Rp. +/-%+=@!*

Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan

A

dr. . Drs. SKM.. MHA.. MSI. Lany Harijanti. ISBN xxxxxxxxxx Desain dan layout INTERAXI.. Untung Suseno Sutarjo.KERJASAMA: KEMENTERIAN KESEHATAN RI – KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK . M. MM. UNFPA : dr. Laode Musafin.. Dra. Darsono. Gita Maya. KPP-PA : Dra. Andi Saguni..Kes. MA. dr. Msi. MA.UNFPA TIM PENYUSUN : Kemenkes : dr. Lieska Prasetya.Kes. M. Anis Hamim. Endang Moerniati.

dan sebagai komitmen kami dalam mendukung pelaksanaan PUG Bidang Kesehatan maka telah disusun Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan dengan melibatkan banyak pihak. Walaupun buku Panduan ini lebih difokuskan untuk penyusunan Anggaran Responsif Gender (ARG) bersumber APBN Kementerian Kesehatan termasuk dari Dana Dekonsentrasi. Perencanaan dan penganggaran responsif gender bidang kesehatan bukanlah sebuah proses yang terpisah dari sistem yang sudah ada. namun kami berharap buku ini juga dapat digunakan sebagai referensi bagi banyak pihak seperti pihak universitas. tidak hanya dari unit-unit di intern Kementerian Kesehatan tapi juga dengan melibatkan Kementerian PP&PA. sehingga bukan berarti melakukan dua kali perencanaan. Perencanaan dan penganggaran responsif gender bidang kesehatan ini merupakan instrumen untuk mengatasi adanya perbedaan akses. tetapi memastikan bagaimana agar perspektif gender dapat diintegrasikan dalam setiap tahapan perencanaan dan penganggaran. Oleh karenanya jangan diartikan sebagai rencana dan anggaran khusus untuk perempuan yang terpisah dari laki-laki. FGD. Buku Panduan ini merupakan up-dating dari Buku Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender yang pernah diterbitkan pada tahun 2008. pemerintah daerah. UNFPA dan pihak-pihak lainnya. partisipasi. ‘pemerhati gender’ dan pihak-pihak lainnya. Simulasi penerapan disamping dilakukan pada unit yang berada di intern Kementerian Kesehatan juga dilakukan pada Dinas Kesehatan Provinsi. workshop dan simulasi. kontrol dan manfaat pembangunan kesehatan bagi laki-laki dan perempuan sehingga diharapkan kesenjangan gender dapat dihilangkan atau setidaknya dapat dikurangi. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan i .SEPATAH KATA Kepala Biro Perencanaan dan Anggaran Perencanaan dan penganggaran responsif gender merupakan salah satu komponen dari Pengarusutamaan Gender (PUG). Bahan tulisan untuk panduan ini berasal dari orientasi termasuk studi literatur internasional serta asesmen dan masukan dari banyak pihak melalui wawancara.

Untung Suseno Sutarjo. November 2010 KEPALA BIRO PERENCANAAN DAN ANGGARAN SETJEN KEMENTERIAN KESEHATAN RI.Saya yakin buku ini masih belum sepenuhnya sempurna.Kes ii . dr. M. Jakarta. oleh karena itu saran dan masukan bersifat konstruktif tetap kami harapkan untuk perbaikan dan penyempurnaannya ke depan.

PUG Bidang Kesehatan (PUG-BK) selanjutnya dipertegas melalui Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan. kondisi. Pengintegrasian perspektif gender menjadikan perencanaan menjadi lebih tepat sasaran dan efektif. Pelaksanaan PUG bidang kesehatan telah diamanahkan sejak tahun 2000 melalui Inpres Nomor 9 tahun 2000 tentang PUG dalam Pembangunan Nasional. Dukungan kebijakan PUG juga dinyatakan dalam RPJPN Tahun 2005-2025. ditempuh berbagai strategi kebijakan perencanaan dan penganggaran kesehatan. Pada tahap ini dilakukan pemetaan antara peran. karena didahului oleh analisis determinan sosial dari perspektif gender. dan menjadi arah kebijakan pembangunan kesehatan lima tahun kedepan. yang menjadikan isu gender menjadi bagian integral pembangunan kesehatan. dan kebutuhan Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan iii . dan ditindaklanjuti dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 878 Tahun 2006 tentang Tim Pengarusutamaan Gender Bidang Kesehatan. Untuk mencapai target kinerja yang ditetapkan dalam Renstra tersebut. dan pelaksanaan program dan kegiatan di lingkungan Kementerian Kesehatan. panduan tersebut direvisi menjadi Buku Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) Bidang Kesehatan yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1459/Menkes/SK/X/2010. serta RPJP Kesehatan Tahun 2005-2025. Salah satu prinsip utama dalam perencanaan dan penganggaran responsif gender adalah analisis gender terhadap setiap kebijakan.KATA PENGANTAR Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI Renstra Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014 telah ditetapkan. tetapi berupaya mengintegrasikan perspektif gender dalam setiap proses perencanaan dan penganggaran. dan kegiatan di Kementerian Kesehatan. antara lain melalui pengarusutamaan gender (PUG) dalam setiap penyusunan kebijakan. Hal tersebut tidak berarti bahwa perencana kesehatan harus melakukan dua kali proses perencanaan dan penganggaran. sejak tahun 2008 telah disusun pedoman perencanaan dan penganggaran responsif gender. program. yang selanjutnya diintegrasikan dalam penyusunan RKA-KL. Sebagai tindak lanjut atas kebijakan tersebut. RPJMN Tahun 2010-2014. Namun seiring dengan dinamika perubahan kebijakan perencanaan dan penganggaran.

Amin Ya Rabbal Alamin. dengan menurunkan disparitas status kesehatan antar wilayah. dr. sehingga setiap unit utama diharapkan mampu menyusun Anggaran Responsif Gender yang selanjutnya digunakan sebagai salah satu dokumen dalam penelaahaan RKA-KL di Kementerian Keuangan.PP&PA/5/2010 tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Bidang Kesehatan. Pada akhirnya akan bermuara pada pencapaian target indikator kinerja kegiatan sebagaimana ditetapkan dalam dokumen perencanaan. sehingga diperoleh solusi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan kesehatan yang berbeda antara perempuan dan laki-laki. November 2010 SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN KESEHATAN RI. sehingga pada akhir tahun 2014 semua program dan kegiatan pembangunan kesehatan telah responsif gender. Jakarta. Ratna Rosita. Buku ini merupakan kerja sama antara Kementerian Kesehatan dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Melalui Visi Kementerian Kesehatan “Masyarakat Sehat Yang Mandiri Dan Berkeadilan”.Nomor 07/MEN. status sosial ekonomi serta gender. kami mengucapkan terima kasih. Komitmen tersebut diperkuat lagi dengan Kesepakatan Bersama antara Menteri Kesehatan dan Menteri Negaran Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 593/MENKES/SKB/ V/2010 . MPHM iv . Buku Panduan ini merupakan panduan teknis. kita telah berkomitmen mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya. Kementerian Kesehatan kembali dipercaya menjadi K/L pilot project pelaksanaan Anggaran Responsif Gender (ARG) melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 104/2010. secara bertahap melakukan proses perencanaan dan penganggaran yang responsif gender. Untuk itu kepada semua pihak yang telah berpartisipasi baik langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan buku panduan ini. Melalui kesempatan ini saya mengajak kepada semua unit utama di Kementerian Kesehatan. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kita semua dalam menyelenggarakan pembangunan kesehatan di Indonesia yang kita cintai. Merupakan sebuah kebanggaan.kesehatan perempuan dan laki-laki.

program dan kegiatan. dan evaluasi pembangunan kesehatan. sehingga situasi tersebut menyebabkan implikasi yang berbeda pula dalam hal akses. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan v . Pendahuluan. Dukungan kebijakan tersebut secara jelas diuraikan dalam Bab I. Masih banyak kebijakan.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN RI Relevansi gender dengan bidang kesehatan. partisipasi. yang menjadi acuan dalam penyusunan dokumen perencanaan Kemkes. sangat erat kaitannya. dan kontrol terhadap upaya kesehatan. pelaksanaan. kami berharap bahwa kita semua mempunyai kesamaan pandangan dan komitmen bahwasanya Pengarusutamaan gender (PUG) Bidang Kesehatan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. perempuan dan laki-laki mempunyai kebutuhan kesehatan dan interes yang berbeda. tetapi lebih dari itu menumbuhkan kesadaran bahwasanya PUG merupakan pendekatan yang efisien dan efektif untuk mencapai target kinerja output dan outcome pembangunan kesehatan. karena masih cenderung mengasumsikan bahwa kebutuhan kesehatan (health needs) antara perempuan dan laki-laki adalah sama. bukan hanya karena dorongan aturan/kebijakan yang pro gender. baik dokumen perencanaan jangka panjang. Jika kita menelaah kembali dokumen perencanaan pemerintah. maupun jangka pendek atau tahunan. dan terintegrasi dalam siklus perencanaan dan penganggaran. program dan kegiatan kesehatan terhadap isu gender. semuanya telah menyatakan bahwa gender merupakan mainstream dalam penyusunan kebijakan. Buku Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) ini. monitoring. program dan kegiatan kesehatan yang masih bias atau netral gender. manfaat. sektor kesehatan bertanggung jawab dalam meningkatkan kualitas SDM dan indikator untuk menilainya bukan hanya dengan melihat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tetapi juga dengan Indeks Pembangunan Gender (IPG) bahkan dengan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG). Faktanya. Evidence based dari studi-studi gender dan kesehatan menyatakan bahwa salah satu penyebab utama dan akar masalah dari rendahnya status kesehatan masyarakat dan permasalahan kesehatan adalah belum responsifnya kebijakan. Untuk itu. serta peran dan relasi gender yang masih cenderung menempatkan perempuan “dibawah” laki-laki. Perlu kita pahami bersama pula bahwa dalam mencapai tujuan pembangunan nasional. jangka menengah.

Biro Perencanaan dan Anggaran telah mengkoordinir penyusunan Buku Panduan PPRG ini yang tidak hanya melibatkan lintas program dan unit yang ada di lingkungan Kemkes tapi juga melibatkan Kementerian Negara PP&PA serta UNFPA dan juga mendapatkan masukan-masukan dari daerah. PPRG merupakan bagian integral dari PUG Bidang Kesehatan.Secara struktur.PH vi . masih ada anggapan bahwa melakukan analisis gender berarti menambah beban pekerjaan. dr. program dan kegiatan yang rerponsif gender. Jakarta. sesungguhnya perencanaan dan penganggaran rensponsif gender bukanlah berarti melakukan dua kali perencanaan. Oleh karenanya. Lebih dari itu. Hal tersebut telah menunjukkan komitmen Kemkes dalam rangka mengembangkan team work yang terpadu dalam melaksanakan PUG bidang kesehatan di Kementerian Kesehatan. November 2010 MENTERI KESEHATAN. Amin Ya Rabbal Alamin. melalui kesempatan ini juga. Namun. Endang Rahayu Sedyaningsih. dan pada akhirnya mendukung tercapainya target indikator kinerja kegiatan yang telah ditetapkan. Karena itulah. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan karuniaNya kepada kita semua. kami berharap bahwa buku panduan ini dapat menjadi materi yang dapat dipakai oleh banyak pihak dalam upaya mengembangkan dan melaksanakan kebijakan. tetapi hanya memastikan bagaimana agar perspektif gender dapat diintegrasikan dalam setiap tahapan perencanaan dan penganggaran. kami mengucapkan terima kasih atas kerja sama yang ditunjukkan oleh tim tersebut atas kerja kerasnya sehingga Buku Panduan PPRG ini dapat tersusun. sebuah perencanaan dan penganggaran responsif gender akan mendiagnosa dan memberikan jawaban yang lebih tepat kebutuhan program dan anggaran kesehatan bagi perempuan dan laki-laki. dan secara kesisteman maka PPRG merupakan bagian sistem perencanaan dan penganggaran yang telah berjalan selama ini. Selama ini. MPH. Dr.

antara lain yang dilaksanakan melalui penerbitan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 119 Tahun 2009 yang diperbaharui dengan PMK Nomor 104 Tahun 2010 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL Tahun Anggaran 2011 yang menetapkan Kementerian Kesehatan sebagai salah satu uji coba penerapan anggaran yang responsif gender. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan vii .MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN PENGANTAR PADA PANDUAN PERENCANAAN DAN PENGGANGGARAN RESPONSIF GENDER BIDANG KESEHATAN Saya menyambut balk diterbitkannya Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan. sehingga perempuan dan laki-laki mendapatkan akses dan manfaat yang adil dan setara di dalam bidang Kesehatan. Panduan ini bertujuan untuk memberikan informasi dan langkah¬langkah di dalam menyusun kebijakan. program dan kegiatan masing-masing. program dan kegiatan di bidang kesehatan dengan pendekatan anggaran responsif gender sesuai dengan PMK Nomor 104 Tahun 2010 di atas. Panduan ini akan memberikan umbangan ang ukup ignifikan alam engimplementasikan s y c s d m Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional. Inpres tersebut mengamanahkan bagi semua Kementerian dan Lembaga Pemerintah untuk mengintegrasikan perspektif gender pada saat menyusun kebijakan. termasuk Kementerian Kesehatan.

Akhirnya. kami berharap Panduan ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh semua pihak yang terkait. S. kami sampaikan penghargaan yang tinggi kepada Tim Penyusun dan pihak-pihak yang telah berkontribusi.IP viii . Untuk itu.Tersusunnya panduan ini atas kerjasama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Kementerian Kesehatan. yang difasilitasi oleh UNFPA. September 2010 Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Linda Amalia Sari Gumelar. Jakarta.

DAFTAR ISI Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan ix .

x .

c bahwa Kesepakatan Bersama Antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Menteri Kesehatan tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Bidang Kesehatan No. Mengingat 1. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 47. dan c telah disusun Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 104.PP&PA/5/2010 – No. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan xi . b. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4286). program dan kegiatan pembangunan kesehatan. 593/MENKES/SKB/V/2010. perlu ditindaklanjuti. Kementerian Kesehatan berkewajiban melakukan PUG dalam kebijakan. d. Bahwa untuk melaksanakan Inpres Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG).MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 1459/MENKES/SK/X/2010 TENTANG PANDUAN PERENCANAAN DAN ANGGARAN RESPONSIF GENDER BIDANG KESEHATAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Menimbang a. bahwa sesuai dengan PMK Nomor 104 tahun 2010. menunjuk Kementerian Kesehatan menjadi pilot project pelaksanaan Anggaran Responsif Gender dalam penyusunan RKA-KL TA. 2. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4421). bahwa sebagai tindak lanjut sebagaimana dimaksudkan pada huruf a. 07/MEN. b. 2011.

3. Tambahan lembaran Negara Nomor 5063). Inpres Nomor 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan.03. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 144. 13. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Kedudukan.PP&PA/5/2010 – No. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 878 Tahun 2006 tentang Tim Pengarusutamaan Gender Bidang Kesehatan (PUG-BK). 14. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014. 4. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025. MEMUTUSKAN: Menetapkan Kesatu : Keputusan Menteri Kesehatan tentang Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 11. 10. 375/ MENKES/SK/V/2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. sebagaimana terlampir dalam Keputusan ini. 9.02/2010 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL Tahun Anggaran 2011. Susunan Organisasi. 593/MENKES/SKB/V/2010 tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Bidang Kesehatan. Inpres Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010. Inpres Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional . Ketiga : Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua digunakan sebagai acuan bagi Kementerian Kesehatan xii . Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK. Fungsi. dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia. 5. 6. 8. Kesepakatan Bersama Antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Menteri Kesehatan No. Peraturan Menteri Keuangan No 104/PMK.01/60/I/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan RI Tahun 2010 – 2014. 12. Kedua : Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan. 7. Tugas. 07/MEN.

dalam penyusunan perencanaan dan penganggaran program pembangunan kesehatan yang responsif gender. Endang Rahayu Sedyaningsih.PH Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan xiii . DR. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 4 Oktober 2010 Menteri Kesehatan. Dr. MPH. Keempat : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

xiv BAB I Pendahuluan .

yaitu dari 0.664 pada tahun 2008.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN Nomor : 1459/MENKES/SK/X/2010 Tanggal : 4 Oktober 2010 bab BAB I PENDAHULUAN A. 2008). belum mengalami peningkatan yang berarti yaitu 0. Perbaikan IPM Indonesia belum diikuti oleh perbaikan IPG. namun nilainya masih lebih rendah jika dibandingkan dengan nilai IPM pada tahun yang sama. dan di antara 10 negara-negara ASEAN. Latar Belakang Salah satu tujuan pembangunan nasional adalah meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (SDM) Indonesia sehingga mempunyai kemampuan daya saing secara global. IPG Indonesia pada tahun 2008 menduduki peringkat ke-94 dari 177 negara.687 pada tahun 2004 menjadi 0.639 pada tahun 2004 menjadi 0.719 pada tahun 2008.623 pada tahun 2008 (UNDP. Terdapat tiga indikator kualitas SDM yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI). Indonesia berada pada peringkat ke-6 setelah Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 1 . meskipun IPG Indonesia mengalami peningkatan dari 0. yang kemudian secara bertahap dijabarkan dalam perencanaan pembangunan lima tahunan dan perencanaan tahunan. IPM atau HDI Indonesia telah mengalami peningkatan. Indeks Pembangunan Gender (IPG) atau Gender-related Development Index (GDI) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) atau Gender Empowerment Measurement (GEM). Isu SDM sebagai prioritas pembangunan nasional merupakan amanah Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025.597 pada tahun 2004 menjadi 0. Demikian pula dengan Indeks Pemberdayaan Gender.

serta tujuan 7 (Menjamin Kelestarian Lingkungan Hidup). Sedangkan isu gender tercantum pada tujuan 3 MDGs (Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan). Sejalan dengan peraturanperaturan tersebut di atas. isu kesenjangan gender telah menjadi salah satu komitmen utama pemerintah. gender dan nondiskriminatif dan normanorma agama”. manfaat. isu kesehatan dan gender juga telah menjadi komitmen global yang dinyatakan dalam MDGs. Sejak tahun 2000. dan politik belum berhasil secara signifikan. Pembangunan kesehatan sebagai salah satu penentu kualitas SDM telah mengadopsi PUG. dan Filipina. melalui penyehatan lingkungan. 36 tahun 2009 tentang kesehatan. keseimbangan. Sedangkan IDG Indonesia menduduki peringkat ke-107 dari 177 negara. 07/MEN. 9 tahun 2000 tersebut di atas. Komitmen pemerintah melalui Inpres No.PP&PA/5/2010 – No. Malaysia. tujuan 6 (Mengendalikan HIV/ AIDS. Inpres ini mewajibkan pemerintah pusat dan daerah melakukan pengarusutamaan gender ke dalam seluruh proses pembangunan. khususnya pasal 2 yang berbunyi “Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan berasaskan perikemanusiaan. Program dan kegiatan kesehatan yang berhubungan dengan pencapaian target 2 BAB I Pendahuluan . Malaria dan penyakit menular lainnya). pemantauan dan evalusi pembangunan. keadilan. Terdapat 5 tujuan MDGs yang berhubungan dengan bidang kesehatan. PUG di Kementerian Kesehatan juga diperkuat dengan Kesepakatan Bersama Antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Menteri Kesehatan No. Thailand. penghormatan terhadap hak dan kewajiban. mulai dari tahap perencanaan. 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam Pembangunan Nasional. Rencana Pembangunan Jangka Panjang bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025 dan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010–2014 sebagai pedoman dalam penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Tahun 20102014. melalui peningkatan status gizi balita. tujuan 4 (Menurunkan Kematian Anak). Peningkatan IDG masih relatif kecil setiap tahunnya. Sementara itu. Kementerian Kesehatan telah menjadikan isu gender sebagai mainstream dalam pembangunan kesehatan. pemerintah telah berkomitmen menjadikan isu gender sebagai mainstream (arusutama) pembangunan. Brunei Darussalam. selain itu dalam sistem Kesehatan Nasional (SKN) 2009. Responsif Gender menjadi salah satu dasar penyelenggaraan SKN. tujuan 5 (Peningkatan Kesehatan Ibu). Melalui Instruksi Presiden (Inpres) No. Hal ini mengindikasikan bahwa upaya peningkatan kesetaraan gender di bidang sosial. dipertegas kembali melalui UU No. pelindungan. pelaksanaan. ekonomi. 593/MENKES/SKB/V/2010 tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Bidang Kesehatan. dengan memperhatikan amanah Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025. yang bersifat cross cutting dalam mencapai 7 tujuan lainnya dari 8 tujuan MDGs.Singapura. yaitu tujuan 1 (Memberantas Kemiskinan dan Kelaparan).

Memampukan para perencana untuk mengintegrasikan perspektif gender dalam setiap tahapan perencanaan dan penganggaran bidang kesehatan. yang kembali menetapkan 7 (tujuh) K/L pilot tahun anggaran 2011 (Kementerian Pertanian. keadilan untuk semua. Selanjutnya penerapan ARG diperbarui dengan PMK No. 2. dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas) ditambah K/L yang menangani Bidang Perekonomian dan Bidang Polsoskum (Politik. dan pencapaian tujuan MDGs. Kementerian Kesehatan. 1 tahun 2010 tentang percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan nasional tahun 2010 dan Inpres No. maka Kementerian Kesehatan perlu menyusun panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender yang menjadi acuan bagi para perencana kesehatan dalam penyusunan ARG. Kementerian Pekerjaan Umum. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 3 . Uraian di atas memberikan pemahaman bahwa kebijakan PUG bidang kesehatan telah mendapatkan dukungan kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang sangat kuat. dan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan. Kementerian Keuangan. Sedangkan dokumen penganggaran responsif gender bidang kesehatan atau disebut dengan Anggaran Responsif Gender (ARG) diamanahkan melalui PMK No. dan Hukum). Departemen Keuangan. Kementerian Pendidikan Nasional. 104 tahun 2010. Memberikan panduan bagi para perencana dalam menyusun Anggaran Responsif Gender (ARG) di bidang kesehatan. Karena ARG telah menjadi bagian integral sistem perencanaan dan penganggaran K/L. Dalam penelaahan RKA-KL kedua dokumen ARG tersebut merupakan bagian integral dari dokumen pendukung penelaahan RKA-KL yang menjadi syarat penelaahan RKA-KL oleh Direktorat Jenderal Anggaran. B. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas. Terdapat dua bentuk dokumen ARG dalam penyusunan RKA-KL. Perencanaan kesehatan yang responsif gender telah dinyatakan dalam dokumen perencanaan sebagaimana diuraikan tersebut di atas. Departemen Pertanian. sehingga perlu ditindaklanjuti dengan kebijakan perencanaan dan penganggaran bidang kesehatan yang responsif gender. Departemen Pekerjaan Umum. Departemen Kesehatan. Tujuan Penyusunan Panduan 1. Kementerian Permberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Kedua PMK dimaksud telah mengintegrasikan ARG dalam penyusunan RKA-KL.MDGs selanjutnya diperkuat dengan Inpres No. Sosial. yaitu TOR responsif gender dan Gender Budget Statement (GBS). 3 tahun 2010 tentang program pembangunan yang berkeadilan dengan 3 substansi yaitu pro rakyat. 119 tahun 2009 yang menetapkan Kementerian Kesehatan sebagai salah satu ujicoba penerapan ARG dari 7 Kementerian/Lembaga (K/L) yaitu Departemen Pendidikan Nasional.

Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010–2014. 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan. Inpres No. 9. UU No. Teknik analisis gender bidang kesehatan dengan menggunakan Gender Analysis Pathway (GAP) 2. 07/MEN. Inpres No. 375/MENKES/SK/V/2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025.C. 10. 4. 8.01/60/ I/ 2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan RI Tahun 2010 – 2014. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.02/2010 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL Tahun Anggaran 2011. 374/MENKES/SK/V/2009 tentang Sistem Kesehatan Nasional (TKN). Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025. 593/MENKES/SKB/V/2010. 6. Teknik penyusunan GBS (Gender Budget Statement) Untuk mempermudah dan membantu para perencana memahami konsep gender dalam penyusunan ARG.PP&PA/5/2010 – No. Peraturan Menteri Keuangan No 104/PMK. maka dalam panduan ini juga disampaikan secara singkat tentang konsep gender dan isu gender dalam bidang kesehatan yang dapat dilihat pada BAB II. Kesepakatan Bersama Antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Menteri Kesehatan tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Bidang Kesehatan No. 3.03. 9/2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional. Ruang Lingkup Panduan 1. 5. Inpres No. Teknik penyusunan TOR (Term of Reference) responsif gender 3. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 11. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Landasan Hukum 1. 7. 2. D. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK. 12.878 Tahun 2006 tentang Tim Pengarusutamaan Gender Bidang Kesehatan (PUG-BK). 4 BAB I Pendahuluan .

. Persepsi gender dipraktikkan melalu perbedaan cara perempuan dan laki-laki dibesarkan. Pembedaan peran gender tidak bersifat universal. . Kerancuan itu bermula dari pemahaman yang keliru tentang ‘gender’ yang sering diartikan sebagai jenis kelamin. Jenis kelamin mengacu pada perbedaan karakteristik biologis dan fisiologis yang membedakan perempuan dan laki-laki. mempunyai testis.Laki-laki mempunyai jakun. prilaku. laki-laki tidak. Contoh dari sifat jenis kelamin antara lain: . tumbuh kembang dan besar melalui proses sosialisasi di lingkungan keluarga dan masyarakat. khususnya perempuan. . sehingga masih banyak terjadi kerancuan dalam memahaminya apalagi mengaplikasikannya. menyusui. Singkat kata. Jenis kelamin bersifat kodrati dan universal (berlaku di mana saja) dan tidak bisa dipertukarkan satu sama lain. menghasilkan sperma. termasuk pembangunan kesehatan. Istilah gender relatif baru masuk dalam khazanah pembangunan. kegiatan serta karakteristik sosial lainnya yang dibentuk oleh suatu masyarakat atau budaya tertentu berdasarkan persepsi yang pantas untuk perempuan atau pantas untuk laki-laki. diajari Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 5 . 2010). Konsep Gender Gender merujuk pada perbedaan antara perempuan dan laki-laki sejak lahir.bab BAB II KONSEP GENDER DAN ISU GENDER BIDANG KESEHATAN A. sedangkan perempuan tidak. menstruasi. Lingkungan sosial mereproduksi pembedaan peran gender melalui pemisahan kepantasan untuk perempuan dan kepantasan untuk laki-laki. bahwa gender adalah konsep yang mengacu pada peran dan tanggungjawab perempuan dan laki-laki yang terjadi akibat dari dan dapat berubah oleh konstruksi/ keadaan sosial budaya masyarakat (WHO. istilah ‘jenis kelamin/ sex’ berbeda dengan gender. padahal.Perempuan dapat melahirkan.Laki-laki mempunyai tulang yang lebih masif. tetapi berbeda antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya dan dapat berubah seiring dengan perkembangan zaman.Perempuan mempunyai payudara yang berfungsi untuk menyusui. Gender mengacu pada peran. sedangkan laki-laki tidak memilikinya.

Ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender dapat terjadi dalam beberapa bentuk atau manifestasi. Dokter kandungan pantasnya laki-laki. Stereotipi : menempatkan wanita sebagai mahluk lemah. namun dari sisi sosial. yakni : 1. Contohnya antara lain: Merokok dianggap pantas untuk laki-laki. bukan juga perempuan. dan lain-lain. orang rumah. perencanaan. Pekerjaan merawat dan membesarkan anak serta pekerjaan rumah tangga lainnya merupakan tugas dan tanggung jawab ibu rumah tangga. bisa berubah-ubah dan bersifat dinamis. dan lainlain. pengalaman. 3. kantor. 6 BAB II Konsep Gender dan Isu Gender Bidang Kesehatan . tapi tidak untuk perempuan. Marginalisasi : terpinggirkan. lakilaki menjadi pemimpin. sedangkan suami mempunyai tugas mencari nafkah bagi keluarga. Perbedaan dan peran gender sebenarnya bukan suatu masalah sepanjang tidak menimbulkan ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender. - - Gender bukan semata-mata perbedaan biologis. tidak punya nilai ekonomi. dan diharapkan untuk ‘menjadi perempuan’ dan ‘menjadi lelaki’ menurut budaya masyarakatnya. menjadi sekretaris (proyek. dan lain-lain. tidak diperhatikan atau diakomodasi dalam berbagai hal. Menjadi kepala (rumah sakit. Dengan perubahan zaman. pimpinan) dianggap ranah perempuan. perempuan juga bisa jadi ilmuwan. tetapi lebih merujuk pada arti sosial bagaimana menjadi perempuan dan menjadi laki-laki. perempuan yang merokok sudah dianggap biasa. mahluk yang perlu dilindungi. Praktik ini direproduksi secara turun temurun. pendidikan. yang menyangkut kebutuhan. tidak penting. Contohnya laki-laki jadi ilmuwan. kondisi ideal tersebut belum tercipta karena masih terjadi ketidakadilan dan ketidaksetaraan atau diskriminasi gender. dan lain-lain. bukan jenis kelamin. tidak boleh mengambil keputusan dibandingkan laki-laki. laki-laki dan perempuan idealnya mempunyai peran dan tanggung jawab yang sama. bukan pengambil keputusan. bahkan pernah suatu masa dokter kandungan dilarang digeluti oleh perempuan. proyek) dianggap ranah laki-laki. Subordinasi : akibat bentuk stereotipi menempatkan perempuan pada posisi di bawah laki-laki. 2.berprilaku. Gender beragam. Namun demikian. bahkan sebagai salah satu ciri perempuan ’modern’. perempuan juga bisa jadi pemimpin. Perlu ditekankan bahwa meskipun laki-laki dan perempuan dari sisi biologis berbeda. kepedulian. Bidan pantas sebagai pekerjaan perempuan karena dianggap mengurusi bagian-bagian intim perempuan. tidak mempunyai kesempatan yang sama untuk bekerja atau berproduksi.

baik yang terjadi di ranah publik. partisipasi. atau dalam kehidupan rumah tangga. tetapi juga perlu melihat pada hubungan sosial budaya yang menyebabkan perbedaan status dan peran perempuan dan laki-laki dan relasi antara keduanya di masyarakat. aspirasi. kontrol dan manfaat dalam setiap bidang pembangunan. Untuk mempermudah para perencana mengenal isu gender. misalnya fungsi reproduktif dan peran sebagai pengelola rumah tangga. 1. berikut ini beberapa contoh isu gender dalam kaitannya dengan upaya atau pelayanan kesehatan. maka perlu meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pembuat kebijakan (policy maker) dan pelaksana kebijakan tentang konsep dan isu gender. efisien dan efektif dalam mencapai sasaran. Untuk mengurangi bentuk ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender tersebut diatas. isu kesehatan tidak boleh hanya dilihat pada masalah service delivery (penyediaan layanan) saja. program dan kegiatan yang memastikan laki-laki dan perempuan memperoleh keadilan dan kesetaraan dalam akses. dan kebutuhan laki-laki dan perempuan yang berbeda. sehingga kesenjangan tersebut harus menjadi perhatian dalam menyusun kebijakan/program sehingga kebijakan/program bisa lebih terfokus. Isu Gender dalam Bidang Kesehatan Isu Gender dalam bidang kesehatan adalah masalah kesenjangan perempuan dan laki-laki dalam hal akses. Beban Majemuk : perempuan bekerja lebih beragam daripada laki-laki. partisipasi. karena jika para pembuat dan pelaksana kebijakan masih memiliki pola pikir. Kekerasan bisa berbentuk ancaman tindakan tertentu. 5. Publikasi ilmiah menyatakan bahwa: Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 7 . Untuk itu. peran atau partisipasi. kontrol dan manfaat yang diperoleh mereka dalam pembangunan kesehatan. Kekerasan Berbasis Gender : perempuan mendapatkan serangan fisik. pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang. B. tempat kerja. termasuk bekerja di luar rumah. Isu gender terhadap prevalensi dan tingkat keparahan penyakit Perbedaan norma dan relasi gender menyebabkan perempuan dan laki-laki menderita penyakit yang berbeda dan juga tingkat keparahannya. sikap dan tingkah laku yang buta gender akan menghasilkan kebijakan netral atau bias gender karena tidak mempertimbangkan pengalaman. Oleh karena itu. seksual atau psikologis tertentu yang mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan. para pembuat dan pelaksana kebijakan perlu sensitif gender agar dapat menghasilkan kebijakan. kontrol dan manfaat antara perempuan dan laki-laki dalam upaya atau pelayanan kesehatan secara langsung menyebabkan ketidaksetaraan terhadap status kesehatan perempuan dan laki-laki. dan lebih lama waktu kerjanya.4. Kesenjangan akses.

Perempuan mempunyai akses yang lemah terhadap keuangan keluarga sehingga mengurangi kemampuannya untuk melindungi dirinya dari faktor risiko penyakit. Malnutrisi pada bayi berhubungan dengan kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan ibu. Demikian pula untuk kasus hernia pada laki-laki yang berhubungan dengan jenis pekerjaan. Penyakit dengan gangguan pada Arteri Coronaria merupakan salah satu penyebab terbesar kematian pria pada saat kerja. Osteoporosis 8 kali lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki yang berhubungan dengan faktor biologis dan gaya hidup. hipertensi dan kegemukan. Angka kematian yang tinggi pada kasus kanker perempuan pada usia dewasa. sementara remaja laki-laki mempunyai prevalensi lebih tinggi dibandingkan remaja perempuan karena mereka lebih sering bermain di sungai dan kanal. lebih banyak pada perempuan dibandingkan laki-laki. Demikian pula Schizophrenia dan kanker paru-paru yang berhubungan dengan perilaku merokok. Demikian pula Diabetes.- - - - - - - Perempuan menderita anemia akibat kekurangan Fe pada ibu hamil dan menyusui serta perempuan yang menstruasi sebagai akibat dari hegemoni laki-laki dalam rumah tangga yang mempunyai peluang lebih besar mengkonsumsi makanan kaya Fe. 3. penggunaan alat kontrasepsi dan prilaku laki-laki dalam mencari pelayanan 8 BAB II Konsep Gender dan Isu Gender Bidang Kesehatan . 2.Riset WHO yang dilakukan pada laki-laki termasuk remaja pria di seluruh dunia menunjukkan bagaimana norma-norma terhadap ketidakadilan gender mempengaruhi interaksi laki-laki dengan pasangan wanitanya dalam banyak hal. Perempuan lebih berisiko dari laki-laki terhadap defisiensi micro-nutrient yang akan berdampak buruk bagi status gizi dan kesehatannya sehingga mengurangi produktivitas dan peluang investasi di bidang pendidikan. Silicosis yang berhubungan dengan pekerja tambang (100 % laki-laki). Depresi (dua sampai tiga kali lebih banyak pada perempuan dibandingkan laki-laki pada semua fase kehidupan) yang berhubungan dengan tipe personal dan pengalaman dalam bersosialisasi dan perbedaan peluang antara perempuan dan laki-laki. Isu gender terhadap faktor risiko penyakit . . Isu gender terhadap lingkungan fisik dan penyakit Studi kasus di Zimbabwe menyatakan bahwa perempuan dewasa lebih berisiko tinggi menderita Sistosomiasis (salah satu jenis cacing darah) dibandingkan lakilaki karena perempuan bertugas mencuci pakaian dan perlengkapan dapur yang dilakukannya di sungai. Laki-laki menderita lebih banyak Sirosis Hepatis yang berhubungan dengan perilaku minuman beralkohol. termasuk pencegahan transmisi HIV/AIDS dan penyakit IMS lainnya. yang berhubungan dengan rendahnya akses terhadap teknologi dan pelayanan kesehatan dalam deteksi dini dan tindakan pengobatan.

Isu gender terhadap persepsi dan respon terhadap penyakit . Pada saat sakit. karena dalam beberapa kelompok masyarakat laki-laki lebih didahulukan sebagai pengguna utama air bersih. Streotipi maskulin menyebabkan seorang laki-laki harus berani. Demikian pula dengan angka kesakitan dan kematian akibat kecelakaan lalu lintas dan tindak kriminal. psikologis dan sosial terhadap pelayanan kesehatan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Disamping itu dalam relasi gender di sebuah keluarga.Ketimpangan peran dan relasi gender menyebabkan perempuan mempunyai akses secara fisik. Pertimbangan tubuh laki-laki sebagai standar dalam studi klinis akan membatasi jumlah studi yang difokuskan pada kesehatan reproduktif dan non-reproduktif perempuan. . 5. Jam pelayanan (waktu) di sarana pelayanan kesehatan seringkali tidak sesuai dengan kesibukan ibu rumah tangga. keputusan tentang penggunaan kontrasepsi lebih banyak ditentukan oleh suami. pengambil resiko berprilaku agnesi dan tidak menunjukkan sifat lemah berhubungan dengan angka penggunaan alkohol dan Narkoba lebih tinggi pada lakilaki di seluruh belahan dunia.Tidak masuknya target perempuan pada studi-studi klinis patologis. Terbatasnya akses terhadap air bersih pada perempuan.Pelayanan Kelurga Berencana lebih fokus pada perempuan dibanding laki-laki mengakibatkan laki-laki mempunyai akses yang terbatas terhadap pelayanan KB dan mengakibatkan laki-laki mempunyai persepsi bahwa KB adalah urusan perempuan. psikologis dan sosial terhadap sarana pelayanan kesehatan . Kalaupun berobat penyakitnya sudah dalam stadium lanjut. Juga terkait dengan pembagian peran dan tugas rumah tangga. serta pola parenting (proses bertindak sebagai orang tua). Isu gender terhadap akses secara fisik. . Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 9 . Peran perempuan dalam mengurus rumah tangga mengakibatkan apabila perempuan jatuh sakit tidak cepat mencari pengobatan karena merasa tidak nyaman melalaikan tugas dan tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga. sedangkan perempuan dan anak-anak harus membawa dan menyiapkannya tetapi mendapatkan prioritas kedua. Demikian pula pada laki-laki dewasa mencari pengobatan terhadap penyakitnya pada stadium lanjut karena peran maskulin laki-laki menyebabkan laki-laki merasa harus kuat dalam menghadapi penyakit.Perbedaan peran laki-laki dan perempuan mempengaruhi persepsi perasaan tidak nyaman serta mempengaruhi keinginan wanita untuk menyatakan dirinya sakit. yang selanjutnya berpengaruh terhadap dampak pengobatan tertentu pada perempuan.- - kesehatan. 4. mengakibatkan terapi hasil studi tersebut tidak realible diaplikasikan pada perempuan dan mungkin berbahaya pada perempuan.. perempuan tidak dengan serta merta mengakses pelayanan kesehatan karena : a.

10 BAB II Konsep Gender dan Isu Gender Bidang Kesehatan . Jika perempuan mempunyai akses terhadap pembiayaan. informasi dan teknologi memperburuk ketidakadilan gender. Isu gender terhadap keterpajanan dan kerentanan penyakit Perempuan lebih rentan dibanding laki-laki terhadap infeksi HIV/AIDS melalui hubungan heteroseksual. jarak/transportasi. Tersedianya sumber daya keuangan akan berhubungan dengan peningkatan tingkat kesehatan anak. Studi menunjukkan bahwa perempuan mempunyai risiko terinfeksi dua sampai empat kali lebih besar pada kasus ini. Perempuan dengan penyakit IMS cenderung tidak ke sarana kesehatan karena takut dengan stigma sosial yang ‘miring’ atau negatif tentang perempuan penderita Penyakit Menular Seksual.- - b. 6. Perempuan lebih banyak terpajan oleh penyakit IMS yang menyebabkan peningkatan risiko infeksi HIV/ AIDS. Terbatasnya akses terhadap biaya. maka akan berdampak signifikan terhadap kesejahteraan keluarga dan anggotanya. Dalam keadaan sakit perempuan harus mendapatkan ijin suami untuk berkunjung ke sarana pelayanan kesehatan. Banyak kasus IMS pada perempuan bersifat asimptomatik (tidak bergejala) yang mengakibatkan lambatnya diagnosis dan pengobatan.

sedangkan di bagian bawah menggambarkan alur perencanaan dan penganggaran pemerintah daerah.BAB III bab PENGANGGARAN RESPONSIF GENDER BIDANG KESEHATAN PERENCANAAN DAN A. 25 Tahun 2004 dan UU No. 17 Tahun 2003 UU KN Bagan diatas memperlihatkan sistem perencanaan dan penganggaran nasional yang berlaku di pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Di bagian atas menggambarkan alur perencanaan dan penganggaran pemerintah pusat. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional seperti tertera pada bagan 1 di bawah ini : Bagan 1. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 11 . uraian akan difokuskan pada sistem perencanaan dan penganggaran di tingkat pusat. terutama untuk lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Dalam panduan ini. Sistem Perencanaan dan Penganggaran di Indonesia Sistem perencanaan dan penganggaran nasional diatur dalam UU No. Alur Perencanaan dan Penganggaran Renstra KL Pedoman Renja KL Pedoman RKA KL Rincian APBD PEMERINTAH Pedoman Diacu Dijabarkan RPJP Nasional Diacu RPJP Daerah RPJM Nasional Diperhatikan RPJM Daerah Pedoman RKP Pedoman RAPBN APBN Diserasikan melalui MUSRENBANG RKP Daerah Pedoman Dijabarkan Pedoman RAPBD APBD PEMERINTAH DAERAH Renstra SKPD Pedoman Renja SKPD Pedoman RKA SKPD Rincian APBD UU SPPN Sumber : UU No.

Bagan 2.Siklus perencanaan dan penganggaran (baca tahun fiskal) di Indonesia menurut Pasal 4 UU No.AGUSTUS Penelaahan Konsistens Dengan RKP SE Lampiran RAPBN (Himpunan RKA-KL) Rancangan KEPRES ttg Rincian APBN SEPTEMBER . Hasil penelaahan RKA-KL tersebut selanjutnya dijadikan sebagai bahan Lampiran RAPBN pada saat presiden membacakan Nota Keuangan di hadapan rapat paripurna DPR pada bulan Agustus. Atas dasar RKP tersebut. Pengagaran dan Evaluasi Terpadu JANUARI . untuk selanjutnya ditelaah di Dirjen Anggaran Kemenkeu. SE tentang pagu sementara (Pagu Anggaran) digunakan sebagai acuan dalam menyusun RKA-KL suatu K/L. Hasil rapat kerja dengan DPR dijadikan sebagai bahan acuan penyusunan pagu sementara oleh Menteri Keuangan yang kemudian ditetapkan dengan Surat Edaran tentang Pagu Sementara (Pagu Anggaran) K/L. Diagram Proses Perencanaan. Pertemuan trilateral meeting menghasilkan Rancangan Renja KL yang merupakan perpaduan antara RKP dan Renstra KL. selanjutnya pemerintah dan DPR mengadakan rapat kerja dalam rangka Pembahasan Pembicaraan Pendahuluan Penyusunan RAPBN untuk menyepakati pokok-pokok kebijakan belanja negara.APRIL MEI . dengan mengacu pada SEB Menteri PPN/Kepala Bappenas dan Menteri Keuangan tentang Pagu Indikatif dan Rancangan Awal RKP. (i) kegiatan prioritas dan penganggarannya. Kegiatan selanjutnya adalah rapat kerja pemerintah bersama DPR untuk membahasa RAPBN menjadi APBN.DESEMBER Kementrian Perencanaan Indikasi Pagu SEB Prioritas Program dan Kementrian Keuangan Sementera (Pagu Anggaran) Pagu Penelaahan Konsistansi dengan Prioritas Anggaran Pagu Difinitif (Alokasi Anggaran) PENGESAHAN Kementrian Negara/ Lembaga Restra KL Rancangan Renja KL RKP RKA KL Konsep Dokumen Pelaksanaan Anggaran Dokumen Pelaksanaan Anggaran Sumber : PP No. Selanjutnya diadakan Rakorbangpus dalam rangka penyusunan RKP yang ditetapkan dengan Peraturan Presiden. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dimulai 1 Januari sampai 31 Desember tahun yang sama. 21 tahun 2004 Bagan di atas memperlihatkan bahwa Renja KL harus sudah dibuat selambatlambatnya di bulan April. Pada bulan 12 BAB III Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan . yang memuat tiga hal utama yaitu. (ii) kegiatan non prioritas dan pengganggarannya. Atas dasar SEB tersebut diadakan Pertemuan Tiga Pihak (Trilateral Meeting) antara BappenasKemenkeu-K/L mengenai Pembahasan Rancangan RKP dan Pagu Indikatif RAPBN untuk K/L tersebut. serta (iii) usulan kebijakan/kegiatan baru (inisiatif baru). Siklus perencanaan dan penganggaran dalam satu tahun dapat dilihat pada bagan 2 dibawah.

dan disahkan menjadi APBN maka ditetapkanlah pagu definitif (Pagu Anggaran). yang kemudian direview di Setditjen/ Setbadan/Set-Itjen di masing-masing unit utama. Hasil penelaahan tersebut disahkan menjadi DIPA (Dokumen Pelaksanaan Anggaran) Kementerian/Lembaga oleh Dirjen Perbendaharaan Kemenkeu. B. HASIL Draft awal Renja K/L Kemenkes Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 13 . • Usulan dari Unit Utama selanjutnya direview dan dikompilasi oleh Biro Perencanaan dan Anggaran. Siklus Perencanaan dan Penganggaran Kementerian Kesehatan PENANGGUNG JAWAB Biro Perencanaan dan Anggaran PERENCANAAN DAN ANGGARAN RESPONSIF GENDER Setiap unit eselon II telah melakukan perencanaan gender dengan melakukan analisis gender (metode GAP) dan telah mengidentifikasi sejumlah atau list Rincian Kegiatan yang responsif gender. Khusus untuk dana dekonsentrasi dan UPT pusat yang berada di provinsi. tetapi merupakan bagian integral dari perencanaan dan penganggaran Kementerian Kesehatan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada.September Kementerian Keuangan menyusun Rancangan Keppres tentang Rincian APBN. WAKTU JanuariApril KEGIATAN Penyusunan draft awal Renja K/L Kemenkes : • Usulan berasal dari unit eselon II. Setelah RAPBN dibahas bersama DPR. sebagaimana dijelaskan pada Sub Bab III bagian A tersebut di atas. Idealnya analisis gender dilakukan pada kegiatan prioritas. Atas dasar kedua dokumen tersebut (Perpres dan SRAA) K/L menyusun Konsep DIPA untuk selanjutnya ditelaah dengan Dirjen Perbendaharaan. Siklus perencanaan dan penganggaran responsif gender menyesuaikan dengan siklus perencanaan dan penganggaran di Kementerian Kesehatan sebagaimana diuraikan di bawah ini : Bagan 3. Mekanisme Perencanaan dan Penganggaran di Kementerian Kesehatan serta Kaitannya dengan Anggaran Responsif Gender (ARG) Perencanaan dan penganggaran responsif gender bidang kesehatan tidak berdiri sendiri. Atas dasar hasil rapat kerja tersebut ditetapkanlah Perpres Rincian Anggaran Pemerintah Pusat. Perpres tersebut dijabarkan melalui Surat Rincian Alokasi Anggaran (SRAA) yang ditetapkan oleh Dirjen Perbendaharaan.

WAKTU KEGIATAN Pembahasan rancangan awal RKP melalui Sidang Kabinet Paripurna PENANGGUNG JAWAB Bappenas HASIL SEB Pagu Indikatif dan Rancangan Awal RKP PERENCANAAN DAN ANGGARAN RESPONSIF GENDER Setelah SEB Pagu Indikatif ditetapkan dan pada saat penyusunan Renja K/L. dengan menurunnya disparitas separuh dari tahun 2009’. Setelah pagu sementara ditetapkan. namun dalam perhitungan alokasi anggaran di setiap unit eselon II. setiap unit eselon II mereview kembali analisis gender yang telah dibuat sebelumnya dan menetapkan Rincian Kegiatan (terpilih) responsif gender. Isu gender menjadi salah satu sasaran strategis Renstra 2010-2014 yakni ’menurunnya disparitas status kesehatan dan status gizi antar wilayah dan antar tingkat sosial ekonomi serta gender. Rapat kerja pemerintah Kemenkeu dan DPR tentang Pembahasan Pembicaraan Pendahuluan Penyusunan RAPBN SE Menkeu tentang pagu sementara 14 BAB III Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan . Selanjutnya menyusun ARG (TOR responsif gender dan GBS) sebagai dokumen pendukung RKA-KL beserta RAB. setiap unit eselon II melakukan review kembali analisis gender yang telah dibuat (dalam hal kesesuaian pagu indikatif dan pagu sementara). telah mempertimbangkan kebutuhan anggaran Rincian Kegiatan yang responsif gender. Pertemuan Trilateral meeting sebagai tindak lanjut dari SEB Pagu Indikatif dan Rancangan Awal RKP Bappenas Dokumen Trilateral Meeting dalam rangka Penyusunan RKP dan Renja K/L Kemenkes Pertemuan Rakorbangpus tentang finalisasi RKP dan Sidang Kabinet Rancangan Akhir RKP Bappenas Perpres tentang RKP RKP bidang kesehatan dan Renja K/L Kemenkes Meskipun dalam Perpres RKP khususnya bidang kesehatan tidak mencantumkan secara khusus indikator gender. Perlu diingat bahwa kegiatan yang responsif gender tidak hanya berada di Direktorat Kesehatan Ibu saja sebagai focal point gender.

(lihat tata cara penelaahan pada Bab V Point F) Mei – Agustus Pidato presiden tentang RAPBN Kementerian KeuanganSekretariat Negara Kementerian Keuangan Nota Keuangan tentang tentang RAPBN Perpres tentang Rincian Anggaran Pemerintah Pusat (Pagu Definitif) Konsep DIPA Rapat kerja pemerintah dan DPR untuk pembahasan RAPBN menjadi APBN Review RKA-KL Kemenkes tentang kesesuaian pagu sementara dan pagu definitif September – Desember Biro Perencanaan dan Anggaran (Kemenkes). Bagian PI/PA (Unit Utama) Penelaahan Konsep DIPA oleh DJPB Kemenkeu DJPB Kemenkeu Pengesahan DIPA Pada bulan Maret Biro Perencanaan dan Anggaran telah melakukan kompilasi draft awal Renja K/L Kementerian Kesehatan. Bagian PI/PA (Unit Utama) HASIL RKAKL Kemenkes yang disetujui oleh DJA. Renja KL ini disamping mengacu pada RKP juga disusun mengacu kepada Renstra Kementerian Kesehatan 2010-2014. Renja tersebut merupakan penyempurnaan atas draft awal Renja. Pada saat penyusunan draft awal Renja K/L tersebut. dan dijadikan sebagai dasar RAPBN PERENCANAAN DAN ANGGARAN RESPONSIF GENDER Perencana di unit eselon II mengikuti penelaahaan RKA-KL dan memberikan penjelasan yang dibutuhkan atas pertanyaan penelaah DJA tentang relevansi indikator kinerja . Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 15 .WAKTU KEGIATAN Penelaahan RKA-KL di DJA Kemenkeu PENANGGUNG JAWAB Biro Perencanaan dan Anggaran (Kemenkes). selanjutnya disusun Renja K/L Kemenkes. penanggung-jawab program disetiap unit eselon II telah melakukan analisis GAP dan mengidentifikasi sejumlah/ list Rincian Kegiatan yang responsif gender Setelah terbitnya SEB Menteri PPN/Kepala Bappenas dan Menteri Keuangan tentang Pagu Indikatif dan Rancangan Awal RKP dan telah dilaksanakannya Pertemuan Tiga Pihak (Trilateral Meeting) antara Bappenas-Kemenkeu-Kemenkes.GBS.TOR responsif gender . atas usulan dari penanggung jawab program pada masing-masing Unit Utama. yang diusulkan oleh Perencana Internal (PI/ PA) untuk selanjutnya direview dan dikompilasi oleh Biro Perencanaan dan Anggaran.

prakiraan maju yang telah ditetapkan tahun sebelumnya dan standar biaya.Pada saat penyusunan Renja K/L tersebut. penanggung-jawab program mereview kembali hasil analisis GAP dan menetapkan Rincian Kegiatan yang responsif gender. Atas dasar dokumen APBN tersebut. Pada bulan Agustus disampaikan nota keuangan RAPBN beserta lampirannya oleh presiden. dengan Rincian Kegiatan yang telah disesuaikan dengan pagu sementara. kesesuaian dengan KAK/ TOR. Artinya. maka DIPA disahkan oleh Dirjen Perbendaharaan Kemenkeu. Direktorat Jenderal Anggaran dengan meneliti : kesesuaian dengan pagu sementara. serta dukungan detil kegiatan (Rincian Kegiatan) yang responsif gender terhadap pencapaian target indikator kinerja kegiatan (lihat tata cara penelaahan pada Bab V Sub-Bab F). berdasarkan pagu indikatif yang diterima. relevansi pencantuman target kinerja dan komponen masukan (input) yang digunakan. pilihan/ prioritas Rincian Kegiatan responsif gender telah disesuaikan dengan jumlah pagu yang diterima. perencana dimasing-masing eselon II menyusun Konsep DIPA dan selanjutnya ditelaah di DJPB Kemenkeu. RAB dan atau dokumen pendukung terkait. penetapan pagu definitif serta disahkannya UU APBN. Proses selanjutnya adalah penelaahan RKA-KL dengan Kementerian Keuangan c. kesesuaian dengan hasil kesepakatan antara Kementerian Kesehatan dan komisi terkait di DPR. Selanjutnya pada periode September sampai Desember setelah dilakukan pembahasan RAPBN di DPR. selanjutnya setiap eselon II menyusun RKA-KL. Jika konsep DIPA telah sesuai dengan pagu definitif yang dimaksud dalam UU APBN. Pada proses penelaahan RKA-KL. Salah satu dokumen pendukung RKA-KL adalah TOR Responsif Gender dan Gender Budget Statement (GBS). Kedua dokumen ARG tersebut merupakan lanjutan dari hasil analisis GAP. Himpunan RKA-KL K/L termasuk Kementerian Kesehatan akan menjadi lampiran RAPBN. 16 BAB III Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan . Setelah pagu sementara ditetapkan melalui Surat Edaran Menteri Keuangan. perencana di masingmasing unit eselon II dan dibantu oleh Bagian PI/PA akan memberikan penjelasan yang dibutuhkan tentang relevansi antara TOR responsif gender dan GBS.q.

BAB IV bab (ARG) BIDANG KESEHATAN ANGGARAN RESPONSIF GENDER A. analisis gender wajib digunakan dalam perencanaan dan penganggaran. 9/2000. Dalam Permenkeu tersebut secara eksplisit dinyatakan bahwa penyusunan anggaran perlu didahului oleh analisis gender. Dalam kaitannya dengan isu kesehatan. melainkan merupakan sebuah kerangka kerja atau alat analisis untuk mewujudkan keadilan dalam penerimaan manfaat pembangunan. partisipasi. Perencanaan dan penganggaran responsif gender bukanlah sebuah proses yang terpisah dari sistem yang sudah ada atau terlebih diartikan sebagai rencana dan anggaran khusus untuk perempuan yang terpisah dari laki-laki. Tujuannya adalah mewujudkan anggaran yang lebih berkeadilan. manfaat. Pentingnya ARG Permenkeu 104/2010 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL Tahun Anggaran 2011 telah mengamanatkan penyusunan ARG. B. kontrol dan manfaat pembangunan bagi laki-laki dan perempuan yang selama ini masih senjang akibat konstruksi sosial-budaya. Bahkan sebelumnya dalam Inpres No. perencanaan dan penganggaran responsif gender akan berkontribusi terhadap peningkatan kesempatan memperoleh layanan kesehatan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat baik laki-laki maupun perempuan. Perencanaan dan penganggaran responsif gender merupakan instrumen untuk mengatasi adanya kesenjangan akses. Definisi Operasional ARG Anggaran Responsif Gender (ARG) merupakan sistem penganggaran yang mengakomodasikan keadilan bagi perempuan dan laki-laki dalam memperoleh akses. Melalui analisis gender akan diketahui perbedaan kondisi dan kebutuhan kesehatan laki-laki dan perempuan yang ada yang dijadikan sebagai Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 17 . Perencanaan dan penganggaran responsif gender bukanlah tujuan. berpartisipasi dalam mengambil keputusan dan mengontrol terhadap sumber-sumber daya serta kesetaraan terhadap kesempatan dan peluang dalam memilih dan menikmati hasil pembangunan bidang kesehatan.

Menyusun anggaran (RKA-KL) berdasarkan hasil análisis gender untuk mencapai target indikator kinerja program dan kegiatan yang adil terhadap perempuan dan laki-laki. Ketiga. dan rehabilitatif) yang setara antara perempuan dan laki-laki sehingga perempuan dan laki-laki sesuai dengan status dan kebutuhan kesehatan mereka. monitoring dan evaluasi. serta memberikan manfaat kepada perempuan dan laki-laki secara setara. Melalui anggaran responsif gender kesenjangan gender diharapkan dapat dihilangkan atau setidaknya dapat dikurangi. 2. Melakukan perencanaan kebijakan. Kedua.dasar perencanaan dan penganggaran yang responsif gender yang bertujuan untuk meningkatkan pencapaian target kinerja kegiatan (output) dan program (outcome) sebagaimana dinyatakan dalam Renstra Kementerian Kesehatan Tahun 2010 – 2014. preventif. Melakukan análisis gender untuk mengetahui peran dan relasi gender perempuan dan laki-laki yang mempengaruhi status dan kebutuhan kesehatan mereka. Berikut beberapa konsep tentang perencanaan dan penganggaran responsif gender: Pertama. Ciri utama Anggaran responsif gender adalah menjawab kebutuhan perempuan dan laki-laki. 3. manfaat. 18 BAB IV Anggaran Responsif Gender (ARG) Bidang Kesehatan . penganggaran responsif gender merupakan pengarusutamaan gender ke dalam siklus penganggaran yang terdiri atas perencanaan. proyek atau pun kegiatan yang akan dilaksanakan di masa mendatang untuk menjawab isu-isu atau permasalahan gender di masing-masing sektor. anggaran responsif gender adalah anggaran yang responsif terhadap kebutuhan laki-laki dan perempuan serta memberi manfaat kepada laki-laki dan perempuan secara setara. perencanaan responsif gender adalah perencanaan yang dilakukan dengan memasukkan perbedaan-perbedaan pengalaman. perencanaan responsif gender merupakan suatu proses pengambilan keputusan untuk menyusun program. C. partisipasi. kuratif. Tujuan ARG 1. pembahasan. Keempat. pelaksanaan. dan kontrol terhadap upaya kesehatan (promotif. Perencanaan dan penganggaran merupakan dua proses yang saling terkait dan terintegrasi. aspirasi. Penganggaran responsif gender akan menghasilkan anggaran responsif gender. kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki dalam proses penyusunannya. program dan kegiatan bidang kesehatan yang menciptakan akses.

E. Kategori ARG ini 2. khususnya dalam menurunkan kesenjangan status kesehatan antara perempuan dan laki-laki. Contoh : Program Making Pregnancy Safer (MPS). Tahapan atau kerangka pikir ARG adalah sebagaimana bagan berikut. Anggaran khusus target gender. Kerangka Pikir ARG RKA-KL Analisis Gender (Idealnya menggunakan Gender Analysis Pathway (GAP) TOR Responsif Gender Gender Budget Statement (GBS) Berdasarkan bagan 4 diatas.4. kegiatan. Anggaran kesetaraan gender Anggaran kesetaraan gender merupakan alokasi anggaran untuk mengatasi masalah kesenjangan gender. dan output) yang ada dalam RKA-KL. ARG merupakan bagian dari RKA-KL yang mensyaratkan penyusunan 2 (dua) dokumen yaitu TOR Responsif Gender dan GBS. D. Menjadi alat monev untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan program dan kegiatan kesehatan. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 19 . dan lain-lain. TOR Responsif Gender dan GBS yang benar didahului dengan Analisis Gender. Bagan 4. kontrol dan manfaat terhadap sumber daya. yang idealnya menggunakan GAP. Suatu output yang dihasilkan oleh kegiatan akan mendukung pencapaian hasil (outcome) program. Letak dan Tahapan ARG Berdasarkan PMK 104/2010 ARG melekat pada struktur anggaran (program. partisipasi. pengadaan kondom gratis bagi laki-laki. Melalui analisis gender akan diketahui adanya kesenjangan dalam relasi antara laki-laki dan perempuan dalam akses. Hanya saja muatan substansi/ materi output yang dihasilkan tersebut dilihat dari sudut pandang (perspektif) gender. Kategori ARG Anggaran responsif gender dibagi atas 3 kategori. yaitu alokasi anggaran yang diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan dasar khusus perempuan atau laki-laki. yaitu: 1.

Tidak harus semua program dan kegiatan mendapat koreksi agar menjadi responsif gender. Untuk itu. Anggaran pelembagaan kesetaraan gender. Bukan berarti bahwa alokasi ARG hanya berada dalam program khusus pemberdayaan perempuan. 6. Contoh : Penyusunan Pedoman PUG dan PPRG bidang Kesehatan. 4. suami siaga. tetapi bagaimana anggaran keseluruhan dapat memberikan manfaat yang adil untuk laki-laki dan perempuan. peran dan tanggungjawab antara laki-laki dan perempuan. untuk mengejar kekurangan/ketertinggalannya. 7. ARG bukan fokus pada penyediaan anggaran dengan jumlah tertentu untuk pengarusutamaan gender. Diklat PUGBK. Prinsip – Prinsip ARG ARG adalah instrumen untuk menjadikan keseluruhan perencanaan dan penganggaran pembangunan memberikan manfaat secara adil bagi perempuan dan laki-laki. Jumantik laki-laki dan perempuan di setiap RT. Pendekatan Penganggaran Berbasis Kinerja/PBK (Performance Based Budgeting). PMK 104 / 2010 menekankan prinsip-prinsip ARG sebagai berikut: 1. 3. penolong persalinan oleh tenaga kesehatan laki-laki untuk daerah terisolir. ARG bukan berarti ada alokasi dana 50% laki-laki – 50% perempuan untuk setiap kegiatan. ARG bukanlah anggaran yang terpisah untuk laki-laki dan perempuan. oleh PMK 104/2010. yang telah diamanahkan dalam UU 17/2003 tentang Keuangan Negara. Merupakan alokasi anggaran untuk penguatan kelembagaan PUG. agar tidak disalahpahami. Karena itu. 3. 2. 20 BAB IV Anggaran Responsif Gender (ARG) Bidang Kesehatan . 5. penyusunan profil kesehatan dengan data terpilah berdasarkan jenis kelamin. namun ada juga kegiatan yang netral gender. F. ARG telah diadopsi sebagai salah satu pendekatan baru dalam perencanaan dan pengganggaran pembangunan disamping Pendekatan Penganggaran Terpadu (Unifed Budget). ARG sebagai pola anggaran yang akan menjembatani kesenjangan status. ARG bukanlah dasar yang “valid” untuk meminta tambahan alokasi anggaran. dan Pendekatan Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah/KPJM (Medium Term Expenditure Framework). Contoh : program beasiswa dengan kuota khusus bagi perempuan/laki-laki untuk mencapai kesetaraan partisipasi dan manfaat dalam jenjang pendidikan tertentu.juga termasuk untuk alokasi program/kegiatan untuk keperluan kebutuhan strategis gender. Adanya ARG tidak berarti adanya penambahan dana yang dikhususkan untuk program perempuan.

namun demikian penerapan ARG bisa berlangsung dengan baik apabila didukung dengan prasyarat sebagai berikut: 1. Sumberdaya manusia yang memadai (perencana dan penanggungjawab program yang mampu melakukan analisis gender).G. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 21 . Kemauan politik yang tertera dalam dokumen perencanaan strategis suatu Kementerian/ Lembaga termasuk kemauan dari para perencana program di K/L untuk menerapkan ARG. 3. Prasyarat ARG Pada dasarnya setiap perencanaan dan penganggaran program diharapkan bisa menerapkan ARG. program dan kegiatan yang responsif gender. Kemampuan untuk mengembangkan dan melakukan pemantauan dan evaluasi kebijakan. 4. 2. Ketersediaan data yang terpilah menurut jenis kelamin.

.

Lakukan penyusunan Gender Budget Statement (GBS). Gender Analysis Pathway (GAP). Analisis gender juga berupaya mengungkapkan faktor resiko kesehatan dan permasalahannya yang dihadapi oleh laki-laki sehubungan dengan peran gender mereka (WHO. ekonomi dan budaya yang menyebabkannya. Lakukan Analisis Gender. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 23 . dan memberikan informasi untuk melakukan tindakan dalam rangka memperbaiki ketidakseimbangan yang timbul dari perbedaan peran gender perempuan dan laki-laki atau ketidasetaraan kekuasaan diantara keduanya. Moser Gender Analysis. 3 (tiga) Tahapan Penyusunan ARG Penyusunan ARG terdiri dari 3 tahapan: 1. dan lain-lain. Teknik Melakukan Analisis Gender dengan metode GAP Kunci dari penerapan anggaran responsif gender adalah dilakukannya analisis situasi yang memadai yang mampu memotret dan mendiagnosa kesenjangan yang mungkin ada berkaitan dengan situasi kesehatan perempuan dan laki-laki dalam berbagai aspek. hambatan yang dihadapi perempuan dalam memperoleh pelayanan kesehatan dan bagaimana caranya mengatasi permasalahan tersebut. serta konsekuensinya terhadap kehidupan mereka. seperti Problem Based Approach (Proba). Ada berbagai macam instrument analisis gender. Lakukan penyusunan Term of Reference (TOR) 3.bab BAB V BIDANG KESEHATAN TAHAPAN PENYUSUNAN ARG A. menganalisis. status kesehatan dan kesejahteraanya. B. Analisis Gender bidang kesehatan menekankan pentingnya ketidaksetaraan gender dalam hubungannya dengan rendahnya status kesehatan perempuan. dengan Gender Analysis Pathway (GAP) 2. Analisis Gender bidang kesehatan adalah proses mengidentifikasi. Analisis digunakan untuk mengidentifikasi kesenjangan situasi perempuan dan laki-laki serta faktor-faktor kebijakan dan praktik sosial. 1999).

Rumuskan kembali tujuan kebijakan/ Program/Proyek/ Kegiatan pembangunan 2. Temu kenali di isu gender di eksternal lembaga 9. Susun Rencana Aksi yang responsifgender MONITORING & EVALUASI ISU GENDER PENGUKURAN HASIL 8.Pilih Kebijakan/Program/ Kegiatan yang akan dianalisis: - Identifikasi dan tuliskan tujuan Kebijakan/Program/Kegiatan KEBIJAKAN RENCANA AKSI KEDEPAN 6. kebijakan manajerial. Alat analisis ini dapat juga digunakan pada level program dan atau kegiatan. bahkan sampai pada level output dan sub output.Kuantitatif . dan atau program dan kegiatan bidang kesehatan. Tetapkan Indikator Gender Sumber : Bappenas-CIDA. analisis situasi. Temu kenali isu gender di internal lembaga/ budaya org 5. baik kebijakan strategis. sampai monitoring dan evaluasi.Kualitatif PELAKSANAAN 7. Temu kenali isu gender di proses perenc kebij/prog/ keg 4.GAP adalah instrument yang dikembangkan oleh BAPPENAS bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan sudah banyak digunakan sebagai instrument analisis gender terhadap kegiatan pembangunan di Indonesia. Tetapkan Baseline 3. 1. Sajikan Data Pembuka Wawasan Terpilah Menurut Jenis Kelamin . Analisis gender dilakukan secara sekuensial mulai dari tahap identifikasi tujuan. Alur Kerja Analisis Gender (Gender Analysis Pathway = GAP) ANALISIS KEBIJAKAN YANG RESPONSIF GENDER 1. Karena tahapan siklus perencanaan tersebut disajikan dalam matriks yang sama. penentuan Rincian Kegiatan. Keunggulan lainnya adalah GAP mempunyai fleksibilitas yang tinggi dalam penggunaannya. maupun kebijakan operasional. Bagan 5. Aplikasi 9 Langkah dalam GAP GAP merupakan salah satu alat analisis gender yang dapat digunakan untuk mereview kebijakan. . 2007 PERENCANAAN 24 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . Analisis ini dapat digunakan pada level kebijakan. akan memudahkan perencana kesehatan untuk melihat relevansi dan konsistensi antara tahapan satu dengan tahapan lainnya sehingga membentuk sekuensial yang utuh dari kebijakan atau program dan kegiatan sehingga responsif gender.

Terdapat dua kerangka analisis dalam GAP yaitu analisis kebijakan/program/ kegiatan yang responsif gender. melalui identifikasi isu ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender dalam bidang kesehatan. Gender Analysis Pathway memiliki alur kerja 9 langkah yang dapat digambarkan dalam Bagan 6 sebagai berikut: Bagan 6. yaitu : akses. e. untuk mengatasi isu kesenjangan gender yang terjadi. partisipasi. c. meliputi penentuan tujuan dan Rincian Kegiatan atau intervensi yang akan dilaksanakan. Mengidentifikasi isu gender. Mengidentifikasi tujuan kebijakan/program dan kegiatan b. yaitu internal kesehatan dan eksternal kesehatan. yaitu : a. Menentukan desain kebijakan/program dan kegiatan sehingga responsif gender. kontrol dan manfaat Sebab kesenjangan Internal Temukenali isu gender di internal lembaga dan/ atau budaya organisasi yang dapat menyebabkan terjadinya isu gender Data Dasar (Base-line) Tetapkan base-line Indikator Gender Tetapkan indikator gender Sajikan data pembuka wawasan. d. identifikasi penyebab ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender tersebut atas dua faktor utama. dan penetapan Rincian Kegiatan kebijakan/ program/kegiatan kedepan. Langkah selanjutnya setelah proses perencanaan. yang terpilah menurut jenis kelamin : -kuantitatif –kualitatif Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 25 . Dari perspektif proses perencanaan program. Gender Analysis Pathway = GAP LANGKAH 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pilih Kebijakan/ Program/ Kegiatan yang akan dianalisis Identifikasi dan tuliskan tujuan dari Kebijakan/ Program/ Kegiatan Isu Gender Data Pembuka Wawasan Kebijakan dan Rencana Ke Depan Sebab kesenjangan External Temukenali isu gender di eksternal lembaga pada proses pelaksanaan Reformulasi Tujuan Rumuskan kembali tujuan kebijakan/ program/ kegiatan sehingga menjadi responsif gender Rincian Kegiatan/ Rencana Aksi Tetapkan Rincian Kegiatan yang responsif gender Pengukuran Hasil Faktor Kesenjangan Temukenali isu gender di proses perencanaan dengan memperhatikan 4 (empat) faktor kesenjangan. terdapat lima bagian GAP. sesuai dengan siklus manajemen program adalah pelaksanaan dan monitoring evaluasi. Menyajikan data pembuka wawasan (data yang menunjukkan situasi perempuan dan laki-laki dalam kaitannya dengan tujuan kebijakan/ program dan kegiatan). Menentukan indikator responsif gender yang akan digunakan dalam monitoring dan evaluasi kebijakan/program dan kegiatan.

Contoh : Program : Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kegiatan : Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Tujuan adalah indikator kinerja kegiatan yang terkait dengan pengendalian penyakit DBD dengan merubah menjadi kata ”kerja aktif” di depan kalimat: . b. Pilih kebijakan atau program dan kegiatan yang telah ada. Data dan informasi dapat berupa data kuantitatif maupun kualitatif. termasuk Renstra. . Data dapat berasal dari data 26 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . dan lain-lain. (lihat lampiran Renstra Kemenkes Tahun 2010-2014) LANGKAH 2.Menurunkan angka kesakitan DBD dari 55 menjadi 54 per 100. Sumber data dapat berasal dari berbagai sumber yang valid dan up to date yang berasal dari Sistem Informasi Kesehatan (berbasis fasilitas). Sajikan data pembuka wawasan yang terpilah menurut jenis kelamin untuk melihat isu kesenjangan gendernya. a. dan isu gendernya pun berbeda. atau gabungan keduanya yang terkait dengan tujuan yang ada dalam langkah 1. maka GAP dapat digunakan pada level di bawah kegiatan. maka merujuk pada dokumen Renstra Kemenkes 2010-2014 dan Renja KL. Jika program memiliki struktur kegiatan yang kompleks. dengan alasan antara penyakit menular tersebut mempunyai struktur dan permasalahan kesehatan yang spesifik. maupun hasil survei (berbasis komunitas). dapat dipilih pengendalian penyakit DBD.000 penduduk pada tahun 2011. Kebijakan yang dipilih dapat berupa peraturan perundang-undangan bidang kesehatan.LANGKAH 1. Jika yang dipilih adalah pengendalian penyakit DBD. flu burung. Tuliskan tujuan dari kebijakan/program/kegiatan pada kolom 1. (lihat lampiran Renstra Kemenkes Tahun 2010-2014). . Contohnya : Kegiatan Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang.Meningkatkan prosentase Angka Bebas Jentik (ABJ) dari 60% menjadi 70% pada tahun 2011 (lihat lampiran Renstra Kemenkes Tahun 20102014).Meningkatkan persentase kabupaten/kota yang melakukan mapping vektor dari 30 menjadi 40. hasil-hasil penelitian lainnya dan informasi dari media. atau malaria. Renja K/L dan lain-lain.

Data atau hasil survei tentang pengetahuan. Contoh : lihat kolom 3 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31). Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 27 . Contoh : lihat kolom 3 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31). .  Partisipasi : Ditujukan untuk mengetahui keterwakilan dan keterlibatan aktif perempuan dan laki-laki dalam upaya kesehatan (promotif. Akses terhadap upaya kesehatan dapat dilihat dari empat dimensi. sikap dan perilaku terpilah laki-laki dan perempuan. kuratif. Contoh untuk pengendalian DBD : . dan rehabilitatif) baik dari sisi beneficieries (penerima manfaat) maupun provider (penyedia layanan kesehatan). dan rehabilitatif). program dan kegiatan dengan menganalisis data pembuka wawasan dengan memperlihatkan empat faktor kesenjangan gender.Angka Kematian laki-laki dan perempuan. preventif.dan lain-lain ( lihat kolom 2 contoh aplikasi GAP.Angka Kesakitan dan tingkat keparahan laki-laki dan perempuan. Temu kenali isu gender pada proses perencanaan kebijakan. dan (ii) beneficiaries (masyarakat).Angka Response Time Penderita di sarana pelayanan kesehatan terpilah laki-laki dan perempuan . . (iv) keterjangkauan secara psikis dan sosiokultural. Akses juga dapat dilihat dari sisi keterjangkauan terhadap sumberdaya.  Akses : Ditujukan untuk mengetahui kesenjangan kebutuhan kesehatan perempuan dan laki-laki dalam hal kemudahan mendapatkan upaya kesehatan (promotif. (ii) keterjangkauan dari sisi geografis dan transportasi (jarak dan waktu).primer ataupun sekunder. yaitu (i) ketersediaan sarana dan atau upaya kesehatan. (iii) affordability atau keterjangkauan secara ekonomi. halaman 31) LANGKAH 3. Kesenjangan gender dapat dilihat dari dua sisi yaitu : (i) penanggungjawab atau pengelola program. Manfaat. juga menurut kelompok umur. Partisipasi. Kontrol. yaitu : Akses. preventif. baik yang dilaksanakan sendiri oleh pengelola program maupun oleh pihak lain. baik sumberdaya yang bersifat tangibles (kentara atau nyata) maupun intangibles (tidak kentara atau tidak nyata). . kuratif. juga menurut kelompok umur.

pemahaman pengelola program tentang konsep gender yang masih kurang (baik pada level pengambil keputusan maupun pelaksana kebijakan). LANGKAH 4. Kebutuhan Strategis Gender adalah kebutuhan yang didasarkan pada analisis tentang ketidakadilan gender dan faktor-faktor yang menyebabkannya. dan lain-lain. dan pemenuhannya dimaksudkan untuk mengubah ketidakadilan yang mungkin ada dalam konteks relasi laki-laki dan perempuan. Manfaat pelayanan kesehatan dari perspektif gender dapat dilihat dari sisi Practical Gender Needs (kebutuhan praktis gender) maupun Strategic Gender Need (kebutuhan stretegis gender). detiksi dini kanker prostat pada laki-laki. Temukenali faktor-faktor di internal lembaga (institusi kesehatan) dan atau budaya organisasi yang dapat menyebabkan terjadinya kesenjangan gender. kebijakan.  Kontrol : Ditujukan untuk mengetahui siapa (laki-laki atau perempuan) yang menentukan keputusan terhadap pengalokasian dan penggunaan sumberdaya yang tersedia di tingkat rumah tangga. komunitas. pemerintahan yang berhubungan dengan upaya kesehatan (promotif. Sumber penyebab kesenjangan gender secara internal dapat berbentuk : produk hukum. dan lain-lain. political will dari pengambil keputusan. Contoh : lihat kolom 4 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31) 28 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . Kebutuhan Praktis Gender adalah kebutuhan yang bersifat segera dan didasarkan pada kondisi nyata perempuan dan laki-laki tanpa mempersoalkan ada atau tidaknya faktor-faktor ketidakadilan yang mungkin ada antara keduanya. dan rehabilitatif) baik dari sisi beneficieries (penerima manfaat) maupun provider (penyedia layanan kesehatan). Contoh : lihat kolom 3 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31). desain program dan kegiatan sesuai siklus perencanaan dan siklus manajemen program. preventif. preventif. dukungan penelitian dan pengembangan kesehatan. aroma repellent nyamuk dibuat sesuai aroma maskulin untuk meningkatkan pengguna repellent pada konsumen laki-laki di daerah endemis. Contoh : lihat kolom 3 pada Contoh Aplikasi GAP (halaman 31). kuratif. dan rehabilitatif). keterwakilan wanita sebanyak 30 % dalam kepengurusan kelompok pemakai air bersih di pedesaan. Contoh : bantuan dana transportasi untuk wanita hamil risiko tinggi ke sarana pelayanan kesehatan. dan lain-lain. kuratif. Manfaat : Ditujukan untuk mengetahui apakah laki-laki dan perempuan diuntungkan dalam upaya kesehatan (promotif. Contoh : Suami siaga dalam program Perencanaan Persalinan dan Penanganan Komplikasi (P4K).

bahkan isu internasional. dan pasar. Sumber penyebab kesenjangan gender secara eksternal (di luar lembaga/institusi kesehatan) yang dapat terjadi pada level rumah tangga. maupun sumberdaya yang ada pada masyarakat (beneficiaries). Sebagaimana proses perencanaan lainnya. subordinasi. Contoh: lihat kolom 6 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31) LANGKAH 7. sarana dan prasarana pendukung. Ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender dapat disebabkan oleh budaya patriarki. dukungan kebijakan dan waktu yang tersedia. Reformulasi sub-tujuan yang baru menjawab kesenjangan yang diidentifikasi pada Langkah 2 sampai 5. Merumuskan kembali tujuan kebijakan/program/kegiatan pelayanan kesehatan pada langkah 1 sehingga responsif gender. kekerasan terhadap perempuan) yang terjadi di rumah tangga. pagu sementara. Rincian kegiatan merupakan solusi atau pemenuhan terhadap isu Practical Gender Needs dan Strategic Gender Needs dan atau solusi atas isu kesejangan empat faktor yaitu Akses. diskriminasi gender (stereotipi. beban ganda. Rincian kegiatan merupakan rincian kegiatan bidang kesehatan yang dilakukan untuk mencapai sub-tujuan yang telah responsif gender sebagaimana ditulis pada langkah 6. baik sumberdaya pada penanggungjawab/pengelola program. Kontrol untuk mencapai sub-tujuan baru pada langkah 6. Reformulasi sub-tujuan harus mendukung tercapainya tujuan semula pada langkah 1. Pada saat menyusun sub-tujuan sebaiknya mempertimbangkan feasibility objectives dengan mempertimbangkan ketersediaan sumberdaya yang ada seperti ketersediaan anggaran. pagu definitif). SDM. Hasil review digunakan untuk mereformulasi sub-tujuan baru yang telah responsif gender. Menyusun rincian kegiatan yang responsif gender.LANGKAH 5. lalu direview kembali dengan melihat hasil analisis pada langkah 2 sampai 5. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 29 . komunitas. Contoh : lihat kolom 5 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31) LANGKAH 6. Manfaat. rincian kegiatan yang disusun tetap mempertimbangkan ketersediaan sumberdaya yang ada. komunitas. pemerintahan dan pasar. Contoh : lihat kolom 7 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31) Catatan: Rincian kegiatan yang diusulkan disesuaikan dengan pagu anggaran yang diterima (pagu indikatif. Temukenali faktor-faktor di eksternal lembaga dan atau budaya organisasi yang dapat menyebabkan terjadinya kesenjangan gender. Pada langkah ini tujuan pada langkah 1 pada ditulis ulang. peran dan relasi gender. pemerintahan (diluar sektor kesehatan). marginalisasi. Partisipasi.

Menetapkan baseline indikator responsif gender. Menetapkan indikator responsif gender untuk mengukur keberhasilan pencapaian sub tujuan baru pada langkah 6 (disebut ”indikator sub-tujuan”) dan rincian kegiatan pada langkah 7 (disebut ”indikator rincian kegiatan”). Contoh : lihat kolom 8 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31) LANGKAH 9. Baseline indikator ditujukan untuk mengetahui kemajuan intervensi kegiatan yang dilakukan dalam rangka mendukung pencapaian tujuan yang responsif gender (langkah 6). Indikator 9 berbeda dengan indikator pada langkah 1. Penyusunan indikator harus mengikuti kriteria penyusunan indikator yang baik (SMART) Contoh : lihat kolom 9 Contoh Aplikasi GAP (halaman31) 30 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . cantumkan rincian kegiatan untuk pengumpulan data (lihat kembali langkah 7). Baseline digunakan sebagai titik awal capaian kinerja. Baseline indikator dapat saja berasal dari data pembuka wawasan yang tercantum pada langkah 2. Catatan: jika muncul indikator baseline baru. Sub-tujuan baru pada langkah 6 diubah menjadi pernyataan indikator sub-tujuan.LANGKAH 8.

28% P 1.000 penduduk pada tahun 2011.13%. jauh diatas laki-laki yang hanya 39.Readaptasi survey COMBi untuk lebih menangkap pengetahuan.97% P Kesehatan 2010-2014) 6.7%.66%. Sedangkan lakilaki segala usia lebih rentan terhadap insidens DBD daripada perempuan. 5% angka kematian (DSS) pada perempuan tidak dianalisa dengan menggunakan perspektif gender terutama untuk melihat perbedaan biologis dan sosial untuk kerentanan antara perempuan.2. Contoh Aplikasi GAP Bagan 7. laki-laki. Angka eselon1): Penderita DBD pada Laki-laki (L) lebih tinggi Pengendalian Penyakit (51.48%.79%) dibanding Menurunnya 5% angka .87%% jatuh ke fase DSS.16% P 10.Angka Penderita DBD pada Laki-laki (L) lebih tinggi (51.DBD: umur < 1 tahun: (diambil dari Renstra L 2. umur 5-9 tahun: Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan L 11.21%). Contoh Aplikasi GAP Pada Program Bidang Kesehatan Program Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL Angka kesakitan (Catatan: uraian ttg faktor eskternal bisa bersifat anekdotal selama konsisten dengan data pembuka wawasan). termasuk pilihan metode KIE yang efektif untuk BASELINE DATA Angka Kesakitan DBD terpilah jenis kelamin dan umur INDIKATOR Indikator sub tujuan yang responsif gender: Program . umur Kementerian 1-4 tahun :L 7. SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL RINCIAN KEGIATAN/ RENCANA AKSI . . umur 10- 31 . anak Pada perempuan 60. dan Penyehatan Perempuan (P) (48. Menurunkan angka kesakitan DBD dari 55 menjadi 54 per 100. Menurunkan Peran perempuan perempuan dan Akses: anak laki-laki.79%) dibanding Menurunnya 1% insiden angka kematian (DSS) pada perempuan usia sekolah dan dewasa. Lingkungan.Data dari subdit (unit organisasi Arbovirus 2010. sikap dan perilaku lakilaki dalam pengendalian DBD.

6%. kolom program/ kegiatan. (P) (48.13% P 60. prosedur mereka pengetahuan kematian DBD dengan fokus pada perempuan (termasuk mengukur response time) asumsi kerentanan membuat Meningkatkan .000 penduduk umur 10-14 th: L sero P pada tahun 2011. Baseline: Kematian (DSS): L 39. Apalagi jika perempuan diharuskan dirawat inap. BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan kegiatan: Kementerian ini juga terpilah jenis Kesehatan 2010- kelamin). Bekasi) th 70% pada tahun 2009 ttg pengetahuan 2011 masyarakat . .87% sama. (diambil dari Renstra (bila ada.Audit . umur 55 menjadi 54 per 5-9 th: L 10% P 20%.21%). 2014.13% P 60.Pengembangan iklan layanan masyarakat untuk perempuan . Kegiatan: 14 tahun: L 9. Response program sebagai usia sekolah dan laki-laki dan Perempuan DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL kesakitan DBD pada laki-laki. umur>15 tahun: Bersumber Binatang.Survey COMBi ttg perilaku DBD pengobatan. Mataram. umur kesakitan DBD dari 1-4th: L 30% P 0%. Depok.32 LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER Laki-laki lebih sedikit terpapar pada media informasi (KIE) ttg DBD dibanding perempuan.45% P Pengendalian Penyakit 8. sehingga berakibat angka kesakitan DBD pada lakilaki lebih tinggi. Lampiran 14) .Angka kesakitan DSS terpilah jenis kelamin dan umur gender. Ini terbukti dari COMBi ( yang menunjukkan data laki-laki yang pernah melihat iklan DBD hanya 1/3 dari perempuan. bersifat netral caregivers dewasa.13% P 20. 100. • Teridentifikasinya sebab khusus kematian DBD pada perempuan. maka harus ada yang bisa menggantikan Laki-laki lebih sedikit terpapar pada media mereka dulu untuk mengurus keluarga sebelum Meningkatkan prosentase Angka Bebas Jentik (ABJ) dari 60% menjadi . sama dan akses lebih banyak pengendalian penanganan baku/ menghabiskan laki-laki dalam sama.61%. • Teridentifikasinya faktor penyebab laki-laki tidak tertarik dari 60% menjadi Bogor. sebaiknya data Meningkatnya pengetahuan laki-laki dalam pengendalian DBD. mencari sering terlambat rumah dan Meningkatkan persentase kabupaten/kota yang melakukan mapping vektor dari 30 menjadi 40.87% Tujuan: Indikator rincian  Menurunkan angka umur < 1 th: sero. perempuan. 10%. umur >15th: L sero P 30%. dengan dalam keluarga.Revisi SOP DBD/DSS khusus untuk perempuan. waktu di dalam DBD.  Meningkatkan prosentase Angka Survey Combi di 5 kota Bebas Jentik (ABJ) endemis (Batam.Kematian (DSS): L 39. L21.

dan Kota Jogjakarta adalah ibu2. sistem kapiler perempuan memang lebih rentan untuk permeabilitas sel. sehingga sulit yang lanjut. sekolah maupun institusi.  Meningkatkan ttg pengendalian DBD: L persentase 22% P 78% kabupaten/kota yang melakukan mapping Pada pesan media vektor dari 30 elektronik cenderung bias • Meningkatnya response time perempuan dalam mencari pengobatan DBD. (penting sekali data ttg hari ke berapa laki-laki dan perempuan baru mengakses layanan kesehatan). . .Lomba jumantik teladan laki-laki dan perempuan baik di tatanan rumah tangga.Pencanangan Gerakan Bebas Jentik dengan Duta Nasional Jumantik Laki-laki dan Perempuan. Diseminasi informasi media eletronik disukai masyarakat tetapi biayanya besar namun informasi yang ada belum memperhatikan Selain itu secara bilogis. Ini terbukti dari COMBi ( yang menunjukkan data laki-laki yang pernah melihat iklan DBD hanya 1/3 dari perempuan penanganan secara medisnya. Hal 70% pada tahun supaya segera terpilah DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL upaya promotif pengendalian DBD. . sehingga berakibat angka kesakitan DBD pada lakilaki lebih tinggi. menjadi 40.LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER informasi (KIE) ttg DBD dibanding perempuan. Kota Mojokerto. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan bila ada tambahkan data ttg jam tayang iklan 33 .Laki-laki mendengar ttg DBD = 22% (Data P2B2 th 2009) pergi mencari terlibat aktif Baseline: sering menunda supaya lebih perempuan untuk laki-laki ini menyebabkan 2011 berobat dan umur dan jenis kelamin. Cimahi • Meningkatnya jumlah keterlibatan laki-laki sebagai jumantik. gender. fase penyakit sudah dengan mereka datang seringkali saat sehingga pengobatan dalam pengendalian DBD. mau dirawat. karena model iklan lebih banyak (diambil dari Renstra perempuan (misal 3M) dan Kementerian repellen nyamuk beraroma Kesehatan 2010-2014) bunga 100% kader jumantik di DKI Jakarta.

Kota Bogor. dan Kota Bekasi Tahun 2009) --> adakah data ttg siapa (laki-laki atau perempuan) yang sebetulnya melakukan 3M di rumah tangga. antara laki-laki Kontrol: dan perempuan maka Walaupun angka kesakitan laki-laki lebih tinggi tapi angka kesakitan yang masuk menjadi DSS lebih rendah – perlu diteliti lebih lanjut apakah ini karena aki-laki punya kontrol lebih besar pada akses layanan kesehatan l ataukah karena memang secara imunologi laki-laki seperti tempat penyimpanan air untuk mandi.34 LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER kebutuhan lelaki (Catatan: dalam memilih rencana aksi pertimbangkan priority setting K/L. minum dan cuci. siapa di lingkungan. . feasibility. Mataram. sedangkan laki-laki lebih bertanggung jawab untuk wadah penampungan dalam rumah tangga / di dengan rumah yang terkait kontainer air jawab terhadap bertanggung perempuan lebih peran gender Bila dilihat dari DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL atau lokasi pemasangan poster untuk melihat akses dan manfaat atas informasi kesehatan bagi BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan perempuan/laki-laki Pengetahuan Masyarakat tentang Pengendalian DBD pada L (22%) < Perempuan (78%)(Survei Market Analysisis COMBi di 5 kota: Batam. Kota Depok.) dan perempuan. ketersediaan sumberdaya dan dukungan politis yang diperlukan.

tanki air ataupun rumah seperti air yang disekitar DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL . penyuluhan langsung Petugas penyuluh demam berdarah lebih banyak perempuan.untuk melihat akses ke layanan kesehatan antara laki-laki dan perempuan dan kontrol Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan atas sumber daya antara laki-laki dan perempuan 35 . rumah tangga untuk kebutuhan tampung air pada wadah 3M lebih fokus Selama ini iklan oleh kader: 12 %.--apakah bisa terpilah antara laki-laki dan perempuan Adakah data % perempuan dan % laki-laki yang dirawat di RS dengan dana out of pocket atau Jamkesmas? . media cetak: 7%.Sumber informasi DBD yg diinginkan oleh masyarakat : penyuluhan langsung oleh nakes: 57%.LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER lebih baik daripada perempuan terhadap DBD. TV: 24 %. pembuangan Partisipasi: sampah “besar”. Kurangnya petugas jumantik laki-laki untuk melakukan pemeriksaan dan penyuluhan tentang PSN dan Penanggulangan DBD disebabkan Laki-laki menyerahkan urusan pemberantasan jentik demam Laki-laki tidak maksimal dalam memanfaatkan dan belum terlalu mengena untuk peran gender laki-laki untuk pengendalian DBD.

dilakukan di studi yang Dalam sebuah pada laki-laki. DBD lebih tinggi Waktu penyuluhan DBD dilakukan pada pagi hari sehingga hanya perempuan yang memiliki waktu untuk mengikuti penyuluhan karena BapakBapak banyak di luar rumah untuk bekerja.. upaya promotif DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . sehingga insidens kesehatan. serius karena tidak ada vaksin infeksi dengan menganggap perempuan PortoRico.36 LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER berdarah di rumah untuk dilakukan oleh perempuan. .

maka dapat disimpulkan laki-laki kurang menggunakan upaya promotif yang dilakukan dalam pengendalian demam berdarah.LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER Manfaat: DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL Hanya 22% Lakilaki di bandingkan 78% perempuan memiliki pengetahuan tentang DBD. gigitan nyamuk meremehkan banyak orang memilih karena laki-laki lebih sedangkan emosi nya. ekonomi dan dan dampak tingginya insiden Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 37 .

manfaat. GAP langkah 7 (rincian kegiatan) dimasukkan sebagai proses pelaksanaan dalam TOR dengan identifikasi kelompok sasaran serta menjelaskan keterwakilan dan keterlibatan aktif laki-laki dan perempuan. Who. Teknik menyusun TOR Rensponsif Gender Kerangka acuan kerja atau Term of Reference yang selanjutnya disebut KAK/ TOR adalah dokumen yang menginformasikan gambaran umun dan penjelasan mengenai keluaran kegiatan yang akan dicapai sesuai dengan tugas dan fungsi Kementerian Negara/lembaga yang memuat latar belakang. Untuk lebih jelasnya. When. Kontrol. strategi pencapaian. penerima. GAP langkah 6 dan langkah 9 dapat dimasukkan sebagai tujuan dalam TOR. Dalam TOR harus jelas 5W (Why. Manfaat.C. 38 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . What. TOR responsif gender adalah TOR yang memasukkan data (GAP langkah 2 dan langkah 8) dan analisis AKMP (Akses. dan Partisipasi) yang dilakukan di GAP langkah 3-5 sebagai latar belakang. maka berikut ini disampaikan format TOR Responsif gender lengkap sebagai berikut. dan biaya yang diperlukan. Where + 2 H (How to do dan How much).

... (12) C.. Tahapan dan Waktu Pelaksanaan .............................................................. Dasar Hukum Tugas Fungsi/ Kebijakan ............... : ............................................................................................. : ................................................................ : ............................. Unit Eselon I Program Hasil Unit Eselon II/ Satker Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan : .............. : ....................................... 10) 2.......................................... Gambaran Umum .......................................................................................................................................................................................... (15) E............ (11) B............................ Waktu Pencapaian Indikator Kinerja Kegiatan ............................................................................................................. Rencana Anggaran Biaya (RAB) ....... . (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Satuan ukur dan Jenis Keluaran : .............................. (13) 2........................................................1....................... Format TOR KAK/ TOR PER KELUARAN/OUTPUT KEGIATAN Kementerian Negara/ Lembaga : ......................................................................... (14) D..... (18) Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 39 ................. Strategi Pencapaian Indikator Kinerja Kegiatan 1.................................. (16) Penanggung Jawab (17) NIP............................... : ...................... A..................... Tujuan dan Penerima Manfaat ............................................... Volume : ........................................................................ Metode Pelaksanaan.................................................................................................................................................................................. Latar Belakang 1........

. Diisi dengan dasar hukum tugas fungsi dan/ atau ketentuan yang terkait langsung dengan kegiatan yang akan dilaksanakan. (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Diisi nama unit eselon I. baik laki-laki dan perempuan dengan didukung data terpilah dan mengidentifikasi isu kesenjangan gendernya yang menyebabkan outcome/output program dan target indikator kinerja kegiatan belum tercapai. Pada bagian ini menjelaskan What dan Why. Diisi nama kegiatan sesuai hasil restrukturisasi kegiatan Diisi uraian indikator kinerja kegiatan Diisi nama satuan ukur dan jenis keluaran kegiatan Diisi jumlah volume keluaran kegiatan.. Penerima manfaat merujuk kepada pencapaian target indikator kinerja kegiatan terpilah menurut kelompok laki-laki dan perempuan. Gambaran Umum : Diisi dengan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan serta penjelasan target indicator kinerja kegiatan yang akan dicapai. Diisi dengan cara pelaksanaanya berupa kontraktual atau swakelola. Penjelasan juga meliputi cara pelaksanaan Rincian Kegiatan apakah berupa kontraktual atau swakelola. yang mengeksplorasi mengapa (why) hal tersebut bisa terjadi... Diisi dengan uraian tentang proses pelaksanaan Rincian Kegiatan. Diisi dengan tujuan dan penerima manfaat baik internal dan atau eksternal K/L. dengan membedakan sasaran perempuan dan laki-laki. yang bersifat sekuensial.. apakah telah menjelaskan tentang permasalahan yang dihadapi oleh kelompok sasaran. Volume yang dihasilkan bersifat kuantitatif yang terukur Contoh : 5 peraturan . (10) (11). 40 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . 12.. dengan tujuan memberikan gambaran bahwa detil Rincian Kegiatan dan urut-urutan pelaksanaannya telah responsif gender. Selanjutnya menjelaskan tentang langkah apa (what) yang akan dilakukan untuk mengatasi kesenjangan gender tersebut. dengan target sasaran perempuan dan laki-laki (masih menggunakan data hasil analisis gender). 13.Penjelasan point per point : NO. 200 orang peserta. baik laki-laki maupun perempuan (pertanyaan Who tapi pada level indikator).. Tujuan memberikan informasi tentang manfaat yang akan diterima kelompok sasaran. 33 laporan . URAIAN Diisi nama kementerian negara/ lembaga Disi nama program sesuai hasil restrukturisasi program Diisi dengan outcome yang akan dicapai dalam program Diisi nama unit eselon II. Kesenjangan gender diperoleh dari hasil analisis gender.

atau komponen input sejenis. Diisi dengan NIP penanggung jawab kegiatan. Kegiatan dan Output. peningkatan kapasitas SDM. Diisi dengan nama penanggung jawab kegiatan (eselon II/ kepala satker vertikal).Bagian ini menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan Rincian Kegiatan yang mendukung langsung perbaikan ke arah kesetaraan gender. Output kegiatan dapat berupa : 1. When (menjelaskan mengapa waktu dan lama pelaksanaan detil Rincian kegiatan dipilih dengan memperhatikan akses dan partisipasi perempuan dan laki-laki ). Daftar output kegiatan dapat dilihat pada formulir 3 RKA-KL yang telah ditetapkan oleh penanggung jawab kegiatan/Eselon II di masing-masing unit utama dalam penyusunan RKA-KL setiap tahunnya. yang dapat berisikan Komponen Input Laporan Kegiatan. Oleh karenanya setiap TOR/ KAK dibuat per keluaran/ output kegiatan. 16. baik laki-laki maupun perempuan : Who (menjelaskan mengapa perempuan dan laki-laki dipilih dalam pelaksanaan detil Rincian Kegiatan). Dalam rangka penerapan pendekatan Penganggaran Berbasis Kinerja (PBK) yang mulai diterapkan pada tahun anggaran 2011. Where (menjelaskan mengapa tempat pelaksanaan detil Rincian Kegiatan dipilih dengan memperhatikan akses dan partisipasi perempuan dan lakilaki). Laporan Kegiatan dan Pembinaan. atau dokumen lain sejenis. Catatan: Pengisian Nomor 1 sampai 7 menggunakan dokumen Renstra Kementerian Kesehatan tahun 2010-2014 yakni pada Lampiran tentang Matriks Kinerja Kementerian Kesehatan. Keluaran/output kegiatan adalah barang/ jasa yang dihasilkan dari pelaksanaan sebuah kegiatan untuk mendukung pencapaian outcome program. 15. 17. Dokumen Perencanaan dan pengelolaan anggaran. Output merupakan produk utama/ akhir yang bersifat spesifik yang dihasilkan oleh suatu kegiatan sebagaimana fungsi Unit Eselon II/ Satker yang bersangkutan. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 41 . seluruh komponen input yang digunakan ditetapkan oleh penanggung jawab kegiatan dan penekanan kesesuaian/ relevansi masing-masing komponen input serta biayanya dalam rangka pencapaian output kegiatan. Diisi dengan kurun waktu pencapaian pelaksanaan Diisi dengan lampiran RAB yang merupakan rincian alokasi dana yang diperlukan dalam pencapaian Indikator Kinerja Kegiatan. Setiap output harus dapat diidentifikasi jenis dan satuannya dengan jelas. How To Do (menjelaskan mengapa bentuk pelaksanaan Rincian Kegiatan sesuai dengan kebutuhan beneficieries). seperti : Sosialisasi/ desiminasi. Jadi harus dapat menjelaskan upaya perbaikan permasalahan yang dihadapi oleh kelompok sasaran. maka struktur pengalokasian anggaran dirinci menurut Program. 2. Diisi dengan tahapan/komponen masukan yang digunakan dalam pencapaian Indikator Kinerja kegiatan. yang berisikan Komponen Input seperti : Rencana Kerja Tahunan. termasuk jadwal waktu (time table) pelaksanaan dan keterangan lainnya yang dibutuhkan. dimana penekanan/ fokus berada pada output. 18. 14.

000 penduduk pada tahun 2011 untuk Nasional .3.Meningkatnya persentase Angka Bebas Jentik ( ABJ) dari 60% menjadi 70% pada tahun 2011. yang berisikan Komponen Input : gaji dan Tunjangan. Kendaraan 6. Dari keenam Rencana Aksi tersebut. 4. terdapat 6 Rencana Aksi. Kementerian Negara/Lembaga : Kementerian Kesehatan Unit Organisasi (eselon 1) : Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Program : Program Pengendalian Penyakit Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Hasil atau Outcome : Meningkatnya pencegahan dan penanggulangan penyakit bersumber binatang UNIT Eselon II/Satker : Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Kegiatan : Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Indikator Kinerja Kegiatan . 2. 2 diantaranya mempunyai Output Laporan untuk pengendalian DBD yakni Readaptasi Survey COMBi dan Audit Kematian DBD.Menurunnya angka kesakitan DBD dari 55 menjadi (diambil dari Renstra 2010-2014) 54 per 100. Alat pengolah data/ komputer 5. . Layanan Perkantoran. Dan lain-lain.Meningkatkan persentase kabupaten/kota yang melakukan mapping vektor dari 30 menjadi 40 Output : Laporan Pengendalian Penderita DBD Satuan Ukur dan Jenis Keluaran : Laporan Volume : 2 laporan (Readaptasi Survey Combi dan Audit Kematian DBD/DSS) 42 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . operasional perkantoran dan pemeliharaan. . CONTOH APLIKASI TOR RESPONSIF GENDER TOR/KAK per Output Kegiatan Output Kegiatan : Laporan Pengendalian DBD Catatan: Dalam kolom 7 GAP (Rencana Aksi) sebelumnya/diatas. Dalam contoh aplikasi TOR Responsif Gender berikut ini akan ditampilkan contoh TOR Responsif Gender dengan Output Laporan Pengendalian DBD.

Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 31-VI Tahun 1994 tentang Pembentukan Kelompok Kerja Operasional Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue ( POKJANAL DBD). d. Angka DSS pada perempuan lebih tinggi. Norma patriarki yang menempatkan perempuan - Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 43 .21%). sebagai akibat dari perilaku perempuan yang terlambat dalam mencari pengobatan.a. Undang Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular.79%) dibanding Perempuan (P) (48.KEPMENKES Nomor 581/MENKES/SK/VII/1992 tentang Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue. Peraturan Menteri Dalam negeri Nomor 15/2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanan Pengarusutamaan Gender (PUG) di daerah dimana pada Pasal 4 ayat 2. c.87% Perempuan dewasa lebih rentan terhadap kematian (DSS). Gambaran Umum Data dari subdit Arbovirus 2010. h. Peraturan Pemerintah Nomor 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit Menular.104/PMK. PP&PA/5/2010-No. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 560 Tahun 1989 tentang Jenis Penyakit Tertentu Yang Dapat Menimbulkan Wabah.13% P 60. Penyusunan Kebijakan Program. f. g. Angka Penderita DBD pada Laki-laki (L) lebih tinggi (51. dan pasal 10 Pokja PUG Provinsi mempunyai tugas menetapkan TIM teknis untuk melakukan analisis terhadap anggaran daerah. i. Tata Cara Penyampaian Laporannya dan Tata Cara Penanggulangannya. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1457 tahun 2003 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota Dalam Pencegahan dan Pemberantasan DBD. 2. Kesepakatan bersama antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak dengan Menteri Kesehatan tentang pelaksanaan tentang pengarus utamaan gender di Bidang Kesehatan No. Laki-laki segala usia lebih rentan terkena DBD. Latar Belakang 1. Tim Pembina LKMD Tingkat Pusat. Peraturan Menteri Keuangan No. Menarik untuk dilihat lebih lanjut apakah diperlukan penanganan darurat khusus untuk perempuan yang terinfeksi Dengue. Dasar Hukum Tugas Fungsi/ Kebijakan a. Kematian (DSS): L 39.02/2010 tentang petunjuk penyusunan dan penelahaan RAKL Tahun 2011. dan Kegiatan Pembangunan berperspektif gender sebagaimana dimaksud ayat 1 dilakukan analisis gender. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal.593/MENKES/SKB/V/2010. e. b. 07/MEN.

cemas tidak ada yang menggantikan dia kalau di-rumah sakit kan sehingga membuat mereka terlambat datang ke sarana kesehatan. Ini terbukti dari COMBi ( yang menunjukkan data laki-laki yang pernah melihat iklan DBD hanya 1/3 dari perempuan. Waktu penyuluhan DBD dilakukan pada pagi hari sehingga hanya perempuan yang memiliki waktu untuk mengikuti penyuluhan karena Bapak-Bapak banyak di luar rumah untuk bekerja. Survey Combi di 5 kota endemis (Batam.sebagai caregivers dalam keluarga membuat perempuan terlambat mencari pengobatan karena harus mengurus keluarga terlebih dulu. Kurangnya petugas jumantik laki-laki untuk melakukan pemeriksaan dan penyuluhan tentang PSN dan Penanggulangan DBD disebabkan Laki-laki menyerahkan urusan pemberantasan jentik demam berdarah di rumah untuk dilakukan oleh perempuan. karena model iklan lebih banyak perempuan (misal 3M) dan repellen nyamuk beraroma bunga. Mataram. Kontrol: Walaupun angka kesakitan laki-laki lebih tinggi tapi angka kesakitan yang masuk menjadi DSS lebih rendah – perlu diteliti lebih lanjut apakah ini karena laki-laki punya kontrol lebih besar pada akses layanan kesehatan ataukah karena memang secara imunologi laki-laki lebih baik daripada perempuan terhadap DBD. maka dapat disimpulkan laki-laki kurang menggunakan upaya promotif yang dilakukan dalam pengendalian demam berdarah. sehingga berakibat angka kesakitan DBD pada laki-laki lebih tinggi. Depok. Bogor. Bekasi) th 2009 ttg pengetahuan masyarakat ttg pengendalian DBD: L 22% P 78% Pada pesan media elektronik cenderung bias gender. Akses: Laki-laki lebih sedikit terpapar pada media informasi (KIE) ttg DBD dibanding perempuan. Kota Mojokerto. Partisipasi: Petugas penyuluh demam berdarah lebih banyak perempuan. Cimahi dan Kota Jogjakarta adalah ibu2. Angka kesakitan tidak dianalisa dengan menggunakan perspektif gender terutama untuk melihat perbedaan biologis dan sosial untuk kerentanan 44 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . 100% kader jumantik di DKI Jakarta. Manfaat: Hanya 22% Laki-laki di bandingkan 78% perempuan memiliki pengetahuan tentang DBD.

terutama melalui kegiatan PSN oleh masyarakat perlu ditingkatkan. tingginya insidens dan dampak ekonomi dan emosi nya. Apalagi jika perempuan diharuskan dirawat inap. laki-laki. Response program bersifat netral gender. Laki-laki tidak maksimal dalam memanfaatkan upaya promotif kesehatan. anak perempuan dan anak laki-laki. sistem kapiler perempuan memang lebih rentan untuk permeabilitas sel. sedangkan laki-laki lebih bertanggung jawab untuk wadah penampungan air yang disekitar rumah seperti tanki air ataupun pembuangan sampah “besar”. Response program bersifat netral gender. COMBi menunjukkan laki-laki tidak memiliki pengetahuan memadai sehingga angka insidens pada laki-laki lebih tinggi dan jumantik laki-laki Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 45 . sedangkan laki-laki lebih memilih karena banyak orang meremehkan gigitan nyamuk Oleh sebab itu upaya pengendalian DBD yang memang difokuskan pada pemberantasan nyamuk Aedes aegypti sebagai penular DBD. Peran perempuan sebagai caregivers dalam keluarga. dengan asumsi kerentanan sama. Dalam sebuah studi yang dilakukan di Puerto Rico. Perlu dicarikan strategi untuk meningkatkan partisipasi laki-laki dalam pengendalian DBD. Selain itu secara bilogis. dengan asumsi kerentanan sama. prosedur penanganan baku/sama dan akses sama. minum dan cuci. Angka kesakitan tidak dianalisa dengan menggunakan perspektif gender terutama untuk melihat perbedaan biologis dan sosial untuk kerentanan antara perempuan. maka harus ada yang bisa menggantikan mereka dulu untuk mengurus keluarga sebelum mau dirawat. sehingga insidens DBD lebih tinggi pada laki-laki. Selama ini iklan 3M lebih fokus pada wadah tampung air untuk kebutuhan rumah tangga dan belum terlalu mengena untuk peran gender laki-laki untuk pengendalian DBD. Bila dilihat dari peran gender antara laki-laki dan perempuan maka perempuan lebih bertanggung jawab terhadap kontainer air yang terkait dengan rumah tangga / di dalam rumah seperti tempat penyimpanan air untuk mandi. perempuan menganggap infeksi dengue serius karena tidak ada vaksin. Hal ini menyebabkan perempuan sering menunda pergi mencari pengobatan sehingga seringkali saat mereka datang sudah dengan fase penyakit yang lanjut. anak perempuan dan anak laki-laki.antara perempuan. prosedur penanganan baku/sama dan akses sama. sehingga sulit penanganan secara medisnya. membuat mereka menghabiskan lebih banyak waktu di dalam rumah dan sering terlambat mencari pengobatan. laki-laki.

ataupun karena perbedaan peran gender sehingga mempengaruhi perilaku pasien dalam mencari pengobatan. dimana pengendalian penyakit ini bertujuan untuk : Menurunkan 5% angka kematian (DSS) pada perempuan usia sekolah dan dewasa. maka akan disusun laporan pelaksanaan yang terdiri dari . Dalam pelaksanaan kegiatan penanggulangan penderita DBD tersebut. Target sasaran kegiatan: provinsi endemis. Metode Pelaksanaan : Dilaksanakan melalui metode swakelola 2.Laporan Audit Kematian DBD b. Tujuan dan Penerima Manfaat Dengan ouput laporan ini akan melaporkan hasil pengendalian penderita DBD.sangatlah minim. bayi perempuan <1 tahun. Meningkatkan pengetahuan laki-laki dalam pengendalian DBD. c. Sedangkan untuk merespon tinggi nya angka kematian akibat DBD/DSS pada perempuan usia sekolah dan dewasa maka sarana kesehatan harus mulai melakukan audit kematian untuk mengidentifikasi apakah penyebab dari kematian karena faktor biologis. Strategi Pencapaian Keluaran 1.Laporan Readaptasi Survey COMBi . Tahapan dan Waktu Pelaksanaan (diambil dari kolom 7 GAP) 46 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . Oleh sebab itu perlu melakukan readaptasi modul Survey COMBi untuk menangkap faktor-faktor penyebab rendahnya partisipasi lakilaki dan perlu analisa khusus untuk merumuskan kembali strategi perubahan perilaku yang lebih efektif berdasarkan perbedaan gender dalam keterlibatan aktif laki-laki dan perempuan dalam pengendalian DBD. laki-laki >15 th. prosedur yang perlu disempurnakan sesuai sex.

...........Readaptasi survey COMBi untuk lebih menangkap pengetahuan...... sikap dan perilaku laki-laki dalam pengendalian DBD. Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang..PELAKSANAAN ....... NIP............... Waktu Pencapaian Keluaran : Tahun Anggaran 2011 e.... ........................ Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 47 . termasuk pilihan metode KIE yang efektif untuk lakilaki dan perempuan TAHAPAN Readaptasi COMBI tool untuk menangkap faktor resiko DBD pada laki-laki Pelatihan enumerator COMBi Survey Combi Pengolahan data dan penyusunan laporan COMBi Sosialisasi hasil COMBi Penyusunan pesan COMBi Pengadaan pesan COMBi Launching pesan COMBi Monitoring dan Evaluasi WAKTU PELAKSANAAN Februari 2011 Maret 2011 Maret 2011 April 2011 April 2011 Mei 2011 Mei 2011 Juni 2011 ..... Indikator Keluaran : Tersusunnya laporan pengendalian pada penderita DBD d....... ....Audit kematian DBD dengan fokus pada perempuan (termasuk mengukur response time) Pengembangan SOP Pelatihan SOP Survey Audit Kematian di sub nasional Februari 2011 Maret 2011 April 2011 3............ Rencana Anggaran Biaya (RAB) (terlampir) Penanggung Jawab.....

dan suatu biaya telah dialokasikan pada output kegiatan untuk menangani permasalahan kesenjangan gender. output.D. 48 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . Karena analisisnya menggunakan metode GAP. GBS merupakan perpaduan dari hasil analisis gender (analisis GAP) dan kebutuhan anggaran (TOR responsive gender) secara generik dan instan. Teknik Penyusunan Gender Budget Statement (GBS) GBS adalah dokumen yang berisi pernyataan bahwa sebuah program dan kegiatan telah responsif gender. sub output kegiatan dan komponen input terhadap pencapaian target indikator kinerja kegiatan dan target output/outcome dari program. maka Rincian Kegiatan dan sub-output yang dilakukan pun merupakan hasil analisis gender. Sebagian isi GBS juga berasal dari dokumen TOR responsif gender. Adapun format GBS yang memuat komponen-komponennya serta cara penyusunannya dapat dilihat pada format berikut. Target Indikator kinerja kegiatan yang dicapai mesti memperhatikan kesetaraan dan keadilan bagi perempuan dan laki-laki. indikator kinerja kegiatan. GBS memberikan informasi bahwa suatu kegiatan telah responsif terhadap isu gender yang ada. Karena target kinerjanya mengukur perempuan dan laki-laki. maka sebagian isi GBS berasal dari matriks analisis GAP. namun secara komprehensif mencakup tentang relevansi kegiatan.

Analisis situasi : menggambarkan terjadinya kesenjangan gender yang ada terkait dengan kegiatan yang akan dilaksanakan. hanya berupa gambaran bahwa output kegiatan yang akan dihasilkan mempunyai pengaruh kepada kelompok sasaran tertentu) Rincian Kegiatan Diambil dari TOR bagian metode pelaksanaan Nama program yang ada pada K/L Nama Kegiatan sebagai penjabaran program Indikator yang ditetapkan untuk masing-masing output kegiatan (merujuk kedokumen Renstra 2010-2014) Nomenklatur Output dan volume satuan Output Kegiatan (sesuai RKA-KL) Uraian ringkas yang menggambarkan persoalan yang akan ditangani/ dilaksanakan oleh Kegiatan yang menghasilkan output. dengan menekankan uraian pada aspek gender dari persoalan tersebut. Jika tidak. FORMAT GENDER BUDGET STATEMENT (Pernyataan Anggaran Gender) Kementerian Negara/Lembaga Unit Organisasi Unit eselon II/Satker : ……………………… : ……………………… : ……………………… Program Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan Output Kegiatan Analisa Situasi (diharapkan tersedia angka kelompok sasaran baik laki-laki maupun perempuan. Jenis-jenis Rincian Kegiatan yang akan dilakukan. Tahapan pertama pelaksanaan sub-output 1 Tahapan kedua pelaksanaan sub-output 1 Tahapan ketiga pelaksanaan sub-output 1 Jenis-jenis Rincian Kegiatan yang akan dilakukan Tahapan ketiga pelaksanaan sub-output 2 Tahapan ketiga pelaksanaan sub-output 2 Alokasi Anggaran Output Kegiatan Jumlah anggaran (Rp) yang dialokasikan untuk mencapai suatu Output Kegiatan Dampak/hasil Output Kegiatan Dampak/hasil secara luas dari Output Kegiatan yang dihasilkan dan dikaitkan dengan isu gender serta perbaikan ke arah kesetaraan gender yang telah diidentifikasi pada analisisi situasi Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 49 ... Sub-output 1 Komponen Input 1 Komponen Input 2 Komponen Input 3 Dst… Sub-ouput 2 Komponen Input 1 Komponen Input 2 Dst.1.

Angka DSS pada perempuan lebih tinggi. Survey Combi di 5 kota endemis (Batam. COMBi menunjukkan laki-laki tidak memiliki pengetahuan memadai sehingga angka insidens pada laki-laki lebih tinggi dan jumantik laki-laki sangatlah minim. Perlu dicarikan strategi untuk meningkatkan partisipasi laki-laki dalam pengendalian DBD. Menarik untuk dilihat lebih lanjut apakah diperlukan penanganan darurat khusus untuk perempuan yang terinfeksi Dengue. Kota Mojokerto. Oleh sebab itu upaya pengendalian DBD yang memang difokuskan pada pemberantasan nyamuk Aedes aegypti sebagai penular DBD. Bogor. sebagai akibat dari perilaku perempuan yang terlambat dalam mencari pengobatan.13% P 60. karena model iklan lebih banyak perempuan (misal 3M) dan repellen nyamuk beraroma bunga.Menurunnya angka kesakitan DBD dari 55 menjadi 54 per 100. Output Kegiatan Analisa Situasi (diharapkan tersedia angka kelompok sasaran baik laki-laki maupun perempuan.87% Perempuan dewasa lebih rentan terhadap kematian (DSS).2.000 penduduk pada tahun 2011 untuk Nasional . Bekasi) th 2009 ttg pengetahuan masyarakat ttg pengendalian DBD: L 22% P 78% Pada pesan media elektronik cenderung bias gender. Jika tidak. Laki-laki segala usia lebih rentan terkena DBD. . CONTOH APLIKASI GENDER BUDGET STATEMENT (GBS) (Pernyataan Anggaran Gender) Kementerian Negara/Lembaga : Kementerian Kesehatan Unit Organisasi : Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Unit eselon II/Satker : Direktorat Pengendalian Penyakit bersumber Binatang Kementerian Negara/Lembaga : Kementerian Kesehatan Unit Organisasi (eselon 1) : Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Unit Eselon II/Satker : Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Program Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan : Program Pengendalian Penyakit Penyakit dan Penyehatan Lingkungan : Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang .79%) dibanding Perempuan (P) (48. . hanya berupa gambaran bahwa output kegiatan yang akan dihasilkan mempunyai pengaruh kepada kelompok sasaran tertentu) 50 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan .Meningkatkan persentase kabupaten/kota yang melakukan mapping vektor dari 30 menjadi 40 Laporan Pengendalian Penderita DBD Data dari subdit Arbovirus 2010. Cimahi dan Kota Jogjakarta adalah ibu2.Meningkatnya persentase Angka Bebas Jentik ( ABJ) dari 60% menjadi 70% pada tahun 2011. Mataram. Kematian (DSS): L 39.21%). terutama melalui kegiatan PSN oleh masyarakat perlu ditingkatkan. cemas tidak ada yang menggantikan dia kalau di-rumah sakit kan sehingga membuat mereka terlambat datang ke sarana kesehatan. Angka Penderita DBD pada Laki-laki (L) lebih tinggi (51. Depok. Oleh sebab itu perlu melakukan readaptasi modul Survey COMBi untuk menangkap faktor-faktor penyebab rendahnya partisipasi laki-laki dan perlu analisa khusus untuk merumuskan kembali strategi perubahan perilaku yang lebih efektif berdasarkan perbedaan gender dalam keterlibatan aktif laki-laki dan perempuan dalam pengendalian DBD. Norma patriarki yang menempatkan perempuan sebagai caregivers dalam keluarga membuat perempuan terlambat mencari pengobatan karena harus mengurus keluarga terlebih dulu. 100% kader jumantik di DKI Jakarta.

Sedangkan untuk merespon tinggi nya angka kematian akibat DBD/DSS pada perempuan usia sekolah dan dewasa maka sarana kesehatan harus mulai melakukan audit kematian untuk mengidentifikasi apakah penyebab dari kematian karena faktor biologis, prosedur yang perlu disempurnakan sesuai sex, ataupun karena perbedaan peran gender sehingga mempengaruhi perilaku pasien dalam mencari pengobatan.

Rincian Kegiatan (diambil dari TOR bagian metode pelaksanaan)

Readaptasi survey COMBi untuk lebih menangkap pengetahuan, sikap dan perilaku laki-laki dalam pengendalian DBD; termasuk pilihan metode KIE yang efektif untuk lakilaki dan perempuan

Tujuan Suboutput 1 (disesuaikan dengan logika suboutput yang dipilih dan indikator Kinerja Kegiatan).

• Teridentifikasinya sebab khusus kematian DBD pada perempuan; • Angka Kesakitan DBD terpilah jenis kelamin dan umur

Suboutput 1

Komponen 1

Readaptasi COMBI tool untuk menangkap faktor resiko DBD pada laki-laki Pelatihan enumerator COMBi Survey Combi Pengolahan data dan penyusunan laporan COMBi Sosialisasi hasil COMBi Penyusunan pesan COMBi Pengadaan pesan COMBi Launching pesan COMBi Monitoring dan Evaluasi

Komponen 2 Komponen 3 Komponen 4

Komponen 5 Komponen 6 Komponen 7 Komponen 8 Komponen 9

Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan

51

Suboutput 2

Audit Kematian Tujuan Suboutput 2(disesuaikan dengan logika suboutput yang dipilih dan indikator Kinerja Kegiatan). Teridentifikasinya sebab khusus kematian DBD pada perempuan; Meningkatnya response time perempuan dalam mencari pengobatan DBD; Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 Pengembangan SOP Pelatihan SOP Survey Audit Kematian di sub nasional

Alokasi Anggaran Output Kegiatan Dampak/hasil Output Kegiatan

Rp.1,629,000,000 (Jumlah anggaran yang dialokasikan untuk mencapai output kegiatan)

Menurunkan 5% angka kematian (DSS) pada perempuan usia sekolah dan dewasa. Meningkatkan pengetahuan laki-laki dalam pengendalian DBD.

52

BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan

E. Hubungan GAP, TOR dan GBS
GAP, TOR dan GBS adalah saling berhubungan satu sama lain. Karena itu, banyak variable informasi dalam GAP, TOR dan GBS saling berkaitan dan saling memperkuat. Oleh sebab itu, keberhasilan penyusunan GAP akan sangat memudahkan penyusunan TOR dan GBS. Matrix berikut ini dapat menggambarkan hubungan antara Langkah-langkah dalam GAP, Komponen TOR, dan GBS. Bagan 8. Matriks Hubungan GAP, GBS dan TOR
GAP (KOLOM) 1 2,3,4,5 6 7 8,9 TOR Data umum (Eselon 1, Program, Kegiatan, Indikator Kinerja Kegaiatan) Latar belakang (narasi) Tujuan Umum (termasuk tujuan khusus) Rincian Kegiatan yang akan dilakukan Indikator keluaran GBS Data umum (Program, Kegiatan, Indikator Kinerja Kegaiatan) Analisa situasi Dapat saja, tujuan dari output/sub output Rincian Kegiatan, sub-output, dan Komponen Input Dampak atau hasil output kegiatan

F.

ARG dan Penelaahan RKA-KL

Berdasarkan Permenkeu Nomor 104 Tahun 2010, penelaahan RKA-KL dengan muatan ARG dilakukan melalui langkah di bawah ini: 1. 2. Suatu ARG berada pada tingkat output dari struktur RKA-KL; Isu kesenjangan gender dan gambaran perbaikannya tercermin dari uraian analisis situasi yang ada dalam GBS maupun isu gender dalam Kerangka Acuan Kegiatan (TOR); GBS minimal harus mencakup aspek-aspek seperti yang ada pada format GBS; Meneliti adanya kesesuaian antara uraian GBS dengan TOR. Jika antara TOR dan GBS tidak sesuai, maka kegiatan belum dapat dikatakan responsif gender dan tidak dapat diproses untuk tahap selanjutnya. Oleh karena itu agar kegiatan memenuhi kriteria ARG, maka K/L harus memperbaiki TOR kegiatannya supaya sesuai dengan GBS; Memutuskan apakah kegiatan atau sub kegiatan dimaksud sudah responsif gender atau belum berdasarkan butir 2,3, dan 4; Apabila telah responsif gender, petugas penelaah DJA selanjutnya meneliti kode bagan akun standar yang dicantumkan dalam RKA-KL (sesuai dengan proses penelaahan RKA-KL umum) untuk meneliti kesesuaian RKA-KL dengan TOR dan GBS.

3. 4.

5. 6.

Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan

53

Adanya isu gender yang dituangkan dalam TOR seperti: i) Apakah pada bagian Latar Belakang telah dijelaskan mengenai permasalahan yang dihadapi oleh kelompok sasaran. 3. Apakah isu gender yang ada dalam TOR tersebut mempunyai keterkaitan dalam GBS. yang keduanya dapat dihubungkan dengan bagian Latar Belakang dalam TOR. Gambaran adanya faktor penghambat di internal lembaga (organisasi pemerintah) dan atau eksternal lembaga (masyarakat). ii) Apakah tujuan kegiatan secara jelas memberikan informasi tentang manfaat yang akan diterima kelompok sasaan. iii) Apakah paparan pelaksanaan kegiatan telah menjelaskan pelibatan atau konsultasi dengan kelompok sasaran laki-laki dan perempuan. Indikator Outcome yang dapat dihubungkan dengan bagian Tujuan Kegiatan dalam TOR. manfaat. 4. petugas penelaah Ditjen Anggaran akan membuat daftar (check list) atas pertanyaan sebagai berikut: 1. partisipasi. kontrol antara lakilaki dan perempuan. Bagian GBS yang menghubungkan dengan isu gender tersebut adalah: Analisa situasi yang berisikan: Gambaran kesenjangan akses. 2. 54 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . baik laki-laki maupun perempuan. Indikator Input atau Output yang dapat dihubungkan dengan bagian Pelaksanaan Kegiatan dalam TOR.Untuk mempermudah proses penelaahan RKA-KL. baik laki-laki maupun perempuan. Apakah telah tersedia dokumen GBS yang didahului dengan analisa gender. Apa jenis kegiatan ARG yang akan dilaksanakan? Jenis kegiatan tersebut berupa service delivery atau capacity building dan advokasi gender.

LAMPIRAN: Contoh ARG

Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan

55

GENDER ANALYSIS PATHWAY (GAP)

Program : Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kegiatan : Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi (Dana Dekonsentrasi – Provinsi Jawa Timur)
LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN
Kordinasi lintas sektor/ program yang belum optimal Kurangnya kompetensi petugas pelayanan kesehatan kab/kota Kegiatan : Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi Program : Program Bina Gizi dan Kesehatan ibu dan anak.

1 KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI

2

4

5

6

7

8

9

KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM SEBAB INTERNAL

DATA PEMBUKA WAWASAN

PENGUKURAN HASIL BASELINE DATA
1. Tenaga kesehatan Kab/ kota terlatih ABPK Yan Kb =500 orang

INDIKATOR
1. Meningkatnya tenaga kesehatan Kab/kota terlatih ABPK Yan Kb 657 orang ( terdiri dari laki laki dan perempuan)

Program : Program Bina Gizi dan Kesehatan ibu dan anak.

Kegiatan : Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi Para pengelola program belum terpapar dalam rencana MPS yang sensitif gender terutama point ke 3

Angka kematian ibu di Propinsi Jawa Timur tercatat : 90,7/100.000 KH. Angka ini masih dibawah target nasional 118/100.000 KH

Tidak semua stake holder /pengambil keputusan memahami konsep keadilan dan kesetaraan gender. (PUG). Hal ini berpengaruh pada anggaran yang responsif gender.

1. Lokakarya ABPK Yan KB bagi petugas kesehatan kab/kota di Propinsi dan Orientasi ABPK Yan KB bagi Petugas tenaga kesehatan di kab/kota ( Capacity building) Tujuan (di Prov. Jatim) : Meningkatkan capaian KB aktif dari 62 % menjadi 63 % ( 2011) dgn melibatkan peran dan tanggung jawab laki-laki (proporsi lakilaki meningkat menjadi 2 %). 2. Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi

2. Menurunnya Capaian KB aktif dari 67,28 % ( 2007) menjadi 62,05 %( th 2009) 3. Belum tersosialisasinya indikator universal akses dan Rencana aksi propinsi

Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan

Tujuan (tujuan nasional menurut Renstra Kemenkes): Meningkatkan capaian KB aktif dari 61 % tahun 2010 menjadi 62 % tahun 2011

Namun SDKI th 2007 ,Angka kematian Ibu di tingkat nasional tercatat : 227/100.KH, sedangkan Jawa Timur tercatat 83/100.000 KH.Hal ini menunjukkan masih banyak AKI yang belum terlaporkan. Masyarakat lebih nyaman partus di dukun karena konsep mendapatkan pelayanan lengkap di banding bidan.

AKSES : Akses informasi kesehatan reproduksi/KB bagi laki laki masih kurang , terutama mengenai : Metode kontrasepsi, faktor kegagalan dan DO ; penyakit yang mengancam selama kehamilan & tanda bahaya selama hamil, salin dan nifas. Hak perempuan untuk memutuskan hak reproduksinya

2. Teridentifikasinya permasalahan dan adanya rekomendasi dalam pencapaian indikator cakupan Kb aktif ( 63 %)dgn melibatkan PUS terutama laki laki (proporsi lakilaki meningkat menjadi 2%).

57

Tersedianya data terpilah . valid dan capaian Cakupan Kb aktif : 65 % ( th 2011) 5. Faktor terlambat pertolongan yg adekuat. Jatim) : Meningkatkan capaian KB aktif dari 62 % menjadi 63 % ( 2011) Kurangnya alat bantu infomasi bagi edukasi kesehatan reproduksi/ KB. Kurangnya perhatian pemerintah kab/kota dalam pelayanan KB berkualitas 3. Capaian KB aktif 62. sarana. terlalu muda . Terpantaunya dan adanya bimbingan tehnis intervensi berbagai permasalahan pelayanan Kespro/Kb di lapangan 38 kab/ kota selama th 2011 Tujuan (di Prov. Tersosialisasinya indikator universal akses kespro dan rencana aksi propinsi dalam pencapaian indikator universal akses kespro bagi kab/ kota 4. Adanya hasil data monitoring pelaksanaan Yan KB/kespro di 38 kab/kota th lalu 5.58 LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN PUS terutama yang tidak menginginkan anak tidak mendapatkan informasi dan pelayanan KB yg memadai (unmet need > 8 %) Kecilnya anggaran untuk pelayanan kesehatan.05% selama th 2009 1 KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA PENGUKURAN HASIL 2 4 5 6 7 8 9 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM SEBAB INTERNAL DATA PEMBUKA WAWASAN INDIKATOR 3.7%) . 5.05% dengan rincian ( Partisipasi Laki : 1. Lemahnya sistem pencatatan dan pelaporan khususnya tersedianya data terpilah.54% 4. Pengadaan bidan kit. Komplikasi :5. (86%) dan belum mendapatkan perencanaan KB pasca salin (kesempatan yg hilang) Ada beberapa faktor penyebab : 1. obat dan manajerial . terlalu sering melahirkan. Monitoring pelaksanaan program yan Kb/kespro melalui superfisi fasilitatif ( kespro) Peran serta masyarat kurang dalam bidang kesehatan krn promosi kesehatan kurang efektif 6.3% dan wanita : 98. Data penunjan belum terpilah sedangkan Cakupan KB aktif : 62. Dipengaruhi oleh :tenaga. KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/kota maupun di propinsi. alokon serta bahan habis pakai masih kurang dari cukup fasilitas kesehatan yang berkualitas kurang ( baik kualitas maupun kuantitas) Data PUS 4 T di masyarakat : > 60 % ( terlalu tua. Drop Out : 4. Lemahnya manajerial programer kesehatan di daerah. terlalu banyak anak) merupakan ibu beresiko jika hamil dan bersalin sehingga menjadi ancaman AKI (SDKI 1997) Jumlah ibu yang memeriksakan kehamilan berkualitas belum optimal.64% . Validasi data kes ibu. Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses 4.

dgn Puskesmas Poned 241 dan yang berfungsi hanya 60 %.7 % Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan Jumlah bidan 1 : 3112 Penduduk( target : 1000). Jumlah bidan : 10.LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN 6. Hal ini disebabkan selain keterlambatan merujuk ke RS sehingga keadaan ibu sudah jelek (Faktor kontrol). 150 paket lembar balik abpk.607.2%. register kohort 2610 buku.8% ( target : 80% nasional). faktor faktor penyebab dan adanya rekomendasi intervensi yg bermanfaat bagi laki laki dan perempuan dalam pencapaian cakupan Kb aktif sesuai target selama th 2011 Tersedianya alat bantu KIE dan buku pedoman untuk pelayanan KB bagi ibu dan suaminya bagi nakes kab/kota khususnya untuk daerah miskin dan terpencil rincian :383 buku sistem pencatatan pelaporan. KB( 2%) dan yang memiliki bidan kit : 45. Ini menunjukkan ibu hamil masih jauh dari akses pelayanan berkualitas termasuk informasi KB dan biaya 59 . RS 282. Pustu/Polindes 7. Sedangkan poned kit tersedia 76. dan yg berfungsi : 49. Minimnya sarana pendukung pelayanan kespro/KB bagi daerah miskin dan terpencil. akses yg lemah thd keuangan. terlatih 63. 1 KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA PENGUKURAN HASIL 2 4 5 6 7 8 9 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM SEBAB INTERNAL DATA PEMBUKA WAWASAN INDIKATOR 6.535 orang.1%) Meskipun persalinan nakes tinggi 93. serta ketersediaan alat dan obat yang masih rendah. Pengadaan sarana pendukung program kespro 7. Evaluasi pelaksanaan yan kespro/ KB di propinsi 7.9 %( APN). juga dipengaruhi oleh kualitas tenaga terlatih dan belum berfungsingan Pusk Poned/ RS Ponek. Desa P4K : 8508. Teridentifikasinya permasalahan. RS ponek 19 dan yang berfungsi hanya 71. 150 buku abpk Gambaran : Puskesmas 944( target : 1247).8 % dan ponek kit di RS ( 21.7 % namun Kematian ibu : 70 % terjadi di RS.

. Istri kurang meneruskan informasi kes.Jumlah SpOG 1 : 122. Jumlah Perawat : 1 : 12. 1: 850 pdd ) . Standar Nasional anggaran perkapita obat sebesar Rp. Anggaran perkapita obat yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten/ Kota melalui DAU sebesar Rp. 9.000 Penduduk ( target .000 penduduk( target 1 : 16.60 LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN PARTISIPASI : Suami mengangap bahwa KB/kespro adalah urusan istri shg kurangnya keterlibatan dan tanggung jawab suami terhadap kesehatan reproduksi istrinya.000/ kapita/tahun. 2.000/kapita/ tahun. Reproduksi/KB kpd suaminya (marginal) KONTROL : Laki laki masih dominan dalam semua keputusan walaupun hal itu mempengaruhi kesehatan perempuan hal ini berkaitan budaya patriaki dan kontrol thd keuangan (streotipi) 1 KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA PENGUKURAN HASIL 2 4 5 6 7 8 9 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM SEBAB INTERNAL DATA PEMBUKA WAWASAN INDIKATOR Jumlah dokter 1 : 25000 penduduk( target 1: 2500 pdd ) .000 pdd).

82%). ekonomi. Rata2 gaji/ bln : pekerja 15 61 .351.500 (48. Perempuan kurang mendapatkan manfaat dari pelayanan yang tersedia terutma pelayanan KB pasca salin 1 KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA PENGUKURAN HASIL 2 4 5 6 7 8 9 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM SEBAB INTERNAL DATA PEMBUKA WAWASAN INDIKATOR 2. geograf Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan Penduduk Jatim usia 15-24 th yg melek huruf: Laki laki 99. Faktor terlambat merujuk dan sampai di layanan kesehatan Dipengaruhi oleh : pendidikan.59 %.LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN Lemahnya wewenang perempuan dalam pengambilan keputusan yg berkaitan dengan dirinya (sub ordinasi) MANFAAT : ibu hamil kurang memanfaatkan hak reproduksinya terutama mendapatkan pelayanan kesehatan termasuk biaya bagi gakin. & Perempuan : 99. budaya dan gender.197.1( susenas 2008).5 sedangkan perempuan : 51.18%) ( susesnas 2008) Angkatan kerja th 2008 : Pria : 83. wanita 3.500 (51.36 %( susenas 2008) Penduduk gakin : Pria: 3.

18% yg memanfaatkannya.742 jiwa ( Jamkesda). Sedangkan masyarakat ( gakin dan non gakin) yang memiliki jaminan pra bayar kesehatan hanya : 34.04% dari target 80% ( profil kesehatan 2008) . Tercatat ± 1.441. Sebagai pembanding th 2008 tercatat 82.260 ( Sakernas 2008) Masyarakat miskin yang ditanggung Program Jamkesmas (pemerintah pusat) th 2009 sebesar 10. 257.LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN PENGUKURAN HASIL INDIKATOR 4 5 6 7 8 9 62 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM DATA PEMBUKA WAWASAN th keatas : Laki2: Rp.710.050 jiwa.24% memilki kartu jamkesmas. 42.804 & Perempuan: Rp. 171.

42% ( Target 90%) Jumlah persalinan nakes masih tinggi : 93. Jumlah pertolongankomplikasi kehamilan : 86.LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM DATA PEMBUKA WAWASAN PENGUKURAN HASIL INDIKATOR Capaian Program : K4 ( Kunjungan pemeriksaan kehamilan yang berkualitas/ lengkap): 86. Penolong persalinan terakhir : Dokter/ SpOG : 59. Bidan 26.52% ( Target 90%) 63 .27 %. Dukun :14. (Target 90%).2%.3% Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan Perawatan pasca salin & bayinya : 80.31% (target jatim : 80%).5%.

37% (Komposisi laki laki : 1.38%).72% & wanita : 98.05% Target : > 70%) dengan rincian (Partisipasi Laki: 1.64% dan sebagai pembanding Drop out KB th 2008: 3. Namun Cakupan Kb aktif: 62.7%).3% dan wanita : 98. .64 LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN PENGUKURAN HASIL INDIKATOR 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM DATA PEMBUKA WAWASAN Pelayanan KB memiliki daya ungkit yang tinggi dalam penurunan AKI melalui perencanaan kehamilan yang direncanakan. Drop Out: 4.

Capaian KB baru: 10.87% & wanita: 96.19%).17%).LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN PENGUKURAN HASIL INDIKATOR 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM DATA PEMBUKA WAWASAN Komplikasi: 5.61%) keagalan: 0.54% ( toleransi : < 3.63% (partisipasi laki laki :3.04% (toleransi: < 0.5%) dengan rincian komposisi laki laki: 0. KB aktif dibina 25 % Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan Jumlah pasangan usia subur yang tidak ingin punya anak namun tidak menggunakan alat kontrasepsi masih 65 .39% & wanita : 99.

66 LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN PENGUKURAN HASIL INDIKATOR 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM DATA PEMBUKA WAWASAN tinggi ( > 8 %) pelayanan KB pasca salin / keguguran 5 -10 % ( Workshop PKBRS. bandung 2009) Data Penunjang lainnya : ABPK yan KB : 250 exp : poster/ leaflet .

Laporan Kegiatan atau Pembinaan. untuk rencana aksi : Lokakarya ABPK Yan KB bagi petugas kesehatan kab/kota di Propinsi dan Orientasi ABPK Yan KB bagi Petugas tenaga kesehatan di kab/kota (Capacity building) 3. d. Evaluasi pelaksanaan yan kespro/KB di propinsi 2. KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/kota maupun di propinsi. Sarana pendukung program kespro. Tenaga terlatih. untuk rencana aksi Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 67 .Catatan : Dari (7 tujuh) rencana aksi yang terdapat pada kolom/langkah 7. untuk rencana aksi : a. Validasi data kesehatan ibu. untuk rencana aksi : Pengadaan sarana pendukung program Kespro. Monitoring pelaksanaan program yan KB/Kespro melalui superfisi fasilitatif (Kespro) e. rencana aksi tersebut dapat dimasukkan dalam kelompok output untuk penyusunan RKA-KL sebagai berikut : 1. Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses c. Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi b.

Peraturan pemeritah No.Berikut ini diberikan contoh TOR responsif gender dan GBS dari Output Laporan Kegiatan.5 %( 2010) menjadi 65 % ( 2011) dengan proporsi pria naik dari 1. Latar Belakang 1. UU No. pemerintahan daerah propinsi dan pemerintah daerah kab/ kota 5. KAK/TOR Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi (OUTPUT LAPORAN) Kementerian Negara/ Lembaga Unit Eselon I Program Hasil : : : : Kementerian Kesehatan Ditjen Bina Gizi dan Kesehatan ibu dan anak Bina Gizi dan Kesehatan ibu dan anak Meningkatnya ketersediaan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang bermutu bagi seluruh masyarakat Direktorat Kesehatan ibu/ Satker Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi Meningkatnya Cakupan peserta KB aktif dari 62. 9 th 2000 tentang PUG dalam pembangunan 6. 07/Men/ PP& Pa/5/2010.no. Peraturan MenKeu no. Instruksi presiden no. UU No 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran 4.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan 3. 38 th 2007 tentang pembagian urusan pemerintahan. Kesepakatan bersama antara Men PP &PA dgn menkes tentang pelaksanaan PUG di bidang kesehatan no. 104/PMK. Dasar Hukum : 1. UU no.3 % menjadi 2 %) Laporan untuk kegiatan Pembinaan pelayanan kesehatan ibu dan reproduksi Unit Eselon II/Satker Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan : : : Output : Satuan Ukur dan Jenis Keluaran : Laporan a.02/2010 tentang petunjuk penyusunan dan penelaan AKL th 2011 7. 7 tentang pengesahan konvensi mengenai penhapusan segala bentuk diskriminasi thd wanita 2. 593/Menkes/ SKB/V/2010 68 .

Dukun :14. Adanya anggapan bahwa Kesehatan reproduksi/KB urusan wanita menyebabkan laki laki kurang mendapatkan informasi mengenai kesehatan reproduksi/KB khususnya bagi si istri/wanita. Bidan 26.pada sarana kesehatan 60% Poned yg berfungsi. Meskipun tingkat melek huruf tdk jauh berbeda antara laki laki danprempuan namun kemiskinan dan tingkat pendapatan yang rendah pada wanita ( 170. ekonomi. Perjalanan : 4.1%. termasuk pelayanan KB yg memiliki daya ungkit tinggi dalam penurunan AKI (layanan hulu (Promotif – Preventif).85%. Sebagai pembanding : SDKI th 2007 .000 KH.2%. informati perawaatan & pengobatan komplikasi kehamilan serta pencegahan KTD melalui upaya pelayanan KB khsususnya pelayanan KB pasca salin Didalam internal organisasi. poned(76. geografi. Sungguh ironis meninggal di fasilitas rujukan.2%.3%. Faktor terlambat merujuk dan terlambat sampai( 2 & 3).353 bidan dan belum termasuk dokter.23%.000/bln) menyebabkan wanita lemah wwenangnya dalam memutuskan ( sub ordinat) meskipun berkaitan dgn kesehatannya. Angka ini masih dibawah target nasional 118/100. Desa P4K : 49. serta kecilnya anggaran kesehatan (obat) yg hanya 2000/kapita/ th ( target : 9000/kapita/th) ini menunjukkan bahwa wanita/laki laki jauh dari akses pelayanan berkualitas. budaya dan gender. Rumah ibu : 9. Kematian ibu tersebut terjadi karena 3 Faktor penyebab : Faktor terlambat pertolongan yang adekuat (1). Artinya terjadi peningkatan dan mengingat PUS 4T > 60 %( SDKI 1997) maka menjadi ancaman AKI jika tdk terlindungi dgn kontrasepsi. Puskesmas : 3.17 %.9%).Dan ini kurang memberdayakan laki laki (partisipasi) dalam upaya penurunan AKI melalui pengetahuan tanda bahaya kehamilan.1%). Hal ini berpengaruh pada anggaran yang responsif gender.. Hal ini dipengaruhi oleh :pendidikan. Para pengelola program belum terpapar dalam rencana MPS yang sensitif Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 69 . (PUG). Serta penolong terahir Dokter/SpOG : 59. sedangkan Jawa Timur tercatat83/100. Kebanyakan AKI terjadi di RS 70.000 KH. Hai ini berkaiatan dgn jumlah & kompetensi petugas yang rendah ( bidan terlatih APN 63.KH.89%.7/100.2%. Ponek yang berfungsi 71. Gambaran Umum Angka kematian ibu di Propinsi Jawa Timur tercatat : 90.2. Hal ini juga di dasari masih adanya budaya patriaki sehingga ini menyebabkan wanita/ibu hamil kurang memanfaat akses pelayanan kesehatan yang ada termasuk biayanya . sedangkan bidan kit tersedia hanya 45.000 KH.28%)/ponek kit(21. KB ( 2%) dari 10. issu gender disebabkan oleh : tidak semua stake holder /pengambil keputusan memahami konsep keadilan dan kesetaraan gender. Angka kematian Ibu di tingkat nasional tercatat : 227/100.5%.

Peran serta masyarat kurang dalam bidang kesehatan karena promosi kesehatan kurang efektif. Laporan monitoring pelaksanaan program yan KB/Kespro melalui superfisi fasilitatif (Kespro) 5. Kordinasi lintas sektor/program kespro/kb yang belum optimal. Strategi Pencapaian Keluargan 1.5 % menjadi 65 % ( 2011) dengan melibatkan peran dan tanggung jawab laki-laki (proporsi laki laki : 2%) Target sasaran Kegiatan : Dinkes Kab/kota. KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/kota maupun di propinsi. . Lintas sektor/program. Lemahnya sistem pencatatan dan pelaporan khususnya tersedianya data terpilah. Metode Pelaksanaan Dilaksanakan melalui metode swakelola 70 . Faktor lain : Masyarakat lebih nyaman partus di dukun karena konsep mendapatkan pelayanan lengkap di banding bidan.Kurangnya perhatian pemerintah kab/kota dalam pelayanan KB berkualitas. Laporan Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi 2. Dalam pelaksanaan kegiatan Pembinaan pelayanan kesehatan ibu dan Reproduksi. Melalui peningkatan akses pelayanan kesehatan reproduksi/ KB berkualitas termasuk informasi meskipun tidak berdampak langsung/ sedikit kepada laki laki namun memiliki daya akselerasi penurunan AKI jika dilibatkan dan diberi tanggung jawab. Tujuan dan Penerima Manfaat : Meningkatkan capaian KB aktif dari 62. Laporan Evaluasi pelaksanaan yan kespro/KB di propinsi Satuan: Volume Laporan : 119 b. maka akan disusun laporan pelaksanaan yang terdiri dari : 1. Lemahnya manajerial programer kesehatan di daerah. Pelayanan Kespro/KB yang memiliki daya ungkit yg tinggi dalam penurunan AKI melalui perencanaan kehamilan yg direncanakan belum optimal ( 62. Laporan Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses 3. Kecilnya anggaran untuk pelayanan kesehatan. c.gender. pengadaan sarana dan prasarana kurang dari cukup (baik kualitas maupun kuantitas). Kurangnya kompetensi petugas pelayanan kab/kota . Laporan Validasi data kesehatan ibu. 4.05%).

. KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/kota maupun di propinsi..Rapat persiapan/penyiapan materi ..Pelaksanaan validasi data . Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 71 ................Pembuatan laporan ...Pembuatan laporan .....Pelaksanaan koordinasi . NIP ...Pelaksanaan koordinasi ..Rapat persiapan/penyiapan materi ....Rapat persiapan/penyiapan materi .. Monitoring pelaksanaan program yan Kb/kespro melalui superfisi fasilitatif ( kespro) Evaluasi pelaksanaan yan Kespro/ kb di propinsi Tahapan .....Pelaksanaan monitoring ..... Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Rencana Anggaran Biaya : terlampir Penganggung Jawab.. Tahapan dan Waktu Pelaksanaan Pelaksanaan Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses Validasi data kes ibu...Pelaksanaan evaluasi .....Pembuatan laporan ......Rapat persiapan/penyiapan materi ...Rapat persiapan/penyiapan materi .....2........Pembuatan laporan Waktu Pelaksanaan Juli 2011 Maret & September 2011 Juli & November 2011 Januari – Desember 2011 November 2011 d............Pembuatan laporan . .. Waktu Pencapaian Keluaran : Tahun Anggaran 2011 e.

KH.1%).9%). Perjalanan : 4.28%)/ponek kit(21. Angka ini masih dibawah target nasional 118/100. poned(76.000 KH.2%.17 %. Ponek ( 71. Bidan 26. Kematian ibu tersebut terjadi karena 3 Faktor penyebab : Faktor terlambat pertolongan yg adekuat (1). serta kecilnya anggaran kesehatan (obat) yg hanya 2000/kapita/th ( target : 9000/kapita/th) ini menunjukkan bahwa wanita/laki laki kurang mendapatkan akses informasi & pelayanan berkualitas.353 bidan dan belum termasuk dokter. Desa P4K : 49. Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi Salah satu Indikator : Meningkatnya Cakupan pasangan usia subur menjadi peserta KB aktif di Provinsi Jawa Timur sebesar 65% di tahun 2011.000 KH.85%. Hai ini berkaiatan dgn jumlah & kompetensi petugas yang rendah ( bidan terlatih APN 63. Sebagai pembanding : SDKI th 2007 .3%.23%. Dukun :14. Kebanyakan AKI terjadi di RS 70. sedangkan Jawa Timur tercatat83/100. bidan kit tersedia hanya 45.GENDER BUDGET STATEMENT (Pernyataan Anggaran Gender) Kementerian Negara/Lembaga : Kementerian Kesehatan RI Unit Organisasi : Ditjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Unit Eselon II/Satker : Direktorat Bina Kesehatan Ibu/ Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Program Program Bina Gizi dan Kesehatan ibu dan anak. Angka kematian Ibu di tingkat nasional tercatat : 227/100.2%.89%. KB ( 2%) dari 10. Sungguh ironis meninggal di fasilitas rujukan . Puskesmas : 3. termasuk pelayanan KB yg memiliki daya ungkit tinggi dalam penurunan AKI ( layanan hulu (Promotif – Preventif)) Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan Output Kegiatan 72 .10 pusk poned ( 60% yg berfungsi).1%).000 KH.2%.5%. Salah satu Outputnya : Laporan untuk kegiatan Pembinaan pelayanan kesehatan ibu dan reproduksi Angka kematian ibu di Propinsi Jawa Timur tercatat : 90.7/100.. Artinya terjadi peningkatan dan mengingat PUS 4T > 60 %( SDKI 1997) maka menjadi ancaman AKI jika tdk terlindungi dgn kontrasepsi. Serta penolong terahir Dokter/SpOG : 59. Rumah ibu : 9.

Lemahnya manajerial programer kesehatan di daerah.000/bln) menyebabkan wanita lemah wwenangnya dalam memutuskan ( sub ordinat) meskipun berkaitan dgn kesehatannya. Pengadaan sarana dan prasarana kurang dari cukup ( baik kualitas maupun kuantitas) Faktor lain :.Analisis Situasi Faktor terlambat merujuk dan terlambat sampai( 2 & 3). Masyarakat lebih nyaman partus di dukun karena konsep mendapatkan pelayanan lengkap di banding bidan. (PUG). budaya dan gender. Kurangnya kompetensi petugas pelayanan kab/kota. Hal ini dipengaruhi oleh :pendidikan. Kecilnya anggaran untuk pelayanan kesehatan. issu gender disebabkan oleh :Tidak semua stake holder / pengambil keputusan memahami konsep keadilan dan kesetaraan gender. ekonomi. Kordinasi lintas sektor/program kespro/kb yang belum optimal. Peran serta masyarat kurang dalam bidang kesehatan krn promosi kesehatan kurang efektif Pelayanan Kespro/ KB yang memiliki daya ungkit yg tinggi dalam Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 73 .Para pengelola program belum terpapar dalam rencana MPS yang sensitif gender. Hal ini berpengaruh pada anggaran yang responsif gender. Hal ini juga di dasari masih adanya budaya patriaki sehingga ini menyebabkan wanita/ ibu hamil kurang memanfaat akses pelayanan kesehatan yang ada termasuk biayanya ( marginal) Adanya anggapan bahwa Kesehatan reproduksi/ KB urusan wanita menyebabkan laki laki kurang mendapatkan informasi mengenai kesehatan reproduksi/KB khususnya bagi si istri/wanita. Lemahnya sistem pencatatan dan pelaporan khususnya tersedianya data terpilah. Meskipun tingkat melek huruf tdk jauh berbeda antara laki laki danprempuan namun kemiskinan dan tingkat pendapatan yang rendah pada wanita ( 170. informati perawaatan & pengobatan komplikasi kehamilan serta pencegahan KTD melalui upaya pelayanan KB khsususnya pelayanan KB pasca salin Didalam interna organisasi. geografi . Dan ini kurang memberdayakan laki laki ( partisipasi) dalam upaya penurunan AKI melalui pengetahuan tanda bahaya kehamilan. Kurangnya perhatian pemerintah kab/kota dalam pelayanan KB berkualitas.

Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi 2. Validasi data kesehatan ibu. terdiri dari laporan untuk : 1.3 % menjadi 2%) Rapat persiapan/Penyiapan materi Pelaksanaan Koordinasi Pembuatan laporan Laporan Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses Memberikan informasi indikator universal akses kespro dan rencana aksi propinsi dalam pencapaian indikator universal akses kespro bagi kab/kota Rapat persiapan/Penyiapan materi Pelaksanaan koordinasi Pembuatan Laporan Laporan Validasi data kes ibu. KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/kota maupun di propinsi.penurunan aki melalui perencanaan kehamilan yg direncanakan belum optimal ( 62. Memberikan informasi perihal data yang valid. Evaluasi pelaksanaan yan kespro/KB di propinsi Sub output 1 Laporan Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi Memberikan informasi mengenai intervensi dalam mencapai Kb aktif 65 % dgn ( proporsi pria naik dari 1. KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/ kota maupun di propinsi. Melalui Peningkatan akses pelayanan kesehatan reproduksi/KB berkualitas termasuk informasi meskipun tdk berdampak langsung/sedikit kepada laki laki namun memiliki daya akselerasi penurunan AKI jika dilibatkan dan diberi tanggung jawab.05%). Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses 3. Monitoring pelaksanaan program yan KB/ Kespro melalui superfisi fasilitatif (Kespro) 5. terpilah. 4. tepat waktu dan memberikan masukan dalam pembuatan keputusan Rapat persiapan/Penyiapan materi Pelaksanaan validasi Pembuatan Laporan Tujuan/manfaat Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 Sub output 2 Rincian Kegiatan Tujuan/manfaat Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 Sub output 3 Tujuan/manfaat Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 74 . Dalam Output Kegiatan Pembinaan pelayanan kesehatan ibu dan Reproduksi.

Tujuan/manfaat Komponen 1 Komponen 2 Rincian Kegiatan Komponen 3 Sub output 5 Tujuan/manfaat Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 Anggaran Output kegiatan dalam Penurunan AKI dampak/hasil yang diharapkan secara luas Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 75 .000. 1.494.Sub output 4 Laporan monitoring pelaksanaan program yan Kb/kespro melalui superfisi fasilitatif ( kespro) Memberikan informasi perkembangan pelayanan KB/kespro dan adanya bimbingan tehnis intervensi berbagai permasalahan pelayanan Kespro/Kb di lapangan 38 kab/kota selama th 2011 Rapat persiapan/Persiapan materi Pelaksanaan monitoring Pembuatan laporan Laporan Evaluasi pelaksanaan yan kespro/KB di propinsi) Memberikan informasi teridentifikasinya permasalahan .Meningkatkan capaian KB aktif dari 62. faktor faktor penyebab dan adanya rekomendasi intervensi yg bermanfaat bagi laki laki dan perempuan dalam pencapaian cakupan KB aktif sesuai target selama th 2011 Rapat persiapan/Persiapan materi Pelaksanaan evaluasi Pembuatan laporan Rp.090.3 % menjadi 2 %.5 % menjadi 65 % ( 2011) dengan proporsi pria naik dari 1.

.

Manfaat.DAFTAR SINGKATAN ABJ AKMP ARG ASEAN BPS BPFA CEDAW COMBi DAK DBD DSS DIPA DJA KemKes FGD GAP GBS Inpres KPP-PA KPJM MDGs PP PPRG Perpres Permendagri PMK/Permenkeu Angka Bebas Jentik Akses. Kontrol. dan Partisipasi Anggaran Responsif Gender Assosiation of South East Asia Nations Badan Pusat Statistik Beijing Platform for Action Convention for the Elimination of all Forms of Discriminations Against Women Community Behaviour Improvement Dana Alokasi Khusus Demam Berdarah Dangue Dangue Shock Syndrome Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Direktorat Jendral Anggaran Kementerian Kesehatan Focus Group Discussion Gender Analisis Pathway Gender Budget Statement Instruksi Presiden Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah Millennium Development Goals Peraturan Pemerintah Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Peraturan Presiden Peraturan Menteri Dalam Negeri Peraturan Menteri Keuangan Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 77 .

Measurable. Relevant. and Timely Bound Satuan Kerja Surat Edaran Bersama Tugas Pokok dan Fungsi Term of Reference United Nation Fund for Population Activities World Health Organization 78 . Achievable.PUG RAB Renstra Renja RPJP RPKP-K RPJM RKP Renstra Renja KL RKA KL RAPBN SDKI SKRT SOP SMART Satker SEB Tupoksi TOR UNFPA WHO Pengarusutamaan gender Rencana Anggaran Biaya Rencana Strategis Rencana Kerja Rencana Pembangunan Jangka Panjang Rencana Pembangunan Jangka Panjang bidang Kesehatan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Rencana Kerja Pemerintah Rencana Strategis Rencana Kerja Kementerian Lembaga Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Survey Kesehatan Rumah Tangga Standard Operational Procedure Spesific.

dengan hasil Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 79 . Diskriminasi adalah memperlakukan seseorang atau kelompok orang secara berbeda karena jenis kelamin. ekonommi. GBS adalah dokumen yang berisi pernyataan bahwa sebuah program dan kegiatan telah responsif gender. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. politik. Anggaran adalah estimasi belanja dan penerimaan yang diusulkan. fungsi. Bias gender adalah pandangan yang didasarkan pada pembagian peran sosial tradisional laki-laki dan perempuan. Efisien adalah memperoleh hasil yang diharapkan dengan pengorbanan sekecil-kecilnya GAP adalah alat analisis gender dengan pendekatan analisis pada siklus perencanaan. Gender adalah pandangan masyarakat tentang perbedaan peran. dan tanggungjawab antara perempuan dan laki-laki yang merupakan hasil konstruksi sosial budaya dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman dan dukungan masyarakat itu sendiri. Analisis gender dilakukan secara sekuensial mulai dari tahap identifikasi tujuan. sosial. sampai monitoring dan evaluasi. Efektif adalah tingkat kesesuaian antara hal yang direncanakan pelaksanaan. ras. angka-angka. peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan. maupun waktu). adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan Negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). analisis situasi. penentuan Rincian Kegiatan. serta faktor-faktor yang mempengaruhi. Indikator dapat berupa pointer-pointer. Analisis gender adalah proses menganalisis data dan informasi secara sistematis tentang lakilaki dan perempuan untuk mengidentifikasi dan mengungkapkan kedudukan. yang mencerminkan kebijakan prioritas dan target fiskal dalam satu periode tertentu. agama dan lain sebagainya. umur.DAFTAR ISTILAH Akses adalah peluang atau kesempatan yang diberikan untuk memanfaatkan sumber daya (baik sumber daya alam. yang selanjutnya disebut APBN. fungsi. pendapat atau persepsipersepsi. Indikator adalah kriteria atau ukuran yang mampu melihat perubahan dari obyek yang dinilai.

Komponen input adalah jenis Rincian Kegiatan yang dilakukan untuk mencapai indikator kinerja sub-output Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan. dan lain-lain. Contoh : bantuan dana transportasi untuk wanita hamil risiko tinggi ke sarana pelayanan kesehatan. Input dalam panduan ini diartikan sebagai tolak ukur/ bahan dasar dalam penganggaran. dan pemenuhannya dimaksudkan untuk mengubah ketidakadilan yang mungkin ada dalam konteks relasi lakilaki dan perempuan. Data. dana atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. Indikator Kinerja Kegiatan adalah bukti pencapaian suatu kinerja yang bisa diukur sebagai dampak dari suatu kegiatan. barang modal termasuk peralatan dan tekhnologi. Contoh : Suami siaga dalam program Perencanaan Persalinan dan Penanganan Komplikasi (P4K). Kebutuhan Strategis Gender adalah kebutuhan yang didasarkan pada analisis tentang ketidakadilan gender dan faktor-faktor yang menyebabkannya. dan anggaran. keterwakilan wanita sebanyak 30 % dalam kepengurusan kelompok pemakai air bersih di pedesaan. dan lain-lain. detiksi dini kanker prostat pada laki-laki. yang terdiri atas regulasi. Indikator kinerja responsif gender adalah perubahan kinerja pengurangan kesenjangan atau peningkatan kondisi laki-laki dan perempuan setelah dilakukan suatu intervensi baik berupa program atau pun kegiatan. SDM. Kementerian Negara adalah organisasi dalam Pemerintahan Republik Indonesia yang dipimpin oleh menteri untuk melaksanakan tugas pemerintahan dalam bidang tertentu. Kesenjangan gender adalah suatu kondisi dimana tidak ada kesetaraan relasi antara lakilaki dan perempuan. Kebutuhan Praktis Gender adalah kebutuhan yang bersifat segera dan didasarkan pada kondisi nyata perempuan dan laki-laki tanpa mempersoalkan ada atau tidaknya faktor-faktor ketidakadilan yang mungkin ada antara keduanya.Indikator gender adalah kriteria atau ukuran untuk mengukur perubahan relasi gender dalam masyarakat sepanjang waktu. aroma repellent nyamuk dibuat sesuai aroma maskulin untuk meningkatkan pengguna repellent pada konsumen laki-laki di daerah endemis. 80 . Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa satuan kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personil (sumber daya manusia). Jenis kelamin adalah perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki terutama pada bagian-bagian organ reproduksi.

adalah target sasaran dari program/kegiatan yang memperoleh manfaat Pengarusutamaan gender (PUG) adalah strategi untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender melalui kebijakan dan program yang memperhatikan pengalaman. adalah dokumen perencanaan Kementrian Negara/Lembaga untuk periode 1 (satu) tahun. kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki ke dalam perencanaan. Netral gender adalah suatu kondisi dimana pengambilan keputusan dilakukan tanpa didasari atas pemahaman. aspirasi. Partisipasi adalah pelibatan atau keterwakilan dalam proses dari suatu kegiatan Penerima manfaat. dan pertimbangan akan adanya perbedaan peran. adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan suatu Kementerian Negara/Lembaga yang merupakan penjabaran dari Rencana Kerja Pemerintah dan Rencana Startegis Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan dalam satu tahun anggaran serta anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya.Kesetaraan dan keadilan gender adalah suatu kondisi yang adil dan setara dalam hubungan kerjasama antara perempuan dan laki-laki. adalah dokumen perencanaan nasional untuk periode 5 (lima) tahun. yang selanjutnya disebut RPJM Nasional. dan evaluasi dari seluruh kebijakan dan program di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan. pelaksanaan. Rencana Kerja Pemerintah yang selanjutnya disebut RKP adalah dokumen perencanaan nasional untuk periode 1 (satu) tahun. Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga. pengakuan. fungsi dan tanggungjawab antara perempuan dan laki-laki Outcome. pemantauan. Program adalah bentuk instrument kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga atau masyarakat yang dikordinasikan oleh instansi pemerintah untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Kontrol adalah kekuasaan untuk memutuskan bagaimana menggunakan sumber daya dan siapa yang memiliki akses terhadap sumber daya tersebut. yang selanjutnya disebut Renja KL. dimaknai sebagai keluaran dari proses pelaksanaan anggaran. Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga. Lembaga adalah organisasi non-kementrian Negara dan instansi lain pengguna anggaran yang dibentuk untuk melaksankan tugas tertentu berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 atau peraturan perundang-undangan lainnya. yang selanjutnya disebut RKA KL. merupakan tolak ukur keberhasilan pelaksanaan anggaran Output. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 81 .

strategi pencapaian. adalah dokumen perencanaan Kementerian Negara/Lembaga untuk periode 5 (lima) tahun. Sub-output adalah jenis barang atau jasa yang menjadi bagian tak terpisahkan dari output TOR adalah dokumen yang menginformasikan gambaran umum dan penjelasan mengenai indikator kinerja kegiatan yang akan dicapai sesuai dengan tugas dan fungsi kementerian negara/lembaga. penerima manfaat. Rincian Kegiatan adalah daftar langkah-langkah yang harus dilaksanakan untuk mencapai sub-tujuan yang responsif gender. 82 . TOR memuat latar belakang. yang selanjutnya disebut Renstra-KL.Rencana Strategis Kementerian Negara/Lembaga. Responsif gender adalah keadaan memberikan perhatian yang konsisten dan sistematis terhadap perbedaan-perbedaan antara perempuan dan laki-laki dalam masyarakat yang diwujudkan dalam sikap dan aksi untuk mengatasi ketidakadilan yang terjadi karena perbedaan-perbedaan tersebut. dan biaya yang diperlukan.

Workshop on Gender. Guidelines of Analysis of Gender and Health. Geneva Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 83 . Quinn. Jakarta UNDP (2008). Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Departemen Kesehatan. Liverpool. Gender and Health Group. Women and Health: Mainstreaming the Gender Perspective into the Health Sector. Work and Health : A Review of the Evidence. Gender Analysis Pathway. Report of the Expert Group Meeting. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010 – 2014. Johannesburg. PAHO-WHO (2005). Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan. Supiandi. H. Geneva WHO (2006). Jakarta. PAHO-WHO (1997). UN. Kementerian PP (2008). Health and Development: Facilitator Guide. (2008). Jakarta. Gender an Rights in Reproductive an Maternal Health : Manual for A Learning Workshop held in Kuala Lumpur. WHO. Yusuf. Mainstreaming Gender In Health: A Manual For Health Research And Programme Managers. Gender Analysis in Health : A Review of Selected Tools.DAFTAR PUSTAKA ADB (2006). Dr. Indonesia Country Gender Assessment. Jakarta. Manila. S. (2009). Geneva WHO (2010). UNFPA (1998). School of Public Health University of The Witwatersrand Johannesburg (2003). Tunisia WHO (2002). UNFPA (2010). Washington DC. Strasbourg Cedex. Liverpool School of Tropical Medicine (1995). Gender in Health. Bunga Rampai Pengarusutamaan Gender. Gender Budgeting : Practical Implementation Handbook. Gender Equality. Bappenas dan WSP II–CIDA (2007). National Human Development Report.

S. MPH. DR. MARS. MKM. MPH. MARS. Doni Arianto. dr. MM. MKes. M. Teti Tejayanti. Titien Supriharin. dr. SKM. Nardho Gunawan.Kes. Arifin.. Wahyuni Khaulah. dr. MH. Rabitta Cherysse. dr. Dra. Amroussy Marsis. Titik Handayani. Tinexcelly MS. Fahrina. MKM. MQHI. Muhammad Yusuf. dr. T. Cicilia Windianingsih. dr. Nurkinteki.Kontributor Ir. Siti Mursifah. drg. dr. S. MRDM. Dra. SH. dr. Msi. drg. dr. Endang Sri Wardani. Niken Kiswandari. dr. dr.Kom. Ismawaningsih.Sos. MPH. H. Saiful Hidayat. Rusmiyati. Ace Yati Hayati. dr Milwiyandia. Aragar Putri. dr. Theresia Hermin. Victorino. Triningtyasasih. Christine Manurung. dr. MS. Siti Maemunah. Puti Wulan Sari. MA.. SKM. 84 . SKM. dr. DR.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful