = b + 2h
2
1 m 


= 2,7 h + 2h
2
5 , 1 1


= 6,3056 h
R =



=

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
82
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
= 0,6661 h
V = k x R
2/3
x I
1/2

= 40 x (0,6661 h )
2/3
x ( 0,0008 )
1/2

= 0,8629 h
2/3

Q = A x V
3,5905= 4,2 h
2
x

0,8629 h
2/3

3,5905= 3,6242 h
8/3

h
8/3
= 0,9907
h = 0,9815
Maka : B = 2,7 x h = 2,6501
P = 6,3056 x h = 6,1889
A = 4,2 x h
2
= 4,0460
R = 0,6661 x h = 0.6538
V =
A
Q
=

= 0,8874
V baru = 0,8874
V ijin = 0,65
A baru =
Vbaru
Q
= 4,0461
H baru =
3
Abaru
= 1,1613
B baru = 2,7 x h baru = 3,1355
P baru = 6,3056 x h baru = 7,3227


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
83
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
R baru = 0,6661 x h baru = 0,7735

Q = A x V
Q = A x k x R
2/3
x I
1/2

= 4,0461x 40 x (0,7735)
2/3
x I
1/2

= 125,1863 x I
1/2

I
1/2
= 0,0287
I = 2369 x 10
-4

TABEL DIMENSI SALURAN
Nama Q (m3/dtk) A (m2) P (m) V (m/dtk) R (m) B (m) H (m)
Saluran
Sekunder 1 6,01888 8,6181 12,0433 0,6984 1,1927 5,9322 1,6949
Sekunder 2 3,31162 8,6195 10,6880 0,3842 1,1290 4,5765 1,6950
Sekunder 3 3,53979 5,9602 8,8877 0,5939 0,9389 3,8057 1,4095
Sekunder 4 4,0461 7,3227 0,8874 0,7735 3,1355 1,1613


II. SALURAN TERSIER
a) Saluran Tersier 1
Q = 1,1544 m
3
/dt
m = 1
k = 40
n = 1,8→ n = b/h
b = 1,8 h
I = 0,00024


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
84
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
A = bh + m.h
2

= (1,8 h. h + 1 h
2
)
= 2,8 h
2

P = b + 2h
2
1 m 


= 1,8 h + 2h
2
1 1


= 4,6284 h
R =



=

= 0,6050 h
V = k x R
2/3
x I
1/2

= 40 x (0,6050 h )
2/3
x (0,00024)
1/2

= 0,4433 h
2/3

Q = A x V
1,1544 = 2,8 h
2
x

0,4433 h
2/3

1,1544 = 1,2412 h
8/3

h
8/3
= 0,9301
h = 0,9732
Maka : B = 1,8 x h = 1,7518
P = 4,6284 x h = 4,5044
A = 2,8 x h
2
= 2,6519
R = 0,6050 x h = 0.5888


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
85
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
V =
A
Q
=

= 0,4353
V baru = 0,4353
V ijin = 0,55
A baru =
Vbaru
Q
= 2,6520
H baru =
3
Abaru
= 0,9402
B baru = 1,8 x h baru = 1,6924
P baru = 4,6284 x h baru = 4,3516
R baru = 0,6050 x h baru = 0,5688

Q = A x V
Q = A x k x R
2/3
x I
1/2

1,1544 = 2,6520 x 40 x (0,5688)
2/3
x I
1/2

1,1544 = 72,8238 x I
1/2

I
1/2
= 0,0159
I = 2,5281 x 10
-4


NB: Tersier 1, 2, 3, 4 memiliki Nilai yang sama.
b) Saluran Tersier 5
Q = 0,9813 m
3
/dt
m = 1
k = 35
n = 1,5→ n = b/h


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
86
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
b = 1,5 h
I = 0,00034
A = bh + m.h
2

= (1,5 h. h + 1 h
2
)
= 2,5 h
2

P = b + 2h
2
1 m 


= 1,5 h + 2h
2
1 1


= 4,3284 h
R =



=

= 0,5776 h
V = k x R
2/3
x I
1/2

= 35 x (0,5776 h )
2/3
x (0,00034)
1/2

= 0,4476 h
2/3

Q = A x V
0,9813 = 2,5 h
2
x

0,4476 h
2/3

0,9813 = 1,1119 h
8/3

h
8/3
= 0,8825
h = 0,9542
Maka : B = 1,5 x h = 1,4313
P = 4,3284 x h = 4,1301


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
87
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
A = 2,5 x h
2
= 2,2762
R = 0,5776 x h = 0.5511
V =
A
Q
=

= 0,4311
V baru = 0,4311
V ijin = 0,50
A baru =
Vbaru
Q
= 2,6762
H baru =
3
Abaru
= 0,9444
B baru = 1,5 x h baru = 1,4166
P baru = 4,3284 x h baru = 4,0877
R baru = 0,5776 x h baru = 0,5454

Q = A x V
Q = A x k x R
2/3
x I
1/2

= 2,6762 x 35 x (0,5454)
2/3
x I
1/2

= 62,5263 x I
1/2

I
1/2
= 0,0156
I = 2,4336 x 10
-4
c) Saluran Tersier 6
Q = 0,8755 m
3
/dt
m = 1
k = 35


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
88
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
n = 1,5→ n = b/h
b = 1,5 h
I = 3,7209 x 10
-5

A = bh + m.h
2

= (1,5 h. h + 1 h
2
)
= 2,5 h
2

P = b + 2h
2
1 m 


= 1,5 h + 2h
2
1 1


= 4,3284 h
R =



=

= 0,5776 h
V = k x R
2/3
x I
1/2

= 35 x (0,5776 h )
2/3
x (3,7209 x 10
-5
)
1/2

= 0,1481 h
2/3

Q = A x V
0,8755 = 2,5 h
2
x

0,1481 h
2/3

0,8755 = 0,3703 h
8/3

h
8/3
= 2,3643
h = 1,3808
Maka : B = 1,5 x h = 2,0712


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
89
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
P = 4,3284 x h = 5,9767
A = 2,5 x h
2
= 4,7665
R = 0,5776 x h = 0.7976
V =
A
Q
=

= 0,1837
V baru = 0,1837
V ijin = 0,50
A baru =
Vbaru
Q
= 4,7659
H baru =
3
Abaru
= 1,2604
B baru = 1,5 x h baru = 1,8906
P baru = 4,3284 x h baru = 5,4555
R baru = 0,5776 x h baru = 0,7280

Q = A x V
Q = A x k x R
2/3
x I
1/2

= 4,7659 x 35 x (0,7280)
2/3
x I
1/2

= 134,9897 x I
1/2

I
1/2
= 0,0065
I = 4,225 x 10
-5
d) Saluran Tersier 8
Q = 0,7504 m
3
/dt
m = 1


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
90
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
k = 35
n = 1,5→ n = b/h
b = 1,5 h
I = 4,444 x 10
-5

A = bh + m.h
2

= (1,5 h. h + 1 h
2
)
= 2,5 h
2

P = b + 2h
2
1 m 


= 1,5 h + 2h
2
1 1


= 4,3284 h
R =



=

= 0,5776 h
V = k x R
2/3
x I
1/2

= 35 x (0,5776 h )
2/3
x (4,444 x 10
-5
)
1/2

= 0,1618 h
2/3

Q = A x V
0,7504 = 2,5 h
2
x

0,1618 h
2/3

0,7504 = 0,4045 h
8/3

h
8/3
= 1,8551
h = 1,2608


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
91
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
Maka : B = 1,5 x h = 1,8912
P = 4,3284 x h = 5,4572
A = 2,5 x h
2
= 3,9740
R = 0,5776 x h = 0,7282
V =
A
Q
=

= 0,1888
V baru = 0,1888
V ijin = 0,50
A baru =
Vbaru
Q
= 3,9746
H baru =
3
Abaru
= 1,1510
B baru = 1,5 x h baru = 1,7265
P baru = 4,3284 x h baru = 4,9820
R baru = 0,5776 x h baru = 0,6648

Q = A x V
Q = A x k x R
2/3
x I
1/2

= 2,8958 x 35 x (0,6648)
2/3
x I
1/2

= 77,2024 x I
1/2

I
1/2
= 0,0097
I = 9,409 x 10
-5
e) Saluran Tersier 9
Q = 0,7023 m
3
/dt


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
92
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
m = 1
k = 35
n = 1,2→ n = b/h
b = 1,2 h
I = 4,444 x 10
-5

A = bh + m.h
2

= (1,2 h. h + 1 h
2
)
= 2,2 h
2

P = b + 2h
2
1 m 


= 1,2 h + 2h
2
1 1


= 4,0284 h
R =



=

= 0,5461 h
V = k x R
2/3
x I
1/2

= 35 x (0,5461 h )
2/3
x (4,444 x 10
-5
)
1/2

= 0,1559 h
2/3

Q = A x V
0,7023 = 2,2 h
2
x

0,1559 h
2/3

0,7023 = 0,3430 h
8/3

h
8/3
= 2,0475


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
93
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
h = 1,3083
Maka : B = 1,2 x h = 1,5700
P = 4,0284 x h = 5,2704
A = 2,2 x h
2
= 3,7656
R = 0,5461 x h = 0,7145
V =
A
Q
=

= 0,1865
V baru = 0,1865
V ijin = 0,45
A baru =
Vbaru
Q
= 3,7657
H baru =
3
Abaru
= 1,1204
B baru = 1,2 x h baru = 1,3445
P baru = 4,0284 x h baru = 4,5134
R baru = 0,5462 x h baru = 0,6120

Q = A x V
Q = A x k x R
2/3
x I
1/2

= 3,7657 x 35 x (0,6120)
2/3
x I
1/2

= 95,0053 x I
1/2

I
1/2
= 0,0097
I = 7,3922 x 10
-3


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
94
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

f) Saluran Tersier 10
Q = 0,6734 m
3
/dt
m = 1
k = 35
n = 1,2→ n = b/h
b = 1,2 h
I = 4,7059 x 10
-5

A = bh + m.h
2

= (1,2 h. h + 1 h
2
)
= 2,2 h
2

P = b + 2h
2
1 m 


= 1,2 h + 2h
2
1 1


= 4,0284 h
R =



=

= 0,5461 h
V = k x R
2/3
x I
1/2

= 35 x (0,5461 h )
2/3
x (4,7059 x 10
-5
)
1/2

= 0,1604 h
2/3

Q = A x V


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
95
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
0,6734 = 2,2 h
2
x

0,1604 h
2/3

0,6734 = 0,3529 h
8/3

h
8/3
= 1,9082
h = 1,2742
Maka : B = 1,2 x h = 1,5230
P = 4,0284 x h = 5,1330
A = 2,2 x h
2
= 3,5719
R = 0,5461 x h = 0,6958
V =
A
Q
=

= 0,1885
V baru = 0,1885
V ijin = 0,45
A baru =
Vbaru
Q
= 3,5724
H baru =
3
Abaru
= 1,0912
B baru = 1,2 x h baru = 1,3094
P baru = 4,0284 x h baru = 4,3958
R baru = 0,5461 x h baru = 0,5959

Q = A x V
Q = A x k x R
2/3
x I
1/2

= 3,5724 x 35 x (0,5959)
2/3
x I
1/2



UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
96
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
= 88,5409 x I
1/2

I
1/2
= 0,0076
I = 5,776 x 10
-5

g) Saluran Tersier 11
Q = 0,6349 m
3
/dt
m = 1
k = 35
n = 1,2→ n = b/h
b = 1,2 h
I = 2,9091 x 10
-4

A = bh + m.h
2

= (1,2 h. h + 1 h
2
)
= 2,2 h
2

P = b + 2h
2
1 m 


= 1,2 h + 2h
2
1 1


= 4,0284 h
R =



=

= 0,5461 h
V = k x R
2/3
x I
1/2



UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
97
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
= 35 x (0,5461 h )
2/3
x (2,9091 x 10
-4
)
1/2

= 0,3988 h
2/3

Q = A x V
0,6349 = 2,2 h
2
x

0,3988 h
2/3

0,6349 = 0,8774 h
8/3

h
8/3
= 0,7236
h = 0,8858
Maka : B = 1,2 x h = 1,0630
P = 4,0284 x h = 3,5684
A = 2,2 x h
2
= 1,7262
R = 0,5461 x h = 0,4285
V =
A
Q
=

= 0,3678
V baru = 0,3678
V ijin = 0,45
A baru =
Vbaru
Q
= 1,7262
H baru =
3
Abaru
= 0,7586
B baru = 1,2 x h baru = 0,9103
P baru = 4,0284 x h baru = 3,0559
R baru = 0,5461 x h baru = 0,4143



UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
98
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
Q = A x V
Q = A x k x R
2/3
x I
1/2

= 1,7262 x 35 x (0,4143)
2/3
x I
1/2

= 33,5765 x I
1/2

I
1/2
= 0,0189
I = 3,5721 x 10
-4
h) Saluran Tersier 12
Q = 0,5003 m
3
/dt
m = 1
k = 35
n = 1,3→ n = b/h
b = 1,3 h
I = 3,2 x 10
-4

A = bh + m.h
2

= (1,3 h. h + 1 h
2
)
= 2,3 h
2

P = b + 2h
2
1 m 


= 1,3 h + 2h
2
1 1


= 4,1284 h
R =



=

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
99
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
= 0,5571 h
V = k x R
2/3
x I
1/2

= 35 x (0,5571 h )
2/3
x (3,2 x 10
-4
)
1/2

= 0,4239 h
2/3

Q = A x V
0,5003 = 2,3 h
2
x

0,4239 h
2/3

0,5003 = 0,9750 h
8/3

h
8/3
= 0,5131
h = 0,7786

Maka : B = 1,3 x h = 1,0122
P = 4,1284 x h = 3,2144
A = 2,3 x h
2
= 1,3943
R = 0,5571 x h = 0,4338
V =
A
Q
=

= 0,3588
V baru = 0,3588
V ijin = 0,40
A baru =
Vbaru
Q
= 1,3944
H baru =
3
Abaru
= 0,6818
B baru = 1,3 x h baru = 0,8863


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
100
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
P baru = 4,1284 x h baru = 2,8147
R baru = 0,5571 x h baru = 0,3798

