Anda di halaman 1dari 7
www.dirhamblora.com
www.dirhamblora.com

Materials

3. Ikatan Antar Atom Dan Antar Molekul

3.1. Gaya Ikat

Dua atom akan saling terikat jika ada gaya ikat; gaya ini terbentuk jika terjadi penurunan energi total ketika dua atom saling mendekat.

Contoh yang paling sederhana adalah molekul hidrogen, H 2 . Atom H pada ground state memiliki energi paling rendah. Namun karena elektron bermuatan negatif, maka jika ada atom H kedua yang mendekati, elektron di atom yang pertama dapat lebih dekat ke inti atom H kedua. Demikian pula halnya dengan elektron di atom H kedua dapat lebih dekat ke inti atom H pertama. Kejadian ini akan menurunkan total energi dari kedua atom dan terbentuklah molekul H 2 . Syarat yang diperlukan untuk terjadinya ikatan semacam ini adalah bahwa kedua elektron yang terlibat dalam terbentuknya ikatan tersebut memiliki spin yang berlawanan agar prinsip eksklusi Pauli dipenuhi.

Energi total terendah dari dua atom H yang berikatan tersebut terjadi bila kedua elektron menempati orbital s dari kedua atom. Apabila kedua atom lebih mendekat lagi akan terjadi tolak-menolak antar intinya; dan jika saling menjauh energi total akan meningkat. Oleh karena itu ikatan ini stabil.

Ketika kedua elektron berada di antara kedua atom dan menempati tingkat s yang overlap, ikatan kedua atom itu disebut kovalen. Namun sewaktu-waktu kedua elektron bisa berada dekat dengan salah satu inti atom dibandingkan dengan inti atom yang lain; pada saat demikian ini ikatan atom yang terjadi didominasi oleh gaya tarik antara ion positif dan ion negatif, yang disebut ikatan ion. Situasi seperti ini, di mana ikatan atom merupakan kombinasi dari dua macam jenis ikatan merupakan hal yang biasa terjadi. Dua keadaan ekstrem tersebut masing-masing akan ditinjau.

Apakah suatu molekul terbentuk karena ikatan kovalen atau ikatan ion, tergantung dari mekanisme mana yang akan membuat penurunan energi total lebih besar. Pada umumnya, makin elektropositif metal dan makin elektronegatif nonmetal maka ikatan ion akan makin dominan. Beberapa contoh adalah: LiF berikatan ion; MgO berikatan ion dengan sedikit karakter ikatan kovalen; SiO 2 memiliki ikatan ion dan ikatan kovalen yang hampir berimbang.

3.2. Ikatan Kovalen

ikatan kovalen yang hampir berimbang. 3.2. Ikatan Kovalen Gas mulia memiliki konfigurasi elektron yang orbital pada

Gas mulia memiliki konfigurasi elektron yang orbital pada tingkat energi terluarnya terisi penuh; 2 elektron pada He dan 8 elektron pada Ne dan Ar. Dengan konfigurasi gas mulia ini, atom memiliki energi ionisasi paling tinggi di antara unsur-unsur pada perioda yang sama dalam Tabel Periodik. Elektron sangat sulit terlepas dari atom induknya. Hal ini berarti bahwa konfigurasi elektron gas mulia merupakan konfigurasi yang sangat mantap, dan kita memperoleh kesan bahwa setiap unsur dalam reaksi kimia akan mencoba untuk mencapai konfigurasi elektron yang mantap ini. Konfigurasi mantap ini dapat dicapai melalui perpindahan elektron antar atom yang akan memberikan ikatan ionik, ataupun melalui kepemilikan bersama elektron antar atom yang memberikan ikatan kovalen.

Ikatan kovalen terbentuk jika dua atom saling memberikan elektron untuk dimiliki bersama. Dengan kepemilikan bersama tersebut, masing-masing atom yang membentuk ikatan akan memiliki konfigurasi gas mulia. Konsep sederhana ini memberikan jalan pada kita untuk melihat pembentukan molekul. Koreksi atas konsep ini akan dibahas kemudian.

