Rp. +/-%+=@!*

Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan

A

MHA. MM. Dra. MA. UNFPA : dr. .UNFPA TIM PENYUSUN : Kemenkes : dr. ISBN xxxxxxxxxx Desain dan layout INTERAXI. Laode Musafin. M. Darsono.. dr. MSI.. Andi Saguni. Endang Moerniati. Lany Harijanti. Drs. Untung Suseno Sutarjo.KERJASAMA: KEMENTERIAN KESEHATAN RI – KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK . M.Kes. Lieska Prasetya. MA. dr. SKM. Gita Maya.... Msi. KPP-PA : Dra.Kes. Anis Hamim.

SEPATAH KATA Kepala Biro Perencanaan dan Anggaran Perencanaan dan penganggaran responsif gender merupakan salah satu komponen dari Pengarusutamaan Gender (PUG). Oleh karenanya jangan diartikan sebagai rencana dan anggaran khusus untuk perempuan yang terpisah dari laki-laki. Bahan tulisan untuk panduan ini berasal dari orientasi termasuk studi literatur internasional serta asesmen dan masukan dari banyak pihak melalui wawancara. sehingga bukan berarti melakukan dua kali perencanaan. Buku Panduan ini merupakan up-dating dari Buku Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender yang pernah diterbitkan pada tahun 2008. ‘pemerhati gender’ dan pihak-pihak lainnya. FGD. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan i . Walaupun buku Panduan ini lebih difokuskan untuk penyusunan Anggaran Responsif Gender (ARG) bersumber APBN Kementerian Kesehatan termasuk dari Dana Dekonsentrasi. workshop dan simulasi. namun kami berharap buku ini juga dapat digunakan sebagai referensi bagi banyak pihak seperti pihak universitas. Perencanaan dan penganggaran responsif gender bidang kesehatan ini merupakan instrumen untuk mengatasi adanya perbedaan akses. dan sebagai komitmen kami dalam mendukung pelaksanaan PUG Bidang Kesehatan maka telah disusun Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan dengan melibatkan banyak pihak. UNFPA dan pihak-pihak lainnya. partisipasi. pemerintah daerah. Simulasi penerapan disamping dilakukan pada unit yang berada di intern Kementerian Kesehatan juga dilakukan pada Dinas Kesehatan Provinsi. tidak hanya dari unit-unit di intern Kementerian Kesehatan tapi juga dengan melibatkan Kementerian PP&PA. Perencanaan dan penganggaran responsif gender bidang kesehatan bukanlah sebuah proses yang terpisah dari sistem yang sudah ada. kontrol dan manfaat pembangunan kesehatan bagi laki-laki dan perempuan sehingga diharapkan kesenjangan gender dapat dihilangkan atau setidaknya dapat dikurangi. tetapi memastikan bagaimana agar perspektif gender dapat diintegrasikan dalam setiap tahapan perencanaan dan penganggaran.

Jakarta. M. dr. oleh karena itu saran dan masukan bersifat konstruktif tetap kami harapkan untuk perbaikan dan penyempurnaannya ke depan. Untung Suseno Sutarjo.Saya yakin buku ini masih belum sepenuhnya sempurna. November 2010 KEPALA BIRO PERENCANAAN DAN ANGGARAN SETJEN KEMENTERIAN KESEHATAN RI.Kes ii .

PUG Bidang Kesehatan (PUG-BK) selanjutnya dipertegas melalui Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan. Untuk mencapai target kinerja yang ditetapkan dalam Renstra tersebut. program. panduan tersebut direvisi menjadi Buku Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) Bidang Kesehatan yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1459/Menkes/SK/X/2010. serta RPJP Kesehatan Tahun 2005-2025. antara lain melalui pengarusutamaan gender (PUG) dalam setiap penyusunan kebijakan. sejak tahun 2008 telah disusun pedoman perencanaan dan penganggaran responsif gender. dan ditindaklanjuti dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 878 Tahun 2006 tentang Tim Pengarusutamaan Gender Bidang Kesehatan. yang selanjutnya diintegrasikan dalam penyusunan RKA-KL. tetapi berupaya mengintegrasikan perspektif gender dalam setiap proses perencanaan dan penganggaran. Pelaksanaan PUG bidang kesehatan telah diamanahkan sejak tahun 2000 melalui Inpres Nomor 9 tahun 2000 tentang PUG dalam Pembangunan Nasional. Salah satu prinsip utama dalam perencanaan dan penganggaran responsif gender adalah analisis gender terhadap setiap kebijakan. ditempuh berbagai strategi kebijakan perencanaan dan penganggaran kesehatan. RPJMN Tahun 2010-2014. Hal tersebut tidak berarti bahwa perencana kesehatan harus melakukan dua kali proses perencanaan dan penganggaran. Pengintegrasian perspektif gender menjadikan perencanaan menjadi lebih tepat sasaran dan efektif. yang menjadikan isu gender menjadi bagian integral pembangunan kesehatan. Sebagai tindak lanjut atas kebijakan tersebut. Namun seiring dengan dinamika perubahan kebijakan perencanaan dan penganggaran. dan kegiatan di Kementerian Kesehatan. Pada tahap ini dilakukan pemetaan antara peran. kondisi. dan pelaksanaan program dan kegiatan di lingkungan Kementerian Kesehatan.KATA PENGANTAR Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI Renstra Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014 telah ditetapkan. dan menjadi arah kebijakan pembangunan kesehatan lima tahun kedepan. dan kebutuhan Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan iii . karena didahului oleh analisis determinan sosial dari perspektif gender. Dukungan kebijakan PUG juga dinyatakan dalam RPJPN Tahun 2005-2025.

Untuk itu kepada semua pihak yang telah berpartisipasi baik langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan buku panduan ini. dengan menurunkan disparitas status kesehatan antar wilayah. kami mengucapkan terima kasih. Melalui Visi Kementerian Kesehatan “Masyarakat Sehat Yang Mandiri Dan Berkeadilan”. Melalui kesempatan ini saya mengajak kepada semua unit utama di Kementerian Kesehatan. Amin Ya Rabbal Alamin.kesehatan perempuan dan laki-laki. Buku Panduan ini merupakan panduan teknis. dr. Pada akhirnya akan bermuara pada pencapaian target indikator kinerja kegiatan sebagaimana ditetapkan dalam dokumen perencanaan. kita telah berkomitmen mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kita semua dalam menyelenggarakan pembangunan kesehatan di Indonesia yang kita cintai. sehingga setiap unit utama diharapkan mampu menyusun Anggaran Responsif Gender yang selanjutnya digunakan sebagai salah satu dokumen dalam penelaahaan RKA-KL di Kementerian Keuangan. Kementerian Kesehatan kembali dipercaya menjadi K/L pilot project pelaksanaan Anggaran Responsif Gender (ARG) melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 104/2010.PP&PA/5/2010 tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Bidang Kesehatan. Ratna Rosita. Merupakan sebuah kebanggaan. secara bertahap melakukan proses perencanaan dan penganggaran yang responsif gender. MPHM iv . Buku ini merupakan kerja sama antara Kementerian Kesehatan dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.Nomor 07/MEN. sehingga diperoleh solusi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan kesehatan yang berbeda antara perempuan dan laki-laki. Komitmen tersebut diperkuat lagi dengan Kesepakatan Bersama antara Menteri Kesehatan dan Menteri Negaran Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 593/MENKES/SKB/ V/2010 . status sosial ekonomi serta gender. sehingga pada akhir tahun 2014 semua program dan kegiatan pembangunan kesehatan telah responsif gender. November 2010 SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN KESEHATAN RI. Jakarta.

dan terintegrasi dalam siklus perencanaan dan penganggaran. yang menjadi acuan dalam penyusunan dokumen perencanaan Kemkes. Jika kita menelaah kembali dokumen perencanaan pemerintah. Masih banyak kebijakan. perempuan dan laki-laki mempunyai kebutuhan kesehatan dan interes yang berbeda. serta peran dan relasi gender yang masih cenderung menempatkan perempuan “dibawah” laki-laki. Pendahuluan. partisipasi.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN RI Relevansi gender dengan bidang kesehatan. semuanya telah menyatakan bahwa gender merupakan mainstream dalam penyusunan kebijakan. kami berharap bahwa kita semua mempunyai kesamaan pandangan dan komitmen bahwasanya Pengarusutamaan gender (PUG) Bidang Kesehatan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. sangat erat kaitannya. Evidence based dari studi-studi gender dan kesehatan menyatakan bahwa salah satu penyebab utama dan akar masalah dari rendahnya status kesehatan masyarakat dan permasalahan kesehatan adalah belum responsifnya kebijakan. Untuk itu. program dan kegiatan kesehatan terhadap isu gender. program dan kegiatan kesehatan yang masih bias atau netral gender. tetapi lebih dari itu menumbuhkan kesadaran bahwasanya PUG merupakan pendekatan yang efisien dan efektif untuk mencapai target kinerja output dan outcome pembangunan kesehatan. monitoring. program dan kegiatan. dan kontrol terhadap upaya kesehatan. Buku Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) ini. manfaat. karena masih cenderung mengasumsikan bahwa kebutuhan kesehatan (health needs) antara perempuan dan laki-laki adalah sama. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan v . Dukungan kebijakan tersebut secara jelas diuraikan dalam Bab I. maupun jangka pendek atau tahunan. pelaksanaan. dan evaluasi pembangunan kesehatan. baik dokumen perencanaan jangka panjang. sektor kesehatan bertanggung jawab dalam meningkatkan kualitas SDM dan indikator untuk menilainya bukan hanya dengan melihat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tetapi juga dengan Indeks Pembangunan Gender (IPG) bahkan dengan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG). bukan hanya karena dorongan aturan/kebijakan yang pro gender. Perlu kita pahami bersama pula bahwa dalam mencapai tujuan pembangunan nasional. Faktanya. sehingga situasi tersebut menyebabkan implikasi yang berbeda pula dalam hal akses. jangka menengah.

tetapi hanya memastikan bagaimana agar perspektif gender dapat diintegrasikan dalam setiap tahapan perencanaan dan penganggaran. Hal tersebut telah menunjukkan komitmen Kemkes dalam rangka mengembangkan team work yang terpadu dalam melaksanakan PUG bidang kesehatan di Kementerian Kesehatan. program dan kegiatan yang rerponsif gender. Biro Perencanaan dan Anggaran telah mengkoordinir penyusunan Buku Panduan PPRG ini yang tidak hanya melibatkan lintas program dan unit yang ada di lingkungan Kemkes tapi juga melibatkan Kementerian Negara PP&PA serta UNFPA dan juga mendapatkan masukan-masukan dari daerah. Amin Ya Rabbal Alamin. MPH. Endang Rahayu Sedyaningsih. Lebih dari itu.PH vi . masih ada anggapan bahwa melakukan analisis gender berarti menambah beban pekerjaan. sebuah perencanaan dan penganggaran responsif gender akan mendiagnosa dan memberikan jawaban yang lebih tepat kebutuhan program dan anggaran kesehatan bagi perempuan dan laki-laki. Namun. Jakarta. dan pada akhirnya mendukung tercapainya target indikator kinerja kegiatan yang telah ditetapkan. dr. PPRG merupakan bagian integral dari PUG Bidang Kesehatan. November 2010 MENTERI KESEHATAN.Secara struktur. Oleh karenanya. melalui kesempatan ini juga. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan karuniaNya kepada kita semua. Karena itulah. kami mengucapkan terima kasih atas kerja sama yang ditunjukkan oleh tim tersebut atas kerja kerasnya sehingga Buku Panduan PPRG ini dapat tersusun. Dr. sesungguhnya perencanaan dan penganggaran rensponsif gender bukanlah berarti melakukan dua kali perencanaan. kami berharap bahwa buku panduan ini dapat menjadi materi yang dapat dipakai oleh banyak pihak dalam upaya mengembangkan dan melaksanakan kebijakan. dan secara kesisteman maka PPRG merupakan bagian sistem perencanaan dan penganggaran yang telah berjalan selama ini. Selama ini.

Inpres tersebut mengamanahkan bagi semua Kementerian dan Lembaga Pemerintah untuk mengintegrasikan perspektif gender pada saat menyusun kebijakan. program dan kegiatan masing-masing. antara lain yang dilaksanakan melalui penerbitan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 119 Tahun 2009 yang diperbaharui dengan PMK Nomor 104 Tahun 2010 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL Tahun Anggaran 2011 yang menetapkan Kementerian Kesehatan sebagai salah satu uji coba penerapan anggaran yang responsif gender. sehingga perempuan dan laki-laki mendapatkan akses dan manfaat yang adil dan setara di dalam bidang Kesehatan.MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN PENGANTAR PADA PANDUAN PERENCANAAN DAN PENGGANGGARAN RESPONSIF GENDER BIDANG KESEHATAN Saya menyambut balk diterbitkannya Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan. Panduan ini bertujuan untuk memberikan informasi dan langkah¬langkah di dalam menyusun kebijakan. program dan kegiatan di bidang kesehatan dengan pendekatan anggaran responsif gender sesuai dengan PMK Nomor 104 Tahun 2010 di atas. termasuk Kementerian Kesehatan. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan vii . Panduan ini akan memberikan umbangan ang ukup ignifikan alam engimplementasikan s y c s d m Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional.

Akhirnya. Jakarta.IP viii . S. Untuk itu. yang difasilitasi oleh UNFPA. September 2010 Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Linda Amalia Sari Gumelar.Tersusunnya panduan ini atas kerjasama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Kementerian Kesehatan. kami berharap Panduan ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh semua pihak yang terkait. kami sampaikan penghargaan yang tinggi kepada Tim Penyusun dan pihak-pihak yang telah berkontribusi.

DAFTAR ISI Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan ix .

x .

Bahwa untuk melaksanakan Inpres Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG). 07/MEN.PP&PA/5/2010 – No. b. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan xi . program dan kegiatan pembangunan kesehatan.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 1459/MENKES/SK/X/2010 TENTANG PANDUAN PERENCANAAN DAN ANGGARAN RESPONSIF GENDER BIDANG KESEHATAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Menimbang a. Mengingat 1. dan c telah disusun Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan. bahwa sebagai tindak lanjut sebagaimana dimaksudkan pada huruf a. menunjuk Kementerian Kesehatan menjadi pilot project pelaksanaan Anggaran Responsif Gender dalam penyusunan RKA-KL TA. d. perlu ditindaklanjuti. b. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 47. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 104. c bahwa Kesepakatan Bersama Antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Menteri Kesehatan tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Bidang Kesehatan No. 2. Kementerian Kesehatan berkewajiban melakukan PUG dalam kebijakan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4421). 593/MENKES/SKB/V/2010. 2011. bahwa sesuai dengan PMK Nomor 104 tahun 2010. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4286).

Tugas. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.3. MEMUTUSKAN: Menetapkan Kesatu : Keputusan Menteri Kesehatan tentang Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan. 5. 593/MENKES/SKB/V/2010 tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Bidang Kesehatan. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 14.02/2010 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL Tahun Anggaran 2011. Tambahan lembaran Negara Nomor 5063). Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 878 Tahun 2006 tentang Tim Pengarusutamaan Gender Bidang Kesehatan (PUG-BK). Susunan Organisasi. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025. 13. 8. 7. Kedua : Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan. Peraturan Menteri Keuangan No 104/PMK. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014. 12. Inpres Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010. 4. Inpres Nomor 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan. Fungsi. 6. sebagaimana terlampir dalam Keputusan ini. 07/MEN. 375/ MENKES/SK/V/2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. 9. Inpres Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional . Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 144. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Kedudukan. 10. Kesepakatan Bersama Antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Menteri Kesehatan No.03. dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia. 11.01/60/I/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan RI Tahun 2010 – 2014. Ketiga : Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua digunakan sebagai acuan bagi Kementerian Kesehatan xii .PP&PA/5/2010 – No.

MPH.PH Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan xiii .dalam penyusunan perencanaan dan penganggaran program pembangunan kesehatan yang responsif gender. Endang Rahayu Sedyaningsih. Dr. Keempat : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. DR. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 4 Oktober 2010 Menteri Kesehatan.

xiv BAB I Pendahuluan .

Latar Belakang Salah satu tujuan pembangunan nasional adalah meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (SDM) Indonesia sehingga mempunyai kemampuan daya saing secara global. meskipun IPG Indonesia mengalami peningkatan dari 0. IPG Indonesia pada tahun 2008 menduduki peringkat ke-94 dari 177 negara. Perbaikan IPM Indonesia belum diikuti oleh perbaikan IPG. Indonesia berada pada peringkat ke-6 setelah Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 1 . namun nilainya masih lebih rendah jika dibandingkan dengan nilai IPM pada tahun yang sama. belum mengalami peningkatan yang berarti yaitu 0.639 pada tahun 2004 menjadi 0. yang kemudian secara bertahap dijabarkan dalam perencanaan pembangunan lima tahunan dan perencanaan tahunan.597 pada tahun 2004 menjadi 0. 2008). Demikian pula dengan Indeks Pemberdayaan Gender.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN Nomor : 1459/MENKES/SK/X/2010 Tanggal : 4 Oktober 2010 bab BAB I PENDAHULUAN A. Isu SDM sebagai prioritas pembangunan nasional merupakan amanah Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025.623 pada tahun 2008 (UNDP.687 pada tahun 2004 menjadi 0. yaitu dari 0. IPM atau HDI Indonesia telah mengalami peningkatan.664 pada tahun 2008. Indeks Pembangunan Gender (IPG) atau Gender-related Development Index (GDI) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) atau Gender Empowerment Measurement (GEM). dan di antara 10 negara-negara ASEAN. Terdapat tiga indikator kualitas SDM yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI).719 pada tahun 2008.

Sementara itu. mulai dari tahap perencanaan. Sedangkan IDG Indonesia menduduki peringkat ke-107 dari 177 negara. Sedangkan isu gender tercantum pada tujuan 3 MDGs (Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan). yang bersifat cross cutting dalam mencapai 7 tujuan lainnya dari 8 tujuan MDGs. pelindungan. pemantauan dan evalusi pembangunan. Terdapat 5 tujuan MDGs yang berhubungan dengan bidang kesehatan. keseimbangan. tujuan 6 (Mengendalikan HIV/ AIDS. Inpres ini mewajibkan pemerintah pusat dan daerah melakukan pengarusutamaan gender ke dalam seluruh proses pembangunan. Kementerian Kesehatan telah menjadikan isu gender sebagai mainstream dalam pembangunan kesehatan. dengan memperhatikan amanah Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025. khususnya pasal 2 yang berbunyi “Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan berasaskan perikemanusiaan. penghormatan terhadap hak dan kewajiban. Malaysia. melalui peningkatan status gizi balita. Responsif Gender menjadi salah satu dasar penyelenggaraan SKN. melalui penyehatan lingkungan. Sejak tahun 2000. 9 tahun 2000 tersebut di atas. 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam Pembangunan Nasional. Thailand. PUG di Kementerian Kesehatan juga diperkuat dengan Kesepakatan Bersama Antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Menteri Kesehatan No. Melalui Instruksi Presiden (Inpres) No. selain itu dalam sistem Kesehatan Nasional (SKN) 2009. dan politik belum berhasil secara signifikan. serta tujuan 7 (Menjamin Kelestarian Lingkungan Hidup). dan Filipina. Malaria dan penyakit menular lainnya).PP&PA/5/2010 – No. Rencana Pembangunan Jangka Panjang bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025 dan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010–2014 sebagai pedoman dalam penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Tahun 20102014. 07/MEN. Pembangunan kesehatan sebagai salah satu penentu kualitas SDM telah mengadopsi PUG. isu kesehatan dan gender juga telah menjadi komitmen global yang dinyatakan dalam MDGs. Brunei Darussalam. manfaat. Program dan kegiatan kesehatan yang berhubungan dengan pencapaian target 2 BAB I Pendahuluan . yaitu tujuan 1 (Memberantas Kemiskinan dan Kelaparan). ekonomi. Komitmen pemerintah melalui Inpres No. tujuan 5 (Peningkatan Kesehatan Ibu). 593/MENKES/SKB/V/2010 tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Bidang Kesehatan. pemerintah telah berkomitmen menjadikan isu gender sebagai mainstream (arusutama) pembangunan. Sejalan dengan peraturanperaturan tersebut di atas. Peningkatan IDG masih relatif kecil setiap tahunnya. keadilan. isu kesenjangan gender telah menjadi salah satu komitmen utama pemerintah. tujuan 4 (Menurunkan Kematian Anak).Singapura. Hal ini mengindikasikan bahwa upaya peningkatan kesetaraan gender di bidang sosial. dipertegas kembali melalui UU No. gender dan nondiskriminatif dan normanorma agama”. pelaksanaan. 36 tahun 2009 tentang kesehatan.

dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas) ditambah K/L yang menangani Bidang Perekonomian dan Bidang Polsoskum (Politik. Departemen Pertanian. Tujuan Penyusunan Panduan 1. Selanjutnya penerapan ARG diperbarui dengan PMK No. Dalam penelaahan RKA-KL kedua dokumen ARG tersebut merupakan bagian integral dari dokumen pendukung penelaahan RKA-KL yang menjadi syarat penelaahan RKA-KL oleh Direktorat Jenderal Anggaran. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 3 .MDGs selanjutnya diperkuat dengan Inpres No. Kementerian Kesehatan. 1 tahun 2010 tentang percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan nasional tahun 2010 dan Inpres No. Kementerian Permberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Uraian di atas memberikan pemahaman bahwa kebijakan PUG bidang kesehatan telah mendapatkan dukungan kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang sangat kuat. Memampukan para perencana untuk mengintegrasikan perspektif gender dalam setiap tahapan perencanaan dan penganggaran bidang kesehatan. 2. Kementerian Pendidikan Nasional. sehingga perlu ditindaklanjuti dengan kebijakan perencanaan dan penganggaran bidang kesehatan yang responsif gender. Perencanaan kesehatan yang responsif gender telah dinyatakan dalam dokumen perencanaan sebagaimana diuraikan tersebut di atas. 119 tahun 2009 yang menetapkan Kementerian Kesehatan sebagai salah satu ujicoba penerapan ARG dari 7 Kementerian/Lembaga (K/L) yaitu Departemen Pendidikan Nasional. B. Terdapat dua bentuk dokumen ARG dalam penyusunan RKA-KL. yaitu TOR responsif gender dan Gender Budget Statement (GBS). Kementerian Keuangan. dan Hukum). Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas. Memberikan panduan bagi para perencana dalam menyusun Anggaran Responsif Gender (ARG) di bidang kesehatan. 104 tahun 2010. Sedangkan dokumen penganggaran responsif gender bidang kesehatan atau disebut dengan Anggaran Responsif Gender (ARG) diamanahkan melalui PMK No. Karena ARG telah menjadi bagian integral sistem perencanaan dan penganggaran K/L. yang kembali menetapkan 7 (tujuh) K/L pilot tahun anggaran 2011 (Kementerian Pertanian. maka Kementerian Kesehatan perlu menyusun panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender yang menjadi acuan bagi para perencana kesehatan dalam penyusunan ARG. Departemen Kesehatan. dan pencapaian tujuan MDGs. Departemen Pekerjaan Umum. dan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan. Kementerian Pekerjaan Umum. Kedua PMK dimaksud telah mengintegrasikan ARG dalam penyusunan RKA-KL. 3 tahun 2010 tentang program pembangunan yang berkeadilan dengan 3 substansi yaitu pro rakyat. Departemen Keuangan. Sosial. keadilan untuk semua.

Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010–2014. 375/MENKES/SK/V/2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 9/2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional. 4. 10.C. 9. Teknik penyusunan GBS (Gender Budget Statement) Untuk mempermudah dan membantu para perencana memahami konsep gender dalam penyusunan ARG. 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan. 374/MENKES/SK/V/2009 tentang Sistem Kesehatan Nasional (TKN). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. Inpres No. Teknik analisis gender bidang kesehatan dengan menggunakan Gender Analysis Pathway (GAP) 2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025. Teknik penyusunan TOR (Term of Reference) responsif gender 3. 593/MENKES/SKB/V/2010.PP&PA/5/2010 – No.878 Tahun 2006 tentang Tim Pengarusutamaan Gender Bidang Kesehatan (PUG-BK). 7. 6. Kesepakatan Bersama Antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Menteri Kesehatan tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Bidang Kesehatan No. D. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.01/60/ I/ 2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan RI Tahun 2010 – 2014. UU No. 11. 2. 3.02/2010 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL Tahun Anggaran 2011. 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010. 5. Inpres No. 12. Inpres No. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK. Ruang Lingkup Panduan 1. 07/MEN. Landasan Hukum 1. Peraturan Menteri Keuangan No 104/PMK. 8. maka dalam panduan ini juga disampaikan secara singkat tentang konsep gender dan isu gender dalam bidang kesehatan yang dapat dilihat pada BAB II.03. 4 BAB I Pendahuluan .

bahwa gender adalah konsep yang mengacu pada peran dan tanggungjawab perempuan dan laki-laki yang terjadi akibat dari dan dapat berubah oleh konstruksi/ keadaan sosial budaya masyarakat (WHO. tetapi berbeda antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya dan dapat berubah seiring dengan perkembangan zaman. . Jenis kelamin mengacu pada perbedaan karakteristik biologis dan fisiologis yang membedakan perempuan dan laki-laki. Gender mengacu pada peran. Kerancuan itu bermula dari pemahaman yang keliru tentang ‘gender’ yang sering diartikan sebagai jenis kelamin. padahal. sehingga masih banyak terjadi kerancuan dalam memahaminya apalagi mengaplikasikannya. prilaku. menyusui. Jenis kelamin bersifat kodrati dan universal (berlaku di mana saja) dan tidak bisa dipertukarkan satu sama lain.Laki-laki mempunyai tulang yang lebih masif. sedangkan laki-laki tidak memilikinya. . Konsep Gender Gender merujuk pada perbedaan antara perempuan dan laki-laki sejak lahir. Pembedaan peran gender tidak bersifat universal. kegiatan serta karakteristik sosial lainnya yang dibentuk oleh suatu masyarakat atau budaya tertentu berdasarkan persepsi yang pantas untuk perempuan atau pantas untuk laki-laki.bab BAB II KONSEP GENDER DAN ISU GENDER BIDANG KESEHATAN A.Perempuan dapat melahirkan. laki-laki tidak. 2010). diajari Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 5 .Laki-laki mempunyai jakun. sedangkan perempuan tidak. . menstruasi. Lingkungan sosial mereproduksi pembedaan peran gender melalui pemisahan kepantasan untuk perempuan dan kepantasan untuk laki-laki. Persepsi gender dipraktikkan melalu perbedaan cara perempuan dan laki-laki dibesarkan. mempunyai testis. Singkat kata. Istilah gender relatif baru masuk dalam khazanah pembangunan. menghasilkan sperma. istilah ‘jenis kelamin/ sex’ berbeda dengan gender. tumbuh kembang dan besar melalui proses sosialisasi di lingkungan keluarga dan masyarakat. Contoh dari sifat jenis kelamin antara lain: . termasuk pembangunan kesehatan.Perempuan mempunyai payudara yang berfungsi untuk menyusui. khususnya perempuan.

dan lain-lain. bisa berubah-ubah dan bersifat dinamis. Pekerjaan merawat dan membesarkan anak serta pekerjaan rumah tangga lainnya merupakan tugas dan tanggung jawab ibu rumah tangga. yakni : 1. Gender beragam. bukan jenis kelamin. Menjadi kepala (rumah sakit. pimpinan) dianggap ranah perempuan. laki-laki dan perempuan idealnya mempunyai peran dan tanggung jawab yang sama. lakilaki menjadi pemimpin. perempuan yang merokok sudah dianggap biasa. 6 BAB II Konsep Gender dan Isu Gender Bidang Kesehatan . kepedulian. Dokter kandungan pantasnya laki-laki. Subordinasi : akibat bentuk stereotipi menempatkan perempuan pada posisi di bawah laki-laki. perencanaan. Contohnya antara lain: Merokok dianggap pantas untuk laki-laki. orang rumah. dan lain-lain. Praktik ini direproduksi secara turun temurun. tidak mempunyai kesempatan yang sama untuk bekerja atau berproduksi. tidak penting. namun dari sisi sosial. Perbedaan dan peran gender sebenarnya bukan suatu masalah sepanjang tidak menimbulkan ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender. proyek) dianggap ranah laki-laki. bahkan sebagai salah satu ciri perempuan ’modern’. Contohnya laki-laki jadi ilmuwan. dan lainlain. mahluk yang perlu dilindungi. Ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender dapat terjadi dalam beberapa bentuk atau manifestasi. bukan juga perempuan. Stereotipi : menempatkan wanita sebagai mahluk lemah. Perlu ditekankan bahwa meskipun laki-laki dan perempuan dari sisi biologis berbeda. perempuan juga bisa jadi ilmuwan. Dengan perubahan zaman. bahkan pernah suatu masa dokter kandungan dilarang digeluti oleh perempuan. tidak punya nilai ekonomi. tidak boleh mengambil keputusan dibandingkan laki-laki. perempuan juga bisa jadi pemimpin. bukan pengambil keputusan. kantor. yang menyangkut kebutuhan. 2. menjadi sekretaris (proyek.berprilaku. tidak diperhatikan atau diakomodasi dalam berbagai hal. tetapi lebih merujuk pada arti sosial bagaimana menjadi perempuan dan menjadi laki-laki. kondisi ideal tersebut belum tercipta karena masih terjadi ketidakadilan dan ketidaksetaraan atau diskriminasi gender. Namun demikian. 3. Bidan pantas sebagai pekerjaan perempuan karena dianggap mengurusi bagian-bagian intim perempuan. Marginalisasi : terpinggirkan. - - Gender bukan semata-mata perbedaan biologis. tapi tidak untuk perempuan. dan diharapkan untuk ‘menjadi perempuan’ dan ‘menjadi lelaki’ menurut budaya masyarakatnya. dan lain-lain. sedangkan suami mempunyai tugas mencari nafkah bagi keluarga. pendidikan. pengalaman.

isu kesehatan tidak boleh hanya dilihat pada masalah service delivery (penyediaan layanan) saja. Publikasi ilmiah menyatakan bahwa: Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 7 . Oleh karena itu. Kekerasan bisa berbentuk ancaman tindakan tertentu. dan kebutuhan laki-laki dan perempuan yang berbeda. baik yang terjadi di ranah publik. Isu Gender dalam Bidang Kesehatan Isu Gender dalam bidang kesehatan adalah masalah kesenjangan perempuan dan laki-laki dalam hal akses. termasuk bekerja di luar rumah. partisipasi. dan lebih lama waktu kerjanya. peran atau partisipasi. tetapi juga perlu melihat pada hubungan sosial budaya yang menyebabkan perbedaan status dan peran perempuan dan laki-laki dan relasi antara keduanya di masyarakat. seksual atau psikologis tertentu yang mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan. Untuk mempermudah para perencana mengenal isu gender. Isu gender terhadap prevalensi dan tingkat keparahan penyakit Perbedaan norma dan relasi gender menyebabkan perempuan dan laki-laki menderita penyakit yang berbeda dan juga tingkat keparahannya. sehingga kesenjangan tersebut harus menjadi perhatian dalam menyusun kebijakan/program sehingga kebijakan/program bisa lebih terfokus. kontrol dan manfaat dalam setiap bidang pembangunan. 5.4. B. tempat kerja. berikut ini beberapa contoh isu gender dalam kaitannya dengan upaya atau pelayanan kesehatan. Untuk itu. Kesenjangan akses. 1. kontrol dan manfaat antara perempuan dan laki-laki dalam upaya atau pelayanan kesehatan secara langsung menyebabkan ketidaksetaraan terhadap status kesehatan perempuan dan laki-laki. misalnya fungsi reproduktif dan peran sebagai pengelola rumah tangga. efisien dan efektif dalam mencapai sasaran. partisipasi. karena jika para pembuat dan pelaksana kebijakan masih memiliki pola pikir. kontrol dan manfaat yang diperoleh mereka dalam pembangunan kesehatan. program dan kegiatan yang memastikan laki-laki dan perempuan memperoleh keadilan dan kesetaraan dalam akses. aspirasi. pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang. Kekerasan Berbasis Gender : perempuan mendapatkan serangan fisik. Beban Majemuk : perempuan bekerja lebih beragam daripada laki-laki. Untuk mengurangi bentuk ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender tersebut diatas. maka perlu meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pembuat kebijakan (policy maker) dan pelaksana kebijakan tentang konsep dan isu gender. para pembuat dan pelaksana kebijakan perlu sensitif gender agar dapat menghasilkan kebijakan. atau dalam kehidupan rumah tangga. sikap dan tingkah laku yang buta gender akan menghasilkan kebijakan netral atau bias gender karena tidak mempertimbangkan pengalaman.

Demikian pula untuk kasus hernia pada laki-laki yang berhubungan dengan jenis pekerjaan. yang berhubungan dengan rendahnya akses terhadap teknologi dan pelayanan kesehatan dalam deteksi dini dan tindakan pengobatan. Demikian pula Schizophrenia dan kanker paru-paru yang berhubungan dengan perilaku merokok. penggunaan alat kontrasepsi dan prilaku laki-laki dalam mencari pelayanan 8 BAB II Konsep Gender dan Isu Gender Bidang Kesehatan . Depresi (dua sampai tiga kali lebih banyak pada perempuan dibandingkan laki-laki pada semua fase kehidupan) yang berhubungan dengan tipe personal dan pengalaman dalam bersosialisasi dan perbedaan peluang antara perempuan dan laki-laki. Silicosis yang berhubungan dengan pekerja tambang (100 % laki-laki). Angka kematian yang tinggi pada kasus kanker perempuan pada usia dewasa. Laki-laki menderita lebih banyak Sirosis Hepatis yang berhubungan dengan perilaku minuman beralkohol. sementara remaja laki-laki mempunyai prevalensi lebih tinggi dibandingkan remaja perempuan karena mereka lebih sering bermain di sungai dan kanal. Malnutrisi pada bayi berhubungan dengan kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan ibu.Perempuan mempunyai akses yang lemah terhadap keuangan keluarga sehingga mengurangi kemampuannya untuk melindungi dirinya dari faktor risiko penyakit. Penyakit dengan gangguan pada Arteri Coronaria merupakan salah satu penyebab terbesar kematian pria pada saat kerja.- - - - - - - Perempuan menderita anemia akibat kekurangan Fe pada ibu hamil dan menyusui serta perempuan yang menstruasi sebagai akibat dari hegemoni laki-laki dalam rumah tangga yang mempunyai peluang lebih besar mengkonsumsi makanan kaya Fe. Perempuan lebih berisiko dari laki-laki terhadap defisiensi micro-nutrient yang akan berdampak buruk bagi status gizi dan kesehatannya sehingga mengurangi produktivitas dan peluang investasi di bidang pendidikan.Riset WHO yang dilakukan pada laki-laki termasuk remaja pria di seluruh dunia menunjukkan bagaimana norma-norma terhadap ketidakadilan gender mempengaruhi interaksi laki-laki dengan pasangan wanitanya dalam banyak hal. hipertensi dan kegemukan. lebih banyak pada perempuan dibandingkan laki-laki. 2. . Isu gender terhadap lingkungan fisik dan penyakit Studi kasus di Zimbabwe menyatakan bahwa perempuan dewasa lebih berisiko tinggi menderita Sistosomiasis (salah satu jenis cacing darah) dibandingkan lakilaki karena perempuan bertugas mencuci pakaian dan perlengkapan dapur yang dilakukannya di sungai. 3. Osteoporosis 8 kali lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki yang berhubungan dengan faktor biologis dan gaya hidup. Isu gender terhadap faktor risiko penyakit . Demikian pula Diabetes. termasuk pencegahan transmisi HIV/AIDS dan penyakit IMS lainnya.

Peran perempuan dalam mengurus rumah tangga mengakibatkan apabila perempuan jatuh sakit tidak cepat mencari pengobatan karena merasa tidak nyaman melalaikan tugas dan tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga.Ketimpangan peran dan relasi gender menyebabkan perempuan mempunyai akses secara fisik. serta pola parenting (proses bertindak sebagai orang tua). Demikian pula dengan angka kesakitan dan kematian akibat kecelakaan lalu lintas dan tindak kriminal.Tidak masuknya target perempuan pada studi-studi klinis patologis. . perempuan tidak dengan serta merta mengakses pelayanan kesehatan karena : a. karena dalam beberapa kelompok masyarakat laki-laki lebih didahulukan sebagai pengguna utama air bersih. 4. keputusan tentang penggunaan kontrasepsi lebih banyak ditentukan oleh suami. Demikian pula pada laki-laki dewasa mencari pengobatan terhadap penyakitnya pada stadium lanjut karena peran maskulin laki-laki menyebabkan laki-laki merasa harus kuat dalam menghadapi penyakit. Kalaupun berobat penyakitnya sudah dalam stadium lanjut. Jam pelayanan (waktu) di sarana pelayanan kesehatan seringkali tidak sesuai dengan kesibukan ibu rumah tangga. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 9 . Pada saat sakit. psikologis dan sosial terhadap sarana pelayanan kesehatan . Pertimbangan tubuh laki-laki sebagai standar dalam studi klinis akan membatasi jumlah studi yang difokuskan pada kesehatan reproduktif dan non-reproduktif perempuan. sedangkan perempuan dan anak-anak harus membawa dan menyiapkannya tetapi mendapatkan prioritas kedua.- - kesehatan. Disamping itu dalam relasi gender di sebuah keluarga. Isu gender terhadap akses secara fisik. psikologis dan sosial terhadap pelayanan kesehatan lebih rendah dibandingkan laki-laki. mengakibatkan terapi hasil studi tersebut tidak realible diaplikasikan pada perempuan dan mungkin berbahaya pada perempuan. Juga terkait dengan pembagian peran dan tugas rumah tangga. . Terbatasnya akses terhadap air bersih pada perempuan.Pelayanan Kelurga Berencana lebih fokus pada perempuan dibanding laki-laki mengakibatkan laki-laki mempunyai akses yang terbatas terhadap pelayanan KB dan mengakibatkan laki-laki mempunyai persepsi bahwa KB adalah urusan perempuan. 5. pengambil resiko berprilaku agnesi dan tidak menunjukkan sifat lemah berhubungan dengan angka penggunaan alkohol dan Narkoba lebih tinggi pada lakilaki di seluruh belahan dunia.Perbedaan peran laki-laki dan perempuan mempengaruhi persepsi perasaan tidak nyaman serta mempengaruhi keinginan wanita untuk menyatakan dirinya sakit. Isu gender terhadap persepsi dan respon terhadap penyakit . yang selanjutnya berpengaruh terhadap dampak pengobatan tertentu pada perempuan.. Streotipi maskulin menyebabkan seorang laki-laki harus berani.

jarak/transportasi. informasi dan teknologi memperburuk ketidakadilan gender. 10 BAB II Konsep Gender dan Isu Gender Bidang Kesehatan . Tersedianya sumber daya keuangan akan berhubungan dengan peningkatan tingkat kesehatan anak. Studi menunjukkan bahwa perempuan mempunyai risiko terinfeksi dua sampai empat kali lebih besar pada kasus ini. Perempuan dengan penyakit IMS cenderung tidak ke sarana kesehatan karena takut dengan stigma sosial yang ‘miring’ atau negatif tentang perempuan penderita Penyakit Menular Seksual. maka akan berdampak signifikan terhadap kesejahteraan keluarga dan anggotanya. Dalam keadaan sakit perempuan harus mendapatkan ijin suami untuk berkunjung ke sarana pelayanan kesehatan.- - b. 6. Jika perempuan mempunyai akses terhadap pembiayaan. Perempuan lebih banyak terpajan oleh penyakit IMS yang menyebabkan peningkatan risiko infeksi HIV/ AIDS. Isu gender terhadap keterpajanan dan kerentanan penyakit Perempuan lebih rentan dibanding laki-laki terhadap infeksi HIV/AIDS melalui hubungan heteroseksual. Banyak kasus IMS pada perempuan bersifat asimptomatik (tidak bergejala) yang mengakibatkan lambatnya diagnosis dan pengobatan. Terbatasnya akses terhadap biaya.

uraian akan difokuskan pada sistem perencanaan dan penganggaran di tingkat pusat. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional seperti tertera pada bagan 1 di bawah ini : Bagan 1. Di bagian atas menggambarkan alur perencanaan dan penganggaran pemerintah pusat.BAB III bab PENGANGGARAN RESPONSIF GENDER BIDANG KESEHATAN PERENCANAAN DAN A. Dalam panduan ini. Alur Perencanaan dan Penganggaran Renstra KL Pedoman Renja KL Pedoman RKA KL Rincian APBD PEMERINTAH Pedoman Diacu Dijabarkan RPJP Nasional Diacu RPJP Daerah RPJM Nasional Diperhatikan RPJM Daerah Pedoman RKP Pedoman RAPBN APBN Diserasikan melalui MUSRENBANG RKP Daerah Pedoman Dijabarkan Pedoman RAPBD APBD PEMERINTAH DAERAH Renstra SKPD Pedoman Renja SKPD Pedoman RKA SKPD Rincian APBD UU SPPN Sumber : UU No. 25 Tahun 2004 dan UU No. Sistem Perencanaan dan Penganggaran di Indonesia Sistem perencanaan dan penganggaran nasional diatur dalam UU No. sedangkan di bagian bawah menggambarkan alur perencanaan dan penganggaran pemerintah daerah. 17 Tahun 2003 UU KN Bagan diatas memperlihatkan sistem perencanaan dan penganggaran nasional yang berlaku di pemerintah pusat dan pemerintah daerah. terutama untuk lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 11 .

Pada bulan 12 BAB III Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan .Siklus perencanaan dan penganggaran (baca tahun fiskal) di Indonesia menurut Pasal 4 UU No.AGUSTUS Penelaahan Konsistens Dengan RKP SE Lampiran RAPBN (Himpunan RKA-KL) Rancangan KEPRES ttg Rincian APBN SEPTEMBER . Pengagaran dan Evaluasi Terpadu JANUARI . Siklus perencanaan dan penganggaran dalam satu tahun dapat dilihat pada bagan 2 dibawah. SE tentang pagu sementara (Pagu Anggaran) digunakan sebagai acuan dalam menyusun RKA-KL suatu K/L. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dimulai 1 Januari sampai 31 Desember tahun yang sama. Selanjutnya diadakan Rakorbangpus dalam rangka penyusunan RKP yang ditetapkan dengan Peraturan Presiden. selanjutnya pemerintah dan DPR mengadakan rapat kerja dalam rangka Pembahasan Pembicaraan Pendahuluan Penyusunan RAPBN untuk menyepakati pokok-pokok kebijakan belanja negara. untuk selanjutnya ditelaah di Dirjen Anggaran Kemenkeu. Kegiatan selanjutnya adalah rapat kerja pemerintah bersama DPR untuk membahasa RAPBN menjadi APBN. Diagram Proses Perencanaan. Atas dasar RKP tersebut.APRIL MEI . Pertemuan trilateral meeting menghasilkan Rancangan Renja KL yang merupakan perpaduan antara RKP dan Renstra KL. 21 tahun 2004 Bagan di atas memperlihatkan bahwa Renja KL harus sudah dibuat selambatlambatnya di bulan April. Bagan 2.DESEMBER Kementrian Perencanaan Indikasi Pagu SEB Prioritas Program dan Kementrian Keuangan Sementera (Pagu Anggaran) Pagu Penelaahan Konsistansi dengan Prioritas Anggaran Pagu Difinitif (Alokasi Anggaran) PENGESAHAN Kementrian Negara/ Lembaga Restra KL Rancangan Renja KL RKP RKA KL Konsep Dokumen Pelaksanaan Anggaran Dokumen Pelaksanaan Anggaran Sumber : PP No. yang memuat tiga hal utama yaitu. dengan mengacu pada SEB Menteri PPN/Kepala Bappenas dan Menteri Keuangan tentang Pagu Indikatif dan Rancangan Awal RKP. (ii) kegiatan non prioritas dan pengganggarannya. (i) kegiatan prioritas dan penganggarannya. Hasil rapat kerja dengan DPR dijadikan sebagai bahan acuan penyusunan pagu sementara oleh Menteri Keuangan yang kemudian ditetapkan dengan Surat Edaran tentang Pagu Sementara (Pagu Anggaran) K/L. serta (iii) usulan kebijakan/kegiatan baru (inisiatif baru). Hasil penelaahan RKA-KL tersebut selanjutnya dijadikan sebagai bahan Lampiran RAPBN pada saat presiden membacakan Nota Keuangan di hadapan rapat paripurna DPR pada bulan Agustus. Atas dasar SEB tersebut diadakan Pertemuan Tiga Pihak (Trilateral Meeting) antara BappenasKemenkeu-K/L mengenai Pembahasan Rancangan RKP dan Pagu Indikatif RAPBN untuk K/L tersebut.

Atas dasar hasil rapat kerja tersebut ditetapkanlah Perpres Rincian Anggaran Pemerintah Pusat. Hasil penelaahan tersebut disahkan menjadi DIPA (Dokumen Pelaksanaan Anggaran) Kementerian/Lembaga oleh Dirjen Perbendaharaan Kemenkeu. • Usulan dari Unit Utama selanjutnya direview dan dikompilasi oleh Biro Perencanaan dan Anggaran. B. Siklus perencanaan dan penganggaran responsif gender menyesuaikan dengan siklus perencanaan dan penganggaran di Kementerian Kesehatan sebagaimana diuraikan di bawah ini : Bagan 3. Perpres tersebut dijabarkan melalui Surat Rincian Alokasi Anggaran (SRAA) yang ditetapkan oleh Dirjen Perbendaharaan. sebagaimana dijelaskan pada Sub Bab III bagian A tersebut di atas. yang kemudian direview di Setditjen/ Setbadan/Set-Itjen di masing-masing unit utama. WAKTU JanuariApril KEGIATAN Penyusunan draft awal Renja K/L Kemenkes : • Usulan berasal dari unit eselon II. HASIL Draft awal Renja K/L Kemenkes Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 13 . Atas dasar kedua dokumen tersebut (Perpres dan SRAA) K/L menyusun Konsep DIPA untuk selanjutnya ditelaah dengan Dirjen Perbendaharaan. Mekanisme Perencanaan dan Penganggaran di Kementerian Kesehatan serta Kaitannya dengan Anggaran Responsif Gender (ARG) Perencanaan dan penganggaran responsif gender bidang kesehatan tidak berdiri sendiri. Idealnya analisis gender dilakukan pada kegiatan prioritas.September Kementerian Keuangan menyusun Rancangan Keppres tentang Rincian APBN. dan disahkan menjadi APBN maka ditetapkanlah pagu definitif (Pagu Anggaran). Siklus Perencanaan dan Penganggaran Kementerian Kesehatan PENANGGUNG JAWAB Biro Perencanaan dan Anggaran PERENCANAAN DAN ANGGARAN RESPONSIF GENDER Setiap unit eselon II telah melakukan perencanaan gender dengan melakukan analisis gender (metode GAP) dan telah mengidentifikasi sejumlah atau list Rincian Kegiatan yang responsif gender. Khusus untuk dana dekonsentrasi dan UPT pusat yang berada di provinsi. tetapi merupakan bagian integral dari perencanaan dan penganggaran Kementerian Kesehatan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada. Setelah RAPBN dibahas bersama DPR.

Selanjutnya menyusun ARG (TOR responsif gender dan GBS) sebagai dokumen pendukung RKA-KL beserta RAB. Isu gender menjadi salah satu sasaran strategis Renstra 2010-2014 yakni ’menurunnya disparitas status kesehatan dan status gizi antar wilayah dan antar tingkat sosial ekonomi serta gender. namun dalam perhitungan alokasi anggaran di setiap unit eselon II. setiap unit eselon II mereview kembali analisis gender yang telah dibuat sebelumnya dan menetapkan Rincian Kegiatan (terpilih) responsif gender.WAKTU KEGIATAN Pembahasan rancangan awal RKP melalui Sidang Kabinet Paripurna PENANGGUNG JAWAB Bappenas HASIL SEB Pagu Indikatif dan Rancangan Awal RKP PERENCANAAN DAN ANGGARAN RESPONSIF GENDER Setelah SEB Pagu Indikatif ditetapkan dan pada saat penyusunan Renja K/L. setiap unit eselon II melakukan review kembali analisis gender yang telah dibuat (dalam hal kesesuaian pagu indikatif dan pagu sementara). dengan menurunnya disparitas separuh dari tahun 2009’. Perlu diingat bahwa kegiatan yang responsif gender tidak hanya berada di Direktorat Kesehatan Ibu saja sebagai focal point gender. Pertemuan Trilateral meeting sebagai tindak lanjut dari SEB Pagu Indikatif dan Rancangan Awal RKP Bappenas Dokumen Trilateral Meeting dalam rangka Penyusunan RKP dan Renja K/L Kemenkes Pertemuan Rakorbangpus tentang finalisasi RKP dan Sidang Kabinet Rancangan Akhir RKP Bappenas Perpres tentang RKP RKP bidang kesehatan dan Renja K/L Kemenkes Meskipun dalam Perpres RKP khususnya bidang kesehatan tidak mencantumkan secara khusus indikator gender. telah mempertimbangkan kebutuhan anggaran Rincian Kegiatan yang responsif gender. Rapat kerja pemerintah Kemenkeu dan DPR tentang Pembahasan Pembicaraan Pendahuluan Penyusunan RAPBN SE Menkeu tentang pagu sementara 14 BAB III Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan . Setelah pagu sementara ditetapkan.

atas usulan dari penanggung jawab program pada masing-masing Unit Utama. dan dijadikan sebagai dasar RAPBN PERENCANAAN DAN ANGGARAN RESPONSIF GENDER Perencana di unit eselon II mengikuti penelaahaan RKA-KL dan memberikan penjelasan yang dibutuhkan atas pertanyaan penelaah DJA tentang relevansi indikator kinerja . Bagian PI/PA (Unit Utama) HASIL RKAKL Kemenkes yang disetujui oleh DJA. penanggung-jawab program disetiap unit eselon II telah melakukan analisis GAP dan mengidentifikasi sejumlah/ list Rincian Kegiatan yang responsif gender Setelah terbitnya SEB Menteri PPN/Kepala Bappenas dan Menteri Keuangan tentang Pagu Indikatif dan Rancangan Awal RKP dan telah dilaksanakannya Pertemuan Tiga Pihak (Trilateral Meeting) antara Bappenas-Kemenkeu-Kemenkes. selanjutnya disusun Renja K/L Kemenkes.GBS.TOR responsif gender . Renja KL ini disamping mengacu pada RKP juga disusun mengacu kepada Renstra Kementerian Kesehatan 2010-2014. yang diusulkan oleh Perencana Internal (PI/ PA) untuk selanjutnya direview dan dikompilasi oleh Biro Perencanaan dan Anggaran. (lihat tata cara penelaahan pada Bab V Point F) Mei – Agustus Pidato presiden tentang RAPBN Kementerian KeuanganSekretariat Negara Kementerian Keuangan Nota Keuangan tentang tentang RAPBN Perpres tentang Rincian Anggaran Pemerintah Pusat (Pagu Definitif) Konsep DIPA Rapat kerja pemerintah dan DPR untuk pembahasan RAPBN menjadi APBN Review RKA-KL Kemenkes tentang kesesuaian pagu sementara dan pagu definitif September – Desember Biro Perencanaan dan Anggaran (Kemenkes).WAKTU KEGIATAN Penelaahan RKA-KL di DJA Kemenkeu PENANGGUNG JAWAB Biro Perencanaan dan Anggaran (Kemenkes). Renja tersebut merupakan penyempurnaan atas draft awal Renja. Pada saat penyusunan draft awal Renja K/L tersebut. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 15 . Bagian PI/PA (Unit Utama) Penelaahan Konsep DIPA oleh DJPB Kemenkeu DJPB Kemenkeu Pengesahan DIPA Pada bulan Maret Biro Perencanaan dan Anggaran telah melakukan kompilasi draft awal Renja K/L Kementerian Kesehatan.

Setelah pagu sementara ditetapkan melalui Surat Edaran Menteri Keuangan.q. Himpunan RKA-KL K/L termasuk Kementerian Kesehatan akan menjadi lampiran RAPBN. pilihan/ prioritas Rincian Kegiatan responsif gender telah disesuaikan dengan jumlah pagu yang diterima. penetapan pagu definitif serta disahkannya UU APBN. kesesuaian dengan hasil kesepakatan antara Kementerian Kesehatan dan komisi terkait di DPR. RAB dan atau dokumen pendukung terkait. Kedua dokumen ARG tersebut merupakan lanjutan dari hasil analisis GAP. maka DIPA disahkan oleh Dirjen Perbendaharaan Kemenkeu. Selanjutnya pada periode September sampai Desember setelah dilakukan pembahasan RAPBN di DPR. dengan Rincian Kegiatan yang telah disesuaikan dengan pagu sementara. serta dukungan detil kegiatan (Rincian Kegiatan) yang responsif gender terhadap pencapaian target indikator kinerja kegiatan (lihat tata cara penelaahan pada Bab V Sub-Bab F).Pada saat penyusunan Renja K/L tersebut. berdasarkan pagu indikatif yang diterima. Salah satu dokumen pendukung RKA-KL adalah TOR Responsif Gender dan Gender Budget Statement (GBS). Pada bulan Agustus disampaikan nota keuangan RAPBN beserta lampirannya oleh presiden. kesesuaian dengan KAK/ TOR. relevansi pencantuman target kinerja dan komponen masukan (input) yang digunakan. Jika konsep DIPA telah sesuai dengan pagu definitif yang dimaksud dalam UU APBN. Atas dasar dokumen APBN tersebut. prakiraan maju yang telah ditetapkan tahun sebelumnya dan standar biaya. Pada proses penelaahan RKA-KL. penanggung-jawab program mereview kembali hasil analisis GAP dan menetapkan Rincian Kegiatan yang responsif gender. perencana di masingmasing unit eselon II dan dibantu oleh Bagian PI/PA akan memberikan penjelasan yang dibutuhkan tentang relevansi antara TOR responsif gender dan GBS. Proses selanjutnya adalah penelaahan RKA-KL dengan Kementerian Keuangan c. selanjutnya setiap eselon II menyusun RKA-KL. perencana dimasing-masing eselon II menyusun Konsep DIPA dan selanjutnya ditelaah di DJPB Kemenkeu. Artinya. 16 BAB III Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan . Direktorat Jenderal Anggaran dengan meneliti : kesesuaian dengan pagu sementara.

Perencanaan dan penganggaran responsif gender bukanlah tujuan. berpartisipasi dalam mengambil keputusan dan mengontrol terhadap sumber-sumber daya serta kesetaraan terhadap kesempatan dan peluang dalam memilih dan menikmati hasil pembangunan bidang kesehatan. B. Dalam Permenkeu tersebut secara eksplisit dinyatakan bahwa penyusunan anggaran perlu didahului oleh analisis gender. perencanaan dan penganggaran responsif gender akan berkontribusi terhadap peningkatan kesempatan memperoleh layanan kesehatan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat baik laki-laki maupun perempuan. manfaat. analisis gender wajib digunakan dalam perencanaan dan penganggaran. Dalam kaitannya dengan isu kesehatan. kontrol dan manfaat pembangunan bagi laki-laki dan perempuan yang selama ini masih senjang akibat konstruksi sosial-budaya. Melalui analisis gender akan diketahui perbedaan kondisi dan kebutuhan kesehatan laki-laki dan perempuan yang ada yang dijadikan sebagai Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 17 . Tujuannya adalah mewujudkan anggaran yang lebih berkeadilan. Bahkan sebelumnya dalam Inpres No. 9/2000. partisipasi. Definisi Operasional ARG Anggaran Responsif Gender (ARG) merupakan sistem penganggaran yang mengakomodasikan keadilan bagi perempuan dan laki-laki dalam memperoleh akses.BAB IV bab (ARG) BIDANG KESEHATAN ANGGARAN RESPONSIF GENDER A. Perencanaan dan penganggaran responsif gender merupakan instrumen untuk mengatasi adanya kesenjangan akses. Perencanaan dan penganggaran responsif gender bukanlah sebuah proses yang terpisah dari sistem yang sudah ada atau terlebih diartikan sebagai rencana dan anggaran khusus untuk perempuan yang terpisah dari laki-laki. melainkan merupakan sebuah kerangka kerja atau alat analisis untuk mewujudkan keadilan dalam penerimaan manfaat pembangunan. Pentingnya ARG Permenkeu 104/2010 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL Tahun Anggaran 2011 telah mengamanatkan penyusunan ARG.

program dan kegiatan bidang kesehatan yang menciptakan akses. Melalui anggaran responsif gender kesenjangan gender diharapkan dapat dihilangkan atau setidaknya dapat dikurangi. serta memberikan manfaat kepada perempuan dan laki-laki secara setara. Ketiga. Kedua. perencanaan responsif gender adalah perencanaan yang dilakukan dengan memasukkan perbedaan-perbedaan pengalaman. proyek atau pun kegiatan yang akan dilaksanakan di masa mendatang untuk menjawab isu-isu atau permasalahan gender di masing-masing sektor. dan rehabilitatif) yang setara antara perempuan dan laki-laki sehingga perempuan dan laki-laki sesuai dengan status dan kebutuhan kesehatan mereka.dasar perencanaan dan penganggaran yang responsif gender yang bertujuan untuk meningkatkan pencapaian target kinerja kegiatan (output) dan program (outcome) sebagaimana dinyatakan dalam Renstra Kementerian Kesehatan Tahun 2010 – 2014. Keempat. Tujuan ARG 1. kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki dalam proses penyusunannya. 3. Ciri utama Anggaran responsif gender adalah menjawab kebutuhan perempuan dan laki-laki. kuratif. partisipasi. anggaran responsif gender adalah anggaran yang responsif terhadap kebutuhan laki-laki dan perempuan serta memberi manfaat kepada laki-laki dan perempuan secara setara. Melakukan análisis gender untuk mengetahui peran dan relasi gender perempuan dan laki-laki yang mempengaruhi status dan kebutuhan kesehatan mereka. perencanaan responsif gender merupakan suatu proses pengambilan keputusan untuk menyusun program. monitoring dan evaluasi. pembahasan. Berikut beberapa konsep tentang perencanaan dan penganggaran responsif gender: Pertama. Menyusun anggaran (RKA-KL) berdasarkan hasil análisis gender untuk mencapai target indikator kinerja program dan kegiatan yang adil terhadap perempuan dan laki-laki. aspirasi. Penganggaran responsif gender akan menghasilkan anggaran responsif gender. Perencanaan dan penganggaran merupakan dua proses yang saling terkait dan terintegrasi. dan kontrol terhadap upaya kesehatan (promotif. pelaksanaan. preventif. 18 BAB IV Anggaran Responsif Gender (ARG) Bidang Kesehatan . Melakukan perencanaan kebijakan. penganggaran responsif gender merupakan pengarusutamaan gender ke dalam siklus penganggaran yang terdiri atas perencanaan. manfaat. C. 2.

Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 19 . TOR Responsif Gender dan GBS yang benar didahului dengan Analisis Gender.4. dan output) yang ada dalam RKA-KL. ARG merupakan bagian dari RKA-KL yang mensyaratkan penyusunan 2 (dua) dokumen yaitu TOR Responsif Gender dan GBS. Anggaran kesetaraan gender Anggaran kesetaraan gender merupakan alokasi anggaran untuk mengatasi masalah kesenjangan gender. yaitu alokasi anggaran yang diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan dasar khusus perempuan atau laki-laki. Menjadi alat monev untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan program dan kegiatan kesehatan. Kategori ARG Anggaran responsif gender dibagi atas 3 kategori. Letak dan Tahapan ARG Berdasarkan PMK 104/2010 ARG melekat pada struktur anggaran (program. Anggaran khusus target gender. Suatu output yang dihasilkan oleh kegiatan akan mendukung pencapaian hasil (outcome) program. E. dan lain-lain. D. Tahapan atau kerangka pikir ARG adalah sebagaimana bagan berikut. khususnya dalam menurunkan kesenjangan status kesehatan antara perempuan dan laki-laki. Kategori ARG ini 2. Melalui analisis gender akan diketahui adanya kesenjangan dalam relasi antara laki-laki dan perempuan dalam akses. Kerangka Pikir ARG RKA-KL Analisis Gender (Idealnya menggunakan Gender Analysis Pathway (GAP) TOR Responsif Gender Gender Budget Statement (GBS) Berdasarkan bagan 4 diatas. Contoh : Program Making Pregnancy Safer (MPS). kontrol dan manfaat terhadap sumber daya. yaitu: 1. partisipasi. pengadaan kondom gratis bagi laki-laki. kegiatan. Hanya saja muatan substansi/ materi output yang dihasilkan tersebut dilihat dari sudut pandang (perspektif) gender. Bagan 4. yang idealnya menggunakan GAP.

F. ARG bukanlah dasar yang “valid” untuk meminta tambahan alokasi anggaran. 4. dan Pendekatan Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah/KPJM (Medium Term Expenditure Framework). Tidak harus semua program dan kegiatan mendapat koreksi agar menjadi responsif gender. 3. Contoh : Penyusunan Pedoman PUG dan PPRG bidang Kesehatan. agar tidak disalahpahami. Karena itu. ARG bukan fokus pada penyediaan anggaran dengan jumlah tertentu untuk pengarusutamaan gender. penyusunan profil kesehatan dengan data terpilah berdasarkan jenis kelamin. untuk mengejar kekurangan/ketertinggalannya. Adanya ARG tidak berarti adanya penambahan dana yang dikhususkan untuk program perempuan. ARG sebagai pola anggaran yang akan menjembatani kesenjangan status. Merupakan alokasi anggaran untuk penguatan kelembagaan PUG. PMK 104 / 2010 menekankan prinsip-prinsip ARG sebagai berikut: 1. Diklat PUGBK. Jumantik laki-laki dan perempuan di setiap RT. Anggaran pelembagaan kesetaraan gender. oleh PMK 104/2010. ARG telah diadopsi sebagai salah satu pendekatan baru dalam perencanaan dan pengganggaran pembangunan disamping Pendekatan Penganggaran Terpadu (Unifed Budget). ARG bukan berarti ada alokasi dana 50% laki-laki – 50% perempuan untuk setiap kegiatan. penolong persalinan oleh tenaga kesehatan laki-laki untuk daerah terisolir. 6. tetapi bagaimana anggaran keseluruhan dapat memberikan manfaat yang adil untuk laki-laki dan perempuan. 5. Untuk itu. 20 BAB IV Anggaran Responsif Gender (ARG) Bidang Kesehatan . yang telah diamanahkan dalam UU 17/2003 tentang Keuangan Negara. Contoh : program beasiswa dengan kuota khusus bagi perempuan/laki-laki untuk mencapai kesetaraan partisipasi dan manfaat dalam jenjang pendidikan tertentu. suami siaga. peran dan tanggungjawab antara laki-laki dan perempuan. ARG bukanlah anggaran yang terpisah untuk laki-laki dan perempuan. 3. 7. namun ada juga kegiatan yang netral gender. Bukan berarti bahwa alokasi ARG hanya berada dalam program khusus pemberdayaan perempuan. 2. Prinsip – Prinsip ARG ARG adalah instrumen untuk menjadikan keseluruhan perencanaan dan penganggaran pembangunan memberikan manfaat secara adil bagi perempuan dan laki-laki.juga termasuk untuk alokasi program/kegiatan untuk keperluan kebutuhan strategis gender. Pendekatan Penganggaran Berbasis Kinerja/PBK (Performance Based Budgeting).

Ketersediaan data yang terpilah menurut jenis kelamin. Kemampuan untuk mengembangkan dan melakukan pemantauan dan evaluasi kebijakan. Kemauan politik yang tertera dalam dokumen perencanaan strategis suatu Kementerian/ Lembaga termasuk kemauan dari para perencana program di K/L untuk menerapkan ARG. 4. Prasyarat ARG Pada dasarnya setiap perencanaan dan penganggaran program diharapkan bisa menerapkan ARG. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 21 .G. namun demikian penerapan ARG bisa berlangsung dengan baik apabila didukung dengan prasyarat sebagai berikut: 1. program dan kegiatan yang responsif gender. 3. Sumberdaya manusia yang memadai (perencana dan penanggungjawab program yang mampu melakukan analisis gender). 2.

.

Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 23 . dan memberikan informasi untuk melakukan tindakan dalam rangka memperbaiki ketidakseimbangan yang timbul dari perbedaan peran gender perempuan dan laki-laki atau ketidasetaraan kekuasaan diantara keduanya. Analisis digunakan untuk mengidentifikasi kesenjangan situasi perempuan dan laki-laki serta faktor-faktor kebijakan dan praktik sosial. Ada berbagai macam instrument analisis gender. Lakukan penyusunan Gender Budget Statement (GBS). serta konsekuensinya terhadap kehidupan mereka. Gender Analysis Pathway (GAP). status kesehatan dan kesejahteraanya. hambatan yang dihadapi perempuan dalam memperoleh pelayanan kesehatan dan bagaimana caranya mengatasi permasalahan tersebut. Lakukan penyusunan Term of Reference (TOR) 3. Lakukan Analisis Gender. Analisis Gender bidang kesehatan adalah proses mengidentifikasi. dengan Gender Analysis Pathway (GAP) 2.bab BAB V BIDANG KESEHATAN TAHAPAN PENYUSUNAN ARG A. Analisis gender juga berupaya mengungkapkan faktor resiko kesehatan dan permasalahannya yang dihadapi oleh laki-laki sehubungan dengan peran gender mereka (WHO. Analisis Gender bidang kesehatan menekankan pentingnya ketidaksetaraan gender dalam hubungannya dengan rendahnya status kesehatan perempuan. seperti Problem Based Approach (Proba). dan lain-lain. 3 (tiga) Tahapan Penyusunan ARG Penyusunan ARG terdiri dari 3 tahapan: 1. ekonomi dan budaya yang menyebabkannya. B. Moser Gender Analysis. menganalisis. 1999). Teknik Melakukan Analisis Gender dengan metode GAP Kunci dari penerapan anggaran responsif gender adalah dilakukannya analisis situasi yang memadai yang mampu memotret dan mendiagnosa kesenjangan yang mungkin ada berkaitan dengan situasi kesehatan perempuan dan laki-laki dalam berbagai aspek.

dan atau program dan kegiatan bidang kesehatan. kebijakan manajerial. Karena tahapan siklus perencanaan tersebut disajikan dalam matriks yang sama. Sajikan Data Pembuka Wawasan Terpilah Menurut Jenis Kelamin . Alat analisis ini dapat juga digunakan pada level program dan atau kegiatan. bahkan sampai pada level output dan sub output. Temu kenali di isu gender di eksternal lembaga 9.Pilih Kebijakan/Program/ Kegiatan yang akan dianalisis: - Identifikasi dan tuliskan tujuan Kebijakan/Program/Kegiatan KEBIJAKAN RENCANA AKSI KEDEPAN 6. Rumuskan kembali tujuan kebijakan/ Program/Proyek/ Kegiatan pembangunan 2. sampai monitoring dan evaluasi. maupun kebijakan operasional. Aplikasi 9 Langkah dalam GAP GAP merupakan salah satu alat analisis gender yang dapat digunakan untuk mereview kebijakan. 2007 PERENCANAAN 24 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . Keunggulan lainnya adalah GAP mempunyai fleksibilitas yang tinggi dalam penggunaannya. analisis situasi.GAP adalah instrument yang dikembangkan oleh BAPPENAS bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan sudah banyak digunakan sebagai instrument analisis gender terhadap kegiatan pembangunan di Indonesia. Analisis ini dapat digunakan pada level kebijakan.Kualitatif PELAKSANAAN 7.Kuantitatif . Susun Rencana Aksi yang responsifgender MONITORING & EVALUASI ISU GENDER PENGUKURAN HASIL 8. Temu kenali isu gender di proses perenc kebij/prog/ keg 4. 1. Tetapkan Baseline 3. Temu kenali isu gender di internal lembaga/ budaya org 5. Bagan 5. Tetapkan Indikator Gender Sumber : Bappenas-CIDA. . penentuan Rincian Kegiatan. Alur Kerja Analisis Gender (Gender Analysis Pathway = GAP) ANALISIS KEBIJAKAN YANG RESPONSIF GENDER 1. baik kebijakan strategis. akan memudahkan perencana kesehatan untuk melihat relevansi dan konsistensi antara tahapan satu dengan tahapan lainnya sehingga membentuk sekuensial yang utuh dari kebijakan atau program dan kegiatan sehingga responsif gender. Analisis gender dilakukan secara sekuensial mulai dari tahap identifikasi tujuan.

Langkah selanjutnya setelah proses perencanaan. sesuai dengan siklus manajemen program adalah pelaksanaan dan monitoring evaluasi. terdapat lima bagian GAP. dan penetapan Rincian Kegiatan kebijakan/ program/kegiatan kedepan. Menentukan desain kebijakan/program dan kegiatan sehingga responsif gender. untuk mengatasi isu kesenjangan gender yang terjadi. kontrol dan manfaat Sebab kesenjangan Internal Temukenali isu gender di internal lembaga dan/ atau budaya organisasi yang dapat menyebabkan terjadinya isu gender Data Dasar (Base-line) Tetapkan base-line Indikator Gender Tetapkan indikator gender Sajikan data pembuka wawasan. Dari perspektif proses perencanaan program. e. d. c. identifikasi penyebab ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender tersebut atas dua faktor utama. yaitu internal kesehatan dan eksternal kesehatan. Menentukan indikator responsif gender yang akan digunakan dalam monitoring dan evaluasi kebijakan/program dan kegiatan. yaitu : akses. melalui identifikasi isu ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender dalam bidang kesehatan. Mengidentifikasi tujuan kebijakan/program dan kegiatan b. Gender Analysis Pathway memiliki alur kerja 9 langkah yang dapat digambarkan dalam Bagan 6 sebagai berikut: Bagan 6.Terdapat dua kerangka analisis dalam GAP yaitu analisis kebijakan/program/ kegiatan yang responsif gender. yaitu : a. meliputi penentuan tujuan dan Rincian Kegiatan atau intervensi yang akan dilaksanakan. Gender Analysis Pathway = GAP LANGKAH 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pilih Kebijakan/ Program/ Kegiatan yang akan dianalisis Identifikasi dan tuliskan tujuan dari Kebijakan/ Program/ Kegiatan Isu Gender Data Pembuka Wawasan Kebijakan dan Rencana Ke Depan Sebab kesenjangan External Temukenali isu gender di eksternal lembaga pada proses pelaksanaan Reformulasi Tujuan Rumuskan kembali tujuan kebijakan/ program/ kegiatan sehingga menjadi responsif gender Rincian Kegiatan/ Rencana Aksi Tetapkan Rincian Kegiatan yang responsif gender Pengukuran Hasil Faktor Kesenjangan Temukenali isu gender di proses perencanaan dengan memperhatikan 4 (empat) faktor kesenjangan. Mengidentifikasi isu gender. Menyajikan data pembuka wawasan (data yang menunjukkan situasi perempuan dan laki-laki dalam kaitannya dengan tujuan kebijakan/ program dan kegiatan). partisipasi. yang terpilah menurut jenis kelamin : -kuantitatif –kualitatif Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 25 .

dan lain-lain. Kebijakan yang dipilih dapat berupa peraturan perundang-undangan bidang kesehatan. Data dan informasi dapat berupa data kuantitatif maupun kualitatif.000 penduduk pada tahun 2011. atau gabungan keduanya yang terkait dengan tujuan yang ada dalam langkah 1. b.Meningkatkan persentase kabupaten/kota yang melakukan mapping vektor dari 30 menjadi 40. a. Sajikan data pembuka wawasan yang terpilah menurut jenis kelamin untuk melihat isu kesenjangan gendernya. Contoh : Program : Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kegiatan : Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Tujuan adalah indikator kinerja kegiatan yang terkait dengan pengendalian penyakit DBD dengan merubah menjadi kata ”kerja aktif” di depan kalimat: . Sumber data dapat berasal dari berbagai sumber yang valid dan up to date yang berasal dari Sistem Informasi Kesehatan (berbasis fasilitas).Meningkatkan prosentase Angka Bebas Jentik (ABJ) dari 60% menjadi 70% pada tahun 2011 (lihat lampiran Renstra Kemenkes Tahun 20102014). maka merujuk pada dokumen Renstra Kemenkes 2010-2014 dan Renja KL. Data dapat berasal dari data 26 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan .LANGKAH 1. (lihat lampiran Renstra Kemenkes Tahun 2010-2014). Renja K/L dan lain-lain. Pilih kebijakan atau program dan kegiatan yang telah ada. hasil-hasil penelitian lainnya dan informasi dari media. (lihat lampiran Renstra Kemenkes Tahun 2010-2014) LANGKAH 2. maka GAP dapat digunakan pada level di bawah kegiatan. flu burung. . maupun hasil survei (berbasis komunitas). dapat dipilih pengendalian penyakit DBD. termasuk Renstra. . Contohnya : Kegiatan Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang. Tuliskan tujuan dari kebijakan/program/kegiatan pada kolom 1. atau malaria. Jika yang dipilih adalah pengendalian penyakit DBD. dan isu gendernya pun berbeda.Menurunkan angka kesakitan DBD dari 55 menjadi 54 per 100. Jika program memiliki struktur kegiatan yang kompleks. dengan alasan antara penyakit menular tersebut mempunyai struktur dan permasalahan kesehatan yang spesifik.

. dan (ii) beneficiaries (masyarakat). baik sumberdaya yang bersifat tangibles (kentara atau nyata) maupun intangibles (tidak kentara atau tidak nyata). Manfaat.Angka Response Time Penderita di sarana pelayanan kesehatan terpilah laki-laki dan perempuan . juga menurut kelompok umur. . halaman 31) LANGKAH 3. (ii) keterjangkauan dari sisi geografis dan transportasi (jarak dan waktu). preventif. Contoh : lihat kolom 3 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31).primer ataupun sekunder. yaitu (i) ketersediaan sarana dan atau upaya kesehatan.Angka Kematian laki-laki dan perempuan. Akses terhadap upaya kesehatan dapat dilihat dari empat dimensi. juga menurut kelompok umur. kuratif.dan lain-lain ( lihat kolom 2 contoh aplikasi GAP. Temu kenali isu gender pada proses perencanaan kebijakan. Contoh : lihat kolom 3 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31). preventif. (iv) keterjangkauan secara psikis dan sosiokultural. baik yang dilaksanakan sendiri oleh pengelola program maupun oleh pihak lain. program dan kegiatan dengan menganalisis data pembuka wawasan dengan memperlihatkan empat faktor kesenjangan gender. Partisipasi. .  Partisipasi : Ditujukan untuk mengetahui keterwakilan dan keterlibatan aktif perempuan dan laki-laki dalam upaya kesehatan (promotif.Angka Kesakitan dan tingkat keparahan laki-laki dan perempuan. Contoh untuk pengendalian DBD : .  Akses : Ditujukan untuk mengetahui kesenjangan kebutuhan kesehatan perempuan dan laki-laki dalam hal kemudahan mendapatkan upaya kesehatan (promotif.Data atau hasil survei tentang pengetahuan. yaitu : Akses. (iii) affordability atau keterjangkauan secara ekonomi. sikap dan perilaku terpilah laki-laki dan perempuan. dan rehabilitatif). Akses juga dapat dilihat dari sisi keterjangkauan terhadap sumberdaya. kuratif. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 27 . Kontrol. Kesenjangan gender dapat dilihat dari dua sisi yaitu : (i) penanggungjawab atau pengelola program. dan rehabilitatif) baik dari sisi beneficieries (penerima manfaat) maupun provider (penyedia layanan kesehatan).

kuratif. dukungan penelitian dan pengembangan kesehatan. Contoh : lihat kolom 3 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31). komunitas. dan rehabilitatif) baik dari sisi beneficieries (penerima manfaat) maupun provider (penyedia layanan kesehatan). kebijakan. pemahaman pengelola program tentang konsep gender yang masih kurang (baik pada level pengambil keputusan maupun pelaksana kebijakan). pemerintahan yang berhubungan dengan upaya kesehatan (promotif. Contoh : lihat kolom 3 pada Contoh Aplikasi GAP (halaman 31). dan pemenuhannya dimaksudkan untuk mengubah ketidakadilan yang mungkin ada dalam konteks relasi laki-laki dan perempuan. Temukenali faktor-faktor di internal lembaga (institusi kesehatan) dan atau budaya organisasi yang dapat menyebabkan terjadinya kesenjangan gender. Kebutuhan Strategis Gender adalah kebutuhan yang didasarkan pada analisis tentang ketidakadilan gender dan faktor-faktor yang menyebabkannya.  Kontrol : Ditujukan untuk mengetahui siapa (laki-laki atau perempuan) yang menentukan keputusan terhadap pengalokasian dan penggunaan sumberdaya yang tersedia di tingkat rumah tangga. dan lain-lain. keterwakilan wanita sebanyak 30 % dalam kepengurusan kelompok pemakai air bersih di pedesaan. detiksi dini kanker prostat pada laki-laki. Kebutuhan Praktis Gender adalah kebutuhan yang bersifat segera dan didasarkan pada kondisi nyata perempuan dan laki-laki tanpa mempersoalkan ada atau tidaknya faktor-faktor ketidakadilan yang mungkin ada antara keduanya. political will dari pengambil keputusan. Contoh : lihat kolom 4 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31) 28 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . aroma repellent nyamuk dibuat sesuai aroma maskulin untuk meningkatkan pengguna repellent pada konsumen laki-laki di daerah endemis. Contoh : bantuan dana transportasi untuk wanita hamil risiko tinggi ke sarana pelayanan kesehatan. Manfaat : Ditujukan untuk mengetahui apakah laki-laki dan perempuan diuntungkan dalam upaya kesehatan (promotif. dan lain-lain. desain program dan kegiatan sesuai siklus perencanaan dan siklus manajemen program. Contoh : Suami siaga dalam program Perencanaan Persalinan dan Penanganan Komplikasi (P4K). dan rehabilitatif). dan lain-lain. LANGKAH 4. Sumber penyebab kesenjangan gender secara internal dapat berbentuk : produk hukum. preventif. preventif. kuratif. Manfaat pelayanan kesehatan dari perspektif gender dapat dilihat dari sisi Practical Gender Needs (kebutuhan praktis gender) maupun Strategic Gender Need (kebutuhan stretegis gender).

Rincian kegiatan merupakan solusi atau pemenuhan terhadap isu Practical Gender Needs dan Strategic Gender Needs dan atau solusi atas isu kesejangan empat faktor yaitu Akses. Kontrol untuk mencapai sub-tujuan baru pada langkah 6. komunitas. Contoh : lihat kolom 5 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31) LANGKAH 6. Ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender dapat disebabkan oleh budaya patriarki. komunitas. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 29 . Menyusun rincian kegiatan yang responsif gender. pemerintahan (diluar sektor kesehatan). peran dan relasi gender. Sumber penyebab kesenjangan gender secara eksternal (di luar lembaga/institusi kesehatan) yang dapat terjadi pada level rumah tangga.LANGKAH 5. Manfaat. beban ganda. Contoh : lihat kolom 7 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31) Catatan: Rincian kegiatan yang diusulkan disesuaikan dengan pagu anggaran yang diterima (pagu indikatif. Pada langkah ini tujuan pada langkah 1 pada ditulis ulang. baik sumberdaya pada penanggungjawab/pengelola program. diskriminasi gender (stereotipi. rincian kegiatan yang disusun tetap mempertimbangkan ketersediaan sumberdaya yang ada. dan pasar. Hasil review digunakan untuk mereformulasi sub-tujuan baru yang telah responsif gender. Merumuskan kembali tujuan kebijakan/program/kegiatan pelayanan kesehatan pada langkah 1 sehingga responsif gender. Reformulasi sub-tujuan harus mendukung tercapainya tujuan semula pada langkah 1. marginalisasi. pagu sementara. Pada saat menyusun sub-tujuan sebaiknya mempertimbangkan feasibility objectives dengan mempertimbangkan ketersediaan sumberdaya yang ada seperti ketersediaan anggaran. Partisipasi. Sebagaimana proses perencanaan lainnya. dukungan kebijakan dan waktu yang tersedia. sarana dan prasarana pendukung. maupun sumberdaya yang ada pada masyarakat (beneficiaries). bahkan isu internasional. Rincian kegiatan merupakan rincian kegiatan bidang kesehatan yang dilakukan untuk mencapai sub-tujuan yang telah responsif gender sebagaimana ditulis pada langkah 6. SDM. Contoh: lihat kolom 6 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31) LANGKAH 7. kekerasan terhadap perempuan) yang terjadi di rumah tangga. lalu direview kembali dengan melihat hasil analisis pada langkah 2 sampai 5. subordinasi. pagu definitif). pemerintahan dan pasar. Temukenali faktor-faktor di eksternal lembaga dan atau budaya organisasi yang dapat menyebabkan terjadinya kesenjangan gender. Reformulasi sub-tujuan yang baru menjawab kesenjangan yang diidentifikasi pada Langkah 2 sampai 5.

Baseline indikator dapat saja berasal dari data pembuka wawasan yang tercantum pada langkah 2. Indikator 9 berbeda dengan indikator pada langkah 1. cantumkan rincian kegiatan untuk pengumpulan data (lihat kembali langkah 7). Sub-tujuan baru pada langkah 6 diubah menjadi pernyataan indikator sub-tujuan. Menetapkan indikator responsif gender untuk mengukur keberhasilan pencapaian sub tujuan baru pada langkah 6 (disebut ”indikator sub-tujuan”) dan rincian kegiatan pada langkah 7 (disebut ”indikator rincian kegiatan”). Baseline digunakan sebagai titik awal capaian kinerja. Baseline indikator ditujukan untuk mengetahui kemajuan intervensi kegiatan yang dilakukan dalam rangka mendukung pencapaian tujuan yang responsif gender (langkah 6). Penyusunan indikator harus mengikuti kriteria penyusunan indikator yang baik (SMART) Contoh : lihat kolom 9 Contoh Aplikasi GAP (halaman31) 30 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . Menetapkan baseline indikator responsif gender. Contoh : lihat kolom 8 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31) LANGKAH 9.LANGKAH 8. Catatan: jika muncul indikator baseline baru.

13%. termasuk pilihan metode KIE yang efektif untuk BASELINE DATA Angka Kesakitan DBD terpilah jenis kelamin dan umur INDIKATOR Indikator sub tujuan yang responsif gender: Program .79%) dibanding Menurunnya 5% angka .79%) dibanding Menurunnya 1% insiden angka kematian (DSS) pada perempuan usia sekolah dan dewasa. . Angka eselon1): Penderita DBD pada Laki-laki (L) lebih tinggi Pengendalian Penyakit (51. Lingkungan. jauh diatas laki-laki yang hanya 39.Data dari subdit (unit organisasi Arbovirus 2010. 5% angka kematian (DSS) pada perempuan tidak dianalisa dengan menggunakan perspektif gender terutama untuk melihat perbedaan biologis dan sosial untuk kerentanan antara perempuan.21%).66%.7%. umur Kementerian 1-4 tahun :L 7.16% P 10. Contoh Aplikasi GAP Pada Program Bidang Kesehatan Program Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL Angka kesakitan (Catatan: uraian ttg faktor eskternal bisa bersifat anekdotal selama konsisten dengan data pembuka wawasan). Contoh Aplikasi GAP Bagan 7. Menurunkan Peran perempuan perempuan dan Akses: anak laki-laki.DBD: umur < 1 tahun: (diambil dari Renstra L 2. dan Penyehatan Perempuan (P) (48. SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL RINCIAN KEGIATAN/ RENCANA AKSI .48%. umur 10- 31 .87%% jatuh ke fase DSS.Angka Penderita DBD pada Laki-laki (L) lebih tinggi (51. sikap dan perilaku lakilaki dalam pengendalian DBD. umur 5-9 tahun: Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan L 11.97% P Kesehatan 2010-2014) 6. Menurunkan angka kesakitan DBD dari 55 menjadi 54 per 100.28% P 1. laki-laki. Sedangkan lakilaki segala usia lebih rentan terhadap insidens DBD daripada perempuan.2. anak Pada perempuan 60.000 penduduk pada tahun 2011.Readaptasi survey COMBi untuk lebih menangkap pengetahuan.

13% P 20.Kematian (DSS): L 39. Ini terbukti dari COMBi ( yang menunjukkan data laki-laki yang pernah melihat iklan DBD hanya 1/3 dari perempuan. Baseline: Kematian (DSS): L 39. kolom program/ kegiatan.13% P 60. bersifat netral caregivers dewasa. Response program sebagai usia sekolah dan laki-laki dan Perempuan DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL kesakitan DBD pada laki-laki.Revisi SOP DBD/DSS khusus untuk perempuan.87% Tujuan: Indikator rincian  Menurunkan angka umur < 1 th: sero. umur>15 tahun: Bersumber Binatang. umur >15th: L sero P 30%.87% sama. BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan kegiatan: Kementerian ini juga terpilah jenis Kesehatan 2010- kelamin).13% P 60.000 penduduk umur 10-14 th: L sero P pada tahun 2011. • Teridentifikasinya faktor penyebab laki-laki tidak tertarik dari 60% menjadi Bogor.  Meningkatkan prosentase Angka Survey Combi di 5 kota Bebas Jentik (ABJ) endemis (Batam. 100. 10%. Mataram. sama dan akses lebih banyak pengendalian penanganan baku/ menghabiskan laki-laki dalam sama.Audit .61%. mencari sering terlambat rumah dan Meningkatkan persentase kabupaten/kota yang melakukan mapping vektor dari 30 menjadi 40. sehingga berakibat angka kesakitan DBD pada lakilaki lebih tinggi. Depok. (P) (48.45% P Pengendalian Penyakit 8.Angka kesakitan DSS terpilah jenis kelamin dan umur gender. • Teridentifikasinya sebab khusus kematian DBD pada perempuan. maka harus ada yang bisa menggantikan Laki-laki lebih sedikit terpapar pada media mereka dulu untuk mengurus keluarga sebelum Meningkatkan prosentase Angka Bebas Jentik (ABJ) dari 60% menjadi .6%. Bekasi) th 70% pada tahun 2009 ttg pengetahuan 2011 masyarakat . L21.21%). Kegiatan: 14 tahun: L 9. (diambil dari Renstra (bila ada. sebaiknya data Meningkatnya pengetahuan laki-laki dalam pengendalian DBD. umur kesakitan DBD dari 1-4th: L 30% P 0%. umur 55 menjadi 54 per 5-9 th: L 10% P 20%. prosedur mereka pengetahuan kematian DBD dengan fokus pada perempuan (termasuk mengukur response time) asumsi kerentanan membuat Meningkatkan . .32 LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER Laki-laki lebih sedikit terpapar pada media informasi (KIE) ttg DBD dibanding perempuan. Apalagi jika perempuan diharuskan dirawat inap. perempuan. waktu di dalam DBD.Pengembangan iklan layanan masyarakat untuk perempuan . Lampiran 14) . 2014.Survey COMBi ttg perilaku DBD pengobatan. dengan dalam keluarga.

(penting sekali data ttg hari ke berapa laki-laki dan perempuan baru mengakses layanan kesehatan).Lomba jumantik teladan laki-laki dan perempuan baik di tatanan rumah tangga. sehingga berakibat angka kesakitan DBD pada lakilaki lebih tinggi. menjadi 40. Cimahi • Meningkatnya jumlah keterlibatan laki-laki sebagai jumantik. Diseminasi informasi media eletronik disukai masyarakat tetapi biayanya besar namun informasi yang ada belum memperhatikan Selain itu secara bilogis.  Meningkatkan ttg pengendalian DBD: L persentase 22% P 78% kabupaten/kota yang melakukan mapping Pada pesan media vektor dari 30 elektronik cenderung bias • Meningkatnya response time perempuan dalam mencari pengobatan DBD. . . . sekolah maupun institusi. mau dirawat. sehingga sulit yang lanjut. dan Kota Jogjakarta adalah ibu2. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan bila ada tambahkan data ttg jam tayang iklan 33 . fase penyakit sudah dengan mereka datang seringkali saat sehingga pengobatan dalam pengendalian DBD.Pencanangan Gerakan Bebas Jentik dengan Duta Nasional Jumantik Laki-laki dan Perempuan. gender.LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER informasi (KIE) ttg DBD dibanding perempuan.Laki-laki mendengar ttg DBD = 22% (Data P2B2 th 2009) pergi mencari terlibat aktif Baseline: sering menunda supaya lebih perempuan untuk laki-laki ini menyebabkan 2011 berobat dan umur dan jenis kelamin. sistem kapiler perempuan memang lebih rentan untuk permeabilitas sel. Kota Mojokerto. Ini terbukti dari COMBi ( yang menunjukkan data laki-laki yang pernah melihat iklan DBD hanya 1/3 dari perempuan penanganan secara medisnya. karena model iklan lebih banyak (diambil dari Renstra perempuan (misal 3M) dan Kementerian repellen nyamuk beraroma Kesehatan 2010-2014) bunga 100% kader jumantik di DKI Jakarta. Hal 70% pada tahun supaya segera terpilah DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL upaya promotif pengendalian DBD.

Kota Bogor. minum dan cuci. Mataram. Kota Depok. sedangkan laki-laki lebih bertanggung jawab untuk wadah penampungan dalam rumah tangga / di dengan rumah yang terkait kontainer air jawab terhadap bertanggung perempuan lebih peran gender Bila dilihat dari DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL atau lokasi pemasangan poster untuk melihat akses dan manfaat atas informasi kesehatan bagi BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan perempuan/laki-laki Pengetahuan Masyarakat tentang Pengendalian DBD pada L (22%) < Perempuan (78%)(Survei Market Analysisis COMBi di 5 kota: Batam. ketersediaan sumberdaya dan dukungan politis yang diperlukan. antara laki-laki Kontrol: dan perempuan maka Walaupun angka kesakitan laki-laki lebih tinggi tapi angka kesakitan yang masuk menjadi DSS lebih rendah – perlu diteliti lebih lanjut apakah ini karena aki-laki punya kontrol lebih besar pada akses layanan kesehatan l ataukah karena memang secara imunologi laki-laki seperti tempat penyimpanan air untuk mandi.) dan perempuan. dan Kota Bekasi Tahun 2009) --> adakah data ttg siapa (laki-laki atau perempuan) yang sebetulnya melakukan 3M di rumah tangga. siapa di lingkungan. feasibility. .34 LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER kebutuhan lelaki (Catatan: dalam memilih rencana aksi pertimbangkan priority setting K/L.

--apakah bisa terpilah antara laki-laki dan perempuan Adakah data % perempuan dan % laki-laki yang dirawat di RS dengan dana out of pocket atau Jamkesmas? . TV: 24 %.untuk melihat akses ke layanan kesehatan antara laki-laki dan perempuan dan kontrol Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan atas sumber daya antara laki-laki dan perempuan 35 .LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER lebih baik daripada perempuan terhadap DBD. penyuluhan langsung Petugas penyuluh demam berdarah lebih banyak perempuan. Kurangnya petugas jumantik laki-laki untuk melakukan pemeriksaan dan penyuluhan tentang PSN dan Penanggulangan DBD disebabkan Laki-laki menyerahkan urusan pemberantasan jentik demam Laki-laki tidak maksimal dalam memanfaatkan dan belum terlalu mengena untuk peran gender laki-laki untuk pengendalian DBD. pembuangan Partisipasi: sampah “besar”. media cetak: 7%. rumah tangga untuk kebutuhan tampung air pada wadah 3M lebih fokus Selama ini iklan oleh kader: 12 %. tanki air ataupun rumah seperti air yang disekitar DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL .Sumber informasi DBD yg diinginkan oleh masyarakat : penyuluhan langsung oleh nakes: 57%.

sehingga insidens kesehatan. serius karena tidak ada vaksin infeksi dengan menganggap perempuan PortoRico. .. upaya promotif DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . dilakukan di studi yang Dalam sebuah pada laki-laki. DBD lebih tinggi Waktu penyuluhan DBD dilakukan pada pagi hari sehingga hanya perempuan yang memiliki waktu untuk mengikuti penyuluhan karena BapakBapak banyak di luar rumah untuk bekerja.36 LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER berdarah di rumah untuk dilakukan oleh perempuan.

LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER Manfaat: DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL Hanya 22% Lakilaki di bandingkan 78% perempuan memiliki pengetahuan tentang DBD. maka dapat disimpulkan laki-laki kurang menggunakan upaya promotif yang dilakukan dalam pengendalian demam berdarah. gigitan nyamuk meremehkan banyak orang memilih karena laki-laki lebih sedangkan emosi nya. ekonomi dan dan dampak tingginya insiden Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 37 .

GAP langkah 7 (rincian kegiatan) dimasukkan sebagai proses pelaksanaan dalam TOR dengan identifikasi kelompok sasaran serta menjelaskan keterwakilan dan keterlibatan aktif laki-laki dan perempuan. maka berikut ini disampaikan format TOR Responsif gender lengkap sebagai berikut. Dalam TOR harus jelas 5W (Why. TOR responsif gender adalah TOR yang memasukkan data (GAP langkah 2 dan langkah 8) dan analisis AKMP (Akses. penerima. Kontrol. 38 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . Teknik menyusun TOR Rensponsif Gender Kerangka acuan kerja atau Term of Reference yang selanjutnya disebut KAK/ TOR adalah dokumen yang menginformasikan gambaran umun dan penjelasan mengenai keluaran kegiatan yang akan dicapai sesuai dengan tugas dan fungsi Kementerian Negara/lembaga yang memuat latar belakang. GAP langkah 6 dan langkah 9 dapat dimasukkan sebagai tujuan dalam TOR. dan biaya yang diperlukan. dan Partisipasi) yang dilakukan di GAP langkah 3-5 sebagai latar belakang. Untuk lebih jelasnya. When. Manfaat. Where + 2 H (How to do dan How much). Who. manfaat. What. strategi pencapaian.C.

............. Tujuan dan Penerima Manfaat ... A. Volume : .............................................................................................................. Format TOR KAK/ TOR PER KELUARAN/OUTPUT KEGIATAN Kementerian Negara/ Lembaga : ............................................... : .............................. (12) C..........1............................... Rencana Anggaran Biaya (RAB) ........................................................................................................................................ Tahapan dan Waktu Pelaksanaan ........................... (11) B..................................................................... (15) E.. : ........................................................................ Dasar Hukum Tugas Fungsi/ Kebijakan ......................... (14) D................................................................................................ 10) 2...................................... Metode Pelaksanaan............................................ Latar Belakang 1.......................................................... Strategi Pencapaian Indikator Kinerja Kegiatan 1........................................................................................ Gambaran Umum ..................................................................... (13) 2............................. : ............ (18) Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 39 ........... (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Satuan ukur dan Jenis Keluaran : ............................................................................................................... .......................... : .................................................. Waktu Pencapaian Indikator Kinerja Kegiatan ........ : ......... Unit Eselon I Program Hasil Unit Eselon II/ Satker Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan : .......................................... (16) Penanggung Jawab (17) NIP........................................................

yang bersifat sekuensial. (10) (11). 200 orang peserta. Diisi dengan uraian tentang proses pelaksanaan Rincian Kegiatan. Tujuan memberikan informasi tentang manfaat yang akan diterima kelompok sasaran.. yang mengeksplorasi mengapa (why) hal tersebut bisa terjadi. dengan target sasaran perempuan dan laki-laki (masih menggunakan data hasil analisis gender). baik laki-laki maupun perempuan (pertanyaan Who tapi pada level indikator).. dengan membedakan sasaran perempuan dan laki-laki. Penjelasan juga meliputi cara pelaksanaan Rincian Kegiatan apakah berupa kontraktual atau swakelola. 33 laporan . Pada bagian ini menjelaskan What dan Why.. 13. Diisi nama kegiatan sesuai hasil restrukturisasi kegiatan Diisi uraian indikator kinerja kegiatan Diisi nama satuan ukur dan jenis keluaran kegiatan Diisi jumlah volume keluaran kegiatan. Diisi dengan cara pelaksanaanya berupa kontraktual atau swakelola. Kesenjangan gender diperoleh dari hasil analisis gender. (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Diisi nama unit eselon I. Selanjutnya menjelaskan tentang langkah apa (what) yang akan dilakukan untuk mengatasi kesenjangan gender tersebut. 12. 40 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . URAIAN Diisi nama kementerian negara/ lembaga Disi nama program sesuai hasil restrukturisasi program Diisi dengan outcome yang akan dicapai dalam program Diisi nama unit eselon II. Volume yang dihasilkan bersifat kuantitatif yang terukur Contoh : 5 peraturan . dengan tujuan memberikan gambaran bahwa detil Rincian Kegiatan dan urut-urutan pelaksanaannya telah responsif gender. Penerima manfaat merujuk kepada pencapaian target indikator kinerja kegiatan terpilah menurut kelompok laki-laki dan perempuan... Gambaran Umum : Diisi dengan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan serta penjelasan target indicator kinerja kegiatan yang akan dicapai..Penjelasan point per point : NO. baik laki-laki dan perempuan dengan didukung data terpilah dan mengidentifikasi isu kesenjangan gendernya yang menyebabkan outcome/output program dan target indikator kinerja kegiatan belum tercapai.. Diisi dengan dasar hukum tugas fungsi dan/ atau ketentuan yang terkait langsung dengan kegiatan yang akan dilaksanakan. Diisi dengan tujuan dan penerima manfaat baik internal dan atau eksternal K/L. apakah telah menjelaskan tentang permasalahan yang dihadapi oleh kelompok sasaran.

baik laki-laki maupun perempuan : Who (menjelaskan mengapa perempuan dan laki-laki dipilih dalam pelaksanaan detil Rincian Kegiatan). termasuk jadwal waktu (time table) pelaksanaan dan keterangan lainnya yang dibutuhkan. Diisi dengan NIP penanggung jawab kegiatan. Dokumen Perencanaan dan pengelolaan anggaran. Setiap output harus dapat diidentifikasi jenis dan satuannya dengan jelas. seperti : Sosialisasi/ desiminasi. Kegiatan dan Output. Daftar output kegiatan dapat dilihat pada formulir 3 RKA-KL yang telah ditetapkan oleh penanggung jawab kegiatan/Eselon II di masing-masing unit utama dalam penyusunan RKA-KL setiap tahunnya. Catatan: Pengisian Nomor 1 sampai 7 menggunakan dokumen Renstra Kementerian Kesehatan tahun 2010-2014 yakni pada Lampiran tentang Matriks Kinerja Kementerian Kesehatan. seluruh komponen input yang digunakan ditetapkan oleh penanggung jawab kegiatan dan penekanan kesesuaian/ relevansi masing-masing komponen input serta biayanya dalam rangka pencapaian output kegiatan. When (menjelaskan mengapa waktu dan lama pelaksanaan detil Rincian kegiatan dipilih dengan memperhatikan akses dan partisipasi perempuan dan laki-laki ). yang berisikan Komponen Input seperti : Rencana Kerja Tahunan. atau komponen input sejenis. Laporan Kegiatan dan Pembinaan. atau dokumen lain sejenis.Bagian ini menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan Rincian Kegiatan yang mendukung langsung perbaikan ke arah kesetaraan gender. How To Do (menjelaskan mengapa bentuk pelaksanaan Rincian Kegiatan sesuai dengan kebutuhan beneficieries). Oleh karenanya setiap TOR/ KAK dibuat per keluaran/ output kegiatan. Diisi dengan nama penanggung jawab kegiatan (eselon II/ kepala satker vertikal). 17. 15. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 41 . maka struktur pengalokasian anggaran dirinci menurut Program. yang dapat berisikan Komponen Input Laporan Kegiatan. Keluaran/output kegiatan adalah barang/ jasa yang dihasilkan dari pelaksanaan sebuah kegiatan untuk mendukung pencapaian outcome program. Diisi dengan kurun waktu pencapaian pelaksanaan Diisi dengan lampiran RAB yang merupakan rincian alokasi dana yang diperlukan dalam pencapaian Indikator Kinerja Kegiatan. 16. Dalam rangka penerapan pendekatan Penganggaran Berbasis Kinerja (PBK) yang mulai diterapkan pada tahun anggaran 2011. dimana penekanan/ fokus berada pada output. 14. Output merupakan produk utama/ akhir yang bersifat spesifik yang dihasilkan oleh suatu kegiatan sebagaimana fungsi Unit Eselon II/ Satker yang bersangkutan. 2. 18. peningkatan kapasitas SDM. Where (menjelaskan mengapa tempat pelaksanaan detil Rincian Kegiatan dipilih dengan memperhatikan akses dan partisipasi perempuan dan lakilaki). Output kegiatan dapat berupa : 1. Jadi harus dapat menjelaskan upaya perbaikan permasalahan yang dihadapi oleh kelompok sasaran. Diisi dengan tahapan/komponen masukan yang digunakan dalam pencapaian Indikator Kinerja kegiatan.

Meningkatnya persentase Angka Bebas Jentik ( ABJ) dari 60% menjadi 70% pada tahun 2011. Dari keenam Rencana Aksi tersebut. CONTOH APLIKASI TOR RESPONSIF GENDER TOR/KAK per Output Kegiatan Output Kegiatan : Laporan Pengendalian DBD Catatan: Dalam kolom 7 GAP (Rencana Aksi) sebelumnya/diatas. 4. . operasional perkantoran dan pemeliharaan. . Kementerian Negara/Lembaga : Kementerian Kesehatan Unit Organisasi (eselon 1) : Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Program : Program Pengendalian Penyakit Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Hasil atau Outcome : Meningkatnya pencegahan dan penanggulangan penyakit bersumber binatang UNIT Eselon II/Satker : Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Kegiatan : Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Indikator Kinerja Kegiatan . Kendaraan 6. Layanan Perkantoran. Alat pengolah data/ komputer 5. yang berisikan Komponen Input : gaji dan Tunjangan.3.000 penduduk pada tahun 2011 untuk Nasional . 2 diantaranya mempunyai Output Laporan untuk pengendalian DBD yakni Readaptasi Survey COMBi dan Audit Kematian DBD. terdapat 6 Rencana Aksi.Meningkatkan persentase kabupaten/kota yang melakukan mapping vektor dari 30 menjadi 40 Output : Laporan Pengendalian Penderita DBD Satuan Ukur dan Jenis Keluaran : Laporan Volume : 2 laporan (Readaptasi Survey Combi dan Audit Kematian DBD/DSS) 42 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . Dalam contoh aplikasi TOR Responsif Gender berikut ini akan ditampilkan contoh TOR Responsif Gender dengan Output Laporan Pengendalian DBD.Menurunnya angka kesakitan DBD dari 55 menjadi (diambil dari Renstra 2010-2014) 54 per 100. Dan lain-lain. 2.

Angka DSS pada perempuan lebih tinggi. 07/MEN. i. c. Penyusunan Kebijakan Program. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 31-VI Tahun 1994 tentang Pembentukan Kelompok Kerja Operasional Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue ( POKJANAL DBD). Tim Pembina LKMD Tingkat Pusat. dan pasal 10 Pokja PUG Provinsi mempunyai tugas menetapkan TIM teknis untuk melakukan analisis terhadap anggaran daerah. Tata Cara Penyampaian Laporannya dan Tata Cara Penanggulangannya.104/PMK. h. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal. Norma patriarki yang menempatkan perempuan - Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 43 . Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1457 tahun 2003 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota Dalam Pencegahan dan Pemberantasan DBD. b. Angka Penderita DBD pada Laki-laki (L) lebih tinggi (51. Undang Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular. Kematian (DSS): L 39. g. f.02/2010 tentang petunjuk penyusunan dan penelahaan RAKL Tahun 2011. PP&PA/5/2010-No. dan Kegiatan Pembangunan berperspektif gender sebagaimana dimaksud ayat 1 dilakukan analisis gender. Dasar Hukum Tugas Fungsi/ Kebijakan a. Latar Belakang 1. sebagai akibat dari perilaku perempuan yang terlambat dalam mencari pengobatan.593/MENKES/SKB/V/2010.a.13% P 60.87% Perempuan dewasa lebih rentan terhadap kematian (DSS). Peraturan Pemerintah Nomor 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit Menular. Laki-laki segala usia lebih rentan terkena DBD. Kesepakatan bersama antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak dengan Menteri Kesehatan tentang pelaksanaan tentang pengarus utamaan gender di Bidang Kesehatan No. Peraturan Menteri Keuangan No. d. 2. Gambaran Umum Data dari subdit Arbovirus 2010.79%) dibanding Perempuan (P) (48. Menarik untuk dilihat lebih lanjut apakah diperlukan penanganan darurat khusus untuk perempuan yang terinfeksi Dengue.21%). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 560 Tahun 1989 tentang Jenis Penyakit Tertentu Yang Dapat Menimbulkan Wabah. Peraturan Menteri Dalam negeri Nomor 15/2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanan Pengarusutamaan Gender (PUG) di daerah dimana pada Pasal 4 ayat 2. e.KEPMENKES Nomor 581/MENKES/SK/VII/1992 tentang Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue.

Kontrol: Walaupun angka kesakitan laki-laki lebih tinggi tapi angka kesakitan yang masuk menjadi DSS lebih rendah – perlu diteliti lebih lanjut apakah ini karena laki-laki punya kontrol lebih besar pada akses layanan kesehatan ataukah karena memang secara imunologi laki-laki lebih baik daripada perempuan terhadap DBD. Ini terbukti dari COMBi ( yang menunjukkan data laki-laki yang pernah melihat iklan DBD hanya 1/3 dari perempuan. Bekasi) th 2009 ttg pengetahuan masyarakat ttg pengendalian DBD: L 22% P 78% Pada pesan media elektronik cenderung bias gender. maka dapat disimpulkan laki-laki kurang menggunakan upaya promotif yang dilakukan dalam pengendalian demam berdarah. Cimahi dan Kota Jogjakarta adalah ibu2.sebagai caregivers dalam keluarga membuat perempuan terlambat mencari pengobatan karena harus mengurus keluarga terlebih dulu. Bogor. Angka kesakitan tidak dianalisa dengan menggunakan perspektif gender terutama untuk melihat perbedaan biologis dan sosial untuk kerentanan 44 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . Kurangnya petugas jumantik laki-laki untuk melakukan pemeriksaan dan penyuluhan tentang PSN dan Penanggulangan DBD disebabkan Laki-laki menyerahkan urusan pemberantasan jentik demam berdarah di rumah untuk dilakukan oleh perempuan. karena model iklan lebih banyak perempuan (misal 3M) dan repellen nyamuk beraroma bunga. Survey Combi di 5 kota endemis (Batam. Depok. Waktu penyuluhan DBD dilakukan pada pagi hari sehingga hanya perempuan yang memiliki waktu untuk mengikuti penyuluhan karena Bapak-Bapak banyak di luar rumah untuk bekerja. cemas tidak ada yang menggantikan dia kalau di-rumah sakit kan sehingga membuat mereka terlambat datang ke sarana kesehatan. Mataram. 100% kader jumantik di DKI Jakarta. Akses: Laki-laki lebih sedikit terpapar pada media informasi (KIE) ttg DBD dibanding perempuan. Partisipasi: Petugas penyuluh demam berdarah lebih banyak perempuan. Kota Mojokerto. Manfaat: Hanya 22% Laki-laki di bandingkan 78% perempuan memiliki pengetahuan tentang DBD. sehingga berakibat angka kesakitan DBD pada laki-laki lebih tinggi.

laki-laki. Laki-laki tidak maksimal dalam memanfaatkan upaya promotif kesehatan. sedangkan laki-laki lebih bertanggung jawab untuk wadah penampungan air yang disekitar rumah seperti tanki air ataupun pembuangan sampah “besar”. Response program bersifat netral gender. prosedur penanganan baku/sama dan akses sama. sistem kapiler perempuan memang lebih rentan untuk permeabilitas sel. sehingga insidens DBD lebih tinggi pada laki-laki. maka harus ada yang bisa menggantikan mereka dulu untuk mengurus keluarga sebelum mau dirawat. anak perempuan dan anak laki-laki. Perlu dicarikan strategi untuk meningkatkan partisipasi laki-laki dalam pengendalian DBD. perempuan menganggap infeksi dengue serius karena tidak ada vaksin. COMBi menunjukkan laki-laki tidak memiliki pengetahuan memadai sehingga angka insidens pada laki-laki lebih tinggi dan jumantik laki-laki Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 45 . Apalagi jika perempuan diharuskan dirawat inap.antara perempuan. Angka kesakitan tidak dianalisa dengan menggunakan perspektif gender terutama untuk melihat perbedaan biologis dan sosial untuk kerentanan antara perempuan. Dalam sebuah studi yang dilakukan di Puerto Rico. Bila dilihat dari peran gender antara laki-laki dan perempuan maka perempuan lebih bertanggung jawab terhadap kontainer air yang terkait dengan rumah tangga / di dalam rumah seperti tempat penyimpanan air untuk mandi. dengan asumsi kerentanan sama. Selama ini iklan 3M lebih fokus pada wadah tampung air untuk kebutuhan rumah tangga dan belum terlalu mengena untuk peran gender laki-laki untuk pengendalian DBD. Selain itu secara bilogis. tingginya insidens dan dampak ekonomi dan emosi nya. sedangkan laki-laki lebih memilih karena banyak orang meremehkan gigitan nyamuk Oleh sebab itu upaya pengendalian DBD yang memang difokuskan pada pemberantasan nyamuk Aedes aegypti sebagai penular DBD. Response program bersifat netral gender. membuat mereka menghabiskan lebih banyak waktu di dalam rumah dan sering terlambat mencari pengobatan. terutama melalui kegiatan PSN oleh masyarakat perlu ditingkatkan. minum dan cuci. Hal ini menyebabkan perempuan sering menunda pergi mencari pengobatan sehingga seringkali saat mereka datang sudah dengan fase penyakit yang lanjut. dengan asumsi kerentanan sama. prosedur penanganan baku/sama dan akses sama. Peran perempuan sebagai caregivers dalam keluarga. laki-laki. anak perempuan dan anak laki-laki. sehingga sulit penanganan secara medisnya.

Metode Pelaksanaan : Dilaksanakan melalui metode swakelola 2. prosedur yang perlu disempurnakan sesuai sex. Meningkatkan pengetahuan laki-laki dalam pengendalian DBD.sangatlah minim. Tahapan dan Waktu Pelaksanaan (diambil dari kolom 7 GAP) 46 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . maka akan disusun laporan pelaksanaan yang terdiri dari .Laporan Audit Kematian DBD b. Dalam pelaksanaan kegiatan penanggulangan penderita DBD tersebut.Laporan Readaptasi Survey COMBi . dimana pengendalian penyakit ini bertujuan untuk : Menurunkan 5% angka kematian (DSS) pada perempuan usia sekolah dan dewasa. c. laki-laki >15 th. Sedangkan untuk merespon tinggi nya angka kematian akibat DBD/DSS pada perempuan usia sekolah dan dewasa maka sarana kesehatan harus mulai melakukan audit kematian untuk mengidentifikasi apakah penyebab dari kematian karena faktor biologis. Oleh sebab itu perlu melakukan readaptasi modul Survey COMBi untuk menangkap faktor-faktor penyebab rendahnya partisipasi lakilaki dan perlu analisa khusus untuk merumuskan kembali strategi perubahan perilaku yang lebih efektif berdasarkan perbedaan gender dalam keterlibatan aktif laki-laki dan perempuan dalam pengendalian DBD. bayi perempuan <1 tahun. Target sasaran kegiatan: provinsi endemis. Strategi Pencapaian Keluaran 1. ataupun karena perbedaan peran gender sehingga mempengaruhi perilaku pasien dalam mencari pengobatan. Tujuan dan Penerima Manfaat Dengan ouput laporan ini akan melaporkan hasil pengendalian penderita DBD.

. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 47 ................ .. NIP....................... ............. Rencana Anggaran Biaya (RAB) (terlampir) Penanggung Jawab....... Waktu Pencapaian Keluaran : Tahun Anggaran 2011 e..... Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang..... Indikator Keluaran : Tersusunnya laporan pengendalian pada penderita DBD d..... sikap dan perilaku laki-laki dalam pengendalian DBD... termasuk pilihan metode KIE yang efektif untuk lakilaki dan perempuan TAHAPAN Readaptasi COMBI tool untuk menangkap faktor resiko DBD pada laki-laki Pelatihan enumerator COMBi Survey Combi Pengolahan data dan penyusunan laporan COMBi Sosialisasi hasil COMBi Penyusunan pesan COMBi Pengadaan pesan COMBi Launching pesan COMBi Monitoring dan Evaluasi WAKTU PELAKSANAAN Februari 2011 Maret 2011 Maret 2011 April 2011 April 2011 Mei 2011 Mei 2011 Juni 2011 ......Readaptasi survey COMBi untuk lebih menangkap pengetahuan...........Audit kematian DBD dengan fokus pada perempuan (termasuk mengukur response time) Pengembangan SOP Pelatihan SOP Survey Audit Kematian di sub nasional Februari 2011 Maret 2011 April 2011 3....PELAKSANAAN ...

output. Teknik Penyusunan Gender Budget Statement (GBS) GBS adalah dokumen yang berisi pernyataan bahwa sebuah program dan kegiatan telah responsif gender. dan suatu biaya telah dialokasikan pada output kegiatan untuk menangani permasalahan kesenjangan gender. Target Indikator kinerja kegiatan yang dicapai mesti memperhatikan kesetaraan dan keadilan bagi perempuan dan laki-laki. Sebagian isi GBS juga berasal dari dokumen TOR responsif gender. indikator kinerja kegiatan. Karena target kinerjanya mengukur perempuan dan laki-laki. sub output kegiatan dan komponen input terhadap pencapaian target indikator kinerja kegiatan dan target output/outcome dari program. maka Rincian Kegiatan dan sub-output yang dilakukan pun merupakan hasil analisis gender. 48 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . namun secara komprehensif mencakup tentang relevansi kegiatan. GBS merupakan perpaduan dari hasil analisis gender (analisis GAP) dan kebutuhan anggaran (TOR responsive gender) secara generik dan instan. Adapun format GBS yang memuat komponen-komponennya serta cara penyusunannya dapat dilihat pada format berikut. maka sebagian isi GBS berasal dari matriks analisis GAP.D. Karena analisisnya menggunakan metode GAP. GBS memberikan informasi bahwa suatu kegiatan telah responsif terhadap isu gender yang ada.

Sub-output 1 Komponen Input 1 Komponen Input 2 Komponen Input 3 Dst… Sub-ouput 2 Komponen Input 1 Komponen Input 2 Dst.. Jenis-jenis Rincian Kegiatan yang akan dilakukan. Tahapan pertama pelaksanaan sub-output 1 Tahapan kedua pelaksanaan sub-output 1 Tahapan ketiga pelaksanaan sub-output 1 Jenis-jenis Rincian Kegiatan yang akan dilakukan Tahapan ketiga pelaksanaan sub-output 2 Tahapan ketiga pelaksanaan sub-output 2 Alokasi Anggaran Output Kegiatan Jumlah anggaran (Rp) yang dialokasikan untuk mencapai suatu Output Kegiatan Dampak/hasil Output Kegiatan Dampak/hasil secara luas dari Output Kegiatan yang dihasilkan dan dikaitkan dengan isu gender serta perbaikan ke arah kesetaraan gender yang telah diidentifikasi pada analisisi situasi Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 49 . dengan menekankan uraian pada aspek gender dari persoalan tersebut..1. Jika tidak. FORMAT GENDER BUDGET STATEMENT (Pernyataan Anggaran Gender) Kementerian Negara/Lembaga Unit Organisasi Unit eselon II/Satker : ……………………… : ……………………… : ……………………… Program Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan Output Kegiatan Analisa Situasi (diharapkan tersedia angka kelompok sasaran baik laki-laki maupun perempuan. hanya berupa gambaran bahwa output kegiatan yang akan dihasilkan mempunyai pengaruh kepada kelompok sasaran tertentu) Rincian Kegiatan Diambil dari TOR bagian metode pelaksanaan Nama program yang ada pada K/L Nama Kegiatan sebagai penjabaran program Indikator yang ditetapkan untuk masing-masing output kegiatan (merujuk kedokumen Renstra 2010-2014) Nomenklatur Output dan volume satuan Output Kegiatan (sesuai RKA-KL) Uraian ringkas yang menggambarkan persoalan yang akan ditangani/ dilaksanakan oleh Kegiatan yang menghasilkan output. Analisis situasi : menggambarkan terjadinya kesenjangan gender yang ada terkait dengan kegiatan yang akan dilaksanakan.

Angka DSS pada perempuan lebih tinggi. Laki-laki segala usia lebih rentan terkena DBD.Menurunnya angka kesakitan DBD dari 55 menjadi 54 per 100. Oleh sebab itu upaya pengendalian DBD yang memang difokuskan pada pemberantasan nyamuk Aedes aegypti sebagai penular DBD. Cimahi dan Kota Jogjakarta adalah ibu2. sebagai akibat dari perilaku perempuan yang terlambat dalam mencari pengobatan. Kematian (DSS): L 39.000 penduduk pada tahun 2011 untuk Nasional .87% Perempuan dewasa lebih rentan terhadap kematian (DSS).2. Perlu dicarikan strategi untuk meningkatkan partisipasi laki-laki dalam pengendalian DBD.13% P 60. 100% kader jumantik di DKI Jakarta. Survey Combi di 5 kota endemis (Batam. terutama melalui kegiatan PSN oleh masyarakat perlu ditingkatkan.21%). Bogor. Bekasi) th 2009 ttg pengetahuan masyarakat ttg pengendalian DBD: L 22% P 78% Pada pesan media elektronik cenderung bias gender. Oleh sebab itu perlu melakukan readaptasi modul Survey COMBi untuk menangkap faktor-faktor penyebab rendahnya partisipasi laki-laki dan perlu analisa khusus untuk merumuskan kembali strategi perubahan perilaku yang lebih efektif berdasarkan perbedaan gender dalam keterlibatan aktif laki-laki dan perempuan dalam pengendalian DBD. COMBi menunjukkan laki-laki tidak memiliki pengetahuan memadai sehingga angka insidens pada laki-laki lebih tinggi dan jumantik laki-laki sangatlah minim.Meningkatkan persentase kabupaten/kota yang melakukan mapping vektor dari 30 menjadi 40 Laporan Pengendalian Penderita DBD Data dari subdit Arbovirus 2010. cemas tidak ada yang menggantikan dia kalau di-rumah sakit kan sehingga membuat mereka terlambat datang ke sarana kesehatan. Menarik untuk dilihat lebih lanjut apakah diperlukan penanganan darurat khusus untuk perempuan yang terinfeksi Dengue. karena model iklan lebih banyak perempuan (misal 3M) dan repellen nyamuk beraroma bunga.79%) dibanding Perempuan (P) (48. Norma patriarki yang menempatkan perempuan sebagai caregivers dalam keluarga membuat perempuan terlambat mencari pengobatan karena harus mengurus keluarga terlebih dulu. Angka Penderita DBD pada Laki-laki (L) lebih tinggi (51. Mataram. CONTOH APLIKASI GENDER BUDGET STATEMENT (GBS) (Pernyataan Anggaran Gender) Kementerian Negara/Lembaga : Kementerian Kesehatan Unit Organisasi : Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Unit eselon II/Satker : Direktorat Pengendalian Penyakit bersumber Binatang Kementerian Negara/Lembaga : Kementerian Kesehatan Unit Organisasi (eselon 1) : Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Unit Eselon II/Satker : Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Program Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan : Program Pengendalian Penyakit Penyakit dan Penyehatan Lingkungan : Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang . Depok. Output Kegiatan Analisa Situasi (diharapkan tersedia angka kelompok sasaran baik laki-laki maupun perempuan. Kota Mojokerto. hanya berupa gambaran bahwa output kegiatan yang akan dihasilkan mempunyai pengaruh kepada kelompok sasaran tertentu) 50 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan .Meningkatnya persentase Angka Bebas Jentik ( ABJ) dari 60% menjadi 70% pada tahun 2011. Jika tidak. . .

Sedangkan untuk merespon tinggi nya angka kematian akibat DBD/DSS pada perempuan usia sekolah dan dewasa maka sarana kesehatan harus mulai melakukan audit kematian untuk mengidentifikasi apakah penyebab dari kematian karena faktor biologis, prosedur yang perlu disempurnakan sesuai sex, ataupun karena perbedaan peran gender sehingga mempengaruhi perilaku pasien dalam mencari pengobatan.

Rincian Kegiatan (diambil dari TOR bagian metode pelaksanaan)

Readaptasi survey COMBi untuk lebih menangkap pengetahuan, sikap dan perilaku laki-laki dalam pengendalian DBD; termasuk pilihan metode KIE yang efektif untuk lakilaki dan perempuan

Tujuan Suboutput 1 (disesuaikan dengan logika suboutput yang dipilih dan indikator Kinerja Kegiatan).

• Teridentifikasinya sebab khusus kematian DBD pada perempuan; • Angka Kesakitan DBD terpilah jenis kelamin dan umur

Suboutput 1

Komponen 1

Readaptasi COMBI tool untuk menangkap faktor resiko DBD pada laki-laki Pelatihan enumerator COMBi Survey Combi Pengolahan data dan penyusunan laporan COMBi Sosialisasi hasil COMBi Penyusunan pesan COMBi Pengadaan pesan COMBi Launching pesan COMBi Monitoring dan Evaluasi

Komponen 2 Komponen 3 Komponen 4

Komponen 5 Komponen 6 Komponen 7 Komponen 8 Komponen 9

Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan

51

Suboutput 2

Audit Kematian Tujuan Suboutput 2(disesuaikan dengan logika suboutput yang dipilih dan indikator Kinerja Kegiatan). Teridentifikasinya sebab khusus kematian DBD pada perempuan; Meningkatnya response time perempuan dalam mencari pengobatan DBD; Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 Pengembangan SOP Pelatihan SOP Survey Audit Kematian di sub nasional

Alokasi Anggaran Output Kegiatan Dampak/hasil Output Kegiatan

Rp.1,629,000,000 (Jumlah anggaran yang dialokasikan untuk mencapai output kegiatan)

Menurunkan 5% angka kematian (DSS) pada perempuan usia sekolah dan dewasa. Meningkatkan pengetahuan laki-laki dalam pengendalian DBD.

52

BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan

E. Hubungan GAP, TOR dan GBS
GAP, TOR dan GBS adalah saling berhubungan satu sama lain. Karena itu, banyak variable informasi dalam GAP, TOR dan GBS saling berkaitan dan saling memperkuat. Oleh sebab itu, keberhasilan penyusunan GAP akan sangat memudahkan penyusunan TOR dan GBS. Matrix berikut ini dapat menggambarkan hubungan antara Langkah-langkah dalam GAP, Komponen TOR, dan GBS. Bagan 8. Matriks Hubungan GAP, GBS dan TOR
GAP (KOLOM) 1 2,3,4,5 6 7 8,9 TOR Data umum (Eselon 1, Program, Kegiatan, Indikator Kinerja Kegaiatan) Latar belakang (narasi) Tujuan Umum (termasuk tujuan khusus) Rincian Kegiatan yang akan dilakukan Indikator keluaran GBS Data umum (Program, Kegiatan, Indikator Kinerja Kegaiatan) Analisa situasi Dapat saja, tujuan dari output/sub output Rincian Kegiatan, sub-output, dan Komponen Input Dampak atau hasil output kegiatan

F.

ARG dan Penelaahan RKA-KL

Berdasarkan Permenkeu Nomor 104 Tahun 2010, penelaahan RKA-KL dengan muatan ARG dilakukan melalui langkah di bawah ini: 1. 2. Suatu ARG berada pada tingkat output dari struktur RKA-KL; Isu kesenjangan gender dan gambaran perbaikannya tercermin dari uraian analisis situasi yang ada dalam GBS maupun isu gender dalam Kerangka Acuan Kegiatan (TOR); GBS minimal harus mencakup aspek-aspek seperti yang ada pada format GBS; Meneliti adanya kesesuaian antara uraian GBS dengan TOR. Jika antara TOR dan GBS tidak sesuai, maka kegiatan belum dapat dikatakan responsif gender dan tidak dapat diproses untuk tahap selanjutnya. Oleh karena itu agar kegiatan memenuhi kriteria ARG, maka K/L harus memperbaiki TOR kegiatannya supaya sesuai dengan GBS; Memutuskan apakah kegiatan atau sub kegiatan dimaksud sudah responsif gender atau belum berdasarkan butir 2,3, dan 4; Apabila telah responsif gender, petugas penelaah DJA selanjutnya meneliti kode bagan akun standar yang dicantumkan dalam RKA-KL (sesuai dengan proses penelaahan RKA-KL umum) untuk meneliti kesesuaian RKA-KL dengan TOR dan GBS.

3. 4.

5. 6.

Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan

53

partisipasi. 4. kontrol antara lakilaki dan perempuan. Gambaran adanya faktor penghambat di internal lembaga (organisasi pemerintah) dan atau eksternal lembaga (masyarakat). 54 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan .Untuk mempermudah proses penelaahan RKA-KL. Apakah telah tersedia dokumen GBS yang didahului dengan analisa gender. Adanya isu gender yang dituangkan dalam TOR seperti: i) Apakah pada bagian Latar Belakang telah dijelaskan mengenai permasalahan yang dihadapi oleh kelompok sasaran. ii) Apakah tujuan kegiatan secara jelas memberikan informasi tentang manfaat yang akan diterima kelompok sasaan. manfaat. yang keduanya dapat dihubungkan dengan bagian Latar Belakang dalam TOR. Apa jenis kegiatan ARG yang akan dilaksanakan? Jenis kegiatan tersebut berupa service delivery atau capacity building dan advokasi gender. baik laki-laki maupun perempuan. 3. Indikator Outcome yang dapat dihubungkan dengan bagian Tujuan Kegiatan dalam TOR. Bagian GBS yang menghubungkan dengan isu gender tersebut adalah: Analisa situasi yang berisikan: Gambaran kesenjangan akses. iii) Apakah paparan pelaksanaan kegiatan telah menjelaskan pelibatan atau konsultasi dengan kelompok sasaran laki-laki dan perempuan. 2. petugas penelaah Ditjen Anggaran akan membuat daftar (check list) atas pertanyaan sebagai berikut: 1. Indikator Input atau Output yang dapat dihubungkan dengan bagian Pelaksanaan Kegiatan dalam TOR. Apakah isu gender yang ada dalam TOR tersebut mempunyai keterkaitan dalam GBS. baik laki-laki maupun perempuan.

LAMPIRAN: Contoh ARG

Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan

55

GENDER ANALYSIS PATHWAY (GAP)

Program : Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kegiatan : Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi (Dana Dekonsentrasi – Provinsi Jawa Timur)
LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN
Kordinasi lintas sektor/ program yang belum optimal Kurangnya kompetensi petugas pelayanan kesehatan kab/kota Kegiatan : Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi Program : Program Bina Gizi dan Kesehatan ibu dan anak.

1 KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI

2

4

5

6

7

8

9

KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM SEBAB INTERNAL

DATA PEMBUKA WAWASAN

PENGUKURAN HASIL BASELINE DATA
1. Tenaga kesehatan Kab/ kota terlatih ABPK Yan Kb =500 orang

INDIKATOR
1. Meningkatnya tenaga kesehatan Kab/kota terlatih ABPK Yan Kb 657 orang ( terdiri dari laki laki dan perempuan)

Program : Program Bina Gizi dan Kesehatan ibu dan anak.

Kegiatan : Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi Para pengelola program belum terpapar dalam rencana MPS yang sensitif gender terutama point ke 3

Angka kematian ibu di Propinsi Jawa Timur tercatat : 90,7/100.000 KH. Angka ini masih dibawah target nasional 118/100.000 KH

Tidak semua stake holder /pengambil keputusan memahami konsep keadilan dan kesetaraan gender. (PUG). Hal ini berpengaruh pada anggaran yang responsif gender.

1. Lokakarya ABPK Yan KB bagi petugas kesehatan kab/kota di Propinsi dan Orientasi ABPK Yan KB bagi Petugas tenaga kesehatan di kab/kota ( Capacity building) Tujuan (di Prov. Jatim) : Meningkatkan capaian KB aktif dari 62 % menjadi 63 % ( 2011) dgn melibatkan peran dan tanggung jawab laki-laki (proporsi lakilaki meningkat menjadi 2 %). 2. Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi

2. Menurunnya Capaian KB aktif dari 67,28 % ( 2007) menjadi 62,05 %( th 2009) 3. Belum tersosialisasinya indikator universal akses dan Rencana aksi propinsi

Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan

Tujuan (tujuan nasional menurut Renstra Kemenkes): Meningkatkan capaian KB aktif dari 61 % tahun 2010 menjadi 62 % tahun 2011

Namun SDKI th 2007 ,Angka kematian Ibu di tingkat nasional tercatat : 227/100.KH, sedangkan Jawa Timur tercatat 83/100.000 KH.Hal ini menunjukkan masih banyak AKI yang belum terlaporkan. Masyarakat lebih nyaman partus di dukun karena konsep mendapatkan pelayanan lengkap di banding bidan.

AKSES : Akses informasi kesehatan reproduksi/KB bagi laki laki masih kurang , terutama mengenai : Metode kontrasepsi, faktor kegagalan dan DO ; penyakit yang mengancam selama kehamilan & tanda bahaya selama hamil, salin dan nifas. Hak perempuan untuk memutuskan hak reproduksinya

2. Teridentifikasinya permasalahan dan adanya rekomendasi dalam pencapaian indikator cakupan Kb aktif ( 63 %)dgn melibatkan PUS terutama laki laki (proporsi lakilaki meningkat menjadi 2%).

57

terlalu muda . KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/kota maupun di propinsi.7%) . Capaian KB aktif 62. Tersosialisasinya indikator universal akses kespro dan rencana aksi propinsi dalam pencapaian indikator universal akses kespro bagi kab/ kota 4.58 LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN PUS terutama yang tidak menginginkan anak tidak mendapatkan informasi dan pelayanan KB yg memadai (unmet need > 8 %) Kecilnya anggaran untuk pelayanan kesehatan. Adanya hasil data monitoring pelaksanaan Yan KB/kespro di 38 kab/kota th lalu 5. terlalu banyak anak) merupakan ibu beresiko jika hamil dan bersalin sehingga menjadi ancaman AKI (SDKI 1997) Jumlah ibu yang memeriksakan kehamilan berkualitas belum optimal. 5. Pengadaan bidan kit. Terpantaunya dan adanya bimbingan tehnis intervensi berbagai permasalahan pelayanan Kespro/Kb di lapangan 38 kab/ kota selama th 2011 Tujuan (di Prov. alokon serta bahan habis pakai masih kurang dari cukup fasilitas kesehatan yang berkualitas kurang ( baik kualitas maupun kuantitas) Data PUS 4 T di masyarakat : > 60 % ( terlalu tua.54% 4. Lemahnya sistem pencatatan dan pelaporan khususnya tersedianya data terpilah. Faktor terlambat pertolongan yg adekuat. valid dan capaian Cakupan Kb aktif : 65 % ( th 2011) 5. Kurangnya perhatian pemerintah kab/kota dalam pelayanan KB berkualitas 3. sarana. Komplikasi :5. Drop Out : 4. Tersedianya data terpilah .3% dan wanita : 98.05% dengan rincian ( Partisipasi Laki : 1. (86%) dan belum mendapatkan perencanaan KB pasca salin (kesempatan yg hilang) Ada beberapa faktor penyebab : 1. Validasi data kes ibu. Data penunjan belum terpilah sedangkan Cakupan KB aktif : 62. Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses 4. Dipengaruhi oleh :tenaga.64% . Jatim) : Meningkatkan capaian KB aktif dari 62 % menjadi 63 % ( 2011) Kurangnya alat bantu infomasi bagi edukasi kesehatan reproduksi/ KB. obat dan manajerial . Monitoring pelaksanaan program yan Kb/kespro melalui superfisi fasilitatif ( kespro) Peran serta masyarat kurang dalam bidang kesehatan krn promosi kesehatan kurang efektif 6. terlalu sering melahirkan. Lemahnya manajerial programer kesehatan di daerah.05% selama th 2009 1 KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA PENGUKURAN HASIL 2 4 5 6 7 8 9 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM SEBAB INTERNAL DATA PEMBUKA WAWASAN INDIKATOR 3.

150 paket lembar balik abpk.7 % namun Kematian ibu : 70 % terjadi di RS. Pengadaan sarana pendukung program kespro 7. Hal ini disebabkan selain keterlambatan merujuk ke RS sehingga keadaan ibu sudah jelek (Faktor kontrol). Teridentifikasinya permasalahan. KB( 2%) dan yang memiliki bidan kit : 45. RS ponek 19 dan yang berfungsi hanya 71. dgn Puskesmas Poned 241 dan yang berfungsi hanya 60 %. Jumlah bidan : 10. 1 KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA PENGUKURAN HASIL 2 4 5 6 7 8 9 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM SEBAB INTERNAL DATA PEMBUKA WAWASAN INDIKATOR 6. register kohort 2610 buku.7 % Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan Jumlah bidan 1 : 3112 Penduduk( target : 1000).8% ( target : 80% nasional). Sedangkan poned kit tersedia 76. serta ketersediaan alat dan obat yang masih rendah. Evaluasi pelaksanaan yan kespro/ KB di propinsi 7.535 orang.607. akses yg lemah thd keuangan.LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN 6. juga dipengaruhi oleh kualitas tenaga terlatih dan belum berfungsingan Pusk Poned/ RS Ponek.1%) Meskipun persalinan nakes tinggi 93.8 % dan ponek kit di RS ( 21. Pustu/Polindes 7.9 %( APN). Desa P4K : 8508. dan yg berfungsi : 49.2%. Minimnya sarana pendukung pelayanan kespro/KB bagi daerah miskin dan terpencil. Ini menunjukkan ibu hamil masih jauh dari akses pelayanan berkualitas termasuk informasi KB dan biaya 59 . faktor faktor penyebab dan adanya rekomendasi intervensi yg bermanfaat bagi laki laki dan perempuan dalam pencapaian cakupan Kb aktif sesuai target selama th 2011 Tersedianya alat bantu KIE dan buku pedoman untuk pelayanan KB bagi ibu dan suaminya bagi nakes kab/kota khususnya untuk daerah miskin dan terpencil rincian :383 buku sistem pencatatan pelaporan. terlatih 63. RS 282. 150 buku abpk Gambaran : Puskesmas 944( target : 1247).

000 pdd).000/kapita/ tahun.000/ kapita/tahun. Jumlah Perawat : 1 : 12. 9.000 Penduduk ( target . Standar Nasional anggaran perkapita obat sebesar Rp.000 penduduk( target 1 : 16. Reproduksi/KB kpd suaminya (marginal) KONTROL : Laki laki masih dominan dalam semua keputusan walaupun hal itu mempengaruhi kesehatan perempuan hal ini berkaitan budaya patriaki dan kontrol thd keuangan (streotipi) 1 KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA PENGUKURAN HASIL 2 4 5 6 7 8 9 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM SEBAB INTERNAL DATA PEMBUKA WAWASAN INDIKATOR Jumlah dokter 1 : 25000 penduduk( target 1: 2500 pdd ) . 2.Jumlah SpOG 1 : 122. Istri kurang meneruskan informasi kes. 1: 850 pdd ) . Anggaran perkapita obat yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten/ Kota melalui DAU sebesar Rp. .60 LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN PARTISIPASI : Suami mengangap bahwa KB/kespro adalah urusan istri shg kurangnya keterlibatan dan tanggung jawab suami terhadap kesehatan reproduksi istrinya.

59 %.18%) ( susesnas 2008) Angkatan kerja th 2008 : Pria : 83. budaya dan gender.82%).5 sedangkan perempuan : 51. geograf Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan Penduduk Jatim usia 15-24 th yg melek huruf: Laki laki 99. & Perempuan : 99.500 (51.351.500 (48.36 %( susenas 2008) Penduduk gakin : Pria: 3. Perempuan kurang mendapatkan manfaat dari pelayanan yang tersedia terutma pelayanan KB pasca salin 1 KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA PENGUKURAN HASIL 2 4 5 6 7 8 9 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM SEBAB INTERNAL DATA PEMBUKA WAWASAN INDIKATOR 2.1( susenas 2008). Rata2 gaji/ bln : pekerja 15 61 . wanita 3. ekonomi.197. Faktor terlambat merujuk dan sampai di layanan kesehatan Dipengaruhi oleh : pendidikan.LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN Lemahnya wewenang perempuan dalam pengambilan keputusan yg berkaitan dengan dirinya (sub ordinasi) MANFAAT : ibu hamil kurang memanfaatkan hak reproduksinya terutama mendapatkan pelayanan kesehatan termasuk biaya bagi gakin.

050 jiwa. 257.04% dari target 80% ( profil kesehatan 2008) .804 & Perempuan: Rp.742 jiwa ( Jamkesda). 42.260 ( Sakernas 2008) Masyarakat miskin yang ditanggung Program Jamkesmas (pemerintah pusat) th 2009 sebesar 10. Sedangkan masyarakat ( gakin dan non gakin) yang memiliki jaminan pra bayar kesehatan hanya : 34. 171. Sebagai pembanding th 2008 tercatat 82. Tercatat ± 1.441.18% yg memanfaatkannya.710.24% memilki kartu jamkesmas.LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN PENGUKURAN HASIL INDIKATOR 4 5 6 7 8 9 62 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM DATA PEMBUKA WAWASAN th keatas : Laki2: Rp.

3% Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan Perawatan pasca salin & bayinya : 80.LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM DATA PEMBUKA WAWASAN PENGUKURAN HASIL INDIKATOR Capaian Program : K4 ( Kunjungan pemeriksaan kehamilan yang berkualitas/ lengkap): 86. (Target 90%). Penolong persalinan terakhir : Dokter/ SpOG : 59. Dukun :14.2%. Jumlah pertolongankomplikasi kehamilan : 86. Bidan 26.52% ( Target 90%) 63 .42% ( Target 90%) Jumlah persalinan nakes masih tinggi : 93.27 %.5%.31% (target jatim : 80%).

64 LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN PENGUKURAN HASIL INDIKATOR 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM DATA PEMBUKA WAWASAN Pelayanan KB memiliki daya ungkit yang tinggi dalam penurunan AKI melalui perencanaan kehamilan yang direncanakan.38%). .72% & wanita : 98. Namun Cakupan Kb aktif: 62.05% Target : > 70%) dengan rincian (Partisipasi Laki: 1.64% dan sebagai pembanding Drop out KB th 2008: 3.3% dan wanita : 98.37% (Komposisi laki laki : 1.7%). Drop Out: 4.

61%) keagalan: 0.LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN PENGUKURAN HASIL INDIKATOR 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM DATA PEMBUKA WAWASAN Komplikasi: 5.63% (partisipasi laki laki :3.19%).04% (toleransi: < 0.39% & wanita : 99. KB aktif dibina 25 % Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan Jumlah pasangan usia subur yang tidak ingin punya anak namun tidak menggunakan alat kontrasepsi masih 65 . Capaian KB baru: 10.17%).5%) dengan rincian komposisi laki laki: 0.87% & wanita: 96.54% ( toleransi : < 3.

66 LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN PENGUKURAN HASIL INDIKATOR 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM DATA PEMBUKA WAWASAN tinggi ( > 8 %) pelayanan KB pasca salin / keguguran 5 -10 % ( Workshop PKBRS. bandung 2009) Data Penunjang lainnya : ABPK yan KB : 250 exp : poster/ leaflet .

Catatan : Dari (7 tujuh) rencana aksi yang terdapat pada kolom/langkah 7. Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses c. untuk rencana aksi : Lokakarya ABPK Yan KB bagi petugas kesehatan kab/kota di Propinsi dan Orientasi ABPK Yan KB bagi Petugas tenaga kesehatan di kab/kota (Capacity building) 3. Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi b. Monitoring pelaksanaan program yan KB/Kespro melalui superfisi fasilitatif (Kespro) e. Evaluasi pelaksanaan yan kespro/KB di propinsi 2. untuk rencana aksi : Pengadaan sarana pendukung program Kespro. untuk rencana aksi Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 67 . Laporan Kegiatan atau Pembinaan. KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/kota maupun di propinsi. untuk rencana aksi : a. Sarana pendukung program kespro. rencana aksi tersebut dapat dimasukkan dalam kelompok output untuk penyusunan RKA-KL sebagai berikut : 1. Validasi data kesehatan ibu. d. Tenaga terlatih.

7 tentang pengesahan konvensi mengenai penhapusan segala bentuk diskriminasi thd wanita 2.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan 3. UU no. 38 th 2007 tentang pembagian urusan pemerintahan. Dasar Hukum : 1. 593/Menkes/ SKB/V/2010 68 . KAK/TOR Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi (OUTPUT LAPORAN) Kementerian Negara/ Lembaga Unit Eselon I Program Hasil : : : : Kementerian Kesehatan Ditjen Bina Gizi dan Kesehatan ibu dan anak Bina Gizi dan Kesehatan ibu dan anak Meningkatnya ketersediaan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang bermutu bagi seluruh masyarakat Direktorat Kesehatan ibu/ Satker Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi Meningkatnya Cakupan peserta KB aktif dari 62. Kesepakatan bersama antara Men PP &PA dgn menkes tentang pelaksanaan PUG di bidang kesehatan no. pemerintahan daerah propinsi dan pemerintah daerah kab/ kota 5.Berikut ini diberikan contoh TOR responsif gender dan GBS dari Output Laporan Kegiatan. 9 th 2000 tentang PUG dalam pembangunan 6.02/2010 tentang petunjuk penyusunan dan penelaan AKL th 2011 7. Latar Belakang 1. UU No. 104/PMK. Peraturan pemeritah No.no. Peraturan MenKeu no.5 %( 2010) menjadi 65 % ( 2011) dengan proporsi pria naik dari 1. UU No 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran 4.3 % menjadi 2 %) Laporan untuk kegiatan Pembinaan pelayanan kesehatan ibu dan reproduksi Unit Eselon II/Satker Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan : : : Output : Satuan Ukur dan Jenis Keluaran : Laporan a. 07/Men/ PP& Pa/5/2010. Instruksi presiden no.

000 KH. Artinya terjadi peningkatan dan mengingat PUS 4T > 60 %( SDKI 1997) maka menjadi ancaman AKI jika tdk terlindungi dgn kontrasepsi. Hai ini berkaiatan dgn jumlah & kompetensi petugas yang rendah ( bidan terlatih APN 63.pada sarana kesehatan 60% Poned yg berfungsi.7/100.. Kebanyakan AKI terjadi di RS 70. budaya dan gender. issu gender disebabkan oleh : tidak semua stake holder /pengambil keputusan memahami konsep keadilan dan kesetaraan gender. Hal ini berpengaruh pada anggaran yang responsif gender.353 bidan dan belum termasuk dokter. poned(76.9%).2%. ekonomi. Dukun :14. Kematian ibu tersebut terjadi karena 3 Faktor penyebab : Faktor terlambat pertolongan yang adekuat (1). Para pengelola program belum terpapar dalam rencana MPS yang sensitif Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 69 . Ponek yang berfungsi 71.1%).KH. Sebagai pembanding : SDKI th 2007 . KB ( 2%) dari 10.1%.3%.000/bln) menyebabkan wanita lemah wwenangnya dalam memutuskan ( sub ordinat) meskipun berkaitan dgn kesehatannya. termasuk pelayanan KB yg memiliki daya ungkit tinggi dalam penurunan AKI (layanan hulu (Promotif – Preventif).89%. Hal ini juga di dasari masih adanya budaya patriaki sehingga ini menyebabkan wanita/ibu hamil kurang memanfaat akses pelayanan kesehatan yang ada termasuk biayanya . (PUG).2%. serta kecilnya anggaran kesehatan (obat) yg hanya 2000/kapita/ th ( target : 9000/kapita/th) ini menunjukkan bahwa wanita/laki laki jauh dari akses pelayanan berkualitas. Serta penolong terahir Dokter/SpOG : 59.000 KH. Faktor terlambat merujuk dan terlambat sampai( 2 & 3). Angka kematian Ibu di tingkat nasional tercatat : 227/100. Gambaran Umum Angka kematian ibu di Propinsi Jawa Timur tercatat : 90.2. sedangkan bidan kit tersedia hanya 45.85%.5%. Sungguh ironis meninggal di fasilitas rujukan.000 KH.17 %. informati perawaatan & pengobatan komplikasi kehamilan serta pencegahan KTD melalui upaya pelayanan KB khsususnya pelayanan KB pasca salin Didalam internal organisasi. geografi. Adanya anggapan bahwa Kesehatan reproduksi/KB urusan wanita menyebabkan laki laki kurang mendapatkan informasi mengenai kesehatan reproduksi/KB khususnya bagi si istri/wanita.2%. Perjalanan : 4. Puskesmas : 3. Rumah ibu : 9.23%. Desa P4K : 49. Angka ini masih dibawah target nasional 118/100. Meskipun tingkat melek huruf tdk jauh berbeda antara laki laki danprempuan namun kemiskinan dan tingkat pendapatan yang rendah pada wanita ( 170. Hal ini dipengaruhi oleh :pendidikan.28%)/ponek kit(21.Dan ini kurang memberdayakan laki laki (partisipasi) dalam upaya penurunan AKI melalui pengetahuan tanda bahaya kehamilan. Bidan 26. sedangkan Jawa Timur tercatat83/100.

Melalui peningkatan akses pelayanan kesehatan reproduksi/ KB berkualitas termasuk informasi meskipun tidak berdampak langsung/ sedikit kepada laki laki namun memiliki daya akselerasi penurunan AKI jika dilibatkan dan diberi tanggung jawab. Laporan Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses 3. Kecilnya anggaran untuk pelayanan kesehatan. c. Laporan Validasi data kesehatan ibu. Dalam pelaksanaan kegiatan Pembinaan pelayanan kesehatan ibu dan Reproduksi. KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/kota maupun di propinsi.5 % menjadi 65 % ( 2011) dengan melibatkan peran dan tanggung jawab laki-laki (proporsi laki laki : 2%) Target sasaran Kegiatan : Dinkes Kab/kota. Laporan monitoring pelaksanaan program yan KB/Kespro melalui superfisi fasilitatif (Kespro) 5. Strategi Pencapaian Keluargan 1. Pelayanan Kespro/KB yang memiliki daya ungkit yg tinggi dalam penurunan AKI melalui perencanaan kehamilan yg direncanakan belum optimal ( 62. Kordinasi lintas sektor/program kespro/kb yang belum optimal. Kurangnya kompetensi petugas pelayanan kab/kota . pengadaan sarana dan prasarana kurang dari cukup (baik kualitas maupun kuantitas).gender. Faktor lain : Masyarakat lebih nyaman partus di dukun karena konsep mendapatkan pelayanan lengkap di banding bidan.05%). Peran serta masyarat kurang dalam bidang kesehatan karena promosi kesehatan kurang efektif.Kurangnya perhatian pemerintah kab/kota dalam pelayanan KB berkualitas. 4. maka akan disusun laporan pelaksanaan yang terdiri dari : 1. Metode Pelaksanaan Dilaksanakan melalui metode swakelola 70 . Lemahnya sistem pencatatan dan pelaporan khususnya tersedianya data terpilah. Laporan Evaluasi pelaksanaan yan kespro/KB di propinsi Satuan: Volume Laporan : 119 b. Laporan Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi 2. Lintas sektor/program. Lemahnya manajerial programer kesehatan di daerah. . Tujuan dan Penerima Manfaat : Meningkatkan capaian KB aktif dari 62.

Pelaksanaan koordinasi ........Pelaksanaan monitoring .... ........Pembuatan laporan ....................Rapat persiapan/penyiapan materi .Rapat persiapan/penyiapan materi ...... KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/kota maupun di propinsi.Pembuatan laporan .....Pelaksanaan koordinasi . Tahapan dan Waktu Pelaksanaan Pelaksanaan Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses Validasi data kes ibu..Rapat persiapan/penyiapan materi .Pembuatan laporan .. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. NIP . Rencana Anggaran Biaya : terlampir Penganggung Jawab.. Monitoring pelaksanaan program yan Kb/kespro melalui superfisi fasilitatif ( kespro) Evaluasi pelaksanaan yan Kespro/ kb di propinsi Tahapan ....Rapat persiapan/penyiapan materi ..........Pelaksanaan validasi data ....Pembuatan laporan Waktu Pelaksanaan Juli 2011 Maret & September 2011 Juli & November 2011 Januari – Desember 2011 November 2011 d. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 71 ....2...Pelaksanaan evaluasi .Rapat persiapan/penyiapan materi ......Pembuatan laporan .... Waktu Pencapaian Keluaran : Tahun Anggaran 2011 e.

000 KH.10 pusk poned ( 60% yg berfungsi).GENDER BUDGET STATEMENT (Pernyataan Anggaran Gender) Kementerian Negara/Lembaga : Kementerian Kesehatan RI Unit Organisasi : Ditjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Unit Eselon II/Satker : Direktorat Bina Kesehatan Ibu/ Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Program Program Bina Gizi dan Kesehatan ibu dan anak.2%.85%. Ponek ( 71. Artinya terjadi peningkatan dan mengingat PUS 4T > 60 %( SDKI 1997) maka menjadi ancaman AKI jika tdk terlindungi dgn kontrasepsi..3%. Puskesmas : 3.17 %.89%.28%)/ponek kit(21.2%. Angka kematian Ibu di tingkat nasional tercatat : 227/100.000 KH. bidan kit tersedia hanya 45. Desa P4K : 49. Hai ini berkaiatan dgn jumlah & kompetensi petugas yang rendah ( bidan terlatih APN 63. Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi Salah satu Indikator : Meningkatnya Cakupan pasangan usia subur menjadi peserta KB aktif di Provinsi Jawa Timur sebesar 65% di tahun 2011. Rumah ibu : 9. sedangkan Jawa Timur tercatat83/100. Angka ini masih dibawah target nasional 118/100.1%). termasuk pelayanan KB yg memiliki daya ungkit tinggi dalam penurunan AKI ( layanan hulu (Promotif – Preventif)) Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan Output Kegiatan 72 .5%. Salah satu Outputnya : Laporan untuk kegiatan Pembinaan pelayanan kesehatan ibu dan reproduksi Angka kematian ibu di Propinsi Jawa Timur tercatat : 90. Kebanyakan AKI terjadi di RS 70. Sungguh ironis meninggal di fasilitas rujukan . serta kecilnya anggaran kesehatan (obat) yg hanya 2000/kapita/th ( target : 9000/kapita/th) ini menunjukkan bahwa wanita/laki laki kurang mendapatkan akses informasi & pelayanan berkualitas. Bidan 26.7/100. poned(76.23%.9%). KB ( 2%) dari 10.2%. Serta penolong terahir Dokter/SpOG : 59. Perjalanan : 4. Kematian ibu tersebut terjadi karena 3 Faktor penyebab : Faktor terlambat pertolongan yg adekuat (1).KH.000 KH. Dukun :14. Sebagai pembanding : SDKI th 2007 .353 bidan dan belum termasuk dokter.1%).

Para pengelola program belum terpapar dalam rencana MPS yang sensitif gender. Masyarakat lebih nyaman partus di dukun karena konsep mendapatkan pelayanan lengkap di banding bidan. Pengadaan sarana dan prasarana kurang dari cukup ( baik kualitas maupun kuantitas) Faktor lain :. Kordinasi lintas sektor/program kespro/kb yang belum optimal. Kecilnya anggaran untuk pelayanan kesehatan.000/bln) menyebabkan wanita lemah wwenangnya dalam memutuskan ( sub ordinat) meskipun berkaitan dgn kesehatannya. informati perawaatan & pengobatan komplikasi kehamilan serta pencegahan KTD melalui upaya pelayanan KB khsususnya pelayanan KB pasca salin Didalam interna organisasi. Kurangnya kompetensi petugas pelayanan kab/kota. Hal ini dipengaruhi oleh :pendidikan. issu gender disebabkan oleh :Tidak semua stake holder / pengambil keputusan memahami konsep keadilan dan kesetaraan gender. budaya dan gender. Lemahnya sistem pencatatan dan pelaporan khususnya tersedianya data terpilah. Dan ini kurang memberdayakan laki laki ( partisipasi) dalam upaya penurunan AKI melalui pengetahuan tanda bahaya kehamilan. Lemahnya manajerial programer kesehatan di daerah. (PUG). Meskipun tingkat melek huruf tdk jauh berbeda antara laki laki danprempuan namun kemiskinan dan tingkat pendapatan yang rendah pada wanita ( 170. geografi .Analisis Situasi Faktor terlambat merujuk dan terlambat sampai( 2 & 3). Hal ini berpengaruh pada anggaran yang responsif gender. ekonomi. Peran serta masyarat kurang dalam bidang kesehatan krn promosi kesehatan kurang efektif Pelayanan Kespro/ KB yang memiliki daya ungkit yg tinggi dalam Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 73 . Hal ini juga di dasari masih adanya budaya patriaki sehingga ini menyebabkan wanita/ ibu hamil kurang memanfaat akses pelayanan kesehatan yang ada termasuk biayanya ( marginal) Adanya anggapan bahwa Kesehatan reproduksi/ KB urusan wanita menyebabkan laki laki kurang mendapatkan informasi mengenai kesehatan reproduksi/KB khususnya bagi si istri/wanita. Kurangnya perhatian pemerintah kab/kota dalam pelayanan KB berkualitas.

05%).3 % menjadi 2%) Rapat persiapan/Penyiapan materi Pelaksanaan Koordinasi Pembuatan laporan Laporan Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses Memberikan informasi indikator universal akses kespro dan rencana aksi propinsi dalam pencapaian indikator universal akses kespro bagi kab/kota Rapat persiapan/Penyiapan materi Pelaksanaan koordinasi Pembuatan Laporan Laporan Validasi data kes ibu. terpilah. KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/kota maupun di propinsi. Memberikan informasi perihal data yang valid.penurunan aki melalui perencanaan kehamilan yg direncanakan belum optimal ( 62. KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/ kota maupun di propinsi. Validasi data kesehatan ibu. tepat waktu dan memberikan masukan dalam pembuatan keputusan Rapat persiapan/Penyiapan materi Pelaksanaan validasi Pembuatan Laporan Tujuan/manfaat Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 Sub output 2 Rincian Kegiatan Tujuan/manfaat Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 Sub output 3 Tujuan/manfaat Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 74 . Evaluasi pelaksanaan yan kespro/KB di propinsi Sub output 1 Laporan Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi Memberikan informasi mengenai intervensi dalam mencapai Kb aktif 65 % dgn ( proporsi pria naik dari 1. terdiri dari laporan untuk : 1. Melalui Peningkatan akses pelayanan kesehatan reproduksi/KB berkualitas termasuk informasi meskipun tdk berdampak langsung/sedikit kepada laki laki namun memiliki daya akselerasi penurunan AKI jika dilibatkan dan diberi tanggung jawab. Monitoring pelaksanaan program yan KB/ Kespro melalui superfisi fasilitatif (Kespro) 5. Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi 2. 4. Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses 3. Dalam Output Kegiatan Pembinaan pelayanan kesehatan ibu dan Reproduksi.

5 % menjadi 65 % ( 2011) dengan proporsi pria naik dari 1.494. Tujuan/manfaat Komponen 1 Komponen 2 Rincian Kegiatan Komponen 3 Sub output 5 Tujuan/manfaat Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 Anggaran Output kegiatan dalam Penurunan AKI dampak/hasil yang diharapkan secara luas Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 75 .Sub output 4 Laporan monitoring pelaksanaan program yan Kb/kespro melalui superfisi fasilitatif ( kespro) Memberikan informasi perkembangan pelayanan KB/kespro dan adanya bimbingan tehnis intervensi berbagai permasalahan pelayanan Kespro/Kb di lapangan 38 kab/kota selama th 2011 Rapat persiapan/Persiapan materi Pelaksanaan monitoring Pembuatan laporan Laporan Evaluasi pelaksanaan yan kespro/KB di propinsi) Memberikan informasi teridentifikasinya permasalahan .000.3 % menjadi 2 %.Meningkatkan capaian KB aktif dari 62. faktor faktor penyebab dan adanya rekomendasi intervensi yg bermanfaat bagi laki laki dan perempuan dalam pencapaian cakupan KB aktif sesuai target selama th 2011 Rapat persiapan/Persiapan materi Pelaksanaan evaluasi Pembuatan laporan Rp.090. 1.

.

Kontrol.DAFTAR SINGKATAN ABJ AKMP ARG ASEAN BPS BPFA CEDAW COMBi DAK DBD DSS DIPA DJA KemKes FGD GAP GBS Inpres KPP-PA KPJM MDGs PP PPRG Perpres Permendagri PMK/Permenkeu Angka Bebas Jentik Akses. Manfaat. dan Partisipasi Anggaran Responsif Gender Assosiation of South East Asia Nations Badan Pusat Statistik Beijing Platform for Action Convention for the Elimination of all Forms of Discriminations Against Women Community Behaviour Improvement Dana Alokasi Khusus Demam Berdarah Dangue Dangue Shock Syndrome Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Direktorat Jendral Anggaran Kementerian Kesehatan Focus Group Discussion Gender Analisis Pathway Gender Budget Statement Instruksi Presiden Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah Millennium Development Goals Peraturan Pemerintah Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Peraturan Presiden Peraturan Menteri Dalam Negeri Peraturan Menteri Keuangan Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 77 .

and Timely Bound Satuan Kerja Surat Edaran Bersama Tugas Pokok dan Fungsi Term of Reference United Nation Fund for Population Activities World Health Organization 78 . Measurable. Achievable.PUG RAB Renstra Renja RPJP RPKP-K RPJM RKP Renstra Renja KL RKA KL RAPBN SDKI SKRT SOP SMART Satker SEB Tupoksi TOR UNFPA WHO Pengarusutamaan gender Rencana Anggaran Biaya Rencana Strategis Rencana Kerja Rencana Pembangunan Jangka Panjang Rencana Pembangunan Jangka Panjang bidang Kesehatan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Rencana Kerja Pemerintah Rencana Strategis Rencana Kerja Kementerian Lembaga Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Survey Kesehatan Rumah Tangga Standard Operational Procedure Spesific. Relevant.

politik. angka-angka. umur. Efektif adalah tingkat kesesuaian antara hal yang direncanakan pelaksanaan.DAFTAR ISTILAH Akses adalah peluang atau kesempatan yang diberikan untuk memanfaatkan sumber daya (baik sumber daya alam. sosial. serta faktor-faktor yang mempengaruhi. Indikator dapat berupa pointer-pointer. yang selanjutnya disebut APBN. fungsi. peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan. yang mencerminkan kebijakan prioritas dan target fiskal dalam satu periode tertentu. dengan hasil Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 79 . Indikator adalah kriteria atau ukuran yang mampu melihat perubahan dari obyek yang dinilai. Analisis gender dilakukan secara sekuensial mulai dari tahap identifikasi tujuan. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. ekonommi. GBS adalah dokumen yang berisi pernyataan bahwa sebuah program dan kegiatan telah responsif gender. fungsi. Anggaran adalah estimasi belanja dan penerimaan yang diusulkan. Analisis gender adalah proses menganalisis data dan informasi secara sistematis tentang lakilaki dan perempuan untuk mengidentifikasi dan mengungkapkan kedudukan. penentuan Rincian Kegiatan. analisis situasi. adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan Negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). pendapat atau persepsipersepsi. sampai monitoring dan evaluasi. Gender adalah pandangan masyarakat tentang perbedaan peran. dan tanggungjawab antara perempuan dan laki-laki yang merupakan hasil konstruksi sosial budaya dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman dan dukungan masyarakat itu sendiri. Bias gender adalah pandangan yang didasarkan pada pembagian peran sosial tradisional laki-laki dan perempuan. agama dan lain sebagainya. Efisien adalah memperoleh hasil yang diharapkan dengan pengorbanan sekecil-kecilnya GAP adalah alat analisis gender dengan pendekatan analisis pada siklus perencanaan. ras. maupun waktu). Diskriminasi adalah memperlakukan seseorang atau kelompok orang secara berbeda karena jenis kelamin.

Kebutuhan Praktis Gender adalah kebutuhan yang bersifat segera dan didasarkan pada kondisi nyata perempuan dan laki-laki tanpa mempersoalkan ada atau tidaknya faktor-faktor ketidakadilan yang mungkin ada antara keduanya. Jenis kelamin adalah perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki terutama pada bagian-bagian organ reproduksi. dana atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. Kebutuhan Strategis Gender adalah kebutuhan yang didasarkan pada analisis tentang ketidakadilan gender dan faktor-faktor yang menyebabkannya. Indikator kinerja responsif gender adalah perubahan kinerja pengurangan kesenjangan atau peningkatan kondisi laki-laki dan perempuan setelah dilakukan suatu intervensi baik berupa program atau pun kegiatan. Data. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa satuan kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personil (sumber daya manusia). Contoh : bantuan dana transportasi untuk wanita hamil risiko tinggi ke sarana pelayanan kesehatan.Indikator gender adalah kriteria atau ukuran untuk mengukur perubahan relasi gender dalam masyarakat sepanjang waktu. Kesenjangan gender adalah suatu kondisi dimana tidak ada kesetaraan relasi antara lakilaki dan perempuan. dan lain-lain. detiksi dini kanker prostat pada laki-laki. Komponen input adalah jenis Rincian Kegiatan yang dilakukan untuk mencapai indikator kinerja sub-output Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan. dan pemenuhannya dimaksudkan untuk mengubah ketidakadilan yang mungkin ada dalam konteks relasi lakilaki dan perempuan. Kementerian Negara adalah organisasi dalam Pemerintahan Republik Indonesia yang dipimpin oleh menteri untuk melaksanakan tugas pemerintahan dalam bidang tertentu. yang terdiri atas regulasi. dan lain-lain. Indikator Kinerja Kegiatan adalah bukti pencapaian suatu kinerja yang bisa diukur sebagai dampak dari suatu kegiatan. barang modal termasuk peralatan dan tekhnologi. 80 . Input dalam panduan ini diartikan sebagai tolak ukur/ bahan dasar dalam penganggaran. aroma repellent nyamuk dibuat sesuai aroma maskulin untuk meningkatkan pengguna repellent pada konsumen laki-laki di daerah endemis. Contoh : Suami siaga dalam program Perencanaan Persalinan dan Penanganan Komplikasi (P4K). dan anggaran. SDM. keterwakilan wanita sebanyak 30 % dalam kepengurusan kelompok pemakai air bersih di pedesaan.

adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan suatu Kementerian Negara/Lembaga yang merupakan penjabaran dari Rencana Kerja Pemerintah dan Rencana Startegis Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan dalam satu tahun anggaran serta anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya. dan pertimbangan akan adanya perbedaan peran. merupakan tolak ukur keberhasilan pelaksanaan anggaran Output. Kontrol adalah kekuasaan untuk memutuskan bagaimana menggunakan sumber daya dan siapa yang memiliki akses terhadap sumber daya tersebut. yang selanjutnya disebut Renja KL. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 81 . kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki ke dalam perencanaan. Partisipasi adalah pelibatan atau keterwakilan dalam proses dari suatu kegiatan Penerima manfaat. adalah dokumen perencanaan nasional untuk periode 5 (lima) tahun. pengakuan. Rencana Kerja Pemerintah yang selanjutnya disebut RKP adalah dokumen perencanaan nasional untuk periode 1 (satu) tahun. Netral gender adalah suatu kondisi dimana pengambilan keputusan dilakukan tanpa didasari atas pemahaman. pelaksanaan. dimaknai sebagai keluaran dari proses pelaksanaan anggaran. aspirasi. Lembaga adalah organisasi non-kementrian Negara dan instansi lain pengguna anggaran yang dibentuk untuk melaksankan tugas tertentu berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 atau peraturan perundang-undangan lainnya. yang selanjutnya disebut RPJM Nasional. Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga.Kesetaraan dan keadilan gender adalah suatu kondisi yang adil dan setara dalam hubungan kerjasama antara perempuan dan laki-laki. dan evaluasi dari seluruh kebijakan dan program di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan. adalah target sasaran dari program/kegiatan yang memperoleh manfaat Pengarusutamaan gender (PUG) adalah strategi untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender melalui kebijakan dan program yang memperhatikan pengalaman. adalah dokumen perencanaan Kementrian Negara/Lembaga untuk periode 1 (satu) tahun. yang selanjutnya disebut RKA KL. fungsi dan tanggungjawab antara perempuan dan laki-laki Outcome. Program adalah bentuk instrument kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga atau masyarakat yang dikordinasikan oleh instansi pemerintah untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran. pemantauan.

adalah dokumen perencanaan Kementerian Negara/Lembaga untuk periode 5 (lima) tahun. dan biaya yang diperlukan. Sub-output adalah jenis barang atau jasa yang menjadi bagian tak terpisahkan dari output TOR adalah dokumen yang menginformasikan gambaran umum dan penjelasan mengenai indikator kinerja kegiatan yang akan dicapai sesuai dengan tugas dan fungsi kementerian negara/lembaga. 82 . strategi pencapaian. penerima manfaat. yang selanjutnya disebut Renstra-KL.Rencana Strategis Kementerian Negara/Lembaga. TOR memuat latar belakang. Responsif gender adalah keadaan memberikan perhatian yang konsisten dan sistematis terhadap perbedaan-perbedaan antara perempuan dan laki-laki dalam masyarakat yang diwujudkan dalam sikap dan aksi untuk mengatasi ketidakadilan yang terjadi karena perbedaan-perbedaan tersebut. Rincian Kegiatan adalah daftar langkah-langkah yang harus dilaksanakan untuk mencapai sub-tujuan yang responsif gender.

(2009). Workshop on Gender. (2008). Work and Health : A Review of the Evidence. H. Geneva Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 83 . Geneva WHO (2010). Gender Budgeting : Practical Implementation Handbook. Liverpool School of Tropical Medicine (1995). Bappenas dan WSP II–CIDA (2007). Gender Equality. Health and Development: Facilitator Guide. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010 – 2014. UNFPA (2010). Jakarta. WHO. Jakarta. UNFPA (1998). Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan. Gender Analysis Pathway. Supiandi. Gender an Rights in Reproductive an Maternal Health : Manual for A Learning Workshop held in Kuala Lumpur. Tunisia WHO (2002). Kementerian Pemberdayaan Perempuan. School of Public Health University of The Witwatersrand Johannesburg (2003). S.DAFTAR PUSTAKA ADB (2006). Jakarta. Jakarta UNDP (2008). Kementerian PP (2008). Indonesia Country Gender Assessment. Quinn. Gender in Health. UN. Dr. Geneva WHO (2006). Women and Health: Mainstreaming the Gender Perspective into the Health Sector. Bunga Rampai Pengarusutamaan Gender. Mainstreaming Gender In Health: A Manual For Health Research And Programme Managers. Liverpool. National Human Development Report. Gender and Health Group. Johannesburg. Yusuf. Strasbourg Cedex. Washington DC. Manila. Departemen Kesehatan. Report of the Expert Group Meeting. PAHO-WHO (1997). Guidelines of Analysis of Gender and Health. Gender Analysis in Health : A Review of Selected Tools. PAHO-WHO (2005).

S. Cicilia Windianingsih. dr. MM.Kontributor Ir. T. Titik Handayani. SKM. dr. Amroussy Marsis.. Rabitta Cherysse. Triningtyasasih. dr. MKM. Siti Maemunah. Saiful Hidayat. dr. Teti Tejayanti. Siti Mursifah. Dra. dr. Christine Manurung. Nurkinteki. 84 .Kes.Kom. MA.. SH. dr. SKM. Tinexcelly MS. Ismawaningsih. Fahrina. drg. dr. S. dr. dr. H. Theresia Hermin. Nardho Gunawan. MKes. Aragar Putri. dr. DR. DR. Titien Supriharin. MPH. MKM. Muhammad Yusuf. dr. Arifin. MH. drg. Msi. dr. Wahyuni Khaulah. Ace Yati Hayati. dr. Niken Kiswandari. Puti Wulan Sari. Rusmiyati. MQHI. MPH. Dra. M. SKM. Endang Sri Wardani. MARS. MS. MPH. Doni Arianto. MARS. dr.Sos. MRDM. Victorino. dr Milwiyandia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful