Anda di halaman 1dari 49

1

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang Penyakit degeneratif dan kardiovaskuler merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di dunia, diantaranya adalah hipertensi, diperkirakan sekitar 80% kenaikan kasus hipertensi terutama di Negara berkembang dari 639 juta kasus di tahun 2000, di perkirakan menjadi 1,15 milyar kasus di tahun 2025. Prediksi ini didasarkan pada angka penderita hipertensi saat ini dan pertambahan penduduk saat ini (Armilawaty, et al., 2007). Hipertensi merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah stroke dan tuberkulosis, yakni mencapai 6,7% dari populasi kematian pada semua umur di Indonesia (Kemenkes, 2010). Di Indonesia, peluang masyarakat menderita hipertensi belum sebesar di negara maju, namun ancaman penyakit ini tidak boleh diabaikan begitu saja, terlebih bagi masyarakat perkotaan yang mudah mengakses gaya hidup modern yang tidak sehat, seperti banyak mengkonsumsi makanan cepat saji, kebiasaan hidup yang lebih banyak duduk dari pada bergerak bagi kebanyakan masyarakat kota yang bekerja di kantor, dengan gaya hidup tersebut akan menjadi ancaman yang menakutkan. Pendapat para ahli dari hasil penelitian diperkirakan bahwa penduduk yang berusia di atas 20 tahun dan terserang penyakit hipertensi adalah 1,8% - 2,86%. Namun sebagian besar penelitian menyatakan 8,6% - 10% persentase penderita di perkotaan lebih besar

dibandingkan dengan sejumlah penderita di pedesaan (Dalimartha, et al., 2008). Dalam kehidupan sehari-hari sering terdengar tentang

seseorang yang menderita penyakit tekanan darah tinggi. Penyakit tekanan darah tinggi dalam bahasa medis disebut hipertensi. Penyakit ini sebagian besar diderita oleh seseorang tanpa merasakan gejalagejala hipertensi walaupun sudah dalam tahap yang serius. Oleh karena itu, penyakit ini sering disebut silent killer atau pembunuh diam-diam (Cahyono, 2008). Satu dari lima pria berusia antara 35-44 tahun memiliki tekanan darah yang tinggi. Angka prevalensi tersebut menjadi dua kali lipat pada usia antara 45-54 tahun. Separuh dari mereka yang berusia 55-64 tahun mengidap penyakit ini. Pada usia 65-74 tahun, prevalensi menjadi lebih tinggi lagi, sekitar 60% menderita hipertensi. Sampai usia 55 tahun pria berisiko lebih tinggi dibandingkan wanita. Tetapi diatas usia tersebut, justru wanita setelah mengalami menopouse yang berpeluang lebih besar. Para pakar menduga perubahan hormonal berperan besar dalam terjadinya hipertensi dikalangan wanita usia lanjut (Sustrani, 2006). Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah, prevalensi hipertensi pada penduduk umur 18 tahun ke atas di Indonesia adalah sebesar 31,7%. Menurut provinsi, prevalensi hipertensi tertinggi di Kalimantan Selatan (39,6%) dan terendah di Papua Barat (20,1%). Prevalensi hipertensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah

7,2%, ditambah kasus yang minum obat hipertensi, prevalensi hipertensi berdasarkan wawancara adalah 7,6% (kasus yang minum obat hipertensi hanya 0,4%). Dengan demikian cakupan diagnosis hipertensi oleh tenaga kesehatan hanya mencapai 24,0%, atau dengan kata lain sebanyak 76,0% kasus hipertensi dalam masyarakat belum terdiagnosis. Provinsi Kalimantan Tengah merupakan provinsi yang mempunyai prevalensi hipertensi lebih tinggi dari angka nasional dengan prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah adalah 33,6%, sementara berdasarkan diagnosis atau riwayat minum obat hipertensi prevalensinya adalah 9,7% (Riskesdas, 2007). Berdasarkan data yang diperoleh dari laporan tahunan SP2TP di Puskesmas Menteng Palangka Raya pada tahun 2012 dilaporkan ada 1721 orang penderita hipertensi. Data terakhir yang diperoleh pada bulan Agustus 2012 tercatat sebanyak 92 orang penderita dan meningkat pada bulan September 2012 sebanyak 153 orang penderita dan 175 orang penderita pada bulan Oktober. Kejadian hipertensi meningkat pada kelompok umur 20-59 tahun, kelompok umur 60-69 tahun dan kejadian hipertensi menurun pada kelompok umur 55-59 tahun serta kelompok umur >70 tahun. Proporsi hipertensi berdasarkan jenis kelamin lebih tinggi ditemukan pada perempuan yaitu sebesar 58,83% dibandingkan dengan jenis kelamin laki laki yaitu sebesar 41,17%. Penelitian di USA yang dilakukan oleh Cuno Uiterwaaal dkk pada tahun 2007 menunjukkan bahwa subjek yang tidak terbiasa

minum kopi memiliki tekanan darah lebih rendah jika dibandingkan dengan subjek yang mengkonsumsi kopi 1-3 cangkir per hari. Pria yang mengkonsumsi kopi 3-6 cangkir per hari memiliki tekanan darah lebih tinggi jika dibandingkan dengan yang mengkonsumsi kopi 1-3 cangkir per hari. Pria yang mengkonsumsi kopi >6 cangkir perhari justru memiliki tekanan darah yang lebih rendah jika dibandingkan dengan subjek yang mengkonsumsi kopi 3-6 cangkir per hari. Di samping kebiasaan minum kopi, lingkar perut juga merupakan parameter penting untuk menentukan risiko terjadinya penyakit jantung dan hipertensi. Semakin besar lingkar perut seseorang, risiko terjadinya penyakit jantung dan hipertensi pada orang tersebut lebih besar. Para ahli menyimpulkan, setiap penambahan 5 sentimeter pada lingkar pinggang atau perut, risiko kematian dini akan meningkat antara 13% hingga 17% (Misnadiarly, 2007). Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk meneliti hubungan antara kebiasaan minum kopi dan lingkar perut dengan kejadian hipertensi yang dilaksanakan di Puskesmas Menteng Palangka Raya tahun 2013.

B. Rumusan Masalah Apakah ada hubungan antara kebiasaan minum kopi dan lingkar perut dengan kejadian hipertensi di Raya? Puskesmas Menteng Palangka

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Mengetahui hubungan antara kebiasaan minum kopi dan lingkar perut dengan kejadian hipertensi di Puskesmas Menteng Palangka Raya.

