Anda di halaman 1dari 43

PenanganandanPerlindungan Justice Collaborator DalamSistemHukumPidanadiIndonesia E:\My Picture\photo dawai\Logo LPSK 1.jpg Disampaikan oleh : A.H.Semendawai, SH, LL.

M Ketua LPSK RI

Latar Belakang LPSK dirancang untuk memberikan perlindungan kepada saksi dan korban dalam semua tahap proses peradilan pidana. Diharapkan dapat mencegahdanmelindungisaksidankorbandariintimidasidankekerasan. Berperan dalam membantu pengungkapan terjadinya suatu tindak pidana. Sehingga partisipasi masyarakat untuk mengungkap tindak pidana dapat terus meningkat. Dapatmembantumenciptakaniklimkondusif. Pelapor yang demikian itu harus diberi perlindungan hukum dan keamanan yang memadai atas laporannya.

UU No. 13 tahun 2011 tentang Perlindungan Saksi dan Korban ini tidak dapat dilaksanakan secara utuh. Salah satunya Agus Condro. Pengadilan Tipikor, pada Kamis, 16 Juni 2011 telah menjatuhkan hukuman 15 bulan penjara dan denda Rp 50 juta, Ia dinilai sbg Pelapor kasus suap cek pelawat pemilihan Deputi Gubernur BI. Hukumannya tidak jauh berbeda dengan terdakwaterdakwa lainnya dalam kasus yang sama. Putusan ini sangat kontradiktif dengan rekomendasi LPSKyangberpendapat sebagai wh istle blower(pengungkap fakta) dalam kasus korupsi pemilihan Deputi Gubernur Senior BIMiranda Swaray Goeltom, Majelis Hakim seharusnya mempertimbangkan posisi AC sebagai orang yang berkontribusi dan bekerjasama dengan aparat penegak hukum untuk menguak kasus korupsi. Sebagai orang pertama yang mengungkapkan kasus suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, seharusnya Agus Condro mendapatkan hak-haknya sebagaimana yang diatur dalam UU No. 13 tahun 2011 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.

UU 13/2006memang tidak memungkinkan membebaskan seorang JCsecara penuh. Tetapi hukumannya bisa diringankan. Pasal 10 ayat 2, seorang saksi sekaligus terdakwa yang memiliki keterangan yang penting untuk mengungkap kejahatan tidak dapat dibebaskan dari hukuman, tapi kesaksiannya bisa menjadi faktor yang meringankan hukuman. APHbelummenunjukkan keberpihakannya kpdorangorang yang mau bekerjasama menguak kasus korupsi. Keberpihakan penegak hukum akan mendorong yang lain untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan AC. Putusansptapaygdianggaptepatu AC? KenapaAPH tidaksensitifataskebutuhanperlindungandanreward thpJC? BagaimanaimplikasiputusantsbthpWB danJC lainnya? Adakahusahauntukmengatas ipersoalanini?

Bagaimana Praktek Pasal 10 Kasus Ciamis Kasus SD Kasus Agus Chondro Kasus Aan Kasus di

Kerangka hukum perlindungan Kerangka hukum menjadi penting dalam mendukung praktek ini, asalkan dapat dipastikan perlindungan penuh terhadap whistleblower serta pengungkapan dan tindak lanjut yang memadai. Mengingatbahwapelaporadalahorangdalamyangpertamamendeteksiadanyakesalahan, sistemwhistleblowinginternalmerupakanalatyangsangatbaikuntukmanajemenrisikoyange fektifdidalamorganisasi.

Kerangka hukum lanjutan Selainrasa takutatasbalasdendam, kurangnyakepercayaanpadakemampuanmerekayang bertanggungjawabuntukbertindakataslaporanyang disampaikanolehWB, merupakanpengha langpaling pentingdalammendukungwhistleblowing. Olehkarenaitusangatpentinguntuktidakhanyamelindungiindividuagar bersediamenjadiWB , tetapijugauntukmemastikantindaklanjutdaninvestigasipengungkapansecaraindependend anmemadai. Hal initidakhanyadiperlukanuntukmelindungiindividu-individuterhadapperlakuantidak adil: tetapimerupakanalatpentinguntukmemastikantempatkerjaamandanbertanggungjawab, unt ukmengurangirisikoterhadapreputasidankeuangansertauntukmelindungikepentinganumum .