Molekul H 2 . Contoh ikatan kovalen paling sederhana adalah ikatan antara dua atom H membentuk molekul H 2 . Atom H memiliki 1 elektron. Atom H hanya memerlukan satu elektron tambahan untuk mencapai konfigurasi electron unsur mulia He. Hal ini dapat dicapai bila ada atom H lain yang bergabung dan elektron mereka dimiliki bersama oleh kedua atom. Dengan cara ini terbentuk molekul H 2 dengan ikatan kovalen. (Gb.3.1).

• H H • H H • •
H
H
H
H

Gb.3.1. Ikatan dua atom H menjadi H 2

Molekul Cl 2 . Atom Cl memiliki konfigurasi 1s 2 2s 2 2p 6 3s
Molekul Cl 2 . Atom Cl memiliki konfigurasi 1s 2 2s 2 2p 6 3s 2 3p 5 . Tingkat energi ke-3 berisi 7 elektron.
Atom ini memerlukan tambahan satu elektron untuk mencapai konfigurasi gas mulia. Seperti halnya pada
H 2 , jika ada Atom Cl lain yang bergabung dan terjadi kepemilikan bersama satu elektron terluar terjadilah
ikatan kovalen membentuk molekul Cl 2 . (Gb.3.2)
••
••
••
•• ••
•• •• ••
•• ••
•• ••
• •
Cl
• • • •
••
Cl
• • • •
• • • •
Cl
• • Cl
• • • •
• • • •
•• ••
•• ••
•• ••
•• ••
Gb.3.2. Dua atom Cl membentuk Cl 2
Molekul HCl. Tambahan satu elektron agar atom Cl memiliki konfigurasi gas mulia juga dapat diperoleh
dengan penggabungan satu atom H. Dalam hal ini atom H juga akan memiliki konfigurasi gas mulia He.
Terbentuklah molekul HCl. (Gb.3.3.)
••
•• ••
H
Cl
• • • •
• • • •
•• ••
Gb.3.3. HCl
Promosi Elektron
Dan Hibridisasi
Contoh terjadinya promosi elektron dan hibridisasi adalah pada atom karbon. Konfigurasi atom karbon
ditulis dengan menggunakan kotak orbital adalah sebagai berikut:
C:
↑↓↑↓↑↓↑↓
↑↓↑↓↑↓↑↓
↑↑↑↑
↑↑↑↑
Kita telah melihat di bagian-2 bahwa di setiap tingkat energi, orbital s berada sedikit di bawah p. Orbital
2s dan 2p untuk atom karbon digambarkan pada Gb.3.4. Kecilnya perbedaan energi tersebut
memungkinkan terjadinya promosi elektron dari 2s ke 2p, dengan hanya sedikit tambahan energi. Jika
promosi ini terjadi maka konfigurasi tingkat energi ke-2 atom C yang semula digambarkan seperti pada
Gb.3.4.a. akan berubah menjadi seperti pada Gb.3.4.b.
Setelah promosi, terjadi hibridisasi, yaitu penyusunan kembali orbital sedemikian rupa sehingga orbital 2s
dan 2p menjadi empat orbital hibrid yang sama, yang disebut hibrida sp 3 (terdiri dari satu s dan tiga p)
seperti digambarkan pada Gb.3.4.c.
↑↑↑↑
↑↑↑↑
↑↑↑↑
↑↑↑↑
↑↑↑↑
↑↑↑↑
↑↑↑↑
↑↑↑↑
↑↑↑↑
↑↓↑↓↑↓↑↓
↑↑↑↑
promosi
hibridisasi
a)
b)
Gb. 3.4. Promosi dan hibridisasi
c)
Melalui hibridisasi ini atom C membentuk ikatan dengan empat unsur lain berbentuk tetrahedral (Gb.3.5)
yang memiliki ikatan sama kuat pada keempat ikatannya, misalnya CH 4 (methane).
Gb.3.5. Arah ikatan tetrahedral
Hibridisasi juga terjadi pada P (phosphor). Konfigurasi atom P adalah P: 1s 2 2s 2
Hibridisasi juga terjadi pada P (phosphor). Konfigurasi atom P adalah
P: 1s 2 2s 2 2p 6 3s 2 3p 3
Orbital terluarnya (tingkat energi ke-3) dapat digambarkan seperti terlihat pada Gb.3.6.a. Hibrida sp 3
terjadi seperti halnya pada karbon dengan perbedaan bahwa 2 elektron ada pada orbital 3s. Hibridisasi ini
mengantar pada pembentukan PCl 3 .
↑↑↑↑
↑↑↑↑
↑↑↑↑
↑↓↑↓↑↓↑↓
