Anda di halaman 1dari 25

STRUMA NODUSA NON TOKSIK

A. ANAMNESIS Status pasien Nama : Ny. S

Jenis Kelamin : Perempuan Umur Alamat Agama Pekerjann Tanggal MRS No. RM : 32 tahun : Pendem Wetan, Suruh, Tasikmadu : Islam : Ibu Rumah Tangga : 16 September 2012 : 25.13.XX

B. Riwayat Penyakit Keluhan Utama : Terdapat benjolan dileher

Riwayat Penyakit Sekarang Sekitar 1 tahun sebelum masuk RS pasien merasakan timbul benjolan dileher depan yang semakin lama semakin membesar. Awalnya pasien menggunakan kontrasepsi suntik, kemudian benjolan itu mulai muncul. Benjolan itu dirasakan semakin lama semakin membesar. 3 bulan SMRS: Pasien mengeluh benjolannya itu semakin membesar sampai sebesar telur burung puyuh, tidak nyeri, tidak ada perubahan suara, hanya terasa mengganjal. HMRS: Pasien mengeluh terdapat benjolan di depan, ukuran sebesar telur puyuh, tidak nyeri dan ikut bergerak saat menelan, benjolan terasa mengganjal apabila dipakai untuk menelan, benjolan tidak terasa panas, dan benjolan itu terasa membesar saat pasien merasa kelelahan.

Riwayat penykit dahulu Riwayat penyakit serupa : diakui, 5 tahun yang lalu,

disebelah lateral dextra sebesar telur ayam, setelah menggunakan KB suntik. Riwayat DM Riwayat hipertensi Riwayat penyakit Asam urat Riwayat Alergi : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal

Riwayat penyakit keluarga Riwayat penyakit serupa Riwayat penyakit Diabetes Mellitus Riwayat penyakit Hipertensi Riwayat penyakit TBC Riwayat penyakit Asma Riwayat penyakit kanker Riwayat Alergi : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal

Riwayat kebiasaan dan lingkungan Kebiasaan mengkonsumsi garam halus beryodium kurang (-) Kebiasaan sering mengkonsumsi sayur-sayuran dari genus Brassica terutama Kol (+) Disekitar rumah tidak ada yang mengalami sakit serupa.

C. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Kesadaran Vital Sign Tekanan Darah Nadi Respirasi Suhu : 110/70 mmHg : 72 kali/menit : 20 kali/menit : 37 oC : Baik : Compos Mentis, GCS 15

Pemeriksaan kepala : Bentuk kepala : normocephal, simetris Pemeriksaan mata Konjungtiva anemis Sklera ikterik Hidung Telinga Mulut : (+/+) : (-/-) : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan

Pemeriksaan Leher Simetris, PKGB (-), peningkatan JVP (-), pergeseran trakea (-), massa abnormal (+) di leher depan sebesar telur puyuh, Status lokalis regio colli: Inspeksi Terlihat massa di leher bagian depan. Kemerahan dan edem pada massa (-), M. sternokleidomastoideus masih terlihat jelas. Palpasi Teraba massa kenyal-keras ukuran sebesar telur puyuh, konsistensi keras, batas tegas, licin, tidak berbenjolbenjol, tidak terfiksasir, nyeri tekan (-). Massa ikut bergerak ketika pasien menelan. Auskultasi Tidak didapatkan bising pada kelenjar tiroid yang membesar.

