Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling

pokok, ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung pada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik. Khususnya pada proses belajar mengajar seseorang tidak pernah lepas dari bermacam masalah yang dipengaruhinya, baik itu datang dari dalam individu maupun dari luar individu itu sendiri. Karena dalam menjalankan proses belajar mengajar, seseorang senantiasa berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Dimana interaksi tersebut dapat membawa pengaruh yang positif dan negatif pada proses belajar mengajar siswa. Pada dasarnya prestasi belajar yang memuaskan dapat diraih oleh setiap peserta didik, jika mereka dapat belajar secara wajar, terhindar dari berbagai ancaman, hambatan dan gangguan. Namun ancaman, hambatan, dan gangguan dapat juga dialami oleh peserta didik. Dalam pencapaian prestasi belajar, masing-masing siswa tidak terlepas dari masalah dan tingkat kesulitan yang dihadapi masing-masing siswa, begitu juga dengan masing-masing sekolah. Masalah-masalah dan tingkat kesulitan ini yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pengajaran yang selanjutnya mempengaruhi prestasi belajar siswa. Setiap kali kesulitan belajar anak yang satu dapat diatasi, tetapi pada waktu yang lain muncul lagi kasus kesulitan belajar anak didik lain. Dalam setiap bulan bahkan setiap minggu tidak jarang ditemukan anak didik yang kesulitan dalam belajar walaupun sebenarnya masalah yang mengganggu keberhasilan belajar anak didik ini sangat tidak disenangi oleh guru, bahkan oleh anak didik itu sendiri.
1
1

Usaha demi usaha telah diupayakan dengan

Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar (Jakarta:Rineka Cipta,2008), h. 233.

berbagai strategi dan pendekatan agar anak didik dapat dibantu keluar dari kesulitan belajar, sebab bila tidak dibantu, maka anak didik akan gagal untuk meraih prestasi belajar yang memuaskan. Setiap siswa pada prinsipnya tentu berhak memperoleh peluang untuk mencapai prestasi belajar yang memuaskan, namun dari kenyataan sehari-hari tampak jelas bahwa siswa itu memiliki perbedaan dalam kemampuan intelektual, kemampuan fisik, latar belakang keluarga, kebersamaan, dan pendekatan belajar yang terkadang sangat mencolok antara siswa yang satu dengan yang lainnya. Sementara itu, penyelenggaraan pendidikan di sekolah-sekolah pada umumnya hanya ditujukan kepada para siswa yang berkemampuan rata-rata dan lebih, sehingga siswa yang berkemampuan kurang, jadi terabaikan. Dengan demikian, siswa yang berkategori di bawah rata-rata itu (sangat lemah) tidak mendapat kesempatan yang memadai untuk berkembang sesuai dengan kemampuannya. Dari sini timbul apa yang disebut kesulitan belajar (learning difficult) yang menimpa siswa berkemampuan rendah, disebabkan oleh faktor internal maupun eskternal yang menghambat tercapainya prestasi akademik yang sesuai dengan harapan.2 Banyak hal yang dapat menghambat dan mengganggu kemajuan belajar, bahkan sering juga terjadi kegagalan. Besar kecilnya tingkat kesulitan belajar sebagian besar ditentukan oleh strategi belajar mengajar yang diterapkan oleh guru. Dalam mencapai tujuan pendidikan masih banyak siswa yang mengalami hambatan dalam belajar, sehingga memperoleh hasil yang kurang memuaskan yang disebabkan oleh beberapa faktor penyebab kesulitan belajar. Secara garis besar faktor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri dari dua macam, yaitu faktor intern, yakni hal-hal/keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri siswa, seperti intelegensi, labilnya emosi, sikap,
2 Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta:RajaGrafindo Persada, 2007), h. 122.

terganggunya alat-alat indera penglihatan

dan pendengaran. dan faktor

ekstern, yakni hal-hal/keadaan-keadaan yang datang dari luar diri siswa, seperti lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah.3 Dengan adanya beberapa faktor yang menyebabkan kesulitan belajar siswa yang dapat menghambat tercapainya tujuan belajar, maka perlu perhatian dan upaya yang lebih intensif dari kepala sekolah dan para guru demi tercapainya tujuan pendidikan yang telah direncanakan. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh peneliti di kelas vii putri MTs. Khawarismi, kenyataan menunjukkan sejumlah siswinya mendapatkan hasil belajar yang kurang yang salah satu penyebabnya yaitu metode yang dipakai oleh guru mata mata pelajaran bersifat monoton dan dan terkesan membosankan yaitu metode klasik. Batasan masalah Dalam penelitian ini agar tidak terjadi pembiasan, maka peneliti membatasi masalah pada kurangnya hasil belajar siswi kelas vii MTs. AlKhawarismi pada mata pelajaran matematika.

Rumusan masalah Apakah terdapat perbedaan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika sebelum dan setelah menggunakan metode pembelajaran bermain sambil belajar?

Ibid., h. 183.

Tujuan penelitian Tujuan utama dari penelitian ini adalah mengetahui sejauh mana pengaruh metode pembelajaran bermain sambil beajar terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika.

BAB II KAJIAN TEORI Tinjauan pustaka Metode pembelajaran bermain sambil belajar Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan (Slamto 2003 : 2). Sedangkan bermain adalah melakukan sesuatu dengan alat untuk bersenang-senang (KBBI). Belajar sambil bermain disebut sebagai metode pembelajaran. Sedangkan metode pembelajaran adalah salah satu dari beberapa unsur terciptanya efektivitas pendidikan dan pelatihan (Diklat). Belajar sambil bermain biasanya digunakan sebagai pelengkap penerapan strategi-strategi atau jenis-jenis pengajaran lain. Coleman (1967) mengambarkan beberapa manfaat belajar sambil bermain. Pertama-tama yang harus diingat oleh anak didik yang ingin memainkan permainan dengan baik ialah mempelajari permainan itu dengan sungguh-sungguh guna menambah kemungkinan untuk meraih sukses. Kedua, suatu permainan sering memperlihatkan penampilan yang sederhana dalam situasi kehidupan nyata yang kompleks; ia merupakan ringkasan unsur-unsur pilihan dari kehidupan nyata dan oleh kerana itu memungkinkan pelajar menjalankan unsur-unsur pilihan ini satu-persatuan dengan mahir. Ketiga, suatu permainan mencakup partisipasi aktif dan oleh karena itu ia mungkin lebih efisien daripada pengajaran yang diterima secara pasif. Disisi lain belajar sambil bermain akan menciptakan permainan berperan dan peniruan. Permainan berperan berguna dalam mengajar anak didik agar mengerti pendapat, pandangan dan tujuan orang lain. Dalam permainan berperan, pelajar diminta untuk dapat mempertahankan

pendapat atau tindakan sejumlah orang lain. Misalnya peranan orang tua yang menghadapi suatu situasi konflik dengan anaknya. Menurut Mead (1934), anak dapat menggembangkan citra diri setelah melalui proses belajar, melihat dirinya melalui mata orang-orang lain. Permainan berperan dapat menolong anak untuk mengembangkan pengertian semacam ini. Peniruan. Seorang anak didik dapat dihadapi dengan suatu masalah dugaan, yang menyerupai suatu kehidupan nyata dan diminta melakukan pemecahan dengan penerapan hukum-hukum tertentu. Dalam suatu situasi peniruan (simulation) pelajar sering memecahkannya dengan berbagai variasi pemecahan sebagai percobaan, membandingkan manfaatmanfaatnya yang berhubungan, akhirnya mengusulkan suatu pemecahan khusus. Misalnya dalam program pelajaran ilmu sosial, anak didik mungkin membuat rencana suatu kota. Jadi penulis menyimpulkan metode pembelajaran belajar sambil bermain dapat mengusung kepada aktivitas dan kreatifitas anak didik. Untuk mengetahui kondisi itu maka harus mengetahui latar belakang pendidikannya dan apa tujuan dari itu semua. Harus diperhatikan juga bahwa pelajaran yang terpenting yang lebih banyak dapat dipetik dari ini semua ialah penerapan yang tepat dari aturan main dan bukannya pengertian yang diperoleh secara kebetulan atau secara asosiatif dari fakta-fakta yang dialami. Prestasi Belajar Pengertian Prestasi Belajar Prestasi belajar adalah hasil dari suatu kegiatan yang dikerjakan, baik secara individu maupun kelompok. (Djamarah, 1994 : 29).

Kegiatan belajar menghasilkan perubahan pada siswa yang tampak pada tingkah laku atau prestasi belajar siswa ditentukan oleh kegiatan belajarnya. ( Sardiman , 2001 : 94 ). Jadi dapat disimpulkan Prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh atau perubahan tinggah laku seseorang secara akademik berdasarkan kemampuan dan keterampilan yang diperoleh dari suatu kegiatan yang dilakukan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Dalam proses mencapai prestasi belajar yang lebih baik, terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi: Minat Minat dapat menimbulkan rasa senang pada setiap kegiatan yang dipilih. Sebaliknya jika siswa gagal mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan siswa tidak berminat melaksanakan kegiatan tersebut. Hal seperti ini yang membuat prestasi menjadi rendah. Bakat Menurut Utami munandar (1987), bakat dapat diartikan sebagai kemampuan bawaan, sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat tewujud. Kesehatan Perkembangan otak yang tidak normal membuat siswa mengalami hambatan dalam kemampuan intelektualnya. (Mikarsa, 2007).

Kerangka berfikir

Berdasarkan gambar diatas maka akan diketahui apakah ada pengaruh yang signifikan metode pembelajaran bermain sambil belajar (variabel x), terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika (variabel y).

Hipotesis Ho: diduga tidak terdapat perbedaan hasil belajar siswa sebelum dan setelah menggunakan metode pembelajaran bermain sambil belajar. Ha: diduga terdapat perbedaan hasil belajar siswa sebelum dan setelah menggunakan metode pembelajaran bermain sambil belajar.

BAB III METODE PENELITIAN Jenis penelitian Penelitian eksperimen adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian suatu treatment atau perlakuan terhadap subjek penelitian. Jadi penelitian eksperimen dalam pendidikan adalah kegiatan penelitian yang bertujuan untuk menilai pengaruh suatu perlakuan/tindakan/treatment pendidikan terhadap tingkah laku siswa atau menguji hipotesis tentang ada-tidaknya pengaruh tindakan itu jika dibandingkan dengan tindakan lain. the one group pretest-posttest design, terdapat pretest sebelum diberi perlakuan, hasil perlakuan dapat diketahui dengan lebih akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan. Bentuk bagan desain tersebut adalah sebagai berikut. O1 Pretest X Treatment Posttest O2

Pada penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian dengan pendekatan kuantitatif jenis eksperien dan dengan desain pre-test post-test one group

Populasi dan sampel Populasi pada penelitian ini yaitu semua sisiwi kelas vii MTs. AlKhawarismi.

Tehnik sampling yang digunakan yaitu sampel jenuh sehingga didapatkan sampelnya yaitu semua sisiwi kelas vii MTs. Al-Khawarismi.

Instrumen Instrumen adalah alat yang digunakan untuk memperoleh data, instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar tes formatif hasil belajar materi system persamaan linear dua variabel. Tes adalah serentetan pertanyaan yang digunakn untuk mengukur kemampuan, keterampilan pengetahuan, intelegensi atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok ( Suharsimi Arikunto, 2002). Pada penelitian ini instrumen yang digunakan oleh peneliti adalah test yang terdiri dari beberapa butir soal. Analisis data Uji prasyarat anlisis Uji normalitas

Jika

maka data berdistribusi normal.

Uji homogenitas

Jika

maka data berdistribusi normal.

Uji hipotesis: Uji t-test Untuk varians yang homogen digunakan t-test dengan polled varians dengan rumus sebagai berikut :
X1 X 2

( n1 1) S12 + ( n2 1) S 22
t=
n1 + n 2 2

1 1 + n1 n2

Keterangan : t = Nilai yang dihitung

X 1 = Rata-rata sampel 1(kelas dengan nilai rata-rata lebih tinggi) X 2 = Rata-rata sampel 2(kelas dengan nilai rata-rata lebih rendah)
S12 = Varians sampel 1(kelas dengan nilai rata-rata lebih tinggi) S12 = Varians sampel 2(kelas dengan nilai rata-rata lebih rendah) n1 = Jumlah sampel 1(kelas dengan nilai rata-rata lebih tinggi) n2 = Jumlah sampel 2(kelas dengan nilai rata-rata lebih tinggi) Selanjutnya, apabila varians tidak homogen maka digunakan t-test dengan separated varians dengan rumus sebagai berikut :
t= X1 X 2
2 S1 S 2 + 2 n1 n 2