↑↑↑↑
↑↑↑↑
↑↑↑↑
↑↓↑↓↑↓↑↓
hibrida sp 3
a)
b)
Gb. 3.6. Hibrida sp 3 pada atom Phosphor.
Selain hibrida sp 3 , atom P juga dapat membentuk hibrida sp 3 d. Promosi elektron terjadi dari 3s ke 3d.
Terbentuknya hibrida sp 3 d mengantarkan terbentuknya molekul PCl 5 .
↑↑↑↑
↑↑↑↑
↑↑↑↑
↑↑↑↑
↑↑↑↑
↑↑↑↑
↑↑↑↑
↑↑↑↑
↑↑↑↑
hibrida sp 3 d
↑↑↑↑
promosi
a)
b)
Gb.3.7. Hibrida sp 3 d pada Phosphor
Hanya orbital yang setengah terisi yang dapat berperan dalam pembentukan ikatan kovalen dan setiap
orbital yang setengah terisi ini hanya akan membentuk satu ikatan. Oleh karena itu jumlah dan susunan
ikatan ditentukan oleh jumlah dan susunan orbital yang setengah terisi. Selain daripada itu, ikatan akan
terbentuk oleh orbital yang lebih banyak memberikan kemungkinan terjadinya overlap. Orbital p misalnya,
yang memberikan kemungkinan overlap lebik banyak dari orbital s, akan lebih mungkin membentuk
ikatan kovalen dibandingkan dengan orbital s (jika memang ada pilihan untuk itu). Karena ikatan kovalen
adalah diskrit dalam jumlah maupun arah, maka terdapat banyak kemungkinan struktur ikatan tergantung
dari ikatan mana yang digunakan oleh setiap atom.
Ikatan yang terbentuk bisa berarah ataupun tidak berarah, tergantung dari simetri spasial dari orbital atom-
atom yang membentuk ikatan. Bilangan kuantum l = 0 memberikan fungsi probabilitas dengan simetri
bola, misalnya 1s, 2s. Untuk l > 0, yang memberikan simetri mengerucut (bukan bola), sulit digambarkan;
namun demikian dapat diberikan ilustrasi dengan mengambil faktor probabilitas radial R 2 dan faktor
probabilitas yang tergantung sudut Φ 2 Θ 2 . Gb.3.8. memperlihatkan faktor probabilitas yang tergantung
sudut untuk tiga orbital 2p yang biasa ditemui dalam pembentukan ikatan atom. Untuk memperoleh Ψ 2
kita harus mengalikan faktor probabilitas yang tergantung sudut ini dengan faktor probabilitas radial R 2 .
z
z
y
y
y
x
x
x
2p z
2p x
2p y
Gb.3.8. Faktor probabilitas yang tergantung sudut untuk tiga status 2p.
Ikatan kovalen yang stabil terutama terjadi antara atom-atom nonmetal seperti nitrogen, oksigen, karbon,
fluor, dan chlor. Silikon, germanium, arsen, dan selenium memiliki sebagian ikatan kovalen dan sebagian
ikatan metal.
Syarat untuk terjadinya ikatan kovalen yang kuat adalah bahwa tiap atom setidak-tidaknya memiliki
orbital yang setengah terisi. Hanya dengan kondisi ini energi total dapat menjadi lebih rendah karena
elektron yang berpartisipasi membentuk ikatan akan menempati orbital kedua atom secara simultan.
Makin banyak orbital yang overlap makin kuat ikatan kovalen yang terjadi karena energi total makin
rendah. Namun demikian terjadinya orbital yang overlap dibatasi oleh gaya tolak elektrostatis antar inti
atom, dan dibatasi juga oleh prinsip Pauli.

Ikatan kovalen yang terbentuk melalui adanya orbital yang overlap, cenderung terjadi pada arah di mana

 

orbital terkonsentrasi. Kuat dan arah ikatan ditentukan oleh Ψ 2 . Jika Ψ 2 besar pada arah tertentu, ikatan akan kuat ke arah tersebut; jika Ψ 2 kecil maka ikatan akan lemah dan jika membentuk simetri bola ikatan menjadi tak berarah.

