Rp. +/-%+=@!*

Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan

A

Kes. M. MM. Drs. ISBN xxxxxxxxxx Desain dan layout INTERAXI. SKM. Endang Moerniati. Gita Maya. Dra.. KPP-PA : Dra. MA. Lieska Prasetya. Anis Hamim...Kes. UNFPA : dr. Andi Saguni. dr.. MA. dr.KERJASAMA: KEMENTERIAN KESEHATAN RI – KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK . Msi. . M. Laode Musafin.UNFPA TIM PENYUSUN : Kemenkes : dr. MSI. Untung Suseno Sutarjo. Darsono. Lany Harijanti. MHA..

Perencanaan dan penganggaran responsif gender bidang kesehatan ini merupakan instrumen untuk mengatasi adanya perbedaan akses. Simulasi penerapan disamping dilakukan pada unit yang berada di intern Kementerian Kesehatan juga dilakukan pada Dinas Kesehatan Provinsi. partisipasi. ‘pemerhati gender’ dan pihak-pihak lainnya. kontrol dan manfaat pembangunan kesehatan bagi laki-laki dan perempuan sehingga diharapkan kesenjangan gender dapat dihilangkan atau setidaknya dapat dikurangi. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan i . tidak hanya dari unit-unit di intern Kementerian Kesehatan tapi juga dengan melibatkan Kementerian PP&PA. tetapi memastikan bagaimana agar perspektif gender dapat diintegrasikan dalam setiap tahapan perencanaan dan penganggaran. UNFPA dan pihak-pihak lainnya. Walaupun buku Panduan ini lebih difokuskan untuk penyusunan Anggaran Responsif Gender (ARG) bersumber APBN Kementerian Kesehatan termasuk dari Dana Dekonsentrasi. workshop dan simulasi. Perencanaan dan penganggaran responsif gender bidang kesehatan bukanlah sebuah proses yang terpisah dari sistem yang sudah ada. FGD. pemerintah daerah. Bahan tulisan untuk panduan ini berasal dari orientasi termasuk studi literatur internasional serta asesmen dan masukan dari banyak pihak melalui wawancara. dan sebagai komitmen kami dalam mendukung pelaksanaan PUG Bidang Kesehatan maka telah disusun Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan dengan melibatkan banyak pihak. Buku Panduan ini merupakan up-dating dari Buku Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender yang pernah diterbitkan pada tahun 2008. Oleh karenanya jangan diartikan sebagai rencana dan anggaran khusus untuk perempuan yang terpisah dari laki-laki.SEPATAH KATA Kepala Biro Perencanaan dan Anggaran Perencanaan dan penganggaran responsif gender merupakan salah satu komponen dari Pengarusutamaan Gender (PUG). sehingga bukan berarti melakukan dua kali perencanaan. namun kami berharap buku ini juga dapat digunakan sebagai referensi bagi banyak pihak seperti pihak universitas.

Jakarta.Kes ii . dr.Saya yakin buku ini masih belum sepenuhnya sempurna. oleh karena itu saran dan masukan bersifat konstruktif tetap kami harapkan untuk perbaikan dan penyempurnaannya ke depan. November 2010 KEPALA BIRO PERENCANAAN DAN ANGGARAN SETJEN KEMENTERIAN KESEHATAN RI. Untung Suseno Sutarjo. M.

Pada tahap ini dilakukan pemetaan antara peran. RPJMN Tahun 2010-2014. PUG Bidang Kesehatan (PUG-BK) selanjutnya dipertegas melalui Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan. ditempuh berbagai strategi kebijakan perencanaan dan penganggaran kesehatan. karena didahului oleh analisis determinan sosial dari perspektif gender. Namun seiring dengan dinamika perubahan kebijakan perencanaan dan penganggaran. dan pelaksanaan program dan kegiatan di lingkungan Kementerian Kesehatan. Sebagai tindak lanjut atas kebijakan tersebut. panduan tersebut direvisi menjadi Buku Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) Bidang Kesehatan yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1459/Menkes/SK/X/2010. sejak tahun 2008 telah disusun pedoman perencanaan dan penganggaran responsif gender. dan kegiatan di Kementerian Kesehatan. yang selanjutnya diintegrasikan dalam penyusunan RKA-KL. program. Hal tersebut tidak berarti bahwa perencana kesehatan harus melakukan dua kali proses perencanaan dan penganggaran.KATA PENGANTAR Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI Renstra Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014 telah ditetapkan. yang menjadikan isu gender menjadi bagian integral pembangunan kesehatan. dan ditindaklanjuti dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 878 Tahun 2006 tentang Tim Pengarusutamaan Gender Bidang Kesehatan. antara lain melalui pengarusutamaan gender (PUG) dalam setiap penyusunan kebijakan. Pengintegrasian perspektif gender menjadikan perencanaan menjadi lebih tepat sasaran dan efektif. Salah satu prinsip utama dalam perencanaan dan penganggaran responsif gender adalah analisis gender terhadap setiap kebijakan. Untuk mencapai target kinerja yang ditetapkan dalam Renstra tersebut. Dukungan kebijakan PUG juga dinyatakan dalam RPJPN Tahun 2005-2025. Pelaksanaan PUG bidang kesehatan telah diamanahkan sejak tahun 2000 melalui Inpres Nomor 9 tahun 2000 tentang PUG dalam Pembangunan Nasional. tetapi berupaya mengintegrasikan perspektif gender dalam setiap proses perencanaan dan penganggaran. serta RPJP Kesehatan Tahun 2005-2025. dan menjadi arah kebijakan pembangunan kesehatan lima tahun kedepan. dan kebutuhan Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan iii . kondisi.

Ratna Rosita. sehingga diperoleh solusi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan kesehatan yang berbeda antara perempuan dan laki-laki. Buku Panduan ini merupakan panduan teknis. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kita semua dalam menyelenggarakan pembangunan kesehatan di Indonesia yang kita cintai. kita telah berkomitmen mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya. Buku ini merupakan kerja sama antara Kementerian Kesehatan dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. kami mengucapkan terima kasih. Untuk itu kepada semua pihak yang telah berpartisipasi baik langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan buku panduan ini.PP&PA/5/2010 tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Bidang Kesehatan. Jakarta. Melalui kesempatan ini saya mengajak kepada semua unit utama di Kementerian Kesehatan. sehingga pada akhir tahun 2014 semua program dan kegiatan pembangunan kesehatan telah responsif gender.kesehatan perempuan dan laki-laki. dr. Komitmen tersebut diperkuat lagi dengan Kesepakatan Bersama antara Menteri Kesehatan dan Menteri Negaran Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 593/MENKES/SKB/ V/2010 . Kementerian Kesehatan kembali dipercaya menjadi K/L pilot project pelaksanaan Anggaran Responsif Gender (ARG) melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 104/2010. secara bertahap melakukan proses perencanaan dan penganggaran yang responsif gender. Pada akhirnya akan bermuara pada pencapaian target indikator kinerja kegiatan sebagaimana ditetapkan dalam dokumen perencanaan. November 2010 SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN KESEHATAN RI. Melalui Visi Kementerian Kesehatan “Masyarakat Sehat Yang Mandiri Dan Berkeadilan”.Nomor 07/MEN. sehingga setiap unit utama diharapkan mampu menyusun Anggaran Responsif Gender yang selanjutnya digunakan sebagai salah satu dokumen dalam penelaahaan RKA-KL di Kementerian Keuangan. Amin Ya Rabbal Alamin. Merupakan sebuah kebanggaan. dengan menurunkan disparitas status kesehatan antar wilayah. status sosial ekonomi serta gender. MPHM iv .

perempuan dan laki-laki mempunyai kebutuhan kesehatan dan interes yang berbeda. karena masih cenderung mengasumsikan bahwa kebutuhan kesehatan (health needs) antara perempuan dan laki-laki adalah sama. jangka menengah. Evidence based dari studi-studi gender dan kesehatan menyatakan bahwa salah satu penyebab utama dan akar masalah dari rendahnya status kesehatan masyarakat dan permasalahan kesehatan adalah belum responsifnya kebijakan. program dan kegiatan. serta peran dan relasi gender yang masih cenderung menempatkan perempuan “dibawah” laki-laki. semuanya telah menyatakan bahwa gender merupakan mainstream dalam penyusunan kebijakan. kami berharap bahwa kita semua mempunyai kesamaan pandangan dan komitmen bahwasanya Pengarusutamaan gender (PUG) Bidang Kesehatan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. yang menjadi acuan dalam penyusunan dokumen perencanaan Kemkes. dan terintegrasi dalam siklus perencanaan dan penganggaran. Masih banyak kebijakan. monitoring. Dukungan kebijakan tersebut secara jelas diuraikan dalam Bab I.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN RI Relevansi gender dengan bidang kesehatan. sehingga situasi tersebut menyebabkan implikasi yang berbeda pula dalam hal akses. Perlu kita pahami bersama pula bahwa dalam mencapai tujuan pembangunan nasional. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan v . sangat erat kaitannya. program dan kegiatan kesehatan terhadap isu gender. Pendahuluan. pelaksanaan. dan kontrol terhadap upaya kesehatan. Buku Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) ini. tetapi lebih dari itu menumbuhkan kesadaran bahwasanya PUG merupakan pendekatan yang efisien dan efektif untuk mencapai target kinerja output dan outcome pembangunan kesehatan. Faktanya. baik dokumen perencanaan jangka panjang. Jika kita menelaah kembali dokumen perencanaan pemerintah. Untuk itu. dan evaluasi pembangunan kesehatan. bukan hanya karena dorongan aturan/kebijakan yang pro gender. sektor kesehatan bertanggung jawab dalam meningkatkan kualitas SDM dan indikator untuk menilainya bukan hanya dengan melihat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tetapi juga dengan Indeks Pembangunan Gender (IPG) bahkan dengan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG). partisipasi. program dan kegiatan kesehatan yang masih bias atau netral gender. manfaat. maupun jangka pendek atau tahunan.

kami berharap bahwa buku panduan ini dapat menjadi materi yang dapat dipakai oleh banyak pihak dalam upaya mengembangkan dan melaksanakan kebijakan. masih ada anggapan bahwa melakukan analisis gender berarti menambah beban pekerjaan. sebuah perencanaan dan penganggaran responsif gender akan mendiagnosa dan memberikan jawaban yang lebih tepat kebutuhan program dan anggaran kesehatan bagi perempuan dan laki-laki. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan karuniaNya kepada kita semua. Oleh karenanya. dr. kami mengucapkan terima kasih atas kerja sama yang ditunjukkan oleh tim tersebut atas kerja kerasnya sehingga Buku Panduan PPRG ini dapat tersusun. melalui kesempatan ini juga.Secara struktur. Biro Perencanaan dan Anggaran telah mengkoordinir penyusunan Buku Panduan PPRG ini yang tidak hanya melibatkan lintas program dan unit yang ada di lingkungan Kemkes tapi juga melibatkan Kementerian Negara PP&PA serta UNFPA dan juga mendapatkan masukan-masukan dari daerah. Namun. Amin Ya Rabbal Alamin. tetapi hanya memastikan bagaimana agar perspektif gender dapat diintegrasikan dalam setiap tahapan perencanaan dan penganggaran. dan secara kesisteman maka PPRG merupakan bagian sistem perencanaan dan penganggaran yang telah berjalan selama ini. MPH. Jakarta. dan pada akhirnya mendukung tercapainya target indikator kinerja kegiatan yang telah ditetapkan. program dan kegiatan yang rerponsif gender. Lebih dari itu.PH vi . November 2010 MENTERI KESEHATAN. PPRG merupakan bagian integral dari PUG Bidang Kesehatan. Selama ini. sesungguhnya perencanaan dan penganggaran rensponsif gender bukanlah berarti melakukan dua kali perencanaan. Karena itulah. Endang Rahayu Sedyaningsih. Dr. Hal tersebut telah menunjukkan komitmen Kemkes dalam rangka mengembangkan team work yang terpadu dalam melaksanakan PUG bidang kesehatan di Kementerian Kesehatan.

Panduan ini akan memberikan umbangan ang ukup ignifikan alam engimplementasikan s y c s d m Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional. program dan kegiatan di bidang kesehatan dengan pendekatan anggaran responsif gender sesuai dengan PMK Nomor 104 Tahun 2010 di atas. program dan kegiatan masing-masing. antara lain yang dilaksanakan melalui penerbitan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 119 Tahun 2009 yang diperbaharui dengan PMK Nomor 104 Tahun 2010 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL Tahun Anggaran 2011 yang menetapkan Kementerian Kesehatan sebagai salah satu uji coba penerapan anggaran yang responsif gender. sehingga perempuan dan laki-laki mendapatkan akses dan manfaat yang adil dan setara di dalam bidang Kesehatan. Inpres tersebut mengamanahkan bagi semua Kementerian dan Lembaga Pemerintah untuk mengintegrasikan perspektif gender pada saat menyusun kebijakan. Panduan ini bertujuan untuk memberikan informasi dan langkah¬langkah di dalam menyusun kebijakan. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan vii . termasuk Kementerian Kesehatan.MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN PENGANTAR PADA PANDUAN PERENCANAAN DAN PENGGANGGARAN RESPONSIF GENDER BIDANG KESEHATAN Saya menyambut balk diterbitkannya Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan.

S.Tersusunnya panduan ini atas kerjasama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Kementerian Kesehatan. yang difasilitasi oleh UNFPA.IP viii . kami berharap Panduan ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh semua pihak yang terkait. September 2010 Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Linda Amalia Sari Gumelar. Akhirnya. Jakarta. Untuk itu. kami sampaikan penghargaan yang tinggi kepada Tim Penyusun dan pihak-pihak yang telah berkontribusi.

DAFTAR ISI Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan ix .

x .

Bahwa untuk melaksanakan Inpres Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG). d. 2011. Mengingat 1.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 1459/MENKES/SK/X/2010 TENTANG PANDUAN PERENCANAAN DAN ANGGARAN RESPONSIF GENDER BIDANG KESEHATAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Menimbang a. b. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4286). program dan kegiatan pembangunan kesehatan. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 104. bahwa sebagai tindak lanjut sebagaimana dimaksudkan pada huruf a. b. menunjuk Kementerian Kesehatan menjadi pilot project pelaksanaan Anggaran Responsif Gender dalam penyusunan RKA-KL TA. 2. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan xi . c bahwa Kesepakatan Bersama Antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Menteri Kesehatan tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Bidang Kesehatan No. perlu ditindaklanjuti.PP&PA/5/2010 – No. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4421). bahwa sesuai dengan PMK Nomor 104 tahun 2010. 593/MENKES/SKB/V/2010. Kementerian Kesehatan berkewajiban melakukan PUG dalam kebijakan. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 47. 07/MEN. dan c telah disusun Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan.

Ketiga : Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua digunakan sebagai acuan bagi Kementerian Kesehatan xii . Fungsi. 11. Tugas. MEMUTUSKAN: Menetapkan Kesatu : Keputusan Menteri Kesehatan tentang Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan. 13. 375/ MENKES/SK/V/2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. 07/MEN. 593/MENKES/SKB/V/2010 tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Bidang Kesehatan. 10. 12. 7. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. Inpres Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional . Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.03. 5. Susunan Organisasi. Inpres Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Kedudukan. 8. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 144.01/60/I/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan RI Tahun 2010 – 2014.3. Kesepakatan Bersama Antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Menteri Kesehatan No. Tambahan lembaran Negara Nomor 5063). 9. 6. 14. Inpres Nomor 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025.02/2010 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL Tahun Anggaran 2011. dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia. Kedua : Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 878 Tahun 2006 tentang Tim Pengarusutamaan Gender Bidang Kesehatan (PUG-BK).PP&PA/5/2010 – No. sebagaimana terlampir dalam Keputusan ini. 4. Peraturan Menteri Keuangan No 104/PMK.

Dr.PH Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan xiii . Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 4 Oktober 2010 Menteri Kesehatan. DR. Endang Rahayu Sedyaningsih. MPH. Keempat : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.dalam penyusunan perencanaan dan penganggaran program pembangunan kesehatan yang responsif gender.

xiv BAB I Pendahuluan .

Indonesia berada pada peringkat ke-6 setelah Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 1 . Demikian pula dengan Indeks Pemberdayaan Gender.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN Nomor : 1459/MENKES/SK/X/2010 Tanggal : 4 Oktober 2010 bab BAB I PENDAHULUAN A. yaitu dari 0.623 pada tahun 2008 (UNDP. Terdapat tiga indikator kualitas SDM yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI).664 pada tahun 2008. Perbaikan IPM Indonesia belum diikuti oleh perbaikan IPG. belum mengalami peningkatan yang berarti yaitu 0.597 pada tahun 2004 menjadi 0. dan di antara 10 negara-negara ASEAN.687 pada tahun 2004 menjadi 0. Indeks Pembangunan Gender (IPG) atau Gender-related Development Index (GDI) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) atau Gender Empowerment Measurement (GEM). IPG Indonesia pada tahun 2008 menduduki peringkat ke-94 dari 177 negara. Latar Belakang Salah satu tujuan pembangunan nasional adalah meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (SDM) Indonesia sehingga mempunyai kemampuan daya saing secara global. IPM atau HDI Indonesia telah mengalami peningkatan. yang kemudian secara bertahap dijabarkan dalam perencanaan pembangunan lima tahunan dan perencanaan tahunan. 2008). namun nilainya masih lebih rendah jika dibandingkan dengan nilai IPM pada tahun yang sama. meskipun IPG Indonesia mengalami peningkatan dari 0.639 pada tahun 2004 menjadi 0.719 pada tahun 2008. Isu SDM sebagai prioritas pembangunan nasional merupakan amanah Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025.

Peningkatan IDG masih relatif kecil setiap tahunnya. Brunei Darussalam. pelindungan. Sedangkan IDG Indonesia menduduki peringkat ke-107 dari 177 negara. 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam Pembangunan Nasional. Sedangkan isu gender tercantum pada tujuan 3 MDGs (Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan). gender dan nondiskriminatif dan normanorma agama”. tujuan 6 (Mengendalikan HIV/ AIDS. dengan memperhatikan amanah Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025. yang bersifat cross cutting dalam mencapai 7 tujuan lainnya dari 8 tujuan MDGs. keseimbangan. penghormatan terhadap hak dan kewajiban. keadilan. 07/MEN. Rencana Pembangunan Jangka Panjang bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025 dan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010–2014 sebagai pedoman dalam penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Tahun 20102014. 593/MENKES/SKB/V/2010 tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Bidang Kesehatan. Sejalan dengan peraturanperaturan tersebut di atas. Program dan kegiatan kesehatan yang berhubungan dengan pencapaian target 2 BAB I Pendahuluan . manfaat. Inpres ini mewajibkan pemerintah pusat dan daerah melakukan pengarusutamaan gender ke dalam seluruh proses pembangunan.PP&PA/5/2010 – No. khususnya pasal 2 yang berbunyi “Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan berasaskan perikemanusiaan. Malaria dan penyakit menular lainnya). isu kesehatan dan gender juga telah menjadi komitmen global yang dinyatakan dalam MDGs. pemantauan dan evalusi pembangunan. Melalui Instruksi Presiden (Inpres) No. isu kesenjangan gender telah menjadi salah satu komitmen utama pemerintah. Kementerian Kesehatan telah menjadikan isu gender sebagai mainstream dalam pembangunan kesehatan. Pembangunan kesehatan sebagai salah satu penentu kualitas SDM telah mengadopsi PUG. mulai dari tahap perencanaan. tujuan 5 (Peningkatan Kesehatan Ibu). 9 tahun 2000 tersebut di atas. PUG di Kementerian Kesehatan juga diperkuat dengan Kesepakatan Bersama Antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Menteri Kesehatan No. pelaksanaan.Singapura. serta tujuan 7 (Menjamin Kelestarian Lingkungan Hidup). 36 tahun 2009 tentang kesehatan. Malaysia. dipertegas kembali melalui UU No. Thailand. ekonomi. Komitmen pemerintah melalui Inpres No. pemerintah telah berkomitmen menjadikan isu gender sebagai mainstream (arusutama) pembangunan. Sementara itu. Sejak tahun 2000. melalui penyehatan lingkungan. melalui peningkatan status gizi balita. tujuan 4 (Menurunkan Kematian Anak). dan Filipina. yaitu tujuan 1 (Memberantas Kemiskinan dan Kelaparan). Terdapat 5 tujuan MDGs yang berhubungan dengan bidang kesehatan. selain itu dalam sistem Kesehatan Nasional (SKN) 2009. Hal ini mengindikasikan bahwa upaya peningkatan kesetaraan gender di bidang sosial. dan politik belum berhasil secara signifikan. Responsif Gender menjadi salah satu dasar penyelenggaraan SKN.

Karena ARG telah menjadi bagian integral sistem perencanaan dan penganggaran K/L. dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas) ditambah K/L yang menangani Bidang Perekonomian dan Bidang Polsoskum (Politik. Kementerian Kesehatan.MDGs selanjutnya diperkuat dengan Inpres No. 119 tahun 2009 yang menetapkan Kementerian Kesehatan sebagai salah satu ujicoba penerapan ARG dari 7 Kementerian/Lembaga (K/L) yaitu Departemen Pendidikan Nasional. 3 tahun 2010 tentang program pembangunan yang berkeadilan dengan 3 substansi yaitu pro rakyat. Memberikan panduan bagi para perencana dalam menyusun Anggaran Responsif Gender (ARG) di bidang kesehatan. 1 tahun 2010 tentang percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan nasional tahun 2010 dan Inpres No. Kementerian Pekerjaan Umum. Departemen Keuangan. Sedangkan dokumen penganggaran responsif gender bidang kesehatan atau disebut dengan Anggaran Responsif Gender (ARG) diamanahkan melalui PMK No. Departemen Pekerjaan Umum. Perencanaan kesehatan yang responsif gender telah dinyatakan dalam dokumen perencanaan sebagaimana diuraikan tersebut di atas. B. Kementerian Permberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. 2. Dalam penelaahan RKA-KL kedua dokumen ARG tersebut merupakan bagian integral dari dokumen pendukung penelaahan RKA-KL yang menjadi syarat penelaahan RKA-KL oleh Direktorat Jenderal Anggaran. maka Kementerian Kesehatan perlu menyusun panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender yang menjadi acuan bagi para perencana kesehatan dalam penyusunan ARG. Kementerian Keuangan. Kementerian Pendidikan Nasional. sehingga perlu ditindaklanjuti dengan kebijakan perencanaan dan penganggaran bidang kesehatan yang responsif gender. Selanjutnya penerapan ARG diperbarui dengan PMK No. 104 tahun 2010. yaitu TOR responsif gender dan Gender Budget Statement (GBS). dan pencapaian tujuan MDGs. dan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan. yang kembali menetapkan 7 (tujuh) K/L pilot tahun anggaran 2011 (Kementerian Pertanian. Sosial. Departemen Pertanian. Uraian di atas memberikan pemahaman bahwa kebijakan PUG bidang kesehatan telah mendapatkan dukungan kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang sangat kuat. Tujuan Penyusunan Panduan 1. Departemen Kesehatan. dan Hukum). Terdapat dua bentuk dokumen ARG dalam penyusunan RKA-KL. Kedua PMK dimaksud telah mengintegrasikan ARG dalam penyusunan RKA-KL. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas. Memampukan para perencana untuk mengintegrasikan perspektif gender dalam setiap tahapan perencanaan dan penganggaran bidang kesehatan. keadilan untuk semua. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 3 .

4 BAB I Pendahuluan . 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan. 5. 8. 6. 4. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. Peraturan Menteri Keuangan No 104/PMK.03. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK. 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010. Inpres No. 11. 12. UU No. Teknik penyusunan GBS (Gender Budget Statement) Untuk mempermudah dan membantu para perencana memahami konsep gender dalam penyusunan ARG.878 Tahun 2006 tentang Tim Pengarusutamaan Gender Bidang Kesehatan (PUG-BK). 10. 375/MENKES/SK/V/2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. 374/MENKES/SK/V/2009 tentang Sistem Kesehatan Nasional (TKN).C. 9. 7. 593/MENKES/SKB/V/2010. Kesepakatan Bersama Antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Menteri Kesehatan tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Bidang Kesehatan No. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. maka dalam panduan ini juga disampaikan secara singkat tentang konsep gender dan isu gender dalam bidang kesehatan yang dapat dilihat pada BAB II. 9/2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025.02/2010 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL Tahun Anggaran 2011. 2. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010–2014. Inpres No. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. Ruang Lingkup Panduan 1. Teknik penyusunan TOR (Term of Reference) responsif gender 3.01/60/ I/ 2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan RI Tahun 2010 – 2014. D. Inpres No. 07/MEN. Teknik analisis gender bidang kesehatan dengan menggunakan Gender Analysis Pathway (GAP) 2.PP&PA/5/2010 – No. Landasan Hukum 1. 3.

Pembedaan peran gender tidak bersifat universal. khususnya perempuan. diajari Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 5 .bab BAB II KONSEP GENDER DAN ISU GENDER BIDANG KESEHATAN A. Konsep Gender Gender merujuk pada perbedaan antara perempuan dan laki-laki sejak lahir. Singkat kata. menghasilkan sperma. Jenis kelamin mengacu pada perbedaan karakteristik biologis dan fisiologis yang membedakan perempuan dan laki-laki. prilaku. . menstruasi. Persepsi gender dipraktikkan melalu perbedaan cara perempuan dan laki-laki dibesarkan. tetapi berbeda antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya dan dapat berubah seiring dengan perkembangan zaman. mempunyai testis. tumbuh kembang dan besar melalui proses sosialisasi di lingkungan keluarga dan masyarakat. Gender mengacu pada peran.Laki-laki mempunyai tulang yang lebih masif.Perempuan dapat melahirkan. bahwa gender adalah konsep yang mengacu pada peran dan tanggungjawab perempuan dan laki-laki yang terjadi akibat dari dan dapat berubah oleh konstruksi/ keadaan sosial budaya masyarakat (WHO. sedangkan laki-laki tidak memilikinya. padahal. termasuk pembangunan kesehatan. kegiatan serta karakteristik sosial lainnya yang dibentuk oleh suatu masyarakat atau budaya tertentu berdasarkan persepsi yang pantas untuk perempuan atau pantas untuk laki-laki. . Jenis kelamin bersifat kodrati dan universal (berlaku di mana saja) dan tidak bisa dipertukarkan satu sama lain. Contoh dari sifat jenis kelamin antara lain: . istilah ‘jenis kelamin/ sex’ berbeda dengan gender.Laki-laki mempunyai jakun. laki-laki tidak. .Perempuan mempunyai payudara yang berfungsi untuk menyusui. 2010). sehingga masih banyak terjadi kerancuan dalam memahaminya apalagi mengaplikasikannya. Istilah gender relatif baru masuk dalam khazanah pembangunan. sedangkan perempuan tidak. Lingkungan sosial mereproduksi pembedaan peran gender melalui pemisahan kepantasan untuk perempuan dan kepantasan untuk laki-laki. Kerancuan itu bermula dari pemahaman yang keliru tentang ‘gender’ yang sering diartikan sebagai jenis kelamin. menyusui.

Stereotipi : menempatkan wanita sebagai mahluk lemah. Ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender dapat terjadi dalam beberapa bentuk atau manifestasi. 6 BAB II Konsep Gender dan Isu Gender Bidang Kesehatan . 3. bukan pengambil keputusan. dan lain-lain. Dengan perubahan zaman. tidak penting. perempuan juga bisa jadi ilmuwan. Pekerjaan merawat dan membesarkan anak serta pekerjaan rumah tangga lainnya merupakan tugas dan tanggung jawab ibu rumah tangga. - - Gender bukan semata-mata perbedaan biologis. menjadi sekretaris (proyek. pendidikan. dan diharapkan untuk ‘menjadi perempuan’ dan ‘menjadi lelaki’ menurut budaya masyarakatnya. Menjadi kepala (rumah sakit. kantor. pengalaman. proyek) dianggap ranah laki-laki. perencanaan. Gender beragam. 2. Perbedaan dan peran gender sebenarnya bukan suatu masalah sepanjang tidak menimbulkan ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender. orang rumah. kondisi ideal tersebut belum tercipta karena masih terjadi ketidakadilan dan ketidaksetaraan atau diskriminasi gender. bahkan pernah suatu masa dokter kandungan dilarang digeluti oleh perempuan. Namun demikian. perempuan juga bisa jadi pemimpin. tidak mempunyai kesempatan yang sama untuk bekerja atau berproduksi. bukan juga perempuan. lakilaki menjadi pemimpin. yang menyangkut kebutuhan. yakni : 1. dan lain-lain. bahkan sebagai salah satu ciri perempuan ’modern’. tetapi lebih merujuk pada arti sosial bagaimana menjadi perempuan dan menjadi laki-laki. mahluk yang perlu dilindungi. Subordinasi : akibat bentuk stereotipi menempatkan perempuan pada posisi di bawah laki-laki. bisa berubah-ubah dan bersifat dinamis. dan lain-lain. tidak punya nilai ekonomi. namun dari sisi sosial. Bidan pantas sebagai pekerjaan perempuan karena dianggap mengurusi bagian-bagian intim perempuan. pimpinan) dianggap ranah perempuan. dan lainlain. Dokter kandungan pantasnya laki-laki. Praktik ini direproduksi secara turun temurun. Marginalisasi : terpinggirkan. laki-laki dan perempuan idealnya mempunyai peran dan tanggung jawab yang sama. sedangkan suami mempunyai tugas mencari nafkah bagi keluarga. tapi tidak untuk perempuan. tidak diperhatikan atau diakomodasi dalam berbagai hal.berprilaku. Perlu ditekankan bahwa meskipun laki-laki dan perempuan dari sisi biologis berbeda. perempuan yang merokok sudah dianggap biasa. Contohnya antara lain: Merokok dianggap pantas untuk laki-laki. tidak boleh mengambil keputusan dibandingkan laki-laki. kepedulian. Contohnya laki-laki jadi ilmuwan. bukan jenis kelamin.

dan lebih lama waktu kerjanya. Untuk mengurangi bentuk ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender tersebut diatas. maka perlu meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pembuat kebijakan (policy maker) dan pelaksana kebijakan tentang konsep dan isu gender.4. Publikasi ilmiah menyatakan bahwa: Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 7 . Kekerasan bisa berbentuk ancaman tindakan tertentu. 1. kontrol dan manfaat antara perempuan dan laki-laki dalam upaya atau pelayanan kesehatan secara langsung menyebabkan ketidaksetaraan terhadap status kesehatan perempuan dan laki-laki. Beban Majemuk : perempuan bekerja lebih beragam daripada laki-laki. pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang. efisien dan efektif dalam mencapai sasaran. sikap dan tingkah laku yang buta gender akan menghasilkan kebijakan netral atau bias gender karena tidak mempertimbangkan pengalaman. sehingga kesenjangan tersebut harus menjadi perhatian dalam menyusun kebijakan/program sehingga kebijakan/program bisa lebih terfokus. berikut ini beberapa contoh isu gender dalam kaitannya dengan upaya atau pelayanan kesehatan. peran atau partisipasi. Oleh karena itu. kontrol dan manfaat dalam setiap bidang pembangunan. aspirasi. Isu gender terhadap prevalensi dan tingkat keparahan penyakit Perbedaan norma dan relasi gender menyebabkan perempuan dan laki-laki menderita penyakit yang berbeda dan juga tingkat keparahannya. partisipasi. baik yang terjadi di ranah publik. tetapi juga perlu melihat pada hubungan sosial budaya yang menyebabkan perbedaan status dan peran perempuan dan laki-laki dan relasi antara keduanya di masyarakat. 5. atau dalam kehidupan rumah tangga. termasuk bekerja di luar rumah. Untuk itu. program dan kegiatan yang memastikan laki-laki dan perempuan memperoleh keadilan dan kesetaraan dalam akses. B. Kesenjangan akses. Kekerasan Berbasis Gender : perempuan mendapatkan serangan fisik. kontrol dan manfaat yang diperoleh mereka dalam pembangunan kesehatan. dan kebutuhan laki-laki dan perempuan yang berbeda. Isu Gender dalam Bidang Kesehatan Isu Gender dalam bidang kesehatan adalah masalah kesenjangan perempuan dan laki-laki dalam hal akses. para pembuat dan pelaksana kebijakan perlu sensitif gender agar dapat menghasilkan kebijakan. isu kesehatan tidak boleh hanya dilihat pada masalah service delivery (penyediaan layanan) saja. tempat kerja. partisipasi. misalnya fungsi reproduktif dan peran sebagai pengelola rumah tangga. Untuk mempermudah para perencana mengenal isu gender. karena jika para pembuat dan pelaksana kebijakan masih memiliki pola pikir. seksual atau psikologis tertentu yang mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan.

termasuk pencegahan transmisi HIV/AIDS dan penyakit IMS lainnya. hipertensi dan kegemukan.- - - - - - - Perempuan menderita anemia akibat kekurangan Fe pada ibu hamil dan menyusui serta perempuan yang menstruasi sebagai akibat dari hegemoni laki-laki dalam rumah tangga yang mempunyai peluang lebih besar mengkonsumsi makanan kaya Fe. Angka kematian yang tinggi pada kasus kanker perempuan pada usia dewasa. sementara remaja laki-laki mempunyai prevalensi lebih tinggi dibandingkan remaja perempuan karena mereka lebih sering bermain di sungai dan kanal.Riset WHO yang dilakukan pada laki-laki termasuk remaja pria di seluruh dunia menunjukkan bagaimana norma-norma terhadap ketidakadilan gender mempengaruhi interaksi laki-laki dengan pasangan wanitanya dalam banyak hal. 3. Malnutrisi pada bayi berhubungan dengan kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan ibu. . Laki-laki menderita lebih banyak Sirosis Hepatis yang berhubungan dengan perilaku minuman beralkohol. Depresi (dua sampai tiga kali lebih banyak pada perempuan dibandingkan laki-laki pada semua fase kehidupan) yang berhubungan dengan tipe personal dan pengalaman dalam bersosialisasi dan perbedaan peluang antara perempuan dan laki-laki. Demikian pula untuk kasus hernia pada laki-laki yang berhubungan dengan jenis pekerjaan. Isu gender terhadap lingkungan fisik dan penyakit Studi kasus di Zimbabwe menyatakan bahwa perempuan dewasa lebih berisiko tinggi menderita Sistosomiasis (salah satu jenis cacing darah) dibandingkan lakilaki karena perempuan bertugas mencuci pakaian dan perlengkapan dapur yang dilakukannya di sungai. Penyakit dengan gangguan pada Arteri Coronaria merupakan salah satu penyebab terbesar kematian pria pada saat kerja. lebih banyak pada perempuan dibandingkan laki-laki. Demikian pula Schizophrenia dan kanker paru-paru yang berhubungan dengan perilaku merokok. Osteoporosis 8 kali lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki yang berhubungan dengan faktor biologis dan gaya hidup. Silicosis yang berhubungan dengan pekerja tambang (100 % laki-laki). penggunaan alat kontrasepsi dan prilaku laki-laki dalam mencari pelayanan 8 BAB II Konsep Gender dan Isu Gender Bidang Kesehatan . Isu gender terhadap faktor risiko penyakit .Perempuan mempunyai akses yang lemah terhadap keuangan keluarga sehingga mengurangi kemampuannya untuk melindungi dirinya dari faktor risiko penyakit. yang berhubungan dengan rendahnya akses terhadap teknologi dan pelayanan kesehatan dalam deteksi dini dan tindakan pengobatan. Demikian pula Diabetes. Perempuan lebih berisiko dari laki-laki terhadap defisiensi micro-nutrient yang akan berdampak buruk bagi status gizi dan kesehatannya sehingga mengurangi produktivitas dan peluang investasi di bidang pendidikan. 2.

Ketimpangan peran dan relasi gender menyebabkan perempuan mempunyai akses secara fisik. Terbatasnya akses terhadap air bersih pada perempuan. mengakibatkan terapi hasil studi tersebut tidak realible diaplikasikan pada perempuan dan mungkin berbahaya pada perempuan. 5. psikologis dan sosial terhadap sarana pelayanan kesehatan . Demikian pula pada laki-laki dewasa mencari pengobatan terhadap penyakitnya pada stadium lanjut karena peran maskulin laki-laki menyebabkan laki-laki merasa harus kuat dalam menghadapi penyakit. Kalaupun berobat penyakitnya sudah dalam stadium lanjut. Jam pelayanan (waktu) di sarana pelayanan kesehatan seringkali tidak sesuai dengan kesibukan ibu rumah tangga.Pelayanan Kelurga Berencana lebih fokus pada perempuan dibanding laki-laki mengakibatkan laki-laki mempunyai akses yang terbatas terhadap pelayanan KB dan mengakibatkan laki-laki mempunyai persepsi bahwa KB adalah urusan perempuan. sedangkan perempuan dan anak-anak harus membawa dan menyiapkannya tetapi mendapatkan prioritas kedua.. karena dalam beberapa kelompok masyarakat laki-laki lebih didahulukan sebagai pengguna utama air bersih. Demikian pula dengan angka kesakitan dan kematian akibat kecelakaan lalu lintas dan tindak kriminal.Tidak masuknya target perempuan pada studi-studi klinis patologis.- - kesehatan.Perbedaan peran laki-laki dan perempuan mempengaruhi persepsi perasaan tidak nyaman serta mempengaruhi keinginan wanita untuk menyatakan dirinya sakit. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 9 . Peran perempuan dalam mengurus rumah tangga mengakibatkan apabila perempuan jatuh sakit tidak cepat mencari pengobatan karena merasa tidak nyaman melalaikan tugas dan tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga. Isu gender terhadap akses secara fisik. . keputusan tentang penggunaan kontrasepsi lebih banyak ditentukan oleh suami. serta pola parenting (proses bertindak sebagai orang tua). 4. yang selanjutnya berpengaruh terhadap dampak pengobatan tertentu pada perempuan. Pertimbangan tubuh laki-laki sebagai standar dalam studi klinis akan membatasi jumlah studi yang difokuskan pada kesehatan reproduktif dan non-reproduktif perempuan. perempuan tidak dengan serta merta mengakses pelayanan kesehatan karena : a. Isu gender terhadap persepsi dan respon terhadap penyakit . pengambil resiko berprilaku agnesi dan tidak menunjukkan sifat lemah berhubungan dengan angka penggunaan alkohol dan Narkoba lebih tinggi pada lakilaki di seluruh belahan dunia. psikologis dan sosial terhadap pelayanan kesehatan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Disamping itu dalam relasi gender di sebuah keluarga. Pada saat sakit. . Streotipi maskulin menyebabkan seorang laki-laki harus berani. Juga terkait dengan pembagian peran dan tugas rumah tangga.

maka akan berdampak signifikan terhadap kesejahteraan keluarga dan anggotanya. Perempuan dengan penyakit IMS cenderung tidak ke sarana kesehatan karena takut dengan stigma sosial yang ‘miring’ atau negatif tentang perempuan penderita Penyakit Menular Seksual. jarak/transportasi. Terbatasnya akses terhadap biaya. Jika perempuan mempunyai akses terhadap pembiayaan. 6. Banyak kasus IMS pada perempuan bersifat asimptomatik (tidak bergejala) yang mengakibatkan lambatnya diagnosis dan pengobatan. 10 BAB II Konsep Gender dan Isu Gender Bidang Kesehatan . informasi dan teknologi memperburuk ketidakadilan gender. Studi menunjukkan bahwa perempuan mempunyai risiko terinfeksi dua sampai empat kali lebih besar pada kasus ini.- - b. Dalam keadaan sakit perempuan harus mendapatkan ijin suami untuk berkunjung ke sarana pelayanan kesehatan. Isu gender terhadap keterpajanan dan kerentanan penyakit Perempuan lebih rentan dibanding laki-laki terhadap infeksi HIV/AIDS melalui hubungan heteroseksual. Perempuan lebih banyak terpajan oleh penyakit IMS yang menyebabkan peningkatan risiko infeksi HIV/ AIDS. Tersedianya sumber daya keuangan akan berhubungan dengan peningkatan tingkat kesehatan anak.

terutama untuk lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 25 Tahun 2004 dan UU No. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 11 . Di bagian atas menggambarkan alur perencanaan dan penganggaran pemerintah pusat. Dalam panduan ini. Sistem Perencanaan dan Penganggaran di Indonesia Sistem perencanaan dan penganggaran nasional diatur dalam UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional seperti tertera pada bagan 1 di bawah ini : Bagan 1. Alur Perencanaan dan Penganggaran Renstra KL Pedoman Renja KL Pedoman RKA KL Rincian APBD PEMERINTAH Pedoman Diacu Dijabarkan RPJP Nasional Diacu RPJP Daerah RPJM Nasional Diperhatikan RPJM Daerah Pedoman RKP Pedoman RAPBN APBN Diserasikan melalui MUSRENBANG RKP Daerah Pedoman Dijabarkan Pedoman RAPBD APBD PEMERINTAH DAERAH Renstra SKPD Pedoman Renja SKPD Pedoman RKA SKPD Rincian APBD UU SPPN Sumber : UU No. sedangkan di bagian bawah menggambarkan alur perencanaan dan penganggaran pemerintah daerah. uraian akan difokuskan pada sistem perencanaan dan penganggaran di tingkat pusat.BAB III bab PENGANGGARAN RESPONSIF GENDER BIDANG KESEHATAN PERENCANAAN DAN A. 17 Tahun 2003 UU KN Bagan diatas memperlihatkan sistem perencanaan dan penganggaran nasional yang berlaku di pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Siklus perencanaan dan penganggaran dalam satu tahun dapat dilihat pada bagan 2 dibawah. Pertemuan trilateral meeting menghasilkan Rancangan Renja KL yang merupakan perpaduan antara RKP dan Renstra KL. 21 tahun 2004 Bagan di atas memperlihatkan bahwa Renja KL harus sudah dibuat selambatlambatnya di bulan April. Selanjutnya diadakan Rakorbangpus dalam rangka penyusunan RKP yang ditetapkan dengan Peraturan Presiden. Atas dasar RKP tersebut.AGUSTUS Penelaahan Konsistens Dengan RKP SE Lampiran RAPBN (Himpunan RKA-KL) Rancangan KEPRES ttg Rincian APBN SEPTEMBER . Hasil rapat kerja dengan DPR dijadikan sebagai bahan acuan penyusunan pagu sementara oleh Menteri Keuangan yang kemudian ditetapkan dengan Surat Edaran tentang Pagu Sementara (Pagu Anggaran) K/L. Kegiatan selanjutnya adalah rapat kerja pemerintah bersama DPR untuk membahasa RAPBN menjadi APBN. Pengagaran dan Evaluasi Terpadu JANUARI . (ii) kegiatan non prioritas dan pengganggarannya. SE tentang pagu sementara (Pagu Anggaran) digunakan sebagai acuan dalam menyusun RKA-KL suatu K/L. yang memuat tiga hal utama yaitu. Bagan 2.DESEMBER Kementrian Perencanaan Indikasi Pagu SEB Prioritas Program dan Kementrian Keuangan Sementera (Pagu Anggaran) Pagu Penelaahan Konsistansi dengan Prioritas Anggaran Pagu Difinitif (Alokasi Anggaran) PENGESAHAN Kementrian Negara/ Lembaga Restra KL Rancangan Renja KL RKP RKA KL Konsep Dokumen Pelaksanaan Anggaran Dokumen Pelaksanaan Anggaran Sumber : PP No. Diagram Proses Perencanaan. untuk selanjutnya ditelaah di Dirjen Anggaran Kemenkeu. (i) kegiatan prioritas dan penganggarannya. selanjutnya pemerintah dan DPR mengadakan rapat kerja dalam rangka Pembahasan Pembicaraan Pendahuluan Penyusunan RAPBN untuk menyepakati pokok-pokok kebijakan belanja negara. serta (iii) usulan kebijakan/kegiatan baru (inisiatif baru). Pada bulan 12 BAB III Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan . dengan mengacu pada SEB Menteri PPN/Kepala Bappenas dan Menteri Keuangan tentang Pagu Indikatif dan Rancangan Awal RKP.APRIL MEI . 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dimulai 1 Januari sampai 31 Desember tahun yang sama. Hasil penelaahan RKA-KL tersebut selanjutnya dijadikan sebagai bahan Lampiran RAPBN pada saat presiden membacakan Nota Keuangan di hadapan rapat paripurna DPR pada bulan Agustus.Siklus perencanaan dan penganggaran (baca tahun fiskal) di Indonesia menurut Pasal 4 UU No. Atas dasar SEB tersebut diadakan Pertemuan Tiga Pihak (Trilateral Meeting) antara BappenasKemenkeu-K/L mengenai Pembahasan Rancangan RKP dan Pagu Indikatif RAPBN untuk K/L tersebut.

B. HASIL Draft awal Renja K/L Kemenkes Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 13 . Perpres tersebut dijabarkan melalui Surat Rincian Alokasi Anggaran (SRAA) yang ditetapkan oleh Dirjen Perbendaharaan. Setelah RAPBN dibahas bersama DPR. Atas dasar hasil rapat kerja tersebut ditetapkanlah Perpres Rincian Anggaran Pemerintah Pusat. Atas dasar kedua dokumen tersebut (Perpres dan SRAA) K/L menyusun Konsep DIPA untuk selanjutnya ditelaah dengan Dirjen Perbendaharaan. Mekanisme Perencanaan dan Penganggaran di Kementerian Kesehatan serta Kaitannya dengan Anggaran Responsif Gender (ARG) Perencanaan dan penganggaran responsif gender bidang kesehatan tidak berdiri sendiri. • Usulan dari Unit Utama selanjutnya direview dan dikompilasi oleh Biro Perencanaan dan Anggaran. dan disahkan menjadi APBN maka ditetapkanlah pagu definitif (Pagu Anggaran). tetapi merupakan bagian integral dari perencanaan dan penganggaran Kementerian Kesehatan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada. Siklus Perencanaan dan Penganggaran Kementerian Kesehatan PENANGGUNG JAWAB Biro Perencanaan dan Anggaran PERENCANAAN DAN ANGGARAN RESPONSIF GENDER Setiap unit eselon II telah melakukan perencanaan gender dengan melakukan analisis gender (metode GAP) dan telah mengidentifikasi sejumlah atau list Rincian Kegiatan yang responsif gender. Khusus untuk dana dekonsentrasi dan UPT pusat yang berada di provinsi. WAKTU JanuariApril KEGIATAN Penyusunan draft awal Renja K/L Kemenkes : • Usulan berasal dari unit eselon II. Siklus perencanaan dan penganggaran responsif gender menyesuaikan dengan siklus perencanaan dan penganggaran di Kementerian Kesehatan sebagaimana diuraikan di bawah ini : Bagan 3. Hasil penelaahan tersebut disahkan menjadi DIPA (Dokumen Pelaksanaan Anggaran) Kementerian/Lembaga oleh Dirjen Perbendaharaan Kemenkeu. Idealnya analisis gender dilakukan pada kegiatan prioritas. yang kemudian direview di Setditjen/ Setbadan/Set-Itjen di masing-masing unit utama. sebagaimana dijelaskan pada Sub Bab III bagian A tersebut di atas.September Kementerian Keuangan menyusun Rancangan Keppres tentang Rincian APBN.

Setelah pagu sementara ditetapkan. namun dalam perhitungan alokasi anggaran di setiap unit eselon II. Selanjutnya menyusun ARG (TOR responsif gender dan GBS) sebagai dokumen pendukung RKA-KL beserta RAB. Pertemuan Trilateral meeting sebagai tindak lanjut dari SEB Pagu Indikatif dan Rancangan Awal RKP Bappenas Dokumen Trilateral Meeting dalam rangka Penyusunan RKP dan Renja K/L Kemenkes Pertemuan Rakorbangpus tentang finalisasi RKP dan Sidang Kabinet Rancangan Akhir RKP Bappenas Perpres tentang RKP RKP bidang kesehatan dan Renja K/L Kemenkes Meskipun dalam Perpres RKP khususnya bidang kesehatan tidak mencantumkan secara khusus indikator gender. Isu gender menjadi salah satu sasaran strategis Renstra 2010-2014 yakni ’menurunnya disparitas status kesehatan dan status gizi antar wilayah dan antar tingkat sosial ekonomi serta gender. setiap unit eselon II mereview kembali analisis gender yang telah dibuat sebelumnya dan menetapkan Rincian Kegiatan (terpilih) responsif gender. setiap unit eselon II melakukan review kembali analisis gender yang telah dibuat (dalam hal kesesuaian pagu indikatif dan pagu sementara). telah mempertimbangkan kebutuhan anggaran Rincian Kegiatan yang responsif gender. dengan menurunnya disparitas separuh dari tahun 2009’. Rapat kerja pemerintah Kemenkeu dan DPR tentang Pembahasan Pembicaraan Pendahuluan Penyusunan RAPBN SE Menkeu tentang pagu sementara 14 BAB III Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan .WAKTU KEGIATAN Pembahasan rancangan awal RKP melalui Sidang Kabinet Paripurna PENANGGUNG JAWAB Bappenas HASIL SEB Pagu Indikatif dan Rancangan Awal RKP PERENCANAAN DAN ANGGARAN RESPONSIF GENDER Setelah SEB Pagu Indikatif ditetapkan dan pada saat penyusunan Renja K/L. Perlu diingat bahwa kegiatan yang responsif gender tidak hanya berada di Direktorat Kesehatan Ibu saja sebagai focal point gender.

(lihat tata cara penelaahan pada Bab V Point F) Mei – Agustus Pidato presiden tentang RAPBN Kementerian KeuanganSekretariat Negara Kementerian Keuangan Nota Keuangan tentang tentang RAPBN Perpres tentang Rincian Anggaran Pemerintah Pusat (Pagu Definitif) Konsep DIPA Rapat kerja pemerintah dan DPR untuk pembahasan RAPBN menjadi APBN Review RKA-KL Kemenkes tentang kesesuaian pagu sementara dan pagu definitif September – Desember Biro Perencanaan dan Anggaran (Kemenkes). Renja tersebut merupakan penyempurnaan atas draft awal Renja. dan dijadikan sebagai dasar RAPBN PERENCANAAN DAN ANGGARAN RESPONSIF GENDER Perencana di unit eselon II mengikuti penelaahaan RKA-KL dan memberikan penjelasan yang dibutuhkan atas pertanyaan penelaah DJA tentang relevansi indikator kinerja .GBS. selanjutnya disusun Renja K/L Kemenkes. Bagian PI/PA (Unit Utama) Penelaahan Konsep DIPA oleh DJPB Kemenkeu DJPB Kemenkeu Pengesahan DIPA Pada bulan Maret Biro Perencanaan dan Anggaran telah melakukan kompilasi draft awal Renja K/L Kementerian Kesehatan. Pada saat penyusunan draft awal Renja K/L tersebut. atas usulan dari penanggung jawab program pada masing-masing Unit Utama. penanggung-jawab program disetiap unit eselon II telah melakukan analisis GAP dan mengidentifikasi sejumlah/ list Rincian Kegiatan yang responsif gender Setelah terbitnya SEB Menteri PPN/Kepala Bappenas dan Menteri Keuangan tentang Pagu Indikatif dan Rancangan Awal RKP dan telah dilaksanakannya Pertemuan Tiga Pihak (Trilateral Meeting) antara Bappenas-Kemenkeu-Kemenkes. Bagian PI/PA (Unit Utama) HASIL RKAKL Kemenkes yang disetujui oleh DJA.WAKTU KEGIATAN Penelaahan RKA-KL di DJA Kemenkeu PENANGGUNG JAWAB Biro Perencanaan dan Anggaran (Kemenkes). yang diusulkan oleh Perencana Internal (PI/ PA) untuk selanjutnya direview dan dikompilasi oleh Biro Perencanaan dan Anggaran. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 15 .TOR responsif gender . Renja KL ini disamping mengacu pada RKP juga disusun mengacu kepada Renstra Kementerian Kesehatan 2010-2014.

kesesuaian dengan KAK/ TOR. Atas dasar dokumen APBN tersebut. Pada proses penelaahan RKA-KL. RAB dan atau dokumen pendukung terkait. Selanjutnya pada periode September sampai Desember setelah dilakukan pembahasan RAPBN di DPR. prakiraan maju yang telah ditetapkan tahun sebelumnya dan standar biaya. Direktorat Jenderal Anggaran dengan meneliti : kesesuaian dengan pagu sementara. Jika konsep DIPA telah sesuai dengan pagu definitif yang dimaksud dalam UU APBN. berdasarkan pagu indikatif yang diterima. Salah satu dokumen pendukung RKA-KL adalah TOR Responsif Gender dan Gender Budget Statement (GBS). penanggung-jawab program mereview kembali hasil analisis GAP dan menetapkan Rincian Kegiatan yang responsif gender. dengan Rincian Kegiatan yang telah disesuaikan dengan pagu sementara. 16 BAB III Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan . perencana dimasing-masing eselon II menyusun Konsep DIPA dan selanjutnya ditelaah di DJPB Kemenkeu. Pada bulan Agustus disampaikan nota keuangan RAPBN beserta lampirannya oleh presiden. Kedua dokumen ARG tersebut merupakan lanjutan dari hasil analisis GAP. pilihan/ prioritas Rincian Kegiatan responsif gender telah disesuaikan dengan jumlah pagu yang diterima.q. Himpunan RKA-KL K/L termasuk Kementerian Kesehatan akan menjadi lampiran RAPBN. relevansi pencantuman target kinerja dan komponen masukan (input) yang digunakan. selanjutnya setiap eselon II menyusun RKA-KL. kesesuaian dengan hasil kesepakatan antara Kementerian Kesehatan dan komisi terkait di DPR. serta dukungan detil kegiatan (Rincian Kegiatan) yang responsif gender terhadap pencapaian target indikator kinerja kegiatan (lihat tata cara penelaahan pada Bab V Sub-Bab F).Pada saat penyusunan Renja K/L tersebut. perencana di masingmasing unit eselon II dan dibantu oleh Bagian PI/PA akan memberikan penjelasan yang dibutuhkan tentang relevansi antara TOR responsif gender dan GBS. Artinya. Setelah pagu sementara ditetapkan melalui Surat Edaran Menteri Keuangan. penetapan pagu definitif serta disahkannya UU APBN. maka DIPA disahkan oleh Dirjen Perbendaharaan Kemenkeu. Proses selanjutnya adalah penelaahan RKA-KL dengan Kementerian Keuangan c.

perencanaan dan penganggaran responsif gender akan berkontribusi terhadap peningkatan kesempatan memperoleh layanan kesehatan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat baik laki-laki maupun perempuan. analisis gender wajib digunakan dalam perencanaan dan penganggaran. Perencanaan dan penganggaran responsif gender bukanlah sebuah proses yang terpisah dari sistem yang sudah ada atau terlebih diartikan sebagai rencana dan anggaran khusus untuk perempuan yang terpisah dari laki-laki. manfaat. 9/2000. kontrol dan manfaat pembangunan bagi laki-laki dan perempuan yang selama ini masih senjang akibat konstruksi sosial-budaya. berpartisipasi dalam mengambil keputusan dan mengontrol terhadap sumber-sumber daya serta kesetaraan terhadap kesempatan dan peluang dalam memilih dan menikmati hasil pembangunan bidang kesehatan. B. Definisi Operasional ARG Anggaran Responsif Gender (ARG) merupakan sistem penganggaran yang mengakomodasikan keadilan bagi perempuan dan laki-laki dalam memperoleh akses. Tujuannya adalah mewujudkan anggaran yang lebih berkeadilan. melainkan merupakan sebuah kerangka kerja atau alat analisis untuk mewujudkan keadilan dalam penerimaan manfaat pembangunan. partisipasi. Melalui analisis gender akan diketahui perbedaan kondisi dan kebutuhan kesehatan laki-laki dan perempuan yang ada yang dijadikan sebagai Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 17 . Perencanaan dan penganggaran responsif gender merupakan instrumen untuk mengatasi adanya kesenjangan akses. Perencanaan dan penganggaran responsif gender bukanlah tujuan.BAB IV bab (ARG) BIDANG KESEHATAN ANGGARAN RESPONSIF GENDER A. Dalam kaitannya dengan isu kesehatan. Bahkan sebelumnya dalam Inpres No. Pentingnya ARG Permenkeu 104/2010 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL Tahun Anggaran 2011 telah mengamanatkan penyusunan ARG. Dalam Permenkeu tersebut secara eksplisit dinyatakan bahwa penyusunan anggaran perlu didahului oleh analisis gender.

monitoring dan evaluasi. proyek atau pun kegiatan yang akan dilaksanakan di masa mendatang untuk menjawab isu-isu atau permasalahan gender di masing-masing sektor. partisipasi. penganggaran responsif gender merupakan pengarusutamaan gender ke dalam siklus penganggaran yang terdiri atas perencanaan. Kedua. perencanaan responsif gender merupakan suatu proses pengambilan keputusan untuk menyusun program. Berikut beberapa konsep tentang perencanaan dan penganggaran responsif gender: Pertama. dan rehabilitatif) yang setara antara perempuan dan laki-laki sehingga perempuan dan laki-laki sesuai dengan status dan kebutuhan kesehatan mereka. kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki dalam proses penyusunannya. Penganggaran responsif gender akan menghasilkan anggaran responsif gender. Melakukan perencanaan kebijakan. dan kontrol terhadap upaya kesehatan (promotif. C. Menyusun anggaran (RKA-KL) berdasarkan hasil análisis gender untuk mencapai target indikator kinerja program dan kegiatan yang adil terhadap perempuan dan laki-laki. 3. Ketiga. Melalui anggaran responsif gender kesenjangan gender diharapkan dapat dihilangkan atau setidaknya dapat dikurangi. Melakukan análisis gender untuk mengetahui peran dan relasi gender perempuan dan laki-laki yang mempengaruhi status dan kebutuhan kesehatan mereka. 2. anggaran responsif gender adalah anggaran yang responsif terhadap kebutuhan laki-laki dan perempuan serta memberi manfaat kepada laki-laki dan perempuan secara setara. Perencanaan dan penganggaran merupakan dua proses yang saling terkait dan terintegrasi. aspirasi. pembahasan. preventif. kuratif. perencanaan responsif gender adalah perencanaan yang dilakukan dengan memasukkan perbedaan-perbedaan pengalaman.dasar perencanaan dan penganggaran yang responsif gender yang bertujuan untuk meningkatkan pencapaian target kinerja kegiatan (output) dan program (outcome) sebagaimana dinyatakan dalam Renstra Kementerian Kesehatan Tahun 2010 – 2014. Keempat. serta memberikan manfaat kepada perempuan dan laki-laki secara setara. program dan kegiatan bidang kesehatan yang menciptakan akses. pelaksanaan. 18 BAB IV Anggaran Responsif Gender (ARG) Bidang Kesehatan . manfaat. Ciri utama Anggaran responsif gender adalah menjawab kebutuhan perempuan dan laki-laki. Tujuan ARG 1.

khususnya dalam menurunkan kesenjangan status kesehatan antara perempuan dan laki-laki. kegiatan. Tahapan atau kerangka pikir ARG adalah sebagaimana bagan berikut. yaitu alokasi anggaran yang diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan dasar khusus perempuan atau laki-laki. E. Anggaran khusus target gender. TOR Responsif Gender dan GBS yang benar didahului dengan Analisis Gender. Kategori ARG ini 2. pengadaan kondom gratis bagi laki-laki. Kerangka Pikir ARG RKA-KL Analisis Gender (Idealnya menggunakan Gender Analysis Pathway (GAP) TOR Responsif Gender Gender Budget Statement (GBS) Berdasarkan bagan 4 diatas. Anggaran kesetaraan gender Anggaran kesetaraan gender merupakan alokasi anggaran untuk mengatasi masalah kesenjangan gender. Melalui analisis gender akan diketahui adanya kesenjangan dalam relasi antara laki-laki dan perempuan dalam akses. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 19 .4. Letak dan Tahapan ARG Berdasarkan PMK 104/2010 ARG melekat pada struktur anggaran (program. dan output) yang ada dalam RKA-KL. yaitu: 1. dan lain-lain. yang idealnya menggunakan GAP. Contoh : Program Making Pregnancy Safer (MPS). partisipasi. ARG merupakan bagian dari RKA-KL yang mensyaratkan penyusunan 2 (dua) dokumen yaitu TOR Responsif Gender dan GBS. Bagan 4. Kategori ARG Anggaran responsif gender dibagi atas 3 kategori. kontrol dan manfaat terhadap sumber daya. Hanya saja muatan substansi/ materi output yang dihasilkan tersebut dilihat dari sudut pandang (perspektif) gender. Menjadi alat monev untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan program dan kegiatan kesehatan. D. Suatu output yang dihasilkan oleh kegiatan akan mendukung pencapaian hasil (outcome) program.

Contoh : Penyusunan Pedoman PUG dan PPRG bidang Kesehatan. peran dan tanggungjawab antara laki-laki dan perempuan. ARG bukan berarti ada alokasi dana 50% laki-laki – 50% perempuan untuk setiap kegiatan. Tidak harus semua program dan kegiatan mendapat koreksi agar menjadi responsif gender. 2. penolong persalinan oleh tenaga kesehatan laki-laki untuk daerah terisolir. yang telah diamanahkan dalam UU 17/2003 tentang Keuangan Negara. Jumantik laki-laki dan perempuan di setiap RT. Untuk itu. Bukan berarti bahwa alokasi ARG hanya berada dalam program khusus pemberdayaan perempuan. Prinsip – Prinsip ARG ARG adalah instrumen untuk menjadikan keseluruhan perencanaan dan penganggaran pembangunan memberikan manfaat secara adil bagi perempuan dan laki-laki. Merupakan alokasi anggaran untuk penguatan kelembagaan PUG. Anggaran pelembagaan kesetaraan gender. namun ada juga kegiatan yang netral gender. agar tidak disalahpahami. 3. 7. oleh PMK 104/2010. 3. Adanya ARG tidak berarti adanya penambahan dana yang dikhususkan untuk program perempuan. 6. Pendekatan Penganggaran Berbasis Kinerja/PBK (Performance Based Budgeting). Contoh : program beasiswa dengan kuota khusus bagi perempuan/laki-laki untuk mencapai kesetaraan partisipasi dan manfaat dalam jenjang pendidikan tertentu. ARG sebagai pola anggaran yang akan menjembatani kesenjangan status. 4. 20 BAB IV Anggaran Responsif Gender (ARG) Bidang Kesehatan . ARG telah diadopsi sebagai salah satu pendekatan baru dalam perencanaan dan pengganggaran pembangunan disamping Pendekatan Penganggaran Terpadu (Unifed Budget). Karena itu. Diklat PUGBK. untuk mengejar kekurangan/ketertinggalannya. ARG bukanlah anggaran yang terpisah untuk laki-laki dan perempuan. dan Pendekatan Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah/KPJM (Medium Term Expenditure Framework). ARG bukan fokus pada penyediaan anggaran dengan jumlah tertentu untuk pengarusutamaan gender. ARG bukanlah dasar yang “valid” untuk meminta tambahan alokasi anggaran. penyusunan profil kesehatan dengan data terpilah berdasarkan jenis kelamin.juga termasuk untuk alokasi program/kegiatan untuk keperluan kebutuhan strategis gender. F. suami siaga. PMK 104 / 2010 menekankan prinsip-prinsip ARG sebagai berikut: 1. tetapi bagaimana anggaran keseluruhan dapat memberikan manfaat yang adil untuk laki-laki dan perempuan. 5.

Ketersediaan data yang terpilah menurut jenis kelamin. 4. namun demikian penerapan ARG bisa berlangsung dengan baik apabila didukung dengan prasyarat sebagai berikut: 1.G. 2. Kemauan politik yang tertera dalam dokumen perencanaan strategis suatu Kementerian/ Lembaga termasuk kemauan dari para perencana program di K/L untuk menerapkan ARG. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 21 . 3. Prasyarat ARG Pada dasarnya setiap perencanaan dan penganggaran program diharapkan bisa menerapkan ARG. program dan kegiatan yang responsif gender. Kemampuan untuk mengembangkan dan melakukan pemantauan dan evaluasi kebijakan. Sumberdaya manusia yang memadai (perencana dan penanggungjawab program yang mampu melakukan analisis gender).

.

Analisis Gender bidang kesehatan adalah proses mengidentifikasi. serta konsekuensinya terhadap kehidupan mereka. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 23 . dan lain-lain. Gender Analysis Pathway (GAP). Lakukan penyusunan Term of Reference (TOR) 3. Teknik Melakukan Analisis Gender dengan metode GAP Kunci dari penerapan anggaran responsif gender adalah dilakukannya analisis situasi yang memadai yang mampu memotret dan mendiagnosa kesenjangan yang mungkin ada berkaitan dengan situasi kesehatan perempuan dan laki-laki dalam berbagai aspek. seperti Problem Based Approach (Proba). Moser Gender Analysis. Analisis gender juga berupaya mengungkapkan faktor resiko kesehatan dan permasalahannya yang dihadapi oleh laki-laki sehubungan dengan peran gender mereka (WHO. dengan Gender Analysis Pathway (GAP) 2. menganalisis. Lakukan Analisis Gender. Analisis Gender bidang kesehatan menekankan pentingnya ketidaksetaraan gender dalam hubungannya dengan rendahnya status kesehatan perempuan. status kesehatan dan kesejahteraanya. 3 (tiga) Tahapan Penyusunan ARG Penyusunan ARG terdiri dari 3 tahapan: 1. Analisis digunakan untuk mengidentifikasi kesenjangan situasi perempuan dan laki-laki serta faktor-faktor kebijakan dan praktik sosial. dan memberikan informasi untuk melakukan tindakan dalam rangka memperbaiki ketidakseimbangan yang timbul dari perbedaan peran gender perempuan dan laki-laki atau ketidasetaraan kekuasaan diantara keduanya. Lakukan penyusunan Gender Budget Statement (GBS). ekonomi dan budaya yang menyebabkannya. hambatan yang dihadapi perempuan dalam memperoleh pelayanan kesehatan dan bagaimana caranya mengatasi permasalahan tersebut.bab BAB V BIDANG KESEHATAN TAHAPAN PENYUSUNAN ARG A. Ada berbagai macam instrument analisis gender. B. 1999).

penentuan Rincian Kegiatan. maupun kebijakan operasional. 2007 PERENCANAAN 24 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan .Kualitatif PELAKSANAAN 7. Analisis gender dilakukan secara sekuensial mulai dari tahap identifikasi tujuan. Alat analisis ini dapat juga digunakan pada level program dan atau kegiatan. kebijakan manajerial.Kuantitatif . akan memudahkan perencana kesehatan untuk melihat relevansi dan konsistensi antara tahapan satu dengan tahapan lainnya sehingga membentuk sekuensial yang utuh dari kebijakan atau program dan kegiatan sehingga responsif gender. sampai monitoring dan evaluasi. Tetapkan Baseline 3. Karena tahapan siklus perencanaan tersebut disajikan dalam matriks yang sama.GAP adalah instrument yang dikembangkan oleh BAPPENAS bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan sudah banyak digunakan sebagai instrument analisis gender terhadap kegiatan pembangunan di Indonesia. Tetapkan Indikator Gender Sumber : Bappenas-CIDA. Susun Rencana Aksi yang responsifgender MONITORING & EVALUASI ISU GENDER PENGUKURAN HASIL 8. Temu kenali di isu gender di eksternal lembaga 9. Keunggulan lainnya adalah GAP mempunyai fleksibilitas yang tinggi dalam penggunaannya. .Pilih Kebijakan/Program/ Kegiatan yang akan dianalisis: - Identifikasi dan tuliskan tujuan Kebijakan/Program/Kegiatan KEBIJAKAN RENCANA AKSI KEDEPAN 6. Rumuskan kembali tujuan kebijakan/ Program/Proyek/ Kegiatan pembangunan 2. Alur Kerja Analisis Gender (Gender Analysis Pathway = GAP) ANALISIS KEBIJAKAN YANG RESPONSIF GENDER 1. 1. baik kebijakan strategis. Analisis ini dapat digunakan pada level kebijakan. Sajikan Data Pembuka Wawasan Terpilah Menurut Jenis Kelamin . dan atau program dan kegiatan bidang kesehatan. Bagan 5. analisis situasi. Aplikasi 9 Langkah dalam GAP GAP merupakan salah satu alat analisis gender yang dapat digunakan untuk mereview kebijakan. bahkan sampai pada level output dan sub output. Temu kenali isu gender di internal lembaga/ budaya org 5. Temu kenali isu gender di proses perenc kebij/prog/ keg 4.

dan penetapan Rincian Kegiatan kebijakan/ program/kegiatan kedepan. Mengidentifikasi tujuan kebijakan/program dan kegiatan b. sesuai dengan siklus manajemen program adalah pelaksanaan dan monitoring evaluasi. kontrol dan manfaat Sebab kesenjangan Internal Temukenali isu gender di internal lembaga dan/ atau budaya organisasi yang dapat menyebabkan terjadinya isu gender Data Dasar (Base-line) Tetapkan base-line Indikator Gender Tetapkan indikator gender Sajikan data pembuka wawasan. yang terpilah menurut jenis kelamin : -kuantitatif –kualitatif Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 25 . identifikasi penyebab ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender tersebut atas dua faktor utama. yaitu internal kesehatan dan eksternal kesehatan. Gender Analysis Pathway = GAP LANGKAH 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pilih Kebijakan/ Program/ Kegiatan yang akan dianalisis Identifikasi dan tuliskan tujuan dari Kebijakan/ Program/ Kegiatan Isu Gender Data Pembuka Wawasan Kebijakan dan Rencana Ke Depan Sebab kesenjangan External Temukenali isu gender di eksternal lembaga pada proses pelaksanaan Reformulasi Tujuan Rumuskan kembali tujuan kebijakan/ program/ kegiatan sehingga menjadi responsif gender Rincian Kegiatan/ Rencana Aksi Tetapkan Rincian Kegiatan yang responsif gender Pengukuran Hasil Faktor Kesenjangan Temukenali isu gender di proses perencanaan dengan memperhatikan 4 (empat) faktor kesenjangan. terdapat lima bagian GAP. Langkah selanjutnya setelah proses perencanaan. d. Dari perspektif proses perencanaan program. Menyajikan data pembuka wawasan (data yang menunjukkan situasi perempuan dan laki-laki dalam kaitannya dengan tujuan kebijakan/ program dan kegiatan). Menentukan indikator responsif gender yang akan digunakan dalam monitoring dan evaluasi kebijakan/program dan kegiatan. e. melalui identifikasi isu ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender dalam bidang kesehatan. meliputi penentuan tujuan dan Rincian Kegiatan atau intervensi yang akan dilaksanakan. yaitu : akses. c. partisipasi. Mengidentifikasi isu gender. untuk mengatasi isu kesenjangan gender yang terjadi. Gender Analysis Pathway memiliki alur kerja 9 langkah yang dapat digambarkan dalam Bagan 6 sebagai berikut: Bagan 6. Menentukan desain kebijakan/program dan kegiatan sehingga responsif gender.Terdapat dua kerangka analisis dalam GAP yaitu analisis kebijakan/program/ kegiatan yang responsif gender. yaitu : a.

Jika yang dipilih adalah pengendalian penyakit DBD.LANGKAH 1.Menurunkan angka kesakitan DBD dari 55 menjadi 54 per 100. termasuk Renstra. dapat dipilih pengendalian penyakit DBD. (lihat lampiran Renstra Kemenkes Tahun 2010-2014) LANGKAH 2. Contohnya : Kegiatan Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang. Data dan informasi dapat berupa data kuantitatif maupun kualitatif.Meningkatkan persentase kabupaten/kota yang melakukan mapping vektor dari 30 menjadi 40. . maupun hasil survei (berbasis komunitas).000 penduduk pada tahun 2011. flu burung. Jika program memiliki struktur kegiatan yang kompleks. Data dapat berasal dari data 26 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . maka merujuk pada dokumen Renstra Kemenkes 2010-2014 dan Renja KL. atau malaria. . atau gabungan keduanya yang terkait dengan tujuan yang ada dalam langkah 1. Renja K/L dan lain-lain. (lihat lampiran Renstra Kemenkes Tahun 2010-2014). Pilih kebijakan atau program dan kegiatan yang telah ada. a. maka GAP dapat digunakan pada level di bawah kegiatan. dan isu gendernya pun berbeda. dengan alasan antara penyakit menular tersebut mempunyai struktur dan permasalahan kesehatan yang spesifik. Kebijakan yang dipilih dapat berupa peraturan perundang-undangan bidang kesehatan. Sajikan data pembuka wawasan yang terpilah menurut jenis kelamin untuk melihat isu kesenjangan gendernya. b.Meningkatkan prosentase Angka Bebas Jentik (ABJ) dari 60% menjadi 70% pada tahun 2011 (lihat lampiran Renstra Kemenkes Tahun 20102014). Contoh : Program : Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kegiatan : Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Tujuan adalah indikator kinerja kegiatan yang terkait dengan pengendalian penyakit DBD dengan merubah menjadi kata ”kerja aktif” di depan kalimat: . hasil-hasil penelitian lainnya dan informasi dari media. Sumber data dapat berasal dari berbagai sumber yang valid dan up to date yang berasal dari Sistem Informasi Kesehatan (berbasis fasilitas). Tuliskan tujuan dari kebijakan/program/kegiatan pada kolom 1. dan lain-lain.

juga menurut kelompok umur. (ii) keterjangkauan dari sisi geografis dan transportasi (jarak dan waktu). baik yang dilaksanakan sendiri oleh pengelola program maupun oleh pihak lain. .Angka Kematian laki-laki dan perempuan.Data atau hasil survei tentang pengetahuan.  Akses : Ditujukan untuk mengetahui kesenjangan kebutuhan kesehatan perempuan dan laki-laki dalam hal kemudahan mendapatkan upaya kesehatan (promotif. halaman 31) LANGKAH 3.Angka Kesakitan dan tingkat keparahan laki-laki dan perempuan. Contoh untuk pengendalian DBD : . Kontrol. (iii) affordability atau keterjangkauan secara ekonomi. Partisipasi. Manfaat. kuratif. yaitu (i) ketersediaan sarana dan atau upaya kesehatan. dan rehabilitatif) baik dari sisi beneficieries (penerima manfaat) maupun provider (penyedia layanan kesehatan). Contoh : lihat kolom 3 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31). dan rehabilitatif).primer ataupun sekunder.  Partisipasi : Ditujukan untuk mengetahui keterwakilan dan keterlibatan aktif perempuan dan laki-laki dalam upaya kesehatan (promotif. Contoh : lihat kolom 3 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31). dan (ii) beneficiaries (masyarakat). baik sumberdaya yang bersifat tangibles (kentara atau nyata) maupun intangibles (tidak kentara atau tidak nyata). Temu kenali isu gender pada proses perencanaan kebijakan. kuratif. Akses terhadap upaya kesehatan dapat dilihat dari empat dimensi. .Angka Response Time Penderita di sarana pelayanan kesehatan terpilah laki-laki dan perempuan . Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 27 . Kesenjangan gender dapat dilihat dari dua sisi yaitu : (i) penanggungjawab atau pengelola program. sikap dan perilaku terpilah laki-laki dan perempuan. preventif. yaitu : Akses. Akses juga dapat dilihat dari sisi keterjangkauan terhadap sumberdaya. program dan kegiatan dengan menganalisis data pembuka wawasan dengan memperlihatkan empat faktor kesenjangan gender. juga menurut kelompok umur. .dan lain-lain ( lihat kolom 2 contoh aplikasi GAP. preventif. (iv) keterjangkauan secara psikis dan sosiokultural.

dan lain-lain.  Kontrol : Ditujukan untuk mengetahui siapa (laki-laki atau perempuan) yang menentukan keputusan terhadap pengalokasian dan penggunaan sumberdaya yang tersedia di tingkat rumah tangga. Contoh : Suami siaga dalam program Perencanaan Persalinan dan Penanganan Komplikasi (P4K). desain program dan kegiatan sesuai siklus perencanaan dan siklus manajemen program. Kebutuhan Praktis Gender adalah kebutuhan yang bersifat segera dan didasarkan pada kondisi nyata perempuan dan laki-laki tanpa mempersoalkan ada atau tidaknya faktor-faktor ketidakadilan yang mungkin ada antara keduanya. dan rehabilitatif). pemahaman pengelola program tentang konsep gender yang masih kurang (baik pada level pengambil keputusan maupun pelaksana kebijakan). Sumber penyebab kesenjangan gender secara internal dapat berbentuk : produk hukum. Manfaat : Ditujukan untuk mengetahui apakah laki-laki dan perempuan diuntungkan dalam upaya kesehatan (promotif. Contoh : lihat kolom 3 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31). aroma repellent nyamuk dibuat sesuai aroma maskulin untuk meningkatkan pengguna repellent pada konsumen laki-laki di daerah endemis. Temukenali faktor-faktor di internal lembaga (institusi kesehatan) dan atau budaya organisasi yang dapat menyebabkan terjadinya kesenjangan gender. Manfaat pelayanan kesehatan dari perspektif gender dapat dilihat dari sisi Practical Gender Needs (kebutuhan praktis gender) maupun Strategic Gender Need (kebutuhan stretegis gender). dan rehabilitatif) baik dari sisi beneficieries (penerima manfaat) maupun provider (penyedia layanan kesehatan). komunitas. dan lain-lain. dan lain-lain. Kebutuhan Strategis Gender adalah kebutuhan yang didasarkan pada analisis tentang ketidakadilan gender dan faktor-faktor yang menyebabkannya. kebijakan. detiksi dini kanker prostat pada laki-laki. Contoh : lihat kolom 4 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31) 28 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . Contoh : bantuan dana transportasi untuk wanita hamil risiko tinggi ke sarana pelayanan kesehatan. dan pemenuhannya dimaksudkan untuk mengubah ketidakadilan yang mungkin ada dalam konteks relasi laki-laki dan perempuan. political will dari pengambil keputusan. keterwakilan wanita sebanyak 30 % dalam kepengurusan kelompok pemakai air bersih di pedesaan. kuratif. pemerintahan yang berhubungan dengan upaya kesehatan (promotif. LANGKAH 4. dukungan penelitian dan pengembangan kesehatan. preventif. preventif. kuratif. Contoh : lihat kolom 3 pada Contoh Aplikasi GAP (halaman 31).

Contoh: lihat kolom 6 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31) LANGKAH 7. Reformulasi sub-tujuan yang baru menjawab kesenjangan yang diidentifikasi pada Langkah 2 sampai 5. marginalisasi. Merumuskan kembali tujuan kebijakan/program/kegiatan pelayanan kesehatan pada langkah 1 sehingga responsif gender. sarana dan prasarana pendukung. beban ganda. Pada langkah ini tujuan pada langkah 1 pada ditulis ulang. Sebagaimana proses perencanaan lainnya. Sumber penyebab kesenjangan gender secara eksternal (di luar lembaga/institusi kesehatan) yang dapat terjadi pada level rumah tangga. maupun sumberdaya yang ada pada masyarakat (beneficiaries). komunitas. Ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender dapat disebabkan oleh budaya patriarki. pemerintahan (diluar sektor kesehatan). dukungan kebijakan dan waktu yang tersedia. baik sumberdaya pada penanggungjawab/pengelola program. Reformulasi sub-tujuan harus mendukung tercapainya tujuan semula pada langkah 1. pemerintahan dan pasar. Kontrol untuk mencapai sub-tujuan baru pada langkah 6. peran dan relasi gender. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 29 . kekerasan terhadap perempuan) yang terjadi di rumah tangga. bahkan isu internasional. Rincian kegiatan merupakan solusi atau pemenuhan terhadap isu Practical Gender Needs dan Strategic Gender Needs dan atau solusi atas isu kesejangan empat faktor yaitu Akses. Temukenali faktor-faktor di eksternal lembaga dan atau budaya organisasi yang dapat menyebabkan terjadinya kesenjangan gender. Contoh : lihat kolom 7 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31) Catatan: Rincian kegiatan yang diusulkan disesuaikan dengan pagu anggaran yang diterima (pagu indikatif. Hasil review digunakan untuk mereformulasi sub-tujuan baru yang telah responsif gender. komunitas. Manfaat. lalu direview kembali dengan melihat hasil analisis pada langkah 2 sampai 5.LANGKAH 5. pagu sementara. rincian kegiatan yang disusun tetap mempertimbangkan ketersediaan sumberdaya yang ada. dan pasar. Partisipasi. SDM. Pada saat menyusun sub-tujuan sebaiknya mempertimbangkan feasibility objectives dengan mempertimbangkan ketersediaan sumberdaya yang ada seperti ketersediaan anggaran. Menyusun rincian kegiatan yang responsif gender. pagu definitif). Rincian kegiatan merupakan rincian kegiatan bidang kesehatan yang dilakukan untuk mencapai sub-tujuan yang telah responsif gender sebagaimana ditulis pada langkah 6. Contoh : lihat kolom 5 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31) LANGKAH 6. subordinasi. diskriminasi gender (stereotipi.

Menetapkan baseline indikator responsif gender. Contoh : lihat kolom 8 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31) LANGKAH 9. Baseline indikator ditujukan untuk mengetahui kemajuan intervensi kegiatan yang dilakukan dalam rangka mendukung pencapaian tujuan yang responsif gender (langkah 6). cantumkan rincian kegiatan untuk pengumpulan data (lihat kembali langkah 7). Catatan: jika muncul indikator baseline baru. Penyusunan indikator harus mengikuti kriteria penyusunan indikator yang baik (SMART) Contoh : lihat kolom 9 Contoh Aplikasi GAP (halaman31) 30 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . Baseline digunakan sebagai titik awal capaian kinerja. Indikator 9 berbeda dengan indikator pada langkah 1. Baseline indikator dapat saja berasal dari data pembuka wawasan yang tercantum pada langkah 2. Menetapkan indikator responsif gender untuk mengukur keberhasilan pencapaian sub tujuan baru pada langkah 6 (disebut ”indikator sub-tujuan”) dan rincian kegiatan pada langkah 7 (disebut ”indikator rincian kegiatan”). Sub-tujuan baru pada langkah 6 diubah menjadi pernyataan indikator sub-tujuan.LANGKAH 8.

97% P Kesehatan 2010-2014) 6. umur Kementerian 1-4 tahun :L 7. Contoh Aplikasi GAP Pada Program Bidang Kesehatan Program Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL Angka kesakitan (Catatan: uraian ttg faktor eskternal bisa bersifat anekdotal selama konsisten dengan data pembuka wawasan).66%. Menurunkan angka kesakitan DBD dari 55 menjadi 54 per 100. umur 5-9 tahun: Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan L 11.Readaptasi survey COMBi untuk lebih menangkap pengetahuan.28% P 1. jauh diatas laki-laki yang hanya 39. Contoh Aplikasi GAP Bagan 7.Angka Penderita DBD pada Laki-laki (L) lebih tinggi (51. Lingkungan. sikap dan perilaku lakilaki dalam pengendalian DBD.DBD: umur < 1 tahun: (diambil dari Renstra L 2.21%).13%. Menurunkan Peran perempuan perempuan dan Akses: anak laki-laki.2. umur 10- 31 . 5% angka kematian (DSS) pada perempuan tidak dianalisa dengan menggunakan perspektif gender terutama untuk melihat perbedaan biologis dan sosial untuk kerentanan antara perempuan. laki-laki. .000 penduduk pada tahun 2011. Angka eselon1): Penderita DBD pada Laki-laki (L) lebih tinggi Pengendalian Penyakit (51. SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL RINCIAN KEGIATAN/ RENCANA AKSI .Data dari subdit (unit organisasi Arbovirus 2010.79%) dibanding Menurunnya 1% insiden angka kematian (DSS) pada perempuan usia sekolah dan dewasa. termasuk pilihan metode KIE yang efektif untuk BASELINE DATA Angka Kesakitan DBD terpilah jenis kelamin dan umur INDIKATOR Indikator sub tujuan yang responsif gender: Program .48%.79%) dibanding Menurunnya 5% angka .7%. anak Pada perempuan 60.87%% jatuh ke fase DSS.16% P 10. dan Penyehatan Perempuan (P) (48. Sedangkan lakilaki segala usia lebih rentan terhadap insidens DBD daripada perempuan.

• Teridentifikasinya sebab khusus kematian DBD pada perempuan. Lampiran 14) . Ini terbukti dari COMBi ( yang menunjukkan data laki-laki yang pernah melihat iklan DBD hanya 1/3 dari perempuan. Baseline: Kematian (DSS): L 39. sebaiknya data Meningkatnya pengetahuan laki-laki dalam pengendalian DBD.13% P 60. Mataram. 2014.61%. (diambil dari Renstra (bila ada. Response program sebagai usia sekolah dan laki-laki dan Perempuan DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL kesakitan DBD pada laki-laki.87% sama. 100.Angka kesakitan DSS terpilah jenis kelamin dan umur gender. umur 55 menjadi 54 per 5-9 th: L 10% P 20%. perempuan.45% P Pengendalian Penyakit 8.32 LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER Laki-laki lebih sedikit terpapar pada media informasi (KIE) ttg DBD dibanding perempuan. BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan kegiatan: Kementerian ini juga terpilah jenis Kesehatan 2010- kelamin).21%). umur >15th: L sero P 30%. Apalagi jika perempuan diharuskan dirawat inap. Kegiatan: 14 tahun: L 9. L21. sehingga berakibat angka kesakitan DBD pada lakilaki lebih tinggi. umur kesakitan DBD dari 1-4th: L 30% P 0%.Audit .87% Tujuan: Indikator rincian  Menurunkan angka umur < 1 th: sero. bersifat netral caregivers dewasa. • Teridentifikasinya faktor penyebab laki-laki tidak tertarik dari 60% menjadi Bogor.13% P 20.000 penduduk umur 10-14 th: L sero P pada tahun 2011.13% P 60.Pengembangan iklan layanan masyarakat untuk perempuan . sama dan akses lebih banyak pengendalian penanganan baku/ menghabiskan laki-laki dalam sama.Kematian (DSS): L 39. 10%. maka harus ada yang bisa menggantikan Laki-laki lebih sedikit terpapar pada media mereka dulu untuk mengurus keluarga sebelum Meningkatkan prosentase Angka Bebas Jentik (ABJ) dari 60% menjadi . kolom program/ kegiatan. dengan dalam keluarga. mencari sering terlambat rumah dan Meningkatkan persentase kabupaten/kota yang melakukan mapping vektor dari 30 menjadi 40.6%. Bekasi) th 70% pada tahun 2009 ttg pengetahuan 2011 masyarakat .Survey COMBi ttg perilaku DBD pengobatan. (P) (48.Revisi SOP DBD/DSS khusus untuk perempuan.  Meningkatkan prosentase Angka Survey Combi di 5 kota Bebas Jentik (ABJ) endemis (Batam. Depok. umur>15 tahun: Bersumber Binatang. prosedur mereka pengetahuan kematian DBD dengan fokus pada perempuan (termasuk mengukur response time) asumsi kerentanan membuat Meningkatkan . . waktu di dalam DBD.

Pencanangan Gerakan Bebas Jentik dengan Duta Nasional Jumantik Laki-laki dan Perempuan.LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER informasi (KIE) ttg DBD dibanding perempuan. Diseminasi informasi media eletronik disukai masyarakat tetapi biayanya besar namun informasi yang ada belum memperhatikan Selain itu secara bilogis. dan Kota Jogjakarta adalah ibu2. sehingga berakibat angka kesakitan DBD pada lakilaki lebih tinggi. fase penyakit sudah dengan mereka datang seringkali saat sehingga pengobatan dalam pengendalian DBD. sekolah maupun institusi. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan bila ada tambahkan data ttg jam tayang iklan 33 . gender. . Kota Mojokerto. .  Meningkatkan ttg pengendalian DBD: L persentase 22% P 78% kabupaten/kota yang melakukan mapping Pada pesan media vektor dari 30 elektronik cenderung bias • Meningkatnya response time perempuan dalam mencari pengobatan DBD.Lomba jumantik teladan laki-laki dan perempuan baik di tatanan rumah tangga. (penting sekali data ttg hari ke berapa laki-laki dan perempuan baru mengakses layanan kesehatan). sistem kapiler perempuan memang lebih rentan untuk permeabilitas sel. sehingga sulit yang lanjut. Hal 70% pada tahun supaya segera terpilah DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL upaya promotif pengendalian DBD. Cimahi • Meningkatnya jumlah keterlibatan laki-laki sebagai jumantik. karena model iklan lebih banyak (diambil dari Renstra perempuan (misal 3M) dan Kementerian repellen nyamuk beraroma Kesehatan 2010-2014) bunga 100% kader jumantik di DKI Jakarta. mau dirawat. Ini terbukti dari COMBi ( yang menunjukkan data laki-laki yang pernah melihat iklan DBD hanya 1/3 dari perempuan penanganan secara medisnya.Laki-laki mendengar ttg DBD = 22% (Data P2B2 th 2009) pergi mencari terlibat aktif Baseline: sering menunda supaya lebih perempuan untuk laki-laki ini menyebabkan 2011 berobat dan umur dan jenis kelamin. menjadi 40. .

sedangkan laki-laki lebih bertanggung jawab untuk wadah penampungan dalam rumah tangga / di dengan rumah yang terkait kontainer air jawab terhadap bertanggung perempuan lebih peran gender Bila dilihat dari DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL atau lokasi pemasangan poster untuk melihat akses dan manfaat atas informasi kesehatan bagi BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan perempuan/laki-laki Pengetahuan Masyarakat tentang Pengendalian DBD pada L (22%) < Perempuan (78%)(Survei Market Analysisis COMBi di 5 kota: Batam. Kota Bogor. feasibility.) dan perempuan. siapa di lingkungan. minum dan cuci. ketersediaan sumberdaya dan dukungan politis yang diperlukan. dan Kota Bekasi Tahun 2009) --> adakah data ttg siapa (laki-laki atau perempuan) yang sebetulnya melakukan 3M di rumah tangga. . Mataram.34 LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER kebutuhan lelaki (Catatan: dalam memilih rencana aksi pertimbangkan priority setting K/L. antara laki-laki Kontrol: dan perempuan maka Walaupun angka kesakitan laki-laki lebih tinggi tapi angka kesakitan yang masuk menjadi DSS lebih rendah – perlu diteliti lebih lanjut apakah ini karena aki-laki punya kontrol lebih besar pada akses layanan kesehatan l ataukah karena memang secara imunologi laki-laki seperti tempat penyimpanan air untuk mandi. Kota Depok.

tanki air ataupun rumah seperti air yang disekitar DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL . penyuluhan langsung Petugas penyuluh demam berdarah lebih banyak perempuan. media cetak: 7%.untuk melihat akses ke layanan kesehatan antara laki-laki dan perempuan dan kontrol Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan atas sumber daya antara laki-laki dan perempuan 35 . rumah tangga untuk kebutuhan tampung air pada wadah 3M lebih fokus Selama ini iklan oleh kader: 12 %. pembuangan Partisipasi: sampah “besar”. Kurangnya petugas jumantik laki-laki untuk melakukan pemeriksaan dan penyuluhan tentang PSN dan Penanggulangan DBD disebabkan Laki-laki menyerahkan urusan pemberantasan jentik demam Laki-laki tidak maksimal dalam memanfaatkan dan belum terlalu mengena untuk peran gender laki-laki untuk pengendalian DBD. TV: 24 %.LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER lebih baik daripada perempuan terhadap DBD.--apakah bisa terpilah antara laki-laki dan perempuan Adakah data % perempuan dan % laki-laki yang dirawat di RS dengan dana out of pocket atau Jamkesmas? .Sumber informasi DBD yg diinginkan oleh masyarakat : penyuluhan langsung oleh nakes: 57%.

. sehingga insidens kesehatan. . DBD lebih tinggi Waktu penyuluhan DBD dilakukan pada pagi hari sehingga hanya perempuan yang memiliki waktu untuk mengikuti penyuluhan karena BapakBapak banyak di luar rumah untuk bekerja. serius karena tidak ada vaksin infeksi dengan menganggap perempuan PortoRico. upaya promotif DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . dilakukan di studi yang Dalam sebuah pada laki-laki.36 LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER berdarah di rumah untuk dilakukan oleh perempuan.

gigitan nyamuk meremehkan banyak orang memilih karena laki-laki lebih sedangkan emosi nya.LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER Manfaat: DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL Hanya 22% Lakilaki di bandingkan 78% perempuan memiliki pengetahuan tentang DBD. ekonomi dan dan dampak tingginya insiden Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 37 . maka dapat disimpulkan laki-laki kurang menggunakan upaya promotif yang dilakukan dalam pengendalian demam berdarah.

Untuk lebih jelasnya. manfaat. GAP langkah 7 (rincian kegiatan) dimasukkan sebagai proses pelaksanaan dalam TOR dengan identifikasi kelompok sasaran serta menjelaskan keterwakilan dan keterlibatan aktif laki-laki dan perempuan. Manfaat. Teknik menyusun TOR Rensponsif Gender Kerangka acuan kerja atau Term of Reference yang selanjutnya disebut KAK/ TOR adalah dokumen yang menginformasikan gambaran umun dan penjelasan mengenai keluaran kegiatan yang akan dicapai sesuai dengan tugas dan fungsi Kementerian Negara/lembaga yang memuat latar belakang. dan biaya yang diperlukan. maka berikut ini disampaikan format TOR Responsif gender lengkap sebagai berikut. Who. 38 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . TOR responsif gender adalah TOR yang memasukkan data (GAP langkah 2 dan langkah 8) dan analisis AKMP (Akses. GAP langkah 6 dan langkah 9 dapat dimasukkan sebagai tujuan dalam TOR. Where + 2 H (How to do dan How much). penerima. When.C. dan Partisipasi) yang dilakukan di GAP langkah 3-5 sebagai latar belakang. strategi pencapaian. Kontrol. What. Dalam TOR harus jelas 5W (Why.

.............. (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Satuan ukur dan Jenis Keluaran : ....................... (12) C..................................................................................................................................................................... Rencana Anggaran Biaya (RAB) ..................................................... : ............................... Tujuan dan Penerima Manfaat ......... (15) E................ Volume : ............ Metode Pelaksanaan... (16) Penanggung Jawab (17) NIP.................................................................. (14) D........................................................................... Gambaran Umum .......... (13) 2............... Dasar Hukum Tugas Fungsi/ Kebijakan ....... .......... Tahapan dan Waktu Pelaksanaan ........ Latar Belakang 1............................................................................................................ 10) 2....................... : ......................................................................................................................... : ....... Strategi Pencapaian Indikator Kinerja Kegiatan 1..................................... (11) B....................................................................... Format TOR KAK/ TOR PER KELUARAN/OUTPUT KEGIATAN Kementerian Negara/ Lembaga : ..................................................................................................................................................................................................... Waktu Pencapaian Indikator Kinerja Kegiatan ....................... : ................. A................................................................ : ................................................. (18) Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 39 ... Unit Eselon I Program Hasil Unit Eselon II/ Satker Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan : ..........................1............................................................

baik laki-laki maupun perempuan (pertanyaan Who tapi pada level indikator). Diisi dengan tujuan dan penerima manfaat baik internal dan atau eksternal K/L.. dengan membedakan sasaran perempuan dan laki-laki. Pada bagian ini menjelaskan What dan Why. dengan target sasaran perempuan dan laki-laki (masih menggunakan data hasil analisis gender). Diisi dengan uraian tentang proses pelaksanaan Rincian Kegiatan. 200 orang peserta. Gambaran Umum : Diisi dengan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan serta penjelasan target indicator kinerja kegiatan yang akan dicapai. Tujuan memberikan informasi tentang manfaat yang akan diterima kelompok sasaran. baik laki-laki dan perempuan dengan didukung data terpilah dan mengidentifikasi isu kesenjangan gendernya yang menyebabkan outcome/output program dan target indikator kinerja kegiatan belum tercapai.. yang mengeksplorasi mengapa (why) hal tersebut bisa terjadi. URAIAN Diisi nama kementerian negara/ lembaga Disi nama program sesuai hasil restrukturisasi program Diisi dengan outcome yang akan dicapai dalam program Diisi nama unit eselon II. 40 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan ... apakah telah menjelaskan tentang permasalahan yang dihadapi oleh kelompok sasaran. Kesenjangan gender diperoleh dari hasil analisis gender. (10) (11). 33 laporan . (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Diisi nama unit eselon I. yang bersifat sekuensial... Penjelasan juga meliputi cara pelaksanaan Rincian Kegiatan apakah berupa kontraktual atau swakelola.Penjelasan point per point : NO. Selanjutnya menjelaskan tentang langkah apa (what) yang akan dilakukan untuk mengatasi kesenjangan gender tersebut. Diisi dengan cara pelaksanaanya berupa kontraktual atau swakelola. 13. Diisi nama kegiatan sesuai hasil restrukturisasi kegiatan Diisi uraian indikator kinerja kegiatan Diisi nama satuan ukur dan jenis keluaran kegiatan Diisi jumlah volume keluaran kegiatan.. Diisi dengan dasar hukum tugas fungsi dan/ atau ketentuan yang terkait langsung dengan kegiatan yang akan dilaksanakan. Penerima manfaat merujuk kepada pencapaian target indikator kinerja kegiatan terpilah menurut kelompok laki-laki dan perempuan. Volume yang dihasilkan bersifat kuantitatif yang terukur Contoh : 5 peraturan . dengan tujuan memberikan gambaran bahwa detil Rincian Kegiatan dan urut-urutan pelaksanaannya telah responsif gender. 12.

Bagian ini menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan Rincian Kegiatan yang mendukung langsung perbaikan ke arah kesetaraan gender. Kegiatan dan Output. Jadi harus dapat menjelaskan upaya perbaikan permasalahan yang dihadapi oleh kelompok sasaran. seperti : Sosialisasi/ desiminasi. atau komponen input sejenis. 16. Keluaran/output kegiatan adalah barang/ jasa yang dihasilkan dari pelaksanaan sebuah kegiatan untuk mendukung pencapaian outcome program. yang dapat berisikan Komponen Input Laporan Kegiatan. Setiap output harus dapat diidentifikasi jenis dan satuannya dengan jelas. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 41 . Oleh karenanya setiap TOR/ KAK dibuat per keluaran/ output kegiatan. dimana penekanan/ fokus berada pada output. baik laki-laki maupun perempuan : Who (menjelaskan mengapa perempuan dan laki-laki dipilih dalam pelaksanaan detil Rincian Kegiatan). termasuk jadwal waktu (time table) pelaksanaan dan keterangan lainnya yang dibutuhkan. Laporan Kegiatan dan Pembinaan. Where (menjelaskan mengapa tempat pelaksanaan detil Rincian Kegiatan dipilih dengan memperhatikan akses dan partisipasi perempuan dan lakilaki). atau dokumen lain sejenis. 18. Output merupakan produk utama/ akhir yang bersifat spesifik yang dihasilkan oleh suatu kegiatan sebagaimana fungsi Unit Eselon II/ Satker yang bersangkutan. maka struktur pengalokasian anggaran dirinci menurut Program. Diisi dengan tahapan/komponen masukan yang digunakan dalam pencapaian Indikator Kinerja kegiatan. seluruh komponen input yang digunakan ditetapkan oleh penanggung jawab kegiatan dan penekanan kesesuaian/ relevansi masing-masing komponen input serta biayanya dalam rangka pencapaian output kegiatan. Catatan: Pengisian Nomor 1 sampai 7 menggunakan dokumen Renstra Kementerian Kesehatan tahun 2010-2014 yakni pada Lampiran tentang Matriks Kinerja Kementerian Kesehatan. When (menjelaskan mengapa waktu dan lama pelaksanaan detil Rincian kegiatan dipilih dengan memperhatikan akses dan partisipasi perempuan dan laki-laki ). 14. peningkatan kapasitas SDM. Daftar output kegiatan dapat dilihat pada formulir 3 RKA-KL yang telah ditetapkan oleh penanggung jawab kegiatan/Eselon II di masing-masing unit utama dalam penyusunan RKA-KL setiap tahunnya. yang berisikan Komponen Input seperti : Rencana Kerja Tahunan. Diisi dengan NIP penanggung jawab kegiatan. 2. How To Do (menjelaskan mengapa bentuk pelaksanaan Rincian Kegiatan sesuai dengan kebutuhan beneficieries). Dalam rangka penerapan pendekatan Penganggaran Berbasis Kinerja (PBK) yang mulai diterapkan pada tahun anggaran 2011. Diisi dengan nama penanggung jawab kegiatan (eselon II/ kepala satker vertikal). Diisi dengan kurun waktu pencapaian pelaksanaan Diisi dengan lampiran RAB yang merupakan rincian alokasi dana yang diperlukan dalam pencapaian Indikator Kinerja Kegiatan. Dokumen Perencanaan dan pengelolaan anggaran. 17. Output kegiatan dapat berupa : 1. 15.

yang berisikan Komponen Input : gaji dan Tunjangan. Layanan Perkantoran. 2. Dari keenam Rencana Aksi tersebut. Dan lain-lain.Meningkatnya persentase Angka Bebas Jentik ( ABJ) dari 60% menjadi 70% pada tahun 2011. Kementerian Negara/Lembaga : Kementerian Kesehatan Unit Organisasi (eselon 1) : Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Program : Program Pengendalian Penyakit Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Hasil atau Outcome : Meningkatnya pencegahan dan penanggulangan penyakit bersumber binatang UNIT Eselon II/Satker : Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Kegiatan : Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Indikator Kinerja Kegiatan . . operasional perkantoran dan pemeliharaan. CONTOH APLIKASI TOR RESPONSIF GENDER TOR/KAK per Output Kegiatan Output Kegiatan : Laporan Pengendalian DBD Catatan: Dalam kolom 7 GAP (Rencana Aksi) sebelumnya/diatas. Dalam contoh aplikasi TOR Responsif Gender berikut ini akan ditampilkan contoh TOR Responsif Gender dengan Output Laporan Pengendalian DBD. terdapat 6 Rencana Aksi. Kendaraan 6.000 penduduk pada tahun 2011 untuk Nasional .3. 4. .Menurunnya angka kesakitan DBD dari 55 menjadi (diambil dari Renstra 2010-2014) 54 per 100.Meningkatkan persentase kabupaten/kota yang melakukan mapping vektor dari 30 menjadi 40 Output : Laporan Pengendalian Penderita DBD Satuan Ukur dan Jenis Keluaran : Laporan Volume : 2 laporan (Readaptasi Survey Combi dan Audit Kematian DBD/DSS) 42 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . 2 diantaranya mempunyai Output Laporan untuk pengendalian DBD yakni Readaptasi Survey COMBi dan Audit Kematian DBD. Alat pengolah data/ komputer 5.

Undang Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular. dan Kegiatan Pembangunan berperspektif gender sebagaimana dimaksud ayat 1 dilakukan analisis gender. Peraturan Pemerintah Nomor 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit Menular. Peraturan Menteri Dalam negeri Nomor 15/2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanan Pengarusutamaan Gender (PUG) di daerah dimana pada Pasal 4 ayat 2. Penyusunan Kebijakan Program. dan pasal 10 Pokja PUG Provinsi mempunyai tugas menetapkan TIM teknis untuk melakukan analisis terhadap anggaran daerah.21%).02/2010 tentang petunjuk penyusunan dan penelahaan RAKL Tahun 2011. 2. Kematian (DSS): L 39. Dasar Hukum Tugas Fungsi/ Kebijakan a. Menarik untuk dilihat lebih lanjut apakah diperlukan penanganan darurat khusus untuk perempuan yang terinfeksi Dengue. e. Kesepakatan bersama antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak dengan Menteri Kesehatan tentang pelaksanaan tentang pengarus utamaan gender di Bidang Kesehatan No. PP&PA/5/2010-No.KEPMENKES Nomor 581/MENKES/SK/VII/1992 tentang Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue. Tata Cara Penyampaian Laporannya dan Tata Cara Penanggulangannya. Tim Pembina LKMD Tingkat Pusat.a. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 560 Tahun 1989 tentang Jenis Penyakit Tertentu Yang Dapat Menimbulkan Wabah. b. sebagai akibat dari perilaku perempuan yang terlambat dalam mencari pengobatan. Angka Penderita DBD pada Laki-laki (L) lebih tinggi (51. c. Laki-laki segala usia lebih rentan terkena DBD. 07/MEN. g.87% Perempuan dewasa lebih rentan terhadap kematian (DSS). Peraturan Menteri Keuangan No.79%) dibanding Perempuan (P) (48.13% P 60.593/MENKES/SKB/V/2010. Angka DSS pada perempuan lebih tinggi. d. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal. Norma patriarki yang menempatkan perempuan - Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 43 . Latar Belakang 1. Gambaran Umum Data dari subdit Arbovirus 2010. h. i. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1457 tahun 2003 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota Dalam Pencegahan dan Pemberantasan DBD.104/PMK. f. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 31-VI Tahun 1994 tentang Pembentukan Kelompok Kerja Operasional Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue ( POKJANAL DBD).

sehingga berakibat angka kesakitan DBD pada laki-laki lebih tinggi. Depok. Cimahi dan Kota Jogjakarta adalah ibu2. Bogor. Survey Combi di 5 kota endemis (Batam. Kurangnya petugas jumantik laki-laki untuk melakukan pemeriksaan dan penyuluhan tentang PSN dan Penanggulangan DBD disebabkan Laki-laki menyerahkan urusan pemberantasan jentik demam berdarah di rumah untuk dilakukan oleh perempuan. Mataram. cemas tidak ada yang menggantikan dia kalau di-rumah sakit kan sehingga membuat mereka terlambat datang ke sarana kesehatan. Akses: Laki-laki lebih sedikit terpapar pada media informasi (KIE) ttg DBD dibanding perempuan. Partisipasi: Petugas penyuluh demam berdarah lebih banyak perempuan. Ini terbukti dari COMBi ( yang menunjukkan data laki-laki yang pernah melihat iklan DBD hanya 1/3 dari perempuan. Angka kesakitan tidak dianalisa dengan menggunakan perspektif gender terutama untuk melihat perbedaan biologis dan sosial untuk kerentanan 44 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan .sebagai caregivers dalam keluarga membuat perempuan terlambat mencari pengobatan karena harus mengurus keluarga terlebih dulu. maka dapat disimpulkan laki-laki kurang menggunakan upaya promotif yang dilakukan dalam pengendalian demam berdarah. 100% kader jumantik di DKI Jakarta. karena model iklan lebih banyak perempuan (misal 3M) dan repellen nyamuk beraroma bunga. Waktu penyuluhan DBD dilakukan pada pagi hari sehingga hanya perempuan yang memiliki waktu untuk mengikuti penyuluhan karena Bapak-Bapak banyak di luar rumah untuk bekerja. Kontrol: Walaupun angka kesakitan laki-laki lebih tinggi tapi angka kesakitan yang masuk menjadi DSS lebih rendah – perlu diteliti lebih lanjut apakah ini karena laki-laki punya kontrol lebih besar pada akses layanan kesehatan ataukah karena memang secara imunologi laki-laki lebih baik daripada perempuan terhadap DBD. Kota Mojokerto. Bekasi) th 2009 ttg pengetahuan masyarakat ttg pengendalian DBD: L 22% P 78% Pada pesan media elektronik cenderung bias gender. Manfaat: Hanya 22% Laki-laki di bandingkan 78% perempuan memiliki pengetahuan tentang DBD.

anak perempuan dan anak laki-laki. perempuan menganggap infeksi dengue serius karena tidak ada vaksin. Perlu dicarikan strategi untuk meningkatkan partisipasi laki-laki dalam pengendalian DBD. Hal ini menyebabkan perempuan sering menunda pergi mencari pengobatan sehingga seringkali saat mereka datang sudah dengan fase penyakit yang lanjut. sehingga insidens DBD lebih tinggi pada laki-laki. Selama ini iklan 3M lebih fokus pada wadah tampung air untuk kebutuhan rumah tangga dan belum terlalu mengena untuk peran gender laki-laki untuk pengendalian DBD. sehingga sulit penanganan secara medisnya. laki-laki. dengan asumsi kerentanan sama. dengan asumsi kerentanan sama. sedangkan laki-laki lebih bertanggung jawab untuk wadah penampungan air yang disekitar rumah seperti tanki air ataupun pembuangan sampah “besar”. Selain itu secara bilogis. Laki-laki tidak maksimal dalam memanfaatkan upaya promotif kesehatan. Bila dilihat dari peran gender antara laki-laki dan perempuan maka perempuan lebih bertanggung jawab terhadap kontainer air yang terkait dengan rumah tangga / di dalam rumah seperti tempat penyimpanan air untuk mandi. Dalam sebuah studi yang dilakukan di Puerto Rico. sedangkan laki-laki lebih memilih karena banyak orang meremehkan gigitan nyamuk Oleh sebab itu upaya pengendalian DBD yang memang difokuskan pada pemberantasan nyamuk Aedes aegypti sebagai penular DBD. COMBi menunjukkan laki-laki tidak memiliki pengetahuan memadai sehingga angka insidens pada laki-laki lebih tinggi dan jumantik laki-laki Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 45 . sistem kapiler perempuan memang lebih rentan untuk permeabilitas sel. membuat mereka menghabiskan lebih banyak waktu di dalam rumah dan sering terlambat mencari pengobatan. maka harus ada yang bisa menggantikan mereka dulu untuk mengurus keluarga sebelum mau dirawat. Response program bersifat netral gender. laki-laki. Response program bersifat netral gender. tingginya insidens dan dampak ekonomi dan emosi nya. prosedur penanganan baku/sama dan akses sama. prosedur penanganan baku/sama dan akses sama. anak perempuan dan anak laki-laki. Apalagi jika perempuan diharuskan dirawat inap. Peran perempuan sebagai caregivers dalam keluarga. minum dan cuci.antara perempuan. terutama melalui kegiatan PSN oleh masyarakat perlu ditingkatkan. Angka kesakitan tidak dianalisa dengan menggunakan perspektif gender terutama untuk melihat perbedaan biologis dan sosial untuk kerentanan antara perempuan.

Tahapan dan Waktu Pelaksanaan (diambil dari kolom 7 GAP) 46 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . bayi perempuan <1 tahun. ataupun karena perbedaan peran gender sehingga mempengaruhi perilaku pasien dalam mencari pengobatan. c.sangatlah minim. Meningkatkan pengetahuan laki-laki dalam pengendalian DBD. Oleh sebab itu perlu melakukan readaptasi modul Survey COMBi untuk menangkap faktor-faktor penyebab rendahnya partisipasi lakilaki dan perlu analisa khusus untuk merumuskan kembali strategi perubahan perilaku yang lebih efektif berdasarkan perbedaan gender dalam keterlibatan aktif laki-laki dan perempuan dalam pengendalian DBD. Sedangkan untuk merespon tinggi nya angka kematian akibat DBD/DSS pada perempuan usia sekolah dan dewasa maka sarana kesehatan harus mulai melakukan audit kematian untuk mengidentifikasi apakah penyebab dari kematian karena faktor biologis.Laporan Audit Kematian DBD b. maka akan disusun laporan pelaksanaan yang terdiri dari . Strategi Pencapaian Keluaran 1. Dalam pelaksanaan kegiatan penanggulangan penderita DBD tersebut. Metode Pelaksanaan : Dilaksanakan melalui metode swakelola 2. laki-laki >15 th. prosedur yang perlu disempurnakan sesuai sex. dimana pengendalian penyakit ini bertujuan untuk : Menurunkan 5% angka kematian (DSS) pada perempuan usia sekolah dan dewasa.Laporan Readaptasi Survey COMBi . Target sasaran kegiatan: provinsi endemis. Tujuan dan Penerima Manfaat Dengan ouput laporan ini akan melaporkan hasil pengendalian penderita DBD.

. termasuk pilihan metode KIE yang efektif untuk lakilaki dan perempuan TAHAPAN Readaptasi COMBI tool untuk menangkap faktor resiko DBD pada laki-laki Pelatihan enumerator COMBi Survey Combi Pengolahan data dan penyusunan laporan COMBi Sosialisasi hasil COMBi Penyusunan pesan COMBi Pengadaan pesan COMBi Launching pesan COMBi Monitoring dan Evaluasi WAKTU PELAKSANAAN Februari 2011 Maret 2011 Maret 2011 April 2011 April 2011 Mei 2011 Mei 2011 Juni 2011 ..... ........ Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 47 .........Readaptasi survey COMBi untuk lebih menangkap pengetahuan...... Indikator Keluaran : Tersusunnya laporan pengendalian pada penderita DBD d... Rencana Anggaran Biaya (RAB) (terlampir) Penanggung Jawab.Audit kematian DBD dengan fokus pada perempuan (termasuk mengukur response time) Pengembangan SOP Pelatihan SOP Survey Audit Kematian di sub nasional Februari 2011 Maret 2011 April 2011 3................PELAKSANAAN ..................... sikap dan perilaku laki-laki dalam pengendalian DBD.. .... Waktu Pencapaian Keluaran : Tahun Anggaran 2011 e........ Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang.............. NIP......

Karena target kinerjanya mengukur perempuan dan laki-laki. output. indikator kinerja kegiatan. GBS memberikan informasi bahwa suatu kegiatan telah responsif terhadap isu gender yang ada. Sebagian isi GBS juga berasal dari dokumen TOR responsif gender. Karena analisisnya menggunakan metode GAP. dan suatu biaya telah dialokasikan pada output kegiatan untuk menangani permasalahan kesenjangan gender. Teknik Penyusunan Gender Budget Statement (GBS) GBS adalah dokumen yang berisi pernyataan bahwa sebuah program dan kegiatan telah responsif gender. namun secara komprehensif mencakup tentang relevansi kegiatan. Adapun format GBS yang memuat komponen-komponennya serta cara penyusunannya dapat dilihat pada format berikut. sub output kegiatan dan komponen input terhadap pencapaian target indikator kinerja kegiatan dan target output/outcome dari program. maka Rincian Kegiatan dan sub-output yang dilakukan pun merupakan hasil analisis gender.D. GBS merupakan perpaduan dari hasil analisis gender (analisis GAP) dan kebutuhan anggaran (TOR responsive gender) secara generik dan instan. 48 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . Target Indikator kinerja kegiatan yang dicapai mesti memperhatikan kesetaraan dan keadilan bagi perempuan dan laki-laki. maka sebagian isi GBS berasal dari matriks analisis GAP.

.1. Tahapan pertama pelaksanaan sub-output 1 Tahapan kedua pelaksanaan sub-output 1 Tahapan ketiga pelaksanaan sub-output 1 Jenis-jenis Rincian Kegiatan yang akan dilakukan Tahapan ketiga pelaksanaan sub-output 2 Tahapan ketiga pelaksanaan sub-output 2 Alokasi Anggaran Output Kegiatan Jumlah anggaran (Rp) yang dialokasikan untuk mencapai suatu Output Kegiatan Dampak/hasil Output Kegiatan Dampak/hasil secara luas dari Output Kegiatan yang dihasilkan dan dikaitkan dengan isu gender serta perbaikan ke arah kesetaraan gender yang telah diidentifikasi pada analisisi situasi Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 49 . Sub-output 1 Komponen Input 1 Komponen Input 2 Komponen Input 3 Dst… Sub-ouput 2 Komponen Input 1 Komponen Input 2 Dst. Jenis-jenis Rincian Kegiatan yang akan dilakukan. Jika tidak. Analisis situasi : menggambarkan terjadinya kesenjangan gender yang ada terkait dengan kegiatan yang akan dilaksanakan. dengan menekankan uraian pada aspek gender dari persoalan tersebut. hanya berupa gambaran bahwa output kegiatan yang akan dihasilkan mempunyai pengaruh kepada kelompok sasaran tertentu) Rincian Kegiatan Diambil dari TOR bagian metode pelaksanaan Nama program yang ada pada K/L Nama Kegiatan sebagai penjabaran program Indikator yang ditetapkan untuk masing-masing output kegiatan (merujuk kedokumen Renstra 2010-2014) Nomenklatur Output dan volume satuan Output Kegiatan (sesuai RKA-KL) Uraian ringkas yang menggambarkan persoalan yang akan ditangani/ dilaksanakan oleh Kegiatan yang menghasilkan output.. FORMAT GENDER BUDGET STATEMENT (Pernyataan Anggaran Gender) Kementerian Negara/Lembaga Unit Organisasi Unit eselon II/Satker : ……………………… : ……………………… : ……………………… Program Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan Output Kegiatan Analisa Situasi (diharapkan tersedia angka kelompok sasaran baik laki-laki maupun perempuan.

Oleh sebab itu upaya pengendalian DBD yang memang difokuskan pada pemberantasan nyamuk Aedes aegypti sebagai penular DBD. Perlu dicarikan strategi untuk meningkatkan partisipasi laki-laki dalam pengendalian DBD. Survey Combi di 5 kota endemis (Batam. Oleh sebab itu perlu melakukan readaptasi modul Survey COMBi untuk menangkap faktor-faktor penyebab rendahnya partisipasi laki-laki dan perlu analisa khusus untuk merumuskan kembali strategi perubahan perilaku yang lebih efektif berdasarkan perbedaan gender dalam keterlibatan aktif laki-laki dan perempuan dalam pengendalian DBD. Bekasi) th 2009 ttg pengetahuan masyarakat ttg pengendalian DBD: L 22% P 78% Pada pesan media elektronik cenderung bias gender. Kematian (DSS): L 39.21%). Menarik untuk dilihat lebih lanjut apakah diperlukan penanganan darurat khusus untuk perempuan yang terinfeksi Dengue. Laki-laki segala usia lebih rentan terkena DBD. Depok. CONTOH APLIKASI GENDER BUDGET STATEMENT (GBS) (Pernyataan Anggaran Gender) Kementerian Negara/Lembaga : Kementerian Kesehatan Unit Organisasi : Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Unit eselon II/Satker : Direktorat Pengendalian Penyakit bersumber Binatang Kementerian Negara/Lembaga : Kementerian Kesehatan Unit Organisasi (eselon 1) : Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Unit Eselon II/Satker : Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Program Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan : Program Pengendalian Penyakit Penyakit dan Penyehatan Lingkungan : Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang .2. Output Kegiatan Analisa Situasi (diharapkan tersedia angka kelompok sasaran baik laki-laki maupun perempuan.000 penduduk pada tahun 2011 untuk Nasional .87% Perempuan dewasa lebih rentan terhadap kematian (DSS).Menurunnya angka kesakitan DBD dari 55 menjadi 54 per 100. . karena model iklan lebih banyak perempuan (misal 3M) dan repellen nyamuk beraroma bunga.79%) dibanding Perempuan (P) (48. Angka DSS pada perempuan lebih tinggi. terutama melalui kegiatan PSN oleh masyarakat perlu ditingkatkan. sebagai akibat dari perilaku perempuan yang terlambat dalam mencari pengobatan.13% P 60. cemas tidak ada yang menggantikan dia kalau di-rumah sakit kan sehingga membuat mereka terlambat datang ke sarana kesehatan. Bogor. hanya berupa gambaran bahwa output kegiatan yang akan dihasilkan mempunyai pengaruh kepada kelompok sasaran tertentu) 50 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan .Meningkatnya persentase Angka Bebas Jentik ( ABJ) dari 60% menjadi 70% pada tahun 2011.Meningkatkan persentase kabupaten/kota yang melakukan mapping vektor dari 30 menjadi 40 Laporan Pengendalian Penderita DBD Data dari subdit Arbovirus 2010. COMBi menunjukkan laki-laki tidak memiliki pengetahuan memadai sehingga angka insidens pada laki-laki lebih tinggi dan jumantik laki-laki sangatlah minim. 100% kader jumantik di DKI Jakarta. Mataram. Cimahi dan Kota Jogjakarta adalah ibu2. Norma patriarki yang menempatkan perempuan sebagai caregivers dalam keluarga membuat perempuan terlambat mencari pengobatan karena harus mengurus keluarga terlebih dulu. Jika tidak. Angka Penderita DBD pada Laki-laki (L) lebih tinggi (51. Kota Mojokerto. .

Sedangkan untuk merespon tinggi nya angka kematian akibat DBD/DSS pada perempuan usia sekolah dan dewasa maka sarana kesehatan harus mulai melakukan audit kematian untuk mengidentifikasi apakah penyebab dari kematian karena faktor biologis, prosedur yang perlu disempurnakan sesuai sex, ataupun karena perbedaan peran gender sehingga mempengaruhi perilaku pasien dalam mencari pengobatan.

Rincian Kegiatan (diambil dari TOR bagian metode pelaksanaan)

Readaptasi survey COMBi untuk lebih menangkap pengetahuan, sikap dan perilaku laki-laki dalam pengendalian DBD; termasuk pilihan metode KIE yang efektif untuk lakilaki dan perempuan

Tujuan Suboutput 1 (disesuaikan dengan logika suboutput yang dipilih dan indikator Kinerja Kegiatan).

• Teridentifikasinya sebab khusus kematian DBD pada perempuan; • Angka Kesakitan DBD terpilah jenis kelamin dan umur

Suboutput 1

Komponen 1

Readaptasi COMBI tool untuk menangkap faktor resiko DBD pada laki-laki Pelatihan enumerator COMBi Survey Combi Pengolahan data dan penyusunan laporan COMBi Sosialisasi hasil COMBi Penyusunan pesan COMBi Pengadaan pesan COMBi Launching pesan COMBi Monitoring dan Evaluasi

Komponen 2 Komponen 3 Komponen 4

Komponen 5 Komponen 6 Komponen 7 Komponen 8 Komponen 9

Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan

51

Suboutput 2

Audit Kematian Tujuan Suboutput 2(disesuaikan dengan logika suboutput yang dipilih dan indikator Kinerja Kegiatan). Teridentifikasinya sebab khusus kematian DBD pada perempuan; Meningkatnya response time perempuan dalam mencari pengobatan DBD; Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 Pengembangan SOP Pelatihan SOP Survey Audit Kematian di sub nasional

Alokasi Anggaran Output Kegiatan Dampak/hasil Output Kegiatan

Rp.1,629,000,000 (Jumlah anggaran yang dialokasikan untuk mencapai output kegiatan)

Menurunkan 5% angka kematian (DSS) pada perempuan usia sekolah dan dewasa. Meningkatkan pengetahuan laki-laki dalam pengendalian DBD.

52

BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan

E. Hubungan GAP, TOR dan GBS
GAP, TOR dan GBS adalah saling berhubungan satu sama lain. Karena itu, banyak variable informasi dalam GAP, TOR dan GBS saling berkaitan dan saling memperkuat. Oleh sebab itu, keberhasilan penyusunan GAP akan sangat memudahkan penyusunan TOR dan GBS. Matrix berikut ini dapat menggambarkan hubungan antara Langkah-langkah dalam GAP, Komponen TOR, dan GBS. Bagan 8. Matriks Hubungan GAP, GBS dan TOR
GAP (KOLOM) 1 2,3,4,5 6 7 8,9 TOR Data umum (Eselon 1, Program, Kegiatan, Indikator Kinerja Kegaiatan) Latar belakang (narasi) Tujuan Umum (termasuk tujuan khusus) Rincian Kegiatan yang akan dilakukan Indikator keluaran GBS Data umum (Program, Kegiatan, Indikator Kinerja Kegaiatan) Analisa situasi Dapat saja, tujuan dari output/sub output Rincian Kegiatan, sub-output, dan Komponen Input Dampak atau hasil output kegiatan

F.

ARG dan Penelaahan RKA-KL

Berdasarkan Permenkeu Nomor 104 Tahun 2010, penelaahan RKA-KL dengan muatan ARG dilakukan melalui langkah di bawah ini: 1. 2. Suatu ARG berada pada tingkat output dari struktur RKA-KL; Isu kesenjangan gender dan gambaran perbaikannya tercermin dari uraian analisis situasi yang ada dalam GBS maupun isu gender dalam Kerangka Acuan Kegiatan (TOR); GBS minimal harus mencakup aspek-aspek seperti yang ada pada format GBS; Meneliti adanya kesesuaian antara uraian GBS dengan TOR. Jika antara TOR dan GBS tidak sesuai, maka kegiatan belum dapat dikatakan responsif gender dan tidak dapat diproses untuk tahap selanjutnya. Oleh karena itu agar kegiatan memenuhi kriteria ARG, maka K/L harus memperbaiki TOR kegiatannya supaya sesuai dengan GBS; Memutuskan apakah kegiatan atau sub kegiatan dimaksud sudah responsif gender atau belum berdasarkan butir 2,3, dan 4; Apabila telah responsif gender, petugas penelaah DJA selanjutnya meneliti kode bagan akun standar yang dicantumkan dalam RKA-KL (sesuai dengan proses penelaahan RKA-KL umum) untuk meneliti kesesuaian RKA-KL dengan TOR dan GBS.

3. 4.

5. 6.

Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan

53

baik laki-laki maupun perempuan. baik laki-laki maupun perempuan. iii) Apakah paparan pelaksanaan kegiatan telah menjelaskan pelibatan atau konsultasi dengan kelompok sasaran laki-laki dan perempuan. 54 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . manfaat. 4. Gambaran adanya faktor penghambat di internal lembaga (organisasi pemerintah) dan atau eksternal lembaga (masyarakat). yang keduanya dapat dihubungkan dengan bagian Latar Belakang dalam TOR. Apakah telah tersedia dokumen GBS yang didahului dengan analisa gender.Untuk mempermudah proses penelaahan RKA-KL. Indikator Input atau Output yang dapat dihubungkan dengan bagian Pelaksanaan Kegiatan dalam TOR. 2. kontrol antara lakilaki dan perempuan. 3. Indikator Outcome yang dapat dihubungkan dengan bagian Tujuan Kegiatan dalam TOR. Apakah isu gender yang ada dalam TOR tersebut mempunyai keterkaitan dalam GBS. Apa jenis kegiatan ARG yang akan dilaksanakan? Jenis kegiatan tersebut berupa service delivery atau capacity building dan advokasi gender. partisipasi. Adanya isu gender yang dituangkan dalam TOR seperti: i) Apakah pada bagian Latar Belakang telah dijelaskan mengenai permasalahan yang dihadapi oleh kelompok sasaran. ii) Apakah tujuan kegiatan secara jelas memberikan informasi tentang manfaat yang akan diterima kelompok sasaan. Bagian GBS yang menghubungkan dengan isu gender tersebut adalah: Analisa situasi yang berisikan: Gambaran kesenjangan akses. petugas penelaah Ditjen Anggaran akan membuat daftar (check list) atas pertanyaan sebagai berikut: 1.

