Anda di halaman 1dari 2

2

2 Gambar 1 Tanaman tin ( Ficus carica L.). Kandungan fitokimia tanaman ini terutama buahnya sudah

Gambar 1 Tanaman tin (Ficus carica L.).

Kandungan fitokimia tanaman ini terutama buahnya sudah banyak diteliti oleh para peneliti di beberapa negara Timur Tengah, Eropa, dan Amerika Serikat. Buah tin merupakan sumber penting komponen bioaktif seperti fenol, benzaldehida, terpenoid, flavonoid, dan alkaloid yang memiliki sifat antioksidan. Sementara daun tin mengandung alkaloid, saponin, flavonoid, dan polifenol. Menurut Joseph & Raj (2011), tanaman tin diklasifikasikan sebagai berikut:

Kerajaan

Divisi

Kelas

Ordo

Famili

Genus

: Ficus

Spesies

: Ficus carica

Flavonoid

Flavonoid adalah kelompok penting polifenol. Senyawa ini umumnya terdapat pada tanaman dan merupakan pigmen pada tanaman tingkat tinggi (Singh 2002). Senyawa ini terdapat pada seluruh bagian tanaman, termasuk pada buah, tepung sari, dan akar (Sirait 2007). Flavonoid banyak ditemukan di alam karena sekitar 2% karbon yang disintesis tumbuhan diubah menjadi flavonoid (Markham 1988). Struktur kimia flavonoid didasarkan pada kerangka C 15 , terdiri atas 2 cincin benzena yang dihubungkan dengan rantai 3 karbon, yaitu C 6 -C 3 -C 6 (Pengelly 2004). Kerangka ini dapat memiliki 3 macam bentuk struktur, yaitu flavonoid, isoflavonoid, dan neoflavonoid. Perbedaan struktur ketiganya ialah pada letak gugus fenil rantai propana (C 3 ), yaitu berturut-turut 2-, 3-, dan 4-fenil benzopiran (Marais et.al. 2006).

2-, 3-, dan 4-fenil benzopiran (Marais et.al. 2006). Gambar 2 Struktur flavonoid (1), isoflavonoid (2), dan

Gambar 2 Struktur flavonoid (1), isoflavonoid (2), dan neoflavonoid (3) (Marais et al. 2006).

Flavonoid merupakan senyawa polar karena memiliki gugus hidroksil yang tidak tersubstitusi. Oleh karena itu, pelarut yang mengekstraksi flavonoid juga merupakan senyawa polar seperti etanol, metanol, n- butanol, aseton, dimetilsulfoksida, dimetilformamida, dan air (Markham 1988). Flavonoid berperan pada berbagai aktivitas biologis. Menurut para peneliti kanker di UCLA, perokok yang mengonsumsi makanan yang mengandung flavonoid dapat mengurangi risiko penyakit kanker paru-paru (Irwin 2008). Flavonoid tidak hanya dapat menghambat dan membunuh sel-sel kanker, tetapi juga menghambat invasi tumor (Stauth 2007). Menurut Miller (1996), sejumlah tanaman obat yang mengandung flavonoid memiliki aktivitas antioksidan, antibakteri, antivirus, antiradang, dan antialergi. Menurut Pietta et al. (2003), flavonoid memiliki aktivitas antiradang.

Tanin

Tanin merupakan senyawa polifenol yang tersebar luas dalam tumbuhan terutama dalam tumbuhan berpembuluh (Harborne 1987). Senyawa tanin memiliki bobot molekul 5003000 dan dapat mengendapkan protein dalam larutan. Tanin terbagi dalam 2 kelompok, yaitu tanin terhidrolisis dan tanin terkondensasi. Tanin terhidrolisis mudah dihidrolisis secara kimiawi dan enzimatis. Tanin jenis ini terdapat di beberapa legum tropika seperti Acasia spp. Tanin terkondensasi paling banyak tersebar di tanaman dan dianggap sebagai tanin tanaman (Cannas 2009). Dalam uji kualitatifnya, tanin dapat membentuk kompleks dengan larutan feri klorida menghasilkan warna biru kehitaman. Tanin merupakan senyawa polar dan umumnya diekstraksi menggunakan pelarut polar. Cara tradisional untuk mengekstrak tanin ialah menggunakan air dengan pemanasan, penggaraman dengan natrium

klorida, ekstraksi kembali dengan aseton, dan penghilangan lipid dari bahan yang larut dalam aseton dan eter. Penambahan natrium klorida sedikit demi sedikit dapat mengendapkan tanin. Etanol dapat digunakan untuk melarutkan tanin yang mengendap (Robinson 1995).