Banyaknya orbital pada atom bebas tidak selalu sama dengan banyaknya orbital pada atom yang terikat. Contoh yang terkenal adalah karbon. Karbon dengan konfigurasi elektron 1s 2 2s 2 2p 2 sering membentuk empat ikatan kovalen yang sama kuat, suatu hal yang tak mungkin terjadi jika ia hanya memiliki dua orbital yang setengah terisi (yaitu dua orbital p dengan masing-masing terisi satu elektron, sedangkan 1s dan 2s terisi penuh). Terbentuknya empat ikatan yang sama kuat pada krbon disebabkan oleh terjadinya hibridisasi, yaitu penyusunan orbital yang baru, terkait dengan penggantian satu set solusi persamaan Schrödinger dengan satu set solusi yang lain, yang ekivalen.

Apabila satu atom memiliki orbital s dan p atau s, p, dan d pada tingkat energi yang sama, dapat terjadi hibridisasi. Hibridisasi bisa mengarah ke terbentuknya molekul tetrahedral (dengan empat ikatan) atau oktahedral (delapan ikatan). Karbon adalah salah satu contohnya.

Salah satu elektron karbon yang berada di orbital 2s dapat dipromosikan ke orbital 2p jika keperluan energi untuk promosi (pada atom bebas) itu lebih dari penurunan energi pada waktu terjadi ikatan. Promosi elektron tersebut menghasilkan empat orbital setengah terisi yaitu satu orbital s dan tiga orbital p, masing-masing dengan satu elektron. Jika promosi ini saja yang terjadi, maka karbon mempunyai satu ikatan semetri bola yang lemah (orbital s) dan tiga ikatan terarah yang kuat (orbital p). Dalam kenyataan teramati bahwa empat ikatan kovalen karbon adalah sama kuat. Hal in terjadi karena terbentuk struktur elektron yang lain melalui hibridisasi, yang dalam hal karbon disebut hibridisasi sp 3 . Orbital hibrida ini secara matematis tidak lain adalah satu set solusi ekivalen pada persamaan Schrödinger bebas waktu untuk n = 2. Masing-masing orbital hibrida ini memiliki nilai Ψ 2 maksimum yang lebih besar sehingga dapat menghasilkan ikatan dengan energi lebih rendah lagi. Melalui hibridisasi ini karbon membentuk empat ikatan sama kuat dengan empat atom hidrogen, menjadi molekul CH 4 . Simetri dari ikatan sp 3 pada karbon memungkinkan atom- atom karbon membentuk ikatan tiga dimensi dengan ikatan kovalen CC yang kuat menjadi struktur intan.

Selain pada karbon, hibridisasi sp 3 juga terjadi pula pada silikon dan germanium, membentuk ikatan tetrahedral yang kuat mirip seperti struktur intan. Hibridisasi orbital tidak hanya terjadi melalui promosi elektron dari orbital s ke p seperti pada karbon, tetapi juga promosi elektron dari orbital p ke d seperti terjadi pada Xe.

3.3. Ikatan Ion

Ikatan Ion

Ikatan ion terbentuk oleh adanya gaya tarik elektrostatik antara ion positif dan ion negatif.

 

Atom nonmetal yang berkecenderungan menerima elektron dan menjadi ion negatif disebut atom elektronegatif. Atom elektronegatif memiliki hanya sedikit orbital p yang setengah terisi dan ia mampu menarik elektron luar ke dalam salah satu orbital yang setengah kosong tersebut dengan disertai penurunan energi elektron (relatif terhadap inti atom).

Sebaliknya, atom metal yang cenderung kehilangan elektronnya dan membentuk ion positif disebut atom elektropositif. Atom ini memiliki satu atau lebih elektron yang terikat longgar yang berada di tingkat energi yang tinggi dan tingkat energi ini terletak di atas kulit yang terisi penuh.

