Anda di halaman 1dari 12

Nama : Nurhalimah Febrianti NIM : 094564006 Matkul : Sosiologi Pembangunan

TEORI PEMBANGUNAN W.W ROSTOW Walt Whitman Rostow atau yang lebih populer dengan panggilan Rostow, adalah tokoh pemikir ekonomi yang cukup dikenal pemikiran-pemikirannya. Teori pertumbuhan ekonomi yang dikemukakan oleh Rostow merupakan garda depan dari linear stage of growth theory. Pada dekade 1950-1960, teori Rostow banyak mempengaruhi pandangan dan persepsi para ahli ekonomi mengenai strategi pembangunan yang harus dilakukan. Teori Rostow didasarkan pada pengalaman pembangunan yang telah dialami oleh negara-negara maju terutama di Eropa. Dengan mengamati proses pembangunan di negara- negara Eropa, mulai dari abad pertengahan hingga abad modern, Rostow memformulasikan pola pembangunan menjadi tahap-tahap evolusi dari suatu pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh negara-negara tersebut. Dalam bukunya yang berjudul The Stages of Economics Growth, Rostow (1960) menyatakan bahwa pembangunan ekonomi merupakan suatu proses yang dapat menyebabkan: 1) perubahan orientasi ekonomi, politik dan sosial yang pada mulanya berorientasi kepada suatu daerah menjadi berorientasi keluar; 2) perubahan pandangan masyarakat mengenai jumlah anak dalam keluarga yaitu kesadaran untuk membina keluarga kecil; 3) perubahan dalam kegiatan investasi masyarakat dari melakukan investasi yang tidak produktif menjadi investasi yg produktif; dan 4) perubahan sikap hidup dari adat istiadat yang kurang merangsang pembangunan ekonomi, seperti kurang menghargai waktu kerja dan orang lain. Kemudian, Rostow membagi proses pembangunan ekonomi suatu negara menjadi lima tahap: 1) tahap perekonomian tradisional; 2) prakondisi tinggal landas; 3) tinggal landas; 4) menuju kedewasaan; dan 5) tahap konsumsi massa tinggi. Masing-masing tahapan tersebut kemudian dijelaskan sebagai berikut:

1. Tahap Perekonomian Tradisional Pada tahap masyarakat tradisional (the traditional society)

ditunjukkan oleh suatu masyarakat yang strukturnya berkembang di arus kehidupan ekonomi yang masih menggunakan cara-cara berproduksi relatif primitif dan cara-cara hidup masyarakat masih sangat dipengaruhi oleh nilainilai yang dicetuskan oleh cara berpikir yang tidak rasional, dan oleh kebiasaan yang telah berlaku secara turun temurun. Bentuk perekonomian pada masyarakat ini cenderung bersifat subsisten dimana pemanfaatan teknologi dalam sistem produksi masih sangat terbatas. Dalam perekonomian semacam ini sektor pertanian memegang peranan penting. Masih rendahnya pemanfaatan teknologi dalam proses produksi menyebabkan barang-barang yang diproduksi sebagian besar adalah komoditas pertanian dan bahan mentah lainnya. Struktur sosial kemasyarakatan dalam sistem masyarakat seperti ini bersifat berjenjang. Kemampuan penguasaan sumberdaya yang ada sangat dipengaruhi oleh hubungan darah dan keluarga. Dalam masyarakat tradisional seperti itu, ciri yang menonjol adalah 1) tingkat produksi perkapita dan tingkat produktivitas per pekerja masih sangat rendah, karena sebagian besar sumberdaya masyarakat masih digunakan untuk kegiatan sektor pertanian; 2) struktur sosial masyarakat bersifat sangat hirarkis dengan tingkat mobilitas vertikal masyarakat sangat kecil, dan kedudukan masyarakat tidak berbeda dengan nenek moyang; dan 3) kegiatan politik dan pemerintahan di daerah-daerah didominasi oleh para tuan tanah. 2. Tahap Prakondisi Tinggal Landas Pada tahap prakondisi tinggal landas, pembangunan ekonomi sebagai sebuah proses telah menyebabkan perubahan ciri-ciri penting dari suatu masyarakat, yaitu perubahan dalam sistem politiknya, struktur sosialnya, nilainilai masyarakatnya, dan perubahan struktur ekonomi yang bersifat multidimensi. Untuk mencapai perubahan-perubahan tersebut, masyarakat diperhadapkan kepada suatu masa transisi tertentu untuk mempersiapkan diri mencapai pertumbuhan atas kekuatan sendiri (self sustained growth). Tahapan ini memiliki dua corak yang amat berbeda: 1) tahap prasyarat tinggal landas

yang dialami oleh negara-negara Eropa, Asia, Timur Tengah dan Afrika, yaitu perombakan terhadap masyarakat tradisional yg sudah ada untuk mencapai tahap tersebut; dan 2) tahap prasyarat tinggal landas yg dialami negara born free (daerah imigran seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia dan Selandia Baru), dan tanpa harus merubah sistem masyarakat tradisional yg sudah ada. Tahap kedua dari proses pertumbuhan Rostow ini pada dasarnya merupakan proses transisi dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri. Sektor industri mulai berkembang di samping sektor pertanian yang masih memegang peranan penting dalam perekonomian. Tahap kedua ini merupakan tahap yang menentukan bagi persiapan menuju tahap-tahap pembangunan berikutnya, yaitu tahap tinggal landas. Sebagai tahapan yang berfungsi mempersiapkan dan memenuhi prasyaratprasyarat pertumbuhan swadaya, diperlukan adanya semangat baru dari masyarakat. Menurut pengamatan Rostow, negara-negara di Eropa mengalami tahap kedua ini kira-kira pada abad ke-15 sampai ke-16. Pada saat itu terjadi perubahan radikal dalam masyarakat Eropa dengan munculnya semangat Renaissance. Semangat ini telah membalikkan semua tatanan nilai masyarakat Eropa saat itu yang cenderung statis menjadi sangat dinamis. Perubahan paradigma berfikir nampaknya merupakan istilah yang lebih tepat untuk menilai fenomena itu. Pada tahap ini, perekonomian mulai bergerak dinamis, industri-industri bermunculan, perkembangan teknologi cukup pesat, dan lembaga keuangan resmi sebagai penggerak dana masyarakat mulai bermunculan, serta terjadi investasi besar-besaran terutama pada industri manufaktur. Kondisi ini selanjutnya disebut sebagai tonggak dimulainya industrialisasi. Industrialisasi dapat dipertahankan jika dipenuhi prasyarat sebagai berikut: 1) peningkatan investasi disektor

infrastruktur/prasarana terutama prasarana transportasi; 2) terjadi revolusi teknologi di bidang pertanian untuk memenuhi peningkatan permintaan penduduk kota yang semakin besar; dan 3) perluasan impor, termasuk impor modal, yang dibiayai oleh produksi yang efisien dan pemasaran sumber alam untuk ekspor. Proses pembangunan dan industrialisasi yang berkelanjutan

akan terjadi jika keuntungan yang diperoleh diinvestasikan kembali pada sektor yang menguntungkan. 3. Tahap Tinggal Landas Awal dari tahap tinggal landas pada umumnya ditandai oleh perubahan-perubahan yang sangat dramatis dalam kehidupan masyarakat suatu bangsa, seperti terciptanya kemajuan yang pesat dalam inovasi, terbukanya pasar-pasar baru, terjadinya revolusi politik dan kehidupan demokrasi secara luas, dan revolusi industri yang berhubungan erat dengan revolusi metode produksi dan lain sebagainya. Tahap ini merupakan tahap yang menentukan dalam keseluruhan proses pembangunan bagi kehidupan masyarakat. Faktor faktor penyebab dimulainya tahap tinggal landas itu amat beragam dan berbeda-beda satu sama lainnya, namun yang jelas perubahanperubahan itu muncul dan terus berkembang karena disangga oleh kekuatan nilai-nilai dan budaya yang luhur, serta semangat dan etos kerja yang kuat untuk maju dari suatu bangsa. Akibat dari perubahan-perubahan tersebut maka secara teratur akan tercipta pembaharuan-pembaharuan dan peningkatan penanaman modal. Dan pada gilirannya penanaman modal yang makin bertambah tinggi akan berdampak pada pertambahan yang cepat pada pendapatan nasional melebihi pertambahan pada jumlah penduduk. Dengan demikian, tingkat pendapatan per kapita makin lama akan menjadi makin bertambah besar. Pengalaman negara-negara Eropa menunjukkan bahwa tahap ini berlaku dalam waktu yang relatif pendek, sekitar dua dasawarsa. Dalam hubungan itu, tinggal landas didefinisikan sebagai tiga kondisi yang saling berkaitan sebagai berikut: 1) kenaikan laju investasi produktif antara 5-10 persen dari pendapatan nasional; 2) perkembangan salah satu atau beberapa sektor manufaktur penting dengan laju pertumbuhan tinggi; dan 3) hadirnya secara cepat kerangka politik, sosial, dan institusional yang menimbulkan hasrat ekspansi di sektor modern, dan dampak eksternalnya akan memberikan daya dorong pada pertumbuhan ekonomi. Prasyarat pertama dan kedua sangat berkaitan erat satu sama lain. Kenaikan laju investasi