DasarhukumperlindunganwbuntukTP Korupsi UNCAC Pasal33 Perlindunganpelapor Negara Pihakwajibmempertimbangkanuntukmemasukkankedalamsystem hukumnasionalnyatin dakan-tindakanyang perluuntukmemberikanperlindunganterhadapperlakuanyang tidakad ilbagiorangyang melaporkandenganitikatbaikdandenganalasanalasanyang wajarkepadapihakyang berwenangfakta-faktamengenaikejahatanmenurutKonvensiini.

Perangkat Hukum PP 71 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat dan Pemberian Penghargaan dalam pencegahan dan pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Pasal 10 UU No. 13 Tahun 2006 UU Ttg PSK Bab VII UU No. 15 Tahun 2002 UU No. 23 Tahun 2003 Ttg TPPU Pasal 31 UU No. 31 Tahun 1999 Ttg Pemberantasan TIPIKOR

PengertianWhistleblower PP 71 Th 2000, Pelaporadalah orang yang memberi suatu informasi kepada penegak hukum atau Komisi mengenai terjadinya suatu tindak pidana korupsi dan bukan pelapor sebagaimana dimaksud dalamPasal 1 angka 24 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 KUHAP. Penjelasan Pasal 10 ayat 1 UU No. 13 Tahun 20006 Pelapor" adalah orang yang memberikan informasi kepada penegak hukum mengenai terjadinya suatu tindak pidana.

Lanjutan UU No. 31 Th 1999. Ttg Pemberantasan Tipikor. Pelapor adalah orang yang memberi informasi kepada penegak hukum mengenai terjadinya suatu tindak pidana korupsi

Lanjutan Whistleblower: Seseorang yang mengungkapkan pelanggaran atau perbuatan salah yang terjadi dalam suatu organisasi kepada publik atau orang yg memiliki otoritas. Seorang pekerja yg memiliki pengetahuan atau informasi dari dalam tentang aktifitas illegal yg terjadi didalam organisasinya dan melaporkannya ke Publik.

PP No. 71 Tahun 2000 Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat dan Pemberian Penghargaan dalam pencegahan dan pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Peran perorangan, Ormas, LSM Memiliki Hak .melaporkan ke Penegak Hukum atau Komisi Tertulis, data, fotocopy KTP/identitas lain Klarifikasi dengan gelar perkara

Hak dan tanggung-jawab Masyarakat dan perlindungan Memperoleh pelayan dan jawaban (30 hari) Berhak atas perlindungan hukum .status hukum dan rasa aman Perlindungan Hukum tdk diberikan bila : .Pelapor terlibat .Tuntutan dalam perkara lain

Merahasiakan identitas dan informasi Perlindungan Fisik .Pelapor maupun keluarga

Penghargaan Berjasa Piagam atau Premi Tatacara Pemberian Penghargaan .Kepmen Kumdang 2 permil dari nilai kerugian keuangan negara yg dikembalikan Piagam diberikan .perkara dilimpahkan ke Pengadilan Premi .setelah berkekuatan hukum tetap

Perlindungan Menurut UU No. 15 th 2002 TPPU sebagaimana diubah dgn UU No. 25 Th 2003 BAB VII PERLINDUNGAN BAGI PELAPOR DAN SAKSI Pasal39 1.PPATK, penyidik, penuntutumum, atauhakim wajibmerahasiakanidentitaspelapor. 2.Pelanggaranterhadapketentuansebagaimanadimaksuddalamayat(1) memberikanhakkepad apelaporatauahliwarisnyauntukmenuntutgantikerugianmelaluipengadilan. Pasal40 1.Setiaporangyang melaporkanterjadinyadugaantindakpidanapencucianuang, wajibdibe riperlindungankhususolehnegaradarikemungkinanancamanyang membahayakandiri, jiwa, dan/atauhartanya, termasukkeluarganya. 2.Ketentuanmengenaitatacarapemberianperlindungankhusussebagaimanadimaksuddalamay at(1) diaturlebihlanjutdenganPeraturanPemerintah.

Lanjutan Pasal41 1.Di sidangpengadilan, saksi, penuntutumum, hakim, danoranglain yang bersangkutandengantindakpidanapencucianuangyang sedangdalampemeriksaandilarangmenyebutnamaataualamatpelapor, atauhal-hallain yan g memungkinkandapatterungkapnyaidentitaspelapor. 2.Dalamsetiappersidangansebelumsidangpemeriksaandimulai, hakim wajibmengingatkansaksi, penuntutumum, danoranglain yang terkaitdenganpemeriksaanperkaratersebut, mengenailarangansebagaimanadimaksu ddalamayat(1). Pasal42 1.Setiaporangyang memberikankesaksiandalampemeriksaantindakpidanapencucianuang, wajibdiberiperlindungankhususolehnegaradarikemungkinanancamanyang membahayakandi ri, jiwa, dan/atauhartanya, termasukkeluarganya. 2.Ketentuanmengenaitatacarapemberianperlindungankhusussebagaimanadimaksuddalamay at(1) diaturlebihlanjutdenganPeraturanPemerintah.

lanjutan Pasal 43 Pelapor dan/atau saksi tidak dapat dituntut baik secara perdata atau pidanaatas pelaporan dan/atau kesaksian yang diberikan oleh yang bersangkutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 dan Pasal 42.

PP 57 Th 2003 Pasal 2 (1) Setiap Pelapor dan Saksi dalam perkara tindak pidana pencucian uang wajib diberikan perlindungan khusus baik sebelum, selama maupun sesudah proses pemeriksaan perkara. (2) Perlindungan khusus sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia. Pasal 3 .Penyidik, Penuntut Umum, dan Hakim wajib memberikan perlindungan khusus kepada Saksi pada setiap tingkat pemeriksaan perkara.

Pasal 4 .Pelapor dan Saksi tidak dikenakan biaya atas perlindungan khusus yang diberikan kepadanya

Bentuk Perlindungan Khusus a. perlindungan atas keamanan pribadi, dan/atau keluargaPelapor dan Saksi dari ancamanfisik atau mental; b. perlindungan terhadap hartaPelapor dan Saksi; c. perahasiaan dan penyamaran identitas Pelapor dan Saksi; dan/atau d. pemberian keterangan tanpa bertatap muka dengan tersangka atau terdakwa pada setiap tingkat pemeriksaan perkara.

UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Pasal31 (1) Dalampenyidikandanpemeriksaandisidangpengadilan, saksidanoranglain yang bersangkutandengantindakpidanakorupsidilarangmenyebutnamaataualamatpelapor, atauhal-hallain yang memberikankemungkinandapatdiketahuinyaidentitaspelapor. (2) Sebelumpemeriksaandilakukan, larangansebagaimanadimaksuddalamayat(1) diberitahukankepadasaksidanoranglain tersebut.

UU No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Pasal 15 KPK berkewajiban : memberikan perlindungan terhadap saksi atau pelapor yang menyampaikan laporan ataupun memberikan keterangan mengenai terjadinya tindak pidana korupsi; PenjelasanPasal 15 Huruf a Yang dimaksud dengan memberikan perlindungan , dalam ketentuan ini melingkupi juga pemberian jaminan keamanan dengan meminta bantuan kepolisian atau penggantian identitas pelapor atau melakukan evakuasi termasuk perlindungan hukum.

Perlindungan Pelapor .UU 13/2006 1.Saksi, Korban, dan PELAPOR tidak dapat dituntut secara hukum baik pidana maupun perdata atas laporan, kesaksian yang akan, sedang, atau telah diberikannya. 2.Seorang Saksi yang juga tersangka dalam kasus yang sama tidak dapat dibebaskan dari tuntutan pidana apabila ia ternyata terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah, tetapi kesaksiannya dapat dijadikan pertimbangan hakim dalam meringankan pidana yang akan dijatuhkan. 3.Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku terhadap Saksi, Korban, dan pelapor yang memberikan keterangan tidak dengan itikad baik.

