Anda di halaman 1dari 67

GAMBARAN PENURUNAN TINGGI FUNDUS UTERI PADA IBU NIFAS

KARYA TULIS ILMIAH Disusun Sebagai Salah Satu Tugas Akhir Program Diploma III Kebidanan

Oleh : DWI ENDAR SARI NPM. D200900924

AKADEMI KEBIDANAN GRAHA MANDIRI CILACAP Juli 2012

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Karya Tulis Ilmiah dengan judul Gambaran Penurunan Tinggi Fundus Uteri pada Ibu Nifas telah disusun oleh penulis sesuai dengan petunjuk penulisan Karya Tulis Ilmiah dan telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan pada panitia sidang Karya Tulis Ilmiah bagi Mahasiswa Akademi Kebidanan Graha Mandiri Cilacap.

Cilacap, 12 Juli 2012

Pembimbing I

Pembimbing II

Mariah Ulfah , S.Si. T NPP. 19811121 2010 006 02

Intan Dyah R, S.Si. T NPP. 19830521 2010 011 02

ii

PENGESAHAN

Karya Tulis Ilmiah dengan judul: Gambaran Penurunan Tinggi Fundus Uteri pada Ibu Nifas, telah dipertahankan dihadapan panitia ujian Karya Tulis Ilmiah pada Akademi Kebidanan Graha Mandiri Cilacap, pada hari Jumat tanggal, 06 Juli 2012.

Cilacap, 12 Juli 2012

Penguji I

Penguji II

Wiwit Desi Intarti, M.Keb NPP. 19821208 2010 005 02

Intan Dyah Rahmawati, S.Si.T NPP. 19830521 2010 011 02

Mengetahui, Direktur Akademi Kebidanan Graha Mandiri Cilacap

Uti Lestari, S. Si.T.,MH.Kes NPP. 19631025 2010 002 02

iii

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam Karya Tulis Ilmiah dengan judul Gambaran Penurunan Tinggi Fundus Uteri Pada Ibu Nifas, ini benarbenar hasil karya sendiri, bukan merupakan jiplakan dari Karya Tulis Ilmiah orang lain baik sebagian atau temuan orang lain yang terdapat dalam Karya Tulis Ilmiah ini dikutip atau dirujuk berdasarkan Kode Etik Ilmiah.

Cilacap, 06 Juli 2012

Dwi Endar Sari NPM. D2009 00924

iv

KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Alloh SWT atas nikmat dan hidayahnya sehingga Penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul Gambaran Penurunan Tinggi Fundus Uteri pada Ibu Nifas. Penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini dapat terselesaikan berkat petunjuk dan bimbingan serta melibatkan berbagai pihak sehingga hambatan dan kesulitan yang dihadapi oleh penulis dapat diatasi, tidak berlebihan kiranya pada kesempatan ini Penulis menyampaikan terima kasih atas dorongan dan bimbingan kepada: 1. Uti Lestari, S.Si.T, MH.Kes selaku Direktur Akademi Kebidanan Graha Mandiri Cilacap. 2. Naomi Parmila HS, M.Keb, Pudir I Akademi Kebidanan Graha Mandiri Cilacap. 3. Mariah Ulfah, S.Si.T dan selaku Dosen Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan arahannya selama penulisan Karya Tulis Ilmiah ini. 4. Intah Diah Rahmawati, S.Si.T dan selaku Dosen Pembimbing 11 yang telah memberikan bimbingan dan arahannya selama penulisan Karya Tulis Ilmiah ini. 5. Segenap Dosen Akademi Kebidanan Graha Mandiri Cilacap yang telah mentransfer ilmunya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Karya Tulis Ilmiah ini.

6.

Kedua Orang Tua tercinta yang telah memberikan doa dan dukungan baik secara moral maupun materiil.

7. Adikku tersayang dan seluruh keluarga yang telah memberikan dukungan dan doa 8. Rekan rekan mahasiswi Akademi Kebidanan Graha Mandiri Cilacap. 9. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini. Akhirnya penulis mengharapkan semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang terkait dengan penelitian ini, Amin.

Cilacap, 06 Juli 2012

Dwi Endar Sari NPM. D2009 0924

vi

SARI

Sari,Endar,Dwi.2012.Gambaran penurunan tinggi fundus uteri. Karya Tulis Ilmiah ini disusun sebagai Tugas Akhir Program diploma III Akademi Kebidanan Graha Mandiri Cilacap. Pembimbing I:Mariah Ulfah S.Si.T Pembimbing II:Intan Dyah.R S.Si.T Kata kunci:Penurunan tinggi fundus uteri pada ibu nifas. Latar belakang masalah: Angka Kematian Ibu (AKI) pada nifas di dunia mencapai 500.000 jiwa setiap tahun. kematian maternal paling banyak adalah pada waktu nifas sebesar 49,125% dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama. Cakupan pelayanan pada ibu nifas tahun 2009 yaitu 80,29% menurun bila dibandingkan pencapaian cakupan tahun 2008 (92,94%) dan dibawah target SPM tahun 2015 (90%). Cakupan tertinggi adalah Kabupaten Grobogan (102,79%) dan terendah Kabupaten Tegal (25,34%). Dari 35 Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah masih ada 18 Kabupaten/Kota yang belum mencapai.1)Identifikasi Masalah Sesuai dengan Latar belakang Masalah dan hasil pengamatan yang dilakukan di RSUD Kabupaten Cilacap, peneliti ingin membuktikaan melalui penelitian dengan judul Gambaran Penurunan tinggi fundus uteri pada ibu Nifas.2)Rumusan Masalah:Bagaimana gambaran penurunan tinggi fundus uteri pada ibu nifas di RSUD Cilacap pada bulan November 2011 sampai bulan Desember 2011?.3)Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk menemukan bukti empiris yang Ingin mengetahui gambaran penurunan tinggi fundus uteri pada ibu Nifas.4) Manfaat Penelitian.a)Manfaat Teoritis:Mengembangkan ilmu kebidanan secara umum dan khususnya tentang. Gambaran penuruna tinggi fundus uteri pada ibu nifas. Kerangka Teori :1)Pengertian masa nifas.2)etiologi 3)Tujuan asuhan masa nifas.3)Faktor yg mempengaruhi masa nifas.4)Penatalaksanan pasca persalinan.6)TFU Masa Nifas.7)TFU yang mempengaruhi Involusi uteri.8)TFU yang menghamabat involusi uterus.9)Penelitian Terdahulu. 10) Kerangka Berfikir Tempat dan Waktu Penelitian : Rumah Sakit Umum Daerah Cilacap. Jl. Gatot Subroto 133 Telp. (0282) 534343 Kabupaten Cilacap Propinsi Jawa Tengah pada bulan November 2012 sampai dengan Desember 2012.Metode Penelitian adalah penelitian deskritif. Metode penelitian deskritif adalah suatu metode penelitian:yang dilakukan dengan tujuan utama untuk menggambarkan atau mendeskrifsikan tentang suatu keadan secara obyektif (Notoatmodj, 2002). Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kejadian penurunan tinggi fundus uteri pada ibu nifas di RSUD Cilacap Jl. Gatot Subroto Kabupaten Cilacap bulan November 2011 - Desember 2011.1)Teknik Pengambilan Sampel Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu nifas yang dirawat di RSUD Cilacap sebanyak 30 pasien.2) Instrumen Penelitian:Instrumen penelitian ini dapat menggunakan lembar pengumpulan data untuk mencatat data-data sekunder yaitu datadata yang diambil dari buku register nifas dan alat penelitian instrumen yang digunakan medlin.3)Teknik Analisa DataSetelah selesai mengumpulkan data maka selanjutnya dilakukan pengolahan data yang telah dikumpulkan secara deskritif dengan langkah Simpulan:Berdaasarkan hasil penelitian angka penurunan tinggi fundus uteri pada kelompok umur ibu pada ibu nifas di RSUD Cilacap periode November 2011 sampai dengan Desember 2011 diperoleh simpulan sebagai berikut:1)Terdapat Gambaran rata-rata prosentase tinggi fundus uteri yang sesuai selama 5 hari yaitu 31,94%2)Terdapat Gambaran rata-rata prosentase tinggi fundus uteri yang tidak sesuai selama 5 hari yaitu 70,06% Saran:1)Bidan:Hasil penelitian ini dapat sebagai bahan masukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat tentang penurunan Tinggi Fundus Uteri.2)ibu nifas: hendaknya meningkatkan pengetahuan khususnya Penurunan Tinggi Fundus Uteri.3)Menambah wawasan dan pengetahuan serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya Penurunan Tinggi Fundus Uteri pada ibu nifas.

vii

ABSTRACT

Sari,Endar,Dwi.2012.The Outlook of the Decreasing Uterus Fundus Height. This research is arranged as a Final Project of Diploma III Program of Graha Mandiri Cilacap Midwifery Academy. Advisor I: Mariah Ulfah S.Si.T Advisor II: Intan Dyah.R S.Si.T Key Words:Decreasing, Height, Uterus Fundus, parturition Background of the Study: Maternal Mortality Rate (AKI) in the parturition is up to 500.000 people every year in this world. The most frequent maternal mortality in parturition is up to 49.125% and 50% happen in the first 24 hours. The service coverage of maternal parturition is decreasing up to 80.29% in 2009 compared with 2008s coverage (92.94%) and it is under the SPM target of 2015 (90%). The highest coverage is Grobogan Regency (102.79%) and the lowest is Tegal Regency (25.34%). From 35 regencies in Central Java, there are 18 regencies that have not met their target.1)Problem Identification: Based on the background of the study and the observation result conducted in General Hospital of Cilacap Regency, the researcher is going to prove by the research entitled The Outlook of the Decreasing Uterus Fundus Height in Parturition.2)Research Problem: How is the outlook of the decreasing uterus fundus height in parturition in Cilacap Regency General Hospital from November 2011 until December 2011? 3)Research Objectives: This research is aimed to find the empirical evidence in finding out the outlook of the decreasing uterus fundus height in parturition 4) Research Benefit a)Theoretical benefit:Developing the obstetrics in general especially about the outlook of the decreasing uterus fundus height in parturition. Framework of theory :1)The definition of Parturition 2)Etiology 3)The purpose of parturition education 3)Factors influencing the Parturition 4)Post-Natal Technical Direction 6)Parturition TFU 7)TFU influencing Uterus Involution.8)TFU inhibiting Uterus Involution.9)preview of Related Research. 10) Framework of Thinking Research Location and Time: General Hospital of Cilacap Regency. Jl. Gatot Subroto 133 Telp. (0282) 534343 Kabupaten Cilacap Propinsi Jawa Tengah from November 2012 until December 2012. The research method is descriptive. Descriptive research is a method of the research which is applied with the main purpose to describe or define a condition objectively (Notoatmodj, 2002). This research is to figure out the decreasing of uterus fundus height in parturition in General Hospital of Cilacap Regency Jl. Gatot Subroto from November 2011 until December 2011.1)The technique of Population Sampling is generalized area which consists of object and subject that have particular quality and characteristic defined by the researcher to be analyzed and concluded. The population in this research is all maternal parturitions in Cilacap General Hospital (30 patients).2) The research Instrument: This research uses data collection sheet to record secondary data taken from parturition register book and the research instrument used by medic. 3)The technique of Data Analyzing: having finished collecting the data, the next step is processing the data collected descriptively with some steps. Conclusion:Based on the research of decreasing of uterus fundus height in parturition in General Hospital of Cilacap Regency from November 2011 until December 201, it can be concluded that :1) There is the outlook of rate percentage of the proper uterus fundus height in five days up to 31.94%. 2) There is the outlook of rate percentage of the improper uterus fundus height in five days up to 70.06% Suggestion:1)Midwives:The result of the research can be used as a consideration in developing the service quality to the society about the decreasing of Uterus Fundus Height.2)Maternal Parturition: It is better to developing the knowledge about the decreasing of Uterus Fundus Height.3)Enhancing knowledge and education and advance the societys awareness of the importance of the decreasing of Uterus Fundus Height in maternal parturitions.

viii

DAFTAR ISI
Halaman HALAMAN JUDUL PERSETUJUAN PEMBIMBING PENGESAHAN PERNYATAAN KATA PENGANTAR SARI ABSTRACT DAFTAR ISI DAFTAR BAGAN DAFTAR TABEL DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUHAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1.2 Identifikasi Masalah 1.3 Rumusan Masalah 1.4 Tujuan Penelitian 1.5 Manfaat Penelitian BAB II KERANGKA TEORI DAN HIPOTESIS 2.1 Kerangka Teori 2.1.1 Landasan Teori a. Pengertian Masa Nifas 7 7 7 1 4 5 5 5 i ii iii iv v vii viii ix xi xii xiii

ix

b. Gambaran Klinis c. Etiologi d. Tujuan Asuhan Masa Nifas e. Faktor Yang Mempengaruhi Masa Nifas f. Penatalaksanan kebidanan Pasca Bersalin g. Tinggi Fundus Uteri Masa Nifas

7 13 13 14 16 18

h. Faktor yang mempercepat involusi uterus................ 20 i. Faktor Yang menghambat involusi uterus........... 2.2.1 Penelitian Terdahulu................................................. 2.1 Kerangka Berpikir BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.1.1 Tempat Penelitian 3.1.2 Waktu penelitian 3.2 Metode Penelitian 3.3 Teknik Pengambilan Sample 3.3.1 Pengambilan Populasi 3.3.2 Pengambilan Sampel 3.3.3 Kisi-Kisi Instrumen Penelitian............................ 31 31 31 31 32 32 32 32 25 28 30

3.4 Instrumen Penelitian............................................ ............ 33 3.5 Teknik Analisa Data......................................................... 33 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Data Penelitian 35

4.2 Analisa Data 4.3 Pembahasan Hasil Penelitian 4.4 Keterbatasan Hasil Penelitian BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan 5.2 Saran KEPUSTAKAAN LAMPIRAN

36 38 47

48 48

xi

DAFTAR BAGAN

Halaman Bagan 2.2 Kerangka Berpikir ............................................................................. 30

xii

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 2.1 Kunjungan Masa Nifas............................................................... Tabel 2.2 Perubahan Tinggi Fundus Uteri Pada Masa Nifas...................... Tabel 4.1 Tabel Distribusi TFU Pada Ibu Nifas... 16 19 29 29

Tabel 4. 2 Data Responden Berdasarkan Karakteristik Paritas..............

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Data Ibu Nifas Lampiran 2 Wawancara

xiv

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian AKI juga merupakan salah satu target yang telah ditentukan dalam tujuan pembangunan Millenium Development Goals (MDGS) yang ke-5yaitu meningkatkan kesehatan ibu dimana target yang akan dicapai sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai resiko dari jumlah kematian ibu. Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2008.AKI di Indonesia masih cukup tinggi yaitu sebesar 248 per 100.000 kelahiran hidup, angka tersebut masih tertinggi di Asia, sementara target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sebesar 2261 per 100.000 kelahiran hidup. Penyebab terbesar kematian ibu yang terjadi pada masa nifas yaitu perdarahan 28%, eklampsi 24%, infeksi 11%, danlain- lain sebesar 11% (DepKes RI, 2008).AKI di Provinsi Jawa Tengah untuk tahun 2009 berdasarkan laporan dari Kabupaten atau Kota sebesar 117,02/100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut telah memenuhi target dalam indikator Indonesia sehat 2010 sebesar 150/100.000 kelahiran hidup. Kejadian AKI yang paling banyak adalah pada waktu nifas sebesar 49,12%, kemudian waktu bersalin sebesar 26,99%, dan waktu hamil sebesar 23,89%. Kematian ibu disebabkan karena eklamsi(28,76%), perdarahan (22,42%), infeksi (3,54%), dan lain- lain (45,28%) (DinKes, Prov.Jawa Tengah, 2009, p.13 14).

Angka Kematian Ibu (AKI) pada nifas di dunia mencapai 500.000 jiwa setiap tahun. kematian maternal paling banyak adalah pada waktu nifas sebesar 49,125% dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama. Cakupan pelayanan pada ibu nifas tahun 2009 yaitu 80,29% menurun bila dibandingkan pencapaian cakupan tahun 2008 (92,94%) dan dibawah target SPM tahun 2015 (90%). Cakupan tertinggi adalah Kabupaten Grobogan (102,79%) dan terendah Kabupaten Tegal (25,34%). Dari 35 Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah masih ada 18 Kabupaten/Kota yang belum mencapai Masa puerperium (masa nifas) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat reproduksi kembali seperti pra-hamil, lama masa nifas ini 6-8 minggu. (Mochtar, 1998). Beberapa perubahan fisiologis yang terjadi pada masa nifas yaitu terjadi pengerutan pada uterus yang merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil dengan bobot hanya 60 gram. Uterus mengalami perubahan paling besar pada akhir persalinan kala tiga, ukuran uterus kira-kira sebesar pada saat kehamilan 20 minggu dan beratnya 1000 gr, dan ukuran ini cepat mengecil sehingga pada akhir minggu pertama masa nifas beratnya kira-kira 500 gr. Involusio ini dapat dibuktikan oleh fakta bahwa pada pemeriksaan abdomen yaitu pada hari ke 12 uterus tidak teraba lagi, setelah itu involusio berlangsung lebih lambat (Williams,2006). Penyebab terbanyak dari perdarahan post partum tersebut yakni 50-60% karena kelemahan atau tidak adanya kontraksi uterus. terbanyak dari

perdarahan post partum tersebut yakni 50-60% karena kelemahan atau tidak adanya kontraksi uterus. Salah satu usaha yang dilakukan untuk mengembalikan perubahanperubahan yang terjadi pada masa hamil, persalinan dengan melaksanakan senam nifas agar kembali seperti semula seperti sebelum hamil. Manfaat senam nifas adalah memulihkan kembali kekuatan otot dasar panggul, mengencangkan otot-otot dinding perut dan perinium, membentuk sikap tubuh yang baik dan mencegah terjadinya komplikasi. Komplikasi yang dapat dicegah sedini mungkin dengan melaksanakan senam nifas adalah perdarahan post partum. Saat melaksanakan senam nifas terjadi kontraksi otot-otot perut yang akan membantu proses involusi yang mulai setelah plasenta keluar segera setelah proses involusi (Mochtar, 1998 ). Pada masa nifas, alat-alat genetalia interna maupun eksterna akan berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil. Perubahan-perubahan alat-alat genital ini dalam keseluruhannya disebut involusi (Wiknjosastro, 2005). Untuk mengembalikan kepada keadaan normal dan menjaga kesehatan agar tetap prima, senam nifas sangat baik dilakukan pada ibu setelah melahirkan Ibu tidak perlu takut untuk banyak bergerak, karena dengan ambulasi dini (bangun dan bergerak setelah beberapa jam melahirkan) dapat membantu rahim untuk kembali kebentuk semula pada akhir kala III persalinan, uterus berada di garis tengah kira-kira 2 cm di bawa umbilicus dengan bagian fundus bersandar pada promontorium sakralis. Dalam waktu 12 jam, tinggi fundus mencapai kurang lebih 1 cm diatas umbilikus. Dalam

beberapa hari kemudian, perubahan involusi berlangsung dengan cepat (Bobak, 2005). Abdomen, terutama uterus, harus diawasi secara teliti pada masa nifas. Pada hari pertama post partum, tinggi fundus uteri kira-kira satu jari dibawah pusat, setelah lima hari post partum menjadi sepertiga jarak antara simfisis kepusat dan setelah sepuluh hari fundus uteri sukar diraba diatas simfisis (Wiknjosastro, 2005). Berdasarkan kasus di RSUD Cilacap terdapat kesan bahwa masyarakat khususnya ibu nifas belum mengetahui penurunan tinggi fundus uteri untuk mempercepat proses involusi. Berdasarkan studi pendahuluan yang tersebut, penulis tertarik untuk mengambil judul Gambaran penurunan tinggi fundus uteri pada nifas . Peneliti mengambil studi pada ibu nifas di bangsal nifas selama 2 bulan. Peneliti memilih untuk meneliti pentingnya Penurunan tinggi fundus uteri pada ibu nifas karena penurunan TFU sangat penting untuk mengetahui atau mendeteksi ada atau tidaknya komplikasi pada ibu nifas.

