P. 1
Program Kesehatan Reproduksi Pel Integratif Di YanDas

Program Kesehatan Reproduksi Pel Integratif Di YanDas

|Views: 15|Likes:
Dipublikasikan oleh Udi Panata

More info:

Published by: Udi Panata on Jan 25, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/01/2013

pdf

text

original

KATA PENGANTAR Komitmen Indonesia dalam Konperensi Internasional tentang Kependudukan dan Pembangunan (ICPD) di Kairo pada tahun 1994 telah ditindaklanjuti dengan Lokakaryanya Nasional Kesehatan Reproduksi di Jakarta pada tahun 1996. Beberapa kesepakatan telah disetujui dalam forum yang melibatkan sektor terkait, universitas, LSM, organisasi profesi dan agen donor, serta pihak terkait lainnya. Diantaranya, telah disepakati paket pelayanan kesehatan reproduksi prioritas, yang kemudian disebut sebagai paket Priayana Kesehatan Reproduksi Esensial (PKRE). Buku Program Kesehatan Reproduksi dan Pelayanan Integratif di Tingkat Pelayanan Dasar ini merupakan penjabaran dari kesepakatan yang telah dirintis pada Lokakarya tersebut. Komponen Program Kesehatan Reproduksi sebetulnya bukan program-program baru, sehingga upaya yang dilakukan hendaknya dapat melanjutkan upaya yang telah dirintis sebelumnya. Namun demikian, dalam mengelola program dan memberikan pelayanan kesehatan reproduksi perlu diperhatikan adanya perubahan paradigma yang sangat berarti, seperti yang disepakati dalam ICPD. Dalam kesepakatan global itu, fokus perhatian ditunjukan kepada pelayanan yang mengutamakan kesehatan dan hak reproduksi perorangan, baik bagi laki-laki maupun perempuan sepanjang siklus hidupnya. Hal ini berpengaruh besar dalam pengembangan program dan pelayanan kesehatan reproduksi. Satu diantaranya adalah dengan penerapan pelayanan integratif, yang memungkinkan klien memperoleh pelayanan kesehatan reproduksi yang terpadu sesuai dengan kebutuhannya, pada satu kali pelayanan. Hal ini dapat dilakukan dengan memasukkan aspek pelayanan kesehatan reproduksi yang satu ke dalam yang lainnya. Buku ini diharapkan dapat dipakai sebagai acuan tentang kebijaksanaan sektor kesehatan dalam Program Kesehatan Reproduksi dan pelaksanaannya di lapangan. Buku ini ditunjukan kepada para pengelola program sebagai bahan acuan dalam mengembangkan program dan pelayanan kesehatan reproduksi. Dalam semangat desentralisasi dewsa ini, setiap pengelola wilayah dapat secara kreatif mengembangkan program yang sesuai dengan masalah dan kebutuhan setempat, dengan tetap mengacu kepada kebijaksanaan nasional. Kepada pihak-pihak yang telah menyusun dan memungkinkan terbitnya buku ini disampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih. Selanjutnya, saran untuk penyempurnaan buku pedoman ini akan sangat dihargai. Jakarta, Agustus 2001

Direktur Jendral Bina Kesehatan Masyarakat, Prof. Dr. Azrul Azwar, MPH iii

B. Pendekatan dalam Implementasi ……………………………………………………. BAB IV : PELAKSANAAN PELAYANAN KESEHATAN REPRODUKSI ESENSIAL A.. Pencegahan Infeksi Saluran Reproduksi. Strategi Operasional ………………………………………………………………………………. Masajah Kesehatan Reproduksi Lainnya ……………………………………………. Terget ……………………………………………………………………………………………………. Kegiatan Pokok ………………………………………………………………………………………. Karakteristik Sasaran dan Masalah Tiap Komponen PKRE ……………….Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir ……………………………………………………… 2..DAFTAR ISI ` KATA PENGANTAR Direktur Jendral Bina Kesehatan Masyarakat……………………………………………………… DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………………………………………… BAB I : PENDAHULUAN A. termasuk HIV/AIDS ……………. BAB III : KEBIJAKSANAAN. Latar belakang …………………………………………………………………………………. ANALISIS SITUASI KESEHATAN REPRODUKSI 1. Perkembangan Program Kesehatan Reproduksi ……………………………. PEMANTAUAN DAN EVALUASI PENUTUP iii V 1 1 2 5 5 7 8 9 11 13 13 13 14 15 19 19 20 24 26 27 Halaman BAB II : BAB V : BAB VI : Lampiran v . 4. B. STRATEGI DAN KEGIATAN POKOK Kebijaksnaan Umum………………………………………………………………………………. Pelaksanaan PKRE pada Tiap Tingkat Pelaynan ……………………………….. C. Kesehatan Reproduksi Remaja …………………………………………………………… 5. Keluarga Berencana …………………………………………………………………………… 3.

Hal penting dalam Konferensi tersebut adalah disepakatinya perubahan pradigma dalam pengelolaan masalah kependudukan dan pembangunan dari pendekatan pengendalian populasi dan penurunan fertilitas/keluarga bencana menjadi pendekatan yang terfokus pada kesehatan reproduksi. ICPD + 5. termasuk hak-hak reproduksi. di New York. dan Beijing + 5. martabat dan pemberdayaan wanita. di Haque. pada tahun 2000. pada tahun 1994. LATAR BELAKANG Kesehatan Reproduksi mendapat perhatian khusus secara global sejak diangkatnya materi tersebut dalam Konperensi Internasional tentang Kependidikan dan Pembangunan (International Conference on Population and Development. Kestabilan pertumbuhan penduduk akan dapat dicapai secara lebih baik bila kebutuhan kesehatan reproduksi terpenuhi dan hak reproduksi dihargai. Sekitar 180 negara berpartisipasi dalam Konferensi tersebut.I. ICPD tahun 1994 tersebut bertegas dalam Konferensi Sedunia IV tentang Wanita pada tahun 1995 di Beijing. Cina. Dengan demikian. di Kairo. Di tingkat internasional tersebut telah disepakati definisi kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan sejahtera fisik. Perubahan paradigma ini menempatkan manusia menjadi subyek. pada tahun 1999. Terkandung juga didalamnya isu kesetaraan jender. ICPD). upaya pengendalian penduduk perlu mempertimbangkan pemenuhan kebutuhan kesehatan reproduksi bagi pria dan wanita sepanjang siklus hidup. Mesir. Dengan pendekatan ini diharapkan bahwa dalam menjaga kestabilan pertumbuhan penduduk dunia.PENDAHULUAN A. tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan dalam semua hal yang berkaitan dengan sistem 1 . mental dan sosial secara utuh. serta tanggung jawab pria dalam kaitannya dengan kesehatan reproduksi. berbda dari sebelumnya yang menempatkan manusia sebagai obyek. kebutuhan serta hak reproduksi pria dan wanita sepanjang siklus kehidupan mendapat perhatian khusus.

seperti pelayanan atenatal. Ruang lingkup Kesehatan Reproduksi secara luas meliputi:         Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir Keluarga Berencana Pencegahan dan penanggulangan Infeksi Saluran Reproduksi (ISR). yaitu: 1. dll. pelayanan kesehatan reproduksi dilaksanakan secara integratife. persalinan. PERKEMBANGAN PROGRAM KESEHATAN REPRODUKSI Indonesia sebagai salah satu negara yang berpartisipasi dalam kesepakatan global tersebut telah menindak lanjuti dengan mengadakan Lokakarya Nasional Kesehatan Reproduksi pada bulan Mei 1996 di Jakarta yang melibatkan seluruh sektor terkait. fistula. hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan reproduksi lainnya. nifas dan pelayanan bagi bayi baru lahir. organisasi profesi. misalnya kanker serviks. Dalam Lokakarya tersebut telah disepakati beberapa hal. 2. Definisi Kesehatan Reproduksi mengacu kepada kesepakatan ICPD. LSM termasuk organisasi wanita. 3. mutilasi genital.reproduksi. kesehatan remaja dan lain-lain. disebut Paket Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial (PKRE). yaitu: 2 . Selain itu. universitas dan NGO serta lembaga donor. Karenanya setiap individu mempunyai hak untuk mengatur jumlah keluarganya. sehingga dapat memilih cara yang tepat dan disukai. B. perlu dijamin. termasuk PMS-HIV/AIDS Pencegahan dan Penanggulangan Komplikasi Aborsi Kesehatan Reproduksi Remaja Pencegahan dan Penanganan Infertilitas Kanker pada Usia Lanjut dan Osteoporosis Berbagai aspek kesehatan reproduksi lain. Prioritas diberikan kepada empat komponen kesehatan reproduksi yang menjadi masalah pokok di indonesia. dan memperoleh penjelasan yang lengkap tentang cara-cara kontrasepsi. serta fungsi dan prosesnya. Dalam penerapannya. kapan mempunyai anak. seperti tersebut di atas.

