P. 1
Pedoman Perencanaan Dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 20101

Pedoman Perencanaan Dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 20101

|Views: 401|Likes:
Dipublikasikan oleh Udi Panata

More info:

Published by: Udi Panata on Jan 25, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/26/2014

pdf

text

original

Rp. +/-%+=@!*

Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan

A

..Kes. dr.UNFPA TIM PENYUSUN : Kemenkes : dr. Laode Musafin. MM. . UNFPA : dr.Kes.. Lany Harijanti. MHA. MA. ISBN xxxxxxxxxx Desain dan layout INTERAXI. SKM. Gita Maya.. dr. Drs. M. Msi. MA.. Untung Suseno Sutarjo. Lieska Prasetya.KERJASAMA: KEMENTERIAN KESEHATAN RI – KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK . Endang Moerniati. MSI. Darsono. KPP-PA : Dra. M. Andi Saguni. Anis Hamim. Dra.

Buku Panduan ini merupakan up-dating dari Buku Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender yang pernah diterbitkan pada tahun 2008.SEPATAH KATA Kepala Biro Perencanaan dan Anggaran Perencanaan dan penganggaran responsif gender merupakan salah satu komponen dari Pengarusutamaan Gender (PUG). dan sebagai komitmen kami dalam mendukung pelaksanaan PUG Bidang Kesehatan maka telah disusun Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan dengan melibatkan banyak pihak. Oleh karenanya jangan diartikan sebagai rencana dan anggaran khusus untuk perempuan yang terpisah dari laki-laki. workshop dan simulasi. tetapi memastikan bagaimana agar perspektif gender dapat diintegrasikan dalam setiap tahapan perencanaan dan penganggaran. tidak hanya dari unit-unit di intern Kementerian Kesehatan tapi juga dengan melibatkan Kementerian PP&PA. ‘pemerhati gender’ dan pihak-pihak lainnya. partisipasi. namun kami berharap buku ini juga dapat digunakan sebagai referensi bagi banyak pihak seperti pihak universitas. Simulasi penerapan disamping dilakukan pada unit yang berada di intern Kementerian Kesehatan juga dilakukan pada Dinas Kesehatan Provinsi. Perencanaan dan penganggaran responsif gender bidang kesehatan bukanlah sebuah proses yang terpisah dari sistem yang sudah ada. FGD. pemerintah daerah. UNFPA dan pihak-pihak lainnya. Walaupun buku Panduan ini lebih difokuskan untuk penyusunan Anggaran Responsif Gender (ARG) bersumber APBN Kementerian Kesehatan termasuk dari Dana Dekonsentrasi. kontrol dan manfaat pembangunan kesehatan bagi laki-laki dan perempuan sehingga diharapkan kesenjangan gender dapat dihilangkan atau setidaknya dapat dikurangi. Perencanaan dan penganggaran responsif gender bidang kesehatan ini merupakan instrumen untuk mengatasi adanya perbedaan akses. sehingga bukan berarti melakukan dua kali perencanaan. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan i . Bahan tulisan untuk panduan ini berasal dari orientasi termasuk studi literatur internasional serta asesmen dan masukan dari banyak pihak melalui wawancara.

Jakarta. Untung Suseno Sutarjo. dr.Saya yakin buku ini masih belum sepenuhnya sempurna.Kes ii . M. November 2010 KEPALA BIRO PERENCANAAN DAN ANGGARAN SETJEN KEMENTERIAN KESEHATAN RI. oleh karena itu saran dan masukan bersifat konstruktif tetap kami harapkan untuk perbaikan dan penyempurnaannya ke depan.

Salah satu prinsip utama dalam perencanaan dan penganggaran responsif gender adalah analisis gender terhadap setiap kebijakan. tetapi berupaya mengintegrasikan perspektif gender dalam setiap proses perencanaan dan penganggaran. PUG Bidang Kesehatan (PUG-BK) selanjutnya dipertegas melalui Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan. Dukungan kebijakan PUG juga dinyatakan dalam RPJPN Tahun 2005-2025. dan menjadi arah kebijakan pembangunan kesehatan lima tahun kedepan. yang menjadikan isu gender menjadi bagian integral pembangunan kesehatan. program. dan kegiatan di Kementerian Kesehatan. Sebagai tindak lanjut atas kebijakan tersebut. dan ditindaklanjuti dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 878 Tahun 2006 tentang Tim Pengarusutamaan Gender Bidang Kesehatan. dan pelaksanaan program dan kegiatan di lingkungan Kementerian Kesehatan. serta RPJP Kesehatan Tahun 2005-2025. Pengintegrasian perspektif gender menjadikan perencanaan menjadi lebih tepat sasaran dan efektif. dan kebutuhan Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan iii . karena didahului oleh analisis determinan sosial dari perspektif gender. Hal tersebut tidak berarti bahwa perencana kesehatan harus melakukan dua kali proses perencanaan dan penganggaran. ditempuh berbagai strategi kebijakan perencanaan dan penganggaran kesehatan. Pada tahap ini dilakukan pemetaan antara peran. Pelaksanaan PUG bidang kesehatan telah diamanahkan sejak tahun 2000 melalui Inpres Nomor 9 tahun 2000 tentang PUG dalam Pembangunan Nasional. sejak tahun 2008 telah disusun pedoman perencanaan dan penganggaran responsif gender.KATA PENGANTAR Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI Renstra Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014 telah ditetapkan. kondisi. RPJMN Tahun 2010-2014. Untuk mencapai target kinerja yang ditetapkan dalam Renstra tersebut. Namun seiring dengan dinamika perubahan kebijakan perencanaan dan penganggaran. yang selanjutnya diintegrasikan dalam penyusunan RKA-KL. antara lain melalui pengarusutamaan gender (PUG) dalam setiap penyusunan kebijakan. panduan tersebut direvisi menjadi Buku Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) Bidang Kesehatan yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1459/Menkes/SK/X/2010.

status sosial ekonomi serta gender. Ratna Rosita. Melalui Visi Kementerian Kesehatan “Masyarakat Sehat Yang Mandiri Dan Berkeadilan”. dr. Amin Ya Rabbal Alamin. sehingga setiap unit utama diharapkan mampu menyusun Anggaran Responsif Gender yang selanjutnya digunakan sebagai salah satu dokumen dalam penelaahaan RKA-KL di Kementerian Keuangan. Buku ini merupakan kerja sama antara Kementerian Kesehatan dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Kementerian Kesehatan kembali dipercaya menjadi K/L pilot project pelaksanaan Anggaran Responsif Gender (ARG) melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 104/2010. Buku Panduan ini merupakan panduan teknis.Nomor 07/MEN. Untuk itu kepada semua pihak yang telah berpartisipasi baik langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan buku panduan ini. secara bertahap melakukan proses perencanaan dan penganggaran yang responsif gender. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kita semua dalam menyelenggarakan pembangunan kesehatan di Indonesia yang kita cintai.PP&PA/5/2010 tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Bidang Kesehatan. Merupakan sebuah kebanggaan. sehingga pada akhir tahun 2014 semua program dan kegiatan pembangunan kesehatan telah responsif gender.kesehatan perempuan dan laki-laki. Jakarta. November 2010 SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN KESEHATAN RI. kita telah berkomitmen mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya. Pada akhirnya akan bermuara pada pencapaian target indikator kinerja kegiatan sebagaimana ditetapkan dalam dokumen perencanaan. MPHM iv . sehingga diperoleh solusi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan kesehatan yang berbeda antara perempuan dan laki-laki. Melalui kesempatan ini saya mengajak kepada semua unit utama di Kementerian Kesehatan. dengan menurunkan disparitas status kesehatan antar wilayah. Komitmen tersebut diperkuat lagi dengan Kesepakatan Bersama antara Menteri Kesehatan dan Menteri Negaran Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 593/MENKES/SKB/ V/2010 . kami mengucapkan terima kasih.

Untuk itu. dan terintegrasi dalam siklus perencanaan dan penganggaran. kami berharap bahwa kita semua mempunyai kesamaan pandangan dan komitmen bahwasanya Pengarusutamaan gender (PUG) Bidang Kesehatan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. partisipasi. serta peran dan relasi gender yang masih cenderung menempatkan perempuan “dibawah” laki-laki. Masih banyak kebijakan. sektor kesehatan bertanggung jawab dalam meningkatkan kualitas SDM dan indikator untuk menilainya bukan hanya dengan melihat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tetapi juga dengan Indeks Pembangunan Gender (IPG) bahkan dengan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG). program dan kegiatan kesehatan yang masih bias atau netral gender. sehingga situasi tersebut menyebabkan implikasi yang berbeda pula dalam hal akses. tetapi lebih dari itu menumbuhkan kesadaran bahwasanya PUG merupakan pendekatan yang efisien dan efektif untuk mencapai target kinerja output dan outcome pembangunan kesehatan. jangka menengah. Faktanya. dan kontrol terhadap upaya kesehatan. maupun jangka pendek atau tahunan. Dukungan kebijakan tersebut secara jelas diuraikan dalam Bab I. pelaksanaan. Pendahuluan. Buku Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) ini. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan v . dan evaluasi pembangunan kesehatan. perempuan dan laki-laki mempunyai kebutuhan kesehatan dan interes yang berbeda. monitoring. yang menjadi acuan dalam penyusunan dokumen perencanaan Kemkes. Evidence based dari studi-studi gender dan kesehatan menyatakan bahwa salah satu penyebab utama dan akar masalah dari rendahnya status kesehatan masyarakat dan permasalahan kesehatan adalah belum responsifnya kebijakan. program dan kegiatan. Jika kita menelaah kembali dokumen perencanaan pemerintah. semuanya telah menyatakan bahwa gender merupakan mainstream dalam penyusunan kebijakan. karena masih cenderung mengasumsikan bahwa kebutuhan kesehatan (health needs) antara perempuan dan laki-laki adalah sama. Perlu kita pahami bersama pula bahwa dalam mencapai tujuan pembangunan nasional.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN RI Relevansi gender dengan bidang kesehatan. bukan hanya karena dorongan aturan/kebijakan yang pro gender. baik dokumen perencanaan jangka panjang. manfaat. sangat erat kaitannya. program dan kegiatan kesehatan terhadap isu gender.

Selama ini. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan karuniaNya kepada kita semua. tetapi hanya memastikan bagaimana agar perspektif gender dapat diintegrasikan dalam setiap tahapan perencanaan dan penganggaran. Hal tersebut telah menunjukkan komitmen Kemkes dalam rangka mengembangkan team work yang terpadu dalam melaksanakan PUG bidang kesehatan di Kementerian Kesehatan. Endang Rahayu Sedyaningsih. PPRG merupakan bagian integral dari PUG Bidang Kesehatan. Amin Ya Rabbal Alamin. November 2010 MENTERI KESEHATAN. Dr. program dan kegiatan yang rerponsif gender. sesungguhnya perencanaan dan penganggaran rensponsif gender bukanlah berarti melakukan dua kali perencanaan. dan pada akhirnya mendukung tercapainya target indikator kinerja kegiatan yang telah ditetapkan. sebuah perencanaan dan penganggaran responsif gender akan mendiagnosa dan memberikan jawaban yang lebih tepat kebutuhan program dan anggaran kesehatan bagi perempuan dan laki-laki. Karena itulah. Oleh karenanya.PH vi . kami mengucapkan terima kasih atas kerja sama yang ditunjukkan oleh tim tersebut atas kerja kerasnya sehingga Buku Panduan PPRG ini dapat tersusun. Jakarta. dan secara kesisteman maka PPRG merupakan bagian sistem perencanaan dan penganggaran yang telah berjalan selama ini. masih ada anggapan bahwa melakukan analisis gender berarti menambah beban pekerjaan. Namun. melalui kesempatan ini juga. Lebih dari itu. MPH.Secara struktur. dr. Biro Perencanaan dan Anggaran telah mengkoordinir penyusunan Buku Panduan PPRG ini yang tidak hanya melibatkan lintas program dan unit yang ada di lingkungan Kemkes tapi juga melibatkan Kementerian Negara PP&PA serta UNFPA dan juga mendapatkan masukan-masukan dari daerah. kami berharap bahwa buku panduan ini dapat menjadi materi yang dapat dipakai oleh banyak pihak dalam upaya mengembangkan dan melaksanakan kebijakan.

program dan kegiatan masing-masing. Inpres tersebut mengamanahkan bagi semua Kementerian dan Lembaga Pemerintah untuk mengintegrasikan perspektif gender pada saat menyusun kebijakan. sehingga perempuan dan laki-laki mendapatkan akses dan manfaat yang adil dan setara di dalam bidang Kesehatan. program dan kegiatan di bidang kesehatan dengan pendekatan anggaran responsif gender sesuai dengan PMK Nomor 104 Tahun 2010 di atas. antara lain yang dilaksanakan melalui penerbitan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 119 Tahun 2009 yang diperbaharui dengan PMK Nomor 104 Tahun 2010 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL Tahun Anggaran 2011 yang menetapkan Kementerian Kesehatan sebagai salah satu uji coba penerapan anggaran yang responsif gender.MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN PENGANTAR PADA PANDUAN PERENCANAAN DAN PENGGANGGARAN RESPONSIF GENDER BIDANG KESEHATAN Saya menyambut balk diterbitkannya Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan. Panduan ini bertujuan untuk memberikan informasi dan langkah¬langkah di dalam menyusun kebijakan. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan vii . Panduan ini akan memberikan umbangan ang ukup ignifikan alam engimplementasikan s y c s d m Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional. termasuk Kementerian Kesehatan.

Akhirnya. S. kami berharap Panduan ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh semua pihak yang terkait.Tersusunnya panduan ini atas kerjasama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Kementerian Kesehatan. September 2010 Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Linda Amalia Sari Gumelar.IP viii . yang difasilitasi oleh UNFPA. kami sampaikan penghargaan yang tinggi kepada Tim Penyusun dan pihak-pihak yang telah berkontribusi. Jakarta. Untuk itu.

DAFTAR ISI Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan ix .

x .

menunjuk Kementerian Kesehatan menjadi pilot project pelaksanaan Anggaran Responsif Gender dalam penyusunan RKA-KL TA. c bahwa Kesepakatan Bersama Antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Menteri Kesehatan tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Bidang Kesehatan No. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 47. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4421). bahwa sebagai tindak lanjut sebagaimana dimaksudkan pada huruf a. Bahwa untuk melaksanakan Inpres Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG). b. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4286). perlu ditindaklanjuti. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan xi .MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 1459/MENKES/SK/X/2010 TENTANG PANDUAN PERENCANAAN DAN ANGGARAN RESPONSIF GENDER BIDANG KESEHATAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Menimbang a. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 104. 593/MENKES/SKB/V/2010. Kementerian Kesehatan berkewajiban melakukan PUG dalam kebijakan. Mengingat 1. dan c telah disusun Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan.PP&PA/5/2010 – No. b. 07/MEN. 2. bahwa sesuai dengan PMK Nomor 104 tahun 2010. d. program dan kegiatan pembangunan kesehatan. 2011.

01/60/I/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan RI Tahun 2010 – 2014. Inpres Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010. Tugas.02/2010 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL Tahun Anggaran 2011. Ketiga : Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua digunakan sebagai acuan bagi Kementerian Kesehatan xii . 07/MEN. 5. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 144. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014. 9. 593/MENKES/SKB/V/2010 tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Bidang Kesehatan. MEMUTUSKAN: Menetapkan Kesatu : Keputusan Menteri Kesehatan tentang Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan. Kedua : Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan. Inpres Nomor 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan. 11. Fungsi. 10. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK. Susunan Organisasi. Kesepakatan Bersama Antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Menteri Kesehatan No. 6. sebagaimana terlampir dalam Keputusan ini. 7.03. dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Kedudukan. 4. 13. 375/ MENKES/SK/V/2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. Inpres Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional . 8.3. Peraturan Menteri Keuangan No 104/PMK. 12. 14. Tambahan lembaran Negara Nomor 5063). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 878 Tahun 2006 tentang Tim Pengarusutamaan Gender Bidang Kesehatan (PUG-BK).PP&PA/5/2010 – No.

DR. Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih.dalam penyusunan perencanaan dan penganggaran program pembangunan kesehatan yang responsif gender. MPH. Keempat : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 4 Oktober 2010 Menteri Kesehatan.PH Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan xiii .

xiv BAB I Pendahuluan .

Indeks Pembangunan Gender (IPG) atau Gender-related Development Index (GDI) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) atau Gender Empowerment Measurement (GEM). Isu SDM sebagai prioritas pembangunan nasional merupakan amanah Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025. Terdapat tiga indikator kualitas SDM yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI). yang kemudian secara bertahap dijabarkan dalam perencanaan pembangunan lima tahunan dan perencanaan tahunan.623 pada tahun 2008 (UNDP.597 pada tahun 2004 menjadi 0. Demikian pula dengan Indeks Pemberdayaan Gender. meskipun IPG Indonesia mengalami peningkatan dari 0. 2008). IPG Indonesia pada tahun 2008 menduduki peringkat ke-94 dari 177 negara.664 pada tahun 2008. Perbaikan IPM Indonesia belum diikuti oleh perbaikan IPG. Latar Belakang Salah satu tujuan pembangunan nasional adalah meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (SDM) Indonesia sehingga mempunyai kemampuan daya saing secara global.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN Nomor : 1459/MENKES/SK/X/2010 Tanggal : 4 Oktober 2010 bab BAB I PENDAHULUAN A. yaitu dari 0. Indonesia berada pada peringkat ke-6 setelah Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 1 .687 pada tahun 2004 menjadi 0. belum mengalami peningkatan yang berarti yaitu 0. IPM atau HDI Indonesia telah mengalami peningkatan. namun nilainya masih lebih rendah jika dibandingkan dengan nilai IPM pada tahun yang sama.639 pada tahun 2004 menjadi 0.719 pada tahun 2008. dan di antara 10 negara-negara ASEAN.

Hal ini mengindikasikan bahwa upaya peningkatan kesetaraan gender di bidang sosial. Inpres ini mewajibkan pemerintah pusat dan daerah melakukan pengarusutamaan gender ke dalam seluruh proses pembangunan. khususnya pasal 2 yang berbunyi “Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan berasaskan perikemanusiaan.PP&PA/5/2010 – No. dan Filipina. melalui penyehatan lingkungan. Peningkatan IDG masih relatif kecil setiap tahunnya. pemantauan dan evalusi pembangunan. tujuan 4 (Menurunkan Kematian Anak). Pembangunan kesehatan sebagai salah satu penentu kualitas SDM telah mengadopsi PUG. dengan memperhatikan amanah Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025. isu kesenjangan gender telah menjadi salah satu komitmen utama pemerintah. yang bersifat cross cutting dalam mencapai 7 tujuan lainnya dari 8 tujuan MDGs. melalui peningkatan status gizi balita. Sejak tahun 2000. 36 tahun 2009 tentang kesehatan. 9 tahun 2000 tersebut di atas. PUG di Kementerian Kesehatan juga diperkuat dengan Kesepakatan Bersama Antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Menteri Kesehatan No. pemerintah telah berkomitmen menjadikan isu gender sebagai mainstream (arusutama) pembangunan. dan politik belum berhasil secara signifikan. Rencana Pembangunan Jangka Panjang bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025 dan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010–2014 sebagai pedoman dalam penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Tahun 20102014. Terdapat 5 tujuan MDGs yang berhubungan dengan bidang kesehatan. Thailand. selain itu dalam sistem Kesehatan Nasional (SKN) 2009.Singapura. mulai dari tahap perencanaan. Program dan kegiatan kesehatan yang berhubungan dengan pencapaian target 2 BAB I Pendahuluan . tujuan 5 (Peningkatan Kesehatan Ibu). tujuan 6 (Mengendalikan HIV/ AIDS. serta tujuan 7 (Menjamin Kelestarian Lingkungan Hidup). pelaksanaan. Kementerian Kesehatan telah menjadikan isu gender sebagai mainstream dalam pembangunan kesehatan. 07/MEN. isu kesehatan dan gender juga telah menjadi komitmen global yang dinyatakan dalam MDGs. Sedangkan IDG Indonesia menduduki peringkat ke-107 dari 177 negara. pelindungan. ekonomi. Sedangkan isu gender tercantum pada tujuan 3 MDGs (Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan). manfaat. 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam Pembangunan Nasional. Sejalan dengan peraturanperaturan tersebut di atas. Komitmen pemerintah melalui Inpres No. Sementara itu. 593/MENKES/SKB/V/2010 tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Bidang Kesehatan. Malaysia. dipertegas kembali melalui UU No. Melalui Instruksi Presiden (Inpres) No. penghormatan terhadap hak dan kewajiban. yaitu tujuan 1 (Memberantas Kemiskinan dan Kelaparan). keseimbangan. Brunei Darussalam. Malaria dan penyakit menular lainnya). Responsif Gender menjadi salah satu dasar penyelenggaraan SKN. gender dan nondiskriminatif dan normanorma agama”. keadilan.

dan pencapaian tujuan MDGs. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 3 . Uraian di atas memberikan pemahaman bahwa kebijakan PUG bidang kesehatan telah mendapatkan dukungan kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang sangat kuat. yang kembali menetapkan 7 (tujuh) K/L pilot tahun anggaran 2011 (Kementerian Pertanian. Dalam penelaahan RKA-KL kedua dokumen ARG tersebut merupakan bagian integral dari dokumen pendukung penelaahan RKA-KL yang menjadi syarat penelaahan RKA-KL oleh Direktorat Jenderal Anggaran. keadilan untuk semua. Departemen Kesehatan. Kementerian Permberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Sosial. 2. dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas) ditambah K/L yang menangani Bidang Perekonomian dan Bidang Polsoskum (Politik.MDGs selanjutnya diperkuat dengan Inpres No. Kementerian Pendidikan Nasional. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas. Memampukan para perencana untuk mengintegrasikan perspektif gender dalam setiap tahapan perencanaan dan penganggaran bidang kesehatan. 119 tahun 2009 yang menetapkan Kementerian Kesehatan sebagai salah satu ujicoba penerapan ARG dari 7 Kementerian/Lembaga (K/L) yaitu Departemen Pendidikan Nasional. yaitu TOR responsif gender dan Gender Budget Statement (GBS). Tujuan Penyusunan Panduan 1. B. Kementerian Keuangan. 1 tahun 2010 tentang percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan nasional tahun 2010 dan Inpres No. Kedua PMK dimaksud telah mengintegrasikan ARG dalam penyusunan RKA-KL. Departemen Pekerjaan Umum. dan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan. maka Kementerian Kesehatan perlu menyusun panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender yang menjadi acuan bagi para perencana kesehatan dalam penyusunan ARG. Memberikan panduan bagi para perencana dalam menyusun Anggaran Responsif Gender (ARG) di bidang kesehatan. Terdapat dua bentuk dokumen ARG dalam penyusunan RKA-KL. Perencanaan kesehatan yang responsif gender telah dinyatakan dalam dokumen perencanaan sebagaimana diuraikan tersebut di atas. 3 tahun 2010 tentang program pembangunan yang berkeadilan dengan 3 substansi yaitu pro rakyat. Sedangkan dokumen penganggaran responsif gender bidang kesehatan atau disebut dengan Anggaran Responsif Gender (ARG) diamanahkan melalui PMK No. sehingga perlu ditindaklanjuti dengan kebijakan perencanaan dan penganggaran bidang kesehatan yang responsif gender. Karena ARG telah menjadi bagian integral sistem perencanaan dan penganggaran K/L. Selanjutnya penerapan ARG diperbarui dengan PMK No. Kementerian Pekerjaan Umum. dan Hukum). Kementerian Kesehatan. Departemen Keuangan. 104 tahun 2010. Departemen Pertanian.

1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010. 6. 11. 7. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.C. 374/MENKES/SK/V/2009 tentang Sistem Kesehatan Nasional (TKN). Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.01/60/ I/ 2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan RI Tahun 2010 – 2014. Peraturan Menteri Keuangan No 104/PMK. maka dalam panduan ini juga disampaikan secara singkat tentang konsep gender dan isu gender dalam bidang kesehatan yang dapat dilihat pada BAB II. Teknik penyusunan GBS (Gender Budget Statement) Untuk mempermudah dan membantu para perencana memahami konsep gender dalam penyusunan ARG. 8. Inpres No. 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan. Teknik penyusunan TOR (Term of Reference) responsif gender 3. 10. Kesepakatan Bersama Antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Menteri Kesehatan tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Bidang Kesehatan No. 5. 593/MENKES/SKB/V/2010. Inpres No. 9. 375/MENKES/SK/V/2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. 3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025.02/2010 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL Tahun Anggaran 2011. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK. Ruang Lingkup Panduan 1. 2.PP&PA/5/2010 – No. 07/MEN. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 4 BAB I Pendahuluan .03. D. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.878 Tahun 2006 tentang Tim Pengarusutamaan Gender Bidang Kesehatan (PUG-BK). 9/2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional. Landasan Hukum 1. UU No. Teknik analisis gender bidang kesehatan dengan menggunakan Gender Analysis Pathway (GAP) 2. 12. 4. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010–2014. Inpres No.

prilaku. menghasilkan sperma. khususnya perempuan. Pembedaan peran gender tidak bersifat universal. . diajari Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 5 .Perempuan dapat melahirkan. sedangkan perempuan tidak. menstruasi. kegiatan serta karakteristik sosial lainnya yang dibentuk oleh suatu masyarakat atau budaya tertentu berdasarkan persepsi yang pantas untuk perempuan atau pantas untuk laki-laki. Persepsi gender dipraktikkan melalu perbedaan cara perempuan dan laki-laki dibesarkan.bab BAB II KONSEP GENDER DAN ISU GENDER BIDANG KESEHATAN A. sedangkan laki-laki tidak memilikinya. . . tumbuh kembang dan besar melalui proses sosialisasi di lingkungan keluarga dan masyarakat.Laki-laki mempunyai jakun. menyusui. mempunyai testis. Kerancuan itu bermula dari pemahaman yang keliru tentang ‘gender’ yang sering diartikan sebagai jenis kelamin. laki-laki tidak. tetapi berbeda antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya dan dapat berubah seiring dengan perkembangan zaman. Istilah gender relatif baru masuk dalam khazanah pembangunan. sehingga masih banyak terjadi kerancuan dalam memahaminya apalagi mengaplikasikannya. bahwa gender adalah konsep yang mengacu pada peran dan tanggungjawab perempuan dan laki-laki yang terjadi akibat dari dan dapat berubah oleh konstruksi/ keadaan sosial budaya masyarakat (WHO.Perempuan mempunyai payudara yang berfungsi untuk menyusui. istilah ‘jenis kelamin/ sex’ berbeda dengan gender. Jenis kelamin bersifat kodrati dan universal (berlaku di mana saja) dan tidak bisa dipertukarkan satu sama lain. Singkat kata. termasuk pembangunan kesehatan. Jenis kelamin mengacu pada perbedaan karakteristik biologis dan fisiologis yang membedakan perempuan dan laki-laki. Lingkungan sosial mereproduksi pembedaan peran gender melalui pemisahan kepantasan untuk perempuan dan kepantasan untuk laki-laki.Laki-laki mempunyai tulang yang lebih masif. 2010). Contoh dari sifat jenis kelamin antara lain: . Gender mengacu pada peran. Konsep Gender Gender merujuk pada perbedaan antara perempuan dan laki-laki sejak lahir. padahal.

Pekerjaan merawat dan membesarkan anak serta pekerjaan rumah tangga lainnya merupakan tugas dan tanggung jawab ibu rumah tangga. tidak mempunyai kesempatan yang sama untuk bekerja atau berproduksi. pengalaman. bahkan sebagai salah satu ciri perempuan ’modern’. pimpinan) dianggap ranah perempuan. bahkan pernah suatu masa dokter kandungan dilarang digeluti oleh perempuan. tidak diperhatikan atau diakomodasi dalam berbagai hal. Praktik ini direproduksi secara turun temurun. Perlu ditekankan bahwa meskipun laki-laki dan perempuan dari sisi biologis berbeda. tidak punya nilai ekonomi. Ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender dapat terjadi dalam beberapa bentuk atau manifestasi. namun dari sisi sosial. dan lain-lain. menjadi sekretaris (proyek. lakilaki menjadi pemimpin. Subordinasi : akibat bentuk stereotipi menempatkan perempuan pada posisi di bawah laki-laki. 3. tapi tidak untuk perempuan. perempuan juga bisa jadi pemimpin. laki-laki dan perempuan idealnya mempunyai peran dan tanggung jawab yang sama. perempuan yang merokok sudah dianggap biasa. - - Gender bukan semata-mata perbedaan biologis. dan lain-lain. Gender beragam. yang menyangkut kebutuhan. bukan juga perempuan. dan lain-lain. dan diharapkan untuk ‘menjadi perempuan’ dan ‘menjadi lelaki’ menurut budaya masyarakatnya. tidak penting. Contohnya antara lain: Merokok dianggap pantas untuk laki-laki. bukan pengambil keputusan.berprilaku. kantor. tetapi lebih merujuk pada arti sosial bagaimana menjadi perempuan dan menjadi laki-laki. mahluk yang perlu dilindungi. proyek) dianggap ranah laki-laki. kondisi ideal tersebut belum tercipta karena masih terjadi ketidakadilan dan ketidaksetaraan atau diskriminasi gender. perempuan juga bisa jadi ilmuwan. bisa berubah-ubah dan bersifat dinamis. pendidikan. Namun demikian. Bidan pantas sebagai pekerjaan perempuan karena dianggap mengurusi bagian-bagian intim perempuan. sedangkan suami mempunyai tugas mencari nafkah bagi keluarga. 2. orang rumah. perencanaan. yakni : 1. Marginalisasi : terpinggirkan. 6 BAB II Konsep Gender dan Isu Gender Bidang Kesehatan . Perbedaan dan peran gender sebenarnya bukan suatu masalah sepanjang tidak menimbulkan ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender. Stereotipi : menempatkan wanita sebagai mahluk lemah. Menjadi kepala (rumah sakit. Dokter kandungan pantasnya laki-laki. Dengan perubahan zaman. tidak boleh mengambil keputusan dibandingkan laki-laki. Contohnya laki-laki jadi ilmuwan. kepedulian. bukan jenis kelamin. dan lainlain.

Isu gender terhadap prevalensi dan tingkat keparahan penyakit Perbedaan norma dan relasi gender menyebabkan perempuan dan laki-laki menderita penyakit yang berbeda dan juga tingkat keparahannya. para pembuat dan pelaksana kebijakan perlu sensitif gender agar dapat menghasilkan kebijakan. karena jika para pembuat dan pelaksana kebijakan masih memiliki pola pikir. Beban Majemuk : perempuan bekerja lebih beragam daripada laki-laki. sikap dan tingkah laku yang buta gender akan menghasilkan kebijakan netral atau bias gender karena tidak mempertimbangkan pengalaman. 1. Untuk mempermudah para perencana mengenal isu gender. Isu Gender dalam Bidang Kesehatan Isu Gender dalam bidang kesehatan adalah masalah kesenjangan perempuan dan laki-laki dalam hal akses. program dan kegiatan yang memastikan laki-laki dan perempuan memperoleh keadilan dan kesetaraan dalam akses. peran atau partisipasi. baik yang terjadi di ranah publik. isu kesehatan tidak boleh hanya dilihat pada masalah service delivery (penyediaan layanan) saja. atau dalam kehidupan rumah tangga. tetapi juga perlu melihat pada hubungan sosial budaya yang menyebabkan perbedaan status dan peran perempuan dan laki-laki dan relasi antara keduanya di masyarakat. misalnya fungsi reproduktif dan peran sebagai pengelola rumah tangga. dan lebih lama waktu kerjanya. termasuk bekerja di luar rumah. maka perlu meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pembuat kebijakan (policy maker) dan pelaksana kebijakan tentang konsep dan isu gender. tempat kerja. kontrol dan manfaat antara perempuan dan laki-laki dalam upaya atau pelayanan kesehatan secara langsung menyebabkan ketidaksetaraan terhadap status kesehatan perempuan dan laki-laki. Publikasi ilmiah menyatakan bahwa: Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 7 . kontrol dan manfaat yang diperoleh mereka dalam pembangunan kesehatan. pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang. Kesenjangan akses. partisipasi.4. Kekerasan bisa berbentuk ancaman tindakan tertentu. Untuk itu. Oleh karena itu. seksual atau psikologis tertentu yang mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan. Untuk mengurangi bentuk ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender tersebut diatas. kontrol dan manfaat dalam setiap bidang pembangunan. B. Kekerasan Berbasis Gender : perempuan mendapatkan serangan fisik. berikut ini beberapa contoh isu gender dalam kaitannya dengan upaya atau pelayanan kesehatan. partisipasi. dan kebutuhan laki-laki dan perempuan yang berbeda. efisien dan efektif dalam mencapai sasaran. aspirasi. sehingga kesenjangan tersebut harus menjadi perhatian dalam menyusun kebijakan/program sehingga kebijakan/program bisa lebih terfokus. 5.

Osteoporosis 8 kali lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki yang berhubungan dengan faktor biologis dan gaya hidup. termasuk pencegahan transmisi HIV/AIDS dan penyakit IMS lainnya. Malnutrisi pada bayi berhubungan dengan kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan ibu.Riset WHO yang dilakukan pada laki-laki termasuk remaja pria di seluruh dunia menunjukkan bagaimana norma-norma terhadap ketidakadilan gender mempengaruhi interaksi laki-laki dengan pasangan wanitanya dalam banyak hal. . Isu gender terhadap lingkungan fisik dan penyakit Studi kasus di Zimbabwe menyatakan bahwa perempuan dewasa lebih berisiko tinggi menderita Sistosomiasis (salah satu jenis cacing darah) dibandingkan lakilaki karena perempuan bertugas mencuci pakaian dan perlengkapan dapur yang dilakukannya di sungai. Laki-laki menderita lebih banyak Sirosis Hepatis yang berhubungan dengan perilaku minuman beralkohol. penggunaan alat kontrasepsi dan prilaku laki-laki dalam mencari pelayanan 8 BAB II Konsep Gender dan Isu Gender Bidang Kesehatan . Perempuan lebih berisiko dari laki-laki terhadap defisiensi micro-nutrient yang akan berdampak buruk bagi status gizi dan kesehatannya sehingga mengurangi produktivitas dan peluang investasi di bidang pendidikan. Penyakit dengan gangguan pada Arteri Coronaria merupakan salah satu penyebab terbesar kematian pria pada saat kerja. Silicosis yang berhubungan dengan pekerja tambang (100 % laki-laki). hipertensi dan kegemukan. 2. Demikian pula untuk kasus hernia pada laki-laki yang berhubungan dengan jenis pekerjaan. sementara remaja laki-laki mempunyai prevalensi lebih tinggi dibandingkan remaja perempuan karena mereka lebih sering bermain di sungai dan kanal. Isu gender terhadap faktor risiko penyakit . Demikian pula Schizophrenia dan kanker paru-paru yang berhubungan dengan perilaku merokok. yang berhubungan dengan rendahnya akses terhadap teknologi dan pelayanan kesehatan dalam deteksi dini dan tindakan pengobatan. lebih banyak pada perempuan dibandingkan laki-laki. Angka kematian yang tinggi pada kasus kanker perempuan pada usia dewasa.- - - - - - - Perempuan menderita anemia akibat kekurangan Fe pada ibu hamil dan menyusui serta perempuan yang menstruasi sebagai akibat dari hegemoni laki-laki dalam rumah tangga yang mempunyai peluang lebih besar mengkonsumsi makanan kaya Fe. Demikian pula Diabetes. Depresi (dua sampai tiga kali lebih banyak pada perempuan dibandingkan laki-laki pada semua fase kehidupan) yang berhubungan dengan tipe personal dan pengalaman dalam bersosialisasi dan perbedaan peluang antara perempuan dan laki-laki. 3.Perempuan mempunyai akses yang lemah terhadap keuangan keluarga sehingga mengurangi kemampuannya untuk melindungi dirinya dari faktor risiko penyakit.

Isu gender terhadap persepsi dan respon terhadap penyakit . karena dalam beberapa kelompok masyarakat laki-laki lebih didahulukan sebagai pengguna utama air bersih. Demikian pula dengan angka kesakitan dan kematian akibat kecelakaan lalu lintas dan tindak kriminal. . serta pola parenting (proses bertindak sebagai orang tua). Demikian pula pada laki-laki dewasa mencari pengobatan terhadap penyakitnya pada stadium lanjut karena peran maskulin laki-laki menyebabkan laki-laki merasa harus kuat dalam menghadapi penyakit. . Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 9 . Juga terkait dengan pembagian peran dan tugas rumah tangga. Pada saat sakit. 5. Peran perempuan dalam mengurus rumah tangga mengakibatkan apabila perempuan jatuh sakit tidak cepat mencari pengobatan karena merasa tidak nyaman melalaikan tugas dan tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga. perempuan tidak dengan serta merta mengakses pelayanan kesehatan karena : a. Kalaupun berobat penyakitnya sudah dalam stadium lanjut. yang selanjutnya berpengaruh terhadap dampak pengobatan tertentu pada perempuan.. mengakibatkan terapi hasil studi tersebut tidak realible diaplikasikan pada perempuan dan mungkin berbahaya pada perempuan. Jam pelayanan (waktu) di sarana pelayanan kesehatan seringkali tidak sesuai dengan kesibukan ibu rumah tangga. Isu gender terhadap akses secara fisik. pengambil resiko berprilaku agnesi dan tidak menunjukkan sifat lemah berhubungan dengan angka penggunaan alkohol dan Narkoba lebih tinggi pada lakilaki di seluruh belahan dunia. keputusan tentang penggunaan kontrasepsi lebih banyak ditentukan oleh suami.Tidak masuknya target perempuan pada studi-studi klinis patologis.- - kesehatan. psikologis dan sosial terhadap pelayanan kesehatan lebih rendah dibandingkan laki-laki. 4. psikologis dan sosial terhadap sarana pelayanan kesehatan .Perbedaan peran laki-laki dan perempuan mempengaruhi persepsi perasaan tidak nyaman serta mempengaruhi keinginan wanita untuk menyatakan dirinya sakit. Terbatasnya akses terhadap air bersih pada perempuan. Streotipi maskulin menyebabkan seorang laki-laki harus berani.Ketimpangan peran dan relasi gender menyebabkan perempuan mempunyai akses secara fisik.Pelayanan Kelurga Berencana lebih fokus pada perempuan dibanding laki-laki mengakibatkan laki-laki mempunyai akses yang terbatas terhadap pelayanan KB dan mengakibatkan laki-laki mempunyai persepsi bahwa KB adalah urusan perempuan. Disamping itu dalam relasi gender di sebuah keluarga. sedangkan perempuan dan anak-anak harus membawa dan menyiapkannya tetapi mendapatkan prioritas kedua. Pertimbangan tubuh laki-laki sebagai standar dalam studi klinis akan membatasi jumlah studi yang difokuskan pada kesehatan reproduktif dan non-reproduktif perempuan.

6. Banyak kasus IMS pada perempuan bersifat asimptomatik (tidak bergejala) yang mengakibatkan lambatnya diagnosis dan pengobatan. jarak/transportasi. Studi menunjukkan bahwa perempuan mempunyai risiko terinfeksi dua sampai empat kali lebih besar pada kasus ini.- - b. Perempuan lebih banyak terpajan oleh penyakit IMS yang menyebabkan peningkatan risiko infeksi HIV/ AIDS. maka akan berdampak signifikan terhadap kesejahteraan keluarga dan anggotanya. Jika perempuan mempunyai akses terhadap pembiayaan. Dalam keadaan sakit perempuan harus mendapatkan ijin suami untuk berkunjung ke sarana pelayanan kesehatan. informasi dan teknologi memperburuk ketidakadilan gender. Isu gender terhadap keterpajanan dan kerentanan penyakit Perempuan lebih rentan dibanding laki-laki terhadap infeksi HIV/AIDS melalui hubungan heteroseksual. Tersedianya sumber daya keuangan akan berhubungan dengan peningkatan tingkat kesehatan anak. Terbatasnya akses terhadap biaya. 10 BAB II Konsep Gender dan Isu Gender Bidang Kesehatan . Perempuan dengan penyakit IMS cenderung tidak ke sarana kesehatan karena takut dengan stigma sosial yang ‘miring’ atau negatif tentang perempuan penderita Penyakit Menular Seksual.

Sistem Perencanaan dan Penganggaran di Indonesia Sistem perencanaan dan penganggaran nasional diatur dalam UU No. terutama untuk lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 17 Tahun 2003 UU KN Bagan diatas memperlihatkan sistem perencanaan dan penganggaran nasional yang berlaku di pemerintah pusat dan pemerintah daerah. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional seperti tertera pada bagan 1 di bawah ini : Bagan 1. Di bagian atas menggambarkan alur perencanaan dan penganggaran pemerintah pusat. 25 Tahun 2004 dan UU No. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 11 .BAB III bab PENGANGGARAN RESPONSIF GENDER BIDANG KESEHATAN PERENCANAAN DAN A. Dalam panduan ini. uraian akan difokuskan pada sistem perencanaan dan penganggaran di tingkat pusat. sedangkan di bagian bawah menggambarkan alur perencanaan dan penganggaran pemerintah daerah. Alur Perencanaan dan Penganggaran Renstra KL Pedoman Renja KL Pedoman RKA KL Rincian APBD PEMERINTAH Pedoman Diacu Dijabarkan RPJP Nasional Diacu RPJP Daerah RPJM Nasional Diperhatikan RPJM Daerah Pedoman RKP Pedoman RAPBN APBN Diserasikan melalui MUSRENBANG RKP Daerah Pedoman Dijabarkan Pedoman RAPBD APBD PEMERINTAH DAERAH Renstra SKPD Pedoman Renja SKPD Pedoman RKA SKPD Rincian APBD UU SPPN Sumber : UU No.

Pertemuan trilateral meeting menghasilkan Rancangan Renja KL yang merupakan perpaduan antara RKP dan Renstra KL. (i) kegiatan prioritas dan penganggarannya. Bagan 2.Siklus perencanaan dan penganggaran (baca tahun fiskal) di Indonesia menurut Pasal 4 UU No. 21 tahun 2004 Bagan di atas memperlihatkan bahwa Renja KL harus sudah dibuat selambatlambatnya di bulan April. Kegiatan selanjutnya adalah rapat kerja pemerintah bersama DPR untuk membahasa RAPBN menjadi APBN. Diagram Proses Perencanaan. Hasil rapat kerja dengan DPR dijadikan sebagai bahan acuan penyusunan pagu sementara oleh Menteri Keuangan yang kemudian ditetapkan dengan Surat Edaran tentang Pagu Sementara (Pagu Anggaran) K/L. Siklus perencanaan dan penganggaran dalam satu tahun dapat dilihat pada bagan 2 dibawah. yang memuat tiga hal utama yaitu. serta (iii) usulan kebijakan/kegiatan baru (inisiatif baru). Pada bulan 12 BAB III Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan . SE tentang pagu sementara (Pagu Anggaran) digunakan sebagai acuan dalam menyusun RKA-KL suatu K/L. selanjutnya pemerintah dan DPR mengadakan rapat kerja dalam rangka Pembahasan Pembicaraan Pendahuluan Penyusunan RAPBN untuk menyepakati pokok-pokok kebijakan belanja negara. untuk selanjutnya ditelaah di Dirjen Anggaran Kemenkeu.APRIL MEI . Pengagaran dan Evaluasi Terpadu JANUARI . dengan mengacu pada SEB Menteri PPN/Kepala Bappenas dan Menteri Keuangan tentang Pagu Indikatif dan Rancangan Awal RKP.AGUSTUS Penelaahan Konsistens Dengan RKP SE Lampiran RAPBN (Himpunan RKA-KL) Rancangan KEPRES ttg Rincian APBN SEPTEMBER . Atas dasar RKP tersebut. Selanjutnya diadakan Rakorbangpus dalam rangka penyusunan RKP yang ditetapkan dengan Peraturan Presiden. Hasil penelaahan RKA-KL tersebut selanjutnya dijadikan sebagai bahan Lampiran RAPBN pada saat presiden membacakan Nota Keuangan di hadapan rapat paripurna DPR pada bulan Agustus. (ii) kegiatan non prioritas dan pengganggarannya. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dimulai 1 Januari sampai 31 Desember tahun yang sama. Atas dasar SEB tersebut diadakan Pertemuan Tiga Pihak (Trilateral Meeting) antara BappenasKemenkeu-K/L mengenai Pembahasan Rancangan RKP dan Pagu Indikatif RAPBN untuk K/L tersebut.DESEMBER Kementrian Perencanaan Indikasi Pagu SEB Prioritas Program dan Kementrian Keuangan Sementera (Pagu Anggaran) Pagu Penelaahan Konsistansi dengan Prioritas Anggaran Pagu Difinitif (Alokasi Anggaran) PENGESAHAN Kementrian Negara/ Lembaga Restra KL Rancangan Renja KL RKP RKA KL Konsep Dokumen Pelaksanaan Anggaran Dokumen Pelaksanaan Anggaran Sumber : PP No.

B.September Kementerian Keuangan menyusun Rancangan Keppres tentang Rincian APBN. tetapi merupakan bagian integral dari perencanaan dan penganggaran Kementerian Kesehatan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada. sebagaimana dijelaskan pada Sub Bab III bagian A tersebut di atas. Atas dasar hasil rapat kerja tersebut ditetapkanlah Perpres Rincian Anggaran Pemerintah Pusat. Siklus perencanaan dan penganggaran responsif gender menyesuaikan dengan siklus perencanaan dan penganggaran di Kementerian Kesehatan sebagaimana diuraikan di bawah ini : Bagan 3. Khusus untuk dana dekonsentrasi dan UPT pusat yang berada di provinsi. WAKTU JanuariApril KEGIATAN Penyusunan draft awal Renja K/L Kemenkes : • Usulan berasal dari unit eselon II. HASIL Draft awal Renja K/L Kemenkes Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 13 . dan disahkan menjadi APBN maka ditetapkanlah pagu definitif (Pagu Anggaran). yang kemudian direview di Setditjen/ Setbadan/Set-Itjen di masing-masing unit utama. Setelah RAPBN dibahas bersama DPR. Hasil penelaahan tersebut disahkan menjadi DIPA (Dokumen Pelaksanaan Anggaran) Kementerian/Lembaga oleh Dirjen Perbendaharaan Kemenkeu. Perpres tersebut dijabarkan melalui Surat Rincian Alokasi Anggaran (SRAA) yang ditetapkan oleh Dirjen Perbendaharaan. Siklus Perencanaan dan Penganggaran Kementerian Kesehatan PENANGGUNG JAWAB Biro Perencanaan dan Anggaran PERENCANAAN DAN ANGGARAN RESPONSIF GENDER Setiap unit eselon II telah melakukan perencanaan gender dengan melakukan analisis gender (metode GAP) dan telah mengidentifikasi sejumlah atau list Rincian Kegiatan yang responsif gender. Idealnya analisis gender dilakukan pada kegiatan prioritas. • Usulan dari Unit Utama selanjutnya direview dan dikompilasi oleh Biro Perencanaan dan Anggaran. Mekanisme Perencanaan dan Penganggaran di Kementerian Kesehatan serta Kaitannya dengan Anggaran Responsif Gender (ARG) Perencanaan dan penganggaran responsif gender bidang kesehatan tidak berdiri sendiri. Atas dasar kedua dokumen tersebut (Perpres dan SRAA) K/L menyusun Konsep DIPA untuk selanjutnya ditelaah dengan Dirjen Perbendaharaan.

namun dalam perhitungan alokasi anggaran di setiap unit eselon II. dengan menurunnya disparitas separuh dari tahun 2009’. setiap unit eselon II mereview kembali analisis gender yang telah dibuat sebelumnya dan menetapkan Rincian Kegiatan (terpilih) responsif gender. telah mempertimbangkan kebutuhan anggaran Rincian Kegiatan yang responsif gender. Isu gender menjadi salah satu sasaran strategis Renstra 2010-2014 yakni ’menurunnya disparitas status kesehatan dan status gizi antar wilayah dan antar tingkat sosial ekonomi serta gender. Rapat kerja pemerintah Kemenkeu dan DPR tentang Pembahasan Pembicaraan Pendahuluan Penyusunan RAPBN SE Menkeu tentang pagu sementara 14 BAB III Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan .WAKTU KEGIATAN Pembahasan rancangan awal RKP melalui Sidang Kabinet Paripurna PENANGGUNG JAWAB Bappenas HASIL SEB Pagu Indikatif dan Rancangan Awal RKP PERENCANAAN DAN ANGGARAN RESPONSIF GENDER Setelah SEB Pagu Indikatif ditetapkan dan pada saat penyusunan Renja K/L. Setelah pagu sementara ditetapkan. Selanjutnya menyusun ARG (TOR responsif gender dan GBS) sebagai dokumen pendukung RKA-KL beserta RAB. Perlu diingat bahwa kegiatan yang responsif gender tidak hanya berada di Direktorat Kesehatan Ibu saja sebagai focal point gender. setiap unit eselon II melakukan review kembali analisis gender yang telah dibuat (dalam hal kesesuaian pagu indikatif dan pagu sementara). Pertemuan Trilateral meeting sebagai tindak lanjut dari SEB Pagu Indikatif dan Rancangan Awal RKP Bappenas Dokumen Trilateral Meeting dalam rangka Penyusunan RKP dan Renja K/L Kemenkes Pertemuan Rakorbangpus tentang finalisasi RKP dan Sidang Kabinet Rancangan Akhir RKP Bappenas Perpres tentang RKP RKP bidang kesehatan dan Renja K/L Kemenkes Meskipun dalam Perpres RKP khususnya bidang kesehatan tidak mencantumkan secara khusus indikator gender.

(lihat tata cara penelaahan pada Bab V Point F) Mei – Agustus Pidato presiden tentang RAPBN Kementerian KeuanganSekretariat Negara Kementerian Keuangan Nota Keuangan tentang tentang RAPBN Perpres tentang Rincian Anggaran Pemerintah Pusat (Pagu Definitif) Konsep DIPA Rapat kerja pemerintah dan DPR untuk pembahasan RAPBN menjadi APBN Review RKA-KL Kemenkes tentang kesesuaian pagu sementara dan pagu definitif September – Desember Biro Perencanaan dan Anggaran (Kemenkes). Renja KL ini disamping mengacu pada RKP juga disusun mengacu kepada Renstra Kementerian Kesehatan 2010-2014. selanjutnya disusun Renja K/L Kemenkes.TOR responsif gender . Bagian PI/PA (Unit Utama) Penelaahan Konsep DIPA oleh DJPB Kemenkeu DJPB Kemenkeu Pengesahan DIPA Pada bulan Maret Biro Perencanaan dan Anggaran telah melakukan kompilasi draft awal Renja K/L Kementerian Kesehatan. atas usulan dari penanggung jawab program pada masing-masing Unit Utama. penanggung-jawab program disetiap unit eselon II telah melakukan analisis GAP dan mengidentifikasi sejumlah/ list Rincian Kegiatan yang responsif gender Setelah terbitnya SEB Menteri PPN/Kepala Bappenas dan Menteri Keuangan tentang Pagu Indikatif dan Rancangan Awal RKP dan telah dilaksanakannya Pertemuan Tiga Pihak (Trilateral Meeting) antara Bappenas-Kemenkeu-Kemenkes. yang diusulkan oleh Perencana Internal (PI/ PA) untuk selanjutnya direview dan dikompilasi oleh Biro Perencanaan dan Anggaran. Bagian PI/PA (Unit Utama) HASIL RKAKL Kemenkes yang disetujui oleh DJA. dan dijadikan sebagai dasar RAPBN PERENCANAAN DAN ANGGARAN RESPONSIF GENDER Perencana di unit eselon II mengikuti penelaahaan RKA-KL dan memberikan penjelasan yang dibutuhkan atas pertanyaan penelaah DJA tentang relevansi indikator kinerja .WAKTU KEGIATAN Penelaahan RKA-KL di DJA Kemenkeu PENANGGUNG JAWAB Biro Perencanaan dan Anggaran (Kemenkes). Renja tersebut merupakan penyempurnaan atas draft awal Renja. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 15 . Pada saat penyusunan draft awal Renja K/L tersebut.GBS.

kesesuaian dengan KAK/ TOR. Pada proses penelaahan RKA-KL. RAB dan atau dokumen pendukung terkait. dengan Rincian Kegiatan yang telah disesuaikan dengan pagu sementara. Atas dasar dokumen APBN tersebut. penanggung-jawab program mereview kembali hasil analisis GAP dan menetapkan Rincian Kegiatan yang responsif gender. perencana di masingmasing unit eselon II dan dibantu oleh Bagian PI/PA akan memberikan penjelasan yang dibutuhkan tentang relevansi antara TOR responsif gender dan GBS. Setelah pagu sementara ditetapkan melalui Surat Edaran Menteri Keuangan. serta dukungan detil kegiatan (Rincian Kegiatan) yang responsif gender terhadap pencapaian target indikator kinerja kegiatan (lihat tata cara penelaahan pada Bab V Sub-Bab F).q. kesesuaian dengan hasil kesepakatan antara Kementerian Kesehatan dan komisi terkait di DPR. selanjutnya setiap eselon II menyusun RKA-KL. Jika konsep DIPA telah sesuai dengan pagu definitif yang dimaksud dalam UU APBN. prakiraan maju yang telah ditetapkan tahun sebelumnya dan standar biaya. perencana dimasing-masing eselon II menyusun Konsep DIPA dan selanjutnya ditelaah di DJPB Kemenkeu. Artinya. berdasarkan pagu indikatif yang diterima. relevansi pencantuman target kinerja dan komponen masukan (input) yang digunakan. Kedua dokumen ARG tersebut merupakan lanjutan dari hasil analisis GAP. Proses selanjutnya adalah penelaahan RKA-KL dengan Kementerian Keuangan c. pilihan/ prioritas Rincian Kegiatan responsif gender telah disesuaikan dengan jumlah pagu yang diterima. maka DIPA disahkan oleh Dirjen Perbendaharaan Kemenkeu. Himpunan RKA-KL K/L termasuk Kementerian Kesehatan akan menjadi lampiran RAPBN. Pada bulan Agustus disampaikan nota keuangan RAPBN beserta lampirannya oleh presiden.Pada saat penyusunan Renja K/L tersebut. Direktorat Jenderal Anggaran dengan meneliti : kesesuaian dengan pagu sementara. Selanjutnya pada periode September sampai Desember setelah dilakukan pembahasan RAPBN di DPR. 16 BAB III Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan . penetapan pagu definitif serta disahkannya UU APBN. Salah satu dokumen pendukung RKA-KL adalah TOR Responsif Gender dan Gender Budget Statement (GBS).

Dalam kaitannya dengan isu kesehatan. perencanaan dan penganggaran responsif gender akan berkontribusi terhadap peningkatan kesempatan memperoleh layanan kesehatan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat baik laki-laki maupun perempuan. manfaat. Definisi Operasional ARG Anggaran Responsif Gender (ARG) merupakan sistem penganggaran yang mengakomodasikan keadilan bagi perempuan dan laki-laki dalam memperoleh akses. Pentingnya ARG Permenkeu 104/2010 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL Tahun Anggaran 2011 telah mengamanatkan penyusunan ARG. B. 9/2000. partisipasi. Bahkan sebelumnya dalam Inpres No. Dalam Permenkeu tersebut secara eksplisit dinyatakan bahwa penyusunan anggaran perlu didahului oleh analisis gender. Perencanaan dan penganggaran responsif gender bukanlah sebuah proses yang terpisah dari sistem yang sudah ada atau terlebih diartikan sebagai rencana dan anggaran khusus untuk perempuan yang terpisah dari laki-laki. Perencanaan dan penganggaran responsif gender merupakan instrumen untuk mengatasi adanya kesenjangan akses. Tujuannya adalah mewujudkan anggaran yang lebih berkeadilan. kontrol dan manfaat pembangunan bagi laki-laki dan perempuan yang selama ini masih senjang akibat konstruksi sosial-budaya. Melalui analisis gender akan diketahui perbedaan kondisi dan kebutuhan kesehatan laki-laki dan perempuan yang ada yang dijadikan sebagai Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 17 . Perencanaan dan penganggaran responsif gender bukanlah tujuan.BAB IV bab (ARG) BIDANG KESEHATAN ANGGARAN RESPONSIF GENDER A. melainkan merupakan sebuah kerangka kerja atau alat analisis untuk mewujudkan keadilan dalam penerimaan manfaat pembangunan. berpartisipasi dalam mengambil keputusan dan mengontrol terhadap sumber-sumber daya serta kesetaraan terhadap kesempatan dan peluang dalam memilih dan menikmati hasil pembangunan bidang kesehatan. analisis gender wajib digunakan dalam perencanaan dan penganggaran.

18 BAB IV Anggaran Responsif Gender (ARG) Bidang Kesehatan . kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki dalam proses penyusunannya. preventif. Ketiga. anggaran responsif gender adalah anggaran yang responsif terhadap kebutuhan laki-laki dan perempuan serta memberi manfaat kepada laki-laki dan perempuan secara setara. dan kontrol terhadap upaya kesehatan (promotif. proyek atau pun kegiatan yang akan dilaksanakan di masa mendatang untuk menjawab isu-isu atau permasalahan gender di masing-masing sektor. Tujuan ARG 1. dan rehabilitatif) yang setara antara perempuan dan laki-laki sehingga perempuan dan laki-laki sesuai dengan status dan kebutuhan kesehatan mereka. monitoring dan evaluasi. Kedua. Melakukan análisis gender untuk mengetahui peran dan relasi gender perempuan dan laki-laki yang mempengaruhi status dan kebutuhan kesehatan mereka. pembahasan. Menyusun anggaran (RKA-KL) berdasarkan hasil análisis gender untuk mencapai target indikator kinerja program dan kegiatan yang adil terhadap perempuan dan laki-laki. Penganggaran responsif gender akan menghasilkan anggaran responsif gender. perencanaan responsif gender merupakan suatu proses pengambilan keputusan untuk menyusun program. pelaksanaan. Keempat. Melalui anggaran responsif gender kesenjangan gender diharapkan dapat dihilangkan atau setidaknya dapat dikurangi. perencanaan responsif gender adalah perencanaan yang dilakukan dengan memasukkan perbedaan-perbedaan pengalaman. Berikut beberapa konsep tentang perencanaan dan penganggaran responsif gender: Pertama. Melakukan perencanaan kebijakan. Ciri utama Anggaran responsif gender adalah menjawab kebutuhan perempuan dan laki-laki. C. Perencanaan dan penganggaran merupakan dua proses yang saling terkait dan terintegrasi. 3.dasar perencanaan dan penganggaran yang responsif gender yang bertujuan untuk meningkatkan pencapaian target kinerja kegiatan (output) dan program (outcome) sebagaimana dinyatakan dalam Renstra Kementerian Kesehatan Tahun 2010 – 2014. partisipasi. 2. program dan kegiatan bidang kesehatan yang menciptakan akses. manfaat. kuratif. aspirasi. penganggaran responsif gender merupakan pengarusutamaan gender ke dalam siklus penganggaran yang terdiri atas perencanaan. serta memberikan manfaat kepada perempuan dan laki-laki secara setara.

Menjadi alat monev untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan program dan kegiatan kesehatan. ARG merupakan bagian dari RKA-KL yang mensyaratkan penyusunan 2 (dua) dokumen yaitu TOR Responsif Gender dan GBS. Hanya saja muatan substansi/ materi output yang dihasilkan tersebut dilihat dari sudut pandang (perspektif) gender. partisipasi. kontrol dan manfaat terhadap sumber daya. TOR Responsif Gender dan GBS yang benar didahului dengan Analisis Gender. Contoh : Program Making Pregnancy Safer (MPS). Anggaran khusus target gender. D. yaitu alokasi anggaran yang diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan dasar khusus perempuan atau laki-laki. Kategori ARG ini 2. Melalui analisis gender akan diketahui adanya kesenjangan dalam relasi antara laki-laki dan perempuan dalam akses. pengadaan kondom gratis bagi laki-laki. Tahapan atau kerangka pikir ARG adalah sebagaimana bagan berikut. Suatu output yang dihasilkan oleh kegiatan akan mendukung pencapaian hasil (outcome) program. Kategori ARG Anggaran responsif gender dibagi atas 3 kategori. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 19 . Anggaran kesetaraan gender Anggaran kesetaraan gender merupakan alokasi anggaran untuk mengatasi masalah kesenjangan gender. Kerangka Pikir ARG RKA-KL Analisis Gender (Idealnya menggunakan Gender Analysis Pathway (GAP) TOR Responsif Gender Gender Budget Statement (GBS) Berdasarkan bagan 4 diatas. Bagan 4. yang idealnya menggunakan GAP. E. Letak dan Tahapan ARG Berdasarkan PMK 104/2010 ARG melekat pada struktur anggaran (program. kegiatan. yaitu: 1.4. khususnya dalam menurunkan kesenjangan status kesehatan antara perempuan dan laki-laki. dan output) yang ada dalam RKA-KL. dan lain-lain.

4. untuk mengejar kekurangan/ketertinggalannya. 2. 20 BAB IV Anggaran Responsif Gender (ARG) Bidang Kesehatan . Contoh : Penyusunan Pedoman PUG dan PPRG bidang Kesehatan. Prinsip – Prinsip ARG ARG adalah instrumen untuk menjadikan keseluruhan perencanaan dan penganggaran pembangunan memberikan manfaat secara adil bagi perempuan dan laki-laki. F. Karena itu. PMK 104 / 2010 menekankan prinsip-prinsip ARG sebagai berikut: 1. 6. peran dan tanggungjawab antara laki-laki dan perempuan. ARG bukan berarti ada alokasi dana 50% laki-laki – 50% perempuan untuk setiap kegiatan. oleh PMK 104/2010. Contoh : program beasiswa dengan kuota khusus bagi perempuan/laki-laki untuk mencapai kesetaraan partisipasi dan manfaat dalam jenjang pendidikan tertentu. ARG sebagai pola anggaran yang akan menjembatani kesenjangan status. dan Pendekatan Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah/KPJM (Medium Term Expenditure Framework). 7. Anggaran pelembagaan kesetaraan gender. Bukan berarti bahwa alokasi ARG hanya berada dalam program khusus pemberdayaan perempuan. suami siaga. Jumantik laki-laki dan perempuan di setiap RT. Untuk itu. ARG bukanlah dasar yang “valid” untuk meminta tambahan alokasi anggaran. ARG bukan fokus pada penyediaan anggaran dengan jumlah tertentu untuk pengarusutamaan gender. agar tidak disalahpahami. tetapi bagaimana anggaran keseluruhan dapat memberikan manfaat yang adil untuk laki-laki dan perempuan. Diklat PUGBK. penyusunan profil kesehatan dengan data terpilah berdasarkan jenis kelamin. penolong persalinan oleh tenaga kesehatan laki-laki untuk daerah terisolir. ARG telah diadopsi sebagai salah satu pendekatan baru dalam perencanaan dan pengganggaran pembangunan disamping Pendekatan Penganggaran Terpadu (Unifed Budget). 3. 3. ARG bukanlah anggaran yang terpisah untuk laki-laki dan perempuan. Pendekatan Penganggaran Berbasis Kinerja/PBK (Performance Based Budgeting). Merupakan alokasi anggaran untuk penguatan kelembagaan PUG. Tidak harus semua program dan kegiatan mendapat koreksi agar menjadi responsif gender. 5.juga termasuk untuk alokasi program/kegiatan untuk keperluan kebutuhan strategis gender. Adanya ARG tidak berarti adanya penambahan dana yang dikhususkan untuk program perempuan. yang telah diamanahkan dalam UU 17/2003 tentang Keuangan Negara. namun ada juga kegiatan yang netral gender.

Prasyarat ARG Pada dasarnya setiap perencanaan dan penganggaran program diharapkan bisa menerapkan ARG. namun demikian penerapan ARG bisa berlangsung dengan baik apabila didukung dengan prasyarat sebagai berikut: 1. program dan kegiatan yang responsif gender. Kemampuan untuk mengembangkan dan melakukan pemantauan dan evaluasi kebijakan. Ketersediaan data yang terpilah menurut jenis kelamin. 2.G. 3. Sumberdaya manusia yang memadai (perencana dan penanggungjawab program yang mampu melakukan analisis gender). 4. Kemauan politik yang tertera dalam dokumen perencanaan strategis suatu Kementerian/ Lembaga termasuk kemauan dari para perencana program di K/L untuk menerapkan ARG. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 21 .

.

Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 23 . Analisis Gender bidang kesehatan adalah proses mengidentifikasi. hambatan yang dihadapi perempuan dalam memperoleh pelayanan kesehatan dan bagaimana caranya mengatasi permasalahan tersebut. Lakukan penyusunan Term of Reference (TOR) 3. Analisis Gender bidang kesehatan menekankan pentingnya ketidaksetaraan gender dalam hubungannya dengan rendahnya status kesehatan perempuan. Lakukan Analisis Gender. status kesehatan dan kesejahteraanya. B. seperti Problem Based Approach (Proba). Analisis gender juga berupaya mengungkapkan faktor resiko kesehatan dan permasalahannya yang dihadapi oleh laki-laki sehubungan dengan peran gender mereka (WHO. dan memberikan informasi untuk melakukan tindakan dalam rangka memperbaiki ketidakseimbangan yang timbul dari perbedaan peran gender perempuan dan laki-laki atau ketidasetaraan kekuasaan diantara keduanya. Lakukan penyusunan Gender Budget Statement (GBS). dengan Gender Analysis Pathway (GAP) 2. Moser Gender Analysis. serta konsekuensinya terhadap kehidupan mereka. Analisis digunakan untuk mengidentifikasi kesenjangan situasi perempuan dan laki-laki serta faktor-faktor kebijakan dan praktik sosial. Gender Analysis Pathway (GAP). dan lain-lain. menganalisis. Ada berbagai macam instrument analisis gender. Teknik Melakukan Analisis Gender dengan metode GAP Kunci dari penerapan anggaran responsif gender adalah dilakukannya analisis situasi yang memadai yang mampu memotret dan mendiagnosa kesenjangan yang mungkin ada berkaitan dengan situasi kesehatan perempuan dan laki-laki dalam berbagai aspek. 3 (tiga) Tahapan Penyusunan ARG Penyusunan ARG terdiri dari 3 tahapan: 1. 1999).bab BAB V BIDANG KESEHATAN TAHAPAN PENYUSUNAN ARG A. ekonomi dan budaya yang menyebabkannya.

Karena tahapan siklus perencanaan tersebut disajikan dalam matriks yang sama.GAP adalah instrument yang dikembangkan oleh BAPPENAS bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan sudah banyak digunakan sebagai instrument analisis gender terhadap kegiatan pembangunan di Indonesia. Tetapkan Indikator Gender Sumber : Bappenas-CIDA. Rumuskan kembali tujuan kebijakan/ Program/Proyek/ Kegiatan pembangunan 2. Aplikasi 9 Langkah dalam GAP GAP merupakan salah satu alat analisis gender yang dapat digunakan untuk mereview kebijakan. Alur Kerja Analisis Gender (Gender Analysis Pathway = GAP) ANALISIS KEBIJAKAN YANG RESPONSIF GENDER 1.Kualitatif PELAKSANAAN 7. Alat analisis ini dapat juga digunakan pada level program dan atau kegiatan. Analisis gender dilakukan secara sekuensial mulai dari tahap identifikasi tujuan. Keunggulan lainnya adalah GAP mempunyai fleksibilitas yang tinggi dalam penggunaannya. akan memudahkan perencana kesehatan untuk melihat relevansi dan konsistensi antara tahapan satu dengan tahapan lainnya sehingga membentuk sekuensial yang utuh dari kebijakan atau program dan kegiatan sehingga responsif gender. penentuan Rincian Kegiatan. Bagan 5. Analisis ini dapat digunakan pada level kebijakan. 2007 PERENCANAAN 24 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . Temu kenali di isu gender di eksternal lembaga 9. dan atau program dan kegiatan bidang kesehatan. Temu kenali isu gender di internal lembaga/ budaya org 5. analisis situasi. Susun Rencana Aksi yang responsifgender MONITORING & EVALUASI ISU GENDER PENGUKURAN HASIL 8. kebijakan manajerial. baik kebijakan strategis. maupun kebijakan operasional. Tetapkan Baseline 3. Sajikan Data Pembuka Wawasan Terpilah Menurut Jenis Kelamin .Pilih Kebijakan/Program/ Kegiatan yang akan dianalisis: - Identifikasi dan tuliskan tujuan Kebijakan/Program/Kegiatan KEBIJAKAN RENCANA AKSI KEDEPAN 6. . bahkan sampai pada level output dan sub output.Kuantitatif . 1. sampai monitoring dan evaluasi. Temu kenali isu gender di proses perenc kebij/prog/ keg 4.

dan penetapan Rincian Kegiatan kebijakan/ program/kegiatan kedepan. Menentukan desain kebijakan/program dan kegiatan sehingga responsif gender. yaitu : a. Mengidentifikasi tujuan kebijakan/program dan kegiatan b. terdapat lima bagian GAP. kontrol dan manfaat Sebab kesenjangan Internal Temukenali isu gender di internal lembaga dan/ atau budaya organisasi yang dapat menyebabkan terjadinya isu gender Data Dasar (Base-line) Tetapkan base-line Indikator Gender Tetapkan indikator gender Sajikan data pembuka wawasan. Gender Analysis Pathway = GAP LANGKAH 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pilih Kebijakan/ Program/ Kegiatan yang akan dianalisis Identifikasi dan tuliskan tujuan dari Kebijakan/ Program/ Kegiatan Isu Gender Data Pembuka Wawasan Kebijakan dan Rencana Ke Depan Sebab kesenjangan External Temukenali isu gender di eksternal lembaga pada proses pelaksanaan Reformulasi Tujuan Rumuskan kembali tujuan kebijakan/ program/ kegiatan sehingga menjadi responsif gender Rincian Kegiatan/ Rencana Aksi Tetapkan Rincian Kegiatan yang responsif gender Pengukuran Hasil Faktor Kesenjangan Temukenali isu gender di proses perencanaan dengan memperhatikan 4 (empat) faktor kesenjangan.Terdapat dua kerangka analisis dalam GAP yaitu analisis kebijakan/program/ kegiatan yang responsif gender. yang terpilah menurut jenis kelamin : -kuantitatif –kualitatif Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 25 . e. identifikasi penyebab ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender tersebut atas dua faktor utama. yaitu internal kesehatan dan eksternal kesehatan. melalui identifikasi isu ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender dalam bidang kesehatan. yaitu : akses. d. c. meliputi penentuan tujuan dan Rincian Kegiatan atau intervensi yang akan dilaksanakan. partisipasi. Mengidentifikasi isu gender. Langkah selanjutnya setelah proses perencanaan. Dari perspektif proses perencanaan program. Menentukan indikator responsif gender yang akan digunakan dalam monitoring dan evaluasi kebijakan/program dan kegiatan. Menyajikan data pembuka wawasan (data yang menunjukkan situasi perempuan dan laki-laki dalam kaitannya dengan tujuan kebijakan/ program dan kegiatan). untuk mengatasi isu kesenjangan gender yang terjadi. Gender Analysis Pathway memiliki alur kerja 9 langkah yang dapat digambarkan dalam Bagan 6 sebagai berikut: Bagan 6. sesuai dengan siklus manajemen program adalah pelaksanaan dan monitoring evaluasi.

atau gabungan keduanya yang terkait dengan tujuan yang ada dalam langkah 1. (lihat lampiran Renstra Kemenkes Tahun 2010-2014) LANGKAH 2. . Data dapat berasal dari data 26 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . Sumber data dapat berasal dari berbagai sumber yang valid dan up to date yang berasal dari Sistem Informasi Kesehatan (berbasis fasilitas). dengan alasan antara penyakit menular tersebut mempunyai struktur dan permasalahan kesehatan yang spesifik. . (lihat lampiran Renstra Kemenkes Tahun 2010-2014). Kebijakan yang dipilih dapat berupa peraturan perundang-undangan bidang kesehatan. dan lain-lain. termasuk Renstra. atau malaria. Jika program memiliki struktur kegiatan yang kompleks. Sajikan data pembuka wawasan yang terpilah menurut jenis kelamin untuk melihat isu kesenjangan gendernya. Renja K/L dan lain-lain. maupun hasil survei (berbasis komunitas). Contohnya : Kegiatan Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang. hasil-hasil penelitian lainnya dan informasi dari media. maka GAP dapat digunakan pada level di bawah kegiatan.LANGKAH 1. maka merujuk pada dokumen Renstra Kemenkes 2010-2014 dan Renja KL. flu burung.Menurunkan angka kesakitan DBD dari 55 menjadi 54 per 100. a.Meningkatkan persentase kabupaten/kota yang melakukan mapping vektor dari 30 menjadi 40. Tuliskan tujuan dari kebijakan/program/kegiatan pada kolom 1.Meningkatkan prosentase Angka Bebas Jentik (ABJ) dari 60% menjadi 70% pada tahun 2011 (lihat lampiran Renstra Kemenkes Tahun 20102014).000 penduduk pada tahun 2011. dapat dipilih pengendalian penyakit DBD. b. Contoh : Program : Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kegiatan : Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Tujuan adalah indikator kinerja kegiatan yang terkait dengan pengendalian penyakit DBD dengan merubah menjadi kata ”kerja aktif” di depan kalimat: . Pilih kebijakan atau program dan kegiatan yang telah ada. Data dan informasi dapat berupa data kuantitatif maupun kualitatif. Jika yang dipilih adalah pengendalian penyakit DBD. dan isu gendernya pun berbeda.

. juga menurut kelompok umur.dan lain-lain ( lihat kolom 2 contoh aplikasi GAP. Akses terhadap upaya kesehatan dapat dilihat dari empat dimensi. . baik yang dilaksanakan sendiri oleh pengelola program maupun oleh pihak lain. Contoh : lihat kolom 3 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31). Contoh : lihat kolom 3 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31).Angka Kesakitan dan tingkat keparahan laki-laki dan perempuan. Temu kenali isu gender pada proses perencanaan kebijakan. yaitu : Akses.Data atau hasil survei tentang pengetahuan. Kontrol.  Akses : Ditujukan untuk mengetahui kesenjangan kebutuhan kesehatan perempuan dan laki-laki dalam hal kemudahan mendapatkan upaya kesehatan (promotif. Contoh untuk pengendalian DBD : . Akses juga dapat dilihat dari sisi keterjangkauan terhadap sumberdaya. dan rehabilitatif).Angka Kematian laki-laki dan perempuan. juga menurut kelompok umur. (ii) keterjangkauan dari sisi geografis dan transportasi (jarak dan waktu). yaitu (i) ketersediaan sarana dan atau upaya kesehatan. dan rehabilitatif) baik dari sisi beneficieries (penerima manfaat) maupun provider (penyedia layanan kesehatan). sikap dan perilaku terpilah laki-laki dan perempuan. preventif. halaman 31) LANGKAH 3. (iii) affordability atau keterjangkauan secara ekonomi. Manfaat. dan (ii) beneficiaries (masyarakat).  Partisipasi : Ditujukan untuk mengetahui keterwakilan dan keterlibatan aktif perempuan dan laki-laki dalam upaya kesehatan (promotif. (iv) keterjangkauan secara psikis dan sosiokultural.primer ataupun sekunder. baik sumberdaya yang bersifat tangibles (kentara atau nyata) maupun intangibles (tidak kentara atau tidak nyata). kuratif. program dan kegiatan dengan menganalisis data pembuka wawasan dengan memperlihatkan empat faktor kesenjangan gender. Partisipasi.Angka Response Time Penderita di sarana pelayanan kesehatan terpilah laki-laki dan perempuan . preventif. Kesenjangan gender dapat dilihat dari dua sisi yaitu : (i) penanggungjawab atau pengelola program. kuratif. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 27 . .

dan lain-lain. dan lain-lain. LANGKAH 4. preventif. Manfaat pelayanan kesehatan dari perspektif gender dapat dilihat dari sisi Practical Gender Needs (kebutuhan praktis gender) maupun Strategic Gender Need (kebutuhan stretegis gender). desain program dan kegiatan sesuai siklus perencanaan dan siklus manajemen program.  Kontrol : Ditujukan untuk mengetahui siapa (laki-laki atau perempuan) yang menentukan keputusan terhadap pengalokasian dan penggunaan sumberdaya yang tersedia di tingkat rumah tangga. pemahaman pengelola program tentang konsep gender yang masih kurang (baik pada level pengambil keputusan maupun pelaksana kebijakan). Contoh : lihat kolom 3 pada Contoh Aplikasi GAP (halaman 31). preventif. komunitas. pemerintahan yang berhubungan dengan upaya kesehatan (promotif. dan lain-lain. kuratif. dan pemenuhannya dimaksudkan untuk mengubah ketidakadilan yang mungkin ada dalam konteks relasi laki-laki dan perempuan. Temukenali faktor-faktor di internal lembaga (institusi kesehatan) dan atau budaya organisasi yang dapat menyebabkan terjadinya kesenjangan gender. Contoh : lihat kolom 3 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31). keterwakilan wanita sebanyak 30 % dalam kepengurusan kelompok pemakai air bersih di pedesaan. Contoh : lihat kolom 4 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31) 28 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . Manfaat : Ditujukan untuk mengetahui apakah laki-laki dan perempuan diuntungkan dalam upaya kesehatan (promotif. dukungan penelitian dan pengembangan kesehatan. Kebutuhan Praktis Gender adalah kebutuhan yang bersifat segera dan didasarkan pada kondisi nyata perempuan dan laki-laki tanpa mempersoalkan ada atau tidaknya faktor-faktor ketidakadilan yang mungkin ada antara keduanya. kuratif. dan rehabilitatif). political will dari pengambil keputusan. kebijakan. aroma repellent nyamuk dibuat sesuai aroma maskulin untuk meningkatkan pengguna repellent pada konsumen laki-laki di daerah endemis. Contoh : bantuan dana transportasi untuk wanita hamil risiko tinggi ke sarana pelayanan kesehatan. Kebutuhan Strategis Gender adalah kebutuhan yang didasarkan pada analisis tentang ketidakadilan gender dan faktor-faktor yang menyebabkannya. Contoh : Suami siaga dalam program Perencanaan Persalinan dan Penanganan Komplikasi (P4K). detiksi dini kanker prostat pada laki-laki. Sumber penyebab kesenjangan gender secara internal dapat berbentuk : produk hukum. dan rehabilitatif) baik dari sisi beneficieries (penerima manfaat) maupun provider (penyedia layanan kesehatan).

pemerintahan dan pasar. Menyusun rincian kegiatan yang responsif gender. Sebagaimana proses perencanaan lainnya. Ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender dapat disebabkan oleh budaya patriarki. Manfaat. Hasil review digunakan untuk mereformulasi sub-tujuan baru yang telah responsif gender. sarana dan prasarana pendukung. beban ganda. komunitas. bahkan isu internasional. dukungan kebijakan dan waktu yang tersedia. kekerasan terhadap perempuan) yang terjadi di rumah tangga. Rincian kegiatan merupakan solusi atau pemenuhan terhadap isu Practical Gender Needs dan Strategic Gender Needs dan atau solusi atas isu kesejangan empat faktor yaitu Akses. Contoh : lihat kolom 7 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31) Catatan: Rincian kegiatan yang diusulkan disesuaikan dengan pagu anggaran yang diterima (pagu indikatif. komunitas. Contoh: lihat kolom 6 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31) LANGKAH 7.LANGKAH 5. dan pasar. pagu definitif). Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 29 . diskriminasi gender (stereotipi. Temukenali faktor-faktor di eksternal lembaga dan atau budaya organisasi yang dapat menyebabkan terjadinya kesenjangan gender. Pada saat menyusun sub-tujuan sebaiknya mempertimbangkan feasibility objectives dengan mempertimbangkan ketersediaan sumberdaya yang ada seperti ketersediaan anggaran. Sumber penyebab kesenjangan gender secara eksternal (di luar lembaga/institusi kesehatan) yang dapat terjadi pada level rumah tangga. Partisipasi. pagu sementara. lalu direview kembali dengan melihat hasil analisis pada langkah 2 sampai 5. Rincian kegiatan merupakan rincian kegiatan bidang kesehatan yang dilakukan untuk mencapai sub-tujuan yang telah responsif gender sebagaimana ditulis pada langkah 6. peran dan relasi gender. baik sumberdaya pada penanggungjawab/pengelola program. Contoh : lihat kolom 5 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31) LANGKAH 6. Merumuskan kembali tujuan kebijakan/program/kegiatan pelayanan kesehatan pada langkah 1 sehingga responsif gender. maupun sumberdaya yang ada pada masyarakat (beneficiaries). Reformulasi sub-tujuan harus mendukung tercapainya tujuan semula pada langkah 1. subordinasi. pemerintahan (diluar sektor kesehatan). SDM. rincian kegiatan yang disusun tetap mempertimbangkan ketersediaan sumberdaya yang ada. Kontrol untuk mencapai sub-tujuan baru pada langkah 6. marginalisasi. Reformulasi sub-tujuan yang baru menjawab kesenjangan yang diidentifikasi pada Langkah 2 sampai 5. Pada langkah ini tujuan pada langkah 1 pada ditulis ulang.

Contoh : lihat kolom 8 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31) LANGKAH 9. Baseline indikator ditujukan untuk mengetahui kemajuan intervensi kegiatan yang dilakukan dalam rangka mendukung pencapaian tujuan yang responsif gender (langkah 6). cantumkan rincian kegiatan untuk pengumpulan data (lihat kembali langkah 7). Indikator 9 berbeda dengan indikator pada langkah 1. Catatan: jika muncul indikator baseline baru.LANGKAH 8. Baseline indikator dapat saja berasal dari data pembuka wawasan yang tercantum pada langkah 2. Penyusunan indikator harus mengikuti kriteria penyusunan indikator yang baik (SMART) Contoh : lihat kolom 9 Contoh Aplikasi GAP (halaman31) 30 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . Sub-tujuan baru pada langkah 6 diubah menjadi pernyataan indikator sub-tujuan. Menetapkan baseline indikator responsif gender. Menetapkan indikator responsif gender untuk mengukur keberhasilan pencapaian sub tujuan baru pada langkah 6 (disebut ”indikator sub-tujuan”) dan rincian kegiatan pada langkah 7 (disebut ”indikator rincian kegiatan”). Baseline digunakan sebagai titik awal capaian kinerja.

2.000 penduduk pada tahun 2011.87%% jatuh ke fase DSS.13%.Data dari subdit (unit organisasi Arbovirus 2010.48%. Contoh Aplikasi GAP Bagan 7.79%) dibanding Menurunnya 1% insiden angka kematian (DSS) pada perempuan usia sekolah dan dewasa. anak Pada perempuan 60. Contoh Aplikasi GAP Pada Program Bidang Kesehatan Program Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL Angka kesakitan (Catatan: uraian ttg faktor eskternal bisa bersifat anekdotal selama konsisten dengan data pembuka wawasan). umur 10- 31 . jauh diatas laki-laki yang hanya 39. .28% P 1.79%) dibanding Menurunnya 5% angka .Angka Penderita DBD pada Laki-laki (L) lebih tinggi (51. umur Kementerian 1-4 tahun :L 7. laki-laki. termasuk pilihan metode KIE yang efektif untuk BASELINE DATA Angka Kesakitan DBD terpilah jenis kelamin dan umur INDIKATOR Indikator sub tujuan yang responsif gender: Program . Angka eselon1): Penderita DBD pada Laki-laki (L) lebih tinggi Pengendalian Penyakit (51.66%. 5% angka kematian (DSS) pada perempuan tidak dianalisa dengan menggunakan perspektif gender terutama untuk melihat perbedaan biologis dan sosial untuk kerentanan antara perempuan.DBD: umur < 1 tahun: (diambil dari Renstra L 2. Lingkungan. sikap dan perilaku lakilaki dalam pengendalian DBD.Readaptasi survey COMBi untuk lebih menangkap pengetahuan. Menurunkan Peran perempuan perempuan dan Akses: anak laki-laki. SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL RINCIAN KEGIATAN/ RENCANA AKSI . umur 5-9 tahun: Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan L 11.7%. Menurunkan angka kesakitan DBD dari 55 menjadi 54 per 100.97% P Kesehatan 2010-2014) 6. Sedangkan lakilaki segala usia lebih rentan terhadap insidens DBD daripada perempuan. dan Penyehatan Perempuan (P) (48.16% P 10.21%).

Survey COMBi ttg perilaku DBD pengobatan. sebaiknya data Meningkatnya pengetahuan laki-laki dalam pengendalian DBD. 100. waktu di dalam DBD.Pengembangan iklan layanan masyarakat untuk perempuan . umur 55 menjadi 54 per 5-9 th: L 10% P 20%. (diambil dari Renstra (bila ada. . • Teridentifikasinya faktor penyebab laki-laki tidak tertarik dari 60% menjadi Bogor.87% Tujuan: Indikator rincian  Menurunkan angka umur < 1 th: sero. • Teridentifikasinya sebab khusus kematian DBD pada perempuan. bersifat netral caregivers dewasa.000 penduduk umur 10-14 th: L sero P pada tahun 2011. Mataram.Revisi SOP DBD/DSS khusus untuk perempuan. umur >15th: L sero P 30%. 2014.  Meningkatkan prosentase Angka Survey Combi di 5 kota Bebas Jentik (ABJ) endemis (Batam. mencari sering terlambat rumah dan Meningkatkan persentase kabupaten/kota yang melakukan mapping vektor dari 30 menjadi 40.Angka kesakitan DSS terpilah jenis kelamin dan umur gender. umur kesakitan DBD dari 1-4th: L 30% P 0%. (P) (48. Apalagi jika perempuan diharuskan dirawat inap.Kematian (DSS): L 39. L21. Bekasi) th 70% pada tahun 2009 ttg pengetahuan 2011 masyarakat .Audit .13% P 60.32 LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER Laki-laki lebih sedikit terpapar pada media informasi (KIE) ttg DBD dibanding perempuan. 10%.13% P 60. maka harus ada yang bisa menggantikan Laki-laki lebih sedikit terpapar pada media mereka dulu untuk mengurus keluarga sebelum Meningkatkan prosentase Angka Bebas Jentik (ABJ) dari 60% menjadi . Response program sebagai usia sekolah dan laki-laki dan Perempuan DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL kesakitan DBD pada laki-laki. Kegiatan: 14 tahun: L 9. sama dan akses lebih banyak pengendalian penanganan baku/ menghabiskan laki-laki dalam sama.6%. Lampiran 14) .21%). dengan dalam keluarga. kolom program/ kegiatan.13% P 20. Baseline: Kematian (DSS): L 39.61%. umur>15 tahun: Bersumber Binatang. BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan kegiatan: Kementerian ini juga terpilah jenis Kesehatan 2010- kelamin). perempuan. sehingga berakibat angka kesakitan DBD pada lakilaki lebih tinggi. Depok.45% P Pengendalian Penyakit 8. Ini terbukti dari COMBi ( yang menunjukkan data laki-laki yang pernah melihat iklan DBD hanya 1/3 dari perempuan.87% sama. prosedur mereka pengetahuan kematian DBD dengan fokus pada perempuan (termasuk mengukur response time) asumsi kerentanan membuat Meningkatkan .

gender.Laki-laki mendengar ttg DBD = 22% (Data P2B2 th 2009) pergi mencari terlibat aktif Baseline: sering menunda supaya lebih perempuan untuk laki-laki ini menyebabkan 2011 berobat dan umur dan jenis kelamin.  Meningkatkan ttg pengendalian DBD: L persentase 22% P 78% kabupaten/kota yang melakukan mapping Pada pesan media vektor dari 30 elektronik cenderung bias • Meningkatnya response time perempuan dalam mencari pengobatan DBD. mau dirawat.LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER informasi (KIE) ttg DBD dibanding perempuan. sehingga sulit yang lanjut. sistem kapiler perempuan memang lebih rentan untuk permeabilitas sel. . . karena model iklan lebih banyak (diambil dari Renstra perempuan (misal 3M) dan Kementerian repellen nyamuk beraroma Kesehatan 2010-2014) bunga 100% kader jumantik di DKI Jakarta.Pencanangan Gerakan Bebas Jentik dengan Duta Nasional Jumantik Laki-laki dan Perempuan. sehingga berakibat angka kesakitan DBD pada lakilaki lebih tinggi. Ini terbukti dari COMBi ( yang menunjukkan data laki-laki yang pernah melihat iklan DBD hanya 1/3 dari perempuan penanganan secara medisnya. Cimahi • Meningkatnya jumlah keterlibatan laki-laki sebagai jumantik. Kota Mojokerto.Lomba jumantik teladan laki-laki dan perempuan baik di tatanan rumah tangga. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan bila ada tambahkan data ttg jam tayang iklan 33 . menjadi 40. sekolah maupun institusi. (penting sekali data ttg hari ke berapa laki-laki dan perempuan baru mengakses layanan kesehatan). Hal 70% pada tahun supaya segera terpilah DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL upaya promotif pengendalian DBD. Diseminasi informasi media eletronik disukai masyarakat tetapi biayanya besar namun informasi yang ada belum memperhatikan Selain itu secara bilogis. . dan Kota Jogjakarta adalah ibu2. fase penyakit sudah dengan mereka datang seringkali saat sehingga pengobatan dalam pengendalian DBD.

antara laki-laki Kontrol: dan perempuan maka Walaupun angka kesakitan laki-laki lebih tinggi tapi angka kesakitan yang masuk menjadi DSS lebih rendah – perlu diteliti lebih lanjut apakah ini karena aki-laki punya kontrol lebih besar pada akses layanan kesehatan l ataukah karena memang secara imunologi laki-laki seperti tempat penyimpanan air untuk mandi. feasibility. ketersediaan sumberdaya dan dukungan politis yang diperlukan. sedangkan laki-laki lebih bertanggung jawab untuk wadah penampungan dalam rumah tangga / di dengan rumah yang terkait kontainer air jawab terhadap bertanggung perempuan lebih peran gender Bila dilihat dari DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL atau lokasi pemasangan poster untuk melihat akses dan manfaat atas informasi kesehatan bagi BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan perempuan/laki-laki Pengetahuan Masyarakat tentang Pengendalian DBD pada L (22%) < Perempuan (78%)(Survei Market Analysisis COMBi di 5 kota: Batam. Kota Depok. siapa di lingkungan. dan Kota Bekasi Tahun 2009) --> adakah data ttg siapa (laki-laki atau perempuan) yang sebetulnya melakukan 3M di rumah tangga.34 LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER kebutuhan lelaki (Catatan: dalam memilih rencana aksi pertimbangkan priority setting K/L. Kota Bogor.) dan perempuan. Mataram. minum dan cuci. .

LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER lebih baik daripada perempuan terhadap DBD.untuk melihat akses ke layanan kesehatan antara laki-laki dan perempuan dan kontrol Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan atas sumber daya antara laki-laki dan perempuan 35 . tanki air ataupun rumah seperti air yang disekitar DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL . media cetak: 7%. Kurangnya petugas jumantik laki-laki untuk melakukan pemeriksaan dan penyuluhan tentang PSN dan Penanggulangan DBD disebabkan Laki-laki menyerahkan urusan pemberantasan jentik demam Laki-laki tidak maksimal dalam memanfaatkan dan belum terlalu mengena untuk peran gender laki-laki untuk pengendalian DBD. pembuangan Partisipasi: sampah “besar”. TV: 24 %.Sumber informasi DBD yg diinginkan oleh masyarakat : penyuluhan langsung oleh nakes: 57%. rumah tangga untuk kebutuhan tampung air pada wadah 3M lebih fokus Selama ini iklan oleh kader: 12 %.--apakah bisa terpilah antara laki-laki dan perempuan Adakah data % perempuan dan % laki-laki yang dirawat di RS dengan dana out of pocket atau Jamkesmas? . penyuluhan langsung Petugas penyuluh demam berdarah lebih banyak perempuan.

36 LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER berdarah di rumah untuk dilakukan oleh perempuan. serius karena tidak ada vaksin infeksi dengan menganggap perempuan PortoRico. dilakukan di studi yang Dalam sebuah pada laki-laki. DBD lebih tinggi Waktu penyuluhan DBD dilakukan pada pagi hari sehingga hanya perempuan yang memiliki waktu untuk mengikuti penyuluhan karena BapakBapak banyak di luar rumah untuk bekerja. upaya promotif DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . sehingga insidens kesehatan. ..

ekonomi dan dan dampak tingginya insiden Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 37 . maka dapat disimpulkan laki-laki kurang menggunakan upaya promotif yang dilakukan dalam pengendalian demam berdarah.LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER Manfaat: DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL Hanya 22% Lakilaki di bandingkan 78% perempuan memiliki pengetahuan tentang DBD. gigitan nyamuk meremehkan banyak orang memilih karena laki-laki lebih sedangkan emosi nya.

Teknik menyusun TOR Rensponsif Gender Kerangka acuan kerja atau Term of Reference yang selanjutnya disebut KAK/ TOR adalah dokumen yang menginformasikan gambaran umun dan penjelasan mengenai keluaran kegiatan yang akan dicapai sesuai dengan tugas dan fungsi Kementerian Negara/lembaga yang memuat latar belakang.C. Where + 2 H (How to do dan How much). Untuk lebih jelasnya. Kontrol. What. 38 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . manfaat. strategi pencapaian. When. Manfaat. penerima. maka berikut ini disampaikan format TOR Responsif gender lengkap sebagai berikut. dan Partisipasi) yang dilakukan di GAP langkah 3-5 sebagai latar belakang. dan biaya yang diperlukan. Who. Dalam TOR harus jelas 5W (Why. GAP langkah 6 dan langkah 9 dapat dimasukkan sebagai tujuan dalam TOR. TOR responsif gender adalah TOR yang memasukkan data (GAP langkah 2 dan langkah 8) dan analisis AKMP (Akses. GAP langkah 7 (rincian kegiatan) dimasukkan sebagai proses pelaksanaan dalam TOR dengan identifikasi kelompok sasaran serta menjelaskan keterwakilan dan keterlibatan aktif laki-laki dan perempuan.

................................................................................................ Tujuan dan Penerima Manfaat ............. : ................................................................................................................ (15) E........................................................................................ Latar Belakang 1................................... : ......................... (12) C.......................................... 10) 2. A............................................................ Rencana Anggaran Biaya (RAB) ..... (13) 2............................................................................... Dasar Hukum Tugas Fungsi/ Kebijakan ...... Waktu Pencapaian Indikator Kinerja Kegiatan ..................................... (14) D.......1............... (16) Penanggung Jawab (17) NIP.............................................................................................................................................................. Tahapan dan Waktu Pelaksanaan ............................................................... (18) Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 39 .......... ............................................. : ............................................................................... (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Satuan ukur dan Jenis Keluaran : ............................... : ....... Volume : .................... Format TOR KAK/ TOR PER KELUARAN/OUTPUT KEGIATAN Kementerian Negara/ Lembaga : ................................................................. Gambaran Umum ................................... Strategi Pencapaian Indikator Kinerja Kegiatan 1.. Unit Eselon I Program Hasil Unit Eselon II/ Satker Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan : ........................................................................................... (11) B....................... : ................................................................ Metode Pelaksanaan.........

Pada bagian ini menjelaskan What dan Why. Tujuan memberikan informasi tentang manfaat yang akan diterima kelompok sasaran.. Volume yang dihasilkan bersifat kuantitatif yang terukur Contoh : 5 peraturan . 200 orang peserta. yang bersifat sekuensial. baik laki-laki dan perempuan dengan didukung data terpilah dan mengidentifikasi isu kesenjangan gendernya yang menyebabkan outcome/output program dan target indikator kinerja kegiatan belum tercapai. Gambaran Umum : Diisi dengan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan serta penjelasan target indicator kinerja kegiatan yang akan dicapai. (10) (11). Kesenjangan gender diperoleh dari hasil analisis gender. Diisi nama kegiatan sesuai hasil restrukturisasi kegiatan Diisi uraian indikator kinerja kegiatan Diisi nama satuan ukur dan jenis keluaran kegiatan Diisi jumlah volume keluaran kegiatan. 33 laporan . Diisi dengan dasar hukum tugas fungsi dan/ atau ketentuan yang terkait langsung dengan kegiatan yang akan dilaksanakan. 40 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . apakah telah menjelaskan tentang permasalahan yang dihadapi oleh kelompok sasaran.. baik laki-laki maupun perempuan (pertanyaan Who tapi pada level indikator). dengan target sasaran perempuan dan laki-laki (masih menggunakan data hasil analisis gender). 13. dengan membedakan sasaran perempuan dan laki-laki.Penjelasan point per point : NO.. Diisi dengan uraian tentang proses pelaksanaan Rincian Kegiatan... 12. Diisi dengan cara pelaksanaanya berupa kontraktual atau swakelola. Penjelasan juga meliputi cara pelaksanaan Rincian Kegiatan apakah berupa kontraktual atau swakelola. Penerima manfaat merujuk kepada pencapaian target indikator kinerja kegiatan terpilah menurut kelompok laki-laki dan perempuan. Diisi dengan tujuan dan penerima manfaat baik internal dan atau eksternal K/L.. dengan tujuan memberikan gambaran bahwa detil Rincian Kegiatan dan urut-urutan pelaksanaannya telah responsif gender. (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Diisi nama unit eselon I.. yang mengeksplorasi mengapa (why) hal tersebut bisa terjadi. Selanjutnya menjelaskan tentang langkah apa (what) yang akan dilakukan untuk mengatasi kesenjangan gender tersebut. URAIAN Diisi nama kementerian negara/ lembaga Disi nama program sesuai hasil restrukturisasi program Diisi dengan outcome yang akan dicapai dalam program Diisi nama unit eselon II.

yang berisikan Komponen Input seperti : Rencana Kerja Tahunan. 18. Laporan Kegiatan dan Pembinaan. seperti : Sosialisasi/ desiminasi. seluruh komponen input yang digunakan ditetapkan oleh penanggung jawab kegiatan dan penekanan kesesuaian/ relevansi masing-masing komponen input serta biayanya dalam rangka pencapaian output kegiatan. dimana penekanan/ fokus berada pada output. atau dokumen lain sejenis. Setiap output harus dapat diidentifikasi jenis dan satuannya dengan jelas. Output kegiatan dapat berupa : 1. Oleh karenanya setiap TOR/ KAK dibuat per keluaran/ output kegiatan. Daftar output kegiatan dapat dilihat pada formulir 3 RKA-KL yang telah ditetapkan oleh penanggung jawab kegiatan/Eselon II di masing-masing unit utama dalam penyusunan RKA-KL setiap tahunnya. Where (menjelaskan mengapa tempat pelaksanaan detil Rincian Kegiatan dipilih dengan memperhatikan akses dan partisipasi perempuan dan lakilaki). Diisi dengan NIP penanggung jawab kegiatan. Dalam rangka penerapan pendekatan Penganggaran Berbasis Kinerja (PBK) yang mulai diterapkan pada tahun anggaran 2011. Diisi dengan kurun waktu pencapaian pelaksanaan Diisi dengan lampiran RAB yang merupakan rincian alokasi dana yang diperlukan dalam pencapaian Indikator Kinerja Kegiatan. When (menjelaskan mengapa waktu dan lama pelaksanaan detil Rincian kegiatan dipilih dengan memperhatikan akses dan partisipasi perempuan dan laki-laki ). Diisi dengan tahapan/komponen masukan yang digunakan dalam pencapaian Indikator Kinerja kegiatan. 16. Diisi dengan nama penanggung jawab kegiatan (eselon II/ kepala satker vertikal). termasuk jadwal waktu (time table) pelaksanaan dan keterangan lainnya yang dibutuhkan. baik laki-laki maupun perempuan : Who (menjelaskan mengapa perempuan dan laki-laki dipilih dalam pelaksanaan detil Rincian Kegiatan). Jadi harus dapat menjelaskan upaya perbaikan permasalahan yang dihadapi oleh kelompok sasaran. Catatan: Pengisian Nomor 1 sampai 7 menggunakan dokumen Renstra Kementerian Kesehatan tahun 2010-2014 yakni pada Lampiran tentang Matriks Kinerja Kementerian Kesehatan. 15. 17. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 41 . atau komponen input sejenis.Bagian ini menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan Rincian Kegiatan yang mendukung langsung perbaikan ke arah kesetaraan gender. Kegiatan dan Output. Dokumen Perencanaan dan pengelolaan anggaran. peningkatan kapasitas SDM. maka struktur pengalokasian anggaran dirinci menurut Program. Keluaran/output kegiatan adalah barang/ jasa yang dihasilkan dari pelaksanaan sebuah kegiatan untuk mendukung pencapaian outcome program. 14. How To Do (menjelaskan mengapa bentuk pelaksanaan Rincian Kegiatan sesuai dengan kebutuhan beneficieries). Output merupakan produk utama/ akhir yang bersifat spesifik yang dihasilkan oleh suatu kegiatan sebagaimana fungsi Unit Eselon II/ Satker yang bersangkutan. yang dapat berisikan Komponen Input Laporan Kegiatan. 2.

Dalam contoh aplikasi TOR Responsif Gender berikut ini akan ditampilkan contoh TOR Responsif Gender dengan Output Laporan Pengendalian DBD.Meningkatnya persentase Angka Bebas Jentik ( ABJ) dari 60% menjadi 70% pada tahun 2011. Kementerian Negara/Lembaga : Kementerian Kesehatan Unit Organisasi (eselon 1) : Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Program : Program Pengendalian Penyakit Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Hasil atau Outcome : Meningkatnya pencegahan dan penanggulangan penyakit bersumber binatang UNIT Eselon II/Satker : Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Kegiatan : Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Indikator Kinerja Kegiatan . 2. yang berisikan Komponen Input : gaji dan Tunjangan. 2 diantaranya mempunyai Output Laporan untuk pengendalian DBD yakni Readaptasi Survey COMBi dan Audit Kematian DBD. Layanan Perkantoran. CONTOH APLIKASI TOR RESPONSIF GENDER TOR/KAK per Output Kegiatan Output Kegiatan : Laporan Pengendalian DBD Catatan: Dalam kolom 7 GAP (Rencana Aksi) sebelumnya/diatas. terdapat 6 Rencana Aksi. . Dan lain-lain.000 penduduk pada tahun 2011 untuk Nasional .Menurunnya angka kesakitan DBD dari 55 menjadi (diambil dari Renstra 2010-2014) 54 per 100. Dari keenam Rencana Aksi tersebut. . 4. Kendaraan 6. Alat pengolah data/ komputer 5.Meningkatkan persentase kabupaten/kota yang melakukan mapping vektor dari 30 menjadi 40 Output : Laporan Pengendalian Penderita DBD Satuan Ukur dan Jenis Keluaran : Laporan Volume : 2 laporan (Readaptasi Survey Combi dan Audit Kematian DBD/DSS) 42 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan .3. operasional perkantoran dan pemeliharaan.

Penyusunan Kebijakan Program.a. Kesepakatan bersama antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak dengan Menteri Kesehatan tentang pelaksanaan tentang pengarus utamaan gender di Bidang Kesehatan No. Angka Penderita DBD pada Laki-laki (L) lebih tinggi (51.21%).79%) dibanding Perempuan (P) (48. Kematian (DSS): L 39. c. d. dan pasal 10 Pokja PUG Provinsi mempunyai tugas menetapkan TIM teknis untuk melakukan analisis terhadap anggaran daerah. f. 2. g. 07/MEN. Undang Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 560 Tahun 1989 tentang Jenis Penyakit Tertentu Yang Dapat Menimbulkan Wabah. Angka DSS pada perempuan lebih tinggi.KEPMENKES Nomor 581/MENKES/SK/VII/1992 tentang Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue. b. Menarik untuk dilihat lebih lanjut apakah diperlukan penanganan darurat khusus untuk perempuan yang terinfeksi Dengue. Tata Cara Penyampaian Laporannya dan Tata Cara Penanggulangannya. Gambaran Umum Data dari subdit Arbovirus 2010. i.13% P 60.104/PMK. h. dan Kegiatan Pembangunan berperspektif gender sebagaimana dimaksud ayat 1 dilakukan analisis gender. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 31-VI Tahun 1994 tentang Pembentukan Kelompok Kerja Operasional Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue ( POKJANAL DBD). sebagai akibat dari perilaku perempuan yang terlambat dalam mencari pengobatan. Latar Belakang 1. Tim Pembina LKMD Tingkat Pusat. Laki-laki segala usia lebih rentan terkena DBD. Norma patriarki yang menempatkan perempuan - Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 43 . PP&PA/5/2010-No.02/2010 tentang petunjuk penyusunan dan penelahaan RAKL Tahun 2011.87% Perempuan dewasa lebih rentan terhadap kematian (DSS). e. Peraturan Menteri Keuangan No. Peraturan Menteri Dalam negeri Nomor 15/2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanan Pengarusutamaan Gender (PUG) di daerah dimana pada Pasal 4 ayat 2. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal. Dasar Hukum Tugas Fungsi/ Kebijakan a.593/MENKES/SKB/V/2010. Peraturan Pemerintah Nomor 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit Menular. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1457 tahun 2003 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota Dalam Pencegahan dan Pemberantasan DBD.

maka dapat disimpulkan laki-laki kurang menggunakan upaya promotif yang dilakukan dalam pengendalian demam berdarah. Bogor. sehingga berakibat angka kesakitan DBD pada laki-laki lebih tinggi. Kurangnya petugas jumantik laki-laki untuk melakukan pemeriksaan dan penyuluhan tentang PSN dan Penanggulangan DBD disebabkan Laki-laki menyerahkan urusan pemberantasan jentik demam berdarah di rumah untuk dilakukan oleh perempuan. Mataram. Manfaat: Hanya 22% Laki-laki di bandingkan 78% perempuan memiliki pengetahuan tentang DBD. Kontrol: Walaupun angka kesakitan laki-laki lebih tinggi tapi angka kesakitan yang masuk menjadi DSS lebih rendah – perlu diteliti lebih lanjut apakah ini karena laki-laki punya kontrol lebih besar pada akses layanan kesehatan ataukah karena memang secara imunologi laki-laki lebih baik daripada perempuan terhadap DBD. Cimahi dan Kota Jogjakarta adalah ibu2. Survey Combi di 5 kota endemis (Batam. karena model iklan lebih banyak perempuan (misal 3M) dan repellen nyamuk beraroma bunga. Waktu penyuluhan DBD dilakukan pada pagi hari sehingga hanya perempuan yang memiliki waktu untuk mengikuti penyuluhan karena Bapak-Bapak banyak di luar rumah untuk bekerja. 100% kader jumantik di DKI Jakarta. Kota Mojokerto.sebagai caregivers dalam keluarga membuat perempuan terlambat mencari pengobatan karena harus mengurus keluarga terlebih dulu. Partisipasi: Petugas penyuluh demam berdarah lebih banyak perempuan. Angka kesakitan tidak dianalisa dengan menggunakan perspektif gender terutama untuk melihat perbedaan biologis dan sosial untuk kerentanan 44 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . Bekasi) th 2009 ttg pengetahuan masyarakat ttg pengendalian DBD: L 22% P 78% Pada pesan media elektronik cenderung bias gender. Akses: Laki-laki lebih sedikit terpapar pada media informasi (KIE) ttg DBD dibanding perempuan. Ini terbukti dari COMBi ( yang menunjukkan data laki-laki yang pernah melihat iklan DBD hanya 1/3 dari perempuan. Depok. cemas tidak ada yang menggantikan dia kalau di-rumah sakit kan sehingga membuat mereka terlambat datang ke sarana kesehatan.

Peran perempuan sebagai caregivers dalam keluarga. Laki-laki tidak maksimal dalam memanfaatkan upaya promotif kesehatan. sistem kapiler perempuan memang lebih rentan untuk permeabilitas sel. tingginya insidens dan dampak ekonomi dan emosi nya. anak perempuan dan anak laki-laki. perempuan menganggap infeksi dengue serius karena tidak ada vaksin. sehingga sulit penanganan secara medisnya. Perlu dicarikan strategi untuk meningkatkan partisipasi laki-laki dalam pengendalian DBD. minum dan cuci. membuat mereka menghabiskan lebih banyak waktu di dalam rumah dan sering terlambat mencari pengobatan. sedangkan laki-laki lebih bertanggung jawab untuk wadah penampungan air yang disekitar rumah seperti tanki air ataupun pembuangan sampah “besar”. prosedur penanganan baku/sama dan akses sama. dengan asumsi kerentanan sama. anak perempuan dan anak laki-laki. prosedur penanganan baku/sama dan akses sama. Dalam sebuah studi yang dilakukan di Puerto Rico. Hal ini menyebabkan perempuan sering menunda pergi mencari pengobatan sehingga seringkali saat mereka datang sudah dengan fase penyakit yang lanjut. Response program bersifat netral gender. laki-laki. Angka kesakitan tidak dianalisa dengan menggunakan perspektif gender terutama untuk melihat perbedaan biologis dan sosial untuk kerentanan antara perempuan.antara perempuan. terutama melalui kegiatan PSN oleh masyarakat perlu ditingkatkan. Selama ini iklan 3M lebih fokus pada wadah tampung air untuk kebutuhan rumah tangga dan belum terlalu mengena untuk peran gender laki-laki untuk pengendalian DBD. sedangkan laki-laki lebih memilih karena banyak orang meremehkan gigitan nyamuk Oleh sebab itu upaya pengendalian DBD yang memang difokuskan pada pemberantasan nyamuk Aedes aegypti sebagai penular DBD. Apalagi jika perempuan diharuskan dirawat inap. laki-laki. Response program bersifat netral gender. Selain itu secara bilogis. COMBi menunjukkan laki-laki tidak memiliki pengetahuan memadai sehingga angka insidens pada laki-laki lebih tinggi dan jumantik laki-laki Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 45 . sehingga insidens DBD lebih tinggi pada laki-laki. Bila dilihat dari peran gender antara laki-laki dan perempuan maka perempuan lebih bertanggung jawab terhadap kontainer air yang terkait dengan rumah tangga / di dalam rumah seperti tempat penyimpanan air untuk mandi. maka harus ada yang bisa menggantikan mereka dulu untuk mengurus keluarga sebelum mau dirawat. dengan asumsi kerentanan sama.

Dalam pelaksanaan kegiatan penanggulangan penderita DBD tersebut. Strategi Pencapaian Keluaran 1. c. dimana pengendalian penyakit ini bertujuan untuk : Menurunkan 5% angka kematian (DSS) pada perempuan usia sekolah dan dewasa. Metode Pelaksanaan : Dilaksanakan melalui metode swakelola 2. ataupun karena perbedaan peran gender sehingga mempengaruhi perilaku pasien dalam mencari pengobatan. prosedur yang perlu disempurnakan sesuai sex. Target sasaran kegiatan: provinsi endemis. Tahapan dan Waktu Pelaksanaan (diambil dari kolom 7 GAP) 46 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . Sedangkan untuk merespon tinggi nya angka kematian akibat DBD/DSS pada perempuan usia sekolah dan dewasa maka sarana kesehatan harus mulai melakukan audit kematian untuk mengidentifikasi apakah penyebab dari kematian karena faktor biologis. Oleh sebab itu perlu melakukan readaptasi modul Survey COMBi untuk menangkap faktor-faktor penyebab rendahnya partisipasi lakilaki dan perlu analisa khusus untuk merumuskan kembali strategi perubahan perilaku yang lebih efektif berdasarkan perbedaan gender dalam keterlibatan aktif laki-laki dan perempuan dalam pengendalian DBD. Tujuan dan Penerima Manfaat Dengan ouput laporan ini akan melaporkan hasil pengendalian penderita DBD. bayi perempuan <1 tahun. laki-laki >15 th.Laporan Readaptasi Survey COMBi .sangatlah minim.Laporan Audit Kematian DBD b. maka akan disusun laporan pelaksanaan yang terdiri dari . Meningkatkan pengetahuan laki-laki dalam pengendalian DBD.

. termasuk pilihan metode KIE yang efektif untuk lakilaki dan perempuan TAHAPAN Readaptasi COMBI tool untuk menangkap faktor resiko DBD pada laki-laki Pelatihan enumerator COMBi Survey Combi Pengolahan data dan penyusunan laporan COMBi Sosialisasi hasil COMBi Penyusunan pesan COMBi Pengadaan pesan COMBi Launching pesan COMBi Monitoring dan Evaluasi WAKTU PELAKSANAAN Februari 2011 Maret 2011 Maret 2011 April 2011 April 2011 Mei 2011 Mei 2011 Juni 2011 ......... Waktu Pencapaian Keluaran : Tahun Anggaran 2011 e............. Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang...... .................. Indikator Keluaran : Tersusunnya laporan pengendalian pada penderita DBD d................Audit kematian DBD dengan fokus pada perempuan (termasuk mengukur response time) Pengembangan SOP Pelatihan SOP Survey Audit Kematian di sub nasional Februari 2011 Maret 2011 April 2011 3....... NIP.... Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 47 ... .......... Rencana Anggaran Biaya (RAB) (terlampir) Penanggung Jawab....Readaptasi survey COMBi untuk lebih menangkap pengetahuan...... sikap dan perilaku laki-laki dalam pengendalian DBD..PELAKSANAAN .....

GBS memberikan informasi bahwa suatu kegiatan telah responsif terhadap isu gender yang ada. 48 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . indikator kinerja kegiatan.D. GBS merupakan perpaduan dari hasil analisis gender (analisis GAP) dan kebutuhan anggaran (TOR responsive gender) secara generik dan instan. Karena target kinerjanya mengukur perempuan dan laki-laki. sub output kegiatan dan komponen input terhadap pencapaian target indikator kinerja kegiatan dan target output/outcome dari program. output. Sebagian isi GBS juga berasal dari dokumen TOR responsif gender. maka Rincian Kegiatan dan sub-output yang dilakukan pun merupakan hasil analisis gender. maka sebagian isi GBS berasal dari matriks analisis GAP. Karena analisisnya menggunakan metode GAP. namun secara komprehensif mencakup tentang relevansi kegiatan. dan suatu biaya telah dialokasikan pada output kegiatan untuk menangani permasalahan kesenjangan gender. Target Indikator kinerja kegiatan yang dicapai mesti memperhatikan kesetaraan dan keadilan bagi perempuan dan laki-laki. Adapun format GBS yang memuat komponen-komponennya serta cara penyusunannya dapat dilihat pada format berikut. Teknik Penyusunan Gender Budget Statement (GBS) GBS adalah dokumen yang berisi pernyataan bahwa sebuah program dan kegiatan telah responsif gender.

FORMAT GENDER BUDGET STATEMENT (Pernyataan Anggaran Gender) Kementerian Negara/Lembaga Unit Organisasi Unit eselon II/Satker : ……………………… : ……………………… : ……………………… Program Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan Output Kegiatan Analisa Situasi (diharapkan tersedia angka kelompok sasaran baik laki-laki maupun perempuan. Analisis situasi : menggambarkan terjadinya kesenjangan gender yang ada terkait dengan kegiatan yang akan dilaksanakan. dengan menekankan uraian pada aspek gender dari persoalan tersebut. hanya berupa gambaran bahwa output kegiatan yang akan dihasilkan mempunyai pengaruh kepada kelompok sasaran tertentu) Rincian Kegiatan Diambil dari TOR bagian metode pelaksanaan Nama program yang ada pada K/L Nama Kegiatan sebagai penjabaran program Indikator yang ditetapkan untuk masing-masing output kegiatan (merujuk kedokumen Renstra 2010-2014) Nomenklatur Output dan volume satuan Output Kegiatan (sesuai RKA-KL) Uraian ringkas yang menggambarkan persoalan yang akan ditangani/ dilaksanakan oleh Kegiatan yang menghasilkan output.1.. Jenis-jenis Rincian Kegiatan yang akan dilakukan. Tahapan pertama pelaksanaan sub-output 1 Tahapan kedua pelaksanaan sub-output 1 Tahapan ketiga pelaksanaan sub-output 1 Jenis-jenis Rincian Kegiatan yang akan dilakukan Tahapan ketiga pelaksanaan sub-output 2 Tahapan ketiga pelaksanaan sub-output 2 Alokasi Anggaran Output Kegiatan Jumlah anggaran (Rp) yang dialokasikan untuk mencapai suatu Output Kegiatan Dampak/hasil Output Kegiatan Dampak/hasil secara luas dari Output Kegiatan yang dihasilkan dan dikaitkan dengan isu gender serta perbaikan ke arah kesetaraan gender yang telah diidentifikasi pada analisisi situasi Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 49 . Jika tidak.. Sub-output 1 Komponen Input 1 Komponen Input 2 Komponen Input 3 Dst… Sub-ouput 2 Komponen Input 1 Komponen Input 2 Dst.

13% P 60. Oleh sebab itu perlu melakukan readaptasi modul Survey COMBi untuk menangkap faktor-faktor penyebab rendahnya partisipasi laki-laki dan perlu analisa khusus untuk merumuskan kembali strategi perubahan perilaku yang lebih efektif berdasarkan perbedaan gender dalam keterlibatan aktif laki-laki dan perempuan dalam pengendalian DBD. Output Kegiatan Analisa Situasi (diharapkan tersedia angka kelompok sasaran baik laki-laki maupun perempuan. Bekasi) th 2009 ttg pengetahuan masyarakat ttg pengendalian DBD: L 22% P 78% Pada pesan media elektronik cenderung bias gender.000 penduduk pada tahun 2011 untuk Nasional . Bogor. hanya berupa gambaran bahwa output kegiatan yang akan dihasilkan mempunyai pengaruh kepada kelompok sasaran tertentu) 50 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . karena model iklan lebih banyak perempuan (misal 3M) dan repellen nyamuk beraroma bunga. COMBi menunjukkan laki-laki tidak memiliki pengetahuan memadai sehingga angka insidens pada laki-laki lebih tinggi dan jumantik laki-laki sangatlah minim. .Menurunnya angka kesakitan DBD dari 55 menjadi 54 per 100. Angka DSS pada perempuan lebih tinggi. Survey Combi di 5 kota endemis (Batam. CONTOH APLIKASI GENDER BUDGET STATEMENT (GBS) (Pernyataan Anggaran Gender) Kementerian Negara/Lembaga : Kementerian Kesehatan Unit Organisasi : Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Unit eselon II/Satker : Direktorat Pengendalian Penyakit bersumber Binatang Kementerian Negara/Lembaga : Kementerian Kesehatan Unit Organisasi (eselon 1) : Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Unit Eselon II/Satker : Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Program Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan : Program Pengendalian Penyakit Penyakit dan Penyehatan Lingkungan : Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang .Meningkatkan persentase kabupaten/kota yang melakukan mapping vektor dari 30 menjadi 40 Laporan Pengendalian Penderita DBD Data dari subdit Arbovirus 2010. Kota Mojokerto. Cimahi dan Kota Jogjakarta adalah ibu2. Jika tidak.2. . Norma patriarki yang menempatkan perempuan sebagai caregivers dalam keluarga membuat perempuan terlambat mencari pengobatan karena harus mengurus keluarga terlebih dulu. Angka Penderita DBD pada Laki-laki (L) lebih tinggi (51. terutama melalui kegiatan PSN oleh masyarakat perlu ditingkatkan.79%) dibanding Perempuan (P) (48. cemas tidak ada yang menggantikan dia kalau di-rumah sakit kan sehingga membuat mereka terlambat datang ke sarana kesehatan. Perlu dicarikan strategi untuk meningkatkan partisipasi laki-laki dalam pengendalian DBD. 100% kader jumantik di DKI Jakarta. Laki-laki segala usia lebih rentan terkena DBD. Mataram.Meningkatnya persentase Angka Bebas Jentik ( ABJ) dari 60% menjadi 70% pada tahun 2011. Oleh sebab itu upaya pengendalian DBD yang memang difokuskan pada pemberantasan nyamuk Aedes aegypti sebagai penular DBD.87% Perempuan dewasa lebih rentan terhadap kematian (DSS). Depok. Menarik untuk dilihat lebih lanjut apakah diperlukan penanganan darurat khusus untuk perempuan yang terinfeksi Dengue. sebagai akibat dari perilaku perempuan yang terlambat dalam mencari pengobatan. Kematian (DSS): L 39.21%).

Sedangkan untuk merespon tinggi nya angka kematian akibat DBD/DSS pada perempuan usia sekolah dan dewasa maka sarana kesehatan harus mulai melakukan audit kematian untuk mengidentifikasi apakah penyebab dari kematian karena faktor biologis, prosedur yang perlu disempurnakan sesuai sex, ataupun karena perbedaan peran gender sehingga mempengaruhi perilaku pasien dalam mencari pengobatan.

Rincian Kegiatan (diambil dari TOR bagian metode pelaksanaan)

Readaptasi survey COMBi untuk lebih menangkap pengetahuan, sikap dan perilaku laki-laki dalam pengendalian DBD; termasuk pilihan metode KIE yang efektif untuk lakilaki dan perempuan

Tujuan Suboutput 1 (disesuaikan dengan logika suboutput yang dipilih dan indikator Kinerja Kegiatan).

• Teridentifikasinya sebab khusus kematian DBD pada perempuan; • Angka Kesakitan DBD terpilah jenis kelamin dan umur

Suboutput 1

Komponen 1

Readaptasi COMBI tool untuk menangkap faktor resiko DBD pada laki-laki Pelatihan enumerator COMBi Survey Combi Pengolahan data dan penyusunan laporan COMBi Sosialisasi hasil COMBi Penyusunan pesan COMBi Pengadaan pesan COMBi Launching pesan COMBi Monitoring dan Evaluasi

Komponen 2 Komponen 3 Komponen 4

Komponen 5 Komponen 6 Komponen 7 Komponen 8 Komponen 9

Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan

51

Suboutput 2

Audit Kematian Tujuan Suboutput 2(disesuaikan dengan logika suboutput yang dipilih dan indikator Kinerja Kegiatan). Teridentifikasinya sebab khusus kematian DBD pada perempuan; Meningkatnya response time perempuan dalam mencari pengobatan DBD; Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 Pengembangan SOP Pelatihan SOP Survey Audit Kematian di sub nasional

Alokasi Anggaran Output Kegiatan Dampak/hasil Output Kegiatan

Rp.1,629,000,000 (Jumlah anggaran yang dialokasikan untuk mencapai output kegiatan)

Menurunkan 5% angka kematian (DSS) pada perempuan usia sekolah dan dewasa. Meningkatkan pengetahuan laki-laki dalam pengendalian DBD.

52

BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan

E. Hubungan GAP, TOR dan GBS
GAP, TOR dan GBS adalah saling berhubungan satu sama lain. Karena itu, banyak variable informasi dalam GAP, TOR dan GBS saling berkaitan dan saling memperkuat. Oleh sebab itu, keberhasilan penyusunan GAP akan sangat memudahkan penyusunan TOR dan GBS. Matrix berikut ini dapat menggambarkan hubungan antara Langkah-langkah dalam GAP, Komponen TOR, dan GBS. Bagan 8. Matriks Hubungan GAP, GBS dan TOR
GAP (KOLOM) 1 2,3,4,5 6 7 8,9 TOR Data umum (Eselon 1, Program, Kegiatan, Indikator Kinerja Kegaiatan) Latar belakang (narasi) Tujuan Umum (termasuk tujuan khusus) Rincian Kegiatan yang akan dilakukan Indikator keluaran GBS Data umum (Program, Kegiatan, Indikator Kinerja Kegaiatan) Analisa situasi Dapat saja, tujuan dari output/sub output Rincian Kegiatan, sub-output, dan Komponen Input Dampak atau hasil output kegiatan

F.

ARG dan Penelaahan RKA-KL

Berdasarkan Permenkeu Nomor 104 Tahun 2010, penelaahan RKA-KL dengan muatan ARG dilakukan melalui langkah di bawah ini: 1. 2. Suatu ARG berada pada tingkat output dari struktur RKA-KL; Isu kesenjangan gender dan gambaran perbaikannya tercermin dari uraian analisis situasi yang ada dalam GBS maupun isu gender dalam Kerangka Acuan Kegiatan (TOR); GBS minimal harus mencakup aspek-aspek seperti yang ada pada format GBS; Meneliti adanya kesesuaian antara uraian GBS dengan TOR. Jika antara TOR dan GBS tidak sesuai, maka kegiatan belum dapat dikatakan responsif gender dan tidak dapat diproses untuk tahap selanjutnya. Oleh karena itu agar kegiatan memenuhi kriteria ARG, maka K/L harus memperbaiki TOR kegiatannya supaya sesuai dengan GBS; Memutuskan apakah kegiatan atau sub kegiatan dimaksud sudah responsif gender atau belum berdasarkan butir 2,3, dan 4; Apabila telah responsif gender, petugas penelaah DJA selanjutnya meneliti kode bagan akun standar yang dicantumkan dalam RKA-KL (sesuai dengan proses penelaahan RKA-KL umum) untuk meneliti kesesuaian RKA-KL dengan TOR dan GBS.

3. 4.

5. 6.

Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan

53

3. Bagian GBS yang menghubungkan dengan isu gender tersebut adalah: Analisa situasi yang berisikan: Gambaran kesenjangan akses. Apakah isu gender yang ada dalam TOR tersebut mempunyai keterkaitan dalam GBS. Gambaran adanya faktor penghambat di internal lembaga (organisasi pemerintah) dan atau eksternal lembaga (masyarakat). baik laki-laki maupun perempuan. manfaat. yang keduanya dapat dihubungkan dengan bagian Latar Belakang dalam TOR. petugas penelaah Ditjen Anggaran akan membuat daftar (check list) atas pertanyaan sebagai berikut: 1. baik laki-laki maupun perempuan. Apakah telah tersedia dokumen GBS yang didahului dengan analisa gender. 4. Adanya isu gender yang dituangkan dalam TOR seperti: i) Apakah pada bagian Latar Belakang telah dijelaskan mengenai permasalahan yang dihadapi oleh kelompok sasaran.Untuk mempermudah proses penelaahan RKA-KL. ii) Apakah tujuan kegiatan secara jelas memberikan informasi tentang manfaat yang akan diterima kelompok sasaan. kontrol antara lakilaki dan perempuan. 2. Apa jenis kegiatan ARG yang akan dilaksanakan? Jenis kegiatan tersebut berupa service delivery atau capacity building dan advokasi gender. partisipasi. Indikator Outcome yang dapat dihubungkan dengan bagian Tujuan Kegiatan dalam TOR. 54 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . Indikator Input atau Output yang dapat dihubungkan dengan bagian Pelaksanaan Kegiatan dalam TOR. iii) Apakah paparan pelaksanaan kegiatan telah menjelaskan pelibatan atau konsultasi dengan kelompok sasaran laki-laki dan perempuan.