Q = A x V
Q = A x k x R
2/3
x I
1/2

= 1,3944 x 35 x (0,3798)
2/3
x I
1/2

= 25,5952 x I
1/2

I
1/2
= 0,0195
I = 3,8025 x 10
-4
NB: Saluran Tersier 12 dan 14 sama.
i) Saluran Tersier 13
Q = 0,5580 m
3
/dt
m = 1
k = 35
n = 1,3→ n = b/h
b = 1,3 h
I = 3,5556 x 10
-4

A = bh + m.h
2

= (1,3 h. h + 1 h
2
)
= 2,3 h
2

P = b + 2h
2
1 m 


= 1,3 h + 2h
2
1 1




UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
101
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
= 4,1284 h
R =



=

= 0,5571 h
V = k x R
2/3
x I
1/2

= 35 x (0,5571 h )
2/3
x (3,5556 x 10
-4
)
1/2

= 0,4468 h
2/3

Q = A x V
0,5580 = 2,3 h
2
x

0,4468 h
2/3

0,5580 = 0,02764 h
8/3

h
8/3
= 0,5131
h = 1,0875
Maka : B = 1,3 x h = 1,4138
P = 4,1284 x h = 4,4896
A = 2,3 x h
2
= 2,7201
R = 0,5571 x h = 0,6058
V =
A
Q
=

= 0,2051
V baru = 0,2051
V ijin = 0,45
A baru =
Vbaru
Q
= 2,7206


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
102
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
H baru =
3
Abaru
= 0,9523
B baru = 1,3 x h baru = 1,2378
P baru = 4,1284 x h baru = 3,9315
R baru = 0,5571 x h baru = 0,5305

Q = A x V
Q = A x k x R
2/3
x I
1/2

= 2,7206 x 35 x (0,5305)
2/3
x I
1/2

= 62,4007 x I
1/2

I
1/2
= 0,0195
I = 8,9422 x 10
-4
j) Saluran Tersier 15
Q = 0,1319 m
3
/dt
m = 1
k = 35
n = 1 → n = b/h
b = 1 h
I = 4,3636 x 10
-4

A = bh + m.h
2

= (1 h. h + 1 h
2
)
= 2 h
2

P = b + 2h
2
1 m 



UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
103
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

= 1 h + 2h
2
1 1


= 3,8284 h
R =



=

= 0,5224 h
V = k x R
2/3
x I
1/2

= 35 x (0,5224 h )
2/3
x (4,3636 x 10
-4
)
1/2

= 0,4742 h
2/3

Q = A x V
0,1319 = 2 h
2
x

0,4742 h
2/3

0,1319 = 0,9484 h
8/3

h
8/3
= 0,1391
h = 0,4678
Maka : B = 1 x h = 0,4678
P = 3,8284 x h = 1,7909
A = 2 x h
2
= 0,9356
R = 0,5224 x h = 0,2444
V =
A
Q
=

= 0,1410
V baru = 0,1410
V ijin = 0,45


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
104
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
A baru =
Vbaru
Q
= 0,9355
H baru =
3
Abaru
= 0,5584
B baru = 1 x h baru = 0,5584
P baru = 3,8284 x h baru = 2,1378
R baru = 0,5224 x h baru = 0,2917

Q = A x V
Q = A x k x R
2/3
x I
1/2

= 0,9355 x 35 x (0,2917)
2/3
x I
1/2

= 14,4013 x I
1/2

I
1/2
= 0,0091
I = 8,281 x 10
-5
TABEL DIMENSI SALURAN
Nama Q
(m3/dtk)
A (m2) P (m) V (m/dtk) R (m) B (m) H (m)
Saluran
Tersier 1 1,1544 2,6520 4,3516 0,4353 0,5688 1,6924 0,9402
Tersier 2 1,1544 2,6520 4,3516 0,4353 0,5688 1,6924 0,9402
Tersier 3 1,1544 2,6520 4,3516 0,4353 0,5688 1,6924 0,9402
Tersier 4 1,1544 2,6520 4,3516 0,4353 0,5688 1,6924 0,9402
Tersier 5 0,9813 2,6762 0,5454 0,4311 0,5454 1,4166 0,9444
Tersier 6 0,8755 4,7659 5,4555 0,1837 0,7280 1,8906 1,2604
Tersier 7 0,8033 2,8958 4,2527 0,2774 0,5675 1,4738 0,9825
Tersier 8 3,9746 4,9820 0,1888 0,6648 1,7265 1,1510
Tersier 9 0,7023 3,7657 4,5134 0,1865 0,7145 1,3445 1,1204
Tersier 10 0,6734 3,5724 4,3958 0,1885 0,5959 1,3094 1,0912
Tersier 11 0,6349 1,7262 3,0559 0,3678 0,4143 0,9103 0,7586
Tersier 12 0,5003 1,3944 2,8147 0,3588 0,3798 0,8863 0,6818
Tersier 13 0,5580 2,7206 3,9315 0,2051 0,5305 1,2378 0,9523
Tersier 14 0,5003 1,3944 2,8147 0,3588 0,3798 0,8863 0,6818
Tersier 15 0,1319 0,9355 2,1378 0,1410 0,2917 0,5584 0,5584



UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
105
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

a. Perhitungan galian saluran
Perhitungan galian saluran disebabkan karena ketinggian kontur tanah yang
berbeda-beda dan juga untuk memperhitungkan kemiringan saluran supaya air bisa
mengalir sesuai yang direncanakan.
Ket :
W = Tinggi jagaan
h
3
= ketinggian tanah mencapai tinggi jagaan
h
2
’ = ketinggian tanah dari muka tanah yang sebenarnya sampai
= ketinggian tanah asumsi. (m)
h
3
= h + w)
h
2
’ = (h
3
’ – h
2
)



a. Saluran Primer





UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
106
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
Diketahui : h
2
’ = 0,4
m = 1,0
W = 0,75
h = 1,8425 + W
= 1,8425 + 0,75
= 2,5925 m
b = 6,4488 m

Ditanya : 1. h
basah
?
2. ¼ L ?

3. h
galian
?
4. Volume galian ?

Jawab : 1. h
basah
= m . h
= 1,0 . 2,5925
= 2,5925 m
2. ¼ L = √

= √

= 3,6663 m
L = 3,6663 . 4
= 14,6654 m
3. h
galian
= h +

= 2,5925 + 0,4
= 2,9925 m
4. Volume galian = 0,5 . (L + b) . h
galian

= 0,5 . (14,6663 + 6,4488) . 2.9925
= 31,5944 m
3
 Saluran Primer 2
Diketahui : h
2
’ = 0,2
m = 1,0
W = 0,75
h = 1,6776 + W


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
107
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
= 1,6776 + 0,75
= 2,4276 m
b = 6,2071 m

Ditanya : 1. h
basah
?
2. ¼ L ?

3. h
galian
?
4. Volume galian ?

Jawab : 1. h
basah
= m . h
= 1,0 . 2,4276
= 2,4276 m
2. ¼ L = √

= √

= 3,4331 m
L = 3,4331 . 4
= 13,7326 m
3. h
galian
= h +

= 2,4276 + 0,2
= 2,6276 m
4. Volume galian = 0,5 . (L + b) . h
galian

= 0,5 . (13,7326 + 6,2071) . 2,6276
= 26,1968 m
3

 Saluran Primer 3
Diketahui : h
2
’ = 0,4
m = 1,0
W = 0,75
h = 1,9454 + W
= 1,9454 + 0,75
= 2,6954 m
b = 7,1980 m



UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
108
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
Ditanya : 1. h
basah
?
2. ¼ L ?

3. h
galian
?
4. Volume galian ?

Jawab : 1. h
basah
= m . h
= 1,0 . 2,6954
= 2,6954 m
2. ¼ L = √

= √

= 3,8119 m
L = 3,8119 . 4
= 15,2475 m
3. h
galian
= h +

= 2,6954 + 0,4
= 3,0954 m


4. Volume galian = 0,5 . (L + b) . h
galian

= 0,5 . (15,2475 + 7,1980) . 3,0954
= 34,7389 m
3






b. Saluran Sekunder
TABEL GALIAN SALURAN
Nama h galian L (m) 1/4L (m) h basah Volume
Saluran (m) (m) galian (m3)
Primer 1 2,9925 14,6654 3,6663 2,5925 31,5944
Primer 2 2,6276 13,7326 3,4331 2,4276 26,1968
Primer 3 3,0954 15,2475 3,8119 2,6954 34,7389


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
109
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL



 Saluran sekunder 1
Diketahui : h
2
’ = 0,9
m = 1,0
W = 0,75
h = 1,6949 + W
= 1,6949 + 0,75
= 2,4449 m
b = 5,9322 m

Ditanya : 1. h
basah
?
2. ¼ L ?

3. h
galian
?
4. Volume galian ?

Jawab : 1. h
basah
= m . h
= 1,0 . 2,4449
= 2,4449 m
2. ¼ L = √

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
110
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
= √

= 3,4576 m
L = 3,4576 . 4
= 13,8304 m
3. h
galian
= h +

= 2,4449 + 0,9
= 3,3449 m
4. Volume galian = 0,5 . (L + b) . h
galian

= 0,5 . (13,8304+ 5,9322) . 3,3449
= 33,0520 m
3
 Saluran sekunder 2
Diketahui : h
2
’ = 0,2
m = 1,0
W = 0,60
h = 1,6950 + W
= 1,6950 + 0,60
= 2,2950 m
b = 4,5765 m

Ditanya : 1. h
basah
?
2. ¼ L ?

3. h
galian
?
4. Volume galian ?