Pemeriksaan thorax : Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi : Batas batas jantung Kanan atas SIC II parasternalis dextra Kanan bawah SIC IV parasternalisdextra Kiri atas SIC II parasternalis sinistra Kiri bawah SIC V linea midclavikularis redup Auskultasi : bunyi jantung I-II murni, reguler, bising jantung (-) : ictus cordis tidak tampak, massa (-) : ictus cordis teraba

Paru Inspeksi : simetris kanan kiri, ketinggalan gerak (-), massa (-) Palpasi : fremitus normal, nyeri tekan (-) Perkusi : sonor Auskultasi : SDV(+/+), Rhonki (-/-), Wheezing (-/-)

Pemeriksaan abdomen Inspeksi : permukaan perut rata, massa (-), bekas luka operasi (-) Auskultasi : peristaltik (+) normal Perkusi : tympani Palpasi : nyeri tekan (-), defans muskuler (-)

Pemeriksaan ekstremitas : Superior Inferior Akral : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan : hangat

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan Laboratorium Tanggal 16 September 2012 WBC RBC HGB HCT MCV MCH MCHC PLT GDS Urea Creatin : : : 9,9 g/dL : : : : : : : : /L mg/dL mg/dL mg/dL % fL pg g/dL /L 106/L

SGOT SGPT HbsAg

: : : negative

U/I U/I

Tanggal 17 September 2012 HGB : 9,9 g/dL

Tanggal 18 September 2012 HGB : 11,8 g/dL

E. RESUME Perempuan, 32 tahun mengeluh adanya benjolan di leher yang dirasakan sudah sekitar 1 tahun terakhir. Benjolan itu semakin membesar sampai sebesar telur puyuh, tidak nyeri, tidak ada perubahan suara, hanya terasa mengganjal. Benjolan itu muncul setelah pasien menggunakan suntik KB. Sekitar 5 tahun yang lalu pasien juga pernah mengalami hal serupa, timbul benjolan di leher samping kanan sebesar telur ayam. Benjolan itu timbul setelah pasien menggunakan suntik KB. Pada status lokalis regio colli didapatkan: Inspeksi Terlihat massa di leher bagian depan. Kemerahan dan edem pada massa (-), M. sternokleidomastoideus masih terlihat jelas. Palpasi Teraba massa kenyal-keras ukuran sebesar telur puyuh, konsistensi keras, batas tegas, licin, tidak berbenjol-benjol, tidak terfiksasir, nyeri tekan (-). Massa ikut bergerak ketika pasien menelan. Auskultasi Tidak didapatkan bising pada kelenjar tiroid yang membesar.

F. DIAGNOSIS KLINIS Recurent Struma Nodusa Non Toksik

G. PENATALAKSANAAN Medikamentosa Operatif

TINJAUAN PUSTAKA

A. STRUMA 1. Definisi Struma adalah perbesaran kelenjar tiroid yang menyebabkan pembengkakan di bagian depan leher (Dorland, 2002). Kelainan glandula tyroid dapat berupa gangguan fungsi seperti tiritosikosis atau perubahan susunan kelenjar dan morfologinya, seperti penyakit tyroid noduler. Berdasarkan patologinya, pembesaran tyroid umumnya disebut struma (De Jong & Syamsuhidayat, 1998).

2.

Anatomi Kelenjar tiroid/gondok terletak di bagian bawah leher, kelenjar ini memiliki dua bagian lobus yang dihubungkan oleh ismus yang masingmasing berbetuk lonjong berukuran panjang 2,5-5 cm, lebar 1,5 cm, tebal 1-1,5 cm dan berkisar 10-20 gram. Kelenjar tiroid sangat penting untuk mengatur metabolisme dan bertanggung jawab atas normalnya kerja setiap sel tubuh. Kelenjar ini memproduksi hormon tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3) dan menyalurkan hormon tersebut ke dalam aliran darah. Terdapat 4 atom yodium di setiap molekul T4 dan 3 atom yodium pada setiap molekul T3. Hormon tersebut dikendalikan oleh kadar hormon perangsang tiroid TSH (thyroid stimulating hormone) yang dihasilkan oleh lobus anterior kelenjar hipofisis. Yodium adalah bahan dasar pembentukan hormon T3 dan T4 yang diperoleh dari makanan dan minuman yang mengandung yodium.

Gambar 1. Kelenjar Tiroid

3.