2. Tujuan Khusus a. Mengidentifikasi karakteristik sampel yang meliputi umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan pekerjaan. b. Mengidentifikasi kebiasaan minum kopi pada pasien hipertensi yang berkunjung di Puskesmas Menteng Palangka Raya. c. Mengidentifikasi lingkar perut pada pasien hipertensi yang berkunjung di Puskesmas Menteng Palangka Raya. d. Mengidentifikasi kejadian hipertensi pada pasien hipertensi yang berkunjung di Puskesmas Menteng Palangka Raya. e. Menganalisis hubungan kebiasaan minum kopi dengan kejadian hipertensi di Puskesmas Menteng Palangka Raya. f. Menganalisis hubungan lingkar perut dengan kejadian hipertensi di Puskesmas Menteng Palangka Raya.

3. Manfaat Penelitian a. Bagi Mahasiswa Melalui penelitian ini peneliti dapat menerapkan dan

memanfaatkan ilmu yang didapat selama pendidikan dan menambah pengetahuan dan pengalaman dalam melaksanakan penelitian ilmiah, mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian hipertensi.

b. Bagi Institusi Sebagai bahan bacaan dan dapat menambah wawasan bagi mahasiswa serta dapat dijadikan sebagai referensi dalam penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan kejadian hipertensi.

c. Bagi Masyarakat Penelitian ini dapat memberikan informasi atau masukan tentang hubungan antara kebiasaan minum kopi dan lingkar perut dengan kejadian hipertensi di Puskesmas Menteng Palangka Raya dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teoritis 1. Hipertensi a. Definisi Hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi adalah suatu gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah, terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkannya (Sustrani, 2006). Hipertensi atau darah tinggi adalah penyakit kelainan jantung dan pembuluh darah yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah. WHO (World Health Organization) memberikan batasan tekanan darah normal adalah 140/90 mmHg, dan tekanan darah sama atau diatas 160/95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi. Batasan ini tidak membedakan antara usia dan jenis kelamin (Marliani, 2007). Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg. Pada populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg (Rohaendi, 2008).

b. Etiologi Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi dua golongan yaitu: 1) Hipertensi primer atau esensial yang tidak diketahui penyebabnya, disebut juga hipertensi idiopatic. Terdapat sekitar 90% - 95% kasus. Penderita hipertensi ini banyak dipengaruhi oleh pola hidup, misalnya makanan yang tidak sehat dan kurang gerak. 2) Hipertensi sekunder terdapat sekitar 5% - 10% kasus. Penyebab spesifiknya diketahui, seperti penyakit ginjal, syndrome chusing, koarktasio aorta (Mansjoer et al., 2005). Menurut Sutanto (2009), penyebab hipertensi pada

orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahanperubahan pada : 1) Elastisitas dinding aorta menurun 2) Katub jantung menebal dan menjadi kaku 3) Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun, kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan menurunnya

kontraksi dan volumenya. 4) Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Hal ini terjadi karenakurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi

5) Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer. c. Klasifikasi 1) Menurut The Seventh Report of The Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and

Treatment of High Blood Pressure (JNC VII) klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa terbagi menjadi kelompok normal, prehipertensi, hipertensi derajat 1 dan derajat 2 (Chobanian A, V, et al., 2003). Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah Menurut JNC VII
Kriteria Tekanan Darah Normal Prehipertensi Hipertensi grade I Hipertensi grade II Sistolik (mmHg) < 120 120 139 140 159 160 Diastolik (mmHg) < 80 80 89 90 99 100

Sumber: Chobanian A, V, et al., 2003.

2) Klasifikasi hipertensi menurut WHO (World Health Organization) di dalam (Mansjoer, 2005). Tabel 2. Klasifikasi Tekanan Darah Pada Orang Dewasa Menurut WHO
Kategori Sistolik (mmHg) Darah Diastolik (mmHg) < 85 85 89 90 99 100 109 110 119 120

Normal < 130 Normal tinggi 130 139 Stadium 1 140 159 (Hipertensi ringan) Stadium 2 160 179 (Hipertensi sedang) Stadium 3 180 209 (Hipertensi berat) Stadium 4 210 (Hipertensi maligna) Sumber : WHO di dalam Mansjoer, 2005.

10

d. Faktor Risiko Hipertensi 1) Faktor risiko yang tidak dapat dikontrol a) Jenis kelamin Prevalensi terjadinya hipertensi pada pria sama dengan wanita. Namun wanita terlindung dari penyakit kardiovaskuler sebelum menopause. Wanita yang belum mengalami menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL). Kadar kolesterol HDL yang tinggi merupakan faktor pelindung dalam mencegah terjadinya proses aterosklerosis. Efek perlindungan estrogen

dianggap sebagai penjelasan adanya imunitas wanita pada usia premenopause. Pada premenopause wanita mulai kehilangan sedikit demi sedikit hormon estrogen yang selama ini melindungi pembuluh darah dari kerusakan. Proses ini terus berlanjut dimana hormon estrogen tersebut berubah kuantitasnya sesuai dengan umur wanita secara alami, yang umumnya mulai terjadi pada wanita umur 45-55 tahun. Dari hasil penelitian didapatkan hasil lebih dari setengah penderita hipertensi berjenis kelamin wanita sekitar 56,5%. (Anggraini, et al., 2009). Hipertensi lebih banyak terjadi pada pria bila terjadi pada usia dewasa muda. Tetapi lebih banyak

11

menyerang wanita setelah umur 55 tahun, sekitar 60% penderita hipertensi adalah wanita. Hal ini sering dikaitkan dengan perubahan hormon setelah menopause (Marliani, 2007).

b) Umur Semakin tinggi umur seseorang semakin tinggi tekanan darahnya, jadi orang yang lebih tua cenderung mempunyai tekanan darah yang tinggi dari orang yang berusia lebih muda. Hipertensi pada usia lanjut harus ditangani secara khusus. Hal ini disebabkan pada usia tersebut ginjal dan hati mulai menurun, karena itu dosis obat yang diberikan harus benar-benar tepat. Tetapi pada kebanyakan kasus, hipertensi banyak terjadi pada usia lanjut. Pada wanita, hipertensi sering terjadi pada usia diatas 50 tahun. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan hormon sesudah menopause. Wolff (2008), menyatakan bahwa hipertensi makin meningkat dengan meningkatnya usia. Ini sering

disebabkan oleh perubahan alamiah di dalam tubuh yang mempengaruhi jantung, pembuluh darah dan hormon. Hipertensi dengan usia kurang dari 35 tahun akan menaikkan penyakit arteri koroner dan kematian prematur.