Triterpenoid/Steroid

Triterpenoid merupakan senyawa dengan kerangka karbon berasal dari 6 satuan isoprena dan dibiosintesis dari hidrokarbon C 30 asiklik skualena. Triterpenoid berstruktur siklik yang relatif rumit; kebanyakan berupa alkohol, aldehida, atau asam karboksilat; tidak berwarna, berbentuk kristal, biasanya bertitik leleh tinggi, optis aktif, dan umumnya sukar dicirikan karena tidak ada keaktifan kimia secara khusus yang dimiliki (Harborne 1987). Lebih lanjut menurut Harborne (1987), triterpenoid dapat digolongkan menjadi 4 golongan, yaitu triterpena, steroid, saponin, dan glikosida jantung. Triterpena dan steroid terdapat dalam bentuk glikosida. Triterpena tertentu terkenal dengan rasanya yang pahit seperti limonena dalam buah jeruk. Struktur steroid sangat beragam sehingga metode isolasi umum sulit diperoleh. Senyawa steroid sebagian besar nonpolar hingga semipolar sehingga proses isolasi dapat menggunakan pelarut benzena atau eter yang nonpolar. Di sisi lain, senyawa glikosida umumnya diekstraksi menggunakan pelarut polar seperti etanol dan metanol (7090%) dengan pemanasan (Robinson 1995).

Ekstraksi

Ekstraksi merupakan metode pemisahan secara fisik atau kimia satu atau lebih senyawa yang diinginkan dari larutan atau padatan yang mengandung campuran senyawa (Hunt 1988). Pemisahan pada ekstraksi menggunakan prinsip like dissolve like, artinya kelarutan zat dalam pelarut bergantung pada kepolarannya. Zat yang polar hanya larut dalam pelarut polar, begitu pula zat nonpolar hanya larut dalam pelarut nonpolar. Pemilihan pelarut dalam ekstraksi harus memperhatikan selektivitas, kemampuan mengekstraksi komponen sasaran, toksisitas, kemudahan untuk diuapkan, dan harga (Harborne 1987). Secara umum terdapat tiga metode ekstraksi, yaitu metode perkolasi, maserasi, dan soxhletasi (Houghton & Raman 1998). Maserasi merupakan metode ekstraksi dengan

3

cara merendam sampel dalam pelarut tunggal atau campuran dengan atau tanpa pengadukan, tanpa pemanasan untuk mengekstraksi sampel yang relatif mudah rusak oleh panas. Menurut List dan Schmidt (1989), metode maserasi relatif sederhana karena tidak memerlukan alat-alat yang rumit, relatif mudah, murah, dan dapat menghindari rusaknya komponen senyawa akibat panas. Namun, waktu yang diperlukan relatif lama (umumnya 1−2 hari perendaman) dan penggunaan pelarut tidak efektif dan efisien (Meloan 1999).

Uji Antioksidan Metode DPPH dan Antioksidan

Halliwell dan Gutteridge (1997) mendefinisikan antioksidan ke dalam 4 pengertian. Pertama, antioksidan diartikan sebagai bahan yang mampu mengeliminasi radikal bebas dan spesies reaktif secara katalitik. Kedua, antioksidan diartikan sebagai protein yang mampu meminimumkan sifat prooksidan (seperti transferin dan metalotionein). Ketiga, antioksidan berupa protein yang mampu melindungi biomolekul dari kerusakan. Keempat, antioksidan adalah kelompok bahan yang mampu “memakan” spesies oksigen dan nitrogen yang reaktif. Menurut Qonita (2009), terdapat 3 macam antioksidan. (1) Antioksidan dapat dibuat oleh tubuh, berupa enzim antara lain superoksida dismutase, glutatione peroksidase, peroksidase, dan katalase. (2) Antioksidan alami dapat diperoleh dari tanaman atau hewan, misalnya tokoferol, vitamin C, beta karotena, flavonoid, dan senyawa fenolik. (3) Antioksidan sintetik, dibuat dari bahan-bahan kimia seperti hidroksianisol berbutil (BHA), hidroksitoluena berbutil (BHT), t- butilhidrokuinon (TBHQ), propil galat (PG), dan asam norhidroguairetat (NDGA) yang ditambahkan dalam makanan untuk mencegah kerusakan lemak. Aktivitas ekstrak daun sebagai antioksidan dapat diketahui dengan menggunakan metode 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH). Metode DPPH merupakan metode pengukuran antioksidan yang sederhana, cepat, dan tidak membutuhkan banyak reagen. Pada metode ini, DPPH berperan sebagai radikal bebas yang stabil dan berwarna ungu, yang diredam oleh antioksidan dari bahan uji. DPPH akan bereaksi dengan antioksidan tersebut membentuk 1,1-difenil-2-pikrilhidrazin yang berwarna kuning (Gambar 3) (Juniarti et al.