Keterlibatan dan tanggung jawab pria serta anggota keluarga lainnya diperlukan untuk mencapai kemitrasejajaran pria dan wanita dalam konteks kesehatan reproduki.    Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir Keluarga Berencana Kesehatan Reproduksi Remaja Pencegahan dan penanggulangan Infeksi Saluran Reproduksi. non-pemerintah dan swasta. 4.     Sebagai tindak lanjut dari rekomendasi Lokakarya Nasional Kesehatan Reproduksi melalui pertemuan terhadap lintas program dan sektor. Beberapa rekomendasi Lokakarya sebagai berikut:  Perlu dibentuk Komisi Kesehatan Reproduksi sebagai Wadah koordinasi dalam upaya kesehatan reproduksi yang terintegrasi antara instansi pemerintah. Identifikasi Peran tiap sektor dan pihak terkait dalam upaya Kesehatan Reproduksi sesuai dengan mandat institusi masing-masing perlu dilaksanakan secara integratif dan sinergis. informasi dan kepemimpinan untuk pengembangan upaya kesehatan reproduksi. yang terdiri atas PKRE ditambah dengan Kesehatan Reproduksi pada Usia Lanjut. Melalui Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 433/MENKES/SK/V/1998 tentang Komisi Kesehatan Reproduksi dibentuklah Komisi tesebut yang terdiri atas empat Kelompok Kerja (Pokja) sebagai berikut: 3 . Penerapan Paket Pelayanan Kesehatan reproduksi (PKRE dan PKRK) dilaksanakan melalui pendekatan integrasi fungsional dan dilakukan secara bertahap. tercapai kesepakatan untuk membentuk Komisi Kesehatan Reproduksi. Data kesehatan reproduksi berwawasan jender (disagregasi data menurut jenis kelamin dan umur) perlu dikumpulkan secara rutin dengan keterlibatan berbagai pihak terkait. 5. termasuk PMSHIV/AIDS Selain itu disepakati pula Paket Pelayanan Kesehatan Reproduksi Komprehensif (PKRK). Keterlibatan organisasi profesi diperlukan dalam dukungan teknis.

Adanya perbedaan sasaran dalam tiap komponen kesehatan reproduksi dan perbedaan masalah pada tiap klien.1. 4. yaitu “Indonesia Sehat 2010”. menuntut adanya pelayanan yang komprehensif. Pokja Keluarga Berencana 3. dengan misi sebagai berikut: 1. khususnya Pokja 1 dan 2. Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu. 3. Menggerakan pembangunan nasional berwawasan kesehatan. merata dan terjangkau. dan sesuai dengan kebutuhan klien. maka upaya kesehatan reproduksi yang dikembangkan akan menekankan pentingnya aspek promotif dan preventif dalam rangka mendukung pencapaian Indonesia Sehat 2010. Dalam Mencari bentuk pelayanan integratif kesehatan reproduksi disepakati untuk lebih berorientasi kepada kebutuhan klien. Dengan demikian setiap komponen program kesehatan reproduksi perlu memasukkan unsur komponen kesehatan reproduksi lainnya untuk mendukung terciptanya pelayanan kesehatan reproduksi yang integratif pada klien dan sesuai dengan kebutuhan klien. Selain itu dalam era disentralisasi dewasa ini. Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat. 2. secara khusus masalah tersebut dibahas secara khusus dalam Komisi Penanggulangan AIDS (KPA). penerapan upaya kesehatan reproduksi diarahkan untuk mengatasi masalah kesehatan reproduksi setempat. Perubahan pendekatan dalam menangani program kesehatan reproduksi tersebut ditempatkan pada visi Departemen Kesehatan. termasuk PMS. Pokja Kesehatan Reproduksi Usia Lanjut. namun spesifik. keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya. Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu. Selain itu. Pokja Kesehatan Reproduksi Remaja 4. 4 . HIV/AIDS dibahas dalam semua Pokja. Pokja Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir 2. Berdasarkan visi dan misi tersebut. Hal yang berkaitan dengan pencegahan dan penanggulanganISR.

Perdarahan postpartum di banyak wilayah merupakan penyebab kematian ibu terbesar. Penyebab utama kematian ibu masih tetap perdarahan. sehingga hampir semua desa di Indonesia mempunyai bidan. Bila dibandingkan dengan keadaan di negara ASEAN lainnya.yang dapat diperpanjang selama 3 tahun kedua.000 pada tahun 1995 (SKRT). perpanjangan untuk 3 tahun ketiga mulai dilaksanakan. sejak tahun 1989/1990 dimulai Program Pendidikan Bidan bagi para lulusan Sekolah Pendidikan Keperawatan (SPK) selama 1 tahun. Dalam rangka mempercepat penurunan AKI. demografis. sepsis dan eklamsia. sementara pada tahun 2000 ditargetkan menjadi 225 per 100. 5 . di samping partus lama dan abortus terkomplikasi. Pada tahun 1994 (SDKI) AKI di Indonesia adalah 390 per 100. Sejak itu sampai tahun 1996 telah dihasilkan lebih dari 54. sambil menunggu kesiapan bidan untuk mampu berpraktek secara mandiri atau kesiapan daerah untuk mengangkat bidan sebagai tenaga daerah. Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih sangat tinggi bila dibandingkan dengan negaranegara sedang berkembang ASEAN lainnya.000 bidan. Lulusan sekolah bidan tersebut kemudian ditempatkan di desa. Penurunan AKI tersebut sangat lambat.000 kelahiran hidup.II. Di bawah ini keadaan dan masalah beberapa komponen kesehatan reproduksi yang dapat memberikan gambaran umum tentang keadaan kesehatan reproduksi. Bidan di desa yang semula direkrut sebagai pegawai negeri ini sejak tahun 1994 dipekerjakan berdasarkan kontrak selama 3 tahun. diperkiraan mencapai sekitar 40-50%. MISALNYA DI Provinsi Jawa Tengah 248. Hal ini mencerminkan adanya perbedaan dalam segi geografis. Indonesia masih tertinggal dalam banyak aspek kesehatanrepeproduksi. Pada tahun 2000. Nusa Tenggara Timur 554. yaitu menjadi 373 per 100. ANALISIS SITUASI KESEHATAN REPRODUKSI Keadaan kesehatan reproduksi di Indonesia dewasa ini masih belum seperti yang diharapkan. akses dan kualitas pelayanan kesehatan serta sumber daya manusia.000 kelahiran hidup. I.000 kelahiran hidup. Maluku 796 dan Papua 1025 per 100. Ada beberapa yang cukup antara AKI di Jawa-Bali dan luar Jawa-Bali (SKRT 1995).

sering: jarak antar-anak kurang dari2 tahun. Permasalahan kesehatan ibu tersebut merupakan refleksi dari masalah yang berkaitan dengan kesehatan bayi baru lahir.6% pada tahun 1993 menjadi 59.8% pada tahun 1997 dan sekitar 66% pada tahun 1999. Prevalensi infeksi saluran reproduksi diperkirakan juga cukup tinggi. masalah kematian ibu merupakan masalah yang kompleks. Sekitar 60% ibu hamil dalam keadaan yang mempunyai satu atau lebih keadaan “4 terlalu” ( terlalu muda: kurang dari 20 tahun. Kejadian kematian ibu juga berkaitan erat dengan masalah sosiobudaya.Angka 6 . Hal ini melatarbelakangi kematian ibu yang mengalami komplikasi obstetric. termasuk status kesehatan reproduksi dan status gizi ibu sebelum dan selama kehamilan. namun dewasa ini kasus komplikasi obstetric yang tertangani masih kurang dari 10% dari seluruh ibu hamil. Kejadian komplikasi obstetric terdapat pada sekitar 20% dari seluruh ibu hamil. yang diwarnai oleh derajat kesehatan.Keberadaan bidan di desa tampak memberikan kontribusi nyata terhadap cakupan pelayanan kebidanan besar. Misalnya. 1) terlambat mengenali tanda bahaya dan mengambil keputusan di tingkat keluarga. ekonomi. Namun. cakupan akses pelayanan atenatal (K1) meningkat dari 74% pada tahun 1993 menjadi 89% pada tahun 1997.tua. Target penanganan kasus komplikasi obstetric yang ditetapkan untuk tahun 2005 adalah minimal 12% dari seluruh ibu hamil ( atau 60% dari total kasus komplikasi obstetric). Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan meningkat dari 39. tradisi dan kepercayaan masyarakat. banyak: lebih dari 3 anak). Prevalensi anemia pada ibu hamil masih sekitar 50%. karena rendahnya higiene perorangan dan pemaparan terhadap PMS yang meningkat.yang berarti kurang dari 50& dari perkiraan kasus. sementara prevalensi kurang energi kronis masih lebih dari 30%. lebih dari 35 tahun. walaupun sekitar 70% persalinan tetap berlangsung di rumah. 2) terlambat mencapai tempat pelayanan kesehatan dan 3) terlambat mendapat penanganan medis yang memadai di tempat pelayanan kesehatan. yaitu dalam bentuk “3 terlambat”.