12

Dengan

bertambahnya

umur,

risiko

terkena

hipertensi lebih besar sehingga prevalensi dikalangan usia lanjut cukup tinggi yaitu sekitar 40 % dengan kematian sekitar 50 % diatas umur 60 tahun. Arteri kehilangan elastisitas atau kelenturan serta tekanan darah meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Peningkatan kasus hipertensi akan berkembang pada umur 50-60 tahun. Dengan bertambahnya umur, dapat meningkatkan risiko hipertensi (Marliani, 2007). c) Keturunan (Genetik) Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan keluarga itu mempunyai risiko menderita hipertensi. Hal ini berhubungan dengan peningkatan kadar sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara potasium terhadap sodium Individu dengan orang tua dengan hipertensi mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi dari pada orang yang tidak mempunyai Selain itu keluarga dengan riwayat kasus

hipertensi.

didapatkan 70-80%

hipertensi esensial dengan riwayat hipertensi dalam keluarga (Anggraini, et al., 2009). Seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi (Marliani, 2007).

13

Menurut Rohaendi (2008), tekanan darah tinggi cenderung diwariskan dalam keluarganya. Jika salah seorang dari orang tua ada yang mengidap tekanan darah tinggi, maka berpeluang sebesar 25% untuk mewarisinya selama hidup. Jika kedua orang tua mempunyai tekanan darah tinggi maka peluang untuk terkena penyakit ini akan meningkat menjadi 60%.

2) Faktor risiko yang dapat dikontrol a) Obesitas Pada usia pertengahan dan dewasa lanjut, asupan kalori mengimbangi penurunan kebutuhan energi karena kurangnya aktivitas. Itu sebabnya berat badan meningkat. Obesitas dapat memperburuk kondisi lansia. Kelompok lansia karena dapat memicu timbulnya

berbagai penyakit seperti artritis, jantung dan pembuluh darah, hipertensi (Rohaendi, 2008). Untuk mengetahui seseorang mengalami obesitas atau tidak, dapat dilakukan dengan mengukur berat badan dengan tinggi badan, yang kemudian disebut dengan Indeks Massa Tubuh (IMT). Rumus perhitungan IMT adalah sebagai berikut:

14

Berat Badan (kg) IMT = ----------------------------------------------Tinggi Badan (m) x Tinggi Badan (m) IMT berkorelasi langsung dengan tekanan darah, terutama tekanan darah sistolik. Risiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang obes 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan seorang yang berat badannya normal. Pada penderita hipertensi ditemukan sekitar 2030% memiliki berat badan lebih. Obesitas berisiko terhadap munculnya berbagai penyakit jantung dan pembuluh darah. Disebut obesitas apabila melebihi Body Mass Index (BMI) atau Indeks Massa Tubuh (IMT). BMI untuk orang Indonesia adalah 25. BMI memberikan gambaran tentang risiko kesehatan yang berhubungan dengan berat badan. Marliani juga mengemukakan bahwa penderita hipertensi sebagian besar mempunyai berat badan berlebih, tetapi tidak menutup kemungkinan orang yang berat badanya normal (tidak obesitas) dapat menderita hipertensi. Curah jantung dan sirkulasi volume darah penderita hipertensi yang obesitas lebih tinggi dibandingkan dengan berat badannya normal (Marliani, 2007).

15

b) Kurang olahraga Olahraga banyak dihubungkan dengan

pengelolaan penyakit tidak menular, karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah (untuk hipertensi) dan melatih otot jantung sehingga menjadi terbiasa apabila jantung harus melakukan pekerjaan yang lebih berat karena adanya kondisi tertentu. Kurangnya

aktivitas fisik menaikan risiko tekanan darah tinggi karena bertambahnya risiko untuk menjadi gemuk. Orang-orang yang tidak aktif cenderung mempunyai detak jantung lebih cepat dan otot jantung mereka harus bekerja lebih keras pada setiap kontraksi, semakin keras dan sering jantung harus memompa semakin besar pula kekuaan yang mendesak arteri. Latihan fisik berupa berjalan kaki selama 30-60 menit setiap hari sangat bermanfaat untuk menjaga jantung dan peredaran darah. Bagi penderita tekanan darah tinggi, jantung atau masalah pada peredaran darah, sebaiknya tidak

menggunakan beban waktu jalan. Riset di Oregon Health Science kelompok laki-laki dengan wanita yang kurang aktivitas fisik dengan kelompok yang beraktifitas fisik dapat menurunkan sekitar 6,5% kolesterol LDL (Low

16

Density Lipoprotein) faktor penting penyebab pergeseran arteri (Rohaendi, 2008).

c) Kebiasaan Merokok Merokok darah. Perokok menyebabkan berat dapat peninggian dihubungkan tekanan dengan

peningkatan insiden hipertensi maligna dan risiko terjadinya stenosis arteri renal yang mengalami

ateriosklerosis. Dalam penelitian kohort prospektif oleh dr. Thomas S Bowman dari Brigmans and Womens Hospital, Massachussetts terhadap 28.236 subyek yang awalnya tidak ada riwayat hipertensi, 51% subyek tidak merokok, 36% merupakan perokok pemula, 5% subyek merokok 1-14 batang rokok perhari dan 8% subyek yang merokok lebih dari 15 batang perhari. Subyek terus diteliti dan dalam median waktu 9,8 tahun. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu kejadian hipertensi terbanyak pada kelompok subyek dengan kebiasaan merokok lebih dari 15 batang perhari (Rahyani, 2007).

d) Mengkonsumsi garam berlebih Badan kesehatan dunia yaitu World Health Organization (WHO) merekomendasikan pola konsumsi garam yang dapat mengurangi risiko terjadinya

17

hipertensi. Kadar sodium yang direkomendasikan adalah tidak lebih dari 100 mmol (sekitar 2,4 gram sodium) perhari. Konsumsi natrium yang berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di dalam cairan ekstraseluler

meningkat. Untuk menormalkannya cairan intraseluler ditarik ke luar, sehingga volume cairan ekstraseluler meningkat. Meningkatnya volume cairan ekstraseluler tersebut menyebabkan meningkatnya volume darah, sehingga berdampak kepada timbulnya hipertensi (Wolff, 2008).

e) Minum alkohol Banyak penelitian membuktikan bahwa alkohol dapat merusak jantung dan organ-organ lain, termasuk pembuluh darah. Kebiasaan minum alkohol berlebihan termasuk salah satu 2007). faktor risiko hipertensi (Marliani,

f) Minum kopi Faktor kebiasaan minum kopi di dapatkan dari satu cangkir kopi mengandung 75 200 mg kafein, di mana dalam satu cangkir tersebut berpotensi

meningkatkan tekanan darah 5 -10 mmHg.