Jawab : 1. h
basah
= m . h
= 1,0 . 2,2950
= 2,2950 m
2. ¼ L = √

= √

= 3,2456 m
L = 3,2456 . 4
= 12,9825 m


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
111
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
3. h
galian
= h +

= 2,2950 + 0,2
= 2,4950 m
4. Volume galian = 0,5 . (L + b) . h
galian

= 0,5 . (12,9825 + 4,5765) . 2,4950
= 21,9094 m
3
 Saluran sekunder 3
Diketahui : h
2
’ = 0,5
m = 1,0
W = 0,60
h = 1,4095+ W
= 1,4095+ 0,60
= 2,0095 m
b = 3,8057 m

Ditanya : 1. h
basah
?
2. ¼ L ?

3. h
galian
?
4. Volume galian ?


Jawab : 1. h
basah
= m . h
= 1,0 . 2,0095
= 2,0095 m
2. ¼ L = √

= √

= 2,8419 m
L = 2,8419 . 4
= 11,3674 m
3. h
galian
= h +

= 2,0095 + 0,5
= 2,5095 m


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
112
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
4. Volume galian = 0,5 . (L + b) . h
galian

= 0,5 . (11,3674 +3,8057) . 2,5095
= 19,0384 m
3
 Saluran sekunder 4
Diketahui : h
2
’ = 1,2
m = 1,0
W = 0,60
h = 1,1613 + W
= 1,1613 + 0,60
= 1,7613 m
b = 3,1355m

Ditanya : 1. h
basah
?
2. ¼ L ?

3. h
galian
?
4. Volume galian ?

Jawab : 1. h
basah
= m . h
= 1,0 . 1,7613
= 1,7613 m

2. ¼ L = √

= √

= 2,4909 m
L = 2,4909 . 4
= 9,9634 m
3. h
galian
= h +

= 1,7613+ 1,2
= 2,9613 m
4. Volume galian = 0,5 . (L + b) . h
galian

= 0,5 . (9,9634 + 2,9613) . 2,9613
= 12,1370 m
3


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
113
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL






c. Saluran Tersier



 Saluran Tersier 1, 2, 3, & 4
Diketahui : h
2
’ = 0,72
m = 1,0
W = 0,50
h = 0,9402 + W
= 0,9402 + 0,50
= 1,4402 m
b = 1,6924 m

TABEL GALIAN SALURAN
Nama h galian L (m) 1/4L (m) h basah Volume
Saluran (m) (m) galian (m3)
Sekunder 1 3,3449 13,8304 3,4576 2,4449 33,0520
Sekunder 2 2,6595 12,9825 3,2456 2,2950 21,9094
Sekunder 3 2,5095 11,3674 2,8419 2,0095 19,0384
Sekunder 4 2,9613 9,9634 2,4909 1,7613 12,1370


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
114
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
Ditanya : 1. h
basah
?
2. ¼ L ?

3. h
galian
?
4. Volume galian ?

Jawab : 1. h
basah
= m . h
= 1,0 . 1,4402
= 1,4402 m
2. ¼ L = √

= √

= 2,0368 m
L = 2,0368 . 4
= 8,1472 m
3. h
galian
= h +

= 1,4402 + 1,2
= 2,6402 m
4. Volume galian = 0,5 . (L + b) . h
galian

= 0,5 . (8,1472 + 1,6924) . 2,6402
= 12,9893 m
3
 Saluran Tersier 5
Diketahui : h
2
’ = 0,72
m = 1,0
W = 0,50
h = 0,9444 + W
= 0,9444 + 0,50
= 1,4444 m
b = 1,4166 m

Ditanya : 1. h
basah
?
2. ¼ L ?

3. h
galian
?
4. Volume galian ?


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
115
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

Jawab : 1. h
basah
= m . h
= 1,0 . 1,4444
= 1,4444 m
2. ¼ L = √

= √

= 2,0427 m
L = 2,0427 . 4
= 8,1708 m
3. h
galian
= h +

= 1,4444 + 0,72
= 2,1644 m
4. Volume galian = 0,5 . (L + b) . h
galian

= 0,5 . (8,1708 + 1,4166) . 2,1644
= 10,3755 m
3

 Saluran Tersier 6
Diketahui : h
2
’ = 0,08
m = 1,0
W = 0,50
h = 1,2604 + W
= 1,2604 + 0,50
= 1,7604 m
b = 1,8906 m

Ditanya : 1. h
basah
?
2. ¼ L ?

3. h
galian
?
4. Volume galian ?

Jawab : 1. h
basah
= m . h
= 1,0 . 1,7604


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
116
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
= 1,7604 m
2. ¼ L = √

= √

= 2,4896 m
L = 2,4896 . 4
= 9,9584 m
3. h
galian
= h +

= 1,7604 + 0,08
= 1,8404 m
4. Volume galian = 0,5 . (L + b) . h
galian

= 0,5 . (9,9584 + 1,8906) . 1,8404
= 10,9034 m
3

 Saluran Primer 7
Diketahui : h
2
’ = 0,08
m = 1,0
W = 0,50
h = 0,9825+ W
= 0,9825 + 0,50
= 1,4825 m
b = 1,4738 m

Ditanya : 1. h
basah
?
2. ¼ L ?