Jika atom bebas elektronegatif dan atom bebas elektropositif saling mendekat mereka akan menjadi ion yang berlawanan muatan. Energi potensial V dari pasangan ion akan menjadi lebih negatif jika jarak radial r semakin kecil. Dinyatakan sebagai tarikan elektrostatik Coulomb,

V

tarik

====−−−−

e e

1

4πε

2

0

r

====

−−−− A

r

(3.1)

dengan e 1 dan e 2 adalah muatan masing-masing ion (dalam hal Na + Cl misalnya, e

1

==== e ==== e

2

), dan A

adalah bilangan konstan. Walaupun demikian, jika jarak semakin pendek awan elektron di kedua ion akan mulai overlap, terjadilah saling tolak antara kedua ion. Pada tahap ini, sesuai dengan prinsip Pauli, beberapa elektron harus terpromosi ke tingkat yang lebih tinggi. Kerja harus dilakukan pada ion-ion ini

agar mereka saling mendekat. Kerja ini dinyatakan sebagai

 
 

B

 

r

m

dengan B adalah suatu konstanta dan m adalah bilangan pangkat hasil eksperimen. Dengan demikian

energi potensial total dari kedua ion dapat dinyatakan sebagai −−−− A B V ==== ++++
energi potensial total dari kedua ion dapat dinyatakan sebagai
−−−− A
B
V
====
++++
++++∆ E
total
m
r
r
(3.2)
∆E adalah energi yang diperlukan untuk mengubah atom netral menjadi kedua ion yang terikat, yaitu
selisih antara energi ionisasi dan afinitas elektron atom-atom yang membentuk ikatan.
B
V
=
r
m
r
A
B
V
=−
+
+∆
E
total
m
r
r
∆E
Jarak antar atom, r
E
min
d
0
A
V
a +∆ =−
E
+∆
E
r
Gb.3.9. Perubahan energi dalam pembentukan ikatan ion.
Jika −E A adalah energi elektron s terluar dari atom elektropositif A, diperlukan energi sebesar
0 −−−− (−−−−E
) ==== E
A
A
untuk melepaskannya dari atom A sehingga atom A menjadi ion; E A disebut potensial
ionisasi. Setelah lepas dari atom A elektron tersebut menjadi elektron bebas dengan potensial 0. Jika
elektron ini kemudian masuk ke atom elektronegatif B, energinya akan menurun dari 0 menjadi −E B ; E B
∆E ==== E −−−− −−−−E
(
)
disebut afinitas elektron. Jadi perubahan energi netto adalah
karena potensial ionisasi atom A lebih besar dari afinitas elektron atom B.
B
A
yang akan bernilai positif
Dari Gb.3.9. terlihat bahwa jika energi yang mengikat cukup besar (V tarik ) akan terjadi jumlah energi
minimum dan energi minimum ini terjadi pada jarak antar atom d 0 . Pada jarak inilah terjadi keseimbangan
antara gaya tarik dan gaya tolak antar ion. Penyimpangan jarak antar ion dari d 0 , baik mengecil maupun
membvesar, akan meningkatkan energi potensial sehingga terjadi gaya yang mengembalikan kearah
kedudukan seimbang.
Ikatan ion adalah ikatan tak berarah. Setiap ion positif menarik semua ion negatif yang berada di
sekelilingnya dan demikian pula sebaliknya. Jadi setiap ion akan dikelilingi oleh ion yang berlawanan
sebanyak yang masih memungkinkan; pembatasan jumlah ion yang mengelilingi ion lainnya terkait
dengan faktor geometris dan terpeliharanya kenetralan listrik pada padatan.
3.4. Ikatan Metal
Terbentuknya ikatan metal pada dasarnya sama dengan ikatan kovalen yaitu menurunnya energi total pada
waktu terbentuknya ikatan. Perbedaannya adalah bahwa ikatan metal terjadi pada sejumlah besar atom
sedangkan ikatan kovalen hanya melibatkan sedikit atom bahkan hanya sepasang. Perbedaan yang lain
adalah bahwa ikatan metal merupakan ikatan tak berarah sedangkan ikatan kovalen merupakan ikatan
berarah.
Atom metal memiliki elektron valensi yang tidak begitu kuat terikat pada intinya. Ψ 2 elektron valensi
menyebar sehingga radius rata-rata elektron valensi pada atom bebas bisa lebih besar dari jarak antar atom
pada padatan metal. Hal ini berarti bahwa dalam padatan, elektron valensi selalu lebih dekat dengan salah
satu inti atom (lain) dibandingkan dengan jarak antara elektron valensi dengan inti atom dalam keadaan
bebas, sehingga (dalam padatan) energi potensialnya menurun. Selain dari itu, energi kinetik elektron
valensi juga menurun dalam padatan karena fungsi Ψ 2 lebih menyebar dalam ruang. Penurunan energi,
baik energi potensial maupun energi kinetik, inilah yang menyebabkan terbentuknya ikatan metal. Karena
setiap elektron valensi tidak terikat hanya antara dua inti atom (tidak seperti pada ikatan kovalen) maka
ikatan metal merupakan ikatan tak berarah, dan elektron valensi bebas bergerak dalam padatan. Padatan
metal sering digambarkan sebagai “gas” elektron yang mempertahankan ion-ion positif tetap terkumpul.
0
V total