18

g) Pil KB Risiko meninggi dengan lamanya pemakaian ( 12 tahun berturut-turut).

h) Stress Hubungan antara stress dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis peningkatan saraf dapat menaikan menentu). tekanan Stress darah yang secara intermiten (tidak dapat

berkepanjangan

mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi. Walaupun hal ini belum terbukti akan tetapi angka kejadian di masyarakat perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan di pedesaan. Hal ini dapat dihubungkan dengan pengaruh stress yang dialami kelompok masyarakat yang tinggal di kota (Rohaendi, 2003). Menurut

Anggraini, et al., (2009), stress akan meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan curah jantung sehingga akan menstimulasi aktivitas saraf simpatis. Adapun stress ini dapat berhubungan dengan pekerjaan, kelas sosial, ekonomi, dan karakteristik personal.

e. Patofisiologi Peningkatan tekanan darah di dalam arteri terjadi melalui beberpa cara yaitu :

19

1) Jantung memompa lebih kuat sehingga melahirkan lebih bayak cairan pada setiap detiknya. 2) Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku sehingga tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut. Karena itu darah dipaksa melalui pembuluh yang sempit dari pada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan darah. Kondisi inilah yang terjadi pada usia lanjut, dinding arterinya telah menebal dan kaku karena hormone sclerosis. Dengan cara yang sama, tekanan darah juga meningkat pada saat terjadi vasokontriksi arteri kecil (arteriola) untuk sementara waktu mengerut karena rangsangan saraf atau hormon di dalam darah (hormon adrenalin) 3) Bertambahnya cairan dalam sirkulasi dapat menyebabkan meningkatnya tekanan darah, hal ini terjadi jika dapat kelainan fungsi ginjal, sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam dan air di dalam tubuh. Akibatnya volume darah juga meningkat. (Anies, 2006).

f. Manifestasi Klinis Penyakit ini sebagian besar diderita oleh seseorang tanpa merasakan gejala-gejala hipertensi walaupun sudah dalam tahap serius. Dari beberapa penelitian, ada beberapa

20

gejala yang dirasakan oleh seseorang. Gejala-gejala tersebut bervariasi antara lain : 1) Pusing 2) Rasa berat ditengkuk 3) Sukar tidur 4) Berdebar atau detak jantung terasa cepat 5) Cepat marah 6) Mata berkunang-kunang 7) Lemah dan lelah 8) Muka pucat (Cahyono, 2008)

g. Komplikasi Penderita hipertensi berisiko terserang penyakit lain yang timbul kemudian. Beberapa penyakit yang timbul sebagai akibat hipertensi diantaranya sebagai berikut: 1) Stroke 2) Gagal jantung 3) Gagal ginjal 4) Penyakit Arteri Koroner (Rusdi, et al., 2009).

21

h. Penatalaksanaan 1) Pencegahan Tujuan deteksi penatalaksanaan hipertensi adalah menurunkan risiko penyakit kardiovaskuler dan mortalitas yang terkait. Tujuan terapi adalah mencapai dan

mempertahankan tekanan sistolik dibawah 140 mmHg dan tekanan diastolik dibawah 90 mmHg dan mengontrol faktor risiko. Hal ini dicapai dengan modifikasi gaya hidup atau dengan obat anti hipertensi. Modifikasi gaya hidup yang dianjurkan : a) Menurunkan berat badan bila terdapat kelebihan (Indeks Masa Tubuh > 27). b) Meningkatkan aktivitas fisik (aerobic 30 45 menit / hari). c) Berhenti merokok dan mengurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol dalam makanan. (Anies, 2006).

2) Pengobatan a) Non Farmakologis Terapi non farmakologis terdiri dari

menghentikan kebiasaan merokok, menurunkan berat badan berlebih, konsumsi alkohol berlebih, asupan

22

garam

dan

asupan

lemak,

latihan

fisik

serta

meningkatkan konsumsi buah dan sayur. (1) Menurunkan berat badan bila status gizi berlebih Peningkatan berat badan di usia dewasa sangat berpengaruh terhadap tekanan darahnya. Oleh karena itu, manajemen berat badan sangat penting dalam mengontrol hipertensi. (2) Meningkatkan aktifitas fisik Orang yang aktivitasnya rendah berisiko terkena hipertensi 30-50% dari pada yang aktif. Oleh karena itu, aktivitas fisik (misalnya senam aerobik dan jalan cepat) antara 30-45 menit sebanyak 3-4 kali seminggu penting sebagai pencegahan primer dari hipertensi. (3) Mengurangi asupan natrium Apabila diet tidak membantu dalam 6 bulan, maka perlu pemberian obat anti hipertensi oleh dokter. (4) Menurunkan konsumsi kafein dan alkohol Kafein dapat memacu jantung bekerja lebih cepat, sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya. Sementara konsumsi alkohol lebih dari 2-3 gelas/hari dapat meningkatkan risiko hipertensi (Rusdi, et al., 2009).

23

b) Farmakologis Pengobatan hipertensi biasanya dikombinasikan dengan beberapa obat : 1) Diuretic Tablet Hydrochlorothiazide (HCT), Lasix (Furosemide). Merupakan golongan obat hipertensi dengan proses pengeluaran cairan tubuh via urine. Tetapi karena potasium berkemungkinan terbuang dalam cairan urine, maka pengontrolan konsumsi potasium harus dilakukan. 2) Beta-blockers Atenolol (Tenorim), Capoten

(Captopril). Merupakan obat yang dipakai dalam upaya pengontrolan tekanan darah melalui proses memperlambat kerja jantung dan memperlebar (vasodilatasi) pembuluh darah. 3) Calcium channel blockers Norvasc (amlopidine), Angiotensin converting enzyme (ACE). Merupakan salah satu obat yang biasa dipakai dalam

pengontrolan darah tinggi atau Hipertensi melalui proses rileksasi pembuluh darah yang juga

memperlebar pembuluh darah (Rusdi, et al., 2009).