3. h
galian
?
4. Volume galian ?

Jawab : 1. h
basah
= m . h
= 1,0 . 1,4825
= 1,4825 m
2. ¼ L = √

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
117
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
= √

= 2,0966 m
L = 2,0966 . 4
= 8,3864 m
3. h
galian
= h +

= 1,4825 + 0,08
= 1,5625 m
4. Volume galian = 0,5 . (L + b) . h
galian

= 0,5 . (8,3864 + 1,4738) . 1,5625
= 7,7033 m
3

 Saluran Primer 8
Diketahui : h
2
’ = 0,08
m = 1,0
W = 0,50
h = 1,1510+ W
= 1,1510 + 0,50
= 1,651 m
b = 1,7265 m

Ditanya : 1. h
basah
?
2. ¼ L ?

3. h
galian
?
4. Volume galian ?

Jawab : 1. h
basah
= m . h
= 1,0 . 1,651
= 1,651 m
2. ¼ L = √

= √

= 2,3349 m


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
118
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
L = 2,3349 . 4
= 9,3396 m
3. h
galian
= h +

= 1,651 + 0,08
= 1,731 m
4. Volume galian = 0,5 . (L + b) . h
galian

= 0,5 . (9,3396 + 1,7265) . 1,731
= 9,5777 m
3

 Saluran Primer 9
Diketahui : h
2
’ = 0,08
m = 1,0
W = 0,50
h = 1,1204+ W
= 1,1204 + 0,50
= 1,6204 m
b = 1,3445 m

Ditanya : 1. h
basah
?
2. ¼ L ?

3. h
galian
?
4. Volume galian ?

Jawab : 1. h
basah
= m . h
= 1,0 . 1,6204
= 1,6204 m
2. ¼ L = √

= √

= 2,2916 m
L = 2,2916 . 4
= 9,1664 m


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
119
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
3. h
galian
= h +

= 1,6204 + 0,08
= 1,7004 m
4. Volume galian = 0,5 . (L + b) . h
galian

= 0,5 . (9,1664 + 1,3445) . 1,7004
= 8,9364 m
3

 Saluran Primer 10
Diketahui : h
2
’ = 0,08
m = 1,0
W = 0,50
h = 1,0912+ W
= 1,0912 + 0,50
= 1,5912 m
b = 1,3094 m

Ditanya : 1. h
basah
?
2. ¼ L ?

3. h
galian
?
4. Volume galian ?

Jawab : 1. h
basah
= m . h
= 1,0 . 1,5912
= 1,5912 m
2. ¼ L = √

= √

= 2,2503 m
L = 2,2503 . 4
= 9,0012 m
3. h
galian
= h +

= 1,5912 + 0,08


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
120
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
= 1,6712 m
4. Volume galian = 0,5 . (L + b) . h
galian

= 0,5 . (9,0012+ 1,3094) . 1,6712
= 8,6832 m
3

 Saluran Primer 11
Diketahui : h
2
’ = 0,08
m = 1,0
W = 0,50
h = 0,7586 + W
= 0,7586 + 0,50
= 1,2586 m
b = 0,9130 m

Ditanya : 1. h
basah
?
2. ¼ L ?

3. h
galian
?
4. Volume galian ?

Jawab : 1. h
basah
= m . h
= 1,0 . 1,2586
= 1,2586 m
2. ¼ L = √

= √

= 1,7799 m
L = 1,7799 . 4
= 7,1196 m
3. h
galian
= h +

= 1,2586 + 0,08
= 1,3386 m
4. Volume galian = 0,5 . (L + b) . h
galian



UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
121
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
= 0,5 . (7,1196 + 0,9130) . 1,3386
= 5,3762 m
3

 Saluran Primer 12, & 14
Diketahui : h
2
’ = 0,08
m = 1,0
W = 0,50
h = 0,6818 + W
= 0,6818 + 0,50
= 1,1818 m
b = 0,8863 m

Ditanya : 1. h
basah
?
2. ¼ L ?

3. h
galian
?
4. Volume galian ?

Jawab : 1. h
basah
= m . h
= 1,0 . 1,1818
= 1,1818 m
2. ¼ L = √

= √

= 1,6713 m
L = 1,6713 . 4
= 6,6852 m
3. h
galian
= h +

= 1,1818 + 0,08
= 1,2618 m
4. Volume galian = 0,5 . (L + b) . h
galian

= 0,5 . (6,6852 + 0,8863) . 1,2618
= 4,7769 m
3


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
122
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

 Saluran Primer 13
Diketahui : h
2
’ = 0,08
m = 1,0
W = 0,50
h = 0,9253 + W
= 0,9253 + 0,50
= 1,4253 m
b = 1,2378 m

Ditanya : 1. h
basah
?
2. ¼ L ?