Fisiologi Hormon tiroid memiliki efek pada pertumbuhan sel, perkembangan dan metabolisme energi. Selain itu hormon tiroid mempengaruhi pertumbuhan pematangan jaringan tubuh dan energi, mengatur kecepatan metabolisme tubuh dan reaksi metabolik, menambah sintesis asam ribonukleat (RNA), menambah produksi panas, absorpsi intestinal terhadap glukosa, merangsang pertumbuhan somatis dan berperan dalam perkembangan normal sistem saraf pusat. Tidak adanya hormon-hormon ini, membuat retardasi mental dan kematangan neurologik timbul pada saat lahir dan bayi.

4.

Klasifikasi a. b. c. d. Struma nodusa non toksik Struma difusa non toksik Struma nodusa toksik Struma difusa toksik

Istilah toksik dan non toksik dipakai karena adanya perubahan dari segi fungsi fisiologis kelenjar tiroid seperti hipertiroid dan hipo tiroid, sedangkan istilah nodusa dan difusa lebih kepada perubahan bentuk anatomi

5.

Etiologi

6.

Patogenesis Struma terjadi akibat kekurangan yodium yang dapat menghambat pembentukan hormon tiroid oleh kelenjar tiroid sehingga terjadi pula penghambatan dalam pembentukan TSH oleh hipofisis anterior. Hal tersebut memungkinkan hipofisis mensekresikan TSH dalam jumlah yang berlebihan. TSH kemudian menyebabkan sel-sel tiroid

mensekresikan tiroglobulin dalam jumlah yang besar (kolid) ke dalam folikel, dan kelenjar tumbuh makin lama makin bertambah besar. Akibat kekurangan yodium maka tidak terjadi peningkatan pembentukan T4 dan T3, ukuran folikel menjadi lebih besar dan kelenjar tiroid dapat bertambah berat sekitar 300-500 gram. Selain itu struma dapat disebabkan kelainan metabolik kongenital yang menghambat sintesa hormon tiroid, penghambatan sintesa hormon oleh zat kimia (goitrogenic agent), proses peradangan atau gangguan autoimun seperti penyakit Graves. Pembesaran yang didasari oleh suatu tumor atau neoplasma dan penghambatan sintesa hormon tiroid oleh obat-obatan misalnya thiocarbamide, sulfonylurea dan litium, gangguan metabolik misalnya struma kolid dan struma non toksik (struma endemik).

7.

Klasifikasi a. Berdasarkan Fisiologisnya Eutiroidisme Eutiroidisme adalah suatu keadaan hipertrofi pada kelenjar tiroid yang disebabkan stimulasi kelenjar tiroid yang berada di bawah normal sedangkan kelenjar hipofisis menghasilkan TSH dalam jumlah yang meningkat. Goiter atau struma semacam ini biasanya tidak menimbulkan gejala kecuali pembesaran pada leher yang jika terjadi secara berlebihan dapat mengakibatkan kompresi trakea.

Hipotiroidisme Hipotiroidisme adalah kelainan struktural atau fungsional kelenjar tiroid sehingga sintesis dari hormon tiroid menjadi berkurang. Kegagalan dari kelenjar untuk mempertahankan kadar plasma yang cukup dari hormon. Beberapa pasien hipotiroidisme mempunyai kelenjar yang mengalami atrofi atau tidak mempunyai kelenjar tiroid akibat pembedahan/ablasi radioisotop atau akibat destruksi oleh antibodi autoimun yang beredar dalam sirkulasi.25,26 Gejala hipotiroidisme adalah penambahan berat badan, sensitif terhadap udara dingin, dementia, sulit berkonsentrasi, gerakan lamban, konstipasi, kulit kasar, rambut rontok, mensturasi berlebihan, pendengaran terganggu dan penurunan kemampuan bicara.