Kendala Perundang-undangan Kelembagaan Kerjasama antar lembaga

Kelemahan Perundang-undangan Pelapor, hanyadiakuisebagaiPelaporbilamenyampaikanlaporannyakepadaAparatPenegakHu kummaupunKomisi .BagaimanabiladisampaikankeParlemen??, media-massa, mirbarbebas, aparatpemerintahlainnya

Tidakjelaspengertiantentangtidakdapatdituntutsecarahukumbaikpidanamaupunperdataat aslaporan . Sebataspencemarannama-baik? .Terkaitdenganperkaraygdilaporkannya?

Pasal5 ayat2 PP 71 Perlindunganmengenaistatus hukumtdkdiberikanapabiladarihasilpenyelidikandanpenyid ikanterdapatbuktiyang cukupygmemperkuatketerlibatanpelapor

Lanjutan BagaimanadengankonsepPlea Bargain KalauPelakuKelasKakap? Hak-hakPelaporapakahsamadenganSaksi?, misalnyahakuntukmendapatkaninformasimengenaiperkembangankasusyang dilaporkannya. ApakahPelapordptdilindungidaripenguasaandata-data yang terindikasisebagaidata kor upsiataupenyimpangan ApakahperlindunganterhadapPelaporharusmemenuhisyaratperlindungansaksi? Ataumengac ukeUU TipikoratauMoney Laundring

Tumpang Tindih peran Siapa yang bertanggung-jawab melindungi Pelapor? .Korupsi .KPK dan Kepolisian .Money Laundring .PPATK dan Kepolisian

Bagaimana dengan Pelapor untuk kejahatan lainnya spt drug trafficking, human trafficking ? Pelapor dan sekaligus Saksi yang memenuhi persyaratan dilindungi oleh LPSK Perlu dilakukan koordinasi antar lembaga

Subyek whistlebloweryang dilindungi dalam hukum nasional. Dalam konteks Indonesia luasan cakupan pengertian sebagai subyek hukum yang dilindungi sebagai whistleblower sebaiknya mencakup collaborator of justice. Mengacu pengertian dalam rekomendasi yang dihasilkan oleh Council of Europe Committee of Minister, collaborator of justiceadalah seseorang yang juga berperan sebagai pelaku tindak pidana, atau secara meyakinkan adalah merupakan bagian dari tindak pidana yang dilakukan secara bersamasama atau kejahatan terorganisir dalam segala bentuknya, atau merupakan bagian dari kejahatan terorganisir, namun yang bersangkutan bersedia untuk bekerjasama dengan aparat penegak hukum untuk memberikan kesaksian mengenai suatu tindak pidana yang dilakukan bersama-sama atau terorganisir, atau mengenai berbagai bentuk tindak pidana yang terkait dengan kejahatan terorganisir maupun kejahatan serius lainnya.

KetentuanUMUM Draft RUU 13/2006 Pelapor Pelaku adalah saksi dan/atau pelapor yang juga pelaku tindak pidana Yang membantu aparat penegak hukum untuk mengungkap suatu tindak pidana dan/atau pengembalian aset-aset/hasil suatu tindak pidana kepada negara Dengan memberikan kesaksian, laporan atau informasi lain.

Lanjutkan Pasal5 (1) Seorang Saksi, Korban, Pelapor dan Pelapor Pelaku berhak: a.memperolehperlindunganataskeamananpribadi, keluarga, danhartabendanya, sertabebasdariAncamanyang berkenaandengankesaksianya ng akan, sedang, atautelahdiberikannya; b.ikutsertadalamprosesmemilihdanmenentukanbentukperlindungandandukungankeamanan; c.memberikan keterangan tanpa tekanan; d.mendapatpenerjemah; d.bebasdaripertanyaanyang menjerat; dst...

