Anda di halaman 1dari 9

1

Analisis Komposisi Asam Amino Gelatin Sapi dan Gelatin babi Pada Produk Kapsul Lunak Simulasi Menggunakan Teknik Kombinasi High Performance Liquid Chromatography (HPLC) dan Principal Component Analysis (PCA)

Zilhadia, Ofa Suzanti Betha, Bayyinah

Program Studi Farmasi, FKIK, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Abstrak

Gelatin digunakan dalam industri farmasi pada pembuatan kapsul lunak. Gelatin dapat bersumber dari sapi, babi, unggas dan ikan. Penggunaan gelatin pada kapsul lunak menimbulkan kontroversi karena adanya kekhawatiran konsumen mengenai kehalalan sumber gelatin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan komposisi asam amino gelatin sapi dan babi yang digunakan pada kapsul lunak simulasi dengan HPLC yang dikombinasi dengan PCA (Principal Component Analysis). Komposisi asam amino pada gelatin ditentukan dengan analisis pada HPLC menggunakan metode AccQTag menggunakan reagen AccQTag fluor (6-amino-quinolil-N-hidroksisuccinimidil karbamate atau AQC) dengan kondisi HPLC : Waters AccQ•Tag kolom Nova-Pak C18, 4 μ m (3.9 x 150 mm), temperatur kolom 37°C, laju alir fase gerak 1,0 ml/menit, kromatografi menggunakan sistem gradien dengan fase gerak AccTag Eluent A (buffer asetat-fosfat) dan Acetonitril 60% grade HPLC; detektor fluoresen tipe 2475 pada panjang gelombang eksitasi 250 nm dan emisi 395 nm. Analisis data selanjutnya menggunakan Principal Component Analysis (PCA) untuk mendeteksi klasifikasi antara gelatin sapi dan babi pada kapsul lunak. Analisis data komponen utama menggunakan software Minitab 15. PCA digunakan untuk mengurangi dimensi dari satu set data, tetapi bisa memberikan informasi terhadap seluruh variabel asli. Berdasarkan kurva score plot pada PCA standar gelatin babi berada pada kuadran kanan bawah yaitu memiliki nilai PC1 positif dan PC2 negatif sedangkan standar gelatin sapi berada pada kuadran kanan atas yaitu memiliki nilai PC1 dan PC2 positif. Pada lembaran kapsul lunak gelatin babi berada pada kuadran kiri atas yaitu memiliki nilai PC1 negatif dan PC2 positif sedangkan lembaran kapsul lunak gelatin sapi berada pada kuadran kiri bawah yaitu memiliki nilai PC1 dan PC2 negatif. Dapat disimpulkan bahwa standar gelatin babi dan sapi serta lembaran kapsul lunak yang terbuat dari gelatin babi dan sapi memiliki perbedaan profil asam amino. Sedangkan pada sampel tidak memiliki kemiripan profil asam amino dengan lembaran kapsul lunak gelatin sapi dan babi sehingga kemungkinan sampel tersebut tidak dapat dibedakan terbuat dari gelatin sapi ataupun babi.

Kata kunci: gelatin, kapsul lunak, HPLC, PCA

Abstract

Gelatin is used in the pharmaceutical industry in the manufacture of soft capsules. Gelatin resources are cow, pig poultry and fish. The use of gelatin in the capsule caused controversy due to consumer concerns about halal gelatin source. This study aimed to determine differences in the amino acid composition of gelatin bovine and porcine used in the soft capsules simulation by HPLC combined with PCA (Principal Component Analysis). The amino acid composition of gelatin was determined by HPLC analysis using reagents AccQTag using fluor AccQTag (6-amino- N-quinolil-hidroxysisuccinimidil carbamate or AQC) with condition of HPLC:AccQ•Tag amino acid column Nova- Pak C18, 4 μ m (150 × 3.9 mm) from Waters, column temperature 37 0 C, flow rate 1,0 ml/min, using a chromatography with gradient system with eluent AccTag A (acetate-phosphate buffer) and acetonitril 60% HPLC grade as mobile phase; 2475 fluorescence detector at an excitation wavelength of 250 nm and emission of 395 nm. Subsequent data analysis using Principal Component Analysis (PCA) for classification detection between bovine and porcine gelatin in soft capsules. Data analysis of main component using the software Minitab 15. PCA is used to reduce the dimensionality of a data set, but it can provide information on all the original variables. Based on the score plot curve of PCA standard gelatin of porcine are at the right lower quadrant have values positive PC1 and negative PC2 while standard gelatin of bovine is on the right upper quadrant which has a positive value of PC1 and PC2. In sheets of soft capsule of porcine are in the upper left quadrant which has a value of negative PC1 and positive PC2 while sheets soft capsule of bovine are in the lower left quadrant which has a negative value of PC1 and PC2. It can be concluded that the standard gelatin of porcine and bovine, as well as sheets of soft capsule made from gelatin porcine and bovine have different amino acid profiles. While the sample did not have a similar amino acid profile with a sheets of soft capsule of porcine and bovine so it is likely the sample is can not distinguishable gelatin porcine or bovine.