Gambar 2. Hipotiroidisme

Hipertiroidisme Dikenal juga sebagai tirotoksikosis atau Graves yang dapat didefenisikan sebagai respon jaringan-jaringan tubuh terhadap pengaruh metabolik hormon tiroid yang berlebihan.29 Keadaan ini dapat timbul spontan atau adanya sejenis antibodi dalam darah yang merangsang kelenjar tiroid, sehingga tidak hanya produksi hormon yang berlebihan tetapi ukuran kelenjar tiroid menjadi besar. Gejala hipertiroidisme berupa berat badan menurun, nafsu makan meningkat, keringat berlebihan, kelelahan, leboh suka udara dingin, sesak napas. Selain itu juga terdapat gejala jantung berdebar-debar, tremor pada tungkai bagian atas, mata melotot (eksoftalamus), diare, haid tidak teratur, rambut rontok, dan atrofi otot.

Gambar 3. Hipertiroidisme

b. Berdasarkan klinisnya Struma toksik Struma toksik dapat dibedakan atas dua yaitu struma diffusa toksik dan struma nodusa toksik. Istilah diffusa dan nodusa lebih mengarah kepada perubahan bentuk anatomi dimana struma diffusa toksik akan menyebar luas ke jaringan lain. Jika tidak diberikan tindakan medis sementara nodusa akan memperlihatkan benjolan yang secara klinik teraba satu atau lebih benjolan (struma multinoduler toksik). Struma diffusa toksik (tiroktosikosis) merupakan

hipermetabolisme karena jaringan tubuh dipengaruhi oleh hormon tiroid yang berlebihan dalam darah. Penyebab tersering adalah penyakit Grave (gondok eksoftalmik/exophtalmic goiter), bentuk tiroktosikosis yang paling banyak ditemukan diantara hipertiroidisme lainnya. Perjalanan penyakitnya tidak disadari oleh pasien

meskipun telah diiidap selama berbulan-bulan. Antibodi yang berbentuk reseptor TSH beredar dalam sirkulasi darah,

mengaktifkan reseptor tersebut dan menyebabkan kelenjar tiroid hiperaktif. Meningkatnya kadar hormon tiroid cenderung

menyebabkan peningkatan pembentukan antibodi sedangkan turunnya konsentrasi hormon tersebut sebagai hasilpengobatan penyakit ini cenderung untuk menurunkan antibodi tetapi bukan mencegah pembentukyna. Apabila gejala gejala hipertiroidisme bertambah berat dan mengancam jiwa penderita maka akan terjadi krisis tirotoksik. Gejala klinik adanya rasa khawatir yang berat, mual, muntah, kulit dingin, pucat, sulit berbicara dan menelan, koma dan dapat meninggal.

Struma non toksik Struma non toksik sama halnya dengan struma toksik yang dibagi menjadi struma diffusa non toksik dan struma nodusa non toksik. Struma non toksik disebabkan oleh kekurangan yodium yang kronik. Struma ini disebut sebagai simple goiter, struma endemik, atau goiter koloid yang sering ditemukan di daerah yang air minumya kurang sekali mengandung yodium dan goitrogen yang menghambat sintesa hormon oleh zat kimia. Apabila dalam pemeriksaan kelenjar tiroid teraba suatu nodul, maka pembesaran ini disebut struma nodusa. Struma nodusa tanpa disertai tanda-tanda hipertiroidisme dan

hipotiroidisme disebut struma nodusa non toksik. Biasanya tiroid sudah mulai membesar pada usia muda dan berkembang menjadi multinodular pada saat dewasa. Kebanyakan penderita tidak mengalami keluhan karena tidak ada hipotiroidisme atau hipertiroidisme, penderita datang berobat karena keluhan kosmetik atau ketakutan akan keganasan. Namun sebagian pasien mengeluh adanya gejala mekanis yaitu penekanan pada esofagus (disfagia) atau trakea (sesak napas), biasanya tidak

disertai rasa nyeri kecuali bila timbul perdarahan di dalam nodul. Struma non toksik disebut juga dengan gondok endemik, berat ringannya endemisitas dinilai dari prevalensi dan ekskresi yodium urin. Dalam keadaan seimbang maka yodium yang masuk ke dalam tubuh hampir sama dengan yang diekskresi lewat urin. Kriteria daerah endemis gondok yang dipakai Depkes RI adalah endemis ringan prevalensi gondok di atas 10 %-< 20 %, endemik sedang 20 % - 29 % dan endemik berat di atas 30 %.33

8.

Manifestasi Klinis

9.

Diagnosis a. Inspeksi Inspeksi dilakukan oleh pemeriksa yang berada di depan penderita yang berada pada posisi duduk dengan kepala sedikit fleksi atau leher sedikit terbuka. Jika terdapat pembengkakan atau nodul, perlu diperhatikan beberapa komponen yaitu lokasi, ukuran, jumlah nodul, bentuk (diffus atau noduler kecil), gerakan pada saat pasien diminta untuk menelan dan pulpasi pada permukaan pembengkakan. b. Palpasi Pemeriksaan dengan metode palpasi dimana pasien diminta untuk duduk, leher dalam posisi fleksi. Pemeriksa berdiri di belakang pasien dan meraba tiroid dengan menggunakan ibu jari kedua tangan pada tengkuk penderita. c. Tes fungsi hormon Pemeriksaan dengan metode palpasi dimana pasien diminta untuk duduk, leher dalam posisi fleksi. Pemeriksa berdiri di belakang pasien dan meraba tiroid dengan menggunakan ibu jari kedua tangan pada tengkuk penderita.

d.

Foto rontgen leher Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat struma telah menekan atau menyumbat trakea (jalan nafas).

e.

USG Alat ini akan ditempelkan di depan leher dan gambaran gondok akan tampak di layar TV. USG dapat memperlihatkan ukuran gondok dan kemungkinan adanya kista/nodul yang mungkin tidak terdeteksi waktu pemeriksaan leher. Kelainan-kelainan yang dapat didiagnosis dengan USG antara lain kista, adenoma, dan kemungkinan karsinoma.

f.

Sidikan (Scan) tiroid Caranya dengan menyuntikan sejumlah substansi radioaktif bernama technetium-99m dan yodium125/yodium131 ke dalam pembuluh darah. Setengah jam kemudian berbaring di bawah suatu kamera canggih tertentu selama beberapa menit. Hasil pemeriksaan dengan radioisotop adalah teraan ukuran, bentuk lokasi dan yang utama adalh fungsi bagian-bagian tiroid.

g.

Biopsi aspirasi jarum halus Dilakukan khusus pada keadaan yang mencurigakan suatu keganasan. Biopsi aspirasi jarum tidak nyeri, hampir tidak menyebabkan bahaya penyebaran sel-sel ganas. Kerugian

pemeriksaan ini dapat memberikan hasil negatif palsu karena lokasi biopsi kurang tepat. Selain itu teknik biopsi kurang benar dan pembuatan preparat yang kurang baik atau positif palsu karena salah intrepertasi oleh ahli sitologi.

10. Penatalaksanaan a. Medis Operasi atau pembedahan Pembedahan menghasilkan hipotiroidisme permanen yang kurang sering dibandingkan dengan yodium radioaktif. Terapi