24

2. Kopi a. Definisi Kopi adalah sejenis minuman yang berasal dari proses pengolahan dan ekstraksi biji tanaman kopi. Sejarah kopi telah dicatat pada abad ke-9. Pertama kali, kopi hanya ada di Ethiopia, dimana biji-bijian asli ditanam oleh orang Ethiopia dataran tinggi. Pada saat itu, banyak orang di Benua Afrika, terutama bangsa Etiopia yang mengkonsumsi biji kopi yang dicampurkan dengan lemak hewan dan anggur untuk

memenuhi kebutuhan protein dan energi tubuh. Akan tetapi, ketika bangsa Arab mulai meluaskan perdagangannya, biji kopi pun telah meluas sampai ke Afrika Utara dan biji kopi disana ditanam secara massal. Dari Afrika Utara itulah biji kopi mulai meluas dari Asia sampai pasaran Eropa dan ketenarannya sebagai minuman mulai menyebar. Kopi kemudian terus berkembang hingga saat ini menjadi salah satu minuman paling populer di dunia yang dikonsumsi oleh berbagai kalangan masyarakat. Indonesia sendiri telah mampu memproduksi lebih dari 400 ribu ton kopi per tahunnya. Indonesia di era tahun 1990-an pernah menjadi negara pengekspor kopi 3 terbesar di dunia setelah Brazil dan Columbia (Cahyono, 2011).

25

b. Klasifikasi Klasifikasi kopi menurut (Anonim, 2010) adalah sebagai berikut : Kerajaan : Plantae Ordo Famili Genus : Gentianales : Rubiaceae : Coffea

Spesies : Coffea arabica

Minuman kopi adalah sejenis minuman yang berasal dari proses pengolahan dan ekstraksi biji tanaman kopi. Ada 2 jenis kopi yang memiliki nilai komoditas ekonomi yang tinggi dipasaran, yaitu : 1) Kopi Arabika Kopi arabika berasal dari Etiopia & Abessinia. Kopi arabika dapat tumbuh dengan ketinggian 700-1700 mdpl dan temperatur 16-200 C. Kopi arabika berbuah setahun sekali. Kopi arabika menguasai pasar kopi di dunia hingga 70%. Kopi arabika memiliki aroma yang khas. Kopi arabika memiliki rasa yang asam yang tidak dimiliki oleh kopi jenis robusta. Kopi arabika memiliki perbedaan antara kopi lainnya karena rasa kopi tergantung dari cuaca dan tanah tempat kopi di tanam (Anonim, 2010).

26

Meski di seluruh dunia ada sekitar 70 spesies pohon kopi, dari yang berukuran seperti semak belukar hingga pohon dengan tinggi 12 meter. Kopi arabika juga memiliki jenis lainnya yang masih satu jenis antara lain Abesinia, Pasumah, Margo Type dan Congensis. Kedua spesies ini digunakan untuk produksi sekitar 98% produksi kopi dunia. Kopi yang pertama kali dikembangkan di dunia adalah kopi arabika yang berasal dari spesies pohon kopi Coffea arabica. Kopi jenis ini yang paling banyak diproduksi, yaitu sekitar lebih dari 60% produksi kopi dunia. Kopi arabika dari spesies Coffea arabica menghasilkan jenis kopi yang terbaik. Pohon spesies ini biasanya tumbuh di daerah dataran tinggi. Tinggi pohon kopi ini antara 4 hingga 6 meter. Kopi arabika memiliki kandungan kafein tidak lebih dari 1,5% serta memiliki jumlah kromosom sebanyak 44 kromosom (Anonim, 2010). Ciri-ciri dari tanaman kopi arabika ini yaitu panjang cabang primernya rata-rata mencapai 123 cm, sedangkan ruas cabangnya pendek pendek. Batangnya berkayu ,keras, dan tegak serta berwarna putih keabu-abuan. Keunggulan dari kopi arabika antara lain bijinya berukuran besar, beraroma harum, dan memiliki cita rasa yang baik. Secara umum, ciri-ciri kopi arabika yaitu sebagai berikut :

27

a) Beraroma wangi yang sedap menyerupai aroma perpaduan bunga dan buah b) Terdapat cita rasa asam yang tidak terdapat pada kopi jenis robusta c) Saat disesap di mulut akan terasa kental d) Cita rasanya akan jauh lebih halus (mild) dari kopi robusta e) Terkenal pahit (Anggara, et al., 2011).

2) Kopi Robusta Kopi robusta berasal dari Kongo dan tumbuh pada ketinggian 400-700 mdpl. Produksi kopi robusta lebih sedikit daripada kopi arabika. Kopi robusta hanya mencapai 30% di pasaran komoditi dunia. Kopi robusta juga sudah banyak tersebar di wilayah Indonesia dan Filipina. Kopi robusta memiliki rasa seperti cokelat, memiliki aroma yang khas dan rasa yang manis, memiliki warna bervariasi sesuai dengan cara pengolahan. Kopi robusta memiliki tekstur lebih kasar dari kopi arabika. Jenis lainnya dari kopi robusta seperti Qillou, Uganda dan Chanepora. Dalam pertumbuhannya kopi robusta hampir sama dengan kopi arabika yakni tergantung pada kondisi tanah, cuaca dan proses pengolahan dan pengemasan kopi ini akan berbeda

28

untuk setiap negara dan menghasilkan rasa yang sedikit banyak juga berbeda (Anonim, 2010). Kopi robusta biasanya digunakan sebagai kopi instant atau cepat saji. Kopi robusta memiliki kandungan kafein yang lebih tinggi, rasanya lebih netral, serta aroma kopi yang lebih kuat. Kandungan kafein pada kopi robusta mencapai 2,8% serta memiliki jumlah kromosom sebanyak 22 kromosom. Produksi kopi robusta saat ini mencapai sepertiga produksi kopi seluruh dunia (Anonim, 2010). Secara umum, ciri ciri dari kopi robusta adalah sebagai berikut : a) Memiliki rasa yang menyerupai coklat b) Aroma yang dihasilkan khas dan manis c) Warna bijinya bervariasi, tergantung dari cara

pengolahannya d) Teksturnya lebih kasar dari kopi arabika (Anggara, et al., 2011).