3. h
galian
?
4. Volume galian ?

Jawab : 1. h
basah
= m . h
= 1,0 . 1,4253
= 1,4253 m
2. ¼ L = √

= √

= 2,0157 m
L = 2,0157 . 4
= 8,0628 m
3. h
galian
= h +

= 1,4253 + 0,08
= 0,5053 m
4. Volume galian = 0,5 . (L + b) . h
galian

= 0,5 . (8,0628 + 1,2378) . 0,5053
= 2,3498 m
3

\


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
123
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
 Saluran Primer 15
Diketahui : h
2
’ = 0,08
m = 1,0
W = 0,4
h = 0,5584 + W
= 0,5584 + 0,40
= 0,9584 m
b = 0,9584 m

Ditanya : 1. h
basah
?
2. ¼ L ?

3. h
galian
?
4. Volume galian ?

Jawab : 1. h
basah
= m . h
= 1,0 . 0,9584
= 0,9584 m
2. ¼ L = √

= √

= 1,3554 m
L = 1,3554 . 4
= 5,4216 m
3. h
galian
= h +

= 0,9584 + 0,08
= 1,0384 m
4. Volume galian = 0,5 . (L + b) . h
galian

= 0,5 . (5,4216 + 0,9584) . 1,0384
= 3,3125 m
3





UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
124
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
TABEL GALIAN SALURAN
Nama h galian L (m) 1/4L (m) h basah Volume
Saluran (m) (m) galian (m3)
Tersier 1 2,6402 8,1472 2,0368 1,4402 12,9893
Tersier 2 2,6402 8,1472 2,0368 1,4402 12,9893
Tersier 3 2,6402 8,1472 2,0368 1,4402 12,9893
Tersier 4 2,6402 8,1472 2,0368 1,4402 12,9893
Tersier 5 2,1644 8,1708 2,0427 1,4444 10,3755
Tersier 6 1,8404 9,9584 2,4896 1,7604 10,9034
Tersier 7 1,5625 8,3864 2,0966 1,4825 7,7033
Tersier 8 1,731 9,3396 2,3349 1,651 9,5777
Tersier 9 1,7004 9,1664 2,2916 1,6204 8,9364
Tersier 10 1,6712 9,0012 2,2503 1,5912 8,6832
Tersier 11 1,3386 7,1196 1,7799 1,2586 5,3762
Tersier 12 1,2618 6,6852 1,6713 1,1818 4,7769
Tersier 13 0,5053 8,0628 2,0157 1,4253 2,3498
Tersier 14 1,2618 6,6852 1,6713 1,1818 4,7769
Tersier 15 1,0384 5,4216 1,3554 0,9584 3,3125













UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
125
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
BAB IV
PENUTUP
Irigasi merupakan usaha manusia di dalam menyelidiki dan pengaturan air
untuk menunjang pertanian dan irigasi sangat memperhatikan dalam hal pemanfaatan
atau pemakaian air yang pada umumnya, memperhatikan tingkat efektifitas dalam
pemakaian jumlah air. Dalam hal ini irigasi menggambarkan hubungan pemberian air
dengan hasil panen terutama tanaman pokok seperti padi.
Lebih lanjut di katakan bahwa namanya masyarakat antara lain disebabkan
oleh adanya pertanian yang beririgasi, Sehingga dengan demikian pertanian akan
memberikan keuntungan secara tetap. Oleh karenanya pemberian dan pengembangan
bangunan irigasi terus di kembangkan oleh masyarakat.
Dari perbandingan jumlah persediaan air dengan kebutuhan air tersebut dapat
dipilih waktu yang baik untuk awal tanam awal bulan januari dengan rotasi teknis tiga
golongan karena sebagian besar kebutuhan air dapat terpenuhi oleh jumlah ketersediaan
air.
1. Irigasi merupakan cara pemanfaatan air yang ada untuk keperluan merupakan
pertumbuhan tanaman terutama bagi tanaman pokok.
2. Kebutuhqan air bagi tanaman adalah jumlah air yang dibutuhkan tanaman untuk
kebutuhannya.
3. Luas lahan yang di aliri adalah
4. Pemberian air dilakukan dengan cara rotasi teknis tiga golongan dengan awal masa
tanam 1 januari.
5. Debit maksimum untuk mengaliri lahan seluas


UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
126
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL







LAMPIRAN







UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
127
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL
 foto / dokumentasi irigasi di indonesia



















UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
128
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL



















UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
129
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL




















UNIVERSITAS ANTAKUSUMA | Tugas Besar Irigasi
dan Bangunan Air I
130
Deri Ardiansyah_09222010077_TEKNIK SIPIL

















You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->