ini tepat untuk para pasien hipotiroidisme yang tidak mau mempertimbangkan yodium radioaktif dan tidak dapat diterapi dengan obat-obat anti tiroid. Reaksi-reaksi yang merugikan yang dialami dan untuk pasien hamil dengan tirotoksikosis parah atau kekambuhan. Pada wanita hamil atau wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal (suntik atau pil KB), kadar hormon tiroid total tampak meningkat. Hal ini disebabkan makin banyak tiroid yang terikat oleh protein maka perlu dilakukan pemeriksaan kadar T4 sehingga dapat diketahui keadaan fungsi tiroid. Pembedahan dengan mengangkat sebagian besar kelenjar tiroid, sebelum pembedahan tidak perlu pengobatan dan sesudah pembedahan akan dirawat sekitar 3 hari. Kemudian diberikan obat tiroksin karena jaringan tiroid yang tersisa mungkin tidak cukup memproduksi hormon dalam jumlah yang adekuat dan pemeriksaan laboratorium untuk menentukan struma dilakukan 3-4 minggu setelah tindakan pembedahan.

Yodium radioaktif Yodium radioaktif memberikan radiasi dengan dosis yang tinggi pada kelenjar tiroid sehingga menghasilkan ablasi jaringan. Pasien yang tidak mau dioperasi maka pemberian yodium radioaktif dapat mengurangi gondok sekitar 50 %. Yodium radioaktif tersebut berkumpul dalam kelenjar tiroid sehingga memperkecil penyinaran terhadap jaringan tubuh lainnya. Terapi ini tidak meningkatkan resiko kanker, leukimia, atau kelainan genetik35 Yodium radioaktif diberikan dalam bentuk kapsul atau cairan yang harus diminum di rumah sakit, obat ini ini biasanya diberikan empat minggu setelah operasi, sebelum pemberian obat tiroksin.

Pemberian tiroksin dan obat anti-tiroid Tiroksin digunakan untuk menyusutkan ukuran struma, selama ini diyakini bahwa pertumbuhan sel kanker tiroid dipengaruhi hormon TSH. Oleh karena itu untuk menekan TSH serendah mungkin diberikan hormon tiroksin (T4) ini juga diberikan untuk mengatasi hipotiroidisme yang terjadi sesudah operasi pengangkatan kelenjar tiroid. Obat anti-tiroid (tionamid) yang digunakan saat ini adalah propiltiourasil (PTU) dan metimasol/karbimasol.

11. Komplikasi 12. Prognosis

B. Struma Nodusa Non Toksik 1. Definisi Struma nodusa non toksik merupakan pembesaran kelenjar tiroid yang teraba sebagai suatu nodul,tanpa disertai tanda-tanda hipertiroidisme.

2. Faktor risiko a. Faktor lingkungan: defisiensi yodium yang tersebar di seluruh dunia, tanaman goitrogenik yang dikonsumsi oleh penduduk dengan defisiensi yodium. b. Genetik: lokasi gen pada kromosom 14 dan kromosom X terkait dengan kejadian struma, walaupun diperkirakan gen pada lokasi tersebut tidak berperan utama dalam patogenesis struma. c. Konstitusi: gender juga berperan penting dalam terjadinya stuma non toksik, dimana kejadian 5-10x lebih sering pada wanita. Berbagai kelainan enzimatik tiroid dapat menyebabkan timbulnya struma non toksik. d. Lain: merokok dan obat obatan yang mengandung goitrogen.

3. Klasifikasi a. Berdasarkan jumlah nodul ,dibagi : Struma mononodusa non toksik Struma multinodusa nontoksik

b. Berdasarkan kemampuan menangkap iodium radioaktif, nodul dibedakan menjadi : Nodul dingin Nodul hangat Nodul panas

c. Berdasarkan konsistensinya, nodul dibedakan menjadi : Nodul lunak Nodul kistik Nodul keras Nodul sangat keras

4. Diagnosis a. Anamnesis : Sejak kapan benjolan timbul Rasa nyeri spontan atau tidak spontan, berpindah atau tetap Cara pembesarannya: cepat atau lambat Pada awalnya berupa satu benjolan yang membesar menjadi beberapa benjolan atau hanya pembesaran leher saja Riwayat keluarga Riwayat penyinaran daerah pada waktu kecil/muda Perubahan suara Gangguan menelan,sesak nafas Penurunan berat badan

b.

Pemeriksaan fisik Umum Local

Nodul tunggal, majemuk atau difus Nyeri tekan Konsistensi Permukaan Perlekatan pada jaringan sekitarnya Pendesakan atau pendorongan trakea Pembesaran kelenjar getah bening regional

Index Wayne Gejala Subyektif Dispnneu Palpitasi Capai/lelah Senang panas Senang dingin Keringat berlebih Nervous Angka +1 +2 +2 -5 +5 +3 +2 Gejala Obyektif Tiroid teraba Bruit di atas sistol Eksoftalmus Lid Retraksi Lid Lag Hiperkenesis Tangan Panas Ada +3 +2 +2 +2 +1 +4 +2 Tidak -3 -2 -2 -2

Tangan basah Tangan panas Nafsu makan naik Nafsu makan turun Berat badan naik Berat badan turun Fibrilasi Atrium Jumlah

+1 -1 +3 -3 -3 +3 +4

Nadi 80 x/menit 81-90 x/menit > 90 x/menit <11 11-18 >19 hipertiroid +3 eutiroid normal

5. Penilaian Risiko Keganasan Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang mengarahkan diagnostik penyakit tiroid jinak, tetapi tak sepenuhnya menyingkirkan

kemungkinan kanker tiroid : Riwayat keluarga dengan struma nodosa atau difusi jinak Riwayat keluarga dengan tiroiditis hashimoto atau penyakit tiroid autoimun Gejala hipo atau hipertiroidisme Nyeri berhubungan dengan nodul Nodul lunak, mudah degerakkan Multinodul tanpa nodul yang dominan, dan konsistensi sama. Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang meningkatkan kecurigaan kearah keganasan tiroid: Umur < 20 tahun atau > 70 tahun Gender laki- laki Nodul disertai disfagi, serak atau obstruksi jalan napas Pertumbuhan nodul cepat (beberapa minggu bulan) Riwayat radiasi daerah leher waktu usia anak anak atau dewasa Riwayat keluarga kanker tiroid meduler Nodul yang tunggal, berbatas tegas, keras, irregular dan sulit digerakkan

Paralysis pita suara Temuan limpadenofati servikal Metastasis jauh (paru-paru)

6. Diagnosis Banding Struma nodosa yang terjadi pada peningkatan kebutuhan terhadap tiroksin saat masa pertumbuhan, pubertas, menstruasi, kehamilan menopause, infeksi, stres. a. b. c. d. e. f. Tiroiditis akut Tiroiditis subakut Tiroiditis kronis Struma endemic atau simple goiter Kista tiroid kista degenerasi Soft tissue tumor

7. Pemeriksaan Penunjang a. b. Laboratorium : T4 atau T3, dan TSHs Biopsi aspirasi jarum halus (BAJAH) nodul tiroid

8. Penatalaksanaan a. Hasil BAJAH Ganas: operasi tirodektomi near total Curiga: operasi dengan lebih dulu melakukan potong beku (VC) Bila hasil ganas: operasi tiroidektomi near total Bila hasil jinak: operasi lobektomi, atau tiroidektomi near total. Alternatif : sidik tiroid, bila hasil cold nodule, operasi Tidak cukup sediaan tak representatif Jika nodul solid ( saat BAJAH ) : ulang BAJAH Bila klinis curiga ganas tinggi operasi lobektomi Bila klinis curiga ganas rendah observas

