Rp. +/-%+=@!*

Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan

A

Untung Suseno Sutarjo. Drs. Endang Moerniati. Lieska Prasetya. SKM. . Darsono. M. dr. UNFPA : dr. MSI. MA.Kes. Gita Maya...Kes..KERJASAMA: KEMENTERIAN KESEHATAN RI – KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK . Andi Saguni. MHA. ISBN xxxxxxxxxx Desain dan layout INTERAXI. M. Laode Musafin. Lany Harijanti... MM. Dra. KPP-PA : Dra. dr. Msi.UNFPA TIM PENYUSUN : Kemenkes : dr. Anis Hamim. MA.

Bahan tulisan untuk panduan ini berasal dari orientasi termasuk studi literatur internasional serta asesmen dan masukan dari banyak pihak melalui wawancara. tetapi memastikan bagaimana agar perspektif gender dapat diintegrasikan dalam setiap tahapan perencanaan dan penganggaran. sehingga bukan berarti melakukan dua kali perencanaan. Perencanaan dan penganggaran responsif gender bidang kesehatan bukanlah sebuah proses yang terpisah dari sistem yang sudah ada. Perencanaan dan penganggaran responsif gender bidang kesehatan ini merupakan instrumen untuk mengatasi adanya perbedaan akses. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan i . ‘pemerhati gender’ dan pihak-pihak lainnya. Walaupun buku Panduan ini lebih difokuskan untuk penyusunan Anggaran Responsif Gender (ARG) bersumber APBN Kementerian Kesehatan termasuk dari Dana Dekonsentrasi. Simulasi penerapan disamping dilakukan pada unit yang berada di intern Kementerian Kesehatan juga dilakukan pada Dinas Kesehatan Provinsi. tidak hanya dari unit-unit di intern Kementerian Kesehatan tapi juga dengan melibatkan Kementerian PP&PA. namun kami berharap buku ini juga dapat digunakan sebagai referensi bagi banyak pihak seperti pihak universitas. Oleh karenanya jangan diartikan sebagai rencana dan anggaran khusus untuk perempuan yang terpisah dari laki-laki. kontrol dan manfaat pembangunan kesehatan bagi laki-laki dan perempuan sehingga diharapkan kesenjangan gender dapat dihilangkan atau setidaknya dapat dikurangi. FGD. UNFPA dan pihak-pihak lainnya. dan sebagai komitmen kami dalam mendukung pelaksanaan PUG Bidang Kesehatan maka telah disusun Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan dengan melibatkan banyak pihak. pemerintah daerah.SEPATAH KATA Kepala Biro Perencanaan dan Anggaran Perencanaan dan penganggaran responsif gender merupakan salah satu komponen dari Pengarusutamaan Gender (PUG). workshop dan simulasi. Buku Panduan ini merupakan up-dating dari Buku Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender yang pernah diterbitkan pada tahun 2008. partisipasi.

November 2010 KEPALA BIRO PERENCANAAN DAN ANGGARAN SETJEN KEMENTERIAN KESEHATAN RI. Jakarta.Saya yakin buku ini masih belum sepenuhnya sempurna. Untung Suseno Sutarjo. dr. oleh karena itu saran dan masukan bersifat konstruktif tetap kami harapkan untuk perbaikan dan penyempurnaannya ke depan. M.Kes ii .

Pengintegrasian perspektif gender menjadikan perencanaan menjadi lebih tepat sasaran dan efektif. PUG Bidang Kesehatan (PUG-BK) selanjutnya dipertegas melalui Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan. antara lain melalui pengarusutamaan gender (PUG) dalam setiap penyusunan kebijakan. Dukungan kebijakan PUG juga dinyatakan dalam RPJPN Tahun 2005-2025. dan kebutuhan Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan iii . yang menjadikan isu gender menjadi bagian integral pembangunan kesehatan. Pada tahap ini dilakukan pemetaan antara peran. Sebagai tindak lanjut atas kebijakan tersebut. dan menjadi arah kebijakan pembangunan kesehatan lima tahun kedepan. tetapi berupaya mengintegrasikan perspektif gender dalam setiap proses perencanaan dan penganggaran. Pelaksanaan PUG bidang kesehatan telah diamanahkan sejak tahun 2000 melalui Inpres Nomor 9 tahun 2000 tentang PUG dalam Pembangunan Nasional. Salah satu prinsip utama dalam perencanaan dan penganggaran responsif gender adalah analisis gender terhadap setiap kebijakan. ditempuh berbagai strategi kebijakan perencanaan dan penganggaran kesehatan. Namun seiring dengan dinamika perubahan kebijakan perencanaan dan penganggaran. sejak tahun 2008 telah disusun pedoman perencanaan dan penganggaran responsif gender. serta RPJP Kesehatan Tahun 2005-2025. kondisi. panduan tersebut direvisi menjadi Buku Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) Bidang Kesehatan yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1459/Menkes/SK/X/2010. Untuk mencapai target kinerja yang ditetapkan dalam Renstra tersebut. dan pelaksanaan program dan kegiatan di lingkungan Kementerian Kesehatan. program. Hal tersebut tidak berarti bahwa perencana kesehatan harus melakukan dua kali proses perencanaan dan penganggaran. RPJMN Tahun 2010-2014. karena didahului oleh analisis determinan sosial dari perspektif gender.KATA PENGANTAR Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI Renstra Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014 telah ditetapkan. dan kegiatan di Kementerian Kesehatan. dan ditindaklanjuti dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 878 Tahun 2006 tentang Tim Pengarusutamaan Gender Bidang Kesehatan. yang selanjutnya diintegrasikan dalam penyusunan RKA-KL.

MPHM iv . sehingga setiap unit utama diharapkan mampu menyusun Anggaran Responsif Gender yang selanjutnya digunakan sebagai salah satu dokumen dalam penelaahaan RKA-KL di Kementerian Keuangan. Jakarta. secara bertahap melakukan proses perencanaan dan penganggaran yang responsif gender.kesehatan perempuan dan laki-laki.PP&PA/5/2010 tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Bidang Kesehatan. sehingga pada akhir tahun 2014 semua program dan kegiatan pembangunan kesehatan telah responsif gender. status sosial ekonomi serta gender. Untuk itu kepada semua pihak yang telah berpartisipasi baik langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan buku panduan ini. Ratna Rosita. Amin Ya Rabbal Alamin. Komitmen tersebut diperkuat lagi dengan Kesepakatan Bersama antara Menteri Kesehatan dan Menteri Negaran Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 593/MENKES/SKB/ V/2010 . kami mengucapkan terima kasih. Buku ini merupakan kerja sama antara Kementerian Kesehatan dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.Nomor 07/MEN. Pada akhirnya akan bermuara pada pencapaian target indikator kinerja kegiatan sebagaimana ditetapkan dalam dokumen perencanaan. November 2010 SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN KESEHATAN RI. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kita semua dalam menyelenggarakan pembangunan kesehatan di Indonesia yang kita cintai. Merupakan sebuah kebanggaan. Melalui Visi Kementerian Kesehatan “Masyarakat Sehat Yang Mandiri Dan Berkeadilan”. Melalui kesempatan ini saya mengajak kepada semua unit utama di Kementerian Kesehatan. sehingga diperoleh solusi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan kesehatan yang berbeda antara perempuan dan laki-laki. Kementerian Kesehatan kembali dipercaya menjadi K/L pilot project pelaksanaan Anggaran Responsif Gender (ARG) melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 104/2010. dr. dengan menurunkan disparitas status kesehatan antar wilayah. Buku Panduan ini merupakan panduan teknis. kita telah berkomitmen mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya.

program dan kegiatan. baik dokumen perencanaan jangka panjang. program dan kegiatan kesehatan terhadap isu gender. monitoring. tetapi lebih dari itu menumbuhkan kesadaran bahwasanya PUG merupakan pendekatan yang efisien dan efektif untuk mencapai target kinerja output dan outcome pembangunan kesehatan. pelaksanaan. maupun jangka pendek atau tahunan. Faktanya. Jika kita menelaah kembali dokumen perencanaan pemerintah.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN RI Relevansi gender dengan bidang kesehatan. program dan kegiatan kesehatan yang masih bias atau netral gender. dan evaluasi pembangunan kesehatan. sangat erat kaitannya. Buku Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) ini. Perlu kita pahami bersama pula bahwa dalam mencapai tujuan pembangunan nasional. serta peran dan relasi gender yang masih cenderung menempatkan perempuan “dibawah” laki-laki. karena masih cenderung mengasumsikan bahwa kebutuhan kesehatan (health needs) antara perempuan dan laki-laki adalah sama. dan kontrol terhadap upaya kesehatan. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan v . Dukungan kebijakan tersebut secara jelas diuraikan dalam Bab I. manfaat. yang menjadi acuan dalam penyusunan dokumen perencanaan Kemkes. dan terintegrasi dalam siklus perencanaan dan penganggaran. Masih banyak kebijakan. partisipasi. Pendahuluan. sektor kesehatan bertanggung jawab dalam meningkatkan kualitas SDM dan indikator untuk menilainya bukan hanya dengan melihat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tetapi juga dengan Indeks Pembangunan Gender (IPG) bahkan dengan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG). sehingga situasi tersebut menyebabkan implikasi yang berbeda pula dalam hal akses. jangka menengah. Untuk itu. bukan hanya karena dorongan aturan/kebijakan yang pro gender. semuanya telah menyatakan bahwa gender merupakan mainstream dalam penyusunan kebijakan. perempuan dan laki-laki mempunyai kebutuhan kesehatan dan interes yang berbeda. Evidence based dari studi-studi gender dan kesehatan menyatakan bahwa salah satu penyebab utama dan akar masalah dari rendahnya status kesehatan masyarakat dan permasalahan kesehatan adalah belum responsifnya kebijakan. kami berharap bahwa kita semua mempunyai kesamaan pandangan dan komitmen bahwasanya Pengarusutamaan gender (PUG) Bidang Kesehatan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.

dan secara kesisteman maka PPRG merupakan bagian sistem perencanaan dan penganggaran yang telah berjalan selama ini. Endang Rahayu Sedyaningsih. Oleh karenanya. dan pada akhirnya mendukung tercapainya target indikator kinerja kegiatan yang telah ditetapkan. dr. melalui kesempatan ini juga. Biro Perencanaan dan Anggaran telah mengkoordinir penyusunan Buku Panduan PPRG ini yang tidak hanya melibatkan lintas program dan unit yang ada di lingkungan Kemkes tapi juga melibatkan Kementerian Negara PP&PA serta UNFPA dan juga mendapatkan masukan-masukan dari daerah. Lebih dari itu. tetapi hanya memastikan bagaimana agar perspektif gender dapat diintegrasikan dalam setiap tahapan perencanaan dan penganggaran. program dan kegiatan yang rerponsif gender. MPH. Amin Ya Rabbal Alamin. Hal tersebut telah menunjukkan komitmen Kemkes dalam rangka mengembangkan team work yang terpadu dalam melaksanakan PUG bidang kesehatan di Kementerian Kesehatan. kami berharap bahwa buku panduan ini dapat menjadi materi yang dapat dipakai oleh banyak pihak dalam upaya mengembangkan dan melaksanakan kebijakan. Dr. PPRG merupakan bagian integral dari PUG Bidang Kesehatan. sebuah perencanaan dan penganggaran responsif gender akan mendiagnosa dan memberikan jawaban yang lebih tepat kebutuhan program dan anggaran kesehatan bagi perempuan dan laki-laki. Selama ini. Jakarta. Karena itulah. masih ada anggapan bahwa melakukan analisis gender berarti menambah beban pekerjaan.PH vi . sesungguhnya perencanaan dan penganggaran rensponsif gender bukanlah berarti melakukan dua kali perencanaan. November 2010 MENTERI KESEHATAN. Namun.Secara struktur. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan karuniaNya kepada kita semua. kami mengucapkan terima kasih atas kerja sama yang ditunjukkan oleh tim tersebut atas kerja kerasnya sehingga Buku Panduan PPRG ini dapat tersusun.

MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN PENGANTAR PADA PANDUAN PERENCANAAN DAN PENGGANGGARAN RESPONSIF GENDER BIDANG KESEHATAN Saya menyambut balk diterbitkannya Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan. Panduan ini bertujuan untuk memberikan informasi dan langkah¬langkah di dalam menyusun kebijakan. sehingga perempuan dan laki-laki mendapatkan akses dan manfaat yang adil dan setara di dalam bidang Kesehatan. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan vii . program dan kegiatan masing-masing. program dan kegiatan di bidang kesehatan dengan pendekatan anggaran responsif gender sesuai dengan PMK Nomor 104 Tahun 2010 di atas. Panduan ini akan memberikan umbangan ang ukup ignifikan alam engimplementasikan s y c s d m Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional. termasuk Kementerian Kesehatan. antara lain yang dilaksanakan melalui penerbitan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 119 Tahun 2009 yang diperbaharui dengan PMK Nomor 104 Tahun 2010 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL Tahun Anggaran 2011 yang menetapkan Kementerian Kesehatan sebagai salah satu uji coba penerapan anggaran yang responsif gender. Inpres tersebut mengamanahkan bagi semua Kementerian dan Lembaga Pemerintah untuk mengintegrasikan perspektif gender pada saat menyusun kebijakan.

yang difasilitasi oleh UNFPA. S.Tersusunnya panduan ini atas kerjasama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Kementerian Kesehatan.IP viii . September 2010 Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Linda Amalia Sari Gumelar. Untuk itu. Akhirnya. kami berharap Panduan ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh semua pihak yang terkait. Jakarta. kami sampaikan penghargaan yang tinggi kepada Tim Penyusun dan pihak-pihak yang telah berkontribusi.

DAFTAR ISI Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan ix .

x .

Tambahan Lembaran Negara Nomor 4286). Bahwa untuk melaksanakan Inpres Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG). 2. Mengingat 1.PP&PA/5/2010 – No. dan c telah disusun Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 47. 07/MEN. program dan kegiatan pembangunan kesehatan. b. bahwa sesuai dengan PMK Nomor 104 tahun 2010.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 1459/MENKES/SK/X/2010 TENTANG PANDUAN PERENCANAAN DAN ANGGARAN RESPONSIF GENDER BIDANG KESEHATAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Menimbang a. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 104. d. perlu ditindaklanjuti. menunjuk Kementerian Kesehatan menjadi pilot project pelaksanaan Anggaran Responsif Gender dalam penyusunan RKA-KL TA. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4421). 593/MENKES/SKB/V/2010. c bahwa Kesepakatan Bersama Antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Menteri Kesehatan tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Bidang Kesehatan No. b. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan xi . 2011. Kementerian Kesehatan berkewajiban melakukan PUG dalam kebijakan. bahwa sebagai tindak lanjut sebagaimana dimaksudkan pada huruf a.

02/2010 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL Tahun Anggaran 2011. 12.3. Inpres Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010. dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 144. 9. 11.PP&PA/5/2010 – No.01/60/I/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan RI Tahun 2010 – 2014. 8. 375/ MENKES/SK/V/2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025. Peraturan Menteri Keuangan No 104/PMK. Tambahan lembaran Negara Nomor 5063). 10. Fungsi. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Kedudukan. 593/MENKES/SKB/V/2010 tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Bidang Kesehatan.03. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014. Inpres Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional . 14. Inpres Nomor 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan. Tugas. 4. 13. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025. Susunan Organisasi. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 878 Tahun 2006 tentang Tim Pengarusutamaan Gender Bidang Kesehatan (PUG-BK). 7. 07/MEN. 5. 6. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK. MEMUTUSKAN: Menetapkan Kesatu : Keputusan Menteri Kesehatan tentang Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan. sebagaimana terlampir dalam Keputusan ini. Ketiga : Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua digunakan sebagai acuan bagi Kementerian Kesehatan xii . Kesepakatan Bersama Antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Menteri Kesehatan No. Kedua : Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan.

Dr. Keempat : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.dalam penyusunan perencanaan dan penganggaran program pembangunan kesehatan yang responsif gender. MPH. DR. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 4 Oktober 2010 Menteri Kesehatan.PH Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan xiii . Endang Rahayu Sedyaningsih.

xiv BAB I Pendahuluan .

Latar Belakang Salah satu tujuan pembangunan nasional adalah meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (SDM) Indonesia sehingga mempunyai kemampuan daya saing secara global. belum mengalami peningkatan yang berarti yaitu 0.623 pada tahun 2008 (UNDP. namun nilainya masih lebih rendah jika dibandingkan dengan nilai IPM pada tahun yang sama. meskipun IPG Indonesia mengalami peningkatan dari 0.639 pada tahun 2004 menjadi 0. Demikian pula dengan Indeks Pemberdayaan Gender. IPM atau HDI Indonesia telah mengalami peningkatan.687 pada tahun 2004 menjadi 0. yaitu dari 0.719 pada tahun 2008. IPG Indonesia pada tahun 2008 menduduki peringkat ke-94 dari 177 negara. 2008). Indonesia berada pada peringkat ke-6 setelah Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 1 . dan di antara 10 negara-negara ASEAN. yang kemudian secara bertahap dijabarkan dalam perencanaan pembangunan lima tahunan dan perencanaan tahunan.664 pada tahun 2008. Perbaikan IPM Indonesia belum diikuti oleh perbaikan IPG. Isu SDM sebagai prioritas pembangunan nasional merupakan amanah Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025. Terdapat tiga indikator kualitas SDM yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI).597 pada tahun 2004 menjadi 0.MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN Nomor : 1459/MENKES/SK/X/2010 Tanggal : 4 Oktober 2010 bab BAB I PENDAHULUAN A. Indeks Pembangunan Gender (IPG) atau Gender-related Development Index (GDI) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) atau Gender Empowerment Measurement (GEM).

gender dan nondiskriminatif dan normanorma agama”. dan politik belum berhasil secara signifikan. dengan memperhatikan amanah Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025. pemerintah telah berkomitmen menjadikan isu gender sebagai mainstream (arusutama) pembangunan. Melalui Instruksi Presiden (Inpres) No. pelindungan. Thailand. Responsif Gender menjadi salah satu dasar penyelenggaraan SKN. ekonomi. Pembangunan kesehatan sebagai salah satu penentu kualitas SDM telah mengadopsi PUG. Kementerian Kesehatan telah menjadikan isu gender sebagai mainstream dalam pembangunan kesehatan. isu kesenjangan gender telah menjadi salah satu komitmen utama pemerintah. 9 tahun 2000 tersebut di atas. tujuan 6 (Mengendalikan HIV/ AIDS. Sejalan dengan peraturanperaturan tersebut di atas. yaitu tujuan 1 (Memberantas Kemiskinan dan Kelaparan). 07/MEN. serta tujuan 7 (Menjamin Kelestarian Lingkungan Hidup). selain itu dalam sistem Kesehatan Nasional (SKN) 2009. dipertegas kembali melalui UU No. Inpres ini mewajibkan pemerintah pusat dan daerah melakukan pengarusutamaan gender ke dalam seluruh proses pembangunan. 593/MENKES/SKB/V/2010 tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Bidang Kesehatan. Malaysia.PP&PA/5/2010 – No. tujuan 5 (Peningkatan Kesehatan Ibu). Sejak tahun 2000. Peningkatan IDG masih relatif kecil setiap tahunnya. keseimbangan. manfaat. Sementara itu. penghormatan terhadap hak dan kewajiban. Rencana Pembangunan Jangka Panjang bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025 dan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010–2014 sebagai pedoman dalam penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Tahun 20102014. isu kesehatan dan gender juga telah menjadi komitmen global yang dinyatakan dalam MDGs. dan Filipina. Program dan kegiatan kesehatan yang berhubungan dengan pencapaian target 2 BAB I Pendahuluan .Singapura. pelaksanaan. pemantauan dan evalusi pembangunan. Sedangkan IDG Indonesia menduduki peringkat ke-107 dari 177 negara. Hal ini mengindikasikan bahwa upaya peningkatan kesetaraan gender di bidang sosial. yang bersifat cross cutting dalam mencapai 7 tujuan lainnya dari 8 tujuan MDGs. Komitmen pemerintah melalui Inpres No. khususnya pasal 2 yang berbunyi “Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan berasaskan perikemanusiaan. Sedangkan isu gender tercantum pada tujuan 3 MDGs (Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan). keadilan. 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam Pembangunan Nasional. melalui penyehatan lingkungan. mulai dari tahap perencanaan. Malaria dan penyakit menular lainnya). PUG di Kementerian Kesehatan juga diperkuat dengan Kesepakatan Bersama Antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Menteri Kesehatan No. Terdapat 5 tujuan MDGs yang berhubungan dengan bidang kesehatan. 36 tahun 2009 tentang kesehatan. tujuan 4 (Menurunkan Kematian Anak). melalui peningkatan status gizi balita. Brunei Darussalam.