produktif antara 5-10 persen dari GNP pada akhirnya akan menyebabkan pertumbuhan yang tinggi pada sektor-sektor dalam perekonomian, khususnya sektor manufaktur. Sektor manufaktur diharapkan memiliki tingkat

pertumbuhan tertinggi karena sektor tersebut merupakan indikator bagi perkembangan industrialisasi yang yang dilakukan. Selama masa tinggal landas, berkembangnya sektor industri pemimpin dengan tingkat pertumbuhan tinggi (leading sector), paling tidak ada empat faktor yang perlu dicermati, yaitu 1) harus ada kemungkinan perluasan pasar bagi barang-barang yg diproduksi yang mempunyai kemungkinan untuk berkembang dengan cepat; 2) dalam sektor tersebut harus dikembangkan teknik produksi yang modern dan kapasitas produksi harus bisa diperluas; 3) harus tercipta tabungan dalam masyarakat dan para pengusaha harus menanamkan kembali keuntungannya untuk membiayai pembangunan sektor pemimpin; dan 4) pembangunan dan transformasi teknologi sektor pemimpin harus bisa diciptakan kebutuhan akan adanya perluasan kapasitas dan modernisasi sektor-sektor lain. Di samping itu, sektor manufaktur adalah sektor yang memiliki keterkaitan terbesar dengan sektor-sektor lain. Jika sektor manufaktur berkembang pesat, maka sektor-sektor lain pun akan terpengaruh untuk berkembang pesat pula. Pada akhirnya pertumbuhan yang tinggi pada semua sektor akan berakibat pada perkembangan GNP yang lebih tinggi dari kondisi semula. Dalam studinya, Rostow menyatakan negara-negara yang telah mencapai tahapan lepas landas ini adalah: Inggris pada Tahun 1850, USA pada Tahun 1900, Jerman dan Perancis pada Tahun 1910, Swedia pada Tahun 1930, Jepang pada Tahun 1940, Rusia dan Kanada pada Tahun 1950. Seperti ditunjukkan pada Tabel 2.4 bahwa pada umumnya negara-negara barat mencapai tahap tinggal landas pada abad ke-19, kecuali Inggris yang sudah mencapainya pada akhir abad sebelumnya dengan masa tinggal landas berkisar antara 20 sampai 30 tahun. Prasyarat ketiga merupakan kondisi yang harus dipenuhi agar prasyarat pertama dan kedua dapat terpenuhi dengan baik. Prasyarat ketiga merupakan

iklim yang memungkinkan terpenuhinya prasyarat pertama dan kedua terpenuhi. Tanpa terpenuhinya prasyarat ketiga, praktis prasyarat pertama dan kedua tidak akan terpenuhi. Prasyarat ketiga ini menunjukkan kesadaran Rostow bahwa perubahan perekonomian pada dasarnya merupakan

konsekuensi dari perubahan motif dan inspirasi non ekonomi dari seluruh lapisan masyarakat. Artinya perubahan ekonomi dalam skala besar tidak akan terjadi selama tidak ada iklim kondusif yang memungkinkan perubahan tersebut. lklim kondusif tersebut adalah perubahan faktor-faktor non ekonomi dari masyarakat yang sejalan dengan proses pertumbuhan ekonomi yang terjadi. 4. Tahap Menuju Kedewasaan Pada tahap menuju kedewasaan (the drive to maturity), penerapan teknologi modern secara efektif sudah merambah di hampir semua kegiatan produksi dan pemanfaatan kekayaan alam. Sektor pemimpin baru akan bermunculan menggantikan sektor pemimpin yang mengalami kemunduran. Tahap ini merupakan tahapan jangka panjang di mana produksi dilakukan secara swadaya, yang ditandai dengan munculnya beberapa sektor penting yang baru. Pada saat negara berada pada tahap kedewasaan teknologi, terdapat tiga perubahan pentingyang terjadi, yaitu 1) struktur dan keahlian tenaga kerja berubah, kepandaian dan keahlian pekerja bertambah tinggi, sektor indusri bertambah penting peranannya, dan sektor pertanian menurun peranannya. Pada saat itu tenaga kerja telah berubah dari tidak terdidik menjadi tenaga kerja terdidik; 2) sifat kepemimpinan dalam perusahaan mengalami perubahan, dan peranan manajer professional semakin penting dan menggantikan kedudukan pengusaha pemilik, atau dengan kata lain telah terjadi perubahan watak pengusaha dari pekerja keras dan kasar berubah menjadi manager yang cerdas, beretika dan sopan; dan 3) masyarakat telah jenuh terhadap industrialisasi dan menginginkan perubahan lebih jauh.