Secara umum, makin sedikit elektron valensi yang dimiliki oleh satu atom dan makin longgar tarikan dari

intinya, akan semakin mudah terjadi ikatan metal. Material dengan ikatan metal seperti tembaga, perak dan
intinya, akan semakin mudah terjadi ikatan metal. Material dengan ikatan metal seperti tembaga, perak dan
emas, memiliki konduktivitas listrik dan konduktivitas panas yang tinggi karena elektron valensi yang
sangat mudah bergerak. Metal-metal ini tak tembus pandang karena “elektron bebas” ini menyerap energi
photon. Mereka juga memiliki reflektivitas tinggi karena “elektron bebas” melepaskan kembali energi
yang diserapnya pada waktu mereka kembali pada tingkat energi yang lebih rendah.
Makin banyak elektron valensi yang dimiliki atom dan makin erat terikat pada inti atom, ikatan atom
cenderung menuju ikatan kovalen walaupun ikatan metal masih terjadi. Metal-metal transisi (yaitu atom-
atom dengan kulit d yang tidak lengkap seperti besi, nikel, tungten, dan titanium) memiliki karakter ikatan
kovalen yang melibatkan hibridisasi elektron pada orbital yang lebih dalam.
3.5. Ikatan Sekunder
Ikatan kovalen, ikatan metal, dan ikatan ion, disebut sebagai ikatan primer. Ikatan primer ini kuat. Selain
ikatan primer ada ikatan sekunder yang relatif lemah dibandingkan dengan ikatan primer. Ikatan sekunder
terbentuk oleh adanya gaya tarik elektrostatik antar dipole.
Dipol adalah molekul di mana titik pusat muatan positif tidak berimpit dengan titik pusat muatan
negatif. Hal ini merupakan konsekuensi dari adanya perbedaan afinitas elektron dari dua atom yang
membentuk ikatan. Molekul-molekul yang membentuk dipole disebut molekul polar. Molekul polar
memiliki momen dipol µ, yaitu perkalian antara muatan dan jarak d antara pusat muatan yang
berlawanan:
µ==== z ××××e×××× d
(3.3)
dengan z adalah fraksi dari muatan e. Jika berada dalam medan listrik, molekul polar cenderung
untuk mengarahkan diri sesuai dengan besar momen dipol yang dimiliki. Besar momen dipol
adalah dalam orde 10 −30 C⋅m. (momen dipol muatan listrik berlawanan sebesar 1,602 × 10 −19
Coulomb yang berjarak 1Å adalah 16,02 ×10 −30 C⋅m).
Momen dipole makin besar jika perbedaan elektronegativitas atom yang membentuk molekul polar
makin besar. Oleh karena itu transisi dari ikatan ion ke arah ikatan kovalen, dan persentase karakter
ikatan ion pada suatu molekul, dapat ditentukan berdasarkan besar momen dipolnya.
Pada molekul HF misalnya, ikatan kovalen antara atom F dan atom H menghasilkan dipol dengan
atom F sebagai ujung yang bermuatan negatif dan atom H sebagai ujung yang bermuatan positif.
Molekul ini memiliki momen dipol 6,375 × 10 −30 C⋅m (hasil eksperimen) dengan jarak
(intramolekul) 0,9178 Å. Seandainya molekul ini memiliki 100% ikatan ion, momen dipolnya
adalah
−−−−
19
−−−−
10
−−−−
30
µ ====
1,602
××××
10
××××
0,9178
××××
10
====
14,703
××××
10
C
⋅⋅⋅⋅
m
Persentase ikatan ion-nya adalah
−−−− 30
6,375
××××
10
==== 43,4 %
−−−− 30
14,703
××××
10
Contoh lain adalah molekul H 2 O. Atom oksigen memberikan dua orbital p yang setengah terisi
untuk berikatan kovalen dengan dua atom H. Karena elektron yang membentuk ikatan kovalen
lebih sering berada di antara atom O dan H, maka atom O cenderung menjadi ujung negatif dari
dipol sedangkan atom H menjadi ujung positif. Setiap ujung positif molekul H 2 O menarik ujung
negatif dari molekul H 2 O yang lain, dan terbentuklah ikatan dipol antara molekul-molekul H 2 O.
F
O
+
H
H
H
104,5 o
gambaran
H
HF
2 O
dipole
Gb.3.10. Terbentuknya dipole pada molekul HF dan H 2 O.

Ujung positif dari molekul polar akan menarik ujung negatif molekul polar yang lain, dan terbentuklah

ikatan dipol antara kedua molekul polar. Ikatan antar dipole di mana hidrogen menjadi ujung positif
ikatan dipol antara kedua molekul polar. Ikatan antar dipole di mana hidrogen menjadi ujung positif dari
dipole, disebut ikatan hidrogen dan ikatan ini agak kuat (walaupun masih jauh dari ikatan primer) karena
ukuran atom hidrogen yang sangat kecil. Ikatan hidrogen hanya terbentuk antara atom yang sangat
elektronegatif, karena atom inilah yang dapat membentuk dipole yang kuat. Ikatan hidrogen merupakan
ikatan berarah. Ikatan ini bisa paralel atau anti paralel (Gb.3.11)
+
+
+
+
paralel
anti paralel
Gb.3.11. Ikatan antar molekul polar.
Selain ikatan hidrogen yang merupakan ikatan yang terbentuk antara dipole-dipole permanen dan
merupakan ikatan berarah, terdapat ikatan antar dipole yang terjadi antara dipole-dipole yang tidak
permanen dan disebut ikatan van der Waals. Ikatan ini merupakan ikatan tak berarah dan jauh lebih lemah
dari ikatan hidrogen.
Dipole tidak permanen terbentuk karena pada saat-saat tertentu ada lebih banyak elektron di satu
sisi dari inti atom dibandingkan dengan sisi yang lain. Pada saat-saat itulah pusat muatan positif
atom tidak berimpit dengan pusat muatan negatif dan pada saat-saat itulah terbentuk dipole. Jadi
dipole ini adalah dipole yang fluktuatif. Pada saat-saat dipole terbentuk, terjadilah gaya tarik antar
dipole.
Ikatan van der Waals terjadi antar molekul gas, yang menyebabkan gas nyata menyimpang dari
hukum gas ideal. Ikatan ini pulalah yang memungkinkan gas membeku pada temperatur yang
sangat rendah.
Walaupun ikatan sekunder lebih lemah dari ikatan primer, namun sering kali cukup kuat untuk menjadi
penentu susunan akhir dari atom dalam padatan. Ikatan sekunder ini berperan penting terutama pada
penentuan struktur dan beberapa sifat polimer.
Suatu molekul mungkin mengandung dipol tetapi tidak memiliki momen dipol; hal ini terjadi jika ikatan
terdistribusi secara simetris sehingga dipol yang ada saling meniadakan. Sebagai contoh adalah molekul
CO 2 ; molekul ini mengandung dua dipol akan tetapi tidak memiliki momen dipol karena molekul ini linier
sehingga kedua dipole saling meniadakan. Ikatan CO 2 adalah
O = C = O
Hal ini berbeda dengan H 2 O yang ikatannya membentuk sudut 104,5 o .
Contoh lain adalah CCl 4 . Molekul ini adalah molekul nonpolar karena empat dipol yang dimiliki
terdistribusi secara simetris dan saling meniadakan satu sama lain sehingga resultannya nol.
Cl
|
Cl − C − Cl
|
Cl
Sudaryatno S, Ning Utari, Ikatan Atom dan Molekul, Agustus 2008