Keywords: gelatine, soft capsule, HPLC, PCA

2

PENDAHULUAN

Menurut Gui-Feng et al. (2008), “Gelatin merupakan campuran heterogen dari polipeptida yang diperoleh melalui hidrolisis kolagen dari jaringan ikat hewan” (1). Produsen Gelatin Eropa tahun 2011, menyatakan bahwa sumber utama gelatin diekstrak dari kulit babi 80%, kulit sapi 15%, dan 5% sisanya berasal dari tulang babi dan sapi, unggas dan ikan (2). Menurut Schrieber dan Gareis (2007) berdasarkan cara pembuatannya, gelatin dibedakan atas dua jenis, yaitu gelatin tipe A dan tipe B (3). Gelatin yang berasal dari kulit babi diperlakukan dengan metode asam (tipe A) untuk menghindari saponifikasi karena kandungan lemak yang tinggi di kulit. Umumnya, perlakuan asam terbatas pada jaringan hewan muda yang memiliki ikatan kovalen dalam kolagen yang lebih rendah yang menjamin kualitas gelatin yang baik. Perlakuan alkali (tipe B) digunakan untuk gelatin yang bersumber dari tulang (4). Gelatin merupakan salah satu bahan baku yang banyak digunakan dalam industri pangan seperti permen, es krim, produk susu, roti, kue, keju, yogurt, dan marshmallow. Gelatin digunakan sebagai stabilizer atau emulsifier, memperbaiki dan mempertahankan sistem emulsi produk pangan. Disamping itu, gelatin juga dimanfaatkan dalam industri kosmetik, farmasi, fotografi, kertas, dan lain-lain (5).

Salah satu penggunaan gelatin pada industri farmasi adalah pada proses pembuatan kapsul. Kapsul dibuat untuk menutupi rasa dan bau tidak enak dari obat. Kapsul gelatin lunak semakin sering dipilih karena berbagai alasan, seperti keseragaman yang tinggi pada obat dengan kadar dosis rendah, melindungi zat aktif di dalam cangkang dari oksigen sehingga zat aktif lebih stabil, adanya gelatin pada komponen kapsul lunak menyebabkan obat lebih mudah larut dalam sistem pencernaan, dan lebih banyak disukai oleh konsumen karena bentuknya yang lunak sehingga mudah ditelan.

Penggunaan gelatin sebagai salah satu bahan baku kapsul lunak menimbulkan kontroversi karena

adanya kekhawatiran konsumen mengenai kehalalan sumber gelatin (2). Hal ini semakin penting karena banyak produk kapsul gelatin lunak yang tidak mencantumkan label halal karena banyak yang diimpor dari negara lain yang tidak mengikuti kehalalan dalam membuat produknya. Dalam jurnal halal LPPOM MUI No.94 edisi Maret-April 2012 baru tiga produk cangkang kapsul gelatin yang terdaftar dalam produk halal LPPOM MUI (6).

Berbagai studi telah dilakukan dengan bermacam-macam metode analisis untuk membedakan gelatin terutama yang melibatkan gelatin sapi dan babi (4). Che Man dan Mirghani (2001) telah mengembangkan metode spektroskopi FTIR untuk mendeteksi lemak babi dalam campuran lemak hewan lainnya, seperti ayam, domba dan sapi (7). Sahilah et al. (2012) mengembangkan analisa PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk mengidentifikasi DNA babi dari produk kapsul keras dan lunak (8). Nemati et al. (2004) membedakan gelatin sapi dan babi menggunakan PCA berdasarkan asam amino (9). Qi-Shi Du et al. (2006) melakukan analisis komponen utama asam amino dan aplikasinya dalam memprediksi klasifikasi struktur protein (10). Nur Azira, T et al. (2012) membedakan gelatin sapi dan babi dengan SDS-PAGE dan PCA (11). Widyaninggar et al. (2012) melakukan penelitian untuk membedakan antara gelatin babi dan sapi dalam cangkang kapsul komersial berdasarkan profil asam amino dan analisis komponen utama (12).