LAMPIRAN: Contoh ARG

Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan

55

GENDER ANALYSIS PATHWAY (GAP)

Program : Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kegiatan : Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi (Dana Dekonsentrasi – Provinsi Jawa Timur)
LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN
Kordinasi lintas sektor/ program yang belum optimal Kurangnya kompetensi petugas pelayanan kesehatan kab/kota Kegiatan : Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi Program : Program Bina Gizi dan Kesehatan ibu dan anak.

1 KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI

2

4

5

6

7

8

9

KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM SEBAB INTERNAL

DATA PEMBUKA WAWASAN

PENGUKURAN HASIL BASELINE DATA
1. Tenaga kesehatan Kab/ kota terlatih ABPK Yan Kb =500 orang

INDIKATOR
1. Meningkatnya tenaga kesehatan Kab/kota terlatih ABPK Yan Kb 657 orang ( terdiri dari laki laki dan perempuan)

Program : Program Bina Gizi dan Kesehatan ibu dan anak.

Kegiatan : Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi Para pengelola program belum terpapar dalam rencana MPS yang sensitif gender terutama point ke 3

Angka kematian ibu di Propinsi Jawa Timur tercatat : 90,7/100.000 KH. Angka ini masih dibawah target nasional 118/100.000 KH

Tidak semua stake holder /pengambil keputusan memahami konsep keadilan dan kesetaraan gender. (PUG). Hal ini berpengaruh pada anggaran yang responsif gender.

1. Lokakarya ABPK Yan KB bagi petugas kesehatan kab/kota di Propinsi dan Orientasi ABPK Yan KB bagi Petugas tenaga kesehatan di kab/kota ( Capacity building) Tujuan (di Prov. Jatim) : Meningkatkan capaian KB aktif dari 62 % menjadi 63 % ( 2011) dgn melibatkan peran dan tanggung jawab laki-laki (proporsi lakilaki meningkat menjadi 2 %). 2. Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi

2. Menurunnya Capaian KB aktif dari 67,28 % ( 2007) menjadi 62,05 %( th 2009) 3. Belum tersosialisasinya indikator universal akses dan Rencana aksi propinsi

Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan

Tujuan (tujuan nasional menurut Renstra Kemenkes): Meningkatkan capaian KB aktif dari 61 % tahun 2010 menjadi 62 % tahun 2011

Namun SDKI th 2007 ,Angka kematian Ibu di tingkat nasional tercatat : 227/100.KH, sedangkan Jawa Timur tercatat 83/100.000 KH.Hal ini menunjukkan masih banyak AKI yang belum terlaporkan. Masyarakat lebih nyaman partus di dukun karena konsep mendapatkan pelayanan lengkap di banding bidan.

AKSES : Akses informasi kesehatan reproduksi/KB bagi laki laki masih kurang , terutama mengenai : Metode kontrasepsi, faktor kegagalan dan DO ; penyakit yang mengancam selama kehamilan & tanda bahaya selama hamil, salin dan nifas. Hak perempuan untuk memutuskan hak reproduksinya

2. Teridentifikasinya permasalahan dan adanya rekomendasi dalam pencapaian indikator cakupan Kb aktif ( 63 %)dgn melibatkan PUS terutama laki laki (proporsi lakilaki meningkat menjadi 2%).

57

Lemahnya manajerial programer kesehatan di daerah. obat dan manajerial . 5.7%) . alokon serta bahan habis pakai masih kurang dari cukup fasilitas kesehatan yang berkualitas kurang ( baik kualitas maupun kuantitas) Data PUS 4 T di masyarakat : > 60 % ( terlalu tua. Capaian KB aktif 62. Jatim) : Meningkatkan capaian KB aktif dari 62 % menjadi 63 % ( 2011) Kurangnya alat bantu infomasi bagi edukasi kesehatan reproduksi/ KB. Terpantaunya dan adanya bimbingan tehnis intervensi berbagai permasalahan pelayanan Kespro/Kb di lapangan 38 kab/ kota selama th 2011 Tujuan (di Prov. Pengadaan bidan kit. valid dan capaian Cakupan Kb aktif : 65 % ( th 2011) 5. terlalu muda . Data penunjan belum terpilah sedangkan Cakupan KB aktif : 62.05% dengan rincian ( Partisipasi Laki : 1.64% . KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/kota maupun di propinsi. Adanya hasil data monitoring pelaksanaan Yan KB/kespro di 38 kab/kota th lalu 5. (86%) dan belum mendapatkan perencanaan KB pasca salin (kesempatan yg hilang) Ada beberapa faktor penyebab : 1. Validasi data kes ibu.05% selama th 2009 1 KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA PENGUKURAN HASIL 2 4 5 6 7 8 9 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM SEBAB INTERNAL DATA PEMBUKA WAWASAN INDIKATOR 3.58 LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN PUS terutama yang tidak menginginkan anak tidak mendapatkan informasi dan pelayanan KB yg memadai (unmet need > 8 %) Kecilnya anggaran untuk pelayanan kesehatan. Tersosialisasinya indikator universal akses kespro dan rencana aksi propinsi dalam pencapaian indikator universal akses kespro bagi kab/ kota 4.54% 4. Kurangnya perhatian pemerintah kab/kota dalam pelayanan KB berkualitas 3. Tersedianya data terpilah . sarana. Monitoring pelaksanaan program yan Kb/kespro melalui superfisi fasilitatif ( kespro) Peran serta masyarat kurang dalam bidang kesehatan krn promosi kesehatan kurang efektif 6. Dipengaruhi oleh :tenaga. Faktor terlambat pertolongan yg adekuat. terlalu sering melahirkan. Lemahnya sistem pencatatan dan pelaporan khususnya tersedianya data terpilah.3% dan wanita : 98. Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses 4. Komplikasi :5. terlalu banyak anak) merupakan ibu beresiko jika hamil dan bersalin sehingga menjadi ancaman AKI (SDKI 1997) Jumlah ibu yang memeriksakan kehamilan berkualitas belum optimal. Drop Out : 4.

150 buku abpk Gambaran : Puskesmas 944( target : 1247). RS 282.607. Sedangkan poned kit tersedia 76. Pustu/Polindes 7.8% ( target : 80% nasional). Evaluasi pelaksanaan yan kespro/ KB di propinsi 7. Hal ini disebabkan selain keterlambatan merujuk ke RS sehingga keadaan ibu sudah jelek (Faktor kontrol). dan yg berfungsi : 49. RS ponek 19 dan yang berfungsi hanya 71. KB( 2%) dan yang memiliki bidan kit : 45.8 % dan ponek kit di RS ( 21. akses yg lemah thd keuangan.7 % namun Kematian ibu : 70 % terjadi di RS. register kohort 2610 buku. Pengadaan sarana pendukung program kespro 7. Minimnya sarana pendukung pelayanan kespro/KB bagi daerah miskin dan terpencil. 150 paket lembar balik abpk.1%) Meskipun persalinan nakes tinggi 93. 1 KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA PENGUKURAN HASIL 2 4 5 6 7 8 9 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM SEBAB INTERNAL DATA PEMBUKA WAWASAN INDIKATOR 6. serta ketersediaan alat dan obat yang masih rendah. Desa P4K : 8508. Jumlah bidan : 10.535 orang. Ini menunjukkan ibu hamil masih jauh dari akses pelayanan berkualitas termasuk informasi KB dan biaya 59 . dgn Puskesmas Poned 241 dan yang berfungsi hanya 60 %.LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN 6.7 % Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan Jumlah bidan 1 : 3112 Penduduk( target : 1000). terlatih 63.2%. Teridentifikasinya permasalahan. faktor faktor penyebab dan adanya rekomendasi intervensi yg bermanfaat bagi laki laki dan perempuan dalam pencapaian cakupan Kb aktif sesuai target selama th 2011 Tersedianya alat bantu KIE dan buku pedoman untuk pelayanan KB bagi ibu dan suaminya bagi nakes kab/kota khususnya untuk daerah miskin dan terpencil rincian :383 buku sistem pencatatan pelaporan. juga dipengaruhi oleh kualitas tenaga terlatih dan belum berfungsingan Pusk Poned/ RS Ponek.9 %( APN).

9.60 LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN PARTISIPASI : Suami mengangap bahwa KB/kespro adalah urusan istri shg kurangnya keterlibatan dan tanggung jawab suami terhadap kesehatan reproduksi istrinya. Istri kurang meneruskan informasi kes. .000/ kapita/tahun.000 pdd).000/kapita/ tahun. Jumlah Perawat : 1 : 12. Reproduksi/KB kpd suaminya (marginal) KONTROL : Laki laki masih dominan dalam semua keputusan walaupun hal itu mempengaruhi kesehatan perempuan hal ini berkaitan budaya patriaki dan kontrol thd keuangan (streotipi) 1 KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA PENGUKURAN HASIL 2 4 5 6 7 8 9 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM SEBAB INTERNAL DATA PEMBUKA WAWASAN INDIKATOR Jumlah dokter 1 : 25000 penduduk( target 1: 2500 pdd ) . 1: 850 pdd ) . Standar Nasional anggaran perkapita obat sebesar Rp.000 Penduduk ( target . Anggaran perkapita obat yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten/ Kota melalui DAU sebesar Rp. 2.000 penduduk( target 1 : 16.Jumlah SpOG 1 : 122.

ekonomi.1( susenas 2008).5 sedangkan perempuan : 51. Rata2 gaji/ bln : pekerja 15 61 . Faktor terlambat merujuk dan sampai di layanan kesehatan Dipengaruhi oleh : pendidikan.500 (51. Perempuan kurang mendapatkan manfaat dari pelayanan yang tersedia terutma pelayanan KB pasca salin 1 KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA PENGUKURAN HASIL 2 4 5 6 7 8 9 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM SEBAB INTERNAL DATA PEMBUKA WAWASAN INDIKATOR 2.18%) ( susesnas 2008) Angkatan kerja th 2008 : Pria : 83.500 (48. wanita 3.LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN Lemahnya wewenang perempuan dalam pengambilan keputusan yg berkaitan dengan dirinya (sub ordinasi) MANFAAT : ibu hamil kurang memanfaatkan hak reproduksinya terutama mendapatkan pelayanan kesehatan termasuk biaya bagi gakin. budaya dan gender.59 %. geograf Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan Penduduk Jatim usia 15-24 th yg melek huruf: Laki laki 99.36 %( susenas 2008) Penduduk gakin : Pria: 3.197.351.82%). & Perempuan : 99.

050 jiwa.18% yg memanfaatkannya. Sebagai pembanding th 2008 tercatat 82.710. Sedangkan masyarakat ( gakin dan non gakin) yang memiliki jaminan pra bayar kesehatan hanya : 34. Tercatat ± 1.24% memilki kartu jamkesmas. 171. 42.260 ( Sakernas 2008) Masyarakat miskin yang ditanggung Program Jamkesmas (pemerintah pusat) th 2009 sebesar 10.742 jiwa ( Jamkesda).LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN PENGUKURAN HASIL INDIKATOR 4 5 6 7 8 9 62 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM DATA PEMBUKA WAWASAN th keatas : Laki2: Rp.441.04% dari target 80% ( profil kesehatan 2008) .804 & Perempuan: Rp. 257.

27 %.3% Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan Perawatan pasca salin & bayinya : 80. Bidan 26. (Target 90%).5%. Penolong persalinan terakhir : Dokter/ SpOG : 59.42% ( Target 90%) Jumlah persalinan nakes masih tinggi : 93.2%.52% ( Target 90%) 63 . Dukun :14.LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM DATA PEMBUKA WAWASAN PENGUKURAN HASIL INDIKATOR Capaian Program : K4 ( Kunjungan pemeriksaan kehamilan yang berkualitas/ lengkap): 86.31% (target jatim : 80%). Jumlah pertolongankomplikasi kehamilan : 86.

Namun Cakupan Kb aktif: 62.3% dan wanita : 98.05% Target : > 70%) dengan rincian (Partisipasi Laki: 1.64 LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN PENGUKURAN HASIL INDIKATOR 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM DATA PEMBUKA WAWASAN Pelayanan KB memiliki daya ungkit yang tinggi dalam penurunan AKI melalui perencanaan kehamilan yang direncanakan.7%). Drop Out: 4.38%).64% dan sebagai pembanding Drop out KB th 2008: 3. .72% & wanita : 98.37% (Komposisi laki laki : 1.

LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN PENGUKURAN HASIL INDIKATOR 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM DATA PEMBUKA WAWASAN Komplikasi: 5.17%).19%).39% & wanita : 99.63% (partisipasi laki laki :3.5%) dengan rincian komposisi laki laki: 0.54% ( toleransi : < 3.61%) keagalan: 0.04% (toleransi: < 0. KB aktif dibina 25 % Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan Jumlah pasangan usia subur yang tidak ingin punya anak namun tidak menggunakan alat kontrasepsi masih 65 .87% & wanita: 96. Capaian KB baru: 10.

66 LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN PENGUKURAN HASIL INDIKATOR 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM DATA PEMBUKA WAWASAN tinggi ( > 8 %) pelayanan KB pasca salin / keguguran 5 -10 % ( Workshop PKBRS. bandung 2009) Data Penunjang lainnya : ABPK yan KB : 250 exp : poster/ leaflet .

Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses c. rencana aksi tersebut dapat dimasukkan dalam kelompok output untuk penyusunan RKA-KL sebagai berikut : 1. Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi b. untuk rencana aksi : a. KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/kota maupun di propinsi. untuk rencana aksi Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 67 . Tenaga terlatih. untuk rencana aksi : Pengadaan sarana pendukung program Kespro. Evaluasi pelaksanaan yan kespro/KB di propinsi 2. Sarana pendukung program kespro. Laporan Kegiatan atau Pembinaan. d. untuk rencana aksi : Lokakarya ABPK Yan KB bagi petugas kesehatan kab/kota di Propinsi dan Orientasi ABPK Yan KB bagi Petugas tenaga kesehatan di kab/kota (Capacity building) 3. Validasi data kesehatan ibu. Monitoring pelaksanaan program yan KB/Kespro melalui superfisi fasilitatif (Kespro) e.Catatan : Dari (7 tujuh) rencana aksi yang terdapat pada kolom/langkah 7.

9 th 2000 tentang PUG dalam pembangunan 6. UU No 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran 4. 104/PMK. UU no.5 %( 2010) menjadi 65 % ( 2011) dengan proporsi pria naik dari 1. Latar Belakang 1. pemerintahan daerah propinsi dan pemerintah daerah kab/ kota 5. 7 tentang pengesahan konvensi mengenai penhapusan segala bentuk diskriminasi thd wanita 2. 07/Men/ PP& Pa/5/2010.3 % menjadi 2 %) Laporan untuk kegiatan Pembinaan pelayanan kesehatan ibu dan reproduksi Unit Eselon II/Satker Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan : : : Output : Satuan Ukur dan Jenis Keluaran : Laporan a. 38 th 2007 tentang pembagian urusan pemerintahan. Dasar Hukum : 1. 593/Menkes/ SKB/V/2010 68 . KAK/TOR Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi (OUTPUT LAPORAN) Kementerian Negara/ Lembaga Unit Eselon I Program Hasil : : : : Kementerian Kesehatan Ditjen Bina Gizi dan Kesehatan ibu dan anak Bina Gizi dan Kesehatan ibu dan anak Meningkatnya ketersediaan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang bermutu bagi seluruh masyarakat Direktorat Kesehatan ibu/ Satker Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi Meningkatnya Cakupan peserta KB aktif dari 62. Peraturan MenKeu no. Kesepakatan bersama antara Men PP &PA dgn menkes tentang pelaksanaan PUG di bidang kesehatan no.Berikut ini diberikan contoh TOR responsif gender dan GBS dari Output Laporan Kegiatan. Peraturan pemeritah No.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan 3. UU No.no.02/2010 tentang petunjuk penyusunan dan penelaan AKL th 2011 7. Instruksi presiden no.

85%.9%).Dan ini kurang memberdayakan laki laki (partisipasi) dalam upaya penurunan AKI melalui pengetahuan tanda bahaya kehamilan.000/bln) menyebabkan wanita lemah wwenangnya dalam memutuskan ( sub ordinat) meskipun berkaitan dgn kesehatannya. Hal ini berpengaruh pada anggaran yang responsif gender. Desa P4K : 49. sedangkan Jawa Timur tercatat83/100.000 KH. informati perawaatan & pengobatan komplikasi kehamilan serta pencegahan KTD melalui upaya pelayanan KB khsususnya pelayanan KB pasca salin Didalam internal organisasi. Hal ini dipengaruhi oleh :pendidikan.5%. Faktor terlambat merujuk dan terlambat sampai( 2 & 3).000 KH.pada sarana kesehatan 60% Poned yg berfungsi. Meskipun tingkat melek huruf tdk jauh berbeda antara laki laki danprempuan namun kemiskinan dan tingkat pendapatan yang rendah pada wanita ( 170.1%). termasuk pelayanan KB yg memiliki daya ungkit tinggi dalam penurunan AKI (layanan hulu (Promotif – Preventif). Gambaran Umum Angka kematian ibu di Propinsi Jawa Timur tercatat : 90.KH. Sebagai pembanding : SDKI th 2007 .2. Kematian ibu tersebut terjadi karena 3 Faktor penyebab : Faktor terlambat pertolongan yang adekuat (1). issu gender disebabkan oleh : tidak semua stake holder /pengambil keputusan memahami konsep keadilan dan kesetaraan gender. ekonomi.28%)/ponek kit(21. Artinya terjadi peningkatan dan mengingat PUS 4T > 60 %( SDKI 1997) maka menjadi ancaman AKI jika tdk terlindungi dgn kontrasepsi.2%. poned(76. serta kecilnya anggaran kesehatan (obat) yg hanya 2000/kapita/ th ( target : 9000/kapita/th) ini menunjukkan bahwa wanita/laki laki jauh dari akses pelayanan berkualitas. Ponek yang berfungsi 71. sedangkan bidan kit tersedia hanya 45.2%. Hal ini juga di dasari masih adanya budaya patriaki sehingga ini menyebabkan wanita/ibu hamil kurang memanfaat akses pelayanan kesehatan yang ada termasuk biayanya .1%.23%.. Angka kematian Ibu di tingkat nasional tercatat : 227/100. Hai ini berkaiatan dgn jumlah & kompetensi petugas yang rendah ( bidan terlatih APN 63.2%. geografi. Puskesmas : 3. (PUG). Bidan 26. Para pengelola program belum terpapar dalam rencana MPS yang sensitif Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 69 . Angka ini masih dibawah target nasional 118/100.3%. Sungguh ironis meninggal di fasilitas rujukan. Adanya anggapan bahwa Kesehatan reproduksi/KB urusan wanita menyebabkan laki laki kurang mendapatkan informasi mengenai kesehatan reproduksi/KB khususnya bagi si istri/wanita.89%. Rumah ibu : 9.000 KH. KB ( 2%) dari 10. Perjalanan : 4. Kebanyakan AKI terjadi di RS 70.353 bidan dan belum termasuk dokter. Serta penolong terahir Dokter/SpOG : 59. Dukun :14.7/100. budaya dan gender.17 %.

Metode Pelaksanaan Dilaksanakan melalui metode swakelola 70 . Laporan Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses 3. Lemahnya manajerial programer kesehatan di daerah. KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/kota maupun di propinsi.gender. Peran serta masyarat kurang dalam bidang kesehatan karena promosi kesehatan kurang efektif. Dalam pelaksanaan kegiatan Pembinaan pelayanan kesehatan ibu dan Reproduksi. Kecilnya anggaran untuk pelayanan kesehatan. 4. Laporan Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi 2. Strategi Pencapaian Keluargan 1. Tujuan dan Penerima Manfaat : Meningkatkan capaian KB aktif dari 62. Pelayanan Kespro/KB yang memiliki daya ungkit yg tinggi dalam penurunan AKI melalui perencanaan kehamilan yg direncanakan belum optimal ( 62. Kordinasi lintas sektor/program kespro/kb yang belum optimal. Laporan Validasi data kesehatan ibu. Faktor lain : Masyarakat lebih nyaman partus di dukun karena konsep mendapatkan pelayanan lengkap di banding bidan. maka akan disusun laporan pelaksanaan yang terdiri dari : 1. pengadaan sarana dan prasarana kurang dari cukup (baik kualitas maupun kuantitas). . Laporan monitoring pelaksanaan program yan KB/Kespro melalui superfisi fasilitatif (Kespro) 5.05%). Kurangnya kompetensi petugas pelayanan kab/kota . c. Lintas sektor/program.Kurangnya perhatian pemerintah kab/kota dalam pelayanan KB berkualitas. Melalui peningkatan akses pelayanan kesehatan reproduksi/ KB berkualitas termasuk informasi meskipun tidak berdampak langsung/ sedikit kepada laki laki namun memiliki daya akselerasi penurunan AKI jika dilibatkan dan diberi tanggung jawab.5 % menjadi 65 % ( 2011) dengan melibatkan peran dan tanggung jawab laki-laki (proporsi laki laki : 2%) Target sasaran Kegiatan : Dinkes Kab/kota. Laporan Evaluasi pelaksanaan yan kespro/KB di propinsi Satuan: Volume Laporan : 119 b. Lemahnya sistem pencatatan dan pelaporan khususnya tersedianya data terpilah.

. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur..Rapat persiapan/penyiapan materi .Pelaksanaan monitoring ....Pelaksanaan validasi data ...... Rencana Anggaran Biaya : terlampir Penganggung Jawab.........Pembuatan laporan ...Rapat persiapan/penyiapan materi . KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/kota maupun di propinsi....Pembuatan laporan .... NIP ...........Pelaksanaan koordinasi .. ....Rapat persiapan/penyiapan materi .......... Waktu Pencapaian Keluaran : Tahun Anggaran 2011 e.Pelaksanaan evaluasi . Monitoring pelaksanaan program yan Kb/kespro melalui superfisi fasilitatif ( kespro) Evaluasi pelaksanaan yan Kespro/ kb di propinsi Tahapan .. Tahapan dan Waktu Pelaksanaan Pelaksanaan Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses Validasi data kes ibu.Pembuatan laporan ..Rapat persiapan/penyiapan materi ..Pembuatan laporan ..Rapat persiapan/penyiapan materi ....Pembuatan laporan Waktu Pelaksanaan Juli 2011 Maret & September 2011 Juli & November 2011 Januari – Desember 2011 November 2011 d........2.. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 71 ...........Pelaksanaan koordinasi ...

termasuk pelayanan KB yg memiliki daya ungkit tinggi dalam penurunan AKI ( layanan hulu (Promotif – Preventif)) Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan Output Kegiatan 72 . Sungguh ironis meninggal di fasilitas rujukan .2%. Puskesmas : 3. Rumah ibu : 9.1%).1%). Dukun :14. Ponek ( 71. Serta penolong terahir Dokter/SpOG : 59.2%.353 bidan dan belum termasuk dokter. Bidan 26. bidan kit tersedia hanya 45.85%. Desa P4K : 49.7/100.000 KH.9%).23%. Hai ini berkaiatan dgn jumlah & kompetensi petugas yang rendah ( bidan terlatih APN 63. Sebagai pembanding : SDKI th 2007 .2%.. poned(76. Kematian ibu tersebut terjadi karena 3 Faktor penyebab : Faktor terlambat pertolongan yg adekuat (1).000 KH. Artinya terjadi peningkatan dan mengingat PUS 4T > 60 %( SDKI 1997) maka menjadi ancaman AKI jika tdk terlindungi dgn kontrasepsi.10 pusk poned ( 60% yg berfungsi).28%)/ponek kit(21. Kebanyakan AKI terjadi di RS 70. Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi Salah satu Indikator : Meningkatnya Cakupan pasangan usia subur menjadi peserta KB aktif di Provinsi Jawa Timur sebesar 65% di tahun 2011.17 %.5%.89%. Perjalanan : 4. Angka kematian Ibu di tingkat nasional tercatat : 227/100. sedangkan Jawa Timur tercatat83/100. Angka ini masih dibawah target nasional 118/100. Salah satu Outputnya : Laporan untuk kegiatan Pembinaan pelayanan kesehatan ibu dan reproduksi Angka kematian ibu di Propinsi Jawa Timur tercatat : 90.KH. KB ( 2%) dari 10.GENDER BUDGET STATEMENT (Pernyataan Anggaran Gender) Kementerian Negara/Lembaga : Kementerian Kesehatan RI Unit Organisasi : Ditjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Unit Eselon II/Satker : Direktorat Bina Kesehatan Ibu/ Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Program Program Bina Gizi dan Kesehatan ibu dan anak.000 KH.3%. serta kecilnya anggaran kesehatan (obat) yg hanya 2000/kapita/th ( target : 9000/kapita/th) ini menunjukkan bahwa wanita/laki laki kurang mendapatkan akses informasi & pelayanan berkualitas.

Pengadaan sarana dan prasarana kurang dari cukup ( baik kualitas maupun kuantitas) Faktor lain :. budaya dan gender. Hal ini berpengaruh pada anggaran yang responsif gender.Para pengelola program belum terpapar dalam rencana MPS yang sensitif gender. Kurangnya perhatian pemerintah kab/kota dalam pelayanan KB berkualitas.000/bln) menyebabkan wanita lemah wwenangnya dalam memutuskan ( sub ordinat) meskipun berkaitan dgn kesehatannya. Dan ini kurang memberdayakan laki laki ( partisipasi) dalam upaya penurunan AKI melalui pengetahuan tanda bahaya kehamilan. Lemahnya manajerial programer kesehatan di daerah. Kurangnya kompetensi petugas pelayanan kab/kota. ekonomi. Hal ini juga di dasari masih adanya budaya patriaki sehingga ini menyebabkan wanita/ ibu hamil kurang memanfaat akses pelayanan kesehatan yang ada termasuk biayanya ( marginal) Adanya anggapan bahwa Kesehatan reproduksi/ KB urusan wanita menyebabkan laki laki kurang mendapatkan informasi mengenai kesehatan reproduksi/KB khususnya bagi si istri/wanita. Kecilnya anggaran untuk pelayanan kesehatan. (PUG). issu gender disebabkan oleh :Tidak semua stake holder / pengambil keputusan memahami konsep keadilan dan kesetaraan gender. geografi . informati perawaatan & pengobatan komplikasi kehamilan serta pencegahan KTD melalui upaya pelayanan KB khsususnya pelayanan KB pasca salin Didalam interna organisasi. Masyarakat lebih nyaman partus di dukun karena konsep mendapatkan pelayanan lengkap di banding bidan. Lemahnya sistem pencatatan dan pelaporan khususnya tersedianya data terpilah. Meskipun tingkat melek huruf tdk jauh berbeda antara laki laki danprempuan namun kemiskinan dan tingkat pendapatan yang rendah pada wanita ( 170. Kordinasi lintas sektor/program kespro/kb yang belum optimal. Peran serta masyarat kurang dalam bidang kesehatan krn promosi kesehatan kurang efektif Pelayanan Kespro/ KB yang memiliki daya ungkit yg tinggi dalam Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 73 . Hal ini dipengaruhi oleh :pendidikan.Analisis Situasi Faktor terlambat merujuk dan terlambat sampai( 2 & 3).

KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/ kota maupun di propinsi.05%).3 % menjadi 2%) Rapat persiapan/Penyiapan materi Pelaksanaan Koordinasi Pembuatan laporan Laporan Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses Memberikan informasi indikator universal akses kespro dan rencana aksi propinsi dalam pencapaian indikator universal akses kespro bagi kab/kota Rapat persiapan/Penyiapan materi Pelaksanaan koordinasi Pembuatan Laporan Laporan Validasi data kes ibu. Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi 2.penurunan aki melalui perencanaan kehamilan yg direncanakan belum optimal ( 62. Evaluasi pelaksanaan yan kespro/KB di propinsi Sub output 1 Laporan Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi Memberikan informasi mengenai intervensi dalam mencapai Kb aktif 65 % dgn ( proporsi pria naik dari 1. terpilah. Monitoring pelaksanaan program yan KB/ Kespro melalui superfisi fasilitatif (Kespro) 5. Dalam Output Kegiatan Pembinaan pelayanan kesehatan ibu dan Reproduksi. Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses 3. KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/kota maupun di propinsi. Validasi data kesehatan ibu. Memberikan informasi perihal data yang valid. Melalui Peningkatan akses pelayanan kesehatan reproduksi/KB berkualitas termasuk informasi meskipun tdk berdampak langsung/sedikit kepada laki laki namun memiliki daya akselerasi penurunan AKI jika dilibatkan dan diberi tanggung jawab. tepat waktu dan memberikan masukan dalam pembuatan keputusan Rapat persiapan/Penyiapan materi Pelaksanaan validasi Pembuatan Laporan Tujuan/manfaat Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 Sub output 2 Rincian Kegiatan Tujuan/manfaat Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 Sub output 3 Tujuan/manfaat Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 74 . 4. terdiri dari laporan untuk : 1.

000.Sub output 4 Laporan monitoring pelaksanaan program yan Kb/kespro melalui superfisi fasilitatif ( kespro) Memberikan informasi perkembangan pelayanan KB/kespro dan adanya bimbingan tehnis intervensi berbagai permasalahan pelayanan Kespro/Kb di lapangan 38 kab/kota selama th 2011 Rapat persiapan/Persiapan materi Pelaksanaan monitoring Pembuatan laporan Laporan Evaluasi pelaksanaan yan kespro/KB di propinsi) Memberikan informasi teridentifikasinya permasalahan .Meningkatkan capaian KB aktif dari 62. faktor faktor penyebab dan adanya rekomendasi intervensi yg bermanfaat bagi laki laki dan perempuan dalam pencapaian cakupan KB aktif sesuai target selama th 2011 Rapat persiapan/Persiapan materi Pelaksanaan evaluasi Pembuatan laporan Rp.494.090. Tujuan/manfaat Komponen 1 Komponen 2 Rincian Kegiatan Komponen 3 Sub output 5 Tujuan/manfaat Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 Anggaran Output kegiatan dalam Penurunan AKI dampak/hasil yang diharapkan secara luas Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 75 . 1.5 % menjadi 65 % ( 2011) dengan proporsi pria naik dari 1.3 % menjadi 2 %.

.

DAFTAR SINGKATAN ABJ AKMP ARG ASEAN BPS BPFA CEDAW COMBi DAK DBD DSS DIPA DJA KemKes FGD GAP GBS Inpres KPP-PA KPJM MDGs PP PPRG Perpres Permendagri PMK/Permenkeu Angka Bebas Jentik Akses. Kontrol. dan Partisipasi Anggaran Responsif Gender Assosiation of South East Asia Nations Badan Pusat Statistik Beijing Platform for Action Convention for the Elimination of all Forms of Discriminations Against Women Community Behaviour Improvement Dana Alokasi Khusus Demam Berdarah Dangue Dangue Shock Syndrome Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Direktorat Jendral Anggaran Kementerian Kesehatan Focus Group Discussion Gender Analisis Pathway Gender Budget Statement Instruksi Presiden Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah Millennium Development Goals Peraturan Pemerintah Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Peraturan Presiden Peraturan Menteri Dalam Negeri Peraturan Menteri Keuangan Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 77 . Manfaat.

Relevant. Achievable.PUG RAB Renstra Renja RPJP RPKP-K RPJM RKP Renstra Renja KL RKA KL RAPBN SDKI SKRT SOP SMART Satker SEB Tupoksi TOR UNFPA WHO Pengarusutamaan gender Rencana Anggaran Biaya Rencana Strategis Rencana Kerja Rencana Pembangunan Jangka Panjang Rencana Pembangunan Jangka Panjang bidang Kesehatan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Rencana Kerja Pemerintah Rencana Strategis Rencana Kerja Kementerian Lembaga Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Survey Kesehatan Rumah Tangga Standard Operational Procedure Spesific. and Timely Bound Satuan Kerja Surat Edaran Bersama Tugas Pokok dan Fungsi Term of Reference United Nation Fund for Population Activities World Health Organization 78 . Measurable.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. angka-angka. sosial. agama dan lain sebagainya. penentuan Rincian Kegiatan. dan tanggungjawab antara perempuan dan laki-laki yang merupakan hasil konstruksi sosial budaya dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman dan dukungan masyarakat itu sendiri. Anggaran adalah estimasi belanja dan penerimaan yang diusulkan. Indikator adalah kriteria atau ukuran yang mampu melihat perubahan dari obyek yang dinilai. yang selanjutnya disebut APBN. Analisis gender adalah proses menganalisis data dan informasi secara sistematis tentang lakilaki dan perempuan untuk mengidentifikasi dan mengungkapkan kedudukan.DAFTAR ISTILAH Akses adalah peluang atau kesempatan yang diberikan untuk memanfaatkan sumber daya (baik sumber daya alam. Efektif adalah tingkat kesesuaian antara hal yang direncanakan pelaksanaan. Gender adalah pandangan masyarakat tentang perbedaan peran. adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan Negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). sampai monitoring dan evaluasi. ras. analisis situasi. Analisis gender dilakukan secara sekuensial mulai dari tahap identifikasi tujuan. serta faktor-faktor yang mempengaruhi. GBS adalah dokumen yang berisi pernyataan bahwa sebuah program dan kegiatan telah responsif gender. pendapat atau persepsipersepsi. dengan hasil Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 79 . Diskriminasi adalah memperlakukan seseorang atau kelompok orang secara berbeda karena jenis kelamin. fungsi. peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan. Bias gender adalah pandangan yang didasarkan pada pembagian peran sosial tradisional laki-laki dan perempuan. ekonommi. maupun waktu). fungsi. Efisien adalah memperoleh hasil yang diharapkan dengan pengorbanan sekecil-kecilnya GAP adalah alat analisis gender dengan pendekatan analisis pada siklus perencanaan. politik. umur. Indikator dapat berupa pointer-pointer. yang mencerminkan kebijakan prioritas dan target fiskal dalam satu periode tertentu.

dana atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. Contoh : Suami siaga dalam program Perencanaan Persalinan dan Penanganan Komplikasi (P4K). Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa satuan kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personil (sumber daya manusia). dan anggaran. Indikator kinerja responsif gender adalah perubahan kinerja pengurangan kesenjangan atau peningkatan kondisi laki-laki dan perempuan setelah dilakukan suatu intervensi baik berupa program atau pun kegiatan. Kesenjangan gender adalah suatu kondisi dimana tidak ada kesetaraan relasi antara lakilaki dan perempuan. 80 . Kementerian Negara adalah organisasi dalam Pemerintahan Republik Indonesia yang dipimpin oleh menteri untuk melaksanakan tugas pemerintahan dalam bidang tertentu. SDM. Kebutuhan Praktis Gender adalah kebutuhan yang bersifat segera dan didasarkan pada kondisi nyata perempuan dan laki-laki tanpa mempersoalkan ada atau tidaknya faktor-faktor ketidakadilan yang mungkin ada antara keduanya. dan pemenuhannya dimaksudkan untuk mengubah ketidakadilan yang mungkin ada dalam konteks relasi lakilaki dan perempuan. Kebutuhan Strategis Gender adalah kebutuhan yang didasarkan pada analisis tentang ketidakadilan gender dan faktor-faktor yang menyebabkannya.Indikator gender adalah kriteria atau ukuran untuk mengukur perubahan relasi gender dalam masyarakat sepanjang waktu. Indikator Kinerja Kegiatan adalah bukti pencapaian suatu kinerja yang bisa diukur sebagai dampak dari suatu kegiatan. aroma repellent nyamuk dibuat sesuai aroma maskulin untuk meningkatkan pengguna repellent pada konsumen laki-laki di daerah endemis. Input dalam panduan ini diartikan sebagai tolak ukur/ bahan dasar dalam penganggaran. dan lain-lain. Contoh : bantuan dana transportasi untuk wanita hamil risiko tinggi ke sarana pelayanan kesehatan. yang terdiri atas regulasi. Komponen input adalah jenis Rincian Kegiatan yang dilakukan untuk mencapai indikator kinerja sub-output Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan. detiksi dini kanker prostat pada laki-laki. Jenis kelamin adalah perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki terutama pada bagian-bagian organ reproduksi. barang modal termasuk peralatan dan tekhnologi. dan lain-lain. keterwakilan wanita sebanyak 30 % dalam kepengurusan kelompok pemakai air bersih di pedesaan. Data.

fungsi dan tanggungjawab antara perempuan dan laki-laki Outcome. adalah target sasaran dari program/kegiatan yang memperoleh manfaat Pengarusutamaan gender (PUG) adalah strategi untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender melalui kebijakan dan program yang memperhatikan pengalaman.Kesetaraan dan keadilan gender adalah suatu kondisi yang adil dan setara dalam hubungan kerjasama antara perempuan dan laki-laki. pengakuan. Kontrol adalah kekuasaan untuk memutuskan bagaimana menggunakan sumber daya dan siapa yang memiliki akses terhadap sumber daya tersebut. pelaksanaan. Lembaga adalah organisasi non-kementrian Negara dan instansi lain pengguna anggaran yang dibentuk untuk melaksankan tugas tertentu berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 atau peraturan perundang-undangan lainnya. adalah dokumen perencanaan Kementrian Negara/Lembaga untuk periode 1 (satu) tahun. pemantauan. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Netral gender adalah suatu kondisi dimana pengambilan keputusan dilakukan tanpa didasari atas pemahaman. Partisipasi adalah pelibatan atau keterwakilan dalam proses dari suatu kegiatan Penerima manfaat. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 81 . yang selanjutnya disebut Renja KL. adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan suatu Kementerian Negara/Lembaga yang merupakan penjabaran dari Rencana Kerja Pemerintah dan Rencana Startegis Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan dalam satu tahun anggaran serta anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya. adalah dokumen perencanaan nasional untuk periode 5 (lima) tahun. yang selanjutnya disebut RPJM Nasional. dimaknai sebagai keluaran dari proses pelaksanaan anggaran. Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga. Rencana Kerja Pemerintah yang selanjutnya disebut RKP adalah dokumen perencanaan nasional untuk periode 1 (satu) tahun. aspirasi. dan pertimbangan akan adanya perbedaan peran. dan evaluasi dari seluruh kebijakan dan program di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan. Program adalah bentuk instrument kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga atau masyarakat yang dikordinasikan oleh instansi pemerintah untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran. Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga. merupakan tolak ukur keberhasilan pelaksanaan anggaran Output. yang selanjutnya disebut RKA KL. kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki ke dalam perencanaan.

Rincian Kegiatan adalah daftar langkah-langkah yang harus dilaksanakan untuk mencapai sub-tujuan yang responsif gender. dan biaya yang diperlukan.Rencana Strategis Kementerian Negara/Lembaga. yang selanjutnya disebut Renstra-KL. TOR memuat latar belakang. strategi pencapaian. Sub-output adalah jenis barang atau jasa yang menjadi bagian tak terpisahkan dari output TOR adalah dokumen yang menginformasikan gambaran umum dan penjelasan mengenai indikator kinerja kegiatan yang akan dicapai sesuai dengan tugas dan fungsi kementerian negara/lembaga. 82 . penerima manfaat. Responsif gender adalah keadaan memberikan perhatian yang konsisten dan sistematis terhadap perbedaan-perbedaan antara perempuan dan laki-laki dalam masyarakat yang diwujudkan dalam sikap dan aksi untuk mengatasi ketidakadilan yang terjadi karena perbedaan-perbedaan tersebut. adalah dokumen perencanaan Kementerian Negara/Lembaga untuk periode 5 (lima) tahun.

Johannesburg. Quinn. (2009). PAHO-WHO (2005). Tunisia WHO (2002). UNFPA (1998). Geneva WHO (2010). Liverpool School of Tropical Medicine (1995). Health and Development: Facilitator Guide. Report of the Expert Group Meeting. H. Gender in Health. Workshop on Gender. Mainstreaming Gender In Health: A Manual For Health Research And Programme Managers. Supiandi. Indonesia Country Gender Assessment. Gender Analysis Pathway. Manila. Departemen Kesehatan. Jakarta. Washington DC. National Human Development Report. Gender Analysis in Health : A Review of Selected Tools. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010 – 2014. Yusuf. PAHO-WHO (1997).DAFTAR PUSTAKA ADB (2006). School of Public Health University of The Witwatersrand Johannesburg (2003). Liverpool. Gender an Rights in Reproductive an Maternal Health : Manual for A Learning Workshop held in Kuala Lumpur. (2008). S. UN. Guidelines of Analysis of Gender and Health. Kementerian PP (2008). Dr. Jakarta UNDP (2008). Bappenas dan WSP II–CIDA (2007). Jakarta. Geneva Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 83 . Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan. UNFPA (2010). Gender and Health Group. Bunga Rampai Pengarusutamaan Gender. Strasbourg Cedex. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Gender Equality. Jakarta. Work and Health : A Review of the Evidence. Geneva WHO (2006). Gender Budgeting : Practical Implementation Handbook. WHO. Women and Health: Mainstreaming the Gender Perspective into the Health Sector.

Msi. MA. dr. dr.Sos. Dra. MPH. Arifin. dr. dr. Niken Kiswandari. Nurkinteki. MS.Kontributor Ir. Teti Tejayanti. MM. Amroussy Marsis. Titik Handayani. dr. Fahrina. MKM. Puti Wulan Sari. SKM. Ace Yati Hayati. S. H. MKM. Tinexcelly MS. Endang Sri Wardani. Wahyuni Khaulah. dr. MKes. S. SKM. MRDM. SKM. MPH. Cicilia Windianingsih. dr. Aragar Putri. dr. Titien Supriharin.Kom. MPH. Triningtyasasih.Kes. dr Milwiyandia.. Dra. MH. Saiful Hidayat. Ismawaningsih. MARS. DR. SH. dr. M. dr. Victorino. Siti Maemunah. Rusmiyati.. Nardho Gunawan. 84 . Siti Mursifah. MARS. Christine Manurung. T. drg. Muhammad Yusuf. dr. Doni Arianto. dr. Theresia Hermin. drg. DR. Rabitta Cherysse. dr. MQHI. dr.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful