Anda di halaman 1dari 6

BAB I PENDAHULUAN

I.1. Definisi1 Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai gangguan aliran normal isi usus sepanjang saluran usus.

I.2. Klasifikasi1,3 Terdapat 2 jenis obstruksi, yaitu ileus paralitik (adinamik) dan ileus obstruktif (mekanik). Pada ileus paralitik terjadi hambatan peristaltik usus karena toksin atau trauma yang mempengaruhi kontrol otonom pergerakan usus. Sedangkan pada ileus obstruktif terdapat rintangan fisik yang menghalangi proses pengeluaran isi usus. . Obstruksi ini dapat akut atau kronik, parsial atau total. Sebagian besar obstruksi mengenai usus halus. Obstruksi usus halus total merupakan keadaan gawat yang memerlukan diagnosis dini dan tindakan pembedahan darurat.

I.3. Etiologi Obstruksi usus dapat bersifat mekanis atau non mekanis. Penyebab obstruksi mekanis pada lumen dibagi menjadi (1) lesi ekstrinsik pada usus, misalnya hernia interna dan eksterna, (2) lesi instrinsik pada dinding usus, misalnya divertikulitis, karsinoma, dan (3) obstruksi lumen, misalnya batu empedu, intusepsi.1

I.4. Patofisiologi1,2 Pada prinsipnya, mekanisme obstruksi usus dengan suplai darah yang baik adalah akumulasi cairan dan gas di atas titik obstruksi serta perubahan motilitas usus yang menyebabkan gangguan sistemik. Keseimbangan cairan dalam usus tergantung dari absorpsi dan sekresi. Akumulasi cairan terjadi oleh karena penurunan absorpsi dan/atau peningkatan sekresi. Distensi usus disebabkan oleh kumpulan gas dan cairan proksimal terhadap dan di dalam segmen usus yang tersumbat. Diantara 70-80% gas dalam usus terdiri atas udara yang tertelan. Udara ini terdiri dari nitrogen (70%) yang sulit diserap dari lumen usus sehingga pengeluaran udara secara

berkesinambungan melalui pengisapan lambung adalah cara yang bermanfaat dalam pengobatan distensi usus. Kumpulan cairan proksimal terhadap mekanisme obstruksi tidak hanya dihasilkan dari cairan yang diminum, air liur yang ditelan, getah lambung serta sekresi empedu dan pankreas tetapi juga dari terganggunya transport normal natrium dan air. Selama 12 sampai 24 jam obstruksi pertama, terdapat penurunan aliran natrium yang disertai dengan air, dari lumen usus ke dalam darah di bagian proksimal usus yang mengalami distensi. Setelah 24 jam, terjadi perpindahan natrium dan air ke dalam lumen usus yang dapat memeperberat distensi dan cairan yang hilang. Tekanan intraluminal meningkat dari nilai normalnya 2-4 cmH2O menjadi 8 cmH2O. Selama peristaltik, bila ada obstruksi sederhana atau closed loop, tekanan intraluminal mencapai 30-60 cmH2O.

Nekrosis usus halus dapat terjadi melalui mekanisme yang sama bila distensi sangat mencolok. Bila terjadi gangguan aliran darah, timbul invasi bakteri dan dapat berkembang peritonitis. Pada penelitian disimpulkan bahwa peningkatan sekresi merupakan penyebab utama kehilangan cairan tubuh dan distensi abdomen. Pelepasan prostaglandin sebagai respon terjadinya distensi abdomen juga meningkatkan sekresi ke lumen. Cairan dan elektrolit yang hilang dapat sangat ekstrim sehingga menimbulkan hemokonsentrasi, hipovolemi, insufisiensi ginjal, syok, dan kematian bila tidak dikoreksi. I.5. Manifestasi Klinis Manifestasi klinis dari ileus obstruktif adalah kolik abdominal, nausea, vomitus, obstipasi. Terjadi distensi abdomen, peristaltik meningkat. Pada hasil laboratorium didapatkan hemokonsentrasi, dan abnormalitas dari elektrolit. Angka leukosit sedikit meningkat.3 I.6. Diagnosis1
A. Anamnesis:

Nyeri-Kolik: kolik dirasakan disekitar umbilikus, Muntah : Berwarna kehijauan, Perut Kembung (distensi), Konstipasi : dapat tidak ada defekasi, dan flatus, Adanya benjolan di perut, inguinal, dan femoral yang tidak dapat kembali menandakan adanya hernia inkarserata. Invaginasi dapat didahului oleh riwayat buang air besar berupa lendir dan darah. Riwayat operasi sebelumnya dapat menjurus pada adanya adhesi usus. Onset : Keluhan yang berlangsung cepat dapat

dicurigai sebagai ileus letak tinggi sedangkan onset yang lambat dapat menjurus kepada ileus letak rendah. B. Obyektif-Pemeriksaan Fisik 1. Inspeksi Perut distensi, dapat ditemukan darm kontur dan darm steifung. Benjolan pada regio inguinal, femoral dan skrotum menunjukkan suatu hernia inkarserata. Pada Invaginasi dapat terlihat massa abdomen berbentuk sosis. Adanya adhesi dapat dicurigai bila ada bekas luka operasi sebelumnya 2. Auskultasi Hiperperistaltik, bising usus bernada tinggi. Pada fase lanjut bising usus dan peristaltik melemah sampai hilang
3. Perkusi

Hipertimpani 4. Palpasi Kadang teraba massa seperti pada tumor, invaginasi, hernia. 5. Rectal Toucher Isi rektum menyemprot : Hirschprung disease

Darah (+) ; strangulasi, neoplasma Feses yang mengeras : skibala. Feses negatif : obstruksi usus letak tinggi Ampula rekti kolaps : curiga obstruksi. Nyeri tekan : lokal atau general peritonitis

6. Radiologi Diagnosis dari obstruksi intestinal didapatkan dari pemeriksaan radiologi, foto BNO 3 posisi. Diagnosis dari obstruksi ileus dapat ditegakkan melalui trias dilatasi intestinal lebih dari 3cm, air-fluid levels, dan kurangnya udara pada kolon.

I.7. Terapi1 Obstruksi dari intestinal biasanya berhubungan dengan kurangnya volume intravaskuler disebabkan vomitus, dan kurangnya cairan pada dinding dan lumen usus. Itulah sebabnya resusitasi cairan merupakan terapi yang paling penting. Cairan isotonic harus diberikan intravena dan pemasangan kateter untuk memonitor cairan output.central venous atau kateter arteri dapat dipakai sebagai monitor pada pasien dengan penyakit jantung. Antibiotic spectrum luas juga dapat dipakai untuk menghindari translokasi bakteri. Evakuasi cairan abdomen menggunakan NGT merupakan cara aktif untuk dekompresi lambung, mengurangi rasa nausea, distensi dan resiko vomitus serta aspirasi.

Standar terapi dari obstruksi intestinal adalah pembedahan.tindakan ini ditujukan untuk mengurangi strangulasi pada usus yang dapat menyebabkan meningkatnya resiko morbiditas dan mortalitas. Tujuan utama dari tindakan operatif adalah mencegah terjadinya iskemi yang bersifat irreversible

I.8. Prognosis Prognosis dari ileus obstruksi tergantung pada etiologinya. Kematian pada perioperatif yang berhubungan dengan pembedahan ileus non strangulasi kurang dari 5%, dan paling banyak pada orang tua dengan penyakit komorbid. Sedangkan mortalitas pembedahan pada obstruksi dengan strangulasi berkisar antara 8-25%.3