Sosial. Kementerian Pendidikan Nasional. Selanjutnya penerapan ARG diperbarui dengan PMK No. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas.MDGs selanjutnya diperkuat dengan Inpres No. B. Departemen Pertanian. maka Kementerian Kesehatan perlu menyusun panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender yang menjadi acuan bagi para perencana kesehatan dalam penyusunan ARG. dan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan. Memberikan panduan bagi para perencana dalam menyusun Anggaran Responsif Gender (ARG) di bidang kesehatan. Memampukan para perencana untuk mengintegrasikan perspektif gender dalam setiap tahapan perencanaan dan penganggaran bidang kesehatan. Departemen Kesehatan. Kementerian Permberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. 1 tahun 2010 tentang percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan nasional tahun 2010 dan Inpres No. Kedua PMK dimaksud telah mengintegrasikan ARG dalam penyusunan RKA-KL. 2. Uraian di atas memberikan pemahaman bahwa kebijakan PUG bidang kesehatan telah mendapatkan dukungan kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang sangat kuat. keadilan untuk semua. dan Hukum). Karena ARG telah menjadi bagian integral sistem perencanaan dan penganggaran K/L. dan pencapaian tujuan MDGs. Tujuan Penyusunan Panduan 1. Departemen Pekerjaan Umum. sehingga perlu ditindaklanjuti dengan kebijakan perencanaan dan penganggaran bidang kesehatan yang responsif gender. Kementerian Keuangan. Kementerian Kesehatan. 119 tahun 2009 yang menetapkan Kementerian Kesehatan sebagai salah satu ujicoba penerapan ARG dari 7 Kementerian/Lembaga (K/L) yaitu Departemen Pendidikan Nasional. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 3 . Perencanaan kesehatan yang responsif gender telah dinyatakan dalam dokumen perencanaan sebagaimana diuraikan tersebut di atas. Sedangkan dokumen penganggaran responsif gender bidang kesehatan atau disebut dengan Anggaran Responsif Gender (ARG) diamanahkan melalui PMK No. Dalam penelaahan RKA-KL kedua dokumen ARG tersebut merupakan bagian integral dari dokumen pendukung penelaahan RKA-KL yang menjadi syarat penelaahan RKA-KL oleh Direktorat Jenderal Anggaran. 104 tahun 2010. dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas) ditambah K/L yang menangani Bidang Perekonomian dan Bidang Polsoskum (Politik. Terdapat dua bentuk dokumen ARG dalam penyusunan RKA-KL. Departemen Keuangan. yaitu TOR responsif gender dan Gender Budget Statement (GBS). Kementerian Pekerjaan Umum. 3 tahun 2010 tentang program pembangunan yang berkeadilan dengan 3 substansi yaitu pro rakyat. yang kembali menetapkan 7 (tujuh) K/L pilot tahun anggaran 2011 (Kementerian Pertanian.

36 tahun 2009 tentang Kesehatan. maka dalam panduan ini juga disampaikan secara singkat tentang konsep gender dan isu gender dalam bidang kesehatan yang dapat dilihat pada BAB II. 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK. Inpres No. Landasan Hukum 1. D. 12. 11. Ruang Lingkup Panduan 1. 7. 8.01/60/ I/ 2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan RI Tahun 2010 – 2014.C. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Peraturan Menteri Keuangan No 104/PMK. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010–2014. UU No. Teknik penyusunan TOR (Term of Reference) responsif gender 3. Kesepakatan Bersama Antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Menteri Kesehatan tentang Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Bidang Kesehatan No. Inpres No.03. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.PP&PA/5/2010 – No. 4 BAB I Pendahuluan . Teknik penyusunan GBS (Gender Budget Statement) Untuk mempermudah dan membantu para perencana memahami konsep gender dalam penyusunan ARG. 9. Inpres No. 07/MEN. Teknik analisis gender bidang kesehatan dengan menggunakan Gender Analysis Pathway (GAP) 2. 2. 6. 3. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 374/MENKES/SK/V/2009 tentang Sistem Kesehatan Nasional (TKN).02/2010 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL Tahun Anggaran 2011. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N) Tahun 2005-2025. 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010. 593/MENKES/SKB/V/2010. 9/2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional.878 Tahun 2006 tentang Tim Pengarusutamaan Gender Bidang Kesehatan (PUG-BK). 4. 10. 5. 375/MENKES/SK/V/2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) Tahun 2005-2025.

Jenis kelamin bersifat kodrati dan universal (berlaku di mana saja) dan tidak bisa dipertukarkan satu sama lain. kegiatan serta karakteristik sosial lainnya yang dibentuk oleh suatu masyarakat atau budaya tertentu berdasarkan persepsi yang pantas untuk perempuan atau pantas untuk laki-laki.Laki-laki mempunyai tulang yang lebih masif. Gender mengacu pada peran. laki-laki tidak. tetapi berbeda antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya dan dapat berubah seiring dengan perkembangan zaman. diajari Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 5 . Jenis kelamin mengacu pada perbedaan karakteristik biologis dan fisiologis yang membedakan perempuan dan laki-laki.bab BAB II KONSEP GENDER DAN ISU GENDER BIDANG KESEHATAN A. khususnya perempuan.Perempuan dapat melahirkan. Lingkungan sosial mereproduksi pembedaan peran gender melalui pemisahan kepantasan untuk perempuan dan kepantasan untuk laki-laki. mempunyai testis. menstruasi.Laki-laki mempunyai jakun. istilah ‘jenis kelamin/ sex’ berbeda dengan gender. tumbuh kembang dan besar melalui proses sosialisasi di lingkungan keluarga dan masyarakat. sedangkan laki-laki tidak memilikinya. 2010). . Contoh dari sifat jenis kelamin antara lain: .Perempuan mempunyai payudara yang berfungsi untuk menyusui. bahwa gender adalah konsep yang mengacu pada peran dan tanggungjawab perempuan dan laki-laki yang terjadi akibat dari dan dapat berubah oleh konstruksi/ keadaan sosial budaya masyarakat (WHO. Kerancuan itu bermula dari pemahaman yang keliru tentang ‘gender’ yang sering diartikan sebagai jenis kelamin. padahal. sedangkan perempuan tidak. sehingga masih banyak terjadi kerancuan dalam memahaminya apalagi mengaplikasikannya. termasuk pembangunan kesehatan. Pembedaan peran gender tidak bersifat universal. . Istilah gender relatif baru masuk dalam khazanah pembangunan. menghasilkan sperma. menyusui. prilaku. Singkat kata. Persepsi gender dipraktikkan melalu perbedaan cara perempuan dan laki-laki dibesarkan. . Konsep Gender Gender merujuk pada perbedaan antara perempuan dan laki-laki sejak lahir.

laki-laki dan perempuan idealnya mempunyai peran dan tanggung jawab yang sama. tetapi lebih merujuk pada arti sosial bagaimana menjadi perempuan dan menjadi laki-laki. Perbedaan dan peran gender sebenarnya bukan suatu masalah sepanjang tidak menimbulkan ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender. Dengan perubahan zaman. pendidikan. tidak penting. 3. Subordinasi : akibat bentuk stereotipi menempatkan perempuan pada posisi di bawah laki-laki. bukan pengambil keputusan. yakni : 1. Marginalisasi : terpinggirkan. bahkan pernah suatu masa dokter kandungan dilarang digeluti oleh perempuan. proyek) dianggap ranah laki-laki. kepedulian. namun dari sisi sosial. bahkan sebagai salah satu ciri perempuan ’modern’. Stereotipi : menempatkan wanita sebagai mahluk lemah. Contohnya antara lain: Merokok dianggap pantas untuk laki-laki. perempuan yang merokok sudah dianggap biasa. perencanaan. sedangkan suami mempunyai tugas mencari nafkah bagi keluarga. pengalaman. menjadi sekretaris (proyek. bukan juga perempuan. tapi tidak untuk perempuan. Dokter kandungan pantasnya laki-laki. Gender beragam. dan lain-lain. Pekerjaan merawat dan membesarkan anak serta pekerjaan rumah tangga lainnya merupakan tugas dan tanggung jawab ibu rumah tangga. tidak boleh mengambil keputusan dibandingkan laki-laki. - - Gender bukan semata-mata perbedaan biologis. kondisi ideal tersebut belum tercipta karena masih terjadi ketidakadilan dan ketidaksetaraan atau diskriminasi gender. Bidan pantas sebagai pekerjaan perempuan karena dianggap mengurusi bagian-bagian intim perempuan. pimpinan) dianggap ranah perempuan. tidak mempunyai kesempatan yang sama untuk bekerja atau berproduksi. Perlu ditekankan bahwa meskipun laki-laki dan perempuan dari sisi biologis berbeda. Contohnya laki-laki jadi ilmuwan. bukan jenis kelamin. dan diharapkan untuk ‘menjadi perempuan’ dan ‘menjadi lelaki’ menurut budaya masyarakatnya. Menjadi kepala (rumah sakit. dan lain-lain. lakilaki menjadi pemimpin. Namun demikian. Praktik ini direproduksi secara turun temurun. Ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender dapat terjadi dalam beberapa bentuk atau manifestasi. tidak diperhatikan atau diakomodasi dalam berbagai hal. dan lain-lain. tidak punya nilai ekonomi. mahluk yang perlu dilindungi. perempuan juga bisa jadi ilmuwan. 6 BAB II Konsep Gender dan Isu Gender Bidang Kesehatan . bisa berubah-ubah dan bersifat dinamis.berprilaku. yang menyangkut kebutuhan. kantor. orang rumah. dan lainlain. perempuan juga bisa jadi pemimpin. 2.

5. Kekerasan bisa berbentuk ancaman tindakan tertentu. kontrol dan manfaat yang diperoleh mereka dalam pembangunan kesehatan. Publikasi ilmiah menyatakan bahwa: Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 7 . para pembuat dan pelaksana kebijakan perlu sensitif gender agar dapat menghasilkan kebijakan. maka perlu meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pembuat kebijakan (policy maker) dan pelaksana kebijakan tentang konsep dan isu gender. 1. tempat kerja. Untuk mempermudah para perencana mengenal isu gender. termasuk bekerja di luar rumah. sehingga kesenjangan tersebut harus menjadi perhatian dalam menyusun kebijakan/program sehingga kebijakan/program bisa lebih terfokus. pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang. Kekerasan Berbasis Gender : perempuan mendapatkan serangan fisik. dan lebih lama waktu kerjanya. Untuk mengurangi bentuk ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender tersebut diatas. Isu Gender dalam Bidang Kesehatan Isu Gender dalam bidang kesehatan adalah masalah kesenjangan perempuan dan laki-laki dalam hal akses. Untuk itu. B. kontrol dan manfaat dalam setiap bidang pembangunan. tetapi juga perlu melihat pada hubungan sosial budaya yang menyebabkan perbedaan status dan peran perempuan dan laki-laki dan relasi antara keduanya di masyarakat. sikap dan tingkah laku yang buta gender akan menghasilkan kebijakan netral atau bias gender karena tidak mempertimbangkan pengalaman. berikut ini beberapa contoh isu gender dalam kaitannya dengan upaya atau pelayanan kesehatan. partisipasi. isu kesehatan tidak boleh hanya dilihat pada masalah service delivery (penyediaan layanan) saja. efisien dan efektif dalam mencapai sasaran. seksual atau psikologis tertentu yang mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan. baik yang terjadi di ranah publik. misalnya fungsi reproduktif dan peran sebagai pengelola rumah tangga. peran atau partisipasi. partisipasi. dan kebutuhan laki-laki dan perempuan yang berbeda. Beban Majemuk : perempuan bekerja lebih beragam daripada laki-laki. karena jika para pembuat dan pelaksana kebijakan masih memiliki pola pikir. Isu gender terhadap prevalensi dan tingkat keparahan penyakit Perbedaan norma dan relasi gender menyebabkan perempuan dan laki-laki menderita penyakit yang berbeda dan juga tingkat keparahannya. aspirasi. Kesenjangan akses. atau dalam kehidupan rumah tangga. Oleh karena itu.4. kontrol dan manfaat antara perempuan dan laki-laki dalam upaya atau pelayanan kesehatan secara langsung menyebabkan ketidaksetaraan terhadap status kesehatan perempuan dan laki-laki. program dan kegiatan yang memastikan laki-laki dan perempuan memperoleh keadilan dan kesetaraan dalam akses.

Silicosis yang berhubungan dengan pekerja tambang (100 % laki-laki). Isu gender terhadap faktor risiko penyakit . Perempuan lebih berisiko dari laki-laki terhadap defisiensi micro-nutrient yang akan berdampak buruk bagi status gizi dan kesehatannya sehingga mengurangi produktivitas dan peluang investasi di bidang pendidikan. Penyakit dengan gangguan pada Arteri Coronaria merupakan salah satu penyebab terbesar kematian pria pada saat kerja. Osteoporosis 8 kali lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki yang berhubungan dengan faktor biologis dan gaya hidup. Laki-laki menderita lebih banyak Sirosis Hepatis yang berhubungan dengan perilaku minuman beralkohol.- - - - - - - Perempuan menderita anemia akibat kekurangan Fe pada ibu hamil dan menyusui serta perempuan yang menstruasi sebagai akibat dari hegemoni laki-laki dalam rumah tangga yang mempunyai peluang lebih besar mengkonsumsi makanan kaya Fe. termasuk pencegahan transmisi HIV/AIDS dan penyakit IMS lainnya. yang berhubungan dengan rendahnya akses terhadap teknologi dan pelayanan kesehatan dalam deteksi dini dan tindakan pengobatan.Riset WHO yang dilakukan pada laki-laki termasuk remaja pria di seluruh dunia menunjukkan bagaimana norma-norma terhadap ketidakadilan gender mempengaruhi interaksi laki-laki dengan pasangan wanitanya dalam banyak hal. lebih banyak pada perempuan dibandingkan laki-laki. Demikian pula Diabetes. Angka kematian yang tinggi pada kasus kanker perempuan pada usia dewasa. 2. Malnutrisi pada bayi berhubungan dengan kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan ibu. . hipertensi dan kegemukan. sementara remaja laki-laki mempunyai prevalensi lebih tinggi dibandingkan remaja perempuan karena mereka lebih sering bermain di sungai dan kanal. Isu gender terhadap lingkungan fisik dan penyakit Studi kasus di Zimbabwe menyatakan bahwa perempuan dewasa lebih berisiko tinggi menderita Sistosomiasis (salah satu jenis cacing darah) dibandingkan lakilaki karena perempuan bertugas mencuci pakaian dan perlengkapan dapur yang dilakukannya di sungai.Perempuan mempunyai akses yang lemah terhadap keuangan keluarga sehingga mengurangi kemampuannya untuk melindungi dirinya dari faktor risiko penyakit. penggunaan alat kontrasepsi dan prilaku laki-laki dalam mencari pelayanan 8 BAB II Konsep Gender dan Isu Gender Bidang Kesehatan . 3. Depresi (dua sampai tiga kali lebih banyak pada perempuan dibandingkan laki-laki pada semua fase kehidupan) yang berhubungan dengan tipe personal dan pengalaman dalam bersosialisasi dan perbedaan peluang antara perempuan dan laki-laki. Demikian pula Schizophrenia dan kanker paru-paru yang berhubungan dengan perilaku merokok. Demikian pula untuk kasus hernia pada laki-laki yang berhubungan dengan jenis pekerjaan.

Pada saat sakit.Tidak masuknya target perempuan pada studi-studi klinis patologis. Jam pelayanan (waktu) di sarana pelayanan kesehatan seringkali tidak sesuai dengan kesibukan ibu rumah tangga. Kalaupun berobat penyakitnya sudah dalam stadium lanjut. 5. Demikian pula pada laki-laki dewasa mencari pengobatan terhadap penyakitnya pada stadium lanjut karena peran maskulin laki-laki menyebabkan laki-laki merasa harus kuat dalam menghadapi penyakit. Isu gender terhadap persepsi dan respon terhadap penyakit . psikologis dan sosial terhadap sarana pelayanan kesehatan . Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 9 .Ketimpangan peran dan relasi gender menyebabkan perempuan mempunyai akses secara fisik. Demikian pula dengan angka kesakitan dan kematian akibat kecelakaan lalu lintas dan tindak kriminal. Streotipi maskulin menyebabkan seorang laki-laki harus berani. mengakibatkan terapi hasil studi tersebut tidak realible diaplikasikan pada perempuan dan mungkin berbahaya pada perempuan. yang selanjutnya berpengaruh terhadap dampak pengobatan tertentu pada perempuan. keputusan tentang penggunaan kontrasepsi lebih banyak ditentukan oleh suami. Juga terkait dengan pembagian peran dan tugas rumah tangga.- - kesehatan. karena dalam beberapa kelompok masyarakat laki-laki lebih didahulukan sebagai pengguna utama air bersih. 4. serta pola parenting (proses bertindak sebagai orang tua). pengambil resiko berprilaku agnesi dan tidak menunjukkan sifat lemah berhubungan dengan angka penggunaan alkohol dan Narkoba lebih tinggi pada lakilaki di seluruh belahan dunia. Peran perempuan dalam mengurus rumah tangga mengakibatkan apabila perempuan jatuh sakit tidak cepat mencari pengobatan karena merasa tidak nyaman melalaikan tugas dan tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga. perempuan tidak dengan serta merta mengakses pelayanan kesehatan karena : a. Terbatasnya akses terhadap air bersih pada perempuan. . psikologis dan sosial terhadap pelayanan kesehatan lebih rendah dibandingkan laki-laki.. sedangkan perempuan dan anak-anak harus membawa dan menyiapkannya tetapi mendapatkan prioritas kedua. Pertimbangan tubuh laki-laki sebagai standar dalam studi klinis akan membatasi jumlah studi yang difokuskan pada kesehatan reproduktif dan non-reproduktif perempuan. Isu gender terhadap akses secara fisik. Disamping itu dalam relasi gender di sebuah keluarga.Perbedaan peran laki-laki dan perempuan mempengaruhi persepsi perasaan tidak nyaman serta mempengaruhi keinginan wanita untuk menyatakan dirinya sakit.Pelayanan Kelurga Berencana lebih fokus pada perempuan dibanding laki-laki mengakibatkan laki-laki mempunyai akses yang terbatas terhadap pelayanan KB dan mengakibatkan laki-laki mempunyai persepsi bahwa KB adalah urusan perempuan. .

maka akan berdampak signifikan terhadap kesejahteraan keluarga dan anggotanya. informasi dan teknologi memperburuk ketidakadilan gender. Perempuan dengan penyakit IMS cenderung tidak ke sarana kesehatan karena takut dengan stigma sosial yang ‘miring’ atau negatif tentang perempuan penderita Penyakit Menular Seksual. Terbatasnya akses terhadap biaya. Tersedianya sumber daya keuangan akan berhubungan dengan peningkatan tingkat kesehatan anak. Banyak kasus IMS pada perempuan bersifat asimptomatik (tidak bergejala) yang mengakibatkan lambatnya diagnosis dan pengobatan. Jika perempuan mempunyai akses terhadap pembiayaan. Studi menunjukkan bahwa perempuan mempunyai risiko terinfeksi dua sampai empat kali lebih besar pada kasus ini. jarak/transportasi. Dalam keadaan sakit perempuan harus mendapatkan ijin suami untuk berkunjung ke sarana pelayanan kesehatan. Isu gender terhadap keterpajanan dan kerentanan penyakit Perempuan lebih rentan dibanding laki-laki terhadap infeksi HIV/AIDS melalui hubungan heteroseksual. 6. 10 BAB II Konsep Gender dan Isu Gender Bidang Kesehatan .- - b. Perempuan lebih banyak terpajan oleh penyakit IMS yang menyebabkan peningkatan risiko infeksi HIV/ AIDS.

25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional seperti tertera pada bagan 1 di bawah ini : Bagan 1. terutama untuk lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. uraian akan difokuskan pada sistem perencanaan dan penganggaran di tingkat pusat. Alur Perencanaan dan Penganggaran Renstra KL Pedoman Renja KL Pedoman RKA KL Rincian APBD PEMERINTAH Pedoman Diacu Dijabarkan RPJP Nasional Diacu RPJP Daerah RPJM Nasional Diperhatikan RPJM Daerah Pedoman RKP Pedoman RAPBN APBN Diserasikan melalui MUSRENBANG RKP Daerah Pedoman Dijabarkan Pedoman RAPBD APBD PEMERINTAH DAERAH Renstra SKPD Pedoman Renja SKPD Pedoman RKA SKPD Rincian APBD UU SPPN Sumber : UU No. 17 Tahun 2003 UU KN Bagan diatas memperlihatkan sistem perencanaan dan penganggaran nasional yang berlaku di pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Di bagian atas menggambarkan alur perencanaan dan penganggaran pemerintah pusat. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 11 . Sistem Perencanaan dan Penganggaran di Indonesia Sistem perencanaan dan penganggaran nasional diatur dalam UU No.BAB III bab PENGANGGARAN RESPONSIF GENDER BIDANG KESEHATAN PERENCANAAN DAN A. Dalam panduan ini. 25 Tahun 2004 dan UU No. sedangkan di bagian bawah menggambarkan alur perencanaan dan penganggaran pemerintah daerah.

