Anda di halaman 1dari 119

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Perkembangan era modernisasi yang semakin pesat membuat tingkat kebutuhan energi listrik semakin besar. Untuk mendukung kebutuhan kebutuhan perangkat teknologi yang semakin tinggi setiap gedung membutuhkan sistem kelistrikan handal dan aman, terutama dalam hal sistem instalasi kelistrikan gedung tersebut. Perhitungan beban dan pengaman yang digunakan harus jelas dan handal karena hal ini berkaitan erat dengan keselamatan manusia dan lingkungan di sekitar gedung. Agar pemakai/konsumen listrik dapat memanfaatkan energi listrik dengan aman, nyaman, dan kontinyu, maka diperlukan diperlukan instalasi listrik yang perencanaan maupun pelaksanaannya memenuhi standar berdasarkan peraturan yang berlaku. Untuk menyikapi standar peraturan dan keamanan tersebut maka setiap gedung harus memiliki Panel Perlengkapan Hubung Bagi (PHB) yang perhitungan dan pelaksanaannya disesuaikan dengan standar peraturan yang berlaku. Dalam panel PHB ini terdapat berbagai komponen-komponen yang bertugas untuk

mengamankan dan membagi beban yang terdapat pada sebuah gedung seperti Miniature Circuit Breaker (MCB), sekering, pemisah, dan lain sebagainya. Spesifikasi komponen-komponen tersebut disesuaikan dengan keadaan beban gedung.

Berhubungan Politeknik Negeri Padang sedang melakukan pembangunan gedung baru dengan sistem instalasi kelistrikan yang belum selesai sampai saat ini, dari latar belakang tersebutlah maka penulis mengangkat laporan Tugas Akhir dengan judul STUDI PERANCANGAN PANEL PERLENGKAPAN HUBUNG BAGI (PHB) GEDUNG AB POLITEKNIK NEGERI PADANG yang bertujuan untuk memberikan manfaat bagi Politeknik Negeri Padang dan mahasiswa yang bersangkutan. 1.2 Tujuan 1.2.1 Tujuan Umum Adapun tujuan umum dari Studi Perancangan Panel Perlengkapan Hubung Bagi (PHB) Gedung AB Politeknik Negeri Padang ini adalah : 1. Untuk menerapkan ilmu yang dipelajari di perkuliahan secara nyata. 2. Menambah pemahaman mahasiswa terhadap Perancangan Panel

Perlengkapan Hubung Bagi (PHB) beserta sistem instalasi kelistrikan gedung bertingkat. 3. Studi pada program diploma III di Politeknik Negeri Padang Untuk memenuhi suatu persyaratan dalam menyelesaikan. 1.2.2 Tujuan Khusus Adapun tujuan umum dari Studi Perancangan Panel Perlengkapan Hubung Bagi (PHB) Gedung AB Politeknik Negeri Padang ini adalah : 1. Merancang Panel Perlengkapan Hubung Bagi (PHB) gedung AB Politeknik Negeri Padang.

2.

Menentukan spesifikasi komponen-komponen yang digunakan dalam Panel PHB gedung AB Politeknik Negeri Padang.

3.

Agar bisa dimanfaatkan sebagai pedoman untuk pembangunan instalasi gedung sekolah Politeknik tersebut.

1.3 Perumusan Masalah Adapun permasalahan yang ditemukan praktikan didalam penyusunan Tugas Akhir ini adalah : 1. Bagaimana cara merancang Panel Perlengkapan Hubung Bagi (PHB) instalasi listrik gedung AB Politeknik Negeri Padang berdasarkan PUIL 2000? 2. Bagaimana cara menentukan spesifikasi komponen-komponen yang terdapat dalam Panel Perlengkapan Hubung Bagi? 3. Bagaimana cara menentukan luas penampang busbar dan penghantar dalam Panel PHB gedung AB Politeknik Negeri Padang? 4. Bagaimana cara menentukan sistem pentanahan Panel PHB dan instalasi gedung AB Politeknik Negeri Padang? 1.4 Batasan Masalah Pembatasan terhadap permasalahan yang akan dibahas dalam laporan Tugas Akhir ini adalah : 1. Merancang Panel Perlengkapan Hubung Bagi (PHB) instalasi listrik gedung AB Politeknik Negeri Padang berdasarkan PUIL 2000. 2. Menentukan spesifikasi komponen-komponen yang terdapat dalam Panel Perlengkapan Hubung Bagi.

3. Menentukan luas penampang busbar dan penghantar dalam Panel PHB gedung AB Politeknik Negeri Padang. 4. Menentukan sistem pentanahan Panel PHB dan instalasi gedung AB Politeknik Negeri Padang. 1.5 Metodologi Penulisan Agar tercapai sasaran atau target yang diinginkan maka langkah-langkah atau metodologi yang harus disajikan adalah : 1. Metode Observasi yaitu mengadakan pengamatan langsung terhadap hal-hal yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi dalam penyusunan tugas akhir ini. 2. Metode Interview yaitu metode pengumpulan data dengan mencari keterangan dari orang-orang yang tahu dan menguasai mengenai masalah yang dihadapi. 3. Metode studi perpustakaan yaitu pengumpulan data dengan membaca buku atau sumber pustaka yang mendukung tersedianya informasi yang berkaitan dengan permasalahan yang akan dibahas. 4. Metode perancangan yaitu melakukan perhitungan spesifikasi komponen, kegunaan, efektivitas panel berdasarkan sistem instalasi yang telah dirancang.

1.6 Sistematika Penulisan Di dalam penulisan tugas akhir ini, Penulis menggunakan sistematika penulisan laporan yang dibagi dalam lima bab yaitu : BAB I PENDAHULUAN Berisikan latar belakang Studi Perancangan Panel Perlengkapan Hubung Bagi (PHB) gedung AB Politeknik Negeri Padang, tujuan penelitian, perumusan masalah, batasan penelitian dan sistematika penulisan laporan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Berisikan tentang teori dasar mengenai perancangan panel PHB , komponen yang digunakan dan sistem pentanahan terhadap gedung bertingkat. BAB III PERANCANGAN PANEL PERLENGKAPAN HUBUNG BAGI (PHB) Berisikan tentang perencanaan, gambaran umum instalasi listrik gedung, rancangan panel perlengkapan hubung bagi. BAB IV ANALISA Berisikan tentang teknik dan tujuan pengambilan data serta hasil yang diperoleh dari perancangan Panel PHB dan analisa dari data penelitian. BAB V PENUTUP Berisikan tentang kesimpulan, kritikan dan saran.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Panel Perlengkapan Hubung Bagi (PHB) Panel perlengkapan hubung bagi adalah peralatan yang berfungsi menerima energi listrik dari PLN dan selanjutnya mendistribusikan dan sekaligus mengontrol

penyaluran energi listrik tersebut melalui sirkit panel utama dan cabang ke PHB cabang atau langsung melalui sirkit akhir ke beban yang ada pada bangunan . Pada sistem distribusi ,panel distribusi umumnya di kenal dengan Panel Perlengkapan Hubung Bagi (PHB) yaitu panel berbentuk lemari, yang dapat dibedakan sebagai: a. Panel Utama/MDP : Main Distribution Panel b. Panel Cabang/SDP : Sub-Distribution Panel c. Panel Beban/SSDP : Subsub-Distribution Panel Sesuai dengan kegunaan dari panel listrik, maka dalam perancanaan harus di sesuai dengan syarat dan ketentuan serta standar panel listrik yang ada. Untuk penempatan panel listrik hendaknya disesuaikan dengan situasi bangunan dan terletak ditempat yang mudah dijangkau dalam memudahkan pelayanan. Panel harus mendapatkan ruang yang cukup luas sehingga pemeliharaan, perbaikan, pelayanan dan lalu lintas dapat dilakukan dengan mudah dan aman.

Dalam penempatan ini sangat mempengaruhi proses kelangsungan penyaluran energi listrik, karena apabila penempatan dari panel tersebut tidak diperhatikan maka kontinunitas pelayanan panel tersebut tidak akan bertahan lama dan dapat mengurangi keandalan dalam penyaluran energi listrik. Penempatan panel pada lokasinya dan persyaratan lainnya perlu memperhatikan aturan-aturan yang terdapat di dalam PUIL 2000. 2.2 Panel Distribusi Utama (Main Distribution Panel/MDP) Panel distrbusi utama merupakan jenis panel distribusi utama yang berfungsi untuk menerima dan membagi energi listrik dari sumber PLN dan energi maupun genset ,yang akan di hubungkan dengan sub distribusi panel dan subsub distribusi panel dalam proses penyaluran energi listrik kepada beban dan daerah penggunaan energi listrik. Panel distribution utama bekerja untuk membagi daya pada suatu instalasi listrik tertentu. pada industri umumnya ,memiliki perlengkapan hubung bagi yang berbeda untuk setiap kebutuhanya yaitu panel untuk penerangan dan panel untuk tenaga (motor-motor). Main distribution panel merupakan jenis panel yang memiliki fungsi untuk dapat mengatur energi listrik yang di terima dari sumber ke sub distribusi panel dan sub sub distribusi panel sebelum terhubung kepada beban listrik nantinya. 2.3 Komponen Panel Perlengkapan Hubung Bagi (PHB) Dalam merakit dan membuat sebuah panel maka di butuhkanlah beberapa komponen penyusun dan komponen proteksi untuk berjalannya proses kerja dari

panel dengan baik. Adapun komponen yang di gunakan pada main distribution panel ini adalah sebagai berikut : 2.3.1 Panel Panel daya adalah tempat untuk mengatur dan mendistribusikan energi listrik dari gardu listrik step down ke panel-panel distribusinya. Sedangkan yang dimaksud panel distribusi daya adalah tempat menyalurkan dan mendistribusikan energi listrik dari panel daya ke beban (konsumen) baik untuk instalasi tenaga maupun untuk instalasi penerangan. Berikut contoh salah satu panel distribusi pada gambar.1.

Gambar.1 Panel Distribusi (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

2.3.1.1 Jenis dan Tipe Panel Menurut PUIL 2000 ; 6.3.2 6.4.3 jenis panel perlengkapan hubung bagi terdiridari:

1. Panel Perlengkapan Hubung Bagi tertutup pasang dalam

Panel Perlengkapan Hubung Bagi tertutup pasang dalam adalah panel yang sudah komponen-komponennya ditempatkan didalam kotak panel yang tertutup dan terpasang didalam ruangan.

2. Panel Perlengkapan Hubung Bagi tertutup pasang luar

Panel Perlengkapan Hubung Bagi tertutup pasang luar adalah panel yang seluruh komponen-komponen ditempatkan didalam kotak panel yang tertutup dan dipasang diluar ruangan. Bahan yang digunakan harus tahan cuaca.

3. Panel Perlengkapan Hubung Bagi terbuka pasang dalam

Panel Perlengkapan Hubung Bagi terbuka pasang dalam tidak boleh ditempatkan dekat saluran gas, saluran uap, saluran air atau saluran lainnya yang tidak ada kaitannya dengan Panel Perlengkapan Hubung Bagi (PHB) tersebut.

4. Panel Perlengkapan Hubung Bagi terbuka pasang luar

Tempat pemasangan Panel Perlengkapan Hubung Bagi (PHB) terbuka pasang luar harus merupakan perlengkapang yang tahan cuaca. Perlengkapan atau harus mempunyai saluran air sehingga dapat dicegah terjadinya genangan air.

2.3.1.2 Penempatan panel Penempatan panel harus memenuhi syarat-syarat berikut ini sesuai dengan PUIL 2000 (6.3-6.4) yaitu : 1. Tinggi maksimal dari lantai 1,2 2m. 2. Di depan panel harus memiliki ruang bebas yang cukup luas.

3. Saat membuka panel ini tidak terganggu oleh benda apapun. 4. Pintu harus bisa terbuka penuh. 5. Panel dipasang pada tempat yang sesuai, kering dan berventilasi cukup. 2.3.1.3 Penempatan Panel di Dekat Tandon Air atau Dapur Listrik Jika pemasangan panel ternyata di letakan pada posisi dapur atau daerah yang lembab atau basah maka Hal-hal berlaku bagi PHB di dekat tandon air atau dapur listrik menurut PUIL .(4.13.1.4) yaitu : 1) Daerah terlarang. Suatu PHB tidak boleh dipasang di dalam ruang yang dibatasi oleh bidang vertikal. a. 0,15 m dari tepi peranti pemasak, tungku, pelat panas atau peranti masak sejenis yang magun, memanjang dari lantai sampai ke langit-langit; b. 0,15 m dari batas tandon air tempat cuci piring, tempat cuci tangan atau wadah sejenis, memanjang dari lantai sampai ke langit-langit; c. 0,15 m dari keliling tandon air suatu kloset untuk buang air, atau tempat buang airkecil, tangki air, memanjang dari lantai sampai ke langit-langit, atau

10

d. 0,5 m dari keliling tandon air dari tungku pemanas untuk mencuci, bak cuci atau tempat mandi, memanjang dari lantai sampai ke langit-langit. 2) Lokasi terbatas. Suatu PHB dapat dipasang di luar ruang yang ditentukan dalam butir 1) akan tetapi didalam batas 2,5 m dari tandon air atau tepi suatu dapur pemasak hanya jika PHB mempunyai, atau dipasang di dalam suatu selungkup yang mempunyai suatu tingkat proteksi yang tinggi, tidak kurang dari IP23. Persyaratan ini dianggap terpenuhi terhadap kebocoran air jika PHB dipasang dalam lemari yang mempunyai pintu-pintu yang tertutup dengan rapat (kedap air). 2.3.2 Saklar pada Panel Perlengkapan Hubung Bagi Saklar merupakan salah satu komponen penting pada sebuah rangkaian listrik, dimana saklar akan meghubungkan dan memutuskan aliran energi listrik yang mengalir terhadap rangkaian. 2.3.2.1 Saklar Beban Pada penggunaan saklar beban pada umumnya termasuk kedalam saklar tipe rotari, dimana jumlah kutub dari kutup saklar di sesuaikan dengan jumlah phasa dari setiap kabel penghantarnya. Saklar ini berfungsi untuk menghubungkan dan atau memutuskan suplai energi listrik yang masuk ke rangkaian komponen panel. Untuk panel yang besar pada umumnya menggunakan NFB sekaligus saklar dan pengaman dengan kapasitas arus yang memadai.

11

Gambar.2 Saklar Beban (Sumber : http://suriptoinstalasi.wordpress.com/)

2.3.2.2 Volt Selector Volt selector adalah selector atau pengatur yang digunakan untuk memilih tegangan listrik dimasing-masing jalur listrik / phasa yang ada pada rangkaian tersebut. Adapun jalur-jalur yang bias digunakan pada volt selektro ada antara line to line / phasa to phasa dan line to netral atau phasa to netral. R dengan S S dengan T T dengan R R dengan N S dengan N T dengan N Saat volt selector di gunakan untuk mengatur tegangan pada jalur rangkaian maka besarnya tegangan yang dihasilkan berdasarkan jalur tadi bisa dilihat di volt meter.

12

Gambar.3 Volt Selector (Sumber : http://cansenswitch.en.busytrade.com) Dengan di lakukannya pemasangan volt selector pada rangkaian panel distribusi maka volt selector akan mengatur jalan dari penggunaan pengukuran tegangan pada volt meter. Dengan demikian maka tidak di perlukan lagi adanya penggunaan voltmeter pada setiap jalur phasa dari panel ditrisbusi tersebut. 2.3.3 Perangkat Proteksi Dalam merakit / mmebuat sebuah panel distribusi energi energi listrik salah satu komponen penting yang harus sangat di perhatikan adalah bagian perlatan proteksi atau alat alat pengaman. Peralatan pengaman di gunakan untuk melindungi operator dan semua peralatan yang terhubung dengan rangkaian panel tersebut. Untuk mencari nilai dari pemutus sirkit (perangkat proteksi) yang akan dipakai, dapat ditentukan dengan mencari nilai arus nominal yang mengalir dan arus hubung pendek. Untuk arus nominalnya dapat dicari dengan rumus sebagai berikut :

13

a)

Untuk arus satu phasa :

...(1)

b)

Untuk arus tiga phasa :

...(2)

Dimana : I = Arus nominal (Ampere). V = Pada arus satu phasa adalah tegangan line-netral (Volt). V = Pada arus tiga phasa adalah tegangan line-line (Volt). P = Daya (Watt). Cos = Faktor Daya

Adapun alat alat proteksi yang digunakan pada main distribution panel ini adalah : 2.3.3.1 Moulded Case Cicuit Breaker (MCCB ) MCCB merupakan salah satu alat pengaman yang dalam proses operasinya mempunyai dua fungsi yaitu sebagai pengaman dan sebagai alat untuk penghubung. Jika dilihat dari segi pengaman, maka MCCB dapat berfungsi sebagai pengaman gangguan arus hubung singkat dan arus beban lebih. Pada jenis tertentu pengaman ini, mempunyai kemampuan pemutusan yang dapat diatur sesuai dengan yang diinginkan.
14

Gambar.4 MCCB (Sumber : Buku Teknik Pemanfaatan Energi Listrik Jilid I) Keterangan : 1. Bahan (Material for Base and Cover) BMC untuk bodi dan tutup 2. Peredam busur api 3. Blok sambungan untuk pemasangan ST dan UVT (Under Voltage Trip) 4. Penggerak lepas-sambung 5. Kontak bergerak 6. Data kelistrikan dan pabrik pembuat 7. Unit magnetik trip

2.3.3.2 Miniature Circuit Breaker (MCB) Circuit Breaker adalah suatu alat pengaman pemutus rangkaian kelistrikan yang dapat bekerja secara otomatis. Circuit breaker berfungsi sebagai pengaman

terhadap arus beban lebih atau arus hubungan singkat atau pengaman keduaduanya dan sebagai sakelar yang berkemampuan untuk mengatasi kenaikan

beban sakelar. Miniatur Circuit Breaker (MCB) adalah salah satu macam Cirkuit Breaker yang dilengkapi dengan pengaman bimetal sebagai pengaman beban lebih.

15

Dimana ketika terjadinya beban lebih akibat hubung singkat maka bimetal pada MCB tersebut akan panas dan secara lansung melengkung yang mengakibatkan terjadi pemutusan penyaluran energi listrik . Miniatur Circuit Breaker (MCB) ini banyak digunakan untuk mengamankan rangkaian listrik arus hubung singkat dan beban lebih.

Gambar.5 Mini Circuit Breaker (MCB) (Sumber : Buku Teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik Jilid 1)

Penentuan ukuran pengaman adalah besarnya arus atau nominal yang akan digunakan. Adapun cara untuk menentukan ukuran pemakaian MCB adalah sebagai berikut : 1. Dihitung atau dijumlahkan berapa daya (watt) seluruh muatan penghantar tersebut. Berdasarkan nilai muatan itu, dihitung besar arus listrik ampere yang mengalir pada penghantar, yaitu: In = .. (3)

16

2. Ukuran sekering atau pengaman, yaitu arus nominal dari sekering (pengaman) harus lebih besar sedikit atau sama dengan arus beban. I mcb I beban ...................................... (4)

2.3.3.3 Earth Leakage Circuit Breaker (ELCB) Earth Leakage Circuit Breaker (ELCB) adalah suatu alat listrik yang dipergunakan sebagai pengaman bila terjadi arus bocor yang dapat memutuskan sirkit termasuk penghantar netralnya secara otomatis dalam waktu tertentu, bila arus sisa yang timbul karena terjadinyakegagalan isolasi melebihi nilai tertentu sehingga bertahannya tegangan sentuh yang terlalu tinggi dapat dicegah. Pengaman ini memiliki sebuah transformator arus dengan inti berbentuk gelang. Inti ini melingkari semua hantaran suplai ke mesin atau sistem yang diamankan, termasuk penghantar netral. Dalam keadaan normal, jumlah arus yang dilingkari oleh inti transformator sama dengan nol. Kalo ada arus bocor ke tanah, keadaan seimbang akan terganggu. Karena itu dalam inti transformator akan timbul suatu medan magnetik yang membangkitkan tegangan dalam kumparan sekunder. Apabila arus bocor tersebut mencapai pada suatu harga tertentu maka relay pada ELCB akan bekerja melepaskan kontak-kontaknya.

17

Gambar.6 ELCB (Sumber :Teknik pemanfaatan tenaga listrik 1) 2.3.4 Penghantar Untuk instalasi listrik, penyaluran arus listriknya dari panel ke beban maupun sebagai pengaman (penyalur arus bocor ke tanah) digunakan penghantar listrik yang sesuai dengan penggunaanya. Untuk mendapatkan luas penampang penghantar yang sesuai ditentukan berdasarkan arus yang mengalir pada busbar tersebut dan harus sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam PUIL 2000, yaitu arus busbar harus 1,25 kali arus nominalnya. a) Arus listrik nominal untuk satu phasa yang mengalir dapat dicari dengan menggunakan rumus : . (5) b) Arus listrik nominal untuk tiga phasa yang mengalir dapat dicari dengan menggunakan rumus :

. (6)

18

c)

Maka besarnya kemampuan hantar arus adalah: KHA =1,25 Inominal. (7)

Setelah itu untuk menentukan luas penampang penghantar dan jenis penghantar dapat dilihat pada lampiran A.1. Untuk menentukan besar ukuran kabel netral, dapat menggunakan rumus dibawah ini : N=P Dimana : N = Ukuran kabel netral (mm2) P = Ukuran kabel phasa (mm2) Setiap penghantar mempunyai warna instalasi berbeda. Dimana perbedaan warna ini dimaksukan agar mempermudah dalam penginstalasian serta mencegah terjadinya kesalahan dalam penyambungan penghantar yang berbeda. Adapun warna isolasi pada setiap penghantar (PUIL 2000 :240) adalah : a. Warna isolasi merah untuk phasa L1/R b. Warna isolasi kuning untuk phasa L2/S c. Warna isolasi hitam untuk phasa L3/T d. Warna isolasi biru untuk netral. e. Warna isolasi loreng hijau kuning untuk pembumian (8)

19

Cara penggunaan kode pengenal untuk salah satu jenis kabel yaitu : Arti huruf-huruf kode yang digunakan adalah : N NA Y F R Gb Re Rm se sm : Kabel jenis standar dengan penghantar tembaga : Kabel jenis standar dengan penghantar aluminium : Isolasi atau selubung PVC : Perisai kawat baja pipih : Perisai kawat baja bulat : Spriral pita baja : Penghantar padat bulat : Penghantar bulat kawat banyak : Penghantar padat bentuk sektor : Penghantar kawat banyak bentuk sektor

2.3.4.1 Kabel NYA (thermoplastic insulated single core cable) Kabel NYA hanya memiliki satu penghantar berbentuk pejal, kabel ini pada umumnya digunakan pada instalasi rumah tinggal. Dalam pemakaiannya pada instalasi listrik harus menggunakan pelindung dari pipa union atau paralon / PVC ataupun pipa fleksibel.

20

Gambar.7 Kabel NYA (Sumber : Buku Teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik Jilid 1) 2.3.4.2 Kabel NYM (thermoplastic insulated and sheated cable) Sedangkan kabel NYM adalah kabel yang memiliki beberapa penghantar dan memiliki isolasi luar sebagai pelindung. Konstruksi dari kabel NYM terlihat pada gambar. Penghantar dalam pemasangan pada instalasi listrik, boleh tidak menggunakan pelindung pipa. Namun untuk memudahkan saat peggantian kabel / revisi, sebaliknya pada pemasangan dalam dinding / beton menggunakan selongsong pipa.

Gambar.8 Kabel NYM (Sumber : Buku Teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik Jilid 1)

21

2.3.4.3 Kabel NYY (low tension insulated and PVC sheatedpower cable) Kabel tanah thermoplastik tanpa perisai seperti NYY, biasanya digunakan untuk kabel tenaga pada industri. Kabel ini juga dapat ditanam dalam tanah, dengan syarat diberikan perlindungan terhadap kemungkinan kerusakan mekanis. Perlindungannya bisa berupa pipa atau pasir dan diatasnya diberi batu. Pada prinsipnya susunan NYY ini sama dengan susunan NYM. Hanya tebal isolasi dan selubung luarnya serta jenis PVC yang digunakan berbeda. Warna selubung luarnya hitam. Untuk kabel tegangan rendah tegangan nominalnya 0,6/1 kV dimana maksudnya yaitu : 0,6 kV : Tegangan nominal terhadap tanah. 1,0 kV : Tegangan nominal antar penghantar. Penggunaan utama NYY sebagai kabel tenaga adalah untuk instalasi industri di dalam gedung maupun di alam terbuka, di saluran kabel dan dalam lemari hubung bagi, apabila diperkirakan tidak akan ada gangguan mekanis. NYY dapat juga ditanam di dalam tanah asalkan diberi perlindungan secukupnya terhadap kemungkinan terjadinya kerusakan mekanis.

Gambar.9 Kabel NYY (Sumber : Buku Teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik Jilid 1)
22

2.3.4.4 Kabel NYFGbY Kabel NYFGbY merupakan salah satu tipe penghantar yang umum di gunakan pada dunia industry dengan konsumsi energi listrik yang cukup menengah dan tinggi. Dimana kabel ini merupakan kabel tanah thermoplastik berperisai seperti NYFGbY, biasanya digunakan apabila ada kemungkinan terjadi gangguan kabel secara mekanis, kabel NYFGbY intinya terdiri dari penghantar tembaga, dengan isolasi PVC, penggabungan dua atau lebih inti dilengkapi selubung atau pelindung yang terdiri dari karet dan perisai kawat baja bulat. Perisai dan pembungkus diikat dengan spiral pita baja, untuk menghindari korosi pada pita baja, maka kabel di selubungi pelindung PVC warna hitam.

Gambar.10 kabel NYFGbY (Sumber : Buku Teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik Jilid 1) Kabel NYFGbY ini digunakan untuk instalasi bawah tanah, di dalam ruangan di dalam saluran-saluran dan pada tempat-tempat yang terbuka dimana perlindungan dari semua gangguan mekanis dibutuhkan, atau untuk tekanan rentangan yang tinggi selama dipasang dan dioperasikan.

23

2.3.4.5 BUSBAR

Busbar adalah salah satu komponen inti kedua setelah breaker. Busbar merupakan komponen penghantar listrik yang dapat memadai arus dan tegangan listrik kapasitas besar. Busbar yang sangat umum an memang sudah lazim dipakai untuk perakitan panel terbuat dari tembaga. Karena tembaga memiliki tingkat korosi yang sangat kecil atau bahkan 0% korosi akan tetapi ada yang lebih baik dari tembaga yakni emas. Emas merupakan penghantar yang paling bagus karena memiliki tingkat karat yang lebih rendah atau sama sekali tidak memiliki tingkatan karat.

Gambar.11 Tampilan rel tembaga (busbar) (Sumber : http://www.bbelectro.com/cb.html) Sistem rel yang dipakai pada PHB induk disebut dengan Sistem 4 rel. Tiga rel diperuntukkan untuk penghantar 3 phasa masing-masing LI/R, L2/S, dan L3/T dan satu rel lagi diperuntukkan untuk hantaran PE atau PEN, yang diletakkan pada bagian bawah di PHB. Sedangkan untuk rel phasanya dipasang pada bagian atas secara mendatar.

24

Untuk mendapatkan ukuran busbar yang sesuai ditentukan berdasarkan arus yang mengalir pada busbar tersebut dan harus sesuai dengan standart yang ditetapkan dalam PUIL 2000, yaitu arus busbar harus 1,5 kali arus nominalnya.

a)

Arus listrik nominal yang mengalir dapat dicari dengan menggunakan rumus :

(9)

b) Maka arus busbarnya : Ibusbar =1,5 Inominal (10) Untuk hantaran rel untuk pentanahan (PE atau PEN) secara listrik harus dihubungkan ke kerangka panel dan ukurannya diperhitungkan agar mampu dialiri oleh setiap arus hubung singkat yang mungkin timbul. Ukuran rel penghantar untuk PE atau PEN berdasarkan pengalaman adalah 25% kali ukuran rel penghantar phasanya.

Sebagai dasar untuk menentukan ukuran rel diantaranya adalah kondisi operasi normal dan rating arusnya, kondisi hubung singkat (berupa panas yang dibangkitkan diakibat oleh arus hubung singkat tersebut) dan besarnya ketegangan dinamis. Dengan demikian data-data dari pabrik pembuat rel ini harus relevan dengan standar desain panel yang telah ditetapkan sesuai dengan ketentuan. Untuk warna dan lambang pengenal penghantar dapat dilihat pada lampiran A.2.

25

2.3.4.6 Kawat BC Kawat bc merupakan kawat yang terbuat dari bahan tembaga yang sering digunakan untuk menyalurkan energi listrik dari rangkaian panel yang terhubung secara lansung kepada bagian grounding / pentanahan dari panel. Kawat BC ini di pilin atau di stranded memiliki tujuan untuk memberikan atau tegangan

ketahanan dan penambahan kekuatan secara mekanis. Ukuran

untuk kawat BC maksimal adalah dari rentang 6 hingga 500 mm dengan tegangan maksimum hingga 500 V pada saat kedaan berbeban.

Gambar.12 Kawat BC (Sumber : http://www.indonetwork.co.id) 2.3.5 Alat Ukur

Alat

ukur

merupakan

komponen

penyusun

pada

sebuah

rangkaian

kelistrikan,dimana alat ukur akan bekerja untuk memberikan sinyal dan nilai dari besaran tegangan,arus atau daya yang mengalir pada rangkaian kelistrikan. Adapun alat ukur yang digunakan pada panel ini adalah sebagai berikut :

26

2.3.5.1 Amperemeter

Amperemeter adalah alat untuk mengukur kuat arus. Bagian terpenting dari Ampermeter adalah galvanometer. Galvanometer bekerja dengan prinsip gaya antara medan magnet dan kumparan berarus.

Gambar.13 Ampere meter (Sumber : http://www.cndixsen.com) Ketika arus mengalir melalui kumparan yang dilingkupi oleh medan magnet timbul gaya lorentz yang menggerakan jarum penunjuk menyimpang. Apabila arus yang melewati kumparan besar, maka gaya yang timbul juga akan membesar sedemikian sehingga penyimpangan jarum penunjuk juga akan lebih besar.

2.3.5.2 Voltemeter

Voltmeter adalah alat untuk mengukur tegangan listrik. Alat ini sering digunakan oleh teknisi elektronik yang biasanya menjadi satu dalam multi tester atau Avometer.

27

Gambar.14 Voltmeter (Sumber : http://opiobjektid.tptlive.ee)

Prinsip Kerja Voltemeter Prinsip Kerja Voltmeter hampir sama dengan Amperemeter karena desainnya juga terdiri dari galvanometer dan hambatan seri atau multiplier. Galvanometer menggunakan prinsip hukum Lorentz, dimana interaksi antara medan magnet dan kuat arus akan menimbulkan gaya magnetic. Gaya magnetik inilah yang menggerakan jarum penunjuk sehingga menyimpang saat dilewati oleh arus yang melewati kumparan. Fungsi dari multiplier adalah menahan arus agar tegangan yang terjadi pada galvanometer tidak melebihi kapasitas maksimumnya, sehingga sebagian tegangan akan berkumpul pada multiplier. Dengan demikian kemampuan mengukurnya menjadi lebih besar. 2.3.5.3 Kw meter Kw meter adalah alat ukur yang di gunakan untuk mengetahui energi listrik yang di konsumsi oleh beban rangkaian beban kelistrik. Tegangan yang di ijinkan 380 Volt. Sistem wiring Kilo watt meter terdiri atas 3 phasa 4 wire dengan standart

Frekuensi sebesar 50 Hz. Cara pemasangan kilo watt meter yaitu sama seperti

28

pemasangan kwh meter 3 phasa dimana,kilo watt meter di hubungkan secara seri parallel.

Gambar.15 Kw meter (Sumber : http://www.sew.com.tw) Kw pada prinsipnya adalah seperti meter Kwh, yaitu mengukur daya,akan tetapi kilo wattmeter hanya menampilkan jumlah pemakaian energi saja, sedangkan Kwh meter selain menampilkan jumlah pemakaian energi ,kwh juga akan mencatat konsumsi energi tersebut. 2.3.5.4 Power faktor / cos phi meter Cos phi meter merupakan alat alat ukur yang digunakan untuk mengetahui, besarnya factor kerja (power factor) yang merupakan beda phasa antara tegangan dan arus.dimana cos phi meter dapat di pasang secara seri parallel sama dengan watt meter.

Gambar.16 cos phi meter (Sumber : http://kahael.com)

29

Cos phi meter umumnya digunakan pada : 1. Panel pengukuran mesin pembangkit tenaga listrik 2. Panel gardu hubung gardu induk 3. Alat pengujian,alat pengukuran dan lain lain. 2.3.6 Lampu Indikator Lampu tanda/indikator berfungsi untuk memberi tanda bagi operator bahwa panel dalam keadaan kerja/bertegangan atau tidak. Warna merah sebagai tanda panel dalam keadaan kerja, maka harus hati-hati. Sedangkan warna hijau bahwa panel dalam keadaan ON arus mengalir kerangkaian beban listrik.

Gambar.17 Lampu indikator pada panel (Sumber : http://indonetwork.co.id) Lampu indikator ini juga berfungsi sebagai tanda tegangan kerja 3 phasa, dengan warna lampu merah, kuning, hijau. 2.3.7 Transformator Transformator tenaga adalah suatu peralatan tenaga listrik yang berfungsi untuk menyalurkan tenaga/daya listrik dari tegangan tinggi ke tegangan rendah atau sebaliknya. Dalam operasi penyaluran tenaga listrik transformator dapat dikatakan sebagai jantung dari transmisi dan distribusi. Dalam kondisi ini suatu

30

transformator diharapkan dapat beroperasi secara maksimal (kalau bisa terus menerus tanpa berhenti). Mengingat kerja keras dari suatu transformator seperti itu maka cara pemeliharaan juga dituntut sebaik mungkin. Oleh karena itu transformator harus dipelihara dengan menggunakan sistem dan peralatan yang benar, baik dan tepat. Untuk itu regu pemeliharaan harus mengetahui bagian-bagian transformator dan bagianbagian mana yang perlu diawasi melebihi bagian yang lainnya. Transformator di bedakan atas 2 jenis yaitu : 2.3.7.1 Transformator Tegangan / Potential Transformator (PT) Transformator tegangan adalah alat pengubah besaran listrik (tegangan) dari suatu harga ke harga yang lain yang tertentu besarnya. Transformator tegangan merupakan salah satu dari beberapa jenis transformator yang ada, yang berfungsi sebagai alat pembantu dalam pengukuran tegangan

Gambar.18 Potensial Transformer (Sumber : Memelihara Panel Listrik )

31

Alat ini biasa digunakan untuk memberi tegangan kepada meter meter dan peralatan pengaman yang memerlukannya, dan biasa dipasang pada sisi tegangan tinggi dari suatu jaringan listrik. 2.3.7.2 Transformator arus / Current Transformator (CT) Transformator arus adalah suatu alat listrik yang berfungsi untuk mengubah besar arus tertentu (di lilitan primer) ke besaran arus tertentu lainnya (di lilitan sekunder) melalui suatu kopling elektro megnetis.

Gambar.19 Current Transformer (Sumber : Memelihara Panel Listrik ) Transformtor arus ini banyak dgunakan didalam bidang pengukuran pengukuran listrik untuk memperoleh besaran ukur bagi ampere meter, kWh meter, watt meter dan sebagainya. 2.3.8 Aksesoris Pendukung Panel Asesories PHB adalah merupakan bagian dari komponen PHB disamping komponen utama. Asesories panel ini adalah merupakan bagian kelengkapan dari

32

panel, sedang kita sendiri tahu bahwa terdapat pula berbagai macam jenis panel, maka asesories panel ini jenis dan bentuknya pun sangat bervariasi. 2.3.8.1 Penopang Rel Penopang rel ini adalah merupakan bagian atau komponen Panel yang penting, karena komponen ini berfungsi kecuali sebagai dudukan rel dan sekaligus mengikat rel tersebut agar tidak bergerak, sehingga jarak antar rel dan jarak antara rel dengan bagian konduktif yang terdapat pada panel dapat terjaga dengan baik. Disamping itu juga berfungsi sebagai isolator antara rel dengan bagian-bagian konduktif yang terdapat pada panel. Terdapat beberapa jenis desain konstruksi penopang rel, diantaranya adalah rel penopang bentuk : silinder, persegi, tangga, jepit, dan sebagainya.

Gambar.20 penopang busbar (Sumber : Perencanaan dan Kontruksi Panel Listrik) Dengan adanya penopang rel ini maka akan mencegah adanya hubungan energi listrik mengalir pada busbar ke pada bodi dari panel atau komponen lain dari panel.

33

2.3.8.2 Rel Omega dan Rel C Rel omega dan rel C ini ada terbuat dari cadmium dan alumunium, rel ini dalam perakitan Panel biasanya dipasang pada dasar (base) panel atau pada rangkanya. Fungsi dari rel ini adalah sebagai dudukan untuk komponen-komponen utama dari panel diantaranya MCB, sekering dan lain lain.

Gambar.21 Rel Omega (Sumber : Perencanaan dan Kontruksi Panel Listrik ) 2.2.8.3 Rel Penyambung Rel penyambung merupakan sebuah alat pendukung panel yang berfungsi untuk menyambungkan energi listrik yang mengalir kepada beberapa MCB satu atau tiga phasa antara satu dengan lainnya. Rel penyambung umumnya digunakan sebagai pelengkap / aksesoris dari panel dimana panjang penggunaan rel ini dapat dipotong dan di sesuai dengan kebutuhan yang akan digunakan .

34

Gambar.22 Rel Penyambung (Sumber : Perencanaan dan Kontruksi Panel Listrik) 2.3.8.4 Terminal Terminal merupakan alat atau komponen pendukung dalam pembuatan panel dimana terminal digunakan sebagai tempat terjadinya pencabangan dari penghantar pada panel tersebut.

Gambar.23 Terminal (Sumber : Perencanaan dan Kontruksi Panel Listrik ) 2.4 Pentanahan 2.4.1 Pengertian Pentanahan Pentanahan (grounding) adalah merupakan suatu mekanisme dimana daya listrik dihubungkan langsung dengan tanah (bumi). Seperti kita ketahui bersama bahwa arus listrik terjadi jika ada perbedaan potensial diantara 2 (dua) buah titik (node). Arus listrik selalu mengalir dari titik yang mempunyai energi potensial (Ep) yang

35

lebih tinggi ke titik yang mempunyai energi potensial lebih rendah. Hal ini terjadi sebaliknya dengan arah aliran elektron yang mengalir dari titik dengan Ep yang lebih rendah ke titik yang mempunyai Ep yang lebih tinggi, mengapa dapat terjadi demikian?, ilmu elektronika yang akan menjawabnya, yakni suatu cabang ilmu fisika yang secara khusus mempelajari aliran elektron. Energi listrik atau biasa disebut dengan daya listrik (P) yang notabene adalah merupakan hasil perkalian antara tegangan listrik (V) dengan arus listrik (I) selalu akan mengalir ke titik yang mempunyai tantangan atau rintangan atau hambatan (R) yang paling besar, mengapa bisa begitu? Fenomena ini dapat dijawab dengan percobaan dengan mempergunakan zat cair (air) dengan bejana berhubungan, misalnya bentuk setiap bejana yang berhubungan itu mempunyai perbedaan bentuk dan ukurannya, akan terlihat bahwa jika pada bejana berhubungan tersebut kita alirkan air untuk memenuhi semua bejana tersebut, maka semua bejana tersebut akan menjadi penuh secara bersamaan dalam waktu yang sama, hal ini dapat kita analogikan dengan apa yang terjadi pada energi listrik. Dengan demikian ternyata bahwa arus listrik akan mengalir jika ada hambatan atau rintangan yang menghalang diantara 2 titik yang berbeda, mengapa? jawabannya adalah dengan adanya rintangan atau hambatan yang ada akan menyebabkan terjadinya perbedaan potensi pada masing-masing titik, sehingga menyebabkan terjadinya arus listrik (I) diantara kedua titik tersebut. Jadi usahakanlah tantangan atau hambatan diantara kedua titik yang berbeda potensinya agar menjadi sekecil mungkin (mendekati nilai nol) untuk menghindari terjadinya arus listrik diantara kedua titik tersebut, karena semua penghantar

36

mempunyai tahanan masing-masing atau disebut dengan tahanan jenis, maka untuk membuat tahanan yang benar-benar bernilai nol diantara kedua titik tersebut, yakni hanya dengan menghubungkannya ke bumi atau tanah yang akan menyebabkan tahanan atau hambatan diantara kedua titik tersebut menjadi nol sehingga tidak ada perpindahan daya listrik yang terjadi diantara keduanya. 2.4.2 Tujuan Pentanahan Adapun tujuan dari sistem pentanahan tersebut adalah untuk membatasi tegangan pada bagian-bagian peralatan yang tidak seharusnya dialiri arus misalnya body/casing, hingga tercapai suatu nilai yang aman untuk semua kondisi operasi, baik kondisi normal maupun saat terjadi gangguan, memberikan jaminan keselamatan dari bahaya kejut listrik, baik perlindungan dari sentuh langsung maupun tak langsung, serta perlindungan terhadap suhu berlebih yang dapat mengakibatkan kebakaran. Tujuan utama dari adanya pentanahan adalah menciptakan jalur yang lowimpedance (tahanan rendah) terhadap permukaan bumi untuk gelombang listrik dan transient voltage. Penerangan, arus listrik, circuit switching dan electrostatic discharge adalah penyebab umum dari adanya sentakan listrik atau transient voltage. Sistem pentanahan yang efektif akan meminimalkan efek tersebut. Jika terjadi gangguan/kondisi yang tidak diinginkan, baik langsung atau tidak langsung (induksi), diupayakan agar gangguan tersebut dialirkan ke tempat yang aman, misal, ke tanah.

37

Grounding yang baik tergantung kondisi tanah (komposisi dan kelembaban), semakin basah tanah maka resistansinya semakin kecil sehingga semakin mudah mengalirkan arus/tegangan buangan. Jadi simpelnya, usahakan grounding mencapai permukaan air dan menggunakan kabel khusus grounding (penghantar) yang baik. cukup ideal jika disambungkan dengan pipa instalasi pompa/mesin air. Tambahan, berikut dari salah satu sumber tentang jenis-jenis gangguan listrik yang sering terjadi yaitu : Blackouts, Blackouts, Line Noise, Sags, Surges, Spike/Lightning. 2.4.3 Karakteristik Pentanahan yang Efektif Karakteristik sistem pentanahan yang efektif antara lain adalah: a. Terencana dengan baik, semua koneksi yang terdapat pada data center harus merupakan koneksi yang sudah direncanakan sebelumnya dengan kaidahkaidah tertentu. b. Verifikasi secara visual dapat dilakukan. c. Sesuai dengan ukuran, TIA-942 menyediakan guideline untuk setiap komponen pada data center. d. Menghindarkan gangguan yang terjadi pada arus listrik dari perangkat.
e. Semua komponen metal harus ditahan/diikat oleh sistem pentanahan, dengan tujuan untuk meminimalkan arus listrik melalui material yang bersifat konduktif pada potensial yang sama.

38

2.4.4 Komponen Utama Pentanahan Dalam sistem pentanahan komponen komponen utama yang diperlukan antara lain elektroda pentanahan dan hantaran pentanahan berperan sangat besar. Elektroda Pentanahan adalah penghantar yang ditanam dalam tanah dan sebagai kontak langsung dengan tanah yang diusahakan sampai mencapai titik air tanah. Bahan elektroda pentanahan ialah tembaga atau baja profil digalvanisir atau pipa galvanis, sedangkan ukuran dan jenis elektroda pentanahan bermacammacam tergantung dari lokasi dan metode pentanahannya. Jenis elektroda pentanahan antara lain : 1. Elektroda Batang / pasak yaitu elektroda dari batang logam tembaga Cu (Cupper Rod / Ground Rod ) berdiamater minimum 5/8, atau batang logam baja profil / pipa galvanis berdiameter 1,5 yang dipancangkan tegak dalam tanah sedalam 2,75 meter. (Gambar.24)

Gambar.24 Elektroda Batang (Sumber : Megger dan Pengukuran Pentanahan) 2. Elektroda pita ( strip plat ) yang dibentuk lingkaran ditanam minimum 0,5 1m dari permukaan tanah. ( Gambar.25 )

Gambar.25 Elektroda Pita

39

(Sumber : Megger dan Pengukuran Pentanahan ) 3. Elektroda plat ditanam minimum 50 cm dari permukaan tanah.(Gambar.26 )

Gambar.26 Elektroda Plat (Sumber : Megger dan Pengukuran Pentanahan)

4. Elektroda jembatan ( mesh / grounding bridge ) dibuat dari strip plat yang dirangkai menyerupai jembatan biasanya dipasang dibawah tower transmisi (Gambar.27 )

Gambar.27 Eletrode Jembatan (Sumber : Megger dan Pengukuran Pentanahan ) Hantaran pentanahan yaitu hantaran sebagai penyalur arus, harus jenis penghantar yang baik, kuat secara mekanis dan dilindungi untuk menjaga kemungkinan gangguan mekanis yang dapat menyebabkan turunnya daya hantar ataupun terputus. Satu hal yang sangat perlu diperhatikan dalam pemasangan sistem pentanahan adalah cara penyambungan / kontak sambung. Penyambungan harus baik dan benar sehingga memenuhi persyaratan mekanis maupun daya hantar listriknya, sambungan harus dapat dibuka dalam rangka pengujian besarnya pemeliharaan. tahanan pentanahan dan

40

2.4.5 Resistansi Pentanahan Struktur dan karakteristik tanah merupakan salah satu faktor yang mutlak diketahui karena mempunyai kaitan erat dengan perencanaan sistem pentanahan yang akan digunakan. Nilai tahanan jenis tanah harganya bermacam-macam, tergantung pada komposisi tanahnya. Batasan atau pengelompokan tahanan jenis dari berbagai macam jenis tanah pada kedalaman tertentu tergantung pada beberapa hal antara lain pengaruh temperatur, pengaruh kelembaban, dan pengaruh kandungan kimia. a. Tahanan Jenis Tanah Nilai resistans jenis tanah, rt sangat berbeda tergantung komposisi tanah seperti dapat dilihat dalam pasal 320-1 dalam PUIL 1987 atau yang ditunjukkan pada Tabel.1. Tabel.1 Nilai Rata- Rata Tahanan Jenis tanah rt Jenis Tanah Tanah Rawa Tanah Liat dan Tanah Ladang Pasir Basah Kerikil Basah Pasir/Kerikil Kering Tanah Berbatu Air Laut dan Air Tawar Resistans jenis tanah rt dalam ohm-m 10....40 20....100 50....200 200..3000 <10000 20003000 10100

Nilai-nilai tersebut pada Tabel.1 seluruhnya berlaku untuk tanah lembab sampai basah. Pasir kering mutlak atau batu adalah suatu bahan isolasi yang bagus, sama seperti air destilasi. Maka elektroda bumi selalu harus ditanam sedalam mungkin dalam tanah, sehingga dalam musim kering selalu terletak dalam lapisan tanah yang basah.

Tahanan jenis tanah dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut: = 2 a Re .. (11) = 2 a V/I ....(12)
41

Dimana : = tahanan jenis tanah (m) = phi (3,14) a = jarak antara elektroda (m) Re = Tahanan Pentanahan () V = Tegangan antar elektroda (V) I = Arus yang digunakan (A)
b. Resistansi Pembumian Resistans pembumian elektroda bumi rt tergantung pada jenis dan keadaan tanah serta pada ukuran dan susunan electrode. Untuk melihat nilai rata rata dari resistensi pembumian dapat dilihat pada tabel.1. Tabel.2 Nilai rata-rata dari resistansi pembumian untuk elektroda bumi Jenis Elektroda Panjang pita atau Penghantar Pilin Panjang Batang atau Pipa 1m 2m 3m 5m 70 40 30 20 Plat Vertikal dengan sisi +1 m dalam tanah 0,5x1m 1x1m 35 25

Resistansi 10m 25m 50m 100m Pembumian 20 10 5 3

Rumus untuk menentukan tahanan satu buah elektroda batang adalah : Re = V/I (13) Dimana : Re = Tahanan Pentanahan () V = Teganan antar elektroda (V) I = Arus yang digunakan (A)

42

BAB III PERANCANGAN PANEL PERLENGKAPAN HUBUNG BAGI (PHB)

3.1 Data Beban Instalasi Untuk melakukan sebuah perancangan panel Perlengkapan Hubung Bagi (PHB) terlebih dahulu harus diketahui dulu beban dan pembagian grup dari instalasi gedung tersebut. Data beban-beban tersebut berdasarkan ruangannya dapat dilihat pada tabel-tabel dibawah ini : Tabel.3 Data Beban Lampu Lantai 1 Ruangan Teras Kanan Teras Kiri Teras Depan Teras Belakang Teras 2 Teras 3 Gang Tangga Ruang Belajar 1 Ruang Belajar 2 Ruang Belajar 3 Ruang Kantor 1 Toilet Perempuan Toilet Laki-Laki Toilet R. Kantor 1 Total Jenis Lampu Lampu HME 18 Watt, cos 0,6 Lampu HME 18 Watt, cos 0,6 Lampu HME 18 Watt, cos 0,6 Lampu HME 18 Watt, cos 0,6 Lampu TL 40 Watt, cos 0,45 Lampu TL 40 Watt, cos 0,45 Lampu TL 40 Watt, cos 0,45 Lampu HME 18 Watt, cos 0,6 Lampu TL 40 Watt, cos 0,45 Lampu TL 40 Watt, cos 0,45 Lampu TL 40 Watt, cos 0,45 Lampu TL 40 Watt, cos 0,45 Lampu HME 23 Watt, cos 0,6 Lampu HME 23 Watt, cos 0,6 Lampu HME 23 Watt, cos 0,6 Jumlah 6 6 2 5 6 4 6 1 16 8 16 12 4 6 3 Daya Total 108 Watt 108 Watt 36 Watt 90 Watt 240 Watt 160 Watt 240 Watt 18 Watt 640 Watt 320 Watt 640 Watt 480 Watt 92 Watt 138 Watt 69 Watt 3379 Wat

Tabel.4 Data beban kotak kontak lantai 1 Ruangan Teras 2 Ruang Belajar 1 Nama Barang Jumla h Kotak Kontak Biasa (KKB) 200 VA 1 Kotak Kontak Biasa (KKB) 200 VA 4 Kotak Kontak untuk Proyektor 300 Watt 2 Kotak Kontak untuk AC 1,5 PK 1.150 4 Watt Kotak Kontak Biasa (KKB) 200 VA 2 Daya Total 200 VA 800 VA 600 VA 4600 VA 400 VA

Ruang Belajar 2

43

Ruang Belajar 3

Ruang Kantor 1

Kotak Kontak untuk Proyektor 300 Watt Kotak Kontak untuk AC 1,5 PK 1.150 Watt Kotak Kontak Biasa (KKB) 200 VA Kotak Kontak untuk Proyektor 300 Watt Kotak Kontak untuk AC 1,5 PK 1.150 Watt Kotak Kontak Biasa (KKB) 200 VA Kotak Kontak untuk AC 1,5 PK 1.150 Watt

1 2 4 2 4 5 2

300 VA 2300 VA 800 VA 600 VA 4600 VA 1000 VA 2300 VA 18500 VA

Total

Jadi total daya terpakai untuk lantai 1 adalah : P(L1) = 3379 + 18500 = 21879 VA Tabel.5 Data beban lampu lantai 2 Ruangan Teras Kanan Teras Kiri Teras Depan Teras Belakang Teras 1 Teras 2 Gang Tangga Gudang Ruang Belajar 1 Ruang Belajar 2 Ruang Belajar 3 Ruang Kantor 1 Ruang Kantor 2 Ruang Kantor 3 Toilet Perempuan Toilet Laki-Laki Toilet R. Kantor 1 Total Jenis Lampu Lampu HME 18 Watt, cos 0,6 Lampu HME 18 Watt, cos 0,6 Lampu HME 18 Watt, cos 0,6 Lampu HME 18 Watt, cos 0,6 Lampu HME 18 Watt, cos 0,6 Lampu TL 40 Watt, cos 0,45 Lampu TL 40 Watt, cos 0,45 Lampu HME 18 Watt, cos 0,6 Lampu TL 40 Watt, cos 0,45 Lampu TL 40 Watt, cos 0,45 Lampu TL 40 Watt, cos 0,45 Lampu TL 40 Watt, cos 0,45 Lampu TL 40 Watt, cos 0,45 Lampu TL 40 Watt, cos 0,45 Lampu TL 40 Watt, cos 0,45 Lampu HME 23 Watt, cos 0,6 Lampu HME 26 Watt, cos 0,6 Lampu HME 23 Watt, cos 0,6 Jumlah 6 6 2 3 8 6 6 1 6 16 8 16 12 4 4 4 6 3 Daya Total 108 Watt 108 Watt 36 Watt 54 Watt 144 Watt 240 Watt 240 Watt 18 Watt 240 Watt 640 Watt 320 Watt 640 Watt 480 Watt 160 Watt 160 Watt 92 Watt 138 Watt 69 Watt 3887 Watt

44

Tabel.6 Data beban kotak kontak lantai 2 Ruangan Teras 2 Gudang Ruang Belajar 1 Nama Barang Kotak Kontak Biasa (KKB) 200 VA Kotak Kontak Biasa (KKB) 200 VA Kotak Kontak Biasa (KKB) 200 VA Kotak Kontak untuk Proyektor 300 Watt Kotak Kontak untuk AC 1,5 PK 1.150 Watt Kotak Kontak Biasa (KKB) 200 VA Kotak Kontak untuk Proyektor 300 Watt Kotak Kontak untuk AC 1,5 PK 1.150 Watt Kotak Kontak Biasa (KKB) 200 VA Kotak Kontak untuk Proyektor 300 Watt Kotak Kontak untuk AC 1,5 PK 1.150 Watt Kotak Kontak Biasa (KKB) 200 VA Kotak Kontak untuk AC 1,5 PK 1.150 Watt Kotak Kontak Biasa (KKB) 200 VA Kotak Kontak Biasa (KKB) 200 VA Jumlah 1 2 4 2 4 2 1 2 4 2 4 5 2 2 2 Daya Total 200 VA 400 VA 800 VA 600 VA 4600 VA 400 VA 300 VA 2300 VA 800 VA 600 VA 4600 VA 1000 VA 2300 VA 400 VA 400 VA 19700 VA

Ruang Belajar 2

Ruang Belajar 3

Ruang Kantor 1

Ruang Kantor 2 Ruang Kantor 3 Total

Jadi total daya terpakai untuk lantai 2 adalah : P(L2) = 3387 + 19700 = 23087 VA 3.2 Pembagian Beban dan Group Instalasi Gedung AB 3.2.1 Lantai 1 a. Group 1 Tabel.7 Beban Group 1 Lantai 1 Ruangan Teras Kanan Teras Kiri Teras Depan Teras Belakang Teras 2 Daya Lampu 108 Watt 108 Watt 36 Watt 90 Watt 240 Watt Daya Kotak Kontak Biasa (KKB)

200 VA

45

Teras 3 Gang Tangga

160 Watt 240 Watt 18 Watt

Besar arus untuk lampu TL dengan cos 0,45 (1) adalah:

Besar arus untuk lampu HME dengan cos 0,6 (1) adalah:

Besar arus untuk kotak kontak (1) adalah:

46

Maka arus total group 1 adalah :

Maka kemampuan hantar arus (KHA) untuk group 1 (7) adalah KHA = I nominal beban x 125% = 10,11 A x 1,25 = 12,64 A b. Group 2 Tabel.8 Beban Group 2 Lantai 1 Ruangan Ruang Kantor 1 Toilet Ruang Kantor 1 Toilet Perempuan Toilet Laki Laki Ruang Belajar Daya Lampu 480 Watt 69 Watt 92 Watt 138 Watt 640 Watt

Besar arus untuk lampu TL dengan cos 0,45 (1) adalah:

47

Besar arus untuk lampu HME dengan cos 0,6 (1) adalah:

Maka arus total group 2 adalah :

Maka kemampuan hantar arus (KHA) untuk group 2 (7) adalah KHA = I nominal beban x 125% = 13,57 A x 1,25 = 16,97 A c. Group 3 Tabel.9 Beban Group 3 Lantai 1 Ruangan Ruang Belajar 1 Ruang Belajar 2 Daya Lampu 640 Watt 320 Watt

Besar arus untuk lampu TL dengan cos 0,45 (1) adalah:

48

Maka kemampuan hantar arus (KHA) untuk group 3 (7) adalah KHA = I nominal beban x 125% = 9,7 A x 1,25 = 12,13 A d. Group 4 Tabel.10 Beban Group 4 Lantai 1 Ruangan Ruang Belajar 1 Nama Beban Jumlah Kotak Kontak Biasa 200 VA 4 buah Kotak Kontak Proyektor 300 2 buah Watt Kotak Kontak Biasa 200 VA 2 buah Kotak Kontak Proyektor 300 1 buah Watt

Ruang Belajar 2

Besar arus untuk kotak kontak (1) adalah:

49

Maka kemampuan hantar arus (KHA) untuk group 4 (7) adalah KHA = I nominal beban x 125% = 9,6 A x 1,25 = 12 A e. Group 5 Tabel.11 Beban Group 5 Lantai 1 Ruangan Ruang Belajar 3 Ruang Kantor 1 Nama Beban Jumlah Kotak Kontak Biasa 200 VA 4 buah Kotak Kontak Proyektor 300 2 buah Watt Kotak Kontak Biasa 200 VA 5 buah

Besar arus untuk kotak kontak (1) adalah:

Maka kemampuan hantar arus (KHA) untuk group 5 (7) adalah KHA = I nominal beban x 125% = 10,9 A x 1,25 = 13,63 A

50

f. Group 6 Tabel.12 Beban Group 6 Lantai 1 Ruangan Ruang Belajar 1 Nama Beban Jumlah Kotak Kontak untuk AC 1,5 PK 3 buah 1.150 Watt

Besar arus untuk kotak kontak (1) adalah:

Maka kemampuan hantar arus (KHA) untuk group 6 (7) adalah KHA = I nominal beban x 125% = 15,7 A x 1,25 = 19,6 A g. Group 7 Tabel.13 Beban Group 7 Lantai 1 Ruangan Ruang Belajar 1 Ruang Belajar 2 Nama Beban Jumlah Kotak Kontak untuk AC 1,5 PK 1 buah 1.150 Watt Kotak Kontak untuk AC 1,5 PK 2 buah 1.150 Watt

51

Besar arus untuk kotak kontak (1) adalah:

Maka kemampuan hantar arus (KHA) untuk group 7 (7) adalah KHA = I nominal beban x 125% = 15,7 A x 1,25 = 19,6 A h. Group 8 Tabel.14 Beban Group 8 Lantai 1 Ruangan Ruang Belajar 3 Nama Beban Jumlah Kotak Kontak untuk AC 1,5 PK 3 buah 1.150 Watt

Besar arus untuk kotak kontak (1) adalah:

52

Maka kemampuan hantar arus (KHA) untuk group 8 (7) adalah KHA = I nominal beban x 125% = 15,7 A x 1,25 = 19,6 A i. Group 9 Tabel.15 Beban Group 9 Lantai 1 Ruangan Ruang Belajar 3 Ruang Kantor 1 Nama Beban Jumlah Kotak Kontak untuk AC 1,5 PK 1 buah 1.150 Watt Kotak Kontak untuk AC 1,5 PK 2 buah 1.150 Watt

Besar arus untuk kotak kontak (1) adalah:

Maka kemampuan hantar arus (KHA) untuk group 9 (7) adalah KHA = I nominal beban x 125% = 15,7 A x 1,25 = 19,6 A

53

3.2.2 Lantai 2 a. Group 1 Tabel.16 Beban Group 1 Lantai 2 Ruangan Daya Lampu Daya Kotak Kontak Biasa (KKB) Teras Kanan 108 Watt Teras Kiri 108 Watt Teras Depan 36 Watt Teras Belakang 54 Watt Teras 1 144 Watt Teras 2 240 Watt 200 VA Gang 240 Watt Tangga 18 Watt Ruang Kantor 2 160 Watt Ruang Kantor 3 160 Watt Besar arus untuk lampu TL dengan cos 0,45 (1) adalah:

Besar arus untuk lampu HME dengan cos 0,6 (1) adalah:

54

Besar arus untuk kotak kontak (1) adalah:

Maka arus total group 1 adalah :

Maka kemampuan hantar arus (KHA) untuk group 1 (7) adalah KHA = I nominal beban x 125% = 12,61 A x 1,25 = 15,76 A b. Group 2 Tabel.17 Beban Group 2 Lantai 2 Ruangan Ruang Kantor 1 Toilet Ruang Kantor 1 Toilet Perempuan Toilet Laki Laki Ruang Belajar Daya Lampu 480 Watt 69 Watt 92 Watt 138 Watt 640 Watt

55

Besar arus untuk lampu TL dengan cos 0,45 (1) adalah:

Besar arus untuk lampu HME dengan cos 0,6 (1) adalah:

Maka arus total group 2 adalah :

Maka kemampuan hantar arus (KHA) untuk group 2 (7) adalah KHA = I nominal beban x 125% = 13,57 A x 1,25 = 16,97 A

56

c. Group 3 Tabel.18 Beban Group 3 Lantai 2 Ruangan Ruang Belajar 1 Ruang Belajar 2 Gudang Daya Lampu 640 Watt 320 Watt 240 Watt

Besar arus untuk lampu TL dengan cos 0,45 (1) adalah:

Maka kemampuan hantar arus (KHA) untuk group 3 (7) adalah KHA = I nominal beban x 125% = 12,1 A x 1,25 = 15,13 A d. Group 4 Tabel.19 Beban Group 4 Lantai 2 Ruangan Ruang Belajar 1 Nama Beban Jumlah Kotak Kontak Biasa 200 VA 4 buah Kotak Kontak Proyektor 300 2 buah Watt Kotak Kontak Biasa 200 VA 2 buah Kotak Kontak Proyektor 300 1 buah Watt Kotak Kontak Biasa 200 VA 2 buah

Ruang Belajar 2 Ruang Kantor 2

57

Besar arus untuk kotak kontak (1) adalah:

Maka kemampuan hantar arus (KHA) untuk group 4 (7) adalah KHA = I nominal beban x 125% = 13,2 A x 1,25 = 16,5 A e. Group 5 Tabel.20 Beban Group 5 Lantai 2 Ruangan Nama Beban Jumlah Kotak Kontak Biasa 200 VA 4 buah Ruang Belajar 3 Kotak Kontak Proyektor 300 2 buah Watt Ruang Kantor 1 Kotak Kontak Biasa 200 VA 5 buah Ruang Kantor 2 Kotak Kontak Biasa 200 VA 2 buah Besar arus untuk kotak kontak (1) adalah:

58

Maka kemampuan hantar arus (KHA) untuk group 5 (7) adalah KHA = I nominal beban x 125% = 12,73 A x 1,25 = 15,9 A f. Group 6 Tabel.21 Beban Group 6 Lantai 2 Ruangan Ruang Belajar 1 Nama Beban Jumlah Kotak Kontak untuk AC 1,5 PK 3 buah 1.150 Watt

Besar arus untuk kotak kontak (1) adalah:

Maka kemampuan hantar arus (KHA) untuk group 6 (7) adalah KHA = I nominal beban x 125% = 15,7 A x 1,25 = 19,6 A

59

g. Group 7 Tabel.22 Beban Group 7 Lantai 2 Ruangan Ruang Belajar 1 Ruang Belajar 2 Nama Beban Jumlah Kotak Kontak untuk AC 1,5 PK 1 buah 1.150 Watt Kotak Kontak untuk AC 1,5 PK 2 buah 1.150 Watt

Besar arus untuk kotak kontak (1) adalah:

Maka kemampuan hantar arus (KHA) untuk group 7 (7) adalah KHA = I nominal beban x 125% = 15,7 A x 1,25 = 19,6 A h. Group 8 Tabel.23 Beban Group 8 Lantai 2 Ruangan Ruang Belajar 3 Nama Beban Jumlah Kotak Kontak untuk AC 1,5 PK 3 buah 1.150 Watt

60

Besar arus untuk kotak kontak (1) adalah:

Maka kemampuan hantar arus (KHA) untuk group 8 (7) adalah KHA = I nominal beban x 125% = 15,7 A x 1,25 = 19,6 A i. Group 9 Tabel.24 Beban Group 9 Lantai 2 Ruangan Nama Beban Jumlah Kotak Kontak untuk AC 1,5 PK 1 buah Ruang Belajar 3 1.150 Watt Kotak Kontak untuk AC 1,5 PK 2 buah Ruang Kantor 1 1.150 Watt Besar arus untuk kotak kontak (1) adalah:

61

Maka kemampuan hantar arus (KHA) untuk group 9 (7) adalah KHA = I nominal beban x 125% = 15,7 A x 1,25 = 19,6 A

62

3.3 Rekapitulasi Daya Beban KKB 200 VA 1 6 9 10 11 -

Group 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 2 4 5 6 7 8 9

Lantai

TL 40 W 16 28 24 32 28 30 -

HME 23 W 13 13 -

HME 18 W 20 26 SPARE Jumlah Total

KKP 300 W 3 2 3 2 -

KK AC 1,4 kW 3 3 3 3 3 3 3 3

Daya (VA) 1200 1419 960 2100 2400 3450 3450 3450 3450 1268 1419 1200 2900 2800 3450 3450 3450 3450 9500 54766

Arus (A) 10,11 13,57 9,7 9,6 10,9 15,7 15,7 15,7 15,7 12,61 13,57 12,12 13,2 12,73 15,7 15,7 15,7 15,7 25 257,32

63

3.4 Perhitungan dan Pemilihan Komponen Panel 3.4.1 Komponen Panel SDP Lantai 1

Sebelum menentukan komponen yang digunakan pada panel ini maka terlebih dahulu kita harus mengetahui besar arus yang melewati panel sdp lantai 1. Arus total beban lantai 1 adalah:

Maka daya total (S)

=VxI = 220 x 116,8 A = 25.669,6 VA

Ini untuk perhitungan satu phasa Maka untuk daya sistem 3 phasa adalah:

64

3.4.1.1 Penghantar a. Penghantar yang digunakan dari panel ke beban atau sirkit akhir berdasarkan perhitungan KHA pada sub bab pembagian group dengan KHA terbesar yaitu 19,6 A adalah kabel NYY 3 x 2,5 mm2 (Lampiran A.1). b. Sementara itu untuk penghantar dari panel SDP ke MDP (In = 39,002 A) ditentukan dengan perhitungan KHA sebagai berikut : KHA = I nominal beban x 125 % = 39,002 A x 1,25 = 48,75 A Maka penghantar yang digunakan adalah kabel NYY 4 x 10 mm2 (Lampiran A.1). c. Untuk penghantar dari MCCB ke masing masing group maka penghantar yang digunakan adalah: Untuk Phasa R yang terdiri dari group 1, group 4, dan group 7 maka penghantar yang digunakan adalah: KHA Utama = KHA group terbesar + In group lain = 19,6 A + 12 A + 10,11 A = 41,71 A Sehingga dengan KHA 41,71 A maka penghantar yang digunakan adalah NYAF 10 mm2 (Lampiran A.2). Untuk Phasa S yang terdiri dari group 2, group 5, dan group 8 maka penghantar yang digunakan adalah:

65

KHA Utama = KHA group terbesar + In group lain = 19,6 A + 13,57 A + 10,9 A = 44,07 A Sehingga dengan KHA 44,07 A maka penghantar yang digunakan adalah NYAF 10 mm2 (Lampiran A.2) Untuk Phasa T, penghantar yang digunakan adalah: KHA Utama = KHA group terbesar + In group lain = 19,6 A + 9,7 A + 15,7 A = 45 A Sehingga dengan KHA 45 A maka penghantar yang digunakan adalah NYAF 10 mm2 (Lampiran A.2). d. Untuk menentukan busbar pemisah maka terlebih dahulu harus diketahui besar arus total nominal beban masing masing phasa. Untuk phasa R perhitungan luas penampang busbar adalah In = 10,11 A + 12 A + 15,7 A = 37,81 A I busbar = I nominal beban x 150% = 37,81 A x 1,5 = 56,72 A Maka dengan Ibusbar 56,72 A digunakan busbar dengan ukuran 3 mm x 15 mm (Lampiran A.5). Untuk phasa S perhitungan luas penampangnya adalah In = 10,9 A + 13,57 A + 15,7 A = 40,04 A

66

I busbar = I nominal beban x 150% = 40,17 A x 1,5 = 60,06 A Maka dengan Ibusbar 60,06 A digunakan busbar dengan ukuran 3 mm x 15 mm (Lampiran A.5). Untuk phasa T perhitungan luas penampangnya adalah In = 9,7 A + 15,7 A + 15,7 A = 41,1 A I busbar = I nominal beban x 150% = 41,1 A x 1,5 = 61,6 A Maka dengan Ibusbar 61,7 A digunakan busbar dengan ukuran 3 mm x 15 mm (Lampiran A.5). Untuk menentukan ukuran busbar pentanahan maka diambil dari 25% kali ukuran rel penghantar phasanya. e. Penghantar untuk lampu indikator dengan arus beban 2 A menggunakan kabel NYAF 1 mm2 (Lampiran A.3). f. Kabel pentanahan untuk Penghantar Kawat BC (grounding) panel sdp lantai 2, ditentukan dengan cara sebagai berikut: S < 16 mm maka penghantar sama dengan S (PUIL 2000 hal:77) Jadi kawat penghantar Kawat BC yang digunakan dengan penghantar phasa 10 mm2 adalah 10 mm2.

67

3.4.1.2 Pengaman a. Untuk beban group 1 dengan In = 10,11 A, maka menggunakan MCB 1 16 A (Lampiran A.6). Toleransi yang diberikan untuk pengaman sekaligus pemutus daya adalah: 16 A 10,11 A = 5,89 A Maka

Jadi toleransi yang diberikan pada pemutus daya adalah sebesar 58,3 %. b. Untuk beban group 2 dengan In = 13,57 A, maka menggunakan MCB 1 16 A (Lampiran A.6). Toleransi yang diberikan untuk pengaman sekaligus pemutus daya adalah: 16 A 13,57 A = 2,43 A Maka

Jadi toleransi yang diberikan pada pemutus daya adalah sebesar 17,9 %. c. Untuk beban group 3 dengan In = 9,7 A, maka menggunakan MCB 1 10 A (Lampiran A.6). Toleransi yang diberikan untuk pengaman sekaligus pemutus daya adalah: 10 A 9,7 A = 0,3 A Maka

Jadi toleransi yang diberikan pada pemutus daya adalah sebesar 3,1 %.

68

d. Untuk beban group 4 dengan In = 9,6 A, maka menggunakan MCB 1 10 A (Lampiran A.6). Toleransi yang diberikan untuk pengaman sekaligus pemutus daya adalah: 10 A 9,6 A = 0,4 A Maka

Jadi toleransi yang diberikan pada pemutus daya adalah sebesar 4,2 %. e. Untuk beban group 5 dengan In = 10,9 A, maka menggunakan MCB 1 16 A (Lampiran A.6). Toleransi yang diberikan untuk pengaman sekaligus pemutus daya adalah: 16 A 10,9 A = 5,1 A Maka

Jadi toleransi yang diberikan pada pemutus daya adalah sebesar 46,8 %. f. Untuk beban group 6 dengan In = 15,7 A, maka menggunakan MCB 1 16 A (Lampiran A.6). Toleransi yang diberikan untuk pengaman sekaligus pemutus daya adalah: 16 A 15,7 A = 0,3 A Maka

Jadi toleransi yang diberikan pada pemutus daya adalah sebesar 1,9 %.

69

g. Untuk beban group 7 dengan In = 15,7 A, maka menggunakan MCB 1 16 A (Lampiran A.6). Toleransi yang diberikan untuk pengaman sekaligus pemutus daya adalah: 16 A 15,7 A = 1,9 A Maka

Jadi toleransi yang diberikan pada pemutus daya adalah sebesar 1,9 %. h. Untuk beban group 8 dengan In = 15,7 A, maka menggunakan MCB 1 16 A. (Lampiran A.6). Toleransi yang diberikan untuk pengaman sekaligus pemutus daya adalah: 16 A 15,7 A = 0,3 A Maka

Jadi toleransi yang diberikan pada pemutus daya adalah sebesar 1,9 %. i. Untuk beban group 9 dengan In = 15,7 A, maka menggunakan MCB 1 16 A (Lampiran A.6). Toleransi yang diberikan untuk pengaman sekaligus pemutus daya adalah: 16 A 15,7 A = 0,3 A Maka

Jadi toleransi yang diberikan pada pemutus daya adalah sebesar 1,9 %.

70

j. Untuk pemutus daya panel SDP lantai 1 dengan arus nominal beban (In = 39,002 A) maka menggunakan MCCB 40 A (Lampiran A.8 ). Toleransi yang diberikan untuk pengaman sekaligus pemutus daya adalah: 40 A 39,002 A = 0,99 A Maka

Jadi toleransi yang diberikan pada pemutus daya adalah sebesar 2,6 %. k. Untuk beban 3 buah lampu indikator panel menggunakan fuse 2 A. 3.4.2 Komponen Panel SDP Lantai 2

Sebelum menentukan komponen yang digunakan pada panel ini maka terlebih dahulu kita harus mengetahui besar arus yang melewati panel sdp lantai 1 ini dan kemampuan hantar arusnya. Arus total beban lantai 2 adalah:

Maka daya total (S)

=VxI = 220 x 127,01 A = 27.942,2 VA

Ini untuk perhitungan satu phasa

71

Maka untuk daya sistem 3 phasa adalah:

Maka KHA untuk panel SDP lantai 2 adalah: KHA = I nominal beban x 125 % = 42,46 A x 1,25 = 53,08 A 3.4.2.1 Penghantar a. Penghantar yang digunakan dari panel ke beban atau sirkit akhir berdasarkan perhitungan KHA pada sub bab pembagian group dengan KHA terbesar yaitu 19,6 A adalah kabel NYY 3 x 2,5 mm2 (Lampiran A.1). b. Sementara itu untuk penghantar dari panel SDP ke MDP (In = 42,46 A) ditentukan dengan perhitungan KHA sebagai berikut : KHA = I nominal beban x 125% = 42,46 A x 1,25 = 53,08 A Maka penghantar yang digunakan adalah kabel NYY 4 x 10 mm2 (Lampiran A.1)

72

c. Untuk penghantar dari MCCB ke masing - masing group maka penghantar yang digunakan adalah: Untuk Phasa R yang terdiri dari group 1, group 4 , dan group 7 maka penghantar yang digunakan adalah: KHA Utama = KHA group terbesar + In group lain = 19,6 A + 12,61 A + 13,2 A = 45,41 A Sehingga dengan KHA 45,41 A maka penghantar yang digunakan adalah NYAF 10 mm2 (Lampiran A.2). Untuk Phasa S yang terdiri dari group 2, group 5, dan group 8 maka penghantar yang digunakan adalah: KHA Utama = KHA group terbesar + In group lain = 19,6 A + 13,57 A + 12,73 A = 45,9 A Sehingga dengan KHA 41,37 A maka penghantar yang digunakan adalah NYAF 10 mm2 (Lampiran A.2). Untuk Phasa T yang terdiri dari group 3, group 6, dan group 9 maka penghantar yang digunakan adalah: KHA Utama = KHA group terbesar + In group lain = 19,6 A + 12,12 A + 15,7 A = 47,52 A Sehingga dengan KHA 47,52 A maka penghantar yang digunakan adalah NYAF 10 mm2(Lampiran A.2).

73

d. Untuk menentukan busbar pemisah maka terlebih dahulu harus diketahui besar arus total nominal beban masing masing phasa. Untuk phasa R perhitungan luas penampang busbar adalah In = 13,2 A + 12,61 A + 15,7 A = 41,51 A I busbar = I nominal beban x 150% = 41,51 A x 1,5 = 62,3 A Maka dengan Ibusbar 62,3 A digunakan busbar dengan ukuran 3 mm x 15 mm (Lampiran A.5). Untuk phasa S perhitungan luas penampangnya adalah In = 12,73 A + 13,57 A + 15,7 A = 42 A I busbar = I nominal beban x 150% = 42 A x 1,5 = 63 A Maka dengan Ibusbar 63 A digunakan busbar dengan ukuran 3 mm x 15 mm (Lampiran A.5). Untuk phasa T perhitungan luas penampangnya adalah In = 12,12 A + 15,7 A + 15,7 A = 43,52 A I busbar = I nominal beban x 150% = 43,52 A x 1,5 = 65,3 A
74

Maka dengan Ibusbar 61,76 A digunakan busbar dengan ukuran 3 mm x 15 mm (Lampiran A.5). Untuk menentukan ukuran busbar pentanahan maka diambil dari 25% kali ukuran rel penghantar phasanya. e. Penghantar untuk lampu indikator dengan arus beban 2 A menggunakan kabel NYAF 1 mm2 (Lampiran A.3). f. Kabel pentanahan untuk Penghantar Kawat BC (grounding) panel sdp lantai 2, ditentukan dengan cara sebagai berikut: S < 16 mm maka penghantar sama dengan S (PUIL 2000 hal:77) Jadi kawat penghantar Kawat BC yang digunakan dengan penghantar phasa 10 mm2 adalah 10 mm2. 3.4.2.2 Pengaman a. Untuk beban group 1 dengan In = 12,61 A, maka menggunakan MCB 1 16 A (Lampiran A.6). Toleransi yang diberikan untuk pengaman sekaligus pemutus daya adalah: 16 A 12,61 A = 3,39 A Maka

Jadi toleransi yang diberikan pada pemutus daya adalah sebesar 26,9 %. b. Untuk beban group 2 dengan In = 13,57 A, maka menggunakan MCB 1 16 A (Lampiran A.6). Toleransi yang diberikan untuk pengaman sekaligus pemutus daya adalah: 16 A 13,57 A = 2,43 A

75

Maka

Jadi toleransi yang diberikan pada pemutus daya adalah sebesar 17,9 %. c. Untuk beban group 3 dengan In = 12,12 A, maka menggunakan MCB 1 16 A (Lampiran A.6). Toleransi yang diberikan untuk pengaman sekaligus pemutus daya adalah: 16 A 12,12 A = 3,9 A Maka

Jadi toleransi yang diberikan pada pemutus daya adalah sebesar 32,2 %. d. Untuk beban group 4 dengan In = 13,2 A, maka menggunakan MCB 1 16 A (Lampiran A.6). Toleransi yang diberikan untuk pengaman sekaligus pemutus daya adalah: 16 A 13,2 A = 2,8 A Maka

Jadi toleransi yang diberikan pada pemutus daya adalah sebesar 21,2 %. e. Untuk beban group 5 dengan In = 12,73 A, maka menggunakan MCB 1 16 A (Lampiran A.6). Toleransi yang diberikan untuk pengaman sekaligus pemutus daya adalah: 16 A 12,73 A = 3,27 A

76

Maka

Jadi toleransi yang diberikan pada pemutus daya adalah sebesar 25,7 %. f. Untuk beban group 6 dengan In = 15,7 A, maka menggunakan MCB 1 16 A (Lampiran A.6). Toleransi yang diberikan untuk pengaman sekaligus pemutus daya adalah: 16 A 15,7 A = 0,3 A Maka

Jadi toleransi yang diberikan pada pemutus daya adalah sebesar 1,9 %. g. Untuk beban group 7 dengan In = 15,7 A, maka menggunakan MCB 1 16 A (Lampiran A.6). Toleransi yang diberikan untuk pengaman sekaligus pemutus daya adalah: 16 A 15,7 A = 0,3 A Maka

Jadi toleransi yang diberikan pada pemutus daya adalah sebesar 1,9 %. h. Untuk beban group 8 dengan In = 15,7 A, maka menggunakan MCB 1 16 A (Lampiran A.6). Toleransi yang diberikan untuk pengaman sekaligus pemutus daya adalah: 16 A 15,7 A = 0,3 A

77

Maka

Jadi toleransi yang diberikan pada pemutus daya adalah sebesar 1,9 %. i. Untuk beban group 9 dengan In = 15,7 A, maka menggunakan MCB 1 16 A (Lampiran A.6). Toleransi yang diberikan untuk pengaman sekaligus pemutus daya adalah: 16 A 15,7 A = 0,3 A Maka

Jadi toleransi yang diberikan pada pemutus daya adalah sebesar 1,9 %. j. Untuk pemutus daya panel SDP lantai 1 dengan arus nominal beban (In = 42,6 A) maka menggunakan MCCB 50 A (Lampiran A.8). Toleransi yang diberikan untuk pengaman sekaligus pemutus daya adalah: 50 A 42,6 A = 7,4 A Maka

Jadi toleransi yang diberikan pada pemutus daya adalah sebesar 17,4 %. k. Untuk beban 3 buah lampu indikator panel menggunakan fuse 2 A.

78

3.4.3

Komponen Panel MDP

Besar arus nominal beban pada panel MDP adalah: In = Isdp1 + Isdp2 + Ispare = 39,002 A + 42,6 A + 25 A = 106,6 A Sementara itu untuk menentukan KHA panel MDP maka: KHA = KHA terbesar + I nominal lainnya = 53,08 A + 39,002 A + 25 A = 117,08 A 3.4.3.1 Penghantar a. Untuk penghantar dari penghantar dari panel MDP ke panel SDP dengan KHA terbesar ke masing masing panel SDP maka digunakan kabel NYY 4 x 10 mm2. b. Luas penampang busbar yang ditentukan dengan cara di bawah ini: I busbar = I nominal beban x 150% = 106,6 A x 1,5 = 159,9 A Maka dengan Ibusbar 159,9 A digunakan busbar dengan ukuran 3 mm x 15 mm (Lampiran A.5).

79

c. Penghantar untuk lampu indikator dengan arus beban 2 A digunakan kabel NYAF 1 mm2 (Lampiran A.2). d. Penghantar untuk alat ukur dengan arus beban 5 A digunakan kabel NYAF 1 mm2 (Lampiran A.2). e. Penghantar antara panel MDP dengan sumber PLN dengan KHA 117,08 maka digunakan penghantar kabel NYFGbY 4 x 35 mm2 (Lampiran A.1). f. Kabel pentanahan untuk Penghantar Kawat BC (grounding) panel sdp lantai 2, ditentukan dengan cara sebagai berikut: 16 < S < 35 maka penghantar BC = 16 mm2 (Lampiran A.4 atau PUIL 2000 hal:77) Maka kawat penghantar Kawat BC yang digunakan dengan penghantar phasa instalasi (S = 35 mm2) adalah 16 mm2. 3.4.3.2 Pengaman a. MCCB yang digunakan sebagai pengaman untuk masing masing panel SDP disesuaikan dengan nilai MCCB yang terdapat pada panel SDP tersebut. b. Untuk MCCB utama, dengan nilai arus nominal beban (In) 106,6 A maka digunakan MCCB 125 A (Lampiran A.8). Toleransi yang diberikan untuk pengaman sekaligus pemutus daya adalah: 125 A 106,6 A = 18,4 A Maka

Jadi toleransi yang diberikan pada pemutus daya adalah sebesar 17,3 %.

80

c. ELCB yang digunakan sebagai pengaman untuk masing masing panel SDP adalah sebagai berikut: Untuk panel SDP 1 dengan arus nominal beban 39,002 A maka menggunakan ELCB 40 A. Untuk panel SDP 2 dengan arus nominal beban 42,46 A maka menggunakan ELCB 63 A. 3.4.3.3 Current Transformator (CT) MCCB yang digunakan panel MDP ini memiliki kapasitas 125 A maka digunakan Current Transformator (CT) 125 A/5 A. Pemilihan CT disesuaikan dengan skala pengkuran amperemeter. Misalnya untuk amperemeter dengen skala pengukuran 0 100 A maka digunakan CT 100 A/5 A. Jadi bila beban berkisar sampai 200 A maka digunakan CT 200 A/5 A. 3.5 Pentanahan Ambang aman tegangan sentuh bagi manusia adalah maksimum sebesar 50 Volt.

Rumus yang digunakan

Dimana : In = In MCB atau In fuse K = 1,25 + 2,5 MCCB yang terpasang adalah 125 Ampere sehingga nilai tahanan maksimal sebagai berikut:

81

Atau

6 Maka ditetapkan nilai tahanan pembumian (Rp) yang diizinkan maksimal sebesar 0,32 .
Kabel BC

Elektroda

Gambar.28 Pemasangan elektroda untuk pembumian (Sumber : Dokumen Pribadi)


82

Untuk menentukan pentanahan yang digunakan penulis melakukan pengujian pentahanan di dekat gedung AB Politeknik untuk melihat tahanan jenis tanah dan melihat harga tahanan satu buah elektroda rod. Dengan hasil pengukuran seperti pada tabel.25 berikut ini: Tabel. 25 Data Pengukuran Pentanahan di Gedung AB Politeknik Negeri Padang No Kedalaman elektroda ( cm ) 20 40 60 80 100 Diameter elektroda ( cm) 1.3 1.3 1.3 1.3 1.3 Panjang elektroda (m) 1.35 1.35 1.35 1.35 1.35 Arus (mA) 0.4 1.2 1 0.8 0.7 Tegangan (V) 1.4 1.5 3 3.2 3.1 Tahanan jenis (m) 109.900 39.250 94.200 125.600 139.100

1 2 3 4 5

Pada kedalaman 20 cm maka diperoleh tahanan jenis tanah sebesar: = 2 a V/I = 2 x 3,14 x 5 x (1,4/0,4 x 10-3) = 6,28 x 5 x 3500 = 109900 m Pada kedalaman 40 cm maka diperoleh tahanan jenis tanah sebesar: = 2 a V/I = 2 x 3,14 x 5 x (1,5/1,2 x 10-3) = 31,4 x 1250 = 39250 m Pada kedalaman 60 cm maka diperoleh tahanan jenis tanah sebesar: = 2 a V/I = 2 x 3,14 x 5 x (3/1 x 10-3)

83

= 31,4 x 3000 = 94200 m Pada kedalaman 80 cm maka diperoleh tahanan jenis tanah sebesar: = 2 a V/I = 2 x 3,14 x 5 x (3,2/0,8 x 10-3) = 31,4 x 4000 = 125600 m Pada kedalaman 100 cm maka diperoleh tahanan jenis tanah sebesar: = 2 a V/I = 2 x 3,14 x 5 x (3,1/0,7 x 10-3) = 6,28 x 5 x 4428,5 = 138390,6 m Saat melakukan pengamatan langsung di lapangan tanah di area Gedung AB Politeknik Negeri Padang termasuk jenis tanah liat. Namun karena pembanguan yang dilakukan tanah ini telah bercampur dengan pasir atau kerikil kering. Jika dilihat dari dari kisaran harga tahanan jenis tanah yang berada di lingkungan gedung AB maka tanah tersebut tidak dapat untuk digolongkan pada salah satu jenis tanah. Namun untuk bias memahami sistem pemasangan pentanahan maka dilakukan perhitungan harga tahanan terhadap satu buah elektroda yang ditanam grid. Untuk kedalaman 20 cm harga tahanan pentanahan (Re) adalah: Re = V/I = 1,4/0,4 x 10-3 = 3.500

84

Untuk kedalaman 40 cm harga tahanan pentanahan (Re) adalah: Re = V/I = 1,5/1,2 x 10-3 = 1250 Untuk kedalaman 60 cm harga tahanan pentanahan (Re) adalah: Re = V/I = 3/1 x 10-3 = 3000 Untuk kedalaman 80 cm harga tahanan pentanahan (Re) adalah: Re = V/I = 3,2/0,8 x 10-3 = 4000 Untuk kedalaman 100 cm harga tahanan pentanahan (Re) adalah: Re = V/I = 3,1/0,7 x 10-3 = 4428,5 Secara metode perhitungan menggunakan elektroda batang dengan panjang 1,35 m dan diameter 1,3 cm (luas penampang 1,33 cm2) yang ditanam sedalam 40 cm dengan sistem rod dapat ditentukan sistem pentanahan meskipun harga tahanan pentanahan yang diperoleh masih jauh dari standar yang diharapkan. Sistem pentanahan grid dipasang seperti layaknya rangkaian paralel dimana semakin banyak electrode yang ditanam grid maka harga tahanan akan semakin kecil. Untuk menentukan harga tahanan tersebut dapat digunakan rumus:

85

Karena nilai tahanan elektroda yang ditambahkan semuanya memiliki nilai tahanan yang sama (R1 = R2 = Rn = 1250 ) dengan nilai akhir tahanan pentanahan (Re = R(total) < 0,32 atau kita asumsikan nilai tahahan pentanahan 0,125 ) maka jumlah elektroda rods yang digunakan adalah: ( )

Satu buah elekrode yang ditanam dengan sistem rod dapat diasumsikan seperti gambar 3.2 memiliki tahanan pentanahan 1250 .

1250 Ohm

1 rod

Gambar. 29 Tahanan Satu Buah Elektroda dengan Sistem Rod

86

(Sumber : Dokumen Pribadi) Sementara itu jika 10.000 elektroda ditanam dengan sistem rod dapat diasumsikan seperti gambar yang menghasilkan tahanan pentanahan 0,125 .
0,125 Ohm

10000 Rod

Gambar. 30 Tahanan 10 Buah Elektroda dengan Sistem Rod (Sumber : Dokumen Pribadi)

Kabel BC

Elektrode 1,35 m

Gambar. 31 Bentuk pemasangan elektroda paralel dengan sistem rod di bawah bawah permukaan tanah (Sumber : Dokumen Pribadi)

Ke Panel MDP dan SDP

5m

5m

Gambar. 32 Bentuk pemasangan elektroda paralel dengan sistem rod tampak atas
87

(Sumber : Dokumen Pribadi)

Begitu besarnya harga tahanan jenis yang diperoleh di lapangan membuat penulis kesulitan untuk menetapkan sistem pentanahan yang harus dipasang. Hal ini membuat untuk mengambil sistem pentanahan yang letaknya sedikit lebih jauh dari area gedung AB. Tinginya harga tahanan jenis tanah disebabkan oleh pembanguan gedung yang menggunakan kaki pondasi yang cukup dalam, sehinga menyebabkan kontruksi tanah menjadi berubah. Untuk sebagai acuan sistem pentanahan penulis juga melakukan pengambilan terhadap sistem pentanahan yang telah terpasang di labor proteksi (di belakang gedung G) dengan hasil data pengukuran pada tabel.26 di bawah ini: Tabel. 26 Data Pengukuran Pentanahan Grid dan Rod Jumlah Elektroda R 2R 4R 8R 9R 10R 12R Tahanan 500 380 375 370 350 340 339

Data diatas diambil dengan menggunakan elektroda bantu dan sementara yang ditanam dengan jarak 5 m antar elektroda. Dari data yang diperoleh maka penulis memutuskan untuk mengunakan sistem pentanahan tersebut karena memiliki tahanan yang jauh lebih baik. Sistem pentahanan yang berada di area gedung G tersebut menggunakan sistem grid dan rod seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini:

88

Ke Panel MDP dan SDP

Gambar. 33 Pentanahan Grid & Rod Tampak Atas (Sumber : Dokumen Pribadi)
Kabel BC

Gambar. 34 Pentanah Grid & Rod di bawah Permukaan Tanah (Sumber : Dokumen Pribadi) Jika dilihat dari segi ekonomi maka lebih mengambil sistem pentanahan yang berada di belakang gedung G tersebut walaupun menggunakan kabel yang lebih panjang. Namun hal ini masih dikategorikan aman asalkan menggunakan luas penampang kawat BC yang disesuaikan dengan perhitungan PUIL 2000.

89

3.8 Spesifikasi Komponen Panel 3.8.1 Spesifikasi Komponen Panel MDP 1. MCCB 200 A Merek : Schneider Electric

Tegangan kerja : 380 / 600 V 3 phasa Dimensi 2. MCCB 40 A Merek : Schneider Electric : P : 165 mm L : 140 mm T : 87 mm

Tegangan kerja : 380 / 600 V 3 phasa Dimensi 3. MCCB 50 A Merek : Schneider Electric : P : 165 mm L : 140 mm T : 87 mm

Tegangan kerja : 380 / 600 V 3 phasa Dimensi : P : 165 mm L : 140 mm T : 87 mm

4. Alat Ukur Amperemeter dan Voltmeter Tegangan Kerja : 220 - 250 Volt 1 fase Ratting : Amperemeter : 125 A : Voltmeter : 200 400 V : Wattmeter : 50 KVA Dimensi : P : 96 mm L : 96 mm T : 50

5. Box Panel : 1000 mm x 600 mm x 400 mm

90

6. Current Transformator (CT) Rating Dimensi : 125 A / 5 A : P : 80 mm L : 80 mm T : 80 mm

7. Kabel NYAF 1 mm2. 8. Kabel NYFGbY 4 x 35 mm2. 9. Kabel NYY 4 x 10 mm2. 10. Lampu Indikator Warna Daya Dimensi 11. Penghantar Busbar Tegangan Kerja Rating Dimensi 12. Kawat Penghantar BC Diameter 13. Volt selector Tegangan Kerja : 200 - 400 Volt 3 fase Dimensi : P : 50 mm L : 50 mm T : 50 mm : 60 mm2 : 200 400 V : 180 A : 3 mm x 15 mm : R : merah S : Kuning T : Hijau : 2 watt : P : 30 mm L : 30 mm T : 20 mm

13.8.2 Spesifikasi Komponen Panel SDP 1 1. MCCB 40 A Merek : Schneider Electric

Tegangan kerja : 380 / 600 V 3 fasa Dimensi : P : 165 mm L : 140 mm T : 87 mm

91

2. MCB 1 10 A Merk : Schneider Electric

Tegangan Kerja : 220 - 250 Volt 1 fase Dimensi 3. MCB 1 16 A Merk : Schneider Electric : P : 25 mm L : 81 mm T : 120 mm

Tegangan Kerja : 220 - 250 Volt 1 fase Dimensi 4. Lampu Indikator Warna Daya Dimensi : R : merah S : Kuning T : Hijau : 2 watt : P : 30 mm L : 30 mm T : 20 mm : P : 25 mm L : 81 mm T : 120 mm

5. Kabel NYY 4 x 10 mm2. 6. Kawat Penghantar BC Diameter 7. Penghantar Busbar Tegangan Kerja Rating Dimensi : 200 400 V : 180 A : 3 mm x 15 mm : 10 mm2

8. Box Panel : 300 mm x 200 mm x 400 mm

92

8.8.2

Spesifikasi Komponen Panel SDP 2

1. MCCB 50 A Merek : Schneider Electric

Tegangan kerja : 380 / 600 V 3 fasa Dimensi 2. MCB 1 10 A Merk : Schneider Electric : P : 165 mm L : 140 mm T : 87 mm

Tegangan Kerja : 220 - 250 Volt 1 fase Dimensi 3. MCB 1 16 A Merk : Schneider Electric : P : 25 mm L : 81 mm T : 120 mm

Tegangan Kerja : 220 - 250 Volt 1 fase Dimensi 4. Lampu Indikator Warna Daya Dimensi 5. Lampu Indikator Warna Daya Dimensi : R : merah S : Kuning T : Hijau : 2 watt : P : 30 mm L : 30 mm T : 20 mm : R : merah S : Kuning T : Hijau : 2 watt : P : 30 mm L : 30 mm T : 20 mm : P : 25 mm L : 81 mm T : 120 mm

6. Kabel NYY 4 x 10 mm2. 7. Kawat Penghantar BC Diameter : 10 mm2

93

8. Penghantar Busbar Tegangan Kerja Rating Dimensi : 200 400 V : 180 A : 3 mm x 15 mm

9. Box Panel : 300 mm x 200 mm x 400 mm

94

BAB IV ANALISA

Untuk mengetahui penggunaan komponen komponen yang pada sebuah panel PHB maka terlebih dahulu kita harus mengetahui beban beban yang terpasang pada instalasi yang akan dipasang PHB dan berpedoman kepada PUIL 2000. Adapun perencanaan panel Perlengkapan Hubung Bagi (PHB) yang penulis buat sesuai dengan perencanaan yang terdapat pada BAB III. 4.1 Menentukan Pembagian Beban Instalasi Gedung Untuk data beban instalasi penulis memperoleh data dari konsultan perencanaan CV dan Tugas Akhir Haris Anggriawan. Penggunaan lampu pada instalasi ini penulis sesuaikan dengan data penggunanan lampu berdasarkan intensitas cahaya dan fungsi ruangan. Lampu yang digunakan tersebut juga disesuaikan dengan katalog yang penulis peroleh dari situs resmi produsen lampu tersebut (khususnya harga cos ). Kemudian untuk kotak kontak biasa penulis mengambil data

berdasarkan kotak kontak yang diposisikan oleh CV perencanaan, sementara untuk kotak kontak proyektor dan kotak kontak AC penulis menggunakan referensi katalog dari produsen produk tersebut. Pemakaian lampu penulis sepenuhnya mengikuti Tugas Akhir Haris Anggriawan. Namun untuk pemasangan kotak kontak penulis menyesuaikan dengan fungsi dan kebutuhan ruangan gedung tersebut. Dimana untuk ruangan belajar penulis kotak kontak khusus untuk proyektor dan kotak kontak AC yang digunakan berdasarkan kebutuhan ruangan.

95

Pembagian group beban instalasi listrik harus dibuat berdasarkan PUIL 2000 yang memeliki ketentuan mengenai jumlah titik yang diperbolehkan menurut banyak sirkit akhir yang digunakan pada sistem instalasi. Kebutuhan maksimum untuk sebuah instalasi setiap phasa harus disesuaikan dengan tabel pada PUIL (Tabel 4.3.2 Hal 121 PUIL 2000). 4.2 Pemilihan Komponen Pemilihan komponen pada panel PHB ini dilakukan berdasarkan kapasitas dan perancangan gedung tersebut. Kapasitas komponen yang digunakan dipilih dan ditentukan menurut PUIL 2000. Begitu juga halnya dengan sistem pengaman yang digunakan disesuaikan dengan standar PUIL 2000. Kapasitas pengaman seperti MCB, MCCB, dan ELCB ditentukan menurut arus nominal (In) yang terhitung berdasarkan pembagian beban yang telah dilakukan ( BAB III). Untuk menentukan kapasitas MCCB utama yang digunakan penulit menghitung arusnya dengan menjumlahkan KHA terbesar dengan arus nominal group lainnya. Sementara itu untuk ELCB diatur dengan tegangan kerjanya sebesar 50 V. Hal ini berdasarkan batas tegangan sentuh manusia yang diperbolehkan yaitu sebesar 50 V (sumber PUIL 2000). Pemilihan penghantar yang digunakan disesuaikan dengan hasil perhitungan KHA dan merujuk pada tabel ( Lampiran A.1 dan Lampiran A.2). Kemudian untuk busbar dipilih berdasarkan Ibusbar dan merujuk pada tabel (Lampiran A.5). 4.3 Perancangan panel Dalam merancang panel penulis menyesuaikan data dengan data lapangan dan hasil perhitungan spesifikasi komponen komponen pada bab 3 dengan diagram
96

satu garis seperti yang terlihat pada lampiran B. Penggunaan semua komponen yang terdapat dalam panel tersebut ditentukan berdasarkan perhitungan dan memenuhi ketentuan PUIL 2000. 4.3.1 Pemasangan Box Panel PHB

Bentuk dan letak panel PHB sepenuhnya diatur dalam PUIL 2000 bab 6. Untuk PHB tertutup pasang luar harus dipasang cukup tinggi sehingga tidak akan terendam banjir dan harus kuat. Untuk pemasangan PHB pada tempat umum harus dipasang pada ketinggian kurang dari 1,2 m di atas tanah, lantai atau platform dan harus memenuhi setidaktidaknya satu dari persyaratan di bawah ini: a. Tertutup sepenuhnya dengan pintu, yang pembuka pintunya tidak kurang dari 1,2 m di atas tanah, lantai atau panggung. b. Hanya terdiri dari perlengkapan yang bagian aktifnya berada dalam rumah atau kotak pelindungnya dan tidak dapat dicapai tanpa alat atau kunci. c. Terletak di daerah yang hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang berwenang. 4.3.2 Pengaman

Pengaman yang digunakan pada panel PHB ini disesuaikan dengan perhitungan nilai arus nominal beban yang diproteksi. Harga kapasitas MCB, MCCB, dan ELCB disesuaikan dengan tabel pengaman tersebut yang tersedia dipasaran atau berdasarkan produsen pengaman tersebut. Untuk menentukan perangkat pengaman tersebut harus dipilih perangkat yang memiliki arus kerja lebih dari

97

arus nominal beban. Lampu indikator termasuk beban panel yang harus memiliki perangkat pengaman langsung. Perangkat pengaman yang digunakan untuk beban ini adalah fuse yang kerjanya melindungi dari hubung singkat. Menurut PUIL setiap instalasi harus memiliki pemutus sirkit dan pengaman sirkit. Dalam rancangan ini penulis menggunakan MCCB di jaringan utama sebagai pemutus daya sirkit (fungsi sebagai saklar) dan sebagai pengaman sirkit (fungsi sebagai proteksi hubung singkat dan beban lebih). Sementara itu jaringan cabang penulis menggunakan MCB 1 phasa karena instalasi yang diproteksi berupa sistem kelistrikan 1 phasa. Dari analisa yang penulis lakukan MCCB dan MCB dapat melakukan dua fungsi yaitu sebagai perangkat pemutus daya sirkit dan sebagai perangkat proteksi sirkit. Sementara itu peran dari ELCB dimanfaatkan sebagai pengaman terhadap tegangan sentuh. 4.3.3 Penghantar dan Busbar

Penghantar dalam isntalasi jenis dan luas penampangnya disesuaikan dengan harga KHA maksimum untuk kabel tersebut. Untuk menghitung KHA pada masing masing beban dihitung 125 % dari arus nominal beban. Sementara itu untuk busbar dihitung 150 % dari arus nominal beban. Untuk dalam instalasi gedung digunakan kabel NYY dengan alasan karena kabel ini memliki selubung PVC dan memiliki inti tunggal tembaga yang lebih dari satu. Jika dibandingkan dengan penggunanan NYA yang hanya berupa kabel inti tunggal, penggunaan kabel NYY lebih efisien dan dapat menghindari kerapuhan isolator dari kelembaban. Karena selain telah dilindungi selubung PVC kabel itu sendiri kabel

98

ini juga berada di dalam pipa PVC. Untuk kabel jenis ini memiliki batam maksimum jumlah titik beban yang dapat dilihat dalam PUIL. Kabel NYAF lebih digunakan dalam rangkaian panel karena memiliki sifat yang lebih fleksibel dari kabel lain dengan isinya berupa serabut namun dilindungi dengan isolator yang handal. Mengenai ukuran penampang kabel tersebut ditentukan dengan perhitungan KHA dan merujuk pada tabel (lampiran A.2). Penghantar berupa busbar dimanfaatkan sebagai pemisah untuk panel SDP. Dalam panel ini penulis melakukan pembagian group per phasa 3 group, sehingga dengan demikian terdapat 9 group dengan menggunakan sistem 3 phasa. Sebenarnya untuk busbar pentanahan digunakan busbar dengan luas penampang 25% dari luas penampang busbar dari luas penampang phasa. Namun penulis masih menggunakan ukuran busbar yang sama karena dari katalog yang penulis peroleh ukuran tersebut sudah merupakan ukuran terkecil busbar tembaga. 4.3.4 Alat Ukur

Media pengukuran yang digunakan pada PHB disesuaikan dengan rating kerja beban instalasi listrik gedung. Fungsi alat ukur tentu untuk melihat data pengukuran seperti tegangan, arus, factor daya, dan daya pada sistem instalasi gedung. Dari pengukuran tersebut maka dapat diketahui langkah langkah apa yang harus diambil kalau ditemukan pengukuran yang melibihi standar parameter pengukuran yang diizinkan pada sistem instalasi gedung. Pemasangan seperti kW meter dan cos phi meter dipasang seperti layaknya kita memasang kWH meter tiga phasa.

99

4.3.5

Pentanahan

Untuk menentukan sistem pentanahan yang digunakan disesuaikan dengan besar tahanan maksimal yang diizinkan berdasarkan perhitungan yang dilakukan pada BAB III. Setelah melakukan pengukuran tahanan pentanahan di area gedung AB ternyata diperoleh harga tahanan yang cukup besar. Sementara dalam PUIL harga tahanan maksimum yang dizinkan tidak lebih besar dari 6 . Bahkan setelah dilakukan perhitungan matematis dengan menggunakan sistem pentanahan rod yang diparalelkan masih begitu sulit untuk mencapai tahanan yang mendekati 1 , dan hanya dapat dicapai dengan menggunakan 10.000 buah rod paralel. Oleh sebab itu penulis mencoba untuk mengambil langkah lain dengan melakukan pengukuran pentanahan yang ada di labor praktek proteksi listrik (di gedung F). Dari pengukuran tersebut harga pentanahan masih terlalu jauh dari 6 namun lebih dari menggunakan pentanahan di area gedung AB, meskipun membutuhkan kawat BC yang lebih panjang untuk mencapai sistem pentanahan.

100

BAB V PENUTUP

5.1. Kesimpulan Setelah melakukan Perancangan Panel Perlengkapan Hubung Bagi (PHB) Gedung AB Politeknik Negeri Padang maka penulis dapat menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. 2. Perancangan panel PHB harus berdasarkan standar PUIL 2000. Setiap instalasi harus memiliki perangkat pemutus daya, proteksi hubung singkat, dan proteksi beban lebih. 3. Tugas Akhir ini dapat dimanfaatkan sebagai pedoman pembangun instalasi listrik gedung AB Politeknik Negeri Padang karena telah diuji dan sesuai dengan standar yang berlaku. 4. Perencanaan rancangan panel distrbusi di lakukan dengan pembagian group beban yang berdasarkan kondisi gedung dan kebutuhan energi listrik yang akan di suplai pada gedung AB tersebut serta PUIL 2000. 5. Pentanahan yang memenuhi standar PUIL merupakan sistem pentanahan yang memiliki tahanan pentanahan yang kecil dari 6 .

101

5.2. Saran Adapun saran penulis dalam proses pembuatan tugas akhir ini adalah sebagai berikut : 1. Dalam melakukan perancangan panel harus disesuiak dengan keadaan beban dan berpedoman pada PUIL 2000. 2. Dalam perancangan instalasi harus sesuai dengan fungsi dari setiap ruangan. Sehingga pengguna nyaman dalam menggunakan ruangan tersebut 3. Untuk perancangan instalasi gedung AB Politeknik Negeri Padang memiliki alat proteksi yang sesuai dengan standar PUIL 2000 sehingga pengguna gedung aman dari bahaya listrik.

102

DAFTAR PUSTAKA

Harten Van. P, Setiawan E Ir, 1986, Instalasi Listrik Arus Kuat 2, Binacipta Bandung, 1986 Panitia Reverensi PUIL, Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000 (PUIL 2000) SNI 04-0225-2000, Yayasan PUIL, Jakarta 2000 Harun, Nasrul,ST.,M.Kom dkk, 2010, Buku Ajar Instalasi Listrik 1 Sumardjati Prih, dkk, 2008, Teknik Pemanfaatan Tehanaga Listrik Jilid 1,2008 W.J.M Van Bommel (1980:97) Product Philips Sense and Simplicity Daftar Harga PT Schnaider Indonesia http://indonetwork.co.id/groundrod www.productphilips.com www.cahaya elektrik.com

103

LAMPIRAN LAMPIRAN A Lampiran A.1 KHA terus menerus untuk kabel tanah berinti tunggal, berpenghantar tembaga, berisolasi dan berselubung PVC, dipasang pada sistem a.s. dengan tegangan kerja maksimum 1,8 kV; serta untuk kabel tanah berinti dua, tiga dan empat berpenghantar tembaga, berisolasi dan berselubung PVC yang dipasang pada sistem a.b. phasa tiga dengan tegangan pengenal 0,6/1 kV (1,2 kV), pada suhu keliling 30 C. KHA terus menerus Luas Berinti tiga dan penampang Berinti tunggal Berinti dua empat Jenis Kabel di di udara di tanah di udara di tanah di udara anah Mm2 1 2 1,5 2,5 4 6 10 16 25 35 50 70 95 120 150 185 240 300 400 500 (Sumber : PUIL 2000) A 3 40 54 70 90 122 160 206 249 296 365 438 499 561 637 743 843 986 1125 A 4 26 35 46 58 79 105 140 174 212 269 331 386 442 511 612 707 859 1000 A 5 31 41 54 68 92 121 153 187 222 272 328 375 419 475 550 525 605 A 6 20 27 37 48 66 89 118 145 176 224 271 314 361 412 484 590 710 A 7 26 34 44 56 75 98 128 157 185 228 275 313 353 399 464 524 600 A 8 18,5 25 34 43 60 80 106 131 159 202 244 282 324 371 436 481 560 -

NYY NYBY NYFGbY NYCY NYCWY NYSY NYCWY NYSEY NYHSY NYKY NYKBY NYKFGBY NYKRGbY

104

Lampiran A.2 KHA terus menerus kabel instalasi berisolasi PVC tunggal dan penghantar tembaga (NYA, NYAF dan sebagainya) dan pengamannya pada suhu keliling 30o C dengan suhu penghantar maksimum 70o C. 1 Luas Penampang Nominal Kabel mm2 1 1,5 2,5 4 6 10 16 25 35 50 70 95 120 150 185 2 3 Untuk Pemasangan dalam Pipa Instalasi Kemampuan Kemampuan Hantar Arus Hantar Arus Nominal Maksimum Maksimum Kabel Pengaman A A 11 10 15 16 20 20 25 25 33 35 45 61 83 103 132 165 197 235 50 63 80 100 125 160 200 250 4 5 Untuk Pemasangan di Udara pada Isolator Kemampuan Kemampuan Hantar Arus Hantar Arus Nominal Maksimum Maksimum Kabel Pengaman A A 19 20 24 25 32 35 42 50 54 63 73 98 129 158 197 245 290 345 390 445 525 605 725 825 80 100 125 160 200 250 300 355 425 425 500 600 710 850

240 300 400 500 (Sumber: Instalasi Arus Kuat I Hal.143 atau PUIL 143)

105

Lampiran A.3 Warna dan Lambang Pengenal Penghantar (PUIL 2000:300) Pengenal Inti atau Rel Dengan Dengan Dengan Huruf Lambang Warna 1 A. Instalasi arus bolak-balik: phasa satu phasa dua phasa tiga netral B. Instalasi perlengkapan listrik: phasa satu phasa dua phasa tiga C. Instalasi arus searah: positif negatif kawat tengah D. Penghantar netral E. Penghantar pembumian (Sumber: PUIL 2000) Lampiran A.4 Tabel Ukuran Penampang Penghantar Pembumian Luas penampang penghantar Luas penampang minimum phasa instalasi penghantar proteksi yang 2 S(mm ) berkaitan Sp(mm2) S16 S 16S35 16 S35 S/2 (Sumber : PUIL 2000) Lampiran A.5 Tabel Ukuran Rel Tembaga Import dan Ampacity Tebal (mm) 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 Lebar (mm) 15 20 25 30 35 40 50 15 20 25 Cap (A) 184 245 300 350 405 470 570 235 305 385 2 Ll/R L2/S L3/T Nasional U/X V/Y W/Z L+ L M N PE + Biru Biru Loreng hijaukuning 3 4 Merah Kuning Hitam Biru Merah Kuning Hitam

106

4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 6 6 6 6 6 6 6 6 8 8 8 8 8 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 12 12 15

30 40 20 25 30 40 50 60 80 100 25 30 35 40 50 60 80 100 40 50 60 80 100 30 40 50 60 80 100 120 150 160 200 100 120 100

430 540 345 415 480 610 740 865 1110 1345 460 535 675 815 955 1148 1528 1910 795 950 1110 1480 1850 700 800 1060 1200 1525 1800 2100 2625 2800 3500 2100 2520 2625

107

Lampiran A.6 Kapasitas MCB beserta Harga

(Sumber : Daftar harga PT schneider Indonesia)

108

A.7 Tabel Kapasitas ELCB Beserta Harga

(Sumber : Daftar harga PT schneider Indonesia) Lampiran A.8 Tabel Kapasitas MCCB Beserta Harga

(Sumber : Daftar harga PT schneider Indonesia)

109

LAMPIRAN B Lampiran B.1 Diagram Satu Garis Panel MDP Gedung AB Politeknik Negeri Padang

Panel Trafo

3X2 Watt

A
KWH

PF

V
MCCB 40 A 2A

NYY 4 x 10 mm2 ELCB 40 A SDP 1

2A Dari PLN NYFGBY 4 x 35 mm2 MCCB 4 kutup 125 A

2A

2A

NYY 4 x 10 mm2 MCCB 50 A ELCB 63 A

SDP 2

NYY 4 x 10 mm2 Spare Arester Internal MCCB 25 A

BC 16 mm2

Judul Single Line Diagram Panel MDP Gedung AB Politeknik Negeri Padang

Tanggal 22-Okt-2012

Dibuat oleh PUTRA NOVARI 0901031005

Diperiksa oleh Dosen Pembimbing

110

Lampiran B.2 Diagram Satu Garis Panel SDP Lantai 1 Gedung AB Politeknik Negeri Padang

NYAF 10 mm2

NYY 3 x 2.5 mm2 Group 1 MCB 16 A NYY 3 x 2.5 mm2 Group 4 MCB 10 A NYY 3 x 2.5 mm2 Group 7 MCB 10 A NYY 3 x 2.5 mm2 Group 2 MCB 16 A NYY 3 x 2.5 mm2 Group 5 MCB 16 A NYY 3 x 2.5 mm2 Group 8 MCB 16 A NYY 3 x 2.5 mm2 Group 3 MCB 10 A NYY 3 x 2.5 mm2 Group 6 MCB 16 A NYY 3 x 2.5 mm2 Group 9 MCB 16 A

2A
3

Fasa R
3
3

NYY 4 x 10 mm2 MCCB 40 A

Fasa S Fasa T

NYAF 10 mm2

Panel MDP

NYAF 10 mm2

BC 10 mm2
Judul Tanggal Dibuat oleh Diperiksa oleh

Diagram Satu Panel SDP Lantai 1 Gedung AB Politeknik Negeri Padang

20-DES-2012

Putra Novari / 0901031005

Dosen Pembimbing

111

Lampiran B.3 Diagram Satu Garis Panel SDP Lantai 2 Gedung AB Politeknik Negeri Padang

NYAF 10

mm2

NYY 3 x 2.5 mm2 Group 1 MCB 16 A NYY 3 x 2.5 mm2 Group 4 MCB 16 A NYY 3 x 2.5 mm2 Group 7 MCB 16 A NYY 3 x 2.5 mm2 Group 2 NYY 3 x 2.5 mm2 Group 5 MCB 16 A NYY 3 x 2.5 mm2 Group 8 MCB 16 A NYY 3 x 2.5 mm2 Group 3 MCB 16 A NYY 3 x 2.5 mm2 Group 6 MCB 16 A NYY 3 x 2.5 mm2 Group 9 MCB 16 A MCB 16 A

2A
3

Fasa R
3
3

NYY 4 x 10 mm2 MCCB 50 A

Fasa S Fasa T

NYAF 10 mm2

Panel MDP

NYAF 10 mm2

BC 10 mm2
Judul Tanggal Dibuat oleh Diperiksa oleh

Diagram Satu Panel SDP Lantai 2 Gedung AB Politeknik Negeri Padang

20-DES-2012

Putra Novari / 0901031005

Dosen Pembimbing

112

Lampiran B.4 Diagram Pengawatan Panel MDP Gedung AB Politeknik Negeri Padang

kW A MCCB A A Volt Selector

Cos phi

FUSE R

BUSBAR CT S CT T CT N PE

MCCB

MCCB

MCCB

ELCB

ELCB

113

Lampiran B.5 Diagram Pengawatan Panel SDP Gedung AB Politeknik Negeri Padang

FUSE R S T N PE

MCCB BUSBAR

Group 1

Group 2

Group 3

114

Lampiran B.6 MDP tampak dalam

1000 mm

600 mm

Judul

Tanggal

Dibuat oleh

Diperiksa oleh

MDP tampak dalam

28-DES 2013

PUTRA NOVARI/ 0901031005

Dosen Pembimbing

115

Lampiran B.7 MDP tampak luar

kW

PF

1000 mm

600 mm

116

Lampiran B.8 SDP 1 tampak dalam

300 A

200 mm

Judul

Tanggal

Dibuat oleh

Diperiksa oleh

SDP 1 tampak dalam

28-DES 2013

PUTRA NOVARI/ 0901031005

Dosen Pembimbing

117

Lampiran B.9 SDP 2 tampak dalam

300 A

200 mm

Judul

Tanggal

Dibuat oleh

Diperiksa oleh

SDP 2 tampak dalam 28-DES 2013

PUTRA NOVARI/ 0901031005

Dosen Pembimbing

118

Lampiran B.10 SDP tampak luar

300 mm

200 mm

119