Anda di halaman 1dari 10

Nazaruddin Tersandung Kasus Korupsi Simulator SIM

Terpidana suap Wisma Atlet Sea Games, Muhammad Nazaruddin, ikut tersandung kasus dugaan korupsi proyek pengadaan simulator Surat Izin Mengemudi (SIM) di Korps Lalu Lintas Polri. Dia diketahui terlibat tender pengadaan yang saat ini sedang disidik Komisi Pemberantasan Korupsi. Berdasarkan dokumen yang diperoleh wartawan KPK, tender proyek pengadaan itu diikuti oleh lima pemenang tender. Dua perusahaan diduga milik Muhammad Nazaruddin, Yakni PT Digo Mitra Slogan dan PT Kolam Intan Prima, ikut proyek senilai Rp196.867.952.000. Tiga perusahaan lain, PT Citra Mandiri Metalindo Abadi, PT Bentina Agung, dan PT Dasma Pertiwi. Proyek ini terbagi menjadi dua, simulator untuk kendaraan roda dua dengan nilai kontrak Rp54.453.000.000 dan simulator untuk roda 4 dengan nilai Rp142.414.952.000. Keterlibatan perushaan Nazar itu diketahui dari Berkas Acara Pemeriksaan mantan anak buah suami Neneng Sri Wahyuni itu, Yulianis, di depan penyidik. Saat diperiksa sebagai saksi dalam kasus berbeda, Yulianis menyebut Nazaruddin dan istrinya itu memiliki 38 perusahaan termasuk PT Digo Mitra Slogan dan PT Kolam Intan Prima.

Pemberantasan, Korupsi Tahun 2010 Masih Stagnasi

Pemberantasan Korupsi tahun 2010 masih mengalami stagnasi. Nyaris tidak ada kemajuan yang patut di banggakan. Di sejumlah sektor, upaya bersih-bersih negeri dari sampah korupsi ternyata jalan ditempat. Aktor korupsi, tahun 2010 masih di dominasi oleh pejabat negara. Disamping itu, vonis bebas bagi para koruptor masih mewarnai tahun ini. Direktur Pukat (Pusat Kajian Anti Korupsi) Fakultas Hukum UGM, Zainal Arifin Mochtar, mengatakan, Genderang perang yang di tabuh sang pemimpin negeri terdengar nyaring di medan wacana, tapi sepi di arena yang sesungguhnya. Terpuruk, itulah potret akhir perjalanan pemberantasan korupsi satu tahun ini, Zainal menambahkan, untuk pengadilan Tipikor, kesakralannya masih terjaga karena tidak ada satu pun memutus bebas kasus korupsi, ujarnya. Tidak dapat dipungkiri, kata Zainal, jalannya pemberantasan korupsi satu tahun ini selalu dibayangi tarik ulur politik. Di tingkat makro misalnya, masih banyak kasus korupsi kelas kakap yang tidak di protes sampai tuntas. Lebih lanjut Zainal mengatakan, skandal Bank Century yang diduga merugikan negara hingga Rp. 6,7 triliun. Meski pada akhirnya, DPR menyimpulkan terdapat pelanggaran hukum dan karenanya harus di proses secara pro justicial. Faktanya, sampai hari ini kasus ini masih belum terjamah, bebernya.

Pemberantasan Korupsi Tahun 2010 Masih Stagnasi

Pemberantasan Korupsi tahun 2010 masih mengalami stagnasi. Nyaris tidak ada kemajuan yang patut di banggakan. Di sejumlah sektor, upaya bersih-bersih negeri dari sampah korupsi ternyata jalan ditempat. Aktor korupsi, tahun 2010 masih di dominasi oleh pejabat negara. Disamping itu, vonis bebas bagi para koruptor masih mewarnai tahun ini. Direktur Pukat (Pusat Kajian Anti Korupsi) Fakultas Hukum UGM, Zainal Arifin Mochtar, mengatakan, Genderang perang yang di tabuh sang pemimpin negeri terdengar nyaring di medan wacana, tapi sepi di arena yang sesungguhnya. Terpuruk, itulah potret akhir perjalanan pemberantasan korupsi satu tahun ini, Zainal menambahkan, untuk pengadilan Tipikor, kesakralannya masih terjaga karena tidak ada satu pun memutus bebas kasus korupsi, ujarnya. Tidak dapat dipungkiri, kata Zainal, jalannya pemberantasan korupsi satu tahun ini selalu dibayangi tarik ulur politik. Di tingkat makro misalnya, masih banyak kasus korupsi kelas kakap yang tidak di protes sampai tuntas. Lebih lanjut Zainal mengatakan, skandal Bank Century yang diduga merugikan negara hingga Rp. 6,7 triliun. Meski pada akhirnya, DPR menyimpulkan terdapat pelanggaran hukum dan karenanya harus di proses secara pro justicial. Faktanya, sampai hari ini kasus ini masih belum terjamah, bebernya.