1% dan kondom 1%.Dari data ini terlihat bahwa partisipasi pria dalam berKB masih sangat rendah. vasektomi 0. Sekitar 40% kematian bayi terjadi pada bulan pertama kehidupannya. yang terdiri dari suntikan KB 21%. CPR) pada tahun 1987 adalah 48%. Keluarga Berencana Program Keluarga berencana (KB) di Indonesia termasuk yang dianggap berhasil di tingkat internasional. Data SDKI 1997 menunjukan pula bahwa perempuan berstatus kawin yang tidak ingin punya anak lagi atau ingin menjarangkan kelahiran berikutnya tetapi tidak menggunakan cara kontrasepsi 7 . 2.Kematian bayi (AKB) di Indonesia (SDKI. Walaupun demikian AKB tersebut sudah menurun dari 74 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1991 dan 66 per 1000 kelahiran pada tahun 1994. yaitu 52 per 1000 kelahiran hidup. TFR pada kurun waktu 1967-1970 menurun dari5. sebagai akibat dari penurunan angka kesuburan total (total fertility rate. Menurut SDKI.8 pada periode 1995-1997. 6% karena ingin hamil dan 3% karena kegagalan. implant 6%. yaitu kurang dari 2%. Penyebab kematian pada masa perintal/neonatal pada umumnya berkaitanndengan kesehatan ibu selama hamil.6 menjadi hamper setengahnya dalam 25 tahun. Cakupan pelayanan KB (contraceptive prevalence rate. pil 15%. yaitu 2. IUD 8%. dari proporsi tersebut 95% menggunakan cara kontrasepsi modern. Thailand. tubektomi 3%. Filipina dan Vietnam. yaitu asfiksia. 1997) masih di atas Negara-negara seperti Malaysia. trauma persalinan dan tetanus neonatorum. Alasan penghentian antara lain adalah 10% karna efek samping/alas an kesehatan. kesehatan janin selama di dalam kandungan dan proses pertolongan persalinan yang diterima ibu atau bayi. Hal ini terlihat dari kontribusinya terhadap penurunan pertumbuhan penduduk. hipotermia karea prematuritas/BBLR. TFR). Besarnya proporsi peserta KB yang menggunakan suntikan dan KB pada masyarakat yang tingkat sosioekonominya belum memadai memberikan risiko drop out KB yang cukup berarti. Proporsi drop out peserta KB (discontinuation rate) menurut SDKI 1997 adalah 24%. yang meningkat menjadi 57% pada tahun 1997.

dan klamidia 3.6%. misalnya penelitian pada 312 wanita klien KB di Jakarta Utara (1997): angka prevalensi ISR 24. yang juga sekaligusmenunjukkan bahwa kesadaran berKB pada pasangan yang paling membutuhkan pelayanan KB (karena umur istri terlalu muda/tua. sekitar 65% ibu hamil mempuinyai satu atau lebih keadaan “4 terlalu” (terlalu muda. masih mempunyai anak kurang dari 2 tahun. walaupunangka unmet need hanya 9%. seperti dikemukakan di atas.4%.6%.9%. Hal ini menunjukkan bahwa masih jauh lebih banyak terjadi kehamilan yang perlu dihindari. Suatu survey di 3 puskesmas di Surabaya (1999) pada 195 wanita pengunjung KIA/BP diperoleh proporsi tertinggi infeksi trikomoniasis 6. (2) Infeksi endgen karena prertumbuhan berlebihan kuman yang biasanya ada di saluran reproduksi wanita normal. Penyebab masih tingginya angka ini.(unmet need) masih cukup tinggi yaitu 9%. herpes kelamin. Penelitian lain di Surabaya pada 599 wanita hamil didapatkan infeksi vius herpes simpleks sebesar 9. termasuk HIV/AIDS Jenis ISR dibagi menjadi 3 kategori : (1) Penyakit Menular Seksual (PMS) meliputi infeksi klamida. 8 .7%. yang terdiri dari 4% berkeinginan memjarangkan kelahiran dan 5% ingin membatasi kelahiran. dan gonore 0.2%. antara lain kualitas informasi dan pelayanan KB. yaitu infeksi yang terjadi karena dilakukannya tindakan medis. yaitu 10.8% dan sifilis 0. Angka ini sudah menurun dibandingkan dengan tahun 1994 sebesar 11% dan pada tahun 1991 sebesar 13%.7% dengan infeksi klamida yang tertinggi.3%. 3.2%. trikomoniasis. gonore. sering dan banyak). kemudian sifilis 4. atau mempunyai anak lebih dari 3) belum mantap. seperti vaginosis bacterial dan kandidiasis vulvovaginal. Dan berbagai penelitian terbatas diketahui angka prevalensi ISR di Indonesia cukup tinggi. klamida 8. dan infeksi human immunodeficiency virus (HIV). ulkus mole. trikomoniasis 4. Pencegahan Infeksi Saluran Reproduksi. serta missed opportunity pelayanan KB pada pasca-persalinan. Namun. tua.gonore 0.8%. (3) Infeksi iatrogenik. sifilis. kemudian trikomoniasi 5.3%.

tetapi juga terhadap keluarga. keadaan ekonomi dan kesejahteraan social dalam jangka panjang. sehingga menimbulkan komplikasi ISR yang serius seperti kemandulan. keguguran.Pada tahun 2000. dan kecacatan pada janin.  9 . Upaya pencegahan dan penanggulangan ISR di tingkat pelayanan dasar masih jauh dari yang diharapkan. Jakarta (1. Penularan terutama melalui hubungan seksual (70%). Irja (312). Dampak jangka panjang tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap remaja itu sendiri.Jumlah Kumulatif penderita HIV/AIDS yang dilaporkan sakit sampai juni 2001 mencapai 2150 kasus.1%) adalah pria dan 131 wanita.5%). dengan jumlah kasus HIV 1572 dan jumlah kumulatif kasus AIDS sebanyak 578. Namun Urutan Angka Prevalensi HIV/AIDS tertinggi secara berturut-turut adalah Irja (4. Jumlah penderita HIV/AIDS yang sebenarnya diperkirakan 100 kali lipat dari jumlah yang dilaporkan.457 kasus (79. berupa upaya pencegahan dan penanggulangan PMS dengan pendekatan sindrom melalui pelayanan KIA/KB. juga dapat berpengaruh terhadap kesehatan mental dan emosi.7%). Kesehatan Reproduksi Remaja Masalah kesehatan reproduksi remaja selain berdampak secara fisik.85). Dari penderita AIDS tersebut. yang seringkali menjurus kepada aborsi yang tidak aman dan komplikasinya. 5. Bali (0.000 penduduk.30-39 tahun (34%) dan 40-49 tahun (12. sedangkan 18% melalui penggunaan alat suntik (pada penderita ketergantungan narkotika).76) dan Riau (0.32) per 100.33). yaitu 57% bersifat heteroseksual dan 15% homoseksual. masyarakat dan bangsa pada akhirnya. Kehamilan dan persalinan usia muda yang menambah risiko kesakitan dan kematian ibu dan bayi. Dari segi usia penderita AIDS: 20-29 tahun (37. termasuk yang telah meninggal 241 orang.Riau (115) dan Jawa Timur (103). Hambatan sosiobudaya sering mengakibatkan ketidak-tuntasan dalam pengobatannya. Permasalahan prioritas kesehatan reproduksi pada remaja dapat dikelompokkan sebagai berikut:  Kehamilan tak dikehendaki. urutan jumlah kasus terbanyak sebagai berikut: Jakarta (362). Upaya tersebut baru dilaksanakan secara terbatas di beberapa provinsi.

seperti pemerkosaan. Survei Depkes (1995/1996) pada remaja usia 13-19 tahun di Jawa Barat (1189) dan di Bali (922) mendapatkan 7% dan 5% remaja puteri di Jawa Barat dan Bali mengakui pernah terlambat haid atau hamil. Hal ini menunjukan ketidaksiapan remaja puteri secara fisik untuk menghadapi kehamilan di kemudian hari. termasuk infeksi HIV/AIDS Tindak kekerasan seksual. termasuk HIV/AIDS. termasuk merokok) pada remaja. dengan berganti-ganti pasangan. dari 10. sementara pemakaian alat suntik secara bergantian juga menimbulkan risiko tersebut. Ketergantungan napza ini sering diikuti dengan hubungan seksual diluar nikah. Pusat PenelitianKesehatan UI mengadakan penelitian di Manado dan Bitung (1997). psikhotropika dan zat adiktif lainnya.  Masalah PMS. Informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi remaja dewasa ini belum memadai. Kehamilan remaja kuran dari 20 tahun memberi resiko kematian ibu dan bayi 2-4 kali lebih tinggi dibandingkan kehamilan pada ibu berusia 20-35 tahun. sehingga meningkatkan resiko penularan PMS. dan kebanyakan baru ditangani oleh lembaga 10 . pelecehan seksual dan transaksi seks komersial. Di Yogyakarya. dan menunjukan bahwa 6% dari 400 pelajar SMU puteri dan 20% dari 400 pelajar SMU putera pernah melakukan hubungan seksual. Beberapapenelitian dalam skala kecil tentang remaja memberikan gambaran tentang prilaku reproduksi kelompok populasi berumur 10-19 tahun yag belum menikah. Sekitar 35% remaja puteri menderita anemia dan sebagian diantaranya juga menderita kurang energi kronis (KEK). menurut data sekunder tahun 1996/1997. Keadaan di atas diperburuk oleh kenyataan bahwa derajat kesehatan fisik remaja belum optimal. Dari data PKBI Sumbar tahun 1997 ditemukan bahwa remaja yang telah melakukan hubungan seksual sebelum mengakui kebanyakan melakukannya melakukannya pertama kali pada usia antara 15-18 tahun. Keadaan merisaukan lainnya yang sulit dipisahkan dari kesehatan reproduksi remaja adalah meningkatnya masalah ketergantungan napza (narkotika. Sekitar 2% diantaranya berusia dibawah 22 tahun.3% yang datang dengan kehamilan tidak dikehendaki dan telah melakukan hubungan seksual tindakan pengangguran disengaja sendiri secara tidak aman.981 pengunjung klinik KB ditemukan 19.

yang dapat berpengaruh terhadap organ reproduksi. Kanker ini bila ditemukan pada stadium dini mempunyai prognosis yang cukup 11 . Sebagai akibatnya.Keterbatasan data ini bukan berarti bahwa aspek kesehatan reprduksi tersebut tidak bermasalah Masalah kesehatan usia lanjut semakin meningkat bersamaan dengan bertambahnya presentase penduduk usia lanjut.hak reproduksi antara lain meliputi hak untuk mendapatkan pelayanan aborsi yang aman. Menurut perundangan yang berlaku saat ini. osteoporisis. Aborsi merupakan isu controversial. kanker prostate. Kebanyakan kasus disebabkan oleh infeksi virus human papilloma virus (HPV). karena dalamkesepakatan pada ICPD 1994 di Kairo. sehingga remaja belum mendapat bekal pengetahuanyang cukup untuk menjalani perilaku reproduksi sehat. sehingga sering mengakibatkan aborsi yang komplikasi. Di samping itu. misalnya masalah kesehatan usia lanjut. wanita dengan kehamilan yang tidk diinginkan akibat kegagalan KB. Kanker leher rahim merupakan kanker tersering yang ditemukan pada wanita usia subur. dan penyakit kerdiovaskular serta penyakit degeneratif. Mereka belum sepenuhnya mengetahui cara melakukan kegiatan promotif dan preventif dalam kesehatan reproduksi remaja. Masalah prioritas pada kelompok ini antara lain meliputi gangguan pada masa menopause. dan kehamilan diluar nikah.Swadaya masyarakat di kota-kota besar. dll. aborsi. atau karena alasan ekonomi. cenderung mencari pertolongan aborsi yang tidak aman. 5.kekerasan perempuan. Masalah Kesehatan Reproduksi Lainnya Masalah kesehatan reproduksi lainnya masih banyak ditemukan. Aborsi terkomplikasi ini diperkirakan memjadi penyebab dari 15% kematian ibu. Fasilitas kesehatan di tingkat pelayanan dasar belum banyak menyediakan pelayanan tersebut. tindakan aborsi diluar indikasimedis adalah legal. kekurangan gizi dan gangguan otot serta sendi sering memperburuk keadaan tersebut. pemerkosaan. dan konferensi internasional lain yang menindaklanjutinya. infertilitas. ketimpangan jender. kanker leher rahim dan payudara. Namun data yang berkaitan dengan masalah-masalah tersebut masih sulit diperoleh.

karena dipandang sebagai aib keluarga. Namun. Masalah KDRT ini dikatakan seperti “wabah yang tersembunyi”. Penderita biasanya cenderung menyembunyikannya. kaerna prevalensinya diduga cukup besar namun tidak mengemuka. Jenis kanker ini juga mempunyai prognosis yang cukup baik bila ditemukan pada stadium dini. Deteksi kanker ini bias dilakukan sendiri dengan metode periksa payudara sendiri (SADARI). Perempuan berada dipihak yang lemah ketika menuntut hubungan seksual yang aman dengan paangannya. di samping gangguan psikhis dan mental yang cukup berat. pihak perempuan selalu dipersalahkan dan dituntut untuk menanggung segala akibatnya. yang seringkali terjadi antara suami-isteri atau pasangan yang mempunyai hubungan dekat. yang meliputi gangguan system dean fungsi reproduki. upaya skrining di kalangan wanita usia subur biasa dewasa ini terbatas.Baik. KtP yang sering ditemukan adalah kekeran dalam rumah tangga (KDRT). Demikian pula tanggung jawab untuk berKB sering dibebankan kepada perempuan. 12 . Adaemikian pula pada hubungan seksual diluar nikah. Metodeskrining dengan pap smear cukup mahal dan memerlukan teknologi yang canggih. Kejadian kanker payudara menempati urutan kedua setelah kanker leher rahim. Efeknya mungkin fatal. Berbagai masalah kesehatan reproduksi dilatarbelakangi oleh ketimpangan jender. Beberapa contoh misalnya keputusan untuk mencari pelayanan kasehatan bagi perempuan seringkali berada ditangan suami atau mertua. atau non-fatal. dan belum mencapai kalangan yang tingkat sosioekonominya rendah. Dewasa ini sekarang dikembangkan metode inspeksi visual dengan menggunakan asam cuka. Kekerasan berbasis jender antara lain timbul dalam bentuk kekerasan terhadap perempuan (KtP).

termasuk organisasi profesi. 3. 2. 6. 5. sebagai bagian dari proses desentralisasi. 13 . Menerapkan program keshatan reproduksi melalui keterlibatan program. kesetaraan dan keadilan jender. Strategi yang diterapkan dalam melaksanakan kebijakan umum tersebut sebagai berikut. 1. menggunakan pendekatan siklus kehidupan dalam menangani malah kesehatan reproduksi. agen donor. Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir. 1. termasuk meningkatkan hak perempuan dalam kesehatan reproduksi.III. KEBIJAKSANAAN. sector dan pihak terkait. STRATEGI DAN KEGIATAN POKOK Kebijaksanaan umum yang diterapkan dalam kesehatan reproduksi mengikuti paradigma baru. yaitu sebagai berikut. Memperluas jangkauan pelayanan kesehatan reproduksi secara proaktif.000 kelahiran hidup. Meningkatkan upaya advokasi dan komitmen politis di tiap tingkat administrasi untuk menciptakan suasana yang mendukung dalam pelaksanaan program kesehatan reproduksi. Meningkatkan kesetaraan dan keadilan jender. Meningkatkan penelitian dan pengumpulan data berwawasan jender yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi dalam rangka mendukung kebijaksanaan program dan peningkatan kualitas pelayanan. 2. 3. minimal meliputi paket PKRE. 4.  Penurunan AKI dari 373 (1997) menjadi 150 per 100. Menyediakan pelayanan kesehatan reproduksi terpadu yang merata dan sesuai dengan kewenangan di tiap tingkat pelayanan. Menutamakan kepentingan klien dengan memperhatikan hak reproduksi. Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan reproduksi dengan memperhatikan kepuasan klien. Meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pelayanan kesehatan reproduksi berkualitas. 7. 1. 4. LSM dan masyarakat. Target yang akan dicapai pada tahun 2010 sebagai berikut. Mengenbangkan upaya kesehatan reproduksi dengan prioritas sesuai dengan masalah spesifik daerah.

       Penurunan AKB dari 52 (1997) menjadi 25 per 1000 kelahiran hidup. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dari 60% (tahun 1998) menjadi 90%. Prevalensi permasalahan remaja secara umum menurun. Cakupan pelayanan kesehatan remaja melalui jalur sekolah 85%. Proporsi penanganan komplikasi/kasus obstetri minimal 12% dqari persalinan total.  5. 2. Keluarga Berencana     3. dan melalui jalur luar sekolah minimal 20%. Memantapkan pemanfaatan Komisi Kesehata Reproduksi sebagai forum koordinasi antarsektor/pihak terkait guna mendapat 14 . 1.9% (1995) menjadi 5%. Cakupan pelayanan KB pada PUS 70% Penurunan prevalensi kehamilan “4 terlalu” menjadi 50% dari angka pada tahun 1997. Penurunan prevalensi BBLR dari 7. Penurunan prevalensi anemia pada ibu hamil menjadi 35%. Kesehatan Remaja   Penurunan prevalensi anemia pada remaja menjadi kurang dari 20%. Prevalensi infeksi HIV dikalangan kelompok berperilaku risiko tinggi menjadi kurang dari 1% 4. Cakupan pelayanan nifas bagi ibu dan bayi baru lahir 90%. Penurunan kejadian komplikasi KB. Strategi oprerasional yang diterapkan dalam mencapai target tersebut sebagai berikut. Peningkatan cakupan akses pelayanan atenatal (K1) dari 89% (tahun 1998) menjadi 95%. Penurunan angka drop out. Penanggulangan PMS/HIV-AIDS   Prevalensi gonore dikalangan kelompok berprilaku risiko tinggi menjadi kurang dari 10%. Kesehatan Reproduksi Usila  Cakup[an pelayanan kepada usia lanjut minimal 60%.

   2. LSM dan masyarakat dalam upaya peningkatan kesehatan reproduksi. Mengembangkan mekanisme pemantauan program dan pelayanan kesehatan reproduksi yang berwawasan jender. Kegiatan pokok yang perlu dilakukan sebagai penjabaran strategi di atas dapat dikategorikan dalam tiga kelompok sebagai berikut. Optimalisasi keterlibatan secara aktif pihak-pihak terkait. 3. 7. dengan me3nggunakan instrument (indicator) pemantauan yang disepakati. 1. 6. untuk menilai kemajuan dalammengatasi masalah kesehatan reproduksi setempat. organisasi profesi. misalnya: sector terkait. Pwerluasan dan pemerataan p4elayanan kesehatan reproduksi integrative. Pemantauan dan evaluasi program serta pelayanan kesehatan reproduksi. 4.Kesepakatan dan dukungan politis dalam pelaksanaan upaya kesehatan reproduksi. Mengembangkan standar pelayanan tiap jenis pelayanan kesehatan reproduksi yang secara relevan menampung aspek kesehatan reproduksi lainnya. Upaya kesehatan reproduksi diterapkan dengan pendekatan kesetaraan dan keadilan jender. Penetapan standar pelayanan yang mengacu kepada masing-masing komponen sesuai dengan kebijaksanaan dan strategi program yang telah ada. agen donor. maka setiap pelayanan yang diberikan perlu 15 . Pelayanan kesehatan reproduksi dilaksanakan secara terpadu di tiap tingkat pelayanan. diberikan sesuai dengan kebutuhan dan mengacu kepada standar pelayanan masing-masing. 2. namun minimal mencakup paket PKRE. termasuk penelitian pendukungnya. Penerapan Pelayanan Kesehatan Reproduksi Agar pelayanan kesehatan reproduksi bersifat responsive terhadap kebutuhan klien. Upaya kesehatan reproduksi didaerah dikembangkan untuk memngatasi masalah setempat dan disesuaikan dengan kebutuhan. 5. Pemantapan Manajemen Program Kesehatan Reproduksi  Penetapan kebijaksanaan dan strategi yang mendukung terlaksannya pelayanan kesehatan reproduksi yang integratif sesuai kebutuhan klien.

Pelayanan KB  Pelayanan KB memasukkan unsur pelayanan pencegahan dan penanggulangan PMS. pelayanan kesehatan reproduksi yang dibutuhkan seorang klien perlu menampung aspek pelayanan kesehatan reproduksi lainnya yang relevan.Bersifat integrative.  c. dengan tetap mengikuti standar pelayanan yang berlaku bagi masing –masing jenis pelayanan. termasuk HIV/AIDS. Pencegahn dan penanggulangan PMS. Pelayanan pencegahan dan penanggulangan PMS.I. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir  Pelayanan atenatal. d. pencegahan dan  b. juga diarahkan untuk sasaran dengan “4 terlalu” (terlalu muda. Pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja  Pelayanan kesehatan reproduksi remaja yang bersifat promotif dan preventif terfokus pada pelayanan KIE/konseling. persalinan dan nifas memasukkan unsur pelayanan pencegahan dan penanggulangan PMS serta melakukan motifasi klien untuk pelayanan KB dan memberikan pelayanan KB postpartum. HIV/AIDS. yang secara skematis juga digambarkan pada Bagan Alur Pelayanan seperti pada Lampiran a. Pelayanan KB difokuskan selain kepada sasaran muda-usia paritas-rendah (mupar) yang lebih mengarah kepada kepentingan pengendalian populasi. 16 . terlalu serinh dan terlalu tua untuk hamil). Dalam pertolongan persalinan dan penanganan bayi baru lahir perlu diperhatikan pencegahan umum terhadap infeksi. Beberapa contoh keterpaduan pelayanan sebagai berikut. Pelayanan pasca abortus memasukkan unsure pelayanan penanggulangan PMS serta konseling/pelayanan KB pasca-abortus. Dengan demikian. termasuk HIV/AIDS dimasukkan kedalam setiap kompone pelayanan kesehatan reproduksi. meliputi komponen di atas) dan Life Skill Education.terlalu banyak. yang memasukkan materi-materi Family Life Education (a.

Meningkatkan ketrampilan pengelola program dalam melakukan analisis jenjed serta mengarus-utamakan jender dalam kebijakan dan program kesehatan. Kesehatan Reproduksi Usia Lanjut Pelayanan kesehatan reproduksi usia lanjut lebih ditekankan untuk meningkatkan kualitas hidup pada usia lanjut. Pelayanan kesehatan reproduksi remaja secara khusus bagi remaja bermasalah dengan memberikan pelayanan sesuai dengan kebutuhan dan masalahnya. misalnya kehamilan diluar nikah. Penerapan Kegiatan Pendukung Kegiatan pendukung meliputi berbagai kegiatan untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan program dan pelayanan kesehatan reproduksi. Penanganan masalah social yang berkaitan erat dengan kesehatan reproduksi antara lain:   Kesetaraan dan keadilan jender.  17 . termasuk kesehatan dan gizi. Kegiatan untuk mengatasi masalah ini dilaksanakan secara lintas program dan lintas sektor. 3.  e. Bentuk kegiatan yang dapat dilakukan oleh sektor kesehatan antara lain:  Meningkatkan pemahaman petugas kesehatan di tiap tingkatan tentang kesetaraan dan keadilan jender serta berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan dan akibatnya terhadap kesehatan. Selain upaya promotif dan preventif. pengembangan upaya kesehatan reproduksi usia lanjut juga ditujukan untuk mengatasi masalah yang sering ditemukan pada usia lanjut. Pelayanan kesehatan reproduksi remaja memperhatikan aspek fisik. misalnya masalah menopause/andropouse dan pencegahan osteoporosis serta penyakit degeneratif lainnya. a. agar remaja – khususnya rwemaja putri-dapat dipersiapkan menjadi calon ibu yang sehat. remaja dengan ketergantungan napza. Kekerasan terhadap perempuan. khususnya Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. kehamilan remaja. dll.

Dalam penanganan masalah kesehatan reproduksi diperlukan koordinasi lintas sektor dan lintas program. efektif dan efisien. Dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan reproduksi antara lain diperlukan kegiatan untuk meningkatkan ketrampilan.I. Peningkatan ketrampilan. BKKBN dan Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. Pemberdayaan masyarakat. Kegiatan advokasi dan mobilisasi sosial diperlukan untuk pemantapan dan perluasan komitmenserta dukungan politis dalam upaya mengatasi masalah kesehatan reproduksi. Instansi pemerintah yang banyak bergerak dalamaspek ini ditingkat nasional a. f. Kegiatan pemberdayaan masyarakat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan reproduksi. Dalam memberikan pelayanan kesehatan reproduksi yang berkualitas diperlukan dukungan sarana dan prasarana yang memadai. d. Menangani kasus kekerasan terhadap prerempuan. Kegiatan ini diupayakan agar terlaksana secara terpadu.  Meningkatkan peran serta laki-laki dalam kesehatan reproduksi. misalnya pengorganisasian transportasi untuk rujukan ibu hamil/bersalin. Untuk itu di tingkat nasional dicunakan forum Komisi Kesehatan Reproduksi dan forum-forum lain yang bersifat fungsional. Pemenuhan kebutuhan logistik. dsb. baik dalam aspek medis. Koordinasi lintas sektor. c. arisan peserta KB. Advokasi dan mobilisasi social. Contoh kegiatan advokasi dan mobilisasisosial antara lain adalah Gerakan Sayang Ibu (GSI). b. e. 18 . maupun KIE/konseling dalam mengatasi masalah klien untuk mendapatkan pelayanan lainnya. tabulin.

penyusunan rencana implementasi PKRE hendaknya didasarkan atas analisis data dan masalah setenpat. Implementasi PKRE dikembangkan berdasarkan kebijaksanaan tersebut. seperti pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir dan pelayanan KB. Hal yang baru dan perlu diperhatikan dalam implementasi PKRE adalah pelaksanaan paradigma baru. PKRE diupayakan agar dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. karakteristik sasaran dan masalah yang berbeda antar-komponen program. Selain itu karakteristik sasaran dan masalah dari tiap komponen pelayanan kesehatan reproduksi sangat berbeda. 2) menggunakan pendekatan siklus kehidupan dalam menangani masalah kesehatan reproduksi. 19 . Di samping itu ada pelayanan yang relative baru atau masih dalam tahap pengembangan. pelayanan pencegahan dan penanggulangan PMS. termasuk HIV/AIDS dan pelayanan kesehatan reproduksi usia lanjut. 3) memperluas jangkauan pelayanan kesehatan reproduksi secara proaktif dan 4) meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pelayanan kesehatan reproduksi berkualitas. baghkan sebagian telah lama dilaksanakan dan telah jauh berkembang. sehingga memerlukan pendekatan yang berbeda pula dalam pengelolanya. yaitu: 1) mengutamakan kepentingan klien dengan memperhatikan hak reproduksi. Dalam penerapannya di suatu wilayah. disamping memperhatikan tingkat perkembangan program. sehingga sifatnya mereorganisasikan upaya dan pelayanan yang telah ada namun disesuaikan dengan kebutuhan baru. PELAKSANAAN PELAYANAN KESEHATAN REPRODUKSI ESENSIAL A. PENDEKATAN DALAM IMPLETANSI Baik PKRE maupun PKRK sebenarnya merupakan sekumpulan pelayanan yang telah ada.seperti dikemukakan dalam kebijaksanaan kesehatan reproduksi.IV. kesetaraan dan keadilan jender. perlu dikaji pula kebutuhan setempat yang mungkin berbeda disamping tingkat pencapaian program yang berbeda pula. Karenanya. seperti pelayanan kesehatan reproduksi remaja.

pemeriksaan kehamilan. istirahat. 80%nya berlangsung normal. Di bawah ini gambaran umum tentang kompleksnya masalah yang saling terkait antar-komponen PKRE tersebut. yaitu 65% hamil pada usia terlalu muda (<20 tahun). keluarga tidak siap. Kesehatan Ibu Dan Bayi Baru Lahir Karakteristik ibu hamil dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa:   Kehamilan merupakan suatu keadaan alamiah. Kondisi kesehatan ketika memasuki kehamilan belum belum separti yang diharapkan. Sekitar 50% menangani anemia dan lebih dari 30% menderita kurang energi kronis (KEK). Lebih buruk lagi adalah kenyataan bahwa kurang dari 10% prkiraan kasus yang mengalami komplikasi persalinan mendapat pelayanan obstetri yang mampu 20 .C. terlalu sering hamil (jarak <2 tahun) dan terlalu banyak anak (>3 anak): lebih dikenal dengan keadaan “4 terlalu”. Kesadaran akan kemungkinan timbulnya dan pengenalan akan komplikasi kehamilan masih rendah. perawatan diri. pertolongan persalinan oleh nakes. terlalu tua (>35% tahun). bersalin dan nifas di tingkat nasional dewasa ini adalah bahwa lebih dri 85% telah memeriksakan kehamilannya paling sedikit satu kali selama kehamilannya.I. Perilaku hidup sehat selama kehamilan masih kurang diperhatikan.   Keadaan ibu hamil. banyak ibu yang tidak menginginkan kehamilannya yang melakukan upaya aborsi yang tidk aman. kebutuhan gizi. Sekitar 20% ibu akan mengalami komplikasi obstetri yang dapat mengancam jiwa ibu dan/atau janin. karakteristik sasaran dan masalah tiap komponen PKRE berbeda-beda. Akibatnya. KARAKTERISTIK SASARAN DAN MASALAH TIAP KOMPONEN PKRE Seperti dikemukakan diatas. nmun hanya sekitar 65% yang persalinannya ditolong oleh tenaga kesehatan. a. 1. sehingga bila terjadi komplikasi yang memerlukan pertolongan cepat. yang kebanyakan tak dapat diramalkan sebelumnya dan pada umumnya terjadi sekitar persalinan.

1 dan 3%). yaitu terlambat mengenali tanda bahaya dan mengambil keputusan di tingkat keluarga. Partisipasi pria dalam berKB sangat rendah (kurang dari 2%). hamil. dan banyak). tua. walaupun angka unmet 21 . IUD yang tingkat drop outnya lebih rendah. di samping beban yang menjadi kodrat kewanitaannya seperti haid. Tingkat drop out keseluruhan mencapai 24%. sering. yaitu 36% menggunakan metode suntikan (21%) dan pil (15%). Hal ini menunjukan bahwa masih jauh lebih banyak terjadi kehamilan yang perlu dihindari. terlambat mendapat pelayanan medis yang memdai di tempat pelayanan kesehatan. yang memberikan tingkat drop out tertinggi. marjinalisasi perempuan akibat ketidaksetaraan dan ketidakadilan jender. tingkat pendidikan yng rendah. sehingga angka-angka tersebut jauh lebih buruk di lingkungan keluarga miskin dan keluarga tertinggal. Dari gambaran ini tampak bahwa perempuan mendapat beban tambahan untuk pengaturan fertilitasnya. sekitar 65% kehamilan disertai satu atau lebih keadaan “4 terlalu” (terlalu muda. penggunaannya hanya 8%.Menyelamatkan kehidupan ibu dan/atau janinnya. Keluarga Berencana Sekitar 57% pasangan usia subur (PUS) telah berKB.000 kelahiran hidup dan 40% kematian bayi terjadi pada bulan pertama kehidupannya. 2. Masalah tersebut masih dilatarbelakangi oleh keadaan soaial. Semuanya itu menunjang terjadinya keadaan “3 terlambat”. m4elahirkan dan menyusui. karena MOP jauh lebih mudah dilaksanakan dan lebih kecil risikonya dibandingkan MOW . sehingga tidaklah mengharankan bahwa AKI masih sekitar 375 per 100. sedangkan implant –yang dalam masa krisis ekonomi dirasakan terlalu mahal – 6%. Seperti dikemukakan di atas. Hal ini lebih nyata dari perbandingan antara MOP dan MOW (0. Kesenjangan antar-kalangan sosial cukup lebar. yang juga mengarah kepada kekerasan terhadap perempuan dan perlakuan yang merendahkan derajat perempuan.

yang juga sekaligus menunjukan bahwa kesadaran berKB pada pasangan yang paling membutuhkan KB pada pasangan yang paling membutuhkan KB belum cukup mantap. terutama pada penderita ketergantungan napza dan antara ibu dan janin/bayi baru lahir makin merisaukan. Metoda diagnosis HIV/AIDS yang sangat mahal menuntut program untuk menggunakan PMS sebagai predictor terhadap risiko penularan HIV/AIDS. Kendala yang ditemukan dalam upaya tersebut antara lain: 22 . yang sering dikaitkan dengan profesi tertentu. yang bergantiganti pasangan seksual. PMS merupakan penyakit yang telah lama dikenal. penularan HIV/AIDS melalui jarum suntik. Pencegahan dan Penanggulangan PMS. Akibatnya. termasuk HIV/AIDS Penderita PMS kebanyakan dari kelompok umur 20-40 tahun. masih banyak ditemukan kehamilan yang tidak diinginkan dan mengarah kepada tindakan aborsi yang tidak aman. yng belum dapat disembuhkan dan akan berakhir dengan kematian. Prwevalensi PMS tinggi pada kelompok dengan berisiko. Pelayanan pencegahan dan penanggulangan PMS di tingkat pelayanan dasar dewasa ini baru dalam tahap pengembangan. Selain itu. banyak wanita berisiko tinggi terhadap penularan PMS. namun sejak pertengahan tahun 198-an mendapat perhatian besar karena munculnya pandemi HIV/AIDS. bila pasangannya mempunyai partner seksual ganda. dsb.Need hanya 9%. yaitu dengan menggunakan pendekatan sindrom melalui pelayanan KIA/KB dan kewaspadaan umum dalam pencegahan infeksi. misalnya pekerja seks komersial. sehingga perlu perhatian pula. Hal ini dilatarbelakangi oleh dominasi pria atau subordinasi wanita di masyarakat. 4. walaupun ada penderitaan pada usia yang lebih muda atau tua. supir truk. Seseorang yang menderita PMS mempunyai risiko empat kali lebih besar untuk tertulari HIV/AIDS. Sebagai akibatnya. pelaut. Perwempuan berada pada pihak yang lemah ketika menuntut hubungan seksual yang aman.

Kehamilan tak dikehendaki. Pengetahuan tentanh kesehatan reproduksi remaja relative rendah. yaitu sekitar 25% dan 35%.alat dan bahan abis pakai. namun klejadian KEK dan anemia relative masih tinggi. yang seringkali menjurus kepada aborsi yang tidak aman dan komplikasinya. pelecehan seksual dan transaksi seks komersial. yang mrnggambarkan ketidaksiapan remaja puteri secara fisik untuk menghadapi kehamilan dikemudian hari. karena masalah-masalah diatas biasanya diawali oleh sikap dan perilaku yang tidak sehat. Penularan PMS. Tindak kekerasan seksual. termasuk HIV/AIDS. Lebih mudah berkomunikasi dengan sebayanya atau pihak yang dapat memahami kebutuhan remaja. tak dapat dipisahkan dari penanganan kesehatan remja segara utuh. 23 . Kesehatan Reproduksi Remaja Karakteristik remaja antara laindilatarbelakangi oleh kenyataan sebagai berikut:  Masa remaja merupakan masa yang penuh pencarian identitas dalam proses menuju kedewasaan. dan ketidak-tuntasan dalam pengobatan. Hambatan sosiobudaya yang sering mengakibatkan pengobatan hanya sepihak saja. yang sering terkait dengan ketergantungan napza dan hubungan seksual bebas.   Dalam menangani masalah kesehatan reproduksi remaja. yang sering membingungkan remaja.   Terbatasnya kemampuan pelaksana pelayanan ditingkat dasar. Tidak tersedianya obat. karena isteri tidak berani mengajak suaminya berobat. seperti pemerkosaan. 5.     Masalah pokok kesehatan reproduksi remaja dapat dikelompokan sebagai berikut:   Kehamilan dan persalinan usia muda dengan segala akibatnya. Terjadi berbagai perubahan fisik dan psikis. Keinginan untuk diakui sebagai bagian dari kelompoknya.

nifas dan kunjungan neonatral) Pertolongan pertama pada kasus obstetri-neonatral dan rujukannya. termasuk tindakan bedah besar.  Pelayanan di Tingkat Rujukan Primer Pelayanan kebidanan dasar (antenatal. Tabel 1. termasuk pengenalan tanda bahaya dan persiapan keluarga Pembinaan Pelayanan di tingkat desa.  Pelayana di Tingkat Puskesmas Pelayanan kebidanan dasar (antenatal. nifasdan kunjungan neonatal) Pertolongan pertama dan penanganan kasus obstetri-neonatal. termasuk pengenalan tanda bahaya dan persiapan keluarga. Penganan kasus rujukan pelayanan KB. Rujukan pelayanan KB      Konseling KB Pelayanan KB. termasuk pelayanan pasca abortus dan rujukannya. sesuai dengan kemampuan. termasuk KB postpartum. 24 . Pembinaan pelayanan di tingkat puskesmas. Penanganan semua kasus rujukan dari puskesmas dan desa. Konseling gizi. Pemberdayaan keluarga dalam kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Konseling kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Konseling gizi. sesuai dengan kewenangan tiap tingkat.D. persalinan. persalinan. kecuali implant dan metode operatif Pertolongan pertama efek sampng KB. termasuk KB postpartum. Penanganan komplikasi dan kegagalan KB serta penanganan efek samping KB. Pemberdayaan keluarga dalam kesehatan ibu dan bayi baru lahir. PKRE dilaksanakan di tiap tingkat pelayanan. Konseling kesehatan ibu dan bayi baru lahir.              Keluarga Berencana     Konseling KB Pelayanan KB. persalinan. Pertolongan pertama pada komplikasi dan kegagalan KB serta penanganan efek samping KB Rujukan pelayanan KB Pembinaan di tingkat desa      Konseling KB Pelayanan semua jenis metoda KB. Konseling gizi. PELAKSANAAN PKRE PADA TIAP PELAYANAN Dalam penerapannya. Pembinaan pelayanan di tingkat puskesmas. Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial di Tiap Tingkat Pelayanan Kesehatan Konponen PKRE Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir Pelayanan di Tingkat Desa  Pelayanan kebidanan dasar (antenatal. nifas dan kunjungan neonatal) Penanganan kasus kegawatan obstetrineonatal. sesuai dengan kemampuan. Pada table di bawah ini dapat dilihat PKRE minimal di tiap tingkat pelayanan kesehatan.

Pemeriksaan fisik untuk menemuka anemia. Konseling dan informasi tentang kesehatan remaja dan reproduksi remaja (Family6 life and life skill Education). Pemeriksaan fisik untuk menemuka anemia. dan rujukannya.KEK dan gangguan lainnya. termasuk HIV/AIDS Pelayanan di Tingkat Desa Pelayanan di Tingkat Puskesmas  Konseling tentang pp PMS. bila mungkin juga untuk HIV/AIDS.KEK dan gangguan lainnya.termasuk HIV/AIDS Promosi untuk penggunaan kondom untuk perlindungan. Merujuk kasus reproduksi remaja. Merujuk kasus PMS          Kesehatan Reproduksi Remaja  Konseling dan informasi tentang kesehatan remaja dan reproduksi remaja (Family6 life and life skill Education).termasuk HIV/AIDS Promosi untuk penggunaan kondom untuk perlindungan.  Konseling dan informasi tentang kesehatan remaja dan reproduksi remaja (Family6 life and life skill Education). Pemeriksaan laboratorium untujk PMS. Pelayanan kesehatan remaja melalui jalur sekolah.          Untuk memperjelas keterpaduan antar-pelayanan tersebut dapat dilihat contoh Bagan Alur Pelayanan seperti pada lampiran 25 . Pengembangan kerjasama dengan sekolah setingkat SMP/SMU di ibu kota kabupaten Pelayanan komprehensif untuk kesehatan reproduksi remaja. Deteksi PMS melalui pelayanan KIA/KB dengan pendekatan sindrom. Deteksi PMS melalui pelayanan KIA/KB dengan pendekatan sindrom. Penanganan kasus reproduksi remaja.termasuk HIV/AIDS Promosi untuk penggunaan kondom untuk perlindungan Diagnosis dan pengobatan kasus PMS. Pemeriksaan kesehatan bagi remaja. Merujuk kasus PMS ke RS Kabupaten  Pelayanan di Tingkat Rujukan Primer Konseling tentang pp PMS. sesuai dengan kemampuan.Komponen PKRE Pencegahan dan Penanggulngan PMS.  Konseling tentang pp PMS.

untuk memantau kemajuan program kesehatan reproduksi (esensial) sebagai berikut. dengan membandingkan pelaksanaan pelayanan terhadap standar pelayanan yang berlaku. secara komposit. 3. 2. Di bawah ini adalah contoh beberapa indicator strategis yang dapat digunakan. Presentase kehamilan dengan keadaan “4 terlalu”. 26 . Kesehatan Reproduksi Remaja:  Trend prevalensi kasus kesehatan rep[roduksi pada remaja. 5. Pencegahan dan penanggulangan PMS. namun pelu dipilih beberapa indicator yang dipandang strategis dalam menggambarkan keadaan.V. Keluarga Berencana:   Cakupan pelayanan KB (CPR). Banyak indicator yang dapat digunakan dalam memantau kemajuan program kesehatan reproduksi. Kesehatan ibu dan bayi baru lahir:   Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan. Pemantauan pelayanan kesehatan reproduksi bersifat lebih teknis dan sangat terkait dengan kualitas pelayanan. Proporsi penanganan kasus komplikasi obstetric terhadap persalinan total. termasuk HIV/AIDS:  Trend prevalensi kasus PMS.PEMANTAUAN DAN EVALUASI Pelaksanaan program dan pelayanan kesehatan reproduksi perlu dipantau dan dievaluasi secra berkala. Kesenjangan antara keduanya dijadikan masukan untuk penyusunan rencna spesifik dalam upaya peningkatan pelayanan. 1. Pemantauannya dilaksanakan melalui supervisi teknis.

27 . Sejalan dengan era desentralisasi. Implementasi PKRE perlu dilaksanakan secara pragmatis. seyogianya daerah dapat menerjemahkan dan mengembangkan upaya kesehatan reproduksi sesuai dengan prioritas masalah di pripinsi masing-masing.VI. Namun perubahan pendekatan yang dihembuskan sejak ICPD 1994 hendaknya tetap dapat ditangkap esensinya. serta pengembangan program perlu dilakukan di aiandonesia. lintas sektor dan lintas disiplin ilmu dengan memperhatikan kesetaraan dan keadilan jender. namun minimal meliputi paket pelayanan kesehatan reproduksi esensial. Msalah kesehatan reproduksi merupakan masalah yang kompleks dan memerlukan penanganan secara lintas program. khususnya dalam aspek kesehatan reproduksi. PENUTUP Sejak ICPD 1994 berbagai penyesuaian dan pergeseran pendekatan. yaitu untukj meningkatkan kualitas hidup manusia. Berbagai masalah kesehatan reproduksi berkaitan erat dengan isu tersebut dan hak reroduksi bagi wanita. karena selalu ada keterbatasan berbagai sumber sementara upaya yang dilakukan sebenarnya bukan hal yang sama sekali baru. Keterkaitan yang erat antara masalah kesehatan reproduksi dengan masalah di luar ruang lingkup bidang kesehatan ini menuntut adanya upaya koordinasi yang intensif. karena pada akhirnya bertujuan mulia.

P ayud ara .K eutun gan AS I .Umu r ke hamiala n dan HPHT/HTP .Trimester I + .Gizi .Ku njun gan berikut nya Pena nganan Trimester I I : . Urin e PELAYAN AN : TTD   TT Nasehat & Konselin g (sesua i umur keh amilan) Trimeste r I : . yang pernah diderita . gig i & OR) . paru. re fleks lu tut Kehamilan .I. yang sedang diderita K eluh an sela ma kehamilan PEMERIKSAAN FISIK : Umum : TB.Umu r K ehamila n . Seks sela ma keh amilan . BB.Riwayat kehamilan & pe rsa linan  Stat us ke s . TD.riwayat K tP . DJJ .Resiko penularan P MS .Tanda-tanda baha ya .Persiapan keluarga da lam me nghadapi persa linan d an kemun gkinan ada nya komplikasi ga ngg uan yang ditemukan/rujukan 28 . jantun g. kon jun gtiva : ben gka k pa da tangan/waja h.Perawatan ba yi ba ru lahir .Riwayat pen y.Trimester II + .TFU.Riwa yat KB (cek “4 te rlalu”) .Vu lva :a.Riwayat pen y.Hub.KB post pa rt um Trimester I II : .Hig iene diri (kebersiha n. tan da PMS  Lab oratoriu m : Hb.BAGAN ALUR PELAYANAN ANTENATAL KUNJUNGAN PERTAMA IBU ANA MNESIS I dentitas St atu s Ke spro : .Istirahat .P ersiapan persalin an .

Perawatan bayi baru lahir .Istirahat & K erja . gigi & OR) . per vaginam .Keutungan ASI .Makanan yang dikonsumsi .Perdarahan.Perkembangan keluhan y.Kunjungan berikutnya  Penanganan Trimest er II : . PMS  Adanya t anda bahaya : .Janin t idak bergerak  Upaya pencegahan : .Vulva :a.Trimester II + .Trimester I + .I .K tp.Payudara  Laboratorium : Hb.Adakah keluhan baru  Perawatan diri : . Seks selama kehamilan .I.Higiene diri (kebersihan. gigi & OR) . Urine at as indikasi PELAYANAN :  TTD   TT Nasehat & Konseling (sesuai umur kehamilan) Trimester I : . konjungtiva bengkak : . tanda PMS .Hub. refleks lutut  Kehamilan .I stirahat .TTD .Higiene diri (kebersihan.Persiapan keluarga dalam menghadapi persalinan dan kemungkinan adanya komplikasi gangguan yang ditemukan/rujukan 29 . DJJ . BB. TD.KB post partum Trimest er III : .Pusing hebat & bengkak pada wajah/tangan .BAGAN ALUR PELAYANAN ANTENATAL HAMIL KUNJUNGAN ULANG A NAMN ESIS :  Keluhan : .Leopold I-IV pada tangan/ wajah.Suntik TT   Umur kehamilan menurut perkiraan Ibu Hal-hal yang ingin ditanyakan PEMERIKSAAN FISIK :  Umum : TB.G izi .Persiapan persalinan .Tanda-tanda bahaya .TFU.

Le opold I-IV. paru Inspe ksi Vulva : . jan tung. refleks lutut Abdom en : TFU. DJJ. ketuba n dan show) Adanya tanda-tanda komplikasi persa lin an PEMERIKSAAN FISIK :    Umum : TD.Ada/t idak ada perdarahan per vaginam.BAGAN ALUR PELAYANAN PERSALINAN IBU HAMIL AKAN BERSALIN ANAMNESIS : (pa da Kead aan mend esak anamne sis dapat dilakukan be rsama den gan pemeriksaan fisik Identitas       (bila belum pe rnah datang) Pemeriksaan ke hamilan yang pernah d ila kukan dan o leh siapa Riwayat keh amilan yang dan p ersalinan yang lalu Riwayat keh amilan sekarang Riwayat kesehatan Ibu Adanya tanda-tanda persalinan (HIS. b engka k pada ta ngan/wajah. Konjungtiva.Tand a-tn da PMS  Pemeriksaan dalam (bila tida k ada perdara hn per vag inam) PERTOLONGAN PERSALINAN : dengan memperhatikan pence gahan umum terhad ap infe ksi Pim pin Pantau pe rsalinan p ersalinan de ngan partograf ibu bayi b aru lahir Perawatan Perawatan KONSELING     Perawatan ibu Perawatan ba yi baru lahir T nda bahaya pada ibu da n pada bayi ba ru lahir a KB p ost partum 30 . Bila ada perdarahan pervagnam pe meriksaan d alam h arus dilakukan di kamar ope rasi sehingga perlu diujuk .

Gangguan lain (kejang. Jantung.Ad anya bengkak. reflex bayi T anda penularan PMS : . jantung. paru.Masalah yang dihadapi  .T anda-tanda PMS/infeksi lainnya  PEMERIKSAAN FISIK : Keadaan Umum : BB. paru.Cacat Tubuh  Fisik lainnya sesuai standar Pelayanan PELAYANAN :  Konseling : . beng kak pada tangan/wajah. Konjuctiva. sulit dinaikkan kembali .Sulit bernafas . gerak.Perawatan diri .Ad anya demam . TTD Konseling kepada ibu tentang perawatan bayi Bila ada kelaina n sege ra d irujuk  *) Pelayanan memperhatikan pencegahan umum terha dap infeksi 31 .Tiba-tiba tidak dapat menyusu .Perwatan b ayi .Pemberian ASI .BAGAN ALUR PELAYANAN NIFAS KUNJUNGAN NIFAS IBU IBU AN AMNESIS Keluhan ANA MNESIS : (ditanyakan kepada ibu) Gangguan yang ditemukan : .Istirahat & kerja . reflex lutu t   Abdomen : uterus keras/lunak Vulva : .KB post partum PELAYANAN :   Pemberia n obat-obatan sesuai d engan kebutuha n.Mata bengkak dan bernanah  Perawatan diri : .Kulit menjadi biru . nyeri . payudara.Higiene  Bila persalinan bukan oleh nakes .Jumlah pe rdarahan .Warna dan bau lokhia .Tidur terus dan gerak kurang .Perawatan tali pusat .Mata .Kulit dan mata bayi menjadi kuning .Gangguan pada saat/segera setelah lahir Perawatan bayi : .Riwayat persalinan . pusing.Gangguan lain Bila persalin an bukan oleh nakes . TD.Banyaknya perdarahan .Makanan yang dikonsumsi .Cara menjaga suhu tubuh . suhu tub uh. kelainan tubuh.Suhu tubh dingin. kuning) PEMERIKSA AN FISIK : Umum : BB.

Paska Keguguran 4 “terlalu” resiko penularan PMS Ktp KONSEL IN G PRA PELAYA NAN : Informasi KONSELING PRA PELAYANAN :  Penjelasan ringkas tentang berbagai tentang penyebab & metode KB  cara mengatasi keluhan yang dirasakan  Pemantapan pemilihan metode KB sesuai dengan keinginan & kondisi (”inform concent”) Membahas dengan klien ttg kecocokan metode KB yang diakai PEMERIKSAAN FISIK :    PEM ERIKSAAN FISIK :  Um um (tanda-tanda Ktp) Organ reproduksi Gejala PMS Umum : Sta tus gizi (anemia. Reproduksi Hamil/tidak hamil. KEK) T an da-ta nda Ktp  O r ga n r e pr od u ksi G e ja la -g e ja la P M S PELAYANAN KONTRASEPS I:  Informasi mengenai hasil pem eri ksaan Kel ayakan metode yang dipilih dikai tkan dengan kondisi kesehatan calon akseptor PELAY ANAN KONTRASEPSI:  Informasi mengenai hasil pemeriksaan Pemberian/pelayanan ulang Pelayanan penanganan keluhan/ di rujuk     Pem berian pel ayanan + penjel asan tindakan yang dilakukan KONSE LING PASKA P ELAYANAN  KONSELING PAS KA PELAY ANAN  Informasi lengkap tentang metode KB yang diberkan Jadwal kunjungan ulang Hal-hal yang perl u di lakukan ol eh klien untuk m engatasi keluhan Jadwal kunjungan ul ang   *) Pelayanan memperhatikan pencegahan umum terha dap infeksi 32 .BA GA N ALUR PELAYANA N KB KLIEN Calon Akseptr KB Akseptor KB AN AMNESIS : Identitas  AN AMNESIS : Statu s  Metode KB yang d iiginkan/yang pernah dipakai Status kesehatan : Riwayat penyakit yang pernah diderita Penyakit yang sedang diderita Hamil/tidak hamil. paska-keguguran 4 “terlalu” resiko penularan PMS Ktp   Status Kespro : -  metode KB sekarang Tujua n datang & keluhan yang ada Status kesehatan Riwayat penyakit yang pernah diderita Penyakit yang sedang diderita Status kes.

hal ya ng perlu d ihindari : nap za. se rta pe rgau lan be bas Hubunga n antara laki-laki & perempu an ke hamilan KB PMS/HIV/AI DS Fisik Psikis Kekerasan Pergaulan antara laki-laki & p erem puan  Apa ya ng sud ah diketahui ttg prilaku hidup sehat bagi rema ja -  Apa ya ng sud ah diketahui tentang p ersiapa n berkeluarga -  M asalah yang dihadapi - PEM ERIKSAAN FISIK  Umum : T da-ta nda anem ia an T da-ta nda KEK an T da-ta nda Ktp an Semua dengan keluhan dirujuk ke Puskesmas/Petuga s Ke sehatan  Khusus : - PELAYANAN KONSELING     Keseha ta n Reproduksi Re maja Perilaku hidup sehat bagi remaja Persiapa n berkeluarga Konseling untuk mengatasi ma salah ya ng dih adapi ditangani dirujuk ke fasilitas ke sehatan yang sesuai bila tidak d apat 33 .BAGAN ALUR PELAYANAN KESEHATAN REMAJA KONTAK REMAJA ANAMNESISI   Id entitas Apa ya ng sud ah dke tahui te ntang kes. reproduksi re maja : Perubah an fisik & psikis Masalah yang m ungkin timbul Cara mengha dapi m asalah Pem elihara an ke sehatan diri (gizi. hygiene) Hal . termasuk rokok dan minuman keras .

Anjuran untuk mempertahankan kehamilan .Penilaian umum fisik & psikis Pemeriksaan fisik kehamilan (sama dengan Bagan Alur Pelayanan Antenatal) Bila perlu dilakukan test kehamilan   PELAYANAN KONSELING   Sama dengan Bagan Alur Pelayanan Antenatal Konseling yang berkaitan dengan kehamilan di luar nikah .BAGAN ALUR PELAYANAN KESEHATAN REMAJA REMAJA HAMIL ATAU TERSANGKA HAMIL ANAMNESIS          Identitas Kapan melakukan hubungan seksual Resiko penularan PMS Perkiraan umur kehamilan Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) Keluhan yang dirasakan Riwayat KtP Dukungan keluarga/orang terdekat Sikap penderita terhadap kehamilan saat ini PEMERIKSAAN FISIK  Umum : .Membantu mengatasi masalah yang timbul akibat kehamilannya Percobaan pengguguran kandungan Pengaturan kelangsungan pendidikan Hubungan dengan pasangan seksual Hubungan dengan keluarga Persiapan menjadi orang tua 34 .

KETERANGAN TD = Tekanan Darah DJJ = Denyut Jantung Janin TFY = Tinggi Fundus Uteri BB = Berat Badan KB = Keluarga Berencana ASI = Air Susu Ibu PMS = Penyakit Menular Seksual KtP = Kekerasan terhadap Perempuan KEK = Kekurangan Energi Kronis 35 .

Catatan : 35 .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->