LAMPIRAN: Contoh ARG

Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan

55

GENDER ANALYSIS PATHWAY (GAP)

Program : Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kegiatan : Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi (Dana Dekonsentrasi – Provinsi Jawa Timur)
LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN
Kordinasi lintas sektor/ program yang belum optimal Kurangnya kompetensi petugas pelayanan kesehatan kab/kota Kegiatan : Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi Program : Program Bina Gizi dan Kesehatan ibu dan anak.

1 KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI

2

4

5

6

7

8

9

KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM SEBAB INTERNAL

DATA PEMBUKA WAWASAN

PENGUKURAN HASIL BASELINE DATA
1. Tenaga kesehatan Kab/ kota terlatih ABPK Yan Kb =500 orang

INDIKATOR
1. Meningkatnya tenaga kesehatan Kab/kota terlatih ABPK Yan Kb 657 orang ( terdiri dari laki laki dan perempuan)

Program : Program Bina Gizi dan Kesehatan ibu dan anak.

Kegiatan : Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi Para pengelola program belum terpapar dalam rencana MPS yang sensitif gender terutama point ke 3

Angka kematian ibu di Propinsi Jawa Timur tercatat : 90,7/100.000 KH. Angka ini masih dibawah target nasional 118/100.000 KH

Tidak semua stake holder /pengambil keputusan memahami konsep keadilan dan kesetaraan gender. (PUG). Hal ini berpengaruh pada anggaran yang responsif gender.

1. Lokakarya ABPK Yan KB bagi petugas kesehatan kab/kota di Propinsi dan Orientasi ABPK Yan KB bagi Petugas tenaga kesehatan di kab/kota ( Capacity building) Tujuan (di Prov. Jatim) : Meningkatkan capaian KB aktif dari 62 % menjadi 63 % ( 2011) dgn melibatkan peran dan tanggung jawab laki-laki (proporsi lakilaki meningkat menjadi 2 %). 2. Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi

2. Menurunnya Capaian KB aktif dari 67,28 % ( 2007) menjadi 62,05 %( th 2009) 3. Belum tersosialisasinya indikator universal akses dan Rencana aksi propinsi

Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan

Tujuan (tujuan nasional menurut Renstra Kemenkes): Meningkatkan capaian KB aktif dari 61 % tahun 2010 menjadi 62 % tahun 2011

Namun SDKI th 2007 ,Angka kematian Ibu di tingkat nasional tercatat : 227/100.KH, sedangkan Jawa Timur tercatat 83/100.000 KH.Hal ini menunjukkan masih banyak AKI yang belum terlaporkan. Masyarakat lebih nyaman partus di dukun karena konsep mendapatkan pelayanan lengkap di banding bidan.

AKSES : Akses informasi kesehatan reproduksi/KB bagi laki laki masih kurang , terutama mengenai : Metode kontrasepsi, faktor kegagalan dan DO ; penyakit yang mengancam selama kehamilan & tanda bahaya selama hamil, salin dan nifas. Hak perempuan untuk memutuskan hak reproduksinya

2. Teridentifikasinya permasalahan dan adanya rekomendasi dalam pencapaian indikator cakupan Kb aktif ( 63 %)dgn melibatkan PUS terutama laki laki (proporsi lakilaki meningkat menjadi 2%).

57

Tersosialisasinya indikator universal akses kespro dan rencana aksi propinsi dalam pencapaian indikator universal akses kespro bagi kab/ kota 4. Lemahnya manajerial programer kesehatan di daerah.05% dengan rincian ( Partisipasi Laki : 1. Data penunjan belum terpilah sedangkan Cakupan KB aktif : 62. Terpantaunya dan adanya bimbingan tehnis intervensi berbagai permasalahan pelayanan Kespro/Kb di lapangan 38 kab/ kota selama th 2011 Tujuan (di Prov. valid dan capaian Cakupan Kb aktif : 65 % ( th 2011) 5. Kurangnya perhatian pemerintah kab/kota dalam pelayanan KB berkualitas 3. Adanya hasil data monitoring pelaksanaan Yan KB/kespro di 38 kab/kota th lalu 5.7%) . 5.05% selama th 2009 1 KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA PENGUKURAN HASIL 2 4 5 6 7 8 9 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM SEBAB INTERNAL DATA PEMBUKA WAWASAN INDIKATOR 3. Validasi data kes ibu. Drop Out : 4. terlalu muda . Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses 4.3% dan wanita : 98. terlalu banyak anak) merupakan ibu beresiko jika hamil dan bersalin sehingga menjadi ancaman AKI (SDKI 1997) Jumlah ibu yang memeriksakan kehamilan berkualitas belum optimal. terlalu sering melahirkan. KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/kota maupun di propinsi. Capaian KB aktif 62.58 LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN PUS terutama yang tidak menginginkan anak tidak mendapatkan informasi dan pelayanan KB yg memadai (unmet need > 8 %) Kecilnya anggaran untuk pelayanan kesehatan. Tersedianya data terpilah . (86%) dan belum mendapatkan perencanaan KB pasca salin (kesempatan yg hilang) Ada beberapa faktor penyebab : 1. Faktor terlambat pertolongan yg adekuat. Lemahnya sistem pencatatan dan pelaporan khususnya tersedianya data terpilah. Komplikasi :5. Jatim) : Meningkatkan capaian KB aktif dari 62 % menjadi 63 % ( 2011) Kurangnya alat bantu infomasi bagi edukasi kesehatan reproduksi/ KB. obat dan manajerial .64% . alokon serta bahan habis pakai masih kurang dari cukup fasilitas kesehatan yang berkualitas kurang ( baik kualitas maupun kuantitas) Data PUS 4 T di masyarakat : > 60 % ( terlalu tua. Pengadaan bidan kit.54% 4. sarana. Monitoring pelaksanaan program yan Kb/kespro melalui superfisi fasilitatif ( kespro) Peran serta masyarat kurang dalam bidang kesehatan krn promosi kesehatan kurang efektif 6. Dipengaruhi oleh :tenaga.

7 % Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan Jumlah bidan 1 : 3112 Penduduk( target : 1000). 1 KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA PENGUKURAN HASIL 2 4 5 6 7 8 9 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM SEBAB INTERNAL DATA PEMBUKA WAWASAN INDIKATOR 6. Pustu/Polindes 7. Evaluasi pelaksanaan yan kespro/ KB di propinsi 7. juga dipengaruhi oleh kualitas tenaga terlatih dan belum berfungsingan Pusk Poned/ RS Ponek.8 % dan ponek kit di RS ( 21. Jumlah bidan : 10. terlatih 63.1%) Meskipun persalinan nakes tinggi 93.607.7 % namun Kematian ibu : 70 % terjadi di RS. Sedangkan poned kit tersedia 76. dan yg berfungsi : 49. faktor faktor penyebab dan adanya rekomendasi intervensi yg bermanfaat bagi laki laki dan perempuan dalam pencapaian cakupan Kb aktif sesuai target selama th 2011 Tersedianya alat bantu KIE dan buku pedoman untuk pelayanan KB bagi ibu dan suaminya bagi nakes kab/kota khususnya untuk daerah miskin dan terpencil rincian :383 buku sistem pencatatan pelaporan. Teridentifikasinya permasalahan.535 orang. serta ketersediaan alat dan obat yang masih rendah. register kohort 2610 buku. dgn Puskesmas Poned 241 dan yang berfungsi hanya 60 %. Minimnya sarana pendukung pelayanan kespro/KB bagi daerah miskin dan terpencil.LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN 6.2%. Ini menunjukkan ibu hamil masih jauh dari akses pelayanan berkualitas termasuk informasi KB dan biaya 59 .8% ( target : 80% nasional). 150 buku abpk Gambaran : Puskesmas 944( target : 1247).9 %( APN). akses yg lemah thd keuangan. RS ponek 19 dan yang berfungsi hanya 71. 150 paket lembar balik abpk. KB( 2%) dan yang memiliki bidan kit : 45. Desa P4K : 8508. Hal ini disebabkan selain keterlambatan merujuk ke RS sehingga keadaan ibu sudah jelek (Faktor kontrol). RS 282. Pengadaan sarana pendukung program kespro 7.

000/kapita/ tahun.000 Penduduk ( target . Istri kurang meneruskan informasi kes. Reproduksi/KB kpd suaminya (marginal) KONTROL : Laki laki masih dominan dalam semua keputusan walaupun hal itu mempengaruhi kesehatan perempuan hal ini berkaitan budaya patriaki dan kontrol thd keuangan (streotipi) 1 KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA PENGUKURAN HASIL 2 4 5 6 7 8 9 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM SEBAB INTERNAL DATA PEMBUKA WAWASAN INDIKATOR Jumlah dokter 1 : 25000 penduduk( target 1: 2500 pdd ) . 9. Anggaran perkapita obat yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten/ Kota melalui DAU sebesar Rp. .000/ kapita/tahun.000 pdd).Jumlah SpOG 1 : 122. Standar Nasional anggaran perkapita obat sebesar Rp. 1: 850 pdd ) .60 LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN PARTISIPASI : Suami mengangap bahwa KB/kespro adalah urusan istri shg kurangnya keterlibatan dan tanggung jawab suami terhadap kesehatan reproduksi istrinya. 2.000 penduduk( target 1 : 16. Jumlah Perawat : 1 : 12.

geograf Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan Penduduk Jatim usia 15-24 th yg melek huruf: Laki laki 99.LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN Lemahnya wewenang perempuan dalam pengambilan keputusan yg berkaitan dengan dirinya (sub ordinasi) MANFAAT : ibu hamil kurang memanfaatkan hak reproduksinya terutama mendapatkan pelayanan kesehatan termasuk biaya bagi gakin.82%). Perempuan kurang mendapatkan manfaat dari pelayanan yang tersedia terutma pelayanan KB pasca salin 1 KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA PENGUKURAN HASIL 2 4 5 6 7 8 9 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM SEBAB INTERNAL DATA PEMBUKA WAWASAN INDIKATOR 2.36 %( susenas 2008) Penduduk gakin : Pria: 3.500 (48. wanita 3.197.5 sedangkan perempuan : 51. budaya dan gender. ekonomi. & Perempuan : 99. Rata2 gaji/ bln : pekerja 15 61 .351.1( susenas 2008).18%) ( susesnas 2008) Angkatan kerja th 2008 : Pria : 83.500 (51. Faktor terlambat merujuk dan sampai di layanan kesehatan Dipengaruhi oleh : pendidikan.59 %.

441.04% dari target 80% ( profil kesehatan 2008) .260 ( Sakernas 2008) Masyarakat miskin yang ditanggung Program Jamkesmas (pemerintah pusat) th 2009 sebesar 10. Sedangkan masyarakat ( gakin dan non gakin) yang memiliki jaminan pra bayar kesehatan hanya : 34.710. 171.050 jiwa.24% memilki kartu jamkesmas.18% yg memanfaatkannya.804 & Perempuan: Rp.LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN PENGUKURAN HASIL INDIKATOR 4 5 6 7 8 9 62 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM DATA PEMBUKA WAWASAN th keatas : Laki2: Rp. Tercatat ± 1. 42.742 jiwa ( Jamkesda). Sebagai pembanding th 2008 tercatat 82. 257.

3% Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan Perawatan pasca salin & bayinya : 80.42% ( Target 90%) Jumlah persalinan nakes masih tinggi : 93. Bidan 26.LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM DATA PEMBUKA WAWASAN PENGUKURAN HASIL INDIKATOR Capaian Program : K4 ( Kunjungan pemeriksaan kehamilan yang berkualitas/ lengkap): 86.52% ( Target 90%) 63 .2%. Dukun :14. (Target 90%).5%.27 %.31% (target jatim : 80%). Penolong persalinan terakhir : Dokter/ SpOG : 59. Jumlah pertolongankomplikasi kehamilan : 86.

Drop Out: 4.72% & wanita : 98.37% (Komposisi laki laki : 1.05% Target : > 70%) dengan rincian (Partisipasi Laki: 1.64 LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN PENGUKURAN HASIL INDIKATOR 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM DATA PEMBUKA WAWASAN Pelayanan KB memiliki daya ungkit yang tinggi dalam penurunan AKI melalui perencanaan kehamilan yang direncanakan.64% dan sebagai pembanding Drop out KB th 2008: 3. Namun Cakupan Kb aktif: 62.7%).38%).3% dan wanita : 98. .

63% (partisipasi laki laki :3.LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN PENGUKURAN HASIL INDIKATOR 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM DATA PEMBUKA WAWASAN Komplikasi: 5.39% & wanita : 99. Capaian KB baru: 10.61%) keagalan: 0.54% ( toleransi : < 3.19%).17%).04% (toleransi: < 0. KB aktif dibina 25 % Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan Jumlah pasangan usia subur yang tidak ingin punya anak namun tidak menggunakan alat kontrasepsi masih 65 .87% & wanita: 96.5%) dengan rincian komposisi laki laki: 0.

bandung 2009) Data Penunjang lainnya : ABPK yan KB : 250 exp : poster/ leaflet .66 LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN PENGUKURAN HASIL INDIKATOR 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM DATA PEMBUKA WAWASAN tinggi ( > 8 %) pelayanan KB pasca salin / keguguran 5 -10 % ( Workshop PKBRS.

KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/kota maupun di propinsi.Catatan : Dari (7 tujuh) rencana aksi yang terdapat pada kolom/langkah 7. Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi b. rencana aksi tersebut dapat dimasukkan dalam kelompok output untuk penyusunan RKA-KL sebagai berikut : 1. d. Monitoring pelaksanaan program yan KB/Kespro melalui superfisi fasilitatif (Kespro) e. Evaluasi pelaksanaan yan kespro/KB di propinsi 2. Laporan Kegiatan atau Pembinaan. Tenaga terlatih. untuk rencana aksi : Lokakarya ABPK Yan KB bagi petugas kesehatan kab/kota di Propinsi dan Orientasi ABPK Yan KB bagi Petugas tenaga kesehatan di kab/kota (Capacity building) 3. Validasi data kesehatan ibu. untuk rencana aksi : Pengadaan sarana pendukung program Kespro. untuk rencana aksi Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 67 . untuk rencana aksi : a. Sarana pendukung program kespro. Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses c.

pemerintahan daerah propinsi dan pemerintah daerah kab/ kota 5.3 % menjadi 2 %) Laporan untuk kegiatan Pembinaan pelayanan kesehatan ibu dan reproduksi Unit Eselon II/Satker Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan : : : Output : Satuan Ukur dan Jenis Keluaran : Laporan a. 104/PMK. Peraturan pemeritah No. 38 th 2007 tentang pembagian urusan pemerintahan. UU No 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran 4. 07/Men/ PP& Pa/5/2010.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan 3. Peraturan MenKeu no.no. Kesepakatan bersama antara Men PP &PA dgn menkes tentang pelaksanaan PUG di bidang kesehatan no. 9 th 2000 tentang PUG dalam pembangunan 6. UU No. 7 tentang pengesahan konvensi mengenai penhapusan segala bentuk diskriminasi thd wanita 2. Instruksi presiden no. KAK/TOR Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi (OUTPUT LAPORAN) Kementerian Negara/ Lembaga Unit Eselon I Program Hasil : : : : Kementerian Kesehatan Ditjen Bina Gizi dan Kesehatan ibu dan anak Bina Gizi dan Kesehatan ibu dan anak Meningkatnya ketersediaan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang bermutu bagi seluruh masyarakat Direktorat Kesehatan ibu/ Satker Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi Meningkatnya Cakupan peserta KB aktif dari 62. 593/Menkes/ SKB/V/2010 68 .02/2010 tentang petunjuk penyusunan dan penelaan AKL th 2011 7.Berikut ini diberikan contoh TOR responsif gender dan GBS dari Output Laporan Kegiatan.5 %( 2010) menjadi 65 % ( 2011) dengan proporsi pria naik dari 1. UU no. Latar Belakang 1. Dasar Hukum : 1.

1%. ekonomi. Bidan 26. geografi. Rumah ibu : 9.Dan ini kurang memberdayakan laki laki (partisipasi) dalam upaya penurunan AKI melalui pengetahuan tanda bahaya kehamilan. Ponek yang berfungsi 71.000/bln) menyebabkan wanita lemah wwenangnya dalam memutuskan ( sub ordinat) meskipun berkaitan dgn kesehatannya.3%. Hal ini dipengaruhi oleh :pendidikan.000 KH.9%)..2%.7/100. Puskesmas : 3. KB ( 2%) dari 10. Perjalanan : 4. informati perawaatan & pengobatan komplikasi kehamilan serta pencegahan KTD melalui upaya pelayanan KB khsususnya pelayanan KB pasca salin Didalam internal organisasi. sedangkan bidan kit tersedia hanya 45. (PUG). Artinya terjadi peningkatan dan mengingat PUS 4T > 60 %( SDKI 1997) maka menjadi ancaman AKI jika tdk terlindungi dgn kontrasepsi.85%. Faktor terlambat merujuk dan terlambat sampai( 2 & 3).1%). Meskipun tingkat melek huruf tdk jauh berbeda antara laki laki danprempuan namun kemiskinan dan tingkat pendapatan yang rendah pada wanita ( 170. Angka kematian Ibu di tingkat nasional tercatat : 227/100. Hal ini berpengaruh pada anggaran yang responsif gender.28%)/ponek kit(21.000 KH.89%. Hai ini berkaiatan dgn jumlah & kompetensi petugas yang rendah ( bidan terlatih APN 63. issu gender disebabkan oleh : tidak semua stake holder /pengambil keputusan memahami konsep keadilan dan kesetaraan gender.353 bidan dan belum termasuk dokter. Dukun :14. Adanya anggapan bahwa Kesehatan reproduksi/KB urusan wanita menyebabkan laki laki kurang mendapatkan informasi mengenai kesehatan reproduksi/KB khususnya bagi si istri/wanita. Serta penolong terahir Dokter/SpOG : 59. poned(76.2.000 KH. Sebagai pembanding : SDKI th 2007 .KH. Gambaran Umum Angka kematian ibu di Propinsi Jawa Timur tercatat : 90.2%. Sungguh ironis meninggal di fasilitas rujukan. Kematian ibu tersebut terjadi karena 3 Faktor penyebab : Faktor terlambat pertolongan yang adekuat (1). serta kecilnya anggaran kesehatan (obat) yg hanya 2000/kapita/ th ( target : 9000/kapita/th) ini menunjukkan bahwa wanita/laki laki jauh dari akses pelayanan berkualitas. Desa P4K : 49. Para pengelola program belum terpapar dalam rencana MPS yang sensitif Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 69 .17 %. sedangkan Jawa Timur tercatat83/100.2%. Kebanyakan AKI terjadi di RS 70. Hal ini juga di dasari masih adanya budaya patriaki sehingga ini menyebabkan wanita/ibu hamil kurang memanfaat akses pelayanan kesehatan yang ada termasuk biayanya . termasuk pelayanan KB yg memiliki daya ungkit tinggi dalam penurunan AKI (layanan hulu (Promotif – Preventif).5%.pada sarana kesehatan 60% Poned yg berfungsi. Angka ini masih dibawah target nasional 118/100.23%. budaya dan gender.

5 % menjadi 65 % ( 2011) dengan melibatkan peran dan tanggung jawab laki-laki (proporsi laki laki : 2%) Target sasaran Kegiatan : Dinkes Kab/kota. Laporan Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses 3. Dalam pelaksanaan kegiatan Pembinaan pelayanan kesehatan ibu dan Reproduksi. Laporan monitoring pelaksanaan program yan KB/Kespro melalui superfisi fasilitatif (Kespro) 5. Laporan Validasi data kesehatan ibu. Kordinasi lintas sektor/program kespro/kb yang belum optimal. Tujuan dan Penerima Manfaat : Meningkatkan capaian KB aktif dari 62. Lemahnya sistem pencatatan dan pelaporan khususnya tersedianya data terpilah. Lemahnya manajerial programer kesehatan di daerah. pengadaan sarana dan prasarana kurang dari cukup (baik kualitas maupun kuantitas). c.05%). KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/kota maupun di propinsi. Kecilnya anggaran untuk pelayanan kesehatan. Metode Pelaksanaan Dilaksanakan melalui metode swakelola 70 . Peran serta masyarat kurang dalam bidang kesehatan karena promosi kesehatan kurang efektif. Pelayanan Kespro/KB yang memiliki daya ungkit yg tinggi dalam penurunan AKI melalui perencanaan kehamilan yg direncanakan belum optimal ( 62.gender. maka akan disusun laporan pelaksanaan yang terdiri dari : 1. Lintas sektor/program.Kurangnya perhatian pemerintah kab/kota dalam pelayanan KB berkualitas. Kurangnya kompetensi petugas pelayanan kab/kota . Melalui peningkatan akses pelayanan kesehatan reproduksi/ KB berkualitas termasuk informasi meskipun tidak berdampak langsung/ sedikit kepada laki laki namun memiliki daya akselerasi penurunan AKI jika dilibatkan dan diberi tanggung jawab. Faktor lain : Masyarakat lebih nyaman partus di dukun karena konsep mendapatkan pelayanan lengkap di banding bidan. 4. Laporan Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi 2. Laporan Evaluasi pelaksanaan yan kespro/KB di propinsi Satuan: Volume Laporan : 119 b. Strategi Pencapaian Keluargan 1. .

Rapat persiapan/penyiapan materi .Pelaksanaan koordinasi .......Rapat persiapan/penyiapan materi .... Rencana Anggaran Biaya : terlampir Penganggung Jawab....Pembuatan laporan Waktu Pelaksanaan Juli 2011 Maret & September 2011 Juli & November 2011 Januari – Desember 2011 November 2011 d..... Tahapan dan Waktu Pelaksanaan Pelaksanaan Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses Validasi data kes ibu................Pembuatan laporan .Pembuatan laporan ....Rapat persiapan/penyiapan materi ....Pelaksanaan koordinasi .. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur......Pelaksanaan evaluasi .......Pelaksanaan validasi data .Pembuatan laporan .... NIP ..Rapat persiapan/penyiapan materi .Rapat persiapan/penyiapan materi . .... Waktu Pencapaian Keluaran : Tahun Anggaran 2011 e.......Pelaksanaan monitoring . Monitoring pelaksanaan program yan Kb/kespro melalui superfisi fasilitatif ( kespro) Evaluasi pelaksanaan yan Kespro/ kb di propinsi Tahapan ...... Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 71 ...2....Pembuatan laporan . KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/kota maupun di propinsi.....

1%). Rumah ibu : 9. Puskesmas : 3. serta kecilnya anggaran kesehatan (obat) yg hanya 2000/kapita/th ( target : 9000/kapita/th) ini menunjukkan bahwa wanita/laki laki kurang mendapatkan akses informasi & pelayanan berkualitas. bidan kit tersedia hanya 45. Angka kematian Ibu di tingkat nasional tercatat : 227/100. Dukun :14. Bidan 26. Sungguh ironis meninggal di fasilitas rujukan . poned(76.89%.1%). Hai ini berkaiatan dgn jumlah & kompetensi petugas yang rendah ( bidan terlatih APN 63.353 bidan dan belum termasuk dokter.000 KH. Serta penolong terahir Dokter/SpOG : 59.7/100. Angka ini masih dibawah target nasional 118/100. Salah satu Outputnya : Laporan untuk kegiatan Pembinaan pelayanan kesehatan ibu dan reproduksi Angka kematian ibu di Propinsi Jawa Timur tercatat : 90.2%. Sebagai pembanding : SDKI th 2007 .85%. termasuk pelayanan KB yg memiliki daya ungkit tinggi dalam penurunan AKI ( layanan hulu (Promotif – Preventif)) Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan Output Kegiatan 72 .5%.2%.000 KH.17 %. Perjalanan : 4. Ponek ( 71.3%. Kematian ibu tersebut terjadi karena 3 Faktor penyebab : Faktor terlambat pertolongan yg adekuat (1).000 KH. KB ( 2%) dari 10. Artinya terjadi peningkatan dan mengingat PUS 4T > 60 %( SDKI 1997) maka menjadi ancaman AKI jika tdk terlindungi dgn kontrasepsi.2%.23%. Desa P4K : 49.9%)..KH.GENDER BUDGET STATEMENT (Pernyataan Anggaran Gender) Kementerian Negara/Lembaga : Kementerian Kesehatan RI Unit Organisasi : Ditjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Unit Eselon II/Satker : Direktorat Bina Kesehatan Ibu/ Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Program Program Bina Gizi dan Kesehatan ibu dan anak. Kebanyakan AKI terjadi di RS 70. Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi Salah satu Indikator : Meningkatnya Cakupan pasangan usia subur menjadi peserta KB aktif di Provinsi Jawa Timur sebesar 65% di tahun 2011.10 pusk poned ( 60% yg berfungsi).28%)/ponek kit(21. sedangkan Jawa Timur tercatat83/100.

Kordinasi lintas sektor/program kespro/kb yang belum optimal. budaya dan gender. ekonomi. (PUG). Kurangnya kompetensi petugas pelayanan kab/kota. Dan ini kurang memberdayakan laki laki ( partisipasi) dalam upaya penurunan AKI melalui pengetahuan tanda bahaya kehamilan.Analisis Situasi Faktor terlambat merujuk dan terlambat sampai( 2 & 3).000/bln) menyebabkan wanita lemah wwenangnya dalam memutuskan ( sub ordinat) meskipun berkaitan dgn kesehatannya. Kecilnya anggaran untuk pelayanan kesehatan. geografi . Hal ini juga di dasari masih adanya budaya patriaki sehingga ini menyebabkan wanita/ ibu hamil kurang memanfaat akses pelayanan kesehatan yang ada termasuk biayanya ( marginal) Adanya anggapan bahwa Kesehatan reproduksi/ KB urusan wanita menyebabkan laki laki kurang mendapatkan informasi mengenai kesehatan reproduksi/KB khususnya bagi si istri/wanita.Para pengelola program belum terpapar dalam rencana MPS yang sensitif gender. issu gender disebabkan oleh :Tidak semua stake holder / pengambil keputusan memahami konsep keadilan dan kesetaraan gender. Masyarakat lebih nyaman partus di dukun karena konsep mendapatkan pelayanan lengkap di banding bidan. Lemahnya sistem pencatatan dan pelaporan khususnya tersedianya data terpilah. Pengadaan sarana dan prasarana kurang dari cukup ( baik kualitas maupun kuantitas) Faktor lain :. Hal ini berpengaruh pada anggaran yang responsif gender. informati perawaatan & pengobatan komplikasi kehamilan serta pencegahan KTD melalui upaya pelayanan KB khsususnya pelayanan KB pasca salin Didalam interna organisasi. Meskipun tingkat melek huruf tdk jauh berbeda antara laki laki danprempuan namun kemiskinan dan tingkat pendapatan yang rendah pada wanita ( 170. Kurangnya perhatian pemerintah kab/kota dalam pelayanan KB berkualitas. Hal ini dipengaruhi oleh :pendidikan. Lemahnya manajerial programer kesehatan di daerah. Peran serta masyarat kurang dalam bidang kesehatan krn promosi kesehatan kurang efektif Pelayanan Kespro/ KB yang memiliki daya ungkit yg tinggi dalam Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 73 .

KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/kota maupun di propinsi.05%). Melalui Peningkatan akses pelayanan kesehatan reproduksi/KB berkualitas termasuk informasi meskipun tdk berdampak langsung/sedikit kepada laki laki namun memiliki daya akselerasi penurunan AKI jika dilibatkan dan diberi tanggung jawab. KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/ kota maupun di propinsi. terdiri dari laporan untuk : 1. tepat waktu dan memberikan masukan dalam pembuatan keputusan Rapat persiapan/Penyiapan materi Pelaksanaan validasi Pembuatan Laporan Tujuan/manfaat Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 Sub output 2 Rincian Kegiatan Tujuan/manfaat Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 Sub output 3 Tujuan/manfaat Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 74 . Monitoring pelaksanaan program yan KB/ Kespro melalui superfisi fasilitatif (Kespro) 5. 4. Validasi data kesehatan ibu. Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses 3. Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi 2.3 % menjadi 2%) Rapat persiapan/Penyiapan materi Pelaksanaan Koordinasi Pembuatan laporan Laporan Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses Memberikan informasi indikator universal akses kespro dan rencana aksi propinsi dalam pencapaian indikator universal akses kespro bagi kab/kota Rapat persiapan/Penyiapan materi Pelaksanaan koordinasi Pembuatan Laporan Laporan Validasi data kes ibu. Dalam Output Kegiatan Pembinaan pelayanan kesehatan ibu dan Reproduksi. terpilah. Memberikan informasi perihal data yang valid.penurunan aki melalui perencanaan kehamilan yg direncanakan belum optimal ( 62. Evaluasi pelaksanaan yan kespro/KB di propinsi Sub output 1 Laporan Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi Memberikan informasi mengenai intervensi dalam mencapai Kb aktif 65 % dgn ( proporsi pria naik dari 1.

1.Sub output 4 Laporan monitoring pelaksanaan program yan Kb/kespro melalui superfisi fasilitatif ( kespro) Memberikan informasi perkembangan pelayanan KB/kespro dan adanya bimbingan tehnis intervensi berbagai permasalahan pelayanan Kespro/Kb di lapangan 38 kab/kota selama th 2011 Rapat persiapan/Persiapan materi Pelaksanaan monitoring Pembuatan laporan Laporan Evaluasi pelaksanaan yan kespro/KB di propinsi) Memberikan informasi teridentifikasinya permasalahan .Meningkatkan capaian KB aktif dari 62.3 % menjadi 2 %.090.5 % menjadi 65 % ( 2011) dengan proporsi pria naik dari 1.000.494. faktor faktor penyebab dan adanya rekomendasi intervensi yg bermanfaat bagi laki laki dan perempuan dalam pencapaian cakupan KB aktif sesuai target selama th 2011 Rapat persiapan/Persiapan materi Pelaksanaan evaluasi Pembuatan laporan Rp. Tujuan/manfaat Komponen 1 Komponen 2 Rincian Kegiatan Komponen 3 Sub output 5 Tujuan/manfaat Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 Anggaran Output kegiatan dalam Penurunan AKI dampak/hasil yang diharapkan secara luas Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 75 .

.

dan Partisipasi Anggaran Responsif Gender Assosiation of South East Asia Nations Badan Pusat Statistik Beijing Platform for Action Convention for the Elimination of all Forms of Discriminations Against Women Community Behaviour Improvement Dana Alokasi Khusus Demam Berdarah Dangue Dangue Shock Syndrome Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Direktorat Jendral Anggaran Kementerian Kesehatan Focus Group Discussion Gender Analisis Pathway Gender Budget Statement Instruksi Presiden Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah Millennium Development Goals Peraturan Pemerintah Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Peraturan Presiden Peraturan Menteri Dalam Negeri Peraturan Menteri Keuangan Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 77 .DAFTAR SINGKATAN ABJ AKMP ARG ASEAN BPS BPFA CEDAW COMBi DAK DBD DSS DIPA DJA KemKes FGD GAP GBS Inpres KPP-PA KPJM MDGs PP PPRG Perpres Permendagri PMK/Permenkeu Angka Bebas Jentik Akses. Manfaat. Kontrol.

and Timely Bound Satuan Kerja Surat Edaran Bersama Tugas Pokok dan Fungsi Term of Reference United Nation Fund for Population Activities World Health Organization 78 . Measurable.PUG RAB Renstra Renja RPJP RPKP-K RPJM RKP Renstra Renja KL RKA KL RAPBN SDKI SKRT SOP SMART Satker SEB Tupoksi TOR UNFPA WHO Pengarusutamaan gender Rencana Anggaran Biaya Rencana Strategis Rencana Kerja Rencana Pembangunan Jangka Panjang Rencana Pembangunan Jangka Panjang bidang Kesehatan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Rencana Kerja Pemerintah Rencana Strategis Rencana Kerja Kementerian Lembaga Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Survey Kesehatan Rumah Tangga Standard Operational Procedure Spesific. Achievable. Relevant.

fungsi. yang selanjutnya disebut APBN. agama dan lain sebagainya. dengan hasil Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 79 . Bias gender adalah pandangan yang didasarkan pada pembagian peran sosial tradisional laki-laki dan perempuan. serta faktor-faktor yang mempengaruhi. dan tanggungjawab antara perempuan dan laki-laki yang merupakan hasil konstruksi sosial budaya dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman dan dukungan masyarakat itu sendiri. angka-angka. adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan Negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). analisis situasi. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Anggaran adalah estimasi belanja dan penerimaan yang diusulkan. ekonommi. peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan. pendapat atau persepsipersepsi. fungsi. Efektif adalah tingkat kesesuaian antara hal yang direncanakan pelaksanaan. Analisis gender adalah proses menganalisis data dan informasi secara sistematis tentang lakilaki dan perempuan untuk mengidentifikasi dan mengungkapkan kedudukan. politik. Indikator adalah kriteria atau ukuran yang mampu melihat perubahan dari obyek yang dinilai. Diskriminasi adalah memperlakukan seseorang atau kelompok orang secara berbeda karena jenis kelamin. sampai monitoring dan evaluasi. Gender adalah pandangan masyarakat tentang perbedaan peran. yang mencerminkan kebijakan prioritas dan target fiskal dalam satu periode tertentu.DAFTAR ISTILAH Akses adalah peluang atau kesempatan yang diberikan untuk memanfaatkan sumber daya (baik sumber daya alam. ras. GBS adalah dokumen yang berisi pernyataan bahwa sebuah program dan kegiatan telah responsif gender. sosial. Analisis gender dilakukan secara sekuensial mulai dari tahap identifikasi tujuan. Efisien adalah memperoleh hasil yang diharapkan dengan pengorbanan sekecil-kecilnya GAP adalah alat analisis gender dengan pendekatan analisis pada siklus perencanaan. Indikator dapat berupa pointer-pointer. umur. maupun waktu). penentuan Rincian Kegiatan.

aroma repellent nyamuk dibuat sesuai aroma maskulin untuk meningkatkan pengguna repellent pada konsumen laki-laki di daerah endemis. Kesenjangan gender adalah suatu kondisi dimana tidak ada kesetaraan relasi antara lakilaki dan perempuan. dana atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. 80 . Contoh : bantuan dana transportasi untuk wanita hamil risiko tinggi ke sarana pelayanan kesehatan. SDM.Indikator gender adalah kriteria atau ukuran untuk mengukur perubahan relasi gender dalam masyarakat sepanjang waktu. dan anggaran. Contoh : Suami siaga dalam program Perencanaan Persalinan dan Penanganan Komplikasi (P4K). dan pemenuhannya dimaksudkan untuk mengubah ketidakadilan yang mungkin ada dalam konteks relasi lakilaki dan perempuan. Kebutuhan Praktis Gender adalah kebutuhan yang bersifat segera dan didasarkan pada kondisi nyata perempuan dan laki-laki tanpa mempersoalkan ada atau tidaknya faktor-faktor ketidakadilan yang mungkin ada antara keduanya. Data. Indikator kinerja responsif gender adalah perubahan kinerja pengurangan kesenjangan atau peningkatan kondisi laki-laki dan perempuan setelah dilakukan suatu intervensi baik berupa program atau pun kegiatan. dan lain-lain. Kementerian Negara adalah organisasi dalam Pemerintahan Republik Indonesia yang dipimpin oleh menteri untuk melaksanakan tugas pemerintahan dalam bidang tertentu. barang modal termasuk peralatan dan tekhnologi. Indikator Kinerja Kegiatan adalah bukti pencapaian suatu kinerja yang bisa diukur sebagai dampak dari suatu kegiatan. dan lain-lain. keterwakilan wanita sebanyak 30 % dalam kepengurusan kelompok pemakai air bersih di pedesaan. Kebutuhan Strategis Gender adalah kebutuhan yang didasarkan pada analisis tentang ketidakadilan gender dan faktor-faktor yang menyebabkannya. yang terdiri atas regulasi. Komponen input adalah jenis Rincian Kegiatan yang dilakukan untuk mencapai indikator kinerja sub-output Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan. Input dalam panduan ini diartikan sebagai tolak ukur/ bahan dasar dalam penganggaran. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa satuan kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personil (sumber daya manusia). detiksi dini kanker prostat pada laki-laki. Jenis kelamin adalah perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki terutama pada bagian-bagian organ reproduksi.

yang selanjutnya disebut Renja KL. adalah target sasaran dari program/kegiatan yang memperoleh manfaat Pengarusutamaan gender (PUG) adalah strategi untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender melalui kebijakan dan program yang memperhatikan pengalaman. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan suatu Kementerian Negara/Lembaga yang merupakan penjabaran dari Rencana Kerja Pemerintah dan Rencana Startegis Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan dalam satu tahun anggaran serta anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya. Partisipasi adalah pelibatan atau keterwakilan dalam proses dari suatu kegiatan Penerima manfaat. dimaknai sebagai keluaran dari proses pelaksanaan anggaran. Lembaga adalah organisasi non-kementrian Negara dan instansi lain pengguna anggaran yang dibentuk untuk melaksankan tugas tertentu berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 atau peraturan perundang-undangan lainnya. Program adalah bentuk instrument kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga atau masyarakat yang dikordinasikan oleh instansi pemerintah untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran. Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga. yang selanjutnya disebut RPJM Nasional. Netral gender adalah suatu kondisi dimana pengambilan keputusan dilakukan tanpa didasari atas pemahaman. pelaksanaan. fungsi dan tanggungjawab antara perempuan dan laki-laki Outcome. Kontrol adalah kekuasaan untuk memutuskan bagaimana menggunakan sumber daya dan siapa yang memiliki akses terhadap sumber daya tersebut. Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga. dan pertimbangan akan adanya perbedaan peran. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 81 .Kesetaraan dan keadilan gender adalah suatu kondisi yang adil dan setara dalam hubungan kerjasama antara perempuan dan laki-laki. merupakan tolak ukur keberhasilan pelaksanaan anggaran Output. aspirasi. pemantauan. adalah dokumen perencanaan Kementrian Negara/Lembaga untuk periode 1 (satu) tahun. yang selanjutnya disebut RKA KL. adalah dokumen perencanaan nasional untuk periode 5 (lima) tahun. dan evaluasi dari seluruh kebijakan dan program di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan. pengakuan. kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki ke dalam perencanaan. Rencana Kerja Pemerintah yang selanjutnya disebut RKP adalah dokumen perencanaan nasional untuk periode 1 (satu) tahun.

82 . TOR memuat latar belakang. dan biaya yang diperlukan. Sub-output adalah jenis barang atau jasa yang menjadi bagian tak terpisahkan dari output TOR adalah dokumen yang menginformasikan gambaran umum dan penjelasan mengenai indikator kinerja kegiatan yang akan dicapai sesuai dengan tugas dan fungsi kementerian negara/lembaga. penerima manfaat. adalah dokumen perencanaan Kementerian Negara/Lembaga untuk periode 5 (lima) tahun. yang selanjutnya disebut Renstra-KL. Responsif gender adalah keadaan memberikan perhatian yang konsisten dan sistematis terhadap perbedaan-perbedaan antara perempuan dan laki-laki dalam masyarakat yang diwujudkan dalam sikap dan aksi untuk mengatasi ketidakadilan yang terjadi karena perbedaan-perbedaan tersebut. Rincian Kegiatan adalah daftar langkah-langkah yang harus dilaksanakan untuk mencapai sub-tujuan yang responsif gender. strategi pencapaian.Rencana Strategis Kementerian Negara/Lembaga.

Report of the Expert Group Meeting. Gender Analysis Pathway. Jakarta. Jakarta. UNFPA (1998). Workshop on Gender. Dr. Women and Health: Mainstreaming the Gender Perspective into the Health Sector. Gender Analysis in Health : A Review of Selected Tools. Liverpool. Strasbourg Cedex.DAFTAR PUSTAKA ADB (2006). Departemen Kesehatan. UNFPA (2010). Gender an Rights in Reproductive an Maternal Health : Manual for A Learning Workshop held in Kuala Lumpur. Gender and Health Group. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan. Tunisia WHO (2002). Kementerian PP (2008). Manila. Health and Development: Facilitator Guide. UN. Gender Equality. WHO. Bunga Rampai Pengarusutamaan Gender. Bappenas dan WSP II–CIDA (2007). Mainstreaming Gender In Health: A Manual For Health Research And Programme Managers. Geneva WHO (2006). Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010 – 2014. School of Public Health University of The Witwatersrand Johannesburg (2003). Work and Health : A Review of the Evidence. Johannesburg. Gender Budgeting : Practical Implementation Handbook. Washington DC. Supiandi. PAHO-WHO (1997). Gender in Health. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Liverpool School of Tropical Medicine (1995). Yusuf. Geneva Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 83 . Geneva WHO (2010). S. National Human Development Report. (2008). Indonesia Country Gender Assessment. Guidelines of Analysis of Gender and Health. Jakarta. H. (2009). Quinn. Jakarta UNDP (2008). PAHO-WHO (2005).

MARS. dr Milwiyandia. dr. dr. Arifin. Siti Mursifah. Cicilia Windianingsih. Wahyuni Khaulah. drg. Puti Wulan Sari. Fahrina.Kom. Doni Arianto. MPH. SKM. Nardho Gunawan..Kes.Kontributor Ir. dr. Teti Tejayanti. Titik Handayani. MQHI. dr. Nurkinteki. dr. dr. dr. Ismawaningsih. MRDM. MKM. Muhammad Yusuf. dr. 84 . Titien Supriharin. Victorino. Triningtyasasih. DR. SH. MA. dr. Msi. MPH. MARS. Tinexcelly MS. Christine Manurung. Siti Maemunah. S. MH. Rabitta Cherysse. Dra.. MM. H. MPH. Amroussy Marsis. SKM. S. Saiful Hidayat. Ace Yati Hayati. Endang Sri Wardani. dr. dr. SKM. Aragar Putri. dr. Rusmiyati. MKes. MKM. T.Sos. drg. dr. Niken Kiswandari. Dra. Theresia Hermin. DR. dr. MS. M.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->