1.2 Identifikasi Masalah Sesuai dengan Latar belakang Masalah dan hasil pengamatan yang dilakukan di RSUD Kabupaten Cilacap, peneliti ingin membuktikaan melalui penelitian dengan judul Gambaran Penurunan tinggi fundus uteri pada ibu Nifas.

1.3 Rumusan Masalah Bagaimana gambaran penurunan tinggi fundus uteri pada ibu nifas di RSUD Cilacap pada bulan November 2011 sampai bulan Desember 2011?

1.4 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menemukan bukti empiris yang berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut: Ingin mengetahui gambaran penurunan tinggi fundus uteri pada ibu Nifas di RSUD Cilacap pada bulan November 2011 sampai bulan Desember 2011.

1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Manfaat Teoritis Mengembangkan ilmu kebidanan secara umum dan khususnya tentang. Gambaran penuruna tinggi fundus uteri pada ibu nifas. 1.5.2 Secara Praktis Penemuan ini akan disampaikan atau ditujukan kepada bidan dan juga calon bidan agar dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak, terutama pada pelayanan ibu bersalin menjelang nifas. 1.5.2.1 Bidan, tenaga kesehatan terkait dan calon tenaga kesehatan sebagai bahan pertimbangan dan masukan untuk lebih meningkatkan kualitas layanan kesehatan kepada masyarakat.

1.5.2.2 Institusi Akademi Kebidanan Graha Mandiri Cilacap, sebagai bahan pertimbangan dalam upaya pengembangan dan bimbingan belajar kepada mahasiswa di Akademi Kebidanan Graha Mandiri Cilacap. 1.5.2.3 Ibu nifas dapat memperoleh pengetahuan mengenai pentingnya Keuntungan penurunan tinggi fundus uteri dan melaksanakanya. 1.5.2.4 Masyarakat, untuk menambah pengetahuan tentang Gambaran penurunan tinggi fundus uteri pada ibu nifas, sehingga dapat

meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya penurunan tinggi fundus uteri sebelum nifas bagi ibu nifas.

BAB II KERANGKA TEORI DAN HIPOTESIS

2.1 Kerangka Teori 2.1.1 Landasan Teori 1. Pengertian Masa nifas Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alatalat kandungan kembali seperti pra hamil (Rustam, 2002). Periode pasca partum adalah masa dari kelahiran plasenta dan selaput janin (menandakan akhir dari periode intrapartum) hingga kembalinya traktus reproduksi wanita pada kondisi tidak hamil (Varney, 2007). 2. Gambaran Klinis Perubahan yang terjadi selama masa nifas : a) Sistem Vaskuler Pada persalinan pervaginam kehilangan darah 300-500 cc, bila melalui S.C kehilangan darah dapat 2 kali lipat. Perubahan yang terjadi dari volume darah dan hemotokrit dan baru stabil setelah 4-6 minggu, setelah melahirkan short akan hilang dengan tiba-tiba volume darah ibu relatif akan bertambah.

b) Sistem Reproduksi 1) Involusi Uterus Uterus atau rahim yang berbobot 60 gram sebelum hamil secara perlahan-lahan bertambah besar hingga 1 kg selama masa kehamilan, dan setelah persalinan akan kembali ke keadaan sebelum hamil. Proses involusi uterus : a) Autolysis Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di dalam otot uterine. Enzim proteolitik akan

memendekkan jaringan yang telah sempat mengendur hingga 10 kali panjangnya dari semula selama kehamilan. b) Terdapat polymorph phagolitik dan macrophages didalam sistem vaskuler dan sistem limhatik c) Efek oksitosin (cara bekerjanya oksitosin) Penyebab kontraksi dan retraksi otot uterine sehingga akan mengkompres pembuluh darah yang menyebabkan akan mengurangi suplai darah ke uterus. Proses ini membantu untuk mengurangi situs atau tempat implantasi plasenta serta mengurangi perdarahan. Involusi uterus dapat dijlihat dari luar dengan memeriksa fundus uterus dari luar. Segera setelah TFU 2 cm dibawah pusat, 12 jam kemudian kembali 1 cm dibawah pusat,

kemudian menurun 1 cm setiap hari. Pada hari pertama sampai hari kedua setelah persalianan TFU 1 cm dibawah pusat. Pada hari 3-4 fundus uteri 2 jari dibawah pusat. Pada hari 5-7 TFU setengah pusat sympisis, hari ke-10 tidak teraba. 2) Involusi Tempat Plasenta Setelah persalinan tempat persalinan merupakan tempat dengan permukaan kasar, tidak rata dan kira-kira sebesar telapak tangan. Luka ini dengan cepat mengecil pada akhir minggu kedua hanya sebesar 3-4 cm, pada akhir nifas 1-2 cm. Penyembuhan luka bekas plasenta lekas sekali sembuh tidak menimbulkan parut. 3) Perubahan Pada Perineum, Vagina, dan Vulva Berkurangnya sirkulasi progesteron mempengaruhi otototot pada panggul, perineum, vagina dan vulva. Proses ini membantu pemulihan kearah elastisitas normal dari

ligamentum otot rahim. Ini merupakan proses bertahap yang akan berguna apabila ibu melakukan ambulasi dini, senam nifas dan mencegah timbulnya konstipasi. Progesteron juga meningkatkan pembuluh darah pada vagina dan vulva selama kehamilan dan persalinan biasanya menyebabkan timbulnya beberapa hematoma dan edema pada jaringan ini dan perineum.

10

4) Lochea Lochea adalah ekskresi caiaran selama masa nifas. Lochea berbau amis dan mengalami perubahan karena proses involusi. a) Locha Rubra Lochea rubra pada hari pertama sampai keempat masa post partum. Warnanya merah yang mengandung darah dari perobekan/luka pada plasenta dan serabut dari desi dua dan chorion b) Lochea Serosa Lochea ini berwarna kecoklatan, muncul pada hari ke 5-9. Lochea ini mengandung lebih sedikit darah dan lebih banyak serum dan leukosit. c) Lochea Alba Warnanya lebih pucat, putih kekuningan dan mengandung leukosit, selaput lendir serviks dan serabut jaringan yang mati. Apabila lochea yang dikeluarkan lebih lama

kemungkinan: (1) Tertinggalnya sisa plasenta (2) Ibu yang tidak menyusui anaknya (3) Infeksi jalan lahir

11

Perubahan pengeluaran lochea menunjukkan keadaan yang abnormal : (1) Perdarahan berkepanjangan (2) Pengeluaran lochea tertahan (3) Lochea purulenta (4) Rasa nyeri yang berlebihan (5) Dengan memperhatikan bentuk perubahan dapat diduga (6) Terdapat sisa plasenta yang merupakan sumber perdarahan (7) Terjadi infeksi intrauterine 5) Laktasi Hormon progesteron dan estrogen menghambat

pengeluaran prolaktin. Dengan lahirnya plasenta kadar estrogen dan progesteron menurun sehingga penekanan prolaktin meningkat dalam darah dan memegang peranan penting dalam proses pembentukan : a) Reflek Prolaktin . Reflek ini merupakan reflek neurohormone yang mengatur produksi ASI kontinuitas. Sekresi prolaktin tergantung dari : (1) Hisapan bayi (2) Seringnya menyusui

12

(3) Jarak antara waktu menyusui b) Reflek Let Down Reflek pemancaran ASI karena rangsangan pada papila dan aerola mamae waktu bayi menghisap. Reflek ini merupakan reflek psikomatik yang sangat dipengaruhi oleh emosi. 6) Sistem Perkemihan Dinding kandung kemih memperlihatkan oedem dan hyperemia. Kadang-kadang oedem tergonium. Pada

hyperemia kandung kemih selama nifas kurang sensitif dan kapasitas kandung kemih juga bertambah, sehingga volume penuh atau sesudah BAK masih tertinggal urine residual. Sisa urine ini dan trauma pada kandung kemih waktu persalinan memudahkan terjadinya infeksi. Dilaktasi ureter dan pyelum normal kembali dalam 2 minggu. 7) Sistem Gastro Intestinal Biasanya ibu mengalami obstipasi setelah melahirkan. Hal ini karena alat pencernaan mendapat tekanan waktu melahirkan, dehidrasi, hemoroid dan laserasi jalan lahir. Supaya BAB kembali lancar dapat diberi makanan yang mengandung serat dan pemberian cairan yang cukup. Bila masih belum bisa BAB dalam waktu 2-3 hari dapat ditolong dengan Huknah

13

3.

Etiologi Dalam masa nifas, alat-alat genitalia internal maupun eksterna akan berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil.Perubahan-perubahan alat genital ini dalam keseluruhannya disebut involusi (Winknjosastro, 2006:237). Setelah bayi lahir, uterus yang selama persalinan mengalami kontraksi dan retraksi akan menjadi keras, sehingga dapat menutup pembuluh darah besar yang bermuara pada bekas implantasi plasenta. Otot rahim terdiri dari tiga lapis otot membentuk anyaman sehingga pembuluh darah dapat tertutup sempurna, dengan demikian terhindari dari perdarahan post partum (Manuaba, 1998 : 190).

4.

Tujuan Asuhan Masa Nifas a) Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologi. b) Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu dan bayinya. c) Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat. d) Memberikan pelayanan keluarga berencana. (Saleha, 2005) e) Masalah dan komplikasi yang mungkin timbul saat nifas 1) Keadaan abnormal pada uterus atau rahim a) Sub involusi uterus

14

Proses involusi rahim tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga proses pengecilanya terlambat. Penyebab terjadinya sub involusi uteri adalah terjadi infeksi pada endometrium, terdapat sisa plasenta dan selaputnya terdapat bekuan darah. b) Perdarahan Perdarahan yang terjadi setelah 24 jam pertama sehabis persalinan akibat infeksi, sisa plasenta atau selaput ketuban. c) Infeksi nifas Yaitu mencakup semua peradangan yang

disebabkan oleh masuknya kuman ke dalam alat-alat genital pada waktu persalinan dan nifas. 1. Mastitis Dalam masa nifas daat terjadi infeksi dan peradangan pada mamae melalui luka pada putting susu atau melalui peredaran darah yang ditandai dengan kenaikan suhu, tidak nafsu makan. 2. Bendungan ASI dan Abses payudara 5. Faktor-Faktor yang mempengaruhi masa nifas a) Status gizi Status gizi adalah tingkat kecukupan gizi seseorang yang sesuai dengan jenis kelamin dan usia. Status gizi yang kurang pada ibu post partum maka pertahanan pada dasar ligamentum latum

15

yang terdiri dari kelompok infiltrasi sel-sel bulat yang disamping mengadakan pertahanan terhadap penyembuhan kuman bermanfaat pula untuk menghilangkan jaringan nefrotik, pada ibu post partum dengan status gizi yang baik akan mampu menghindari serangan kuman sehingga tidak terjadi infeksi dalam masa nifas dan mempercepat proses involusi uterus. b) Menyusui Pada proses menyusui ada reflek let down dari isapan bayi merangsang hipofise posterior mengeluarkan hormon oxytosin yang oleh darah hormon ini diangkat menuju uterus dan membantu uterus berkontraksi sehingga proses involusi uterus terjadi. c) Usia Pada ibu yang usianya lebih tua banyak dipengaruhi oleh proses penuaan, dimana proses penuaan terjadi peningkatan jumlah lemak. Penurunan elastisitas otot dan penurunan penyerapan lemak, protein, serta karbohidrat. Bila proses ini dihubungkan dengan penurunan protein pada proses penuaan, maka hal ini akan menghambat involusi uterus. d) Parietas Parietas mempengaruhi involusi uterus, otot-otot yang terlalu sering tereggang memerlukan waktu yang lama. (Sarwono, 2002).

16

e) Diet Perlu diperhatikan dalam masa nifas untuk menaikan kesehatan dan dalam produksi ASI. Makanan harus bermutu, bergizi, dan cukup kalori. Sebaiknya makan makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayuran dan buahbuahan dan tidak ada batasan cairan yang masuk (Mochtar, 1998) a) Miksi dan Defeksi a) Hendaknya BAK dilakukan secepatnya

b) BAB harus 3-4 hari PP (Mochtar, 1998 : 117). 6. Penatalaksanaan Kebidanan Pasca Bersalin Paling sedikit 4 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir, dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi. Dapat dilihat di Tabel.2.1

17

Tabel 2.1 Kunjungan Masa Nifas


Kunjungan
1

Waktu
6-8 jam setelah persalinan

Tujuan
Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan : rujuk bila perdarahan berlanjut. Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaiman mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri: Pemberian ASI awal Melakukan hubungan antara Ibu dan BBL Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermia jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir untuk 2 jam pertama setelah kelahiran atau sampai ibu dan bayinya dalam keadaan stabil. Memastikan involusi berjalan normal: uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tak memperlihatkan tanda-tanda penyulit Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari Memastikan involusi berjalan normal: uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tak memperlihatkan tanda-tanda penyulit Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari Menanyakan pada ibu tentang penyulitpenyulit yang ibu atau bayi alami dan memberikan konseling untuk KB secara dini

6 hari setelah persalinan

2 minggu setelah persalinan

6 minggu setelah persalinan

Sumber : Prawiroharjo (2002)

18

7. Tinggi fundus uteri masa nifas Involusi adalah suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil dengan berat sekitar 60 gram. Proses ini dimulai segera setelah plasenta lahir akibat kontraksi otot-otot polos uterus. Involusi disebabkan oleh kontraksi dan retraksi serabut otot uterus yang terjadi terus-menerus. Apabila terjadi kegagalan involusi uterus untuk kembali pada keadaan tidak hamil maka akan menyebabkan sub involusi. Gejala dari sub involusi meliputi lochea menetap/merah segar, penurunan fundus uteri lambat, tonus uteri lembek, tidak ada perasaan mules pada ibu nifas akibatnya terjadinya perdarahan. Perdarahan pasca persalinan adalah kehilangan darah lebih dari 500 ml melalui jalan lahir yang terjadi selama atau setelah persalinan kala III. Perkirakan kehilangan darah biasanya tidak sebanyak yang sebenarnya, kadang-kadang hanya setengah dari yang sebenarnya (Anggraini, 2010). Menurut Manuaba (1999 : 155) aktifitas fisik akan

mempengaruhi kebutuhan otot terhadap oksigen, yang kebutuhannya akan meningkat berarti memerlukan aliran darah yang kuat, seperti halnya otot rahim, lalu dirangsang kontraksinya dengan aktivitas fisik maka aliran darah akan meningkat dan lancar, kontraksi uterus semakin baik pengeluaran lochea menjadi lancar sehingga

mempengaruhi proses pengecilan rahim.

19

Ischemi, autolisis, aktifitas otot-otot saling mempengaruhi satu dengan yang lain, sehingga memberikan akibat besar terhadap jaringan otot-otot uterus, yaitu hancurnya jaringan otot yang baru, dan mengecilnya jaringan otot yang membesar. Dengan demikian proses involusi terjadi sehingga uterus kembali pada ukuran dan tempat semula. Adapun kembalinya keadaan uterus tersebut secara gradual artinya, tidak sekaligus tetapi setingkat. Sehari atau 24 jam setelah persalinan, fundus uteri agak tinggi sedikit disebabkan oleh adanya pelemasan uterus segmen atas dan uterus bagian bawah terlalu lemah dalam meningkatkan tonusnya kembali. Tetapi setelah tonus otot-otot kembali fundus uterus akan turun sedikit demi sedikit. (Christian, 1996) dapat dilihat di Tabel 2.2 perubahan tinggi fundus uteri pada masa nifas Tabel. 2.2 Perubahan Tinggi Fundus Uteri Pada Masa Nifas
Bobot uterus Pada akhir Persalinan 900 gram Pada akhir minggu ke 1 450 gram Pada Akhir minggu ke 2 200 gram Sesudah Akhir 6 minggu 60 gram (Sumber: pusdiknakes 2003) Involusi Diameter Uterus 12,5 cm 7,5 cm 5,0 cm 2,5 cm Palpasi Serviks Lembut / Lunak 2 cm 1 cm Menyempit

Uterus

pada pasca persalinan secara berangsur-angsur akan

menjadi kecil (involusi). Involusi uterus merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil dengan bobot 60 gram.

20

Autolisis merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di dalam otot uterine. Enzim proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah sempat mengendur hingga 10 kali panjangnya dari semula dan 5 kali lebar semula selama kehamilan.

Pada masa ini, akan terjadi efek oksitosin, yaitu penyebab kontraksi dan retraksi otot uterine sehingga akan mengkompres pembuluh darah yang menyebabkan berkurangnya suplai darah ke uterus. Proses ini dapat membantu mengurangi situs atau tempat implantasi plasenta serta dapat mengurangi perdarahan pada pasca persalinan.

Uterus dikatakan berkontraksi dengan baik jika teraba keras dan jelas batasnya. Sedangkan uterus dikatakan tidak berkontraksi dengan baik jika teraba lembek, kenyal, dan tidak jelas batasnya. Tinggi Fundus Uteri Pada Masa Nifas : 1) Hari ke 1 : fundus uteri setinggi pusat (umbilicus / pusar). 2) Hari ke 2 : fundus uteri berada 2 jari di bawah pusat. 3) Hari ke 7 : fundus uteri berada pada pertengahan antara pusat dan simphisis. 4) Hari ke 10 : fundus uteri berada pada simphisis, dan setelah hari ke 10 biasanya sudah sulit untuk dilakukan palapasi. 8. Faktor-Faktor yang mempercepat involusi uteri a) Senam nifas Senam nifas adalah senam yang dilakukan sejak hari pertama melahirkan setiap hari sampai hari yang kesepuluh. Tentu saja

21

senam ini dilakukan pada saat sang ibu benar - benar pulih (Taufik, 2008). Setelah persalinan seorang ibu baru memasuki masa pemulihannya dan perlahan kembali kekondisi semula, tindakan tirah baring dan senam pasca persalinan membantu proses fisiologis ini secara perlahan.Gerakan untuk mengembalikan otot perut yang kendur karena peregangan selama hamil. Tak ada yang perlu dikhawatirkan dalam melakukan latihan ini jika timbul rasa nyeri sebaiknya dilakukan perlahan tapi jangan tidak

melakukannya sama sekali. Senam ini dilakukan sejak hari setelah melahirkan hingga hari kesepuluh, dalam pelaksanaannya harus dilakukan secara bertahap yang dimulai dari tahap yang paling sederhana hingga yang dengan mengulang gerakan (Hariningsih, 2004) b) Mobilisasi dini Mobilisasi dini adalah kebijaksanaan untuk selekas mungkin membimbing penderita keluar dari tempat tidurnya dan

membimbingnya selekas mungkin berjalan (Soelaiman,1993). Mobilisasi mengacu pada kemampuan seseorang untuk bergerak dengan bebas dan imobilisasi mengacu pada ketidakmampuan seseorang untuk bergerak dengan bebas. Mobilisasi dan imobilisasi berada pada suatu rentang dengan banyak tingkatan imobilisasi parsial. Beberapa klien mengalami kemunduran dan selanjutnya