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis asam amino dari produk kapsul lunak dengan menggunakan HPLC yang telah dimodifikasi untuk analisis asam amino yang dikombinasi dengan analisis komponen utama atau principal component analysis (PCA).

3

METODE

Bahan dan Peralatan

AccQ•Tag Reagen Kit dari Waters (Milford, Massachusetts, USA). Reagen kit terdiri dari Waters AccQTag.Fluor Borate Buffer, Waters AccQ•Tag Fluor Reagen serbuk (6-aminoquinolil-N-hidroksi- succinimidil karbamat – AQC), Waters AccQ•Tag Fluor Reagen Diluent, dan Hidrolisat Asam Amino Standar dari Waters (tiap ampul mengandung 2.5mM campuran hidrolisat asam amino yaitu asam aspartat (Asp), serin (Ser), asam glutamat (Glu), glisin (Gly), histidin (His), arginin (Arg), treonin (Thr), alanin (Ala), prolin (Pro), tirosin (Tyr), valin (Val), metionin (Met), lisin (Lys), isoleusin (Ile), leusin (Leu), fenilalanin (Phe), triptofan, kecuali sistein (Cys) 1.25mM; Standar gelatin komersial sapi dan babi dari Sigma; Lembaran kapsul gelatin lunak yang dibuat dari standar gelatin babi dan sapi (kapsul lunak simulasi); 2 merk produk kapsul gelatin lunak yang diperoleh dari pasar Senen dan Mayestik, aquabidest, asetonitril grade HPLC, HCl 6 N, AABA (α -aminobutyric acid). Peralatan yang digunakan adalah Waters 2695 HPLC, oven, syringe filter 0,45 µm, dan penangas (hot plate).

Larutan standar asam amino

  • 40 µl standar campuran asam amino, ditambahkan 40

µl larutan standar internal (6,45 mg α -aminobutyric acid dalam 25 ml HCl 0.1M) dan 920 µl aquabides, homogenkan. Diambil 10 µl campuran standar, ditambahkan 70 µl AccQTag fluor borate, divortex ; kemudian ditambahkan 20 µl reagen fluor A,

divortex, didiamkan selama 1 menit. Inkubasi selama

  • 10 menit pada suhu 55 0 C lalu suntikkan sebanyak 5 µl

standar pada HPLC (13).

Pembuatan Lembaran Kapsul Gelatin Lunak (Kapsul Lunak Simulasi)

Sebanyak 3 gram gelatin dimasukkan ke dalam cawan porselen ditambahkan 5 ml air panas diaduk sampai larut, kemudian ditambahkan 1,5 gram gliserin + 1,5

gram sorbitol + 0,02 gram metil paraben + 0,5 gram sukrosa, diaduk sampai larut diatas penangas. Setelah campuran larut, tuangkan kedalam cetakan lalu dimasukkan kedalam lemari pendingin selama 24 jam. Lembaran kapsul gelatin lunak yang dihasilkan berupa lembaran tipis, lunak dan dapat digulung, berwarna kuning untuk kapsul gelatin lunak yang menggunakan standar gelatin sapi sedangkan yang menggunakan standar gelatin babi kapsul gelatin lunak berwarna putih.

Ekstraksi asam amino dari standar gelatin sapi dan babi, produk kapsul lunak dan lembaran kapsul gelatin lunak yang dibuat sendiri dari standar gelatin sapi dan babi

Ditimbang sebanyak 0,1 gram masing-masing sampel standar gelatin sapi dan babi, lembaran kapsul gelatin lunak yang dibuat sendiri dari standar gelatin sapi dan babi, dan produk kapsul lunak yang telah dikeluarkan isinya, dilarutkan dalam 5 mL HCl 6 N. Setelah itu, gas oksigen dihilangkan dengan penambahan gas nitrogen untuk mencegah oksidasi. Tabung reaksi ditutup, kemudian divortex. Hidrolisis pada suhu 110 0 C selama 22 jam di dalam oven (14, 15). Setelah dihidrolisis, campuran didinginkan pada suhu ruang. Pindahkan isi tabung reaksi ke dalam labu ukur 50

mL, tambahkan aquabides sampai tanda batas. Saring dengan filter 0,45µm. Pipet 500 µL filtrat lalu tambahkan 40 µL larutan standar internal (6,45 mg α - aminobutyric acid dalam 25 mL HCl 0.1M) dan 460 µL aquabides. Proses derivatisasi sampel: Dipipet 10 µL larutan, tambahkan 70 µL AccQ.Tag Fluor borate, vortex. Ditambahkan 20 µL reagen fluor A, vortex,

diamkan selama 1 menit. Inkubasi selama 10 menit pada suhu 55 0 C, lalu suntikkan 5 µL filtrat pada HPLC

(13).

HPLC

Waters AccQ•Tag kolom Nova-Pak C18, 4 μ m (3.9 x 150 mm), temperatur kolom 37°C, laju alir fase gerak 1,0 mL/menit, kromatografi menggunakan sistem

4

gradien dengan fase gerak AccQTag Eluent A (buffer asetat-fosfat) dan Acetonitril 60% grade HPLC (campuran 60% asetonitril dan 40% aquabidest); detektor fluoresen tipe 2475 (Waters, Milford, Massachusetts, USA) pada panjang gelombang eksitasi

250 nm dan emisi 395 nm (13). Konsentrasi asam amino dalam sampel dihitung sebagai berikut:

4 gradien dengan fase gerak AccQTag Eluent A (buffer asetat-fosfat) dan Acetonitril 60% grade HPLC (campuran

Tabel 1. Komposisi Asam Amino pada Standar Gelatin dan Lembaran Kapsul Lunak dalam % b/b (1 gram/100 gram)

Asam Amino

Standar

Standar

Lembaran

Lembaran

Sampel 1

Sampel 2

gelatin babi

gelatin sapi

Kapsul lunak

Kapsul lunak

dari standar

dari standar

gelatin babi

gelatin sapi

L-Aspartic acid

5,258

4,471

1,293

1,331

1,193

1,183

L-Serine

3,213

3,017

1,128

1,181

0,956

0,894

L-Glutamic acid

8,219

7,344

2,531

2,490

2,209

2,241

Glycine

21,944

20,493

7,442

7,936

6,185

5,686

L-Histidine

1,642

1,552

0,409

0,481

0,397

0,318

L-Arginine

11,448

9,319

2,940

3,109

2,723

2,206

L-Threonine

2,360

1,934

0,635

0,737

0,676

0,514

L-Alanine

6,659

6,187

2,980

2,491

2,408

2,326

L-Proline

10,274

9,542

1,008

1,563

0,567

0,574

L-Cystine

0,461

0,201

0,000

0,000

0,000

0,000

L-Tyrosine

0,925

0,474

0,398

0,546

0,209

1,755

L-Valine

2,635

2,361

0,722

0,715

0,582

0,534

L-Metheonine

0,648

0,856

0,461

0,622

0,365

0,188

L-Lysin HCl

2,771

2,647

0,892

0,829

0,745

0,822

L-Isoleucine

1,347

1,616

0,362

0,454

0,387

0,382

L-Leucine

2,900

2,879

0,904

0,872

0,828

0,756

L-Phenylalanine

3,229

2,276

0,729

0,831

0,840

0,542

Triptophan

0,000

0,000

0,000

0,000

0,000

0,000

HASIL DAN PEMBAHASAN

Ekstraksi Asam Amino

Ekstraksi asam amino dari kapsul gelatin lunak dilakukan dengan penambahan HCl. HCl bersifat oksidator kuat yang akan mendestruksi sampel menjadi unsur-unsurnya (16). Setelah hidrolisis asam rantai samping dari residu alifatik menyebabkan struktur tersier dari protein akan dirusak dengan membuka sedikit demi sedikit. Pada hidrolisis asam, asparagin dan glutamin dihidrolisis menjadi asam aspartat dan asam glutamat, triptofan secara lengkap dirusak, sistein tidak dapat ditentukan, tirosin sebagian dirusak, serin dan treonin dapat dihidrolisis tetapi

masih rusak sekitar 10% dan 5% berturut-turut (17). Penambahan HCl dilakukan di dalam ruang asam untuk menghindari sulfur yang berada di dalam protein yang akan terurai menjadi SO 2 yang berbahaya. Proses hidrolisis dipercepat dengan pemanasan di dalam oven selama 22 jam suhu 110 0 C. Setelah dihidrolisis, tabung reaksi yang berisi sampel didinginkan pada suhu ruang dengan tujuan agar suhu sampel sama dengan suhu luar sehingga perlakuan lain akan memberikan hasil yang diinginkan. Isi tabung dipindahkan ke dalam labu ukur 50 mL, kemudian ditambahkan aquabidest sampai tanda batas dengan tujuan untuk membilas hidrolisat. Hidrolisat disaring

5

dengan filter 0,45 µm. Filtrat dipipet sebanyak 500µL

+ 40µL larutan standar

internal (6,45mg α -

aminobutyric acid dalam 25 mL HCl 0.1M) + 460 µL

aquabides. Penambahan larutan standar internal digunakan sebagai faktor koreksi kesalahan volumetrik selama persiapan sampel dan mengkoreksi hilangnya residu asam amino selama proses hidrolisis yang akan dideteksi dengan berkurangnya standar internal, sehingga penggunaan larutan standar internal dapat meningkatkan presisi.

Proses derivatisasi sampel

Asam amino dideteksi menggunakan detektor fluoresen. Asam amino harus diderivatisasi terlebih dahulu supaya membentuk derivat yang dapat berfluoresensi (18). Tujuan dari derivatisasi pada HPLC untuk meningkatkan deteksi, mengubah struktur molekul atau polaritas analit sehingga akan menghasilkan puncak kromatogram yang lebih baik, mengubah matriks sehingga diperoleh pemisahan yang lebih baik, dan menstabilkan analit yang sensitif.

Metode derivatisasi yang digunakan yaitu metode AccQTag menggunakan reagen pra-kolom derivatisasi untuk memproduksi asam amino berfluoresen. Metode accQTag merupakan metode pemisahan HPLC fase terbalik. Kelebihan metode ini yaitu akurasi, sensitifitas pada picomol, dan mudah digunakan. Pada derivatisasi pra kolom asam amino akan diderivatisasi terlebih dahulu di dalam hidrolisat, kemudian derivat dipisahkan pada HPLC fase terbalik. Kelebihan dari derivatisasi pra kolom yaitu waktu analisa cepat, dan cocok untuk analisa dengan jumlah

residu yang lebih sedikit atau sekitar 20 residu (17). Teknik derivatisasi pra kolom berpengaruh pada larutan garam buffer di dalam sampel yang mungkin akan menghasilkan banyak derivat asam amino (19).

Metode AccQTag menggunakan reagen AccQTag fluor (6-amino-quinolil-N-hidroksisuccinimidil karbamate atau AQC) yaitu sebuah kelas baru dari komponen derivatisasi amin (20). AQC menghasilkan reaksi yang sederhana, tunggal, dan menghasilkan derivat yang sangat stabil dan berfluoresen (21). Reagen AQC bereaksi dengan amina primer dan sekunder. Kelebihan reagen AQC akan bereaksi secara cepat di dalam air membentuk 6-aminoquinoline (AMQ), N-hidroksisuccimid (NHS) dan CO 2 (t ½ = 15 detik) (22). AMQ bereaksi lambat dengan reagen AQC berlebih untuk membentuk bis aminoquinolin urea. Produk-produk samping tidak mengganggu identifikasi dan kuantisasi dari salah satu asam amino (21). Proses derivatisasi dilakukan dengan menambahkan 70µL AccQTag Fluor borate + 20µL reagen fluor A kedalam 10µL filtrat diamkan selama 1 menit. Inkubasi selama 10 menit pada suhu 55 0 C. Inkubasi bertujuan untuk mengkondisikan reaksi derivatisasi.

Detektor fluoresen yang digunakan adalah detektor fluoresen 2475 dengan panjang gelombang emisi 395 nm dan panjang gelombang eksitasi 250 nm. Hal ini dapat diartikan bahwa detektor memancarkan gelombang pada panjang gelombang 250 nm dan menangkap emisi fluoresensi yang dipancarkan oleh sampel pada panjang gelombang 395 nm.

5 dengan filter 0,45 µm. Filtrat dipipet sebanyak 500µL + 40µL larutan standar internal (6,45mg α(21) . Reagen AQC bereaksi dengan amina primer dan sekunder. Kelebihan reagen AQC akan bereaksi secara cepat di dalam air membentuk 6-aminoquinoline (AMQ), N-hidroksisuccimid (NHS) dan CO (t = 15 detik) (22). AMQ bereaksi lambat dengan reagen AQC berlebih untuk membentuk bis aminoquinolin urea. Produk-produk samping tidak mengganggu identifikasi dan kuantisasi dari salah satu asam amino (21) . Proses derivatisasi dilakukan dengan menambahkan 70µL AccQTag Fluor borate + 20µL reagen fluor A kedalam 10µL filtrat diamkan selama 1 menit. Inkubasi selama 10 menit pada suhu 55 C. Inkubasi bertujuan untuk mengkondisikan reaksi derivatisasi. Detektor fluoresen yang digunakan adalah detektor fluoresen 2475 dengan panjang gelombang emisi 395 nm dan panjang gelombang eksitasi 250 nm. Hal ini dapat diartikan bahwa detektor memancarkan gelombang pada panjang gelombang 250 nm dan menangkap emisi fluoresensi yang dipancarkan oleh sampel pada panjang gelombang 395 nm. Gambar 1. Profil Asam Amino pada standar asam amino 100 pmol " id="pdf-obj-4-40" src="pdf-obj-4-40.jpg">

Gambar 1. Profil Asam Amino pada standar asam amino 100 pmol

6

6 Gambar 2. Profil Asam Amino Standar Gelatin Babi (210.2200s) Gambar 3. Profil Asam Amino Standar

Gambar 2. Profil Asam Amino Standar Gelatin Babi (210.2200s)

6 Gambar 2. Profil Asam Amino Standar Gelatin Babi (210.2200s) Gambar 3. Profil Asam Amino Standar

Gambar 3. Profil Asam Amino Standar Gelatin Sapi (210.2199s)

6 Gambar 2. Profil Asam Amino Standar Gelatin Babi (210.2200s) Gambar 3. Profil Asam Amino Standar

Gambar 4. Profil Asam Amino Lembaran kapsul gelatin lunak yang dibuat dari standar gelatin babi

6 Gambar 2. Profil Asam Amino Standar Gelatin Babi (210.2200s) Gambar 3. Profil Asam Amino Standar

Gambar 5. Profil Asam Amino Lembaran kapsul lunak yang dibuat dari standar gelatin sapi

7

Principal Components Analysis pada standar gelatin, lembaran kapsul lunak, dan sampel

Pengelompokkan asam amino kemudian dilakukan dengan metode Principal Components Analysis (PCA). PCA adalah teknik untuk menentukan komponen utama yang merupakan kombinasi linier dari variabel asli (23). Analisis data komponen utama menggunakan software Minitab 15. Analisis komponen utama dilakukan dengan cara menghilangkan korelasi diantara variabel bebas melalui transformasi variabel bebas asal ke variabel baru yang tidak berkorelasi sama sekali atau multikolinearitas. PCA juga digunakan untuk mengurangi dimensi dari satu set data, tetapi bisa memberikan informasi terhadap seluruh variabel asli. Berdasarkan Kaiser criterion, komponen utama atau Principal Component (PC) yang digunakan adalah PC dengan eigen value (nilai ciri atau varians setiap komponen utama) lebih dari 1 sedangkan proporsi keragaman yang dianggap cukup mewakili data jika keragaman kumulatif mencapai 70-80%.

Komponen utama dibentuk berdasarkan urutan varians yang terbesar hingga terkecil. Komponen utama pertama (PC1) merupakan kombinasi linier dari seluruh variabel yang diamati dan memiliki varians terbesar. Komponen utama kedua (PC2) merupakan kombinasi linier dari seluruh variabel yang diamati

yang bersifat ortogonal terhadap PC1 dan memiliki varians kedua terbesar. Komponen utama ke-n (PCn) merupakan kombinasi linier dari seluruh variabel yang diamati yang bersifat ortogonal terhadap PC1,

PC2

..........

,

PC (n-1) dan memiliki varians terkecil.

Dalam penelitian ini variabel adalah persentase (%) tinggi masing-masing asam amino pada data kromatogram. Variabel % tinggi dipilih karena berbanding lurus dengan konsentrasi asam amino pada sampel. Jumlah variabel pada penelitian ini sebanyak 17 variabel (% tinggi atau % height dari 17 asam amino).

2 3 2 1 0 -1 -2 -4 2 4 3 -3 1 .; fe ni
2
3
2
1
0
-1
-2
-4
2
4
3
-3
1
.; fe ni la la ni n
..
Sc or e Pl ot of as am as pa rt at ;
Second Component
Fir st Co mp on en t
-2
-1
0
1

Gambar 6. Kurva score plot PC1 dan PC2 pada standar gelatin dan lembaran kapsul lunak {keterangan: 1. Standar gelatin babi ; 2. Standar gelatin sapi ; 3. Lembaran kapsul lunak gelatin babi ; 4. Lembaran kapsul lunak gelatin sapi}

2 -1 -2 -3 -4 2 1 0 -1 Fir st Co mp on en t
2
-1
-2
-3
-4
2
1
0
-1
Fir st Co mp on en t
Second Component
4
3
1
Sc or e Pl ot of as am as pa rt at ;
..
.; Fe ni la la ni n
-2
0
4
3
2
1