Bagan 2. Kegiatan selanjutnya adalah rapat kerja pemerintah bersama DPR untuk membahasa RAPBN menjadi APBN. serta (iii) usulan kebijakan/kegiatan baru (inisiatif baru). selanjutnya pemerintah dan DPR mengadakan rapat kerja dalam rangka Pembahasan Pembicaraan Pendahuluan Penyusunan RAPBN untuk menyepakati pokok-pokok kebijakan belanja negara. (ii) kegiatan non prioritas dan pengganggarannya. Diagram Proses Perencanaan. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dimulai 1 Januari sampai 31 Desember tahun yang sama. Hasil rapat kerja dengan DPR dijadikan sebagai bahan acuan penyusunan pagu sementara oleh Menteri Keuangan yang kemudian ditetapkan dengan Surat Edaran tentang Pagu Sementara (Pagu Anggaran) K/L.DESEMBER Kementrian Perencanaan Indikasi Pagu SEB Prioritas Program dan Kementrian Keuangan Sementera (Pagu Anggaran) Pagu Penelaahan Konsistansi dengan Prioritas Anggaran Pagu Difinitif (Alokasi Anggaran) PENGESAHAN Kementrian Negara/ Lembaga Restra KL Rancangan Renja KL RKP RKA KL Konsep Dokumen Pelaksanaan Anggaran Dokumen Pelaksanaan Anggaran Sumber : PP No.APRIL MEI . (i) kegiatan prioritas dan penganggarannya. Atas dasar SEB tersebut diadakan Pertemuan Tiga Pihak (Trilateral Meeting) antara BappenasKemenkeu-K/L mengenai Pembahasan Rancangan RKP dan Pagu Indikatif RAPBN untuk K/L tersebut. dengan mengacu pada SEB Menteri PPN/Kepala Bappenas dan Menteri Keuangan tentang Pagu Indikatif dan Rancangan Awal RKP. Pengagaran dan Evaluasi Terpadu JANUARI . Atas dasar RKP tersebut.AGUSTUS Penelaahan Konsistens Dengan RKP SE Lampiran RAPBN (Himpunan RKA-KL) Rancangan KEPRES ttg Rincian APBN SEPTEMBER . yang memuat tiga hal utama yaitu. untuk selanjutnya ditelaah di Dirjen Anggaran Kemenkeu. Pada bulan 12 BAB III Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan . Selanjutnya diadakan Rakorbangpus dalam rangka penyusunan RKP yang ditetapkan dengan Peraturan Presiden. SE tentang pagu sementara (Pagu Anggaran) digunakan sebagai acuan dalam menyusun RKA-KL suatu K/L. Pertemuan trilateral meeting menghasilkan Rancangan Renja KL yang merupakan perpaduan antara RKP dan Renstra KL.Siklus perencanaan dan penganggaran (baca tahun fiskal) di Indonesia menurut Pasal 4 UU No. 21 tahun 2004 Bagan di atas memperlihatkan bahwa Renja KL harus sudah dibuat selambatlambatnya di bulan April. Hasil penelaahan RKA-KL tersebut selanjutnya dijadikan sebagai bahan Lampiran RAPBN pada saat presiden membacakan Nota Keuangan di hadapan rapat paripurna DPR pada bulan Agustus. Siklus perencanaan dan penganggaran dalam satu tahun dapat dilihat pada bagan 2 dibawah.

B. Hasil penelaahan tersebut disahkan menjadi DIPA (Dokumen Pelaksanaan Anggaran) Kementerian/Lembaga oleh Dirjen Perbendaharaan Kemenkeu. WAKTU JanuariApril KEGIATAN Penyusunan draft awal Renja K/L Kemenkes : • Usulan berasal dari unit eselon II. Atas dasar hasil rapat kerja tersebut ditetapkanlah Perpres Rincian Anggaran Pemerintah Pusat. Atas dasar kedua dokumen tersebut (Perpres dan SRAA) K/L menyusun Konsep DIPA untuk selanjutnya ditelaah dengan Dirjen Perbendaharaan. Mekanisme Perencanaan dan Penganggaran di Kementerian Kesehatan serta Kaitannya dengan Anggaran Responsif Gender (ARG) Perencanaan dan penganggaran responsif gender bidang kesehatan tidak berdiri sendiri. tetapi merupakan bagian integral dari perencanaan dan penganggaran Kementerian Kesehatan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada. yang kemudian direview di Setditjen/ Setbadan/Set-Itjen di masing-masing unit utama. Setelah RAPBN dibahas bersama DPR. sebagaimana dijelaskan pada Sub Bab III bagian A tersebut di atas. • Usulan dari Unit Utama selanjutnya direview dan dikompilasi oleh Biro Perencanaan dan Anggaran. Khusus untuk dana dekonsentrasi dan UPT pusat yang berada di provinsi. Siklus Perencanaan dan Penganggaran Kementerian Kesehatan PENANGGUNG JAWAB Biro Perencanaan dan Anggaran PERENCANAAN DAN ANGGARAN RESPONSIF GENDER Setiap unit eselon II telah melakukan perencanaan gender dengan melakukan analisis gender (metode GAP) dan telah mengidentifikasi sejumlah atau list Rincian Kegiatan yang responsif gender. dan disahkan menjadi APBN maka ditetapkanlah pagu definitif (Pagu Anggaran). Idealnya analisis gender dilakukan pada kegiatan prioritas. HASIL Draft awal Renja K/L Kemenkes Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 13 . Perpres tersebut dijabarkan melalui Surat Rincian Alokasi Anggaran (SRAA) yang ditetapkan oleh Dirjen Perbendaharaan.September Kementerian Keuangan menyusun Rancangan Keppres tentang Rincian APBN. Siklus perencanaan dan penganggaran responsif gender menyesuaikan dengan siklus perencanaan dan penganggaran di Kementerian Kesehatan sebagaimana diuraikan di bawah ini : Bagan 3.

telah mempertimbangkan kebutuhan anggaran Rincian Kegiatan yang responsif gender. Setelah pagu sementara ditetapkan. setiap unit eselon II melakukan review kembali analisis gender yang telah dibuat (dalam hal kesesuaian pagu indikatif dan pagu sementara). Selanjutnya menyusun ARG (TOR responsif gender dan GBS) sebagai dokumen pendukung RKA-KL beserta RAB. Pertemuan Trilateral meeting sebagai tindak lanjut dari SEB Pagu Indikatif dan Rancangan Awal RKP Bappenas Dokumen Trilateral Meeting dalam rangka Penyusunan RKP dan Renja K/L Kemenkes Pertemuan Rakorbangpus tentang finalisasi RKP dan Sidang Kabinet Rancangan Akhir RKP Bappenas Perpres tentang RKP RKP bidang kesehatan dan Renja K/L Kemenkes Meskipun dalam Perpres RKP khususnya bidang kesehatan tidak mencantumkan secara khusus indikator gender. dengan menurunnya disparitas separuh dari tahun 2009’. Isu gender menjadi salah satu sasaran strategis Renstra 2010-2014 yakni ’menurunnya disparitas status kesehatan dan status gizi antar wilayah dan antar tingkat sosial ekonomi serta gender. Perlu diingat bahwa kegiatan yang responsif gender tidak hanya berada di Direktorat Kesehatan Ibu saja sebagai focal point gender.WAKTU KEGIATAN Pembahasan rancangan awal RKP melalui Sidang Kabinet Paripurna PENANGGUNG JAWAB Bappenas HASIL SEB Pagu Indikatif dan Rancangan Awal RKP PERENCANAAN DAN ANGGARAN RESPONSIF GENDER Setelah SEB Pagu Indikatif ditetapkan dan pada saat penyusunan Renja K/L. namun dalam perhitungan alokasi anggaran di setiap unit eselon II. setiap unit eselon II mereview kembali analisis gender yang telah dibuat sebelumnya dan menetapkan Rincian Kegiatan (terpilih) responsif gender. Rapat kerja pemerintah Kemenkeu dan DPR tentang Pembahasan Pembicaraan Pendahuluan Penyusunan RAPBN SE Menkeu tentang pagu sementara 14 BAB III Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan .

Pada saat penyusunan draft awal Renja K/L tersebut.GBS. Renja tersebut merupakan penyempurnaan atas draft awal Renja. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 15 . Renja KL ini disamping mengacu pada RKP juga disusun mengacu kepada Renstra Kementerian Kesehatan 2010-2014. selanjutnya disusun Renja K/L Kemenkes.WAKTU KEGIATAN Penelaahan RKA-KL di DJA Kemenkeu PENANGGUNG JAWAB Biro Perencanaan dan Anggaran (Kemenkes). yang diusulkan oleh Perencana Internal (PI/ PA) untuk selanjutnya direview dan dikompilasi oleh Biro Perencanaan dan Anggaran. atas usulan dari penanggung jawab program pada masing-masing Unit Utama. Bagian PI/PA (Unit Utama) HASIL RKAKL Kemenkes yang disetujui oleh DJA. dan dijadikan sebagai dasar RAPBN PERENCANAAN DAN ANGGARAN RESPONSIF GENDER Perencana di unit eselon II mengikuti penelaahaan RKA-KL dan memberikan penjelasan yang dibutuhkan atas pertanyaan penelaah DJA tentang relevansi indikator kinerja . Bagian PI/PA (Unit Utama) Penelaahan Konsep DIPA oleh DJPB Kemenkeu DJPB Kemenkeu Pengesahan DIPA Pada bulan Maret Biro Perencanaan dan Anggaran telah melakukan kompilasi draft awal Renja K/L Kementerian Kesehatan. penanggung-jawab program disetiap unit eselon II telah melakukan analisis GAP dan mengidentifikasi sejumlah/ list Rincian Kegiatan yang responsif gender Setelah terbitnya SEB Menteri PPN/Kepala Bappenas dan Menteri Keuangan tentang Pagu Indikatif dan Rancangan Awal RKP dan telah dilaksanakannya Pertemuan Tiga Pihak (Trilateral Meeting) antara Bappenas-Kemenkeu-Kemenkes. (lihat tata cara penelaahan pada Bab V Point F) Mei – Agustus Pidato presiden tentang RAPBN Kementerian KeuanganSekretariat Negara Kementerian Keuangan Nota Keuangan tentang tentang RAPBN Perpres tentang Rincian Anggaran Pemerintah Pusat (Pagu Definitif) Konsep DIPA Rapat kerja pemerintah dan DPR untuk pembahasan RAPBN menjadi APBN Review RKA-KL Kemenkes tentang kesesuaian pagu sementara dan pagu definitif September – Desember Biro Perencanaan dan Anggaran (Kemenkes).TOR responsif gender .

Setelah pagu sementara ditetapkan melalui Surat Edaran Menteri Keuangan. relevansi pencantuman target kinerja dan komponen masukan (input) yang digunakan. Artinya. kesesuaian dengan KAK/ TOR. pilihan/ prioritas Rincian Kegiatan responsif gender telah disesuaikan dengan jumlah pagu yang diterima.Pada saat penyusunan Renja K/L tersebut. Pada proses penelaahan RKA-KL. 16 BAB III Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan . maka DIPA disahkan oleh Dirjen Perbendaharaan Kemenkeu. penanggung-jawab program mereview kembali hasil analisis GAP dan menetapkan Rincian Kegiatan yang responsif gender. Proses selanjutnya adalah penelaahan RKA-KL dengan Kementerian Keuangan c. serta dukungan detil kegiatan (Rincian Kegiatan) yang responsif gender terhadap pencapaian target indikator kinerja kegiatan (lihat tata cara penelaahan pada Bab V Sub-Bab F). Selanjutnya pada periode September sampai Desember setelah dilakukan pembahasan RAPBN di DPR. Atas dasar dokumen APBN tersebut. perencana di masingmasing unit eselon II dan dibantu oleh Bagian PI/PA akan memberikan penjelasan yang dibutuhkan tentang relevansi antara TOR responsif gender dan GBS. dengan Rincian Kegiatan yang telah disesuaikan dengan pagu sementara. Kedua dokumen ARG tersebut merupakan lanjutan dari hasil analisis GAP. Direktorat Jenderal Anggaran dengan meneliti : kesesuaian dengan pagu sementara. Jika konsep DIPA telah sesuai dengan pagu definitif yang dimaksud dalam UU APBN. perencana dimasing-masing eselon II menyusun Konsep DIPA dan selanjutnya ditelaah di DJPB Kemenkeu. Himpunan RKA-KL K/L termasuk Kementerian Kesehatan akan menjadi lampiran RAPBN. berdasarkan pagu indikatif yang diterima. Salah satu dokumen pendukung RKA-KL adalah TOR Responsif Gender dan Gender Budget Statement (GBS).q. penetapan pagu definitif serta disahkannya UU APBN. Pada bulan Agustus disampaikan nota keuangan RAPBN beserta lampirannya oleh presiden. RAB dan atau dokumen pendukung terkait. kesesuaian dengan hasil kesepakatan antara Kementerian Kesehatan dan komisi terkait di DPR. prakiraan maju yang telah ditetapkan tahun sebelumnya dan standar biaya. selanjutnya setiap eselon II menyusun RKA-KL.

berpartisipasi dalam mengambil keputusan dan mengontrol terhadap sumber-sumber daya serta kesetaraan terhadap kesempatan dan peluang dalam memilih dan menikmati hasil pembangunan bidang kesehatan. Melalui analisis gender akan diketahui perbedaan kondisi dan kebutuhan kesehatan laki-laki dan perempuan yang ada yang dijadikan sebagai Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 17 . Bahkan sebelumnya dalam Inpres No. perencanaan dan penganggaran responsif gender akan berkontribusi terhadap peningkatan kesempatan memperoleh layanan kesehatan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat baik laki-laki maupun perempuan. Perencanaan dan penganggaran responsif gender merupakan instrumen untuk mengatasi adanya kesenjangan akses. analisis gender wajib digunakan dalam perencanaan dan penganggaran. melainkan merupakan sebuah kerangka kerja atau alat analisis untuk mewujudkan keadilan dalam penerimaan manfaat pembangunan. Dalam kaitannya dengan isu kesehatan. kontrol dan manfaat pembangunan bagi laki-laki dan perempuan yang selama ini masih senjang akibat konstruksi sosial-budaya. Tujuannya adalah mewujudkan anggaran yang lebih berkeadilan. Pentingnya ARG Permenkeu 104/2010 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL Tahun Anggaran 2011 telah mengamanatkan penyusunan ARG. Perencanaan dan penganggaran responsif gender bukanlah tujuan. B.BAB IV bab (ARG) BIDANG KESEHATAN ANGGARAN RESPONSIF GENDER A. Dalam Permenkeu tersebut secara eksplisit dinyatakan bahwa penyusunan anggaran perlu didahului oleh analisis gender. partisipasi. Definisi Operasional ARG Anggaran Responsif Gender (ARG) merupakan sistem penganggaran yang mengakomodasikan keadilan bagi perempuan dan laki-laki dalam memperoleh akses. 9/2000. manfaat. Perencanaan dan penganggaran responsif gender bukanlah sebuah proses yang terpisah dari sistem yang sudah ada atau terlebih diartikan sebagai rencana dan anggaran khusus untuk perempuan yang terpisah dari laki-laki.

Melakukan análisis gender untuk mengetahui peran dan relasi gender perempuan dan laki-laki yang mempengaruhi status dan kebutuhan kesehatan mereka. kuratif.dasar perencanaan dan penganggaran yang responsif gender yang bertujuan untuk meningkatkan pencapaian target kinerja kegiatan (output) dan program (outcome) sebagaimana dinyatakan dalam Renstra Kementerian Kesehatan Tahun 2010 – 2014. 18 BAB IV Anggaran Responsif Gender (ARG) Bidang Kesehatan . Berikut beberapa konsep tentang perencanaan dan penganggaran responsif gender: Pertama. perencanaan responsif gender adalah perencanaan yang dilakukan dengan memasukkan perbedaan-perbedaan pengalaman. dan kontrol terhadap upaya kesehatan (promotif. Perencanaan dan penganggaran merupakan dua proses yang saling terkait dan terintegrasi. monitoring dan evaluasi. dan rehabilitatif) yang setara antara perempuan dan laki-laki sehingga perempuan dan laki-laki sesuai dengan status dan kebutuhan kesehatan mereka. Menyusun anggaran (RKA-KL) berdasarkan hasil análisis gender untuk mencapai target indikator kinerja program dan kegiatan yang adil terhadap perempuan dan laki-laki. Melakukan perencanaan kebijakan. perencanaan responsif gender merupakan suatu proses pengambilan keputusan untuk menyusun program. C. 2. preventif. manfaat. penganggaran responsif gender merupakan pengarusutamaan gender ke dalam siklus penganggaran yang terdiri atas perencanaan. anggaran responsif gender adalah anggaran yang responsif terhadap kebutuhan laki-laki dan perempuan serta memberi manfaat kepada laki-laki dan perempuan secara setara. 3. Ketiga. Kedua. serta memberikan manfaat kepada perempuan dan laki-laki secara setara. Tujuan ARG 1. Melalui anggaran responsif gender kesenjangan gender diharapkan dapat dihilangkan atau setidaknya dapat dikurangi. Penganggaran responsif gender akan menghasilkan anggaran responsif gender. aspirasi. Ciri utama Anggaran responsif gender adalah menjawab kebutuhan perempuan dan laki-laki. partisipasi. kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki dalam proses penyusunannya. pelaksanaan. Keempat. program dan kegiatan bidang kesehatan yang menciptakan akses. pembahasan. proyek atau pun kegiatan yang akan dilaksanakan di masa mendatang untuk menjawab isu-isu atau permasalahan gender di masing-masing sektor.

yaitu alokasi anggaran yang diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan dasar khusus perempuan atau laki-laki. Anggaran khusus target gender. khususnya dalam menurunkan kesenjangan status kesehatan antara perempuan dan laki-laki. Melalui analisis gender akan diketahui adanya kesenjangan dalam relasi antara laki-laki dan perempuan dalam akses. pengadaan kondom gratis bagi laki-laki.4. Suatu output yang dihasilkan oleh kegiatan akan mendukung pencapaian hasil (outcome) program. Anggaran kesetaraan gender Anggaran kesetaraan gender merupakan alokasi anggaran untuk mengatasi masalah kesenjangan gender. dan output) yang ada dalam RKA-KL. kegiatan. Kerangka Pikir ARG RKA-KL Analisis Gender (Idealnya menggunakan Gender Analysis Pathway (GAP) TOR Responsif Gender Gender Budget Statement (GBS) Berdasarkan bagan 4 diatas. Kategori ARG Anggaran responsif gender dibagi atas 3 kategori. Menjadi alat monev untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan program dan kegiatan kesehatan. TOR Responsif Gender dan GBS yang benar didahului dengan Analisis Gender. kontrol dan manfaat terhadap sumber daya. Tahapan atau kerangka pikir ARG adalah sebagaimana bagan berikut. yaitu: 1. yang idealnya menggunakan GAP. D. dan lain-lain. Kategori ARG ini 2. Hanya saja muatan substansi/ materi output yang dihasilkan tersebut dilihat dari sudut pandang (perspektif) gender. Contoh : Program Making Pregnancy Safer (MPS). Letak dan Tahapan ARG Berdasarkan PMK 104/2010 ARG melekat pada struktur anggaran (program. ARG merupakan bagian dari RKA-KL yang mensyaratkan penyusunan 2 (dua) dokumen yaitu TOR Responsif Gender dan GBS. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 19 . E. Bagan 4. partisipasi.

4. 6. Contoh : Penyusunan Pedoman PUG dan PPRG bidang Kesehatan. 20 BAB IV Anggaran Responsif Gender (ARG) Bidang Kesehatan . untuk mengejar kekurangan/ketertinggalannya. Diklat PUGBK. 5. penyusunan profil kesehatan dengan data terpilah berdasarkan jenis kelamin. Karena itu. tetapi bagaimana anggaran keseluruhan dapat memberikan manfaat yang adil untuk laki-laki dan perempuan. PMK 104 / 2010 menekankan prinsip-prinsip ARG sebagai berikut: 1. peran dan tanggungjawab antara laki-laki dan perempuan. 3. ARG bukan berarti ada alokasi dana 50% laki-laki – 50% perempuan untuk setiap kegiatan. penolong persalinan oleh tenaga kesehatan laki-laki untuk daerah terisolir.juga termasuk untuk alokasi program/kegiatan untuk keperluan kebutuhan strategis gender. oleh PMK 104/2010. ARG bukan fokus pada penyediaan anggaran dengan jumlah tertentu untuk pengarusutamaan gender. 7. Anggaran pelembagaan kesetaraan gender. ARG bukanlah anggaran yang terpisah untuk laki-laki dan perempuan. dan Pendekatan Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah/KPJM (Medium Term Expenditure Framework). namun ada juga kegiatan yang netral gender. Adanya ARG tidak berarti adanya penambahan dana yang dikhususkan untuk program perempuan. F. Merupakan alokasi anggaran untuk penguatan kelembagaan PUG. agar tidak disalahpahami. Bukan berarti bahwa alokasi ARG hanya berada dalam program khusus pemberdayaan perempuan. Untuk itu. Pendekatan Penganggaran Berbasis Kinerja/PBK (Performance Based Budgeting). yang telah diamanahkan dalam UU 17/2003 tentang Keuangan Negara. ARG telah diadopsi sebagai salah satu pendekatan baru dalam perencanaan dan pengganggaran pembangunan disamping Pendekatan Penganggaran Terpadu (Unifed Budget). Tidak harus semua program dan kegiatan mendapat koreksi agar menjadi responsif gender. 3. Jumantik laki-laki dan perempuan di setiap RT. Prinsip – Prinsip ARG ARG adalah instrumen untuk menjadikan keseluruhan perencanaan dan penganggaran pembangunan memberikan manfaat secara adil bagi perempuan dan laki-laki. suami siaga. ARG sebagai pola anggaran yang akan menjembatani kesenjangan status. ARG bukanlah dasar yang “valid” untuk meminta tambahan alokasi anggaran. 2. Contoh : program beasiswa dengan kuota khusus bagi perempuan/laki-laki untuk mencapai kesetaraan partisipasi dan manfaat dalam jenjang pendidikan tertentu.