3) Kopi Jenis Lain Selain jenis kopi arabika dan robusta, masih ada beberapa jenis kopi yang juga dikenal (Anggara, et al., 2011), yaitu di antaranya :

29

a) Kopi Liberika ( Coffe libberica ) Kopi yang dapat tumbuh di daerah dataran rendah ini berasal dari Angola dan mulai masuk ke Indonesia pada tahun 1965. Kopi ini berbuah sepanjang tahun, tetapi kualitas buahnya relative rendah dan tidak seragam. b) Kopi golongan Ekselsa Kopi golongan ini memiliki cabang primer yang daoat bertahan lama, berbatang kekar, dan dapat berbunga pada batang tua. Kopi golongan ini memiliki daya adaptasi terhadap iklim yang lebih luas dan resisten terhadap penyakit HV, tetapi pembentukan buah kopi ekselsa lambat serta memiliki ukuran buah yang kecil dan tidak seragam. c) Kopi Hibrida Kopi hibrida merupakan jenis kopi hasil

persilangan antara dua spesies atau varietas yang memiliki sifat sifat unggul. Pembiakan kopi hibrida biasanya dilakukan melalui cara vegetative, misalnya dengan stek atau sambungan. d) Kopi Luwak Kopi luwak dikenal banyak masyarakat di dunia dikarenakan proses pembentukannya yang unik

sehingga kopi luwak kerap disebut sebagai subvarietas

30

yang baru dari kopi. Keunikannya berasal dari biji buah kopi yang telah dimakan oleh musang kelapa Asia / luwak ( Paradoxurus hermaphroditus ) dan kerabat musang lainnya. Kopi luwak menjadi lebih istimewa karena luwak hanya mencari buah kopi yang 90% matang dengan menggunakan daya penciumannya yang tajam. Dalam satu pohon kopi, hanya 1 2 butir buah saja yang dimakan, yakni buah dengan kematangan tertinggi. Sampai saat ini kopi luwak dikenal sebagai kopi paling dicari dan paling mahal di dunia. Di Indonesia, kopi luwak diproduksi di Sumatera, Bali, Sulawesi, dan Kepulauan Indonesia lainnya. Di negara lain, kopi luwak diproduksi di Filipina, dengan nama kopi motit di daerah Cordillera dan kape alamid di daerah Tagalog. Selain di Filipina, kopi luwak diproduksi juga di Timor Leste dengan nama kafe-laku.

31

c. Komposisi Tabel 3. Komposisi Nutrisi Secangkir Kopi Tanpa Gula (237 ml)
Komposisi Protein Kalsium Omega 6 Magnesium Vitamin K Fosfor Niasin Kalium Folat Natrium Kolin Kafein Polifenol (antioksidan) Sumber: Adrogue, 2007. mg/cangkir (237 ml) 300 4,7 2,4 7,9 0,002 7,1 0,5 116 4,7 4,7 6,2 94,8 200

1) Kafein Sebagai kandungan utama kopi yang bersifat

stimulan (perangsang) yang mencandu. Kandungan kafein pada biji kopi bervariasi menurut jenisnya. Kafein terdapat pada biji, daun atau di bagian lain kopi. Kafein

mempengaruhi sistem kardiovaskuler seperti peningkatan detak jantung dan tekanan darah. Satu cangkir (250 ml) kopi rata-rata mengandung 100-150 miligram kafein

(Krummel, 2004). 2) Kalium Kopi menurunkan darah sistolik dan diastolik dengan menghambat pelepasan renin sehingga terjadi peningkatan ekskresi natrium dan air. Hal tersebut menyebabkan terjadinya penurunan volume plasma, curah jantung, dan

32

tekanan perifer sehingga tekanan darah akan turun (Adrogue, 2007).

3) Polifenol Kopi merupakan minuman utama penduduk dunia dengan kandungan antioksidan terbanyak sekitar 200-550 mg per cangkir. Kopi mengandung senyawa polyphenol total. Kandungan polifenol (antioksidan) pada kopi sekitar 6%, sedangkan buah berry 25%, teh 23%, anggur 13% dan sayuran 6% dari seluruh total antioksidan. Polifenol bersifat menurunkan tekanan darah dan menghambat terjadinya atherogenesis dan memperbaiki fungsi vaskuler (Krummel, 2004).

4) Asam amino dan protein Asam amino merupakan unsur-unsur yang

membentuk protein. Kumpulan asam amino disebut protein. Asam amino terdapat secara bebas atau terikat protein pada biji kopi. Protein merupakan polimer yang tersusun dari asam amino. Kandungan protein pada biji kopi antar varietas sedikit bervariasi yaitu antara 8,7 12,2% (Krummel, 2004).

33

5) Cafestol dan kahweol Cafestol dan kahweol merupakan bahan kimia yang muncul saat bubuk kopi dituangi oleh air panas. Kafestol adalah senyawa yang dapat meningkatkan kadar

kolesterol dalam tubuh manusia terutama kolesterol LDL hingga sebesar 10% serta dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, pembuluh darah dan hipertensi (Anonim, 2010).

d. Kebiasaan Minum Kopi Kebiasaan minum kopi merupakan kebiasaan subjek tiap harinya dalam hal minum kopi, yang didefinisikan sebagai subjek yag memiliki kebiasaan minum kopi apabila secara rutin mengkonsumsi kopi minimal satu cangkir per hari. Kebiasaan minum kopi ini dilihat berdasarkan sendok kopi per cangkir yang dikonsumsi, lama minum kopi, frekuensi minum kopi (cangkir per hari, dengan air 150 cc per cangkir), dan kekentalan kopi ( rasio kopi, gula, dan krim dalam satuan sdt serta air dalam satuan cc) (Krummel, 2004).

34

e. Klasifikasi Kebiasaan Minum Kopi Tabel 4. Klasifikasi Kebiasaan Minum Kopi Setiap Hari.
Frekuensi (cangkir) 1-3 4-6 >6 Sumber: Krummel, et al., 2004. Kategori Ringan Sedang Berat

3. Lingkar Perut a. Definisi Menurut Endang (2009), lingkar perut adalah parameter penting untuk menentukan risiko terjadinya penyakit jantung dan hipertensi. Semakin besar lingkar perut seseorang, risiko terjadinya penyakit jantung dan hipertensi pada orang tersebut lebih besar. Jenis kegemukan atau obesitas dapat dibagi dua, yaitu yang merata seluruh tubuh dan yang lokal terutama di perut yang disebut obesitas sentral. Kedua jenis obesitas ini mempunyai dampak pada kesehatan tubuh secara langsung. Tubuh yang berat akan membebani lutut mengakibatkan keradangan sendi, memicu hipertensi, mengganggu kesuburan dan dapat mengakibatkan kematian mendadak saat tidur. Kelebihan asupan makanan mengakibatkan meningkatnya lemak darah yang tidak diinginkan (kolesterol LDL dan Trigliserida). Selain itu, jaringan lemak tubuh yang merupakan tempat deposit kelebihan kalori, terutama dibagian dalam rongga perut, ikut mengganggu kerja insulin (resistensi insulin) (Endang, 2009).