5. Tahap Konsumsi Massa Tinggi Tahap konsumsi massa tinggi (the age of high mass consumption) merupakan akhir dari tahapan pembangunan yang dikemukakan oleh Rostow25. Pada tahap ini akan ditandai dengan terjadinya migrasi besarbesaran dari masyarakat pusat perkotaan ke pinggiran kota, akibat pembangunan pusat kota sebagai sentral bagi tempat bekerja. Penggunaan alat transportasi pribadi maupun yang bersifat transportasi umum seperti halnya kereta api merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan. Pada fase ini terjadi perubahan orientasi dari pendekatan penawaran (supply side) menuju ke pendekatan permintaan (demand side) dalam sistem produksi yang dianut. Sementara itu terjadi pula pergeseran perilaku ekonomi yang semula lebih banyak menitikberatkan pada sisi produksi, kini beralih ke sisi konsumsi. Pada saat itu, masyarakat mulai berpikir bahwa kesejahteraan bukanlah

permasalahan individu, yang hanya dipecahkan dengan mengkonsumsi barang secara individu sebanyak mungkin, namun lebih dari itu mereka memandang kesejahteraan dalam cakupan yang lebih luas yaitu kesejahteraan masyarakat bersama dalam arti luas.Terlepas dari permasalahan di atas terdapat tiga kekuatan utama yang cenderung meningkatkan kesejahteraan dalam tahap konsumsi besar-besaran ini (Jhingan, 1988: h.188), yaitu 1) penerapan kebijakan nasional guna meningkatkan kekuasaan dan pengaruh melampaui batas-batas nasional; 2) ingin memiliki satu negara kesejahteraan (welfare state) dengan pemerataan pendapatan nasional yang lebih adil melalui peningkatan jaminan sosial, fasilitas hiburan bagi para pekerja dan sistem pajak progresif26; 3) keputusan untuk membangun pusat perdagangan dan sektor penting seperti mobil, jaringan rel kereta api, rumah murah, dan berbagai peralatan rumah tangga yang menggunakan listrik dan sebagainya. Hal ini sejalan dengan makin meningkatnya konsumsi masyarakat melebihi kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan) menjadi konsumsi terhadap barang tahan lama dan barang-barang mewah.

Amerika merupakan satu-satunya negara yang pertama kali mencapai era konsumsi massa tinggi ini, yaitu sekitar Tahun 1920. Hal yang sama kemudian diikuti oleh beberapa negara Eropa Barat. Satu-satunya negara di Asia yang telah mencapai tahap tersebut adalah Jepang. Negara yang pertama mencapai tahap ini adalah USA (Tahun 1920), Inggris (Tahun 1930), Jepang dan Eropa Barat (Tahun 1950) Rusia (Pasca Stalin). Sampai sejauh ini, teori pembangunan Rostow masih terus diperdebatkan dan menuai kritik. Tahap-tahap pembangunan yang dijelaskan oleh Rostow merupakan sistem pentahapan yang berfifat prosedural bersyarat. Misalnya, tahap kedua tidak dapat terjadi tanpa tahap pertama, tahap ketiga tidak akan terjadi tanpa tahap kedua dan seterusnya. Konsep dan pola pertumbuhan ini semacam ini dibangun berdasarkan sejarah pembangunan yang dilakukan di negara-negara di Eropa yang memiliki struktur sosial dan budaya yang mapan. Kondisi tersebut tentu sulit terjadi pada negara-negara di Asia dan Afrika yang belum memiliki sistem sosial yang teratur. Interaksi kebudayaan Barat, akibat kolonialisme, dalam kebudayaan Timur (negara sedang berkembang di Asia dan Afrika), menyebabkan tahapan dalam teori Rostow terjadi secara simultan. Ketika di daerah perkotaan modern di negara sedang berkembang sudah berada pada tahap tinggal landas, bahkan lebih tinggi lagi, sementara itu di daerah perdesaan sistem perekonomian dan kemasyarakatan masih berada pada tahap tradisional. Bahkan dalam kenyataannya, ada negara-negara di dunia ini yang tidak pernah melewati tahap pertama dari pertumbuhan ekonomi Rostow, namun langsung menginjak tahap kedua. Amerika Serikat dan Australia merupakan negara yang mengalami pola pertumbuhan ini. Hal ini terjadi karena keduanya merupakan benua temuan orangorang Eropa, di mana penduduknya adalah orang-orang Eropa yang kemudian mentransfer ilmu dan pengetahuannya ke benua tersebut. Simon Kuznets (1979) telah melancarkan suatu kritik tajam terhadap teori Rostow. Pertanyaan kritisnya adalah: bagaimana mungkin suatu desain sederhana dapat menjadi suatu rangkuman deskriptif atau klasifikasi analitik dari suatu perubahan historis yang