KPK Berwenang Sidik Simulator SIM

Pasal 50 Ayat (3) Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan, dalam hal KPK sudah mulai melakukan penyidikan, kepolisian atau kejaksaan tidak berwenang lagi melakukan penyidikan. Apa yang termaktub dalam pasal tersebut sudah sangat jelas. Kepolisian atau kejaksaan tidak memiliki wewenang, untuk menyidik suatu tindak pidana korupsi yang telah disidik oleh KPK. Dalam kasus tindak pindana korupsi simulator surat izin mengemudi (SIM) di Korps Lalu-lintas (Korlantas) Kepolisian Republik Indonesia itu, semestinya yang berwenang adalah KPK, kata Ketua Presidium Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI), Parlindungan Simarmata, di Jakarta, Senin (6/8/2012). Untuk itu, dia mendesak agar Kepolisian Republik Indonesia (Polri) taat terhadap UU, dan menyerahkan penyidikan kepada KPK. Bagi Parlindungan Simarmata, polemik antara KPK dan Polri menunjukkan, belum ada satu visi dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia di antara lembaga penegak hukum. Sebagai Lembaga penegak hukum, seharusnya Polri lebih transparan ketika kasus-kasus dugaan korupsi ini terjadi di lembaganya. Kalau Polri masih ngotot harus terlibat dalam penyidikan ini, artinya lembaga itu sedang kebakaran jenggot, dan jangan-jangan ada sesuatu yang mau ditutup-tutupi dari proses hukum, katanya. Agar pertikaian antarlembaga tak berlarut-larut, Presiden Yudhoyono harus cepat mendorong supaya setiap lembaga taat pada UU KPK. Jika malu disidik KPK, Polri harus berbenah diri. Kepolisian jangan menjadi kuburan kasuskasus korupsi, katanya.

Zulkarnain : Semua Ada Di Tangan Hakim

Wakil Ketua KPK Zulkarnain mengatakan, jika hakim sudah memutuskan menyita harta mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, maka penyitaan baru bisa dilakukan. Kalau ditetapkan ya harus dilaksanakan. Jaksa harus melaksanakannya, kata Zulkarnain usai mengikuti launching e-Modul Gratifikasi di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (29/11/2012). Lalu, apakah jika penetapan hakim berimplikasi terhadap status Siti Fadilah, Zulkarnain belum bisa memastikan. Dilihat dulu isi penetapannya secara jelas, ucap Zulkarnain. Sebelumnya, tim jaksa penuntut umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meminta majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta menyita harta kekayaan atau uang hasil tindak pidana korupsi, yang dilakukan mantan pejabat Departemen Kesehatan Rutsam S Pakaya. Sebagian uang hasil korupsi proyek pengadaan alat kesehatan 1 untuk kebutuhan Pusat Penanggulangan Krisis Departemen Kesehatan tahun anggaran 2007, mengalir ke menteri kesehatan saat itu, Siti Fadilah Supari. Ini merupakan bagian dari surat tuntutan jaksa yang dibacakan jaksa KPK, dalam persidangan yang berlangsung di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Selasa (6/11/2012). Meminta perampasan harta kekayaan atau uang hasil tindak pidana korupsi agar dikembalikan ke kas negara, yang ada pada Siti Fadilah Supari Rp 1,27 miliar, ucap JPU Iskandar Marwanto. Dalam surat dakwaan, jaksa menilai Rustam terbukti melakukan tindak pidana korupsi dengan melakukan perbuatan melawan hukum untuk memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi,