35

Gangguan mengkibatkan

lemak

darah gejala

dan yang

resisitensi disebut

insulin sindroma

kumpulan

metabolik, yang ditandai dengan obesitas sentral, hipertensi, dislipidemia (kolesterol total, LDL, trigliserida tinggi, sedangkan kolesterol HDL rendah) dan gula darah puasa yang

meningkat. Keadaan ini akan memicu terjadinya diabetes dan menimbulkan penyempitan pembuluh darah yang pada

akhirnya meningkatkan kejadian serangan jantung dan stroke (Endang, 2009).

b. Klasifikasi Para ahli menyimpulkan, setiap penambahan 5

sentimeter pada lingkar pinggang atau perut, risiko kematian dini akan meningkat antara 13% hingga 17% (Endang, 2009). Tabel 5. Kriteria Lingkar Perut dan Risiko Hipertensi
Kategori Risiko rendah Risiko sedang Risiko berat Sumber: Endang, 2009. Pria < 90 90 > 90 Lingkar Perut (cm) Wanita < 80 80 > 80

c. Cara Mengukur Lingkar Perut 1) Jelaskan pada responden tujuan pengukuran lingkar perut dan tindakan apa saja yang akan dilakukan dalam pengukuran. 2) Untuk pengukuran ini responden diminta dengan cara yang santun untuk membuka pakaian bagian atas atau

36

menyingkapkan pakaian bagian atas dan raba tulang rusuk terakhir responden untuk menetapkan titik pengukuran. 3) Tetapkan titik batas tepi tulang rusuk paling bawah. 4) Tetapkan titik ujung lengkung tulang pangkal paha/panggul. 5) Tetapkan titik tengah di antara di antara titik tulang rusuk terakhir titik ujung lengkung tulang pangkal paha/panggul dan tandai titik tengah tersebut dengan alat tulis. 6) Minta responden untuk berdiri tegak dan bernafas dengan normal (ekspirasi normal). 7) Lakukan pengukuran lingkar perut dimulai/diambil dari titik tengah kemudian secara sejajar horizontal melingkari pinggang dan perut kembali menuju titik tengah diawal pengukuran. 8) Apabila responden mempunyai perut yang gendut ke bawah, pengukuran mengambil bagian yang paling buncit lalu berakhir pada titik tengah tersebut lagi. (Depkes, 2007).

37

B. Kerangka Konsep

Obesitas Kurang Olahraga Kebiasaan Merokok Konsumsi Garam Berlebih Konsumsi Alkohol Kebiasaan Minum Kopi Pil KB Lingkar Perut stress Kejadian Hipertensi

Jenis kelamin Umura Keturunan (Genetik) Gambar 1. Kerangka Konsep Penelitian

Keterangan : : Diteliti : Tidak diteliti

38

C. Variabel Penelitian 1. Variabel terikat 2. Variabel bebas : Kejadian hipertensi : Kebiasaan minum kopi dan lingkar perut

D. Hipotesis 1. Ada hubungan antara kebiasaan minum kopi dengan kejadian hipertensi. 2. Ada hubungan antara lingkar perut dengan kejadian hipertensi.

E. Definisi Operasional 1. Kebiasaan Minum Kopi Jumlah kopi yang biasa diminum atau dikonsumsi dalam sehari yang diukur dengan menggunakan alat bantu kuesioner. Skala : Ordinal Kategori : a. Bukan peminum kopi : 0 cangkir per hari

b. Peminum kopi tingkat ringan : 1 3 cangkir per hari c. Peminum kopi tingkat sedang : 4 6 cangkir per hari d. Peminum kopi tingkat berat 2. Lingkar Perut Pengukuran lingkar perut dimulai atau diambil dari titik tengah kemudian secara sejajar horizontal melingkari pinggang dan perut kembali menuju titik tengah diawal pengukuran yang diukur dalam : > 6 cangkir per hari

39

satuan sentimeter dengan menggunakan alat bantu meteran merk clever cat metals yang mempunyai ketelitian 0,1 cm. Skala : Ordinal Kategori : a. Risiko rendah : 90 cm (Pria) 80 cm (Wanita) b. Risiko tinggi : > 90 cm (Pria) > 80 cm (Wanita) 3. Kejadian hipertensi Suatu kondisi tekanan darah di atas normal yang diketahui dari data status pasien. Skala : Ordinal Kategori : a. Hipertensi stage 1 b. Hipertensi stage 2 : 140 159 / 90 99 mmHg : 160 / 100 mmHg

40

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

B. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini termasuk dalam ruang lingkup gizi masyarakat yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan minum kopi dan lingkar perut dengan kejadian hipertensi yang dilaksanakan di Puskesmas Menteng Palangka Raya pada Bulan April Tahun 2013.

C. Rancangan Penelitian Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian analitik dengan desain cross sectional. Penelitian ini mengidentifikasi melalui pengukuran lingkar perut secara langsung kepada sampel yang sudah ditetapkan dan dikumpulkan dalam waktu bersamaan, kemudian dilakukan analisis ada tidaknya hubungan kebiasaan minum kopi dan lingkar perut dengan kejadian hipertensi.

D. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Saryono, 2008).

41

Populasi pada penelitian ini adalah semua pasien hipertensi yang berkunjung ke poli umum Puskesmas Menteng Palangka Raya dengan kisaran usia 20-59 tahun pada Bulan April Tahun 2013.

2. Sampel Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti oleh peneliti (Saryono, 2008). Cara pengambilan sampel adalah Non Probability Sampel dengan menggunakan teknik Accidental Sampling, yaitu sampel yang dipilih adalah yang berkunjung ke poli umum Puskesmas Menteng pada saat penelitian dilakukan. Dari data yang diperoleh dari laporan tahunan SP2TP Puskesmas Menteng Palangka Raya, jumlah kunjungan penderita hipertensi pada tahun 2012 sebanyak 1721 orang. Rata-rata jumlah kunjungan per bulan dengan kisaran usia antara 20-59 tahun sebanyak 98 orang. Dengan demikian jumlah sampel dapat diketahui dengan rumus sampel :

n=
Keterangan : n = Sampel N = Populasi d = Derajat Kesalahan Dengan mengambil derajat kesalahan 10 %, Caranya :

42

n=

98 1 + 98 ( 0,1)

n=

98 1 + 98 (0,01)

n=

98 1 + 0,98

n=

98 1,98

n = 50 orang Jadi didapat jumlah sampel sebanyak 50 orang.

3. Kriteria Sampel a. Kriteria Inklusi 1) Bersedia menjadi sampel b. Kriteria Eksklusi 1) Ada gangguan berbicara, mendengar atau melihat. 2) Tidak berdomisili di wilayah kerja Puskesmas

E. Jenis dan Cara Pengumpulan Data 1. Data Primer a. Karakteristik Sampel Meliputi data umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan pekerjaan yang dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner.