22

berada di antara rentang mobilisasi-imobilisasi, tetapi pada klien lain, berada pada kondisi imobilisasi mutlak dan berlanjut sampai Sampai jangka waktu tidak terbatas,Mobilisasi dini merupakan faktor yang menonjol dalam mempercepat pemulihan pasca bedah dan dapat mencegah komplikasi pasca bedah. Banyak keuntungan bisa diraih dari latihan ditempat tidur dan berjalan pada periode dini pasca bedah. Mobilisasi sangat penting dalam percepatan hari rawat dan mengurangi resiko-resiko karena tirah baring lama seperti terjadinya dekubitus, kekakuan/penegangan otot-otot di seluruh tubuh dan sirkulasi darah dan pernapasan terganggu, juga adanya gangguan peristaltik maupun berkemih. Aktivitas otot-otot ialah kontraksi dan retraksi dari otot-otot setelah anak lahir, yang diperlukan untuk menjepit pembuluh darah yang pecah karena adanya pelepasan plasenta dan berguna untuk mengeluarkan isi uterus yang tidak diperlukan, dengan adanya kontraksi dan retraksi yang terus menerus ini menyebabkan terganggunya peredaran darah dalam uterus yang mengakibatkan jaringan otot kekurangan zat-zat yang diperlukan, sehingga ukuran jaringan otot-otot tersebut menjadi kecil (Hariningsih, 2004) c) Status gizi Status gizi adalah tingkat kecukupan gizi rata-rata dianjurkan 2900 Kalori yang sesuai dengan jenis kelamin dan usia. Status gizi yang kurang pada ibu post partum dengan status gizi yang baik

23

akan mampu menghindari serangan kuman sehingga tidak terjadi infeksi dalam masa nifas dan mempercepat proses involusi uterus (Hariningsih, 2004) Pada masa nifas masalah diet perlu mendapat perhatian yang serius, karena dengan gizi yang baik dapat mempercepat penyembuhan ibu dan sangat mempengaruhi susunan air susu. Diet yang diberikan harus bermutu, bergizi tinggi, cukup kalori, tinggi protein, dan banyak mengandung cairan. Ibu yang menyusui harus memenuhi kebutuhan akan gizi sebagai berikut: 1) Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari. 2) Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral, dan vitamin yang cukup. 3) Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari. 4) Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi, setidaknya selama 40 hari pascapersalinan. 5) Minum kapsul vitamin A 200.000 unit agar dapat memberikan vitamin A kepada bayinya,(Saleha, 2009). d) Menyusui 1. Sekresi susu atau let down Selama 9 bulan kehamilan, jaringan payudara tumbuh dan menyiapkan fungsinya untuk menyediakan makanan bagi bayi baru lahir. Setelah melahirkan, ketika hormon yang dihasilkan plasenta tidak ada lagi untuk menghambatnya

24

kelenjar pituitari akan mengeluarkan prolaktin (hormon laktogenik). Sampai hari ketiga setelah melahirkan, efek prolaktin pada payudara mulai bisa dirasakan. Pembuluh darah payudara menjadi bengkak terisi darah, sehingga timbul rasa hangat, bengkak, dan rasa sakit. Sel-sel acini yang menghasilkan ASI juga mulai berfungsi. Ketika bayi menghisap puting, refleks saraf merangsang lobus posterior pituitari untuk menyekresi hormon oksitosin. Oksitosin merangsang refleks let down (mengalirkan), sehingga menyebabkan ejeksi ASI melalui sinus aktiferus payudara ke duktus yang terdapat pada puting. Ketika ASI dialirkan karena isapan bayi atau dengan dipompa sel-sel acini terangsang untuk menghasilkan ASI lebih banyak. Refleks ini dapat berlanjut sampai waktu yang cukup lama (Saleha, 2009). 2. Prolaktin Menurunnya kadar estrogen menimbulkan

terangsangnya kelenjar pituitari bagian belakang untuk mengeluarkan prolaktin. Hormon ini berperan dalam pembesaran payudara untuk merangsang produksi susu. Pada wanita yang menyusui bayinya, kadar prolaktin tetap tinggi dan pada permulaan ada rangsangan folikel dalam ovarium yang ditekan. Pada wanita yang tidak menyusui bayinya

25

tingkat sirkulasi prolaktin menurun dalam 14-21 hari setelah persalinan, sehingga merangsang kelenjar bawah depan otak yang mengontrol ovarium ke arah permulaan pola produksi estrogen dan progesteron yang normal, pertumbuhan folikel, ovulasi, dan menstruasi (Saleha, 2009). Pada proses menyusui ada reflek let down dari isapan bayi merangsang hipofise posterior mengeluarkan hormon oxytosin yang oleh darah hormon ini diangkat menuju uterus dan membantu uterus berkontraksi sehingga proses involusi uterus terjadi (Hariningsih, 2004). 9. Faktor-Faktor yang Menghambat Involusi Uterus a) Usia Karena pada usia lebih tua banyak dipengaruhi oleh proses penurunan dimana proses penurunan terjadi peningkatan jumlah lemak,penuan dan penurunan penyerapan lemak,pratus,serta

karbohidrat. (Manuaba,1999). b) Paritas Otot-otot yang terlalu sering teregang maka elastisnya akan berkurang,dengan demikian untuk mengembangkan keadaan semua setelah teregang memerlukan waktu yang lama,sehingga paritas dapat mempengaruhi involusi uteri. (Manuaba,1999).

26

c) Status gizi Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat dari pemakaian, penyerapan, dan penggunaan makanan. Makanan yang memenuhi gizi tubuh, umumnya membawa ke status gizi memuaskan. Sebaiknya jika kekurangan atau kelebihan zat gizi esensial dalam makanan untuk
jangka waktu yang lama disebut gizi salah. Manifestasi gizi salah dapat berupa gizi kurang dan gizi lebih (Supariasa, 2004).

Zat gizi diartikan sebagai zat kimia yang terdapat dalam makanan yang diperlukan manusia untuk memelihara dan

meningkatkan kesehatan. Sampai saat ini dikenal kurang lebih 45 jenis zat gizi dan sejak akhir tahun 1980an dikelompokan keadaan zat gizi makro yaitu zat gizi sumber energy berupa karbohidrat, lemak dan protein dan zat gizi mikro yaitu vitamin dan mineral (Supariasa, 2004). Keadaan tubuh dikatakan pada tingkat gizi optimal, jika jaringan tubuh jenuh oleh semua zat gizi, maka disebut status gizi optimal. Kondisi ini memungkinkan tubuh terbebas dari penyakit dan
mempunyai daya tahan yang tinggi. Apabila konsumsi gizi makanan pada seseorang tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh maka akan terjadi kesalahan gizi yang mencakup kelebihan dan kekurangan zat gizi (Supariasa, 2004).

Masalah diet perlu mendapatkan perhubahan pada masa nifas untuk dapat meningkatka kesehatan dan pemberian Asi,sehingga dengan makanan yang bergizi dapat mempengaruhi produksi Asi yang dapat merangsa kontraksi uterus. . (Manuaba,1999).

27

d) Mobilisai dini atau aktifitas segera Mobilisasi dini adalah suatu gerakan yang dilakukan bertujuan untuk merubah posisi semula ibu dari berbaring, miring-miring, duduk sampai berdiri sendiri setelah beberapa jam melahirkan. Tujuan memperlancar pengeluaran lochia (sisa darah nifas), mempercepat involusi memperlancarkan fungsi organ gastrointestinal dan organ perkemihan, memperlancar peredaran sirkulasi darah.dan beranjak dari tempat tidur(pada persalinan normal)mobilisai dini dapat mengurangi bendungan lokia dala rahim. (Manuaba,1999). e) Menyusui(laktasi) Laktasi adalah produksi dan pengeluaran ASI laktasi ini dapat dipercepat dengan memberikan rangsangan putting susu (Isapan bayi/meneteki bayi secara dini). Pada putting susu terdapat saraf-saraf sensorik yang jika mendapat rangsangan (isapan bayi) maka timbul impuls menuju hipotalamus kemudian disampaikan pada kelenjar hipofisis bagian depan dan belakang. Pada kelenjar hipofisis bagian depan akan mempengaruhi pengeluaran hormon prolaktin yang berperan dalam peningkatan produksi ASI, sedangkan kelenjar hipofisis bagian belakang akan mempengaruhi pengeluaran hormon oksitosin yang berfungsi memacu kontraksi otot polos yang ada di dinding alveolus dan dinding saluran, sehingga ASI dipompa keluar serta memacu kontraksi otot rahim sehingga involusi uterus berlangsung lebih cepat (Suradi, 2004).

28

Kini pemberian ASI digalakan kembali oleh karena ternyata memberikan ASI, mempunyai keuntungan dan keunggulan jauh lebih besar dari pada memberikan susu formula, keuntungan bagi ibu adalah mempercepat proses pengembalian rahim ke ukuran semula

(Manuaba,1999). 2.1.2 Penelitian Terdahulu Penelitian yang sudah dilakukan oleh Erny Trimarwati pada tanggal 15 Juli 2009. Penelitian ini mengambil judul Pengaruh Senam Nifas Terhadap Penurunan Involusi Uteri Pada Ibu Post Partum,Proses pemulihan kesehatan pada masa nifas merupakan hal yang sangat penting bagi ibu setelah melahirkan. Tujuan penelitian adalah diketahuinya pengaruh senam nifas terhadap penurunan tinggi fundus uteri, kontraksi uterus dan peneluaran lochea. Desain pada penelitianini adalah quasi experimental. Sampel diambil dari 30 orang ibu-ibu post parfum yang dirawat di RSKIA PKU Muhammadiyah Kotagede Yogyakarta. Besar sampel 30 orang dibagi menjadi 2 kelompok, 15 orang diberi perlakuan senam nifas dengan baik dan 15 orang tidak diberi perlakuan senam nifas. Dari data yang telah terkumpul diolah menggunakan uji statistic Anova dengan tingkat kemaknaan p < 0,05. Dari hasil uji Anova didapatkan perbedaan hasil mean tinggi fundus uteri antara ibu post parfum yang diberi perlakuan senam nifas

29

dengan yang tidak diberi perlakuan. Ibu post parfum yang mendapat perlakuan senam nifas dengan baik mempunyai penurunan tinggi fundus uteri ynag lebih cepat dengan nilai p = 0,0000 untuk frekuensi, lama dan gerakan senam nifas. Ini berarti ada pengaruh senam nifas terhadap tinggi fundus uteri. Ibu post partum yang mendapatkan perlakuan senam nifas denganbaik mempunyai kontraksi uterus yang lebih baik, dengan nilai p = 0,000 untuk frekuensi, lama dan gerakan senam nifas. Ini berarti ada pengaruh senam nifas terhadap kontraksi uterus. Hasil uji anova didapatkan perbedaan hasil mean pengeluaran lochea antara ibu post parfum yang tidak diberi perlakuan dengan kelompok yang diberi perlakuan senam nifas dengan baik mempunyai pengeluaran lochea yang lebih cepat, dengan nilai p = 0,048 untuk frekuensi, lama dan gerakan senam nifas. Ini berarti adalah pengaruh senam nifas terhadap pengeluaran lochea, sehingga penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ibu post partum yang mendapatkan perlakuan senam nifas mempunyai penurunan tinggi fundus uteri yang lebih cepat, kontraksi uterus yang lebih baik dan pengeluaran lochea yang lebih cepat daripada ibu post parfum yang tidak mendapatkan perlakuan senam nifas. Hal ini berarti senam nifas mempunyai pengaruh yang bermakna terhadap involusi uterus pada hari I-III post parfum di RSKIA PKU Muhammadiyah Kotagede.

30

2.2 Kerangka Berpikir

Masa Nifas

Involusi uterus

Autolosis

Terdapat polimorph phagolitik

Efek oksitosin

Kontraksi uterine

Penurunan TFU

Bagan 2.1. Kerangka Berpikir

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.1.1 Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Cilacap. Jl. Gatot Subroto 133 Telp. (0282) 534343 Cilacap Jawa Tengah. 3.1.2 Waktu Penelitian pengambilan data dilaksanakan pada tanggal 09-13 Desember 2011.

3.2 Metode Penelitian Desain penelitian ini adalah penelitian deskritf. Metode penelitian deskritf adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk menggambarkan atau mendeskrifsikan tentang suatu keadan secara obyektif (Notoatmodj, 2002). Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kejadian penurunan tinggi fundus uteri pada ibu nifas di RSUD Cilacap Jl. Gatot Subroto Kabupaten Cilacap bulan November 2011-Desember 2011.

31

32

3.3 Teknik Pengambilan Sampel 3.3.1 Pengambilan Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu nifas yang dirawat di RSUD Cilacap sebanyak 30 pasien. 3.3.2 Pengambilan Sampel Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (Sugiyono, 2009) Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah semua ibu nifas yang dirawat di RSUD Cilacap sebanyak 30 pasien. 3.3.3 Kisi-Kisi Instrumen Penelitian 1) Rekam medik (RM) pasien Untuk mendapatkan identitas responden secara lengkap dan akurat lembar quisioner. Berisi pertanyaan mengenai penurunan tinggi fundus uteri selama masa nifas. Untuk melengkapi data pasien, apabila perlu dapat

33

dilakukan dengan interview langsung kepada responden yang bersangkutan. 2) Daftar tabel penurunan tinggi fundus uteri Berfungsi membantu mempermudah perhitungan mengenai

peneurunan tinggi fundus uteri setiap responden. Melakukan perhitungan dari setiap cm anjurkan ibu untuk berjalan,miring kanan kiri dan segera setiap hari mengkosongkan kandung kemih jangka waktu 3-5 haridalam masa nifas, untuk mengetahui jumlah penurunan tinggi fundus uteri ibu nifas setiap hari (cm) disesuaikan dengan jumlah yang normal untuk ibu nifas setiap hari yakni 11,3-10,5 cm.

3.4 Instrumen Penelitian Instrumen penelitian ini dapat menggunakan lembar pengumpulan data untuk mencatat data-data sekunder yaitu data-data yang diambil dari buku register nifas dan alat penelitian instrumen yang digunakan sebagai berikut : 1) Alat yang digunakan untuk mengukur tinggi fundus uteri adalah metlin.

3.5 Teknik Analisa Data Setelah selesai mengumpulkan data maka selanjutnya dilakukan pengolahan data yang telah dikumpulkan secara deskritif dengan langkah sebagai berikut:

34

1. Melakukan penyusunan data seluruh ibu nifas sesuai periode. 2. Mengklasifikasikan data ibu nifas dengan penurunan TFU. 3. Melakukan tabulasai data dalam bentuk tabel. 4. Menghitung angka-angka dalam jumlah dan prosentase dalam masingmasing data dengan cara manual dengan rumus sebagai berikut: : x 100 %

(Prof.DR.Sugiyono)

Keterangan:
P f N 100 : Persentase : Frekuensi responden : Jumlah seluruh responden : Bilangan Tetap (Arikunto 2009 : 236).

BAB VI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1

Data Penelitian Hasil penelitian yang dilakukan di RSUD Cilacap periode November 2011 sampai Desember 2011 diperoleh data sebanyak 30 ibu nifas. Berikut akan disajikan data hasil penelitian tentang penurunan tinggi fundus uteri pada ibu nifas. Kemudian dilanjutkan dengan pembahasan hasil penelitian secara terpisah.
Tabel 4.1. Tabel Distribusi TFU Pada Ibu Nifas Di RSUD Cilacap Periode November Sampai Desember 2011 Sesuai Tidak Sesuai Prosentase(%) Hari Tidak Ke f Presentase(%) f Presentase(%) Sesuai Sesuai
1 20 66,7 10 33,3 2 7 23,4 23 76,6 3 6 20 24 80 31,94 4 1 13 29 97 5 21 70 9 30 Sumber : Data olahan sendiri berdasarkan data sekunder RSUD Cilacap, 2011

70,06

Tabel 4.2 Data Responden Berdasarkan Karakteristik Paritas


TFU Sesuai Paritas f Presentase(%) f TFU Tidak Sesuai Presentase(%)

Primi 22 74.3 12 40 Multi 18 60 8 26,6 Jumlah 30 100 30 100 Sumber : Data olahan sendiri berdasarkan data sekunder RSUD Cilacap, 2011

35

36

4.2 Analisa Data Dari data yang diperoleh diatas kita dapat menganalisa rumusan masalah angka penurunan tinggi fundus uteri berdasarkan kelompok ibu pada ibu nifas maupan tingkat paritas yang ada di RSUD Cilacap periode November 2011 sampai dengan Desember 2011. Pengolahan data dapat dilakukan menggunakan komputerisasi. 4.2.1 Dari analisa data tersebut diperoleh data Penurunan TFU Pada Ibu Nifas yang sesuai sebagai berikut: 1. Angka penurunan tinggi fundus uteri yang sesuai berdasarkan TFU Post Partum hari ke 1 di RSUD Cilacap periode November 2011 sampai dengan Desember 2011 sebanyak 33,3%. 2. Angka penurunan Tinggi fundus uteri yang sesuai berdasarkan TFU Post Partum hari ke 2 di RSUD Cilacap periode November 2011 sampai dengan Desember 2011 sebanyak 23,4%. 3. Angka penurunan tinggi fundus uteri yang sesuai berdasarkan TFU Post Partum hari ke 3 di RSUD Cilacap periode November 2011 sampai dengan Desember 2011 sebanyak 20%. 4. Angka penurunan tinggi fundus uteri yang sesuai berdasarkan TFU Post Partum hari ke 4 di RSUD Cilacap periode November 2011 sampai dengan Desember 2011 sebanyak 13%. 5. Angka penurunan tinggi fundus uteri yang sesuai berdasarkan TFU Post Partum hari ke 5 di RSUD Cilacap periode November 2011 sampai dengan Desember 2011 sebanyak 70%.

37

4.2.2

Dari analisa data tersebut diperoleh data Penurunan TFU Pada Ibu Nifas yang tidak sesuai sebagai berikut: 1. Angka penurunan tinggi fundus uteri yang tidak sesuai TFU Post Partum berdasarkan hari ke 1 di RSUD Cilacap periode November 2011 sampai dengan Desember 2011 sebanyak 66,7%. 2. Angka penurunan Tinggi fundus uteri yang tidak sesuai TFU Post Partum berdasarkan hari ke 2 di RSUD Cilacap periode November 2011 sampai dengan Desember 2011 sebanyak 76,6%. 3. Angka penurunan tinggi fundus uteri yang tidak sesuai TFU Post Partum berdasarkan hari ke 3 di RSUD Cilacap periode November 2011 sampai dengan Desember 2011 sebanyak 80%. 4. Angka penurunan tinggi fundus uteri yang tidak sesuai TFU Post Partum berdasarkan hari ke 4 di RSUD Cilacap periode November 2011 sampai dengan Desember 2011 sebanyak 97%. 5. Angka penurunan tinggi fundus uteri yang tidak sesuai TFU Post Partum berdasarkan hari ke 5 di RSUD Cilacap periode November 2011 sampai dengan Desember 2011 sebanyak 30%.

38

4.3 Pembahasan Hasil Penelitian Hasil penelitian yang ditemukan di RSUD Cilacap periode November 2011 sampai dengan Desember 2011 tercatat 30 ibu nifas dengan penurunan Tinggi fudus uteri yang sesuai. Dari hasil perhitungan diatas bahwa : 4.3.1 Rara-rata prosentase yang sesuai penurunan TFU adalah 31,94% hal ini di sebabkan sebagai berikut: Faktor yang pertama Penelitian ini sesuai dengan pernyataan bahwa senam nifas adalah senam yang dilakukan sejak hari pertama melahirkan setiap hari sampai hari yang kesepuluh. Tentu saja senam ini dilakukan pada saat sang ibu benar - benar pulih. Beberapa tujuan dari senam nifas yaitu mengecilkan dan mengencangkan dinding dan otot perut, serta mengembalikan ukuran liang senggama kekendoran otot dinding perut dan mengembalikan

kekencangan otot Senam nifas adalah senam yang dilakukan untuk mengembalikan dasar panggul dan otot liang senggama (Mochtar, 1998, hlm. 229) Setelah persalinan tubuh seorang ibu akan memasuki masa pemulihannya dan perlahan kembali ke kondisi sebelum hamil. Tindakan tirah baring dan senam nifas membantu proses fisilogis ini secara perlahan,Umumnya yang menjadi perhatian ibu selama masa nifas adalah bagaimana memulihkan bentuk tubuh dan dinding perut seperti sediakala. Sehingga dengan melakukan senam nifas bentuk tubuh dan dinding perut akan kembali seperti sediakala.

39

Dengan diperolehnya hasil yang menunjukkan bahwa terdapat Penurunan tinggi fundus uteri, maka diperlukan latihan Senam nifas secara rutin Sehingga mempercepat proses involusi uteri Faktor yang kedua Peneliti ini sesuai dengan pernyataan bahwa Mobilisasi dini adalah kebijaksanaan untuk selekas mungkin membimbing penderita selekas keluar dari tempat tidurnya dan

membimbingnya

mungkin

berjalan,dalam

mobilisasi

terdapat tiga rentang gerak yaitu Rentang gerak pasif,Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat mengangkat dan menggerakkan kaki pasien. Rentang gerak aktif Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif misalnya berbaring pasien menggerakkan kakinya. Rentang gerak fungsional Berguna untuk memperkuat otot-otot dan sendi dengan melakukan aktifitas yang diperlukan. Karena lelah sehabis bersalin, ibu harus istirahat, selama 8 jam pascapersalinan. Kemudian boleh miring-miring ke kanan dan ke kiri untuk mencegah adanya tombosis dan tromboemboli. (Mochtar, 1998:117) Selain itu apabila keadaan ibu post partum normal, maka setelah bebrapa jamistirahat boleh memulai senam nifas. Dari pergerakan yang sedehana mulai menarik nafas panjang, pergantian posisi tidur, atau posisi lain (Christina,1996:71)

40

Dengan diperolehnya hasil yang menunjukkan bahwa terdapat Penurunan tinggi fundus uteri, maka diperlukan Mobilisasi dini secara rutin sehingga mempercepat proses involusi uterus. Faktor yang ketiga Peneliti ini sesuai dengan pernyatan bahwa Status gizi adalah tingkat kecukupan gizi seseorang yang sesuai dengan jenis kelamin dan usia,pada ibu post partum dengan status gizi yang baik akan mampu menghindari serangan kuman sehingga tidak terjadi infeksi dalam masa nifas dan mempercepat proses involusi uterus,dan status gizi ini juga sangat penting untuk pemulihan pasca persalinaan.dan suatu proses organisme

menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absobsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi serta Makan makanan yang beranekaragam sangat bermanfaat bagi kesehatan. Makanan yang beraneka ragam yaitu makanan yang mengandung unsur-unsur zat gizi yang diperlukan tubuh baik kualitas maupun kuantintasnya, dalam pelajaran ilmu gizi biasa disebut triguna makanan yaitu, makanan yang mengandung zat tenaga, pembangun dan zat pengatur. Apabila terjadi kekurangan atas kelengkapan salah satu zat gizi tertentu pada satu jenis makanan, akan dilengkapi oleh zat gizi serupa dari makanan yang lain. Jadi makan makanan yang beraneka ragam akan

41

menjamin

terpenuhinya

kecukupan

sumber

zat tenaga,

zat

pembangun dan zat pengatur,Makanan sumber zat tenaga antara lain: beras, jagung, gandum, ubi kayu, ubi jalar, kentang, sagu, roti dan mi. Minyak, margarin dan santan yang mengandung lemak juga dapat menghasilkan tenaga. Makanan sumber zat tenaga menunjang aktivitas sehari-hari Makanan sumber zat pembangun yang berasal dari bahan makanan nabati adalah kacang-kacangan, tempe, tahu. Sedangkan yang berasal dari hewan adalah telur, ikan, ayam, daging, susu serta hasil olahan, seperti keju. Zat pembangun berperan sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan

seseorang.Makanan sumber zat pengatur adalah semua sayursayuran dan buah-buahan. Makanan ini mengandung berbagai vitamin dan mineral, yang berperan untuk melancarkan bekerjanya fungsi organ-organ tubuh terutama mempercepat involusi uterus. Status gizi adalah tingkat kecukupan gizi rata-rata dianjurkan 2900 Kalori yang sesuai dengan jenis kelamin dan usia. Status gizi yang kurang pada ibu post partum dengan status gizi yang baik akan mampu menghindari serangan kuman sehingga tidak terjadi infeksi dalam masa nifas dan mempercepat proses involusi uterus (Hariningsih, 2004)

42

Dengan diperolehnya hasil yang menunjukkan bahwa terdapat Penurunan tinggi fundus uteri,diperlukan status gizi secara rutin sehingga mempercepat proses involusi uterus. Faktor yang keempat peneliti ini sesuai pernyatan bahwa Menyusui adalah keseluruhan proses menyusui mulai dari ASI diproduksi sampai proses bayi mengisap dan menelan ASI. Laktasi merupakan bagian integral dari siklus reproduksi mamalia termasuk manusia,membantu uterus berkontraksi sehingga proses involusi uterus terjadi cepat involusi uterus karena adanya rangsangan maka dari proses menyusu Pada proses menyusui ada reflek let down dari isapan bayi merangsang hipofise posterior mengeluarkan hormon oxytosin yang oleh darah hormon ini diangkat menuju uterus dan membantu uterus berkontraksi sehingga proses involusi uterus terjadi (Hariningsih, 2004). Dengan diperolehnya hasil yang menunjukkan bahwa

Menyusui mempengaruhi Penurunan tinggi fundus uteri, sehingga mempercepat proses involusi uterus. 4.3.2 Rara-rata prosentase penurunan TFU yang tidak sesuai adalah 70,06% hal ini di sebabkan sebagai berikut. Faktor pertama Peneliti ini sesuai pernyatan bahwa Usia lebih tua banyak dipengaruhi oleh proses penurunan dan dimana proses penurunan penyerapan lemak,pratus,serta karbohidrat dan biasanya usia lebih tua jarang melakukan aktifitas misalnya tidak melakukan

43

senam nifas ataupun senam hamil sehingga bisa mempengaruhi lamabtnya involusi uterus(Manuaba,1999). Dengan adanya penurunan regangan otot akan mempengaruhi pengecilan otot rahim setelah melahirkan, serta membutuhkan waktu yang lama dibandingkan dengan ibu yang mempunyai kekuatan dan regangan otot yang lebih baik. Involusi uteri terjadi oleh karena proses autolysis dimana zat protein dinding rahim dipecah, diserap dan kemudian dibuang bersama air kencing. Bila proses ini dihubungkan dengan penurunan penyerapan protein pada proses penuaan maka hal ini akan menghambat involusi uterus. Selain itu juga adanya penurunan regangan otot dan peningkatan jumlah lemak akan menjadikan semakin lambat proses involusi uterus Dengan diperolehnya hasil yang menunjukkan bahwa usia lebih tua mempengaruhi Penurunan tinggi fundus uteri yang lama, karena Pada ibu yang usianya lebih tua banyak dipengaruhi oleh proses penuaan,Bila proses ini dihubungkan dengan penurunan protein pada proses penuaan, maka hal ini akan menghambat proses involusi uterus. Faktor kedua peneliti ini sesuai pernyatan bahwa Paritas mempengaruhi involusi uterus karena Otot-Otot yang terlalu sering teregang maka elastisnya akan berkurang,dengan demikian untuk mengembangkan keadaan semua setelah teregang memerlukan waktu yang lama,sehingga paritas dapat mempengaruhi involusi

44

uteri,dan terlalu banyak anak juga bisa mempengaruhi involusi uteri karena otot-otot teregang(Sarwono, 2002). Dengan diperolehnya hasil yang menunjukkan bahwa Paritas mempengaruhi Penurunan tinggi fundus uteri yang lama karena ototot0t teregang, sehingga menghambat proses involusi uterus. Faktor ketiga peneliti ini sesuai pernyatan bahwa status gizi Masalah diet perlu mendapatkan perhubahan pada masa nifas untuk dapat meningkatka kesehatan dan pemberian Asi,sehingga dengan makanan yang bergizi dapat mempengaruhi produksi Asi yang dapat merangsa kontraksi uterus post partum yang mengalami proses involusi tidak baik. Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat dari pemakaian, penyerapan, dan penggunaan makanan. Makanan yang memenuhi gizi tubuh, umumnya membawa ke status gizi memuaskan. Sebaiknya jika kekurangan atau kelebihan zat gizi esensial dalam makanan untuk jangka waktu yang lama disebut gizi
salah. Manifestasi gizi salah dapat berupa gizi kurang dan gizi lebih (Supariasa, 2004).

Dengan diperolehnya hasil yang menunjukkan bahwa status gizi mempengaruhi Penurunan tinggi fundus uteri yang lama hal ini mungkin disebabkan faktor budaya yang kurang mendukung seperti pantang makana dan tidak boleh beraktifitas,sehingga menghambat proses involusi uterus.

45

Faktor yang keempat peneliti ini sesuai pernyatan bahwa Mobilisai dini atau aktifitas segera Dilakukan setelah beristirahat beberapa jam dengan beranjak dari tempat tidur (pada persalinan normal)mobilisai dini dapat mengurangi bendungan lokia dalam rahim,dan biasanya kebanyakan ibu nifas bemalas-malasan

melakukan mobilisasi dini segera maka akan mempengaruhi lambatnya proses involusi uterus dan. Peningkatan suhu tubuh Karena adanya involusi uterus yang tidak baik sehingga sisa darah tidak dapat dikeluarkan dan menyebabkan infeksi dan salah satu dari tanda infeksi adalah peningkatan suhu tubuh, dan Involusi uterus yang tidak baik tidak dilakukan mobilisasi secara dini akan menghambat pengeluaran darah dan sisa plasenta sehingga menyebabkan terganggunya kontraksi uterus Dengan diperolehnya hasil yang menunjukkan bahwa

Mobilisai dini tidak dilakukan segera akan

mempengaruhi

Penurunan tinggi fundus uteri yang lama,sehingga menghambat proses involusi uterus. Faktor yang kelima peneliti ini sesuai pernyatan bahwa Menyusui (Laktasi) kini pemberian Asi digalakan kembali oleh karena ternyata memberikan Asi, mempunyai keuntungan dan keunggulan jauh lebih besar dari pada bagi ibu adalah memberikan susu proses

formula,keuntungan

mempercepat

pengembalian rahim ke ukuran semula,justru ibu nifas hanya

46

memberikan susu formula tidak baik karena involusi uterus terganggu tidak ada rangsangan atau adanya kontraksi sehingga involusi uterus lama penurunannya, Laktasi adalah produksi dan pengeluaran ASI laktasi ini dapat dipercepat dengan memberikan rangsangan putting susu (Isapan bayi/meneteki bayi secara dini). Pada putting susu terdapat sarafsaraf sensorik yang jika mendapat rangsangan (isapan bayi) maka timbul impuls menuju hipotalamus kemudian disampaikan pada kelenjar hipofisis bagian depan dan belakang. Pada kelenjar hipofisis bagian depan akan mempengaruhi pengeluaran hormon prolaktin yang berperan dalam peningkatan produksi ASI, sedangkan kelenjar hipofisis bagian belakang akan mempengaruhi pengeluaran hormon oksitosin yang berfungsi memacu kontraksi otot polos yang ada di dinding alveolus dan dinding saluran, sehingga ASI dipompa keluar serta memacu kontraksi otot rahim sehingga involusi uterus berlangsung lebih cepat (Suradi, 2004). Dengan Menyusui diperolehnya tidak hasil segera yang menunjukkan bayinya bahwa akan

(Laktasi)

menyusui penurunan

mempengaruhi

labatnya

lambatnya

TFU,sehingga

menghambat proses involusi uterus. Hasil penelitan tersebut dapat dijadikan pedoman untuk penurunan tinggi fundus uteri bagi masyarakat khususnya ibu nifas

47

Asuhan kebidanan yang dilakukan bidan adalah penurunan tinggi fundus uteri kembali seperti sebelum hamil.

4.4 Keterbatasan Penelitian Pada saat melakukan penelitian Gambaran Penurunan Tinggi Fundus Uteri pada Ibu Nifas di RSUD Cilacap, diantaranya yaitu 4.4.1. Sampel dalam penelitian ini hanya 30 orang, sehingga untuk penelitian berikutnya bisa menambah sampel. 4.4.2. Waktu yang digunakan terbatas, sehingga untuk penelitian berikutnyadapat memperpanjang waktu penelitian

BAB V PENUTUP

5.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian angka penurunan tinggi fundus uteri pada kelompok umur ibu pada ibu nifas di RSUD Cilacap periode November 2011 sampai dengan Desember 2011 diperoleh simpulan sebagai berikut: 5.1.1 Terdapat Gambaran rata-rata prosentase tinggi fundus uteri yang normal pada ibu post partum selama 5 hari yaitu 31,94% 5.1.2 Terdapat Gambaran rata-rata prosentase tinggi fundus uteri yang tidak normal pada ibu post partum selama 5 hari yaitu 70,06%

5.2 Saran Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti menyampaikan saran kepada 5.2.1 Bidan Hasil penelitian ini dapat sebagai bahan masukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat tentang penurunan Tinggi Fundus Uteri Diharapkan hasil penelitian ini dapat sebagai bahan masukan bagi ibu nifas. 5.2.2 Ibu Nifas Diharapkan ibu nifas hendaknya meningkatkan pengetahuan

khususnya Penurunan Tinggi Fundus Uteri berguna untuk penelitian

48

49

perbedaan jumlah yang sesuai dan tidak sesuai terhadap penurunan Tinggi Fundus Uteri pada proses involusi uteri. 5.2.3 Masyarakat Menambah wawasan dan pengetahuan serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya Penurunan Tinggi Fundus Uteri pada ibu nifas. 5.2.4 Penelitian Selanjutnya Untuk penelitian berikutnya diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan.

KEPUSTAKAAN

Abidin,Muhamad Zainal. 2001.Asuhan Postnatal Care. Jakarta YBPSP Ambarwati,Eny Retna.2010.Asuhan Kebidanan Nifas.Jogjakarta: Nuha Medika.
Anggraini, 2010.

Sinopsis obstetri Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk pendidikan bidan,Jakarta:EGC.9.Mochtar,R. (1998)

Arikunto,S. (2006) Buku Saku Praktikan Kebutuhan Dasar Manusia, Jakarta: EGC. Alimul, A. (2007), Metode Penelitian Penulisan Ilmiah, Jakarta: Salemba Medika. Alimul, H. A, dan Musrifatul, U. (2004), Buku Saku Pratikan Kebutuhan Dasar Manusia, Jakarta: EGC. Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta Budiarto, Eko. 2002. Biostatistika untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC Bhratara.Manuaba. 1998, Perawatan Kebidanan, Jakarta: I. B. G. Bina Pustaka Saifuddin, Abdul Bari. 2009. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Jakarta: PT. Sarwono Prawirohardjo Cambridge,C.L., 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta:PT Rineka Cipta.3. Hamilton, 1995, Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas Edisi 6, Jakarta: EGC Hariningsih, 2004. Faktor-faktor yang mempengaruhi involusi uterus. Jakarta ; EGC Hidayat, Aziz Alimul. 2010. Metode Penelitian Kebidanan & Teknik Analisa Data. Jakarta: Salemba Medika Ibrahim,C.S, Kamus Keperawatan,. 1996, Jakarta:EGC. Mansjoer, Arief, 2001, Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid 2, Jakarta: EGC Manuaba, IBG, 1998, Ilmu Kebidanan ,Penyakit Kandungan ,Dan Keluarga Berencana, Jakarta: EGC

Mochtar, Rustam , 1998, Sinopsis Obsteti Edisi 2 Jilid , Jakarta: EGC Notoadmojdo, Soekidjo, 2002, Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta: Rineka Cipta Manuaba, Ida Ayu Chandranita. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan KB untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC Nugroho, Taufan. 2010. Kasus Emergency Kebidanan untuk Kebidanan dan Keperawatan. Yogyakarta: Nuha Medika Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta Prawiharjo, S. 2002 Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Saifudin, 2002, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal, Jakarta: YBP-SP Wiknjosastro, Hanifa, Sarwono Prawirohardjo. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka

Lampiran 1 DATA IBU NIFAS DI RSUD CILACAP, KABUPATEN CILACAP PERIODE NOVEMBER DESEMBER 2011
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 NAMA Ny S Ny I Ny P Ny A Ny S Ny M Ny T Ny K Ny T Ny P Ny S Ny W Ny D Ny U Ny F Ny V Ny S Ny P Ny W Ny P Ny S Ny M Ny i Ny H Ny M Ny D Ny G Ny K Ny D Ny L UMUR (Thn) 34 30 30 20 19 30 20 21 29 17 37 40 39 23 35 25 21 23 20 23 17 18 20 20 20 24 23 21 20 24 PA P3A0 P1A0 P2A0 P1AO P1A0 P2A0 P1A0 P1A0 P1A0 P1AO P3A0 P4AI P4A0 P1A0 P4A0 P1A0 P1A0 P2A0 P1A0 P1A0 P1A0 P1A0 P2A0 P1A0 P1A0 P3A0 P2A0 P1P0 P1A0 P2A0 HB (g%) 10.4 10.0 11.0 11.9 10.6 12.2 11.8 10.0 10.9 11.0 11.0 10.7 10.9 12.8 11.9 10.0 12.5 10.5 11.9 12.8 11.0 13.0 12.9 13.3 9.9 11.7 12.7 11.4 12.2 10.4 TFU JARI PUSAT 2 HARI 3 HARI 4 HARI 2 3 4 2 4 4 5 7 5 2 3 3 1 2 5 4 5 4 1 3 1 2 5 3 1 4 4 2 4 5 1 6 5 1 5 5 1 3 5 2 6 5 1 5 4 1 4 5 3 3 5 3 4 5 3 3 5 3 5 5 3 3 6 4 4 4 3 2 5 1 2 3 2 2 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 3 3 4 3 3 5

1 HARI 2 2 4 1 2 1 1 1 2 2 3 2 1 3 2 1 3 1 2 2 3 2 3 1 2 1 2 3 3 2

5 HARI 2 3 5 2 2 2 2 3 4 2 2 2 2 1 3 4 2 2 2 2 2 2 2 2 5 2 2 2 2 3

Lampiran 2 WAWANCARA

Nama Umur GPA Hb TFU Hari ke 1 Hari ke 2 Hari ke 3 Hari ke 4 Hari ke 5

: : : : : : : : : g% JariPusat Jari Pusat Jari Pusat Jari Pusat Jari Pusat Th

Yang Bertanggung Jawab Dibawah Ini:

Dwi Endar Sari NPM. D2009 00924