Kasus Simulator SIM Perwira Polisi Diperiksa Lagi

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan pemeriksaan tiga perwira Kepolisian, Jumat (14/9/2012), sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi proyek simulator ujian surat izin mengemudi (SIM) Korps Lalu Lintas (Korlantas Polri). Ketiga perwira Polisi itu adalah Komisaris Besar Polisi, Budi Setyadi, Komisaris Polisi, Setya Budi, dan Ajun Komisaris Polisi, Edith Yuswo Widodo. Kepala Bagian Pemberitaan dan Informasi KPK, Priharsa Nugraha mengatakan bahwa ketiganya akan dimintai keterangan sebagai saksi untuk tersangka kasus dugaan korupsi simulator SIM, Irjen (Pol) Djoko Susilo. Sebagai saksi untuk DS (Djoko Susilo), ujarnya. Selain ketiganya, KPK memeriksa pegawai negeri sipil di Polri yang bernama Suyatim. Berdasarkan penelusuran, Kombes Budi Setyadi menjabat sebagai analis kebijakan madya regiden di Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri. Sebelumnya, Budi diketahui menjadi Direktur Lalu Lintas Polda Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Dalam kasus simulator SIM ini, KPK menetapkan empat tersangka atas dugaan melakukan penyalahgunaan kewenangan sehingga menimbulkan kerugian negara. Selain Djoko, tiga orang lain yang jadi tersangka adalah Brigadir Jenderal (Pol) Didik Purnomo dan dua pihak swasta, Budi Susanto dan Sukotjo S Bambang. Ketiga tersangka terakhir itu juga ditetapkan sebagai tersangka oleh Kepolisian Negara RI. Terkait penyidikan kasus ini, sebelumnya KPK memeriksa Kepala Polres Temanggung, AKBP Susilo Wardono, Kepala Subdit Pendidikan dan Rekayasa Direktorat Lalu Lintas Polda Jawa Tengah, AKBP Indra Darmawan, Kepala Kepolisian Resor Kebumen, AKBP Heru Trisasono, empat perwira polisi yakni, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Wandi Rustiwan, AKBP Wisnhu Buddhaya, Komisaris Polisi (Kompol) Endah Purwaningsih, dan Kompol Ni Nyoman Suwartini, Sukotjo S Bambang dan Intan Pardede, Sekretaris Budi Susanto.

KORUPSI WISMA ATLET, Mekeng: Ketua Banggarnya Bukan Saya

JAKARTA (Suara Karya): Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Melchias Markus Mekeng mengungkapkan bahwa dirinya sama sekali tidak terlibat dalam kasus suap Wisma Atlet dalam pemeriksaan yang dilakukan oleh Pengadilan Tipikor, kemarin. Menurut Mekeng, dirinya ditugaskan dan dilantik sebagai Ketua Banggar sejak 19 Juli 2010, sementara anggaran untuk pembangunan wisma atlet dibahas dalam APBN Perubahan Tahun 2010. "Jadi saya belum menjadi bagian dari Banggar DPR RI, baik sebagai anggota, maupun Ketua Banggar. Tidak benar kalau Nazaruddin bilang biangnya atau Ketua Besar itu adalah saya," kata Mekeng kepada wartawan, kemarin. Dia melanjutkan, sesuai dengan siklus pembahasan APBN maka selaku Ketua Badan Anggaran DPR RI dirinya mulai bertugas sebagai Ketua Badan Anggaran DPR RI sejak Juli 2010 dengan memulai Agenda Pembahasan APBN Tahun Anggaran 2011 dan seterusnya hingga saat ini. Dia menambahkan, bahwa untuk memperjelas masalah suap wisma atlet, dirinyalah yang meminta Nazaruddin untuk menyebutkan nama-nama dari oknum yang terlibat. "Harus dijelaskan secara jelas dan jangan setengah-setengah, Ketua Banggar siapa yang terlibat, jadi tidak menimbulkan persepsi yang mendua," tegasnya. Dia juga mengungkapkan kronologi arus kebijakan keuangan SEA Games X DPR RI pada tahun anggaran 2010 yaitu sebagai berikut: Masalah pembahasan dan penetapan anggaran pembangunan wisma atlet di Palembang adalah keputusan resmi Komisi X DPR RI. "Kebijakan seputar keuangan SEA Games 2011 memang diputuskan di Komisi X," katanya. Mekeng melanjutkan, rapat kerja antara Komisi X DPR RI dengan Menteri Pemuda dan Olahraga pada 20 Januari 2010 menyimpulkan bahwa Komisi X DPR RI dan pemerintah sepakat membentuk Panitia Kerja (Panja) SEA Games dan Para Games 2011.

Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI)

Kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Kasus BLBI pertama kali mencuat ketika Badan Pemeriksa Keuangan mengungkapkan hasil auditnya pada Agustus 2000. Laporan itu menyebut adanya penyimpangan penyaluran dana BLBI Rp 138,4 triliun dari total dana senilai Rp 144,5 triliun. Di samping itu, disebutkan adanya penyelewengan penggunaan dana BLBI yang diterima 48 bank sebesar Rp 80,4 triliun. Bekas Gubernur Bank Indonesia Soedradjad Djiwandono dianggap bertanggung jawab dalam pengucuran BLBI. Sebelumnya, mantan pejabat BI lainnya yang terlibat pengucuran BLBI?Hendrobudiyanto, Paul Sutopo, dan Heru Soepraptomo?telah dijatuhi hukuman masingmasing tiga, dua setengah, dan tiga tahun penjara, yang dianggap terlalu ringan oleh para pengamat. Ketiganya kini sedang naik banding. Bersama tiga petinggi BI itu, pemilik-komisaris dari 48 bank yang terlibat BLBI, hanya beberapa yang telah diproses secara hukum. Antara lain: Hendrawan Haryono (Bank Aspac), David Nusa Widjaja (Bank Servitia), Hendra Rahardja (Bank Harapan Santosa), Sjamsul Nursalim (BDNI), dan Samadikun Hartono (Bank Modern).