Gambar 7. Kurva score plot PC1 dan PC2 pada lembaran kapsul lunak dan sampel {Keterangan: 1. lembaran kapsul lunak gelatin babi ; 2. lembaran kapsul lunak gelatin sapi ; 3. Sampel 1 ; 4. Sampel 2}

8

Kurva score plot digunakan jika ada 2 komponen pertama merupakan nilai terbanyak dalam variabilitas di dalam data. Komponen utama pertama (PC1) sebagai absis sedangkan komponen utama kedua (PC2) sebagai ordinat. Kurva score plot digunakan untuk menaksir struktur data yaitu sebagai dasar perbedaan gelatin sapi dan babi (24). Semakin dekat letak antar sampel pada score plot, maka semakin besar pula kemiripannya atau sampel merupakan kelompok yang sama. Pada gambar 6 kurva score plot tampak bahwa standar gelatin babi berada pada kuadran kanan bawah yaitu memiliki nilai PC1 positif dan PC2 negatif sedangkan standar gelatin sapi berada pada kuadran kanan atas yaitu memiliki nilai PC1 dan PC2 positif. Pada lembaran kapsul lunak gelatin babi berada pada kuadran kiri atas yaitu memiliki nilai PC1 negatif dan PC2 positif sedangkan lembaran kapsul lunak gelatin sapi berada pada kuadran kiri bawah yaitu memiliki nilai PC1 dan PC2 negatif. Dapat disimpulkan bahwa standar gelatin babi dan sapi serta lembaran kapsul lunak yang terbuat dari gelatin babi dan sapi memiliki perbedaan profil asam amino serta hal ini juga berarti dapat dibedakan dengan baik oleh sistem HPLC dan teknik PCA yang digunakan. Pada gambar 7 kurva score plot tampak bahwa lembaran kapsul lunak gelatin babi berada pada kuadran kiri atas yaitu memiliki nilai PC1 negatif dan PC2 positif sedangkan lembaran kapsul lunak gelatin sapi berada pada kuadran kiri bawah yaitu memiliki nilai PC1 dan PC2 negatif. Pada sampel 1 berada pada kuadran kanan bawah yaitu memiliki nilai PC1 positif dan PC2 negatif, sedangkan sampel 2 berada pada kuadran kanan atas, memiliki nilai PC1 dan PC2 positif. Dapat disimpulkan bahwa sampel tersebut tidak memiliki kemiripan profil asam amino dengan lembaran kapsul lunak gelatin sapi dan babi sehingga kemungkinan sampel tersebut tidak dapat dibedakan terbuat dari gelatin sapi ataupun babi.

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Metode AccQTag dan PCA baru bisa membedakan komposisi asam amino pada standar gelatin sapi dan babi serta lembaran kapsul lunak yang dibuat sendiri, tetapi belum bisa membedakan sumber gelatin yang dipakai pada produk kapsul lunak yang diambil dari pasaran.

DAFTAR REFERENSI

  • 1. Gui-Feng, Z., Tao, L., Qian, W., Jian-Du, L., Guang-Hui, MA., dan Zhi-Guo, SU. 2008. Identification of Marker Peptides in Digested

Gelatins by High Performance Liquid Chromatography / Mass Spectrometry. Chinese Journal of Analytical Chemistry Volume 36, Issue 11, November 2008

  • 2. Jamaludin, M.A., Zaki, N.N.M., Ramli, M.A., Hashim, D.M., dan Ab.Rahman, S. 2011. Istihalah: Analysis on The Utilization of Gelatin in Food Products. 2011 2nd International Conference on Humanities, Historical and Social Science IPEDR vol. 17. Singapore:

IACSIT Press

  • 3. Schrieber, R., & Gareis, H. 2007. Gelatine Handbook : Theory dan Industrial Practice. Jerman: Wiley VCH Verlag GmbH dan Co. KGaA

  • 4. Nhari, R.M.H.R., Ismail, A., dan Che Man, Y.B. 2012. Analytical Methods for Gelatin Differentiation from Bovine and Porcine Origins and Food Products. Journal of Food Science Vol. 71, Nr.1 2012

  • 5. Jannah, A. 2008. Gelatin: Tinjauan Kehalalan dan Alternatif Produksinya. Malang: UIN- Malang Press

  • 6. Jurnal Halal LPPOM MUI No.94 edisi Maret-April Tahun 2012 ISSN 0852-4947

  • 7. Fadzlillah, N.A., Che Man, Y.B., Jamaludin, M.A., Ab.Rahman, S., dan Al-Kahtani, H.A. 2011. Halal Food Issues From Islamic and Modern Science Perspectives. 2011 2nd International Conference on Humanities, Historical and Social Science IPEDR vol. 17. Singapore: IACSIT Press

  • 8. Sahilah, A.M., Mohd. Fadly, L., Norrakiah, A.S., Aminah, A., Wan Aida, W.M., Ma’aruf, A.G dan Mohd. Khan, A. 2012. Halal Market Surveillance of Soft and Hard Gel Capsules in Pharmaceutical Products Using PCR and Southern- Hybridation on the Biochip Analysis. International Food and Research Journal 19 (1): 371-375 (2012)

9

  • 9. Nemati, M., Oveisi, M.R., Abdollahi, H., dan Sabzevari, O. 2004. Differentiation of bovine and porcine gelatins using principal component analysis. Journal of Pharmaceutical and Biomedical Analysis 34(2004) 48592

  • 10. Qi-Shi Du., Zhi-Qin, J., Wen-Zhang H., Da-Peng L., dan Kou-Chen C. 2006. Amino Acid Principal Component Analysis (AAPCA) and its Applications in Protein Structural Class Prediction. Journal of Biomolecular Structure & Dynamics, ISSN 0739-1102 Volume 23, Issue Number 6, (2006). Adenine Press

  • 11. Nur Azira, T., Amin, I. dan Che Man, Y. B. 2012. Differentiation of bovine and porcine gelatins in processed products via Sodium Dodecyl Sulphate- Polyacrylamide Gel Electrophoresis (SDS-PAGE) and principal component analysis (PCA) techniques. International Food Research Journal 19 (3): 1175-

    • 1180 (2012)

  • 12. Widyaninggar, A., Triwahyudi., Triyana, K., dan Ab.Rohman. 2012. Differentiation between porcine and bovine gelatin in commercial capsule shells based on amino acid profiles and principal component analysis. Indonesian J.Pharm Vol. 23 No. 2: 96-101 ISSN-p : 0126-1037

  • 13. Kabelova, I., Dvoř áková, M., Čížková, H., Dostálek, P., dan Melzoch, K. 2009. Determination of free amino acids in cheeses from the Czech market. Czech J. Food Sci. Vol. 27, 2009, No. 3: 143150

  • 14. Nhari, R.M.H.R., Ismail, A., Che Man, Y.B., dan Noorfaizan, A. 2011. Chemical and Functional Properties of Bovine and Porcine Skin Gelatin. International Food Research Journal 18: 813-817 (2011)

  • 15. Cooper, C., Packer, N., dan Williams, N. Methods in Molecular Biology, vol.159: Amino Acid Analysis Protocols. Humana Press Inc

  • 16. Sudarmadji S., Haryono B, Suhardi. 1996. Prosedur Analisa untuk Bahan Makanan dan Pertanian edisi Ketiga.Yogyakarta: Penerbit Liberty

  • 17. Fountoulakis, M., & Lahm, H.W. 1998.

Hydrolysis and amino acid composition analysis of proteins. Journal of Chromatography A, 826 (1998) 109134

  • 18. Rediatning, W., & Kartini, N. 1987. Analisis Asam Amino dengan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Secara Derivatisasi Prakolom dan Pascakolom; Proceedings ITB Vol. 20 No. ½,
    1987

  • 19. Salazar, C., Armenta, J.M., Cortés, D.F., dan Shulaev, V. 2012. Chapter 2: Combination of an AccQ·Tag-Ultra Performance Liquid Chromatographic Method with Tandem Mass Spectrometry for the Analysis of Amino Acids dalam Amino Acid Analysis Method and Protocols
    http://www.springer.com/978-1-61779-444- 5 diakses pada tanggal 30 September 2012 pukul 11.50

  • 20. Waters AccQTag Chemistry Package: Instruction Manual. Millipore Corporation, April 1993

  • 21. Waters. 2009. Amino acid analysis. Diambil dari www.waters.com/aaa, diakses pada 30 September 2012 pukul 11.45

  • 22. Marten, S., & Naguschewski, M. 2011. Application Note: High speed separation and detection of 18 AQC derivatized amino acids using UHPLC-ESI-MS. Diakses tanggal 30 September 2012 pukul 11.08 pada www.knauer.net

  • 23. Miller, J.N., & Miller, J.C. 2005. Statistics and Chemometrics for Analytical Chemistry Fifth edition. Inggris : Pearson Education Limited

  • 24. Statguide Minitab 15. 2007. Minitab Inc