Ketersediaan data yang terpilah menurut jenis kelamin. program dan kegiatan yang responsif gender. Kemampuan untuk mengembangkan dan melakukan pemantauan dan evaluasi kebijakan. Sumberdaya manusia yang memadai (perencana dan penanggungjawab program yang mampu melakukan analisis gender).G. namun demikian penerapan ARG bisa berlangsung dengan baik apabila didukung dengan prasyarat sebagai berikut: 1. 3. 2. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 21 . Prasyarat ARG Pada dasarnya setiap perencanaan dan penganggaran program diharapkan bisa menerapkan ARG. 4. Kemauan politik yang tertera dalam dokumen perencanaan strategis suatu Kementerian/ Lembaga termasuk kemauan dari para perencana program di K/L untuk menerapkan ARG.

.

Teknik Melakukan Analisis Gender dengan metode GAP Kunci dari penerapan anggaran responsif gender adalah dilakukannya analisis situasi yang memadai yang mampu memotret dan mendiagnosa kesenjangan yang mungkin ada berkaitan dengan situasi kesehatan perempuan dan laki-laki dalam berbagai aspek. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 23 . dengan Gender Analysis Pathway (GAP) 2. dan memberikan informasi untuk melakukan tindakan dalam rangka memperbaiki ketidakseimbangan yang timbul dari perbedaan peran gender perempuan dan laki-laki atau ketidasetaraan kekuasaan diantara keduanya. Lakukan penyusunan Gender Budget Statement (GBS). Ada berbagai macam instrument analisis gender. 1999). Analisis gender juga berupaya mengungkapkan faktor resiko kesehatan dan permasalahannya yang dihadapi oleh laki-laki sehubungan dengan peran gender mereka (WHO. menganalisis. serta konsekuensinya terhadap kehidupan mereka. B. hambatan yang dihadapi perempuan dalam memperoleh pelayanan kesehatan dan bagaimana caranya mengatasi permasalahan tersebut.bab BAB V BIDANG KESEHATAN TAHAPAN PENYUSUNAN ARG A. 3 (tiga) Tahapan Penyusunan ARG Penyusunan ARG terdiri dari 3 tahapan: 1. ekonomi dan budaya yang menyebabkannya. Analisis Gender bidang kesehatan adalah proses mengidentifikasi. Analisis Gender bidang kesehatan menekankan pentingnya ketidaksetaraan gender dalam hubungannya dengan rendahnya status kesehatan perempuan. Lakukan penyusunan Term of Reference (TOR) 3. Moser Gender Analysis. Lakukan Analisis Gender. dan lain-lain. Analisis digunakan untuk mengidentifikasi kesenjangan situasi perempuan dan laki-laki serta faktor-faktor kebijakan dan praktik sosial. seperti Problem Based Approach (Proba). Gender Analysis Pathway (GAP). status kesehatan dan kesejahteraanya.

baik kebijakan strategis. maupun kebijakan operasional. akan memudahkan perencana kesehatan untuk melihat relevansi dan konsistensi antara tahapan satu dengan tahapan lainnya sehingga membentuk sekuensial yang utuh dari kebijakan atau program dan kegiatan sehingga responsif gender.Kuantitatif . Tetapkan Indikator Gender Sumber : Bappenas-CIDA. Aplikasi 9 Langkah dalam GAP GAP merupakan salah satu alat analisis gender yang dapat digunakan untuk mereview kebijakan. Analisis gender dilakukan secara sekuensial mulai dari tahap identifikasi tujuan. Alur Kerja Analisis Gender (Gender Analysis Pathway = GAP) ANALISIS KEBIJAKAN YANG RESPONSIF GENDER 1. Rumuskan kembali tujuan kebijakan/ Program/Proyek/ Kegiatan pembangunan 2. Analisis ini dapat digunakan pada level kebijakan.GAP adalah instrument yang dikembangkan oleh BAPPENAS bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan sudah banyak digunakan sebagai instrument analisis gender terhadap kegiatan pembangunan di Indonesia. penentuan Rincian Kegiatan. Bagan 5. bahkan sampai pada level output dan sub output. Karena tahapan siklus perencanaan tersebut disajikan dalam matriks yang sama. 1. analisis situasi.Kualitatif PELAKSANAAN 7.Pilih Kebijakan/Program/ Kegiatan yang akan dianalisis: - Identifikasi dan tuliskan tujuan Kebijakan/Program/Kegiatan KEBIJAKAN RENCANA AKSI KEDEPAN 6. Keunggulan lainnya adalah GAP mempunyai fleksibilitas yang tinggi dalam penggunaannya. sampai monitoring dan evaluasi. Alat analisis ini dapat juga digunakan pada level program dan atau kegiatan. 2007 PERENCANAAN 24 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . Tetapkan Baseline 3. kebijakan manajerial. Temu kenali isu gender di proses perenc kebij/prog/ keg 4. Temu kenali isu gender di internal lembaga/ budaya org 5. Temu kenali di isu gender di eksternal lembaga 9. dan atau program dan kegiatan bidang kesehatan. . Susun Rencana Aksi yang responsifgender MONITORING & EVALUASI ISU GENDER PENGUKURAN HASIL 8. Sajikan Data Pembuka Wawasan Terpilah Menurut Jenis Kelamin .

c. Mengidentifikasi isu gender. yaitu : a. e. terdapat lima bagian GAP. yang terpilah menurut jenis kelamin : -kuantitatif –kualitatif Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 25 . kontrol dan manfaat Sebab kesenjangan Internal Temukenali isu gender di internal lembaga dan/ atau budaya organisasi yang dapat menyebabkan terjadinya isu gender Data Dasar (Base-line) Tetapkan base-line Indikator Gender Tetapkan indikator gender Sajikan data pembuka wawasan. melalui identifikasi isu ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender dalam bidang kesehatan. d. partisipasi. Menentukan indikator responsif gender yang akan digunakan dalam monitoring dan evaluasi kebijakan/program dan kegiatan. Menentukan desain kebijakan/program dan kegiatan sehingga responsif gender. Gender Analysis Pathway memiliki alur kerja 9 langkah yang dapat digambarkan dalam Bagan 6 sebagai berikut: Bagan 6. Mengidentifikasi tujuan kebijakan/program dan kegiatan b. yaitu internal kesehatan dan eksternal kesehatan. identifikasi penyebab ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender tersebut atas dua faktor utama. dan penetapan Rincian Kegiatan kebijakan/ program/kegiatan kedepan. Gender Analysis Pathway = GAP LANGKAH 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pilih Kebijakan/ Program/ Kegiatan yang akan dianalisis Identifikasi dan tuliskan tujuan dari Kebijakan/ Program/ Kegiatan Isu Gender Data Pembuka Wawasan Kebijakan dan Rencana Ke Depan Sebab kesenjangan External Temukenali isu gender di eksternal lembaga pada proses pelaksanaan Reformulasi Tujuan Rumuskan kembali tujuan kebijakan/ program/ kegiatan sehingga menjadi responsif gender Rincian Kegiatan/ Rencana Aksi Tetapkan Rincian Kegiatan yang responsif gender Pengukuran Hasil Faktor Kesenjangan Temukenali isu gender di proses perencanaan dengan memperhatikan 4 (empat) faktor kesenjangan. untuk mengatasi isu kesenjangan gender yang terjadi. Dari perspektif proses perencanaan program. yaitu : akses. meliputi penentuan tujuan dan Rincian Kegiatan atau intervensi yang akan dilaksanakan. Langkah selanjutnya setelah proses perencanaan.Terdapat dua kerangka analisis dalam GAP yaitu analisis kebijakan/program/ kegiatan yang responsif gender. Menyajikan data pembuka wawasan (data yang menunjukkan situasi perempuan dan laki-laki dalam kaitannya dengan tujuan kebijakan/ program dan kegiatan). sesuai dengan siklus manajemen program adalah pelaksanaan dan monitoring evaluasi.

Kebijakan yang dipilih dapat berupa peraturan perundang-undangan bidang kesehatan. Contohnya : Kegiatan Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang. dengan alasan antara penyakit menular tersebut mempunyai struktur dan permasalahan kesehatan yang spesifik. hasil-hasil penelitian lainnya dan informasi dari media. Data dapat berasal dari data 26 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . . maka merujuk pada dokumen Renstra Kemenkes 2010-2014 dan Renja KL. Data dan informasi dapat berupa data kuantitatif maupun kualitatif.Menurunkan angka kesakitan DBD dari 55 menjadi 54 per 100. termasuk Renstra. dan isu gendernya pun berbeda. maupun hasil survei (berbasis komunitas). dan lain-lain. Contoh : Program : Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kegiatan : Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Tujuan adalah indikator kinerja kegiatan yang terkait dengan pengendalian penyakit DBD dengan merubah menjadi kata ”kerja aktif” di depan kalimat: .Meningkatkan prosentase Angka Bebas Jentik (ABJ) dari 60% menjadi 70% pada tahun 2011 (lihat lampiran Renstra Kemenkes Tahun 20102014). Jika yang dipilih adalah pengendalian penyakit DBD. Renja K/L dan lain-lain.000 penduduk pada tahun 2011. Jika program memiliki struktur kegiatan yang kompleks. a. maka GAP dapat digunakan pada level di bawah kegiatan. (lihat lampiran Renstra Kemenkes Tahun 2010-2014) LANGKAH 2. dapat dipilih pengendalian penyakit DBD. flu burung. Tuliskan tujuan dari kebijakan/program/kegiatan pada kolom 1. (lihat lampiran Renstra Kemenkes Tahun 2010-2014). Sajikan data pembuka wawasan yang terpilah menurut jenis kelamin untuk melihat isu kesenjangan gendernya. . atau malaria. Sumber data dapat berasal dari berbagai sumber yang valid dan up to date yang berasal dari Sistem Informasi Kesehatan (berbasis fasilitas). b. atau gabungan keduanya yang terkait dengan tujuan yang ada dalam langkah 1.Meningkatkan persentase kabupaten/kota yang melakukan mapping vektor dari 30 menjadi 40. Pilih kebijakan atau program dan kegiatan yang telah ada.LANGKAH 1.

(ii) keterjangkauan dari sisi geografis dan transportasi (jarak dan waktu). Contoh : lihat kolom 3 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31).Data atau hasil survei tentang pengetahuan. halaman 31) LANGKAH 3. . baik sumberdaya yang bersifat tangibles (kentara atau nyata) maupun intangibles (tidak kentara atau tidak nyata). . dan (ii) beneficiaries (masyarakat). preventif. Manfaat. . (iii) affordability atau keterjangkauan secara ekonomi. juga menurut kelompok umur. Contoh : lihat kolom 3 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31).dan lain-lain ( lihat kolom 2 contoh aplikasi GAP. Akses juga dapat dilihat dari sisi keterjangkauan terhadap sumberdaya.  Akses : Ditujukan untuk mengetahui kesenjangan kebutuhan kesehatan perempuan dan laki-laki dalam hal kemudahan mendapatkan upaya kesehatan (promotif.Angka Kesakitan dan tingkat keparahan laki-laki dan perempuan. program dan kegiatan dengan menganalisis data pembuka wawasan dengan memperlihatkan empat faktor kesenjangan gender. Contoh untuk pengendalian DBD : . baik yang dilaksanakan sendiri oleh pengelola program maupun oleh pihak lain. preventif. Temu kenali isu gender pada proses perencanaan kebijakan. dan rehabilitatif). Kontrol. yaitu : Akses.Angka Response Time Penderita di sarana pelayanan kesehatan terpilah laki-laki dan perempuan . Partisipasi. sikap dan perilaku terpilah laki-laki dan perempuan.Angka Kematian laki-laki dan perempuan.  Partisipasi : Ditujukan untuk mengetahui keterwakilan dan keterlibatan aktif perempuan dan laki-laki dalam upaya kesehatan (promotif. kuratif. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 27 . (iv) keterjangkauan secara psikis dan sosiokultural. Kesenjangan gender dapat dilihat dari dua sisi yaitu : (i) penanggungjawab atau pengelola program. juga menurut kelompok umur. Akses terhadap upaya kesehatan dapat dilihat dari empat dimensi. dan rehabilitatif) baik dari sisi beneficieries (penerima manfaat) maupun provider (penyedia layanan kesehatan). kuratif. yaitu (i) ketersediaan sarana dan atau upaya kesehatan.primer ataupun sekunder.

keterwakilan wanita sebanyak 30 % dalam kepengurusan kelompok pemakai air bersih di pedesaan. dukungan penelitian dan pengembangan kesehatan. dan lain-lain. Contoh : lihat kolom 4 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31) 28 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . Contoh : lihat kolom 3 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31). LANGKAH 4. preventif. komunitas. Kebutuhan Strategis Gender adalah kebutuhan yang didasarkan pada analisis tentang ketidakadilan gender dan faktor-faktor yang menyebabkannya. Kebutuhan Praktis Gender adalah kebutuhan yang bersifat segera dan didasarkan pada kondisi nyata perempuan dan laki-laki tanpa mempersoalkan ada atau tidaknya faktor-faktor ketidakadilan yang mungkin ada antara keduanya. political will dari pengambil keputusan. Manfaat : Ditujukan untuk mengetahui apakah laki-laki dan perempuan diuntungkan dalam upaya kesehatan (promotif. kuratif. dan lain-lain. preventif. desain program dan kegiatan sesuai siklus perencanaan dan siklus manajemen program. dan lain-lain. aroma repellent nyamuk dibuat sesuai aroma maskulin untuk meningkatkan pengguna repellent pada konsumen laki-laki di daerah endemis. Contoh : lihat kolom 3 pada Contoh Aplikasi GAP (halaman 31). dan rehabilitatif). Contoh : bantuan dana transportasi untuk wanita hamil risiko tinggi ke sarana pelayanan kesehatan. kebijakan. detiksi dini kanker prostat pada laki-laki.  Kontrol : Ditujukan untuk mengetahui siapa (laki-laki atau perempuan) yang menentukan keputusan terhadap pengalokasian dan penggunaan sumberdaya yang tersedia di tingkat rumah tangga. Manfaat pelayanan kesehatan dari perspektif gender dapat dilihat dari sisi Practical Gender Needs (kebutuhan praktis gender) maupun Strategic Gender Need (kebutuhan stretegis gender). pemerintahan yang berhubungan dengan upaya kesehatan (promotif. Sumber penyebab kesenjangan gender secara internal dapat berbentuk : produk hukum. dan pemenuhannya dimaksudkan untuk mengubah ketidakadilan yang mungkin ada dalam konteks relasi laki-laki dan perempuan. kuratif. dan rehabilitatif) baik dari sisi beneficieries (penerima manfaat) maupun provider (penyedia layanan kesehatan). Contoh : Suami siaga dalam program Perencanaan Persalinan dan Penanganan Komplikasi (P4K). Temukenali faktor-faktor di internal lembaga (institusi kesehatan) dan atau budaya organisasi yang dapat menyebabkan terjadinya kesenjangan gender. pemahaman pengelola program tentang konsep gender yang masih kurang (baik pada level pengambil keputusan maupun pelaksana kebijakan).

sarana dan prasarana pendukung. pemerintahan dan pasar. Manfaat. pagu definitif). maupun sumberdaya yang ada pada masyarakat (beneficiaries).LANGKAH 5. peran dan relasi gender. Menyusun rincian kegiatan yang responsif gender. Pada langkah ini tujuan pada langkah 1 pada ditulis ulang. komunitas. bahkan isu internasional. dan pasar. Reformulasi sub-tujuan harus mendukung tercapainya tujuan semula pada langkah 1. subordinasi. marginalisasi. kekerasan terhadap perempuan) yang terjadi di rumah tangga. Pada saat menyusun sub-tujuan sebaiknya mempertimbangkan feasibility objectives dengan mempertimbangkan ketersediaan sumberdaya yang ada seperti ketersediaan anggaran. Reformulasi sub-tujuan yang baru menjawab kesenjangan yang diidentifikasi pada Langkah 2 sampai 5. diskriminasi gender (stereotipi. Sumber penyebab kesenjangan gender secara eksternal (di luar lembaga/institusi kesehatan) yang dapat terjadi pada level rumah tangga. Contoh: lihat kolom 6 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31) LANGKAH 7. dukungan kebijakan dan waktu yang tersedia. Partisipasi. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 29 . komunitas. Contoh : lihat kolom 5 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31) LANGKAH 6. beban ganda. Rincian kegiatan merupakan rincian kegiatan bidang kesehatan yang dilakukan untuk mencapai sub-tujuan yang telah responsif gender sebagaimana ditulis pada langkah 6. Kontrol untuk mencapai sub-tujuan baru pada langkah 6. SDM. Rincian kegiatan merupakan solusi atau pemenuhan terhadap isu Practical Gender Needs dan Strategic Gender Needs dan atau solusi atas isu kesejangan empat faktor yaitu Akses. Sebagaimana proses perencanaan lainnya. pagu sementara. rincian kegiatan yang disusun tetap mempertimbangkan ketersediaan sumberdaya yang ada. Merumuskan kembali tujuan kebijakan/program/kegiatan pelayanan kesehatan pada langkah 1 sehingga responsif gender. Hasil review digunakan untuk mereformulasi sub-tujuan baru yang telah responsif gender. Contoh : lihat kolom 7 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31) Catatan: Rincian kegiatan yang diusulkan disesuaikan dengan pagu anggaran yang diterima (pagu indikatif. baik sumberdaya pada penanggungjawab/pengelola program. lalu direview kembali dengan melihat hasil analisis pada langkah 2 sampai 5. Temukenali faktor-faktor di eksternal lembaga dan atau budaya organisasi yang dapat menyebabkan terjadinya kesenjangan gender. pemerintahan (diluar sektor kesehatan). Ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender dapat disebabkan oleh budaya patriarki.

Baseline indikator dapat saja berasal dari data pembuka wawasan yang tercantum pada langkah 2. Menetapkan indikator responsif gender untuk mengukur keberhasilan pencapaian sub tujuan baru pada langkah 6 (disebut ”indikator sub-tujuan”) dan rincian kegiatan pada langkah 7 (disebut ”indikator rincian kegiatan”). Contoh : lihat kolom 8 Contoh Aplikasi GAP (halaman 31) LANGKAH 9. Sub-tujuan baru pada langkah 6 diubah menjadi pernyataan indikator sub-tujuan.LANGKAH 8. Catatan: jika muncul indikator baseline baru. Menetapkan baseline indikator responsif gender. Indikator 9 berbeda dengan indikator pada langkah 1. Penyusunan indikator harus mengikuti kriteria penyusunan indikator yang baik (SMART) Contoh : lihat kolom 9 Contoh Aplikasi GAP (halaman31) 30 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . Baseline digunakan sebagai titik awal capaian kinerja. Baseline indikator ditujukan untuk mengetahui kemajuan intervensi kegiatan yang dilakukan dalam rangka mendukung pencapaian tujuan yang responsif gender (langkah 6). cantumkan rincian kegiatan untuk pengumpulan data (lihat kembali langkah 7).

97% P Kesehatan 2010-2014) 6.66%. Sedangkan lakilaki segala usia lebih rentan terhadap insidens DBD daripada perempuan.Data dari subdit (unit organisasi Arbovirus 2010.79%) dibanding Menurunnya 1% insiden angka kematian (DSS) pada perempuan usia sekolah dan dewasa.13%. dan Penyehatan Perempuan (P) (48. 5% angka kematian (DSS) pada perempuan tidak dianalisa dengan menggunakan perspektif gender terutama untuk melihat perbedaan biologis dan sosial untuk kerentanan antara perempuan.48%. jauh diatas laki-laki yang hanya 39. umur 5-9 tahun: Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan L 11.7%.000 penduduk pada tahun 2011.21%). umur 10- 31 . Contoh Aplikasi GAP Pada Program Bidang Kesehatan Program Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL Angka kesakitan (Catatan: uraian ttg faktor eskternal bisa bersifat anekdotal selama konsisten dengan data pembuka wawasan). Angka eselon1): Penderita DBD pada Laki-laki (L) lebih tinggi Pengendalian Penyakit (51. umur Kementerian 1-4 tahun :L 7. Lingkungan.79%) dibanding Menurunnya 5% angka . laki-laki. . sikap dan perilaku lakilaki dalam pengendalian DBD. SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL RINCIAN KEGIATAN/ RENCANA AKSI .87%% jatuh ke fase DSS. Menurunkan Peran perempuan perempuan dan Akses: anak laki-laki. Menurunkan angka kesakitan DBD dari 55 menjadi 54 per 100.28% P 1.16% P 10. termasuk pilihan metode KIE yang efektif untuk BASELINE DATA Angka Kesakitan DBD terpilah jenis kelamin dan umur INDIKATOR Indikator sub tujuan yang responsif gender: Program .Readaptasi survey COMBi untuk lebih menangkap pengetahuan. anak Pada perempuan 60. Contoh Aplikasi GAP Bagan 7.Angka Penderita DBD pada Laki-laki (L) lebih tinggi (51.2.DBD: umur < 1 tahun: (diambil dari Renstra L 2.

kolom program/ kegiatan. umur 55 menjadi 54 per 5-9 th: L 10% P 20%. 10%. Mataram.Pengembangan iklan layanan masyarakat untuk perempuan . prosedur mereka pengetahuan kematian DBD dengan fokus pada perempuan (termasuk mengukur response time) asumsi kerentanan membuat Meningkatkan . BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan kegiatan: Kementerian ini juga terpilah jenis Kesehatan 2010- kelamin).6%.32 LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER Laki-laki lebih sedikit terpapar pada media informasi (KIE) ttg DBD dibanding perempuan.Kematian (DSS): L 39.13% P 60. . Kegiatan: 14 tahun: L 9.000 penduduk umur 10-14 th: L sero P pada tahun 2011. 2014. umur >15th: L sero P 30%.21%). dengan dalam keluarga.Revisi SOP DBD/DSS khusus untuk perempuan. sama dan akses lebih banyak pengendalian penanganan baku/ menghabiskan laki-laki dalam sama.Angka kesakitan DSS terpilah jenis kelamin dan umur gender.Survey COMBi ttg perilaku DBD pengobatan. Ini terbukti dari COMBi ( yang menunjukkan data laki-laki yang pernah melihat iklan DBD hanya 1/3 dari perempuan.87% sama.13% P 60. umur>15 tahun: Bersumber Binatang.Audit . waktu di dalam DBD. Apalagi jika perempuan diharuskan dirawat inap. Baseline: Kematian (DSS): L 39. 100. Lampiran 14) .87% Tujuan: Indikator rincian  Menurunkan angka umur < 1 th: sero. Bekasi) th 70% pada tahun 2009 ttg pengetahuan 2011 masyarakat . (diambil dari Renstra (bila ada. perempuan. (P) (48.13% P 20. • Teridentifikasinya faktor penyebab laki-laki tidak tertarik dari 60% menjadi Bogor. sebaiknya data Meningkatnya pengetahuan laki-laki dalam pengendalian DBD. umur kesakitan DBD dari 1-4th: L 30% P 0%. • Teridentifikasinya sebab khusus kematian DBD pada perempuan.61%. maka harus ada yang bisa menggantikan Laki-laki lebih sedikit terpapar pada media mereka dulu untuk mengurus keluarga sebelum Meningkatkan prosentase Angka Bebas Jentik (ABJ) dari 60% menjadi . sehingga berakibat angka kesakitan DBD pada lakilaki lebih tinggi. Depok. mencari sering terlambat rumah dan Meningkatkan persentase kabupaten/kota yang melakukan mapping vektor dari 30 menjadi 40. bersifat netral caregivers dewasa.  Meningkatkan prosentase Angka Survey Combi di 5 kota Bebas Jentik (ABJ) endemis (Batam. L21.45% P Pengendalian Penyakit 8. Response program sebagai usia sekolah dan laki-laki dan Perempuan DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL kesakitan DBD pada laki-laki.

Kota Mojokerto.Lomba jumantik teladan laki-laki dan perempuan baik di tatanan rumah tangga. mau dirawat. sehingga berakibat angka kesakitan DBD pada lakilaki lebih tinggi. fase penyakit sudah dengan mereka datang seringkali saat sehingga pengobatan dalam pengendalian DBD. Cimahi • Meningkatnya jumlah keterlibatan laki-laki sebagai jumantik. Ini terbukti dari COMBi ( yang menunjukkan data laki-laki yang pernah melihat iklan DBD hanya 1/3 dari perempuan penanganan secara medisnya.  Meningkatkan ttg pengendalian DBD: L persentase 22% P 78% kabupaten/kota yang melakukan mapping Pada pesan media vektor dari 30 elektronik cenderung bias • Meningkatnya response time perempuan dalam mencari pengobatan DBD. . Hal 70% pada tahun supaya segera terpilah DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL upaya promotif pengendalian DBD. sekolah maupun institusi. gender. karena model iklan lebih banyak (diambil dari Renstra perempuan (misal 3M) dan Kementerian repellen nyamuk beraroma Kesehatan 2010-2014) bunga 100% kader jumantik di DKI Jakarta. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan bila ada tambahkan data ttg jam tayang iklan 33 .LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER informasi (KIE) ttg DBD dibanding perempuan. . sehingga sulit yang lanjut. sistem kapiler perempuan memang lebih rentan untuk permeabilitas sel.Laki-laki mendengar ttg DBD = 22% (Data P2B2 th 2009) pergi mencari terlibat aktif Baseline: sering menunda supaya lebih perempuan untuk laki-laki ini menyebabkan 2011 berobat dan umur dan jenis kelamin. Diseminasi informasi media eletronik disukai masyarakat tetapi biayanya besar namun informasi yang ada belum memperhatikan Selain itu secara bilogis.Pencanangan Gerakan Bebas Jentik dengan Duta Nasional Jumantik Laki-laki dan Perempuan. (penting sekali data ttg hari ke berapa laki-laki dan perempuan baru mengakses layanan kesehatan). . dan Kota Jogjakarta adalah ibu2. menjadi 40.

sedangkan laki-laki lebih bertanggung jawab untuk wadah penampungan dalam rumah tangga / di dengan rumah yang terkait kontainer air jawab terhadap bertanggung perempuan lebih peran gender Bila dilihat dari DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL atau lokasi pemasangan poster untuk melihat akses dan manfaat atas informasi kesehatan bagi BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan perempuan/laki-laki Pengetahuan Masyarakat tentang Pengendalian DBD pada L (22%) < Perempuan (78%)(Survei Market Analysisis COMBi di 5 kota: Batam.34 LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER kebutuhan lelaki (Catatan: dalam memilih rencana aksi pertimbangkan priority setting K/L. Mataram. . minum dan cuci. dan Kota Bekasi Tahun 2009) --> adakah data ttg siapa (laki-laki atau perempuan) yang sebetulnya melakukan 3M di rumah tangga. feasibility. ketersediaan sumberdaya dan dukungan politis yang diperlukan. antara laki-laki Kontrol: dan perempuan maka Walaupun angka kesakitan laki-laki lebih tinggi tapi angka kesakitan yang masuk menjadi DSS lebih rendah – perlu diteliti lebih lanjut apakah ini karena aki-laki punya kontrol lebih besar pada akses layanan kesehatan l ataukah karena memang secara imunologi laki-laki seperti tempat penyimpanan air untuk mandi. Kota Depok. siapa di lingkungan.) dan perempuan. Kota Bogor.

--apakah bisa terpilah antara laki-laki dan perempuan Adakah data % perempuan dan % laki-laki yang dirawat di RS dengan dana out of pocket atau Jamkesmas? .Sumber informasi DBD yg diinginkan oleh masyarakat : penyuluhan langsung oleh nakes: 57%. pembuangan Partisipasi: sampah “besar”.untuk melihat akses ke layanan kesehatan antara laki-laki dan perempuan dan kontrol Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan atas sumber daya antara laki-laki dan perempuan 35 . penyuluhan langsung Petugas penyuluh demam berdarah lebih banyak perempuan. media cetak: 7%.LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER lebih baik daripada perempuan terhadap DBD. Kurangnya petugas jumantik laki-laki untuk melakukan pemeriksaan dan penyuluhan tentang PSN dan Penanggulangan DBD disebabkan Laki-laki menyerahkan urusan pemberantasan jentik demam Laki-laki tidak maksimal dalam memanfaatkan dan belum terlalu mengena untuk peran gender laki-laki untuk pengendalian DBD. tanki air ataupun rumah seperti air yang disekitar DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL . TV: 24 %. rumah tangga untuk kebutuhan tampung air pada wadah 3M lebih fokus Selama ini iklan oleh kader: 12 %.

sehingga insidens kesehatan.. DBD lebih tinggi Waktu penyuluhan DBD dilakukan pada pagi hari sehingga hanya perempuan yang memiliki waktu untuk mengikuti penyuluhan karena BapakBapak banyak di luar rumah untuk bekerja.36 LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER berdarah di rumah untuk dilakukan oleh perempuan. serius karena tidak ada vaksin infeksi dengan menganggap perempuan PortoRico. . dilakukan di studi yang Dalam sebuah pada laki-laki. upaya promotif DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan .

gigitan nyamuk meremehkan banyak orang memilih karena laki-laki lebih sedangkan emosi nya. maka dapat disimpulkan laki-laki kurang menggunakan upaya promotif yang dilakukan dalam pengendalian demam berdarah. ekonomi dan dan dampak tingginya insiden Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 37 .LANGKAH 3 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM ISU GENDER Manfaat: DATA PEMBUKA WAWASAN KEBIJAKAN & RENCANA KEDEPAN PENGUKURAN HASIL Hanya 22% Lakilaki di bandingkan 78% perempuan memiliki pengetahuan tentang DBD.

Manfaat. When. Teknik menyusun TOR Rensponsif Gender Kerangka acuan kerja atau Term of Reference yang selanjutnya disebut KAK/ TOR adalah dokumen yang menginformasikan gambaran umun dan penjelasan mengenai keluaran kegiatan yang akan dicapai sesuai dengan tugas dan fungsi Kementerian Negara/lembaga yang memuat latar belakang. dan Partisipasi) yang dilakukan di GAP langkah 3-5 sebagai latar belakang. Dalam TOR harus jelas 5W (Why. 38 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . penerima. GAP langkah 6 dan langkah 9 dapat dimasukkan sebagai tujuan dalam TOR. Untuk lebih jelasnya. Kontrol. Who. Where + 2 H (How to do dan How much).C. strategi pencapaian. GAP langkah 7 (rincian kegiatan) dimasukkan sebagai proses pelaksanaan dalam TOR dengan identifikasi kelompok sasaran serta menjelaskan keterwakilan dan keterlibatan aktif laki-laki dan perempuan. TOR responsif gender adalah TOR yang memasukkan data (GAP langkah 2 dan langkah 8) dan analisis AKMP (Akses. maka berikut ini disampaikan format TOR Responsif gender lengkap sebagai berikut. What. dan biaya yang diperlukan. manfaat.

..................................... Gambaran Umum ............................................................ Dasar Hukum Tugas Fungsi/ Kebijakan ........................................... Unit Eselon I Program Hasil Unit Eselon II/ Satker Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan : ...................... Latar Belakang 1............................ Waktu Pencapaian Indikator Kinerja Kegiatan ........ Metode Pelaksanaan......................... .................................... (16) Penanggung Jawab (17) NIP............................................... Tujuan dan Penerima Manfaat ........ : ...................................................................................................................................................................................................................................................................................................... (11) B.................................................................. : ..................................................................................................................................................................... : ...................................................... (12) C................. (15) E.................. (13) 2........................... Strategi Pencapaian Indikator Kinerja Kegiatan 1................. Rencana Anggaran Biaya (RAB) .................................... (14) D..................... (18) Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 39 ... (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Satuan ukur dan Jenis Keluaran : .................................... Format TOR KAK/ TOR PER KELUARAN/OUTPUT KEGIATAN Kementerian Negara/ Lembaga : ... Tahapan dan Waktu Pelaksanaan ........1..... Volume : ........................ : .................................................................. : ..................................................................................................... A..................................... 10) 2...........

40 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . Diisi dengan dasar hukum tugas fungsi dan/ atau ketentuan yang terkait langsung dengan kegiatan yang akan dilaksanakan.. Diisi dengan cara pelaksanaanya berupa kontraktual atau swakelola. Selanjutnya menjelaskan tentang langkah apa (what) yang akan dilakukan untuk mengatasi kesenjangan gender tersebut.Penjelasan point per point : NO. dengan tujuan memberikan gambaran bahwa detil Rincian Kegiatan dan urut-urutan pelaksanaannya telah responsif gender... 12. baik laki-laki dan perempuan dengan didukung data terpilah dan mengidentifikasi isu kesenjangan gendernya yang menyebabkan outcome/output program dan target indikator kinerja kegiatan belum tercapai. 13. URAIAN Diisi nama kementerian negara/ lembaga Disi nama program sesuai hasil restrukturisasi program Diisi dengan outcome yang akan dicapai dalam program Diisi nama unit eselon II.. dengan target sasaran perempuan dan laki-laki (masih menggunakan data hasil analisis gender). Penjelasan juga meliputi cara pelaksanaan Rincian Kegiatan apakah berupa kontraktual atau swakelola. Diisi dengan tujuan dan penerima manfaat baik internal dan atau eksternal K/L. yang bersifat sekuensial. Diisi nama kegiatan sesuai hasil restrukturisasi kegiatan Diisi uraian indikator kinerja kegiatan Diisi nama satuan ukur dan jenis keluaran kegiatan Diisi jumlah volume keluaran kegiatan.. (10) (11). dengan membedakan sasaran perempuan dan laki-laki.. apakah telah menjelaskan tentang permasalahan yang dihadapi oleh kelompok sasaran. 33 laporan . Gambaran Umum : Diisi dengan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan serta penjelasan target indicator kinerja kegiatan yang akan dicapai. Tujuan memberikan informasi tentang manfaat yang akan diterima kelompok sasaran. Pada bagian ini menjelaskan What dan Why. Volume yang dihasilkan bersifat kuantitatif yang terukur Contoh : 5 peraturan . baik laki-laki maupun perempuan (pertanyaan Who tapi pada level indikator).. Kesenjangan gender diperoleh dari hasil analisis gender. (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Diisi nama unit eselon I. Penerima manfaat merujuk kepada pencapaian target indikator kinerja kegiatan terpilah menurut kelompok laki-laki dan perempuan. Diisi dengan uraian tentang proses pelaksanaan Rincian Kegiatan. yang mengeksplorasi mengapa (why) hal tersebut bisa terjadi. 200 orang peserta.

2. Diisi dengan nama penanggung jawab kegiatan (eselon II/ kepala satker vertikal). seperti : Sosialisasi/ desiminasi. Dalam rangka penerapan pendekatan Penganggaran Berbasis Kinerja (PBK) yang mulai diterapkan pada tahun anggaran 2011. atau komponen input sejenis. peningkatan kapasitas SDM. Diisi dengan tahapan/komponen masukan yang digunakan dalam pencapaian Indikator Kinerja kegiatan. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 41 . Diisi dengan kurun waktu pencapaian pelaksanaan Diisi dengan lampiran RAB yang merupakan rincian alokasi dana yang diperlukan dalam pencapaian Indikator Kinerja Kegiatan. Diisi dengan NIP penanggung jawab kegiatan. Kegiatan dan Output.Bagian ini menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan Rincian Kegiatan yang mendukung langsung perbaikan ke arah kesetaraan gender. Dokumen Perencanaan dan pengelolaan anggaran. maka struktur pengalokasian anggaran dirinci menurut Program. atau dokumen lain sejenis. Output kegiatan dapat berupa : 1. termasuk jadwal waktu (time table) pelaksanaan dan keterangan lainnya yang dibutuhkan. Catatan: Pengisian Nomor 1 sampai 7 menggunakan dokumen Renstra Kementerian Kesehatan tahun 2010-2014 yakni pada Lampiran tentang Matriks Kinerja Kementerian Kesehatan. yang dapat berisikan Komponen Input Laporan Kegiatan. baik laki-laki maupun perempuan : Who (menjelaskan mengapa perempuan dan laki-laki dipilih dalam pelaksanaan detil Rincian Kegiatan). 14. 16. When (menjelaskan mengapa waktu dan lama pelaksanaan detil Rincian kegiatan dipilih dengan memperhatikan akses dan partisipasi perempuan dan laki-laki ). 17. Laporan Kegiatan dan Pembinaan. How To Do (menjelaskan mengapa bentuk pelaksanaan Rincian Kegiatan sesuai dengan kebutuhan beneficieries). Oleh karenanya setiap TOR/ KAK dibuat per keluaran/ output kegiatan. Jadi harus dapat menjelaskan upaya perbaikan permasalahan yang dihadapi oleh kelompok sasaran. seluruh komponen input yang digunakan ditetapkan oleh penanggung jawab kegiatan dan penekanan kesesuaian/ relevansi masing-masing komponen input serta biayanya dalam rangka pencapaian output kegiatan. 15. 18. Setiap output harus dapat diidentifikasi jenis dan satuannya dengan jelas. Where (menjelaskan mengapa tempat pelaksanaan detil Rincian Kegiatan dipilih dengan memperhatikan akses dan partisipasi perempuan dan lakilaki). yang berisikan Komponen Input seperti : Rencana Kerja Tahunan. Keluaran/output kegiatan adalah barang/ jasa yang dihasilkan dari pelaksanaan sebuah kegiatan untuk mendukung pencapaian outcome program. dimana penekanan/ fokus berada pada output. Output merupakan produk utama/ akhir yang bersifat spesifik yang dihasilkan oleh suatu kegiatan sebagaimana fungsi Unit Eselon II/ Satker yang bersangkutan. Daftar output kegiatan dapat dilihat pada formulir 3 RKA-KL yang telah ditetapkan oleh penanggung jawab kegiatan/Eselon II di masing-masing unit utama dalam penyusunan RKA-KL setiap tahunnya.

Dan lain-lain.Meningkatkan persentase kabupaten/kota yang melakukan mapping vektor dari 30 menjadi 40 Output : Laporan Pengendalian Penderita DBD Satuan Ukur dan Jenis Keluaran : Laporan Volume : 2 laporan (Readaptasi Survey Combi dan Audit Kematian DBD/DSS) 42 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . Kementerian Negara/Lembaga : Kementerian Kesehatan Unit Organisasi (eselon 1) : Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Program : Program Pengendalian Penyakit Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Hasil atau Outcome : Meningkatnya pencegahan dan penanggulangan penyakit bersumber binatang UNIT Eselon II/Satker : Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Kegiatan : Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Indikator Kinerja Kegiatan . Kendaraan 6.3. CONTOH APLIKASI TOR RESPONSIF GENDER TOR/KAK per Output Kegiatan Output Kegiatan : Laporan Pengendalian DBD Catatan: Dalam kolom 7 GAP (Rencana Aksi) sebelumnya/diatas. Dalam contoh aplikasi TOR Responsif Gender berikut ini akan ditampilkan contoh TOR Responsif Gender dengan Output Laporan Pengendalian DBD. 2 diantaranya mempunyai Output Laporan untuk pengendalian DBD yakni Readaptasi Survey COMBi dan Audit Kematian DBD.000 penduduk pada tahun 2011 untuk Nasional .Meningkatnya persentase Angka Bebas Jentik ( ABJ) dari 60% menjadi 70% pada tahun 2011. yang berisikan Komponen Input : gaji dan Tunjangan.Menurunnya angka kesakitan DBD dari 55 menjadi (diambil dari Renstra 2010-2014) 54 per 100. terdapat 6 Rencana Aksi. Layanan Perkantoran. 4. Alat pengolah data/ komputer 5. operasional perkantoran dan pemeliharaan. . Dari keenam Rencana Aksi tersebut. 2. .

Gambaran Umum Data dari subdit Arbovirus 2010. Menarik untuk dilihat lebih lanjut apakah diperlukan penanganan darurat khusus untuk perempuan yang terinfeksi Dengue.87% Perempuan dewasa lebih rentan terhadap kematian (DSS). Tim Pembina LKMD Tingkat Pusat. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal.13% P 60. g. f. Laki-laki segala usia lebih rentan terkena DBD. Dasar Hukum Tugas Fungsi/ Kebijakan a. PP&PA/5/2010-No.104/PMK. Peraturan Pemerintah Nomor 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit Menular.KEPMENKES Nomor 581/MENKES/SK/VII/1992 tentang Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue. Peraturan Menteri Keuangan No. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 31-VI Tahun 1994 tentang Pembentukan Kelompok Kerja Operasional Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue ( POKJANAL DBD). b. Angka DSS pada perempuan lebih tinggi. Undang Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular. Norma patriarki yang menempatkan perempuan - Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 43 . e. dan pasal 10 Pokja PUG Provinsi mempunyai tugas menetapkan TIM teknis untuk melakukan analisis terhadap anggaran daerah. Tata Cara Penyampaian Laporannya dan Tata Cara Penanggulangannya. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1457 tahun 2003 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota Dalam Pencegahan dan Pemberantasan DBD. Kematian (DSS): L 39.79%) dibanding Perempuan (P) (48.593/MENKES/SKB/V/2010. Kesepakatan bersama antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak dengan Menteri Kesehatan tentang pelaksanaan tentang pengarus utamaan gender di Bidang Kesehatan No. h. i. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 560 Tahun 1989 tentang Jenis Penyakit Tertentu Yang Dapat Menimbulkan Wabah. 07/MEN. sebagai akibat dari perilaku perempuan yang terlambat dalam mencari pengobatan. Latar Belakang 1. 2.a. c. d. dan Kegiatan Pembangunan berperspektif gender sebagaimana dimaksud ayat 1 dilakukan analisis gender. Penyusunan Kebijakan Program.02/2010 tentang petunjuk penyusunan dan penelahaan RAKL Tahun 2011. Peraturan Menteri Dalam negeri Nomor 15/2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanan Pengarusutamaan Gender (PUG) di daerah dimana pada Pasal 4 ayat 2. Angka Penderita DBD pada Laki-laki (L) lebih tinggi (51.21%).

Survey Combi di 5 kota endemis (Batam. sehingga berakibat angka kesakitan DBD pada laki-laki lebih tinggi. Kontrol: Walaupun angka kesakitan laki-laki lebih tinggi tapi angka kesakitan yang masuk menjadi DSS lebih rendah – perlu diteliti lebih lanjut apakah ini karena laki-laki punya kontrol lebih besar pada akses layanan kesehatan ataukah karena memang secara imunologi laki-laki lebih baik daripada perempuan terhadap DBD. Angka kesakitan tidak dianalisa dengan menggunakan perspektif gender terutama untuk melihat perbedaan biologis dan sosial untuk kerentanan 44 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . karena model iklan lebih banyak perempuan (misal 3M) dan repellen nyamuk beraroma bunga.sebagai caregivers dalam keluarga membuat perempuan terlambat mencari pengobatan karena harus mengurus keluarga terlebih dulu. Manfaat: Hanya 22% Laki-laki di bandingkan 78% perempuan memiliki pengetahuan tentang DBD. Kota Mojokerto. Kurangnya petugas jumantik laki-laki untuk melakukan pemeriksaan dan penyuluhan tentang PSN dan Penanggulangan DBD disebabkan Laki-laki menyerahkan urusan pemberantasan jentik demam berdarah di rumah untuk dilakukan oleh perempuan. Bogor. maka dapat disimpulkan laki-laki kurang menggunakan upaya promotif yang dilakukan dalam pengendalian demam berdarah. Mataram. Waktu penyuluhan DBD dilakukan pada pagi hari sehingga hanya perempuan yang memiliki waktu untuk mengikuti penyuluhan karena Bapak-Bapak banyak di luar rumah untuk bekerja. Depok. cemas tidak ada yang menggantikan dia kalau di-rumah sakit kan sehingga membuat mereka terlambat datang ke sarana kesehatan. Ini terbukti dari COMBi ( yang menunjukkan data laki-laki yang pernah melihat iklan DBD hanya 1/3 dari perempuan. Akses: Laki-laki lebih sedikit terpapar pada media informasi (KIE) ttg DBD dibanding perempuan. Cimahi dan Kota Jogjakarta adalah ibu2. Partisipasi: Petugas penyuluh demam berdarah lebih banyak perempuan. 100% kader jumantik di DKI Jakarta. Bekasi) th 2009 ttg pengetahuan masyarakat ttg pengendalian DBD: L 22% P 78% Pada pesan media elektronik cenderung bias gender.

dengan asumsi kerentanan sama. laki-laki. sedangkan laki-laki lebih memilih karena banyak orang meremehkan gigitan nyamuk Oleh sebab itu upaya pengendalian DBD yang memang difokuskan pada pemberantasan nyamuk Aedes aegypti sebagai penular DBD. tingginya insidens dan dampak ekonomi dan emosi nya. Laki-laki tidak maksimal dalam memanfaatkan upaya promotif kesehatan. Dalam sebuah studi yang dilakukan di Puerto Rico. membuat mereka menghabiskan lebih banyak waktu di dalam rumah dan sering terlambat mencari pengobatan. Bila dilihat dari peran gender antara laki-laki dan perempuan maka perempuan lebih bertanggung jawab terhadap kontainer air yang terkait dengan rumah tangga / di dalam rumah seperti tempat penyimpanan air untuk mandi. sehingga insidens DBD lebih tinggi pada laki-laki. COMBi menunjukkan laki-laki tidak memiliki pengetahuan memadai sehingga angka insidens pada laki-laki lebih tinggi dan jumantik laki-laki Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 45 . minum dan cuci.antara perempuan. anak perempuan dan anak laki-laki. sedangkan laki-laki lebih bertanggung jawab untuk wadah penampungan air yang disekitar rumah seperti tanki air ataupun pembuangan sampah “besar”. laki-laki. sehingga sulit penanganan secara medisnya. perempuan menganggap infeksi dengue serius karena tidak ada vaksin. Apalagi jika perempuan diharuskan dirawat inap. Selama ini iklan 3M lebih fokus pada wadah tampung air untuk kebutuhan rumah tangga dan belum terlalu mengena untuk peran gender laki-laki untuk pengendalian DBD. Response program bersifat netral gender. Angka kesakitan tidak dianalisa dengan menggunakan perspektif gender terutama untuk melihat perbedaan biologis dan sosial untuk kerentanan antara perempuan. Selain itu secara bilogis. anak perempuan dan anak laki-laki. sistem kapiler perempuan memang lebih rentan untuk permeabilitas sel. dengan asumsi kerentanan sama. Perlu dicarikan strategi untuk meningkatkan partisipasi laki-laki dalam pengendalian DBD. prosedur penanganan baku/sama dan akses sama. prosedur penanganan baku/sama dan akses sama. terutama melalui kegiatan PSN oleh masyarakat perlu ditingkatkan. Peran perempuan sebagai caregivers dalam keluarga. Response program bersifat netral gender. maka harus ada yang bisa menggantikan mereka dulu untuk mengurus keluarga sebelum mau dirawat. Hal ini menyebabkan perempuan sering menunda pergi mencari pengobatan sehingga seringkali saat mereka datang sudah dengan fase penyakit yang lanjut.

Meningkatkan pengetahuan laki-laki dalam pengendalian DBD. prosedur yang perlu disempurnakan sesuai sex. Dalam pelaksanaan kegiatan penanggulangan penderita DBD tersebut. laki-laki >15 th. c. Target sasaran kegiatan: provinsi endemis.Laporan Audit Kematian DBD b.sangatlah minim.Laporan Readaptasi Survey COMBi . ataupun karena perbedaan peran gender sehingga mempengaruhi perilaku pasien dalam mencari pengobatan. Sedangkan untuk merespon tinggi nya angka kematian akibat DBD/DSS pada perempuan usia sekolah dan dewasa maka sarana kesehatan harus mulai melakukan audit kematian untuk mengidentifikasi apakah penyebab dari kematian karena faktor biologis. bayi perempuan <1 tahun. Tahapan dan Waktu Pelaksanaan (diambil dari kolom 7 GAP) 46 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . maka akan disusun laporan pelaksanaan yang terdiri dari . Oleh sebab itu perlu melakukan readaptasi modul Survey COMBi untuk menangkap faktor-faktor penyebab rendahnya partisipasi lakilaki dan perlu analisa khusus untuk merumuskan kembali strategi perubahan perilaku yang lebih efektif berdasarkan perbedaan gender dalam keterlibatan aktif laki-laki dan perempuan dalam pengendalian DBD. Strategi Pencapaian Keluaran 1. dimana pengendalian penyakit ini bertujuan untuk : Menurunkan 5% angka kematian (DSS) pada perempuan usia sekolah dan dewasa. Tujuan dan Penerima Manfaat Dengan ouput laporan ini akan melaporkan hasil pengendalian penderita DBD. Metode Pelaksanaan : Dilaksanakan melalui metode swakelola 2.

............. Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang... NIP..... ....... Rencana Anggaran Biaya (RAB) (terlampir) Penanggung Jawab.....Audit kematian DBD dengan fokus pada perempuan (termasuk mengukur response time) Pengembangan SOP Pelatihan SOP Survey Audit Kematian di sub nasional Februari 2011 Maret 2011 April 2011 3. Indikator Keluaran : Tersusunnya laporan pengendalian pada penderita DBD d...................... Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 47 .Readaptasi survey COMBi untuk lebih menangkap pengetahuan......... sikap dan perilaku laki-laki dalam pengendalian DBD.......... Waktu Pencapaian Keluaran : Tahun Anggaran 2011 e...... termasuk pilihan metode KIE yang efektif untuk lakilaki dan perempuan TAHAPAN Readaptasi COMBI tool untuk menangkap faktor resiko DBD pada laki-laki Pelatihan enumerator COMBi Survey Combi Pengolahan data dan penyusunan laporan COMBi Sosialisasi hasil COMBi Penyusunan pesan COMBi Pengadaan pesan COMBi Launching pesan COMBi Monitoring dan Evaluasi WAKTU PELAKSANAAN Februari 2011 Maret 2011 Maret 2011 April 2011 April 2011 Mei 2011 Mei 2011 Juni 2011 ..PELAKSANAAN ....... .............

maka Rincian Kegiatan dan sub-output yang dilakukan pun merupakan hasil analisis gender. indikator kinerja kegiatan. Target Indikator kinerja kegiatan yang dicapai mesti memperhatikan kesetaraan dan keadilan bagi perempuan dan laki-laki. GBS memberikan informasi bahwa suatu kegiatan telah responsif terhadap isu gender yang ada. Adapun format GBS yang memuat komponen-komponennya serta cara penyusunannya dapat dilihat pada format berikut.D. sub output kegiatan dan komponen input terhadap pencapaian target indikator kinerja kegiatan dan target output/outcome dari program. namun secara komprehensif mencakup tentang relevansi kegiatan. maka sebagian isi GBS berasal dari matriks analisis GAP. Karena analisisnya menggunakan metode GAP. output. Sebagian isi GBS juga berasal dari dokumen TOR responsif gender. 48 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . dan suatu biaya telah dialokasikan pada output kegiatan untuk menangani permasalahan kesenjangan gender. GBS merupakan perpaduan dari hasil analisis gender (analisis GAP) dan kebutuhan anggaran (TOR responsive gender) secara generik dan instan. Karena target kinerjanya mengukur perempuan dan laki-laki. Teknik Penyusunan Gender Budget Statement (GBS) GBS adalah dokumen yang berisi pernyataan bahwa sebuah program dan kegiatan telah responsif gender.

Analisis situasi : menggambarkan terjadinya kesenjangan gender yang ada terkait dengan kegiatan yang akan dilaksanakan. Tahapan pertama pelaksanaan sub-output 1 Tahapan kedua pelaksanaan sub-output 1 Tahapan ketiga pelaksanaan sub-output 1 Jenis-jenis Rincian Kegiatan yang akan dilakukan Tahapan ketiga pelaksanaan sub-output 2 Tahapan ketiga pelaksanaan sub-output 2 Alokasi Anggaran Output Kegiatan Jumlah anggaran (Rp) yang dialokasikan untuk mencapai suatu Output Kegiatan Dampak/hasil Output Kegiatan Dampak/hasil secara luas dari Output Kegiatan yang dihasilkan dan dikaitkan dengan isu gender serta perbaikan ke arah kesetaraan gender yang telah diidentifikasi pada analisisi situasi Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 49 . Jika tidak. Sub-output 1 Komponen Input 1 Komponen Input 2 Komponen Input 3 Dst… Sub-ouput 2 Komponen Input 1 Komponen Input 2 Dst. FORMAT GENDER BUDGET STATEMENT (Pernyataan Anggaran Gender) Kementerian Negara/Lembaga Unit Organisasi Unit eselon II/Satker : ……………………… : ……………………… : ……………………… Program Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan Output Kegiatan Analisa Situasi (diharapkan tersedia angka kelompok sasaran baik laki-laki maupun perempuan.1.. hanya berupa gambaran bahwa output kegiatan yang akan dihasilkan mempunyai pengaruh kepada kelompok sasaran tertentu) Rincian Kegiatan Diambil dari TOR bagian metode pelaksanaan Nama program yang ada pada K/L Nama Kegiatan sebagai penjabaran program Indikator yang ditetapkan untuk masing-masing output kegiatan (merujuk kedokumen Renstra 2010-2014) Nomenklatur Output dan volume satuan Output Kegiatan (sesuai RKA-KL) Uraian ringkas yang menggambarkan persoalan yang akan ditangani/ dilaksanakan oleh Kegiatan yang menghasilkan output. dengan menekankan uraian pada aspek gender dari persoalan tersebut. Jenis-jenis Rincian Kegiatan yang akan dilakukan..

Laki-laki segala usia lebih rentan terkena DBD. Output Kegiatan Analisa Situasi (diharapkan tersedia angka kelompok sasaran baik laki-laki maupun perempuan.13% P 60. Jika tidak. .21%). Bogor. terutama melalui kegiatan PSN oleh masyarakat perlu ditingkatkan. Cimahi dan Kota Jogjakarta adalah ibu2.87% Perempuan dewasa lebih rentan terhadap kematian (DSS). Bekasi) th 2009 ttg pengetahuan masyarakat ttg pengendalian DBD: L 22% P 78% Pada pesan media elektronik cenderung bias gender. Menarik untuk dilihat lebih lanjut apakah diperlukan penanganan darurat khusus untuk perempuan yang terinfeksi Dengue. Mataram. Oleh sebab itu perlu melakukan readaptasi modul Survey COMBi untuk menangkap faktor-faktor penyebab rendahnya partisipasi laki-laki dan perlu analisa khusus untuk merumuskan kembali strategi perubahan perilaku yang lebih efektif berdasarkan perbedaan gender dalam keterlibatan aktif laki-laki dan perempuan dalam pengendalian DBD. cemas tidak ada yang menggantikan dia kalau di-rumah sakit kan sehingga membuat mereka terlambat datang ke sarana kesehatan.Meningkatnya persentase Angka Bebas Jentik ( ABJ) dari 60% menjadi 70% pada tahun 2011.Menurunnya angka kesakitan DBD dari 55 menjadi 54 per 100. 100% kader jumantik di DKI Jakarta. Angka DSS pada perempuan lebih tinggi. hanya berupa gambaran bahwa output kegiatan yang akan dihasilkan mempunyai pengaruh kepada kelompok sasaran tertentu) 50 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . COMBi menunjukkan laki-laki tidak memiliki pengetahuan memadai sehingga angka insidens pada laki-laki lebih tinggi dan jumantik laki-laki sangatlah minim.2. CONTOH APLIKASI GENDER BUDGET STATEMENT (GBS) (Pernyataan Anggaran Gender) Kementerian Negara/Lembaga : Kementerian Kesehatan Unit Organisasi : Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Unit eselon II/Satker : Direktorat Pengendalian Penyakit bersumber Binatang Kementerian Negara/Lembaga : Kementerian Kesehatan Unit Organisasi (eselon 1) : Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Unit Eselon II/Satker : Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Program Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan : Program Pengendalian Penyakit Penyakit dan Penyehatan Lingkungan : Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang . Kota Mojokerto.79%) dibanding Perempuan (P) (48. Perlu dicarikan strategi untuk meningkatkan partisipasi laki-laki dalam pengendalian DBD. Angka Penderita DBD pada Laki-laki (L) lebih tinggi (51.Meningkatkan persentase kabupaten/kota yang melakukan mapping vektor dari 30 menjadi 40 Laporan Pengendalian Penderita DBD Data dari subdit Arbovirus 2010. Survey Combi di 5 kota endemis (Batam. Depok. karena model iklan lebih banyak perempuan (misal 3M) dan repellen nyamuk beraroma bunga. sebagai akibat dari perilaku perempuan yang terlambat dalam mencari pengobatan. Norma patriarki yang menempatkan perempuan sebagai caregivers dalam keluarga membuat perempuan terlambat mencari pengobatan karena harus mengurus keluarga terlebih dulu. .000 penduduk pada tahun 2011 untuk Nasional . Kematian (DSS): L 39. Oleh sebab itu upaya pengendalian DBD yang memang difokuskan pada pemberantasan nyamuk Aedes aegypti sebagai penular DBD.

Sedangkan untuk merespon tinggi nya angka kematian akibat DBD/DSS pada perempuan usia sekolah dan dewasa maka sarana kesehatan harus mulai melakukan audit kematian untuk mengidentifikasi apakah penyebab dari kematian karena faktor biologis, prosedur yang perlu disempurnakan sesuai sex, ataupun karena perbedaan peran gender sehingga mempengaruhi perilaku pasien dalam mencari pengobatan.

Rincian Kegiatan (diambil dari TOR bagian metode pelaksanaan)

Readaptasi survey COMBi untuk lebih menangkap pengetahuan, sikap dan perilaku laki-laki dalam pengendalian DBD; termasuk pilihan metode KIE yang efektif untuk lakilaki dan perempuan

Tujuan Suboutput 1 (disesuaikan dengan logika suboutput yang dipilih dan indikator Kinerja Kegiatan).

• Teridentifikasinya sebab khusus kematian DBD pada perempuan; • Angka Kesakitan DBD terpilah jenis kelamin dan umur

Suboutput 1

Komponen 1

Readaptasi COMBI tool untuk menangkap faktor resiko DBD pada laki-laki Pelatihan enumerator COMBi Survey Combi Pengolahan data dan penyusunan laporan COMBi Sosialisasi hasil COMBi Penyusunan pesan COMBi Pengadaan pesan COMBi Launching pesan COMBi Monitoring dan Evaluasi

Komponen 2 Komponen 3 Komponen 4

Komponen 5 Komponen 6 Komponen 7 Komponen 8 Komponen 9

Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan

51

Suboutput 2

Audit Kematian Tujuan Suboutput 2(disesuaikan dengan logika suboutput yang dipilih dan indikator Kinerja Kegiatan). Teridentifikasinya sebab khusus kematian DBD pada perempuan; Meningkatnya response time perempuan dalam mencari pengobatan DBD; Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 Pengembangan SOP Pelatihan SOP Survey Audit Kematian di sub nasional

Alokasi Anggaran Output Kegiatan Dampak/hasil Output Kegiatan

Rp.1,629,000,000 (Jumlah anggaran yang dialokasikan untuk mencapai output kegiatan)

Menurunkan 5% angka kematian (DSS) pada perempuan usia sekolah dan dewasa. Meningkatkan pengetahuan laki-laki dalam pengendalian DBD.

52

BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan

E. Hubungan GAP, TOR dan GBS
GAP, TOR dan GBS adalah saling berhubungan satu sama lain. Karena itu, banyak variable informasi dalam GAP, TOR dan GBS saling berkaitan dan saling memperkuat. Oleh sebab itu, keberhasilan penyusunan GAP akan sangat memudahkan penyusunan TOR dan GBS. Matrix berikut ini dapat menggambarkan hubungan antara Langkah-langkah dalam GAP, Komponen TOR, dan GBS. Bagan 8. Matriks Hubungan GAP, GBS dan TOR
GAP (KOLOM) 1 2,3,4,5 6 7 8,9 TOR Data umum (Eselon 1, Program, Kegiatan, Indikator Kinerja Kegaiatan) Latar belakang (narasi) Tujuan Umum (termasuk tujuan khusus) Rincian Kegiatan yang akan dilakukan Indikator keluaran GBS Data umum (Program, Kegiatan, Indikator Kinerja Kegaiatan) Analisa situasi Dapat saja, tujuan dari output/sub output Rincian Kegiatan, sub-output, dan Komponen Input Dampak atau hasil output kegiatan

F.

ARG dan Penelaahan RKA-KL

Berdasarkan Permenkeu Nomor 104 Tahun 2010, penelaahan RKA-KL dengan muatan ARG dilakukan melalui langkah di bawah ini: 1. 2. Suatu ARG berada pada tingkat output dari struktur RKA-KL; Isu kesenjangan gender dan gambaran perbaikannya tercermin dari uraian analisis situasi yang ada dalam GBS maupun isu gender dalam Kerangka Acuan Kegiatan (TOR); GBS minimal harus mencakup aspek-aspek seperti yang ada pada format GBS; Meneliti adanya kesesuaian antara uraian GBS dengan TOR. Jika antara TOR dan GBS tidak sesuai, maka kegiatan belum dapat dikatakan responsif gender dan tidak dapat diproses untuk tahap selanjutnya. Oleh karena itu agar kegiatan memenuhi kriteria ARG, maka K/L harus memperbaiki TOR kegiatannya supaya sesuai dengan GBS; Memutuskan apakah kegiatan atau sub kegiatan dimaksud sudah responsif gender atau belum berdasarkan butir 2,3, dan 4; Apabila telah responsif gender, petugas penelaah DJA selanjutnya meneliti kode bagan akun standar yang dicantumkan dalam RKA-KL (sesuai dengan proses penelaahan RKA-KL umum) untuk meneliti kesesuaian RKA-KL dengan TOR dan GBS.

3. 4.

5. 6.

Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan

53

Apa jenis kegiatan ARG yang akan dilaksanakan? Jenis kegiatan tersebut berupa service delivery atau capacity building dan advokasi gender. Indikator Input atau Output yang dapat dihubungkan dengan bagian Pelaksanaan Kegiatan dalam TOR. Bagian GBS yang menghubungkan dengan isu gender tersebut adalah: Analisa situasi yang berisikan: Gambaran kesenjangan akses.Untuk mempermudah proses penelaahan RKA-KL. Gambaran adanya faktor penghambat di internal lembaga (organisasi pemerintah) dan atau eksternal lembaga (masyarakat). petugas penelaah Ditjen Anggaran akan membuat daftar (check list) atas pertanyaan sebagai berikut: 1. ii) Apakah tujuan kegiatan secara jelas memberikan informasi tentang manfaat yang akan diterima kelompok sasaan. iii) Apakah paparan pelaksanaan kegiatan telah menjelaskan pelibatan atau konsultasi dengan kelompok sasaran laki-laki dan perempuan. Apakah isu gender yang ada dalam TOR tersebut mempunyai keterkaitan dalam GBS. yang keduanya dapat dihubungkan dengan bagian Latar Belakang dalam TOR. kontrol antara lakilaki dan perempuan. manfaat. 54 BAB V Tahapan Penyusunan ARG Bidang Kesehatan . 3. Apakah telah tersedia dokumen GBS yang didahului dengan analisa gender. 2. partisipasi. baik laki-laki maupun perempuan. baik laki-laki maupun perempuan. Adanya isu gender yang dituangkan dalam TOR seperti: i) Apakah pada bagian Latar Belakang telah dijelaskan mengenai permasalahan yang dihadapi oleh kelompok sasaran. Indikator Outcome yang dapat dihubungkan dengan bagian Tujuan Kegiatan dalam TOR. 4.

LAMPIRAN: Contoh ARG

Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan

55

GENDER ANALYSIS PATHWAY (GAP)

Program : Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kegiatan : Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi (Dana Dekonsentrasi – Provinsi Jawa Timur)
LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN
Kordinasi lintas sektor/ program yang belum optimal Kurangnya kompetensi petugas pelayanan kesehatan kab/kota Kegiatan : Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi Program : Program Bina Gizi dan Kesehatan ibu dan anak.

1 KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI

2

4

5

6

7

8

9

KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM SEBAB INTERNAL

DATA PEMBUKA WAWASAN

PENGUKURAN HASIL BASELINE DATA
1. Tenaga kesehatan Kab/ kota terlatih ABPK Yan Kb =500 orang

INDIKATOR
1. Meningkatnya tenaga kesehatan Kab/kota terlatih ABPK Yan Kb 657 orang ( terdiri dari laki laki dan perempuan)

Program : Program Bina Gizi dan Kesehatan ibu dan anak.

Kegiatan : Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi Para pengelola program belum terpapar dalam rencana MPS yang sensitif gender terutama point ke 3

Angka kematian ibu di Propinsi Jawa Timur tercatat : 90,7/100.000 KH. Angka ini masih dibawah target nasional 118/100.000 KH

Tidak semua stake holder /pengambil keputusan memahami konsep keadilan dan kesetaraan gender. (PUG). Hal ini berpengaruh pada anggaran yang responsif gender.

1. Lokakarya ABPK Yan KB bagi petugas kesehatan kab/kota di Propinsi dan Orientasi ABPK Yan KB bagi Petugas tenaga kesehatan di kab/kota ( Capacity building) Tujuan (di Prov. Jatim) : Meningkatkan capaian KB aktif dari 62 % menjadi 63 % ( 2011) dgn melibatkan peran dan tanggung jawab laki-laki (proporsi lakilaki meningkat menjadi 2 %). 2. Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi

2. Menurunnya Capaian KB aktif dari 67,28 % ( 2007) menjadi 62,05 %( th 2009) 3. Belum tersosialisasinya indikator universal akses dan Rencana aksi propinsi

Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan

Tujuan (tujuan nasional menurut Renstra Kemenkes): Meningkatkan capaian KB aktif dari 61 % tahun 2010 menjadi 62 % tahun 2011

Namun SDKI th 2007 ,Angka kematian Ibu di tingkat nasional tercatat : 227/100.KH, sedangkan Jawa Timur tercatat 83/100.000 KH.Hal ini menunjukkan masih banyak AKI yang belum terlaporkan. Masyarakat lebih nyaman partus di dukun karena konsep mendapatkan pelayanan lengkap di banding bidan.

AKSES : Akses informasi kesehatan reproduksi/KB bagi laki laki masih kurang , terutama mengenai : Metode kontrasepsi, faktor kegagalan dan DO ; penyakit yang mengancam selama kehamilan & tanda bahaya selama hamil, salin dan nifas. Hak perempuan untuk memutuskan hak reproduksinya

2. Teridentifikasinya permasalahan dan adanya rekomendasi dalam pencapaian indikator cakupan Kb aktif ( 63 %)dgn melibatkan PUS terutama laki laki (proporsi lakilaki meningkat menjadi 2%).

57

KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/kota maupun di propinsi. Tersedianya data terpilah .05% dengan rincian ( Partisipasi Laki : 1. alokon serta bahan habis pakai masih kurang dari cukup fasilitas kesehatan yang berkualitas kurang ( baik kualitas maupun kuantitas) Data PUS 4 T di masyarakat : > 60 % ( terlalu tua. 5. Kurangnya perhatian pemerintah kab/kota dalam pelayanan KB berkualitas 3. Dipengaruhi oleh :tenaga. Adanya hasil data monitoring pelaksanaan Yan KB/kespro di 38 kab/kota th lalu 5. (86%) dan belum mendapatkan perencanaan KB pasca salin (kesempatan yg hilang) Ada beberapa faktor penyebab : 1.05% selama th 2009 1 KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA PENGUKURAN HASIL 2 4 5 6 7 8 9 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM SEBAB INTERNAL DATA PEMBUKA WAWASAN INDIKATOR 3. Komplikasi :5. Lemahnya manajerial programer kesehatan di daerah.3% dan wanita : 98. Data penunjan belum terpilah sedangkan Cakupan KB aktif : 62. valid dan capaian Cakupan Kb aktif : 65 % ( th 2011) 5. terlalu sering melahirkan. Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses 4. sarana. terlalu banyak anak) merupakan ibu beresiko jika hamil dan bersalin sehingga menjadi ancaman AKI (SDKI 1997) Jumlah ibu yang memeriksakan kehamilan berkualitas belum optimal. Lemahnya sistem pencatatan dan pelaporan khususnya tersedianya data terpilah. Terpantaunya dan adanya bimbingan tehnis intervensi berbagai permasalahan pelayanan Kespro/Kb di lapangan 38 kab/ kota selama th 2011 Tujuan (di Prov. Validasi data kes ibu. Tersosialisasinya indikator universal akses kespro dan rencana aksi propinsi dalam pencapaian indikator universal akses kespro bagi kab/ kota 4.54% 4.7%) .64% . Monitoring pelaksanaan program yan Kb/kespro melalui superfisi fasilitatif ( kespro) Peran serta masyarat kurang dalam bidang kesehatan krn promosi kesehatan kurang efektif 6.58 LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN PUS terutama yang tidak menginginkan anak tidak mendapatkan informasi dan pelayanan KB yg memadai (unmet need > 8 %) Kecilnya anggaran untuk pelayanan kesehatan. Capaian KB aktif 62. terlalu muda . Faktor terlambat pertolongan yg adekuat. obat dan manajerial . Pengadaan bidan kit. Drop Out : 4. Jatim) : Meningkatkan capaian KB aktif dari 62 % menjadi 63 % ( 2011) Kurangnya alat bantu infomasi bagi edukasi kesehatan reproduksi/ KB.

607. register kohort 2610 buku. dgn Puskesmas Poned 241 dan yang berfungsi hanya 60 %.9 %( APN). Sedangkan poned kit tersedia 76.8 % dan ponek kit di RS ( 21. RS ponek 19 dan yang berfungsi hanya 71. juga dipengaruhi oleh kualitas tenaga terlatih dan belum berfungsingan Pusk Poned/ RS Ponek. Desa P4K : 8508.8% ( target : 80% nasional).535 orang. 150 paket lembar balik abpk. Minimnya sarana pendukung pelayanan kespro/KB bagi daerah miskin dan terpencil. Evaluasi pelaksanaan yan kespro/ KB di propinsi 7. terlatih 63. RS 282. akses yg lemah thd keuangan. Teridentifikasinya permasalahan. 1 KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA PENGUKURAN HASIL 2 4 5 6 7 8 9 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM SEBAB INTERNAL DATA PEMBUKA WAWASAN INDIKATOR 6. Jumlah bidan : 10.2%. Pengadaan sarana pendukung program kespro 7. faktor faktor penyebab dan adanya rekomendasi intervensi yg bermanfaat bagi laki laki dan perempuan dalam pencapaian cakupan Kb aktif sesuai target selama th 2011 Tersedianya alat bantu KIE dan buku pedoman untuk pelayanan KB bagi ibu dan suaminya bagi nakes kab/kota khususnya untuk daerah miskin dan terpencil rincian :383 buku sistem pencatatan pelaporan. KB( 2%) dan yang memiliki bidan kit : 45.1%) Meskipun persalinan nakes tinggi 93. 150 buku abpk Gambaran : Puskesmas 944( target : 1247).LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN 6. serta ketersediaan alat dan obat yang masih rendah.7 % Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan Jumlah bidan 1 : 3112 Penduduk( target : 1000). Hal ini disebabkan selain keterlambatan merujuk ke RS sehingga keadaan ibu sudah jelek (Faktor kontrol). Pustu/Polindes 7. Ini menunjukkan ibu hamil masih jauh dari akses pelayanan berkualitas termasuk informasi KB dan biaya 59 . dan yg berfungsi : 49.7 % namun Kematian ibu : 70 % terjadi di RS.

000/kapita/ tahun. Reproduksi/KB kpd suaminya (marginal) KONTROL : Laki laki masih dominan dalam semua keputusan walaupun hal itu mempengaruhi kesehatan perempuan hal ini berkaitan budaya patriaki dan kontrol thd keuangan (streotipi) 1 KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA PENGUKURAN HASIL 2 4 5 6 7 8 9 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM SEBAB INTERNAL DATA PEMBUKA WAWASAN INDIKATOR Jumlah dokter 1 : 25000 penduduk( target 1: 2500 pdd ) . . Anggaran perkapita obat yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten/ Kota melalui DAU sebesar Rp.60 LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN PARTISIPASI : Suami mengangap bahwa KB/kespro adalah urusan istri shg kurangnya keterlibatan dan tanggung jawab suami terhadap kesehatan reproduksi istrinya. 2. 9.000 Penduduk ( target . Jumlah Perawat : 1 : 12.000/ kapita/tahun.000 pdd). Standar Nasional anggaran perkapita obat sebesar Rp.Jumlah SpOG 1 : 122. Istri kurang meneruskan informasi kes.000 penduduk( target 1 : 16. 1: 850 pdd ) .

5 sedangkan perempuan : 51. & Perempuan : 99.197.1( susenas 2008).18%) ( susesnas 2008) Angkatan kerja th 2008 : Pria : 83.36 %( susenas 2008) Penduduk gakin : Pria: 3. Perempuan kurang mendapatkan manfaat dari pelayanan yang tersedia terutma pelayanan KB pasca salin 1 KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA PENGUKURAN HASIL 2 4 5 6 7 8 9 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM SEBAB INTERNAL DATA PEMBUKA WAWASAN INDIKATOR 2.351. Rata2 gaji/ bln : pekerja 15 61 .82%).500 (51.500 (48. wanita 3. Faktor terlambat merujuk dan sampai di layanan kesehatan Dipengaruhi oleh : pendidikan. budaya dan gender. ekonomi.59 %.LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN Lemahnya wewenang perempuan dalam pengambilan keputusan yg berkaitan dengan dirinya (sub ordinasi) MANFAAT : ibu hamil kurang memanfaatkan hak reproduksinya terutama mendapatkan pelayanan kesehatan termasuk biaya bagi gakin. geograf Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan Penduduk Jatim usia 15-24 th yg melek huruf: Laki laki 99.

04% dari target 80% ( profil kesehatan 2008) .742 jiwa ( Jamkesda). 171.LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN PENGUKURAN HASIL INDIKATOR 4 5 6 7 8 9 62 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM DATA PEMBUKA WAWASAN th keatas : Laki2: Rp. Tercatat ± 1.710.050 jiwa. 42. Sebagai pembanding th 2008 tercatat 82.441.24% memilki kartu jamkesmas.260 ( Sakernas 2008) Masyarakat miskin yang ditanggung Program Jamkesmas (pemerintah pusat) th 2009 sebesar 10.804 & Perempuan: Rp. 257. Sedangkan masyarakat ( gakin dan non gakin) yang memiliki jaminan pra bayar kesehatan hanya : 34.18% yg memanfaatkannya.

2%.52% ( Target 90%) 63 . Jumlah pertolongankomplikasi kehamilan : 86. Dukun :14.5%. Penolong persalinan terakhir : Dokter/ SpOG : 59.42% ( Target 90%) Jumlah persalinan nakes masih tinggi : 93.27 %. (Target 90%). Bidan 26.3% Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan Perawatan pasca salin & bayinya : 80.31% (target jatim : 80%).LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM DATA PEMBUKA WAWASAN PENGUKURAN HASIL INDIKATOR Capaian Program : K4 ( Kunjungan pemeriksaan kehamilan yang berkualitas/ lengkap): 86.

Drop Out: 4.37% (Komposisi laki laki : 1.64% dan sebagai pembanding Drop out KB th 2008: 3. .05% Target : > 70%) dengan rincian (Partisipasi Laki: 1.38%).7%).3% dan wanita : 98. Namun Cakupan Kb aktif: 62.64 LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN PENGUKURAN HASIL INDIKATOR 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM DATA PEMBUKA WAWASAN Pelayanan KB memiliki daya ungkit yang tinggi dalam penurunan AKI melalui perencanaan kehamilan yang direncanakan.72% & wanita : 98.

39% & wanita : 99.61%) keagalan: 0. KB aktif dibina 25 % Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan Jumlah pasangan usia subur yang tidak ingin punya anak namun tidak menggunakan alat kontrasepsi masih 65 .04% (toleransi: < 0.63% (partisipasi laki laki :3.17%).87% & wanita: 96.5%) dengan rincian komposisi laki laki: 0.LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN PENGUKURAN HASIL INDIKATOR 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM DATA PEMBUKA WAWASAN Komplikasi: 5. Capaian KB baru: 10.54% ( toleransi : < 3.19%).

bandung 2009) Data Penunjang lainnya : ABPK yan KB : 250 exp : poster/ leaflet .66 LANGKAH 3 ISU GENDER FAKTOR KESENJANGAN SEBAB INTERNAL SEBAB EKSTERNAL REFORMULASI TUJUAN RENCANA AKSI BASELINE DATA KEBIJAKAN & RENCANA KE DEPAN PENGUKURAN HASIL INDIKATOR 4 5 6 7 8 9 1 2 KEBIJAKAN/ PERATURAN/ PROGRAM DATA PEMBUKA WAWASAN tinggi ( > 8 %) pelayanan KB pasca salin / keguguran 5 -10 % ( Workshop PKBRS.

untuk rencana aksi Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 67 . untuk rencana aksi : a. Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses c. Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi b. d. untuk rencana aksi : Lokakarya ABPK Yan KB bagi petugas kesehatan kab/kota di Propinsi dan Orientasi ABPK Yan KB bagi Petugas tenaga kesehatan di kab/kota (Capacity building) 3. rencana aksi tersebut dapat dimasukkan dalam kelompok output untuk penyusunan RKA-KL sebagai berikut : 1.Catatan : Dari (7 tujuh) rencana aksi yang terdapat pada kolom/langkah 7. Sarana pendukung program kespro. Validasi data kesehatan ibu. Evaluasi pelaksanaan yan kespro/KB di propinsi 2. Laporan Kegiatan atau Pembinaan. untuk rencana aksi : Pengadaan sarana pendukung program Kespro. KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/kota maupun di propinsi. Tenaga terlatih. Monitoring pelaksanaan program yan KB/Kespro melalui superfisi fasilitatif (Kespro) e.

UU no.5 %( 2010) menjadi 65 % ( 2011) dengan proporsi pria naik dari 1. Peraturan MenKeu no. 104/PMK. KAK/TOR Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi (OUTPUT LAPORAN) Kementerian Negara/ Lembaga Unit Eselon I Program Hasil : : : : Kementerian Kesehatan Ditjen Bina Gizi dan Kesehatan ibu dan anak Bina Gizi dan Kesehatan ibu dan anak Meningkatnya ketersediaan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang bermutu bagi seluruh masyarakat Direktorat Kesehatan ibu/ Satker Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi Meningkatnya Cakupan peserta KB aktif dari 62. UU No. 7 tentang pengesahan konvensi mengenai penhapusan segala bentuk diskriminasi thd wanita 2.no.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan 3. pemerintahan daerah propinsi dan pemerintah daerah kab/ kota 5. Peraturan pemeritah No.3 % menjadi 2 %) Laporan untuk kegiatan Pembinaan pelayanan kesehatan ibu dan reproduksi Unit Eselon II/Satker Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan : : : Output : Satuan Ukur dan Jenis Keluaran : Laporan a. 07/Men/ PP& Pa/5/2010.Berikut ini diberikan contoh TOR responsif gender dan GBS dari Output Laporan Kegiatan. Latar Belakang 1. UU No 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran 4. Kesepakatan bersama antara Men PP &PA dgn menkes tentang pelaksanaan PUG di bidang kesehatan no. Instruksi presiden no. 593/Menkes/ SKB/V/2010 68 . Dasar Hukum : 1.02/2010 tentang petunjuk penyusunan dan penelaan AKL th 2011 7. 38 th 2007 tentang pembagian urusan pemerintahan. 9 th 2000 tentang PUG dalam pembangunan 6.

89%.353 bidan dan belum termasuk dokter.1%). (PUG).Dan ini kurang memberdayakan laki laki (partisipasi) dalam upaya penurunan AKI melalui pengetahuan tanda bahaya kehamilan. Perjalanan : 4.7/100.pada sarana kesehatan 60% Poned yg berfungsi. Gambaran Umum Angka kematian ibu di Propinsi Jawa Timur tercatat : 90. Adanya anggapan bahwa Kesehatan reproduksi/KB urusan wanita menyebabkan laki laki kurang mendapatkan informasi mengenai kesehatan reproduksi/KB khususnya bagi si istri/wanita.23%.000 KH. geografi. Puskesmas : 3. Kematian ibu tersebut terjadi karena 3 Faktor penyebab : Faktor terlambat pertolongan yang adekuat (1).2%.2%.2%. Hal ini juga di dasari masih adanya budaya patriaki sehingga ini menyebabkan wanita/ibu hamil kurang memanfaat akses pelayanan kesehatan yang ada termasuk biayanya . Meskipun tingkat melek huruf tdk jauh berbeda antara laki laki danprempuan namun kemiskinan dan tingkat pendapatan yang rendah pada wanita ( 170. Dukun :14. Para pengelola program belum terpapar dalam rencana MPS yang sensitif Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 69 . Hal ini dipengaruhi oleh :pendidikan.28%)/ponek kit(21. Serta penolong terahir Dokter/SpOG : 59..000/bln) menyebabkan wanita lemah wwenangnya dalam memutuskan ( sub ordinat) meskipun berkaitan dgn kesehatannya.9%). issu gender disebabkan oleh : tidak semua stake holder /pengambil keputusan memahami konsep keadilan dan kesetaraan gender. serta kecilnya anggaran kesehatan (obat) yg hanya 2000/kapita/ th ( target : 9000/kapita/th) ini menunjukkan bahwa wanita/laki laki jauh dari akses pelayanan berkualitas.5%. termasuk pelayanan KB yg memiliki daya ungkit tinggi dalam penurunan AKI (layanan hulu (Promotif – Preventif).000 KH. sedangkan bidan kit tersedia hanya 45. Rumah ibu : 9. sedangkan Jawa Timur tercatat83/100. Angka ini masih dibawah target nasional 118/100. Sungguh ironis meninggal di fasilitas rujukan.3%. poned(76. Kebanyakan AKI terjadi di RS 70.2. Bidan 26. ekonomi. budaya dan gender. Hal ini berpengaruh pada anggaran yang responsif gender. Angka kematian Ibu di tingkat nasional tercatat : 227/100.1%. Desa P4K : 49.85%.17 %. Artinya terjadi peningkatan dan mengingat PUS 4T > 60 %( SDKI 1997) maka menjadi ancaman AKI jika tdk terlindungi dgn kontrasepsi. KB ( 2%) dari 10. informati perawaatan & pengobatan komplikasi kehamilan serta pencegahan KTD melalui upaya pelayanan KB khsususnya pelayanan KB pasca salin Didalam internal organisasi.000 KH. Ponek yang berfungsi 71. Faktor terlambat merujuk dan terlambat sampai( 2 & 3).KH. Hai ini berkaiatan dgn jumlah & kompetensi petugas yang rendah ( bidan terlatih APN 63. Sebagai pembanding : SDKI th 2007 .

Peran serta masyarat kurang dalam bidang kesehatan karena promosi kesehatan kurang efektif. c. Kordinasi lintas sektor/program kespro/kb yang belum optimal. Metode Pelaksanaan Dilaksanakan melalui metode swakelola 70 . Laporan Evaluasi pelaksanaan yan kespro/KB di propinsi Satuan: Volume Laporan : 119 b. 4. Kecilnya anggaran untuk pelayanan kesehatan. . Strategi Pencapaian Keluargan 1.Kurangnya perhatian pemerintah kab/kota dalam pelayanan KB berkualitas. Laporan Validasi data kesehatan ibu.05%). Tujuan dan Penerima Manfaat : Meningkatkan capaian KB aktif dari 62. Lemahnya manajerial programer kesehatan di daerah. KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/kota maupun di propinsi. Lintas sektor/program. Kurangnya kompetensi petugas pelayanan kab/kota . Dalam pelaksanaan kegiatan Pembinaan pelayanan kesehatan ibu dan Reproduksi. Pelayanan Kespro/KB yang memiliki daya ungkit yg tinggi dalam penurunan AKI melalui perencanaan kehamilan yg direncanakan belum optimal ( 62. Faktor lain : Masyarakat lebih nyaman partus di dukun karena konsep mendapatkan pelayanan lengkap di banding bidan. Melalui peningkatan akses pelayanan kesehatan reproduksi/ KB berkualitas termasuk informasi meskipun tidak berdampak langsung/ sedikit kepada laki laki namun memiliki daya akselerasi penurunan AKI jika dilibatkan dan diberi tanggung jawab.gender. Laporan Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi 2. Laporan monitoring pelaksanaan program yan KB/Kespro melalui superfisi fasilitatif (Kespro) 5.5 % menjadi 65 % ( 2011) dengan melibatkan peran dan tanggung jawab laki-laki (proporsi laki laki : 2%) Target sasaran Kegiatan : Dinkes Kab/kota. Lemahnya sistem pencatatan dan pelaporan khususnya tersedianya data terpilah. pengadaan sarana dan prasarana kurang dari cukup (baik kualitas maupun kuantitas). Laporan Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses 3. maka akan disusun laporan pelaksanaan yang terdiri dari : 1.