Wisma Atlet SEA GAME

Tersangka kasus dugaan suap pembangunan Wisma Atlet SEA Games dan anggaran di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Angelina Sondakh (Angie) harus mau mengungkap pelaku utama. Oleh karena itu, Angie sebaiknya menerima tawaran Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menjadi justice collaboratoruntuk membongkar mafia anggaran. Hal itu dikatakan anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Gerindra Martin Hutabarat saat berbincang dengan SP di Jakarta, Rabu (2/5). Ya. Kasus Angie ini bisa menjadi pintu masuk untuk membongkar orang-orang di atas. Membongkar praktik mafia anggaran, ujarnya. Menurut Martin, Angie sebaiknya cerdas menyikapi tawaran untuk menjadi justice collaborator. Pasalnya, tawaran itu menjadi peluang untuk memulihkan nama baiknya yang sudah tercemar. Nasib yang dialami Angie saat ini sangat tragis, dari seorang Putri Indonesia yang terkenal cantik dan cerdas, seorang anggota DPR yang populer dan menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Utara, kini ditahan oleh KPK karena dugaan keterlibatan dalam sindikat korupsi di Banggar DPR. Dia menjadi ejekan dan cemoohan masyarakat. Sangat naif kalau Angie mengabaikan tawaran ini, ujarnya. Oleh karena itu, Martin menyarankan agar Angie berbicara terus terang, sehingga hukumannya dapat dikurangi. Kalau Angie mau buka-bukaan, masih ada peluang bagi dia untuk kembali tampil di publik sesudah menjalani hukuman. Martin berkeyakinan kalau Angie akan mau bekerja sama dengan KPK. Dikatakan pula, tawaran LPSK untuk menjadi justice collaborator adalah tawaran yang realistis dan mencerminkan rasa keadilan. Pasalnya, LPSK meyakini bahwa Angie bukan otak Selain membeberkan pelaku utama, Angie juga harus bersedia mengembalikan sejumlah aset hasil kejahatan yang diperolehnya kepada negara. Hal itu sesuai dengan pengajuan LPSK terhadap revisi Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, yang telah mengatur secara eksplisit mengenai perlindungan.

Artalyta Kasus Penyuapan Jaksa dan Mafia Peradilan

Di bawah adalah artikel-artikel yang memuat berbagai kasus tentang Mafia Peradilan. Terdakwa bisa membayar sejumlah uang ke oknum polisi atau kejaksaan untuk keringanan hukuman. Di Majalah Trust disebutkan bagaimana para jaksa hidup dengan mewah meski penghasilannya biasa-biasa saja. Pelataran Parkir Mabes Polri juga dipenuhi mobil mewah. Ada juga pengakuan seorang pengacara sebagai berikut: Nyanyian lain tentang kemaruknya jaksa datang dari seorang pengacara. Katanya, untuk bisa negosiasi dengan jaksa, paling tidak harus menyiapkan dana Rp 500 juta. Pembagian duitnya pun bervariasi sesuai kepangkatan. Kajati, misalnya, mendapat Rp 250 juta. Pejabat setingkat Asisten Jaksa Tinggi mendapat Rp 125 juta. Lalu, sisanya diberikan kepada jaksa cere yang mondar-mandir di pengadilan. Kami membayar setelah putusan diketuk dan biasanya di Hotel Sahid dan Hotel Kartika Chandra, tutur si pengacara. Di Kompas ditulis cuplikan transkrip percakapan antara seorang jaksa dengan terdakwa. Jaksa tersebut mengatakan bahwa dia akan dicopot sambil tertawa ringan. Sepertinya dia tidak merasa takut sama sekali. Memang banyak aparat hukum yang dicopot dari jabatannya ketika melakukan pelanggaran hukum. Tapi setahun dua tahun kemudian kembali menduduki jabatan lagi. Oleh karena itu pencopotan jabatan bukanlah sesuatu hal yang harus ditakuti. Harusnya jika ada Jaksa yang korup, bukan sekedar dicopot dari jabatannya. Tapi harta hasil korupsi harus disita. Dia harus dipecat dan diseret ke pengadilan untuk dihukum sebesarbesarnya. Ini agar timbul efek jera. Andrinof A Chaniago dari CIRUS dalam makalahnya tentang Reformasi Institusi Kejaksaan dan Kepolisian mengungkap berbagai kasus suap terhadap polisi dan kejaksaan. Sebagai aparat hukum, para polisi, jaksa, dan hakim seolah-olah bukan sekedar penegak hukum. Tapi memiliki hukum. Sehingga timbul kasus jual-beli hukum.