beragam dan bervariasi? Kusnetz juga mencatat kemiripan dan perbedaan antara teori Rostow dengan Karl Marx. Teori Rostow pada dasarnya merupakan alternatif bagi teori Karl Marx, di mana Rostow menawarkan Communism Manifesto. Pada dasarnya terdapat beberapa kesamaan antara teori Karl Marx dan Rostow. Pertama, pada kedua teori tersebut dengan berani menginterpretasikan evolusi sosial khususnya di sektor ekonomi. Kedua, baik Karl Marx maupun Rostow telah mencoba mengeksplorasi permasalahan dan konsekuensi dari pembangunan sosial yang dilakukan. Ketiga, Karl Marx dan Rostow menyadari bahwa perubahan sistem ekonomi pada dasarnya merupakan konsekuensi logis dari perubahan yang terjadi di bidang politik, kebudayaan, dan sosial. Sementara di sisi lain perubahan sistem ekonomi akan berpengaruh juga terhadap kehidupan politik, kondisi budaya dan sosial masyarakat. Meski kedua teori tersebut memiliki banyak kesamaan, namun satu sama lain tetap memiliki perbedaan, yaitu 1) Karl Marx memandang bahwa manusia bersifat sangat kompleks yang memiliki berbagai dimensi kebutuhan dari ekonomi sampai budaya. Di sisi lain, Rostow mempersempit dimensi manusia menjadi satu yaitu sebagai homo economicus. Meski demikian Rostow sadar bahwa perubahan ekonomi yang sangat besar harus dipandang sebagai konsekuensi dari perubahan motif dan inspirasi dimensi non ekonomi dari manusia; 2) Karl Marx mendasarkan teorinya pada sistem konflik antar kelas masyarakat, eksploitasi satu kelompok manusia terhadap kelompok yang lain, dan adanya tekanan-tekanan semacam itu yang melekat pada sistem kapitalis, sedangkan Rostow lebih implisit dalam memandang interaksi kelas masyarakat dalam sistem kapitalis mengingat Rostow sendiri adalah ekonom yang berkiblat ke kapitalis; 3) Karl Marx mengasumsikan bahwa keputusan yang diambil oleh masyarakat semata-mata hanyalah fungsi dari siapa pemilik sumberdaya. Artinya perubahan ekonomi hanyalah merupakan fenomena yang hanya dipengaruhi oleh perubahan motif dan inspirasi ekonomis kelas masyarakat penguasa sumberdaya saja, sedangkan Rostow memandang perubahan ekonomi pada dasarnya

merupakan konsekuensi logis dari perubahan motif dan inspirasi non-ekonomi yang terjadi pada seluruh lapisan masyarakat. Demikian banyaknya kritik terhadap teori Rostow, sehingga tidak berlebihan bila dikatakan kritik-kritik tersebut melebihi teori Rostow itu sendiri. Sungguhpun demikian, harus diakui bahwa pola pemikiran maupun istilah-istilah Rostow telah mempengaruhi pola pemikiran di banyak negara sedang berkembang, termasuk di Indonesia. KESIMPULAN Menjelaskan bahwa modernisasi merupakan proses bertahap, dimana masyarakat akan berkembang dari masyarakat tradisional dan berakhir pada tahap masyarakat dengan konsumsi tinggi. Pada masa tradisional hanya mengalami sedikit perubahan sosial, atau mengalami kemandegan sama sekali. Kemudian berlahan-lahan Negara mengalami perubahan dengan adanya kaum usahawan, perluasan pasar, pembangunan industri. Perubahan ini adalah prakondisi untuk mencapai tahap selanjutnya yaitu tahap lepas landas. Kekurangan dari Teori 1. Sering terjadi pertumbuhan ekonomi yang semu tidak seperti yang diharapkan oleh teori ekonomi ini. Hal tersebut dikarenakan pertumbuhan ekonomi tertutupi oleh pertumbuhan penduduk akibat penurunan angka kematian. Akibat lanjutannya adalah sebuah Negara menjadi sulit untuk berkembang dan melalui tahap tinggal landas. 2. Dengan dasar teori ini, seringkali Negara harus melakukan mobilisasi seluruh kemampuan modal dan sumber daya alamnya sehingga mencapai tingkat investasi produktif sebesar 10% dari pendapatan nasionalnya. Efek dari teori itu adalah terjadi eksploitasi besar-besaran terhadap sumber alam dan bahanbahan mentah, tanpa mempertimbangkan kelestarian alam dan pembangunan berkelanjutan di masa yang akan dating. Kerusakan alam justru berakibat pada penurunan ekonomi masyarakat tradisional, penurunan kesehatan, merebaknya penyakit, kerawanan sosial, dsb.
10

3. Negara yang menerapkan teori ini seringkali memperoleh sumberdaya modal dari investasi langsung modal asing yang ditanamkan pada bidang pembangunan prasarana, pembukaan tambang, dan struktur produktif yang lain. Investasi ini biasanya dalam bentuk pinjaman, baik dari Negara, kreditor, maupun dari lembaga-lembaga internasional seperti bank dunia, IMF atau dari MNC (Multi Natioanl Corporation). Pinjaman juga sering diberikan pada pemerintah Negara berkembang untuk mendanai proyek-proyek

pembangunan. Dari pola itu terlihat terdapat ketidak seimbangan posisi karena Negara berkembang tersebut berposisi sebagai debitor, sedangkan Negara asing atau lembaga asing adalah kreditor. Negara berkembang selanjutnya sering ditekan sehingga yang tampak, pemerintah Negara berkembang tersebut tidak lebih hanyalah tangan kanan dari Negara asing atau lembaga asing yang ingin mensukseskan agenda-agenda politik maupun ekonominya di Negara yang sedang berkembang. Negara berkembang juga seringkali terjerat utang dan sulit untuk menyelesaikan persoalan utang sehingga menjadikan mereka sulit menuju kemajuan yang diharapkan. 4. Tahap tinggal landas merupakan tahap yang sangat kritis. Dalam teori yang disampaikan oleh Rostow, justru tidak memberikan penekanan pada bagaimana mengatasi problematika yang kritis dalam tahap tinggal landas. Rostow tidak memberikan pembahasan yang mendalam bagaimana cara mengatasi efek negatif dari sebuah pertumbuhan ekonomi yang dipercepat, seperti misalnya efek kesenjangan sosial, distabilitas sosial dan distabilitas politik yang seringkali justru berakibat pada kehancuran yang mendalam seperti yang misalnya terjadi di Indonesia. Kelebihan dari Teori: 1. Memberikan kejelasan tahapan-tahapan pencapaian kemajuan yang meliputi : 1) masyarakat tradisional, 2) masyarakat pra kondisi tinggal landas, 3) masyarakat tinggal landas, 4) masyarakat kematangan pertumbuhan dan 5) masyarakat dengan konsumsi biaya tinggi. Tahapan tersebut memberikan tawaran secara terperinci pada pengambil kebijakan di sebuah Negara tentang

11

tahapah dan prasyarat dari pencapaian tahapan yang harus dilalui untuk menjadikan sebuah Negara menjadi lebih maju. Kejelasan teori yang disampaikan oleh Rostow itulah yang melatarbelakangi banyak Negara berkembang menerapkan teori ini dalam pembangunan mereka. 2. Petunjuk jelas yang disampaikan oleh Rostow tentang cara praktis dalam memperoleh sumberdaya modal untuk mencapai tingkat investasi produktif yang tinggi. Cara tersebut disajikan dalam berbagai alternatif yaitu: a) Dana investasi dari pajak yang tinggi b) Dana invesatasi dari pasar uang atau pasar modal c) Melalui perdagangan internasional d) Investasi langsung modal asing

12