Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN DESKRIPSI PENGARUH STRATIFIKASI DAN DIFERENSIASI SOSIAL DALAM MASYARAKAT DESA TEMPEL, DEMPET DEMAK A. PENDAHULUAN 1.

Latar Belakang Meneliti tentang sosiologi di dalam masyarakat sangat menarik, selain dapat menambah wawasan juga dapat menelisik lebih dalam kehidupan bersosial didalam masyarakat. Masyarakat dengan segala aspek yang mencakup di dalamnya merupakan suatu objek kajian yang menarik untuk diteliti. Begitu pula dengan sesuatu yang dihargai oleh masyarakat tersebut. Dengan kata lain, sesuatu yang dihargai dalam sebuah komunitas masyarakat akan menciptakan pamisahan lapisan atau kedudukan seseorang tersebut di dalam masyarakat. Untuk itu dalam laporan kali ini penulis tertarik untuk membahas kehidupan pelapisan social masyarakat terutama tentang stratifikasi dan diferensiasi social di Desa Tempel, Dempet, Demak karena desa ini adalah desa penulis sendiri. 2. Permasalahan Laporan Dalam laporan ini penulis akan melaporkan tentang bagaimana deskripsi stratifikasi dan diferensiasi di desa Tempel, Dempet Demak itu dan beserta contohcontohnya . B. LANDASAN TEORI 1. Stratifikasi Sosial Dijelaskan dalam Sosiologi; Suatu Pengantar karya Soerjono Seokanto, bahwa selama dalam suatu masyarakat ada sesuatu yang dihargai, dan setiap masyarakat pasti mempunyai sesuatu yang dihargainya, maka hal itu akan menjadi bibit yang dapat menumbuhkan adanya sistem berlapis-lapis dalam masyarakat tersebut. Lebih lanjut, dijelaskan sistem berlapis-lapis dalam suatu masyarakat, dalam sosiologi dikenal dengan istilah social stratisfication (stratifikasi sosial). Kata stratisfication berasal dari stratum (jamaknya: strata yang berarti lapisan). Mengenai istilah ini, Soekanto mengutip Pitirim A. Sorokin dalam menjelaskan definisinya. Di mana disebutkan bahwa yang dimaksud dengan social stratisfication adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (secara hirarkis). Perwujudan gambaran definisi di atas adalah adanya kelas-kelas tinggi dan kelas yang lebih rendah dalam suatu tatanan kehidupan masyarakat. Selanjutnya, menurut Sorokin, dasar dan inti lapisan-lapisan dalam masyarakat adalah tidak adanya keseimbangan dalam pembagian hak-hak dan kewajiban-kewajiban, kewajiban-kewajiban dan tanggung jawab nilai-nilai sosial dan pengaruhnya di antara anggota-anggota masyarakat. Keterangan ini menunjukkan bahwa stratifikasi sosial merupakan suatu cerminan kedudukan anggota masyarakat yang menempati posisi berbeda-beda antara satu personal atau kelompok dengan yang lainnya dalam sebuah komunal masyarakat. Posisi yang berbeda ini terjalin dalam bentuk jalinan vertikal, dari atas ke bawah atau sebaliknya.

Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi dalam bukunya Setangkai Bunga Sosiologi menyatakan bahwa selama dalam masyarakat ada sesuatu yang dihargai, maka dengan sendirinya pelapisan sosial akan terjadi. Ukuran atau kriteria yang menonjol atau dominan sebagai dasar pembentukan stratifikasi social adalah ukuran kekayaan, kekuasaan dan wewenang, kehormatan, serta ilmu pengetahuan. a. Ukuran kekayaan adalah kepemilikan harta benda seseorang dilihat dari jumlah dan materiil saja. Biasanya orang yang memiliki harta dalam jumlah yang besar akan menempati posisi teratas dalam penggolongan masyarakat berdasarkan kriteria ini. b. Ukuran kekuasaan dan wewenang adalah kepemilikan kekuatan atau power seseorang dalam mengatur dan menguasai sumber produksi atau pemerintahan. Biasanya ukuran ini dikaitkan dengan kedudukan atau status social seseorang dalam bidang politik. c. Ukuran kehormatan dapat diukur dari gelar kebangsawanan atau dapat pula diukur dari sisi kekayaan materiil. Orang yang mempunyai gelar kebangsawanan yang menyertai namanya, seperti raden, raden mas, atau raden ajeng akan menduduki strata teratas dalam masyarakat. d. Ukuran ilmu pengetahuan, artinya ukuran kepemilikan seseorang atau penguasaan seseorang dalam hal ilmu pengetahuan. Kriteria ini dapat pula disebut sebagai ukuran kepandaian dalam kualitas. Berdasarkan ukuran ini, orang yang berpendidikan tinggi, misalnya seorang sarjana akan menempati posisi teratas dalam stratifikasi sosial di masyarakat.

Bagan stratifikasi Sosial 2. Differensiasi Sosial Diferensiasi sosial adalah pengelompokan masyarakat secara horisontal berdasarkan ciri-ciri tertentu. Perbedaan-perbedaan itu tidak dapat diklasifikasikan secara bertingkat/vertikal seperti halnya pada tingkatan dalam lapisan ekonomi, yaitu lapisan tinggi, lapisan menengah dan lapisan rendah. Pengelompokan horisontal yang didasarkan pada perbedaan ras, etnis (suku bangsa), klen dan agama disebut kemajemukan sosial, sedangkan pengelompokan berasarkan perbedaan profesi dan jenis kelamin disebut heterogenitas sosial. Kalau kita memperhatikan masyarakat di sekitar kita, ada banyak sekali perbedaan-perbedaan yang kita jumpai. Dalam penelitian kali ini kami melakukan di Desa Tempel, Dempet Demak, di desa ini kami menemui terjadinya diferensiasi,

diferensiasi tersebut berupa perbedaan-perbedaan antara lain dalam agama, ras, etnis, clan (klen), pekerjaan, budaya, maupun jenis kelamin. Di Desa Tempel, Dempet Demak penulis mengidentifikasi bahwa masyarakat yang tinggal di desa terdebut itu merupakan masyarakatnya bersifat heterogen, karena di desa tersebut terlihat banyak terdapat bentuk diferensiasi sosial diantaranya diferensiasi dalam hal: 1. Profesi Masyarakat yang tinggal di Desa Tempel, Dempet Demak ini ditemui bahwa memiliki profesi atau mata pencaharian yang beraneka macam diantara profesi tersebut pertani padi, petani lombok, petani jagung, petani tomat, petani tebu dan lain sebagainya dengan keanekaragaman profesi tersebut maka di masyarakat Desa Tempel, Dempet Demak terjadi deferensiasi Sosial dalam hal profesi. 2. Agama Selain dalam hal profesi masyarakat Tempel, Dempet Demak relative seraga dalam hal kepercayaan, yaitu Islam tetap ada dua aliran keagamaan yaitu NU dan juga Muhammadiyah namun begitu ada juga didaerah perbatasan yang beragama Kristen yang terdiri dari protestan dan katolik. 3. Gender Tentunya dalam sebuah masyarakat terdapat deferensiasi berdasarkan gender sehingga dalam pembagiaan tugas pun dapat kita lihat dalam menjabat sebagai ketua RT / RW selalu dari kalangan laki-laki, tetapi saat ada acara PKK yang menjabat ketua adalah perempuan. 4. Usia Usia adalah hal yang tidak dapat dihindari ketika seseorang dirasa kurang produktif dalam masyarakat tersebut maka orang tersebut tergolong usia non produktif. Dalam hal ini kelompok kami mengamati bahwa penduduk Desa Riginanyar yang non produktif mendapatkan perlakuan khusus seperti lebih diayomi atau lebih dirawat oleh usia Produktif. Sedangkan penduduk dalam usia produktif akan mencari pekerjaan guna memenuhi kebutuhaan hidup,serta menagung keperluaan usia non produktif. Melihat fenomena seperti ini maka di Desa Tempel, Dempet Demak telah terjadi diferensiasi sisoal dalam hal Usia.

C. HASIL LAPORAN 1. Di Bidang Stratifikasi Sosial Setelah penulis melakukan pengamatan dan penelitian di Desa penulis yaitu Desa Tempel, Dempet Demak, maka dapat penulis deskripsikan pengaruh dari keduanya dalam aspek hidupan social masyarakat adalah sebagai berikut: a. Dari ukuran kekayaan Kekayaan (materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan paling banyak mana ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, yang tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah. Kekayaan tersebut dapat dilihat antara lain pada bentuk tempat tinggal, benda-benda tersier yang dimilikinya, cara berpakaiannya, maupun kebiasaannya dalam berbelanja. Contohnya di daerah Tempel, Dempet terdapat para juragan selep yang memiliki pabrik selep yang sangat besar. Ia memiliki rumah mewah, tanah yang luas, mobil, dan truk. Sedangkan para buruh pekerjanya hanya memiliki rumah sederhana, dan kebutuhan hidp yang pas-pasan. Maka dari itu juragan selep bisa dengan leluasa menyuruh buruh untuk pabrik seleb miliknya karena status kekayaan mereka berbeda. b. Ukuran kekuasaan dan wewenang Selain kekayaan terjadi juga stratifikasi dibidang kekuasaan dan wewenang, ini terlihat dari struktur pemerintahan di Desa Tempel, Dempet Demak. Dimana kekauasaan tertinggi berada di tangan kepala desa, kemudian kebawah menuju Sekdes dan bwahanbawahannya. Berikut struktur pemerintah desa Tempel, Dempet tahun 2012
Kepala Desa

BPD Sekretaris Desa

KASI UMUM

KASI ADMINISTRASI

KASI PEMERINTAHAN

KASI KEUANGAN

c. Ukuran ilmu pengetahuan Selain kekayaan dan kewenangan ada lagi stratifikasi social di Desa Tempel, Dempet yang terlihat antara lain ilmu pengetahuan. Seorang lulusan sarjana perguruan tinggi lebih sering diajak bertukar pikiran tentang permasalahan daripada seorang yang memiliki lulusan SMA. Selain itu juga seorang yang lulusan pondok pesantren biasanya lebih sering didaulat untuk memimpin masjid atau musholla daripada orang biasa yang

tidak pernah mondok. Sehingga di Desa Tempel, Dempet terjadi stratifikasi sosial di bidang ilmu pengetahuan. 2. Di bidang Diferensiasi Sosial Contoh diferensiasi sosial yang penulis identifikasi yaitu diferensiasi yang terjadi di desa Desa Tempel, Dempet Demak. Di desa ini merupakan suatu desa yang memiliki keragaman diferensiasi dalam berbagai hal seperti Agama, aliran agama, pekerjaan, jenis kelamin, usia, etnik, kebudayaan, dan lain sebagainya. Wujud diferensiasi sosial yang terjadi di desa Tempel, Dempet Demak yaitu: Agama Aliran Keagamaan Jenis kelamin Pekerjaan : Islam dan Kristen : NU dan Muhammadiyah : Laki-laki & Perempuan : Pertani padi, petani lombok, petani jagung, petani tomat, petani tebu dan lain sebagainya Usia Etnik : Balita, Anak-anak, Remaja, Dewasa, Tua : Jawa, Non Jawa

Dalam diferensiasi sosial tidak jarang menimbulkan suatu dampak negatif seperti konflik sosial dan perpecahan. Pada masyarakat desa Desa Tempel, Dempet demak, untuk mengurangi dampak tersebut ditumbuhkan rasa toleransi yang tinggi pada masyarakat dengan cara saling menghormati dan tidak mengganggu jalannya masing-masing perbedaan selama tidak bertentangan keras/merugikan masyarakat secara umum. Berikut ini adalah data differensiasi social masyarakat disekitar penulis berdasarkan agama yang mereka anut No 1 102 Islam Muhammadiyah NU 575 Katolik 10 Kristen Protestan 10