Jika nodul kistik (saat BAJAH ) : aspirasi Bila kista regresi observasi Bila kista rekurens,klinis curiga ganas rendah observasi Bila kista rekurens,klinis curiga ganas tinggi operasi lobektomi Jinak: terapi dengan levo-tiroksin ( LT 4) dosis subtoksis. Dosis dititrasi mulai 2 x 25 ug ( 3 hari ) Dilanjutkan 3 x 25 ug ( 3 4 hari ) Bila tidak ada efek samping atau tanda toksis, dosis menjadi 2 x 100 ug sampai 4-6 minggu, kemudian evaluasi TSH (target 0,1-0,3 ulU /L) Supresi TSH dipertahankan selama 6 bulan Evaluasi dengan USG : apakah nodul berhasil mengecil atau tidak (berhasil bila mengecil > 50 % dari volume awal) Bila nodul mengecil atau tetap, Ltiroksin dihentikan dan diobservasi Bila setelah itu struma membesar lagi, L-tiroksin dimulsi lagi (target TSH 0,1-0,3 ul U/L) Bila setelah 1-tiroksin dihentikan, struma tidak berubah, diobservasi Bila nodul membesar dalam 6 bulan atau saat terapi supresi, obat dihentikan dan operasi tiroidektomi dan dilakukan pemeriksaan histopatologi. b. Hasil PA Jinak : terapi dengan L_tiroksin ; target TSH 0,5 3,0 uI U/L Ganas : terapi L-tiroksin Individu dengan risiko ganas tinggi :target TSH < 0,01 0,05 uI U/L Individu dengan risiko ganas rendah : target TSH 0,05 0,1 uI U/L KOMPLIKASI

Umumnya tidak ada ,kecuali ada infeksi seperti pada tiroiditis akut /subakut. Pada tiroidektomi dapat terjadi tracheomalaise.

9. Prognosis Tergantung jenis nodul dan tipe histologis

KESIMPULAN

Struma nodosa non toksik merupakan pembesaran kelenjar tiroid yang teraba sebagai suatu nodul, tanpa disertai tanda-tanda hipertiroidisme. Faktor lingkungan, genetik, konstitusi, dan lain lain berperan dalam patogenesis struma nontoksik. Struma nodosa non toksik di klasifikasikan berdasarkan jumlah nodul, berdasarkan kemampuan menangkap iodium radioaktif, dan berdasarkan konsistensi. Diagnosis berdasar anamnesis (Sejak kapan benjolan timbul, Rasa nyeri spontan atau tidak spontan, berpindah atau tetap, serta cara membesarnya, Pada awalnya berupa satu benjolan yang membesar menjadi beberapa benjolan atau hanya pembesaran leher saja, riwayat keluarga, riwayat penyinaran daerah pada waktu kecil atau muda, perubahan suara, gangguan menelan, sesak nafas, penurunan berat badan), pemeriksaan fisik (umum, lokal : nodul tunggal atau majemuk, atau difus, nyeri tekan, konsistensi, permukaan, perlekatan pada jaringan sekitarnya, pendesakan atau pendorongan trakea, pembesaran kelenjar getah bening regional), BMR, Index Wayne, Indeks diagnostik (New Castle). Penilaian risiko keganasan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang mengarahkan diagnostik penyakit tiroid jinak, tetapi tak sepenuhnya

menyingkirkan kemungkinan kanker tiroid dengan TSHs dan FT4. Diagnosis banding struma nodusa yang terjadi pada peningkatan kebutuhan terhadap tiroksin saat masa pertumbuhan, pubertas laktasi, menstruasi, kehamilan menopause, infeksi, stres lain, tiroiditis akut, tiroiditis subakut, tiroiditis kronis, struma endemic atau simple goiter, kista tiroid, kista degenerasi, soft tissue tumor. Pemeriksaan penunjang (Laboratorium: T4 atau T3, dan TSHs, biopsi aspirasi jarum halus (BAJAH) nodul tiroid, USG tiroid, sidik tiroid, petanda keganasan tiroid : pemeriksaaan antitiroglobulin) Terapi dengan operasi tirodektomi near total, operasi, potong beku (VC), operasi lobektomi, terapi dengan levo-tiroksin (LT 4) dosis subtoksis, supresi TSH dipertahankan selama 6 bulan, evaluasi dengan USG.