Pasal 10 (1) Selainperlindunganyang dimaksuddalamPasal5, PelaporPelakuberhakmendapatkanpenanganansecarakhususdanpenghargaanatastindakpida nayang diungkap atau atas tindak pidana lain yang dilakukannya. (2) Penanganansecarakhusussebagaimanadimaksudayat(1) berupa: a. pemisahantempattahanandanpenjarayang berjauhandengantersangkadan/ataunarapida nalain yang diungkap. b. pemberkasanyang terpisahdenganterdakwalain atastindakpidanayang diungkapkanny a; dan/atau c. penundaanpenuntutanatastindakpidanayang diungkapkannyadan/atautindak pidana lain yang diakuinya;

Lanjutan d. penundaanproseshukumataspengaduanyang timbulkarenainformasi, laporandan/ataukesaksianyang diberikannya. (3) PelaporPelakudapatmemperolehpenghargaanberupa: a. keringanantuntutan; b. Penghapusanpenuntutan; c. Pemberianremisidan/ataugrasiatas dasarpertimbangankhususapabila pelaporpelaku adalahseorangnarapidana. (4) Dalammenjatuhkanvonis, hakim wajibmempertimbangkankeringananhukumanbagiPelap orPelaku.

Penjelasan Pasal10 Ayat1 Tindak pidana yang dilaporkan antara lain tindak pidana Korupsi, pencucianuang, terorisme, lingkungan, perikanan, kehutanan, keamanan makanan, perbankan, Narkotika, dan tindak pidana lainnya yang mengancam keselamatan dan keamananwargadannegaraberhakmendapatkanperlindunganatautindakpidanatertentuberda sarkankeputusanLPSK. Ayat3 Hurufa Keringanan tuntutan sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf(a) dan(b) dapatberupa, an taralain, pengajuantuntutan hukuman percobaan, pengajuan tuntutan denda dalamhaldimungkinkansertatuntutanyan g lebihrendahdariterdakwapelakuutamadiperkarayang diungkapkanatau tuntutan bagi terdakwa lain pada kasus sejenis;

Wewenang Pasal12B Dalammelaksanakantugaspemberianperlindungandanbantuanpadapelapor, saksi, korbandanPelaporpelakusebagaimanadimaksuddalamPasal12A, LPSK berwenang: d.membuatperjanjiantentangpenanganankhususdan/ataupenghargaanbagipelaporPelakuber sama-samadenganJaksaAgungatauKetuaKPK; g. menyembunyikansaksi, korban, pelapordanpelaporpelakudalamtempat-tempatperlindu ngan; h.menggantiidentitassaksi, pelapor, dan/atauPelaporPelaku;

Syarat Justice Collaborator Pasal28A (1) Penanganankhusus, perlindungan, danpenghargaanbagiPelaporPelakusebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 diberikan dengan mempertimbangkan syaratsebagaiberikut: a. Keseriusantindakpidanayang diungkap; b. Sifatpentingnyaketeranganyang diberikanolehPelaporPelaku; c. Pelaporpelakubukanpelakuutamadalamtindakpidanayang diungkapnya; d. Tindakpidanalain yang dilakukanolehPelaporpelaku; e. KeselamatanjiwaPelaporpelakudan keluarganya; f. Rasa keadilanmasyarakat.

(2) PemberianpenanganankhususdanpenghargaankepadaPelaporpelakuatastindakpidana-t indakpidanalain yang pernahdilakukanolehnyasebagaimanadimaksudpadaPasal10 hanyad apatdiberikandenganpersyaratansebagaiberikut: a. Pelaporpelakumengakuisendiritindakpidanatindakpidanayang pernahialakukansebelumnyayang belumpernahdiperiksaataudiputusol ehpengadilan; b. Tindakpidanalainnyasebagaimanadimaksudpadahurufa merupakantindakpidanayang le bihringandibandingkandengantindakpidanayang iabantu ungkap; dan

c. Tindak pidana lainnya sebagaimana dimaksud pada huruf a tidak termasuk: 1. Tindak pidana pembunuhan dan/atau kekerasan seksual; 2. Tindak pidana dimana korbannya tidak setuju dengan restitusi yang diberikan; dan/atau 3. Tindak pidana dimana terdapat tuntutan masyarakat yang luas agar pelapor pelaku diadili.

Tata Cara PemberianPerlindungan, PenangananKhususdanPenghargaan Pasal 32A (1) Tata cara memperoleh perlindungan bagi Pelapor pelaku sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dilakukan sesuai ketentuan dalam Pasal 29, 30, 31, dan 32: (2) Tata cara memperoleh penanganan khusus dan penghargaan bagi Pelapor pelaku sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 adalah: a. pelapor pelaku, baik atas inisiatif sendiri maupun atas permintaan pejabat ya ng berwenang, mengajukan permohonan secara tertulis kepada LPSK; b. LPSK segera melakukan pemeriksaan terhadap permohonan sebagaimana dimaksud pada huruf a; c. berdasarkan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada huruf b, LPSK memberikan rekomendasi untuk menerima atau tidak menerima permohonan pemberian penanganan khusus, dan/atau penghargaan kepada Jaksa Agung atau Ketua KPK; d. rekomendasi sebagaimana dimaksud huruf c memuat identitas Pelapor pelaku, alasan dan bentuk pemberian penanganan khusus dan/atau penghargaan yang diusulkan.

(3) DalamhalJaksaAgungatauKetuaKPK menganggapPelaporpelakulayakmendapatkanpenang anankhusus, dan/ataupenghargaan, JaksaAgungatauKetuaKPK: a. MengajukanusulankepadaPresidendalamhalpenghargaanyang dianggaplayakdiberikanb erupaGrasi. b. Memutuskansendiriuntukpemberianpenghargaanberupapenanganankhususdanpenghargaa nlainnya. (4) KeputusanJaksaAgungatauKetuaKPK sebagaimanadimaksudayat(4) hurufb bersifatme ngikatdandiberikankepadainstansiterkaituntukdilaksanakansertatembusannya diberik an kepada LPSK dan pemohon. (5) DalamhalJaksaAgungatauKetuaKPK menolakrekomendasiLPSK, penolakantersebutdise rtaidenganalasanpenolakandisampaikankepadaLPSK untukkemudianditeruskankepadapemo hon.

Pembatalan Penghargaan Pasal32B (1) PenghargaanterhadapPelaporPelakudibatalkanapabiladikemudianharidiketahuibahw akesaksian, laporanatauinformasilain yang diberikanternyataadalahpalsu. (2) Pembatalansebagaimanaayat(1) dilakukanolehJaksaAgungatauKetuaKPK segerasetel ahdiketahuinyakebohongantersebutmelaluisuratpembatalanpemberianpenghargaan. (3) JaksaAgungatauKetuaKPK mengajukanpeninjauankembaliatasperkaraperkarayang sud ahberkekuatanhukumtetapyang didasarkanatasketeranganPelaporPelaku. (4) Jaksa Agung melakukan proses pemidanaan atas keterangan palsu sebagaimanadimaksuddalamayat(1).

Tidak Terbukti, Tidak Batal Pasal 32C Tidak terbuktinya tindak pidana yang dilaporkan dan atau dibantu oleh Pelapor Pelaku tidak membatalkan perlindungan yang diberikan kepadanya sepanjang informasi, bukti-bukti atau keterangannya sebagai saksi tidak dilakukan berdasarkan kesaksian, laporan atau informasi lain yang bersifat palsu.

Kesimpulan PraktekPerlindunganthpJC sdhada, namunbelumseragamsertabelummemuaskan Perludibuataturanyglebihdetildanpasti PerlumenyamakanpersepsidanpemahamanttgartipentingkeberadaanSaksi, Korban, Pelapor sertaPelapor/SaksiygjugasebagaiPelaku Usaha untukmempraktekkandanmemperbaikidanmemanfaatpeluangyang adaharusterusdilaku kan. TerusmensinergikanseluruhenergipositifuntukpencegahandanpemberantasanTindakPidana