Anda di halaman 1dari 5

LEMBARAN PENGESAHAN Ceramah ini dibuat untuk melengkapi persyaratan kepaniteraan klinik senior di SMF Obstetrik RSU Dr.

Pirngadi Medan

Disusun Oleh : 1. Uly Hardiani Perdana 2. Mona Ayunda Eka Putri 3. Jeffry Chandra Tjahayadi 4. Reny Erawati 5. Desiska Julihartika 6. Yunita Effendi 0710070100087 0710070100122 0710070100097 0710070100038 0710070100020 0710070100124

Judul Pukul Tempat

: Pemberian FE pada ibu hamil : 08.00 WIB : poli PIH

Diketahui Oleh, Pembimbing, Mentor,

(dr. Elida R Sidaabutar, Sp. OG)

(dr. Renny Junita Sari)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I. PENDAHULUAN BAB II. ISI A. Pengertian B. Suplementasi hamil C. Faktor BAB III. KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA

ii iii 1 2 2 6 7 11 12

BAB I PENDAHULUAN
Zat besi adalah mineral yang dibutuhkan untuk membentuk sel darah merah (hemoglobin) selain itu mineral ini berperan sebagai komponen untuk membentuk myoglobin (protein yang membawa oksigen ke otot), kolagen (protein yang terdapat pada tulang, tulang rawan dan jaringan penyambung), serta enzim. Zat besi juga berfungsi dalam system pertahanan tubuh. 1,2,3 Kebutuhan zat besi pada wanita hamil rata-rata mendekati 800 mg, kebutuhan ini terdiri dari, sekitar 300 mg diperlukan untuk janin dan plasenta serta 500 mg lagi digunakan untuk meningkatkan massa hemoglobin maternal. Kurang lebih 200 mg lebih akan diekskresikan lewat usus, urine dan kulit, makanan ibu hamil setiap 100 kalori akan menghasilkan sekitar 8-10 mg zat besi. Perhitungan tiga kali dengan 2500 kalori menghasilkan sekitar 20-25 mg zat besi perhari. Selama kehamilan dengan perhitungan 288 hari, ibu hamil akan menghasilkan zat besi sebanyak 100 mg sehingga kebutuhan zat besi masih kekurangan untuk wanita hamil. 2,3 Besarnya angka kejadian anemia ibu hamil pada trisemester pertama kehamilan adalah 20% < TMII sebesar 70%, dan TM III sebesar 70%. Hal ini disebabkan karena pada trisemester pertama kehamilan, zat besi yang dibutuhkan sedikit karena tidak terjadi menstruasi dan pertumbuhan janin masih lambat. Menginjak trisemester kedua hingga ketiga, volume darah tubuh wanita akan meningkat sampai 35 %. Sel darah merah harus mengangkut oksigen untuk janin. Sedangkan saat melahirkan, perlu tambahan besi 300-350 mg akibat kehilangan darah. Sampai saat melahirkan, wanita hamil butuh zat besi sekitar 40 mg per hari atau dua kali kebutuhan kondisi tidak hamil. Berbagai penelitian mengungkapkan bahwa tingginya angka kematian ibu hamil berkaitan erat dengan anemia. Anemia dapat menyebabkan rendahnya kemampuan jasmani karena sel-sel tubuh tidak cukup mendapatkan pasokan oksigen, memudahkan terkena infeksi, menyebabkan perdarahan post partum dan berdampak pada bayi yang dilahirkan yaitu bayi lahir premature atau dapat terjadi bayi berat lahir rendah (Arisman, 2004). 3

Di indonesia prevalensi anemia gizi besi pada ibu hamil menurut SKRT 2004 sekitar 40,1 5. Badan kesehatan dunia World Health Organitation (WHO) melaporkan bahwa prevalensi ibuibu hamil yang mengalami defisiensi besi sekitar 35-75% dan kejadian anemia semakin meningkat seiring dengan pertambahan usia kehamilan. Anemia defisiensi zat besi lebih cenderung berlangsung di Negara yang sedang berkembang dari pada Negara yang sudah maju (Maulana, 2008). Upaya penanggulangan anemia gizi besi pada ibu hamil dilakukan melalui peningkatan cakupan suplementasi tablet besi. Upaya lain yang dapat dilakukan dengan memperhatikan pola konsumsi ibu hamil yang harus tetap mengacu pada pola makan sehat dan seimbang yang terdapat dalam pesan umum gizi seimbang yang terdapat dalam pesan umum gizi seimbang (PUGS). Pengaturan makan pada ibu hamil bukan pada jumlah atau kuantitas melainkan pada kualitas atau komposisi zat-zat gizi, sebab faktor ini lebih efektif dan fungsional untuk kesehatan ibu dan janinnya. 4

Ketebalan kulit dan pigmentasi yang tidak dapat diandalkan kecuali pada anemia berat. Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium sebaiknya digunakan untuk mendiagnosis dan menentukan beratnya anemia (Dae Meyer, 1993).3 2.1.8 Upaya pencegahan dan penanggulangan anemia zat besi pada ibu hamil Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menaggulangi kurangnya zat besi pada ibu hamil menurut departemen kesehatan 1999 adalah :1,2,3 1. Meningkatkan konsumsi zat besi dari sumber alami, terutama makanan sumber hewani (hem iron) yang mudah diserap seperti hati, daging, ikan. Selain itu perlu ditingkatkan juga makanan yang mengandung vitamin C dan vitamin A (buah-buahan dan sayur-sayuran) untuk membantu penyerapan zat besi dan membantu proses pembentukan Hb. 2. Fortifikasi bahan makanan yaitu menambahkan zat besi, asam folat, vitamin A dan asam amino esensial pada bahan makanan yang dimakan secara luas oleh kelompok sasaran. Penambahan zat besi ini umumnya dilakukan pada bahan makanan hasil industry pangan. 3. Suplementasi besi folat secara rutin selama jangka waktu tertentu, bertujuan untuk meningkatkan kadar Hb secara cepat. Dengan demikian suplementasi zat besi hanya merupakan salah satu upaya pencegahan dan penanggulangan kurang zat besi yang diikuti dengan cara lainnya. 2.2 Suplementasi besi pada ibu hamil 2.2.1 Pengertian suplementasi tablet zat besi Suplementasi tablet zat besi adalah pemberian zat beso folat dalam bentuk tablet. Tiap tablet 60 mg besi elemental dan 0,25 mg asam folat, yang diberikan oleh pemerintah oleh ibu hamil untuk mengatasi masalah anemia gizi besi ( Departemen kesehatan 1999 ). Pemberian suplementasi zat besi menguntungkan karena dapat memperbaiki sattus Hb dalam tubuh dalam waktu relative singkat. Sampai sekarang cara ini masih merupakan salah satu cara yang dilakukan pada ibu hamil dan kelompok yang beresiko tinggi lainnya. Di Indonesia tablet besi yang digunakan Ferrous sulfat senyawa ini tergologn murah dan dapat diarbsorbsi sampai 20 % (Wirakusumah, 1999). 2,3