43

b. Lingkar Perut Dikumpulkan dengan cara pengukuran langsung menggunakan alat bantu meteran merk clever cat metals dengan ketelitian 0,1 cm. c. Kebiasaan Minum Kopi Dikumpulkan kuesioner. dengan cara wawancara menggunakan

2. Data Sekunder Yaitu data gambaran poli umum Puskesmas Menteng yang diperoleh dari laporan tahunan SP2TP di Puskesmas Menteng Palangka Raya pada tahun 2012.

F. Pengolahan dan Analisis Data 1. Pengolahan Data Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program Statistical Product and Service Solutions (SPSS). Kemudian data dikelompokkan sesuai dengan variabel independen, lalu dihitung persentasenya. Tahap tahap pengolahan data yaitu : a. Editing Merupakan kegiatan untuk melakukan pengecekan terhadap hasil pengukuran yang diperoleh. Kemudian

menghitung skor kategori dari kebiasaan minum kopi dan lingkar perut.

44

b. Coding Merupakan kegiatan pengelompokan data dengan

pemberian lambang atau kode tertentu. c. Prossesing Setelah hasil pengukuran dan perhitungan kebiasaan minum kopi dan lingkar perut diperoleh dilanjutkan dengan pengolahan data. d. Cleaning Kegiatan pengecekan kembali kemungkinan terdapat kesalahan pada data yang telah diolah.

2. Analisis Data a) Analisis Univariat Data dari kriteria sampel penelitian dan variabel independen diolah dan dianalisis menggunakan analisis

univariat dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi untuk mencari persentase independen digunakan rumus :
P = F x 100 % n

dari kriteria sampel variabel

Keterangan : P

: Persentase sampel sesuai dengan kriteria sampel dan variabel independen

: Frekuensi

45

: Jumlah sampel

b) Analisis Bivariat Analisis bivariat yang dilakukan terhadap dua variabel untuk mencari hubungan antara kebiasaan minum kopi dan lingkar perut dengan kejadian hipertensi. Kemudian dilakukan pengujian statistik, yaitu uji chi square, dengan menggunakan program SPSS 16.0. Apabila p-value 0,05 maka Ho ditolak. Berarti ada hubungan yang signifikan antara kebiasaan minum kopi dan lingkar perut dengan kejadian hipertensi. Sedangkan apabila pvalue > 0,05 maka Ho diterima. Berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara kebiasaan minum kopi dan lingkar perut dengan kejadian hipertensi.

46

DAFTAR PUSTAKA

Adrogue HJ, M. N., 2007. Sodium and Potassium in the Pathogenesis of Hypertension. N Egl JMed, Volume 356, pp. 1966-1978. Anggara, A. M. S., 2011. Kopi Si Hitam Menguntungkan. In: Budi Daya dan Pemasaran. Yogyakarta: Cahaya Atma Pustaka. Anggraini, et al., 2009. Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Hipertensi Pada Kelompok Lansia. Anies, 2006. Ancaman Penyakit Tidak Menular. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Anonim, 2010. Coffee Beans Varieties Of Coffee: Arabica and Robusta. [Online] Available at: http://www.talkaboutcoffee.com/coffee_beans.html

[Accessed 8 Mei 2011]. Armilawaty, et al., 2007. Hipretensi dan Faktor Risikonya dalam Kajian Epidemiologi. Makassar: FKM UNHAS. Cahyono, B., 2011. Sukses Berkebun Kopi. Jakarta: Mina. Cahyono, J., 2008. Gaya Hidup dan Penyakit Modern. Yogyakarta: Kasinus. Chobanian, A. et al., 2003. Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure. s.l.:The Sevent Report of the National Joint Committee. Dalimartha, S. et al., 2008. Care Your Self Hypertensi. Jakarta: Penebar Plus. Endang, 2009. Mencegah Penyakit Akibat Kegemukan Dengan Asupan Nutrisi. [Online] [Accessed 20 Desember 2009]. Kemenkes RI, 2010. Profil Kesehatan Indonesia 2009. Jakarta: Kemenkes RI.

47

Krummel DA, 2004. Medical Nutrition Therapy for Cardiovascular Disease. In: krause's food, nutrition and diet therapy. 11 th ed. Philadelphia: Saunders, pp. 151, 866, 850, 968, 871, 872, 873. Mansjoer, A. et al., 2005. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid 1. Jakarta: Media Aesculapius. Marliani, et al., 2007. 100 Question & Answers Hipertensi. Jakarta: PT Elex Media Komputindo, Gramedia. Misnadiarly, 2007. Obesitas Sebagai Resiko Beberapa Penyakit. Jakarta: Pustaka Obor T. Pedoman Available at:http//www.litbang.depkes.go.id/riskesdas/download/PedomanPengukur an.pdf [Accessed 20 Desember 2009]. Rahyani, 2007. Faktor yang mempengaruhi kejadian hipertensi pada pasien yang berobat di Poliklinik Dewasa Puskesmas Bagking Periode Januari-Juni 2007. Riskesdas, 2007. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pengukuran Dan Pemeriksaan, 2007. [Online]

Kesehatan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Rohaendi, 2008. Hipertensi dan Faktor Resiko. Rusdi, et al., 2009. Awas Anda Bisa Mati Cepat Akibat Hipertensi. Yogyakarta: Power Books Publishing. Saryono, 2008. Metode Penelitian Kesehatan. Yogyakarta: Mitra Cendikia. Sustrani, L. et al., 2006. Hipertensi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Sutanto, 2009. Awas 7 Penyakit Degeneratif. Yogyakarta: Paradigma Indonesia.

48

Wolff, H. P., 2008. Hipertensi. Jakarta: PT Buana Ilmu Populer, Gramedia.

49

(Anonim, 2010) (Anies, 2006) (Krummel DA, 2004) (Riskesdas, 2007) (Cahyono, 2008) (Chobanian, 2003) (Depkes, 2007) (Dalimartha, 2008) (Endang, 2009) (Kemenkes RI, 2010) (Mansjoer, 2005) (Adrogue HJ, 2007) (Misnadiarly, 2007) (Rusdi, 2009) (Saryono, 2008) (Sustrani, 2006) (Cahyono, 2011) (Marliani, 2007) (Rohaendi, 2003) (Wolff, 2008) (Anggara, 2011) (Sutanto, 2009) (Anggraini, 2009) (Rahyani, 2007) (Armilawaty, 2007)