. ..... Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 71 .Pelaksanaan validasi data .... NIP ....... Monitoring pelaksanaan program yan Kb/kespro melalui superfisi fasilitatif ( kespro) Evaluasi pelaksanaan yan Kespro/ kb di propinsi Tahapan . Tahapan dan Waktu Pelaksanaan Pelaksanaan Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses Validasi data kes ibu.Rapat persiapan/penyiapan materi . Waktu Pencapaian Keluaran : Tahun Anggaran 2011 e.......Rapat persiapan/penyiapan materi ....Pembuatan laporan .........Pembuatan laporan Waktu Pelaksanaan Juli 2011 Maret & September 2011 Juli & November 2011 Januari – Desember 2011 November 2011 d......2.Pelaksanaan koordinasi .....Pelaksanaan koordinasi ....... KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/kota maupun di propinsi...Pembuatan laporan .. Rencana Anggaran Biaya : terlampir Penganggung Jawab.Pelaksanaan monitoring .Pembuatan laporan ..Rapat persiapan/penyiapan materi .Rapat persiapan/penyiapan materi ......... Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur..Rapat persiapan/penyiapan materi .............Pembuatan laporan ..Pelaksanaan evaluasi .....

Desa P4K : 49.1%). Salah satu Outputnya : Laporan untuk kegiatan Pembinaan pelayanan kesehatan ibu dan reproduksi Angka kematian ibu di Propinsi Jawa Timur tercatat : 90.89%.353 bidan dan belum termasuk dokter.23%.5%.000 KH. Rumah ibu : 9. Angka kematian Ibu di tingkat nasional tercatat : 227/100. Kematian ibu tersebut terjadi karena 3 Faktor penyebab : Faktor terlambat pertolongan yg adekuat (1). sedangkan Jawa Timur tercatat83/100.000 KH.7/100. Kebanyakan AKI terjadi di RS 70. bidan kit tersedia hanya 45.000 KH. Artinya terjadi peningkatan dan mengingat PUS 4T > 60 %( SDKI 1997) maka menjadi ancaman AKI jika tdk terlindungi dgn kontrasepsi.17 %.2%. Angka ini masih dibawah target nasional 118/100. serta kecilnya anggaran kesehatan (obat) yg hanya 2000/kapita/th ( target : 9000/kapita/th) ini menunjukkan bahwa wanita/laki laki kurang mendapatkan akses informasi & pelayanan berkualitas.9%).1%). Sebagai pembanding : SDKI th 2007 .KH. Ponek ( 71.2%.10 pusk poned ( 60% yg berfungsi). Pembinaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi Salah satu Indikator : Meningkatnya Cakupan pasangan usia subur menjadi peserta KB aktif di Provinsi Jawa Timur sebesar 65% di tahun 2011.. Perjalanan : 4.85%. Serta penolong terahir Dokter/SpOG : 59.28%)/ponek kit(21. Puskesmas : 3.2%.GENDER BUDGET STATEMENT (Pernyataan Anggaran Gender) Kementerian Negara/Lembaga : Kementerian Kesehatan RI Unit Organisasi : Ditjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Unit Eselon II/Satker : Direktorat Bina Kesehatan Ibu/ Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Program Program Bina Gizi dan Kesehatan ibu dan anak. Hai ini berkaiatan dgn jumlah & kompetensi petugas yang rendah ( bidan terlatih APN 63. termasuk pelayanan KB yg memiliki daya ungkit tinggi dalam penurunan AKI ( layanan hulu (Promotif – Preventif)) Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan Output Kegiatan 72 . KB ( 2%) dari 10. Dukun :14. Sungguh ironis meninggal di fasilitas rujukan . poned(76. Bidan 26.3%.

Lemahnya sistem pencatatan dan pelaporan khususnya tersedianya data terpilah. ekonomi.000/bln) menyebabkan wanita lemah wwenangnya dalam memutuskan ( sub ordinat) meskipun berkaitan dgn kesehatannya. Pengadaan sarana dan prasarana kurang dari cukup ( baik kualitas maupun kuantitas) Faktor lain :. Peran serta masyarat kurang dalam bidang kesehatan krn promosi kesehatan kurang efektif Pelayanan Kespro/ KB yang memiliki daya ungkit yg tinggi dalam Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 73 . geografi . Kurangnya perhatian pemerintah kab/kota dalam pelayanan KB berkualitas. issu gender disebabkan oleh :Tidak semua stake holder / pengambil keputusan memahami konsep keadilan dan kesetaraan gender. Meskipun tingkat melek huruf tdk jauh berbeda antara laki laki danprempuan namun kemiskinan dan tingkat pendapatan yang rendah pada wanita ( 170. Kordinasi lintas sektor/program kespro/kb yang belum optimal. Masyarakat lebih nyaman partus di dukun karena konsep mendapatkan pelayanan lengkap di banding bidan.Analisis Situasi Faktor terlambat merujuk dan terlambat sampai( 2 & 3). informati perawaatan & pengobatan komplikasi kehamilan serta pencegahan KTD melalui upaya pelayanan KB khsususnya pelayanan KB pasca salin Didalam interna organisasi. Kecilnya anggaran untuk pelayanan kesehatan. Lemahnya manajerial programer kesehatan di daerah. Hal ini dipengaruhi oleh :pendidikan. budaya dan gender. Kurangnya kompetensi petugas pelayanan kab/kota. Hal ini juga di dasari masih adanya budaya patriaki sehingga ini menyebabkan wanita/ ibu hamil kurang memanfaat akses pelayanan kesehatan yang ada termasuk biayanya ( marginal) Adanya anggapan bahwa Kesehatan reproduksi/ KB urusan wanita menyebabkan laki laki kurang mendapatkan informasi mengenai kesehatan reproduksi/KB khususnya bagi si istri/wanita. Hal ini berpengaruh pada anggaran yang responsif gender.Para pengelola program belum terpapar dalam rencana MPS yang sensitif gender. Dan ini kurang memberdayakan laki laki ( partisipasi) dalam upaya penurunan AKI melalui pengetahuan tanda bahaya kehamilan. (PUG).

Validasi data kesehatan ibu. Evaluasi pelaksanaan yan kespro/KB di propinsi Sub output 1 Laporan Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi Memberikan informasi mengenai intervensi dalam mencapai Kb aktif 65 % dgn ( proporsi pria naik dari 1. Dalam Output Kegiatan Pembinaan pelayanan kesehatan ibu dan Reproduksi. terdiri dari laporan untuk : 1. Koordinasi Pelayanan KB baik di fasilitas Kesehatan kab/kota dan di propinsi 2. KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/kota maupun di propinsi. Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses 3.penurunan aki melalui perencanaan kehamilan yg direncanakan belum optimal ( 62. tepat waktu dan memberikan masukan dalam pembuatan keputusan Rapat persiapan/Penyiapan materi Pelaksanaan validasi Pembuatan Laporan Tujuan/manfaat Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 Sub output 2 Rincian Kegiatan Tujuan/manfaat Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 Sub output 3 Tujuan/manfaat Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 74 .3 % menjadi 2%) Rapat persiapan/Penyiapan materi Pelaksanaan Koordinasi Pembuatan laporan Laporan Koordinasi Komisi Kespro terkait pencapaian indikator universal akses Memberikan informasi indikator universal akses kespro dan rencana aksi propinsi dalam pencapaian indikator universal akses kespro bagi kab/kota Rapat persiapan/Penyiapan materi Pelaksanaan koordinasi Pembuatan Laporan Laporan Validasi data kes ibu. terpilah. Memberikan informasi perihal data yang valid. Melalui Peningkatan akses pelayanan kesehatan reproduksi/KB berkualitas termasuk informasi meskipun tdk berdampak langsung/sedikit kepada laki laki namun memiliki daya akselerasi penurunan AKI jika dilibatkan dan diberi tanggung jawab. 4. KB/kespro mendukung Pencapaian MDGs 5 baik di kab/ kota maupun di propinsi.05%). Monitoring pelaksanaan program yan KB/ Kespro melalui superfisi fasilitatif (Kespro) 5.

000. Tujuan/manfaat Komponen 1 Komponen 2 Rincian Kegiatan Komponen 3 Sub output 5 Tujuan/manfaat Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 Anggaran Output kegiatan dalam Penurunan AKI dampak/hasil yang diharapkan secara luas Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 75 . 1. faktor faktor penyebab dan adanya rekomendasi intervensi yg bermanfaat bagi laki laki dan perempuan dalam pencapaian cakupan KB aktif sesuai target selama th 2011 Rapat persiapan/Persiapan materi Pelaksanaan evaluasi Pembuatan laporan Rp.3 % menjadi 2 %.Sub output 4 Laporan monitoring pelaksanaan program yan Kb/kespro melalui superfisi fasilitatif ( kespro) Memberikan informasi perkembangan pelayanan KB/kespro dan adanya bimbingan tehnis intervensi berbagai permasalahan pelayanan Kespro/Kb di lapangan 38 kab/kota selama th 2011 Rapat persiapan/Persiapan materi Pelaksanaan monitoring Pembuatan laporan Laporan Evaluasi pelaksanaan yan kespro/KB di propinsi) Memberikan informasi teridentifikasinya permasalahan .Meningkatkan capaian KB aktif dari 62.5 % menjadi 65 % ( 2011) dengan proporsi pria naik dari 1.494.090.

.

Kontrol. Manfaat.DAFTAR SINGKATAN ABJ AKMP ARG ASEAN BPS BPFA CEDAW COMBi DAK DBD DSS DIPA DJA KemKes FGD GAP GBS Inpres KPP-PA KPJM MDGs PP PPRG Perpres Permendagri PMK/Permenkeu Angka Bebas Jentik Akses. dan Partisipasi Anggaran Responsif Gender Assosiation of South East Asia Nations Badan Pusat Statistik Beijing Platform for Action Convention for the Elimination of all Forms of Discriminations Against Women Community Behaviour Improvement Dana Alokasi Khusus Demam Berdarah Dangue Dangue Shock Syndrome Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Direktorat Jendral Anggaran Kementerian Kesehatan Focus Group Discussion Gender Analisis Pathway Gender Budget Statement Instruksi Presiden Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah Millennium Development Goals Peraturan Pemerintah Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Peraturan Presiden Peraturan Menteri Dalam Negeri Peraturan Menteri Keuangan Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 77 .

Relevant. Measurable. and Timely Bound Satuan Kerja Surat Edaran Bersama Tugas Pokok dan Fungsi Term of Reference United Nation Fund for Population Activities World Health Organization 78 .PUG RAB Renstra Renja RPJP RPKP-K RPJM RKP Renstra Renja KL RKA KL RAPBN SDKI SKRT SOP SMART Satker SEB Tupoksi TOR UNFPA WHO Pengarusutamaan gender Rencana Anggaran Biaya Rencana Strategis Rencana Kerja Rencana Pembangunan Jangka Panjang Rencana Pembangunan Jangka Panjang bidang Kesehatan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Rencana Kerja Pemerintah Rencana Strategis Rencana Kerja Kementerian Lembaga Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Survey Kesehatan Rumah Tangga Standard Operational Procedure Spesific. Achievable.

Diskriminasi adalah memperlakukan seseorang atau kelompok orang secara berbeda karena jenis kelamin. sampai monitoring dan evaluasi. Bias gender adalah pandangan yang didasarkan pada pembagian peran sosial tradisional laki-laki dan perempuan. peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan. serta faktor-faktor yang mempengaruhi. yang selanjutnya disebut APBN. Indikator dapat berupa pointer-pointer. umur.DAFTAR ISTILAH Akses adalah peluang atau kesempatan yang diberikan untuk memanfaatkan sumber daya (baik sumber daya alam. angka-angka. Anggaran adalah estimasi belanja dan penerimaan yang diusulkan. politik. fungsi. Indikator adalah kriteria atau ukuran yang mampu melihat perubahan dari obyek yang dinilai. Analisis gender dilakukan secara sekuensial mulai dari tahap identifikasi tujuan. sosial. dengan hasil Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 79 . analisis situasi. ras. adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan Negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). pendapat atau persepsipersepsi. yang mencerminkan kebijakan prioritas dan target fiskal dalam satu periode tertentu. Gender adalah pandangan masyarakat tentang perbedaan peran. Efektif adalah tingkat kesesuaian antara hal yang direncanakan pelaksanaan. agama dan lain sebagainya. fungsi. GBS adalah dokumen yang berisi pernyataan bahwa sebuah program dan kegiatan telah responsif gender. maupun waktu). Efisien adalah memperoleh hasil yang diharapkan dengan pengorbanan sekecil-kecilnya GAP adalah alat analisis gender dengan pendekatan analisis pada siklus perencanaan. Analisis gender adalah proses menganalisis data dan informasi secara sistematis tentang lakilaki dan perempuan untuk mengidentifikasi dan mengungkapkan kedudukan. ekonommi. dan tanggungjawab antara perempuan dan laki-laki yang merupakan hasil konstruksi sosial budaya dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman dan dukungan masyarakat itu sendiri. penentuan Rincian Kegiatan. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Contoh : bantuan dana transportasi untuk wanita hamil risiko tinggi ke sarana pelayanan kesehatan. Input dalam panduan ini diartikan sebagai tolak ukur/ bahan dasar dalam penganggaran. Kebutuhan Praktis Gender adalah kebutuhan yang bersifat segera dan didasarkan pada kondisi nyata perempuan dan laki-laki tanpa mempersoalkan ada atau tidaknya faktor-faktor ketidakadilan yang mungkin ada antara keduanya.Indikator gender adalah kriteria atau ukuran untuk mengukur perubahan relasi gender dalam masyarakat sepanjang waktu. detiksi dini kanker prostat pada laki-laki. Kementerian Negara adalah organisasi dalam Pemerintahan Republik Indonesia yang dipimpin oleh menteri untuk melaksanakan tugas pemerintahan dalam bidang tertentu. Data. aroma repellent nyamuk dibuat sesuai aroma maskulin untuk meningkatkan pengguna repellent pada konsumen laki-laki di daerah endemis. yang terdiri atas regulasi. keterwakilan wanita sebanyak 30 % dalam kepengurusan kelompok pemakai air bersih di pedesaan. Indikator kinerja responsif gender adalah perubahan kinerja pengurangan kesenjangan atau peningkatan kondisi laki-laki dan perempuan setelah dilakukan suatu intervensi baik berupa program atau pun kegiatan. dan lain-lain. Komponen input adalah jenis Rincian Kegiatan yang dilakukan untuk mencapai indikator kinerja sub-output Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan. 80 . dana atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa satuan kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personil (sumber daya manusia). dan pemenuhannya dimaksudkan untuk mengubah ketidakadilan yang mungkin ada dalam konteks relasi lakilaki dan perempuan. SDM. dan lain-lain. Indikator Kinerja Kegiatan adalah bukti pencapaian suatu kinerja yang bisa diukur sebagai dampak dari suatu kegiatan. Contoh : Suami siaga dalam program Perencanaan Persalinan dan Penanganan Komplikasi (P4K). Kesenjangan gender adalah suatu kondisi dimana tidak ada kesetaraan relasi antara lakilaki dan perempuan. dan anggaran. Kebutuhan Strategis Gender adalah kebutuhan yang didasarkan pada analisis tentang ketidakadilan gender dan faktor-faktor yang menyebabkannya. Jenis kelamin adalah perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki terutama pada bagian-bagian organ reproduksi. barang modal termasuk peralatan dan tekhnologi.

pelaksanaan. pemantauan. Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki ke dalam perencanaan. merupakan tolak ukur keberhasilan pelaksanaan anggaran Output. Rencana Kerja Pemerintah yang selanjutnya disebut RKP adalah dokumen perencanaan nasional untuk periode 1 (satu) tahun. fungsi dan tanggungjawab antara perempuan dan laki-laki Outcome. Program adalah bentuk instrument kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga atau masyarakat yang dikordinasikan oleh instansi pemerintah untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran. dan pertimbangan akan adanya perbedaan peran. adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan suatu Kementerian Negara/Lembaga yang merupakan penjabaran dari Rencana Kerja Pemerintah dan Rencana Startegis Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan dalam satu tahun anggaran serta anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya. dimaknai sebagai keluaran dari proses pelaksanaan anggaran. adalah dokumen perencanaan Kementrian Negara/Lembaga untuk periode 1 (satu) tahun. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 81 . yang selanjutnya disebut Renja KL. adalah dokumen perencanaan nasional untuk periode 5 (lima) tahun. yang selanjutnya disebut RPJM Nasional. yang selanjutnya disebut RKA KL. pengakuan. Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga. Kontrol adalah kekuasaan untuk memutuskan bagaimana menggunakan sumber daya dan siapa yang memiliki akses terhadap sumber daya tersebut. dan evaluasi dari seluruh kebijakan dan program di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan. Lembaga adalah organisasi non-kementrian Negara dan instansi lain pengguna anggaran yang dibentuk untuk melaksankan tugas tertentu berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 atau peraturan perundang-undangan lainnya. Netral gender adalah suatu kondisi dimana pengambilan keputusan dilakukan tanpa didasari atas pemahaman. aspirasi.Kesetaraan dan keadilan gender adalah suatu kondisi yang adil dan setara dalam hubungan kerjasama antara perempuan dan laki-laki. adalah target sasaran dari program/kegiatan yang memperoleh manfaat Pengarusutamaan gender (PUG) adalah strategi untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender melalui kebijakan dan program yang memperhatikan pengalaman. Partisipasi adalah pelibatan atau keterwakilan dalam proses dari suatu kegiatan Penerima manfaat.

adalah dokumen perencanaan Kementerian Negara/Lembaga untuk periode 5 (lima) tahun.Rencana Strategis Kementerian Negara/Lembaga. Rincian Kegiatan adalah daftar langkah-langkah yang harus dilaksanakan untuk mencapai sub-tujuan yang responsif gender. yang selanjutnya disebut Renstra-KL. TOR memuat latar belakang. dan biaya yang diperlukan. strategi pencapaian. Sub-output adalah jenis barang atau jasa yang menjadi bagian tak terpisahkan dari output TOR adalah dokumen yang menginformasikan gambaran umum dan penjelasan mengenai indikator kinerja kegiatan yang akan dicapai sesuai dengan tugas dan fungsi kementerian negara/lembaga. Responsif gender adalah keadaan memberikan perhatian yang konsisten dan sistematis terhadap perbedaan-perbedaan antara perempuan dan laki-laki dalam masyarakat yang diwujudkan dalam sikap dan aksi untuk mengatasi ketidakadilan yang terjadi karena perbedaan-perbedaan tersebut. penerima manfaat. 82 .

Quinn. Geneva WHO (2010). (2009). Tunisia WHO (2002).DAFTAR PUSTAKA ADB (2006). S. Geneva Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan 83 . UNFPA (1998). Report of the Expert Group Meeting. Jakarta. Mainstreaming Gender In Health: A Manual For Health Research And Programme Managers. School of Public Health University of The Witwatersrand Johannesburg (2003). UN. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010 – 2014. Gender Analysis Pathway. Gender Analysis in Health : A Review of Selected Tools. Geneva WHO (2006). Workshop on Gender. (2008). Bunga Rampai Pengarusutamaan Gender. Supiandi. PAHO-WHO (2005). Liverpool. Dr. WHO. Gender an Rights in Reproductive an Maternal Health : Manual for A Learning Workshop held in Kuala Lumpur. Liverpool School of Tropical Medicine (1995). Strasbourg Cedex. Women and Health: Mainstreaming the Gender Perspective into the Health Sector. Jakarta. Departemen Kesehatan. Johannesburg. Indonesia Country Gender Assessment. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Health and Development: Facilitator Guide. PAHO-WHO (1997). Kementerian PP (2008). Manila. Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Bidang Kesehatan. Jakarta. Gender in Health. Washington DC. National Human Development Report. H. Gender Equality. Gender and Health Group. Work and Health : A Review of the Evidence. Yusuf. UNFPA (2010). Gender Budgeting : Practical Implementation Handbook. Jakarta UNDP (2008). Bappenas dan WSP II–CIDA (2007). Guidelines of Analysis of Gender and Health.

SKM.. Arifin. MA. MRDM. dr. MARS. dr Milwiyandia. Muhammad Yusuf. dr. dr. T. dr. MARS. Doni Arianto. Rusmiyati. Msi. DR. MPH. MPH. dr.Sos. Christine Manurung. Theresia Hermin. Victorino. Titien Supriharin. Niken Kiswandari. SKM. Dra. MKes. M. Puti Wulan Sari. Wahyuni Khaulah. Endang Sri Wardani. Triningtyasasih. MPH. Rabitta Cherysse. dr. Nurkinteki.Kontributor Ir. drg. SKM. Aragar Putri. DR. Siti Mursifah.Kom. dr. dr. dr. MM.Kes. Teti Tejayanti. dr. Ace Yati Hayati. dr. S. Nardho Gunawan.. MH. Ismawaningsih. Fahrina. Amroussy Marsis. Dra. drg. SH. H. Tinexcelly MS. Saiful Hidayat. MKM. Titik Handayani. MQHI. dr. MKM. 84 . MS. dr. dr. Cicilia Windianingsih. S. Siti Maemunah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful